A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

M. landasan psikologis.Pd. Landasan Bimbingan dan Konseling. Remaja Rosda Karya. A. landasan sosial-budaya. Educational Psychology. 1995. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.——–. Management. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. . Woolfolk. (2) landasan psikologis. landasan filosofis. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Stoner. Vol 24 No. London : Prentice-Hall International Inc. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. (2005). kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. 3 July’96. James A. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. 4 . pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Sebagai sebuah layanan profesional. M. Boston : Allyn & Bacon. Uman Suherman. Anita E. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan.Pd. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. religius dan yuridis-formal. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. (1987). selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. (3) landasan sosial-budaya.dan Juntika N. (1996). Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata kunci : bimbingan dan konseling. Bandung : PT.

2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. Alblaster & Lukes.tentang landasan bimbingan dan konseling. B. Selanjutnya.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya.(Victor Frankl. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Dengan kata lain. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. 5 . dengan layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. etis maupun estetis. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. landasan psikologis.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. khususnya bagi para konselor. Demikian pula. landasan sosial-budaya. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern.. Thompson & Rudolph. para penulis Barat .. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. yaitu landasan filosofis. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. Patterson. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Secara teoritik. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. Ibarat sebuah bangunan. dalam Prayitno.

Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. dan (e) kepribadian. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. bakat. Manusia memiliki dimensi fisik. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. 2. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . (b) pembawaan dan lingkungan. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. b. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. seperti : rasa lapar. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. warna kulit. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Demikian pula dengan lingkungan. Manusia pada hakikatnya positif. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. kecerdasan. yang mencakup aspek psiko-fisik. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. seperti rekreasi. normal atau bahkan sangat kurang (debil.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. (c) perkembangan individu. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. ada yang sangat tinggi (jenius). seperti struktur otot. (d) belajar. a. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. embisil atau ideot). golongan darah. Misalnya dalam kecerdasan.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.

sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi.memadai. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. bahasa dan kognitif/kecerdasan. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. d. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu.dan menjadi tersia-siakan. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. baik dalam aspek kognitif. Tanpa belajar. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Manusia belajar untuk hidup. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Hall dan Gardner Lindzey. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. ketegangan emosional. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. 7 . serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Berangkat dari studi yang dilakukannya. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. afektif maupun psikomotor/keterampilan. e. moral dan sosial. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. frustrasi dan konflik. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. dan (3) Teori Belajar Gestalt. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. c. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier.

ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. sedih. hormon. yaitu bidang psikologi umum. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). yang mencakup : • • • • • • Karakter. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Sikap. Sosiabilitas. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Watson. psikologi perkembangan. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Teori Psikologi Individual dari Allport. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Responsibilitas (tanggung jawab). diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Fromm. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. teori Personologi dari Murray. 3. Selain itu. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Sejak lahirnya. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Horney dan Sullivan. negatif atau ambivalen. cuci tangan. Teori Medan dari Kurt Lewin. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. maka 8 . Sementara itu. Temperamen. Hull. yaitu disposisi reaktif seorang. Seperti mau menerima resiko secara wajar. tampang. Begitu pula.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. atau putus asa. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Stabilitas emosi. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Oleh karena itu. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan.

baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. seperti: pengamatan. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. analisis dokumen. Sejalan dengan perkembangan teknologi. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. (b) komunikasi non-verbal. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Moh. yaitu kesamaan di atas keragaman. (c) stereotipe. prosedur tes. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. manajemen. Menurut Gausel (Prayitno. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. sosiologi. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. ilmu ekonomi. evaluasi. ilmu hukum dan agama. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. ilmu pendidikan. 2003). wawancara. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. dan (e) kecemasan. 4. filsafat. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. biologi. statistik. pemikiran. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. yaitu : (a) perbedaan bahasa. (d) kecenderungan menilai. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. seperti : psikologi. antroplogi.

yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Ditegaskan pula oleh Moh. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. 10 . yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Sebagai ilmuwan. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. C. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Moh. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Peraturan Pemerintah. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Undang – Undang.pendidikan. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. landasan religius dan landasan yuridis-formal.

Psikologi Pendidikan. E. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. 1997. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. New York : McMillan Publishing. Koswara). Remaja Rosdakarya. Bandung : PT ErescoH. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 11 . Bandung PPB . di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Supratiknya). PT Golden Terayon Press. Bandung : Refika Gerungan 1964. meliputi : (a) motif dan motivasi. Arifin. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Psikologi Sosial. Calvin S. 2003. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Jakarta : PT Raja Grafindo. Learning & Instruction.IKIP Bandung . dan (d) kepribadian. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Hurlock. (b) landasan psikologis. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. (b) pembawaan dan lingkungan.T. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. 2005.. Margaret E. (d) belajar. Surya. Nana Syaodih Sukmadinata. Psikologi Belajar. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Majalengka : Sanggar BK SMP. Developmental Phsychology. Gerlald Corey. Bandung : P. landasan religius dan landasan yuridis-formal.M. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. 2003.———-2006.1992. 2005. (c) perkembangan individu. Theory Into Practice. 2003. 2004. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). 1980. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. (c) landasan sosial-budaya. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Jakarta. Elizabeth B. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. 2003. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling.

lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Teori dan Praktek. 1. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Willis. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. 2003. kekuatan. belajar (akademik). Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. pergaulan dengan teman sebaya. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. keluarga. Jakarta : Rineka Cipta . dan karir. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Jakarta : Depdiknas . maupun lingkungan kerja.———-. masyarakat. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang.Prayitno. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi.. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.——–2003. Psikologi Kepribadian. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. serta 12 . Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.Konseling Individual. dkk. Syamsu Yusuf LN. Teori-Teori Psikologi Sosial. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. baik dalam kehidupan pribadi.2005. Sekolah/Madrasah. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. 2004. dan tugas-tugas perkem-bangannya. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. maupun masyarakat pada umumnya. 2004. 2004. Jakarta : Rajawali. 1984. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). dkk. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. tempat kerja.

dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. 2. seperti membuat jadwal belajar. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. mengggunakan kamus. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. persaudaraan. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. mengerjakan tugas-tugas. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. yaitu kecenderungan arah karir. 3. prospek kerja. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Dapat membentuk pola-pola karir. baik fisik maupun psikis. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). 13 . Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. atau silaturahim dengan sesama manusia. disiplin dalam belajar. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. kemampuan dan minat.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. tanpa merasa rendah diri. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Mengenal keterampilan. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. asal bermakna bagi dirinya. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. kemampuan. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. menghormati atau menghargai orang lain. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. Oleh karena itu. dan sesuai dengan norma agama. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. seperti keterampilan membaca buku. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. dan kesejahteraan kerja. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. mencatat pelajaran. Memiliki rasa tanggung jawab. seperti kebiasaan membaca buku. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan.

). ASCA (American School Counselor Association). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Depdiknas. Debra C. New Jersey.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Adolescence.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).ncat. Depdiknas. & Hatch. (2003). Gibson R. Depsiknas. T. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (Ed. Cambridge. Herr Edwin L. (2006). (2005). & Mitchel M.W dan J. (2003). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. A. Development Taks and Education. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Bandung: ABKIN Bandura. Cobia. Merrill Prentice Hall Corey. Havighurts. R. http://aace. Handbook of School Counseling. J. (2005). (2003). (1979). New York : MacMillan Publishing Company. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. G. (2006). UK: Cambridge University Press.J. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Columbia: The Educational Resources Information Center. (2003). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Alizabeth B. Ellis. (1990). Donna A. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.D. Child Development. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Houston : Shell Com. CA: Brooks/Cole. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (1992). Departemen Pendidikan Nasional. Balitbang Diknas. Alexandria. Guidance and Counseling in the Schools. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. 2006. (1986). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Menteri Pendidikan Nasional.H. Depdiknas.Nancy. Self-Efficacy in Changing Soceties. Dameron. Patricia A. (2007). (1956). DAFTAR RUJUKAN AACE. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. 2006). The Art of Integrative Counseling. (2001). Hurlock. D. Draft. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.I. (1995). Browers. Jakarta: Puskur Balitbang. Comm. (2005). Belomont. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (Eds). The National Model for School Counseling Programs. Introduction to Counseling and Guidance. California : Myfield Publishing Company. Engels. VA: AACD. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (1953). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.L. New York: David Mckay. Depdiknas. Judy L. & Henderson. (2002). New York : McGraw Hill Book Company Inc.

dan Juntika N. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Sunaryo Kartadinata. Madison : Brown & Benchmark. Anita E. 2. ——–. Bandung : Remaja Rosda Karya. dkk. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Melalui fungsi ini.N. Stoner. LIPI. London : Prentice-Hall International Inc. Muro. Educational Psychology. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Uman Suherman. Syamsu Yusuf L. Adapun teknik yang 15 . 2006. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (2003). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Balitbang Depdiknas. Woolfolk. Landasan Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. ——–.Ltd. Michigan School Counselor Association. M. (2003). Boston : Allyn & Bacon. Bandung : PT.Menteri Pendidikan Nasional. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. pekerjaan. Vol 24 No. Remaja Rosda Karya. & Kottman. 3 July’96. Fungsi Preventif. (2005). konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. (1995). Fungsi Pemahaman. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. 2004. Human Development. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Berdasarkan pemahaman ini. (2005). Terry. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. James J. 1995. (1996). James A. Lustin. (2005). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. dan norma agama).Pd. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (1987). (1976). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : CV Bani Qureys. Management. Pusat Kurikulum. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. supaya tidak dialami oleh konseli. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Pikunas.

6. 10. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. dan kebutuhan konseli. tutorial. Fungsi Penyaluran. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. kemampuan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. 8. home room. Dalam melaksanakan fungsi ini. memilih metode dan proses pembelajaran. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. serasi. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Fungsi Fasilitasi. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. sosial. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. 4. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. 5. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. baik pria maupun wanita. baik menyangkut aspek pribadi. dan karyawisata. penyalahgunaan obatobatan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. jurusan atau program studi.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. drop out. minat. dan pergaulan bebas (free sex). Fungsi Penyembuhan. 3. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. dan bimbingan kelompok. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. maupun karir. informasi. belajar. diantaranya : bahayanya minuman keras. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. Fungsi Penyesuaian. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. Fungsi Adaptasi. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). yang memfasilitasi perkembangan konseli. merokok. baik anak- 16 . Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. 7. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. konselor. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. 9. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. bakat. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. berperasaan dan bertindak (berkehendak). Fungsi Pemeliharaan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi Perbaikan. dan remedial teaching. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Fungsi Pengembangan.

meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Agar konseli dapat terbuka. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. 2. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). 4. remaja. 1. dan masyarakat pada umumnya. memberikan dorongan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. 17 . dan pekerjaan. yaitu meliputi aspek pribadi. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Bimbingan menekankan hal yang positif.2. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. perusahaan/industri. menyesuaikan diri. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. dan peluang untuk berkembang. 5. tetapi juga di lingkungan keluarga. 3. Mereka bekerja sebagai teamwork. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. sosial. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. 3. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. anak. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan. Asas Kerahasiaan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. pendidikan. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. 6. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Asas kesukarelaan. maupun dewasa. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.

Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas Keahlian. yaitu nilai dan norma agama. Asas Keharmonisan. 9.edu 18 . yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. 8. dan terpadu. harmonis. 5. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. hukum dan peraturan. menghayati. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. dan kebiasaan yang berlaku. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. adat istiadat. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. 10. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Asas kemandirian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Lebih jauh. Asas Kedinamisan. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini. tidak monoton. Asas Keterpaduan. guruguru lain. (2003). dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. 7. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Asas Kekinian. http://aace. ilmu pengetahuan. Asas kegiatan. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan.4. DAFTAR RUJUKAN AACE. 11. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.ncat. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. atau ahli lain . dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. saling menunjang. mampu mengambil keputusan. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Asas Alih Tangan Kasus.

J. & Henderson. (2003). (2005).D. R. New York: David Mckay. 2006). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Columbia: The Educational Resources Information Center. Depdiknas. Merrill Prentice Hall Corey.W dan J. (1995). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. A. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. UK: Cambridge University Press. (1986). J. Dameron. 2006. & Hatch. (2007). The National Model for School Counseling Programs. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. 2006. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1990). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Depdiknas. Jakarta: Puskur Balitbang. Bandung: ABKIN Bandura. Depdiknas. (2001). (1956). Engels. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (1953). Debra C. D. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Depdiknas. Herr Edwin L. California : Myfield Publishing Company.). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Comm. Browers. (2005). Judy L. (2006). The Art of Integrative Counseling. Belomont. (1979). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Alexandria. Hurlock. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. G.Nancy. (2003). Havighurts. Houston : Shell Com. Alizabeth B. Draft. Adolescence. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. T. (Ed. (2003). Development Taks and Education. (2005). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Self-Efficacy in Changing Soceties. Gibson R.H. New Jersey. & Mitchel M. New York : MacMillan Publishing Company. Cambridge. Handbook of School Counseling. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Guidance and Counseling in the Schools. Menteri Pendidikan Nasional.L. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. New York : McGraw Hill Book Company Inc. ASCA (American School Counselor Association). Balitbang Diknas. Cobia. (1992). (2006). 19 . Patricia A. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Ellis. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Donna A. Michigan School Counselor Association. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (2005). Depsiknas.I. CA: Brooks/Cole. VA: AACD. (Eds). (2002).Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Child Development. Introduction to Counseling and Guidance.

Jakarta : Balitbang Depdiknas. Human Development. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. (2003). Woolfolk. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Pengembangan kemampuan belajar. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.Ltd. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. bakat dan minat. Balitbang Depdiknas. ——–. (2003). menilai. Sunaryo Kartadinata. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.dan Juntika N. Stoner. (2005). Madison : Brown & Benchmark. Bandung : PT. James A. Pengembangan karir. Bandung : CV Bani Qureys. 2004. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Vol 24 No. (1987). Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Terry. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Muro. (1976). dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Boston : Allyn & Bacon. Anita E. Pikunas. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. Pusat Kurikulum. Syamsu Yusuf L. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. dkk. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). 20 . London : Prentice-Hall International Inc. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. anggota keluarga. Landasan Bimbingan dan Konseling. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. 1995. (2005). Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Remaja Rosda Karya. Educational Psychology. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Uman Suherman. (1995). serta memilih dan mengambil keputusan karir. Lustin.N. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. James J. LIPI. (1996). dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. 3 July’96. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Management. M. ——–. & Kottman. Pengembangan kehidupan sosial.Pd.

terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Layanan Penempatan dan Penyaluran. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. sosial. program latihan. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Konseling Perorangan.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. kelompok belajar. karier. minat dan segenap potensi lainnya. • • • • Layanan Konten. jurusan/program studi. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. pergaulan. magang. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. diantaranya: Layanan Orientasi. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. kegiatan ko/ekstra kurikuler. dalam bidang pribadi. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. pendidikan lanjutan). sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Informasi. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. serta untuk 21 . yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. (Muslihudin. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. 3. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. berbangsa dan bernegara. sosial. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. sosial. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. 1987. Bandung : LPMP Jawa Barat. 2004. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Jakarta : BP3K. belajar ataupun kariernya.. Bimbingan dan Konseling (Makalah). M. mereka mempertanyakan. bermasyarakat. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . Diantaranya. perusahaan. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Hattari.Pd. 6. belajar maupun kariernya. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. dkk. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. 2. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. 4. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Namun.1. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). dkk. Ke Arah Pengertian Developmental. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. 5. 1983.

yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. cita-cita. seperti kondisi sosio-kultural. seperti bakat. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. ciri-ciri pekerjaan. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Di samping itu. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itulah. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. baik melalui media cetak atau eleltronik. Karena. minat. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. dan sebagainya. ciri-ciri 26 . Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Materi Informasi. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. jenis dan prospek pekerjaan. seperti kecerdasan. Namun. karier. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. materi informasi yang bersifat personal. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. persyaratan. bakat. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). jenis pekerjaan. pasar kerja. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Untuk itulah. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. baik tentang bakat. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Dalam hal ini. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja.

keterangan. Untuk itu. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. berdasarkan hasil pengalamannya. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Sebagaimana telah disinggung di atas.kepribadian. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). Selain itu. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Misalkan. (1995). Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. atau minat pekerjaannya. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. artikel. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. atau klipping yang berhubungan dengan karier. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi.Jakarta : IPBI 27 . Dalam hal ini. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Selain itu. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Dari hasil kunjungan. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. dalam rangka menambah wawasan. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya.

Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Begitu pula. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Dalam hal ini. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. perencanaan individual. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). W. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. (1991). Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. (1997). dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. pelayanan responsif. 2. yaitu sama-sama menginginkan 28 . tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling.S. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya.

melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. serta teknis medis lainnya. pengubahan lingkungan. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. mendiagnosis. Masalahnya. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. 3.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. 7. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). 6. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. modifikasi perilaku. 29 . Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. penguatan mental/psikis. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Kendati demikian. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. 5. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. baik untuk kepentingan pencegahan. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.

penunjuk jalan. pembangun kekuatan.siswa. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. disiplin dan keamanan di sekolah. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Begitu pula sebaliknya. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian.guru. seperti “praktik pribadi”. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. pemberi informasi. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Pekerjaan yang 30 . 9. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal.sosial. sekolah dan masyarakat sekitarnya. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Konselor adalah kawan pengiring. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. 10. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Di sekolah misalnya. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. orang tua. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Namun demikian.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua.dan piha-pihak lain.dan lingkungan.

tersendat-sendat. Jawaban ”benar”. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Pada dasarnya. Dengan kata lain. Bahkan sering kali terjadi. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Di sekolah.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. bersikap “jemput bola”. dan sarana yang tersedia. jenis dan sifat masalah.Sementara itu. 13. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja.inventori. ada dan digunakannya instrumen (tes. metode. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.Lebih jauh. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.Oleh sebab itu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. tujuan yang ingin dicapai. Konselor harus aktif. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. tujuan. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. dan asas-asas tertentu). untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. dalam hal ini konselor. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. menghambat. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. terutama klien. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. guru pembimbing memang harus aktif. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. 11. 12. maka hasilnya akan kurang mantap. pihak lain pun. Sedangkan jawaban ”tidak”.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. kemampuan petugas bimbingan dan konseling.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. 14. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda.

15. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2.2003. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. Misalkan. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1..

dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. yaitu : 1. 33 .Pd. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. Ketika membuka kegiatan pelatihan.(lihat 1. standar kompetensi konselor. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Sunaryo.Selama mengikuti pelatihan. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Hal yang cukup mengagetkan penulis. memiliki mental yang sehat. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). M. Prof. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. memperoleh keterampilan hidup. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. selaku ketua PB. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. Dr.ABKIN. Layanan Dasar.

yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual.. konsultasi dengan guru lain. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Uman Suherman.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. baik dalam Kurikulum 1975. Layanan Responsif. baik menyangkut aspek pribadi.Pd. Dr. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. Layanan Perencanaan Individual. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. Selain itu. staf ahli. sosial. Syamsu Yusuf L. konseling individual.Pd. 3. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. belajar. hubungan masyarakat dan staf. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. manajemen program. dan masyarakat yang lebih luas. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. 4. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. konseling kelompok. penasihatan individual atau kelompok. Untuk lebih jelasnya. merencanakan.Pd.2. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Perbedaannya. Kurikulum 1984. M. M. Layanan dukungan sistem. Uman Suherman. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. Agus Taufiq. mau pun Kurikulum 1994. memelihara. referal dan bimbingan teman sebaya. maupun karier. dan Dr. atau mengelola pengembangan dirinya. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. M.Pd. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. dan penelitian dan pengembangan. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. M.N. A.

proses. bimbingan kelompok. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. 2. kunjungan rumah. Laporan hasil evaluasi program. konsultasi. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. audio visual. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. bibliokonseling. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. buku saku) 7. media cetak : liflet. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Laporan bulanan 5. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . audio. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. kotak masalah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Laporan semesteran/tahunan 6. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Daftar konseli 3. berbentuk : 1. bimbingan klasikal. (c) pemilihan instrumen/media. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) .Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. (d) strategi pelayanan. catatan anekdot. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Dalam hal ini. konseling kelompok. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Kendati demikian. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

terutama asas kerahasiaan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. (2) Kontrak tugas. dan kegiatan.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Menegosiasikan kontrak. berisi : (1) Kontrak waktu. (2) tahap inti (tahap kerja). A. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). keterbukaan. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. kesukarelaan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. B. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Secara umum. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. 39 . Oleh karena itu. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). M. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. Membuat penaksiran dan perjajagan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.Pd. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.

tugas profesionalnya. Dalam bentuk tayangan slide. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. (1) menurunnya kecemasan klien. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. gestalt. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Dr. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. baik oleh pihak konselor maupun klien. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. yaitu . Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . sehat dan dinamis. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. rational emotive therapy (RET). yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. M. dan trait and factor. psikoanaliss. DYP Sugiharto. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. C.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.

Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. 41 . Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. B. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. (b) pembiasaan operan. 2. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. 3.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. 4. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. (c) peniruan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. 2008 A. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.

langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. 42 . pola hubungan interpersonal. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (c) kemungkinan manfaatnya. Goal setting. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. tingkah laku penyesuaian. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. kekuatan dan kelemahannya. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. Evaluation termination. (b) apakah tujuan itu realistik. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. Technique implementation. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. 4. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.D. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Feedback. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. 2. 3. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. Konselor aktif : 1. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment. atau melakukan referal. 5.

model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film.Pd. dapat menggunakan model audio. Sumber : Dr. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. (Makalah) 43 . Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. model fisik. tape recorder. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. DYP Sugiharto. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. atau contoh nyata langsung). Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. kesulitan menyatakan tidak. M. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.

perasaan. sakit hati. pera-saan. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. 2008 A. ingin dimaklumi. lemah. rasa berdosa. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. emosi. membela diri. Dalam pendekatan ini. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. tidak berdaya. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. otak. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). menuntut. mengancam. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. jantung. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. maka mereka mengalami kecemasan. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. Under dog adalah keadaan defensif. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. kemarahan. persepsi. kedudukan. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. kecemasan. B. dan tingkah lakunya 44 . kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. pasif. dan pemikirannya. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. rasa diabaikan. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. (3) aktor bukan reaktor. Meskipun tidak bisa diungkapkan. kebencian. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. dan sebagainya.

Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. memahami kenyataan atau realitas. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. C. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. serta mendapatkan insight secara penuh. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. D. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. 45 . Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. interpretasi maupun memberi nasihat. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh.

fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. atau gila. Dalam hal ini. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. perasaan. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Fase keempat. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. perasaan-perasaannya. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. Fase ketiga. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. Fase kedua. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Teknik Konseling 46 . pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. dalam situasi di sini dan saat ini. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. dan tingkah lakunya. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. konselor mengembangkan pertemuan konseling. dirinya tidak berdaya. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. bodoh. Melalui fase ini. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang.

(b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Orientasi Eksperiensial. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Orientasi Sekarang dan Di Sini. Dalam kaitan itu.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting.

Sumber : Dr. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Pendekatan-Pendekatan Konseling.Sering terjadi. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. “Saya malas. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. M.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. DYP Sugiharto. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. (Makalah) 48 . Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Meskipun tampaknya mekanis.Pd. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

dan Emotional consequence (C). Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. dan keran itu tidak produktif. tidak masuk akal. interpretasi. dan kompeten. pandangan. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. tingkah laku. kejadian. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. Keyakinan seseorang ada dua macam. 2008 A. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. masuk akal.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Belief (B). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. (c) orang tua atau masyarakat 49 . Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Belief (B) yaitu keyakinan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. antara kenyatan dan imajinasi. nilai. emosional. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. sangat personal. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Perceraian suatu keluarga. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. dan kerana itu menjadi prosuktif. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. yaitu Antecedent event (A). Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. B. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. dan irasional. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. bahagia.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. kelulusan bagi siswa. kekhawatiran. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. atau sikap orang lain. yang dapat diterima menurut akal sehat. bijaksana.

C. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. (3) pengarahan diri.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. jahat. Ketiga. bencana yang dahsyat. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. (6) menerima ketidakpastian. D. merusak. rasa marah. (4) toleransi terhadap pihak lain. rasa bersalah. mengerikan. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. merasa was-was. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. (2) minat sosial. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. dan (10) menerima kenyataan. dan dihukum. rasa cemas. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (5) fleksibel. rasa berdosa. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. persepsi. Kedua. disalahkan. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. ( penerimaan diri. cara berpikir. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (9) berani mengambil risiko. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.

• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. mendorong. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. E. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. afektif. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. Aktif-direktif. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Kognitif-eksperiensial. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. 3. Behavioristik. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. 4. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Emotif-ekspreriensial. 2. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 .

dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. membiasakan diri. DYP Sugiharto. Pendekatan-Pendekatan Konseling. mengobservasi. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Dengan tugas rumah yang diberikan. Sumber : Dr.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. (Makalah) 52 . maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.Pd. atau meniru model-model sosial. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). latihan. Dengan memberikan reward ataupun punishment. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. M.

yaitu id. ego. Klien diminta 53 . Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. D. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Manusia secara esensial bersifat biologis. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Konsep Dasar 1. Hakikat manusia. 2. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Deskripsi Proses Konseling 1. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Menutup wawancara konseling E. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. untuk ditata. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. dan super ego C. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. disikusikan. konflik dan simbolisme. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. terutama usia 2-5 tahun. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. 2008 A.

Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Manusia merupakan seseorang yang ada. Memandang manusia sebagai individu yang unik. 54 . 2008 A. Analisis mimpi. seksualitas. 3. Dengan perkataan lain. Interpretasi. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Transferensi adalah mengalihkan. Konsep Dasar: 1.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. mimpi. anonim. Manusia tidak pernah statis. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Analisis resistensi. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. pengalamannya tertekan. resistensi berati penolakan. objektif. baik dalam asosiasi bebas. Konselor menetapkan. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. resitensi dan transferensi. Dalam hal ini. 2. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Menurut Freud. dan transferensi klien. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. resistensi. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. B. kebencian. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. asosiasi bebas. Hal ini disebut juga katarsis. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi.

(5) limited questioning (pertanyaan terbatas. (2) mengambil keputusan yang tepat. yang unik. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Tujuan Konseling 1. E. Bandung: Alfabeta 55 . Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Teori dan Praktek. Saya adalah saya 2. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. (3) mengarahkan diri. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. 3. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. 3. 2. 1997. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. 5. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Willis. (2) respect (rasa hormat). (5) encouragement (memberi dorongan). yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. Deskripsi Proses Konseling 1. (3) understanding (pemahaman). Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Sumber: Sayekti. D. (4) reassurance (menentramkan hati). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Rogers. persepsi cara berfikir. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).C. Memperbaiki dan mengubah sikap. Konseling Individual. 2007. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. (4) mewujudkan dirinya. 4. 4. meliputi: (1) acceptance (penerimaan).

diperbaiki. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. 5. Menurutnya. 2. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 3. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. 2008 A. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Tanggung jawab 56 . yang hadir di seluruh kehidupannya. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. 3. 4. dianalisis dan ditafsirkan. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 2. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. sebagai pengalaman yang berharga.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14.

C. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 2. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. D. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Menggunakan role playing dengan konseli 2. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 5. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Tujuan Terapi 1. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . 4. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. 2. 6. 3. 7. 4. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. 6. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Motivator. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 5. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. 3. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Penyalur tanggung jawab. Guru. Pengikat janji (contractor). Moralist.. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. baik berupa limit waktu. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya.

Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. 2007. mudah buyar oleh gangguan luar. Bandung: Alfabeta. ekspresi melamun. Perhatian : terpecah. 1997. Meningkatkan harga diri klien. menggunakan tangan sebagai isyarat. Teori dan Praktek. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Sumber: Sayekti. perhatian terarah pada lawan bicara. bahasa tubuh. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. mengalihkan pandangan. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. 2. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. bersandar. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. Empati dilakukan sejalan 58 . jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. tidak melihat saat klien sedang bicara. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. jarak duduk dengan klien menjauh. duduk kurang akrab dan berpaling. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Memutuskan pembicaraan. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. B. miring. Menciptakan suasana yang aman 3. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. mata melotot. 8.7. ceria. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. menunggu ucapan klien hingga selesai. Untuk lebih jelasnya. Willis. diantaranya : A. Posisi tubuh : tegak kaku. Konseling Individual.

” Saya mengerti keinginan Anda”. 59 . atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.dengan perilaku attending.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. dan mengamati respons klien terhadap konselor. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Empati primer. dan pendapat klien. Eksplorasi perasaan. tertekan dan terancam. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.” 2. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Refleksi perasaan. yaitu : 1. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. menutup diri. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. yaitu : 1. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Empati tingkat tinggi. 3. Eksplorasi pikiran. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. pikiran. Eksplorasi pengalaman. pikiran. yaitu : 1. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. yaitu teknik untuk menggali ide. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. C. yaitu teknik untuk memantulkan ide. Refleksi pengalaman. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. pengalaman termasuk penderitaannya.” 2. pikiran dan keinginan klien. Refleksi pikiran. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. 2. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. berupa perasaan. Terdapat dua macam empati. pikiran. dan pengalaman klien. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran.

Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. dapatkah. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. akan tetapi saya tidak mengambilnya. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. ya…. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G.” F. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Oleh karenanya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. bagaimana. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. lalu…. adakah. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya.. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. terus…. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (3) memberi arah wawancara konseling. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup.

Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.M.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.I.Konseling Individual. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Bandung : Alfabeta H. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Teori dan Praktek. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Membantu orang tua memang harus. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.” Sumber : Sofyan S. Jakarta. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Willis. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori.(2005. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. (3) meningkatkan kualitas diskusi. J. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. 2004. 2003. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” K. bukan pandangan subyektif konselor. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Arifin. Sugiharto. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. kedua. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Saya tak dapat lagi menahan diri.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. PT Golden Terayon Press. Jakarta : PPPG 61 . Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Karena tantangan masa depan makin banyak.

Ada beberapa yang dapat dilakukan. diantaranya : 1. konflik. ide awal dengan ide berikutnya. Fokus pada orang lain. Fokus pada topik. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. (2) meningkatkan potensi klien. telah membuat kamu menderita. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Pada umumnya dalam wawancara konseling. senyum dengan kepedihan. Fokus pada diri klien. Oleh karena itu. Contoh dialog : 62 . Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. atau kontradiksi dalam dirinya. Contoh : ” Roni. 2008 A. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Fokus mengenai budaya. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. 2. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Contoh : ” Tanti. 4. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B.” C. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . dan sebagainya. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi.

Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Saya. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.. ibu. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. wajah murung. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. posisi tubuh gelisah). (2) agar klien menjelaskan. Konselor :”………….. Coba Anda renungkan kembali”. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.. D. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.Klien : ” Saya baik-baik saja”. pikiran. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. tidak tahu. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. atau saudara-saudara Anda. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. G.” (diam) G.” (diam) Klien :” Saya. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.(suara rendah.. dan pengalamannya secara bebas. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. sering diam. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. ungkapan kata-kata yang tegas.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.” F. Contoh: ” Baiklah. dan dengan alasan-alasan yang logis...” E.. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Walaupun demikian. kurang jelas dan agak meragukan. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. 63 . dan kurang parisipatif. paling lama 5 – 10 detik.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.harus bagaimana.

seperti pendekatan Behaviorisme. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. PT Golden Terayon Press.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Sofyan S. 2003. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Jakarta. Arifin. Rational Emotive Theraphy.” H. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Willis. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. (2) memantapkan rencana klien. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.(2005. Bandung : Alfabeta H. 2004. terutama mengenai kecemasan. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Contoh : ” Nah. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. 2008 Dalam konseling.upi. Sugiharto.Konseling Individual.com di internet”. Kalau pun konselor mengetahuinya.M. yaitu : 64 . Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Teori dan Praktek. I. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. di samping menggunakan teknik-teknik umum. (3) pemahaman baru klien.

kesulitan menyatakan tidak. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. 2. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. model fisik. 5. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.1. 65 . Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. 3. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. dapat menggunakan model audio. 4. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien.

Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 6. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. 8. 7. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Misalnya : “Saya merasa jenuh.Melalui dialog yang kontradiktif ini. “Saya malas. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. 9. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

Sofyan S. Arifin. 10. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. 2004. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. 12. 13. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. membiasakan diri.M. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan.Konseling Individual. Jakarta : PPPG 67 . klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Sumber : H. Home work assigments. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Jakarta. 2003. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.(2005. 11. PT Golden Terayon Press. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. mendorong. Willis.

2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Dasar saya anak desa. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. kurang bersahabat. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. Makin lama perasaan ditolak. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. mengontrol dunia. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. terisolik. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. orang lain. susah tak ada/punya teman yang peduli. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. terus bertahan. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. dan sombong. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri.

Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. Sehubungan dengan kasus. Allah mengasihi saya. karena saya berharga dihadiratNya. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. pemberian nasehat secara tepat. Cara konselor ialah 69 .dibiarkan terus berlangsung. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. sugestif. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. pemalu. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. mengobservasi dan evaluasi diri. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. teliti. hanya 10% saja yang membeci saya. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. tak seperti orang/teman-teman lainnya. karena saya tak berharga. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. semua teman memperhatikan / mendukung. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. dan seterusnya. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. 50% netral. memaki-maki diri saya sendiri. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. Ia menjadi minder. Ide-ide ini diajarkan. Tekniknya jelas. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. bahkan adakalanya saya benci. Itu berarti salah saya. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. puas dan bangga. bermain peran. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. peduli. Saya pantas menderita karena semuanya itu. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif.

dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. menantang. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. IKIP Semarang Pres. 1991.. 1998. 70 . Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. 1998. Kesegaran hasil yang dicapai. FIP. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini.. 1988. progdi BK PPB. (5) menerima kenyataan bahwa. M. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. 1991/1995. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Corey G. SUMBER Aryatmi. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. 4. S. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Jakarta Surya. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi.dengan pendekatan yang tegas. Konseling Pancawashita. Kesimpulannya. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. 2. Satya Wacana Semarang.. mendebat. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. Pengantar Teori-teori Konseling. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Kota Kembang. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). Yogyakarta. IKIP Padang Rosjidan. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. jika kita mengharap untuk berubah. Prayitno. 3. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini.

Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Turki. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. dan untuk bahan analgesik (Kisker. Konseling Kelompok. pecandu narkoba. dan segitiga emas (Kamboja. Vietnam. Kunjungan. keluarga. Pendidikan dan Pelatihan. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Martin. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Australia. Bagaimana di Eropa. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. 1977). dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Thailand). tidak menyalahkan pihak luar. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. terutama remaja. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. 22-5-2001). Konseling Agama. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Cina. *) Sofyan S. Pasca RSKO. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Opium banyak pula ditemukan di Cina. malaria. Pendahuluan 1. Mesir. Pemulihan. 1977. rematik. 1977). dan Asia.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. 1977). dan Partisipasi Sosial. Konseling Keluarga. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. dan analgesik (Martin. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. dan Amerika Selatan. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. obat lemah badan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya.

sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. maka AMK pun menirunya. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Minneapolis. Sebagai perbandingan. Minnesota. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. 1979). satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S.200. 25-52001). Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. kolusi. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur.Willis. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. konsumtif.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Hal ini berarti. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. VCD. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR.000 = Rp. Artinya. 72 . khususnya generasi muda. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). 1989).800 miliar. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi.bulan. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. 1995). Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Masalahnya. 1978). Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. dan film-film. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat.200. Willis. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. 2001). suatu angka yang fantastis. Ulwan. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK).000. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. Sedangkan. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 1993). Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. (c) mencintai keluarga. namun terbentur pada lemahnya hukum. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. sehingga narkoba mudah beredar. melalui metode Konseling Terpadu. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. 1. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. 1979). (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). dan bahkan mengkonsumsi narkoba. 1. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat.

(2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. ibu-ibu pengajian. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. Mann memuji pendekatan Panti St. and than put the patient back on the street. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. taat ibadah. institute nutrition and vitamin therapy. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. 2. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. memahami. terbuka. dan berbuat baik terhadap sesama. 1980). kehilangan pekerjaan. intelektual. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. Jika konselor tidak menguasai soal agama. back home. spiritual.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. Sebagai seorang dokter medis. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. dan sebagainya. Selanjutnya. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. hangat. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. akan tumbuh 73 . sosial. 2. dijauhi orang-orang yang dicintai. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. sarjana. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. para siswa. dsb). Hal ini disebabkan oleh sikap empati. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. dan fisik. terapi nutrisi/vitamin. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. and back to destructive drinking”. 2. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. Melalui interpersonal relation. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. (3) menerima realita hidup dengan jujur. or back on the job. bermoral. menerima cobaan hidup dengan tawakal. anggota DPR. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. prescribe mood-controlling medications.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. dan asli (genuine) dari konselor. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. guru-guru BK di sekolah. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. Willis 1995). tokoh-tokoh masyarakat. 1977). akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah.

Kemudian. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. kritikan-kritikan. pacar. saudara. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. dan masyarakat. dan keluarga dekat lainnya. Di samping itu. 4. serta penyesalan terhadap masa lalu. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. mencemarkan nama keluarga. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. keluarga. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok.kepercayaan diri klien (Yalom. 2. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. percaya diri. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. Selanjutnya. 1985). Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Selanjutnya. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. 74 . Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. 1982). orang tua. sedangkan pesertanya adalah klien. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. 3. ibu. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor.. merusak diri. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. suami. 2. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. dan sebagainya. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. keluarga. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. Di samping itu. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. istri. marah. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. pesan. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. Demikian juga. suami/istri. dan masyarakat. saudara. Selanjutnya. 5. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan.

Barbara F. Okun (Sofyan S. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Willis. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. baik perilaku verbal maupun non verbal.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. 2008 Dalam proses konseling.id. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. bimbingan kelompok. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. Sumber : http://depdiknas. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.go. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. dan konseling keluarga.

Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Secara visual. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Konseling Individual: Teori dan Praktek. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Willis. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Sebagai lembaga pendidikan. Kendati demikian. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. 2004. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Oleh karena itu. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8.

meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). malas. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Oleh karena itu. minum minuman keras tahap awal. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. berpacaran.Dengan melihat gambar di atas. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Lebih jauh. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. serta hal-hal positif lainnya. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. Sebagai ilustrasi. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. Dalam hal ini. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. bertengkar. Dalam hal ini. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. berkelahi dengan teman sekolah. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Masalah (kasus) ringan. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. seperti: membolos. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. 77 . Perlu digarisbawahi. kesulitan belajar pada bidang tertentu. mencuri kelas ringan. keinginan untuk melanjutkan sekolah.

dokter. kecanduan alkohol dan narkotika. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. 3.2. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. berkelahi antar sekolah. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. berpacaran. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. ahli/profesional. C. seperti: gangguan emosional berat. siswa hamil. seperti: gangguan emosional. kesulitan belajar. melakukan gangguan sosial dan asusila. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. polisi. Masalah (kasus) sedang. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . Masalah (kasus) berat. dengan perbuatan menyimpang. mencuri kelas sedang. percobaan bunuh diri. minum minuman keras tahap pertengahan. karena gangguan di keluarga. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). pelaku kriminalitas. polisi. Secara visual.

dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. kebebasan memilih. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. 3. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. 2008 A.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. personal. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. jenjang. individualitas. non formal. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. karier. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. (c) memfasilitasi perkembangan. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. kejuruan. bermoral. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. dan khusus. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. akademik. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. dan (f) ersikap demokratis B. dan berpotensi. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. keagamaan. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. sosial. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. 1. dan informal. (b) melakukan 79 . individual. dan sosial konseli. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. dasar dan menengah. proses dan program bimbingan dan konseling. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. 4. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. C. 3. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. 2.

tujuan. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. pimpinan sekolah/madrasah. 2008 Dalam Permendiknas No. Namun. tujuan. orang tua. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). dalam bentuk naskah akademik.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. wali kelas. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.dan profesi. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. Oleh karena itu. tenaga administrasi) 5. (b) mengkomunikasikan dasar. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. yang di dalamnya 80 . tujuan. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. 2007. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. 4. Sumber : ABKIN. 6.

Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (7) Pengembangan diri. hemat. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (3) Kematangan emosi. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (6) Kesadaran gender. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual.

(4) Kematangan intelektual. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (2) Landasan perilaku etis. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Oleh karena itu. dalam bentuk naskah akademik. (7) Pengembangan diri. Namun. 2008 Dalam Permendiknas No. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. (3) Kematangan emosi.Jakarta. (9) Wawasan dan kesiapan karier.2007. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (6) Kesadaran gender. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. 83 . ulet hidup hemat. sehari-hari. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma.Jakarta. ulet kewirausahaan hemat. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. dan persyaratan pekerjaan.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. hari. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. 2008 Dalam Permendiknas No. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara.

Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (2) Landasan perilaku etis. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (3) Kematangan emosi. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Oleh karena itu. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (6) Kesadaran gender. (7) Pengembangan diri. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (9) Wawasan dan kesiapan karier. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. dalam bentuk naskah akademik.Namun. (4) Kematangan intelektual. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).

ulet sungguhhemat. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.2007. sengguhulet. hemat.Jakarta. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.ulet. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. pendidikan. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.

ulet.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. pendidikan.Jakarta.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 86 .ulet sungguhhemat.2007. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas. sengguhulet. hemat.

D. Dilihat dari jenisnya. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 2. 3. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program Tahunan. 4. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. 2008 A. dan (5) volume/beban tugas konselor. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. (3) format kegiatan. Program Bulanan. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Semesteran. yaitu: 1. Program Mingguan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. 87 . sasaran pelayanan (4) . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.

Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. (2) pelaksanaan. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. B.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran.5. penempatan dan penyaluran. waktu. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. tempat. dan (e) waktu dan tempat. kegiatan instrumentasi. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. substansi. dan (3)penilaian 1. yaitu : (1) perencanaan. penguasaan konten. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. B. bulanan serta mingguan. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. insidental dan keteladanan.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. serta alat bantu yang digunakan. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . dan (2) kegiatan non tatap muka. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. Program Harian. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. dan pihak-pihak yang terkait. jenis kegiatan. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung.

Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). konseling kelompok. Penilaian segera (LAISEG). himpunan data. 2. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN).. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. C.dalam kelas. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. dan alih tangan kasus. bimbingan kelompok. kunjungan rumah. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. dan (2) penilaian proses. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. perorangan. pemanfaatan kepustakaan. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. menyelenggarakan layanan orientasi. 3. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. kegiatan konferensi kasus. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. 89 . Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. dan mediasi.

responsif. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. 1. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. belajar. bakat. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. guru. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. dan pengembangan karir konseli. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). rancangan. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. 2. 3. 90 . dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. mengandung arti bahwa bentuk. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.

(2003). UK: Cambridge University Press. (2003).D. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2006).Gambar 1. http://aace. CA: Brooks/Cole.W dan J. (2003).edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. The Art of Integrative Counseling. Debra C. Departemen Pendidikan Nasional. (1995). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. G. Balitbang Diknas. DAFTAR RUJUKAN AACE. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Donna A. Dameron. & Henderson. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (2001). Self-Efficacy in Changing Soceties. Merrill Prentice Hall Corey. (Ed. (2005). A. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. VA: AACD. Cobia. Bandung: ABKIN Bandura. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Cambridge. Belomont. Engels. Depsiknas. 91 . Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Handbook of School Counseling. Alexandria. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. New Jersey.ncat. (2005). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (Eds). Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Draft.

& Kottman. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Depdiknas. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R. Alizabeth B. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Houston : Shell Com. (2003). & Hatch. (2005). Patricia A. (2006). ——–. Ellis.Nancy. (2002). New York : MacMillan Publishing Company. Landasan Bimbingan dan Konseling. James J. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 .I. (1990). (1987). Guidance and Counseling in the Schools. (2003). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Remaja Rosda Karya. Lustin. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Bandung : PT. (2005). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Pusat Kurikulum. Depdiknas.dan Juntika N. Terry. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. ASCA (American School Counselor Association). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. James A.H. Havighurts. Sunaryo Kartadinata. (2005). (2003). Bandung : CV Bani Qureys. Depdiknas. (1992).J. 2006. (2005). Depdiknas. LIPI. (1976). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (1953). Pikunas. Human Development. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (1986). ——–. J. Hurlock. (1956). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Judy L. Muro. Michigan School Counselor Association. 2004. T. Syamsu Yusuf L. California : Myfield Publishing Company.N. Management. New York: David Mckay. London : Prentice-Hall International Inc. (1979). Child Development. Adolescence. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Herr Edwin L. Bandung : Remaja Rosda Karya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Introduction to Counseling and Guidance. (1995). Jakarta : Balitbang Depdiknas. Balitbang Depdiknas. R. Comm. dkk. Menteri Pendidikan Nasional.Ltd.L. Jakarta: Puskur Balitbang. Stoner. & Mitchel M. 2006.Browers. Development Taks and Education. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). The National Model for School Counseling Programs. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. 2006).

3 July’96. Woolfolk. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Pd. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Anita E. M. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Akhmad Sudrajat. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. (1996). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. M. Vol 24 No. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Oleh karena itu. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah.Pd. 1995. Oleh karena itu. Dalam hal ini. Educational Psychology. 2008 Oleh : Drs. Uman Suherman. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Sesungguhnya. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Boston : Allyn & Bacon. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. tulisan ini.

timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. Maka. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. petunjuk teknis dan sebagainya. konselor dituntut bekerja secara profesional. petunjuk pelaksanaan. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). baik secara langsung maupun tidak langsung. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. seperti : malas. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. melalui berbagai bentuk aturan. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. ketentuan. Dengan kata lain. Bagaimanapun. Akibatnya. Secara tidak langsung. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Dari sini. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata.1. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya.

diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Bahkan. seperti : seminar. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Sedangkan secara langsung. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. Sekalipun ada. Berbekal kesabaran dan ketekunan. Sehingga pada gilirannya. Walaupun demikian perlu dicatat. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Kemudian. untuk menguasai teknikteknik konseling. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. 2. Sementara. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Misalkan. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. penataran dan pelatihan. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. dengan bercermin dari kekurangan. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 .dalam internet. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki.

Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. terutama masyarakat dan orang tua siswa. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan adanya akuntabilitas ini. Namun pada kenyataannya. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. konselor 96 . Dalam hal ini. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. khususnya kepada bimbingan dan konseling. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Dan pada gilirannya. Oleh karena itu. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Bagaimanapun masyarakat. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. Artinya. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Jadi wajar sekali. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah.mewakili pihak pemerintah. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Tentu saja.

seperti kepala sekolah. Untuk itulah. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. 97 . informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). dewan sekolah atau siapa pun. Dengan kata lain. Atau secara kreatif. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. Bahkan bila perlu. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. khususnya dalam forum Komite Sekolah. Dengan sendirinya. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. kapan saja diperlukan. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Tentu saja. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Prayitno. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Oleh sebab itu. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Karena. Dr. Hal yang perlu dicermati. yang berhubungan dengan data siswa. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Demikianlah. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).(1994). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. (1995). Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Sementara itu. Makalah . 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Prof.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. W.(1995). Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan.. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. 1. Dr. (2) evaluasi program. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. (2001). yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. (1991). Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.S. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. dan (3) evaluasi hasil. Counselors Role in a Changing 98 . (1997). Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural.

guru. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan.html Sofyan S. 2004.dpi. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. Bandung : Alfabeta. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Konseling Individual. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. 2008 99 . Willis. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor.gov/sspw/counsl1. Teori dan Praktek.wisconsin.

2. konsultasi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Kendati demikian. Dalam hal ini. proses. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. konseling kelompok. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. audio visual. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. bibliokonseling. kunjungan rumah. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. catatan anekdot. Daftar konseli 3. Laporan hasil evaluasi program.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. audio. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. buku saku) 7. kotak masalah. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. (c) pemilihan instrumen/media. bimbingan klasikal. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. (d) strategi pelayanan. media cetak : liflet. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Laporan bulanan 5. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. berbentuk : 1. Laporan semesteran/tahunan 6. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. bimbingan kelompok.

Selengkapnya. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Sementara itu. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Demikian pula. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Wilayah Gerak 2. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Tujuan Umum 3. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Sebaliknya. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. konselor. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. dan masalah-masalahnya belajar. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. karier. sosial.

Terutama. katanya. bukan yang memiliki masalah saja. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. Sofyan S. Dr. Menurut dia.” ujarnya. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Karenanya.” ungkapnya.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru.. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. 2007. “Alternatif bisa diusulkan guru. Jl. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. Padahal. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Prof. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. H. Willis. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. sosial. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Jakarta F.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Selain terlalu sering memberikan nasihat. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. M. 102 . kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. Menurut dia. Yang baik. alternatif juga dari dia (siswa-red). Belitung. belajar dan karier.Pd.

pikiran-rakyat. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. layanan etis normatif. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. nilai. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya.melalui pendidikan. ia mengungkapkan. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Berkaitan dengan peran sekolah. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. Saat melakukan konseling. Menurut Sofyan. 103 . dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Karenanya. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. (5) yang dilandasi sikap. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. Sumber : http://www. 6 September 2006. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Supaya konseling cukup efektif. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. dan bukan layanan bebas nilai. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. hal. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa.com/cetak/2006/042006/07/0702. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Sunaryo Kartadinata. menggunakan penyikapan yang empatik. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Dr.

Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. Selain itu. seperti dalam olah raga. pribadi-sosial. dan karier. Menurutnya. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. misalnya melalui asesmen psikologis. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). Misalnya. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya.. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. terutama guru pendidikan khusus. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. serta berguna untuk manusia lain. Dalam hal ini. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. seni dan sebagainya 104 .Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. melalui direct behavioral consultation. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). akademik. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. sejahtera. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Pada jenjang SMP dan SMA. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya.

sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran.. Ditjen PMPTK. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. M.singkatnya pertanyaan itu. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). 6 September 2006. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Empat tahun kemudian. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. pada saat akan mengakhiri studi di SMA.Pikiran Rakyat. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. sekitar 32 tahun yang lalu. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.Pd. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. BSNP. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Setelah keluar dari ruangan BP.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. Jawaban singkatnya. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. hal. Sumber : Sunayo Kartadinata.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”.Atas semua itu.

Sebaliknya. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Selanjutnya. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. menggantikan sebutan Guru BP. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Hanya selang satu tahun setelah lulus. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Pada awal menjadi Guru BP. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. tempat kelahiran penulis. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif).. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Akhirnya. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. jika penulis kelak menjadi guru BP. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing.Begitu juga.

SMA pada saat itu. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. M. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. meski secara formal istilah ini belum digunakan. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Pada tahun 2003. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. sampai dengan sekarang. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. dibandingkan dengan masa-masa 107 . semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Hanya sangat disesalkan.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis.Pd. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Dalam tataran teoritis. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual.harus gigit jari. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya.

dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. Sayangnya. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Menurut pandangan penulis. khususnya di kalangan siswa. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. Contoh kasus terbaru. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . yaitu : 1. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Di sisi lain. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . 2. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. Kesan lama.. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. baik secara personal maupun lembaga. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. kualitas dan distribusinya. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. dengan memperhitungkan segi kuantitas.mata pelajaran di sekolah. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Contoh kasus. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . Meminjam bahasa ekonomi. Oleh karena itu. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Sehingga.

niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Uman Suherman. Begitu juga. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). *)) Akhmad Sudrajat. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. dengan menghadirkan pembicara Dr. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling.dilaksanakan. Dalam dokumen KTSP. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. M. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Jadi. dalam kebijakan sertifikasi guru. Jika ke depannya.Pd. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil.Pd. M. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Jika tidak.

atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. kepala sekolah. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Misalnya. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. guru mata pelajaran. baik dalam bidang akademik. 110 . Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. bulanan. 6. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. oleh siswa. 1. 2. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. sosio-personal. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. Pada saat sedang mengikuti rapat. 4.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. tidak jelas kerjanya. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. baik laporan harian. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. atau tahunan. maupun bidang karier. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. 3.

saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. M. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Untuk itu. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. Dalam jadwal resmi. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). Bapak Drs. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana.Pd. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah.M.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. H. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. maka atas seijin panitia setempat. Rachmat Setiawan. Tentunya saya berharap.

2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . baik yang bersifat preventif. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). dan (10) Waktu Senggang (WSG). efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. (7) Agama. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK).G. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. mudah dan akurat. (2) Diri Pribadi (DPI). Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Sayangnya. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. Kendati demikian. pengembangan maupun kuratif. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Untuk kepentingan analisis data. dkk. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). (3) Hubungan Sosial (HSO). Nilai dan Moral (ANM). Tentunya. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. Melalui analisis data berbasis komputer ini. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali.

(b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. (c) beorientasi hari ini. (e) memikirkan cara hidup. Perlindungan Diri. (d) peduli akan hubungan 113 . dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Seksama. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. 4. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Sadar Diri. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. dan perspektif diri. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. motif. Berdasarkan hasil pengukuran ini. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Anda dapat men-download materi tersebut. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. dkk. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (b) berfikir sterotip dan klise. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (f) kurang introspeksi. (c) peduli akan aturan eksternal. Dengan alat ITP. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. 3. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. (b) bergantung pada lingkungan. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. (c) mampu melihat keragaman emosi. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. (d orientasi pemecahan masalah. Impulsif. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. 2. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. (d) bertindak dengan motif dangkal. Konformistik. (g) takut tidak diterima kelompok. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal.

(e) peduli akan self fulfillment. Otonomi. (g) mengenal kompleksitas diri. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis.mutualistik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. 6. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. Individualistik. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (c) peduli akan paham abstrak. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. Yang diskor 66 soal.. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (4) kematangan intelektual. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (9) wawasan dan persiapan karir. seperti keadilan sosial. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. 7. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). Yang diskor 66 soal. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (5) kesadaran tanggung jawab. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. ( kemandirian perilaku ekonomi. (2) landasaan perilaku etis. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. Yang diskor 40 soal. (3) kematangan emosional. (e) memiliki tujuan jangka panjang.Yang diskor 40 soal. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.

yang terdiri atas: profil kelompok. yang terdiri atas: profil individual.Analisis kelompok. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. untuk jumlah siswa yang besar. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. dkk . distribusi frekuensi nilai. Manajemen data. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. dan penggabungan kelompok.Analisis per individu. Manual Guide ATP Versi 3. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. cepat dan menyenangkan.5 115 . Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. Sumber : Sunaryo. delapan butir tertinggi dan terendah. Namun. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. cara ini akan memakan waktu. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Multi window. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Proses penyekoran. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik.bagian akhir angket. Semakin tinggi skor konsistensi. grafik distribusi frekuensi konsistensi. penghitungan skor konsistensi. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Dengan ATP. Impor data dari file Microsoft Excel.