P. 1
4108141 Bimbingan Dan Konseling

4108141 Bimbingan Dan Konseling

|Views: 1,255|Likes:
Published by Fario Teje Tok Til

More info:

Published by: Fario Teje Tok Til on Jul 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2012

pdf

text

original

Sections

  • Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
  • Landasan Bimbingan dan Konseling
  • Tujuan Bimbingan dan Konseling
  • Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling
  • Bidang Bimbingan dan Konseling
  • Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Konsep Bimbingan Karier
  • Informasi Karier
  • 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling
  • Rubrik Sertifikasi Guru BK
  • Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Proses Layanan Konseling Individual
  • Pendekatan dan Teknik Konseling
  • Pendekatan Konseling Behavioral
  • Pendekatan Konseling Gestalt
  • Pendekatan Konseling Rasional Emotif
  • Pendekatan Konseling Psikoanalisis
  • Konseling Humanistik
  • Terapi Realitas
  • Teknik Umum Konseling (1)
  • Teknik Umum Konseling (2)
  • Teknik Khusus Konseling
  • Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
  • Konseling Pecandu Narkoba
  • Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif
  • Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah
  • Kompetensi Konselor/Guru BK
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA
  • Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi
  • Program Bimbingan dan Konseling
  • Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
  • BK dan MPMBS
  • Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif
  • Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling
  • Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor
  • Guru BK tak Perlu Beri Solusi
  • Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai
  • Penulis dan Bimbingan & Konseling
  • Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi
  • Seminar BK di Universitas Kuningan
  • Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling
  • In House Trainning di SMA N 1 Garawangi
  • Alat Ungkap Masalah
  • Inventori Tugas Perkembangan

A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

4 . 1995. Anita E. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. M. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. dengan mencakup: (1) landasan filosofis.——–.dan Juntika N. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Remaja Rosda Karya. Uman Suherman. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. (1996). kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Woolfolk. M. . Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Vol 24 No. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. landasan filosofis. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. landasan psikologis. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Sebagai sebuah layanan profesional. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis.Pd. Boston : Allyn & Bacon. Bandung : PT. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. religius dan yuridis-formal. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. (3) landasan sosial-budaya. Landasan Bimbingan dan Konseling. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Stoner. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. landasan sosial-budaya. 3 July’96. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. (2005). A. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata kunci : bimbingan dan konseling. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien).Pd. London : Prentice-Hall International Inc. Management. James A. Educational Psychology. (1987). (2) landasan psikologis.

Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. Patterson. dalam Prayitno.tentang landasan bimbingan dan konseling. dengan layanan bimbingan dan konseling. Secara teoritik. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. yaitu landasan filosofis. Alblaster & Lukes. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. para penulis Barat . Selanjutnya. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. B.(Victor Frankl. Demikian pula. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan.. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. etis maupun estetis. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Dengan kata lain. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. khususnya bagi para konselor. Thompson & Rudolph. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. landasan sosial-budaya.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. 5 . dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. landasan psikologis.

golongan darah. a. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. normal atau bahkan sangat kurang (debil. embisil atau ideot). seperti rekreasi. Demikian pula dengan lingkungan. dan (e) kepribadian. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. seperti : rasa lapar. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. (d) belajar. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. seperti struktur otot. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. (b) pembawaan dan lingkungan. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. b. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). (c) perkembangan individu. yang mencakup aspek psiko-fisik. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. 2. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Misalnya dalam kecerdasan. bakat. ada yang sangat tinggi (jenius). memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. Manusia memiliki dimensi fisik. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. warna kulit. kecerdasan. Manusia pada hakikatnya positif.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.

Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan.. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Allport (Calvin S. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. afektif maupun psikomotor/keterampilan. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. baik dalam aspek kognitif.memadai. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Manusia belajar untuk hidup. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Hall dan Gardner Lindzey. d. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. 7 . dan (3) Teori Belajar Gestalt. bahasa dan kognitif/kecerdasan. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi.dan menjadi tersia-siakan. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. c. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Tanpa belajar. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. e. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. frustrasi dan konflik. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. ketegangan emosional. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. moral dan sosial. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif.

Seperti mau menerima resiko secara wajar. Sejak lahirnya. Fromm. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Watson. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. psikologi perkembangan. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Oleh karena itu. yaitu disposisi reaktif seorang. yaitu bidang psikologi umum. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. tampang. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. teori Personologi dari Murray. Sementara itu. atau putus asa. maka 8 . Responsibilitas (tanggung jawab). Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. cuci tangan. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. yang mencakup : • • • • • • Karakter. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. 3. Sosiabilitas. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Horney dan Sullivan. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. sedih. negatif atau ambivalen. Sikap. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Teori Psikologi Individual dari Allport. Teori Medan dari Kurt Lewin. Temperamen. Hull. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Selain itu. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Stabilitas emosi. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Begitu pula. hormon. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian.

inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. (b) komunikasi non-verbal. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Sejalan dengan perkembangan teknologi. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. (d) kecenderungan menilai. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. ilmu ekonomi. analisis dokumen. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. wawancara. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. filsafat. ilmu hukum dan agama. biologi. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. seperti: pengamatan. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. statistik. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. ilmu pendidikan. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. Moh. evaluasi. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. 4. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. pemikiran. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. (c) stereotipe. 2003). pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. seperti : psikologi. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. prosedur tes. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. yaitu : (a) perbedaan bahasa. yaitu kesamaan di atas keragaman. antroplogi. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. dan (e) kecemasan. manajemen. sosiologi. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Menurut Gausel (Prayitno. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya.

(b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Moh. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. 10 . C. dalam bentuk “cyber counseling”. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Ditegaskan pula oleh Moh. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Peraturan Pemerintah. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.pendidikan. landasan religius dan landasan yuridis-formal. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Undang – Undang. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Sebagai ilmuwan. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Dikemukakan pula.

dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Calvin S. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. 1980. Theory Into Practice.T. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Jakarta : PT Raja Grafindo. 11 . 2003. PT Golden Terayon Press. Remaja Rosdakarya.M. 2003. (b) pembawaan dan lingkungan. Arifin.IKIP Bandung . Jakarta. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Bandung : P. Gerlald Corey. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. meliputi : (a) motif dan motivasi. New York : McMillan Publishing. Margaret E. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Elizabeth B. Koswara).. Learning & Instruction. 2003. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. 2003. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Psikologi Sosial. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Bandung PPB . 2005. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. (c) landasan sosial-budaya.1992. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Nana Syaodih Sukmadinata. Supratiknya). dan (d) kepribadian. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). Hall & Gardner Lidzey (editor A. Psikologi Belajar.———-2006. E. landasan religius dan landasan yuridis-formal. 2004. (d) belajar. (b) landasan psikologis. Surya. 1997. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. (c) perkembangan individu. Bandung : PT ErescoH. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Majalengka : Sanggar BK SMP. Hurlock. 2005.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Psikologi Pendidikan. Bandung : Refika Gerungan 1964. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Developmental Phsychology. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Jakarta : Rineka Cipta . Sekolah/Madrasah. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Psikologi Kepribadian. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. 1984. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. pergaulan dengan teman sebaya. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.Konseling Individual. Willis. baik dalam kehidupan pribadi. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. 2004. masyarakat. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.2005. serta 12 . penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. Jakarta : Rajawali.Prayitno. belajar (akademik). dan tugas-tugas perkem-bangannya. Syamsu Yusuf LN. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. maupun lingkungan kerja. dan karir. tempat kerja. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan.. 2003. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. 1. 2004. Jakarta : Depdiknas . Teori dan Praktek. maupun masyarakat pada umumnya. keluarga. kekuatan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. 2004. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. dkk. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.———-. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi.——–2003. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. dkk.

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. prospek kerja. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. 3. dan kesejahteraan kerja. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Oleh karena itu. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Dapat membentuk pola-pola karir. mengerjakan tugas-tugas. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. tanpa merasa rendah diri. 13 . Memiliki rasa tanggung jawab. yaitu kecenderungan arah karir. asal bermakna bagi dirinya. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). seperti keterampilan membaca buku. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. seperti kebiasaan membaca buku. mencatat pelajaran. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. 2. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. seperti membuat jadwal belajar. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. kemampuan. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. persaudaraan. kemampuan dan minat. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Mengenal keterampilan. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. dan sesuai dengan norma agama. menghormati atau menghargai orang lain. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. atau silaturahim dengan sesama manusia. baik fisik maupun psikis. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. disiplin dalam belajar.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. mengggunakan kamus.

H. Alizabeth B. Herr Edwin L. Judy L. (2007). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2005). http://aace. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. CA: Brooks/Cole.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.ncat. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.D. Columbia: The Educational Resources Information Center. & Henderson. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). 2006. UK: Cambridge University Press. (1953). Browers. DAFTAR RUJUKAN AACE. Havighurts. & Hatch. (1995). (1992). Comm. J. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Depdiknas. ASCA (American School Counselor Association). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. New York: David Mckay. Hurlock. California : Myfield Publishing Company. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Depdiknas. Child Development. (2006). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (2005). Dameron. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. The Art of Integrative Counseling. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (1979). Departemen Pendidikan Nasional. G. Development Taks and Education. (2002). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.). (Eds). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Guidance and Counseling in the Schools. New York : MacMillan Publishing Company. Adolescence. (2003). Depsiknas. 2006). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Belomont. D. (2003). Merrill Prentice Hall Corey. Engels. Ellis. (1956). A. (2003). VA: AACD.J. (1986). Depdiknas. Patricia A. Jakarta: Puskur Balitbang. (2006). (2003). Draft.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Gibson R. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. T.I. Introduction to Counseling and Guidance. Bandung: ABKIN Bandura.Nancy. Alexandria. New Jersey. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.W dan J. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1990). R. Donna A. The National Model for School Counseling Programs. & Mitchel M.L. (Ed. Houston : Shell Com. Handbook of School Counseling. (2005). Menteri Pendidikan Nasional. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Self-Efficacy in Changing Soceties. Balitbang Diknas. Debra C. (2001). Cambridge. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Cobia.

Berdasarkan pemahaman ini. Uman Suherman. London : Prentice-Hall International Inc. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. ——–. Pusat Kurikulum. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Bandung : CV Bani Qureys. Anita E. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. supaya tidak dialami oleh konseli. LIPI. & Kottman. Michigan School Counselor Association. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.Ltd. (2005). (1995). Muro. Bandung : PT. Syamsu Yusuf L. (2005). Sunaryo Kartadinata. Fungsi Preventif.Menteri Pendidikan Nasional.Pd. James A. dan norma agama). Remaja Rosda Karya. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). 2006.N. M. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Boston : Allyn & Bacon. Management. Fungsi Pemahaman. Pikunas. (1976). Melalui fungsi ini. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Human Development. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. ——–. Madison : Brown & Benchmark. Jakarta : Balitbang Depdiknas. 3 July’96. Terry. (1987). Landasan Bimbingan dan Konseling. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 1995. 2. Lustin. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. 2004. dkk. (2005). Vol 24 No. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.dan Juntika N. pekerjaan. Woolfolk. (2003). Educational Psychology. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Balitbang Depdiknas. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Adapun teknik yang 15 . Stoner. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. (1996). James J. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. (2003).

home room. serasi. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Fungsi Perbaikan. konselor. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. dan kebutuhan konseli. Dalam melaksanakan fungsi ini. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Fungsi Adaptasi. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. baik menyangkut aspek pribadi. maupun karir. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. 7. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. drop out. 6. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. 5. 3. dan bimbingan kelompok. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. baik pria maupun wanita. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. kemampuan. 10. 8. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. jurusan atau program studi. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. dan remedial teaching. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Fungsi Penyembuhan. Fungsi Penyesuaian. sosial. tutorial. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. berperasaan dan bertindak (berkehendak). baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. bakat. diantaranya : bahayanya minuman keras. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. yang memfasilitasi perkembangan konseli. Fungsi Fasilitasi. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Fungsi Pemeliharaan. dan karyawisata. merokok. penyalahgunaan obatobatan. memilih metode dan proses pembelajaran. informasi. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. 4. belajar. Fungsi Penyaluran. dan pergaulan bebas (free sex). Fungsi Pengembangan. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. minat. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. baik anak- 16 . 9.

karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Bimbingan menekankan hal yang positif. 3. Asas kesukarelaan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. dan masyarakat pada umumnya. tetapi juga di lingkungan keluarga. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. anak. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Asas Kerahasiaan. 5. 1. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. dan peluang untuk berkembang. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Asas keterbukaan. 6. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 17 . dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Mereka bekerja sebagai teamwork. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. pendidikan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Agar konseli dapat terbuka. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli.2. remaja. dan pekerjaan. menyesuaikan diri. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. yaitu meliputi aspek pribadi. sosial. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). maupun dewasa. 4. 3. 2. memberikan dorongan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. perusahaan/industri. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). lembaga-lembaga pemerintah/swasta.

dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. adat istiadat. Asas Kedinamisan. 5. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. 6. ilmu pengetahuan. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. saling menunjang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju.edu 18 . dan terpadu. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. 7. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. menghayati. atau ahli lain . yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. 9.ncat. DAFTAR RUJUKAN AACE. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 11. yaitu nilai dan norma agama. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Asas Kekinian. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.4. (2003). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas kemandirian. Asas Alih Tangan Kasus. tidak monoton. harmonis. Asas Keharmonisan. mampu mengambil keputusan. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. 10. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas Keterpaduan. Lebih jauh. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. dan kebiasaan yang berlaku. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. http://aace. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. 8. guruguru lain. hukum dan peraturan. Asas kegiatan. Asas Keahlian.

UK: Cambridge University Press. Adolescence. New Jersey. T. Menteri Pendidikan Nasional. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas. New York : McGraw Hill Book Company Inc. The Art of Integrative Counseling.D.Nancy. (1992). & Mitchel M. Herr Edwin L. Jakarta: Puskur Balitbang. & Henderson. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Browers. Belomont. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Columbia: The Educational Resources Information Center. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (1990). Depsiknas. Balitbang Diknas. Depdiknas. (2005). (2003). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.H. Debra C. Child Development. ASCA (American School Counselor Association). Alexandria. Donna A. (1979).Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Draft. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. 2006). Comm. (1953). Alizabeth B. (2003). VA: AACD. R. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. A. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2002). Judy L. Engels. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. G. (2006). (2007). The National Model for School Counseling Programs. 19 . Handbook of School Counseling. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. D. (2001).). (2005). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura. New York: David Mckay. Development Taks and Education. (1956). Hurlock. New York : MacMillan Publishing Company. Ellis. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Depdiknas. 2006. Merrill Prentice Hall Corey. Havighurts.W dan J. (Eds).I. CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. Cobia. (2003). Cambridge. (2005). (Ed. & Hatch. (1986). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Michigan School Counselor Association. Dameron. J. 2006. Depdiknas. (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Gibson R. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Introduction to Counseling and Guidance.L. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program.J. Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (2006). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2005). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. California : Myfield Publishing Company. Patricia A.

(1987). yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi.dan Juntika N. Educational Psychology. ——–. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1976). Remaja Rosda Karya. 1995. Stoner. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : PT. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.Pd. Bandung : Remaja Rosda Karya. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. anggota keluarga. LIPI. 3 July’96. Management. Landasan Bimbingan dan Konseling. Sunaryo Kartadinata. (2003). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. M. Boston : Allyn & Bacon. Pengembangan kehidupan sosial. (2003). Pikunas. dkk. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Pengembangan karir. London : Prentice-Hall International Inc. Uman Suherman.Muro. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Pengembangan kemampuan belajar. Balitbang Depdiknas. bakat dan minat. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (2005). serta memilih dan mengambil keputusan karir. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. menilai.Ltd. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Lustin. Madison : Brown & Benchmark. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. 2004. ——–. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). (2005). 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. (1996). yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Woolfolk. Bandung : CV Bani Qureys. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Syamsu Yusuf L. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Pusat Kurikulum.N. Terry. James J. James A. & Kottman. (1995). Human Development. Vol 24 No. 20 . Anita E. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8.

Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. kelompok belajar. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. minat dan segenap potensi lainnya. serta untuk 21 . Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. dalam bidang pribadi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. pendidikan lanjutan). sosial. Layanan Informasi. magang. diantaranya: Layanan Orientasi. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Konseling Perorangan. • • • • Layanan Konten. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. program latihan. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. karier. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Bimbingan Kelompok. pergaulan. jurusan/program studi.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

dkk. 2004. (Muslihudin. belajar ataupun kariernya. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Diantaranya. 1987. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. perusahaan. 5. belajar maupun kariernya. 2. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. sosial. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 6. sosial. berbangsa dan bernegara.Pd. Namun.. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. dkk. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. 2004) Sumber : Bahrul Falah. bermasyarakat. M. Bandung : LPMP Jawa Barat. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Ke Arah Pengertian Developmental. mereka mempertanyakan. Hattari. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya.1. 1983. 3. Jakarta : BP3K. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. 4.

dan sebagainya. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Dalam hal ini. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. seperti bakat. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Materi Informasi. Untuk itulah. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. baik melalui media cetak atau eleltronik. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. pasar kerja. Namun. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful).Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. minat. bakat. Di samping itu. seperti kecerdasan. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. baik tentang bakat. jenis dan prospek pekerjaan. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. cita-cita. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. ciri-ciri 26 . yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Untuk itulah. materi informasi yang bersifat personal. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. jenis pekerjaan. seperti kondisi sosio-kultural. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. persyaratan. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. ciri-ciri pekerjaan. Karena. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. karier.

maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Selain itu. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Untuk itu. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. Misalkan. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. atau minat pekerjaannya. artikel. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa.Jakarta : IPBI 27 . siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. (1995). dalam rangka menambah wawasan. berdasarkan hasil pengalamannya. Dari hasil kunjungan. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Dalam hal ini. keterangan. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Selain itu. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Sebagaimana telah disinggung di atas.kepribadian. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya.

baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. pelayanan responsif. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. W. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. (1997). Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 2. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Begitu pula. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. perencanaan individual. Dalam hal ini. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. yaitu sama-sama menginginkan 28 . (1991). dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya.

melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. baik untuk kepentingan pencegahan. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Kendati demikian. modifikasi perilaku. 3. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. 6. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. pengubahan lingkungan. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). Masalahnya. serta teknis medis lainnya. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. penguatan mental/psikis. 7. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. mendiagnosis. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. 5. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. 29 . pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater.

siswa. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan.sosial. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Di sekolah misalnya. orang tua. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. penunjuk jalan. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. pemberi informasi.dan lingkungan.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Konselor adalah kawan pengiring. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Namun demikian. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Pekerjaan yang 30 . Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.dan piha-pihak lain. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. 9. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa.guru. Begitu pula sebaliknya.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. 10.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. disiplin dan keamanan di sekolah. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. pembangun kekuatan. seperti “praktik pribadi”. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal.

tersendat-sendat. dan sarana yang tersedia.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. 14. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. tujuan. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Sedangkan jawaban ”tidak”. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. metode. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Pada dasarnya. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. dan asas-asas tertentu). atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. dalam hal ini konselor. Bahkan sering kali terjadi. bersikap “jemput bola”. tujuan yang ingin dicapai. menghambat. guru pembimbing memang harus aktif. Dengan kata lain.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. pihak lain pun. maka hasilnya akan kurang mantap. terutama klien. 11. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. 13. Di sekolah. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Konselor harus aktif. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. 12.Lebih jauh.inventori. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. ada dan digunakannya instrumen (tes. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi.Oleh sebab itu. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. jenis dan sifat masalah.Sementara itu. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. Jawaban ”benar”.

Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Misalkan. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.2003. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga.15. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter.

M. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Layanan Dasar. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. memiliki mental yang sehat. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling.Selama mengikuti pelatihan. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. selaku ketua PB. Hal yang cukup mengagetkan penulis. standar kompetensi konselor.Pd. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Ketika membuka kegiatan pelatihan. Dr. Sunaryo. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. 33 . yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas.ABKIN. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yaitu : 1. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Prof. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.(lihat 1. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. memperoleh keterampilan hidup. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan.

Uman Suherman. Untuk lebih jelasnya. baik menyangkut aspek pribadi. manajemen program. merencanakan. dan masyarakat yang lebih luas. Layanan dukungan sistem.Pd. baik dalam Kurikulum 1975. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. M. maupun karier.N.Pd. Syamsu Yusuf L. Layanan Responsif. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 .) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Layanan Perencanaan Individual. sosial. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. dan Dr. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. referal dan bimbingan teman sebaya. Uman Suherman. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. Agus Taufiq. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. penasihatan individual atau kelompok. konseling individual. M. atau mengelola pengembangan dirinya.Pd. konsultasi dengan guru lain. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. hubungan masyarakat dan staf. 3. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Dr. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran.2. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. M. Kurikulum 1984. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. memelihara. A.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. Perbedaannya. M.Pd.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. 4. Selain itu. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. belajar. dan penelitian dan pengembangan. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. staf ahli. mau pun Kurikulum 1994.. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. konseling kelompok. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya.

khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Dalam hal ini. 2. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. kotak masalah. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. buku saku) 7. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . (d) strategi pelayanan. proses. Laporan bulanan 5. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. bibliokonseling. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. audio visual. Laporan semesteran/tahunan 6. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Kendati demikian. Daftar konseli 3. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. catatan anekdot.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. bimbingan klasikal. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Laporan hasil evaluasi program. kunjungan rumah. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. konseling kelompok. (c) pemilihan instrumen/media. audio. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . media cetak : liflet. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. berbentuk : 1. konsultasi. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. bimbingan kelompok. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Oleh karena itu. (2) tahap inti (tahap kerja).Pd. keterbukaan. Secara umum. 39 . memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. berisi : (1) Kontrak waktu. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Menegosiasikan kontrak. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Membuat penaksiran dan perjajagan. M. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. dan kegiatan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. terutama asas kerahasiaan. A. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. (2) Kontrak tugas. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. kesukarelaan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. B.

serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.tugas profesionalnya. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. gestalt. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Dr. (1) menurunnya kecemasan klien.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. M.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. baik oleh pihak konselor maupun klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. DYP Sugiharto. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. yaitu . Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. psikoanaliss. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. dan trait and factor. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. sehat dan dinamis. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). C. Dalam bentuk tayangan slide. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). rational emotive therapy (RET). Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. (c) peniruan. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. 2. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. 2008 A. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. 3.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. B. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. 4. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. (b) pembiasaan operan. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. 41 .

Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. Konselor aktif : 1. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. (c) kemungkinan manfaatnya. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Technique implementation. pola hubungan interpersonal. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. 42 . Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Goal setting. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (b) apakah tujuan itu realistik. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. tingkah laku penyesuaian. 4.D. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. dan (d)k emungkinan kerugiannya. atau melakukan referal. Feedback. kekuatan dan kelemahannya. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. 2. 3. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Evaluation termination. Assesment. 5. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien.

Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. tape recorder. dapat menggunakan model audio. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. model fisik. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Sumber : Dr. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. atau contoh nyata langsung).Pd. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. M. kesulitan menyatakan tidak. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. DYP Sugiharto. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. (Makalah) 43 . Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.

persepsi.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. menuntut. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. jantung. dan sebagainya. rasa berdosa. pera-saan. perasaan. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Under dog adalah keadaan defensif. kebencian. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). otak. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. lemah. kemarahan. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Dalam pendekatan ini. ingin dimaklumi. membela diri. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. dan tingkah lakunya 44 . perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. B. Meskipun tidak bisa diungkapkan. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. tidak berdaya. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. 2008 A. pasif. kecemasan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. emosi. kedudukan. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. maka mereka mengalami kecemasan. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. rasa diabaikan. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. dan pemikirannya. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. mengancam. (3) aktor bukan reaktor. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. sakit hati.

Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. serta mendapatkan insight secara penuh. D. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . C. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. 45 . interpretasi maupun memberi nasihat.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. memahami kenyataan atau realitas. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi.

Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Melalui fase ini. Fase keempat. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. bodoh. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Fase kedua. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. perasaan. atau gila. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. konselor mengembangkan pertemuan konseling. Dalam hal ini. Teknik Konseling 46 . dan tingkah lakunya. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. dalam situasi di sini dan saat ini. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Fase ketiga. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. perasaan-perasaannya. dirinya tidak berdaya. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri.

Misalnya : “Saya merasa jenuh. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Orientasi Sekarang dan Di Sini. Dalam kaitan itu. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Orientasi Eksperiensial. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.

Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. DYP Sugiharto. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Pendekatan-Pendekatan Konseling.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. (Makalah) 48 . Meskipun tampaknya mekanis. M. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.Sering terjadi. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. “Saya malas.Pd. Sumber : Dr. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.

dan keran itu tidak produktif.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Belief (B) yaitu keyakinan. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. dan Emotional consequence (C). Belief (B). atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. yaitu Antecedent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. Keyakinan seseorang ada dua macam. sangat personal. bijaksana. masuk akal. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. kelulusan bagi siswa.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). dan irasional. dan kerana itu menjadi prosuktif. tingkah laku. emosional. dan kompeten. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). kejadian. Perceraian suatu keluarga. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. pandangan. B. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. antara kenyatan dan imajinasi. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. yang dapat diterima menurut akal sehat. (c) orang tua atau masyarakat 49 . tidak masuk akal. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. 2008 A. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. atau sikap orang lain. bahagia. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. interpretasi.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. kekhawatiran. nilai.

(b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. Kedua. jahat. (6) menerima ketidakpastian. (2) minat sosial. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. (3) pengarahan diri. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. merasa was-was. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. C. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. (4) toleransi terhadap pihak lain. merusak. disalahkan. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. mengerikan. (5) fleksibel. cara berpikir. ( penerimaan diri. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . persepsi. dan dihukum. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. bencana yang dahsyat. D. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. Ketiga. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (9) berani mengambil risiko.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. rasa berdosa. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. dan (10) menerima kenyataan. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. rasa marah. rasa cemas. rasa bersalah. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya.

dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Aktif-direktif. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. afektif. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. E. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. 3. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Behavioristik. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. 2. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. 4. mendorong. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Kognitif-eksperiensial. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Emotif-ekspreriensial. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien.

Pd. atau meniru model-model sosial. DYP Sugiharto. latihan. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Sumber : Dr. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. membiasakan diri. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. Dengan memberikan reward ataupun punishment. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). (Makalah) 52 . (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. mengobservasi. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. M. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Dengan tugas rumah yang diberikan. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments.

Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. ego. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. untuk ditata. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. yaitu id. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. Konsep Dasar 1. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Menutup wawancara konseling E. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. terutama usia 2-5 tahun. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. dan super ego C. Manusia secara esensial bersifat biologis. 2008 A. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Deskripsi Proses Konseling 1. Klien diminta 53 . Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Hakikat manusia. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. konflik dan simbolisme. D. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. disikusikan. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. 2.

Menurut Freud. resistensi. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Transferensi adalah mengalihkan. dan transferensi klien. Konsep Dasar: 1. kebencian. 54 . Analisis resistensi. 3. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Dengan perkataan lain. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Memandang manusia sebagai individu yang unik. pengalamannya tertekan. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. resistensi berati penolakan. 2008 A. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. seksualitas. Interpretasi. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. asosiasi bebas. Manusia tidak pernah statis. Dalam hal ini. Konselor menetapkan. Hal ini disebut juga katarsis. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. baik dalam asosiasi bebas. 2. Manusia merupakan seseorang yang ada. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Analisis mimpi. objektif. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. B. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. resitensi dan transferensi.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. anonim. mimpi.

Willis. Konseling Individual.C. Tujuan Konseling 1. D. 4. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. 2. 2007. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). persepsi cara berfikir. yang unik. (4) mewujudkan dirinya. (3) understanding (pemahaman). 1997. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. 5. (3) mengarahkan diri. Sumber: Sayekti. Memperbaiki dan mengubah sikap. E. 3. Teori dan Praktek. (5) encouragement (memberi dorongan). (2) mengambil keputusan yang tepat. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. 3. Rogers. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. (4) reassurance (menentramkan hati). Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Deskripsi Proses Konseling 1. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. (2) respect (rasa hormat). 4. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Saya adalah saya 2. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Bandung: Alfabeta 55 . meliputi: (1) acceptance (penerimaan).

dianalisis dan ditafsirkan. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Menurutnya. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. 3. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. 2008 A. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. diperbaiki. 3. Tanggung jawab 56 . 2. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. 4. sebagai pengalaman yang berharga. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. 5. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. 2. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. yang hadir di seluruh kehidupannya. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun.

5. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5. 3. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. 4. 2. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. D.. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Pengikat janji (contractor). supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 6. 5. Motivator. Tujuan Terapi 1. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Penyalur tanggung jawab. C. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. 4. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. baik berupa limit waktu. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 3. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 6. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. Guru. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. 7. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Moralist. 2. 4. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan.

Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Memutuskan pembicaraan. Perhatian : terpecah. Willis. ceria. Bandung: Alfabeta. diantaranya : A. duduk kurang akrab dan berpaling. bahasa tubuh. Teori dan Praktek. miring. Sumber: Sayekti. Menciptakan suasana yang aman 3. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. 8. mata melotot. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. menunggu ucapan klien hingga selesai. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Untuk lebih jelasnya. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Empati dilakukan sejalan 58 . ekspresi melamun. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. B. Konseling Individual. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Posisi tubuh : tegak kaku. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. 2. jarak duduk dengan klien menjauh.7. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). dan bahasa lisan. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 1997. mudah buyar oleh gangguan luar. perhatian terarah pada lawan bicara. menggunakan tangan sebagai isyarat. mengalihkan pandangan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. 2007. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. bersandar. tidak melihat saat klien sedang bicara. Meningkatkan harga diri klien. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang.

yaitu teknik untuk menggali ide. pikiran. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. tertekan dan terancam. 2. yaitu : 1. Eksplorasi pengalaman.” Saya mengerti keinginan Anda”. Refleksi perasaan.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu teknik untuk memantulkan ide. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Seperti halnya pada teknik refleksi. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Eksplorasi perasaan. pengalaman termasuk penderitaannya. pikiran dan keinginan klien. Refleksi pikiran. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. C. Refleksi pengalaman. Empati tingkat tinggi. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D.” 2. menutup diri. yaitu : 1. Empati primer. berupa perasaan. 3. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. yaitu : 1. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Terdapat dua macam empati. pikiran. pikiran. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. dan pendapat klien. 59 .dengan perilaku attending. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. dan mengamati respons klien terhadap konselor. pikiran.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. dan pengalaman klien. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” 2. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. Eksplorasi pikiran. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.

yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . dapatkah. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik.” F.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. lalu…. adakah.. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . ya…. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Oleh karenanya. akan tetapi saya tidak mengambilnya. terus…. (3) memberi arah wawancara konseling. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. bagaimana. lebih baik gunakan kata tanya apakah.

Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Jakarta : PPPG 61 . kedua. Jakarta. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.(2005. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” K. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.M. Membantu orang tua memang harus. Willis. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. J. PT Golden Terayon Press. 2004. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Saya tak dapat lagi menahan diri. Karena tantangan masa depan makin banyak. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. bukan pandangan subyektif konselor. Arifin.I. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Sugiharto. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. 2003. Teori dan Praktek. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. (3) meningkatkan kualitas diskusi.” Sumber : Sofyan S. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).Konseling Individual. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Bandung : Alfabeta H.

Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. diantaranya : 1. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. telah membuat kamu menderita. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. senyum dengan kepedihan. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. konflik. Contoh : ” Roni. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. (2) meningkatkan potensi klien. Fokus pada orang lain.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Oleh karena itu. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Fokus pada topik. dan sebagainya. atau kontradiksi dalam dirinya. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Contoh : ” Tanti.” C. 4. 2008 A. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Fokus mengenai budaya. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. 2. Contoh dialog : 62 . Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. ide awal dengan ide berikutnya. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Fokus pada diri klien.

D. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Konselor :”…………. dan kurang parisipatif. pikiran.” (diam) G. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. dan dengan alasan-alasan yang logis.” E. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak.Klien : ” Saya baik-baik saja”.” F. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan... Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.. posisi tubuh gelisah). ibu. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. sering diam. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar.. Contoh: ” Baiklah. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. ungkapan kata-kata yang tegas. tidak tahu..(suara rendah.. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Walaupun demikian. Saya. (2) agar klien menjelaskan.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.” (diam) Klien :” Saya. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. dan pengalamannya secara bebas. Coba Anda renungkan kembali”. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. atau saudara-saudara Anda. paling lama 5 – 10 detik. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. 63 . wajah murung. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. kurang jelas dan agak meragukan.harus bagaimana. G.

Rational Emotive Theraphy. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Willis.Konseling Individual.” H. (2) memantapkan rencana klien. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Teori dan Praktek. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Bandung : Alfabeta H. Sugiharto. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. (3) pemahaman baru klien. 2008 Dalam konseling.com di internet”. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Sofyan S. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya.(2005. 2004. 2003.upi. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Kalau pun konselor mengetahuinya. seperti pendekatan Behaviorisme. terutama mengenai kecemasan. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. I. di samping menggunakan teknik-teknik umum. yaitu : 64 .M. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. PT Golden Terayon Press. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Jakarta. Contoh : ” Nah. Arifin.

yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. 65 . Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. 3. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.1. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. 4. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. 5. kesulitan menyatakan tidak. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. dapat menggunakan model audio. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. model fisik.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. “Saya malas. 9. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 7. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.Melalui dialog yang kontradiktif ini. 6. 8. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.

Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. PT Golden Terayon Press. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. mendorong. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Jakarta : PPPG 67 . Dengan tugas rumah yang diberikan. 11. Sumber : H. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Teori dan Praktek. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Willis. Jakarta.M. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. 2004. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. 13. 12. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Home work assigments. 2003. membiasakan diri. Sofyan S. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor.(2005. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.Konseling Individual. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 10. Arifin. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. kurang bersahabat. dan sombong. orang lain. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. terisolik. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. terus bertahan. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Makin lama perasaan ditolak. susah tak ada/punya teman yang peduli. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. mengontrol dunia. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Dasar saya anak desa.

yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. pemalu. karena saya berharga dihadiratNya. mengobservasi dan evaluasi diri. Cara konselor ialah 69 . Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. Sehubungan dengan kasus. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Tekniknya jelas. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. dan seterusnya. hanya 10% saja yang membeci saya. Ia menjadi minder. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. peduli. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. karena saya tak berharga. Saya pantas menderita karena semuanya itu. tak seperti orang/teman-teman lainnya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. puas dan bangga. teliti. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. pemberian nasehat secara tepat.dibiarkan terus berlangsung. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. bahkan adakalanya saya benci. semua teman memperhatikan / mendukung. Ide-ide ini diajarkan. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. sugestif. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Allah mengasihi saya. Itu berarti salah saya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. memaki-maki diri saya sendiri. bermain peran. 50% netral. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri.

Jakarta Surya. Prayitno. progdi BK PPB. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi.. M. 1991. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. 2. 4. Pengantar Teori-teori Konseling. 1988. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. IKIP Semarang Pres. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. FIP. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. 1991/1995. 1998.. Konseling Pancawashita. 1998. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Kota Kembang. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru.. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Kesimpulannya. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup.dengan pendekatan yang tegas. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. (5) menerima kenyataan bahwa. Yogyakarta. Kesegaran hasil yang dicapai. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. SUMBER Aryatmi. menantang. S. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. IKIP Padang Rosjidan. mendebat. 3. jika kita mengharap untuk berubah. Corey G. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). Satya Wacana Semarang. 70 . Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK.

*) Sofyan S. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Vietnam. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Australia. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. terutama remaja. Turki. 22-5-2001). Konseling Agama. Pendidikan dan Pelatihan. 1977). dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. rematik. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Pemulihan. 1977).Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Thailand). Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Bagaimana di Eropa. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Kata Kunci: Konseling Terpadu. dan Asia. Opium banyak pula ditemukan di Cina. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). malaria. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Kunjungan. Mesir. Cina. dan analgesik (Martin. dan segitiga emas (Kamboja. dan Partisipasi Sosial. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Konseling Keluarga. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Pendahuluan 1. Martin. dan untuk bahan analgesik (Kisker. 1977). Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Pasca RSKO. pecandu narkoba. obat lemah badan. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. 1977. dan Amerika Selatan. Konseling Kelompok. keluarga. tidak menyalahkan pihak luar.

Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. 1. maka AMK pun menirunya. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. 1995). Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. sehingga narkoba mudah beredar. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Masalahnya. 1.000. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. namun terbentur pada lemahnya hukum. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. melalui metode Konseling Terpadu. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. konsumtif. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). Ulwan. 1989). karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Minneapolis. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. Artinya. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. 25-52001). dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. 1993). Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Ciri pergaulan AMK adalah bebas. 1978). (c) mencintai keluarga. Sedangkan. Willis. 1979). (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat.000 = Rp.Willis. kolusi. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. suatu angka yang fantastis.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. Minnesota.200. khususnya generasi muda. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. 1979).bulan. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. 2001). bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. dan film-film. VCD. 72 .800 miliar. Sebagai perbandingan.200. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Hal ini berarti. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan.

1980). Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. terapi nutrisi/vitamin. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. dan fisik.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. prescribe mood-controlling medications. and than put the patient back on the street. kehilangan pekerjaan. para siswa. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. memahami. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. Willis 1995). (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. 1977). dijauhi orang-orang yang dicintai. akan tumbuh 73 . 2. intelektual. 2. taat ibadah. terbuka. dan berbuat baik terhadap sesama. Jika konselor tidak menguasai soal agama. anggota DPR. hangat. ibu-ibu pengajian. Melalui interpersonal relation. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. dan sebagainya. bermoral. Sebagai seorang dokter medis. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. and back to destructive drinking”. (3) menerima realita hidup dengan jujur. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. sarjana. dsb). dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. back home. sosial. tokoh-tokoh masyarakat. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. institute nutrition and vitamin therapy. or back on the job.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. Selanjutnya. 2.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. dan asli (genuine) dari konselor. spiritual. menerima cobaan hidup dengan tawakal. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Mann memuji pendekatan Panti St. guru-guru BK di sekolah.

Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. 2.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. istri. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. marah. percaya diri. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. 3. dan sebagainya. Di samping itu. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. sedangkan pesertanya adalah klien. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo.kepercayaan diri klien (Yalom. 1985). dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. suami/istri. Selanjutnya. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. Kemudian. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. dan keluarga dekat lainnya. saudara. 74 . pacar.. keluarga. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. 4. keluarga. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. kritikan-kritikan. 1982). dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. suami. Selanjutnya. Di samping itu. pesan. Demikian juga. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. orang tua. saudara. dan masyarakat. 2. Selanjutnya. 5. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. merusak diri. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. dan masyarakat. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. mencemarkan nama keluarga. ibu. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. serta penyesalan terhadap masa lalu. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. ada kesempatan untuk memberi saran-saran.

baik perilaku verbal maupun non verbal. Sumber : http://depdiknas. bimbingan kelompok. dan konseling keluarga. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Willis. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Barbara F.id. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.go. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. Okun (Sofyan S. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. 2008 Dalam proses konseling.

khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. 2004. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Sebagai lembaga pendidikan. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Willis. Kendati demikian. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Secara visual. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Oleh karena itu. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada.

Oleh karena itu.Dengan melihat gambar di atas. Sofyan S. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. seperti: membolos. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. serta hal-hal positif lainnya. Lebih jauh. berpacaran. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. malas. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. kesulitan belajar pada bidang tertentu. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. minum minuman keras tahap awal. Dalam hal ini. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. bertengkar. 77 . berkelahi dengan teman sekolah. Sebagai ilustrasi. keinginan untuk melanjutkan sekolah. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. mencuri kelas ringan. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Perlu digarisbawahi. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini. Masalah (kasus) ringan. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya.

mencuri kelas sedang. kecanduan alkohol dan narkotika. C. Secara visual. melakukan gangguan sosial dan asusila. guru dan sebagainya. siswa hamil. karena gangguan di keluarga. minum minuman keras tahap pertengahan. 3. kesulitan belajar. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . pelaku kriminalitas. polisi. berkelahi antar sekolah. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. berpacaran. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. ahli/profesional. percobaan bunuh diri. seperti: gangguan emosional berat. dengan perbuatan menyimpang. seperti: gangguan emosional. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Masalah (kasus) berat. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). polisi. dokter.2. Masalah (kasus) sedang.

proses dan program bimbingan dan konseling. bermoral. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. 1. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. individual. (c) memfasilitasi perkembangan. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. sosial. akademik. dan informal. 2008 A. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. kejuruan. personal. 3. jenjang. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. keagamaan. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. dan khusus. dan berpotensi. C. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. (b) melakukan 79 . Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. 3. individualitas. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. karier. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. dan (f) ersikap demokratis B. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. 4. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. kebebasan memilih. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. non formal. dasar dan menengah. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. 2. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja.

sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. tujuan. (b) mengkomunikasikan dasar. orang tua. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. wali kelas. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. dalam bentuk naskah akademik. Namun. tujuan. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. 6. 2007. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. tenaga administrasi) 5. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. tujuan. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. 4. 2008 Dalam Permendiknas No. Sumber : ABKIN. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.dan profesi. Oleh karena itu. yang di dalamnya 80 . Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK).dan profesi. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. pimpinan sekolah/madrasah. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (4) Kematangan intelektual. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (3) Kematangan emosi. hemat.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (6) Kesadaran gender. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (2) Landasan perilaku etis. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (7) Pengembangan diri. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (9) Wawasan dan kesiapan karier. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Oleh karena itu. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (2) Landasan perilaku etis. (6) Kesadaran gender. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (3) Kematangan emosi.2007. (4) Kematangan intelektual. Namun. 2008 Dalam Permendiknas No. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).Jakarta.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (7) Pengembangan diri. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). dalam bentuk naskah akademik. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

hari.2007. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. sehari-hari. 83 . ulet kewirausahaan hemat. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari.Jakarta.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. dan persyaratan pekerjaan.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. 2008 Dalam Permendiknas No.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. ulet hidup hemat.

Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Oleh karena itu. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (7) Pengembangan diri. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (4) Kematangan intelektual. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (9) Wawasan dan kesiapan karier. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.Namun. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. dalam bentuk naskah akademik. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (6) Kesadaran gender. (3) Kematangan emosi. (2) Landasan perilaku etis.

2007. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. pendidikan. hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.Jakarta.ulet. sengguhulet. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.ulet sungguhhemat. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.

sengguhulet. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.2007. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. pendidikan.Jakarta.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. hemat.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.ulet. 86 .ulet sungguhhemat.

2008 A. 2. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. yaitu: 1. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Dilihat dari jenisnya. 87 . Program Tahunan. (3) format kegiatan. sasaran pelayanan (4) . serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Program Semesteran. Program Bulanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. 3. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. dan (5) volume/beban tugas konselor. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. 4. Program Mingguan.D.

dan pihak-pihak yang terkait. dan (3)penilaian 1. yaitu : (1) perencanaan. substansi. waktu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama.5. dan (2) kegiatan non tatap muka. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . tempat. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. kegiatan instrumentasi. Program Harian. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. penguasaan konten.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. serta alat bantu yang digunakan. B. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. insidental dan keteladanan. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. B. dan (e) waktu dan tempat. (2) pelaksanaan. bulanan serta mingguan. jenis kegiatan. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. penempatan dan penyaluran. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran.

kegiatan konferensi kasus. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. dan (2) penilaian proses.dalam kelas. himpunan data. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. 89 . diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. bimbingan kelompok. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2. perorangan. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. dan mediasi. menyelenggarakan layanan orientasi. kunjungan rumah. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Penilaian segera (LAISEG). Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). 3. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. C.. konseling kelompok. dan alih tangan kasus. pemanfaatan kepustakaan. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Namun. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. bakat. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. 2. mengandung arti bahwa bentuk. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. rancangan.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. guru. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. belajar. dan pengembangan karir konseli. 90 . 3. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. responsif. 1. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (Ed. Cambridge. The Art of Integrative Counseling. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Alexandria. (Eds). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Handbook of School Counseling. Merrill Prentice Hall Corey. DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Donna A. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. CA: Brooks/Cole. Draft. Self-Efficacy in Changing Soceties. VA: AACD. 91 .W dan J. Departemen Pendidikan Nasional. Belomont. G.D. (2001). Dameron. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (2003). (2007). New Jersey. Engels. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. UK: Cambridge University Press. Cobia.). (2006). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1995). Depsiknas. Balitbang Diknas. (2005). Debra C. (2003). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2005). Bandung: ABKIN Bandura.Gambar 1. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. & Henderson. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. D. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). http://aace. A. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.ncat. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.

Patricia A. Remaja Rosda Karya. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Adolescence. Guidance and Counseling in the Schools. Pusat Kurikulum. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lustin. (1956). Muro. (2003). Comm. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2003). ——–. Landasan Bimbingan dan Konseling.Ltd. Development Taks and Education. (1995). Judy L. ——–. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. T. dkk. (2006). & Kottman. (1986). London : Prentice-Hall International Inc. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools.H. (1979). (2002). Bandung : Remaja Rosda Karya. Syamsu Yusuf L. Sunaryo Kartadinata. Menteri Pendidikan Nasional. Child Development. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Pikunas. Bandung : CV Bani Qureys. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Columbia: The Educational Resources Information Center. & Hatch. Terry. 2006). Alizabeth B. Herr Edwin L. Hurlock. Introduction to Counseling and Guidance. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Depdiknas. James J. Jakarta: Puskur Balitbang. R. New York: David Mckay.L. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. (1987). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (1990). Human Development. Madison : Brown & Benchmark. (2005).J. Havighurts. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (2003). Houston : Shell Com. New York : MacMillan Publishing Company. Pelayanan Bimbingan dan Konseling.N. Bandung : PT. Balitbang Depdiknas. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. James A.dan Juntika N. (2005).I. 2004. Management. (1976). (1953). ASCA (American School Counselor Association). LIPI. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Depdiknas. 2006. Michigan School Counselor Association.Browers. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. California : Myfield Publishing Company. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 2006. Stoner. Depdiknas. J. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. & Mitchel M. (1992).Nancy. Depdiknas. (2005). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Gibson R. (2005). The National Model for School Counseling Programs. Ellis. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional.

dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Anita E. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). M. Educational Psychology. Akhmad Sudrajat.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. 3 July’96. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Oleh karena itu. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10.Pd. Uman Suherman. Sesungguhnya. Woolfolk. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Vol 24 No. M.Pd. Dalam hal ini. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. tulisan ini. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Boston : Allyn & Bacon. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 1995. 2008 Oleh : Drs. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. (1996). Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS.

seperti : malas. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Maka. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. melalui berbagai bentuk aturan. konselor dituntut bekerja secara profesional. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Secara tidak langsung. Dari sini. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. Dengan kata lain. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. petunjuk teknis dan sebagainya. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal.1. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. Bagaimanapun. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Akibatnya. ketentuan. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. petunjuk pelaksanaan.

usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). penataran dan pelatihan. 2. Misalkan.dalam internet. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. Sedangkan secara langsung. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Kemudian. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. dengan bercermin dari kekurangan. seperti : seminar. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Sementara. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. Sekalipun ada. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. Walaupun demikian perlu dicatat. Berbekal kesabaran dan ketekunan. untuk menguasai teknikteknik konseling. Bahkan. Sehingga pada gilirannya. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan.

Dalam hal ini. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Bagaimanapun masyarakat. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Jadi wajar sekali. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Dan pada gilirannya. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Tentu saja.mewakili pihak pemerintah. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Dengan adanya akuntabilitas ini. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Artinya. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. terutama masyarakat dan orang tua siswa. Oleh karena itu. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. konselor 96 . dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Namun pada kenyataannya. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu.

keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Atau secara kreatif. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. Bahkan bila perlu. Dengan kata lain. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. Tentu saja. Prayitno. Karena. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Hal yang perlu dicermati. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Demikianlah. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. yang berhubungan dengan data siswa. kapan saja diperlukan. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. Oleh sebab itu. khususnya dalam forum Komite Sekolah. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). seperti kepala sekolah. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Dengan sendirinya. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. dewan sekolah atau siapa pun. 97 . Untuk itulah. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. Dr.

Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. (1991). 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Counselors Role in a Changing 98 . Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Sementara itu. (2001). Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Prof. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Makalah . (1995). Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. dan (3) evaluasi hasil. W.S..(1995).Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Dr. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. (2) evaluasi program. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. (1997).(1994). 1. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung.

Konseling Individual. Teori dan Praktek. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan.wisconsin. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. 2008 99 .Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Willis.html Sofyan S. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.dpi. guru. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).gov/sspw/counsl1. 2004. Bandung : Alfabeta. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L.

Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. konsultasi. bimbingan kelompok. Laporan hasil evaluasi program. kotak masalah. kunjungan rumah. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. media cetak : liflet. (c) pemilihan instrumen/media. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. audio visual. catatan anekdot. buku saku) 7. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. 2. Laporan semesteran/tahunan 6. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Laporan bulanan 5. bibliokonseling. Daftar konseli 3. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. (d) strategi pelayanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. berbentuk : 1. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. bimbingan klasikal. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. proses. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . konseling kelompok. Dalam hal ini. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 .Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. audio. Kendati demikian.

Selengkapnya. sosial. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. karier. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Tujuan Umum 3. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. dan masalah-masalahnya belajar.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. Demikian pula. Sementara itu. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . Sebaliknya. konselor. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Wilayah Gerak 2. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru.

Willis. Menurut dia. Sofyan S. bukan yang memiliki masalah saja. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. belajar dan karier.” ujarnya. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. sosial.Pd. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Prof.” ungkapnya. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. katanya. Karenanya. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. 2007. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. Belitung.. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. Padahal. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. Jl. Selain terlalu sering memberikan nasihat. Yang baik. Dr. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. M. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). “Alternatif bisa diusulkan guru. H. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. alternatif juga dari dia (siswa-red). Jakarta F. Menurut dia. 102 . hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Terutama.

ia mengungkapkan. Supaya konseling cukup efektif. Berkaitan dengan peran sekolah. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Saat melakukan konseling. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani).melalui pendidikan. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. Menurut Sofyan. Sunaryo Kartadinata. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya.com/cetak/2006/042006/07/0702. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). dan bukan layanan bebas nilai.pikiran-rakyat. (5) yang dilandasi sikap. Karenanya. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. Sumber : http://www. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. menggunakan penyikapan yang empatik. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. nilai. Dr. layanan etis normatif. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. hal. 6 September 2006. 103 . 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof.

layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). Menurutnya. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. seperti dalam olah raga. Dalam hal ini. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. Pada jenjang SMP dan SMA. melalui direct behavioral consultation. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. dan karier. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. akademik. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. misalnya melalui asesmen psikologis. serta berguna untuk manusia lain.. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. terutama guru pendidikan khusus. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. sejahtera. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor.. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Misalnya. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. pribadi-sosial. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Selain itu. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). seni dan sebagainya 104 .

6 September 2006. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. hal. Sumber : Sunayo Kartadinata. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. sekitar 32 tahun yang lalu. M.Pd. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).singkatnya pertanyaan itu.Atas semua itu. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. Ditjen PMPTK. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. Jawaban singkatnya. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia).– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Setelah keluar dari ruangan BP.Pikiran Rakyat. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor.. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Empat tahun kemudian. BSNP. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 .

Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Selanjutnya. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. penulis hanya memilih satu jurusan saja. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif).Begitu juga. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Hanya selang satu tahun setelah lulus. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. menggantikan sebutan Guru BP. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. jika penulis kelak menjadi guru BP.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Pada awal menjadi Guru BP. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Akhirnya. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. tempat kelahiran penulis. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994.. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Sebaliknya.

sampai dengan sekarang. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Pada tahun 2003. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini.Pd. Hanya sangat disesalkan. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. M. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. meski secara formal istilah ini belum digunakan. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak.harus gigit jari. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. Dalam tataran teoritis.SMA pada saat itu. dibandingkan dengan masa-masa 107 .

Contoh kasus terbaru. baik secara personal maupun lembaga. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Kesan lama. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. khususnya di kalangan siswa. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Menurut pandangan penulis. Di sisi lain. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. yaitu : 1. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Oleh karena itu.mata pelajaran di sekolah. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat.. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2. Sehingga. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. Sayangnya. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Contoh kasus. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. kualitas dan distribusinya. Meminjam bahasa ekonomi. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 .

Jika tidak. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. dalam kebijakan sertifikasi guru. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Uman Suherman. Dalam dokumen KTSP. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya.dilaksanakan. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Jika ke depannya. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. M. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. Begitu juga. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. dengan menghadirkan pembicara Dr. Jadi. M. *)) Akhmad Sudrajat.Pd. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling.Pd.

oleh siswa. atau tahunan. maupun bidang karier. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. bulanan. Pada saat sedang mengikuti rapat.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. 4. 6. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. baik dalam bidang akademik. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. sosio-personal. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. 2. tidak jelas kerjanya. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. 110 . karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. 1. Misalnya. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. guru mata pelajaran. baik laporan harian. kepala sekolah. 3.

Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Rachmat Setiawan. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. maka atas seijin panitia setempat. Dalam jadwal resmi. H. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Tentunya saya berharap.Pd.M. Untuk itu. Bapak Drs. M. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM.

Sayangnya. baik yang bersifat preventif. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . Kendati demikian. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (2) Diri Pribadi (DPI). Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). dan (10) Waktu Senggang (WSG). Untuk kepentingan analisis data. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). Melalui analisis data berbasis komputer ini. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. pengembangan maupun kuratif. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (3) Hubungan Sosial (HSO). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. dkk. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). mudah dan akurat. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. (7) Agama. Nilai dan Moral (ANM). INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. Tentunya. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”.G. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran.

mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. (f) kurang introspeksi.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. 2. Impulsif. Perlindungan Diri. (b) bergantung pada lingkungan. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Anda dapat men-download materi tersebut. (d) bertindak dengan motif dangkal. (g) takut tidak diterima kelompok. Dengan alat ITP. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (d) peduli akan hubungan 113 . dan perspektif diri. 3. (e) memikirkan cara hidup. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. dkk. Konformistik. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (c) beorientasi hari ini. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. motif. 4. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. Sadar Diri. (b) berfikir sterotip dan klise. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. (c) mampu melihat keragaman emosi. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Seksama. (c) peduli akan aturan eksternal. (d orientasi pemecahan masalah. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi.

Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (e) memiliki tujuan jangka panjang. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . (c) peduli akan paham abstrak. 6. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (3) kematangan emosional. (e) peduli akan self fulfillment. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Yang diskor 66 soal. (5) kesadaran tanggung jawab.Yang diskor 40 soal. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). 7. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (4) kematangan intelektual. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. (g) mengenal kompleksitas diri. (2) landasaan perilaku etis. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya.mutualistik. seperti keadilan sosial. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. Otonomi. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Individualistik. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek.. (9) wawasan dan persiapan karir. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. ( kemandirian perilaku ekonomi. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. Yang diskor 40 soal. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Yang diskor 66 soal. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT.

ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Manajemen data. penghitungan skor konsistensi.Analisis per individu. yang terdiri atas: profil kelompok. distribusi frekuensi nilai.5 115 . identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. Dengan ATP. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Sumber : Sunaryo. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Impor data dari file Microsoft Excel. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Namun. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. untuk jumlah siswa yang besar. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Manual Guide ATP Versi 3. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. dkk . beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Semakin tinggi skor konsistensi. dan penggabungan kelompok. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual.bagian akhir angket.Analisis kelompok. delapan butir tertinggi dan terendah. Proses penyekoran. yang terdiri atas: profil individual. grafik distribusi frekuensi konsistensi. cara ini akan memakan waktu. cepat dan menyenangkan. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Multi window. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->