A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

(2005). Bandung : PT. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.Pd. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. religius dan yuridis-formal. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. M. landasan filosofis. A. London : Prentice-Hall International Inc. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Remaja Rosda Karya. James A. Stoner. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. landasan psikologis. Uman Suherman. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.dan Juntika N. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Kata kunci : bimbingan dan konseling. 4 . Anita E. M. Vol 24 No. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Woolfolk. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Sebagai sebuah layanan profesional. 3 July’96. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Landasan Bimbingan dan Konseling. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. landasan sosial-budaya. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. 1995. Management. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). . pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Boston : Allyn & Bacon. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling.——–. (2) landasan psikologis. (1996). (1987). Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. (3) landasan sosial-budaya.Pd. Educational Psychology.

. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. dalam Prayitno.(Victor Frankl. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. dengan layanan bimbingan dan konseling. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. 5 . yaitu landasan filosofis.. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. Alblaster & Lukes. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Thompson & Rudolph. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. etis maupun estetis. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. Ibarat sebuah bangunan. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. Selanjutnya. Dengan kata lain. landasan psikologis.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. khususnya bagi para konselor. Secara teoritik. para penulis Barat . Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Demikian pula. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. B. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. landasan sosial-budaya. Patterson. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan.tentang landasan bimbingan dan konseling. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya.

kecerdasan. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. 2. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Demikian pula dengan lingkungan. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien).• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. a. ada yang sangat tinggi (jenius). Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. seperti rekreasi. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. dan (e) kepribadian. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Misalnya dalam kecerdasan. seperti : rasa lapar. golongan darah. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. seperti struktur otot. (c) perkembangan individu. bakat. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . warna kulit. (d) belajar. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. embisil atau ideot). Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Manusia pada hakikatnya positif. yang mencakup aspek psiko-fisik. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. b. Manusia memiliki dimensi fisik.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. (b) pembawaan dan lingkungan. normal atau bahkan sangat kurang (debil. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi.dan menjadi tersia-siakan. baik dalam aspek kognitif. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Allport (Calvin S. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. moral dan sosial. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Hall dan Gardner Lindzey. frustrasi dan konflik. Manusia belajar untuk hidup. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. dan (3) Teori Belajar Gestalt. afektif maupun psikomotor/keterampilan.memadai. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. d. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Tanpa belajar. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. ketegangan emosional. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. bahasa dan kognitif/kecerdasan. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. e. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. Berangkat dari studi yang dilakukannya. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. c. 7 . Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri.

sambutan terhadap objek yang bersifat positif. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Sejak lahirnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Stabilitas emosi. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. hormon. Selain itu. atau putus asa. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. psikologi perkembangan. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu. Fromm. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. yaitu bidang psikologi umum. yaitu disposisi reaktif seorang. maka 8 . Responsibilitas (tanggung jawab). Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. sedih. Teori Psikologi Individual dari Allport. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Temperamen. Sementara itu. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. tampang. Teori Medan dari Kurt Lewin. Watson. teori Personologi dari Murray. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Horney dan Sullivan. 3. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. negatif atau ambivalen. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. yang mencakup : • • • • • • Karakter. Begitu pula. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Hull. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Sikap. cuci tangan. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Sosiabilitas. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya.

Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. filsafat. pemikiran. (d) kecenderungan menilai. antroplogi. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. sosiologi. seperti : psikologi. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. analisis dokumen. biologi. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. ilmu pendidikan. Moh. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. 4. prosedur tes. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. statistik. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. dan bahkan mungkin bertolak belakang. dan (e) kecemasan. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Sejalan dengan perkembangan teknologi. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. (b) komunikasi non-verbal. seperti: pengamatan. wawancara. yaitu kesamaan di atas keragaman. Menurut Gausel (Prayitno. ilmu ekonomi. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. (c) stereotipe. ilmu hukum dan agama. evaluasi. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. 2003). Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. manajemen. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya.

Dikemukakan pula. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. 10 . Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. dalam bentuk “cyber counseling”. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. C. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Ditegaskan pula oleh Moh. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Moh. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Undang – Undang. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Peraturan Pemerintah. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Sebagai ilmuwan.pendidikan. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan.

Surya. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Bandung : P. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. (d) belajar. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. 2004. Arifin. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. (c) perkembangan individu. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis.IKIP Bandung . SMA dan SMK Muhibbin Syah. Calvin S. Jakarta. 2005. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat.———-2006. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Nana Syaodih Sukmadinata. New York : McMillan Publishing. 2003. dan (d) kepribadian.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis.M. Bandung : Refika Gerungan 1964. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.1992. 2003. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. E. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Elizabeth B. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Theory Into Practice. 1997. 1980. Koswara). Supratiknya). Jakarta : PT Raja Grafindo. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Developmental Phsychology. Psikologi Pendidikan. Psikologi Belajar. Gerlald Corey. 11 . Psikologi Sosial. Remaja Rosdakarya. 2003. Majalengka : Sanggar BK SMP. Margaret E. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). meliputi : (a) motif dan motivasi. landasan religius dan landasan yuridis-formal. (c) landasan sosial-budaya. Hurlock. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. PT Golden Terayon Press. Learning & Instruction. (b) landasan psikologis. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. Bandung : PT ErescoH. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Bandung PPB ..T. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. 2003. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. (b) pembawaan dan lingkungan.

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2004. pergaulan dengan teman sebaya. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. dan tugas-tugas perkem-bangannya. dkk.. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. Jakarta : Rineka Cipta . Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Syamsu Yusuf LN. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi.——–2003. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Jakarta : Depdiknas . 2004. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Teori dan Praktek. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. tempat kerja. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. belajar (akademik).Konseling Individual. Willis. 1. 1984. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. Teori-Teori Psikologi Sosial. kekuatan. maupun masyarakat pada umumnya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. dan karir. Sekolah/Madrasah. maupun lingkungan kerja. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. masyarakat. 2004. 2003. baik dalam kehidupan pribadi. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.2005. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. dkk. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Jakarta : Rajawali. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. keluarga. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan.———-. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.Prayitno. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). serta 12 .

Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Dapat membentuk pola-pola karir. mengerjakan tugas-tugas. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. kemampuan dan minat. atau silaturahim dengan sesama manusia. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. yaitu kecenderungan arah karir. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. dan kesejahteraan kerja. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. persaudaraan. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. mengggunakan kamus. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. seperti kebiasaan membaca buku. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. seperti membuat jadwal belajar. dan sesuai dengan norma agama. 13 . disiplin dalam belajar. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. prospek kerja. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. tanpa merasa rendah diri. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. asal bermakna bagi dirinya.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. Oleh karena itu. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. seperti keterampilan membaca buku. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. mencatat pelajaran. Mengenal keterampilan. 2. kemampuan. menghormati atau menghargai orang lain. Memiliki rasa tanggung jawab. baik fisik maupun psikis. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. 3. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan.

Menteri Pendidikan Nasional. Engels. (1990). (2003). Belomont. Depdiknas. Donna A. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.ncat. New York : MacMillan Publishing Company. Draft. J. (1986). Depdiknas. (2005). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Departemen Pendidikan Nasional. 2006). California : Myfield Publishing Company. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Development Taks and Education. The Art of Integrative Counseling. Ellis. & Mitchel M. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (2006). Introduction to Counseling and Guidance.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.D. Herr Edwin L.Nancy. (2003).edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (Eds). Hurlock. (1979). Dameron.H. Havighurts. Judy L. Child Development. Cobia. Self-Efficacy in Changing Soceties. (1992). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Alizabeth B. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. D. (2007). New York: David Mckay. Cambridge. & Henderson. (2003).I.W dan J. R. Debra C. ASCA (American School Counselor Association). Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2005). Columbia: The Educational Resources Information Center. G. DAFTAR RUJUKAN AACE. Bandung: ABKIN Bandura. Depdiknas. (1953). Depdiknas. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Guidance and Counseling in the Schools.L. (2002). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (1956). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. T. New Jersey. Handbook of School Counseling. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. CA: Brooks/Cole.J. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2005). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. A. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Alexandria. Balitbang Diknas. (2003). Depsiknas. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1995). Gibson R. & Hatch. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: Puskur Balitbang. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Browers. Adolescence. UK: Cambridge University Press. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (2006). (2001). Comm. 2006. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. VA: AACD. http://aace. Houston : Shell Com. The National Model for School Counseling Programs. (Ed. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.). Patricia A. Merrill Prentice Hall Corey.

(1976). Boston : Allyn & Bacon. Anita E. Landasan Bimbingan dan Konseling.Menteri Pendidikan Nasional. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Michigan School Counselor Association. Terry. (2005). Melalui fungsi ini.Ltd. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. 3 July’96. 2004. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Educational Psychology. Pikunas. (1995). Muro. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Remaja Rosda Karya.Pd. Syamsu Yusuf L. Bandung : PT. Madison : Brown & Benchmark. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Human Development. (1987). Fungsi Preventif. Bandung : Remaja Rosda Karya. Lustin. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. M. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Pusat Kurikulum. (2003). ——–. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. LIPI. Uman Suherman. James J. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Berdasarkan pemahaman ini. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Woolfolk. Bandung : CV Bani Qureys. (1996). dkk. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Vol 24 No. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. (2005). pekerjaan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sunaryo Kartadinata. ——–. Fungsi Pemahaman. James A. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Balitbang Depdiknas. 2006.N. Management. (2005). supaya tidak dialami oleh konseli. London : Prentice-Hall International Inc. Jakarta : Balitbang Depdiknas. & Kottman. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Adapun teknik yang 15 . (2003). 1995. Stoner.dan Juntika N. 2. dan norma agama). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.

Fungsi Penyesuaian. yang memfasilitasi perkembangan konseli. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 7. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. jurusan atau program studi. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. Fungsi Fasilitasi. Fungsi Adaptasi. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. dan kebutuhan konseli. 9. drop out. dan bimbingan kelompok. 8. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. baik pria maupun wanita. baik anak- 16 . 3. home room. dan pergaulan bebas (free sex). yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. informasi. maupun karir. penyalahgunaan obatobatan. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. serasi. 4. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. dan karyawisata. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. baik menyangkut aspek pribadi. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. konselor. 10. minat. belajar. kemampuan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Fungsi Penyembuhan. dan remedial teaching. 5. berperasaan dan bertindak (berkehendak). Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. bakat. sosial. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. diantaranya : bahayanya minuman keras. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Fungsi Penyaluran. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. merokok. Fungsi Perbaikan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Dalam melaksanakan fungsi ini. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. tutorial. 6. memilih metode dan proses pembelajaran. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. Fungsi Pemeliharaan. Fungsi Pengembangan. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Bimbingan menekankan hal yang positif. anak. Mereka bekerja sebagai teamwork. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). 2. perusahaan/industri. maupun dewasa. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. memberikan dorongan. remaja. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. menyesuaikan diri. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 4. Asas Kerahasiaan. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 17 . Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. 3. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). dan peluang untuk berkembang. 6. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Asas keterbukaan. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. dan masyarakat pada umumnya. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. 3. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. sosial. Agar konseli dapat terbuka. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 5. pendidikan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan.2. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. 1. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. dan pekerjaan. yaitu meliputi aspek pribadi. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Asas kesukarelaan. tetapi juga di lingkungan keluarga. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli).

8. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. hukum dan peraturan. mampu mengambil keputusan.ncat. (2003). mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Asas Keahlian. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.4. harmonis. Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang.edu 18 . Asas Keharmonisan. Dalam hal ini. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas kegiatan. dan terpadu. 9. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Asas Keterpaduan. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. menghayati. Asas Kekinian. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 10. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. tidak monoton. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. 7. ilmu pengetahuan. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. DAFTAR RUJUKAN AACE. yaitu nilai dan norma agama. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. adat istiadat. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. guruguru lain. 11. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. Lebih jauh. saling menunjang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. atau ahli lain . para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. dan kebiasaan yang berlaku. Asas Kedinamisan. Asas kemandirian. http://aace. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. 5. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

W dan J. Adolescence. 19 . Houston : Shell Com. ASCA (American School Counselor Association). Depdiknas. 2006). T. New Jersey. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. CA: Brooks/Cole. Michigan School Counselor Association. & Hatch. (1995). VA: AACD. (2002).J. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.L. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Cambridge. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Departemen Pendidikan Nasional. Draft. (1953). (1979). (2003). Ellis. D. California : Myfield Publishing Company. (2001). Introduction to Counseling and Guidance. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Depdiknas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Engels. Browers. New York: David Mckay. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2005). (Ed. Merrill Prentice Hall Corey. (2003). 2006. (1992). The National Model for School Counseling Programs. Development Taks and Education. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Patricia A. (2007). (2006). Self-Efficacy in Changing Soceties. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (Eds).Nancy. Depdiknas. Gibson R. (2006). (2005). J. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (1956). Dameron. Debra C. Cobia. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Belomont. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Havighurts. Standar Kompetensi Konselor Indonesia.I. (2005). 2006. Alizabeth B. & Mitchel M. Hurlock. Judy L. (2005). A. Depdiknas. Handbook of School Counseling. (1986). Bandung: ABKIN Bandura. UK: Cambridge University Press. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.D. (2003). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Menteri Pendidikan Nasional. New York : MacMillan Publishing Company. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Jakarta: Puskur Balitbang. G.). Balitbang Diknas. Child Development. The Art of Integrative Counseling. Herr Edwin L. (1990). R. Guidance and Counseling in the Schools. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. & Henderson. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Comm. Depsiknas. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Donna A. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Columbia: The Educational Resources Information Center.H.

Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Lustin. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Uman Suherman. Educational Psychology. Bandung : PT. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Balitbang Depdiknas. Woolfolk. (1976). (2005). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. James J. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. 2004. ——–. Remaja Rosda Karya. Stoner. (1996). Boston : Allyn & Bacon. dkk. Pusat Kurikulum. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Pikunas. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami.N. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. James A. Management. (2003). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Sunaryo Kartadinata. 20 . anggota keluarga. menilai. Madison : Brown & Benchmark. LIPI. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. (1995). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Pd. Syamsu Yusuf L.dan Juntika N. Anita E. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Human Development. Pengembangan karir. Landasan Bimbingan dan Konseling. bakat dan minat. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Bandung : Remaja Rosda Karya. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. ——–. London : Prentice-Hall International Inc. Vol 24 No. 3 July’96. M. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. (2005). Pengembangan kehidupan sosial.Ltd. Pengembangan kemampuan belajar. (2003). & Kottman. 1995. (1987). Terry. Bandung : CV Bani Qureys.Muro. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. karier. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. jurusan/program studi. sosial. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. magang. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. diantaranya: Layanan Orientasi. Layanan Konseling Perorangan. dalam bidang pribadi. program latihan. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Bimbingan Kelompok. kegiatan ko/ekstra kurikuler. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. • • • • Layanan Konten. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. kelompok belajar. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. minat dan segenap potensi lainnya. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Layanan Informasi. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. pergaulan. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. pendidikan lanjutan). Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. serta untuk 21 . layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Bimbingan dan Konseling (Makalah). belajar ataupun kariernya. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Hattari. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . mereka mempertanyakan. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. berbangsa dan bernegara. bermasyarakat. Bandung : LPMP Jawa Barat.. dkk. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Jakarta : BP3K. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. M.1. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. 5. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. sosial. dkk. Ke Arah Pengertian Developmental. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 3. perusahaan. Diantaranya. belajar maupun kariernya. Namun.Pd. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. 1987. 6. 1983. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. 2004. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. 2. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. sosial. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. 4. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. (Muslihudin. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi.

mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. karier. Untuk itulah. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. seperti kecerdasan. jenis pekerjaan. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. seperti bakat. minat. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. pasar kerja. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. cita-cita. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. bakat. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. Di samping itu. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. Materi Informasi.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. dan sebagainya. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. ciri-ciri 26 . baik tentang bakat. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Dalam hal ini. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. materi informasi yang bersifat personal. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Untuk itulah. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. Namun. jenis dan prospek pekerjaan. Karena. baik melalui media cetak atau eleltronik. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. persyaratan. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. seperti kondisi sosio-kultural. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. ciri-ciri pekerjaan.

dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”.Jakarta : IPBI 27 . Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. Selain itu. Dalam hal ini. keterangan. Selain itu. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. artikel. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995).kepribadian. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. Untuk itu. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. berdasarkan hasil pengalamannya. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. dalam rangka menambah wawasan. atau minat pekerjaannya. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. (1995). Sebagaimana telah disinggung di atas. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Misalkan. Dari hasil kunjungan. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan.

(1997). perencanaan individual. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan.S. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Begitu pula. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. 2. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). W.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. pelayanan responsif. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. yaitu sama-sama menginginkan 28 . Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Dalam hal ini. (1991). Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya.

Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. pengubahan lingkungan.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. 6. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. 5. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. modifikasi perilaku. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Masalahnya. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). Misalkan. penguatan mental/psikis. mendiagnosis. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. serta teknis medis lainnya. 3. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. 7. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Kendati demikian. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. 29 . Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. baik untuk kepentingan pencegahan.

Konselor adalah kawan pengiring.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. 10. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Namun demikian. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. sekolah dan masyarakat sekitarnya. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Di sekolah misalnya. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. penunjuk jalan.siswa. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. seperti “praktik pribadi”. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. 9.guru. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Begitu pula sebaliknya.sosial. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. pemberi informasi. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. seringkali masalah seseorang dianggap sepele.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. pembangun kekuatan. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran.dan piha-pihak lain. orang tua. Pekerjaan yang 30 . disiplin dan keamanan di sekolah. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.dan lingkungan. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu.

metode. dan asas-asas tertentu). Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Jawaban ”benar”. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. Sedangkan jawaban ”tidak”.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi.Lebih jauh.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. 11.inventori. maka hasilnya akan kurang mantap. Dengan kata lain. ada dan digunakannya instrumen (tes. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. 12. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. dan sarana yang tersedia. tujuan.Oleh sebab itu. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. Konselor harus aktif. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. terutama klien. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. tujuan yang ingin dicapai. guru pembimbing memang harus aktif.Sementara itu. menghambat. dalam hal ini konselor. pihak lain pun. 13. 14. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Di sekolah.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . Bahkan sering kali terjadi. Pada dasarnya. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. bersikap “jemput bola”. tersendat-sendat. jenis dan sifat masalah. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.

mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat.. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya.2003. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Misalkan. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal.15. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.

penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Prof. yaitu : 1. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“.ABKIN. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. standar kompetensi konselor. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling.Pd. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah.Selama mengikuti pelatihan. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. memperoleh keterampilan hidup. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dr. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. M. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. Layanan Dasar. memiliki mental yang sehat. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini.(lihat 1. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Sunaryo. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Ketika membuka kegiatan pelatihan.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. yang disajikan secara sistematis. selaku ketua PB. Hal yang cukup mengagetkan penulis. 33 .

Pd. 3. Dr. konsultasi dengan guru lain. M. Uman Suherman. atau mengelola pengembangan dirinya. mau pun Kurikulum 1994. Kurikulum 1984. penasihatan individual atau kelompok. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Perbedaannya. Syamsu Yusuf L. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. manajemen program. Selain itu.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. Agus Taufiq. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan.Pd. Layanan Perencanaan Individual. M. baik menyangkut aspek pribadi. M. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. Uman Suherman. merencanakan. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. Untuk lebih jelasnya. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. konseling individual. maupun karier. belajar. Layanan Responsif. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual.N. sosial. M. Layanan dukungan sistem. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. referal dan bimbingan teman sebaya.. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . baik dalam Kurikulum 1975. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”.Pd. hubungan masyarakat dan staf.Pd. konseling kelompok. dan penelitian dan pengembangan. memelihara. dan Dr.2. 4. staf ahli.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. dan masyarakat yang lebih luas. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. A. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.

bimbingan kelompok. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. audio visual. kotak masalah. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. bimbingan klasikal. Daftar konseli 3. proses. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. kunjungan rumah. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Laporan semesteran/tahunan 6. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. (c) pemilihan instrumen/media. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. konsultasi. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. catatan anekdot. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. bibliokonseling. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. buku saku) 7.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Laporan bulanan 5. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. (d) strategi pelayanan. konseling kelompok. audio. 2. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Dalam hal ini. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Kendati demikian. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. berbentuk : 1.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. media cetak : liflet. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Laporan hasil evaluasi program.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. keterbukaan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. berisi : (1) Kontrak waktu. Membuat penaksiran dan perjajagan. B.Pd. Oleh karena itu. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Menegosiasikan kontrak. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. kesukarelaan. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. Secara umum. (2) Kontrak tugas. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. (2) tahap inti (tahap kerja). dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). M. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. dan kegiatan. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. A. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. 39 . maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. terutama asas kerahasiaan.

niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Dr. M. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. psikoanaliss. rational emotive therapy (RET). Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. (1) menurunnya kecemasan klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . DYP Sugiharto. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. yaitu . bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. baik oleh pihak konselor maupun klien. dan trait and factor. C.tugas profesionalnya. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. gestalt. sehat dan dinamis. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. Dalam bentuk tayangan slide. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).

(b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. (c) peniruan. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. 2008 A.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. B. 41 . Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (b) pembiasaan operan. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. 3. 4. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. 2. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat.

kekuatan dan kelemahannya. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Konselor aktif : 1. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. atau melakukan referal. 5. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien.D. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. 42 . Feedback. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. tingkah laku penyesuaian. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. Evaluation termination. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. Assesment. 3. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. 2. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Technique implementation. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. (c) kemungkinan manfaatnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. (b) apakah tujuan itu realistik. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. 4. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. pola hubungan interpersonal. Goal setting. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.

• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. atau contoh nyata langsung). model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. DYP Sugiharto. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. tape recorder. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. dapat menggunakan model audio. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk.Pd. (Makalah) 43 . Sumber : Dr. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. model fisik. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. kesulitan menyatakan tidak. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. M. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung.

Meskipun tidak bisa diungkapkan. kecemasan. pasif. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. 2008 A. rasa berdosa. dan pemikirannya. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. emosi. menuntut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. rasa diabaikan. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). tidak berdaya. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. kedudukan. kemarahan. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. persepsi. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. jantung.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. kebencian. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. dan sebagainya. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. otak. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. dan tingkah lakunya 44 . kecuali dalam keseluruhan konteksnya. sakit hati. lemah. ingin dimaklumi. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. Under dog adalah keadaan defensif. maka mereka mengalami kecemasan. perasaan. (3) aktor bukan reaktor. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. pera-saan. mengancam. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. B. Dalam pendekatan ini. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. membela diri.

Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . serta mendapatkan insight secara penuh. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. C. 45 .Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. D. memahami kenyataan atau realitas. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. interpretasi maupun memberi nasihat. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak.

Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. dirinya tidak berdaya. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Fase kedua. perasaan-perasaannya. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Dalam hal ini. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. dalam situasi di sini dan saat ini. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. perasaan. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. atau gila. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. bodoh.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. Fase ketiga. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Melalui fase ini. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Fase keempat. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Teknik Konseling 46 . fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. dan tingkah lakunya. konselor mengembangkan pertemuan konseling. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.

(d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Orientasi Sekarang dan Di Sini. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Dalam kaitan itu. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Orientasi Eksperiensial. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 .

Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. M. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. (Makalah) 48 . Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Meskipun tampaknya mekanis. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”.Pd. “Saya malas. Sumber : Dr.Sering terjadi. DYP Sugiharto. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Pendekatan-Pendekatan Konseling.

kelulusan bagi siswa. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. B. bijaksana. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. Perceraian suatu keluarga.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. masuk akal. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. yang dapat diterima menurut akal sehat. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. 2008 A. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. (c) orang tua atau masyarakat 49 . Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. interpretasi. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). yaitu Antecedent event (A).Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Keyakinan seseorang ada dua macam. kejadian. pandangan. dan kerana itu menjadi prosuktif.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. nilai. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. dan Emotional consequence (C). kekhawatiran. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. dan irasional. dan keran itu tidak produktif. emosional. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. tidak masuk akal. antara kenyatan dan imajinasi. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Belief (B) yaitu keyakinan. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. atau sikap orang lain. Belief (B). sangat personal. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). bahagia. dan kompeten.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. tingkah laku. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.

mengerikan. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. jahat. dan dihukum. ( penerimaan diri. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (9) berani mengambil risiko. cara berpikir. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. (2) minat sosial. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. Ketiga. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. merusak. (4) toleransi terhadap pihak lain. rasa berdosa. merasa was-was. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. rasa cemas. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. D. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. dan (10) menerima kenyataan. bencana yang dahsyat. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. rasa bersalah. persepsi. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. Kedua. (5) fleksibel. (6) menerima ketidakpastian. (3) pengarahan diri. rasa marah. C. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. disalahkan. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.

Kognitif-eksperiensial. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. afektif. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Behavioristik. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. 4. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. 3. 2. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. mendorong. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. E. Aktif-direktif. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Emotif-ekspreriensial. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.

maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. M. DYP Sugiharto. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. mengobservasi. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Dengan memberikan reward ataupun punishment. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. atau meniru model-model sosial. (Makalah) 52 . membiasakan diri. Dengan tugas rumah yang diberikan. Sumber : Dr.Pd.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. latihan.

sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. 2008 A. yaitu id. untuk ditata. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. terutama usia 2-5 tahun. dan super ego C. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. D. konflik dan simbolisme. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. ego. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. disikusikan. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Hakikat manusia. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Manusia secara esensial bersifat biologis.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Klien diminta 53 . Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Konsep Dasar 1. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. 2. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. Menutup wawancara konseling E. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Deskripsi Proses Konseling 1. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang.

Dengan perkataan lain. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Dalam hal ini. 2008 A. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Konsep Dasar: 1. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. dan transferensi klien. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. resitensi dan transferensi. Analisis resistensi. Interpretasi. kebencian. Konselor menetapkan. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Hal ini disebut juga katarsis. seksualitas. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Manusia tidak pernah statis. Memandang manusia sebagai individu yang unik. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. anonim. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. 2. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. Manusia merupakan seseorang yang ada. baik dalam asosiasi bebas. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. pengalamannya tertekan. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. objektif. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Transferensi adalah mengalihkan. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. B. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. mimpi.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Analisis mimpi. 54 . 3. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. resistensi berati penolakan. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Menurut Freud. resistensi. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. asosiasi bebas. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan.

sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Sumber: Sayekti. (4) mewujudkan dirinya. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. yang unik. E. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. 4. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (2) respect (rasa hormat). 1997. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. Memperbaiki dan mengubah sikap. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. 5. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. 3. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Willis. (5) encouragement (memberi dorongan). Bandung: Alfabeta 55 . Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. (3) mengarahkan diri. Konseling Individual. Saya adalah saya 2. (2) mengambil keputusan yang tepat. 3. 2007. Teori dan Praktek. (3) understanding (pemahaman). Deskripsi Proses Konseling 1. persepsi cara berfikir. 2. Tujuan Konseling 1. Rogers. D. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. 4. (4) reassurance (menentramkan hati). Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.C.

Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. 3. 3. sebagai pengalaman yang berharga. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. 2. dianalisis dan ditafsirkan. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. 2008 A. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . yang hadir di seluruh kehidupannya. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. 4. Menurutnya. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. diperbaiki. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. Tanggung jawab 56 . 5. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B.

artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . 3. Tujuan Terapi 1. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun.. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 2. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 3. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Motivator. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 4. 2. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. D. 6. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. C. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. 4. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. 5. Moralist. 6. Guru. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 5. Menggunakan role playing dengan konseli 2. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Penyalur tanggung jawab. 7. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. baik berupa limit waktu. 5. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Pengikat janji (contractor). Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan.

2007. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. dan bahasa lisan.7. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. menggunakan tangan sebagai isyarat. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Menciptakan suasana yang aman 3. perhatian terarah pada lawan bicara. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. ekspresi melamun. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Willis. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. ceria. Teori dan Praktek. 1997. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. Perhatian : terpecah. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. B. miring. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Memutuskan pembicaraan. Posisi tubuh : tegak kaku. Meningkatkan harga diri klien. Bandung: Alfabeta. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. bahasa tubuh. Sumber: Sayekti. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. duduk kurang akrab dan berpaling. Konseling Individual. Empati dilakukan sejalan 58 . 8. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. diantaranya : A. bersandar. menunggu ucapan klien hingga selesai. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. Untuk lebih jelasnya. mengalihkan pandangan. tidak melihat saat klien sedang bicara. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. mata melotot. 2. jarak duduk dengan klien menjauh. mudah buyar oleh gangguan luar.

pikiran. Eksplorasi pikiran. Empati primer. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Refleksi perasaan. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Terdapat dua macam empati. Eksplorasi perasaan. Seperti halnya pada teknik refleksi. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Eksplorasi pengalaman. yaitu : 1. pikiran. 3. 2. C. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. tertekan dan terancam. yaitu : 1. dan pengalaman klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. yaitu teknik untuk menggali ide. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Refleksi pikiran.dengan perilaku attending. pikiran. pikiran. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. pikiran.” Saya mengerti keinginan Anda”. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. Empati tingkat tinggi. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D.” 2. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. yaitu : 1. dan pendapat klien. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan.” 2. pengalaman termasuk penderitaannya. Refleksi pengalaman. yaitu teknik untuk memantulkan ide. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Terdapat tiga jenis refleksi. 59 . dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. berupa perasaan. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. menutup diri. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. pikiran dan keinginan klien.

Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. adakah. ya…. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. lalu…. bagaimana. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. dapatkah. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . Oleh karenanya. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup.. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien.” F.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. (3) memberi arah wawancara konseling. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. terus…. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan .

dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Bandung : Alfabeta H. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Jakarta. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.(2005. Jakarta : PPPG 61 .Konseling Individual. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Willis. kedua.” Sumber : Sofyan S. bukan pandangan subyektif konselor. Karena tantangan masa depan makin banyak. Saya tak dapat lagi menahan diri.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.I. J. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Sugiharto. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Teori dan Praktek. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.” K. 2004. PT Golden Terayon Press.M. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Arifin. 2003. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. (3) meningkatkan kualitas diskusi. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Membantu orang tua memang harus.

Fokus mengenai budaya. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Fokus pada topik. Contoh : ” Tanti. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. 2. Contoh : ” Roni. diantaranya : 1. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Fokus pada diri klien. Contoh dialog : 62 . Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. (2) meningkatkan potensi klien. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Pada umumnya dalam wawancara konseling. dan sebagainya. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. senyum dengan kepedihan. konflik. telah membuat kamu menderita. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan.” C. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. 4. 2008 A. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Oleh karena itu. ide awal dengan ide berikutnya. Fokus pada orang lain. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. atau kontradiksi dalam dirinya. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah.

.harus bagaimana. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. tidak tahu. kurang jelas dan agak meragukan. 63 . (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.” (diam) Klien :” Saya. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. dan dengan alasan-alasan yang logis. paling lama 5 – 10 detik.Klien : ” Saya baik-baik saja”.” E. wajah murung. sering diam. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Contoh: ” Baiklah.. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit..(suara rendah. dan kurang parisipatif. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. ibu. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………..” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”.” (diam) G. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. ungkapan kata-kata yang tegas. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar.. G. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. pikiran. Konselor :”…………. Walaupun demikian. Coba Anda renungkan kembali”. dan pengalamannya secara bebas. Saya. atau saudara-saudara Anda. (2) agar klien menjelaskan. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. D. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. posisi tubuh gelisah).. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.” F.

seperti pendekatan Behaviorisme. Rational Emotive Theraphy. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Sofyan S. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. I. 2008 Dalam konseling. Jakarta. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). di samping menggunakan teknik-teknik umum.com di internet”. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. (3) pemahaman baru klien. Contoh : ” Nah. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Willis. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.upi. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Sugiharto. Bandung : Alfabeta H. Kalau pun konselor mengetahuinya. (2) memantapkan rencana klien. PT Golden Terayon Press. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).Konseling Individual. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. 2004. terutama mengenai kecemasan.” H.(2005. Arifin. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini.M. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. 2003. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Teori dan Praktek. yaitu : 64 .

5. 65 . Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. 4.1. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. dapat menggunakan model audio. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 2. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. model fisik. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. kesulitan menyatakan tidak. 3. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.

Sering terjadi.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 9. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. 8. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. 6. “Saya malas. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. 7.

Jakarta : PPPG 67 . Arifin. Sofyan S. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan. Sumber : H. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Bandung : Alfabeta Sugiharto. 11. membiasakan diri. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. mendorong. 10. 2003. 12. Home work assigments. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Jakarta.Konseling Individual. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). 13. 2004. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.M. Willis. PT Golden Terayon Press. Teori dan Praktek. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.(2005.

2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. terus bertahan. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. susah tak ada/punya teman yang peduli. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. dan sombong. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. Makin lama perasaan ditolak. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. kurang bersahabat. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. mengontrol dunia. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Dasar saya anak desa. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. orang lain. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. terisolik. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional.

Itu berarti salah saya. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. Sehubungan dengan kasus. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. bermain peran. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. tak seperti orang/teman-teman lainnya. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Ia menjadi minder. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. karena saya berharga dihadiratNya. memaki-maki diri saya sendiri. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Ide-ide ini diajarkan. pemalu. 50% netral. semua teman memperhatikan / mendukung. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. Allah mengasihi saya. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah.dibiarkan terus berlangsung. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. hanya 10% saja yang membeci saya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. pemberian nasehat secara tepat. Tekniknya jelas. dan seterusnya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. teliti. Saya pantas menderita karena semuanya itu. bahkan adakalanya saya benci. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. karena saya tak berharga. sugestif. mengobservasi dan evaluasi diri. puas dan bangga. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. Cara konselor ialah 69 . yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. peduli.

menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. 3. IKIP Semarang Pres. 1998. SUMBER Aryatmi. 1988. M. Prayitno. mendebat. 4. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Satya Wacana Semarang.dengan pendekatan yang tegas. Kesegaran hasil yang dicapai.. 1991/1995. Pengantar Teori-teori Konseling. Yogyakarta. Konseling Pancawashita. progdi BK PPB. S. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan.. Corey G.. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. IKIP Padang Rosjidan. (5) menerima kenyataan bahwa. Jakarta Surya. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . 70 . FIP. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. jika kita mengharap untuk berubah. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 2. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. 1991. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Kesimpulannya. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). menantang. 1998. Kota Kembang.

Pendahuluan 1. obat lemah badan. Australia. tidak menyalahkan pihak luar. malaria.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Kata Kunci: Konseling Terpadu. dan Partisipasi Sosial. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. 1977). sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. rematik. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Thailand). Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. dan untuk bahan analgesik (Kisker. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. 22-5-2001). dan segitiga emas (Kamboja. dan analgesik (Martin. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Cina. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. 1977. 1977). Konseling Agama. Konseling Kelompok. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. keluarga. *) Sofyan S. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. Martin. 1977). Turki. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Mesir. Opium banyak pula ditemukan di Cina. Vietnam. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Pendidikan dan Pelatihan. dan Asia. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Konseling Keluarga. Pasca RSKO. Pemulihan. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). pecandu narkoba. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Bagaimana di Eropa. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. terutama remaja. dan Amerika Selatan. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Kunjungan.

bulan. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC).Willis. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. Hal ini berarti. Artinya. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. Willis. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. 1979). melalui metode Konseling Terpadu. 1993).200. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. maka AMK pun menirunya. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). 1. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. konsumtif. Sebagai perbandingan. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. 1995). Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Ulwan. 1. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. khususnya generasi muda. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. dan film-film. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Minnesota. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. 1978). 1979). (c) mencintai keluarga. Minneapolis. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya.800 miliar. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. sehingga narkoba mudah beredar. kolusi. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global.000. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. 25-52001). pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Sedangkan. VCD.200. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 2001). Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. 72 . Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. Masalahnya. suatu angka yang fantastis. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat.000 = Rp. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. 1989). namun terbentur pada lemahnya hukum. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan.

2. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. (3) menerima realita hidup dengan jujur. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. sosial.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. ibu-ibu pengajian. taat ibadah. or back on the job. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Jika konselor tidak menguasai soal agama. Selanjutnya.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. anggota DPR. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. menerima cobaan hidup dengan tawakal. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. memahami. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. terbuka. hangat. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. 2. back home.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. 1977). Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. 2. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. intelektual. and than put the patient back on the street. dsb). klien siap untuk melaksanakan program tersebut. institute nutrition and vitamin therapy. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. and back to destructive drinking”. tokoh-tokoh masyarakat. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. akan tumbuh 73 . bermoral. Melalui interpersonal relation. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. para siswa. prescribe mood-controlling medications. guru-guru BK di sekolah. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. dijauhi orang-orang yang dicintai. dan fisik. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. spiritual. dan sebagainya. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. sarjana. terapi nutrisi/vitamin. Sebagai seorang dokter medis. Mann memuji pendekatan Panti St. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. dan berbuat baik terhadap sesama. kehilangan pekerjaan. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. Willis 1995). 1980). dan asli (genuine) dari konselor. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor.

Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. saudara. marah. ibu. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. pacar. suami/istri. 1985). serta penyesalan terhadap masa lalu. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. dan masyarakat. kritikan-kritikan. Di samping itu. Di samping itu. 5. 1982). 4. orang tua. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. sedangkan pesertanya adalah klien. istri. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. suami. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. dan keluarga dekat lainnya. percaya diri. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. 2. dan masyarakat. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. Kemudian. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. merusak diri. keluarga. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. Selanjutnya. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. keluarga. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo.kepercayaan diri klien (Yalom. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. pesan. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. Demikian juga. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. mencemarkan nama keluarga.. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. Selanjutnya. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Selanjutnya. saudara. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. 3. 2. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. dan sebagainya. 74 . konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien.

Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.id. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Sumber : http://depdiknas.go. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Okun (Sofyan S. Barbara F. 2008 Dalam proses konseling. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Willis. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . bimbingan kelompok. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. dan konseling keluarga. baik perilaku verbal maupun non verbal. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling.

serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Sebagai lembaga pendidikan. Secara visual. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. Oleh karena itu. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Konseling Individual: Teori dan Praktek.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . Kendati demikian. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. 2004. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Willis. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun.

Dalam hal ini. Dalam hal ini. Perlu digarisbawahi. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. bertengkar. serta hal-hal positif lainnya. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Lebih jauh. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Oleh karena itu. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. berkelahi dengan teman sekolah. keinginan untuk melanjutkan sekolah. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. Masalah (kasus) ringan. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). seperti: membolos. mencuri kelas ringan. berpacaran. Sofyan S. minum minuman keras tahap awal. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas.Dengan melihat gambar di atas. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Sebagai ilustrasi. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. 77 . malas. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya.

dengan perbuatan menyimpang. polisi. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. melakukan gangguan sosial dan asusila. ahli/profesional. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.2. berkelahi antar sekolah. Secara visual. Masalah (kasus) sedang. C. polisi. kesulitan belajar. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. dokter. karena gangguan di keluarga. seperti: gangguan emosional. seperti: gangguan emosional berat. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. minum minuman keras tahap pertengahan. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). pelaku kriminalitas. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. mencuri kelas sedang. Masalah (kasus) berat. siswa hamil. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. berpacaran. kecanduan alkohol dan narkotika. guru dan sebagainya. percobaan bunuh diri. 3. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

dan berpotensi. keagamaan. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. karier. personal. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. C. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. sosial. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. dasar dan menengah. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. individualitas. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. 3. proses dan program bimbingan dan konseling. 2. individual. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. akademik. bermoral. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. kejuruan. jenjang. kebebasan memilih. dan (f) ersikap demokratis B. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. 2008 A. 3. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. dan khusus. 1. 4. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. dan informal. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (c) memfasilitasi perkembangan. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. non formal. (b) melakukan 79 .

pimpinan sekolah/madrasah. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. tujuan. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. tujuan. yang di dalamnya 80 . (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. 4. dalam bentuk naskah akademik. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. tujuan. 2007. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. tenaga administrasi) 5. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. 6. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (b) mengkomunikasikan dasar. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. wali kelas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Namun. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.dan profesi.dan profesi. orang tua. Sumber : ABKIN. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. 2008 Dalam Permendiknas No. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar.

Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. hemat. (2) Landasan perilaku etis. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (7) Pengembangan diri. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (3) Kematangan emosi. (6) Kesadaran gender. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (4) Kematangan intelektual. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

dalam bentuk naskah akademik.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Jakarta. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (7) Pengembangan diri. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (4) Kematangan intelektual. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Oleh karena itu. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (3) Kematangan emosi. Namun. (6) Kesadaran gender. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (9) Wawasan dan kesiapan karier. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.2007. (2) Landasan perilaku etis. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2008 Dalam Permendiknas No. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius.

Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. 83 . hari. ulet hidup hemat.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. sehari-hari.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.Jakarta. dan persyaratan pekerjaan. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. 2008 Dalam Permendiknas No. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. ulet kewirausahaan hemat.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.

(2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (4) Kematangan intelektual. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . Oleh karena itu. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dalam bentuk naskah akademik.Namun. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (7) Pengembangan diri. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (6) Kesadaran gender. (3) Kematangan emosi.

ulet. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.Jakarta. hemat.2007. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.ulet sungguhhemat.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sengguhulet. pendidikan.

ulet sungguhhemat. sengguhulet.ulet. pendidikan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. hemat. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.Jakarta. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.2007.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. 86 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.

dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program Semesteran. 3. 87 . dan (5) volume/beban tugas konselor. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Dilihat dari jenisnya. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Program Tahunan. 2008 A. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. sasaran pelayanan (4) .D. Program Mingguan. 4. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. yaitu: 1. (3) format kegiatan. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Bulanan. 2. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

dan pihak-pihak yang terkait. yaitu : (1) perencanaan. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. kegiatan instrumentasi. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. (2) pelaksanaan. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Program Harian. penempatan dan penyaluran. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. dan (3)penilaian 1. serta alat bantu yang digunakan. B. substansi. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. bulanan serta mingguan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu.5. insidental dan keteladanan. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . dan (2) kegiatan non tatap muka. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. dan (e) waktu dan tempat. tempat. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. waktu. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. jenis kegiatan. penguasaan konten. B. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling.

Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. bimbingan kelompok. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). C. 3. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. pemanfaatan kepustakaan. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. perorangan. kunjungan rumah. Penilaian segera (LAISEG). Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. dan alih tangan kasus. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG.. 89 . Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik.dalam kelas. 2. dan mediasi. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. kegiatan konferensi kasus. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). dan (2) penilaian proses. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. himpunan data. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. konseling kelompok. menyelenggarakan layanan orientasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling.

perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). mengandung arti bahwa bentuk. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan pengembangan karir konseli. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. belajar. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). 2. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. responsif. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Namun. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). 3. rancangan. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. 90 . guru. 1. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. bakat. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.

Draft.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. G. A. (2003). (Ed. (2003). Bandung: ABKIN Bandura. VA: AACD. Handbook of School Counseling. (2005). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Debra C. Belomont. Dameron. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.ncat. & Henderson. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (Eds). Merrill Prentice Hall Corey. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2001). Donna A. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Alexandria. New Jersey. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Engels. (2003).D. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.Gambar 1. Depsiknas. The Art of Integrative Counseling. UK: Cambridge University Press. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). D. Balitbang Diknas. Cambridge. (2006).). DAFTAR RUJUKAN AACE. http://aace. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 91 .W dan J. CA: Brooks/Cole. (2005). (2007). Departemen Pendidikan Nasional. Self-Efficacy in Changing Soceties. (1995). Cobia.

Houston : Shell Com. 2006. Muro. LIPI. Sunaryo Kartadinata. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. The Missouri Comprehensive Guidance Model. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program.J. Gibson R.Ltd. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. California : Myfield Publishing Company.N. Pikunas. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Comm. Herr Edwin L. Introduction to Counseling and Guidance.Browers. T. (1990). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. ASCA (American School Counselor Association). ——–. Depdiknas. James J. (1986). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . (1992). Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Menteri Pendidikan Nasional.dan Juntika N. London : Prentice-Hall International Inc.I. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Guidance and Counseling in the Schools. Bandung : PT. R. Development Taks and Education. J. (1979). Judy L. (2005). James A. Human Development. Terry. Hurlock. Havighurts. (1953). & Mitchel M. ——–. dkk. (1956). Jakarta: Puskur Balitbang. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Depdiknas. Lustin.L. New York : MacMillan Publishing Company. & Hatch. Pusat Kurikulum. Depdiknas. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. 2006). Columbia: The Educational Resources Information Center. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (2005). (2003). (2002). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. (1976). (2005).H. Landasan Bimbingan dan Konseling. Alizabeth B. Child Development. Management. & Kottman. Ellis.Nancy. (1995). Depdiknas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Balitbang Depdiknas. Adolescence. (2005). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (2003). Michigan School Counselor Association. (1987). Syamsu Yusuf L. 2006. (2003). Patricia A. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. 2004. The National Model for School Counseling Programs. Bandung : Remaja Rosda Karya. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Stoner. New York: David Mckay. Remaja Rosda Karya. (2006).

Vol 24 No. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Pd. 1995. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. M. Uman Suherman. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Woolfolk. Oleh karena itu. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 3 July’96. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. Dalam hal ini. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. M. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Educational Psychology. 2008 Oleh : Drs.Pd. tulisan ini. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. Boston : Allyn & Bacon. Akhmad Sudrajat.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (1996). Anita E. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. Sesungguhnya. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 .

namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. melalui berbagai bentuk aturan. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. seperti : malas. Akibatnya. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. ketentuan. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. Dari sini. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Maka. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. baik secara langsung maupun tidak langsung. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Bagaimanapun. konselor dituntut bekerja secara profesional. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. petunjuk pelaksanaan. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. Secara tidak langsung. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. Dengan kata lain.1. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. petunjuk teknis dan sebagainya.

akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Sekalipun ada. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. untuk menguasai teknikteknik konseling. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . dan setiap setelah selesai mempraktekkan. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. 2. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. seperti : seminar. penataran dan pelatihan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. Berbekal kesabaran dan ketekunan. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Walaupun demikian perlu dicatat. dengan bercermin dari kekurangan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh.dalam internet. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. Sementara. Kemudian. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Bahkan.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Sedangkan secara langsung. Misalkan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Sehingga pada gilirannya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling.

jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Dan pada gilirannya. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik.mewakili pihak pemerintah. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. Dalam hal ini. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. Tentu saja. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. konselor 96 . bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Dengan adanya akuntabilitas ini. Oleh karena itu. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. Artinya. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. terutama masyarakat dan orang tua siswa. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). khususnya kepada bimbingan dan konseling. Bagaimanapun masyarakat. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Namun pada kenyataannya. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Jadi wajar sekali. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar.

akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. khususnya dalam forum Komite Sekolah. Hal yang perlu dicermati. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Karena. Bahkan bila perlu. Atau secara kreatif. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Prayitno. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. kapan saja diperlukan. Demikianlah. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. yang berhubungan dengan data siswa. seperti kepala sekolah. dewan sekolah atau siapa pun. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Dengan sendirinya. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Dengan kata lain. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. 97 . Tentu saja. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. Oleh sebab itu. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Untuk itulah. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Dr.

S. Counselors Role in a Changing 98 . yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. 1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. (2001). Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Departemen Pendidikan Nasional. dan (3) evaluasi hasil. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Dr. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini.. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. W. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.(1994).Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. (2) evaluasi program.(1995). Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Prof. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. (1991). Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Makalah . (1995). Sementara itu. (1997).

gov/sspw/counsl1. 2008 99 .dpi.wisconsin. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. guru. Konseling Individual. Bandung : Alfabeta. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). Willis. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Teori dan Praktek.html Sofyan S. 2004.

Daftar konseli 3. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. bibliokonseling. proses. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. bimbingan klasikal. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Laporan hasil evaluasi program.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. bimbingan kelompok. buku saku) 7. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. (c) pemilihan instrumen/media. konsultasi. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. kunjungan rumah. Dalam hal ini. media cetak : liflet. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. kotak masalah.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. 2. Laporan bulanan 5. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. konseling kelompok. berbentuk : 1. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Laporan semesteran/tahunan 6. (d) strategi pelayanan. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. audio. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. catatan anekdot. audio visual. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Kendati demikian. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 .

masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Demikian pula. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. karier. Tujuan Umum 3. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . dan masalah-masalahnya belajar. Sebaliknya. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. konselor. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Selengkapnya. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. sosial. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Wilayah Gerak 2. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Sementara itu.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3.

“Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Belitung. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa.. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat.” ungkapnya.” ujarnya. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. belajar dan karier. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. Selain terlalu sering memberikan nasihat. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Padahal. bukan yang memiliki masalah saja. Sofyan S. sosial.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. 102 . Terutama. Willis. M. Menurut dia.Pd. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Jakarta F. “Alternatif bisa diusulkan guru. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. alternatif juga dari dia (siswa-red). 2007. Prof. Dr. katanya. Jl. Yang baik. Karenanya. Menurut dia. H.

(2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling.melalui pendidikan. 103 . dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. nilai. (5) yang dilandasi sikap. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. Dr. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Karenanya. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum.pikiran-rakyat. layanan etis normatif. dan bukan layanan bebas nilai. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. Sunaryo Kartadinata. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. menggunakan penyikapan yang empatik.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Supaya konseling cukup efektif. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Menurut Sofyan. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. ia mengungkapkan. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan.com/cetak/2006/042006/07/0702. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. Saat melakukan konseling. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Berkaitan dengan peran sekolah. Sumber : http://www. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. hal. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. 6 September 2006.

. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Menurutnya. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. akademik. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Selain itu. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat.. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. melalui direct behavioral consultation. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. seperti dalam olah raga. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. sejahtera. pribadi-sosial. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. serta berguna untuk manusia lain. Misalnya. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. misalnya melalui asesmen psikologis. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. Dalam hal ini. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. terutama guru pendidikan khusus. Pada jenjang SMP dan SMA. dan karier. seni dan sebagainya 104 .

Empat tahun kemudian.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). M. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor.. 6 September 2006. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian.Pikiran Rakyat. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Jawaban singkatnya.Pd. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu).Atas semua itu.singkatnya pertanyaan itu. Ditjen PMPTK. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. BSNP. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. hal. Sumber : Sunayo Kartadinata. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. sekitar 32 tahun yang lalu. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Setelah keluar dari ruangan BP.

Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Pada awal menjadi Guru BP. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. menggantikan sebutan Guru BP. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. jika penulis kelak menjadi guru BP. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Akhirnya. tempat kelahiran penulis. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Selanjutnya.Begitu juga. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Hanya selang satu tahun setelah lulus. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu.. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Sebaliknya.

Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. dibandingkan dengan masa-masa 107 .Pd. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6.SMA pada saat itu. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. Dalam tataran teoritis. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. Hanya sangat disesalkan. M. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini.harus gigit jari. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. meski secara formal istilah ini belum digunakan. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. sampai dengan sekarang. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Pada tahun 2003. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar.

ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Di sisi lain. Contoh kasus. dengan memperhitungkan segi kuantitas. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Menurut pandangan penulis. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. khususnya di kalangan siswa. 2.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. yaitu : 1. Sehingga. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. baik secara personal maupun lembaga. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. kualitas dan distribusinya. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Contoh kasus terbaru. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Kesan lama. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Sayangnya. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah..mata pelajaran di sekolah. Meminjam bahasa ekonomi.

baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . Jika ke depannya. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. Begitu juga. Jika tidak. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). dalam kebijakan sertifikasi guru. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling.Pd. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Dalam dokumen KTSP. M. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. Jadi. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. *)) Akhmad Sudrajat. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. Uman Suherman. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. M. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. dengan menghadirkan pembicara Dr.dilaksanakan.Pd.

baik laporan harian. 2. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. oleh siswa. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. sosio-personal. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). 4. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. tidak jelas kerjanya. bulanan. Pada saat sedang mengikuti rapat. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. 6. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. maupun bidang karier. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. 110 . Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. 3. atau tahunan. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. guru mata pelajaran. baik dalam bidang akademik. Misalnya. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. 1. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. kepala sekolah. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya.

Dalam jadwal resmi. M. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . H. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Bapak Drs.Pd. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. maka atas seijin panitia setempat. Rachmat Setiawan. Tentunya saya berharap. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan.M. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Untuk itu. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah.

Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (7) Agama. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. Kendati demikian. Untuk kepentingan analisis data. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). setelah dilakukan input data terlebih dahulu. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. dan (10) Waktu Senggang (WSG). (2) Diri Pribadi (DPI). Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . ( Hubungan Muda Mudi (HMM). sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM.G. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. mudah dan akurat. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. Nilai dan Moral (ANM). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. pengembangan maupun kuratif. Melalui analisis data berbasis komputer ini. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. Sayangnya. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (3) Hubungan Sosial (HSO). Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Tentunya. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. baik yang bersifat preventif. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. dkk.

Sadar Diri. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. Perlindungan Diri. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. Dengan alat ITP. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. dan perspektif diri. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. 3. 2. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. Konformistik. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (g) takut tidak diterima kelompok. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. (f) kurang introspeksi. motif. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. (b) berfikir sterotip dan klise. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. (d orientasi pemecahan masalah.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. dkk. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. (d) peduli akan hubungan 113 . dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. 4. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Anda dapat men-download materi tersebut. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. Impulsif. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (b) bergantung pada lingkungan. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. Seksama. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. Berdasarkan hasil pengukuran ini. (e) memikirkan cara hidup. (c) beorientasi hari ini. (c) peduli akan aturan eksternal. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (d) bertindak dengan motif dangkal. (c) mampu melihat keragaman emosi. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan.

(4) kematangan intelektual.. Yang diskor 66 soal. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (g) mengenal kompleksitas diri. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. (3) kematangan emosional. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. (2) landasaan perilaku etis. (c) peduli akan paham abstrak. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. ( kemandirian perilaku ekonomi. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa.mutualistik. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. Yang diskor 66 soal. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Yang diskor 40 soal. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (9) wawasan dan persiapan karir. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. 6. 7. seperti keadilan sosial. (e) peduli akan self fulfillment. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan.Yang diskor 40 soal. (e) memiliki tujuan jangka panjang. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (5) kesadaran tanggung jawab. Individualistik. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. Otonomi.

untuk jumlah siswa yang besar. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. cepat dan menyenangkan. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Sumber : Sunaryo. grafik distribusi frekuensi konsistensi. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Multi window. Manual Guide ATP Versi 3. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Namun. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. delapan butir tertinggi dan terendah.Analisis per individu. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. Proses penyekoran. Manajemen data. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. yang terdiri atas: profil individual. cara ini akan memakan waktu. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan.bagian akhir angket. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah.Analisis kelompok. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. penghitungan skor konsistensi. yang terdiri atas: profil kelompok. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. dkk . Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Impor data dari file Microsoft Excel. Dengan ATP. Semakin tinggi skor konsistensi.5 115 . dan penggabungan kelompok. distribusi frekuensi nilai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful