A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

dengan mencakup: (1) landasan filosofis. 3 July’96. Boston : Allyn & Bacon. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Uman Suherman. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 4 . yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. landasan psikologis. Anita E. A. Management. Educational Psychology. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pd. (1996). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Woolfolk. M. Stoner. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. Sebagai sebuah layanan profesional. religius dan yuridis-formal. 1995.Pd. (1987). Remaja Rosda Karya. landasan sosial-budaya. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia.dan Juntika N. (2005). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. M. (2) landasan psikologis. Vol 24 No. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan.——–. Bandung : PT. . Kata kunci : bimbingan dan konseling. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. (3) landasan sosial-budaya. James A. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. London : Prentice-Hall International Inc. landasan filosofis. Landasan Bimbingan dan Konseling. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.

atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. landasan sosial-budaya. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. dengan layanan bimbingan dan konseling. etis maupun estetis. Ibarat sebuah bangunan.tentang landasan bimbingan dan konseling. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling.. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. Selanjutnya. 5 . khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. yaitu landasan filosofis. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Oleh karena itu. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Dengan kata lain.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. para penulis Barat . Patterson. Thompson & Rudolph. Secara teoritik.(Victor Frankl.. dalam Prayitno. Alblaster & Lukes.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. khususnya bagi para konselor. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. landasan psikologis. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. B. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. Demikian pula. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum.

Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. b. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. golongan darah. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. ada yang sangat tinggi (jenius). kecerdasan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Manusia memiliki dimensi fisik.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. normal atau bahkan sangat kurang (debil. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Demikian pula dengan lingkungan. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. seperti struktur otot. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. (d) belajar. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. (b) pembawaan dan lingkungan. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. dan (e) kepribadian. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. embisil atau ideot). a. Manusia pada hakikatnya positif. Misalnya dalam kecerdasan. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. (c) perkembangan individu. seperti rekreasi. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . 2. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. bakat. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. warna kulit. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. yang mencakup aspek psiko-fisik. seperti : rasa lapar.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–.

Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. afektif maupun psikomotor/keterampilan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. frustrasi dan konflik.dan menjadi tersia-siakan. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. e. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. dan (3) Teori Belajar Gestalt. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Berangkat dari studi yang dilakukannya. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. baik dalam aspek kognitif. ketegangan emosional. Hall dan Gardner Lindzey. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Manusia belajar untuk hidup. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme.memadai. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. c. 7 . akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Tanpa belajar. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. bahasa dan kognitif/kecerdasan. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda.. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Allport (Calvin S. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. d. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. moral dan sosial. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier.

Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Fromm. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. yang mencakup : • • • • • • Karakter. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Sosiabilitas. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. yaitu bidang psikologi umum. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Sikap. Hull. sedih. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. psikologi perkembangan. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. maka 8 . 3. atau putus asa. Responsibilitas (tanggung jawab). Begitu pula. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. yaitu disposisi reaktif seorang. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Horney dan Sullivan. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. hormon. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Selain itu. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. teori Personologi dari Murray. Teori Psikologi Individual dari Allport. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Watson. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Seperti mudah tidaknya tersinggung. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. tampang. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. cuci tangan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Teori Medan dari Kurt Lewin. Stabilitas emosi. negatif atau ambivalen. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Sejak lahirnya. Oleh karena itu. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Sementara itu. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Temperamen.

dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. dan (e) kecemasan. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. statistik. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. antroplogi. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. wawancara. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. dan bahkan mungkin bertolak belakang. ilmu hukum dan agama. prosedur tes. seperti: pengamatan. Moh. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. pemikiran. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Sejalan dengan perkembangan teknologi. 4. manajemen. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. sosiologi. seperti : psikologi. Menurut Gausel (Prayitno. (c) stereotipe. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. khususnya teknologi informasi berbasis komputer.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. yaitu kesamaan di atas keragaman. (d) kecenderungan menilai. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. evaluasi. ilmu ekonomi. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. analisis dokumen. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. (b) komunikasi non-verbal. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. biologi. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. filsafat. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. 2003). ilmu pendidikan. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno.

2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan.pendidikan. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. 10 . Dikemukakan pula. Sebagai ilmuwan. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Moh. Ditegaskan pula oleh Moh. landasan religius dan landasan yuridis-formal. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Peraturan Pemerintah. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. dalam bentuk “cyber counseling”. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. C. Undang – Undang.

Developmental Phsychology. PT Golden Terayon Press. Bandung : P. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Psikologi Sosial. 2005. 1997. 2003. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia.M. Psikologi Pendidikan. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.IKIP Bandung . Psikologi Belajar. Margaret E. 1980. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. meliputi : (a) motif dan motivasi. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). Supratiknya). SMA dan SMK Muhibbin Syah.———-2006. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Jakarta. 2003. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. (b) landasan psikologis. Gerlald Corey.1992. 2003.T. Theory Into Practice.. Hall & Gardner Lidzey (editor A. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. 2004. (c) landasan sosial-budaya. Koswara). Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Bandung : PT ErescoH. Remaja Rosdakarya. (d) belajar. Arifin. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Jakarta : PT Raja Grafindo. (b) pembawaan dan lingkungan. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Hurlock. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Bandung : Refika Gerungan 1964. Bandung PPB . Learning & Instruction. New York : McMillan Publishing. Majalengka : Sanggar BK SMP. 11 . (c) perkembangan individu. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 2003. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. E. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. dan (d) kepribadian. Surya. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Elizabeth B. Calvin S.

(2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. maupun masyarakat pada umumnya. Jakarta : Depdiknas . dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Sekolah/Madrasah. dkk. dkk. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Willis.. belajar (akademik). masyarakat. Psikologi Kepribadian. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. maupun lingkungan kerja. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. 2004. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Teori dan Praktek. Syamsu Yusuf LN. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teori-Teori Psikologi Sosial. 2004. 1984. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Jakarta : Rineka Cipta . Jakarta : Rajawali. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut.———-. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial.——–2003. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. 2003. 2004. baik dalam kehidupan pribadi. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. pergaulan dengan teman sebaya. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.Prayitno.2005. tempat kerja. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. kekuatan. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. keluarga. 1. dan tugas-tugas perkem-bangannya. dan karir. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata.Konseling Individual. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. serta 12 . (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.

dan sesuai dengan norma agama. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 13 . seperti keterampilan membaca buku. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. kemampuan dan minat. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. 3. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. seperti membuat jadwal belajar. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. tanpa merasa rendah diri. Mengenal keterampilan. prospek kerja. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memiliki rasa tanggung jawab. menghormati atau menghargai orang lain. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. atau silaturahim dengan sesama manusia. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. 2. mencatat pelajaran. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. mengerjakan tugas-tugas. dan kesejahteraan kerja. persaudaraan. Oleh karena itu. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. asal bermakna bagi dirinya. seperti kebiasaan membaca buku. mengggunakan kamus. kemampuan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. baik fisik maupun psikis. Dapat membentuk pola-pola karir. disiplin dalam belajar. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. yaitu kecenderungan arah karir.

ASCA (American School Counselor Association). (1953). Menteri Pendidikan Nasional. (2007).ncat. G. & Henderson. Depsiknas. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2006). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Balitbang Diknas. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (2005). (1990). Donna A. The Missouri Comprehensive Guidance Model. J. (2003). Merrill Prentice Hall Corey. Dameron. DAFTAR RUJUKAN AACE. http://aace.W dan J. 2006). (2006). Houston : Shell Com.Nancy. Alizabeth B.H. Depdiknas. Development Taks and Education. Alexandria. Gibson R. (2001). 2006. Bandung: ABKIN Bandura. Adolescence. (Eds). Depdiknas. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . The National Model for School Counseling Programs. Debra C. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (Ed. New York: David Mckay. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). California : Myfield Publishing Company. CA: Brooks/Cole. & Mitchel M. T. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Child Development. Handbook of School Counseling. UK: Cambridge University Press. Patricia A. Cobia.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Judy L. Belomont. VA: AACD. Ellis. (1995). R. A.I. Self-Efficacy in Changing Soceties.). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Cambridge. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1956). The Art of Integrative Counseling. Engels.L. New Jersey. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2003). & Hatch. (1992). D. New York : MacMillan Publishing Company. Depdiknas. (2003). (1979). Herr Edwin L. Depdiknas. Guidance and Counseling in the Schools. Havighurts. Introduction to Counseling and Guidance. (2005).J. Browers. Hurlock. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2002). (1986). Draft. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Comm. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Columbia: The Educational Resources Information Center. Jakarta: Puskur Balitbang.D. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.

Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Ltd. Madison : Brown & Benchmark. (1976). Fungsi Pemahaman. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha.Menteri Pendidikan Nasional. (2005). (2005). Balitbang Depdiknas. Remaja Rosda Karya. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Human Development. Bandung : PT. Michigan School Counselor Association. Syamsu Yusuf L. Boston : Allyn & Bacon. Adapun teknik yang 15 . (2003). James A. Bandung : CV Bani Qureys. & Kottman. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). (1987). ——–. Sunaryo Kartadinata. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. Stoner. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (1995). Lustin. dkk. 2. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan.dan Juntika N. Uman Suherman. Woolfolk. dan norma agama). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. 3 July’96. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. ——–. London : Prentice-Hall International Inc. Melalui fungsi ini. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 2004. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.N. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Berdasarkan pemahaman ini. Landasan Bimbingan dan Konseling. Pusat Kurikulum. supaya tidak dialami oleh konseli. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Terry.Pd. M. pekerjaan. James J. LIPI. Management. Educational Psychology. (1996). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. (2005). 1995. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Fungsi Preventif. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Bandung : Remaja Rosda Karya. Muro. Pikunas. (2003). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Anita E. Vol 24 No. Jakarta : Balitbang Depdiknas.

Prinsip-prinsip itu adalah: 1. baik anak- 16 . merokok. tutorial. 6. 7. jurusan atau program studi. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. yang memfasilitasi perkembangan konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. dan remedial teaching. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. baik menyangkut aspek pribadi. home room. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. 5. dan kebutuhan konseli. Fungsi Pengembangan. 9. informasi. Dalam melaksanakan fungsi ini. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. minat. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Fungsi Fasilitasi. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. 3. bakat. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Fungsi Penyembuhan. 4. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Fungsi Pemeliharaan. baik pria maupun wanita. berperasaan dan bertindak (berkehendak). baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. sosial. kemampuan. Fungsi Penyesuaian. penyalahgunaan obatobatan. konselor. dan pergaulan bebas (free sex). pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. dan bimbingan kelompok. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. serasi. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. dan karyawisata. 10. memilih metode dan proses pembelajaran. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. diantaranya : bahayanya minuman keras. maupun karir. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). belajar.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. drop out. Fungsi Adaptasi. 8. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Fungsi Penyaluran. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Fungsi Perbaikan.

tetapi juga di lingkungan keluarga. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. anak. pendidikan. dan peluang untuk berkembang. 17 . Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. menyesuaikan diri. yaitu meliputi aspek pribadi. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. 4. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Bimbingan menekankan hal yang positif. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. memberikan dorongan. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Asas kesukarelaan. dan pekerjaan. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. perusahaan/industri. 3. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. 5. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Mereka bekerja sebagai teamwork. dan masyarakat pada umumnya. 1. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. 3. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Agar konseli dapat terbuka. maupun dewasa. Asas Kerahasiaan. remaja. 2. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Asas keterbukaan. sosial. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.2.

Asas kemandirian. Asas Keharmonisan. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. (2003).ncat. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Asas Keterpaduan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. 6. guruguru lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. 10. adat istiadat. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. menghayati. Asas kegiatan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang.4. harmonis. hukum dan peraturan. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. 8. 7. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. saling menunjang. dan kebiasaan yang berlaku. 9. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. Lebih jauh. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas Alih Tangan Kasus. DAFTAR RUJUKAN AACE. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. dan terpadu.edu 18 . yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. yaitu nilai dan norma agama. Asas Kedinamisan. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas Kekinian. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. 11. Asas Keahlian. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. 5. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. mampu mengambil keputusan. ilmu pengetahuan. http://aace. tidak monoton. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. atau ahli lain .

Hurlock. Dameron. (2003).J. (2006). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Depsiknas. 19 . Michigan School Counselor Association. (1979). Menteri Pendidikan Nasional. Self-Efficacy in Changing Soceties. (Eds). (1956). Depdiknas. (2005). (2005). (2005). Cambridge. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Handbook of School Counseling. Draft. Belomont. Bandung: ABKIN Bandura. (1995). Debra C. Adolescence. (1992).H. (2003). T. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. CA: Brooks/Cole. (2005). Judy L. Patricia A. Jakarta: Puskur Balitbang. Herr Edwin L. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. New Jersey. 2006. Introduction to Counseling and Guidance. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Cobia. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. & Henderson. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2007). A. Engels. (1953). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. & Hatch.I. 2006. UK: Cambridge University Press. Balitbang Diknas. Depdiknas. California : Myfield Publishing Company. 2006). (1986). Comm. J. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Houston : Shell Com. Development Taks and Education. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor.D. R.W dan J. Gibson R. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. G. Guidance and Counseling in the Schools. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Donna A. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Columbia: The Educational Resources Information Center. Depdiknas. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1990). The Art of Integrative Counseling. New York: David Mckay. VA: AACD.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Alizabeth B. Browers. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (Ed. Child Development. (2006). (2002). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Merrill Prentice Hall Corey. Alexandria. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (2003). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts. (2001). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.).L. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. & Mitchel M. Ellis. D. Standar Kompetensi Konselor Indonesia.Nancy.

yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Human Development. Vol 24 No. Pusat Kurikulum. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Terry. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. dan mengembangkan potensi dan kecakapan.dan Juntika N. Uman Suherman. ——–. Bandung : Remaja Rosda Karya. Woolfolk. (1996).N. (1995). (2003). (1976). Jakarta : Balitbang Depdiknas. Pengembangan kemampuan belajar. Madison : Brown & Benchmark. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8.Muro. Bandung : PT. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. 2004. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Anita E. menilai. dkk. Sunaryo Kartadinata. Management. Syamsu Yusuf L. (2003). bakat dan minat. Boston : Allyn & Bacon. Educational Psychology. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. James J. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. 20 . Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII).Pd. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Balitbang Depdiknas. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 1995. (2005). 3 July’96. Bandung : CV Bani Qureys.Ltd. James A. ——–. London : Prentice-Hall International Inc. Pengembangan kehidupan sosial. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. & Kottman. Remaja Rosda Karya. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Landasan Bimbingan dan Konseling. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. Pikunas. Lustin. (2005). anggota keluarga. LIPI. (1987). Stoner. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. M. Pengembangan karir. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.

pergaulan. serta untuk 21 . terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. magang. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. • • • • Layanan Konten. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dalam bidang pribadi. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. jurusan/program studi. Layanan Konseling Perorangan.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan Informasi. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Penempatan dan Penyaluran. diantaranya: Layanan Orientasi. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. pendidikan lanjutan). program latihan. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. kelompok belajar. karier. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Layanan Bimbingan Kelompok. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

1. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. 5.. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. belajar ataupun kariernya. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. 2004) Sumber : Bahrul Falah. bermasyarakat. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). 6. sosial. sosial. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. belajar maupun kariernya. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Ke Arah Pengertian Developmental. (Muslihudin. dkk. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 3. Jakarta : BP3K. Hattari. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. 1987. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Namun. Diantaranya. Bandung : LPMP Jawa Barat. 4. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. mereka mempertanyakan. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. berbangsa dan bernegara. perusahaan. 2. M. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak.Pd. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. dkk. 1983. 2004.

Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. cita-cita. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. jenis dan prospek pekerjaan. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. seperti bakat. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. baik melalui media cetak atau eleltronik. Namun. karier. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. Karena. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. ciri-ciri pekerjaan. Untuk itulah. baik tentang bakat. dan sebagainya. Untuk itulah. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. minat. seperti kecerdasan. Di samping itu. pasar kerja. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. bakat. Materi Informasi. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. persyaratan. Dalam hal ini. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. seperti kondisi sosio-kultural. ciri-ciri 26 . Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. materi informasi yang bersifat personal. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. jenis pekerjaan.

Jakarta : IPBI 27 . tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV.kepribadian. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Misalkan. Untuk itu. Dalam hal ini. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Selain itu. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. keterangan. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. artikel. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. dalam rangka menambah wawasan. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Selain itu. Sebagaimana telah disinggung di atas. atau minat pekerjaannya. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. berdasarkan hasil pengalamannya. (1995). juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Dari hasil kunjungan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. atau klipping yang berhubungan dengan karier.

seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. yaitu sama-sama menginginkan 28 . (1997). Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. pelayanan responsif. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. perencanaan individual. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Dalam hal ini.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. 2. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. W. Begitu pula. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling.S. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). (1991). Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.

Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. mendiagnosis. 7. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. serta teknis medis lainnya. Masalahnya.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. modifikasi perilaku. pengubahan lingkungan. 6. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Misalkan.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. 29 . Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Kendati demikian. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. penguatan mental/psikis. 5. baik untuk kepentingan pencegahan. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. 3. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.

Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Begitu pula sebaliknya. 9. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. orang tua. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Pekerjaan yang 30 . penunjuk jalan. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Di sekolah misalnya. pemberi informasi. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.siswa. pembangun kekuatan. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. disiplin dan keamanan di sekolah.guru. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi.dan lingkungan. sekolah dan masyarakat sekitarnya. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja.dan piha-pihak lain. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. 10. seperti “praktik pribadi”. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Namun demikian. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Konselor adalah kawan pengiring. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. seringkali masalah seseorang dianggap sepele.sosial. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.

angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu.Sementara itu. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Bahkan sering kali terjadi. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. menghambat. tujuan yang ingin dicapai. 13. bersikap “jemput bola”. Konselor harus aktif. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. ada dan digunakannya instrumen (tes. jenis dan sifat masalah. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. tujuan. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. guru pembimbing memang harus aktif. 12. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. tersendat-sendat.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Dengan kata lain. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. maka hasilnya akan kurang mantap. pihak lain pun. dan asas-asas tertentu). atau bahkan tidak berjalan sama sekali. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. metode. Di sekolah. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. terutama klien.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Sedangkan jawaban ”tidak”. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. dan sarana yang tersedia. dalam hal ini konselor. Pada dasarnya.inventori.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . 11. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.Lebih jauh. 14. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.Oleh sebab itu. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jawaban ”benar”.

Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut.2003. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 .15. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). atau bahkan beberapa tahun kemuadian. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya.. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Misalkan. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

memperoleh keterampilan hidup. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hal yang cukup mengagetkan penulis. Layanan Dasar. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dr. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. selaku ketua PB.Selama mengikuti pelatihan. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. Ketika membuka kegiatan pelatihan. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. Sunaryo. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. memiliki mental yang sehat. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. 33 . 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yang disajikan secara sistematis. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. bertempat di Cikole Lembang Bandung. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. M. standar kompetensi konselor. Prof. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling.(lihat 1. yaitu : 1.Pd.ABKIN.

baik menyangkut aspek pribadi. Kurikulum 1984. Layanan Responsif.Pd. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. manajemen program. merencanakan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Selain itu. atau mengelola pengembangan dirinya. 4. 3. M. Layanan dukungan sistem. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. Syamsu Yusuf L. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. staf ahli. Uman Suherman. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. belajar.Pd. dan Dr. baik dalam Kurikulum 1975. mau pun Kurikulum 1994. penasihatan individual atau kelompok. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. maupun karier. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Layanan Perencanaan Individual. referal dan bimbingan teman sebaya. A.Pd. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. konseling kelompok. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. Uman Suherman. M.. M. sosial. hubungan masyarakat dan staf.N. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. konsultasi dengan guru lain. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. konseling individual.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.Pd. Perbedaannya. dan masyarakat yang lebih luas. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. memelihara.2. Dr. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. dan penelitian dan pengembangan. M. Untuk lebih jelasnya. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 .) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. Agus Taufiq. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”.

Laporan semesteran/tahunan 6.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. proses. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. (c) pemilihan instrumen/media. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . berbentuk : 1. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. bibliokonseling. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. buku saku) 7. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. kotak masalah. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. catatan anekdot. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Laporan bulanan 5. bimbingan kelompok. 2. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. (d) strategi pelayanan. media cetak : liflet. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. konseling kelompok. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. audio visual. audio. Laporan hasil evaluasi program. kunjungan rumah. konsultasi. bimbingan klasikal. Daftar konseli 3. Dalam hal ini. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Kendati demikian.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

dan kegiatan. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). (2) tahap inti (tahap kerja). keterbukaan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Oleh karena itu. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. Membuat penaksiran dan perjajagan. Secara umum. berisi : (1) Kontrak waktu. terutama asas kerahasiaan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). kesukarelaan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. M. (2) Kontrak tugas. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.Pd. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Menegosiasikan kontrak. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. 39 . A. B. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan.

2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . rational emotive therapy (RET).Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Dalam bentuk tayangan slide.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. dan trait and factor. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Dr. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. M. C. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. DYP Sugiharto. baik oleh pihak konselor maupun klien. (1) menurunnya kecemasan klien. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). psikoanaliss. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu .Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai.tugas profesionalnya. gestalt. sehat dan dinamis.

41 . (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. 2. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. 4. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. B. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. 3. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. (c) peniruan. (b) pembiasaan operan. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. 2008 A. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1.

(c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. kekuatan dan kelemahannya. 4. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Konselor aktif : 1. (b) apakah tujuan itu realistik. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. 3. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. pola hubungan interpersonal. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. Evaluation termination. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu.D. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. 42 . (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. dan (d)k emungkinan kerugiannya. 5. atau melakukan referal. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. tingkah laku penyesuaian. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Assesment. Technique implementation. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. (c) kemungkinan manfaatnya. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. 2. Feedback. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Goal setting. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling.

Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. M.Pd. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. model fisik. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Sumber : Dr. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. DYP Sugiharto. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. tape recorder. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. atau contoh nyata langsung). Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. kesulitan menyatakan tidak. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. (Makalah) 43 . Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. dapat menggunakan model audio.

memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. kecemasan. menuntut. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. tidak berdaya. ingin dimaklumi. dan sebagainya. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. dan tingkah lakunya 44 . (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. kemarahan. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. rasa diabaikan. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. maka mereka mengalami kecemasan. kedudukan. emosi. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. pasif. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. otak. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. mengancam. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. rasa berdosa. Meskipun tidak bisa diungkapkan. 2008 A. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Dalam pendekatan ini. jantung. lemah. perasaan. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. pera-saan. Under dog adalah keadaan defensif. B. membela diri. sakit hati. dan pemikirannya. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. (3) aktor bukan reaktor. kebencian. persepsi. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.

memahami kenyataan atau realitas. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. 45 . serta mendapatkan insight secara penuh. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. C. D. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. interpretasi maupun memberi nasihat. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab.

Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Fase ketiga. dirinya tidak berdaya. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. perasaan. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. Melalui fase ini. konselor mengembangkan pertemuan konseling. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Dalam hal ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. atau gila. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. Teknik Konseling 46 . konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Fase kedua. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. dalam situasi di sini dan saat ini. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Fase keempat. bodoh. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. dan tingkah lakunya. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. perasaan-perasaannya. yaitu : Membangkitkan motivasi klien.

konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Dalam kaitan itu. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. Misalnya : “Saya merasa jenuh. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. Orientasi Eksperiensial. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Orientasi Sekarang dan Di Sini.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi memfokuskan keadaan sekarang.

Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. “Saya malas. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. M. (Makalah) 48 . Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sumber : Dr. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Meskipun tampaknya mekanis. DYP Sugiharto.Pd. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”.Sering terjadi.

bahagia. Keyakinan seseorang ada dua macam. interpretasi. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Belief (B) yaitu keyakinan. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Belief (B). kelulusan bagi siswa. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. dan kerana itu menjadi prosuktif. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. B. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. yaitu Antecedent event (A). antara kenyatan dan imajinasi. yang dapat diterima menurut akal sehat. 2008 A. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. dan keran itu tidak produktif. atau sikap orang lain. bijaksana. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. masuk akal.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. sangat personal. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. nilai. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. (c) orang tua atau masyarakat 49 . Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. pandangan. kekhawatiran. dan kompeten.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Perceraian suatu keluarga. tidak masuk akal. dan irasional. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. kejadian. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). emosional.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. tingkah laku. dan Emotional consequence (C).

(3) pengarahan diri. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. (4) toleransi terhadap pihak lain. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. Ketiga. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. merasa was-was. persepsi. (2) minat sosial. rasa cemas. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. bencana yang dahsyat. mengerikan. disalahkan. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. rasa marah. ( penerimaan diri. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. dan dihukum. cara berpikir. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Kedua. (9) berani mengambil risiko. dan (10) menerima kenyataan. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. (5) fleksibel. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. jahat. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. (6) menerima ketidakpastian. D. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. rasa berdosa. merusak. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. rasa bersalah. C.

Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. mendorong. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. 3. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Aktif-direktif. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. 4. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Behavioristik. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. afektif. E. 2. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Emotif-ekspreriensial. Kognitif-eksperiensial. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.

(b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. M. membiasakan diri. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. mengobservasi. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. (Makalah) 52 . Dengan tugas rumah yang diberikan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. latihan. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. Sumber : Dr. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien.Pd. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. atau meniru model-model sosial. Dengan memberikan reward ataupun punishment. DYP Sugiharto. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis.

konflik dan simbolisme. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. disikusikan. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Menutup wawancara konseling E. 2008 A. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. ego. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. terutama usia 2-5 tahun. Klien diminta 53 . sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. yaitu id. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Manusia secara esensial bersifat biologis. D. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Konsep Dasar 1. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. untuk ditata. Hakikat manusia. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. Deskripsi Proses Konseling 1. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. dan super ego C. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. 2. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif.

asosiasi bebas. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. 3. 54 . Manusia merupakan seseorang yang ada. Memandang manusia sebagai individu yang unik. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Konselor menetapkan. resistensi berati penolakan. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. objektif. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Hal ini disebut juga katarsis.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Transferensi adalah mengalihkan. baik dalam asosiasi bebas. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. anonim. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. resistensi. B. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. resitensi dan transferensi. Analisis resistensi. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Dalam hal ini. Manusia tidak pernah statis. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. pengalamannya tertekan. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. 2. Menurut Freud. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. dan transferensi klien. mimpi. kebencian. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. 2008 A. Analisis mimpi. Konsep Dasar: 1. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Dengan perkataan lain. seksualitas. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Interpretasi. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta.

(4) reassurance (menentramkan hati). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. 3. 1997. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. (3) understanding (pemahaman). 2007. Teori dan Praktek. 4. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Memperbaiki dan mengubah sikap. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). (4) mewujudkan dirinya. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Willis.C. D. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. E. (2) respect (rasa hormat). (2) mengambil keputusan yang tepat. yang unik. Tujuan Konseling 1. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Saya adalah saya 2. 3. Rogers. Bandung: Alfabeta 55 . (5) encouragement (memberi dorongan). Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Deskripsi Proses Konseling 1. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. persepsi cara berfikir. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. 4. Konseling Individual. (3) mengarahkan diri. Sumber: Sayekti. 2. 5.

sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. dianalisis dan ditafsirkan. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. sebagai pengalaman yang berharga. 5. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. 3. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. 4. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Menurutnya. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. 2. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Tanggung jawab 56 . 2. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. yang hadir di seluruh kehidupannya.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. 3. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. diperbaiki. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2008 A.

7. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. D. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. 2. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 4. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. 3. 6. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Tujuan Terapi 1. 5. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. Guru. 3. 5. 4. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 4. 5. C. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Pengikat janji (contractor). 2. 6. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. baik berupa limit waktu. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Penyalur tanggung jawab. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. Moralist. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivator. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri.

di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Sumber: Sayekti. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Bandung: Alfabeta. mengalihkan pandangan. Menciptakan suasana yang aman 3. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Posisi tubuh : tegak kaku. ekspresi melamun. ceria. menunggu ucapan klien hingga selesai. jarak duduk dengan klien menjauh. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. B.7. bersandar. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. perhatian terarah pada lawan bicara. tidak melihat saat klien sedang bicara. mudah buyar oleh gangguan luar. 1997. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. Konseling Individual. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Untuk lebih jelasnya. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Memutuskan pembicaraan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Perhatian : terpecah. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. mata melotot. dan bahasa lisan. Empati dilakukan sejalan 58 . menggunakan tangan sebagai isyarat. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. duduk kurang akrab dan berpaling. Meningkatkan harga diri klien. diantaranya : A. 8. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Willis. miring. 2. 2007. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. bahasa tubuh. Teori dan Praktek. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku.

pikiran dan keinginan klien. Empati primer. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. yaitu : 1. Empati tingkat tinggi. 3.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. Refleksi perasaan. 59 . C. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. dan pengalaman klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. Refleksi pikiran. dan pendapat klien. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi perasaan. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. pikiran. Seperti halnya pada teknik refleksi.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. yaitu : 1. yaitu : 1. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. pikiran. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu teknik untuk menggali ide. Terdapat tiga jenis refleksi. Terdapat dua macam empati.” Saya mengerti keinginan Anda”. yaitu teknik untuk memantulkan ide. pengalaman termasuk penderitaannya. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. pikiran. menutup diri. Refleksi pengalaman. Eksplorasi pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. pikiran. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi pengalaman. berupa perasaan. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. 2. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.” 2.dengan perilaku attending. pikiran. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.” 2. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. tertekan dan terancam.

dapatkah. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . lebih baik gunakan kata tanya apakah. adakah..dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. bagaimana. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. lalu…. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. Oleh karenanya. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka.” F. terus…. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. (3) memberi arah wawancara konseling. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. ya…. akan tetapi saya tidak mengambilnya.

kedua. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.” K. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.M. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.I. Jakarta : PPPG 61 . Membantu orang tua memang harus. Willis. Arifin. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. PT Golden Terayon Press. Karena tantangan masa depan makin banyak. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). 2003. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Bandung : Alfabeta H.Konseling Individual. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Sugiharto. Saya tak dapat lagi menahan diri. (3) meningkatkan kualitas diskusi. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. bukan pandangan subyektif konselor.(2005. 2004.” Sumber : Sofyan S. J. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Teori dan Praktek. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Jakarta.

Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Oleh karena itu. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus mengenai budaya. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Fokus pada orang lain. 2008 A. Contoh dialog : 62 . Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. ide awal dengan ide berikutnya. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. atau kontradiksi dalam dirinya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.” C. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. dan sebagainya. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. 4. diantaranya : 1. konflik. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Fokus pada diri klien. (2) meningkatkan potensi klien. Contoh : ” Tanti. Contoh : ” Roni. telah membuat kamu menderita. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Fokus pada topik. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. senyum dengan kepedihan. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. 2.

komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Saya. Walaupun demikian. Contoh: ” Baiklah. G. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”..” F. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. paling lama 5 – 10 detik. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. posisi tubuh gelisah). D.Klien : ” Saya baik-baik saja”. (2) agar klien menjelaskan.. tidak tahu. dan kurang parisipatif. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending.” (diam) G. dan dengan alasan-alasan yang logis. Konselor :”…………. sering diam.” E. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.” (diam) Klien :” Saya. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali”. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit..” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. pikiran. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. kurang jelas dan agak meragukan.. 63 .harus bagaimana. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. ungkapan kata-kata yang tegas. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. wajah murung... dan pengalamannya secara bebas.. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.(suara rendah. ibu. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. atau saudara-saudara Anda.

Teori dan Praktek. Willis. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Sofyan S. 2004. Rational Emotive Theraphy. I. Contoh : ” Nah. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). terutama mengenai kecemasan. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Kalau pun konselor mengetahuinya.(2005. seperti pendekatan Behaviorisme. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. yaitu : 64 . Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. 2003. Bandung : Alfabeta H. 2008 Dalam konseling. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus.” H. Jakarta. (2) memantapkan rencana klien. Sugiharto.M. (3) pemahaman baru klien. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. PT Golden Terayon Press. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.com di internet”. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling.upi. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Arifin.Konseling Individual.

model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. model fisik. 65 . 4. kesulitan menyatakan tidak. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. 5. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. 3. 2. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. dapat menggunakan model audio. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.1. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Sering terjadi. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. 7. 6. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. “Saya malas. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 9. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 8. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko.

kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teori dan Praktek. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Willis. 2004. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. 10. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.(2005. Home work assigments. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. PT Golden Terayon Press.M. membiasakan diri. 13. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. 12. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Dengan tugas rumah yang diberikan. Jakarta : PPPG 67 . Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. 2003. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Arifin. mendorong. Sofyan S.Konseling Individual. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. 11. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Sumber : H. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. orang lain. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Dasar saya anak desa. terus bertahan. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. kurang bersahabat. susah tak ada/punya teman yang peduli. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. mengontrol dunia. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. dan sombong.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. terisolik. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Makin lama perasaan ditolak. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif.

tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. memaki-maki diri saya sendiri. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. Saya pantas menderita karena semuanya itu. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. mengobservasi dan evaluasi diri. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. puas dan bangga. Itu berarti salah saya. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. hanya 10% saja yang membeci saya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. bahkan adakalanya saya benci. Sehubungan dengan kasus. pemalu. sugestif. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. semua teman memperhatikan / mendukung. tak seperti orang/teman-teman lainnya. karena saya tak berharga. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. dan seterusnya. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Tekniknya jelas. Ia menjadi minder. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. peduli. Ide-ide ini diajarkan. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. bermain peran. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. teliti. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Cara konselor ialah 69 .dibiarkan terus berlangsung. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. Allah mengasihi saya. karena saya berharga dihadiratNya. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. pemberian nasehat secara tepat. 50% netral. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri.

Kesimpulannya. Pengantar Teori-teori Konseling. 4. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK.. SUMBER Aryatmi. jika kita mengharap untuk berubah. Yogyakarta. M. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. (5) menerima kenyataan bahwa. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Kota Kembang. Jakarta Surya. Corey G. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 1998. 70 . (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. IKIP Semarang Pres. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. Prayitno. mendebat. IKIP Padang Rosjidan. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. 1991. progdi BK PPB. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. 1988. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. menantang. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. S. 1991/1995. 3. Satya Wacana Semarang. 2.dengan pendekatan yang tegas.. 1998. FIP. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Kesegaran hasil yang dicapai. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi.. Konseling Pancawashita. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional .

1977). mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. malaria. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. 1977. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Konseling Agama. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Kunjungan. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Kata Kunci: Konseling Terpadu. dan untuk bahan analgesik (Kisker. Pendidikan dan Pelatihan. terutama remaja. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Pemulihan. rematik. dan Asia. Cina. *) Sofyan S. obat lemah badan. 1977). dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. dan segitiga emas (Kamboja.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Opium banyak pula ditemukan di Cina. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Mesir. dan Amerika Selatan. dan Partisipasi Sosial. Konseling Kelompok. 1977). pecandu narkoba. Bagaimana di Eropa. Vietnam. Pendahuluan 1. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. dan analgesik (Martin. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. Pasca RSKO. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). keluarga. Konseling Keluarga. Turki. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Australia. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. 22-5-2001). Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Thailand). tidak menyalahkan pihak luar. Martin.

pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. 1995). dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Sebagai perbandingan.000 = Rp. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). 72 . serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Hal ini berarti. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis.200. 1979).200. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. 1993). Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. 1. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. konsumtif.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Minnesota. kolusi. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. sehingga narkoba mudah beredar. 1978). Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. 1979).800 miliar. suatu angka yang fantastis. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. namun terbentur pada lemahnya hukum.000. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi.Willis. Ulwan. VCD. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. 25-52001). 1989). yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling.bulan.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. (c) mencintai keluarga. Artinya. 1. Minneapolis. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. dan film-film. 2001). Masalahnya. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. khususnya generasi muda. Sedangkan. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. melalui metode Konseling Terpadu. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Willis. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. maka AMK pun menirunya. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur.

para siswa. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. hangat. spiritual. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. memahami. sosial. akan tumbuh 73 . konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. terapi nutrisi/vitamin. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. intelektual. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. 2. Jika konselor tidak menguasai soal agama. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. prescribe mood-controlling medications. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. 2. Sebagai seorang dokter medis.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. dan berbuat baik terhadap sesama. institute nutrition and vitamin therapy. Willis 1995). dan asli (genuine) dari konselor. (3) menerima realita hidup dengan jujur. Melalui interpersonal relation. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. guru-guru BK di sekolah. ibu-ibu pengajian. menerima cobaan hidup dengan tawakal. 1980).“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. 1977). akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. sarjana. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. dijauhi orang-orang yang dicintai. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. Selanjutnya. kehilangan pekerjaan. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. dan fisik. dsb). sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. terbuka. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. 2. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. and than put the patient back on the street. or back on the job. and back to destructive drinking”. taat ibadah. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. anggota DPR. back home. tokoh-tokoh masyarakat. dan sebagainya.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. bermoral. Mann memuji pendekatan Panti St. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S.

konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. dan keluarga dekat lainnya. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. 2. keluarga. suami. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. 4. Di samping itu. pesan. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. merusak diri. Selanjutnya. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. serta penyesalan terhadap masa lalu. saudara. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. percaya diri.. 5. pacar. Demikian juga. saudara. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. dan masyarakat. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. sedangkan pesertanya adalah klien. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. dan masyarakat. orang tua. istri. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Kemudian. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. 1982). mencemarkan nama keluarga. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. 2. Selanjutnya. keluarga. ibu. Selanjutnya. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. dan sebagainya. 74 . Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. kritikan-kritikan. Di samping itu. suami/istri. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. 3. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba.kepercayaan diri klien (Yalom. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. 1985). marah.

go. bimbingan kelompok. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Willis. 2008 Dalam proses konseling. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Sumber : http://depdiknas. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Barbara F. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. baik perilaku verbal maupun non verbal.id. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. dan konseling keluarga. Okun (Sofyan S. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 .

aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Willis. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Kendati demikian.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Secara visual. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. 2004. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Konseling Individual: Teori dan Praktek. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Oleh karena itu. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.

kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Masalah (kasus) ringan. Perlu digarisbawahi. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. bertengkar. mencuri kelas ringan. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Oleh karena itu.Dengan melihat gambar di atas. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Dalam hal ini. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. serta hal-hal positif lainnya. berpacaran. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. malas. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. seperti: membolos. Lebih jauh. berkelahi dengan teman sekolah. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. minum minuman keras tahap awal. keinginan untuk melanjutkan sekolah. 77 . misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Sofyan S. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. Sebagai ilustrasi. Dalam hal ini. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya.

C. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. dengan perbuatan menyimpang. kecanduan alkohol dan narkotika. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. berkelahi antar sekolah. berpacaran. polisi. karena gangguan di keluarga. mencuri kelas sedang. polisi. Masalah (kasus) berat. guru dan sebagainya. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. kesulitan belajar. Masalah (kasus) sedang. pelaku kriminalitas. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. Secara visual. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . ahli/profesional. 3.2. seperti: gangguan emosional berat. minum minuman keras tahap pertengahan. percobaan bunuh diri. seperti: gangguan emosional. melakukan gangguan sosial dan asusila. siswa hamil. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). Dapat pula mengadakan konferensi kasus. dokter.

(c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dasar dan menengah. 3. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 4. dan informal. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. karier. akademik. sosial. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. bermoral. dan khusus. individualitas. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. kebebasan memilih. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. personal. C. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. 2008 A. individual. (b) melakukan 79 . dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. jenjang. keagamaan. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. (c) memfasilitasi perkembangan. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. kejuruan.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. 2. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. 3. dan berpotensi. 1. dan (f) ersikap demokratis B. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. non formal. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. proses dan program bimbingan dan konseling.

dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. 4. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. wali kelas. pimpinan sekolah/madrasah. (b) mengkomunikasikan dasar. 6. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. tujuan. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. dalam bentuk naskah akademik. tenaga administrasi) 5. Oleh karena itu. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Sumber : ABKIN. orang tua. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. 2008 Dalam Permendiknas No. 2007. tujuan. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. yang di dalamnya 80 . (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling.dan profesi. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. tujuan. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. Namun. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru.dan profesi.

Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (2) Landasan perilaku etis. (7) Pengembangan diri. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (3) Kematangan emosi. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (9) Wawasan dan kesiapan karier. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). hemat. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (6) Kesadaran gender. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (4) Kematangan intelektual. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (9) Wawasan dan kesiapan karier.Jakarta. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.2007. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (2) Landasan perilaku etis. dalam bentuk naskah akademik. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). 2008 Dalam Permendiknas No. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. (7) Pengembangan diri. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (6) Kesadaran gender. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Namun. (3) Kematangan emosi. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Oleh karena itu. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (4) Kematangan intelektual. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. 2008 Dalam Permendiknas No. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. sehari-hari. 83 .Jakarta. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. dan persyaratan pekerjaan. hari. ulet hidup hemat.2007. ulet kewirausahaan hemat. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara.

mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (7) Pengembangan diri. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Oleh karena itu. dalam bentuk naskah akademik. (4) Kematangan intelektual. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (9) Wawasan dan kesiapan karier. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.Namun. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (3) Kematangan emosi. (6) Kesadaran gender. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) Landasan perilaku etis. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT).

Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.2007. pendidikan. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Jakarta.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sengguhulet.ulet sungguhhemat. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 .ulet. hemat.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.

hemat. sengguhulet.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.Jakarta.ulet.2007. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas. pendidikan. 86 .No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.ulet sungguhhemat.

2. Program Tahunan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 3. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas.D. 4. (3) format kegiatan. Dilihat dari jenisnya. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. 87 . dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. Program Mingguan. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. Program Semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. sasaran pelayanan (4) . yaitu: 1. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. dan (5) volume/beban tugas konselor. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. 2008 A. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Program Bulanan.

yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. dan pihak-pihak yang terkait. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. B. B. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. dan (2) kegiatan non tatap muka. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. waktu. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . jenis kegiatan. bulanan serta mingguan. insidental dan keteladanan. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. penguasaan konten. dan (3)penilaian 1. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. (2) pelaksanaan. serta alat bantu yang digunakan. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. substansi. Program Harian. penempatan dan penyaluran. tempat. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. yaitu : (1) perencanaan. kegiatan instrumentasi. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. dan (e) waktu dan tempat. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi.5.

dan alih tangan kasus. himpunan data. kegiatan konferensi kasus. Penilaian segera (LAISEG). 89 . Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. kunjungan rumah. perorangan. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). C. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. pemanfaatan kepustakaan. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG).. konseling kelompok. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. dan mediasi. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. 3. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi.dalam kelas. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. 2. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. bimbingan kelompok. menyelenggarakan layanan orientasi. dan (2) penilaian proses.

Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. responsif. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. bakat. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. 3. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. belajar. 2. mengandung arti bahwa bentuk. 1. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Namun. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. dan pengembangan karir konseli. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. guru. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. rancangan. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. 90 .

ncat. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.D. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (Ed. Cambridge. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. A. DAFTAR RUJUKAN AACE. Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2003). Debra C. VA: AACD. (2006). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (2007). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Dameron. Alexandria. (2003). Bandung: ABKIN Bandura. (Eds). & Henderson. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Self-Efficacy in Changing Soceties. Merrill Prentice Hall Corey. Belomont. http://aace. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2005). (1995). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Donna A. (2005). Engels. The Art of Integrative Counseling. (2003). Balitbang Diknas. (2001). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. D. Depsiknas. Draft. G. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Handbook of School Counseling.). 91 . Cobia. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. CA: Brooks/Cole.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.Gambar 1.W dan J. UK: Cambridge University Press. New Jersey.

Madison : Brown & Benchmark. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1953). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. R. Depdiknas. 2006. 2006. Syamsu Yusuf L. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Landasan Bimbingan dan Konseling. Pikunas. (1987). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. dkk. Child Development. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Columbia: The Educational Resources Information Center. Houston : Shell Com. Depdiknas. Bandung : PT. & Kottman. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. (2005). (2003). (2003). Hurlock. (2005).L. Menteri Pendidikan Nasional. Depdiknas. Havighurts. Management. Bandung : CV Bani Qureys.Browers. Judy L. Balitbang Depdiknas. Patricia A. Human Development. ASCA (American School Counselor Association). New York: David Mckay. Stoner. James J. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. (2006). Introduction to Counseling and Guidance. Remaja Rosda Karya. Development Taks and Education. (1992). Lustin. James A. (1976). & Hatch. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. T. Michigan School Counselor Association. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. LIPI. (1995). (2005). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (2003).J.N. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Alizabeth B. Gibson R. (2002). (1956). Guidance and Counseling in the Schools.I. (2005). ——–. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Nancy. Jakarta: Puskur Balitbang. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. ——–. Herr Edwin L. Muro. 2004. Comm.H. Ellis. Sunaryo Kartadinata.Ltd. (1990). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.dan Juntika N. The Missouri Comprehensive Guidance Model. New York : MacMillan Publishing Company. (1979). Terry. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (1986). 2006). & Mitchel M. Depdiknas. Pusat Kurikulum. Bandung : Remaja Rosda Karya. London : Prentice-Hall International Inc. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. J. The National Model for School Counseling Programs.

Boston : Allyn & Bacon. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah.Pd. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor.Pd. (1996). 1995. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. Oleh karena itu. Uman Suherman. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. Dalam hal ini. M. tulisan ini. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Anita E. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Educational Psychology. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. 2008 Oleh : Drs. Akhmad Sudrajat. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. Sesungguhnya. M. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Woolfolk. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. 3 July’96. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . Oleh karena itu. Vol 24 No. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).

Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. konselor dituntut bekerja secara profesional. Dari sini. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. petunjuk teknis dan sebagainya. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Maka. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. ketentuan. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Akibatnya. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).1. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Secara tidak langsung. melalui berbagai bentuk aturan. Bagaimanapun. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. seperti : malas. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. petunjuk pelaksanaan. Dengan kata lain. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. penataran dan pelatihan. Walaupun demikian perlu dicatat. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Berbekal kesabaran dan ketekunan.dalam internet. seperti : seminar. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Bahkan. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Sekalipun ada. Sementara. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Sedangkan secara langsung.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. dengan bercermin dari kekurangan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. untuk menguasai teknikteknik konseling. 2. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Kemudian. Sehingga pada gilirannya. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Misalkan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan.

Tentu saja. Dan pada gilirannya. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Namun pada kenyataannya. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. Artinya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Oleh karena itu. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Dengan adanya akuntabilitas ini. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. konselor 96 . Jadi wajar sekali. Dalam hal ini. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Bagaimanapun masyarakat. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. khususnya kepada bimbingan dan konseling. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. terutama masyarakat dan orang tua siswa.mewakili pihak pemerintah. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa.

yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. khususnya dalam forum Komite Sekolah. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. yang berhubungan dengan data siswa. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. kapan saja diperlukan. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. Karena. Tentu saja. Dr. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. Dengan kata lain. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. Prayitno. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Oleh sebab itu. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Atau secara kreatif. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Hal yang perlu dicermati. Untuk itulah. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan sendirinya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. 97 . dewan sekolah atau siapa pun. Bahkan bila perlu. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. Demikianlah. seperti kepala sekolah. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal.

Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Dr.S. (1995). Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. (2001). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Counselors Role in a Changing 98 . Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Sementara itu. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17.(1994). W. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. (1991). Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Prof.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. (2) evaluasi program. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). 1. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C.(1995). Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.. (1997). Departemen Pendidikan Nasional. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Makalah . Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. dan (3) evaluasi hasil. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.

pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).html Sofyan S. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. Bandung : Alfabeta. 2008 99 . klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L.wisconsin.gov/sspw/counsl1. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Willis. guru. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. Konseling Individual. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan.dpi. Teori dan Praktek. 2004.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27.

bimbingan kelompok. buku saku) 7. Laporan semesteran/tahunan 6. audio visual. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. catatan anekdot. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. bimbingan klasikal. Daftar konseli 3. konseling kelompok. konsultasi. Laporan bulanan 5. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. (d) strategi pelayanan. berbentuk : 1. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . bibliokonseling. proses. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Kendati demikian. kotak masalah. 2. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. media cetak : liflet. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) .Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Dalam hal ini. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. (c) pemilihan instrumen/media. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . audio. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. kunjungan rumah. Laporan hasil evaluasi program. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya.

karier. Sebaliknya. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. konselor. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Wilayah Gerak 2. dan masalah-masalahnya belajar. Tujuan Umum 3. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Sementara itu. Demikian pula. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . Selengkapnya. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. sosial. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru.

Belitung. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal.Pd. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. 102 . M. Terutama. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. bukan yang memiliki masalah saja.” ungkapnya. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. 2007. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Karenanya. katanya. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. belajar dan karier.” ujarnya. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. “Alternatif bisa diusulkan guru.. Menurut dia. Menurut dia. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Selain terlalu sering memberikan nasihat.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. Sofyan S. alternatif juga dari dia (siswa-red). kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Jl. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Jakarta F. Yang baik. H. sosial. Dr. Prof. Willis. Padahal. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.

6 September 2006.pikiran-rakyat. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. menggunakan penyikapan yang empatik. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. Menurut Sofyan. Supaya konseling cukup efektif. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Saat melakukan konseling. Dr. Karenanya. Sumber : http://www. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). dan bukan layanan bebas nilai. hal. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. Berkaitan dengan peran sekolah. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik.melalui pendidikan. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. Sunaryo Kartadinata. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. (5) yang dilandasi sikap. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa.com/cetak/2006/042006/07/0702. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. nilai. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. layanan etis normatif. 103 . ia mengungkapkan. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan.

dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). pribadi-sosial. seperti dalam olah raga. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. Misalnya. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. terutama guru pendidikan khusus. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. seni dan sebagainya 104 . Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. dan karier. sejahtera. Menurutnya.. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. akademik. melalui direct behavioral consultation.. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. misalnya melalui asesmen psikologis. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. Dalam hal ini. serta berguna untuk manusia lain. Pada jenjang SMP dan SMA. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. Selain itu.

Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. 6 September 2006. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Sumber : Sunayo Kartadinata.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Jawaban singkatnya. M.singkatnya pertanyaan itu.Pikiran Rakyat. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Setelah keluar dari ruangan BP. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi.. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. hal.Atas semua itu. Ditjen PMPTK. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. BSNP. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP.Pd. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. sekitar 32 tahun yang lalu. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. Empat tahun kemudian. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP.

Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Pada awal menjadi Guru BP. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Hanya selang satu tahun setelah lulus. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984.. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. tempat kelahiran penulis. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. jika penulis kelak menjadi guru BP. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Beliau memberikan analisis panjang lebar. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Selanjutnya. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif).Begitu juga. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Sebaliknya. menggantikan sebutan Guru BP. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Akhirnya. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik.

akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak.Pd. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi.SMA pada saat itu.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Hanya sangat disesalkan. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. Pada tahun 2003. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. dibandingkan dengan masa-masa 107 . semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. meski secara formal istilah ini belum digunakan. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Dalam tataran teoritis. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. M. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. sampai dengan sekarang. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar.harus gigit jari.

2. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Contoh kasus. Meminjam bahasa ekonomi. Kesan lama. baik secara personal maupun lembaga. khususnya di kalangan siswa. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Oleh karena itu. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. yaitu : 1. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling.mata pelajaran di sekolah. Sehingga. Menurut pandangan penulis. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah.. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. kualitas dan distribusinya. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Contoh kasus terbaru. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Sayangnya. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Di sisi lain. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya.

11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Uman Suherman. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. M. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan.dilaksanakan.Pd. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. dengan menghadirkan pembicara Dr. Jika ke depannya. dalam kebijakan sertifikasi guru. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri.Pd. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Jika tidak. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. M. Jadi. *)) Akhmad Sudrajat. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. Dalam dokumen KTSP. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. Begitu juga. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

kepala sekolah. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. 2. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. 110 . Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Pada saat sedang mengikuti rapat. 4. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. tidak jelas kerjanya. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. baik laporan harian. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. oleh siswa. sosio-personal. bulanan. baik dalam bidang akademik. maupun bidang karier. Misalnya. 6. atau tahunan. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. 1. 3. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. guru mata pelajaran.

dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. H. Dalam jadwal resmi.Pd. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. M. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). Tentunya saya berharap. maka atas seijin panitia setempat. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Bapak Drs. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Rachmat Setiawan.M. Untuk itu. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis).

seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). Tentunya. Nilai dan Moral (ANM). Melalui analisis data berbasis komputer ini. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. pengembangan maupun kuratif. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). (7) Agama. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). dkk. dan (10) Waktu Senggang (WSG). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. mudah dan akurat. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. setelah dilakukan input data terlebih dahulu.G. (3) Hubungan Sosial (HSO). 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Sayangnya. Kendati demikian. Untuk kepentingan analisis data. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. (2) Diri Pribadi (DPI). baik yang bersifat preventif.

Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. (f) kurang introspeksi. (b) berfikir sterotip dan klise. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. Seksama. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. Berdasarkan hasil pengukuran ini. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Dengan alat ITP. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. 2. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (c) mampu melihat keragaman emosi. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. 3. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (d) bertindak dengan motif dangkal. dan perspektif diri. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. (b) bergantung pada lingkungan. motif. Anda dapat men-download materi tersebut. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (e) memikirkan cara hidup. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. (g) takut tidak diterima kelompok. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. Impulsif. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. dkk. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. 4. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. (d orientasi pemecahan masalah. (c) peduli akan aturan eksternal. (c) beorientasi hari ini. Sadar Diri. Perlindungan Diri. Konformistik. (d) peduli akan hubungan 113 .

sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (e) peduli akan self fulfillment. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. 7. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan.. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (g) mengenal kompleksitas diri. Otonomi. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Yang diskor 66 soal. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain.Yang diskor 40 soal. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. 6. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. seperti keadilan sosial. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (c) peduli akan paham abstrak. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. ( kemandirian perilaku ekonomi. (3) kematangan emosional. (e) memiliki tujuan jangka panjang. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. Individualistik. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP.mutualistik. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (4) kematangan intelektual. (5) kesadaran tanggung jawab. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (2) landasaan perilaku etis. (9) wawasan dan persiapan karir. Yang diskor 66 soal. Yang diskor 40 soal. Hasil duplikasi diletakkan di 114 .

dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. Namun. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. delapan butir tertinggi dan terendah. dkk . ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik.bagian akhir angket.Analisis kelompok. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. Sumber : Sunaryo. grafik distribusi frekuensi konsistensi. Semakin tinggi skor konsistensi. Dengan ATP. Multi window. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. dan penggabungan kelompok. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. penghitungan skor konsistensi. yang terdiri atas: profil individual. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta.5 115 . beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. cara ini akan memakan waktu. distribusi frekuensi nilai.Analisis per individu. yang terdiri atas: profil kelompok. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Manajemen data. untuk jumlah siswa yang besar. Proses penyekoran. Manual Guide ATP Versi 3. cepat dan menyenangkan. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Impor data dari file Microsoft Excel.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful