A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

Pd. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. landasan psikologis. Stoner. M. Bandung : PT. London : Prentice-Hall International Inc. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Landasan Bimbingan dan Konseling.Pd. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. landasan filosofis. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Remaja Rosda Karya. (3) landasan sosial-budaya. 4 . (1996). Educational Psychology. (2) landasan psikologis. Kata kunci : bimbingan dan konseling. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. religius dan yuridis-formal. 3 July’96. (2005). dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Uman Suherman. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Sebagai sebuah layanan profesional. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Anita E. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. 1995. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Boston : Allyn & Bacon. Woolfolk. Management. A. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. landasan sosial-budaya. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Vol 24 No. James A.——–. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. . maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh.dan Juntika N. (1987). kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. M. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.

di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. dalam Prayitno. landasan psikologis.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. khususnya bagi para konselor. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum.tentang landasan bimbingan dan konseling. Secara teoritik. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Patterson. Alblaster & Lukes. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. Thompson & Rudolph. dengan layanan bimbingan dan konseling. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Dengan kata lain.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. Selanjutnya. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. yaitu landasan filosofis.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. Demikian pula.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. B. Oleh karena itu. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).(Victor Frankl. Ibarat sebuah bangunan. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. etis maupun estetis. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. para penulis Barat . 5 . 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. landasan sosial-budaya..

Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. b. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Demikian pula dengan lingkungan. (d) belajar. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. (b) pembawaan dan lingkungan. warna kulit. Misalnya dalam kecerdasan. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. dan (e) kepribadian. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. bakat. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. normal atau bahkan sangat kurang (debil. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. a. kecerdasan. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. golongan darah.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. ada yang sangat tinggi (jenius). yang mencakup aspek psiko-fisik. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . Manusia pada hakikatnya positif. seperti : rasa lapar. seperti rekreasi. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. (c) perkembangan individu. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. embisil atau ideot). Manusia memiliki dimensi fisik. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. 2. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. seperti struktur otot. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan.

memadai. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. c. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. e. frustrasi dan konflik. baik dalam aspek kognitif. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Tanpa belajar. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Allport (Calvin S. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. ketegangan emosional. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.dan menjadi tersia-siakan. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Hall dan Gardner Lindzey. 7 . Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. moral dan sosial. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. afektif maupun psikomotor/keterampilan. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Berangkat dari studi yang dilakukannya.. dan (3) Teori Belajar Gestalt. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. d. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. bahasa dan kognitif/kecerdasan. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda.

Responsibilitas (tanggung jawab). Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Temperamen. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. yaitu bidang psikologi umum. Begitu pula. yang mencakup : • • • • • • Karakter. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Teori Sosial Psikologis dari Adler. atau putus asa. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Sikap. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Stabilitas emosi. hormon. yaitu disposisi reaktif seorang. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. teori Personologi dari Murray. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Oleh karena itu. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Hull. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Selain itu. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. negatif atau ambivalen. Teori Psikologi Individual dari Allport. Sejak lahirnya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. tampang. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. sedih. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. cuci tangan. Sosiabilitas. 3. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Sementara itu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. psikologi perkembangan. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Fromm. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Seperti mau menerima resiko secara wajar. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Watson. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Teori Medan dari Kurt Lewin. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. maka 8 . Horney dan Sullivan. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien.

Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. ilmu hukum dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. yaitu : (a) perbedaan bahasa. biologi. yaitu kesamaan di atas keragaman. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. dan (e) kecemasan. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. evaluasi. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. sosiologi. 4. manajemen. seperti: pengamatan. pemikiran. prosedur tes. filsafat. ilmu ekonomi. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. ilmu pendidikan. wawancara. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Sejalan dengan perkembangan teknologi. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. (d) kecenderungan menilai. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. statistik. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Moh. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Menurut Gausel (Prayitno. (c) stereotipe. antroplogi. 2003). juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. analisis dokumen. (b) komunikasi non-verbal. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. dan bahkan mungkin bertolak belakang. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. seperti : psikologi. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya.

Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. 10 . (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Undang – Undang. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah.pendidikan. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Peraturan Pemerintah. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Ditegaskan pula oleh Moh. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. C. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Sebagai ilmuwan.

Bandung PPB . Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia.T. PT Golden Terayon Press. Remaja Rosdakarya. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. (b) landasan psikologis. (c) perkembangan individu. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Nana Syaodih Sukmadinata. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Koswara). Jakarta : PT Raja Grafindo. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Supratiknya).1992. Calvin S.. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. 2004. Bandung : P. 2003. Developmental Phsychology. 2005. Surya. 2005.IKIP Bandung . Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. 1997. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Jakarta. dan (d) kepribadian. 2003.M. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. E. Elizabeth B. SMA dan SMK Muhibbin Syah. 11 . Dasar Standarisasi Profesi Konseling. (b) pembawaan dan lingkungan. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Margaret E. Arifin. Psikologi Sosial. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. (c) landasan sosial-budaya. Learning & Instruction. 1980.———-2006. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Hurlock. New York : McMillan Publishing. Hall & Gardner Lidzey (editor A.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. 2003. Bandung : PT ErescoH. Gerlald Corey. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Psikologi Belajar. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. meliputi : (a) motif dan motivasi. Theory Into Practice. Psikologi Pendidikan. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. 2003. (d) belajar. Bandung : Refika Gerungan 1964. Majalengka : Sanggar BK SMP.

Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. pergaulan dengan teman sebaya. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). serta 12 . 2004. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Psikologi Kepribadian. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. dan karir. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. dkk. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Sekolah/Madrasah. 2003. Willis. Jakarta : Rineka Cipta . 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. baik dalam kehidupan pribadi. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.2005. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. 2004.——–2003. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. kekuatan. 1. Syamsu Yusuf LN. masyarakat. belajar (akademik). Teori-Teori Psikologi Sosial. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Konseling Individual. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. keluarga. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat.Prayitno. Jakarta : Rajawali. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. tempat kerja.. 1984. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. Jakarta : Depdiknas . perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. maupun masyarakat pada umumnya. maupun lingkungan kerja. Teori dan Praktek. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. dkk.———-. 2004. dan tugas-tugas perkem-bangannya. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan.

baik fisik maupun psikis. Dapat membentuk pola-pola karir. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Oleh karena itu. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. dan sesuai dengan norma agama. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. seperti kebiasaan membaca buku. menghormati atau menghargai orang lain. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. 2. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. prospek kerja. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. yaitu kecenderungan arah karir. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. seperti membuat jadwal belajar. asal bermakna bagi dirinya. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. dan kesejahteraan kerja. tanpa merasa rendah diri. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. mengerjakan tugas-tugas. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Mengenal keterampilan. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. seperti keterampilan membaca buku. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki rasa tanggung jawab. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. mencatat pelajaran. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. 13 . atau silaturahim dengan sesama manusia. kemampuan. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. mengggunakan kamus. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. 3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. persaudaraan. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. disiplin dalam belajar.

Jakarta: Puskur Balitbang. (1953). & Henderson. D. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (1979). Balitbang Diknas. G. A. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Depdiknas. (2003). (1986). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1956). Gibson R. (2005). T. (2005). (2001). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.W dan J. ASCA (American School Counselor Association). Depsiknas. DAFTAR RUJUKAN AACE. R. CA: Brooks/Cole. California : Myfield Publishing Company. Browers. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. & Hatch. Depdiknas.J. Hurlock. 2006). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ellis. Depdiknas. (Eds). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Engels. (2003). Departemen Pendidikan Nasional. Self-Efficacy in Changing Soceties. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1992). http://aace.I. (2007). Cambridge. Development Taks and Education. (2002). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Cobia. Houston : Shell Com. (1995). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.Nancy. (2006). New York : MacMillan Publishing Company. Bandung: ABKIN Bandura. New York: David Mckay. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. (Ed. The National Model for School Counseling Programs. Havighurts.H. (2003). Merrill Prentice Hall Corey.D. (2006). Guidance and Counseling in the Schools. UK: Cambridge University Press. New Jersey. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2005). Judy L. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Introduction to Counseling and Guidance. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.ncat. Donna A. Alexandria. Draft. Herr Edwin L.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Belomont. Patricia A. VA: AACD.L. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (2003). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Debra C. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. J. Depdiknas. Alizabeth B. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Adolescence. Handbook of School Counseling.). Columbia: The Educational Resources Information Center. Child Development. (1990). Comm. The Art of Integrative Counseling. & Mitchel M.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Dameron.

konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Fungsi Pemahaman. (2003). London : Prentice-Hall International Inc. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Woolfolk. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Boston : Allyn & Bacon. (2005). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Sunaryo Kartadinata. Lustin.N. LIPI. Uman Suherman. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Management. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Vol 24 No. James A.Pd. Anita E. dan norma agama). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Syamsu Yusuf L. Melalui fungsi ini. ——–. Adapun teknik yang 15 . James J. & Kottman. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Madison : Brown & Benchmark. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Educational Psychology.dan Juntika N. pekerjaan. (1976). 2. dkk. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Balitbang Depdiknas. 3 July’96. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (1996). Human Development. Fungsi Preventif. 1995. Bandung : CV Bani Qureys. (2005). (2003). Terry. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Remaja Rosda Karya. Stoner. 2006. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. M. (2005). Michigan School Counselor Association. (1995). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. supaya tidak dialami oleh konseli. 2004. ——–. Landasan Bimbingan dan Konseling.Menteri Pendidikan Nasional. Berdasarkan pemahaman ini. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Bandung : PT. Muro. Pusat Kurikulum. Bandung : Remaja Rosda Karya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (1987).Ltd.

baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. dan bimbingan kelompok. dan kebutuhan konseli. tutorial. 8. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. 7. konselor. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. serasi. dan pergaulan bebas (free sex). minat. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. baik pria maupun wanita. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. jurusan atau program studi. Fungsi Fasilitasi. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. bakat. Fungsi Pemeliharaan. informasi. 6. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. 5. maupun karir. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. Fungsi Penyesuaian. drop out. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. diantaranya : bahayanya minuman keras. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Fungsi Perbaikan. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Fungsi Pengembangan. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. dan remedial teaching. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. 3. baik anak- 16 . diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). 10. 9. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi Adaptasi. dan karyawisata. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. yang memfasilitasi perkembangan konseli. memilih metode dan proses pembelajaran. baik menyangkut aspek pribadi. penyalahgunaan obatobatan. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. belajar. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. merokok. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Fungsi Penyaluran. berperasaan dan bertindak (berkehendak). memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 4. Fungsi Penyembuhan. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. home room. kemampuan. sosial. Dalam melaksanakan fungsi ini. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat.

dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. perusahaan/industri. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. 3. anak. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. 3. Bimbingan menekankan hal yang positif. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Asas Kerahasiaan. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). dan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Asas keterbukaan. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan.2. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. maupun dewasa. yaitu meliputi aspek pribadi. 17 . Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Agar konseli dapat terbuka. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. menyesuaikan diri. Asas kesukarelaan. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. dan peluang untuk berkembang. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. 1. pendidikan. tetapi juga di lingkungan keluarga. remaja. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 6. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. Mereka bekerja sebagai teamwork. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). memberikan dorongan. 5. 2. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. sosial. 4. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. dan pekerjaan. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya.

Asas kemandirian. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. 11. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. 7. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. 9. (2003). dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. menghayati. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. mampu mengambil keputusan. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. DAFTAR RUJUKAN AACE. tidak monoton. http://aace. adat istiadat. ilmu pengetahuan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. dan terpadu. saling menunjang. yaitu nilai dan norma agama. Dalam hal ini. 8. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. hukum dan peraturan. 6. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. Asas kegiatan. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas Kekinian. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. atau ahli lain . Asas Keahlian.ncat. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.4. Asas Keharmonisan.edu 18 . harmonis. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas Alih Tangan Kasus. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Lebih jauh. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. dan kebiasaan yang berlaku. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 5. guruguru lain. 10. Asas Keterpaduan. Asas Kedinamisan.

Cobia. Ellis. Dameron. Menteri Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. A. Patricia A. CA: Brooks/Cole. (2003). Depdiknas. & Henderson. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Balitbang Diknas. Comm. New York : MacMillan Publishing Company. D. California : Myfield Publishing Company. Browers.H. (2002). Alexandria. Introduction to Counseling and Guidance. Jakarta: Puskur Balitbang. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (1990). (1995). (2006). (1979). (2007). (2005). (1956). T. (Ed. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Houston : Shell Com. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Judy L. (1986).L. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. & Hatch. Engels. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).Nancy. Michigan School Counselor Association. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.D. Adolescence. R. Development Taks and Education. Guidance and Counseling in the Schools. Belomont. (1953). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. The National Model for School Counseling Programs. Merrill Prentice Hall Corey. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Depdiknas. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Depdiknas. New Jersey. (2006). ASCA (American School Counselor Association). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 19 . UK: Cambridge University Press. Columbia: The Educational Resources Information Center. Departemen Pendidikan Nasional. Handbook of School Counseling. Herr Edwin L. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. & Mitchel M. VA: AACD. The Missouri Comprehensive Guidance Model. 2006. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. J. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2001). Alizabeth B. Depsiknas. (2005). 2006. (Eds). Havighurts. The Art of Integrative Counseling. Draft. Hurlock. Donna A. Cambridge. 2006). Gibson R. Debra C. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Self-Efficacy in Changing Soceties.J. (1992). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.W dan J. (2003). (2005). Bandung: ABKIN Bandura. Child Development. Depdiknas.I.). (2003). New York: David Mckay. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. G. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

James J. Syamsu Yusuf L. Uman Suherman. 2004.N. (2005). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Terry. bakat dan minat. ——–. Pengembangan kehidupan sosial. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Human Development. Pengembangan karir. (1987). (1995). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Pusat Kurikulum. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. Management. anggota keluarga. Vol 24 No.dan Juntika N. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Woolfolk. Pengembangan kemampuan belajar. Balitbang Depdiknas. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. London : Prentice-Hall International Inc. Jakarta : Balitbang Depdiknas. ——–. Bandung : PT. (2003). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (1996). Boston : Allyn & Bacon. LIPI. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Sunaryo Kartadinata. menilai. Bandung : Remaja Rosda Karya.Pd. (1976). (2003). Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Pikunas. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Madison : Brown & Benchmark.Muro. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. 20 . & Kottman. M. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 3 July’96. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Ltd. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Remaja Rosda Karya. Stoner. James A. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Bandung : CV Bani Qureys. dkk. Educational Psychology. (2005). Lustin. Anita E. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. 1995. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Landasan Bimbingan dan Konseling.

pergaulan. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. serta untuk 21 . layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Konseling Perorangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. karier. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. magang. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. kelompok belajar. Layanan Bimbingan Kelompok. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. sosial. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Layanan Penempatan dan Penyaluran. diantaranya: Layanan Orientasi. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dalam bidang pribadi. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. kegiatan ko/ekstra kurikuler. pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Informasi. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. program latihan. • • • • Layanan Konten. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. jurusan/program studi.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. mereka mempertanyakan. Jakarta : BP3K. 2. M. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. 5. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . (Muslihudin. 4. perusahaan. 1983. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). berbangsa dan bernegara. sosial. Hattari. Ke Arah Pengertian Developmental. bermasyarakat. Diantaranya. belajar maupun kariernya. 1987. dkk. 6.1. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. 2004. belajar ataupun kariernya. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. 3. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Namun. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. sosial. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan.. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin.Pd. dkk. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Bandung : LPMP Jawa Barat. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Bimbingan dan Konseling (Makalah).

Materi Informasi. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. Dalam hal ini. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. jenis dan prospek pekerjaan. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. seperti kecerdasan. ciri-ciri pekerjaan. baik tentang bakat. jenis pekerjaan. persyaratan. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. minat. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. ciri-ciri 26 . seperti bakat. dan sebagainya. baik melalui media cetak atau eleltronik. pasar kerja. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. Karena. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Untuk itulah. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. cita-cita. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. bakat. karier. seperti kondisi sosio-kultural. materi informasi yang bersifat personal. Namun. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Di samping itu. Untuk itulah.

maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. (1995). maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Selain itu. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. atau minat pekerjaannya. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Selain itu. dalam rangka menambah wawasan. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Dari hasil kunjungan.Jakarta : IPBI 27 . agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. artikel. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Untuk itu. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. berdasarkan hasil pengalamannya. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. Sebagaimana telah disinggung di atas. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Misalkan. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. keterangan. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Dalam hal ini. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”.kepribadian. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi.

Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. W. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Dalam hal ini. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya.S. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. pelayanan responsif. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. (1997). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. perencanaan individual. yaitu sama-sama menginginkan 28 . Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). (1991). Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Begitu pula. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. 2.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat .

melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. 29 . Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Masalahnya. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). 5. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Misalkan. mendiagnosis. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. 3. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Kendati demikian. serta teknis medis lainnya. modifikasi perilaku. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. baik untuk kepentingan pencegahan. 6. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. pengubahan lingkungan. penguatan mental/psikis. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. 7.

pembangun kekuatan. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.sosial. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat.dan piha-pihak lain. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Di sekolah misalnya.guru. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Namun demikian. 10. disiplin dan keamanan di sekolah. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.dan lingkungan.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. seperti “praktik pribadi”. Konselor adalah kawan pengiring. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. penunjuk jalan. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. 9.siswa. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. pemberi informasi.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Pekerjaan yang 30 . Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Begitu pula sebaliknya. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. orang tua. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain.

personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. ada dan digunakannya instrumen (tes. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. terutama klien.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. metode. dan asas-asas tertentu). Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. dalam hal ini konselor. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. guru pembimbing memang harus aktif. 14.inventori. tersendat-sendat.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. pihak lain pun. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. tujuan. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. 13. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. Sedangkan jawaban ”tidak”.Oleh sebab itu. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Bahkan sering kali terjadi. Di sekolah. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu.Lebih jauh. Pada dasarnya. tujuan yang ingin dicapai. Konselor harus aktif. dan sarana yang tersedia. jenis dan sifat masalah. bersikap “jemput bola”. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. 12. Jawaban ”benar”. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Dengan kata lain. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. maka hasilnya akan kurang mantap. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. menghambat.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. 11. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Sementara itu.

2003. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul.15. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Misalkan. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat.. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling.ABKIN. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. Ketika membuka kegiatan pelatihan. selaku ketua PB. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. Dr. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. yaitu : 1. Layanan Dasar.(lihat 1. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. yang disajikan secara sistematis. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. memiliki mental yang sehat. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. memperoleh keterampilan hidup. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. standar kompetensi konselor. 33 . Sunaryo. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. Hal yang cukup mengagetkan penulis. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Selama mengikuti pelatihan. M. Prof.Pd. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas.

Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Syamsu Yusuf L. Layanan Perencanaan Individual. Untuk lebih jelasnya. maupun karier. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . mau pun Kurikulum 1994. Layanan Responsif. Uman Suherman. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. dan penelitian dan pengembangan. memelihara. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. referal dan bimbingan teman sebaya. konseling kelompok. Kurikulum 1984. Selain itu. M. atau mengelola pengembangan dirinya. A. 4. 3. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.N. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. M.Pd. M. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. manajemen program. belajar. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. sosial.. staf ahli. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. konsultasi dengan guru lain. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya.2.Pd. dan Dr. merencanakan.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. baik dalam Kurikulum 1975. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. baik menyangkut aspek pribadi. Agus Taufiq.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Dr.Pd. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. hubungan masyarakat dan staf. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. konseling individual.Pd. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. M. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. penasihatan individual atau kelompok. Perbedaannya. dan masyarakat yang lebih luas. Uman Suherman. Layanan dukungan sistem.

referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Laporan bulanan 5. catatan anekdot. bimbingan kelompok. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Laporan semesteran/tahunan 6. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. proses. Daftar konseli 3. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. buku saku) 7. kotak masalah. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. bimbingan klasikal. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. konseling kelompok. (c) pemilihan instrumen/media. bibliokonseling.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. audio visual. Dalam hal ini. media cetak : liflet. Kendati demikian. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. audio. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Laporan hasil evaluasi program. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. kunjungan rumah. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. 2. (d) strategi pelayanan. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. konsultasi. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. berbentuk : 1. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Secara umum. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. (2) tahap inti (tahap kerja). (2) Kontrak tugas. A. B. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Menegosiasikan kontrak. terutama asas kerahasiaan. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. keterbukaan. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. dan kegiatan. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. berisi : (1) Kontrak waktu. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.Pd. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. kesukarelaan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. M.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. 39 . Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Membuat penaksiran dan perjajagan.

psikoanaliss. rational emotive therapy (RET). Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. yaitu .tugas profesionalnya. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Dalam bentuk tayangan slide. baik oleh pihak konselor maupun klien. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. sehat dan dinamis. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Dr.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. DYP Sugiharto. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. (1) menurunnya kecemasan klien. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . gestalt.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. C. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). M. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. dan trait and factor. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. 2008 A. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. 4. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. (c) peniruan. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. 2. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. 3. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. (b) pembiasaan operan. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. 41 . B. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien.

Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. 5. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Evaluation termination. atau melakukan referal. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. 3. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1.D. kekuatan dan kelemahannya. Feedback. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. Assesment. Technique implementation. 2. Konselor aktif : 1. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. dan (d)k emungkinan kerugiannya. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Goal setting. pola hubungan interpersonal. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. (c) kemungkinan manfaatnya. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. 42 . (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. 4. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. tingkah laku penyesuaian. (b) apakah tujuan itu realistik. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. DYP Sugiharto. kesulitan menyatakan tidak. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Sumber : Dr.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan.Pd. dapat menggunakan model audio. tape recorder. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. M. (Makalah) 43 . Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. atau contoh nyata langsung). Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. model fisik.

dan tingkah lakunya 44 . Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. dan pemikirannya. otak. dan sebagainya. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. membela diri. emosi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. perasaan. jantung. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. (3) aktor bukan reaktor. ingin dimaklumi. menuntut. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. 2008 A. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. mengancam. sakit hati. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Meskipun tidak bisa diungkapkan. kemarahan. tidak berdaya. maka mereka mengalami kecemasan. pera-saan. pasif.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. B. rasa berdosa. kebencian. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. kedudukan. persepsi. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. lemah. Under dog adalah keadaan defensif. rasa diabaikan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. Dalam pendekatan ini. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. kecemasan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi.

ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. D. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . memahami kenyataan atau realitas. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. 45 . melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. C. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. interpretasi maupun memberi nasihat. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. serta mendapatkan insight secara penuh. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri.

Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. dalam situasi di sini dan saat ini. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Fase ketiga. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. bodoh. Fase kedua. perasaan-perasaannya. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. Teknik Konseling 46 . konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. dan tingkah lakunya. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. perasaan. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. atau gila. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Dalam hal ini. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Fase keempat. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. konselor mengembangkan pertemuan konseling.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. dirinya tidak berdaya. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Melalui fase ini.

dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Dalam kaitan itu. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Orientasi Eksperiensial. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Orientasi Sekarang dan Di Sini. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya.Pd. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. (Makalah) 48 .Sering terjadi. Meskipun tampaknya mekanis. Sumber : Dr. Pendekatan-Pendekatan Konseling. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. DYP Sugiharto.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. M. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. “Saya malas. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.

Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. interpretasi. dan kompeten. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. yang dapat diterima menurut akal sehat.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. dan irasional. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. emosional.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. bahagia. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. dan keran itu tidak produktif. (c) orang tua atau masyarakat 49 . 2008 A. dan Emotional consequence (C). nilai.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. pandangan. kekhawatiran. Keyakinan seseorang ada dua macam. masuk akal. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. bijaksana. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Belief (B). dan kerana itu menjadi prosuktif. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. kejadian. Perceraian suatu keluarga. sangat personal. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. tingkah laku. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. atau sikap orang lain. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. yaitu Antecedent event (A). kelulusan bagi siswa. Belief (B) yaitu keyakinan. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. B. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. tidak masuk akal. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. antara kenyatan dan imajinasi.

(5) fleksibel. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . D. mengerikan. merasa was-was. (4) toleransi terhadap pihak lain. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. dan (10) menerima kenyataan. jahat. (2) minat sosial. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. persepsi. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. rasa berdosa. cara berpikir. rasa cemas.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. disalahkan. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (3) pengarahan diri. (9) berani mengambil risiko. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. C. rasa bersalah. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. Ketiga. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Kedua. dan dihukum. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. bencana yang dahsyat. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. ( penerimaan diri. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. merusak. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. (6) menerima ketidakpastian. rasa marah.

Aktif-direktif. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Behavioristik. afektif. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. 2. mendorong. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. Kognitif-eksperiensial.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. E. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Emotif-ekspreriensial. 3. 4. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien.

pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. Dengan tugas rumah yang diberikan. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. M. (Makalah) 52 . membiasakan diri. Dengan memberikan reward ataupun punishment. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. DYP Sugiharto. Sumber : Dr. atau meniru model-model sosial. latihan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. mengobservasi.

Menutup wawancara konseling E. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. 2008 A. Konsep Dasar 1. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. yaitu id. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. terutama usia 2-5 tahun. ego. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. konflik dan simbolisme. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Hakikat manusia. D. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. 2. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Deskripsi Proses Konseling 1. dan super ego C. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Manusia secara esensial bersifat biologis. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. disikusikan. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Klien diminta 53 . untuk ditata. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud.

B. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. pengalamannya tertekan. Transferensi adalah mengalihkan. 3. Analisis mimpi. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Konselor menetapkan. Memandang manusia sebagai individu yang unik. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. 2008 A. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Dalam hal ini. anonim. objektif. Manusia merupakan seseorang yang ada. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. asosiasi bebas. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. resitensi dan transferensi. 54 . Hal ini disebut juga katarsis. dan transferensi klien. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. baik dalam asosiasi bebas. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. resistensi berati penolakan. mimpi. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Analisis resistensi. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Konsep Dasar: 1. seksualitas. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Menurut Freud. kebencian. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Manusia tidak pernah statis. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Interpretasi. resistensi. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Dengan perkataan lain. 2.

3. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. persepsi cara berfikir. (2) respect (rasa hormat). 1997. 2007. Bandung: Alfabeta 55 . Sumber: Sayekti. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). Memperbaiki dan mengubah sikap. (3) understanding (pemahaman). 4. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. yang unik. (5) encouragement (memberi dorongan). D. Deskripsi Proses Konseling 1. 2. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. (4) reassurance (menentramkan hati). (4) mewujudkan dirinya. 3. 5. Tujuan Konseling 1. E. (3) mengarahkan diri.C. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Teori dan Praktek. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. Willis. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Konseling Individual. (2) mengambil keputusan yang tepat. Rogers. 4. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. Saya adalah saya 2. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan.

Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. dianalisis dan ditafsirkan. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. 2. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. 2. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. 3. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. diperbaiki. yang hadir di seluruh kehidupannya. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. 5. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Menurutnya. Tanggung jawab 56 . tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 4. sebagai pengalaman yang berharga.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. 2008 A. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. 3.

yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 6. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. Moralist. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 3. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 6. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. 4. Penyalur tanggung jawab. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. 4. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. C. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 3. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Pengikat janji (contractor). Menggunakan role playing dengan konseli 2. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. 7. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. Motivator. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Guru.. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. 4. 5. D. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. 5. 5. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. baik berupa limit waktu. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. 2. 2. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. Tujuan Terapi 1.

diam (menanti saat kesempatan bereaksi). perhatian terarah pada lawan bicara. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. 8. dan bahasa lisan. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. Posisi tubuh : tegak kaku. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. bahasa tubuh. Empati dilakukan sejalan 58 . mengalihkan pandangan.7. jarak duduk dengan klien menjauh. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. mudah buyar oleh gangguan luar. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. bersandar. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. miring. duduk kurang akrab dan berpaling. menggunakan tangan sebagai isyarat. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Meningkatkan harga diri klien. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. diantaranya : A. Memutuskan pembicaraan. Perhatian : terpecah. 2007. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. menunggu ucapan klien hingga selesai. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Willis. Sumber: Sayekti. ceria. B. Bandung: Alfabeta. 2. Untuk lebih jelasnya. Menciptakan suasana yang aman 3. Teori dan Praktek. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. ekspresi melamun. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. tidak melihat saat klien sedang bicara. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. mata melotot. 1997. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Konseling Individual.

” Saya dapat memahami pikiran Anda”. dan pengalaman klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. pikiran. yaitu : 1. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi pikiran. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. Terdapat tiga jenis refleksi.” 2. berupa perasaan. C. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. menutup diri. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pengalaman termasuk penderitaannya. pikiran. Eksplorasi pengalaman. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati. pikiran dan keinginan klien. Refleksi perasaan. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu : 1. Empati tingkat tinggi. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” Saya mengerti keinginan Anda”. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Refleksi pengalaman. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Eksplorasi perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. 3.dengan perilaku attending. pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. yaitu teknik untuk menggali ide. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. tertekan dan terancam. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. Seperti halnya pada teknik refleksi. dan pendapat klien. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. 59 . pikiran. yaitu : 1. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. Empati primer. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Refleksi pikiran. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. yaitu teknik untuk memantulkan ide. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. pikiran.” 2. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. 2. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.

Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. terus…. ya…. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . akan tetapi saya tidak mengambilnya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. dapatkah. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. adakah. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. bagaimana.. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Oleh karenanya. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. (3) memberi arah wawancara konseling. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. lalu….Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.” F. lebih baik gunakan kata tanya apakah. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.

Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” K. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. PT Golden Terayon Press. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Saya tak dapat lagi menahan diri. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. 2003.I. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Arifin. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Jakarta. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. J. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. (3) meningkatkan kualitas diskusi. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Sugiharto. Karena tantangan masa depan makin banyak. Membantu orang tua memang harus. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Willis. Teori dan Praktek. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.(2005.M. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. 2004. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. kedua.” Sumber : Sofyan S.Konseling Individual. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. bukan pandangan subyektif konselor. Bandung : Alfabeta H. Jakarta : PPPG 61 .

yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. konflik. Fokus pada diri klien. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. Contoh dialog : 62 . atau kontradiksi dalam dirinya. telah membuat kamu menderita. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Oleh karena itu. senyum dengan kepedihan. Fokus pada orang lain. Contoh : ” Roni.” C. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. dan sebagainya. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. 2008 A. 4. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Ada beberapa yang dapat dilakukan. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Contoh : ” Tanti. 2. Fokus mengenai budaya.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Pada umumnya dalam wawancara konseling. ide awal dengan ide berikutnya. diantaranya : 1. Fokus pada topik. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. (2) meningkatkan potensi klien. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar.

konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. dan dengan alasan-alasan yang logis. pikiran. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.harus bagaimana. sering diam.. Walaupun demikian. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan..” (diam) G.Klien : ” Saya baik-baik saja”. Coba Anda renungkan kembali”. posisi tubuh gelisah). paling lama 5 – 10 detik. dan pengalamannya secara bebas. G. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. tidak tahu.” E. ibu.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.” F. Saya. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. (2) agar klien menjelaskan. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.(suara rendah. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. D. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Konselor :”…………. 63 .. ungkapan kata-kata yang tegas.. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. dan kurang parisipatif. kurang jelas dan agak meragukan.” (diam) Klien :” Saya. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”.. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. wajah murung. atau saudara-saudara Anda. Contoh: ” Baiklah. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit.. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”.

2004.(2005. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. (2) memantapkan rencana klien. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. di samping menggunakan teknik-teknik umum.” H. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Rational Emotive Theraphy. terutama mengenai kecemasan.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Jakarta. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Arifin. 2003. Contoh : ” Nah.Konseling Individual. Kalau pun konselor mengetahuinya. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. (3) pemahaman baru klien. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. yaitu : 64 .upi. Sugiharto. Sofyan S. I. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Bandung : Alfabeta H. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling.com di internet”. 2008 Dalam konseling. Willis.M. PT Golden Terayon Press. seperti pendekatan Behaviorisme. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Teori dan Praktek.

misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. 5. 4. 3. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 65 . Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. model fisik. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. kesulitan menyatakan tidak.1. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. 2. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. dapat menggunakan model audio. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk.

6. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.Melalui dialog yang kontradiktif ini. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. 8. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. 9. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. 7. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Sering terjadi. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. “Saya malas. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

10. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. 2003. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Jakarta : PPPG 67 . mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. PT Golden Terayon Press. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teori dan Praktek. 13. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Arifin. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. mendorong.Konseling Individual. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Dengan tugas rumah yang diberikan. Jakarta. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 11. Home work assigments. Sofyan S. membiasakan diri. 12. 2004. Sumber : H. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.(2005. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Willis.M.

Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. terus bertahan. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Dasar saya anak desa. Makin lama perasaan ditolak. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. mengontrol dunia. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. orang lain. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. kurang bersahabat. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. dan sombong. susah tak ada/punya teman yang peduli. terisolik. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi.

sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. teliti. memaki-maki diri saya sendiri. Allah mengasihi saya. Cara konselor ialah 69 . ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. puas dan bangga. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. semua teman memperhatikan / mendukung. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. karena saya berharga dihadiratNya. Sehubungan dengan kasus. pemalu. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. Ia menjadi minder. 50% netral. sugestif. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. bahkan adakalanya saya benci. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. peduli. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Tekniknya jelas. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. mengobservasi dan evaluasi diri. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. bermain peran. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. pemberian nasehat secara tepat. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. karena saya tak berharga. Itu berarti salah saya. Ide-ide ini diajarkan. hanya 10% saja yang membeci saya. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal.dibiarkan terus berlangsung. tak seperti orang/teman-teman lainnya. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. dan seterusnya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. Saya pantas menderita karena semuanya itu.

SUMBER Aryatmi. M. Pengantar Teori-teori Konseling. Satya Wacana Semarang. FIP. mendebat. Kota Kembang. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Corey G. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. 70 . IKIP Padang Rosjidan. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Kesimpulannya.dengan pendekatan yang tegas. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. S. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. menantang. 1998. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. jika kita mengharap untuk berubah. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. 1988. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti.. 4. IKIP Semarang Pres.. 1991/1995. progdi BK PPB.. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Konseling Pancawashita. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. 1998. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. (5) menerima kenyataan bahwa. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. 2. Jakarta Surya. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. 1991. 3. Prayitno. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Kesegaran hasil yang dicapai. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Yogyakarta.

Bagaimana di Eropa. keluarga. *) Sofyan S. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. Cina. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. 1977). Pemulihan. pecandu narkoba. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Opium banyak pula ditemukan di Cina. rematik. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. Thailand). Martin. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. obat lemah badan. Vietnam. Australia. 1977). 1977). Konseling Keluarga. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. 1977. Pendahuluan 1. dan segitiga emas (Kamboja. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. 22-5-2001). Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. dan untuk bahan analgesik (Kisker. terutama remaja. Mesir. tidak menyalahkan pihak luar. Konseling Agama. dan Amerika Selatan. dan analgesik (Martin. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Pasca RSKO. malaria. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). dan Partisipasi Sosial. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Pendidikan dan Pelatihan. Kunjungan. Turki. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. dan Asia. Konseling Kelompok.

yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. Sedangkan. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. kolusi. 1993). Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N.bulan. Masalahnya. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. melalui metode Konseling Terpadu. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Minnesota. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. dan film-film. 1979). Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. 2001). Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 1995). namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. 1978). Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. VCD. Ulwan. Artinya. Hal ini berarti. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. namun terbentur pada lemahnya hukum. sehingga narkoba mudah beredar. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. maka AMK pun menirunya. Minneapolis. Sebagai perbandingan. 1989). (c) mencintai keluarga. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis.000. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). khususnya generasi muda.Willis.000 = Rp. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. 1.200. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Willis. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. 72 . seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.200.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. suatu angka yang fantastis. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. 1979). konsumtif. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. 1. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. 25-52001). Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah.800 miliar.

dijauhi orang-orang yang dicintai. dan fisik. anggota DPR. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. para siswa.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. terapi nutrisi/vitamin. back home. ibu-ibu pengajian. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Willis 1995). kehilangan pekerjaan. tokoh-tokoh masyarakat. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. 1980). and back to destructive drinking”. 1977). (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. taat ibadah. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. 2. 2. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. prescribe mood-controlling medications. (3) menerima realita hidup dengan jujur.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. or back on the job. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. dan berbuat baik terhadap sesama. Sebagai seorang dokter medis. guru-guru BK di sekolah. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. dan sebagainya. dsb). menerima cobaan hidup dengan tawakal. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. institute nutrition and vitamin therapy. memahami. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. spiritual. hangat. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Mann memuji pendekatan Panti St. intelektual. Melalui interpersonal relation. sosial. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Selanjutnya. sarjana. and than put the patient back on the street. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. dan asli (genuine) dari konselor. Jika konselor tidak menguasai soal agama. klien siap untuk melaksanakan program tersebut.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. akan tumbuh 73 . 2. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. bermoral. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. terbuka.

orang tua. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. 4. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. mencemarkan nama keluarga. Di samping itu. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. marah. Selanjutnya. keluarga. saudara. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. dan keluarga dekat lainnya. pesan. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. ibu. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. 74 . Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. keluarga. kritikan-kritikan. suami. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. Selanjutnya. dan masyarakat. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. Kemudian. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. 5. istri.. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. pacar. 1982). Di samping itu. merusak diri. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta.kepercayaan diri klien (Yalom. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. Selanjutnya. suami/istri. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. percaya diri. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. dan masyarakat. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. sedangkan pesertanya adalah klien. serta penyesalan terhadap masa lalu. 3.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. 2. 1985). 2. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. dan sebagainya. saudara. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. Demikian juga.

2008 Dalam proses konseling. Okun (Sofyan S. bimbingan kelompok. Sumber : http://depdiknas. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1.id.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. baik perilaku verbal maupun non verbal. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Barbara F. dan konseling keluarga. Willis.go.

serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Willis. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Secara visual. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Konseling Individual: Teori dan Praktek. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. 2004. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Oleh karena itu. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Sebagai lembaga pendidikan. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Kendati demikian.

Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah.Dengan melihat gambar di atas. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. malas. bertengkar. Oleh karena itu. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). berkelahi dengan teman sekolah. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. Dalam hal ini. minum minuman keras tahap awal. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Sebagai ilustrasi. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Perlu digarisbawahi. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. kesulitan belajar pada bidang tertentu. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. berpacaran. keinginan untuk melanjutkan sekolah. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. seperti: membolos. 77 . siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Sofyan S. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini. Lebih jauh. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. mencuri kelas ringan. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. serta hal-hal positif lainnya. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. Masalah (kasus) ringan.

Masalah (kasus) berat. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. ahli/profesional. C. percobaan bunuh diri. polisi. berkelahi antar sekolah. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. dengan perbuatan menyimpang. pelaku kriminalitas. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). kesulitan belajar. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. berpacaran. seperti: gangguan emosional. melakukan gangguan sosial dan asusila.2. seperti: gangguan emosional berat. guru dan sebagainya. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. karena gangguan di keluarga. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . Secara visual. Masalah (kasus) sedang. kecanduan alkohol dan narkotika. minum minuman keras tahap pertengahan. polisi. siswa hamil. dokter. 3. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. mencuri kelas sedang.

(b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. 3. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. non formal. dan khusus. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. kebebasan memilih. (c) memfasilitasi perkembangan. bermoral. 1. jenjang. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. 3. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. karier. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. personal. 2. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. keagamaan. dan sosial konseli. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. 4. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. dan informal. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. individualitas. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. dan berpotensi.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. (b) melakukan 79 . individual. dasar dan menengah. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. 2008 A. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. kejuruan. akademik. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. sosial. C. dan (f) ersikap demokratis B. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling.

tujuan.dan profesi. (b) mengkomunikasikan dasar. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling.dan profesi. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. tujuan. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. tujuan. 6. Namun.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. Sumber : ABKIN. Oleh karena itu. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). pimpinan sekolah/madrasah. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. 2008 Dalam Permendiknas No. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. 2007. tenaga administrasi) 5. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. yang di dalamnya 80 . 4. orang tua. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. wali kelas. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. dalam bentuk naskah akademik. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.

(6) Kesadaran gender. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (9) Wawasan dan kesiapan karier. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. (7) Pengembangan diri. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (4) Kematangan intelektual. (2) Landasan perilaku etis. (3) Kematangan emosi.

(10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. dalam bentuk naskah akademik. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Namun. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (6) Kesadaran gender. (4) Kematangan intelektual. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (9) Wawasan dan kesiapan karier.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. Oleh karena itu. (2) Landasan perilaku etis. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.Jakarta. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. 2008 Dalam Permendiknas No. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (3) Kematangan emosi. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.2007. (7) Pengembangan diri. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.

2007. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. ulet kewirausahaan hemat.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. dan persyaratan pekerjaan. 2008 Dalam Permendiknas No.Jakarta. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. sehari-hari.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. hari. ulet hidup hemat.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. 83 . 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.

(5) Kesadaran tanggung jawab sosial. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Oleh karena itu. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (3) Kematangan emosi. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. dalam bentuk naskah akademik. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (2) Landasan perilaku etis. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (7) Pengembangan diri.Namun. (4) Kematangan intelektual. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (6) Kesadaran gender. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.Jakarta. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.2007.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. sengguhulet. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.ulet sungguhhemat. pendidikan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.ulet.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. hemat.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.

peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.ulet. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.2007. pendidikan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. sengguhulet.Jakarta.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.ulet sungguhhemat. 86 .No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.

dan (5) volume/beban tugas konselor. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.D. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. (3) format kegiatan. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Program Bulanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program Tahunan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Program Mingguan. 4. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. 87 . yaitu: 1. sasaran pelayanan (4) . 2008 A. 2. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. Program Semesteran. 3. Dilihat dari jenisnya. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

yaitu : (1) perencanaan. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. kegiatan instrumentasi. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. dan (3)penilaian 1. penempatan dan penyaluran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu.5. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. tempat. dan (2) kegiatan non tatap muka. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. substansi. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. penguasaan konten. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. (2) pelaksanaan. dan pihak-pihak yang terkait. insidental dan keteladanan. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. jenis kegiatan. dan (e) waktu dan tempat. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. serta alat bantu yang digunakan. Program Harian. bulanan serta mingguan. B. B.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. waktu. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal.

Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG).. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. dan alih tangan kasus. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). konseling kelompok. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. dan mediasi. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.dalam kelas. bimbingan kelompok. pemanfaatan kepustakaan. 89 . 2. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. 3. dan (2) penilaian proses. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penilaian segera (LAISEG). Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. himpunan data. kegiatan konferensi kasus. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. perorangan. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. C. kunjungan rumah. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. menyelenggarakan layanan orientasi.

3. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. bakat. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). mengandung arti bahwa bentuk. 90 . Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. 2. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. rancangan. 1. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. belajar. responsif. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. dan pengembangan karir konseli. guru.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Namun. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.

http://aace. (2005). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Cambridge. G. Cobia. Alexandria. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. & Henderson.W dan J. Bandung: ABKIN Bandura. (2003). (Eds). (2003). Balitbang Diknas. (Ed. (2001). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). 91 .ncat. Merrill Prentice Hall Corey. Self-Efficacy in Changing Soceties. (2006). UK: Cambridge University Press. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1995). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. DAFTAR RUJUKAN AACE. Handbook of School Counseling. Donna A. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Belomont. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. BSNP dan PUSBANGKURANDIK.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. Debra C. CA: Brooks/Cole. Dameron. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. Engels.Gambar 1.). VA: AACD.D. (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Draft. A. New Jersey. The Art of Integrative Counseling. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Depsiknas. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003).

(1990). Bandung : Remaja Rosda Karya. (1953). (1979). Herr Edwin L. Jakarta : Balitbang Depdiknas.dan Juntika N. New York : MacMillan Publishing Company. (1992). (1987). Depdiknas. Houston : Shell Com. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Depdiknas.J.N. (2005). & Hatch. Columbia: The Educational Resources Information Center. New York: David Mckay. 2006). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. & Mitchel M. Ellis. Depdiknas. Landasan Bimbingan dan Konseling. (2003). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Hurlock. 2006. ASCA (American School Counselor Association). 2006.Browers. James A. Muro. Child Development. Human Development. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (2005). (2006). Madison : Brown & Benchmark.Nancy. Pusat Kurikulum. & Kottman. LIPI. Guidance and Counseling in the Schools. ——–. Balitbang Depdiknas. Patricia A. (2003). Stoner. (2003). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Adolescence.Ltd. The National Model for School Counseling Programs. 2004. California : Myfield Publishing Company. Syamsu Yusuf L. (1995). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2005). Bandung : PT. ——–. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. R. Havighurts. (1976). (1986). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). (2002). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Menteri Pendidikan Nasional. (1956).I.L. Sunaryo Kartadinata. dkk. Lustin. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Comm. Gibson R. Depdiknas. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Development Taks and Education. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Michigan School Counselor Association. J. Bandung : CV Bani Qureys. T. James J. Pikunas. Management. Alizabeth B. Remaja Rosda Karya.H. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Terry. Jakarta: Puskur Balitbang. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. (2005). London : Prentice-Hall International Inc. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Judy L. Introduction to Counseling and Guidance. The Missouri Comprehensive Guidance Model.

Woolfolk. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 .Pd. 1995. (1996).Pd. Oleh karena itu. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. 3 July’96. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. 2008 Oleh : Drs. Sesungguhnya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. M. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Uman Suherman. Boston : Allyn & Bacon. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Vol 24 No. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tulisan ini.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Educational Psychology. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Oleh karena itu. M. Dalam hal ini. Akhmad Sudrajat. Anita E.

sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Dengan kata lain. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. Dari sini. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. seperti : malas. konselor dituntut bekerja secara profesional. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. Maka. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. Akibatnya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. ketentuan. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. petunjuk teknis dan sebagainya.1. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. melalui berbagai bentuk aturan. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . petunjuk pelaksanaan. baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagaimanapun. Secara tidak langsung.

bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. penataran dan pelatihan.dalam internet. Kemudian. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Bahkan. 2. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. untuk menguasai teknikteknik konseling. Berbekal kesabaran dan ketekunan. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. dengan bercermin dari kekurangan. Sekalipun ada. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Sedangkan secara langsung. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. Sehingga pada gilirannya. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Sementara. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Walaupun demikian perlu dicatat. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. seperti : seminar. Misalkan. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan.

Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. Dalam hal ini.mewakili pihak pemerintah. khususnya kepada bimbingan dan konseling. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. Jadi wajar sekali. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan adanya akuntabilitas ini. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Namun pada kenyataannya. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. konselor 96 . Artinya. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Dan pada gilirannya. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. terutama masyarakat dan orang tua siswa. Oleh karena itu. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. Bagaimanapun masyarakat. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Tentu saja. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan.

97 . Demikianlah. Tentu saja. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. Karena. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Bahkan bila perlu. Prayitno. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. seperti kepala sekolah. Atau secara kreatif. Dengan sendirinya. khususnya dalam forum Komite Sekolah.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Oleh sebab itu. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Untuk itulah. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). dewan sekolah atau siapa pun. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. yang berhubungan dengan data siswa. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Dengan kata lain. Hal yang perlu dicermati. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. kapan saja diperlukan. Dr. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).

Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Dr. Makalah . (1995). W. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Prof. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.(1995). dan (3) evaluasi hasil. (1997). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Counselors Role in a Changing 98 .(1994). Departemen Pendidikan Nasional. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. (2001).. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).S. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. (2) evaluasi program. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Sementara itu. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. (1991). 1.

Willis. Bandung : Alfabeta. 2004. Teori dan Praktek. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).dpi. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.html Sofyan S. Konseling Individual.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27.gov/sspw/counsl1. guru. 2008 99 . 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.wisconsin.

media cetak : liflet. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Daftar konseli 3. kunjungan rumah. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Kendati demikian. bimbingan kelompok. kotak masalah. konseling kelompok. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Laporan semesteran/tahunan 6. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . buku saku) 7. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Laporan hasil evaluasi program. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. bibliokonseling. bimbingan klasikal. catatan anekdot.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. (c) pemilihan instrumen/media. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. konsultasi. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. berbentuk : 1. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. audio visual. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. 2. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. proses. Laporan bulanan 5. Dalam hal ini. (d) strategi pelayanan. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. audio. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual.

Selengkapnya. konselor. Tujuan Umum 3. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. dan masalah-masalahnya belajar. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Demikian pula. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Sementara itu. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . sosial. Wilayah Gerak 2. karier.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Sebaliknya.

Selain terlalu sering memberikan nasihat.. Karenanya. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Willis. Menurut dia. Dr. katanya. Terutama. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). M. Prof. alternatif juga dari dia (siswa-red). sosial. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. bukan yang memiliki masalah saja. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. Padahal. tapi siswa tetap yang harus memikirkan.Pd. belajar dan karier. Sofyan S. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. 102 . Jakarta F. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. 2007. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. “Alternatif bisa diusulkan guru. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa.” ujarnya. Yang baik. Menurut dia. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. Jl. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi.” ungkapnya. Belitung. H.

Karenanya. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya.melalui pendidikan. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. nilai. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. 6 September 2006. menggunakan penyikapan yang empatik. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Dr. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. ia mengungkapkan. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. Supaya konseling cukup efektif.pikiran-rakyat. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. (5) yang dilandasi sikap. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. layanan etis normatif. 103 . dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Sunaryo Kartadinata. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. Menurut Sofyan. dan bukan layanan bebas nilai. Berkaitan dengan peran sekolah. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. hal. Saat melakukan konseling. Sumber : http://www. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa.com/cetak/2006/042006/07/0702.

pribadi-sosial. seperti dalam olah raga. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. sejahtera. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. serta berguna untuk manusia lain. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Selain itu. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dan karier. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Dalam hal ini. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. misalnya melalui asesmen psikologis. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. seni dan sebagainya 104 . layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Pada jenjang SMP dan SMA. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Misalnya.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP.. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). akademik. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya.. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. melalui direct behavioral consultation. Menurutnya. terutama guru pendidikan khusus. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler.

Jawaban singkatnya. Setelah keluar dari ruangan BP. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. Empat tahun kemudian. sekitar 32 tahun yang lalu.Pikiran Rakyat.singkatnya pertanyaan itu. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. BSNP. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa.Atas semua itu. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. M. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. hal.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). 6 September 2006. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . Sumber : Sunayo Kartadinata. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Ditjen PMPTK. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP.Pd. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor..

jika penulis kelak menjadi guru BP. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. tempat kelahiran penulis. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. Pada awal menjadi Guru BP. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Hanya selang satu tahun setelah lulus. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK.Begitu juga. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan.. menggantikan sebutan Guru BP. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Selanjutnya. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. Sebaliknya. Akhirnya. penulis hanya memilih satu jurusan saja.

untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Pada tahun 2003. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. M. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. dibandingkan dengan masa-masa 107 .SMA pada saat itu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut.Pd. meski secara formal istilah ini belum digunakan. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). Dalam tataran teoritis. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. sampai dengan sekarang. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Hanya sangat disesalkan. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut.harus gigit jari.

Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. Menurut pandangan penulis. 2.mata pelajaran di sekolah. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah.. Contoh kasus. Meminjam bahasa ekonomi. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. yaitu : 1. Di sisi lain. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sehingga. Contoh kasus terbaru. dengan memperhitungkan segi kuantitas. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Sayangnya. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Oleh karena itu. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . Kesan lama. khususnya di kalangan siswa. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . kualitas dan distribusinya. baik secara personal maupun lembaga. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling.

dalam kebijakan sertifikasi guru.dilaksanakan. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. Jika tidak. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Uman Suherman. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya.Pd. Begitu juga. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Jika ke depannya.Pd. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. M. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . M. dengan menghadirkan pembicara Dr. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. *)) Akhmad Sudrajat. Dalam dokumen KTSP. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. Jadi.

Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. atau tahunan. guru mata pelajaran. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. 110 . Misalnya. 4. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. kepala sekolah. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. bulanan. 2. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. Pada saat sedang mengikuti rapat. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. 3. baik laporan harian. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. baik dalam bidang akademik. maupun bidang karier. oleh siswa. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. tidak jelas kerjanya. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). sosio-personal. 6. 1.

M. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Dalam jadwal resmi. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah.Pd. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Untuk itu. H. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. M. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. Bapak Drs. maka atas seijin panitia setempat. Tentunya saya berharap. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. Rachmat Setiawan.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah.

Nilai dan Moral (ANM). Sayangnya. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat.G. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. Untuk kepentingan analisis data. Tentunya. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. pengembangan maupun kuratif. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. (3) Hubungan Sosial (HSO). Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. (7) Agama. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. dkk. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. baik yang bersifat preventif. Kendati demikian. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Melalui analisis data berbasis komputer ini. dan (10) Waktu Senggang (WSG). di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). mudah dan akurat. (2) Diri Pribadi (DPI). (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”.

mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Anda dapat men-download materi tersebut. Seksama. Konformistik. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Dengan alat ITP. 3. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (c) peduli akan aturan eksternal. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. Sadar Diri. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. (g) takut tidak diterima kelompok. (f) kurang introspeksi. (b) bergantung pada lingkungan. dan perspektif diri. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Perlindungan Diri. 4. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. Impulsif. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. 2. (e) memikirkan cara hidup. dkk. (d orientasi pemecahan masalah. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (b) berfikir sterotip dan klise. (c) mampu melihat keragaman emosi. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (d) peduli akan hubungan 113 . motif. (c) beorientasi hari ini. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. (d) bertindak dengan motif dangkal. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada.

ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). seperti keadilan sosial. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. 6. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (5) kesadaran tanggung jawab. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (3) kematangan emosional. (2) landasaan perilaku etis. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Individualistik. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. (c) peduli akan paham abstrak. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. Yang diskor 40 soal. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (4) kematangan intelektual. ( kemandirian perilaku ekonomi. (g) mengenal kompleksitas diri. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan.. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Yang diskor 66 soal. (9) wawasan dan persiapan karir. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Otonomi. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP.mutualistik. 7. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.Yang diskor 40 soal. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (e) peduli akan self fulfillment. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. Yang diskor 66 soal.

Manual Guide ATP Versi 3. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. cepat dan menyenangkan. Impor data dari file Microsoft Excel. penghitungan skor konsistensi.Analisis kelompok.bagian akhir angket. Dengan ATP. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah.5 115 . grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. grafik distribusi frekuensi konsistensi. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Manajemen data. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. Sumber : Sunaryo. cara ini akan memakan waktu. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Semakin tinggi skor konsistensi. Proses penyekoran. Namun. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. yang terdiri atas: profil kelompok. delapan butir tertinggi dan terendah. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. untuk jumlah siswa yang besar. yang terdiri atas: profil individual. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®.Analisis per individu. Multi window. dkk . distribusi frekuensi nilai. dan penggabungan kelompok. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful