A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

4 . Boston : Allyn & Bacon. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. M. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Educational Psychology. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. landasan psikologis. Anita E. London : Prentice-Hall International Inc. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Management.dan Juntika N. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. (2005). dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Uman Suherman.Pd. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. (1987). Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. . Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. landasan sosial-budaya. Vol 24 No. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. religius dan yuridis-formal. Sebagai sebuah layanan profesional. Remaja Rosda Karya.Pd. (3) landasan sosial-budaya. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. 3 July’96. M. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. A. James A. landasan filosofis. Stoner. (2) landasan psikologis. Kata kunci : bimbingan dan konseling. Landasan Bimbingan dan Konseling.——–. (1996). Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Bandung : PT. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. 1995. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Woolfolk.

dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. Selanjutnya. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya..Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Alblaster & Lukes. Demikian pula. landasan psikologis.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Thompson & Rudolph.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. yaitu landasan filosofis. B. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. dalam Prayitno. 5 . para penulis Barat . Oleh karena itu. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan.(Victor Frankl. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. landasan sosial-budaya. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan. khususnya bagi para konselor. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. Secara teoritik. Dengan kata lain. etis maupun estetis. dengan layanan bimbingan dan konseling. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. Patterson.tentang landasan bimbingan dan konseling. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor.

Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Misalnya dalam kecerdasan. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. (d) belajar. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. (c) perkembangan individu. kecerdasan. embisil atau ideot). ada yang sangat tinggi (jenius). Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. dan (e) kepribadian. warna kulit. (b) pembawaan dan lingkungan. yang mencakup aspek psiko-fisik. golongan darah. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. a. normal atau bahkan sangat kurang (debil. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Demikian pula dengan lingkungan. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . 2. bakat.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. seperti struktur otot. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Manusia memiliki dimensi fisik. seperti : rasa lapar.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. b. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. seperti rekreasi. Manusia pada hakikatnya positif.

e. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. c. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Berangkat dari studi yang dilakukannya. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. frustrasi dan konflik. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Hall dan Gardner Lindzey. afektif maupun psikomotor/keterampilan. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. 7 . baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. dan (3) Teori Belajar Gestalt. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Tanpa belajar. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. ketegangan emosional.dan menjadi tersia-siakan. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Allport (Calvin S.. bahasa dan kognitif/kecerdasan. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. baik dalam aspek kognitif. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. d. moral dan sosial. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap.memadai. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Manusia belajar untuk hidup. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Responsibilitas (tanggung jawab). agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. 3. yang mencakup : • • • • • • Karakter. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Selain itu. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. maka 8 . psikologi perkembangan. Sejak lahirnya. Seperti mau menerima resiko secara wajar. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Sikap. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Fromm. yaitu bidang psikologi umum. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Hull. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Stabilitas emosi. cuci tangan. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Begitu pula. yaitu disposisi reaktif seorang. Watson. atau putus asa. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Sementara itu. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Teori Medan dari Kurt Lewin. Oleh karena itu. Temperamen. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. tampang. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Horney dan Sullivan. Sosiabilitas. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. teori Personologi dari Murray. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. hormon. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. negatif atau ambivalen. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. sedih. Teori Psikologi Individual dari Allport.

(b) komunikasi non-verbal. evaluasi. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. dan (e) kecemasan. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. Moh. analisis dokumen. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. (c) stereotipe. prosedur tes. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. yaitu kesamaan di atas keragaman.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. ilmu ekonomi. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Menurut Gausel (Prayitno. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. (d) kecenderungan menilai. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. statistik. filsafat. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. biologi. seperti: pengamatan. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. yaitu : (a) perbedaan bahasa. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Sejalan dengan perkembangan teknologi. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. wawancara. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. 2003). sosiologi. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. ilmu pendidikan. antroplogi. ilmu hukum dan agama. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. seperti : psikologi. manajemen. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. pemikiran. 4.

bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. C. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual.pendidikan. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Peraturan Pemerintah. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Dikemukakan pula. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Sebagai ilmuwan. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Ditegaskan pula oleh Moh. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Undang – Undang. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. 10 . landasan religius dan landasan yuridis-formal. dalam bentuk “cyber counseling”. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Moh. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan.

Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis.IKIP Bandung . 11 . Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Majalengka : Sanggar BK SMP. Nana Syaodih Sukmadinata. meliputi : (a) motif dan motivasi. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. landasan religius dan landasan yuridis-formal. 2005. 1980. New York : McMillan Publishing. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). Hall & Gardner Lidzey (editor A. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Margaret E. (c) landasan sosial-budaya. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Jakarta : PT Raja Grafindo. Psikologi Belajar. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.1992. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia.T. Bandung : PT ErescoH. Bandung : Refika Gerungan 1964. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. E. dan (d) kepribadian. Supratiknya). (b) pembawaan dan lingkungan. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Psikologi Sosial. Bandung : P. 2005.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Arifin. SMA dan SMK Muhibbin Syah.———-2006. Hurlock. (b) landasan psikologis.M. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Calvin S. (d) belajar. Psikologi Pendidikan. 2003. Surya. 2003. PT Golden Terayon Press. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Elizabeth B. Developmental Phsychology.. Jakarta. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Bandung PPB . Remaja Rosdakarya. 2003. Learning & Instruction. (c) perkembangan individu. 2003. Theory Into Practice. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. 2004. Koswara). 1997. Gerlald Corey.

Willis. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Teori-Teori Psikologi Sosial. belajar (akademik).. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta : Rajawali. kekuatan. dkk. Jakarta : Rineka Cipta . (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Depdiknas . maupun lingkungan kerja. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Prayitno. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. 2004. keluarga. Teori dan Praktek. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. maupun masyarakat pada umumnya. 2004. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. Sekolah/Madrasah. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. dan tugas-tugas perkem-bangannya. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. tempat kerja. dan karir. dkk. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. 1984. 1. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Syamsu Yusuf LN. pergaulan dengan teman sebaya. serta 12 . Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). 2003. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata.——–2003. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 2004.———-. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. masyarakat. baik dalam kehidupan pribadi.2005.Konseling Individual.

dan sesuai dengan norma agama. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. 2. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. disiplin dalam belajar. yaitu kecenderungan arah karir. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. dan kesejahteraan kerja. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. menghormati atau menghargai orang lain. seperti membuat jadwal belajar. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. kemampuan. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Dapat membentuk pola-pola karir. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. persaudaraan. kemampuan dan minat. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. mengerjakan tugas-tugas. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. 13 . Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. asal bermakna bagi dirinya.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. mencatat pelajaran. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. atau silaturahim dengan sesama manusia. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. tanpa merasa rendah diri. seperti keterampilan membaca buku. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. seperti kebiasaan membaca buku. baik fisik maupun psikis. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. prospek kerja. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Oleh karena itu. mengggunakan kamus. Mengenal keterampilan.

Depdiknas. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.L. Depdiknas. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Bandung: ABKIN Bandura.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (1956). (Ed.W dan J. (Eds). New York: David Mckay. R. New York : McGraw Hill Book Company Inc.I. Cambridge. & Mitchel M. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Alexandria. Self-Efficacy in Changing Soceties. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. The National Model for School Counseling Programs. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. J. (1992). Ellis. California : Myfield Publishing Company. Comm. Herr Edwin L. (2002). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. & Hatch. Merrill Prentice Hall Corey. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Jakarta: Puskur Balitbang. 2006). Judy L. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2007). Browers. Dameron. Hurlock. (2005). Development Taks and Education. (2006). The Missouri Comprehensive Guidance Model. A. Engels. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.H. Belomont. Donna A. Havighurts. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). The Art of Integrative Counseling. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Departemen Pendidikan Nasional. Child Development.Nancy. (2003). Draft. CA: Brooks/Cole. (2005). (2006). Depdiknas. & Henderson.ncat. Adolescence. 2006. T. Depsiknas. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Handbook of School Counseling. DAFTAR RUJUKAN AACE. Houston : Shell Com. UK: Cambridge University Press. (2003). Patricia A.). (2001). Gibson R. (1990). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Guidance and Counseling in the Schools.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. VA: AACD. New York : MacMillan Publishing Company. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 .J. Columbia: The Educational Resources Information Center. G. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Introduction to Counseling and Guidance. (1995).D. ASCA (American School Counselor Association). (1953). (2005). New Jersey. Cobia. Alizabeth B. http://aace. (1979). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Depdiknas. Balitbang Diknas. D. Debra C. (2003). (1986). Menteri Pendidikan Nasional.

Muro. Human Development. James J. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 1995. Vol 24 No. Landasan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. (1995). ——–. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Stoner. Bandung : Remaja Rosda Karya. Boston : Allyn & Bacon. (2005). (2003). 2006. (2005). dkk. Remaja Rosda Karya. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha.Pd. Michigan School Counselor Association. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Sunaryo Kartadinata. Educational Psychology. Terry.Menteri Pendidikan Nasional. Melalui fungsi ini. supaya tidak dialami oleh konseli. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Management. (2005). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Bandung : PT. dan norma agama). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Anita E.dan Juntika N. Bandung : CV Bani Qureys. & Kottman. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1976). yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. Adapun teknik yang 15 . The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. LIPI. Berdasarkan pemahaman ini. Pikunas. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Uman Suherman. 3 July’96. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. 2. Fungsi Pemahaman. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. James A. Fungsi Preventif. M. Syamsu Yusuf L. (1987). Woolfolk. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. 2004.N.Ltd. Balitbang Depdiknas. ——–. (2003). Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lustin. London : Prentice-Hall International Inc. (1996). konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Pusat Kurikulum. pekerjaan.

Fungsi Perbaikan. belajar. konselor. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. yang memfasilitasi perkembangan konseli. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. merokok. maupun karir. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Fungsi Penyembuhan. 6. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. dan kebutuhan konseli. 10. 3. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. jurusan atau program studi. 4. 8. Fungsi Penyaluran. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. Fungsi Fasilitasi. sosial. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. 7. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. baik menyangkut aspek pribadi. penyalahgunaan obatobatan. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. dan bimbingan kelompok. 5. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. Fungsi Adaptasi. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. minat. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. drop out. baik anak- 16 . memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. Fungsi Pengembangan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. diantaranya : bahayanya minuman keras. Fungsi Pemeliharaan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. informasi. baik pria maupun wanita. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. dan pergaulan bebas (free sex). memilih metode dan proses pembelajaran. dan karyawisata. serasi. kemampuan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. berperasaan dan bertindak (berkehendak). bakat. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. home room. 9. Fungsi Penyesuaian. dan remedial teaching. Dalam melaksanakan fungsi ini. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. tutorial. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik.

yaitu meliputi aspek pribadi. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. perusahaan/industri. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. pendidikan. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. dan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Asas keterbukaan. 3. 6. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Bimbingan menekankan hal yang positif. dan pekerjaan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Asas kesukarelaan. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. 1. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. dan peluang untuk berkembang. 5. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. anak. 4. 2. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Mereka bekerja sebagai teamwork. remaja.2. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. 17 . Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. memberikan dorongan. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Asas Kerahasiaan. menyesuaikan diri. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Agar konseli dapat terbuka. tetapi juga di lingkungan keluarga. 3. sosial. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. maupun dewasa.

Asas Keahlian. saling menunjang. 8. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. dan kebiasaan yang berlaku. Asas Kedinamisan. dan terpadu. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. yaitu nilai dan norma agama. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. 5. Lebih jauh. Asas Keharmonisan. Asas Keterpaduan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Asas Alih Tangan Kasus. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. DAFTAR RUJUKAN AACE. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. atau ahli lain . Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. 11. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. 10. 7. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu.ncat. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas Kekinian. hukum dan peraturan. Dalam hal ini. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. http://aace.4. Asas kegiatan.edu 18 . adat istiadat. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. ilmu pengetahuan. 9. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas kemandirian. 6. guruguru lain. harmonis. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. tidak monoton. (2003). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. menghayati. mampu mengambil keputusan.

BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (Eds). Menteri Pendidikan Nasional. G. (1986). (Ed. Havighurts. CA: Brooks/Cole. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2006). Michigan School Counselor Association. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. & Hatch. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Belomont. & Henderson. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (1953). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Herr Edwin L. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. The Missouri Comprehensive Guidance Model.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Gibson R. New Jersey. & Mitchel M. (2005). J. T. (1995). The National Model for School Counseling Programs. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).H. VA: AACD.L. Depdiknas. Self-Efficacy in Changing Soceties.D. Alizabeth B. Depdiknas. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Dameron. Cambridge. Handbook of School Counseling. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (1956). Columbia: The Educational Resources Information Center. Cobia. Patricia A.W dan J. Judy L.J. Departemen Pendidikan Nasional. Depsiknas. Engels. (2002). Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Merrill Prentice Hall Corey. Ellis. D. New York: David Mckay.I. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. New York : MacMillan Publishing Company. Jakarta: Puskur Balitbang. Debra C. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. ASCA (American School Counselor Association). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2001). New York : McGraw Hill Book Company Inc. A. (2003). (2006). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. R. (2003).). Bandung: ABKIN Bandura. Houston : Shell Com. (2005). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. UK: Cambridge University Press. Depdiknas. Comm. Development Taks and Education. (2005). The Art of Integrative Counseling. (2007). Adolescence. Donna A. Browers. Alexandria. Depdiknas. 19 . Introduction to Counseling and Guidance. (1992). Child Development. Draft.Nancy. California : Myfield Publishing Company. Hurlock. (1990). (2005). Balitbang Diknas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. 2006). Guidance and Counseling in the Schools. (1979). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. 2006.

(1976). 20 . & Kottman. Landasan Bimbingan dan Konseling. Remaja Rosda Karya. Pengembangan karir. M. 2004. Balitbang Depdiknas. Terry. ——–. serta memilih dan mengambil keputusan karir. bakat dan minat. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Management. (1995). Woolfolk.dan Juntika N.N. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Pikunas. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Educational Psychology.Muro. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Uman Suherman. Sunaryo Kartadinata. James A. James J. menilai. LIPI. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Pengembangan kemampuan belajar. Human Development. London : Prentice-Hall International Inc. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. 1995. Lustin. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. Bandung : Remaja Rosda Karya.Ltd. Vol 24 No. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. (2003). 3 July’96. (1987). (1996). (2005). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Bandung : PT. ——–. Pusat Kurikulum. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Madison : Brown & Benchmark. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Syamsu Yusuf L. (2005). Anita E. Boston : Allyn & Bacon.Pd. Pengembangan kehidupan sosial. dkk. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Stoner. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (2003). anggota keluarga. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami.

minat dan segenap potensi lainnya. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. kelompok belajar. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Informasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. pendidikan lanjutan). pergaulan.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Layanan Konseling Perorangan. Layanan Bimbingan Kelompok. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. program latihan. jurusan/program studi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. diantaranya: Layanan Orientasi. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. kegiatan ko/ekstra kurikuler. dalam bidang pribadi. serta untuk 21 . layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. karier. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. magang. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. sosial. • • • • Layanan Konten. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. bermasyarakat. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). Bimbingan dan Konseling (Makalah). 6. Bandung : LPMP Jawa Barat. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan.. mereka mempertanyakan. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. (Muslihudin. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. 2004) Sumber : Bahrul Falah. belajar ataupun kariernya. 5. Diantaranya. Hattari. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. belajar maupun kariernya. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. 1987. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. 2. Ke Arah Pengertian Developmental. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. sosial. 3. dkk. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Namun. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. berbangsa dan bernegara. perusahaan. 1983.Pd. dkk. 2004. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. 4. M. Jakarta : BP3K.1. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. sosial. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung.

sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. persyaratan. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. seperti bakat. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. karier. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. pasar kerja. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Untuk itulah.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. bakat. ciri-ciri pekerjaan. baik melalui media cetak atau eleltronik. cita-cita. Materi Informasi. seperti kecerdasan. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. Di samping itu. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. dan sebagainya. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. jenis pekerjaan. jenis dan prospek pekerjaan. seperti kondisi sosio-kultural. minat. ciri-ciri 26 . baik tentang bakat. Dalam hal ini. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. Namun. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. materi informasi yang bersifat personal. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. Karena. Untuk itulah.

Sebagaimana telah disinggung di atas. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. dalam rangka menambah wawasan. Dari hasil kunjungan. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. (1995). agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. berdasarkan hasil pengalamannya. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. artikel. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. atau minat pekerjaannya. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). Selain itu.kepribadian. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. keterangan. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. Untuk itu. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”.Jakarta : IPBI 27 . Selain itu. Dalam hal ini. Misalkan. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. atau klipping yang berhubungan dengan karier. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti.

yaitu sama-sama menginginkan 28 . karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. pelayanan responsif. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Begitu pula. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. (1991). tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. (1997). Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. W. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. perencanaan individual. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Dalam hal ini. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling.S. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. 2. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).

baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. 6. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. penguatan mental/psikis. 29 . Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Kendati demikian. Masalahnya. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. 3. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. serta teknis medis lainnya. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Misalkan. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. modifikasi perilaku. pengubahan lingkungan. 5. mendiagnosis. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. 7. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). baik untuk kepentingan pencegahan. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.

pemberi informasi. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. disiplin dan keamanan di sekolah. Konselor adalah kawan pengiring. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Di sekolah misalnya. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Pekerjaan yang 30 .siswa. 10.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. 9.dan piha-pihak lain.dan lingkungan. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.guru. pembangun kekuatan. Begitu pula sebaliknya. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. penunjuk jalan. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. orang tua. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. Namun demikian. seperti “praktik pribadi”.sosial. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.

Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.Oleh sebab itu. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. tujuan. Konselor harus aktif. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. tersendat-sendat.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”.Lebih jauh. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. ada dan digunakannya instrumen (tes. Pada dasarnya. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. maka hasilnya akan kurang mantap. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jawaban ”benar”. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. dan sarana yang tersedia. 13.inventori. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. Sedangkan jawaban ”tidak”. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. tujuan yang ingin dicapai. Bahkan sering kali terjadi. bersikap “jemput bola”. jenis dan sifat masalah. menghambat. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. 12. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. pihak lain pun. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.Sementara itu. guru pembimbing memang harus aktif. metode. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. 11. Di sekolah. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. dan asas-asas tertentu). Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. 14. dalam hal ini konselor.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Dengan kata lain. terutama klien.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter.15. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul.2003. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Misalkan. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal.

yaitu : 1.Selama mengikuti pelatihan. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. M. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. selaku ketua PB. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Pd. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Dr. memperoleh keterampilan hidup.(lihat 1. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. Sunaryo. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. Ketika membuka kegiatan pelatihan. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. Layanan Dasar. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. Hal yang cukup mengagetkan penulis. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. bertempat di Cikole Lembang Bandung. Prof. 33 .ABKIN. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. memiliki mental yang sehat. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). standar kompetensi konselor.

dan Dr. Kurikulum 1984.Pd. penasihatan individual atau kelompok. Layanan Responsif. atau mengelola pengembangan dirinya. A. dan penelitian dan pengembangan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . konseling individual. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. Uman Suherman. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. referal dan bimbingan teman sebaya. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. merencanakan. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. hubungan masyarakat dan staf. M. Untuk lebih jelasnya. Uman Suherman. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. konseling kelompok. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. Syamsu Yusuf L.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. manajemen program. Layanan Perencanaan Individual. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya.. Perbedaannya. memelihara. 4. mau pun Kurikulum 1994. maupun karier. Layanan dukungan sistem. belajar. M. M. Agus Taufiq. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. sosial. Dr.Pd. staf ahli. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Selain itu.N. konsultasi dengan guru lain.2. dan masyarakat yang lebih luas. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. M.Pd. 3.Pd. baik menyangkut aspek pribadi. baik dalam Kurikulum 1975.

Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Dalam hal ini. Daftar konseli 3. kotak masalah. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. proses. catatan anekdot. Laporan semesteran/tahunan 6. bibliokonseling. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . kunjungan rumah. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. bimbingan klasikal. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Laporan hasil evaluasi program. 2. Kendati demikian. (d) strategi pelayanan. berbentuk : 1. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. audio. audio visual. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. buku saku) 7. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. konsultasi. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . (c) pemilihan instrumen/media. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Laporan bulanan 5. media cetak : liflet. konseling kelompok. bimbingan kelompok.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). dan kegiatan. Oleh karena itu. keterbukaan. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. 39 . (2) tahap inti (tahap kerja). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Secara umum. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. berisi : (1) Kontrak waktu. M. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. B. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. A. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. kesukarelaan. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Menegosiasikan kontrak. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien.Pd. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. terutama asas kerahasiaan. Membuat penaksiran dan perjajagan. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. (2) Kontrak tugas.

tugas profesionalnya. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. C. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). psikoanaliss. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. gestalt. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Dr.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. dan trait and factor. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. yaitu . diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. M. rational emotive therapy (RET). (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . sehat dan dinamis. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. DYP Sugiharto. (1) menurunnya kecemasan klien. baik oleh pihak konselor maupun klien. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . Dalam bentuk tayangan slide. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif.

2008 A. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. 41 . Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. 4. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. B. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. 2. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. 3. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. (c) peniruan. (b) pembiasaan operan.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. tingkah laku penyesuaian. Assesment. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. atau melakukan referal. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. kekuatan dan kelemahannya. pola hubungan interpersonal. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.D. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. 3. Evaluation termination. (b) apakah tujuan itu realistik. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. 2. 42 . yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Konselor aktif : 1. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. 5. dan (d)k emungkinan kerugiannya. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. 4. Feedback. (c) kemungkinan manfaatnya. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Goal setting. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. Technique implementation. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan.

Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. tape recorder.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. DYP Sugiharto. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. atau contoh nyata langsung). Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. kesulitan menyatakan tidak. dapat menggunakan model audio. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. M. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. (Makalah) 43 .Pd. model fisik. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Sumber : Dr. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar.

(4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. otak. persepsi. pera-saan. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. 2008 A. dan tingkah lakunya 44 . membela diri. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. rasa berdosa. perasaan. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. mengancam. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. menuntut. kebencian. kemarahan. dan pemikirannya. (3) aktor bukan reaktor. jantung. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. emosi. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Under dog adalah keadaan defensif. pasif. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. tidak berdaya. lemah. ingin dimaklumi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. sakit hati. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. Meskipun tidak bisa diungkapkan. Dalam pendekatan ini. dan sebagainya. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. rasa diabaikan. maka mereka mengalami kecemasan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. B. kecemasan. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. kedudukan. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).

dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. C. 45 . ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. serta mendapatkan insight secara penuh. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. memahami kenyataan atau realitas. interpretasi maupun memberi nasihat. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. D. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.

Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. perasaan. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. perasaan-perasaannya. Dalam hal ini. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Fase ketiga. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. konselor mengembangkan pertemuan konseling. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. atau gila. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. bodoh. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. dan tingkah lakunya. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Teknik Konseling 46 . Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. dalam situasi di sini dan saat ini. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. Melalui fase ini. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Fase keempat. dirinya tidak berdaya. Fase kedua. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu.

Dalam kaitan itu. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. Orientasi Sekarang dan Di Sini. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Misalnya : “Saya merasa jenuh. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Orientasi Eksperiensial.

Sering terjadi. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Sumber : Dr. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. “Saya malas. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. (Makalah) 48 .Pd. DYP Sugiharto. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Meskipun tampaknya mekanis. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. M. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

B. yang dapat diterima menurut akal sehat. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. masuk akal. pandangan. yaitu Antecedent event (A). yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. nilai. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Keyakinan seseorang ada dua macam. dan Emotional consequence (C). Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. dan keran itu tidak produktif. sangat personal. dan kompeten.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. dan irasional. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. antara kenyatan dan imajinasi. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. kejadian. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. interpretasi. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. (c) orang tua atau masyarakat 49 . kekhawatiran. 2008 A. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. Belief (B). tidak masuk akal. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Belief (B) yaitu keyakinan. Perceraian suatu keluarga. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. bijaksana. tingkah laku.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. atau sikap orang lain. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. kelulusan bagi siswa. bahagia.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. dan kerana itu menjadi prosuktif. emosional.

Kedua. dan dihukum. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. mengerikan. rasa bersalah. cara berpikir.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. rasa marah. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. bencana yang dahsyat. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. (3) pengarahan diri. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. persepsi. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (4) toleransi terhadap pihak lain. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. jahat. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. disalahkan. rasa cemas. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. merusak. merasa was-was. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. ( penerimaan diri. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. (6) menerima ketidakpastian. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. C. (5) fleksibel. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. D. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (2) minat sosial. dan (10) menerima kenyataan. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Ketiga. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. (9) berani mengambil risiko. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . rasa berdosa.

Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. mendorong. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 3. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . E. Behavioristik. afektif. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Aktif-direktif. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. 4.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Emotif-ekspreriensial. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Kognitif-eksperiensial. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. 2. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya.

(c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. membiasakan diri. Sumber : Dr. atau meniru model-model sosial. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.Pd. DYP Sugiharto. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Dengan tugas rumah yang diberikan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. Dengan memberikan reward ataupun punishment. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. latihan. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. (Makalah) 52 .Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). mengobservasi. M. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.

Konsep Dasar 1. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. Menutup wawancara konseling E. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Klien diminta 53 . 2. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Deskripsi Proses Konseling 1.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. yaitu id. 2008 A. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Hakikat manusia. untuk ditata. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Manusia secara esensial bersifat biologis. dan super ego C. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. disikusikan. D. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. konflik dan simbolisme. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. terutama usia 2-5 tahun. ego. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur.

bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. 2. kebencian. Konsep Dasar: 1. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Menurut Freud. Analisis mimpi. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Memandang manusia sebagai individu yang unik. asosiasi bebas. Manusia merupakan seseorang yang ada. 3. 2008 A. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. resitensi dan transferensi. Dalam hal ini. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. Analisis resistensi. Transferensi adalah mengalihkan. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. mimpi. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Interpretasi. baik dalam asosiasi bebas. resistensi berati penolakan. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. objektif. resistensi. Konselor menetapkan. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. 54 . dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Hal ini disebut juga katarsis. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. pengalamannya tertekan. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). B. anonim. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. dan transferensi klien. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. seksualitas. Dengan perkataan lain. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Manusia tidak pernah statis.

yang unik. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Rogers. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Deskripsi Proses Konseling 1. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Memperbaiki dan mengubah sikap. Sumber: Sayekti. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. (2) mengambil keputusan yang tepat. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. 3. Bandung: Alfabeta 55 . 5. (4) mewujudkan dirinya. Willis. E. 2007. 4. Tujuan Konseling 1. Teori dan Praktek.C. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. (3) understanding (pemahaman). (2) respect (rasa hormat). Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. (4) reassurance (menentramkan hati). (3) mengarahkan diri. 3. Konseling Individual. 1997. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. 4. D. persepsi cara berfikir. Saya adalah saya 2. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. 2. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. (5) encouragement (memberi dorongan).

Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. 3. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Tanggung jawab 56 . Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. 2. dianalisis dan ditafsirkan. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 2008 A. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . sebagai pengalaman yang berharga. 5. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. yang hadir di seluruh kehidupannya. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. 2. diperbaiki. 4. 3. Menurutnya. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat.

2. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri.. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. 4. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. Menggunakan role playing dengan konseli 2. 5. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. 3. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. D. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. 2. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. C. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Motivator. 4. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . 5. 3. Guru. 6. 5. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. baik berupa limit waktu. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. 6. Pengikat janji (contractor). Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Moralist. Tujuan Terapi 1. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. Penyalur tanggung jawab. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. 4. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata.

Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. jarak duduk dengan klien menjauh. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. 2007. mudah buyar oleh gangguan luar. Willis. Posisi tubuh : tegak kaku. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). 2. B. dan bahasa lisan. 1997. miring. menggunakan tangan sebagai isyarat. mengalihkan pandangan. Perhatian : terpecah. mata melotot. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. duduk kurang akrab dan berpaling. Menciptakan suasana yang aman 3. Memutuskan pembicaraan. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.7. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. diantaranya : A. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Meningkatkan harga diri klien. bahasa tubuh. menunggu ucapan klien hingga selesai. Sumber: Sayekti. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Bandung: Alfabeta. Teori dan Praktek. Perilaku attending yang baik dapat : 1. ekspresi melamun. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Konseling Individual. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. ceria. perhatian terarah pada lawan bicara. Untuk lebih jelasnya. Empati dilakukan sejalan 58 . 8. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. tidak melihat saat klien sedang bicara. bersandar. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku.

Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. Refleksi pikiran. Terdapat dua macam empati. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. dan pengalaman klien.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Empati tingkat tinggi. menutup diri.” 2. pikiran. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu : 1. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran dan keinginan klien. pikiran. 2. yaitu teknik untuk menggali ide. Empati primer. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. yaitu teknik untuk memantulkan ide. Eksplorasi pikiran. Eksplorasi pengalaman. C. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. pikiran. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. tertekan dan terancam. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien.” Saya mengerti keinginan Anda”.” 2. Refleksi pengalaman. yaitu : 1. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. yaitu : 1. dan mengamati respons klien terhadap konselor. pikiran. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. pikiran. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Refleksi perasaan. 3. Eksplorasi perasaan. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. pengalaman termasuk penderitaannya. berupa perasaan. 59 . yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.dengan perilaku attending. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. dan pendapat klien.

Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. bagaimana.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. terus…. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.” F. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Oleh karenanya. lebih baik gunakan kata tanya apakah. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (3) memberi arah wawancara konseling. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . lalu…. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dapatkah.. adakah. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. ya…. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.

Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. 2004. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Jakarta : PPPG 61 . Jakarta. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak. Willis.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.” Sumber : Sofyan S. Membantu orang tua memang harus.” K. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Arifin.(2005. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.Konseling Individual. Sugiharto. 2003. bukan pandangan subyektif konselor.M. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. J. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. kedua. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.I.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. PT Golden Terayon Press. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Bandung : Alfabeta H. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Saya tak dapat lagi menahan diri. Teori dan Praktek. (3) meningkatkan kualitas diskusi.

Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Fokus pada orang lain. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Contoh : ” Roni. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Ada beberapa yang dapat dilakukan. telah membuat kamu menderita. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Contoh dialog : 62 . klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Fokus pada topik. Contoh : ” Tanti. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. dan sebagainya. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus mengenai budaya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. 2. atau kontradiksi dalam dirinya. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. 4. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Oleh karena itu. senyum dengan kepedihan. konflik.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Fokus pada diri klien. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. ide awal dengan ide berikutnya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. diantaranya : 1. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. (2) meningkatkan potensi klien. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja.” C. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. 2008 A.

” (diam) Klien :” Saya.” F.. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. sering diam. Konselor :”………….. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. ungkapan kata-kata yang tegas. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi.” E. dan pengalamannya secara bebas. D. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.harus bagaimana. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.. wajah murung. atau saudara-saudara Anda.(suara rendah..” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. (2) agar klien menjelaskan. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. pikiran.” (diam) G. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. ibu. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”.Klien : ” Saya baik-baik saja”. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. tidak tahu. kurang jelas dan agak meragukan. dan kurang parisipatif. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. G. 63 . Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Coba Anda renungkan kembali”. Walaupun demikian... Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. posisi tubuh gelisah). Contoh: ” Baiklah. Saya. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. dan dengan alasan-alasan yang logis.. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. paling lama 5 – 10 detik.

dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Willis. seperti pendekatan Behaviorisme. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Arifin. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. 2004. Rational Emotive Theraphy. Contoh : ” Nah. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Jakarta. Sofyan S. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. yaitu : 64 . sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. terutama mengenai kecemasan.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab.upi. (3) pemahaman baru klien.com di internet”.” H. PT Golden Terayon Press. (2) memantapkan rencana klien. Teori dan Praktek. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 2003.M. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya.(2005. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Sugiharto. I. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Kalau pun konselor mengetahuinya.Konseling Individual. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Bandung : Alfabeta H. 2008 Dalam konseling. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu.

dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. kesulitan menyatakan tidak. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. 5. 4. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. 65 .1. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 2. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. model fisik. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. 3. dapat menggunakan model audio. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.

Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 6. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 8. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Misalnya : “Saya merasa jenuh. 9. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. “Saya malas. 7. Sering terjadi. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

Jakarta : PPPG 67 . Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Sofyan S. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teori dan Praktek. Sumber : H. PT Golden Terayon Press. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Home work assigments. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 2004. Arifin. membiasakan diri.Konseling Individual.M. 11. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Dengan tugas rumah yang diberikan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Willis. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Jakarta. 13. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. 10. mendorong.(2005. 12. 2003. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.

dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. terus bertahan. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. orang lain. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. susah tak ada/punya teman yang peduli. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. Makin lama perasaan ditolak. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. dan sombong. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. kurang bersahabat. mengontrol dunia.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. terisolik. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Dasar saya anak desa. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat.

Itu berarti salah saya. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. tak seperti orang/teman-teman lainnya. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). karena saya tak berharga. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. karena saya berharga dihadiratNya. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Saya pantas menderita karena semuanya itu. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. teliti. memaki-maki diri saya sendiri. Sehubungan dengan kasus. Allah mengasihi saya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. mengobservasi dan evaluasi diri. pemalu. pemberian nasehat secara tepat. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. peduli. dan seterusnya. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. hanya 10% saja yang membeci saya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. bermain peran. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. 50% netral. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung.dibiarkan terus berlangsung. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. sugestif. Ia menjadi minder. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. puas dan bangga. Cara konselor ialah 69 . konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Tekniknya jelas. semua teman memperhatikan / mendukung. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Ide-ide ini diajarkan. bahkan adakalanya saya benci. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif.

Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Satya Wacana Semarang. Yogyakarta. 2. menantang. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali.dengan pendekatan yang tegas. 1988. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. 70 . Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik.. SUMBER Aryatmi. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. FIP. S. 3... menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. 1998. Kota Kembang. Kesimpulannya. Jakarta Surya. Kesegaran hasil yang dicapai. 1991/1995. progdi BK PPB. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. IKIP Semarang Pres. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. (5) menerima kenyataan bahwa. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. 1998. Pengantar Teori-teori Konseling. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Prayitno. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 4. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. 1991. mendebat. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. jika kita mengharap untuk berubah. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. IKIP Padang Rosjidan. M. Corey G. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. Konseling Pancawashita. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1.

Bagaimana di Eropa. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. Pendidikan dan Pelatihan. Thailand). sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. terutama remaja.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). 1977. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. rematik. 22-5-2001). *) Sofyan S. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. dan analgesik (Martin. Kunjungan. dan segitiga emas (Kamboja. Konseling Keluarga. Pasca RSKO. tidak menyalahkan pihak luar. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Opium banyak pula ditemukan di Cina. Cina. dan Asia. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Australia. Konseling Agama. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. pecandu narkoba. Martin. dan Amerika Selatan. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). dan Partisipasi Sosial. malaria. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . obat lemah badan. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Mesir. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. Turki. Vietnam. keluarga. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. dan untuk bahan analgesik (Kisker.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. 1977). Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. 1977). Konseling Kelompok. Pemulihan. 1977). Pendahuluan 1.

Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. melalui metode Konseling Terpadu.800 miliar. 1. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Hal ini berarti.bulan. Willis. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. Minnesota. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. kolusi. Sebagai perbandingan. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. Masalahnya.200. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. 2001). Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. 1979). suatu angka yang fantastis. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. 1989). Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. 1995). (c) mencintai keluarga. 1993). Minneapolis. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. 72 . 1978). di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. khususnya generasi muda.Willis. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. 1. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. konsumtif. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. sehingga narkoba mudah beredar. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St.000. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. 1979). Artinya. namun terbentur pada lemahnya hukum. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya.000 = Rp. VCD. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Ulwan. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur.200. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. 25-52001). dan film-film. maka AMK pun menirunya. Sedangkan.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK).

institute nutrition and vitamin therapy. Sebagai seorang dokter medis. back home. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. dijauhi orang-orang yang dicintai. klien siap untuk melaksanakan program tersebut.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. dan sebagainya. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Melalui interpersonal relation. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. spiritual. prescribe mood-controlling medications. Jika konselor tidak menguasai soal agama. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. menerima cobaan hidup dengan tawakal. tokoh-tokoh masyarakat.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. 1977). Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. bermoral. (3) menerima realita hidup dengan jujur. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. dsb). bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. sosial. sarjana. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. dan berbuat baik terhadap sesama. intelektual. Willis 1995). terbuka. anggota DPR. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. or back on the job. hangat. 2. para siswa. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. memahami. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. terapi nutrisi/vitamin. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. ibu-ibu pengajian. Selanjutnya. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. and than put the patient back on the street. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. Mann memuji pendekatan Panti St. and back to destructive drinking”. kehilangan pekerjaan. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. taat ibadah. guru-guru BK di sekolah.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. akan tumbuh 73 . dan fisik. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. 2. dan asli (genuine) dari konselor. 2. 1980). (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah.

diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. saudara. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. istri. suami. dan masyarakat. dan keluarga dekat lainnya. merusak diri. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. keluarga. Selanjutnya. kritikan-kritikan. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Kemudian. saudara. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. sedangkan pesertanya adalah klien. 2. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. 74 . Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. ibu. marah. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. serta penyesalan terhadap masa lalu. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. Selanjutnya. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. 5. orang tua. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. 2. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. mencemarkan nama keluarga. keluarga. 3. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Demikian juga. Di samping itu. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. pesan. percaya diri. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. 1982). dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. 4. dan sebagainya. 1985). klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. dan masyarakat. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya.kepercayaan diri klien (Yalom. Di samping itu. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. suami/istri.. pacar. Selanjutnya.

go. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Willis. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual.id. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Barbara F. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. Okun (Sofyan S. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. bimbingan kelompok. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. dan konseling keluarga. baik perilaku verbal maupun non verbal. Sumber : http://depdiknas. 2008 Dalam proses konseling. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Sebagai lembaga pendidikan. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Kendati demikian. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Secara visual. Konseling Individual: Teori dan Praktek. 2004. Willis. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Oleh karena itu. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku.

seperti: membolos. bertengkar. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Masalah (kasus) ringan. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling.Dengan melihat gambar di atas. kesulitan belajar pada bidang tertentu. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Oleh karena itu. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. Dalam hal ini. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sebagai ilustrasi. berpacaran. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). berkelahi dengan teman sekolah. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. malas. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. serta hal-hal positif lainnya. Perlu digarisbawahi. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Dalam hal ini. Lebih jauh. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Sofyan S. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. 77 . minum minuman keras tahap awal. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.

percobaan bunuh diri. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Masalah (kasus) berat. melakukan gangguan sosial dan asusila. Masalah (kasus) sedang. Secara visual. minum minuman keras tahap pertengahan. guru dan sebagainya.2. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. berkelahi antar sekolah. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . ahli/profesional. 3. polisi. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. mencuri kelas sedang. dengan perbuatan menyimpang. kecanduan alkohol dan narkotika. kesulitan belajar. siswa hamil. karena gangguan di keluarga. berpacaran. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. C. polisi. pelaku kriminalitas. seperti: gangguan emosional berat. dokter. seperti: gangguan emosional.

Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. 2. karier. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. non formal. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dan berpotensi. 3. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. dan khusus. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. dan (f) ersikap demokratis B. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. bermoral. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. kejuruan. dan informal. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. dasar dan menengah. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. akademik. 3. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. 4. proses dan program bimbingan dan konseling. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. individualitas. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. sosial. kebebasan memilih. keagamaan. personal. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. 2008 A. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. (c) memfasilitasi perkembangan. 1. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. individual. C. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. (b) melakukan 79 .Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. jenjang.

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. 2007. tujuan. tujuan. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling.dan profesi. yang di dalamnya 80 . komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. Oleh karena itu. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling.dan profesi. (b) mengkomunikasikan dasar. Namun. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. wali kelas. 2008 Dalam Permendiknas No. orang tua. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. pimpinan sekolah/madrasah. Sumber : ABKIN.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. 6. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. tujuan. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. tenaga administrasi) 5. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. dalam bentuk naskah akademik. 4. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait.

Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 .mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). hemat. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (3) Kematangan emosi. (7) Pengembangan diri. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (2) Landasan perilaku etis. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (6) Kesadaran gender. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (9) Wawasan dan kesiapan karier. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . (4) Kematangan intelektual. (7) Pengembangan diri. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (6) Kesadaran gender. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip.Jakarta. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. 2008 Dalam Permendiknas No.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (3) Kematangan emosi. Oleh karena itu. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Namun. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (9) Wawasan dan kesiapan karier. dalam bentuk naskah akademik. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.2007.

Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. 83 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. sehari-hari. ulet hidup hemat.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. 2008 Dalam Permendiknas No.Jakarta. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. dan persyaratan pekerjaan. ulet kewirausahaan hemat. hari.2007.

yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL).Namun. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Oleh karena itu. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. dalam bentuk naskah akademik. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (7) Pengembangan diri. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (3) Kematangan emosi. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (6) Kesadaran gender. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (2) Landasan perilaku etis. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).

peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.Jakarta. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). pendidikan.2007. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. sengguhulet.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. hemat.ulet.ulet sungguhhemat. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.

sengguhulet. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet sungguhhemat.ulet. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.Jakarta.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.2007. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. pendidikan. 86 . hemat.

2008 A. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Program Tahunan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. yaitu: 1. 87 . dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. dan (5) volume/beban tugas konselor. Program Mingguan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. Program Bulanan. 4. 3. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. (3) format kegiatan. 2. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. Dilihat dari jenisnya. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. sasaran pelayanan (4) .D.

yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. dan pihak-pihak yang terkait. penguasaan konten. dan (2) kegiatan non tatap muka. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. dan (e) waktu dan tempat. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. dan (3)penilaian 1.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. bulanan serta mingguan. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. jenis kegiatan. Program Harian. tempat. insidental dan keteladanan.5. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. B. yaitu : (1) perencanaan. penempatan dan penyaluran. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . kegiatan instrumentasi. serta alat bantu yang digunakan. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. B. waktu. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. (2) pelaksanaan.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. substansi.

dalam kelas. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. C. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). dan mediasi. kunjungan rumah. dan (2) penilaian proses. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. konseling kelompok. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. dan alih tangan kasus. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. menyelenggarakan layanan orientasi. Penilaian segera (LAISEG). kegiatan konferensi kasus. bimbingan kelompok. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). 2. perorangan. 3. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG.. himpunan data. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). 89 . pemanfaatan kepustakaan. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi.

Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Namun. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. guru. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. 90 . Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. 1. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. rancangan. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. 2. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. dan pengembangan karir konseli. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. mengandung arti bahwa bentuk. bakat. responsif. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. 3. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. belajar. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.

(2001). (2005). New Jersey. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Handbook of School Counseling. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (2003). Engels. (2005). (2007). DAFTAR RUJUKAN AACE. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Cambridge.). The Art of Integrative Counseling. Depsiknas. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (Ed. Debra C. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (Eds). CA: Brooks/Cole. (1995). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Donna A.ncat. Merrill Prentice Hall Corey. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2003). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.Gambar 1. 91 .D. G. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Alexandria. D. (2006). Draft. Departemen Pendidikan Nasional. Cobia. Self-Efficacy in Changing Soceties. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Dameron. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. http://aace. & Henderson. Balitbang Diknas.W dan J. Belomont. (2003).edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. A. UK: Cambridge University Press. VA: AACD. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Bandung: ABKIN Bandura.

Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Terry. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Balitbang Depdiknas. Bandung : CV Bani Qureys. Havighurts. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Stoner. & Kottman. Depdiknas. Judy L. California : Myfield Publishing Company. Michigan School Counselor Association. Adolescence. Alizabeth B. Management. Bandung : Remaja Rosda Karya. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. LIPI. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. (1976).H. (2005).L. (2003). 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Menteri Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (1990). Columbia: The Educational Resources Information Center. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 .Ltd. Landasan Bimbingan dan Konseling. James J. 2006). Lustin. & Hatch. ——–. (1956). Depdiknas. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Houston : Shell Com. Gibson R. (1953). (2005). James A.Nancy. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (1987). Sunaryo Kartadinata. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. J. Comm. Syamsu Yusuf L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1986). ——–. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Bandung : PT. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Remaja Rosda Karya.J. (2002). T. (2003). (1995). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. New York: David Mckay. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Depdiknas. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Ellis. Pelayanan Bimbingan dan Konseling.dan Juntika N. (2006). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (2005). 2006. Patricia A.I. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.Browers. Pikunas. Madison : Brown & Benchmark. dkk. Child Development. The National Model for School Counseling Programs. Pusat Kurikulum. & Mitchel M. Jakarta: Puskur Balitbang. 2004. Depdiknas. London : Prentice-Hall International Inc. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Human Development. New York : MacMillan Publishing Company. Herr Edwin L.N. ASCA (American School Counselor Association). (2005). (1992). R. Development Taks and Education. Muro. (2003). Hurlock. Introduction to Counseling and Guidance.

pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. Boston : Allyn & Bacon. Akhmad Sudrajat. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. M. Oleh karena itu. Anita E. Dalam hal ini.Pd. Uman Suherman. (1996). Educational Psychology. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. tulisan ini. Woolfolk. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Oleh karena itu. M. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 3 July’96. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. Sesungguhnya. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya.Pd.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Vol 24 No. 1995. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . 2008 Oleh : Drs.

Dengan kata lain. Maka. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.1. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. ketentuan. konselor dituntut bekerja secara profesional. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. melalui berbagai bentuk aturan. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. petunjuk teknis dan sebagainya. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. seperti : malas. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Secara tidak langsung. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Akibatnya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. Dari sini. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. Bagaimanapun. petunjuk pelaksanaan. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja.

tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . sejalan dengan tuntutan profesionalisme. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. Bahkan. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. untuk menguasai teknikteknik konseling. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Sementara. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Walaupun demikian perlu dicatat.dalam internet. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Kemudian. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. Sedangkan secara langsung. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. Misalkan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. 2. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. Sekalipun ada. Sehingga pada gilirannya. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. dengan bercermin dari kekurangan. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. seperti : seminar. Berbekal kesabaran dan ketekunan. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). penataran dan pelatihan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan.

kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. Tentu saja. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. Dengan adanya akuntabilitas ini. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Dalam hal ini. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Jadi wajar sekali. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. Artinya. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Namun pada kenyataannya. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. konselor 96 . Oleh karena itu. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Dan pada gilirannya.mewakili pihak pemerintah. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Bagaimanapun masyarakat. khususnya kepada bimbingan dan konseling. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. terutama masyarakat dan orang tua siswa. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. baik dalam akademik maupun non-akademik 3.

karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Oleh sebab itu. Atau secara kreatif. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Bahkan bila perlu. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan kata lain. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Tentu saja. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. yang berhubungan dengan data siswa. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Untuk itulah. Prayitno. Karena. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. kapan saja diperlukan. khususnya dalam forum Komite Sekolah. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Dengan sendirinya. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. dewan sekolah atau siapa pun. Demikianlah. Hal yang perlu dicermati. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. 97 . seperti kepala sekolah. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. Dr. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai.

W. Prof. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.(1994). Makalah . Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Departemen Pendidikan Nasional. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. (1991). (2) evaluasi program. Sementara itu. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. dan (3) evaluasi hasil. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dr. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. (2001). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Counselors Role in a Changing 98 . 1. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. (1997). (1995). Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural.S. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor.(1995). Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2.

Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.html Sofyan S. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. Willis. guru. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. Teori dan Praktek.wisconsin. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. 2008 99 . Bandung : Alfabeta.dpi.gov/sspw/counsl1. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). Konseling Individual.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. 2004.

bibliokonseling. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. proses. berbentuk : 1. Laporan semesteran/tahunan 6. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Daftar konseli 3. 2. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (d) strategi pelayanan. Laporan bulanan 5. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . catatan anekdot. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. (c) pemilihan instrumen/media. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . audio visual. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Laporan hasil evaluasi program. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. bimbingan kelompok. audio. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. bimbingan klasikal. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. buku saku) 7.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. kunjungan rumah. konseling kelompok. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. media cetak : liflet. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. konsultasi. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. kotak masalah. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Kendati demikian.

masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. dan masalah-masalahnya belajar. konselor. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. sosial. Wilayah Gerak 2. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. karier. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Tujuan Umum 3. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Selengkapnya. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. Demikian pula. Sementara itu. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . Sebaliknya. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi.

Sofyan S. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. Karenanya. M. sosial. Willis.” ujarnya.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. bukan yang memiliki masalah saja. Prof.. Jl. Terutama. Menurut dia.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Padahal. H. katanya. Selain terlalu sering memberikan nasihat. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. belajar dan karier. 2007. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. “Alternatif bisa diusulkan guru. Dr. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah.Pd. Yang baik.” ungkapnya. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. 102 . Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). alternatif juga dari dia (siswa-red). Belitung. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Menurut dia. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Jakarta F. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan.

Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. hal. ia mengungkapkan. 6 September 2006. Menurut Sofyan. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Supaya konseling cukup efektif. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. Sumber : http://www. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Sunaryo Kartadinata. menggunakan penyikapan yang empatik. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). layanan etis normatif. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.melalui pendidikan. 103 . (5) yang dilandasi sikap. Saat melakukan konseling. nilai.com/cetak/2006/042006/07/0702. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. dan bukan layanan bebas nilai. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan.pikiran-rakyat. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Dr. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Karenanya. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Berkaitan dengan peran sekolah.

Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. melalui direct behavioral consultation. Menurutnya. serta berguna untuk manusia lain. sejahtera. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. akademik. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. seni dan sebagainya 104 . dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. Selain itu. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Dalam hal ini. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. Pada jenjang SMP dan SMA. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. seperti dalam olah raga. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. misalnya melalui asesmen psikologis. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis.. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. dan karier. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. pribadi-sosial. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya.. Misalnya. terutama guru pendidikan khusus. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif.

Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. Setelah keluar dari ruangan BP. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. hal. Jawaban singkatnya. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh.Atas semua itu. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir.singkatnya pertanyaan itu. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis.Pd. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). M. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Sumber : Sunayo Kartadinata. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Ditjen PMPTK. Empat tahun kemudian. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. sekitar 32 tahun yang lalu. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi.. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA.Pikiran Rakyat. BSNP. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. 6 September 2006. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi.

Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Akhirnya. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah.Begitu juga. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. menggantikan sebutan Guru BP. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. Beliau memberikan analisis panjang lebar. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. tempat kelahiran penulis. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Selanjutnya. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Sebaliknya. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Hanya selang satu tahun setelah lulus. jika penulis kelak menjadi guru BP.. Pada awal menjadi Guru BP. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung.

Pd. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. sampai dengan sekarang. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. Pada tahun 2003. Dalam tataran teoritis. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. meski secara formal istilah ini belum digunakan. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. dibandingkan dengan masa-masa 107 .20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Hanya sangat disesalkan. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang.harus gigit jari.SMA pada saat itu. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. M. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut.

termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. kualitas dan distribusinya. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. 2. Contoh kasus. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Sayangnya. baik secara personal maupun lembaga.mata pelajaran di sekolah. Di sisi lain. Sehingga. Oleh karena itu. Meminjam bahasa ekonomi. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. Menurut pandangan penulis.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Kesan lama. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. yaitu : 1. Contoh kasus terbaru. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. khususnya di kalangan siswa. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan.. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 .

Dalam dokumen KTSP. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. dengan menghadirkan pembicara Dr. M. *)) Akhmad Sudrajat. Jika tidak. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. Jika ke depannya. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Jadi.dilaksanakan. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. dalam kebijakan sertifikasi guru. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. Begitu juga. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). M. Uman Suherman. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling.Pd. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya.Pd. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini.

gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. bulanan. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. 4.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. 6. baik laporan harian. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. maupun bidang karier. tidak jelas kerjanya. baik dalam bidang akademik. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. Pada saat sedang mengikuti rapat. 3. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. atau tahunan. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. guru mata pelajaran. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. Misalnya. 110 . 2. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. oleh siswa. 1. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. sosio-personal. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. kepala sekolah.

Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. M. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan.M. Bapak Drs. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 .Pd. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. H. maka atas seijin panitia setempat.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Rachmat Setiawan. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Dalam jadwal resmi. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Untuk itu. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Tentunya saya berharap. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah.

dkk.G. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. (7) Agama. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Kendati demikian. Nilai dan Moral (ANM). dan (10) Waktu Senggang (WSG). pengembangan maupun kuratif. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. Untuk kepentingan analisis data. (2) Diri Pribadi (DPI). karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. mudah dan akurat. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. baik yang bersifat preventif. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (3) Hubungan Sosial (HSO). selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. Melalui analisis data berbasis komputer ini. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Tentunya. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. Sayangnya. ( Hubungan Muda Mudi (HMM).

(f) kurang introspeksi. dkk. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. Perlindungan Diri. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. (d) bertindak dengan motif dangkal. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (c) beorientasi hari ini. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. dan perspektif diri. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. Seksama. (d orientasi pemecahan masalah. 3. motif.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. Berdasarkan hasil pengukuran ini. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. Anda dapat men-download materi tersebut. (b) bergantung pada lingkungan. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Dengan alat ITP. (g) takut tidak diterima kelompok. (b) berfikir sterotip dan klise. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. (e) memikirkan cara hidup. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. Sadar Diri. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (c) mampu melihat keragaman emosi. 2. 4. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. (c) peduli akan aturan eksternal. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (d) peduli akan hubungan 113 . Konformistik. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. Impulsif. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif.

(7) penerimaan diri dan pengembangannya. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. Yang diskor 66 soal. (9) wawasan dan persiapan karir. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. seperti keadilan sosial.mutualistik. Individualistik. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (2) landasaan perilaku etis. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (g) mengenal kompleksitas diri. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (4) kematangan intelektual. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (3) kematangan emosional. Yang diskor 66 soal. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (5) kesadaran tanggung jawab. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. 6. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan.Yang diskor 40 soal. Otonomi. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. ( kemandirian perilaku ekonomi. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. 7.. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. Yang diskor 40 soal. (c) peduli akan paham abstrak. (e) peduli akan self fulfillment. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya.

bagian akhir angket. Impor data dari file Microsoft Excel. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. delapan butir tertinggi dan terendah. Manajemen data.Analisis per individu. Semakin tinggi skor konsistensi. Namun. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Multi window. untuk jumlah siswa yang besar. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. Manual Guide ATP Versi 3. yang terdiri atas: profil kelompok. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. Proses penyekoran. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. yang terdiri atas: profil individual. penghitungan skor konsistensi. cara ini akan memakan waktu. dan penggabungan kelompok. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut.5 115 . cepat dan menyenangkan. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. grafik distribusi frekuensi konsistensi. Sumber : Sunaryo. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. distribusi frekuensi nilai. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek.Analisis kelompok. Dengan ATP. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. dkk .