A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

Landasan Bimbingan dan Konseling. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. (2005). 3 July’96. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Anita E. Management. (2) landasan psikologis. Educational Psychology. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. (1996). Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. Vol 24 No. landasan psikologis. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Stoner. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. (1987). 1995. Woolfolk. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Sebagai sebuah layanan profesional. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Uman Suherman. A.Pd. London : Prentice-Hall International Inc. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Remaja Rosda Karya. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) landasan sosial-budaya.dan Juntika N. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. landasan filosofis. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. dengan mencakup: (1) landasan filosofis.——–. Kata kunci : bimbingan dan konseling. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. landasan sosial-budaya. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. James A. Bandung : PT.Pd. M. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. M. . Boston : Allyn & Bacon. religius dan yuridis-formal. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 4 .

maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.. Secara teoritik. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Oleh karena itu.. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. landasan psikologis. Alblaster & Lukes.(Victor Frankl. 5 . tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. Thompson & Rudolph. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. para penulis Barat . yaitu landasan filosofis.tentang landasan bimbingan dan konseling. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. etis maupun estetis. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. dengan layanan bimbingan dan konseling. Demikian pula.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. dalam Prayitno. Ibarat sebuah bangunan. khususnya bagi para konselor. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. B. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Dengan kata lain. Selanjutnya.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. Patterson. landasan sosial-budaya. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling.

Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. normal atau bahkan sangat kurang (debil.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. 2. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. seperti : rasa lapar. dan (e) kepribadian. bakat. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . Demikian pula dengan lingkungan. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. yang mencakup aspek psiko-fisik. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. kecerdasan. golongan darah. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. ada yang sangat tinggi (jenius). a. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. Manusia memiliki dimensi fisik. seperti rekreasi. (d) belajar. seperti struktur otot. (c) perkembangan individu. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Misalnya dalam kecerdasan. embisil atau ideot). b. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. warna kulit. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Manusia pada hakikatnya positif. (b) pembawaan dan lingkungan. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.

ketegangan emosional.dan menjadi tersia-siakan. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. c. d. 7 . sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. bahasa dan kognitif/kecerdasan. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. afektif maupun psikomotor/keterampilan. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Allport (Calvin S. baik dalam aspek kognitif. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. dan (3) Teori Belajar Gestalt. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. frustrasi dan konflik. moral dan sosial. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan.. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Manusia belajar untuk hidup. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Tanpa belajar. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. Hall dan Gardner Lindzey. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Dalam menjalankan tugas-tugasnya.memadai. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. e. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial.

Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Horney dan Sullivan. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Teori Medan dari Kurt Lewin. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. psikologi perkembangan. Begitu pula. Sementara itu. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Teori Sosial Psikologis dari Adler. teori Personologi dari Murray. maka 8 . seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Selain itu. negatif atau ambivalen. yang mencakup : • • • • • • Karakter. Watson. Teori Psikologi Individual dari Allport. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. 3. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. yaitu bidang psikologi umum. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Stabilitas emosi. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Sosiabilitas. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. hormon. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. atau putus asa. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Temperamen. Seperti mudah tidaknya tersinggung. cuci tangan. tampang. Sikap. yaitu disposisi reaktif seorang. Fromm. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Sejak lahirnya. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Oleh karena itu. Hull. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. sedih. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Responsibilitas (tanggung jawab). sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

statistik. (b) komunikasi non-verbal. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Moh. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. (c) stereotipe. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. Menurut Gausel (Prayitno. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. analisis dokumen. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. ilmu ekonomi. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. ilmu hukum dan agama. 2003). Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. manajemen. seperti: pengamatan. wawancara. yaitu kesamaan di atas keragaman. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. dan bahkan mungkin bertolak belakang. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. 4. prosedur tes. (d) kecenderungan menilai. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. ilmu pendidikan. pemikiran. biologi. Sejalan dengan perkembangan teknologi. filsafat. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. dan (e) kecemasan. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. antroplogi. seperti : psikologi. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. evaluasi. sosiologi.

Undang – Undang. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia.pendidikan. dalam bentuk “cyber counseling”. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Moh. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. 10 . dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Dikemukakan pula. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Peraturan Pemerintah. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Ditegaskan pula oleh Moh. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Sebagai ilmuwan. C. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh.

2005. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. meliputi : (a) motif dan motivasi. E. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.IKIP Bandung . Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Arifin.1992. Bandung : P. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Gerlald Corey. (d) belajar. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 2005. Majalengka : Sanggar BK SMP. 1980. Psikologi Belajar. (c) perkembangan individu. New York : McMillan Publishing. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. (c) landasan sosial-budaya. Remaja Rosdakarya. Bandung PPB . Hurlock. 2003. Learning & Instruction. Calvin S. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Elizabeth B. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun.. 2003. dan (d) kepribadian. Margaret E. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. 2003. 11 . Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Bandung : Refika Gerungan 1964. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Jakarta. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). 1997. Theory Into Practice. Developmental Phsychology. (b) landasan psikologis.———-2006. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo. Surya. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. (b) pembawaan dan lingkungan.M. Supratiknya). yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Koswara). Nana Syaodih Sukmadinata. Psikologi Sosial. 2004. Hall & Gardner Lidzey (editor A. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. PT Golden Terayon Press. 2003. landasan religius dan landasan yuridis-formal.T. Bandung : PT ErescoH.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis.

1. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. pergaulan dengan teman sebaya. Syamsu Yusuf LN.2005. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. 2004. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sekolah/Madrasah. Jakarta : Rajawali. Jakarta : Depdiknas . (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. maupun masyarakat pada umumnya. dan karir. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. Willis. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2003.Prayitno. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. masyarakat. Psikologi Kepribadian.——–2003. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. 2004. maupun lingkungan kerja. dkk. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta : Rineka Cipta . dan tugas-tugas perkem-bangannya.. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 1984. Teori-Teori Psikologi Sosial.———-.Konseling Individual. tempat kerja. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. keluarga. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. kekuatan. serta 12 . kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. dkk. 2004. baik dalam kehidupan pribadi. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Teori dan Praktek. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. belajar (akademik). Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata.

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. yaitu kecenderungan arah karir. tanpa merasa rendah diri. mengggunakan kamus. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. kemampuan dan minat. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. 2. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Dapat membentuk pola-pola karir. asal bermakna bagi dirinya. seperti keterampilan membaca buku. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. dan kesejahteraan kerja. baik fisik maupun psikis. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). disiplin dalam belajar. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. kemampuan. 3. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. persaudaraan. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. mencatat pelajaran. 13 . yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. prospek kerja. mengerjakan tugas-tugas. seperti kebiasaan membaca buku. atau silaturahim dengan sesama manusia. dan sesuai dengan norma agama. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Mengenal keterampilan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. menghormati atau menghargai orang lain. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Oleh karena itu. seperti membuat jadwal belajar.

D.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Development Taks and Education. (1995). Alizabeth B. Depdiknas. UK: Cambridge University Press. Merrill Prentice Hall Corey.).D. (1956). (1990). (2005). Cobia. Gibson R. & Hatch. G. (2007). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Havighurts. Balitbang Diknas. Self-Efficacy in Changing Soceties.W dan J. (2003). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 . Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Cambridge. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.H.Nancy. Belomont. 2006. (2005). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Houston : Shell Com. ASCA (American School Counselor Association). Herr Edwin L. Depdiknas. Introduction to Counseling and Guidance. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2001). (2002). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Browers. DAFTAR RUJUKAN AACE. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. New York : MacMillan Publishing Company. (Eds). VA: AACD. The Art of Integrative Counseling. Draft. (1953). New York : McGraw Hill Book Company Inc. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2006). Jakarta: Puskur Balitbang. 2006). Adolescence. Comm.L. Columbia: The Educational Resources Information Center. Patricia A. (2005). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: ABKIN Bandura. (2003). J. Hurlock. Dameron.J. The National Model for School Counseling Programs.I. Donna A. (1979). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. CA: Brooks/Cole. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Ellis. Engels. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (Ed. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1992). T. Debra C. Handbook of School Counseling. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Menteri Pendidikan Nasional. Depdiknas. New York: David Mckay. Depdiknas. (2006). & Henderson. Child Development. Judy L. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. New Jersey. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Depsiknas. California : Myfield Publishing Company. Guidance and Counseling in the Schools. Alexandria. Departemen Pendidikan Nasional. R. & Mitchel M. (1986). http://aace. A. (2003). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (2003).• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.ncat.

pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. (2003). Bandung : CV Bani Qureys. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. M. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. ——–. Management. Pusat Kurikulum. James J. Syamsu Yusuf L. Educational Psychology. Adapun teknik yang 15 . (2005). (1995). Stoner. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. James A. Uman Suherman. Sunaryo Kartadinata. (1987). Bandung : Remaja Rosda Karya.Ltd. Berdasarkan pemahaman ini. Madison : Brown & Benchmark. London : Prentice-Hall International Inc. Muro. Vol 24 No. Human Development. 2004. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. ——–. pekerjaan. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Lustin. (2005). Fungsi Pemahaman. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. (1996). Landasan Bimbingan dan Konseling. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Anita E. Fungsi Preventif. 2006. & Kottman. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI.Pd. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Michigan School Counselor Association. (1976). Terry. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. dkk. (2005).Menteri Pendidikan Nasional. 2. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. 1995. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Boston : Allyn & Bacon.dan Juntika N. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Melalui fungsi ini. LIPI. (2003). Pikunas. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. dan norma agama). Balitbang Depdiknas. supaya tidak dialami oleh konseli.N. 3 July’96. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Woolfolk. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

dan remedial teaching. penyalahgunaan obatobatan. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 4. serasi. 9. Fungsi Pengembangan. berperasaan dan bertindak (berkehendak). dan karyawisata. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. baik menyangkut aspek pribadi. baik anak- 16 . diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). minat. Fungsi Fasilitasi. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. dan pergaulan bebas (free sex). Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. bakat. 10. maupun karir. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. Fungsi Penyesuaian. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. 6. Fungsi Perbaikan. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. drop out. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. merokok. 7. dan bimbingan kelompok. Fungsi Penyembuhan. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. konselor. tutorial. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. 3. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. dan kebutuhan konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. Fungsi Penyaluran. jurusan atau program studi. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Fungsi Adaptasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. sosial. diantaranya : bahayanya minuman keras. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. 8. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. home room. kemampuan. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. baik pria maupun wanita.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. yang memfasilitasi perkembangan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. belajar. Fungsi Pemeliharaan. informasi. memilih metode dan proses pembelajaran. Dalam melaksanakan fungsi ini. 5. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan.

2. Mereka bekerja sebagai teamwork. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. perusahaan/industri. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Asas Kerahasiaan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. pendidikan. dan peluang untuk berkembang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Bimbingan menekankan hal yang positif. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. maupun dewasa. 3. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 1. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. 4.2. remaja. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). dan pekerjaan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Asas keterbukaan. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. tetapi juga di lingkungan keluarga. memberikan dorongan. Agar konseli dapat terbuka. yaitu meliputi aspek pribadi. anak. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. 17 . Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Asas kesukarelaan. sosial. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. dan masyarakat pada umumnya. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. 6. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. 5. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. 3. menyesuaikan diri.

dan terpadu. DAFTAR RUJUKAN AACE. 9. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Asas kegiatan. dan kebiasaan yang berlaku. Asas Kedinamisan. mampu mengambil keputusan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Asas kemandirian. Asas Keharmonisan. guruguru lain. 7. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. 10. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. 11.ncat. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Asas Kekinian. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Lebih jauh. hukum dan peraturan. menghayati. saling menunjang. 8. Asas Keahlian. (2003). yaitu nilai dan norma agama. harmonis.4. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling.edu 18 . Asas Keterpaduan. ilmu pengetahuan. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. http://aace. adat istiadat. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. atau ahli lain . 5. Dalam hal ini. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. tidak monoton. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling.

New York: David Mckay. Havighurts. Draft. (Eds). (2006). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. New York : McGraw Hill Book Company Inc. & Mitchel M. Cobia. The Art of Integrative Counseling. Houston : Shell Com. Hurlock. ASCA (American School Counselor Association). (2006). Handbook of School Counseling. Browers. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. VA: AACD. Herr Edwin L. (1956). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Gibson R. CA: Brooks/Cole. (2005). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Depdiknas. (2007). R. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Engels. Introduction to Counseling and Guidance. Jakarta: Puskur Balitbang. Departemen Pendidikan Nasional. Balitbang Diknas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. New York : MacMillan Publishing Company.L.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (2002). 2006). The National Model for School Counseling Programs. (2005). Alizabeth B. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (2005). UK: Cambridge University Press. Depdiknas. New Jersey. Depsiknas.H. Patricia A. Michigan School Counselor Association. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. T. Bandung: ABKIN Bandura. J. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2001). A. G. (1979).D. (2003). Donna A. (1995). Belomont. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Self-Efficacy in Changing Soceties. (2003). D. Development Taks and Education. (1953). Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Menteri Pendidikan Nasional. Ellis. Depdiknas. & Henderson. Alexandria. (2005). (1986). Judy L. Merrill Prentice Hall Corey. 19 . (1992). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Depdiknas. Child Development. Dameron.W dan J. BSNP dan PUSBANGKURANDIK.Nancy. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Columbia: The Educational Resources Information Center.J. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Adolescence. Debra C. (2003).I. (1990). California : Myfield Publishing Company. (Ed. Cambridge. & Hatch. The Missouri Comprehensive Guidance Model. 2006. Guidance and Counseling in the Schools. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Comm.).

Terry. (2005). Pengembangan kehidupan sosial. Madison : Brown & Benchmark.Ltd. (2003). Sunaryo Kartadinata. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. LIPI.N. ——–. 1995. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. James A. Landasan Bimbingan dan Konseling. Stoner. Educational Psychology. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools.Pd. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. anggota keluarga. Pusat Kurikulum. dkk. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. London : Prentice-Hall International Inc. Remaja Rosda Karya. M. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. ——–.Muro. James J. Anita E. Bandung : PT. Management. (2003). Pikunas. Syamsu Yusuf L. Lustin. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. (1995). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Human Development. 20 . serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Pengembangan karir. Pengembangan kemampuan belajar. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. & Kottman. (1996). Bandung : Remaja Rosda Karya. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. (2005). yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Vol 24 No. menilai. 2004. bakat dan minat. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU.dan Juntika N. (1987). 3 July’96. (1976). Boston : Allyn & Bacon. Balitbang Depdiknas. Bandung : CV Bani Qureys. Uman Suherman. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Woolfolk.

pergaulan. magang. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Layanan Konseling Perorangan. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. karier. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. • • • • Layanan Konten. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. dalam bidang pribadi. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. program latihan. minat dan segenap potensi lainnya. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. serta untuk 21 . sosial. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. jurusan/program studi. kegiatan ko/ekstra kurikuler. diantaranya: Layanan Orientasi. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. kelompok belajar. pendidikan lanjutan). Layanan Informasi. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Penempatan dan Penyaluran. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar.

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

belajar ataupun kariernya. 5. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Namun. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. perusahaan. sosial. sosial. belajar maupun kariernya. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. mereka mempertanyakan. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Informasi Karier Diterbitkan Februari 4.1. 2004. Jakarta : BP3K. 4. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. berbangsa dan bernegara. 6. dkk. 1983. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. dkk. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . Hattari.. M. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Ke Arah Pengertian Developmental. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. 2. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. 3. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi).Pd. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. bermasyarakat. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. (Muslihudin. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. 2004) Sumber : Bahrul Falah. 1987. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Diantaranya. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Bandung : LPMP Jawa Barat. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya.

biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. seperti kondisi sosio-kultural. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Materi Informasi.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. baik melalui media cetak atau eleltronik. pasar kerja. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. minat. karier. ciri-ciri pekerjaan. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Dalam hal ini. Namun. jenis pekerjaan. jenis dan prospek pekerjaan. dan sebagainya. Karena. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. seperti bakat. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. materi informasi yang bersifat personal. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. bakat. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. Untuk itulah. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Di samping itu. seperti kecerdasan. Untuk itulah. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. baik tentang bakat. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. ciri-ciri 26 . sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. cita-cita. persyaratan. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi.

bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. (1995). Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya.kepribadian. Untuk itu. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Selain itu. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. atau klipping yang berhubungan dengan karier. berdasarkan hasil pengalamannya. artikel. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Dalam hal ini. dalam rangka menambah wawasan. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. atau minat pekerjaannya. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Selain itu. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. keterangan. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya.Jakarta : IPBI 27 . maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. Misalkan. Dari hasil kunjungan. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. Sebagaimana telah disinggung di atas. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995).

Begitu pula.S. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Dalam hal ini. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . yaitu sama-sama menginginkan 28 . W. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. pelayanan responsif. (1997). yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. 2. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. (1991). Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. perencanaan individual. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling).

yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. pengubahan lingkungan. 3. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. 5. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Misalkan. 6. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Masalahnya. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. penguatan mental/psikis. Kendati demikian. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. 7. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. baik untuk kepentingan pencegahan. 29 . baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. modifikasi perilaku. mendiagnosis. serta teknis medis lainnya. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa.

namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . sekolah dan masyarakat sekitarnya. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Di sekolah misalnya. Begitu pula sebaliknya. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Konselor adalah kawan pengiring.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. pembangun kekuatan.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.guru. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa.dan piha-pihak lain. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri.siswa.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. pemberi informasi. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. orang tua. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Namun demikian. disiplin dan keamanan di sekolah. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Pekerjaan yang 30 . seperti “praktik pribadi”. 9. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. penunjuk jalan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. 10. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja.sosial. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib.dan lingkungan. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.

Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Dengan kata lain. pihak lain pun. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. Sedangkan jawaban ”tidak”. 12. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. terutama klien.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. dalam hal ini konselor. dan asas-asas tertentu).pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. metode. dan sarana yang tersedia. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. tujuan. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . 11. 13. Jawaban ”benar”. jenis dan sifat masalah. guru pembimbing memang harus aktif. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Di sekolah. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Pada dasarnya. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Oleh sebab itu. 14. tujuan yang ingin dicapai.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. tersendat-sendat.Lebih jauh. Bahkan sering kali terjadi. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. menghambat. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. ada dan digunakannya instrumen (tes. Konselor harus aktif. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan.inventori. bersikap “jemput bola”.Sementara itu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. maka hasilnya akan kurang mantap.

Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1.2003. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . atau bahkan beberapa tahun kemuadian. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian.15. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Misalkan. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.

yang disajikan secara sistematis. 33 . Sunaryo. Layanan Dasar. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. M. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Dr. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan.(lihat 1. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. memiliki mental yang sehat. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. Ketika membuka kegiatan pelatihan. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. standar kompetensi konselor. memperoleh keterampilan hidup.Selama mengikuti pelatihan. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. bertempat di Cikole Lembang Bandung. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini.Pd. Hal yang cukup mengagetkan penulis.ABKIN. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. selaku ketua PB. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. yaitu : 1. Prof.

sosial. dan penelitian dan pengembangan. M. Kurikulum 1984. Layanan dukungan sistem. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. Perbedaannya. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. 4.N. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. konsultasi dengan guru lain. dan Dr.Pd. staf ahli. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. atau mengelola pengembangan dirinya. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. Selain itu. manajemen program. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. referal dan bimbingan teman sebaya. mau pun Kurikulum 1994.2. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. M. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. konseling kelompok. penasihatan individual atau kelompok. M. maupun karier. A.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat.Pd.Pd. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. konseling individual. M. merencanakan. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. Layanan Perencanaan Individual. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. baik menyangkut aspek pribadi. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. Uman Suherman.. hubungan masyarakat dan staf. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . belajar. Syamsu Yusuf L. Dr. Agus Taufiq. 3. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. dan masyarakat yang lebih luas. memelihara. baik dalam Kurikulum 1975.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Untuk lebih jelasnya.Pd. Layanan Responsif. Uman Suherman.

(b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Daftar konseli 3. Laporan bulanan 5. Dalam hal ini. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Kendati demikian. audio visual. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. proses. bimbingan kelompok. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. kotak masalah. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. konsultasi. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. kunjungan rumah. bibliokonseling. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Laporan semesteran/tahunan 6. berbentuk : 1. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. 2. (c) pemilihan instrumen/media. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. catatan anekdot. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. bimbingan klasikal. audio. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. (d) strategi pelayanan. konseling kelompok. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Laporan hasil evaluasi program. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. media cetak : liflet. buku saku) 7. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). terutama asas kerahasiaan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. B. Secara umum. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.Pd. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. (2) tahap inti (tahap kerja). Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. dan kegiatan.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. M. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Membuat penaksiran dan perjajagan. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Oleh karena itu. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. (2) Kontrak tugas. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. berisi : (1) Kontrak waktu. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. A. kesukarelaan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. keterbukaan. Menegosiasikan kontrak. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. 39 . dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.

gestalt. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. DYP Sugiharto. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. rational emotive therapy (RET). seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur.tugas profesionalnya. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. M. psikoanaliss. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. C.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. sehat dan dinamis.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). baik oleh pihak konselor maupun klien. Dr. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . Dalam bentuk tayangan slide. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). (1) menurunnya kecemasan klien. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. yaitu .Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . dan trait and factor.

Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. 4. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. 41 . (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. 3. 2.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. 2008 A. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. (c) peniruan. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. B. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. (b) pembiasaan operan. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C.

Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. kekuatan dan kelemahannya. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. 42 . dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Goal setting. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. atau melakukan referal. tingkah laku penyesuaian. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (b) apakah tujuan itu realistik. dan (d)k emungkinan kerugiannya. 4. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. 3. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. 5. Feedback. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Technique implementation. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. 2. pola hubungan interpersonal. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Assesment. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Evaluation termination. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Konselor aktif : 1. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. (c) kemungkinan manfaatnya.D.

• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. model fisik. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. M. tape recorder. DYP Sugiharto. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. kesulitan menyatakan tidak. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya.Pd. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. (Makalah) 43 . Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. atau contoh nyata langsung). Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Sumber : Dr. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. dapat menggunakan model audio.

Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. kemarahan. dan tingkah lakunya 44 . sakit hati. menuntut. mengancam. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. kecemasan. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. dan sebagainya. Dalam pendekatan ini. Meskipun tidak bisa diungkapkan. tidak berdaya. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. pera-saan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. rasa diabaikan. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. maka mereka mengalami kecemasan. pasif. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. jantung. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. persepsi. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. rasa berdosa. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. Under dog adalah keadaan defensif. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. ingin dimaklumi. 2008 A. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. emosi. membela diri. B. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. dan pemikirannya. (3) aktor bukan reaktor. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. otak. perasaan. lemah. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. kedudukan. kebencian. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”.

Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. D. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. 45 . Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. C. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. memahami kenyataan atau realitas. serta mendapatkan insight secara penuh. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. interpretasi maupun memberi nasihat. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi.

Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. dirinya tidak berdaya. konselor mengembangkan pertemuan konseling.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. dan tingkah lakunya. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. Fase ketiga. Dalam hal ini. atau gila. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Teknik Konseling 46 . konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. dalam situasi di sini dan saat ini. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. perasaan-perasaannya. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. bodoh. Fase keempat. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Melalui fase ini. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. perasaan. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Fase kedua. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini.

konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Orientasi Eksperiensial. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Orientasi Sekarang dan Di Sini. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Dalam kaitan itu. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya.Pd. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Meskipun tampaknya mekanis.Sering terjadi. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. M. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. “Saya malas. Sumber : Dr. (Makalah) 48 . Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Pendekatan-Pendekatan Konseling. DYP Sugiharto. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.

nilai. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. interpretasi.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. pandangan. Keyakinan seseorang ada dua macam. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. tingkah laku. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. sangat personal. antara kenyatan dan imajinasi. kejadian. atau sikap orang lain. emosional. dan kerana itu menjadi prosuktif. B. yang dapat diterima menurut akal sehat. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. bijaksana.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. dan irasional.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. yaitu Antecedent event (A). Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. bahagia. 2008 A. Belief (B) yaitu keyakinan. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. dan keran itu tidak produktif. (c) orang tua atau masyarakat 49 . kekhawatiran. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. dan Emotional consequence (C).Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. tidak masuk akal. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. masuk akal. Perceraian suatu keluarga. dan kompeten. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. kelulusan bagi siswa. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Belief (B).

Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. Kedua. dan (10) menerima kenyataan. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. rasa marah. cara berpikir. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. merasa was-was. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. rasa berdosa. bencana yang dahsyat. jahat. mengerikan. dan dihukum. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. rasa cemas. (6) menerima ketidakpastian. D. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. (9) berani mengambil risiko. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. Ketiga. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (3) pengarahan diri. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. merusak. rasa bersalah. (4) toleransi terhadap pihak lain. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . disalahkan. (2) minat sosial. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. persepsi. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. ( penerimaan diri. (5) fleksibel. C.

E. Aktif-direktif. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Emotif-ekspreriensial. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. mendorong. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. 2. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. afektif. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Kognitif-eksperiensial. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 4. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. 3. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Behavioristik.

Sumber : Dr. atau meniru model-model sosial.Pd. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. membiasakan diri. Dengan memberikan reward ataupun punishment. mengobservasi. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. M. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). Dengan tugas rumah yang diberikan. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. (Makalah) 52 . Pendekatan-Pendekatan Konseling. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). DYP Sugiharto. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. latihan. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien.

dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Menutup wawancara konseling E. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. 2008 A. untuk ditata. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. yaitu id. 2. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. terutama usia 2-5 tahun. D. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. disikusikan. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. konflik dan simbolisme. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Konsep Dasar 1. Deskripsi Proses Konseling 1. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Manusia secara esensial bersifat biologis. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. ego. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. dan super ego C. Klien diminta 53 . Hakikat manusia.

pengalamannya tertekan. 2008 A. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Konsep Dasar: 1. seksualitas. mimpi. resistensi. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. 54 . Konselor menetapkan. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. asosiasi bebas. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Analisis mimpi. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Transferensi adalah mengalihkan. Manusia merupakan seseorang yang ada.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Menurut Freud. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. anonim. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. objektif. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. resistensi berati penolakan. Interpretasi. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Dalam hal ini. resitensi dan transferensi. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Dengan perkataan lain. B. 3. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. 2. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. kebencian. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Hal ini disebut juga katarsis. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. baik dalam asosiasi bebas. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Manusia tidak pernah statis. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Analisis resistensi. dan transferensi klien. Memandang manusia sebagai individu yang unik.

4. 2007. Tujuan Konseling 1. (4) mewujudkan dirinya. Rogers. (3) mengarahkan diri. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. 1997. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Konseling Individual. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. (3) understanding (pemahaman). (2) respect (rasa hormat). 5. 3. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). yang unik. Willis. E. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Sumber: Sayekti. persepsi cara berfikir. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Memperbaiki dan mengubah sikap. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). D. Teori dan Praktek. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Deskripsi Proses Konseling 1. Saya adalah saya 2. Bandung: Alfabeta 55 . (5) encouragement (memberi dorongan). 2. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Berbagai Pendekatan dalam Konseling.C. 4. (2) mengambil keputusan yang tepat. 3. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. (4) reassurance (menentramkan hati).

Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. dianalisis dan ditafsirkan. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Tanggung jawab 56 . Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 2. 2008 A. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. 5. 3. Menurutnya. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. 3. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. diperbaiki. 4. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. sebagai pengalaman yang berharga. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. yang hadir di seluruh kehidupannya. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual.

yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 5. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. 6. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 4. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . Guru. baik berupa limit waktu. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. C. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 4. 2. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. 5. D. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Moralist. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 2. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Penyalur tanggung jawab. 3. 5. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 4. Pengikat janji (contractor). Tujuan Terapi 1. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 3. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. 6. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. Motivator. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 7. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri.

senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. menggunakan tangan sebagai isyarat. Perhatian : terpecah. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. duduk kurang akrab dan berpaling. jarak duduk dengan klien menjauh. tidak melihat saat klien sedang bicara. Memutuskan pembicaraan. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. menunggu ucapan klien hingga selesai. Willis. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Sumber: Sayekti. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. diantaranya : A. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. perhatian terarah pada lawan bicara. duduk akrab berhadapan atau berdampingan.7. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 8. dan bahasa lisan. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. ceria. Konseling Individual. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). bahasa tubuh. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Bandung: Alfabeta. ekspresi melamun. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. mengalihkan pandangan. bersandar. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. 1997. 2007. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. 2. Menciptakan suasana yang aman 3. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. Posisi tubuh : tegak kaku. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. mata melotot. Meningkatkan harga diri klien. mudah buyar oleh gangguan luar. Teori dan Praktek. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. miring. B. Untuk lebih jelasnya. Empati dilakukan sejalan 58 .

Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Empati primer. yaitu teknik untuk menggali ide. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.” 2. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.” 2. Empati tingkat tinggi. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu : 1. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Refleksi pikiran. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. pikiran.” Saya mengerti keinginan Anda”. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. 2.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan.dengan perilaku attending. pikiran. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Seperti halnya pada teknik refleksi. berupa perasaan.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Terdapat dua macam empati. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. pikiran. dan pengalaman klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan …. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu teknik untuk memantulkan ide. pikiran. Eksplorasi pengalaman. 3. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. dan pendapat klien. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. pengalaman termasuk penderitaannya. dan mengamati respons klien terhadap konselor. pikiran dan keinginan klien. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. menutup diri. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. 59 . yaitu : 1. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran. Eksplorasi pikiran. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. C. Refleksi perasaan. tertekan dan terancam. Eksplorasi perasaan. yaitu : 1. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Refleksi pengalaman.

(2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . bagaimana. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 .Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. terus…. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G.” F. Oleh karenanya. adakah. dapatkah. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. ya…. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. akan tetapi saya tidak mengambilnya.. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. (3) memberi arah wawancara konseling. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. lalu…. lebih baik gunakan kata tanya apakah.

I. Bandung : Alfabeta H. kedua. PT Golden Terayon Press. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Willis. Saya tak dapat lagi menahan diri. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Teori dan Praktek. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. 2004. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.” K. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). bukan pandangan subyektif konselor. Jakarta. (3) meningkatkan kualitas diskusi. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap.” Sumber : Sofyan S. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Jakarta : PPPG 61 . Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.M. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. J. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Arifin. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Sugiharto. Membantu orang tua memang harus. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.(2005. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.Konseling Individual. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Karena tantangan masa depan makin banyak. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.

Contoh dialog : 62 . telah membuat kamu menderita. Ada beberapa yang dapat dilakukan. 2. Oleh karena itu. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. konflik. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. ide awal dengan ide berikutnya. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus pada topik.” C. diantaranya : 1. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. atau kontradiksi dalam dirinya. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. 2008 A. Fokus mengenai budaya.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. (2) meningkatkan potensi klien. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Fokus pada orang lain. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Contoh : ” Roni. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Pada umumnya dalam wawancara konseling. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. dan sebagainya. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. senyum dengan kepedihan. Contoh : ” Tanti. 4. Fokus pada diri klien. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.

Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. kurang jelas dan agak meragukan. Saya. tidak tahu. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. D. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. atau saudara-saudara Anda. ibu.(suara rendah.. Contoh: ” Baiklah. Konselor :”…………. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. sering diam. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”.harus bagaimana.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. posisi tubuh gelisah).. pikiran. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. (2) agar klien menjelaskan. dan dengan alasan-alasan yang logis. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. 63 . Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.” (diam) Klien :” Saya...” F. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. dan kurang parisipatif. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Coba Anda renungkan kembali”. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. ungkapan kata-kata yang tegas. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.” E..” (diam) G.Klien : ” Saya baik-baik saja”.. Walaupun demikian.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. wajah murung. dan pengalamannya secara bebas. paling lama 5 – 10 detik. G. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi.

Willis. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Arifin. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. (3) pemahaman baru klien. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. yaitu : 64 . apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). terutama mengenai kecemasan. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.(2005. Contoh : ” Nah. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. 2003. di samping menggunakan teknik-teknik umum.upi. PT Golden Terayon Press. 2008 Dalam konseling. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. (2) memantapkan rencana klien. Sofyan S. I.M. Kalau pun konselor mengetahuinya. Rational Emotive Theraphy. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya.com di internet”. Bandung : Alfabeta H. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. seperti pendekatan Behaviorisme.” H. Teori dan Praktek.Konseling Individual. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Sugiharto.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Jakarta. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. 2004.

dapat menggunakan model audio. 4. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. 3. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. 5. 65 . Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. 2. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan.1. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. model fisik. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. kesulitan menyatakan tidak.

Melalui dialog yang kontradiktif ini. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Misalnya : “Saya merasa jenuh. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 6. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. “Saya malas. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. 7. 9. Sering terjadi. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. 8. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain.

Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. 11. Bandung : Alfabeta Sugiharto. mendorong. membiasakan diri. Sumber : H. 2004. 13. Sofyan S. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Jakarta : PPPG 67 .(2005. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Jakarta. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. 10. Willis.Konseling Individual.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 2003. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab.M. Dengan tugas rumah yang diberikan. PT Golden Terayon Press. Teori dan Praktek. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. 12. Arifin. Home work assigments.

Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. susah tak ada/punya teman yang peduli. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. mengontrol dunia. orang lain. terus bertahan. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. kurang bersahabat. Makin lama perasaan ditolak. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. dan sombong. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Dasar saya anak desa. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. terisolik. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II.

ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. tak seperti orang/teman-teman lainnya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. memaki-maki diri saya sendiri. karena saya berharga dihadiratNya. Ide-ide ini diajarkan. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. puas dan bangga. bermain peran. mengobservasi dan evaluasi diri. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. 50% netral. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. dan seterusnya. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Tekniknya jelas. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. Ia menjadi minder. karena saya tak berharga. Saya pantas menderita karena semuanya itu. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Allah mengasihi saya. hanya 10% saja yang membeci saya.dibiarkan terus berlangsung. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Cara konselor ialah 69 . bahkan adakalanya saya benci. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Itu berarti salah saya. sugestif. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). semua teman memperhatikan / mendukung. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Sehubungan dengan kasus. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. pemalu. pemberian nasehat secara tepat. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. peduli. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. teliti. sosial modeling dan relaksasi/meditasi.

Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli.. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. Pengantar Teori-teori Konseling. menantang. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. IKIP Semarang Pres. jika kita mengharap untuk berubah. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. IKIP Padang Rosjidan. Corey G. 1991. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. 1988. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). 1998. Jakarta Surya. Satya Wacana Semarang. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Yogyakarta. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. progdi BK PPB. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. Kesimpulannya. S. 70 . Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK.. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. 4. 2. Kota Kembang. SUMBER Aryatmi. 1998. FIP. 3. mendebat. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli.dengan pendekatan yang tegas. (5) menerima kenyataan bahwa. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Kesegaran hasil yang dicapai. Prayitno.. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Konseling Pancawashita. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 1991/1995. M.

tidak menyalahkan pihak luar. Pasca RSKO. malaria. 1977). Martin. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. dan untuk bahan analgesik (Kisker. Pendidikan dan Pelatihan. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Konseling Keluarga. dan analgesik (Martin. Bagaimana di Eropa. Kunjungan. 1977. Cina. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. 22-5-2001). Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Pendahuluan 1. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Pemulihan. 1977). Australia. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. dan Amerika Selatan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. *) Sofyan S. dan Partisipasi Sosial. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Turki.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Thailand). dan Asia. Vietnam. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. 1977). Konseling Kelompok. keluarga. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. pecandu narkoba. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Opium banyak pula ditemukan di Cina. terutama remaja. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Konseling Agama. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. obat lemah badan. Mesir.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. rematik. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. dan segitiga emas (Kamboja.

2001). Minneapolis. 1. VCD. Ulwan. Sebagai perbandingan. 1978). ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. kolusi. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. khususnya generasi muda.000 = Rp. dan film-film. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. 72 . Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC).200. 1. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat.200. melalui metode Konseling Terpadu. Sedangkan. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan.000.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Willis. 1979). 1989). 1995). sehingga narkoba mudah beredar. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. Minnesota. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. maka AMK pun menirunya. 1979). Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 1993). dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. suatu angka yang fantastis. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Artinya. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat.Willis. konsumtif.800 miliar. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. (c) mencintai keluarga. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. namun terbentur pada lemahnya hukum. Masalahnya. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. Hal ini berarti. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja.bulan. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). 25-52001).

Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. or back on the job. bermoral. hangat. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. back home. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. spiritual. dan fisik. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. dan berbuat baik terhadap sesama. menerima cobaan hidup dengan tawakal. kehilangan pekerjaan. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. terapi nutrisi/vitamin. Melalui interpersonal relation. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Selanjutnya. ibu-ibu pengajian. Willis 1995). 2. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. guru-guru BK di sekolah. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. 1977). dan sebagainya.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. intelektual. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. sarjana. anggota DPR. and than put the patient back on the street. dijauhi orang-orang yang dicintai. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. terbuka. 2. institute nutrition and vitamin therapy. akan tumbuh 73 . akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. dan asli (genuine) dari konselor. dan memberi obat pengendalian emosi pasien.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. Jika konselor tidak menguasai soal agama. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. Mann memuji pendekatan Panti St. dsb). and back to destructive drinking”. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. 1980). tokoh-tokoh masyarakat. sosial.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. (3) menerima realita hidup dengan jujur. memahami. para siswa. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. Sebagai seorang dokter medis. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. taat ibadah. prescribe mood-controlling medications. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. 2.

Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. 2. saudara.. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. orang tua. kritikan-kritikan. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. 1982). Kemudian. Di samping itu. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. marah. ibu. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. 1985). percaya diri. Selanjutnya. saudara. pesan. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. suami. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. dan sebagainya. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. 2. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. istri. Di samping itu. 4. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. suami/istri. merusak diri. pacar. dan keluarga dekat lainnya. serta penyesalan terhadap masa lalu. Selanjutnya. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. 5. 3. keluarga. keluarga. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Demikian juga. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. dan masyarakat. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. Selanjutnya. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. mencemarkan nama keluarga. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. sedangkan pesertanya adalah klien. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. 74 .kepercayaan diri klien (Yalom. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. dan masyarakat.

Barbara F. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. bimbingan kelompok. Sumber : http://depdiknas. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang.go. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . baik perilaku verbal maupun non verbal. 2008 Dalam proses konseling. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.id. dan konseling keluarga. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. Willis. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Okun (Sofyan S. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat.

2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. Kendati demikian. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. Sebagai lembaga pendidikan. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Willis.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. 2004. Oleh karena itu. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Secara visual. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah.

Sebagai ilustrasi. Perlu digarisbawahi.Dengan melihat gambar di atas. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Dalam hal ini. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Lebih jauh. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. bertengkar. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. 77 . meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. minum minuman keras tahap awal. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. serta hal-hal positif lainnya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. berpacaran. malas. keinginan untuk melanjutkan sekolah. Dalam hal ini. Masalah (kasus) ringan. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. Oleh karena itu. seperti: membolos. mencuri kelas ringan. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Sofyan S. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. berkelahi dengan teman sekolah. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin.

perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. berpacaran. seperti: gangguan emosional berat. 3. percobaan bunuh diri. C. polisi. karena gangguan di keluarga. dengan perbuatan menyimpang. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. melakukan gangguan sosial dan asusila. berkelahi antar sekolah. seperti: gangguan emosional. Masalah (kasus) sedang.2. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). pelaku kriminalitas. polisi. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. minum minuman keras tahap pertengahan. mencuri kelas sedang. Secara visual. siswa hamil. kesulitan belajar. Masalah (kasus) berat. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . dokter. kecanduan alkohol dan narkotika. guru dan sebagainya. ahli/profesional.

kejuruan. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. personal. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. dan (f) ersikap demokratis B. akademik. dan berpotensi. kebebasan memilih. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. 4. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. bermoral. dan informal. keagamaan. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. 2008 A. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. jenjang. (c) memfasilitasi perkembangan. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. individual. non formal. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. karier. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. 1. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. (b) melakukan 79 . (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. dan khusus. dasar dan menengah. C. 2. 3. 3. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. dan sosial konseli. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. sosial. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. proses dan program bimbingan dan konseling. individualitas. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling.

mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. tujuan. yang di dalamnya 80 . Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. pimpinan sekolah/madrasah. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. Sumber : ABKIN. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). 2008 Dalam Permendiknas No. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. Namun. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. tenaga administrasi) 5. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. tujuan. Oleh karena itu. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.dan profesi. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. wali kelas. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. 4. orang tua. (b) mengkomunikasikan dasar. tujuan. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dalam bentuk naskah akademik. 2007. 6. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.dan profesi. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.

Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (6) Kesadaran gender. (7) Pengembangan diri. hemat. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (2) Landasan perilaku etis. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (3) Kematangan emosi. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).

Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip.Jakarta. (7) Pengembangan diri. (4) Kematangan intelektual. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. dalam bentuk naskah akademik. (3) Kematangan emosi. (2) Landasan perilaku etis. Oleh karena itu.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. 2008 Dalam Permendiknas No.2007. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (9) Wawasan dan kesiapan karier. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (6) Kesadaran gender. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Namun. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. ulet hidup hemat. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. ulet kewirausahaan hemat. sehari-hari. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. hari.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. dan persyaratan pekerjaan.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. 83 . sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. 2008 Dalam Permendiknas No.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13.2007.Jakarta.

sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (6) Kesadaran gender. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (9) Wawasan dan kesiapan karier. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.Namun. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (3) Kematangan emosi. dalam bentuk naskah akademik. (2) Landasan perilaku etis. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Oleh karena itu. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (7) Pengembangan diri. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. (4) Kematangan intelektual. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT).

sengguhulet.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. pendidikan. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 .Jakarta.ulet sungguhhemat. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).2007. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. hemat.

sengguhulet. pendidikan.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.ulet sungguhhemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.ulet. hemat. 86 . dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.2007. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Jakarta.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.

2008 A. 2. 4. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. yaitu: 1. Program Mingguan. Program Bulanan. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. sasaran pelayanan (4) . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. dan (5) volume/beban tugas konselor. (3) format kegiatan. 3. Dilihat dari jenisnya. 87 . serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Program Semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. Program Tahunan.D. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.

Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. yaitu : (1) perencanaan. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. kegiatan instrumentasi. dan pihak-pihak yang terkait. penempatan dan penyaluran. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. (2) pelaksanaan. jenis kegiatan. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. tempat. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. dan (e) waktu dan tempat.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. substansi. waktu. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. bulanan serta mingguan. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. insidental dan keteladanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu.5. B. dan (3)penilaian 1. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. serta alat bantu yang digunakan. Program Harian. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. penguasaan konten. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 .Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. dan (2) kegiatan non tatap muka. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. B.

Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. 2. dan mediasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. Penilaian segera (LAISEG). Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. menyelenggarakan layanan orientasi.. perorangan. 89 . bimbingan kelompok. himpunan data. dan alih tangan kasus. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. C. kegiatan konferensi kasus. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). konseling kelompok. dan (2) penilaian proses.dalam kelas. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. kunjungan rumah. 3. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. pemanfaatan kepustakaan.

dan pengembangan karir konseli. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. mengandung arti bahwa bentuk. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. belajar. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. 2. rancangan. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2).Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. guru. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). 1. 3. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. responsif. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Namun. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. bakat. 90 . Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran.

Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. UK: Cambridge University Press. D. Alexandria.ncat. Engels. Depsiknas. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (2001). (2003). Departemen Pendidikan Nasional. DAFTAR RUJUKAN AACE. Debra C. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. http://aace. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Dameron.Gambar 1. Handbook of School Counseling. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2007). (2003). Donna A. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bandung: ABKIN Bandura. (1995). & Henderson. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Cambridge. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. G. Draft. (Eds). A.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003). (2006). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. CA: Brooks/Cole. New Jersey.W dan J. The Art of Integrative Counseling. Merrill Prentice Hall Corey. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 91 . Balitbang Diknas. VA: AACD.D. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2005). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Cobia. Self-Efficacy in Changing Soceties. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi.). Belomont. (2005). (Ed.

New York: David Mckay. & Mitchel M. Landasan Bimbingan dan Konseling. (1953). Bandung : Remaja Rosda Karya. Jakarta: Puskur Balitbang. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2003). 2004. Comm.L. 2006. Madison : Brown & Benchmark. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. & Hatch. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1992). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Michigan School Counselor Association. dkk. Hurlock. Havighurts. (1987).I. California : Myfield Publishing Company. Alizabeth B. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). & Kottman. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1986). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Development Taks and Education. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Adolescence.H. Patricia A. (1976). (1990). (1956). Gibson R. T. 2006). Bandung : CV Bani Qureys. Depdiknas. Menteri Pendidikan Nasional. (1979). Columbia: The Educational Resources Information Center. Syamsu Yusuf L. Human Development. Judy L. (2005). Child Development.dan Juntika N. Herr Edwin L. Depdiknas. (2005). Stoner. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. ——–. (2002).J.Browers. Houston : Shell Com. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL.N. Muro. Sunaryo Kartadinata. Pusat Kurikulum. (2006). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. R. James J. James A. Management. Lustin. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Guidance and Counseling in the Schools. J. 2006.Ltd. Remaja Rosda Karya. Terry. (2005). ——–. (2003). Pikunas. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Ellis. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (2003).Nancy. New York : MacMillan Publishing Company. Introduction to Counseling and Guidance. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. ASCA (American School Counselor Association). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. LIPI. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2005). (1995). Depdiknas. Bandung : PT. Depdiknas. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Balitbang Depdiknas. London : Prentice-Hall International Inc. The National Model for School Counseling Programs.

tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. M. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. Uman Suherman. tulisan ini.Pd. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. M. (1996). Akhmad Sudrajat. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).Pd. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. 3 July’96. Sesungguhnya. Anita E. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 1995. 2008 Oleh : Drs. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Vol 24 No. Boston : Allyn & Bacon. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Oleh karena itu. Oleh karena itu. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. Woolfolk. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Educational Psychology. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Dalam hal ini.

Akibatnya. Maka. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Dari sini. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. melalui berbagai bentuk aturan. konselor dituntut bekerja secara profesional. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. ketentuan. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini.1. petunjuk teknis dan sebagainya. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. Secara tidak langsung. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. baik secara langsung maupun tidak langsung. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. petunjuk pelaksanaan. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Bagaimanapun. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. seperti : malas. Dengan kata lain. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.

dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. 2. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. dengan bercermin dari kekurangan.dalam internet. untuk menguasai teknikteknik konseling. Kemudian. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . Sekalipun ada. Sementara. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. penataran dan pelatihan. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. Sehingga pada gilirannya. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Misalkan. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Bahkan. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. seperti : seminar. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Walaupun demikian perlu dicatat. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. Berbekal kesabaran dan ketekunan. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. Sedangkan secara langsung. sejalan dengan tuntutan profesionalisme.

tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun masyarakat. konselor 96 . berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Dalam hal ini.mewakili pihak pemerintah. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Dan pada gilirannya. Namun pada kenyataannya. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Oleh karena itu. Dengan adanya akuntabilitas ini. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. Jadi wajar sekali. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. khususnya kepada bimbingan dan konseling. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Tentu saja. Artinya. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. terutama masyarakat dan orang tua siswa.

seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. Tentu saja. seperti kepala sekolah. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Prayitno. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. dewan sekolah atau siapa pun. Untuk itulah. Hal yang perlu dicermati. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. Dengan sendirinya. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. 97 . Dr. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. Demikianlah. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Karena. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. Atau secara kreatif. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. kapan saja diperlukan. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Oleh sebab itu. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Dengan kata lain. Bahkan bila perlu. yang berhubungan dengan data siswa. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. khususnya dalam forum Komite Sekolah.

Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Prof. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Dr. (1991). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. (2) evaluasi program.(1995). Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Makalah . W. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Counselors Role in a Changing 98 . 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Sementara itu. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. 1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. (2001). Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. (1995). dan (3) evaluasi hasil. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2.S. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural.. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat .(1994). Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. (1997).

gov/sspw/counsl1. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. 2004.dpi. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). Bandung : Alfabeta.wisconsin. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. 2008 99 .html Sofyan S. Konseling Individual. Teori dan Praktek. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Willis. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. guru.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. (d) strategi pelayanan. kunjungan rumah. audio visual. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. 2. bimbingan klasikal. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. konseling kelompok. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . berbentuk : 1. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. konsultasi. Kendati demikian. media cetak : liflet. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. audio. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Laporan hasil evaluasi program. proses.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. catatan anekdot. Dalam hal ini. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. bimbingan kelompok. Laporan semesteran/tahunan 6. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Daftar konseli 3. bibliokonseling. buku saku) 7. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Laporan bulanan 5. (c) pemilihan instrumen/media. kotak masalah.

Tujuan Umum 3. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. konselor. sosial. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. dan masalah-masalahnya belajar. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu. Demikian pula. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. Wilayah Gerak 2.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. karier. Sebaliknya. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. Selengkapnya. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi.

M. Dr. sosial.Pd. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). tapi siswa tetap yang harus memikirkan. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Jakarta F. katanya. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.” ujarnya. Willis. “Alternatif bisa diusulkan guru. Padahal.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. Belitung. bukan yang memiliki masalah saja. Selain terlalu sering memberikan nasihat. Karenanya. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. Prof. Yang baik. Sofyan S. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan.. Menurut dia. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. alternatif juga dari dia (siswa-red). H. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Terutama. 102 . belajar dan karier. 2007.” ungkapnya. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. Menurut dia. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Jl. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah.

(3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. (5) yang dilandasi sikap. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. 6 September 2006. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). layanan etis normatif. Dr. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. 103 . Karenanya. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. hal. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Supaya konseling cukup efektif. nilai. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor.melalui pendidikan. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan.pikiran-rakyat. dan bukan layanan bebas nilai. ia mengungkapkan. Menurut Sofyan. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. menggunakan penyikapan yang empatik. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Berkaitan dengan peran sekolah. Sunaryo Kartadinata. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).com/cetak/2006/042006/07/0702. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Sumber : http://www. Saat melakukan konseling. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7.

Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. serta berguna untuk manusia lain. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Dalam hal ini.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. sejahtera. akademik. melalui direct behavioral consultation. Menurutnya. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. terutama guru pendidikan khusus.. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. pribadi-sosial. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. misalnya melalui asesmen psikologis. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. dan karier. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. Selain itu. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. seni dan sebagainya 104 . Pada jenjang SMP dan SMA. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu.. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. seperti dalam olah raga. Misalnya. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.

Pd. Jawaban singkatnya. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”..singkatnya pertanyaan itu. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Empat tahun kemudian.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Sumber : Sunayo Kartadinata. Ditjen PMPTK. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP.Atas semua itu. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Setelah keluar dari ruangan BP.Pikiran Rakyat. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. BSNP. M. hal. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. 6 September 2006. sekitar 32 tahun yang lalu. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia).

tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan.. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu.Begitu juga. Akhirnya. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Pada awal menjadi Guru BP. jika penulis kelak menjadi guru BP. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. Selanjutnya. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Hanya selang satu tahun setelah lulus. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Sebaliknya. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. menggantikan sebutan Guru BP. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. tempat kelahiran penulis.jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa.

Pada tahun 2003. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat.Pd. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Hanya sangat disesalkan. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).SMA pada saat itu. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. dibandingkan dengan masa-masa 107 . untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. meski secara formal istilah ini belum digunakan. M.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Dalam tataran teoritis. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap.harus gigit jari. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. sampai dengan sekarang.

teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Sayangnya.mata pelajaran di sekolah. Meminjam bahasa ekonomi. baik secara personal maupun lembaga. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Contoh kasus terbaru. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. Contoh kasus. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Oleh karena itu. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling.. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. Menurut pandangan penulis. khususnya di kalangan siswa. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . kualitas dan distribusinya. Di sisi lain. 2. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. Sehingga. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita.sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . yaitu : 1. Kesan lama. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. Jika ke depannya. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“.dilaksanakan. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya.Pd. Uman Suherman. Jika tidak. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. M. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling.Pd. M. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Jadi. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. dalam kebijakan sertifikasi guru. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. Dalam dokumen KTSP. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Begitu juga. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. dengan menghadirkan pembicara Dr. *)) Akhmad Sudrajat. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro).

Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Pada saat sedang mengikuti rapat. tidak jelas kerjanya. maupun bidang karier. kepala sekolah. sosio-personal. 2. baik dalam bidang akademik. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. 110 . 6. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. 3. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. Misalnya. oleh siswa. atau tahunan. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). 1.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. baik laporan harian. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. bulanan. 4. guru mata pelajaran.

M. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . Rachmat Setiawan. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. Dalam jadwal resmi. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. maka atas seijin panitia setempat. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Bapak Drs. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. M.Pd. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. Untuk itu. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. H. Tentunya saya berharap.

karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali.G. Nilai dan Moral (ANM). telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). dan (10) Waktu Senggang (WSG). Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). setelah dilakukan input data terlebih dahulu. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. pengembangan maupun kuratif. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Sayangnya. dkk. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. mudah dan akurat. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. Tentunya. Melalui analisis data berbasis komputer ini. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). (2) Diri Pribadi (DPI). Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (7) Agama. baik yang bersifat preventif. Kendati demikian. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). (3) Hubungan Sosial (HSO). Untuk kepentingan analisis data. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12.

3. 4. dkk. (f) kurang introspeksi. (c) beorientasi hari ini. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. (d) bertindak dengan motif dangkal. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Konformistik. dan perspektif diri. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Impulsif. (c) peduli akan aturan eksternal. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. (c) mampu melihat keragaman emosi. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. (d orientasi pemecahan masalah. 2. (b) berfikir sterotip dan klise. Sadar Diri. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. Perlindungan Diri. Seksama. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. motif. (b) bergantung pada lingkungan. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. Dengan alat ITP. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (g) takut tidak diterima kelompok. Anda dapat men-download materi tersebut. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (e) memikirkan cara hidup.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (d) peduli akan hubungan 113 . (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan.

Individualistik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. seperti keadilan sosial. (4) kematangan intelektual. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. 6. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. ( kemandirian perilaku ekonomi. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (e) peduli akan self fulfillment. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Yang diskor 40 soal. (9) wawasan dan persiapan karir. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP.Yang diskor 40 soal. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. 7. Hasil duplikasi diletakkan di 114 . (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. Yang diskor 66 soal. (c) peduli akan paham abstrak. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa.. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (2) landasaan perilaku etis. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Yang diskor 66 soal. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (5) kesadaran tanggung jawab. (3) kematangan emosional. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan.mutualistik. (g) mengenal kompleksitas diri. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. Otonomi.

dan penggabungan kelompok.Analisis per individu.5 115 . penghitungan skor konsistensi.bagian akhir angket. cara ini akan memakan waktu. Manajemen data. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. Proses penyekoran. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. grafik distribusi frekuensi konsistensi. distribusi frekuensi nilai. Multi window. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Impor data dari file Microsoft Excel. yang terdiri atas: profil individual. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. yang terdiri atas: profil kelompok. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Semakin tinggi skor konsistensi. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. Namun. Dengan ATP. delapan butir tertinggi dan terendah. untuk jumlah siswa yang besar. Manual Guide ATP Versi 3. dkk . cepat dan menyenangkan. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Sumber : Sunaryo. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu.Analisis kelompok.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful