A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

1995. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Management. Landasan Bimbingan dan Konseling. (3) landasan sosial-budaya. landasan filosofis. Sebagai sebuah layanan profesional. 4 . Boston : Allyn & Bacon. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. . pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. M. (1987). religius dan yuridis-formal. Uman Suherman. Educational Psychology. M.dan Juntika N. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. A. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. (1996). Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Remaja Rosda Karya. (2) landasan psikologis. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Bandung : PT. Vol 24 No. Kata kunci : bimbingan dan konseling. Anita E.——–. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Stoner. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. (2005). 3 July’96. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. London : Prentice-Hall International Inc. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr.Pd. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25.Pd. landasan sosial-budaya. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. James A. Woolfolk. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. landasan psikologis. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling.

tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. para penulis Barat . dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. yaitu landasan filosofis. khususnya bagi para konselor. Patterson.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. landasan sosial-budaya. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. landasan psikologis. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. Dengan kata lain. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Secara teoritik.tentang landasan bimbingan dan konseling. Demikian pula. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. dalam Prayitno. B. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. Ibarat sebuah bangunan.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. Alblaster & Lukes. dengan layanan bimbingan dan konseling.(Victor Frankl. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Thompson & Rudolph. etis maupun estetis. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh.. Selanjutnya. Oleh karena itu. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. 5 ..

Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. normal atau bahkan sangat kurang (debil. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. golongan darah. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Misalnya dalam kecerdasan. a. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Manusia memiliki dimensi fisik.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. bakat. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. seperti rekreasi. seperti struktur otot. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. embisil atau ideot). menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. ada yang sangat tinggi (jenius). Manusia pada hakikatnya positif. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. warna kulit. Demikian pula dengan lingkungan. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. dan (e) kepribadian. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. (c) perkembangan individu. 2. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. (d) belajar. kecerdasan. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. (b) pembawaan dan lingkungan.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. b. yang mencakup aspek psiko-fisik. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. seperti : rasa lapar.

Tanpa belajar. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. moral dan sosial. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Hall dan Gardner Lindzey. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. e. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. ketegangan emosional. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap.. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Allport (Calvin S. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. baik dalam aspek kognitif. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. 7 . (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. c. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. frustrasi dan konflik. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. d. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. bahasa dan kognitif/kecerdasan. dan (3) Teori Belajar Gestalt. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Manusia belajar untuk hidup.dan menjadi tersia-siakan. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. afektif maupun psikomotor/keterampilan.memadai.

Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Seperti mau menerima resiko secara wajar. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Oleh karena itu. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. teori Personologi dari Murray. Responsibilitas (tanggung jawab). yaitu disposisi reaktif seorang. sedih. Fromm. psikologi perkembangan. Begitu pula. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. cuci tangan. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Sikap. hormon. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. maka 8 . yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Stabilitas emosi. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. yang mencakup : • • • • • • Karakter. atau putus asa. tampang. Teori Psikologi Individual dari Allport. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. Teori Medan dari Kurt Lewin. Temperamen. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sementara itu. Seperti mudah tidaknya tersinggung. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Watson. Selain itu. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Sosiabilitas. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Horney dan Sullivan. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. 3. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Hull. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. yaitu bidang psikologi umum. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. negatif atau ambivalen. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). sambutan terhadap objek yang bersifat positif.

tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. dan (e) kecemasan. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. yaitu kesamaan di atas keragaman. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. sosiologi. prosedur tes. pemikiran. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. wawancara. Menurut Gausel (Prayitno. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. analisis dokumen. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. (b) komunikasi non-verbal. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. ilmu hukum dan agama. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. seperti : psikologi. yaitu : (a) perbedaan bahasa. biologi. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. filsafat. evaluasi. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. seperti: pengamatan. manajemen. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. statistik. ilmu pendidikan. dan bahkan mungkin bertolak belakang. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. 4. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. ilmu ekonomi. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. antroplogi. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. (d) kecenderungan menilai. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Sejalan dengan perkembangan teknologi. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. 2003). Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. (c) stereotipe. Moh. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno.

pendidikan. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. dalam bentuk “cyber counseling”. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dikemukakan pula. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Sebagai ilmuwan. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Undang – Undang. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. C. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Moh. Peraturan Pemerintah. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. 10 . Ditegaskan pula oleh Moh. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama.

2003. 2004.. 2005. Theory Into Practice. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Supratiknya). Remaja Rosdakarya.M. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Bandung PPB . Arifin. Elizabeth B. New York : McMillan Publishing. (d) belajar. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Psikologi Pendidikan. (c) perkembangan individu. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Hurlock. Jakarta.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. (b) pembawaan dan lingkungan.IKIP Bandung . 11 . Nana Syaodih Sukmadinata. Margaret E. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. (c) landasan sosial-budaya. Bandung : P. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jakarta : PT Raja Grafindo. Hall & Gardner Lidzey (editor A. landasan religius dan landasan yuridis-formal. 2005. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah).———-2006. Gerlald Corey. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. dan (d) kepribadian. meliputi : (a) motif dan motivasi. Bandung : Refika Gerungan 1964. Developmental Phsychology. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. 1980.1992. PT Golden Terayon Press. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Surya. Psikologi Sosial. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Majalengka : Sanggar BK SMP.T. E. Bandung : PT ErescoH. 2003. (b) landasan psikologis. 2003. Psikologi Belajar. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Learning & Instruction. 1997. Calvin S. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Koswara). 2003.

Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Jakarta : Depdiknas . Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2004. belajar (akademik). kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Sekolah/Madrasah. dan tugas-tugas perkem-bangannya. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain.——–2003. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). Syamsu Yusuf LN. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. kekuatan. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Willis. 2003. dkk. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali. 1984. 1. Teori dan Praktek. pergaulan dengan teman sebaya.Konseling Individual. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S.Prayitno. tempat kerja. keluarga. baik dalam kehidupan pribadi. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. dkk. dan karir.———-. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta 12 . maupun lingkungan kerja. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.2005. Teori-Teori Psikologi Sosial. masyarakat. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. 2004. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. maupun masyarakat pada umumnya. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. 2004. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata.. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Jakarta : Rineka Cipta . Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.

yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. 3. tanpa merasa rendah diri. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. Mengenal keterampilan. 13 . mengerjakan tugas-tugas. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Oleh karena itu. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Memiliki rasa tanggung jawab. persaudaraan. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. seperti kebiasaan membaca buku. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Dapat membentuk pola-pola karir. baik fisik maupun psikis. dan kesejahteraan kerja. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. atau silaturahim dengan sesama manusia. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. dan sesuai dengan norma agama. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. disiplin dalam belajar. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. kemampuan. prospek kerja. kemampuan dan minat. 2. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. mengggunakan kamus. mencatat pelajaran. asal bermakna bagi dirinya. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. seperti membuat jadwal belajar. yaitu kecenderungan arah karir. seperti keterampilan membaca buku. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. menghormati atau menghargai orang lain. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

(2005). New York : McGraw Hill Book Company Inc.J. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Bandung: ABKIN Bandura.ncat. Houston : Shell Com. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. New York : MacMillan Publishing Company. (2006). New York: David Mckay. ASCA (American School Counselor Association). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Gibson R. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Havighurts. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.• Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. (Ed. (2003). Merrill Prentice Hall Corey. (2005). The Art of Integrative Counseling. Ellis. CA: Brooks/Cole. R. Departemen Pendidikan Nasional. California : Myfield Publishing Company. J. 2006). T. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). (1956). Browers. Dameron. Engels. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (1995). Depdiknas. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (2001). (1979). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Cobia. Depdiknas. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1953). Alizabeth B. 2006. (2002). Depdiknas. The National Model for School Counseling Programs. Cambridge. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. (1992). (2005). (2006). Judy L. Adolescence. (Eds). DAFTAR RUJUKAN AACE. Jakarta: Puskur Balitbang. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.). Menteri Pendidikan Nasional.W dan J.L. Balitbang Diknas. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Belomont. Donna A. Hurlock. Comm. (1990). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. A. & Henderson.D.H. Draft. VA: AACD. (2003). (1986). Depsiknas. (2003). (2007). Introduction to Counseling and Guidance. UK: Cambridge University Press. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. G. Depdiknas. Debra C.I. Guidance and Counseling in the Schools. Herr Edwin L. Alexandria. & Hatch. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 .edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. & Mitchel M. http://aace. Columbia: The Educational Resources Information Center. New Jersey. Development Taks and Education. D. Child Development. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.Nancy. (2003). Self-Efficacy in Changing Soceties. Patricia A. Handbook of School Counseling.

(2005).Menteri Pendidikan Nasional. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Remaja Rosda Karya. supaya tidak dialami oleh konseli. (2005). (2003). dkk. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. (2003). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Berdasarkan pemahaman ini. Madison : Brown & Benchmark. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan.Ltd.dan Juntika N. Uman Suherman. ——–. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. (2005). Michigan School Counselor Association. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Muro. Sunaryo Kartadinata. (1995). James A. Bandung : Remaja Rosda Karya. Management. Terry. James J. LIPI. Adapun teknik yang 15 . Stoner. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 1995. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Woolfolk. 2. 2004. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT. Fungsi Pemahaman. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Anita E. dan norma agama). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. pekerjaan. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. London : Prentice-Hall International Inc. (1976). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.Pd. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (1996). Human Development. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Educational Psychology. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Vol 24 No. ——–. Boston : Allyn & Bacon. M. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. (1987). Bandung : CV Bani Qureys. 2006. Pikunas. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Pusat Kurikulum. 3 July’96.N. Syamsu Yusuf L. & Kottman. Lustin. Balitbang Depdiknas. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Fungsi Preventif. Melalui fungsi ini. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya.

Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. bakat. tutorial. dan karyawisata. diantaranya : bahayanya minuman keras. 8. dan pergaulan bebas (free sex). Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. belajar. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. informasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Fungsi Perbaikan. Fungsi Adaptasi. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. home room. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. 3. baik menyangkut aspek pribadi. konselor. maupun karir. jurusan atau program studi. Fungsi Pengembangan. Fungsi Fasilitasi. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. yang memfasilitasi perkembangan konseli. sosial. baik anak- 16 . yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. memilih metode dan proses pembelajaran. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. merokok. 4. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. penyalahgunaan obatobatan. Fungsi Penyesuaian. 7. kemampuan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi Penyaluran. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. dan kebutuhan konseli.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. Fungsi Penyembuhan. minat. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. berperasaan dan bertindak (berkehendak). drop out. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. 6. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. dan remedial teaching. 5. 10. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Dalam melaksanakan fungsi ini. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. serasi. dan bimbingan kelompok. baik pria maupun wanita. Fungsi Pemeliharaan. 9. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik.

tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. memberikan dorongan. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. menyesuaikan diri. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. Bimbingan menekankan hal yang positif. remaja. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. yaitu meliputi aspek pribadi. anak. Asas kesukarelaan. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. dan pekerjaan.2. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. 1. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. pendidikan. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Asas keterbukaan. 6. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. 5. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). dan peluang untuk berkembang. 4. perusahaan/industri. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. tetapi juga di lingkungan keluarga. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. maupun dewasa. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. Asas Kerahasiaan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. 3. dan masyarakat pada umumnya. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. sosial. 2. Mereka bekerja sebagai teamwork. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 3. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. 17 . meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Agar konseli dapat terbuka.

6.edu 18 . mampu mengambil keputusan. Asas kemandirian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. 8. Asas Keharmonisan. ilmu pengetahuan. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas Alih Tangan Kasus. Dalam hal ini. 11. Asas kegiatan. Lebih jauh. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. http://aace. menghayati. DAFTAR RUJUKAN AACE.4. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. (2003). yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. atau ahli lain . harmonis. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas Kekinian. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. guruguru lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. hukum dan peraturan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. dan terpadu. dan kebiasaan yang berlaku. tidak monoton. adat istiadat. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Asas Keterpaduan. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Asas Kedinamisan. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. 10. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. 5.ncat. 9. Asas Keahlian. 7. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. saling menunjang. yaitu nilai dan norma agama. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

Merrill Prentice Hall Corey. Houston : Shell Com. UK: Cambridge University Press. Ellis. Browers. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.H. (1953). Havighurts. New Jersey. 2006). & Hatch. 2006. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. 2006.W dan J. Dameron. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2006). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. (1992). G. Self-Efficacy in Changing Soceties. Columbia: The Educational Resources Information Center. Guidance and Counseling in the Schools. Menteri Pendidikan Nasional. Hurlock. Judy L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1995). Draft. (2005). Jakarta: Puskur Balitbang. (1956). New York : MacMillan Publishing Company. CA: Brooks/Cole. Belomont. (2003). (2007).D.L. Cobia. Bandung: ABKIN Bandura. Introduction to Counseling and Guidance. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Michigan School Counselor Association. ASCA (American School Counselor Association). Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Debra C. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Patricia A. Development Taks and Education. 19 . Depdiknas. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). T.I. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. The National Model for School Counseling Programs. Depdiknas. (2002). New York : McGraw Hill Book Company Inc.Nancy. R. Adolescence. J. (2003).J. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. & Henderson. Comm. (Ed. (2005). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Depdiknas. & Mitchel M. California : Myfield Publishing Company. (2006). Herr Edwin L.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Gibson R. Child Development. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (1990). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Balitbang Diknas. Donna A. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. Handbook of School Counseling.). Alexandria. Alizabeth B. (2003). Depsiknas. (1979). Depdiknas. (2005). A. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Cambridge. New York: David Mckay. (Eds). (1986). The Art of Integrative Counseling. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. VA: AACD. Engels. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (2001). (2005). Departemen Pendidikan Nasional. Penataan Pendidikan Profesional Konselor.

yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. serta memilih dan mengambil keputusan karir.Pd. Terry. Remaja Rosda Karya. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. Pengembangan karir. (1976).dan Juntika N. Bandung : Remaja Rosda Karya. Bandung : PT. Woolfolk. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Uman Suherman. (2005). Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (2003). Pusat Kurikulum. Bandung : CV Bani Qureys. Vol 24 No. Educational Psychology. ——–. Lustin. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Landasan Bimbingan dan Konseling. Management. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. 3 July’96. bakat dan minat. Balitbang Depdiknas. Pikunas. Syamsu Yusuf L. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Pengembangan kemampuan belajar. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. & Kottman. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1996).Ltd. (1987). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. 20 . Pengembangan kehidupan sosial. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. (1995).N. Human Development. 1995. menilai. Boston : Allyn & Bacon. anggota keluarga. London : Prentice-Hall International Inc. 2004. ——–. M. James J. Anita E. (2005). Madison : Brown & Benchmark. dkk. James A. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI.Muro. (2003). Stoner. LIPI. Sunaryo Kartadinata.

kelompok belajar. Layanan Informasi. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. magang. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. diantaranya: Layanan Orientasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. program latihan. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. sosial. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. karier. Layanan Konseling Perorangan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dalam bidang pribadi. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. kegiatan ko/ekstra kurikuler. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Bimbingan Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Penempatan dan Penyaluran. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. pergaulan. • • • • Layanan Konten. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. jurusan/program studi. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. pendidikan lanjutan). serta untuk 21 .

pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :

Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

22

Konsep Bimbingan Karier
Diterbitkan Februari 7, 2008

oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh, yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900), diantaranya : (1) keadaan ekonomi; (2) keadaan sosial, seperti urbanisasi; (3) kondisi ideologis, seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya; dan (4) perkembangan ilmu (scientific), khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner, Helmotz dan Wundt, psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel, Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut, maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites, 1981 dalam Bahrul Falah, 1987). Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun sejak tahun 1951, para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Sedangkan pada model karier, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.

23

Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

24

Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Jakarta : BP3K. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. perusahaan. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. belajar ataupun kariernya. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). baik yang berhubungan kehidupan pribadi. bermasyarakat. 2. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. Diantaranya. dkk.. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. (Muslihudin. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. 4. sosial. 6. Bandung : LPMP Jawa Barat. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. dkk. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. 5. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Bimbingan dan Konseling (Makalah).1. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Ke Arah Pengertian Developmental. Hattari. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . mereka mempertanyakan. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. 2004) Sumber : Bahrul Falah. M. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. 1983. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. belajar maupun kariernya. sosial. berbangsa dan bernegara. 1987. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. Namun.Pd. 2004. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. 3. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak.

Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Untuk itulah. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. minat. seperti kondisi sosio-kultural. Dalam hal ini. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. cita-cita. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Untuk itulah. Namun. pasar kerja. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. Karena. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. materi informasi yang bersifat personal. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. jenis dan prospek pekerjaan. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. dan sebagainya. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. baik tentang bakat. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. ciri-ciri pekerjaan. baik melalui media cetak atau eleltronik. bakat. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Di samping itu. ciri-ciri 26 . yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Materi Informasi. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. seperti kecerdasan. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. persyaratan. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. jenis pekerjaan. seperti bakat. karier. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri.

Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Selain itu. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. artikel. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. berdasarkan hasil pengalamannya.kepribadian. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. dalam rangka menambah wawasan. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. Sebagaimana telah disinggung di atas. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa.Jakarta : IPBI 27 . Misalkan. atau minat pekerjaannya. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. keterangan. (1995). konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Selain itu. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Dalam hal ini. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Untuk itu. Dari hasil kunjungan. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet.

karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. (1997). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. 2. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. W. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.S. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Begitu pula. pelayanan responsif. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . (1991). namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. perencanaan individual. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. yaitu sama-sama menginginkan 28 . Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Dalam hal ini. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling.

melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. penguatan mental/psikis. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. 6. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. 5. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. pengubahan lingkungan. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). mendiagnosis. baik untuk kepentingan pencegahan. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Misalkan. serta teknis medis lainnya. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. 7. 3. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. modifikasi perilaku. Masalahnya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. 29 . khususnya dalam rangka pelayanan responsif. Kendati demikian. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal.

Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. penunjuk jalan.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua.siswa. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. disiplin dan keamanan di sekolah. Konselor adalah kawan pengiring. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. 10.sosial. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Begitu pula sebaliknya.dan piha-pihak lain. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Pekerjaan yang 30 . terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Namun demikian. 9. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. pemberi informasi.dan lingkungan. pembangun kekuatan. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. Di sekolah misalnya. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8.guru. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. orang tua. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. seperti “praktik pribadi”.

profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”.Oleh sebab itu. 11. Dengan kata lain. Pada dasarnya. Bahkan sering kali terjadi.Sementara itu. bersikap “jemput bola”. ada dan digunakannya instrumen (tes. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. pihak lain pun. Konselor harus aktif. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. dan sarana yang tersedia. tujuan yang ingin dicapai. jenis dan sifat masalah.inventori.Lebih jauh. Sedangkan jawaban ”tidak”. tujuan.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. 12. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. guru pembimbing memang harus aktif. dalam hal ini konselor. Jawaban ”benar”. dan asas-asas tertentu). 14.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. metode. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. maka hasilnya akan kurang mantap.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 .pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Di sekolah. terutama klien. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. 13. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. menghambat. tersendat-sendat. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional.

. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Misalkan. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.2003. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 .15. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1.

Selama mengikuti pelatihan. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. Layanan Dasar. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. M.(lihat 1. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. bertempat di Cikole Lembang Bandung. memperoleh keterampilan hidup.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis. Ketika membuka kegiatan pelatihan. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. Dr. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. Prof. selaku ketua PB. Hal yang cukup mengagetkan penulis. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok.ABKIN. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. memiliki mental yang sehat. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. yaitu : 1. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Sunaryo. standar kompetensi konselor. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal.Pd. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. 33 . 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“.

dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. manajemen program.Pd. Syamsu Yusuf L. baik dalam Kurikulum 1975. dan masyarakat yang lebih luas. Untuk lebih jelasnya. M. merencanakan. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. M.2. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. Selain itu. Uman Suherman. mau pun Kurikulum 1994. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan.Pd. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. konsultasi dengan guru lain. atau mengelola pengembangan dirinya. Agus Taufiq. 4. M. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. konseling individual. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.Pd.. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. dan penelitian dan pengembangan. 3. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . staf ahli.N. dan Dr. Kurikulum 1984. belajar. Uman Suherman. Layanan Perencanaan Individual. Layanan dukungan sistem. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. baik menyangkut aspek pribadi. memelihara. maupun karier. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. konseling kelompok.Pd. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. M. hubungan masyarakat dan staf. A. Perbedaannya. Dr. referal dan bimbingan teman sebaya. sosial. Layanan Responsif. penasihatan individual atau kelompok.

guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Kendati demikian. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. proses. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. konsultasi. 2. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. audio. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. berbentuk : 1. catatan anekdot. buku saku) 7.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Daftar konseli 3. bimbingan kelompok. bibliokonseling.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. (d) strategi pelayanan. Laporan hasil evaluasi program. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Laporan bulanan 5. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. konseling kelompok. Laporan semesteran/tahunan 6. kunjungan rumah. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Dalam hal ini. media cetak : liflet. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. kotak masalah. bimbingan klasikal. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. audio visual. (c) pemilihan instrumen/media. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2.

B.

PROSEDUR, PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Mei 31, 2008

Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus; (B) Identifikasi masalah; (C) Diagnosis; (D) Prognosis; (E) Treatment; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni : 1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

36

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; ( hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang. C. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus - kasus yang dihadapi. E. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). F. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:

37

1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas; 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 2. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.

38

Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. berisi : (1) Kontrak waktu. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. M. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Membuat penaksiran dan perjajagan. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. terutama asas kerahasiaan. (2) Kontrak tugas. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Menegosiasikan kontrak. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. A. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Oleh karena itu. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). keterbukaan.Pd. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. (2) tahap inti (tahap kerja). kesukarelaan. 39 . dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. B. Secara umum. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. dan kegiatan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien.

rational emotive therapy (RET).Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. gestalt. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. C. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). psikoanaliss. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. dan trait and factor. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. sehat dan dinamis. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. M. baik oleh pihak konselor maupun klien. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. yaitu . (1) menurunnya kecemasan klien. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme.tugas profesionalnya. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Dr. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Dalam bentuk tayangan slide. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. DYP Sugiharto.

2. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (b) pembiasaan operan. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. B. 2008 A. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. 4. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. 3. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. 41 . (c) peniruan. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar.

2. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. 4. Konselor aktif : 1. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. 3. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. tingkah laku penyesuaian. kekuatan dan kelemahannya. 42 . Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. Feedback. (b) apakah tujuan itu realistik. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. (c) kemungkinan manfaatnya. dan (d)k emungkinan kerugiannya. 5. pola hubungan interpersonal. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Technique implementation.D. Assesment. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. Evaluation termination. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Goal setting. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. atau melakukan referal.

Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. atau contoh nyata langsung). Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. kesulitan menyatakan tidak. dapat menggunakan model audio. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. (Makalah) 43 .• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Pendekatan-Pendekatan Konseling. model fisik. DYP Sugiharto. Sumber : Dr. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. tape recorder. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.Pd. M. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film.

(2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. otak. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. pera-saan. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. pasif. Under dog adalah keadaan defensif. menuntut. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. perasaan. tidak berdaya. 2008 A. rasa diabaikan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. kemarahan. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. sakit hati. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. kedudukan. membela diri. rasa berdosa. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. dan sebagainya. mengancam. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. kecemasan. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. (3) aktor bukan reaktor. ingin dimaklumi. persepsi. Dalam pendekatan ini. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). kebencian.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. maka mereka mengalami kecemasan. dan pemikirannya. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. dan tingkah lakunya 44 . lemah. jantung. emosi. Meskipun tidak bisa diungkapkan. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. B.

Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. memahami kenyataan atau realitas. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. serta mendapatkan insight secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. C. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. D. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. interpretasi maupun memberi nasihat. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. 45 . melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt.

Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. perasaan-perasaannya. Fase kedua. perasaan. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. dan tingkah lakunya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. dalam situasi di sini dan saat ini. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Dalam hal ini. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Teknik Konseling 46 . Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. atau gila. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. dirinya tidak berdaya. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Fase keempat. bodoh. konselor mengembangkan pertemuan konseling. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. Melalui fase ini. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Fase ketiga.

konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. Dalam kaitan itu. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Orientasi Sekarang dan Di Sini. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Orientasi Eksperiensial. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien.

dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. (Makalah) 48 . perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. M. Meskipun tampaknya mekanis. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. “Saya malas. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Sumber : Dr. DYP Sugiharto.Sering terjadi.Pd.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang.

Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. kelulusan bagi siswa. B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. interpretasi. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. dan kompeten. (c) orang tua atau masyarakat 49 . yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB).Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. pandangan. yaitu Antecedent event (A). (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). kejadian. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. tingkah laku. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. 2008 A. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. antara kenyatan dan imajinasi. Perceraian suatu keluarga.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. atau sikap orang lain. yang dapat diterima menurut akal sehat. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Belief (B). Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. dan Emotional consequence (C). nilai. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. bijaksana.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Keyakinan seseorang ada dua macam. dan irasional. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. tidak masuk akal. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. dan keran itu tidak produktif. sangat personal. emosional. dan kerana itu menjadi prosuktif. Belief (B) yaitu keyakinan. kekhawatiran. masuk akal. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. bahagia.

meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. D. Kedua. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (3) pengarahan diri. (4) toleransi terhadap pihak lain. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. dan dihukum. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. C. rasa cemas. (6) menerima ketidakpastian. disalahkan. dan (10) menerima kenyataan. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. (2) minat sosial. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. jahat. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. persepsi. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. rasa marah. merusak. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. bencana yang dahsyat. merasa was-was. Ketiga. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. rasa bersalah. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. mengerikan.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. (9) berani mengambil risiko. rasa berdosa. (5) fleksibel. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. ( penerimaan diri. cara berpikir. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.

Aktif-direktif. Kognitif-eksperiensial. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. 3. E. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. afektif. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. 4. mendorong. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Emotif-ekspreriensial. 2. Behavioristik. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 .

Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. M. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. atau meniru model-model sosial. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. membiasakan diri. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. mengobservasi. Sumber : Dr. Pendekatan-Pendekatan Konseling. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). latihan.Pd. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. DYP Sugiharto. Dengan memberikan reward ataupun punishment. (Makalah) 52 . dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. Dengan tugas rumah yang diberikan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. 2. ego. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. terutama usia 2-5 tahun. D. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. disikusikan. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. Hakikat manusia. dan super ego C. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. untuk ditata. Menutup wawancara konseling E. Konsep Dasar 1. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. konflik dan simbolisme. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. Deskripsi Proses Konseling 1. yaitu id. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Manusia secara esensial bersifat biologis. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. 2008 A. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Klien diminta 53 .

2. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Konselor menetapkan. Analisis mimpi. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Dalam hal ini. Hal ini disebut juga katarsis.• • • • mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. baik dalam asosiasi bebas. Dengan perkataan lain. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. B. 3. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. objektif. seksualitas. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Manusia tidak pernah statis. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. 2008 A. resistensi. Transferensi adalah mengalihkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Manusia merupakan seseorang yang ada. Analisis resistensi. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. pengalamannya tertekan. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. resistensi berati penolakan. Menurut Freud. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. dan transferensi klien. resitensi dan transferensi. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Interpretasi. Konsep Dasar: 1. kebencian. asosiasi bebas. mimpi. 54 . anonim. Memandang manusia sebagai individu yang unik. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda.

Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. yang unik. (5) encouragement (memberi dorongan). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. 2007. Teori dan Praktek. 2.C. D. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Tujuan Konseling 1. (3) understanding (pemahaman). Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). Willis. Memperbaiki dan mengubah sikap. Rogers. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. 5. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Konseling Individual. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). Sumber: Sayekti. 4. Bandung: Alfabeta 55 . (3) mengarahkan diri. persepsi cara berfikir. E. 1997. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. (4) reassurance (menentramkan hati). 3. (4) mewujudkan dirinya. (2) respect (rasa hormat). keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. 4. Deskripsi Proses Konseling 1. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. (2) mengambil keputusan yang tepat. Saya adalah saya 2. 3.

Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. 2. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. diperbaiki. Menurutnya. 2. 2008 A. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. 4. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Tanggung jawab 56 . Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. dianalisis dan ditafsirkan. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. 3. sebagai pengalaman yang berharga. yang hadir di seluruh kehidupannya. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. 5. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. 3.

Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 57 . dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. 4. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya.dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. Moralist. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya. Penyalur tanggung jawab. 6. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. Pengikat janji (contractor). 7. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan. 6. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. 2. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. 3. 2. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. Guru. baik berupa limit waktu. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 5. yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata. 3. D.. Menggunakan role playing dengan konseli 2. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Motivator. 5. Tujuan Terapi 1. ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 5. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. C. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 4.

di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. 8. ceria. diantaranya : A. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Posisi tubuh : tegak kaku. tidak melihat saat klien sedang bicara. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. ekspresi melamun. Teori dan Praktek. Untuk lebih jelasnya. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Willis. Empati dilakukan sejalan 58 .7. Memutuskan pembicaraan. Konseling Individual. Bandung: Alfabeta. B. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. 2. Contoh perilaku attending yang tidak baik : • • • • • Kepala : kaku Muka : kaku. mengalihkan pandangan. mudah buyar oleh gangguan luar. Contoh perilaku attending yang baik : • • • • • Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Meningkatkan harga diri klien. bersandar. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. duduk kurang akrab dan berpaling. dan bahasa lisan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. 2007. menunggu ucapan klien hingga selesai. menggunakan tangan sebagai isyarat. jarak duduk dengan klien menjauh. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Menciptakan suasana yang aman 3. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. bahasa tubuh. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Sumber: Sayekti. Perhatian : terpecah. 2008 Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Teknik Umum Konseling (1) Diterbitkan Januari 15. miring. 1997. mata melotot. perhatian terarah pada lawan bicara. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien.

tertekan dan terancam. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. dan pendapat klien. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. 2. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. berupa perasaan. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah …. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. pengalaman termasuk penderitaannya. pikiran. yaitu teknik untuk menggali ide. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. C. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi.” 2. Empati tingkat tinggi. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Eksplorasi perasaan. menutup diri. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran. Empati primer.” Saya mengerti keinginan Anda”.” 2. Eksplorasi pengalaman.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. pikiran dan keinginan klien. yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. yaitu : 1. Eksplorasi pikiran. 59 . yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. pikiran. pikiran. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Refleksi perasaan. Refleksi pikiran. Terdapat dua macam empati. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. yaitu : 1. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan.dengan perilaku attending. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. pikiran. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. dan pengalaman klien. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. 3. Refleksi pengalaman. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. yaitu : 1. yaitu teknik untuk memantulkan ide.

lebih baik gunakan kata tanya apakah. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. adakah. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dapatkah. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . Oleh karenanya. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan .dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.” F. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. bagaimana. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. lalu…. (3) memberi arah wawancara konseling. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup.. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. terus….Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. ya…. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.

Teori dan Praktek. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Karena tantangan masa depan makin banyak. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Bandung : Alfabeta H. Arifin. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap.” Sumber : Sofyan S. bukan pandangan subyektif konselor. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. J. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).” K. Saya tak dapat lagi menahan diri. Jakarta. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Willis. Jakarta : PPPG 61 . karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. PT Golden Terayon Press. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.M.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. (3) meningkatkan kualitas diskusi.Konseling Individual. kedua. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.I. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.(2005. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. 2004. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Sugiharto. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Membantu orang tua memang harus. 2003.

Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Fokus pada orang lain. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Contoh : ” Roni. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. senyum dengan kepedihan. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati.” C.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Fokus mengenai budaya. telah membuat kamu menderita. Fokus pada diri klien. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. diantaranya : 1. 2008 A. Oleh karena itu. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. konflik. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. ide awal dengan ide berikutnya. 2. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Ada beberapa yang dapat dilakukan. (2) meningkatkan potensi klien. 4. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Fokus pada topik. atau kontradiksi dalam dirinya. Contoh dialog : 62 . Pada umumnya dalam wawancara konseling. dan sebagainya. Contoh : ” Tanti. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita.

. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. tidak tahu. Walaupun demikian. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. ibu. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Konselor :”…………. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. dan dengan alasan-alasan yang logis. sering diam. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”.. D. 63 .” (diam) Klien :” Saya. (2) agar klien menjelaskan.Klien : ” Saya baik-baik saja”... Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. ungkapan kata-kata yang tegas. Coba Anda renungkan kembali”. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. dan pengalamannya secara bebas. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.” E. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.(suara rendah.” F.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. dan kurang parisipatif. kurang jelas dan agak meragukan. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. paling lama 5 – 10 detik. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. pikiran. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. posisi tubuh gelisah). atau saudara-saudara Anda. wajah murung. G. Saya.” (diam) G. Contoh: ” Baiklah.harus bagaimana.

jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Willis. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Jakarta : PPPG Teknik Khusus Konseling Diterbitkan Januari 15. (3) pemahaman baru klien.M. Sofyan S. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia.Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. terutama mengenai kecemasan.com di internet”. Arifin. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Bandung : Alfabeta H. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Sugiharto. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling.upi. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J.Konseling Individual. I. 2004. Contoh : ” Nah. Teori dan Praktek. seperti pendekatan Behaviorisme. Jakarta. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Kalau pun konselor mengetahuinya. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Rational Emotive Theraphy. (2) memantapkan rencana klien. 2008 Dalam konseling. yaitu : 64 .” H. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. 2003. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.(2005. PT Golden Terayon Press.

Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. kesulitan menyatakan tidak. model fisik. 4. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. 5. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. 3. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. dapat menggunakan model audio. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.1. 65 . Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. 2. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya.

Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 9.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. “Saya malas. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. 8. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. 6. 7.

13. 2004. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Arifin. Dengan tugas rumah yang diberikan. Jakarta : PPPG 67 . Sumber : H. Teori dan Praktek. 10. mendorong. Home work assigments. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Sofyan S.Konseling Individual. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. membiasakan diri. Willis. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. 2003. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.(2005. 12.M. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Jakarta. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. 11. PT Golden Terayon Press.

Makin lama perasaan ditolak. susah tak ada/punya teman yang peduli. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. terisolik. terus bertahan. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. mengontrol dunia. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . kurang bersahabat. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. orang lain. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. dan sombong. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. Dasar saya anak desa. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional.

karena saya tak berharga. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Ia menjadi minder. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. pemberian nasehat secara tepat. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Ide-ide ini diajarkan. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. dan seterusnya. pemalu. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. hanya 10% saja yang membeci saya. mengobservasi dan evaluasi diri. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. teliti. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Tekniknya jelas. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. memaki-maki diri saya sendiri. semua teman memperhatikan / mendukung. bermain peran. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. Cara konselor ialah 69 . Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. 50% netral. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. puas dan bangga. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. bahkan adakalanya saya benci. karena saya berharga dihadiratNya. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. tak seperti orang/teman-teman lainnya. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. sugestif. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Allah mengasihi saya. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. peduli. Itu berarti salah saya. Sehubungan dengan kasus. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.dibiarkan terus berlangsung. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses.

Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. (5) menerima kenyataan bahwa. 2. progdi BK PPB. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. S. SUMBER Aryatmi. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. 1998. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. 1991/1995. menantang. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. Corey G. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. Kesimpulannya. 4. Jakarta Surya. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Satya Wacana Semarang.dengan pendekatan yang tegas. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Prayitno. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. 70 . jika kita mengharap untuk berubah. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. M.. Yogyakarta. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). 1998. IKIP Semarang Pres. FIP. Kesegaran hasil yang dicapai. mendebat. Pengantar Teori-teori Konseling.. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. Konseling Pancawashita. 3. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. 1988. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. Kota Kembang. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti.. 1991. IKIP Padang Rosjidan.

termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. Thailand). mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. dan untuk bahan analgesik (Kisker. dan analgesik (Martin. *) Sofyan S. dan Amerika Selatan. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Opium banyak pula ditemukan di Cina. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Cina. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. Pasca RSKO. Kata Kunci: Konseling Terpadu. Pendidikan dan Pelatihan. 1977). Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Konseling Kelompok. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. Mesir. 1977. Vietnam. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. 1977). Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Pemulihan.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. obat lemah badan. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. Turki. pecandu narkoba. dan Asia. terutama remaja. Kunjungan. Konseling Keluarga. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Bagaimana di Eropa. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. malaria. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. tidak menyalahkan pihak luar. Martin. dan Partisipasi Sosial. Australia. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. dan segitiga emas (Kamboja. 22-5-2001). Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. rematik. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Konseling Agama. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Pendahuluan 1. 1977). keluarga.

Hal ini berarti. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. Willis. sehingga narkoba mudah beredar. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. suatu angka yang fantastis.000. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. Minneapolis. VCD.200. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. kolusi. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara.Willis. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. Minnesota. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. 1979). di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. 1989). (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. (c) mencintai keluarga. namun terbentur pada lemahnya hukum. khususnya generasi muda. melalui metode Konseling Terpadu. Sebagai perbandingan.800 miliar. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. 72 . 1995). pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. maka AMK pun menirunya. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. 1. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. Masalahnya. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. 1993). dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. 1978).bulan. Sedangkan. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. 25-52001). faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. 1.000 = Rp. Ulwan. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. 1979). konsumtif. Artinya. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. 2001). Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. dan film-film. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda.200. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi.

serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. kehilangan pekerjaan. sosial. institute nutrition and vitamin therapy. terbuka. akan tumbuh 73 . Jika konselor tidak menguasai soal agama. 2.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. para siswa. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Willis 1995). or back on the job. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. 1980). Hal ini disebabkan oleh sikap empati. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. anggota DPR. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. 2. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. taat ibadah.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. 1977). menerima cobaan hidup dengan tawakal. (3) menerima realita hidup dengan jujur. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. prescribe mood-controlling medications. dan berbuat baik terhadap sesama. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. Selanjutnya. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. and than put the patient back on the street. and back to destructive drinking”. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. terapi nutrisi/vitamin. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. guru-guru BK di sekolah. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. 2. dan fisik. Mann memuji pendekatan Panti St. dan asli (genuine) dari konselor. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. ibu-ibu pengajian. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. back home. memahami. hangat. Sebagai seorang dokter medis. sarjana. bermoral. dan sebagainya. dsb). Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. tokoh-tokoh masyarakat. Melalui interpersonal relation. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. dijauhi orang-orang yang dicintai. spiritual. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. intelektual.

(b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. serta penyesalan terhadap masa lalu. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. Selanjutnya. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. Di samping itu. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. kritikan-kritikan. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. 2. Selanjutnya. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. keluarga.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. 4. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. 1982). dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. 1985). konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Demikian juga. pesan. dan masyarakat. sedangkan pesertanya adalah klien. Di samping itu. saudara. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. 3. 74 .. Selanjutnya. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel.kepercayaan diri klien (Yalom. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. Kemudian. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. percaya diri. orang tua. saudara. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. dan keluarga dekat lainnya. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. ibu. suami. mencemarkan nama keluarga. suami/istri. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. dan sebagainya. keluarga. istri. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. 5. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. pacar. marah. dan masyarakat. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. merusak diri. 2.

Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. dan konseling keluarga. Barbara F. bimbingan kelompok. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Willis. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.go. 2008 Dalam proses konseling. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 .id. Okun (Sofyan S. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Sumber : http://depdiknas. baik perilaku verbal maupun non verbal. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat.

Sebagai lembaga pendidikan. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. 2004. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Konseling Individual: Teori dan Praktek. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Kendati demikian. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . Oleh karena itu. Secara visual. Willis. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun.

Dalam hal ini. berkelahi dengan teman sekolah. keinginan untuk melanjutkan sekolah. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). 77 . maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. Dalam hal ini. Lebih jauh. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Oleh karena itu. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. bertengkar. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. minum minuman keras tahap awal. malas. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. Masalah (kasus) ringan. Sebagai ilustrasi. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. serta hal-hal positif lainnya. seperti: membolos. berpacaran. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah.Dengan melihat gambar di atas. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. mencuri kelas ringan. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Perlu digarisbawahi. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Sofyan S.

seperti: gangguan emosional. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. Secara visual. polisi. pelaku kriminalitas. karena gangguan di keluarga. polisi. minum minuman keras tahap pertengahan. dengan perbuatan menyimpang. ahli/profesional. kesulitan belajar. berpacaran. kecanduan alkohol dan narkotika. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . Masalah (kasus) berat. seperti: gangguan emosional berat. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. C. guru dan sebagainya. mencuri kelas sedang. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. berkelahi antar sekolah. 3. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. melakukan gangguan sosial dan asusila. percobaan bunuh diri. Masalah (kasus) sedang.2. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). siswa hamil. dokter.

sosial.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. non formal. individual. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. personal. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. dan informal. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. C. dasar dan menengah. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. dan khusus. dan sosial konseli. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. kejuruan. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. individualitas. bermoral. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. dan berpotensi. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. dan (f) ersikap demokratis B. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. 2008 A. 2. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. jenjang. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. 4. keagamaan. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. karier. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. 1. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. kebebasan memilih. (b) melakukan 79 . (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. 3. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. akademik. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (c) memfasilitasi perkembangan. 3. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling.

4. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. wali kelas.dan profesi. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. (b) mengkomunikasikan dasar. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. Namun.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. tujuan. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. tujuan. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. dalam bentuk naskah akademik. Sumber : ABKIN. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. orang tua. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). tujuan. 2007. yang di dalamnya 80 . tenaga administrasi) 5. 6.dan profesi. 2008 Dalam Permendiknas No. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. pimpinan sekolah/madrasah. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja.

(10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (9) Wawasan dan kesiapan karier. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. (4) Kematangan intelektual. (3) Kematangan emosi. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (7) Pengembangan diri. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). hemat. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 .mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (6) Kesadaran gender. (2) Landasan perilaku etis.

kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.Jakarta.2007. dalam bentuk naskah akademik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Namun.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. 2008 Dalam Permendiknas No. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. (4) Kematangan intelektual. (6) Kesadaran gender. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (7) Pengembangan diri. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Oleh karena itu. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (3) Kematangan emosi. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).

83 . ulet hidup hemat. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 2008 Dalam Permendiknas No.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. sehari-hari. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. hari.2007. dan persyaratan pekerjaan. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. ulet kewirausahaan hemat. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.Jakarta.

dalam bentuk naskah akademik. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (9) Wawasan dan kesiapan karier. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (2) Landasan perilaku etis. (6) Kesadaran gender. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).Namun. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (4) Kematangan intelektual. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Oleh karena itu. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (3) Kematangan emosi. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (7) Pengembangan diri.

Jakarta. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . sengguhulet. dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.ulet sungguhhemat. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. pendidikan. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.ulet.2007.

86 . dan perencanaan karir dengan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. sengguhulet.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.Jakarta.ulet. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.ulet sungguhhemat. sungguh-sungguh dan sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Tataran/Internalisasi Tujuan Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan dan kesiapan karier 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Simber: Depdiknas.2007. hemat. pendidikan.

Program Semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. 3. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. 2008 A. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. 87 . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. (3) format kegiatan. dan (5) volume/beban tugas konselor. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. 4. yaitu: 1. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Mingguan. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Dilihat dari jenisnya. Program Tahunan. 2. Program Bulanan. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung.D. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. sasaran pelayanan (4) . MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8.

serta alat bantu yang digunakan. B. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. yaitu : (1) perencanaan.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Program Harian. (2) pelaksanaan.5. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. bulanan serta mingguan. dan (2) kegiatan non tatap muka. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. penempatan dan penyaluran. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . tempat. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. waktu. dan (e) waktu dan tempat. dan (3)penilaian 1. B. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. insidental dan keteladanan. kegiatan instrumentasi.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. jenis kegiatan. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. substansi. penguasaan konten. dan pihak-pihak yang terkait.

dan (2) penilaian proses. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN).dalam kelas. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil.. konseling kelompok. 2. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. C. dan alih tangan kasus. dan mediasi. himpunan data. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. 3. menyelenggarakan layanan orientasi. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). kunjungan rumah. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. bimbingan kelompok. Penilaian segera (LAISEG). 89 . yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. pemanfaatan kepustakaan. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. kegiatan konferensi kasus. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. perorangan.

dan pengembangan karir konseli. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. bakat. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. 90 . Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Namun. 2. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. belajar. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1).Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. mengandung arti bahwa bentuk. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. responsif. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. rancangan. 3. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. 1. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. guru.

). D. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Self-Efficacy in Changing Soceties. Depsiknas. Bandung: ABKIN Bandura. Departemen Pendidikan Nasional. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Balitbang Diknas. http://aace. (2006). Cobia.W dan J. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Donna A. G.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.D. Merrill Prentice Hall Corey. (2001). (2007). Handbook of School Counseling. Alexandria. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. 91 . Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Debra C. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2005). (2003). (Eds). (2003). New Jersey. (2005). Belomont. & Henderson. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. The Art of Integrative Counseling. (1995). CA: Brooks/Cole. Engels. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Gambar 1. VA: AACD. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Dameron. A. DAFTAR RUJUKAN AACE. (Ed.ncat. UK: Cambridge University Press. (2003). Cambridge. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Draft.

Alizabeth B.Nancy. (1976). Depdiknas. Muro. Bandung : CV Bani Qureys. 2006. R. ——–. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Havighurts. ——–. Pikunas. James A. London : Prentice-Hall International Inc. (2005). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.N. Columbia: The Educational Resources Information Center.Browers. Ellis. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.J. Balitbang Depdiknas. Menteri Pendidikan Nasional. Bandung : Remaja Rosda Karya.dan Juntika N. New York: David Mckay. dkk. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. New York : MacMillan Publishing Company. Lustin. (2005). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 .I. Terry. (2002). Michigan School Counselor Association. The National Model for School Counseling Programs. Madison : Brown & Benchmark. Jakarta : Balitbang Depdiknas. ASCA (American School Counselor Association). Management. 2006). Child Development. LIPI. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. (2006). 2004. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. J. Pusat Kurikulum. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Comm. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Hurlock. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Remaja Rosda Karya. Syamsu Yusuf L.H. Judy L. (1992).L. Adolescence. T. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2005). Depdiknas. Depdiknas. & Hatch. Landasan Bimbingan dan Konseling. (1987). (1986). California : Myfield Publishing Company. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. James J. (1953). (1995). 2006. Houston : Shell Com. Human Development. (2003). Introduction to Counseling and Guidance. Gibson R.Ltd. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Guidance and Counseling in the Schools. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1979). (2003). Depdiknas. Stoner. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Sunaryo Kartadinata. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Patricia A. (2003). (2005). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (1990). Jakarta: Puskur Balitbang. Bandung : PT. Development Taks and Education. (1956). Herr Edwin L. & Kottman. & Mitchel M.

Pd. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Dalam hal ini. tulisan ini. Oleh karena itu. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Akhmad Sudrajat. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 2008 Oleh : Drs. M. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . M. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Boston : Allyn & Bacon. Woolfolk. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. (1996). Uman Suherman. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 3 July’96. Educational Psychology.Pd. Anita E. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Vol 24 No. Oleh karena itu. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. 1995. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. Sesungguhnya.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G.

atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. Dari sini. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. seperti : malas. petunjuk pelaksanaan. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. Akibatnya. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kata lain. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor dituntut bekerja secara profesional. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. Bagaimanapun. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Maka. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. ketentuan. petunjuk teknis dan sebagainya. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. Secara tidak langsung. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. melalui berbagai bentuk aturan. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa.1.

dengan bercermin dari kekurangan. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Berbekal kesabaran dan ketekunan. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. Sedangkan secara langsung. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. seperti : seminar. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. 2. Sehingga pada gilirannya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. untuk menguasai teknikteknik konseling. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . Misalkan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. Sementara. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Walaupun demikian perlu dicatat. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. penataran dan pelatihan.dalam internet. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Bahkan. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Kemudian. Sekalipun ada.

Namun pada kenyataannya. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Dengan adanya akuntabilitas ini. Artinya. terutama masyarakat dan orang tua siswa. konselor 96 . namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Bagaimanapun masyarakat. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. khususnya kepada bimbingan dan konseling. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Dan pada gilirannya. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Jadi wajar sekali. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. Dalam hal ini. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan.mewakili pihak pemerintah. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. Oleh karena itu. Tentu saja. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik.

khususnya dalam forum Komite Sekolah. Tentu saja. Hal yang perlu dicermati. Dengan sendirinya. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. Dengan kata lain. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Atau secara kreatif. Untuk itulah. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Karena. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. Dr. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. seperti kepala sekolah. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Bahkan bila perlu. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. 97 . Demikianlah. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. Oleh sebab itu. kapan saja diperlukan. dewan sekolah atau siapa pun. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Prayitno. yang berhubungan dengan data siswa. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama.

Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).(1995). (1997). Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 1. W. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Dr. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Prof. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. (1991). Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. (2001). Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan (3) evaluasi hasil. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini.(1994). Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Sementara itu. Makalah . Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997.S. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. (2) evaluasi program. Counselors Role in a Changing 98 . Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. (1995). Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan..

wisconsin. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan.html Sofyan S. Bandung : Alfabeta. Konseling Individual. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. 2004. Willis. guru. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.gov/sspw/counsl1.dpi. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. 2008 99 . Teori dan Praktek.

Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. proses. kunjungan rumah. (c) pemilihan instrumen/media. Laporan semesteran/tahunan 6. Laporan bulanan 5. bimbingan kelompok. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. media cetak : liflet. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Laporan hasil evaluasi program. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. berbentuk : 1. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. konsultasi. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . kotak masalah. Daftar konseli 3.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. audio visual. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. buku saku) 7. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Dalam hal ini. catatan anekdot.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (d) strategi pelayanan. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. audio. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. bimbingan klasikal. konseling kelompok. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. 2. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. bibliokonseling. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Kendati demikian. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas.

Sebaliknya. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. konselor. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. dan masalah-masalahnya belajar.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. Wilayah Gerak 2. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. Demikian pula. sosial. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. karier. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. Tujuan Umum 3. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Sementara itu. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Selengkapnya.

Dr. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. H.” ungkapnya. Menurut dia. 2007. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri. Prof. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Karenanya. Menurut dia. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Jl. Jakarta F. katanya. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat.OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. “Alternatif bisa diusulkan guru. bukan yang memiliki masalah saja. belajar dan karier.” ujarnya. M. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan..Pd. Sofyan S. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. 102 . Selain terlalu sering memberikan nasihat. Terutama. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. alternatif juga dari dia (siswa-red).Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. Padahal. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Willis. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Yang baik. Belitung. sosial. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan.

dan bukan layanan bebas nilai. Berkaitan dengan peran sekolah. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). dan kecenderungan pribadi yang mendukung. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. Dr. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Karenanya. menggunakan penyikapan yang empatik. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. 103 .pikiran-rakyat. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. nilai. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. Menurut Sofyan. layanan etis normatif. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. ia mengungkapkan. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor.melalui pendidikan.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. (5) yang dilandasi sikap. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani.com/cetak/2006/042006/07/0702. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Supaya konseling cukup efektif. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. Sunaryo Kartadinata. Sumber : http://www. hal. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. 6 September 2006.Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. Saat melakukan konseling.

serta berguna untuk manusia lain. Dalam hal ini. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. dan karier. akademik. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. pribadi-sosial. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. melalui direct behavioral consultation. Menurutnya. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya.. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. seni dan sebagainya 104 . Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Pada jenjang SMP dan SMA. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. terutama guru pendidikan khusus. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Selain itu. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. seperti dalam olah raga.Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. Misalnya. misalnya melalui asesmen psikologis. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. sejahtera. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya.

hal. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan 105 . ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi.Atas semua itu. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Empat tahun kemudian. 6 September 2006.singkatnya pertanyaan itu. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti..Pikiran Rakyat. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor.– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. Sumber : Sunayo Kartadinata. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Jawaban singkatnya. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. BSNP. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. sekitar 32 tahun yang lalu. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal.Pd. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. Setelah keluar dari ruangan BP. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. M. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Ditjen PMPTK. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. pada saat akan mengakhiri studi di SMA.

namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. Sebaliknya. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif).Begitu juga. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Pada awal menjadi Guru BP. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang “degradasi”. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. menggantikan sebutan Guru BP..jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. tempat kelahiran penulis. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. Akhirnya. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. penulis hanya memilih satu jurusan saja. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Beliau memberikan analisis panjang lebar. Selanjutnya. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Hanya selang satu tahun setelah lulus. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. sedangkan guru pembimbing terpaksa 106 . sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. jika penulis kelak menjadi guru BP. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif).

M. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama.harus gigit jari.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling.Pd. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. dibandingkan dengan masa-masa 107 . dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. meski secara formal istilah ini belum digunakan. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. Hanya sangat disesalkan. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). Dalam tataran teoritis. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya.SMA pada saat itu. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. Pada tahun 2003. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. sampai dengan sekarang. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan.

Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli..sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . Kesan lama. baik secara personal maupun lembaga. khususnya di kalangan siswa. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. Contoh kasus terbaru. Meminjam bahasa ekonomi. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. kualitas dan distribusinya. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Di sisi lain. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. 2. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. Sehingga. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. Contoh kasus. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya 108 . Menurut pandangan penulis. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). yaitu : 1. Sayangnya.mata pelajaran di sekolah. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Oleh karena itu.

Dalam dokumen KTSP. Jadi. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. Uman Suherman. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. dengan menghadirkan pembicara Dr.Pd. M. M.dilaksanakan. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. Jika tidak. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian 109 . karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil.Pd. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. Begitu juga. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Jika ke depannya. dalam kebijakan sertifikasi guru. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. *)) Akhmad Sudrajat. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya.

Misalnya. 1. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. kepala sekolah. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. 6. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Pada saat sedang mengikuti rapat. 110 . Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. maupun bidang karier. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. 3. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. 4. guru mata pelajaran. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja.Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. sosio-personal. 2. bulanan. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. tidak jelas kerjanya. atau tahunan. baik laporan harian. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. oleh siswa. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. baik dalam bidang akademik.

bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. Untuk itu.M. M. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. maka atas seijin panitia setempat.In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab.Pd. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). Tentunya saya berharap. Rachmat Setiawan. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. Bapak Drs. Dalam jadwal resmi. H. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik 111 . saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM.

dan (10) Waktu Senggang (WSG). kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). ( Hubungan Muda Mudi (HMM). 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Tentunya. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Kendati demikian. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. pengembangan maupun kuratif. mudah dan akurat. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli.G. Untuk kepentingan analisis data. (2) Diri Pribadi (DPI). (3) Hubungan Sosial (HSO). baik yang bersifat preventif. (7) Agama. Melalui analisis data berbasis komputer ini. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). dkk. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat 112 . Nilai dan Moral (ANM). telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Sayangnya. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. Anda dapat men-download materi tersebut. (g) takut tidak diterima kelompok. 3. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (b) berfikir sterotip dan klise. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. (f) kurang introspeksi. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. (c) peduli akan aturan eksternal. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. 2. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Dengan alat ITP. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. 4. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi.Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. Impulsif. Seksama. (b) bergantung pada lingkungan. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. (e) memikirkan cara hidup. (c) mampu melihat keragaman emosi. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. (c) beorientasi hari ini. motif. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (d orientasi pemecahan masalah. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (d) bertindak dengan motif dangkal. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Sadar Diri. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dan perspektif diri. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (d) peduli akan hubungan 113 . (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Konformistik. dkk. Perlindungan Diri. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku.

( kemandirian perilaku ekonomi. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (e) peduli akan self fulfillment. seperti keadilan sosial.Yang diskor 40 soal. (4) kematangan intelektual. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Yang diskor 66 soal.mutualistik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (g) mengenal kompleksitas diri. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. (5) kesadaran tanggung jawab. (c) peduli akan paham abstrak. Yang diskor 66 soal. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. Yang diskor 40 soal. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (3) kematangan emosional. Individualistik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. 6. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Otonomi.. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (2) landasaan perilaku etis. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (9) wawasan dan persiapan karir. 7. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. Hasil duplikasi diletakkan di 114 .

grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Proses penyekoran. cara ini akan memakan waktu. Manual Guide ATP Versi 3. Manajemen data.Analisis per individu. yang terdiri atas: profil kelompok. dkk . Sumber : Sunaryo. penghitungan skor konsistensi. untuk jumlah siswa yang besar. Impor data dari file Microsoft Excel. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Namun. Dengan ATP. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. delapan butir tertinggi dan terendah. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. Multi window. yang terdiri atas: profil individual. grafik distribusi frekuensi konsistensi. Semakin tinggi skor konsistensi. distribusi frekuensi nilai. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual.5 115 . dan penggabungan kelompok.Analisis kelompok. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. cepat dan menyenangkan. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan.bagian akhir angket. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful