KONSEP DASAR KAWASAN PERTAMBANGAN August 2, 2010

Posted by Luhkito in Uncategorized. trackback Sumberdaya mineral yang terdiri dari berbagai mineral, baik yang digolongkan sebagai mineral logam, mineral industri dan bahan bangunan, maupun mineral untuk energi, seperti batubara dan bahan radioaktif serta minyak dan gas bumi, adalah sumberdaya yang tak terbaharukan (non renewable) dan tersebar tidak merata di muka bumi. Sebagai konsekuensi lokasinya yang umumnya berada di bawah permukaan serta penyebarannya yang tidak merata potensi sumberdaya mineral pada suatu daerah hanya dapat diidentifikasi setelah dilakukan serangkaian penyelidikan pada daerah tersebut. Inventarisasi sumberdaya mineral di Jawa Barat telah mengidentifikasi sebaran berbagai jenis bahan galian dengan berbagai tingkatan pemahaman akan status cadangan (dari sumberdaya hipotetik sampai cadangan terbukti/terukur). Atas dasar pertimbangan kualitas dan kuantitas serta aspek daya dukung lingkungan, daerah sebaran sumberdaya mineral dapat dibagi menjadi :

Zona pertambangan, yang terdiri dari zona layak tambang dan zona layak tambang bersyarat. o Daerah pencadangan potensi bahan galian tambang. o Daerah tidak layak tambang.

Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya mineral tidak saja berarti dapat menggali sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan batasan-batasan lingkungan dan keselamatan kerja sejalan dengan prinsip konservasi, tetapi juga mengandung arti bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh haruslah maksimal. Oleh karena itu dari berbagai jenis bahan galian yang terdapat di zona pertambangan perlu dipertimbangkan jenis-jenis bahan galian yang dapat memberikan manfaat dan nilai tambah yang maksimal yang umumnya dicapai melalui proses pengolahan bahan galian. Dengan telah diidentifikasinya sebaran bahan galian serta telah ditetapkannya jenis bahan galian unggulan maka selayaknya zona pertambangan tersebut menjadi fokus pembangunan sektor pertambangan daerah yang bersangkutan (kabupaten/propinsi). Daerah tersebut hendaknya sudah disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan ditetapkan menjadi Kawasan Pertambangan. Konsep Kawasan Pertambangan ini diilhami oleh konsep kawasan industri, namun konsep ini tidak sepenuhnya mengadopsi konsep kawasan industri tersebut karena harus tetap didasarkan pada karakteristik sumberdaya mineral dan pemanfaatannya. Konsep Kawasan Pertambangan dicirikan oleh prinsip-prinsip :

Kawasan Pertambangan ditentukan disamping berdasarkan pertimbangan geologi tetapi juga berdasarkan pertimbangan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam sebagai

Dengan demikian terdapat keuntungan jarak dari lokasi penambangan ke lokasi pengolahan/pemurnian sehingga secara ekonomi hasilnya dapat bersaing dan nilai tambah dari pengolahan bahan tambang tersebut dapat dinikmati oleh daerah yang bersangkutan. misalnya dengan fasilitas Instalasi Pengendalian Air Limbah (IPAL) bersama. listrik. Kawasan Pertambangan akan memudahkan para investor yang berminat mengembangkan usaha di bidang penambangan. Disadari bahwa kepastian tentang cadangan yang dapat ditambang. Kawasan ini telah dipersiapkan secara terintegrasi bagi pemanfaatan bahan galian unggulan yang tidak saja mencakup kegiatan eksplorasi rinci dan penambangan tetapi juga dapat mendorong pembangunan fasilitas pengolahan/pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah hasil tambang. Perencanaan yang terpadu untuk lokasi industri pengolahan/pemurnian juga dapat meminimalkan dampak lingkungan yang mungkin timbul dari industri tersebut. telekomunikasi) maupun non fisik (seperti peraturan.• • • fungsi dari waktu melalui perhitungan biaya-manfaat (cost-benefit). Persiapan secara terintegrasi mencakup persiapan infrastruktur fisik (seperti jaringan jalan. Kelebihan dan Batasan dari Kawasan Pertambangan Kelebihan dari konsep Kawasan Pertambangan ini antara lain adalah : . Artinya pemanfaatan bahan galian dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk jangka waktu tertentu dibandingkan pemanfaatan sumberdaya alam lain di areal tersebut. dengan mempertimbangkan aspek sosial-budaya setempat. Akan sangat mendukung jika tahapan penyelidikan umum minimal telah dilakukan pada wilayah yang akan ditetapkan menjadi kawasan pertambangan. merupakan salah satu kunci utama bagi usaha pertambangan. Untuk meningkatkan nilai tambah bahan tambang di dalam Kawasan Pertambangan perlu dipersiapkan lahan untuk industri pengolahan/pemurnian bahan tambang serta untuk industri jasa pertambangan. Kawasan Pertambangan. ditujukan untuk mengoptimalkan nilai tambah dan manfaat bahan galian bagi masyarakat dan pemerintah daerah setempat. ketersediaan informasi geologi dan cadangan bahan galian serta infrastruktur fisik yang tersedia. Deskripsi Kawasan Pertambangan Kawasan Pertambangan adalah suatu kawasan yang terletak pada zona layak tambang dan didalamnya terdapat sebaran bahan galian unggulan. sehingga dapat dirancang berbagai skenario pencadangan wilayah dalam kawasan pertambangan tersebut. Penetapan Kawasan Pertambangan berarti di daerah yang bersangkutan strategi pembangunan jelas menempatkan industri pertambangan sebagai prioritas dan sebagai pendorong pembangunan serta dapat mendukung pembangunan sektor-sektor unggulan lain seperti sektor agribisnis dan manufaktur. Mengingat sifat dari sumberdaya mineral yang tersebar tidak merata baik secara kuantitatif maupun kualitatif. baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. perizinan) sehingga menjadi daya tarik bagi investor bidang pertambangan dan pengolahan maupun bidang jasa pertambangan. pengolahan maupun jasa pendukungnya. maka sistem pengkavlingan tidak dapat dilakukan sebagaimana pada kawasan industri. Sistem pengkavlingan atau pencadangan wilayah didasarkan atas pertimbangan geologi tentang sebaran bahan galian.

Kelayakan suatu usaha pertambangan sangat ditentukan oleh nilai ekonomis dari cadangan bahan galian. yang baru dapat ditentukan berdasarkan hasil eksplorasi rinci. Dengan terintegrasinya kegiatan penambangan dan pengolahan maka nilai tambah produk bahan tambang dapat ditingkatkan. Tidak Perlu Untuk a. Insentif khusus untuk Kawasan Pertambangan dapat diberikan untuk lebih menarik investor.). Selain berbagai kelebihan yang dapat diidentifikasi disadari pula bahwa konsep ini memiliki berbagai pembatasan. Hal ini akan menyulitkan perencanaan pengkavlingan atau pencadangan wilayah. c. parawisata. seperti pola Pertambangan Inti Rakyat yang diadopsi dari Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dan pola koperasi. dan ………… selesai . dengan melibatkan masyarakat setempat. Maraknya kegiatan pertambangan akan mendorong berkembangnya industri jasa pertambangan dan pengolahan maupun industri lainnya yang menggunakan produk bahan tambang. antara lain : • • Untuk membangun suatu kawasan pertambangan yang ideal pemerintah daerah harus mengeluarkan modal untuk investasi di bidang penyelidikan umum maupun infrastruktur. b. dll. kesesuaian lahan dan infrastruktur.• • • • • • Kegiatan pertambangan yang mencakup penambangan dan pengolahan dapat dikelola dengan baik karena berada pada suatu manajemen kawasan yang telah memperhatikan berbagai dampak lingkungan yang mungkin timbul. Penetapan suatu Kawasan Pertambangan Proses penetapan suatu daerah menjadi Kawasan Pertambangan mengikuti suatu tahapan proses seperti yang ditunjukkan pada penjelasan sbb : Sebaran bahan galian : 1. sektor lain. Sangat perlu. 2. hal ini tentu akan berdampak positif pada perkembangan ekonomi daerah yang bersangkutan. dan c harus mempertimbangkan faktor-faktor lain. Hasilnya adalah sebagai berikut : 1. Nilai tambah. Layak untuk ditetapkan sebagai Kawasan Pertambangan. Perkembangan perekonomian daerah yang ditunjang tidak saja didominasi oleh pertambangan akan menghilangkan kekhawatiran pada saat pasca tambang. kondisi sosek masyarakat setempat. misalnya industri manufaktur dan pertanian. penggunaan untuk sektor lain (perkebunan. b. dll. tindak lanjut dikaji pengelolaan sebagai kawasan pertambangan. seperti : hutan lindung dan cagar alam. Perlu. Mungkin Perlu dan d. Dapat dikembangkan berbagai pola kemitraan. Potensi bahan galian ——– menjadi Kawasan Pertambangan Kawasan Pertambangan memberi informasi : a.

. Nilai ekonomis dari cadangan tentunya lebih pasti dibandingkan dengan sumberdaya. maka proses penetapan suatu daerah menjadi Kawasan Pertambangan dapat digambarkan pada matriks berikut ini. Bahan galian yang tidak atau sedikit memerlukan proses pengolahan dan langsung dimanfaatkan umumnya tidak memiliki nilai tambah yang tinggi atau nilai jual produk tidak jauh dari nilai bahan galian dari tambang (run of mine). Jika masing-masing faktor utama tersebut dapat dibedakan menjadi tinggi.Mungkin perlu Rendah Sedang Tinggi Sedang Nilai Tambah Tinggi Tinggi Potensi . Penetapan menjadi kawasan pertambangan Bahan Galian . dan …. Sementara itu mineral industri umumnya memerlukan proses pengolahan yang lebih panjang dan rumit dengan demikian produk yang dihasilkan dari setiap proses pengolahan mengakibatkan peningkatan nilai produk secara cukup signifikan. • Potensi bahan galian Nilai dari suatu potensi bahan galian sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitasnya. sedang dan rendah.Perlu Tinggi Sedang . tindak lanjut dipakai sebagai ARSIP. selesai Faktor Penentu Penetapan suatu daerah menjadi Kawasan Pertambangan didasarkan pada dua faktor utama. sebaran dan kualitasnya dapat digolongkan menjadi cadangan. Sementara potensi dengan tingkat pemahaman yang lebih rendah digolongkan sebagai sumberdaya. contohnya pasir dan batu.2. yaitu: • Nilai tambah Masing-masing bahan galian memiliki karakteristik tersendiri yang umumnya berbeda satu dengan lainnya. Tidak Layak untuk ditetapkan sebagai Kawasan Pertambangan. Potensi bahan galian yang telah dipahami baik geometri.Sangat perlu Tinggi .Sangat perlu Tinggi .

Suatu daerah perlu ditetapkan menjadi Kawasan Pertambangan jika potensi bahan galiannya tinggi dan nilai tambahnya sedang atau potensi bahan galian sedang dengan nilai tambah yang tinggi. Untuk dapat menetapkan bahwa daerah yang dikaji layak untuk dijadikan menjadi Kawasan Pertambangan selanjutnya dipertimbangkan berbagai faktor. o Keterkaitan belakang dan depan (backward and forward linkages) dari industri pertambangan yang bersangkutan. Fator-faktor yang dapat menjadi pembatas penerapan suatu Kawasan Pertambangan antara lain adalah: • • • • • Kawasan lindung. daerah tersebut mungkin perlu ditetapkan menjadi Kawasan Pertambangan. khususnya hutan lindung dan cagar alam. Keterbatasan infrastruktur yang tersedia. Faktor lain yang harus dipertimbangkan Penapisan pertama yang dilakukan dengan mempertimbangkan dua faktor penentu telah menghasilkan tiga kategori.Rendah Rendah . Sementara faktor-faktor yang dapat mendukung adalah: • Kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Bila potensi bahan galian sedang sementara nilai tambah digolongkan sedang sampai rendah. . Keterkaitan dengan sumberdaya alam lain. o Ketersediaan infrastruktur yang cukup memadai. atau walaupun nilai tambah rendah namun potensinya tinggi. Potensi dampak lingkungan yang mungkin timbul cukup signifikan.Tidak perlu Rendah Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Jika diketahui potensi bahan galian di suatu daerah digolongkan tinggi demikian pula nilai tambah yang dapat diperoleh maka daerah tersebut sangat perlu untuk ditetapkan menjadi Kawasan Pertambangan. o Kesesuaian lahan yang memang tidak cocok untuk budidaya pertanian karena kondisi batuan. baik yang dapat mendukung dijadikannya daerah tersebut menjadi Kawasan Pertambangan maupun yang dapat membatasi implementasi konsep Kawasan Pertambangan. berarti bisa ditetapkan menjadi Kawasan Pertambangan tetapi bisa juga tidak. perlu dan mungkin perlu. Penggunaan lahan untuk peruntukan atau kegiatan ekonomi lain. yaitu sangat perlu. seperti pariwisata.

dan Kawasan Campuran. Pertambangan. atau Koefisien Dasar Bangunan. Setiap rencana tata ruang mempunyai tujuan dan lingkup aplikasi sendiri. Perlu diingat juga bahwa pemberian . Tujuan utama penetapan zonasi adalah menjamin bahwa pembangunan yang akan dilaksanakan dapat mencapai standar kualitas lokal minimum (kesehatan. pemeliharaan lingkungan dan penetapan nilai kualitasnya. sedangkan penetapan zonasi (zoning) adalah pembagian lingkungan kota ke dalam zona-zona dan menetapkan pengendalian pemanfaatan ruang/memberlakukan ketentuan hukum yang berbeda-beda (Barnett. tata ruang Dalam hirarki rencana tata ruang di lingkup kabupaten. Konsekuensi posisi RDTR sebagai acuan dalam perijinan lokasi adalah zonasi yang tercantum dalam RDTR menjadi syarat utama dalam menentukan apakah suatu rencana pembangunan dapat memperoleh ijin (dari segi tata ruang) ataukah tidak. 1982: 60‐61. Dengan adanya aturan zonasi. Transportasi. Hasil akhir sebagai keluaran RDTR adalah penentuan block plan (rencana zonasi yang dijabarkan dalam tiap luasan batas fisik kawasan) sebagai acuan pemanfaatan ruang kawasan. Dalam RDTR. pemeliharaan nilai properti. serta penyediaan aturan yang seragam di setiap zonasi. Dalam RDTR. planning) Tags: harapan. Rencana umum biasanya dijabarkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten. Tiap zonasi memiliki tujuan penetapan dan kriteria teknis tersendiri. 1979:251). sedangkan materi teknis RDTR lebih condong pada penetapan zonasi untuk mengatur peruntukan lahan pada suatu kawasan. serta memiliki aturan khusus dalam pembangunannya. zonasi yang ada terbagi dalam beberapa jenis zonasi yaitu Perumahan. KLB) untuk memastikan bahwa tiap bangunan mendapat sinar matahari yang cukup. So. tetapi juga diatur prosentase luasan kawasan yang boleh dibangun (BC: building coverage. atau Koefisien Lantai Bangunan. terdapat dua jenis rencana tata ruang yaitu rencana umum dan rencana rinci. Komersial.polemik zonasi October 13. sedangkan rencana rinci merupakan penjabaran dari rencana umum dan biasanya mewujud dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota (UU 26/2007 tentang Penataan Ruang). Industri. 2009 at 13:02 (all. KDB) untuk memastikan adanya ruang terbuka dalam tiap kapling. serta acuan pembangunan kawasan dalam bentuk tiga dimensi (FAR: floor area ratio. Pemerintahan Pertahanan dan Keamanan. Hutan. RDTR lebih aplikatif untuk dipakai sebagai acuan. Dengan demikian. keamanan. Pertanian. dan kesejahteraan) yang dijabarkan dalam perlindungan agar pembangunan baru tidak mengganggu penghuni atau pemanfaat ruang yang telah ada. dalam hal perijinan lokasi. Materi teknis RTRW lebih condong pada arahan pola ruang dan struktur ruang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. tidak hanya diatur zonasi kawasan dalam bentuk dua dimensi saja. RTH. yang dimaksud dengan zonasi adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik. materi teknis RDTR lebih memperhatikan penetapan zonasi dalam setiap blok luasan lahan. Fasilitas Pelayanan. Sebagai acuan dalam perijinan lokasi. maka perkembangan wilayah akan menjadi teratur sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan serta meminimalkan masalah. Pada dasarnya.

. dan aturan yang berlaku. yaitu zonasi dominan dan bukannya harus mengikuti rencana tanpa mewadahi kemungkinan adanya perbedaan. Jikapun dapat dilaksanakan. Prinsip pertama adalah rencana zonasi yang telah ditetapkan sebaiknya tidak disikapi secara ketat. pembuatan RTH pada kawasan perumahan diperbolehkan. Transportasi . RTH. Prinsip kedua (yang terkait dengan prinsip pertama) adalah perbedaan dalam pembangunan yang tidak sesuai peruntukan zonasi masih diperbolehkan. Polemik yang sering terjadi adalah apakah zonasi yang ada harus ditetapkan secara ketat ataukah dapat mengakomodir pembangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan yang ditetapkan dalam rencana. Revisi RDTR dan penyusunan peraturan zonasi menjadi hal yang urgen untuk dilakukan. penerimaan masyarakat sekitar. Dengan demikian. Dua prinsip dasar menyikapi zonasi di atas diharapkan akan dapat menambah sumbangsih pikiran dalam penentuan ijin lokasi. sehingga prosedur perijinan seringkali menjadi polemik karena belum adanya aturan teknis yang dapat dijadikan sebagai pedoman. asalkan tidak melebihi derajat gangguan . Fasilitas pelayanan. Secara pribadi. ada dua prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam menyikapi rencana zonasi yang ada dalam RDTR. Komersial. Pertambangan. Pemerintahan pertahanan dan keamanan. Dalam pandangan saya. Perlakuan khusus tersebut dapat berupa pemberian insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi. tetapi tidak bila kondisinya adalah sebaliknya. Perlakuan khusus ini dituangkan dalam peraturan zonasi yang menjadi petunjuk teknis RDTR. Perlu diingat bahwa fleksibilitas tidak boleh diartikan dengan mengikuti setiap permintaan pembangunan. maka harus ada beberapa perlakuan khusus karena dianggap melanggar rencana zonasi yang sudah ditetapkan. daerah saya belum memiliki hal ini (bahkan RDTR yang ada belum disesuaikan dengan UU 26/2007). Pertanian. Sebagai contoh. Sayangnya. Kawasan campuran. Perumahan. Tujuan akhir yang ingin dituju adalah mengurangi polemik mengenai zonasi sehingga pembangunan dapat terus berjalan tanpa dirasa mempersulit calon pembangun dengan tidak mengorbankan kualitas lingkungan dan kesejahteraan fisik maupun sosial masyarakat. sehingga fleksibilitas tetap diperlukan. dan Industri. Prasyarat untuk prinsip kedua ini adalah penentuan hirarki derajat gangguan dari masing-masing zonasi. zonasi dalam suatu blok kawasan menganut asas dominasi. prasarana. pembangunan kawasan yang memiliki derajat gangguan lebih rendah pada suatu lokasi yang memiliki derajat gangguan lebih tinggi diperbolehkan. saya menentukan klasifikasi derajat gangguan zonasi dari yang terendah sampai yang tertinggi sebagai berikut: Hutan. gangguan. Hal ini diperlukan karena tidak ada yang dapat meramalkan keadaan di masa depan secara rinci.ijin pembangunan tidak hanya mengacu pada rencana tata ruang saja tetapi bersifat multisektor dan juga mempertimbangkan faktor lingkungan hidup. tetapi pembangunan kawasan industri pada kawasan perumahan tidak direkomendasikan. karena bila hal itu dilakukan maka justru akan merusak zonasi kawasan secara makro dan tujuan penataan ruang tidak akan tercapai. Ini artinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful