BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sebagai salah satu Negara yang sedang berkembang, tingkat kesejahteraanan masyarakat di Indonesia belumlah begitu memuaskan. Hal ini dapat dilihat antara lain masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian serta masih rendahnya angka usia harapan hidup rata-rata. Menurut Departemen Kesehatan RI tercatat prevalensi penduduk yang menderita penyakit sebesar 11,4 % (tahun 1980), angka kematian kasar sebesar 12,48 per 1000 penduduk (periode 1971-1980) serta umur harapan hidup rata-rata sebesar 51,9 tahun untuk wanita dan 48,9 tahun untuk pria (periode 19811985) (Azwar, 1989). Ancaman wabah dinyatakan ada jika keadaan yang dihadapi sedemikian rupa sehingga wabah penyakit tertentu diperkirakan akan berlangsung. Antisipasi ini perlu didukung oleh populasi manusia yang rentan, adanya atau kemungkinan datangnya penyebab penyakit, adanya mekanisme yang memungkinkan penularan penyakit secara besar-besaran (Bres, 1995). Kejadian Luar Biasa atau KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Menurut Arias (2009), wabah adalah keadaan ketika jumlah kasus penyakit atau peristiwa yang terjadi lebih banyak daripada yang diperkirakan dalam suatu periiode waktu tertentu di area tertentu atau diantara kelompok orang tertentu. Peraturan menjadi ketentuan yang mendasari dalam kasus KLB yang dilaksanakan dan ditentukan oleh Menteri dengan cara menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah KLB sebagai daerah wabah (UU No.4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular). 1

Untuk mencegah timbulnya keadaan yang seperti ini banyak hal yang dilakukan salah satu diantaranya ialah melakukan Penanggulangan Keadaan Wabah atau KLB itu sendiri. Apabila penanggulangan ini dapat dilakukan sejak awal oleh setiap unit pelayanan kesehatan, peranannya amat besar sebagai penangkal timbulnya bencana yang lebih besar (Azwar, 1989). Sebelum mengetahui adanya KLB di suatu tempat, langkah yang perlu dilakukan adalah pengamatan pada lokasi yang diduga kuat terjadi KLB. Hal ini diperlukan dalam pengumpulan data yang selanjutnya akan dilakukan proses analisis dan pelaporan. B. Tujuan Kegiatan Penyelidikan Penyakit KLB 1. Mahasiswa mampu mengumpulkan data penyakit dari Puskesmas. 2. Mahasiswa mampu menganalisis data penyakit berdasarkan hasil penyelidikan. 3. Mengetahui kejadian wabah penyakit di wilayah kerja Puskesmas KlegoII. 4. Mampu menentukan penyakit potensial KLB dan memprioritaskan penyakit yang terpilih sebagai KLB. C. Manfaat Kegiatan Penyelidikan Penyakit KLB 1. Bagi Mahasiswa Mahasiswa mampu mengumpulkan data, menganalisis dan membuat kesimpulan dari data rutin Puskesmas. 2. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat. a. Meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam mendukung proses pembelajaran aktif. b. Pengembangan aktif akademik bagi mahasiswa dan staf pengajar. c. Memperoleh masukan dari instansi tempat praktikum lapangan (stake holder) dalam penyempurnaan pembelajaran sesuai kompetensi kritis kesehatan masyarakat. 3. Bagi Institusi (Dinas dan Puskesmas) Terjalinnya kerjasama saling menguntungkan antara Dinas Kesehatan dan Puskesmas dengan Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS. 2

4. Bagi Masyarakat Klego Memberi pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyakit KLB yang terjadi serta mengetahui tingkat kegawatan penyakit tersebut sehingga masyarakat lebih cepat dan tanggap dalam tahap pengobatan. 3 .

B B LSS sil B l i t t B Grafi Lima Penyaki Terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Klego II Tahun 2006 -2010 1400 T E Y i i l it i C T mp l / t m ti t it i t i j i B B i it l 6 i + 1200 1000 1213 800 600 400 200 75 Diare Typhoid 36 Campak 25 TB Paru BTA (+) 17 DBD 0 B ili i it it it i t t l i i j i j i i B i B i it i + i t li ti t i i t l i i it C t i B it 6 it it t B i i ti t j i i ili it t t it t t ili t 4 .

Suatu penyakit dapat dikatakan KLB jika terdapat kasus kematian walaupun hanya 1 kasus. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada. 4. Peningkatan kejadian penyakit atau kematian 2 kali atau lebih dibandingkan periode sebelumnya. 5 . B enentukan Jenis Penyakit Potensi Wabah Untuk menentukan adanya KLB di suatu daerah yaitu: 1. Jumlah penderita baru dalam 1 bulan menunjukan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata -rata perbulan tahun sebelumnya. 3.Grafik Tiga Penyakit Potensi KLB di Wilayah Kerja Puskesmas Klego II Tahun 2006-2010 1400 1213 1200 1000 800 600 400 200 0 Diare Typhoid DBD 75 17 Dari keti a jeni penyakit tersebut kemudian kami mempri ritaskan 1 penyakit yang berpotensi wabah yakni penyakit diare yang jumlahnya dar i tahun 2006 2010 sebanyak 1213 penderita. Penyakit diare dipilih menjadi prioritas pertama sebagai penyakit berpotensi wabah dikarenakan jumlahnya mengalami peningkatan terutama pada tahun 2006 2008 dan dari tahun 20092010. Penigkatan suatu kejadian penyakit atau kematian terus menerus selama tiga kurun waktu berturut turut menurut penyakitnya. Selain itu. 2. pada minggu ke 18 tahun 2007 terdapat 1 kasus kematian.

8. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita dinyatakan KLB a) Keracunan makanan b) Keracunan Pestisida c) Tetanus Neonatorum Grafik Penyakit Poten i Wabah Bulan Januari 2006-De e ber 2010 350 325 300 250 250 266 265 200 150 171 100 50 0 2006 2007 2008 2009 2010 ¡  I RE 6 . 9. Proportional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan 2 kali atatu lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu tahun sebelumnya. Beberapa penyakit khusus kolera/ DHF / DSS a) Setiap peningkatan satu kasus pada periode sebelumnya (pada daerah endemis). 7. Angka rata-rata per bulan dalam 1 tahun menunjukkan kenaikan 2 kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata per bulan tahun sebelumnya.5. 6. dibandingkan CFR periode sebelumnya. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dari suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih. b) Terdapat 1 atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut bebas dari penyakit.

Pengertian Diare Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Menurut catatan World Health Organization (WHO). Seperti sebagian besar penyakit. 41) 5) Small bowel structured virus 7 . 2008).8. Diare adalah penyakit dimana penderitanya mengalami rangsangan buang air besar secara terus menerus dan feses yang memiliki kandungan air yang berlebihan (Simadibrata. Etiologi Menurut Zein (2004). WHO pada tahun 1984 mendefinisikan diare sebagai berak cair 3 kali atau lebih dalam sehari semalam/ 24 jam (Widoyono. 2) Norwalk virus : terdapat pada semua usia. Beberapa jenis virus penyebab diare akut : 1) Rotavirus serotype 1. umumnya akibat food borne atau water borne transmisi. 3) Astrovirus. 2008). 4) Adenovirus (type 40. 2009). diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun.C. penyebab penyakit diare dapat dikelompokkan menjadi: a. didapati pada anak dan dewasa. Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. penyakit diare tersebut sebagian besar terdapat di negara berkembang dibanding negara maju yaitu 12.2. dan dapat juga terjadi penularan person to person. akan tetapi kasus diare masih tetap tinggi dan masih menjadi masalah (Afriani. Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat. 2.5 kali lebih banyak di dalam kasus mortalitas.dan 9 : pada manusia. Virus : Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70 ± 80%). Penyakit Diare 1. Penyakit diare merupakan suatu masalah yang mendunia.

Salmonella dapat menginvasi sel epitel usus. Faktor virulensi yang penting yaitu faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri ini melekat pada enterosit pada usus halus dan enterotoksin (heat labile (HL) dan heat stabile (ST) yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit yang menghasilkan watery diarrhea. 2) Enterophatogenic E. 4) Enteroinvasive E. Seperti Shigella. EIEC melakukan penetrasi dan multiplikasi di dalam sel epitel kolon. Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel usus menyebabkan kerusakan dari membrane mikro vili yang akan mengganggu permukaan absorbsi dan aktifitas disakaridase. 8 . 9) Salmonella (non thypoid).coli (EIEC).6) Cytomegalovirus b. Air atau makanan yang terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Secara serologi dan biokimia mirip dengan Shigella. Penularan melalui person to person jarang terjadi. menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya ulkus.coli (ETEC). Bakteri : 1) Enterotoxigenic E. 8) Vibrio cholerae 01 dan V. 7) Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). 5) Enterohemorrhagic E.coli (EAggEC). Manusia terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan atau dengan feses hewan melalui makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam dan air.coli (EHEC). akan terjadi bloody diarrhea. Enterotoksin yang dihasilkan menyebabkan diare. Shigella menginvasi dan multiplikasi di dalam sel epitel kolon. EHEC memproduksi verocytotoxin (VT) 1 dan 2 yang disebut juga Shiga-like toxin yang menimbulkan edema dan perdarahan diffuse di kolon 6) Shigella spp. 3) Enteroaggregative E.coli (EPEC).choleare 0139. Shigella jarang masuk kedalam alian darah. Bila terjadi kerusakan mukosa yang menimbulkan ulkus.

gejala dan tanda diare antara lain: a. Helminths a. caecum. ketegangan kulit menurun. b. e. b. termasuk diare dan perdarahan usus. Entamoeba histolytica. Capilaria philippinensis. 3) Demam dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.c. Gejala dann Tanda Menurut Widoyono (2008). b. d. Cacing ini ditemukan di usus halus. c. f. Protozoa a. Giardia lamblia. Kelainan pada mukosa usus akibat cacing dewasa dan larva. d. Isospora belli. menimbulkan diare. Parasit ini menginfeksi usus halus. Cacing darah ini menimbulkan kelainan pada berbagai organ intestinal dengan berbagai manifestasi. bahkan gelisah. dan appendix. Gejala Spesifik 1) Vibrio cholera : diare hebat (warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis) 2) Disentriform : tinja dan berlendir dan berdarah. Schistosoma spp. c. Cryptosporidium. apatis. Trichuris trichuria. Cyclospora cayatanensis. Microsporidium spp . 2) Muntah biasanya disertai diare pada gostroenteritis akut. 9 . Infeksi berat dapat menimbulkan bloody diarrhea dan nyeri abdomen. 3. Gejala Umum 1) Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare. 4) Gejala dehidrasi yaitu mata cekung. d. menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan gejala klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen. terutama jejunu. Cacing dewasa hidup di kolon. Strongyloides stercoralis.

makanan yang masih hipertonik akan masuk ke usus halus akibatnya akan timbul sekresi air dan elektrolit ke usus. 3) Laksan osmotik. Diare Osmotik Diare osmotik dapat terjadi dalam beberapa keadaan: 1) Intoleransi makanan. Keadaan ini mengakibatkan volume isi usus halus bertambah dengan tiba-tiba sehingga menimbulkan distensi usus. baik sementara maupun menetap. Laktase adalah enzim yang disekresi oleh intestin untuk mencerna disakarida laktase menjadi monosakarida glukosa dan galaktosa. Situasi ini timbul bila seseorang makan berbagai jenis makanan dalam jumlah yang besar sekaligus. Yang memiliki sifat ini adalah magnesium sulfat (garam Inggris). Contoh yang terkenal adalah defisiensi enzim laktase. Beberapa karakteristik klinis diare osmotik ini adalah sebagai berikut: 10 . Patofi iologi Pada dasarnya diare terjadi oleh karena terdapat gangguan transport terhadap air dan elektrolit di saluran cerna. 2) Waktu pengosongan lambung yang cepat. Pada pasien yang sudah mengalami gastrektomi atau piroplasti atau gastroenterostomi. Berbagai laksan bila diminum dapat menarik air dari dinding usus ke lumen. Dalam keadaan fisiologis makanan yang masuk ke lambung selalu dalam keadaan hipertonis. Laktase diproduksi dan disekresi oleh sel epitel usus halus sejak dalam kandungan dan diproduksi maksimum pada waktu lahir sampai umur masa anak-anak kemudian menurun sejalan dengan usia. Mekanisme gangguan tersebut ada 5 kemungkinan sebagai berikut : a. yang kemudian mengakibatkan diare yang berat disertai hipovolumik intravaskuler.4. kemudian oleh lambung dicampur dengan cairan lambung dan diaduk menjadi bahan isotonis atau hipotonis. Defisiensi enzim.

Kadar natrium dalam darah cenderung tinggi. Hal ini terjadi pada peninggian tekanan vena mesenterial. b. b) Nilai pH feses menjadi bersifat asam akibat fermentasi karbohidrat oleh bakteri. Kedua penyakit ini menimbulkan diare karena adanya kerusakan di atas vili mukosa usus. karena itu bila didapatkan pasien dehidrasi akibat laksan harus diperhatikan keadaan hipernatremia tersebut dengan memberikan dekstrose 5 %. c. Pada diare jenis ini terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit. obstruksi sistem limfatik. Efek berlebihan suatu laksan (intoksikasi laksan) dapat diatasi dengan puasa 24-27 jam dan hanya diberikan cairan intravena. Seperti diketahui dinding usus selain mengabsorpsi air juga mengsekresi sebagai pembawa enzim.a) Ileum dan kolon masih mampu menyerap natrium karena natrium diserap secara aktif. iskemia usus. 11 . Diare sekretorik. Ada 2 kemungkinan timbulnya diare sekretorik yaitu diare sekretorik aktif dan pasif. Jadi dalam keadaan fisiologi terdapat keseimbangan dimana aliran absorpsi selalu lebih banyak dari pada aliran sekresi. Diare jenis ini terdapat pada penyakit celiac (gluten enteropathy) dan pada penyakit sprue tropik. Diare sekretorik pasif disebabkan oleh tekanan hidrostatik dalam jaringan karena terjadi pada ekspansi air dari jaringan ke lumen usus. c) Diare berhenti bila pasien puasa. sehingga terjadi gangguan absorpsi elektrolit dan air. bahkan proses peradangan. Diare sekretorik aktif terjadi bila terdapat gangguan aliran (absorpsi) dari lumen usus ke dalam plasma atau percepatan cairan air dari plasma ke lumen. Diare akibat gangguan absorpsi elektrolit.

yersinia dan infeksi yang mengenai mukosa menimbulkan peradangan dan eksudasi cairan serta mukus. penyakit Crohn. Diare akibat hipermotilitas (hiperperistaltik) Diare ini sering terjadi pada sindrom kolon iritabel (iritatif) yang asalnya psikogen dan hipertiroidisme. Me beri akanan Berikan makanan selama diare untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Mencegah terjadinya dehidra i Mencegah terjadinya dehidasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin . Tata Lak ana Penyakit Diare a. b. amebiasis. yaitu dengan oralit. Bila terjadi dehidrasi berat. shigellosis. Berikan cairan termasuk oralit dan makanan sesuai yang dianjurkan.d. kampilobacter. 5. Macam cairan yang dapat digunakan akan tergantung pada : 1) Kebiasaan setempat dalam mengobati diare 2) Tersedianya cairan sari makanan yang cocok 3) Jangkauan pelayanan Kesehatan 4) Tersedianya oralit 5) Bila tidak mungkin memberikan cairan rumah tangga yang diajukan . Mengobati dehidra i Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak). Anak yang masih mimun ASI harus 12 . e. Sindrom karsinoid sebagian juga disebabkan oleh hiperperistaltik. penderita harus segera dibawa ke petugas atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Diare eksudatif Pada penyakit kolitif ulserosa. kuah sayur. penderita harus segera diberikan cairan intravena dengan ringer laktat sebelum dilanjutkan terapioral. berikan air matang. c. air sup.

maka diberikan pengobatan sesuai indikasi. Anak yang minum susu formula diberikan lebih sering dari biasanya. Setelah diare berhenti pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan anak. Anak Usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit sedikit tetapi sering. dengan tetap mengutamakan rehidrasi.lebih sering diberi ASI. d. Mengobati a alah lain Apabila diketemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain. 13 .

Sangge. Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Desa Gondanglegi : Desa Sendangrejo : Desa Klego : Desa Karangmojo Besarnya wilayah Klego membagi wilayah ini menjadi dua wilayah kerja kesehatan. Kalangan. Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut: 1.B B III PE B A. Untuk wilayah kerja Puskesmas Klego II terdiri dari 6 Desa yaitu Karangmojo. 4. yakni Puskesmas Klego I dan Puskesmas Klego II. Sendangrejo yang total penduduknya sebanyak 26448 jiwa. Gambaran Umum Wilayah KLB S Gambar 1. Di wilayah Kabupaten Boyolali. Kecamatan Klego terdiri dari 13 Desa. Banyu Urip. 3. 14 . Sumber Agung. 2.

terjadi kasus kematian akibat penyakit ini. Peningkatan yang cukup tinggi (hampir 50%) terjadi pada tahun 2008. Di tribu i Penyakit Berda arkan Variabel E ide iologi 1. Distribusi Kasus Diare Menurut Waktu Grafi aki Diare Menurut Waktu Wilayah Kerja Puskesmas Klego II Tahun 2006-2010 350 325 300 250 200 150 242 210 171 100 50 0 2006 2007 Terjadi peningkatan dari tahun 2006 hingga 2008 dari mulai 210 kasus diare kemudian 242 kasus. § ¦¥¤£ ¢ 265 2008 2009 2010 15 . hingga 325 kasus. Namun pada tahun 2009 terjadi penurunan kasus ini menjadi 171 kasus dan peningkatan kembali menjadi 265 pada tahun 2010.B. Tepatnya pada tahun 2007 minggu ke 18. Hal ini mungkin diakibatkan pemanasan global sehingga kondisi cuaca pun tidak dapat dipastikan sehingga pada waktu-waktu tertentu memberikan ruang bagi bakteri ataupun virus penyebab diare.

2. Distribusi Kasus Diare Menurut Tempat Grafik Distrib si e yakit Diare e ilaya erja skes as leg II Ta   r t Te pat 2006-2010 308 350 300 250 200 150 100 50 0 K ng Mojo Sen ng Rejo K l ng n Sangge any Urip Sumber Agung 211 145 214 168 167 Frekuensi tertinggi penderita penyakit diare terdapat pada desa Sumber Agung yakni sebanyak 308 penderita. Kandang merupakan tempat yang cocok sebagai habitat berkembang biaknya bakteri/ virus karena tempat yang lembab serta bercampur antara jerami dan kotoran ternak sangat cocok dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Banyak warga yang masih tinggal satu atap dengan kandang ternak mereka.        ¨ ¨¨      ¨ ¨©¨  16 . Kondisi ini memudahkan pencemaran bakteri atau virus penyakit diare ke penghuni rumah. sehingga kandang dapat menjadi sumber penyakit bagi penghuni rumah maupun sekitarnya.

terlebih kurangnya menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan yang benar. Sumber air minum pun terlalu dekat dengan jamban dan tempat pembuangan serta kandang ternak dapat menjadi penyebab diare.3. Kondisi jamban warga juga kurang memenuhi persyaratan. Pada usia ini banyak warga yang menjadi penanggung jawab kandang ternak mereka. Tingginya frekuensi kontak terhadap kandang ternak dan binatang peliharaan mereka pada kelompok usia ini dapat meningkatkan kontaminasi dengan mikroorganisme yang ada dan berkembang biak di area kandang. !% "!' ! !" $ (' !# % " # " ! & 85 Th 17 . Setiap hari mereka memberi makan ternak. membersihkan kotoran ternak serta merapikan kandang ternak mereka. Distribusi Kasus Diare Menurut Orang Grafik Frek e si e derita Diare e ilaya erja skes as leg II Ta ) ( r tU r 2006 -2010 400 350 300 250 200 150 100 50 0 343 229 188 122 115 142 74 < 1 Th 1-4 Th 5-14 Th 15-44 Th 45-54 Th 55-84 Th Frekuensi tertinggi ada pada kelompok usia 45-54 tahun sebanyak 343 penderita.

Peningkatan kasus diare ini telah terjadi di Kabupaten Boyolali khususnya di wilayah kerja Puskesmas Klego II yakni pada tahun 20062008 dan tahun 2009-2010. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Klego II.BAB IV RENCANA PEN ELIDIKAN DAN TINDAKAN PENANGGULANGAN Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. 3. Place. maka upaya yang perlu dilakukan adalah penyelidikan dan tindakan penanggulangan. 2. Menggambarkan distribusi/ penyebaran penyakit atau KLB diare berdasarkan variabel epidemiologi (Time. Rencana Penyelidikan KLB Diare Untuk mengetahui penyebaran penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Klego II terutama di daerah yang dikatakan sebagai daerah endemis perlu adanya upaya penyelidikan. dan metode wawancara. 5. Memastikan terjadinya KLB diare. 4. Memastikan diagnosa dari penyakit yang dilaporkan ke pihak Puskesmas Klego II sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan strata pertama. Upaya penyelidikan yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan survey lapangan. Mengidentifikasi sumber penularan KLB diare. 18 . 6. Penyelidikan ini dilakukan di daerah yang memiliki jumlah kasus diare terbanyak dan kondisi/ keadaan lingkungan daerah tersebut. Tujuan dari penyelidikan KLB diare antara lain: 1. observasi. Meningkatkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD). A. Person). Dalam penentuan lokasi penyelidikan selain berdasarkan jumlah kasus juga didasarkan pada kepentingan pembinaan Puskesmas dalam pengamatan penyakit diare dalam rangka Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB Diare. Menentukan dan memastikan etiologi KLB penyakit diare.

tindakan penanggulangan wabah banyak macamnya. termasuk sumber. Menurut Azwar (1989). yakni terhadap kasus. Menarik kesimpulan dan mengembangkannya menjadi hipotesis. Secara sederhana tindakan tersebut menurut sasarannya dapat dibedakan atas tiga macam. Mengumpulkan data dari Puskesmas. 4. Bagi wabah penyakit menular misalnya diare dengan etiologi yang telah diketahui. dan terhadap lingkungan. Melakukan wawancara dengan penderita/ yang mempunyai riwayat menderita penyakit diare. dan cara penularan yang paling memungkinkan. maka tindakan penanggulangan hendaknya telah diketahui dan diterapkan sedini mungkin. sehingga dapat dilakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah/ mengurangi jatuh korban. B. Pada dasarnya tindakan terhadap kasus adalah dalam rangka mengobati penyakit yang diderita dan pada umumnya hampir sama dengan tindakan pengobatan. 3. Tindakan Penanggulangan KLB Diare Tujuan utama suatu investigasi wabah adalah menghentikan wabah. intervensi pencegahan hendaknya didasarkan pada karakteristik agen kausatif. Hanya saja karena penyakit diare adalah penyakit 19 . 6. reservoir. Menganalisis dan mengolah data sehingga menjadi sumber informasi yang jelas dan siap untuk disebarluaskan. 5. Mengobservasi tempat atau lingkungan wilayah yang diduga terjadi KLB. Survey pada tempat yang diduga terjadi KLB diare. Tindakan ini perlu diterapkan secepat mungkin sepanjang proses investigativ.Dalam penyelidikan KLB diare langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1. masyarakat. 2. Sistem Kewaspadaan Dini adalah tahapan kegiatan -kegiatan pengamatan yang mendukung sikap tanggap terhadap adanya suatu perubahan dalam masyarakat atau penyimpangan persyaratan yang berkaitan dengan kecenderungan terjadinya kesakitan/ kematian atau pencemaran makanan/ lingkungan.

Pada tindakan terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan perlindungan sumber air minum. sesudah makan dan setelah melakukan aktivitas. 20 . PHBS dapat dimulai dengan membiasakan mencuci tangan dengan baik dan benar ketika hendak makan. sanitasi air.menular maka tindakan terhadap kasus ini harus ditambahkan dengan tindakan lain yang sesuai terutama pada tindakan penyelidikan yaitu disertai anemnesis. diagnosa. Selain itu karena sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Klego II memelihara ternak yang penempatan kandangnya satu atap dengan penghuni rumah. yaitu memberi penekanan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium. Selain membiasakan diri menerapkan PHBS dalam kehidupan seharihari. bahkan kandang tersebut dapat juga menjadi sumber penularan. Tindakan terhadap masyarakat yang diidentifikasi dapat berbentuk sederhana. terapi dan isolasi. perlindungan makanan dan minuman. pemeriksaan fisik. tindakan lain yang dapat dilakukan diantaranya memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keadaan pembuangan kotoran (jamban) yang sehat. Kondisi kandang ternak yang kotor dan bau dapat memudahkan perkembangbiakan bakteri penyebab diare. dan sanitasi kandang ternak. maka tindakan pembersihan kandang ternak juga perlu ditekankan.

4. penyelidikan KLB. aran 1. Untuk distribusi kasus menurut tempat. Selain itu ada juga satu kasus kematian yakni pada minggu ke 18 pada tahun 2007. Penyakit diare terpilih menjadi penyakit yang berpotensi wabah dikarenakan jumlah kasusnya paling tinggi dibanding empat penyakit lain berdasarkan data lima tahun terakhir. Melaksanakan upaya penyelidikan dengan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD). Berdasarkan variabel epidemiologi. Diare merupakan salah satu penyakit potensi wabah dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. kasus terbanyak terjadi di Desa Sumber Agung yaitu sebanyak 308 kasus. upaya pengobatan dan pencegahan KLB serta penegakan sistem surveilans ketat selama periode KLB. 2. 3. Upaya Penanganan dan Pencegahan. kasus tertinggi pada umur 45-54 tahun yaitu sebanyak 343 kasus. Upaya penanganan intensif dari tim medis Puskesmas di masing-masing wilayah. 3. 2. Upaya Penanggulangan KLB dilaksanakan terhadap 3 kegiatan. Sedangkan untuk distribusi kasus menurut orang. B.BAB V IMPULAN DAN ARAN A. Penyakit ini ditandai dengan frekuensi buang air besar dan perubahan konsistensi tinja menjadi cair atau cairan. distribusi kasus menurut waktu jumlah kasus tertinggi pada tahun 2008 yaitu sebanyak 325 kasus. Penanganan dari Dinkes sendiri. dengan melakukan penelitian dan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang ditemukan di desa. 5. i ulan 1. 21 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful