Draft RUU KEPERAWATAN

Draft Revisi 29 Juni 2009 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR «««««««««. TENTANG

KEPERAWATAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA nimbang:a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945; b. bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan merupakan bagian integral dari penyelenggaraan upaya kesehatan yang dilakukan oleh perawat berdasarkan kaidah etik, nilai-nilai moral serta standar profesi.

c.

d. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan pada kewenangan yang diberikan kepada perawat karena keahliannya, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan globalisasi. e. bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam penyelenggaraan praktik keperawatan, perlu keterlibatan organisasi profesi. f. bahwa untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan dan perawat diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik keperawatan;

g. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e dan huruf f, perlu ditetapkan Undang-Undang tentang Keperawatan.

Mengingat 1. Undang-Undang Dasar 1945; Pasal 20 dan pasal 21 ayat (1)

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan:UNDANG-UNDANG TENTANG KEPERAWATAN

BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: (1) Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Praktik keperawatan adalah tindakan perawat berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang diberikan melalui kesepakatan dengan klien dan atau tenaga kesehatan lain dan atau sektor lain terkait. Fokus praktik keperawatan adalah pemberian asuhan keperawatan pada individu, keluarga, dan atau masyarakat pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Asuhan keperawatan adalah rangkaian kegiatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan berdasarkan kode etik dan standar praktik keperawatan yang dilandasi keilmuan keperawatan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologis, psikolologi, sosial, kultural dan spiritual Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perawat terdiri dari perawat vokasional, perawat professional dan perawat profesinoal spesialis

(2)

(3)

(4)

(5)

(6) Perawat vokasional adalah seseorang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi langsung maupun tidak langsung oleh Perawat Profesioal dengan sebutan Lisenced Vocasional Nurse (LVN) (7) Perawat professional adalah tenaga professional yang mampu melaksanakan praktik keperawatan secara mandiri dan atau kolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program pendidikan profesi keperawatan, telah lulus uji kompetensi perawat profesional yang dilakukan oleh konsil dengan sebutan Registered Nurse (RN) (8) Perawat Profesional Spesialis adalah seseorang perawat yang disiapkan diatas level perawat profesional dan mempunyai kewenangan sebagai spesialis atau kewenangan yang diperluas dan telah lulus uji kompetensi perawat profesional spesialis. (9) Konsil Keperawatan Indonesia yang yang selanjutnya disebut Konsil merupakan suatu badan otonom, mandiri, non struktural yang bersifat independen. (10) Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang perawat untuk menjalankan praktik keperawatan di seluruh Indonesia setelah lulus uji. (11) Registrasi adalah pencatatan resmi oleh konsil terhadap perawat yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempuyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk melaksanakan profesinya. (12) Registrasi ulang adalah pencatatan ulang terhadap perawat yang telah diregistrasi setelah memenuhi persyaratan yang berlaku. (13) Surat Izin Perawat adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat yang akan menjalankan praktik keperawatan setelah memenuhi persyaratan. (14) Surat Ijin Perawat Vokasional (SIPV) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat vokasional yang telah memenuhi persyaratan. (15) Surat Ijin Perawat Profesional (SIPP) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada perawat profesional yang telah memenuhi persyaratan (16) Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan praktik keperawatan secara mandiri, berkelompok atau bersama profesi kesehatan lain. (17) Klien adalah orang yang membutuhkan bantuan perawat karena masalah kesehatan aktual atau potensial baik secara langsung maupun tidak langsung (18) Organisasi profesi adalah Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (19) Kolegium keperawatan adalah kelompok perawat professional dan perawat profesional spesialis sesuai bidang keilmuan keperawatan yang dibentuk oleh organisasi profesi keperawatan. (20) Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan. (21) Surat tanda registrasi Perawat dalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan Indonesia kepada perawat yang telah diregistrasi.

BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2

Tindakan terapi keperawatan.Praktik keperawatan dilaksanakan berazaskan Pancasila dan berlandaskan pada nilai ilmiah. observasi keperawatan. BAB III LINGKUP KEPERAWATAN Pasal 4 Bagian kesatu Peran dan Fungsi Perawat (1) Perawat dalam melakukan tugasnya dapat berperan sebagai pelaksana keperawatan. pendidik. imunisasi. dan kerjasama (kolaborasi) Pasal 5 Bagian kedua Praktik Keperawatan (1) Praktik keperawatan diberikan melalui Asuhan keperawatan untuk klien individu. (2) Perawat dalam melakukan tugasnya berfungsi secara mandiri. advokasi. ketergantungan dengan profesi lain. konseling. peneliti. (2) Asuhan keperawatan dapat dilakukan melalui tindakan keperawatan mandiri dan atau kolaborasi dengan tim kesehatan dan atau dengan sektor terkait lain (3) Tindakan mandiri keperawatan antara lain adalah: a. pengelola keperawatan dan atau kesehatan. advokat. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat. b. etika dan etiket. c. pelayanan KB. memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada klien dan perawat. penyuluhan kesehatan. keluarga. terapi komplementer. masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks. Memberikan pengobatan terbatas dan tindakan medik terbatas. kemanusiaan. pertolongan persalinan normal dan khitan tanpa komplikasi. b. Pasal 3 Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk: a. Pelakaksanaan Program Pemerintah dalam bidang kesehatan . manfaat. dan edukasi dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan klien. keseimbangan dan perlindungan serta keselamatan penerima dan pemberi pelayanan keperawatan. nasehat. keadilan.

Pembuatan dan pelaksanaan program kesehatan lintas sektoral untuk peningkatan kesehatan individu. perawat dapat melakukan tindakan di luar kewenangan. keluarga. Ketentuan mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan dan atau keperawatan disatu wilayah diatur dalam peraturan konsil. (5) Ketentuan mengenai daerah yang sulit terjangkau ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah melalui peraturan tersendiri. (3) Dalam keadaan luar biasa/bencana. Pelaksanaan upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan huruf c dimaksud sesuai dengan kompetensi dan kewenangan masing-masing. perawat Profesional dan Perawat Profesional Spesialis. b. Ketentuan mengenai rasio dan jumlah tanaga perawat profesional dan vokasional di sarana kesehatan diatur dalam peraturan konsil. c. perawat memiliki kewenangan untuk melakukan asuhan keperawatan mandiri dan kolaborasi sebagaimana tercantum pada pasal 5 (2) Dalam keadaan darurat yang mengancam kehidupan atau nyawa klien dan atau pasien. perawat dapat melakukan tindakan di luar kewenangan untuk membantu mengatasi keadaan luar biasa atau bencana tersebut. (4) Perawat yang bertugas di daerah yang sulit terjangkau dapat melakukan tindakan di luar kewenangannya sebagai perawat. Praktik Mandiri Keperawatan berdasarkan prinsip kebutuhan pelayanan kesehatan dan atau keperawatan masyarakat dalam suatu wilayah. (5) Praktik keperawatan dapat diberikan di sarana kesehatan dan Praktik Mandiri Keperawatan a. Pasal 7 Kualifikasi dan Kewenangan (1) Kualifikasi perawat terdiri dari Perawat vokasional. c. Pelaksanaan program pengobatan dan atau tindakan medik secara tertulis dari dokter (5) Tindakan kolaborasi keperawatan dengan tim kesehatan lainnya atau dengan sektor terkait lain antara lain adalah: a. Perencanaan terhadap upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien bersama dengan tenaga profesi kesehatan lain. Praktik keperawatan di sarana kesehatan adalah asuhan keperawatan profesional yang diberikan oleh Perawat Profesional dibantu oleh perawat Vokasional.(4) Tindakan ketergantungan dengan tenaga kesehatan lain adalah . (2) Kewenangan Perawat seperi yang dimaksud ayat (1) adalah : . d. dan masyarakat b. Pasal 6 Wewenang Perawat (1) Dalam menjalankan peran dan fungsinya.

c. pengesahan. Pasal 9 Konsil berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Perawat vokasional mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan batasan lingkup praktik yang ditetapkan dan dibawah pengawasan langsung maupun tidak langsung oleh Perawat Profesioal. b dan c sesuai dengan standard kompetensi yang ditetapkan oleh konsil. (2) Konsil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Presiden. d. dibentuk Konsil Keperawatan Indonesia yang selanjutnya dalam undang-undang ini disebut Konsil.a. Tugas dan Wewenang Konsil Pasal 10 Konsil mempunyai fungsi pengaturan. Pasal 11 (1) Konsil mempunyai tugas: a. Bagian Kedua Fungsi. b. Perawat professional mempunyai wewenang untuk melaksanakan praktik keperawatan secara mandiri dan atau kolaborasi dengan yang lain. pembinaan serta penetapan kompetensi perawat yang menjalankan praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan praktik keperawatan. Kewenangan Perawat sesuai dengan huruf a. b. Perawat Profesional Spesialis mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik sebagai seorang spesialis dengan keahlian lanjut dalam satu cabang ilmu di bidang keperawatan. Melakukan uji kompetensi dan registrasi perawat. BAB IV KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA Bagian Kesatu Nama dan Kedudukan Pasal 8 (1) Dalam rangka mencapai tujuan yang dimaksud pada Bab II Pasal 3. Mengesahkan standar pendidikan profesi perawat .

Menetapkan seorang perawat kompeten atau tidak melalui mekanisme uji kompetensi. dan Menetapkan penyelenggaraan program pendidikan profesi keperawatan berdasarkan rekomendasi Organisasi Profesi. c. Menetapkan sanksi disiplin terhadap kesalahan disiplin dalam praktik yang dilakukan perawat. d. tugas. Komite uji kompetensi dan registrasi b. Wakil ketua merangkap anggota c. Pasal 13 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi. .Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktik perawat untuk melindungi masyarakat. Menetapkan ada tidaknya kesalahan disiplin yang dilakukan perawat. (2) Standar pendidikan profesi keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dibuat dan di usulkan oleh organisasi profesi c. a. Bagian Ketiga Susunan Organisasi dan Keanggotaan Pasal 14 (1) Susunan peimpinan Konsil terdiri dari : a. e. Komite standar pendidikan profesi c. b. Ketua. dan wewenang Konsil serta pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Konsil Keperawatan Indonesia.ketua Komite merangkap anggota. (2) Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas : a. f. Komite praktik keperawatan d. Komite disiplin keperawatan (3) Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing-masing dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua Komite merangkap anggota. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi perawat . Pasal 12 Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 Konsil mempunyai wewenang : Mengesahkan standar kompetensi perawat dan standar praktik Perawat yang dibuat oleh organisasi profesi. Ketua merangkap anggota b.

Pasal 18 . .Persatuan Perawat Nasional Indonesia 3 (tiga) orang.Departemen Kesehatan 1 (satu) orang. . Anggota yang dipilih adalah 9 (sembilan) perawat dari 3 (tiga) wilayah utama (barat.Asosiasi rumah sakit 1 (satu) orang. tengah. timur) Indonesia. Anggota yang ditunjuk adalah 12 ( dua belas) orang terdiri dari: . organisasi profesi.Pasal 15 (1) Ketua konsil keperawatan Indonesia dan ketua komite adalah perawat dan dipilih oleh dan dari anggota konsil keperawatan Indonesia. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja komite-komite diatur dengan Peraturan Konsil Pasal 17 (1) Keanggotaan Konsil terdiri dari unsur-unsur wakil Pemerintah. (2) Komite standar pendidikan profesi mempunyai tugas memvalidasi standar pendidikan profesi yang disusun oleh organisasi profesi.Asosiasi institusi pelayanan kesehatan masyarakat 1 (satu) orang. . dan wakil masyarakat. . institusi pendidikan. pelayanan.Departemen pendidikan Nasional 1 (satu ) orang b. (2) Jumlah anggota Konsil 21 (dua puluh satu) orang yang terdiri atas unsur-unsur yang berasal dari: a. menentukan ada tidaknya kesalahan disiplin yang dilakukan perawat dalam penerapan praktik keperawatan dan memberikan masukan kepada Ketua Konsil terkait disiplin perawat.Tokoh masyarakat 1 (satu) orang. (4) Komite Disiplin Keperawatan mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan kepada para perawat. . (2) Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan ketua konsil dan ketua Komite diatur dalam peraturan konsil Pasal 16 (1) Komite Uji Kompetensi dan Registrasi mempunyai tugas untuk melakukan uji kompetensi dan proses registrasi keperawatan. .Kolegium keperawatan 2 (dua) orang. .Asosiasi institusi pendidikan keperawatan 2 (dua) orang. (3) Komite Praktik Keperawatan mempunyai tugas untuk melakukan pemantauan mutu praktik Keperawatan dan menetapkan kebutuhan praktik keperawatan.

tidak memberikan atau menjanjikan sesuatu apapun kepada siapapun juga. ras. Keanggotaan Konsil ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri dengan rekomendasi organisasi profesi 2. 4. untuk melaksanakan tugas ini. berani.³ . senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau tidak mau dipengaruhi oleh campur tangan siapapun juga dan saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang saya yang diamanatkan Undang-Undang kepada saya. dengan menggunakan nama atau cara apapun juga. tidak membeda-bedakan jabatan. adil. bangsa dan negara. dan golongan tertentu dan akan melaksanakan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya serta bertanggung jawab sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. suku. dengan memperhatikan sistem manajemen secara berkesinambungan. tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian. Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan keanggotaan Konsil diatur dengan Peraturan Presiden. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. akan setia. taat kepada Negara Republik Indonesia. senantiasa menjunjung tinggi ilmu keperawatan dan mempertahankan serta meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan tetap akan menjaga rahasia kecuali jika diperlukan untuk kepentingan hukum. dalam menjalankan tugas ini. (2) Sumpah /janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut : t Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya. untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini. Menteri dalam mengusulkan keanggotaan Konsil harus berdasarkan usulan dari organisasi profesi 3. mempertahankan. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. obyektif. jujur. senantiasa akan menjalankan tugas dan wewenang saya ini dengan sungguh-sungguh. Masa bakti satu periode keanggotaan Konsil adalah 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk masa bakti 1 (satu) periode berikutnya.1. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. langsung atau tidak langsung. saksama. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia. agama. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945. masyarakat. jender. Pasal 19 (1) Anggota Konsil sebelum memangku jabatan terlebih dahulu harus mengangkat sumpah.

dan Melepaskan jabatan struktural dan/atau jabatan lainnya pada saat diangkat dan selama menjadi anggota Konsil. c. Bertempat tinggal tetap di luar wilayah Republik Indonesia. Berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya 65 (enam puluh lima) tahun pada waktu menjadi anggota Konsil Keperawatan Indonesia. Mempunyai pengalaman dalam praktik keperawatan minimal 5 tahun dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat. Pasal 22 (1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Konsil dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris konsil (2) Sekretaris diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (3) Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan anggota konsil (4) Dalam menjalankan tugasnya sekretaris bertanggung jawab kepada pimpinan Konsil (5) Ketentuan fungsi dan tugas sekretaris ditetapkan oleh Ketua Konsil a. Dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 21 (1) Keanggotaan Konsil berakhir apabila : a. Bagian Keempat Tata Kerja Pasal 23 . d. Warga Negara Republik Indonesia. diberhentikan sementara dari keangotaannya. e. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. e. memiliki moral. Meninggal dunia. d. etika dan integritas yang tinggi serta memiliki reputasi yang baik. (3) Pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Ketua Konsil.Pasal 20 Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota Konsil : Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. b. f. Cakap. atau (2) Dalam hal anggota Konsil menjadi tersangka tindak pidana kejahatan. Ketidakmampuan melakukan tugas secara terus-menerus selama 3 (tiga) bulan. h. f. kecuali untuk non perawat. Memiliki kredibilitas baik di masyarakat. Sehat rohani dan jasmani. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. jujur. g. c. b.

. Pasal 24 Pimpinan Konsil melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas anggota dan pegawai konsil agar pelaksanaan tugas dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangundangan. (2) Rapat pleno Konsil dianggap sah jika dihadiri oleh paling sedikit setengah dari jumlah anggota ditambah satu. BAB V STANDAR PENDIDIKAN PROFESI KEPERAWATAN Pasal 26 (1) Standar pendidikan profesi keperawatan disusun oleh organisasi profesi (2) Dalam rangka memperlancar penyusunan standar pendidikan profesi keperawatan.(1) Setiap keputusan Konsil yang bersifat mengatur diputuskan oleh rapat pleno anggota. (3) Keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mufakat. b. organisasi profesi dapat membentuk Kolegium Keperawatan (3) Standar pendidikan profesi keperawatan dimaksud pada ayat (1): a. maka dapat dilakukan pemungutan suara. untuk pendidikan profesi Ners disusun oleh Kolegium Ners generalis dengan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan. (4) Dalam hal tidak terdapat kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). untuk pendidikan profesi Ners Spesialis disusun oleh Kolegium Ners Spesialis dengan melibatkan asosiasi institusi pendidikan keperawatan. Bagian Kelima Pembiayaan Pasal 25 (1) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Konsil dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (2) Pembiayaan Konsil Keperawatan Indonesia ditetapkan oleh Ketua Konsil Keperawatan Indonesia.

Pasal 28 (1) Setiap perawat yang berpraktik harus meningkatkan kompetensinya melalui pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi. lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh konsil d.BAB VI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPERAWATAN BERKELANJUTAN Pasal 27 Pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi perawat yang berpraktik dan dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan keperawatan berkelanjutan. untuk perawat profesional. (2) Pendidikan dan pelatihan keperawatan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk program sertifikasi yang dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan berkelanjutan perawat yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Rekomendasi Organisasi Profesi Pasal 30 (1) Dalam menjalankan praktik keperawatan di Indonesia. (3) Pemerintah. Surat Tanda Registrasi Perawat disebut dengan Lisenced Vocasional Nurse (LVN) b. untuk perawat vokasional. memiliki ijazah Ners. Surat Tanda Registrasi Perawat disebut dengan Registered Nurse (RN) (3) Untuk melakukan registrasi awal. atau Ners Spesialis untuk Registered Nurse (RN) c. memiliki ijazah perawat Diploma untuk Lisenced Vocasional Nurse (LVN) b. pemerintah daerah dan atau sarana kesehatan yang memakai jasa perawat wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kompetensi dan sertifikasi perawat BAB VII REGISTRASI dan LISENSI PERAWAT Pasal 29 (1) Setiap perawat yang akan melakukan praktik keperawatan di Indonesia harus memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang diterbitkan Konsil melalui mekanisme uji kompetensi oleh konsil. perawat harus memenuhi persyaratan : a. lisensi praktik perawat diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang disebut dengan Surat Ijin Perawat yang . (2) Surat Tanda Registrasi Perawat sebagaimana ayat (1) terdiri atas 2 (dua) kategori: a.

Pasal 33 (1) Surat Tanda Registrasi Perawat berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali. Memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang disebut dengan Registered Nurse(RN) b. khusus untuk perawat profesional. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan (3) SIPV dan SIPP masih tetap berlaku sepanjang: a. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan (2) Syarat untuk memperoleh SIPP : a.terdiri dari Surat Ijin Perawat Vokasional (SIPV) atau Surat Ijin Perawat Profesional (SIPP) (2) Perawat vokasional yang telah memenuhi persyaratan LVN berhak memperoleh SIPV dan dapat melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan bersama. Pasal 31 (1) Syarat untuk memperoleh SIPV : a. Tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIPP (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tempat praktik untuk memperoleh SIPP diatur dalam peraturan Menteri. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan c. (3) Perawat profesional yang telah memenuhi persyaratan RN berhak memperoleh SIPP dan dapat melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan dan praktik mandiri. Pasal 32 (1) Perawat yang teregistrasi berhak menggunakan sebutan RN (Register Nurse) di belakang nama. atau LVN (Lisence Vocasional Nurse) untuk perawat vokasional. (2) Sebutan RN dan LVN ditetapkan oleh Konsil Keperawatan Indonesia. Memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang disebut dengan Lisenced Vocasional Nurse (LVN) b. Surat tanda Regstrasi Perawat masih berlaku b. . Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan d. (4) Lisenced vocasional Nurse (LVN) dengan latar belakang Diploma III Keperawatan dan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di sarana pelayanan kesehatan dapat mengikuti uji kompetensi Registered Nurse(RN). (5) Perawat LVN yang telah lulus uji kompetensi RN dapat memperoleh SIPP. Tempat praktik memenuhi persayaratan untuk praktek mandiri c.

(3) Ketentuan mengenai Adaptasi selanjutnya diatur oleh Peraturan Menteri (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b. (2) Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada sarana pendidikan milik pemerintah sesuai dengan jenjang pendidikan. Pasal 34 (1) Perawat Asing yang akan melaksanakan praktik keperawatan di Indonesia harus dilakukan adaptasi dan evaluasi sebelum di registrasi. kemampuan untuk melakukan praktik keperawatan yang dinyatakan dengan surat keterangan telah mengikuti program adaptasi dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yang dikeluarkan oleh konsil d. Pasal 35 (1) Surat Ijin Perawat vokasional sementara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara dapat diberikan kepada perawat warga negara asing yang melakukan kegiatan dalam rangka pendidikan. (2) Surat Ijin Perawat vokasional semetara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara sebagai mana dimaksud ayat (1) berlaku selama 1 ( satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 ( satu) tahun berikutnya. penelitian. pelatihan. registrasi perawat dari negera asal c. keabsahan ijazah. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan kode etik keperawatan Indonesia yang ditetapkan oleh organisasi profesi. dan e.(2) Registrasi ulang untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Perawat dilakukan dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada pasal 29 ayat (3). (6) Perawat asing yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) dapat diregistrasi oleh konsil dan selanjutnya dapat diberikan Surat Ijin Perawat oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan kualifikasi perawat vokasional atau Profesional. ditambah dengan angka kredit pendidikan berlanjut yang ditetapkan Organisasi Profesi. pelayanan keperawatan yang bersifat sementara di Indonesia. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental. Pasal 36 . (3) SIPP hanya diberikan paling banyak di 2 (dua) tempat pelayanan kesehatan. (5) Perawat asing selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga harus melengkapi surat izin kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan kemampuan berbahasa Indonesia. (3) Surat Ijin Perawat vokasional sementara atau Surat Ijin Perawat Profesional sementara dapat diberikan apabila telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 31.

(2) Perawat warga negara asing yang akan memberikan pendidikan dan pelatihan dalam rangka alih ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan untuk waktu tertentu. atau e. . dan pemulihan kesehatan. Pasal 40 Dalam melaksanakan praktik keperawatan. (4) Surat Ijin Perawat bersyarat dan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) diberikan melalui program adaptasi. BAB VIII PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN Pasal 39 Praktik keperawatan dilakukankan berdasarkan pada kesepakatan antara perawat dengan klien dalam upaya untuk peningkatan kesehatan. atas permintaan yang bersangkutan. c. registrasi. kuratif. perawat yang telah memililki SIPV atau SIPP berwenang untuk: a. registrasi ulang. pemeliharaan kesehatan. tidak memerlukan SIPP bersyarat. dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan. penetapan diagnosis keperawatan. habis masa berlakunya dan yang bersangkutan tidak mendaftar ulang. b. Pasal 37 SIPV atau SIPP tidak berlaku karena: a. registrasi sementara. yang bersangkutan meninggal dunia. dicabut oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Pejabat yang berwenang Pasal 38 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara uji kompetensi.(1) Surat Ijin Perawat Vokasional bersyarat atau Surat Ijin Perawat Profesional bersyarat diberikan kepada peserta program pendidikan keperawatan warga negara asing yang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Indonesia. (3) Perawat warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapat persetujuan dari Konsil. melaksanakan asuhan keperawatan yang didasari proses keperawatan terdiri dari pengkajian. d. melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. dan registrasi bersyarat diatur dengan Peraturan Konsil. perencanaan. pencegahan penyakit.

mempunyai hak: a. d. perawat yang telah memiliki SIPV berwenang untuk : a. (2) LVN dalam melaksanakan tindakan keperawatan di bawah pengawasan RN. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan keperawatan yang akan dilakukan. melakukan tindakan keperawatan di bawah pengawasan perawat yang memiliki SIPP b. Pasal 44 Hak Klien Klien dalam menerima pelayanan pada praktik keperawatan. Pasal 42 (1) Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat profesional (RN) dan perawat vokasional (LVN). tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi seperti yang tercantum dalam pasal 5 c. dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi. dan Pasal 45 Kewajiban Klien Klien dalam menerima pelayanan pada praktik keperawatan. b. melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 huruf a harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi. mendapatkan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar d.b. kewenangan perawat yang mempunyai SIPV dan SIPP seperti yang tercantum pada pasal 6 Pasal 41 Dalam melaksanakan praktik keperawatan. menolak tindakan keperawatan. c. mempunyai kewajiban: . meminta pendapat perawat lain. (3) Perawat dapat mendelegasikan dan atau menyerahkan tugas kepada perawat lain yang setara kompetensi dan pengalamannya. Pasal 43 Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mempekerjakan perawat yang tidak memiliki SIPV atau SIPP untuk melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan tersebut.

memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya. Menghormati hak-hak klien sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku. Menerima imbalan jasa profesi Pasal 48 Kewajiban Perawat Dalam melaksanakan praktik keperawatan. g. d. Merujuk klien fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik. b. apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau tindakan. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien dan atau pasien kecuali untuk kepentingan hukum. Menambah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan keperawatan dalam upaya peningkatan profesionalisme. c. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan otonomi profesi. d. e. b. Pasal 46 Pengungkapan Rahasia Klien Pengungkapan rahasia klien hanya dapat dilakukan atas dasar: a. Memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan SOP b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan /atau keluarganya. Perintah hakim pada sidang pengadilan c. perawat mempunyai hak : Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan dedikasi Memperoleh fasilitas kerja yang mendukung pekerjaan perawat profesional Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya. mematuhi nasihat dan petunjuk perawat.a. e. . Pasal 49 Praktik Mandiri a. c. f. Persetujuan klien b. Ketentuan perundang-undangan yang berlaku Pasal 47 Hak Perawat Dalam melaksanakan praktik keperawatan. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan. dan memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. c. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan untuk menyelamatkan jiwa f. perawat mempunyai kewajiban : a. d.

Penghargaan kepada perawat dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. tingkat nasional. khitan tanpa komplikasi. Penghargaan kepada perawat dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi untuk melakukan asuhan keperawatan (5) Persyaratan perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pelayanan KB. tingkat kabupaten/kota. (4) Perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan: a. piagam. konseling. berdedikasi luar biasa. organisasi profesi. (5) . dan/atau bentuk penghargaan lain. b. finansial. terapi komplementer. dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. hari ulang tahun satuan pendidikan. pemerintah daerah. Tindakan terapi keperawatan. d. dan/atau hari besar lain. Penghargaan dapat diberikan pada. masyarakat. (6) Perawat yang telah mempunyai SIPP dan menyelenggarakan praktik mandiri wajib memasang papan nama praktik keperawatan.(1) Praktik mandiri dapat dilakukan secara perorangan dan atau berkelompok dan atau kunjungan rumah (2) Perawat yang melakukan praktik mandiri mempunyai kewenangan sesuai yang tercantum pada pasal 5 (3) Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada praktik mandiri meliputi: a. Pasal 51 (1) (2) (3) (4) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah. hari pendidikan nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Perawat yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah. tingkat kecamatan. Memiliki tempat praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan. pertolongan persalinan. BAB IX PENGHARGAAN DAN PERLINDUNGAN Pasal 50 Penghargaan (1) Perawat yang berprestasi. kenaikan pangkat istimewa. dan/atau tingkat internasional. Perawatan dirumah atau dalam bentuk lain sesuai dengan peraturan yang berlaku c. imunisasi. hari ulang tahun kabupaten/kota. pemerintah daerah. dan/atau masyarakat. sesuai dengan standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Pemberian pengobatan terbatas dan tindakan medik terbatas. ayat (3). hari perawat nasional. ayat (2). tingkat provinsi. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan/atau satuan pendidikan. hari ulang tahun provinsi. advokasi dan edukasi keperawatan b.

kesehatan lingkungan kerja. Pasal 54 (1) Pembinaan dan pengembangan perawat meliputi pembinaan profesi dan karir (2) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kompetensi profesional dan kepribadian (3) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat dilakukan melalui Jenjang Karir Perawat. mengembangkan dan mengawasi praktik keperawatan sesuai dengan fungsi serta tugas masing-masing. masyarakat. pemerintah daerah. PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN Pasal 53 Pemerintah. (3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan. intimidasi. kenaikan pangkat /Peringkat dan promosi. BAB X PEMBINAAN. pembatasan dalam menyampaikan pandangan. Konsil . dan Organisasi Profesi membina. atau perlakuan tidak adil dalam melaksanakan pekerjaan profesinya. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum. (4) Pembinaan dan pengembangan karir perawat sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi penugasan. kebakaran pada waktu kerja. dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat perawat dalam melaksanakan tugas. bencana alam. pelecehan terhadap profesi. ancaman. . perlakuan diskriminatif. organisasi profesi. pemberian imbalan yang tidak wajar.PERLINDUNGAN Pasal 52 (1) Pemerintah. (5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja. kecelakaan kerja. perlindungan profesi. dan/atau institusi sarana kesehatan wajib memberikan perlindungan terhadap perawat dalam melaksanakan tugas. dan/atau risiko lain. (4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan perawat c. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan. b. diarahkan untuk: a. d. pengembangan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. Kewajiban mengikuti Pendidikan atau Pelatihan pada Institusi Pendidikan Keperawatan. Pasal 58 Dalam rangka pembinaan dan pengawasan perawat yang menyelenggarakan praktik keperawatan dapat dilakukan supervisi dan audit sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. konsil dan organisasi profesi membina serta mengembangkan kualifikasi dan kompetensi perawat pada institusi baik pemerintah maupun swasta. Pasal 57 (1) Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPV atau SIPP. (2) Pemerintah memberikan anggaran untuk meningkatkan profesionalisme perawat pada institusi pelayanan pemerintah. Melindungi perawat terhadap keselamatan dan risiko kerja. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat. c. Pasal 59 Sanksi Administratif dan Disiplin (1) Perawat yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 37 dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 1 (satu) tahun (2) Perawat yang dinyatakan melanggar disiplin Profesi dikenakan sanksi sebagai berikut: a. Rekomendasi Pencabutan Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Perawat .Pasal 55 (1) Pemerintah. Pemberian Peringatan Tertulis b. (3) Pemerintah menetapkan kebijakan anggaran untuk meningkatkan profesionalisme perawat pada institusi pelayanan swasta Pasal 56 Pembinaan. Melindungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan perawat.

(3) Pelanggaran disiplin sebagai mana dimaksud ayat (2) diteliti dan ditetapkan oleh konsil.000. organisasi.000. Pelanggaran ringan dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 6 (enam) bulan b.000.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah).00 (tujuh puluh lima juta rupiah). 150. 25. perorangan yang dengan sengaja mempekerjakan perawat yang tidak memiliki SIPV atau SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 43 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 huruf b sampai dengan huruf e (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. Pasal 61 Institusi pelayanan kesehatan.000. Pasal 62 Perawat yang dengan sengaja: (1). Pasal 60 Sanksi Pidana Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPV atau SIPP dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.000. Pasal 63 Penetapan sanksi pidana harus didasarkan pada motif pelanggaran dan berat ringannya risiko yang ditimbulkan sebagai akibat pelanggaran. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN . Pelanggaran berat dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 3 (tiga) tahun (5) Sanksi Administratif terhadap pelanggaran disiplin sebagaimana dimaksud ayat (4) dilakukan oleh Kepala Dinas Kab/Kota atau Pejabat yang berwenang setelah dilakukan penelitian dan usul dari Komite Disiplin Keperawatan Konsil. Pelanggaran sedang dikenakan sanksi pencabutan sementara SIPV atau SIPP paling lama 1 (satu) tahun c. 75. (4) Pencabutan Surat Izin Perawat sebagaimana dimaksud ayat (2) c dapat berupa: a.00 (dua puluh lima juta rupiah).

ijin praktik yang diberikan sesuai KepMenKes Nomor 1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan. Pada saat diundangkannya Undang-Undang ini. masih tetap berlaku sampai berakhirnya izin praktik tersebut sesuai ketentuan. Pada saat diundangkannya Undang-Undang ini semua peraturan perundang-undangan yang merupakan pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang berkaitan dengan pelaksanaan praktik keperawatan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 66 Konsil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dibentuk paling lama 6 (enam) bulan sejak Undang-undang ini diundangkan. Pasal 65 Dengan telah diberlakukannya Undang Undang Keperawatan.Pasal 64 (1). Agar setiap orang mengetahuinya. masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti berdasarkan Undangundang ini. Disahkan di Jakarta Pada tanggal ««««««« SIDEN REPUBLIK INDONESIA . (2). Pasal 67 Undang-Undang ini mulai berlaku 1 (satu) tahun sejak tanggal diundangkan. sebelum terbentuknya Konsil Keperawatan Indonesia maka dalam kegiatan perijinan dilaksanakan sesuai ketentuan yang ada.

Cukup jelas .ttd SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada Tanggal ««««««. SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd HATTA RAJASA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ««««« NOMOR «««««« PENJELASAN Rancangan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR «««««««««. TENTANG PRAKTIK KEPERAWATAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Ayat (1) .

Cukup jelas Ayat (14) . Cukup jelas Ayat (13) . Cukup jelas Ayat (8) . Cukup jelas Ayat (16) . Cukup jelas Ayat (6) . Cukup jelas Ayat (4) . Cukup jelas Ayat (11) . Cukup jelas . Cukup jelas Ayat (7) . Cukup jelas Ayat (19) . Cukup jelas Ayat (10) . Cukup jelas Ayat (15) . Cukup jelas Ayat (12) . Cukup jelas Ayat (5) . Cukup jelas Ayat (17) . Cukup jelas Ayat (18) . Cukup jelas Ayat (9) . Cukup jelas Ayat (3) .Ayat (2) .

Kemanusiaan adalah bahwa dalam penyelenggaraan praktik keperawatan memberikan perlakuan yang memenuhi hak azazi manusia sebagai penerima pelayanan yaitu hak memperoleh pelayanan yang aman. terjangkau dan bermutu dalam konteks pelayanan kesehatan. f. Manfaat adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pasal 3 Cukup Jelas BAB III LINGKUP PRAKTIK KEPERAWATAN Pasal 4 . e. Cukup jelas Ayat (21) . nilai ilmiah adalah bahwa praktik keperawatan harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan b. justice. Keseimbangan adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan atas keseimbangan antara hak dan kewajiban penerima dan pemberi pelayanan. pendidikan maupun pengalaman praktik.Ayat (20) . nonmaleficience. Nilai moral (Etika dan etiket) adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus mengacu pada prinsip-prinsip moral antara lain beneficience. merata. g. veracity. Cukup jelas BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan. Perlindungan dan keselamatan pasien adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan dilakukan dengan kehati-hatian sesuai dengan standard praktik keperawatan. Keadilan adalah bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan harus mampu memberikan pelayanan yang dan tidak diskriminatif. hak untuk mendapatkan informasi. non-diskriminatif dan otonomi. hak untuk didengar serta hak untuk memilih. tehnologi yang diperoleh baik melalui penelitian. d. a. c. .

cukup jelas Huruf c. Pegobatan adalah pemberian obat-obatan (kecuali obat-obat yang berlabel merah tidak termasuk obat-obat yang masuk dalam DOA /Daftar obat Apotik) Tindakan medik terbatas yang dimaksud adalah tindakan medik termasuk pengobatan dalam rangka penyembuhan dan pemulihan penyakit-penyakit ringan yang lazim timbul di masyarakat di suatu wilayah (common illness) yang dilakukan oleh perawat professional yang kompeten sesuai dengan Protokol. akibat kelemahan fisik dan mental. keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan untuk berfungsi optimal. dan kurangnya kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri Ayat (2) Cukup Jelas Ayat (3) Huruf a .Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Asuhan keperawatan diberikan akibat kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Tugas dan Wewenang Konsil Pasal 10 Pasal 11 Cukup Jelas . cukup jelas Huruf b . Pasal 6 Cukup Jelas Pasal 7 Cukup Jelas BAB IV KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA Bagian Kesatu Nama dan Kedudukan Pasal 8 Cukup Jelas Pasal 9 Cukup Jelas Bagian Kedua Fungsi.

Wilayah tengah meliputi Kalimantan. Uji kompetensi adalah suatu proses penilaian terhadap perawat yang mencakup aspek pengetahuan. Wilayah timur meliputi NTT. barat meliputi pulau sumatera dan Jawa. Kepulauan Maluku dan Papua. cukup jelas Ayat (2). keterampilan serta sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan. Penyusunan standar pendidikan profesi keperawatan dilakukan oleh organisasi profesi termasuk kolegium Pasal 12 Cukup Jelas Pasal 13 Cukup Jelas Bagian Ketiga Susunan Organisasi dan Keanggotaan Pasal 14 Cukup Jelas Pasal 15 Cukup Jelas Pasal 16. masing-masing 3 orang kemudian dilakukan pemilihan secara serempak di tiga wilayah utama yaitu. Sulawesi. Bali dan NTB. Ayat (1) . Ayat (1). Pasal 18 Cukup Jelas Pasal 19 Cukup Jelas Pasal 20 Cukup Jelas Pasal 21 Cukup Jelas Pasal 22 Cukup Jelas Bagian Keempat . Yang dimaksud dengan anggota konsil yang dipilih sebagaimana huruf (b) adalah pemilihan melalui mekanisme pencalonan dari 3 wilayah. Pasal 17 .Ayat (1) Huruf b Yang dimaksud dengan standar pendidikan profesi keperawatan adalah pendidikan profesi yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sistim pendidikan nasional.

Tata Kerja Pasal 23 Cukup Jelas Pasal 24 Cukup Jelas Bagian Kelima Pembiayaan Pasal 25 Cukup Jelas BAB V STANDAR PENDIDIKAN PROFESI KEPERAWATAN Pasal 26 Cukup Jelas BAB VI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPERAWATAN BERKELANJUTAN Pasal 27 Cukup Jelas Pasal 28 Cukup Jelas BAB VII REGISTRASI dan LISENSI PERAWAT Pasal 29 Cukup Jelas Pasal 30 Cukup Jelas Pasal 31 Cukup Jelas Pasal 32 .

b. cukup jelas Huruf e . Cukup jelas Pasal 34 Cukup Jelas Pasal 35 Cukup Jelas Pasal 36 Ayat (1). Cukup jelas Ayat (3). d . c. Cukup jelas Ayat (3). Cukup jelas Ayat (2). Pasal 38 Cukup Jelas BAB VIII PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN Pasal 39 Cukup Jelas Pasal 40 Cukup Jelas Pasal 41 . Pencabutan SIPP oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota karena perawat dinyatakan melanggar ketentuan administratife atau disiplin. Cukup jelas Ayat (2).Cukup Jelas Pasal 33 Ayat (1). Cukup jelas Pasal 37 Huruf a.

PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN Pasal 53 . Pasal 44. Cukup jelas Ayat (2). Pengawasan yang dilakukan oleh perawat professional kepada perawat vokasional adalah dimaksudkan agar praktik keperawatan berjalan dengan aman sesuai standar profesi dan dalam rangka melindungi masyarakat memperoleh pelayanan keperawatan yang aman. Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Cukup Jelas Pasal 47 Cukup Jelas Pasal 48 Cukup Jelas Pasal 49 Ayat (3) Hurup d BAB IX PENGHARGAAN DAN PERLINDUNGAN Pasal 50 Cukup Jelas Pasal 51 Cukup Jelas Pasal 52 Cukup Jelas BAB IX PEMBINAAN. Ayat (3). Pendelegasian kepada perawat yang setara kemampuan dan pengalamanya dimaksudkan agar praktik keperawatan yang diberikan berjalan dengan aman. Ayat (1).Cukup Jelas Pasal 42.

Cukup Jelas Pasal 54 Cukup Jelas Pasal 55 Cukup Jelas Pasal 56 Cukup Jelas Pasal 57 Cukup Jelas Pasal 58 Cukup Jelas Pasal 59 Cukup Jelas Pasal 60 Cukup Jelas Pasal 61 Cukup Jelas Pasal 62 Cukup Jelas Pasal 63 Cukup Jelas BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 Cukup Jelas Pasal 65 Cukup Jelas BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 66 Cukup Jelas Pasal 67 Cukup Jelas .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful