Laporan Praktikum Proyek Genetika Molekuler Mikroba Percobaan 01 Pembuatan Larutan

Nama NIM Tgl. Percobaan Tgl. Pengumpulan Kelompok Asisten

: Ridwan Muhamad Rifai : 10408040 : 26 Agustus 2010 : 2 September 2010 :6 : Rahma

Program Studi Mikrobiologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung 2010

Terakhir. Kemudian diaduk hingga semua NaOH larut. gelas kimia 250 ml diletakkan di atas es karea reaksi sangat eksotermik sehingga menghasilkan panas. larutan dipindahkan dalam botol kaca untuk penyimpanan. Setelah terlarut sempurna. Untuk membuat 100 ml NaOH 10 N maka berat ekivalen NaOH yang dibutuhkan adalah 1 mol = 40 gr. Tujuan a. Mendeskripsikan fungsi NaOH dalam PCR 2. Lalu ditepatkan dengan akua dm hingga tepat 100 ml untuk selanjutnya dihomogenisasi.1. Pada saat pengadukan ini. Lalu ditambah akua dm sebanyak 70 ml. Perhitungan kuantitas akua dm yang harus ditambahkan adalah sebagai berikut. Metode NaOH dalam sediannya terdapat dalam bentuk padat berupa pelet –pelet. Teknis pembuatannya adalah pertama-tama 40 gr NaOH padat dimasukan dalam gelas kimia 250 ml. Sebagai catatan tambahan. larutan ini dimasukan dalam labu seukuran 100 ml dengan bantuan corong. Untuk membuat larutan NaOH 10 N maka pelet-pelet tersebut harus dilarutkan dalam air (akua dm). bila NaOH bereaksi dengan air maka akan menimbulkan kalor karena reaksi bersifat eksotermik. . Membuat 100 ml larutan NaOH 10 N b. Dengan demikian berat NaOH = berat ekivalen NaOH. Bila NaOH dilarutkan dalam air maka akan terjadi raksi sebagai berikut Dari persamaan di atas maka ekivalen NaOH terhadap H2O adalah 1.

Karena itu sebaiknya NaOH disimpan dalam wadah kedap udara dan ketik akan ditimbang maka harus dilakukan secepat mungkin dan langsung dimasukkan dalam wadah pelarutan guna mencegah galat massa akibat penyerapan air oleh NaOH. tak terasa panas pada bagian bawah gelas kimia. bagian bawah gelas kimia terasa sangat panas sehingga harus diletakan di atas serutan es. kerak tersebut melarut. 4. NaOH bertekstur basah apalagi ketika dibiarkan di udara terbuka. Setelah sekian lama diaduk. Hasil Pengamatan Pada saat masih dalam bentuk padat. tinggi larutan dalam labu seukuran berkurang dan tidak tepat 100 ml. Ketika ditambahkan pelarut lagi. Setelah ditepatkan dalam labu seukuran dan dihomogenisasi. ternyata NaOH menempel di dasar gelas kimia.3. Pelarut yang dipilih harus berupa akua dm (air demineralisasi) yang tak mengandung kation maupun anion. Hal ini dapat dibuktikan karena ketika ditambahkan akua dm lagi sebagai pelarut maka kerak perlahan menghilang dan larut. Ketika ditambahkan air lagi. Kerak yang menempel pada gelas kimia ketika pelarutan berlangsung diakibatkan oleh telah jenuhnya larutan sehingga NaOH tak dapat larut dan tetap berada dalam fasa padat walaupun terus diaduk. . Selain itu ketika kerak diaduk. Pembahasan NaOH bertekstur basah dalam keadaan kontak dengan udara terbuka karena NaOH padat bersifat hidroskopis sehingga menyerap air dari udara. Hal ini mengindikasikan reaksi antara air dan NaOH telah berhenti pada saat kerak terbentuk. Pada saat melarutkan NaOH dengan akua dm. Setelah semua larutan homogen maka larutan akan berwarna bening dan tidak berasa panas lagi. Hal ini untuk mengefisienkan reaksi dan mencegah reaksi antara kation maupun anion dengan zat terlarut yang dapat menimbulkan kesalahan pembuatan larutan dan analisisnya. gelas kimia berasa panas yang mengindikasikan air dan NaOH kembali bereaksi.

Dalam PCR. NaOH digunakan untuk memecahkan sel sehingga DNA dapat diisolasi (alkaline base rupturization). 5. 100 ml larutan NaOH 10 N dibuat dengan melarutkan 40 gr padatan NaOH dengan air (akua dm) yang ditepatkan hingga 100 ml b. Selain itu NaOH berguna dalam pendenaturasian DNA plasmid double-stranded menjadi DNA plasmid singlestranded pada isolasi plasmid. Diasumsikan ketika penepatan. reaksi belum berlangsung sempurna dan densitas substrat lebih rendah daripada densitas produk sehingga volume produk berkurang dibandingkan dengan volume pada saat penepatan.Ketika larutan telah ditepatkan dalam labu seukuran dan dihomogenisasi ternyata volume larutan berkurang. . Hal ini dapat diindikasikan pada saat penghomogenisasian yang menyebabkan labu menjadi panas yang berarti reaksi masih berlangsung. Larutan ini tak perlu diautoklaf/disterilisasi karena secara otomatis tak ada satupun organisme bahkan protein yang dapat aktif pada kondisi basa seekstrem itu (pH=15). Selain itu hal ini juga dapat diakibatkan oleh reaksi yang belum tuntas antara air dan NaOH pada saat penepatan dalam labu seukuran. Setelah larutan siap maka harus disimpan dalam wadah tertutup yang inert agar NaOH tak bereaksi. Kesimpulan a. Hal ini dapat diakibatkan adanya larutan yang menempel pada tutup dan leher labu ketika labu dihomogenisasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.