P. 1
Desentralisasi Dalam Pengelolaan Jaringan Jalan

Desentralisasi Dalam Pengelolaan Jaringan Jalan

|Views: 174|Likes:
Published by Trisna Hidayat

More info:

Published by: Trisna Hidayat on Jul 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2015

pdf

text

original

DESENTRALISASI DALAM PENGELOLAAN JARINGAN JALAN DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BELITUNG

ABSTRAKSI
Seiring dengan dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah di Indonesia, tanggung jawab penyelenggaraan dalam pemeliharaan dan pengembangan jaringan jalan regional beralih ke pemerintah daerah. Peralihan tanggung jawab tersebut sudah sewajarnya harus dapat diimbangi dengan kemampuan pemerintah daerah dalam kemampuan teknik, manajerial dan pembiayaan dalam penyelenggaraan jalan. Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, pada era otonomi daerah hal ini berkaitan dengan pengelolaan jalan. Jalan merupakan salah satu bidang yang didesentralisasi pada era otonomi daerah, hal tersebut mengakibatkan jalan dikelola oleh pemerintah daerah dan diberikan kebebasan menggunakan dana yang tersedia, baik yang berasal dari potensi daerah maupun berupa bantuan dan perimbangan pemerintah pusat. Fenomena tersebut mengharuskan pemerintah daerah menjalankan fungsi politik, perencanaan pembangunan, pelibatan masyarakat dalam pembangunan, menghadapi pelimpahan kewenangan dari pusat secara cepat, serta tuntutan profesionalitas dan manajemen pelayanan umum. Kata-kata kunci : otonomi daerah, perimbangan keuangan

1. PENDAHULUAN Sebagai sebuah provinsi yang termasuk baru terbentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 27 tahun 2000, tentu saja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih dalam masa melakukan pembenahan dan perbaikan pada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Di samping itu melalui otonomi luas sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, diharapkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung yang dikenal dengan “Bumi Serumpun Sebalai” ini mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman yang dimiliki dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1

Gambar 1. Peta Jaringan Jalan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Konsekuensi dari desentralisasi terhadap aspek globalisasi secara nyata perlu adanya pembuktian dari penyusun dan pengatur kebijakan di daerah untuk meningkatkan kinerja dalam persaingan terhadap kemampuan daerah masingmasing dalam berinovasi dan membenahi kelembagaannya agar lebih efektif dan efisien dalam pelayanan umum kepada masyarakat untuk bisa menyesuaikan tuntutan peran pemerintah. Pelayanan umum kepada masyarakat tersebut salah satunya adalah pengupayaan terhadap pemeliharaan jalan yang terkoordinasi dan termanage dengan baik dan efisien, hal ini didasari oleh peran jalan itu sendiri yang notabene merupakan salah satu objek Dalam utama dalam menunjang tugas/peran setiap tersebut aktifitas maka masyarakat/penduduk. mengemban

pengembangan kapasitas instansi yang berkompeten dalam pemeliharaan jalan tidak hanya cukup diberi dengan kewenangan saja (otonomi), tetapi perlu adanya antisipasi faktor lingkungan organisasi dan anggaran pembiayaan yang terus mengalami perubahan walaupun ditujukan untuk meningkatkan kinerja pelayanan. Lembaga pemerintah daerah (dalam hal ini lembaga yang terkait dengan pembiayaan pemeliharaan jalan) diharapkan mampu menjadi instansi yang mampu 2

membaca/mengetahui keinginan dari masyarakat dalam kaitannya dengan tingkat pelayanan dan kinerja jalan dan instansi yang mampu mengantisipasi apa yang masyarakat inginkan dimasa depan dibandingkan hanya “puas” mencukupi apa yang dibutuhkan masyarakat beberapa masa yang terdahulu. Lembaga terkait harus selalu menjalankan visi dan misi yang telah dicanangkan. Untuk itu pengaturan kebijakan yang tepat dengan kompetensi lembaga pemerintah daerah yang kuat dalam mengelola kelembagaan dan sumberdaya secara efektif dan efisien dengan sendirinya akan membentuk suatu organisasi pelaksana pembiayaan pemeliharaan jalan yang kuat. 2. SISTEM DAN SUBSISTEM MANAJEMEN PRASARANA UMUM

Rencana dan Program
Organisasi dan Sistem Manajemen Pekerjaan

Pengelola Prasarana Umum

Anggaran

Sistem Manajemen Keuangan

Sistem Pendukung Keputusan Sistem Manajemen Operasi

Sistem Prasarana Umum

Sistem Manajemen Pemeliharaan Sistem Manajemen Proyek

Gambar 2. Sistem dan Subsistem Manajemen Prasarana Umum (Grigg, 1998) a. Rencana dan Program Dalam perumusan kebijakan dalam usulan rencana pembiayaan pemeliharaan jalan, tidak sepenuhnya usulan program didasarkan pada hasil survei teknis dari pihak/instansi yang berwenang. Penjaringan aspirasi dari masyarakat juga merupakan pedoman dalam penetapan usulan pemeliharaan jalan. Penjaringan 3

aspirasi masyarakat tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi kelemahan secara menyeluruh dari suatu kebijakan, baik yang berasal dari kelemahan strategi kebijakan sendiri maupun karena kelemahan dalam menyempurnakan kebijakan. Teknik perumusan kebijakan kreatif adalah bersifat inovatif melalui terobosan-terobosan baru yang berkaitan dengan intuisi, imajinasi dan ketrampilan dari berbagai pihak yang terlibat dalam penentuan kebijakan. Rencana dan Program pengelolaan prasarana umum di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung disesuaikan dengan Visi dan Misi Kepala Daerah (Gubernur) yang dituangkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Kondisi sekarang pengelolaan jaringan jalan menjadi hal yang penting pada pemerintahan Kepala Daerah periode 2007-2012 yang tergambar pada Vsi dan Misi untuk membuat Jaringan Jalan yang menghubungkan seluruh Provinsi di Pulau Bangka Belitung dan Pulau Belitung b. Organisasi dan Sistem Manajemen Pekerjaan Kebijakan lembaga pemerintah daerah yang terkait dengan pemeliharaan jalan secara harfiah bersumber pada manajerial kebijakan desentralisasi kewenangan daerah seperti yang tertuang dalam UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta UU Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan. Kebijakan peningkatan kapasitas sebenarnya muncul lebih kepada kesadaran dalam menghadapi keraguan-keraguan menghadapi desentralisasi yang begitu cepat dan yang berarti pelimpahan kewenangan yang penuh dari pusat ke daerah termasuk pelayanan publik (public service) berupa pemeliharaan jalan Provinsi dan Provinsi. Ditinjau dari kapabilitasnya dalam pelaksanaan pemeliharaan jalan, kompetensi lembaga-lembaga terkait tidak hanya berupa siapa instansi yang berkompetensi tetapi bagaimana instansi tersebut bertindak terhadap kompetensi mereka dalam pelaksanaan pemeliharaan jalan, terutama dalam kaitannya dengan organisasi pembiayaannya. Suatu mekanisme kinerja instansi dapat dinilai kesuksesannya jika proses kapabilitasi mampu secara konsisten menyediakan pelayanan optimal terhadap masyarakat. 4

Untuk pemerintah provinsi, negara memberikan wewenang penyelenggaraan jalan meliputi penyelengggaraan jalan provinsi. Selanjutnya sesuai dengan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia wewenang tersebut dilimpahkan kepada instansi yang ditunjuk di daerah. Wewenang penyelenggaraan jalan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan yang meliputi seluruh siklus kegiatan dan perwujudan jalan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan. Dinas Pekerjaan Umum sebagai ujung tombak pembangunan jalan di provinsi telah memiliki organisasi yang cukup berkompeten tetapi dilihat dari sistem manajemen pekerjaan yang ada sekarang belum memiliki manajemen pekerjaan yang teratur atau terkoordinasi karena pengelolaan dan penyusunan database yang belum teratur sehingga dalam perencanaan selanjutnya mengalami kesulitan. c. Sistem Pendukung Keputusan Semua keputusan yang diambil oleh Kepala Daerah diambil berdasarkan program yang dicanangkan dalam visi dan misi kepala daerah, yang diawali dengan proses perencanaan pembangunan berdasarkan mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Penyusunan Daftar Prioritas Kegiatan Pembangunan Provinsi Bangka Belitung disusun oleh Bappeda melalui usulan teknis. Menurut Undangundang nomor 25 tahun 1999 tentang Keuangan Daerah proses perencanaan dilaksanakan secara buttom up yaitu berdasarkan hasil musyawarah yang berjenjang mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga Provinsi/kota. Untuk itu, dalam penetapan program oleh lembaga teknis pemeliharaan jalan (Dinas PU) harus didasarkan oleh tingkat kebutuhan pemenuhan tingkat pelayanan dari berbagai tuntutan, keluhan maupun pandangan masyarakat sebagai penerima dan “yang merasakan hasil” akan tingkat pelayanan jalan. Proses perencanaan program pembangunan tersebut dimulai dari tingkat desa, kecamatan hingga Provinsi Rentang waktu dalam proses perencanaan diharapkan tidak terlalu lama sehingga tidak menyebabkan permasalahan berupa kerusakan jalan, yang semestinya program yang diusulkan hanya berupa pelaksanaan pemeliharaan jalan. Jadi sistem pendukung untuk keputusan yang diambil telah melalui tahapan-tahapan yang telah melalui prosedur walaupun kalau 5

dilihat keputusan yang diambil cenderung dipaksakan hanya untuk mencapai target RPJMD yang dicanangkan pada awal pemerintahan Kepala Daerah. d. Sistem Manajemen Operasi dan Manajemen Pemeliharaan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Statistik serta Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi merupakan perangkat daerah yang dilimpahkan kewenangan dibidang kePUan termasuk Bidang Sarana dan Prasarana atau sebagai Pembina Jalan Provinsi, sehingga dapat disebutkan jika pengemban tugas sebagai pelaksana teknis pemeliharaan jalan Sebagai ilustrasi, Dinas Pekerjaan Umum sebagai unsur pelaksana Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung dipimpin langsung oleh seorang Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Proses restrukturisasi organisasi yang dilakukan terhadap pembentukan Dinas Pekerjaan Umum tampaknya baru pada tahap penggabungan dari berbagai unsur dibidang ke-PUan, sedangkan secara substansional masih terdapat duplikasi kewenangan operasional sebagai contoh beberapa kebijakan pengembangan pelayanan fasilitas transportasi dikelola oleh Dinas Perhubungan seperti halnya pembangunan halte. Pengaruh dari struktur organisasi seperti ini menyebabkan proses koordinasi dan kerjasama dilingkungan Dinas PU menjadi kendala. Salah satu dampak nyata yang sedang dihadapi adalah proses pendataan aset sarana dan prasarana kantor serta penyebarannya dimana mengakibatkan pembengkakan pada investasi peralatan maupun pemeliharaannya. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung setiap tahun mengalokasikan anggaran perencanaan teknis jalan Provinsi, termasuk untuk pemeliharaan jalan. Di dalam rapat pembahasan Panitia Anggaran Eksekutif ditetapkan skala prioritas berdasarkan masukan-masukan dari masyarakat dan Jaring Asmara (Penjaringan Aspirasi Masyarakat) oleh anggota DPRD dalam Musrenbang tingkat Provinsi, walaupun dalam dokumen perencanaan teknis yang dibuat oleh tim perencana jalan sudah ditetapkan prioritas-prioritas pemeliharaan 6

jalan. Dalam pembahasan tingkat komisi akan merubah posisi prioritas penanganan pemeliharaan jalan antara lain berupa:  Hasil pembahasan komisi akan dibawa pada rapat pembahasan Tim Anggaran Legislatif dari berbagai anggota komisi atau fraksi yang ada di DPRD.

Pesan atau titipan dari kolega sesama anggota DPRD yang di dapat bukan dari anggota Tim Anggaran. Pendapat subjektif anggota panitia anggaran legislatif untuk menunjukkan eksistensi atau panji politik dari anggota DPRD yang bersangkutan. Menambah usulan baru yang tidak termasuk dalam Renstra, RKPD dan/atau Musrenbang tingkat Provinsi

 Mengurangi target atau volume dan jumlah anggaran yang dialokasikan pada ruas jalan yang menjadi prioritas. Sebelum sampai pada tingkat paripurna Rapat RAPERDA APBD tahun yang bersangkutan masih dimungkinkan terjadi perubahan-perubahan dengan penambahan usulan baru tingkat pimpinan DPRD dengan muatan subjektif dan politis anggota Dewan. Adanya muatan subjektif dan politis tersebut mengindikasikan bahwa sikap mental pelaku sistem di Indonesia masih belum cocok dengan kebutuhan pembangunan sehingga masih bersifat menghambat. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, 2004 dalam bukunya yang berjudul Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, menyebutkan bahwa sistem budaya pada pembangunan di Indoenesia masih tergantung pada mentalitet pelaku kebijakan yang masih hanya mementingkan karya sendiri untuk kedudukan saja. Adanya mentalitet penentu kebijakan semacam inilah yang amat tidak cocok untuk pembangunan, karena melemahkan disiplin sejati dan mengamburkan rasa tanggungjawab pribadi. e. Sistem Manajemen Proyek Berdasarkan tahun anggaran berjalan perencanaan program dilakukan untuk rencana penanganan tahun berikutnya, proses program usulan diawali dengan identifkasi ruas-ruas jalan yang akan dilakukan penanganan pemeliharaan jalan dengan memperhatikan catatan atau laporan tentang tingkat kerusakan jalan pada ruas-ruas jalan Provinsi secara umum. Selanjutnya dilakukan survei, investigasi, 7

pengukuran serta data lainnya yang terkait. Perencanaan teknis selalu dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum baik survei lapangan maupun pelaksanaan perhitungan teknis analisis sampai kepada perhitungan rencana anggaran biaya. Dokumen perencanaan teknis ini dijadikan dasar untuk memenuhi kriteria format Program Pembangunan Daerah Tahunan, selanjutnya disebut RASK (Rencana Anggaran Satuan Kerja), setelah pembahasan RASK pada Tim Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) tingkat Provinisi, dalam kegiatan ini akan ditentukan estimasi besaran alokasi pembiayaan pemeliharaan jalan dan termasuk skala prioritas, disandingkan dengan alat kontrol atau dokumen lain perencanaan daerah berupa RKPD (Rencana Kegiatan Perangkat Daerah). Hasil rapat Musrenbang Provinsi dan Dokumen RKPD menjadi patokan bagi Panitia Anggaran Eksekutif dalam menilai kelayakan dan prioritas kegiatan dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Hasil kerja Panitia Anggaran Eksekutif akan menjadi dokumen usulan RAPBD tahun berjalan, bersama Panitia Anggaran Legislatif melakukan pembahasan intensif sehinggga menghasilkan Rancangan APBD yang selanjutnya disahkan menjadi Peraturan Daerah Provinsi Bangka Belitung sebagai pedoman dalam pelaksananaan APBD Provinsi Bangka Belitung, selanjutnya bersamaan dengan pembentukan organisasi pelaksana kegiatan dan kepanitiaan dalam rangka pelaksanaan pelelangan, kemudian dilakukan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jalan. Implikasi positif terhadap pemberian kewenangan pengelolaan pendanaan pemeliharaan jalan terhadap keuangan daerah antara lain (Mardiasmo, 2002):  Meningkatkan keleluasaan daerah dalam memanfaatkan dana alokasi umum  Beralihnya prioritas pembangunan dari sektoral menjadi regional  Daerah mendapat prioritas alokasi dana sesuai dengan kebutuhannya.  Terjadi pengalokasian dana sesuai sekala prioritas daerah dan akuntabilitas yang lebih besar karena pengaasan lebih kuat ditingkat lokal (check and balance).  Memberikan penegasan kewenangan kepada daerah untuk lebih rasional dalam pemanfaatan sumber penerimaan daerah. Daerah akan lebih bertanggung jawab atas pemanfaatan dana dan mengurangi ketergantungan terhadap arahan dan 8

petunjuk pusat. Hal ini merupakan proses untuk meningkatkan kemandirian pemerintah daerah dalam pembiayaan otonominya  Perlunya kontrol dan peran yang lebih kuat dari DPRD terhadap pemanfaatan dana untuk kepentingan daerah yang selama ini lebih ditentukan oleh pihak eksekutif atas dasar arahan dan petunjuk dari pusat  Secara bertahap terjadi rasionalisasi terhadap kewenangan-kewenangan dari pembiayaan yang tidak perlu. Dalam pelaksanaannya seringkali bagian ini dijadikan sasaran dari penegak hukum (Kejaksaan, Polisi) dalam memeriksa untuk menentukan efektifitas dan efisiensi suatu proyek dengan berbagai cara sehingga seringkali disalahgunakan Oknum tanpa berdasarkan ketentuan yang berlaku. Hal ini untuk saat sekarang berdampak pada “ketakutan” dari para pejabat atau staf untuk terlibat dalam proyek yang menyebabkan proyek tidak berjalan.
f.

Sistem Manajemen Keuangan dan Anggaran Saat ini, PAD menjadi salah satu sumber penting bagi pendanaan

penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan Dana Perimbangan merupakan sumber Pendapatan Daerah yang berasal dari Pemerintah Pusat, dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan kewenangan Pemerintahan Daerah dalam mencapai tujuan pemberian Otonomi Daerah, terutama guna mencapai peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat agar semakin semakin baik. Bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, DAU mempunyai peran sangat dominan bersama dana perimbangan lainnya, terutama karena Provinsi ini masih baru terbentuk. Namun, ketegantungan pada DAU tidak boleh menciptakan disinsentif bagi pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam meningkatkan atau mengintensifikasi Pendapatan Asli Daerah, karena pungutan pajak daerah dan retribusi yang berlebihan akan merugikan iklim investasi. Pemerintah Provinsi masih dapat meningkatkan penerimaan bagi PAD melalui pungutan pajak daerah yang legal sampai pada tingkat yang optimal melalui sistem administrasi pajak daerah dan pengawasan yang lebih baik. 9

Menurut

Permendagri

13/2006

pemerintah

daerah

diwajibkan

untuk

menyusun neraca secara berkala, yang memuat informasi aset, kewajiban dan ekuitas yang dimiliki Pemda. Dengana adanya aturan ini, berarti menuntut pemerintah daerah untuk sesegera mungkin menginventarisasi aset yang dimiliki untuk menentukan neraca awal. Sementara itu, kelompok Pendapatan Daerah terdiri atas Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain – lain Pendapatan yang Sah dan bila dirinci sebagai berikut: I. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari: 1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah II. Dana Perimbangan, terdiri dari: 1. Bagi Hasil Pajak: a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) b. Bea Perolehan hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) c. Pajak Penghasilan Perorangan (PPh) 2. Bagi Hasil Bukan Pajak: a. Sumber Daya Alam (SDA) yang sumber penerimaannya diperoleh Royalti dan sektor pertambangan Gas dan Minyak Bumi. b. Dana Alokasi Umum (DAU) c. Dana Alokasi Khusus (DAK) Masalah-masalah yang sampai saat ini terus dibenahi dalam Sistem Manajemen Keuangan dan Penganggaran anatara lain sebagai berikut : 1. Efisiensi dan Efektivitas Anggaran Dana yang tersedia seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang harapan selanjutnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kualitas pelayanan masyarakat dapat diwujudkan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia aparatur daerah, terutama yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat. 2. Prioritas 10

Belanja seharusnya didasarkan pada urutan skala prioritas, yaitu pada bidangbidang yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah yang lebih cepat. 3. Tolak Ukur dan Target Kinerja Belanja daerah pada setiap kegiatan harus disertai tolok ukur dan target pada setiap indikator kinerja meliputi masukan, keluaran dan hasil sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. 4. Optimalisasi Belanja Langsung Belanja langsung diupayakan untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan secara efisien dan efektif. Belanja langsung disusun atas dasar kebutuhan nyata masyarakat, sesuai dengan strategi pembangunan untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. 5. Transparan dan Akuntabel Setiap pengeluaran belanja dipublikasikan dan dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dipublikasikan berarti pula masyarakat mudah dan tidak mendapatkan hambatan dalam mengakses informasi belanja. Pertanggungjawaban belanja tidak hanya dari aspek administrasi keuangan, tetapi menyangkut pula proses, keluaran dan hasilnya. 3. PENUTUP Pada setiap tahapan perencanaan teknis jalan Provinsi dan mekanisme pembangunan daerah tahunan sudah cukup memadai dalam penyelenggaraan unsur-unsur perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian dan pengendaliannya. Ditinjau dari analisis kebijakan baik tahap perencanaan dan tahap pembiayaan tidak terlihat hal-hal yang bertentangan dengan peraturan dan hukum secara nyata dan pelanggaran hukum yang jelas. Pemerintah Provinsi Bangka Belitung telah berupaya secara optimal dalam penggunaan atau pengalokasian sumber-sumber pembiayaan yang mengarah kepada pemerataan dan berkeadilan dalam setiap bidang/sektor pembangunan. Permasalahan yang paling mendasar terhadap kebijakan pembiayaan pemeliharaan jalan di Provinsi Kep. Bangka Belitung adalah mengenai penentuan prioritas pemeliharaan ruas jalan yang diusulkan. Dalam penentuan prioritas 11

pemeliharaan ruas jalan teridentifikasi adanya campur tangan yang kuat dari pihak legislatif dalam penentuan hasil akhir program penanganan. Hasil analisis teknis yang dilakukan berdasarkan survei teknis oleh instansi/lembaga yang berwenang terhadap perencanaan jalan (Dinas PU Provinsi Kep. Bangka Belitung) tidak sepenuhnya merupakan hasil akhir dari penentuan prioritas program pemeliharaan jalan, meskipun analisis teknis yang dilakukan telah didasarkan pada hasil Musrenbang hingga tingkat dusun/desa. Adanya pelaksanaan Musrenbang tersebut mengindikasikan jika dalam perencanaan dan pembangunan telah menganut mekanisme Jaring Asmara (Penjaringan Aspirasi Masyarakat), sehingga model perencanaan bottom up mampu diterapkan sepenuhnya. Dalam hal pendanaan, pemeliharaan jalan di Provinsi Kep. Bangka Belitung bersumber pada keuangan daerah yang memberikan kewenangan terhadap daerah untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sehingga diharapkan mampu memunculkan implikasi-implikasi positif yang akan mengarah kepada kemajuan daerah. DAFTAR PUSTAKA Grigg, N.S., 1988,Infrastructure Engineering an Management, McGraw Hill,New York. W. Triweko., Robertus, 2005, Paradigma Baru Dalam Pengelolaan Prasarana Umum di Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, April 2005 Koentjaraningrat, 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta ---------------, Undang-undang No 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jakarta, 2000 ---------------, Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daera, Jakarta, 2004 ---------------, Undang-undang No 33 Tahun 2000 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah, Jakarta, 2000 ---------------, Undang-undang No 38 Tahun 2004 tentang Jalan, Jakarta, 2004 ---------------, Undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang Keuangan Daerah, Jakarta, 1999 ---------------, Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Statistik serta Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Belitung, Pangkalpinang, 2008.

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->