1

PERAN PARTISIPASI DAN PENGAWASAN MASYARAKAT DALAM RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
Studi Kasus : Bentrok antara Masyarakat Koja dan Satpol PP dalam “Penertiban” Lokasi Makam Mbah Priok

Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas akhir semester Mata Kuliah “Administrasi Pembangunan” oleh : 1. Abimanyu Hilmawan 2. Fitria Diah Sari 3. Furi Andriyana 4. Intias Maresta Buditami 5. Rahmi Khairun Nisa (0806463460) (0806468625) (0806463486) (0806347095) (0806347164)

Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2010

KATA PENGANTAR

2

Puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah kelompok yang berjudul “Partisipasi dan Pengawasan Masyarakat dalam Kasus Penggusuran Makam Mbah Priok” berisikan studi kasus yang menyangkut pokok – pokok bahasan mengenai hal – hal yang menjadi faktor penyebab terjadi kerusuhan yang dilakukan masyarakat atas rencana penggusuran makam Mbah Priok, bentuk partisipasi masyarakat dalam rencana penggusuran makam Mbah Priok, dan bentuk pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap rencana penggusuran makam Mbah Priok. Pokok – pokok bahasan tersebut dikaitkan kepada teori partisipasi, pengawasan, good governance, dan administrasi pembangunan supaya pembahasan studi kasus lebih terarah dan komprehensif. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Bhenyamin Hoessein dan Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M. Si selaku dosen dan fasilitator yang telah memberikan ilmu dan bantuan, baik materil dan nonmateril, kepada penulis sehingga penulis memiliki bekal guna menyusun makalah ini. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada teman – teman Departemen Ilmu Administrasi Negara kelas B mata kuliah Administrasi Pembangunan yang telah menciptakan suasana yang kondusif sehingga mempermudah penulis mendapatkan ilmu guna menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis ucapkan kepada kedua orang tua atas dukungan, baik materi maupun non materi dan seluruh pihak ,seperti penulis buku, jurnal, dan artikel yang telah memberikan bahan materi untuk penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna maka penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki kesalahan di dalam makalah ini dan selanjutnya di mata kuliah ini atau di mata kuliah lain. Depok, Mei 2010 Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar 1

3

Daftar Isi Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Metode Penulisan 1.5 Sistematika Penulisan

2 3 5 5 5 5 5 7 7 11 14 15 16 17 18 19 20 22 23

Bab 2 Kerangka Teori 2.1 Partisipasi Masyarakat 2.2 Good Governance 2.3 Administrasi Pembangunan 2.3.1 Ciri –Ciri Administrasi Pembangunan 2.3.2 Ruang Lingkup 2.3.3 Fungsi dan Peran Pemerintah dalam Pembangunan 2.4 Pengawasan 2.4.1 Konteks-konteks dalam pengawasan 2.4.2 Jenis-jenis Pengawasan 2.4.3 Tujuan Pengawasan Bab 3 Analisis Masalah 3.1 Studi Kasus: Bentrok antara Masyarakat Koja dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) 3.2 Analisis Kasus Bab 4 Penutup 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran Daftar Pustaka BAB 1 PENDAHULUAN

23 24 29 29 29
30

melakukan pengawasan saat pemerintah merumuskan dan melaksanakan kebijakan publik.1. Sistem sentralistik yang dianut saat itu. kebebasan berpendapat dan mengkritik merupakan sebuah hal yang sangat penting agar evaluasi dan akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan fungsi pembangunan dapat dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. serta memaksimalkan persebaran pembangunan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Fungsi pengawasan masyarakat yang belum berkembang saat pemerintahan Soeharto diharapkan dapat muncul dan memberi andil dalam pembangunan negara. kemarahan masyarakat memuncak saat kerusuhan Mei tahun 1998 yang ditandai dengan tumbangnya rezim Soeharto. Namun demikian. Latar Belakang Masalah Pemerintahan di era Presiden Soeharto yang cenderung otoriter menimbulkan rasa tidak puas kepada masyarakat Indonesia. Pemerintahan yang top down membuat kreatifitas dan inovasi masyarakat menjadi mati karena kebebasan berpendapat dan mengkritik pemerintah sangat dibatasi. Partisipasi masyarakat bisa berbentuk partisipasi dalam pembangunan infrastruktur atau maintenance-nya. Muncullah kesenjangan antara orang-orang yang tinggal di daerah dan ibukota. Masyarakat menginginkan adanya keterbukaan dalam berpendapat dan penghapusan terhadap sistem sentralistik yang dianggap mematikan pembangunan dan menghambat pemerataan kesejahteraan. masyarakat menginginkan adanya reformasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Partisipasi masyarakat sangat penting peranannya dalam proses pembangunan di wilayahnya sendiri. Akhirnya dibentuklah undangundang tentang otonomi daerah yang menandai dimulainya sistem desentralisasi di Indonesia. Padahal di satu sisi. Desentralisasi dianggap dapat menjawab masalah-masalah pembangunan seperti tidak transparannya penggunaan keuangan. pemerintahan dan pembangunan yang terdesentralisasi tidak akan berjalan dengan efektif tanpa adanya partisipasi masyarakatnya. khususnya dari masyarakat.4 1. Konsekuensi logis dari matinya mekanisme pemberian pendapat dan kritik terhadap pemerintah adalah ketidakmerataan pembangunan yang berjalan selama 32 tahun saat itu di Indonesia. Penyertaan peran masyarakat dalam sistem pemerintahan . menjadikan pemerintah menjadi pihak penyelenggara negara yang kebal dari pengawasan. Secara garis besar. partisipasi dalam proses politik. Pada akhirnya.

Dengan demikian. yaitu pemerintah atau government. Tidak adanya sinergisitas yang seharusnya dilakukan dalam sebuah good governance dalam pemutusan kebijakan penggusuran ini adalah pemicu terjadinya konflik yang tidak seharusnya terjadi. Sinergitas ketiga elemen ini sangat penting agar terjadi proses pembuatan kebijakan publik yang berkeadilan dan pembangunan nasional yang merata. dan melaksanakan kebijakan publik ialah banyak terjadinya konflikkonflik sosial. Disinyalir bentrokan ini terjadi karena tidak adanya pelibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan penggusuran makam. maka yang akan terjadi adalah proses pembangunan yang tidak berkeadilan dan akan menumbuhkan konflik. Masyarakat merasa tidak terima karena tidak pernah dicapai keputusan yang final antara pihak masyarakat. dan sektor swasta. Pelibatan masyarakat sebagai shareholder dan stakeholder dalam proses perumusan kebijakan. Jika dalam pelakasanaannya pemerintah tidak menerapkan nilai dasar good governance yaitu melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses kenegaraan. penulis bermaksud untuk mengkaji lebih jauh bagaimana sebenarnya proses pelibatan masyarakat dalam rencana penggusuran Makam Mbah Priok serta mekanisme pengawasannya dalam pelaksanaan rencana tersebut. memutuskan. dalam makalah ini. dan masyarakat atau civil society. dan evaluasinya adalah hal mutlak yang harus terjadi agar good governance dapat benar-benar ditegakkan.5 akan menimbulkan sinergisitas yang sempurna untuk menciptakan good governance yang menginginkan adanya kerjasama dan partisipasi sempurna dari 3 aktor utama di negara. pelaksanaan. Pemerintah hanya melibatkan PT Pelindo yang dalam hal ini adalah sebagai pihak swasta dalam membuat kebijakan tersebut. pemerintah. Akibatnya adalah terjadi bentrokan berdarah yang membuat ratusan korban luka dan beberapa orang meninggal. penulis juga berharap makalah ini bisa semakin menguatkan pernyataan bahwa good governance perlu dibentuk sebaik-baiknya untuk mencegah terjadinya konflik kepentingan yang berbeda satu sama lain antara masyarakat. salah satunya seperti yang digambarkan pada kasus Makam Mbah Priok. pemerintah dan pihak Pelindo sendiri. Salah satu contohnya adalah bentrokan di Makam Mbah Priok pada tanggal 14 April 2010 kemarin yang melibatkan Satpol PP dan masyarakat sekitar makam. . pihak swasta atau privat. Oleh karena itu. Salah satu dampak dari pemerintah tidak menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam membuat.

Bagaimana bentuk ideal partisipasi dan pengawasan masyarakat dalam setiap proses pembangunan? 1.4. . 1. Mengkaji lebih jauh bagaimana bentuk ideal partisipasi dan pengawasan masyarakat dalam setiap proses pembangunan. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah yang ada. Apa penyebab terjadi kerusuhan yang dilakukan masyarakat atas rencana penggusuran makam Mbah Priok? 2. maka tujuan penulisan makalah ini yaitu 1.6 1. 3. Mengetahui penyebab terjadi kerusuhan yang dilakukan masyarakat atas rencana penggusuran makam Mbah Priok. Rumusan Masalah Makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut: 1. Mengetahui bentuk partisipasi dan pengawasan masyarakat dalam rencana penggusuran makam Mbah Priok. Metode penulisan Makalah ini ditulis dengan menggunakan studi literatur dari beberapa bahan bacaan yang berasal dari buku-buku penunjang dan website-website yang memiliki korelasi terhadap tema makalah ini.2.3. Bagaimana bentuk partisipasi dan pengawasan masyarakat dalam rencana penggusuran makam Mbah Priok? 3. 2.

Tujuan Penulisan. Rumusan Masalah. Sistematika Penulisan Bab 2 Kerangka Teori terdiri dari Teori Partisipasi Masyarakat. Metode Penulisan. Teori Pengawasan Bab 3 Pembahasan terdiri dari Studi Kasus Bentrok antara Masyarakat Koja dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam Rencana Penggusuran Makam Mbah Priok. dan Analisis Kasus Bab 4 Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Rekomendasi.7 1. Teori Administrasi Pembangunan. Teori Good Governance. Sistematika Penulisan Penulisan makalah ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan terdiri dari Latar Belakang Masalah. .5.

8 BAB 2 KERANGKA TEORI 2. 1986) hal 39 – 40. (Bandung: Penerbit Alumni. .1 Partisipasi masyarakat Istilah partisipasi berasal dari bahasa asing yang artinya mengikutsertakan pihak lain. Partisipasi.1 1 Santoso Sastropoetro. Beberapa definisi lain mengenai partisipasi adalah : • Santoso Sastropoetro mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan spontan dengan kesadaran disertai tanggung-jawab tehadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Komunikasi. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional.

dan tanggung jawab. (Jakarta : Erlangga. 179. yakni keterlibatan. Keith Davis juga melengkapi definisinya mengenai partisipasi dengan mengemukakan gagasan lain tentang partisipasi. Menurut Davis. 1986) hal 12. 52. kontribusi. Seseorang dalam berpartisipasi lebih terlibat egonya daripada terlibat tugas. Santoso Sastropoetro. Partisipasi. Perilaku Dalam Organisasi. Newstrom.4 Selain itu. most of them do agree on the importance of these three ideas”. Keterlibatan ini bersifat psikologis daripada fisik. . Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Keterlibatan mental dan emosional/inisiatif. There are three ideas in this definition which are important to managers who will practice the art of participation. 1995) hal. Dengan keterlibatan dirinya juga berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya. Komunikasi. (Bandung: Penerbit Alumni. 4 Keith Davis & John W. partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang di dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok atau berbagai tanggung jawab pencapaian tujuan tersebut.5 2. Edisi Ketujuh. 1. hal. Dari beberapa definisi yang ada dapat disimpulkan bahwa partisipasi memiliki tiga gagasan penting. 2 3 Motivasi kontribusi Ibid. Di dalamnya terdapat tiga buah gagasan yang penting artinya bagi para manajer atau pemimpin yang hendak menerapkan seni partisipasi dan kebanyakan dari mereka sependapat dengan tiga buah gagasan tersebut.9 • Alastraire White mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan komuniti setempat secara aktif dalam pengambilan keputusan atau pelaksananaannya terhadap proyekproyek pembangunan. 5 Loc Cit.2 • Allport mengemukakan bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan dirinya/egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja. Terjemahan.3 • Keith Davis mengemukakan definisi partisipasi sebagai “Mental and emotional involvement of a person in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them”.

Edisi Ketujuh. orang tersebut akan menemukan cara melakukannya. 181. Perilaku Dalam Organisasi. biasanya dalam bentuk jasa.6 3. Tenaga (physical participation). yaitu merasa bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaannya. 1995) hal. Mendirikan proyek yang sifatnya berdikari dan donornya berasal dari sumbangan individu atau instansi yang berada di luar lingkungan tertentu. 2. antara lain : 1. partisipasi memiliki beberapa bentuk dan jenis. Bentuk Partisipasi • • • Konsultasi. Mengadakan pembangunan di kalangan keluarga desa sendiri. Terjemahan. orang-orang tersebut melihat adanya peluang untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Newstrom. Tanggung jawab Partisipasi mendorong orang-orang untuk menerima tanggung jawab dalam aktivitas kelompok. • • • Aksi massa. Jenis-jenis partisipasi • • Pikiran (psychological participation). 6 .7 Menurut Keith Davis.10 Unsur kedua adalah kesediaan menyalurkan sumber inisiatif dan kreatifitasnya untuk mencapai tujuan kelompok. (Jakarta : Erlangga. hal. Membangun proyek komuniti yang bersifat otonom. Pada saat orang-orang ingin menerima tanggung jawab aktivitas kelompok. Jika orang ingin melakukan sesuatu.. Gagasan tentang upaya menimbulkan kerja tim dalam kelompok ini merupakan langkah utama mengembangkan kelompok untuk menjadi unit kerja yang berhasil. 180. Sumbangan spontan berupa uang dan barang. • Sumbangan dalam bentuk kerja. Keith Davis & John W. 7 Ibid. Ini juga merupakan proses sosial yang melaluinya orang-orang menjadi terlibat sendiri dalam organisasi dan ingin mewujudkan keberhasilannya. yang biasanya dilakukan oleh tenaga ahli setempat.

Partisipasi keterampilan Jenis keterampilan ini adalah memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya pada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya. 3. Partisipasi tenaga Partisipasi jenis ini diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan dari suatu kegiatan. Hamijoyo juga mengemukakan beberapa bentuk dari partisipasi. . 4. Uang (money participation).11 • • • • Pikiran dan tenaga (psychological dan physical participation). antara lain8: 1. 2. Sumbangan pemikiran yang diarahkan pada penataan cara pelayanan dari lembaga/badan yang ada. 8 Santoso Sastropoetro. Barang (material participation). Partisipasi harta benda Diberikan dalam bentuk menyumbangkan harta benda. 5. biasanya berupa perkakas. 1986) hal 32. Partisipasi buah pikiran Partisipasi ini diwujudkan dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya. alat-alat kerja bagi yang dijangkau oleh badan pelayanan tersebut. Partisipasi uang (materi) Partisipasi ini adalah untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan. Partisipasi. Kegiatan ini biasanya diadakan dalam bentuk latihan bagi anggota masyarakat. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Keahlian ( participation with skill). Partisipasi ini umumnya bersifat membina masyarakat agar dapat memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya. Komunikasi. sehingga mampu berfungsi sosial secara aktif dalam penentuan kebutuhan anggota masyarakat. Selain Keith Davis. (Bandung: Penerbit Alumni.

b. dimana masalah-masalah dan kebutuhan lingkungan sedang dianalisis oleh badan yang berwenang. 2006) hal 12-13 Ibid. Partisipasi masyarakat sebagai suatu kebijakan Penganut paham ini berpendapat bahwa partisipasi masyarakat merupakan suatu kebijakan yang tepat dan baik untuk dilaksanakan. c. hal 13 . yaitu kelompok yang selama ini tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan (non-elite) dan kelompok yang selama ini melakukan pengambilan keputusan (elite).12 Terdapat beberapa pakar yang mendefinisikan partisipasi masyarakat. Persepsi ini dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa pemerintah dirancang untuk melayani 9 10 Sirajudin.9 • Goulet mendefinisikan partisipasi masyarakat sebagai suatu cara melakukan interaksi antara dua kelompok. dkk. Partisipasi masyarakat sebagai alat komunikasi Partisipasi masyarakat didayagunakan sebagai alat untuk mendapatkan masukan berupa informasi dalam proses pengambilan keputusan. maka keputusan tersebut akan memilki kredibilitas. Beberapa definisi tersebut adalah sebagai berikut: • Canter mendefinisikan partispasi masyarakat sebagai proses komunikasi dua arah yang berlangsung terus-menerus untuk meningkatkan pengertian masyarakat secara penuh atas suatu proses kegiatan. Partisipasi masyarakat sebagai strategi Penganut paham ini mengendalikan bahwa partisipasi masyarakat merupakan strategi untuk mendapatkan dukungan masyarakat.10 • Wingert merinci partisipasi atau peran serta masyarakat menjadi beberapa paham sebagai berikut: a. Paham ini dilandasi oleh suatu pemahaman bahwa masyarakat yang potensial dikorbankan dan terkorbankan oleh suatu proyek pembangunan memiliki hak untuk dikonsultasikan. Hak Rakyat Mengontrol Negara. (Jakarta: Yappika. Pendapat ini didasarkan kepada suatu paham bahwa bila masyarakat merasa memilki akses terhadap pengambilan keputusan dan kepedulian masyarakat kepada tiap tingkatan pengambilan keputusan didomentasikan dengan baik.

masyarakat sipil. sehingga pandangan dan preferensi dari masyarakat tersebut adalah masukan yang bernilai guna mewujudkan keputusan yang responsive. Konsep ini lahir sejalan dengan konsep-konsep dan terminologi demokrasi. Paradigma baru ini menekankan pada peranan manajer publik agar memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Selanjutnya. hal 14-16 Ibid.13 masyarakat. partisipasi masyarakat akan membantu perlindungan hukum. hal 20 . Partisipasi masyarakat sebagai terapi Menurut paham ini.2 Teori Good Governance Tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance) merupakan suatu konsep yang akhir-akhir ini dipergunakan secara reguler dalam ilmu politik dan administrasi publik. tidak percaya diri. peran masyarakat dilakukan untuk mengatasi masalahmasalah psikologis masyarakat seperti halnya ketidakberdayaan. dan perasaan bahwa diri mereka bukan komponen penting di dalam masyarakat.12 2. Partispasi masyarakat sebagai alat penyelesaian sengketa Partisipasi masyarakat didayagunakan sebagai suatu cara untuk mengurangi konflik melalui usaha pencapaian konsensus dari pendapat yang ada. dan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan. Pada akhir dasawarsa yang lalu. partisipasi masyrakat akan mereduksi kemungkinan kesediaan masyarakat untuk menerima keputusan. e. mendorong meningkatkan otonomi manajerial terutama mengurangi campur tangan kontrol yang dilakukan oleh pemerintah pusat.11 Perlunya partisipasi masyarakat juga diungkapkan oleh Koeshadi Hardjasoemantri. bahwa selain untuk memberikan informasi yang berharga kepada para pengambil keputusan. Di dalam disiplin atau profesi manajemen publik konsep ini dipandang sebagai suatu aspek dalam paradigma baru ilmu administrasi publik. Asumsi yang melandasi paham ini adalah bertukar pikiran dan pandangan dapat meningkatkan pengertian dan toleransi serta mengurangi rasa ketidakpercayaan dan kerancuan. hak asasi manusia. konsep good governance ini lebih dekat dipergunakan dalam reformasi sektor publik. d. transparansi. 11 12 Ibid. partisipasi rakyat.

tetapi juga untuk menciptakan kohesi. dan untuk kesejahteraan rakyatnya. Hubungan antara pejabat-pejabat yang dipilih (politisi) dan pejabat-pejabat yang diangkat (pejabat birokrat). d. Hubungan pemerintah nasional dengan lembaga-lembaga internasional. dan menciptakan pengelolaan manajerial yang bersih bebas dari korupsi (Thoha. Hubungan antara pemerintah dengan organisasi vo¬luntary dan sektor privat. Sejumlah perspektif muncul dari paradigma baru ini dan mendorong ramainya diskusi dan perdebatan di arena politik dan akademisi. institusi dan sumber-sumber sosial dan politiknya tidak hanya dipergunakan untuk pembangunan. Hubungan antara lembaga pemerintahan daerah dengan penduduk perkotaan dan pedesaan. b. . 2004: 78). kemampuan suatu negara mencapai tujuan-tujuan pembangunan itu sangat tergantung pada kualitas tata kelola intahannya di mana pemerintah melakukan interaksi dengan organisasi-organisasi komersial dan civil society.14 akuntabilitas publik. Hubungan antara pemerintah dengan pasar. Dengan demikian jelas sekali. Di antara perspektif yang berkaitan dengan struktur pemerintahan yang timbul antara lain (Thoha. Hubungan antara legislatif dan eksekutif. ekonomi. UNDP merumuskan istilah governance sebagai suatu exercise dari kewenangan politik. f. Hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya. Dalam menganalisis perspektif ini banyak para praktisi dan teoretisi dalam bidang administrasi publik merumuskan berbagai prosedur dan proses yang bisa dipergunakan untuk mencapai dan mengidentifikasikan prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi dari tata kepemerintahan yang baik. c. 1997) Istilah governance menunjukkan suatu proses di mana rakyat bisa mengatur ekonominya. integrasi. 2004: 78): a. Salah satunya ialah United Nations Development Programme (UNDP). mengatur dan mengelola masalah-masalah sosialnya (UNDP. g. e. dan administrasi untuk menata. Sementara itu negara donor dan lembaga-lembaga multilateral telah mengambil peran yang mengemuka (a leading role) dalam merumuskan good governance.

f. Peduli dan stakeholder: lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintah harus berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan. e. Berorientas pada konsensus: tata kelola pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat. yaitu transparansi. Kesetaraan: semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka. c. .15 Karim (2003: 45) menyatakan ada 5 prinsip good governance. Efektifitas dan efisiensi: proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin. serta kepastian untuk berpartisipasi secara konstruktif. Partisipasi masyarakat: semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan. Tegaknya supremasi hukum: kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu. b. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat. dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan. d. daya tanggap. baik secara langsung maupun melalui lembagalembaga perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka. dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Kunci utama memahami good governance. Bertolak dari prinsip-prinsip ini didapat tolok ukur kinerja suatu pemerintah. Transparasi: transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas. konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur. kesetaraan. termasuk didalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia. Seluruh proses pemerintah. lembaga-lembaga. akuntabilitas. Prinsip-prinsip tersebut meliputi: a. adalah pemahaman atas prinsip-prinsip yang mendasarinya. g. dan pengawasan. menurut Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). dan bila mungkin.

budaya.14 Pernyataan ini diartikan sebagai lebih baik dari pada masa tradisional administrasi publik untuk menunjukkan kebutuhan untuk suatu proses dinamis yang didesain secara khusus untuk mendapatkan syarat perubahan sosial dan ekonomi. Administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan keputusan – keputusan yang telah diambil dan diselenggarakan oleh dua atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.. (Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara. Visi strategis: para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia.15 Pernyataan ini diartikan sebagai administrasi pembangunan dapat dipandang 13 Sondang P. Paul Meadows mendefinisikan administrasi pembangunan sebagai development administration can be regarded as the public management of economic and social change in term of deliberate public policy.3 Teori Administrasi Pembangunan Administrasi pembangunan mencangkup dua pengertian. dalam ibid.S. dan Strateginya. “Development Administration and The Alliance of Progress”. sedangkan pembangunan didefinisikan sebagai rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu negara bangsa menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation-building). Administrasi Pembangunan Konsep. dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut. 2007. baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. hal. . Phillips. Vol. Phillips mendefinisikan administrasi pembangunan sebagai rather than the traditional term of public administration to indicate the need for a dynamic process designed particularly to meet requirements of social and economic changes. Hiram S. The development administrator is concerned with guiding change. serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan. 14 H. 1968.13 Ada beberapa pengertian administrasi pembangunan menurut para ahli. International Review of the Administrative Science. XXIX. 2. yaitu administrasi dan pembangunan. “Motivation for Change and Development Administration”.16 h. Akuntabilitas: para pengambil keputusan di pemerintah. Siagian. 86. 15 Paul Meadows. i. dan organisasi masyarakat bertanggungjawab. Dimensi. sektor swasta.

Pertama.P. Mei 1970. Suatu perencanaan yang berorientasi pada pelaksanaannya akan lebih banyak memperhatikan aspek administrasi dalam aspek pembangunannya. dan lain – lain yang dirumuskan kebijaksanaannya dalam proses politik. Administasi pembangunan lebih memberikan perhatian terhadap lingkungan masyarakat yang berbeda – beda. 1.).1 Ciri – Ciri Administrasi Pembangunan Ada beberapa ciri administrasi pembangunan menurut Irving Swerdlow16 dan Saul M. sosial-budaya. S.”. Kedua. Concepts and Problems. diberikan uraian mengenai saling kait – berkaitnya administrasi dengan aspek – aspek pembangunan di bidang politik. Bahkan. op. administrasi pembangunan masih berdasarkan pada prinsip – prinsip administrasi negara. Pertama. dan lain – lain. administrasi ikut serta mempengaruhi tujuan – tujuan pembangunan masyarakat dan menunjang pencapaian tujuan – tujuan sosial. administrasi pembangunan mempunyai peran aktif dan berkepentingan terhadap tujuan – tujuan pembangunan. Tahun X. Cit. 17 Saul M. baik dalam ilmu maupun pelaksanaan perencana pembangunan terdapat orientasi yang semakin besar memberikan perhatian terhadap aspek pelaksanaan rencana. Development Administration. ekonomi. Ketiga. adanya peran administrator sebagai unsur pembangunan. Katz. . adanya suatu orientasi administrasi untuk mendukung pembangunan. Namun. Katz17. Keadaan yang lebih baik ini bagi negara – negara baru berkembang dinyatakan dengan usaha ke arah modernisasi.3. 1963). Kedua. Administrator juga dapat menciptakan suatu sistem dan praktek administrasi yang membina partisipasi dalam pembangunan. No. Ketiga. ekonomi. (New York: Syracuse University Press. terutama bagi lingkungan masyarakat negara – negara baru berkembang. 18 Beberapa diambil dari Dr. baik dalam perumusan kebijaksanaannya maupun dalam pelaksanaannya yang efektif. perkembangan.17 sebagai manajemen publik perubahan ekonomi dan sosial yang disengaja dalam masa kebijakan publik.Siagian. Administrator pembangunan dapat memfokuskan pada perubahan terarah. Administrasi bagi perubahan – perubahan ke arah keadaan yang dianggap lebih baik. Siagian juga merumuskan ciri – ciri administrasi pembangunan18. administrasi pembangunan berorientasi kepada usaha – usaha yang mendorong perubahan ke arah keadaan 16 Irving Swerdlow (ed. Peranan serta fungsi pemerintah sangat erat kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. “Konsepsi dan Masalah – Masalah Administrasi Pembangunan. administrasi pembangunan memiliki ciri – ciri yang lebih maju daripada administrasi negara. Keempat. Administrasi Negara. Di dalam administrasi pembangunan. Sondang P. atau pembangunan bangsa atau pembangunan sosial ekonomi. 2.

seperti perlembagaan dalam arti sempit. dan bersifat pemecahan masalah. yakni kemampuan untuk merumuskan kebijaksanaan – kebijaksanaan pembangunan dan pelaksanaan yang efektif.2 Ruang Lingkup Administrasi Pembangunan Menurut Bintoro Tjokroamidjojo. Kebijaksanaan dan program dirumuskan dalam suatu rencana pembangunan. dalam administrasi pembangunan. Keenam. administrasi untuk pembangunan dapat dibagi menjadi dua subfungsi. koordinasi. Kedua. perumusan kebijaksanaan pembangunan. berorientasi pada kegiatan. pengawasan. kepegawaian. pengendalian atau pengurusan yang baik dari administrasi fungsionil. Mekanisme dan tata kerja dalam proses analisa. Untuk melakukannya. dan lain – lain. pelaksanaan dari kebijaksanaan dan program tersebut dahulu secara efektif. sedangkan the administration of development menyangkut masalah perumusan kebijaksanaan – kebijaksanaan dan program – program pembangunan di berbagai bidang serta pelaksanaannya secara efektif. budaya. tata kerja.18 yang dianggap lebih baik untuk suatu masyarakat di masa depan atau berorientasi masa depan. 2. administrator memerlukan penyusunan instrumen – instrumen yang baik.3. sosial. administrasi pembangunan lebih berorientasi kepada pelaksanaan tugas – tugas pembangunan dari pemerintah. dan pengurusan sarana – sarana administrasi lainnya. administrasi pembangunan harus mengaitkan diri dengan substansi perumusan kebijaksanaan dan pelaksanaan tujuan – tujuan pembangunan di berbagai bidang yaitu ekonomi. serta sebagai kemampuan dan pengendalian instrumen – instrumen bagi pencapaian tujuan – tujuan pembangunan. Ada dua kegiatan yang mendapat perhatian. dan fungsi administrator sebagai unsur pembangunan. administrasi pembangunan lebih berpendekatan lingkungan. Ketujuh. Kedua. Formulasi kebijaksanaan negara atau pemerintah tidak hanya dilakukan dalam proses administrasi. Ketiga unsur ini disebut mission driven. Pertama. ada beberapa gambaran mengenai ruang lingkup administrasi pembangunan. tetapi juga dalam tingkat tertentu dalam proses politik. masalah kepemimpinan. Kelima. Pertama. kepegawaian. administrator dalam aparatur pemerintah juga bisa menjadi pergerak perubahan. perumusan dan pengambilan keputusan mengenai kebijaksanaan dan program pembangunan tersebut dapat diupayakan untuk disempurnakan. Pertama. Keempat. administrasi pembangunan mempunyai dua fungsi. . Kedua. pembinaan lembaga yang diperlukan. Administrasi pembangunan lebih bersikap sebagai ”development agent”. yaitu the development of administration dan the administration of development. The development of administration menyangkut usaha penyempurnaan organisasi.

Tugas pemerintahan umum dapat dilakukan dalam rangka pemerintahan umum.3. Penyelenggaraan sendiri dari berbagai kegiatan – kegiatan ekonomi atau sosial. yakni tugas pemerintahan rutin atau umum dan tugas pemerintahan pembangunan. pengaturan melalui perizinan. “Masalah Organisasi dalam Administrasi Pembangunan”. 1. Kepemilikan sendiri dari usaha – usaha ekonomi atau sosial yang penyelenggaraannya dapat dilakukan sendiri atau oleh swasta. Apabila salah satu bagian dalam organisasi menuju arah yang salah.20 Sementara itu menurut McFarland (dalam Handayaningrat.ac. Fungsi pengaturan.1992:6) 21 Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol.petra. 4.3 Fungsi dan Peran Pemerintah dalam Pembangunan Menurut Awaloedin19. 2. pemberian pengarahan dan bimbingan. Tugas ini seringkali diperluas dengan tugas – tugas pelayanan umum yang dilakukan. Tugas pembangunan termasuk di dalamnya tugas memajukan kesejahteraan umum yang terdiri dari tugas mengemban mobilisasi daya dan dana untuk pembangunan dan pengalokasian sumber – sumber daya yang rasional dan tepat. pemeliharaan ketertiban. yaitu penentuan kebijaksanaan. 1994:143). Di samping itu. baik melalui penyelenggaraan sendiri maupun melalui pelaksanaan fungsi pengaturan. ada beberapa cara pelaksanaan peranan pemerintah.19 pembiayaan pambangunan. “Control is the process by which an executive gets the performance of his subordinates to correspondas closely as possible to chosen plans. keamanan. 2. 20 (dalam Subardi. Awaloedin Djamin. 14. objectives. Agustus 1974.id/journals/management/ . antara lain: 1. Maret 2000: 43 – 56 Jurusan Ekonomi Manajemen.4 Teori Pengawasan Menurut Stoner dan Wankel “Pengawasan berarti para manajer berusaha untuk meyakinkan bahwa organisasi bergerak dalam arah atau jalur tujuan. No. or policies “. Prisma No. 2. Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra http://puslit. 19 21 (Pengawasan ialah Dr. dibagi lagi menjadi beberapa fungsi. orders. Fungsi pokok pemerintah dapat dibagi menjadi dua tugas. Fungsi pengaturan ini akan menghasilkan output berupa berbagai peraturan. hal. tugas pembangunan dilakukan dalam rangka penyesuaian kepentingan sosial dan ekonomi tradisional dengan kebutuhan pembangunan. 2. para manajer berusaha untuk mencari sebabnya dan kemudian mengarahkan kembali ke jalur tujuan yang benar “. 3. dan pengawasan. dan pelaksanaan hukum. dan lain – lain sebagai sarana pencapaian tujuan kebijaksanaan dan program pembangunan.

tujuan. perintah.20 suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya sesuai dengan rencana. dan batas pengawasan (control limit) merupakan tingkat nilai atas atau bawah suatu sistem dapat menerima sebagai batas toleransi dan tetap memberikan hasil yang cukup memuaskan. Menurut Winardi "Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan". Dengandemikian yang menjadi obyek dari kegiatan pengawasan adalah mengenai kesalahan. dipercaya atau mungkin dipaksakan. penyimpangan.24 Menurut Sondang P. 22 Pengawasan merupakan kegiatankegiatan dimana suatu sistem terselenggarakan dalam kerangka norma-norma yang ditetapkan atau dalam keadaan keseimbangan bahwa pengawasan memberikan gambaran mengenai hal-hal yang dapat diterima. hal. 585) Basu Swasta (1996. Pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan 46 22 23 24 (dalam Soewartojo. target maupun pedoman pengukuran hasil kerja nyata terhadap yang ditetapkan. 1995:131-132) Winardi (2000. Menurut Suyamto. 216) . Selanjutnya Smith menyatakan bahwa:“Controlling“ sering diterjemahkan pula dengan pengendalian.23 Sedangkan menurut Basu Swasta "Pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan". pengawasan (controlling) merupakan suatu kegiatan untuk mencocokkan apakah kegiatan operasional (actuating) di lapangan sesuai dengan rencana (planning) yang telah ditetapkan dalam mencapai tujuan (goal) dari organisasi. dimana norma-norma ini dapat berupa kuota. hal.Siagian. Pengawasan adalah Proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. termasuk di dalamnya pengertian rencana-rencana dan norma-norma yang mendasarkan pada maksud dan tujuan manajerial. atau kebijaksanaan yang telah ditentukan ). Dalam manajemen.pelanggaran dan korupsi. cacat dan hal-hal yang bersifat negatif seperti adanya kecurangan.

2006)  fungsi parlemen dalam menjamin bahwa undang-undang yang telah dikeluarkan oleh parlemen dapat diimplementasikan dan diadministrasikan secara efektif oleh pihak eksekutif.1 Konteks-konteks dalam Pengawasan Pengawasan dalam Konteks Manajemen (Schermerhorn. Lebih lanjut menurut Komaruddin mengatakan. 2001)  Proses pengukuran kinerja dan pengambilan tindakan untuk menjamin hasil yang diinginkan  Merupakan peran penting dan positif dalam proses manajemen  Menjamin segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai waktunya Pengawasan dalam Konteks Politik (Little dan Ogle. "Pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana. yaitu dilakukan secara sesuai dan dengan cara yang diatur dalam undangundang tersebut  fungsi yang dilakukan parlemen dalam menjamin bahwa anggaran yang telah disetujui.4. 159) . apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak . dan awal Unk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti".”26 2. telah dibelanjakan oleh pihak eksekutif sesuai dengan hal yang telah disepakati dan mampu mencapai sasaran yang diinginkan/ditetapkan  pengawasan merupakan tanggungjawab yang sangat penting dari parlemen dan harus dilakukan secara agresif. 104) Kadarman (2001. hal.21 yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan. karena hanya melalui pengawasan inilah parlemen dapat menjamin adanya check and balances yang memadai terhadap pihak eksekutif 25 26 Komaruddin (1994. serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan. untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan. hal. 25 Lebih lanjut menurut Kadarman”Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi. untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut.

Pengawasan Feedforward (umpan di depan)  Dilakukan sebelum aktivitas dimulai  Dalam rangka menjamin: kejelasan sasaran.ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan  Memfokuskan pada kualitas sumberdaya 2.22  cenderung kurang diapresiasi dan kinerjanya paling buruk 2. pengawasan terbagi atas (Nugraha. 2. dan ORI.contoh:BPK. jenis-jenis pengawasan terbagi menjadi: 1. BPKP Pengawasan Eksternal adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di luar unit organisasi yang bersangkutan.4. Pengawasan Preventif dan Represif .2 Jenis-jenis Pengawasan Menurut Schermerhorn (2001). Pengawasan Concurrent (bersamaan)  Memfokuskan kepada apa yang terjadi selama proses berjalan  Memonitor aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin segala sesuatu dilaksanakan sesuai rencana  Dapat mengurangi hasil yang tidak diinginkan 3. Pengawasan Internal dan Eksternal Pengawasan internal adalah pengawasan dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan seperti pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat.contoh:Itjen. tersedianya arahan yang memadai. Pengawasan Internal & Eksternal  Pengawasan Internal: memberikan kesempatan untuk memperbaiki sendiri  Pengawasan Eksternal: terjadi melalui supervisi dan penggunaan sistem administrasi formal Sementara itu. 2005): 1. Pengawasan Feedback (umpan balik)  Terjadi setelah aktivitas selesai dilaksanakan  Memfokuskan kepada kualitas dari hasil  Menyediakan informasi yang berguna untuk meningkatkan kinerja di masa depan 4. KPK. Bawasda. et all. dalam birokrasi dan lembaga.

Pengawasan diperlukan bukan karena kurang kepercayaan dan bukan pula ditujukan mencari – cari kesalahan atau mencari siapa yang salah. tujuan serta target-target organisasi. Di lain pihak. pengawasan juga memiliki peran-peran strategis. tetapi untuk memahami apa yang salah demi perbaikan di masa datang. yakni diantaranya adalah :  Memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan mandat. Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan.23 Pengawasan preventif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan.4. Selain tujuan utama di atas. 2. Pengawasan Pasif (jauh) adalah pengawasan dengan melakukan penerimaan dan pengujian terhadap laporan pertanggungjawaban.  Mengetahui tingkat akuntabilitas kinerja tiap instansi yang akan dijadikan para meter penilaian keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstra instansi  Dua tujuan utama yaitu akuntabilitas dan proses belajar . Pengawasan ini lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan oleh atasan langsung. 4. laporan pelaksanaan anggaran di akhir tahun. baik yang bersifat internal maupun eksternal. visi. 3. pengawasan informal dilakukan oleh masyarakat. misi. baik langsung maupun tidak langsung atau sebagai social control. Pengawasan Formal dan Informal Pengawasan formal dilakukan oleh instansi/pejabat yang berwenang. Pengawasan kebenaran formil menurut Hak (Rechtimatigheid) dan pemeriksaan kebenaran materiil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid).3 Tujuan Pengawasan Tujuan utama pengawasan adalah ikut berusaha memperlancar roda pembangunan serta mengamankan hasil – hasil pembangunan. Pengawasan Aktif dan Pasif Pengawasan Aktif (dekat) adalah pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan dan pengawasan ini bersifat melekat.

Pengadilan Negeri Jakarta Utara pernah memutuskan bahwa tanah tersebut secara sah milik PT Pelindo pada tanggal 5 Juni 2002. sistem pengawasan akan memastikan bahwa dana pembangunan digunakan sesuai dengan etika dan aturan hukum dalam rangka memenuhi rasa keadilan  Dari sisi proses belajar.1 Studi Kasus: Bentrok antara Masyarakat Koja dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam “Penertiban” Lokasi Makam Mbah Priok Tragedi Priok bermula dari konflik yang terjadi antara PT Pelindo dengan ahli waris Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau yang lebih dikenal dengan Mbah Priok. menurut ahli waris.2 hektar.24  Dari sisi akuntabilitas. tanah tersebut merupakan miliknya berdasarkan Eigendom Verponding nomor 4341 dan No 1780 di lahan seluas 5. sistem pengawasan akan memberikan informasi tentang dampak dari program atau intervensi yang dilakukan. PT Pelindo mengklaim bahwa tanah di Makam Mbah Priok adalah miliknya. . 4 Ha. namun di sisi lain. sehingga pengambil keputusan dapat belajar tentang bagaimana menciptakan program yang lebih efektif BAB 3 ANALISIS MASALAH 3. Ini didasarkan pada Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 145.

melawan balik Satpol PP yang sebenarnya hanya ditugaskan untuk menertibkan bangunan liar di sekitar Makam Mbah Priok. pemerintah setempat memiliki rencana untuk melakukan penataan ulang pada Makam Mbah Priok dan arealnya akan diperluas dari 20 meter persegi menjadi 100 meter persegi. Perintah penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP. Meluasnya area konflik juga diduga muncul akibat ada provokasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. ahli waris kembali membangun kompleks makam Mbah Priok pada September tahun 1999 tanpa seizin PT Pelindo karena ahli waris masih mengklaim bahwa sebagian tanah yang menjadi hak pengelolaan PT Pelindo ada yang masih menjadi haknya. serta kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat yang hanya bermaksud menggusur bangunan liar berubah menjadi bentrokan yang tidak bisa dihindari. PT Pelindo merasa kalau pembangunan kembali kompleks makam tersebut sepihak dan dianggap menjadi bangunan liar.11 dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. PT Pelindo meminta bantuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Utara untuk menertibkan bangunan liar tersebut. Masyarakat yang terlibat bentrok salah paham dengan maksud penertiban yang akan dilakukan oleh Satpol PP karena ada yang mengisukan Makam Mbah Priok akan dibongkar oleh orang yang tidak bertanggung jawab. namun ahli waris dan masyarakat yang memiliki kepentingan dalam keberadaan Makam Mbah Priok tidak mengetahui tentang keputusan penertiban makam. Persilangan pendapat dan saling klaim atas tanah Makam Mbah Priok yang belum mencapai kesepakatan final. Namun pada perkembangannya. Lebih dari itu. namun munculnya bangunan-bangunan ilegal selain pembangunan makam itulah yang menurut PT Pelindo harus ditertibkan. Oleh karena itu. Akhirnya saat dilakukan eksekusi. masyarakat dan ahli waris yang merasa belum mendapat kesepakatan akan penertiban bangunan liar. Kerugian negara akibat bentrokan tersebut juga .25 Pada dasarnya. pada dasarnya sudah sesuai dengan instruksi gubernur DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan. Di sisi lain. Makam Mbah Priok yang asli sudah dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper 21 Agustus 1997 dengan surat keputusan No 80/-177. setelah dilakukan penertiban atas bangunan liar tersebut. Akibatnya korban luka-luka terhitung mencapai hampir 200 orang. dan ada beberapa korban yang meninggal. bukan menggusur makam itu sepenuhnya. PT Pelindo sebenarnya masih melakukan toleransi terhadap pembangunan kembali makam tersebut.

Hal ini jelas terlihat dari putusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 5 Juni 2002. yang pada akhirnya menjadi bentrok satu sama lain. Hal ini dikarenakan kebijakan publik tersebut akan memiliki keterkaitan dalam keberlangsungan masyarakat. Secara legal. Padahal saat itu. Jika dilihat dari konsep partisipasi masyarakat. yang akan dilakukan oleh Satpol PP tersebut hanya menertibkan bangunan liar yang ada di sekitar bangunan Makam Mbah Priok.2 Analisis Kasus Kasus bentrok yang terjadi antara masyarakat Koja dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merupakan salah satu contoh dari kasus informasi asimetris yang didapat oleh kedua belah pihak dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam pembuatan sebuah kebijakan publik. dapat dilihat bahwa perumusan kebijakan untuk menertibkan bangunan liar di sekitar bangunan Makam Mbah Priuk sekaligus merenovasi makam tersebut tidak disertai dengan pelibatan partisipasi masyarakat ataupun melakukan konsultasi publik. . serta menertibkan banguna liar yang ada di sekitarnya. jika memang masyarakat Koja dilibatkan dalam perumusan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan PT Pelindo II terkait keberadaan Makam Mbah Priok. Namun hal penting yang patut untuk dianalisis adalah ketidaktahuan masyarakat terhadap rencana pemerintah untuk merenovasi bangunan tersebut dan menambah luas lahannya menjadi 100 meter persegi. Hal ini dikarenakan bahwa pada dasarnya isu penggusuran yang didapatkan masyarakat merupakan sebuah kabar burung yang hanya menyebabkan masyarakat tersebut menjadi sangat emosional ketika berhadapan dengan Satpol PP. penulis tidak melihat adanya korelasi positif yang tercipta antara pelibatan masyarakat dan konflik yang terjadi dalam kasus ini. Pada kasus ini. seharusnya masyarakat memiliki peran sebagai stakeholder yang memiliki hak penuh atas proses pembuatan kebijakan tersebut. Artinya. tentu masyarakat setempat tidak serta merta merasa “terkejut” dengan kehadiran Satpol PP.26 mencapai miliaran rupiah karena aset negara seperti kendaraan dinas dirusak oleh masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah. lahan Makam Mbah Priok memang sudah menjadi hak milik PT Pelindo II. 3.

musrenbang sebagai sarana penyatuan kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah. bukan objek pembangunan. dalam hal ini ialah PT Pelindo bisa mewadahi samua kepentingan masing-masing pihak.27 Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau yang biasa dikenal dengan Musrenbang pun tampak tidak disebut-sebut dalam tahap pembuatan kebijakan pemabangunan ini. masyarakat dipandang sebagai subjek. Manurut hemat penulis. Pemaparan tersebut mencerminkan sebuah konsep tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). dimana pemerintah tidak lagi menjadi aktor tunggal dalam segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan negara. yaitu swasta dan masyarakat. meskipun bukan sebuah kabupaten. Padahal seharusnya. Sama halnya dengan pemerintah melibatkan pihak swasta. termasuk rencana renovasi Makam Mbah Priok. bentrok yang terjadi antara masyarakat Koja dan Satpol PP merupakan sebuah konsekuensi logis dari tidak diikutsertakannya masyarakat dalam rencana prenovasi bangunan makam ini. Koja. dalam perencanaan pembangunan. Artinya. bahkan juga pihak swasta. dapat dilihat bahwa dalam sebuah sistem strategis dari pembangunan. akan tetapi ada aktor-aktor lain yang memiliki peran yang sama dengan pemerintah. peran partisipasi masyarakat haruslah seimbang dengan peran pemerintah dan swasta. Berdasarkan bagan di atas. Satpol PP yang juga tidak tahu menahu mengenai urusan keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk merenovasi Makam Mbah Priuk akhirnya melakukan . setidaknya memiliki relevansi untuk menerapkan bagan di bawah ini dalam setiap rencana pembangunan.

apakah kesepakatan yang dibuat tanpa partisipasi masyarakat ini memiliki kecenderungan unsur kongkalikong antara kedua pihak. akan tetapi pihak swasta. menjadi pihak yang turut memutuskan hal tersebut. masyarakat tidak mendapatkan informasi yang terbuka dari pemerintah mengenai rencana pembangunan ini. Namun kemudian. tata kelola pemerintahan pada kasus ini belumlah berjalan dengan baik. baik pengawasan internal. Masyarakat tersebut melakukan aksi penolakan terhadap keputusan yang dibuat pemerintah karena merasa keputusan tersebut merugikan mereka. setidaknya mereka sudah memberi peringatan kepada pemerintah yang telah melakukan kesalahan karena sudah membuat kebijakan yang tidak melibatkan . Pada kasus yang terjadi di Koja. maupun pengawasan eksternal. Masyarakat tidak bisa melakukan pengawasan eksternal yang baik tanpa adanya keterbukaan pemerintah setempat. Salah satu bentuk dari pengawasan eksternal tersebut adalah kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat.28 perlawanan terhadap respon negatif masyarakat. bisa dalam bentuk preventif ataupun represif. Keputusan Pemprov DKI Jakarta terkait kasus ini memang tidak melibatkan partsisipasi masyarakat. Hal ini diperparah oleh adanya kelompok ketiga yang memprovokasi masing-masing pihak yang mengalami bentrok. Pengawasan yang bisa dilakukan oleh masyarakat merupakan pengawasan eksternal. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat bukanlah sebagai fungsi preventif atau mencegah terjadinya bentrok atu konflik lain. Masyarakat Koja saat itu melakukan pengawasan represif. dalam hal ini ialah PT Pelindo. terlepas dari bagaimana masyarakat melakukan prosedur pengawasan yang bisa dikatakan anarkis. Dengan kata lain. permasalahan pembangunan bisa diatasi dengan pelaksanaan fungsi pengawasan dalam kegiatan pembangunan itu sendiri. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat Koja termasuk pengawasan represif karena masyarakat melakukan kontrol sosial dalam bentuk yang anarkis ini setelah terjadinya keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan PT Pelindo II yang berujung pada bentrok tersebut. Bahkan secara sepihak. pemerintah setempat memutuskan untuk menurunkan pasukan Satpol PP dalam jumlah yang banyak. perlu dipertanyakan. Pada dasarnya. Namun. Konsekuensi logis dari keadaan tersebut adalah. Kecenderungan inilah yang disebabkan oleh partisipasi masyarakat yang minim sehingga berakhir dengan aksi massa yang anarkis. atas ke-tidak terbuka-an pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan tertutupnya pembuatan kebijakan tersebut dari akses rakyat. melainkan sebagai fungsi represif.

Hal positif lain yang bisa dianalisis dari pengawasan non legal formal ini adalah meminimalisasi kemungkinan sistem patron-client atau nepotisme yang terjadi dalam pengawasan internal di dalam institusi pemerintahan itu sendiri. dalam kasus ini pengawasan eksternal yang telah dilakukan oleh masyarakat Koja terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sangat membantu terciptanya kegiatan pembangunan yang lebih baik. Kesalahan terbesar terdapat pada pemerintah yang tidak memaksimalkan partisipasi masyarakat Koja dalam rencana pembangunan ini. tanpa mereka tahu bagaimana dan mengapa ekskusi penertiban serta renovasi makam Mbah Priok perlu untuk dilakukan. Lebih dari itu. Oleh karena itulah. .29 pertisipasi masyarakat. Tidak memandang siapa yang berada dalam pembuatan kebijakan Oleh karena itu. Penulis beranggapan bahwa Satpol PP dalam kasus ini hanya berperan sebagai “korban”. kontrol sosial ini berjalan dengan obyektif. pelimpahan sumber masalah kepada Satpol PP merupakan sebuah kesalahan besar. Lagi-lagi terlepas dari pengawasan masyarakat yang kurang sopan tersebut. tidak berbeda dengan warga Koja. pada dasarnya penulis sangat menyayangkan munculnya fenomena pelampiasan kekesalan warga dan masyarakat Indonesia lain yang mengetahui kasus ini kepada pihak Satpol PP. Satpol PP hanya memainkan perannya sebagai front liner. kontrol sosial ini berhasil di blow up oleh media massa yang pada akhirnya menyebabkan fenomena minimnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan pada kasus ini menjadi begitu populis. Namun demikian.

1. pihak pemerintah dan swasta tidak mengikutsertakan suara masyarakat atas rencana tersebut. Wakil Gubernur Jakarta selaku pemerintah.2. lebih dari itu semua. Kesimpulan Kerusuhan yang terjadi antara masyarakat Koja dan Satpol PP terhadap rencana “penertiban” Makam Mbah Priok sebenarnya disebabkan oleh sinergisitas yang buruk antara masyarakat Koja. Pelindo II selaku pihak swasta. dan PT. Namun. Bentuk pengawasan eksternal yang dilakukan masyarakat memang tidak dapat dikatakan sebagai pengawasan yang baik. terutama masyarakat. untuk menciptakan good governance dalam setiap proses pengambilan kebijakan pembangunan. Kesalahan penyerapan informasi oleh masing-masing pihak juga menjadi penyebab terjadinya kerusuhan di Koja. Pada kasus penataan ulang makam Mbah Priok ini. penyebab utama dari bentrok ini adalah partisipasi masyarakat yang sangat minim terhadap pembuatan kebijakan ini. seperti dalam rencana penataan ulang makam Mbah . Namun terlepas dari hal tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mendapatkan “teguran keras” dari masyarakat setempat dalam proses pembangunan daerahnya 4. masyarakat Koja akhirnya melakukan fungsi pengawasan eksternal berupa tindakan represif. Rekomendasi Menurut penulis. Konsekuensi logis dari hal tersebut adalah aksi massa yang anarkis berbentuk kerusuhan yang dilakukan oleh masyarakat Koja dan direspon dengan negatif oleh Satpol PP yang juga tidak tahu menahu atas keputusan ini. Dalam kasus ini.30 BAB 4 PENUTUP 4. karena yang terjadi adalah tindakan represif anarkis. Tindakan represif tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk kontrol sosial dari masyarakat berupa bentuk penolakan terhadap rencana pemerintah yang diisukan akan menggusur Makam Mbah Priok. Hal tersebut menimbulkan ketimpangan pemahaman oleh masing-masing pihak.

31 Priok harus melibatkan partisipasi masyarakat. karena masyarakat bukanlah objek dalam pembangunan. International Review of the Administrative Science. Hak Rakyat Mengontrol Negara. Bandung: Penerbit Alumni.ac. Administrasi Negara. Perilaku Dalam Organisasi. “Masalah Organisasi dalam Administrasi Pembangunan”. Agustus 1974. Komunikasi. 1963.com/hukrim/201004/272337/Bentrokan. Terjemahan. ”Bentrokan di Makam Mbah Priok” http://berita.”. swasta. Dimensi. Mei 1970. Maret 2000.html. No. dan Strateginya. dan John W. 1.” http://www.” http://kutakdiunduh ketik.S. “Development Administration and The Alliance of Progress”. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara. Edisi Ketujuh.id/journals/management/. 1986. Concepts and Problems. Jurusan Ekonomi Manajemen.di.Priok diunduh pada 21 April 2010 pukul 11. Siagian.detiknews. Swerdlow. 2006. New York: Syracuse University Press.15 WIB. 1. Hery. Suprayogi.Makam. Tahun X. 2. 1995. Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra. Sirajudin. XXIX. H. Dr. Jakarta : Erlangga. dkk. Prisma No.com/2010/04/mbah-priok-sejarah-makam-mbah-priok. No.blogspot. Sastropoetro. Administrasi Pembangunan Konsep. ---------------------. Awaloedin Djamin. Jakarta: Yappika.17 WIB. ”Mbah Priok-Sejarah Makam Mbah Priok. Selain itu.com/read/2010/04/14/194712/1338476/10/asal-mula-sengketa- . Daftar Pustaka Davis. Phillips. pada 21 April 2010 pukul 11. Winarno. 4. dan masyarakat harus ada komunikasi yang sinergis sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara masing-masing pihak. “Asal Mula Sengketa Makam Mbah Priok Versi Pemprov DKI. ”Jurnal Manajemen & Kewirausahaan” http://puslit. Vol.liputan6. hal. Santoso. 1968. Vol.petra. Aribowo. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional.. Partisipasi. Warung informasi. “Konsepsi dan Masalah – Masalah Administrasi Pembangunan. 14. Irving.2007. Development Administration. Keith. Newstrom.Mbah. Sondang. antara pemerintah.

11 WIB. diunduh pada 21 April 2010 pukul 11. .32 makam-mbah-priok-versi-pemprov-dki.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful