Sektor Bisnis (Corporate) Sebagai Subyek Hukum dalam Kaitan dengan HAM Peran sektor usaha dalam pemenuhan

, pemajuan, dan perlindungan HAM di Indonesia tidak lepas dari Global Compact yang digulirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (tahun 1999) dan dokumen PBB tentang tanggung jawab perusahaan (transnational) terhadap HAM (disahkan dalam tahun 2003). Bersama-sama dengan sepuluh asas Global Compact (GC), maka konsep Corporate Social Responsibilities (CSR) sekarang merupakan bagian pedoman melaksanakan Good Corporate Governance (GCG). Sekarang, masalah etika bisnis dan akuntabilitas bisnis makin mendapat perhatian masyarakat di beberapa negara maju, yang biasanya sangat liberal dalam menghadapi perusahaan-perusahaannya, mulai terdengar suara bahwa karena “selfregulation” terlihat gagal, maka diperlukan peraturan (undang-undang) baru yang akan memberikan “higher standards for corporate pratice” dan “tougher penalties for executive misconduct”(1). Global Compact terdiri dari sepuluh asas: dua di bidang HAM (no. 1-2), empat di bidang standar tenaga kerja (no. 3-6), tiga di bidang lingkungan hidup (no. 7-9), dan satu di bidang anti-korupsi (no.10; masuk tahun 2004). Asas-asas dalam GC ini dapat ditemukan pula dalam berbagai peraturan perundang-undangan kita, khususnya mengenai ketenagakerjaan, perlindungan lingkungan hidup, dan pemberantasan korupsi. Tentang HAM kita tentu merujuk kepada KomNas HAM dan Konstitusi (UUD 1945) kita yang mempunyai Bab XA tentang HAM (Pasal 28 A s/d Pasal 28J - Perubahan II tahun 2002)(2). Dalam Kerangka Acuan (TOR) pertemuan ini antara lain dijelaskan bahwa Corporate Social ResponsibillitY (CSR) telah diterapkan oleh sejumlah perusahaan multinasional dan nasional di Indonesia. Umumnya kepatuhan dan pelaksanaan CSR ini dikaitkan dengan program Community Development (CD) dan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Sebenarnya CSR tidak saja berhubungan dengan CD, justru CSR harusnya lebih terkait pada GC. Sebagaimana kita tahu GC adalah sejumlah asas yang berlaku secara sukarela pada perusahaan yang mau turut serta dalam GC tersebut. Peningkatan CSR akan memperkuat pengaruh GC pada perilaku perusahaan (corporate behaviour).

and its engagement in public policy”. dan ketebukaan pasar. Dalam CG kita mengacu pada standar dasar yang bertujuan pada ketaatan (compliance) terhadap peraturan negara maupun aturan internal perusahaan. Dengan demikian dalam SC. Selanjutnya dikatakan bahwa konsep CSR itu memang agak tumpang tindih. kelompok SRI (social responsible investors) dan licensing patners. komuniti. LSM. Etika bisnis lebih luas konsepnya. Tekanan ini datang antara lain dari para pemegang saham (yang sadar CSR). customer. perhatian manajemen tidak saja harus ditujukan pada standar dasar ekonomi. sekitarnya dan masyarakat pada umumnya. stakeholder ekstenal: komuniti. Dikatakan pula oleh para pengamat bahwa ada “mounting public anxiety about the growth of corporate . pemegang saham. kemajuan informasi teknologi.Corporate Social Responsibility (CSR) Wineberg dan Rudolph(3) memberi definisi CSR sebagai: “The contribution that a company makes in society through its core business activities. Dewasa ini. menghadapi dampak globaslisasi. masih menurut Wineberg(5). perusahaan harus secara serius memperhatikan CSR. its social investment and philanthropy programs. tetapi juga pada dampak kegiatan perusahaan itu terhadap lingkungan hidup. Pada dasarnya CG dan EB fokusnya adalah pada internal perusahaan dan diwujudkan sebagian besar dalam bentuk aturan (rules-based flavour)(4). dan stakehoder lainnya seperti: supplier. Hanya taat kepada peraturan perundang-undangan belum cukup untuk melindungi perusahaan dari berbagai risiko tuntutan hukum. Misalnya. Karena itu CSR juga ditujukan pada jajaran stakeholder yang lebih luas. didasarkan pada nilai-nilai yang melampaui ketentuan atau norma aturan (peraturan). Sebaliknya. kehilangan partner bisnis maupun risiko terhadap citra perusahaan (brand risk). (overlap) dengan konsep (good) corporate governance (CG) dan konsep etika bisnis (EB). seperti: pegawai. partner-partner bisnis (terutama dari negara yang komuniti bisnisnya peka terhadap CSR) dan advokat yang memperjuangkan kepentingan publik (public interest lawyers)(6). LSM. CSR itu lebih berdasarkan nilai-nilai (values-based) dan fokusnya keluar (external) perusahaan. stakeholder internal. Tekanan secara nasional dan internasional sedang dan terus akan berlanjut untuk mempengaruhi perilaku bisnis korporasi.

. Peranan pengawasan publik dilakukan melalui LSM (NGO). Isu bagaimana tenaga kerja mempersepsikan suatu perusahaan juga akan berpengaruh pada rekrutmen pegawai.78% of the chief . sebagai organisasi nir-laba yang pendukungnya menyuarakan berbagai “public issues”. yang punya dampak besar pada penyelenggaraan bisnis di indonesia. Keadaan seperti inipun perlu dicermati di Indonesia. (b) duapertiga responden ingin perusahaan meninggalkan peranan perusahaan yang hanya menekankan pada: membuat keuntungan. membayar pajak. pelaksanaan CSR (khususnya yang dikaitkan pada Community Development) telah dianggap pula sebagai “faktor pendukung daya saing” perusahaan bersangkutan.. ketimbang hanya pada “brand reputation” dan “financial factors”. Mengapa CSR perlu perhatian manajemen Mempunyai program CSR bukanlah hanya sekedar untuk tunduk pada tekanan publik dan politik. memotivasi kerja mereka..power and the potential for corporate misconduct”. Seperti terungkap dalam suatu survei di tahun 1999 terhadap ribuan responden di dunia (23 negara di 6 benua). keterbukaan dan akuntabilitas sangat dipentingkan dan diperhatikan oleh publik. Perusahaan harus menyadari bahwa suara LSM ini mempunyai pengaruh besar dan sangat diperhatikan oleh konsumen perusahaan dan karena itu tidak dapat diabaikan(8). Seperti dikutip Wineberg(9) dari suatu survei CEO di Eropa tahun 2002: “. Karena itu “faktor pendukung daya saing” juga harus dilihat dari program CSR yang dijalankan oleh perusahaan. dan mengusahakan mereka tidak pindah ke perusahaan lain. [disarikan dari “Global Perception of the Role of Corporations”] Dalam iklim reformasi dan demokrasi di Indonesia sekarang ini. dan (c) perhatian masyarakat sekarang lebih pada “corporate citizenship”. Tenaga ahli yang cakap sekarang juga sudah mulai memilih perusahaan yang dinilai baik dari segi kepemimpinannya dalam melaksanakan CSR (CSR leadership).... terutama dalam usaha pemerintah melakukan “economic recovery”. Seperti dikatakan dalam TOR pertemuan ini. mereka minta agar fokus perusahaan adalah juga bagaimana menyumbang pada tujuan-tujuan masyarakat secara lebih luas (broader societal goals). dan menggunakan tenaga kerja. maka antara lain: (a) separuh responden “care about the social behaviour of companies”.

dan masyarakat luas. dalam kenyataan tidaklah mudah untuk menentukan pelanggaran HAM. adalah antara lain: . Dalam tahun yang sama. ke luar antara lain terhadap lingkungan hidup. Sejumlah masalah yang pernah diajukan dalam konsultasi antara kantor UNHCHR dengan kantor Global Compact. Sumbangan ini ditujukan ke dalam (internal) dan keluar (ekternal). Meskipun memang pada dasarnya negara yang bertanggung jawab tentang penegakan HAM ini. dan yang telah turut ditandatangani pula oleh Indonesia. Global Compact telah memasukkan “anti-korupsi” sebagai asas ke-10 (dalam tahun 2003). Indonesia menghormati UDHR dan telah memasukkan sebagian asas-asas tersebut dalam konstitusi (UUD 1945 yang telah diamandemen). Global Compact merupakan nilai-nilai yang mempedomani CSR. PBB telah mengeluarkan Konvensi Global Anti-Korupsi. Dua dari sepuluh asas dalam GC secara langsung merujuk pada penghormatan HAM sebagaimana diakui oleh dunia internasional. Dalam pengertian “responsible business practices” di atas. terutama yang tertuang dalam konstitusi. antara lain terhadap tenaga kerja (pegawai). Karena GC merupakan pedoman bagi CSR dan GC merujuk pada penghormatan HAM. Ke dalam. Ketidaktaatan perusahaan melindungi HAM di Indonesia. Sebagaimana diuraikan sebelumnya. akan merupakan pelanggaran serius dari perusahaan bersangkutan.executives agreed that integrating responsible business practices makes a company more competitive”. HAM dan CSR Sebagaimana didefinisikan di atas konsep CSR berkaitan pula dengan sumbangan perusahaan pada masyarakat antara lain dalam “social investment” dan “engagement in public policy”. komuniti sekitarnya. maka pelaksanaan CSR oleh perusahaan berarti pula kewajiban perusahaan untuk menghormati perlindungan HAM di Indonesia. tentunya termasuk pula usaha perusahaan untuk menolak melakukan transaksi yang mempunyai sifat “penyuapan” dan/atau “korupsi”(10). Namun. Dasar internasional tentang HAM adalah Universal Declaration of Human Rights (UDHR). tetapi peranan perusahaan juga tidak kecil dalam turut serta menghormati HAM.

bagaimana meningkatkan (improve) verifikasi ini? (d) mengenai “the meaning of complicity”. apakah dapat menjadi dasar untuk “binding obligations enforceable in national law”. (c) mengenai verifikasi (verification) tentang ketaatan perusahaan pada standar perilaku bisnis yang sudah disepakati. baik secara gugatan sipil (civil laibility). Akan lebih rumit permasalahannya kalau pelanggaran HAM dilakukan oleh unit pengamanan yang berasal dari Kepolisian atau TNI. maupun dakwaan kriminal (criminal liability). dapat berkaitan dengan penggunaan perusahaan (atau tenaga) satuan pengamanan (satpam). Telah sering terjadi bahwa unit (satuan) pengamanan perusahaan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar HAM (misalnya mulai dari “menggeledah badan pekerja” sampai dengan “menghalau” demontrasi pekerja). Unit pengamanan ini biasanya memperoleh pula bantuan biaya dari perusahaan. atau (ii) memperluas perbuatan (tindak) pidana]. (b) mengenai legitimasi dari para penyusun “initiatives dan standards”. Sehubungan dengan luas lingkup suatu perusahaan dapat dianggap turut serta (merupakan pelaku peserta) dalam pelanggaran HAM. diatur dalam Pasal 5556 . maka status hukumnya akan menjadi lebih kuat. Apakah “bantuan biaya” ini dapat ditafsirkan bahwa perusahaan telah “membantu” terjadinya pelanggaran HAM? Ingat bahwa asas Global Compact kedua meminta “that businesses should make sure that they are not complicit in human right abuses” . sejauh mana perusahaan dapat dianggap “turut serta” dalam pelanggaran HAM.(a) mengenai “scope and legal status of initiatives and standards”. misalnya membayar pajak yang digunakan pemerintah bersangkutan untuk kegiatan yang melanggar HAM? [penyertaan dalam KUH Pidana. diambil sebagai contoh Voluntary Guidelines on Security and Human Rights. dalam hal inisiatif dan standar ini diambil-alih (adopted) oleh pemerintah.yurisprudensi Indonesia belum jelas apakah konsep penyertaan: (i) memperluas tanggung jawab pidana. Dengan sendirinya perusahaan bertanggung jawab atas pelanggaran HAM ini. yang baru dapat ditegakan apabila dimasukkan sebagai klausula dalam kontrak-kontrak dengan perusahaan sekuriti.

Dengan begitu dapatlah dikatakan bahwa perusahaanperusahaan yang telah menggabungkan diri (secara sukarela) dalam Global Compact. (2) Corruption: threats and trends in the twenty first century (dengan antara lain isu: criminal justice reform). yaitu tentang anti-korupsi. Meningkatnya pertumbuhan kejahatan transnasional telah diakui oleh PBB dengan disahkannya UN Convention against Transnational Organized Crime (2000) yang dianggap sebagai ancaman pada “the integrity of national financial industries”. Untuk perhatian kita bersama hanya perlu dikemukakan bahwa pada tanggal 18-25 April 2005 di Bangkok (Thailand) akan berlangsung The Eleventh UN Congress on Crime Prevention and Criminal Justice. Masalah ini cukup banyak dibicarakan di Indonesia. Untuk negara yang berada dalam keadaan transisi seperti Indonesia. dan measures to combat computer-related crime). Kenyataan adanya “bribery in the private sector” telah merupakan salah satu faktor yang mempersulit Indonesia melakukan pemulihan di sektor ekonomi. dan berbagai studi dan rekomendasi telah pula di ajukan. karena ketidakpercayaan para investor pada hukum dan sistem peradilan kita. Dari sekian banyak topik agenda. sejalan dengan adanya UN Convention against Corruption. juga “terikat” untuk “memerangi korupsi”. (3) Economic and financial crime: challenges to sustainable development (dengan antara lain isu: measures to combat terrorism and economic crime. yang relevan dengan pertemuan ini adalah agenda pembicaraan: (1) Effective measures to combat transnational organized crime (dengan antara lain isu: international law enforcement cooperation. including money laundering. . dengan tema “Synergies and responses: strategic alliances in crime prevention and criminal justice”.Korupsi dan CSR Global Compact telah menambah asas ke-10. including extradition measures). KKN dan pencucian uang (money laundering) merupakam masalah besar. Untuk Indonesia yang sedang menjalani reformasi di bidang hukum dan sistem peradilan. keterikatan perusahaan untuk “memerangi KKN” tentunya teramat penting.

Dikatakan bahwa badan hukum adalah subyek hukum. Penafsiran ini dilakukan melalui asas kepatutan (doelmatigheid) dan keadilan (bilijkheid).. natural person). persona standi in judicio) dapat melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatig handelen. Dalam Pasal 82 dikatakan bahwa “Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili . gambaran tentang pelaku tindak pidana (kejahatan) masih sering dikaitkan dengan perbuatan yang secara fisik dilakukan oleh pelaku (fysieke dader). baik di dalam maupun di luar pengadilan”. Badan hukum PT ini adalah suatu relaitas (bukan fiksi) dan berupa suatu kontruksi hukum. dengan perbedaan bahwa badan hukum mempunyai hak dan kewajiban yang diberikan oleh undang-undang untuk mengabdi pada kehidupan hukum manusia. 1/1995 sebagai Direksi). apabila asas-asas dalam Global Compact telah menjadi “binding obligations enforceable in national law” (lihat halaman 5-6 makalah ini: HAM dan CSR).Tanggung jawab Perusahaan Sebagian besar perusahaan yang menjalankan bisnis dengan memakai “ijin perusahaan” berbentuk badan hukum (rechtspersoon. Dalam pustaka hukum pidana modern telah . Oleh karena itu dalam hukum perdata suatu korporasi (legal person) dapat dianggap bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. Dengan demikian antara Direksi dan korporasi ada hubungan istimewa yang dinamakan “fiduciary relationship” (hubungan kepercayaan). Dalam hukum perdata telah lama diakui bahwa suatu badan hukum (sebagai suatu subyek hukum mandiri. yang melahirkan “fiduciary duties” bagi setiap anggota Direksi. tort). berdasarkan hukum perdata (gugatan perdata) karena telah tidak memenuhi CSR. Manusia sendiri mempunyai hak dan kewajiban berdasarkan asas-asas kesusilaan dan kemasyarakatan.. Berbeda permasalahannya dalam hukum pidana. secara hukum Indonesia. dapat dinyatakan bersalah (terpisah dari direksinya). legal person) perseroan terbatas (PT). disamping para anggota direksi sebagai natural persons. sama dengan manusia (natuurlijke persoon. dan karena itu dikenal adanya hak asasi manusia. Dalam ilmu hukum pidana Indonesia. Oleh karena itu suatu korporasi. Dalam kenyataan kita tahu bahwa badan hukum PT (selanjutnya “korporasi”) berbuat atau bertindak melalui manusia (yang dikenal dalam UU Perseroan Terbatas No.

natural person). dan “memperinci kebijakan perusahaan”. Pengurusan (dalam Pasal 79 UU PT di pergunakan istilah “Kepengurusan”) dijelaskan sebagai tugas Direksi ”yang antara lain meliputi pengurusan sehari-hari dari perseroan”. “menyusun program kerja (baru)”. maka pelimpahan pertanggungjawaban manajemen (manusia. Sebenarnya pengurusan adalah lebih daripada “melaksanakan (keputusan RUPS)” dan juga lebih daripada “pengurusan sehari-hari”. Ini yang dikenal sebagai konsep hukum tentang “pelaku fungsional” (functionele dader)(19). legal person) dapat dilakukan apabila perbuatan tersebut dalam lalu lintas kemasyarakatan berlaku sebagai perbuatan korporasi. menjadi perbuatan korporasi (badan hukum.diingatkan. dengan mengacu pada asas-asas Global Compact dan berdasarkan tanggung jawab menurut konsep Corporate Social Responbility. sebenarnya konsep criminal liability of corporations sudah ada sejak tahun 1955 di Indonesia(20). bahwa dalam lingkungan sosial ekonomi atau dalam lalu lintas perekonomian. belum menerima pemikiran di atas (Pasal 59 WvS 1918) dan menyatakan bahwa (hanya) pengurus (direksi) korporasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum pidana (criminal liability). Penutup Dalam konteks pertemuan ini dengan tema “Peran Sektor Usaha dalam Pemenuhan. seorang pelanggar hukum pidana tidak selalu perlu melakukan kejahatannya itu secara fisik. Pemajuan. Dan dalam kaitan CSR. manajemen). atau lebih tepat mungkin kepentingan dan tujuan stakeholder eksternal. “menyusun rencana masa depan”. pengurusan ini tidak saja ditujukan ke dalam (stakeholder internal). Dikatakan bahwa karena perbuatan korporasi selalu diwujudkan melalui perbuatan manusia (direksi. Dengan ini dimaksudkan kepentingankepentingan di luar organisasi perseroan secara langsung. dan Perlindungan HAM di Indonesia”. tetapi juga keluar (stakeholder Eksternal) (lihat halaman 2-3 di depan). . maka ingin ditekankan pada tugas pengurus (direksi) perusahaan (korporasi sebagai subyek hukum mandiri). Karena itu pengurus harus juga dapat dalam “kepengurusan”-nya untuk merujuk pada kepentingan umum atau broader societal goals. Meskipun KUHPidana kita (yang berasal dari masa Hindia Belanda). Pengurus harus “memimpin”.

standar perlindungan lingkungan hidup. Pemerhati kepentingan publik biasanya memfokuskan pada pelanggaran perusahaan terhadap: HAM. lingkungan hidup yang baik. pemajuan. Disampaikan dalam Lokakarya Nasional Departemen Luar Negeri RI. peraturan tenaga kerja. “Submission to the Office of tne United Nations High Commissioner for Human Rights (UNHCR) – resposibilities of transnational corporatins and related business enterprises with regar to human rights”. loc. 4. bebas perlakuan yang bersifat diskriminatif. 5. cit. 70. seperti: berhak untuk hidup.. cit. 2. penghormatan atas hak masyarakat tradisional. 1. Rudolph (May 2004) “Corporate Social Responsibility – What Every In House Counsel Should Know”. Op. cit. hal. Dalam Perubahan ke-II UUD 1945 ini (18 Aagustus 2000). meningkatkan kualitas hidup. dan sebagainya. Jakarta (20/12/04) Sumber: Komisi Hukum Nasional Penulis adalah Teman Serikat dalam Kantor Konsultan Hukum ABNR dan Sekretaris KHN RI. terdapat sejumlah asas-asas HAM yang relevan (langsung dan tidak langsung) dengan kegiatan bisnis. hal. dengan tema “Peran sektor usaha dalam pemenuhan. Danette Wineberg and Phillip H. dan perlindungan HAM di Indonesia” Hotel Borobudur. loc. perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. 6. jaminan sosial. .Oleh: Mardjono Reksodiputro. pemenuhan kebutuhan dasar. 3. dalam ACC Docket. Gurubesar Universitas Indonesia. kebebasan berserikat. 72. Lihat misalnya Christian Aid (Oktober 2004).

Business are asked to support and respect the protection of international human rights within their sphere of influence. Kasus Perusahaan Enron (Amerika Serikat) terkenal tahun 2002 karena merupakan kepailitan terbesar di Amerika Serikat (kerugian tahap pertama 618 juta US dollar) dan merupakan kecurangan politik (public fraud): sahamnya jatuh dari 90 US dollar menjadi kurang dasri satu .factory emission standards. product liability. menyatakan: 1. Op. 8. 78. health and safety standards. Op. Selanjutnya 9 Desember 2003 dilakukan upacara penandatanganan yang diikuti pula oleh Indonesia. hari tersebut diperingati sebagai International Anti-Corruption Day di dunia. cit. perlindungan konsumen. hal. 7. UN Office Geneva (22 October 2004). UN Global Compact Principles. hal. Consultation on Business and Human Rights: Summary of Discussions. exploitation of workers” dan “flaunting environmental standards”.. United Nations Convention against Corruption disahkan dalam General Assembly tanggal 31 Oktober 2003. 4-6. Annex 6: “The 10 UN Global Compact Principles and Selected GRI Performance Indicators”. 13. para pengamat mengatakan bahwa masih banyak perusahaan yang melakukan “complicity in human right abuses. Global Compact Guidance Packet on Communication On Progress. Sehubungan dengan ketaatan perusahaan memperhatikan CSR. Mulai 9 Desember 2004. 9. dan/atau tentang anti monopoli dan praktik bisnis curang. Make sure their own corporations are not complicit in human right abuses. 11. 77. hal.. Daniel Kaufman dari World Bank Institute menyatakan bahwa jumlah penyuapan oleh perusahaan setiap tahunnya diperkirakan sebesar satu trilyun dollar (5 November 2004). 2. 10. 12. cit.

is Enron complicit in those abuses? Absolutely”.hrw. UN Congress on The Prevention of Crime and Criminal Justice bersidang setiap lima tahun. terhadap government officials di Indonesia (1973-1974: spare parts dan pesawat terbang).. (c) The World Bank (2004). Enron can not pretend it has no responsibility . Combating Corruption in Indonesia. 1970-an). in any capacity. UN Convention against Corruption menyebut bentuk penyuapan di sektor privat (swasta ini) sebagai “by means of promise.. telah dituduh pula membiarkan polisi India memukuli dan menahan demonstran yang menolak pembangunan unit tenaga listrik tersebut. Sub-contractors have attacked and beaten local villagers . 707). Law Reform in Indonesia. 15. Reksodiputro (dengan MKK) (1977).htm). are under the command of local headquarters. Jepang (Perdana Menteri Tanaka. Law Reform Policies (Recommendations). of un unduc advantage.. act or refrain from acting”. 2004 in Human Rights Watch. Dikatakan: “The police . but the company pays their salaries. Vol. December 1. Khashoggi..... offering. in order that her or she. dan merupakan bribery scandals of multinational corporations. Enron pun dituduh menjadi political profit pipeline di India (Mardjono Reksodiputro. yang menyebabkan pemerintah Amerika Serikat mengundangkan The Foreign Corrupt Practices Act (1978).. 1976). in braech of his or her duties. 14.US dollar. giving . (b) Komisi Hukum Nasional (2003). 1976) Belanda (Pangeran Bernard.org/advocacy/corporations/commentary.. 1 No. 16.. Pada bulan November . Enhancing Accountability for Development. Persiapan untuk kongres lima tahunan ini sangat intensif dan melibatkan negara-negara anggota ke pertemuan (lokakarya) antara yang diselenggarakan secara regional. catatan kaki 13 dalam Jurnal Hukum Internasional. hal. Arab Saudi (Adnan N. Antara lain misalnya: (a) Ali. 4 (Juli 2004). Budiardjo. Dalam bahan pustaka terkenal sebagai contoh adalah “Lockheed Corporation Bribes” antara tahun 1965-1975. yang membangun “the biggest private power plant” di India. Menurut peraturan ini “international bribery” dapat dihukum maksimum US satu juta dollar dan penjara lima tahun. for a private sector entity . Yang kurang diungkapkan adalah bahwa Enron Corporation. (Arivind Ganesan. Nugroho. “Business and Human Rights – The Bottom Line”. www.

Ini dilakukan melalui Pasal 15 UU No. Selanjutnya di luar KUHP perkembangan legislatif menunjukkan bahwa sejumlah undangundang telah mengakui perlunya memungkinkan suatu korporasi (badan hukum) dijadikan terdakwa dan. 19. yang menyelenggarakan 10th ACPF World Conference di Macao. Gouda Quint BV.2004 persiapan untuk daerah Asia dilakukan oleh Asian Crime Prevention Foundation (ACPF). Universal Declaration of Human Rights (UDHR). 17. “Tindak Pidana Korporasi dan Pertanggungjawabannya – Perubahan Wajah Pelaku Kejahatan di Indonesia” (Pidato Dies Natalis ke-47 PTIK)... Jadi perlindungan HAM (hak) memang hanya ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan. “Kejahatan Korporasi – Suatu Fenomena Lama dalam Bentuk Baru”. dimulai dengan mukadimah yang berbunyi: “.. dalam Jurnal Hukum Internasional. Lebih lanjut lihat Mardjono Reksodiputro (Juni 1993). op. RRC. Lihat van Schilfgaarde (1981). Dalam konsep RUU KUH Pidana Nasional (2002) terdapat Pasal 44 yang menyatakan bahwa “korporasi dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan tindak pidana”. UU tentang Lingkungan Hidup (1997). 693-708.”. UU Korupsi.. UU Narkotika (1976). tetapi kewajiban menghormati ada pada manusia. 1-2. . tumbuan (Agustus 2003).G. menjadi terpidana. hal. Misalnya UU Subversi (1963). dan organisasi lain dalam masyarakat. 18. negara. “Mencermati Pembaharusn Undangundang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseoran Terbatas (Suatu Sketsa)” (makalah untuk AAI). korporasi (sebagai suatu subyek hukum mandiri). SAR. cit. dan UU tentang Money Laundering. Lihat selanjutnya Mardjono Reksodiputro (2004). Lihat lebih lanjut Fred B. recognition of the inherent dignity and of the equal and inalienable rights of all members of the human family . Van de naamloze en de besloten vennootschap. 7/Drt/1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. bilamana bersalah. hal.. 20.

Oleh karenanya ke depan seharusnya PT FI mengarahkan program2 CSR nya yg dapat merangkul dan mencakupi seluruh wilayah Papua. Namun dapat dikatakan PT FI yg beroperasi di Kab Mimika. Dari pemaparan yang disampaikan oleh Team Corporate Communications. PT FI walau bagaimanapun. tidak hanya membatasi dampak tambang pada penduduk lokal di Kab Mimika. perusahaan telah menjalankan program CSR selama lebih kurang 20 tahun. Tingkat pendapatan kabupaten yang mungkin tertinggi di tanah Papua. Komitmen para petinggi PT FI saat ini untuk menjalankan program CSR (salah satu kunci suksesnya program CSR) patut diapresiasi. Pendekatan CSR yang dijalankan terutama di tujukan ke masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tambang di Kab. Pada akhirnya segala kegiatan/program CSR pun pada akhirnya diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi peningkatan pendapatan perusahaan. serta tingginya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk lokal dan pendatang. adalah tulang punggung kehidupan di seluruh penjuru kabupaten. namun keberlanjutannya serta keserasian dengan nilai dan budaya/adat lokal serta tujuan akhir yg ingin dicapai haruslah juga dirangkai dengan komitmen PT FI dalam misi sosial perusahaan. adalah entitas bisnis yang tujuan nya mencari keuntungan. dapat dilihat dari sumbangan royalti PT FI yg kini masih sebesar 96% dari total pendapatan Kab Mimika. 29 Jan 09 Freeport Indonesia sebagai salah satu perusahaan superkaya dalam dunia tambang hadir di Papua sejak 1973. Namun demikian pada era keterbukaan dan kemajuan teknologi serta tingginya mobilitas penduduk termasuk di Papua. Beberapa tantangan ini sudah seharusnya disikapi secara bijak juga oleh PT FI. tetap harus diantisipasi oleh PT FI sebagai bagian dari populasi di tanah Papua. PT FI sudah menjadi bagian tak terpisahkan ketika bicara tentang Kab Mimika dan bukan tidak mungkin tidak dapat dipisahkan dari kemajuan di Papua secara umum. Mimika. Kehidupan kota yg sebagian didominasi oleh pendatang (yg bekerja di PT FI).Pelaksanaan CSR PT Freeport Indonesia Thu. . khususnya 2 suku yg memegang tanah ulayat tempat pertambangan PT FI. menyebabkan tingginya urbanisasi yg menyebabkan jumlah penduduk meningkat cukup pesat dalam beberapa tahun. khususnya sejak KK I dittd tahun 1988. sangat berperan dalam memicu konflik-konflik yang beberapa kali terjadi antara PT FI dan masyarakat.