P. 1
ASUHAN KEPERAWATAN HNP

ASUHAN KEPERAWATAN HNP

|Views: 168|Likes:
Published by Fakhira Azizah

More info:

Published by: Fakhira Azizah on Jul 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2015

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN HNP (HERNIA NUKLEUS PULPOSUS) 02/11/2011 0 Comments A.

Pengertian

HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik) (Harsono, 1996) HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek. B. Etiologi

HNP terjadi karena proses degenratif diskus intervetebralis C. Insiden

Angka kejadi dan kesakitan banyak terjadi pada usia pertengahan. Pada umumnya HNP didahului oelh aktiivtas yang berlebihan, misalnya mengangkat beban berat (terutama mendadak) mendorong barang berat. Laki²laki lebih banyak dari pada wanita D. gejala

Gejala utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan . HNP terbagi atas : 1. HNP sentral

HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia, dan retensi urine 2. HNP lateral

Rasa nyeri terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah abtra pantat dan betis, belakang tumit dan telapak kaki.Ditempat itu juga akan terasa nyeri tekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan refleks achiler negatif. Pada HNP lateral L 4-5 rasa nyeri dan tekan didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan refleks patela negatif. Sensibilitas [ada dermatom yang sdesuai dengan radiks yang terkena menurun. Pada percobaan lasegue atau test mengnagkat tungkai yang lurus (straigh leg raising) yaitu mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi di sendi panggul, akan dirasakan nyeri disepanjang bagian belakang (tanda lasefue positif). Valsava dab nafsinger akan memberikan hasil posistif . E. patofisiologi

obat penenang minor (diasepam. Fisioterapi Biasanya dalam bentuk diatermy (pemanasan dengan jangkauan permukaan yang lebih dalam) untuk relaksasi otot dan mengurnagi lordosis. a. Pada HNP memerlukan waktu yang lebih lama. kortikosteroid (prednison. Hal ini desebabkan oleh spasme otot-otot tersebut dan spasme menyebabkan mengurangnya lordosis lumbal dan terjadi skoliosis. a. 1.Pada umumnya HNP didahului oeleh aktiivta syang berat dengan keluahan utamanya adalah nyeri di punggung bawah disertai nyeri otot sekitar lesi dan nyeri tekan . Tempat tidur tidak boleh memakai pegas/per dengan demikina tempat tidur harus dari papan yang larus dan diutu[ dengan lembar busa tipis. tertentu. Terapi operatif Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konservatif tidak memberikan hasil yang nyata. kambuh berulang atau terjadi defisit neurologik 3. Rehabilitasi Mengupayakan penderita segera bekerja seperti semula . F. Kausal Kolagenese c. Lama tirah baring tergantung pada berat ringannya gangguan yang dirasakan penderita. klordiasepoksid). Setelah berbaring dianggp cukup maka dilakukan latihan / dipasang korset untuk mencegah terjadinya kontraktur dan mengembalikan lagi fungsi-fungsi otot. Symtomatik Analgetik (salisilat. Medikamentosa 1. 2. b. Penatalaksanaan Terapi konservatif Tirah baring Penderita hrus tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari dengan sikap yang baik adalah sikap dalam posisi setengah duduk dimana tungkai dalam sikap fleksi pada sendi panggul dan lutut. Tirah baring bermanfaat untuk nyeri punggung bawah mekanik akut. 2. prednisolon). antidepresan trisiklik ( amitriptilin). anti-inflamasi nonsteroid (AINS) seperti piroksikan. parasetamol).

II. Pengaruh posisi tubuh atau atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh. bisa menimbulkan nyeri punggung bawah Status mental Pada umumny aklien menolak bila langsung menanyakan tentang banyak pikiran/pikiran sedang . Riwayat Keperawatan a. osteomilitis. trauma (mengangkat atau mendorong benda berat) Q. Pengkajian Identitas HNP terjadi pada umur pertengahan. gerakan yang mendesak. Agar tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam melakkan kegiatan sehari-hari (the activity of daily living) c. R. makin lama makin nyeri . Apakah klien pernah menderita Tb tulang. letak atau lokasi nyeri menunjukkan nyeri dengan setepat-tepatnya sehingga letak nyeri dapat diketahui dengan cermat. makin lama makin nyeri. adneksitis dupleks kronis. T Sifanya akut. turun tangga. Pengaruh pada aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti berjalan. 1. posisi yang bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri. nyeri tumpul atau kemeng yang terus-menerus. perlahan-lahan atau bertahap. infeksi saluran kencing dan sebagainya). atau hilang timbul. kebanyakan pada jenis kelamin pria dan pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat baran berat atau mendorong benda berat) 2. berapa lama diminumkan. bersifat menetap. 4. mendenyut. sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat. 3. Penyebaran nyeri apakah bersifat nyeri radikular atau nyeri acuan (referred fain). Keluahan Utama Nyeri pada punggung bawah P. metabolik (osteoporosis) b. S. Nyeri tadi bersifat menetap. seperti kena api. Obat-oabata yang ssedang diminum seperti analgetik. sub akut. keganasan (mieloma multipleks). Klien tidak mengalami komplikasi pneumonia. menyapu. Riwayat menstruasi. konsep keperawatan A.b. hilng timbul.

adanya angulus. ibu jari dan jari lainnya dengan menyuruh klien unutk melakukan gerak fleksi dan ekstensi dengan menahan gerakan. pelvis dan tungkai selama begerak. Klien dapat menegenakan pakaian secara wajar/tidak Kemungkinan adanya atropi. pendataran arkus lumbal. postur tungkai yang abnormal. ü Inspeksi inspeksi punggung. kaki. Pemeriksaan 1. Ø Neuorologik ü Pemeriksaan motorik Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas. Pemeriksaan Umum Ø Keadaan umum ü pemeriksaan tanda-tanda vital. perut. muskulatur paravertebral atau pantat yang asimetris. faskulasi. . dilengkapi pemeriksaan jantung. kandung kencing penuh dll. Ketika meraba kolumnavertebralis dicari kemungkinan adanya deviasi ke lateral atau antero-posterior Palpasi dna perkusi perut. distensi pewrut. Lebih bijakasana bila kita menanyakan kemungkinan adanya ketidakseimbangan mental secara tidak langsung (faktor-faktor stres) 5. tungkai bawah. pantat dan tungkai dalam berbagai posisi dan gerakan untuk evalusi neyurogenik Kurvatura yang berlebihan. pelvis ya ng miring/asimitris. pembengkakan. perubahan warna kulit. Hambatan pada pegerakan punggung .(ruwet). ü palpasi dan perkusi paplasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga tidak membingungkan klien Paplasi pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasanyeri. atropi otot pada maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanan-kiri. paru-paru.

atau untuk mememriksa ada/tidaknya penyebaran nyeri. Rfleks tumit. Mielografi adalah pemeriksaan dengan bahan kontras melalu tindakan lumbal pungsi dan pemotrata dengan sinar tembus. rasa sakit. ü pemeriksaan refleks refleks lutut /patela/hammer (klien bebraring. Apabila diketahiu adanya penyumbatan. Pada aHNP lateral 4-5 refleks ini negatif.hambatan kanalis spinalis yang mungkin disebabkan HNP. rasa suhu. Dignosa keperawatan . tumit diletakkan diatas tungkai yang satunya dan ujung kaki ditahan dalam posisi dorsofleksi ringan. 2. Foto rontgen dari depan.duduk dengan tungkai menjuntai). samping. rasa dalam dan rasa getar (vibrasi) untuk menentukan dermatom mana yang terganggu sehingga dapat ditentuakn pula radiks mana yang terganggu. kemudian tendon achiles dipukul. dan serong) untuk identifikasi ruang antar vertebra menyempit.- fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot tertentu. pada HNP lateral di L4-5 refleks negatif. Ø Sken tomografi Melihat gambaran vertebra dan jaringan disekitarnya termasuk diskusi intervertebralis. 6. Penatalaksanaan (lihat pada landsan teori) 7.achiles (klien dalam posisi berbaring . Pemeriksaan penunjang Ø foto rontgen. luutu posisi fleksi. ü Pemeriksan sensorik Pemeriksaan rasa raba. functio laesa. Ø Elektroneuromiografi (ENMG) Untuk menegetahui radiks mana yang terkena / melihat adanya polineuropati. ü Pemeriksaan range of movement (ROM) Pemeriksaan ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat nyeri.

Berikan informasi tentang penyebab dan cara mengatasinya R/ Informasi mengurangi ansietas yang berhubungan dengan sesuatu yang diperkirakan. nyeri. 1990) 1) Nyeri berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus intervetebralis 2) Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi. diagnosis. Perencanaan 1. intake cairan yang tidak adekuat 5) 6) Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama B. anestesi. . Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan dampak penjepitan saraf pada radiks intervertebralis Tujuan : Nyeri berkurang atau rasa nyaman terpenuhi Kriteria : Klien mengatakan tidak terasa nyeri. hilangnya fungsi 3) Perubahan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia 4) Perubahan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi. lokasi nyeri minimal keparahan nyeri berskala 0 Indikator nyeri verbal dan noverbal (tidak menyeringai) INTERVENSI Identifikasi klien dalam membantu menghilangkan rasa nyerinya R/ Pengetahuan yang mendalam tentang nyeri dan kefektifan tindakan penghilangan nyeri.Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat ditanggulangi atau dikurangi. (Lismidar. prognosis.

. Harapan-harapan yang tidak realistik tiak dapat mengurangi kecemasan. balutan (24-48 jam). Reinforcement terhadap potensi dan sumber yang dimiliki berhubungan dengan penyakit.Tindakan penghilangan rasa nyeri noninvasif dan nonfarmakologis (posisi. anestesi. Berikan informasi mengenai klien yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien danmenjalani operasi 3. 2. Berikan support sistem (perawat. 3. INTERVENSI 1. prognosis.. 2. distraksi dan relaksasi. Terapi analgetik R/ Terapi farmakologi diperlukan untuk memberikan peredam nyeri. Kriteria hasil : T Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekuatirannya. perawatan dan tindakan RASIONAL 1. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus. Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-lat yang tersedia yang dapat membantu klien 4. justru malah menimbulkan ketidak percayaan klien terhadap perawat. Memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yang paling tepat untuk kehidupannya sehari-hari disesuaikan dnegan tingkat keterampilannya sehingga dapat mengurangi rasa cemas dan frustasinya. Diskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi gerak untuk mempertahankan harapan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari 2. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang. keluarga atau teman dekat dan pendekatan spiritual) 5. diagnosis. hilangnya fungsi. nyeri. T Respon klien tampak tersenyum. Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi. sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya. R/ Tindakan ini memungkinkan klien untuk mendapatkan rasa kontrol terhadap nyeri.

3. 5. tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan c) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan 4. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi. Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada disekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi. Perubahan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia Tujuan : Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya Kriteria hasil Tidak terjadi kontraktur sendi Bertabahnya kekuatan otot Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas INTERVENSI a) b) c) d) Ubah posisi klien tiap 2 jam Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien RASIONAL a) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan b) Gerakan aktif memberikan massa.4. nyeri Tujuan Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi . Dukungan dari bebarapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien.

Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh c.Kriteria hasil Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan INTERVENSI a. Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu e. Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus c. tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan d. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi RASIONAL a. intake cairan yang tidak adekuat Tujuan Klien tidak mengalami kopnstipasi . Monitor kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri b. Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi. Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual b. adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk emepertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan d. Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus 5. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya e. Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri.

Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab obstipasi b. Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler e. yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi 6. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama Tujuan . Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus.Kriteria hasil Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat Konsistensifses lunak Tidak teraba masa pada kolon ( scibala ) Bising usus normal ( 15-30 kali permenit ) INTERVENSI a) b) c) d) e) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi Auskultasi bising usus Anjurkan pada klien untuk makan maknanan yang mengandung serat Berikan intake cairan yang cukup (2 liter perhari) jika tidak ada kontraindikasi Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien f) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laxatif. Bising usu menandakan sifat aktivitas peristaltik Diit seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler d. suppositoria. enema) RASIONAL a. Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus oto abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik f. c.

Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma. d. Engram.. Barbara. Volume 3. Lakukan massage pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi e. EGC. Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol d. Edisi 8. e.Moorhouse M. Meningkatkan aliran darah kesemua daerah b. 2000.Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit Kriteria hasil Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka INTERVENSI a. f.F. Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan Mempertahankan keutuhan kulit DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Lynda Juall. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Doenges. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.. EGC.Geissler A. Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi f. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan. 1998. panas terhadap kulit RASIONAL a. M. 2000. Jakarta. Rubah posisi tiap 2 jam c. .C. Edisi 3.. Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin b.E. EGC. c.

2000. Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek.1996.V... Jakarta. Ilmu Bedah Saraf. 1996. An HBJ International Edition. Ignatavicius D. Gadjah Mada University Press.. 1996. Gadjah Mada University Press. 1998. Mardjono M..Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.M. Pendekatan Holistik. Medical Surgical Nursing.. 1991. W. Kapita Selekta Neurologi. Edisi VI. Yogyakarta.B..D.. T. PT Dian Rakyat. Bayne M. Philadelphia. Harsono. Jakarta. Juwono. Harsono.M. Hudak C. Jakarta. Satyanegara. A Nursing Process Approach. Edisi Ketiga. Jakarta. Edisi 1. Saunders Company. Buku Ajar Neurologi Klinis. EGC. Neurologi Klinis Dasar. Sidharta P. Volume II. Yogyakarta. 1981.Gallo B. EGC. Keperawatan Kritis. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->