P. 1
21837_SNI IEC 60076-8_2009

21837_SNI IEC 60076-8_2009

|Views: 760|Likes:
Published by johnmanoe

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: johnmanoe on Jul 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Standar Nasional Indonesia

Transformator tenaga – Bagian 8: Pedoman Penerapan
(IEC 60076-8 (1997), IDT)

ICS : 01.040.29

Badan Standardisasi Nasional

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

SNI IEC 60076-8:2009

Daftar isi

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Daftar isi………………………………………………………………………………………….. Prakata……………………………………………………………………………………………. 1 2 3 4 5 Umum……………………………………………………………………………………….. Karakteristik dari kombinasi belitan fase-tiga yang berbeda dan desain sirkit magnetic…………………………………………………………………………………….. Karakteristik dan penerapan transformator terhubung-oto……………………………. Sifat urutan nol arus beban netral dan kondisi gangguan bumi, kejenuhan magnetic dan arus inrush…………………………………………………………………. Perhitungan arus hubung-pendek pada transformator fase-tiga (transformator belitan terpisah dan transformator terhubung-oto) dengan netral dibumikan tiga belitan……………………………………………………………………………………….. Operasi parallel transformator pada system fase-tiga…………………………………. Perhitungan jatuh tegangan untuk beban yang ditentukan, rugi beban Transformator tiga-belitan ......................................................................................... Spesifikasi besaran pengenal dan besaran sadapan………………………………….. Penerapan konvertor dengan transformator standar................................................. Pedoman pengukuran rugi-rugi pada transformator tenaga......................................

i ii 1 2 6 10

22 36 42 57 67 69 75

6 7 8 9 10

Lampiran A.........................................................................................................................

i

SNI IEC 60076-8:2009

Prakata

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai “Transformator tenaga - Bagian 8: Pedoman Penerapan”, diadopsi secara identik dari standar International Electrotechnical Commission (IEC) 60076-8 (1997) dengan judul “Power transformer – Part 8: Application guide ”. Bila terdapat ketidakjelasan terhadap terjemahan isi materi standar ini, maka yang dianggap berlaku adalah sebagaimana yang tertera pada teks asli IEC tersebut. Standar ini dirumuskan oleh Panitia Teknis 29-05, Transformator, melalui proses/prosedur perumusan standar dan terakhir dibahas dalam Forum Konsensus XXVI pada tanggal 28 – 29 Nopember 2006 di Jakarta. Dalam rangka mempertahankan mutu ketersediaan standar yang tetap mengikuti perkembangan, maka diharapkan masyarakat standardisasi ketenagalistrikan memberikan saran dan usul demi kesempurnaan rancangan ini dan untuk revisi standar ini dikemudian hari.

ii

SNI IEC 60076-8:2009

Transformator tenaga – Bagian 8: Pedoman penerapan

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

1 1.1

Umum Ruang lingkup dan tujuan

Standar ini berlaku untuk transformator tenaga yang memenuhi seri SNI 04-6954. Standar ini dimaksudkan untuk menyediakan informasi kepada pengguna tentang: karakteristik pelayanan fundamental tertentu dari hubungan transformator yang berbeda desain sirkit arus magnetiknya, dengan acuan khusus untuk gejala urutan nol. arus gangguan sistem pada transformator dengan hubungan YNynd dan sejenis; operasi paralel transformator, perhitungan turun atau naik tegangan dalam keadaan berbeban, dan perhitungan rugi beban untuk kombinasi beban tiga-belitan; pemilihan besaran pengenal dan besaran sadapan pada saat pembelian, berdasarkan pada kasus pembebanan prospektif; penerapan transformator dengan desain konvensional pada pembebanan konvertor; teknik pengukuran dan ketelitian dalam pengukuran rugi.

-

Bagian dari informasi tersebut adalah dari kebiasaan umum dan dapat diterapkan pada semua ukuran transformator tenaga. Tetapi beberapa bab, berkaitan dengan aspek dan permasalahan yang hanya tertuju untuk spesifikasi dan pemanfaatan dari unit tegangantinggi ukuran besar. Rekomendasi tidaklah wajib dan didalamnya tidak mengatur persyaratan spesifikasi. Informasi mengenai kemampuan pembebanan transformator tenaga diberikan dalam IEC 60354 untuk trasformator terendam-minyak dan IEC 60905 untuk transformator jenis-kering. Pedoman untuk pengujian impuls transformator tenaga diberikan dalam IEC 60722. 1.2 Acuan normatif Dokumen normatif berikut berisi ketentuan yang dengan melalui acuan dalam teks ini, mendasari ketentuan dari Standar Internasional ini. Pada waktu penerbitan, edisi yang ditunjukkan tersebut adalah sah. Semua dokumen normatif adalah tunduk kepada revisi, dan pihak-pihak setuju berdasarkan pada Standard Internasional ini didukung untuk menyelidiki kemungkinan menerapkan edisi yang terbaru dari dokumen normatif yang ditunjukkan di bawah ini. Anggota IEC dan ISO memelihara Standar Internasional yang berlaku saat ini. SNI 04-6954.1-2003, Transformator tenaga - Bagian 1: umum IEC 60050(421):1990, lnternational Electrotechnical Vocabulary (IEV)- Chapter 421: : Power transformers and reactors. IEC 60076: Power transformers IEC 60076-3:1980, Power transformers - Part 3: Insulation levels and dielectric tests IEC 60289:1988, Reactors IEC 60354:1991, Loading guide for oil-immersed power transformers
1 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

IEC 60722:1982, Guide to the lightning impulse and switching impulse testing of power transformers and reactors IEC 60905;1987, Loading guide for dry-type power transformers IEC 60909:1988, Shorf-circuit current calculation in three-phase a.c. systems IEC 60909-1:1991,Short-circuit current calculation in three-phase a.c.systems - Part 1: Factors for the calculation of short-circuit currents in three-phase a.c. systems according to IEC 60909 (1988) IEC 60909-2:1992, Electrical equipment - Data for short-circuit current calculations in accordance with IEC 60909 (1988) IEC 61378-1: 1997, Convertor transformers - Part 1: Transformers for industrial applications ISO 9001: 1994, Quality systems - Model for quality assurance in design, development, production, installation and servicing

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

2

Karakteristik dari kombinasi belitan fase-tiga yang berbeda dan desain sirkit magnetik

Bab ini adalah suatu tinjauan menyeluruh tentang pokok materi. Informasi tambahan diberikan dalam Ayat 4 mengenai sifat urutan-nol. 2.1 Belitan terhubung -Y, -D, dan -Z

Ada dua prinsip hubungan belitan fase-tiga dari belitan transformator: bintang (hubungan-Y) dan delta (hubungan-D). Untuk tujuan khusus, terutama sekali dalam trasformator tenaga ukuran kecil, hubungan lain yang dinamai zigzag atau Z juga digunakan. Menurut pengalaman, beberapa skema lain telah digunakan, seperti "delta terbuka" (“truncated delta”), "delta yang diperluas" (“extended delta”), "hubungan-T", "hubungan-V", dll. Sementara hubungan seperti itu digunakan transformator untuk penerapan khusus, hubungan tersebut tidak tampak lagi bersama pada sistem transmisi tenaga. 2.1.1 Keuntungan belitan terhubung-Y Jenis belitan ini: - lebih hemat untuk belitan tegangan-tinggi; - mempunyai titik netral; - membolehkan pembumian langsung atau pembumian melalui suatu impedans; - membolehkan tingkat insulasi netral yang dikurangi (insulasi bertingkat); - membolehkan sadapan belitan dan pengubah-sadapan untuk ditempatkan pada ujung netral setiap fase; - membolehkan pembebanan fase-tunggal dengan arus netral (lihat subayat 2.2 dan subayat 4.8). 2.1.2 Keuntungan belitan terhubung-D

Jenis belitan ini: - lebih hemat untuk belitan arus-tinggi, tegangan-rendah; - dalam kombinasi dengan belitan terhubung-bintang, mengurangi impedans urutannol dalam belitan itu.
2 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

2.1.3

Keuntungan belitan terhubung-Z

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Jenis belitan ini: - membolehkan pembebanan arus netral dengan impedans urutan-nol yang rendah (Hubungan ini digunakan pada transformator pembumian untuk menciptakan suatu terminal netral tiruan suatu sistem); - mengurangi ketidakseimbangan tegangan sistem bila beban terdistribusi tidak tidak sama antara fase-fasenya. 2.2 Karakteristik dari kombinasi hubungan belitan

Notasi hubungan belitan untuk keseluruhan transformator mengikuti konvensi dalam SNI 046954.1-2003, Ayat 6. Subayat ini adalah ringkasan perilaku arus netral dalam kombinasi belitan yang berbeda. Kondisi seperti itu diacu karena mempunyai " komponen urutan-nol" dari arus dan tegangan. Konsep ini berhubungan dengan Ayat 4 dan 5 berikutnya. Pernyataan itu juga berlaku untuk gugus fase-tiga dari transformator fase-tunggal yang dihubungkan bersama secara eksternal. 2.2.1 YNyn dan YNoto Arus urutan-nol dapat diubah antar belitan pada keseimbangan lilitan-ampere, karena impedans hubung-pendek yang rendah dalam transformator. Sebagai tambahan sistem transformator dengan hubungan demikian dapat dilengkapi dengan belitan ekualiser delta (lihat subayat 4.7.2 dan subayat 4.8). 2.2.2 YNy dan Yyn Arus urutan-nol dalam belitan dengan netral dibumikan tidak mempunyai lilitan-ampere penyeimbang dalam belitan lawannya, yang netralnya tidak dihubungkan ke bumi. Oleh karena itu membentuk arus magnetisasi pada inti besi dan dikendalikan oleh impedans magnetisasi urutan-nol. Impedans ini tinggi atau sangat tinggi, tergantung pada desain sirkit magnetik (lihat subayat 2.3). Simetrinya tegangan fase-netral akan dipengaruhi dan mungkin dibatasi oleh arus urutan-nol yang diperbolehkan, yang disebabkan oleh pemanasan fluksisesar (lihat subayat 4.8). 2.2.3 YNd, Dyn, YNyd (belitan tersier yang dapat dibebani) atau YNy + d (belitan ekualiser delta yang tidak dapat dibebani)

Arus urutan-nol dalam belitan bintang dengan netral dibumikan menyebabkan arus pusar kompensasi mengalir dalam belitan delta. Impedansnya adalah rendah, kira-kira sama dengan impedans hubung-pendek urutan-posistif antar belitan itu. Jika ada dua belitan bintang dengan netral dibumikan (termasuk kasus hubungan-oto dengan netral bersama), terdapat kasus pembebanan tiga-belitan untuk arus urutan-nol. Ini terkait dengan subayat 4.3.2 ,4.7.2. dan Ayat 5. 2.2.4 Yzn atau ZNy Arus urutan-nol dalam belitan zig-zag menghasilkan keseimbangan lilitan-ampere antara dua paruh belitan pada setiap kaki inti, dan menyediakan impedans hubung-pendek yang rendah.
3 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

2.2.5

Gugus fase-tiga dari unit fase-tunggal besar - menggunakan belitan tersier terhubung delta

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Di beberapa negara, transformator untuk interkoneksi system tegangan tinggi secara kebiasaan dibuat sebagai gugus dari unit fase-tunggal. Biaya, berat, dan rugi-rugi dari gugus tersebut adalah lebih besar dari pada transformator fase-tiga yang bersesuaian (sepanjang transformator dapat dibuat). Keuntungan konsep gugus adalah biayanya relatif rendah untuk menyediakan suatu cadangan unit keempat sebagai cadangan strategis. Mungkin juga bahwa suatu unit fase-tiga yang bersesuaian akan melebihi batas berat pengangkutan. Ketiga transformator fase-tunggal menyediakan sirkit magnetik independen, menunjukkan impedans magnetisasi tinggi untuk komponen tegangan urutan-nol. Mungkin saja diperlukan untuk menyediakan suatu belitan ekualiser delta yang berfungsi dalam gugus, atau mungkin ada suatu kebutuhan untuk daya bantu pada tegangan-relatif rendah dari belitan tersier. Ini dapat dicapai oleh sambungan busbar eksternal dari unit ke unit di dalam gardu itu. Hubungan eksternal menimbulkan risiko tambahan terjadinya gangguan-bumi atau hubung-pendek pada belitan tersier yang dikombinasikan dari gugus itu. 2.3 Desain sirkit magnetik yang berbeda

Desain sirkit magnetik yang paling umum untuk suatu transformator fase-tiga adalah bentuk inti berkaki-tiga (lihat Gambar 1). Ketiga kaki vertikal, paralel, dihubungkan di puncak dan bawahnya oleh gandar horisontal.

Gambar 1

Sirkit-magnetik bentuk-inti berkaki-tiga

Sirkit-magnetik bentuk-inti berkaki-lima (lihat Gambar 2) mempunyai tiga kaki berbelitan dan dua kaki samping tanpa beltan yang berpenampang lebih kecil. Gandar yang menghubungkan kelima kaki semuanya juga mempunyai penampang kurang jika dibandingkan dengan kaki berbelitan.

4 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 2

Sirkit magnetik bentuk-inti berkaki-lima

Desain fase-tiga bentuk-cangkang konvensional mempunyai suatu bingkai dengan ketiga kaki belitan horizontal dan mempunyai garis pusat bersama (lihat Gambar 3). Kaki inti besi didalam belitan pada dasarnya mempunyai penampang-lintang segi-empat dan bagianbagian sambungan sirkit magnetik mengitari belitan seperti cangkang.

Gambar 3

Sirkit magnetik bentuk-cangkang konvensional fase-tiga

Suatu sirkit magnetik bentuk-cangkang fase-tiga yang baru adalah tujuh-kaki inti, yang kaki belitannya diorientasikan dalam suatu cara yang berbeda (lihat Gambar 4).

Gambar 4

Sirkit magnetik bentuk-cangkang berkaki-tujuh fase-tiga
5 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Perbedaan yang prinsip antara desain-desain yang dibahas disini, terletak pada perilakuperilakunya ketika mendapat tegangan tiga phase tak-simetris yang mempunyai jumlah yang tidak sama dengan nol, yaitu mempunyai komponen urutan-nol . Kondisi ini dapat juga diuraikan seperti memulai dari arus urutan-nol tanpa lilitan-ampere penyeimbang dalam setiap belitan. Arus yang demikian timbul sebagai arus magnetisasi untuk sirkit magnetik dan dikendalikan oleh suatu impedans magnetisasi, pada terminal impedans tersebut terjadi jatuh tegangan urutan-nol. yang dikembangkan. Jenis biasa dari sirkit magnetik berbentuk sebagai berikut. 2.3.1 Sirkit magnetik bentuk-inti berkaki-tiga Dalam transformator bentuk-inti berkaki-tiga, komponen fluksi-urutan positif dan urutannegatif dalam kaki-berbelitan (yang jumlahnya sama dengan nol pada setiap saat) hilang melalui gandar, tetapi fluksi sisa urutan nol harus mendapatkan jalur balik dari gandar ke gandar di luar belitan yang dieksitasi. Fluksi bocor gandar eksternal ini merasakan reluktans yang tinggi dan untuk sejumlah fluksi yang ditentukan ( tegangan urutan-nol yang diterapkan tertentu), diperlukan suatu gaya gerak-magnit yang cukup besar ( arus magnetisasi tinggi). Dalam hal sirkit elektris, gejala tersebut menyatakan suatu impedans urutan-nol (magnetisasi) yang relatif rendah. Impedans ini bervariasi secara tak-linier dengan besaran komponen urutan-nol. Dan sebaliknya, arus urutan noll yang tidak dikompensasi membuat arus magnetisasi dikendalikan oleh impedans magnetisasi urutan nol. Hasilnya adalah asimetris superposisi tegangan fase-ke-netral, komponen tegangan urutan-nol tersebut. Fluksi bocor urutan-nol gandar menginduksikan arus pusar dan bersirkulasi dalam struktur klem dan tangki, serta membangkitkan rugi-rugi sesar tambahan dalam komponen ini Dapat juga menaikkan rugi-rugi arus pusar dalam belitan yang disebabkan oleh fluksi sesar yang abnormal. Ada pembatasan pada besaran dari setiap arus netral waktu panjang yang diijinkan dalam pelayanan. Hal ini dipertimbangkan dalam subayat 4.8. 2.3.2 Sirkit magnetik bentuk-inti berkaki-lima atau bentuk-cangkang

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Dalam suatu transformator bentuk-inti berkaki-lima atau bentuk-cangkang, ada jalur balik yang tersedia untuk fluksi urutan-nol melalui bagian tak-berbelitan dari sirkit magnetik (kakikaki di bagian tepi dari inti berkaki-lima, di bagian luar dari rangka cangkang plus, dan untuk inti bentuk-cangkang berkaki-tujuh, kedua kaki antar-belitan yang tak berbelitan). Fluksi urutan-nol melihat reluktans magnetik rendah setara dengan impedans magnetisasi yang sangat tinggi, serupa dengan tegangan urutan-positif normal. Ini berlaku sampai suatu batas, dimana bagian tanpa belitan dari sirkit magnetik mencapai kejenuhan. Di atas nilai tersebut, impedans jatuh, puncaknya menghasilkan arus distorsi. Suatu gugus fase-tiga dari transformator fase-tunggal bereaksi sama. Sirkit magnetik adalah terpisah dan independen pada setiap tegangan pelayanan yang diterapkan. Dalam kaitan dengan gejala yang diuraikan di atas, hal itu adalah biasa untuk transformator demikian atau gugus transformator dengan belitan penstabil terhubung-delta (lihat Ayat 4). 3 Karakteristik dan penerapan transformator terhubung-oto

3.1 Menurut definisi, transformator terhubung-oto adalah suatu transformator yang sedikitnya dua belitan mempunyai bagian bersama (lihat subayat 3.1.2 dari SNI 04-6954.1-2003).
6 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Diagram garis tunggal dari transformator-oto ditunjukkan pada Gambar 5. Sisi tegangan tinggi transformator (yang diidentifikasi dengan U1, I1 dalam Gambar) terdiri dari belitan bersama dengan belitan seri. Sisi tegangan rendah (U2, I2) terdiri dari belitan bersama tersendiri. Sistem tegangan tinggi dan tegangan rendah dihubungkan secara elektris.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 5 3.2

Diagram garis-tunggal transformator terhubung-oto

Faktor pengurangan atau faktor-oto, α

Transformator-oto secara fisik lebih kecil dan mempunyai rugi-rugi lebih rendah dari pada transformator belitan terpisah untuk daya keluaran yang sama. Penghematan relatif lebih besar jika rasio transformasi semakin mendekati satu. Kedua belitan (seri dan bersama) menyatakan nilai pengenal daya ekivalen yang sama atau dinyatakan dalam istilah lain, penyeimbang lilitan-ampere. Hubungan tersebut ditunjukkan pada Gambar 5 yang langsung menjelaskan faktor pengurang, α , dari hubungan-oto. Jika S adalah daya pengenal dari belitan terhubung-oto, tercatat pada papan pengenal, maka transformator tersebut adalah sejenis, baik ukuran fisik maupun beratnya, terhadap transformator belitan terpisah yang mempunyai daya pengenal α x S. Daya pengenal tersebut pada hakekatnya sering mengacu pada daya pengenal atau nilai pengenal dua-belitan yang ekivalen. Contoh Suatu transformator terhubung-oto 420/240 kV, 300 MVA, dapat dibandingkan dengan suatu transformator belitan terpisah yang mempunyai daya pengenal: (420- 240) / 420) x 300 = 129 MVA. Sebagai tambahan jika transformator dilengkapi dengan belitan tersier tak-terhubung-oto dengan daya pengenal 100 MVA ( YNoto d 300/300/100 MVA), maka nilai pengenal ekivalennya dua-belitan akan menjadi: (129 + 129 + 100) / 2 = 179 MVA 3.3 Impedans hubung-pendek dan efek fluksi bocor Impedans hubung-pendek suatu transformator dapat diuraikan secara fisik dalam bentuk daya reaktif dalam medan kebocoran. Daya ini pada gilirannya tergantung pada ukuran fisik dan geometri belitan tersebut. Untuk transformator-oto dengan dimensinya dikurangi, daya reaktif dalam medan kebocoran secara alami lebih kecil dari pada untuk transformator belitan terpisah dengan daya pengenal yang sama. Impedansnya, dinyatakan sebagai persentase, maka nilainya akan
7 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

selalu lebih rendah. Faktor hubungan-oto α adalah juga suatu acuan untuk persentase impedans. Tetapi, dapat juga diamati bahwa jika persentase impedans dari suatu transformator-oto ditentukan dengan suatu nilai yang dinaikkan (dengan maksud untuk membatasi amplitudo arus gangguan dalam sistem sisi-sekunder) maka transformator ini dari sisi pandang desain secara fisik akan menjadi suatu unit yang kecil dengan medan bocor yang sangat besar. Medan bocor ini akan mencerminkan rugi-rugi tambahan yang lebih besar (rugi arus-pusar belitan seperti halnya rugi sesar medan dalam bagian mekanik) dan bahkan mungkin efek kejenuhan karena sirkulasi fluksi bocor pada bagian yang melalui sirkit magnetik. Efek seperti itu akan membatasi kemampuan-pembebanan unit di atas kondisi pengenal, tetapi hal ini tidak diungkapkan oleh pengujian standar. Pedoman pembebanan transformator, IEC 60354, mempertimbangkan gejala ini ketika memisahkan antara transformator tenaga ukuran besar dan menengah. Transformator-oto diklasifikasikan menurut nilai daya ekivalennya, dan bersesuaian dengan persentase impedans, bukan dengan angka-angka pada papan pengenalnya. 3.4 Pembatasan sistem, koordinasi insulasi

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Hubungan listrik langsung antara sistem primer dan sekunder (fase-tiga} menyiratkan bahwa hubungan tersebut akan mempunyai suatu titik netral bersama dan hubungan tiga-fase dari oto-transformator dalam bintang. Dalam praktek, sistem akan secara normal efektif dibumikan dan titik netral oto-transformator biasanya ditentukan dengan mengurangi tingkat insulasi. Jika netral transformator dibumikan secara langsung, tingkat insulasi yang diperlukan adalah sangat rendah ( lihat subayat 5.5.2 dari IEC 60076-3). Mungkin sebagai alternatif diperkirakan bahwa tidak semua netral untuk beberapa transformator dalam suatu gardu akan dibumikan secara langsung. Pembumian netral ini adalah dalam rangka mengurangi arus prospektif gangguan bumi. Netral yang tidak dibumikan, bagaimanapun, biasanya akan dilengkapi dengan suatu arrester surja untuk proteksi terhadap impuls transien. Tegangan pengenal arrester yang ditentukan dan tingkat insulasi netral akan dikoordinasikan dengan tegangan frekwensi daya yang muncul di netral yang tidak dibumikan selama gangguan bumi sistem. Dalam sistem tegangan-ekstra-tinggi dengan saluran udara yang panjang, kemungkinan dari berhasilnya penutupan-balik kutub-tunggal mungkin ditingkatkan dengan pembumian reaktor yang disetel secara khusus. Pembumian ini memerlukan insulasi yang relatif tinggi dari transformator netral, yang dihubungkan melalui reaktor yang disetel ke bumi.

-

-

Belitan seri dari oto-ransformator kadang-kadang menyebabkan kesulitan desain untuk insulasi lintas terminal belitan. Diasumsikan bahwa terminal-X, terminal saluran sisi tegangan-rendah berada pada potensial rendah saat terjadinya tegangan lebih transien pada terminal sisi-saluran tegangan-tinggi. Tekanan yang bersesuaian dengan seluruh tingkat insulasi impuls dari sisi tegangan-tinggi akan didistribusikan sepanjang belitan seri saja. Tekanan ini menyatakan tegangan lilitan-ke-lilitan yang lebih tinggi yang bersesuaian, dibandingkan dengan tegangan-lebih melintasi sisi tegangan-rendah, yang terdistribusi sepanjang belitan bersama. 3.5 Pengaturan tegangan pada sistem-interkoneksi transformator-oto

Variasi rasio tegangan pada transformator yang terhubung-oto dapat disusun dengan cara yang berbeda. Beberapa dari cara yang berbeda ini mengikuti prinsip yang digaris bawahi
8 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

dari subayat 5.1 SNI 04-6954.1-2003, sedangkan yang lainnya tidak. karena jumlah lilitan efektif berubah dalam kedua belitan secara simultan. Lilitan sadapan akan berada pada salah satu terminal netral.atau pada gabungan antara belitan bersama dan belitan seri (titik bersama) (lihat Gambar 6). 3.5.1 Lilitan sadapan pada netral

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Pengaturan pada netral menaikkan atau menurunkan jumlah lilitan pada kedua belitan tegangantinggi dan tegangan-rendah secara simultan tetapi rasio antar belitan berubah. Jenis pengaturan ini tidak akan memadai dalam hal belitan ini memerlukan banyak lilitan pengatur untuk julat variasi rasio yang ditentukan. Oleh karena itu, volt per lilitan dalam transformator akan bervariasi sesuai dengan lintas terminal julat sadapan (fluksi variabel). Gejala tersebut semakin jelas jika rasio transformator mendekati satu (nilai α rendah). Gejala ini harus ditunjang oleh sirkit magnetik berdimensi-lebih yang bersesuaian. Gejala ini juga akan menyebabkan tegangan perlangkah yang tidak sama. Keuntungan nyata dari pengaturan pada netral adalah bahwa belitan sadapan dan pengubahsadapan akan mendekati potensial netral dan hanya memerlukan tingkat insulasi rendah terhadap bumi

Gambar 6

Lilitan sadapan pada netral bersama

3.5.2 Lilitan sadapan pada terminal-X Pengaturan yang disusun pada interkoneksi-oto pada transformator (tegangan–rendah terminal sisi-saluran), memerlukan belitan sadapan dan pengubah sadapan yang didesain dengan tingkat insulasi terminal-X. Belitan dan pengubah-sadapan tersebut akan dikenai langsung tegangan transient-muka-curam dari surja petir atau surja hubung. Gambar 7 memperlihatkan sejumlah susunan yang berbeda.

9 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

a) Jumlah lilitan pada belitan bersama tetap tidak berubah. Jumlah lilitan ini adalah pilihan yang logis jika tegangan sistem tegangan-rendah dipertahankan relatif konstan sedangkan tegangan sistem tegangan-tinggi lebih variabel. b) Alternatif ini adalah bertentangan dengan a). Jumlah lilitan yang mengalami tegangan sistem tegangan-tinggi tetap konstan sedangkan jumlah lilitan efektif sisi tegangan-rendah bervariasi. c) Jumlah lilitan konstan pada sisi tegangan-tinggi tetapi untuk jumlah tertentu dari lilitan yang dihubungkan kembali rasionya lebih bervariasi dari kasus b). Sebaliknya kasus b) membolehkan pemakaian plus-minus dari belitan sadapan dengan membalikannya sebagaimana ditunjukkan pada Gambar.

Gambar 7

Lilitan sadapan pada terminal tegangan yang lebih rendah

4

Sifat urutan nol arus beban netral dan kondisi gangguan bumi, kejenuhan magnetik dan arus inrush

Ayat ini menguraikan garis besar karakteristik transformator fase-tiga dan gugus dari transformator fase-tunggal berkenaan dengan kondisi pelayanan fase-tiga asimetris. Terdapat perbedaan tergantung pada geometri sirkit magnetik dan pada kombinasi hubungan fase-tiga dari belitan. Kondisi asimetris tediri dari gangguan-gangguan transien sebagaimana halnya asimetris selama pelayanan kontinu, memberikan kenaikan pada: rugi sementara dari tegangan fase-tiga simetri dan konsekwensinya pada simetri magnetisasi inti. asimetri sementara atau permanen dari arus beban, khususnya arus pada netral, yang akan mempengaruhi stabilitas tegangan fluksi bocor dan magnetisasi inti.

-

4.1 Pendahuluan komponen asimetris dari sistem fase-tiga Penjelasan singkat dari metoda analisis konvensional disebut komponen asimetris, yang seringkali mengacu pada analisa sistem tenaga, diberikan pada subayat 4.1.1. Untuk informasi selanjutnya tentang metoda ini dan penerapannya lihat buku tentang analisa sistem tenaga. Penjelasan selanjutnya mengenai aspek praktis pembumian sistem melalui netral transformator diberikan pada subayat 4.1.2.

10 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

4.1.1 Prinsip dan istilah komponen simetris untuk tegangan dan arus Metoda sebagaimana diterapkan secara konvensional dianggap sebagai tegangan dan arus yang sinkron dan sinusoidal, yang dihubungkan oleh elemen sirkit dalam bentuk impedans atau admintans yang konstan, dengan nilai yang sama untuk ketiga fase tersebut. Asumsi ini menyatakan secara tidak langsung bahwa semua persamaan sirkit adalah linier, dan memungkinkan perubahan variabel dengan transformasi linier. Salah satu transformasi yang demikian adalah komponen simetris. Dalam kasus asimetris yang umum, ketiga tegangan fase atau arus fase masing-masing mempunyai amplitudo yang tidak sama dan sudut fasenya tidak terpisah sama besar (tidak terpisah 120 derajat listrik). Jumlah nilai sesaat kemungkinan tidak sama dengan nol. Bentuk Gambar fasor adalah bintang asimetris. Jumlahnya secara vektor dari ketiga fasor tidak harus membentuk segitiga tertutup (tidak sama dengan nol). Bagaimanapun selalu mungkin untuk mengganti ketiga variabeI asimetris aslinya dengan kombinasi dari ketiga komponen simetris berikut : satu set komponen simetris urutan positif baik dari tegangan atau arus fase-tiga; satu set komponen urutan negatif baik dari ketiga tegangan atau arus fase-tiga, tetapi dengan urutan fase berlawanan; komponen urutan nol yang mempunyai nilai fasor sama pada ketiga fasenya tanpa ada putaran fase.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-

Kedua komponen pertama masing-masing mempunyai jumlah sama dengan nol pada setiap saat. Sisanya, yaitu komponen ketiga menyatakan jumlah yang tidak-nol dari variable asli dengan sepertiganya muncul pada masing-masing fase. Keuntungan dari metoda komponen simetris untuk perhitungan tegangan dan arus adalah bahwa sistem yang asli dari ketiga persamaan yang digandeng dengan ketiga variabel yang tidak diketahui digantikan oleh tiga persamaan fase-tunggal yang terpisah dengan satu variabel yang tidak diketahui, satu variabel untuk setiap komponen. Setiap persamaan memakai parameter impedans atau admitans yang relevan untuk masing-masing komponen. Penyelesaian untuk persamaan komponen simetris yang terpisah disuperposisi kembali fase demi fase untuk mendapatkan tegangan atau arus fase dari sistem sebenarnya. Algoritma untuk transformasi besaran fase asli kedalam komponen simetris kembali lagi dapat ditemukan dalam buku yang sesuai. 4.1.2 Aspek praktis

Sifat komponen mempunyai konsekuensi praktis berikut terkait dengan arus dan tegangan. Ketiga arus saluran dalam ander tanpa netral konduktor atau jalur balik bumi mempunyai jumlah sama dengan nol. Transformasinya kedalam komponen simetris berisi komponen urutan positif dan negatif tetapi tidak ada komponen urutan nol.

Arus dari sistem ke belitan terhubung-delta mempunyai sifat ini. Jika ada arus netral ke bumi atau melalui konduktor netral (empat kawat), kemudian sistem dari arus fase dapat mempunyai komponen urutan nol. Sistem ini adalah kondisi normal dalam sistem distribusi empat-kawat dengan beban fase-tunggal
11 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

diterapkan antara fase dan netral. Saluran transmisi tegangan-tinggi biasanya tidak dimaksudkan untuk dilewati arus beban netral. Sebagai tambahan jika beban asimetri ada, beban tersebut cenderung mempunyai karakter beban antar fase yang menghasilkan komponen urutan-negatif, tetapi bukan komponen urutan-nol. Komponen urutan-nol ditentukan sefase dan dengan amplitudo yang sama, pada ketiga fasenya. Konsekwensinya komponen urutan-nol dari arus persisnya adalah sebesar sepertiga arus netral. Ketiga tegangan fase-ke-fase lintas terminal-belitan terhubung-delta mempunyai jumlah sama dengan nol, karena hubungannya tertutup, dan konsekwensinya tidak mengandung komponen tegangan urutan-nol. Tetapi dalam belitan delta, dapat mengalir arus urutan-nol, arus hubung-pendek yang bersirkulasi disekitar delta, yang diinduksi dari belitan lainnya (lihat subayat 4.5). Parameter impedans untuk komponen simetris

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-

4.2

Parameter impedans (atau admitans) dari elemen yang berbeda dari ander mungkin berbeda untuk ketiga komponen. Dalam praktek, komponen demikian seperti transformator dan ander mempunyai parameter sama untuk impedans urutan positif dan urutan ander c. Untuk transformator komponen-komponen tersebut diperoleh sebagai nilai yang diukur selama uji rutin. Bagaimanapun parameter urutan-nol dari transformator adalah berbeda. Mungkin saja transformator mempunyai nilai reaktans urutan-positif yang sama masih mempunyai karakteristik urutan-nol yang tidak sama tergantung pada jenis sirkit ander c, hubungan dan lokasi dari belitan yang berbeda, cara mengarahkan fluksi bocor, dsb. Dalam beberapa kasus, impedans urutan-nol akan menjadi tak-linier. Kasus ini dijelaskan dengan mengacu pada fisik transformator pada ander c berikut. Kasus tersebut juga menyediakan beberapa pendekatan estimasi kuantitatif untuk pedoman umum. Jika diperlukan bukti yang lebih akurat pada transformator khusus, pengukuran karakteristik urutan-nolnya dapat dilakukan dengan uji khusus, atas permintaan (lihat subayat 10.7 dari SNI 04-6954.1-2003). 4.3 Diagram ekivalen fase-tunggal dari transformator untuk gejala urutan-nol

Dasar-dasar metoda komponen simetris telah diiuraikan garis besarnya pada subayatsubayat 4.1, 4.1.1, 4.1.2, dan 4.2. Dasar-dasar metoda tersebut menyatakan bahwa analisa dari asimetris, linier, gejala sinusoidal ditangani dalam bentuk simultan, persamaan fasetunggal, satu untuk setiap komponen. Untuk urutan positif dan urutan ander c, transformator biasanya dinyatakan dengan impedans tanpa-beban dan impedans hubungpendeknya tetapi untuk urutan-nol diagram tersebut kadang-kadang berbeda, tergantung pada desain. Informasi kuantitatif tentang parameter urutan-nol dapat diperoleh dalam subayat ini.

Gambar 8

Diagram urutan-nol untuk transformator dua belitan
12 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Diagram ekivalen untuk transformator fase-tiga dua belitan, urutan-nolnya terdiri dari impedans seri dan cabang shunt. Pada Gambar 8 jumlah dari dua elemen impedans seri ZA dan ZB sama dengan impedans hubung-pendek arus urutan-positif. Posisi antara dua elemen dapat berubah-ubah, dan baik ZA atau ZB dapat dibuat sama dengan nol. Zm adalah impedans magnetisasi, besarnya tergantung pada desain sirkit ander c. Sirkit ander c fase-tiga untuk inti berkaki-lima atau bentuk cangkang mengGambarkan impedans magnetisasi yang sangat tinggi untuk tegangan urutan-nol (lihat subayat 4.4). Sebaliknya inti berkaki-tiga, mempunyai impedans magnetisasi yang cukup.untuk tegangan urutan-nol. Impedans ini tidak-linier dengan besaran arus atau tegangan dan bervariasi dari desain ke desain. Fluksi bocor yang mengalir pada ander (lihat subayat 4.4) menginduksikan aliran arus pusar pada seluruh tangki. Oleh karena itu terdapat perbedaan arus pusar antara transformator yang mempunyai dinding tangki bergelombang dari pelat baja tipis dengan tangki yang mempunyai dinding pelat datar. Untuk transformator dengan dinding tangki pelat datar, impedans urutan-nol, secara umum besarnya antara 0,25 sampai 1,0 per unit bila arus netral 3 x Io sama dengan arus pengenal belitan. Variasi umum dari impedans dengan arus diperlihatkan pada Gambar 9. Untuk transformator baru, pabrikan akan melakukan pengukuran impedans urutan-nol, atas permintaan (lihat subayat 10.1.3 dan subayat 10.7 dari SNI 04-6954.1-2003).

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 9

Variasi impedans magnetisasi arus urutan-nol dari transformator berkakitiga tanpa belitan delta

Konsekwensi untuk kasus khusus hubungan transformator dijelaskan pada subayat 4.3.1 dan subayat 4.3.2. 4.3.1 Transformator Ynyn tanpa belitan delta tambahan

Bila kedua belitan netral dihubungkan ke sistem yang dibumikan efektif, arus urutan-nol dapat ditransfer antar sistem, untuk memperoleh impedans rendah pada transformator. Dalam kasus ini impedans sistem pembumian tidak lebih besar dari pada impedans seri transformator. Impedans magnetisasi pada inti berkaki-tiga tidak dapat diabaikan. Impedans ini menurunkan impedans efektif transformator kenilai mendekati 90% sampai 95 % dari impedans hubung-pendek urutan positif. Transformator dengan inti-berkaki lima atau bentukcangkang, tidak ada pengurangan seperti itu. Jika sistem belitan lawannya tidak menerima arus urutan-nol, impedans masukan dari kedua belitan adalah belitan magnetisasi yang tergantung pada desain sirkit magnetik seperti diuraikan di atas. Jika sistem belitan lawannya mempunyai netral yang dibumikan melalui suatu elemen impedans Zn, sistem ini dinyatakan dalam diagram urutan-nol dengan impedans seri tambahan yang sama dengan 3 Zn (lihat Gambar 10).
13 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 10

Transformator Ynyn dengan impedans pembumian netral – menyatakan urutan-nol

4.3.2

Transformator YNynd, atau YNyn + d

Transformator ini adalah kombinasi dari tiga-belitan.Terdapat konfigurasi bintang dari elemen impedans seri, dalam kombinasi dengan impedans magnetisasi untuk urutan-nol. Pada Gambar 11, ZA + ZC adalah impedans hubung-pendek antara belitan A dan belitan C ketiga terhubung-delta, yang didalamnya arus urutan-nol dapat bersirkulasi (lihat subayat 4.5). Impedans ini adalah impedans masukan untuk arus urutan-nol dari sistem I ke belitan A. Impedans serupa untuk arus urutan-nol dari sistem II ke belitan B adalah ZB + ZC.

Gambar 11

Transformator YNynd – menyatakan urutan-nol

Impedans magnetisasi Zm yang juga ditunjukkan pada Gambar 11, biasanya diabaikan dalam perhitungan untuk kombinasi belitan ini. Pengabaian dapat diterima karena impedans urutan-nol dari diagram berbeda sedikit dari nilai yang diukur dengan arus urutan-positif. Perbedaan tersebut tergantung pada susunan belitan yang terkait satu terhadap lainnya dan biasanya terletak antara 10 % sampai 15 %. 4.4 Impedans magnetisasi pada kondisi asimetris – tegangan urutan-nol dan geometri sirkit magnetik

Karena beberapa alasan, tegangan fase-tiga simetri pada sistem transmisi dalam kondisi pelayanan normal dipertahankan dengan baik dan secara umum tidak menyebabkan adanya yang perlu diperhatikan untuk beroperasinya transformator. Selama gangguan bumi asimetris pada jaringan, sistem tegangan fase-ke-bumi mengandung komponen urutan-nol. Tingkat asimetris tergantung pada metoda pentanahan sistem. Sistem tersebut berkarakteristik dengan suatu faktor gangguan ke bumi yang secara singkat adalah rasio antara tegangan ab fase-ke-bumi pada fase yang tidak terganggu selama gangguan, dengan tegangan fase-ke-bumi simetris sebelum gangguan. Rasio ini adalah penting berkenaan dengan koordinasi isolasi. Jika kaki-kaki transformator fase-tiga terpasang pada sistem yang terinduksi, tegangan yang mengandung komponen urutan-nol (misalnya mempunyai jumlah yang tidak sama dengan nol), maka reaksinya tergantung pada geometri sirkit magnetik dan hubungan belitan.
14 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Dalam transformator jenis inti berkaki-tiga (lihat Gambar 12), kontribusi fluksi yang tidak sama dari ketiga kaki tersebut tidak hilang dalam gandar. Sisanya menimbulkan fluksi urutan-nol yang malahan melengkapi jalur magnetik di luar inti besi. Fluksi sisa ini menyatakan reluktansi tinggi dan impedans magnetisasi rendah untuk tegangan urutan-nol. Informasi kuantitatif diberikan pada subayat 4.3. Gejala dari fluksi yang banyak meninggalkan sirkit magnetik dan melingkupi bagian luar dapat juga terjadi selama kondisi transien hubung.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 12

Magnetisasi urutan-nol dari inti berkaki-tiga dan lima

Pada transformator jenis inti berkaki-lima (lihat Gambar 12), kaki luar yang tak berbelitan memberikan jalur balik reluktans yang rendah, yang dapat melewatkan fluksi urutan-nol. Magnetisasi yang dibangkitkan adalah besar, seperti untuk fluksi urutan-posistif normal. Hal yang sama berlaku juga untuk transformator fase-tiga bentuk-cangkang dan tentu saja untuk gugus transformator tiga unit fase-tunggal yang terpisah. Tetapi arus dan tegangan urutan-nol yang diterapkan juga dipengaruhi oleh hubungan belitan fase-tiga, lihat Ayat berikut. 4.5 Belitan delta dan urutan-nol Tegangan fase-ke-fase pada lintas terminal terhubung-delta otomatis jumlahnya sama dengan nol karena hubungan segitiga tertutup. Sebagai alternatif belitan delta dapat dilihat sebagai hubung-pendek dengan memperhatikan tegangan urutan-nol. Arus urutan-nol tidak dapat dipertukarkan antara ketiga terminal belitan delta dan sistem eksternal. Tetapi arus hubung-pendek sirkulasi dapat diinduksi dari belitan lainnya (terhubung-YN) (lihat Gambar 13). Impedans urutan-nol dari transformator, dilihat dari belitan lainnya mempunyai karakter impedans hubung-pendek antara belitan lainnya dan belitan delta. Untuk informasi kuantitatif, lihat subayat 4.3.

Gambar 13 Arus hubung-pendek urutan-nol yang diinduksikan pada belitan delta 4.6 Urutan-nol dan belitan zigzag Pada belitan terhubung zigzag (lihat Gambar 14), setiap kaki transformator memikul bagianbagian belitan dari dua fase yang mempunyai arah belitan yang berlawanan. Sejumlah lilitan ampere dari komponen arus urutan-nol hilang pada setiap kaki tanpa menghasilkan magnetisasi. Arus tersebut hanya merasakan impedans hubung-pendek yang berkaitan dengan fluksi bocor antar bagian belitan pada kaki (lihat juga subayat 4.7.3).
15 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 14

Belitan terhubung-zigzag yang pada dasarnya menyeimbangkan arus urutan-nol

4.7 Impedans urutan-nol dari hubungan transformator yang berbeda Subayat sebelumnya telah menguraikan karakteristik urutan-nol dari sirkit magnetik spesifik dan belitan individu spesifik pada transformator. Subayat ini mengihtisarkan karakteristik urutan-nol dari semua transformator yang mempunyai kombinasi belitan biasa. Tabel 1 menunjukkan pendekatan nilai impedans urutan-nol untuk kombinasi dua dan tiga belitan bila salah satu belitan tersebut dieksitasi dari sistem. Tabel ini sebagaimana dibuat berlaku untuk desain dengan belitan konsentris, disini bernomor (1) - (2) - (3) dengan (1) sebagai belitan terluar. Simbol belitan dalam kolom pertama ditulis dalam orde yang sama. Tidak penting belitan mana yang menunjukkan belitan tegangan tinggi. Subayat berikut memberikan penjelasan lebih lanjut. Pada tabel 1, simbol YN menunjukkan bahwa belitan netral dibumikan langsung atau melalui impedans rendah. Simbol Y menunjukkan bahwa netral tidak dihubungkan ke bumi. Angka persentase, bila diberikan adalah berhubungan dengan impedans acuan biasa (U2/S). Beberapa hubungan ditandai dengan asterisk (*). Dalam kasus ini, arus urutan-nol dalam belitan yang dieksitasi tidak seimbang dengan arus dalam belitan lainnya. Impedans urutannol, kemudian menjadi impedans magnetisasi dengan nilai relatif tinggi atau sangat tinggi, tergantung pada sirkit magnetik. Dalam semua kasus lainnya, terdapat keseimbangan arus antar belitan, dan impedans urutan-nol adalah sama dengan atau paling sedikit mendekati impedans hubung-pendek biasa antar belitan yang terlibat. Tabel hanya menunjukkan kontribusi dari transformatornya sendiri. Impedans dari sistem gabungan dapat diabaikan. Ini berarti bahwa dalam diagram urutan-nol pernyataan belitan keluaran YN adalah dianggap ketiga fasenya dihubung-pendek ke bumi.

16 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Tabel 1
Simbol belitan (1) YN Y (2) Y YN (3) (1) * * ≈50 a1z12 a1z12 Y* Y* ≈50 Y YN YN D D D YN Y YN D a1(z1+z2 ║z3) a1(z1+z2 ║z3) a1z12 ≈60 a2z12 a2z12 ≈60 a2z12 -

Impedansi urutan nol, nilai khas
Impedans %

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Belitan eksitasi, inti berkaki tiga (2) (3)

Belitan eksitasi, inti berkaki lima atau cangkang (1) (2) (3) ≈104 z12 z12 ≈10 z12 4

Subayat

4.3 ,4.4 4.3 ,4.4 4.7.1 4.7.2 4.7.2

YN YN YN D D YN

YN Y Y Y YN Y YN*

≈70 a3z13 a3z23

≈10 z12 z13 -

4

≈10 z12 z23 z2+z1║z3 z2+z1║z3 z12 z2+z1║z3
4

≈10 z13 z23 z3+z1║z2 z13 4

4.3 ,4.4 4.3 ,4.4 4.3 ,4.4 4.7.1 4.7.1 4.7.1 4.7.2 4.7.2 4.7.2 4.7.2 4.7.2 4.7.2 4.7.2

YN YN YN Y Y YN

YN YN YN D YN Y D D D D YN YN Y YN

a2(z1+z1 ║z3) a2(z2+z1 ║z3) a2z12 a2(z2+z1 ║z3)

a3(z3+z1 ║z2) a3z13

z1+z2║z3 z1+z2║z3 z13 -

CATATAN 1. z12, z13 dan z23 adalah impedans urutan positif hubung pendek 2. z1=
z 12 + z 13 − z 23 2

, serupa dengan z2 dan z3

3. 4. 5. 6.

z1║z2

z 1z 2 z1 + z 2

, serupa dengan z1║z3 dan z2║z3

a1, a2 dan a3 adalah faktor pengali, biasanya dalam julat 0,8 < a2 < a3 < 1 Aspek khusus sifat impedans urutan nol diberikan pada 4.7.1, 4.7.2 dan 4.7.3 Tanda hubungan dengan asterisk (*) menunjukkan kasus dimana impedans urutan nol adalah impedans magnetisasi dengan nilai yang relatif tinggi atau tinggi sekali, tergantung pada sifat sirkuit magnetik

4.7.1

YNyn atau YNoto tanpa belitan delta

Transformator menerima dan mentransfer arus urutan-nol antara dua sistem, asalkan netral dibumikan. Kemudian transformator itu menimbulkan impedans hubung-pendek normal untuk arus.
17 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Jika netral transformator terhubung-oto tidak dibumikan, maka transfer arus urutan-nol masih mungkin tetapi melalui impedans yang berbeda. Jika tidak ada transfer arus urutan-nol yang mungkin masuk dari sistem ke sistem lawannya, maka transformator memberikan impedans magnetisasi pada arus. Impedans magnetisasi ini sangat tinggi pada transformator bentuk inti berkaki-lima, bentuk-cangkang dan juga pada gugus dari tiga transformator fase-tunggal. 4.7.2 YNd atau Dyn atau YNynd atau YNyn + d (belitan penyeimbang)

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Transformator memberikan impedans rendah (dari karakter impedans hubung-pendek) terhadap arus urutan-nol dari suatu sistem yang dibumikan efektif kedalam belitan terhubung yn. Arus sirkulasi disekeliling belitan delta memberikan kompensasi lilitan-ampere (lihat Gambar 15).

Gambar 15

Fungsi belitan ekualiser

Oleh karena itu mengapa belitan ekualiser terhubung-delta tambahan pada transformator Yy (atau gugus dari tiga transformator fase-tunggal) memberikan pengurangan impedans urutan-nol pada sistem yang terhubung dan karena itu faktor gangguan buminya juga berkurang (lihat subayat 4.4). Konsekwensinya arus prospektif gangguan bumi bertambah. Penting untuk memastikan bahwa kuat ketahanan hubung-pendek dari belitan delta tersier atau belitan ekualiser cukup menahan arus urutan-nol yang diinduksikan maksimum selama gangguan bumi pada salah satu sistem yang terhubung. Sebagai alternatif, reaktor pembatas-arus yang terpasang didalamnya dapat dihubungkan di dalam delta untuk menurunkan arus gangguan induksi tersebut sampai suatu nilai yang dapat ditoleransi. 4.7.3 Yzn atau ZNy

Transformator memberikan impedans rendah (dari karakter impedans hubung-pendek) terhadap arus urutan-nol dari sistem sisi Z. Terdapat keseimbangan lilitan-ampere untuk arus urutan-nol dalam belitan-Z sendiri. Oleh karena itu transformator dengan belitan terhubung-ZN digunakan untuk membuat titik netral dihubungkan ke impedans pembumian netral pada suatu sistem bila belitan dari transformator utama adalah belitan delta. Transformator terhubung-Z adalah mengacu pada suatu transformator pembumian atau pengkopel netral; lihat seksi 6 dari IEC 60289. Fungsi yang sama dapat dicapai dengan suatu kombinasi YNd pada transformator pembumian. Jika sisi Y mempunyai netral yang dihubungkan ke bumi (YZn), transformator memberikan impedans magnetisasi pada urutan-nol dari sisi tersebut di atas, hampir sama dengan YNyn di atas. Belitan-Z, yang pada dasarnya seimbang untuk urutan-nol, tidak dapat memberikan kompensasi lilitan-ampere pada arus urutan-nol pada belitan-Y lawannya.

18 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

4.8

Pembebanan urutan-nol kontinu (arus titik netral)

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Beban fase-tunggal pada transformator fase-tiga dapat ditempatkan baik antar fase atau antara fase dan netral. Dalam kasus pertama, sistem arus pada sisi primer dan sekunder mengandung komponen urutan positif dan negatif, tetapi tidak mengandung urutan-nol. Distribusi arus fase pada sisi primer transformator tergantung pada hubungan fase-tiga. Distribusi itu tidak memungkinkan untuk mengkonversi beban satu-fase ke beban tiga-fase simetris pada sisi primer dengan hubungan transformator khusus. Pembebanan yang diperbolehkan adalah mengacu pada arus pengenal belitan masing-masing. Jika beban tersebut ditempatkan antara fase dan netral transformator, mungkin ada pembatasan lain yang diberikan oleh arus pengenal pada belitan. Bila ditentukan subayat 8.1 dari SNI 04-6954.1-2003 mensyaratkan bahwa terminal netral harus selalu sebanding dimensinya dengan arus gangguan bumi yang diketahui dan dengan arus beban kontinu yang melalui netral (kondisi ini normal untuk transformator distribusi). Persyaratan ini ditentukan pada lampiran A SNI 04-6954.1-2003, yaitu suatu permintaan penawaran harus berisi informasi tentang: metoda operasi sistem yang dimaksudkan untuk belitan transformator yang akan dihubungkan kepadanya, terutama bila suatu belitan ekualiser ditentukan; adanya antisipasi pembebanan tidak seimbang.

-

Sejalan dengan apa yang telah diuraikan pada subayat sebelumnya, netral belitan sekunder secara umum dapat dibebani secara kontinu sebagai berikut, tergantung pada hubungan belitan, desain sirkit magnetik dan pembumian sistem: netral transformator Dyn dapat dibebani dengan arus pengenal belitan; transformator YNyn yang kedua netralnya dibumikan dapat dibebani dengan arus pengenal melalui netral-netralnya, asalkan pembumian sistem mengijinkan ini (berkenaan dengan asimetri tegangan); netral belitan terhubung-Z dapat dibebani dengan arus pengenal; transformator Yyn+d (transformator dilengkapi dengan belitan ekualiser) dapat mempunyai terminal netral sekunder yang dibebani dengan arus sampai dengan arus pengenal, asalkan belitan terhubung-delta mempunyai nilai pengenal daya sama dengan sampai paling sedikit sepertiga dari nilai pengenal daya belitan sekunder. (Arus sirkulasi perfase dari belitan tersier menyeimbangkan arus urutan-nol pada belitan sekunder, yang secara definisi adalah sepertiga dari arus netral); pada transformator Yynd yang mempunyai belitan tersier yang dapat dibebani tersier ini akan berfungsi dengan cara yang sama seperti belitan ekualiser (lihat penjelasan sebelumnya). Adanya arus sirkulasi pada belitan delta akan berkombinasi dengan arus beban eksternal belitan itu. (Arus total dapat diukur jika ada transformator arus dalam hubungan delta pada transformator); transformator Yyn tanpa adanya belitan terhubung-delta tambahan tidak dapat dipastikan dengan baik simetri tegangan fasenya. (Kasus ini diperkirakan sebelumnya bahwa netral primer tidak dibumikan);

-

-

-

19 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

-

transformator distribusi bentuk inti berkaki-tiga yang mempunyai hubungan Yyn secara umum tidak cocok untuk pembebanan antara fase dan netral. Asime-tris tegangan akan menjadi masalah jika netral dilalui lebih dari 10 % arus pengenal belitan. Oleh karena itu hubungan campuran Dyn atau Yzn dipilih untuk transformator distribusi yang menyulang sistem distribusi empat kawat; transformator tegangan menengah, ukuran-menengah dengan hubungan Dyn atau YZn, kumparan peredam busurnya harus dapat dilalui kira-kira 25 % arus pengenal selama 2 jam. Sebagai tambahan untuk arus simetris penuh tanpa risiko termal. Persyaratan yang demikian sebaiknya ditegaskan secara spesifik. Reluktans sirkit magnetik dan impedans magnetisasi, kejenuhan ajek pada tegangan tinggi frekuensi daya abnormal

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-

4.9

Diagram fase-tunggal ekivalen dari transformator terdiri dari elemen shunt, yang menyatakan arus eksitasi dari sirkit magnetik. Pada pelayanan normal, arus eksitasi ini adalah sangat kecil dan dapat diabaikan, misalnya dalam kaitannya dengan perhitungan jatuh tegangan, yang menyesuaikan pola sirkit ekivalen (lihat Ayat 7). Dengan kata lain, induktans magnetik adalah sangat tinggi. Dipandang dari karakteristik magnetisasi, reluktans yang ditimbulkan oleh fluksi magnetik adalah sangat rendah, artinya jalur fluksi utama mudah termagnetisasi. Jika tegangan frekwensi daya diterapkan lintas terminal belitan pada sebarang kaki transformator secara abnormal tinggi, maka bahan inti menjadi jenuh selama setiap setengah siklus. Selama kondisi jenuh, reluktans magnetik naik cukup besar. Akhirnya arus magnetisasi yang dibangkitkan dari sumber daya naik secara drastis. Selama ada gejala kejenuhan inti, terdapat pula fluksi yang cukup besar diluar inti-besi, yaitu antara inti dan belitan. Fluksi ini dapat menginduksikan arus pusar yang tinggi pada bagian logam diluar belitan, yang menimbulkan pemanasan lokal dan loncatan arus melalui sambungan yang tidak diinginkan. Gejala yang dapat menaikkan kejenuhan lokal dalam suatu transformator adalah fluksi bocor magnetik yang berlebihan selama mengalir arus beban-lebih yang besar. Fluksi bocor tersebut mengalir antar belitan dan sebagian kembali melalui sirkit magnetik. Sebagai tambahan pada kondisi ini, tegangan pelayanan juga abnormal. Hasil kombinasi ini dapat memungkinkan kondisi kejenuhan yang tidak terduga pada bagian tertentu dari inti. 4.10 Kejenuhan transien, arus inrush

Bila transformator secara mendadak dienerjais dengan tegangan sistem penuh, gejala kejenuhan secara acak dapat terjadi, yang biasanya diacu sebagai arus inrush (lihat Gambar 16). Dalam kondisi ajek, integral volt-waktu dari tegangan satu-arah setengah-siklus penuh antar dua alur nol, yang diterapkan pada lintas terminal fase belitan, sesuai dengan ayunan fluksi dari kerapatan penuh pada satu arah terhadap kerapatan penuh pada arah lainnya. Tetapi segera pada saat pengenerjaisan, terjadi kondisi transien gangguan. Tergantung pada arah remanens pada sirkit magnetik dan titik gelombang saat pemberian tegangan. Kerapatan fluksi transien dapat mencapai batas kejenuhan inti besi dan naik diatas nilai itu, sebelum tegangan terapan berubah tanda. Amplitudo arus magnetisasi transien dapat mencapai nilai puncak sampai dengan maksimum yang mungkin lebih tinggi dari pada arus pengenal dan mendekati arus gangguan hubung-pendek yang melalui transformator.

20 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 16

Transien inrush

Dari uraian tentang gejala tersebut di atas, membuktikan bahwa kejadian acak yang terjadi secara penuh hanya pada saat itu dan pada beberapa pemberian tegangan. Arus inrush dari sistem timbul dengan besaran yang berbeda pada setiap fase. Bila belitan terhubungdelta atau belitan terhubung-bintang dengan netralnya dibumikan efektif dienerjais, gejala tersebut berantai ke kaki transformator masing-masing, sedangkan pada belitan bintang tanpa hubungan arus netral, gejala tersebut meliputi kombinasi belitan kedua-kaki secara seri. Bila arus inrush yang tinggi terjadi, arus tersebut selalu muncul diimbangi dengan amplitudo yang tinggi dari satu polaritas saja. Oleh karena itu arus inrush yang terdiri dari komponen as menghilang kurang dari 1 detik. Waktu hilang tersebut lebih lama untuk transformator yang mempunyai bahan inti dengan rugi-rugi rendah dan cenderung lebih lama lagi untuk transformator ukuran besar. Komponen as dan kandungan harmonik tinggi dari arus berpengaruh pada sirkit proteksi relai. Dapat juga menyebabkan efek kejenuhan pada transformator yang telah dienerjais dan transformator terhubung paralel. Gejala ini dibarengi dengan bunyi gedebuk yang cukup keras, dikuti oleh dengung beberapa detik, atau menit, sebelum dengung dari transformator kembali normal. Nilai arus inrush prospektif yang ekstrim, dinyatakan sebagai kelipatan arus pengenal, tergantung pada kerapatan fluksi pelayanan yang dipilih dari desain transformator. Nilai arus inrush yang dialami oleh bahan inti sekarang lebih tinggi dari pada nilai arus pada waktu sebelumnya. Konfigurasi belitan juga penting misalnya apakah belitan konsentris lapisan dalam atau luar dienerjais. Belitan luar mempunyai induktans inti-udara yang lebih tinggi dan akan membangkitkan arus inrush yang lebih rendah dari sistem. 4.11 Arus induksi geomagnetik dan arus parasit dari sistem a.s.

Sistem tegangan-tinggi ab yang dibumikan efektif melalui netral transformator menimbulkan suatu jalur resistans yang rendah untuk arus as atau kwasi-as yang mengalir pada lapisan bumi.
21 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Arus induksi geomagnetik dialami kebanyakan pada daerah bumi dengan tanah berbatu kerikil dan resistivitas yang tinggi. Arus tersebut muncul sebagai pulsa bervariasi lambat (beberapa menit) yang besarnya puluhan ampere pada netral transformator. Arus parasit adalah arus balik-bumi dari sistem traksi a.s, sistem proteksi katodik dan sebagainya. Arus itu besarnya dapat mencapai beberapa amper pada netral. Bila transformator dialiri arus as yang demikian pada netral, dapat menimbulkan pengaruh magnetisasi as pada sirkit armonic. Arus magnetisasi ini menjadi sangat tidak simetris sampai ke tingkat yang akan mengkompensasi pengaruh arus a.s tersebut. Arus ini juga mengandung harmonik tinggi. Arus as ini mempunyai beberapa konsekwensi. Tingkat bising transformator akan naik secara berarti. Harmonik arus dapat menyebabkan kegagalan fungsi relai dan kesalahantrip. Harmonik bahkan dapat menyebabkan pemanasan-lebih yang cukup tinggi oleh fluksi sesar.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Kerasnya gejala tersebut tergantung pada kemampuan arus as untuk memagnetisasi inti dan juga desain inti. 5 Perhitungan arus hubung-pendek pada transformator fase-tiga (transformator belitan terpisah dan transformator terhubung-oto) dengan netral dibumikan tiga belitan Umum

5.1

Perhitungan arus-hubung-singkat pada sistem ab fase-tiga diuraikan pada IEC 60909, IEC 60909-1 dan IEC 60909-2. Ayat 5 memberikan persamaan untuk perhitungan arus yang mengalir melalui belitan yang berbeda dan terminal transformator selama gangguan sistem dari jenis gangguan yang berbeda. Hubungan transformator dengan belitan penstabil yang dapat dibebani dinyatakan dengan YNyn d atau YNoto d, sedangkan jika belitan ketiga bukan merupakan belitan penstabil yang tidak dapat dibebani, dinyatakan dengan YNyn + d atau YNoto + d. 5.2 Notasi sistem dan belitan

Tiga belitan dan sistem gabungannya mengacu pada angka romawi. I adalah belitan atau sistem tegangan-tinggi. II adalah belitan atau sistem tegangan tengah III adalah belitan tersier atau stabilisasi. Belitan I dan II adalah terhubung-Y dengan netral dibumikan. Ketiga terminal fase dari setiap belitan mengacu pada huruf kapital A, B dan C. Belitan fase dalam belitan terhubung-Y ditunjukkan dengan huruf yang sama seperti terminal fasenya. Belitan fase pada tersier terhubung-delta ditunjukkan dengan dua huruf, AB, BC dan CA. Komponen simetris tegangan, arus atau impedans ditunjukkan dengan indeks +, -, 0 dalam posisi superskrip, misalnya:
22 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

+ Z SI impedans urutan-positif dari sistem I;

U0II tegangan urutan-nol sistem II. Operator bilangan kompleks geseran-fase fase-tiga adalah

5.3

Parameter transformator

Daya acuan untuk notasi persentase: Sr (daya pengenal belitan utama I dan II). Tegangan acuan untuk belitan : UI, UII, UIII (tegangan pengenal belitan). Arus acuan untuk belitan: II, III, IIII (arus pengenal belitan). Sehingga impedans acuan dari belitan:

Indeks dalam kurung menunjukkan

ystem tegangan untuk impedans yang diacu.

Definisi nilai per unit atau persentase dari impedans:

dengan ZI,II(I) adalah impedans dalam ohm perfase antara belitan I dan II mengacu ke tegangan I; ZI,II(II) adalah impedans dalam ohm antara belitan I dan II mengacu ke belitan II; ZI,II adalah impedans dalam per unit (atau persentase) antara belitan I dan II. Pernyataan ini tergantung pada nilai pengenal daya Sr dan tidak tergantung pada sisi tegangan. Semuanya dalam per unit atau persentase yang menyatakan tegangan, arus atau impedans yang ditunjukkan dengan huruf-huruf kecil bukan huruf ystem .

23 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Transformasi dari ystem belitan kedalam suatu jaringan ekivalen bintang dan perhitungan impedans cabang, dinyatakan dalam bentuk per unit adalah sebagai berikut:

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Impedans komponen sismetris adalah sebagai berikut. Impedans urutan-positif yang menurut definisi identik dengan impedans transformator kpnvensional untuk arus fase-tiga simetris. Impedans urutan-negatif dari transformator adalah sama dengan impedans urutan positif. Impedans hubung-pendek urutan-nol antara kedua belitan utama biasanya berbeda besarnya dari impedans konvensional. Perbedaannya adalah dalam orde 10 % sampai 20 % dari impedans konvensional, nai atau turun, tergantung pada susunan belitan. Tetapi jika impedans urutan-nol tambahan dipasang dengan menambahkan reaktor terpadu pada belitan delta, impedans urutan-nol akan terlalu tinggi 5.4 Impedans sistem I dan II

Impedans ystem diberi catatan index s bertujuan untuk memisahkan impedans tersebut dari impedans hubung-pendek transformator. Yaitu impedans hubung-pendek, seperti yang terlihat dari transformator. Impedans urutan-posistif dan urutan-negatif diasumsikan sama, tetapi impedans urutan-nol adalah lebih tinggi:

dengan 1 ≤ k ≤ k 3 (dibumikan efektif). Hubungan analog yang diterapkan untuk sistem II. Impedans sistem tersier tidak menghalangi pada setiap perhitungan yang dinyatakan dibawah ini. Netral transformator dari belitan I dan II, atau netral hubungan-oto bersama, dihubungkan ke bumi tanpa adanya impedans tambahan yang jika tidak akan membuat tambahan terhadap impedans urutan-nol. 5.5 Ringkasan dari studi kasus dalam subayat ini Kasus 1 : Gangguan bumi satu-fase pada sistem II (Gambar 17a) Kasus 2 : Gangguan bumi satu-fase pada sistem II (Gambar 18a) Kasus 3 : Gangguan bumi dua-fase pada sistem II (Gambar 19a) Kasus 4 : Gangguan bumi dua- fase pada sistem I (Gambar 20a) Kasus 5 : Hubung-pendek tiga-fase pada terminal II Kasus 6 : Hubung-pendek tiga-fase pada terminal I Kasus 7 : Hubung-pendek tiga-fase pada terminal III
24 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Untuk kasus 1 sampai 4, gambar tambahan (17b sampai 20b) sudah termasuk untuk memperlihatkan aliran arus pada diagram fase-tiga dari transformator dengan saluran sistem gabungan. Gambar tersebut memperlihatkan hubungan trsnsformator-oto tetapi perhitungan arus hubung-pendek dengan metoda komponen simetris. Jaringan impedans ini berisi tiga blok, masing-masing untuk elemen-elemen impedans urutan-positip, urutan-negatif dan urutan-nol.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 17a

Kasus 1 : Gangguan bumi satu-fase pada sistem II

Gambar 17b

Kasus 1 : diagram sirkit fase-tiga dan jaringan impedans komponen simetris

Gambar 17

Kasus 1

Semua impedans mengacu ke sistem II. Untuk kasus ini, lihat lampiran A, kasus 1:
25 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Arus gangguan adalah

Arus cabang Dari fase A dari sistem II (fase terganggu):

Belitan transformator II, fase A:

Fase B (fase yang tidak terganggu):

Komponen arus pada belitan I:

dengan

Belitan I, fase A :

Fase lainnya:

Arus sirkulasi pada belitan delta:

26 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

CATATAN Kasus ini adalah analog dengan kasus 1. Semua besaran dapat diperoleh dari kasus 1 dengan dengan mengganti indeks I dengan II. Gambar 18a Kasus 2: gangguan bumi satu-fase pada sistem I

Gambar 18b Kasus 2: Diagram sirkit fase-tiga dan jaringan impedans komponen simetris

Gambar 18

Kasus 2

Semua impedans mengacu pada sistem I. Untuk kasus ini, lihat lampiran A, kasus 1:

27 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Arus gangguan adalah

Arus cabang Dari fase A sistem I (fase yang terganggu):

Belitan I dari transformator , fase A:

Fase B (fase yang tidak terganggu):

Komponen arus pada belitan II:

Arus fase :

Arus yang bersirkulasi pada belitan delta:

28 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

dengan

Gambar 19a

Kasus 3: Gangguan bumi dua-fase pada sistem II

Gambar 19b

Kasus 3: Diagram sirkit fase-tiga dan jaringan impedans komponen simetris

Gambar 19

Kasus 3

Semua impedans mengacu ke sistem II. Untuk kasus ini (lihat Lampiran A, kasus 2), komponen tegangan adalah

29 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Komponen arus gangguan:

Komponen arus pada sistem II:

Arus fase pada sistem II:

Komponen arus pada belitan II transformator:

30 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Arus pada fase belitan II:

Komponen arus pada saluran dan belitan I:

Arus fase:

Arus yang bersirkulasi pada belitan delta:

31 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

CATATAN Kasus ini analog dengan kasus 3. Semua besaran dapat diperoleh hanya dengan mengganti indeks I dengan II. Gambar 20a Kasus 4: Gangguan bumi dua-fase pada sistem I

Gambar 20b

Kasus 4: Diagram sirkit fase-tiga dan jaringan impedans komponen simetris

Gambar 20

Kasus

Semua impedans mengacu pada sistem I. Untuk kasus ini, komponen tegangan adalah:

32 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Komponen arus gangguan:

Komponen arus pada sistem I:

Arus fase pada sistem I:

Komponen arus pada belitan I transformator:

33 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Arus pada fase belitan I:

Komponen arus pada saluran dan belitan II:

Arus fase:

Arus yang bersirkulasi pada belitan delta:

Kasus 5: Hubung-pendek tiga-fase pada terminal II Kasus ini mengandung urutan posistif saja. Arus gangguan per fase pada sistem II:

34 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Dengan Z+ = Z+SI + Z (I,II) Arus perfase pada belitan I:

Impedans mengacu pada sistem II.

Tidak ada arus sirkulasi pada belitan III. Kasus 6: Hubung-pendek tiga –fase pada terminal I Kasus ini hanya mengandung urutan posistif saja. Arus gangguan per fase:

Dengan Z+ = ZsII+ + Z(I,II) Arus per fase pada belitan II:

Impedans mengacu ke sistem I.

Tidak ada sirkulasi arus pada belitan III. Kasus 7: Hubung-pendek tiga-fase pada belitan III Kasus ini hanya mengandung urutan posistif saja:

Impedans mengacu ke belitan III. Arus hubung-pendek –arus saluran::

Arus hubung-pendek per belitan fase:

35 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Kontribusi gangguan dari sistem I dan II:

Arus pada belitan I dan II:

6

Operasi paralel transformator pada sistem fase-tiga

Pada Ayat ini, operasi paralel berarti hubungan langsung terminal-ke-terminal antar transformator pada instalasi yang sama. Hanya dua belitan transformator yang dipertimbangkan.. Logikanya juga dapat diterapkan pada gugus tiga buah transformator fase-tunggal. Untuk berhasilnya operasi paralel, transformator mensyaratkan: hubungan sudut-fase sama – angka jarum jam sama (kemungkinan kombinasi tambahan disebutkan di bawah); rasio sama dengan toleransi dan julat sadapan yang sama; impedans hubung-pendek relative sama persentase impedans dengan toleransi. Ini juga berarti bahwa variasi impedans relatif lintas julat sadapan sebaiknya serupa untuk kedua transformator.

Ketiga kondisi ini selanjutnya diuraikan lebih jauh pada subayat berikut. Penting bahwa spesifikasi tender untuk transformator yang dimaksudkan untuk operasi paralel dengan transformator tertentu yang sudah ada berisi informasi transformator tersebut..Beberapa peringatan penting pada hubungan paralel ini adalah: disarankan untuk tidak mengkombinasikan transformator dengan transformator nilai pengenalnya jauh berbeda (lebih dari 1:2). Impedans relatif asli untuk desain optimal bervariasi dengan ukuran transformator. Transformator yang dibuat sesuai dengan konsep desain yang berbeda mungkin menimbulkan tingkat impedans yang berbeda dan kecenderungan variasi yang berbeda lintas julat sadapan (lihat subayat 6.4). Konsekuensi dari ketidaksepadanan data yang kecil sebaiknya tidak diperkirakan lebih. Tidak perlu, misalnya untuk memberikan tegangan sadapan yang sama secara tepat pada dua transformator yang diparalel. Langkah sadapan biasanya demikian
36 dari 76

-

-

SNI IEC 60076-8:2009

kecil sehingga sadapan pindah bertahap memungkinkan operasi yang wajar.Tetapi perlu hati-hati bila langkah sadapan besar (lihat subayat 6.2 dan 6.3). Rasio yang ditentukan dan dijamin dan parameter impedans berlaku toleransi, sesuai dengan tabel 1 dan Ayat 9 SNI 04-6954.1-2003. Kemungkinan pengetatan toleransi pada kasus khusus dengan acuan khusus untuk operasi paralel diberikan pada tabel 1, catatan 2 SNI 04-6954.1-2003. Dalam praktek, ketidaksepadanan pembebanan relatif antara dua transformator tidak lebih dari 10 % antara dua transformator yang desainnya tidak identik sebaiknya dianggap wajar. 6.1 Hubungan fase-tiga yang sesuai dan hubungan sudut-fase

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Hubungan transformator fase-tiga yang umum ditunjukkan pada Gambar 21 diperoleh dari lampiran D, SNI 04-6954.1-2003. Dalam setiap blok, satu atau dua angka jam ditunjukkan dengan permutasi.Ini berarti bahwa misalnya jika terminal sekunder transformator dengan angka jam 1 amat mudah menandainya lagi dengan permutasi siklik (II menjadi I, III menjadi II dan I menjadi III), maka pergeseran fase berubah 120 derajat listrik ke angka jam 5. Konsekuensinya, transformator dengan hubungan angka jam berbeda antara 4 dan 8 dapat dihubungkan paralel setelah permutasi siklik hubungan ke saluran pada salah satu sisi transformator Bahkan mungkin untuk mengkombinasi transformator yang mempunyai angka jam 1 atau 5 dengan transformator yang mempunyai angka jam 11 atau 7 dengan membalikkan urutan fasenya pada kedua sisi dari salah satu transformator. Hubungan paralel Dyn dan Yzn tidak direkomendasikan karena sifat impedans urutan-nolnya berbeda.

37 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 21

Hubungan transformator fase-tiga kemungkinan paralel buatan

yang

umum,

dan

beberapa

6.2

Perbedaan rasio, arus sirkulasi

Jika dua transformator yang rasionya berbeda sedikit dienerjais dalam keadaan paralel, enerjais ini akan menaikkan arus sirkulasi antar transformator. Perkiraan besarnya arus ini diases dengan cara berikut. Dua transformator a dan b dengan daya pengenal Sa dan Sb serta impedans hubung-pendek relative za dan zb dienerjais dalam keadaan paralel dan tanpa beban dari salah satu sisi. Perbedaan antara tegangan tanpa beban induksi Ua dan Ub pada sisi transformator lainnya dinyatakan sebagai hasil bagi p dari tegangan rata-rata, yang diasumsikan mendekati sama dengan tegangan pengenal Ur:

Perbedaan tegangan ini mengalirkan arus sirkulasi melewati jumlah impedans dua transformator paralel. Karena tegangan ini utamanya induktif , arus sirkulasinya juga induktif.
38 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Arus sirkulasi Ic dan daya reaktif yang bersesuaian Qc, dinyatakan sebagai hasil bagi dari arus pengenal Ir dan daya pengenal Sr dari masing-masing transformator, kira-kira

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Jika kedua transformator mempunyai daya pengenal sama dan impedans hubung-pendek relative sama,pernyataan ini disederhanakan menjadi:

Contoh: Bila tegangan pengenal p = 0,01 dari tegangan pengenal dan z = 0,1 per unit (p.u.), arus sirkulasi akan menjadi 1/20 arus pengenal.Arus induksi ini berkombinasi arus beban secara vektor. Perbedaan hitung antara arus yang dihasilkan pada kedua transformator menjadi begitu kecil sepanjang faktor daya beban relatif tinggi. Kondisi ini memang kurang sulit dibandingkan dengan yang sering diasumsikan. Analisis menunjukkan orde besaran arus yang mengalir ketika pengubah-sadapan dari kedua transformator terhubung paralel berpindah satu langkah selama operasi pengubahan sadapan mendahului-mengikuti Pada kondisi tertentu, perubahan sadapan bahkan dapat dipakai dengan sengaja untuk mengkompensasi bagian reaktif dari arus sirkulasi yang disebabkan oleh nilai impedans hubung-pendek yang tidak sama (lihat subayat berikut). 6.3 Impedans hubung-pendek yang tidak sama

Bila dua transformator mempunyai impedans hubung-pendek yang sama, ini berarti bahwa kedua transformator memberikan jatuh tegangan yang sama untuk pembebanan per-unit yang sama (arus beban sama dalam persen arus pengenal, atau daya beban yang sama dalam persen daya pengenal). Jika dihubungkan paralel, transformator akan bersama-sama menanggung beban secara`berimbang terhadap nilai daya pengenal relatifnya. Bila transformator dengan nilai impedans hubung-pendek yang tidak sama dihubungkan paralel, transformator dengan nilai impedans lebih rendah akan mengambil persentase impedans lebih tinggi dari daya pengenalnya dari pada transformator yang impedansnya lebih tinggi, sehingga jatuh tegangan mutlak akan sama untuk kedua transformator.Jatuh tegangan ini dapat menaikkan sedikit rugi daya kombinasi untuk transformasi tetapi semua hal di atas dapat membatasi kemampuan-pembebanan instalasi. Ketidakseimbangan ini diestimasi sebagai berikut. Sebagaimana pada subayat sebelumnya, misalkan a dan b adalah dua transformator dengan daya pengenal Sra dan Srb, dan impedans relatifnya Za dan Zb. Kedua transformator mempunyai rasio yang sama. Beban yang dialami bersama adalah S. Unit-unit akan mengambil daya masing-masing sebesar Sa dan Sb:

39 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Contoh: Transformator a: Sra = 10 MVA, b: Srb = 20 MVA, za = 10 % zb = 12 %

Beban kombinasi adalah S = 27 MVA, 90 % dari jumlah daya pengenal transformator. Tetapi pembebanan sebenarnya menjadi:

Transformator a dibebani penuh, sementara transformator b hanya mengambil 84 % dari daya pengenalnya. Pembebanan dari kombinasi ini secara teoritis jadi berkurang sekitar 10 % dibandingkan dengan apa yang akan mungkin jika beban secara ideal ditanggung bersama. Tetapi hal ini dianggap sangat layak, jika hal itu merupakan suatu pertanyaan terhadap kombinasi transformator yang ada. Sesuai dengan SNI…/IEC 60076-1, toleransi reaktans hubung-pendek yang ditentukan untuk transformator baru pada sadapan utama adalah 7,5 % sampai 10 % dari nilai yang dinyatakan. Untuk sadapan lainnya, toleransi tersebut adalah lebih lebar. Pengaruh rugi beban kombinasi dari ketidakcocokan antara dua transformator paralel secara praktis diabaikan. Kadang-kadang ada kemungkinan mengkompensasi sebagian efek dari nilai impedans yang tidak diinginkan dengan memindahkan tahapan pengubah-sadapan. Tetapi kompensasi ini bekerja hanya pada komponen reaktif arus beban, dan oleh karena itu hanya efektif bila faktor daya relatif kecil. 6.4 Variasi impedans hubung-pendek lintas julat sadapan, pengaruh susunan belitan

Subayat 5.5 dari SNI 04-6954.1-2003 membicarakan cara berbeda tentang menentukan impedans dalam suatu permintaan pemesanan untuk transformator dengan pengaturan pengubah-sadapan. Permintaan penawaran itu menjelaskan dengan suatu catatan bahwa spesifikasi yang lengkap dari variasi impedans lintas julat sadapan akan mengatur susunan belitan dengan suatu cara yang sangat terbatas. Toleransi nilai impedans untuk sadapan individu terkait dalam SNI 04-6954.1-2003 (Ayat 9 dan tabel 1). Juga ada metoda alternatif untuk menentukan sadapan dengan membatasi disekitar julat yang diijinkan yang dapat mengurangi dengan lebih leluasa dalam kasus praktis (lihat lampiran C, SNI 04-6954.1-2003). Gambar 22 menjelaskan pola variasi khas dari impedans seri untuk transformator dengan belitan sadapan terpisah yang diseri dengan belitan utama tegangan-tinggi. Belitan sadapan dapat ditempatkan pada salah satu sisi yang sama dari belitan tegangan-rendah sebagai belitan utama, pada Gambar 22a atau pada sisi lawannya, Gambar 22b.

40 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Gambar 22 berlaku sama untuk transformator bentuk inti dengan belitan konsentris dan untuk transformator bentuk-cangkang dengan belitan susun aksial. Bandingkan, misalnya transformator bentuk inti dengan susunan belitan berikut, dari inti sebelah luar: tegangan-rendah – belitan utama tegangan-tinggi – belitan sadapan, lihat Gambar 22a; belitan-sadapan – tegangan-rendah – belitan utama tegangan-tinggi, lihat Gambar 22b.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Kedua susunan yang dalam pemakaian dan pabrikan barangkali menstandarisir pada salah satu dari kedua susunan itu sebagai solusi yang dipilih dalam julat tertentu dari daya pengenal dan tegangan. Tetapi kedua alternatif mempunyai variasi impedans berlawanan yang cenderung melintasi julat sadapan. Variasi dari lilitan aktif pada belitan sadapan menyebabkan variasi pola fluksi bocor dan permeans bocor dari transformator yang bersesuaian. Variasi lilitan ini, bila belitan sadapan dekat pada belitan utama (Gambar 22a), naik bila lilitan pengaturan dinaikkan ringkasnya dengan belitan utama dan menurun bila lilitan pengaturan naik dengan pengurangan. Bila belitan sadapan tidak berdekatan dengan belitan utama TT (Gambar 22b). efek variasi lilitan terhadap kecenderungan permeans bocor justru sebaliknya. Selain itu variasi permeans bocor adalah kecil untuk susunan pada Gambar 22a dan lebih penting untuk susunan pada Gambar 22b. Persentase impedans hubung-pendek (dan variasinya) hanya mencerminkan permeans bocor saja (dan variasinya) dan harus tidak tergantung dari sisi yang dibicarakan, dengan asumsi daya pengenal konstan sebagai acuan. Juga variasi impedans hubung-pendek mutlak (dalam ohm), dilihat dari belitan lilitan konstan (TR), hanya mencerminkan variasi permeans bocor. Pernyataan di atas dinyatakan pada kurva 1 dalam Gambar 22a dan 22b. Terdapat sedikit variasi pada susunan Gambar 22a dan variasi yang lebih jelas untuk susunan tersebut ada pada Gambar 22b. Variasi hubung-pendek mutlak (dalam ohm), dilihat dari belitan lilitan variable (TT), mencerminkan variasi permeans bocor dan kwadrat dari dari lilitan aktif, karena diperoleh dari nilai acuan, sebanding dengan liitan aktif. Dengan susunan pada Gambar 22a, variasi dari kwadrat lilitan aktif mempunyai kecenderungan variasi permeans bocor yang sama, oleh karena itu variasi total naik. Sebaliknya dengan susunan pada Gambar 22b, variasi lilitan aktif mempunyai kecendrungan variasi permeans dan oleh karena itu variasi total diperlemah. Variasi ini dinyatakan dengan kurva 2 pada Gambar 22a dan 22b. Masalah ini adalah penting terutama selama analisis gangguan arus hubung-pendek tergantung pada sadapan transformator yang sebenarnya.

41 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 22a – Eksternal belitan TR ke TT dan belitan pengaturan

Gambar 22b – Belitan TR antara TT dan belitan pengaturan

1 variasi impedans dalam ohm dari sisi belitan tak bersadapan (tegangan - rendah)
variasi impedans dalam ohm dari sisi belitan bersadapan (tegangan - tinggi)

Gambar 22

Variasi impedans lintas julat sadapan tergantung pada lokasi belitan pengaturan

7

Perhitungan jatuh tegangan untuk transformator tiga-belitan

beban yang ditentukan, rugi beban

7.1

Pendahuluan: kebutuhan perhitungan jatuh tegangan

SNI mendefinisikan tentang daya pengenal dan tegangan pengenal transformator yang menyatakan secara tidak langsung bahwa daya pengenal adalah daya masukan, dan tegangan pelayanan yang diterapkan pada terminal masukan untuk daya aktif (terminal primer) secara prinsip sebaiknya tidak melebihi tegangan pengenal (lihat catatan pada subayat 4.1 SNI 04-6954.1-2003). Oleh karena itu tegangan keluaran maksimum pada beban adalah tegangan pengenal (atau tegangan sadapan) minus jatuh tegangan. Daya keluaran pada arus pengenal dan tegangan masukan pengenal pada prinsipnya adalah daya pengenal minus konsumsi daya pada transformator (rugi daya aktif dan daya reaktif). Penentuan tegangan pengenal yang bersesuaian atau tegangan sadapan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan keluaran spesifik pada pembebanan spesifik, oleh karena itu mencakup perhitungan jatuh tegangan, menggunakan angka-angka impedans hubung42 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

singkat transformator yang diketahui atau diestimasi. Subayat ini memberikan pernyataan yang sesuai dengan definisi SNI tentang nilai pengenal dan rugi-rugi transformator. 7.2 Impedans hubung-pendek dan diagram ekivalen dari transformator dua-belitan

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Jatuh tegangan suatu transformator didefinisikan sebagai perbedaan hitung antara tegangan tanpa-beban dari suatu belitan dengan tegangan yang terjadi pada terminalnya pada beban yang ditentukan; lihat subayat 3.7.2 SNI 04-6954.1-2003, dan IEC 60050(421), definisi 0703. Jika tidak dinyatakan lain, tegangan lintas terminal belitan lainnya (primer) diambil sebagai tegangan pengenal (atau tegangan sadapan, sebagai kemungkinan kasus). Sirkit ekivalen konvensional dari transformator terdiri dari impedans seri linier (untuk transformator multi-belitan, suatu jaringan impedans) yang pada lintas terminalnya menimbulkan jatuh tegangan. Impedans seri diidentifikasikan dengan impedans hubungpendek diukur pada uji rutin transformator. Lihat pengukuran impedans hubung-pendek dan rugi beban pada subayat 10.4 SNI 04-6954.1-2003. Jatuh tegangan tidak tergantung pada tegangan aktual karena arus magnetisasi yang tergantung diabaikan dalam perhitungan jatuh tegangan. Pengujian membolehkan pemisahan impedans seri kedalam suatu resistans, menyatakan rugi beban dan reaktans: Z = R + jX Secara konvensional, impedans dinyatakan dalam bentuk relatif sebagai hasil bagi dari impedans acuan Zref transformator dan dinyatakan dalam persen. Impedans relatif ditulis: Z = r + jx dengan
2 U ref

z = 100

Z Z ref

Dan pada gilirannya Zref =

S ref

Uref adalah tegangan belitan, yang menjadi acuan Z dan Zref. (jika tidak ada ketentuan lain, Uref, adalah tegangan pengenal belitan tetapi jika sadapan khusus selain sadapan utama yang diacunya, tegangan acuan malahan mungkin tegangan sadapan). Sref adalah nilai acuan daya untuk sepasang belitan yang terkait. Nilai acuan ini biasanya daya pengenal dari salah satu belitan dari pasangannya tetapi nilai acuan sebaiknya selalu dijelaskan untuk menghindari salah pengertian.Untuk transformator fase-tiga, Z dan Zref. adalah impedans perfase (ekuivalen hubungan bintang); lihat subayat 3.7.1 dari SNI 04-6954.1-2003. Sesuai dengan SNI 04-6954.1-2003, nilai relatif atau persentase impedans yang disarankan sebelumnya menjadi satu dan sama, tanpa memperhatikan belitan yang mana dari dua belitan yang terlibat dienerjais dan yang dihubung-pendek dalam pengujian. 7.3 Uraian beban Beban pada transformator dinyatakan sebagai nilai S yang berubah-ubah dari daya nyata (tidak diidentifikasi dengan daya pengenal), dan sudut fase φ , atau nilai terpisah dari beban aktif dan reaktif, P dan Q. Bersama-sama dengan ini diberikan tegangan terminal, U2 yang pada tegangan itu beban dipasang pada sisi sekunder transformator. Notasi mengikuti konvensi untuk bilangan kompleks dalam bentuk polar (nilai mutlak S dan argumen S atau φ) atau dengan bagian nyata dan imajiner P dan jQ, sebagaimana diperlihatkan di bawah:

43 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Beban ini dapat dinyatakan sebagai impedans beban ZL (ohm per fase)

Beban juga dapat diGambarkan sebagai arus beban I2, bersama-sama dengan sudut fase φ dari beban (sudut fase antara tegangan terminal U2 dan arus I2).

Gambar 23

Diagram ekivalen fase-tunggal – transformator dengan impedans seri ZT, dibebani dengan impedans ZL

Pada diagram fase-tunggal yang mewakili pembebanan fase-tiga simetris, U20 dan U2 diganti dengan U20 / √3 dan U2 / √3 (untuk hubungan bintang sekunder). Tetapi pembebanan ini tidak menimbulkan perubahan terhadap teks berikut. 7.4 Persamaan jatuh tegangan

Transformator pada keadaan tanpa beban mempunyai tegangan sekunder U20.Dengan dihubungkannya beban, tegangan terminal sekunder berubah menjadi U2. Dengan menggunakan notasi impedans, hubungan antara U2 dan U20 menjadi (lihat Gambar 23)

Jatuh tegangan ditentukan sebagai perbedaan hitung

Kombinasi dengan persamaan (63):

44 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Masukkan komponen impedans transformator dalam menyatakan impedans beban sesuai dengan persamaan (61):

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Modul dan inversnya,dinyatakan:

Maka jatuh tegangan

Jatuh tegangan adalah perbedaan orde pertama dan sebaliknya pernyataan dalam kurung berbeda dengan perbedaan orde kedua, tergantung pada apakah perhitungan berdasarkan pada tegangan terminal U2 atau tegangan tanpa beban ekivalen U20. Perbaikan ini biasanya diabaikan (lihat contoh numerik pada subayat berikut). Suku pertama A, dalam pengembangannya diinterpretasikan secara geometris sebagai proyeksi fasor jatuh tegangan I2ZT pada fasor U2 (lihat Gambar 24). Sebagaimana ditentukan jatuh tegangan hitung U2 kurang dari nilai mutlak I 2 Z T dari jatuh

tegangan vektorial I2ZT yang juga menunjukkan perbedaan sudut fase antara U20 dan U2. Nilai mutlak jatuh tegangan vektorial tidak tergantung pada sudut fase beban φ.

Gambar 24

Diagram fasor yang menunjukkan jatuh tegangan vektorial dan hitung
45 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Untuk semua transformator besar, bagian reaktif dari impedans seri jauh lebih besar dari pada bagian resistif. XT yang secara khas 5 % sampai 20 %; RT kurang dari 1 %. Jika sudut fase negatif (kapasitif atau sebagian pembebanan kapasitif), jatuh tegangan dapat menjadi negatif. Tegangan sekunder lalu naik diatas nilai tanpa-bebannya bila beban dihubungkan. 7.5 Perhitungan jatuh tegangan dalam notasi persen

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Impedans transformator dinyatakan dalam persen, berdasarkan pada nilai daya dan tegangan pengenal, Sr dan Ur masing-masing (lihat subayat 6.2):

Asumsikan bahwa tegangan acuan Ur (tegangan pengenal atau tegangan sadapan) paling sedikit kira-kira sama dengan tegangan sekunder aktual U2. Maka pernyataan rasio tegangan pada persamaan (65) dapat ditulis lagi

Rasio S/Sr adalah rasio pembebanan aktual terhadap daya pengenal dan rasio ini juga adalah rasio dari arus beban aktual terhadap arus pengenal. Contoh numerik yang tepat berikut mengGambarkan besaran relatif dari persyaratan yang berbeda. Contoh: 50 % pembebanan yaitu

S = 0,5, x = 15 %, r = 0,7 %, cos Ф = 0,8 induktif Sr

Jika cos Ф = 0,8, sin Ф = 0,6. Pernyataan rasio tegangan menjadi 1 + 0,50 (0,15 x 0,6 + 0,6 +0,007 x 0,8) + j 0,50 (0,15 x 0,8 – 0,07 x 0,6) = 1 + 0,048 + j.0,058 Persentase jatuh tegangan menjadi

U 20 - 1 = ( 1,048 + j 0,058 - 1) = 0,050 atau 5 % U2
Amati bahwa perkiraan pertama jatuh tegangan, mengambil suku A langsung, akan memberikan hasil 4,8 %, terhadap 5,0 % untuk perhitungan lengkap, suatu perkiraan yang memuaskan untuk tujuan praktis dan lebih baik dari pada seluruh ketelitian pengukuran dalam pelayanan. 7.6 Diagram ekivalen untuk transformator multi-belitan, elemen impedans ekivalen–T untuk transformator belitan fase-tiga

Diagram fase-tunggal ekivalen untuk transformator dua-belitan, yang dalam kesepakatan untuk definisi dan pengujian dari SNI 04-6954.1-2003, diberikan dalam Gambar 23. Pengembangan yang analog dengan transformator multi-belitan dtunjukkan pada Gambar 25. Gambar ini menunjukkan sepasang terminal primer, yang daya aktifnya dipasok pada
46 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

transformator, dan suatu set dari belitan keluaran;sekunder, tertsier….Diagram mengandung elemen admitans magnetisasi yang ditempatkan pada terminal masukan. Transformator ideal menunjukkan rasio lilitan tanpa beban antara belitan yang berbeda yang dihubungkan pada jaringan linier dari impedans yang untuk suatu transformator n-belitan mengandung

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

n(n − 1) elemen bebas. 2

Gambar 25

Diagram ekivalen fase-tunggal dari transformator multi-belitan

Diagram ekivalen ini bersesuaian dengan suatu set persamaan jatuh tegangan linier. Elemen impedans individu secara prinsip dapat dievaluasi misalnya, dari set pengukuran bebas impedans hubung-pendek untuk semua kombinasi dua-belitan Pada transformator tiga-belitan, rangkaian impedans seri mempunyai tiga elemen. Dari teori rangkaian listrik diketahui bahwa bagaimana konfigurasi segitiga dari ketiga elemen demikian selalu dapat diubah kedalam konfigurasi bintang atau T dan sebaliknya. Konfigurasi T sesuai untuk analisis sistem misalnya aliran daya reaktif melalui transformator tiga-belitan. Ketiga elemen T yang dievaluasi dari parameter kombinasi dua-belitan ditunjukkan pada Gambar 26.

Gambar 26

Impedans transformator tiga-belitan

Elemen bintang adalah kombinasi aljabar. dari besaran fisik. Mungkin dan tidak mustahil bahwa satu elemen dapat keluar dengan reaktans negatif. Hal ini adalah kasus khas untuk suatu elemen yang berhubungan dengan belitan yang secara fisik ditempatkan antara dua elemen yang lainnya. Pemisahan resistans kedalam elemen bintang menunjukkan bahwa rugi-rugi beban yang diukur untuk kombinasi dua-belitan berbeda dialokasikan ke belitan individu. Prosedur ini secara konvensional dapat diterima, tetapi mempunyai ketelitian yang meragukan untuk transformator besar yang rugi-rugi arus pusarnya dalam belitan dan rugi-rugi fluksi sesar
47 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

pada bagian lain yang penting. Komponen rugi ini tidak memberikan komponennya sendiri yang baik pada kombinasi linier sesuai dengan prosedur sederhana yang ditunjukkan disini. 7.7 7.7.1 Alokasi rugi-rugi beban untuk belitan individu pada transformator tiga-belitan Kasus umum

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Subayat sebelumnya menjelaskan bagaimana impedans seri pada transformator tiga-belitan yang diukur sebagai kombinasi dua-belitan dan kemudian dialokasikan pada setiap tiga belitan terpisah dengan transformasi linier untuk membentuk konfigurasi bintang. Pengukurani harus diulangi karena ini hanya suatu permainan matematik; secara fisik hal tersebut tidak ada karena impedans seri dari suatu belitan individu hanya berada antar belitan. Prosedur yang bersesuaian diterapkan pada rugi beban dari transformator tiga-belitan untuk kombinasi pembebanan spesifik. Dalam konteks ini mengacu pada belitan sebagai H (tegangan-tinggi), X (tegangan menengah), T (tegangan rendah tersier). Gambar rugi beban ditentukan bersama-sama dengan impedans seri untuk ketiga kemungkinan kombinasi duabelitan: Pengukuran ini dapat dilakukan dengan arus pada belitan yang bersesuaian dengan nilai daya acuan yang berbeda, sebab belitan tersier biasanya mempunyai nilai daya pengenal yang ditentukan lebih rendah. Untuk transformasi berikut lebih baik untuk melakukan pengukuran pada dasar yang umum dari daya acuan, S’, sebanding dengan kwadrat arus:

Arus acuan pada belitan masing-masing adalah

Alokasi rugi-rugi pada masing-masing belitan dilakukan dengan transformasi

Untuk kombinasi beban yang diberikan, dengan arus actual pada belitan sama dengan IH, IX, IT, rugi yang dihasilkan untuk setiap belitan kembali sebanding dengan kwadrat arus (daya) dari Gambar acuan di atas. Rugi beban yang dihasilkan PK untuk semua transformator adalah jumlah dari nilai rugi yang dialokasikan pada ketiga belitan-tunggal ini:

Dalam hal daya nyata pada belitan formula dibaca

48 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Perhatikan bahwa daya dalam rumus di atas diinterpretasikan dalam persyaratan arus actual dan bersesuaian dengan tegangan tanpa beban untuk belitan dengan beban menuju keluar, bukan tegangan aktual pada terminal, terkait dengan jatuh tegangan pada transformator. Algoritma untuk perhitungan dari kombinasi rugi tiga-belitan berlaku untuk transformator fase-tunggal dan fase-tiga, dan tidak hanya untuk transformator belitan terpisah tetapi juga transformator tiga-belitan yang kedua belitannya terhubung-oto. 7.7.2 Kasus dari transformator terhubung-oto

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Alokasi rugi-rugi beban untuk belitan fisik individu, dalam rangka memperkirakan kenaikan suhu belitan individu pada kombinasi beban spesifik, lebih rumit untuk transformator terhubung-oto. Kerumitan ini karena fisik dari belitan pasangan terhubung-oto tidak identik dengan belitan dalam pengertian standar. Kita harus mempelajari belitan seri S dan belitan C yang umum, yang secara`fisik merupakan bagian terpisah dari sepasang belitan terhubungoto sebagai pengganti tegangan-tinggi dan belitan tegangan menengah. Definisi faktor reduksi dari hubungan-oto dinamakan α (lihat subayat 3.1 dan subayat 3.2):

Ini adalah rasio antara daya nyata sebenarnya dari belitan fisik S atau C , dan daya mengalir keluar antara belitan formal H dan X. Pertimbangkan kasus dua-belitan bila daya acuan S’ diubah antara belitan H dan X.
' Belitan seri mempunyai tegangan UH - UX = αUH , sedangkan arusnya adalah I H . Tegangan lintas terminal belitan bersama adalah UX dan arus acuannya adalah

Daya acuan ekivalen untuk belitan yang secara fisik terhubung-oto adalah bukan S’, tetapi αS’. Ketiga kombinasi rugi dua-belitan, semuanya mengacu pada seluruh daya yang mengalir keluar S’ yang ditunjukkan pada Gambar 27. Arus aktual pada belitan C berbeda pada ketiga kasus tersebut.

49 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 27

Ketiga kombinasi pengujian dua-belitan dengan acuan melalui daya S’

Jelas dari persamaan di atas bahwa rugi-rugi dua-belitan dapat dialokasikan pada belitan masing-masing dengan hubungan

Invers dari set persamaan ini adalah

Rugi beban untuk setiap belitan selama kasus pembebanan spesifik, bercirikan dengan arus IH, IX, IT kemudian ditulis

50 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Dalam rangka untuk menilai rugi pada belitan bersama, diperlukan menghitung arus pada belitan itu:

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

IX dan IH biasanya tidak sefase selama kasus pembebanan tiga-fase dengan beban independen pada belitan tersier. Tetapi kasus pembebanan secara konvensional diuraikan dalam nilai-nilai daya nyata pada terminal belitan H, X dan T. Pernyataan berikut digunakan:

Tetapi disini kita memerlukan pernyataan untuk SC dalam kasus umum. Pada persamaan berikut, nilai arus dan daya adalah vektorial, sementara jumlah lilitan atau tegangan tanpabeban ekivalen adalah skalar yang konstan. Jumlah daya nol

Menggunakan tegangan tanpa-beban ekivalen:

Terdapat juga keseimbangan lilitan-amper

Tetapi jumlah lilitan sebanding dengan pengenal masing-masing, atau tegangan sadapan. Maka:

Gambar 28

Diagram fasor untuk daya pada terminal masing-masing dan pada belitan fisik .

Menggunakan teori cosinus untuk segitiga:

51 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Eliminasi fungsi sudut antara persamaan-persamaan:

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Hubungan ini hanya mengandung nilai daya mutlak. Hubungan fase adalah tercakup dalam pernyataan kesimpulan. Maka rugi yang dialokasikan pada belitan C, akhirnya

7.8

Contoh perhitungan jatuh tegangan dan rugi beban untuk transformator tigabelitan

Contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan langkah demi langkah, bagaimana perhitungan demikian dapat dilakukan dengan cara yang sederhana melalui pendekatan yang sesuai. Selidiki kasus pembebanan untuk transformator belitan terpisah tiga-belitan, yang mempunyai nilai pengenal daya berikut untuk tiga belitan: belitan primer (I) 80 MVA; Belitan sekunder (II) 80 MVA; Belitan tersier (III) 15 MVA.

Transformator ini dibebani sebagai berikut. Tegangan input pada belitan primer diasumsikan sama dengan tegangan pengenal belitan itu. Belitan sekunder memberikan 75 MVA pada faktor daya induktif 0,8. Belitan tersier dibebani dengan gugus kapasitor tetap, yang bernilai pengenal 15 MVA pada tegangan sama dengan tegangan pengenal belitan tersier. Perlu untuk menghitung jatuh tegangan yang melalui transformator untuk mendapatkan tegangan keluaran pada terminal (II) dan (III). Tetapi sebagaimana masalah yang dirumuskan, arus beban tidak diberikan, maka arus itu harus dihitung. Beban pada belitan sekunder ditentukan tanpa acuan terhadap tegangan pelayanan aktual. Maka arus beban dan konsekwensinya tegangan jatuh harus diasumsikan berbanding terbalik dengan tegangan terminal. Beban tersier pada sisi lain diasumsikan sebagai gugus kapasitor dari impedans tetap. Untuk beban ini, arus naik sebanding dengan tegangan terminal dan daya reaktif yang dibangkitkan oleh gugus naik dengan kwadrat tegangan. Laporan pengujian transformator berisi nilai-nilai berikut, persentase impedans hubung pendek dua-belitan, semua mengacu pada 80 MVA, dan bersesuaian dengan rugi beban yang mengacu pada nilai pengenal yang berbeda. Tabel 2 juga memperlihatkan nilai-nilai rugi ini yang dinyatakan sebagai persentase pada dasar yang umum pada 80 MVA.

52 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Tabel 2

Data untuk perhitungan Rugi beban/ acuan 300 kW/80 MVA 20 kW /15 MVA 25 kW / 15 MVA Rugi beban/ 80 MVA % 0,375 0,711 0,889

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Kombinasi (I) dan (II) (I) dan (III) (II) dan (III)

Impedans % 11,0 13,2 27,3

Parameter dua-belitan dikonversikan ke konfigurasi bintang ekivalen. Nilai untuk impedans hubung-pendek total dan untuk rugi resistans, dijelaskan terpisah pada Gambar 29. Tetapi jelas bahwa nilai impedans total hubung-pendek ini adalah pernyataan matematik murni dari transformator sebagai suatu kotak hitam. Nilai impedans itu mencerminkan perilaku transformatori yang dapat diukur pada terminalnya, tetapi model tersebut bukan Gambaran fisik dari unit dalam hal belitan yang berbeda, dst. Titik temu T adalah maya. Salah satu dari elemen reaktans keluarnya negatif (yang sebenarnya menunjukkan bahwa belitan yang terhubung ke terminal (I) ditempatkan antara dua terminal lainnya pada transformator.

Gambar 29

Impedans hubung-pendek bintang ekivalen dan komponen rugi beban bintang-ekivalen

Pada berikut ini suatu metoda dengan pendekatan yang berurutan akan digunakan. Metoda ini menunjukkan perhitungan dengan tangan dan mengGambarkan parameter yang berbeda yang relatif penting. Pendekatan pertama: Asumsikan tegangan pengenal pada terminal keluaran dan hitung jatuh tegangan dan yang menghasilkan daya masukan pada transformator. Pendekatan kedua: Perbaiki tegangan keluaran dengan pendekatan pertama nilai tegangan jatuh dan modifikasi parameter beban agar sesuai (arus pembebanan tercakup, tergantung pada tegangan aktual). Dapatkan nilai daya beban yang dikoreksi dan nilai jatuh tegangan). Untuk perhitungan dengan pendekatan ini, impedans hubung-pendek akan dianggap sebagai reaktif utama yaitu Z = X. Rugi-rugi tidak diperhatikan dalam perbandingan dengan daya beban aktif. Untuk setiap cabang rangkaian impedans bintang-ekivalen, hubungan berikut digunakan. Nilai per unit ditunjukkan dalam kurung:

53 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Jelas bahwa persamaan ini daya beban reaktif Q adalah positif untuk pembebanan reaktif (cabang II), dan negatif untuk pembebanan kapasitif (cabang III). Reaktans hubung-pendek per unit x adalah negatif untuk cabang I dan posistif untuk cabang II dan III, lihat Gambar 29. Pendekatan pertama Cabang (II) Daya nyata Beban aktif Beban reaktif Arus per unit Jatuh tegangan Konsumsi reaktif Cabang (III) Daya nyata Arus per unit Tegangan jatuh Konsumsi reaktif

75 MVA = 0,9375 per unit 0,8 x 75 = 60 MW 0,6 x 75 = 45 MVAr 0,9375 0,6 x 0,1255 x 0,9375 = 0,071 per unit 0,1255 x (0,9375)2 = 0,11 per unit = 0,11 x 80 = 8,8 MVAr 15 MVAr (kapasitif) - 0,1875 0,1475 x – 0,1875 0,1475 x (-0,1875)2 = - 0,1875 per unit = -0,028 per unit = 0,005 per unit = 0,005 x 80 = 0,4 MVAr

Titik T, aliran daya kombinasi Ke cabang (II) 60 MW dan (45 + 8,8) MVAr Ke cabang (III) (-15 + 0,4) MVAr Jumlah, dari (I) 60 MW dan 39,2 MVAr ekivalen dengan 71,7 MVA Arus per unit cabang (I) 0,806 Cabang (I) Sin Ф Jatuh tegangan Konsumsi reaktif 39,2/71,7 = 0,547 0,547 x (-0,155) x 0,0896 = (-0,008) per unit -0,0155 x (0,896)2 x 80 = - 1MVAr

Tegangan yang dihasilkan Titik T 1,000 + 0,008 = 1,008 per unit Terminal (II) 1,008 – 0,071 = 0,937 per unit Terminal (III) 1,008 + 0,028 = 1,036 per unit Pendekatan kedua Tegangan terminal sesuai dengan pendekatan pertama diperkenalkan sebagai pengganti tegangan pengenal (1,000 per unit):

54 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Cabang (II) [i] = 0,9375/0,937 = 1,001 Konsumsi daya reaktif dan jatuh tegangan hitung berubah menjadi konsumsi reaktif 0,1255 x (1,001)2 x 80 = 10,1 MVA; jatuh tegangan, cabang (II) 0,6 x 0,1255 x 1,001 = 0,075 per unit. Tegangan tersier naik, bila gugus kapasitor dihubungkan (jatuh tegangan negatif). Gugus mempunyai impedans tetap. Arus beban naik sebanding dengan tegangan, dan daya reaktif yang dibangkitkan naik dengan kwadrat tegangan. Nilai yang baru menjadi sebagai berikut: Cabang (III) Arus per unit Pembebanan kapasitor Konsumsi reaktif Jatuh tegangan

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-0,1875 x 1,036 = -0,194 (1,036)2 x 15 = 16,1 MVAr 0,1475 x (-0,194)2 x 80 = 0,4 MVAr 0,1475 x -0,94 = -0,029 per unit

Titik T, aliran daya kombinasi Jumlah daya reaktif 45 + 10,1 – 16,1 + 0,4 = 39,4 MVAr Jumlah dari (I) 60 MW dan 39,4 MVAr = 71,8 MVA Arus di cabang (I) per unit 0,897 Cabang (I) Sin Ф Jatuh tegangan Konsumsi reaktif

39,4/71,8 = 0,549 0,547 x (-0,0155) x 0,896 = -0,008 per unit. -0,0155 x (0,897)2 x 80 = -1 MVAr

Estimasi kedua dari tegangan menjadi - terminal (II) 1,008 – 0,075 = 0,933 per unit; - terminal (III) 1,008 + 0,029 = 1,037 per unit. Jika iterasi lain akan dilakukan, perubahan sebaiknya hanya dari orde 0,001. Tetapi pada tingkat ketelitian numerik, pendekatan dalam model dasar dari transformator dan dalam prosedur perhitungan sebaiknya tidak lagi diabaikan. Untuk perbandingan, perhitungan komputer dengan perangkat lunak standar (bilangan kompleks aljabar) telah diberikan U(II) = 0,93 per unit; U(III) = 1,04 per unit. Rugi beban kombinasi, menggunakan estimasi arus cabang perhitungan tangan: - Cabang (I) 0,099 x (0,897)2 = 0,079 %; - Cabang (II) 0,277 x (1,001)2 = 0,277 %; - Cabang (III) 0,613 x (0,195)2 = 0,023 % Jumlahnya adalah 0,379 % = 303 kW, bulatkan 300 kW. 7.9 Contoh perhitungan rugi beban kombinasi dan alokasi rugi-rugi pada belitan individu dalam transformator tiga-belitan terhubung-oto

Transformator dispesifikasikan sebagai 350/350/120 MVA YNoto d ONAF. Tegangan pengenal 380 kV, dengan pengaturan/132/33 kV. Pada pendinginan ONAN (kipas tidak berputar), uji bahang (heat run test) ditentukan dengan 50 % daya pengenal pada semua terminal: 175/175/60 MVA, dan dengan belitan sadapan 380 kV dihubungkan pada sadapan minimum, 330 kV. Berapa nilai rugi beban kombinasi
55 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

yang diterapkan untuk uji bahang dan berapa alokasi rugi-rugi pada belitan individu transformator ? Pengukuran dua-belitan telah memberikan hasil berikut, dihitung kembali pada suhu acuan: H,X…..330/132 kV, 350 MVA, 1118 kW H,T…..330/33 kV, 120 MVA, 255 kW (350 MVA 2169 kW) X,T 330/33 kV,…..120 MVA, 233 kW (350 MVA 1982 kW) Pada kolom terakhir di atas, kedua hasil uji yang mencakup belitan tersier juga telah dihitung kembali terhadap (tidak realistis) nilai daya acuan bersama S’ = 350 MVA. Faktor hubungan-oto, α adalah (330 – 332)/330 = 0,600 Sesuai dengan persamaan (74), nilai rugi acuan yang dialokasikan untuk tiga belitan fisik menjadi

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

1 (1,4 x 1118 + 0,6 x 2169 – 0,6 x 1982) = 838,7 kW 2 1 PC' = (0,6 x 1118 – 0,6 x 2169 + 0,6 x 1982) = 279,3 kW 2 1 PT' = (-1118 + 2169 + 0,2 x 1982) = 1206,2 kW 1,2

PS' =

Nilai daya yang diterapkan untuk belitan C, belitan bersama dinyatakan sebagai

⎛ S2 ⎞ 0,4 60 2 − 0,6 x175 2 + 0,6 x175 2 Rasio ⎜ C ⎟ menjadi, numerik = 0,2827 ⎜ αS ' ⎟ 0,6 2 x350 2 ⎝ ⎠
Rugi-rugi yang dialokasikan pada ketiga belitan fisik, dan rugi beban ketiga belitan kombinasi menjadi:

2

(

)

Perbandingan Perhitungan langsung rugi beban ketiga belitan kombinasi sesuai dengan persamaan (70) memberikan

Rugi kombinasi 0,25 x 622,5 + 0,25 x 465,5 + 0,0294 x 1516,5 = 163,1 +116,4 + 44,6 = 324,1 kW Yaitu totalnya sama tetapi tanpa pembagian realistik antara belitan fisik (seri, bersama, tersier).

56 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

8

Spesifikasi besaran pengenal dan besaran sadapan

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

8.1 Pendahuluan Subayat ini menjelaskan hubungan antara kondisi pelayanan untuk transformator dan parameter yang ditentukan dan dijamin yang disebut besaran pengenal (atau besaran sadapan): daya pengenal, tegangan pengenal, arus pengenal. Untuk definisi, lihat SNI 046954.1-2003. Secara prinsip, besaran pengenal (mengacu pada sadapan utama transformator) dan besaran sadapan (parameter analog untuk sadapan lainnya) adalah acuan untuk jaminan dan pengujian mengenai daya nyata, tegangan dan arus. Besaran itu jangan dirancukan dengan daya mengalir keluar dalam pelayanan dan nilai yang bersesuaian dari tegangan dan arus. Sebaliknya besaran ini adalah prosedur logik yang relatif rumit untuk menentukan dengan cara yang benar, nilai numerik untuk besaran pengenal dan sadapan pengenal yang cukup tetapi tidak perlu tinggi, dari persyaratan satu set kasus pembebanan dalam pelayanan aktual. Perhatikan bahwa ada sejumlah bidang kombinasi variable pelayanan, sementara besaran spesifik hanya mewakili satu set data acuan yang dipilih. Tetapi set ini harus tidak meliputi julat kondisi pelayanan yang diperbolehkan. Prosedur sistimatis yang dianjurkan untuk analisa ini diuraikan dibawah dan diGambarkan dengan contoh praktis. 8.2 Spesifikasi nilai pengenal dan sadapan, efek lebar dari julat sadapan yang distandarisir

Standarisasi ini tidak dimaksudkan untuk merekomendasikan analisis lengkap dari setiap kasus spesifik bila transformator dengan sadapan akan dispesifikasikan dan dibeli. Ini akan bertentangan dengan prinsip standardisasi yang benar. Dalam standar nasional, biasa menyediakan tabel nilai pengenal yang direkomendasikan. Tabel ini akan membuat daftar seri nilai-nilai daya pengenal yang lebih disukai, biasanya dengan langkah 1 : 1,25 atau lebih besar (lihat subayat 4.3 SNI 04-6954.1-2003), dikombinasikan dengan tegangan pengenal dan julat sadapan yang disesuaikan dengan tingkat tegangan pelayanan biasa untuk tingkat tegangan sistem yang berbeda dalam pemakaian. Tujuan standardisasi demikian adalah antara lain untuk memudahkan relokasi transformator ketempat lain, terutama bila beroperasi paralel dengan unit lain yang diperlukan. Masalah yang berhubungan dengan operasi paralel transformator dibahas secara terpisah pada Ayat 6. Sistem transmisi dan distribusi yang dikelola dengan baik didesain dan dioperasikan dengan cara demikian sehingga variasi tegangan pelayanan aktual antara pembebanan ringan dan berat adalah sangat kecil. Variasi ini dicapai dengan struktur yang cocok dari tingkat tegangan sistem yang lebih tinggi dan lebih rendah dan dengan manajemen aliran daya reaktif yang benar. Oleh karena itu julat sadapan yang diperlukan untuk kendali rasio pada pelayanan normal umumnya relatif terbatas. Tetapi juga perlu hati-hati memperhatikan kondisi abnormal, bila komponen sistem tertentu (saluran, transformator) tidak tersedia. Dalam keadaan darurat demikian, atau pelayanan cadangan mungkin diperlukan julat yang lebih lebar dari variasi rasio tegangan transformator.

57 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Mungkin juga bahwa bagian yang berbeda dari sistem atau sistem yang berdekatan dengan tegangan sistem standar yang sama, biasanya dioperasikan pada tingkat tegangan pelayanan yang sedikit berbeda. Agar mungkin melakukan pertukaran transformator, memerlukan julat sadapan yang lebih lebar. Tetapi julat sadapan yang lebar pada suatu transformator tidak hanya mengGambarkan kenaikan biaya pembuatan dan kadang-kadang angka rugi yang lebih besar, tetapi juga secara `cepat menaikkan kesulitan desain dan risiko kegagalan pelayanan, misalnya karena osilasi tegangan transien lintas terminal belitan pengaturan. Hal ini menimbulkan persyaratan insulasi yang dinaikkan, dan kadang-kadang model pengubah-sadapan yang lebih mahal. Menghadapi latar belakang pertimbangan yang bertentangan, merupakan bukti bahwa tidak ada rekomendasi universal untuk lebar julat sadapan yang dapat diberikan pada standar ini. Misalnya yang megGambarkan metoda analisis adalah hanya mengGambarkan kasus praktis dari lingkungan negara industri dan bukan rekomendasi umum. 8.3 8.3.1 Prosedur untuk penentuan besaran pengenal dan sadapan Asumsi umum

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Transformator mempunyai dua belitan utama. Salah satu dari belitan-belitan ini mempunyai sadapan. Perhatikan bahwa istilah ini mengacu pada suatu belitan sebagai rakitan dari semua lilitan yang terkait dengan salah satu tegangan transformator (lihat definisi 33.1 pada SNI 046954.1-2003). Maka suatu belitan dapat terdiri dari beberapa silinder atau cakram terpisah. Jika belitan bersadapan, ini berarti bahwa belitan tersebut dapat dihubung-kembali sehingga jumlah lilitan efektifnya dapat berubah. Sadapan dalam konteks SNI 04-6954.1-2003 adalah suatu pemikiran abstrak, artinya menyatakan hubungan dari belitan. Hubungan diidetifikasi dengan jumlah lilitan efektif spesifik dan tegangan sadapan spesifik. Tegangan sadapan mempunyai arti yang sama untuk suatu sadapan spesifik sebagai tegangan pengenal mempunyai sadapan utama. Bagaimana belitan bersadapan didesain secara fisik adalah tidak penting untuk dibahas sekarang. Desain itu mungkin bahwa bagian belitan bersadapan disusun terpisah secara fisik., mengacu ke belitan pengaturan dan dihubungkan dengan bagian belitan utama. Hubungan dapat permanen atau berubah dengan menggunakan pengubah-sadapan. Istilah seperti “linier”, “plus-minus”, “kasar-halus” mengacu pada alternatif susunan pengaturan yang berbeda. Untuk diskusi ini, tidak menjadi masalah jika sebagai tambahan pada kedua belitan utama transformator dilengkapi dengan belitan stabilisasi atau belitan bantu yang kecil dengan nilai pengenal daya yang tak berarti. Tetapi transformator multi-belitan yang benar dengan aliran daya simultan lintas dua atau lebih pasangan belitan berada diluar lingkup analisa. Arah daya aktif mengalir antara dua belitan harus diketahui. Jika aliran dapat berbalik, kedua kasus itu harus diambil terpisah. Juga perlu diketahui, untuk yang kedua belitannya adalah belitan bersadapan sebelum analisis dapat diselesaikan. Secara umum ini ditentukan oleh pertimbangan teknik dan standar desain pabrikan dari pada oleh kondisi instalasi yang dimaksudkan (lihat juga subayat 6.4).

58 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Pertama analisis akan mempertimbangkan semua kasus pembebanan yang berbeda yang menyatakan batas-batas dari variasi julat yang dikenal. Setiap kasus ditentukan dengan nilai daya beban aktif dan reaktif atau daya nyata dan faktor daya. Terdapat juga julat nilai tegangan pelayanan, pada terminal kedua belitan, yang didalam julat itu akan memungkinkan tuntasnya pembebanan ini. Nilai tegangan sekunder pada semua kondisi pembebanan harus digantikan oleh tegangan tanpa-beban ekivalen dengan menambahkan jatuh tegangan pada transformator. Untuk prosedur ini yang diuraikan secara rinci pada subayat lain standar ini, perlu mengetahui atau mengasumsi, suatu nilai impedans hubung-pendek transformator. Pada kasus yang paling sederhana, spesifikasi ditentukan oleh satu kasus beban rendah atau tanpa-beban dan satu kasus beban-tinggi. Pada kasus yang lebih rumit, seperti transformator ukuran besar yang dibuat atas pesanan yang dikenai jenis pembebanan yang berbeda, transformator itu direkomendasikan bahwa pembahasan dilakukan dengan pabrikan tentang sepsifikasi transformator, berdasarkan pada kasus pembebanan yang diakui, sebelum nilai pengenal ditetapkan untuk spesifikasi tender. Hal ini karena spesifikasi transformator yang ditetapkan secara dini dapat mengunci susunan belitan dengan suatu cara yang dapat menimbulkan kesulitan teknis yang tidak perlu atau desain yang tidak ekonomis. 8.3.2 Garis besar prosedur yang umum Untuk setiap kasus pembebanan,arus beban akan dihitung dari daya keluaran yang ditentukan dan tegangan pelayanan sekunder. Nilai maksimum selama setiap kasus pembebanan dicatat. Jatuh tegangan dalam transformator pada kasus pembebanan tertentu pertama kali sudah diestimasi, sedemikian hingga tegangan pelayanan pada terminal keluaran dapat dikonversi ke tegangan tanpa-beban yang terkait. Nilai minimum dan maksimum tegangan tanpa-beban ekivalen dicatat untuk kedua sisi transformator, selama setiap kasus pembebanan (lihat Gambar 30 a). Nilai minimum dan maksimum rasio tegangan dihitung untuk setiap kasus pembebanan, dan rasio tegangan ini yang ekstrim dicatat. Rasio ini tidak perlu menjadi kombinasi diagonal dari tegangan ekstrim seluruhnya, karena tegangan primer dan sekunder tidak bervariasi pada arah yang berlawanan terhadap rentang sepenuhnya antara beban rendah dan beban besar (lihat Gambar 30 b). Penggunaan informasi rasio lilitan, arus masukan dari belitan primer dihitung. Nilai maksimumnya dicatat.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-

-

-

-

Pada tahap ini, enam parameter yang diperlukan berikut sudah ditentukan. Parameter itu membentuk desain listrik dari transformator: tegangan primer maksimum; tegangan sekunder maksimum; rasio tegangan maksimum; rasio tegangan minimum; arus primer maksimum; arus sekunder maksimum.

Agar supaya berlanjut, sekarang perlu mengetahui belitan mana yang bersadapan.
59 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

-

Tegangan pengenal dari belitan tak-bersadapan akan ditentukan oleh tegangan maksimum pada sisi transformator itu (lihat Gambar 30c). Julat tegangan sadapan pada sisi belitan bersadapan selanjutnya dapat ditentukan dari tegangan yang berhubungan dan parameter rasio sesuai yang diperlihatkan secara rinci nanti (lihat Gambar 30c dan 30d). Hal ini sering menimbulkan spesifikasi sadapan sesuai dengan prinsip variasi tegangan kombinasi (lihat subayat 5.2 dan subayat 5.3 SNI…/IEC 60076-1 dan komentar selanjutnya dibawah ini). Nilai arus beban maksimum untuk belitan tak bersadapan pada prinsipnya akan bersama-sama dengan tegangan pengenalnya, menentukan daya pengenal transaformator.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

-

-

Jika tidak ada ketentuan lain, semua sadapan sebaiknya sadapan daya penuh (lihat subayat 5.2 dan subayat 5.3 SNI 04-6954.1-2003). Agar supaya untuk menghindari dimensiberlebihan dari transformator, bagaimanapun mungkin berguna untuk menyimpang terhadap aturan utama ini. Maka menaikkan tegangan sadapan pada belitan bersadapan dapat memotong kearah ujung julat sadapan plus (variasi tegangan kombinasi). Demikian juga kenaikan arus sadapan kearah ujung sadapan minus dipotong oleh penerapan sadapan arus maksimum. Ini berarti bahwa nilai daya sadapan untuk sadapan ekstrim ini berkurang sebanding dengan nilai dalam julat tengah yang daya pengenal transformatornya penuh. Sadapan utama dipilih yang lebih disukai pada julat sadapan tengah. Maka tegangan dan arus sadapan untuk belitan bersadapan pada sadapan ini akan merupakan besaran pengenalnya. Set parameter yang lengkap akhirnya dikumpulkan dalam tabel untuk spesifikasi.

-

Langkah berbeda ini akan dirinci sejalan dengan contoh praktis pada subayat berikut. 8.4 Rincian prosedur tahap demi tahap

Bersama-sama dengan uraian metoda dalam bentuk umum, ditunjukkan contoh praktis. Contoh: Transformasi dari sistem 115 kV ke sistem 20 kV. Julat tegangan primer dari 107 kV sampai nilai maksimum sistem yang diperbolehkan, Um yaitu 123 kV. Tegangan sekunder yang diperlukan tanpa-beban adalah 20 kV, naik sampai tegangan tanpa-beban 22 kV untuk mengkompensasi jatuh tegangan pada transformator pada arus beban penuh yang ditentukan sebesar 1000 A. (Maka tegangan pelayanan sekunder aktual adalah 21 kV jika jatuh tegangan dalam transformator adalah 1 kV.) Demi untuk penyederhanaan, diasumsikan dari awal bahwa belitan tegangan-tinggi adalah belitan primer yang menerima daya aktif dari sistem. Belitan ini juga adalah belitan bersadapan. Belitan tegangan-rendah tidak bersadapan. Berikutnya, acuan dibuat pada “primer” dan “sekunder”, atau “bersadapan” dan “tak-bersadapan” bila hal itu penting. Oleh karena itu seharusnya mudah untuk melakukan analisis berikut dengan prinsip yang sama, bahkan jika transformator merupakan transformator penaik tegangan atau jika belitan tegangan-rendah adalah belitan bersadapan. 8.4.1 Perhitungan jatuh tegangan dan tegangan tanpa-beban ekivalen

(Ini tidak dirinci disini, tetapi hanya diacu untuk kelengkapan.)
60 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Pembebanan pada sisi sekunder adalah (S, Ф) pada tegangan U2 di terminal sekunder transformator. Arus beban yang terkait dihitung dengan mudah. Beban juga menyatakan suatu impedans sama dengan ZL :

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Dengan S dalam MVA, U2 dalam kV dan ZL dalam ohm. Rumus berlaku untuk beban fase tunggal dan fase-tiga. Impedans hubung-pendek dari transformator dapat diestimasi dari unit yang ada dan .sama. Nilai nya tidak sangat kritis untuk maksud ini. Biasanya persentase impedans diestimasi. Nilai yang terkait dalam ohm diperoleh dengan mengalikan dengan impedans acuan dari ssisi sekunder transformator:

Perhitungan jatuh tegangan dan tegangan tanpa-beban yang terkait dijelaskan dalam Ayat 7 dari pedoman ini. 8.4.2 Variasi julat rasio tegangan Setiap kasus pembebanan juga mengandung pernyataan tegangan sisi primer dan sekunder, yang diterapkan, atau julat tegangan yang padanya beban akan dialirkan. Tegangan sisi sekunder dikonversikan ke tegangan tanpa-beban ekivalen sesuai dengan subayat 8.4.1. Maka nilai rasio lilitan yang terkait dapat diperoleh. Rasio tertinggi dan terendah dicatat. Tidak diperlukan U1 maks / U20 min, dan U1min / U20 maks, seperti yang ditunjukkan Gambar 30b.

Rasio yang ekstrim menunjukkan lebar relatif dari julat sadapan yang diperlukan. Jika rasio ekstrim tersebut luar biasai besar, disarankan diteliti kembali secara kritis asumsi awal mengenai kasus pembebanannya. Pada akhir prosedur, julat dapat dimodifikasi ke beberapa notasi standar yang ada. Contoh (lanjutan) Kombinasi ekstrim tegangan dalam kasus ini adalah nmaks = 123/20 = 6,15 dan nmin = 107/22 = 4,864 Tidak ada indikasi pembatasan untuk kombinasi ekstrim. 8.4.3 Tegangan pengenal dari belitan tak-bersadapan

Diasumsikan bahwa belitan primer tegangan-tinggi menjadi belitan bersadapan, dan belitan sekunder tegangan-rendah adalah belitan tak-bersadapan. Tanpa memperhatikan apakah ini diterapkan atau tidak, prosedur berikut secara prinsip sekarang dapat dilakukan. Tegangan pengenal belitan tak-bersadapan, U2r , secara prinsip akan merupakan tegangan tertinggi yang dikenali untuk setiap kondisi pada belitan itu (tegangan terapan jika belitan primer, tegangan induksi ekivalen jika belitannya sekunder) (lihat Gambar 30c). SNI 04-6954.1-2003 menyatakan bahwa transformator harus mampu melayani kontinu tanpa kerusakan dengan tegangan-lebih 5%. Tegangan lebih ini tidak berarti digunakan secara sistimatis dalam pelayanan normal. Tegangan-lebih sebaiknya disediakan untuk kasus pelayanan yang relatif jarang pada periode waktu yang terbatas, misalnya pelayanan darurat
61 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

atau pembebanan puncak ekstrim. Jika kasus beban-tinggi digunakan dalam analisis sifat ini, mungkin sesuai dengan membulatkan nilai tegangan pengenal kebawah dalam julat toleransi ini. Contoh (lanjutan) Dalam contoh kita, tegangan sekunder pengenal (belitan tak bersadapan) adalah 22 kV.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

CATATAN Julat tegangan pelayanan pada kedua sisi (skala berbeda)

CATATAN – Rasio ekstrim: kasus beban-tinggi darurat mengkombinasi tegangan primer minimum dengan tegangan sekunder maksimum (tanpa-beban ekivalen). Ini adalah rasio minimum. Kombinasi U1 maks dengan U20 min mungkin tidak realistis. Maka rasio maksimum malahan dinyatakan sebagai U1maks/U3, atau sebagai U4 /U2 min.(U3 dan U4 tidak mempunyai arti khusus). Gambar 30b

Gambar 30a

CATATAN U20 maks akan bertegangan pengenal U2 , karena belitan sekunder tak-bersadapan. Dengan variasi tegangan fluksi konstan, julat tegangan sadapan pada sisi primer akan ditentukan oleh rasio ekstrim, dikalikan dengantegangan sekunder pengenal. Tegangan primer pengenal (sdapan utama) dipilih di tengah.

CATATAN Tegangan sadapan tertinggi U5, sesuai Gambar 30c adalah tidak realistik, mungkin bahkan diatas tegangan tertinggi untuk perlengkapan, Um dapat diterapkan pada sistem sisi primer. Julat sisi primer tegangan sadapan karena itu terpotong pada U1maks dari Gambar 30a. Sadapan plus tertinggi malahan mengkombinasi dengan nilai yang dikurangi dari U20 (U6 seperti diindikasikan dalam Gambar 30d). Ini adalah prinsip variasi tegangan kombinasi (CbVV) (lihat juga Gambar 31) Gambar 30d

Gambar 30c

Gambar 30

Penentuan julat sadapan
62 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

8.4.4 Julat tegangan sadapan untuk belitan bersadapan Tegangan sadapan terendah yang diperlukan akan menjadi U1 min = nmin x U2r (lihat Gambar 30c). Tegangan sadapan tertinggi yang mungkin U1 maks = nmaks x U2r. Ini adalah kasus jika prinsip variasi tegangan fluksi konstan (CFVV) diikuti, tetapi tidak begitu diperlukan. Contoh pada Gambar 30c menunjukkan kasus bahwa CFVV akan mendahului tegangan sadapan maksimum yang sangat tidak realistis. Bahkan mungkin lebih tinggi dari pada tegangan tertinggi untuk perlengkapan Um yang diterapkan untuk sistem. (Secara teknik, tidak akan ada pembatasan dalam hal kejenuhan inti tetapi dari sudut pandang koordinasi insulasi tegangan lebih tidak diperbolehkan pada sistem). Rasio maksimum tidak dapat dikombinasikan dengan tegangan pengenal penuh pada belitan yang tak-bersadapan. Sadapan plus tertinggi hanya dapat digunakan dengan tegangan sekunder.yang berkurang Konsekwensinya tegangan sadapan tegangan sekunder jelas lebih rendah dari pada tegangan pengenal pada sadapan plus ekstrim, sedangkan tegangan sadapan primer dipertahankan konstan pada tingkat tegangan yang diterapkan maksimum (lihat Gambar 30d). Ini berarti bahwa transformator ditentukan sesuai dengan prinsip variasi tegangan kombinasi (CbVV) (lihat subayat 5.2 SNI 04-6954.1-2003). Titik perpindahan (lihat Gambar 31) disebut “sadapan tegangan maksimum”. Sadapan diluar titik itu mempunyai daya sadapan kurang. Tegangan belitan bersadapan maksimum terpotong dapat dinyatakan dengan rasio tegangan nu dalam hubungannya dengan tegangan pengenal belitan tak-bersadapan: Tegangan sadapan

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Sadapan minus Gambar 31 Contoh (lanjutan)

Sadapan plus

Variasi tegangan kombinasi CbVV)

Tegangan sadapan belitan primer terendah adalah 4,864 x 22 = 107 kV. Tegangan sadapan tertinggi menjadi 6,150 x 22 = 135,3 kV. Tetapi ini tidak diperbolehkan; kita harus memasukkan sadapan tegangan maksimum pada 123 kV.
CATATAN Tetapi dalam kasus tanpa-beban, tegangan yang tergantung pada julat sadapan yang lebih tinggi dari pada 123 kV diijinkan.

Rasio yang bersesuaian nu adalah 113/22 = 5,591. Pada tahap ini memungkinkan untuk menetapkan tegangan pengenal belitan primer ditengah julat rasio dari 4,864 sampai 6,150, misalnya 5,507. maka 5,507 x 22 = 121,15 kV.
63 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

8.4.5

Arus pengenal dan daya pengenal

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Sebelum melanjutkan, sebaiknya dicatat bahwa arus pengenal dan daya pengenal ditentukan sebagai nilai yang kontinu. Nilai yang kontinu daya pengenal digunakan sebagai acuan umum untuk impedans dan rugi-rugi (lihat subayat 4.1 dan 4.2 SNI 04-6954.1-2003). Nilai yang kontinu daya pengenal juga terkait dengan pembatasan kenaikan suhu dalam keadaan ajek. Pembebanan aktual pada sisi lain biasanya variabel sepanjang hari dan sepanjang tahun. Pembebanan sementara diluar daya pengenal adalah memungkinkan dan dapat mempengaruhi julat tegangan yang disyaratkan transformator. Masalah bagaimana mengkonversi beban variabel-waktu terhadap beban kontinu ekivalen dijelaskan dalam IEC 60354 untuk transformator terendam minyak dan dalam IEC 60905 untuk transformator jenis-kering. Daya beban kontinu yang disyaratkan menyatakan nilai spesifik arus beban. Nilai ini lebih tinggi bila tegangan pelayanan rendah dan transformator sebaiknya berdimensi yang sesuai. Nilai tertinggi yang terjadi pada belitan yang tak-bersadapan untuk setiap kasus pembebanan adalah arus pengenal dari belitan ini. (Dalam contoh, adalah belitan sekunder tegangan-rendah). Arus pengenal ini bersama-sama dengan tegangan pengenal, menentukan nilai daya pengenal, Sr. Nilai yang dihitung akan dibulatkan pada tahap ini. Contoh (lanjutan) Arus beban sekunder sejak awal ditentukan yaitu 1 000 A, tanpa memperhatikan tegangan pelayanan keluaran transformator. Arus beban ini langsung menjadi arus pengenal dari belitan sekunder (tak-bersadapan). Arus pengenal belitan bersadapan primer dihitung dengan rasio pada sadapan utama: 1 000 / 5,507 = 181,6 A. Tetapi arus ini bukan besarnya arus untuk belitan primer. Arus sadapan tertinggi terjadi pada tegangan sadapan minimum, dalam kombinasi dari 107/22kV:rasi o 4,864. Maka I1 maks = 1 000/4,864 = 205,6 A. 8.4.6 Sadapan arus maksimum opsional, sadapan daya kurang

Pada prinsipnya, daya pengenal akan diterapkan paling sedikit mencakup bagian julat sadapan yang diperhatikan. Pada belitan bersadapan, ini berarti bahwa arus sadapan berubah terbalik dengan tegangan sadapan. Jika sadapan diarahkan ke ujung teganganrendah dari julat sadapan, kadang-kadang ini akan menimbulkan nilai arus sadapan yang agak tinggi, yang menyebabkan ukuran lebih seluruh belitan yang tidak dikehendaki. Maka dapat diputuskan untuk memotong variasi pada titik tertentu, disebut sadapan arus maksimum. Dari sana, nilai arus sadapan dipertahankan konstan pada belitan sadapan dan nilai yang berkaitan untuk belitan tak- bersadapan akan berangsur-angsur berkurang. Maka sadapan ini mempunyai daya sadapan kurang (lihat Gambar 32). Rasio tegangan sadapan pada ttik ini adalah ni :

Sadapan di atas sadapan tegangan maksimum yang kerapatan fluksinya berkurang dalam pelayanan juga mengurangi sadapan daya.

64 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Contoh (lanjutan) Transformator ini ditentukan sesuai dengan pisnsip variasi tegangan kombinasi. Sadapan plus tertinggi mempunyai tegangan sadapan primer terpotong pada 123 kV, dan oleh karena itu tegangan sadapan sekunder akan turun untuk sadapan diatas titik perpindahan. Sadapan ini akan menjadi sadapan daya kurang, karena arus sadapan belitan bertahan konstan pada 1 000 A. Pilihan menggunakan sadapan arus maksimum pada julat sadapan minus (membatasi arus sadapan dari belitan primer) tidak digunakan pada contoh ini.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Faktor sadapan CATATAN 1 Subskrip A mengacu belitan bersadapan. Subskrip B mengacu belitan tak-bersadapan. 2 Titik perpindahan dari CFVV (fluksi konstan) ke VFVV (fluksi variable) diperlihatkan pada julat sadapan plus. Menyatakan sadapan tegangan maksimum UA konstan, tidak naik, untuk sadapan diatas titik perpindahan. 3 Tambahan, titik perubahan pilihan pada sadapan arus maksimum ditunjukkan pada julat sadapan minus (IA konstan, tidak naik, untuk sadapan dibawah sadapan arus maksimum).

Gambar 32

Gambaran variasi tegangan kombinasi (CbVV) dengan sadapan arus maksimum (pada julat minus)

8.4.7

Melengkapi tabel besaran sadapan, pemilihan sadapan utama

Pada tahap ini, rasio tegangan maksimum dan minimum telah diperoleh. Diantara ini ada dua rasio, yang ditempatkannya titik perpindahan tegangan sadapan dan arus sadapan pada belitan bersadapan. Diterapkan daya pengenal pada seluruh julat diantara titik-titik perpindahan Diluar julat ini, daya sadapan menurun berangsur-angsur kearah kedua ujungnya.
65 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Sadapan utama ditempatkan ditengah-tengah julat sadapan daya penuh, dan lebih disukai pada titik-tengah julat sadapan seluruhnya. Tegangan sadapan dan arus sadapan dari belitan bersadapan pada sadapan utama dengan cara demikian dinaikkan ke besaran pengenal untuk belitan bersadapan. Contoh (lanjutan) Spesifikasi sadapan utama dari belitan primer ditengah julat sadapan lengkap sudah dibuat pada rasio 5,507:121,15.kV. Rangka tabel sadapan sekarang sudah lengkap. Tabel itu tetap diatur dan dilengkapi untuk mencocokannya dengan angka yang standar dari langkah yang tersedia pada pengubah-sadapan untuk beberapa set standar dari persentase sadapan. Ringkasan tegangan dan arus pada transformator yang diatur CbVV ditunjukkan pada tabel 4. Tabel 4 Sadapan Plus Variasi tegangan kombinasi: besaran sadapan Rasio nmaks
.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Utama Minus

. .nu nr Ni . . nmin

Tegangan sadapan U1maks <U2r . . . . U1maks U2r U1r U2r <U1r U2r
. . . .

Arus sadapan <I1r
. .

I2r
. .

I1r I1r I1maks
. .

I2r I2r I2r
. .

U1min

U2r

I1maks

I2r

Contoh (lanjutan) Untuk transformator dalam contoh, hasil nilai pembulatan cocok untuk orde permintaan penawaran yaitu: - Daya: 38 MVA - Rasio tegangan: 121± 8 x 1,5 %/22 kV - Pengaturani: CbVV;tegangan maksimum 123 kV Parameter dari transformator aktual yang telah dipertimbangkan pada subayat ini dapat disusun kedalam tabel sebagaimana diperlihatkan pada tabel 5. Tabel ini juga menunjukkan kemungkinan hasil akhir sehingga transformator dapat ditentukan, yaitu perubahan yang dapat diabaikan pada tegangan sadapan utama dan penggunaan 16 langkah, 17 posisi pengubah sadapan. Tabel 5 Rasio/faktor Sadapan % 6,150/111,5 5,591/101,5 5,507/100 4,864/88,5 Tegangan kV HV LV 123 20 123 121,15 107 22 22 22 Parameter transformator Arus A HV 162,6 178,9 181,6 205,6
66 dari 76

Daya (MVA) 34,6 38,1 38,1 38,1

Catatan

LV 1 000 1 000 1 000 1 000

Sadapan tegangan maksimum Sadapan utama

SNI IEC 60076-8:2009

9

Penerapan konvertor dengan transformator standar

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Ayat 1 SNI 04-6954.1-2003 menyatakan bahwa transformator untuk konverter statik adalah khusus dan dikecualikan dari kategori transformator daya dimana SNI 04-6954.1-2003 dapat diterapkan penuh. Lihat IEC 61378-1. Ayat ini menunjukkan tindakan pencegahan yang sebaiknya dilakukan bila transformator tenaga berukuran sedang sesuai katalog standar pemakaian umum digunakan untuk pemakaian konvertor. Ada dua pertimbangan: - pengaruh tegangan terdistorsi; - pengaruh arus terdistorsi. 9.1 Pengaruh tegangan terdistorsi

Transformator yang menyulang sirkit konvertor dari sistem daya umum mempunyai tegangan terapan dengan distorsi yang dapat diabaikan (dengan memperhatikan pengaruh rugi inti dan pemanasan inti). Transformator dengan primernya yang dienerjais dari suatu sirkit invertor dapat mempunyai bentuk gelombang tegangan yang sangat kompleks, bervariasi dari waktu ke waktu. Merupakan suatu pernyataan umum, bentuk gelombang fluksi dalam inti, adalah fungsi integral dari tegangan terapan kurang terdistorsi dibandingkan bentuk gelombang tegangan. Parameter tegangan penting yang menentukan nilai amplitudo kerapatan fluksi adalah nilai rata-rata, bukan nilai tegangan efektif. Bentuk tegangan aktual sebaiknya disampaikan dengan permintaan penawaran untuk aplikasi semacam ini. Tetapi penurunan nilai pengenal tegangan transformator biasanya tidak diperlukan. Banyak sirkit invertor bekerja dengan frekuensi berbeda dari sistem suplai seperti itu, bahkan kadang-kadang dengan frekwensi variabel. Sebaiknya tentu saja hal ini disebutkan dalam permintaan penawaran. Masalah khusus dapat berupa asimetri bentuk gelombang terapan dari inverter karena ketidaksempurnaan kontrol penyalaan. Hal ini dapat mengarah pada kejenuhan karena komponen as. 9.2 Pengaruh arus terdistorsi, umum Bentuk gelombang arus terdistorsi akan memberikan kenaikan sampai menaikkan rugi tambahan pada transformator karena rugi arus pusar pada belitan dan rugi-rugi sesar pada bagian mekanik logam, kedua macam rugi terkait dengan kwadrat waktu penurunan fluksi bocor, dan sebaliknya fluksi bocor adalah sebanding dengan arus belitan. Efek lain dari arus terdistorsi adalah tingkat bising yang lebih tinggi dari transformator yang banyak mengandung bunyi dengan frekwensi yang lebih tinggi. Kenaikan rugi tambahan menyebabkan kenaikan suhu rata-rata yang lebih tinggi. Hal ini tidak disukai, juga ada risiko kerusakan karena kenaikan yang lebih nyata dari suhu titik panas. Hal ini dibahas pada subayat berikut. 9.3 Rugi-rugi arus pusar pada belitan

Perhitungan rugi-rugi arus pusar dalam belitan biasanya dilakukan dengan bantuan spektrum harmonik yang sebaiknya lebih disukai disampaikan dalam permintaan penawaran.

67 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Untuk belitan yang dibuat dengan konduktor bulat atau persegi, rugi-rugi arus pusar spesifik dari harmonik naik sebesar kwadrat frekuensi. Kontribusi dari harmonik ke j, mempunyai nilai efektif Ij ampere, maka dapat ditulis: Pej = konstanta x jxI j

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

(

)

2

Maka rugi total arus pusar Pe pada belitan dari seluruh spektrum arus dapat dinyatakan sebagai perkalian dari rugi arus pusar untuk frekuensi daya fundamental Pe1 yang dapat diperoleh dengan perhitungan konvensional. Nilai khas dari Pe / Pe1 dalam julat 2 sampai 3, bila beban konvertor dengan arus as yang relatif halus. Sirkit converter fase-tiga pada prinsipnya hanya berisi harmonik tertentu. Harmonik yang lebih tinggi berkurang karena pembulatan bentuk gelombang ideal melalui reaktans komutasi. Untuk informasi selanjutnya, lihat pustaka tentang sirkit konverter. Teori dan estimasi yang diberikan di atas hanya terkait dengan belitan yang konduktornya bulat atau persegi. Belitan transformator dari lembaran lebar penuh memberikan konsentrasi arus kearah ujung belitan lembaran dan oleh karena itu teori tersebut lebih rumit Jika transformator demikian akan diterapkan untuk pembebanan konverter, pabrikan sebaiknya diminta untuk menegaskan bahwa desain itu sesuai. 9.4 Rugi sesar pada bagian mekanik

Rugi-rugi ini lebih sukar untuk memperkirakan dari pada rugi-rugi arus pusar belitan. Rugirugi itu terjadi pada bahan feromagnetik (inti-besi atau baja stuktur), dan penetrasinya adalah gejala tak-linier yang tidak memberi kemungkinan untuk menganalisa superposisi sebagaimana mestinya. Rugi sesar dalam bagian mekanik adalah penting pada transformator konverter besar dan khusus, tetapi biasanya jangan memegang peranan besar bila transformator konvensional yang kecil digunakan untuk beban konverter. 9.5 Rugi tambahan kombinasi, kemungkinan penurunan daya pengenal Rugi tambahan kombinasi (rugi arus pusar dalam belitan plus rugi sesar dalam bagian mekanik) pada arus pengenal sinusoidal dapat ditentukan setelah uji hubung-singkat rutin dengan pengukuran rugi pada beberapa frekuensi. Prosedur ini akan mengidentifikasi bahwa porsi rugi yang tergantung pada kwadrat frekuensi dan yang porsi ruginya tergantung pada frekuensi daya di atas satu p.u. Perbandingan antara kedua hal tersebut tergantung pada desain. Rugi tambahan kombinasi yang diharapkan untuk bentuk gelombang converter dapat khas dalam julat 1,5 sampai 2 kali rugi yang berkaitan yang ditentukan dengan arus sinusoidal selama uji rutin transformator. Dari titik pandang kenaikan suhu rata-rata , dapat disarankan untuk membatasi arus kontinu yang diperbolehkan dalam pelayanan sedikit dibawah arus pengenal, sehingga rugi total, I2R plus rugi tambahan, tetap tidak lebih tinggi pada beban konvertor dari pada dengan arus sinusoidal pengenal. 9.6 Titik panas lokal

Intensitas rugi arus pusar bervariasi dari titik ke titik dalam belitan, tergantung pada intensitas lokal dan arah medan sesar magnetik. Intensitas dalam bagian yang dekat dengan saluran utama antara belitan primer dan sekunder, secara khas adalah tiga kali tinggi nilai rata-rata. Intensitasnya yang lebih tinggi masih dapat berlaku secara lokal.

68 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Kenaikan suhu rata-rata belitan transformator diatas media pendingin sekitar rata-rata (minyak atau udara) mempunyai pengaruh langsung pada umur sistem insulasinya. Perbedaan suhu ini (gradien belitan) proporsional dengan belitan (rugi-rugi)0,8 pada transformator berpendingin sendiri yang khas. Perbedaan suhu ini dapat diketahui yang mungkin bahwa suhu titik-panas lokal sebesar 15 0C dan 30 0C lebih panas dari pada suhu belitan rata-rata pada transformator berisi minyak dan jenis kering masing-masing pada kondisi pembebanan sinusoidal pengenal. Gradien belitan rata-rata biasanya diukur pada kondisi pembebanan sinusoidal. Rugi-rugi arus pusar dan sesar pada transformator dapat naik secara berarti ketika mensuplai beban harmonik pada pemakaian converter. Kenaikan rugi-rugi ini dapat menaikkan suhu titik panas lokal dan oleh karena itu mengurangi umur transformator secara cepat. Penting bahwa kandungan harmonik yang diharapkan dari beban konverter diberikan ketika menspesifikasikan suatu transformator untuk penerapan ini. 10 10.1 Pedoman pengukuran rugi-rugi pada transformator tenaga Hasil uji, jaminan, toleransi, batas ketidakpastian

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Ayat pengujian dalam berbagai bagian SNI 04-6954 berisi aturan seperti bagaimana pengukuran yang asli harus dinilai dan dikoreksi bila pengujian sudah dilakukan pada kondisi yang berbeda dengan kondisi acuan atau dengan besaran uji yang berbeda dengan nilai target yang ditentukan. Ayat 9 dari SNI 04-6954.1-2003 menjelaskan toleransi, penyimpangan parameter transformator dengan jaminan tertentu yang dapat diverifikasi dalam pengujian. Bila hasil pengujian dinyatakan sebagai besaran numerik (dan tidak hanya bertahan pada prosedur pengujian, atau bukan). Hasil ini bukan angka yang pasti tetapi mengandung ketidakpastian. Berapa lebar margin ketidakpastian ini tergantung pada mutu instalasi pengujian, terutama sistem pengukurannya, pada keahlian staf dan pada kesulitan pengukuran yang diberikan oleh benda uji. Hasil pengujian yang disampaikan harus berisi estimasi yang sangat benar berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan. Nilai hasil uji harus diterima sebagai mana apa adanya. Batas ketidakpastian harus tidak terlibat dalam pertimbangan kesesuaian untuk menjamin dengan tanpa toleransi positif atau julat toleransi untuk data kinerja benda uji. Tetapi kondisi untuk keberterimaan dari seluruh pengujian adalah bahwa pengukurannya sendiri harus memenuhi persyaratan mutu tertentu. Pernyataan batas atau ketidakpastian harus ada dan pernyataan ini harus didukung oleh mampu telusur yang terdokumentasi (lihat ISO 9001). 10.2 Mamputelusur, aspek mutu pada teknik pengukuran

Mamputelusur dari pengukuran berarti bahwa suatu rantai kalibrasi dan perbandingan telah dilakukan, yang melalui validitas pengukuran secara individu dapat ditelusuri kembali ke standar unit nasional dan internasional yang terpelihara pada institusi metrologi yang diakui. Bukti dari mampu telusur demikian. sebaiknya berisi item berikut.

69 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

a) Informasi bersertifikat tentang kesalahan (kesalahan amplitudo dan kesalahan sudut fase) dari komponen sistem pengukuran (transduser untuk tegangan, arus dan daya, pembagi tegangan dan shunt, instrumen penunjuk atau perekam, dsb.) Informasi ini dapat terdiri dari: sertifikat dari pabrikan komponen individu; sertifikasi dari kalibrasi yang dilakukan pada laboratorium presisi yang in dependen; sertifikat kalibrasi yang dibuat di pabrik dengan alat instrumentasi presisi dan staf khusus yang bekerja disana untuk tujuan itu; - perbandingan langsung dari instalasi ruang uji dengan sistem pengukuran presisi yang lengkap (seluruh sistem kalibrasi). Subayat 10.3 dan subayat 10.4 di bawah menunjukkan kepentingan khusus dari kesalahan sudut fase untuk pengukuran rugi beban karena faktor daya yang sangat rendah dari transformator hubung-pendek. Kesalahan konvensional sudut fase, transformator tegangan dan arus yang dapat dihubungkan kembali tergantung pada beban impedans instrumen kombinasi dan bervariasi dengan tegangan aktual atau nilai arus yang melalui setiap julat pengukuran. Hal ini membuat kesulitan untuk menyortir kesalahan sistimatik yang tidak diketahui (untuk yang dapat dikoreksi) dari kesalahan sistimatik dan acak yang tidak diketahui yang tidak dapat dieliminasi dalam kasus khusus. b) Informasi tentang mutu sumber daya pengujian: berisi harmonik tegangan, stabilitas tegangan dan frekuensi. Ayat pengujian pada SNI 04-6954.1-2003 berisi pembatasan pada bentuk gelombang tegangan secara umum dan terutama untuk pengujian transformator tanpa-beban. Persyaratan ini mengarah pada persyaratan yang berkonsekwensi pada suplai uji, impedans internal dan hubungannya. Ini harus diketahui dan dihitung. Jika supervisi langsung bentuk gelombang selama uji individu tidak dilakukan, informasi sistematik dari studi khusus sebaiknya tersedia. c) Informasi tentang lingkungan pengujian dalam hal gangguan kelistrikan (medan elektromagnetik, pembumian, perlindungan). Informasi tersebut berdasarkan investigasi yang mencari sisa bising acak dan sinyal yang salah yang masuk ke sistem pengukuran melalui sesar kapasitans atau induksi magnetik atau jatuh tegangan di pelindung dan selubung kabel yang mungkin membawa arus pembumian yang bersirkulasi.Investigasi ini secara khas termasuk melakukan pengujian dummy dengan daya pengujian actual tetapi sinyal masuknya dibuka atau dihubung-pendek untuk mengukur sistem memindahkan atau membalikkan komponen dan menerapkan tambahan pelindung atau pembumian dengan cara yang pintar dan sistematik. d) Analisis kesalahan sistimatik dan ketidakpastian pengukuran untuk jenis uji khusus dalam pertimbangan, berdasarkan item a) sampai c) di atas. Analisis ini sebaiknya berisi prosedur analitik rasional, dengan memperhitungkan interaksi dan kombinasi sumber yang berbeda dari kesalahan sistematik dan ketidakpastian acak. Analisis sebaiknya memisahkan antara ketidakpastian acak dan kesalahan sistematik, dan membuat pernyataan bagaimana kesalahan individu yang berbeda dikombinasikan, kombinasi silang dari efek berbeda (akar dari jumlah kuadrat – RSS), atau tambahan linier (kemungkinan kesalahan maksimum). Analisis sebaiknya memberikan rincian berikut:
70 dari 76

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

SNI IEC 60076-8:2009

- julat kemampuan pengukuran sistem pengujian; - penyetelan instrumen yang digunakan untuk pengukuran; - contoh evaluasi data uji dengan prosedur koreksi yang digunakan berkaitan dengan penyetelan instrumen. e) Bagian pengujian harus memiliki rutinitas untuk memelihara mutu pengukuran secara terus menerus. Rutinitas ini sebaiknya dengan pengecekan dan kalibrasi rutin yang teratur untuk komponen dan untuk sistem selengkapnya. Pengekan dan kalibrasi rutin keduanya dapat terdiri dari perbandingan fungsi di dalam antara sistem alternatif, pengecekan stabilitas dan kalibrasi ulang komponen secara periodik seperti yang dijelaskan di atas pada item a). 10.3 Sumber kesalahan fundamental pada pengukuran rugi beban transformator tenaga

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Metoda untuk menentukan rugi beban diuraikan pada subayat 10.4 SNI 04-6954.1-2003 sebagai berikut. “Impedans hubung-pendek dan rugi beban untuk sepasang belitan harus diukur pada frekuensi pengenal dengan mendekati tegangan sinusoidal diterapkan pada terminal salah satu belitan, dengan terminal dari belitan lainnya dihubung-pendek, dan dengan kemungkinan belitan lainnya sirkit-terbuka”. Rugi beban dinyatakan sebagai bagian resistif dari impedans seri dari sirkit ekivalen transformator Impedans seri dianggap linier. Ini berarti bahwa rugi beban diperkirakan bervariasi dengan kuadrat arus. Pengukuran arus uji adalah kontribusi sumber kesalahan untuk penentuan rugi. Variasi rugi beban dengan suhu juga dipertimbangkan. Lampiran E dari SNI 04-6954.1-2003 menentukan bagaimana rugi-rugi I2R dan rugi-rugi tambahan harus ditentukan bila rugi-rugi beban dihitung ulang untuk suhu acuan belitan. Oleh karena itu kesalahan dalam menentukan pengukuran resistans dan asesmen suhu belitan selama pengukuran rugi menyumbang kesalahan nilai rugi yang dievaluasi, berlaku pada suhu acuan. Peringatan diberikan pada subayat 10.4 SNI 04-6954.1-2003. Impedans seri transformator utamanya adalah induktif. Faktor daya impedans cenderung turun terhadap kenaikan nilai daya pengenal. Contoh khas: a) transformator 1 000 kVA: rugi beban 1 % dari daya pengenal, impedans hubungpendek 6 % dari impedans acuan – faktor daya dari impedans seri, konsekwensinya, 0,167; b) Transformator 100 MVA: rugi beban 0,4 %, impedans hubung-pendek 15 % - faktor daya 0,027. Selama pengujian, tegangan, arus, dan daya aktif diukur menggunakan sistem pengukuran yang berisi transduser untuk menyesuaikan nilai tegangan dan arus yang tinggi untuk instrumen pengukuran. Sistem konvensional termasuk transformator pengukuran jenis induksi untuk tegangan dan arus untuk menyulang instrumen penunjuk jenis elektromekanik. Sistem pengukuran dari desain yang lebih baru memakai transformator arus fluksi-nol atau khusus dua tingkat, kapasitor pembagi tegangan, penguat bloking, wattmeter elektronik digital multiplier, dsb. Jenis sistem pengukuran yang berbeda menimbulkan karakteristik yang berbeda dengan memperhatikan kesalahan pengukuran, tetapi beberapa pengamatan pada prinsipnya secara umum berlaku. Rugi yang diukur menurut definisi, P = U x I x cosФ.
71 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Gabungan kesalahan relatif diperoleh dengan mengambil logaritma natural dari kedua suku dan kemudian mendiferensiasikannya:

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Sudut fase antara fasor tegangan U dan arus I adalah mendekati π/2 (90◦ induktif). Faktor daya cosφ nilainya kecil. Kita tulis kembali koefisiennya di depan ∂φ

Gambar 33a

Diagram fasor menunjukkan kesalahan pengukuran

Gambar 33b Kesalahan relatif sebagai fungsi dari faktor daya

Gambar 33

Kesalahan pengukuran relatif

Angka ini jauh lebih besar dari satu p.u, yang menunjukkan bahwa kesalahan relatif tertentu dalam pengestimasian sudut fase (dalam radian) menghasilkan kesalahan relatif yang sangat besar dalam mengestimasi rugi, sementara kesalahan relatif pada amplitudo tegangan dan arus berkontribusi tanpa penambahan. Gambar 33a mencoba untuk mengGambarkan hal ini. Oleh karena itu selubung dari ketidakpastian estimasi rugi sebagai fungsi dari faktor daya impedans transformator akan mempunyai bentuk umum seperti yang ditunjukkan pada Gambar 33b. Oleh karena itu masalah pokok untuk pengukuran rugi-rugi beban pada transformator tenaga adalah bagaimana untuk mengurangi, atau mengoreksi menggeser fase dalam sistem pengukuran lengkap atau dalam komponen individunya. 10.4 Kesalahan sudut fase dari sistem pengukuran rugi konvensional, kemungkinan koreksi Sistem pengukuran konvensional terdiri dari transformator tegangan dan arus jenis magnetik dan wattmeter elektrodinamik. Transformator pengukuran mempunyai kesalahan sudut fase masing-masing δu dan δi, dinyatakan dalam radian. Induktans kumparan wattmeter menimbulkan tertinggalnya fase antara tegangan terapan dari transformator tenaga dan arus dalam kumparan tegangan dari instrumen. Nilai hitung dari pergeseran fase yang kecil ini (dalam radian) adalah ωL/R, dengan L adalah induktans dari kumparan tegangan dan R adalah resistans seri total dalam
72 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

instrumen dan mungkin dalam kotak resistor eksternal. Pergeseran fase wattmeter ini ditunjukkan dengan δω. Jika sudut fase asli antara tegangan dan arus dalam benda uji adalah φ, sudut fase aktual dalam wattmeter akan menjadi φ ’ = φ + δu - δi - δω = φ + δφ Jika kesalahan sudut fase total, δφ adalah positif, maka faktor daya yang diestimasi, cos φ ’, adalah lebih rendah dari pada nilai sebenarnya, cos φ. Koreksi dari rugi yang diukur akan mempunyai tanda positif:

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Secara konvensional, kesalahan sudut fase dinyatakan dalam perkalian dari derajat listrik:

Contoh: Suatu transformator mempunyai cosφ = 0,03. Maka kesalahan sudut fase total menghasilkan kesalahan relatif dari rugi yang diukur mendekati 3%:

Kesalahan sudut fase yang disebabkan oleh transformator tegangan dan arus, dalam praktek sulit diases secara benar. Sertifikat kalibrasi biasanya diberikan dengan transformator pengukuran jenis laboratorium yang baik tetapi sertifikat itu tidak dapat mencakup parameter sirkit (julat pengukuran, nilai dalam julat, beban instrument). Derajat ketelitian konvensional yang diserahkkan yang dalam sertikat kalibrasi biasanya juga relatif terbatas. Koreksi yang tersedia untuk kesalahan sistematik yang diketahui dterapkan. Tetapi masih ada kesalahan sistimatik yang tidak diketahui yang tidak dapat dikoreksi. Kesulitan lainnya muncul dari kenyataan bahwa bila instrumen jenis analog digunakan, defleksi wattmeter akan sering muncul hanya dalam pecahan skala yang kecil, meskipun digunakan instrumen faktor daya rendah yang khusus. Oleh karena itu ketidakpastian pembacaan acak relatif sedemikian besar sehingga kesalahan sistematik yang diketahui yang dapat dialihkan kecil. Validitas dari nilai yang dikoreksi (dengan kesalahan sistematik yang diketahui dihilangkan) maka tidak akan lebih lebih baik dari pada pembacaan yang tidak dikoreksi. Semua ini diambil bersama berarti bila sistem pengukuran konvensional dari jenis yang dijelaskan dan sudah digunakan untuk pengujian, sistem pengukuran itu sangat sulit untuk menyatakan koreksi yang andal yang akan memberikan hasil sampai dengan derajat ketelitian yang lebih tinggi. Pengukuran tidak dapat siap ditelusur balik ke standar kecuali kalau kalibrasi langsung akan dilakukan dengan penyetelan spesifik dari sistem pengukuran lengkap yang telah digunakan untuk pengujian spesifik. Sebaliknya, estimasi dari ketidakpastian yang mungkin sebaiknya dilakukan sangat konservatif, berdasarkan batas menyeluruh untuk komponen individu dari system dan ketidakpastian pengamatan dari pembacaan instrumen. 10.5 Sistem pengukuran lanjut

Sistem pengukuran lanjut yang dipahami adalah sistem berisi dua tahap atau transduser dua tahap atau fluksi-nol, biasanya sirkit pembagi tegangan jenis kapasitor, amplifier bloking
73 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

elektronik dan sirkit kompensasi kesalahan yang dapat diatur, transduser daya elektronik digital. Sistem pengukuran lanjut adalah karakteristik dari suatu sistem demikian yang komponen individu sebaiknya diatur dan dikalibrasi terhadap standar berketelitian tinggi sehingga kesalahan sistematik akan dapat diabaikan dibandingkan dengan julat ketidakpastian acak yang ada. Pembebanan instrumen dieliminasi sebagai sumber kesalahan karena keluaran amplifier. Kesalahan sudut fase yang dihasilkan untuk sistem yang lengkap adalah dari orde 100 μ rad sampai 200 μ rad (0,3 menit sampai 0,6 menit). dengan sistem demikian, kesalahan maksimum seluruhnya sebesar ± 3 % dapat dicapai untuk penentuan rugi yang turun sampai faktor daya 0,02 atau bahkan lebih rendah. Perhitungan ketidakpastian yang menyeluruh yang dilakukan adalah berlaku baik untuk seluruh julat data benda uji atau untuk penyetelan komponen julat individu. Kalibrasi dijaga dengan pengecekan teratur misalnya terhadap sistem portabel lain yang digunakan hanya untuk tujuan ini . Tingkat daya sinyal rendah yang timbul di dalam sistem pengukuran lanjut membuatnya sangat penting sehingga sistem pengukuran dicek sangat teliti terhadap gangguan medan elektromagnetik dsb. Pada saat pemasangan (lihat subayat 10.2c). 10.6 Pengukuran rugi tanpa-beban Pengukuran rugi tanpa-beban berbeda dari pengukuran rugi beban untuk transformator yang sama dengan faktor daya yang dipertimbangkan lebih tinggi, dan yang arus ujinya terdistorsi berat. Pada prinsipnya rugi tanpa beban, mengacu pada tegangan sinusoidal yang tidak terganggu pada terminal transformator. Subayat 10.5 dari SNI 04-6954.1-2003 memberikan kriteria untuk bentuk gelombang yang memuaskan berdasarkan pada perbandingan antar pembacaan dua voltmeter, yang masing-masing merasakan nilai rata-rata dan nilai efektif. Persyaratan ini menyatakan secara tidak langsung tidak hanya pada bentuk gelombang tanpa beban dari suplai pengujian tetapi juga pada impedans internalnya karena kesulitan bentuk gelombang arus dan pada hubungannya. Arus dan daya tanpa beban naik secara cepat terhadap tegangan yang diterapkan. Oleh karena itu pengukuran dan pengaturan tegangan adalah kritis dan mengkontribusi secara mutlak terhadap ketidakpastian penentuan rugi. Selanjutnya ditentukan dalam SNI 04-6954.1-2003 bahwa hubungan transformtor fase-tiga harus dilakukan dengan cara demikian sehingga tegangan yang diterapkan melaui fase belitan yang berbeda adalah sedekat mungkin sinusoidal. Kasus yang sangat sulit, dengan memperhatikan kedua persyaratan daya pengujian (distorsi bentuk gelombang tegangan) dan pengukuran daya, biasanya naik ketika menguji transformator fase tunggal ukuran besar. Akhirnya, rugi tanpa-beban yang diukur adalah sensitif terhadap riwayat magnetisasi sebelumnya. Remanensi pada inti setelah kejenuhan selama pengukuran resistans belitan dengan as, atau dengan impuls waktu-panjang tak-berarah, dapat meninggalkan jejak pada hasil. Demagnetisasi sistematik dari inti sebelum pengukuran tanpa-beban kadang-kadang dilakukan untuk menentukan hasil yang tepa
74 dari 76

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

SNI IEC 60076-8:2009

Lampiran A (informatif) Hubungan dasar untuk gangguan bumi satu-fase dan dua-fase Sebelum gangguan, terdapat tegangan pelayanan sistem simetris U = U+ U- = U0 = 0

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Bila gangguan terjadi, komponen tegangan menjadi V+ , V- , V0 . Impedans hubung-pendek seluruh sistem, ditinjau dari gangguan, adalah Z+ , Z- , Z0 . Komponen arus gangguan yang disuperposisi adalah I+ , I- , I0 . Hubungan berikut dipakai:

Menurut definisi, tegangan dan arus fase adalah

Kasus 1 – Gangguan bumi fase-tunggal pada fase A

Kombinasikan persamaan (A.5) dan (A.6) dengan jumlah persamaan (A.1):

75 dari 76

SNI IEC 60076-8:2009

Kasus 2 – gangguan bumi pada fase B dan C

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Sesuai dengan persamaan (A.1)

dan

-----------------------------

76 dari 76

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN
Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270 Telp: 021- 574 7043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.or.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->