BAB I PENDAHULUAN Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar

kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik1 Berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu abortus imminens (threatened abortion), abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed abortion, dan abortus habitualis (recurrent abortion), abortus servikalis, abortus infeksiosus, dan abortus septik.1,2 Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Reproduksi manusia relatif tidak efisien, dan abortus adalah komplikasi tersering pada kehamilan, dengan kejadian keseluruhan sekitar 15% dari kehamilan yang ditemukan.2,4 Namun angka kejadian abortus sangat tergantung kepada riwayat obstetri terdahulu, dimana kejadiannya lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya mengalami keguguran daripada pada wanita yang hamil dan berakhir dengan kelahiran hidup.4 Prevalensi abortus juga meningkat dengan bertambahnya usia, dimana pada wanita berusia 20 tahun adalah 12%, dan pada wanita diatas 45 tahun adalah 50%.4 Delapan puluh persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan.2 Penelitian-penelitian terdahulu menyebutkan bahwa angka kejadian abortus sangat tinggi. Sebuah penelitian pada tahun 1993 memperkirakan total kejadian abortus di Indonesia berkisar antara 750.000. dan dapat mencapai 1 juta

1

per tahun dengan rasio 18 abortus per 100 konsepsi. Angka tersebut mencakup abortus spontan maupun buatan. Abortus inkomplit sendiri merupakan salah satu bentuk klinis dari abortus spontan maupun sebagai komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis. Insiden abortus inkompit sendiri belum diketahui secara pasti namun yang penting diketahui adalah sekitar 60 % dari wanita hamil yang mengalami abortus inkomplit memerlukan perawatan rumah sakit akibat perdarahan yang terjadi2,3,4. Abortus inkomplit memiliki komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu karena adanya perdarahan masif yang bisa menimbulkan kematian akibat adanya syok hipovolemik apabila keadaan ini tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Seorang ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit dapat mengalami guncangan psikis. tidak hanya pada ibu namun juga pada keluarganya, terutama pada keluarga yang sangat menginginkan anak. Mengenal lebih dekat tentang abortus inkomplit menjadi penting bagi para pelayan kesehatan agar mampu menegakkan diagnosis kemudian memberikan penatalaksanaan yang sesuai dan akurat, serta mencegah komplikasi.

2

Anomali kromosom menyebabkan sekurang-kurangnya separuh dari abortus pada trimester pertama. kemudian menurun menjadi 20-30% pada trimester kedua dan 5-10 % pada trimester ketiga5.2 Epidemiologi Insiden abortus inkomplit belum diketahui secara pasti. abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dan masih ada sisa yang tertinggal di dalam uterus1. Menurut WHO. namun demikian disebutkan sekitar 60 persen dari wanita hamil dirawat dirumah sakit dengan perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit. kenaikannya adalah dari 12% menjadi 20%. abortus didefinisikan sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan atau berat janin kurang dari 500 gram. Inisiden abortus spontan secara umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan. disertai atau tanpa pengeluaran hasil konsepsi. Sedangkan. kegagalan untuk menyertakan abortus dini yang tidak diketahui. dan pengikutsertaan abortus yang ditimbulkan secara ilegal serta dinyatakan sebagai abortus spontan5. 2. Angka-angka tersebut berasal dari data-data dengan sekurang-kurangnya ada dua hal yang selalu berubah.1 Definisi Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum viabel. Resiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu serta ayah. Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan angka tersebut kemudian menurun secara cepat pada umur kehamilan selanjutnya.6. Frekuensi abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12% pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun. menjadi 26% pada wanita yang berumur di atas 40 tahun. Insiden abortus bertambah pada kehamilan yang belum melebihi umur 3 bulan5. Untuk usia paternal yang sama. 3 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

dan kadang-kadang mungkin juga disebabkan oleh penyakit dari ayahnya5. 2.1 Perkembangan Zigot yang Abnormal Abnormalitas kromosom merupakan penyebab dari abortus spontan. Chlamydia trachomatis.3.2 Faktor Maternal Biasanya penyakit maternal berkaitan dengan abortus euploidi. kemudian diikuti oleh poliploidi (21 %) dan monosomi X (13%)7'8 . Infeksi Organisme seperti Treponema pallidum. Pada beberapa bulan pertama kehamilan. Streptococcus agalactina. Neisseria gonorhoeae. Trisomi autosomal merupakan anomali yang paling sering ditemukan (52%).2. kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam peristiwa abortus euploidi5. a. Kematian janin sering disebabkan oleh abnormalitas pada ovum atau zigot atau oleh penyakit sistemik pada ibu. Toxoplasma juga disebutkan dapat menyebabkan 4 . sering janin sebelum ekspulsi masih hidup dalam uterus. pada sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi. namun pada kehamilan beberapa bulan berikutnya.3. Peristiwa abortus tersebut mencapai puncaknya pada kehamilan 13 minggu. ekspulsi hasil konsepsi yang terjadi secara spontan hampir selalu didahului kematian embrio atau janin. 2.3 Etiologi Mekanisme pasti yang bertanggungjawab atas peristiwa abortus tidak selalu tampak jelas. virus herpes simplek. cytomegalovirus Listeria monocytogenes dicurigai berperan sebagai penyebab abortus. dan karena saat terjadinya abortus lebih belakangan. Sebuah penelitian meta-analisis menemukan kasus abnormalitas kromosom sekitar 49% dari abortus spontan. Sejumlah penyakit.

tetapi kejadian ini tidak ditemukan oleh peneliti lainnya5. Penyakit-Penyakit Kronis yang Melemahkan Pada awal kehamilan. Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua. Hipertensi jarang disertai dengan abortus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Pengaruh Endokrin Kenaikan insiden abortus bisa disebabkan oleh hipertiroidisme. b. Diabetes maternal pernah ditemukan oleh sebagian peneliti sebagai faktor predisposisi abortus spontan. Dari kedua organisme tersebut. hanya malnutrisi umum sangat berat yang paling besar kemungkinanya menjadi predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus. penyakit-penyakit kronis yang melemahkan keadaan ibu misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis jarang menyebabkan abortus5'9. tetapi keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin dan persalinan prematur5'9. defisiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan dengan demikian turut berperan dalam peristiwa kematiannya5. jarang diikuti dengan abortus spontan. diabetes mellitus.abortus. Nutrisi Pada saat ini. c. Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut dari korpus luteum atau plasenta mempunyai hubungan dengan kenaikan insiden abortus. Diabetes tidak menyebabkan abortus jika kadar gula dapat dikendalikan dengan baik. Ureaplasma Urealyticum merupakan penyebab utama5. Sebagaian besar mikronutrien pernah dilaporkan sebagai unsur yang penting untuk mengurangi abortus 5 . Nausea serta vomitus yang lebih sering ditemukan selama awal kehamilan dan setiap deplesi nutrient yang ditimbulkan. dan defisiensi progesteron5'9. d. Isolasi Mycoplasma hominis dan Ureaplasma urealyticum dari traktus genetalia sebagaian wanita yang mengalami abortus telah menghasilkan hipotesis yang menyatakan bahwa infeksi mikoplasma yang menyangkut traktus genetalia dapat menyebabkan abortus.

Jika abortus disebabkan khususnya oleh 6 . e.spontan. abortus serta destruksi plasenta. Namun ternyata tidak semua laporan ini mudah dikonfirmasikan. Insiden abortus meningkat terhadap kehamilan yang berhasil bila inseminasi terjadi empat hari sebelum atau tiga hari sesudah peralihan temperatur basal tubuh. Meskipun demikian. Gamet yang Menua Baik umur sperma maupun ovum dapat mempengaruhi angka insiden abortus spontan. trombosis. Pada umumnya. Obat-Obatan dan Toksin Lingkungan Berbagai macam zat dilaporkan berhubungan dengan kenaikan insiden abortus. Beberapa percobaan binatang juga selaras dengan hasil observasi tersebut5.7. f. Laparotomi Trauma akibat laparotomi kadang-kadang dapat mencetuskan terjadinya abortus. i. karena itu disimpulkan bahwa gamet yang bertambah tua di dalam traktus genitalis wanita sebelum fertilisasi dapat menaikkan kemungkinan terjadinya abortus. Faktor-faktor Imunologis Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat menyebabkan abortus spontan yang berulang antara lain : antikoagulan lupus (LAC) dan antibodi anti cardiolipin (ACA) yang mengakibatkan destruksi vaskuler. g. h. Peritonitis dapat menambah besar kemungkinan abortus. sering kali kista ovarii dan mioma bertangkai dapat diangkat pada waktu kehamilan apabila mengganggu gestasi. Trauma Fisik dan Trauma Emosional Kebanyakan abortus spontan terjadi beberapa saat setelah kematian embrio atau kematian janin. semakin dekat tempat pembedahan tersebut dengan organ panggul. semakin besar kemungkinan terjadinya abortus.

tapi bukan mioma intramural atau subserosa.7. Miomektomi sering mengakibatkan jaringan parut uterus yang dapat mengalami ruptur pada kehamilan berikutnya. Keadaan tersebut disebabkan oleh destruksi endometrium yang sangat luas. Ekspulsi jaringan konsepsi terjadi setelah 7 . Selanjutnya keadaan ini mengakibatkan amenore dan abortus habitualis yang diyakini terjadi akibat endometrium yang kurang memadai untuk mendukung implatansi hasil pembuahan. kemungkinan kecelakaan tersebut bukan peristiwa yang baru terjadi tetapi lebih merupakan kejadian yang terjadi beberapa minggu sebelum abortus. Perlekatan intrauteri (sinekia atau sindrom Ashennan) paling sering terjadi akibat tindakan kuretase pada abortus yang terinfeksi atau pada missed abortus atau mungkin pula akibat komplikasi postpartum. sebelum atau selama persalinan. Namun demikian.9.defek duktus mulleri yang dapat terjadi secara spontan atau yang ditimbulkan oleh pemberian dietilstilbestrol (DES)5.trauma. Leiomioma uterus yang besar dan majemuk sekalipun tidak selalu disertai dengan abortus.7. k. Kelainan Uterus Kelainan uterus dapat dibagi menjadi kelainan akuisita dan kelainan yang timbul dalam proses perkembangan janin. tidak ada dasar yang mendukung konsep abortus dipengaruhi oleh rasa ketakutan marah ataupun cemas5. Mioma submokosa. Inkompetensi serviks Kejadian abortus pada uterus dengan serviks yang inkompeten biasanya terjadi pada trimester kedua. lebih besar kemungkinannya untuk menyebabkan abortus. Abortus yang disebabkan oleh trauma emosional bersifat spekulatif. leiomioma dapat dianggap sebagai faktor kausatif hanya bila hasil pemeriksaan klinis lainnya ternyata negatif dan histerogram menunjukkan adanya defek pengisian dalam kavum endometrium. bahkan lokasi leiomioma tampaknya lebih penting daripada ukurannya. j. Cacat uterus akuisita yang berkaitan dengan abortus adalah leiomioma dan perlekatan intrauteri.

bahkan sampai ke punggung. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialies belum menembus desidua secara mendalam. Bila plasenta.5.5. 2.3 Faktor Paternal Hanya sedikit yang diketahui tentang peranan faktor paternal dalam proses timbulnya abortus spontan. Hasil konsepsi yang terlepas menjadi benda asing terhadap uterus sehingga akan dikeluarkan langsung atau bertahan beberapa waktu. seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal dalam uterus. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin. Gambaran Klinis Gejala umum yang merupakan keluhan utama berupa perdarahan pervaginam derajat sedang sampai berat disertai dengan kram pada perut bagian bawah. disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk.membran plasenta mengalami ruptur pada prolaps yang disertai dengan balloning membran plasenta ke dalam vagina. 2. translokasi kromosom sperma dapat menimbulkan zigot yang mengandungt bahan kromosom terlalu sedikit atau terlalu banyak. maka pendarahan 8 . Proses terjadinya berawal dari pendarahan pada desidua basalis yang menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. tetapi sesudah usia kehamilan 10 minggu. Patogenesis Proses abortus inkomplit dapat berlangsung secara spontan maupun sebagai komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis.9.4. Janin kemungkinan sudah keluar bersamasama plasenta pada abortus yang terjadi sebelum minggu ke-10.7. pengeluaran janin dan plasenta akan terpisah.3. 2. sehingga terjadi abortus5. Selanjutnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas dari dinding uterus. Yang pasti. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap1. Pada kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan.

Tidak ada nyeri tekan ataupun tanda cairan bebas seperti yang terlihat pada kehamilan ektopik yang terganggu. Bimanual palpasi untuk menentukan besar dan bentuk uterus perlu dilakukan sebelum memulai tindakan evakuasi sisa hasil konsepsi yang masih tertinggal. Palpasi tinggi fundus uteri pada abortus inkomplit dapat sesuai dengan umur kehamilan atau lebih rendah. Sedangkan pada abortus dalam usia kehamilan yang lebih lanjut. maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret). Menentukan ukuran sondase uterus juga penting dilakukan untuk menentukan jenis tindakan yang sesuai4.cepat atau lambat akan terjadi dan memberikan gejala utama abortus inkompletus. termasuk kehamilan servikal dan kehamilan kornual. mungkin disertai dengan keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan darah. 2.7. Pemeriksaan penunjang berupa USG akan menunjukkan adanya sisa jaringan. sering pendarahan berlangsung amat banyak dan kadang-kadang masif sehingga terjadi hipovolemik berat5'7. inspikulo dan vaginal toucher. maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Diagnosis Banding Abortus inkomplit dapat di diagnosis banding: • Abortus iminens – Keguguran membakat dan akan terjadi. Diagnosis Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis melalui anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik. • Kehamilan ektopik tuba – Kehamilan ektopik adalah kehamilan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di tempat yang tidak normal. Kalau reaksi kehamilan 2 berturutturut negatif.6. setelah menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding lain. 2. Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada. Pemeriksaan fisik mengenai status ginekologis meliputi pemeriksaan abdomen. 9 . Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dipertahankan dengan memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodik serta istirahat. serta dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan dengan menggunakan spekulum akan memperlihatkan adanya dilatasi serviks.

Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu. induksi medis ataupun tindakan kuretase untuk mengevakuasi jaringan tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan lanjut. Perdarahan pada abortus inkomplit kadang-kadang cukup berat. dilatasi serviks sebelum tindakan kuretase sering tidak diperlukan. atau berbagai kombinasi tindakan tersebut diatas. Induksi abortus dengan tindakan medis menggunakan preparat antara lain : oksitosin intravenus. prostaglandin E2.Adalah perdarahan pervaginam. insersi vagina. jaringan plasenta yang tertinggal terletak secara longgar dalam kanalis servikalis dan dapat diangkat dari ostium eksterna yang sudah terbuka dengan memakai forsep ovum atau forsep cincin. Pada banyak kasus. injeksi parenteral maupun per oral.14 Dan pada pemeriksaan fisik dan USG tidak ditemukan ballotement dan detak jantung janin.8. 10 . antiprogesteron . Teknik pembedahan dapat dilakukan dengan pengosongan isi uterus baik dengan cara kuretase maupun aspirasi vakum.2 mg intramuskular atau misoprostol 400 mcg per oral. Bila plasenta seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal di dalam uterus. Evakuasi jaringan sisa di dalam uterus untuk menghentikan perdarahan dilakukan dengan cara13: 1. injeksi ekstraokuler. yang muncul pada 20 minggu kehamilan biasanya berulang dari bentuk spotting sampai dengan perdarahan banyak. Penatalaksanaan Terlebih dahulu dilakukan penilaian mengenai keadaan pasien dan diperiksa apakah ada tanda-tanda syok. larutan hiperosmotik intraamnion seperti larutan salin 20% atau urea 30%. tetapi jarang berakibat fatal5. evakuasi dapat dilakukan secara digital atau cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.• Abortus mola. Penatalaksanaan abortus spontan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pembedahan maupun medis. Jika pendarahan berhenti. 2. beri ergometrin 0.RU 486 (mefepriston). F2a dan analog prostaglandin yang dapat berupa injeksi intraamnion. Pada kasus-kasus abortus inkomplit.. Pada kasus dengan perdarahan banyak sering disertai dengan pengeluaran gelembung dan jaringan mola.

pasien. beri ergometrin 0. digunakan pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Complete abortion rate aspirasi vakum berkisar antara 95 . dilakukan dengan menyedot isi uterus menggunakan kanula yang terbuat dari bahan plastik atau metal dengan tekanan negatif. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. tergantung pada ketrampilan dan pengalaman operator. • Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Aplikasi aspirasi vakum bahkan dapat dilakukan sampai pada umur kehamilan 15 minggu. Pada pasien yang mengalami syok. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: • Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologis atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. selanjutnya dapat diberikan anestesi (jika 11 .2 mg intramuskular (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu). Metode ini merupakan metode pilihan untuk mengatasi abortus inkomplit. Kosongkan kandung kencing. Teknik kuretase dengan penyedotan (aspirasi vakum) sangat bermanfaat untuk mengosongkan uterus. Evakuasi jaringan sisa dapat dilakukan secara lengkap dalam waktu 3-10 menit5'3.100%. Aspirasi vakum merupakan prosedur pilihan yang lebih aman jika dibandingkan dengan teknik kuretase tajam. • Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera. atasi syok terlebih dahulu. 3. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. • Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). Tekanan negatif dapat menggunakan pompa vakum listrik atau dengan syringe pump 60 ml.2. evakuasi hasil konsepsi dengan: • Aspirasi Vakum merupakan metode evakuasi yang terpilih. tempat dan alat kuretase disiapkan terlebih dahulu. Sebelum melakukan tindakan kuretase. dapat dilakukan hanya dengan atau tanpa analgesia lokal pada serviks maupun analgesia sistemik sedang.

Efikasi terapi mifepriston dengan misoprostol dilaporkan sebesar 98% pada kehamilan trimester pertama awal.diperlukan). sambil diputar 360°. Uterus disondase dengan hati-hati untuk menentukan besar dan arah uterus. akan terasa dan terdengar gesekan kanula dengan miometrium yang kasar.6 atm pada syringe). Dosis yang digunakan 200 mg. Efek yang terjadi pada terapi dengan obat-obatan ini berupa kram pada perut yang disertai dengan perdarahan yang menyerupai menstruasi namun dengan fase yang memanjang.9. Kontraindikasi penggunaan obat-obat tersebut adalah pada keadaan dengan gagal ginjal akut. Penatalaksanaaan abortus dengan teknik medis dibuktikan aman dan efektif. Masukkan kanula yang sesuai dengan dalam kavum uteri melalui serviks yang telah berdilatasi (tersedia ukuran kanula dari 4 mm sampai 12 mm). kelainan fungsi hati. sehingga terjadi inhibisi efek progesteron untuk menjaga kehamilan. Pemeriksaan lanjut dapat dilakukan 1 . Regimen mefepriston. vagina dan serviks.2 jam bila dengan anestesi umum. Selanjutnya kanula dihubungkan dengan aspirator (60 Hg pada aspirator listrik atau 0. Pasca tindakan tanda-tanda vital diawasi selama 15-30 menit tanpa anestesi dan selama 1 .48 jam) dengan pemberian prostaglandin 800 μg insersi vagina mengakibatkan kontraksi uterus lebih lanjut yang kemudian diikuti dengan ekspulsi jaringan konsepsi. metode ini tidak memberikan keuntungan yang signifikan. Bila kavum uteri sudah bersih dari jaringan konsepsi. Namun demikian. Untuk mencapai ekspulsi spontan yang lengkap dengan terapi prostaglandin (misoprostol) diperlukan waktu rata-rata selama 9 hari. kemudian lakukan tindakan antisepsis pada ginitalia eksterna. Lakukan pemeriksaan ginekologik ulang untuk menentukan besar dan bentuk uterus. bekerja dengan cara mengikat reseptor progesteron. Kombinasi selanjutnya (36 .2 minggu kemudian13. selama 9 hari bahkan dapat terjadi selama 45 hari. antiprogesteron digunakan secara luas. sedangkan dalam botol penampung jaringan akan timbul gelembung udara. Spekulum vagina dipasang dan selanjutnya serviks dipresentasikan dengan tenakulum. Kanula digerakkan perlahanlahan dari atas kebawah dan sebaliknya. perdarahan abnormal. 2. pada abortus inkomplit. perokok berat dan alergi3. Prognosis 12 .

pasien dirawat. Komplikasi Abortus inkomplit yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan syok akibat perdarahan hebat dan terjadinya infeksi akibat retensi sisa hasil konsepsi yang lama didalam uterus5. Perdarahan yang biasanya disebabkan sisa jaringan konsepsi. Abortus inkomplit yang di evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi memberikan prognosis yang baik terhadap ibu5. evakuasi jaringan sisa yang tidak lengkap dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan setelah trimester pertama. Panas bukan merupakan kontraindikasi untuk kuretase apabila pengobatan dengan antibiolik yang memadai segera dimulai5. segera diputuskan hubungan kanula dengan aspirator. b.10. Pengobatannya berupa pemberian antibiotika yang sensitif terhadap kuman aerobik maupun anaerobik. Bila ditemukan sisa jaringan 13 . Biasanya pendarahan akan berhenti segera.Kecuali adanya inkompetensi serviks. Selanjutnya kavum uteri dibersihkan sedapatnya. bradikardi dan cardiac arrest. c. Pengobatannya adalah pembersihan sisa jaringan konsepsi.9. e. d. seperti perforasi uterus. Serviks robek yang biasanya disebabkan oleh tenakulum. Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi. Dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan muntah-muntah. Bila pendarahan sedikit dan berhenti. Perforasi uterus yang dapat disebabkan oleh sonde atau dilatator. Pasien diberikan antibiotika dosis tinggi. Sinekia intrauterin dan infertilitas juga merupakan komplikasi dari abortus. laserasi serviks. angka kesembuhan yang terlihat sesudah mengalami tiga kali abortus spontan akan berkisar antara 70 dan 85% tanpa tergantung pada pengobatan yang dilakukan. Infeksi akut dapat terjadi sebagai salah satu komplikasi. Komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan kuretase antara lain' : 1. perdarahan. Bila perforasi oleh kanula. Bila ada keraguan. tidak perlu dijahit. Komplikasi Jangka pendek a. 2.

2.konsepsi. 14 . Nyeri pelvis yang kronis. Infertilitas baik karena infeksi atau tehnik kuretase yang salah sehingga terjadi perlengketan mukosa (sindrom Ashennan) b. Komplikasi jangka panjang Infeksi yang kronis atau asimtomatik pada awalnya ataupun karena infeksi yang pengobatannya tidak tuntas dapat menyebabkan: a. dilakukan pembersihan kavum uteri setelah pemberian antibiotika profilaksis minimal satu hari.

BAB 3 LAPORAN KASUS 3.1 Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama Suku Bangsa MRS 3. Riwayat telat haid selama 3 bulan. Riwayat PP test + pada bulan Februari 2011.00 WITA. Terakhir kali pasien melakukan hubungan seksual dua hari sebelum mengalami perdarahan. pukul 23. dengan siklus teratur setiap 28 hari. lamanya 3-5 hari tiap kali menstruasi.2 Anamnesis Keluhan Utama: Perdarahan dari vagina sejak tadi malam. Karangasem : Mahasiswa : Hindu : Bali : Indonesia : 28 April 2011 (pukul 10. Riwayat trauma. Perdarahan dikatakan berupa darah dengan warna merah kecoklatan dengan gumpalan-gumpalan darah berwarna kehitaman. • Hari pertama haid terakhir ?-01-2011 : ART : 22 Tahun : Perempuan : Rendang. disertai nyeri ringan pada perut bagian bawah.00 WITA) 15 .00 WITA (27/04/11) Perjalanan Penyakit: Pasien datang dengan keluhan perdarahan pervaginam sejak pukul 23. Pasien mengatakan tidak pernah berusaha untuk menggugurkan kandungannya. Riwayat menstruasi • Menarche umur 14 tahun. pasien jatuh di kamar mandi sehari sebelum datang ke rumah sakit.

nyeri supra pubik (-). 3.7°C R: 20x/menit Status General Mata: An -/-. Riwayat pengobatan Penderita tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya dan riwayat minum obat sebelum ke rumah sakit disangkal pasien.3 Pemeriksaan Fisik Status present: T: 120/80 mmHg N: 88 x/menit tax: 36. tanda cairan bebas (-) TFU: tak teraba : Ves +/+ Rh -/. Riwayat persalinan 1. asma.Riwayat perkawinan Pasien belum menikah. ikt -/Thoraks: Cor : S1S2 tgl reg m(-) Po Ext: Hangat +/+ Status ginekologi: Abdomen: distensi (-). hipertensi dan penyakit jantung tidak ada. INI Riwayat Ante Natal Care (-) Riwayat KB (-) Riwayat penyakit dahulu Diabetes militus.Wh -/- Abd: ~ status ginekologi 16 .

2 10-3µL RBC: 3.00 WITA) : flx (+) P∅ (+) 1 jari longgar. BT/CT Hasil Darah Lengkap (28-04-11) WBC: 32. livide (+) VT (10.15) Ciprofloxacin 3 x 500 Methylergometrin 3 x 0.125 Asam Mefenamat 3 x 500 SF 2 x 1 17 .4 Diagnosis Kerja Abortus Inkomplit 3.6.0 L% PLT: 242 10-3 µL 3. fetus di mulut portio ~ UK 16 minggu Perdarahan aktif (-) APCD : dbn 3.5. Pemeriksaan Penunjang Darah Lengkap.81 10-6 µL HGB: 11.3 g/dl HCT: 33.Vagina : flx (+) P∅ (+). Penatalaksanaan Tx : IVFD RL 20 tts/mnt Cefotaxim 3 x 1 gr Puasa Kuretase dg GA (pk 12.

15 13. Prognosis Dubius ad bonam 18 .30 14.7.30 13.15 Tekanan darah (MmHg) 100/70 100/70 100/70 100/70 110/70 110/70 110/70 Nadi (kali/menit) 86 86 86 84 84 82 82 Respirasi (kali/menit) 20 20 20 20 20 20 20 KIE: pasien dan keluarga Tindak lanjut: Penderita dipulangkan 24 jam post kuret Kontrol ke poliklinik kandungan dan kebidanan 1 minggu kemudian 3.15 12.00 14.00 13.Mx : observasi 2 jam post kuretase Pukul (WITA) 12.

1 Diagnosis Seorang pasien 22 tahun. pemeriksaan abdomen fundus uteri tidak teraba. Berdasarkan gambaran klinis yang jelas inilah kemudian dapat ditegakkan diagnosanya menjadi abortus inkomplit. Pasien mengatakan tidak pernah berusaha untuk menggugurkan kandungannya. datang dengan keluhan perdarahan pervaginam sejak malam hari jam 23. tanda cairan bebas tidak ada. Bali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present dan general normal. Pada inspikulo didapatkan pembukaan OUE dan tampak fetus di mulut portio. pasien jatuh di kamar mandi sehari sebelum datang ke rumah sakit. setelah dilakukan pemeriksaan dalam ternyata didapatkan adanya pembukaan ostium uteri eksternum (OUE) dan teraba fetus di mulut portio. Selain adanya keluhan perdarahan pervaginam yang banyak didapatkan juga keluhan nyeri perut bagian bawah dan ada riwayat trauma fisik. nyeri tekan tidak ada. disertai nyeri ringan pada perut bagian bawah. Pada kasus ini. massa tidak ada.BAB IV PEMBAHASAN 4. maka dapat dipikirkan adanya kecurigaan terhadap gejala abortus. pembukaan ostium uteri eksternum (OUE) dan terdapat fetus di mulut portio. Dari pemeriksaan dalam didapatkan. dimana besarnya fetus sesuai dengan umur kehamilan 16 minggu. perdarahan dikatakan berwarna merah kecoklatan dan disertai gumpalan-gumpalan darah berwarna kehitaman. pada anamnesis jelas didapatkan adanya keluhan telat haid yang mendukung bahwa pasien sedang hamil. Pada pasien tersebut.00 WITA (28/04/2011). Berdasarkan data anamnesis tersebut. Hindu. Terakhir kali pasien melakukan hubungan seksual dua hari sebelum mengalami perdarahan. terlebih lagi pasien sedang dalam masa reproduksi. terdapat fluksus. Disamping itu telah dilakukan tes kencing dengan hasil positif hamil. Riwayat trauma. selain abortus 19 . namun saat ini keluhan nyeri perut sudah berkurang. Walaupun demikian jika hanya dari anamnesa saja mungkin cukup sulit untuk dapat yakin bahwa itu merupakan suatu abortus inkomplit oleh karena adanya keluhan perdarahan pervaginam pada kehamilan muda.

ada trias klasik yang sering didapatkan yaitu. masih harus dipikirkan berdasarkan mekanismenya apakah abortus spontan atau abortus provokatus oleh karena penatalaksanaannya yang berbeda. Menurunnya atau kadar plasma yang rendah dari β-hCG adalah penanda kehamilan abnormal. Untuk abortus itu sendiri. Hitung sel darah putih dan laju endap darah meningkat bahkan tanpa adanya infeksi. Pada kasus dengan perdarahan yang banyak sering disertai dengan pengeluaran gelembung dari jaringan mola. dimana sifat perdarahannya bisa intermitten. Perkembangan kehamilan adalah lebih pesat sehingga pada umumnya didapatkan uterus lebih besar dari umur kehamilan. dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korealis mengalami perubahan hidrotik. Yang dimaksud dengan mola hidatidosa adalah kehamilan yang berkembang tidak wajar. baik 20 . perdarahan dan nyeri abdomen. dimana perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua. tidak ditemukan balotement dan denyut jantung janin. amenore. Pada mola perdarahan merupakan gejala utama. sedikitsedikit atau sekaligus banyak yang dapat menyebabkan syok. Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua yang dapat menandakan kematian janin. dapat ditemukan Hb yang rendah akibat dari perdarahan yang bermakna. Kemungkinan lainnya yang harus disingkirkan adalah kehamilan ektopik. dan kehamilan dengan kelainan pada pelvis. namun pada kehamilan ektopik. dan ultrasonografi (USG).inkomplit perlu juga dipikirkan kemungkinan lain seperti: kehamilan ektopik. Sedangkan kemungkinan yang paling jauh yang dapat dipikirkan adalah adanya suatu mola hidatidosa. Selain itu pada permulaan kehamilan biasanya pasien mengalami hiperemesis gravidarum. besar uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan (50% kasus menunjukkan besar uterus lebih dari usia kehamilan sesungguhnya). Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain adalah pemeriksaan laboratorium berupa darah lengkap dan tes kehamilan. muntah pusing dengan derajat keluhan yang lebih berat. Pada pemeriksaan darah lengkap. Meskipun gejala klinisnya dapat bervariasi dari perdarahan yang banyak dan tiba-tiba dalam rongga perut sampai gejala yang tidak jelas. Pada pemeriksaan fisik. nyeri merupakan keluhan utamanya. Apalagi jika sudah terjadi kehamilan ektopik terganggu. mola hidatidosa. mual.

4. riwayat trauma. karena dari anamnese dan pemeriksaan fisik ginekologi jelas didapatkan gejala klinis yang sesuai dengan abortus inkomplit. Pada kasus ini pemeriksaan USG tidak dikerjakan. Pemeriksaan penunjang lainnya. serta paparan obat-obatan dan 21 .blighted ovum. dan kadang-kadang mungkin juga disebabkan oleh faktor paternal seperti translokasi kromosom. dapat diketahui kehamilan tersebut intra atau ekstra uteri.2 Berdasarkan uraian diatas maka diagnosenya cenderung mengarah ke abortus inkomplit. Penyebab lain yang dapat dipertimbangkan adalah faktor nutrisi. riwayat koitus. Adanya diagnose banding yaitu abortus iminens.2 Pemeriksaan USG transvaginal berguna untuk mendokumentasikan kehamilan intrauterin.2 Faktor predisposisi atau etiologi Mekanisme pasti yang bertanggungjawab atas peristiwa abortus tidak selalu tampak jelas. karena secara klinis diagnosa abortus inkomplit dapat ditegakkan dan USG sudah dilakukan sebelumnya di poli klinik. Pada kasus ini hasil dari laboratorium darah rutin didapatkan dalam batas normal. abotus spontan. sehingga tidak perlu ditakutkan adanya keadaan anemi. Pada abortus inkomplit. menunjukkan gambaran yang khas yaitu berupa badai salju (snow flake pattern). Berdasarkan anamnesis kejadian abortus ini adalah kejadian yang pertama kalinya. dengan pemeriksaan USG. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan hematologi rutin yaitu untuk mencari terutama kadar hemoglobin yang bertujuan dengan mengetahui adanya kadar hemoglobin dibawah normal berarti pasien dalam keadaan anemi yang salah satunya dapat disebabkan oleh adanya perdarahan banyak. ataupun kehamilan ektopik. sakus gestasional biasanya terlihat gepeng dan ireguler. Sedangkan pada kasus mola. kehamilan ektopik dan mola dapat disingkirkan. USG dapat pula menyingkirkan adanya kehamilan ektopik atau suatu mola hidatidosa. material ekogenik yang mewakili jaringan plasenta terlihat dalam kavum uteri. Kematian janin sering disebabkan oleh abnormalitas pada ovum atau zigot atau oleh penyakit sistemik pada ibu. faktor paternal. Penyebab terjadinya abortus inkomplit pada pasien ini belum dapat dipastikan. Dengan pemeriksaan USG pada trimester awal kehamilan.

informasi. uterus arkuatus. malaria) atau penyakit kronis (diabetes mellitus. Tetapi tentunya pemeriksaan ini belum berkembang di Indonesia dan biayanya cukup tinggi. Selain itu pemeriksaan patologi anatomi jaringan yang diklaim akan mengetahui apakah ada tidaknya suatu keganasan. Namun pada kasus abortus inkomplit ini tidak dilakukan pemeriksaan PA. Ini sangatlah perlu untuk memahami faktor-faktor resiko tersebut sehingga dapat membantu memberikan konseling kepada pasien. infeksi oleh TORCH) atau adanya riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang bersifat teratogenik dan adanya trauma fisik. dan lain-lain). Adanya penyakit infeksi akut (pneumonia. penyakit liver/ginjal kronis) dapat diketahui 22 . pengaruh lingkungan misalnya lingkungan fisik (paparan radiasi tertentu. terjadinya suatu abortus dapat disebabkan oleh keadaan dari hasil konsepsi itu sendiri (zygote). Hipertensi kronis. Komunikasi. yang juga dapat menyebabkan abortus. tifus abdominalis. adanya penyakit kronis dan infeksi yang diderita oleh ibu. Jika ada kecurigaan bahwa kausanya adalah kelainan pada zigot dimana defeknya bersifat genetikal maka usaha eksplorasinya bisa berupa pemeriksaan kromosom (kariotype) karena mungkin saja kelainan genetik pada zigot ternyata berasal dari gen-gen mutasi baik dari ibu ataupun ayah. kelainan oleh karena faktor mekanik (adanya mioma submukus) serta kelainan anatomis (serviks inkompeten. uterus bikornu. malaria dan anemia berat. Secara garis besar. Disamping itu. Selain itu adanya gangguan hormonal/endokrin juga dikatakan sebagai salah satu faktor yang berpengaruh.toksin lingkungan. Disamping itu juga perlu dipikirkan kemungkinan adanya gangguan pada uterus berupa kelainan hormonal yang mempengaruhi endometrium. Oleh karena itu dapat dianjurkan kepada pasien untuk dilakukannya eksplorasi kausa. dan edukasi (KIE) kepada pasien merupakan komponen penting untuk memberikan penjelasan yang benar dan dapat dipahami oleh pasien tentang apa yang ia alami. Pada kasus abortus inkomplit ini mungkin dapat lebih diperdalam lagi sehingga dapat diketahui etiologinya (eksplorasi kausa). faktorfaktor lainnya juga harus ditelusuri seperti ada tidaknya kelainan pada plasenta (end arteritis vili korealis yang dapat dipicu oleh karena hipertensi menahun) serta adanya penyakit pada ibu antara lain pneumoni.

Oleh karena itu boleh disarankan pemeriksaan serologis TORCH untuk mengetahui titer antibodi terhadap virus ini. seperti apakah telah diterapi dengan tepat dan adekuat. penting juga diketahui. Infeksi dari kelamin juga dapat menyebabkan abortus karena kebanyakan infeksi kelamin pada wanita bersifat asimtomatik sehingga memerlukan eksplorasi yang lebih lanjut. Jika terbukti adanya mioma pada pasien ini maka perlu dieksplorasi lebih jauh mengenai 23 . maupun lingkungan kerjanya. maka perlu ditanyakan tentang lingkungan tempat tinggal ibu. laboratorium terhadap penyakit kelamin. HSG (histerosalfingografi). Pemeriksaan yang dapat dianjurkan kepada pasien ini adalah pemeriksaan TORCH. Adanya kelainan anatomis pada uterus misalnya serviks inkompeten (mudah berdilatasi) atau kelainan bentuk uterus (bikornus) dapat diketahui dari pemeriksaan USG. Penting juga diketahui bagaimana perjalanan penyakitnya jika memang pernah menderita infeksi berat. Jika ingin mengetahui pengaruh faktor lingkungan. dan laparoskopi (prosedur diagnostik). Dari pemeriksaan USG sekaligus juga dapat mengetahui adanya suatu mioma terutama jenis submukosa. histeroskopi. mungkin ada tidaknya riwayat menjalankan radioterapi. pemeriksaanpemeriksaan diatas dapat dikerjakan. Untuk eksplorasi kausa. Ketidakjelasan secara klinis adanya diabetes melitus atau gangguan kronis pada hepar atau ginjal dapat dibantu dengan pemeriksaan gula darah acak/ 2 jam pp. Ada tidaknya binatang seperti kucing yang dianggap sebagai vektor penularan TORCH. Pemeriksaan TORCH dapat dilakukan untuk mengetahui infeksi dari virus-virus tersebut karena dapat menyebabkan terjadinya abortus maka diperlukan pengobatan terlebih dahulu. tes fungsi hati/ LFT (AST/ALT) maupun tes fungsi ginjal/ RFT (BUN/SC). Demikian juga penggunaan obat–obatan tertentu yang dianggap teratogenik harus dicari dari anamnesa karena jika ada mungkin hal ini merupakan salah satu faktor yang berperan.lebih mendalam melalui anamnesa yang baik dan terperinci. Hal ini penting sebagai data dasar untuk nantinya dapat membantu dalam menghubungkan dengan kejadian ROB. USG. Mioma submukosa merupakan salah satu faktor mekanik yang dapat mengganggu implantasi hasil konsepsi.

dan tidak didapatkan tanda-tanda syok. Hal ini penting karena mioma yang mengganggu mutlak dilakukan operasi. Oleh karena pada pemeriksaan fisik teraba massa jaringan maka harus dilakukan evakuasi isi uterus dengan kuretase dan selanjutnya diberikan medikamentosa berupa antibiotika. Mengingat komplikasi tindakan ini cukup banyak. Yang penting setelah tindakan adalah observasi dua jam setelah kuretase untuk monitoring vital sign dan adanya keluhan.keluhan dan harus dipastikan apakah mioma ini berhubungan langsung dengan adanya Riwayat Obstetri Buruk pada pasien ini. Maka dari itu. analgetika dan uterotonika. Uraian diatas penting disampaikan kepada pasien agar ia dapat memahami apa kira-kira yang melatarbelakangi penyakitnya. Maka dari itu adanya komplikasi seperti perdarahan ringan sampai berat. khususnya suaminya untuk ikut memberi dukungan kepada pasien.3 Penatalaksanaan Pada kasus ini pada saat pasien MRS keadaan umumnya stabil. Pilihan lain yang dapat disarankan adalah mengenai adopsi anak. infeksi. 4. konseling pada pasien ini perlu melibatkan pihak lain.125 Asam Mefenamat 3 x 500 SF 2 x 1   • KIE Keadaan pasien stabil dan diberikan pengobatan Ciprofloxacin untuk terapi 24 . Adapun penanganan kasus ini adalah dengan: • • Kuretase Medikamentosa    Cefotaxim 3 x 1 gr Ciprofloxacin 3 x 500 Methylergometrin 3 x 0. maka perlu dilakukan dengan prosedur yang benar dan hati-hati untuk mengurangi resiko tersebut seminimal mungkin. dan kelainan fungsi pembekuan darah dapat dihindari.

setelah observasi dua jam pasca kuretase tidak didapatkan keluhan dan keadaan umum pasien stabil. 25 . perforasi. infeksi dan syok.4 Prognosis Prognosis pada kasus ini adalah mengarah ke baik. KIE merupakan hal yang sangat penting didalam kasus ini dimana yang harus dititik beratkan adalah tentang diagnosis penyakitnya. kontol atau evaluasi terhadap tindakan (febris.karena tindakan yang invasif pada kuretase dapat menyebabkan infeksi. tindakan apa yang dilakukan terhadap penyakitnya tersebut. prognosis abortus yang berulang atau tidak. Penderita disarankan untuk kontrol ke poliklinik satu minggu kemudian untuk mengetahui perkembangan penderita. disamping itu juga terhadap faktor sosial dimana harapan masih bisa hamil lagi. nyeri) dan yang tidak kalah pentingnya adalah mencari penyebab abortus (untuk persiapan kehamilan beikutnya). komplikasi apa yang terjadi bila dilakukan kuretase atau tidak (komplikasi jangka pendek atau panjang). Selain itu pada pasien ini tidak didapatkan adanya penyulit atau komplikasi yang berbahaya misalnya perdarahan. 4. Asam Mefenamat untuk mengurangi nyeri dan Metil Ergometrin untuk mempertahankan kontraksi uterus yang mana berperan dalam mengurangi perdarahan. Setelah dilakukan kuretase dan post kuretase keadaan penderita baik dan dipulangkan 24 jam setelah kuretase. dubius ad bonam karena dengan kuretase berhasil mengeluarkan semua sisa jaringan sehingga resiko perdarahan menjadi sangat minimal. persiapan untuk faktor anatomi dan psikologis ibu). rencana tentang kehamilan yang berikutnya (3 sampai dengan 6 bulan  KB.

Penderita diberikan obat per oral yaitu Ciprofloxacin 3x500. Penderita disarankan untuk kontrol ke poliklinik satu minggu kemudian untuk mengetahui perkembangan penderita. Metil Ergometrin 3x0. Asam Mefenamat 3x500 mg. maka pada kasus abortus inkomplit ini dilakukan pengeluaran sisa jaringan dengan kuretase. Untuk mengurangi resiko perdarahan dan komplikasi lain yang mungkin timbul.BAB V KESIMPULAN Telah dilaporkan kasus wanita 22 tahun. Dari hasil pemeriksaan klinis didiagnosa dengan abortus inkomplit. antibiotika dan analgetik. Setelah dilakukan kuretase dan post kuretase keadaan penderita baik dan dipulangkan 24 jam setelah kuretase. 26 .125 dan SF 2x1 tablet. Abortus inkomplit yang di evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi memberikan prognosis yang baik. kemudian diberikan medikamentosa seperti golongan uterotonika. Penatalaksanaan awal pada kasus abortus adalah melakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien dan selanjutnya diperiksa apakah ada tanda-tanda syok. hamil muda 15-16 minggu yang mengalami perdarahan pervaginam.

2. 507 . 231-247. In : Berek JS. p. 7.2006. Wenstrom KD. Disorder of Early Pregnancy (ectopic. Rand SE. 2003 3. Monga A. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo . Rachimadhi T. 12.org/LinkFiles/Reproductive_Health__Profile_RHP-Indonesia. London : Arnold.Abortion. Rachimhadhi T. Saifudin AB. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 13th ed. Ilmu Bedah Kebidanan. Novak's Gynaecology. 13. Inc . Williams Manual of Obstetrics. Pedoman Diagnosis – Terapi Dan Bagian Alir Pelayanan Pasien.DAFTAR PUSTAKA 1. Kelainan dalam Lamanya Kehamilan.In:Emedicine.com/med/topic last update : agust.Available at: http:/w3. William Obsetrics. Vorsen JH. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardjo. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.L. USA : The McGraw-Hills Companies. Leveno KJ. 2005 : p.emedicine.pdf. Management of Spontaneus Abortion.1. Ministry of Health Republic of Indonesia.312. Wiknjosastro GH. In : Cunningham FG. 2002. 8.whosea.http://www. Affandi B. Lab/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS Sanglah Denpasar. 2003 : p. editors. 45 – 55 6.http://www/findarticles. Abortion. AAFP Home Page>New & Publications>Joumals>American Family Physician. Gynaecology. 302 . GTI) In : Campbell S. 22nd ed. Available from htpp :// www. Hauth JC. October 012005. Philadelphia. 5. Bilstrap LC. 102-6. Stovall TG. Edisi 5. 4.emedicine. 2000 . Day AA. miscarriage.com/p/articles/mi_m3255/is _n8_v48/ai_14674724/pg_1 9.V. 2000. Hmu Kebidanan.72.Incomplete. Bloom SL. Lindsey. Saifuddin AB. Wibowo B.Valley. 2002 : p. editor. editors. Saifflidin AB. 2002 : hal. In: Leveno KJ. et all. Wiknjosastro GH. Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy. Dalam : Wiknjosastro GH. Abortion. 2003.December1993.com/emerg/obstetrics_and_gynecology. Golemon TB. Griebel CP. 2007 11. Wiknjosastro GH. Recurrent spontaneous abortion: evaluation and management. Waspodo D.T. et all. In: American FamilyPhysician.Missed Abortion. USA: McGraw-Hill Companies. 10.J.htm : last updated: agustus 2007 27 . Indonesia Reproductive Health Profile 2003. Accessed January 08.9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful