P. 1
analisis cerpen

analisis cerpen

|Views: 147|Likes:
Published by Joy Okta Friady

More info:

Published by: Joy Okta Friady on Jul 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan

manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya. Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hidup dan menarik. Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Dipilihnya cerpen karya A.A. Navis tersebut bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi kami) dibandingkan dengan cerpen A.A.Navis yang lain atau cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain. Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pada saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Menurut hemat saya hal seperti ini hanya ada dalam cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin dan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Akan tetapi, kedua cerpen ini tetap berbeda. Cerpennya Kipanjikusmin muncul dengan membawa kehebohan yang luar biasa di kalangan umat Islam sehingga harus berhadapan dengan hukum. Sedangkan cerpennya A.A. Navis muncul dengan membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan kehidupan beragama secara luar biasa tajamnya. Di dalam cerpen Langit Makin Mendung Tuhan dan malaikat diimajinasikan dengan kuat sekali (meminjam istilah Bahrum Rangkuti dalam Polemik H.B.Jassin, 1972:177). Sedangkan dalam cerpen Robohnya Surau Kami tidak seperti itu. Itulah sebabnya cerpen A.A. Navis tidak pernah berhadapan dengan hukum. Selain itu cerpen A.A.Navis ini lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras sebab kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita (Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar Novel Kemarau karya A.A.Navis, 1992:vi). Sementara itu, tujuan umum pengajaran sastra seperti yang tercantum dalam kurikulum 1994 yaitu agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Lalu, di dalam rambu-rambunya pada butir 10 ditegaskan pula bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengapresiasikan karya sastra. Kegiatan mengapresiasi nalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Dengan demikian peran pelajaran sastra menjadi sangat penting. Mengingat perannya yang sedemikian itu, maka terselenggaranya pembe-lajaran sastra yang menarik dan menyenangkan akan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Hal ini dimungkinkan karena pelajaran seperti ini akan dapat mendidik siswa untuk dapat mengenal dan menghargai nilai-nilai yang dijunjung oleh bangsanya, juga untuk dapat menghargai hidup, menikmati pengalaman orang lain, serta dapat menemukan makna hidup dan kehidupan. Bukankah karya sastra (cerpen) itu merupakan miniatur kehidupan manusia di sekitar pembaca?. Jadi, dengan mempelajari cerpen (sastra) berarti siswa diajak untuk mempelajari manusia dan lingkungannya. Biasanya siswa akan sangat antusias jika diajak untuk membicarakan atau mendiskusikannya juga akan mengeluarkan segala pengalaman dan pengetahuannya. Sayangnya, kendala pembelajaran itu sering terletak pada guru. Sebab, masih saja guru yang terlalu mengandalkan LKS (Latihan Kerja Siswa), tidak menyukai sastra, dan tidak bisa memilih bahan ajar yang tepat dan menarik untuk seusia siswa yang dididiknya. Kenyataan inilah yang sering dianggap orang sebagai kegagalan. Gagal karena siswa tidak memiliki daya apresiasi dan kepekaan rasa serta tidak menyukai sastra.

menerima imbalan. khususnya cerpen dapat dijadikan bahan ajar dikelas. sepulangnya Ajo Sidi. yang meninggal secara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya. Akhirnya. peneliti mencoba mengkajinya dan agar kajian ini. apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.Berangkat dari permasalahan yang sudah diuraikan di atas. Dialah Ajo Sidi. makanan. kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Navis Cerpen karya A. yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja. dan kesal. bersyukur. ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain. Nilai-nilai pendidikan yang bagaimana yang terdapat dalam cerpen tersebut? 4. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini. surau itu hingga kini masih tegak berdiri. hasil pengkajian ini dapat memberikan solusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran apresiasi sastra (cerpen). keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Tinjauan atas Unsur Intrinsik . Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Karena daya pikat itu. beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. dan berdoa kepada Tuhannya. sedih. apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.A. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. apakah itu berupa uang. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki. saya mencoba mengkaji keterkaitan cerpen dalam kegiatan pembelajaran dan berusaha menemukan kemungkinan-kemungkinannya cerpen dijadikan bahan ajar di kelas. penjaga surau itu murung. Apakah cerpen tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan? 3. memuji. Identifikasi Berdasarkan latar belakang di atas. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. dia tak kuat memikirkan hal itu. Dia hanya mengasah pisau. Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Setiap karya sastra prosa. Akhirnya. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Karena dia merasakan. Navis? 2.A.A. Identifikasi masalahnya sebagai berikut: 1. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain. Dia senantiasa bersujud. membersihkan dan merawat surau. Lalu. Akan tetapi. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin. kue-kue atau rokok. khususnya bab IV ini mudah dipahami agaknya perlu juga memaparkan sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami tesebut. Lalu upaya-upaya apa saja yang memungkinkan pemilihan bahan ajar itu efektif? Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan. Sinopsisnya itu seperti yang dipaparkan di bawah ini. Dengan harapan.

Umpan neraka«. Aku baca KitabNya. punya keluarga seperti orang-orang lain. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. Orang tua menahan ragam. bukan? Tak ku ingat punya istri. ³Alahamdulillah´ kataku bila aku menerima karuniaNya. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. dan jangan bermasabodoh terhadap apa yang kau miliki. Segala kehidupanku. (b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. ³Marah ? Ya. Aku bersuci. Aku bangun pagi-pagi. Navis ini diteima oleh setiap orang. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Tak ku pikirkan hari esokku. terlalu egoistis. supaya bersujud kepadaNya. Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A. ³Sedari mudaku aku disini. karena itu kau taat bersembahyang.´ Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya. titik pengisahan. karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. ibadahku rusak karenanya. alur. Amanat Di dalam sebuah cerita. wajarlah kalau cerpen karya A. punya anak. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri. Kau takut masuk neraka. Aku tak ingin cari kaya. gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita.´ Dengan demikian. Sudah begitu lama aku berbuat baik. Oleh karena itu. Navis adalah: ³Pelihara. lahir batin. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Dan simpulan temanya itu ternyata bersifat universal. Coba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di akhirat sana: . ku serahkan kepada Allah Subhanahu Wata¶ala. melupakan kehidupan anak istimu sendiri. tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. kalau aku masih muda. Inilah kesalahan mu yang terbesar. tetapi aku sudah tua. jaga. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. ³Astaghfirullah´ kataku bila aku terkejut. amanat. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. kesalahan engkau.´ Hal ini terdapat pada paragraf kelima halaman delapan kalimat yang terakhir. penokohan. latar. padahal engkau di dunia berkaum.´ Kemudian pada halaman 16 gambaran itu ditegaskan kembali. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Dengan demikian. dan gaya. amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya. Unsur ini berupa tema. Gambaran ini terletak pada halaman 10 berikut ini.Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra.A. ´ Masa Allah bila aku kagum.A. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. bersaudara semuanya. beribadah bertawakkal kepada Tuhan .«´ dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangnya mengenai karangan untuk cepat marah. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. Amanat pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. Aku bersembahyang setiap waktu. Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami sesungguhnya terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya. Aku puji-puji dia. bikin rumah. Ketujuh unsur yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami itu sebagai berikut: Tema Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. yaitu : ³Tidak. Amanat ini dimunculkan melalui ucapan kakek Garin pada halaman 9. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya: (a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.

bersaudara semuanya. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. simpang yang kelima. kau lebih suka beribadat saja. dekat pasar.´ kata Ajo Sidi memulai. misalnya: Jika tuan datang sekarang. ada juga yang juga yang jelas-jelas menyebutkan soal waktu. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin . Di depannya ada kolan ikan. tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke Mekkah dan bergelar Syekh pula ( Hlm. latar waktu. karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus. Inilah kesalahanmu yang terbesar. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya. yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat. sekolah. tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Kau takut masuk neraka. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya. ruang. dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Tidak hanya itu saja. seperti kota. untuk itu cermati sabda Tuhan dalam cerpen ini: ³«. 12 ± 13 ). Latar Tempat Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. yaitu: (c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. di surau. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Latar ini dapat berupa daerah. merintih kesakitan. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh ««« . hutan. dan sejenisnya. padahal engkau didunia berkaum. hingga anak cucumu teraniaya semua.´ Dan akhirnya amanat (d) dan (e) menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang untuk pembacanya. (d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki. Aku beri kau negeri yang kaya raya. seperti yang disabdakan Tuhan dalam cerpen ini halaman 16. kampus.³Alangkah tercengangnya Haji Saleh.di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang «. dan latar sosial. petunjuk. karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. pengacuan yang berkaitan dengan waktu. seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang amanat di atas. Latar ini ada tiga macam. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. Tuan akan berhenti di dekat pasar. Kedua amanat itu kemudian dirumuskan. 1 ) Latar Waktu Latar jenis ini. (hlm. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. saling menipu. ´«. Latar Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan. yaitu: latar tempat. karena itu kau taat bersembahyang. 15). Pada simpang kecil kekanan. bangunan. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. kapal. melupakan kehidupan anak istrimu sendiri. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. saling memeras. membeloklah ke jalan sempit itu.´ (hlm.«´ (hlm. terlalu egoistis. tapi kau malas. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. 10) Meskipun begitu. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh. Dari gambaran ini terpapar pula amanat lain. tidak membanting tulang. (e) Jangan mementingkan diri sendiri. ³.. dan sebagainya : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Kesalahan engkau. seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut : ³Pada suatu waktu.

Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.13).´ Mereka bersorak beramai-ramai (hlm. Karena kritik.10) Latar Sosial Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat. Setuju. Namun demikian. dan berani. dan kebisaan atau cara hidupnya.Dia pergi kerja. «««««««««««««««««««««««««««« ³cocok sekali.´ Alur (plot) Alur menurut Suminto A.´ kata Haji Soleh. ³dan sekarang ke mana dia ?´ ³Kerja´ ³Kerja?´tanyaku mengulangi hampa. 13) Kebiasaan ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa tokoh-tokoh yang terlibat dalam dialog ini (hlm.´ (hlm. ³ya. 7) Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan usia. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. memuji-muji kebesaran-Mu. banyak yang kita peroleh. di dunia dulu dengan demonstrasi saja. ³Dan sekarang. vokal. dan beraninya Dia sering menganggap enteng orang lain dan akhirnya terjebak dalam kesombongan. Ia memulai pidatonya: ³O. mempropagandakan keadilan-Mu. Tuhan kami yang Mahabesar. cara hidup. Setuju. ³Sedari mudaku aku di sini. vokalnya. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim. termasuk kelompok orang yang sangat kritis. Strukturnya itu terdiri dari . Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. dan lain-lainnya«´ Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Kita resolusikan. Datanya seperti ini. dan bahasa. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah. yang paling taat menyembah-Mu. pekerjaan. Orang-orang memanggilnya kakek (hlm.Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek (hlm.´ sebuah suara menyela. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. penjaga surau itu. Tokoh-tokoh ini menjadi sombong di hadapan Tuhannya padahal apa yang dilakukannya belum ada apa-apanya. contoh latar sosial yang menggambarkan kebiasaan yang lainnya yaitu : ³Kalau Tuhan akan mau mengakui kehilapan ± Nya bagaimana ?´ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. Perhatikan pada berikut ini. kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. ³Setuju. bukan ?«. ³Kita protes.´ tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. kebiasaannya.

Didalam cerpen ini. kulit sol panjang. seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. mengapa si Kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita. penjaga surau itu. Dan sekali setahun orangorang mengantarkan fitrah Id. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Dalam hal ini. bagian tengah dimulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul. Penyebab munculnya konplikasi ini bukan karena pisau itu melainkan pemilih pisau itu. Perhatikan data berikut : Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Bagian Awal Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagian. Sekali enam bulan Ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut. memberinya imbalan rokok. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya «. « Kakek begitu muram. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Orang laki-laki yang minta tolong. kadang-kadang uang. memberinya sambal sebagai imbalan. Sebuah blek susu yang berisi minyak kelapa sebuah asahan halus. Justru. dia begitu geramnya bahkan mengancam. yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan. . Orang-orang memanggilnya kakek. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konplik. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya «. 7). seperti yang disebutkan dalam bagian awal. akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Hal ini terbukti ketika si Kakek menyebutkan nama pemilik pisau itu. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala permasalahannya. Jika Tuan datang sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. Di sudut benar dia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. bahwa si Kakek wafat karena dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. yaitu bagian awal. Sebagai penjaga surau. Akan tetapi begitu tokoh atau bertemu dengan si Kakek suasananya sangat tidak diharapkan.tiga bagian. Karena Ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. kakek tidak mendapat apa-apa. seperti yang diungkapkan pada data berikut : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku «. tapi sebagai Garim ia tak begitu dikenal. (hlm. Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan). Ia sudah meninggal. Bagian Tengah Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan suatu pengembangan cerita tetapi bagian tengah tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. sedang ia tidak pernah meminta imbalan apa-apa. Data konflik ini kemudian diperkuat dengan pemunculan tokoh alur yang berniat hendak mengupah si Kakek. dan bagian akhir. bagian tengah. eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang keberadaan seorang kakek yang menjadi garim di sebuah surau tua beberapa tahun yang lalu. (hlm . Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum (hlm. Data untuk ini seperti berikut: Dan biang keladi dari kecerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. yaitu bagian eksposisi. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garim. Pandangannya sayu kedepan. (hlm. Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan. Rupanya si Kakek sedang dicekam konplik Konplik ini berkembang menjadi konplikasi manakala tokoh aku menanyakan sesuatu yang berupa pisau kepada si Kakek. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejum¶at.

segala apa yang diungkapkannya di depan tokoh Aku ini tidak membuatnya merasa ringan.´ (hlm. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Ia sudah meninggal«. Dia bercerita karena desakan dari dalam batinnya.7-8).´ jawab istri Ajo Sidi. Dan besoknya. Lalu aku tanya dia. yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan. . klimaks kekecewaan si Kakek berakhir dengan cara yang tragis.´ ³Kerja ?´ Tanyaku mengulang hampa ³Ya.´ Kakek menjawab. Dia nekat membunuh dirinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Dia sendiri tak mampu menahannya untuk menyembunyikan apa yang diceritakan Ajo Sidi.´ dan sekarang ke mana Dia ?´ ³Kerja.´ tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Akibatnya.16). justru Ajo Sidi menganggap hal itu biasa saja bahkan dia berusaha untuk membelikan kain kafan meskipun hal ini dia pesankan melalui istrinya. Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya. Beginilah kisahnya (hlm. Menarik karena adanya kejutan (surprise). ³Kakek. ³Ia sudah pergi. benarkah Ajo Sidi orang yang tidak bertanggung jawab? Bukankah perilaku Ajo Sidi yang berusaha menyuruh istrrinya untuk membeli kain kafan itu merupakan suatu bentuk tanggung jawab? Lalu di mana salahnya? Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur regresif atau alur flash back (sorot balik).´ ³Kakek?´ (hlm.´ ³Dan sekarang. Dan ia meniggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. ³ Kenapa ? ³ ³ Mudah-mudahan pisau cukur ini. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua«. ³Tidak ia tahu Kakek meninggal ?´ ³Sudah. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya.« Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua«. makanya dia mau saja melepaskan kekesalannya dengan menceritakan apa yang dilakukan Ajo Sidi terhadapnya di hadapan tokoh aku. Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan pertanyaan. Bahkan mungkin semakin berat dan menekan dada dan batinnya. Dia pergi kerja. ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. yaitu ketika orang-orang terkejut mendapatkan si Kakek garin itu meninggal dengan cara mengenaskan. Namun. ³Siapa yang meninggal?´ Tanyaku kaget. 9) Kemarahannya ini demikian hebat. Begitu kuat dan hebat. Bagian Akhir Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik.³Kurang ajar dia. menggorok tenggorokannya. Orangorang memanggilnya kakek« Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. 16-17). yang kuasah tajam-tajam ini. Data berikut menggambarkan hal ini. Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya.´ (hlm.

punya anak. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keberlangsungan cerita ini .9).A. . Ajo Sidi punya gara-gara. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya«. Lalu aku tanya pada kakek lagi: ³Apa ceritanya. Datanya seperti berikut. Tokoh Aku Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari data ini pula ternyata disebutkan pula bahwa Ajo Sidi orang yang cinta kerja. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. «. Selain itu bualannya selalu mengena. Dan aku ingin ketemu dia lagi. dia segera mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih besar. kek ?´ Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak.Penokohan Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. pendek akal dan pikirannya. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Si Kakek Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral. A. Aku senang mendengar bualannya. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Dia menjadi pusat cerita. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. Sedangkan gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri digambarkan melalui ucapanya sendiri. c. bukan ? tak kuingat punya istri. tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri«(hlm. Data untuk ini seperti berikut. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu.8-9) . ³Astaga.(hlm. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. a. Navis menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut. Menurut si tokoh Aku. Oleh si pengarang tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang. Sudah lama aku tak ketemu dia. Sebagai pembual. Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cecrita Ajo Sidi. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. b.´ kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Seandainya si kakek panjang akal dan pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita Ajo Sidi. kek ?´. si pembual itu. Aku tanya lagi kakek : ³Bagaimana katanya. seperti data berikut: ³ Sedari mudaku aku di sini. Ajo Sidi Tokoh ini sangat istimewa. Lalu aku tanya dia. Tetapi sayang. punya keluarga seperti orang-orang lain. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si kakek hal itu seperti menelanjangi kehidupannya. serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya.(hlm.16).(hlm.10). Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya. Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya pasti terpikat.Maka aku ingat Ajo Sidi.

Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Tawakal. Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya. atau kalimat dan ungkapan.(hlm. Malaikat. Suaru di sini merupakan simbol kesucian.´ ««««««««««««««««««««««««««« lalu. Astagfirullah. Sebab. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis. Titik Pengisahan Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh Aku. Akhirat. melalui simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. beribadat menyembah-Mu. Mereka tenggelam dalam Korupsi. Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau menyindir orang lain. Navis memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya. Biasanya kakek gembira menerimaku. seperti garin. cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. Artinya. ³Engkau ?´ ³Aku Saleh. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam). Akan tetapi. Di dalam cerpen Robonya Surau Kamii agaknya A. Tapi karena aku sudah ke Mekah. dan pangkat. jabatan. Sekali hari Aku datang pula mengupah pada kakek. Haji Saleh namaku. Alhamdulillah. dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. dan cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi.d. menginsyafkan umat-Mu. Gaya Gaya merupakan sarana bercerita. Tuhan. gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata. Dengan begitu wataknya sudah dipersiapkan oleh penciptanya dan karena kemahirannya Ajo Sidi tokoh ini demikian hidup. pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.8). Syekh. Jadi. Masya-Allah. Tuan akan berhenti di dekat pasar«. 6. hamba-Mu. Selain ini. maka pengarang sudah memposisikan dirinya sebagai tokoh bawahan. kitab-Mu. setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh ±tokoh dongengan Ajo Sidi. pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. neraka.7). kelompok kata. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang.pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku seperti pada bagian awal cerita. yakni Robohnya Surau Kami. Jadi. Haji Saleh Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi. Surga..(hlm. haji. dan Surau serta fitrah Id. Maksudnya apakah. keyakinan. Walaupun begitu kata ³Aku´ ini merupakan kata ganti orang pertama pasif. karena aku suka memberinya uang«. atau lebih tepatnya menggunakan majas . Secara jelas dan gamblang watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri. Allah Subhanau Wataala. Di sini pengarang tetap mengunakan kata ³Aku´. dosa dan pahala. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan. pengarang tetap melibatkan diri dalam cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. berdoa. Kolusi.A. yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat. juga Sedekah.

Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. Unsur-unsur Intrinsik a. Kesimpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Pemilihan dan penetapan cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria yang sudah ditetapkan secara umum yaitu: a. Buktinya. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini Selain majas alegori atau parabol. akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreatif ketika membelajarkan siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. kristen. Amanat Amanat cerpen ini adalah : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang. 2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik. Nvis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Cerpen sebagai salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya sastra yang lain. apalagi di kelas III SMU. Oleh karena itu dapat memberikan manfaat. Dengan demikian penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek pembaca atau masyarakat. yaitu bahasa Indonesia.8). dan 5) jangan egois. hal ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika siswa membandingkan dengan kosa kata non-Islam yang sejenis. 4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki. Tema Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. Inilah sebuah kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. dia juga dapat mengembangkan imajinasi. Berdasarkan kriteria-kritera inilah kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat bila dijadikan bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas I dan II. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil.parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama. Dilihat dari segi bahasanya. yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi´ (hlm.maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar. . cerpen ini jelas menggunakan bahasa yang bisa dipahami pembaca orang Indonesia. b. pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ´«Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. guru dan siswanya pun haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan jangan coba-coba membaca ringkasannya. Meskipun di dalamnya terdapat kosa kata islami. b. Tidak hanya ini. Jadi. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut. 1. Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. mengembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. gaya bahasanya pun menarik dan pilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagamaan. Hindu. moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. siapa pun (baik yang beragama Islam.A. ketika cerpen ini diterbitkan tidak lama kemudian cerpen ini mendapat tempat di hati pembacanya dan masih terus dibicarakan hingga kini. Namun demikian. agar pembelajaran sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar. memberikan pengalaman pengganti.A. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas. maka sewajarnya sebuah cerpen dapat dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. 3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar. Selain itu. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan.

bahasannya benar-benar berdasarkan pengalaman siswa. guru pun harus membaca terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai begitu pula dengan siswanya. Alur Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehinga siswa yang berlatar belakang budaya Islam. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap cerita tersebut kemudian mengarahkannya ke dalam pengalaman siswa sehingga ketika siswa membahas cerita itu. e. 2. 1. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal. Hindu. dan sinisme. Kakek. 2. 2) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual 3) Kakek adalah orang yang egois dan lalai. baik untuk tokoh cerita maupun pembacanya yang duduk di tingkat SMU. Berdasarkan uraian di atas. dan Budha pun dapat menerimanya. Titik Pengisahan Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa akan isi cerpen tersebut. dan akhir.Guru yang sudah berani menetapkan cerpen sebagai bahan pembelajaran sastra harus pula membacanya berkali-kali agar memahami isinya. dan bagaimana latar budaya yang dimunculkan dalam cerita itu ? Tentu saja hal ini dilakukan guru sebelum pembelajaran dimulai. Selain kriteria ini. Ajo Sidi. Penokohan Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang. mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain. tengah. karena bahasa yang digunakannya bisa dipahami oleh siswa SMU. Saran untuk guru . penulis meyarankan sebagai berikut. bagaimana kesesuaian psikologisnya. dan majas alegori. Juga. jangan sekali-kali membaca ringkasan cerpen tersebut tanpa pernah membaca cerita itu seluruhnya. Namun. dan Haji Soleh. guru harus kreatif ketika sedang membelajarkan siswanya. masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan pemikiran siswa SMU. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. selain itu konflik-konflik psikologis yang dimunculkan. d.Pemilihan bahan/materi pembelajaran sastra yang berbentuk cerpen sebaiknya mengikuti kriteria yang ada. Latar Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat. konflik psikologis tokohtokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari.Di dalam kegiatan pembelajaran. . Saran untuk siswa . f. Gaya Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. maka cerpen Robohnya Surau Kami sangat cocok /layak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMU. . Kristen.c. 4) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri. yaitu tokoh Aku. g. 1) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Misalnya. latar waktu. yaitu bagaimana bahasanya. dan latar sosial.

. baca pula buku-buku yang mengulas isi cerpen itu jika ada.Jika mungkin dan sempat.Selain itu..Sebaiknya siswa harus membaca cerpennya secara utuh berkali-kali agar memahami isinya.Berdiskusilah dengan penuh minat dan perhatian agar manfaat sastra bisa dirasakan . . . ikutilah setiap seminar atau diskusi sastra di manapun.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->