PEDOMAN DASAR BADAN PENGELOLA LATIHAN HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PENDAHULUAN Latihan Kader pada hakikatnya merupakan bentuk

perkaderan HMI yang berorientasi pada pembentukan watak kepribadian, pola pikir, visi, orientasi serta berwawasan ke-HMI-an yang paling elementer. Kedudukan dan peranan latihan ini adalah untuk meletakkan fundamen bagi setiap kader HMI yang dituntut siap mengemban amanah dan tanggung jawab untuk membangun bangsa Indonesia di masa depan. Oleh karena itu posisi latihan ini sangat menentukan gerak dan dinamika para kader maupun organisasi, sehingga apabila penanggung jawab latihan keliru dalam mengkomunikasikan dan mensosialisasikan semangat dan gagasan dasarnya maka keliru pula pengembangan bentuk-bentuk pembinaan berikutnya, baik pada up-grading maupun aktivitas. Berkaitan dengan persoalan tersebut dalam latihan sangat dibutuhkan lembaga serta forum yang mencurahkan konsentrasi pemikiran pada pengembangan kualitas para pengelola latihan, kemampuan konsepsi maupun manajerial. Berawal dari kesadaran dan tanggung jawab yang mendalam tersebut maka dibentuklah Badan Pengelola Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam. Berikut adalah pedoman dasarnya : BAGIAN I NAMA, STATUS DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 Nama Badan ini bernama Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat BPL HMI. Pasal 2 Status Badan ini berstatus sebagai badan pembantu HMI. (pasal 15 Anggaran Dasar HMI, pasal 51, 52 dan 55 Anggaran Rumah Tangga HMI) Pasal 3 Tempat dan Kedudukan a. BPL PB HMI berkedudukan di tingkat Pengurus Besar HMI. b. BPL HMI Cabang berkedudukan di tingkat HMI Cabang. BAGIAN II TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB Pasal 4 Tugas a. Menyiapkan pengelola latihan atas permintaan pengurus HMI setingkat. b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengelola latihan dengan jalan menyelenggarakan training pengelola latihan dan mengadakan forum-forum internal di lingkungan intern BPL HMI.

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM - HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG

Anggota BPL HMI adalah anggota HMI yang memenuhi kualifi kasi tertentu sebagai pengelola latihan.c. d. Mengundurkan diri. e. b. BAGIAN III KEANGGOTAAN Pasal 7 Syarat dan Keanggotaan a. Pusdiklat. f. Melakukan standarisasi pengelola training dan pengelolaan training. BPL PB HMI memiliki kewenangan untuk menyiapkan pengelolaan pelatihan di tingkat nasional yang meliputi Latihan Kader III. c. Kualifi kasi keanggotaan diatur dalam penjelasan terpisah. Bertindak merugikan dan mencemarkan nama baik korps BPL HMI. Anggota BPL HMI dapat kehilangan status keanggotaan apabila : 1. b. Memberikan informasi kepada pengurus HMI setingkat tentang perkembangan kualitas latihan. 3. Meninggal Dunia.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . BPL HMI Cabang bertanggungjawab kepada Pengurus HMI Cabang melalui Musyawarah BPL HMI Cabang. Bertindak bertentangan dengan kode etik pengelola latihan. BPL dapat menyelenggarakan training lain yang berkenaan dengan pengembangan sumberdaya manusia. Pasal 5 Wewenang a. Pasal 6 Tanggungjawab a. BPL PB HMI bertanggungjawab kepada Pengurus Besar HMI melalui Musyawarah Nasional BPL HMI. b. 2. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . c. BPL HMI Cabang memiliki kewenangan untuk menyiapkan penglolaan pelatihan yang meliputi Latihan Kader I. Membuat panduan pengelolaan training HMI. Latihan Kader II dan latihan keHMIan lainnya. Habis masa keanggotaan HMI. 2. Diskorsing atau Dipecat BAGIAN IV SKORSING DAN PEMECATAN Pasal 8 Kriteria Skorsing dan Pemecatan a. Meningkatkan kualitas latihan dengan jalan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan latihan. Anggota BPL HMI dapat diskorsing karena : 1. Up Grading Instruktur NDP dan Up Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan. 4.

Pengurus BPL HMI sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua . Musyawarah Nasional (MUNAS) BPL HMI diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 tahun. dan badan khusus lainnya. Sekretaris dan Bendahara. Yang dapat menjadi pengurus BPL PB HMI adalah anggota BPL HMI yang telah memenuhi kualifi kasi Instruktur Utama. Struktur organisasi ini adalah di tingkat Pengurus Besar dan Pengurus HMI Cabang. c. Periode BPL HMI disesuaikan dengan periode kepengurusan HMI setingkat.b. Yang dapat menjadi pengurus BPL HMI Cabang adalah anggota BPL HMI yang telah memenuhi kualifi kasi Instruktur. Hubungan pengurus HMI setingkat dengan BPL HMI adalah instruktif. d. a. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . Musyawarah BPL HMI Cabang adalah musyawarah anggota BPL HMI di tingkat HMI Cabang. b. Pengurus BPL HMI dilarang merangkap jabatan dalam jabatan struktur HMI. BAGIAN VII ADMINISTRASI LEMBAGA Pasal 13 Surat Menyurat ditunjuk untuk itu. masing – masing BPL HMI Cabang diwakili oleh 1 (satu) orang. b. c. MUNAS BPL HMI adalah musyawarah utusan BPL HMI Cabang. BAGIAN V ORGANISASI Pasal 9 Struktur a. Pasal 12 Musyawarah Cabang a. b. Pasal 10 Kepengurusan. e. Anggota diskors atau dipecat dapat melakukan pembelaan dalam forum yang c.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . BAGIAN VI MUSYAWARAH Pasal 11 Musyawarah Nasional a. Mengenai skorsing/pemecatan dan tata cara pembelaan diatur dalam ketentuan tersendiri. Musyawarah BPL HMI Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Hubungan BPL PB HMI dengan BPL HMI Cabang adalah koordinatif. b.

Pengurus Besar mendelegasikan kepada Pengurus Badan Koordinasi HMI sebagai pelaksana. Pelatihan yang diselenggarakan oleh KOHATI dan latihan yang bertujuan untuk HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . PENJELASAN Penjelasan Pasal 5 : Wewenang a. Pasal 14 Keuangan a. secara otomatis Bakornas LPL HMI dan LPL HMI c. c. BAB VIII ATURAN PERALIHAN Pasal 15 Untuk pertama pembentukan BPL HMI di bentuk oleh Pengurus HMI setingkat. Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur dalam ketentuan lain dengan tidak bertentangan dengan AD dan ART HMI serta pedoman organisasi lainnya. Untuk pengelolaan Latihan Kader III. Pasal 16 a. Cabang membubarkan diri dan/atau menyesuaikan diri dengan BPL HMI. MUNAS BPL HMI diselenggarakan oleh BPL PB HMI. BAGIAN IX ATURAN TAMBAHAN Pasal 17 Perubahan pedoman dasar ini dapat dilakukan dalam forum Musyawarah Nasional (MUNAS) BPL HMI. BPL PB HMI berwenang untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembentukan BPL HMI secara keseluruhan..HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . Dalam hal – hal tertentu Pengurus Badan Koordinasi bisa meminta BPL PB HMI untuk membantu. Pasal 18 b. b.a. Surat ke dalam memakai nomor . Yang dimaksud dengan latihan ke-HMI-an lainnya adalah sebagai sebuah kegiatan atau bentuk pelatihan yang dapat meningkatkan pemahaman keHMIan dan keorganisasian. Up Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan.. Keuangan BPL HMI ini dapat dikelola bersama dengan pengurus HMI setingkat. b. b. Sumber keuangan berasal dari sumbangan yang tidak mengikat dan usaha halal. Bentuk surat disesuaikan dengan bentuk yang dijelaskan di dalam pedoman administrasi HMI. Penjabaran tentang struktur organisasi. b. a. Up Grading Kpengurusan. apabila BPL HMI belum terbentuk. fungsi dan peran BPL HMI akan dijelaskan dalam tata kerja BPL HMI./B/sek/BPL/Bulan Hijriyah/Tahun Hijriyah./A/Sek/BPL/Bulan Hijriyah/Tahun Hijriyah.. Setelah BPL HMI terbentuk. Surat keluar memakai nomor .. misalnya Up Graiding NDP. Up Grading Administrasi dan Kesekretariatan. training pengelola latihan.

Karena itu diperlukan adanya aturan tentang prosedur dan administrasi latihan. dan sebagainya yang tidak termasuk kategori pelatihan ke-HMI-an. mempertahankan keberlangsungan dan mengembangkannya merupakan kewajiban segenap pengurus HMI. c) Telah menjadi Pengelola Latihan Kader. b) Telah dinyatakan lulus mengikuti Training Pengelola Latihan atau Senior Course. Kualifi kasi ditingkat BPL Cabang : a) Telah dinyatakan lulus Latihan Kader II.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . karena itu maka upaya untuk memajukan. termasuk di dalamnya tentang administrasi laporan penyelenggaraan HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . b) Telah dinyatakan lulus mengikuti Training Pengelola Latihan atau Senior Course. Guna mencapai mekanisme penyelenggaraan latihan yang tertib dan dapat dipertanggungjawabkan. Anggaran Rumah Tangga dan pedoman-pedoman organisasi lainnya. 3. Latihan tidak akan berjalan mencapai target dan tujuan secara baik tanpa dukungan dan usaha pengorganisasian yang baik pula. Mempunyai kemampuan sebagai pendidik. b. Hal ini pada gilirannya akan membuka jalan kemudahan dalam mencapai tujuan organisasi dan lahirnya kader-kader yang memiliki 5 (lima) kualitas insan cita. Pengorganisasian berbagai unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan latihan tercermin dalam organisasi latihan. pelatihan jurnalistik. Penjelasan Pasal 7 : Kualifi kasi Pengelola Latihan HMI a. pengelola dan penyaji. Memahami dan menguasai Pedoman Perkaderan. c) Telah menjadi Pengelola Latihan Kader. Organisasi latihan yang jelas akan memperlancar dan menertibkan proses penyelenggaraan latihan. ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA PENGELOLAAN LATIHAN A. 2. Kualifikasi Umum Kualifi kasi secara umum bagi pengelola latihan yang terlibat dalam seluruh bentuk latihan keHMI-an adalah sebagai berikut : 1. Kualifi kasi ditingkat BPL PB HMI : a) Telah dinyatakan lulus Latihan Kader III. Pendahuluan Latihan sebagai model pendidikan kader HMI merupakan jantung organisasi.meningkatkan kualitas profesionalisme seperti pelatihan dakwah. Kualifi kasi Khusus 1. 2. Memahami dan menguasai Anggaran Dasar. tidak cukup hanya dengan menyusun organisasi latihan saja.

HMI Cabang. b. Pengurus Besar : Penanggungjawab perkaderan secara nasional. Pengelola kebijakan perkaderan HMI. b. d. Steering Committee. Pemateri. Unsur-unsur dalam pelatihan yaitu : a. Fungsi Dan Wewenang 1. Organizing Comittee. Pusdiklat. d. Training Pengelola Latihan. 2. 2.c. Bekerjasama dengan PB HMI demi terlaksanakannya program-program latihan tingkat nasional. Pusdiklat dan training pengelola latihan. Bentuk-bentuk latihan yang di atas dalam organisasi ini adalah seluruh bentuk latihan yang ada dalam pola perkaderan HMI yaitu : 1. c. Melaksanakan program-program pelatihan tingkat nasional. HMI Cabang : HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . C. Komisariat. Unsur-unsur yang terlibat dalam latihan organisai HMI adalah sebagai berikut : a. Up Grading. Pelatihan Pengembangan Profesi. metode dan kurikulum yang ada untuk mencapai target dan tujuan latihan. Dengan terumuskannya organisasi dan mekanisme kerja tersebut maka akan memperkokoh kehadiran HMI sebagai organisasi kader. Unsur-Unsur Organisasi Latihan Secara sederhana yang dimaksud dengan organisasi latihan ialah suatu system kerjasama yang terdiri dari berbagai unsur dengan menggunakan sistem. 3. Up Grading Instruktur NDP dan Up Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan. Peserta. 4. Pemandu.b. BADKO HMI.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG .a. - 1. . c. e. 1.Melaksanakan Latihan Kader III. Administrasi latihan merupakan suatu rangkaian kegiatan dari berbagai unsur dalam penyelenggaraan latihan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. e. Latihan Kader.latihan.Mengkoordinir program-program latihan di wilayah masing-masing. BPL. KOHATI. 1. B. PB HMI. Badan Kordinasi : . f.

Bertanggungjawab atas terselenggaranya program pelatihan KOHATI.d.Bertanggungjawab atas terlaksananya program Latihan Kader I. Komisariat : .Kader HMI yang memiliki kualifi kasi tertentu.c. 2.Bekerjasama dengan pengurus HMI setingkat untuk 2. . . Memegang teguh dan melaksanakan kode etik pengelola latihan. - 2.Bekerjasama dengan pengurus HMI Cabang untuk menindaklanjuti program Latihan Kader I. . Bertanggungjawab atas keseluruhan jalannya acara latihan sesuai dengan rencana.- . Organizing Comittee (OC) : HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM .g. Pemandu : . Bertanggungjawab atas keberhasilan dan kualitas pengelolaan latihan.Mengadakan koordinasi sebaik-baiknya di antara unsur yang terlibat langsung dalam latihan.a. 1. Up Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan. cendikiawan atau orang-orang tertentu sebagaimana diatur dalam pedoman BPL dengan klasifi kasi dan kualifi kasi pengelola latihan. Instruktur : Adalah pemateri yang berasal dari aktivis HMI. menyelenggarakan program latihan. 1. Lembaga Pengembangan Profesi : . Up Grading Instruktur NDP. Steering Comittee (SC): .Melaksanakan rekruitmen calon kader. Up Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan dan Up Grading Administrasi Kesekretariatan. yang ditugaskan untuk menjampaikan materi latihan yang dipercayakan kepadanya. Mengkoordinir Komisariat dan Lembaga Pengembangan Profesi untuk terlaksananya (penjadwalan) training HMI. 2.Kader HMI yang diserahi tugas dan kepercayaan untuk memimpin. ditugaskan dan bertanggungjawab atas pengarahan dan pelaksanaan latihan. Up Grading Kepengurusan.Bertanggungjawab atas terlaksanakannya program Latihan Kader II. alumni. - 1. Training Pengelola Latihan. KOHATI : Mengadakan rekruitmen calon kader langsung melalui pelatihan. Up Grading Kepengurusan. Badan Pengelola Latihan : . Dapat mengadakan Program Latihan Kader II atas persetujuan pengurus Cabang. mengawasi dan mengarahkan latihan. Membuat laporan pengelolaan latihan.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG .b.Mengadakan rekruitmen calon kader langsung melalui pelatihan pengembangan profesi.e.d. Sebagai basis terselenggarakannya program-program latihan HMI. 1.f.

3. Lembaga Pengembangan Profesi dan KOHATI membentuk OC dangan surat keputusan dan membuat proposal disertai surat permohonan mengelola latihan. e) Bekerjasama dengan unsur-unsur lainnya dalam rangka mensukseskan jalannya latihan. Kemudian OC berkewajiban membuat laporan kepada HMI setingkat. 5. Untuk menyelenggarakan latihan. Laporan diserahkan paling lambat satu bulan setelah pelatihan berakhir. Menjamin kenyamanan suasana dan keamanan latihan. Peserta Latihan : Adalah calon kader yang diharapkan dapat berkembang menjadi kader yang berhasil. dekorasi dan dokumentasi. akomodasi. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . PB HMI atau BADKO HMI membentuk OC dengan SK dan membuat proposal dan memerintahkan BPL PB HMI untuk mengelola latihan. . 4.. Untuk menyelenggarakan LK II.Sebagai penyelenggara yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan teknis penyelenggara latihan. Pengurus Komisariat. Mengusahakan pembiayaan dan perizinan latihan. Untuk menyelenggarakan LK I.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG .Administrasi kesekretariatan . Mengusahakan ruangan. 7. b.Publikasi. Gambaran umum kegiatan. meliputi : a.e. 9. 8. Pengurus BPL setingkat selanjutnya membentuk SC dengan surat mandat yang bertugas sesuai fungsi dan wewenangnya. Menyelenggarakan LK III dan pelatihan ke-HMI-an lainnya. Pemandu bertanggungjawab atas terlaksanakannya latihan sesuai dengan proposal yang telah diajukan dan berkewajiban memberikan laporan kepada Pengurus BPL setingkat. peralatan dan penerangan yang favourable. a) b) c) d) 2. 2. Hal-hal yang penting harus dilaporkan oleh SC.Tugas–tugas OC secara garis besar sebagai berikut : Mengusahakan tempat. Pengurus Komisariat membentuk OC dengan SK dan membuat proposal disertai surat pemohonan mengelola latihan untuk kemudian diusulkan pada Pengurus BPL Cabang. konsumsi dan fasilitas lainnya. D Mekanisme Kerja Pengelola Latihan 1. termasuk rekruitmen peserta latihan. 6. Pelaksanaan kegiatan : . pengurus HMI Cabang membentuk OC dengan SK dan membuat proposal serta memerintahkan BPL untuk mengelola latihan. OC dan SC bertanggungjawab atas tersedianya fasilitas yang diperlukan demi terselenggaranya latihan.

d. Hal-hal penting yang harus dilaporkan pemandu meliputi : a. Jika Cabang tidak/belum ada badan pengelola latihan maka tugas– tugas di tangani langsung oleh bidang PA. c.Instruktur. 11.Berita acara. Evaluasi pengelola latihan : . . Pelaksanaan kegiatan : .SC. Gambaran umum pengelola latihan. Evaluasi.Akomodasi. pemandu. Kesimpulan.Jadwal manual acara dan realisasi. . c. pemateri peserta..HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG .Konsumsi . . . b. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . . d. Kesimpulan dan saran.SC dan pemandu. 10. . e.Keuangan dan perlengkapan. Lampran-lampiran.Peserta.Acara dan lain-lain.

maka kedudukan suatu kode etik tersebut adalah sebagai tolok ukur kesetiaan anggota kelompok terhadap tata nilainya. cenderung mendambakan ‘ketenangan dalam kelompok’ serta merasa bertanggungjawab terhadap kelompok tersebut. Demikian juga halnya pengelola latihan sebagai satu kelompok yang secara sadar terlibat dalam proses pengelolaan pelatihan di HMI. Karena pada dasarnya setiap orang dengan segala harapan dan keinginannya. dan pada saatnya mereka mendapat ganjaran yang terhormat dari anggota kelompoknya.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . Pelaku-pelaku yang setia menekuni sikap dan tindakan seperti yang ditunjukkan oleh kode etik. serta berusaha memberikan andil agar kegiatan yang HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . terutama pada materi yang menjadi spesialisasinya dalam pelatihan. Sebaliknya pelaku yang cenderung lalai dalam mengemban kode etik. perlu mendalami dan mentaati kode etiknya yang dirumuskan sebagai berikut : BAGIAN I SIKAP DAN PERILAKU UMUM Pasal 1 Peran Keilmuan Pengelola pelatihan memberikan perhatian tinggi pada kegiatan keilmuan. dapat menghindari dari hal-hal yang dianggap buruk. Pengelola pelatihan selalu berusaha menjadi satu dalam kegiatan masyarakat di lingkungannya. Bahwa kode etik merupakan kaidah yang mengatur sikap dan perilaku agar dapat bertindak secara baik dan benar. Pasal 2 Citra Kekaderan Dalam forum manapun juga. mereka dikategorikan sebagai pengemban setia dari nilai-nilai kelompok yang diperjuangkannya. pada saatnya akan mendapatkan tekanan sosial dari kelompoknya yang menyadari dirinya untuk mengentalkan kesetiaan pada tata nilai kelompok dengan jalan memberikan kepatuhan pada kode etik. Dengan demikian. pengelola pelatihan selalu menjaga nama baik kelompok/himpunan serta mengembangkan citra kekaderan dengan tingkah laku simpatik. yang penghayatan dan pengamalannya didasari oleh moralitas yang dalam. serta berusaha mencari relevansi penjelasan ilmu tersebut. karena di mana eksistensi dan misi yang dianggapnya mulia.KODE ETIK PENGELOLAAN LATIHAN HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PENDAHULUAN Maha suci Allah yang telah menganugerahkan hamba-Nya kejernihan dan ketulusan hati nurani terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. Pasal 3 Peran Kemasyarakatan a.

berlangsung tersebut berjalan secara lebih bermakna bagi kemanusiaan dan berlandaskan Islam. Pengelola pelatihan pada periode tertentu mengkhususkan diri pada kesibukan kampus/intra universitas. Sedapat mungkin full time di arena pelatihan atau hanya meninggalkan arena apabila ada keperluan sangat penting. misalnya dunia kemahasiswaan. Pengelolaan pelatihan selalu berdaya upaya memperdalam persepsi danpenguasaan ketrampilan serta pematangan kepribadian. keilmuwan seperti penulisan paper dan sebagainya. Berusaha menetralisir gambaran yang keliru tentang Islam maupun misi HMI pada kalangan masyarakat yang mengalami salah pengertian. Pada waktu tertentu masih menyisihkan untuk berperan secara fisik pada kegiatan pengelolaan pelatihan. dan perhiasan seperlunya. Tugas dan tanggung jawab pada jabatan pada pengurus struktur kepemimpinan disinergikan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai kelompok pengelola latihan. serta mengenakan emblem kecil di dada dan muts.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . baju dengan krah. d. Pasal 5 Pengurus Struktur Kepemimpinan a. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan pelatihan serta Al Qur’an dan terjemahnya. Pasal 4 Membina Anggota Pengelola pelatihan selalu berusaha mengikuti perkembangan kegiatan anggota dan ikut serta dalam usaha meningkatkan kualitas anggota tersebut. a. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . b. lengkap dengan sabuk dan sepatu. b. c. Pasal 7 Pengembangan Diri 1. tanpa mengacaukan suasana khas yang masingmasing terdapat pada intra dan ekstra universitas. dengan selalu berpartisipasi pada perumusan dan evaluasi langkah strategis perkaderan. 2. Secara periodik pengelola pelatihan menunjukkan prestasi di luar forum kemahasiswaan. Membagi waktu sebaik-baiknya agar tidak hanya ‘hanyut’ dalam kegiatan rutin operasionalisasi program. 2. Pemandu putri : pakaian sopan dengan mode yang menutup lutut dan lengan secara tidak ketat. baik secara kolektif maupun aktivitas individual. Pasal 6 Aktivitas Kampus 1. b. BAGIAN II PADA SAAT MENJADI PEMANDU Pasal 8 Terhadap Diri Sendiri Pemandu putra adalah : pakaian rapi. memakai sepatu. tetap selalu menjaga dan memelihara komunikasi serta terlibat secara adil dengan langkah pengelolaan pelatihan.

bersabar mengikuti jalan pikirannya. memperhatikan asal usul. e. a. kemudian mempersilahkan mengisi materi apabila waktunya sudah tiba. b.e. f. Pemandu apabila terpaksa menjatuhkan sanksi terhadap peserta pelatihan. Memimpin studi Al Qur’an (ba’da magrib) bagi peserta pelatihan secara khusus menurut tingkat kemampuannya. baik segala sesuatu yang berkaitan dengan perkaderan maupun topik umum yang aktual. Mengambil alih tanggungjawab mengisi materi. memahami latar belakangnya dan seterusnya. apabila pemateri yang bertugas betul-betul berhalangan. c. d. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . Pada saat pelatihan berlangsung. e.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . Pasal 10 Terhadap Pemateri Pemandu menyampaikan perkembangan pelatihan pada pemateri yang akan memberikan materi. Mengadakan pembagian tugas yang seimbang pada setiap sesi bagi setiap pemandu. Selama pemateri berada di arena pelatihan maupun di dalam forum pelatihan. b. a. misalnya mulai pada penyebutan nama yang benar. Pemandu tidak menunjukkan senyum atau rasa geli yang wajar dalam menyaksikan tindakan peserta pelatihan yang bersifat lucu. Memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berdiskusi (informal) dengan pemateri. b. Pemandu tidak menunjukkan sikap atau tindakan yang membawa kesan pilih kasih. Memilih ayat-ayat Alqur’an untuk dibacakan pada acara pembukaan sesuai konteks langsung dengan materi acara. pemandu dapat memantapkan materi yang disampaikan terdahulu tanpa keluar dari pola yang sudah ada. d. c. Pada sesi berikutnya. Pada saat selesai pelatihan langsung meyelesaikan laporan pelatihan secara rapi dan lengkap untuk dijilid. hendaknya dengan cara mendidik dan teknik yang tidak berakibat menimbulkan antipati. Pasal 11 Terhadap Peserta Pelatihan Pemandu menunjukkan rasa penghargaan dan persaudaraan terhadap peserta pelatihan. apabila ‘teman spesial’ sedang berada di arena pelatihan hendaklah tetap bertingkah laku wajar untuk tidak menimbulkan citra yang mengganggu sosialisasi nilai. c. Dan memberi contoh shalat berjamaah maupun aktivitas masjid. a. sedangkan waktu untuk mencari penggantinya sudah tidak mungkin. Pada dasarnya pemandu harus menyesuaikan diri dengan kesepakatan ketertiban peserta pelatihan. Pasal 9 Sebagai Team Pemandu Tim pemandu menjaga kerahasiaan penilaian terhadap peserta pelatihan selama pelatihan berlangsung dan mengumumkan pada akhir pelatihan setelah melakukan perhitungan prestasi secara teliti. d. agar pemandu mengesankan sikap ukhuwah islamiyah terhadap pemateri.

Pemandu bertanggungjawab memelihara nama baik HMI pada masyarakat sekitar. kalau mungkin diperkenalkan dengan peserta pelatihan disertai dialog singkat tanpa merubah manual. b. Pasal 15 Terhadap Masyarakat a. Dalam keadaan situasi pelatihan yang memerlukan bantuan untuk mempertahankan target pelatihan maka rekan BPL yang berkunjung dapat diminta tenaga khusus. b. dengan lebih dulu mengadakan pemeriksaan. g. Terhadap alumni tersebut. c. Hal-hal yang menyangkut fasilitas kesekretariatan pelatihan maupun konsumsinya diperlukan hanya sebatas kemampuan panitia. Rekan BPL yang tidak bertugas diajak untuk mempelajari jalannya pelatihan sekedar tukar fi kiran untuk mendapatkan hasil maksimal.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . Apabila suatu saat di arena pelatihan. dengan memberikan bimbingan maupun dorongan moril. pemandu melakukan diskusi intensif mengenai perkembangan perkaderan.f. BAGIAN III PADA SAAT MENJADI PEMATERI Pasal 16 Terhadap Diri Sendiri HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . Pasal 13 Terhadap Sesama Anggota Badan Pengelola Latihan (BPL) a. Pasal 12 Terhadap Panitia Pemandu selalu berusaha memahami kondisi dan permasalahan yang dihadapi panitia. b. a. Pemandu mengatur kegiatan yang bersifat pengabdian masyarakat sekitar sesuai kebutuhan masyarakat yang mungkin di tangani. pemandu ‘memiliki perasaan spesial’ terhadap lawan jenisnya hendaknya selalu bertindak dewasa sehingga tidak perlu menunjukkan tingkah laku yang mengundang ‘penilaian negatif’. Menyesuaikan pengaturan acara atau di dalam dan di luar lokasi dengan persiapan teknis yang selesai dikerjakan panitia. Diskusi (informal) dapat dilakukan dilakukan di luar lokasi dengan peserta pelatihan yang sifatnya melayani hasrat ingin tahu dari peserta pelatihan dengan menyesuaikan dengan penggarapan dalam lokasi. Waktu luang dari panitia dimanfaatkan untuk melakukan diskusi tentang topik yang bersifat memperdalam persepsi dan wawasan berfi kir panitia. b. Alumni (terutama yang pernah mengelola pelatihan) yang berkunjung ke arena pelatihan. Pasal 14 Terhadap Alumni a. d.

a. berdialog dengan rekan pemateri yang mengasuh metari sejenis dan yang berkaitan. c. b. Pemateri pada saat dihubungi panitia segera memberi kepastian kesediaan b. b. sebagai bahan perbandingan evaluasi. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan pelatihan serta Al Qur’an dan terjemahnya. c. b. Peserta pelatihan yang masih berminat berbincang di luar lokasi. hendaknya dilayani selama kondisi memungkinkan atau tidak. Membuat penilaian tertulis kepada BPL tantang kondite pemandu. a. Pasal 18 Terhadap Sesama Pemateri a. dari sanksi paling ringan (teguran lisan) sampai dengan yang paling berat (dikeluarkan dari BPL). Pasal 17 Terhadap Peserta pelatihan Pemateri memberikan kesempatan yang merata dan adil kepada peserta pelatihan untuk bicara. BAGIAN V PENUTUP Pasal 21 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . agar pelatihan berlangsung mencapai target. d. Peserta pelatihan yang konsentrasinya terganggu atau tertidur dan semacamnya hendaknya ditegur. Memberikan informasi dan membantu memberikan pertimbangan kepada pemandu apabila diperlukan atau bila terjadi kekurangsiapan dari pemandu. BAGIAN IV SANKSI Pasal 20 Pelanggaran terhadap kode etik pengelola pelatihan akan dikenakan sanksi. Pasal 19 Terhadap Team Pemandu a.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . Saling mengisi dengan materi yang disampaikan. d. Pada saat peserta pelatihan berbicara hendaknya pemateri memberikan perhatian sunguh sungguh. serta menghargai pendapat peserta dan membimbing merumuskan pendapat mereka. Menyesuaikan pakaian pemandu. Mengisi riwayat hidup sebelum masuk lokasi pelatihan. Diusahakan sebelum mengisi materi.

INSTITUSI Untuk menerapkan mekanisme evaluasi perlu ada institusi yang jelas. Adapun akreditasi meliputi : 1. III. akan disesuaikan dengan pedoman BPL dan aturan operasional lainnya.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . dedikasi dan konsistensi dalam menjalankan sistem perkaderan yang ada. FORMAT Format evaluasi pedoman perkaderan: 1. Laporan triwulan pelaksanaan training. Akreditasi ini diperuntukkan kepada Cabang sebagai institusi yang secara langsung melaksanakan proses perkaderan. Panduan Pengelola Latihan.Hal-hal yang belum diatur dalam kode etik ini. Hal ini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak mengingat kualitas output kader ditentukan oleh pedoman perkaderan yang diterapkan pada masing masing Cabang. sehingga mekanisme evaluasi ini menjadi efektif. Kurikulum. Selama ini penerapan pedoman perkaderan belum mengalami persamaan secara mendasar terutama kurikulum latihannya. Di samping itu akreditasi berfungsi juga untuk memetakan penerapan pedoman perkaderan yang dilaksanakan seluruh Cabang. PENDAHULUAN Sebagai organisasi mahasiswa Islam yang memfungsikan diri sebagai organisasi kader. maka HMI senantiasa berusaha untuk memelihara motivasi. IV. Dalam hal ini akreditasi yang dilakukan adalah bentuk laporan periodik Cabang pada BADKO HMI diwilayahnya dan PB HMI. Dalam usahanya untuk menjaga konsistensi perkaderan maka perlu ada suatu mekanisme evaluasi penerapan pedoman perkaderan yang telah disepakati bersama. SISTEM EVALUASI PENERAPAN PEDOMAN PERKADERAN I. II. AKREDITASI Akreditasi sebagai suatu mekanisme pemaksa dalam suatu evaluasi merupakan upaya yang didorong oleh keinginan memberikan motivasi yang lebih tinggi terhadap pengelola perkaderan. Dalam struktur HMI penaggungjawab dan pelaksana evaluasi penerapan pedoman perkaderan adalah bidang Pembinaan Anggota. Pola Rekruitmen. oleh karena itu penentuan kurikulum yang dipakai seluruh Cabang dan sekaligus pengelola latihan yang telah ada dituntut menerapkan secara komprehensif. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . 2. 3.

Up grading dan pelatihan minimal empat kali dalam satu periode. HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM . c. LK I minimal 2 kali dalam satu semester. Aktivitas pembinaan minimal satu kali dalam satu bulan 4. b. Frekuensi latihan : a. Bentuk kegiatan.5 *= Jumlah mahasiswa muslim dalam wilayah kinerja Cabang. Cabang tidak dibenarkan mengikuti dan mengelola kegiatan perkaderan tingkat regional dan nasional.5 Latihan Kader III (advance training) 1. 3. Laporan aktivitas pembinaan : a. SANKSI Apabila tidak memenuhi persyaratan tersebut di atas. b. LK II minimal satu kali dalam satu periode. VI.HASIL HASIL KONGRES XXVI PALEMBANG . RATIO JENJANG LATIHAN PERKADERAN R* (persentase) 100 Latihan Kader I (Basic training) 10 Latihan kader II (intermediette Training) 3. V.2. Tingkat partisipasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful