P. 1
Ekologi Penyakit - Drh. Sunu

Ekologi Penyakit - Drh. Sunu

|Views: 1,591|Likes:

More info:

Published by: Ardilasunu Wicaksono on Jul 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

Drh.

Ardilasunu Wicaksono Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

EKOLOGI PENYAKIT
PENDAHULUAN
Latar belakang
Studi penyakit pada populasi membutuhkan pemahaman mengenai

hubungan antara organisme (inang dan agen) dan lingkungannya. Hubungan ini dapat menyebabkan keberadaan penyakit baik secara spasial maupun temporal. Sebagai contoh adalah iklim yang mempengaruhi daya tahan inang dan agen infeksius dan distribusi dari vektor baik secara langsung maupun tidak langsung. Kejadian penyakit dipengaruhi pula oleh faktor tumbuhan sebagai pakan hewan, dimana tumbuhan dapat mempengaruhi keberadaan nutrisi dan mineral jika konsumsinya kurang akan menyebabkan terjadinya defisiensi nutrisi. Studi mengenai hubungan antara hewan dan tumbuhan pada habitatnya disebut ekologi. Ekologi berkembang sebagai ilmu yang tidak hanya melihat hubungan antara hewan dan tumbuhan, namun juga melihat hubungannya dengan mikroorganisme yang memiliki penilaian secara kualitatif dan kuantitatif yang sama dengan epidemiologi. Dengan mengetahui hubungan antara ekologi, evolusi dan epidemiologi dari agen dan inang, maka dapat ditentukan perkiraan yang lebih akurat mengenai keganasan penyakit. Studi mengenai epidemiologi penyakit merupakan bagian investigasi dari epidemiologi yang memiliki dua tujuan utama. Pertama adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai pathogenesis, pemeliharaan agen infeksius, dan transmisi penyakit. Kedua, kegunaan dari mengetahui dari ekologi penyakit adalah untuk memprediksi kapan dan dimana penyakit itu akan muncul, sehingga dapat dikembangkan teknik pengendalian yang tepat.

Ardilasunu Wicaksono 2011

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui ekologi penyakit berhubungan dengan lingkup epidemiologi dan dibahas mengenai konsep dasar ekologi, cerukan/ persaingan organisme, hubungan antara tipe hewan dan tumbuhan yang berbeda, pengaruh ekosistem, serta wawasan tambahan mengenai konsep ecohealth.

PEMBAHASAN
Konsep Dasar Ekologi
Pendekatan ekologis merupakan dasar bagi studi tentang masalah-masalah epidemiologi, cara-cara dimana tingkah laku individu dan kelompok menentukan derajat kesehatan dan timbulnya penyakit yang berbeda-beda dalam populasi yang berbeda-beda. Dua faktor utama yang mempengaruhi keberadaan penyakit adalah distribusi populasi dan jumlah populasi hewan. a. Distribusi Populasi

Zona Vegetasi Ahli tumbuhan membagi bumi berdasarkan beberapa zona vegetasi. Pada abad ke 18, para naturalist membagi bumi menjadi beberapa formasi vegetasi seperti tundra, savannah, dan gurun dan pada awal abad 20, mulai diklasifikasikan hubungan antara iklim dengan kawasan vegetasi. Biomassa Pada abad ke 19, zoologist membagi daerah di bumi berdasarkan populasi hewan yang serupa. Mereka mengklasifikan area yang berbeda di dunia berdasarkan keberadaan tipe hewan dan tumbuhan karena distribusi hewan sangat bergantung pada keberadaan vegetasinya. Hutan hujan tropis, savannah dan tundra merupakan biomassa yang memiliki sebaran hewan dan tumbuhan tersendiri. Distribusi dari agen infeksius dan vektor sangat dipengaruhi kondisi lingkungan dari biomassanya. Sebagai contoh, distribusi dari penyakit Rift Valley Fever, sangat

Ardilasunu Wicaksono 2011
berhubungan dengan daerah basah pada zona ekologi Afrika. Hal ini berhubungan dengan vektor nyamuk pada zona ini. Kapang Coccidioides immitis yang menginfeksi manusia, anjing, ternak dan babi muncul sebagai penyakit endemis pada zona lower-sonoran. Zona ini memiliki karakteristik musim panas yang sangat panas dan musim dingin yang ringan, vegetasi yang jarang dengan curah hujan per tahun 15-20 cm, tanah dengan pH alkalis dan kondisi angin yang kondusif di dalam pertumbuhan dan penyebaran kapang. Prevalensi dari cacing jantung (Dirofilaria immitis) yang menginfeksi anjing di California berhubungan dengan zona iklim tanaman. Waktu yang diperlukan oleh microfilaria untuk berkembang menjadi larva infektif pada vektor nyamuk bervariasi di setiap zona. Prevalensi tinggi berada pada lahan pertanian dikarenakan nyamuk berkembang pesat di daerah ladang. Zona ekologis juga besar pengaruhnya pada peternakan yang dapat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit. Sebagai contoh, ternak yang diumbar memiliki kecenderungan malanutrisi, begitu juga mempengaruhi fertilitas ternak. Daerah yang memiliki kondisi air yang kurang bersih yang terkontaminasi oleh mikroorganisme dapat menyebabkan septicemia pada anak yang baru lahir di beberapa daerah penggembalaan di Afrika. Angka prevalensi brucellosis yang

tinggi pada daerah penggembalaan dipengaruhi oleh pembuangan abortusan yang dilakukan sembarangan. b. Besaran Populasi Hewan Keseimbangan alami Populasi tumbuh dan mencapai ukuran tertentu dan pada akhirnya berhenti tumbuh. Populasi menjadi stabil dan seimbang jika tingkat reproduksi seimbang dengan tingkat kematian. Pengendalian besaran populasi dengan kompetisi Pada studi laboratorium yang dilakukan lalat buah Drosophila, diketahui adanya kompetisi makanan untuk bertahan hidup. Mekanisme tersebut juga berlaku pada populai parasit contohnya adalah Ascaris spp.

Ardilasunu Wicaksono 2011
Pengaruh musim terhadap populasi Di beberapa bagian dunia terdapat variasi iklim yang ekstrim. Spesies tertentu tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi musim tertentu, misalnya Belalang Australia bertelur pada musim dingin, kehangatan pada musim semi menyebabkan telur tersebut menetas. Belalang tumbuh dewasa dan bertelur pada kondisi basah.

Predasi Predasi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pengendalian populasi. Kehadiran predator merupakan salah satu kontrol populasi secara alami agar terjadi keseimbangan populasi dalam ekosistem. Penyakit infeksius Kejadian pandemik dengan Case Fatality Rate yang tinggi seperti penyakit Black Dead dan Rinderpest memiliki dampak yang besar terhadap populasi. Agen infeksius dapat dibagi dua kelompok yaitu mikroparasit dan makroparasit. Pembagian ini sangat berguna untuk mengetahui efek dari infestasi parasit pada populasi. Mikroparasit berkembang biak secara langsung di dalam tubuh inang sehingga menimbulkan tingkat keparahan penyakit. Makroparasit tidak

meningkatkan tingkat keparahan namun berkembang biak untuk disebarkan dari satu inang ke inang lainnya sebagai contoh helmint dan arthropoda. Infeksi mikroparasit dapat menurunkan jumlah populasi ketika terjadi epidemik atau pandemik dengan Case Fatality Rate yang tinggi. Mikroparasit biasanya merupakan organisme patogen yang memiliki virulensi yang tinggi. Infeksi mikroparasit jelas dapat menekan ukuran populasi inang ketika mereka muncul sebagai epidemi atau pandemi dengan tingkat kasus kematian yang tinggi. Efek tersebut bersifat sementara, tetapi mereka menunjukkan potensi yang mirip dengan fungsi predator. Infeksi makroparasit khususnya cacing, dapat memiliki penyebaran yang luas pada populasi hewan, meskipun efeknya tidak tampak seperti yang disebabkan oleh mikroparasit. Cacing tidak hanya secara signifikan menurunkan laju pertumbuhan, tetapi juga dapat mengurangi kelangsungan hidup host dan kemampuan reproduksi.

Ardilasunu Wicaksono 2011
Jelajah Hewan tertentu memiliki batasan alami daerah di mana mereka berkeliaran, ini adalah rentang jelajah mereka. Sebagai contoh, burung kutub memiliki rentang jelajah yang lebih besar ketika makanan langka daripada ketika makanan banyak. Hal ini mungkin menjadi kontrol populasi, dan memiliki implikasi untuk penularan penyakit menular; hewan yang terinfeksi dapat menularkan infeksi selama rentang jelajah mereka. Teritorial Teritorial merupakan bagian dari jangkauan jelajah yang mempertahankan diri secara agresif dari penyerbu wilayah binatang itu. Teritorial memiliki keuntungan dalam penghematan pergerakan ketika mencari makanan. Teritorial juga dapat mengontrol populasi dalam suatu wilayah, keterbatasan jumlah ruang membatasi jumlah binatang yang dapat eksis di suatu wilayah. Dominasi sosial Beberapa spesies hewan berkelompok mendiami tempat-tempat yang menguntungkan, ketika kepadatan terjadi, hewan-hewan sosial yang lemah dipaksa keluar dari kelompok. Hal ini dimungkinkan sebagai salah satu mekanisme pengendalian populasi. Kepadatan populasi menghasilkan perkelahian terkait

kanibalisme dan kemampuan kawin berkurang. Beberapa eksperimen, dominasi sosial menyebabkan hewan stres, dan hewan yang secara alami stres mengalami hipertrofi adrenal. Pada saat binatang berkumul, peningkatan hubungan dapat membantu transmisi agen penyakit menular, dan dapat menghasilkan tren musiman kejadian penyakit.

Cerukan
Cerukan adalah contoh persaingan intraspesifik, yaitu persaingan antara anggota spesies yang sama. Kompetisi interspesifik juga dapat terjadi ketika dua spesies hidup bersama. Persaingan ini merupakan dasar penting dalam ekologi. Koeksistensi persaingan besar dua spesies adalah mustahil. Koeksistensi hanya mungkin terjadi jika kompetisi lemah. Persaingan dimenangkan oleh kelompok yang lebih kuat dan tergantung komposisi lingkungan. Kelangsungan hidup hewan yang

Ardilasunu Wicaksono 2011
paling cocok dalam suatu lingkungan sebagai hasil dari suatu kompetisi. Kompetisi yang kuat dapat menyebabkan kepunahan salah satu spesies. Persaingan interspesifik dapat digunakan dalam pengendalian vektor penyakit tertentu. Untuk menghindari persaingan, kelompok spesies tertentu membentuk cerukan sendiri, sebagai contoh cerukan yang berkaitan dengan penyakit diantaranya infestasi kutu dan infestasi parasit internal hidup memiliki habitat dan induk semang yang berbeda. Intervensi epidemiologi Studi di India menunjukkan bahwa infeksi pada saluran respirasi akan menahan infeksi tipe yang lain, hal ini dikarenakan tipe yang pertama menempati cerukan (saluran pernafasan bagian bawah), yang mana tidak dapat diisi oleh agen yang lain. Fenomena ini adalah intervensi dari epidemiologi. Contoh lain,

Trypanosoma congolense dapat menunda perkembangan infeksi oleh serotipe yang berbeda pada satu hewan. Intervensi dapat berpengaruh pada waktu timbulnya penyakit. Epidemi yang disebabkan oleh satu agen dapat menekan epidemi yang disebabkan oleh agen yang lain. Hal ini terjadi secara nyata pada infeksi pernafasan manusia di Amerika Utara dan India. Beberapa penyakit menyerang manusia pada kelompok usia tertentu, seperti halnya infeksi virus tertentu pada manusia. Intervensi juga dapat berakibat pada tingkat imunisasi alami. Jika agen infeksi berada terus dalam tingkat yang tinggi, infeksi diikuti oleh kekebalan, namun jika agen lain mengintervensi maka kekebalan yang dihasilkan oleh agen akan terhambat, infeksi akan berlangsung terus pada umur tua. Sebagai contoh, intervensi oleh enterovirus menghambat kekebalan alami manusia terhadap virus polio.

Hubungan Antara Tipe Hewan dan Tumbuhan yang Berbeda
Bioma tertentu memiliki perbedaan tipe pada hewan dan tumbuhan. Hewan cenderung berpindah secara acak, sehingga sulit untuk mempelajari mereka secara simultan. Ahli ekologi kemudian memilih untuk melihat secara jelas pada satu spesies hewan, dalam keadaan yang mudah di observasi.

Ardilasunu Wicaksono 2011
Rantai makanan Rantai makanan adalah gambaran sederhana hubungan antara hewan dan makanannya. Pada kenyataannya, hewan biasanya makan bermacam macam makanan, jadi umumnya banyak rantai makanan yang terhubung dengan tanaman tingkat rendah yang berfotosintesis dengan bantuan sinar matahari sampai ke herbivora, kemudian masuk sampai ke karnivora tingkat paling atas membentuk jaring makanan. Ukuran hewan dan jaring makanan Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Binatang makan pada tingkatan tertentu pada rantai makanan. Tingkatan ini ditempati oleh binatang dengan ukuran yang berbeda. Sebagai contoh, rubah adalah bintang terbesar, dan burung (satu tingkat dibawah) lebih kecil, dibawahnya lagi terdapat serangga yang mempunyai ukuran yang lebih kecil. Jika bergerak turun ke rantai makanan yang lebih rendah, jumlahnya lebih banyak dari jumlah binatang yang memangsanya (binatang yang berada pada posisi rantai makanan yang lebih tinggi).
Rubah

Burung

Serangga

Pada gambar piramida diatas menunjukkan bahwa jumlah serangga lebih banyak daripada jumlah burung, sedangkan jumlah burung lebih banyak daripada jumlah rubah yang memangsanya. Dimana hewan yang berukuran lebih besar dan berjumlah jarang mereka memiliki wilayah jelajah yang lebih luas dan oleh karena itu dapat mengeluarkan agen infeksi dan menyebarkan infeksi ke area yang lebih luas daripada hewan yang lebih kecil.

Ardilasunu Wicaksono 2011
Hubungan signifikan antara jaring makanan dan penularan penyakit Jaring makanan hewan dapat menentukan agen infeksius yang ditularkan secara oral pada hewan sebagai host/inang, dan dapat menentukan makanan mana yang menyebabkan risiko keracunan. Misalnya, pemangsa berisiko terinfeksi mikroba yang termakan karena makanan yang terinfeksi. Contohnya, burung pemakan daging yang dipelihara secara bersama-sama dengan spesies lain dapat terinfeksi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi makanan burung lokal, sehingga selanjutnya disarankan bahwa burung tersebut yang akan dilepaskan ke alam lebih baik diberi makan tikus, kelinci atau mamalia kecil lain daripada diberi makan ayam untuk mengurangi risiko infeksi terhadap populasi di alam. Penyakit karena cacing, dengan inang definitif dan antara, sering ditularkan melalui jaring makanan. Contohnya, cacing pita Echinococcus granulosus dengan domba sebagai inang antara dan anjing sebagai inang definitif. Kista dalam hati dan paru-paru dari inang intermediate akan berpindah ke anjing saat memakan jeroan domba oleh karena itu disarankan jeroan domba yang mentah tidak

direkomendasikan diberikan pada anjing. Rickettsia menghasilkan penyakit febrile pada anjing dan rubah. Penyakit ini disebut ‘keracunan salmon’ karena dikaitkan dengan pemberian makanan salmon pada anjing. Analisa Pemangsaan Hubungan antara pemangsa dan buruannya adalah kejadian yang khusus dalam hubungannya dengan rantai makanan. Banyak metode matematis telah diciptakan untuk menganalisa hubungan pemangsa/buruan. Tiga model prediksi adalah: 1. Fluktuasi dari 2 spesies, salah satu menjadi makanan yang lain; 2. Nilai rata-rata terakhir dari jumlah individu dari dua spesies adalah berkoefisien tetap, bersifat bebas pada jumlah awal; 3. Jika individu-individu dari dua spesies dihilangkan dalam proporsi dari jumlah total mereka, kemudian potensi pemulihan dari buruan akan lebih baik daripada pemangsa; sebaliknya peningkatan perlindungan buruan dari segala resiko termasuk pemangsa untuk kedua spesies dapat naik.

Ardilasunu Wicaksono 2011
Ekosistem
Ekosistem adalah kesatuan interaksi antara makhluk hidup dengan

lingkungannya. Ekosistem juga dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik yang komplek antara organisme dengan lingkungannya. Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati yang membentuk sistem ekolog. Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi karena adanya arus materi dan energi, yang terkendali oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem. Masing-masing komponen mempunyai fungsi (relung). Selama masing-masing komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem tetap terjaga. Biotope dan biocenosis merupakan komponen yang diharapkan dapat mendeskripsikan ekosistem dengan lebih jelas. Biotope adalah unit terkecil yang menyediakan kondisi yang sama untuk hidup. Biotope organisme menunjukkan lokasinya. Hal ini kontras dengan cerukan, yang menunjukkan posisi fungsional organisme dalam kelompok. Sebuah biotope dapat bervariasi dalam ukuran. Contohnya, koksidia dapat berada di sekum ayam, atau satu bidang tanah dengan drainase yang buruk untuk infeksi parasit lain. Sedangkan biocenosis adalah gabungan dari organisme hidup dalam biotope. Organisme-organisme ini meliputi tumbuhan, hewan dan mikroorganisme dalam biotope. Terkadang kelompok makhluk hidup digunakan sebagai sinonim dengan biocenosis. Tipe-tipe ekosistem: 1. Ekosistem autochthonous ‘Autochthonous’ berasal dari bahasa Yunani autos, yang berarti ‘sendiri’ atau ‘diri sendiri’; dan bahasa Yunani chthon, yang berarti ‘dunia’ atau ‘daratan’; dan akhiran ous, berarti ‘berasal dari’ atau menurut literatur lain dikategorikan sebagai ekosistem alami. Contohnya dapat ditemukan di bioma seperti hutan hujan tropis dan gurun.

Ardilasunu Wicaksono 2011
2. Ekosistem anthropurgic atau ekosistem buatan yang diciptakan oleh manusia. Contohnya adalah yang ditemukan pada tanah pertanian yang dipelihara dan kota-kota. 3. Ekosistem synanthropic. Ekosistem synanthropic adalah ekosistem yang berhubungan dengan manusia. Contohnya adalah sampah, menjadi tempat bersembunyi berbagai jenis binatang pengganggu. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem synanthropic, seperti sampah, adalah sebuah ekosistem anthropurgic. Ekosistem synanthropic mempermudah penyebaran infeksi zoonotik dari inang hewan tingkat rendah ke manusia. Contohnya, tikus coklat, Rattus norvegicus, mendiami tempat pembuangan sampah dan dapat secara tidak sengaja terinfeksi oleh leptospira, serovar ballum. Manusia yang berdekatan dengan pembuangan sampah tersebut dan tikus liar yang mendiami tempat sampah tersebut dapat terinfeksi leptospira. Puncak ekologis Puncak ekologis secara tradisi dikatakan tampak saat tumbuhan, hewan, mikroba, tanah dan iklim makro telah berkembang secara stabil, dengan hubungan yang seimbang. Secara khas, saat infeksi muncul, mereka juga stabil dan oleh karena itu biasanya bersifat endemis. Juga, keseimbangan antara inang dan parasit biasanya menghasilkan infeksi yang tidak tampak. Situasi yang stabil dapat terganggu pada umumnya disebabkan oleh ulah manusia. Contohnya, penyakit blue tongue, penyakit virus pada domba, diketahui hanya setelah importasi domba. Contoh lainnya, periode musim penyakit mulut dan kuku di Amerika Selatan mungkin disebabkan karena musim peningkatan jumlah populasi sapi perah yang mudah tertular saat hewan dibawa ke daerah endemis untuk penggemukan. Hubungan langsung ekologi Hubungan langsung ekologi adalah simpangan dari dua ekosistem. Penyakit infeksius dapat ditularkan melalui bagian ini. Contohnya adalah penularan Yellow fever, penyakit yang disebabkan arbovirus ke manusia. Virus berada di kera di Afrika dalam ekosistem hutan autochthonous di kanopi hutan. Kanopi hutan merupakan tempat tinggal nyamuk, Aedes africanus, menyebarkan virus ke kera-kera. Nyamuk A. simpsoni menjembatani hubungan antara ekosistem hutan autochthonous dan

Ardilasunu Wicaksono 2011
pertanian savana anthropurgic. Nyamuk ini tetap tinggal tanah pertanian dan bersirkulasi dimana manusia dan kera dapat terinfeksi. Akhirnya, nyamuk di kota, A. aegypti, mempertahankan siklusnya di manusia di perkotaan. Orang yang masuk ke hutan dapat juga terinfeksi oleh A. africanus. Mozaik ekologi Mozaik atau kepingan-kepingan ekologi adalah tambahan yang dimodifikasi pada vegetasi, diciptakan oleh manusia, dalam bioma yang mencapai puncak ekologi. Infeksi dapat menyebar dari hewan liar ke manusia dalam satu lingkungan. Namun, penyebaran tidak selalu tampak dalam mozaik karena vektor yang cocok mungkin tidak tersedia. Jadi, di Malaya, manusia dapat hidup aman di hutan dalam kedekatannya dengan monyet yang terinfeksi dengan berbagai spesies Plasmodium (protozoa) yang patogen pada manusia. Penularan dari manusia ke monyet tidak timbul karena vektor yang menularkan dari kedua primata tersebut tidak ada pada ekosistem. Lingkup epidemiologi Studi tentang penyakit dalam hubungannya dengan ekosistem juga ditemukan pada lingkup epidemiologi. Istilah pemindahan sama artinya dengan ekologi medis, epidemiologi horizontal dan geografi medis. Investigasi biasanya bersifat kualitatif, meliputi studi tentang faktor ekologi yang berpengaruh pada kejadian, pengelolaan dan, pada kasus agen infeksius, penyebaran penyakit. Bioma padang rumput Rusia adalah rumah dari penyakit yang mematikan seperti rinderpest. Banyak arthropoda menyebarkan infeksi ada di padang rumput yang juga terbatas pada daerah geografi yang jelas. Daerah ini adalah rumah alami dari penyakit dan disebut nidi (Latin: nidus=sarang). Keberadaan nidus tergantung pada keterbatasan ekosistem tertentu. Daerah yang mempunyai ekologi, kondisi sosial dan dan lingkungan yang dapat mendukung penyakit adalah daerah nosogenic (Yunani: noso=kesakitan, penyakit; gen=menghasilkan, menciptakan). Daerah penyakit adalah daerah nosogenic dimana penyakit tertentu ada. Sehingga, Inggris adalah nosogenic untuk rabies dan penyakit mulut dan kuku, tetapi bukan merupakan daerah kesakitan dari penyakit ini, karena mikroba dicegah masuk negara melalui karantina hewan yang diimpor. Penyakit yang menunjukkan

Ardilasunu Wicaksono 2011
perbatasan geografi yang jelas dalam ekosistem atau rangkaian ekosistem adalah sarang karena mereka terbatas pada sarang yang spesifik. Salmonelosis endemis di sebagian besar wilayah di duniakarena secara kasat mata semua vertebrata dan beberapa invertebrata dapat menjadi inang dari berbagai spesies salmonella. Lingkup epidemiologi bertujuan untuk strategi pengendalian yang baik berdasarkan mempermudah perkembangan pada faktor ekologi yang

memungkinkan studi ekosistem mengenai munculnya penyakit. Contoh konsep ini adalah: 1. Leptospirosis Prevalensi Leptospira, serovar ballum pada tikus coklat pada kepadatan yang bebas, estimasi dari jumlah tikus yang mendiami suatu wilayah memungkinkan prediksi dari prevalensi infeksi serovar ballum. Jumlah lubang atau rumah tikus dalam sebuah wilayah adalah indikator yang baik untuk mengetahui jumlah tikus. Jika tempat pembuangan sampah dikelola dengan baik dan wilayah sekitarnya, maka adanya populasi tikus sepertinya kecil, dan setiap adanya tikus tidak membentuk populasi untuk menyebarkan serovar leptospira. 2. Tularemia Epidemi tularaemia muncul dengan lebih dari 2000 kasus pada manusia dan kematian yang tinggi pada kelinci liar. Epidemi diasosiasikan dengan pembukaan daerah hutan untuk dijadikan padang gembalaan, hal ini mendorong peningkatan secara cepat kepadatan populasi rodentia dan kelinci liar.

Konsep Ecohealth
Ecohealth adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi mempengaruhi kesehatan manusia. Ecohealth mengkaji perubahan-perubahan lingkungan biologik, fisik, sosial, dan ekonomi serta menghubungkan perubahan-perubahan tersebut dengan dampaknya terhadap kesehatan manusia Ecohealth mempersatukan berbagai kalangan, mulai dari dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ahli ekologi, ahli ekonomi, ahli sosial, ahli perencana, dan lain sebagainya, untuk secara komprehensif mempelajari dan memahami

bagaimana perubahan ekosistem secara negatif berdampak pada kesehatan

Ardilasunu Wicaksono 2011
manusia dan hewan. Seperti kasus leptospirosis dan toxoplasma,

penanggulangannya tidak hanya dari dari aspek kesehatan manusia, tapi faktor dari hewan dan lingkungannya yang perlu diperhatikan Berbagai penyakit zoonotik berasal dari hewan, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan. Kondisi lingkungan tertentu bisa menyebabkan penyebarannya semakin bertambah. Konsep ecohealth sebenarnya adalah konsep lama yang kembali

didengungkan dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir ini. Konsep ini dianggap sejalan dengan konsep one health yang juga dimunculkan belakangan ini, akan tetapi konsep ecohealth dikatakan memperluas konsep one health. Profesi

kedokteran hewan, kedokteran manusia dan kesehatan masyarakat dikatakan adalah pilar konsep onehealth, sedangkan konsep ecohealth lebih bersifat mulitidisiplin dimana ilmu-ilmu lain ikut dilibatkan seperti lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya. Konsep onehealth merupakan suatu gerakan untuk menjalin kemitraan antara dokter dan dokter hewan yang harus disepakati oleh berbagai pihak, baik organisasi medik kesehatan, kesehatan hewan maupun kesehatan masyarakat. Upaya untuk pelaksanaan dalam merintis konsep one health harus dimulai dengan merancang kerjasama dan mengurangi hambatan komunikasi yang terjadi antara dokter dan dokter hewan. Rintisan konsep one health adalah respons langsung dari kepedulian yang semakin bertambah mengenai ancaman penyakit-penyakit yang baru muncul di seluruh dunia dan ancaman nyata di depan kita seperti wabah yang membahayakan kesehatan manusia dan hewan domestik. Ancaman ini juga berpotensi mempengaruhi perekonomian regional dan global.

Ardilasunu Wicaksono 2011 KESIMPULAN
Ekologi berkembang sebagai ilmu yang tidak hanya melihat hubungan antara hewan dan tumbuhan, namun juga melihat hubungannya dengan mikroorganisme yang memiliki penilaian secara kualitatif dan kuantitatif yang sama dengan epidemiologi. Dengan mengetahui hubungan antara ekologi dan epidemiologi dari agen dan inang, maka dapat ditentukan perkiraan yang lebih akurat mengenai keganasan penyakit. sehingga dapat dikembangkan teknik pengendalian yang tepat. Banyak faktor ekologis yang berpengaruh di dalam setiap kejadian penyakit, Hal ini berkaitan dengan hubungan antara agen, inang dan lingkungan di dalam suatu ekosistem. Dengan mempelajari ekologi penyakit maka akan mempermudah di dalam hal prediksi waktu dan tempat kemunculan dan keberadaan suatu penyakit. Konsep ecohealth dapat digunakan sebagai metode untuk mengkaji perubahanperubahan lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia, sehingga dapat digunakan sebagai langkah pencegahan dan pengendalian zoonosis.

Ardilasunu Wicaksono 2011 DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/antropologi-

kesehatan-dan-ekologi.html [10 Juni 2010]. Galvani AP. 2003. Ecology Meets Evolutionary Ecology. J Trends Ecol & Evol 3: 132-139. Grehenson G. 2011. Pengembangkan Penelitian Ecohealth. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Naipospos TS. 2009. Rintis Konsep One Health Untuk Melawan Penyakit Zoonosis. Bangkok: OIE Regional Coordination Unit. Ridwan AZ. 2010. Pengertian Ekosistem – Susunan dan Macam Ekosistem. Jakarta: Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Riberu P. 2002. Pembelajaran Ekologi. J Pendidikan Penabur 1: 125-132 Thrusfield M. 2005. Veterinary Epidemiology 3rd ed. Oxford: Blackwell publishing.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->