BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan nasional ini bukan hanya pembangunan secara fisik melainkan juga harus diikuti oleh pembangunan yang bersifat non fisik. Sehingga pembangunan ini meliputi pembangunan dalam aspek ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Aspek-aspek tersebut harus dibangun secara seimbang dan sinergi untuk menciptakan keharmonisan kehidupan. Pembangunan bidang ideologi dan politik saja tidak akan berhasil apabila bidang sosial, budaya dan hankam tidak dibangun, demikian juga sebaliknya. Pada intinya dari berbagai bidang kehidupan tadi hendak diarahkan kepada terjadinya keselarasan dan kesinergisan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Pada Undang-Undang Khusus yang mengatur tentang anak yaitu dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 53 ayat (1): Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.
1

Implikasi undang-undang itu adalah anak dari keluarga tidak mampu akan mendapatkan biaya pendidikan secara cuma-cuma dari pemerintah.

Permasalahannya, bagaimana pemerintah menyosialisasikan dan membuat masyarakat mudah mengaksesnya. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang digalakkan di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Pendidikan anak memang harus dimulai sejak dini, agar anak bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Anak-anak yang mengikuti PAUD menjadi lebih mandiri, disiplin, dan mudah diarahkan untuk menyerap ilmu pengetahuan secara optimal. Dalam pembangunan pendidikan, berbagai upaya pemberdayaan

masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia telah menunjukan kemajuan-kemajuan yang cukup berarti, tercermin dari membaiknya berbagai indikator kinerja seperti pengendalian tenaga kerja produktif, meskipun masih banyak lagi kondisi yang harus diperbaiki dan ditingkatkan. Disamping perlu terus diupayakan peningkatan mutu kualitas atau derajat pendidikan secara berkelanjutan untuk itu perlu menjadi perhatian dari seluruh komponen bangsa agar melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Guna kepentingan peningkatan kualitas dan kapasitas anak-anak dan generasi muda. Tugas mulia ini merupakan kewajiban semua warga negara untuk menjalakannya, termasuk Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

2

Berdasarkan hal terurai di atas dan dalam rangka Kuliah Kerja Nyata sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Sukabumi, penulis tertarik untuk menulis laporan dengan tema: “UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DENGAN BIMBINGAN BELAJAR DI DESA BOJONGKERTA KECAMATAN

WARUNGKIARA KABUPATEN SUKABUMI “. 1.2 IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, berikut ini penulis dapat mengidentifikasi masalah yang ada di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sebagai berikut:
A. Bagaimana upaya peningkatan pemahaman membaca pendidikan anak

usia dini (PAUD) di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi ?
B. Bagaimana kondisi pemahaman membaca pendidikan anak usia dini

(PAUD) di masyarakat Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi ?
C. Bagaimana

kualitas,

pemerataan

dan

keterjangkauan

pelayanan

pemahaman membaca pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi ?
3

D. Bagaimana peranan PKBM terhadap pemahaman membaca pendidikan

anak usia dini (PAUD) di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi ?

BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Menyongsong Kualitas Anak Masa Depan dan Pentingnya Mendidik Anak Sejak Usia Dini

Pada Undang-Undang Khusus yang mengatur tentang anak yaitu dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 53 ayat (1): Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Implikasi undang-undang itu adalah anak dari keluarga tidak mampu akan mendapatkan biaya pendidikan secara cuma-cuma dari pemerintah.

Permasalahannya, bagaimana pemerintah menyosialisasikan dan membuat masyarakat mudah mengaksesnya.

4

Itulah yang saya alami sebagai tutor Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah yang setara dengan sekolah dasar di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi karena kebetulan saya mengampu kelas satu. dan mudah diarahkan untuk menyerap ilmu pengetahuan secara optimal. Pemerintah harus memikirkan akibat yang ditimbulkan.Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang digalakkan di berbagai tempat di wilayah Indonesia. PAUD memuluskan jalan itu sehingga anak menjadi lebih mandiri. tingkat drop out siswa SD yang tidak melalui TK lebih tinggi daripada siswa yang melalui TK. Dari hasil observasi di beberapa MI dan SD. Ibarat jalan masuk menuju pendidikan dasar. 5 . agar anak bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Anjuran tersebut harus dipertimbangkan lagi jika pemerintah ingin menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. dan lebih mudah mengembangkan kecerdasan majemuk anak. Anak-anak yang mengikuti PAUD menjadi lebih mandiri. Pendidikan anak memang harus dimulai sejak dini. lebih disiplin. Siswa yang sebelumnya memperoleh PAUD akan sangat berbeda dengan siswa yang sama sekali tidak tersentuh PAUD baik informal maupun nonformal. disiplin. Fenomena yang terjadi di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi mulai tahun ajaran baru 2007-2008 pemerintah memperbolehkan anak masuk SD tanpa melalui TK. Kesenjangan pasti terjadi.

Jika kendalanya masalah biaya. karena dengan memperbolehkan anak masuk SD tanpa melalui TK berarti telah mengabaikan suatu pendidikan di usia dini yang paling dasar bagi anak. Masa depan yang berkualitas tidak datang dengan tiba-tiba. Di samping pemerintah. dengan membekali diri melalui pelatihan PAUD (banyak organisasi/LSM yang bersedia mmeberikan pelatihan cuma-cuma). menghilangkan kewajiban seragam. masyarakat adalah komunitas yang sangat berperan untuk mengembangkan PAUD. masyarakat dalam hal ini lembaga penyelenggara PAUD bisa menyiasatinya dengan mereduksi biaya melalui kreativitas membuat alat peraga sendiri. Kebijakan pemerintah kabupaten akan ikut menentukan nasib anak serta kualitas anak di masa depan. Tentu saja untuk 6 . Konsep bermain sambil belajar serta belajar sambil bermain pada PAUD merupakan pondasi yang mengarahkan anak pada pengembangan kemampuan yang lebih beragam. oleh karena itu lewat PAUD kita pasang pondasi yang kuat agar di kemudian hari anak bisa berdiri kokoh dan menjadi sosok manusia yang berkualitas. Mereka bisa bergantian menjadi pendamping anak-anak pada PAUD.Pemerintah harus lebih tanggap pada fenomena tersebut. serta memenuhi gizi anak-anak PAUD melalui program pemerintah. Alternatif lain PAUD bisa diselenggarakan oleh kelompok perempuan di masyarakat.

Setiap kali memasuki tahun ajaran baru. Kita bisa memulainya dari mana saja terutama dari diri kita masing-masing. biasanya orangtua akan sibuk untuk mengurusi anak-anaknya mau sekolah dimana. Untuk keluarga yang berkecukupan. Orangtua pun kadang-kadang bingung untuk menentukan pilihan. Bagi orangtua yang memiliki anak usia 1 sampai 6 tahun akan sibuk dengan urusan memikirkan sekolah ke Play Group dan Taman Kanak-kanak (TK). PAUD nonformal khusus seperti Taman Pendidikan Alquran juga bisa diintegrasikan dengan PAUD umum yang bertujuan mengoptimalkan pengembangan kecerdasan majemuk anak. mulai dari informasi lewat iklan. Berikanlah yang terbaik buat anak untuk menyongsong masa depannya. informasi lewat teman dan segala bentuk informasi lainnya. masa depan anak Indonesia yang cemerlang. Berbagai masukan berdatangan.menerapkan ide ini diperlukan inisiasi pemerintah untuk menyosialisasikan serta memberdayakan masyarakat terutama di daerah terpencil. Karena mereka sangat menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini 7 . masalah pemilihan sekolah akan dilakukan dengan selektif.

20 Tahun 2003 Pasal 28 disebutkan. dan (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Masalahnya sekarang adalah. (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. raudatul athfal (RA). (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB). atau bentuk lain yang sederajat. Padahal. bagaimana dengan keluarga yang tidak mampu ? Pastilah mereka akan pusing untuk memikirkan sekolah anak-anak mereka.20 Tahun 2003. atau bentuk lain yang sederajat. Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 Butir 14 UU No. (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal. dan/atau informal. 8 .(PAUD) dalam menempa karakter dan bekal anak kelak ketika akan memasuki sekolah dasar (SD). PAUD itu sendiri merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. taman penitipan anak (TPA). nonformal. untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan. menurut UU No. (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK). Jangankan untuk sekolah.

tentu peran masyarakat tempat anak itu tumbuh tidak sedikit.PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan: daya pikir. daya cipta. spiritual. Walau demikian. Oleh masyarakat. Sayang.pada masa itu. Dengan demikian. Lebih daripada itu bahkan ada kesan bahwa PAUD kita selama ini memang terabaikan. Tentu pendapat ini kurang tepat mengingat pendidikan TK hanya dialami anak satu atau dua tahun. sejak hadirnya TV budaya kegiatan masa tua seperti mendongeng sebelum anak tidur makin langka. Lantas. Mengingat batasan PAUD adalah usia anak sejak lahir hingga enam tahun. emosi. PAUD diindentikkan pendidikan TK. Itu pun jika anak sempat mengalami pendidikan TK. Jika budaya di suatu masyarakat (masa lalu) pernah kita dengar ada si tukang cerita atau pendongeng. apalagi membanggakan. hal ini merupakan PAUD yang sangat efektif dalam memberi berbagai kecerdasan kepada anak usia dini . sosial. PAUD lebih banyak dilaksanakan keluarga. apakah pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah berjalan dengan baik dan menjangkau semua sasaran? Jawabnya belum! Baik secara kuantitatif maupun kualitatif pendidikan anak usia dini di negara kita memang jauh dari memadai. 9 . berbahasa/komunikasi. keluargalah yang paling bertanggung jawab pada PAUD.

Partisipasi PAUD di Indonesia hanya 22 persen. 10 . maupun fisiologis. sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. Kesulitan Belajar. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. dan Malaysia 89 persen.Menurut catatan United Nations Educational Scientific. and Cultural Organizations atau UNESCO. Angka tersebut lebih rendah dibanding partisipasi PAUD di Filipina yang sebesar 27 persen. Thailand 86 persen. kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan. namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.2 KESULITAN BELAJAR SISWA DAN BIMBINGAN BELAJAR A. sosiologis. Vietnam 43 persen. 2. angka partisipasi pendidikan anak usia dini atau PAUD di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara berpenghasilan rendah di Asia lainnya. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatanhambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. dan dapat bersifat psikologis.

meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental. dan (e) learning diasbilities. mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas. (b) learning disfunction. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley. tinju dan sejenisnya. sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan. 3. (d) slow learner. maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. atau gangguan psikologis lainnya. Pada dasarnya. namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley. yang mengalami kekacauan belajar. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate. 2. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik. gangguan alat dria. tetapi prestasi 11 . Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut. diantaranya : (a) learning disorder. 1. (c) underachiever. potensi dasarnya tidak dirugikan.

4. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar. konatif maupun afektif . baik aspek psikomotorik. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar. 12 . Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140). antara lain : 1. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya. tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah 3. namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. 5. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.belajarnya tergolong rendah. kognitif. 2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

tidak teratur dalam kegiatan belajar. berpura-pura. 2. pemarah. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila : 1. 5. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya. yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever. 13 . mengganggu di dalam atau pun di luar kelas. menentang. seperti: acuh tak acuh. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference). tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal. dusta dan sebagainya. 6. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. Sementara itu. bakat. dan sebagainya. seperti : pemurung. tidak mau mencatat pelajaran. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar. mudah tersinggung. dan sebagainya. tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu.4. seperti membolos. dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan. atau kecerdasan yang dimilikinya. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar. tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Menunjukkan perilaku yang berkelainan. Burton (Abin Syamsuddin. datang terlambat.

dan (4) kepribadian. sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Sedangkan. tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting. karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran. tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. sehingga harus menjadi pengulang (repeater) Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar. maka sebelum proses belajar dimulai. hasil belajar yang 14 . Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature). (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. 1. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. (2) kedudukan dalam kelompok. Tujuan pendidikan Dalam keseluruhan sistem pendidikan. apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran.3. Selanjutnya. maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan.

Dengan demikian. Dengan norma ini. Misalnya.dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. 2. seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Sebaliknya. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar. Secara statistik. berdasarkan distribusi normal. siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8. guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat 15 . apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar. Kedudukan dalam Kelompok Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. rata-rata prestasi belajar kelompok 8.

Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar. apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Misalkan. sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). 3. seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan 16 . dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Sebaliknya. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Secara statistik. Perbandingan antara potensi dan prestasi Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya. siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula.kesulitan belajar. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar. baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. yang biasa disebut dengan lower group. yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan. Dengan teknik ini.

B. motivasi lemah. yang biasa disebut dengan istilah underachiever. isolated. yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. sering membolos. Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. menentang. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6. Kepribadian Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. 4. sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya. prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut 1. emosi yang tidak seimbang dan sebagainya. melalaikan tugas. termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu.psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120. Identifikasi kasus 17 . Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar. Secara umum. seperti : acuh tak acuh.

seperti tes inteligensi. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. yakni : 1. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. tes bakat. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler.Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. menciptakan hubungan yang baik. 4. Call them approach. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar. 3. melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan. Maintain good relationship. Developing a desire for counseling. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa. 18 . menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. 2. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

nilai dan moral. proses. Melakukan analisis sosiometris. (h) hubungan mudamudi. Prayitno dkk. dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial 2. permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material.H. W. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Untuk mengidentifikasi masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. dan atau (d) personality. (i) keadaan dan hubungan keluarga. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa. bisa dilihat dari segi input. (c) hubungan sosial. seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. (f) pendidikan dan pelajaran. (e) karier dan pekerjaan. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau 19 . dan (j) waktu senggang. 3. (d) ekonomi dan keuangan. ataupun out put belajarnya. (c) behavioral. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa. (g) agama. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis.5. (b) diri pribadi. (b) struktural – fungsional.

dan (b) faktor eksternal. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan.kasus yang dihadapi. faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri. 5. Namun. Prognosis Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. kecerdasan. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga.kegagalan belajar siswa. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus) Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. kepribadian. 4. bakat. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . seperti : lingkungan rumah. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. yaitu : (a) faktor internal. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya 20 . emosi. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri.

• Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. yaitu apabila: 21 . Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan. yaitu : • Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. dan • Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. 6. Depdiknas telah memberikan kriteriakriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar. Sementara itu.

PAUD belum menjadi "pendidikan wajib" sebab belum adanya anggaran khusus untuk sektor pendidikan tersebut. 5. Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). banyak orang tua yang belum memahami pentingnya PAUD. 4. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).1. Untuk 22 . 3. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Kendala lainnya adalah tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi belum tersedia serta belum semua daerah punya petugas yang menangani PAUD. Pasalnya. Selain itu. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya PERAN KELUARGA Masih banyak kendala yang dihadapi dalam meningkatkan paritipasi PAUD di Indonesia. 7. Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 2. lanjut Gutama.

9 juta anak. 2008 dari 12. Prinsip PAUD melalui keluarga adalah bentuk pendidikan nonformal yang dapat mendorong kesiapan anak dalam proses belajar di usia sekolah.hal ini.2 juta anak ditarget 26 serta tahun 2009 mendatang targetnya 35 dari 12. Tujuannya agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut. pemerintah pusat maupun daerah sudah sepantasnya memberi perhatian lebih serius terhadap permasalahan ini. Sudah waktunya pula sebagian dana pendidikan itu diarahkan pada pengadaan sarana dan prasarana untuk kelangsungan PAUD di daerah masing-masing. Ditjen PLS telah memiliki target untuk meningkatkan peran serta orang tua agar mengikutsertakan anak dalam PAUD. PAUD merupakan upaya pembinaan anak sejak lahir sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani.5 dari 11. kata Gutama. Tahun 2006. keluarga merupakan sarana pendidikan pertama dan utama untuk mendidik anak. Konsep dasar 23 . Kemudian tahun 2007 sebanyak 18 dari 12 juta anak. ditargetkan mampu mencapai 12. Seperti dikemukakan di atas. Untuk itu. Ditjen PLS bakal melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya PAUD dan mendorong terselenggaranya sebuah lembaga PAUD non-formal. Ace Suryadi.4 juta anak. seperti disampaikan Direktur Jenderal PLS. Mengingat pentingnya PAUD.

pada usia sekolah. anak siap untuk mencapai kompetensi yang lebih besar. Semakin banyak anak yang dilayani PAUD. Jadi. semakin banyak anak yang memiliki kesiapan belajar. Taman Kanak-kanak dan sejenisnya. Lebih lanjut. Saat ini.dirintisnya PAUD berbasis keluarga karena banyak orangtua yang belum memperoleh kesempatan untuk mengirimkan anaknya ke PAUD. PAUD berbasis keluarga masih dalah proses pengembangan konsep. seperti Taman Penitipan Anak. Keluarga diharapkan mempunyai kemampuan mengembangkan prinsip-prinsip mendidik anak yang baik dan benar. 24 . baik akademik maupun nonakademik. Ace menilai PAUD dipercaya dapat memacu peningkatan mutu pendidikan jangka panjang.

Pemahaman seperti itu. buang-buang waku dan uang saja. Nanti saja. tentu saja sangat keliru. baik 25 . yang hanya belajar bernyanyi dan menggambar. Kualitas anak yang duduk di bangku SD. tentu akan sangat jauh berbeda dengan anak yang pernah mengikuti pendidikan usia dini di TK.1 ANALISIS PERMASALAHAN Penyelenggaraan PAUD dan Berbagai Permasalahannya Buat apa anak dimasukkan ke TK (Taman Kanak-kanak). masih sering muncul di tengah-tengah orang tua atau masyarakat awam yang tingkat pendidikannya sangat rendah. Bahkan agama menganjurkan pendidikan anak harus dimulai sejak dalam kandungan ibunya. yang tidak pernah sekolah di TK. langsung masuk sekolah SD (Sekolah Dasar) UNGKAPAN atau pemahaman seperti itu. belum banyak dipahami para orang tua. Sayang kenyataan ini.BAB III PEMBAHASAN 3. Padahal pendidikan anak sejak usia dini sangat bermanfaat terhadap daya rangsang otak anak. terutama yang tinggal di kampung-kampung atau pedesaan.

mulai menggalakkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam upaya mencetak dan menyiapkan generasi bangsa yang cerdas. sehingga menambah daftar lembaga-lembaga PAUD baik formal maupun non-formal seperti RA. 26 Maret 2007).karena yang tingkat pendidikannya rendah maupun karena belum adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan akan usia dini. menargetkan sekitar 13. TPA. Kesan seperti itu. sehat. Untuk tahun 2007 ini. 2 juta anak dan tahun 2009 adalah 15. 6 juta anak terlayani program PAUD. sejak digulirkannya program PAUD mulai tumbuh lembaga PAUD. Departemen Pendidikan Nasional. yang selama ini terkesan hanya monopoli kalangan tertentu. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. TK. 3 juta anak (Pelita. dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Target itu. Beberapa tahun terakhir ini. yang hanya 13. 2 juta anak. sejak tahun 2003. dan beberapa faktor lain. mulai terhapus selain munculnya orang-orang atau tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian untuk mendirikan lembaga pendidikan anak 26 . merupakan peningkatan dari pencapaian tahun 2006. Play Group atau Taman Bermain. Sedangkan target tahun 2008 adalah 14.

Anak-anak. Dalam peyelenggaraan PAUD di daerah yang berpenduduk sekitar 10. bahkan ada yang sampai empat kali pertemuan melakukan kegiatan program PAUD. baru menyentuh sekitar 30 persen dari 200 anak usia 0-6 tahun. Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini. Meskipun baru di lingkungan masyarakat perkotaan dan di beberapa tempat kompleks perkebunan milik PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara). diberikan makanan gizi tambahan. selain ditimbang badannya.usia dini secara swadaya bersama-sama masyarakat sekitar baik yang formal maupun non-formal. sudah barang tentu sangat menggembirakan. ditempuh pula melalui Pos Yandu Plus sebagai hasil revitalisasi Pos Yandu.000 jiwa ini. Sebuah upaya yang sinergi antara Subdin PLSP Dinas P dan K dengan Kantor BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana) setempat. dalam seminggu berlangsung satu kali. meski pun berdasarkan data yang diperoleh penulis dari Ketua PKBM. Kondisi seperti itu. juga melakukan 27 . misalnya saja seperti yang berlangsung di daerah Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi. Di Pos Yandu Plus. yang di dalamnya di antaranya diselenggarakan PAUD.

sehingga enggan atau tidak tertarik untuk memasukkan putra-putrinya terhadap PAUD atau setingkat TK. masih sangat rendahnya kesadaran para orang tua mengenai arti dan manfaat pentingnya pendidikan anak usia dini. Mencermati pogram PAUD yang dilaksanakan di daerah kabupaten. TPA. Mengingat program ini. dan menumbuhkembangkan peran masyarakat yang mau berkorban secara materi untuk mendirikan lembaga PAUD non-formal.kegiatan-kegiatan belajar mengenal huruf. baru digulirkan sekitar empat tahun yang lalu. menyangkut sarana dan prasarana. RA. Jangan sampai pemerintah daerah 28 . antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah pusat harus sinergi dalam melaksanakan program ini. maka sekolah-sekolah atau lembaga PAUD jumlahnya masih sangat terbatas. karena banyaknya kendala. Kedua. banyak kendala sehingga upaya yang dilakukan belum bisa secara optimal. bermain ketangkasan dan kegiatan lainnya yang dapat merangsang otak anak. sudah saatnya pemerintah lebih spektakuler lagi dengan mencanangkan Program Wajib Belajar Usia Dini. Taman Bemain Untuk memecahkan kendala-kendala seperti itu. yang diikuti dengan pembangunan fisik dan non-fisik seperti pendanaan untuk tenaga tutor atau pengajar. menggambar. Pertama. Tidak kalah pentingnya.

Guru yang bertindak sebagai fasilitator menguraikan tema cerita tentang perjalanan wisata menggunakan kereta api. tujuan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas. karena sejak kecil sudah pandai berdo\'a. Sejumlah anak diajak membentuk barisan panjang kursi menyerupai badan kereta api. Sudah saatnya pemerintah kabupaten mengalokasikan dana melalui APBD guna terselenggaranya program PAUD. Wakil Ketua Yayasan Damandiri. Prof Dr Haryono Suyono pernah mengungkapkan. Ia seolah memegang sebuah rambu-rambu yang menandakan kereta api akan bergerak meninggalkan stasiun. Seorang anak berdiri di sisi ”badan kereta api”. 29 . ”Saat ini anak-anak dikenalkan angka-angka melalui jumlah ”gerbong”. jika anakanak Indonesia sehat. akan lebih baik dari pemimpin yang sekarang. Maka. Ini pun cara membiasakan mereka bersosialisasi dengan sesama. dan mampu menghadapi berbagai tantangan akan dapat terwujud. Sebuah praktik nyata ditunjukkannya di sebuah kelas. pemimpin Indonesia di masa mendatang.kurang memberikan perhatian yang maksimal dalam kebutuhan anggaran program ini. sehat. Dengan begitu. dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wisata menumpang kereta api tadi. Tiap bangku diduduki masing-masing anak. cerdas.

ada praktik model belajar sosiodrama yang nyata. berikut penulis sajikan tabel data penduduk berdasarkan jenis kelamin di desa Bojongkerta kecamatan Warungkiara kabupaten Sukabumi. ini Berdasarkan data yang ada. mereka dikenalkan berbagai jenis tanaman. Di sini.Selain itu.. M. Anak diminta menyocokkan angka yang tertulis di kartu dengan angka yang menunjukkan sebuah benda di kartu lainnya. Sekitar 90% hasil belajar melalui model sosiodrama gampang diserap anak. bebatuan. Ini salah satu cara mengajarkan anak bersikap ramah dengan lingkungan sekaligus memraktikkan pelajaran melalui alam terbuka. I Nyoman Kajeng Wijaya. Tabel 3.Sc. ”Ada pula permainan bingo dengan menggunakan kartu.Apt.” jelasnya. “Hanya 65% materi pelajaran yang diserap anak jika mereka belajar lewat model unjuk kerja.1 Data Kualitas Angkatan Kerja Desa Bojongkerta 30 . sambil menghitung jumlahnya. dan lain-lain. Anak-anak diajak ke kebun sekolah.” jelas istri dari staf pengajar Fakultas Farmasi Unud. Ternyata model belajar ini membuahkan hasil yang mengejutkan.

18 s.3% dan 48.1% . 18 s.7% .1 dapat disimpulkan persentasi laki-laki dan perempuan untuk usia 18 s. Tabel 3.d 56 tahun tamat PT yaitu .d 56 tahun buta aksara yaitu 46.9% dan 48. 50.d 56 tahun tamat SLTA yaitu 51.3% dan 35. 18 s.d 56 tahun tidak tamat SD yaitu 38% dan 62% .7% dan 53.2 Data Pendidikan Formal Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Nama Jumlah Status Kepemilika n 31 Tenaga pengajar Jml siswa .d 56 tahun tamat SLTP yaitu.1% 18 s.7% . 18 s.9% dan 49.d 56 tahun tamat SD yaitu 51. 64.3% .Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Angkatan Kerja 18 – 56 th buta aksara 18 – 56 th tdk tmt SD 18 – 56 th tamat SD 18 – 56 th tamat SLTP 18 – 56 th tamat SLTA 18 – 56 th tamat PT Laki-laki 7 100 1365 1029 1149 27 Perempuan 8 162 1261 991 1090 15 Sumber : Profil Desa Bojongkerta kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Dari data pada tabel 3.

Tabel 3.3 Data Pendidikan Formal Keagamaan Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Nama Jumlah Status terakredita si Ya Kepemilika n Ya Jumlah Jumlah tenaga siswa pengajar 27 10 630 70 Raudhatu l Athfal Ponpes 9 2 Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Dari data pada tabel 3.2 dapat disimpulkan jumlah sarana pendidikan formal siswa yang masuk sekolah dengan kebutuhan jauh dari harapan.3 dapat disimpulkan jumlah sarana pendidikan non formal siswa yang masuk pendidikan dengan kebutuhan jauh dari harapan.Play Grp TK SD SLTP 3 5 1 - Pemerintah 35 15 964 70 Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Dari data pada tabel 3. Tabel 3.4 Data Tingkat Pendidikan Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Tingkat Pendidikan 3 – 6 th yang belum masuk TK 3 – 6 th yang sudah masuk 32 Laki-laki 215 61 Perempuan 285 72 .

5 % (Laki-laki) dan 87.9 % (Laki-laki) dan 54. Untuk tamatan SD sebesar 51.1 % (Perempuan).1 % (Perempuan).9 % (Laki-laki) dan 48.6 % (Laki-laki) dan 53. Untuk usia antara 3 – 6 tahun yang belum masuk TK sebesar 43% (Laki-laki) dan 57% (Perempuan).2 % (Laki-laki) dan 61.4 % (Perempuan).8 % (Perempuan).1 % (Perempuan).9 % (Laki-laki) dan 49. Untuk tamatan SMP sebesar 50. Untuk usia antara 7 – 18 tahun yang tidak pernah sekolah sebesar 12. Untuk usia antara 3 – 6 tahun yang masuk TK sebesar 45.5 % (Perempuan). Untuk tamatan SMA 33 . Untuk usia antara 18 – 56 tahun yang tidak pernah sekolah sebesar 46.TK 7 – 18 th yang tidak pernah masuk sekolah 18 – 56 th yang tidak pernah sekolah 18 – 56 th pernah SD tetapi tidak tamat Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D-1 Tamat D-2 Tamat D-3 1 7 100 1365 1029 1147 11 9 7 7 8 162 1261 991 1090 7 5 3 Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Tingkat pendidikan di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi terbilang cukup memprihatinkan. Untuk usia antara 18 – 56 tahun yang pernah masuk SD tetapi tidak tamat sebesar 38.

Untuk tamatan D-3 sebesar 70 % (Lakilaki) dan 30 % (Perempuan). Untuk tamatan D-2 sebesar 64.2 % (Laki-laki) dan 35.sebesar 51.7 % (Perempuan).3 % (Laki-laki) dan 48.8 % (Perempuan).8 % (Perempuan). penulis sajikan informasi berupa grafik sebagai berikut: Grafik 3.1 Data Kualitas Angkatan Kerja Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Usia 18 s.1 % (Laki-laki) dan 48.d 56 Tahun 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 B Ak a uta s ra T tm S dk t D T tS m D T tS m MP T tS m MA T t PT m La i-La i k k Perem puan Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Grafik 3. Berdasarkan data pada tabel analisis yang telah disajikan sebelumnya. Untuk tamatan D-1 sebesar 61.2 Data Pendidikan Formal Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi 34 . maka untuk memperjelas hasil analisis.

3 Data Pendidikan Formal Keagamaan Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 B Ak a uta s ra T tm S dk t D MI Ponpes S ra a na Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Grafik 3.4 Data Tingkat Pendidikan Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi 35 .120 100 80 60 40 20 0 B Ak a uta s ra T tm S dk t D PlayGroup T K S D S P LT S ra a na Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Grafik 3.

36 . Kondisi pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik. B.2 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Berdasarkan hasil analisis maka untuk menjawab masalah yang teridentifikasi.1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 B T S T lm K dh K T dk Perna T t S h m D T t m S lh k S D S MP T t T t D1 T t D2 T t D3 m m m m S MA La i-La i k k Perem puan Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi 3. C. maka ditetapkan alternatif sasaran pembangunan peningkatan gizi balita sebagai berikut: A. pemerataan dan keterjangkauan pelayanan peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungiara Kabupaten Sukabumi . Upaya peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik. Kualitas.

Pengembangan sistem jaminan kesehatan teruma bagi rakyat miskin. jaringan dan kualitas peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama.D.3 PEMILIHAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Sebagai langkah alternatif dalam pemecahan masalah pembangunan di bidang peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan 37 . C. Pemeratan dan peningkatan kualitas pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama. Alternatif pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan untuk mencapai sasaran tersebut adalah sebagai berikut: A. Peningkatan jumlah. Peningkatan pendidikan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama pada masyarakat sejak usia dini. B. Dukungan pembangunan bidang peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama terhadap wajar dikdas 9 tahun di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik. Peningkatan sosialisasi PAUD dan wajr dikdas 9 tahunt. 3. dan F. E. Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga tutor. D.

pemerataan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu : 1) Pelayanan penduduk miskin 2) Pengadaan. 5) Pemilihan teknologi pembuangan air limbah B. 3) Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan. penulis sajikan beberapa alternatif pemecahan masalah sebagai berikut: A. PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu : 1) Penyediaan air bersih. 2) Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan. PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT. 4) Pengembangan wilayah sehat. Program ini ditujukan untuk membentuk lingkungan sehat disekitar PAUD. 38 . peningkatan.metoda belajar sosiodrama di Desa Bojingkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi. dan kualitas pelayanan PAUD melalui sangar kegiatan belajar dan jaringannya. dan perbaikan sarana dan prasarana PAUD.

perbaikan gizi. dan pengobatan dasar. PROGRAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Program ini di tujukan untuk menekan kematian akibat kurangnya cakupan gizi. kesehatan ibu dan anak. keluarga berencana. informasi. dan edukasi. C. pemberantasan penyakit menular. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu: 1) Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko 2) Peningkatan imunisasi 3) Penemuan dan tatalaksana prnderita 4) Peningkatan komunikasi. kesehatan lingkunagn. D. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Program ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran ibu rumah tangga tentang PAUD. sanitasi air bersih. Kegitan pokok yang dilakukan yaitu: 1) Peningkatan pendidikan gizi 39 .3) Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obatobatan generik 4) Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang- kurangnya promosi PAUD.

PROGRAM SUMBER DAYA KESEHATAN Program ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah dan mutu penyebaran tenaga medis untuk peningkatan pengetahuan PAUD. 2) Peningkatan keterampilan. PROGRAM PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN Program ini ditujukan untuk menjamin terpenuhinya obat dan makanan untuk penanggulangan gizi balita.2) Penanggulangan kurang energi energi protein 3) Penanggulangan gizi lebih 4) Peningkatan surveilens gizi 5) Pemberdayaan masyarakat untuk sadar gizi. 4) Pembinaan tenaga medis. 5) Penyusunan standar kompetensi tenaga medis. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu: 1) Perencanaan tenaga medis untuk peningkatan gizi balita. F. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu: 1) .Peningkatan pengawasan obat dan makanan 40 . E. 3) Pemenuhan kebutuhan tenaga medis.

maka ditetapkan alternatif pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan untuk mencapai sasaran tersebut sebagai berikut: 41 . BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. 4) Penguatan kapasitas laboratorium pengawasan obat dan makanan.2) Peningkatan pengawasan minuman dan makanan siap saji.1 KESIMPULAN Berdasarkan bahasan analisis dan bahasan masalah yang telah penulis lakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan hasil analisis maka untuk menjawab masalah yang teridentifikasi. 3) Peningkatan dan pengawasan mutu obat dan makanan.

Kualitas. 4. Kondisi bimbingan belajar siswa PAUD di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik. kami dari kelompok II mengajukan beberapa saran. pemerataan dan keterjangkauan pelayanan bimbingan belajar siswa PAUD di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik.PGRI 2008 o Melakukan perencanaan strategis pembangunan wilayah di tiap-tiap kelurahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi yang dimiliki.2. yaitu sebagai berikut : Saran Kepada Pemerintah Setempat o Melakukan pendekatan partisipatif dan pembinaan sebagai tindak lanjut dari hasil program KKN STKIP . 42 . D. C. Upaya peningkatan bimbingan belajar siswa PAUD di masyarakat Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik. B. Dukungan pembangunan bidang sanitasi air terhadap Program Perilaku hidup bersih dan sehat di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik.A. Saran Dari hasil evaluasi pelaksanaan program Kuliah Kerja Mahasiswa di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi .

o Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja aparatur desa dalam melayani masyarakat. o Meningkatkan sarana dan prasarana kelurahan untuk mendukung kinerja para aparatur desa. dimana pembekalan yang akan diberikan lebih berisi program KKN secara konseptual dan teknis serta informasi terkini tentang gambaran lokasi KKN. sehingga ketika peserta KKN diterjunkan ke lapangan sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Saran Kepada Pihak LPPM STKIP PGRI o LPPM Untirta dalam hal ini sebagai panitia dari kegiatan KKN. 43 . hendaknya menyiapkan konsep KKN secara matang. o Pembagian kelompok. Selain itu. hal ini bisa dilakukan dengan menjalin koordinasi dengan pemda setempat. sebaiknya sudah diumumkan jauh-jauh hari. o Dalam hal pembekalan KKN sebaiknya dilakukan dengan serius. o Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang lebih memadai. untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bewrkualitas. dimana bukan hanya konsep saat akan pelaksanaan KKN saja namun harus ada onsepan untuk follow up atau tindak lanjut dari hasil kegiatan KKN. sehingga sebelum terjun ke lokasi peserta KKN sudah saling mengenal dan bisa saling beradaptasi antara yang satu dengan yang lainnya. kesiapan kelompok lebih matang.

o Pengontrolan ke lokasi KKN harus lebih diintensifkan lagi. sehingga akan mempermudah mandapat informasi tentang perkembangan KKN. 20 Tahun 2003 tentang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Sinar Grafika 44 .Undang-undang RI No. 2008. pungsi dari POKJA Kecamatan harus dimaksimalkan. Sekretaris Desa Bojong Kerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi. Profil Desa 2008. Sekretaris Negara Republik Indonesia. Bojong kerta 2. DAFTAR PUSTAKA 1. 2003.. sehingga tidak ada kesan terlantarkan. Serta koordinasi antara POKJA Kecamatan dengan setiap kelompok KKN juga harus diintensifkan.

. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Perawatan Kesehatan Masyarakat.. 2004..J. Nasrul Effendy. .2003:24-28. Jakarta: Balai Pustaka 5. M. Drs.. Kebidanan Komunitas.. H. Hj.. Dalam SURKESNAS... Laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas.. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Materi Ajar tentang Mutu Pelayanan Kebidanan.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Syahlan...Kes 45 . 7. Soekidjo Notoatmodjo. 8. SKM 9. Jakarta. Dr. W.. 1982.3. 2002: 6. Jakarta 4..S Poerwadarminta. SKP.. Ulvi Mariatai.... Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bab 27 Tentang Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang berkualitas. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. J.

LAMPIRAN 46 .

LAMPIRAN 47 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful