MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

KEDUDUKAN IJTIHAD SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

DISUSUN OLEH:

DISUSUN OLEH: ALVIAN PRATAMA (2225090666) DIAN MUTIARA RAHAYU (2225090986) SELLY RAWINDA GUSTI (2225091233) WALSRIYATI (2225090984)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2009/2010

1

taufik dan hidayah-Nya. Serta teman-teman yang sudah menyediakan waktu luangnya untuk bersama-sama menyelesaikan makalah ini. kedudukan ijtihad. sehingga penulis dapat menghimpun dan menyelesaikan makalah ini. Makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga segala kritik dan saran akan penulis terima dengan lapang dada. Tujuan dibuatnya makalah ini guna memberitahukan kepada mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tentang definisi dari ijtihad. Sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. rahmat.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia. Serang. Tak lupa juga penulis berterimakasih kepada Ibu Siti Muhibah sebagai pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini. 23 Oktober 2009 Penulis 2 . dan macam-macam ijtihad.

....................................................2 BAB II PEMBAHASAN...........................................2 1...........5 Metode Penulisan.........................................................................................................................................................3 2..............10 3 .......................................9 DAFTAR PUSTAKA..........................................................3 2.........................................2 Rumusan Masalah.............................................................................................................................................................2 1...................................................ii BAB I PENDAHULUAN..............4 Tujuan Penulisan.......................................................................................................................................................................................................3 Batasan Masalah....................................................................................1 1............................................2 Kedudukan Ijtihad....i DAFTAR ISI............................................................4 2.3 Cara Ber-ijtihad.................1 Latar Belakang................1 1..................................1 1............................................5 BAB III KESIMPULAN.........................................................................................1 Definisi dan Fungsi Ijtihad..............................................................................................................................................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar.............

4 .

teori hukum Islam (Islamic Legal Theory) mengenal berbagai sumber dan metode yang darinya dan melaluinya hukum (Islam) diambil. Bagaimana kedudukan ijtihad sebagai sumber hukum Islam? 3. Apa pengertian dari ijtihad? 2. penulis membuat makalah bertemakan ijtihad sebagai solusi dari pengambilan keputusan hukum-hukum yang tidak terdapat dalam Al-Quran dan AsSunnah. Maka manusia berusaha untuk mencari cara untuk memutuskan masalah tersebut tentang baik buruknya Dan dalam bentuknya yang telah mengalami kemajuan. banyak bermunculan masalah.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan waktu dan berkembangnya zaman. Apa saja hasil dari ijtihad? 5 . Sedangkan sebagian besar dari masalah tersebut belum mendapatkan kejelasan hukum dalam Al-Quran dan As-Sunnah. yang keduanya memberikan materi hukum. Sedangkan. terutama masalah-masalah dalam agama.BAB I PENDAHULUAN 1.2 Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang: 1. 1. atau pencapaian sebuah konsensus ( Ijma’. kesepakatan). Oleh karena itu. sumber-sumber yang melaluinya hukum berasal adalah metode-metode ijtihad dan interpretasi. Sumber-sumber yang darinya hukum diambil adalah Al-Quran dan As-Sunnah Nabi.

4 Tujuan Penulisan Tujuan penulis membahas kedudukan ijtihad sebagai sumber hukum Islam adalah: 1. 6 .1.3 Batasan Masalah Makalah ini hanya membahas masalah ijtihad serta kedudukannya sebagai sumber hukum Islam dan hasil-hasil ijtihad serta pengertian dari hasil-hasil ijtihad tersebut. 1. 1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. 2. seperti buku dan media elektronik (internet).5 Metode Penulisan Dalam pembuatan makalah ini. penulis menggunakan metode penulisan melalui pencarian sumber-sember tertulis (literatur). Membuka wawasan mahasiswa Sultan Ageng Tirtayasa tentang ijtihad sebagai sumber hukum Islam yang ketiga.

Memperhatikan definisi ini. Mahmud Syaltut berpendapat. b. Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement. menafsirkan. tidak ada peranan nalar. Terhadap kejadian yang sama sekali tidak terdapat dalam nash. Secara bahasa. dapat dipahami batasan lapangan ijtihad. Ijtihad dalam pengertian yang luas berarti penggunaan pikiran dalam mengartikan. nalar dapat menjalankan fungsi formulasi. ijtihad adalah penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit dalam Al-Quran dan Hadits Nabawi.BAB II PEMBAHASAN 1. Terhadap yang hukumnya disebutkan secara pasti (qath’i) dalam nash. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam Al-Quran dan As-Sunnah.6 Definisi dan Fungsi Ijtihad Ijtihad seakar kata dengan juhd. sebagai berikut: a. ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Sedangkan dalam konteks istimbat (penetapan) hukum. nalar dapat menjalankan fungsi reformulasi. c. jihad. bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu mencakup dua pengertian: 7 . dan mujahadah. dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits. Terhadap kejadian yang hukumnya disebutkan dalam nash secara penunjukan yang tidak pasti. yang artinya kesungguhan dan usaha keras.

Tujuan adanya ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah SWT di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. tapi yang berhak membuat ijtihad adalah mereka yang paham Al-Quran dan Hadits yang disebut dengan mujtahid. maka persoalannya harus mengikuti ketentuan yang ada berdasarkan Al-Quran dan Hadits. 8 . Namun jika persoalannya merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al-Quran dan Hadits maka umat Islam memerlukan ijtihad. Fungsi ijtihad adalah sebagai metode untuk merumuskan ketetapan-ketetapan hukum yang belum terumuskan dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. bukan berarti kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al-Quran dan Hadits. Penggunaan pikiran dalam mengartikan. menafsirkan. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al-Quran dengan kehidupan modern. e. sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan aturan baru dalam melaksanakan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Meski Al-Quran diturunkan secara sempurna dan lengkap. Sekiranya sudah ada.d. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh Al-Quran dan As-Sunnah. maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al-Quran dan Hadits. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau disuatu masa waktu tertentu. dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.

Sebagai produk pikiran manusia yang relatif. e. kemanfaatan bersama. antara lain sebagai berikut: 1. Berlaku untuk satu masa/tempat tapi tidak berlaku pada masa/tempat yang lain. akibat.2 Kedudukan Ijtihad Berbeda dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motivasi. kemaslahatan umum. ijtihad terikat dengan ketentuanketentuan berikut: a. dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam. para ulama telah membuat metode-metode. dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh Al-Quran atau As-Sunnah. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya oleh Allah SWT dan Rasulullah. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Kedudukan ijtihad sebagai sumber hukum Islam adalah sebagai sumber hukum ketiga setelah Al-Quran dan Al-Hadits. maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif. d. mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. c. 9 . Qiyas.3 Cara Ber-ijtihad Dalam melaksanakan ijtihad. 2. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. b. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah (murni). karena ada sebab yang sama. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad.2.

dan lain-lain. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut. kasih sayang. karena umat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya. • Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya. • Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan didalam Al-Quran atau Hadist dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (illat). Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi (analogi samar-samar) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. atau yang disebut ijtihad kolektif. berdasarkan titik persmaan diantara keduanya. Istihsan. 2. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama kurang baik. yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan. 3. maka kita harus mengambil yang lebih ringan keburukannya. melalui suatu persamaan diantaranya. Beberapa definisi istisan: • Fatwa yang dikeliarkan oleh seorang faqih (ahli fiqih). yaitu kesepakatan ulama- ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. • Argumentasi dalam pikiran seorang faqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya. hanya karena dia merasa hal itu adalah benar. 10 . Ijma’.Beberapa definisi qiyas (analogi): • Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya.

4. Perbedaan antara istihsan dan mashalitul mursalah ialah. Urf. sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis dalam Al-Quran atau AlHadits. Sududz Dzariah. adalah sesuatu yang telah biasa berlaku. Istishab. Mashalihul Mursalah.• Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk maslahat orang banyak. 5. istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahatan (kebaikan) itu dengan disertai dalil Al-Quran atau Al-Hadits yang umum. diterima. dan dianggap baik oleh masyarakat. Jadi. istihab merupakan suatu tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. 11 . • Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan. • Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya. 6. Juga didefinisikan sebagai tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam AlQuran dan Al-Hadits. adalah menetapkan sesuatu menurut keadaan sebelumnya sehingga terdapat dalil yang menunjukan perubahan keadaan. yaitu tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat. yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. atau menjadikan hukum yang telah ditetapkanpada masa lampau secara kekal menurut keadaan sehingga teradapat dalil yang menunjukan atas perubahannya. 7.

Syar’un man qoblana. 9. berarti syariat sebelum Islam. Madzhab Shahabi. 12 . Ta’arud Ad-Dilalah. 10. yaitu menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan pendapat para sahabat tentang suatu kasus. atau antara sunah dengan sunah). artinya pertentangan (secara lahir dalam pandangan mujtahid) antara satu dalil dengan dalil lainnya pada derajat yang sama (ayat dengan ayat. yang tidak dijelaskan nash dan belum ada ijma’ para sahabat yang menetapkan hukum tersebut.8.

ijma’. ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. 2. hal-hal seperti berikut: 1. mashalihul mursalah. istihsan. Hasil ijtihad antara lain adalah: qiyas. istishab. urf. dan sududz dzariah. Kedudukan ijtihad sebagai sumber hukum Islam adalah sebagai sumber hukum ketiga setelah Al-Quran dan Al-Hadits. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam Al-Quran dan As-Sunnah.BAB III KESIMPULAN Setelah pembahasan diatas maka dapat disimpulkan. 13 . 3. Secara bahasa.

Lahmuddin.com www.com 14 . Mohd. 2002. Yoyo. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Muhibah.wordpress.DAFTAR PUSTAKA Ballaq. 2009. Jakarta : Sinar Grafika Nasution. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Mulyana. Siti. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Khallaf. Sejarah Teori Hukum Islam. 2004. Serang : Untirta Press www. 2004. 2001. Islam Progresif.wikipedia.com www. 2000. Idris. Islam dan Karakteristiknya. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Asas-asas Hukum Islam. Abdul Wahhab. Pembaruan Hukum Islam.google. B. Serang : Untirta Ramulyo. Wael.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful