Klasifikasi Hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad

, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan)

[sunting] Berdasarkan ujung sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat), mauquf (terhenti) dan maqtu' : • Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya) • Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tandatanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'. • Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan, Science of Hadits).

[sunting] Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Munqati', Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW • Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. • Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). • Hadits Munqati' . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 • Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. • Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).

Dari segi bentuk atau wujud matannya. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Syarat hadits Sahih adalah  o Diriwayatkan oleh perawi yang adil. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. o Sanadnya bersambung o Tidak ada cacat atau illat. mu’allaq. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. tidak fasik. berakhlak baik. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. 2. hasan. mudallas. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. terjaga muruah(kehormatan)-nya. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) • Mashur. • Hadits Dhaif (lemah). Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : • Gharib. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. • Hadits Hasan. serta matannya tidak syadz serta cacat. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. da'if dan maudu' • Hadits Shahih. o Kedhabitan perawinya sempurna. [sunting] Berdasarkan kulitas penutur hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) • Hadits ahad. • Hadits mutawatir. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Sanadnya bersambung. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. dan kuat ingatannya. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits . bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). o Matannya tidak syaz atau janggal. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. 3. hadits dapat dibagi lima macam o Qauli o Fi’li o Taqriri .[sunting] Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. • Hadits Maudu'. mengandung kejanggalan atau cacat. memiliki sifat istiqomah. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) • Aziz. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut.

Bahkan as Sibai menantang abdul Qadir profesornya untuk membuktikan kebenaran teks al Zuhri . karena alat analisa yang digunakan adalah bukku-buku sejarah (sirah Nabi) atau kitab-kitab maghazi dan kitab-kitab fiqh yang tidak terjaga ketelitian periwayatan sanadnya (Ismail. Sementara itu tawaran Goldziher agar hadis tidak semata-mata didekati lewat perspektif sanad akan tetapi juga lewat kritik matan. bahkan justru sebaliknya. ‘Ajjaj al Khatib (as Sunnah Qabla Tadwin) dan Prof. a. Kitab Muwattha’ Imam Malik dan al . Dr. Menurut ketiga ulama ini pendapat Goldziher lemah baik dari sisi metodologisnya maupun kebenaran materi sejarahnya. Pada saat itu umur al Zuhri sekitar 10-18 tahun sehingga tidak rasional pemuda seperti itu memiliki reputasi dan otoritas yang kuat untuk mempengaruhi masyarakat di sekitarnya.o Qauni o Hammi Secara historis Hadits dapat dibuktikan Bantahan-bantahan paraulama 1. dan hal ini wjar mengingat masjid itu pernah dijadikan qiblat pertma bagi ummat islam. kecuali sesudah 7 tahun dari wafatnya ibn Zubair. Menurut Azhami kesalahan Schacht adalah bahwa dia keliru ketika menjadikan kitab-kitab sirah Nabi dan kitab-kitab fiqh sebagai dasar postulat /sumsi penyusunan teorinya itu. Sebagaiman atermaktub dalam kitab shahih Bukhari hadis tersebut tidak memberikan isyarat apapun yang bisa menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilakukan di al Quds (Yurussalem) yang ada hanya isyarat pemberian keistimewaan kepada masjid al Aqsha. M. Azhami menyatakan bahwa tiadak ada bukti-bukti historis yang memperkuat teori Goldziher. Dr. masa wafat Nabi sampai masa Ummayah. Berkenaan dengan pernyataan ibn Syihab az Zuhri . pada masa Ummayah dengan titik sentral bahasan pada peran ibn Syihab al Zuhri dan keempat adalah periode kodifikasi hadis kedalam buku-buku fiqh (Abbot. Argumen lain yang juga dapat meruntuhkan teori Goldziher adalah teks hadis itu sendiri. Orientalis lain yakni Nabia Abbot. Demikian juga ternyata tuduhan Goldziher bahwa al Zuhri dipaksa khalifah abdul malik bin marwan (yang bermusuhan dengan ibn Zubair) untuk membuat hadis. Dr. Musthofa as Siba’iy (as Sunnah wa Makanatuha fi at Tasyri’il Islam) Prof. justru mengajukan buktii-bukti yang cukup valid tentang keberadaan pencattan hadis pada awal-awal periode islam. sebab bukunya memfokuskan diri pada masalah hukum. Karena ketidaktahuan mereka (kekurangpercayaan) pada bukti-bukti sejarah. Musthofa al Azhami (Studies in Early Hadith Literature). Bahkan ternyata tawaran metodologis Goldziher itu dalam praktiknya justru mengundang kelemahan. Berikutnya adalah sanggahan terhadap kritikan Joseph Schahcht sebagaimana yang dia gagas dalam teori Projecting Back-nya. dan tidak juga berkaitan dengan hukum hanya seperempat yang relevan dengan topik yang didiskusikan (Azhami. adalah palsu belaka. masa Nabi hidup. Mereka itu di antaranya : Prof. Pada akhirnya terbukti bahwa Abdul Qadir salah dan berpegang pada argumen-argumen yang tidak ilmiah (Jyunboll. : 289) Sisi metodologi yang dikritik Azhami adalah bahwa kesalahan orientalis yang tidak konsisten dalam mendiskusikakn perkembangan hadis Nabi yang berkaitan dengan hukum. Hanya saja secara teori memnag kurang mendapat porsi publikasi yang berimbang dibanding kritik sanad.1999:51). akan tetapi ditulis dengan lafaz ahadis saja. dalam bukunya Studies in Arabic Literary Papyri. ketiga. 1988:284-287). :118). Bantahan Para Ulama terhadap Kritik Orientalis Pendapat Goldziher bahwa hadis belum merupakan dokumen sejarah yang muncul pada masa-masa awal peertumbuhan islam disanggah oleh bebrapa pakar hadis. Sebgai contoh dari 47 hadis yang diklaimnya berasal dari Nabi sebagiannya tidak berasal dari Nabi. 1995:76-82). mereka malah memasukkan hadis-hadis ritual. Ternyata Goldziher merubah teks yang seharusnya berbunyi al Ahadis. Penjelasan argumentatif telah disajikan oleh Subkhi as Shalih bahwa ulama dalam mengkaji hadis juga bertumpu pada matan ( Shalih. perlu dicermati. Abbot menyimpulakn bahwa penulisan hadis bisa direkonstruksikan dalam 4 fase: pertama. Hal ini mengingat al Zuhri semasa hidupnya tidak pernah bertemu dengan abdul malik. kedua. Sebenarnya semenjak awal para shahabat dan generasi sesudahnya sudah mempraktekkan metode kritik matan.

Sehingga ia tidak menulisnya dalam karya-karya terbaru karena tidak mendukung teori hukum yang mereka anut (Azhami. . sebab dalam bukunya the origin .1995:115). Di samping itu Azhami membuktikan bahwa tidak adanya sebuah hadis pada masa kemudian. Muwatha’ adalah suatu karya yang oleh Ignaz Goldziher dikritik sebagai bukan kitab hadis dengan alasan (1) belum mencakup seluruh hadis yang ada (2) lebih menekankan pada aspek hukum . Keseluruhan ulama pendukung hadis. A Critique of Joseph Schacht‘s Argument e Silention.Syaibaniy serta risalahnya Imam as Syafi’I tidak bisa dijadiakan sebagai alat analisis eksistensi atau embrio kelahiran hadis Nabi. suhail…dst. ternyata ia mendasarkan teorinya itu pada hadis-hadis ritual (ibadah) yang jika diteliti lebih dalam lagi ternyata tidak bersambung ke Nabi (Azhami..schacht mengecualikan teorinya itu terhadap referensi yang berasal dari 2 generasi di belakang syafi’I ( Schacht. Hanya saja niat dan tujuan mereka yang jahat itulah yang patut diwaspadai . padahal pada masa-masa awal hadis itu dicatat oleh perawi. begitu pula Azhami dalam On Schacht …Keduanya berkesimpulan bahwa schacht melakukan kontradiksi dalam berargumen. Oleh karena itu ummat islam dituntut untuk terus mengkaji dan mengembangkan studi yang lebih intensif dan metodologis dalam rangka mempertahankan serangan-serangan dari fihak di luar Islam dan sekaligus mengembangkan pemahamna-pemahaman baru yang bisa lebih diterima oleh pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab. kenyataannya schacht justru menggunakan muwatha’nya Imam Malik dan Syaibaniy sebagai data-datanya. 1978: ) . Oleh karena itu untuk meneliti hadis Nabi sebaiknya menggunakan dan berpedoman pada kitabkitab hadis (Azhami. Sementara teori e Silentio-nya schacht dikritk oleh Ja’far Ishaq Anshari salam buku beliau : The Authenticity of Tradition. :199). yakin bahwa kajian-kajian islam (terutama al hadis) yang dilakukan oleh orientalis tidak dimaksudkan kecuali dengan tujuan meragukan dan menyanggah kebenaran dasar-dasar syari’at islam. Azhami dalam rangka meruntuhkan teorinya schacht telah melakukan penelitian terhdap beberapa naskah hadis –dengan sanad abu hurairah. : 119-121). Shahabatdan tabi’in (Ismai’. abu shalih. disebabkan pengarangnya menghapus/menasakh hadis tersebut.yang ternyata dari hasil kajiannya sangat mustahil hadis bisa dipalsukan begitu saja (Azhami. :118) Demikian makalah ini disusun kesimpulannya adalah bahwa ketekunan dan minat/gairah intelektual para orientalis untuk mempelajari hadis patut untuk direspon dengan baik. :57) . Sebab kitab-kitab tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.yang itu adalah referensi yang valid menurutnya. Ketidakkonsistenan schacht terbukti ketika dia mengkritik hadis-hadis hukum adalah palsu. kurang fokus pada penyelidikan penghimpunann hadis (3) campuran qaul Nabi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful