P. 1
Skripsi Tipologi Pondok Pesantren

Skripsi Tipologi Pondok Pesantren

5.0

|Views: 2,943|Likes:

More info:

Published by: Miftahuddin El-yashfie on Jul 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

a.Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat
Peraturan yang sangat ketat dan kegiatan yang padat menjadi ciri
khas dari pesantren. Kegiatan belajar mengajar secara formalitas
dimulai sejak subuh hingga menjelang malam. Ketika rutinitas dimulai
dengan setoran hafalanpada KH. Mc. Ulin Nuha Arwani yang dimulai
dari ba'da Subuh bagi para khotimin yaitu santri yang telah mengikuti
ujian akhir/masalan. Sementara bagi santri yang sudah menyetorkan
hafalan minimal 20 juz kepada KH. Ulil Albab Arwani
Selanjutnya jam wajib madrasah pagi. Kegiatan ini dimulai dari
pukul 08.00hingga pukul 11.00 WIB. Di ampu oleh ustadz yang telah
ditunjuk dan dilaksanakan di kelas sesuai dengan tingkatannya

44

Dokumen kegiatan PP. RoudlatuthTholibin Bendan Kerjasan Kota Kudus yang peneliti

peroleh pada tanggal 21 Januari 2011.

45

Hasil wawancara dengan KH. Moch. Khafidz Asnawi pengasuh PP. RoudlatuthTholibin
Bendan KerjasanKudus pada tanggal 20Januari 2011.

98

masing-masing. Penentuan jenjang kelas didasarkan pada jumlah juz
yang telah disetorkan kepada KH. Ulil Albab Arwani.46
Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel

di bawah ini:

Tabel 3.2.
Daftar Mata Pelajaran PTYQ Kajeksan Kudus

a.Al-Qur’an 30 Juz
1.Hafalan
2.Tajwid
3.Makhroj
4.Ilmu Tafsir
b.Al-Qur’an dengan Qiro’ah Sab’ah
1.Hafalan
2.Tajwid
3.Makhroj
c.Ilmu Syari’ah
1. Haqq al-Tilawah (ilmu tajwid)
2. Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an (ilmu al-Qur’an)
3. Faidl al-Barakat fi Sabil al-Qira’at (ilmu tajwid)
4. Al-Itqon fi Ulum al-Qur’an (ilmu al-Qur’an)
5. Tafsir al-Jalalain (ilmu tafsir)
6. Kasyifah al-Saja (ilmu fiqih)
7. Bidayah al-Hidayah (ilmu akhlak)
8. Nasha’ih al-Ibad.(ilmu akhlak).47
Dari sejumlah komponen pelajaran di atas, implementasinya
tergantung dari tingkat keahlian dari santri. Bagi santri yang masih

46

Hasil Wawancara dengan Ahmad Chasan sekretaris PP. Tahfidz Yanbu’ul Qur’an pusat
Kajeksan Kota Kudus pada tanggal 19 Januari 2011.

47

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 173.

99

pemula, maka diajurkan duduk di kelas persiapanA yang mempelajari
makhroj, tahsin dan bin nadhor.Selanjutnya jika agak lebih mahir,
maka bisa beranjak pada jenjang berikutnya, yaitu kelas persiapan B
yang ditargetkan mampu menghafal al-Qur’an dari juz 1 –8.
Sementara santri yang sudah lebih menghafal dari 8 juz ke atas,
maka naik tingkat ke kelas 1 yang harus menghafal al-Qur’anjuz 9 –
14. Kemudian bagi santri yang sudah mengantongi juz 15 –23 naik
jenjang pada tingkatan kelas 2. Selanjutnya bagi santri yang sudah
hafal juz 23 –30, maka ia berhak lulus dari kelas 3. Dan tingkatan
terakhir yakni kelas mudarosah yang diperuntukkan bagi santri yang
sudah khatam dan sudah lulus tes kelas yang mampu membaca al-
Qur’an 30 juz bil ghaib.48
Dengan adanya ketentuan ini yang disesuaikan dengan kelas dan
kemampuan masing-masing santri, kurikulum pesantren PTYQ dapat
dijalankan dengan baik. Meskipun jika diamati perilaku masing-
masing santri sebagian ada yang masih merasa keberatan, bahkan
sebagian juga mengalami kendala kesulitan untuk naik tingkat pada
jenjang selanjutnya. Hal ini disebabkan karena metode menghafalnya
yang masih terkesan manual. Oleh karena itu, perlu diadakan
terobosan baru tentang metode menghafal yang secara teknis dapat
mempermudah hafalan para santri.
b.Pesantren Yanbu’ulQur’an MUSYQ Lil Banin
Semua santri yang tercatat di pesantren MUSYQ Lil banin hampir
semua merangkap sekolah di Madrasah TBS pada pagi harinya. Oleh
sebab itu, rangkaian kurikulum di pesantren ini pun menyesuaikan
dengan kegiatan yang ada di madrasah tersebut.

48

Profil pondok PTYQ pusat Kajeksan Kota Kudus yang peneliti peroleh pada tanggal 20

Januari 2011.

100

Pemaparan di bawah ini tidak bermaksud untuk menjelaskan
kurikulum yang ada di madrasah TBS, melainkan tertentu pada
kurikulum pesantren meskipun masih dalam satu manajemen yakni
manajemen Yayasan Arwaniyah. Oleh karenanya, kegiatan pesantren
dilaksanakan pada sore harinya dan malam hari.
Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel

di bawah ini:

Tabel3.3.
Daftar Materi Pelajaran Pesantren MUSYQ Kwanaran Kudus

a.Al-Qur’an
1. Seni baca Al-Qur’an
2.Musyafahah Al-Qur’an
3.Khataman Al-Qur’an
4.Ilmu Tafsir
a.Ilmu Syari’ah
1.Ta’lim al-Muta’allim (ilmu akhlak)
2.Sullam al-Taufiq (ilmu fiqih)
3.Fath al-Qorib al-Mujib (ilmu fiqih)
4.Fath al-Mu’in (ilmu fiqih)
5.Tahrir (ilmu fiqih)
6.Minhaj al-Qowim (ilmu fiqih)
7.Mudzakiroh (ilmu tajwid)
8.Al-Jurumiyyah (ilmu alat)
9.Syarh ‘Ibn ‘Aqil ‘Ala Alfiyah Ibn Malik (ilmu alat)
10.Jauhar al-Maknun (ilmu balaghoh)
b.Pengajian Ekstra
1.Simthut Duror
2.Adz-Dziba’
3.Al-Barjanji

101

4.Taqror Alfiyah
5.Sorogan kitab kuning
6.Musyawaroh kitab
7.Mukhafadzoh Alfiyah
8.Pengajian dialogis fiqh ubudiyyah
9.Pengajian yasin dan tahlil
10.Bimbingan belajar (6 MTs dan 9 MA)49
Dari pelajaran yang dipaparkan di atas, pesantren MUSYQ
memang dengan sengaja memadatkan jam pelajaran, khususnya pada
pengajian kitab-kitab salaf karena di waktu pagi para santri sudah
mendapat materi umu di madrasa. Sehingga di pesantren hanya
sebagai suplemen pengetahuan atau sebagai penyeimbang bagi
pengetahuan santri.

Kebijakan diatas tidak mengurangi prioritas pihak pesantren untuk
tetap fokus pada pengajaran agama dengan menekankan pada aspek
faqih dalam amaliyah. Maka tidak heran komposisi kitab fiqih
diperbanyak. Di samping itu juga diadakan pengajian dialogis
mengenai masalah fiqih ubudiyyah menyangkut tentang pemahaman
santri terhadap teks-teks fiqih yang telah mereka pelajari di pesantren.
Dalam upaya menuju pada visi pesantren yang telah ditetapkan,
yakni fashih dalam tilawah dan faqih dalam amaliyah, maka dengan
sengaja kurikulum pesantren ini mengkombinasikan antara ilmu al-
Qur’an dan ilmu-ilmu syari’at. Upaya ini juga diimbangi dengan
materi pelajaran Alfiyah untuk memberi bekal terhadap para santri
untuk memahami teks-teks kitab kuning yang tiap-tiap harinya
dipelajari oleh santri.

49

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 176.

102

c.Pesantren RaudlatuthTholibin
Secara umum, pesantren ini termasuk lembaga pendidikan Islam
yang memberikan pengajaran ilmu syari’ah yang pada
implementasinya dilakukan dengan pelaksanaan pengajian kitab yang
dilaksanakan setiap ba’da maghrib hingga Isya’ dan mengaji al-Qur’an
setiap ba’da shubuh.50
Adapun materi pelajaran yang diajarkan adalah sebagaimana tabel

di bawah ini:

Table 3.4.
Daftar Mata Pelajaran Pesantren Roudlatuth Tholibin
Kerjasan Kudus

a.Al-Qur’an
1.Tajwid
2.Mudarosah
b.Ilmu Syari’ah
1.Al-Jurumiyyah (ilmu alat)
2.Al-Amtsilah al-Tashrifiyyah (ilmu alat)
3.Fath al-Qorib al-Mujib (ilmu fiqih)
4.Majmu’ al-Ahkam al-Syar’iyyah (ilmu fiqih)
5.Sullam al-Taufiq (ilmu fiqih)
6.Syu’ab al-Iman (ilmu tauhid)
7.Tijan al-Durari (ilmu tauhid)
8.Ta’lim al-Muta’allim (ilmu akhlak)
9.Al-Ushfuriyyah (ilmu akhlak)
10.Bidayah al-Hidayah (ilmu akhlak)
c.Pengajian Ekstra
1.Pembacaan surat al-Kahfi setiap malam jum’at

50

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 163.

103

2.Al-Barjanji
3.Pengajian yasin dan tahlil
4.Khitobah setiap malam jum’at
5.Mukhafadzoh surat-surat pendek
d.Ilmu Hikmah
1.Sholawat Asnawiyah
2.Syi’ir nasihat KHR. Asnawi
3.Rotib lil-Imam Umar Abdurrohman al-Atthos
4.Rotib Al-Syahir lil-Imam al-Habib Abdillah bin Alwi Al-
Haddad
5.Wirid al-Lathif lil-Imam Abdillah bin Alwi al-Haddad
6.Wirid al-Imam Ali bin Abi Bakar Al-Syaqofi.51
Kurikulum pesantren RoudlatuthTholibin ini pada mulanya
menekankan pada pengajaran ilmu-ilmu syari’at, terutama ilmu tauhid.
Hal ini merupakan peninggalan dari KHR. Asnawi yang memang dari
segi keahlian kapabel mengenai ketauhidan. Namun, kurikulum
pesantren ini semenjak diasuh oleh KH. Moch. Khafidz Asnawi terjadi
penambahan pelajaran, yakni mengenai ilmu hikmah yang bertujuan
untuk membina akhlak para santri.
Terbilang cukup banyak ilmu-ilmu hikmah yang diajarkan pada
pesantren ini. Bahkan sholawat, rotib dan wirid di atas menjadi
kegiatan harian yang dilakukan oleh para santri. Meskipun begitu,
sebenarnya yang menjadi penekanan pihak pesantren adalah terutama
pembacaan syi’iran nasihat KHR. Asnawi. Syi’iran nasihat ini bagi
pesantren Bendan secara khusus dan bagi masyarakat Kudus secara
umum mempunyai nilai historis yang mendalam. Degradasi moral
yang terjadi saata itu ditentang oleh KHR. Asnawi melalui syi’iranini.

51

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 163.

104

nasihat-nasihat lunak mengenai kemuliaan manusia, sifat-sifat kotor
manusia yang menjadi penghalang dirinya dengan Tuhan-Nya, dan
lain sebagainya. Bahkan KHR. Asnawi dalam syi’iran ini tidak ridlo
jika ada keluarga dan santri ada yang merokok bagi laki-laki, dan
susuran bagi santri perempuan. Hal ini dimaksudkan karena takut jika
mulutnya “penceng” dan perot” dan “susure ngelewer metu mecotot”.
Untuk lebih jelasnya, pada lampiran akan dipaparkan teks asli dan
arti dari syi’iran nasihat KHR. Asnawi tersebut. Di jadikannya
syi’iran nasihat ini sebagai salah satu materi yang ditekan oleh
pesantren Bendan menjadikan keunikan dan ciri khas tersendiri dari
pada pesantren-pesantren lainnya di Kudus. Dalam pada itu,
kandungan dalam syi’iran secara tersirat mencerminkan kepribadian
harapan KHR. Asnawi kepada santri-santrinya sampai ke generasi
sekarang dan selanjutnya.
4.Pola Pembelajaran
a.Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat
1) Musyafahah (face to face)
Dalam prakteknya metode ini dijalankan melalui tiga macam

cara, yakni :
-Ustadz membaca, santri mendengarkan dan sebaliknya,
-Ustadz membaca, santri cuma mendengarkan,
-Santri membaca, ustadz mendengarkan.

2)Resitasi

Metode resitasi dilakukan dengan memberikan tugas kepada
santri untuk menghafal beberapa ayat atau halaman mushaf sampai
benar-benar hafal untuk kemudian dibacakan dihadapan guru pada
pertemuan selanjutnya.

105

3)Taqrir

Merupakan metode yang cara kerjanya menghafal dengan cara
mengulang-ngulang, sebelum kemudian dibacakan di hadapan
guru.
4)Mudarasah

Adalah sebuah metode di mana semua santri menghafal secara
bergantian dan berurutan (estafet), satu santri menghafal
didengarkan santri lainnya, dan begitu seterusnya. Dalam
prakteknya, metode ini dilaksanakan melalui beberapa cara, yakni
mudarasah ayatan (per ayat), per halaman (mushaf yang digunakan
adalah mushaf pojok, setiap pojok halaman adalah akhir ayat), dan
perempatan (per seperempat juz).52
b.Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin
1)Mbalah

Mbalah merupakan sebuah istilah di kalangan pesantren yang
bermaksud untuk menamakan sebuah pengajian umum yang
diikuti olehsemua santri tanpa membedakan tingkatan kelas
pendidikan formal mereka. Metode ini dilaksanakan hanya bagi
pondok di mana para santrinya juga merangkap sebagai siswa/I
madrasah atau sekolah formal.
2)Musyafahah

Metode musyafahah bagi pondok MUSYQ ini diperuntukkan
bagi santri yang mempelajari al-Qur’an. Tidak semua santri di
pondok ini tertuntut untuk mempelajari al-Qur’an mengingat
jadwal harian mereka sudah terpenuhi oleh kegiatan di madrsah
atau sekolah formal.

52

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 173.

106

3)Sorogan hafalan Alfiyah
Berbeda dengan pondok lain yang memberlakukan al-Qur’an,
pondok MUSYQ ini melaksanakan sorogan bagi santri yang
menghafal nadhom Alfiyah Ibnu Malik (kitab nahwu dalam bentuk
1002bait sya’ir).
4)Musyawaroh

Metode ini digunakan dalam kegiatan kajian secara mendalam
terhadap permasalahan agama (masa’il diniyyah) dengan tema
yang sudah ditentukan sebelumnya.53
c.Pesantren Raudlatut Tholibin
1)Sorogan

Metode sorogan diterapkan pesantren Raudlatut Tholibin
dengan fokus pada kajian kitab-kitab tauhid dan fiqh sesuai dengan
tingkatannya masing-masing yang dilakukan sehabis maghrib.

2)Wetonan

Selain sorogan, metode wetonan pun juga diterapkan pada
hari-hari tertentu. Melihat kitab yang dibaca oleh pengasuh,
pesantren ini melalui wetonan menekankan pada kajian fiqh
dengan dibacakannya kitab Fath al-Qorib.
5.Sistem Penyelenggaraan Pendidikan
a.Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Pusat
Dalam proses penyelenggaraan pendidikan, PTYQ belum
menyelenggarakan sistem madrasah secara formal, namun sudah
menerapkan sistem kelas sebagai sarana untuk untuk mencapai tujuan
yang dicapai. Sistem kelas yang dilaksanakan oleh PYTQ tergantung
oleh kompetensi para santri di bidang al-Qur’an. Untuk pemula
disiapkan kelas persiapan A dan B, selanjutnya masuk pada kelas 1, 2,

53

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 174.

107

dan 3 serta sebagai penyempurnaannya dibuka kelas mudarosah bagi
para khotimin.54

Sistem kelas yang diterapkan oleh PTYQ semata-mata untuk
mempermudah para santri untuk memahami dan menghafal al-Qur’an
sehingga materi pelajaran diniyyah sebagaimana termuat di kitab-kitab
klasik belum diajarkan pada kelas-kelas tersebut. Bahkan menjadi
ekstra kurikuler dalam sistem pendidikannya. Pendidikan umum pun
sebagaimana yang sudah diterapkan oleh pendidikan formal belum
diterapkan.

Penyelenggaran pendidikan PTYQ meskipun sudah dilengkapi
dengan sistem klasikal, namun tidak memperbolehkan para santri
untuk mengikuti pendidikan formal yang ada di luar pesantren. Jam
keluar masuknya santri pun dibatasi dan oleh kalangan santri-santri
tertentu saja. Bagi santri yang tidak berkepentingan tidak boleh untuk
keluar dari dari pesantren tanpa ijin dari pengasuh.55
b.Pesantren Yanbu’ul Qur’an MUSYQ Lil Banin
Pesantren MUSYQ dalam penyelenggaraan pendidikannya
cenderung ingin menyeimbangkan antara pendidikan agama dengan
pendidikan umum. Oleh karena itu, semua santri tidak terkecuali kalau
pagi mengikuti madrasah formal sendiri, yakni TBS. Sedangkan sore
harinya mengikuti kegiatan pesantren. Kegiatan pesantren pun
menyesuaikan dengan kagiatan yang ada di madrasah.56
Dalam melaksanakan perannya, K.H. Arifin Fanani sebagai
pengasuh di bantu K.H. Hasan Fauzi dan 9 ustadz pesantren, di

54

Profil pondok PTYQ pusat Kajeksan Kota Kudus yang peneliti peroleh pada tanggal 20

Januari 2011.

55

Disarikan dari undang-undang tata tertib PTYQ pusat yang peneliti peroleh pada tanggal 20

Januari 2011.

56

Hasil observasi peneliti di PP.MUSYQ Kwanaran Kajeksan Kota Kudus pada tanggal 19

Januari 2011.

108

antaranya Ustadz Subhan, Ustadz H. Amin Yasin, dan lain sebagainya.
Dengan jumlah santri pada tahun ini telah mencapai 204 santri dalam
sistem penyelenggaraan pendidikannya dilakukan secara klasikal
dengan cara membagi atau mengelompokkan santri berdasar tingkatan
kelas di madrasah TBS, yang biasanya mencapai 5 kelompok, dan
masing-masing kelompok di bimbing oleh seorang guru yang bisa
mengampu 3 mata pelajaran. Materi yang diberikan pun disesuaikan
dengan materi yang para santri peroleh dari madrasah.57
c.Pesantren RaudlatuthTholibin
Sementara di pesantren Raudlatut Tholibin dalam sistem
penyelenggaraan pendidikan memperbolehkan semua santri untuk
mengikuti pendidikan formal di luar pesantren. Sebagaian besar para
santri yang ada di pesantren tersebut menjadi siswa di madrasah
Qudsiyyah dan sebagiannya yang lain ada di TBS, SMA 1 Kudus,
SMK Ma’arif, dan SMK al-Ma’ruf.58

Sebagai pengasuh, K.H. Moch
Hafidz Asnawibersikap terbuka kepada semua santri mau mengikuti
pendidikan formal di mana saja, asalkan setiap sore dan malamnya
tetap mengikuti kegiatan yang di laksanakan pesantren.59
Penyelenggaraan pendidikan di pondok ini, secara keilmuwan
cenderung menekankan pada aspek tauhid, fiqh, nahwu, shorf, dan
akhlak. Kitab-kitab salaf pun diajarkan di sana. Di antara berbagai fan
disiplin ilmu tersebut, sebagaimana apa yang diwariskan oleh

57

M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren, hlm. 176.

58

Hasil wawancara dengan Mas’ud, pengurus PP. RaudlatuthTholibin pada tanggal 20 Januari

2011.

59

Hasil wawancara dengan K.H. Moch. Khafidz Asnawi, pengasuh PP. RaudlatuthTholibin

pada tanggal 20 Januari 2011.

109

pendahulunya, yakni KHR.Asnawi, lebih sangat menekankan pada
aspek akhlak dalam membina kepribadian santri.60
Penyelenggaraan pendidikan seperti di atas pada umumnya di
wujudkan dengan penekanan pada shalat berjama’ah. Wajib
hukumnya di pesantren ini untuk aktif melaksanakan jama’ah lima
waktu sehari semalam. Setelah jama’ah, wajib pula bagi santri untuk
mengikuti membaca wirid dan rotib bersama pengasuh. Di antara jenis
wirid yang sangat di tekankan dan dilanggengkan adalah wirid al
Imam Ali bin Abi Bakar al-Shaqofy dan Wirid al-Lathif lil Imam
Abdullah bin Alawy al-Haddad. Sementara rotibnya memakai rotib
Al-Syahir lil imam al-Habib Abdillah bin Alawy al-Haddad dan rotib
al-Imam Umar bin Abdurrohman al-Attos. Keempat jenis wirid dan
rotib tersebut secara bergiliran selalu di senandungkan oleh para santri
bersama pengasuh selama habis shalat fardlu.61

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->