PENYITAAN

Makalah Ini Diajukan Sebagai Syarat Untuk Ujian Pada Mata Kuliah Hukum Acara Peradilan Agama

D I S U S U N

OLEH ZAINI YAZID HRP 220708417

PERBANDINGAN HUKUM DAN MAZHAB FAKULTAS SYARI¶AH INTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2011

Sita merupakan tindakan hukum eksepsional. hal. Sebelum pengadilan sendiri menjatuhkan putusan. Tidak boleh diterapkan secara serampangan tanpa alasan yang kuat. Dalam penyitaan ini seolah-olah pengadilan telah menghukum tergugat lebih dulu. Yahya Harahap. Sering sita itu dilakukan pada saat proses pemeriksaan perkara sedang berjalan. yang penerapannya mesti dilakukan pengadilan dengan segala pertimbangan yang hati-hati sekali. 3. Sita merupakan tindakan hukum yang diambil pengadilan mendahului pemeriksaan pokok perkara atau mendahului putusan. tindakan penyitaan merupakan tindakan hukum yang sangat ekspensional. tetapi gugatan ternyata ditolak oleh 1 M. Dengan mempertahankan pengertian tersebut. Tindakan menempatkan harta kekayaan tergugat selama paksa berada ke dalam keadaan penjagaan. Bila kita analisis.PENGERTIAN Penyitaan berasal dari terminologi Beslag (Belanda). Sinar Grafika. yang tidak didukung oleh fakta yang mendasar. tetapi boleh juga barang yang akan dijadikan sebagai alat pembayaran atas keputusan hutang debitur atau tergugat dengan jalan menjual lelang (exsekutorial verkoop) barang yang disita tersebut1. Tindakan paksa penjagaan (custody) itu ditahukan secara resmi (official) berdasarkan permintaan pengadilan atau hakim. dan didalam istilah bahasa indonesia ³beslag´ namun istilah bakunya ialah kata sita atau penyitaan. Hukum Acara Perdata. Tergugat sudah dijatuhi hukuman berupa penyitaan harta sengketa atau harta kekayaan tergugat. Tegasnya. berupa barang yang disengketakan. . Beberapa pengertian penyitaan yaitu : 1. sebelum pengadilan menyatakan pihak tergugat bersalah berdasarkan putusan. dapat dikemukakan beberapa esensi fundamental sebagai landasan penerapan penyitaan yang perlu diperhatikan: 1. penyitaan membenarkan putusan yang belum dijatuhkan. Jangan sampai terjadi sita telah diletakkan atas harta kekayaan tergugat. Pengabulan penyitaan merupakan tindakan hukum pengecualian. 2. 283. Barang yang ditempatkan dalam penjagaan tersebut. Itu sebabnya.

Perampasan harta tergugat tersebut adakalanya : a. dimana sebelum putusan dijatuhkan kepada tergugat atau sebelum putusan untuk menghukumnya belum mempunyai kekuatan hukum tetap. tetapi tergugat telah dihukum dan dinyatakan bersalah dengan jalan menyita harta kekayaannya. Dengan adanya penyitaan tentunya telah menempatkan tergugat dalam suasana dalam posisi keresahan dan kehilangan harga diri. Karena di dalam proses persidangan berlangsung. Antara lain dari segi kejiwaan. Pada hakikatnya penyitaan merupakan perintah perampasan atas harta sengketa atau harta kekayaan tergugat. apabila penyitaan kelak dilanjutkan dengan perintah penyerahan kepada Penggugat berdasarkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. sedang putusan yang akan dijatuhkan belum tentu akan menghukum dan menyalahkan tergugat. h. Kebijakan mengabulkan sita jaminan.pengadilan. Dengan memperhatikan akibat-akibat negatif seperti ini. Bersifat permanen Penyitaan bisa bersifat permanen. atau apabila penyitaan dilanjutkan kelak dengan penjualan lelang untuk melunasi pembayaran hutang tergugat kepada penggugat. Hakim harus menyadari bahwa situ atau penyitaan adalah bergerak dapat sangat eksepsional. 2 3 Ibid. Sita sebagai tindakan perampasan. Oleh karena penjatuhan sita seolah-olah merupakan pernyataan kesalahan tergugat sebelum putusan dijatuhkan. dengan sendirinya tindakan penyitaan menimbulkan berbagai dampak yang harus dipikul tergugat. para hakim harus dituntut untuk teliti di dalam menjalankan permohonan sita. h. 284 Ibid. namun dengan adanya penyitaan. Perintah perampasan itu. sejak semula sebaiknya sudah dilandasi oleh bukti-bukti yang kuat tentang akan dikabulkan gugatan penggugat. sita memaksakan kebenaran gugatan3. kepercayaan masyarakat terhadap tergugat sudah mulai hilang dan luntur. Dapat kita simpulkan bahwa pengadilan berdampak psikologis2. 2. 283 . dilakukan pengadilan dalam surat penetapan berdasarkan permohonan tergugat.

maksud dan esensi jaminan. agar tidak terjadi kesalahan penafsiran maupun penyalahgunaan. Salah besar . Mengartikan secara sempit dan mutlak. Oleh karena itu. yang berpendapat sita bersifat melepaskan hak milik tergugat atas barang yang disita sejak tanggal berita acara sita diperbuat. Penyalahgunaan itu terus terjadi dalam praktek sebagai akibat dari kelemahan menafsirkan arti sita jaminan sebagai perampasan yang mutlak. hak milik atas barang tersebut masih tetap berada di tangan tergugat sampai putusan dieksekusi. agar gugatan itu tidak ilusioner. Bersifat Temporer (Sementara) Penyitaan yang dilakukan atas harta sengketa atau harta kekayaan tergugat dapat dinyatakan bersifat temporer apabila hakim memerintahkan pengangkatan sita. maka penguasaan atas benda sitaan tetap berada ditangan tergugat. bisa menimbulkan penyalahgunaan lembaga sita jaminan. dan bisa juga dilakukan hakim sekaligus pada saat menjatuhkan putusan. Keliru sekali anggapan sementara pihak. Penguasaan benda sitaan tetap dipegang tergugat Sejalan dengan acuan yang menegaskan hak milik atas benda sitaan tidak tanggal dari kekuasaan tergugat. Hak atas benda sitaan tetap dimiliki tergugat Sekalipun barang yang disita dirampas atas perintah hakim. harta yang disita ditunjukkan untuk menjamin gugatan tergugat. Sita semata-mata hanya sebagai jaminan Istilah. c.b.pihak maupun hakim. Perintah pengangkatan sita jaminan yang seperti ini terjadi berdasarkan surat penetapan pada saat proses persidangan mulai berlangsung. apabila gugatan penggugat ditolak. Acuan yang mesti dipedomani terhadap perlakuan barang sitaan terutama bagi hakim adalah : a. b. Tidak demikian halnya bahwa sita atau penyitaan sebagai tindakantindakan perampasan harta sengketa atau harta kekayaan tergugat bukan bersifat mutlak terlepas dari hak dan penguasaan serta pengusahaan barang yang disita dari tangan tergugat. makna perampasan dalam penyitaan jangan diartikan secara sempit dan bersifat mutlak. Berbicara mengenai makna penyitaan sebagai tindakan perampasan berdasarkan perintah hakim. perlu diketahui acuan yang tepat dan proposional memberlakukan barang sitaan.

penguasaan. b. apalagi sebagai pelaku bisnis. Pasal ini adalah memberi kewenangan kepada hakim atau juru sita untuk menyerahkan penjagaan. dan penguasaan hak miliknya tetap ditangan si tersita. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai dampak psikologis sita. tetapi berdampak luas kepada keluarga dalam pergaulan sosial. penyitaan sifatnya terbuka yang umum. namun bisa pula di tonton oleh masyarakat luas c. Demikian kira-kira ringkasan yang tersimpul pada Pasal 197 ayat 9 HIR atau Pasal 212 Rbg. Berdasarkan hal-hal tersebut. Sekalipun untuk membawa dan menyimpan sebagian barang di tempat penyimpanan yang dianggap patut. penyitaan barang tertentu harus diumumkan dalam buku register kantor yang bersangkutan yang sesuai dengan asas publisitas. Dari segi pelaksanaannya. dan pengusahaan barang yang disita di tangan penggugat atau dibawah penjagaan pengadilan. jelas bertentangan Pasal 197 ayat 9 HIR atau Pasal 212 Rbg. Secara resmi disaksikan oleh dua orang saksi maupun oleh kepala desa. Administratif Justisial. seperti: a. Cuma hal itu diberitahukan kepada polisi agar barang tersebut tidak dilarikan orang. Tindakan penyitaan meruntuhkan kepercayaan orang atas bonafilitas korporasi dan bisnis yang dijalankan. Pelaksanaannya secara fisik dilakukan ditengah-tengah kehidupan masyarakat sekitarnya. . penyitaan berdampak terdapat psikologis yang sangat merugikan nama baik atau kredibilitas seseorang baik sebagai pribadi. Dan si tersita disuruh untuk menyimpan atau menjaganya. Penyitaan berdampak psikologis. Pengaruh buruk penyitaan dari segi psikologis bukan hanya ditanggung dan menimpa diri pribadi dan bisnis tersita. Pada pasal tersebut secara tegas ditentukan bahwa juru sita atau penyita meninggalkan barang yang disita dalam keadaan semula ditempat dimana barang itu disita. Penerapan dan praktek hukum yang seperti itu. 3.praktek hukum yang mengabsahkan pelimpahan benda sitaan berpindah ke tangan pengugat. penjagaan.

TUJUAN PENYITAAN Sepintas lalu sudah sering disingung apa yang menjadi tujuan sita jaminan. sita jaminan merupakan upaya hukum agar tercipta keutuhan dan keberadaan harta yang disita sampai keputusan dapat di eksekusi. diancam sesuai Pasal 231 KUHP. telah digariskan akibat hukumnya seperti yang diatur dalam Pasal 215 Rbg) yaitu : 1. tindakan pidana yang diancam dengan Pasal 231 KUHP ini adalah berupa tindak kejahatan yang dengan sengaja melepas barang yang telah dijatuhi sita menurut peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku.tindak kejahatan ini diancam dengan pidana penjara maksimal 4 tahun. Apabila barang menjadi objek sengketa dilakukan tindakan jual beli atau penindasan hak atau barang tersebut maka tindakan atau perbuatan tersebut batal demi hukum. Perbuatan.secara hukum. Tujuan utamanya adalah agar tergugat tidak memindahkan atau membebankan harta kekayaan kepada pihak ke tiga. apabila pihak tergugat / yang kena sita melakukan penjualan atau pemindahan hak dan barang -barang menjadi sengketa. maka terhitung sejak tanggal pendaftaran dan pengumuman sita. menimbulkan dua sisi akibat hukum : a. dan pelaksanaan penyitaan telah didaftarkan dan diumumkan kepada masyarakat. Dalam hukum pidana. Demi hukum melarang tergugat untuk menjual. Berdasarkan uraian tersebut diatas. Akibat dari batalnya demi perbuatan tindakan tersebut. status barang tersebut kembali menjadi dalam keadaan semula sebagai barang sitaan. Akibat hukum dari segi perdata. Ini diatur dalam Pasal 215 Rbg. Pelanggaran atas itu. (sesuai dengan Pasal 213 Rbg). memindahkan barang sitaan kepada siapa pun 2. sehingga tindakan atau perbuatan pemindahan hak atas barang dianggap tidak pernah terjadi ( never existed). hal ini menjaga agar gugatan pada saat proses eksekusi tiba terjadi tidak hampa sehingga dengan telah diletakkannya sita pada harta sengketa atau harta kekayaan tergugat. .

akan lebih tepat dan lebih mudah dirumuskan permohonan sita serta alasan kepentingan penyitaan. sebagai berikut : a). a. Penggugat mengajukan permohonan sita secara tertulis dalam bentuk surat gugatan. karena dari perumusan dalil gugat beserta penjelasan mengenai uraian fakta dan pe ristiwa yang mendukung dalil gugat. perumusan dalil gugat itulah layak dan tidak layak diajukan permohonan sita. Penyitaan tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa memenuhi syarat-syarat yang telah ada dan berlaku sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hakim tentunya akan mempelajari permohonan sita tersebut sesuai dengan tata cara pengajuan permohonan yang berlaku. sekaligus bersamaan dengan pengajuan gugatan pokok. Permintaan pernyataan sah biasanya diajukan pada petitum kedua.SYARAT DAN ALASAN PENYITAAN 1. Syarat penyitaan harus melalui adanya permohonan sita kepada hakim. Biasanya dalam suatu permohonan sita diajukan bersama-sama didalam surat gugatan. Pengajuan permohonan sita dalam bentuk ini tidak dapat dipisahkan dari dalil gugatan pokok. Sita Berdasarkan Permohonan. Biasanya setelah diuraikan perumusan permohonan sita pada akhir posita gugat. Syarat penyitaan berdasarkan permohonan sita merupakan hal yang mendasar. Namun kecukupan syarat-syarat tidaklah cukup dan sempurna apabila tidak dibarengi dengan adanya alasan-alasan penyitaan. 1) Permohonan diajukan dalam surat gugatan. yang berisi permintaan . permohonan sita itu dipertegas lagi dalam petitum gugat. Menurut penulis cara yang seperti ini adalah cara yang tepat. Bentuk dan tata cara pengguna permohonan sita jaminan yang seperti ini lazim dijumpai. Gugatan sita dirumuskan setelah uraian posita atau dalil gugat. sebab hakim tidaklah akan menjatuhkan sita apabila tidak ada inisiatif dari pengugat yang mengajukan permohonan sita. b). perumusan permohonan sita di dalam surat gugatan biasanya mengikuti pedoman yang secara sistematis. Syarat Pengajuan Penyitaan. Apabila permohonan sita diajukan bersamaan di dalam gugatan.

Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag. Tenggang waktu pengajuan sita adalah sampai batas waktu kapan permohonan sita dapat diajukan dan kepada instansi pengadilan mana saja pengajuan sita jaminan yang dibenarkan oleh hukum. Jadi selama putusan perkara belum diputus oleh hakim atau selama putusan belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Makna dan penafsiran kalimat tersebut menurut penulis terbatas pada ruang lingkup. Dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg ada ketentuan yang berbunyi ³selama putusan belum dijatuhkan´. bentuk permohonan sita tersendiri secara lisan jarang terjadi. pengajuan permohonan sita dapat dilakukan : 1) Selama putusan belum dijatuhkan atau selama belum berkekuatan hukum tetap. Namun didalam prakteknya. Memperhatikan kekuatan tersebut selain menentukan tenggang waktu pengajuan sita. namun sekaligus juga mengandung permasalahan tentang instansi tempat pengajuan sita. pada bentuk permohonan ini penggugat membuatnya atau menyiapkannya dalam bentuk tersendiri yang terpisah dari gugatan pokok perkara. Memenuhi tenggang waktu pengajuan sita. Tetapi pada hakekatnya. Ada kalanya permohonan sita diajukan terpisah dari pokok perkara.. dinyatakan sah dan berharga. Yahya Harahap. Disamping gugatan perkara. 2) Permohonan terpisah dari pokok perkara. kelangkaan praktek itu bukan berarti dapat melenyapkan hak penggugat untuk mengajukan permohonan sita secara lisan. penggugat dapat mengajukan permohonan sita dalam surat yang lain. Menurut Pasal 261 ayat 1 Rbg.4 Penentuan tenggang waktu pengajuan permohonan sita diatur dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg.kepada pengadilan supaya sita yang diletakkan atas harta sengketa atau harta kekayaan tergugat. masih terbuka hak dan kesempatan untuk mengajukan permohonan sita. b. 25 . 4 M. bahkan dimungkinkan dan dibolehkan pengajuan permohonan sita tersendiri secara lisan.h. Menurut ketentuan undang ± undang. ketentuan tenggang waktu ini yang dibenarkan karena hukum yaitu selama putusan belum dijatuhkan atau selama putusan belum memperoleh kekuatan hukum tetap.

maka hakim harus benar -benar mengamati. Jadi permohonan sita dapat dimohonkan ke pengadilan apabila putusan belum dapat dieksekusi. Dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg juga memuat ketentuan yang berbunyi ³selama putusan belum dapat dieksekusi (dilaksanakan)´. maka dapat diajukan permohonan sita. Permohonan sita yang telah dimohonkan tadi selayaknya disempurnakan dengan adanya alasan sita. 5 Ibid. Mengingat sangat eksepsionalnya sifat sita atau penyitaan. Sangat mustahil sekali hakim mau mengabulkan sita apabila tidak dibarengi dengan suatu alasan sita yang kuat. memperhatikan. h. 27 . karena putusan tersebut masih belum berkekuatan hukum tetap yang dapat dibanding maupun dikasasi. serta menimbang alasan sita tersebut dengan teliti. Ini karena sita sangat eksepsional sekali sifatnya. Makna dan penafsiran kalimat tersebut menurut penulis terbatas pada ruang lingkup proses pemeriksaan sidang pengadilan negeri. Sehingga jika proses pemeriksaan diinstansi pengadilan negeri masih berlangsung. Permohonan sita harus berdasarkan alasan. 3) Atau selama putusan belum dapat dieksekusi. Dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg ada ketentuan yang berbunyi ³selama putusan belum dijatuhkan´.2) Sejak mulai berlangsung pemeriksaan perkara di sidang pengadilan negeri sampai putusan dijatuhkan. Selama putusan belum dapat dilaksanakan mengandung arti yuridis selama putusan yang bersangkutan belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap5. Jangan sampai permohonan sita itu dikabulkan tanpa mengkaji pengabulan tersebut dengan alasan yang dibenarkan oleh hukum. Pasal 206 Rbg. Memang secara tegas undang-undang memberi hak dan kewenangan kepada hakim untuk menyita harta kekayaan atau harta terpekara milik tergugat sesuai dengan Pasal 261 Rbg jo. c. namun hakim harus teliti dan cermat didalam pengabulan terhadap permohonan sita.