P. 1
Kebijakan Ekonomi Pada Masa Orde Lama

Kebijakan Ekonomi Pada Masa Orde Lama

|Views: 487|Likes:
Published by pawji

More info:

Published by: pawji on Jul 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

NAMA NIM

: IDA FARIDA : B1A090378

ARTIKEL: KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI PERSAMAAN:
o Sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan

Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. o Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada. Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN). Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana dari media massa,media elektronik,dll tetap saja membantah melakukan korupsi. Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol. o Kebijakan Pemerintah Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti ³manusia setengah dewa´). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai cirinya masingmasing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban. Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakankebijakan yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat ini. PERBEDAAN : - Orde lama (Demokrasi Terpimpin)

Kas negara kosong. dilakukan pada bulan Juli 1946.1. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) Masa ini disebut masa liberal. c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat . c. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. b)Program Benteng (Kabinet Natsir). Berdasarkan teori moneter. mata uang pemerintah Hindia Belanda.Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946. d. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI. dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia. d. untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI. mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika. b. masalah sandang.Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India. yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan. terutama pengusaha Cina. mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950) Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk. dan mata uang pendudukan Jepang. yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950. pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru. 2. antara lain : a)Gunting Syarifuddin. antara lain disebabkan oleh : a. yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi. b. serta status dan administrasi perkebunanperkebunan. c. Pada waktu itu.Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947 Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948. Namun usaha ini gagal. yaitu mata uang De Javasche Bank. e.Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Pada bulan Oktober 1946. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP. disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. diharapkan pe rekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan). antara lain : a. yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. Dengan swasembada pangan. Inflasi yang sangat tinggi. karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal.

Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Pada masa pemerintahan orde baru. Dengan sistem ini. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila) Pada masa orde baru. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar. tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. yang pada . Program ini tidak berjalan dengan baik. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. Sekali lagi. pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50. 3. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik. politik. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan. pertumbuhan ekonomi yang stabil. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah. dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalagalanya diatur oleh pemerintah). Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).000 dibekukan. karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman. diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959. dan pemerataan pembangunan. dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. yaitu stabilitas politik.dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). eonomi. dan semua simpanan di bank yang melebihi 25. . Akan tetapi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100. Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. maupun bidang-bidang lain. kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.UU no. termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi.

dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka . tingkat inflasi. karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. tingkat resiko yang tinggi. konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Padahal. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan. Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik. Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit. Padahal sesungguhnya. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional. fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. harga ekspor minyak mentah Indonesia. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran. sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani. pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri. Akan tetapi. lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani. Akan tetapi. masalah-masalah dalam dunia usaha. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi. khususnya di bidang ekonomi. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi. karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran. Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Oleh karena itu. Permasalahannya. yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan. Karena menurut pemerintah. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin. APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang. karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang.akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN. Misalnya. APBN pada masa pemerintahan Orde Baru. serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. namun juga kebijakan ekonomi.Masa Reformasi (Demokrasi Liberal) Pada masa krisis ekonomi. kinerja BUMN. pemulihan ekonomi. Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat. ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi. ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. dan penyalahgunaan. pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran. Oleh karena itu. Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya.pinjaman luar negeri selalu meningkat. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5.ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin. Padahal. . antara lain masalah KKN (Korupsi. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan . korupsi. Akan tetapi. Akibatnya. terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan. Padahal. kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. Dalam Keterangan Pemerintah tentang RAPBN tahun 1977. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Pemerintahan presiden BJ. Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud. dan mempertahankan kurs rupiah. Akibatnya. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan. yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik.3 triliun. Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri. dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Kolusi dan Nepotisme). Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. pengendalian inflasi.8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.

birokrasi pemerintahan terlalu kental. karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa. digadaikan. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor. Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat. atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Jadi. tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Jadi saat dipimpin Bung Karno. sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Dengan ini.Apa yang bisa digadaikan. Beras murah. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Hal ini disebabkan karena beberapa hal.05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. tapi di lain pihak. yang salah satunya adalah revisi undangundang ketenagakerjaan. di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam. Kalo bisa ngutang ya ngutang. Menurut Keynes. Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas.ekonomi Indonesia menjadi 4. dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. . karena inefisiensi pengelolaan anggaran. yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 . investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia. Selain itu. sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.1 %.10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. kondisi dalam negeri masih kurang kondusif. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi.2 miliar dolar AS. terutama investor asing. diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. meski RI hidup miskin. antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI). tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing. o Masalah pemanfaatan kekayaan alam.

o Sistem pemerintahan Orde lama : kebijakan pada pemerintah. sekularisme. Jika ada orang mempertanyakan.demokrasi Terpimpin. terigu.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru. sentralistik.. Media masa menjadi terbuka. Referensi : http://id. Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah. Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba. dibagi menjadi kapling-kapling HPH.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah. dll. namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing. berorientasi pada politik. kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini.blogspot.Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers.semua proyek diserahkan kepada pemerintah. dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. Hutan dijadikan sumber duit. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. sentralistik. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru ³terbelenggu´ oleh faktor kekuasaan. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan. pewadahunggalan organisasi profesi. demokrasi Pancasila.yahoo. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini.padahal sebagian adalah beras impor. fokus pada pembangunan ekonomi. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya.html http://labtani. kedelai dsb. tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini. dan muncul otonomi daerah yang kebablasan. Sebab. Utang LN tetap harus dibayar. meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya. industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH .com/2008/11/07/sejarah-perekonomian-indonesia/ . diancam tuduhan subversif. Semua serba tertutup dan tidak tranparan.answers. demokrasi Liberal (neoliberaliseme). Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR).wordpress. pembatasan partai poltik. termasuk beras. pemerintahan lemah. kapitalisme. Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade. menjadi muara dari illegal logging. Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu ³bebas´). bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru.com/question/index?qid=20090126174820AAFGt08 http://yunaniabiyoso.com/2008/04/perbedaan-determinasi-kebijakan.

Jakarta:Rajawali pers. Memetakan Perekonomian Indonesia. 2008. . Aulia. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. Pembangunan dan Krisis.com/upload/Reformasi%20di%20Persimpangan%20Jalan.mudrajad. Jakarta : PT.http://www. 2002. Grasindo. Ahmad Erani. Yustika.pdf Pohan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->