1

PERITONITIS (RADANG SELAPUT RONGGA PERUT)
PENDAHULUAN Peritonitis adalah radang peritoneum dengan eksudasi serum, fibrin, sel – sel, dan pus, biasanya disertai dengan gejala nyeri abdomen dan nyeri tekan pada abdomen, konstipasi, muntah, dan demam peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada peritoneum (1). Peritoneum adalah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam tubuh. Peritoneum terdiri atas dua bagian utama, yaitu peritoneum parietal, dan peritoneum visceral, yang berfungsi menutupi sebagian besar dari organ – organ abdomen dan pelvis, membentuk perbatasan halus yang memungkinkan organ saling bergeseran tanpa ada penggesekan. Organ – organ digabungkan bersama dan menjaga kedudukan mereka tetap, dan mempertahankan hubungan perbandingan organ – organ terhadap dinding posterior abdomen. Sejumlah besar kelenjar limfe dan pembuluh darah yang termuat dalam peritoneum, membantu melindunginya terhadap infeksi (2). Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus – menerus, tidak akan terjadi peritonitis. Sebagian besar peritonitis disebabkan karena perforasi appendiks, lambung, usus halus, atau kandung empedu (1), (14). Apapun penyebabnya, onsetnya terjadi secara tiba – tiba, awalnya hanya pada satu daerah saja tetapi kemudian berkembang ke daerah yang lebih luas, menyebar pada peritoneum viseral dan parietal. Dan jika tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal (4) .

2

ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri atas beberapa lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kutis dan subkutis; lemak subkutan dan fasia superfisial (fasia Scarpa); kemudian ketiga otot dinding perut, m.oblikus abdominis eksternus, m.oblikus abdominis internus, dan m.tranversus abdominis; dan akhirnya lapis preperitoneal, dan peritoneum. Otot di bagian depan terdiri atas sepasang otot rektus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba.(3) Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kranikaudal diperoleh pendarahan dari cabang aa.interkostales VI s/d XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal, a.iliaka sirkumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna, dan a.epigastrica inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan pendarahan. Persarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n.torakalis VI s/d XII dan n.lumbalis I.(3) Rongga perut (cavitas abdominalis) dibatasi oleh membran serosa yang tipis mengkilap yang juga melipat untuk meliputi organ-organ di dalam rongga abdominal. Lapisan membran yang membatasi dinding abdomen dinamakan peritoneum parietale, sedangkan bagian yang meliputi organ dinamakan peritoneum viscerale.

3 Di sekitar dan sekeliling organ ada lapisan ganda peritoneum yang membatasi dan menyangga organ. dan saraf. Bagian-bagian peritoneum sekitar masing-masing organ diberi nama-nama khusus.2 Mesenterium ialah bangunan peritoneal yang berlapis ganda. serta membawa pembuluh darah. pangkalnya melekat pada dinding belakang perut dan ujungnya yang mengembang melekat pada usus halus. bentuknya seperti kipas. menjaganya agar tetap berada di tempatnya. saraf dan bangunan lainnya . pembuluh limfe. Di antara dua lapisan membran yang membentuk mesenterium terdapat pembuluh darah.

Ini terdiri dari lapisan mesothelium didukung oleh lapisan tipis jaringan ikat. Peritoneum.2 STRUKTUR PERITONEUM Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesotial di atas dasar fibroelastik. Peritoneum parietale mempunyai komponen somatik dan visceral dan memungkinkan lokalisasi stimulus yang berbahaya dan menimbulkan defans muscular dan nyeri lepas (3). Ada juga membran yang lebih kecil bernama omentum minus yang terentang antara lambung dan liver. Bangunan ini memanjang dari tepi lambung sebelah bawah ke dalam bagian pelvik abdomen dan kemudian melipat kembali dan melekat pada colon tranversum. . dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fascia muscular.di vertebratayang lebih tinggi dan beberapa invertebrata (annelida. menutupi usus dan mesenterium. Terbagi menjadi visceral. Persarafan lebih spesifik . Lapisan ganda peritoneum yang berisi lemak. misalnya). Bagian mesenterium di sekitar usus besar dinamakan mesokolon. menggantung seperti celemek di sebelah atas depan usus bernama omentum majus. Kedua mendukung organ-organ perut dan berfungsi sebagai saluran untuk darah dan pembuluh getah beningdan saraf (5). hanya berespons terhadap traksi atau regangan.4 yang memasok usus. Peritoneum adalah selaput serosa yang membentuk lapisan rongga perut atau coelom yang mencakup sebagian besar-intra abdomen (atau selom) organ . Pasokan darah datang dari struktur di bawahnya.

Kantung kecil dibagimenjadi dua "omenta" :(1). diwakili dengan warna biru. Omentum yang lebih besar (atau gastrocolic) tergantung dari kurva yang lebih besar dari perut dan loop turun di depan usus sebelum melengkung ke belakang untuk melampirkan usus besar melintang.5 PEMBAGIAN PERITONEUM Kantung besar (atau rongga perut umum). Omentum minus (atau gastrohepatic) terlampir pada kurvatura minor dari lambungdan hati. diwakili dalam merah dalam diagram diatas.(2). Akibatnya itu terbungkus di depan usus seperticelemek dan dapat berfungsi sebagai lapisan isolasi atau protektif (1) . Kantung kecil (atau bursa omentum).

6 KLASIFIKASI STRUKTUR PERUT Struktur di perut diklasifikasikan sebagai intraperitoneal. kelenjar adrenal. Gonad pembuluh darah. adalah "terutama retroperitoneal". retroperitoneal atauinfraperitoneal tergantung pada apakah mereka ditutupi dengan peritoneum visceral danapakah mereka dilengkapi dengan polip (mensentery. ovarium Gonad pembuluh darah.Dan pada wanita. ekor pancreas. Struktur yang Intraperitoneal umumnya bergerak. Limpa. (1) Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum pada membrana serous pada garis cacum abdominal dan viserra. mesokolon). Peritonitis biasanya terjadi local atau general dan menghasilkan infeksi (sering terjadi rupture pada organ pada trauma abdominal atau appendicitis) atau dari proses non-infeksi.ORGAN YANG ADA DALAM INTRAPERITONEUM Organ yang ada pada Intraperitoneum adalah meliputi. sementara mereka yang retroperitoneal relatif tetap dilokasi mereka. ORGAN . Pankreas (kecuali ekor).sementara yang lain seperti mayoritas duodenum. kapal ginjal. adalah "sekunder retroperitoneal". (2) . Hati.Ginjal. yangberarti struktur yang dikembangkan intraperitoneal namun kehilangan mesenterium dandengan demikian menjadi retroperitoneal. saluran telur. seperti ginjal. Uterus. Aorta DEFINISI Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput Rongga perut (peritoneum). ureter proksimal. ORGAN ± ORGAN YANG ADA DALAM RETROPERITONEUM Organ yang ada pada Retroperitoneum adalah meliputi. Beberapa struktur. Inferior vena cava.

tidak akan terjadi peritonitis. dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus.Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual .7 Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan Dinding perut sebelah dalam. 2. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. kandung empedu atau usus buntu.(1) PENYEBAB Peritonitis biasanya disebabkan oleh (6): 1. usus. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah per forasi lambung.Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.

8 3. ureter. yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkangonor e dan infeksi chlamidia) 4. .Iritasi tanpa infeksi. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.Infeksi dari rahim dan saluran telur. 7.Kelainan hati atau gagal jantung. kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. 6.Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada kandung empedu.Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi 5. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.

9 .

Adenokarsinoma. Alkohol. obat-obatan. batu empedu) Trauma Iatrogenik Iskemia kolon Hernia inkarserata Obstruksi loop Penyakit Crohn Keganasan Divertikulum Meckel Trauma Iskemia kolon Divertikulitis Keganasan Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn Apendisitis Volvulus kolon Trauma Iatrogenik Pelvic inflammatory disease Keganasan Trauma Lambung Duodenum Traktus bilier Pankreas Kolon asendens Kolon desendens dan apendiks Salping uterus dan ovarium .10 Penyebab peritonitis Area sumber Esofagus Penyebab Keganasan Trauma Iatrogenik Sindrom Boerhaave Perforasi ulkus peptikum Keganasan (mis. limfoma. tumor stroma gastrointestinal) Trauma Iatrogenik Perforasi ulkus peptikum Trauma (tumpul dan penetrasi) Iatrogenik Kolesistitis Perforasi batu dari kandung empedu Keganasan Kista duktus koledokus Trauma Iatrogenik Pankreatitis (mis.

jenis Streptococcus lain 15%. semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. 7% Klebsiella pneumoniae 15%. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium. Sedangkan peritonitis sekunder. Kontaminasi kolon. pneumoniae. Hal tersebut terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antarmolekul komponen asites. bentuk peritonitis yang paling sering terjadi. mengandung gabungan bakteri aerob dan anaerob yang didominasi organisme gram negatif. dapat melepaskan ratusan bakteri dan jamur.spesies Pseudomonas. yakni 40% Eschericia yakni Streptococcus coli. Pada pasien dengan supresi asam lambung dalam waktu panjang. Sementara bakteri gram positif. dan Proteus. Sembilan puluh persen kasus SBP terjadi akibat infeksi monomikroba. Pada kurang dari 5% kasus juga ditemukan mikroorganisme anaerob dan dari semua kasus. Semakin rendah kadar protein cairan asites. dan gram negatif lainnya sebesar 20%. 10% mengandung infeksi campur beberapa mikroorganisme. terutama dari bagian distal. Spektrum patogen infeksius tergantung penyebab asalnya. namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Berbeda dengan SBP. . Umumnya peritonitis akan mengandung polimikroba.11 Sedangkan berdasarkan jurnal farmacia maret 2007 penyebab dari peritonitis adalah bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. Patogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negatif. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen. disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Sekitar 10-30% pasien dengan sirosis dan asites akan mengalami komplikasi seperti ini. peritonitis sekunder lebih banyak disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. golonganStaphylococcus sebesar 3%. kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah terjadi bakteremia. dapat pula terjadi infeksi gram negatif.

Tanda dan gejala pasien ini tidak cukup sensitif dan spesifik untuk membedakan dua jenis peritonitis. Selain peritonitis tersier. Selain tiga bentuk di atas. dan lebih dari stengah pasien mengalami gejala klinis yang sangat mirip asites. Kebanyakan pasien memiliki riwayat sirosis. sering bukan berasal dari kelainan organ. terdapat pula bentuk peritonitis lain. yakni peritonitis steril atau kimiawi. insiden terjadi peritonitis tersier yang membutuhkan IVU akibat infeksi abdomen berat tergolong tinggi di USA. dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (mis.12 Sebanyak 15% pasien sirosis dengan asites yang sudah mengalami SBP akan mengalami peritonitis sekunder. . dan biasanya tidak diduga akan mengalami peritonitis tersier. Penyakit Crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. barium. dengan atau tanpa fistula. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. Lebih dari 95% pasien peritonitis didahului dengan asite. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmon. misalnya cairan empedu. Peritonitis tersier timbul lebih sering ada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pada pasien yang imunokompromais. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Meskipun jarang ditemui bentuk infeksi peritoneal tanpa komplikasi. peritonitis TB juga merupakan bentuk yang sering terjadi. yakni 50-74%. Anamnesis yang lengkap. penilaian cairan peritoneal. sebagai salah satu komplikasi penyakit TB. dan pemeriksaan diagnostik tambahan diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan tata laksana yang tepat untuk pasien seperti ini. Tanda dan gejala klinis serta metode diagnostik dan pendekatan ke pasien peritonitis steril tidak berbeda dengan peritonitis infektif lainnya (7).

Abses terbentuk di antara perlekatan fibrinosa.adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. komplikasi bisa berkembang dengan cepat. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang. Biasanya penderita muntah. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. mengakibatkan . Dengan perkembangan peritonitis umum. Bisa terbentuk satu atau beberapa abses. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Terjadi dehidrsi (8) PATOFISIOLOGI Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ – organ abdomen (misalnya: apendisitis. salpingitis). tetapi dapat menetap sebagai pita – pita fibrosa. dapat timbul peritonitis umum. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. rupture saluran cerna atau dari luka tembus abdomen. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon pada kasus ruptur apendiks. aktifitas peristaltik berkurang. Gerakanper is taltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus (6). Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan.13 GEJALA Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. sedangkan stafilokok dan streptokok sering masuk dari luar 9. demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya.

muntah. seperti gagal ginjal akut (ARF) 1. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama. dan oliguria.14. Bercak perkapuran dapat terjadi dalam waktu 24 jam (10). . Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung – lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus (9). Frekuensi jantung dan pernafasan meningkat.13. Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan di usus besar. syok.Pada peritonitis mekonium gejalanya berupa abdomen yang membuncit sejak lahir. Produksi urin menurun. dan edema dinding abdomen kebiru – biruan10. Defek dinding usus dapat tertutup sendiri sebagai reaksi peritoneal. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama. . Pada palpasi sebagian atau seluruh abdomen tegang. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit.Biasanya penderita muntah.14 dehidrasi. seperti ada tahanan atau nyeri tekan. demam tinggi. DIAGNOSIS Gambaran klinik . Peritonitis mekonium adalah peritonitis non bakterial yang berasal dari mekonium yang keluar melalui defek pada dinding usus ke dalam rongga peritoneum. . dan merasakan nyeri tumpul di perutnya. gangguan sirkulasi. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum.15. komplikasi bisa berkembang dengan cepat. 11. Berkurangnya nafsu makan.Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut yang membentuk perlengketan yang akhirnya bisa menyumbat usus. Tekanan darah menurun.

demam. Pada inspeksi.(3) Pada pemeriksaan fisik. pernapasan. Demam dengan temperatur >380C biasanya terjadi. dan dengan adanya peritonitis hebat bisa berakhir dengan keadaan syok sepsis. denyut nadi. perdarahan. dan infeksi atau sepsis juga perlu diperhatikan. pasien dengan peritonitis. namun pemeriksaan abdomen ini harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan terapi yang akan dilakukan. Dengan adanya dehidrasi yang berlangsung secara progresif. perut membuncit dengan gambaran usus atau gerakan usus yang disebabkan oleh gangguan pasase. wajah.(2) . Takikardia disebabkan karena dilepaskannya mediator inflamasi dan hipovolemia intravaskuler yang disebabkan karena mual damuntah. Hal ini bisa menyebabkan produksi urin berkurang. kehilangan cairan yang banyak dari rongga abdomen. dan sikap baring pasien. perlu diperhatikan kondisi umum.15 PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik. keadaan umumnya tidak baik. suhu badan. pasien bisa menjadi semakin hipotensi. pemeriksa mengamati adakah jaringan parut bekas operasi menununjukkan kemungkinan adanya adhesi. Pada peritonitis biasanya akan ditemukan perut yang membuncit dan tegang atau distended.(9) Pada pemeriksaan abdomen. pemeriksaan yang dilakukan akan sangat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien. sebelum melakukan pemeriksaan abdomen. Gejala dan tanda dehidrasi. syok. Pasien dengan sepsis hebat akan muncul gejala hipotermia.

bising usus akan melemah atau menghilang sama sekali. Auskultasi dilakukan untuk menilai apakah terjadi penurunan suara bising usus. Otot dinding perut menunjukkan defans muskular secara refleks untuk melindungi bagian yang meradang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat. Hal ini berguna sebagai pembanding antara bagian yang tidak nyeri dengan bagian yang nyeri. ditemukan nyeri tekan setempat. Palpasi harus selalu dilakukan di bagian lain dari abdomen yang tidak dikeluhkan nyeri. auskultasi dimulai dari arah yang berlawanan dari yang ditunjuik pasien. Defans yang murni adalah proses refleks otot akan dirasakan pada inspirasi dan ekspirasi berupa reaksi kontraksi otot terhadap rangsangan tekanan (8) Pada saat pemeriksaan penderita peritonitis. Peritoneum parietal dipersarafi oleh nervus somatik dan viseral yang sangat sensitif. Sedangkan pada peritonitis lokal bising usus dapat terdengar normal.(8) Palpasi.16 Minta pasien untuk menunjuk dengan satu jari area daerah yang paling terasa sakit di abdomen. Bagian anterir dari peritoneum parietale adalah yang paling sensitif. hal ini disebabkan karena peritoneal yang lumpuh sehingga menyebabkan usus ikut lumpuh/tidak bergerak (ileus paralitik).3 Perkusi. Nyeri tekan dan defans muskular (rigidity) menunjukkan adanya proses inflamasi yang mengenai peritoneum parietale (nyeri somatik). Nyeri ketok menunjukkan adanya iritasi pada peritoneum. adanya udara bebas atau cairan bebas juga dapat ditentukan dengan perkusi melalui . Pasien dengan peritonitis umum.

dan feses.17 pemeriksaan pekak hati dan shifting dullness. Pemeriksaan vagina menambah informasi untuk kemungkinan kelainan pada alat kelamin dalam perempuan. misalnya pemeriksaan darah. antara lain nilai hemoglobin dan hemotokrit. Pada pasien dengan peritonitis. pekak hepar akan menghilang. . Colok dubur dapat pula membedakan antara obstruksi usus dengan paralisis usus. karena pada paralisis dijumpai ampula rekti yang melebar.(8) Pada pasien dengan keluhan nyeri perut umumnya harus dilakukan pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan vaginal untuk membantu penegakan diagnosis. selain diperlukan untuk persiapan bedah. Kadang perlu juga dilakukan pemeriksaan Roentgen dan endoskopi.(3) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang kadang perlu untuk mempermudah mengambil keputusan. sedangkan pada obstruksi usus ampula biasanya kolaps. Hitung leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. Hitung trombosit dan dan faktor koagulasi.2. dan perkusi abdomen hipertimpani karena adanya udara bebas tadi. Beberapa uji laboratorium tertentu dilakukan. nyeri pada satu sisi menunjukkan adanya kelainan di daeah panggul. urin. seperti apendisitis. juga dapat membantu menegakkan demam berdarah yang memberikan gejala mirip gawat perut (3). atau adneksitis. untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau dehidrasi.3 Nyeri yang difus pada lipatan peritoneum di kavum doglasi kurang memberikan informasi pada peritonitis murni. abses. Nyeri pada semua arah menunjukkan general peritonitis.

Kadang – kadang abses terdapat pada usus halus sehingga menghasilkan obstruksi mekanik (19). Abses mungkinan muncul beberapa hari atau minggu setelah mendapat pengobatan peritonitis. (dikutip dari kepustakaan 6) .Pada peritonitis umum gambaran radiologinya menyerupai ileus paralitik. tanda – tanda obstruksi usus berupa air-udara dan kadang – kadang udara bebas (perforasi). Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto roentgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi1. Pada gambaran radiologi. udara bebas mungkin akan terlihat pada kavitas peritoneal1 (6). .18 Gambaran radiologi .Pada pemeriksaan foto polos abdomen dijumpai asites.Foto roentgen di ambil dalam posisi berbaring dan berdiri. sebuah massa berkembang di daerah kuadran bawah memperlihatkan pendesakan pada usus kecil. . . bercak – bercak perkapuran di dalam rongga usus atau peritoneum. Jika terjadi suatu ruptur viskus bisa menyebabkan peritonitis. sering juga di daerah skrotum (10). usus halus dan kolon menunjukkan dilatasi sehingga menyerupai ileus paralitik. Usus – usus yang melebar biasanya berdinding tebal (10) . Abses pada kuadran kanan bawah yang mengikuti peritonitis yang sebelumnya terjadi ruptur appendiks.Peritonitis umum: Formasi abses Meskipun peritonitis umum telah berkurang abses lokal dapat terjadi pada salah satu bagian abdomen.Gambaran radiologik peritonitis mekonium berupa tanda – tanda obstruksi distal duodenum. abses terlihat menyerupai suatu massa. Biasanya lambung. Pada foto berdiri terlihat beberapa fluid level di dalam usus halus dan usus besar. Terjadi distensi proximal usus kecil. Terdapat distensi baik pada usus halus maupun pada usus besar.

Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. tetapi menembus lapisan dinding duodenum. kemudian akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum (8) PENATALAKSANAAN Penggantian cairan. Beberapa liter larutan isotonik diberikan. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. Gastroduodenitis yang disebabkan oleh helicobacter pylori dianggap penyebab penting yang memudahkan terjadinya tukak. Berkurangnya faktor pelindung terhadap zat cerna ini menyebabkan autodigesti mukosa duodenum. atau perforasi bebas (5). Tukak yang biasanya kecil saja. bisa berkembang menjadi lanjut hingga terjadi perdarahan.19 Gambaran Patologi Asam bikarbonat yang dihasilkan mukosa duodenum dan pankreas adalah penetral asam yang utama. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit bergerak dari lumen usus ke dalam rongga peritoneal dan menurunkan caran ke dalam ruang vaskuler. Setelah itu mengeluarkan cairan exudat fibrinosa sebagai tanda adanya invasi bakteri. koloid dan elektrolit adalah fokus utama dari penatalaksanaan medis. Cairan tertahan di usus halus dan di usus besar. ketika terjadi peritonitis. Tukak duodenum terjadi akibat aksi korosif asam lambung terhadap epitel yang rentan. selanjutnya menembus ke muskularis mukosa. Defek ini bermula pada mukosa. penetrasi ke pankreas. dalam waktu 2-4 jam peritoneum berubah menjadi suram atau berawan. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan . Intubasi usus dan pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi usus. Peritoneum yang normal memberi gambaran bening kelabu. Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah.

Pada pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. pembedahan memungkinkan lokalisasi peradangan yang jelas. memperbaiki pada ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis dan drainase pada abses. hingga rongga perut benar-benar bersih dari kuman. penderita yang mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan perawatan intensif yang lebih lama. namun terapi ini lebih bersifat komplementer. Sebaliknya. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Akhir-akhir ini drainase dengan panduan CT-scan dan USG merupakan pilihan tindakan nonoperatif yang mulai gencar dilakukan karena tidak terlalu invasif. Tindakan pembedahan diarahkan kepada eksisi terutama bila terdapat apendisitis. kematian di meja operasi.20 oksigenasi secara adekuat. reseksi dengan atau tanpa anastomosis (usus). KOMPLIKASI Dua komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses. bukan kompetitif disbanding laparoskopi. tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab. Namun secara medis. Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum. . Diberikan antibiotik yang tepat. karena seringkali letak luka atau abses tidak terlalu jelas sehingga hasilnya tidak optimal. kemudian dilakukan eliminasi kuman dan inokulum peradangan tersebut. atau peritonitis berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat. fistula enterokutan. Komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit.

21 Perawatan inilah yang sering menimbulkan komplikasi. bisa berupa pneumonia akibat pemasangan ventilator. . hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita pascaoperasi (3). sepsis.

Essential of Pathophisiology. Peritonitis System. R. Media Eusculapius FK – UI.dkk. Jakarta: 2005 10. Alih Bahasa: Peter Anugrah. ed:3 Jilid 2.edu/altmed/articles/peritonitis-00127.umm. EGC. Iwan Ekayuda (editor). Lambung dan Duodenum-bab 31.medlineplus/ency/encyclopedia-Ah-Ap/peritonitis-secondary00312. patofisiologi saluran cerna. Divisi Radiologi Diagnostik. http://health.Peritonitis. ed: 2. Genuit T & Napolitano.html.22 DAFTAR PUSTAKA 1. 9. http://www. 3. -Ed.ctm?toolName=dwemail 14.htm . Radiologi Diagnostik. Peritonitis. 13.2.Lee. Kelainan Saluran cerna Bagian Distal. Cabnera C.css Virginia Health Digestive http://ww.com/med/peritonitis_pyk. Departemen Radiologi FK – UI. Peritonitis.css/healthlinestyles. 4. J. Structure and Function of the Gastrointestinal Tract. ed: 8.php?dktg=7& UID200705. Jakarta: 1995.01. 5. Peritonitis-also listed as: Abdominal wall inflammation. Lippincott Williams & Wilkins. PATOFISIOLOGI (Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit). 2004. Sjamsuhidajat. Division Of Surgery. Buku Ajar Ilmu Bedah.com/lib/inet. Kapita Selekta Kedokteran. 6.ecureme. Health Article.. Edisi 2. San Francisco. 7. http://www.A.medikastore. http://www. Jakarta: 2000 12. Arif Mansjor.. Sjamsuhidajat R. Carol Matson Porth.http://www. Acute Peritonitis.UVAHealth/adult_digest/wdc-bin/tools. Disorders. Jakarta: 2004. http://www. Wim de Jong. Price Wilson.allrefer. 2..EGC. Peritonitis – secondary.v1. Wiskonsin: 2004. Rosalyn University Carson-De of Witt MD.asp? keyword=acute+peritonitis&category=gi.com/health/peritonitissymptoms. Bedah Digestif-Trauma Tembus Abdomen. Buku-ajar ilmu bedah/editor.Jakarta: EGC. Jilid 1.htm 11.

B. disease of the digestive system. Roentgenologic Diagnosis. United States of America . Haskin – Teplick. W.23 15. Saunders Company.