P. 1
Fikih Puasa Praktis Seperti Rasulullah SAW[1]

Fikih Puasa Praktis Seperti Rasulullah SAW[1]

|Views: 5,589|Likes:
Published by nur_khamid_2
Fiqih puasa praktis berpuasa seperti rasulullah keluaran dari Jemaat Hizbut Tahrir Indonesia
Fiqih puasa praktis berpuasa seperti rasulullah keluaran dari Jemaat Hizbut Tahrir Indonesia

More info:

Published by: nur_khamid_2 on Jul 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan kriteria miskin. Sebagian ulama menyatakan bahwa
miskin itu lebih berat dibandingkan dengan faqir, ini adalah pendapat dari ulama Baghdad, dan Imam
Malik. Ada juga yang menyatakan faqir itu lebih berat dibandingkan miskin. Ini adalah pendapat yang
dipegang oleh Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i dalam sebuah qaulnya. Namun ada sebagian
ulama yang menyamakan istilah ini. Ini adalah pendapat Ibn al-Qasim.179

Namun pendapat yang lebih
tepat adalah, faqir itu lebih berat daripada miskin. Sebab Allah SWT telah menyatakan faqir lebih
dahulu dibandingkan miskin. Berarti faqir itu lebih berat dibandingkan miskin.180

Oleh karena itu
faqir didefinisikan orang yang tidak memiliki apa-apa (untuk memenuhi kebutuhannya), atau
memilikii sesuatu akan tetapi tidak sampai 1/2 dari nishab. Sedangkan miskin adalah orang yang
memiliki harta 1/2 nishab atau lebih akan tetapi tidak sampai sempurna senishab. Imam Abu Hanifah
menyatakan bahwa yang disebut kaya adalah orang memiliki harta sebanyak senishab. Ini di dasarkan
pada sabda Rasulullah Saw kepada Mu’adz ra, “Maka kabarkanlah kepada mereka bahwa allah telah
mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada
orang-orang fakir mereka.

Mahasiswa ataupun pelajar yang mendapatkan bantuan berupa harta (uang) dari orang tuanya, akan
tetapi, selama harta itu belum mencukupi kebutuhannya, atau belum sampai senishab maka dirinya
termasuk orang yang miskin (lihat batasan di atasnya). Ukuran untuk menetapkan layak atau tidaknya
seseorang menerima zakat, atau miskin, bukan diukur dengan “ia didonasi atau tidak oleh orang
tuanya.

Orang tua wajib menafkahi anak perempuannya sampai anak perempuannya menikah dengan laki-laki
yang lain. Sebab, kewajiban untuk memberi nafkah adalah tanggungjawab pihak laki-laki (bapak, atau
kerabat laki-laki yang dekat). Alasan lain adalah, hukum bekerja hanya wajib bagi laki-laki yang
memiliki kemampuan. Sedangkan bekerja bagi perempuan hukumnya mubah.181

Walhasil, anak
perempuan nafkahnya ditanggung oleh orang tua laki-laki. Jika orang tua tidak mampu, maka
kerabatnya yang akan menanggung. Jika kerabatnya tidak mampu maka negara. Jika negara tidak
mampu maka seluruh kaum muslim wajib untuk membantu nafkahnya. Ini dengan catatan jika wanita
itu belum menikah. Jika ia sudah menikah maka kewajiban memberi nafkah jatuh kepada pihak
suami.

179

Lihat Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, bab Zakat.

180

Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 252.

181

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah Dustur, bab Nidzam al-Iqtishâd, pada pasal, persoalan ekonomi.

~75~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Nafkah kepada laki-laki hanya diberikan orang tua, hingga dirinya akil baligh. Jika ia sudah mencapai
akil baligh maka orang tua tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada anak laki-lakinya. Kecuali
dalam kondisi anak laki-laki itu tidak mampu bekerja, karena cacat, atau dirinya sudah bekerja akan
tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Gharim (orang berhutang yang tidak mampu bayar) ada dua model: Pertama, Gharim karena
mendamaikan dua orang yang bersengketa dengan hartanya.Ini diakibatnya karena, segitu sibuknya ia
mengurusi dua orang yang bersengketa itu, sampai akhirnya ia berhutang. Namun, ia tidak mampu
membayar hutangnya. Gharim semacam ini lebih berhak untuk mendapat zakat. Kedua, gharim
karena dirinya sendiri. Ia berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan
orang lain. Ia akan diberi zakat sebatas utangnya.182

Menurut fuqaha’, Ibn Sabil adalah orang yang bepergian jauh dalam urusan ketaatan (bukan dalam
urusan maksiyat), kemudian ia kehabisan bekal dan tidak memperoleh nafkah hidup.183

Ada juga sebagian besar fuqaha’ yang berpendapat bahwa orang yang sedang menuntut ilmu
kemudian ia kehabisan bekal, maka orang semacam ini berhak mendapatkan zakat. Sebab, menurut
mereka menuntut ilmu termasuk aktivitas di jalan allah (fî sabilillah). Dan ini telah ditetapkan dalam
surat at-Taubah [9]: 60.184

182

Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 253.

183

Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid.

184

Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 253.

~76~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->