P. 1
Analisis Hukum Kasus Blbi ( Perbankan )

Analisis Hukum Kasus Blbi ( Perbankan )

|Views: 468|Likes:
Published by harissuwendono

More info:

Published by: harissuwendono on Jul 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

ANALISIS HUKUM KASUS BLBI.

A. Pengantar.

Penyimpangan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dapat dianggap sebagai sebuah lembaran hitam dalam kehidupan perbankan nasional. Sementara penanganan terhadap kasus-kasus penyimpangan BLBI tersebut dapat pula dicatat sebagai sebuah lembaran hitam dalam sejarah kehidupan hukum Indonesia. Catatan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan bila dikaitkan dengan adanya berbagai implikasi yuridis yang kemudian muncul sebagai akibat berbelit-belitnya proses penanganan kasus penyalahgunaan dana BLBI. Ketidaksamaan persepsi di kalangan hukum sendiri tentang penanganan kasus kasus BLBI adalah gambaran tentang betapa kehidupan hukum kita semakin menjauh dari kepastian hukum. Ada dua aspek hukum yang cenderung mendapatkan perhatian dan mengemuka dalam berbagai diskusi terkait dengan masalah BLBI. Pertama, apakah penyimpangan BLBI itu merupakan sesuatu yang berada dalam ranah hukum keperdataan, atau apakah kasusnya kemudian dapat berkembang menjadi sesuatu yang berada dalam lingkup hukum pidana. Kedua, masalah penyelesaian terhadap kasus-kasus penyimpangan BLBI yang telah menimbulkan berbagai kontrovesri. Tulisan ini mencoba membedah keduanya, namun tidaklah dimaksudkan untuk membahasnya secara tuntas, melainkan hanya beberapa bagian yang dianggap relevan sekedar untuk bahan diskusi para forum ini.

Bantuan likuiditas dalam berbagai bentuk dan jenis yang diberikan kepada bank penerima. Menurut tujuannya. bahwa kebijakan itu ditempuh adalah untuk tujuan menyelamatkan dunia perbankan nasional dari kehancuran yang dipastikan akan berimplikasi terhadap perekonomian nasional. Artinya masalah BLBI telah berkembang menjadi perkara pidana. yang kemudian ternyata merugikan keuangan negara. pada awalnya adalah sesuatu yang berada dalam lapangan hukum keperdataan. karena para pihak dilandasi oleh adanya hubungan hukum dalam bentuk perjanjian atau kontrak sebagai kreditur dan debitur. ditemui oleh BPK dan BPKP adanya indikasi penyalahgunaan BLBI oleh bank penerima. Dari pengertian ini dapat dipahami. Oleh karena adanya penyalahgunaan atau penyimpangan penggunaan dana BLBI oleh bank penerima.B. untuk membawa kasus-kasus BLBI itu ke dalam proses peradilan untuk dimintakan pertanggungjawaban pidana. Akan tetapi persoalannya kemudian adalah. namun pada kenyataannya juga digunakan untuk me ³reimburse´ transaksi bank yang tidak layak dibiayai oleh dana BLBI. dana BLBI itu hanyalah untuk dana pihak ketiga (masyarakat). kita tentu tidak boleh men-generalisasi semua kasus BLBI sebagai perbuatan melawan hukum dalam konteks hukum pidana. maka persoalannya tentu tidak lagi hanya sekedar kasus yang mesti diselesaikan dengan menggunakan ketentuan hukum keperdataan. Analisis Hukum Kasus BLBI BLBI pada hakikatnya adalah sebuah fasilitas yang secara khusus diberikan oleh Bank Indonesia kepada pihak perbankan nasional untuk menanggulangi masalah kesulitan likuiditas yang dihadapinya. Tentu ada kasus-kasus yang memang terjadi semata-mata karena sesuatu yang mesti diselesaikan melalui jalur . Penyalahgunaan dana BLBI yang menimbulkan kerugian keuangan negara itu. tujuan yang baik itu ternyata telah disalahgunakan oleh sebagian penerima fasilitas untuk memperkaya diri. bantuan likuiditas itu tidak digunakan sesuai dengan maksud dikeluarkannya kebijakan tersebut. Artinya. telah cukup memenuhi rumusan hukum pidana berdasarkan UU Nomor 3 tahun 1971 jo UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Akibatnya terjadi kerugian negara dalam jumlah yang sangat besar. sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001. Berdasarkan verifikasi terhadap data hasil olahan pengawas bank penerima BLBI. Meskipun demikian.

b. penarikan dana tunai dari giro bank di BI yang penggunaannya tidak jelas. di antaranya: 1. Ada beberapa bentuk perilaku menyimpang dalam kaitannya dengan BLBI yang dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana. membayar atau melunasi kewajiban kepada pihak terafiliasi. studi hukum yang dilakukan Satgas BLBI telah mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan penggunaan BLBI. 3. pemberian BLBI melebihi jumlah yang sepantasnya. membiayai ekspansi kredit atau merelasasikan kelonggaran tarik dari komitmen kredit yang sudah ada. membiayai kontrak derivatif baru atau kerugiaan karena kontrak derivative lama jatuh tempo. Di samping itu. seperti digunakan untuk keperluan pembelian devisa dan memindahkan asset ke luar negeri. serta untuk membayar pinjaman kepada kelompok sendiri (group perusahaan penerima BLBI). pemberian BLBI dilakukan kepada pihak yang tidak pantas menerimanya. bentuk-bentuk penyimpangan lainnya seperti: a. konspirasi antara ³oknum Bank Indonesia´ dengan bank penerima BLBI. 2. dan sebagainya. Penyimpangan-penyimpangan tersebut dilakukan dengan berbagai cara dan modus operandi yang pada prinsipnya tidak sesuai dengan penggunaan dana BLBI yang seharusnya dilakukan. c. 2. 5. penyimpangan dalam penyaluran dana BLBI. pembayaran kepada pihak ketiga yang masih mempunyai kewajiban kepada bank.hukum keperdataan. membayar atau melunasi dana pihak ketiga yang melanggar ketentuan. pelunasan kewajiban antar bank. membiayai penempatan baru di pasar uang antar bank (PUAB). membawanya ke pasar uang atau digunakan untuk operasionalisasi bank. 3. 4. Studi hukum 1. antara lain: Penggunaan dana BLBI oleh penerima secara menyimpang. 4.Bertolak dari adanya penyimpangan dalam berbagai bentuk dan modus operandi . atau pelunasan kewajiban yang timbul dari transaksi PUAB. 6.

Oleh karena itu kasus-kasus BLBI yang mengandung indikasi kriminal mesti ditanggapi dengan menggunakan ketentuan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam soal penanganan terhadap kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI. tindak pidana perbankan di bidang pengawasan. 3. Penanganan terhadap kasus-kasus penyimpangan dana BLBI yang dilakukan oleh pemerintah. tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan pihak terafiliasi. tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan kegiatan usaha bank (kolusi managemen). Pembuat UU Perbankan telah merumuskan berbagai kategori perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perbankan. ternyata hanya diselesaikan dengan cara-cara yang justru semakin menjauh dari cita-cita penegakan supremasi hukum. Masalahnya terletak pada penerapan ketentuan pidana yang ada dalam UU Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan atau ketentuan pidana dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. . tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan perizinan. Dengan alasan untuk menyelamatkan keuangan negara dari para pelaku ekonomi yang nakal. 4. 2. maka penyelesaian terhadap kasus-kasus BLBI mesti ditanggapi dengan menggunakan ketentuan-ketentuan hukum pidana. 5. sejauhmana dan dalam hal-hal apa sajakah ketentuan-ketentuan hukum pidana tentang korupsi dapat diimplementasikan terhadap pelanggaran atau penyalahgunaan dana BLBI. Perbuatan-perbuatan tersebut meliputi: 1. kalangan hukum cenderung pula memperdebatkan aturan-aturan hukum pidana yang mesti digunakan. Dilihat dari rumusan delik yang ada dalam UU Perbankan. tidak ada satu rumusanpun yang dapat digunakan untuk menjangkau pelaku penyalahgunaan dana BLBI. maka perbuatan-perbuatan yang dalam perspektif hukum pidana telah memenuhi unsur delik.yang merugikan keuangan negara. tindak pidana perbankan di bidang rahasia bank. Artinya. kepada bangsa ini telah dipertontonkan adanya kontradiksi antara keinginan untuk menegakkan supremasi hukum pada satu sisi dengan realitas tentang betapa hukum (khususnya hukum pidana) telah ³dikorbankan´ untuk memenuhi kebijakan pemulihan ekonomi pada sisi yang lain.

Hal ini bahkan sudah mendapat tempat dalam kebijakan perundang-undangan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 4 UU Nomor 31 tahun 1999 yang berbunyi: ³pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomi an negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3´. Oleh karena itu. kebijakan yang tertuang dalam ³Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA) tersebut dapat dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif dalam penegakan supremasi hukum.Kebijakan pemberian ³release and discharge´ bagi para debitur nakal yang melakukan penyimpangan dana BLBI secara besar-besaran sebagaimana dituangkan dalam Inpres Nomor 8 tahun 2002 telah memperlemah daya laku hukum pidana untuk menyeret para pelaku ke dalam proses peradilan pidana. kebijakan tersebut juga telah memperagakan adanya diskriminasi dalam penegakan hukum pidana di bidang perbankan. kalau . diberikan surat keterangan lunas (SKL). Jadi sekalipun utang yang timbul dari BLBI dilunasi oleh penerimanya. Di samping itu. Hal tersebut tertuang dalam salah satu butir Inpres Nomor 8 tahun 2002 yang menginstruksikan agar obligor yang telah membayar utangnya secara tunai sebesar minimum 30% dan bersedia membayar sisanya dengan sertifikat bukti kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). para pelaku penyimpangan dana BLBI yang secara faktual telah memenuhi rumusan hukum pidana dibebaskan dari kemungkinan adanya tuntutan pidana atas pelanggaran-pelanggaran hukum pidana yang telah dilakukannya apabila yang bersangkutan melunasi utangnya. bahwa pengembalian kerugian keuangan negara ( dalam hal ini adalah kerugian sebagai akibat penyimpangan dana BLBI ) tidak menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Hukum pidana hanya mengajarkan. Betapa tidak. Pemberian pembebasan dari tuntutan pidana seperti itu adalah tidak logis dan tidak dikenal dalam ajaran hukum pidana. Dengan SKL tersebut mereka yang telah diperiksa dalam proses penyidikan akan diberikan surat penghentian penyidikan perkara (SP3). dan mereka yang tengah diproses di pengadilan dapat dibebaskan dengan menjadikan SKL sebagai ³novum´ atau bukti baru. Oleh karena itu.´pelanggaran-pelanggaran hukum pidana dalam kaitannya dengan pemberian BLBI dapat di kesampingkan manakala penerima BLBI bersikap koperatif dalam pengembalian utangnya. Artinya. namun tidak dapat mengakibatkan dihapuskannya tuntutan pidana apabila dalam penyaluran dan penerimaan BLBI itu terdapat penyimpangan-penyimpangan yang mengandung indikasi kriminal. dengan kebijakan ³release and discharge.

Di samping itu. namun hukum tidak dapat berbuat banyak karena pelakunya tidak bisa diekstradisi. Kebijakan tersebut telah melanggar prinsip persamaan di hadapan hukum (equality before the law) yang diakui dan diterima sebagai asas fundamental oleh bangsa-bangsa beradab.[7] Ada pula kasus-kasus yang telah diajukan ke pengadilan. Bahkan ada pula yang diadili secara in-absentia. Ada kasus-kasus yang telah berada pada tahap penyidikan. baik yang ditangani oleh kejaksaan maupun . Urip kemudian ditetapkan sebagai tersangka menerima suap terkait dengan penanganan penghentian penyidikan kasus BLBI atas sama Syamsul Nursalim. Ada pula yang pelakunya dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan kemudian dipidana. Dengan segala hak konstitusional yang dimiliki DPR. Adanya tarik ulur secara politis antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah dalam penyelesaian masalah BLBI patut pula ditanggapi atau bahkan dicurigai adanya sesuatu yang tidak beres dalam penyelesaian masalah BLBI. sehinga perlu dituangkan dalam konstitusi sebagai ³constitutional right´.´ adalah sebuah inkonsistensi yang menampakkan secara nyata adanya ketidakadilan. Ketidakberesan lain dalam penanganan kasus BLBI semakin terkuak dengan tertangkapnya jaksa Urip Tri Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu yang lalu.kita ingin konsisten dengan penegakan supremasi hukum. Pasca tertangkapnya Urip ada keinginan untuk mendesak agar KPK mengambil alih penanganan kasus penyalahgunaan dana BLBI. itu tidaklah mendapatkan respons hukum yang memadai. maka penyimpangan- penyimpangan yang mengandung indikasi kriminal dalam praktek perbankan seperti itu harus diteruskan ke dalam proses peradilan pidana tanpa mempertimbangkan apakah pelakunya koperatif atau tidak dalam melunasi utang-utangnya. nampaknya mereka tidak berdaya menghadapi pemerintah dengan segala argumentasinya. Kalaupun ada kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI yang telah diproses dengan hukum pidana. pemberian ³release and discharge. tapi kemudian pelakunya dilepaskan atau dibebaskan. tapi kemudian dihentikan penyidikannya karena adanya berbagai intervensi. tapi sebelum dieksekusi terpidana telah kabur atau melarikan diri terlebih dahulu ke luar negeri. meskipun pelaku dipidana. sehingga dapat menyentuh rasa keadilan masyarakat. Fakta-fakta seperti itu dapat menggambarkan kondisi tentang betapa bobroknya penegakan hukum di republik ini.

ketentuan-ketentuan pidana tidak dapat diterapkan terhadap perbuatan-perbuatan yang terjadi sebelum undang-undang pidana berlaku.´ Hanya saja persoalan selanjutnya adalah apakah KPK memiliki keberanian untuk mendobrak pemahaman yang sempit tentang asas non retroaktif. sehingga dengan demikian kewenangan KPK untuk mengambil alih penanganan kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI tidak perlu dikaitkan dengan asas non retroaktif. hukum pidana tidak dapat dikenakan kepada perbuatan-perbuatan yang terjadi sebelum undang-undang diberlakukan. Sedangkan kewenangan penyidikan berada dalam ranah hukum pidana formil. Dasar hukum untuk melakukan pengambil alihan sudah dirumuskan pembuat undang-undang secara eksplisit dalam Pasal 68 UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Artinya. Mesti pula dipahami. Akar permasalah yang diperdebatkan terkait dengan asas non retroaktif (tidak berlaku surut) yang merupakan konsekuensi yuridis dari asas legalitas (Pasal 1 ayat (1) KUHP) sebagai suatu asas fundamental dalam hukum pidana. Persoalan hukum yang timbul kemudian adalah perdebatan tentang apakah KPK mempunyai kewenangan untuk menangani kasus-kasus yang terjadi sebelum komisi itu terbentuk atau tidak. penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi yang proses hukumnya belum selesai pada saat terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi. . Dalam konteks asas itu. sehingga ia berada dalam ruang lingkup hukum pidana materil. bahwa ´semua tindakan penyelidikan. Namun keberanian itu perlu didukung oleh kesamaan persepsi antara sesama aparat penegak hukum dalam konteks sistem peradilan pidana. dapat diambil alih oleh Komisi Pemberantasan Korupsi berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. Asas non retroaktif dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari perlakuan sewenang-wenang aparat penegak hukum yang menggunakan undang-undang yang berlaku setelah perbuatan dilakukan. Di dalam pasal itu ditegaskan. bahwa yang menjadi sasaran dari asas non retroaktif ini adalah perbuatan atau perilaku yang dapat dipidana.yang ditangani oleh kepolisian. Dalam konteks asas tersebut hanya perbuatan-perbuatan yang telah dikriminalisasi dalam suatu undang-undang sebagai tindak pidana orang dapat dituntut dan dijatuhi pidana.

penyalahgunaan dana BLBI yang merugikan keuangan negara adalah perbuatan melawan hukum (wederrechtelijk). dan dapat mengakibatkan disfungsionalisasi hukum pidana. Penutup. . 3. 2. pemberian ´release and discharge´ sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 8 tahun 2002 dapat dianggap sebuah kebijakan yang telah ³menjungkir-balikkan´ asas-asas hukum yang menjadi sendi dari sebuah negara hukum. kewenangan KPK untuk mengambil alih penanganan kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI tidak perlu dikaitkan dengan asas non retroaktif. Berangkat dari uraian tersebut di atas dapat ditarik beberapa pemikiran konklusif sebagai berikut: 1. sehingga memenuhi rumusan perundangundangan pidana sebagai tindak pidana korupsi.C. karena sasaran dari asas non retroaktif adalah perbuatan sebagai sesuatu yang berada dalam ruang lingkup hukum pidana materil.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->