P. 1
Bab 9 Sistem Kelistrikan

Bab 9 Sistem Kelistrikan

|Views: 3,465|Likes:
Published by David Sigalingging

More info:

Published by: David Sigalingging on Jul 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

345

BAB IX. SISTEM KELISTRIKAN
A. DASAR DASAR KELISTRIKAN
Listrik merupakan pergerakan elektron di dalam penghantar/konduktor. Berdasarkan teori atom, atom terdiri dari inti atom bermuatan positif (proton) dan partikel tidak bermuatan (neutron), dan dikelilingi oleh elektron yang berada di orbit yang mengelilingi inti. Proton dan elektron mempunyai suatu hal yang mirip dengan muatan listrik. Muatan listrik pada proton diberi tanda positif (+) dan elektron ditandai dengan muatan negatif (-). Apabila jumlah muatan proton dan elektron sama dalam suatu atom, maka atom dikatakan dalam posisi netral. Akan tetapi apabila muatan proton lebih banyak dari muatan negatif, maka kondisi ini disebut dengan positive charge. Sebaliknya apabila jumlah muatan elektron lebih banyak dari jumlah proton, maka kondisi atom disebut dengan negative charge, hal ini dapat dilihat pada gambar 9.1.

Gambar 9.1. Kondisi Proton dan Elektron

1. Tipe Kelistrikan dan Sifatnya
Listrik ada 2 tipe yaitu: listrik statis dan listrik dinamis. Listrik statis adalah elektron bebas yang sudah terpisah dari atom-atomnya, akan tetapi tidak bergerak dan hanya berkumpul di atas permukaan suatu benda. Contohnya: Sebatang kaca yang digosokkan dengan kain sutera, kedua permukaan batang kaca dan kain sutera menjadi bermuatan listrik positif dan muatan negatif. Tanpa menyentuh kedua benda tersebut dan dihubungkan dengan konduktor, maka kedua muatan listrik tersebut akan tetap berada pada permukaan batang kaca

346
dan kain sutera. Sedangkan listrik dinamis adalah pergerakan partikel bermuatan di dalam konduktor. Listrik dinamis dibagi atas dua jenis, yaitu: 1. Arus Searah (Direct Current/ DC) 2. Arus Bolak Balik (Alternative Current/ AC) Arus Searah adalah pergerakan partikel bermuatan dalam satu arah, apakah positif saja atau negatif saja, seperti gambar berikut;

Gambar 9.85. Arus Searah Konstan

Gambar 9.2. Arus Searah yang Masih ber-Ripple (www.kafesec.com) Arus bolak balik, adalah pergerakan arus yang bisa melewatkan arus dan tegangan positif dan negatif sekaligus setiap setengah siklus kerjanya.

347

Gambar 9.3. Arus Bolak Balik (www.kafesec.com) Pergerakan arus listrik hanya akan terjadi di dalam rangkaian tertutup (close loop), artinya di dalam rangkaian tersebut akan terjadi pergerakan elektron (partikel bermuatan), apabila pada rangkaian tersebut ada arus dan tegangan yang mengalir, hal ini dapat dijelaskan pada gambar berikut ini:

Gambar 9.4. Arus dan Tegangan Mengalir pada Rangkaian

348

Gambar 9.5. Tegangan Ada tetapi Tidak ada Aliran Arus

2. Teori Dasar Sirkuit Kelistrikan
Listrik adalah sejumlah elektron yang dapat mengalir pada suatu material. Pada teori konvensional listrik merupakan pergerakan partikel bermuatan dari kutup positif dan kembali ke negatif. Sebaliknya pada teori elektron dinyatakan bahwa arus listrik mengalir dari negatif ke positif. Selanjutnya untuk mempermudah pelajaran ini, maka kita gunakan teori listrik konvensional, yaitu arus listrik mengalir dari positif ke negatif.

Gambar 9.6. Konsep Kelistrikan Dari gambar 9.6 ditunjukkan sebuah lampu dihubungkan dengan baterai, sehingga arus listrik akan mengalir dari terminal positif baterai menuju kabel penghantar, kemudian ke lampu dan dilanjutkan menuju kabel penghantar dan

349
diteruskan ke terminal negatif baterai. Suatu rangkaian di mana arus dan tegangan listrik dapat mengalir dalam satu lintasan tertutup disebut dengan rangkaian listrik. Dalam rangkaian kelistrikan mobil, salah satu ujung kabel dari setiap beban dihubungkan dengan body kendaraan yang berfungsi sebagai rangka untuk mengalirkan arus ke baterai. Body atau rangka tersebut dinamakan dengan massa (bagian dari rangkaian yang mengembalikan arus ke baterai). Hukum Ohm Hukum Ohm menyatakan hubungan antara tegangan listrik dengan tahanan dan arus. Untuk memudahkan pemahaman tentang konsep Hukum Ohm dapat di pelajari melalui gambar 9.7 berikut ini:

Gambar 9.7. Konsep Hukum Ohm Gambar di atas menunjukkan dua buah wadah yang terhubung satu dengan lainnya melalui sebuah pipa. Tegangan dapat diibaratkan beda ketinggian di antara kedua wadah, yang menyebabkan terjadinya aliran air. Makin besar perbedaan ketinggian air, makin kuat air mengalir. Arus listrik diibaratkan jumlah/volume air yang mengalir setiap detiknya melalui pipa. Resistansi diibaratkan semua hambatan yang dijumpai air saat ia mengalir di dalam pipa. Makin besar pipa, makin kecil hambatan alirnya, sehingga makin besar arus air yang mengalir, dan begitu sebaliknya. Air yang mengalir pada suatu pipa dipengaruhi oleh besarnya dorongan yang menyebabkan air tersebut mengalir dan besarnya hambatan pada pipa. Besarnya dorongan untuk mengalir ditimbulkan oleh perbedaan ketinggian air di kedua wadah, dimana dalam kelistrikan, disebut tegangan atau beda potensial. Hukum Ohm dapat digunakan untuk menentukan tegangan (V), arus (I) atau tahanan (R) pada rangkaian listrik, apabila dua faktor dari ketiga faktor tersebut diketahui.

350

Gambar 9.8. Konsep Hukum Ohm 1 Pada saat variabel resistor diposisikan pada nilai resistansi rendah (gambar 9.8), arus akan mengalir maksimal. Namun tegangan akan menurun (mengecil).

Gambar 9.9. Konsep Hukum Ohm 2

351
Pada saat nilai resistansi dinaikkan (R sedang), kuat arus yang mengalir menurun (I sedang). Tegangan mulai meningkat seperti pada gambar 9.10.

Gambar 9.10. Konsep Hukum Ohm 3 Pada saat nilai resistansi maksimal, kuat arus yang mengalir sangat kecil namun tegangan meningkat mencapai maksimal. Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa besar tegangan berbanding terbalik dengan kuat arus yang mengalir. Atau dengan kata lain, makin besar arus yang mengalir, makin minimum tegangan kerja pada lintasan rangkaian dan makin kecil (makin menjauhi tegangan baterai/ power supply). Makin kecil arus yang mengalir, makin maksimal tegangan kerja (makin mendekati tegangan baterai).

a. Hukum Ohm untuk Penentuan Arus Listrik
Arus listrik adalah pergerakan sejumlah elektron dalam tiap detiknya pada suatu penghantar. Banyaknya elektron yang mengalir ini ditentukan oleh dorongan yang diberikan pada elektron-elektron dan kondisi konduktor yang akan dilalui elektron-elektron tersebut. Arus listrik dilambangkan dengan huruf I dan diukur dalam satuan Ampere. Hukum Ohm menyatakan bahwa I secara empiris adalah:

I=

V R

Pada rangkaian seri seperti gambar 9.11, arus listrik total (I) secara empiris adalah;

352

Itotal = I1 = 12 = 13

Gambar 9.11. Rangkaian Seri untuk Penentuan Arus Sedangkan pada rangkaian paralel, seperti gambar 9.12, arus listrik total (I) secara empiris adalah:

Itotal = I1 + 12 + 13

Gambar 9.12. Rangkaian Paralel untuk Penentuan Arus Untuk rangkaian gabungan seri–paralel, seperti gambar 9.13, arus total yang mengalir pada rangkaian adalah:

353

Itotal = I1 = 12 + 13

Gambar 9.13. Rangkaian Seri-Paralel untuk Penentuan Arus

B. SISTEM KELISTRIKAN MESIN
1. Sistem Pengisian (Charging System)

Gambar 9.14. Posisi Sistem Pengisian (www.hdabob.com/Charging.htm) Listrik pada mobil digunakan untuk menghidupkan mesin (starting system), sistem pengapian, sistem penerangan dan sistem aksesoris. Berbeda dengan listrik di rumah tangga, sumber daya listrik pada mobil adalah baterai, dengan kemampuan yang terbatas. Supaya baterai bisa menghasilkan tenaga tanpa

354
terputus saat mobil beroperasi, maka baterai perlu dilakukan pengisian. Pengisian baterai dapat dilakukan dengan pengisian ulang dengan baterai charger atau dengan cara mengoperasikan kembali mesin mobil. Komponen-komponen sistem pengisian umumnya terdapat pada bagian jok depan mobil (Gambar 9.14) Proses pengisian baterai dilakukan dengan merubah energi mekanik menjadi energi listrik. Dan hal ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan generator arus searah (DC generator) dan generator arus bolakbalik (AC generator). Generator arus searah terdiri dari beberapa kumparan (coil) yang saling berhubungan di sekelilingnya, sehingga pada saat generator berputar pada titik maksimum, akan menghasilkan tegangan yang konstan. Sementara pada generator arus bolak balik, setiap kali putaran stator akan menghasilkan arus listrik, dimana pada saat putaran stator 0O sampai dengan 180O maka akan dihasilkan listrik positif, sedangkan pada saat putaran stator antara 180O sampai dengan 360O akan dihasilkan listrik negatif, kejadian ini terus berulang-ulang. Perbandingan tegangan yang dihasilkan antara generator arus searah dengan generator bolak-balik dapat dilihat pada gambar 9.15 dan gambar 9.16 di bawah ini:

Gambar 9.15. Listrik Generator Arus Searah

Gambar 9.16. Listrik Generator Bolak Balik Prinsip dasar dari sistem pengisian dapat dilihat pada gambar 9.17 yaitu sebagai berikut: pada saat mesin (engine) kendaraan dioperasikan, daya bisa dihasilkan melalui baterai dan mesin yang lagi beroperasi. Daya dari baterai digunakan untuk mengoperasikan rangkaian-rangkaian kelistrikan yang membutuhkan sedikit arus dan tegangan, contohnya untuk menghidupkan sistem penerangan pada mobil. Akan tetapi apabila sistem kelistrikan

355
membutuhkan suplai arus dan tegangan yang cukup besar, maka rangkaian pengisian akan bekerja untuk mengisi baterai supaya tidak terjadi kekosongan baterai. Rangkaian pengisian akan terus mengisi baterai sampai suplai tegangan bagi sistem yang membutuhkan tercukupi dan baterai penuh. Apabila baterai telah mencapai batas pengisian maksimal, maka rangkaian sistem pengisian akan OFF, dan rangkaian ini akan bekerja kembali pada saat baterai mulai mengosongkan kembali muatannya.

Gambar 9.17. Rangkaian Sistem Pengisian (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) Keterangan terminal pada gambar 9.17: “B” adalah kabel output alternator yang mensuplai langsung ke baterai. “IG” adalah indikator kontak yang ada di alternator. “S” digunakan oleh regulator untuk mengatur strum pengisian ke baterai. “L” adalah kabel yang digunakan oleh regulator untuk indikator lampu charger. Komponen utama dari sistem pengisian dapat dilihat pada bagan berikut ini:
SISTEM PENGISIAN

BATERAI ALTERNATOR

REGULATOR Gambar 9.18. Bagan Sistem Pengisian

356 a. Baterai
1) Pengertian Baterai Baterai atau akumulator adalah sebuah sel listrik dimana di dalamnya berlangsung proses elektrokimia yang reversibel (dapat berbalikan) dengan efisiensinya yang tinggi. Yang dimaksud dengan proses elektrokimia reversibel, adalah di dalam baterai dapat berlangsung proses pengubahan kimia menjadi tenaga listrik (proses pengosongan), dan sebaliknya dari tenaga listrik menjadi tenaga kimia, pengisian kembali dengan cara regenerasi dari elektroda-elektroda yang dipakai, yaitu dengan melewatkan arus listrik dalam arah (polaritas) yang berlawanan di dalam sel. Pada mobil banyak terdapat komponen-komponen kelistrikan yang digerakkan oleh tenaga listrik. Diwaktu mesin mobil hidup komponen kelistrikan tersebut dapat digerakkan oleh tenaga listrik yang berasal dari alternator dan baterai, tetapi saat mesin mobil mati tenaga listrik yang digunakan hanya berasal dari baterai saja. Contoh untuk pemakaian energi listrik saat mesin mobil mati adalah pada lampu parkir, lampu ruangan, indikator pada ruangan kemudi, peralatan audio (tape recorder), peralatan pengaman dan lain-lain. Jumlah tenaga listrik yang disimpan dalam baterai dapat digunakan sebagai sumber tenaga listrik tergantung pada kapasitas baterai dalam satuan amper jam (AH). Jika pada kotak baterai tertulis 12 volt 50 AH, berarti baterai baterai tersebut mempunyai tegangan 12 volt dimana jika baterai tersebut digunakan selama 1 jam dengan arus pemakaian 50 amper maka kapasitas baterai tersebut setelah 1 jam akan kosong. Kapasitas baterai tersebut juga dapat menjadi kosong setelah 2 jam jika arus pemakaian 25 amper. Disini terlihat bahwa lamanya pengosongan baterai sangat ditentukan oleh besarnya pemakaian arus listrik dari baterai. Semakin besar arus yang digunakan semakin cepat terjadi pengosongan baterai, dan sebaliknya. Besarnya kapasitas baterai sangat ditentukan oleh luas permukaan plat atau banyaknya plat baterai. Jadi dengan bertambahnya luas plat atau dengan bertambahnya jumlah plat baterai maka kapasitas baterai juga akan bertambah. Sedangkan tegangan baterai ditentukan oleh jumlah sel baterai, dimana satu sel baterai dapat menghasilkan tegangan 2,1 volt. Tegangan listrik yang terbentuk sama dengan jumlah tegangan listrik tiap-tiap sel. Jika baterai mempunyai enam sel, maka tegangan baterai tersebut adalah 12,6 volt. Biasanya setiap sel baterai ditandai dengan adanya satu lobang pada kotak baterai bagian atas untuk mengisi elektrolit baterai. 2) Prinsip Kerja Baterai Proses discharge pada sel berlangsung menurut skema gambar 9.6 Bila sel dihubungkan dengan beban, maka elektron mengalir dari anoda melalui beban ke katoda, kemudian ion-ion negatif mengalir ke anoda dan ion-ion positif mengalir ke katoda. Pada proses pengisian menurut skema gambar 9.7 di bawah ini adalah bila sel dihubungkan dengan power supply maka elektroda positif menjadi anoda dan elektroda negatif menjadi katoda dan proses kimia yang terjadi adalah sebagai berikut (a) Aliran elektron menjadi terbalik, mengalir dari anoda melalui power

357
supply ke katoda, (b) Ion-ion negatif rnengalir dari katoda ke anoda, dan (c) Ion-ion positif mengalir dari anoda ke katoda. Jadi reaksi kimia pada saat pengisian (charging) adalah kebalikan dari saat pengosongan (discharging)

Gambar 9.19. Proses Pengosongan (Discharge)

Gambar 9.20. Proses Pengisian (Charge)

a) Prinsip Kerja Baterai Asam - Timah. Bila sel baterai tidak dibebani, maka setiap molekul cairan elektrolit asam sulfat (H2SO4) dalam sel tersebut pecah menjadi dua yaitu ion hydrogen yang bermuatan positif (2H+) dan ion sulfat yang bermuatan negatif (SO4 - - ) • Proses pengosongan

H2SO4

2H + + SO4- -

Bila baterai dibebani, maka tiap ion negatif sulfat. (SO4- - ) akan bereaksi dengan plat timah murni (Pb) sebagai katoda menjadi timah sulfat (Pb SO4) sambil melepaskan dua elektron. Sedangkan sepasang ion hidrogen (2H+ ) akan bereaksi dengan plat timah peroksida (Pb O2) sebagai anoda menjadi timah sulfat (Pb SO4) sambil mengambil dua elektron dan bersenyawa dengan satu atom oksigen untuk membentuk air (H2O). Pengambilan dan pemberian elektron dalam proses kimia ini akan menyebabkan timbulnya beda potensial listrik antara kutub-kutub sel baterai. Proses tersebut terjadi secara simultan dengan reaksinya dapat dinyatakan. Pb O2 + Pb + 2 H2SO4 Pb SO4 + Pb SO4 + 2 H2O Sebelum Proses Setelah Proses Pb O2 = Timah peroksida (katub positif / anoda) Pb = Timah murni (kutub negatif/katoda) 2H2SO4 = Asam sulfat (elektrolit) Pb SO4 = Timah sulfat (kutub positif dan negatif setelah proses pengosongan) H2O = Air yang terjadi setelah pengosongan

dimana :

358
Jadi pada proses pengosongan baterai akan terbentuk timah sulfat (PbSO4) pada kutup positif dan negatif, sehingga mengurangi reaktifitas dari cairan elektrolit karena asamnya menjadi timah, sehingga tegangan baterai antara kutub-kutubnya menjadi lemah. • Proses Pengisian Proses ini adalah kebalikan dari proses pengosongan dimana arus listrik yang di alirkan arahnya berlawanan dengan arus yang terjadi pada saat pengosongan. Pada proses ini setiap molekul air terurai dan tiap pasang ion hidrogen (2H +) yang dekat plat negatif bersatu dengan ion negatif sulfat (SO4-) pada plat negatif untuk membentuk asam sulfat. Sedangkan ion oksigen yang bebas bersatu dengan tiap atom Pb pada plat positif membentuk timah peroxida (Pb O2). Proses reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut : Pb SO4 + Pb SO4 + 2H2O Setelah pengosongan PbO2 + Pb + 2H2SO4 Setelah pengisian

b) Prinsip Kerja Baterai Alkali Baterai Alkali menggunakan potasium Hydroxide sebagai elektrolit, selama proses pengosongan dan pengisian dari sel baterai alkali secara praktis tidak ada perubahan berat jenis cairan elektrolit. Fungsi utama cairan elektrolit pada baterai alkali adalah bertindak sebagai konduktor untuk memindahkan ion-ion hidroksida dari satu elektroda ke elektroda lainnya tergantung pada prosesnya, pengosongan atau pengisian, sedangkan selama proses pengisian dan pengosongan komposisi kimia material aktif pelat-pelat baterai akan berubah. Proses reaksi kimia saat pengosongan dan pengisian pada elektroda-elektroda sel baterai alkali sebagai berikut. • Untuk baterai Nickel-Cadmium Pengosongan 2Ni (OH)2 + Cd (OH)2 2 Ni OOH + Cd + 2H2O Pengisian dimana : 2NiOOH Cd 2Ni (OH)2 Cd (OH)2 • = = = = Incomplate nickelic - hydroxide (Plat positif atau anoda) Cadmium (Plat negatif atau katoda) Nickelous hydroxide (Plat positif) Cadmium hydroxide (Plat negatif)

Untuk Baterai nickle - Iron Pengosongan 2 Ni OOH + Fe + 2H2O 2Ni (OH)2 + Fe (OH)2 Pengisian

359
dimana : 2NiOOH Fe 2Ni (OH)2 Fe (OH)2 = = = = Incomplate nickelic - hydroxide (Plat positif) Iron (Plat negatif) Nickelous hydroxide (Plat positif) Ferrous hydroxide (Plat negatif)

3) Jenis-jenis Baterai
Berdasarkan bahan jenis elektrolitnya, maka baterai dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu baterai asam dan baterai alkali.

a) Baterai Asam (Lead Acid Storage Battery)
Baterai asam bahan elektrolitnya adalah larutan asam belerang (Sulfuric Acid = HzS04). Di dalam baterai asam, elektroda-elektrodanya terdiri dari plat-plat timah peroksida Pb02 (Lead Peroxide) sebagai anoda (kutub positif) dan timah murni Pb (Lead Sponge) sebagai katoda (kutub negatif). Ciri-ciri umum (tergantung pabrik pembuat) sebagai berikut : − Tegangan nominal per sel 2 volt. − Ukuran baterai per sel lebih besar bila dibandingkan dengan baterai alkali. − Nilai berat jenis elektrolit sebanding dengan kapasitas baterei. − Suhu elektrolit sangat mempengaruhi terhadap nilai berat jenis elektrolit, semakin tinggi suhu elektrolit semakin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. − Nilai standar berat jenis elektrolit tergantung dari pabrik pembuatnya. − Umur baterai tergantung pada operasi dan pemeliharaan, biasanya dapat mencapai 10 - 15 tahun, dengan syarat suhu baterai tidak lebih dari 20o C. − Tegangan pengisian per sel harus sesuai dengan petunjuk operasi dan pemeliharaan dari pabrik pembuat. Sebagai contoh adalah : o Pengisian awal (Initial Charge) : 2,7 volt o Pengisian secara Floating : 2,18 volt o Pengisian secara Equalizing : 2,25 volt o Pengisian secara Boosting : 2,37 volt o Tegangan pengosongan per sel ( discharge ) : 2,0 – 1,8 volt

b) Baterai Alkali (Alkaline Storage Battery)
Baterai alkali bahan elektrolitnya adalah larutan alkali (Potassium Hydroxide) yang terdiri dari : o Nickel-Iron Alkaline Battery (Ni-Fe battery) o Nickel-Cadmium Alkaline Battery (Ni-Cd battery) Pada umumnya yang banyak digunakan di instalasi unit pembangkit adalah baterai alkali-cadmium ( Ni-Cd ). Ciri-ciri umum baterai alkali sangat tergantung dari pabrik yang memproduksinya, diantaranya adalah sebagai berikut : − Tegangan nominal per sel 1,2 volt. − Nilai berat jenis elektrolit tidak sebanding dengan kapasitas baterai. − Umur baterai tergantung pada operasi dan pemeliharaan, biasanya dapat mencapai 15 - 20 tahun, dengan syarat suhu baterai tidak lebih dari 20o C.

360
− Tegangan pengisian per sel harus sesuai dengan petunjuk operasi dan pemeliharaan dari pabrik pembuat. Sebagai contoh adalah : o Pengisian awal (Initial Charge) = 1,6 – 1,9 volt o Pengisian secara Floating = 1,40 – 1,42 volt o Pengisian secara Equalizing = 1,45 volt o Pengisian secara Boosting = 1,50 – 1,65 volt o Tegangan pengosongan per sel ( discharge ) : 1 volt .

4) Konstruksi baterai a) Kotak dan sel baterai
Kotak baterai terbuat dari ebonik atau damar sintetis, berfungsi untuk penempatan sel dan menampung elektrolit baterai. Sel-sel baterai tersebut dihubungkan secara seri, dengan demikian tegangan listrik yang terbentuk sama dengan jumlah tegangan dari masing-masing sel.

Gambar 9.21. Konstruksi Baterai (www.autoshop101.com)

b) Plat Baterai
Ada dua macam plat yang digunakan pada baterai, yaitu plat positif dan plat negatif. Plat-plat ini terbuat dari timah hitam atau campuran timah dengan antimon. Plat-plat tersebut diselubungi oleh zat-zat aktif yang berfungsi untuk menyimpan energi listrik. Penyusunan plat ini dibuat secara berselang-seling diantara plat positif dengan plat negatif. Pada umumnya plat negatif jumlah lebih banyak dari plat negatif (lebih satu) sehingga pada kedua ujung merupakan plat negatif.

c) Separator atau pemisah
Separator diletakkan diantara plat positif dengan plat negatif yang berfungsi untuk mencegah persinggungan langsung antara plat-plat tersebut.

361
Separator ini dibuat dari bahan yang bukan pengantar listrik, seperti kayu, ebonit dan fiber glass. Pada separator ini terdapat lubang-lubang yang halus untuk memungkinkan elektrolit-elektrolit mengalir.

d) Elektrolit
Elektrolit merupakan campuran air yang disuling (64%) dan asam sulfat (36%). Pada temperatur 20 0C berat jenis (BJ) elektrolit baterai yang berkapasitas penuh adalah 1,27. Plat yang terendam akan membangkitkan energi listrik karena reaksi kimia antara zat aktif dari plat-plat dan elektrolit. Batas pengisian elektrolit yang benar adalah diantara batas garis upper dan lower pada kotak baterai. Selanjutnya dalam pemakaian, apabila tinggi elektrolit sudah berada di bawah garis lower maka perlu ditambahkan kembali air murni sebanyak yang dibutuhkan.

Gambar 9.22. Arah Reaksi Pengosongan (www.autoshop101.com) • Reaksi kimia pada waktu baterai mengeluarkan arus listrik

Gambar 9.23. Perbandingan Campuran Asam Sulfat dan Air pada Elektrolit Baterai (www.autoshop101.com)

362
Pada waktu baterai mengeluarkan arus listrik atau pengosongan (discharging) plat positif maupun plat negatif bereaksi dengan sulfat (H2SO4) membentuk timbal sulfat (PbSO2). Dengan adanya reaksi tersebut di atas, asam sulfat (H2SO4) sedikit demi sedikit berubah menjadi air (H2O). Akibatnya berat jenis elektrolit akan turun karena kosentrasi elektrolit berkurang. Berikut adalah reaksi kimia saat baterai mengeluarkan arus listrik : PbO2 + 2H2SO4 + Pb (Plat +) (Elektrolit) (Plat -) • Reaksi kimia pada waktu pengisian PbSO4 + 2H2O + PbSO4 (Plat +) (Air) (Plat -)

ARAH ARUS

Gambar 9.24. Arah Reaksi Pengisian (www.autoshop101.com) Selama pengisian kimia (charging) arah arus listrik ke dalam kimia berlawanan dengan arah arus pengeluaran, sehingga menyebabkan kebalikan reaksi dari reaksi pengosongan sebelumnya. Asam sulfat akan terpisah dari timbal sulfat pada tiap-tiap plat, sehingga pada plat positif akan terdapat timbal sulfat dan pada plat negatif terdapat timbal. Dalam reaksi ini asam sulfat akan terbentuk kembali ke dalam elektrolit sehingga berat jenis elektrolit naik kembali. Berikut ini reaksi kimia pengisian baterai; PbS04 + 2H20 + PbSO4 (Pelat+) (Air) (Pelat-) PbO2 + 2H2SO4 + Pb (Pelat+) (elektrolik) (Plat-)

5) Penyebab Kerusakan Baterai a) Kerusakan Akibat Pengisian yang Berlebihan Pengisian arus yang berlebihan (over charging) ke dalam baterai akan menyebabkan baterai menjadi rusak. Hal ini disebabkan setiap sel baterai pada bagian pelat positif mendapat tekanan akibat temperatur tinggi selama over charging. Akibatnya pelat-pelat positif menjadi bengkok atau berubah bentuk sehingga oksigen bebas masuk ke dalam pelat-pelat positif sampai seluruh

363
timbal sulfat (PbSO4) berubah menjadi timbal dioksida (PbO2). Akibat masuknya oksigen bebas juga akan menimbulkan perubahan struktur kerangka, kisi-kisi menjadi timbal dioksida (PbO2). PbO2 yang terbentuk memerlukan ruangan yang lebih besar lagi, sedangkan ruangan pada tiap sel terbatas. Akibatnya plat-plat menjadi melengkung dan traps plat tertekan ke atas sehingga dapat mengangkat tutup sel. Dengan demikian kisi-kisi akan remuk dan plat-plat menjadi rusak atau bengkok. Hal tersebut juga akan mengakibatkan plat positif terhubung dengan plat negatif, separator menjadi remuk dan rapuh disebabkan temperatur yang tinggi dan reaksi kimia yang besar. Begitu juga plat negatif akan menderita kerusakan material organik yang tergabung dalam plat-plat negatif dan sifat penyerapnya akan rusak. Kerusakan akibat pengisian yang terlalu besar dapat dicegah dengan jalan mengatur output alternator agar tegangannya tidak melebihi dari 14 volt. Begitu juga dalam melakukan penggabungan baterai lemah dengan baterai kuat pada kendaraan atau yang biasa disebut dengan istilah jumper (memancing). Perlu diperhatikan bahwa setelah mesin hidup maka alternator yang mempunyai sifat self limiting current akan mengisi baterai yang lemah atau soak dengan arus yang besar. Jika hal ini terjadi maka pada baterai akan terjadi arus pengisian yang berlebihan (over charger) dan ini akan merusak baterai. Jadi dengan demikian jumper sebenarnya tidak dibolehkan jika tidak dalam keadaan terpaksa, sebaiknya jumper diperlukan untuk menghidupkan mesin saja dan setelah itu kabel baterai dari baterai kuat sebagai pemancing harus dilepaskan dari baterai lemah yang dipakai. b) Kerusakan Akibat Terbentuknya Kristal Sulfat Selama baterai mengeluarkan arus (discharging) material-material aktif dalam pelat-pelat positif dan pelat negatif berubah menjadi timbal sulfat (PbSO4). Senyawa ini dapat berubah kembali menjadi material aktif selama baterai diisi kembali (recharging). Oleh karna itu jika baterai dibiarkan dalam kondisi mengeluarkan arus atau baterai dalam keadaan keseimbangan reaksi (tidak dapat membangkitkan arus listrik) dalam waktu yang lama, maka PbSO yang terbentuk akan berubah menjadi keras yang biasa disebut kristal sulfat. Akibat dari kristal sulfat ini, pelat- pelat menjadi bengkok, kisi-kisi mudah patah dan sulfat baterai akan menjadi rusak. Selama terjadi pensulfatan, warna dari pelat-pelat negatif berubah menjadi putih abu-abu dan pelat positif menjadi putih susu. Apabila pada baterai terjadi pengkristalan sulfat, kristal sulfat tersebut dapat diubah kembali menjadi material aktif dengan jalan baterai tersebut diisi kembali dengan proses normal. Akan tetapi apabila selama proses pengisian, baterai tetap tidak mengisi (rusak), maka hal ini sebagai indikator telah pecahnya kisi-kisi pelat baterai akibat dari pengkristalan sulfat. Dengan demikian kerusakan baterai tidak dapat lagi diatasi.

364
6) Arti Kode pada Baterai Baterai yang diproduksi negara Jepang, diberi kode pengenal dengan standar industri Jepang. Kode tersebut menunjukkan kapasitas baterai, ukuran dan posisi terminal positifnya. Pada baterai terdapat kode 55 D 23 L 55 D 23 L : Menunjukkan kapasitas baterai yang dinyatakan (amper) : Menunjukkan lebar dan tinggi baterai : Panjang Baterai : Posisi terminal positif.

Untuk menterjemahkan arti dari kode baterai lebih spesifik dapat berpedoman pada tabel 9.1 dan tabel 9.2. Sedangkan untuk panjang baterai umumnya dinyatakan dalam centimeter, contoh angka 23 pada kode pengenal, mempunyai arti panjang baterainya adalah 23 cm. Untuk posisi terminal positif baterai ditunjukkan oleh kode R untuk posisi di kanan baterai dan L untuk posisi di baterai bagian kiri. Tabel 9.1. Kemampuan Baterai Kode Kemampuan 28 34 36 38 46 50 55 65 Tabel 9.2. Lebar dan Tinggi Baterai Kode Lebar dan Tinggi A B C D E F G H Lebar (mm) 162 203 207 204 213 213 213 220 Kapasitas (Amper) 24 27 28 28 36 36 36 52 Tinggi (mm) 127 127 atau 129 135 173 176 182 222 278

7) Perawatan Baterai Untuk memeriksa kemampuan baterai bisa dilakukan dengan mesin kendaraan, caranya:

365
a) Sebelum dites, kondisi pengisian baterai diusahakan penuh atau minimal pengisian baterai adalah 75%. b) Ukur tegangan baterai saat di-start dan usahakan pada waktu itu mesin belum hidup. c) Hubungkan volt meter pada baterai, perhatikan masing-masing terminal volt meter dengan terminal baterai. Dan lakukan pengetesan dengan cara menstart mesin selama 15 menit. d) Bila kondisi baterai baik, maka tegangan baterai pada waktu di-start, minimal adalah 9V5 (9.5 volt).

Gambar 9.25. Tes Kemampuan Baterai (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengisian baterai adalah: a) Bersihkan terminal baterai dari kotoran, karat dan debu. b) Lepas sumbat ventilasi c) Check elektrolit, jangan sampai lebih dari 45oC d) Bila pengisian dilakukan dalam keadaan terpasang di kendaraan, lepas kabel dari terminal positif dan negatif agar tidak merusak rectifier dan komponen yang lainnya. e) Tentukan amper dan lama pengisian yang diizinkan. f) Selama pengisian, jangan melepaskan kabel pengisi dari teminal baterai, akan tetapi matikan terlebih dahulu switch utama pengisi baterai. g) Setelah proses pengisian berakhir, ukur berat jenis elektrolit, dan sesuaikan dengan spesifikasi h) Pasang sumbat ventilasi dan cuci kotak baterai untuk membersihkan kotak baterai dan bagian lainnya.

366 b. Alternator
Alternator berfungsi menghasilkan arus listrik ketika mesin dihidupkan. Tegangan yang dihasilkan oleh alternator adalah tegangan bolak balik (Alternative Current/AC) yang kemudian dikonversikan/ diubah menjadi tegangan searah (Direct Current/DC).

Gambar 9.26. Alternator (www.galerimotor.com) Terminal-terminal yang terdapat pada alternator (Gambar 9.26) adalah: “S” Terminal indikator voltase baterai. “IG” Terminal indikator strum kontak. “L” Terminal lampu indikator. “B” Terminal output alternator. “F” Terminal tegangan langsung (bypass).

Gambar 9.27. Terminal Alternator (www.galerimotor.com)

367
Jika bagian atas alternator dibuka (Gambar 9.28), maka akan terlihat regulator yang mengontrol tegangan output alternator, carbon brush yang menempel dengan bagian atas rotor (slip ring), rangkaian dioda (rectifier) yang mengkonversi (mengubah) tegangan AC menjadi tegangan DC dan slip ring (bagian dari rotor) dihubungkan dengan setiap field winding.

Gambar 9.28. Bagian dalam Alternator (www.galerimotor.com) Dua slip ring ditempatkan di setiap bagian atas rotor. Slip ring dihubungkan dengan field winding dimana carbon brush dapat bergerak, dan ketika arus mengalir melalui field winding lewat slip ring, maka akan ada arus magnet di sekitar rotor. Dua buah arang yang diposisikan sejajar yang akan menempel dengan slip ring. Carbon brush disolder atau diikat dengan baut (Gambar 9.16).

Gambar 9.29. Carbon Brush (www.galerimotor.com) Perhatikan gambar 9.30. Alternator dalam menghasilkan arus listrik prinsipnya sama dengan sistem elektromagnet. Alternator berfungsi untuk

368
mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Arus bolak balik yang dihasilkan alternator akan diubah menjadi arus searah. Untuk mengubah arus tersebut pada rangkaian alternator dilengkapi dengan 6 buah dioda, masingmasing dua buah dioda dihubungkan dengan kumparan stator. Energi mekanik mesin dihubungkan dengan puli sehingga dapat memutarkan rotor dan membangkitkan arus listrik bolak-balik di dalam stator. Arus bolak-balik inilah yang akan disearahkan oleh rangkaian rectifier dioda. Arus ini digunakan untuk mengisi baterai. Sementara medan magnet yang dihasilkan rotor diteruskan voltage regulator, dan tegangan keluaran voltage regulator digunakan untuk menyuplai kunci kontak (terminal IG) dan baterai (terminal S). Pada saat alternator melakukan proses pengisian, arus pengisian ini akan dialirkan ke kawat konektor yang lebih besar yang terletak antara terminal B dan baterai. Pada saat yang bersamaan, tegangan dari baterai akan dimonitor oleh MIC regulator yang terhubung dengan terminal S. Tegangan regulator yang dihasilkan bisa besar dan kecil tergantung dari koil rotor. Koil rotor terhubung dengan terminal P. Sementara terminal U berfungsi untuk menghidupkan lampu indikator sistem pengisian.

Gambar 9.30. Prinsip kerja Alternator (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) Komponen utama dari alternator ada dua, yaitu stator (Gambar 9.31) yang berfungsi menghasilkan kemagnetan listrik, dan rotor (Gambar 9.32) yang berfungsi menghasilkan arus listrik.

369

Gambar 9.31. Alternator Stator (www.galerimotor.com)

Gambar 9.32. Alternator Rotor (www.autoshop.com) Selain dari rotor dan stator, alternator juga dilengkapi dengan dioda (rectifier) untuk mengubah arus dari arus bolak balik menjadi arus searah. Dioda penyearah dipasang sebanyak 6 buah pada alternator. Dioda penyearah ini berbeda konstruksinya dengan dioda yang biasa dipakai di rangkaian elektronik (Gambar 9.33). Karena dalam satu konstruksi dioda ini hanya memiliki satu terminal. Dioda terminal positif disebut dengan dioda penyearah positif, dan dioda dengan terminal negatif disebut dengan dioda penyearah negatif.

370

Gambar 9.33. Bagian Bagian Alternator Rotor (www.galerimotor.com)

Gambar 9.34a. Dioda Penyearah Alternator (www.galerimotor.com)

371

Gambar 9.34b. Dioda Penyearah Alternator (www.galerimotor.com) Untuk menetukan dioda positif dan dioda negatif, dapat dibantu dengan menggunakan multimeter pada posisi selektor pada ohm meter x10 (Gambar 9.35). Hal ini dapat dilakukan apabila kondisi dari dioda masih bagus, caranya adalah sebagai berikut: hubungkan salah satu terminal dioda dengan salah satu probe (kabel penunjukan) multimeter dan probe multimeter yang lain dihubungkan dengan housing, apabila jarum bergerak, maka probe yang menempel pada kaki dioda terminalnya berbeda dengan polaritas baterai dari multimeter. Contohnya apabila probe warna hitam multimeter menempel pada kaki dioda dan probe warna merah ditempatkan pada housing dioda, dan jarum multimeter bergerak dari posisi tak hingga menuju nol, maka jenis dioda tersebut adalah dioda positif. Begitupun sebaliknya untuk menentukan jenis dioda negatif.

372

Gambar 9.35. Cara Menentukan Terminal Dioda Berdasarkan dari konstruksinya maka alternator dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu, alternator konvensional dan alternator dengan kecepatan tinggi. Alternator kecepatan tinggi (high speed) konstruksinya menggunakan IC pada rangkaian regulatornya. Alternator jenis ini mulai diminati masyarakat pada tahun 1983. Perbedaan kedua konstruksi ini dapat dilihat pada gambar 9.36 dan gambar 9.37

.

373

Gambar 9.36. Konstruksi Altenator Konvensional (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

Gambar 9.37. Konstruksi Altenator High Speed (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

374
Pada regulator konvensional (tipe kontak) diupayakan agar alternator mempertahankan agar tegangan tetap konstan, dengan menghalangi arus yang masuk ke rotor dengan menggunakan cara mekanis. Akan tetapi pada alternator high speed yang menggunakan IC (Integrated Circuit, dimana IC regulator terbentuk menjadi satu dengan alternator dan dipasangkan pada jaringan kelistrikan diantara kumparan medan (field coil) dan massa bodi yang berfungsi mengontrol arus ke kumparan medan sehingga tegangan yang dihasilkan alternator konstan. Di dalam kemasan IC regulator sudah terakit komponen aktif dan pasif secara langsung contohnya transistor, dioda zener, dan resistor.

Gambar 9.38. IC Regulator (www.galerimotor.com) Alternator dilengkapi dengan terminal-terminal untuk memudahkan memahami prinsip kerjanya (Gambar 9.39).

Gambar 9.39. Terminal Alternator (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

375
Prinsip kerja dari alternator dapat dilihat dari 3 kondisi, yaitu: 1) Saat Kunci Kontak ON dan Mesin Mati Saat kunci kontak ON (Gambar 9.40), arus dari baterai disuplai dari regulator, yang dihubungkan dengan sebuah konektor yang terletak antara saklar dengan terminal IG. Arus dari terminal IG akan mengaktifkan transistor Tr1, akibatnya Tr2 juga akan bekerja. Arus dari Tr2 digunakan untuk menghidupkan indikator lampu pengisian, sedangkan arus dari Tr1 berfungsi untuk menyuplai arus pada rotor coil, sehingga akan terjadi fluks magnet pada rotor koil.

Gambar 9.40. Rangkaian Alternator Saat Kunci Kontak ON dan Mesin Mati (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) 2) Saat Alternator di Bawah Titik Kerja Saat alternator belum bekerja maksimal (Gambar 9.41) arus disuplai dari terminal P, MIC akan mendeteksi sinyal dari output terminal P, dan arus ini akan diteruskan ke transistor sehingga Tr1 dan Tr2 menjadi ON, sedangkan Tr3 tetap OFF. Arus dari Tr1 diteruskan ke rotor coil, saat arus listrik yang besar dibangkitkan oleh rotor, pengisian baterai mulai berlangsung. Sedangkan arus dari Tr2 hanya digunakan untuk menyuplai arus pada lampu indikator pengisian.

376

Gambar 9.41. Rangkaian Alternator Saat di bawah Titik Kerja (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) 3) Pada Saat Alternator Beroperasi

Gambar 9.42. Rangkaian Alternator Saat Alternator Beroperasi (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

377
Saat putaran alternator naik di atas 14 volt (14.5 volt) (Gambar 9.42), maka tegangan yang keluar dari alternator melebihi dari tegangan baterai. Hal ini dideteksi oleh MIC, dan memberikan feedback ke rangkaian alternator untuk langsung melewatkan arus menuju terminal S, dan hal ini menyebabkan Tr1 menjadi OFF sehingga proses pengisian baterai tidak terjadi. Akan tetapi apabila tegangan output rotor di bawah 14.5 volt, MIC akan memberikan sinyal supaya Tr1 menjadi ON kembali. Dengan ON-nya Tr1 maka proses pengisian akan berlangsung kembali. Kejadian ini akan terus berulang seperti skema pada gambar 9.42.

c. Regulator
Regulator biasa juga disebut dengan voltage regulator, berfungsi untuk mengatur besar kecilnya jumlah arus yan diperlukan oleh rotor (Gambar 9.43). Regulator tersusun dari titik–titik kontak, kumparan magnet dan resistor (Gambar 9.44).

Gambar 9.43. Terminal Regulator (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

378

Gambar 9.44. Regulator Mekanik (Konvensional) Pada rangkaian regulator saat ini sudah dilengkapi dengan IC regulator. Salah satu jenis IC regulator dapat dilihat pada gambar 9.44. Keuntungan menggunakan IC ini adalah ukurannya kecil, tidak diperlukan penyetelan tegangan dan mempunyai sifat kompensasi temperatur untuk mengontrol tegangan pengisian dan suplai arus ke lampu.

379

Gambar 9.45. IC Regulator Jenis L78S40 (http://semiconductors.globalspec.com) Sebelum menggunakan IC regulator, dulu digunakan regulator sistem satu titik kontak, dua titik kontak dan regulator voltage relay. Prinsip kerja dari ketiga jenis alternator ini adalah sebagai berikut: Regulator Satu Titik Kontak Regulator tipe satu kontak mempunyai tahanan yang dihubungkan langsung ke titik kontak pada waktu mesin berputar pada putaran rendah. Tahanan ini dipasang seri dengan kumparan rotor. Bila tegangan alternator rendah, gaya magnet dari kumparan magnet juga lemah sehingga titik kontak menutup dan arus yang mengalir ke kumparan rotor melewati titik titik kontak. Bila tegangan alternator bertambah tinggi, gaya magnet bertambah kuat, maka titik kontak akan membuka. Karena tegangan baterai yang dibutuhkan maksimal 12 volt, sementara tegangan dari alternator cenderung bertambah naik, maka akan mengakibatkan baterai over charge. Untuk mencengah baterai over charge (kelebihan pengisian), maka alternator dilengkapi dengan voltage regulator. voltage regulator akan mengatur output rotor tetap stabil pada tegangan 13.8 volt s/d 14.8 volt. Untuk mengurangi dan menambah arus ke baterai, maka pada voltage regulator kontak-kontaknya akan menutup dan membuka. Apabila kecepatan alternator tinggi, maka akan diperlukan resistansi yang tinggi pula. Akan tetapi pemakaian resistansi yang tinggi akan menyebabkan loncatan bunga api pada saat kontak membuka dan menutup. 1)

380
2) Regulator Dua Titik Kontak Untuk mengatasi kelemahan pada regulator satu titik kontak, maka digunakan regulator dua titik kontak. Prinsipnya sama dengan regulator satu titik kontak. Hanya saja pada putaran rendah putaran kontak yang bekerja adalah kontak putaran rendah (P1) dan pada saat diperlukan tegangan tinggi maka kontak yang menutup dan membuka adalah kontak putaran tinggi (P2). Kelemahan dari regulator dua titik kontak ini adalah terjadinya penurunan tegangan pada saat perubahan posisi alternator dari kecepatan tinggi ke kecepatan rendah. 3)

Regulator voltage Relay Sistem pengisian pada regulator voltage relay menggunakan dua regulator, yakni regulator tegangan dan regulator voltage relay. voltage relay menjamin pengaturan tegangan menjadi baik. Kumparan magnet dari tegangan regulator bekerja tergantung dari tegangan yang dibangkitkan oleh alternator. Voltage regulator relay berfungsi mencegah terjadinya penurunan tegangan dari output alternator.

2. Sistem Pengapian (Ignition System)
Sistem pengapian pada mobil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi 10 kV atau lebih dengan menggunakan koil pengapian, dan mendistribusikan tegangan tersebut ke masing-masing busi melalui distributor dan kabel tegangan tinggi. Sistem pengapian terbagi atas dua sistem yaitu sistem konvensional (menggunakan koil) dan sistem elektronik (menggunakan capasitor atau transistor). Untuk pengapian sistem elektronik terbagi atas tiga yaitu CDI, semi transistor dan full transistor (TCI).

a. Prinsip Kerja Sistem Pengapian
1) Prinsip Kerja Sistem Pengapian Konvensional
Prinsip kerja dari sistem pengapian konvensional untuk mesin 6 silinder (Gambar 9.46) adalah sebagai berikut: apabila kunci kontak ON, arus listrik akan mengalir dari baterai melalui kunci kontak menuju kumparan primer, dilanjutkan ke platina dan ke massa. Akibat arus listrik mengalir ke kumparan primer maka inti besi akan menjadi magnet. Pada saat inti besi menjadi magnet, arus pada breaker poin dibuka maka arus yang mengalir ke kumparan primer akan terputus dan akibatnya kemagnetan pada inti besi akan segera hilang. Hilangnya kemagnetan ini mengakibatkan terjadinya tegangan induksi antara kumparan primer dan kumparan sekunder. Karena jumlah gulungan koil lebih banyak pada kumparan sekunder dibandingkan dengan kumparan primer, maka tegangan yang dihasilkan pada kumparan sekunder juga tinggi. Tegangan tinggi ini di teruskan ke rotor distributor untuk didistribusikan ke busi-busi tiap silinder yang mengakhiri langkah kompresinya. Selanjutnya tegangan pada busi diubah menjadi percikan api guna pembakaran gas pada ruang bakar. Terjadinya tegangan tinggi pada kumparan sekunder ini untuk satu kali putaran rotor adalah

381
6 kali, karena 6 kali pemutusan arus pada kumparan primer yang artinya 6 kali terjadi tegangan tinggi pada kumparan sekunder.

Gambar 9.46. Rangkaian Sistem Pengapian Konvensional (www.procarcare.com/icarumba/resourcecenter) Kelemahan utama sistem pengapian induksi mobil standar konvensional adalah terletak pada dua fungsi yang dilakukan secara sekaligus oleh koil. Pertama koil berfungsi seperti trafo step up untuk meningkatkan tegangan masuk dari baterai. Sedang tugas yang kedua adalah menyimpan energi listrik ini untuk beberapa saat (charging) sebelum dilepaskan sesuai dengan perintah sulut (trigger) dari ignitor atau platina. Tetapi sebanding dengan meningkatnya RPM mesin, di sisi lain ternyata tidaklah cukup waktu untuk menjalankan fungsi menaikkan tegangan, sehingga energi spark (spark energy) atau energi percikan bunga api yang terjadi di busi setelah koil disulut menjadi lemah. Lemahnya loncatan bunga api ini menyebabkan kegagalan proses pembakaran campuran bahan bakar dan bisa mengakibat terjadinya misfire (kegagalan pengapian) sehingga mesin kehilangan sebagian tenaganya karena bahan bakar tidak bisa terbakar sempurna. Untuk mengatasi kelemahan tersebut digunakan sistem pengapian elektronik.

382 2) Prinsip Kerja Sistem Pengapian Capactive Discharge Ignition (CDI)
CDI (Capacitive Discharge Ignition) umumnya diartikan sebagai pengapian tanpa platina. Pengertian seperti ini tidak seratus persen salah tetapi juga tidak benar sepenuhnya. Platina dalam sistem pengapian standar mobil merupakan kontak poin (contact point) yang berfungsi sebagai penyulut koil. Fungsi ini dalam perkembangan selanjutnya diganti oleh rangkaian elektronik yang bekerja sama dengan ignitor, yang kemudian kerap dianggap sebagai CDI. Padahal rangkaian elektronik yang secara umum disebut pengapian ini mempunyai fungsi sama persis seperti platina tetapi mempunyai prinsip kerja secara elektronik bukan mekanikal, sehingga tidak mengalami keausan seperti platina. CDI secara umum adalah sebuah alat yang mampu menghasilkan loncatan bunga api yang sangat kuat di seluruh rentang RPM, mulai dari RPM rendah pada saat starting sampai sangat tinggi pada saat mobil berakselerasi kencang. Alat ini menghasilkan output energi spark yang besar langsung dari baterai mobil dengan melalui transformator penaik tegangan yang dibuat secara khusus di dalamnya, sehingga mampu menghasilkan tegangan secara konstan dan stabil sebesar 400 volt atau lebih, dengan melipat gandakan tegangan baterai (Gambar 9.47).

Gambar 9.47. Rangkaian Sistem Pengapian CDI Selanjutnya energi tegangan listrik ini disimpan dalam sebuah kapasitor (charging process) yang kemudian dilepaskan (discharge process) saat mendapat trigger. Pada peristiwa ini, tegangan listrik sebesar itu disalurkan ke koil sehingga berlipat ganda menjadi sekitar 30 - 50 ribu volt bahkan lebih, tergantung dari tipe koil yang dipakai. Kemudian dialirkan ke distributor dan berakhir di busi menjadi energi spark yang besar. Kemampuannya untuk menyediakan tegangan yang besar dan stabil di seluruh rentang RPM inilah yang menjadikan alasan mengapa kita membutuhkan sebuah sistem pengapian

383
CDI. Dengan CDI yang mampu menghasilkan loncatan bunga api yang besar sesuai dengan penjelasan di atas. Di pasaran, banyak yang mengklaim barang dagangannya sebagai CDI pengganti platina, padahal kenyataannya tidak lebih adalah sejenis kontak poin elektronik yang memang menggantikan fungsi platina tapi dengan output yang sama dengan platina, yaitu 12 volt DC sesuai dengan tegangan baterai. Memang, kontak poin jenis elektronik ini lebih awet dan tidak aus karena gesekan mekanikal dan bisa bertahan bertahun-tahun tanpa perlu menggantinya seperti platina. Kontak poin yang memakai prinsip kerja elektronik ini banyak ditemui pada mobil-mobil keluaran tahun 90-an dalam berbagai jenis, seperti pick-up coil, magnetic pick up, hall efect, dan lain-lain. yang dipadu dengan ignitor sebagai pembangkit pulsa untuk menyulut koil. Kesimpulannya sistem pengapian tanpa platina bukan berarti selalu adalah CDI. Tetapi sistem kontak poin dengan menggunakan platina ini bisa digunakan bersama dengan sistem CDI seperti halnya sistem pengapian yang memakai platina. Karena platina atau ignitor hanya dipakai sebagai trigger yang berguna untuk menyulut rangkaian CDI agar bekerja menghantar loncatan bunga api ke koil dan selanjutnya diterus ke busi. Dalam perkembangan selanjutnya, sistem CDI konvensional mengalami kemajuan yang cukup signifikan, dengan ditemukannya prinsip penggandaan spark (multiple spark) yang mampu menghasilkan loncatan bunga api lebih besar dan lebih banyak, serta waktu pengapian yang jauh lebih lama (20o crankshaft duration) sehingga mampu membakar sempurna bahan bakar yang masuk ke ruang bakar. Sistem ini kemudian dikenal dengan sebutan multiple spark CDI atau biasa disingkat Multiple CDI.

3) Prinsip Kerja Sistem Pengapian Semi Transistor
Banyak masyarakat awam yang salah mengartikan sistem pengapian elektronik sebagai CDI (Capacitive Discharge Ignition). Padahal ada satu lagi teknologi pengapian tanpa platina, yaitu TCI (Transistorized Controlled Ignition). Pengapian dengan sistem semi transistor diciptakan untuk mengatasi loncatan bunga api pada breaker point. Akibat dari loncatan bunga api pada breaker point adalah (1) breaker point akan terbakar; (2) terjadinya penurunan kecepatan pemutusan arus pada kumparan primer, sehingga arus tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder juga mengalami penurunan. Prinsip kerja dari pengapian semi transistor dapat di lihat pada gambar 9.35 adalah sebagai berikut: saat kunci kontak ON dan breaker point dalam posisi tertutup, maka arus akan mengalir dari terminal E pada TR1 ke terminal B, dan selanjutnya melalui R1 arus dari breaker poin akan mengalir ke massa. Hal ini menyebabkan arus listrik yang mengalir dari B ke E pada Tr2 yang diteruskan ke massa sehingga arus akan mengalir dari kunci kontak ke kumparan primer, terminal C, E dan Tr2. Apabila platina terbuka maka Tr1 dan Tr2 akan OFF, sehingga menimbulkan induksi pada kumparan koil pengapian dan tegangan tinggi pada kumparan sekunder.

384

Gambar 9.48. Pengapian Semi Transistor (Toyota 2000) Untuk mencegah terbakarnya breaker point, arus listrik yang mengalir pada platina diusahakan tidak berhubungan langsung dengan kumparan primer supaya tidak mengalir arus induksi pada platina pada saat posisi membuka. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan dua buah transistor pada rangkaian sistem pengapian (Gambar 9.48)

Gambar 9.49. Prinsip Kerja Tahanan R3 dan R4 pada Sistem Pengapian

385
Prinsip kerja tahanan R3 dan R4 pada sistem pengisian (Gambar 9.49 ) adalah sebagai berikut: pada saat breaker point menutup, maka arus listrik yang mengalir ke breaker point datangnya dari 2 arah yaitu dari R3-R1 dan terminal B-R1. Pada saat breaker point mulai terbuka, arus listrik dari B ke R1 ditahan oleh R3, sehingga Tr1 dan Tr2 menjadi OFF. Akibat OFF-nya Tr1 dan Tr2 menyebabkan timbulnya induksi tegangan tinggi sekitar 300 volt pada kumparan primer.

4) Prinsip Kerja Sistem Pengapian Full Transistor Ignition (TCI)
Sistem pengapian elektronik masih mengadopsi prinsip kerja yang sama dengan sistem pengapian konvensional. Rata-rata kendaraan roda empat keluaran tahun 1990-an mengadopsi sistem TCI. Alasannya, selain lebih canggih dari sistem mekanik juga lebih murah harganya dibandingkan sistem CDI. Pada sistem TCI, fungsi platina digantikan oleh pick-up koil berbasis transistor. Komponen yang juga sering disebut LED-photo transistor ini berada dalam distributor. Pulsa pengapian yang diciptakan alat ini dikirimkan ke modul pengapian. Dari modul ini, selanjutnya sinyal elektronik dikirim ke koil. Proses pengolahan sinyal pengapian ini dalam koil sama dengan model platina.

Gambar 9.50. Pengapian Full Transistor (Toyota 2000) Untuk lebih jelasnya prinsip kerja dari pengapian full transistor (Gambar 9.50) adalah sebagai berikut: sinyal generator dipasangkan sebagai pengganti cam (nok) dan breaker point pada distributor. Sinyal generator akan menghasilkan tegangan yang berguna untuk menyalakan transistor di dalam igniter. Tegangan ini digunakan untuk memutuskan arus primer pada koil

386
pengapian. Karena transistor yang digunakan untuk memutuskan arus primer tidak melibatkan bagian-bagian yang bergerak yang saling bersinggungan, maka keausan dan penurunan tegangan sekunder tidak akan terjadi.

b. Komponen Sistem Pengapian
Komponen-komponen dari sistem pengapian terdiri dari baterai, koil pengapian, distributor, kabel tegangan tinggi dan busi.

1) Baterai
Baterai 12 volt digunakan untuk menyuplai tegangan ke koil pengapian.

2) Koil Pengapian (Ignition Coil)
Koil pengapian berfungsi untuk menaikkan tegangan tinggi yang dibutuhkan pada saat pengapian. Pada koil pengapian tegangan 12 volt akan dinaikkan menjadi 10.000 volt bahkan lebih. Tegangan tinggi ini digunakan untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada celah busi. Koil pengapian terdiri dari kumparan primer (Gambar 9.51) dan kumparan sekunder (Gambar 9.52). Kumparan primer dan sekunder akan menaikkan tegangan dari baterai melalui induksi elektromaget/ induksi magnet listrik.

Gambar 9.51. Pengapian dengan Koil (Kumparan Primer) (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf)

387

Gambar 9.52. Pengapian dengan Koil (Kumparan Sekunder) (http://www.autoshop101.com/forms/h8.pdf) Dari segi konstruksi, koil pengapian terdiri dari inti besi (core) yang dikelilingi oleh kumparan yang terbuat dari baja silikon yang tipis yang digulung ketat. Kumparan sekunder terbuat dari kawat tembaga tipis dengan diameter 0.05 mm s/d 0.1 mm, yang digulung 15.000 s/d 30.000 kali lilitan pada inti besi. Sedangkan kumparan primer terbuat dari kawat tembaga dengan diameter 0.5 mm s/d 1.00 mm, dan digulung sebanyak 150 kali s/d 300 kali lilitan mengelilingi kumparan sekunder. Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat (short circuit) antara lapisan kumparan yang berdekatan, maka antara lapisan satu dengan lapisan yang lain disekat dengan kertas yang mempunyai tahanan sekat yang tinggi. Ruangan yang kosong dalam tabung kumparan diisi dengan minyak atau campuran penyekat untuk menambah daya tahan terhadap panas. Salah satu ujung dari kumparan primer dihubungkan dengan terminal negatif primer dan ujung yang lain dihubungkan dengan terminal positif primer. Kumparan sekunder dihubungkan dengan cara yang sama, dimana salah satu ujungnya dihubungkan dengan kumparan primer pada terminal positif sedangkan ujung yang lain dihubungkan dengan terminal negatif tinggi melalui sebuah pegas.

3) Distributor
Distributor berfungsi sebagai pemutus arus, mendistribusikan arus tegangan tinggi, memajukan atau memundurkan timing/ waktu pengapian saat mesin berputar dan saat beban mesin bertambah atau berkurang.

388

Gambar 9.53. Konstruksi Distributor (http://www.familycar.com/Classroom/battery.htm) Berdasarkan fungsinya, maka distributor terbagi atas:

a) Bagian Pemutus Arus

Gambar 9.54. Pemutus Arus Distributor. (Toyota 2000)

389
Bagian pemutus arus (Gambar 9.55) terdiri dari breaker point, camlobe, dan kondenser. Breaker point berfungsi untuk memutuskan arus listrik dan menghubungkannya dari koil kumparan primer ke massa agar terjadi induksi pada koil kumparan sekunder. Camlobe befungsi untuk mengubah posisi breaker point agar dapat memutus dan menghubungkan arus listrik pada koil kumparan primer. Sedangkan kondenser (Gambar 9.56) berfungsi untuk menghilangkan dan mencegah terjadinya loncatan bunga api pada breaker point.

Gambar 9.55. Konstruksi Kondenser (Toyota 2000)

b) Bagian Distributor

Gambar 9.56. Bagian Distributor (Toyota 2000)

390
Bagian distributor berfungsi untuk mendistribusikan arus tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh kumparan sekunder pada koil pengapian ke busi pada tiap-tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian. Distributor terdiri dari tutup distributor dan rotor (Gambar 9.56).

c) Bagian Governor Advancer
Governor advancer berfungsi untuk memajukan timing pengapian sesuai dengan bertambahnya putaran kecepatan mesin. Bagian ini terdiri dari governor weight dan governor spring/pegas governor (Gambar 9.57)

Gambar 9.57. Konstruksi Governor Advancer Sebelum Kerja (Toyota 2000)

Gambar 9.58. Konstruksi Governor Advancer Saat Kerja (Toyota 2000)

391 d) Bagian Vakum Advancer
Vakum advancer berfungsi untuk memundurkan atau memajukan timing pengapian pada saat beban bertambah atau berkurang. Vakum advancer terdiri dari breaker plate dan vakum advancer (Gambar 9.59)

Gambar 9.59. Konstruksi Vakum Advancer Sebelum Kerja (Toyota 2000)

4) Kabel Tegangan Tinggi
Kabel tegangan tinggi (high tension core) harus mampu mengalirkan arus listrik tegangan tinggi ke busi-busi melalui distributor tanpa ada kebocoran. Untuk itu kabel tegangan tinggi dibungkus dengan isolator karet yang tebal (Gambar 9.60). Isolator karet kemudian dilapisi dengan pembungkus (sheat).

Gambar 9.60. Kabel Tegangan Tinggi

392 5) Busi
Busi pada sistem pengapian harus dapat membakar gas dengan sempurna baik pada saat mesin masih dingin ataupun saat mesin sudah panas. Busi juga harus bisa mengatur percikan bunga api di elektroda agar selalu baik walaupun mengalami perubahan temperatur dan tekanan yang tinggi. Temperatur elektroda busi pada saat pembakaran bisa mencapai 2000oC, akan tetapi temperaturnya akan turun drastis saat langkah hisap, karena busi didinginkan oleh campuran udara dan bahan bakar.

Gambar 9.61. Busi Busi terdiri dari komponen utama (Gambar 9.48) yaitu insulator, casing dan elektroda tengah.

Gambar 9.62. Konstruksi Busi (www.autoshop.com )

393
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing bagian busi tersebut:

1) Insulator Keramik
Insulator keramik berfungsi untuk memegang elektroda tengah dan juga berfungsi sebagai isolator antara elektroda tengah dengan casing. Bagian isolator keramik dibuat bergelombang dengan tujuan untuk memperpanjang jarak permukaan antara terminal dan casing untuk mencegah terjadinya loncatan bunga api tegangan tinggi. Insulator terbuat dari porselen aluminium murni yang mempunyai daya tahan panas yang sangat baik, kekuatan mekanikal, kekuatan dielektrikum pada temperatur tinggi dan penghantar panas. 2)

Casing

Casing berfungsi untuk menyangga insulator keramik dan sebagai mounting besi terhadap mesin.

3) Elektroda Tengah
Elektroda tengah busi terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: a) Sumbu pusat (center shaft), berfungsi untuk mengalirkan arus dan meradiasikan panas yang ditimbulkan oleh elektroda. b) Kaca (seal glass), fungsinya untuk membuat kerapatan agar tidak terjadi kebocoran udara antara center shaft dan insulator keramik, serta mengikat antara center shaft dengan elektroda tengah. c) Resistor, berfungsi untuk mengurangi suara pengapian agar tidak terjadi interferensi dengan frekwensi radio. d) Inti tembaga (copper core), fungsinya untuk merambatkan panas dari elektroda dan ujung insulator agar cepat dingin. e) Elektroda tengah, berfungsi untuk membangkitkan loncatan bunga api ke elektroda massa.

4) Elektroda Massa
Elektroda massa dibuat sama dengan elektroda tengah. Alur U (Ugroove) dan alur V (V-groove) dan bentuk khusus dari elektroda yang lain dibuat untuk memudahkan loncatan api agar menaikkan kemampuan pengapian. Kemampuan busi untuk meradiasikan sejumlah panas disebut dengan nilai panas. Busi yang meradiasikan panas lebih banyak disebut dengan busi panas, artinya busi menjadi dingin akibat panas yang terlalu besar diradiasikan. Sedangkan busi yang meradiasikan panas sedikit disebut dengan busi dingin, karena busi berusaha menahan panasnya. Busi yang beroperasi pada temperatur rendah disebut dengan self cleaning temperature, dan apabila busi bekerja pada temperatur tinggi disebut dengan pre ignition temperature. Perbedaan kedua kondisi tersebut adalah pada self cleaning temperature, temperatur elektroda tengah kurang dari 450oC, maka pada carbon akan terbentuk pembakaran yang tidak sempurna dan menempel pada permukaan insulator porselen. Kondisi ini akan mengurangi tahanan penyekat antara insulator dan casing. Akibatnya tegangan yang diberikan ke

394
elektroda akan langsung ke massa tanpa terjadinya loncatan bunga api pada celah busi. Temperatur 450oC atau lebih digunakan untuk menyempurnakan terhadap endapan carbon pada insulator nose. Temperatur ini disebut dengan self cleaning temperature. Sedangkan pre ignition temperature terjadi saat temperatur elektroda tengah lebih dari 950oC maka elektroda merupakan sumber panas yang dapat menimbulkan penyalaan sebelum busi bekerja. Untuk menentukan kondisi busi baik tidaknya, kita harus berpedoman kepada karakteristik busi yang baik, yaitu: a) Busi dapat merubah tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api pada elektrodanya, dan bunga api ini meloncat pada celah antara elektroda positif dan elektroda negatif. b) Busi harus tahan terhadap suhu pembakaran gas yang tinggi sehingga elektroda busi tidak terbakar c) Busi tidak terjadi deposit carbon artinya busi harus bersih.

c. Prosedur Perbaikan dan Perawatan pada Sistem Pengapian
Apabila terjadi gangguan pada sistem pengapian, maka hal pertama yang dilakukan adalah mencari penyebab gangguannya. Gangguan pada sistem pengapian, biasanya disebabkan oleh misfiring (campuran udara dengan bahan bakar komposisinya tidak tepat) pada saat terjadinya pengapian. Pemeriksaan sistem pengapian apabila terjadi gangguan dapat dilakukan dengan hal sebagai berikut ini: 1) Tes loncatan api listrik Tes loncatan bunga api dilakukan dengan melihat tegangan dari distributor ke tiap busi, dengan cara putarkan mesin dan lihat apakah lampu timing light menyala apabila dihubungkan dengan sebuah busi. Apabila timing light tidak menyala, periksa sambungan kabel, ignition coil, igniter dan distributor. 2) Pemeriksaan kabel tegangan tinggi Pemeriksaan kabel tegangan tinggi dapat dilakukan dengan melepaskan kabel tegangan tinggi dengan tutup distributor, periksa tahanannya tidak melebihi harga maksimum (harus dibawah 25 K ohm)/kabel. Bila tahanannya melebihi dari harga di atas maka periksa terminalnya dan ganti kabel tegangan tingginya. 3)

Pemeriksaan busi Pemeriksaan busi dapat dilakukan dengan cara (1) lepaskan semua busi dan periksa keausan elektroda busi, kerusakan ulir dan kerusakan isolasinya. Bila ditemukan masalah ganti businya; dan (2) periksa celah elektroda, bila tidak tepat bengkokkan elektroda luarnya dengan hati-hati untuk memperoleh celah yang tepat (0.7 – 0.8mm), kemudian pasangkan kembali busi dengan momen 180kg.cm.

395
Prosedur pemeliharaan busi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Bersihkan lobang sekitar busi sebelum busi dilepaskan dari ulirnya dengan menggunakan udara kompressor. b) Lepaskan busi dengan menggunakan kunci busi c) Perhatikan tingkatan panas melalui hasil pembakaran masing-masing busi d) Bersihkan busi dengan menggunakan spark plug cleaner e) Tes loncatan api busi dengan menggunakan alat tes loncatan api, dan sesuaikan renggang busi dan tekanan angin pada waktu melakukan tes. f) Bila busi tidak memenuhi standart maka gantilah busi dengan yang baru. Pemeriksaan ignition koil Pemeriksaan ignition koil dapat dilakukan dengan melepaskan kabel tegangan tinggi tersebut dan konektor kabel distributor, kemudian periksa tahanan kumparan primer dengan menggunakan ohm meter, ukurlah tahanan antara terminal positif dan terminal negatif. Kumparan primer saat dingin adalah 1.3 – 1.6 ohm. Kemudian ukur juga tahanan kumparan sekunder antara terminal positif dan negatifnya (1.3 – 1.5 ohm). Pemeriksaan tahanan resistor Dengan menggunakan ohm meter ukurlah tahanan resistor, dalam keadaan dingin 1.3 – 1.5 ohm. Sambungkan kembali konektor kabel distributor. 6) Pemeriksaan sumber tenaga Pemeriksaan sumber tenaga dapat dilakukan dengan cara berikut ini: a) ON-kan kunci kontak, hubungkan probe positif voltmeter ke terminal resistor (kabel hitam dan merah) dan probe negatif ke massa bodi, lihat tegangannya, normalnya adalah 12 volt. b) Dengan kunci kontak pada posisi START, hubungkan probe positif voltmeter ke terminal positif ignition koil dan probe negatif negatif ke massa bodi, lihat tegangannya, biasanya 12 volt. c) Bila ditemukan masalah, periksa kunci kontak dan wire harnes. Pemeriksaan Igniter Pemeriksaan igniter dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini: Putar kunci kontak pada posisi ON Periksa sumber tegangan apakah mencukupi 12 volt Periksa tegangan transistor dalam igniter apakah mencapai 12 volt Dengan menggunakan baterai kering 1.5 volt, hubungkan kutup positif dengan terminal kabel merah dan kutub negatif ke kabel putih. Untuk mencegah terjadinya kerusakan transistor di dalam igniter, jangan mengalirkan tegangan lebih dari 5 detik Dengan menggunakan voltmeter periksa tegangan ignition koil apakah berada range 0 – 3 volt. Putar kunci kontak pada posisi OFF. Pemeriksaan distributor 5) 4)

7) a) b) c) d) e) f) g) 8)

396
Distibutor konvensional dapat dilakukan pengecekan dengan langkah sebagai berikut: • Periksa breaker point dengan menggunakan feller gauge, ukur celah antara rubbing dengan cam, normalnya 0.45mm. • Setel celah bila perlu, dengan cara melonggarkan kedua sekerup pengikat dan gerakkan breaker point hingga diperoleh celah yang tepat, keraskan sekerup pengikat dan periksa gap kembali. Besihkan permukaan titik kontak dengan kain yang telah dibasahi dengan larutan pembersih. • Periksa vacuum advancer dengan cara melepaskan selang vacuum ke diagframa. Kemudian berikan kevacuuman dan lihat gerakan vacuum advancer, apabila vacuum advancer tidak bekerja maka ganti vacuum advancer. • Periksa governor advancer, dengan memutar rotor berlawanan dengan jarum jam lalu lepaskan dan lihat apakah rotor berputar dengan cepat searah jarum jam, dan perhatikan jangan rortor terlalu longgar. • Periksa celah udara dengan menggunakan feller gauge, ukurlah celah antara sinyal rotor dengan pick up projection (0.2 – 0.4mm) • Periksa pick up koil dengan menggunakan ohm meter, periksa tahanan pick up apakah berada antara 140 – 180 ohm, bila tahanannya tidak normal maka ganti pick up koil. • Periksa vacuum advancer dengan melepaskan selang vacuum dan hubungkan diagframa dengan menggunakan pompa vacuum dan berikan kevacuuman dan lihat bahwa vacuum advancer bergeerak, bila vacuum advancer tidak bergerak maka lakukan penggantian vacuum. • Periksa governor advancer dengan memutar rotor dengan berlawanan arah jarum jam dan kemudian lepaskan. Keadaan normal dari kondisi di atas adalah rotor akan bergerak dengan cepat searah dengan jarum jam.

3. Sistem Starting
Sistem starter adalah suatu sistem yang dapat merubah energi listrik menjadi energi mekanik yang dapat mengerakkan motor starter. Motor starter harus bisa menghasilkan momen yang cukup besar meskipun daya tersedia pada baterai cuma 12 volt.

a. Prinsip Kerja Sistem Starter
Prinsip kerja dari motor starter (Gambar 9.63) adalah sebagai berikut: Saat kunci kontak start maka arus akan mengalir dari baterai menuju selenoid, brush starter kemudian ke komutator dan dilanjutkan ke brush negatif dan berakhir di massa. Motor starter berfungsi untuk mengerakkan fly wheel, fly wheel berfungsi untuk menerima dan mempertahankan daya putar poros engkol sehingga piston dapat bergerak turun naik melakukan proses pembakaran. starter selenoid berfungsi sebagai kontak penghubung antara kunci kontak dengan motor starter. Apabila pada starter selenoid terjadi aliran arus maka motor starter akan berputar. Sementara alternator berfungsi untuk mengisi

397
baterai, output dari alternator diatur tetap konstan dengan menggunakan voltage regulator.

Gambar 9.63. Sistem Starter (http://www.familycar.com/Classroom/starting.htm) b. Komponen Komponen MotorStarter Komponen utama motor starter ada 6 buah yaitu, yoke & pole core, field coil, armature & shaft, brush, amature brake, driver lever, starter clutch dan magnetic switch.

1) Yoke & Pole Core
Yoke terbuat dari logam yang berbentuk silinder dan berfungsi sebagai tempat pole core yang diikat dengan sekrup. Pole core berfungsi sebagai penampang field coil dan memperkuat medan magnet yang ditimbulkan oleh field coil.

Gambar 9.64. Yoke dan Pole Core

398
2) Field Coil Field coil berfungsi untuk membangkitkan medan magnet ke suatu kumparan. Field coil terbuat dari lempengan tembaga untuk dapat mengalirkan arus listrik yang cukup besar. Arus mengalir melewati field coil untuk menghasilkan kemagnetan yang kuat pada pole core dan memperkuat garis gaya magnet. Field coil disambungkan secara seri dengan armature coil agar arus juga mengalir ke armature coil.

Gambar 9.65. Field Coil (Toyota 2000)

3) Armature
Armature berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik dalam bentuk gerak putar. armature terdiri dari sebatang besi yang berbentuk silinder dan diberi slot-slot, poros, komutator serta kumparan armature. armature coil dirakit di dalam celah-celah core yang masing-masing ujungnya disambungkan pada segmen komutator agar dapat menghasilkan torque.

Gambar 9.66. Armature dan Shaft

399 4) Brush (Sikat)
Brush berfungsi untuk meneruskan arus listrik dari field coil ke armature coil dan dilanjutkan ke komutator dan ke massa. Umumnya starter memiliki dua brus yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu dua buah sikat positif dan dua buah sikat negatif.

Gambar 9.67. Brush (Toyota 2000)

5) Armature Brake
Armature brake befungsi untuk pengereman putaran armature setelah lepas dari perkaitan dengan roda penerus. Putaran armature perlu dipercepat berhentinya supaya mesin dapat langsung hidup pada saat start pertama setelah starter switch di-OFF-kan.

Gambar 9.68. armature Brake (Toyota 2000)

400 6) Drive Lever (Tuas Pengungkit)
Drive lever berfungsi untuk mendorong pinion gear ke arah posisi berkaitan dengan roda penerus, dan melepaskan perkaitan pinion gear dari perkaitan roda penerus.

Gambar 9.69. Drive Lever (Toyota 2000)

7) Starter Clucth
Starter clutch berfungsi untuk memindahkan momen puntir dari armature saft ke roda penerus agar dapat berputar. Selain itu starter clutch juga berfungsi sebagai pengaman dari armature coil apabila roda penerus cenderung memutarkan pinion gear.

Gambar 10.70. Kontruksi Starter Clutch (Toyota 2000)

401 8) Magnetic Switch (Saklar Magnetik)
Magnetic switch berfungsi untuk menghubungkan dan melepaskan pinion gear dari dan ke roda penerus, serta mengalirkan arus listrik yang besar ke motor starter melalui terminal utama.

Gambar 9.71. Magnetic Switch

C. SISTEM KELISTRIKAN BODI
Pada bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang menyangkut bagianbagian utama rangkaian kelistrikan bodi mobil, yaitu; penghantar (konduktor), pengaman rangkaian, relai dan sakelar (switch).

1. Penghantar atau konduktor
Benda-benda yang dapat dengan mudah dialiri arus listrik disebut penghantar atau konduktor dan benda-benda yang sukar dialui arus listrik disebut dengan bukan penghantar atau non konduktor dan biasa dipakai sebagai isolator. Penghantar yang biasa digunakan pada jaringan kelistrikan mobil terbuat dari tembaga (copper), stainless steel dan aluminium. Penghantarpenghantar tersebut dibalut dengan isolator agar arus listrik yang mengalir pada penghantar tersebut tidak mengalir pada bagian-bagian yang tidak diinginkan. Aluminium banyak dipakai pada mobil-mobil yang diproduksi tahun 1975 dan tahun-tahun sebelumnya. Aluminium dipakai sebagai jaringan kelistrikan pada mobil seperti jaringan kelistrikan lampu-lampu, indikator dan lain-lain. Akan tetapi karena aluminium kurang baik konduktifitasnya, kurang fleksibel dan sulitnya melakukan penyambungan terutama penyambungan dengan bahan tambah timah (penyolderan), maka pemakaian aluminium sebagai pengantar

402
pada jaringan kelistrikan mobil pada perkembangan berikutnya tidak banyak digunakan dan selanjutnya industri otomotif beralih menggunakan tembaga. Khusus untuk jaringan kelistrikan mobil yang menggunakan tegangan tinggi seperti kabel baterai yang memerlukan arus listrik yang tinggi pada motor starter biasa menggunakan penghantar dari stainless steel.

a. Bentuk Penghantar yang Digunakan pada Mobil 1) Penghantar dengan Satu Kawat
Penghantar semacam ini banyak digunakan pada komponenkomponen kelistrikan seperti; kumparan stator pada motor starter dan alternator, kumparan rotor pada motor dan lain-lain .

Gambar 9. 72. Penghantar Satu kawat (http://www.wafios.com/images)

2) Penghantar dengan Banyak Kawat (Kabel)

Gambar 9.73. Penghantar dengan Banyak Kawat (www.img.alibaba.com)

403
Penghantar dengan banyak kawat biasanya terbalut rapi dengan isolator atau yang biasa dikenal dengan nama kabel. Boleh dikatakan bahwa hampir seluruh rangkaian kelistrikan mobil dari satu komponen ke komponen lainnya dihubungkan dengan kabel-kabel. Besar atau kecilnya ukuran kabel yang digunakan tergantung pada beban atau besar kecilnya energi listrik yang harus dilewatkan pada kabel tersebut.

3) Penghantar dengan Papan Cetak (Printed Circuit Board / PCB)
Penghantar dengan papan cetak atau lebih dikenal dengan PCB banyak digunakan untuk rangkaian pada instrumen mobil yang terdapat dalam ruang kemudi. Terkadang rangkaian dicetak diantara dua lember plastik dengan maksud menghindari kemungkinan terjadinya hubungan terbuka arus listrik serta mendapatkan sifat fleksibel dari penghantar. Dengan PCB ini diharapkan rangkaian listrik yang komplek pada instrumen dapat dibuat pada panel/papan yang kecil serta dapat tersusun rapi. Pada panel instrumen dipasangkan beberapa buah indikator seperti petunjuk bahan bakar, tekanan oli, temperatur mesin, pengisian baterai dan sebagainya.

Gambar 9.74. Penghantar dengan papan cetak (PCB) pada panel instrumen mobil (www.eegeek.net)

b. Ukuran Pengantar
Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam menentukan ukuran penghantar yang akan digunakan dalam jaringan kelistrikan mobil, yaitu : besar arus listrik yang harus dialirkan oleh penghantar, dan panjang penghantar . Semakin besar arus listrik yang harus dialirkan pada penghantar maka semakin besar pula luas penampang penghantar yang diperlukan, hubungan ketiga hal tersebut di atas dapat dilihat dalam persamaan sebagai berikut : P = V X I ( wat), karena V = I x R Maka : P= I2 xR atau P + V2 / R selanjutnya,

404
R = P x I / A ( ohm ) Dimana: P = Daya listrik (watt) V = Tegangan (volt) I = Arus listrik (amper) P = Hambatan jenis kawat (ohm. meter) I = Panjang penghantar (meter) A = Luas penampang penghantar (meter2) Untuk memudahkan menentukan sebuah penghantar yang akan dipakai dalam jaringan kelistrikan mobil kita dapat berpedoman ada patokan yang telah ada, seperti pedoman yang diberikan oleh American Wire Gauge (AWG). Nomor atau ukuran penghantar menunjukkan besar diameter penghantar dan luas penampang penghantar. Luas penampang yang diberikan AWG dinyatakan dalam circular mil, dimana satu mil dinyatakan sama dengan luas sebuah penampang penghantar yang mempunyai diameter 0,0001 inchi kuadrat tidak termasuk isolator penghantar.

Gambar 9.75. Pengukuran Diameter Sebuah Penghantar (www.tpub.com) Nomor ukuran penghantar yang ditetapkan AWG dapat dilihat pada tabel 9.3. Semakin kecil nomor ukuran penghantar, semakin besar diameter dari penghantar tersebut. Penghantar dengan nomor ukuran 10 lebih kecil diameternya dari penghantar dengan nomor ukuran 1; dan penghantar dengan nomor ukuran 20 lebih kecil dari penghantar nomor ukuran 10 . Tabel 9.3 Nomor Ukuran Penghantar yang Ditetapkan AWG (Chek – Chart--1978:42-43) Luas Luas Nomor Diameter Penampang Penampang Ukuran (inchi) (mm2) (circular mils) 20 0, 032 1,020 0,5 18 0, 040 1,620 0,8 16 0, 051 2,580 1,0 14 0, 064 4,110 2,0 12 0, 081 6,530 3,0 10 0, 102 10,400 5,0

405
8 6 4 2 1 0 2/0 4/0 0,0128 0,0162 0, 204 0, 258 0,289 0,325 0,365 0,460 16,500 26,300 41,700 66,400 83,700 106,0000 133,000 211,000 8,0 13,0 19,0 ------

Sistem kelistrikan mobil yang menggunakan tegangan 12 volt umumnya menggunakan penghantar atau kabel nomor 10,12,14,16, dan 18. Jaringan distribusi utama antara baterai dengan altenator, sakelar pengapian, kotak sekering, sakelar lampu besar dan aksesoris berukuran besar menggunakan penghantar nomor 10 dan 12. Sistem penerangan selain lampu besar, radio dan asesoris berukuran kecil menggunakan penghantar nomor 14, 16 dan 18. Kemudian kabel baterai biasanya menggunakan penghantar nomor 4, dan 6, kadang-kadang juga digunakan penghantar nomor 1 dan 2. Ukuran penghantar tersebut hanya berlaku jika bahan dasar dari penghantar tersebut terbuat dari tembaga. Jika penghantar yang digunakan dari aluminium, maka ukuran penghantar tersebut akan menjadi lebih besar dari tembaga karena aluminium mempunyai konduktifitas lebih rendah dari tembaga. Selanjutnya untuk sistem kelistrikan mobil yang menggunakan tegangan 6 volt akan diperlukan ukuran kabel yang lebih besar jika dibandingkan dengan sistim kelistrikan yang menggunakan tegangan 12 volt. Hal ini disebabkan oleh sumber tegangan yang rendah memerlukan tahanan yang kecil pada penghantar untuk mengalirkan arus yang sama. Secara umum dapat diperkirakan bahwa ukuran penghantar untuk sistem 6 volt adalah dua kali lebih besar dari sistem 12 volt untuk beban yang sama. Pada tabel 9.4 dapat dilihat bahwa sumber tegangan yang digunakan adalah 12 volt dan besarnya arus untuk beban dapat dihitung berdasarkan daya dari peralatan. Untuk kondisi yang lain seperti tegangan 6 volt dan daya dari peralatan (terutama lampu-lampu) kadang-kadang dinyatakan dalam satuan cd atau cp (candle power) tabel 9.4 tidak dapat digunakan. Tabel 9.4 Rekomendasi Ukuran Penghantar untuk Penggantian atau Penambahan Jaringan Kelistrikan 12 volt Perkiraan Arus (Amp) 12 volt 1,0 1,5 2 3 4 5 Nomor ukuran penghantar *) 3’ 18 18 18 18 18 18 5’ 18 18 18 18 18 18 7’ 10’ 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 15’ 20’ 25’ 30’ 40’ 50’ 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 16 16 18 18 18 18 16 14 75’ 100’ 18 18 18 18 16 16 14 14 12 12 12 12

406
6 18 18 18 18 18 18 7 18 18 18 18 18 18 8 18 18 18 18 18 16 10 18 18 18 18 16 16 11 18 18 18 18 16 16 12 18 18 18 18 16 16 15 18 18 18 18 14 14 18 18 18 16 16 14 14 20 18 18 16 16 14 12 22 18 18 16 16 12 12 24 18 18 16 16 12 12 30 18 16 16 14 10 10 40 18 16 14 12 10 10 50 16 14 12 12 10 10 100 6 6 12 12 10 10 4 150 8 4 10 10 8 200 4 10 8 6 4 8 *) = panjang penghantar dalam feet (Chek – Chart .-1978: 42-43 ) 16 16 16 16 14 14 12 12 10 10 10 10 8 8 4 2 2 16 16 16 14 14 14 12 12 10 10 10 10 8 8 4 2 2 16 14 14 12 12 12 12 10 10 10 10 10 6 6 4 2 1 14 12 14 10 12 10 12 10 12 10 12 10 10 8 10 8 10 8 8 6 8 6 6 4 6 4 6 2 2 1 1 2/0 1/0 4/0 10 10 10 10 8 8 8 8 6 6 6 4 2 2 1/0 2/0 4/0

Dari tabel 9.3 dan tabel 9.4 dapat disimpulkan bahwa ukuran diameter penghantar berbanding terbalik dengan nomor ukuran penghantar dan kerugian tegangan serta berbanding lurus dengan penambahan arus yang dapat melalui penghantar. Hal ini dapat dipahami seperti pada gambar di bawah ini. Penambahan arus

Kerugian tegangan Penurunan nomor ukuran penghantar

Untuk memudahkan pemasangan ataupun memperbaiki jaringan kelistrikan pada mobil, biasanya warna isolator dari panghantar dibuat berbedabeda. Warna dari isolator serta penggunaannya pada rangkaian tidak akan sama antara satu pabrik mobil dengan pabrik mobil lainnya. Misalnya warna kabel untuk rangkaian klakson antara mobil Ford dengan mobil Fiat atau mobil Toyota. Setiap pabrik mobil mempunyai ciri tersendiri tentang warna isolator penghantar yang akan dipasangkan pada mobil produksinya.

407

2. Rangkaian Pengaman
Aliran arus listrik pada penghantar akan dapat menyebabkan naiknya temperatur penghantar tersebut. Jumlah panas yang dibangkitkan pada penghantar tersebut ditentukan oleh ukuran penghantar, tahanan penghantar dan besarnya arus listrik yang mengalir. Jika arus yang mengalir terlalu besar pada kawat penghantar tersebut menjadi panas sehingga akan merusak isolator penghantar. Dengan rusaknya isolator, arus listrik yang ada pada penghantar akan mengalir pada bagian-bagian yang tidak diinginkan dan besar kemungkinan akan terjadi hubungan singkat arus listrik sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran pada jaringan atau kebakaran pada mobil.

Gambar 9.76.Bentuk Bentuk Komponen Pengaman Rangkaian pada Sistem Kelistrikan Mobil (www.autoshop101.com) Untuk mencegah pengaliran arus yang terlalu besar pada penghantar tersebut di atas, maka dibuatlah sebuah rangkaian pengaman atau protektor. Tiga tipe protektor yang biasa digunakan pada sistem kelistrikan mobil adalah sekering (fuse), rangkaian pemutus (circuit breakers) dan penghantar-lumer (fusible link). Berikut akan diuraikan satu-persatu tipe-tipe dari pengaman (protektor) tersebut di atas.

a. Sekering (Fuse)
Sekering pada otomotif adalah merupakan sebilah logam yang terbuat dari seng (zinc) dan rumahnya ada yang terbuat dari kaca, keramik atau plastik. Kebanyakan mobil menggunakan sekering yang rumahnya terbuat dari kaca. Sedangkan mobil-mobil Eropa seperti Volkswagens dan Renaults banyak menggunakan sekering yang rumahnya terbuat dari keramik atau plastik. Kapasitas dari setiap sekering tertera pada bagian luar sekering tersebut. Apabila arus listrik yang mengalir lebih besar dari kapasitasnya atau terjadi hubungan singkat atau mulainya arus mengalir sangat besar maka logam sekering dapat mencair dan putus. Sebuah sekering sangat sensitif

408
terhadap perubahan arus listrik yang melewatinya, akan tetapi tidak terpengaruh oleh perubahan tegangan. Contoh sebuah sekering dengan kapasitas 10 amper dapat digunakan pada rangkaian listrik 12 volt –10 amper atau rangkaian listrik 6 volt –10 amper. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sekering adalah sebagai berikut:

1) Ukuran Sekering
Untuk menghitung besarnya arus listrik yang mengalir pada suatu rangkaian dapat digunakan rumus : I=

P V

Dimana : I = Kuat arus (Amper) P = Daya listrik (Watt) V = Tegangan (Volt) Akan tetapi untuk menghitung besar kapasitas sekering yang akan digunakan diperlukan faktor aman 2 kali daripada hasil rumusan diatas. Misalkan daya lampu adalah 45 Watt, tegangan baterai 12 volt; maka ukuran sekering yang digunakan adalah (45 watt/12 volt) x 2 = 7,5 amper. Jika sekiranya ukuran sekering yang akan digunakan tidak tersedia dipasaran, kita dapat menggunakan sekering lain yang mempunyai ukuran mendekati ukuran sekering tersebut. Misalnya ukuran sekering berdasarkan perhitungan di atas adalah 23ª sementara ukuran sekering yang ada dipasaran adalah : 5A, 7,5A, 10A, 15A, 20A, 25A dan 30ª, maka kita dapat mempergunakan sekering 25A, bukan 20ª karena jika ukuran sekering kecil dari nilai yang dicari dikuatirkan sekering akan mudah putus/meleleh. Batas beban sekering yang digunakan pada otomotif berkisar dari 1 amper sampai 35 amper. Akan tetapi yang banyak digunakan adalah dari 4 amper sampai 20 amper. Sekering 5 amper digunakan untuk lampu instrumen, pengukur (gauge); sekering 7,5 amper digunakan untuk lampu ruangan, lampu parkir, seat belt, sekering 15 amper digunakan untuk motor wiper, lampu tanda belok, lampu stop, lampu belakang, heater; sekering 20 amper digunakan untuk klakson, lampu besar (lampu kepala) dan lain-lain sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa ukuran sekering yang digunakan tidak selalu sama untuk sistem yang sama pada mobil yang berbeda. Biasanya ukuran sekering yang digunakan telah ditentukan pada masing-masing mobil, dimana ukuran sekering tersebut dapat dilihat pada kotak atau tutup kotak sekering, sehingga akan memudahkan kita untuk melakukan penggantian seandainya sekering putus/meleleh

2) Bentuk Bentuk Sekering
Ada dua macam bentuk sekering yang digunakan dalam otomotif yaitu sekering yang diproduksi oleh Society of Fuse Enggneers ( SFE) dan sekering yang diproduksi oleh Bussman Division. Sekarang yang dibuat SFE memilki ukuran panjang yang berbeda untuk kapasitas sekering yang berbeda. Sekering

409
ukuran 5 amper mempunyai ukuran panjang yang sama, akan tetapi sekering 5 amper tidak sama panjang dengan sekering lain yang memilki kapasitas yang berbeda dari sekering 5 amper tersebut. Dengan adanya perbedaan panjang pada sekering diharapkan tidak akan terjadi kesalahan dalam pemasangan. Sekering yang pendek mempunyai kapasitas lebih kecil dari sekering yang panjang.

Gambar 9.77. Bentuk Sekering Jenis Produksi Busman Division (Chek-Chart 1978:.52) Sekering yang dibuat oleh Bussman Division dikenal dengan seri AGA, AGC, AGW, AGY, dan lain-lain. Setiap seri mempunyai ukuran panjang yang sama, akan tetapi pada seri yang sama mempunyai ukuran kapasitas sekerig yang bervariasi. Misalnya SGC 5 amper, memiliki ukuran yang sama dengan sekering AGC 20 amper, akan tetapi tidak sama dengan sekering tipe yang lain.

Gambar 9.78. Bentuk Sekering Produksi Bussman Division (Chek–Chart 1978:52 )

410
Pada beberapa waktu belakangan ini, model pembuatan sekering terus berkembang. Sekarang telah ada sekering model blade (U-Shaped Type). Sekering model blade ini mempunyai beberapa keuntungan di bandingkan sekering model kaca / gelas yang biasa digunakan pada mobil. Keuntungan sekering jenis blade ini adalah: 1) Lebih ringan 2) Bagian yang berhubungan lebih luas 3) Tidak mudah pecah dan anti shock (terbakar) 4) Lebih tahan terhadap arus yang terputus-putus Kapasitas sekering model biasa ditentukan oleh warna dari rumahnya.

Gambar 9.67. Ukuran Sekering Model Blade

www.autoshop101.com

Gambar 9.79. Sekering jenis blade (www.autoshop101.com)

411 3) Penempatan sekering
Penempatan sekering harus sesuai dengan fungsinya. Sekering harus diletakkan diantara sumber tenaga listrik dengan pemakai tenaga listrik tersebut (beban). Selanjutnya untuk memudahkan pemeriksaan dan penggantian sekering maka sekering-sekering yang dipasangkan pada mobil ditempatkan pada satu kotak sekering yang berada dalam ruang kemudi atau dalam ruang mesin pada bagian depan mobil. Arus listrik yang masuk ke dalam kotak sekering ada yang berasal dari baterai langsung dan ada yang harus melalui sakelar utama. Arus listrik yang berasal dari baterai langsung biasanya digunakan untuk motor blower pada mobil yang memakai sistem penyegaran udara. Radio, lampu tanda belok, lampu mundur, klakson, lampu ruangan dan lain-lain. Sedangkan arus listrik yang melalui sakelar utama (terminal asesoris) biasanya digunakan untuk lampu belakang, lampu kortesi, flasher hazard dan lain sebagainya. Salah satu bentuk penempatan sekering dapat dilihat pada gambar 9.80 berikut:

Gambar 9.80. Salah Satu Posisi Penempatan Sekering pada Mobil (www.stu-offroad.com)

b. Rangkain Pemutus ( Circuit Breakers/CB)
Rangkaian pemutus (CB) ini fungsinya sama dengan sekering. Pada sekering apabila arus yang mengalir melebihi kapasitasnya sekering akan putus, sedangkan pada CB kontaknya akan segera membuka sehingga arus listrik akan terhenti mengalir dan bahaya yang lebih besar akibat pengaliran arus listrik yang berlebihan dapat diatasi. Keuntungan penggunaan CB ini adalah dapat digunakan secara berulang-ulang tanpa harus menggantinya setelah kontak

412
terbuka, akan tetapi cukup dengan menghubungkan kontak tersebut kembali pada keadaan semula. Bentuk rangkaian pemutus ini dapat dibagi dua, yaitu rangkaian pemutus tanpa kumparan pemanas (self–setting) dan rangkaian pemutus dengan kumparan (remote–set) (Gambar 9.81).

(a)

(b)

Gambar 9.81. Rangkaian Pemutus Arus Listrik (a) Tanpa Kumparan Pemanas, (b) dengan Kumparan pemanas (Mathias 1977:102) Membuka atau menutupnya titik kontak rangkaian pemutus arus listrik tersebut di atas diatur oleh panas yang ditimbulkan oleh arus listrik yang mengalir pada bimetal. Metal yang berada pada bagian atas mempunyai titik muai yang lebih besar, apabila arus yang mengalir pada bimetal sangat besar atau terjadi hubungan singkat maka bimetal menjadi panas dan panas tersebut akan menyebabkan bimetal memuai. Dikarenakan titik muai kedua metal tersebut berbeda, maka bimetal akan melengkung ke atas sehingga titik kontak terbuka dan hubungan arus listrik akan terputus juga. Pada rangkaian pemutus arus tanpa kumparan pemanas, terbukanya titik kontak hanya berlangsung beberapa saat saja. Jika temperatur bimetal kembali dingin, maka kedua titik kontak tersebut akan kembali terhubung dan hal ini akan berlangsung secara berulang-ulang sampai dilakukan perbaikan pada rangkaian yang mengalami hubungan singkat atau mengalami kerusakan. Rangkaian pemutus arus yang dilengkapi dengan kumparan pemanas mempunyai sedikit perbedaan dengan model yang pertama pada saat penutupan titik kontaknya. Titik kontaknya tidak akan menutup selama arus yang masuk ke dalam kumparan pemanas tidak diputuskan. Kumparan pemanas ini mempunyai tahanan yang sangat besar sehingga dapat menahan aliran listrik pada komponen dan komponen masih dapat dilindungi dari kerusakan. Selanjutnya karena tahanan yang besar dari kumparan, kumparan menjadi panas dan panas itu ikut memanaskan bimetal sehingga bimetal tetap melengkung ke atas dan titik kontak tetap dalam keadaan terbuka. Titik kontak baru bisa tertutup kembali jika arus yang masuk ke dalam kumparan diputuskan.

413
Perlu diketahui bahwa kumparan pemanas tidak akan panas jika bimetal atau titik kontak tidak terbuka, karena sebagian besar arus listrik akan mengalir pada titik kontak dan hanya sebagian kecil arus listrik yang mengalir pada kumparan pemanas. Penggunaan rangkaian pemutus ini antara lain pada power window, power seats, amplifier AC, lampu kepala dan lain sebagainya. Untuk kendaraan Toyota dengan kapasitas CB berkisar antara 20A-30A dan digunakan pada sun roof, window deffoger, amplifier AC, dan lain-lain. Untuk kendaraan Ford kapasitas CB yang digunakan berkisar dari 5A sampai 30A yang digunakan untuk power window, power seats, relai lampu kepala, power door lock, pemantik rokok dan lainnya.

c. Fusible Link
Fusible Link merupakan suatu kabel campuran tembaga yang dapat lebur seperti sekering apabila kuat arus yang melalui fusible link melampaui kapasitasnya. Fusible link berfungsi melindungi bagian rangkaian kelistrikan yang tidak dapat dilindungi oleh sekering dengan baik dan yang lebih penting fusible link mencegah jaringan kelistrikan dari kebakaran. Fusible link dipasang secara seri dengan rangkaian kelistrikan yang terletak antar baterai dengan alternator, panel sekering, sakelar utama dan switch lampu besar. Jumlah fusible link yang dipasangkan pada kendaraan bervariasi banyaknya antara satu jenis mobil dengan jenis mobil yang lainnya .

Gambar 9.82. Bentuk dan Cara Pemasangan Fusible Link pada Kendaraan Toyota (www.autoshop101.com)

414

Gambar 9.83. Kondisi Fusible Link Sebelum dan Sesudah Melebur Akibat Hubungan Singkat (Mathias 1977:37)

3. Relai
Fungsi relai adalah sebagai pengaman sakelar dari kemungkinan terbakar atau hangusnya titik kontak pada sakelar disaat pemutusan atau penghubungan arus listrik yang besar dari baterai ke beban. Biasanya relai hanya dipasang pada rangkaian kelistrikan mobil yang memerlukan arus besar seperti pada rangkaian lampu kepala (head light), rangkaian klakson, rangkaian pengkondisian udara (air conditioning), rangkaian fan radiator, rangkaian lampu– lampu belakang (tail light) dan lain-lain.

Gambar 9.84. Konstruksi relai dan jenis-jenis terminal relai (www.saft7.com)

415
Dengan adanya relai, arus listrik yang diperlukan oleh beban tidak lagi mengalir melalui sakelar akan tetapi arus mengalir melalui pada terminal relai. Arus yang masuk pada sakelar hanya berfungsi sebagai pembangkit induksi elektromagnet pada relai, dimana jumlahnya jauh lebih kecil dari pada arus yang masuk ke beban. Dengan demikian loncatan bunga api listrik yang mungkin terjadi pada sakelar pada saat pemutusan dan penghubungan arus listrik dapat dibuat sekecil mungkin sehingga umur pemakaian sakelar dapat lebih panjang. Sebuah relai terdiri dari kumparan pembangkit medan magnet, inti besi, dua buah titik kontak atau lebih, pegas pembalik, beberapa buah terminal pada rumahnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 9.84. Relai tipe tiga terminal seperti terlihat pada gambar 9.85 memiliki terminal B yang dihubungkan dengan terminal positif baterai, terminal S yang dihubungkan dengan sakelar untuk mendapatkan massa bodi, dan terminal L adalah terminal yang berhubungan dengan beban.

Gambar 9.85. Kontruksi dan Rangkaian Relai Tiga Terminal (Toyota 2000:5-3) Cara kerja relai tiga terminal tersebut adalah; saat sakelar OFF titik kontak relai terbuka oleh dorongan pegas pembalik dan apabila sakelar di ONkan maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke kumparan terus ke dalam kumparan kemudian keluar menuju massa melalui sakelar sehingga inti besi pada kumparan mejadi magnet. Titik kontak yang ada di atas inti besi akan tertarik dan menghubungkan terminal B dari baterai dengan terminal L ke beban sehingga arus listrik yang diperlukan beban dapat dialirkan. Untuk relai tipe empat terminal seperti terlihat pada gambar 9.85 arus masuk ke dalam relai dipisah menjadi dua terminal. Terminal S dihubungkan

416
seri dengan baterai dan sakelar, terminal B dihubungkan baterai, terminal E dengan massa bodi dan terminal L dihubungkan dengan beban.

Gambar 9.86. Kontruksi dan rangkaian Relai Empat Terminal (Toyota 2000 : 5-4)

4. Sakelar
Sakelar berfungsi sebagai penghubung dan pemutus arus listrik dari sumber arus (baterai atau altenator) ke beban yang digunakan misalnya lampulampu, motor blower, wiper, sistem pengapian, sistem pengkondisian udara dan lain-lain, gambar 9.87 adalah contohnya sakelar kunci kontak.

Gambar 9.87. Sakelar Kunci Kontak dengan Teminalnya (Toyota 2000: 5-4) Sakelar kunci kontak terdiri dari empat terminal yaitu terminal AM atau B, terminal ACC, terminal IG dan terminal ST. Kemudian pada bagian depan kunci kontak terdapat empat posisi kunci kontak yaitu OFF, ACC, ON dan START.

417
AM atau B adalah terminal yang selalu berhubungan dengan baterai atau sumber arus. ACC (accecories) adalah terminal yang digunakan untuk bagian perlengkapan tambahan seperti radio, tape player. Terminal IG adalah terminal yang berhubungan dengan sistem pengapian mesin (ignition) dan terminal ST adalah terminal yang berhubungan dengan sistem starter mesin. trm pss OFF ON ST ACC Keterangan: x x x AM/BAT IG x ST x x x ACC x

= tersambung dengan sumber tegangan = tidak tersambung dengan sumber tegangan

Gambar 9.88.Posisi Sakelar dan Hubungan Antara Terminal Sakelar (Toyota 2000 : 5 – 5) Gambar 9.88 adalah posisi kerja dari kunci kontak, gerak kunci kontak dari posisi lock (kunci) ke posisi ACC adalah 550 dan dari posisi ACC ke posisi ON dan dari ON ke ST adalah 350. Gambar 9.75 adalah gambar hubungan antara terminal pada kunci kontak dimana posisi lock terminal tersebut tidak ada hubungannya dengan terminal–terminal lainnya. Pada posisi kunci kontak diputar ke ACC maka terminal AM dengan terminal ACC akan berhubungan sehingga perlengkapan radio / tape player dapat dihidupkan. Pada saat kunci kontak diputar ke posisi ON maka terminal-terminal AM , ACC, IG, akan berhubungan sehingga radio / tape player dan sistem pengapian serta perlengkapan lainnya seperti lampulampu dan tanda–tanda pada instrumen berhubungan dengan sumber arus listrik. Kemudian pada saat kunci kontak diputar pada posisi START maka terminal AM , IG dan ST akan berhubungan dengan perlengkapan tersebut di atas (kecuali radio/tape player) serta berhubungan ke motor starter akan menghidupkan mesin.

5. Sistem Penerangan
Sistem penerangan adalah bagian yang sangat penting bagi keamanan dan kenyamanan pengemudi dalam mengemudikan mobilnya. Pengemudi tidak perlu merasa cemas kalau mobilnya akan tertabrak dari belakang atau dari samping disaat pengemudi mengerem atau mau membelokkan mobilnya. Karena pada bagian belakang mobil sudah dipasang lampu rem atau lampu tanda belok yang akan memberi isyarat pada pengemudi juga tidak perlu merasa kwatir karena kurangnya penerangan pada permukaan jalan pada

418
malam hari sebab mobil juga dilengkapi dengan lampu depan untuk menerangi permukaan jalan. Lampu-lampu yang termasuk kedalam sistem penerangan mobil antara lain meliputi lampu depan, lampu parkir, lampu belakang, lampu samping, lampu panel instrumen, lampu kortesi, lampu mundur, lampu rem, lampu tanda belok, lampu tanda peringatan dan lampu pojok. Pada gambar 9.77 terlihat lampu-lampu yang ada pada bagian depan dan belakang mobil.

a. Lampu Depan
Lampu depan sering juga disebut lampu kepala atau lampu besar. Lampu depan berfungsi untuk memberikan penerangan pada bagian depan kendaraan. Penerangan ini harus terjadi sedemikian rupa sehingga pengemudi dapat melihat dengan jelas keadaan jalan yang berada beberapa puluh meter di depan kendaraan. Makin cepat jalannya kendaraan, maka semakin jauh pula jangkauan penerangan yang harus diberikan. Untuk itu lampu depan harus memberikan penerangan yang jelas dan jauh pada permukaan jalan.

Gambar 9.89. Lampu-Lampu pada Bagian Depan dan Belakang Mobil (Chek-Chart 1977:245) Menurut peraturan lalu lintas tentang penerangan, lampu-lampu pada mobil tidak boleh menyilaukan mata pengendara mobil yang datang dari arah muka. Oleh karena itu, sewaktu berpapasan dengan pengendara kendaraan lainnya lampu depan harus dapat diubah penerangannya dari jarak jauh ke jarak dekat di depan mobil. Sehingga tidak menyilaukan mata pengendara yang datang dari muka. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada lampu depan adalah sebagai berikut:

1) Bola Lampu Depan
Jenis lampu depan yang biasa digunakan dapat dibagi dua yaitu:

419

a) Bola Lampu Elemen Filemen Standar
Bola lampu ini dibuat terpisah dari reflektor dan lensa sehingga dapat dengan mudah diganti jika bola lampu sudah rusak atau putus. Lampu depan yang menggunakan bola lampu elemen filemen standar ada yang menggunakan satu bola lampu dengan dua filemen atau dua bola lampu masing-masing satu filemen.

Gambar 9.90. Lampu Depan dengan Bola Lampu Elemen Filemen Standar (Sumadi 1979:115) Apabila lampu tengah atau filemen tengah yang menyala maka sinar akan dipantulkan lurus ke depan sehingga memberikan penerangan jauh. Selanjutnya apabila lampu atas atau filemen atas yang menyala maka sinar akan diarahkan ke bawah sehingga penerangan hanya diberikan pada bagian depan kendaraan saja. Lampu yang memberikan penerangan jarak dekat ini dinamakan lampu dim. Karena lampu depan model ini bagian dalamnya tidak rapat udara maka reflektornya mudah kotor dan berkarat dan lensanya juga mudah kotor sehingga pada dewasa ini pemakainnya sudah ditinggalkan.

b) Bola Lampu Sealed Beam
Jenis bola lampu ini dibuat sedemikian rupa dimana filemen, reflektor, lensa dan terminal penghubung merupakan satu unit yang padu. Lensanya diberi bentuk gelombang-gelombang lurus untuk meluruskan refleksi cahaya pada arah horizontal yang lebih banyak dari arah vertikal. Cahayanya dibuat lebih terang pada bagian pusat dan lemah pada bagian pinggirnya saat menerangi permukaan jalan sehingga kemampuan penglihatan kedepan menjadi lebih baik. Gangguan penglihatan bagi pengemudi lain atau pejalan kaki yang datang dari arah depan juga dapat dikurangi. Untuk memusatkan, memantulkan dan mengarahkan cahaya lampu ke arah depan kendaraan diperlukan reflektor. Reflektor terbuat dari cermin gelas cekung yang dilapisi dengan aluminium pada bagian belakangnya, dimana jika lapisan aluminium ini sudah gores atau terhapus maka pemantulan cahaya lampu juga akan berkurang. Sebaiknya lapisan ini perlu diperhatikan agar

420
jangan sampai tergores atau terhapus disaat melakukan pemasangan bola lampu.

Gambar 9.91. Lampu Depan Jenis Sealed Beam (Toyota 2000:172) Lampu depan jenis sealed beam mempunyai dua filemen. Satu diantaranya diletakkan pada bagian tengah reflektor dan yang lain diletakkan sedikit lebih tinggi dari pusat reflektor. Jika arus listrik mengalir pada filemen bagian tengah maka filemen akan memijar dengan sangat terang dan reflektor akan memantulkan cahaya ini sebagai penerangan untuk lampu jauh bagi kendaraan. Filemen ini merupakan filemen lampu jauh, sedangkan filemen yang lain merupakan filemen untuk lampu dekat. Untuk menambah intensitas penerangan pada permukaan jalan serta mengurangi cahaya yang berhamburan ke bagian atas atau cahaya yang menyiilaukan pemakai jalan lainnya yang datang dari depan maka pada filemen bagian atas lampu depan diberi sebuah tutup. Keuntungan penggunaan bola lampu depan jenis sealed beam ini adalah reflektor dan lensa tidak dapat kotor dan berkarat. Dengan demikian efisiensi penerangan dapat dipertahankan pada kondisi yang baik. Akan tetapi karena lampu depan ini disegel dalam satu unit, maka jika terjadi kerusakan atau kebakaran maka satu unit bola lampu ini harus diganti. Pada awal dekade tahun 1970, mobil-mobil yang dijual sudah mulai menggunakan bola lampu sealed beam untuk lampu depannya. Bola lampu sealed beam disebut juga dengan bola lampu hologen karena didalam bola lampu tersebut dimasukkan gas halogen untuk mempertinggi intensitas penerangannya. Lebih jauh lagi dapat disebut hampir semua mobil saat ini telah mengadopsi teknologi lampu dengan gas halogen. Saat ini teknologi lampu mobil, maju selangkah lagi dengan penggunaan unsur gas xenon sebagai sumber cahaya lampu. Lampu xenon menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan dengan teknologi lampu halogen. Kelebihan lampu xenon adalah (1) lampu xenon menghasilkan tingkat terang dua kali lebih baik dari lampu halogen. Tentunya dengan memakai lampu

421
yang lebih terang, perjalanan dimalam hari menjadi lebih aman karena wilayah yang dapat diterangi lebih luas dan banyak; (2) daya tahan lampu xenon lima kali lebih baik dari lampu halogen. Lantaran itu, secara teoritis, tidak perlu dilakukan penggantian bola lampu xenon selama masa usia pakai ekonomis kendaraan; (3) lampu xenon menggunakan metode gas discharge lamp (GDL) sehingga mempunyai daya penerangan yang relatif stabil. Maksudnya agar tidak dipengaruhi oleh sistem kelistrikan mobil dan konektor yang berkarat. Keunggulan ini disebabkan lampu xenon memiliki satu unit sistem pemasok tenaga listrik yang independen. Meskipun memiliki kemampuan yang tinggi, lampu xenon lebih hemat energi. Lampu ini mengkomsumsi listrik 40% lebih sedikit dari pada lampu halogen dan dengan sendirinya melepaskan emisi panas yangh lebih sedikit pula. Komponen utama lampu xenon adalah unit ballast elektronik , replektor elip, dan bola lampunya sendiri. Bola lampu xenon ini tidak banyak berbeda dengan bola lampu halogen (sealed beam) biasa. Di dalam bola lampu xenon ini terdapat tabung gelas kuarsa berisi gas xenon. Prinsip kerja lampu xenon adalah sebagai berikut, pada saat sakelar lampu depan dihidupkan, unit ballast mengirimkan pulsa pengapian singkat dengan tegangan listrik yang tinggi sampai dengan 10.000 volt. Selanjutnya diikuti oleh aliran listrik yang mempunyai tegangan sekitar 80 volt. tegangan tinggi tersebut menghasilkan sebuah busur api yang terang dan secara singkat dipercikan di antara kedua elektroda. Metoda ini menggantikan penggunaan filemen pada jenis bola lampu sebelumnya. Cahaya lampu yang dihasilkan diproyeksikan ke permukaan jalan dengan reflektor. Perangkat pemantul ini menggunakan metoda prinsip elipsoida. Hasil pantulan ini kemudian diteruskan oleh rangkaian lensa bermutu tinggi yang membentuk sebuah penyinaran yang fokus. Lampu depan dengan bola lampu xenon ini jauh lebih rumit proses manufakturingnya dibandingkan dengan lampu konvensional. Dengan jumlah komponen yang semakin banyak tentunya membutuhkan teknologi produksi yang lebih dari yang sebelumnya. Cahaya lampu yang dihasilkan lampu ini lebih terang dan bewarna putih. Guna mencegah bahaya silau bagi pengemudi kendaraan lain dari arah depan, maka penempatan lampu dibuat lebih presisi. Sampai pertengahan tahun 1977 hanya industri mobil BMW dari Jerman yang telah menggunakan lampu xenon sebagai lampu depan. Dan penggunaannya juga dibatasi hanya untuk lampu depan jarak dekat saja (low beam). Sementara untuk posisi lampu jauh masih menggunakan bola lampu biasa

2) Posisi pemasangan lampu depan
Jumlah lampu depan yang di pasangkan pada bagian depan mobil ada yang memakai dua bola lampu dan ada yang memakai empat buah bola lampu seperti terlihat pada gambar 9.92.

422

Gambar 9.92. Posisi Pemasangan Bola Lampu Depan (Chek–Chart 1978:240 ) Lampu depan dengan dua bola lampu akan memiliki dua filemen pada masing-masing bolanya. Satu filemen untuk lampu dekat dan satu lagi untuk lampu jauh. gambar 9.92 berikut memperlihatkan bola lampu yang memakai dua filemen. Daya lampu jauh (ligh beam) lebih besar dari daya untuk lampu dekat (low beam). Tujuannya adalah supaya cahaya lampu yang jauh dapat menerangi permukaan jalan yang jauh di depan kendaraan dengan baik. Untuk mobil-mobil yang dipakai di Indonesia kebanyakan daya tahan untuk lampu jauh adalah 75 Watt dan daya untuk lampu dekat 50 Watt.

Gambar 9.93. Bola Lampu Dengan Dua Filemen (Mathias 1977:191)

423
Lampu depan dengan empat bola lampu mempunyai penerangan yang jauh lebih baik pada lampu jauhnya, dibandingkan dengan lampu depan dua bola lampu. Hal ini disebabkan karena pada saat lampu jauh dihidupkan keempat bola lampu akan hidup sekaligus dan cahayanya menjadi lebih terang. Sedangkan untuk penerangan lampu dekatnya masih sama dengan yang menggunakan dua bola lampu depan. Karena dari empat bola lampu hanya dua yang hidup sebagai lampu dekat. 3) Rangkaian Lampu Depan Rangkaian lampu depan terdiri dari baterai, sekering atau CB (circuit breaker), sakelar, bola lampu depan, lampu indikator, dan kabel-kabel penghubung. Pada beberapa jenis mobil rangkaian lampu besar dilengkapi juga dengan relai. Kebanyakan mobil angkutan umum mempunyai dua sakelar pada rangkaian lampu depannya yaitu sakelar utama dan sakelar dimmer. Sakelar utama mempunyai tiga posisi dimana pada posisi pertama arus listrik tidak dapat mengalir dan seluruh lampu mati (OFF). Posisi kedua arus listrik mengalir ke lampu belakang, lampu parkir dan lampu panel intsrumen. Posisi ketiga arus listrik disamping mengalir pada posisi dua juga mengalir ke rangkaian lampu depan. Kemudian sakelar dimmer berfungsi untuk merubah jarak penerangan lampu-lampu depan dari penerangan jarak dekat ke penerangan jarak jauh atau sebaliknya. Pada mobil-mobil sedan kebanyakan hanya menggunakan sakelar pada rangkaian lampu depannya. Sakelar ini dipasangkan pada kolom roda kemudi mobil. Sakelar yang digunakan juga mempunyai tiga posisi dimana pada posisi pertama seluruh lampu mati. Posisi kedua arus listrik mengalir ke seluruh rangkaian kecuali ke rangkaian lampu jauh. Posisi ketiga arus listrik mengalir ke seluruh rangkaian kecuali ke rangkaian lampu dekat.

Gambar 9.94. Sakelar Kombinasi (Mathias 1977:188)

424

Gambar 9.95.Rangkaian Lampu Depan dengan Empat Bola Lampu (Mathias 1977:190 )

425

Gambar 9.96. Rangkaian Lampu Depan dengan Dua Bola Lampu (Mathias 1977:191)

Gambar 9.97.Rangkaian Lampu Depan dengan Menggunakan Relai (Mathias 1977:192)

426
Kebanyakan relai hanya digunakan pada rangkaian lampu depan yang menggunakan satu sakelar. Dengan demikian jumlah arus listrik yang mengalir pada sakelar dapat dibuat lebih kecil sehingga daya tahan sakelar tersebut lebih lama. Pada gambar 9.98 di atas terlihat bahwa arus lisrik yang digunakan untuk lampu depan hanya mengalir melalui relai. Sedangkan sakelar hanya berfungsi untuk mengalirkan arus ke dalam kumparan medan relai dan bagian lain mengalirkan arus listrik untuk lampu-lampu dengan daya kecil.

Gambar 9.98. Rangkaian Lampu Depan yang Dilengkapi Sakelar Pengedip/Dimmer (Toyota 2000:5-22)

4) Penyetel Lampu Depan
Penyetelan lampu depan perlu dilakukan untuk mendapatkan arah penerangan yang tepat pada bagian depan kendaraan serta untuk mengurangi gangguan penglihatan pada pemakai jalan yang datang dari arah depan kendaraan. Penyetelan dapat dilakukan dengan jalan mengatur baut penyetel yang terdapat pada pemegang bola lampu depan. Sedangkan arah cahaya lampu

427
depan yang disetel dapat dilihat pada alat penyetel lampu depan. Cara penyetelannya yang lebih rinci dapat dilihat pada petunjuk alat penyetel yang dipakai. Pada gambar 9.99 dapat dilihat posisi baut tempat penyetelan lampu depan mobil. Jika baut bagian atas dikencangkan atau dilonggarkan maka titik jatuh cahaya lampu dapat dibuat lebih jauh atau lebih dekat dari bagian depan kendaraan. Selanjutnya jika baut samping yang dikencangkan atau dilonggarkan maka titik jatuh cahaya lampu dapat diarahkan ke kiri atau ke kanan dari permukaan jalan.

Gambar 9.99. Posisi Baut Penyetel Lampu Depan (Mathias 1977:185) b. Lampu Belakang, Lampu Parkir, Lampu Tanda Samping, Lampu

Plat Nomor dan Lampu Panel Instrumen.
Lampu belakang, lampu parkir, lampu tanda samping, lampu plat nomor, dan lampu panel instrumen adalah merupakan bagian sistem penerangan yang selalu dimiliki mobil. Lampu-lampu tersebut mempunyai fungsi yang cukup penting bagi kenyamanan pengemudi disaat mengemudikan ataupun memarkir kendaraan di malam hari. Lampu-lampu tersebut dihidupkan melalui sakelar yang digunakan pada lampu depan. Sakelar lampu depan dibuat satu dengan lampu-lampu tersebut. Jika sakelar lampu depan dihidupkan maka seluruh lampu-lampu di atas akan hidup.

1) Lampu Belakang (Tail Light)
Lampu belakang berfungsi untuk memberi isyarat pada pengemudi lain yang berada di belakang tentang posisi kendaraan bagian belakang disaat kendaran dijalankan malam hari atau pada saat penerangan dijalan kurang baik. Dengan adanya lampu belakang ini, kemungkinan tertabraknya kendaraan dari belakang dapat diperkecil.

428
Pada umumnya bola lampu belakang yang digunakan memiliki dua filemen. Satu filemen digunakan untuk lampu belakang dan filemen yang lain digunakan untuk rem atau lampu tanda belok. Daya lampu belakang dibuat lebih kecil dari daya lampu untuk tanda belok atau lampu rem. Lampu belakang dilengkapi dengan reflektor, jika reflektor dikenai cahaya maka reflektor akan memantulkan cahaya itu kembali. Dengan demikian walaupun lampu belakang mati atau mengalami gangguan, pengemudi lain yang ada dibelakang kendaraan masih dapat melihat adanya tanda yang dipantulkan reflektor. Rangkaian lampu belakang ini dapat dilihat pada gambar 9.100.

Gambar 9.100. Rangkaian lampu belakang yang digabung dengan lampu rem ( Mathias 1977:194 )

2) Lampu Parkir (Parking Light)
Sesuai dengan namanya, lampu parkir berfungsi sebagai isyarat bagi pengemudi kendaraan lain yang datang dari arah depan tentang posisi kendaraan yang sedang parkir. Disamping itu lampu parkir juga berfungsi

429
sebagai penunjuk posisi bagian depan kendaraan di malam hari jika lampu depan mengalami gangguan. Lampu parkir dipasangkan pada bagian kanan depan dan bagian kiri depan kendaraan. Masing-masing lampu parkir menggunakan satu bola lampu filemen ganda. Satu filemen digunakan untuk lampu parkir dan filemen yang lain digunakan untuk lampu tanda belok. Daya lampu parkir biasanya lebih kecil dari daya lampu tanda belok. Pada gambar 9.100 terlihat bahwa lampu parkir menggunakan bola lampu yang sama dengan bola lampu tanda belok. Lampu parkir akan hidup bersamaan dengan lampu belakang dan lampu pelat nomor jika sakelar lampu depan dihidupkan.

3) Lampu Tanda Samping (Side Marker Light)

Gambar 9.101.

Lampu Tanda Samping Dengan Pembumian Langsung (Mathias 1977:194)

430
Untuk menambah kenyamanan mengemudikan kendaraan dimalam hari , maka bagian luar mobil sekarang dilengkapi dengan lampu tanda samping. Lampu ini berfungsi untuk menunjukkan lebar kendaraan. Disamping itu lampu tanda samping ada juga yang berfungsi ganda dengan lampu tanda belok. Lampu tanda samping dipasangkan pada samping kanan dan samping kiri bagian depan dan belakang kendaraan. Lampu ini dihidupkan dengan sakelar utama lampu depan dan akan hidup secara bersamaan denga lampu – lampu lainnya. Untuk lebih jelasnya pemasangan lampu tanda samping ini pada rangkaian kelistrikan kendaraan dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 9.102. Lampu tanda samping dengan pe-massa-an melalui filemen lampu parkir atau lampu tanda belok (Mathias 1977:195)

431
Gambar 9.101 di atas memperlihatkan posisi pemasangan lampu tanda samping dan lampu- lampu lainnya. Jika sakelar utama lampu depan dihidupkan maka lampu-lampu selain lampu tanda belok akan hidup. Selanjutnya jika hanya sakelar lampu tanda belok yang dihidupkan maka yang akan hidup hanyalah lampu tanda belok saja dan lainnya mati. Dalam hal ini lampu tanda samping disebut sebagai lampu tanda samping fungsi tunggal. Jika diperhatikan gambar 9.102 di bawah ini akan terlihat perbedaan rangkaiannya pada lampu tanda samping. Lampu tanda samping tidak mempunyai pembumian/pemassaan langsung, melainkan harus melewati filemen parkir atau filemen lampu tanda belok. Pada saat sakelar utama lampu depan dihidupkan, arus listrik akan mengalir dari baterai positif ke sekering terus ke sakelar lampu depan. Dari sakelar lampu depan ini arus listrik akan mengalir ke lampu–lampu dan terus kemasa sehingga lampu-lampu pada rangkaian hidup. Khusus untuk lampu tanda samping pembumiannya harus melewati filemen lampu tanda belok. Walaupun demikian filemen lampu tanda belok tidak akan hidup karena dayanya lebih besar dari lampu tanda samping. Sehingga lampu yang hidup hanyalah lampu tanda samping dan lampu parkir. Pada saat lampu tanda belok dihidupkan dan sakelar lampu depan dimatikan, arus listrik akan mengalir ke filemen lampu tanda belok dan terus kemasa sehingga lampu hidup. Pada saat yang bersamaan arus listrik juga mengalir ke filemen lampu tanda samping terus ke filemen lampu parkir dan terus ke masa. Akibatnya lampu tanda samping ikut menyala dan berkedip seperti halnya lampu tanda belok. Sedangkan lampu parkir tetap tidak menyala karena memilki daya yang lebih besar dari lampu tanda samping . Jika arus listrik mengalir secara bersamaan pada sakelar lampu depan dan lampu tanda belok maka lampu parkir dan lampu tanda belok akan hidup bersamaan. Sedangkan lampu tanda samping tidak akan hidup, karena tidak ada arus listrik yang dapat mengalir melalui filemen lampu tersebut. Untuk mempermudah memahami cara kerja lampu tanda samping ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 9.103. Lampu Mati Karena Sakelar Lampu Tanda Belok Off (Mathias 1977:196)

432

Gambar 9.104. Lampu Parkir dan Lampu Tanda Samping Hidup Disaat Sakelar Lampu Depan ON (Mathias 1977:196)

Gambar 9.105. Lampu Tanda Belok dan Lampu Tanda Samping Sama-Sama Berkedip Disaat Sakelar Lampu Tanda Belok ON (Mathias 1977:197)

433

Gambar 9.106. Lampu Tanda Belok dan Lampu Parkir Hidup Saat Kedua Sakelar OFF (Mathias-1977:197)

4) Lampu Plat Nomor
Lampu plat nomor berfungsi untuk menerangi pelat nomor kendaraan khususnya pelat nomor yang dipasangkan pada bagian belakang mobil, sehingga orang dapat dengan mudah membaca pelat nomor mobil yang bersangkutan. Sakelar lampu pelat nomor dibuat sejalan dengan sakelar lampu depan. Jika lampu depan dihidupkan maka lampu pelat nomor juga akan hidup. Bola lampu yang digunakan memiliki satu filamen dengan daya kecil.

5) Lampu Panel Instrumen (Instrument Panel Light)
Lampu panel instrumen berfungsi untuk memberikan penerangan secara tak langsung pada speedometer, instrumen alat-alat ukur, pengontrol AC, asbak rokok dan jam. Lampu-lampu panel instrumen dihidupkan melalui sakelar lampu depan. Pada sebagian mobil, lampu panel instrumennya dapat disetel dengan menggunakan rheostat sehingga cahaya lampu panel instrumen dapat diatur penerangannya.

c. Lampu-Lampu Dalam Ruangan
Lampu-lampu yang digunakan dalam ruangan kendaraan antara lain adalah lampu kortesi , lampu ruangan penumpang, lampu bak barang dan

434
lampu laci. Lampu-lampu tersebut dihubungkan dengan sumber arus listrik melalui sebuah sekering seperti terlihat pada gambar 9.107.

Gambar 9.107. Rangkaian lampu-lampu dalam ruangan (Mathias 1977:200)

1) Lampu Kortesi (Courtesy Light)
Lampu kortesi berfungsi sebagai penerangan ruangan bagian lantai mobil disaat pintu dibuka dan juga sebagai lampu peringatan bahwa pintu- pintu mobil ada yang belum tertutup dengan baik. Lampu kortesi pada gambar 9.107 di atas memiliki dua sakelar yaitu sakelar yang terdapat pada lampu depan kendaraan dan sakelar yang terletak pada semua pintu. Lampu kortesi akan hidup jika kedua sakelar pada posisi hidup. Lampu kortesi tidak akan hidup pada siang hari walaupun pintu-pintu mobil dibuka, karena pada siang hari lampu diam tidak dihidupkan. Gambar 9.96 di bawah memperlihatkan bentuk lain rangkaian lampulampu ruangan. Lampu kortesi hanya memilki satu sakelar yaitu sakelar yang terdapat pada pintu. Jika pintu dibuka atau pintu tidak tertutup dengan baik maka lampu kortesi akan hidup.

435

Gambar 9.108.Rangkaian lampu-lampu dalam ruangan (Toyota 2000:5-31)

2) Lampu Ruangan Penumpang (Dome Light)
Lampu ruangan penumpang biasanya ditempatkan pada sisi bagian atas ruangan penumpang sehingga penerangannya dapat menjangkau seluruh ruangan . Pada gambar 9.108 terlihat bahwa lampu ruangan penumpang dilengkapi sakelar dengan tiga posisi yaitu OFF, DOOR dan ON Bila sakelar pada posisi OFF maka arus listrik tidak akan dapat mengalir dan lampu ruangan tidak akan hidup. Bila sakelar pada posisi DOOR maka jika pintu dibuka atau pintu tidak tertutup dengan baik arus listrik akan mengalir sehingga lampu ruangan penumpang dan lampu-lampu kortesi akan hidup bersamaan. Lampu ruangan penumpang dan lampu kortesi akan mati kembali jika pintu ditutup dengan baik. Pada posisi ini lampu ruangan penumpang berfungsi sebagai lampu kortesi. Selanjutnya bila sakelar pada posisi ON maka arus listrik akan mengalir melalui lampu menuju massa sehingga lampu hidup. Lampu akan kembali mati jika sakelar dipindahkan pada posisi OFF atau posisi DOOR disaat pintu tertutup rapat.

3) Lampu Bak Barang dan Lampu Laci
Lampu bak barang adalah lampu yang terdapat pada ruangan tempat barang di bagian belakang tutup mobil. Lampu ini dilengkapi dengan sebuah sakelar yang dipasangkan pada bagian tutup bak tersebut. Jika tutup bak dibuka maka sakelar akan terhubung sehingga lampu bak barang hidup dan kembali akan mati jika tutup bak ditutupkan.

436
Biasanya mobil dilengkapi dengan sebuah laci kecil yang ditempatkan dekat setir mobil untuk menempatkan barang-barang kecil. Untuk menerangi ruangan tersebut diperlukan sebuah lampu kecil yang dipasang di dalamnya. Lampu laci ini dapat dihidupkan dan dimatikan melalui sakelar yang dipasang pada rangkaian . Jaringan kelistrikan yang digunakan untuk lampu-lampu dalam ruangan mobil biasanya bervariasi. Tidak ada standar yang dapat dijadikan patokan. Bentuk jaringan yang digunakan sangat bergantung pada tuntutan konsumen dan perkembangan teknologi.

4) Lampu Mundur
Lampu mundur berfungsi untuk memberikan penerangan pada bagian belakang kendaraan dan juga berfungsi sebagai isyarat peringatan pada pejalan kaki dan pengemudi lainnya, disaat kendaraan mundur. Jaringan kelistrikan lampu mundur terdiri dari dua buah bola lampu mundur, sekering dan sakelar lampu mundur yang dipasangkan pada trasmisi seperti terlihat pada gambar 9.109.

Gambar 9.109.Jaringan kelistrikan lampu mundur (Mathias 1977:235 ) Sumber arus listrik lampu mundur diambil dari sakelar pengapian. Jika sakelar pengapian dihidupkan maka arus listrik akan mengalir menuju sekering dan terus ke sakelar lampu mundur. Jika sakelar lampu mundur dihidupkan dengan jalan memindahkan tuas tranmisi ke posisi mundur maka lampu akan dialiri arus listrik dan terakhir terus kemassa bodi. Dengan demikian lampu mundur akan hidup. Lampu mundur akan kembali mati jika sakelar pengapian dimatikan atau tuas transmisi dipindahkan pada posisi yang lain.

437 d. Lampu Rem
Lampu rem adalah merupakan lampu isyarat yang pertama sekali digunakan pada otomotif. Lampu rem memancarkan cahaya terang pada bagian belakang kendaraan sebagai isyarat bahwa pengemudi akan menghentikan kendaraan atau memperlambat kecepatan kendaraan dengan pengereman. Jaringan kelistrikan lampu rem dibagi tiga macam yaitu jaringan kelistrikan rem dengan sakelar tunggal pada pedal, jaringan kelistrikan rem dengan sakelar ganda pada pedal dan jaringan kelistrikan rem dengan pengontrol volume minyak rem.

1) Jaringan Kelistrikan Rem dengan Sakelar Tunggal
Gambar 9.110 adalah merupakan jaringan kelistrikan rem yang paling sederhana digunakan pada kendaraan. Lampu rem akan bekerja apabila sakelar lampu rem pada pedal berhubungan. Lampu tanda peringatan rem parkir akan hidup jika sakelar utama atau kunci kontak pada posisi ON/IG dan rem parkir atau rem tangan sedang bekerja.

Gambar 9.110.Jaringan kelistrikan rem dengan sakelar tunggal (Toyota 2000:5- 40) Bila pedal rem diinjak maka sakelar lampu rem akan terhubung dan arus listrik dari baterai akan mengalir ke fusible link, sekering lampu rem, sakelar lampu rem, lampu-lampu rem dan terakhir ke massa bodi kendaraan sehingga

438
lampu hidup. Lampu rem kembali akan mati jika injakan pada pedal rem dilepaskan. Selanjutnya jika tuas rem parkir ditarik pada saat kunci ON/IG maka arus listrik akan mengalir dari baterai ke fusible link, sakelar kunci kontak, sekering heater, lampu peringatan rem, sakelar lampu parkir, dan massa bodi sehingga lampu peringatan rem pada instrumen akan hidup.

2) Jaringan Kelistrikan Rem dengan Sakelar Ganda
Pada sistem ini terdapat beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis sakelar tunggal. Dengan sakelar ganda pada pedal, fungsi lampu peringatan rem pada panel instrumen menjadi ganda yaitu sebagai lampu rem parkir dan lampu peringatan tekanan master silinder.

Gambar 9.111. Jaringan kelistrikan Rem dengan Sakelar Ganda (Toyota 2000 : 5-40) Cara kerja lampu rem sama dengan jenis yang pertama yaitu bila pedal rem diinjak maka arus listrik ke baterai akan mengalir ke fusible link, sekering lampu rem, sakelar lampu rem, lampu-lampu rem dan terakhir ke massa bodi sehingga lampu hidup. Sakelar tekanan minyak rem pada master silinder akan terhubung jika tidak ada tekanan minyak rem pada master silinder. Sebaliknya

439
akan terputus bila pedal rem diinjak dan pada master silender ada tekanan minyak rem. Pada saat rem akhir digunakan dan kunci kontak ON maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke fusible link kunci kontak, sekering heater, lampu peringtan rem, sakelar rem parkir, sakelar tekanan minyak rem dan terus ke massa bodi. Karena pada master silinder tidak ada tekanan minyak maka tekanan minyak rem terhubung sehingga lampu peringatan rem hidup. Jika pedal rem diinjak maka lampu rem akan menyala dan lampu peringatan rem pada panel instrumen akan mati karena pada master selinder ada tekanan minyak rem dan sakelar tidak tersambung. Tetapi jika pedal rem di injak saat terjadi kebocoran pada sistem rem disaat mobil berjalan atau pada saat kunci kontak ON/IG maka lampu peringatan rem akan hidup. Pada saat yang terakhir ini lampu dapat hidup disebabkan adanya aliran arus listrik dari baterai ke fusible link, sakelar kunci kontak, sekering heater, lampu peringatan rem, sakelar lampu rem, sakelar tekanan minyak dan terus ke massa. Dengan adanya pengontrol tekanan minyak rem di dalam master silinder kerusakan pada sistem rem akan dapat diketahui lebih awal dan bahaya kerusakan sistem rem dapat dikurangi.

3) Jaringan Kelistrikan Rem dengan Pengontrol Volume Minyak
Sistem rem dengan pengontrol volume minyak rem adalah merupakan penyempurnaan jenis pertama dan kedua. Lampu peringatan rem pada panel instrumen kendaraan yang memakai sistem rem ini mempunyai tiga fungsi yaitu (1) sebagai indikator bahwa rem parkir sedang bekerja; (2) indikator bahwa tekanan minyak rem rendah disaat pedal rem diinjak dan (3) indikator bahwa volume minyak rem pada reservoir berada di bawah volume minimum.

Gambar 9.112. Jaringan kelistrikan Lampu Rem dengan Pengontrol Volume minyak rem ( Toyota 2000: 5 – 41)

440
Cara kerja pengontrol volume minyak rem pada gambar 9.112 di atas adalah jika kunci kontk ON/ IG dan minyak rem pada reservoir berada pada volume minimum maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke fusible link , kunci kontak, lampu peringatan rem, sakelar reservoir dan terakhir ke massa mobil. Sedangkan cara kerja lampu rem dan lampu indikator untuk tekanan minyak rem sama dengan jenis rem sebelumnya.

e. Lampu Tanda Belok
Fungsi lampu tanda belok adalah sebagai isyarat kepada pengemudi kendaraan lain atau pemakai jalan lainnya, bahwa mobil akan berbelok atau pindah jalur. Rangkaian lampu tanda belok dikontrol dengan sakelar lampu tanda belok yang dipasangkan pada rumah bagian atas dari kolom kemudi dan berdekatan dengan roda kemudi. Rangkaian lampu tanda belok terdiri dari sakelar, pengedip, dua buah lampu indikator pada ruang kemudi, dan beberapa buah bola lampu yang dipasang pada bagian depan, belakang dan samping kendaraan. Biasanya sumber arus listriknya berasal dari terminal aksesoris pada kunci kontak seperti terlihat pada gambar 9.113.

Gambar 9.113. Rangkaian Lampu Tanda Belok (Sumadi 1979:121 ) Jika kunci kontak diputarkan ke posisi ON dan sakelar lampu tanda belok diposisikan pada posisi belok ke kanan maka arus listrik akan mengalir dari baterai ke kunci kontak, sekering, pengedip, sakelar lampu, lampu indikator, dan lampu tanda belok bagian kanan dan terakhir ke massa mobil. Akibatnya lampu indikator dan lampu tanda belok bagian kanan akan berkedip. Selanjutnya jika sakelar lampu tanda belok dirobah posisinya ke posisi belok kiri maka lampu indikator dan lampu tanda belok sebelah kiri akan berkedip.

441
Jenis pengedip yang digunakan untuk lampu tanda belok dibagi tiga macam yaitu pengedip model gulungan, pengedip model mercury, dan pengedip model transistor. Berikut akan dijelaskan satu persatu tentang jenis-jenis pengedip tersebut: 1) Pengedip Model Gulungan. Pengedip (flasher) berfungsi untuk menentukan periodik kedipan lampu tanda belok. gambar 9.114 merupakan rangkaian dari pengedip model gulungan yang terdri dari inti besi sebagai magnet induksi, gulungan A dan gulungan B yang dihubungkan paralel dengan baterai dimana kedua gulungan ini berfungsi sebagai pembangkit magnet pada inti besi, sebuah kontak pemutus dan penghubung arus listrik dan sebuah kondesor.

Gambar 9.114. Pengedip Model Gulungan (Toyota 2000:5-31)

Gambar 9.115.Memperlihatkan cara kerja pengedip model gulungan saat sakelar dihubungkan . (Toyota 2000:5 – 32)

442

Gambar 9.116. Cara Kerja Pengedip Saat Sakelar Dihubungkan (Toyota 2000:5 – 32) Arus listrik dari baterai akan mengalir ke sakelar, kontak, gulungan A dan gulungan B. Dari gulungan A arus listrik mengalir ke lampu dan terus kemassa baterai sehingga lampu menyala. Selanjutnya dari gulungan B arus listrik mengalir ke kondesor dan terus ke massa. Pada saat ini lampu akan menyala selama pengisian kondesor berlangsung dan titik kontak dalam keadaan tertutup. Jika pengisian kondensor telah penuh maka arus listrik hanya mengalir ke gulungan A saja. Akibatnya kemagnetan hanya terjadi pada inti besi digulungan A dan tidak ada magnet pada gulungan B yang dapat menetralkannya seperti sebelumnya pada saat arus listrik masih mengalir ke kondensor. Akibatnya titik kontak akan tertarik ke belakang/ terbuka sehingga arus listrik terputus dan lampu akan mati. Disini yang menentukan lamanya lampu menyala adalah kapasitas kondensor. Semakin besar kapasitas kondensor yang digunakan semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk mengisi kondensor tersebut dan semakin lama juga lampu tanda belok menyala. Dengan demikian kedipan lampu akan menjadi lambat. Pada saat titik kontak terbuka maka kondensor akan melepaskan isinya melalui gulungan B dan gulungan A terus ke lampu dan massa. Akibatnya arah kemagnetan gulungan B dan A sama arahnya sehingga titik kontak tetap tertarik beberapa saat. Walaupun ada arus listrik yang mengalir melalui lampu akan tetapi lampu tidak akan hidup karena arus listrik tersebut kecil. Jika kondensor telah selesai melepaskan isinya maka inti gulungan akan kehilangan gaya kemagnetannya sehingga titik kontak kembali menutup dan arus listrik kembali mengalir mengisi kondensor dan menyalakan lampu tanda belok. Demikian secara terus- menerus kejadian menyalakan lampu secara berulang–ulang.

443
Apabila kapasitas atau daya lampu besar maka kondensor akan cepat melepaskan arusnya dan lampu akan berkedip lebih cepat periodiknya. Sebaliknya bila kapasitas bola lampu lebih rendah maka waktu kedipannya akan lambat.

2) Pengedip model mercury
Pengedip model mercury adalah suatu pengedip yang periodik pengedipannya diatur oleh mercury atau air raksa. gambar 9.104 sebelah kanan adalah kontruksi dimana gulungannya digulung pada silinder bagian atas dan di dalam silinder terdapat plunger dan mercury.

Gambar 9.117. Pengedip Model mercury dan Kotruksinya (Toyota 2000:5-33) Plunger dapat bergerak naik turun oleh pengaruh megnet listrik gulungan. Keluar masuknya mercury ke dalam plunger diatur oleh lobang kecil yang terdapat pada bagian bawah plunger . Disini yang berfungsi sebagai konduktor adalah mercury. Jika mercury merendam kedua ujung terminal dari gulungan maka arus listrik akan mengalir melalui mercury pada terminalterminal tersebut. Sebaliknya jika mercury tidak merendam kedua ujung terminal maka pengaliran arus listrik akan segera terputus. Oleh karena itu pemasangan pengedip model mercury ini harus menghadap ke atas dengan arah vertikal seperti terlihat pada gambar 9.105 sebelah kiri. Gambar 9.118A adalah keadaan lampu tanda belok sebelum sakelar kunci kontak dan sakelar lampu tanda belok dihubungkan. Plunger masih berada di bawah dan kedua terminal gulungan masih terendam mercury sehingga saling berhubungan.

444

Gambar 9.118. Cara Kerja Pengedip Model mercury (Toyota 2000: 5-34 ) Gambar 9.118B memperlihatkan saat sakelar kunci kontak dan sakelar lampu tanda belok pada posisi ON. Arus listrik dari baterai akan mengalir ke sekitar kunci kontak, gulungan, terminal satu, mercury, terminal dua, sakelar lampu tanda belok, lampu dan terus ke massa bodi. Dengan demikian lampu akan hidup dan pada saat yang bersamaan gulungan akan menjadi magnet dan menarik plunger bergerak ke atas. mercury yang ikut terbawa naik ke atas akan segera keluar melalui lubang pada bagian bawah plunger. Lampu akan berhenti hidup jika cairan mercury yang ada pada plunger tidak lagi merendam ke dua ujung terminal gulungan. Gambar 9.106C adalah kondisi dimana terminal-terminal dari gulungan tidak lagi terendam mercury. Akibatnya lampu akan mati dan gulungan kehilangan kemagnetannya. Selanjutnya plunger akan kembali bergerak ke bawah sehingga mercury kembali masuk ke dalam plunger melalui lubang pada bagian bawah. Dalam waktu singkat kedua ujung terminal akan terhubung kembali seperti keadaan pada gambar 9.106A dan ini terjadi berulang–ulang selama sakelar kunci kontak dan sakelar lampu tanda belok pada posisi ON. Cepat atau lambatnya frekwensi kedipan lampu tanda belok model mercury ini sangat ditentukan oleh ukuran lubang pada bagian bawah plunger.

445
Jika lubangnya besar maka kedipan lampu akan semakin cepat dan begitu juga sebaliknya.

3) Pengedip Model Semi Transistor
Pengedip model semi transistor berbeda dengan model gulungan dan model mercury sebelumnya. Pada model semi transistor kedipan lampu tanda belok dapat dibuat lebih stabil tanpa harus terpengaruh oleh adanya bola lampu yang putus . Apabila ada bola lampu tanda belok yang putus pada model gulungan atau mercury akan terjadi kelambatan pengedipan atau tidak berkedip sama sekali. Sedangkan untuk pengedip model semi transistor akan tetap bekerja normal.

Gambar 9.119.Rangkaian Pengedip Model Semi Transisitor (Toyota 2000:5-35)

446

Gambar 9.120. Pengedip Model Semi Transistor (Toyota 2000:5-35)

f) Lampu Hazard
Rangkaian lampu hazard sama dengan rangkaian lampu tanda belok tetapi hanya perlu penambahan sebuah sakelar untuk lampu hazard. Bila sakelar hazard dihubungkan pada saat sakelar kunci kontak pada posisi ON maka lampu tanda belok kiri dan kanan akan hidup sekaligus. Disamping itu lampu hazard juga ada yang memiliki sumber arus listrik, pengedip dan sakelar yang terpisah dari lampu tanda belok. Lampu hazard biasa digunakan untuk memberi isyarat pada keadaan atau kondisi darurat seperti mobil tidak dapat dihentikan pada pinggir jalan akibat kerusakan. Kemudian ada juga digunakan untuk isyarat bahwa mobil akan tetap berjalan lurus disaat mobil melalui jalan yang mempunyai persimpangan.

447

Gambar 9.121. Rangkaian Lampu Hazard Dengan Sumber Arus Melalui Kunci Kontak (Toyota 2000:5-39)

Gambar 9.122. Rangkaian Lampu Hazard Dengan Sumber Arus Listrik Langsung Dari Baterai (William H 1979 :155)

448 g) Lampu Penerangan Awal
Dengan lampu penerangan awal pengemudi akan mudah melihat ruangan kemudi untuk mempersiapkan menghidupkan mesin kendaraan pada malam hari. Lampu penerangan awal ini terletak pada bagian ruang kemudi di dekat silinder kunci kontak. Lampu akan menyala untuk waktu kira-kira 30 detik setelah pengemudi membuka pintu mobil dengan kunci. Lampu akan hidup kembali untuk waktu yang sama apabila pengemudi mengulang membuka kunci pintu mobil dan menutup pintu kembali. Kemudian lampu akan segera mati setelah 0,5 detik apa bila kunci kontak diputar ke posisi ON diantara waktu 30 detik tersebut. Lampu penerangan awal bekerja berdasarkan pada sakelar yang terdapat pada kunci pintu mobil. Pintu mobil akan terbuka jika kunci pintu diputar ke kiri dengan sudut 30 derajat dan lampu penerangan awal akan bekerja jika kunci pintu diputar 10 derajat lagi ke kiri seperti terlihat pada gambar 9.123 di bawah ini.

Gambar 9.123. Posisi Kunci Pintu Saat Pintu Dibuka dan Saat Lampu Penerangan Awal Bekerja (A.P Young 1978 :235)

Gambar 9.124. Rangkaian Lampu Penerangan Awal (A.P. Young 1978 :236)

449
Perkembangan sistem penerangan pada mobil terus berkembang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pengemudi. Walaupun demikian fungsi dari lampu-lampu pada sistem penerangan tetap sama. Perkembangan teknologi untuk sistim penerangan ini lebih banyak diarahkan pada penyempurnaan dari teknologi yang dipakai sebelumnya .

6. Sistem Pembersih Kaca (Wiper)
Jaringan kelistrikan sistem pembersih kaca terdiri dari motor penggerak pebersih kaca, pembersih kaca, sakelar motor penggerak, motor pompa air pembersih, sakelar motor pompa dan kelengkapan lainnya. Jaringan kelistrikan sistem pembersih kaca ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 9.125. Jaringan Kelistrikan Sistem Pembersih Kaca ( Toyota 2000:5-43) a. Motor Penggerak Pembersih Kaca (Motor Wiper) Motor penggerak pembersih kaca atau lebih dikenal dengan sebutan motor wiper berfungsi untuk menggerakkan daun pembersih kaca. Pada gambar dibawah terlihat potongan dari sebutan wiper dengan dua kecepatan . Motor wiper adalah merupakan motor listrik yang menggunakan magnet permanen pada statornya dan armature pada sebagai rotornya. Poros rotor ditumpu oleh dua buah bola agar bunyi dan putaran rotor dapat lebih halus dan lebih lembut . Pada ujung poros rotor terdapat gigi yang menggerakkan gigi penggerak daun pembersih kaca. Kemudian pada gigi tersebut terdapat plat nok (cam plate) yang berfungsi sebagai sakelar autostop.

450

Gambar 9.126. Potongan Motor wiper (JH Haynes 1978:235)

Gambar 9.127.Jaringan Kelistrikan Motor wiper Dengan Dua Tingkat Kecepatan (JH Haynes 1978 :235) Motor wiper pada gambar di atas adalah jenis motor wiper yang memiliki dua tingkat kecepatan dengan autostop.. Sikat ( brush) B,1 dan B.2 mempuyai sudut 60 derajat dimana sikat B.1 berfungsi pada putaran lambat dan B.2 berfungsi pada putaran tinggi, sedangkan sikat B.3 berfungsi sebagai sikat negatif .

451 Cara Kerja Motor wiper : 1) Pada Kecepatan Rendah
Pada saat sakelar motor wiper diposisikan pada kecepatan rendah (low speed) maka arus listrik akan mengalir dari baterai keterminal L sakelar , terminal LR1 sakelar, terminal B1, terminal B3 dan terus kemassa boda sehingga motor wiper berputar lambat.

2) Pada Kecepatan Tinggi
Saat sakelar motor wiper ditarik dua kali ke belakang atau diposisikan pada kecepatan tinggi (high speed) maka arus listrik akan mengalir dari baterai ke terminal L sakelar, terminal LB 1, terminal B2, terminal B3, dan terus ke massa bodi sehingga motor wiper berputar cepat.

3) Posisi Autostop
Fungsi autostop adalah untuk menjaga agar daun pembersih kaca dapat berhenti pada bagian tertentu dari kaca mobil sehingga tidak menghalangi pandangan pengemudi dalam mengendarai kendaraan. Tanpa autostop daun pembersih kaca akan berhenti di mana saja disaat sakelar sakelar motor wiper dimatikan.

Gambar 9.128. Posisi Autostop Bekerja (JH Haynes 1978:237)

452
b. Daun Pembersih Kaca Daun pembersih kaca adalah bagian sistem pembersih kaca yang berhubungan langsung dengan kaca mobil. Daun pembersih kaca digerakkan oleh motor wiper setelah gerakan putaran motor wiper dirubah menjadi gerak bolak balik melalui lengan engkol. Biasanya daun pembersih kaca ini terbuat dari bahan yang lembut dan tahan terhadap perubahan suhu yang relatif tinggi. Pergerakan daun pembersih kaca dibuat searah dan dapat dibuat searah dan dapat dibuat berlawanan arah antara daun pembersih yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 9.129. Daun Pembersih Kaca Dengan Gerakan Searah dan Mekanik Pemindah Tenaga D

Gambar 9.130.Daun Pembersih Kaca Dengan Gerakan Berlawanan Arah ( Chek.-Chart 1978 :264)

453
c. Sakelar Motor Wiper Sakelar motor wiper dipasangkan diantara sumber tenaga dengan pemanasan motor wiper. Sakelar motor wiper tidak mengambil arus listrik dari sakelar pengapian atau kunci kontak. Sakelar motor wiper dapat dipasangkan pada panel instrumen. Sakelar motor wiper yang dipasangkan pada panel instrumen biasanya dioperasikan dengan jalan ditarik. Tarikan pertama digunakan untuk kecepatan lambat dan tarikan berikutnya untuk kecepatan yang lebih tinggi. Sedangkan sakelar yang dipasangkan pada kolum kemudi biasanya dioperasikan dengan tuas, dimana pada tuas tersebut sekaligus dipasangkan juga sakelar untuk penggerak pompa air pembersih. d. Motor Pompa Air Pembersih

Gambar 9.131. Ujung saluran air pembersih kaca yang dipasangkan langsung pada daun pembersih kaca (Chek-Chart 1978 : 264)

454
Fungsi pompa air pembersih adalah untuk menyemprotkan air pada permukaan kaca yang sudah kotor agar mudah dibersihkan sebelum motor wiper dihidupkan. Motor ini diletakkan berdekatan dengan tangki air pembersih. Biasanya sakelar motor pembersih kaca dibuat menjadi satu bagian dengan sakelar motor wiper . Cara kerjanya adalah sebagai berikut; jika sakelar motor pompa dihidupkan maka terminal W dan E pada gambar dibawah akan terhubung. Arus listrik dari baterai akan mengalir ke fusible link, IG switch,, fuse wiper, motor, W, E, dan terus ke massa bodi sehingga motor bekerja memompakan air pembersih kaca. Agar air pembersih kaca ini dapat membasahi kaca dengan baik maka pada ujung salurannya dilengkapi nozzle. Kemudian ada ujung saluran air pembersih ini yang dipasangkan langsung pada daun pembersih kaca sehingga air pembersih dapat membasahi seluruh kaca dengan baik seperti terlihat pada gambar berikut ini:

e. Intermitten wiper

Gambar 9.132.Jaringan kelistrikan Intermitten wiper (Toyota 2000:5- 44) Intermitten wiper adalah penggunaan wiper yang terputus–putus jalannya. Kerjanya diatur oleh relai pengontrol berdasarkan sistem elekronik .

455
Dimana relai akan mengatur kerja relai magnet 0,5 detik ON dan 4,5 detik OFF. Berbeda dengan sistim pembersih kaca sebelumnya, disini sumber arus listriknya diambilkan dari sakelar utama atau kunci kontak. Kemudian sakelar motor wipernya terdiri atas empat posisi yaitu OFF, IN, LOW, dan HI. Posisi INT adalah merupakan disaat motor wiper dioperasikan secara terputus –putus (intermitten wiper) dan memiliki dua kecepatan juga yaitu kecepatan lambat dan kecepatan tinggi. Rangkaian dan cara kerja intermitten wiper ini dapat dilihat pada gambar berikut ini: Cara Kerja Intermitten wiper 1) Disaat Sakelar IG dan INT di ON kan Disaat sakelar IG dan INT di ON kan maka arus listrik dari baterai akan mengalir .ke terminal 3 relai, R1, Tr1 dan terus ke massa. dari terminal 3 arus juga mengalir ke gulungan, D4, Tr1, terminal 4, sakelar wiper dan massa sehingga gulungan menjadi magnet dan P3 akan berhubungan dengan P2. Akibatnya arus listrik dari terminal 3 relai akan mengalir ke “a” , P2, P3, terminal 1, sakelar INT, Motro wiper , E dan massa bodi dan motor wiper akan bekerja pada putaran lambat, lihat gambar 9.133 di atas. Saat motor wiper telah berputar bersamaan dengan pengisian kondensor (C1)

Gambar 9.133. Jaringan Kelistrikan Intermitte wiper Saat Pengisian (Toyota 2000:5-45)

456
Pada saat motor wiper mulai bekerja maka pelat nok akan menghubungkan terminal S1 dangan S3 sehingga arus listrik dari baterai akan mengalir ke sekering, terminal S, titik kontak S3, terminal S1 terminal positif (+), terminal 2 relai, dioda D2, condensor C dan terus ke massa melalui Tr1 dan kondensor C1 mulai diisi. Kemudian bila kondensor C1 telah terisi penuh maka pengisian kondensor akan terhenti dan ini mengakibatkan tegangan di C naik dan arus listrik akan mengalir ke D3 sehingga Tr2 ON dan Tr1 OFF. Akibatnya arus listrik dari terminal 3 mengalir ke R1, Tr2, teminal 4 dan terus ke massa bodi. Karena Tr1 OFF maka P3 akan berhubungan dengan P1 dan arus listrik dan arus listrik dariterminal 2 mengalir ke P1, P3, teminal +1, motor, terminal E dan terus ke massa bodi dan motor masih tetap berputar. Saat pelat nok berputar satu putaran maka titik kontak akan melepaskan hubungan antara S1 dengan S3. Selanjutnya S1 akan berhubungan dengan S2 dan ini mengakibatkan motor berhenti berputar. Arus listrik yang ke terminal 2 juga akan berhenti mengalir dan mengakibatkan kondensor melepaskan isinya melalui base Tr2 ke massa bodi. Setelah kondensor C1 selesai melepaskan isinya Tr2 akan OFF dan mengakibatkan Tr1 ON dan motor wiper akan kembali bekerja dengan kecepatan rendah.

7. Menguji dan Memperbaiki Sistem Penerangan dan
Wiring
a. Menguji Sistem Penerangan dan Wiring
Selain pemasangan komponen-komponen sistem penerangan hal penting yang harus dilakukan juga adalah, pengujian sistem penerangan. Komponen-komponen yang perlu kita periksa pada sistem penerangan dan wiring adalah: baterai, saklar utama, sekering, lampu-lampu, relay, wiring atau pengkabelan.

1) Baterai
Baterai dapat diperiksa dengan baterai checker, sehingga dapat diketahui kondisi baterai apakah masih baik atau sudah jelek. Jika hasilnya masih baik berarti masih dapat digunakan sedangkan apabila kondisinya kurang baik maka perlu ditambah air accu atau perlu dicharger.

2) Saklar utama
Avometer dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan memeriksa kondisi saklar utama. Apabila kerja dari saklar utama sudah benar maka tugas selanjutnya tinggal menyambungkan dengan komponen-komponen sistem penerangan yang lain. Apabila hubungan-hubungannya tidak baik maka perlu dilakukan perbaikan.

457 3) Fuse
Fuse berfungsi untuk menyalurkan dan membatasi arus listrik yang mengalir pada rangkaian dalam suatu sistem. Untuk itu fuse perlu diuji kondisinya apakah masih dapat digunakan ataukah harus diganti. Untuk menguji kodisi fuse secara visual dapat dilihat dari kawat yang terdapat dalam house fuse apakah sudah putus atau masih tersambung. Kalau tidak dapat dilihat secara visual, maka dapat digunakan avometer. Apabila kita lihat filamen pada fuse terputus berarti kondisi fuse jelek. Apabila terlihat tidak putus maka kita perlu memastikannya dengan bantuan avometer. Apabila dihubungkan kedua ujung fuse dengan ohmmeter jarum menunjuk berarti kondisi fuse masih baik dan apabila jarum tidak menunjuk (pada posisi hambatan terbesar) berarti kondisi fuse jelek. Maka perlu diadakan penggantian.

4) Lampu
Pengujian lampu apabila dalam kondisi terpasang tidak menyala, maka terlebih dahulu lampu kita lepas dari dudukannya. Kemudian kita gunakan ohmmeter untuk memeriksanya. Kemudian hubungkan kedua colok/probe ohmmeter dengan kedua kaki filamen lampu. Apabila jarum menunjuk berarti lampu tidak putus dan kita periksa komponen yang lain. Apabila jarum tidak menunjuk berarti lampu putus, maka harus diganti.

5) Relay
Sistem penerangan tidak bekerja salah satu penyebab diantaranya adalah relay rusak. Kerusakan relay ini biasa disebabkan oleh lamanya pemakaian. Untuk selang yang menggunakan 4 kaki, terminal-terminal yang ada yaitu terminal 30,85,86,87. Cara pengujian relay kita dapat menggunakan ohmmeter dan baterai. Pertama kita hubungkan kedua colok ohmmeter dengan terminal 85 dan 86. Apabila jarum menunjukkan angka tertentu, berarti kumparan penghasil medan magnet tidak putus. Untuk memastikan kerja dari relay kita bisa menggunakan baterai. Terminal 30 dan 86 kita hubungkan dengan terminal (+) baterai dan terminal 85 kita hubungkan dengan (-) baterai sementara tes lamp kita hubungkan antara (-) baterai dengan terminal 87 relay, bila tes lamp menyala berarti relay dalam keadaan baik, Bila tidak menyala berarti relay harus diganti.

6) Wiring (Pengkabelan)
Kerusakan pada wiring ini biasanya disebabkan karena keteledoran mekanik dan usia mobil. Pemasangan pengkabelan yang tidak rapi setelah proses perbaikan mesin ataupun body sering menjadi penyebab kesalahan ataupun kerusakan wiring. Apabila pemasangan tidak rapi maka kabel-kabel akan mudah tersentuh oleh pengguna ataupun alat pada saat proses perbaikan, hal ini akan berakibat kabel putus atau hubungan singkat. Karena usia mobil juga dapat menimbulkan kerusakan pada kabel-kabelnya. Sebagai contoh mobil yang sudah tua maka pada pengkabelannya akan timbul kerak-kerak putih dan

458
bila sering terjadi tekukan-tekukan maka kabel akan cepat putus. Untuk itu perlu diadakan pengecekan dan pengujian pada wiring jika terjadi sistem penerangan tidak bekerja dengan baik. Untuk melakukan pengujian wiring maka kita memerlukan alat bantu Avometer. Untuk mengetahui putus tidaknya suatu kabel dan untuk melihat ada tidaknya tegangan pada suatu kabel. Cara memeriksa / menguji suatu kabel yaitu dengan jalan menghubungkan kedua colok ohmmeter dengan kedua ujung kabel. Bila ada hubungan (jarum bergerak) berarti kabel putus, maka perlu kita perbaiki.

b. Memperbaiki Sistem Penerangan dan Wiring
Untuk melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring harus mengetahui sirkuit/diagram atau jaringan-jaringan kabel kelistrikannya, sehingga untuk melakukan perbaikan adanya gangguan-gangguan pada sistem penerangan dengan mudah dapat ditelusuri. Adapun gangguan-gangguan pada sistem penerangan biasanya dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain: 1) Lampu tidak menyala 2) Lampu menyala tidak terang 3) Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat, dan tidak terang waktu mesin berputar lambat. Gangguan-gangguan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Adapun bagaimana cara menguji dan mencari gangguan tersebut akan dijelaskan dalam uraian ini. 1) Lampu Tidak menyala Peristiwa ini dapat terjadi pada semua lampu atau sebagian saja. Tidak menyalanya lampu dapat disebabkan oleh: a) Putusnya filamen dari lampu tersebut b) Tidak adanya aliran arus Apabila Semua lampu tidak menyala, maka kemungkinan besar yang dapat terjadi adalah tidak adanya aliran arus pada sakelar lampu. Untuk itu, dapat dilakukanlah hal-hal sebagai berikut: a) Periksalah sekering yang menghubungkan saklar lampu dengan baterai • Apabila sekering putus, maka gantilah sekering. Hidupkan lampu-tampu. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh sekering yang putus • Apabila sekering tidak putus, maka periksalah terminal sekering yang menuju ke lampu tester, kalau lampu tester tidak menyala berarti hubungan sekering ke baterai lewat ampermeter putus. Untuk itu, periksalah sambungannya dari kemungkinan kendor atau terlepas. Kemudian keraskan dan betulkan. • Apabila pada terminal sekering ke baterai ada aliran listrik, maka selanjutnya periksa terminal sekering yang menuju ke sakelar lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila pada terminal tersebut tidak

459
ada aliran, berarti kedudukan sekering kendor atau jepitannya berkarat. Untuk ini keraskan dudukan sekering dan bersihkan kotoran atau karat yang ada, hingga terminal dapat mengeluarkan arus listrik. Sekarang hidupkan lampu, apabila lampu menyala, berarti gangguan disebabkan oleh duduknya sekering tadi.

b) Periksalah terminal B pada sakelar lampu dengan menggunakan lampu
tester • Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada kebocoran atau hubungan putus di antara kotak sekering dengan sakelar lampu. Periksa hubungannya dari kemungkinan kendor berkarat, hubungan terbuka dan hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu. • Kalau lampu tester menyala, berarti pada terminal tersebut terdapat aliran arus. Selanjutnya hidupkan lampu. Bila lampu-lampu tetap tidak menyala, maka perbaiki atau ganti sakelar lampu. 2) Lampu Besar Tidak Menyala Kalau semua lampu besar tidak menyala, berarti tidak ada aliran arus pada sakelar dim. Untuk menentukan di manakah letak gangguan, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut: a) Hidupkan lampu parkir • Kalau lampu parkir tidak menyala, berati gangguan terletak di antara baterai dengan sakelar lampu. • Kalau lampu parkir menyala, berarti gangguan terletak di antara sakelar lampu dan sakelar dim. Maka lanjutkan pemeriksaan.

b) Periksa terminal L pada sakelar lampu yang menghubungkan sakelar dalam
dengan sakelar lampu. Sakelar harus dalam posisi hidup dan hubungkan terminal tersebut dengan massa melalui lampu tester. • Apabila lampu tester tidak menyala, berarti tidak ada aliran listrik. Maka bongkar dan perbaiki sakelar lampu atau ganti dengan sakelar baru. • Apabila lampu tester menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan sakelar dim. c) Periksa terminal L yang masuk ke sakelar dim dengan menggunakan lampu tester • Kalau lampu tester tidak menyala, berarti ada hubungan terbuka atau hubungan singkat di antara sakelar lampu dan sakelar dim. Periksa hubungannya dan kemungkinan putus, kendor, berkarat atau hubungan singkat. Jika demikian, maka lakukanlah perbaikan. • Kalau lampu tester menyala, berarti ada arus masuk. Selanjutnya periksa terminal ke lampu-lampu dengan menggunakan lampu tester. Apabila pada terminal tersebut tidak keluar arus, berarti sakelar dim rusak. Selanjutnya bongkar dan perbaiki atau ganti dengan yang baru. Apabila dari terminal keluar arus, maka periksa dan perbaiki hubungan antara sakelar dim dan lampu, hingga lampu menyala.

460

3) Sebuah Lampu Tidak Menyala Kalau sebuah lampu tidak menyala, maka kemungkinannya adalah putusnya hubungan antara lampu dengan sakelar dim. Untuk itu lakukan pemeriksaan sebagai berikut: a) Periksa bola lampu • Kalau bola lampu putus, maka ganti dengan lampu yang baru. • Kalau bola lampu tidak putus, maka periksa hubungan masa pada dudukan lampu dari kemungkinan longgar dan berkarat. Jika demikian, maka perbaiki terlebih dahulu, hingga hubungan masa lampu baik. Kalau sekarang lampu menyala, berarti gangguan terletak pada massa lampu tadi. Kalau lampu masih belum menyala, maka lanjutkan dengan pemeriksaan. b) Periksa hubungan antara lampu Periksa hubungan antara lampu dengan sakelar dim, dari kemungkinan putus, sambungan kendor atau hubungan singkat. Jika demikian, maka perbaiki sambungan atau ganti kabel hingga lampu menyala. 4) Semua Lampu Menyala Tidak Terang Kalau semua lampu menyala tidak terang, berarti arus yang mengalir ke lampu-lampu adalah kecil. Maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut: a) Periksa lampu tanda pengisian atau jarum ampermeter pada dashbord • Kalau lampu tanda pengisian atau ampermeter menunjukkan tidak ada pengisian (discharge), berarti tidak terangnya nyala lampu disebabkan oleh pemakaian arus yang tidak seimbang terhadap kapasitas sumber arus. Untuk ini, maka kurangi pemakaian alat-alat listrik atau percepat putaran mesin. Apabila dengan mengurangi pemakaian alat atau penambahan putaran mesin, masih belum ada pengisian, maka perbaiki sistem pengisian terlebih dahulu, hingga terjadi pengisian. • Kalau lampu tanda pengisian atau jarum ampermeter menunjukkan adanya pengisian, maka gangguan terdapat pada sistem penerangan. Untuk ini, maka lanjutkan pemeriksaan pada sistem penerangan. b) Lepaskan semua bola lampu, periksa dudukan bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat. Jika terjadi hal demikian, maka perbaiki kedudukan bola lampu hingga baik hubungan masanya. c) Periksa dari kemungkinan terjadi hubungan singkat sebagai berikut: • Setelah semua bola lampu terlepas, tempatnya sakelar lampu pada posisi OFF. Periksa hubungan kabel lampu dengan masa dengan menggunakan ohmmeter atau multitester. Apabila jarum tester bergerak ke kanan, berarti terdapat hubungan pendek dan bila jarum tester, tidak bergerak, berarti tidak terdapat hubungan singkat. • Apabila semua lampu menyala tidak terang, maka hubungan singkat terjadi antara sekering dengan ampermeter.

461
• Apabila tidak terdapat hubungan pendek, maka periksa sambungansambungan. Bersihkan dan keraskan sambungan yang kotor dan longgar. • Periksa pula sakelar lampu dan sakelar dim dari aus dan kotor. Perbaiki dan bersihkan keausan dan kotoran karena dapat menjadi hambatan yang besar. 5) Salah satu lampu menyala tidak terang Apabila terjadi keadaan seperti ini, maka lakukanlah pemeriksaan sebagai berikut: a) Periksa kedudukan bola lampu dari kemungkinan kendor dan berkarat. Bila demikian, kokohkan kedudukan bola lampu dan bersihkan karatnya. Apabila sekarang lampu menyala terang, berarti gangguan pada dudukan bola lampu tadi. b) Apabila nyala lampu masih tidak terang, maka periksalah hubungan kabel lampu tersebut yang menuju ke sakelarnya. Keraskan hubungan yang longgar, bersihkan karat dan kotoran yang menempel pada sambungan. Bila dengan demikian lampu masih menyala tidak terang, maka periksalah kabel dan kemungkinan hampir putus. Gantilah kabel yang hampir putus, supaya lampu menyala terang kembali. 6) Lampu menyala terang apabila mesin berputar cepat dan tidak terang apabila mesin berputar lambat. Pada peristiwa ini, besarnya aliran listirik pada lampu-lampu tergantung putaran mesin. Makin cepat putaran, makin besar arus yang mengalir ke alat-alat, dan sebaliknya. Jadi tidak stabil, berarti alat penyetabil arus yaitu baterai tidak bekerja. Baterai tidak dapat menampung kelebihan arus dari sistem pengisian dan tidak dapat menambah kekurangan arus ke alat-alat, sewaktu sistem pengisian menghasiikan arus kecil. Untuk itu, maka periksa elektrolit dalam baterai. Kalau elektrolitnya habis, maka tambah accu. Kalau Jumlah elektrolit cukup, tetapi nyala lampu tidak terang, menandakan baterai tidak dapat menyimpan arus lagi. Pada sel-seinya sudah terjadi hubungan singkat. Oleh karenanya ganti baterai.

7) Lampu-lampu lekas putus Apabila terjadi umur lampu yang pendek, menandakan bahwa kekuatan lampu berada jauh di bawah kekuatan sumber arus. Jadi tegangan arus terlalu tinggi. Untuk ini, maka periksa regulator tegangannya, dan setelah tegangan listrik pengeluaran dinamo/alternartor tidak lebih dari 14,8 volt. Kalau dengan menyetel regulator tegangan, tidak diperoleh penurunan tegangan, maka periksa dinamo/alternator. 8) Gangguan pada lampu tanda belok (lampu sein) Sistem lampu sein ini dapat mengalami berbagai gangguan yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu: (1) adanya kerusakan pada bagian-bagian

462
sistem pada rangkaian tersebut, misalnya sekering putus, flaser rusak, saklar/switch rusak atau bola lampunya putus dan sebagainya; (2) adanya tahanan yang terlalu tinggi, hal ini bisa terjadi pada jaringan kabel, sambungan berkarat atau connectornya juga mungkin berkarat dan longgar; dan (3) tegangan, listrik yang terlalu rendah. Hal-hal tersebut dapat langsung kita saksikan dengan panca indera kita seperti lampu tidak menyala dan lampu tidak berkedip. Gangguan yang terjadi pada sistem lampu belok adalah kunci kontak tidak dapat menghubungkan arus dengan baik. Dari hal tersebut dapat disebabkan oleh: (1) adanya sambungan yang longgar antara kabel penyalur dengan terminal kunci kontak; (2) adanya kerusakan pada kunci kontak itu sendiri, misalnya telah mengalami keausan yang banyak. Sambungan yang kendor dapat langsung kita periksa dengan mudah menggunakan tangan. Kalau ternyata kendor maka perbaikan yang harus diiakukan yaitu dengan mengeraskan sekrup-sekrupnya. Untuk kerusakan pada kunci itu sendiri tidak dapat diperiksa dengan panca indra namun harus menggunakan sebuah multitester atau ohmeter. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur besarnya tahanan antara terminal B (AM) dengan, terminal St kunci kontak dalam keadaan starter dan netral. Dalam keadaan starter, tahanannya harus nol. Dan dalam keadaan netral, tahanan kedua terminal haruslah tak terhingga. Gangguan-gangguan yang terjadi dalam kunci kontak maupun pada kunci sambungan selain kendor sebagian besar disebabkan oleh adanya karatan, dengan membersihkan karat gangguan akan teratasi. Hal-hal pada sekering yang dapat menjadi gangguan ialah sekering putus, dudukannya sekering kurang kuat dan dudukannya berkarat. Keadaan ini dapat mengakibatkan tidak mengalirkan arus listrik dari baterai ke alat-alat bantu listrik dan tegangan listrik yang bekerja pada alat-alat bantu menjadi terlalu rendah. Apabila terjadi hal yang demikian, berarti alat-alat bantu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Untuk itu, maka sekering yang putus harus segera diganti, dudukan yang longgar dan berkarat harus segera di kokohkan dan dibersihkan.

D. RANGKUMAN
1. Sistem starter adalah suatu sistem yang dapat merubah energi listrik menjadi energi mekanik sehingga bisa mengerakkan motor starter untuk menghidupkan mesin 2. Sistem pengapian pada mobil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai dari 12 Volt menjadi 10 KV atau lebih dengan menggunakan koil pengapian, dan mendistribusikan tegangan tersebut ke masing-masing busi melalui distributor dan kabel tegangan tinggi sesuai saat pengapian. 3. Gangguan pada sistem pengapian, biasanya disebabkan oleh misfiring pada saat terjadinya pengapian. Pemeriksaan sistem pengapian apabila terjadi gangguan dapat dilakukan dengan pemeriksaan loncatan bunga api, tes busi, pemeriksaan distributor dan lain-lain.

463
4. Sistem pengisian berfungsi untuk mengisi (recharger) baterai sekaligus memenuhi kebutuhan suplai arus listrik pada sistem kelistrikan mobil. 5. Pada dasarnya dalam perbaikan suatu komponen pada sistem penerangan diperlukan pengetahuan tentang jaringan/kabel, diagram dari rangkaian dan juga diagram komponen itu sendiri, sehingga dengan model kompetensi ini diharapkan mampu melakukan perbaikan dengan melakukan pemeriksaan dan pengujian dari masing-masing kamponennya. Maka dengan dasar tersebut mampu melakukan perbaikan sistem penerangan dan wiring itu sendiri.

E. EVALUASI
1. Apa yang dimaksud dengan elektron, konduktor, dan isolator? 2. Tulis dan jelaskan parameter utama untuk membeli sebuah baterai mobil ! 3. Tuliskan dan jelaskan 5 komponen-komponen sistem pengapian! 4. Buatlah rangkaian sistem pengapian ! 5. Tuliskan dan jelaskan 5 komponen-komponen sistem starting! 6. Buatlah rangkaian sistem starter ! 7. Jelaskanlah salah satu cara kerja sistem pengisian elektronik ! 8. Tuliskan dan jelaskan 5 komponen-komponen sistem kelistrikan bodi mobil! 9. Buatlah rangkaian sistem penerangan lampu depan ! 10. Jelaskan prosedur trouble shooting pada sistem pengapian dan penerangan!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->