HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

ialah sikap pembaca yang aktif. Dengan demikian. pada peringkat yang lebih tinggi. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang. dan pengalamannya. pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. melainkan berarti pula memahami. 2. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. perasaan. Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap. membandingkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. menerima. menolak. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. Sebenarnya.

Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. . 2) usia mental. dan 11)tingkat kemampuan membaca. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. 6) ras. yakni: 1) intelegensi. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. 4) tingkat sosial ekonomi. 10)kemampuan persepsi. Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca. Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut. Karenanya. 3) jenis kelamin.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. 5) bahasa. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. 8) sikap. hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. 9) pertumbuhan fisik. 7) kepribadian.

Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut.Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age). anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). IQ x CA MA = _______ 100 . yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. Untuk membedakan IQ dan MA. bahkan sangat sering. namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya. benar. IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. dengan MA dan IQ. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA. untuk tes yang sama pula. ialah usia mental. sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya.

2 79.x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6. 110 x 6.MA IQ = --------.6 12 .2 = ------.0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.0 dengan cara berikut ini.= 6.

x 100 6. namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi. yang banyak tingkatannya itu. tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan. Harris (1970). Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting. maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas.6 dan 6. .0).6 = ----. berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum.0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca. diketahui (6.x 100 CA 6. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental. umpamanya. dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan. bukan menjelaskannya.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ.

tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun.Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. Namun. Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. prosedur mengajar. Namun demikian. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif. bahkan mungkin lebih penting. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. Dia . sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. dikenal pula hal yang sama pentingnya. semenjak itu. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. prosedur dan metode mengajar. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran.

kesiapan membaca.35 dan 0. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas. . 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0. namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. seperti yang tertera di bawah ini. dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. motivasi. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. prosedur.80. Ada lagi dua orang ahli. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal.

Jika diketahui bahwa usia mental 7. mampu membaca sampai peringkat empat saja D. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C. Tes Formatif 1 1. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2. mampu membaca di atas peringkat empat .8 dan usia kronologis 6. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu.5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas. 120 C.0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. dapat membaca 50 kpm B. 110 B. 130 D. > 130 maka dapat 3.

tiga setengah tahun D. di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja.4. lima tahun C. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A. empat setengah tahun 5. empat setengah tahun B. Gates menemukan data bahwa besarnya kelas. antara enam dan enam setengah tahun D. enam tahun C. Masih banyak faktor lain yang sama . Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. tiga tahun C. enam setengah tahun B. enam tahun D. enam setengah tahun 6. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A. dua tahun B.

20%).pentingnya. Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca. namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan. tingkat kesehatan yang rendah. sebab jauh sebelumnya. dan rendah. yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi. ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. menengah. Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu. yakni tahun 1940. Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . . Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah. Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. sampai 50%. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan. sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%).

maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan. Sayang sekali.ekonomi. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. tingkat motivasi. dan bahasa. tempat kediaman yang tidak stabil. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar. yakni latar belakang pengalaman. dan tekanan ekonomi. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. Di pihak lain. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. Di sisi lain. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak . atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian. membaca buku dan majalah. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman.kepadatan lingkungan.

Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah. Dengan alasan tekanan ekonomi. Kakak-kakak mereka. dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa. atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. atau surat kabar di rumah. anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.memiliki pengalaman yang luas. apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. Akibatnya. banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka. majalah. tidak mau membaca. Tidak seorang pun menyukai kegagalan. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. temanteman.

Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang . Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. bahkan sebaliknya. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. menyatakan persetujuan atau penolakan. klause-klause terikat. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. tidak mampu berbahasa formal. deklaratif. Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah. dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Struktur yang kompleks. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah. dan imperatif.menerus itu. meminta sesuatu. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana. Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

yakni melihat dan mendengar. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. yaitu stimulus. mendengar. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. tidak percaya diri. gelombang cahaya. langkah pertama. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. Seperti telah disinggung di muka. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris.memiliki motivasi. asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. mengecap. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi. Seperti dalam proses sensoris. mencium. Namun. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus. dan meraba. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. 4. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. dan 4) indentifikasi kata-kata.

Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda. pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. Akan tetapi. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. Sebaliknya. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat. maka semakin . ialah meminta. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus. tetapi kita membawa makna kepadanya. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu. Langkah kedua dalam persepsi. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/. tidaklah memberikan makna apa pun. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. Sebagai contoh. sesuai dengan namanya. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas.

mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. latar belakang budaya. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. bab. kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut. Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). seperti pengalaman lalu. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. . Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Sama halnya. dan asosiasi emosional dan fisik. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. bahkan cerita. banyak berkunjung ke toko buku. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. paragraf. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. Sesungguhnya. banyak berdarma wisata.

Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan. Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. . Dengan kata lain. anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan. Untuk mengembangkan kemampuan membaca. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala. kedinginan. berpacu meluncur di salju. Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. dan kesengsaraan. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik.

bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. ada balam. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. dan sebagainya. Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. . anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir. macam-macam gelas. bentuknya. menganalisis. Demikian juga dengan kata bunga. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. Bunga itu bermacam-macam warnanya. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. ada merpati. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. Setelah pengalamannya berkembang. dan menyintesis. Dengan kata lain. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. Sewaktu bermain rumah-rumahan. wanginya. mulai dari daerah-daerah yang konkret. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. ada perkutut. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. dan sebagainya. punai. ukurannya. jenisnya. sangat nyata dan khusus. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. dan sebagainya. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik.

dan berbagai kegiatan kelas. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. kata-kata.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks. emosi. waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. pengalaman. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu. dan kalimat dalam wacana. permainan. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. . dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak. Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. dan bahkan kepribadian juga. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. tetapi oleh kebudayaan. cerita. gambar. Oleh karenanya. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. Penampilan audio-visual. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. kematangan. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. 5.

pada usia empat bahkan tiga tahun. demikian seterusnya. kalau dia tidak mau tersesat. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. berjalan pada usia delapan bulan.dan bilamana berakhir. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. Pendek kata. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. suasana hidup yang baru. Pekerjaan baru. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. Namun. dan lari . Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan.

Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. . ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Membaca bukanlah proses instinktif. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Pertama. Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental.pada usia sembilan bulan. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Oleh karena itu. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya. Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. Namun.

membaca pemahaman. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor. pengembangan kosakata. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. metode.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. atau pun tingkatan-tingkatan akademis. 1) Keterampilan itu objektif. Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna. Oleh karena itu. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari. melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. dan pelajaran keterampilan. . 6. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. dan (3) Kino sangat miskin. Oleh sebab itu.B. hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu. dan penerjemahan atas suatu fakta. Untuk menjawab pertanyaan kedua. penginterpretasian. Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. pengenalan. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. di kota C. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. . Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan. apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya.

proses perseptual. dan penginterpretasian informasi. Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. seperti pengenalan ciri-ciri melati. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. proses sensoris. RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. /C/ kapital. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan. proses perkembangan. pengidentifikasian. dan proses perkembangan keterampilan. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan. . dan kenanga sebagai bunga. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. namun prosesnya belum tentu lengkap. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan. ros.d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi. dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama. /c/ kecil.

Dengan membaca dan memahami isi bab ini. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya.Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda. Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti. anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang. .

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. baik teorinya sendiri maupun modelnya. yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. dan spesifik. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu. Teori kinetik untuk gas itu. Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. panas. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969).MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. meliputi sejumlah hukum yang valid. . Sebagai contoh. kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. Namun. cermat. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu. dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model. tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini.

yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas". b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an. Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. Sayang. e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. proses informasi. c) menjelaskan "model membaca interaktif".Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca. Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. psikolinguistik dan linguistik. Secara lebih khusus. Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. 2. Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. Model membaca itu . Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca.

Namun. yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up. .ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive. Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model.

Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder. Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. Sebaliknya. MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan.MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama. dekode dan enkode. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang.

Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu.komunikasi tulis). Menurut MMBA. Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin. Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. Para penulis berbagai bidang profesi. Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. Gagne (psikologi). seperti: Flesch (jurnalistik . Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. Setelah itu. Di situlah tempat pembaca memperoleh makna.

tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. Itulah sebabnya dalam metode Fonik. tetapi /kh/atau /ek/. Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. Dalam Metode ini. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. huruf "K" diucapkan /ka/. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya. Fries (1962). huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua.C. huruf "L" diucapkan /el/. metode Fonik. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya. metode Kata Kunci. Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. metode Silabik. metode Alfabet. dan sebagainya. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. huruf "D" tidak . Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain.

proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat). tetapi /dh/ atau /ed/. setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya. tidak interaktif. dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. Demikian seterusnya. sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. Dengan demikian. (5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. Oleh karena itu. . Menurut pendapatnya. Salah seorang tokoh MMBA. (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf. Dengan bantuan alat visualnya. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu.diucapkan /de/.

. setelah maknanya dipahami. Dengan demikian. kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD. (8)Akhirnya. (7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu. dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin". Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA.(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD).

Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3. Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .

yakni dari bacaan. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. informasi grafis itu semakin berkurang . menolak. Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa. atau mungkin memperhalus masukan tersebut. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima.bacaan. Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. Oleh karena itu. Berlainan dengan MMBA. dan grafik. sintaksis. bukan dari otak pembacanya. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca. MMAB mengajukan hal lain. Ketika informasi itu diproses. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca.

Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf. maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah .pula tingkat keperluannya. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi. Psikolinguis yang lain. memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu. Jika prakiraan itu tidak cermat. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini.bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. Shuy (1977). Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga. serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya.

asumsi tentang prinsip kerja mata. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat. mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? . kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). Mungkin. Namun. beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut. Dengan bantuan prediksi. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time". Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa. Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. Dengan MMAB. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. Memang benar. bacalah wacana di bawah ini.

dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang. Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Dengan demikian. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. Bagi Smith. Untuk memahami wacana yang dibacanya. merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain.Nah. dibelakang matanya. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). Sekarang. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. Informasi visual dan informasi . dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca.

Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan. jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca. Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. sangat perlu diperhatikan. Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. Gambar ini . Sebaliknya. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut.

Kita melihat sesuatu. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka. Lebih dari itu. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. mata kita sama sekali tidak melihat. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik.memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak. kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. Oleh karena itu. Namun sesungguhnya. . Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya. kemudian masuk ke dalam otak. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan.

Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata. sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Sebuah perkiraan. otaklah yang melihat. Dengan kata lain. otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi". Otak. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. berita yang masuk melalui syaraf. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. sudah tentu. tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. Dengan demikian. Dengan kata lain. Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. Bagi mereka. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir. Oleh karena itu. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. kegiatan memperkirakan. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . Jalan mios dan angka sepuluh. Padahal.kesan. jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata.

tetapi artinya tetap berbeda. dapatkah anda memahami maknanya? Ya. Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. karena penulisannya berbeda. dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. tidak perlu. seperti pepohonan. meja. binatang. Dengan demikian. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". merah. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. awan. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. gunung. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning. Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. biru. karena sistem tulisan mereka kebetulan sama. hitam.Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. kursi. dan sebagainya. ialah dengan sekali pandang. mobil. Lebih dari itu. hijau. kapal terbang. Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. . Menurut hasil penelitian. sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. nasi. sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. roti. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya. Fonik itu tidak efektif. Sekarang. bukan lambang-lambang bunyi. kereta api.

Hal ini bisa terjadi. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. dikenal istilah tunnel vision. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. yakni peristiwa penyempitan pandangan. pada saat orang sedang membaca. Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. mungkin dia itu membaca tidak efisien. TV. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. Jika pada waktu membaca. Jika sewaktu membaca.Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya. atau membaca dari belakang mata. Namun. Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. maka penglihatannya akan sangat terbatas. Akan tetapi. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami. baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. .

3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. Sayang sekali. semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. sebab masalahnya sangat relalatif.Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan . sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. 4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak. Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan. Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini. Kecemasannya itu menimbulkan TV. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. maka penyembuhannya mudah dilakukan. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca.

dan sebagainya. formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. Di samping itu. ceramah. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. Jika anak dihinggapi rasa takut. mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. dalam artian kelompok pembaca. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. Oleh karena itu. melalui film. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat. TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. penanganannya pun harus didekati secara individual. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa. bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. TV terjadi pada anak secara individual. Karena itulah. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. bukan pembacanya. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. Caranya bermacam-macam.

Secara sederhana. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik.______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir. melainkan suatu . Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut.lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977). Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan. konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Artinya. Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu. maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik. tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear. 4. Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. tidak interaktif.

Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya. informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. . penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart.proses timbal-balik yang bersifat simultan. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. PP merupakan komponen yang utama dalam model ini. Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC). Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. Oleh karenanya. Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Akan tetapi. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif.

semantik. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. sintaksis. seperti Goodman dan Ruddel. Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. semantik. Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca. sintaksis. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. leksikal. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. berbagai hipotesis dirumuskan. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita.semantik. PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. kemudian disetujui. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. ditentukan.

kalimat.yang paling layak. Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. huruf. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . dan sebagainya) ke struktur batin. manfaat. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah. tujuan. ke bagian yang menghendaki prakiraan. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca. Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca. kata). Dengan demikian. Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut. Dilihat dari bidang pengajaran. dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi.

melainkan kehadiran siswa itu sendiri. yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. Dalam praktek pengajaran membaca. Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya. hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca. Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa. Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. Sebagai contoh. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca. Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan.

sendiri. Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. Dengan demikian. Oleh karena itu. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka. Tampaknya. Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca. Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan. dan sebagainya. bercerita. baru kemudian membaca. Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang. karyawisata. Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. . Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya. namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman". meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa. pertunjukan film. diskusi dulu. Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka.

bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. Mungkin. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. Dengan pengetahuan ini. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru. mudah-mudahan apa yang telah . antisipasi. klasifikasi. Sebagai guru. yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen. bertanya dan bertanya. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. SQ3R misalnya. dan membaca untuk menguji hipotesis. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan.Dalam bidang metode pengajaran. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. membuat prakiraan. hipotesis.

yakni huruf-huruf. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. semantik. La Berge dan Samuel (1974). yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. hingga akhirnya sampai ke makna. Salah satu upaya untuk . dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. kalimat.kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik. MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. kelompok kata. Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya. mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. Kita memiliki sintaksis. dan leksikon yang bekerja secara serempak. ortografi. Memang. Dalam model Rumelhart. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. MMBA bersifat linear dan berjenjang. dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. kata-kata. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca. Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda.

MMBA merupakan model yang tertua. . metode Bunyi.membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. dan pengenkodan. Dari ketiga model membaca tersebut. berlanjut pada kilasan. yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. librarian. dan model membaca timbal-balik (MMTB). Peristiwanya terjadi di dalam otak. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks. yakni model membaca bawah-atas (MMBA). Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual. Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja. merlin. pendekod. pencatat. pendekodan. Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. model membaca atas-bawah (MMAB). Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak". lalu memasuki ikon. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca. MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. atau metode Alfabet.

MMBA dan MMAB. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. Tentukan. yakni kedua model pertama tadi. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan.Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. Menurut MMTB. Ini c ----> ini /c/. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini. bekerja secara serempak dan simultan. Ini d ----> ini /d/. Ini b ----> ini /b/. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" .

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

tersebut. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita. dan pengertian KEM. Secara khusus. Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca. fungsi. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki. Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. . f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat.

Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua.Melalui uraian bab ini. (diucapkan kata demi kata) . dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan). Anggapan itu sama sekali tidak benar. latihan menggunakan rumus KEM. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. 2. (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. Sebaliknya. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa.

Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami. ketimbang cara kedua. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya . Memang.Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. Melihat ilustrasi di atas. Justru sebaliknya. pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan. yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. Dengan pandangan sekilas saja. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya. Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah.

membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. dan jenis bacaan yang dihadapinya. Meskipun demikian. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif. dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. Menurut Tampubolon (1987). teknik. menentukan metode. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. sedangkan faktor tujuan. informasi fokus. setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. Kadang-kadang. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. informasi fokus. Demikian juga dengan kegiatan membaca. Akan tetapi sebaliknya. metode. Dengan demikian. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . Kadangkadang. pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. dan gaya membaca disebut strategi membaca. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. teknik. bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca.

dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. pikiran. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit. Idealnya. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata.kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini. pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. jadi. . Sementara itu. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Namun.

Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. namun salahseorang murid anda. Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama.3. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi. Dengan kata lain. Seperti juga kali ini. mari kita renungkan ilustrasi berikut. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah. . Sekarang. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. Gina.

Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. Melalui ilustrasi kedua. saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi. yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya.Melalui ilustrasi pertama. kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca. . selanjutnya kita sebut kemampuan visual. Melihat kedua ilustrasi tersebut. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi.

jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca. Mengapa demikian? Tentu saja. teknik-teknik membaca. Selanjutnya timbul pertanyaan. Sebelum itu. yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya. tingkat keterbacaan bahan bacaan. istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. proses berpikir dan bernalar. motivasi. Jika kita alihbahasakan. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". dan sebagainya? Oleh karena itu. Di samping itu. 4. Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. bahan bacaannya itu . Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. "speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". Masalah selanjutnya. Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit.

bacaan fiksi-nonfiksi. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca. Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. Membaca karya sastra (novel. Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. dan sebagainya. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. bacaan sosial-eksak. Di samping itu. Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. ada bacaan ringan. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai. Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. cerpen.sendiri tidak selalu sama. sedang. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. sukar. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan . Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi. Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris.

Sebagai guru. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca. Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca. anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. . yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. KEM menuntut dua kemampuan utama. Dengan demikian. Di samping itu. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca. Sebagaimana telah dijelaskan di muka.berkesinambungan.

maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. dan . (d)intelegensi. karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. (e) sikap dan minat. tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness).Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. 1987). Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi. Pada tahap-tahap awal. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. 1988). Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon. dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana.000 kata per minggu. Jika dihitung KEM-nya. Dalam keadaan normal. (b)latar belakang pengalaman. (c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual.

Butir a. dan e (latar belakang pengalaman. minat. yakni sikap. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. dan lain-lain.(f) kematangan emosi dan sosial. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. Hasil penelitian Yap (178). Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain. memang ada hal penting yang perlu dicatat. sementara butir b. intelegensi. Namun. Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. kebiasaan. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata. Sisanya. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness". menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. d. Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik. dan f (fasilitas bahasa lisan. Ommagio (1984) . dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. pemahaman konsep-konsep linguistik. pemahaman makna kata.c. misalnya. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. diskriminasi auditori dan visual. keterampilan analisis kata. yakni sebesar 65%.

maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. keyakinan. dan pengalaman membaca. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan. (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan. dan perasaan. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. antara lain: (a) latar belakang pengalaman. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. (b)tujuan dan sikap pembaca. Seperti juga pendapat Heilman. (d)tujuan membaca. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana. . Menurutnya. Blair. sikap. minat. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992).berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. gaya kognitif. (b)kemampuan berbahasa. (c) kemampuan berpikir.

materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability). Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya. Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. Keterbacaan menurutnya. Bahan . Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. Meskipun pengetahuan bahasa itu penting. Menurutnya. tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang. Selanjutnya. sebaliknya. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut.

Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti). . Sebaliknya. atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat. sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit. Rumus yang satu misalnya. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. Namun. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya.bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. Dewasa ini.

Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. tingkat kematangan. . (b)membaca dengan gerakan bibir. jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya. Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri. belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. melainkan bisa lebih fatal dari itu. minat. bagi guru. dan tujuan membaca. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). Menurutnya. Minat dan motivasi yang tinggi. Sampai sekarang. sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. Sebaliknya. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya. Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Dengan kata lain.

(f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental). . Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan. Untuk mengatasinya. atau baris bacaan (regresi). (e) membaca dengan pengulangan kata. pena. (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna.(c) membaca dengan gerakan kepala. kelompok kata. (g)membaca kata demi kata. atau alat lainnya.

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

jari. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting. b) Teknik baca-lompat atau skipping.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan. Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering. yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. Sementara itu. dan jenis membacanya.mahaman (membaca dalam hati). bahan. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata. teknik ini juga . pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. kepala. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. kontinyu. Selain itu. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. tangan. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang. Dalam hal ini. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut. aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir. Maksudnya. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya.

Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . tetapi tidak membacanya secara lengkap. Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini. urutan ide pokok. yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan. Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. 4) Mengetahui organisasi penulisan. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas. 1) Mengenali topik bacaan. 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca. 3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut.

Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. dokter jaga. daftar perjalanan. menentukan. pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia. Berbeda dengan para ahli di atas. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. tampaknya diilhami oleh . melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya. dan sebagainya. 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. metode PQ3R. 7) mencari acara siaran TV. metode PQRST. dan lain-lain. Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. Di samping teknik-teknik membaca di atas. dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain . Keempat teknik membaca di atas. dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. 6) mencari data-data statistik. Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. 5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). metode SQ3R.1) mencari nomor telepon.

interest. Model dimaksud tampak pada gambar berikut.text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C . focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader. ____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc. attentiL on.N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose.model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982).

Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca. motivasi. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks.sikap dan kebiasaan . 1978.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1. Menurut beliau..kompetensi bahasa /--. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982).minat dan motivasi | (internal) |. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. guru. maka akan tampak skema seperti berikut ini.. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. minat. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori.Faktor dalam |. Hafni. faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. dan lain-lain (Pearson.. International Reading Association. yakni (a) unsur dalam bacaan. (dalam Burnes & Page. /. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca. Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa. model pengajaran. pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. dan kemampuan membaca. 1981).

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1). Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini.30 .15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik. misalnya pk.5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----.= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya.= 700 kpm 5.20.20.a) atau 10. Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan .10.15 (b)catat waktu berakhirnya membaca.2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----. misalnya pk 10.30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b . 10.X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3). kemudian dikalikan dengan 100%.

22-25. maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut. 15-19. bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II. 18 butir X 2 = 36 II.pembagian sebagai berikut: I. 10 soal. 12. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. 28. 5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan). I. 9. 20 soal. .

5 700 X 0.= ------> -----.X 60 82% = 330 -----.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----.X ---.X 82% = 5.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): . penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.= 330 50 700 X 0.X 60 ---.Untuk contoh data di atas.5 50 5.

pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. stopwatch. (c) perangkat tes (tes bacaan). mencari gagasan pokok. KEM. yakni 574 kpm. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya. mendapatkan kesan umum su atu bacaan. 6. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM. manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca.3850 41 3850 -----. (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan.X ---. kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM.X 82% = 330:60 -----. a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning. dan lain-lain. Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca.= 330:60 50 700 X 0. Tujuan Membaca. . megetahui struktur organisasi bacaan. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu.

siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. 350 x 70% = 175 .d. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s. Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan. d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s.d. dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%.b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America. Dengan demikian. membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya. analisis nilai sastra klasik. c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita. e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk). 250 x 70% = 140 .245 kpm . kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm. bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis. mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis.

yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM. Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih.280 kpm.d. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. dan lain-lain).* tingkat PT : 350 x 70% s. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca . 400 x 70% = 245 . model PBM. Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan. tujuan baca dll. yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru. minat dan motivasi. Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. kompetensi kebahasaan. RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. teknik-teknik membaca. yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. sikap baca. misalnya intelegensi. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. Yang termasuk ke dalam faktor ini. fasilitas.

.. seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan. Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca. Jangan lupa untuk mencatat. cepat. kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya. terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut. Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini.. SLTA (175-245 kpm). Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm). rata-rata. PT (245-280 kpm) .. minat baca. A..dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada. strategi membaca. LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri. dan lain-lain. dan lambat. SLTP (140-175 kpm). .... tinggi. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli.TEKS mulai pukul : .

Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor. dalam kenyataannya kurang berhasil. dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut. Pertama. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana. apalagi dalam karir. Atau sebaliknya. Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu . aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik. Oleh karena itu. faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas. Guilford (1956).Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. Karena itu timbul pertanyaan. Kedua. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. dan oleh karena itu. mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi.P.

a... Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia. dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif. padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya.. akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda. Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah.. Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas.. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen". yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan.. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.. b. Pertanyaan Bacaan I.. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen. Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni.meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu.. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : . tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen". dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B. kecuali . 1. .. Menurut Guilford.. Apalagi di samping faktor intelegensi..

Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal . intelegensi dan kreativitas d. dan kepribadian. a. bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah . a. c. Hubungan intelegensi.. proses pemecahan masalah c.. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang. kreativitas. Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d. Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi.c. a. 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban. Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan. kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . intelegensi b.. kreativitas dan kepribadian c... digunakan untuk mengukur . a. d... pembuatan keputusan b. pembiuatan kesimpulan yang logis . kreatisitas c. b. intelegensi dan kreativitas d.. intelegensi dan kepribadian b.

.. : .. (c) jumlah kata seluruhnya : ........ (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka... Tentu saja merupakan taksiran kasar.......d. peningkatan intelegensi II........... Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain. Boleh juga dengan cara "heuristik".. 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : . KEM-nya juga bersifat . yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar........ terhadap bacaan tersebut....... (b) berakhir/selesai pukul : .. dan bagaimana... (c) waktu tempuh baca anda : ...... siapa..... 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : . Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa..... itu lebih baik... III... periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut... kapan.. 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya. mengapa........ di mana. Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan....... Oleh karena itu.......

2. 4. 8. 3.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai. 5. 6. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 7. Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. Tabel Latihan KEM No. 9. 1. 10.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. Pada bab ini. kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan". surat kabar. Masalahnya. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. pamplet-pamplet. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan.Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. Untuk pengajaran membaca. dan lain-lain. Pendahuluan Sebagai seorang guru. guru bidang studi apa pun. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. . persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. buku ilmiah. Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. majalah.

Secara rinci. Melalui bab ini. Oleh karena itu. setelah membaca bab ini. (d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang. Jadi. (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya. diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. . "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. artinya dapat dibaca atau terbaca.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable. (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. Dengan demikian. anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. 2. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability. kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya.

. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. misalnya peringkat enam. Perhatian terhadap masalah tersebut. dan lain-lain. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan. peringkat sepuluh. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli. 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. peringkat empat. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Oleh karena itu. Menurut Klare (1963). namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan. dimulai sejak berabad-abad yang lalu.

Pada umumnya. bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. dan lain-lain. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. Raygor. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. 3. Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan. Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. Flesh. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna. Sebab.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. Sebaliknya. memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. dan (b) tingkat kesulitan kata. semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana. Fry. misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Gunning. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. Dale & Chall.

Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. misalnya. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks. pendidikan. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya. etika. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. Di samping hal-hal tersebut d atas. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. Dengan demikian. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. Sehubungan dengan hal itu. jurnal. mempersiapkan tes. estetika. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. dan lain-lain) perlu dimiliki. moral. kliping-kliping. pamflet-pamflet. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. membuat rencana . majalah-majalah. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut. manfaat. surat kabar.

bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. Kegiatan ini perlu dilakukan guru. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. atau kegiatan tulis-menulis lainnya. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. menyusun program pengajaran. guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. Sering kita dapati kasus. seseorang tidak . membuat surat kepada orang tua siswa. 4.pengajaran. Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi.

Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan. terutama puisi. Selanjutnya. bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga). Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. sebaliknya. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. Dengan kata lain. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis. Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi. artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. Struktur yang secara visual dapat dilihat.dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. jika sebuah kalimat atau kata .

Ini ibu Budi. Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. Pak Ahmad ayah Budi. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat. Wati sedang menyiram bunga. sedangkan ayahnya membaca koran. Ini Budi. kakaknya melakukan pekerjaan lain. B. Wati kakak Budi. Beliau sedang membaca koran. Jika ibu Budi memasak. Ini Wati. . Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. A. yakni menyiram bunga.yang secara visual tampak pendek. Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut. Ibu Budi sedang memasak.

semakin mudah wacana tersebut. Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD). kalimat kompleks tentu sarat dengan ide. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. Oleh karena itu. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. terdapat perbedaan yang sangat mencolok. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. sebuah konsep tertentu. Bagaimanapun. Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula. sebuah gagasan. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. bukan?Dengan kata lain. Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. sebaliknya. Pada kenyatannya. sarat dengan konsep. sarat gagasan.seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. .

manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B.rona . ditinjau dari sudut semantisnya.zaman . tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra).makar B. Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita. Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita. A.muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B. satir. Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A.asa . tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari. dalam percakapan yang bersifat umum. Akibatnya. deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. Oleh karenanya. Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang.harapan .Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. . kita merasa asing dengan kosakata tersebut. makna ganda. . terlebih-lebih pada .cahaya/air muka . Padahal dari segi bentuk. Formula keterbacaan itu.era . atau minat pembaca.

Melalui berbagai pengkajian. 5. Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. sedangkan dengan formula Dale-Chall .90. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi. Akan tetapi. Sama halnya dengan rumus Spache. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Namun. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana. seperti buku teks misalnya. formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu. formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu. Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall.karya sastra berupa puisi.

1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry". bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya. . Jangan lupa.1. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5.94. Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya. Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry. Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud. seperti tertera di bawah ini. 5. yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading".berkorelasi 0. Berikut contoh grafiknya. anda sudah paham cara menggunakannya. sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya.

Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. 116. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. 112. dan seterusnya. yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud. 120. .Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit.

seperti angka 25. dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. Sampel pertama mungkin diambil . Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid. angka 2 untuk peringkat baca 2. Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman. Angka 1 menunjukkan peringkat 1. 18. Memang.7.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. 14. yakni faktor panjang-pendek kalimat. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. 20. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. Oleh karena itu. mungkin anda bertanya-tanya. mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana. angka 3 untuk peringkat baca 3. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan.0. Maksudnya. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan. artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1.

dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel. Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. sampel kedua dari bagian tengah buku. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh. hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. . dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter. bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana.dari halaman-halaman awal sebuah buku. Selanjutnya. Meskipun begitu. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Misalnya saja. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana.

=. melainkan akan ada sisa. Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh.5. kekosongan-kekosongan halaman. Perhatikan contoh wacana berikut! . lambang-lambang berikut. maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan). IKIP.1. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. Maksudnya. seperti Budi. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat. 1999. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar. masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. Dengan demikian. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya. tabel-tabel. dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana.

Waktu Inu melihat sa- . Di loket tabungan ada yang mengambul uang. Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in. Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre. Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan.Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu.

Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari . lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan. ke bank. Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana. .... (2)Di bank itu .. (3)Di loket tabungan . orang. Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah.. 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri. uang. karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan. Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana.69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. Inu mendekati kursi itu. Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti....

.. Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12. .... tabungan. Contoh lain..... (11)Waktu Inu . jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata.1 kalimat. maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. antrean.1 kalimat.. itu. Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah. (10)Dia memperhatikan .. berdiri... (12)Inu mendekati . lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. uang. lain. maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10.. (9)Inu menunggu . Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti. rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. antre.. Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk.(4)Ada juga .5 kalimat.. Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut.. (7)Mereka melayani.. Dengan demikian. (8)Ayah Inu .058 dibulatkan menjadi 0.. itu.. (5)Di loket yang . Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus. (6)Ada juga .. tunggu.

Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang. Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Misalnya. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan. Di loket yang lain orangorang juga antre. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. 234 terdiri atas 3 suku kata. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. 2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya. Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). Di loket tabungan ada yang mengambil uang. Caranya. maka untuk angka dan singkatan. IKIP terdiri atas 4 suku kata.

dia segera berdiri. Petugas pun mengerti. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan.in. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100. . Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu. Data yang kita peroleh pada langkah (2). kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata. Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata. Inu mendekati kursi itu. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Demikianlah cara ini kita kerjakan. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3). Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas.

3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut.Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. Oleh karena itu. untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya). maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat. baik ke atas maupun ke bawah. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6. yakni wacana dari bagian awal buku. Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana. . selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya. 5 yakni (6-1). atau surat kabar. 6. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. dari bagian tengah buku. pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali. Sebagai contoh. Penyimpangan mungkin terjadi. dan 7 yakni (6+1).1. Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku. 5. dan dari bagian akhir buku. Untuk artikel dan jurnal. peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat.

Kedua. tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7. struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut. 2) Saya pergi ke sekolah. Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris. Seperti kita ketahui.3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. Artinya. 1) I go to school. dan 8. 7. dan akhir buku). Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal. tengah. terutama dalam hal sistem suku katanya.5 6.Sebagai contoh. .9 6.8 18.6 5. mari kita perhatikan perumpamaan berikut.

Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). Berdasarkan kenyataan tersebut. kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. mulut. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. Berdasarkan contohcontoh berikut. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). hal itu mustahil terjadi. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir. lip. kepala. head. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an. tooth. kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. foot. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar. tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. Oleh karena itu. misalnya: hand. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris. rambut. mouth. leg. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris. hair dan seterusnya. Tetapi. . kaki. pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal. bibir.5. seperti kelas 1 dan 2. Dalam bahasa Inggris. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. gigi.

. Dengan hasil pengukuran tadi. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12. wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas.5.6. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0. Dengan demikian. dan 5 sekolah dasar. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya. Contoh wacana tersebut. karangan Dendy Sugono.Berdasarkan contoh kasus tersebut. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan.6 = 136. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993.8 dibulatkan menjadi 137. 4. data jumlah suku kata 228 X 0.

Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu. pengumuman-pengumuman singkat. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian.5. para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50. yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat. misalnya. Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu. maka bilangan kebulatannya ialah 30. Langkah (3) .4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah. jika jumlah wacana itu ada 26 buah. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu.1.

67 1. Dalam contoh di bawah ini. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? . guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi.25 1.5 2. perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Selanjutnya.Dengan kata lain. Dengan demikian.3 2.0 1.1 Mari kita perhatikan contohnya.Selanjutnya.43 1.

(d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3.--.-.-.3.--? -.-. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata.-. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas.--. titik temu dari persilangan data kalimat (6. .-. .3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3. maka akan kita dapati data berikut ini.-.6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.-.---.-.-.-.--..-.-.Wacana jumlah suku-kata ---. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut.-. cocok untuk peringkat universitas.3 = 6. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah.--.--.6 * jumlah suku kata: 60 X 3...

2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. Kedua kalimat di atas itu. b) Saya menonton TV setiap malam. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan .1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry. Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih. Jika demikian.5.2. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini. bahkan sangat berbeda. Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata. a) I watch TV every night. Namun. sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata. masing-masing terdiri atas lima kata. Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih.

yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih.2. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut. Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata. kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip."Grafik Raygor". Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin. Grafik Raygor. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas. Untuk mengenali formula ini. mari kita perhatikan grafik berikut. Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula. Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. 5. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit". Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel. .2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry. Oleh karenanya. Namun. Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah.

bukan oleh unsur semantisnya. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu. tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. Begitulah seterusnya.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih. Salah satu sebab . Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf. Sebagai bahan latihan. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya.

. Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya.... buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? ... Namun.. Grafik Fry lebih banyak digunakan .... Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? ..... Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor. buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? . akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan. 1948).. perkembangan-perkembangan... anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya. bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia.. dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk...yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis..

Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor. Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi. Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. 5. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor. .Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala. Dari 100 buah wacana yang diteliti. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat.87.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris. yakni dalam hal efisiensi waktu.

Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih. makanan-makanan tertentu. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. terutama wanita. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan. dan seterusnya. Wacana 2 .dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. obatobatan tertentu. Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini. Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. jamu ini dan jamu itu.

Namun. yang dapat . Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. kata terpampang diganti dengan kata tampak. Orang yang memperhatikan urusan mode. Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua. Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. tujuan hidup orang tidak sama. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Pada umumnya. membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya. Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. Kata advertensi diganti dengan kata iklan.

fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek).---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari. apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas. sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga. misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---. Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. Pada umumnya. setiap bunga terdiri atas satu poros bunga. Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana. Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik. Waktu anda membaca wacana di atas. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---.berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. .

Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah. atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. tergolong ke dalam kata sukar. Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. Ketika kita membaca wacana yany pertama. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah. Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. . kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. yang belum diubah.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. biasanya jauh lebih mudah. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana. Dengan kalimat yang pendekpendek. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. Biasanya.

boleh jadi bertambah. mungkin juga berkurang. . sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal. Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda. Anda jangan keliru.3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya.

3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. Namun. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor). . dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana.Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok. coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut.

jagung. dan tomat. Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. kacang-kacangan. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. . yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. Augustine. yang merupakan lambang abad antariksa. di mana mereka tinggal secara tetap.

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam. artinya 8 jam/ hari.000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%.000 per minggu. Setelah mempelajari uaraian bab ini. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. sudah dianggap cukup. . Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini. Sungguh dramatis. Secara rinci. Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat. Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca. Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit.

membaca pun memerlukan latihan dan keuletan.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya. Mungkin karena itu sebabnya. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan. c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. 2.b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan. sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan. Demikian juga dalam membaca. Seperti bermain tenis. Hakikat Membaca Cepat 2. Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . umpamanya. Siapa membaca cepat dialah yang dapat. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya. dan dia pulalah yang kuat.

tepat. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan.. baik ... Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%.. Kalimat fektif haruslah .. Oleh karena itu. kalimat efektif... .. Kalimat . strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang.. Inilah sebenarnya. jelas . Dengan demikian. dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon.. demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan.. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Kalimat . Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat..yang menguntungkan. mudah dipahami oranglain . maka kemampuan membaca pun pasti membaik. demikian disebut . tepat. Persoalannya.. Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan.. Tetapi. bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial. hakikat dari strategi membaca cepat.. ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami. bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil. Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca...

kemauan. diharapkan pembacatertarik . kalimat efektif disusun . tampaklah .. "Kalau kita melihat alam sekitar kita.. sadar .. makhluk .. tergerak hatinya... gayatolak . . sifatnya ..mewakili pikiran .. tak adapadanya... tidak mungkin menimbulkanperubahan . ba tu..... keadaan . mati. Pertama kita hadapi alam yang mati.. . Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut. kita melihat alam sekitar kita.... penulis ... dalam dirinya sendiri. sekitarnya. "... keinginan penulis.. Hal ini berarti . Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya...... logam... sekaliannya terikat pada tempatnya . gaya berat... Gerak istimewa... dan sebagainya..alam . logam... Pertama kita hadapi alam... mari kita lihat ilustrasi yang lain. Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%.. tanah. ia takluk sepenuhnya .. apa yang dibicarakan. Yang ada . Kita menyebut . mati . ..pembacanya . . batu. hal ini tercapai...... gaya tarik .. tanah... tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu..... mencapai daya informasi yang dinginkan . Selanjutnya.. mekanis". .... Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin . maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing.

dan kebebasan tidak ada padanya. bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan.menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. 2. Dengan MC. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes. kemauan. . Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. dan gaya tolak yang mekanis. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. Gerak istimewa. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. gaya tarik. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan. Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. Yang ada hanyalah gaya berat.

dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya. Melalui latihan yang tekun. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. itu yang pertama kali ditumbuhkan. Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik.irama dua detik/halaman. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. Kunci utama MC ialah melaju terus. Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing. yang diikuti dengan pindah halaman. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. irama empat detik/halaman. Dengan kata lain. Dengan demikian. Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik. Selama latihan. ialah satu detik satu halaman. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC. Pada waktu Anda mulai berlatih. Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas). Pada permulaan latihan MC. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing. . dan seterusnya).

atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. maka Anda sudah boleh merasa puas.Kemampuan membaca satu halaman per detik. POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah. serta minat baca yang tinggi. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. bacalah dahulu penjelasan berikut ini. POLA DIAGONAL . Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. 2) Sediakan pula arloji atau. kalau ada. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri. 3. sebuah stop watch.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman. Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia. 1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman. atau kira-kira 20.

POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. POLA SPIRAL Pada pola ini.Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu. Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak. kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri. bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah. gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang. POLA BLOK . Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. yang dibaca biasanya bagian tengah halaman.

Sekarang. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. suatu kecepatan membaca yang lumayan. Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. atau kira-kira satu detik/satu baris. Blok ini umumnya merupakan paragraf. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. Anda pun diharuskan . Seraya membaca. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik.

Selanjutnya. Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. Setelah . setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Supaya lebih mudah. Setelah selesai membaca 30 baris. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. Dengan latihan 5 menit. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit. Berlatihlah selama lima menit. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi. Anda tidak perlu merasa kecewa. Irama ini sangat mudah diikuti. segeralah kembali ke kiri. Nah. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. ikuti petunjuk berikut ini. dan berhentilah pada halaman 50. Caranya. dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris. bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat.

Mulailah dengan biografi . 4. Berlatihlah dengan intensif.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya. dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC. Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi. Anda harus bertahan. Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau". 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. 4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap. paling sedikit setengah jam sehari.selesai membaca buku. sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. 1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca.

Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. 8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. Sambil membaca Anda harus bertanya. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. . Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini.berfiksi. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain. fiksi keilmuan. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. cerita petualangan. lakukan survei selama dua atau tiga menit. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. 10)Membacalah dengan tekanan progresif. bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi. perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. Segera setelah Anda merasakan kemajuan.

13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata. Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda. Kalau hal seperti itu terjadi. atau mungkin memeriksanya dalam kamus. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan. Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan. sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. . cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda.

Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. Lain halnya dengan zaitun. . tidak perlu hujan ataupun mata-hari. Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang. Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. Walau demikian. jumlahnya berlimpah ruah.4. Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya.1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu. maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. pangan. tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman. Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat.

dan sifat-sifat pohon zaitun. Dalam pada itu. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama. dan tidak pula memerlukan filamen. Paragraf (2) Arkian. Dalam paragraf ke-2. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. Paragraf (3) .Kemasyhuran. Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya. Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong.Di dalam paragraf di atas. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi. Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas. Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. kegunaan. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut. Cobalah Anda baca. transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum.

Semua peralatan ada dalam keadaan siap. pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. Georgia. Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. bangsa. Kira-kira 500 orang saintis. dan Hitler bukanlah penciptanya. Pemimpin mereka. Tetapi. dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya. dan menamakan diri "Columbia". dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu. Emory Burke.Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". Dan semenjak Perang Dunia II. . dan tes pun terpaksa diundurkan. kemampuan. pegawai pemerintah. dan kesetiaan".

Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. dan coklat. tanggal 4 Desember 1989. Paragraf (5) Sore itu. Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya. berturut-turut biru. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. hijau. daratan.Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. bukit. Gunung.

4. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. Dengan kata lain. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. Pada tahap mekanis. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif. Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar. Anda . Selanjutnya. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang.2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual. Para ahli.

2. pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis. 4. maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur.. Berdasarkan pAndangan mekanis. Kalau mata bergerak terus. mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan.. "Penulis tidak menulis .. frase . demi.. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut. atau supaya dapat "melihat" sesuatu.. frase". Sesungguhnya. kata ... supaya dapat menginterpretasikan kata-kata.. mereka me nulis . Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis . MF yang dilakukan oleh pembaca ini. frase demi frase". menulis . mereka . menulis ..... melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat... mata harus berhenti sejenak.kata .. membaca merupakan rentetan hentian- ...... kata demi kata .1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca. demi ... tidak .. Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata....tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca.

pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. Dengan demikian. Namun. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring. Pada setiap hentian.hentian visual. Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . Pada umumnya. Dalam membaca frase. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. Dalam membaca senyap. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. dan setelah itu terjadi pula hentian. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca". sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata.

Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. Mereka akan membaca lebih banyak. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat. Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. atau seorang calon petinju. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. harus pula . sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan. Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya.gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase. atau pun calon pianis dan sebagainya. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok. Sekali lagi. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual.

...*.....*.............*....*. Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang..... Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan................................*....*..........................*............. ................*....*...*.......... .... Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang..*... .. dan jangan pula menggerakkan kepala.*..*....................... ... ............. Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF...... Silakan coba! .............*..... Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun........................*.......................................................................... ..............*.. Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap..................... . .......*....................*..............*............................................................. Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi...... ......... Hasilnya terbukti sangat memuaskan... ..............dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir.......... "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun........... lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya.......

Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. 4. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual. Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK). Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi.2. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase). Sebelum mulai membaca. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target. Sambil membaca. Anda akan menjadi lebih . Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak. bahkan jutaan. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Proses MF. ialah gerak mata. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih. terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. ratusan ribu. ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna. Selanjutnya.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF. sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona.

.. subjek biasanya mendahului predikat.". Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: . Di samping pengertian kalimat. Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. ibu guru. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase". Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan. Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa. Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti. Mulailah secara perlahan-lahan dulu. Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. Contohnya: surat kabar.sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. Kata penghubung menyatukan frase. Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti". Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase. Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. tetapi perut saya. tetapi belum dijelaskan artinya. yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. rumah sakit. dan lain sebagainya. daftar pelajaran. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. Contoh: "Saya gemar makan pedas.. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata.

maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. Untuk kepentingan latihan Anda. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. . di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Kata "rumah" misalnya. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil. dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. Namun demikian. Demikian seterusnya. "Rumah pun habis dibakarnya". Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu. Setiap kelompok kata dikotaki. (b) kecepatan menangkap makna. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi.(a) kecepatan membaca. bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai. Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti.

Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya. Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti. (3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu. Pada mulanya . Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Untuk keperluan latihan. Dengan kata lain. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental. ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun.

Percayalah. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya. sebab menurut penelitian.Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari. Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. Karenanya. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara. Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari. . membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik.

5. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan. dan graphein yang berarti menulis. yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama. Dengan maksud yang sama. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam.2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. Pada umumnya. Biasanya. 5. paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". Membaca Paragraf 5.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden. yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan. Dengan demikian. PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN . Pada mulanya.

3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca. Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini.1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf. maka pilihan Anda itu benar. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat. cobalah gunakan .

6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. Bacalah paragraf itu seraya bertanya. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja. Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami. 7) Terkalah pikiran penulis. Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit. Namun.prosedur ke-4. Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan. Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. "Apa arti semua ini?". Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. Kalau maksud Anda demikian. ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. Periksalah terkaan Anda.

Sebelum mulai dengan latihan. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama.untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. Setelah membaca prosedur membaca paragraf. . mungkin Anda ingin segera berlatih. Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat. 3) sebagai kalimat pemuas. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya. ialah tentang strukturnya. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama. Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama. Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural.

biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. membaca adalah suatu proses psikologis. . Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. atau contohnya. a) Dengan ulangan. Dia masih ingin menjelaskan idenya. 2. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca. b) Dengan pembedaan. Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. c) Dengan contoh. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. Pada dasarnya. ialah mengulang-balik pikiran utama. dan sebagainya. umpamanya.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca. Cobalah pelajari baik-baik. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. sebab. Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. d) Dengan pembenaran. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu.

lidah. 5. seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. Bahkan. Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu. 4. 6. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). 7. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. dan sebagainya. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. 7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok.3. Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama. . 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima. bibir. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar.

Supaya Anda tidak . Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak.5. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku. Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa. apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada.3. 2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta. Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang".3 Membaca Bab 5.1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. "Bacalah bab ke-2. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu.

demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan. Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. Untuk menyederhanakan sebuah bab. dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi.menemui kesulitan seperti itu. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". dan melengkapi keterangan yang diperoleh. Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. membuat catatan. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf. menguji pemahaman. Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. . Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir. mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga. Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Hal itu akan dilakukan kemudian. Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri.

Berilah angka pekerjaan Anda itu. Ulanglah tes seperti itu secukupnya. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. Setelah selesai membaca suatu bab tertentu. Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. Baca lagi kartu itu. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. lalu tutuplah buku Anda. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. Lihat kembali bab 3 buku ini. Setelah selesai.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda. sebelum pergi kuliah. jika Anda memerlukannya. Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi. . Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu. Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu.

Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing. Percacalah! Sekedar contoh. A.2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya. Contoh kartu baca.1 pengertian 6.2 Fungsi 6.4 Kriteria Pembuatan 6.S. Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang. | | | | | | | | 6.| | Jakarta: PT Karunika. (1988:21). berikut disajikan sebuah contoh kartu baca. data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya. .Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad. Teknik Isian Rumpang 6. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga. Yang penting. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana.5 Prosedur Penilaian 6.3.3 Manfaat/Kegunaan 6. Materi Pokok Membaca.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5.

Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel.bab lainnya. 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab. 5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik. 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya. misalnya). Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. 2) Buka baliklah daftar isi. ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf. 5. Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. 7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku. 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas. Puisi . 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra.Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti.4 Membaca Buku 5.1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. Pada umumnya. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan.4. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku.

2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat . 1) Secara umum. novel. drama. Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda.4. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen. meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. kalau ada bacalah kata pengantarnya.misalnya. Keempat pertanyaan tersebut. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. 5.

. apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. lihat uraian terdahulu.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. Sampai di situ. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu. Berhentilah sejenak. Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit. Dengan demikian. serta nama-nama tokoh penting. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab. 3) Periksa daftar indeks buku. Namun. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. 5) Selanjutnya. jenis-jenis buku. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. dan bertanyalah pada diri sendiri. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya. melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan. Dengan melihat daftar isi buku.

jika penulisnya berhasil. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. atau tidak memberikan informasi baru. Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya. mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. Pada . pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain.6) Akhirnya. pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca.5. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi). Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya.5 Membaca Karya Sastra 5. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting. Anda tentu tahu.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. 5. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri. hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya.

sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya. Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra. Namun. peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. cerpen. tengah.5. sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. baik pada prosa maupun puisi. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu. yang terdiri atas bagian awal. pertanyaan ini dapat . Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. dan akhir. Anda harus menemukan bagaimana puisi. Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. Untuk bacaan sastra. juga berlaku untuk membaca karya sastra. dan berbunga-bunga. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. rincian-rincian. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. Adakalanya. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. novel.umumnya. Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. drama tersusun dari bagian-bagian. 5. samar-samar. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya.

lingkungan mereka. cerpen. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. dan akhir. ataupun drama. 5. Meskipun begitu.1 Prosedur Membaca Novel .dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Anda terlibat sudahlah cukup. tengah. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. Setelah membaca puisi. Bagi penulis karya sastra. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. melainkan kebenaran khayalnua. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya.5. Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. Puisi juga memiliki tokoh. novel. namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula. tindakan-tindakannya. pikiran-pikirannya. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya. perasaan-perasaannya.2. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya. Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa.

2. 6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya. para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita. dan solusi atau bagian akhir cerita. pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan. Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. 4) Camkan bagian tengah cerita. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. 7) Kenalilah bagian permasalahan. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot. klimaks. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. Mereka beranggapan. bahkan bacaan pada umumnya. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . seperti halnya dalam cerpen. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen.Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. Di samping itu. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai.5. 5. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik.

berkenaan dengan penampilan sajak. Pertama. Artinya. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik. Tentu saja. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. diskusi kelas.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. sajian berbagai media. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan. meskipun dengan bantuan konteks. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. Ketiga. memahami. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . dan lain-lain. puisi itu harus berada pada tingkat literal. Keempat. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. Oleh karena itu. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. Kedua. kekayaan ilustrasi. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa. berkenaan dengan daya tarik bunyi. puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi.

yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. misalnya metode membaca frase. Namun. pola blok.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. ide/kalimat inti. Pemaduan dua keterampilan. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang. Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). pola diagonal. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. ide/kalimat penjelas. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. pola zig zag. pola spiral. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di . membaca paragraf. sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. membaca bab. dan pola horizontal. Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal.

Tetapi bagiku. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari. ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. Andaikata di sana ada juga nyamuk. 1) Secara umum. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit.seputar isi bab itu. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu. Keempat pertanyaan tersebut.

Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. dan pelarapan emosional. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur. Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. mempersamakan . Karenanya. Di dalam paragraf. kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit. sikap.dan murai berkicau di hari senja. Namun. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf.

Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan.kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya. Instruksi: 1. Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3. tunjukkan buktinya! . 2. Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah. Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful