HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. melainkan berarti pula memahami. Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . menolak. membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya. pada peringkat yang lebih tinggi. Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. ialah sikap pembaca yang aktif. dan pengalamannya. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. Sebenarnya. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang. menerima. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Dengan demikian. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. 2. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. perasaan. membandingkan.

Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. 5) bahasa. 10)kemampuan persepsi. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. . 3) jenis kelamin.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. 8) sikap. Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut. 7) kepribadian. 6) ras. Karenanya. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. 9) pertumbuhan fisik. Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. dan 11)tingkat kemampuan membaca. hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. 2) usia mental. 4) tingkat sosial ekonomi. yakni: 1) intelegensi.

Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. dengan MA dan IQ. benar. namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA. untuk tes yang sama pula. anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental.Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. IQ x CA MA = _______ 100 . Untuk membedakan IQ dan MA. Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. ialah usia mental. yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age). bahkan sangat sering. sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya.

0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.6 12 .= 6.0 dengan cara berikut ini.2 = ------. 110 x 6.x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6.2 79.MA IQ = --------.

.0). diketahui (6. namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ. maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas.x 100 CA 6. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan.6 = ----.x 100 6. umpamanya. Harris (1970).0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca. berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting. dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----. tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan.6 dan 6. yang banyak tingkatannya itu. bukan menjelaskannya. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental.

Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. semenjak itu. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam. bahkan mungkin lebih penting. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. dikenal pula hal yang sama pentingnya. Namun. Namun demikian. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. Dia . Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun. prosedur dan metode mengajar. tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif. prosedur mengajar. Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun.

4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. prosedur. 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. kesiapan membaca.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. . seperti yang tertera di bawah ini. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80.80. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0. namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada.35 dan 0. Ada lagi dua orang ahli. motivasi.

Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu. Tes Formatif 1 1.8 dan usia kronologis 6. 110 B. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2.0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C. dapat membaca 50 kpm B. Jika diketahui bahwa usia mental 7. mampu membaca sampai peringkat empat saja D. 120 C.5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas. > 130 maka dapat 3. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A. mampu membaca di atas peringkat empat . 130 D.

antara enam dan enam setengah tahun D. tiga tahun C. empat setengah tahun 5. tiga setengah tahun D. enam setengah tahun 6. enam setengah tahun B. Gates menemukan data bahwa besarnya kelas.4. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A. lima tahun C. enam tahun D. dua tahun B. empat setengah tahun B. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A. Masih banyak faktor lain yang sama . Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. enam tahun C. di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja.

Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu. namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan. tingkat kesehatan yang rendah. sampai 50%. . Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah. yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%).20%). Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca.pentingnya. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. menengah. Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. dan rendah. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut. sebab jauh sebelumnya. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. yakni tahun 1940. ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi.

ekonomi. membaca buku dan majalah. dan bahasa. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. Di pihak lain. atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan. dan tekanan ekonomi. yakni latar belakang pengalaman. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. tempat kediaman yang tidak stabil. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. Sayang sekali. Di sisi lain. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil.kepadatan lingkungan. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak . tingkat motivasi.

Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa. tidak mau membaca. atau surat kabar di rumah. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . Dengan alasan tekanan ekonomi. Akibatnya. Tidak seorang pun menyukai kegagalan. apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. temanteman. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. majalah. atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka.memiliki pengalaman yang luas. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah. banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. Kakak-kakak mereka.

klause-klause terikat. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah. Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. bahkan sebaliknya. meminta sesuatu. dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang . Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan. tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. tidak mampu berbahasa formal. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu. Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah.menerus itu. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. dan imperatif. menyatakan persetujuan atau penolakan. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca. deklaratif. Struktur yang kompleks.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

mengecap. tidak percaya diri. sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi. serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. langkah pertama. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris. Seperti telah disinggung di muka. dan 4) indentifikasi kata-kata. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. mendengar. gelombang cahaya. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. mencium. yaitu stimulus. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. Namun. dan meraba. yakni melihat dan mendengar. 4. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus.memiliki motivasi. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. Seperti dalam proses sensoris.

atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu. Akan tetapi. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. maka semakin . Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/. maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu. tetapi kita membawa makna kepadanya. maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. Sebaliknya. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. Sebagai contoh. sesuai dengan namanya. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu. tidaklah memberikan makna apa pun. Langkah kedua dalam persepsi. Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas. ialah meminta. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun.

kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut. mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. . Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. Sesungguhnya. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. Sama halnya. banyak berkunjung ke toko buku. Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. latar belakang budaya.mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. dan asosiasi emosional dan fisik. bahkan cerita. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. seperti pengalaman lalu. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). banyak berdarma wisata. akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. paragraf. bab.

mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus. Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman. . dan kesengsaraan. kedinginan. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Dengan kata lain. berpacu meluncur di salju.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik. Untuk mengembangkan kemampuan membaca.

Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. ada perkutut. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak. punai. Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi. jenisnya. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. wanginya. sangat nyata dan khusus. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. Sewaktu bermain rumah-rumahan. bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir. mulai dari daerah-daerah yang konkret. bentuknya. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. macam-macam gelas. menganalisis. dan sebagainya. dan sebagainya. ada balam. Demikian juga dengan kata bunga. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. Bunga itu bermacam-macam warnanya. Dengan kata lain. . Setelah pengalamannya berkembang. ada merpati.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. dan menyintesis. ukurannya. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. dan sebagainya.

5. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. permainan. emosi. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. tetapi oleh kebudayaan. Oleh karenanya. . kematangan.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. kata-kata. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. dan berbagai kegiatan kelas. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. gambar. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. pengalaman. Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. dan bahkan kepribadian juga. waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. cerita. Penampilan audio-visual. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu. dan kalimat dalam wacana. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks.

Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. suasana hidup yang baru. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. Pendek kata. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. dan lari . Namun. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya.dan bilamana berakhir. pada usia empat bahkan tiga tahun. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. Pekerjaan baru. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. kalau dia tidak mau tersesat. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya. berjalan pada usia delapan bulan. demikian seterusnya. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. . guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya. Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru.pada usia sembilan bulan. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Pertama. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Oleh karena itu. Membaca bukanlah proses instinktif. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. Namun. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu.

Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. membaca pemahaman. atau pun tingkatan-tingkatan akademis. 6. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. pengembangan kosakata. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari. . pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. metode.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. Oleh karena itu. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. dan pelajaran keterampilan. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. 1) Keterampilan itu objektif. melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". di kota C. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan. Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. dan penerjemahan atas suatu fakta. . penginterpretasian. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru. hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya. Untuk menjawab pertanyaan kedua.B. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. pengenalan. apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. dan (3) Kino sangat miskin. Oleh sebab itu.

Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. namun prosesnya belum tentu lengkap. seperti pengenalan ciri-ciri melati. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. dan kenanga sebagai bunga.d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan. RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. proses perseptual. /C/ kapital. dan penginterpretasian informasi. . dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama. dan proses perkembangan keterampilan. proses sensoris. /c/ kecil. ros. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. proses perkembangan. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. pengidentifikasian.

Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya. anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. .Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda. Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. Dengan membaca dan memahami isi bab ini. Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti.

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Namun. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. .MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. baik teorinya sendiri maupun modelnya. meliputi sejumlah hukum yang valid. Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model. kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini. Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu. Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969). dan spesifik. panas. Sebagai contoh. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. cermat. Teori kinetik untuk gas itu. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu.

Model membaca itu . proses informasi. Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. Secara lebih khusus. uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas". psikolinguistik dan linguistik. Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. Sayang. Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an. b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca. c) menjelaskan "model membaca interaktif".Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca. 2.

Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model. Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down. Namun. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive. yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. .ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model.

MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama. Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. Sebaliknya. dekode dan enkode. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder. MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan.

Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. seperti: Flesch (jurnalistik .komunikasi tulis). Gagne (psikologi). Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. Menurut MMBA. Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. Setelah itu. Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. Para penulis berbagai bidang profesi. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. Di situlah tempat pembaca memperoleh makna. Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu.

Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C. Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. dan sebagainya.C. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. huruf "L" diucapkan /el/. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas. huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. Fries (1962). Itulah sebabnya dalam metode Fonik. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. metode Kata Kunci. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/. tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. huruf "D" tidak . Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu. tetapi /kh/atau /ek/. Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. metode Alfabet. metode Fonik. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya. Dalam Metode ini. metode Silabik. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya. huruf "K" diucapkan /ka/.

proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini. tetapi /dh/ atau /ed/. Demikian seterusnya. sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. Dengan demikian. . Dengan bantuan alat visualnya. Salah seorang tokoh MMBA. Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf. metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. Menurut pendapatnya. tidak interaktif. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. (5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama.diucapkan /de/. para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat). berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". Oleh karena itu. (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon.

(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin". Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA. (8)Akhirnya. Dengan demikian. kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD. (7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu. . struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD). setelah maknanya dipahami.

Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3.

karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. MMAB mengajukan hal lain. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima. informasi grafis itu semakin berkurang . atau mungkin memperhalus masukan tersebut. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. Oleh karena itu. yakni dari bacaan. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. sintaksis. yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa. Berlainan dengan MMBA. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak. Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. bukan dari otak pembacanya. MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak.bacaan. Ketika informasi itu diproses. Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. dan grafik. menolak.

maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". Psikolinguis yang lain. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga.bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula. memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu.pula tingkat keperluannya. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi. Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah . Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini. serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya. Jika prakiraan itu tidak cermat. Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. Shuy (1977). Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf.

Dengan bantuan prediksi. Memang benar. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Dengan MMAB. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. bacalah wacana di bawah ini. Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut.asumsi tentang prinsip kerja mata. Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? . kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa. Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya. Mungkin. beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time". Namun.

melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". Dengan demikian. merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. Sekarang. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. Bagi Smith. Informasi visual dan informasi . dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang. Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. dibelakang matanya. Untuk memahami wacana yang dibacanya.Nah. Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang.

sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang. tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. sangat perlu diperhatikan. Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual. Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. Sebaliknya. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan. Gambar ini . jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya.

Namun sesungguhnya. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya. kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu.memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak. kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. . mata kita sama sekali tidak melihat. Oleh karena itu. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. Kita melihat sesuatu. kemudian masuk ke dalam otak. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. Lebih dari itu. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik. asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka.

kesan. Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata. jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir. otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. berita yang masuk melalui syaraf. Otak. Dengan demikian. sudah tentu. jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. Sebuah perkiraan. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata. otaklah yang melihat. tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi". kegiatan memperkirakan. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. Oleh karena itu. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . Dengan kata lain. Padahal. Bagi mereka. sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. Jalan mios dan angka sepuluh. Dengan kata lain.

sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. meja. ialah dengan sekali pandang. .Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. seperti pepohonan. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. merah. hijau. awan. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya. biru. nasi. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. dapatkah anda memahami maknanya? Ya. Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. kereta api. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". karena sistem tulisan mereka kebetulan sama. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. kursi. Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. Lebih dari itu. sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". Sekarang. binatang. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. Fonik itu tidak efektif. roti. karena penulisannya berbeda. dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. gunung. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning. Menurut hasil penelitian. Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. dan sebagainya. kapal terbang. Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. tetapi artinya tetap berbeda. hitam. bukan lambang-lambang bunyi. Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. tidak perlu. mobil. Dengan demikian.

seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya.Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. mungkin dia itu membaca tidak efisien. Hal ini bisa terjadi. TV. Namun. Akan tetapi. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. Jika pada waktu membaca. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. atau membaca dari belakang mata. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. dikenal istilah tunnel vision. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami. pada saat orang sedang membaca. . maka penglihatannya akan sangat terbatas. Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. Jika sewaktu membaca. yakni peristiwa penyempitan pandangan. maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula.

dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan . Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini. 3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. Sayang sekali.Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. Kecemasannya itu menimbulkan TV. semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. sebab masalahnya sangat relalatif. 4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. maka penyembuhannya mudah dilakukan. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan.

formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. dalam artian kelompok pembaca. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. penanganannya pun harus didekati secara individual. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. dan sebagainya. mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. ceramah. formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. Caranya bermacam-macam. Karena itulah.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . Di samping itu. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. Jika anak dihinggapi rasa takut. bukan pembacanya. melalui film. TV terjadi pada anak secara individual. Oleh karena itu. bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa.

______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977). melainkan suatu . Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut. tidak interaktif. maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik. Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan. Artinya.lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan. Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier. Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut. 4. tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. Secara sederhana.

Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. Oleh karenanya. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca.proses timbal-balik yang bersifat simultan. Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). Akan tetapi. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. PP merupakan komponen yang utama dalam model ini. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif. Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. . informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart. Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya. baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC).

menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. seperti Goodman dan Ruddel. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. ditentukan. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. kemudian disetujui. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita. leksikal. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. semantik. dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf. PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. sintaksis. semantik. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. berbagai hipotesis dirumuskan. sintaksis.semantik. dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca.

Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. kata). hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. dan sebagainya) ke struktur batin. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat.yang paling layak. Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut. dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. manfaat. tujuan. ke bagian yang menghendaki prakiraan. huruf. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah. kalimat. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi. Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca. Dilihat dari bidang pengajaran. Dengan demikian.

Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. Dalam praktek pengajaran membaca. Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. Sebagai contoh. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa. Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya. hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. melainkan kehadiran siswa itu sendiri. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan. Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca.

Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka. . karyawisata. Oleh karena itu. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. Tampaknya. Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya. diskusi dulu. Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa. dan sebagainya. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan.sendiri. bercerita. Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka. baru kemudian membaca. Dengan demikian. Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu. pertunjukan film. namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman". Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca.

Mungkin. Sebagai guru.Dalam bidang metode pengajaran. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar. bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. bertanya dan bertanya. dan membaca untuk menguji hipotesis. membuat prakiraan. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. SQ3R misalnya. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. mudah-mudahan apa yang telah . yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen. klasifikasi. Dengan pengetahuan ini. antisipasi. hipotesis. Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri.

Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda. Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. kelompok kata. MMBA bersifat linear dan berjenjang. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. ortografi. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya. Kita memiliki sintaksis. Dalam model Rumelhart. kalimat. mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. dan leksikon yang bekerja secara serempak. hingga akhirnya sampai ke makna. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. yakni huruf-huruf. semantik. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. Salah satu upaya untuk .kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik. dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. La Berge dan Samuel (1974). MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. kata-kata. kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf. dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. Memang.

Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual. librarian. dan model membaca timbal-balik (MMTB). Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. berlanjut pada kilasan. pendekod. Dari ketiga model membaca tersebut. pencatat. lalu memasuki ikon. merlin. . Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja. Peristiwanya terjadi di dalam otak. Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. model membaca atas-bawah (MMAB). yakni model membaca bawah-atas (MMBA). dan pengenkodan. MMBA merupakan model yang tertua. pendekodan. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks.membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. metode Bunyi. Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak". hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. atau metode Alfabet. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca.

yakni kedua model pertama tadi. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" .Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. Ini c ----> ini /c/. Tentukan. Menurut MMTB. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan. Ini d ----> ini /d/. Ini b ----> ini /b/. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. bekerja secara serempak dan simultan. MMBA dan MMAB. pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel.

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini.tersebut. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki. f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita. . fungsi. Secara khusus. dan pengertian KEM. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini.

Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. latihan menggunakan rumus KEM. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan). (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Sebaliknya. (diucapkan kata demi kata) . 2. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. Anggapan itu sama sekali tidak benar. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa. dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca.Melalui uraian bab ini.

Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. ketimbang cara kedua. pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya. Justru sebaliknya. yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Melihat ilustrasi di atas. tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu. Dengan pandangan sekilas saja. Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami. pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. Memang. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya .Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek.

penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata. Meskipun demikian. sedangkan faktor tujuan. dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. Kadangkadang. dan jenis bacaan yang dihadapinya. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. metode. informasi fokus. teknik. Kadang-kadang. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. Dengan demikian. setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Menurut Tampubolon (1987). Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. Akan tetapi sebaliknya. membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. dan gaya membaca disebut strategi membaca. Demikian juga dengan kegiatan membaca. Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. teknik. menentukan metode. informasi fokus. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca.

kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri. pikiran. Idealnya. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini. Sementara itu. Namun. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. . Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. jadi.

3. Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah. Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi. Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. namun salahseorang murid anda. ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. Sekarang. Seperti juga kali ini. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. mari kita renungkan ilustrasi berikut. . Dengan kata lain. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. Gina. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang.

kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. selanjutnya kita sebut kemampuan visual. yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut.Melalui ilustrasi pertama. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. Melalui ilustrasi kedua. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca. Melihat kedua ilustrasi tersebut. .

dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya. Selanjutnya timbul pertanyaan.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit. proses berpikir dan bernalar. mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. Masalah selanjutnya. istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". teknik-teknik membaca. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. tingkat keterbacaan bahan bacaan. "speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca. Jika kita alihbahasakan. dan sebagainya? Oleh karena itu. yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. Sebelum itu. bahan bacaannya itu . 4. KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Tentu saja. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca. Di samping itu. motivasi.

Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi. Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. ada bacaan ringan. Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. sedang. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan . Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. Di samping itu. bacaan fiksi-nonfiksi. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi. dan sebagainya. bacaan sosial-eksak. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca.sendiri tidak selalu sama. sukar. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. Membaca karya sastra (novel. Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris. cerpen. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut.

Tentu saja anggapan ini tidak benar. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. . akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda. anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. Dengan demikian. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca.berkesinambungan. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca. KEM menuntut dua kemampuan utama. Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya. Sebagai guru. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. Di samping itu. yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca.

Pada tahap-tahap awal. (b)latar belakang pengalaman. Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana. (d)intelegensi. (c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. 1987).Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". Jika dihitung KEM-nya.000 kata per minggu. di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon. 1988). Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. Dalam keadaan normal. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness). (e) sikap dan minat. dan . Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi. karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan.

Butir a. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain. dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. d. yakni sebesar 65%. kebiasaan. Hasil penelitian Yap (178). keterampilan analisis kata. diskriminasi auditori dan visual. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness".c. Sisanya. pemahaman konsep-konsep linguistik. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. pemahaman makna kata. minat. memang ada hal penting yang perlu dicatat. dan lain-lain. Ommagio (1984) . yakni sikap. menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. Namun. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik. intelegensi. dan f (fasilitas bahasa lisan. Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. dan e (latar belakang pengalaman. sementara butir b. misalnya.(f) kematangan emosi dan sosial. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata.

minat. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. . (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan. (b)kemampuan berbahasa. maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. Menurutnya. Blair. sikap. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan. (d)tujuan membaca. antara lain: (a) latar belakang pengalaman. (c) kemampuan berpikir. Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. Seperti juga pendapat Heilman. (b)tujuan dan sikap pembaca. sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana. gaya kognitif. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. dan perasaan.berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. dan pengalaman membaca. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. keyakinan. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992).

tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Selanjutnya. Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. Bahan . Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya. Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman. teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca. Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang. melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut. Menurutnya. materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting. Keterbacaan menurutnya. sebaliknya. Meskipun pengetahuan bahasa itu penting. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability).

Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata. . Dewasa ini. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya. atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti). Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. Rumus yang satu misalnya. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat. sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit. Sebaliknya.bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. Namun.

Menurutnya. Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Minat dan motivasi yang tinggi. Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya. rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri. tingkat kematangan. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. (b)membaca dengan gerakan bibir.Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. Dengan kata lain. misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. dan tujuan membaca. Sebaliknya. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. . jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya. Sampai sekarang. melainkan bisa lebih fatal dari itu. Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). bagi guru. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. minat.

pena. (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna. kelompok kata. atau alat lainnya. (g)membaca kata demi kata. Untuk mengatasinya. . atau baris bacaan (regresi). (f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca. (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental).(c) membaca dengan gerakan kepala. (e) membaca dengan pengulangan kata. Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan.

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting. kepala. yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan. kontinyu. b) Teknik baca-lompat atau skipping. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. teknik ini juga . aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir. Sementara itu. c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. Selain itu. dan jenis membacanya. dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik. jari. Maksudnya. tangan. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. Dalam hal ini.mahaman (membaca dalam hati). bahan. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering.

misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. urutan ide pokok. 1) Mengenali topik bacaan. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini. 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca. dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut. 4) Mengetahui organisasi penulisan. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas. tetapi tidak membacanya secara lengkap. apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. 3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan. misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan.

Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. tampaknya diilhami oleh . 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. Keempat teknik membaca di atas. faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). metode SQ3R. dokter jaga. melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya. Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. daftar perjalanan.1) mencari nomor telepon. 6) mencari data-data statistik. 7) mencari acara siaran TV. dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). metode PQRST. menentukan. dan sebagainya. metode PQ3R. dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. 5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. Berbeda dengan para ahli di atas. Di samping teknik-teknik membaca di atas. dan lain-lain. Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain . 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia.

____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc.model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982).N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose. Model dimaksud tampak pada gambar berikut.text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C . attentiL on. interest. focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader.

kompetensi bahasa /--. Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1.. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. motivasi. 1981). Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca. guru.sikap dan kebiasaan .. Hafni. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982). dan lain-lain (Pearson. faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. /. dan kemampuan membaca.minat dan motivasi | (internal) |. Menurut beliau. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks. pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). minat. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca. model pengajaran. International Reading Association..Faktor dalam |. (dalam Burnes & Page. Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa. 1978. maka akan tampak skema seperti berikut ini. yakni (a) unsur dalam bacaan.

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3). 3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1).X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----. Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan .= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya.20.15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik.15 (b)catat waktu berakhirnya membaca.a) atau 10. kemudian dikalikan dengan 100%.= 700 kpm 5.30 .5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----.10. misalnya pk 10. 10.30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b . misalnya pk.2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca.20.

10 soal. 12. 18 butir X 2 = 36 II. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. I.pembagian sebagai berikut: I. 15-19. 28. maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut. bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II. 20 soal. . 9. 22-25. 5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan).

X 60 82% = 330 -----.= ------> -----.X 82% = 5.X 60 ---.= 330 50 700 X 0.X ---. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.5 50 5.Untuk contoh data di atas. penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): .5 700 X 0.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----.

Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya. 6. manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca. a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning. (c) perangkat tes (tes bacaan). pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. Tujuan Membaca.X ---. stopwatch.3850 41 3850 -----.X 82% = 330:60 -----. . Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu. KEM. mendapatkan kesan umum su atu bacaan. (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan. megetahui struktur organisasi bacaan.= 330:60 50 700 X 0.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM. kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut. mencari gagasan pokok. dan lain-lain. yakni 574 kpm.

Dengan demikian. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s. 250 x 70% = 140 . memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk). membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya.d. mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America.245 kpm . bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s.b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal. d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita. dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%. Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan. karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan. siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm. e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. 350 x 70% = 175 .d. siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. analisis nilai sastra klasik.

minat dan motivasi. kompetensi kebahasaan. Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca.d. yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. 400 x 70% = 245 . teknik-teknik membaca. sikap baca. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan.280 kpm. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca . yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru. Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. Yang termasuk ke dalam faktor ini. fasilitas. Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal. yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. misalnya intelegensi. Oleh karena itu. tujuan baca dll. dan lain-lain). Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM.* tingkat PT : 350 x 70% s. model PBM.

PT (245-280 kpm) . dan lambat. minat baca. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli. .dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada.. kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya.. SLTA (175-245 kpm). LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri. tinggi. Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini. terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut. rata-rata. A. strategi membaca.. SLTP (140-175 kpm).. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm). dan lain-lain. Jangan lupa untuk mencatat... seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan. cepat.. Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca.TEKS mulai pukul : .. Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi.

apalagi dalam karir.Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif. faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas. Pertama. Kedua. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J. Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor. dan oleh karena itu. dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan. Atau sebaliknya.P. dalam kenyataannya kurang berhasil. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu . mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana. Oleh karena itu. Guilford (1956). Karena itu timbul pertanyaan. aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik.

.. kecuali . keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia.. Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas. Apalagi di samping faktor intelegensi. a. Menurut Guilford. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen".. Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif.. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan.. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : . Pertanyaan Bacaan I. dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.. b. yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.. . 1.meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu.. padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya.. Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen. akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda... Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah.. tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen".

kreativitas. a. bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah . kreatisitas c. intelegensi dan kreativitas d. digunakan untuk mengukur . proses pemecahan masalah c. Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan.. Hubungan intelegensi.. d.. Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d. a. intelegensi dan kreativitas d.. c. Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal . pembiuatan kesimpulan yang logis . a.... kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . intelegensi b. a. kreativitas dan kepribadian c. b.c. 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban. intelegensi dan kepribadian b. Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang.. dan kepribadian. pembuatan keputusan b.

.. kapan. mengapa........ : .. Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan.. (b) berakhir/selesai pukul : . 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : .... siapa.... itu lebih baik.. Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa. KEM-nya juga bersifat ....... yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar...... III. peningkatan intelegensi II... (c) jumlah kata seluruhnya : .. (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka....... Tentu saja merupakan taksiran kasar..d. Boleh juga dengan cara "heuristik"............... 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : . 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya.. periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut....... dan bagaimana.. di mana. terhadap bacaan tersebut. (c) waktu tempuh baca anda : ............ Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain.... Oleh karena itu..........

Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 8. 6.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai. 2. 4. 7. Tabel Latihan KEM No. 10. 3. 1. 9. 5.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. . surat kabar. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada. buku ilmiah. kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan".Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. pamplet-pamplet. Pendahuluan Sebagai seorang guru. Masalahnya. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. guru bidang studi apa pun. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. dan lain-lain. Pada bab ini. Untuk pengajaran membaca. majalah. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks.

diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability. anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. . Secara rinci. (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. 2. setelah membaca bab ini.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable. "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. Jadi. Melalui bab ini. (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang. (d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. artinya dapat dibaca atau terbaca. kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. Dengan demikian. Oleh karena itu.

peringkat sepuluh. dan lain-lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli. Oleh karena itu. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca. Perhatian terhadap masalah tersebut. peringkat empat. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan. . Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. Menurut Klare (1963). 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. dimulai sejak berabad-abad yang lalu. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. misalnya peringkat enam. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan.

misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Fry. 3. terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. Dale & Chall. dan (b) tingkat kesulitan kata. bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. Raygor. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna. semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. Sebab. dan lain-lain. Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. Gunning. Flesh. Pada umumnya. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan. memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. Sebaliknya.

manfaat. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. Dengan demikian. dan lain-lain) perlu dimiliki. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. moral. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. etika. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. surat kabar. Di samping hal-hal tersebut d atas. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. pendidikan. kliping-kliping. mempersiapkan tes. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas. Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. majalah-majalah. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. pamflet-pamflet. estetika. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut. membuat rencana . jurnal.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. Sehubungan dengan hal itu. misalnya.

menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. menyusun program pengajaran. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. membuat surat kepada orang tua siswa. Kegiatan ini perlu dilakukan guru. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. 4.pengajaran. Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi. Sering kita dapati kasus. bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya. seseorang tidak . atau kegiatan tulis-menulis lainnya.

artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi. Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis. Dengan kata lain. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. Struktur yang secara visual dapat dilihat. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. jika sebuah kalimat atau kata . semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. terutama puisi.dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. Selanjutnya. Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. sebaliknya. bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga).

Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. Ibu Budi sedang memasak. Wati kakak Budi. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. Ini Budi. Wati sedang menyiram bunga.yang secara visual tampak pendek. Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. yakni menyiram bunga. . kakaknya melakukan pekerjaan lain. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. A. Pak Ahmad ayah Budi. Jika ibu Budi memasak. Ini Wati. Ini ibu Budi. B. kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. sedangkan ayahnya membaca koran. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya. Beliau sedang membaca koran. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut.

sebuah gagasan. . kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. sebaliknya. Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula. sarat dengan konsep. semakin mudah wacana tersebut.seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. kalimat kompleks tentu sarat dengan ide. Bagaimanapun. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD). tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. bukan?Dengan kata lain. Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. Oleh karena itu. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. sebuah konsep tertentu. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. Pada kenyatannya. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. terdapat perbedaan yang sangat mencolok. sarat gagasan.

kita merasa asing dengan kosakata tersebut. atau minat pembaca. tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari.Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan.rona . tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra). Oleh karenanya.asa . A. deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. Akibatnya. makna ganda.cahaya/air muka .harapan . terlebih-lebih pada . satir.muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B. dalam percakapan yang bersifat umum. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut. Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A. .era . Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita. Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. Formula keterbacaan itu.zaman .makar B. ditinjau dari sudut semantisnya. . manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B. Padahal dari segi bentuk. Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang.

sedangkan dengan formula Dale-Chall . 5. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall. Sama halnya dengan rumus Spache. Melalui berbagai pengkajian. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. Namun. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi. formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu.90. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan.karya sastra berupa puisi. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. seperti buku teks misalnya. Akan tetapi. formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana.

94. Jangan lupa. seperti tertera di bawah ini. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya. . sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya.1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5. anda sudah paham cara menggunakannya.1. bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968. Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry. 5. Berikut contoh grafiknya.1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry". Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud.berkorelasi 0. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading". Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana. yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut.

Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit. . 112.Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. 120. Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud. dan seterusnya. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. 116.

seperti angka 25. artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1. Angka 1 menunjukkan peringkat 1. angka 2 untuk peringkat baca 2. kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. 20. Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman. angka 3 untuk peringkat baca 3.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan. mungkin anda bertanya-tanya. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut.7. yakni faktor panjang-pendek kalimat.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. Maksudnya. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda. dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku. Sampel pertama mungkin diambil . mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana. Oleh karena itu. Memang. 18. 14.0. Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid.

bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang. Meskipun begitu. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter. . Selanjutnya. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan.dari halaman-halaman awal sebuah buku. Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. sampel kedua dari bagian tengah buku. dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel. Misalnya saja. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh.

dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana. Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan). Dengan demikian. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. lambang-lambang berikut. kekosongan-kekosongan halaman. Maksudnya. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat. tabel-tabel. masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. 1999. seperti Budi. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. Perhatikan contoh wacana berikut! . maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh.1. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar. =.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya. IKIP.5. melainkan akan ada sisa. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat.

Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in. Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Waktu Inu melihat sa- . 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu.Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu. Di loket tabungan ada yang mengambul uang.

ke bank.. Inu mendekati kursi itu... . orang.. uang.. Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari . karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan. lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti... 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri. (3)Di loket tabungan .. Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana.69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana. (2)Di bank itu . Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah.

lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. berdiri.1 kalimat. (7)Mereka melayani. lain...1 kalimat. Contoh lain. Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk... (9)Inu menunggu . (11)Waktu Inu ..(4)Ada juga ... maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti.. uang... Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus. itu.. . Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah.. (6)Ada juga . antre. (5)Di loket yang .058 dibulatkan menjadi 0.. (12)Inu mendekati . antrean. tunggu. tabungan. jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata. (10)Dia memperhatikan . itu..5 kalimat.. Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut. rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat.. maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10.... Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12... (8)Ayah Inu . Dengan demikian.

2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang. maka untuk angka dan singkatan. Caranya. Di loket yang lain orangorang juga antre. setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata. Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang. Misalnya. Di loket tabungan ada yang mengambil uang. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . IKIP terdiri atas 4 suku kata.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). 234 terdiri atas 3 suku kata.

Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas. Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu. Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata. Demikianlah cara ini kita kerjakan. Inu mendekati kursi itu. maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3). Petugas pun mengerti. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. dia segera berdiri. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. . Data yang kita peroleh pada langkah (2).in. hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata.

Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku.1. dari bagian tengah buku. Oleh karena itu. 6.Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6.3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. Penyimpangan mungkin terjadi. selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya. 5 yakni (6-1). untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya). atau surat kabar. dan dari bagian akhir buku. peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat. dan 7 yakni (6+1). Sebagai contoh. Untuk artikel dan jurnal. . yakni wacana dari bagian awal buku. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. baik ke atas maupun ke bawah. 5. Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali.

Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini. struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. 7.9 6. dan 8. Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal. .3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. terutama dalam hal sistem suku katanya. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut.Sebagai contoh.6 5. 2) Saya pergi ke sekolah. Kedua.5 6. tengah.8 18. mari kita perhatikan perumpamaan berikut. dan akhir buku). Seperti kita ketahui. tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6. 1) I go to school. Artinya. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris.

pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir. Tetapi. rambut. Berdasarkan contohcontoh berikut. misalnya: hand. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. tooth. Oleh karena itu. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). Dalam bahasa Inggris. bibir. lip. leg. mulut. mouth. hair dan seterusnya. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). kaki. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. gigi. foot. Berdasarkan kenyataan tersebut.5. head. Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. seperti kelas 1 dan 2. hal itu mustahil terjadi. kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun. . kepala.

5. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. Contoh wacana tersebut. data jumlah suku kata 228 X 0. 4. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4. maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12.6 = 136. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry. Dengan hasil pengukuran tadi. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi.8 dibulatkan menjadi 137. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). Dengan demikian. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry. karangan Dendy Sugono. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993.6. tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya. dan 5 sekolah dasar.Berdasarkan contoh kasus tersebut. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. . wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas. yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0. namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan.

jika jumlah wacana itu ada 26 buah. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu. Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut.1.4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata. pengumuman-pengumuman singkat. maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian. para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. Langkah (3) . yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu.5. misalnya. maka bilangan kebulatannya ialah 30. Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry.

Selanjutnya.0 1.1 Mari kita perhatikan contohnya.67 1. Dengan demikian. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3.Dengan kata lain.5 2. Selanjutnya. perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini.25 1.43 1. Dalam contoh di bawah ini.3 2. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana. guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? .

3 = 6..-.-.--? -.--.. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah.6 * jumlah suku kata: 60 X 3.-.-.-.--. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3.---. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut.--. (d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3.-.--.-.-. cocok untuk peringkat universitas. maka akan kita dapati data berikut ini.3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry.-.-.-.Wacana jumlah suku-kata ---. .3.-. titik temu dari persilangan data kalimat (6.6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.--.. .-.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas.

Namun. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi. Kedua kalimat di atas itu. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini. a) I watch TV every night. Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor.1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry. Jika demikian. sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata.2. b) Saya menonton TV setiap malam. bahkan sangat berbeda. Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih. jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama.2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. masing-masing terdiri atas lima kata.5. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan . Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata.

Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah.2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry. Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin. Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata."Grafik Raygor".2. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut. kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit". Untuk mengenali formula ini. Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas. mari kita perhatikan grafik berikut. yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih. . Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula. Namun. Oleh karenanya. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah. Grafik Raygor. 5.

Salah satu sebab . Begitulah seterusnya. yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih. Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi. Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. bukan oleh unsur semantisnya. Sebagai bahan latihan. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf.

buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? .. Namun..yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis. Grafik Fry lebih banyak digunakan ... anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya..... dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk.. perkembangan-perkembangan.... Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya.. akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan. Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor.. 1948)...... bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia.. buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? . Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? ..

Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala. 5. .Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi. Dari 100 buah wacana yang diteliti. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat. Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris. Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0. yakni dalam hal efisiensi waktu.87. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor.

Wacana 2 . terutama wanita. Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih. dan seterusnya.dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat. makanan-makanan tertentu. jamu ini dan jamu itu. Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini. Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. obatobatan tertentu.

Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide. Kata advertensi diganti dengan kata iklan. yang dapat . Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. tujuan hidup orang tidak sama. Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. Pada umumnya. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. kata terpampang diganti dengan kata tampak. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya. Orang yang memperhatikan urusan mode. Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. Namun. Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama.

Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik. . apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas. Waktu anda membaca wacana di atas. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman. setiap bunga terdiri atas satu poros bunga. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana. Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung. fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan. Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---. Pada umumnya. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek).berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial.---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga.

kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. Dengan kalimat yang pendekpendek. kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah. Biasanya. atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. Ketika kita membaca wacana yany pertama. tergolong ke dalam kata sukar. Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah. yang belum diubah. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. . Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. biasanya jauh lebih mudah.

Anda jangan keliru.3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. boleh jadi bertambah. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya. . Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal. mungkin juga berkurang.

coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut. yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. Namun. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan.Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor). baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. . 3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik.

yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju. karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. yang merupakan lambang abad antariksa. Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. dan tomat. jagung. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. Augustine. . kacang-kacangan. di mana mereka tinggal secara tetap.

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka. Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10. Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik.000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%. . Setelah mempelajari uaraian bab ini. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. Secara rinci. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. Sungguh dramatis. Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. sudah dianggap cukup.000 per minggu. artinya 8 jam/ hari.

b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. Mungkin karena itu sebabnya. Siapa membaca cepat dialah yang dapat. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. umpamanya. Demikian juga dalam membaca.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya. membaca pun memerlukan latihan dan keuletan. Seperti bermain tenis. Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan. c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Hakikat Membaca Cepat 2. 2. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya. dan dia pulalah yang kuat. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan.

bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil.. ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami.. baik . strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya... Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca. tepat. ... Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi... Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan. Persoalannya. hakikat dari strategi membaca cepat.. bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial. maka kemampuan membaca pun pasti membaik.. demikian disebut .. tepat. kalimat efektif. Dengan demikian. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Tetapi.. Kalimat .yang menguntungkan. demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan.. jelas . dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon. mudah dipahami oranglain .. Kalimat fektif haruslah .. Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat. Oleh karena itu. Kalimat .. Inilah sebenarnya..

.. kemauan. dan sebagainya.. Gerak istimewa. Pertama kita hadapi alam.. makhluk . . tergerak hatinya.......... logam.......... hal ini tercapai.. ia takluk sepenuhnya . gaya tarik .. Hal ini berarti . keinginan penulis. tanah. kita melihat alam sekitar kita....pembacanya . Yang ada . dalam dirinya sendiri. .. mati . Selanjutnya. batu. maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing... sifatnya .... diharapkan pembacatertarik . gaya berat. ba tu. Pertama kita hadapi alam yang mati.. . tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu. gayatolak . "... logam...mewakili pikiran . Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin . Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%.. keadaan .. Kita menyebut ... tampaklah .. .. mari kita lihat ilustrasi yang lain.. kalimat efektif disusun ...alam . tanah. Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya. sekitarnya. Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut. sekaliannya terikat pada tempatnya . penulis .. .. mekanis". apa yang dibicarakan.. tidak mungkin menimbulkanperubahan ......... "Kalau kita melihat alam sekitar kita. mati. tak adapadanya. mencapai daya informasi yang dinginkan . sadar .

Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. gaya tarik. Dengan MC. Yang ada hanyalah gaya berat. Gerak istimewa.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. . dan kebebasan tidak ada padanya. 2. Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu. bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. dan gaya tolak yang mekanis. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya.menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri. kemauan. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda.

setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus. maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen. Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. . Pada permulaan latihan MC. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. Dengan kata lain. Selama latihan. Dengan demikian. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. irama empat detik/halaman. itu yang pertama kali ditumbuhkan. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. Pada waktu Anda mulai berlatih. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing. yang diikuti dengan pindah halaman. Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". Kunci utama MC ialah melaju terus. dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya.irama dua detik/halaman. dan seterusnya). Melalui latihan yang tekun. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC. Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik. Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas). ialah satu detik satu halaman.

1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. bacalah dahulu penjelasan berikut ini. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru. Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. sebuah stop watch. kalau ada. POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah.Kemampuan membaca satu halaman per detik. serta minat baca yang tinggi. maka Anda sudah boleh merasa puas. 3.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman. POLA DIAGONAL . 2) Sediakan pula arloji atau. atau kira-kira 20.

POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang. Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. POLA BLOK . Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman. gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri. bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah. POLA SPIRAL Pada pola ini.Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu.

Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. suatu kecepatan membaca yang lumayan. Blok ini umumnya merupakan paragraf. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Seraya membaca. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja. kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. atau kira-kira satu detik/satu baris. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik. Anda pun diharuskan . Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Sekarang.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat.

dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. Selanjutnya. bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris. setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. Irama ini sangat mudah diikuti. Dengan latihan 5 menit. dan berhentilah pada halaman 50. Supaya lebih mudah. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. Anda tidak perlu merasa kecewa. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit. Nah. Berlatihlah selama lima menit. segeralah kembali ke kiri. ikuti petunjuk berikut ini. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi. Setelah selesai membaca 30 baris. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. Caranya. Setelah . Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat.

Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan. 4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC. Berlatihlah dengan intensif. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya. 1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca. Anda harus bertahan.selesai membaca buku. maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. paling sedikit setengah jam sehari. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi. Mulailah dengan biografi . Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. 4. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau".

dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca. Sambil membaca Anda harus bertanya. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini. perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. Segera setelah Anda merasakan kemajuan. Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. cerita petualangan.berfiksi. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi. Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap. Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. 10)Membacalah dengan tekanan progresif. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit. . masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya. 8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain. fiksi keilmuan. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. lakukan survei selama dua atau tiga menit.

13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata. Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. . Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan. cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan. sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. Kalau hal seperti itu terjadi. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. atau mungkin memeriksanya dalam kamus. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda.

1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan. Lain halnya dengan zaitun. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. pangan. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara.4. Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman. Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. . maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. Walau demikian. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya. jumlahnya berlimpah ruah. tidak perlu hujan ataupun mata-hari. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu.

transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum.Di dalam paragraf di atas. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas. Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. dan sifat-sifat pohon zaitun. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya. Dalam paragraf ke-2. Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. Paragraf (3) . Cobalah Anda baca. Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu. Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. Dalam pada itu. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna. kegunaan. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi.Kemasyhuran. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut. Paragraf (2) Arkian. dan tidak pula memerlukan filamen. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama.

Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. . dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. dan menamakan diri "Columbia". dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. Pemimpin mereka. Dan semenjak Perang Dunia II. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". Semua peralatan ada dalam keadaan siap. dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. dan Hitler bukanlah penciptanya. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. pegawai pemerintah. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. dan kesetiaan". Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya. kemampuan. dan tes pun terpaksa diundurkan. Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. Emory Burke. Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf. Kira-kira 500 orang saintis. Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. Georgia. Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. bangsa. Tetapi.

bukit. berturut-turut biru. Gunung. Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. hijau. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. dan coklat. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. tanggal 4 Desember 1989. Paragraf (5) Sore itu. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya. Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform. daratan.Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya.

2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif. Para ahli. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. Selanjutnya. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya. Pada tahap mekanis. 4. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial. kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. Dengan kata lain. Anda . Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan.

. demi. MF yang dilakukan oleh pembaca ini... mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan... frase . melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat. mereka . Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata. maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur... mereka me nulis . kata . Berdasarkan pAndangan mekanis.. menulis . pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis.1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca.. frase demi frase". membaca merupakan rentetan hentian- ... Kalau mata bergerak terus.. mata harus berhenti sejenak. kata demi kata . Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis .... menulis .2.. "Penulis tidak menulis .... frase".kata .... demi .. tidak . supaya dapat menginterpretasikan kata-kata.. atau supaya dapat "melihat" sesuatu. 4.tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca... Sesungguhnya. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut.

Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca". pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. Pada umumnya. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu. dan setelah itu terjadi pula hentian. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . Dalam membaca frase. Dengan demikian. Namun. Dalam membaca senyap. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah.hentian visual. Pada setiap hentian. Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata.

gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. Mereka akan membaca lebih banyak. Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. Sekali lagi. Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat. atau pun calon pianis dan sebagainya. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya. atau seorang calon petinju. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola. harus pula . sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual.

Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun..*.... ........ ......*..................*..........................*...........*..*...... .....*..................................................*. Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi.................... Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang................ ..................... Hasilnya terbukti sangat memuaskan.....................................*........*.......... ....*.. Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap.....*....*...................................dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir.........................*..........*.................... Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan. ......... lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya.......................... Silakan coba! ...*...... .. dan jangan pula menggerakkan kepala............. Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF...... "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun.............*...... Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang.*..................*........... ... .. ......................................

terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih.2. Sebelum mulai membaca. Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan. sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona. ratusan ribu. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. Proses MF. penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata. Selanjutnya. Anda akan menjadi lebih . Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi. Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual. 4. bahkan jutaan. ialah gerak mata. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual. Sambil membaca. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase). Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK). Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna.

Contohnya: surat kabar. Mulailah secara perlahan-lahan dulu.". yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF. subjek biasanya mendahului predikat. rumah sakit. tetapi belum dijelaskan artinya. Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase. tetapi perut saya. Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: . ibu guru. Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa. Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti. Kata penghubung menyatukan frase. Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan.sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase".. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti".. Contoh: "Saya gemar makan pedas.. Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. Di samping pengertian kalimat. dan lain sebagainya. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata. Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. daftar pelajaran.

Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya.(a) kecepatan membaca. (b) kecepatan menangkap makna. di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi. maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu. tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil. maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti. Untuk kepentingan latihan Anda. Namun demikian. bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai. Demikian seterusnya. dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. "Rumah pun habis dibakarnya". . Kata "rumah" misalnya. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri. Setiap kelompok kata dikotaki.

Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. (3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi. Dengan kata lain. Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti. Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. Untuk keperluan latihan. Pada mulanya . ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun.

teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda. . Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. Karenanya. memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara.Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari. Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. Percayalah. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. sebab menurut penelitian. membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik.

yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama.2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN . 5. Pada mulanya. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden. dan graphein yang berarti menulis. Dengan demikian. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas.5. Pada umumnya. Biasanya. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam. Dengan maksud yang sama. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. Membaca Paragraf 5. paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks.

Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. cobalah gunakan . b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok. Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat. 3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca. maka pilihan Anda itu benar. c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini. Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf.1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf.

Namun. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . Bacalah paragraf itu seraya bertanya. "Apa arti semua ini?".prosedur ke-4. 7) Terkalah pikiran penulis. Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. Kalau maksud Anda demikian. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya. Periksalah terkaan Anda. Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. 6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit. Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan. Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung. ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja.

Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural. ialah tentang strukturnya.untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama. . ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. 3) sebagai kalimat pemuas. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. Setelah membaca prosedur membaca paragraf. Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. Sebelum mulai dengan latihan. mungkin Anda ingin segera berlatih.

Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. Cobalah pelajari baik-baik. Dia masih ingin menjelaskan idenya. 2. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. ialah mengulang-balik pikiran utama.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca. dan sebagainya. Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini. b) Dengan pembedaan. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu. Pada dasarnya. Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. atau contohnya. c) Dengan contoh. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. a) Dengan ulangan. Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca. . biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. d) Dengan pembenaran. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. sebab. Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. membaca adalah suatu proses psikologis. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama. umpamanya.

pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima. 5. . seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan. 4. Bahkan. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar. Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. 6. dan sebagainya. 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. 7. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu.3. bibir. 7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok. lidah. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata.

"Bacalah bab ke-2.3 Membaca Bab 5. Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak. ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang". Supaya Anda tidak . apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. 2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta.1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini.5. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu.3. Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran. Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku.

Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir.menemui kesulitan seperti itu. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. Hal itu akan dilakukan kemudian. mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. membuat catatan. Untuk menyederhanakan sebuah bab. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi. cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. menguji pemahaman. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga. . Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf. Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan. Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. dan melengkapi keterangan yang diperoleh. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu.

cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. lalu tutuplah buku Anda. Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. jika Anda memerlukannya. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. Berilah angka pekerjaan Anda itu. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. sebelum pergi kuliah. Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu. Lihat kembali bab 3 buku ini. Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. Ulanglah tes seperti itu secukupnya. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. Setelah selesai. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. . Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu. Baca lagi kartu itu. Setelah selesai membaca suatu bab tertentu.

Materi Pokok Membaca. data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya. | | | | | | | | 6. (1988:21). Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga.1 pengertian 6. Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing.S. Contoh kartu baca. .2 Fungsi 6.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5.Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad.5 Prosedur Penilaian 6. berikut disajikan sebuah contoh kartu baca.| | Jakarta: PT Karunika. A.4 Kriteria Pembuatan 6.3 Manfaat/Kegunaan 6.3. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana. Percacalah! Sekedar contoh. Yang penting.2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya. Teknik Isian Rumpang 6.

ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja. 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. misalnya). 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas.1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku. 5. Puisi . 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra.bab lainnya. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. 7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. Pada umumnya. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku. Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik.4 Membaca Buku 5. 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya.Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf. 5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab.4. Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel. 2) Buka baliklah daftar isi.

misalnya. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. drama.4. Keempat pertanyaan tersebut. 5. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat .2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu. novel. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. 1) Secara umum. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. kalau ada bacalah kata pengantarnya. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel. Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen.

sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. lihat uraian terdahulu. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya. dan bertanyalah pada diri sendiri. melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. Dengan demikian. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. 3) Periksa daftar indeks buku. . Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. Berhentilah sejenak. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab. Namun. Dengan melihat daftar isi buku. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. serta nama-nama tokoh penting. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. Sampai di situ. jenis-jenis buku. 5) Selanjutnya. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan. coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit.

hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut. dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan.5.6) Akhirnya. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi). Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas.5 Membaca Karya Sastra 5. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya. Pada . 5. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel. pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain. Anda tentu tahu. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya. atau tidak memberikan informasi baru. jika penulisnya berhasil. Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya.

Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. dan akhir.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). baik pada prosa maupun puisi. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku. cerpen. sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. Anda harus menemukan bagaimana puisi. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya. yang terdiri atas bagian awal. Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. drama tersusun dari bagian-bagian. peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. rincian-rincian. dan berbunga-bunga.umumnya. Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. tengah. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. juga berlaku untuk membaca karya sastra. pertanyaan ini dapat . Namun. Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra. Adakalanya. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda. samar-samar. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya. Untuk bacaan sastra. novel.5. Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu. 5.

Puisi juga memiliki tokoh. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. perasaan-perasaannya. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya.5. Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa. Setelah membaca puisi. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya. tengah. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra. 5. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri. ataupun drama. namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. lingkungan mereka. dan akhir. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. Anda terlibat sudahlah cukup.2.1 Prosedur Membaca Novel . cerpen. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya.dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Bagi penulis karya sastra. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. tindakan-tindakannya. melainkan kebenaran khayalnua. novel. Meskipun begitu. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. pikiran-pikirannya. Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda.

6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis.5. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot. 7) Kenalilah bagian permasalahan. 5. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai. seperti halnya dalam cerpen. dan solusi atau bagian akhir cerita. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. Mereka beranggapan.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif. Di samping itu. pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan.Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. 4) Camkan bagian tengah cerita.2. klimaks. bahkan bacaan pada umumnya. Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita. 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik.

Tentu saja.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. Oleh karena itu. dan lain-lain. meskipun dengan bantuan konteks. puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. memahami. Kedua. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. Keempat. Ketiga. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. kekayaan ilustrasi. Artinya. berkenaan dengan penampilan sajak. sajian berbagai media. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan. Pertama. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. berkenaan dengan daya tarik bunyi. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa. puisi itu harus berada pada tingkat literal. diskusi kelas. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik.

Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. pola spiral. Namun. yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. ide/kalimat inti. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. pola blok. ide/kalimat penjelas. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. membaca bab. membaca paragraf. pola diagonal. Pemaduan dua keterampilan. dan pola horizontal. dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal. misalnya metode membaca frase. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang. pola zig zag. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di .

Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu. ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. 1) Secara umum.seputar isi bab itu. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang. Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. Keempat pertanyaan tersebut. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Andaikata di sana ada juga nyamuk. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. Tetapi bagiku. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari.

Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. mempersamakan . Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit.dan murai berkicau di hari senja. Namun. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman. sikap. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf. Karenanya. Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan. Di dalam paragraf. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. dan pelarapan emosional.

Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3. Instruksi: 1. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya. Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah.kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide. Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan. 2. tunjukkan buktinya! .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful