HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

ialah sikap pembaca yang aktif. menolak. pada peringkat yang lebih tinggi. menerima. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang. dan pengalamannya. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. perasaan. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. membandingkan. pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. 2.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. melainkan berarti pula memahami. Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif. Dengan demikian. Sebenarnya.

5) bahasa. 3) jenis kelamin. dan 11)tingkat kemampuan membaca. Karenanya. 8) sikap. yakni: 1) intelegensi. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca. Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. 4) tingkat sosial ekonomi. 6) ras. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. 9) pertumbuhan fisik. . Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. 2) usia mental. 10)kemampuan persepsi. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. 7) kepribadian.

ialah usia mental. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya. Untuk membedakan IQ dan MA. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya. IQ x CA MA = _______ 100 . dengan MA dan IQ. benar. namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age).Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). bahkan sangat sering. yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental. sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA. untuk tes yang sama pula.

110 x 6.6 12 .2 = ------.2 79.x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6.= 6.MA IQ = --------.0 dengan cara berikut ini.0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.

yang banyak tingkatannya itu. namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi. umpamanya.6 dan 6.x 100 CA 6.6 = ----. . maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan. diketahui (6. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting. berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum.x 100 6. Harris (1970).0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca. bukan menjelaskannya. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental.0). tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ. dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----.

Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. dikenal pula hal yang sama pentingnya. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. prosedur mengajar. tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat.Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. bahkan mungkin lebih penting. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun. Namun. semenjak itu. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun. Namun demikian. Dia . prosedur dan metode mengajar. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu.

3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. .35 dan 0. dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas.80. kesiapan membaca. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal. 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca. prosedur. motivasi. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada. seperti yang tertera di bawah ini. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik. Ada lagi dua orang ahli. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0.

0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. dapat membaca 50 kpm B. 130 D. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C. Tes Formatif 1 1. > 130 maka dapat 3. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu. 120 C. Jika diketahui bahwa usia mental 7. mampu membaca di atas peringkat empat .8 dan usia kronologis 6. mampu membaca sampai peringkat empat saja D. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2.5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas. 110 B. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A.

Gates menemukan data bahwa besarnya kelas. enam setengah tahun 6. dua tahun B. lima tahun C. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A. enam tahun D. empat setengah tahun 5. Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. antara enam dan enam setengah tahun D. enam tahun C. di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja. tiga tahun C. Masih banyak faktor lain yang sama . tiga setengah tahun D. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A. enam setengah tahun B.4. empat setengah tahun B.

Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%). Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca. sebab jauh sebelumnya. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan. yakni tahun 1940. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. sampai 50%. . Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah. menengah.20%). tingkat kesehatan yang rendah. ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu.pentingnya. dan rendah. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut.

banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil.kepadatan lingkungan. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. tingkat motivasi. atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. membaca buku dan majalah. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. tempat kediaman yang tidak stabil. Di sisi lain. Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. dan tekanan ekonomi. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian. Di pihak lain. yakni latar belakang pengalaman. Sayang sekali. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak . dan bahasa. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar.ekonomi. maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan.

Tidak seorang pun menyukai kegagalan. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka. Akibatnya. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. atau surat kabar di rumah. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. tidak mau membaca.memiliki pengalaman yang luas. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. temanteman. majalah. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. Dengan alasan tekanan ekonomi. Kakak-kakak mereka. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah.

Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. bahkan sebaliknya. dan imperatif. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan. klause-klause terikat. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah. deklaratif. meminta sesuatu. tidak mampu berbahasa formal. menyatakan persetujuan atau penolakan. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang . dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah. Struktur yang kompleks. Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu.menerus itu. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. dan 4) indentifikasi kata-kata. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. yaitu stimulus. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. mencium. tidak percaya diri. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. dan meraba. 4. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. gelombang cahaya. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. Seperti dalam proses sensoris. langkah pertama.memiliki motivasi. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. yakni melihat dan mendengar. yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Namun. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . mendengar. Seperti telah disinggung di muka. serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. mengecap. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris. sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi.

pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. sesuai dengan namanya. Langkah kedua dalam persepsi. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. maka semakin . Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu. Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. Akan tetapi. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas. tetapi kita membawa makna kepadanya. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat. tidaklah memberikan makna apa pun. maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. Sebagai contoh. atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. ialah meminta. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. Sebaliknya. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi.

Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). Sama halnya. . dan asosiasi emosional dan fisik. latar belakang budaya.mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. paragraf. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. bab. akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. banyak berdarma wisata. mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. bahkan cerita. seperti pengalaman lalu. banyak berkunjung ke toko buku. Sesungguhnya.

anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. Dengan kata lain. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala. Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. Untuk mengembangkan kemampuan membaca. dan kesengsaraan. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. berpacu meluncur di salju. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus. mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. . kedinginan. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan.

ukurannya. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. wanginya. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. punai. Bunga itu bermacam-macam warnanya. ada perkutut. ada balam. bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. Dengan kata lain. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. ada merpati. Setelah pengalamannya berkembang. menganalisis. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. jenisnya. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. bentuknya. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. dan sebagainya. Demikian juga dengan kata bunga. anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik. Sewaktu bermain rumah-rumahan. mulai dari daerah-daerah yang konkret. Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. dan sebagainya. sangat nyata dan khusus. macam-macam gelas. dan menyintesis. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. . dan sebagainya.

cerita. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. tetapi oleh kebudayaan. Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. . dan kalimat dalam wacana. dan berbagai kegiatan kelas. 5. pengalaman. gambar. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. dan bahkan kepribadian juga.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. emosi. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. kematangan. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. Penampilan audio-visual. Oleh karenanya. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. permainan. waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. kata-kata.

Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. Pendek kata. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. dan lari . Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru. demikian seterusnya. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya. kalau dia tidak mau tersesat. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. berjalan pada usia delapan bulan. pada usia empat bahkan tiga tahun.dan bilamana berakhir. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. Pekerjaan baru. Namun. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu. suasana hidup yang baru.

Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. Oleh karena itu. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. . guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. Pertama. Membaca bukanlah proses instinktif. ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak.pada usia sembilan bulan. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. Namun.

Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna. atau pun tingkatan-tingkatan akademis. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. 6. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. metode. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. Oleh karena itu. membaca pemahaman. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor. melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. . Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Keterampilan itu objektif. Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. pengembangan kosakata. dan pelajaran keterampilan. pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

B. pengenalan. . Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. di kota C. (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya. Oleh sebab itu. yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan. dan penerjemahan atas suatu fakta. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu. dan (3) Kino sangat miskin. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru. apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. penginterpretasian. Untuk menjawab pertanyaan kedua. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita.

ros. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. proses perkembangan. /C/ kapital. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. /c/ kecil. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan. dan kenanga sebagai bunga. .d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. dan penginterpretasian informasi. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. namun prosesnya belum tentu lengkap. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. dan proses perkembangan keterampilan. seperti pengenalan ciri-ciri melati. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama. pengidentifikasian. Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. proses sensoris. proses perseptual.

Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti.Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar. . anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda. Dengan membaca dan memahami isi bab ini. Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang. Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya.

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. dan spesifik. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. baik teorinya sendiri maupun modelnya. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969). Teori kinetik untuk gas itu. Namun.MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. Sebagai contoh. panas. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model. meliputi sejumlah hukum yang valid. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini. yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. cermat. . Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu.

Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. proses informasi. psikolinguistik dan linguistik. Model membaca itu . Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental. Secara lebih khusus. Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca. b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". 2. Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an.Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. c) menjelaskan "model membaca interaktif". Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas". uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. Sayang. Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca.

. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model. Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. Namun. Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan. yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up. Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down.ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive.

Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder. MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama. Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. dekode dan enkode. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. Sebaliknya. Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan.MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama.

Setelah itu. Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. seperti: Flesch (jurnalistik . Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . Di situlah tempat pembaca memperoleh makna. Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Gagne (psikologi). Para penulis berbagai bidang profesi.komunikasi tulis). Menurut MMBA. Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu. Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin.

Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya.C. metode Alfabet. Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. huruf "D" tidak . huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. huruf "L" diucapkan /el/. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. Fries (1962). Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua. metode Fonik. Dalam Metode ini. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya. tetapi /kh/atau /ek/. Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C. metode Silabik. dan sebagainya. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. metode Kata Kunci. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. huruf "K" diucapkan /ka/. Itulah sebabnya dalam metode Fonik.

(5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama. metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya. proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini. para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat).diucapkan /de/. Dengan demikian. (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon. Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf. Salah seorang tokoh MMBA. . dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. Menurut pendapatnya. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu. Dengan bantuan alat visualnya. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. Oleh karena itu. Demikian seterusnya. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. tetapi /dh/ atau /ed/. tidak interaktif.

. struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD). (7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu. Dengan demikian.(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. (8)Akhirnya. kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD. Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA. setelah maknanya dipahami. dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin".

Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3.

bukan dari otak pembacanya. Ketika informasi itu diproses. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. informasi grafis itu semakin berkurang . Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. atau mungkin memperhalus masukan tersebut. model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca. Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak. yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak. yakni dari bacaan. Berlainan dengan MMBA. karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca.bacaan. Oleh karena itu. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. menolak. dan grafik. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. sintaksis. MMAB mengajukan hal lain.

memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu. maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah .bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula.pula tingkat keperluannya. sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga. Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini. Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. Shuy (1977). Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. Jika prakiraan itu tidak cermat. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis. Psikolinguis yang lain. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan.

bacalah wacana di bawah ini. Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa.asumsi tentang prinsip kerja mata. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. Dengan MMAB. Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? . Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. Memang benar. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat. Dengan bantuan prediksi. Mungkin. Namun. Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time".

Informasi visual dan informasi . dibelakang matanya. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. Dengan demikian. sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Sekarang. Bagi Smith. dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna.Nah. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya. Untuk memahami wacana yang dibacanya. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang.

Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. sangat perlu diperhatikan. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual. sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya. Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Gambar ini . tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. Sebaliknya. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini.

Namun sesungguhnya. Oleh karena itu. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik. Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya.memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak. Kita melihat sesuatu. asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. Lebih dari itu. mata kita sama sekali tidak melihat. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan. kemudian masuk ke dalam otak. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. .

jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. Bagi mereka. Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata. tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. berita yang masuk melalui syaraf. otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. Oleh karena itu. Jalan mios dan angka sepuluh. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. Dengan demikian. otaklah yang melihat. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. Sebuah perkiraan. Dengan kata lain. Dengan kata lain. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi".kesan. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. sudah tentu. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata. Otak. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir. sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. Padahal. jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. kegiatan memperkirakan.

hijau. meja. Lebih dari itu. binatang. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. Sekarang. awan. roti. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. gunung. Menurut hasil penelitian. Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. biru. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. seperti pepohonan. tetapi artinya tetap berbeda. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. ialah dengan sekali pandang. sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". karena sistem tulisan mereka kebetulan sama. Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. kapal terbang. karena penulisannya berbeda. Fonik itu tidak efektif. hitam. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. Dengan demikian. nasi. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning. Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. dapatkah anda memahami maknanya? Ya.Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. . Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. kursi. dan sebagainya. tidak perlu. kereta api. dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. bukan lambang-lambang bunyi. mobil. Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. merah. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya.

Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko.Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. Namun. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. Jika pada waktu membaca. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. mungkin dia itu membaca tidak efisien. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. dikenal istilah tunnel vision. pada saat orang sedang membaca. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. yakni peristiwa penyempitan pandangan. maka penglihatannya akan sangat terbatas. . yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. Akan tetapi. Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. Jika sewaktu membaca. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami. jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya. atau membaca dari belakang mata. TV. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV. Hal ini bisa terjadi.

semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca. Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan. 4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. Kecemasannya itu menimbulkan TV. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. sebab masalahnya sangat relalatif. 3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil.Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. Sayang sekali. Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. maka penyembuhannya mudah dilakukan. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan . dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak.

dan sebagainya. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. TV terjadi pada anak secara individual. Oleh karena itu. penanganannya pun harus didekati secara individual. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. Di samping itu. TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. Karena itulah. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. ceramah. Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. bukan pembacanya. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi. dalam artian kelompok pembaca. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. Caranya bermacam-macam. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa. mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. melalui film. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . Jika anak dihinggapi rasa takut.

Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier. tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik. Artinya. maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. tidak interaktif. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear.______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir. Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu. melainkan suatu .lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan. Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan. Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. Secara sederhana. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977). Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. 4.

PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC). Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca. PP merupakan komponen yang utama dalam model ini. Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart. Akan tetapi. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. . Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. Oleh karenanya.proses timbal-balik yang bersifat simultan. pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan.

seperti Goodman dan Ruddel. berbagai hipotesis dirumuskan. semantik. semantik. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. ditentukan. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. leksikal. dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita. kemudian disetujui. sintaksis. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak.semantik. sintaksis. Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca.

kata). kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut. hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. huruf. Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. tujuan.yang paling layak. Dilihat dari bidang pengajaran. Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca. Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. kalimat. ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah. dan sebagainya) ke struktur batin. manfaat. ke bagian yang menghendaki prakiraan. dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . Dengan demikian. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca. pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi.

guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa. hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca. Dalam praktek pengajaran membaca. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. Sebagai contoh. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca. Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. melainkan kehadiran siswa itu sendiri. Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya.

Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. baru kemudian membaca. pertunjukan film. Tampaknya.sendiri. . dan sebagainya. bercerita. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman". Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan. Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca. Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu. Oleh karena itu. karyawisata. Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya. Dengan demikian. diskusi dulu. meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa.

yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. bertanya dan bertanya. Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan. Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar.Dalam bidang metode pengajaran. membuat prakiraan. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. Mungkin. Dengan pengetahuan ini. Sebagai guru. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. SQ3R misalnya. klasifikasi. dan membaca untuk menguji hipotesis. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. hipotesis. bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. antisipasi. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. mudah-mudahan apa yang telah . Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri.

Dalam model Rumelhart. hingga akhirnya sampai ke makna. La Berge dan Samuel (1974). yakni huruf-huruf. dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi. MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya. Memang. MMBA bersifat linear dan berjenjang. ortografi. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. semantik. kelompok kata. kata-kata. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca.kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik. Kita memiliki sintaksis. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. kalimat. dan leksikon yang bekerja secara serempak. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. Salah satu upaya untuk . kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf.

hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. model membaca atas-bawah (MMAB). dan pengenkodan. Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. lalu memasuki ikon. Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. pendekod. metode Bunyi. yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. pendekodan. Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak". MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. atau metode Alfabet. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. pencatat. Dari ketiga model membaca tersebut. berlanjut pada kilasan. . Peristiwanya terjadi di dalam otak. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca. yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. MMBA merupakan model yang tertua.membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. dan model membaca timbal-balik (MMTB). yakni model membaca bawah-atas (MMBA). librarian. merlin. Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual. Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja.

Ini c ----> ini /c/. Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. Ini b ----> ini /b/. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. bekerja secara serempak dan simultan. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan. yakni kedua model pertama tadi. Tentukan. MMBA dan MMAB.Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Menurut MMTB. Ini d ----> ini /d/. pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" .

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

Secara khusus. dan pengertian KEM. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat. b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu. f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi.tersebut. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini. Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. . tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita. Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. fungsi. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca.

Sebaliknya. latihan menggunakan rumus KEM. (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa. dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. 2. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan).Melalui uraian bab ini. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. Anggapan itu sama sekali tidak benar. (diucapkan kata demi kata) .

Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. Memang. orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. Melihat ilustrasi di atas. Justru sebaliknya.Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek. Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya . tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan. ketimbang cara kedua. pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya. Dengan pandangan sekilas saja. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu.

informasi fokus. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. teknik. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. Meskipun demikian. dan jenis bacaan yang dihadapinya. menentukan metode. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca. bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. teknik. Menurut Tampubolon (1987). Dengan demikian. metode. Kadang-kadang. Kadangkadang.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif. Demikian juga dengan kegiatan membaca. penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata. sedangkan faktor tujuan. Akan tetapi sebaliknya. dan gaya membaca disebut strategi membaca. membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. informasi fokus.

pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri.kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. Namun. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. pikiran. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. jadi. pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. Sementara itu. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. Idealnya. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata. . Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen.

ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Sekarang. Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. namun salahseorang murid anda. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang. Dengan kata lain. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. Gina. Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. mari kita renungkan ilustrasi berikut. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. .3. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama. Seperti juga kali ini. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah.

Melalui ilustrasi pertama. yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi. Melalui ilustrasi kedua. . Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. selanjutnya kita sebut kemampuan visual. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. Melihat kedua ilustrasi tersebut. saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca.

bahan bacaannya itu . Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. Sebelum itu.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". Masalah selanjutnya. dan sebagainya? Oleh karena itu. proses berpikir dan bernalar. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. 4. motivasi. KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. "speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". tingkat keterbacaan bahan bacaan. Selanjutnya timbul pertanyaan. Jika kita alihbahasakan. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca. Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca. dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya. yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. teknik-teknik membaca. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit. Di samping itu. Mengapa demikian? Tentu saja.

bacaan sosial-eksak. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris. Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. cerpen. Di samping itu.sendiri tidak selalu sama. Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. ada bacaan ringan. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai. Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. sukar. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut. sedang. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan . Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. Membaca karya sastra (novel. dan sebagainya. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. bacaan fiksi-nonfiksi. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi.

Sebagaimana telah dijelaskan di muka. Sebagai guru. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca. Di samping itu. Dengan demikian.berkesinambungan. Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya. KEM menuntut dua kemampuan utama. Tentu saja anggapan ini tidak benar. anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. . yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda.

(c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. (d)intelegensi. Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". (b)latar belakang pengalaman. Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana. seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon. dan . di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. (e) sikap dan minat. tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. Pada tahap-tahap awal. karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. 1988). Jika dihitung KEM-nya. Dalam keadaan normal. 1987).000 kata per minggu.Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness). Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi.

Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. dan lain-lain. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness". yakni sebesar 65%. yakni sikap. d.(f) kematangan emosi dan sosial. kebiasaan.c. memang ada hal penting yang perlu dicatat. sementara butir b. Butir a. dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. intelegensi. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. diskriminasi auditori dan visual. dan f (fasilitas bahasa lisan. sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain. keterampilan analisis kata. Hasil penelitian Yap (178). Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. pemahaman konsep-konsep linguistik. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata. Sisanya. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. Namun. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. dan e (latar belakang pengalaman. pemahaman makna kata. Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. misalnya. minat. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. Ommagio (1984) .

minat. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. . antara lain: (a) latar belakang pengalaman. gaya kognitif. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. (d)tujuan membaca. sikap. (b)tujuan dan sikap pembaca. dan perasaan. Blair. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana.berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. (c) kemampuan berpikir. Seperti juga pendapat Heilman. Menurutnya. (b)kemampuan berbahasa. keyakinan. maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. dan pengalaman membaca. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan. (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992).

Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut. sebaliknya. Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. Bahan . melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability). Meskipun pengetahuan bahasa itu penting. Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. Menurutnya. Keterbacaan menurutnya. Selanjutnya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman. teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca.

sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit.bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. . Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti). Sebaliknya. Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. Rumus yang satu misalnya. Namun. Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. Dewasa ini. hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata.

Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri. minat. unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. Dengan kata lain. belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. Minat dan motivasi yang tinggi. Sampai sekarang. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. (b)membaca dengan gerakan bibir. bagi guru. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya. Sebaliknya. . dan tujuan membaca. Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. melainkan bisa lebih fatal dari itu. Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Menurutnya. tingkat kematangan.

. atau alat lainnya. (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna. (f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). pena. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental). atau baris bacaan (regresi). (g)membaca kata demi kata. tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca.(c) membaca dengan gerakan kepala. Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan. (e) membaca dengan pengulangan kata. kelompok kata. Untuk mengatasinya.

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata. b) Teknik baca-lompat atau skipping. Dalam hal ini. dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang. bahan. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. Sementara itu. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting. Maksudnya. yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca.mahaman (membaca dalam hati). kontinyu. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. dan jenis membacanya. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. kepala. Selain itu. tangan. Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering. pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. teknik ini juga . c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. jari. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir.

Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. urutan ide pokok. yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan. Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan. 3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas. 4) Mengetahui organisasi penulisan.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). tetapi tidak membacanya secara lengkap. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini. 1) Mengenali topik bacaan. Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping. 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca.

Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain . tampaknya diilhami oleh .1) mencari nomor telepon. dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. menentukan. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. dokter jaga. metode SQ3R. 6) mencari data-data statistik. dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. Berbeda dengan para ahli di atas. Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia. daftar perjalanan. melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya. Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. 7) mencari acara siaran TV. Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. metode PQRST. dan sebagainya. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. dan lain-lain. Di samping teknik-teknik membaca di atas. metode PQ3R. Keempat teknik membaca di atas. 5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu.

Model dimaksud tampak pada gambar berikut.text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C .N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose. ____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc. attentiL on.model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982). focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader. interest.

/.sikap dan kebiasaan . 1981). faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa.. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. minat. motivasi. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. (dalam Burnes & Page. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca..kompetensi bahasa /--. dan lain-lain (Pearson. Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori.Faktor dalam |. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). yakni (a) unsur dalam bacaan. 1978. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks. model pengajaran. guru. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1.minat dan motivasi | (internal) |.. International Reading Association. dan kemampuan membaca. Hafni. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982). Menurut beliau. maka akan tampak skema seperti berikut ini. pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca.

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik. 10.10.= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya.a) atau 10. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3).2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca. misalnya pk 10.20. misalnya pk. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----.20. Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan . kemudian dikalikan dengan 100%.5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----.= 700 kpm 5.30 . Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini.15 (b)catat waktu berakhirnya membaca.30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b .X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------. 3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1).

5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan). I. 10 soal. 28. bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II.pembagian sebagai berikut: I. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. 20 soal. 12. 9. . maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut. 15-19. 22-25. 18 butir X 2 = 36 II.

5 700 X 0. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.X 82% = 5.= ------> -----.5 50 5.X ---. penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini.X 60 ---.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----.X 60 82% = 330 -----.Untuk contoh data di atas.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): .= 330 50 700 X 0.

X ---. mencari gagasan pokok. KEM.X 82% = 330:60 -----. megetahui struktur organisasi bacaan. yakni 574 kpm. Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca. kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM.3850 41 3850 -----. Tujuan Membaca. Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut. pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. . mendapatkan kesan umum su atu bacaan.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya. manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca.= 330:60 50 700 X 0. stopwatch. dan lain-lain. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu. a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning. 6. (c) perangkat tes (tes bacaan). (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan.

350 x 70% = 175 .b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal. siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita. dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%. bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis. d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. Dengan demikian. karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan. analisis nilai sastra klasik.245 kpm . kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm. Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan.d.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s. mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s. e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya. siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. 250 x 70% = 140 . memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk).d.

Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan. 400 x 70% = 245 . RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM. Yang termasuk ke dalam faktor ini.d. Oleh karena itu. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca .* tingkat PT : 350 x 70% s. kompetensi kebahasaan. misalnya intelegensi. model PBM. minat dan motivasi. Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca. teknik-teknik membaca. yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. sikap baca. fasilitas.280 kpm. tujuan baca dll. yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. dan lain-lain).

. Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini. dan lambat. SLTA (175-245 kpm). minat baca... SLTP (140-175 kpm). strategi membaca. rata-rata. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli. PT (245-280 kpm) . kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya..dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada. LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm). Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca.. dan lain-lain. tinggi. seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan.TEKS mulai pukul : . Jangan lupa untuk mencatat. cepat. Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi.... terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut. A. .

dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif. Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor. Kedua.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan.Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. Oleh karena itu. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J. dalam kenyataannya kurang berhasil. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik. Guilford (1956).P. Karena itu timbul pertanyaan. Pertama. mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi. Atau sebaliknya. apalagi dalam karir. dan oleh karena itu. faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas. Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu .

Apalagi di samping faktor intelegensi. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan. dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif. a.. Pertanyaan Bacaan I.... Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas.. b. dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B.. 1. yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.. Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni. kecuali . Menurut Guilford.. padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : . tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen".. .. Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah.. keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen".. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen. akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda..meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu.

.. dan kepribadian.. kreatisitas c. 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban. proses pemecahan masalah c. a. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang. intelegensi dan kepribadian b. intelegensi dan kreativitas d.. b. a. d.c. a. intelegensi b. kreativitas dan kepribadian c.. digunakan untuk mengukur .. intelegensi dan kreativitas d. a.. Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d. kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi. c. pembiuatan kesimpulan yang logis . bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah . pembuatan keputusan b. kreativitas. Hubungan intelegensi. Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan. Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal ..

... (c) waktu tempuh baca anda : .. Boleh juga dengan cara "heuristik"..... Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa..... 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya.d..... kapan. yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar.. di mana........... siapa.. Tentu saja merupakan taksiran kasar. dan bagaimana........ (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka....... periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut... 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : . Oleh karena itu..... terhadap bacaan tersebut...... Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain. peningkatan intelegensi II.. 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : ........... itu lebih baik.. Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan. III.. KEM-nya juga bersifat . : ................... (c) jumlah kata seluruhnya : . mengapa.. (b) berakhir/selesai pukul : .

4. 8. 7. 1.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai. 2. 10. Tabel Latihan KEM No. 9. Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. 3. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 6. 5.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

majalah. guru bidang studi apa pun. . kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan". Pendahuluan Sebagai seorang guru. Pada bab ini. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada.Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia.BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. surat kabar. Masalahnya. pamplet-pamplet. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. dan lain-lain. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. Untuk pengajaran membaca. buku ilmiah. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia.

anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability. Melalui bab ini. artinya dapat dibaca atau terbaca. "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. . diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. Jadi. (d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. Oleh karena itu. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya. kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. Secara rinci.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang. 2. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan. Dengan demikian. (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. setelah membaca bab ini.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable.

Oleh karena itu. namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. dimulai sejak berabad-abad yang lalu. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. peringkat sepuluh. Menurut Klare (1963). peringkat empat. dan lain-lain. misalnya peringkat enam. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan. . Perhatian terhadap masalah tersebut. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan. Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli.

3. Dale & Chall. terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Gunning. Sebaliknya. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan. memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. dan lain-lain. Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. Fry. dan (b) tingkat kesulitan kata.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. Sebab. Flesh. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna. semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. Pada umumnya. Raygor.

Sehubungan dengan hal itu. majalah-majalah. Dengan demikian. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas. etika. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. pamflet-pamflet. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. jurnal. pendidikan. kliping-kliping. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. Di samping hal-hal tersebut d atas. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. surat kabar. moral. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. dan lain-lain) perlu dimiliki. membuat rencana . misalnya. estetika. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. manfaat. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya. Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. mempersiapkan tes. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut.

membuat surat kepada orang tua siswa. atau kegiatan tulis-menulis lainnya. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. Kegiatan ini perlu dilakukan guru.pengajaran. Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. 4. seseorang tidak . guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi. menyusun program pengajaran. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. Sering kita dapati kasus. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita.

bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga). sebaliknya. terutama puisi. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. Struktur yang secara visual dapat dilihat. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan.dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. jika sebuah kalimat atau kata . Dengan kata lain. Selanjutnya. Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi.

Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. Ibu Budi sedang memasak. Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. sedangkan ayahnya membaca koran. Ini Budi. Wati sedang menyiram bunga. kakaknya melakukan pekerjaan lain. Ini ibu Budi.yang secara visual tampak pendek. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. Ini Wati. yakni menyiram bunga. Beliau sedang membaca koran. B. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut. Jika ibu Budi memasak. . kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. Wati kakak Budi. Pak Ahmad ayah Budi. Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. A.

terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD). Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. semakin mudah wacana tersebut. sebaliknya. . sarat gagasan. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula. sarat dengan konsep. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. bukan?Dengan kata lain. Oleh karena itu. atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. kalimat kompleks tentu sarat dengan ide.seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. sebuah gagasan. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. sebuah konsep tertentu. Pada kenyatannya. Bagaimanapun.

A. .era . Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang. deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. Oleh karenanya. makna ganda.Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan. Padahal dari segi bentuk. tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra).asa . Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A. Akibatnya. atau minat pembaca.makar B.rona .zaman . Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita.muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut. kita merasa asing dengan kosakata tersebut. Formula keterbacaan itu. . tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari. satir. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. terlebih-lebih pada . manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B. dalam percakapan yang bersifat umum.cahaya/air muka .harapan . ditinjau dari sudut semantisnya. Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita.

formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi. Namun.karya sastra berupa puisi. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. 5. Melalui berbagai pengkajian. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu.90. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu. sedangkan dengan formula Dale-Chall . Akan tetapi. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Sama halnya dengan rumus Spache. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. seperti buku teks misalnya.

anda sudah paham cara menggunakannya. Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud. Berikut contoh grafiknya. . Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry. yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut.1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry". seperti tertera di bawah ini.1. sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya. 5. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya.94. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading".1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya. bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. Jangan lupa. Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.berkorelasi 0.

yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud.Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. dan seterusnya. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. 112. 116. 120. Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. . Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit.

dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. 20. Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman. angka 3 untuk peringkat baca 3. kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. Angka 1 menunjukkan peringkat 1.0. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. 18. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut. Oleh karena itu. pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. mungkin anda bertanya-tanya. seperti angka 25.7. Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid. mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda. Maksudnya. angka 2 untuk peringkat baca 2. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. Memang. artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1. 14. yakni faktor panjang-pendek kalimat.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. Sampel pertama mungkin diambil .

Misalnya saja. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.dari halaman-halaman awal sebuah buku. . hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan. Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana. dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. Selanjutnya. Meskipun begitu. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. sampel kedua dari bagian tengah buku. bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter.

maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan). seperti Budi. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100.5. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat. Dengan demikian. kekosongan-kekosongan halaman. lambang-lambang berikut. IKIP. Perhatikan contoh wacana berikut! . Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. melainkan akan ada sisa. Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat.1. =. maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh. tabel-tabel. Maksudnya. 1999. masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya.

Waktu Inu melihat sa- . 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Di loket tabungan ada yang mengambul uang. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu.Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu. Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre. Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in.

uang.. karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan.. .69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan... (3)Di loket tabungan . Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari . Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti. lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan. ke bank.. Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana. 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri.. orang. Inu mendekati kursi itu.. Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah.. (2)Di bank itu . Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana.

(6)Ada juga . Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus. (9)Inu menunggu . lain.. antrean.(4)Ada juga . (10)Dia memperhatikan . Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk. Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah. maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10. tunggu... itu. (11)Waktu Inu ..1 kalimat. (7)Mereka melayani.. uang. Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut.. antre.058 dibulatkan menjadi 0....1 kalimat. ... tabungan. itu. Contoh lain. (8)Ayah Inu .. Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12. berdiri.5 kalimat. jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata. (12)Inu mendekati . rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat.. (5)Di loket yang ..... Dengan demikian.. maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti... lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan..

Di loket tabungan ada yang mengambil uang. Caranya. 234 terdiri atas 3 suku kata. Di loket yang lain orangorang juga antre. Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). maka untuk angka dan singkatan. Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. Misalnya. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. 2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang. Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang. IKIP terdiri atas 4 suku kata. setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya.

Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas. Demikianlah cara ini kita kerjakan. Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3). Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Inu mendekati kursi itu. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu. hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100. Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. . maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. Data yang kita peroleh pada langkah (2). Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Petugas pun mengerti.in. dia segera berdiri.

Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. Sebagai contoh. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6. untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya). Oleh karena itu.1. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. dan 7 yakni (6+1). peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat. Untuk artikel dan jurnal. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut. Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku. maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat. yakni wacana dari bagian awal buku. atau surat kabar.3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. 5 yakni (6-1). dari bagian tengah buku. selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya. baik ke atas maupun ke bawah. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. . pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali. Penyimpangan mungkin terjadi. 6.Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. dan dari bagian akhir buku. 5.

.5 6. struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6. 1) I go to school. Kedua.3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. dan akhir buku). Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal. Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut. 7.6 5. tengah. terutama dalam hal sistem suku katanya. mari kita perhatikan perumpamaan berikut. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris.9 6. 2) Saya pergi ke sekolah.8 18. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7. Artinya.Sebagai contoh. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6. dan 8. Seperti kita ketahui.

tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun. mouth. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. kaki. bibir. Tetapi. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). rambut. tooth. misalnya: hand. head. hair dan seterusnya. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. Dalam bahasa Inggris. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. seperti kelas 1 dan 2. lip. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. hal itu mustahil terjadi. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris. mulut. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). . kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. Berdasarkan contohcontoh berikut. leg. gigi. kepala. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. foot. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar. pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal. Berdasarkan kenyataan tersebut. Oleh karena itu. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an.5.

4.Berdasarkan contoh kasus tersebut. maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas. yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0. .8 dibulatkan menjadi 137. tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya. wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3.6. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4. Dengan demikian. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry. dan 5 sekolah dasar. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. Contoh wacana tersebut. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan.6 = 136.5. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. karangan Dendy Sugono. data jumlah suku kata 228 X 0. Dengan hasil pengukuran tadi. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry.

maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. maka bilangan kebulatannya ialah 30. Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry. Langkah (3) . misalnya. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu. Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut. pengumuman-pengumuman singkat. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata.4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah. jika jumlah wacana itu ada 26 buah. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu. para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana.1. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu. yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan.5. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat.

Dalam contoh di bawah ini. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana.Selanjutnya.5 2. guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu.67 1. perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini.25 1.3 2. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3.1 Mari kita perhatikan contohnya.Dengan kata lain. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? .0 1. Dengan demikian.43 1. Selanjutnya.

-.-. titik temu dari persilangan data kalimat (6.6 * jumlah suku kata: 60 X 3.-..--. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah. .-. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah.3 = 6. cocok untuk peringkat universitas.--? -. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut.-..6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.-. .--. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3.-.--. (d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3.-..-.-.Wacana jumlah suku-kata ---.3.-.-.--.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas.3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry.-.--.---. maka akan kita dapati data berikut ini.

5. Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih. Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan . bahkan sangat berbeda. Kedua kalimat di atas itu. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini.2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. Jika demikian. jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama. Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih.2. masing-masing terdiri atas lima kata. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi. a) I watch TV every night. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata. b) Saya menonton TV setiap malam.1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry. Namun.

2. mari kita perhatikan grafik berikut. Grafik Raygor. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas."Grafik Raygor". Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah. Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula. .2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry. Untuk mengenali formula ini. Oleh karenanya. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit". kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip. yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih. Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata. Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin. Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah. Namun. 5. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut.

Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. bukan oleh unsur semantisnya. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu. Sebagai bahan latihan. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. Begitulah seterusnya. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit. maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya. Salah satu sebab .

.. Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor. dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk....... akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan.. 1948)..... Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya..yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis.. perkembangan-perkembangan... Grafik Fry lebih banyak digunakan . Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? . buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? .. buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? .. anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya. bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia.. Namun..

5. Dari 100 buah wacana yang diteliti. . Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0.Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris. Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor. Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut.87. Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini. yakni dalam hal efisiensi waktu.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi.

sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini. jamu ini dan jamu itu. terutama wanita. Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. makanan-makanan tertentu. obatobatan tertentu. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat. Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih. Wacana 2 .dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. dan seterusnya. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan.

membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Kata advertensi diganti dengan kata iklan. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). Pada umumnya. yang dapat . Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. Orang yang memperhatikan urusan mode.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama. Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. kata terpampang diganti dengan kata tampak. Namun. Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama. tujuan hidup orang tidak sama. akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih. Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide.

. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan. Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik.berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial. Pada umumnya. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek). Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana. apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas. Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. setiap bunga terdiri atas satu poros bunga.---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga. Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Waktu anda membaca wacana di atas. misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman.

kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. biasanya jauh lebih mudah.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. yang belum diubah. Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah. Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. Ketika kita membaca wacana yany pertama. Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. . tergolong ke dalam kata sukar. Dengan kalimat yang pendekpendek. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana. Biasanya.

mungkin juga berkurang. RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana.3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. . Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat. boleh jadi bertambah. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda. Anda jangan keliru. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya. Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal. Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap.

Namun. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik.Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan. coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut. yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. 3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor). . karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya. serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok.

karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda. yang merupakan lambang abad antariksa. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. dan tomat.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. di mana mereka tinggal secara tetap. Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. kacang-kacangan. jagung. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. Augustine. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. .

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka.000 per minggu. artinya 8 jam/ hari. Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. Setelah mempelajari uaraian bab ini.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam. .000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%. Secara rinci. Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat. sudah dianggap cukup. Sungguh dramatis.

c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. 2. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya. membaca pun memerlukan latihan dan keuletan. dan dia pulalah yang kuat. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. Demikian juga dalam membaca. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan. Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. Hakikat Membaca Cepat 2.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. umpamanya. Mungkin karena itu sebabnya. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . Siapa membaca cepat dialah yang dapat.b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. Seperti bermain tenis. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan. Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan.

demikian disebut ... Dengan demikian. tepat... baik .yang menguntungkan.. Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca. Kalimat . demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan. Kalimat fektif haruslah . Persoalannya. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya. bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil. strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan.. jelas .. kalimat efektif.. Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%. ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami.. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat. Kalimat ... Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi. Oleh karena itu.. mudah dipahami oranglain . hakikat dari strategi membaca cepat. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan. maka kemampuan membaca pun pasti membaik.. Tetapi. dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon. ... Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci.. tepat. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut.. Inilah sebenarnya. bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial.

Hal ini berarti . hal ini tercapai.. tampaklah .. sadar . mati. kalimat efektif disusun .... sekaliannya terikat pada tempatnya .. diharapkan pembacatertarik . mati .. kemauan. tergerak hatinya... Pertama kita hadapi alam yang mati.. .. apa yang dibicarakan.pembacanya . ba tu....mewakili pikiran .. logam.. keinginan penulis... mari kita lihat ilustrasi yang lain. Selanjutnya. tak adapadanya... sifatnya . tanah.. batu. Kita menyebut . gaya tarik ..... dalam dirinya sendiri..... Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin .. logam. "... ia takluk sepenuhnya . Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut.. gaya berat. dan sebagainya. sekitarnya. tidak mungkin menimbulkanperubahan . makhluk . Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%.. tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu.. .. keadaan ... .. penulis .. gayatolak . tanah.. Yang ada . "Kalau kita melihat alam sekitar kita.. mencapai daya informasi yang dinginkan .. Gerak istimewa... Pertama kita hadapi alam... ..... mekanis".. . Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya. kita melihat alam sekitar kita...alam ... maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing...

. Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. gaya tarik. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes.menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. dan kebebasan tidak ada padanya. Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. Dengan MC. Gerak istimewa. bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. 2. kemauan. Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. Yang ada hanyalah gaya berat. dan gaya tolak yang mekanis. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan.

Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. yang diikuti dengan pindah halaman. irama empat detik/halaman. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus. setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik. Dengan demikian. . pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. Pada waktu Anda mulai berlatih. Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC. Selama latihan. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. dan seterusnya). Melalui latihan yang tekun. ialah satu detik satu halaman. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. Dengan kata lain. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. Pada permulaan latihan MC. Kunci utama MC ialah melaju terus. dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya. Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas).irama dua detik/halaman. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". itu yang pertama kali ditumbuhkan.

Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. maka Anda sudah boleh merasa puas. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia. atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. kalau ada. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. 3. atau kira-kira 20. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah. 1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman.Kemampuan membaca satu halaman per detik. 2) Sediakan pula arloji atau. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat. bacalah dahulu penjelasan berikut ini. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru. serta minat baca yang tinggi. POLA DIAGONAL . 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. sebuah stop watch.

yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri. POLA SPIRAL Pada pola ini. bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah. gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. POLA BLOK .Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu. Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman. Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak. tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang.

Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Sekarang. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. suatu kecepatan membaca yang lumayan. Seraya membaca. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. Anda pun diharuskan . atau kira-kira satu detik/satu baris. Blok ini umumnya merupakan paragraf.

setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris. segeralah kembali ke kiri. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi. Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Setelah . bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat. Nah. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. Supaya lebih mudah. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. Irama ini sangat mudah diikuti. Selanjutnya. dan berhentilah pada halaman 50. ikuti petunjuk berikut ini.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit. Setelah selesai membaca 30 baris. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. Caranya. Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. Berlatihlah selama lima menit. Dengan latihan 5 menit. Anda tidak perlu merasa kecewa.

1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca. Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya. 4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap. Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. Anda harus bertahan. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau". maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai. 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. Mulailah dengan biografi . Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. paling sedikit setengah jam sehari. Berlatihlah dengan intensif.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. 4.selesai membaca buku.

bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain. perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. lakukan survei selama dua atau tiga menit. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini. Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi. Segera setelah Anda merasakan kemajuan. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. fiksi keilmuan. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik. 8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. 10)Membacalah dengan tekanan progresif.berfiksi. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap. . cerita petualangan. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. Sambil membaca Anda harus bertanya. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan. masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya.

atau mungkin memeriksanya dalam kamus. cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca. Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan. Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata. sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda. Kalau hal seperti itu terjadi. 13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. . Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan.

jumlahnya berlimpah ruah. Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang. Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. tidak perlu hujan ataupun mata-hari. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi.4. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya. Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. Walau demikian. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya. Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. Lain halnya dengan zaitun. . Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat. pangan. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu.1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman. Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara.

dan tidak pula memerlukan filamen. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas. Paragraf (3) . Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi.Kemasyhuran. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya. dan sifat-sifat pohon zaitun. Paragraf (2) Arkian. Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna. Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama. kegunaan. Dalam pada itu. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut.Di dalam paragraf di atas. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum. Dalam paragraf ke-2. Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong. Cobalah Anda baca.

dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. Kira-kira 500 orang saintis. dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". Semua peralatan ada dalam keadaan siap. dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. Georgia. dan kesetiaan". . Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf. bangsa. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. Dan semenjak Perang Dunia II. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. dan menamakan diri "Columbia".Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". dan Hitler bukanlah penciptanya. Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu. kemampuan. pegawai pemerintah. Tetapi. Emory Burke. dan tes pun terpaksa diundurkan. dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. Pemimpin mereka. pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya.

Gunung. Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform. tanggal 4 Desember 1989. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya. berturut-turut biru. dan coklat.Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya. daratan. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. Paragraf (5) Sore itu. Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu. bukit. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. hijau.

Para ahli. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya. Pada tahap mekanis. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. Selanjutnya. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. 4. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca.2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan. Dengan kata lain.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang. mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. Anda . Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar.

. Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis . mereka .tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca....kata .. mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan.. mata harus berhenti sejenak. tidak .. 4.1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca. frase". atau supaya dapat "melihat" sesuatu.... mereka me nulis . demi . menulis .... "Penulis tidak menulis . Kalau mata bergerak terus.... Sesungguhnya. MF yang dilakukan oleh pembaca ini.. pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis. kata . supaya dapat menginterpretasikan kata-kata. menulis . demi.. melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat... frase demi frase".. Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata. frase . kata demi kata ... membaca merupakan rentetan hentian- .... Berdasarkan pAndangan mekanis.2. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut. maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur.

Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian. pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. Namun. Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata. sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. Dalam membaca senyap. mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . Dengan demikian. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. dan setelah itu terjadi pula hentian. Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata. Pada umumnya. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca".hentian visual. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. Dalam membaca frase. Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu. Pada setiap hentian.

Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. Sekali lagi. Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. atau pun calon pianis dan sebagainya.gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat. Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat. atau seorang calon petinju. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. harus pula . Mereka akan membaca lebih banyak. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual. Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase.

.............*...*......................*.. ................................*. Hasilnya terbukti sangat memuaskan...... . "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun............... .................... ................................... Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang.*..............*....*....*... lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya............ . Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan............dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir...... Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap................. dan jangan pula menggerakkan kepala....................*....*........ Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun.............................*............................................*..*........*.. Silakan coba! .....*....................*............. Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi......*................... ... ........... .......*................. Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang...... ...........................*..... ................................. Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF.

Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK). terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. Sambil membaca.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna.2. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase). Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. Proses MF. ialah gerak mata. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih. Anda akan menjadi lebih . penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata. Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan. bahkan jutaan. 4. sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual. Selanjutnya. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. ratusan ribu. Sebelum mulai membaca. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target.

Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan. Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti. Mulailah secara perlahan-lahan dulu. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti". Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. daftar pelajaran. Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase.". Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF. Kata penghubung menyatukan frase. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. rumah sakit.. yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. tetapi perut saya. Di samping pengertian kalimat. tetapi belum dijelaskan artinya. Contoh: "Saya gemar makan pedas.. dan lain sebagainya. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase"..sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. Contohnya: surat kabar. Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: . Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa. subjek biasanya mendahului predikat. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata. ibu guru.

Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti. di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Setiap kelompok kata dikotaki. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. Kata "rumah" misalnya. Untuk kepentingan latihan Anda. "Rumah pun habis dibakarnya". maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi. . dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. Demikian seterusnya. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. Namun demikian. (b) kecepatan menangkap makna. maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil.(a) kecepatan membaca. tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai.

(3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. Pada mulanya . Untuk keperluan latihan. Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. Dengan kata lain. Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya. ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit. Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental.

Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. . Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari. membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. Karenanya. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. sebab menurut penelitian. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari. Percayalah. memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara.Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda.

yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan. 5. Pada umumnya. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". Biasanya. paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas. dan graphein yang berarti menulis. PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN .2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden. yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama. Dengan demikian. Pada mulanya. Dengan maksud yang sama. Membaca Paragraf 5.5. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan.

jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. maka pilihan Anda itu benar. c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini. 3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok.1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. cobalah gunakan . Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf.

7) Terkalah pikiran penulis. Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. "Apa arti semua ini?". Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan. ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Namun. Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). Bacalah paragraf itu seraya bertanya. 6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung. Kalau maksud Anda demikian. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja.prosedur ke-4. Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit. Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. Periksalah terkaan Anda. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya.

catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. ialah tentang strukturnya. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama.untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. Setelah membaca prosedur membaca paragraf. ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. 3) sebagai kalimat pemuas. . Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama. Sebelum mulai dengan latihan. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. mungkin Anda ingin segera berlatih. Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya.

Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini. ialah mengulang-balik pikiran utama. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu. Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. Cobalah pelajari baik-baik. c) Dengan contoh. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. 2. atau contohnya. sebab. biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. Pada dasarnya. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. . Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. a) Dengan ulangan.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca. membaca adalah suatu proses psikologis. d) Dengan pembenaran. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. b) Dengan pembedaan. Dia masih ingin menjelaskan idenya. Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. umpamanya. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama. Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. dan sebagainya.

4. Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan. dan sebagainya. orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). . 6. 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. 5.3. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. bibir. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu. 7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok. 7. Bahkan. pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima. Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama. lidah. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata.

apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada. Supaya Anda tidak .1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran.5.3. Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. "Bacalah bab ke-2. ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang".3 Membaca Bab 5. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku. Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa. 2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta.

cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. dan melengkapi keterangan yang diperoleh. Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Untuk menyederhanakan sebuah bab. Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir. . Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. menguji pemahaman. Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf. membuat catatan. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. Hal itu akan dilakukan kemudian. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga.menemui kesulitan seperti itu. Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri. Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu.

. Baca lagi kartu itu. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda. Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu. cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. lalu tutuplah buku Anda. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. jika Anda memerlukannya. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. Ulanglah tes seperti itu secukupnya.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. Lihat kembali bab 3 buku ini. Berilah angka pekerjaan Anda itu. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm. Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu. sebelum pergi kuliah. Setelah selesai membaca suatu bab tertentu. Setelah selesai. Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi.

2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya.5 Prosedur Penilaian 6.3.1 pengertian 6. Percacalah! Sekedar contoh. Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang. (1988:21). data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya.3 Manfaat/Kegunaan 6. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga.2 Fungsi 6. | | | | | | | | 6.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5.S.Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad. Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing. . Contoh kartu baca. Teknik Isian Rumpang 6. Yang penting. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana. A.4 Kriteria Pembuatan 6. berikut disajikan sebuah contoh kartu baca.| | Jakarta: PT Karunika. Materi Pokok Membaca.

5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku.4. ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf. 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra. 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas. Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik. Puisi .1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf.4 Membaca Buku 5. 5. misalnya). 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya.bab lainnya. Pada umumnya. Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan. 7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. 2) Buka baliklah daftar isi. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku. 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja.Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti.

misalnya. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. 5. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen. 1) Secara umum. Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda. novel. Keempat pertanyaan tersebut.2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. drama. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut.4. kalau ada bacalah kata pengantarnya. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat . buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu. meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel.

coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit. serta nama-nama tokoh penting. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. Dengan melihat daftar isi buku. mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. dan bertanyalah pada diri sendiri. lihat uraian terdahulu. Namun. Sampai di situ. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya. 5) Selanjutnya. 3) Periksa daftar indeks buku. Dengan demikian. sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya. apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan. . melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. Berhentilah sejenak. jenis-jenis buku.

dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain. Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya. Anda tentu tahu. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. jika penulisnya berhasil. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan. Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas. 5. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi).6) Akhirnya. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya. Pada . mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. atau tidak memberikan informasi baru.5. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya.5 Membaca Karya Sastra 5.

juga berlaku untuk membaca karya sastra. samar-samar. sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. Anda harus menemukan bagaimana puisi. novel. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. 5. dan berbunga-bunga. Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. Namun. cerpen. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya. pertanyaan ini dapat . Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra. yang terdiri atas bagian awal. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya. Untuk bacaan sastra.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu. rincian-rincian. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya.5. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda.umumnya. drama tersusun dari bagian-bagian. dan akhir. Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. Adakalanya. baik pada prosa maupun puisi. tengah.

namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya. Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda. Puisi juga memiliki tokoh. tindakan-tindakannya. dan akhir. cerpen.dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. lingkungan mereka. tengah. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. Bagi penulis karya sastra. Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. Setelah membaca puisi. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. 5. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya. Meskipun begitu. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut.2. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. ataupun drama.5. Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. Anda terlibat sudahlah cukup. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. pikiran-pikirannya. perasaan-perasaannya. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri.1 Prosedur Membaca Novel . novel. melainkan kebenaran khayalnua. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya.

Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. bahkan bacaan pada umumnya. Mereka beranggapan. 5. pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan. para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita. yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot.2.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif.Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. Di samping itu. 7) Kenalilah bagian permasalahan. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai.5. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya. 6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya. 4) Camkan bagian tengah cerita. dan solusi atau bagian akhir cerita. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen. klimaks. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . seperti halnya dalam cerpen.

Keempat. Tentu saja. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. Oleh karena itu. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. Ketiga. Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. dan lain-lain. memahami. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. berkenaan dengan penampilan sajak. puisi itu harus berada pada tingkat literal. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa. Kedua. diskusi kelas. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik. sajian berbagai media. meskipun dengan bantuan konteks. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. kekayaan ilustrasi. Pertama. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . berkenaan dengan daya tarik bunyi. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan. Artinya.

sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan. dan pola horizontal. Namun. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di . Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. pola diagonal. dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. membaca paragraf. pola spiral. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. pola blok. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. membaca bab. Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya. Pemaduan dua keterampilan. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. pola zig zag. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. misalnya metode membaca frase. ide/kalimat inti. Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal. ide/kalimat penjelas.

Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. 1) Secara umum. ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. Keempat pertanyaan tersebut. Tetapi bagiku. Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. Andaikata di sana ada juga nyamuk. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit. suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari.seputar isi bab itu.

dan pelarapan emosional. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. Namun. Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat. Karenanya. Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. sikap. Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. mempersamakan .dan murai berkicau di hari senja. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf. Di dalam paragraf. Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan.

Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3. Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri.kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan. Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya. Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah. tunjukkan buktinya! . 2. Instruksi: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful