HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

Dengan demikian. Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. menerima. dan pengalamannya. membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. menolak. pada peringkat yang lebih tinggi. Sebenarnya. pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. 2. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif. membandingkan. Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . ialah sikap pembaca yang aktif. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. perasaan. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap. melainkan berarti pula memahami.

5) bahasa. dan 11)tingkat kemampuan membaca. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. 9) pertumbuhan fisik. 2) usia mental. 4) tingkat sosial ekonomi. 7) kepribadian. Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut. yakni: 1) intelegensi. Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca. Karenanya. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. 3) jenis kelamin. 8) sikap. 6) ras. Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. . hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. 10)kemampuan persepsi. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar.

untuk tes yang sama pula. dengan MA dan IQ. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. benar. bahkan sangat sering. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya. Untuk membedakan IQ dan MA. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age). namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental. Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil.Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. IQ x CA MA = _______ 100 . sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. ialah usia mental. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya.

x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6.6 12 .2 79. 110 x 6.2 = ------.MA IQ = --------.= 6.0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.0 dengan cara berikut ini.

namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi. umpamanya. . tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting.x 100 CA 6. yang banyak tingkatannya itu. bukan menjelaskannya. berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum.0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca. Harris (1970). dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan.6 = ----.x 100 6. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental.0). diketahui (6. maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas.6 dan 6.

Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif.Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. dikenal pula hal yang sama pentingnya. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun. Namun demikian. Namun. prosedur dan metode mengajar. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran. Dia . Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat. bahkan mungkin lebih penting. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. semenjak itu. sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. prosedur mengajar.

motivasi. seperti yang tertera di bawah ini. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas.35 dan 0. 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. Ada lagi dua orang ahli. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. prosedur. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik. kesiapan membaca.80. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. . Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0. namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima.

Jika diketahui bahwa usia mental 7. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu.8 dan usia kronologis 6. 120 C. dapat membaca 50 kpm B. 130 D. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A.0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. > 130 maka dapat 3. mampu membaca sampai peringkat empat saja D.5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C. Tes Formatif 1 1. mampu membaca di atas peringkat empat . 110 B.

Gates menemukan data bahwa besarnya kelas. tiga tahun C. enam setengah tahun 6. dua tahun B. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A.4. empat setengah tahun 5. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A. empat setengah tahun B. lima tahun C. tiga setengah tahun D. enam tahun C. Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. enam tahun D. antara enam dan enam setengah tahun D. di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja. Masih banyak faktor lain yang sama . enam setengah tahun B.

Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu. sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%). Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan. tingkat kesehatan yang rendah. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah.pentingnya. Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. menengah.20%). dan rendah. yakni tahun 1940. ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut. sampai 50%. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi. . sebab jauh sebelumnya.

dan bahasa. atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. Di pihak lain. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman. membaca buku dan majalah. tempat kediaman yang tidak stabil. Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan. Di sisi lain.ekonomi. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. tingkat motivasi. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak . Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. yakni latar belakang pengalaman. Sayang sekali. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil.kepadatan lingkungan. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian. dan tekanan ekonomi.

anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah. Tidak seorang pun menyukai kegagalan. atau surat kabar di rumah. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. temanteman. Akibatnya. Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa.memiliki pengalaman yang luas. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. Kakak-kakak mereka. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. majalah. Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. tidak mau membaca. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. Dengan alasan tekanan ekonomi.

tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. deklaratif. Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana.menerus itu. Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu. Struktur yang kompleks. sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan. dan imperatif. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). tidak mampu berbahasa formal. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. menyatakan persetujuan atau penolakan. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang . bahkan sebaliknya. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca. meminta sesuatu. klause-klause terikat. Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi. yakni melihat dan mendengar. tidak percaya diri. langkah pertama. mengecap. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. dan 4) indentifikasi kata-kata.memiliki motivasi. 4. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. dan meraba. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. mencium. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . Seperti dalam proses sensoris. yaitu stimulus. mendengar. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. Seperti telah disinggung di muka. gelombang cahaya. serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Namun.

maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. Langkah kedua dalam persepsi. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. ialah meminta. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu. Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu. tidaklah memberikan makna apa pun. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun. maka semakin . maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. Sebagai contoh. sesuai dengan namanya. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. tetapi kita membawa makna kepadanya. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. Akan tetapi. Sebaliknya.

Sesungguhnya. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. banyak berkunjung ke toko buku. banyak berdarma wisata. bahkan cerita.mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. latar belakang budaya. mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. bab. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. . Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. paragraf. dan asosiasi emosional dan fisik. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. seperti pengalaman lalu. Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. Sama halnya. kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut.

Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Untuk mengembangkan kemampuan membaca. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala. dan kesengsaraan. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus. kedinginan. . Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. berpacu meluncur di salju. Dengan kata lain. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik.

Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. ada balam. ada merpati. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. jenisnya. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. dan sebagainya. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. ukurannya. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. punai. menganalisis. wanginya. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak. . Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir. sangat nyata dan khusus. Bunga itu bermacam-macam warnanya. dan menyintesis. Dengan kata lain. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik. macam-macam gelas. Setelah pengalamannya berkembang. dan sebagainya. Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. ada perkutut. bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. mulai dari daerah-daerah yang konkret. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. bentuknya. Sewaktu bermain rumah-rumahan. Demikian juga dengan kata bunga. dan sebagainya.

Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. tetapi oleh kebudayaan. Oleh karenanya. 5. Penampilan audio-visual. Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. dan kalimat dalam wacana. kata-kata. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks. emosi. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. pengalaman. permainan. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. dan berbagai kegiatan kelas. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. dan bahkan kepribadian juga. cerita. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak. . waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. gambar.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. kematangan.

dan lari . demikian seterusnya. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. pada usia empat bahkan tiga tahun. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. Namun. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru. suasana hidup yang baru. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca.dan bilamana berakhir. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. Pekerjaan baru. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. kalau dia tidak mau tersesat. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu. berjalan pada usia delapan bulan. Pendek kata.

Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Namun. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak.pada usia sembilan bulan. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. Pertama. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. . Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Oleh karena itu. Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. Membaca bukanlah proses instinktif. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya.

6. Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna. dan pelajaran keterampilan. metode. Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. pengembangan kosakata. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. atau pun tingkatan-tingkatan akademis. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir. Oleh karena itu. membaca pemahaman. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa. 1) Keterampilan itu objektif. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. . melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. dan penerjemahan atas suatu fakta. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Oleh sebab itu. di kota C. yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". pengenalan. Untuk menjawab pertanyaan kedua. hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. penginterpretasian. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu. dan (3) Kino sangat miskin. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. .B.

Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. /C/ kapital. RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. dan kenanga sebagai bunga. . proses sensoris. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan. dan penginterpretasian informasi. dan proses perkembangan keterampilan. pengidentifikasian. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. ros. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan. /c/ kecil. proses perkembangan. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. seperti pengenalan ciri-ciri melati. namun prosesnya belum tentu lengkap. proses perseptual. Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan.d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi.

Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya. Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti. Dengan membaca dan memahami isi bab ini. Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang. .

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

cermat.MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. Namun. meliputi sejumlah hukum yang valid. yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. baik teorinya sendiri maupun modelnya. tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. . dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu. yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. dan spesifik. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969). Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu. Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu. Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. Sebagai contoh. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini. Teori kinetik untuk gas itu. panas.

Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. 2. Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. Model membaca itu . e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental. psikolinguistik dan linguistik. Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca.Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas". b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. proses informasi. Secara lebih khusus. Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. Sayang. c) menjelaskan "model membaca interaktif".

ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model. Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan. . Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu. yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model. Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. Namun.

MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama. Sebaliknya. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. dekode dan enkode. Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan.MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama. Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder.

Setelah itu.komunikasi tulis). Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. seperti: Flesch (jurnalistik . Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. Di situlah tempat pembaca memperoleh makna. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu. Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. Para penulis berbagai bidang profesi. Gagne (psikologi). Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. Menurut MMBA. Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin.

huruf "K" diucapkan /ka/. Fries (1962). huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/. Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya. metode Fonik.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. huruf "L" diucapkan /el/. Dalam Metode ini. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. metode Silabik. huruf "D" tidak . metode Alfabet. Itulah sebabnya dalam metode Fonik. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. metode Kata Kunci. Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C. Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. tetapi /kh/atau /ek/. dan sebagainya.C. Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu. tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas.

Menurut pendapatnya. tidak interaktif. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu. Oleh karena itu.diucapkan /de/. . (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. (5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama. Salah seorang tokoh MMBA. berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. tetapi /dh/ atau /ed/. setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya. Dengan bantuan alat visualnya. Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. Dengan demikian. proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini. Demikian seterusnya. dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat).

struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD). . dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin".(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA. Dengan demikian. setelah maknanya dipahami. kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD. (8)Akhirnya. (7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu.

Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3. Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .

yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa. yakni dari bacaan. model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima. Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. Oleh karena itu. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca. Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. bukan dari otak pembacanya. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak. informasi grafis itu semakin berkurang . Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. MMAB mengajukan hal lain. menolak. Ketika informasi itu diproses. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. atau mungkin memperhalus masukan tersebut. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. Berlainan dengan MMBA.bacaan. sintaksis. dan grafik.

maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi. sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. Jika prakiraan itu tidak cermat. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. Psikolinguis yang lain. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis. Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah . serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya. Shuy (1977). Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga. Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini.bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula. memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu.pula tingkat keperluannya.

mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. Dengan bantuan prediksi. Memang benar. Mungkin. kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. bacalah wacana di bawah ini. Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya. Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat. Dengan MMAB. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Namun. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time". Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? .asumsi tentang prinsip kerja mata. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut. Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa.

Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. Untuk memahami wacana yang dibacanya. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). dibelakang matanya. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. Bagi Smith.Nah. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca. sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya. Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. Sekarang. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. Dengan demikian. dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. Informasi visual dan informasi .

Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut. Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual. Gambar ini . tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. Sebaliknya. jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya. sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. sangat perlu diperhatikan. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan.

kemudian masuk ke dalam otak. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. Lebih dari itu. Kita melihat sesuatu. Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya. kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu. Oleh karena itu. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik. asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka. kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. .memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. Namun sesungguhnya. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. mata kita sama sekali tidak melihat.

Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. Bagi mereka. sudah tentu. Otak. otaklah yang melihat. tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. Padahal. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata.kesan. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . Dengan kata lain. Sebuah perkiraan. Dengan demikian. jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi". sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Oleh karena itu. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. berita yang masuk melalui syaraf. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. kegiatan memperkirakan. otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. Dengan kata lain. sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. Jalan mios dan angka sepuluh. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir.

Sekarang. kereta api. dan sebagainya. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. Lebih dari itu. sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". seperti pepohonan. . Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. kapal terbang. biru. Menurut hasil penelitian. karena sistem tulisan mereka kebetulan sama. kursi. gunung. tetapi artinya tetap berbeda. Dengan demikian. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. roti. mobil. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. binatang. nasi. dapatkah anda memahami maknanya? Ya. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya. sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. tidak perlu. ialah dengan sekali pandang. hijau. bukan lambang-lambang bunyi.Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. karena penulisannya berbeda. meja. Fonik itu tidak efektif. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. hitam. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. merah. awan. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning.

dikenal istilah tunnel vision. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. pada saat orang sedang membaca. Jika pada waktu membaca. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. atau membaca dari belakang mata. yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. yakni peristiwa penyempitan pandangan. maka penglihatannya akan sangat terbatas. Hal ini bisa terjadi. mungkin dia itu membaca tidak efisien. Namun. Jika sewaktu membaca. Akan tetapi. maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula. jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya. seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami. TV. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. .Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko. Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV.

4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. sebab masalahnya sangat relalatif. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan . dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca.Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan. Sayang sekali. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. 3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. maka penyembuhannya mudah dilakukan. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini. Kecemasannya itu menimbulkan TV. Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil. semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan.

bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. Karena itulah. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi. Caranya bermacam-macam. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. melalui film. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran. formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. Oleh karena itu. penanganannya pun harus didekati secara individual. Di samping itu. Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. dalam artian kelompok pembaca. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa. ceramah. TV terjadi pada anak secara individual. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. dan sebagainya. Jika anak dihinggapi rasa takut. bukan pembacanya. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu.

konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik. tidak interaktif. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear. Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. melainkan suatu . Artinya. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier. maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik. Secara sederhana. tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut.lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan.______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir. Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan. 4. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977).

Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya. Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif.proses timbal-balik yang bersifat simultan. Oleh karenanya. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca. informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. . Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan. Akan tetapi. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC). PP merupakan komponen yang utama dalam model ini. penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart.

sintaksis. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. seperti Goodman dan Ruddel. menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. ditentukan.semantik. berbagai hipotesis dirumuskan. leksikal. dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. semantik. sintaksis. Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca. Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. semantik. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. kemudian disetujui.

Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. kalimat. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca. tujuan. manfaat. kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. kata). ke bagian yang menghendaki prakiraan. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. Dilihat dari bidang pengajaran. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah. hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. huruf.yang paling layak. Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. dan sebagainya) ke struktur batin. Dengan demikian. ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat. pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi. Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca.

yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif. Dalam praktek pengajaran membaca. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca. Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca. Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. melainkan kehadiran siswa itu sendiri. Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. Sebagai contoh. guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa.

dan sebagainya. Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka. . Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman".sendiri. Tampaknya. Dengan demikian. bercerita. meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa. Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan. Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. diskusi dulu. Oleh karena itu. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. pertunjukan film. karyawisata. baru kemudian membaca. Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu. Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang.

hipotesis. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar. bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. antisipasi. SQ3R misalnya. dan membaca untuk menguji hipotesis. yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen. Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru. membuat prakiraan. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. Sebagai guru.Dalam bidang metode pengajaran. bertanya dan bertanya. Mungkin. klasifikasi. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri. Dengan pengetahuan ini. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. mudah-mudahan apa yang telah . anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda.

kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik. Memang. kata-kata. semantik. Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. Salah satu upaya untuk . kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf. dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. La Berge dan Samuel (1974). kalimat. dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. ortografi. Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam model Rumelhart. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. kelompok kata. Kita memiliki sintaksis. yakni huruf-huruf. yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca. hingga akhirnya sampai ke makna. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya. MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. dan leksikon yang bekerja secara serempak. MMBA bersifat linear dan berjenjang. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya.

atau metode Alfabet. Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak". lalu memasuki ikon. merlin. MMBA merupakan model yang tertua. MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. librarian. Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual. yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca. pencatat. Peristiwanya terjadi di dalam otak. Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. berlanjut pada kilasan. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. dan pengenkodan. . dan model membaca timbal-balik (MMTB). yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. model membaca atas-bawah (MMAB). Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. yakni model membaca bawah-atas (MMBA).membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja. pendekodan. metode Bunyi. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks. pendekod. Dari ketiga model membaca tersebut. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan.

Ini d ----> ini /d/. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" . pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel.Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. bekerja secara serempak dan simultan. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan. MMBA dan MMAB. Ini b ----> ini /b/. Tentukan. Ini c ----> ini /c/. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. Menurut MMTB. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. yakni kedua model pertama tadi.

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu. f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat. fungsi. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita.tersebut. Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. Secara khusus. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca. b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. dan pengertian KEM. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini. Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini. tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki.

2. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca.Melalui uraian bab ini. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. Sebaliknya. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan). Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. latihan menggunakan rumus KEM. (diucapkan kata demi kata) . Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua. (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. Anggapan itu sama sekali tidak benar. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM.

yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Dengan pandangan sekilas saja. tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. Memang. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor.Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami. Melihat ilustrasi di atas. Justru sebaliknya. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu. orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. ketimbang cara kedua. pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya . pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan.

setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. dan jenis bacaan yang dihadapinya. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. Demikian juga dengan kegiatan membaca. pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. Dengan demikian. dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. Menurut Tampubolon (1987). Meskipun demikian. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca. teknik. informasi fokus. bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. Kadangkadang. teknik. dan gaya membaca disebut strategi membaca. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. sedangkan faktor tujuan. Kadang-kadang. penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. menentukan metode. Akan tetapi sebaliknya. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . metode. informasi fokus. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif.

Idealnya. jadi. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini. pikiran. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. Namun. pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. . Sementara itu. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit.kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri. Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit.

mari kita renungkan ilustrasi berikut. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah. Seperti juga kali ini. Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi. Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. Dengan kata lain. namun salahseorang murid anda. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. . Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Sekarang.3. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama. Gina.

kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. selanjutnya kita sebut kemampuan visual. saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi.Melalui ilustrasi pertama. yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut. kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca. Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami. Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. Melalui ilustrasi kedua. Melihat kedua ilustrasi tersebut. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. . Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi.

"speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Masalah selanjutnya. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca. Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca. bahan bacaannya itu . istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. 4. Mengapa demikian? Tentu saja. Selanjutnya timbul pertanyaan. yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. tingkat keterbacaan bahan bacaan. proses berpikir dan bernalar. Jika kita alihbahasakan. teknik-teknik membaca. dan sebagainya? Oleh karena itu. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit. Sebelum itu. motivasi. Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. Di samping itu.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya.

Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut. Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. Di samping itu. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi.sendiri tidak selalu sama. ada bacaan ringan. bacaan sosial-eksak. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. sedang. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi. Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. cerpen. dan sebagainya. sukar. Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca. Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai. Membaca karya sastra (novel. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris. bacaan fiksi-nonfiksi. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan .

anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda. yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. .berkesinambungan. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca. Sebagai guru. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. KEM menuntut dua kemampuan utama. Tentu saja anggapan ini tidak benar. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. Di samping itu. Dengan demikian. Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya. Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca.

Pada tahap-tahap awal. Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini. maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana. Dalam keadaan normal.Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). (e) sikap dan minat. 1988). Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. dan . Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi. (d)intelegensi. tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. 1987). karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. (b)latar belakang pengalaman. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon. di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.000 kata per minggu. (c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. Jika dihitung KEM-nya. dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness).

Hasil penelitian Yap (178). keterampilan analisis kata.(f) kematangan emosi dan sosial.c. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness". kebiasaan. sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. Sisanya. menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. intelegensi. pemahaman makna kata. dan lain-lain. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik. Namun. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. yakni sebesar 65%. minat. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. Ommagio (1984) . Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata. sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain. dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. sementara butir b. Butir a. yakni sikap. Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. dan e (latar belakang pengalaman. diskriminasi auditori dan visual. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. misalnya. Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. memang ada hal penting yang perlu dicatat. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. pemahaman konsep-konsep linguistik. dan f (fasilitas bahasa lisan. d.

Menurutnya. antara lain: (a) latar belakang pengalaman. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan. (c) kemampuan berpikir. minat. maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992). (d)tujuan membaca. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. dan perasaan. (b)tujuan dan sikap pembaca. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. gaya kognitif. Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. keyakinan. (b)kemampuan berbahasa. (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan. .berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. sikap. sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. dan pengalaman membaca. Seperti juga pendapat Heilman. Blair. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan.

Keterbacaan menurutnya. Bahan . Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability). Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. sebaliknya. Meskipun pengetahuan bahasa itu penting. Menurutnya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. Selanjutnya. Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting. Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang. Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman. materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca. Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut.

hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata. Dewasa ini. Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya.bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. . Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. Namun. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. Sebaliknya. Rumus yang satu misalnya. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti). Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat.

Sampai sekarang. rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri.Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya. (b)membaca dengan gerakan bibir. dan tujuan membaca. tingkat kematangan. Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. melainkan bisa lebih fatal dari itu. Minat dan motivasi yang tinggi. . Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. Dengan kata lain. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. Menurutnya. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. Sebaliknya. minat. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. bagi guru. misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya.

tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca. (g)membaca kata demi kata. atau baris bacaan (regresi). (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental). (f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). pena. Untuk mengatasinya. (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan. atau alat lainnya. kelompok kata. (e) membaca dengan pengulangan kata. .(c) membaca dengan gerakan kepala.

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

tangan. pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. jari. dan jenis membacanya. aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya. Sementara itu. kontinyu. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. Maksudnya. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. Selain itu. b) Teknik baca-lompat atau skipping. dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering. teknik ini juga . yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. Dalam hal ini. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata.mahaman (membaca dalam hati). c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. kepala. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. bahan.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan.

Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan. misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping. 3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan. Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini. misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. 4) Mengetahui organisasi penulisan. tetapi tidak membacanya secara lengkap. dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut. 1) Mengenali topik bacaan.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan. Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. urutan ide pokok. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas.

5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu. 7) mencari acara siaran TV. metode PQRST. 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia. Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain . yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. metode PQ3R. dokter jaga. metode SQ3R. Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. tampaknya diilhami oleh . pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. Berbeda dengan para ahli di atas. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya.1) mencari nomor telepon. dan sebagainya. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. Di samping teknik-teknik membaca di atas. Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). daftar perjalanan. menentukan. dan lain-lain. 6) mencari data-data statistik. Keempat teknik membaca di atas.

Model dimaksud tampak pada gambar berikut.text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C .model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982).N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose. interest. focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader. attentiL on. ____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc.

dan lain-lain (Pearson.minat dan motivasi | (internal) |.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1. maka akan tampak skema seperti berikut ini. 1978. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982). guru.Faktor dalam |. motivasi. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. yakni (a) unsur dalam bacaan. Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca. model pengajaran.kompetensi bahasa /--.sikap dan kebiasaan . Menurut beliau.. Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca. /. pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. International Reading Association. faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. dan kemampuan membaca. minat. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). (dalam Burnes & Page... 1981). Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa. Hafni.

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

kemudian dikalikan dengan 100%.20. Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini. 3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1). Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan .20. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3).5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----. 10.X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------.= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----.15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik.10.a) atau 10.30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b . misalnya pk.2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca.15 (b)catat waktu berakhirnya membaca.= 700 kpm 5.30 . misalnya pk 10.

9.pembagian sebagai berikut: I. . 10 soal. 28. 15-19. bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. 5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan). 18 butir X 2 = 36 II. 20 soal. 22-25. I. 12. maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut.

= 330 50 700 X 0.Untuk contoh data di atas.X 60 82% = 330 -----.5 50 5.X 60 ---.X ---.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): .5 700 X 0.= ------> -----.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----. penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.X 82% = 5.

manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca. stopwatch. a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning.3850 41 3850 -----. Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca. (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut. yakni 574 kpm. Tujuan Membaca.= 330:60 50 700 X 0. megetahui struktur organisasi bacaan. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM. Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. mendapatkan kesan umum su atu bacaan.X ---. 6.X 82% = 330:60 -----. KEM. . kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM. (c) perangkat tes (tes bacaan). dan lain-lain. pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu. mencari gagasan pokok.

350 x 70% = 175 . karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan. mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America. siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm.d.b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s. memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk). siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. 250 x 70% = 140 . Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan. d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya. bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis. analisis nilai sastra klasik. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s.d.245 kpm . c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita. dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%. e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. Dengan demikian.

Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal. Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca.280 kpm. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca . misalnya intelegensi. minat dan motivasi. model PBM. yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru. tujuan baca dll. Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. 400 x 70% = 245 .* tingkat PT : 350 x 70% s. dan lain-lain). KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. Oleh karena itu. teknik-teknik membaca. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. kompetensi kebahasaan. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan. Yang termasuk ke dalam faktor ini.d. sikap baca. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM. fasilitas.

SLTA (175-245 kpm). PT (245-280 kpm) . dan lain-lain. strategi membaca. Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi. dan lambat. SLTP (140-175 kpm). cepat. Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca.. kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya. LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli. seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan.. Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini. tinggi.TEKS mulai pukul : ... terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut.. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm).. A. Jangan lupa untuk mencatat. rata-rata.dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada. . minat baca...

Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu . Atau sebaliknya.Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. dan oleh karena itu. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. apalagi dalam karir. aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik. Kedua. dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut. mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan. Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana. dalam kenyataannya kurang berhasil. Karena itu timbul pertanyaan. Oleh karena itu. faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif. Pertama. Guilford (1956).P. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J.

Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen". 1.. tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen".. Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah..meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu.. Apalagi di samping faktor intelegensi. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : .. dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B. akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda... keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia. Pertanyaan Bacaan I. a. b. Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni.. Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan. . padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya.. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen... dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif. Menurut Guilford. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan... kecuali . yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.

a. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang. Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi. a. c. kreativitas. pembuatan keputusan b... intelegensi b. digunakan untuk mengukur . kreatisitas c. intelegensi dan kreativitas d.. Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal . 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban. intelegensi dan kreativitas d. a. dan kepribadian.. bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah ..c. Hubungan intelegensi. intelegensi dan kepribadian b. Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d.. kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . b. a. pembiuatan kesimpulan yang logis . Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan.. d.. proses pemecahan masalah c. kreativitas dan kepribadian c.

Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa.. periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut... terhadap bacaan tersebut..... dan bagaimana. mengapa.............. Tentu saja merupakan taksiran kasar... Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain.. Boleh juga dengan cara "heuristik". (c) jumlah kata seluruhnya : .. (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka....... 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : . (b) berakhir/selesai pukul : ..... yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar. (c) waktu tempuh baca anda : ...d.. Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan......... kapan....... Oleh karena itu.. di mana... : .... 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : ....... 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya.. itu lebih baik...... siapa.......... KEM-nya juga bersifat ... III.. peningkatan intelegensi II....

10. Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. 4. 6. 2. 5. 1. 9. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 3. Tabel Latihan KEM No. 8. 7.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

surat kabar. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan". Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. dan lain-lain. Pada bab ini. buku ilmiah. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. guru bidang studi apa pun. Masalahnya. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. . Pendahuluan Sebagai seorang guru. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. majalah.Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada. Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. pamplet-pamplet.BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. Untuk pengajaran membaca.

Melalui bab ini. Jadi. (d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. . (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. Dengan demikian. anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. 2. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya. artinya dapat dibaca atau terbaca. diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan. kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. Oleh karena itu. "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable. Secara rinci. setelah membaca bab ini. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang.

Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. misalnya peringkat enam. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. dan lain-lain. Perhatian terhadap masalah tersebut. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. dimulai sejak berabad-abad yang lalu. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. peringkat empat. 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan. . Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli. Menurut Klare (1963). peringkat sepuluh. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. Oleh karena itu. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan.

bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. Raygor. 3. Dale & Chall. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan. Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. Gunning. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. Pada umumnya. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. Sebab. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. Flesh. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan. misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Sebaliknya. dan (b) tingkat kesulitan kata. dan lain-lain. memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. Fry. Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana.

misalnya. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. membuat rencana . Sehubungan dengan hal itu. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. Di samping hal-hal tersebut d atas. dan lain-lain) perlu dimiliki. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. kliping-kliping. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks. pamflet-pamflet. pendidikan. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. estetika. jurnal. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. moral. etika. manfaat. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya. majalah-majalah. Dengan demikian. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. surat kabar. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas. mempersiapkan tes.

Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi.pengajaran. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. Sering kita dapati kasus. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. 4. membuat surat kepada orang tua siswa. menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. menyusun program pengajaran. atau kegiatan tulis-menulis lainnya. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita. seseorang tidak . Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. Kegiatan ini perlu dilakukan guru. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya.

semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan. Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi. Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. Struktur yang secara visual dapat dilihat. terutama puisi. sebaliknya. jika sebuah kalimat atau kata .dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. Dengan kata lain. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga). Selanjutnya.

sedangkan ayahnya membaca koran. Ini ibu Budi. Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. Ini Wati. Pak Ahmad ayah Budi. Wati sedang menyiram bunga. kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. A. kakaknya melakukan pekerjaan lain. Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. Ibu Budi sedang memasak. . Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. Beliau sedang membaca koran. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat.yang secara visual tampak pendek. Wati kakak Budi. Ini Budi. B. Jika ibu Budi memasak. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. yakni menyiram bunga.

seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. Bagaimanapun. tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. sebaliknya. bukan?Dengan kata lain. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. Oleh karena itu. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. sarat dengan konsep. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. Pada kenyatannya. sebuah gagasan. sebuah konsep tertentu. . Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD). kalimat kompleks tentu sarat dengan ide. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. semakin mudah wacana tersebut. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. terdapat perbedaan yang sangat mencolok. sarat gagasan.

deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. . Oleh karenanya. tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari.Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra). manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B.harapan . Padahal dari segi bentuk. Formula keterbacaan itu. kita merasa asing dengan kosakata tersebut. terlebih-lebih pada . makna ganda.makar B. A.muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B. Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita. ditinjau dari sudut semantisnya.asa . dalam percakapan yang bersifat umum.era . satir.rona . atau minat pembaca.cahaya/air muka .zaman . Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut. Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A. Akibatnya. Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang. .

Namun.90. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan.karya sastra berupa puisi. Sama halnya dengan rumus Spache. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu. Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. seperti buku teks misalnya. Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana. Melalui berbagai pengkajian. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Akan tetapi. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi. 5. sedangkan dengan formula Dale-Chall . formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu.

Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya. Jangan lupa.berkorelasi 0. bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. Berikut contoh grafiknya. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading". yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut. Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry.1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5. seperti tertera di bawah ini. sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya. . anda sudah paham cara menggunakannya. Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana.1. 5.1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry".94. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.

yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud. 116.Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. dan seterusnya. Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit. Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. 120. 112. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. .

artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid. yakni faktor panjang-pendek kalimat. Oleh karena itu.7. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. 14. 20.0. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan. angka 2 untuk peringkat baca 2.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman. mungkin anda bertanya-tanya. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. Angka 1 menunjukkan peringkat 1. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. Maksudnya. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. angka 3 untuk peringkat baca 3. 18. Memang. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut. seperti angka 25. pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. Sampel pertama mungkin diambil . kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda.

Selanjutnya. sampel kedua dari bagian tengah buku. dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. . Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. Misalnya saja. dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel.dari halaman-halaman awal sebuah buku. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana. hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana. Meskipun begitu. Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang.

masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. 1999.1. =. Perhatikan contoh wacana berikut! . Maksudnya. seperti Budi. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100. lambang-lambang berikut. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat. melainkan akan ada sisa. kekosongan-kekosongan halaman. Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar. maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan).5. tabel-tabel.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana. maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. Dengan demikian. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat. IKIP.

Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang. Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Di loket tabungan ada yang mengambul uang. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Waktu Inu melihat sa- . Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre.

(2)Di bank itu . lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan... Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti. 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri. Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari ... Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana.. Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana.. uang. (3)Di loket tabungan . Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah. ke bank.. karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan. .. Inu mendekati kursi itu.69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. orang.

... (5)Di loket yang . antrean. Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus.. Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk. lain. (10)Dia memperhatikan .. itu.... maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10. itu. (12)Inu mendekati ... Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12. (11)Waktu Inu . (8)Ayah Inu . (6)Ada juga . Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut. (7)Mereka melayani. Dengan demikian. Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti.. rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat.5 kalimat.. Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah.. tunggu.(4)Ada juga . maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. tabungan. uang.058 dibulatkan menjadi 0.... Contoh lain. lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan.1 kalimat.... jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata. .. (9)Inu menunggu . berdiri. antre.1 kalimat..

Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. 2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya. Di loket yang lain orangorang juga antre. Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. Misalnya. maka untuk angka dan singkatan. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata. Caranya. Di loket tabungan ada yang mengambil uang. IKIP terdiri atas 4 suku kata. Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . 234 terdiri atas 3 suku kata.

hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas.in. maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu. Demikianlah cara ini kita kerjakan. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata. Petugas pun mengerti. dia segera berdiri. . Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. Data yang kita peroleh pada langkah (2). Inu mendekati kursi itu. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3).

untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya).3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut. yakni wacana dari bagian awal buku. pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali. 6. selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya. dari bagian tengah buku. Sebagai contoh. Oleh karena itu. maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat. dan 7 yakni (6+1).Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku. baik ke atas maupun ke bawah. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6. dan dari bagian akhir buku. peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. 5 yakni (6-1). Untuk artikel dan jurnal. atau surat kabar. Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana.1. 5. Penyimpangan mungkin terjadi. .

tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6.5 6. . dan 8.6 5.8 18. dan akhir buku).3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini. 1) I go to school. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris. tengah. 2) Saya pergi ke sekolah. Seperti kita ketahui. terutama dalam hal sistem suku katanya. Artinya. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6.Sebagai contoh. Kedua. mari kita perhatikan perumpamaan berikut. 7. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut.9 6. Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7.

Berdasarkan contohcontoh berikut.5. head. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). mulut. mouth. tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun. Berdasarkan kenyataan tersebut. leg. tooth.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. seperti kelas 1 dan 2. hair dan seterusnya. gigi. kepala. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal. Dalam bahasa Inggris. kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris. . misalnya: hand. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). foot. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an. lip. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris. hal itu mustahil terjadi. kaki. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar. Tetapi. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. bibir. rambut. Oleh karena itu.

tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya.8 dibulatkan menjadi 137. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0. . karangan Dendy Sugono. data jumlah suku kata 228 X 0. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). 4. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. Dengan demikian. maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12.6 = 136. Contoh wacana tersebut.5. dan 5 sekolah dasar. namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan.Berdasarkan contoh kasus tersebut. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3.6. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry. Dengan hasil pengukuran tadi. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4.

Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut. jika jumlah wacana itu ada 26 buah. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu. maka bilangan kebulatannya ialah 30. para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana. yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian. maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50.1. Langkah (3) .5.4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat. pengumuman-pengumuman singkat. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. misalnya. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu. Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry.

perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini.5 2. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? .0 1. Selanjutnya.Selanjutnya.43 1.3 2. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Dengan demikian. guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu.67 1.25 1. Dalam contoh di bawah ini. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3.1 Mari kita perhatikan contohnya.Dengan kata lain.

6 * jumlah suku kata: 60 X 3. cocok untuk peringkat universitas..-. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah.-.3.3 = 6.--.--.-.--.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas.---. .-.-.-.-. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah.--? -. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3.-...--.6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.-. (d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3.-.-.3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry.-.--.Wacana jumlah suku-kata ---. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata. maka akan kita dapati data berikut ini.-. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut. . titik temu dari persilangan data kalimat (6.

Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor. Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih. masing-masing terdiri atas lima kata. b) Saya menonton TV setiap malam. a) I watch TV every night.2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan . Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih. Jika demikian. bahkan sangat berbeda. sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata.1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry.2. jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini. Namun. Kedua kalimat di atas itu.5.

Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip. Oleh karenanya. Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin. . Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata. 5. Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel. Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah. Namun. mari kita perhatikan grafik berikut. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata. yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih. Grafik Raygor. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit".2. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah. Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula."Grafik Raygor". Untuk mengenali formula ini.2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry.

maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. bukan oleh unsur semantisnya. yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih. tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. Begitulah seterusnya. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu. Sebagai bahan latihan.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. Salah satu sebab . Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya.

. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? .. bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia...... Grafik Fry lebih banyak digunakan .. buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? .... akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan... perkembangan-perkembangan. Namun. anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya... buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? ..... Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor. dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk. Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya.. 1948).yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis..

87. . Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0. Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini.Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor. Dari 100 buah wacana yang diteliti. yakni dalam hal efisiensi waktu. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris. 5.

Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini. Wacana 2 . Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan. makanan-makanan tertentu. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih. obatobatan tertentu. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. jamu ini dan jamu itu. dan seterusnya.dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat. terutama wanita.

Pada umumnya. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. yang dapat . akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. kata terpampang diganti dengan kata tampak. Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide. tujuan hidup orang tidak sama. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih. Orang yang memperhatikan urusan mode. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya. Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama. Namun. Kata advertensi diganti dengan kata iklan. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan.

Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung. setiap bunga terdiri atas satu poros bunga. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan. . misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. Pada umumnya. Waktu anda membaca wacana di atas. Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik. fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek). Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana.berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial.---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---. sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas.

Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. . Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. yang belum diubah. Dengan kalimat yang pendekpendek. Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim. atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. Ketika kita membaca wacana yany pertama. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana. tergolong ke dalam kata sukar. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. biasanya jauh lebih mudah. Biasanya.

3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. mungkin juga berkurang. Anda jangan keliru. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda. sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. boleh jadi bertambah. Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat. . RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal.

Namun. coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan. karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. . yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor).Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik. 3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya.

yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. . kacang-kacangan. Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. di mana mereka tinggal secara tetap. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda. yang merupakan lambang abad antariksa. jagung. dan tomat. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. Augustine. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari.

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Secara rinci. Setelah mempelajari uaraian bab ini. Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik.000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. sudah dianggap cukup. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. artinya 8 jam/ hari. Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. . Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit. Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. Sungguh dramatis. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10.000 per minggu. Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat.

Hakikat Membaca Cepat 2. Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. dan dia pulalah yang kuat. 2. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . umpamanya.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. Seperti bermain tenis. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. membaca pun memerlukan latihan dan keuletan. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Mungkin karena itu sebabnya. Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Demikian juga dalam membaca. Siapa membaca cepat dialah yang dapat. Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan.b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya.

demikian disebut ... Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang.. tepat. mudah dipahami oranglain .. Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci.. bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial. ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan. dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon. Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi. Kalimat . bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil.. tepat.. jelas ... Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan. Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat. maka kemampuan membaca pun pasti membaik. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya. Tetapi. . Oleh karena itu. Dengan demikian. demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan. kalimat efektif. baik . Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca.... Persoalannya. hakikat dari strategi membaca cepat. Kalimat . Kalimat fektif haruslah ..yang menguntungkan... Inilah sebenarnya...

kita melihat alam sekitar kita. sekitarnya. "... Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%.. .. ..... Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin .. sekaliannya terikat pada tempatnya ... tampaklah . mati . sadar .. tanah.. dan sebagainya.pembacanya .. penulis . keadaan ... ba tu.... makhluk . . maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing. kemauan...... tidak mungkin menimbulkanperubahan .mewakili pikiran ... gaya tarik . Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya..... Selanjutnya. Hal ini berarti ... tanah.alam . tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu. dalam dirinya sendiri. mencapai daya informasi yang dinginkan . kalimat efektif disusun . Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut....... tak adapadanya... gaya berat. diharapkan pembacatertarik . ia takluk sepenuhnya . mari kita lihat ilustrasi yang lain. logam. Kita menyebut . Pertama kita hadapi alam yang mati.. gayatolak .. tergerak hatinya. Yang ada ..... Pertama kita hadapi alam. mati. batu... hal ini tercapai.. mekanis".... .. "Kalau kita melihat alam sekitar kita. Gerak istimewa.. logam.. sifatnya .. . apa yang dibicarakan. keinginan penulis...

gaya tarik.menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri. Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu. dan kebebasan tidak ada padanya. Dengan MC.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. . bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. Yang ada hanyalah gaya berat. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. kemauan. dan gaya tolak yang mekanis. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. 2. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan. Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. Gerak istimewa. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda.

dan seterusnya). yang diikuti dengan pindah halaman. Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing. dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen. Pada permulaan latihan MC.irama dua detik/halaman. itu yang pertama kali ditumbuhkan.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas). Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". ialah satu detik satu halaman. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. Dengan kata lain. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. . Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing. Selama latihan. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. Kunci utama MC ialah melaju terus. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus. Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik. Dengan demikian. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC. setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik. maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. irama empat detik/halaman. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. Melalui latihan yang tekun. Pada waktu Anda mulai berlatih.

Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. sebuah stop watch. maka Anda sudah boleh merasa puas. atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia. 2) Sediakan pula arloji atau. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. bacalah dahulu penjelasan berikut ini.Kemampuan membaca satu halaman per detik. 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. serta minat baca yang tinggi. 1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman. atau kira-kira 20. 3. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. POLA DIAGONAL . Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru. kalau ada. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat.

Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu.Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. POLA BLOK . Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman. POLA SPIRAL Pada pola ini. POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah. Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak. yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang. kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri.

Blok ini umumnya merupakan paragraf. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat. Sekarang. suatu kecepatan membaca yang lumayan. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. Seraya membaca. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja. atau kira-kira satu detik/satu baris. Anda pun diharuskan . kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu.

Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik. Nah. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. Berlatihlah selama lima menit. bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh. Irama ini sangat mudah diikuti. Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu. Dengan latihan 5 menit. setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris. segeralah kembali ke kiri. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. Supaya lebih mudah. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat. Setelah selesai membaca 30 baris. ikuti petunjuk berikut ini. Selanjutnya. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. dan berhentilah pada halaman 50. Setelah . Caranya. dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. Anda tidak perlu merasa kecewa.

Anda harus bertahan. Berlatihlah dengan intensif. Mulailah dengan biografi . Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. 4. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. 1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda.selesai membaca buku. 4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC. maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. paling sedikit setengah jam sehari. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau". Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan.

perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. . bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit. fiksi keilmuan. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. 8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. 10)Membacalah dengan tekanan progresif. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik. Sambil membaca Anda harus bertanya. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. cerita petualangan. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi. dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain. lakukan survei selama dua atau tiga menit.berfiksi. Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini. masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. Segera setelah Anda merasakan kemajuan. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap.

Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. atau mungkin memeriksanya dalam kamus. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan. 13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca. Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. . sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. Kalau hal seperti itu terjadi. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata.

Walau demikian. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi. maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang. Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. tidak perlu hujan ataupun mata-hari. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya. Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara. pangan. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". jumlahnya berlimpah ruah. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu.1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan. Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat. Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. . Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. Lain halnya dengan zaitun.4. Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya.

Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. Paragraf (3) . transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. dan tidak pula memerlukan filamen.Di dalam paragraf di atas. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. dan sifat-sifat pohon zaitun. Paragraf (2) Arkian. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu.Kemasyhuran. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi. Cobalah Anda baca. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut. Dalam paragraf ke-2. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna. transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum. kegunaan. Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. Dalam pada itu.

Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. dan Hitler bukanlah penciptanya. Georgia. Tetapi. dan tes pun terpaksa diundurkan. kemampuan. bangsa. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. Kira-kira 500 orang saintis. dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. Pemimpin mereka. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. Dan semenjak Perang Dunia II. Emory Burke. . pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. pegawai pemerintah. dan menamakan diri "Columbia". dan kesetiaan". Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu. Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya. Semua peralatan ada dalam keadaan siap. dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf.

hijau. Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. dan coklat. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu. tanggal 4 Desember 1989.Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya. Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. daratan. berturut-turut biru. bukit. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. Paragraf (5) Sore itu. Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. Gunung.

kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca. Dengan kata lain. Para ahli. Pada tahap mekanis. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial. Anda . mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase. Selanjutnya. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang.2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual. Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. 4. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif.

tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca.. mereka . frase".. frase demi frase". membaca merupakan rentetan hentian- .. MF yang dilakukan oleh pembaca ini... Sesungguhnya. Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata.2. mereka me nulis ... tidak . demi . mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan.1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca. melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat... atau supaya dapat "melihat" sesuatu.kata .... Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis . frase . menulis . maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur.. Berdasarkan pAndangan mekanis.. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut...... kata demi kata . demi.. menulis .... 4.. "Penulis tidak menulis . Kalau mata bergerak terus... mata harus berhenti sejenak. supaya dapat menginterpretasikan kata-kata. pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis. kata .

Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca". mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. dan setelah itu terjadi pula hentian. Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. Pada setiap hentian. Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah. Dalam membaca frase. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata. Dengan demikian. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. Namun. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. Dalam membaca senyap. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. Pada umumnya. Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu.hentian visual.

harus pula . Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat. atau seorang calon petinju. Sekali lagi. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok.gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. atau pun calon pianis dan sebagainya. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan. Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. Mereka akan membaca lebih banyak. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola.

.. Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi........... Silakan coba! .... ..*.................. .. ...............*......... .......................*......*.. Hasilnya terbukti sangat memuaskan. .....*..*....................... lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya.....................*........ "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun........ Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang.........*..................................*.... ................ Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap....................... dan jangan pula menggerakkan kepala.dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir......*.... Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang....................... Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF..............................................................................*.... Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan..*.............*..... ..*......... .*..*.................... ...........*......... Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun........*........ ........................*....................................

ratusan ribu. Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. 4. Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual. Proses MF. Sambil membaca. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK). ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase).2. Selanjutnya. ialah gerak mata. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF. Sebelum mulai membaca.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. Anda akan menjadi lebih . Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak. bahkan jutaan. penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata.

sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. subjek biasanya mendahului predikat.. Mulailah secara perlahan-lahan dulu. Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan.. Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa. tetapi belum dijelaskan artinya.. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase". Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. ibu guru. Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF. Contoh: "Saya gemar makan pedas. Kata penghubung menyatukan frase. Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: . tetapi perut saya. Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti.". Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. Contohnya: surat kabar. yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase. daftar pelajaran. Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata. Di samping pengertian kalimat. rumah sakit. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti". Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. dan lain sebagainya.

tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. Setiap kelompok kata dikotaki. Namun demikian. maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. "Rumah pun habis dibakarnya". maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu. di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil.(a) kecepatan membaca. Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti. (b) kecepatan menangkap makna. dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. . Kata "rumah" misalnya. Untuk kepentingan latihan Anda. Demikian seterusnya. bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai. Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri.

Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti. Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental. Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. Pada mulanya . (3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya. Untuk keperluan latihan. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Dengan kata lain. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi.

Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda. teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari. Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. Percayalah. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya. sebab menurut penelitian. . Karenanya. Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara.

dan graphein yang berarti menulis. yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf. Membaca Paragraf 5. Biasanya. Pada mulanya. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. Dengan maksud yang sama. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks.2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. Dengan demikian. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas. PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN . 5.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan. yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama. Pada umumnya. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan.5.

cobalah gunakan . c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini. Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf. maka pilihan Anda itu benar. Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf.1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok. 3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca. b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat.

Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung. Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. Namun. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja. 7) Terkalah pikiran penulis. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya. Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit.prosedur ke-4. Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan. Kalau maksud Anda demikian. Bacalah paragraf itu seraya bertanya. 6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . "Apa arti semua ini?". Periksalah terkaan Anda.

Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama. mungkin Anda ingin segera berlatih. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural. catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama. ialah tentang strukturnya. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. . 3) sebagai kalimat pemuas. ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya.untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. Setelah membaca prosedur membaca paragraf. Sebelum mulai dengan latihan. Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama.

Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. 2. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca. Dia masih ingin menjelaskan idenya. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. Pada dasarnya. Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama. b) Dengan pembedaan. Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini. c) Dengan contoh. atau contohnya. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu. biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. umpamanya. . dan sebagainya. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. membaca adalah suatu proses psikologis. ialah mengulang-balik pikiran utama. d) Dengan pembenaran. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. sebab.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca. Cobalah pelajari baik-baik. a) Dengan ulangan.

Bahkan. Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. 5. 7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok. 6. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata. dan sebagainya. . Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. lidah. Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. bibir. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan.3. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu. 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima. 4. 7. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama.

2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta. Supaya Anda tidak . Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak. "Bacalah bab ke-2.3 Membaca Bab 5. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran. Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku.3. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu. apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada.5. ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang".1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini.

Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. dan melengkapi keterangan yang diperoleh. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu. Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan.menemui kesulitan seperti itu. Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf. Untuk menyederhanakan sebuah bab. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga. dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi. membuat catatan. Hal itu akan dilakukan kemudian. mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. menguji pemahaman. .

Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. . Lihat kembali bab 3 buku ini. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. Setelah selesai. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. Ulanglah tes seperti itu secukupnya. cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu. Baca lagi kartu itu. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. Setelah selesai membaca suatu bab tertentu. jika Anda memerlukannya. sebelum pergi kuliah. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda. Berilah angka pekerjaan Anda itu. lalu tutuplah buku Anda.

Yang penting.1 pengertian 6. Percacalah! Sekedar contoh. Contoh kartu baca. data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana. berikut disajikan sebuah contoh kartu baca.5 Prosedur Penilaian 6. Materi Pokok Membaca.3.S. Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5. | | | | | | | | 6.3 Manfaat/Kegunaan 6. A.Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad. Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga. (1988:21).2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya. Teknik Isian Rumpang 6.4 Kriteria Pembuatan 6.2 Fungsi 6.| | Jakarta: PT Karunika. .

7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra.4 Membaca Buku 5. 2) Buka baliklah daftar isi. 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab.4. 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku. Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku.Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti. Puisi . Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. misalnya). Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. Pada umumnya. 5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab. ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. 5.bab lainnya.1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan. Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja.

misalnya. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. kalau ada bacalah kata pengantarnya.4. 5. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca.2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. drama. 1) Secara umum. Keempat pertanyaan tersebut. novel. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat . Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis.

apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. lihat uraian terdahulu. Dengan melihat daftar isi buku. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. serta nama-nama tokoh penting. Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. dan bertanyalah pada diri sendiri. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab. 3) Periksa daftar indeks buku.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit. 5) Selanjutnya. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. . mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. Berhentilah sejenak. sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. Dengan demikian. jenis-jenis buku. Namun. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. Sampai di situ. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan.

Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. Anda tentu tahu. 5.5 Membaca Karya Sastra 5. Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya. Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain. hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan. mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. jika penulisnya berhasil. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi). pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. atau tidak memberikan informasi baru. Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas.6) Akhirnya. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut.5. Pada .

cerpen. Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu.umumnya. pertanyaan ini dapat .5. Untuk bacaan sastra. peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. juga berlaku untuk membaca karya sastra. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. Adakalanya. Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). tengah. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya. drama tersusun dari bagian-bagian. Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda. dan akhir. Anda harus menemukan bagaimana puisi. samar-samar. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. dan berbunga-bunga. novel. 5. Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. baik pada prosa maupun puisi. yang terdiri atas bagian awal. Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya. rincian-rincian. Namun.

Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula.2. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri. ataupun drama. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. Bagi penulis karya sastra. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. melainkan kebenaran khayalnua.5. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. pikiran-pikirannya. Puisi juga memiliki tokoh. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. dan akhir. Anda terlibat sudahlah cukup. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra.dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya.1 Prosedur Membaca Novel . Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda. tindakan-tindakannya. Setelah membaca puisi. cerpen. perasaan-perasaannya. tengah. Meskipun begitu. lingkungan mereka. novel. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. 5.

5. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya.2. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya.5.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif. Mereka beranggapan. 6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis.Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. seperti halnya dalam cerpen. Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen. dan solusi atau bagian akhir cerita. klimaks. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik. 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. Di samping itu. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. bahkan bacaan pada umumnya. pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan. yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama. 4) Camkan bagian tengah cerita. 7) Kenalilah bagian permasalahan.

Artinya. kekayaan ilustrasi. berkenaan dengan penampilan sajak. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Ketiga. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi. meskipun dengan bantuan konteks. dan lain-lain. Keempat. puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. Kedua. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. berkenaan dengan daya tarik bunyi. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. puisi itu harus berada pada tingkat literal. sajian berbagai media. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. Tentu saja. Oleh karena itu.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. diskusi kelas. Pertama. memahami. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan.

sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. misalnya metode membaca frase. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di . ide/kalimat penjelas. pola zig zag. dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). membaca bab. yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. dan pola horizontal. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. pola blok. pola diagonal. ide/kalimat inti. Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal. membaca paragraf. Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. Namun. Pemaduan dua keterampilan. pola spiral. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya.

suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. Andaikata di sana ada juga nyamuk. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. Keempat pertanyaan tersebut.seputar isi bab itu. 1) Secara umum. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu. Tetapi bagiku. Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak.

Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan. dan pelarapan emosional. Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. sikap. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. Karenanya. Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat. Namun. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman. kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit. Di dalam paragraf. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf.dan murai berkicau di hari senja. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. mempersamakan .

Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah. tunjukkan buktinya! .kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. 2. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan. Instruksi: 1. Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide. Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3. Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful