HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

membandingkan. pada peringkat yang lebih tinggi. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang. Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . melainkan berarti pula memahami. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. dan pengalamannya. 2. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. Sebenarnya. menolak. Dengan demikian. membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. menerima. Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. ialah sikap pembaca yang aktif. perasaan.

yakni: 1) intelegensi. 6) ras. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. 10)kemampuan persepsi. 7) kepribadian. 4) tingkat sosial ekonomi. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut. hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. Karenanya. Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. 9) pertumbuhan fisik. 5) bahasa. 8) sikap. dan 11)tingkat kemampuan membaca. 3) jenis kelamin. Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. 2) usia mental. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. .

Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA.Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. IQ x CA MA = _______ 100 . benar. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil. yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. Untuk membedakan IQ dan MA. karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. bahkan sangat sering. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. untuk tes yang sama pula. Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age). sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. ialah usia mental. dengan MA dan IQ. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya. sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental.

2 = ------.MA IQ = --------.x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6. 110 x 6.0 dengan cara berikut ini.0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.6 12 .= 6.2 79.

maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas.0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca. yang banyak tingkatannya itu. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan. tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan.0). bukan menjelaskannya. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting. dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----. umpamanya. berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum.6 dan 6.6 = ----.x 100 CA 6. Harris (1970). namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi.x 100 6.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental. diketahui (6. .

Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. dikenal pula hal yang sama pentingnya. prosedur dan metode mengajar. Namun demikian. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif. Namun. bahkan mungkin lebih penting. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun.Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. prosedur mengajar. Dia . Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun. semenjak itu. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran.

2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal.35 dan 0. kesiapan membaca.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas. prosedur. namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. motivasi. Ada lagi dua orang ahli. 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. seperti yang tertera di bawah ini. . dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada.80. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca.

5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas. > 130 maka dapat 3. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu. Tes Formatif 1 1.0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. mampu membaca di atas peringkat empat .8 dan usia kronologis 6. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2. Jika diketahui bahwa usia mental 7. 120 C. 110 B. 130 D. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A. dapat membaca 50 kpm B. mampu membaca sampai peringkat empat saja D. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C.

Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. Masih banyak faktor lain yang sama . di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja. enam setengah tahun B. antara enam dan enam setengah tahun D. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A. empat setengah tahun B. Gates menemukan data bahwa besarnya kelas. lima tahun C. dua tahun B.4. enam tahun D. tiga setengah tahun D. enam tahun C. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A. empat setengah tahun 5. enam setengah tahun 6. tiga tahun C.

Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu. yakni tahun 1940. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . tingkat kesehatan yang rendah.20%). Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan. namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. sampai 50%. sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%). yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut.pentingnya. sebab jauh sebelumnya. . menengah. dan rendah. Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi. Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca.

Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar. yakni latar belakang pengalaman. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. membaca buku dan majalah. dan tekanan ekonomi. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. dan bahasa. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman.kepadatan lingkungan. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. Di sisi lain. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian. Sayang sekali. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil. tingkat motivasi. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak .ekonomi. Di pihak lain. maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan. tempat kediaman yang tidak stabil. banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya.

atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. Akibatnya. majalah. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. tidak mau membaca. Kakak-kakak mereka. Dengan alasan tekanan ekonomi. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. Tidak seorang pun menyukai kegagalan. Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka. Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. temanteman. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. atau surat kabar di rumah. banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.memiliki pengalaman yang luas. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah.

dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). klause-klause terikat. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. tidak mampu berbahasa formal. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang .menerus itu. Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan. Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu. bahkan sebaliknya. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana. menyatakan persetujuan atau penolakan. Struktur yang kompleks. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca. tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. deklaratif. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah. dan imperatif. Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan. meminta sesuatu. Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Namun. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. Seperti telah disinggung di muka. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. langkah pertama. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. 4. gelombang cahaya. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi. mengecap. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. tidak percaya diri.memiliki motivasi. dan 4) indentifikasi kata-kata. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. mendengar. yaitu stimulus. Seperti dalam proses sensoris. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris. asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. yakni melihat dan mendengar. mencium. dan meraba.

Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/. Langkah kedua dalam persepsi. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun. maka semakin . Sebagai contoh. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu. tidaklah memberikan makna apa pun. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. ialah meminta. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu. Sebaliknya. Akan tetapi. tetapi kita membawa makna kepadanya. Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. sesuai dengan namanya. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda.

dan asosiasi emosional dan fisik. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut. Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. . Sama halnya. bahkan cerita. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. latar belakang budaya. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. bab. mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. Sesungguhnya. akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. banyak berdarma wisata. Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. paragraf. seperti pengalaman lalu. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. banyak berkunjung ke toko buku.

anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus. Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala. . kedinginan. Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. berpacu meluncur di salju. Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan. Untuk mengembangkan kemampuan membaca. dan kesengsaraan. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. Dengan kata lain.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman.

Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. menganalisis. bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. jenisnya. ukurannya. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. mulai dari daerah-daerah yang konkret. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak. dan sebagainya. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. dan sebagainya. Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. ada merpati. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. Setelah pengalamannya berkembang. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. dan menyintesis. punai. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. bentuknya. macam-macam gelas. Dengan kata lain. Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. dan sebagainya. . sangat nyata dan khusus. Bunga itu bermacam-macam warnanya. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. wanginya. ada perkutut. ada balam. Sewaktu bermain rumah-rumahan. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. Demikian juga dengan kata bunga.

Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. gambar. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. Oleh karenanya. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks. dan kalimat dalam wacana. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. kematangan. pengalaman. waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. Penampilan audio-visual. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. . kata-kata.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. permainan. 5. dan berbagai kegiatan kelas. cerita. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. tetapi oleh kebudayaan. emosi. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. dan bahkan kepribadian juga.

Namun. dan lari . Pendek kata. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. demikian seterusnya. Pekerjaan baru. pada usia empat bahkan tiga tahun. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. kalau dia tidak mau tersesat. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. suasana hidup yang baru. Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya.dan bilamana berakhir. berjalan pada usia delapan bulan. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru.

Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya. Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. Namun. Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. Oleh karena itu. Membaca bukanlah proses instinktif. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru. . Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. Pertama.pada usia sembilan bulan. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya.

pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. 6.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. . Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari. metode. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna. Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir. 1) Keterampilan itu objektif. membaca pemahaman. Oleh karena itu. pengembangan kosakata. dan pelajaran keterampilan. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor. atau pun tingkatan-tingkatan akademis.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. dan penerjemahan atas suatu fakta. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya. penginterpretasian. pengenalan. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". dan (3) Kino sangat miskin. di kota C. Untuk menjawab pertanyaan kedua. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. Oleh sebab itu. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu. Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan.B. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru. .

d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi. /C/ kapital. proses perseptual. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. seperti pengenalan ciri-ciri melati. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan. ros. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama. proses perkembangan. . Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. dan proses perkembangan keterampilan. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. /c/ kecil. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. dan kenanga sebagai bunga. dan penginterpretasian informasi. pengidentifikasian. proses sensoris. namun prosesnya belum tentu lengkap. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan.

Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti. . Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya. Dengan membaca dan memahami isi bab ini.Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar.

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. cermat. dan spesifik. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969). Namun. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. . dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu. Sebagai contoh. Teori kinetik untuk gas itu. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. panas. meliputi sejumlah hukum yang valid. baik teorinya sendiri maupun modelnya. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu.MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini.

Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental.Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an. Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca. Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca. Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. c) menjelaskan "model membaca interaktif". anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. Secara lebih khusus. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. Model membaca itu . Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". Sayang. 2. proses informasi. psikolinguistik dan linguistik. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas".

. Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu. Namun. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down. Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive. yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up.ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan.

MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama. Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder. MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. Sebaliknya. Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. dekode dan enkode. MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama.

barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu. tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. Para penulis berbagai bidang profesi. Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Menurut MMBA. Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. Setelah itu. Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. seperti: Flesch (jurnalistik . Gagne (psikologi).komunikasi tulis). Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin. Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. Di situlah tempat pembaca memperoleh makna. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis).

metode Silabik.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. Fries (1962). tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya. Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C. tetapi /kh/atau /ek/. dan sebagainya. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. metode Alfabet. huruf "L" diucapkan /el/. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua. huruf "K" diucapkan /ka/. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. Dalam Metode ini.C. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/. huruf "D" tidak . Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu. Itulah sebabnya dalam metode Fonik. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain. metode Fonik. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya. huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. metode Kata Kunci.

Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. tidak interaktif. Salah seorang tokoh MMBA. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat). (5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. . sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini. Dengan demikian. (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon.diucapkan /de/. Demikian seterusnya. Dengan bantuan alat visualnya. Oleh karena itu. tetapi /dh/ atau /ed/. Menurut pendapatnya. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf. berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya.

(7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu. Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA. dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin". (8)Akhirnya. . kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD. struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD).(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. Dengan demikian. setelah maknanya dipahami.

Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3. Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .

MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak. model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. sintaksis. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. atau mungkin memperhalus masukan tersebut. yakni dari bacaan. yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa. bukan dari otak pembacanya. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca. Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak.bacaan. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima. menolak. Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. Oleh karena itu. Ketika informasi itu diproses. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. informasi grafis itu semakin berkurang . MMAB mengajukan hal lain. karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". dan grafik. Berlainan dengan MMBA.

kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga. maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini. Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". Shuy (1977).pula tingkat keperluannya. serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya. Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis.bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula. Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah . Psikolinguis yang lain. Jika prakiraan itu tidak cermat. maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan.

Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. Dengan bantuan prediksi. Mungkin. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. Memang benar. Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. bacalah wacana di bawah ini.asumsi tentang prinsip kerja mata. Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. Namun. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat. kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? . mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. Dengan MMAB. "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time".

Bagi Smith. dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca. Informasi visual dan informasi . Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain. Dengan demikian. dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya. Sekarang.Nah. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". dibelakang matanya. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang. Untuk memahami wacana yang dibacanya.

Sebaliknya. Gambar ini . Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang. sangat perlu diperhatikan. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca. Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan. Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya.

kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. Lebih dari itu. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. mata kita sama sekali tidak melihat. Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya. Oleh karena itu. kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan. Namun sesungguhnya. asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik. kemudian masuk ke dalam otak. Kita melihat sesuatu. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. .memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak.

Dengan demikian. tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. Dengan kata lain. kegiatan memperkirakan. otaklah yang melihat. Dengan kata lain. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi". otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir. Jalan mios dan angka sepuluh. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata. Padahal. Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. Otak. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. sudah tentu.kesan. sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. Sebuah perkiraan. sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. berita yang masuk melalui syaraf. Bagi mereka. Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. Oleh karena itu.

meja. kapal terbang. merah. Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya. bukan lambang-lambang bunyi. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. hitam. seperti pepohonan. Dengan demikian. binatang. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. kursi. gunung. karena penulisannya berbeda. Sekarang. roti. Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. mobil. sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. nasi. dapatkah anda memahami maknanya? Ya.Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. Fonik itu tidak efektif. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. kereta api. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. tidak perlu. sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. biru. tetapi artinya tetap berbeda. Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. Menurut hasil penelitian. Lebih dari itu. awan. dan sebagainya. Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". . Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. ialah dengan sekali pandang. hijau. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning. karena sistem tulisan mereka kebetulan sama.

maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula. seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. . baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. maka penglihatannya akan sangat terbatas. TV. Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko. jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. pada saat orang sedang membaca. Hal ini bisa terjadi. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. Jika pada waktu membaca.Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. Namun. yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV. dikenal istilah tunnel vision. atau membaca dari belakang mata. mungkin dia itu membaca tidak efisien. yakni peristiwa penyempitan pandangan. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami. Akan tetapi. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. Jika sewaktu membaca.

Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. maka penyembuhannya mudah dilakukan. 4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. 3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. sebab masalahnya sangat relalatif.Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil. semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. Kecemasannya itu menimbulkan TV. sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca. Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. Sayang sekali. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan .

TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. melalui film. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. Oleh karena itu. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. ceramah. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi. penanganannya pun harus didekati secara individual. mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. bukan pembacanya. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat. Di samping itu. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. dalam artian kelompok pembaca. Karena itulah. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu. bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. dan sebagainya. Caranya bermacam-macam. Jika anak dihinggapi rasa takut. TV terjadi pada anak secara individual.

Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu. Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut.lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977).______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir. Artinya. melainkan suatu . maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik. Secara sederhana. tidak interaktif. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier. Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear. 4. tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan.

Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC). baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Oleh karenanya.proses timbal-balik yang bersifat simultan. penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. Akan tetapi. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif. Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan. Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca. PP merupakan komponen yang utama dalam model ini. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. . informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya.

Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca. Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. ditentukan. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. kemudian disetujui. semantik. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. seperti Goodman dan Ruddel. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. sintaksis. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf.semantik. berbagai hipotesis dirumuskan. leksikal. sintaksis. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. semantik.

dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. kata). Dilihat dari bidang pengajaran. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca. kalimat. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. dan sebagainya) ke struktur batin. manfaat. ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat. ke bagian yang menghendaki prakiraan. hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi. Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. huruf. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah. Dengan demikian. tujuan. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca.yang paling layak. kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut.

Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. Sebagai contoh. guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. Dalam praktek pengajaran membaca. Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. melainkan kehadiran siswa itu sendiri. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca. Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya. Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif.

namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman". Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang. Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka. karyawisata. Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya.sendiri. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. bercerita. Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. Dengan demikian. baru kemudian membaca. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan. Oleh karena itu. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. diskusi dulu. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. pertunjukan film. dan sebagainya. . Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu. Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa. Tampaknya. Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka.

Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru. bertanya dan bertanya. Mungkin. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri. Dengan pengetahuan ini.Dalam bidang metode pengajaran. membuat prakiraan. hipotesis. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. mudah-mudahan apa yang telah . Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan. antisipasi. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. Sebagai guru. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. dan membaca untuk menguji hipotesis. klasifikasi. yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen. SQ3R misalnya. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda.

kata-kata. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. hingga akhirnya sampai ke makna. Kita memiliki sintaksis. kelompok kata. kalimat. MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. Dalam model Rumelhart. dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. La Berge dan Samuel (1974). mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda. dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi.kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik. kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf. yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. dan leksikon yang bekerja secara serempak. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. ortografi. semantik. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. MMBA bersifat linear dan berjenjang. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca. Salah satu upaya untuk . Memang. yakni huruf-huruf.

Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja. yakni model membaca bawah-atas (MMBA). yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. berlanjut pada kilasan. pendekod. Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. pendekodan. metode Bunyi. Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. . Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. model membaca atas-bawah (MMAB). pencatat. yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca. Peristiwanya terjadi di dalam otak. Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak".membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. merlin. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks. Dari ketiga model membaca tersebut. librarian. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. lalu memasuki ikon. dan model membaca timbal-balik (MMTB). MMBA merupakan model yang tertua. Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. atau metode Alfabet. dan pengenkodan.

Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel. bekerja secara serempak dan simultan. Tentukan. pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. Menurut MMTB. MMBA dan MMAB. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" . Ini c ----> ini /c/.Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. yakni kedua model pertama tadi. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan. Ini d ----> ini /d/. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Ini b ----> ini /b/. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini.

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. dan pengertian KEM. tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki. f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu.tersebut. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini. Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. Secara khusus. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi. fungsi. .

Melalui uraian bab ini. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. latihan menggunakan rumus KEM. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua. 2. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. Sebaliknya. Anggapan itu sama sekali tidak benar. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan). (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. (diucapkan kata demi kata) .

Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya . Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami.Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Melihat ilustrasi di atas. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan. Justru sebaliknya. Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. ketimbang cara kedua. orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. Dengan pandangan sekilas saja. Memang. yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu.

Meskipun demikian. menentukan metode. dan gaya membaca disebut strategi membaca. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. Demikian juga dengan kegiatan membaca. Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. informasi fokus. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata. teknik. membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. Menurut Tampubolon (1987). pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. informasi fokus. Akan tetapi sebaliknya. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca. setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. dan jenis bacaan yang dihadapinya. Kadang-kadang. teknik. Kadangkadang. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. Dengan demikian. metode. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . sedangkan faktor tujuan.

pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. pikiran. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit. pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri. Sementara itu. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. Namun. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. Idealnya. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. . jadi. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata.kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis.

Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah. Seperti juga kali ini. Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi.3. mari kita renungkan ilustrasi berikut. Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. . Dengan kata lain. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. namun salahseorang murid anda. Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. Sekarang. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Gina.

kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. . Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi. Melalui ilustrasi kedua. yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut. saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. Melihat kedua ilustrasi tersebut. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. selanjutnya kita sebut kemampuan visual. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami.Melalui ilustrasi pertama.

yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. Sebelum itu. KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. motivasi. Di samping itu. tingkat keterbacaan bahan bacaan. teknik-teknik membaca. maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit. 4. istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. dan sebagainya? Oleh karena itu. dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya. Jika kita alihbahasakan. proses berpikir dan bernalar. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". Mengapa demikian? Tentu saja. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. Selanjutnya timbul pertanyaan. "speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca. bahan bacaannya itu . Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. Masalah selanjutnya.

Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. Membaca karya sastra (novel. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan .sendiri tidak selalu sama. cerpen. Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. bacaan sosial-eksak. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. sukar. Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. ada bacaan ringan. bacaan fiksi-nonfiksi. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Di samping itu. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi. sedang. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi. dan sebagainya. Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai.

anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. Tentu saja anggapan ini tidak benar. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. Dengan demikian. akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca. . Sebagaimana telah dijelaskan di muka. Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya.berkesinambungan. Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca. KEM menuntut dua kemampuan utama. yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca. Sebagai guru. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca. Di samping itu.

dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan. maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. (d)intelegensi. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". 1988). Pada tahap-tahap awal. Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana. tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. (b)latar belakang pengalaman. (e) sikap dan minat.Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini. di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness). karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. Jika dihitung KEM-nya. Dalam keadaan normal. (c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. dan . Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. 1987). dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon.000 kata per minggu. seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi.

Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. Sisanya. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. sementara butir b. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik. memang ada hal penting yang perlu dicatat. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. misalnya. Ommagio (1984) . pemahaman makna kata. yakni sikap. d. yakni sebesar 65%. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata. Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness". intelegensi.(f) kematangan emosi dan sosial. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. Namun. dan f (fasilitas bahasa lisan. keterampilan analisis kata. minat. dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. Butir a. diskriminasi auditori dan visual. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. dan lain-lain.c. Hasil penelitian Yap (178). sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain. pemahaman konsep-konsep linguistik. dan e (latar belakang pengalaman. kebiasaan.

keyakinan. gaya kognitif. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. (d)tujuan membaca. Seperti juga pendapat Heilman. sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana. dan perasaan. antara lain: (a) latar belakang pengalaman. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992).berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan. (b)kemampuan berbahasa. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. minat. sikap. (c) kemampuan berpikir. Menurutnya. (b)tujuan dan sikap pembaca. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. dan pengalaman membaca. Blair. Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. . (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan.

tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. Keterbacaan menurutnya. melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut. Selanjutnya. teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca. Menurutnya. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting. sebaliknya. Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. Bahan . materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability). Meskipun pengetahuan bahasa itu penting.

Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti). Namun.bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya. hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata. Sebaliknya. Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. Dewasa ini. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit. atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. . Rumus yang satu misalnya.

unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. bagi guru. melainkan bisa lebih fatal dari itu. (b)membaca dengan gerakan bibir.Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. Sebaliknya. Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Dengan kata lain. Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. Sampai sekarang. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya. Minat dan motivasi yang tinggi. baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya. Menurutnya. rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. . minat. belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. dan tujuan membaca. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. tingkat kematangan.

(c) membaca dengan gerakan kepala. kelompok kata. (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. (e) membaca dengan pengulangan kata. atau baris bacaan (regresi). . tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca. Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan. pena. (g)membaca kata demi kata. Untuk mengatasinya. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental). atau alat lainnya. (f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna.

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering. c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. dan jenis membacanya. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. b) Teknik baca-lompat atau skipping. pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. kontinyu. Sementara itu. sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut. Dalam hal ini. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan.mahaman (membaca dalam hati). tangan. kepala. teknik ini juga . yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. bahan. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan. Selain itu. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir. Maksudnya. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. jari. dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik.

misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). 1) Mengenali topik bacaan. 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca. Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. tetapi tidak membacanya secara lengkap. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. 3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan. Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut. misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas. Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. urutan ide pokok. Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan. Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. 4) Mengetahui organisasi penulisan. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan.

daftar perjalanan. 5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu. metode PQ3R. Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain .1) mencari nomor telepon. metode SQ3R. metode PQRST. faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). Berbeda dengan para ahli di atas. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. dan sebagainya. Di samping teknik-teknik membaca di atas. 6) mencari data-data statistik. dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. dan lain-lain. Keempat teknik membaca di atas. Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. dokter jaga. tampaknya diilhami oleh . Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. menentukan. dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya. 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. 7) mencari acara siaran TV.

text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C . attentiL on.model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982). Model dimaksud tampak pada gambar berikut. focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader. ____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc.N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose. interest.

1978.kompetensi bahasa /--.. dan kemampuan membaca. pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. maka akan tampak skema seperti berikut ini. model pengajaran. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca.minat dan motivasi | (internal) |. 1981). Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. minat. Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori. Hafni. /. (dalam Burnes & Page. motivasi. Menurut beliau. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca. International Reading Association... yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). dan lain-lain (Pearson. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca. Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa.sikap dan kebiasaan . guru.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1. yakni (a) unsur dalam bacaan.Faktor dalam |. faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982).

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

30 . kemudian dikalikan dengan 100%.10. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----.5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----.X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------.15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3). 3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1).= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya.2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca.15 (b)catat waktu berakhirnya membaca. 10.20.20. misalnya pk 10.= 700 kpm 5.30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b .a) atau 10. Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan . misalnya pk. Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini.

12. . 5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan). 20 soal. 10 soal.pembagian sebagai berikut: I. 9. 28. 15-19. 22-25. I. bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II. maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. 18 butir X 2 = 36 II.

X ---. penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): .5 700 X 0.= 330 50 700 X 0.= ------> -----.X 60 82% = 330 -----. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.Untuk contoh data di atas.X 82% = 5.5 50 5.X 60 ---.

kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM. . Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning. yakni 574 kpm. dan lain-lain. Tujuan Membaca.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM.X 82% = 330:60 -----.3850 41 3850 -----. pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut. manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca. (c) perangkat tes (tes bacaan). KEM. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya. stopwatch. mendapatkan kesan umum su atu bacaan.X ---. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu. 6. megetahui struktur organisasi bacaan. mencari gagasan pokok.= 330:60 50 700 X 0. (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan. Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca.

d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. Dengan demikian.d. Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan. siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan. bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America. e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. analisis nilai sastra klasik.245 kpm . 250 x 70% = 140 . siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s. membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya.b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal. mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis. kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm. dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%.d. memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk). c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s. 350 x 70% = 175 .

yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. dan lain-lain). Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. sikap baca. Yang termasuk ke dalam faktor ini. misalnya intelegensi. Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal.d. kompetensi kebahasaan. tujuan baca dll. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM. RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. Oleh karena itu. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca . KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. model PBM. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan. teknik-teknik membaca.* tingkat PT : 350 x 70% s.280 kpm. yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru. Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca. Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. minat dan motivasi. 400 x 70% = 245 . yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. fasilitas. yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca.

dan lambat. LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri. Jangan lupa untuk mencatat.. dan lain-lain. rata-rata. SLTA (175-245 kpm).. Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli. kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya. A. tinggi.TEKS mulai pukul : . Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi.dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada. SLTP (140-175 kpm). strategi membaca. PT (245-280 kpm) .. seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm). cepat.. terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut. . Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca.... minat baca..

dan oleh karena itu.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan. Atau sebaliknya. Guilford (1956). Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor.Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J. dalam kenyataannya kurang berhasil. Oleh karena itu. Kedua. Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu . dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut.P. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. Pertama. faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas. mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi. Karena itu timbul pertanyaan. aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik. apalagi dalam karir. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana.

... yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.. akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda.meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu.. b. Menurut Guilford. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen". Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah. kecuali . Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya. Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni. dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B. Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas. Apalagi di samping faktor intelegensi.. tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen". keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia.. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.. . a..... 1. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : . Pertanyaan Bacaan I.. dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif.

. pembiuatan kesimpulan yang logis .. Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal .. c. kreativitas. intelegensi dan kreativitas d.. kreativitas dan kepribadian c. pembuatan keputusan b. intelegensi b. 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban. kreatisitas c. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang. Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi. Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d. Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan. proses pemecahan masalah c. bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah . digunakan untuk mengukur .c... kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . a. b. Hubungan intelegensi... a. dan kepribadian. intelegensi dan kepribadian b. intelegensi dan kreativitas d. a. d. a.

..... III. itu lebih baik. Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain..... dan bagaimana............ Oleh karena itu. Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa... (c) jumlah kata seluruhnya : .. KEM-nya juga bersifat .... (c) waktu tempuh baca anda : .... kapan.... : .... Boleh juga dengan cara "heuristik". 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya........... (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka..... terhadap bacaan tersebut. 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : . yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar. 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : ......... (b) berakhir/selesai pukul : ... periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut... Tentu saja merupakan taksiran kasar........... mengapa. peningkatan intelegensi II...... siapa. Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan..d... di mana......

Tabel Latihan KEM No. 2. 7. 8. 10.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 5. 6. 1. Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. 3. 9. 4.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

pamplet-pamplet. dan lain-lain. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. guru bidang studi apa pun. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada. Pendahuluan Sebagai seorang guru. majalah. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan.BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan". persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Untuk pengajaran membaca. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. . Pada bab ini.Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. surat kabar. buku ilmiah. Masalahnya. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia.

Jadi. kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. Oleh karena itu. Melalui bab ini. setelah membaca bab ini. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. . (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya. "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. (d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang. artinya dapat dibaca atau terbaca. 2.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable. Dengan demikian. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability. anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. Secara rinci.

Oleh karena itu. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. Perhatian terhadap masalah tersebut. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. Menurut Klare (1963). Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. dan lain-lain. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca. namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. . 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. peringkat sepuluh. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan. dimulai sejak berabad-abad yang lalu. misalnya peringkat enam. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli. peringkat empat.

memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. Gunning. Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. 3. Pada umumnya. semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. Raygor. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. Fry. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Sebaliknya. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. Dale & Chall. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. dan (b) tingkat kesulitan kata. Flesh. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. dan lain-lain. Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana. Sebab.

Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. Di samping hal-hal tersebut d atas. dan lain-lain) perlu dimiliki. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. pamflet-pamflet. Dengan demikian. jurnal. mempersiapkan tes. kliping-kliping. moral. misalnya. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. majalah-majalah. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut. membuat rencana . etika. pendidikan. manfaat. surat kabar. estetika. Sehubungan dengan hal itu. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya.

Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. atau kegiatan tulis-menulis lainnya. Sering kita dapati kasus. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. 4. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. Kegiatan ini perlu dilakukan guru. membuat surat kepada orang tua siswa. menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. seseorang tidak . Sebagaimana telah dijelaskan di muka. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita.pengajaran. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. menyusun program pengajaran.

semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi. Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan. bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga). terutama puisi. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak.dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. Struktur yang secara visual dapat dilihat. jika sebuah kalimat atau kata . Dengan kata lain. Selanjutnya. artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. sebaliknya. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis.

Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. A. Ibu Budi sedang memasak. kakaknya melakukan pekerjaan lain. Ini Budi. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut. kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya. Ini Wati. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. Wati kakak Budi. Pak Ahmad ayah Budi. Jika ibu Budi memasak. Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. Beliau sedang membaca koran. Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. B. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat. Ini ibu Budi. Wati sedang menyiram bunga. sedangkan ayahnya membaca koran.yang secara visual tampak pendek. yakni menyiram bunga. .

atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. Oleh karena itu. sarat dengan konsep. Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. kalimat kompleks tentu sarat dengan ide. sebuah konsep tertentu. Bagaimanapun. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. . Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. bukan?Dengan kata lain. tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. semakin mudah wacana tersebut. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. sebuah gagasan.seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. sebaliknya. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. Pada kenyatannya. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. sarat gagasan. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD). Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula.

terlebih-lebih pada .cahaya/air muka . makna ganda.makar B. Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang. Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A.asa . Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita. kita merasa asing dengan kosakata tersebut. tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari. manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. satir. Oleh karenanya. dalam percakapan yang bersifat umum. ditinjau dari sudut semantisnya. Formula keterbacaan itu.zaman .rona .harapan . deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut.era .muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B. . Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita. . Akibatnya. Padahal dari segi bentuk. tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra).Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan. atau minat pembaca. A.

formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. Namun. Akan tetapi. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan. seperti buku teks misalnya. Melalui berbagai pengkajian. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Sama halnya dengan rumus Spache.karya sastra berupa puisi. Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall. 5. sedangkan dengan formula Dale-Chall . Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana.90. formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi.

Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968. sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya. seperti tertera di bawah ini. . Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud. Jangan lupa. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya.1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5.berkorelasi 0.1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry". Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana.94. Berikut contoh grafiknya. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading". anda sudah paham cara menggunakannya. bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. 5. yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut. Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya.1.

Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit. . Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. 120. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. 112. 116. yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud. dan seterusnya.

artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1. angka 2 untuk peringkat baca 2. angka 3 untuk peringkat baca 3. mungkin anda bertanya-tanya.0. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan.7. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. Maksudnya. Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. 14. pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku. 20. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. Oleh karena itu. yakni faktor panjang-pendek kalimat. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut. seperti angka 25.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda. 18. Sampel pertama mungkin diambil . Memang. Angka 1 menunjukkan peringkat 1. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid.

Misalnya saja. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan. hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter. . Selanjutnya. dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel.dari halaman-halaman awal sebuah buku. Meskipun begitu. bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana. dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana. sampel kedua dari bagian tengah buku.

5. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100. maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh. =.1. 1999. Maksudnya. masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya. maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan). Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. kekosongan-kekosongan halaman. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat. melainkan akan ada sisa. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. IKIP. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. Perhatikan contoh wacana berikut! . dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana. lambang-lambang berikut. Dengan demikian. tabel-tabel. seperti Budi. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat.

Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in. Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre. Di loket tabungan ada yang mengambul uang. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang.Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Waktu Inu melihat sa- .

ke bank..... karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan.. (2)Di bank itu .. orang. 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri. (3)Di loket tabungan . Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah. Inu mendekati kursi itu. Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana. lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan.69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. . Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana. uang.. Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti. Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari ..

uang. (12)Inu mendekati . maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. (6)Ada juga ..(4)Ada juga . itu. (7)Mereka melayani.. antrean... lain. Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus. (9)Inu menunggu .... tabungan. Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk. maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10. antre. Dengan demikian. berdiri..1 kalimat.... .. itu. tunggu. Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah. Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12.058 dibulatkan menjadi 0....1 kalimat. rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. (5)Di loket yang . (11)Waktu Inu ...5 kalimat. (8)Ayah Inu . jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata. Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti. (10)Dia memperhatikan . Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut.. lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan.. Contoh lain...

2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang. Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. maka untuk angka dan singkatan. Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. Caranya. Di loket tabungan ada yang mengambil uang. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. 234 terdiri atas 3 suku kata. Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). Misalnya. Di loket yang lain orangorang juga antre. setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata. IKIP terdiri atas 4 suku kata.

kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata. Petugas pun mengerti. Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100.in. Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata. Demikianlah cara ini kita kerjakan. Inu mendekati kursi itu. . Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas. dia segera berdiri. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Data yang kita peroleh pada langkah (2). maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3). Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan.

peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. Penyimpangan mungkin terjadi. maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat. baik ke atas maupun ke bawah. 5 yakni (6-1). dan 7 yakni (6+1). untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya). dari bagian tengah buku. pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali.3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. . Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana.Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. dan dari bagian akhir buku. atau surat kabar. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6. Sebagai contoh. selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya.1. 6. Oleh karena itu. 5. Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. yakni wacana dari bagian awal buku. Untuk artikel dan jurnal.

struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. terutama dalam hal sistem suku katanya.3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. Artinya. .5 6.9 6. 1) I go to school. tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6. Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal.8 18. Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini.Sebagai contoh. mari kita perhatikan perumpamaan berikut. tengah. 7. Kedua. dan 8. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris. 2) Saya pergi ke sekolah. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7.6 5. Seperti kita ketahui. dan akhir buku).

kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. rambut. hal itu mustahil terjadi. mouth. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal. misalnya: hand. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris. kepala. bibir. kaki. Berdasarkan contohcontoh berikut. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar.5. kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. hair dan seterusnya. Berdasarkan kenyataan tersebut. tooth. Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. leg. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir. foot. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. Dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu. mulut. seperti kelas 1 dan 2. . gigi.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. Tetapi. lip. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). head. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris.

tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya. Dengan demikian. dan 5 sekolah dasar. data jumlah suku kata 228 X 0. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi.6. namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan. yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0. karangan Dendy Sugono. . Contoh wacana tersebut.5. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). Dengan hasil pengukuran tadi. 4.Berdasarkan contoh kasus tersebut. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993.8 dibulatkan menjadi 137. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4.6 = 136.

Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat. Langkah (3) . para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana.1. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu. Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. jika jumlah wacana itu ada 26 buah. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu.5. maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian. pengumuman-pengumuman singkat. misalnya. maka bilangan kebulatannya ialah 30. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu. yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan.4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah.

Dalam contoh di bawah ini. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi. Selanjutnya.67 1. perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini.43 1. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana. guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu.0 1.5 2. Dengan demikian.1 Mari kita perhatikan contohnya.Selanjutnya. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? .3 2.25 1. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3.Dengan kata lain.

--? -.-. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata. .-. maka akan kita dapati data berikut ini.-.--.3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry.3 = 6. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah.-. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut. cocok untuk peringkat universitas..-. .-.-.-.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3.-. (d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3. titik temu dari persilangan data kalimat (6.--.--.-.--..-.--.6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.-.3.---..Wacana jumlah suku-kata ---.-.6 * jumlah suku kata: 60 X 3.

Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih. Namun. Kedua kalimat di atas itu. Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata. masing-masing terdiri atas lima kata. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan . sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata.5.2. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi.2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. a) I watch TV every night. bahkan sangat berbeda. b) Saya menonton TV setiap malam.1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry. Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor. jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. Jika demikian. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini.

Grafik Raygor. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit". Namun."Grafik Raygor". Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel. Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah. Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin. 5.2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut. Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula. kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas. . Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. Untuk mengenali formula ini. Oleh karenanya. yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih. mari kita perhatikan grafik berikut.2. Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata.

tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi. bukan oleh unsur semantisnya. Salah satu sebab . Sebagai bahan latihan. Begitulah seterusnya. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu.

.yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis. Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor.. bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia... Grafik Fry lebih banyak digunakan .... buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? ... perkembangan-perkembangan... anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya. buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? . Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya.... Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? . dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk.. Namun. 1948)....... akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan.

Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini. . Dari 100 buah wacana yang diteliti. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala.87. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0. Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor. Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. 5.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut.Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor. yakni dalam hal efisiensi waktu.

makanan-makanan tertentu. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan. Wacana 2 .dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. obatobatan tertentu. terutama wanita. Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini. jamu ini dan jamu itu. Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih. dan seterusnya. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat.

Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama. Pada umumnya. Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. Namun. Kata advertensi diganti dengan kata iklan. Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. yang dapat . Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua. tujuan hidup orang tidak sama. Orang yang memperhatikan urusan mode. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). kata terpampang diganti dengan kata tampak. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya.

---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari. . sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---. Pada umumnya. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek). setiap bunga terdiri atas satu poros bunga. Waktu anda membaca wacana di atas. Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan.berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial. misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman. Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana. apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga.

kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. biasanya jauh lebih mudah. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah. Dengan kalimat yang pendekpendek. tergolong ke dalam kata sukar. Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. yang belum diubah. Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. Ketika kita membaca wacana yany pertama. Biasanya. atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. . kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah.

boleh jadi bertambah. Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda. sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat.3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. Anda jangan keliru. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya. mungkin juga berkurang. RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap. .

baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana. coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. 3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor). dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya.Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan. Namun. karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. .

karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. . Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda. di mana mereka tinggal secara tetap. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. jagung. yang merupakan lambang abad antariksa.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. dan tomat. kacang-kacangan. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari. Augustine.

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. . Secara rinci. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien.000 per minggu. Setelah mempelajari uaraian bab ini. Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit. Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat. Sungguh dramatis. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca.000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam. sudah dianggap cukup. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10. artinya 8 jam/ hari. Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka.

Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan. c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . umpamanya. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. Seperti bermain tenis. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. Mungkin karena itu sebabnya. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya. Demikian juga dalam membaca.b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. dan dia pulalah yang kuat. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan. 2. Siapa membaca cepat dialah yang dapat. Hakikat Membaca Cepat 2. membaca pun memerlukan latihan dan keuletan. Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat.

. tepat. baik . Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan. kalimat efektif.. Tetapi.. hakikat dari strategi membaca cepat. Persoalannya... Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca.. Inilah sebenarnya. demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan. ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami. maka kemampuan membaca pun pasti membaik. dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Dengan demikian.. Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci.. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat. Kalimat . bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial.. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan..yang menguntungkan. tepat. Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi.. mudah dipahami oranglain .. strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang. bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil. .. demikian disebut . Oleh karena itu... Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya. Kalimat fektif haruslah .. Kalimat .. jelas . Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%.

apa yang dibicarakan.. gayatolak . sekitarnya...alam ... keadaan . Pertama kita hadapi alam... kita melihat alam sekitar kita... ... tak adapadanya. ia takluk sepenuhnya .mewakili pikiran .. "Kalau kita melihat alam sekitar kita. diharapkan pembacatertarik ... maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing.. .. mati .. mari kita lihat ilustrasi yang lain.. dalam dirinya sendiri.. penulis . mencapai daya informasi yang dinginkan .. Gerak istimewa. ... . Hal ini berarti ... Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut. mati. sekaliannya terikat pada tempatnya . kemauan... tergerak hatinya. keinginan penulis. logam.. tanah. kalimat efektif disusun . Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin . dan sebagainya.... Pertama kita hadapi alam yang mati.... makhluk . batu..... "..... logam. gaya tarik . gaya berat.... tanah. Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%..... tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu... hal ini tercapai.pembacanya . ba tu. mekanis". Selanjutnya. sadar . ... Kita menyebut . sifatnya . Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya..... Yang ada . tampaklah .. tidak mungkin menimbulkanperubahan ..

menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri. gaya tarik. . dan kebebasan tidak ada padanya. dan gaya tolak yang mekanis. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes. Yang ada hanyalah gaya berat. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Dengan MC. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu. Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. Gerak istimewa. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya. kemauan. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda. 2.

irama dua detik/halaman. pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. yang diikuti dengan pindah halaman. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik. Selama latihan. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. itu yang pertama kali ditumbuhkan. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas). Kunci utama MC ialah melaju terus. dan seterusnya). Melalui latihan yang tekun. Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus. Pada waktu Anda mulai berlatih. Dengan demikian. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing. maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. Pada permulaan latihan MC. ialah satu detik satu halaman. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. Dengan kata lain. irama empat detik/halaman. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik. . Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC.

kalau ada. bacalah dahulu penjelasan berikut ini. maka Anda sudah boleh merasa puas.Kemampuan membaca satu halaman per detik. 1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman. 2) Sediakan pula arloji atau. 3. POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. atau kira-kira 20. POLA DIAGONAL . serta minat baca yang tinggi. Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. sebuah stop watch. 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru. Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia.

tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang. POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. POLA BLOK . gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. POLA SPIRAL Pada pola ini. Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman. kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri. yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu. bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah.Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak.

Seraya membaca. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat. atau kira-kira satu detik/satu baris. Anda pun diharuskan . Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. suatu kecepatan membaca yang lumayan. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Blok ini umumnya merupakan paragraf. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik. Sekarang.

Nah. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. Selanjutnya. bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh. Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik. Dengan latihan 5 menit. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit. Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat. Berlatihlah selama lima menit. segeralah kembali ke kiri. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Supaya lebih mudah. Anda tidak perlu merasa kecewa. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. Setelah selesai membaca 30 baris. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. Setelah . Caranya. Irama ini sangat mudah diikuti. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. ikuti petunjuk berikut ini. dan berhentilah pada halaman 50. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris.

4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. 1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca. Berlatihlah dengan intensif. maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai. Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya. Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan. Anda harus bertahan. paling sedikit setengah jam sehari. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau".selesai membaca buku. Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. Mulailah dengan biografi . dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda. 4. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC.

8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi. . dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. 10)Membacalah dengan tekanan progresif. fiksi keilmuan. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. Segera setelah Anda merasakan kemajuan. Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. lakukan survei selama dua atau tiga menit. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Sambil membaca Anda harus bertanya. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. cerita petualangan. Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini.berfiksi.

Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda. Kalau hal seperti itu terjadi. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda. . cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda. atau mungkin memeriksanya dalam kamus. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. 13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin.

Walau demikian. Lain halnya dengan zaitun. pangan. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya. Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi. Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang.4. Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat. maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. tidak perlu hujan ataupun mata-hari. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara. Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. jumlahnya berlimpah ruah.1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. .

dan sifat-sifat pohon zaitun. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu. Paragraf (2) Arkian. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama. Dalam pada itu. Cobalah Anda baca. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. Paragraf (3) . Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum. Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. Dalam paragraf ke-2. kegunaan. Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas.Di dalam paragraf di atas. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna.Kemasyhuran. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi. dan tidak pula memerlukan filamen. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya.

Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. Dan semenjak Perang Dunia II. dan tes pun terpaksa diundurkan. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. Kira-kira 500 orang saintis. dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". pegawai pemerintah. . dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. Emory Burke. Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu.Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. dan menamakan diri "Columbia". dan Hitler bukanlah penciptanya. Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya. Georgia. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. Tetapi. kemampuan. dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". Semua peralatan ada dalam keadaan siap. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. dan kesetiaan". Pemimpin mereka. Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. bangsa.

Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform. langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. Paragraf (5) Sore itu. Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. dan coklat. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. tanggal 4 Desember 1989. berturut-turut biru. Gunung. hijau. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu.Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . daratan. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. bukit. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya.

Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar. Dengan kata lain.2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang. Para ahli. 4. Selanjutnya. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan. Pada tahap mekanis. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya. Anda . mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase.

. menulis ... maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur. atau supaya dapat "melihat" sesuatu..2. 4. Berdasarkan pAndangan mekanis. supaya dapat menginterpretasikan kata-kata.. "Penulis tidak menulis ... menulis .. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut. kata .. Kalau mata bergerak terus. Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata... frase . demi ... tidak .kata . pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis..... MF yang dilakukan oleh pembaca ini.. melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat... mereka . frase demi frase"...1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca. Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis .. frase". kata demi kata ... mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan. membaca merupakan rentetan hentian- . mata harus berhenti sejenak. Sesungguhnya. mereka me nulis . demi.tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca..

hentian visual. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca". dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu. mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. Dengan demikian. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. Dalam membaca frase. Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata. Pada setiap hentian. Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. Namun. dan setelah itu terjadi pula hentian. Pada umumnya. Dalam membaca senyap. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring.

Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat.gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. atau seorang calon petinju. Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. Sekali lagi. Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. harus pula . Mereka akan membaca lebih banyak. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase. atau pun calon pianis dan sebagainya. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya. sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat.

.......*........................*....... Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun....... Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan...................... ......................*....... dan jangan pula menggerakkan kepala....*...................... .....*...... lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya....................................*... "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun.......... ....................................*....... Silakan coba! ........ Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap..... ......................... Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi... Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF.................*... .. Hasilnya terbukti sangat memuaskan............................... .... Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang.. ...*.................*............................................ .... ....... Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang......................*..*.........dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir.....................*...*.....*..........................*............*.*.*.. ..........

Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. ratusan ribu. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF.2. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK). Anda akan menjadi lebih . Proses MF. Selanjutnya. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. ialah gerak mata. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata. bahkan jutaan. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi. sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase). terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. 4. Sambil membaca. Sebelum mulai membaca. ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual.

rumah sakit. ibu guru. Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata. daftar pelajaran. tetapi belum dijelaskan artinya. Kata penghubung menyatukan frase. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. dan lain sebagainya.. yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF.sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa.". Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase.. subjek biasanya mendahului predikat. Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. Di samping pengertian kalimat. Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: . Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. Contohnya: surat kabar. tetapi perut saya. Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti. Contoh: "Saya gemar makan pedas. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti".. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase". Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan. Mulailah secara perlahan-lahan dulu.

Untuk kepentingan latihan Anda. (b) kecepatan menangkap makna. tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. Kata "rumah" misalnya. Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti. . bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai. "Rumah pun habis dibakarnya".(a) kecepatan membaca. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi. maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri. Namun demikian. Setiap kelompok kata dikotaki. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil. Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Demikian seterusnya. maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu.

Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit. Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun. Dengan kata lain. Untuk keperluan latihan. Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi. (3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Pada mulanya . Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya.

. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari.Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. sebab menurut penelitian. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik. Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. Karenanya. Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda. Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara. Percayalah. teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari.

2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". Pada umumnya. Biasanya. Dengan demikian. Dengan maksud yang sama. yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama. PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN .5. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan. 5. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam. Membaca Paragraf 5. paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden. Pada mulanya. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan. dan graphein yang berarti menulis. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas.

maka pilihan Anda itu benar. jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat. cobalah gunakan .1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. 3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca. Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok. Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf. b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf.

7) Terkalah pikiran penulis. Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit.prosedur ke-4. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . 6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. Periksalah terkaan Anda. Bacalah paragraf itu seraya bertanya. Namun. Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. "Apa arti semua ini?". Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Kalau maksud Anda demikian. Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja. Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami.

Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama. ialah tentang strukturnya. Setelah membaca prosedur membaca paragraf. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. . ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. 3) sebagai kalimat pemuas. mungkin Anda ingin segera berlatih. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat. Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama. Sebelum mulai dengan latihan. Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama.untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama.

atau contohnya. ialah mengulang-balik pikiran utama. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu. Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini. 2. Dia masih ingin menjelaskan idenya. Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. dan sebagainya. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. b) Dengan pembedaan. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama. umpamanya. a) Dengan ulangan. . biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. membaca adalah suatu proses psikologis. Pada dasarnya. Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. sebab. Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. d) Dengan pembenaran. Cobalah pelajari baik-baik. c) Dengan contoh. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca.

7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar. pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima.3. 4. 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. lidah. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata. 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama. . Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. dan sebagainya. 6. bibir. Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. 7. orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. 5. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. Bahkan.

Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa. "Bacalah bab ke-2. 2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta.3.5. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku. ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang". Supaya Anda tidak . Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak.1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini.3 Membaca Bab 5. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran. Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada.

Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf. cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. membuat catatan. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir. . Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga. Hal itu akan dilakukan kemudian. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. menguji pemahaman. Untuk menyederhanakan sebuah bab. dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi. Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan.menemui kesulitan seperti itu. Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. dan melengkapi keterangan yang diperoleh. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri.

Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu. Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. Baca lagi kartu itu. Setelah selesai. lalu tutuplah buku Anda. jika Anda memerlukannya. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. Setelah selesai membaca suatu bab tertentu. Lihat kembali bab 3 buku ini. Berilah angka pekerjaan Anda itu. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. . sebelum pergi kuliah. Ulanglah tes seperti itu secukupnya. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu.

Percacalah! Sekedar contoh. Yang penting. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga.2 Fungsi 6. Materi Pokok Membaca. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana.S. Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing. Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang. data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya. . berikut disajikan sebuah contoh kartu baca.| | Jakarta: PT Karunika.1 pengertian 6.Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad. A.4 Kriteria Pembuatan 6. Teknik Isian Rumpang 6. Contoh kartu baca.5 Prosedur Penilaian 6.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5. | | | | | | | | 6. (1988:21).2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya.3 Manfaat/Kegunaan 6.3.

5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab. 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja. Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. Puisi .Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti.4. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf. Pada umumnya. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya.bab lainnya. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku. Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik. misalnya).4 Membaca Buku 5. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab.1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf. 2) Buka baliklah daftar isi. 7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra. Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. 5.

Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. 1) Secara umum. 5. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu.2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat . meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel. kalau ada bacalah kata pengantarnya.4. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda.misalnya. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. novel. Keempat pertanyaan tersebut. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. drama. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya.

Dengan melihat daftar isi buku. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab. melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. dan bertanyalah pada diri sendiri. . apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. Sampai di situ. Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. Berhentilah sejenak. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan. Dengan demikian. jenis-jenis buku. 3) Periksa daftar indeks buku. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit. serta nama-nama tokoh penting. lihat uraian terdahulu. Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya. 5) Selanjutnya. sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. Namun.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya.

hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan. Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. jika penulisnya berhasil. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. Pada . mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya.6) Akhirnya. 5.5.5 Membaca Karya Sastra 5. dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel. Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Anda tentu tahu. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi). Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting. atau tidak memberikan informasi baru. Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya. pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain.

peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda. Anda harus menemukan bagaimana puisi. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. dan akhir. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. juga berlaku untuk membaca karya sastra.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra. baik pada prosa maupun puisi. Adakalanya. 5. samar-samar. pertanyaan ini dapat . drama tersusun dari bagian-bagian. Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu. tengah. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya.umumnya. Namun.5. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya. yang terdiri atas bagian awal. Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya. Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. rincian-rincian. novel. Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. cerpen. Untuk bacaan sastra. dan berbunga-bunga.

Bagi penulis karya sastra. Setelah membaca puisi. tindakan-tindakannya.dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. melainkan kebenaran khayalnua. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. lingkungan mereka. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya. namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut. Anda terlibat sudahlah cukup.2. perasaan-perasaannya. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya. Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. 5.1 Prosedur Membaca Novel . Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra. Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda. ataupun drama. cerpen. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. novel. Puisi juga memiliki tokoh. Meskipun begitu.5. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya. pikiran-pikirannya. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. dan akhir. tengah.

pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai. dan solusi atau bagian akhir cerita. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot. bahkan bacaan pada umumnya. 7) Kenalilah bagian permasalahan.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif. 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya. Di samping itu. klimaks. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita.Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama.5. 5. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik. 6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya. seperti halnya dalam cerpen. 4) Camkan bagian tengah cerita. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen.2. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. Mereka beranggapan.

puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. Pertama. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. puisi itu harus berada pada tingkat literal. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan. memahami. berkenaan dengan penampilan sajak. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. sajian berbagai media. Oleh karena itu. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . Tentu saja. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. Artinya. Kedua. Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. kekayaan ilustrasi. dan lain-lain. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi. Ketiga. Keempat. berkenaan dengan daya tarik bunyi. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. diskusi kelas. meskipun dengan bantuan konteks.

dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). membaca paragraf.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. membaca bab. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di . Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya. pola blok. ide/kalimat penjelas. Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. ide/kalimat inti. pola spiral. yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. misalnya metode membaca frase. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. pola diagonal. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. dan pola horizontal. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang. Namun. pola zig zag. sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. Pemaduan dua keterampilan.

Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang. Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu.seputar isi bab itu. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. Keempat pertanyaan tersebut. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. 1) Secara umum. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. Tetapi bagiku. Andaikata di sana ada juga nyamuk. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak.

kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit. Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat. Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan. Namun. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman.dan murai berkicau di hari senja. Karenanya. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. sikap. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. dan pelarapan emosional. mempersamakan . Di dalam paragraf. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur.

Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri. 2. Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah. tunjukkan buktinya! . Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3. Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide.kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. Instruksi: 1. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya.