P. 1
modul membaca

modul membaca

|Views: 440|Likes:
Published by Elyanoor Oktaviana

More info:

Published by: Elyanoor Oktaviana on Jul 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

HAKIKAT MEMBACA (Proses Membaca

)

PENDAHULUAN

Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak makin penting dalam masyarakat yang tumbuh menjadi masayarakat yang kompleks. Teknologi canggih menuntut tingkat pendidikan yang tinggi yang pada umumnya bergantung pada adanya media cetak. Hal ini berarti bahwa kemampuan membaca yang layak merupakan hal yang sangat vital. Anggota masyarakat yang “iliterat”, atau anggota masyarakat yang tidak mampu membaca, akan senantiasa terpencil dan merasa dipencilkan, karena tidak terjangkau dan tidak mampu menjangkau informasi yang seharusnya miliki. Kemampuan membaca mempunyai makna yang sangat penting baik dalam kehidupan akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memahami iklan dalam surat kabar misalnya, diperlukan kemampuan membaca peringkat enam dan tujuh. Petunjuk yang ada dalam berbagai pembungkus obat hanya dapat dipahami oleh pembaca peringkat sepuluh, dan materi bacaan yang tertera dalam borang yang harus diisi oleh wajib pajak, surat perjanjian, petunjuk dalam buku tabanas, dan sebagainya, menghendaki pembaca yang menduduki peringkat dua belas. Bila dibandingkan dengan media komunikasi lainnya, media cetak mempunyai kelebihan khusus. Dari media cetak, pembaca memperoleh informasi secara leluasa,

baik informasi masa lalu, maupun informasi masa kini, bahkan masa mendatang. Media cetak bisa diperoleh dan dibawa dengan cara yang sangat mudah. Informasi yang dikandungnya dapat dinikmati sesuai dengan kehendak pembaca, kapan dan di mana saja. Membawa-bawa radio jelas lebih merepotkan daripada membawa-bawa surat kabar; membawa majalah jauh lebih mudah daripada membawa-bawa TV,meski yang terkecil ukurannya. Fleksibilitas kegiatan membaca memberikan jaminan kelangsungan nilai-nilai yang dikandung dalam bacaan itu, baik untuk keperluan pendidikan maupun untuk keperluan hiburan. Pengetahuan mengenai proses membaca ini perlu untuk anda maupun untuk murid anda. Pengetahuan tentang membaca sebagai gabungan berbagai proses bisa berdampak positif terhadap strategi mengajar maupun strategi belajar. Oleh karenanya, sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak didik anda. Pemahaman tentang kegiatan membaca sebagai multi proses harus dicamkan sejak dini, baik oleh guru maupun oleh siswa. Setelah membaca Buku 1 ini, anda diharapkan dapat: a) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses psikologis; b) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses sensoris; c) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perseptual; d) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan; e) memahami dan menjelaskan kegiatan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Pada bagian ini kami akan mengajak anda untuk berbincang-bincang tentang hakikat membaca yang merupakan perwujudan atau kesatuan berbagai macam

proses. Hal yang perlu dicamkan pada kegiatan belajar mengajar membaca ialah

bahwa membaca itu merupakan proses. Pada waktu berupaya mendeskripsikan halhal yang terjadi ketika seseorang membaca, kita sering menggunakan istilah "proses membaca". Istilah ini sesungguhnya kurang tepat. Istilah yang lebih baik tepat ialah "proses-proses membaca", sebab membaca bukanlah proses tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Hal ini berarti bahwa kita harus memandang membaca sebagai suatu pengalaman yang aktif, ialah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Tentu saja, pengalaman anak didik pun ikut berperan sebagai unsur penting dalam perbuatan membaca itu. Manifestasi terakhir penyatuan berbagai proses tersebut dinyatakan dalam satu perbuatan tunggal, ialah membaca. Berdasar pada pemikiran di atas itu, pada bab ini akan diuraikan ihwal proses membaca secara singkat, ialah proses psikologis, sensoris, dan perseptual. Pada bagian proses psikologis dibicarakan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca. Sesudah itu dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan "skemata" yang mempunyai kaitan erat dengan proses membaca. Sesudah membaca uraian tentang proses membaca dan skemata ini, anda diharapkan dapat menjelaskan arti membaca sebagai proses psikologis, sensoris, perseptual, perkembangan, dan perkembangan keterampilan. Di samping hal-hal tersebut, anda diharapkan pula memahami makna skemata serta pemanfaatannya dalam proses membaca. Bagi anda yang mempunyai keinginan memperdalam ihwal proses membaca dan skemata, disediakan daftar nama buku pada bagian akhir buku ini yang relevan dengan kebutuhan anda. Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak kita dapat menyerap berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang

belum dapat kita jawab dengan baik ialah bagaimana cara atau upaya yang harus kita lakukan untuk menjadikan dunia kita ini menjadi dunia baca. “Dunia Baca” yang ideal memang belum pernah ada. Masyarakat negara-negara yang sudah maju sekalipun, seperti Amerika dan Rusia, belum mampu menciptakannya. Di negara mereka pun masih saja ada orang yang aliterat, ialah orang-orang yang mampu membaca, tetapi memilih untuk tidak membaca. Mereka lebih suka mengerjakan pekerjaan kegiatan lain daripada membaca. Dengan kata lain, mereka tergolong orang yang masih malas membaca. Kita sering mendengar bahkan membaca berita tentang kurangnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar, padahal minat baca itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kemampuan membaca. Menurut hasilhasil penelitian yang terakhir, kemampuan membaca lebih banyak ditentukan oleh intensitas membaca daripada oleh IQ seseorang. Makin banyak seseorang melakukan aktivitas membaca, akan makin meningkat pula kemampuan membacanya. Seseorang akan banyak membaca secara mandiri jika minat bacanya tinggi. Oleh karena itu, guru bidang studi apa pun dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya. Dengan demikian kemampuan membaca para siswa itu pun akan meningkat dengan sendirinya. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut terjadi secara tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara

Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologis . melainkan berarti pula memahami. dan pengalamannya. Pembaca berkomunikasi dengan penulis melalui karya tulis yang digunakan penulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. pada peringkat yang lebih tinggi. Pembaca dapat menyusun pengertian-pengertian tersebut dengan berbagai konsep pada suatu saat tertentu yang selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi dasar baginya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih luas dan mendalam. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap. Kemampuan membaca seseorang banyak dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan dan pengalamannya. pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis/pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca. Sebenarnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. atau meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang/penulis. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan proses membaca. menerima. Membaca sering kali pula dianggap sebagai kegiatan yang pasif. menolak. perasaan. ialah sikap pembaca yang aktif. Dengan demikian. membaca itu bukan sekedar memahami lambanglambang tertulis. 2. Unsur-unsur apakah yang terlibat dalam setiap kegiatan membaca itu? Ketidakhadiran salah satu unsur tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi membaca yang dimiliki seseorang.pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memahami maksud penulisnya. membandingkan.

2) usia mental. 4) tingkat sosial ekonomi. 9) pertumbuhan fisik. Karenanya. hanya beberapa buah saja yang akan dibicarakan dalam bab ini. dan 11)tingkat kemampuan membaca. 3) jenis kelamin. 10)kemampuan persepsi. 5) bahasa. Ada berbagai hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan membaca. . Dari faktor-faktor (yang hanya merupakan bahagian kecil ) tersebut. yakni: 1) intelegensi. 6) ras. Hal yang berikut ini merupakan sebahagian kecil saja dari sekian banyak faktor yang telah diketahui sebagai faktor yang memiliki kaitan yang erat dengan proses membaca. Begitu pula halnya dengan kemampuan membaca. 7) kepribadian.Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar. Hal-hal tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan proses membaca. banyak hal yang kita kuasai diperoleh melalui proses belajar. 8) sikap.

Tahukah anda makna kata tersebut? Anda tahu benar arti kata itu. untuk tes yang sama pula. Meski ada keistimewaan-keistimewaan yang bisa terjadi. sedangkan MA sebagai ukuran kedewasaan mental. IQ dan MA biasa digunakan untuk menyatakan hasil tes intelegensi umum. Rumus-rumus yang berikut ini mungkin dapat menolong menjelaskan hubungan antara usia kronologis (Chronological Age) yang disingkat CA. tetapi teman-teman Anda masih banyak yang belum memahaminya. sedangkan MA mempunyai pertumbuhan berlanjut sampai pada usia pertengahan adolesensi. benar. namun belum mengetahui maknanya yang sesungguhnya. Banyak orang mungkin merasa sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. yang berusia kronologis sama dengan anak tersebut. ialah usia mental. Untuk membedakan IQ dan MA.Faktor Intelegensi Anda pernah mendengar kata "intelegensi" bukan? Ya. dengan MA dan IQ. IQ x CA MA = _______ 100 . IQ seorang anak yang berusia enam tahun menunjukkan rasio antara skor tertentu yang diperolehnya dalam suatu tes intelegensi dan skor yang akan diperoleh oleh anak-anak lain pada umumnya (rata-rata). karena tidak pernah berkeinginan untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya melalui buku sumbernya. Di samping IQ Anda mengenal pula MA (mental age). Anda sudah mengetahui bahwa kata intelligent(intelegensi) sering bergandengan dengan kata quotient dan disingkat menjadi IQ. Untuk apa orang membuat kedua istilah tersebut? Ya. IQ dapat dianggap sebagai suatu ukuran yang relatif stabil. anda boleh mendefinisikan IQ sebagai ukuran pertumbuhan mental. bahkan sangat sering.

110 x 6.x 100 CA Kita dapat menurunkan MA seorang anak yang IQ-nya 110 dan yang CA-nya 6.2 79.MA IQ = --------.2 = ------.0 dengan cara berikut ini.= 6.6 12 .0 (tahun) MA = ----------------------100 110 x 72 (bulan) = --------------------100 = 79.

6 dan 6. yang banyak tingkatannya itu. namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dipelajari ialah faktor intelegensi. umpamanya. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental.x 100 6. Para ahli sependapat bahwa intelegensi merupakan faktor yang penting. dengan cara yang sama Anda MA IQ = ----.x 100 CA 6. . Harris (1970). berpendapat bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah inteligensi umum. tetapi batas-batas kepentingannya belum juga dapat dijelaskan.0 = 110 Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi dan berkaitan erat dengan kesiapan dan kemampuan membaca.6 = ----. bukan menjelaskannya.Jika MA dan CA akandapat mencari IQ. Kenyataan yang menunjukkan adanya perbedaan informasi tentang kepentingan intelegensi itu mempunyai kecenderungan mengaburkan permasalahan.0). maka kaitannya dengan faktor-faktor lainnya sangatlah jelas. diketahui (6.

tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan membaca peringkat empat. prosedur dan metode mengajar. Anak yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar. Penelitian yang dilakukannya dalam kelas menunjukkan bahwa usia mental itu mempunyai kegunaan yang relatif. Namun demikian. sedangkan bentuk pengajaran lainnya baru berhasil memberikan kemampuan membaca pada usia tujuh tahun. Studi tentang intelegensi dan kesiapan membaca yang dilakukan oleh Morphett dan Washburne (1931) mungkin merupakan studi yang paling dikenal. ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan pencapaian kemampuan membaca. dan faktor-faktor lainnya yang cukup banyak jumlahnya itu mempunyai peranan yang lebih penting daripada usia mental. semenjak itu. Adapun mereka yang skor IQ-nya ada di antara 50 dan 70 akhirnya akan mampu juga membaca. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ menurut Binet di bawah 25. prosedur mengajar. bahkan mungkin lebih penting. Namun. biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. Dia .Witty dan Kopel(1970) pun mempunyai pendapat yang serupa. Ditunjukkannya bahwa besarnya kelas. Penelitian Gates (1937) telah mengubah sikap terhadap masalah intelegensi itu. memberikan kemungkinan kepada anak untuk mampu membaca pada usia empat setengah tahun. dikenal pula hal yang sama pentingnya. dia pun mengakui materi yang digunakan dalam pengajaran. Selama bertahun-tahun hasil penelitian mereka mendominasi keyakinan tentang intelegensi itu. Gray (1956) memberikan saran agar anak mulai diajari membaca jika MA-nya mencapai angka enam.

Kesimpulan mereka berbunyi bahwa pada umumnya tes kemampuan membaca. 1) IQ dan MA merupakan alat ramal yang baik untuk menentukan tingkat minimal kemampuan anak. Smith dan Dechant (1961) yang melaporkan adanya kaitan yang erat antara kesiapan membaca dan kemampuan membaca. motivasi. . namun keduanya tidak boleh digunakan secara terpisah dari faktor-faktor lainnya dalam menentukan perkiraan yang akan dilaksanakan. kesiapan membaca. ternyata persamaan-persamaannya pun masih ada. 3) Meskipun IQ dan MA merupakan faktor-faktor yang penting. faktor-faktor lain seperti jumlah anak dalam kelas. seperti yang tertera di bawah ini. Ada lagi dua orang ahli. 2) Kebanyakan anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental di bawah enam tahun. 4) Meskipun IQ dan MA merupakan prediktor yang baik dalam banyak hal. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai sifat hubungan yang sebenarnya antara IQ dan MA terhadap membaca. Anak kelas satu yang mempunyai IQ 130 belum tentu dapat lebih berhasil dalam kegiatan membaca bila dibandingkan dengan seorang anak yang ber-IQ 80. Mereka membuktikan korelasi antara sekor tes kesiapan membaca dan usia mental itu merentang antara 0.35 dan 0. dan intelegensi itu mengukur faktorfaktor yang sama. serta proses belajar-mengajar merupakan faktor-faktor yang sama pentingnya untuk mencapai kemampuan membaca yang baik.menunjukkan kenyataan di Skotlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang berhasil membina pembaca-pembaca yang baik pada usia mental lima. prosedur.80.

Jika diketahui bahwa usia mental 7. Witty da Kopel berpendapat bahwa anak yang ber-IQ 90 akan … A. mampu membaca sampai peringkat empat saja D. mampu membaca di atas peringkat empat .8 dan usia kronologis 6. 130 D. > 130 maka dapat 3. Harris berpendapat bahwa faktor terpenting yang ikut menentukan kesiapan membaca ialah: A intelegensi umum B usia mental C usia kronologis D intelegensi khusus 2. dapat membaca 50 kpm B. 120 C.0 diketahui bahwa tingginya IQ adalah … A. 110 B. Tes Formatif 1 1. mengalami kesulitan memahami materi bacaan yang abstrak C. Skor IQ yang tinggi di kelas enam merupakan prediktor kemampuan membaca yang lebih baik daripada skor IQ yang sama tingginya yang diperolehnya di kelas satu.5) Korelasi antara IQ dan skor membaca cenderung meningkat sesuai dengan kenaikan kelas.

Gray menyarankan agar anak mulai diajari membaca pada usia … A. Smith dan Decant memperoleh data yang menyatakan bahwa anak yang gagal belajar membaca di kelas satu mempunyai usia mental … A. enam setengah tahun 6. Gates menemukan data bahwa besarnya kelas. empat setengah tahun 5. empat setengah tahun B. dua tahun B. Masih banyak faktor lain yang sama . di bawah enam tahun Di muka telah dikatakan bahwa faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca bukan IQ dan MA saja. enam setengah tahun B. antara enam dan enam setengah tahun D. lima tahun C. enam tahun C. tiga tahun C. prosedur dan metode membaca memberikan kemungkinan kepada anak untuk dapat membaca pada usia… A.4. tiga setengah tahun D. enam tahun D.

sampai 50%. Hasil yang sama diperoleh Gough (1946) dari penelitiannya atas murid-murid kelas enam yang berstatus tinggi. tingkat kesehatan yang rendah. Meskipun temuan mereka itu cukup mengkhawatirkan.pentingnya. Riessman (1962) mengutip catatan yang menyatakan pada umumnya 15 sampai 20 persen anak-anak sekolah di Amerika menunjukkan batas-batas ketidakmampuan membaca. dan rendah. Ada berbagai faktor yang menjadi alasan kenyataan tersebut. sebab jauh sebelumnya. Coleman sudah melihat adanya hubungan yang jelas antara status sosial-ekonomi dengan kemampuan membaca. Status sosial-ekonomi ternyata mempunyai kaitan yang jelas dengan kemampuan membaca. Faktor Sosial-Ekonomi Pada masa sekarang. yakni tahun 1940. Yang jelas di antaranya ialah kekurangan gizi. Di bawah ini akan diuraikan peranan faktor sosial ekonomi dalam pemerolehan kemampuan membaca. Dengan jalan mempelajari suatu sampel nasional dari tiga kelompok siswa yang berstatus sosial-ekonomi yang berbeda tingkatannya itu. yang sering kali dikaitkan dengan masalah kemampuan membaca ialah faktor sosial ekonomi. menengah. berdasarkan kemampuan sosial-ekonominya. . sedangkan yang tidak mampu membaca adalah anak-anak yang bersosial ekonomirendah bisa (80%). Perkiraan lain dibuat oleh Benson (1969) yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah dapat membaca lebih baik daripada anak-anak yang bersosial-ekonomi rendah (10 . ditemukan bukti bahwa tingkat sosial ekonomi siswa itu ada kaitannya dengan kemampuan mereka dalam berbagai mata pelajaran. Dia memperkirakan adanya angka persen yang lebih besar di kalangan masyarakat yang bersosial ekonomi rendah.20%). namun sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan.

Haruslah ditafsirkan bahwa pengalaman mereka itulah yang harus mereka camkan. Disebabkan oleh lingkungan sosial yang sempit dan kemampuan ekonomi yang terbatas itulah kesempatankesempatan untuk pengayaan itu menjadi tertutup. Anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak berada mempunyai kurang memiliki kesempatan untuk bepergian.kepadatan lingkungan. banyak guru yang menyepelekan kenyataan itu. tingkat motivasi. masih ada alasan yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca itu yang sesungguhnya masih ada kaitannya dengan status sosial. dan bahasa. Semua anak mempunyai latar belakang pengalaman. sungguh tidak realistik jika dikatakan bahwa anak-anak tertentu tidak mengalami rintangan yang disebabkan oleh latar belakang pengalamannya. Kenyataan bahwa latar belakang pengalaman mereka itu tidak sama dengan yang dimiliki anak-anak kelas menengah jadi tidaklah sepantasnya jika ditafsirkan bahwa anak-anak itu sama sekali tidak berpengalaman.ekonomi. Anda sering mendengar bahwa latar belakang pengalaman anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah itu sangat kerdil. Di sisi lain. membaca buku dan majalah. maka anak yang tidak mempunyai pengalaman tentang hal tersebut sesungguhnya akan mengalami hambatan. Sayang sekali. yakni latar belakang pengalaman. Di pihak lain. Karena sistem pendidikan diarahkan pada standar sosial kelas menengah dengan menggunakan mata pelajaran dan kosakata kelas menengah. yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. atau bertemu dengan orang-orang di luar lingkungannya. tempat kediaman yang tidak stabil. Kedua orang tua bekerja dari pagi sampai sore sehingga tidak berkesempatan untuk ikut memperluas wawasan anak dan memberi peluang untuk terciptanya berbagai kesempatan yang memungkinkan anak . dan tekanan ekonomi. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak benar.

atau pun anggota keluarga lainnya menunjukkan perhatian yang layak terhadap membaca. Anggapan yang menyatakan bahwa semua anak mempunyai keinginan untuk belajar membaca merupakan anggapan yang naif dan tidak realistis. Karena mereka tidak memiliki kesiapan kegagalan pun menimpa. tidak mau membaca. Akibatnya. temanteman. karenanya tidaklah mengherankan jika asosiasi-asosiasi negatif pun menimbuni kehidupan mereka. Motivasi mereka untuk belajar membaca sangat kurang. Mereka tidak pernah mendapat dorongan atau alasan untuk belajar membaca. banyak orang tua yang melalaikan tugas yang demikian itu. Kakak-kakak mereka.memiliki pengalaman yang luas. mereka datang ke sekolah dengan kesiapan yang tidak layak. anak tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan dalam mengikuti kegiatan sekolah. apa yang dilihat dan dialaminya di seputar lingkungan terdekatnya (lingkungan keluarga dan tetangga) tidak mampu memberikan pengalaman yang dapat merangsangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Mengapa hal ini terjadi? Mungkin sekali. Kenyataan menunjukkan banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Kegagalan yang berlangsung secara terus- . Dengan alasan tekanan ekonomi. Alasan lain yang menyebabkan anak tidak mempunyai motivasi untuk belajar membaca ialah langkanya atau bahkan tiadanya kesempatan bagi mereka untuk menikmati pengalaman indah dan berguna dari kegiatan membaca itu. Tidak seorang pun menyukai kegagalan. majalah. dan tetangga sepergaulan dengan mereka itu pun jarang atau bahkan tidak berkesempatan untuk membaca buku. Mereka tidak pernah melihat orang tua mereka. dan kegagalan itu sering kali diukur oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca. atau surat kabar di rumah. Disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang dan kesiapan mereka yang serba kurang itulah.

Bahasa mereka ditandai oleh sifat kesederhanaan. tidak mampu berbahasa formal. Mereka tidak dapat memahami dua puluh sampai lima puluh persen kata-kata yang digunakan dalam buku-buku di tingkat permulaan. sering kali anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu sudah mengalami kegagalan semenjak langkahnya yang pertama di sekolah. tak dapat menumbuhkan memotivasi mereka untuk membaca. menyatakan persetujuan atau penolakan. Struktur yang kompleks. Temuan-temuan tersebut itu bersesuaian dengan temuan Thomas (1964). bahkan sebaliknya.menerus itu. mendorong mereka untuk segera meninggalkan sekolah. dan pola kalimat yang lebih luas jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang layak untuk berkomunikasi dengan keluarganya ternyata tidak berarti memiliki bahasa yang layak untuk bersekolah. Bahasa sehari-harinya layak untuk menerima dan menyampaikan informasi yang sederhana. meminta sesuatu. sebab jika di antara 100 kata yang harus dibaca terdapat tiga buah (3%) kata saja yang . klause-klause terikat. deklaratif. Kondisi seperti itu akan merupakan awal kegagalan tumbuhnya minat baca. Faktor lain yang menyebabkan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu itu gagal ialah faktor fasilitas bahasa. Patin (1964) menunjukkan bukti bahwa sering kali anak yang memiliki bahasa masyarakat yang layak. dia memperoleh bukti bahwa anak-anak di daerah itu hanya memiliki 50% dari jumlah kosakata yang biasa digunakan di sekolah. Karena bahasa sekolah itu merupakan bahasa formal. Bahasa rumah dan bahasa lingkungan (masyarakat) belum tentu merupakan bahasa sekolah. Di daerah penelitiannya yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu. dan imperatif.

3. Membaca Sebagai Suatu Proses Sensoris Pada bagian 1.2 anda telah mempelajari kegiatan membaca sebagai proses psikologis. Dalam kegiatan ini akan dibicarakan kegiatan membaca sebagai proses sensoris. Apa pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk lewat syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas, mantap, dan siapnya jiwa seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika dia tidak mampu mengenali rangsangan materi cetak. Penjelasan tersebut tidak berarti bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa ketunanetraan dan ketunarunguan semata-matalah yang merupakan penyebab kegagalan membaca. Pernyataan "membaca sebagai proses sensoris" tidak berarti memandang kegiatan membaca itu sebagai proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca itu, dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau bekerja secara serempak. Kepenatan, kegelisahan, kebimbangan, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri merupakan faktoraktor yang sering kali berbaur dengan cacat yang diderita seseorang, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam mencapai kemampuan membaca. Kegiatan membaca dimulai dengan proses melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan, mata. Pada tingkat awal, anak menunjukkan kemampuan yang secara umum disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda dan lambang-lambang tertentu menunjukkan nama atau benda tertentu pula. Kemudian secara berangsur, mereka mulai sadar bahwa jika lambang-lambang itu

dirangkai akan tersusun suatu pembicaraan; tersusun suatu pesan. Kapankah anakanak itu siap untuk membaca buku? Dengan kata lain, kapankah penglihatannya itu siap untuk diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis? Berbagai penelitian membuktikan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam, pemokusan pengaturan, dan pengubahan perasaan secara bebas. Tetapi, pada usia tersebut anak pun sudah berpenyakit pandangan jauh. Akan tetapi, karena anak itu merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anda seyogianya memiliki pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak ialah "kekeliruan kesiapan" (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata yang tidak terpusat. Salah satu jenis keliru sipi ialah hipermetropia, atau pandangan jauh. Untuk mengetahui kelemahan ini, idealnya di setiap sekolah harus disediakan alat uji penglihatan. Jalan lain untuk mengatasi hal tersebut ialah bahwa siswa secara teratur dibawa ke poliklinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan penglihatannya atau mendatangkan pihak kesehatan ke sekolah. Guru yang berpengalaman tidak akan memberi tugas kepada anak-anak yang mempunyai kelemahan seperti itu untuk membaca bendabenda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menenerus. Jenis keliru sipi yang kedua adalah miopia, atau pandangan dekat. Penderita miopia tidak sebanyak penderita hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca. Akibatnya pun tidak terlalu parah. Bahkan, penderita miopia yang moderat memperlihatkan kesukaan terhadap kegiatan membaca.

Eror refraktif jenis ketiga ialah astigmatisme. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua matanya; miopik atau hipermetropik untuk salah satu matanya atau campuran antara keduanya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam faktor penyebab ketidakmampuan membaca, namun jelaslah peranannya sebagai faktor yang turut serta menimbulkan ketidakmampuan membaca harus kita akui bersama. Eror refraktif dapat menyebabkan ketidakbetahan, ketegangan, dan kekurangminatan terhadap bahan bacaan. Dapatkah anda menyebutkan faktor-faktor lain yang anda anggap sebagai kendala dalam proses membaca? Ya, memang banyak. Untuk mengetahui adanya gangguan tersebut, sebelas macam gejala yang berikut ini seyogianya anda perhatikan baik-baik: 1) gerakan-gerakan muka, 2) mendekatkan bacaan ke muka, 3) ketegangan waktu melakukan aktivitas visual, 4) memencengkan kepala, 5) mendorong kepala ke depan, 6) badan ditegangkan tatkala melihat objek yang jauh, 7) sikap duduk yang tidak baik, 8) seringkali menggerak-gerakkan kepala, 9) sering menggosok-gosok mata, 10) menghindari pekerjaan visual yang rapat, dan 11) kehilangan tempat/batas waktu membaca.

Gejala-gejala yang tampak seperti indikator-indikator di atas bila digabungkan dengan hasil tes mata merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui cacat penglihatan. Jika kegiatan membaca dikatakan bermula dari proses melihat, maka secara umum, kesiapan membaca dimulai dari mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif, dan keterampilan membeda-bedakan ujaran. Jika seorang anak mendapat pengaruh jelek dari cacat tubuh atau kondisi sosialnya, maka pengalamannya pun terbatas. Akibat keterbatasan pengalaman itu akan segera tampak pada tingkat awal dalam upayanya belajar membaca. Jika di rumahnya seorang anak menemukan kesulitan dalam membeda-bedakan bunyi yang mirip, atau tidak dapat mengenali pelafalan tertentu untuk sebuah kata, kita boleh percaya bahwa di sekolahnya pun dia akan menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak sebagai pembaca pemula harus mampu mendengar kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang ada dalam suatu kata, mendeteksi kata-kata yang diawali dan dirakhiri oleh bunyi yang sama, dan mampu mendeteksi irama. Dalam banyak kejadian, anak-anak yang tidak mampu melakukan hal tersebut dapat dilatih untuk melakukannya. Jika pelatihan seperti itu tidak berhasil, maka latihan pengenalan bunyi yang lebih berat seyogianya tidak diberikan kepadanya. Hal yang perlu dicamkan oleh guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai motivasi untuk belajar membaca, dia tidak akan menemui kesulitan dalam penguasaan bacaannya itu sepanjang bahan ajar dan proses pengajarannya diselaraskan dengan keadaan anak yang bersangkutan. Kalaupun ada kesulitan, hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya untuk belajar membaca. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa menemui kegagalan dalam penguasaan membaca jika dia tidak

asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu. 3) klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. namun hal tersebut dapat pula diterapkan pada persepsi auditoris. yaitu: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Kekeliruan seperti itu mudah dikenal . sering kali disalahartikan sebagai keseluruhan persepsi. Bertalian dengan hal tersebut banyak orang yang secara keliru mencampurbaurkan penangkapan gelombang udara. mendengar. mengecap. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. secara umum persepsi dimulai dengan melihat. dan 4) indentifikasi kata-kata. yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. yaitu stimulus. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut bagi proses membaca. dalam kegiatan membaca kita cukup memperhatikan dua hal yang pertama saja. Seperti dalam proses sensoris. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak dan selaras dengan keadaannya. Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian. Namun. dan meraba.memiliki motivasi. Seperti telah disinggung di muka. mencium. tidak percaya diri. yakni melihat dan mendengar. 4. Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. gelombang cahaya. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu mengandung stimulus. Membaca Sebagai Proses Perseptual Proses perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. langkah pertama. dan gelombang rasa itu dengan keseluruhan proses persepsi.

atau bunyi /be/ yang berbeda dengan bunyi /de/. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. Sesungguhnya kedua langkah tersebut bersifat komplementer. maka anda boleh menginterpretasikannya sebagai perlambang sebuah kota. Sebelum seorang anak dapat merespon perbedaan antara /b/ dan /d/. maka titik hitam itu mempunyai arti tanda berhenti di ujung kalimat. Dalam konteks lain titik hitam itu bisa diberi makna yang sama dengan lambang /e/ dalam kode Morse. tetapi kita membawa makna kepadanya. Semakin banyak makna yang dapat kita berikan kepada stimulus. Jika kita tidak pernah mengasosiasikan titik hitam itu dengan makna apa pun. Langkah kedua dalam persepsi. atau sebagai tanda vokal dalam bahasa orang Yahudi. Sebagai contoh. Jika titik hitam itu tampak pada sebuah peta. Akan tetapi. yakni asosiasi antara makna dan stimulus mempunyai kaitan yang erat dan jelas dengan langkah pertama yang merupakan isolasi stimulus. maka titik hitam itu tidak mempunyai makna apa-apa bagi anda. kalau kita melihat sebuah titik hitam pada selembar kertas. bagi anak hal tersebut hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. Sebaliknya. maka titik itu tidak akan pernah bermakna apa-apa. Bagian terpenting stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli. sesuai dengan namanya. maka semakin . ialah meminta. pengenalan terhadap /b/ yang berbeda dengan /d/. jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang berbentuk kalimat. Fungsi utama suatu stimulus atau rangsangan. ia harus terlebih dahulu dapat membedakan kedua lambang itu.dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. Kita tidak memperoleh makna dari lambang atau bunyi itu. tidaklah memberikan makna apa pun. Semakin mudah kita dapat mengisolasikan dan mengidentifikasikan suatu stimulus. semakin mudah pulalah bagi kita untuk mengasosiasikan makna dengan stimulus itu.

mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengenal latar belakang kehidupan seperti itu. latar belakang budaya. bab. banyak berkunjung ke toko buku. Anak yang banyak dibacakan bacaan oleh orang tuanya dan dikelilingi tumpukan buku dan majalah serta diteladani oleh orang tua dan saudara yang cinta membaca. Sampai di sini kita baru membicarakan persepsi stimuli dalam bentuk huruf dan kata. seperti pengalaman lalu. dan asosiasi emosional dan fisik. Sesungguhnya.mudah pulalah bagi kita untuk mengenalinya. paragraf. Anak yang pernah mengikuti pendidikan TK (Taman Kanak-kanak). Sama halnya. akan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap membaca dengan persepsi anak yang tidak memiliki latar belakang seperti itu. Makna perseptual itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meskipun /T/ dan /H/ berbeda karena perbedaan yang tampak pada garis-garis yang horizontal dan yang vertikal yang tampak pada keduanya. persepsi stimuli itu mempunyai sifat yang sama untuk bentukan-bentukan yang berupa kalimat. . banyak berdarma wisata. jika anak tidak mempunyai pengalaman mengenai perbedaan antara bang dan bank. kesadaran atas perbedaan antara keduanya itu akan tetap tinggal pada tingkat stimulus dan tidak mengubah persepsinya mengenai makna yang dinyatakan oleh kedua kata tersebut. yang berkesempatan untuk berbicara secara bebas dengan orang tuanya dan temantemannya. Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Bagian terpenting dari diskriminasi stimuli meliputi adanya alasan untuk melakukan diskriminasi. perbedaan itu tidak akan menjadi jelas sebelum anak mengetahui bahwa kedua huruf tersebut mempunyai bunyi yang berbeda dan bahwa jika digabungkan dengan huruf-huruf lain dapat membentuk kata tertentu. bahkan cerita.

mungkin pula memberikan bayangan yang membosankan. Anak yang tidak merasa betah karena gangguan emosi dan fisik yang dialaminya tidak akan dapat berfungsi pada tingkatan potensi yang semestinya. Kedua-duanya mungkin sekali mempunyai pengaruh yang besar terhadap persepsi anak dan terhadap kata atau kejadian tertentu. Sifat dan intensitas pengalaman emosional yang dibawa seorang anak dallam menghadapi sebuah kata atau suatu kejadian t ertentu dapat memberi warna atau menodai makna kata atau kejadian yang dihadapinya itu. pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi pengalihan pengalaman. berpacu meluncur di salju. Anak yang mempunyai tikus piaraan akan mempunyai persepsi yang sangat berbeda dengan persepsi anak yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi di daerah minoritas di tengah kota kalau kepada keduanya disajikan sebuah cerita tentang tikus. Anak yang merasakan kegiatan membaca itu sebagai pengalaman yang meresahkan dan menakutkan boleh dipastikan akan menjadi pembaca yang ogah-ogahan. anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya dalam membaca. Dengan kata lain. Kadangkadang bisa terjadi bahwa rasa berlebihan terhadap sebuah kata itu mengubah makna kata tersebut secara berlebihan pula sehingga maknanya berubah sama sekali. . Untuk mengembangkan kemampuan membaca. namun keduanya bisa berbaur dengan faktor-faktor lainnya sehingga menjadi sumber utama kegagalan. dan kesengsaraan. Kata salju mungkin akan memberikan bayangan suasana yang gembira ria. kedinginan. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kebutaan dan kepekakan tidak perlu menjadi penyebab kegagalan.Hal lain yang tidak boleh diremehkan dalam proses perseptual ialah faktor emosional dan faktor fisik. Pengalaman yang dibawanya pada saat dia berpersepsi itu mungkin menjadi terbatas dan terkendala.

dan sebagainya. ada balam. sangat nyata dan khusus. wanginya. keterbatasan anak itu tidak disebabkan oleh keterbatasan pengalamannya semata-mata. menganalisis. Pada daerah itulah anak dituntut berkemampuan untuk menggeneralisasikan. Burung adalah merpati yang pernah dilihatnya dalam sebuah sangkar milik kakaknya. dan sebagainya. anak akan menggunakan benda-benda tertentu sebagai cangkir. tetapi juga oleh tingkat kemampuan mentalitasnya. Sewaktu bermain rumah-rumahan. jenisnya. Meski betapapun luasnya pengalaman seorang anak. mulai dari daerah-daerah yang konkret. Lama sesudah itu barulah dia tahu bahwa burung itu bermacam-macam. dan menyintesis. macam-macam gelas. dan sebagainya. sampai pada hal-hal yang abstrak dan generik. bentuknya. dia masih akan menyadari banyaknya konsep yang belum diketahuinya. Anak akan mampu pula mengembangkan konsepnya tentang cangkir. Orang bisa minum dengan menggunakan cangkir kecil. Setelah pengalamannya berkembang. ukurannya. Bunga itu bermacam-macam warnanya. . Demikian juga dengan kata bunga. namun banyak pula di antara konsep yang sudah diketahuinya itu yang belum bisa diangkatnya sampai pada taraf konseptualisasi yang jelas dan berarti. ada merpati. Pada batas-batas terakhir yang bersifat abstrak dan generik itulah konseptualisasi terjadi. Meskipun dia sudah mengetahui sejumlah konsep. Dengan kata lain. dia pun akan belajar bahwa orang tidak hanya minum dari sebuah cangkir besar. ada perkutut.Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas. bunga adalah mawar yang tumbuh dalam sebuah pot kecil di serambi rumahnya. bahkan minum dengan sedotan dari sebuah kotak karton. Anak biasanya terlebih dahulu mempelajari konsep-konsep yang konkret dan spesifik. punai.

dan berbagai kegiatan kelas. Dari pembicaraan sekilas mengenai membaca sebagai proses perseptual seperti yang diuraikan di atas itu pun kita dapat menyadari bahwa membaca itu sangat kompleks. 5. kematangan. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak. dan kalimat dalam wacana. semakin luas pulalah terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki persepsinya. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Penampilan audio-visual. guru dapat mengurangi bahkan mengatasi kerapuhan itu dengan jalan memberikan berbagai pengalaman kepada murid-muridnya itu.Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa anak seyogianya sudah berpengalaman banyak sebelum dia untuk pertama kalinya mengenal huruf-huruf. cerita. guru akan dapat membekali murid-muridnya dengan pengalaman yang bermanfaat. gambar. sehingga kesempatan untuk mengembangkan persepsi itu bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. tetapi oleh kebudayaan. Guru dapat mengadaptasi dan memodifikasi berbagai pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. dan bahkan kepribadian juga. permainan. kata-kata. Melalui berbagai kegiatan seperti karya wisata. Persepsi itu berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang jumlahnya itu banyak dalam membaca. Meskipun persepsi seorang anak bisa merapuh sebagai akibat dari adanya berbagai faktor perusak. . pengalaman. Kita tidak tahu kapan perkembangan itu dimulai. emosi. Kita lihat bahwa proses persepsi itu tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran. waktu khusus untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak hanya penting tetapi juga sangat esensial. Oleh karenanya. dan nyanyian pun dapat menambah pengalaman anak.

suasana hidup yang baru. Setiap orang mempunyai kecepatan perkembangan kemampuan membaca seumur hidupnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. kalau dia tidak mau tersesat. Seberapa pun kemampuan membaca seseorang. kita tahu bahwa kesehatan seorang ibu yang rawan waktu mengandung atau berbagai komplikasi yang terjadi waktu bayi itu lahir pasti berakibat buruk terhadap kemampuan membaca anak itu kelak. seorang arsitek harus mapu membaca gambar cetak biru secara baik dan cekatan. Pekerjaan baru. Seseorang yang telah menamatkan sekolahnya akan merasa perlu meningkatkan kemampuan membacanya itu jika orang tersebut mempunyai hasrat untuk mempertahankan hidupnya itu secara layak. Namun. Meski membaca itu merupakan proses perkembangan. demikian seterusnya. berjalan pada usia delapan bulan. dan lari . Kita juga tahu bahwa anak-anak yang lain bisa membaca baru pada usia enam atau tujuh tahun. pada usia empat bahkan tiga tahun. Kita tahu bahwa anakanak tertentu mempunyai kesiapan belajar membaca lebih cepat daripada anak-anak lainnya.dan bilamana berakhir. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. membaca itu merupakan proses yang berkelanjutan dan berubah. semuanya menuntut suatu perkembangan yang berlanjut dalam bidang membaca. kemampuannya itu selalu dapat diperbaiki dengan berbagai upaya. dan ada pula anak-anak yang memiliki kesiapan yang sangat dini. Seorang operator telepon dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk membaca nomor-nomor telepon dan angka-angka digital dengan cepat. tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab sosial yang baru. Pendek kata. geraknya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak pula tertentu waktunya. Seseorang yang memilih lapangan kerja tertentu akan dituntut untuk mengembangkan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaannya itu.

Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat dilihat.pada usia sembilan bulan. Masalah yang dihadapi anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. Namun. akan menuntut kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan/dilatihkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. Membaca merupakan proses yang dipelajari dan bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak teratur. guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. dia belum boleh dikatakan membaca sebelum guru mengajarinya mendekod atau mengubah dan mengidentifikasi lambang-lambang itu dengan konsep-konsep tertentu dan dengan pengalamannya sedemikian rupa sehingga dia memperoleh pengertian yang tepat. untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. Anak boleh memahami membaca sebagai suatu jenis komunikasi dan bahwa lambang-lambang tertentu itu berupa kata. Pertama. Setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan. Oleh karena itu. . Anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang. Membaca bukanlah proses instinktif. ada dua hal yang perlu mendapat perhatian guru.

Proses itu dapat digeneralisasikan terhadap tingkatan-tingkatan lain yang lebih tinggi dan terhadap mata pelajaran lainnya. Sifat proses perkembangan keterampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. membaca pemahaman. Akhirnya membaca itu harus dipandang sebagai alat dan bukan sebagai tugas. Guru tidak boleh memandang mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai tujuan akhir. . melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. dan sangat tergantung pada bermacam-macam faktor. Anak yang mampu menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupannya sehari-hari. 6. atau pun tingkatan-tingkatan akademis. dan pelajaran keterampilan.Hal yang kedua yang patut diperhatikan ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. 1) Keterampilan itu objektif. Peran membaca sebagai tugas menurun tajam pada peringkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. Pengajaran membaca bisa juga berupa pengajaran membaca untuk makna. pengembangan kosakata. Mata pelajarannya harus menarik dan layak. Oleh karena itu. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak bergantung kepada materi. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Telah dilukiskan secara panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks. Salah satu hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan keterampilan membaca ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. metode. pengajaran membaca terus berlangsung dalam jamjam pelajaran bahasa.

Salah satu bagian terpenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Jika keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, maka guru dapat menggunakan salah satu metode yang dianggap paling cocok dari sekian banyak metode yang ada serta memilih dan menentukan materi bacaan yang cocok pula dengan kebutuhan anak didiknya. Seorang anak mungkin menghendaki pembelajaran melalui program visual, sedangkan anak yang lain akan merasa lebih mudah belajar membaca itu melalui pendengaran, dan yang lain lagi melalui latihan kinestetik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa. Anda tahu bahwa perkembangan keterampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, keterampilan itu adalah keterampilan. Kita tidak mengenal keterampilan anak peringkat satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh keterampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkatan perorangan, anda harus mengetahui keterampilan yang mana yang mendahului keterampilan yang sedang diajarkan itu, dan keterampilan mana yang mengikutinya.

2) Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun keterampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat.

3) Keterampilan itu bisa digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian hal itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan keterampilan yang sama dan tidak terikat pada mata pelajaran yang mana pun. Dalam perkembangan keterampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tingkatantingkatan. Kata tahapan atau tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan keterampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembang untuk keterampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan keterampilan lainnya. a) Dasar proses perkembangan keterampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut dimulai dengan pengalaman anak yang pertama kali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-menerus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga perbendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubahubah.

Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mempunyai satu macam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejenis, akan terhambat perkembangan kosakatanya. Anak mengenal makna kata-kata itu melalui penyimakan penggunaannya dan upaya penggunaannya sendiri. b) Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan dan identifikasi. Pada waktu anak membina dasar-dasar konsep yang pertama, dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam kegiatan membaca, misalnya terjadi pada pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengan konsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia berhasil mengombinasikan keduanya, yakni stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu. c) Tahapan ketiga, perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informasi. Anda tentu tahu bahwa anak sudah mulai melakukan kegiatan penginterpretasian informasi itu sejak awal proses, meskipun upayanya itu belum jelas. Dalam hal ini, kita perlu membedakan dua macam interpretasi, yakni yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta ketika fakta itu dihadapkan. Contoh interpretasi literal yang merupakan keterampilan pemahaman tampak pada kalimat dan pertanyaan di bawah ini. Columbus menemukan benua Amerika tanggal 12 Oktober 1492. (1) Siapakah yang menemukan Amerika? (2) Kapankah Columbus menemukan Amerika? (3) Negeri apakah yang ditemukan Columbus?

Meski contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tugas tersebut tidak lebih dari sebuah suruhan untuk mencocokkan fakta dengan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihat kembali kalimat-kalimat stimulus tadi, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, misalnya, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Columbus saat melihat Amerika untuk pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan; oleh sebab itu, mengubah pula isi penugasan. Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifat ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertanyaan pertama dan sifat intrinsik seperti yang tampak pada pernyataan yang terakhir merupakan hal yang perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara interpretasi literal dan inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaanpertanyaan yang mengikutinya yang bersifat inferensial. Joko menaruh sepeda barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihatlihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepeda baru seperti itu. Kepunyaannya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemertak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

Pertanyaan (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak mempunyai sepeda baru? (2) Di manakah cerita itu terjadi? A. di desa

Oleh sebab itu. Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Pada waktu yang lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki. Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apa pun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. penginterpretasian. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. apa sebabnya Joko mau supaya Kino melihat sepeda barunya itu? Bagaimana pendapat anda mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas? Untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Pada satu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi. dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota. Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan. dan (3) Kino sangat miskin. di kota C. (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya. di daerah perkebunan (3) Menurut pikiranmu.B. Untuk menjawab pertanyaan kedua. hanya ada satu informasi yang bisa digunakan. . yaitu "Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar". dan penerjemahan atas suatu fakta. pengenalan. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru.

/C/ kapital. Proses membaca dimaksud merupakan proses psikologis. Meskipun sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai keterampilan-keterampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada sebatas pengenalan semata. proses perseptual. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan. namun prosesnya belum tentu lengkap. dan /c/ tulisan tangan itu dibunyikan sama.d) Tahap proses perkembangan keterampilan yang keempat ialah aplikasi dan generalisasi. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut. Tekanan utama pembicaraan diletakkan pada keyakinan yang menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang berorientasi individual. proses perkembangan. proses sensoris. dan proses perkembangan keterampilan. pengidentifikasian. . RANGKUMAN Dalam bab ini telah diuraikan secara ringkas mengenai proses membaca. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan keterampilan dan informasi yang diperolehnya itu. Setiap anak merupakan pribadi yang unik dan kompleks. ros. dan kenanga sebagai bunga. dan penginterpretasian informasi. dia mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalinya. /c/ kecil. seperti pengenalan ciri-ciri melati. yang mempunyai hubungan yang kompleks dengan membaca. Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan penggeneralisasian itu pada setiap tahapan proses perkembangan.

Denagn jalan melihat proses itu dari berbagai sudut pandang.Hanya dengan jalan memahami semuanya itu dan mencamkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan membaca dan memahami isi bab ini. anda akan mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai hakikat membaca. Perlu anda maklumi bahwa bab ini tidak sekali-kali dimaksudkan untuk melukiskan proses membaca itu secara pasti. anak akan dapat kita tolong untuk mencapai potensi membacanya. . Anda boleh yakin bahwa dengan memiliki pengertian yang lebih baik akan dapat membekali setiap anak dalam kelas dengan pengalaman yang lebih berarti. anda diharapkan memiliki pandangan yang terarah pada masalah yang mungkin anda hadapi dalam tugas anda.

SEKAPUR SIRIH MODUL 1: HAKIKAT MEMBACA PENDAHULUAN Kegiatan Belajar 1: Membaca sebagai Proses Psikologis Rangkuman Latihan Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Membaca sebagai Proses Sensoris Rangkuman Latihan Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Membaca sebagai Proses Perseptual Rangkuman Latihan Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Membaca sebagai Proses Perkembangan Rangkuman Latihan Tes Formatif 4 .

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

Teori adalah penjelasan yang abstrak tentang suatu kejadian tertentu atau tentang seperangkat fenomena. ambillah teori kinetik tentang gas yang menjelaskan pola gas di alam ini. kedua-duanya mempunyai sifat yang formal. . yang berarti kira-kira "sesungguhnya bagi guru sekolah tidak ada yang lebih praktis daripada suatu teori yang baik". Sebagai contoh. Teori kinetik mengenai gas mempunyai banyak model. Teori itu menganut pandangan bahwa gas itu tersusun atas partikel-partikel yang bergerak terus-menerus. Pengajaran yang baik ialah pengajaran yang didasari oleh suatu pemahaman dan pengertian teoretis yang baik terhadap suatu teori tertentu. panas. Teori kinetik untuk gas itu. Untuk memahami arti kata "model" baiklah kita ambil satu contoh saja. dan volume terhadap molekul-molekul gas tertentu. Model dapat diartikan sebagai definisi operasional tentang suatu teori tertentu. Pandangan ini disitir dari pernyataan Wardhaugh (1969). tidak selayaknya dibicarakan di sini semuanya. Namun. yang biasa dinyatakan dengan rumus yang dikenal dan bisa dipahami oleh siswa tingkat lanjutan atas. baik teorinya sendiri maupun modelnya. meliputi sejumlah hukum yang valid. Istilah teori mempunyai kedekatan makna dengan istilah model.MODEL-MODEL MEMBACA ( Teori dan Praktek dalam Pengajaran Membaca) PENDAHULUAN Sampai sekarang di kalangan guru sekolah masih hidup suatu keyakinan. Kembali kepada contoh kita tentang teori kinetik. Model yang paling umum diterima adalah model yang menyatakan bahwa pola gas itu merupakan suatu fungsi efek tekanan. bahwa pandangan seseorang terhadap suatu teori tertentu akan melandasinya dalam bersikap dan bertindak. cermat. dan spesifik.

yang meliputi: a) menjelaskan "model membaca bawah-atas". b) menjelaskan "model membaca atas-bawah". d) mengidentifikasi komponen-komponen model membaca. uraian mengenai hal ini belum ada yng ditulis dalam bahasa Indonesia. Pada waktu itu proses membaca merupakan pusat perhatian para ahli psikologi eksperimental. Semenjak tahun 1970-an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif. Karenanya anda perlu mempelajarinya dengan baik. 2.Dalam bab ini anda akan memperoleh keterangan tentang teori dan model membaca yang mempunyai sifat yang tidak sama dengan teori dan model yang telah disinggung di atas tentang teori kinetik itu. e) mengaplikasikan model pengajaran membaca yang berlandaskan teori tertentu. Secara lebih khusus. c) menjelaskan "model membaca interaktif". Model-model membaca tersebut mempunyai pengruh yang penting terhadap pengajaran membaca. Sayang. Di antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an perhatian para ahli diarahkan pada definisi dan penjelasan tentang membaca. Model membaca itu . proses informasi. Para ahli membaca mencari penjelasan yang lebih terinci mengenai proses membaca dan penjelasan teoretisnya mengenai hal tersebut. Studi yang sistematis tentang proses membaca dimulai sejak tahun 1880-an. Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) Model membaca sangat berkaitan dengan proses membaca. anda diharapkan dapat memahami model-model membaca yang terpenting. Mudah-mudahan dengan mempelajari bab ini anda akan memperoleh gambaran yang cukup baik tentang model-model membaca. psikolinguistik dan linguistik.

yakni: 1) Model Membaca Bawah-Atas (MMBA) atau bottom-up. Tidak ada model yang membicarakan fase-fase proses membaca itu secara keseluruhan. Gambar di bawah ini melukiskan perbedaan pokok antara MMBA dan MMAB. . Sebelum membaca penjelasan tentang ketiga model tersebut. 2) Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) atau top-down. sebaiknya Anda mencamkan bahwa tidak satu pun di antara ketiga model itu dapat diterima sebagai model yang terbaik. Setiap model mempunyai titik berat perhatian terhadap aspekaspek tertentu.ternyata tidak hanya satu melainkan banyak model. dan 3) Model Membaca Timbal Balik (MMTB) atau interactive. Namun. model-model proses membaca tersebut tampaknya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi model.

Struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya merupakan hal yang sekunder. MMBA pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. MMAB beranggapan bahwa struktur-struktur yang ada dalam pengetahuan sebelumnya memainkan peranan utama. Sebaliknya. sedangkan struktur-struktur yang ada dalam teks merupakan unsur sekunder. Dekode ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. Enkode ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. Peristiwa dekoding tampak pada pihak penyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa . dekode dan enkode.MMAB (Top down) Memori Jangka Panjang Pemahaman (Makna) Memori Jangka Pendek Kode Bunyi (Pola Bunyi) Memori Ikonik Kode Visual (Pola Visual) MMBA (Bottom Up) Pada MMBA struktur-struktur yang ada dalam teks itu di anggap sebagai unsur yang memainkan peran utama.

komunikasi tulis). Mempelajari apa yang dikatakan lambang tercetak merupakan kegiatan satusatunya dalam proses membaca model bawah atas. Proses ini sama seperti yang terjadi pada waktu menyimak. Membaca pemahaman dianggap sebagai hasil otomatisasi kerja visual dan pikiran yang diperoleh dari pengenalan kata secara cermat. Para penulis berbagai bidang profesi. Setelah itu. Pada MMBA pembaca akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf atau unit-unit yang lebih besar dari huruf yang terdapat dalam materi cetak. Menurut MMBA. Satu-satunya pengetahuan yang disiapkannya ialah pengetahuan tentang hubungan antara lambang dan bunyi. Jelaslah bahwa menurut MMBA teks bacaan itu . seperti: Flesch (jurnalistik . Mereka berpendapat bahwa bahasa tulis itu tunduk kepada aturan bahasa lisan. Peran pembaca bersifat relatif pasif dalam proses penerjemahan itu. Di situlah tempat pembaca memperoleh makna. Gagne (psikologi). tampaknya yang memainkan peranan utama dalam proses membaca tersebut adalah unsur teks. Proses ini akan terjadi manakala seorang pembaca berhadapan dengan materi-materi bacaan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Sementara kegiatan enkoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan) dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Jika kita lihat proses membaca dengan MMBA. dan Gough (teori proses informasi) berpendapat bahwa membaca itu pada dasarnya adalah terjemahan lambang grafik ke dalam bahasa lisan. Informasi dari teks (dari bawah) melalui mata ditarik ke dalam struktur otak untuk diidentifikasi dan dincari maknanya. barulah dia melakukan antisipasi terhadap kata-kata yang diejanya itu. tugas pertama dan utama dalam membaca ialah mendekode lambang-lambang tertulis itu menjadi bunyi-bunyi bahasa. Setelah kata-kata teridentifikasi segera didekode dalam bahasa batin.

tetapi /kh/atau /ek/. Dalam zaman keemasan Yunani dan Roma orang mengajarkan membaca denagn Metode Alfabet. Fries (1962). Metode Alfabet merupakan metode pengajaran membaca yang tertua. metode Fonik. metode Silabik. huruf-huruf yang akan diajarkan itu diucapkan sama dengan ucapan alfabetisnya. Itulah sebabnya dalam metode Fonik. huruf "M" diucapkan /em/ dan selanjutnya. dan sebagainya. Metodemetode pengajaran membaca yang dipandang sebagai cerminan dari pandangan MMBA antara lain. Dalam Metode ini. tanpa ada hubungannya dengan isi bacaan. Fries yang tertera di bawah ini menunjukkan model membaca bawah-atas. Inilah yang oleh Wardaugh disebut sebagai pandangan seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap teori tertentu yang dianutnya.C. Para guru membaca akan memilih metodemetode pengajaran tertentu sesuai dengan pandangan teoretis yang dianutnya. huruf "D" tidak . Definisi-definisi membaca yang dibuat oleh Rudolf Flesch dan C. huruf "K" diucapkan /ka/. Dengan demikian huruf "D" diucapkan /de/.diproses oleh pembaca tanpa informasi yang mendahuluinya. konsonan-konsonan itu tidak diucapkan seperti ucapan Alfabet. Menghubungkan ucapan "k" /ka/ dan "i" /i/ menjadi "ki" /ki/ ternyata merupakan hal yang tidak mudah bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. metode Alfabet. metode Kata Kunci. huruf "L" diucapkan /el/. mendefinisikan membaca sebagai kegiatan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan merespon seperangkat pola yang terdiri atas lambang-lambang grafis. Huruf "K" tidak diucapkan /ka/. Model-model pemikiran yang sejalan dengan MMBA itu melahirkan metodemetode pengajaran membaca tertentu.

setiap lambang diucapkan berdasarkan bunyinya. para pembaca pemula akan menarik lambang-lambang yang dilihatnya ke dalam memori untuk ditafsirkan (dalam hal ini: diingat-ingat). . Dengan demikian. (1)Informasi grafemik diserap melalui sistem visual dan disimpan secara singkat di dalam "ikon". (2)Pesan tersebut dikilas dan diolah di dalam perlengkapan pengenal pola yang dapat mengenali huruf-huruf.diucapkan /de/. Demikian seterusnya. tetapi /dh/ atau /ed/. tidak interaktif. metode-metode pengajaran tersebut digolongkan ke dalam metode yang menganut pandangan MMBA dalam proses membaca. Gough (1972) mencoba menunjukkan proses membaca itu dalam sebuah model berurut-lanjut. Salah seorang tokoh MMBA. (4)Gambaran fonem ini masuk ke dalam "librarian" yang mencarikan leksikon. Langkah metode Fonik ini serupa benar dengan metode Alfabet dalam pengajaran membaca permulaan. Oleh karena itu. berdasarkan bagaimana bunyi itu seharusnya diucapkan. (3)Huruf-huruf ini kemudian dikirim ke pencatat huruf yang menahan huruf-huruf itu. Menurut pendapatnya. para pemula melakukan proses belajar membaca permulaannya dimulai dari pengenalan dan pengidentfikasian lambang cetak dari teks. sementara pendekod mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambaran fonem. (5)Untaian leksikal yang dihasilkan oleh librarian itu masuk ke dalam memori pertama. Pengucapan suatu lambang bunyi tertentu diikuti oleh kegiatan menghubungkan bunyi itu dengan huruf-huruf yang melambanginya. Dengan bantuan alat visualnya. dan mencocokkan untaian fonemik dengan entri yang sudah ada dalam leksikon. proses tersebut meliputi urutan-urutan seperti berikut ini.

struktur dalam atau pernyataan-pernyataan tentang makna itu masuk ke dalam "Tempat Tujuan Kalimat-kalimat (TTKSMD). Dengan demikian. . (7)Merlin menggunakan pengetahuannya tentang sintaksis dan sematik untuk menentukan "struktur dalam" atau mungkin makna masukan itu.(6)Memori pertama itu dapat menangkap satuan leksikal itu sampai lima buah. Gambaran di bawah ini membantu menjelaskan proses membaca menurut MMBA. setelah maknanya dipahami. dan hal ini merupakan masukan bagi "merlin". (8)Akhirnya. kegiatan membaca itu selesai setelah semua masukan teks itu dapat melewati sederetan transformasi dan mencapai TTKSMD.

Model Membaca Atas-Bawah (MMAB) Dalam uraian terdahulu kita telah membicarakan ihwal MMBA yang dalam pelaksanaan proses membacanya mengutamakan struktur yang tampak pada bahan .Masukan Grafemik Sistem Visual IKON Pengenal Pola Pemintasl Pencatat Huruf Buku Sandi Penyandi Perekam Fonemik Leksikon Pustakawan Memori Awal Kaidah Semantik dan Sintaksis Merlin TTKSMD 3.

Kata-kata tidak dapat diserap daerah pandangan mata. atau mungkin memperhalus masukan tersebut. Setelah pembaca menjadi semakin terampil. karena proses yang dilaluinya bermula dari bawah. Dalam MMAB kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa mempunyai peran pertama dan utama dalam penyusunan makna dari materi cetak dalam proses membaca. menolak. Kebanyakan model MMAB ini berpijak pada teori psikolinguistik. dan grafik. terjadilah keputusankeputusan sementara untuk menerima. model tersebut diistilahkan dengan model membaca bawahatas. Pemilihannya itu dilakukan dengan kemampuan memperkirakan atau menerka. MMAB mengajukan hal lain. Oleh karena itu. Makna (pemahaman) diperoleh dengan menggunakan informasi yang perlu saja dari sistem isyarat semantik. sintaksis. informasi grafis itu semakin berkurang . Berlainan dengan MMBA. Isyarat grafik atau grafofonemik diturunkan dari materi cetak. Pembaca mengembangkan berbagai strategi untuk memilih isyarat grafis yang paling berguna. bukan dari otak pembacanya. Isyarat-isyarat lainnya berasal dari kompetensi kebahasaan pembaca yang sudah tersedia di dalam benaknya. jika tidak cocok dengan isyarat-isyarat semantik dan sintaksis yang sedang diproses oleh pembaca dan perkiraan (hipotesis) yang dibuatnya. MMAB menggunakan informasi grafis itu hanya untuk mendukung hipotesis mengenai makna yang sudah terbentuk ketika alat viasual menangkap lambang-lambang cetak. berpendapat bahwa membaca itu merupakan proses yang meliputi penggunaan isyarat kebahasaan yang dipilih dari masukan yang diperoleh melalui persepsi pembaca. yakni dari bacaan. yakni pandangan tentang interaksi antara pikiran dan bahasa.bacaan. Goodman (1967) yang melukiskan kegiatan membaca sebagai "permainan menebak dalam psikolinguistik". Ketika informasi itu diproses.

serta telah memiliki perbendaharaan konsep-konsep yang lebih kaya. Shuy (1977). memungkinkan pembaca untuk memahami materi dan mengantisipasi apa yang akan tampak selanjutnya di dalam materi cetak yang sedang dibacanya itu. Hal ini disebabkan pembaca boleh dipandang sebagai orang yang mempunyai pemahaman terhadap bacaannya itu. Psikolinguis seperti Goodman dan Smith tidak suka pada pengajaran keterampilan-keterampilan membaca yang biasa diajarkan secara berurutan. maka dia semakin mengarah pada strategistrategi kognitif. maka transformasi dalam bidang vokabuler (koakakata) atau sintaksis yang tidak mengubah arti dipandang sebagai hal yang dapat diterima. Karena pembaca dapat mengetahui makna tanpa melakukan identifikasi kata secara cermat. Berbeda dengan model-model "membaca sebagai terjemahan". Psikolinguis yang lain. Setelah pembaca itu belajar lebih banyak lagi.pula tingkat keperluannya. para ahli MMAB berpendapat bahwa pembaca yang terampil selalu melangkah langsung dari kata-kata tercetak ke bagian makna tanpa merekamnya terlebih dahulu ke dalam ujaran. Model membaca dengan tipe MMAB ini tampaknya dilandasi oleh sebuah . Validitas prakiraan itu dicetak melalui penggunaan strategi-strategi konfirmasi. maka digunakanlah strategi pengoreksian yang di dalamnya terjadi pemrosesan isyarat tambahan untuk mencari makna bacaan. Strategi-strategi untuk membuat prakiraan yang didasarkan pada penggunaan isyarat semantik dan sintaksis. sebab pembaca sudah mempunyai teknik samping yang lebih baik. Fungsi mata memainkan peranan minor dalam kegiatan membaca dengan model ini. Jika prakiraan itu tidak cermat.bunyi) mendominasi kegiatan membaca pada pembaca pemula. berpendapat bahwa proses behavioral (hubungan huruf. kontrol terhadap struktur bahasa yang lebih baik juga.

Memang benar. "Increasing numbers of late Pleitocene macrofossil indicate that boreal spruce forest similar to the existing taiga in Canada was present on the northern Plains at the same time". Seseorang yang terlalu memfokuskan perhatian terhadap bacaan yang ada di depan matanya dapat megalami kebutaan sementara. Halaman yang sedang dibaca bisa menjadi kosong tak bertuliskan apa-apa. Semakin besar harapan kita terhadap kerja mata. Prinsip ini menganut pandangan bahwa jika seseorang terlalu menaruh harapan pada kerja visual akan berdampak negatif terhadap keberhasilan membaca. mata memainkan peranan tertentu dalam kegiatan membaca. kendala tersebut dapat diatasi dengan jalan melakukan prediksi (prakiraan). bacalah wacana di bawah ini. Dengan MMAB. Mungkin. informasi visual itu semata-mata tidaklah cukup. namun dia akan beroleh pemahaman yang sama seperti jika dia melihat seluruh huruf yang terdapat dalam kelompok huruf tersebut. pembaca hanya butuh melihat beberapa huruf dari kelompok huruf yang seharusnya dilihatnya.asumsi tentang prinsip kerja mata. Namun. Salah satu kendala yang dihadapi anak yang sedang belajar membaca ialah seringnya mereka tidak mampu melihat huruf yang cukup banyak dalam sekali pandang. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Orang tidak akan dapat membaca dengan mata tertutup atau dalam keadaan gelap. Dengan bantuan prediksi. Apakah informasi visual yang tersaji dalam wacana di atas dapat menolong kita untuk memahami makna wacana itu? Bukankah kita akan menjawab "tidak"? . beban kerja mata pada saat membaca menjadi berkurang. semakin sulitlah mata untuk mampu melihat.

merupakan hal-hal yang harus dimiliki pembaca untuk memahami isi wacana yang bagaimana pun bentuknya.Nah. Latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memberi warna terhadap kualitas dan kuantitas pemahaman bacaan seseorang. Untuk memahami wacana yang dibacanya. dalam kegiatan membaca proses pemahaman bacaan akan diperoleh melalui informasi visual dan informasi nonvisual. dibelakang matanya. Inilah yang disebut Smith (1986) sebagai informasi nonvisual. keakraban dengan bidang pengetahuan yang disajikan di dalamnya. Hal-hal tersebut dapat kita golongkan ke dalam golongan informasi nonvisual. Mereka melukiskan proses pemahaman bacaan itu sebagai "psycholinguistic guessing game". dapatkah anda membedakan informasi visual dengan informasi nonvisual? Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa informasi visual akan/bisa hilang bersamaan dengan hilangnya cahaya penerang. Kemampuan memahami bacaan dilukiskan bukan sekedar kemampuan mengambil dan memetik makna bacaan dari materi cetak. Informasi visual dan informasi . Penguasaan bahasa yang digunakan dalam wacana. sekarang jelaslah bahwa informasi visual semata-mata tidaklah cukup untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang isi wacana yang bersangkutan. dan kemampuan umum dalam kegiatan membaca. Informasi nonvisual ada di dalam pikiran setiap pembaca. Pernyataan Goodman tersebut mengimplisitkan tentang peran skema/skemata dalam proses membaca. pembaca memerlukan bekal dasar yang lain. Sekarang. melainkan juga proses menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Model membaca atas-bawah tampaknya sejalan dengan pendapat Nutall (1989) dan Goodman(1967). Dengan demikian. pemahaman bacaan mengandung arti proses menghubungkan bahan tertulis dengan apa yang telah diketahui dan ingin diketahui pembaca. Bagi Smith.

Gambar ini . Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengelola informasi visual. Sebaliknya. tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam kegiatan membaca. Untuk mengatasi bacaan yang sulit. maka kebutuhan akan informasi visual akan semakin berkurang.nonvisual itu mempunyai hubungan yang tidak jelas. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Gambar di atas itu memperlihatkan ilustrasi bahwa semakin banyak informasi nonvisual dimiliki dan dimanfaatkan seseorang dalam kegiatan membaca. Mata akan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. semakin banyaklah informasi visual yang diperlukannya. jika pembaca dapat menggunakan informasi nonvisualnya atau pengalamannya itu dengan sebaik-baiknya. Hubungan timbal-balik antara kedua informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Mengenai hal ini dapat dilukiskan melalui gambar berikut. semakin sedikit informasi nonvisual yang dimiliki seseorang. semakin berkuranglah hal-hal yang harus dicari dan ditemukannya dalam bacaan. Secara mudah dapat dikatakan bahwa semakin banyak pengetahuan siap pembaca sebelumnya. sebab di antara mata dan otak itu ada bottleneck. pembaca tidak dapat mengurangi kecepatan bacanya dan mengasimilasikan informasi visual lebih banyak. Kenyataan bahwa informasi visual dan informasi nonvisual itu dapat saling menggantikan dalam proses membaca. sangat perlu diperhatikan.

asalkan orang tersebut berada di tempat terang dengan mata terbuka. Oleh karena itu. kemampuan dasar membaca tidak lain dari kemampuan menggunakan informasi nonvisual secara maksimum. Informasi Visual Informasi Nonvisual Membaca Otak itu mudah kewalahan oleh informasi visual sehingga kemampuan untuk melihat menjadi sangat tebatas bahkan bisa berhenti sejenak. Yang kita lihat sesungguhnya adalah interpretasi otak terhadap pesan. mata kita sama sekali tidak melihat. Bahkan kita juga berkeyakinan bahwa penglihatan itu bersifat langsung. Namun sesungguhnya.memperlihatkan bagaimana dan sejauh mana otak dapat menampung informasi dari informasi visual yang tampak dalam materi cetak. seketika itu pula penglihatan kita terarah kepada sesuatu itu. Tugas mata tidak lebih dari sekedar menyerap informasi visual dalam bentuk berkas-berkas cahaya dan mengubahnya menjadi energi syaraf yang merambat melalui jutaan serabut syaraf optik. Lebih dari itu. dan mengurangi sebanyak-banyaknya informasi melalui mata. . kita juga mengira bahwa matalah yang bekerja dan bertanggung jawab untuk benda-benda yang kita lihat itu. kemudian masuk ke dalam otak. Kita melihat sesuatu. Biasanya banyak orang beranggapan bahwa seseorang dapat melihat segala sesuatu yang ada di depan matanya.

tentu saja bisa benar dan bisa juga salah. Kita pun akan melihat kuda meski otak membuat kekeliruan. orang dapat membaca karena dimungkinkan oleh fonik. Dengan kata lain. Thorndike berkata bahwa membaca adalah berpikir. berita yang masuk melalui syaraf. Banyak ahli berpendapat bahwa kegiatan membaca itu harus berdasarkan fonik. jelaslah bahwa otak mempunyai peranan penting dalam kegiatan membaca. Jika kita diberi alamat oleh seseorang dengan tulisan seperti yang tertera di bawah ini JALAN M1OS IO Yang kita lihat adalah dua kata. Bagaimana mungkin orang mengenali kata-kata tanpa menyuarakannya? . sering kali otak itu pun berbuat salah atau bahkan dapat melihat sesuatu yang tidak berada di depan mata kita. persepsi visual itu meliputi keputusan-keputusan yang terjadi dalam otak. Dengan kata lain. Inilah yang disebut kegiatan "memprediksi". Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kritikan para pakar yang tidak sependapat dengan pandangan MMAB. sedangkan mata hanyalah "memandang" atas perintah otak. Informasi visual yang sama itu diinterpretasikan dalam otak sebagai lambang yang berbeda. kegiatan memperkirakan. tidak melihat segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di depan mata. Waktu kita melihat seekor kuda di sebrang lapangan. Padahal.kesan. Sebuah perkiraan. otaklah yang melihat. jika kita teliti kembali lambang yang dipakai untuk menyatakan bilangan sepuluh itu sama benar dengan huruf yang menyatakan bunyi/i/ dan /o/. Jalan mios dan angka sepuluh. Otak. Dengan demikian. Bagi mereka. otaklah yang menentukan bahwa yang kita lihat itu adalah seekor kuda. sudah tentu. Oleh karena itu.

dan sebagainya. Lebih dari itu. gunung. hitam. bukan lambang-lambang bunyi. tidak perlu. Tidak ada perbedaan fundamental antara pengenalan terhadap objek-objek berdimensi tiga itu dengan pengenalan terhadap huruf-huruf dan kata-kata. meja. karena sistem tulisan mereka kebetulan sama. Kalimat tersebut sebenarnya bisa diganti dengan lambang 2 + 2 = 4. . kapal terbang. Kalau anda mendengar kalimat Deux et deux font quatre. Kedua kata tersebut mendekod bunyi yang sama. awan. kursi. dapatkah anda memahami maknanya? Ya. sekali lagi dapat kita buktikan bahwa kegiatan dekode itu tidak perlu. Hal tersebut dapat lebih jelas dibuktikan pada orang-orang Jepang atau Cina yang menggunakan logografik. tetapi artinya tetap berbeda. mobil. biru. Mengapa sebagian besar dari kita tidak memahaminya? Hal ini disebabkan kita tidak memahami bunyi bahasa mereka. ialah dengan sekali pandang. merah. roti. tidak pula memahami struktur kalimat yang mereka gunakan. tidak seorang pun di antara kita yang akan berkata "Saya tidak memahami artinya". sebagian besar mungkin akan menjawab "tidak". Kata bang dan bank berbeda maknanya bukan karena berbeda bunyinya melainkan karena berbeda penampilannya. masih dapat berkomunikasi dengan menggunakan tulisan. kereta api. Makna lebih erat hubungannya dengan tulisan daripada dengan suara. karena penulisannya berbeda. Orang Katon dan Mandarin yang berbeda tuturnya. Fonik itu tidak efektif. Katakata tertulis itu merupakan lambang-lambang ide. Menurut hasil penelitian. Sekarang.Terhadap pertanyaan itu kita dapat memberikan jawaban bahwa kita mengenali kata-kata itu dengan cara yang sama dengan cara mengenali objek-objek lainnya. hijau. seperti pepohonan. nasi. binatang. orang merespon lebih cepat terhadap kata-kata tertulis kuning. dan sebagainya daripada kepada kertas yang berwarna tersebut. Dengan demikian.

Penglihatan yang sangat tebatas itu disebut tunnel vision. Tunnel vision TV terjadi pada setiap situasi. yakni manakala otak dipaksa untuk memproses bahan dalam bentuk informasi yang nonvisual. Namun. pada saat orang sedang membaca. dikenal istilah tunnel vision. Jika pembaca tidak dapat meggunakan informasi nonvisual itu sepenuhnya. Kemampuan membaca bergantung pada kemampuan menggunakan informasi secara ekonomis dan pada penggunaan informasi nonvisual sebanyak-banyaknya. maka penglihatannya akan sangat terbatas. Gangguan tunnel vision (TV) ini pun tidak hanya terjadi pada kegiatan membabaca. Tunnel vision bukanlah penyakit mata. sebab dia memproses informasi visual lebih dari yang semestinya. baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. 2) Pembaca yang enggan memanfaatkan informasi nonvisual akan mengalami TV. TV. seseorang tidak dapat membuat membuat prakiraan yang biasa terjadi sebagai akibat dari materi bacaan yang tidak terpahami.Dalam model membaca yang menunjukkan gerak dari atas ke bawah ini. maka materi cetak yang dapat dilihatnya pun sedikit pula. mungkin dia itu membaca tidak efisien. Hal ini bisa terjadi. maka pembaca akan mengalami hal yang sama. Jika pada waktu membaca. Pembaca selalu dihadapkan pada kemungkinan berbuat keliru. Jika sewaktu membaca. tunnel vision ini tampaknya tidak dapat dihindarkan dalam hal-hal berikut ini. seseorang hanya dapat menggunakan dan memanfatkan sebagian kecil saja informasi nonvisual. Akan tetapi. 1) Membaca sesuatu yang tidak bermakna akan menimbulkan TV. yakni peristiwa penyempitan pandangan. Penggunaan informasi nonvisual memang mengandung resiko. atau membaca dari belakang mata. . jika pembaca tidak melakukan kekeliruan dalam kegiatan membacanya.

Kalau dalam bacaanya seorang pembaca membaca rumah untuk kata asrama maka kesalahan seperti itu tidak perlu dikuatirkan. Dalam situasi yang mana pun dalam hidup kita ini. Sayang sekali. sebab sistem visual akan tertimbun oleh informasi visual yang diupayakan untuk diperolehnya dari materi bacaan. Bacaan yang terasa mudah bagi seorang anak mungkin sama sekali tidak bisa di prakirakan oleh anak lainnya. Jika pembaca membaca terlalu lambat akan menimbulkan TV. semakin besar rasa cemas seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. Dapatkah TV itu diatasi? Jika yang menjadi sebab terjadinya TV itu jelas. Jika pembaca enggan untuk membaca laju ke depan. jika dia mencoba membaca cermat setiap kata dalam setiap untaian kalimat maka dia akan menghadapi TV. kebiasaan jelek itu merupakan bahan pengajaran untuk meyakinkan bahwa dengan jalan demikian anak akan pandai membaca. 4) Kebiasaan membaca yang jelek menyebabkan terjadinya TV. maka penyembuhannya mudah dilakukan. asalkan pembaca berupaya untuk menggunakan informasi nonvisual yang semestinya. 3) Akibat terbesar yang disebabkan oleh keengganan terja di bila keengganan itu timbul karena kecemasan. sebab masalahnya sangat relalatif. Kecemasannya itu menimbulkan TV. maka guru harus mencarikan bahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan muridnya. jika dia mengulangulang bacaannya untuk mengingat hal-hal yang kecil-kecil. Jika TV pada anak timbul karena materi bacaannya tidak bermakna baginya. Formulaformula keterbacaan yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan .Kekeliruan tidak perlu dikuatirkan dalam upaya membaca. maka semakin banyaklah informasi yang dia perlukan sebelum mengambil keputusan itu. dan TV menghilangkan kemungkinan pemahaman yang layak. Rumus keterbacaan tidak dapat digunakan dalam hal ini.

penanganannya pun harus didekati secara individual. Di samping itu. dalam artian kelompok pembaca. bukan pembacanya. Membuat prakiraan itu mempunyai risiko. maka upaya untuk memahami bacaan melalui proses belajar tidak akan berhasil. TV pada anak mungkin timbul karena perasaan takut berbuat salah. Kemampuan membaca tidak sematamata akan membaik dengan pemberian tugas yang bertubi-tubi. Anak-anak yang menghadapi TV karena kebiasaan membaca yang jelek harus dipaksa untuk berlatih membaca cepat. TV terjadi pada anak secara individual. bahkan tidak pula akan dapat membaca seperti yang diharapkan. melalui film. sedangkan TV terjadi pada diri pembacanya. Anak-anak seperti itu harus diberi keyakinan bahwa membuat kesalahan itu tidak perlu ditakuti. formulaformula keterbacaan tidak akan banyak menolong untuk mengatasi TV pada seseorang. Mereka harus belajar membebaskan diri dari sifat was-was dan ragu-ragu yang mengganggu pikirannya itu. atau membacakan buku-buku yang ditugaskan kepada murid sebelum memulai pengajaran. formula-formula keterbacaan hanya menangani masalah bahan bacaan. karena banyak orang yang berhasil karena justru mereka belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya.wacana hanya sanggup mendeteksi kelayakan bahan bacaan tertentu untuk peringkat pembaca tertentu. Jika anak dihinggapi rasa takut. maka guru dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bacaannya itu. ceramah. Terlebih-lebih jika materi bacaan yang ditugaskan tersebut dipandang sukar oleh siswa. Karena itulah. mungkin dengan jalan memberikan pengalaman dari buku lain yang mudah bagi anak. Mereka harus diyakinkan bahwa membaca . dan sebagainya. Jika TV itu timbul karena anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang layak tentang isi bacaannya. Anak yang takut membuat kesalahan tidak akan dapat belajar. Caranya bermacam-macam. Oleh karena itu.

konsep MMTB dapat dilukiskan sebagai berikut. Secara sederhana.______ Tranformasi ______ transformasi MODEL INI BISA DIBUAT AGAK INTERAKTIF DENGAN UMPAN BALIK Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Dengan kemampuan membaca cepat yang lebih baik. melainkan suatu . tidak menunjukkan proses yang berurut-berlanjut. proses membaca tidak lagi menunjukkan suatu proses yang bersifat linier.lambat itu bisa menyelubungi makna bacaan. karena pada umumnya model-model tersebut bertitik tolak pada pandangan formalisme model-model perhitungan yang linear. Rumeljart mereaksi dua model membaca yang telah kita inggung di muka. Berbagai penelitian menunjukkan bukti bahwa membaca cepat dipandang efisien dan mempermudah upaya memahami isi bacaan. tidak interaktif. Banyak orang melambatkan bacaannya karena mereka takut tidak dapat memahami isi bacaan itu. Informasi Informasi ______ Transformasi _______ Sudah di. Dia beranggapan bahwa model-model yang terdahulu itu tidak memuaskan. Artinya.______ Tranformasi ______ transformasikan MMTB melukiskan MMBA dan MMAB berlangsung simultan pada pembaca yang mahir. maka pengetahuan yang diperolehnya pun akan semakin baik. Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) Model Membaca Timbal-Balik (MMTB) dicanangkan oleh teoris Rumelhart (1977). Model-model itu mempunyai sifat-sifat berurut-berlanjut. 4.

Paradigma yang diajukan Rumelhart untuk melukiskan proses membaca itu berlainan dengan paradigma-paradigma yang pernah ada sebelumnya. Para penganut paham MMTB percaya bahwa pemahaman itu bergantung pada informasi grafis atau informasi visual dan informasi nonvisual atau informasi yang sudah tersedia dalam pikiran pembaca. Ke dalamnya bisa masuk informasi sensoris. Dalam gambar yang berikut ini penyimpan informasi visual (PIV) mencatat informasi grafis. Dengan menggunakan formalisme yang dikembangkan dengan komputer. Dalam komputasi paralel selalu terjadi interaksi di antara proses-proses yang berlangsung berkelanjutan dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rumelhart itu sudah dijelaskan oleh para ahli yang terdahulu. baik disebabkan pembaca lupa akan informasi tersebut atau mungkin juga karena skemanya terganggu. Ciri-ciri yang disadap itu digunakan sebagai masukan untuk pemadu pola (PP). Oleh karenanya. MMTB sukar dilukiskan dalam diagram dua dimensi. PP merupakan komponen yang utama dalam model ini.proses timbal-balik yang bersifat simultan. Pada suatu saat MMBA berperan dan pada saat lain justru MMAB yang berperan. Rumelhart dapat menjelaskan secara tepat aspek-aspek membaca yang bersifat paralel dan yang bersifat interaktif. . PIV itu disentuh oleh alat penyadap ciri (APC). pemahaman bisa terganggu jika ada pengetahuan yang diperlukan untuk memahami bacaan yang dibacanya itu tidak bisa digunakan. Rumelhart mengajukan pendapat yang menyatakan bahwa membaca sebagai kegiatan yang meliputi berbagai tipe pemrosesan informasi dan unit-unit pemrosesan itu bersifat sangat interaktif dan berlanjut. penjelasan yang disampaikan para pendahulunya tidak mencapai tingkat kejelasan seperti yang dijelaskan oleh Rumelhart. informasi tentang kemungkinan-kemungkinan sintaksis. Akan tetapi.

Pengembangan gambaran proses membaca yang dibuat oleh Rumelhart merupakan sumbangan utama terhadap model-model membaca. menunjukkan adanya pengaruh berbagai tahapan (grafik. sintaksis.semantik. PP membuat keputusan berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalamnya itu. sintaksis. seperti Goodman dan Ruddel. dan sebagainya) terhadap kegiatan membaca dalam bentuk interaktif. Rumelhart menampilkan suatu model proses membaca yang menunjukkan komponen-komponen sensori. Yang tidak ada di dalam model itu ialah gambaran tentang kerja pemandu polanya sendiri. ditentukan. Mari kita perhatikan paradigma Rumelhart dalam gambar berikut. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan pemikiran ahli lain. leksikal. semantik. Pengetahuan Sintaksis Pengetahuan Semantik PIV Alat Penyadap Ciri Pemandu Pola Interpretasi yang paling layak Pengetahuan Ortografis Pengetahuan Leksikal Model yang dilukiskan dalam diagram di atas. Yang tidak dijelaskan dalam proses tersebut ialah bagaimana komponen-komponen itu berinteraksi. semantik. dikukuhkan atau ditolak oleh sumber informasi yang layak. kemudian disetujui. Hipotesis baru digeneralisasikan hingga pada akhirnya tercapailah hipotesis . berbagai hipotesis dirumuskan. Berbagai jenis informasi masuk ke dalam pusat berita. dan pragmatik yang diperoleh dalam bentuk interaktif untuk memperoleh pemahaman tentang bahasa tulis. dan struktur ortografis tentang berbagai untaian huruf.

tujuan. kebutuhan dan relevansi dari materi bacaan tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan memperkirakan dan menemukan makna bacaan itu ialah strategi pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan bahasa yang dimilikinya serta informasi pragmatik yang telah . ialah pembaca yang mampu mengatur kecepatan tempo bacaannya sesuai dengan sifat. Rumelhart telah melengkapi kita dengan pengetahuan tentang sebuah model yang cukup canggih. manfaat. membaca itu dipandang sebagai formulasi hipotesis. Dengan menggunakan model tersebut kita dapat mengatasi masalah yang berkenaan dengan proses kebahasaan seperti yang tampak pada perilaku pola membaca. Iteraksi antara hipotesis dan sumber informasi dapat ditandai secara matematis dalam model probabilitas. ke bagian yang menghendaki prakiraan. Model ini mempunyai ciri yang esensial yang menjelaskan betapa proses kebahasaan peringkat yang lebih tinggi (semantik dan makna) mempermudah proses kebahasaan peringkat rendah (huruf. dan betapa penguasaan atas peringkat yang lebih tinggi itu mempermudah penguasaan atas peringkat yang lebih rendah.yang paling layak. Pembaca harus dialihkan perhatiannya dari struktur lahir bahasa (kata. hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan besar bagi guru untuk menolong para siswanya menjadi pembaca yang fleksibel. dan akhirnya dibuatlah keputusan tentang hipotesis yang terbaik yang diterima sebagai makna. kata). kalimat. Dengan demikian. Dilihat dari bidang pengajaran. pengujian probabilitas dengan menggunakan serangkaian sumber informasi. dan sebagainya) ke struktur batin. huruf. Model membaca yang dikemukakan oleh Rumelhart itu mengingatkan pembaca agar informasi yang dimilikinya (meskipun jumlahnya sangat terbatas) dapat dimanfaatkan pada saat melakukan kegiatan membaca.

hal tersebut menunjuki kita pada berbagai konsep dan pandangan tentang berbagai metode pengajaran membaca. Kiranya kita perlu meninggalkan berbagai asumsi yang pernah menguasai metode pengajaran pada masa-masa silam. Itulah yang disebut kegiatan memanfaatkan informasi nonvisual. kemudian guru berpikir bahwa pengajaran membaca tidak mungkin dilakukan. Perlu ditanamkan keyakinan bahwa dalam hal ini bukanlah kehadiran guru dalam lingkungan itu yang pertama dan utama. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi yang mendorong siswa supaya bersikap aktif-kognitif agar dapat menjadi pembaca yang mahir. guru tidak perlu lagi terlalu memikirkan adanya kebolongan kosakata yang mungkin belum diketahui siswa. Informasi ini akan membantu siswa untuk merekontruksi makna dari lambang-lambang yang berupa cetakan. Para guru lebih baik meyakinkan para siswanya bahwa bagaimanapun para siswa tidak perlu berkecil hati dan frustasi dengan bacaan yang sarat dengan kosakata sukar yang tidak dapat dipahaminya. Latihan tersebut akan menolong mereka meningkatkan kemampuan membaca serta menemukan sendiri strategi yang paling tepat untuk dirinya dalam menghadapi bacaan. yang mendorong menumbuhkan minat baca yang positif.dimilikinya dalam proses menyimak dan berbicara. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Kemampuan membaca akan meningkat hanya dengan jalan melakukan kegiatan membaca itu sendiri. melainkan kehadiran siswa itu sendiri. Sebagai contoh. Dalam praktek pengajaran membaca. Yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah menciptatakan lingkungan yang kondusif. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan informasi siap (pengetahuan siap) yang telah dimilikinya dalam upaya memetik makna bacaan. Perubahan sikap seperti itu akan membuat mereka percaya diri dan bergantung pada kemampuan . Melakukan aktivitas baca sama dengan berlatih membaca.

Model yang dianjurkan oleh Rumelhart itu mendukung salah satu keyakinan yang secara intuitif telah diterima oleh banyak orang. Hambatan kosakata yang dialaminya akan diatasi sendiri dengan jalan memproses masukan linguistik dan memadukannya dengan aspek kognitif yang dimilikinya. . Prosedur-prosedur tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan berikut: diskusi. Cara lama yang masih banyak digunakan para guru ialah pemberian tugas membaca. Pengetahuan siap ini akan mempermudah proses memahami bacaan dengan lebih layak dan lebih baik. dan sebagainya. diskusi dulu. meskipun metode pemberian tugas ini tidak terlalu jelek dan merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangkinkan motivasi siswa. guru boleh berkeyakinan bahwa proses membaca akan berlangsung lebih baik jika prosedur penugasan itu dibalikkan. Dengan demikian. Pemberian tugas ini kadang-kadang merupakan tugas prasyarat untuk tugas berikutnya berupa diskusi. pertunjukan film. Banyak hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya membekali pengetahuan siap mereka. ialah bahwa pembaca akan lebih merasa terlayani jika kita membekali mereka dengan kesiapan untuk membaca materi yang disajikan kepada mereka. Tampaknya. bercerita. karyawisata. baru kemudian membaca. Kegiatan-kegiatan ini bermanfaat bagi para siswa dalam upaya membantu mereka untuk menggunakan latar belakang informasi (pengetahuan) yang dimilikinya. Bagaimanapun hal-hal yang dibawa pembaca ke dalam proses membacanya itu akan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh pembaca tersebut dari proses yang dijalaninya itu.sendiri. Para siswa tidak lagi akan bergantung kepada guru atau pun sumber-sumber lainnya yang datang dari luar pada waktu mereka menghadapi masalah-masalah dalam membaca. namun cara ini tampaknya sudah "ketinggalan zaman". Oleh karena itu.

bertanya dan bertanya. mudah-mudahan apa yang telah . Sebagai guru anda pun sudah terbiasa dengan pemberian rangsanga-rangsangan kepada para siswa anda agar mereka membuat prakiraanprakiraan. kita telah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui landas pijaknya. mungkin anda tergolong orang yang berpendapat bahwa model Rumelhart itu tidak menarik karena di dalamnya sesungguhnya tidak ada hal-hal yang baru bagi anda. Mungkin. antisipasi. anda mungkin sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang biasa timbul dalam pikiran anda selagi membaca. dan membaca untuk menguji hipotesis. baik sekolah menengah pertama maupun peringkat di atasnya. Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul selagi kita membaca merupakan cerminan dari proses interaktif dari kerja mata dan kerja kognisi pada saat kita merespon bacaan. Sebagai guru. SQ3R misalnya. Model membaca yang baik harus dapat menjelaskan teori berbagai pendekatan yang baik untuk membaca dan belajar. bagaimana pendapat dan komentar anda terhadap prinsipprinsip yang ada di dalamnya? Ya. Model ini sangat baik untuk mengakrabkan dan mendorong mereka dalam pengujian cara dan strategi membaca yang biasa mereka lakukan sendiri. membuat prakiraan. yang memungkinkan mereka untuk berpikir secara divergen.Dalam bidang metode pengajaran. model Rumelhart itu dipandang sebagai model yang sudah membaur dengan berbagai strategi pengajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya. memberikan dorongan kepada siswa untuk menyurvai. Setelah anda mempelajari dengan seksama konsep-konsep MMTB yang diprakarsai Rumelhart. hipotesis. klasifikasi. Dengan pengetahuan ini. Model Rumelhart berguna sekali untuk pengajaran membaca pada peringkat sekolah menengah. Model yang baik harus pula memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah pengajaran yang baru.

dimulai dari pemrosesan unit linguistik yang paling kecil. yakni huruf-huruf. Memang. Siswa perlu sekali membaca materi sebanyak-banyaknya sehingga mereka dapat memahami kata dalam konteks yang berbeda-beda. tidak bekerja secara berurutan seperti halnya dalam MMBA. MMTB sangat berbeda dengan MMBA seperti yang dikemuka kan oleh Gough. kata-kata. Sebaliknya MMTB membenarkan proses yang dimulai dari peringkat yang lebih tinggi. yakni suatu kondisi sebelum seseorang sampai pada halaman-halaman bercetak. dan dari situ kemudian bergerak ke depan dengan konsepkonsep interaksi. kemudian bergerak menuju pemrosesan kelompok huruf. MMBA bersifat linear dan berjenjang. Rumelhart boleh dikatakan tidak menyinggung masalah aplikasi itu. Guru yang terlalu sering memberi tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan muridnya akan membuat siswa terbunuh minat dan motivasinya. Yang perlu diperhatikan benar dalam hal ini ialah sikap murid. dan leksikon yang bekerja secara serempak. ortografi. Pada peringkat yang lebih tinggi itu ada bank data yang bekerja secara simultan. mungkin anda tidak melihat adanya pembicaraan tentang aplikasi. Dia memulai konsepnya dari halaman bercetak. kelompok kata. La Berge dan Samuel (1974). Kemampuan membaca dapat dikembangkan secara baik melalui pengayaan pengalaman membaca. Dalam model Rumelhart. kalimat. MMTB mulai dengan semantik atau makna kata. Dia tidak pula menyinggung masalah pramembaca. Salah satu upaya untuk . hingga akhirnya sampai ke makna. semantik. Kita memiliki sintaksis. Guru dapat membantu muridnya mempertinggi dan meningkatkan keterampilannya dalam membaca dengan jalan membimbing mereka untuk terus membaca sebanyakbanyaknya.kita lakukan tersebut dapat kita yakini sebagai sebuah kebenaran dan sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik.

dan pengenkodan. Mata yang terlalu sarat dengan masukan informasi visual akan memaksa alat itu untuk bekerja secara penuh sehingga dapat mengakibatkan kondisi "buta sejenak". Mata hanyalah sekedar penghantar infomasi. berlanjut pada kilasan. . lalu memasuki ikon. yang mengidentifikasi bacaan adalah otak. Peristiwanya terjadi di dalam otak. Model ini mengutamakan struktur-struktur yang terdapat di dalam teks. pendekodan. Pemilihan akan metode tertentu dalam pengajaran membaca sangat ditentukan oleh pandangan tentang model membaca yang dianutnya. MMAB memunyai landasan yang berbeda dengan MMBA. yang kesemua metode tersebut lebih memberi perhatian pada struktur yang tampak di dalam teks bacaan. RANGKUMAN Terdapat tiga model utama dalam proses membaca. MMAB berpendapat bahwa kerja mata harus ditekan seminimal mungkin. pada dasarnya merupakan proses penerjemahan. Informasi nonvisual dalam kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dalam MMAB sehingga proses membaca itu tidak lain dari proses berpikir. metode Bunyi. MMBA merupakan model yang tertua. yakni model membaca bawah-atas (MMBA). pencatat. librarian. dan model membaca timbal-balik (MMTB). merlin. Proses membaca yang terjadi pada MMBA. atau metode Alfabet. pendekod. Pengikut MMBA akan menggunaan metode Eja. Urutan proses tersebut bersifat linier yang diawali oleh masukan grafemik melalui sistem visual.membangkitkan minat baca siswa ialah dengan jalan menyediakan bahan bacaan yang kira-kira dapat menarik perhatian mereka. hingga akhirnya sampai pada TTKSMD. Dari ketiga model membaca tersebut. model membaca atas-bawah (MMAB).

Tentukan. Cobalah Anda identifikasi berdasarkan konsep ketiga model membaca yang telah kita bicarakan di atas. MMBA dan MMAB. yakni kedua model pertama tadi. Pengikut MMTB berkeyakinan bahwa mdel yang dianutnya itu akan memungkinkan guru untuk membantu para siswanya menjadi pembaca-pembaca yang fleksibel. pemrosesan kebahasaan yang lebih tinggi mempermudah pemrosesan kebahasaan yang lebih rendah. Membaca dipandangnya sebagai formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas dengan memanfaatkan serangkaian sumber informasi. bekerja secara serempak dan simultan. TUGAS DAN LATIHAN Perhatikan kasus-kasus yang disajikan berikut ini. Dia memperkenalkan huruf-huruf berikut: Ini a ----> ini /a/. termasuk cerminan dari model membaca yang manakah kasus-kasus tersebut? Kemukakan alasannya! 1) Seorang guru kelas I SD sedang mengajarkan membaca permulaan kepada para siswanya. Ini d ----> ini /d/.Menurut MMTB proses membaca itu bersifat interaktif. demikian seterusnya hingga seluruh huruf dalam abjad Indonesia selesai diperkenalkan. Metode pengajaran membaca permulaan yang demikian disebut "Metode Alpabetis" . Menurut MMTB. Ini b ----> ini /b/. Ini c ----> ini /c/.

2) Dalam sebuah permainan tebak kata, pemandu acara memperlihatkan tiga buah huruf dari tujuh huruf yang sebenarnya merupakan kelompok huruf yang membentuk kata yang bersangkutan. Peserta A dapat menebak bunyi kata itu dengan tepat, meskipun dia hanya dibantu dengan tiga buah huruf tadi; sementara kelompok B baru dapat menebak kata itu dengan tepat, setelah mereka melihat enam dari tujuh buah huruf yang seharusnya membentuk kata itu. 3) Proses membaca menurut model ini adalah sebuah proses yang meliputi formulasi hipotesis dan pengujian probabilitas. Proses membaca tidak terjadi secara berurutberlanjut, tidak terjadi secara linier. 4) Meningkatkan keterampilan membaca para siswa merupakan hal yang sangat penting; akan tetapi menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca jauh lebih penting. Memperkaya wawasan dan pengalaman siswa melalui penugasan membaca itu penting, tetapi menjaga sikap siswa dari kejenuhan dan kebosanan akan bahan bacaan juga tidak kalah penting. Banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan guru untuk kepentingan ini. 5) Pada jam pelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, Bu Ani bermaksud menyajikan bahan ajar membaca dengan mengambil tema bacaan "kekayaan budaya di wilayah nusantara". Teks yang hendak diberikan kepada siswa berjudul "Kupuk dalam Budaya Mandobo-Irian Jaya". Sebelum wacana itu diberikan kepada anak didiknya, Bu Ani bercerita tentang khasanah kekayaan budaya pada masyarakat di wilayah nusantara tercinta ni, termasuk budaya-budaya pada masyarakat Irian Jaya. Melalui perbincangan dan diskusi bersama di dalam kelas, Bu Ani mencoba menggali dan memperkaya khasanah latar belakang pengetahuan dan pengalaman siswa. Kegiatan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit. Selanjutnya, anak-anak

diminta membaca dalam hati teks wacana yang telah dipersiapkannya tadi. Kemudian, diadakan tanya-jawab di seputar isi bacaan tersebut.

MODUL 2: MODEL-MODEL MEMBACA

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 1: Model Top-Down Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 1

Kegiatan Belajar 2: Model Bottom-Up

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 2

Kegiatan Belajar 3: Model Interactive

Rangkuman Perlatihan Tes Formatif 3

KUNCI JAWABAN FORMATIF DAFTAR PUSTAKA

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

1. Pengantar Pada era informasi ini, sarana bacaan kian hari kian bertambah, sementara waktu yang kita miliki tetap tidak bertambah. Lantas, bagaimana kita dapat menyerap berbagai informasi dalam berbagai media cetak tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Satu-satunya cara adalah dengan jalan meningkatkan kecepatan membacanya. Bagaimana cara mengukur kecepatan membaca seseorang? Hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengadakan evaluasi kecepatan membaca? Pertanyaanpertanyaan evaluasi macam manakah yang perlu dikuasai guru untuk menguji kemampuan baca murid-muridnya? Upaya apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kecepatan membaca? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dapat anda temukan jawabnya pada uraian beberapa bab dari buku ini. Namun, pertanyaan tentang "bagaimana cara mengukur kecepatan membaca serta hal apa saja yang harus kita persiapkan untuk melakukan pengukuran tersebut" akan kita bicarakan dalam bab ini. Pengetahuan ini akan sangat bermanfaat bagi anda, baik untuk kepentingan anda sebagai guru atau sebagai pribadi, maupun untuk kepentingan murid-murid anda. Sebagai mahasiswa, anda tentu dihadapakan pada berbagai buku teks yang sifatnya wajib anda baca. Di samping itu, berapa jumlah buku-buku penunjang yang harus anda baca untuk melengkapi informasi dari bacaan utama atau dari buku teks tadi? Coba anda hitung jumlah mata kuliah yang anda kontrak! Silakan anda hitung sendiri, berapa buah buku atau berapa halaman bacaan yang harus anda baca dalam satu semester. Jika anda hanya mampu membaca 250 kata/menit, berapa lama waktu yang anda sisihkan untuk kegiatan membaca dalam setiap harinya? Denganilustrasi

Meskipun membaca bukan satu-satunya cara untuk studi. c) menggunakan rumus kecepatan efektif membaca. b) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. namun tidak seorang pun dari kita akan menyangkal betapa sumbangan dari keterampilan dan kegiatan membaca ini untuk keberhasilan belajar sangatlah tinggi. Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari bab ini. d) mengklasifikasi hasil pengukuran kecepatan efektif membaca siswa pada peringkat-peringkat pembaca tertentu. Penanaman pengertian tentang pentingnya membaca cepat dan penanaman keterampilan membaca cepat itu sendiri perlu dilakukan dan diupayakan sejak dini. tentu kita menyadari betapa kemampuan membaca cepat perlu kita miliki. Uraian bab ini bertujuan untuk membantu anda agar dapat mengevaluasi kecepatan membaca para siswa anda dengan berbagai alat ukur yang lazim digunakan dalam pengajaran membaca. bukan? Demikian juga dengan murid-murid kita. e) membuat persiapan untuk mengadakan evaluasi kecepatan efektif membaca. Mereka adalah para siswa yang setiap harinya dihadapkan pada kegiatan belajar untuk berbagai bidang studi. f) menentukan upaya tindak lanjut untuk memperbaiki KEM siswa. fungsi. anda diharapkan dapat: a) menjelaskan hakikat. dan pengertian KEM. anda dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuan itu kepada anak-anak didik anda. Secara khusus. .tersebut.

Ilustrasi ini menampilkan dua model contoh tuturan yang dilakukan secara kontras. rumus KEM (kecepatan efektif membaca. faktor-faktor yang mempengaruhi KEM. Anggapan itu sama sekali tidak benar. Hakikat dan Fungsi KEM Dewasa ini. ada orang yang beranggapan bahwa dengan membaca lambat pemahaman seseorang terhadap apa yang dibaca akan semakin baik. dengan membaca cepat pemahaman akan terhambat. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut. latihan menggunakan rumus KEM. sedangkan yang satunya lagi menunjukkan tuturan dengan kecepatan yang sangat lambat. (diucapkan kata demi kata) . 2. Kegiatan memahami bacaan pada hakikatnya sama dengan kegiatan memahami pembicaraan (tuturan lisan). (diucapkan berdasarkan satuan-satuan gatra atau satuan-satuan ide yang berupa kelompok-kelompok kata) Contoh (b) Minggu/ yang/ akan/ datang/ saya/ bermaksud/mengikuti/ ujian/ tahap/ kedua. Contoh (a) Minggu yang akan datang/ saya/ bermaksud mengikuti ujian/ tahap kedua. anda akan saya ajak untuk memperbincangkan hakikat kecepatan membaca. Yang satu menunjukkan tuturan dengan kecepatan biasa. Sebaliknya.Melalui uraian bab ini.

pada saatsaat tertentu pembaca dituntut untuk bersifat fleksibel di dalam menghadapi dan menyiasati bacaannya. Pengendara juga akan memperlambat kecepatan kendaraannya . orang yang memiliki kecepatan membaca tinggi cenderung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula. yang pertama (cepat) atau yang kedua (lambat)? Tentu kita akan lebih mudah menangkap tuturan yang dilakukan dengan cara (a). Melihat ilustrasi di atas. rasanya tidak ada alasan bagi seseorang untuk enggan menjadi pembaca cepat. Dengan pandangan sekilas saja. Memang. Sebab hasil penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kecepatan membaca yang tinggi cenderung memperlihatkan kemampuan memahami bacaan yang lebih baik ketimbang pembaca lambat. Penuturan cara pertama lebih mudah kita pahami.Cara penuturan pertama (a) dilakukan berdasarkan satuan-satuan kelompok kata yang berupa satuan-satuan unit ide sehingga penyampaiannya akan terdengar lebih cepat bila dibandingkan dengan cara penuturan (b) yang dilakukan secara kata demi kata. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa dengan membaca cepat tidak berarti pemahaman akan terhambat. ketimbang cara kedua. tetapi adakalanya pembaca butuh waktu yang relatif singkat. Justru sebaliknya. pembaca sudah dapat menangkap isi sebuah bacaan. karena setiap mengucapkan sebuah kata diselingi oleh penghentian sementara atau jeda pendek. Kegiatan membaca dapat diibaratkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. Kadang-kadang diperlukan waktu yang relatif lebih lama untuk memahamai sesuatu. Pengendara akan menghentikan lajunya kendaraan jika bertemu dengan lampu merah. Cara penuturan kedua (b) akan terdengar lambat. Cara penuturan mana yang lebih mudah ditangkap maknanya.

dan gaya membaca sesuai dengan semua faktor yang berkaitan dengan bacaan. metode. Akan tetapi sebaliknya. menentukan metode. pembaca yang demikian harus dapat mengatur kecepatan. membaca bagian atau penggalan tertentu dari suatu bacaan lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang membaca bagian lainnya. teknik. Dikatakan sebagai proses kognitif karena pada dasarnya . informasi fokus. fleksibilitas membaca dapat diartikan sebagai kemampuan menyesuaiakan strategi membaca dengan kondisi-baca. Menurut Tampubolon (1987). Hal-hal yang berkenaan dengan kecepatan. Kadangkadang. bahkan berhenti sejenak untuk melihat referensi/sumber bacaan lain yang dianggap mendukung informasi yang kita temui dalam bacaan kita. Kadang-kadang.manakala memasuki daerah macet atau jalan yang tidak mulus. dan jenis bacaan yang dihadapinya. sedangkan faktor tujuan. setelah memasuki jalan tol yang bebas hambatan kecepatan kendaraan akan dipacu sampai batas maksimal yang mungkin bisa dikendalikannya. Dengan demikian. Yang dikategorikan ke dalam pembaca efektif dan efisien itu ialah pembaca yang fleksibel. Meskipun demikian. pembaca cepat akan tetap mempertimbangkan waktu hentian dan pengurangan tempo baca untuk kecepatan baca secara keseluruhan. informasi fokus. Demikian juga dengan kegiatan membaca. Kemampuan baca yang kita bicarakan di sini adalah kemampuan membaca tigkat lanjut yang dalam praktiknya melibatkan proses kognitif. teknik. penuh dengan bekasbekas lubang galian dan tidak rata. dan gaya membaca disebut strategi membaca. Fleksibilitas baca memang sangat erat kaitannya dengan tujuan/maksud pembaca. Rasanya belum sempurna kemampuan membaca (baca: kemampuan memahami bacaan) seseorang jika tingkat kemampuan baca yang bagus itu tidak disertai dengan kecepatan baca yang bagus pula. dan jenis bacaan disebut kondisi-baca.

Sementara itu. Seseorang boleh dikatakan memiliki kemampuan baca yang baik jika dia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen.kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam membaca tingkat ini adalah kegiatan-kegiatan berpikir dan bernalar termasuk mengingat. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. Yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. pikiran. Pembicaraan tentang kemampuan-kemampuan motoris dalam membaca yang berupa gerakan mata itu erat kaitannya dengan masalah kecepatan membaca. Alat untuk mengukur kemampuan membaca itu dapat mempergunakan alat ukur tes. . Tes membaca dapat pula anda buat sendiri dengan memperhatikan perimbangan jenjang-jenjang pertanyaan bacaan. pengetesan itu dapat pula dilakukan sendiri. artinya rata-rata kecepatan bacanya adalah 400 kata per menit. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. Idealnya. pengukuran atau pengetesan kemampuan membaca itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain agar penilaiannya lebih objektif. meskipun pada taraf penerimaan lambanglambang tertulis diperlukan kemampuan-kemampuan motoris berupa gerakan mata. Untuk mengetahui persentase kemampuan membaca seseorang tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. jadi. jika seseorang dapat membaca bacaan yang panjangnya lebih kurang 2000 perkataan dalam tempo lima menit. Namun. Kemampuankemampuan kognitif yang dimaksud di sini adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. seperti yang akan kita bicarakan pada bab tersendiri setelah bab ini.

Sekarang.3. Gina tak menghiraukan kedatangan andakarena dia tengah asyik dengan bacaannya. . Baik KEM maupun KE mengandung pengertian yang sama. Seperti juga kali ini. Dengan kata lain. Bukuitu sekarang sedang berada di tangan anda dan secara serius anda membaca dan mempelajarinya secara seksama. Ilustrasi (1) Anda sedang dihadapkan pada masa-masa ujian akhir semester. mari kita renungkan ilustrasi berikut. selalu memanfaatkannyauntuk membaca di perpustakaan sekolah. Gina. Pengertian KEM Kecepatan Efektif Membaca (KEM) sering pula disebut dengan kecepatan efektif (KE) saja. Ilustrasi (2) Meskipun waktu istirahat adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari jamjam belajar. Mengapa KEM itu dikatakan sebagai cerminan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi sebagai hasil dari proses membaca yang telah dilakukan seseorang. Sebagai bahan persiapan untuk kepentinganujian besok pagi. ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. namun salahseorang murid anda. anda mempersiapkan diri dengan membuka-buka dan membaca kembali buku-buku literatur yang diwajibkan untuk mata uji besok pagi. KEM merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan.

saya ingin mengajak anda untuk memperhatikan proses membaca yang dialami (dilakukan) orang lain di luar diri kita. kita dapat melihat titik kesamaan dalam proses membaca. pertanyaan itu akan berbunyi "faktor-faktor atau komponen-komponen apa sajakah yang bekerja paling dominan pada saat orang melakukan kegiatan baca?" Tentunya kita sepakat bahwa kegiatan membaca itu melibatkan dua komponen utama. saya mengajak anda untuk mengingat-ingat proses membaca yang anda alami. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Dengan mengetahui unsur/komponen utama yang terlibat dalam kegiatan membaca.Melalui ilustrasi pertama. Kemampuan fisik meliputi kemampuan mata. Melihat kedua ilustrasi tersebut. Dikatakan "kecepatan efektif" karena pada dasarnya KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. yakni kemampuan mata dalam melihat lambang-lambang grafis dan kemampuan pikiran dalam menangkap dan memaknai lambang-lambang grafis tersebut menjadi sebuah informasi yang utuh dan lengkap. selanjutnya kita sebut kemampuan visual. selanjutnya kita akan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan apa itu "kemampuan membaca" atau selanjutnya lazim disebut KEM. Kemampuan di sini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Kalau kita ubah ke dalam bentuk pertanyaan. Apa sebenarnya KEM itu? Seperti sudah dijelaskan di muka. Melalui ilustrasi kedua. . yakni dalam hal faktor-faktor utama yang terlibat dalam proses membaca tersebut. Sementara kemampuan psikis yang melibatkan kemampuan berpikir dan bernalar kita sebut kemampuan kognisi.

mari kita bicarakan dulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca. maka yang terbayang dalam benak kita adalah jumlah kata per menit. Masalah selanjutnya. bahan bacaannya itu . Jika kita berbicara masalah kecepatan membaca. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KEM Kecepatan baca seseorang tidak harus selalu konstan. teknik-teknik membaca. Jika kita alihbahasakan. bagaimana cara menentukan atau mengukur KEM seseorang atau bahkan mungkin KEM kita sendiri? Pertanyaan ini akan kita jawab nanti pada uraian tentang "Rumus KEM". Perpaduan dari kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan atau perpaduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi dalam proses membaca disebut KEM. dan sebagainya? Oleh karena itu.Beberapa pakar pendidikan dan pengajaran membaca menyamakan istilah KEM ini dengan istilah "Speed Reading". motivasi. dalam arti pembaca melakukan kegiatan membaca dengan kecepatan yang sama untuk setiap bahan bacaan yang dihadapinya. tingkat keterbacaan bahan bacaan. Dua komponen utama yang terlibat dalam proses/ kegiatan membaca sudah tercakup di dalamnya. Mengapa demikian? Tentu saja. Selanjutnya timbul pertanyaan. "speed reading" dapat diartikan sebagai "kecepatan membaca". istilah "kecepatan membaca" kita beri keterangan dengan istilah "efektif" sehingga menjadi kecepatan efektif membaca atau lebih populer disebut KEM. 4. KEM merupakan cermin dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. bukankah jika kita berbicara tentang kecepatan membaca akan berimplikasi terhadap tujuan membaca. bagaimana dengan masalah pemahaman isi bacaannya. Di samping itu. yakni rata-rata tempo baca untuk sejumlah kata tertentu dalam waktu tempuh baca tertentu. jika yang dimaksud dengan kecepatan membaca itu adalah kecepatan rata-rata baca. Sebelum itu. proses berpikir dan bernalar.

Guru perlu menyadari kecepatan membaca siswanya itu berbeda-beda. Membaca untuk kepentingan penulisan kritik dan esei tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan sekedar memenuhi rasa ingin tahu. puisi) berbeda dengan membaca prosa ekspositoris. Membaca karya sastra (novel. tentu ia akan meningkatkan kecepatan bacanya. ada yang lambat tapi tidak sedikit pula yang cepat. sedang. dan sebagainya. Pembaca akan berusaha menemukan ide-ide utama atau gagasan-gagasan penting saja dan menghiraukan hal-hal kecil atau rincian-rincian khusus dalam bacaannya tersebut. kadar kepentingan seseorang melakukan kegiatan membaca itu pun akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu. Membaca untuk kepentingan hiburan tentu akan berlainan dengan membaca untuk kepentingan perolehan informasi. pembaca dapat memperlambat tempo kecepatan bacanya. bacaan fiksi-nonfiksi. Kecepatan baca yang memadai hanya akan diperoleh melalui latihan yang intensif dan . Pembaca yang efektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. ada bacaan ringan. cerpen.sendiri tidak selalu sama. Perhatian guru hendaknya terpusat pada siswa yang mempunyai kecepatan membaca yang tergolong lambat. bacaan sosial-eksak. Kalau pembaca menginginkan informasi menyeluruh tentang kejadian hari ini dengan segera. Di samping itu. Jika tujuan membacanya hanya sekedar ingin menikmati karya sastra secara santai. Yang dimaksud fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat membaca sesuai dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut. akan terjadilah apa yang dinamakan fleksibilitas kecepatan baca. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan kecepatan baca seseorang tidak harus sama dalam segala situasi dan kondisi. sukar.

Ada yang beranggapan bahwa kecepatan baca yang dimilikinya itu harus dipergunakan bagi semua kegiatan membaca tanpa menghiraukan tujuan yang hendak diperolehnya.berkesinambungan. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. yakni kemampuan visual yang berkenaan dengan kecepatan rata-rata baca. akan tetapi bukan berarti harus menggunakan kecepatan baca yang sama untuk semua situasi kegiatan baca yang berbeda-beda. anda harus berupaya menanamkan pengertian kepada murid anda bahwa memiliki kecepatan baca yang tinggi itu akan sangat penting artinya dalam mengarungi kehidupan di abad informasi ini. yang penting bagi guru sekarang adalah bentuk-bentuk upaya apa sajakah yang dapat dan harus dilakukan untuk meningkatkan kecepatan baca siswanya serta bagaimana siswa dapat memanfaatkan kecepatan itu secara fleksibel dalam menghadapi bahan bacaannya tersebut. Dengan demikian. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Ketepatan mendiagnosis sumber-sumber penyakit yang diduga sebagai faktor penghambat kemampuan membaca siswa dapat memberi petunjuk bagi para guru dan orang dewasa lainnya dalam menangani masalah-masalah membaca. Hal ini akan sangat bermanfaat di dalam menentukan keputusan instruksional yang paling tepat untuk pembinan dan pengembangan kemampuan membaca siswanya. Di samping itu. Sebagai guru. dan kemampuan kognisi yang berkenaan dengan kemampuan memahami isi bacaan. guru juga perlu menyadari tidak semua pembaca mengetahui bahwa keflek sibelan kecepatan baca sangat erat kaitannya dengan tujuan membaca. KEM menuntut dua kemampuan utama. . Pertanyaan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi KEM merupakan suatu yang penting untuk diketahui setiap pembaca atau siapapun yang berurusan dengan pendidikan dan pengajaran membaca.

tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness). Mahasiswa yang memiliki KEM berkisar 250 kpm tidak lagi akan mempunyai waktu untuk beristirahat (lihat Harjasujana. di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika hal ini dikaitkan dengan upaya mengejar kemajuan zaman dalam kancah perjuangan hidup yang serba cepat dan dinamis ini.000 kata per minggu. jika mereka menginginkan keberhasilan yang memuaskan dalam setiap ujian yang ditempuhnya. Keenam hal tersebut meliputi: (a) fasilitas bahasa lisan. dipastikan dapat mencapai KEM yang sesuai dengan harapan. Jika dihitung KEM-nya. (b)latar belakang pengalaman. dan . tampaknya KEM seperti itu tidak akan mampu mengimbangi laju-pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman. maka seorang lulusan SMU diharapkan sekurang-kurangnya memiliki KEM 175 kpm. (c) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual.Pembaca yang memiliki kedua komponen keterampilan utama ini dalam kegiatan membaca. Keadaan ini lebih parah lagi jika dikaitkan dengan persiapan mereka untuk memasuki lingkungan perguruan tinggi. Pada tahap-tahap awal. (d)intelegensi. Burron dan Claybaugh (1977) mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan "reading readness". seorang lulusan setara SMU di negara kita (Senior High School) diharapkan sudah memiliki kecepatan membaca minimum kira-kira 250 kata per menit (kpm). karena seperti juga diungkapkan Baldridge (1987) volume bacaan mahasiswa harus mencapai 850. dengan pemahaman isi bacaan minimum 70% (Lihat Tampubolon. 1987). 1988). (e) sikap dan minat. Dalam keadaan normal.

yakni sikap. misalnya. pemahaman konsep-konsep linguistik. dan kematangan emosi dan sosial) merupakan bekal bagi pembaca pemula dalam belajar membaca. kebiasaan. Ommagio (1984) . sementara yang paling besar urunannya terhadap kemampuan membaca adalah faktor intensitas baca. sebesar 10% merupakan urunan dari faktor lain-lain.c. Namun. Sisanya. Faktor ini hanya berurun sekitar 25%. dan e (latar belakang pengalaman. pemahaman makna kata. menunjukkan bukti bahwa faktor intelegensi tidaklah terlalu berkontribusi terhadap kemampuan membaca seseorang. Salah satu komponen pengukuran KEM adalah pengukuran terhadap pemahaman bacaan sebagai wujud dari pengukuran kognisi. dan motivasi membaca termasuk di dalamnya latar belakang pengalaman membaca. Dari ketiga faktor yang disebut terakhir yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi KEM pada tingkat lanjut. d. yakni sebesar 65%. dan f (fasilitas bahasa lisan. memang ada hal penting yang perlu dicatat. diskriminasi auditori dan visual. Butir a. dan lain-lain. intelegensi. dan sikap dan minat) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. Hasil penelitian Yap (178). minat. mengingat "language development" dirincinya lagi pada kemampuan-kemampuan yang lebih spesipik.(f) kematangan emosi dan sosial. Dengan maksud yang sama namun menggunakan istilah yang berbeda. Faktor ini berkenaan dengan faktor sikap dan minat. sementara butir b. Kemampuan-kemampuan dimaksud meliputi pengembangan konsep kosakata. keterampilan analisis kata. Alexander tampaknya memberikan rincian yang lebih detil mengenai hal ini. Heilman (1972) dan Alexander (1983) menyodorkan pandangan yang sama mengenai faktor-faktor "reading readness".

Ommagio tampaknya lebih menyoroti faktor pembacanya. maka proses pemahaman bacaan tidak akan mendapat hambatan yang berarti. Seperti juga pendapat Heilman. antara lain: (a) latar belakang pengalaman. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Harjasujana (1992). . sekurang-kurangnya terdapat lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana. Dalam upaya mencapai pemahaman bacaan.berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan dari pengetahuan bahasa. dan (e) berbagai afeksi seperti motivasi. Jika pembaca memiliki dan menguasai ketiga faktor di atas. sikap. Harjasujana pun tampaknya lebih menyoroti aspek pembacanya ketimbang aspek lainnya dalam menyoroti masalah faktor-faktor pemengaruh KEM seseorang. dan Rupley (1981) yang mengetengahkan empat hal yang dipandang berperanan penting di dalam proses pemahaman bacaan. dan perasaan. (b)kemampuan berbahasa. Blair. gaya kognitif. Menurutnya. minat. (c) kemampuan berpikir. Kebanyakan ahli tampaknya memandang faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pemahaman bacaan berpusat pada faktor pembaca. Kelima faktor tersebut meliputi: (a) latar belakang pengalaman. dan (d)berbagai strategi identifikasi tulisan. (c) pengetahuan tentang berbagai tipe pengorganisasian tulisan. (b)tujuan dan sikap pembaca. (d)tujuan membaca. keyakinan. dan pengalaman membaca.

teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang rendah relatif lebih sulit dibaca. namun bagaimana menumbuhkan keinginan membaca jauh lebih penting. Teks yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi relatif lebih mudah dibaca. materi bacaan yang disuguhkan dengan bahasa yang sulit menyebabkan bacaan itu sulit dipahami dan mengakibatkan frustasi bagi pembacanya. Meskipun pengetahuan bahasa itu penting. Teks yang memenuhi kriteria keterbacaan wacana. Keterbacaan menurutnya. tidak hanya bergantung pada bahasa teks. Setiap guru dituntut untuk dapat memilih dan menyeleksi bahan bacaan yang begitu banyak dan beragam sesuai dengan tingkat keterpahaman pembacanya. Ketidaktahuan akan bahasa dapat menghalangi pemahaman. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca ini adalah faktor keterbacaan wacana. melainkan juga bergantung pada pengetahuan pembaca tentang teks serta bagaimana ketekunan dan ketajaman membacanya. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca pada pembacanya.Williams (1984) mengomentari perihal faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu sebagai berikut. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca siswa itulah faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. yang sesuai dengan peringkat pembacanya dapat mendorong minat baca pembacanya. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. Bahan . Tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Selanjutnya. Menurutnya. beliau mengaitkan hal tersebut dengan keterbacaan wacana (readability). Faktor tingkat keterbacaan yakni tingkat mudah-sukarnya bacaan bagi peringkat pembaca tertentu juga mempengaruhi kecepatan baca seseorang. sebaliknya.

atau bahkan cenderung di bawah kemampuan pembacanya. Rumus yang satu misalnya. akan dilahapnya dalam waktu yang relatif cepat. Dewasa ini. Masalahnya bagi guru (termasuk anda) sekarang ini adalah bagaimana upaya memilihkan bahan-bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan siswanya dan bagaimana meningkatkan kemampuan baca siswa itu dengan tidak mengabaikan faktor kecepatan bacanya. tampaknya rumus-rumus yang ada belum dapat menampung dan mengantisipasi berbagai faktor yang diduga dapat menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat keterbacaan wacana. Rumus yang lain lagi ada yang menggunakan tolok ukur semantik dan kecanggihan sintaksis. Pembaca membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencerna bahan bacaan yang seperti itu. Bahan bacaan yang demikian tentu saja tidak dapat dicerna dengan mudah dalam waktu yang relatif cepat. hanyalah mempertimbangkan tingkat kekerapan kosakata. Namun. Kosakata yang mempunyai tingkat kekerapan yang tinggi dalam penggunaannya (termasuk kelompok seribu) tergolong ke dalam kosakata mudah. Sebaliknya. bahan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang layak dengan pembacanya. Beberapa rumus keterbacaan yang lain menggunakan kombinasi jumlah kata-kata sukar dan jumlah kalimat. sedangkan kosakata yang tidak termasuk ke dalam kelompok seribu dalam kekerapan pemakaiannya dianggap sulit. banyak formula-formula keterbacaan wacana yang telah diperkenalkan para ahli yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur keterbacaan wacana (uraian tentang hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri di bagian muka nanti).bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya dianggap mempunyai tingkat keterbacaan yang rendah. .

Yang dimaksud dengan faktor kebiasaan di sini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada saat membaca (membaca dalam hati/pemahaman). jika membaca tanpa disertai minat dan motivasi bukan saja berefek negatif terhadap kecepatan membacanya. belum ada penemuan rumus-rumus keterbacaan yang bisa mengukur secara mendalam latar belakang pengalaman. misalnya saja pembaca sama sekali enggan menyentuh bahan bacaan tersebut. minat. tingkat kematangan. bagi guru. dan tujuan membaca. Sampai sekarang. Dengan kata lain. rumus-rumus keterbacaan itu harus dianggap sebagai upaya untuk mengukur tingkat kesukaran prosa yang masih perlu diteliti berdasarkan pengalaman dan penalarannya sendiri. kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang bersifat intrinsik dari diri pembaca itu sendiri. sehingga dengan tanpa disadarinya gerakan mata akan meluncur dengan cepat untuk segera dapat memenuhi keinginannya tersebut dengan cepat pula. Sebaliknya. unsur "pertimbangan" guru itu sendiri berperanan penting di dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana. (b)membaca dengan gerakan bibir. melainkan bisa lebih fatal dari itu.Bagaimanapun saran Harjasujana (1987) mengenai penggunaan formulaformula keterbacaan ini tampaknya perlu mendapat perhatian para guru. Kebiasaan-kebiasaan buruk antara lain: (a) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring). . Faktor minat dan motivasi seseorang dalam membaca juga turut berpengaruh terhadap kecepatan bacanya. Minat dan motivasi yang tinggi. akan berefek positif terhadap kecepatan baca seseorang. Menurutnya. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. baik terhadap bahannya maupun terhadap kegiatan membacanya.

tentu saja kebiasaan-kebiasaan buruk di atas hendaknya dihindari manakala kita sedang melakukan kegiatan membaca. pena. atau alat lainnya. (f) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran). kelompok kata. (g)membaca kata demi kata. (h)membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna. (e) membaca dengan pengulangan kata. (i) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental).(c) membaca dengan gerakan kepala. Kesemua kebiasaan buruk di atas akan memperlambat kecepatan membaca orang yang bersangkutan. Untuk mengatasinya. (d)membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari. atau baris bacaan (regresi). .

MODUL 3: KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Hakikat dan Fungsi KEM Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Faktor yan Mempengaruhi KEM Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Cara Menggunakan KEM Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAFTAR PUSTAKA .

dan teratur) akan mengasah kecepatan baca seseorang ke arah pencapaian KEM yang lebih baik. teknik ini juga . tangan. c) Teknik baca-layap atau skimming atau dikenal juga dengan istilah membaca sekilas. yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. dan jenis membacanya. jari. Aktivitas fisik yang benar-benar diperlukan dalam membaca pemahaman hanyalah gerakan mata semata. bahan. aktivitasaktivitas fisik lainnya seperti gerakan bibir. Sementara itu. sebelum melakukan kegiatan membaca tersebut. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektifitas dan efisiensi membaca. dan sebagainya hanyalah menambah beban kerja fisik yang berakibat buruk pada kecepatan baca seseorang. Maksudnya. yaitu membaca bahan bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. pembaca telah melakukan pemilihan/seleksi bahan terlebih dahulu. Satu hal lagi yang perlu dicamkan bahwa ternyata intensitas baca yang baik (sering. kepala. Selain itu. bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan keperluannya atau bagian. Faktor lain yang mepengaruhi kecepatan efektif membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca yang tepat sesuai degan tujuan. Membaca frase demi frase jauh lebih cepat ketimbang membaca kata demi kata.bagian bacaan yang sudah dikenalnya/dipahaminya tidak dihiraukan. Teknik-tenik membaca yang umum dikenal orang adalah: a) teknik baca-pilih atau selecting.mahaman (membaca dalam hati). b) Teknik baca-lompat atau skipping. Dalam hal ini. Dengan membaca kata demi kata pembaca akan terjebak pada upaya memahami makna literal sebuah kata ketimbang gagasan pokoknya. yaitu membaca dengan cepat atau menjelajah untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan lainnya secara menyeluruh. kontinyu.

3) Mengetahui bagian penting tanpa harus membaca seluruh bacaan.dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi (menduga). apakah suatu bacaan atau bagian-bagian tertentu dari bacaannya itu berisi informasi tertentu. 2) Mengetahui pendapat orang (opini). 4) Mengetahui organisasi penulisan. misalnya dalam mmepersiapkan ujian atau ceramah. Setelah pembaca mengetahui topik yang dibahas. Teknik ini dipergunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini. Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting atau intisari suatu bacaan. dia juga ingin mengetahui pendapat penulisnya terhadap masalah tersebut. hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang perlu dipelajari atau perlu diingat. yaitu suatu teknik pembacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh inforsi khusus/tertentu dari bacaan. Teknik baca-tatap atau scanning atau dikenal juga dengan istilah sepintas. 1) Mengenali topik bacaan. Suatu kesimpulan itu biasanya diletakkan pada bagian akhir bacaan. Pembaca yang menggunakan teknik ini akan langsung membaca bagian tertentu dari bacaannya yang berisi informasi/fakta yang diperlukannya tanpa menghiraukan bagian-bagian lain yang dianggapnya tidak relevan. Pembaca hanya melihat seluruh bacaan itu untuk memilih ide-ide yang dianggapnya penting dan baik. misalnya mengenali kesan umum suatu buku untuk melihat relevansi isi bacaan dengan keperluan pembacanya atau memilih suatu artikel dari majalah/surat kabar untuk kliping. Teknik scanning biasa digunakan untuk hal-hal berikut: . urutan ide pokok. 5) Menyegarkan apa yang pernah dibaca. tetapi tidak membacanya secara lengkap.

6) mencari data-data statistik. Yang penting bagi pembaca adalah bagaimana dia dapat memilih. melainkan dipadukan dengan teknik-teknik lainnya. kita juga perlu menguasai metodemetode membaca yang efektif dan efisien. Pembicaraan tentang metode membaca dapat dilihat pada buku-buku lain . Burnes (1985) mencoba mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan tersebut ke dalam tiga kategori. metode PQRST. dan lain-lain. Bahkan sering terjadi keempat teknik ini dipergunakan sekaligus secara bergiliran dalam suatu kegiatan membaca. Keempat teknik membaca di atas. pada umumnya jarang dipergunakan dalam bentuk tunggal atau berdiri sendiri. 2) mencari makna kata tertentu dalam kamus. Di samping teknik-teknik membaca di atas. 7) mencari acara siaran TV. dan menggunakan teknik membaca yang tepat/cocok dengan sifat informasi yang diperlukannya sehingga memnuhi tuntunan efektifitas dan efisiensi membaca. Metode-metode tersebut misalnya membaca frase. 3) mencari keterangan tentang suatu istilah pada ensiklopedia. dokter jaga. metode SQ3R. tampaknya diilhami oleh . menentukan. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factors). dan faktor-faktor yang berkaitan dengan teks (text-related factors). daftar perjalanan. faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis/pengarang (author-related factors). Pengklasifikasian terhadap faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dari Burnes di atas. dan sebagainya.1) mencari nomor telepon. 5) mencari definisi sebuah konsep menurut para pakar tertentu. 4) mencari entri atau rujukan sesuatu hal pada indeks. Berbeda dengan para ahli di atas. metode PQ3R.

focus Assumptions I Structural I Assumption about N reading about reader.N ture of author T E Knowledge Background X E Ideas X Knowledge Text N Cognitive structure T of reader T Relationship T Background U between ideas U Purpose L A A Purpose.text N tendencies references F L Cohesion Theme mode of publication U F L U Assumption about E text N E Stylistic N tendencies C C .model pemahaman interaktif yang diusulkan Tierney & Mosenthal (1982). interest. Model dimaksud tampak pada gambar berikut. attentiL on. ____________________________________________________________ DISCOURSE PRODUCTION (Author) C DISCOURSE COMPREHENC SION (Reader) __________________ O__________________O_____________________ Cognitive struc.

Faktor-faktor dalam meliputi kompetensi bahasa.minat dan motivasi | (internal) |. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas. Menurut beliau. Jika pengklasifikasian faktor-faktor pemengaruh KEM tersebut kita buat skematiknya. Model pemahaman interaktif dari Tierney dan Mosenthall (1982). minat. motivasi.Faktor dalam |. Hafni. 1978.kompetensi bahasa /--.. dan kemampuan membaca. guru. 1981). Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks.E S E Strategies S ___________________________________________________________ Gambar 1. International Reading Association. model pengajaran.. 1985:47) Dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. /. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). pendapat Pearson dipandangsebagai cermin dari kesimpulan pendapat-pendapat di atas. dan lain-lain (Pearson. Faktor-faktor yang termasuk faktor dalam tersebut bersumber pada diri pembaca. dan (b) sifat-sifat lingkungan baca.sikap dan kebiasaan . (dalam Burnes & Page.. faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. yakni (a) unsur dalam bacaan. Faktor luar dibaginya lagi menjadi dua kategori. maka akan tampak skema seperti berikut ini.

Faktor- | faktor | pemenga- | ruh KEM |

\- - intelegensi/kemampuan

/- - unsur dalam bacaan | * keterbacaan wacana

| Faktor luar | * organisasi teks/tulisan \--- (eksternal) \- - sifat lingkungan baca * fasilitas * guru * model PBM dll. (Gambar 2: Skema faktor-faktor pemengaruh KEM)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, tampaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan itu bukanlah faktor-faktor yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak juga bersifat hierarkis. Setiap faktor saling berkaitan. Pendapat tentang faktor mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemahaman bacaan, juga masih simpang siur. Ahli yang satu berpendapat bahwa kuantitas membacalah yang paling dominan pengaruhnya, sementara ahli lain memandang inteligensi sebagai faktor yang dipandang paling dominan, dan ahli yang lain lagi memandang bahasa sebagai sentral dari pemahaman.

5. Mengukur Kecepatan Efektif Membaca Seperti telah dijelaskan di muka, KEM itu merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan. Kecepatan rata-rata

baca merupakan cermin dari tolok ukur kemampuan visual, yakni kemampuan gerak motoris mata dalam melihat lambang-lambang grafis. Pemahaman isi bacaan merupakan cermin dari kemampuan kognisi, yakni kemampuan berpikir dan bernalar dalam mencerna masukan grafis yang diterimanya lewat indera mata. Untuk menentukan KEM seseorang diperlukan data mengenai rata-rata kecepatan bacanya dan persentase pemahaman isi bacaan. Data mengenai rata-rata kecepatan baca dapat diketahui apabila jumlah kata yang dibaca dan waktu tempuh bacanya diketahui. Cara menghitung rata-rata kecepatan baca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membaca sebanyak 2500 perkataan dalam waktu 5 menit, artinya kecepatan rata-rata baca pembaca tersebut adalah 500 kpm (2500 : 5 = 500). Sementara itu, untuk memperoleh data tentang persentase pemahaman isi bacaan yang objektif (bukan perkiraan), tentu diperlukan suatu alat untuk mengukurnya. Alat tersebut berupa tes (masalah ini akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Untuk menentukan persentase pemahaman seseorang terhadap bahan bacaan yang dibacanya ialah dengan cara membagi sekor bobot tes pemahaman isi bacaan yang dapat dijawab pembaca dengan benar dengan bobot/skor ideal kemudian diperkalikan dengan 100 (persen). Misalnya, jika seseorang dapat menjawab dengan benar tes pemahaman isi bacaan sebanyak 32 dari sekor ideal 50, maka persentase pemahaman isi bacaan pembaca yang bersangkutan adalah 64% (32/50 X 100% = 64%). Berpedoman kepada pengertian KEM, yakni perpaduan antara kemampuan visual dan kemampuan kognisi, maka contoh-contoh penghitungan KEM untuk data di atas dapat ditentukan KEM-nya. Dari hasil penghitungan rata-rata kecepatan baca diperoleh data 500 kpm; dari hasil penghitungan persentase pemahaman isi bacaan

diperoleh data 64%. Maka penghitungan KEM-nya adalah 500 X 64% = 320 kpm. Angka terakhir ini (320 kpm) merupakan kecepatan efektif membaca yang sudah menyertakan pengukuran dua unsur penyokong kegiatan baca, yakni kemampuan gerak mata dalam melihat lambang-lambang cetak dan kemampuan memahami isi bacaan. Sementara angka 500 kpm itu merupakan kemampuan kecepatan rata-rata baca yang belum menyertakan unsur pemahaman isi bacaan. Selanjutnya, berdasarkan ilustrasi di atas, sekarang kita dapat membuat beberapa alternatif rumus KEM yang dapat dipergunakan untuk menghitung dan menentukan KEM seseorang. Alternatif rumus-rumus tersebut antara lain sebagai berikut ini.

(1)

K

B

---- X ---- = ... kpm Wm SI

(2)

K

B

----- X ---- = ... kpm Wd:60 SI

(3)

K

B

---- (60) X ---- = ... kpm Wd SI

Keterangan: a) K : jumlah kata yang dibaca

b) Wm : waktu tempuh baca dalam satuan menit c) Wd : waktu tempuh baca dalam satuan detik d) B : sekor bobot perolehan tes yang dapat dijawab dengan benar e) SI : sekor ideal atau sekor maksimal f) kpm: kata per menit

Untuk memudahkan proses pengukuran/penghitungan KEM, ikutilah prosedur kerja di bawah ini. 1) Tandailah bacaan anda/pembaca, di mana anda/pembaca memulai bacaan dan di mana pula berakhirnya, kemudian hitunglah jumlah kata yang telah (berhasil) anda baca itu dengan jalan: (a) menghitung jumlah kata per baris (sebagai sampel); (b)menghitung jumlah baris per halaman, lalu dikalikan dengan hasil penghitungan butir (a) menghasilkan jumlah kata per halaman. (c) menghitung jumlah halaman yang berhasil dibaca; (d)memperkalikan hasil penghitungan (b), yakni jumlah kata per halaman dengan hasil penghitungan (c), yakni jumlah halaman, menghasilkan jumlah seluruh kata yang telah dibaca. Contoh : • Jumlah kata per baris = 11 • Jumlah baris per halaman = 35 • Jumlah halaman yang dibaca = 10 maka akan diperoleh: • Jumlah kata per halaman 11 X 35 = 385 kata • Jumlah kata yang dibaca (secara keseluruhan) adalah 10 x 385 = 3850 kata.

30 (c) hitung waktu tempuh baca dengan jalan (b .= 700 kpm 5.5 *) Menggunakan rumus (2) atau (3): 3850 -----. 3) Hitung rata-rata kecepatan bacanya dengan jalan membagi jumlah kata (langkah 1) dan waktu tempuh baca (langkah 2) jika waktu tempuh baca dalam bentuk menit gunakan rumus (1).15 (b)catat waktu berakhirnya membaca.= 700 kpm 330:60 4) Tentukan persentase pemahaman isi bacaan yang anda capai dengan cara membagi sekor bobot perolehan yang benar dengan sekor idealnya. misalnya pk.10.30 . misalnya pk 10.2) Catatlah waktu tempuh baca dengan jalan: (a) catat waktu mulai membaca. jika menggunakan satuan detik gunakan (2) atau (3).a) atau 10. *) Menggunakan rumus (1): 3850 -----. Contoh: diberikan 30 soal pemahaman isi bacaan dengan . kemudian dikalikan dengan 100%. 10.20.15 = 5 menit 30 detik atau 330 detik.X 60 = 700 kpm atau 330 3850 ------.20. Penghitungan untuk contoh di atas menjadi seperti berikut ini.

12.pembagian sebagai berikut: I. maka penghitungan sekor perolehan yang anda capai adalah sebagai berikut. . bobot 2 ---> 20 X 2 = 40 II. 28. 9. bobot 1 ---> 10 X 1 = 10 ------ Sekor idealnya adalah = 50 Seandainya anda dapat menjawab 17 soal dengan benar dari nomor-nomor soal berikut: 1-6. I. 15-19. 10 soal. 5 butir X 1 = 5 ------- Sekor perolehan = 41 atau 41:50 X 100% = 82% 5) Tentukan KEM-nya dengan jalan memperkalikan hasil langkah (3) (rata-rata kecepatan baca) dengan hasil langkah (4) (pemahaman isi bacaan). 22-25. 20 soal. 18 butir X 2 = 36 II.

X 60 82% = 330 -----.Untuk contoh data di atas.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (c) dengan rumus (3): .X 60 ---.82 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm (b) dengan rumus (2): 3850 41 3850 -----.X ---. penghitungan KEM-nya tampak seperti berikut ini.5 700 X 0.= 330 50 700 X 0.X 82% = 5. (a) dengan rumus (1): 3850 41 3850 -----.= ------> -----.5 50 5.

a) Kecepatan 1000 kpm atau lebih biasa digunakan pada saat membaca skimming atau scanning. stopwatch. megetahui struktur organisasi bacaan. pada akhirnya akan menghasilkan angka yang sama. Berikut ini disajikan rincian rata-rata kecepatan baca yang disesuaikan dengan keperluan baca. mendapatkan kesan umum su atu bacaan. mencari jawaban atas pertanyaan tertentu. Berbekal rumus penghitungan KEM tersebut. (c) perangkat tes (tes bacaan). .X ---.X 82% = 330:60 -----.8 = 574 kpm 700 X 82% = 574 kpm Dengan menggunakan rumus mana pun kita menghitung KEM.= 330:60 50 700 X 0. (b) menyiapkan alat pengukur waktu: jam tangan.3850 41 3850 -----. mencari gagasan pokok. manakala pembaca hendak mengenal bahan bacaan yang akan dibaca. dan lain-lain. kita berkesimpulan bahwa untuk sampai pada penggunaan rumus tersebut terdapat sejumlah persiapan yang harus kita persiapkan untuk menghitung KEM. KEM. Persiapan-persian dimaksud meliputi: (a) menyediakan teks/wacana sebagai bahan bacaan. Tujuan Membaca. yakni 574 kpm. 6. dan Krakteristik Bahan Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan baca yang fleksibel sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapinya dan tujuan membacanya.

dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi minimal 70%. 250 x 70% = 140 . Kecepatan rata-rata di atas hendaknya disertai dengan minimal 70% pemahaman isi bacaan. karena kecepatan rata-rata tersebut masih merupakan kecepatan kasar yang belum menyertakan pemahaman isi bacaan.b) Kecepatan antara 500-800 kpm (tinggi) digunakan untuk membaca bahan bacaan yang mudah/ringan atau yang sudah dikenal.245 kpm . mencari hubungan atau membuat evaluasi tentang ide penulis. c) Kecepatan antara 350-500 kpm (cepat) digunakan untuk membaca bacaan mudah yang bersifat deskriptif/informatif dan bacaan fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya atau mengantisipasi akhir cerita.175 kpm * tingkat SMTA : 250 x 70% s. 350 x 70% = 175 .d. siswa tingkat lanjutan pertama antara 200-250 kpm. Dengan demikian. bila dihitung KEM-nya masing-masing akan menjadi seperti berikut: * tingkat SD * tingkat SMTP : 200 x 70% = 140 kpm : 200 x 70% s.d. d) Kecepatan antara 250-350 kpm (rata-rata) digunakan untuk membaca fiksi yang kompleks guna menganalisis watak tokoh dan jalan cerita atau bahan-bahan nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail informasi. kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm. analisis nilai sastra klasik. Berdasarkan hasil studi para ahli membaca di America. memecahkan persoalan yang dirujuk bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk). e) Kecepatan antara 100-125 kpm (lambat) digunakan untuk mempelajari bacaan yang sukar. bahan bacaan ilmiah yang bersifat teknis. siswa tingat sekolah lanjutan atas antara 250-325 kpm. membaca novel/cerpen ringan untuk mengetahui jalan ceritanya.

Yang termasuk ke dalam faktor ini. Yang dimaksud dengan faktor dalam adalah faktor yang berada di dalam diri pembaca itu sendiri. KEM dapat ditentukan dengan jalan memperkalikan kecepatan rata-rata baca dengan persentase pemahaman isi bacaan. Untuk mencapai KEM yang tinggi diperlukan latihan dan pembiasaan. kompetensi kebahasaan. Ada dua faktor utama yang diduga sebagai faktor pemengaruh KEM. teknik-teknik membaca. model PBM. Oleh karena itu. yakni pembaca yang dapat menyesuaikan atau mengatur kelenturan waktu tempuh baca . dan lain-lain). Yang dimaksud dengan faktor luar adalah faktor-faktor yang berada di luar pembaca. Pembaca yang fektif dan efisien adalah pembaca yang fleksibel. misalnya intelegensi.d. minat dan motivasi.280 kpm. yakni faktor dalam (internal) dan faktor luar eksternal. fasilitas. KEM seseorang dapat dibina dan ditingkatkan melalui proses berlatih. 400 x 70% = 245 . Faktor ini dapat dibedakan lagi ke dalam dua hal. sikap baca. Dua unsur penyokong kegiatan/proses membaca. RANGKUMAN KEM merupakan kependekan dari kecepatan efektif membaca. yakni sebuah istilah untuk mencerminkan kemampuan membaca yang sesungguhnya yang dicapai oleh pembaca. yakni faktor-faktor yang berkenaan dengan bacaan (keterbacaan dan organisasi bacaan) dan sifat-sifat lingkungan baca (guru.* tingkat PT : 350 x 70% s. yakni unsur visual (kemampuan gerak motoris mata dalam melihat dan mengidentifikasi lambanglambang grafis) dan unsur kognisi (kemampuan otak dalam mencerna dan memahamai lambang-lambang grafis) sudah terliput dalam rumus KEM. tujuan baca dll.

terlebih dahulu silakan anda baca dulu wacana/teks berikut.. Secara garis besar KEM dapat digolongkan ke dalam klasifikasi sangat tinggi.. tinggi. strategi membaca. LATIHAN Sekarang mari kita berlatih menggunakan rumus KEM untuk mengukur kecepatan efektif membaca diri sendiri.dengan tujuan membaca dan berbagai kondisi baca yang ada. PT (245-280 kpm) . SLTP (140-175 kpm).. dan lambat. KEM minimal untuk klasifikasi pembaca adalah: SD (140 kpm). SLTA (175-245 kpm). rata-rata. Tujuan dan kondisi baca itu turut menentukan KEM minimal yang harus dikuasai seorang pembaca.TEKS mulai pukul : . Petunjuk Sebelum kita mencoba mempraktikkan rumus pengukuran KEM ini. dan lain-lain.. Masalah hubungan antara intelegensi dan kreativitas serta peranan masingmasing terhadap keberhasilan dalam pendidikan dan dalam hidup pada umumnya telah lama menjadi pokok pembahasan dan penelitian para ahli. cepat.. minat baca. A. . kapan anda mulai membaca dan kapan berakhirnya... seperti karakteristik dan tingkat kesulitan bacaan.. Jangan lupa untuk mencatat.

dalam kenyataannya kurang berhasil. aggapan bahwa kreativitas semata-mata berhubungan dengan bakat artistik. apalagi dalam karir. seorang pemuda yang diramalkan kurang memnuhi syarat untuk pendidikan tinggi ternyata bisa jadi sarjana. mungkin saja bahwa seorang anak yang berdasarkan test intelegensi tertentu mencapai IQ yang tinggi. Pertama. Guilford mendemonstrasikan bahwa intelek manusia meliputi tidak kurang dari 120 faktor. dan bahwa test intelegensi konvensional hanya mengukur sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut.Merupakan suatu kenyataan bahwa intelegensi atau IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pendidikan. Guilford (1956). Kedua. Oleh karena itu. anggapan ini telah membatasi usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan memupuk kemampuan-kemampuan kognitif yang berkaitan dengan fungsi kreatif di luar bidang seni. dan oleh karena itu. Seorang tokoh yang berjasa menjelaskan pengertian tentang intelegensi dan kreativitas serta hubungan antara keduanya ialah J.Dalam modelnya tentang struktur intelek manusia. Atau sebaliknya. anggapan bahwa hasil test intelegensi sudah mencerminkan semua kemampuan mental dan proses-proses kognitif. Hal ini disebabkan test intelegensi yang dipakai belum tentu . faktor-faktor apa kecuali intelegensi yang menentukan keberhasilan dalam studi? Ukuran-ukuran atau test-test apa yang sebaiknya digunakan untuk mengetahui bakat dan untuk meramalkan apakah seorang anak akan dapat menyelesaikan suatu pendidikan dengan hasil yang memuaskan? Sejauh mana kreativitas seseorang ikut berperan? Apakah persamaan dan perbedaan antara intelegensi dan kreativitas? Sebenarnya ada dua anggapan yang mengaburkan pengertian mengenai intelegensi dan kreativitas.P. Karena itu timbul pertanyaan.

. Guilford menekankan bahwa sistem pendidikan yang tradisional kurang memperhatikan pengembangan dari kemampuan berpikir divergen.... Kreativitas hanya berhubungan dengan hal yang bersifat artistik atau seni.. yaitu kemampuan untuk memberikan macammacam alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. dari: INTELEGENSI BAKAT berakhir pukul : .meliputi semua keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang studi tertentu. Menurut Guilford. Berkenaan dengan intelegensi dan kreativitas. kecuali . yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. keduanya merupakan fungsi dari kemampuan kognitif manusia. padahal kemampuan ini sangat penting dalam proses pemecahan masalah pada umumnya. . dan TEST IQ Disusun oleh Fakultas Psikologi UI B.. dan khususnya di mana dibutuhkan gagasan-gagasan yang inovatif. sedangkan tes kreativitas terutama mengukur "pemikiran divergen". tes intelegensi terutama mengukur apa yng disebutnya "pemikiran konvergen". b. a.. 1.. Pertanyaan Bacaan I.. Hasil tes intelegensi mencerminkan kemampuan mental dan proses kognitif seseorang. faktor kepribadian dan lingkungan juga ikut berperan... akan tetapi meliputi dimensi yang berbeda. Apalagi di samping faktor intelegensi.. Jawablah pertanyaan bacaan berikut dengan membubuhkan tanda silang (X) pada huruf di depan alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat! 1) Pernyataan berikut salah..

. bakat dan kreativitas 4) Tema sentral bacaan di atas adalah . pembiuatan kesimpulan yang logis . b. proses pemecahan masalah c. a. intelegensi dan kreativitas d. kreativitas. Hubungan intelegensi. d... Intelegensi dan kreativitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan studi.c. Pernan intelegensi dan kreativitas dalam keberhasilan pendidikan. pembuatan keputusan b. a.. a. intelegensi b. kreatis\vitas dan prestasi belajar 3) Faktor-faktor yang termasuk fungsi kognitif manusia adalah . Faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan d. digunakan untuk mengukur .. dan kepribadian. c. kreativitas dan kepribadian c.. kreatisitas c. Intelegensi yang tinggi menjamin keberhasilan studi seseorang. intelegensi dan kepribadian b. intelegensi dan kreativitas d. a. 2) Tes yang memungkinkan si penjawab memberikan beberapa alternatif jawaban... Tes pemikiran konvergen dan pemikiran divergen 5) Kemampuan berpikir divergen berguna terutama dalam hal .

mengapa........ Jika ada teman yang mau membantu menyiapkan soal pemahaman bacaan. kapan. Boleh juga dengan cara "heuristik". peningkatan intelegensi II... Oleh karena itu. 1) Silakan tentukan KEM yang anda capai berdasarkan rumus KEM yang paling anda kuasai! Sebelumnya... di mana.. siapa..... Anda boleh membuat pertanyaan sendiri dengan berpedoman pada kata tanya: apa. itu lebih baik........ 1) Hitunglah jumlah kata pada teks di atas! (a) jumlah kata per baris (b) jumlah baris : ...... periksa dan cocokkan hasil jawaban anda dalam menjawab pertanyaan bacaan dengan kunci jawaban berikut. (1) d (2) b (3) c (4) a (5) b 2) Lihat daftar KEM pada uraian di muka........ (c) jumlah kata seluruhnya : .....d......... terhadap bacaan tersebut. III........... : ....... (b) berakhir/selesai pukul : ....... yaitu menaksir sendiri kira-kira berapa persen pemahaman anda taksiran ini taksiran kasar.... 2) Hitunglah waktu tempuh baca anda! (a) mulai membaca pukul : ...... Tentu saja merupakan taksiran kasar. (c) waktu tempuh baca anda : .. dan bagaimana. KEM-nya juga bersifat ....... Apakah KEM yang anda capai sudah memadai untuk peringkat anda (mahasiswa)? 3) Silakan anda berlatih pada teks-teks lain.

8. Tabel Latihan KEM No. 10. 4. 9. 3. 2. Judul Bacaan Jumlah Kata Waktu Pemahaman Isi KEM Grafik perkembangan pencapaian KEM 500 . 5.4) Buatlah grafik perkembangan KEM untuk melihat perkembangan KEM yang anda capai. Berikut disajikan contoh grafik perkembangan KEM yang dapat anda gunakan untuk melihat perkembangan KEM yang anda atau murid anda capai. 6. 7. 1.

450 400 KE M 350 300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (dst ) Latihan ke-… .

buku ilmiah. Dalam kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan di masyarakat. guru bidang studi apa pun.BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN 1. apakah semua bahan bacaan yang tersedia serta mudah didapat tersebut layak untuk konsumsi baca siswa kita? Bagaimana kita dapat menentukan kriteria kelayakan dimaksud? Seberapa jauh peran guru dalam memilihkan bahan bacaan yang layak baca untuk para siswanya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tampaknya memacu kita untuk mencari jawabnya. Meskipun buku paket atau buku teks sebagai buku pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar dewasa ini sangat banyak jumlahnya. namun tidak berarti guru harus terpaku dengan satu macam bahan ajar yang ada. karena pengajaran membaca secara formal dibebankan kepada guru bidang studi bahasa Indonesia. Untuk pengajaran membaca. dan lain-lain.Kesemua bahan bacaan tersebut berpeluang untuk dijadikan bahan ajar membaca atau mungkin untuk tugas membaca. kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui bahasan "keterbacaan". Bahasan bab ini mudah-mudahan dapat membantu para guru bahasa untuk dapat menentukan tingkat keterbacaan wacana yang cocok untuk para siswanya. pamplet-pamplet. Masalahnya. Terlebih-lebih untuk guru bahasa Indonesia. Bahan bacaan tersebut dapat berupa buku teks. majalah. persoalan penyediaan bahan ajar membaca tidaklah terikat oleh ketentuan buku paket atau buku teks tertentu. Pada bab ini. keragaman bahan bacaan untuk konsumsi baca ini terasa sangat kental. surat kabar. tuntutan memilihkan bahan bacaan yang layak untuk siswanya merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Pendahuluan Sebagai seorang guru. .

(d)menggunakan formula-formula keterbacaan tersebut untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. artinya dapat dibaca atau terbaca. Secara rinci. diharapkan anda dapat: (a) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan. (c) menunjukkan perbedaan langkah/prosedur kerja pemakaian formula-formula keterbacaan. anda diharapkan dapat menggunakan berbagai formula keterbacaan untuk kepentingan penentuan tingkat keterbacaan berbagai ragam bacaan. Dengan demikian. anda akan kami ajak untuk mengenal berbagai konsep dan formula keterbacaan yang biasa digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan materi bacaan. 2. "keterbacaan" ini mempersoalkan tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu. . kita dapat mendefinisikan "keterbacaan" sebagai hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh pembacanya. setelah membaca bab ini. Oleh karena itu. Konfiks ke-an pada bentuk keterbacaan mengandung arti hal yang berkenaan dengan apa yang disebut dalam bentuk dasarnya.Keterbacaan merupakan istilah dalam bidang pengajaran membaca yang memperhatikan tingkat kesulitan materi yang sepantasnya dibaca seseorang.Bentukan Readability merupakan kata turunan yang dibentuk oleh bentuk dasar readable. (b)menjelaskan sekurang-kurangnya empat bentuk formula keterbacaan. Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Keterbacaan merupakan alih bahasa dari readability. Melalui bab ini. Jadi.

. Meskipun kajian tentang keterbacaan itu sudah berlangsung berabad-abad. Gray dan Leary mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan bacaan. Perhatian terhadap masalah tersebut.Keterbacaan (readability) merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesukaran/kemudahan wacananya. 20 faktor di antaranya dinyatakan signifikan. Teknik statistik itu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterbacaan yang penting-penting untuk menyusun formula yang dapat dipergunakan guna memperkirakan tingkat kesulitan wacana. orang akan dapat mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu. peringkat sepuluh. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna terutama bagi guru yang mempunyai perhatian terhadap metode pamberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang layak dibaca. Klare (1963) menjelaskan bahwa Lorge (1949) pernah bercerita tentang upaya Talmudists pada tahun 900 berkenaan keterbacaan wacana. setelah melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana. kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya keterkaitan dengan keterbacaan. Menurut Klare (1963). misalnya peringkat enam. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan masih selalu menjadi objek penelitian para ahli. Tingkat keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. Oleh karena itu. dimulai sejak berabad-abad yang lalu. banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. dan lain-lain. namun kemajuannya baru tampak setelah statistik mulai ramai digunakan. peringkat empat. Dia menentukan tingkat kesulitan wacana berdasarkan kriteria kekerapan kata-kata yang digunakan.

Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Salah satu penggunaan rumus keterbacaan dapat dilihat pada upaya guru dalam memperkirakan tingkat kesulitan wacana. Formula-formula keterbacaan yang dewasa ini sering digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana.Dewasa ini sudah ada beberapa formula keterbacaan yang lazim digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan sebuah wacana. jika kalimat dan katanya pendek-pendek. Fry. Formula-formula keterbacaan yang mengacu pada kedua patokan tersebut. terutama bagi guru yang memiliki perhatian terhadap metode pemberian tugas membaca atau bagi pemilihan buku-buku teks atau bahan bacaan lainnya. Perkiraan-perkiraan tentang tingkat kemampuan membaca berguna. Formula-formula keterbacaan yang terdahulu. dan lain-lain. Dale & Chall. Panjang kalimat dan kesulitan kata merupakan dua faktor utama yang melandasi alat-alat pengukur keterbacaan yang mereka ciptakan. maka bahan bacaan dimaksud semakin sukar. Sebab. memang bersifat kompleks dan menuntut pemakainya untuk memiliki kecermatan menghitung berbagai variabel. Raygor. Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi cetak. misalnya formula keterbacaan yang dibuat Spache. Pada umumnya. Gunning. yakni: (a) panjang-pendeknya kalimat. dan (b) tingkat kesulitan kata. tampaknya berkecenderungan kepada dua tolok ukur tadi. semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata. 3. maka wacana dimaksud tergolong wacana yang mudah. Flesh. Sebaliknya. bagaimana pun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang . Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang berpengaruh terhadap keterbacaan.

majalah-majalah. Salah satu cara untuk beroleh ilmu pengetahuan dimaksud melalui kegiatan membaca. mempersiapkan tes. penggunaan rumus-rumus keterbacaan akan sangat bagi guru untuk mempersiapkan atau mengubah tingkat keterbacaan materi bacaan yang hendak diajarkannya. bukan saja oleh pihak sekolah melainkan oleh setiap kelas. Pertimbangan tingkat kelayakan dimaksud. Koleksi-koleksi bacaan pada perpustakaan kelas hendak-nya koleksi-koleksi bacaan yang memang layak untuk peringkat mereka. Bahanbahan bacaan tersebut hendaknya memenuhi tingkat keterbacaan sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pembacanya. manfaat. kliping-kliping. pamflet-pamflet. moral.dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. jurnal. namun tuntutan bagi setiap guru untuk dapat berperan dan bertindak sebagai penulis tampaknya bukanlah pandangan yang keliru. Meskipun bahan bacaan untuk kepentingan bahan ajar sudah tersedia banyak di luar. setiap sekolah di samping harus memiliki perpustakaan sekolah juga harus memiliki perpuatakaan-perpustakaan kelas yang terletak di setiap sudut masing-masing kelas. penyediaan sarana baca yang berupa koleksikoleksi bacaan (buku-buku teks. surat kabar. pendidikan. estetika. dan lain-lain) melainkan juga harus dipertimbangkan tingkat kesulitan dari masing-masing materi cetak dimaksud. Sehubungan dengan hal itu. Peran guru sebagai penulis tampak semakin jelas pada saat mereka dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan berikut. Dengan demikian. Lebih baik jika kegiatan membaca dimaksud adalah kegiatan membaca mandiri yang tidak memerlukan bimbingan pihak lain. etika. tidak saja didasarkan atas pertimbangan berbagai nilai (seperti nilai isi. dan lain-lain) perlu dimiliki. membuat rencana . misalnya. Di samping hal-hal tersebut d atas.

Kegiatan ini perlu dilakukan guru. bahwa formula-formula keterbacaan yang dipakai sekarang ini mendasarkan formulanya pada dua hal yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata. menyusun program pengajaran. Bukankah si penulis (guru) berkeinginan hasil tulisannya tersebut terbaca pihak lain sebagai sasaran pembacanya. guru hendaknya mempertimbangkan tingkat keterbacaan bahan yang ditulisnya itu. di samping memiliki kelebihan juga mengandung kelemahan. menurunkan tingkat kesulitan wacana tersebut. seseorang tidak . Keterampilan mengubah tingkat keterbacaan wacana perlu dimiliki setiap guru. Sebagaimana telah dijelaskan di muka. jika guru memandang para siswanya wajib mengetahui isi konten (isi materi) dari wacana itu dan tidak menemukan sumber bacaan lain yang tingkat keterbacaan wacananya cocok dengan peringkat siswanya. membuat surat kepada orang tua siswa. Bagaimana dengan konsep-konsep yang terkandung dalam wacana yang bersangkutan? Bukankah konsep-konsep makna yang terkandung dalam suatu wacana yang tidak terjakau oleh pembacanya akan berdampak pada keterpahaman pembacanya. Sering kita dapati kasus. Pengubahan keterbacaan itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan meninggikan taraf kesulitan wacananya atau mungkin sebaliknya. Dalam mempersiapkan bahan-bahan seperti yang kita jelaskan tadi. Kedua faktor yang menjadi landasan bagi formula-formula keterbacaan ini mengundang pertanyaan pada kita. Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Formula-formula keterbacaan yang pemakaiannya dewasa ini tengah populer. 4.pengajaran. atau kegiatan tulis-menulis lainnya.

Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa unsur semantis tidak dapat terjangkau oleh alat ukur keterbacaan yang ada. Seperti halnya kriteria kesulitan kalimat. semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan struktur permukaan teks. bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata yang disebut-sebut sebagai faktor penentu formula keterbacaan? Bukankah jika kita berbicara tentang tingkat kesulitan kata berarti kita tengah berbicara tentang makna (unsur semantis)? Tolok ukur tingkat kesulitan kata di sini tidak didasarkan atas unsur semantisnya (seperti yang kita duga). terutama puisi. Struktur yang secara visual dapat dilihat.dapat memahami wacana yang dibacanya meskipun wacana tersebut telah memenuhi kriteria keterbacaan untuk peringkat pembaca yang bersangkutan. Adapun konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak terperhatikan. Jika sebuah kalimat atau kata secara visual tampak lebih panjang. artinya kalimat atau kata tersebut tergolong sukar. Meskipun puisi menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang pendek-pendek. Mengapa hal itu terjadi? Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam pemakaian formula keterbacaan. mungkin timbul pertanyaan pada diri kita. kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud (struktur) yang tampak. melainkan didasarkan atas unsur panjang-pendek kata yang bersangkutan. Selanjutnya. Dengan kata lain. jika sebuah kalimat atau kata . Keterbatasan formula keterbacaan ini semakin terasa manakala kita dihadapkan pada bahan bacaan dari jenis fiksi. namun tingkat keterbacaan puisi justru malah menjadi rendah atau sulit dibaca. rumusan formula-formula keterbacaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan itu tidak memperhatikan unsur semantis. sebaliknya.

Beliau sedang membaca koran. . Ini Budi yang dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak Ahmad dan berkakakkan seorang perempuan bernama Wati. tempat tinggalnya tidak jauh dari pasar. Namun dilihat dari segi penuangan ide ke dalam wujud-wujud kalimat. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu. kakaknya melakukan pekerjaan lain. Wati sedang menyiram bunga.yang secara visual tampak pendek. Wati kakak Budi. Mari kita bandingkan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh A dan kalimat-kalimat yang tertulis pada contoh B. Jika ibu Budi memasak. Kedua bentuk penyajian kalimat tersebut mengandung informasi dan maksud yang sama. Ditinjau dari segi informasi/maksud kalimat. Ini ibu Budi. kedua contoh penyajian kalimat-kalimat tersebut tidaklah berbeda secara berarti. maka kalimat atau kata yang bersangkutan tergolong mudah. B. Ini Budi. Mari kita perhatikan contoh-contoh kalimat berikut. Ini Wati. yakni menyiram bunga. Ibu Budi sedang memasak. sedangkan ayahnya membaca koran. A. Pak Ahmad ayah Budi. Mereka berempat tinggal di kampung Cimanggu yang letaknya tidak jauh dari pasar yang berada di kampungnya.

atau terdapat pada buku-buku pelajaran kelas I sekolah dasar. bukan?Dengan kata lain. Sementara contoh wacana B merupakan sajian bahan ajar untuk anak-anak sekolah dasar yang relatif lebih tinggi kelasnya (misalnya kelas 4-5 SD).seperti tampak pada contoh penyajian kalimat bentuk A dan bentuk B. sebuah gagasan. sebuah konsep tertentu. sarat dengan konsep. kalimat kompleks tentu sarat dengan ide. sementara contoh penyajian B menggunakan kalimatkalimat kompleks yang relatif panjang-panjang. terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Semakin tinggi tingkat keterbacaan sebuah wacana. Bagaimanapun. Oleh karena itu. semakin mudah wacana tersebut. semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana semakin sukar wacana tersebut. Bagaimana kesimpulan anda setelah melihat dan membaca kedua bentuk penyajian kalimat-kalimat di atas? Contoh penyajian A yang menggunakan kalimatkalimat yang pendek-pendek jauh lebih mudah ketimbang contoh penyajian B. Untuk menolokukuri tingkat kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang_pendek kalimat tampaknya tidak mengundang masalah. sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide. kalimat tersebut akan jauh lebih sukar ketimbang kalimat-kalimat tunggalnya. kalimat kompleks jauh lebih sulit ketimbang kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Pada kalimat kompleks terjadi pemadatan konsep atau ide. tingkat keterbacaan wacana pada wacana A tergolong tinggi bila dibandingkan dengan tingkat keterbacaan wacana B. sarat gagasan. Pada kenyatannya. sebaliknya. . Contoh penyajian A menggunakan kalimat-kalimat yang relatif pendek-pendek. Contoh wacana A lazim kita dapati pada buku-buku ajar (bahan ajar membaca) untuk peringkat pemula.

atau minat pembaca. Hal lain yang menjadi keterbatasan formula-formula keterbacaan terletak pada penggunaan slang. manakah di antara kedua contoh deretan kata tersebut yang menurut anda memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi? Apa alasannya? Deretan kata-kata yang terdapat pada contoh B. Kata-kata tersebut rasanya tidak terlalu akrab dengan kehidupan keseharian kita. terlebih-lebih pada . . Formula keterbacaan itu. Mari kita perhatikan deretan kata-kata berikut. Oleh karenanya. ditinjau dari sudut semantisnya. deretan kata yang terdapat pada contoh A jauh lebih pendek-pendek ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B.Bagaimana halnya dengan kriteria kesulitan kata? Apakah panjang-pendeknya sebuah kata benar-benar dapat dijadikan indikator bagi tingkat kesulitan kata yang bersangkutan. tampaknya merupakan kata-kata yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari. Akibatnya.makar B. makna ganda.rona . kita merasa asing dengan kosakata tersebut. Kosakata yang terdapat pada contoh B relatif akrab dengan kehidupan keseharian kita. Padahal dari segi bentuk.era . Lain halnya dengan kosakata yang terdapat pada contoh A.zaman .asa . satir. deretan kata yang terdapat pada contoh A relatif lebih sulit ketimbang deretan kata yang terdapat pada contoh B. dalam percakapan yang bersifat umum.muslihat Bila kita bandingkan deretan kata pada contoh A dan deretan kata pada contoh B.harapan . . A.cahaya/air muka . tampaknya tidak bisa digunakan untuk bacaan fiksi (karya sastra).

Melalui berbagai pengkajian. Dijelaskan oleh Fry bahwa formula keterbacaan yang dikembangkannya itu (Grafik Fry) dan formula Spache berkorelasi 0. Keterbatasan-keterbatasan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan kita pada saat menentukan tingkat keterbacaan wacana. sedangkan dengan formula Dale-Chall . Rumus yang sering digunakan di kelas-kelas empat sampai kelas enam belas ialah rumus yang dibuat oleh Dale & Chall. Grafik Fry merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. Puisi memiliki bentuk yang khas dengan struktur-struktur kalimat yang jauh bebeda dari struktur-struktur kalimat pada karya nonfiksi. Rumus ini mula-mula diperkenalkan pada tahun 1947. Faktor-faktor tradisional: panjang-pendek kalimat dan kata-kata sulit masih tetap digunakan. seperti buku teks misalnya. formula yang lazim dipakai ialah formula keterbacaan dari Spache. Dua faktor utama yang menjadi dasar dari penggunaan formula tersebut ialah panjang rata-rata kalimat dan persentase kata-kata sulit. rumus Dale-Chall pun menggunakan panjang kalimat dan kata-kata sulit sebagai faktor-faktor penentu tingkat kesulitan bacaan. Sama halnya dengan rumus Spache. Namun.karya sastra berupa puisi.90. kesukaran kata diperkirakan dengan cara melihat jumlah suku katanya. formula-formula itu telah dibuktikan keabsahan dan keterpercayaannya untuk memperkirakan tingkat keterbacaan wacana. 5. Penggunaan Formula-formula Keterbacaan Untuk mengukur bahan bacaan di kelas-kelas rendah. formula spache itu kompleks dan penggunaannya memakan banyak waktu. Formula tersebut dibuat pada tahun 1953. Rumus ini pun cukup kompleks dan memakan banyak waktu. Akan tetapi.

Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah "Journal of Reading".1 Bagaimana Memahami Grafik Fry Sekarang mari kita kenali formula keterbacaan dari Edward Fry yang kemudian kita kenal dengan sebutan "Grafik Fry". anda sudah paham cara menggunakannya. . Silakan anda perhatikan formula (Grafik Fry) dimaksud. yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut.1 Formula Keterbacaan Fry: Grafik Fry 5. Korelasi yang tinggi itu menunjukkan adanya keajegan rumus-rumus dan ketepercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya. seperti tertera di bawah ini. 5. Sebelum sampai pada penggunaan grafik dimaksud untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana. Hal ini penting anda camkan agar pada saat mengenali grafik Fry. bahwa formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama. Hal ini akan menjadi dasar pertimbangan kita pada saat melakukan penafsiran terhadapnya.94. Jangan lupa. sebaiknya kita kenali dulu grafik dimaksud dengan sebaikbaiknya.1. Berikut contoh grafiknya. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.berkorelasi 0.

116. yakni jumlah kata dari wacana sampel yang dijadikan sampel pengukuran keterbacaan wacana. Angka-angka dimaksud menunjukkan data jumlah suku kata per seratus perkataan. 120.Grafik Fry GRAFIK (Lihat Copy aslinya) Apa yang bisa anda jelaskan mengenai grafik tersebut? Di bagian atas grafik kita dapati deretan angka-angka seperti berikut: 108. dan seterusnya. . 112. yang dalam formula ini merupakan salah satu dari dua faktor utama yang menjadi landasan bagi terbentuknya formula keterbacaan dimaksud. Pertimbangan penghitungan suku kata pada grafik ini merupakan cerminan dari pertimbangan faktor kata sulit.

pada saat dilakukan pengukuran keterbacaan. Hal ini merupakan perwujudan dari landasan lain dari faktor penentu formula keterbacaan ini. angka 3 untuk peringkat baca 3.7. terdapat ketentuan khusus untuk pengukuran keterbacaan bahan-bahan bacaan yang relatif tebal seperti halnya buku.Angka-angka yang tertera di bagian samping kiri grafik. mungkin anda bertanya-tanya. wacana yang demikian sebaiknya tidak digunakan dan diganti dengah wacana lain. 14. 18. Oleh karena itu. yakni pengukuran keterbacaan wacana itu harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan sampel wacana yang berbeda-beda. angka 2 untuk peringkat baca 2.0. dan seterusnya hingga pada peringkat universitas. Maksudnya. Angka 1 menunjukkan peringkat 1. Sampel pertama mungkin diambil . Meskipun yang akan diukur keterbacaannya itu berupa buku yang tebalnya lebih kurang 500 halaman.3 dan seterusnya menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat per seratus perkataan. Angka-angka yang berderet di bagian tengah grafik dan berada di antara garisgaris penyekat dari grafik tersebut menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan wacana yang diukur. maka wacana tersebut kurang baik karena tidak memiliki peringkat baca untuk peringkat mana pun. 20. jika hasil pengukuran keterbacaan wacana jatuh pada wilayah gelap tersebut. Kita cukup mengambil sampel dari bacaan tersebut sebanyak 100 perkataan. kita tidak perlu mengukur seluruh buku tersebut sejak halaman pertama hingga halaman terakhir buku itu. mengapa demikian? Mengapa harus "seratus" perkataan? Angka tersebut merupakan jumlah kata yang dianggap sebagai jumlah yang representatif untuk mewakili sebuah wacana. yakni faktor panjang-pendek kalimat. artinya wacana tersebut cocok untuk pembaca dengan level peringkat baca 1. Memang. Daerah yang diarsir pada grafik yang terletak di sudut kanan atas dan di sudut kiri bawah grafik merupakan wilayah invalid. Ketika anda membaca keterangan "seratus perkataan" pada grafik tersebut. seperti angka 25.

Jika para dokter mendeteksi suhu tubuh seseorang dengan stetoskop. maka proses pengukuran keterbacaan wacana itu pun cukup dilakukan terhadap sampel wacana. sampel kedua dari bagian tengah buku. Selanjutnya. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati. dokter tidak perlu melakukan pengukuran suhu tubuh tersebut mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. . hasil dari pengukuran dimaksud merupakan cerminan dari ukuran suhu tubuh si pasien secara keseluruhan. bagaimana prosedur kerja untuk penggunaan formula keterbacaan dari Fry ini? Berikut ini akan diberikan sejumlah petunjuk yang harus diikuti dalam menggunakan grafik ini untuk mengukur keterbacaan wacana. melainkan memilih bagian-bagian tertentu dari tubuh tersebut yang dianggap dapat mewakili seluruh suhu tubuh. dia hanya akan memilih bagian-bagian tubuh tertentu dari tubuh si pasien sebagai sampel. dan wacana yang dianggap representatif jika berjumlah sekurang-kurangnya sebanyak 100 perkataan. dan sampel terakhir dari halaman-halaman akhir buku itu. Untuk mengetahui suhu tubuh seseorang. Misalnya saja. apakah pengukuran keterbacaan wacana yang dilakukan terhadap sampel wacana sebanyak 100 perkataan itu hasilnya benar-benar dapat mencerminkan tingkat keterbacaan wacana secara keseluruhan? Apalah artinya sepenggal wacana yang terdiri atas 100 perkataan bila dibandingkan dengan ketebalan sebuah buku yang tipis sekalipun? Sekarang mari kita bandingan proses pengukuran keterbacaan dimaksud dengan proses pengukuran suhu tubuh oleh para dokter.dari halaman-halaman awal sebuah buku. Meskipun begitu. Dengan beranalogi pada proses kerja pengukuran suhu oleh para dokter. dokter akan memilih bagian ketiak atau mulut untuk dijadikan sampel pengukuran suhu tubuh seseorang.

IKIP. Perhatikan contoh wacana berikut! . dan lain-lain dipandang tidak representatif untuk dijadikan sampel wacana. Sisanya itu tentu berupa sejumlah kata yang merupakan bagian dari deretan kata-kata yang membentuk kalimat utuh. jika kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 buah perkataan (sampel wacana) tidak jatuh di ujung kalimat. lambang-lambang berikut. Maksudnya. Yang dimaksud dengan kata dalam hal ini ialah sekelompok lambang yang di kiri dan kanannya berpembatas. tabel-tabel. =. maka sisa kata yang termasuk ke dalam hitungan seratus itu diperhitungkan dalam bentuk desimal (perpuluhan). 1999. Langkah (2) Hitunglah jumlah kalimat dari seratus buah perkataan tersebut hingga perpuluhan yang terdekat. masing-masing dianggap sebagai satu perkataan. rumus-rumus yang mengandung banyak angka-angka. melainkan akan ada sisa. maka penghitungan kalimat tidak akan selalu utuh. seperti Budi. Dengan demikian. Karena keharusan pengambilan sampel wacana berpatokan pada angka 100.2 Petunjuk penggunaan Grafik Fry (1977): Langkah (1) Pilihlah penggalan yang representatif dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya tersebut dengan mengambil 100 buah perkataan daripadanya. kekosongan-kekosongan halaman.1.5. Yang dimaksud dengan "representatif" dalam memilih penggalan wacana ialah pemilihan wacana sampel yang benar-benar mencerminkan teks bacaan. Wacana yang diselingi dengan gambar-gambar.

12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ada juga yang menyimpan uang.Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Waktu Inu melihat sa- . Di loket yang lain orang21 22 23 24 25 26 27 28 29 orang juga antre. Di loket tabungan ada yang mengambul uang. Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Di bank itu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 banyak orang. Mereka melayani orang-orang 39 40 41 42 43 44 45 yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la46 47 48 49 50 51 52 53 in. 54 55 56 57 58 59 60 Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. Ada juga beberapa petugas bank duduk 30 31 32 33 34 35 36 37 38 di luar loket-loket antrean. Dia memperhatikan 61 62 63 64 65 66 67 68 kesibukan orang-orang di tempat itu.

. Keterangan: Angka-angka yang tedapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan penghitungan sampel wacana. Inu mendekati kursi itu. orang. Kata yang digarisbawahi merupakan akhir dari sampel wacana. ke bank. lalu dia mempersilakan Inu duduk dan menawarkan 85 96 97 98 99 100 bantuan yang mungkin dapat dia berikan.. uang... 78 79 80 81 62 83 84 85 dia segera berdiri. .69 70 71 72 73 74 75 76 77 tu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. karena kata tersebut merupakan kata terakhir yang termasuk ke dalam hitungan 100 perkataan. (3)Di loket tabungan .... (2)Di bank itu . Kedua belas kalimat utuh yang terdapat dalam wacana tersebut adalah sebagai berikut ini: (1)Pada suatu hari . Petugas pun 86 87 88 89 90 91 92 93 94 mengerti. Jika kita melakukan penghitungan rata-rata jumlah kalimat untuk wacana di atas akan kita dapati 12 kalimat utuh ditambah 8 kata pada kalimat terakhir dari jumlah kata seluruhnya pada kalimat terakhir tersebut sebanyak 16 buah..

Kalimat terakhir ini (kalimat ke-13) tidak seluruhnya terpakai ke dalam hitungan seratus.1 kalimat. maka bagian kalimat yang terakhir itu adalah 0. (10)Dia memperhatikan . uang.. tabungan...1 kalimat.. Jika jumlah kalimat sebelumnya ada 10 buah. tunggu. berdiri. lain.. (5)Di loket yang ... rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 12 + 8/16 kalimat. (8)Ayah Inu .. antre.. jika kalimat terakhir itu terdiri atas 17 perkataan dan hanya ada satu kata yang termasuk ke dalam hitungan 100 kata. Kata keseratusnya jatuh pada kata duduk.058 dibulatkan menjadi 0... Kalimat terakhir berbunyi: Petugas pun mengerti. Jika dihitung ke dalam sistem perpuluhan (desimal) akan menghasilkan angka 12.. maka jumlah kalimat seluruhnya adalah 10.(4)Ada juga .5 kalimat. (6)Ada juga . (9)Inu menunggu . itu. lalu dia mempersilakan Inu duduk//dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Dengan demikian. Kata tersebut merupakan kata ke-8 dari 16 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut. antrean.... (12)Inu mendekati ... Contoh lain. itu. . (7)Mereka melayani.... (11)Waktu Inu ..

Berpatokan pada contoh wacana kita di atas (pada langkah 2). Di loket yang lain orangorang juga antre. Di bank itu 2 2 1 2 3 3 1 3 2 banyak orang. Misalnya. Sebagai konsekuensi dari batasan kata (seperti dijelaskan pada langkah (1) di atas yang memasukkan angka dan singkatan sebagai kata. Perhatikan contoh berikut! 2 3 2 2 2 3 1 1 1 1 2 Pada suatu hari Inu ikut ayahnya ke bank. Caranya. berilah tanda di atas setiap kata tersebut dengan angka-angka yang menunjukkan jumlah suku kata dari kata yang bersangkutan. Mereka melayani orang-orang yang bertanya tentang cara-cara menabung atau hal-hal la . Di loket tabungan ada yang mengambil uang. mari kita praktikkan cara menghitung suku kata dimaksud. setiap lambang diperhitungkan sebagai satu suku kata. 2 2 1 3 2 1 2 1 2 2 Ada juga yang menyimpan uang. maka untuk angka dan singkatan. Langkah (3) Hitunglah jumlah suku kata dari wacana sampel yang 100 buah perkataan tadi. IKIP terdiri atas 4 suku kata.Demikianlah cara menghitung rata-rata jumlah kalimat dari sampel wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya. Ada juga beberapa petugas bank duduk di luar loket-loket antrean. 234 terdiri atas 3 suku kata.

Inu mendekati kursi itu. yakni rata-rata jumlah suku kata diplotkan ke dalam grafik untuk mencari titik temunya. yakni rata-rata jumlah kalimat dan data yang kita peroleh pada langkah (3). . hingga kita menemukan jumlah suku kata untuk seluruh kata yang termasuk ke dalam hitungan 100. Dari penghitungan suku kata terhadap sampel wacana di atas. maka wacana tersebut dinyatakan tidak absah. Pertemuan antara baris vertikal (jumlah suku kata) dan baris horizontal (jumlah kalimat) menunjukkkan tingkat-tingkat kelas pembaca yang diperkirakan mampu membaca wacana yang terpilih itu. Jika persilangan baris vertikal dan baris horizontal itu berada pada daerah gelap atau daerah yang diarsir. Langkah (4) Perhatikan Grafik Fry. lalu dia mempersilakan Inu duduk// dan menawarkan bantuan yang mungkin dapat dia berikan. Data yang kita peroleh pada langkah (2). Ayah Inu berada di barisan loket tabungan. Waktu Inu melihat satu kursi kosong di depan petugas yang melayani pertanyaan. Guru harus memilih wacana lain dan mengulangi langkah-langkah yang sama seperti yang telah kita jelaskan tadi. Petugas pun mengerti. Demikianlah cara ini kita kerjakan. dia segera berdiri. Dia memperhatikan kesibukan orangorang di tempat itu.in. Inu menunggu ayahnya di ruang tunggu. kita akan memperoleh hitungan jumlah suku kata sebanyak 228 suku kata. Kolom tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per seratus kata dan baris mendatar menunjukkan jumlah kalimat per seratus kata.

dan dari bagian akhir buku.Langkah (5) Tingkat keterbacaan ini bersifat perkiraan. dari bagian tengah buku. yakni wacana dari bagian awal buku. maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat.3 Beberapa Catatan Penting tentang Grafik Fry Pertama. Si pengukur hendaknya mengambil tiga pilihan sampel wacana. Sebagai contoh. atau surat kabar. pengkuran keterbacaan wacananya cukup dilakukan satu kali. setelah si pengukur menempuh langkah-langkah petunjuk penggunaan Grafik Fry. peringkat keterbacaan wacana hendaknya ditambah satu tingkat dan dikurangi satu tingkat. 5. baik ke atas maupun ke bawah. Dalam mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku. kecuali jika penulisnya berbeda-beda. 6. Data hasil rata-rata inilah yang kemudian akan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana buku tersebut. pengukuran keterbacaan ini hendaknya sekurangkurangnya dilakukan sebanyak tiga kali percobaan dengan pemilihan sampel yang berbeda-beda. . 5 yakni (6-1).1. jika titik pertemuan dari persilangan baris vertikal untuk data suku kata dan baris horizontal untuk data jumlah kalimat jatuh di wilayah 6. Untuk artikel dan jurnal. selanjutnya hitunglah hasil rata-ratanya. Oleh karena itu. Penyimpangan mungkin terjadi. dan 7 yakni (6+1). untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah buku (yang biasanya relatif tebal jumlah halamnnya).

7. Untuk memperoleh gambaran mengenai hal ini. ternyata titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 7. tengah. Grafik Fry merupakan hasil penelitian terhadap wacana bahasa Inggris. terutama dalam hal sistem suku katanya. Kedua. dan 8.9 6. Artinya. mari kita perhatikan contoh sederhana berikut. 2) Saya pergi ke sekolah. misalnya kita peroleh data seperti berikut: Wacana Sampel Bagian I Bagian II Bagian III Jumlah Rata-rata Jumlah suku kata 124 141 158 423 141 Jumlah kalimat 6.6 5.3 Jika angka rata-rata tersebut diplotkan ke dalam Grafik Fry. dan akhir buku). Dari hasil penghitungan pengukuran keterbacaan wacana dari ketiga sampel itu (bagian awal.Sebagai contoh.8 18. 1) I go to school. struktur bahasa Inggris sangat berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. Seperti kita ketahui.5 6. tingkat keterbacaan buku yang bersangkutan cocok untuk peringkat 6. . mari kita perhatikan perumpamaan berikut.

hal itu mustahil terjadi. sedangkan dalam kalimat 2) (bahasa Indonesia) kita dapati 8 suku kata. sebab titik pertemuan antara garis yang menunjukkan rata-rata jumlah kalimat dan rata-rata jumlah suku kata akan selalu jatuh pada daerah yang diarsir. lip. Dalam bahasa Inggris. sedangkan jumlah suku katanya ada 228. tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas mana pun. mouth. seperti kelas 1 dan 2. Setelah kita plotkan ke dalam Grafik Fry. apakah kesimpulan itu benar? Bukankah kalau kita mencoba mengukurnya dengan kadar pertimbangan kita (bukan alat ukur). Berdasarkan kenyataan tersebut. foot. kita berkesimpulan bahwa sistem pola suku kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya mempunyai ciri dwisuku atau bahkan lebih. Oleh karena itu. leg. mulut. mengingat contoh wacana kita itu diambil dari bacaan untuk siswa sekolah dasar. Coba saja kita periksa kosakata nama diri dalam bahasa Inggris.Pada contoh kalimat 1) (bahasa Inggris) kita dapati 4 suku kata. pada umumnya sering kita jumpai kata-kata yang bersuku tunggal.5. hair dan seterusnya. bibir. kemudian mari kita bandingkan dengan kosakata berikut: tangan. tooth. Tetapi. kepala. misalnya: hand. dapatlah dipastikan bahwa berdasarkan Grafik Fry tidak akan pernah didapati wacana bahasa Indonesia yang cocok untuk peringkatperingkat kelas rendah. pada umumnya akan diperoleh jumlah suku kata di atas 200-an. maka titik temu dari persilangan garis untuk kedua data tersebut jatuh melewati daerah yang diarsir (wilayah gelap). . Melihat kasus contoh wacana yang kita sajikan di bagian muka kita dapati jumlah kalimat 12. Dari 100 buah perkataan dalam bahasa Indonesia. rambut. head. gigi. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem persukukataan dalam bahasa Inggris. kaki. Berdasarkan contohcontoh berikut.

yakni memperkalikan hasil penghitungan suku kata dengan angka 0.6 = 136. kita boleh berkesimpulan bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. Jika diplotkan ke dalam Grafik Fry.5. tampaknya sang pengarang telah memilih dan menentukan wacana dengan tingkat keterbacaan yang tepat untuk sasaran pembacanya. wacana tersebut cocok untuk peringkat kelas 3. Mengambil data pengukuran terhadap contoh wacana kita di atas. memang diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 2 untuk Sekolah Dasar Kelas 4. titik temu dari persilangan kedua data tersebut akan jatuh di wilayah 4. .6. Untuk sekedar pedoman bagi para pemakai alat ukur keterbacaan dari Fry. Dengan demikian. jika menggunakan formula ini untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia. Dengan hasil pengukuran tadi. diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1993. Contoh wacana tersebut.Berdasarkan contoh kasus tersebut. data jumlah suku kata 228 X 0. namun tawaran ini didasari oleh sebuah penelitian kecil-kecilan yang telah kami lakukan.8 dibulatkan menjadi 137. karangan Dendy Sugono. petunjuk langkah-langkah penggunaan Grafik Fry masih harus ditambah satu langkah lagi. 4. Meskipun penyesuaian yang akan kami tawarkan ini bukan merupakan patokan yang baku. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian (sederhana) kami yang memperoleh bukti bahwa perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia itu 6:10 (6 suku kata dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan 10 suku kata dalam bahasa Indonesia). maka akan diperoleh data jumlah kalimat sebanyak 12. dan 5 sekolah dasar.

Langkah (2) Hitunglah jumlah suku kata dan kalimat yang ada dalam wacana tersebut. atau petunjuk-petunjuk penggunaan obata-obatan tertentu. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah 2 dan 3 pada petunjuk penggunaan Grafik Fry (seperti telah kita demonstrasikan) pada penjelasan terdahulu.1. Untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang demikian. maka bilangan kebulatannya ialah 30. petunjuk untuk melakukan kegiatan tertentu. pengumuman-pengumuman singkat. Mereka telah melakukan penyesuaian terhadap prosedur penggunaan Grafik Fry dengan mengajukan daftar konversi Grafik Fry. Jika wacana tersebut terdiri atas 54 buah kata. yang jumlah katanya kurang dari seratus perkataan. Prosedur kerja yang disarankan ialah dengan menempuh langkah-langkah berikut ini: Langkah (1) Hitunglah jumlah kata dalam wacana yang akan diukur tingkat keterbacaannya itu dan bulatkan pada bilangan puluhan yang terdekat.5. seperti pertanyaan-pertanyaan dalam tes. jika jumlah wacana itu ada 26 buah. misalnya.4 Daftar Konversi untuk Grafik Fry Kadang-kadang guru perlu mengevaluasi bacaan yang terdiri atas kata-kata yang jumlahnya kurang dari seratus buah. Langkah (3) . maka jumlah tersebut diperhitungkan sebagai 50. para ahli telah menemukan jalan pemecahan yang cukup sederhana.

1 Mari kita perhatikan contohnya. DAFTAR KONVERSI UNTUK GRAFIK FRY jika jumlah kata dalam wacana itu berjumlah: 30 40 50 60 70 80 90 perbanyaklah jumlah suku-kata dan kalimat dengan bilangan berikut: 3.5 2.0 1. kita umpamakan setiap tanda garis putus menunjukkan suku kata dan kemlompok tanda garis putusputus tersebut kita umpamakan sebagai kata yang terdapat dalam sebuah wacana. perbanyak jumlah kalimat dan suku kata (hasil perhitungan langkah 2 tersebut) dengan angka-angka yang ada dalam Daftar Konversi seperti yang tampak di bawah ini.Dengan kata lain.67 1.43 1.3 2. data yang diplotkan ke dalam grafik adalah data yang telah diperbanyak dengan daftar konversi. coba anda tentukan tingkat keterbacaan wacana tersebut! Cocok untuk kelas berapakah wacana tersebut? . Dalam contoh di bawah ini. Dengan demikian. Selanjutnya. guru dapat menggunakan lagi Grafik Fry menurut tata tertib seperti yang sudah dijelaskan terdahulu.25 1.Selanjutnya.

-.-.---. (d) Angka konversi untuk perbanyakan jumlah kalimat dan jumlah suku kata untuk jumlah kata 30 adalah 3..-.3 = 198 (e) Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry.6 * jumlah suku kata: 60 X 3.--? -.-.--.-.Wacana jumlah suku-kata ---.-.-.--.-.--? 25 20 15 ______________ Jumlah 60 Jika kita ingin menentukan tingkat keterbacaan wacana (contoh) di atas.3 = 6.6) dengan data suku kata (198) itu jatuh pada wilayah universitas.-.--.--. cocok untuk peringkat universitas.-. (c) Jumlah suku katanya ada 60 suku kata. Dengan demikian jumlah kalimat dan jumlah suku kata hasil konversi menjadi: * jumlah kalimat : 2 X 3. pada daftar konversi diklasifikasikan ke dalam golongan angka 30 (b) Jumlah kalimatnya ada 2 buah.. titik temu dari persilangan data kalimat (6.-.. maka akan kita dapati data berikut ini.--. . .-. Artinya tingkat keterbacaan wacana tersebut. (a) Jumlah kata dalam wacana tersebut ada 34 buah.3.-.

jumlah suku kata dalam kedua kalimat tersebut tidak sama. Apa sebabnya? Kata-kata bahasa Indonesia pada umumnya terdiri atas dua suku kata atau lebih. Kedua kalimat di atas itu.1 Bagaimana Memahami Grafik Raygor Anda telah mahir menggunakan Grafik Fry. Kalimat bahasa Inggris (a) yang mempunyai makna yang sama dengan kalimat bahasa Indonesia (b) itu terdiri atas tujuh suku kata. bukan? yakinkah anda bahwa grafik tersebut dapat digunakan untuk wacana-wacana dalam bahasa Indonesia? Pertanyaan itu akan dapat anda jawab setelah membandingkan kedua kalimat berikut ini.2 Formula Keterbacaan Raygor: Grafik Raygor 5. di bawah ini diperkenalkan grafik lain yang mempunyai prinsip-prinsip yang mirip dengan prinsip Grafik Fry. Selanjutnya grafik ini dikenal dengan sebutan . masing-masing terdiri atas lima kata. bahkan sangat berbeda. Jika demikian. apa artinya? Cobalah periksa lagi Grafik Fry itu! Dapatkah anda sekarang menjawab pertanyaan kedua di atas? Karena Grafik Fry mengandung kelemahan yang sukar untuk diatasi. b) Saya menonton TV setiap malam. a) I watch TV every night.5. Namun. Jumlah suku yang ada dalam 100 kata terpilih dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri atas 200 suku atau lebih. Formula keterbacaan dimaksud adalah Grafik Raygor yang diperkenalkan oleh Alton Raygor. sedangkan kalimat bahasa Indonesia yang ada di bawahnya itu mengandung 11 suku kata.2.

Grafik Fry meletakan kalimat terpendek pada bagian atas grafik. . Posisi yang demikian itu sesuai dengan penempatan urutan data jumlah kalimat yang berlawanan pula. kedua formula keterbacaan tersebut sesungguhnya mempunyai prinsipprinsip yang mirip. Formula ini tampaknya mendekati kecocokan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin."Grafik Raygor".2 Petunjuk Penggunaan Grafik Raygor Prosedur penggunaan Grafik Raygor sesungguhnya hampir sama dengan Grafik Fry. sedangkan dalam Grafik Fry menghadap ke bawah. yakni kata yang dibentuk oleh enam buah huruf atau lebih. sedangkan Grafik Raygor meletakkannya di bagian bawah. Deretan angka tidak dipertimbangkan sebagai kata.2. Namun. angka-angka tidak dihitung ke dalam penghitungan 100 buah kata. Langkah-langkah yang harus ditempuh meliputi sejumlah langkah berikut. Grafik Raygor. 5. Grafik Raygor seperti tampak terbalik jika dibandingkan dengan Grafik Fry. Oleh karenanya. Untuk mengenali formula ini. Garis-garis penyekat peringkat kelas dalam Grafik Raygor tampak memancar menghadap ke atas. mari kita perhatikan grafik berikut. Sisi tempat jumlah suku kata digunakan untuk menunjukkan kata-kata panjang yang dinyatakan "jumlah kata sulit". Langkah (1) Menghitung 100 buah perkataan dari wacana yang hendak diukur tingkat keterbacaannya itu sebagai sampel.

Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut. dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu. Kriteria tingkat kesulitan sebuah kata di sini didasari oleh panjangpendeknya kata. mari kita praktikkan penggunaan Grafik Raygor tersebut pada wacana berikut. maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi.Langkah (2) Menghitung jumlah kalimat sampai pada persepuluhan terdekat. bukan oleh unsur semantisnya. Begitulah seterusnya. Langkah (4) Hasil yang diperoleh dari langkah 2) dan 3) itu dapat diplotkan ke dalam Grafik Raygor untuk menentukan peringkat keterbacaan wacananya. Langkah (3) Menghitung jumlah kata-kata sulit. sehingga tak sesaat pun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Salah satu sebab . yakni kata-kata yang dibentuk oleh 6 huruf atau lebih. Prosedur ini sama dengan prosedur Fry dalam menghitung rata-rata jumlah kalimat. kata-kata yang tergolong ke dalam kategori sulit itu ialah kata-kata yang terdiri atas enam atau lebih huruf. tidak digolongkan ke dalam kategori kata sulit. Kata-kata yang jumlah hurufnya kurang dari enam. Sebagai bahan latihan. Wacana Suatu ciri khas pada manusia adalah ia selalu ingin tahu.

... 1948).... dan lain sebagainya yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala itu sendiri (Buitendijk.. akan tetapi ia pun mengamati terjadinya perubahan-perubahan.. bagaimana pendapat anda? Dapatkah grafik itu dipergunakan untuk mengukur keterbacaan wacana-wacana bahasa Indonesia? Anda mungkin berpendapat bahwa Grafik Raygor lebih mudah dan lebih cocok untuk wacana-wacana bahasa Indonesia.. buah Berapa jumlah kata-kata sukar yang ada di dalamnya ? . anda tidak boleh lupa bahwa grafik ini belum banyak diteliti keampuhannya... Grafik Fry atau Grafik Raygor? Setelah anda menemukan daerah tingkat keterbacaan wacana di atas itu dalam Grafik Raygor...... Grafik Fry lebih banyak digunakan .. buah Wacana itu cocok untuk kelas untuk kelas berapa ? . Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! Ada berapa buah kalimat yang terdapat dalam wacana di atas itu ? . perkembangan-perkembangan.... Namun.yang paling dasar ialah apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah dianggapnya sebagai kenyataan dwipurwa: di satu pihak dia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis. Grafik yang mana yang lebih cocok bagi anda? Apa alasannya? Mana yang lebih mudah menggunakannya..

Tahukah Anda cara menurunkan tingkat kesulitan wacana? Ya benar. yakni dalam hal efisiensi waktu. sebab grafik tersebut telah diteliti secara lebih seksama daripada Grafik Raygor. 5. Satu hal yang perlu dicatat sebagai kelebihan dari penggunaan Grafik Raygor. .87. anda disarankan pula untuk mencoba mengubah wacana-wacana itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang anda lakukan itu bermanfaat dan merupakan ibadah yang berpahala. ternyata ada 50 buah hasil percobaan yang menunjukkan hasil pengukuran yang sama antara pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Raygor dengan hasil pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Baldwin dan Kaupman (1979) telah melakukan penelitian mengenai keampuhan dari penggunaan kedua formula keterbacaan ini. Dari 100 buah wacana yang diteliti.untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana bahasa Inggris.Pengukuran keterbacaan wacana dengan Grafik Raygor ternyata jauh lebih cepat daripada melakukan pengukuran keterbacaan dengan menggunakan Grafik Fry. Setelah mengetahui tingkat keterbacaan bukubuku tersebut.3 Pengubahan Tingkat Keterbacaan wacana Dengan pengetahuan yang anda peroleh mengenai Grafik Fry dan Grafik Raygor itu anda disarankan untuk memeriksa tingkat keterbacaan buku-buku yang digunakan untuk setiap bidang studi. Koefisien korelasi yang dihasilkannnya ialah (r) 0. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa terdapat korelasi yang cukup tinggi antara tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan menggunakan Grafik Fry dan tingkat keterbacaan wacana-wacana yang diukur dengan Grafik Raygor. Tugas kita sebagai guru dalam hal ini memang cukup berat.

jamu ini dan jamu itu. Biasanya mereka gagal karena tidak sadar bahwa setiap orang itu berbeda. Para diktator dalam bidang mode membuat sebagian besar anggota masyarakat. Wacana 2 . obatobatan tertentu. bermaksud untuk menarik pembaca agar mempunyai perhatian yang lebih bersungguh-sungguh mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan berat badan. Cobalah bandingkan kedua wacana berikut! Wacana 1 Secara sepintas saja kita segera mengetahui bahwa advertensi di dalam majalah-majalah itu tidak ayal lagi. makanan-makanan tertentu. terutama wanita. Pada masa sekarang para penulis advertensi mencoba berupaya meyakinkan sang kurus dan sang gendut berada dalam kedudukan yang sama asalkan mereka mau membeli barang-barang yang mereka tawarkan: mesin berlatih.dengan jalan memperpendek kalimat-kalimatnya dan mengganti kata-kata sulit dengan kata-kata yang lebih mudah. Mereka berjanji bisa membuat kita tampak atau bisa tampak seperti model yang terpampang dalam gambar advertensi. sadar akan masalah berat badan yang sangat menentukan penampilan seseorang. dan seterusnya. Wacana di atas dapat diubah menjadi seperti ini.

membuat kita terpaku dalam urusan berat badan. Pada umumnya orang sangat memperhatikan berat badannya.Anda pernah membaca majalah? Di dalam majalah itu mungkin ada pembicaraan tentang berat badan. Pada umumnya. Semua iklan itu berupaya membuat kita gandrung akan penampilan seperti yang tampak dalam gambar. setiap bunga mempunyai bagian yang disebut poros. Mengubah struktur kalimat mungkin lebih mudah daripada mengganti katakata sulit dengan kata-kata mudah. yang dapat . Ada juru iklan yang menyuruh anda membeli mesin berlatih. kata terpampang diganti dengan kata tampak. Kalimat pada wacana pertama berkesan panjangpanjang dan mengandung ide lebih banyak daripada kalimat-kalimat dalam wacana kedua. Cobalah perhatikan kalimat deskriptif di bawah ini. ialah bagian yang menumbuhkan organ-organ reproduksi yang penting (benang sari dan putik) dan lazim juga bagian-bagian tambahan (kelopak bunga dan bunga). Namun. Sekarang para juru iklan masih terus melakukan hal yang sama. tujuan hidup orang tidak sama. Perbedaan apa yang tampak dalam kedua wacana di atas itu? Jika anda memperhatikan dengan baik kedua wacana tersebut. Orang yang memperhatikan urusan mode. Iklan tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan itu. akan segera tampak dua hal yang berbeda di dalamnya. Kata advertensi diganti dengan kata iklan. Wacana kedua menggunakan kata-kata yang lebih mudah daripada kata-kata yang digunakan dalam wacana pertama. Bacaan yang bagus seringkali mengandung kalimat-kalimat yang panjang yang mengandung rincian pikiran atau ide. Juru iklan yang lain menjajakan jamu-jamu untuk menurunkan atau menaikkan berat badan.

Wacana di atas itu dapat diubah menjadi wacana seperti berikut ini. misalnya: 1) Setiap bunga mempunyai bagian yang disebut ---.berperan sebagai daya tarik terhadap serangga penyerbuk dan sebagai pelindung bagian-bagian yang esensial.---2) Organ-organ reproduksi yang penting itu ada dua ---. 4) Kelopak bunga dan daun bunga pun tumbuh pada ----5) Kelopak dan mahkota bunga itu merupakan pemikat. Hal tersebut membantu pembaca menata fakta yang dikemukakan dalam wacana. apa yang terjadi dalam pikiran anda? Apakah anda berupaya untuk memproses dan menyusun fakta yang berbeda-beda itu? Seraya membaca kalimat di atas. Organ ini berfungsi sebagai daya tarik terhadap serangga dalam proses penyerbukan dan berfungsi sebagai pelindung. Organ reproduksi tambahannya adalah kelopak bunga dan bunga. setiap bunga terdiri atas satu poros bunga. sebab fakta itu diperkenalkan dalam takaran yang lebih kecil (kalimat pendek-pendek). fakta-fakta sebaiknya dinyatakan dengan jalan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek-pendek daripada menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan kompleks. Di samping itu juga biasanya membantu memperbaiki pemahaman. . Pada umumnya. Organ-organ reproduksi poros bunga yang penting itu ialah benang sari dan putik. sebaiknya anda memproses dan menata berbagai fakta ke dalam rincian-rinciannya. 6) Kelopak dam mahkota bunga itu melindungi organ-organ inti. Untuk menurunkan tingkat kesulitan bacaan.---3) Organ-organ yang penting itu ialah putik dan benang sari. Waktu anda membaca wacana di atas.

atau bisa juga kata tersebut kurang akrab dengan kita karena frekuensi pemakaiannya tidak tinggi. 1) Carilah kata-kata sukar yang terdapat dalam wacana itu. biasanya jauh lebih mudah. kita harus berupaya menganalisis kalimat yang kompleks itu agar dapat memahami isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang dapat anda ikuti untuk menurunkan tingkat keterbacaan sebuah wacana. pembaca akan mempunyai kesempatan untuk memproses setiap fakta dalam pernyataan yang terpisahpisah. Upayakan agar katakata sukar itu dapat diganti dengan sinonim yang lebih mudah. . tergolong ke dalam kata sukar. Cara kedua untuk menurunkan tingkat keterbacaan wacana ialah dengan jalan mengurangi jumlah silabi (suku kata) dengan cara mensubstitusikan kata-kata yang pendek untuk kata-kata yang panjang. yang belum diubah. 2) Ganti kata-kata sukar dengan kata-kata yang lebih mudah.Bagaimana pendapat anda tentang kedua bentuk penyajian wacana di atas? Mungkin anda berpendapat bahwa wacana yang kedua lebih mudah dipahami karena informasi yang disampaikannya dinyatakan dalam empat buah kalimat yang relatif lebih pendek-pendek. Ketika kita membaca wacana yany pertama. kata-kata yang lebih panjang lebih sukar untuk dibaca. Jika kata-kata pengganti sukar dicari maka anda lebih baik mengubah panjang kalimat. Kata-kata yang multisilabik atau yang berhuruf 6 buah atau lebih. Mengganti kata-kata sulit memang perlu. Biasanya. Substitusikan katakata yang lebih pendek dan lebih mudah itu pada tempat kata-kata sukar tadi. tetapi mengubah panjang kalimat sehingga jumlah kalimat tersebut bertambah. Dengan kalimat yang pendekpendek. Untuk melaksanakan upaya tersebut anda dapat menggunakan kamus sinonim.

sehingga pikiran-pikiran penulis dapat dinyatakan dengan takaran yang lebih kecil-kecil. mungkin juga berkurang. Berdasarkan hasil penelitian mutakhir diperoleh bukti bahwa faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan ada dua hal. Tujuan anda bukanlah mempertahankan jumlah kata. 4) Tulis kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata yang lebih mudah dan kalimat-kalimat yang pendek. Jika jumlah kata dalam wacana tersebut berkurang anda dapat mengukur tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan menggunakan daftar konversi seperti yang telah anda pelajari di muka. boleh jadi bertambah. 5) Ukurlah tingkat keterbacaan wacana yang baru itu untuk mengetahui penurunannya. RANGKUMAN Tingkat keterbacaan dapat diartikan sebagai tingkat kesukaran/kemudahan wacana. . Jumlah kata sebelum dan sesudah diperbaiki tidak perlu tetap.3) Bacalah kalimat-kalimat dalam wacana tersebut untuk mengetahui kemungkinan memendekannya dengan jalan membaginya menjadi dua atau tiga buah kalimat. yakni panjang-pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang juga ditandai oleh jumlah huruf dan atau silabi yang membentuknya. Anda jangan keliru. Camkanlah bahwa penurunan tingkat keterbacaan itu lebih mudah dilakukan dengan jalan memperbanyak kalimat. melainkan mengubah wacana supaya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa anda.

3) Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan kedua formula keterbacaan tersebut untuk mengukur keterbacaan wacana bahasa Indonesia? Berikan alasan dan contoh-contohnya! 4) Jelaskan langkah-langkah kerja yang harus dilakukan si penulis jika dia ingin mengubah tingkat keterbacaan wacana. baik untuk kepentingan penurunan atau penaikan tingkat keterbacaan wacana. karena alat tersebut diciptakan untuk mengukur wacana bahasa Inggris. TUGAS DAN LATIHAN Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! 1) Kemukakan dua faktor utama yang mempengaruhi keterbacaan.Dari sekian banyak formula keterbacaan yang diperkenalkan orang. . serta berikan penjelasan dan ilustrasinya! 2) Setelah anda bandingkan prosedur penggunaan Grafik Fry dan Grafik Raygor. Namun. yakni (1) memilih penggalan wacana yang representatif sebanyak 100 kata. maka pemakaiannya untuk wacana bahasa Indonesia masih harus disesuaikan. dan (5) menentukan tingkat keterbacaan wacana dengan jalan mengurangi dan menambah satu tingkat dari ukuran yang sebenarnya. (2) menghitung rata-rata jumlah kalimat. Cara menggunakan kedua formula keterbacaan tersebut sekurang-kurangnya harus menempuh lima langkah pokok. coba anda jelaskan persamaan dan perbedaan dari kedua formula tersebut. Grafik Fry dan grafik Raygor merupakan dua alat keterbacaan yang dipandang praktis dan mudah menggunakannya. (4) mencari titik temu dari persilangan data (2) dan (3) dalam grafik. (3) menghitung jumlah suku kata (untuk Fry) dan menghitung jumlah kata sulit (untuk Raygor).

karena dari kota inilah pesawat-pesawat luar angkasa dilontarkan. Perkebunan jeruk Florida Tengah menghasilkan buah jeruk yang tidak kecil jumlahnya ditambah penghasilan dari daerah Florida bagian selatan yang selalu menghasilkan sayur-sayuran yang segar. namun demikian negara bagian ini memiliki kota tertua yang bernama Cape Canaveral. jagung. . kacang-kacangan. kota kediaman mereka yang tertua yang terletak di North America. Augustine. Hutan kayu sebelah utara Florida merupakan sumber kayu kertas yang kaya. Pantai Miami merupakan tempat hiburan bagi ribuan pengunjung setiap hari. di mana mereka tinggal secara tetap.5) Turunkanlah tingkat keterbacaan wacana berikut ke peringkat keterbacaan yang lebih rendah. yang merupakan lambang abad antariksa. Wacana FLORIDA Dalam tahun 1565 orang-orang Spanyol mendirikan sebuah kota yang diberi nama St. dan tomat. Sebagian besar kota Florida masih berusia sangat muda. yang kesemua itu dikirimkan ke daerah yang lebih dingin di musim salju.

MODUL 4: BAHAN AJAR MEMBACA DAN KETERBACAAN Pendahuluan Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Latar Belakang Sejarah Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 1 Tes Formatif 1 Kegiatan Belajar 2: Kaitan Keterbacaan dengan Penyediaan Bahan Ajar Membaca Rangkuman Perlatihan 2 Tes Formatif 2 Kegiatan Belajar 3: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 Kegiatan Belajar 4: Keterbatasan-keterbatasan Formula Keterbacaan Rangkuman Perlatihan 3 Tes Formatif 3 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

DAFTAR PUSTAKA .

Mudah-mudahan penjelasan mengenai hal ini akan dapat membantu Anda dalam upaya mempertinggi daya baca. . Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari uraian bab ini.000 per minggu. Anda diharapkan dapat menerapkan berbagai konsep dan strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. Bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Agar Anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. artinya 8 jam/ hari. Anda diharapkan: a) menjelaskan hakikat konsep membaca cepat.000 halaman bacaan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang digelutinya dalam satu semester dengan pemahaman 90%. Dalam bab ini akan disajikan bahasan singkat tentang berbagai strategi membaca cepat. Secara rinci. Jika Anda hanya mampu membaca 250 kata/menit.BAHAN BACAAN DAN STRATEGI MEMBACANYA PENDAHULUAN Salah satu tugas seorang warga negara adalah membaca. sudah dianggap cukup. Masihkan Anda mempunyai cukup waktu untuk membaca? Berapa lamakah Anda dapat membaca setiap hari? Berapa banyakkah pengetahuan yang adapat Anda timba dari bahan bacaan yang Anda baca setiap hari itu? Berapa KEM Anda sekarang? Baldridge (1979) berkata bahwa setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850. namun untuk pembelajar Indonesia dapat membaca 10. dalam seminggu Anda harus membaca kira-kira 56 jam. Sungguh dramatis. Anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. Anda dituntut untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didik Anda agar mereka memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. Setelah mempelajari uaraian bab ini. Meskipun tidak dapat menjangkau harapan Baldridge seperti dikemukakan di muka.

Mari kita bandingkan dengan kegiatan bermain tenis. 2. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup menggungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. Hakikat Membaca Cepat 2.b) mengenal berbagai konsep strategi membaca cepat. Membaca bukanlah suatu proses "ekafaktor". umpamanya. c) menerapkan berbagai strategi membaca cepat dalam kegiatan membaca. dan dia pulalah yang kuat. Psikologi pendidikan membuktikan dengan pasti bahwa membaca mempunyai sifat-sifat kompleks. dalam upaya mempertahankan kekuasaan kediktatorannya.1 Pengertian Membaca alah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. Seperti bermain tenis. d) memilih strategi membaca yang tepat untuk berbagai keperluan membaca dan bahan bacaan yang dihadapi. Siapa membaca cepat dialah yang dapat. Demikian juga dalam membaca. membaca pun memerlukan latihan dan keuletan. sehingga ia dapat memahami maksud penulis dengan setepat-tepatnya. Mungkin karena itu sebabnya. Pembaca yang mahir akan memberikan respon terhadap pernyataan penulis dengan sebaik-baiknya. melainkan keterampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. Hitler membiarkan rakyatnya untuk tuna wacana dan tidak berpendidikan. Faktor-faktor yang secara tunjang-menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata mempunyai sifat-sifat . Banyak sarjana pendidikan yang berpendpat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan. Pemain tenis yang baik akan merespon pukulan lawan dengan menggunakan pengertian yang tepat terhadap maksud pukulan lawan.

. jelas .. Dengan demikian...... hakikat dari strategi membaca cepat. demikian disebut . demikian juga kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan hilang jejak jika dihilangkan.. Persoalannya. tepat. dapatkah kita mengidentifikasi bagian dimaksud? Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggapnya tidak informatif atau bagian yang dianggapnya tidak perlu mendapat respon.. bagian manakah dari bacaan tersebut yang boleh dilompati? Tentu saja kita akan menjawab bagian yang boleh dilompati itu adalah bagian yang tidak esensial. Inilah sebenarnya. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan. Yang perlu dibaca hanyalah kata kunci. Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatanlompatan dalam membaca. baik . mudah dipahami oranglain . Kalimat . Terdapat bagianbagian tertentu dari bacaan yang dilompati sehingga panjang bacaan menjadi berkurang hingga 30-40%. Kalimat fektif haruslah . strategi ini menuntut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang.. waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat... Oleh karena itu..yang menguntungkan. bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil. Kalimat . ialah kata-kata atau frase-frase yang jika dihilangkan dapat menimbulkan salah paham atau menyebabkan bahan bacaan itu tidak bisa dipahami. Tetapi. tepat. maka kemampuan membaca pun pasti membaik. kalimat efektif.. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan. .... Bagian-bagian yang sudah diketahui tidak perlu dibaca lagi. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaikbaiknya. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut.

. gayatolak . mati. tergerak hatinya.. ". maka tampaklah kepada kita berbagai makhluk dengan sifatnya masing masing.. Hal ini berarti . sekitarnya... tetapi kita masih dapat menangkap maksud wacana yang sudah mengalami reduksi itu... Selanjutnya. apa yang dibicarakan.. sifatnya .mewakili pikiran ... Pertama kita hadapi alam.. kemauan. tampaklah .. "Kalau kita melihat alam sekitar kita... .... mati . Sekaliannya terikat pada tempatnya dan tiada mungkin . kalimat efektif disusun .. logam. dan sebagainya.. . gaya tarik .... dalam dirinya sendiri.. Yang ada ... keadaan . . Wacana di atas panjangnya sudah berkurang kira-kira 30%. mari kita lihat ilustrasi yang lain. ba tu... sadar .. kita melihat alam sekitar kita..... tidak mungkin menimbulkanperubahan .. diharapkan pembacatertarik .. gaya berat. batu. Hal ini disebabkan bagian-bagian yang dihilangkan itu memang bagian yang tidak esensial dari wacana tersebut. ... mencapai daya informasi yang dinginkan ...... Dapatkah Anda memahami informasi yang tersaji dalam paragraf di atas itu? Apa yang Anda lihat di sekitar Anda? Sebutkanlah sifat-sifat alam yang mati itu! Sifat apa yang tidak ada dan sifat apa yang ada pada alam mati itu? Cobalah bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut yang masih lengkap unsur-unsurnya. Kita menyebut ... penulis . tak adapadanya.... sekaliannya terikat pada tempatnya . hal ini tercapai. ia takluk sepenuhnya ...pembacanya ... Pertama kita hadapi alam yang mati.. logam. Gerak istimewa.alam .. tanah.. makhluk . .. tanah. keinginan penulis.... mekanis"..

Adakah hal-hal yang esensial yang hilang dalam paragraf yang sudah dikurangi unsur-unsurnya itu? Apakah jawaban Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jauh lebih baik setelah Anda membaca paragraf yang lengkap? Meskipun Anda sama sekali tidak menjumpai kesulitan dalam memahami paragraf yang sudah dipersingkat itu. Untuk memiliki kemampuan ini Anda memerlukan banyak latihan. Dengan MC. kemauan. bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Yang ada hanyalah gaya berat. orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya. Perhatian bisa difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. tidaklah berarti bahwa Anda sudah dapat membaca sebaik yang Anda harapkan. maka Anda boleh merasa sudah berhasil dalam usaha mempercepat bacaan Anda. MC memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes. Kalau Anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan membaca 1000 kata atau lebih per menit. dan kebebasan tidak ada padanya. Kita menyebut ini alam yang mati oleh karena ia takluk sepenuhnya kepada keadaan seki tarnya. 2. Gerak istimewa. Rentang kecepatan MC adalah 1000-2000 kata per menit. dan gaya tolak yang mekanis.2 Manfaat Membaca Cepat MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi Anda. terutama dalam keadaan seseorang terdesak waktu. . gaya tarik.menimbulkan perubahan da lam dirinya sendiri.

Upaya menanamkan "keinginan untuk membaca cepat". Selama latihan. Dari frgamen-fragmen pengertian tersebut. Kunci utama MC ialah melaju terus. Dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya. Anda akan meningkatkan kesadaran tentang makna berbagai kata kunci. Pada permulaan latihan MC. irama empat detik/halaman. Melalui latihan yang tekun. itu yang pertama kali ditumbuhkan. Anda akan mampu menangkap ide umum isi bacaan. ingatlah bahwa Anda akan berusaha untuk membiasakan gerakan mata dan proses berpikir yang diperlukan dalam MC. dan seterusnya). ialah satu detik satu halaman. pemahaman isi bacaan tidaklah terlalu diutamakan. . Bacalah terlebih dahulu bacaan-bacaan ringan dan bacaan-bacaan yang judulnya tidak terlalu asing.irama dua detik/halaman. Peralihan dari halaman yang satu ke halaman lainnya harus dilakukan secara berirama. sebelum bergerak pada bacaan-bacaan yang Anda anggap sulit dan asing. sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. diikuti oleh peralihan ke halaman lainnya. yang diikuti dengan pindah halaman. Yang dimaksud irama internal satu detik/halaman ialah hitungan yang memakan waktu satu detik.MC akan terasa juga manfaatnya pada waktu Membaca Survei (membaca sekilas). maka dalam waktu satu menit diharapkan terbaca sebanyak 60 halaman. Dengan demikian. Pada waktu Anda mulai berlatih. Arti yang Anda tangkap dari bacaan itu berupa fragmen-fragmen. Dalam perlatihan membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (irama internal satu detik/halaman. dan harus segera diikuti oleh perpindahan ke halaman lainnya. Dengan kata lain. setiap halaman mesti dibaca dalam waktu satu detik. yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca. kepercayaan akan diri sendiri dan tingkat pemahaman Anda akan bertambah terus.

POLA DIAGONAL . POLA VERTIKAL Gerakan meluncur vertikal ke bawah. Persiapan Latihan MC Sebelum Anda mulai berlatih. baik pada batas pandang di bagian tengah halaman.Kemampuan membaca satu halaman per detik. serta minat baca yang tinggi. 1) Sediakan sebuah buku yang mudah (novel) yang tebalnya kira-kira 200 halaman. 3) Perhatikan berbagai pola MC yang berikut ini. bacalah dahulu penjelasan berikut ini. Cara ini paling singkat dan dapat dipermudah dengan bantuan telunjuk tangan kiri. sebuah stop watch. 2) Sediakan pula arloji atau. kalau ada. Pilih salah satu di antaranya yang paling cocok bagi Anda. Cobalah setiap pola untuk membaca buku yang tersedia.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin yang kuat. atau kira-kira 20. maka Anda sudah boleh merasa puas. Anda tidak diharapkan untuk dapat membaca dengan kecepatan setinggi itu. Anda tentu dapat menentukan pola mana yang cocok untuk Anda. Kalau lewat latihan yang sungguh-sungguh akhirnya Anda dapat menjadi pembaca yang memiliki kecepatan membaca 15 detik/halaman. 3. atau melewati batas pandang dapat dipahami dengan menggunakan kemampuan mengira-ngira. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru.

kemudian bergerak agak menurun ke kiri sampai batas kiri. gerakan ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman.Gerakan diagonal dimulai dari sudut kiri halaman. Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih sinambung. Untuk menjaga pengulangan yang terlalu banyak. POLA BLOK . bergerak meluncur ke sudut kanan bawah halaman menurun seperti anak panah pada gambar sebelah. POLA SPIRAL Pada pola ini. yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang. POLA ZIG ZAG Pada pola ini pAndangan mulai bergerak dari sudut kiri atas halaman agak menurun sampai batas sebelah kanan. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu.

atau kira-kira satu detik/satu baris.Pada pola ini pembaca berhenti sejenak pada akhir blokblok tertentu. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri. POLA HORIZONTAL Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Cobalah beberapa kali setiap pola membaca cepat di atas. Anda pun diharuskan . Seraya membaca. Untuk itu Anda diharuskan menggunakan salah satu pola membaca yang telah Anda tentukan sebagai pola yang paling tepat. pembaca diharapkan dapat memahami isi paragraf tersebut. dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat. Pola mana yang cocok bagi Anda? Kalau Anda memilih pola yang terakhir maka Anda dapat membaca kira-kira satu baris/detik atau kira-kira 10 kata/detik. kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan. yang berarti Anda harus membaca dengan kecepatan setengah menit/satu halaman. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf yang baik. Blok ini umumnya merupakan paragraf. Bacalah lima puluh halaman yang pertama dalam 25 menit. suatu kecepatan membaca yang lumayan. Sekarang. silakan letakkan sebuah buku terbuka rata di atas meja.

Irama ini sangat mudah diikuti. Kurangi kecepatan membaca Anda kalau ternyata masih terlalu cepat. bantulah bacaan Anda dengan telunjuk. cobalah membaca dengan menggunakan irama internal satu detik/baris. Yang penting bagi Anda sekarang ialah ketepatan membagi waktu sehingga Anda dapat menyelesaikan bacaan sebanyak 50 halaman itu tepat 25 menit. Biarkan buku yang sedang Anda baca itu terletak terbuka rata di depan Anda. Kalau Anda menemui kesukaran dalam menetapkan waktu bacaan. periksalah apakah bacaan Anda sudah tepat kira-kira kecepatannya atau belum. ikuti petunjuk berikut ini. segeralah kembali ke kiri.mencocokkan kecepatan membaca Anda dengan jalan memperhatikan arloji yang Anda sediakan itu. Setelah . Bacalah setiap baris pada halaman yang terbuka sambil mengucapkan "satu-dua" dalam hati. Setelah selesai membaca 30 baris. Anda tidak perlu merasa kecewa. dan tambahlah kecepatannya kalau ternyata masih terlalu lambat. Arloji Anda akan membantu usaha ini dengan sebaik-baiknya. Caranya. setelah telunjuk Anda sampai di ujung baris sebelah kanan. bagaimana hasilnya? Dapatkah Anda mengatur kecepatan bacaan sehingga tepat waktunya? Bagaimana tingkat pemahaman Anda terhadap bacaan itu? Meski betapapun jeleknya hasil yang Anda peroleh. dan bacalah baris berikutnya dengan cara yang sama. Supaya lebih mudah. Mulailah membaca buku bacaan ringan yang Anda sediakan itu. Dengan latihan 5 menit. Berlatihlah selama lima menit. Selanjutnya. dan berhentilah pada halaman 50. selesaikanlah membaca buku yang tebalnya 200 halaman itu dalam waktu 100 menit. Anda akan memiliki ketukan irama internal satu detik/baris tanpa bantuan telunjuk lagi. Nah. Anda dapat mengikuti irama internal satu baris/detik.

Anda pasti berhasil jika pandai memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. 2) Biarkan kegiatan lain agar tidak mengganggu rencana latihan yang telah Anda tentukan itu. Usaha kan agar berangsur-angsur Anda memiliki kepekaan bergerak sepanjang baris dengan cepat. Waktu yang menimbulkan rasa seperti itu sangat umum dialami. Anda harus bertahan.Jika Anda berhasil mengatasi godaan yang pertama. Anda akan belajar mengevaluasi bacaan Anda dan mendapat keterangan lebih lanjut tentang MC. Persiapan Memperbaiki Daya Baca Semua spesialis membaca berpendapat bahwa Anda bisa membaca lebih baik lagi.selesai membaca buku. Kecepatan baca yang tinggi boleh dikatakan tidak berarti jika tidak disertai pemahaman terhadap isinya. paling sedikit setengah jam sehari. Berlatihlah dengan intensif. dan sekonyong-konyong Anda akan merasakan lonjakan dalam daya baca Anda. Dalam ilmu jiwa dikenal istilah "plateau". sebab waktu seperti itu biasanya tidak berlangsung lama. 4. maka selanjutnya Anda akan merasa sangat mudah untuk memulai setiap latihan selanjutnya hingga selesai. Mereka berpendapat pula bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca Anda dituntut untuk mengikuti resep yang berikut ini. 3) Sadari bahwa Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan. Mulailah dengan biografi . 1) Sediakan waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca. 4) Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi Anda dan yang idenya mudah ditangkap. Langkah selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah berlatih memperbaiki daya baca dengan fokus pada pemahaman isi bacaan.

Selama berlatih membacalah dengan kecepatan tertinggi yang Anda lakukan tanpa mengurbankan pemahaman. 9) Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap. dan bacaan yang mempunyai daya pikat kuat bagi Anda. 10)Membacalah dengan tekanan progresif. bukan dengan melisankan kata-kata yang Anda baca. Membacalah seolah-olah Anda sedang mengikuti tes yang Anda baca supaya dapat menjawabnya dengan baik. Kalau Anda membiasakan diri membaca seperti ini. Sebelum Anda memulai membaca nonfiksi. Sambil membaca Anda harus bertanya. 7) Tentukan terlebih dahulu tujuan Anda membaca. 6) Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan. masuklah ke dalam bacaan sambil bertanya. Camkan apa maksud Anda memilih bacaan itu. Ubahlah terlebih dahulu judul bacaan menjadi pertanyaan. Periksalah pikiran utama penulisnya dan perencanaan untuk mengembangkan pikiran dalam tulisan tersebut. lakukan survei selama dua atau tiga menit. dan keluarlah dengan jawaban atas pertanyaan itu. cerita petualangan. Barulah Anda boleh membaca dengan kecepatan seefisien-efisiennya berdasarkan faktor-faktor yang Anda tentukan itu. 5) Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit. 8) Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang. Bacalah majalah-majalah profesional dalam bidang spesialisasi Anda. Segera setelah Anda merasakan kemajuan. melangkahlah ke bacaan yang mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi.berfiksi. perkirakan kesulitan apa yang mungkin Anda jumpai di dalamnya. fiksi keilmuan. Usahakan untuk memahami permasalahan dengan jalan berpikir. Sadarilah bahwa vokalisasi sangat mengganggu kecepatan membaca. . dan camkan pertanyaan yang Anda buat itu selama membaca."Apa jawaban untuk pertanyan yang Anda buat itu?" Dengan kata lain.

cobalah usahakan supaya Anda memperoleh gairah baru. 11)Tingkatkan penguasaan kosakata Anda. atau mungkin memeriksanya dalam kamus.maka hasilnya tidak akan berbeda dengan latihan-latihan yang menggunakan alat yang disebut akselerator membaca. Namun demikian Anda harus tetap memeriksa pemahaman Anda. Anda memiliki suatu irama membaca cepat. . Kalau hal seperti itu terjadi. atau mungkin melihat daftar istilah yang terlampir dalam bacaan itu. untuk melipatgandakan kecepatan membaca. Anda dituntut untuk menebus kemampuan yang Anda cari itu dengan usaha Anda. Kata-kata yang tidak Anda pahami dapat diterka melalui konteks kalimatnya. sampai sekarang para ahli belum menemukan dan tidak akan pernah menemukan rumus atau resep yang bisa menyulap seperti Lampu Aladin. 13)Jagalah supaya Anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata. Anda mungkin akan segera dihinggapi ketidaksabaran dan bahkan melemparkan bacaan yang Anda baca sambil berputus asa. Setelah Anda mempelajari cara membaca cepat seperti yang disajikan di awal modul ini. Membaca menuntut Anda mempunyai pegetahuan yang lebih luas dari pengetahuan tentang makna kata semata-mata. maka Anda akan mempunyai kepekaan tertentu terhadap apa saja yang Anda baca. 12)Tingkatkan pengetahuan Anda. dengan sendirinya akan menjadi semakin baik dan cepat bacaan Anda. Carilah bacaan yang lebih menarik yang lebih erat hubungannya dengan tugas-tugas yang harus Anda selesaikan. Semakin bertambah pengetahuan Anda tentang masalah yang Anda baca. 14)Jagalah supaya gairah Anda tidak melesu. Berhentilah sejenak pada akhir setiap unit untuk memeriksa pemahaman dan membuat catatan singkat dalam ingatan.

Paragraf (1) Semua orang di Mediterranean berkepercayaan bahwa pohon "zaitun" itu keramat. Tetapi zaitun jauh lebih banyak disanjung. Baik pohon "oak" maupun pohon "jati". maka akan sirna pulalah kehidupan di Mediterranean. Struktur Paragraf Paragraf adalah sebutan yang biasanya diberikan terhadap sekumpulan kalimat yang saling berkaitan dan menjelaskan suatu topik tertentu. Rencana struktural untuk mengembangkan topik itu tidak dinyatakan dalam sebuah definisi atau batasan tertentu. Bacalah dengan kecepatan kira-kira 300 kata/menit. jumlahnya berlimpah ruah. Cobalah bandingkan paragraf-paragraf berikut ini. Walau demikian. dia mampu memenuhi kebutuhan sAndang. apa yang diberikannya kepada umat manusia jauh melebihi apa yang dapat diberikan oleh jenis pohon lainnya. pangan. . Agaknya jarang sekali terjadi bah wa lambang yang bermanfaat itu juga keramat. Penelitian terhadap berbagai tulisan menunjukkan bahwa pengembangan paragraf itu bermacam-macam metodenya. Pohon zaitun hampir tidak memerlukan apapun. sehingga sumbangannya terhadap manusia tidaklah ada bandingannya. Lain halnya dengan zaitun. SeAndainya lenyap pohon ini dari muka bumi. Sesungguhnya pohon kurma itu sangat kaya. tidak perlu hujan ataupun mata-hari. tidak pernah dijadikan lambang yang menentukan nasib sebuah kampung halaman.1 Petunjuk Mencari Pikiran Utama Di bawah ini disajikan petunjuk singkat untuk mencari pikiran/ide utama sebuah bacaan.4. dan papan seluruh kafilah Afrika Utara.

dan tidak pula memerlukan filamen. Dalam paragraf ke-2. Segala sesuatu yang lainnya yang ada dalam paragraf itu merupakan pendukung terhadap apa yang dikemukakan dalam kalimat yang pertama itu.Di dalam paragraf di atas. dan sifat-sifat pohon zaitun. Kedua jenis sifat transistor itu telah menjadikannya sangat berguna. dan ini masih bisa diperkecil bila diperlukan. transistor hanya memerlukan tenaga yang sangat kecil dan boleh dikata tidak menghasilkan panas. serta perbandingannya dengan pohon lain merupakan ide penjelas bagi ide pokoknya. Cobalah sekarang pelajari paragraf berikut.Kemasyhuran. transistor itu lebih kecil ketimbang tabung vakum. maka akan Anda ketahui pula bahwa polanya berbeda dari kedua pola paragraf di atas itu. Cobalah Anda baca. Transistor tidak memerlukan pembungkus dan gelas vakum. sebab justru kedua macam sifat itulah yang merupakan kesulitan utama dalam perkembangan elektronika yang memerlukan tenaga besar dan panas yang kuat yang dikeluarkan oleh tabung vakum. kegunaan. Baru pada akhirnya dia membuat sebuah kesimpulan. Ada model transistor yang besarnya setengah dari kacang polong. Paragraf (2) Arkian. Paragraf (3) . Kalau Anda perhatikan paragraf yang berikut ini. Pola penempatan pikiran/ide utama pada paragraf kedua berbeda dengan paragraf pertama tadi. penulis memulai tulisannya dengan berbagai keterangan tentang transistor. Dalam pada itu. Anda melihat bahwa pikiran utama dinyatakan dalam kalimat pertama.

Orang Jepang juga sangat tertarik akan masalah rasisme itu. rasisme dikumAndangkan di Atlanta. Coba Anda perhatikan paragraf 4 di bawah ini. pada menit-menit terakhir kondisi udara pun mendadak memburuk. Semua peralatan ada dalam keadaan siap. Georgia. dan sifat-sifat lain yang terpuji dan diingini. . dan tes pun terpaksa diundurkan.Doktrin rasisme itu sekali-kali tidak baru. Kira-kira 500 orang saintis. Teori rasisme itu dapat direduksi menjadi sebuah proposisi yang sederhana bahwa suatu ras lebih unggul dari ras lainnya dalam hal kecerdasan. Dalam struktur pola paragraf yang keempat di bawah ini Anda lihat bahwa pikiran/ide utama penulis terbagi dua. Paragraf (4) Tes atom dijadwal tanggal 10 mei. dihadapi oleh orangnya masing-masing yang sudah terlatih. Tetapi. kemampuan. pegawai pemerintah. dan Hitler bukanlah penciptanya. Secara jujur orang Columbia itu berkata bahwa dalam charta mereka tercantum suatu tujuan untuk "mendorong orang berpikir berdasarkan ras. dan kesetiaan". Di Amerika Ku Klux Klan memberikan dukungan bertahun-tahun lamanya. Pemimpin mereka. bangsa. dan reporter surat kabar siap untuk menyaksikan panorama. Dan semenjak Perang Dunia II. dan mereka menyimpulkannya dalam sebuah slogan "Asia untuk orang Asia". Sebagian terdapat pada awal paragraf dan bagian lain dinyatakan di akhir paragraf. adalah orang yang mencetuskan ide mereka sebagai "melting pot". Emory Burke. dan menamakan diri "Columbia".

Struktur paragraf yang berikut ini lain lagi polanya. Semuanya mendukung suatu pikiran pokok yang tidak dinyatakan dalam sebuah kalimat topik. Paragraf (5) Sore itu. Warna Samudera Pasifik dari tengah ke tepian. dan coklat. langit di atas bentangan Pulau Cendrawasih sangat cerah dihiasi beberapa gumpalan awan tipis yang sedang membias dan memantulkan berkas-berkas cahaya mentari ke badan pesawat DC-9 yang kami tumpangi. tanggal 4 Desember 1989. dan lembah denagn berbagai asesorisnya ditata rapi oleh Sang pencipta sehingga pemandangan saat ini sangat menawan hati dan membuat orang serasa ingin melanglang buana di langit ini tanpa mau turun lagi ke bumi. umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam memahami gagasan yang ada di belakangnya. Ide pokok paragraf tersebut harus dicari dan dirumuskan sendiri. bukit. Kalimat-kalimat dalam paragraf di atas itu hampir sama derajatnya. Anda pun akan segera mengetahui bahwa hubungan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya berbeda dengan hubungan antarkalimat di dalam contoh-contoh paragraf terdahulu. Bentangan pulau hijau bagaikan permadani yang dihiasi guratan seni alur sungai besar kecil yang tak terhitung jumlahnya. daratan. Sehabis membaca mereka mengalami keadaan yang berat karena . hijau. Gunung. berturut-turut biru. Pentingnya Pengetahuan tentang Ide Pokok Orang tidak mampu menikmati suatu bacaan. Mereka melihat materi cetakan sebagai kumpulan kalimat yang sambung-menyambung dalam urutan yang uniform.

Selanjutnya. ia membuat semacam rangkuman seraya membaca. 4. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif. Pembaca yang memiliki kemampuan ini selalu membaca dengan menggunakan ideide utama dan rincian yang menjelaskan ide-ide itu. mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase. Pemahaman terhadap struktur paragraf dan kemampuan untuk mengetahui ide pokok memberikan sumbangan besar terhadap kecermatan pemahaman isi bacaan. terutaama yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu sosial. kemudian bergerak dengan cepat dari kalimat inti yang satu ke kalimat inti yang lainnya. sehingga Anda mampu menyadari kelompok kata yang semakin membesar yang berbentuk frase-frase. biasanya dapat menyadap materi yang mereka perlukan dari sebuah buku dengan jalan memahami terlebih dahulu struktur paragrafnya.merasa bahwa yang harus dipahaminya sangat banyak. Melalui latihan yang intensif Anda akan mampu juga mengikuti kelompok kata-kata yang berbentuk kalimat dalam sekali pAndang.2 Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF) Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap: tahap mekanis dan tahap konseptual. kemudian tenggelam dalam kecampuradukan. Para ahli. Anda . Tahap ini mencakup penggunaan rentang pAndang yang lebih besar. mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita. Pada tahap mekanis. Dengan kata lain. Anda akan mulai mengangkati makna frase secara tidak disadari dan akan menggunakan energi yang Anda miliki untuk menginterpretasikan kegunaan ide-ide dan informasi yang tengah Anda baca.

frase demi frase". mata bergerak melancar sepanjang baris-baris cetakan.1 Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis) Kebanyakan pembaca mengira bahwa sewaktu membaca. mereka .2.. kata demi kata .. maka yang kelihatan hanyalah bayangan kabur. Seorang penulis tidak menuliskan isi pikiran dan perasaannya secara kata demi kata..... Kalau mata bergerak terus. MF yang dilakukan oleh pembaca ini. kata .. demi. (tanda titik-titik menAndai perhentian-perhentian sejenak pada saat penulis/pembicara menyatakan pikirannya) Kalimat di atas seyogianya dibaca/diungkapkan dengan cara berikut. tidak . Berdasarkan pAndangan mekanis. menulis . supaya dapat menginterpretasikan kata-kata.. demi .... atau supaya dapat "melihat" sesuatu. menulis . Coba Anda renungkan ilustrasi berikut! "Penulis . frase . "Penulis tidak menulis ....... mata harus berhenti sejenak.kata ... membaca merupakan rentetan hentian- .. 4.tidak lagi akan dibebani oleh cara membaca kata demi kata yang sangat mengganggu kecepatan membaca.. Sesungguhnya. pada dasarnya sejalan dengan langkah yang diikuti oleh para penulis..... frase". melainkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat.. mereka me nulis .

dan setelah itu terjadi pula hentian. sama dengan keterbatasan kecepatan seorang yang membaca nyaring. yang dilihat sesungguhnya ide-ide tertentu. pembaca dapat melihat sesuatu dan makna sesuatu itu dapat diserap dengan cepat. Mengikuti setiap hentian itu terjadi lompatanlompatan mata ke arah cetakan yang berikutnya. Pada umumnya. Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi. sedangkan seorang yang membaca frase demi frase membaca tiga atau empat kali lebih cepat. Pembaca kata demi kata mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menggerak- . Mata seorang pembaca yang membaca kata demi kata mempunyai kecenderungan untuk berhenti pada setiap kata.hentian visual. orang mempunyai potensi untuk melihat lima atau enam kata dalam satu hentian. Dalam membaca frase. Pembaca frase ini lebih banyak menghemat waktu. Pada setiap hentian. akan dapat membaca jauh lebih cepat lagi. mana kata kunci dan mana kata-kata yang boleh dihilangkan. Pembaca frase demi frase akan dapat pula melihat dengan mudah. tidak banyak orang yang mau berusaha untuk mengembangkan kemampuannya itu. MF melibatkan kapasitas visual seorang pembaca. Dalam membaca senyap. pembaca yang bisa memadukan strategi MF dengan strategi membaca kata kunci (MKK) seperti telah dijelaskan di muka. Kecepatan seorang pembaca yang membaca kata demi kata terbatas. Dengan demikian. Namun. Mata seorang yang membaca frase demi frase berhenti lebih jarang daripada orang yang membaca kata demi kata. kecepatan maksimum seorang pembaca yang membaca kata demi kata hanya 300 kata/menit juga. Seorang pembaca nyaring hanya akan dapat membaca sekitar 250 sampai 300 kata/menit. Secara diam-diam mereka bersemboyan "Asal bisa membaca". dan berhenti pada kemampuan melihat satu dua buah kata pada setiap hentian.

Karena para pembaca frase demi frase dapat menghindari regresi dan dapat menangkap ide-ide lebih cepat. Ini disebabkan oleh karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. a) Latihan pada Tingkat Mekanis 1) Latihan Ayunan Visual. Latihan-latihan khusus seperti yang mesti ditekuni oleh seorang calon pemain bola. harus pula . Mereka yang mampu menikmati apa yang dibacanya akan mempunyai sikap yang lebih positif terhadap kegiatan membaca. atau pun calon pianis dan sebagainya. dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok. dan kemampuan mereka pun dengan sendirinya akan meningkat. Sekali lagi. Pernahkah Anda menyaksikan pemain bola berlatih menekuni setiap subketerampilan sebelum mereka turun ke lapangan hijau? Pernahkah Anda mendengarkan seorang calon pianis berlatih melancarkan sentuhan jemarinya. Berlatihlah dengan menggunakan bahan-bahan berikut ini sehingga memiliki keterampilan secara wajar. mereka dapat menikmati bacaan lebih baik daripada pembaca kata demi kata. Regresi atau membaca balik ini dapat dihindari dengan jalan membaca frase. Mereka akan membaca lebih banyak. Latihan pada tahap mekanis seperti yang tertera di bawah ini akan meningkatkan kecenderungan untuk membaca frase. sebelum dia mulai berlagu? Sungguh membosankan.gerakan penglihatannya kembali ke arah kata-kata yang sudah dilewatinya. bukan? Mereka yang tidak tahan berlatih untuk menguasai sub-subketerampilan akan segera berguguran sebelum berkembang. atau seorang calon petinju.

......*...........*................ Dengan latihan ayunan visual secara tekun dan dengan keyakinan Anda diharapkan juga dapat membuang kebiasaan regresi............. . Silakan coba! .......*.......*.............................. "bacalah" pola yang berikut ini dengan tekun....dilakukan oleh seorang calon pembaca yang mahir..........*........ Biarkan pAndangan Anda sajalah yang berayun secepat kilat melewati setiap bagian di antara dua tAnda bintang itu dengan irama yang tetap....................................*.*. Bentuk latihan seperti di atas itu didasari pengalaman seorang pengajar selama bertahun-tahun........ .................................. dan jangan pula menggerakkan kepala.. Hasilnya terbukti sangat memuaskan....*............... .. Mata Anda hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tAnda bintang....................................*...........*.....*................................*............ .......*...................... Janganlah sekali-kali berhenti di antara dua tAnda bintang..............*... ................. .*.......*.............................. . lalu ayunkan dengan segera pandangan Anda ke bagian tAnda berikutnya..... Dalam usaha untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan untuk membuat ayunan-ayunan visual waktu MF.....*..........*...................... ............................... .. Berlatihlah dua atau tiga kali untuk mengawali setiap kegiatan membaca sebagai suatu pemanasan.*................... .....

Sambil membaca.2. 4. perhatian Anda terutama harus ditujukan pada makna kelompok kata (frase). ratusan ribu. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna. Anda dianjurkan untuk mengadakan pemanasan.2 Membaca Frase pada Tingkat Konseptual Latihan-latihan yang terdahulu memusatkan perhatian pada aspek mekanis MF. Buatlah bagian awal dan bagian akhir setiap baris sebagai target. Huruf yang jumlahnya terbatas itu disusun menjadi ratusan bahkan ribuan kata yang bisa dikenali dengan mudah. Anda akan menjadi lebih . sesungguhnya tidaklah terlalu mempesona. ialah gerak mata. ialah penalaran dan pemahaman yang terjadi selama membaca. Tujuan pemanasan ini ialah untuk memperoleh irama gerak mata yang licin tidak kaku lagi. Ada bebrapa sebab pembaca tidak mengembangkan MF. Proses MF. penggunaan kapasitas untuk melihat sejumlah kata. bahkan jutaan. terutama karena MF lebih kompleks daripada MK. sedangkan kombinasi kata-kata itu jumlahnya jauh lebih banyak. Anda boleh beralih pada usaha untuk memperoleh makna bacaan. Latihanlatihan yang berikut ini lebih banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual. Mulailah Anda membaca dengan mengerahkan semua subketerampilan yang pernah Anda pelajari. Anda dapat menggunakan halaman buku yang terbuka di hadapan Anda sebagai tempat berlatih. Jika Anda mau berlatih dengan menggunakan cara yang disajikan di bawah ini. Meskipun orang berpikir dengan ide-ide. Sebelum mulai membaca.2) Latihan Membaca dengan Ayunan Visual. Selanjutnya. namun mereka sering kali membaca kata demi kata (MK).

Paragraf di bawah ini sudah ditAndai dengan batas-batas frase. Kata penghubung menyatukan frase. tAnda baca dan tAnda kalimat juga membantu usaha untuk mengelompokkan katakata. Contoh: "Saya gemar makan pedas.. (1) Latihan Pengelompokan Satuan Ide Di depan telah banyak disebut kata "frase". Di samping pengertian kalimat. Yang dimaksud dengan frase di sini sama betul dengan istilah "frase" dalam tata bahasa. Lihatlah apa yang ada di dalam setiap bagian yang ditAndai garis-garis pembatas. Untuk keperluan pemahaman suatu bacaan.". Sesungguhnya banyak kelompok kata yang digunakan berulang-ulang sehingga kelompok-kelompok kata-kata itu dapat Anda kenal seperti anda mengenal kata. Bacalah paragraf ini beberapa kali sambil meningkatkan kecepatan membaca. Semua unsur pembentuk kalimat yang sifatnya teratur itu ikut mempermudah proses MF.sadar akan adanya frase-frase yang berulang-ulang. tetapi perut saya. subjek biasanya mendahului predikat. dan lain sebagainya. Mulailah secara perlahan-lahan dulu. daftar pelajaran.. Cobalah cari arti setiap kelompok kata itu dengan tidak memperhatikan kata demi kata.. Jelaslah bahwa kemungkinan untuk frase yang merupakan kesimpulan sudah dibatasi oleh pengertian frase-frase sebelumnya. yang berupa kelompok kata yang unsur-unsurnya telah sering Anda jumpai. Contohnya: surat kabar. ibu guru. tetapi belum dijelaskan artinya. kata "frase" dibatasi sebagai "kelompok kata yang mempunyai arti". Anda akan membuktikan juga arti kalimat dapat digunakan untuk menerka frase-frase yang saling mengikuti. rumah sakit. Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini: .

Untuk kepentingan latihan Anda. bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya hingga selesai. Anda harus membaca setiap kotak tersebut dengan sekilas pAndangan. maka Anda tidak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang kalimat tersebut karena kata "rumah" tidak Anda hubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. maka Anda tidak akan memperoleh ide apa pun tentang kata “rumah” itu. Sebuah kata baru mempunyai arti setelah dihubungkan dengan kata-kata lain yang ada di sekitarnya. "Rumah pun habis dibakarnya". . Silakan Anda mulai berlatih! Waktu Anda berlatih membaca frase. Namun demikian. Sewaktu-waktu mungkin Anda harus menganalisis sebuah frase yang tersendiri. Kata "rumah" misalnya. Jika yang Anda baca hanya kata "rumah" yang ada dalam kalimat di atas. di bawah ini disediakan sebuah paragraf (untuk latihan) yang sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan satuan-satuan idenya. Anda haruslah bertujuan untuk langsung menggabungkan ide frase itu ke dalam unit pikiran yang memiliki arti. camkan dalam ingatan bahwa frase adalah unit arti yang terkecil. Setiap kelompok kata dikotaki. (b) kecepatan menangkap makna.(a) kecepatan membaca. Demikian seterusnya. tidak jelas artinya kalau tidak dihubungkan dengan kata lain yang dapat memberikan arti tertentu. dan (c) kelancaran ayunan pAndangan mata dari frase yang satu ke frase berikutnya. Kalau Anda membaca secara acak sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang berbunyi.

Membaca frase-frase penuh di antara setiap hentian mata menambah kemampuan pemahaman materi yang dibaca dan memungkinkan menambah kecepatan membaca melebihi kecepatan yang mungkin bisa dicapai pada membaca kata demi kata. Dengan kata lain. Kembalilah kini pada novel ringan milik Anda itu. sudah waktunya sekarang bagi Anda untuk berlatih mendekati MF yang sebenarnya. MF adalah kunci bagi membaca dalam hati yang efisien. Anda akan segera mengetahui bahwa mereka membuat jeda-jeda untuk memberi makna kepada pembicaraannya itu di antara ide-ide yang penting. Anda tidak perlu terlalu sayang untuk membubuhi titik-titik seperti yang ada pada contoh di atas. Pada mulanya . Untuk keperluan latihan. ialah dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun. (3) Latihan MF Tanpa TAnda Setelah Anda melakukan berbagai latihan yang ditugaskan dalam kegiatan terdahulu. Tempatkan titik-titik itu di tengah-tengah setiap frase yang ada di dalam paragraf yang Anda hadapi. Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti. Coba buatlah kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental.(2) Penandaan dengan Titik Langkah lebih lanjut untuk mendekati MF konseptual dapat Anda lakukan dengan membaca paragraf yang berikut ini. Lakukan latihan seperti itu selama 20-30 menit.

memang hampir semua orang mengalami kekhawatiran yang sifatnya sementara. Ketakutan akan kehilangan pemahaman memang sering kali terjadi. Anda akan merasakan perubahan yang jelas pada pemahaman Anda. Anda tidak usah merasa kuatir pemahaman Anda akan terganggu. Bertahanlah demikian untuk tidak kembali kepada kebiasaan membaca kata demi kata. Percayalah. membaca lambat itu tidaklah menjamin pemahaman yang baik. . Hal ini dapat menyebabkan seorang pembaca enggan mencoba mencapai kecepatan yang optimum yang bisa dicapainya.Anda akan merasakan bahwa pemahaman Anda sama sekali tidak mantap. sebab menurut penelitian. Untuk mengembangkan kecepatan yang optimum. Karenanya. Lakukanlah latihan seperti itu beberapa hari. teruslah berlatih dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang pernah Anda pelajari.

yakni kalimat yang menyatakan atau mengikhtisarkan pikiran utama sebuah paragraf. Dengan maksud yang sama. yang digunakan untuk menunjukkan awal suatu topik baru dalam suatu pembicaraan. salah satu dari kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf merupakan "kalimat topik" atau "kalimat master". PROSEDUR KOMENTAR/KETERANGAN . Membaca Paragraf 5. sekarang kita memulai kalimat pertama sebuah paragraf dengan mejorokkannya agak ke dalam. Biasanya.5. paragraf brmakna tanda atau tulisan yang diletakkan di bagian pinggir teks. Biasanya kalimat topik ini dikembangkan dengan kalimat-kalimat lai yang merupakan penjelasnya atau pendukungnya. Pada umumnya. yang menunjukkan adanya pikiran baru yang hendak diperkenalkan. yang dimaksud dengan paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama. Dengan demikian.2 Cara Membaca Paragraf Di bawah ini diuraikan prosedur membaca paragraf secara terinci berikut komentar-komentarnya. Cara ini dikenal dengan sebutan menginden.1 Hakikat Paragraf Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani para yang berarti samping/pinggir. ide yang terkandung dalam sebuah paragraf semakin menjadi jelas. dan graphein yang berarti menulis. 5. Pada mulanya.

c) Jika kalimat yang Anda pilih menggabungkan seluruh kalimat dalam paragraf itu menjadi satu pikiran yang utuh. Pembaca yang terampil selalu memperhatikan paragraf yang ada untuk mengetahui dicamkannya. cobalah gunakan Tes Ide Pokok yang berikut ini. a) pilihlah kalimat yang menurut perkiraan Anda menyatakan pikiran utama paragraf. Jika Anda meragukan kalimat pertama sebagai pendukung ide pokok. b) Bandingkan kalimat pilihan Anda itu dengan setiapka limat dalam paragraf itu. maka cobalah prosedur ketiga berikut ini. Jika ternyata bahwa kalimat pilihan Anda bukan pendukung ide pokok. Kadang-kadang penulis mengikhtisarkan pikiran utama dalam kalimat terakhir paragraf.1) Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan Sebuah paragraf pada umumnya merupakan pernyataan dan pengembangan suatu pikiran ter tentu. maka pilihan Anda itu benar. Biasanya jumlah ide pokok sama dengan jumlah paragraf pada suatu halaman. Kalimat pertama paragraf biasanya menyatakan pikiran utama paragraf tersebut. cobalah gunakan . Jika dalam kalimat terakhir itu pun Anda tidak menjumpai pikiran utama paragraf. jumlah ide pokok yang harus 2) Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat. 3) Bacalah kalimat terakhir paragraf yang Anda baca.

Kalau maksud Anda demikian. Sering kali paragraf terdiri tidak dari kalimat-kalimat yang tidak memberikan dukung an langsung terhadap ide pokok. "Apa arti semua ini?". Kalimat-kalimat tersebut bersifat kolateral (setara). ikutlah petunjuk dalam prosedur 8. Anda harus menyadari bahwa kata-kata seperti itu perlu diganti menjadi kata yang umum yang mudah dipahami. Cetak miring dan cetak tebal biasanya menunjukkan suatu pembagian yang penting atau yang perlu diperhatikan. 6) Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal. 8) Membaca dengan tujuan Supaya Anda dapat memahami paragraf secara . Namun. 4) Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama. Bacalah paragraf itu seperlu nya saja. 5) Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung.prosedur ke-4. 7) Terkalah pikiran penulis. Bacalah paragraf itu seraya bertanya. Anda mungkin juga membaca dengan maksud un tuk mengingat rincian isi bacaan atau untuk pemahaman total. Bidikkan perhatian Anda supaya dapat melihat dengan jelas apa yang dikatakan penulis. Cari artinya di dalam kamus dan pelajarilah. Jika terkaan Anda benar segera pindahlah ke paragraf selanjutnya. Sediakan juga kertas kosong untuk mencatat kata-kata baru/sulit. Inilah salah satu cara untuk mempertinggi kecepatan. Periksalah terkaan Anda. Setiap fakta mungkin mempunyai makna yang mendukung ide yang tidak dinyatakan.

Setelah membaca prosedur membaca paragraf. ialah tentang strukturnya. Akhirnya baca balik pikiran utama dan lengkapi dengan fakta-faktanya. Dengan demikian se tiap fakta akan merupakan ba gian dari pikiran utama yang besar. ada baiknya jika Anda mengetahui sedikit lagi keterangan tentang paragraf. mungkin Anda ingin segera berlatih. catatlah kalimat topik pada buku catatan dan di bawahnya Anda daftar fakta-fakta yang mendukung pikiran utama. Peranan-peranan dimaksud adalah: 1) sebagai kalimat topik/kalimat utama. .untuk memperoleh fak ta terinci harus dilakukan sebagai berikut. Hubungkan setiap fakta dengan pikiran utama. Cara ini dapat menolong Anda untuk memisahkan kalimat yang tidak mendukung perkembangan pikiran utama dalam paragraf. yakni kalimat yang tidak memberi dukungan atau keterangan apapun terhadap pikiran utama paragraf. Supaya Anda dapat melihat fakta-fakta dengan jelas dan hubunganhubungannya yang logis. Fokuskan/pusatkan perhatian Anda pada pikiran utama. Sebelum mulai dengan latihan. 3) sebagai kalimat pemuas. Setiap kalimat dalam paragraf harus mempunyai suatu peranan struktural. lengkap usaha kanlah agar Anda mengetahui setiap fakta dalam hubungannya dengan fakta lainnya. 2) sebagai kalimat penjelas/subordinat.

Pada dasarnya. sebab. a) Dengan ulangan. Cobalah pelajari baik-baik. Yang masih perlu dijelaskan ialah kalimat-kalimat subordinat. Proses tersebut terjadi di dalam pikiran pembaca. ialah dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak dikandung oleh pikiran utama.Kalimat-kalimat pemuas ini tidak mempunyai manfaat bagi pembaca. ialah dengan memberikan misal-misal kepada pembaca. d) Dengan pembenaran. Penulis mencantumkannya sekedar untuk memperoleh rasa puas. membaca adalah suatu proses psikologis. biasanya dengan menggunakan kata-kata lain. Paragraf (6) Teks Paragraf 1. atau contohnya. Kalimatkalimat penjelas menjadi lebih jelas jika ke dalamnya disisipkan kata-kata misalnya. Biasanya kalimat pembenaran diawali/disisipi kata karena. Di bawah ini disajikan sebuah contoh analisis paragraf buat Anda. ialah dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. 2. c) Dengan contoh. Keterangan tentang kalimat topik sudah cukup jelas. tetapi kemampuannya sudah lemah dalam mengembangkan paragraf itu. ialah mengulang-balik pikiran utama. . Dia masih ingin menjelaskan idenya. dan sebagainya. umpamanya. b) Dengan pembedaan. Kalimat-kalimat ini menjelaskan kalimat topik dengan empat cara sebagai berikut ini.

3. . orang buta sekali pun banyak yang dapat membaca dalam arti bahwa mereka dapat mengenal lambang-lambang dan mengubahnya menjadi ide-ide. Penulis mencantumkannya hanya untuk pemuas rasa. 7) Kalimat terakhir tidak memberikan dukungan apapun terhadap ide pokok. 3) Kalimat ke-3 menunjukkan perbedaan tentang kegiatan membaca dengan kegiatan lain (nonmembaca). 6) Kalimat ke-6 merupakan pembenaran yang berisi alasan bagi pembaca untuk menerima kebenaran kalimat pertama. Paragraf belum terasa lengkap kalau dihentikan pada kalimat ke-6. dan sebagainya. Bahkan. Yang mempunyai peranan utama dalam membaca bukanlah gerakan-gerakan fisiologis seperti gerak mata. 5. Kalimat ke-6 ini merupakan ulangan kalimat pertama dalam bentuk ikhtisar. 5) Contoh lain yang merupakan langkah yang lebih jelas. 4. bibir. pendapat Thorndike yang menyatakan bahwa membaca adalah berpikir harus kita terima. seorang pembaca yang bermaksud memperbaiki bacaannya haruslah banyak menyisihkan waktunya untuk menyerapi isi bacaan. Karena kita tidak dapat mengabaikan kenyataan-kenyataan seperti itu. 2) Kalimat kedua mengulang ide pokok dengan menggunakan kata-kata lain. 6. Analisis Paragraf 1) Kalimat pertama adalah kalimat inti yang mendukung ide pokok paragraf. Banyak penderita gangguan penglihatan dan gerak bola mata diketahui sebagai pembaca yang sangat mahir. 4) Contoh dengan menggunakan fakta yang kontras terhadap ide pokok. lidah. Seperti seorang atlit yang berusaha memperbaiki keterampilannya dengan jalan berlatih. 7.

ke-3 dan ke-5 untuk pertemuan yang akan datang". apa yang dibicarakannya? • Apa beda bab ini dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? • Bagaimana kedudukan bab ini bila dibandingkan dengan bab-bab lainnya yang harus Anda baca? Usahakan agar Anda tetap menyadari di mana Anda berada. 2) Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta. Supaya Anda tidak . Mulailah membaca sebuah bab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berikut ini dalam pikiran: • Bab ini membicarakan satu masalah tertentu. Tugas membaca sering kali diberikan per bab sebagai unit pelajaran.3 Membaca Bab 5. "Bacalah bab ke-2.5. Tugas seperti itu sudah sangat akrab bagi para siswa dan mahasiswa.1 Hakikat Membaca Bab Melalui uraian ini.3. kita akan mencoba melihat perbedaan dan persamaan membaca paragraf dengan membaca bab sebuah buku. Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu Anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat ialah: 1) Survei/periksalah bab yang Anda baca dengan suatu tujuan tertentu. Anda diharapkan dapat mempelajari dan menaklukan bab-bab dalam buku teks Anda itu dengan cepat dan cermat. Banyak orang mendapat kesulitan waktu membaca karena kehilangan jejak.

Anda harus melakukan pendekatan yang inteligen melalui survei dan penelitian. Baca hanya judul bagian kalimat utama paragraf.menemui kesulitan seperti itu. Terapkan teknik-teknik yang telah Anda pelajari dalam kegiatan-kegiatan terdahulu. Hal itu akan dilakukan kemudian. . Ini tidaklah berarti bahwa Anda harus membacanya secara terinci. Biasanya kita tidak akan merasa puas dalam memahami sebuah bacaan sebelum menimbang balik bab itu. demikian juga ikhtisar isi bab dengan jalan menulis jawab terhadap pertanyaan. Ikuti langkah ke-7 dan ke-8 dalam petunjuk tentang prosedur membaca paragraf di atas itu. menguji pemahaman. Setelah selesai menyurvei isi bab itu Anda siap untuk membacanya lebih teliti. dan melengkapi keterangan yang diperoleh. Lihat-lihatlah bab yang Anda baca itu dengan tujuan yang jelas. cobalah camkan isi daftar buku yang Anda baca itu baik-baik. seyogianya Anda membaca lagi judul bab itu. dengan pertanyaan dan penyelidikan sehingga Anda dapat menguasai situasi. Penguasaan umum itu sangat penting dalam usaha untuk memahami isi bab dan isi buku. Anda harus menunjukksn bab yang Anda baca itu dari awal hingga akhir. membuat catatan. juga akan memberi pula suatu penguasaan umum tentang isi bab itu. Langkah selanjutnya ialah membuat tes untuk Anda sendiri. "Apa yang dibicarakan penulis dalam bab yang baru dibaca itu?". Ambillah bagian atau paragraf tertentu secara acak. Kembalilah ke bagian awal bab itu dan bacalah paragraf-paragrafnya secara berurutan untuk mengetahui ide pokok dan fakta yang mendukungnya. mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. Membaca sepintas sebagai pendahuluan itu selain mengirit tenaga. Dalam menimbang balik bab yang Anda baca. Untuk menyederhanakan sebuah bab.

Tempatkanlah dekat tempat Anda belajar. Anda dapat membuat tempat menyimpan kartu itu dengan murah saja. Lebih bagus jika Anda juga mengukur KEM yang Anda capai. Anda pun belum tentu dapat memiliki bahan bacaan itu dalam perpustakaan Anda sehingga dapat menggunakannya sewaktu-waktu. bukalah buku Anda dan periksa daftar fakta yang Anda buat dengan mencocokkannya dengan apa yang tertera dalam buku. jika Anda memerlukannya. Biasakanlah membuatnya supaya Anda mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Tuliskan ikhtisar singkat tentang apa yang Anda baca dengan mencatat ide-ide pokok dan ide-ide penunjang. sangat bijaksana jika Anda membuat kartu baca. Tidak semua materi yang Anda baca dapat dan perlu Anda ingat. sebelum pergi kuliah. Setelah selesai. yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartukartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm. . Setelah selesai membaca suatu bab tertentu. Baca lagi kartu itu. Susun dan simpanlah kartu-kartu itu untuk keperluan mendatang dalam menghadapi ujian dan membuat karya tulis. Ulanglah tes seperti itu secukupnya. Lihat kembali bab 3 buku ini. lalu tutuplah buku Anda.Selipkan secarik kertas untuk menandai bagian itu. Mulailah dengan menuliskan bagian-bagian penunjang judul atau kalimat pokok yang Anda baca tadi. Jangan lupa mencantumkan data bibliografis bacaan Anda. Berilah angka pekerjaan Anda itu. Berapa persen yang benar? Catatlah skor yang Anda peroleh pada kertas yang Anda gunakan sebagai tanda tadi. Di bawah ini Anda lihat contoh ikhtisar pada sehelai kartu berukuran 13 x 18 cm. cobalah catat pada sehelai kertas semua fakta yang dapat Anda ingat dari bacaan itu. Kalau Anda bermaksud mengetahui fakta-fakta ketika membaca judul atau paragraf itu.

S. /---------------------------------------------------\ | Harjasujana. | | | | | | | | 6.| | Jakarta: PT Karunika. Anda boleh berkreativitas sesuai dengan selera masing-masing. . A.2 Fungsi 6. berikut disajikan sebuah contoh kartu baca. Membiasakan diri untuk membuat kartu catatan dengan tertib berarti menyiapkan sumber pustaka pribadi yang sangat berharga.3 Manfaat/Kegunaan 6.Kartu-kartu tersebut seyogianya disusun menurut abjad.2 Prosedur Membaca Bab Di bawah ini duraikan prosedur membaca bab selangkah demi selangkah beserta komentar-komentarnya. Contoh kartu baca.4 Kriteria Pembuatan 6. Anda akan memetik jerih payah itu di hari-hari mendatang dengan senang. Materi Pokok Membaca. (1988:21).5 Prosedur Penilaian 6.6 Keunggulan dan Kelemahan | | | | | | | | | \---------------------------------------------------/ 5.3. data bibliografis dan data informasi penting dari hasil baca itu harus termuat di dalamnya.1 pengertian 6. Yang penting. Percacalah! Sekedar contoh. Teknik Isian Rumpang 6.

bab lainnya. misalnya). Darinya diperoleh gambaran tentang suatu pokok pembicaraan serta kaitan antara pokok pikiran yang satu dengan pokok pikiran lainnya. Tipe tulisan yang lebih besar menunjuk topik yang lebih penting. 6) Bacalah secara skimming uraian yang akan Anda baca itu dengan kecepatan fleksibel. 7) Setiap kali selesai membaca cobalah membuat catatan dalam kartu baca. Puisi . 2) Buka baliklah daftar isi. terutama buku yang tebal dan sulit merupakan masalah yang berat yang dapat dihadapi oleh siapa saja. 5) Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab. Hal yang sama tidak berlaku untuk karya sastra. 5. 3) Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis 4) Baca judul-judul secara sepintas. 3) Tipe menunjukkan suatu pe ngutamaan. Membaca uraian prosa naratif-ekspositoris dalam kadar yang lebih pendek (seperti artikel. Daftar isi berisi petunjuk yang menyatakan organisasi buku sebagai cerminan dari pola pikir penulisnya. 7) Buatlah kartu baca untuk merekam hasil baca Anda.1 Hakikat Membaca Buku Membaca buku. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab. 6) Teknik Anda menyekim akan bervariasi sesuai dengan variasi struktur setiap paragraf.4. Bacalah bagian ini sebelum Anda melangkah ke prosedur selanjutnya.4 Membaca Buku 5. Komentar/Keterangan 1) Suatu bab pada umumnya mem bicarakan suatu topik. 5) Ikhtisar bab itu merupakan intisari bab. ide utama biasa diletakkan pada bagian awal paragraf.Prosedur 1) Perhatikan judul bab dengan teliti. Pada umumnya. Kartu ini akan membantu Anda dalam menanamkan informasi-informasi penting dalam ingatan Anda. 2) Daftar isi itu merupakan perencanaan buku. 4) Tipe juga menunjukkan organisasi tulisan. misalnya) jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk yang lebih panjang (seperti buku.

selanjutnya Anda siap menjelajahi buku itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dimaksud. Keempat pertanyaan tersebut. terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis.2 Prosedur Membaca Buku Untuk menjawab dua pertanyaan pertama. 5. meskipun wujudnya lebih pendek dari cerpen dan novel. Mengingat bahan bacaan itu memiliki karakteristik yang berbeda. barangkali tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda dituntut untuk memilah-milah bahan bacaan tersebut berdasarkan klasifikasinya. sebaiknya Anda menempuh langkah-langkah berikut di dalam membaca buku. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? Berbekal keempat pertanyaan tersebut.4. drama. 1) Lihatlah halaman-halaman awal buku itu.misalnya. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. novel. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Tugas pertama Anda adalah mengetahui golongan/jenis buku yang akan/sedang Anda baca. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. Termasuk jenis buku apakah itu? Apakah bacaan Anda itu tergolong karya fiksi (cerpen. namun tidak berarti puisi akan lebih mudah dipahami pembacanya. Langkah-langkah tersebut meliputi langkah-langkah berikut ini. Pada bagian pengantar biasanya penulis menyatakan tujuannya atau pendapat . kalau ada bacalah kata pengantarnya. puisi) atau karya nonfiksi atau karya ekspositoris? Pengetahuan ini penting guna menentukan strategi baca selanjutnya. 1) Secara umum.

Jika Anda menemukan sesuatu yang Anda butuhkan informasinya. 5) Selanjutnya. Dengan demikian. secara umum lihatlah bagian-bagian awal bab dan bagian akhir bab. dan bertanyalah pada diri sendiri. . Namun. coba periksa dulu halamnnya sesuai dengan petunjuk indeksnya. Dengan melihat daftar isi buku. Lihatlah bab-bab atau subbab-subbab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu. mungkin Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang paling penting tentang buku itu atau mungkin mengetahui sikap penulis terhadap hasil karyanya itu. Dari halaman-halaman yang dirujuk tersebut. sebab biasanya gagasan penting akan termuat di situ. melangkahlah pada judul-judul bab dan subbab. jenis-jenis buku. Sampai di situ. Secara khusus tentang bagaimana cara membaca bab. serta nama-nama tokoh penting. lihat uraian terdahulu. apakah buku ini sejenis dengan buku lain yang pernah Anda baca? 2) Pelajari daftar isi buku. Banyak pesan itu tidak hanya ditulis oleh penerbit. Tidak jarang penulis itu menguraikan gagasan-gagasan utama bukunya itu di bagian tersebut. Daftar isi buku mencerminkan pola organisasi buku yang bersangkutan. Dengan membaca kata pengantar diharapkan Anda mendapatkan gambaran tentang subjek buku tersebut. mungkin Anda sudah cukup mendapatkan informasi tentang rencana Anda selanjutnya. Berhentilah sejenak. berarti pula mencerminkan pola pikir penulisnya.khusus mengenai pokok-pokok tertentu dari buku yang ditulisnya. Anda akan dapat menafsirkan gambaran umum isi buku yang hendak dibaca itu. 3) Periksa daftar indeks buku. melainkan ditulis oleh pengarangnya sendiri. 4) Bacalah pesan dari penerbit (jika ada) yang biasanya ditulis di sampul belakang buku. Indeks memberikan informasi tentang berbagai topik masalah yang dibahas dalam buku itu.

5. hal penting yang perlu Anda catat ialah bahwa Anda tidak boleh berhenti membacanya. Meskipun Anda telah melaksanakan prosedur di atas. pembaca harus menggunakan pikiran dan penalarannya. jika penulisnya berhasil. mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hambatan pemahaman tadi. Bacalah seluruh buku tersebut tanpa harus berhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak Anda pahami ketika itu. Pada kesempatan membaca yang kedua kalinya atau membaca buku lain yang berkaitan. Untuk mengetahui sesuatu dari bacaan. Pada . Sedangkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang tersaji di dalamnya. Buku ekspositoris berusaha menyampaikan pengetahuan. pengetahuan tentang pengalaman yang telah dialami penulis atau dialami orang lain.5 Membaca Karya Sastra 5. bukan berarti Anda tidak akan mendapat rintangan dalam memahami buku tersebut. maka pembaca akan beroleh kenikmatan daripadanya. bagian mana yang memerlukan tempo lambat. atau tidak memberikan informasi baru. Anda tentu tahu. dan bagian mana yang memerlukan tempo cepat. Bacaan fiksi berusaha menyampaikan pengalaman itu sendiri.1 Hakikat Karya Sastra Perbedaan mendasar antara buku fiksi (karya sastra) dan buku nonfiksi (buku ekspositoris) terletak pada kebenaran faktanya. atau bahkan bagian mana yang boleh dilewati karena dianggap tidak terlalu penting. pembaca harus menggunakan indria dan daya khayal (imaginasi). Jika Anda dihadapkan pada bacaan yang sukar untuk bacaan pertama kalinya. pengalaman yang dapat dialami penulisnya sendiri atau dialami bersamasama pembaca melalui kegiatan membaca.5.6) Akhirnya. teruskan membaca buku dengan kecepatan yang fleksibel.

baik pada prosa maupun puisi. Alur cerita merupakan garis besar pengalaman. Adakalanya.2 Prosedur Membaca Karya Sastra Empat pertanyaan mendasar yang seyogyanya diajukan pada saat hendak membaca karya ekspositoris (buku). sedangkan penulis karya sastra sebaliknya. Tentang apa keseluruhan buku itu? Kesatuan sebuah cerita rekaan (karya sastra) terletak pada alur atau plonya. rincian-rincian. yang terdiri atas bagian awal. dan berbunga-bunga. dan akhir. novel. samar-samar. peristiwa-peristiwa yang tersusun secara kronologis. bacaan sastra memerlukan kepekaan imaginasi agar kita ikut terlibat di dalamnya. Namun. Untuk mengetahui alur sebuah karya sastra.umumnya. baiklah kita tinjau ulang keempat pertanyaan tadi. juga berlaku untuk membaca karya sastra. Untuk melihat persamaan dan perbedaan karakteristik jawabannya. pertanyaan ini dapat . Kekayaan dan kekuatan kata-kata dalam berbagai variasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam karya sastra. Tujuan bacaan fiksi dan nonfiksi tentu berbeda. drama tersusun dari bagian-bagian. Anda harus menemukan bagaimana puisi.5. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pertanyaan tentang isi umum buku. tentu saja ada kekhasan tersendiri dalam menjabarkan pertanyaan tersebut ke dalam tuntutan jawabannya. 5. tengah. Penulis buku ekspositoris menghindari penggunaan kata-kata yang ambigu. cerpen. Untuk bacaan sastra. Perbedaan tersebut berdampak pada penggunaan bahasa dari kedua jenis bacaan ini. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apa yang dikatakan penulis dan bagaimana cara penulis mengatakannya. sebuah puisi mengandung makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang ada di dalamnya.

tindakan-tindakannya. ataupun drama. Setelah membaca puisi. Untuk memahami puisi harus dibantu dengan pengucapan kata-katanya. melainkan kebenaran khayalnua. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kebenaran isinya. Puisi juga memiliki kesatuan: bagian awal. dan akhir. Apakah cerita itu mungkin terjadi? Apakah cerita itu logis terjadi? Hal yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memberikan penilaian untuk pertanyaan ketiga ini adalah pemahaman Anda terhadap maksud dan tujuan penulisnya. Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada karyasastra. namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke dalam karya puisi pula. Pertanyaan keempat berkenaan dengan tingkat kepentingan dan kebermanfaatannya untuk Anda. Meskipun begitu. Sejauh mana maksud penulis atas keterlibatan Anda dalam mengalami karya sastra yang disajikannya.dijawab dengan jalan melibatkan diri dengan para tokoh yang terdapat dalam karya sastra. lingkungan mereka.5. pembaca tidak dituntut untuk melakukan tindakan apa pun. pikiran-pikirannya.1 Prosedur Membaca Novel . Puisi juga memiliki tokoh. cerpen. Anda mengalami sesuatu melalui karya tersebut. paling tidak si pengucap puisi itu sendiri. 5. bukan hanya sekedar dibaca di dalam hati. serta mengikuti perkembangan mereka sepanjang alur cerita. Tolok ukur kebenaran karya sastra bukan terletak pada kebenaran faktanya. novel. Meskipun aturan-aturan ini lebih cocok diterapkan untuk prosa. tengah. dampak dari bacaan karya sastra dapat menjurus ke tindakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Anda terlibat sudahlah cukup.2. Anda hendaknya berusaha untuk mengenal dan memahami tokoh-tokoh cerita. Bagi penulis karya sastra. perasaan-perasaannya.

Para pakar sastra berpendapat bahwa novel merupakan pembuka kealiteratan siswa terhadap bacaan sastra. Di samping itu. 3) Simpanlah subplot yang terpisah secara mental di dalam ingatan. Berikut ini disajikan beberapa strategi untuk membaca novel dengan baik. namun juga tidak tergesa-gesa memperkenalkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam beberapa subplot. klimaks. bahkan bacaan pada umumnya. Perhatikan petunjuk-petunjuk berikut ini. Mereka beranggapan. 7) Kenalilah bagian permasalahan.5.2 Prosedur Membaca Puisi Untuk puisi-puisi balada yang seringkali disajikan dalam bentuk lirik-naratif. 5. aturan-aturan strategi membaca novel dapat diterapkan untuk memahaminya. yang pada akhirnya saling berkaitan dalam mendukung plot utama. para siswa sudah terbiasa dengan bentuk naratif juga tidak terganggu oleh beberapa masalah yang ditimbulkan oleh keringkasan cerita. dan solusi atau bagian akhir cerita. 1) Ingatlah nama-nama tokoh yang muncul dalam cerita itu: (a) camkan beberapa pernyataan/kalimat yang berkenaan dengan karakter mereka. 4) Camkan bagian tengah cerita. 5) Ikutilah gerak alur dan perkembangan tokoh secara seksama serta pengaruhnya terhadap peristiwa selanjutnya. seperti halnya dalam cerpen. 6) Buatlah ringkasan isi cerita dalam bentuk sinopsis. (b) jangan hiraukan dulu hal-hal yang membingungkan Anda. pengetahuan tentang kapan sajak/puisi itu diciptakan. pola bahasa dan jenis-jenis bahasa figuratif yang dipakai. serta kaitan antarsubplot dengan plot utamanya. serta di mana jeda-jeda itu seharusnya . 2) Tatalah alur yang kacau dengan jalan mengaitkannya dengan alur pada awal cerita. Novel tidak sekedar lebih panjang dari cerpen.2.

Pertama. puisi itu harus berada pada tingkat literal. guru perlu memberikan berbagai bentuk bantuan. Chesler mengusulkan empat kriteria dalam memilihkan puisi untuk siswa.ditempatkan akan membantu pembaca dalam menghayati. puisi itu dapat dipahami tanpa harus mendapat pertolongan guru atau kamus. Artinya. Oleh karena itu. dan lain-lain. Tentu saja. sajian berbagai media. Chesler berpendapat bahwa makna bisa disampaikan secara jelas melalui bantuan alat-alat visual dan auditori. Tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana sebaiknya membaca puisi agar dapat dipahami. Untuk menghubungkan dunia siswa dengan dunia sajak. puisi itu dapat mengajak siswa untuk dapat merasakan sesuatu. Pengalaman merasakan sesuatu itu dapat berupa pengalaman langsung atau pengalaman seolah-olah mengalami sendiri. Keempat. berkenaan dengan daya tarik bunyi. memahami. Meskipun begitu terdapat sejumlah saran yang biasanya ditujukan kepada para guru dalam mebimbing siswanya ke arah pembacaan dan pemahaman puisi secara lebih baik. berkenaan dengan penampilan sajak. pengalaman pribadi masingmasing siswa turut andil dalam menciptakan keterlibatan emosi ini. Ketiga. Kedua. sajak yang menampilkan bunyi-bunyi menarik serta kemampuan olah vokal yang menawan . Peragaan pembacaan sajak secara visual dapat membantu siswa dalam mengapresiasi sajak tersebut. kekayaan ilustrasi. Puisi literal tidak terlalu banyak mengandung kosakata sulit yang tidak bisa dipahami. dan mengapresiasi puisi tersebut dengan lebih baik. misalnya melalui pengembangan imajinasi. Pendengaran yang terlatih dapat membantu mereka dalam mengapresiasi puisi. meskipun dengan bantuan konteks. Keempat kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini. diskusi kelas.

Pemaduan dua keterampilan. Berbagai strategi pola membaca cepat yang sering dipraktikkan orang adalah pola vertikal. berupa survei terhadap daftar isi atau organisasi bab itu. Latihan yang biasa dilakukan untuk menguasai metode membaca frase meliputi dua hal. Strategi-strategi tersebut disertai dengan petunjuk-petunjuk praktis tentang cara pelaksanaan latihannya. Ada berbagai bentuk latihan untuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi. yakni keterampilan mekanis dan keterampilan konseptual secara bersama-sama dilakukan pada saat melakukan aktivitas baca dengan menggunakan metode membaca frase. pola blok. Membaca bab yang diawali dan dibekali dengan tujuan dan pertanyaan-pertanyaan jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki tujuan apapun dan tidak memiliki pertanyaan apapun di . pola diagonal.dalam membunyikan baris-baris sajak itu. Namun. pola zig zag. membaca bab. dan pola horizontal. dan kalimat sumbang (kalimat pemuas). pola spiral. sebelum membaca bab sebaiknya diawali dengan kegiatan penjajagan. akan membantu siswa dalam mengapresiasi puisi tersebut. Pada dasarnya prosedur membaca bab hampir sama dengan membaca paragraf. RANGKUMAN MC merupakan sejenis keterampilan yang memerlukan ketekunan berlatih dan disiplin tinggi utnuk mencapai kecepatan dan daya baca yang tinggi yang bisa dicapai seseorang. yakni latihan yang abersifat mekanis dan latihan yang bersifat konseptual. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca paragraf adalah struktur paragraf. membaca paragraf. ide/kalimat inti. ide/kalimat penjelas. misalnya metode membaca frase.

Teks 1 Orang Eskimo berkata bahwa surga itu panas. baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan sehari-hari. Tetapi bagiku. Masukkan ke dalamnya berbagai ikan parit. baik itu bacaan sastra (fiksi) maupun bacaan ekspositoris (nonfiksi) terdapat empat pertanyaan dasar yang harus diajukan pada saat Anda hendak membaca buku tersebut. ikuti instruksi-instruksi selanjutnya. Biarkan matahari menghangat sehabis mandi berenang. Biarkan malam-malamnya sejuk dalam sinar sejuta bintang.seputar isi bab itu. Surga orang Persia adalah kebun yang selalu hijau. Orang Arab mempunyai surga yang sejuk tempat bidadari menari. 1) Secara umum. Pagarlah danau itu dengan kekayuan yang tidak luput oleh kapak. dan bagaimana cara dia mengatakannya? 3) Apakah isi buku itu benar. suruhlah mereka berhinggapan dan diam di kala malam tiba. Untuk dapat memahami buku yang Anda baca. buku itu berbicara tentang apa? 2) Apa yang dikatakan penulis. berilah aku sebuah danau pegunungan yang biru di ujung pendakian yang panjang. baik secara keseluruhan maupun sebagian? 4) Apakah buku itu penting? Apa manfaatnya untuk Anda? LATIHAN Petunjuk: Perhatikan dan baca teks berikut kemudian. Keempat pertanyaan tersebut. Biarkan burung kicau semua bernyanyi di musim dingin di tengah hari . Kartu baca akan sangat membantu Anda di dalam mengarsipkan hasil kegiatan baca Anda untuk keperluan sewaktu-waktu. meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Andaikata di sana ada juga nyamuk.

Teks 3 Kemampuan membaca tingkat sembilan yang dimiliki oleh seorang dewasa tidak mencerminkan kemampuan berpikir seorang siswa kelas sembilan. dan biarkanlah suara merdu yang panjang unggas pelagu menyanyikan berita bahwa siang tiba. ide-ide yang ada itu berubah menyilaukan. sebuah kata benda mempunyai tempat predominan dalam keseluruhan untaian paragraf. kata benda itu dijalin oleh berbagai variasi pikiran yang mengisi suatu desain yang rumit. Kata benda inilah yang merupakan substansi dan jantung pikiran utama dalam paragraf. Sesungguhnya keseluruhan pikiran utama itu tidak lain dari penegasan yang lengkap yang dijelaskan dan dikembangkan oleh paragraf itu sendiri di sekitar kata benda polar. sikap. dan pelarapan emosional. mempersamakan . Namun. dan di bagian pusat setiap paragraf mesti ada kata benda. Biarkan setiap sinar pagi yang pertama menyentuh padang-padang salju di pucuk-pucuk ufuk barat.dan murai berkicau di hari senja. Di dalam paragraf. Tidak seorang pun akan menolak bahwa orang dewasa mempunyai kelebihan dalam pengalaman. Kata benda utama dalam paragraf dapat kita anggap sebagai pengganti sesuatu yang dipermasalahkan di dalam paragraf. Teks 2 Bagaimana bunyi tali bas yang mendengung dalam selubung paduan lagu polifoni. Karenanya. Benda itu mungkin selembut kasih sayang atau seperti angan-angan ingatan. Benda ini mungkin tampak jelas seperti rumah-rumah yang berdiri di dpan mata atau pun sebagai sebidang tanah subur.

tunjukkan buktinya! . Penandaan dapat dila kukan dengan membubuhkan tanda gatra (/) sebagai penyekat satuan unit ide. Cobalah Anda baca teks tersebut berdasar kan satuansatuan unit ide yang telah Anda tandai sambil camkan makna dan informasi yang terkandung di dalamnya. Anggapan yang menyamakan kedua macam kemampuan itu hanyalah akan membawa penulis kepada suatu suasana mental mental yang menyebabkan tulisannya mempunyai kecenderungan untuk rendah. Instruksi: 1. Bagaimana struktur paragraf dari ketiga teks di atas? Jelaskan. 2.kemampuan membaca tingkat sembilan dengan kemampuan mental tingkat sembilan sudah tindakan yang keliru. Tentukan ide pokok dari ketiga teks di atas dengan kalimat Anda sendiri. Kelompokkan teks 1 berdasarkan frase-frase atau kelompok-kelompok kata yang Anda duga sebagai satuan-satuan unit idenya yang Anda duga sebagai frase. Jelaskan rasionalisasi dari jawaban Anda tersebut! 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->