P. 1
BAB IV

BAB IV

|Views: 672|Likes:
Published by dwiecipit

More info:

Published by: dwiecipit on Jul 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

BAB IV KWH METER

A. Pendahuluan KWh meter adalah alat pengukur energi listrik yang mengukur secara langsung hasil kali tegangan, arus, dan faktor daya, kali jangka waktu tertentu ( V.I.Cos φ. t ) yang bekerja padanya selama jangka waktu tersebut. Hal ini berdasarkan bekerjanya induksi magnetis oleh medan magnet yang dibangkitkan olah arus yang melalui kumparan arus terhadap disc (piringan putar) kWh meter dimana induksi magnetis ini berpotongan dengan induksi magnetis yang dibangkitkan oleh arus yang melewati kumparan terhadap disc yang sama. Koppel putaran dapat dibangkitkan terhadap disc karena induksi magnetis kedua medan magnet tersebut diatas bergeser fase sebesar 90˚ satu terhadap lainnya (Azas Ferrari). Hal ini dimungkinkan dengan konstruksi kumparan tegangan dibuat dalam jumlah besar gulungan sehingga dapat dianggap induktans murni.

B. Bagian-Bagian KWh Meter dan Fungsinya KWh meter dirancang dan diproduksi dengan sebaik-baiknya agar dalam penggunaan normal tidak membahayakan, terutama terhadap :

30 | P a g e

 Keamanan manusia dari kejut listrik.  Keamanan manusia dari pengaruh suhu/ thermis yang berlebihan.

 Keamanan dari bahaya sambaran api.

Gambar 4.1 kWh Meter Ketrangan : 1. Kumparan Arus Kuparan arus dipergunakan untuk membangkitkan fluks bolak-balik yang berbanding lurus dengan arus beban. 2. Kumparan Tegangan

31 | P a g e

Kumparan tegangan dipergunakan untuk membangkitkan fluks bolak-balik yang berbanding lurus dengan tegangan beban. Fluks arus akan menginduksikan arus-arus foucoult di dalam piringan dan disini akan mengadakan reaksi dengan fluks tegangan untuk memperoleh suatu moment. 3. Rotor/ Piringan Rotor ( piringan ) digunakan sebagai suatu bagian yang berputar. Moment putar ini akan mendapatkan pengereman dari magnet permanen. Elemen meter bergerak yang digunakan untuk tempat berinterakinya magnetik dari belitan tetap dengan fluks magnetik dari elemen redaman ( magnetic permanent ) dan yang mengoperasikan register. 4. Penumpu Penumpu dipergunakan untuk tempat berputar dari poros dan piringan. 5. Megnet Permanen Magnet permanen dipergunakan untuk mengontrol secara otomatis kecepatan dari piringan yang berbanding lurus dengan moment putar.

32 | P a g e

6. Register/ Alat Hitung Alat penghitung listrik harus dari jenis tabung yang terdiri dari 6 angka termasuk angka persepuluh pada angka terakhir. Yang dilengkapi dengan garis-garis skala sebanyak sepuluh garis berjarak sama diantara tiap dua angka yang berurutan. Ukuran angka-angka sekurang-kurangnya mempunyai lebar 2,5 mm dan tinggi 5 mm, dicetak dengan warna putih dengan dasar warna hitam, kecuali untuk angka pada tabung terakhir dicat diatas warna dasar putih dengan warna merah atau diatas warna dasar merah dengan warna putih. Semua jumlah energi harus dalam satuan kWh, satuan tersebut tertera pada papan nama didekat tabung terakhir. Gigi-gigi pemindah harus dibuat dari metal, atau bahan lain yang mempunyai persyaratan setinggkat dengan bahan metal. Bahan roda gigi harus sama dengan bahan gigi-gigi pemindah. Untuk kWh meter tarif ganda, elemen hitung untuk tarif Luar Beban Puncak ( LWPB ) terletak disebelah bawah, sedangkan untuk tarif waktu beban puncak ( WPB ) terletak disebelah atas. Digunakan untuk mencatat banyaknya perputaran dari piringan, sedangkan kecepatan putar dari piringan adalah

33 | P a g e

berbanding lurus dengan beban. Jadi register adalah untuk mecatat banyaknya aya yang dipakai oleh beban dalam waktu t detik. 7. Kotak Dasar Meter Plat dasar yang dipergunakan untuk tempat menempatkan bagian-bagian dari peralatan kWh meter. Jika dasar kWh meter terbuat dari palt besi, tebalnya harus memenuhi ketentuan dan dilapisi cat dengan cara yang baik, sehingga lapisan ini tidak mudah cacat bila tergores benda keras atau pun tajam dan tahan terhadap iklim tropis. Bila terbuat dari plastik polycarbonat maka harus memenuhi ketentuan dan tidak berubah warna atau kusam dalam waktu yang lama. Karena jika kusam akan mempersulit pembacaan register saat petugas datang mencatat. Pada bagian belakang meter harus dilengkapi dengan fasilitas untuk menggantung meter. Konstruksinya harus sedemikian rupa, sehingga meter tidak dapat dilepas dari dudukannya tanpa melepas penguat bagian bawahnya. 8. Tutup Kontak Meter Tutup kontak meter dipergunakan untuk menutup bagianbagian dari peralatan kWh meter supaya aman dari bahaya singgung dan debu.

34 | P a g e

Dibuat dari bahan yang sama dengan kotak dasar meter dengan tebal minimun 0,5 mm untuk baja atau 0,8 mm untuk seng atau juga dapat dibuat dari bahan gelas dengan ketebalan minimum 4,5 mm. Bila tutup meter terbuat dari logam, tebalnya harus memenuhi ketentuan dan pelapisan cat harus sama dengan dasar meter. Dan juga harus dilengkapi dengan jendela untuk pembacaan register dan papan nama serta melihat putaran piringan. Bila bahan tutup kWh meter dari bahan plastik polycarbonat, maka pemasangan tutup meter ke dasar meter menggunakan empat buah mur atau baut penguat dengan kedudukan dua buah baut bersilang berada di tutup meter. Tutup kotak meter harus diberi paking elastis dan tahan lama. Bila juga diberi perekat, maka setelah kering perekat tersebut tidak boleh retak dan mengelupas. Paking dan perekat dibuat dari bahan yang tidak dimakan serangga. Pada setiap baut penguat dan tutup meter harus diberi fasilitas untuk penyegelan. Apabila kotak meter sudah disegel, tutup kotak hanya dapat dilepas dari dasar meter dengan merusak kawat segel. Konstruksi tutup meter harus sesuai dengan dasar meter, sehingga pemasangan baut jadi lebih mudah. Tutup meter dan dasar meter harus dapat saling dipertukarkan.

35 | P a g e

9. Terminal, Blok terminal, terminal Pembumian Terminal dikelompokan dalam satu blok terminal yang mempunyai sifat isolasi dan kekuatan mekanis yang baik. Baut penguat-penguat hubungan yang digunakan untuk mengencangkan penghantar pada terminal yang mungkin akan dikendorkan dan dikencangkan berapa kali harus disekrup pada mur logam. Seluruh bagian bagian terminal harus dibuat sedemikian rupa agar tahan terhadap karat sebagai akibat rontok dengan jenis logam lain. Terminal digunakan untuk menghubungkan kumparan arus dan tegangan sumber. Blok terminal adalah bagian meter yang dibuat dari bahan isolasi padat dimana ditempatkan sekumpulan jepitan meter. Terminal pembumian adalah terminal yang dihubungkan dengan bagian penghantar kWh meter yang dapat disentuh dengan maksud pengaman. 10. Tutup Terminal Tutup terminal digunakan untuk menutupi terminal meter dan pada umunya termasuk juga sebagian dari kabel penghantar yang dihubungkan ke terminal.

36 | P a g e

Terminal kWh meter yang dikelompokan dalam satu kelompok blok terminal, harus ditutup dengan tutup meter yang dapat disegel. Tutup terminal harus betul-betul dapa menutup semua terminal sekrup pengencang penghantar dan sebagian isolasi kabel penghantar. Tutup terminal dapat dibuat dari bahan besi atau bahan plastik polycarbonat atau gelas, konstruksinya harus kuat. Bila tutup terminal dari plastik polycarbonat, harus kuat, bening tidak berubah warna untuk jangka waktu yang lama.

C. Cara Kerja kWh Meter Penggunaan-penggunaan yang paling umum dari alat pengukuran energi pada arus bolak-balik, maka alat ukur tipe induksi mendapat predikat pemakaian paling banyak. Induksi diperoleh karena adanya pengaruh magnet permanent dalam kumparan pada sirkuit tertutup. Pengaruh magnet permanent pada sirkuit tertutup akan membangkitkan arus induksi. Pengaruh tersebut dapat dilakukan dengan :
• •

Menggerakkan magnet permanen terhadap kumparan. Menggerakkan kumparan terhadap magnet permanen. Arah arus induksi tergantung dari jenis perubahan fluks naik atau

perubahan fluks turun.

37 | P a g e

Di tinjau segi bekerjanya maka pengukur ini memiliki prinsip azas induksi atau azas Ferraris. Dan pada umumnya alat pengukur ini digunakan untuk mengukur daya listrik arus bolak-balik. Pada alat ini dipasang sebuah cakra alumunium (alumunium disc) yang dapat berputar, dimuka sebuah kutub magnet listrik (electromagnet). Magnet ini diperkuat oleh kumparan tegangan dan kumparan arus. Dengan adanya lapangan magnet tukar yang berubah-ubah maka cakra (disc) alumunium ditimbulkan suatu arus bolak-balik yang menyebabkan cakra tadi berputar dan menggerakkan pesawat hitungnya.

Kumparan Tegangan

Kumparan Arus

Fasa

Nol Beban

Gambar 4.2 Bagan hubung kWh Meter 1 Fase

38 | P a g e

Pada pembebanan beban induksi kecepatan berputarnya cakra sangat tergantung pada hasil kali dari tegangan (E) x kuat arus (I) dalam satuan Watt. Jumlah putaran tergantung pada banyaknya penggunaan beban dan waktu, dengan demikian dapat kita rumuskan sebagai berikut : Tegangan x kuat arus x waktu = E. I. t dalam satuan Watt-jam (Watt hour) Untuk alat pengukur kilowatt-jam (kWh) arus putar, pada umunya mempunyai tiga sistem magnet, yang masing-masing dengan sebuah kumparan arus dan tegangan yang bekerja pada sebuah cakra turutan, dimana ketiga cakra itu dipasang pada sumbu yang lain.

R S T Nol

Gambar 4.3 Bagan hubung kWh meter 3 fase

39 | P a g e

Prinsip Kerja Alat Ukur kWh Meter : Gerakan maju mundur dari magnet akan mengakibatkan perubahan kemagnetan yang mana menimbulkan arus listrik di dalam kumparan. Arus listrik akan mengalir dalam konduktor, jika ada perubahan kemagnetan.

Gambar 4.4 Pengaruh Gerakan Magnet Terhadap Kumparan Dalam Sirkit Tertutup Cara yang biasa digunakan untuk memperoleh perubahan kemagnetan yaitu dengan perubahan arah, arus listrik bolak-balik.

Gambar 4.5 Pengaruh Arus Dalam Kumparan Induksi

40 | P a g e

Perubahan kemagnetan yang dihasilkan akibat perubahan arus listrik di dalam konduktur A. Perubahan kemagnetan yang mengakibatkan arus pada konduktor B.

Gambar 4.6 Pengaruh Kemagnetan Terhadap Konduktor Perubahan arus listrik dalam kumparan bayangan pada kWh meter akan mengakibatkan perubahan kemagnetan. Perubahan kemagnetan

mengakibatkan mengalirnya arus listrik akan dipengaruhi oleh gerakan kemagnetan.

Gambar 4.7 Pengaruh Medan Magnet Terhadap Konduktor Berarus Listrik

41 | P a g e

Konduktor yang dipasang antara dua medan magnet yang parallel akan menimbulkan kopel. Konduktor bergerak karena arus yang melewati konduktor ini dipengaruhi oleh kemagnetan.

Gambar 4.8 Pengaruh Magnet Tetap Terhadap Putaran Piringan

Jika konduktor diganti dengan roda yang terdiri atas konduktorkonduktor, maka roda tersebut akan berputar. Roda tersebut di atas dapat diganti dengan piringan alumunium.

Perputaran piringan alumunium dari kWh meter akan di catat oleh register. Untuk memperoleh putaran piringan berbanding lurus dengan kopel, sedangkan penggunaan magnet permanent sebagai rem.

42 | P a g e

D. Penandaan Meter Penandaan meter sangat penting guna memudahkan dalam pemilihan, peneraan dan pemasangan kWh meter tersebut. Penandaan meter biasanya terdapat di papan nama dan tutup terminal blok meter bagian dalam. Penandaan kWh meter pada papan nama berisi keterangan : a. Nama/merk pabrik.
b. Tipe meter, dan sediakan ruangan untuk tanda persetujuan (approval).

c. Fase dan banyaknya kawat : “fase tunggal 2 kawat atau fase tiga 4 kawat”. d. Nomor seri dan tahun pembuatan. e. Tegangan dasar. Adalah besar tegangan yang dijadikan dasar untuk menetapkan unjuk kerja (performance) kWh meter. Tegangan dasar untuk kWh meter : • • • 1 fase, tegangan dasar 127 V atau 220 V. 3 fase, tegangan dasar 127/220 V atau 220/380 V. 3 fase, tegangan dasar 57, 7/100 V (untuk pegukuran tegangan

menengah).
f.

Arus dasar dan arus maksimum, misal 5 (20) A. Maksudnya

5 A untuk arus pengujian dan 20 A arus maksimal yang diijinkan mengalir pada kWh meter.

43 | P a g e

g. h.

Frekuensi pengenal yaitu 50 Hz. Konstanta meter dalam putaran/kWh

Adalah suatu konstanta yang menyatakan hubungan antara energi yang dihitung oleh meter dengan jumlah putaran piringannya. Konstanta meter tersebut dinyatakan dalam jumlah putaran/kWh. i. Kelas meter

Sebuah angka yang merupakan batas kesalahan yang diijinkan dalam persen, utuk semua nilai arus 0.1 Id dan 1 max faktor kerja satu (dan beban seimbang untuk meter 3 fase, bila meter diuji dalam kondisi acuan). Pada waktu menguji pengaruh satu besaran berpengaruh. Besaran-besaran yang berpengaruh pada waktu pengujian kWh meter adalah : • • • • • • • Suhu sekitar Posisi kerja Tegangan Frekuensi Bentuk gelombang Induksi magnet dari pengaruh luar Arus lebih sesaat

44 | P a g e

Posisi kerja, meter harus diletakkan pada posisi yang benar yaitu harus dipasang pada posisi tegak, kemiringan dari segala arah yang diijinkan adalah 2 ˚.
j.

Suhu acuan, bila lain dari 23˚ C

Pengaruh suhu sekitar yaitu koefisien suhu rata-rata dari suhu rata-rata tahunan (26˚ C). Suhu sekitar tidak boleh melebihi 16˚ C s/d 35 derajat C. k. l.
m.

“ Milik PLN” Nomor registrasi PLN Untuk meter tarif ganda, di sebelah kiri alat penghitung

diberi tanda : • • WBP : bagian atas LWBP : bagian bawah

Dan dilengkapi dengan petunjuk pada alat penghitung yang berwarna merah
n.

Tanda dengan huruf CA (Copper Alumunium) untuk terminal

guna ganda. Posisi kerja, meter harus diletakkan pada posisi yang benar yaitu harus dipasang pada posisi tegak, kemiringan dari segala arah yang diijinkan 2 derajat. E. Konfigurasi Pengawatan E.1 Pengawatan KWh Meter

45 | P a g e

Dalam melaksanakan penyambungan kWh meter perlu diperhatikan terminal-terminal yang akan disambung. Terminal arus untuk input harus dibedakan dengan terminal outputnya, demikian pula terminal untuk tegangan harus dapat dibedakan menurut ukuran fasenya. Sistem pengawasan kWh meter sebagai alat ukur energi listrik , tergantung dari cara pengukuran yang akan dilakukan, apakah pengukuran langsung ataupun tidak langsung, juga sekaligus tergantung dari konsruksi dari kWh meter itu sendiri. Untuk beberapa pengawatan dari kWh dapat diuraikan menurut abel berikut ini.

Tabel 3.1 Jenis Pengawatan kWh meter No 1. 2. 3. 4. 5. KWh Meter 1 Fase 2 Kawat 3 Fase 4 Kawat 3 Fase 4 Kawat 3 Fase 3 Kawat 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Jenis Tegangan Langsung Rendah Langsung Tidak Langsung Tidak Langsung Tidak Langsung Rendah Rendah Menengah Menengah

E.1.1 Pengawatan KWh Meter 1 Fase

46 | P a g e

KWh Meter 1 Fase biasa digunakan untuk pengukuran tegangan rendah dengan jenis pengukuran langsung. Skema pengukurannya adalah sebagai berikut :

1 L

2

3

4

BEBAN

N

Gambar 4.9 Pengawatan kWh Meter 1 Fase E.1.2 Pengawatan KWh Meter 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Langsung Tegangan Rendah 1. KWh Meter 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Langsung Digunakan untuk pengukuran energi listrik tegangan rendah dengan sistem tarif tunggal atau tarif ganda. Skema pengkawatannya sebagai berikut :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

0 0

R S T N

47 | P a g e

Gambar 4.10 KWh Meter 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Langsung 2. KWh Meter 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Tidak Langsung Dalam pengawatan kWh meter pengukuran tidak langsung pada tegangan rendah, berarti peralatan bantu pengukuran kWh adalah trafo arus dan apabila pelanggan tarif ganda dipasang time switch. Tiga buat trafo arus sehingga dapat mewakili besaran arus yang mengalir pada saluran utamanya.
B E B A N

Gambar 4.11 KWh Meter 3 Fase 4 Kawat Pengukuran Tidak Langsung E.1.3 Pengawatan KWh Meter 3 Fase 3 Kawat Pengukuran Tidak Langsung Tegangan Menengah

48 | P a g e

Dalam pengawatan kWh meter pengukuran tidak langsung berarti peralatan bantunya terdiri dari trafo tegangan dan trafo arus. Alat bantu time switch dibutuhkan apabila pengukuran kWh tersebut adalah tarif ganda. Kumparan tegangan dari kWh meter untuk pengukuran pada sisi tegangan menengah biasanya ada 2 macam yaitu : •

Kumparan tegangan dengan tegangan kerja 100 V Kumparan tegangan dengan tegangan kerja 100/

Pengawatan untuk masing-masing kWh meter tersebut dapat dilihat pada gambar 3.13 :

B E B A N

Gambar 4.12 Pengawatan KWh Meter 3 Fase 3 Kawat Pengukuran Tidak Langsung Tegangan Menengah E.2 Pengawatan KVARh Meter

49 | P a g e

Telah diketahui bahwa kVARh meter seperti hanya kWh meter, hanya saja pada kVARh meter dibuat sedemikian rupa sehingga hasil pengukurannya merupakan energi reaktif. Dalam melaksanakan penyambungan kVARh meter sama halnya seperti melakukan penyambungan pada kWh meter. Untuk beberapa pengawatan dari kVARh meter dapat kita perhatikan sebagai berikut : E.2.1 Pengawatan KVARh Meter 3 Fase 4 Kawat Sambungan Langsung

B E B A N

Gambar 4.13 Pengawatan kVARh Meter 3 Fase 4 Kawat Sambungan Langsung E.2.2 Pengawatan KVARh Meter 3 Fase 3 Kawat Sambungan Tidak Langsung

BEBAN

50 | P a g e

Gambar 4.14 Pengawatan kVARh Meter 3 Fase 3 Kawat Sambungan Tidak Langsung E.2.3 Pengawatan KVARh Meter Untuk Mengukur Energi Reaktif Kapasitif 3 Fase 4 Kawat Perlu diketahui bahwa kVARh meter pada umunya hanya digunakan untuk mengukur pemakaian energi reaktif pada beban yang induktif. Apabila kVARh meter ini digunakan untuk mengukur daya reaktif dari beban yang kapasitif, maka disc kVARh meter tersebut akan berputar terbalik, sehingga alat hitungnya akan berputar ”mundur”. Skema diagramnya :

B E B A N

Gambar 4.15 Pengawatan KVARh Meter Untuk Mengukur Energi Reaktif Kapasitif 3 Fase 4 Kawat

51 | P a g e

KVARh meter bila dipakai untuk mengukur energi reaktif pada beban kapasitif, maka polaritas harusnya terbalik.

E.2.4 Pengawatan KVARh Meter untuk Mengukur Energi Reaktif Kapasitif 3 Fase 4 Kawat.
kVAr induktif kVAr kapasitif

Gambar 3.16 Pengawatan KVARh Meter untuk Mengukur Energi Reaktif Kapasitif 3 Fase 4 Kawat.

F. Pemasangan KWh Meter

52 | P a g e

Saat memasang kWh meter, kWh meter harus dipasang dalam posisi tegak, kemiringan segala arah yang diijinkan 2˚, kecuali untuk kWh meter kelas 0.5 ditentukan 1.5˚. Tempat pemasangan kWh meter harus dipasang pada tempat yang terlindung dari sengat sinar matahari dan air hujan. Syarat ini juga harus dipenuhi saat meter dipasang pada bagian luar bangunan, dengan memperhitungkan kemiringan jatuh air hujan 45˚. KWh meter harus dipasang sedemikian rupa hingga petugas dapat memeriksa. Bila meter harus ditempatkan pada suatu lokasi dekat dengan mesin, maka amplitude getaran yang dialami meter tidak boleh lebih dari 0.15 dan pada frekuensi getaran tidak boleh lebih dari 55 Hz. Dan lokasi meter harus dihindarkan dari tempat- tempat yang banyak debu, berasap,

mengandung gas kimia korosif dan mengandung suhu yang melebihi 40˚C.

Atap Pelindung Daerah perlindungan KWh meter 45˚

Garis vertikal kucuran air hujan Dinding Pemasangan

53 | P a g e

Gambar 3.17 Pemasangan kWh Meter Penyambungan kawat instalasi listrik pada meter harus diperiksa dengan cermat, untuk menghindarkan penyambungan yang salah. Pemasangan kWh meter pada prinsipnya dibedakan : 1. Menurut penyambungannya ada dua cara, yaitu : a. Meter sambungan langsung Cara ini dipakai bila arus dan tegangan nominal kWh meter yang dipasang masih berada pada batas ukur meter tersebut. b. Meter sambungan/ pengawatan tidak langsung Yang dimaksud dengan pengawatan tidak langsung adalah pengawatan meter dengan transformator pengukuran, yaitu trafo arus (Current Tranformer/ CT) dan trafo tegangan (Potential Transformer/ PT). 2. Menurut tegangan dibagi 2, yaitu : a. Tegangan Rendah ( TR ) Penyambungan tenaga listrik denga daya dibawah 200 KVA. b. Tegangan Menengah ( TM ) Penyambungan tenaga listrik dengan daya diatas 200 KVA.

54 | P a g e

G. Jenis kWh Meter Berdasarkan Fase dan Kelasnya G.1 kWh Meter Berdasar Jumlah Fase
1. kWh meter 1 fase 2 kawat, meter ini mempunyai satu kumparan arus

dan satu kumparan tegangan.

kWh = (3.1)

(V .I .C ϕ jam ) os . 1000

………………………………………..

Keterangan : V I = Tegangan fase nol (Volt) = Arus (Ampere) = Faktor Daya

Cos ϕ

2. kWh meter 3 fase, untuk kWh meter tipe ini terdapat 2 jenis, yaitu : a. b. kWh meter 3 fase 4 kawat dengan memakai saluran nol. kWh meter 3 fase 3 kawat.

Meter-meter tersebut di atas dipasang untuk mengukur energi bila jaringan tanpa netral (pada jaringan tegangan tinggi). Pada jaringan tinggi meter-meter ini dipasang dengan memakai transformator arus dan transformator tegangan.

55 | P a g e

G.2 Pembagian Kelas Alat Ukur kWh Meter 1. kWh meter standart kelas 0.1 % 2. kWh meter presisi (laboratorium) 0.2 % - 0.5 % 3. kWh meter montage kelas 1 % - 1.5 % 4. kWh meter kerja kelas 2 % - 5 % kWh meter mempunyai kelas 2 %- 5 % artinya meter tersebut mempunyai kesalahan ukur 2 % sampai dengan 5 %

ε

=

H a rga _ p e n g u k u r− H a rga _ s e b e n a r n y a an x 100% H a rga _ s e b e n a rn y a

=

S a la _ u k u _ a b s o lu te h r x 100% ……………………(3.2) H a r ga _ s e b e n a r n y a

Ini dinamakan salah ukur relative. Salah ukur mempunyai harga positif jika harga pengukuran lebih besar dari harga sebenarnya atau sebaliknya. Contoh : Tabel 3.2 Salah Ukur pada Arus tertentu Arus (A) 2 4 6 8 10

ε%
+0.3 -0.1 -0.5 +0.2 +0.7

56 | P a g e

kWh meter sebagai alat ukur / timbangan jual beli tenaga listrik antara perusahaan dengan konsumen sesuai ketentuan tarif yang berlaku. Jadi dengan demikian maka kWh meter dalam keadaan normal (tidak diganggu/dirusak) harus bisa bekerja dengan baik sedikitnya dalam jangka waktu 5 tahun sampai 8 tahun. Oleh karena itu minimal tiap 5 tahun sekali perlu dilakukan pergantian secara periodik dengan alat ukur yang sudah ditera dengan baik. Sedangkan alat ukur yang diganti selanjutnya perlu revisi dan ditera lagi sebelum digunakan.

H. Perbandingan dengan Cara Kerja kVArh Meter kVArh pada prinsipnya adalah seperti kWh meter. Jika
o pada kWh meter yang diukur adalah daya nyata atau I. E C s ϕ x t, maka

pada kVArh yang diukur adalah daya buta atau I. E Sin ϕ x t. Untuk mendapatkan hasil pengukuran I. E Sin ϕ x t, prinsip dasarnya adalah membalik polaritas kumparan tegangan kWh meter dengan jalan membalik pengawatannya. I. Merk kWh Meter Di dalam perindustrian banyak sekali merk kWh yang diproduksi guna melayani kebutuhan konsumen. Namun setiap merk produksi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua itu dapat

57 | P a g e

diketahui oleh orang yang sudah lama bekerja dalam bidang peneraan ( Juru/ Ahli Tera) dengan cara pengamatan dan penelitian. Berikut ini contoh merk-merk kWh meter yang telah berada dipasaran. Tabel 3.3 Merk-merk kWh

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Merk Sigma Bina Electric Lipovindo Metcoindo Metbeloca Mecoindo Fuji Dharma Electric GE LK-NES Osaki Electric Ganz Krizik Mitsubhisi Tatung Sclumberger Poiter Ilator L&G Krizik Presou MCT Corps Enertek Fuji Electric

Type SE88A3 LPV510520M MF63E OB941S M2XS4 F414A11 170S LIO OB941S NE4 ET414S M63E T18N A10C2 ABC1 IL9HU C662 ABC1 MC12 ADC7 FKL256T

kVArh digunakan untuk mengukur besarnya pemakaian energi
o reaktif pada konsumen-konsumen yang mempunyai C s ϕ kurang dari

58 | P a g e

0.80 atau pada konsumen-konsumen yang mempunyai sudut fase lebih besar dari 36.85˚.

59 | P a g e

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->