1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha manusia dalam mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Pendidikan adalah suatu proses yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan demikian kualitas pribadi maupun bangsa dan negara pada umumnya ditentukan oleh kualitas proses pendidikanya. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan meningkatkan mutu pendidikan mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam dunia pendidikan, fisika merupakan salah satu disiplin ilmu yang harus dikuasai karena merupakan bagian dari ilmu-ilmu pengetahuan dasar (sains) yang sangat diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Dalam proses belajar mengajar, peran utama guru adalah pengelola pengajaran. Guru dituntut menciptakan hubungan timbal balik antara dirinya dengan siswa dan masyarakat sekitarnya yang pada akhirnya tercipta interaksi yang positif. Pemilihan dan penggunaan strategi atau model pembelajaran yang sesuai, akan membuat siswa lebih berhasil dalam mencapai tujuan belajarnya. SMPN 2 Sukamaju sebagai salah satu tempat penyelenggaraan pendidikan tentu memiliki juga tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Berdasarkan hasil observasi peneliti tentang proses belajar mengajar yang berlangsung, diperoleh informasi bahwa model pembelajaran yang diterapkan guru masih konvensional. Dimana pada pembelajaran konvensional suasana kelas cenderung teacher –

FMIPA Universitas Negeri Makassar

2

centered sehingga siswa menjadi pasif. Guru tidak menggunakan alat dan bahan praktik, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. Siswa hanya disuruh menghayal tentang materi yang diajarkan oleh guru. Sehingga siswa menjadi bosan dan acuh tak acuh dalam belajar. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar fisika siswa. Hasil ini sesuai pernyataan yang dikemukakan oleh Trianto (2010: 5) berdasarkan pada analisis penelitian, bahwa rendahnya hasil belajar disebabkan dominannya proses pembelajaran konvensional. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dipilih suatu model pembelajaran yang dapat menunjang kelancaran proses pembelajaran dengan memperhatikan aspek guru dan keinginan siswa tersebut. Salah satunya dengan menerapkan model pengajaran langsung. Model pengajaran langsung adalah model pembelajaran di mana guru mentransformasikan informasi atau keterampilan secara langsung kepada siswa dan pembelajaran berorientasi pada tujuan dan distrukturkan oleh guru. Model ini sangat cocok jika guru menginginkan siswa menguasai informasi atau keterampilan tertentu, karena siswa secara langsung melihat demonstrasi yang diberikan oleh guru. Siswa dapat melihat langsung proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran agar siswa tidak hanya menghafal konsep. Dalam menerapkan model pengajaran langsung guru memerlukan media pembelajaran. Namun masalah yang sering ditemukan dilapangan / disekolah, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan untuk menggunakan media ? Alasan yang pertama ialah menggunakan media itu repot. Kedua, media itu canggih dan mahal. Ketiga, memang guru itu tidak bisa menggunakan media. Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius. Kelima, tidak tersedianya media

FMIPA Universitas Negeri Makassar

3

tersebut ditempat mengajar. Keenam, kebiasaan menikmati ceramah / diskusi. Dari banyaknya alasan tersebut solusinya yaitu dengan menggunakan media sedehana, yang simple, praktis tanpa mengurangi kualitas meteri yang diberikan, dan sebaiknya bisa dilihat jelas oleh sebagian besar siswa di kelas. Namun penggunaan media sederhana dilakukan jika peralatan laboratorium tidak mencukupi untuk distribusi setiap kelompok siswa dalam menjalankan praktikum. Namun metode ini tidaklah cukup efektif jika yang menjadi alat demonstrasi tidak dapat disimak oleh seluruh siswa disebabkan karena alat tersebut terlalu kecil sehingga memerlukan media lain yang dapat menampilkannya dengan tampilan yang lebih besar. Misalkan saja ketika guru akan mengajarkan bagaimana membaca dan menggunakan alat ukur seperti mikrometer dan jangka sorong maka tidaklah efektif jika hanya didemonstrasikan karena skala kedua alat ini cukuplah kecil dan membutuhkan bantuan media sederhana untuk menampilkannya dengan tampilan yang lebih besar dan menarik. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan hasil observasi memberikan gambaran kepada peneliti tentang keadaan SMP Negeri 2 Sukamaju. Menurut para guru bidang studi fisika, SMP Negeri 2 Sukamaju, dimana pemahaman fisika siswa sangat lemah, sehingga setiap ada perubahan soal dalam lingkup materi yang sama siswa tetap kesulitan untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Disamping itu kemampuan siswa dalam menganalisis peristiwa atau kejadian sangat lemah, siswa cenderung menghafal, sehingga cepat lupa. Karena alasan itulah sehingga kadang hanya sebagian kecil siswa yang bisa mencapai target ketuntasan yang telah ditetapkan. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 65. Berdasarkan data hasil belajar siswa pada tahun ajaran 2009/2010, diketahui bahwa

FMIPA Universitas Negeri Makassar

Luwu Utara telah latar belakang yang telah dikemukakan di atas. Luwu Utara setelah digunakan model pengajaran langsung dengan media sederhana telah mencapai nilai KKM. Untuk mengetahui hasil belajar fisika siswa SMPN 2 Sukamaju Kab. Luwu Utara setelah digunakan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana? 2.4 hanya sekitar 68. Luwu Utara” B. Rumusan Masalah Berdasarkan dirumuskan masalah : 1. maka mencapai nilai KKM setelah digunakan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana? A.57% siswa yang tuntas dan 31.43% siswa harus mengikuti remedial. 2. Untuk mengetahui besar pencapaian hasil belajar fisika siswa SMPN 2 Sukamaju Kab. Luwu Utara setelah digunakan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. Apakah hasil belajar fisika siswa SMPN 2 Sukamaju Kab. maka penelitian ini bertujuan: 1. Manfaat Penelitian FMIPA Universitas Negeri Makassar . A. Sehubungan dengan hal tersebut penulis mengangkat sebuah penelitian dengan judul “Penerapan Model Pengajaran Langsung Dengan Menggunakan Media Sederhana Dalam pembelajaran Fisika Pada Siswa Kelas VII SMPN 2 Sukamaju kab. Seberapa besar pencapaian hasil belajar fisika siswa SMPN 2 Sukamaju Kab. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas.

Bagi guru Dapat dijadikan sebagai salah satu pembelajaran baru dalam upaya peningkatan hasil belajar.1 Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut : 1. 3. Proses Belajar Mengajar FMIPA Universitas Negeri Makassar . Bagi Siswa Menambah minat belajar siswa khususnya pelajaran fisika melalui model pengajaran langsung dengan media sederhana. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. 2. Bagi Peneliti Sebagai latihan dalam usaha menyatukan serta menyusun buah pikiran secara tertulis dan secara sistematis dalam bentuk karya ilmiah dan sebagai bahan perbandingan dalam referensi khususnya kepada peneliti lain yang akan mengkaji masalah yang relevan. Bagi Sekolah Sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan dalam sistem penilaian di sekolah yang tidak hanya mengacu pada satu metode dalam pembelajaran dalam kelas sehingga siswa tidak merasa tertekan terhadap apa yang dipikirkan untuk dapat diungkapkan dan menyebabkan guru memiliki referensi untuk pembelajaran ke depannya 4. Kajian Pustaka 1.

Curzon dalam Sahabuddin (2007:81) mengemukakan bahwa: “Belajar adalah modifikasi yang tampak dari perilaku seseorang melalui kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalamannya. FMIPA Universitas Negeri Makassar . bahkan konsep tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Perubahanperubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. ✔ Pengertian belajar Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi termasuk ahli psikologi pendidikan. keterampilan dan sikapnya.2 Belajar dan mengajar adalah dua hal yang erat kaitannya. Menurut pengertian secara psikologi. termasuk penyesuaian cara-cara terhadap lingkungan yang berubah-ubah sedikit banyaknya permanen”. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. sehingga pengetahuan.B. maka secara bersamaan ada pihak yang mengalami proses belajar mengajar sehingga sering diakatakan proses interaksi belajar mengajar. maka akan diuraikan masing-masing pengertian belajar mengajar. karena berbicara masalah kegiatan mengajar. L. Untuk lebih jelasnya. Menurut Sagala (2005:37) ”Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu”. Selanjutnya Slameto (2003:28) mengemukakan bahwa “Belajar ialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan untuk memperoleh tingkah laku secara keseluruhan. sebagai hasil pengamatannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

✔ Pengertian mengajar Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan. Burton dalam Sagala (2005:61) “Belajar adalah upaya memberikan stimulus. pendidikan. 2003:29) “Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara yang paling singkat dan tepat”. Menurut De Queliy dan Gazali yang dikutip oleh ( Slameto. bimbingan. pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses pembelajaran”. pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik adalah untuk mendapat jawaban tentang apakah mengajar itu ?. Untuk mencari jawaban tersebut. Menurut definisi yang lama bahwa mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan terhadap anak didik kita. bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar. perlu dikemukakan beberapa teori tentang mengajar. Selanjutnya Hartwig Scroder dalam Sahabuddin (2007:13) mendefinisikan mengajar sebagai prosedur mewariskan pengalaman dengan tujuan menyebabkan belajar berlangsung. Pendapat lain dikemukakan William H.1 Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku melalui latihan. Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mengajar sebagai sistem kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak untuk mengerti dan membimbing anak sebagai individu dan kelompok dengan maksud FMIPA Universitas Negeri Makassar .

2

terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
1. Model Pengajaran Langsung (Direct instruction)

Direct Instruction atau pengajaran langsung digunakan oleh para peneliti untuk merujuk pada pola-pola pembelajaran di mana guru banyak menjelaskan konsep atau keterampilan kepada sejumlah kelompok siswa dan menguji keterampilan siswa melalui latihan-latihan di bawah bimbingan dan arahan guru. Dengan demikian, tujuan pembelajaran distrukturkan oleh guru. Menurut Roy Killen dalam (http://eduzona.blogspot.com) direct instruction merujuk pada berbagai teknik pembelajaran ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh kelas. Pendekatan dalam model pembelajaran ini berpusat pada guru di mana guru menyampaikan isi akademik dalam format yang sangat terstruktur, mengarahkan kegiatan para siswa, dan mempertahankan fokus pencapaian akademik. Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu misalnya pengetahuan tentang teori atom, susunan dan nama-nama planet yang masuk dalam tata surya kita. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu misalnya, pengetahuan tentang cara menggunakan neraca, amperemeter, osiloskop, pengetahuan tentang cara melakukan penelitian dan sebagainya. Pada prinsiopnya pengetahuan yang dapat diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran langsung adalah pengetahuan yang telah ditata dengan baik

FMIPA Universitas Negeri Makassar

2

sehingga mempunyai struktur yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah (Muh. Natsir, 2005). Tujuan utama pembelajaran langsung (direktif) adalah untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa. Beberapa temuan dalam teori perilaku di antaranya adalah pencapaian siswa yang dihubungkan dengan waktu yang digunakan oleh siswa dalam belajar/tugas dan kecepatan siswa untuk berhasil dalam mengerjakan tugas sangat positif. Dengan demikian, model pembelajaran langsung dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar terstruktur dan berorientasi pada pencapaian akademik. Informasi yang dapat disampaikan dengan strategi direktif dapat berupa pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu atau pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Dengan demikian pembelajaran langsung dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran di mana guru mentransformasikan informasi atau keterampilan secara langsung kepada siswa dan pembelajaran berorientasi pada tujuan dan distrukturkan oleh guru. Model ini sangat cocok jika guru menginginkan siswa menguasai informasi atau keterampilan tertentu (http://eduzona.blogspot.com). a. Pola Keseluruhan Kegiatan Pembelajaran Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Fase persiapan dan motivasi ini kemudian di ikuti oleh presentasi materi ajar yang diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pelajaran itu termasuk juga pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan

FMIPA Universitas Negeri Makassar

1

pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata (http://kanreguru.wordpress.com) Menurut Kardi dalam (http://kanreguru.wordpress.com), pengajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pengajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang

ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa. Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan. Sintaks Model pengajaran langsung disajikan dalam 5 (lima) tahap, seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 2.1. : Sintaks Model Pengajaran Langsung Fase Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Peran Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mepersiapkan siswa untuk belajar.

FMIPA Universitas Negeri Makassar

dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehgidupan sehari-hari. b. 2005).wordpress. guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata (http://kanreguru. Natsir. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa.1 Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan Fase 3 Membimbing pelatihan Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. memberi umpan balik Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar. guru memotivasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilakukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut. atau menyajikan informasi tahap demi tahap Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan. Pada fase persiapan.com). Langkah-Langkah Pembelajaran Model Pengajaran langsung FMIPA Universitas Negeri Makassar . (Muh.

5. Melakukan demonstrasi. mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu. Siswa perlu mengetahui dengan jelas.1 Langkah-langkah pembelajaran model pengajaran langsung pada dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umum. Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa. 4. dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran. Mencapai kejelasan. Menyiapkan dan memotivasi siswa. Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain. Fase ini merupakan fase kedua pengajaran langsung. Meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar mengajar. 2. 3. Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu. Presentasi dan Demonstrasi. serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu. Menyampaikan tujuan. Hasil-hasil penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa.” FMIPA Universitas Negeri Makassar . menghindari siswa dari belajar melalui “trial and error. Guru melaksanakan presentasi atau demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci keberhasilan kegiatan demonstrasi ialah tingkat kejelasan demostrasi informasi yang dilakukan dan mengikuti pola-pola demonstrasi yang efektif.

Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif.com).” Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi. 7. dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.1 6. FMIPA Universitas Negeri Makassar . dan memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan. membuat belajar berlangsung dengan lancar. Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung ialah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing. Media Dalam Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Berlatih. Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya. 8. guru perlu benarbenar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti. Sedangkan dalam arti luas. Mencapai pemahaman dan penguasaan. dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru (http://kanreguru. Memberikan latihan Terbimbing. media pengajaran hanya meliputi media yang dapat digunakan secara efektif dalam proses pengajaran yang terencana. perhatian. perasaan. Dalam arti sempit. 1. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. bahwa jika guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga benar. fotografi. media tidak hanya meliputi media komunikasi elektronik yang kompleks akan tetapi juga mencakup alat-alat sederhana seperti: tv radio. slide.wordpress.

FMIPA Universitas Negeri Makassar . Media memiliki beberapa fungsi. atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. (e) obyek yang terlalu kompleks. 2. model. (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. (b) obyek terlalu kecil.com). Sedangkan yang dimaksud media pembelajaran adalah bahan. dan bagan buatan guru. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. atau objek-objek nyata lainnya. media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. yang disebabkan. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. (d) obyek yang bergerak terlalu cepat. tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak. karena : (a) obyek terlalu besar. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa (http://www. dan sebagainya. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda. Berdasarkan definisi tersebut. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. (c) obyek yang bergerak terlalu lambat. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari. miniatur. diantaranya : 1.freewebs. seperti ketersediaan buku.2 diagram. kesempatan melancong. (f) obyek yang bunyinya terlalu halus. alat. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata. maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

2. 3. media pembelajaran mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut: 1. 3. dan realistis. sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya. 8. maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. 6.2 Melalui penggunaan media yang tepat. Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda. 4. media pendidikan berguna untuk: 1) Menimbulkan kegairahan belajar FMIPA Universitas Negeri Makassar .wordpress. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). waktu. Media menghasilkan keseragaman pengamatan 5. konkrit. 7. dan daya indera.freewebs.com). maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda.com). Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://makalahkumakalahmu. Sedangkan menurut Sadiman (2002:16) dalam (http://www. Mengatasi keterbatasan ruang. Dalam hal ini. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.

metodologi pengajaran dan penilaian pengajaran. bahan pengajaran. sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Guru dan Media Pembelajaran Belajar yang diatur oleh guru mencakup tujuan pengajaran. Dalam metodologi ada dua aspek yang paling menonjol. Tujuan pengajaran adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki para siswa setelah ia menempuh berbagai pengalaman belajarnya. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepada siswa. yaitu metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Unsur-unsur tersebut biasa dikenal dengan komponen pengajaran. Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta. Berdasarkan manfaat tersebut. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. konsep. generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran.1 2) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. a. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya suatu tujuan pengajaran. prinsip. nampak jelas bahwa media pembelajaran mempunyai andil yang besar terhadap kesuksesan proses belajar mengajar. FMIPA Universitas Negeri Makassar . 3) Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.

Pola Pembelajaran dibantu Media (Arifin.1 Pola pembelajaran yang memanfaatkan media pembelajaran sebagai sumbersumber disamping guru dapat digambarkan sebagai berikut : 7 XX Q MD 3H HD Q L Q WSD .V G Q HRG D0 W D * XX H JD UG Q Q 0 HL GD 6L ZD V Gambar 2.1. 2000) Dalam praktek pembelajaran sebenarnya tidak ada pola yang kaku antar komponen pembelajaran. Pola kombinasi yang lengkap dapat digambarkan sebagai berikut : Penetapan isi Tujuan Guru dan Siswa Media Guru dan Metoda Media FMIPA Universitas Negeri Makassar .

Penelitian diawaali dengan evalusi media untuk melihat apakah suatu media dapat dipergunakan unutk pembelajaran.id).2. 2000) b. menjadikan proses lebih interaktif. membuat akses pendidikan lebih merata. Sejak tahun 1930 berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kebermanfaatan penggunaan untuk keperluan pembelajaran.web. Akan tetapi hasil penelitian itu dianggap kurang dapat diandalkan karena hasil menunjukkan bahwa semua media dapat dipergunakan untuk pembelajaran. tidak membatasi tempat. meningkatkan sifat positif siswa terhadap bahan atau proses belajar. Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui apakah suatu media lebih baik daripada media yang lain. mengurangi waktu belajar. Pola Kombinasi Dalam Pembelajaran (Arifin.2 Evaluasi (Umpan Balik) Gambar 2. membuat proses belajar lebih cepat dan menarik. mengubah peran guru agar lebih positif dan produktif serta menjadikan pengajaran atau instruksi lebih berdasarkan pada keilmuan (http://www. meningkatkan kualitas belajar. Misalnya apakah gambar diam lebih FMIPA Universitas Negeri Makassar . Oleh karena itu penelitian-penelitian berikutnya beralih ke penelitian perbandingan media unutk pembelajaran. agar siswanya dapat belajar lebih optimal secara khusus media pembelajaran bermanfaat untuk: menyeragamkan materi. Media Sederhana Dalam Pembelajaran Dalam suatu proses pembelajaran manfaat media secara umum adalah untuk memperlancar proses interaksi antara guru dan siswanya.membuatblog. Penelitian ini berasumsi bahwa media sebagai stimulus dapat mengubah perilaku.

apakah ada saluran untuk koneksi ke internet. apabila bahan ajarnya dikemas dengan tepat serta disajikan kepada siswa yang tepat pula. antara lain : • Access Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. secara operasional ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media pembelajaran yang canggih biasanya mahal. adakah jaringan teleponnya? Akses juga menyangkut aspek kebijakan. misalnya apakah murid diizinkan untuk menggunakan komputer yang terhubung ke internet? Jangan hanya kepala sekolah saja yang boleh menggunakan internet. dan (3) karakteristik penerima pesan. Apakah media yang diperlukan itu tersedia. Bahkan murid lebih penting untuk memperoleh akses. perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. • Cost Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan. Ternyata keberhasilan menggunakan media dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada: (1) isi pesan (2) cara menjelaskan pesan. Namun FMIPA Universitas Negeri Makassar . perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. tetapi juga guru/karyawan dan murid. Hasil penelitian itu tidak konsisten dan sulit dipercaya. mudah dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya. Sungguhpun demikian. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media. Untuk tujuan pembelajaran tertentu dapat saja penggunaan papan tulis lebih efektif dan lebih efesien daripada penggunaan LCD. kita ingin menggunakan media internet. Tidak berarti bahwa semakin canggih media yang digunakan akan semakin tinggi hasil belajar atau sebaliknya.2 baik dari pada gambar gerak ( film ) atau apakah media audio lebih baik daripada media visual.

Dari beberapa pertimbangan di atas. apakah voltase listriknya cukup dan sesuai. Sebab media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi murid. yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang “mudah dan murah”. maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun. Tetapi kita perlu memperhatikan apakah teknisinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual untuk di kelas. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Misalnya apakah pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya? Apakah di sekolah tersedia sarana yang disebut pusat sumber belajar? • Novelty Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan.2 biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaat. • Technology Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. bagaimana cara mengoperasikannya? • Interactivity Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. perlu kita pertimbangkan. • Organization Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. apakah ada aliran listriknya. Sebab semakin Pendayagunaan Media Pembelajaranbanyak yang menggunakan. dengan memanfaatkan sumberdaya yang FMIPA Universitas Negeri Makassar .

yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. 1. Hakekat hasil belajar siswa menurut Sudjana (2005:37) adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang afektif dan psikomotorik. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat dari isi.blogspot. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa standar keberhasilan dalam belajar bisa dilihat dari sejauh mana guru dan siswa telah berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ada. Dalam memilih media. maksudnya ketetapan hasil belajar belum bisa menjamin prestasi belajar tinggi. Hasil belajar sifatnya relatif. Dengan perkataan lain.com). Sebab kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang prestasi belajarnya tinggi tetapi penguasaan materinya masih kurang. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media.2 ada di lingkungan sekitarnya serta memunculkan ide dan kreativitas yang dimilikinya. penjelasan pesan dan karakteristik siswa (http://rizalaldura. situasi dan kondisi masing-masing. perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Disamping itu hasil belajar juga merupakan suatu indikator yang penting untuk menyatakan kualitas suatu pembelajaran. Hasil Belajar Hasil belajar yang dicapai siswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan pembelajaran yang direncanakan oleh guru sebelumnya. Menurut Oemar Malik (2003:155) hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa. itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. FMIPA Universitas Negeri Makassar . Tidak diragukan lagi bahwa semua guru sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. media yang terbaik adalah media yang ada.

2008:143) Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal : a) Sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. d) Merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. penerapan. sintesis dan evaluasi. Standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria. Hasil akhir dapat diketahui dengan menggunakan salah satu indikator yaitu melalui tes.1 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. pemahaman. (Akhmad Sudrajat. 2. Hasil belajar meliputi aspek kognitif. Hasil tes ini kemudian dianalisis oleh guru dan diberi skor. b) Sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran. yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. baik secara proses maupun di akhir pembelajaran. c) Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Hasil belajar dari aspek kognitif merupakan kemampuan siswa dalam bidang pengetahuan. peneliti hanya mengamati aspek kognitif. afektif dan psikomotor. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada penelitian ini. analisis. FMIPA Universitas Negeri Makassar .

d) Kreteria ditetapkan untuk masing-masing indikator idealnya berkisar 75 % e) Sekolah dapat menetapkan KKM dibawah kreterian ideal ( sesuai kondisi sekolah) f) Dalam menentukan KKM haruslah dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik. kompleksitas indikator. serta kemampuan sumber daya pendudkung. b) KKM ditetapkan oleh forum MGMP sekolah. 2007:86) a) KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran. Langkah penetapan KKM (http://akhmadsudrajat. Adapun rambu-rambu yang dimaksud adalah : (Wannef Jambak.1 e) Merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. ada beberapa rambu-rambu yang harus diamati sebelum ditetapkan KKM di sekolah. g) KKM dapat dicantumkan dalam LHBS sesuai model yang ditetapkan atau dipilih sekolah. atau rentang nilai yang sudah ditetapkan.pdf) adalah sebagai berikut: FMIPA Universitas Negeri Makassar .wordpress. c) KKM dinyatakan dalam bentuk presentasi berkisar antara 0-100.com/2008/08/ penetapan-kkm. Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Perlu setiap sekolah-sekolah untuk menentukan Standar Ketuntasan Minimal (KKM)-nya masing-masing sesuai dengan keadaan sekolah dimana sekolah itu berada artinya antara sekolah A dengan sekolah B bisa KKM-nya berbeda satu sama lainnya.files.

SK hingga KKM mata pelajaran. 2) Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian 3) KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Skema Penetapan KKM Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD. daya dukung. yaitu kompleksitas.1 1) Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria. maka guru mata pelajaran fisika SMP Negeri 2 Sukamaju menyepakati nilai kriteria ketuntasan minimal sebesar 65. KERANGKA PIKIR FMIPA Universitas Negeri Makassar .3. Berdasarkan langkah-langkah penetapan KKM tersebut. 4) KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik. A. dan dinas pendidikan. dan intake (kemampuan) peserta didik dengan skema sebagai berikut: KK KKM M Indikat MP KD SK or Gambar 2. orang tua. yaitu peserta didik.

meracik model pembelajaran yang cocok dan kemampuan guru untuk mengatasi hambatanhambatan dalam menerapkan model tersebut. Salah satu model yang sangat popular digunakan dalam pembelajaran adalah model pengajaran langsung. Dengan menggunakan bantuan media FMIPA Universitas Negeri Makassar . Suatu kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil jika peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang dapat dilihat dari hasil belajarnya. Pembelajaran dengan menggunakan media sederhana merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan di atas. tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan guru dalam menerapkan secara benar langkah-langkah pelaksanaan. Model ini diterapkan oleh sebagian besar guru karena di dalamnya terdapat metode demonstrasi yang digunakan jika peralatan laboratorium tidak mencukupi untuk distribusi setiap kelompok siswa dalam menjalankan praktikum. inovatif. bermakna dan ditunjang oleh sumber daya.1 Dalam dunia pendidikan kegiatan belajar mengajar (KBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif. Namun metode ini tidaklah cukup efektif jika yang menjadi alat demonstrsasi tidak dapat disimak oleh seluruh siswa disebabkan karena alat tersebut terlalu kecil sehingga memerlukan media lain yang dapat menampilkannya secara menarik dengan tampilan yang lebih besar. Oleh karena itu guru sebagai pendidik dan pengajar bertanggung jawab merencanakan dan mengelolah kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran khususnya bidang studi Fisika. Kurang tepatnya suatu model pembelajaran bukan terletak pada model itu sendiri. efisien.

Dari penggabungan ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat penguasaan siswa dalam bentuk hasil belajar terhadap materi yang dipelajari terkhusus pada materi alat ukur dan suhu yang sangat memerlukan metode pembelajaran yang lebih nyata melalui model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana yang akan hasilnya lebih menarik dan dapat disimak oleh seluruh siswa. Model pengajaran Hasil Belajar Proses Pembelajaran Fisika Media Sederhana SISWA GURU langsung Fisika FMIPA Universitas Negeri Makassar . dan dapat disimak oleh seluruh siswa maka ada baiknya jika pembelajaran dengan menggunakan model pengajaran langsung dibantu dengan media sederhana. lebih nyata. agar pembelajaran lebih menarik.2 ini alat demonstarasi dapat ditampilkan lebih besar. Oleh karena itu. menarik dan dapat disimak oleh seluruh siswa.

Ha : µ ≥ µ0 FMIPA Universitas Negeri Makassar . H0 : µ < µ0 Keterangan: H0 = Hipotesis sangkalan Ha = Hipotesis alternatif µ = Skor rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sukamaju setelah di ajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. Bagan Kerangka Pikir B. µ0 = Standar KKM yang diberlakukan di SMP Negeri 2 Makassar.4. HIPOTESIS PENELITIAN Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sukamaju tahun ajaran 2010/2011 telah mencapai standar KKM setelah diajar dengan menggunakan model pengajaran langsung dengan media sederhana.2 Gambar 2.

3 BAB III METODE PENELITIAN A. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai hasil belajar fisika siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju telah mencapai standar KKM atau belum setelah diajar dengan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. C. Variabel Penelitian FMIPA Universitas Negeri Makassar . Lokasi dan Waktu Penelitian • • Lokasi penelitian adalah di SMP Negeri 2 Sukamaju Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010/2011 semester ganjil. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini yaitu penelitian Pre-Eksperimen. Variabel dan Desain Penelitian 1. B.

2006:85) : X Keterangan: X O : treatment atau perlakuan : tes hasil belajar fisika setelah treatment dengan menggunakan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. D. Definisi Operasional Variabel 1.2 Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana dan hasil belajar fisika siswa. Populasi Penelitian FMIPA Universitas Negeri Makassar . Adapun secara singkat rancangan penelitian ini dapat dpigambarkan dalam desain sebagai berikut (Arikunto. Model pengajaran langsung dengan media sederhana adalah O model pembelajaran dimana guru mentransformasikan informasi atau keterampilan secara langsung kepada siswa dan pembelajaran berorientasi pada tujuan dan distrukturkan oleh guru dengan menggunakan media sederhana. E. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah “One Shot Case Study”. 2. 2. Populasi dan Sampel 1. Hasil belajar adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran fisika yang diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang dinyatakan derngan skor hasil belajar.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan tes tersebut sebagai berikut: a. Pengambilan sampel tersebut digunakan dengan asumsi bahwa populasi bersifat homogen.1 Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sukamaju tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 6 kelas dengan jumlah siswa 213 orang. artinya penempatan siswa dalam kelas tidak berdasarkan pada prestasi belajarnya. Instrumen penelitian Dalam penelitian ini hanya menggunakan satu jenis instrumen berupa tes hasil belajar fisika. F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tes hasil belajar fisika yang diberikan setelah proses belajar mengajar telah selesai untuk mendapatkan data hasil belajar fisika siswa. Tahap kedua FMIPA Universitas Negeri Makassar . Adapun yang di ambil secara random sampling adalah kelasnya. Tahap pertama Menyusun 40 item tes hasil belajar fisika siswa dari pokok bahasan Suhu dan Pengukuran yang ada pada semester ganjil dalam bentuk pilihan ganda. Sampel Penelitian Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling. 1. Hasil pengacakan tersebut terpilih kelas VIIA dengan jumlah siswa sebanyak 35 0rang. 2. b.

Mt = Rerata skor total St = Standar deviasi dari skor total p = Proporsi siswa yang menjawab benar = Banyaknya siswa yang menjawab benar Jumlah seluruh siswa q = Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 .2005 : 79) FMIPA Universitas Negeri Makassar .p) Valid tidaknya item ke-i ditunjukkan dengan membandingkan nilai γ pbi dengan nilai rtabel pada taraf signifikan α = 0.3 Semua item yang telah disusun dikonsultasikan ke dosen pembimbing untuk selanjutnya diujicobakan pada siswa kelas VIIA yang telah mempelajari materi tersebut. item dinyatakan valid Nilai γ pbi < rtabel. Kemudian item-item dari lembaran siswa di analisis untuk mengetahui validitasnya dengan menggunakan rumus sebagai berikut: γ pbi = Dengan: γ pbi M p − Mt St p q = Koefisien korelasi biseral Mp = Rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya.05 dengan kriteria sebagai berikut: Jika : Nilai γ pbi ≥ rtabel. item dinyatakan invalid (Arikunto .

600-0.1. c. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Suharsimi. 2008:100) dengan: = reliabilitas instrumen Proporsi subyek yang menjawab item benar Proporsi subyek yang menjawab item salah (q = 1 – p) Jumlah hasil perkalian antara p dan q r11 p q = = = FMIPA Universitas Negeri Makassar . Tahap ketiga Untuk mengetahui konsistensi instrumen yang digunakan.400-0.000-0.800-1.600 0.200-0. Kriteria tingkat reliabilitas sebagai berikut : Table 3.400 0. maka harus ditentukan reliabilitasnya.000 0.200 Kategori Tinggi Cukup tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Untuk menghitung reliabilitas tes hasil belajar fisika digunakan rumus KuderRichardson 20 (KR-20) sebagai berikut: 2  n  S − ∑ pq    r11 =    S2  n − 1    (Arikunto.800 0. Kriteria tingkat reliabilitas item Rentang Nilai 0.1 Dari 40 item yang diujicobakan setelah dianalisis dengan γ pbi diperoleh 21 item yang memenuhi kriteria valid dan 19 item yang invalid.

Tahap akhir FMIPA Universitas Negeri Makassar . 4) Menyusun instrumen penelitian dalam bentuk tes pilihan ganda a. dan tahap akhir.05 . b. Tahap pelaksanaan Pada tahap ini mulai dilaksanakan proses belajar mengajar pada kelas yang sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Prosedur penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap yakni: tahap persiapan.1 n S = = Banyaknya item Standar deviasi dari tes (akar variansi) Dari hasil perhitungan diperoleh nilai tingkat reliabilitas tes secara keseluruhan = 0. Proses mengajar dilakukan sendiri oleh peneliti dimana kelas yang diteliti diajar dengan model pembelajran langsung dengan menggunakan media sederhana. a. maka tes yang digunakan mempunyai tingkat reliabilitas dengan kategori cukup tinggi dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian. 1. tahap pelaksanaan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut. 2) Menentukan materi yang akan dijadikan sebagai materi penelitian. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran A. Tahap persiapan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah: 1) Berkonsultasi dengan kepala sekolah dan guru bidang studi fisika SMP Negeri 2 Sukamaju untuk meminta izin melaksanakan penelitian.665 pada taraf signifikansi α = 0.

skor terendah. dan standar deviasi. maka skor di konversi dalam bentuk nilai menggunakan rumus sebagai berikut: N=SSSI x 100 Keterangan: N = Nilai siswa SS = Skor hasil belajar siswa SI = Skor ideal Nilai standar ketuntasan belajar siswa kelas VIIA pada mata pelajaran fisika pokok bahasan Suhu dan Pengukuran di SMP Negeri 2 Sukamaju adalah 65. Untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa. FMIPA Universitas Negeri Makassar . skor ideal. rata-rata. Analisis Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar fisika yang diperoleh siswa setelah mengikuti materi pelajaran. F. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan dua macam statistik.3 Setelah seluruh kegiatan pengajaran dilaksanakan maka dilakukan tes hasil belajar fisika. yaitu: 1. Adapun waktu pelaksanaan tes hasil belajar yaitu pada hari selasa tanggal 06 Oktober 2010. Analisis ini akan memberikan gambaran tentang skor hasil belajar fisika siswa yang diperoleh berupa skor tertinggi. Tes hasil belajar fisika diberikan pada kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana.

2006: 197) Keterangan: = Nilai Chi-kuadrat hitung χ2 hitung Oi = Frekuensi hasil pengamatan FMIPA Universitas Negeri Makassar . sebelum uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas.1 Kemudian. Uji Normalitas Data Untuk keperluan pengujian hipotesis. Uji nomalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. Untuk pengujian tersebut digunakan rumus chi-kuadrat yang dirumuskan sebagai berikut: χ 2 hitung (Oi − Ei ) 2 =∑ Ei i =1 k (Sugiyono.2 Kategori Nilai Hasil Belajar No 1 2 3 4 5 Interval Nilai 0 – 20 21 – 40 41 – 60 61 – 80 81 – 100 Kategori Hasil Belajar Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Riduan (2003 : 41) 2. Analisis Inferensial Statistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji-t. untuk kategori hasil belajar fisika siswa kelas VIIA yang ditetapkan berdasarkan kriteria yang sebagai berikut : Tabel 3. a. maka terlebih dahulu dilakukan pengujian dasar yaitu uji normalitas data .

Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis yang telah diajukan dalam hipotesis penelitian.3 Ei k = Frekuensi harapan = Banyaknya kelas Kriteria pengujian: Data berdistribusi normal bila lebih kecil dari dimana diperoleh χ 2 hitung χ 2 tabel χ 2 tabel dari daftar dengan dk = (k-1) pada taraf signifikan α = 0.05 thitung=µ-µ0s/n (Sudjana. χ 2 b.05. Berdasarkan bunyi hipotesis yang telah diajukan maka jenis uji hipotesis yang digunkan adalah uji pihak kanan dengan menggunakan uji t pada rata-rata (µ) skor hasil belajar siswa. 1992:227) Keterangan: µ = Nilai rata-rata yang di konversi dari skor rata-rata µ0 = Standar KKM s n = Standar deviasi = Banyaknya data kelompok FMIPA Universitas Negeri Makassar . ➢ Uji Rata-rata µ Teknik pengujian yang digunakan adalah uji t dengan α = 0.

A. dan pembahasan berdasarkan data yang diperoleh sesuai dengan teknik dan prosedur pengambilan data dalam penelitian ini. yaitu analisis deskriptif dan pengujian hipotesis.3 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas hal–hal yang berkaitan dengan pengolahan data. Pengolahan data yang dimaksud di sini meliputi pengujian dasar–dasar analisis. pengujian hipotesis. Hasil Penelitian 1. Hasil Analisis Deskriptif FMIPA Universitas Negeri Makassar .

60 dengan skor tertinggi 20 dan skor terendah 5 serta standar deviasi 3.14 45.2.14 91.42 100.86 57.1.71 Berdasarkan tabel distribusi persentase kumulatif skor hasil belajar fisika di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata berada pada rentang skor 11-13 dimana FMIPA Universitas Negeri Makassar .06. Statistik Skor Hasil Belajar Fisika Statistik Skor ideal Skor maksimun Skor minimum Skor rata-rata Rentang skor Standar deviasi Nilai Statistik 21 20 5 15.57 13 100.00 97.00 Kumulatf f (%) Atas 2.14 32 62.72 11.06 Tabel 4.86 29 88. Jika skor hasil belajar siswa SMP Negeri 2 Sukamaju tahun ajaran 2010/2011 dianalisis dengan menggunakan persentase pada distribusi frekuensi maka dapat dibuat tabel distribusi frekuensi kumulatif sebagai berikut : Tabel 4.57 34 17.1 Bedasarkan hasil analisis deskriptif siswa kelas VIIA SMP Negeri I Sukamaju tahun ajaran 2010/2011 semester ganjil yang diajar dengan menerapkan Model Pengajaran Langsung dengan menggunakan media sederhana.58 45.00 4 Bawah 1 3 6 22 31 35 f (%) 100.1 diatas menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju adalah 15. Distribusi frekuensi kumulatif skor hasil belajar Fisika siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sukamaju Skor 5-7 8-10 11-13 14-16 17-19 20-22 Jumlah F 1 2 3 16 9 4 35 f (%) 2.86 35 8.71 25. Tabel 4.43 82.60 15 3.71 8.86 5.

875 < χ2tabel = χ2(0. untuk α = 0. maka banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan belajar.1 terdapat 11. Berdasarkan tabel pengujian normalitas (lampiran C) diperoleh χ2hitung = 8.3.43% siswa yang memperoleh skor di bawah skor rata-rata. yang berarti skor hasil belajar fisika siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Pengujian Hipotesis FMIPA Universitas Negeri Makassar . Hasil Analisis Inferensial a. Data distribusi frekuensi diatas dapat disajikan dalam diagram batang sebagai berikut: Gambar 4. Pengujian Normalitas Pengujian normalitas bertujuan untuk menyatakan apakah data skor hasil belajar fisika siswa berasal dari populasi berdistribusi normal. maka diperoleh χ2tabel = χ2(0.070. yaitu 29 orang dengan persentase 82.05 dan dk = k-1 = 6-1 = 5. dan 88.1. Tabel 4.00 Berdasarkan kriteria ketuntasan minimal.875. Hasil pengujian normalitas menunjukkan bahwa. Persentase Ketuntasan belajar Fisika siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju Persentase No Kategori Hasil Belajar Frekuensi (%) 1 Tuntas 29 82. Dengan demikian = χ2hitung = 8.57% siswa memperoleh skor di atas skor rata-rata.14 Jumlah 35 100.86 2 Belum Tuntas 6 17.070.14%.95)(5) = 11.86% dan banyaknya siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar yaitu 6 orang dengan persentase 17.95)(5) = 11. Distribusi Frekuensi skor hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju. 2. b.

fakta empiris yang diperoleh tersebut telah memberi indikasi bahwa penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan FMIPA Universitas Negeri Makassar . untuk harga lainnya Ha diterima. akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi agar siswa belajar. untuk rata-rata µ dilakukan dengan menggunakan uji-t.60. Jika skor tersebut di konversi dalam bentuk nilai.60 dengan standar deviasi 3. Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thitung > t(0.05.692 yakni 18. Berdasarkan analisis deskriptif tentang hasil belajar siswa pada tes terakhir. Adapun hasil taksiran rata skor hasil belajar fisika siswa berada pada interval antara 14-16 dimana skor rata-rata adalah sebesar 15. Berdasarkan persentase kumulatif skor hasil belajar fisika menunjukkan bahwa ada 17. maka ratarata nilai hasil belajar fisika siswa adalah sebesar 74. Pembahasan Dalam model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana baik guru maupun siswa sama-sama berperan secara penuh. skor tertinggi yang diperoleh adalah 20 dan skor rata-rata adalah 15.692. dengan demikian Ha dinyatakan diterima. Hasil analisis diperoleh nilai thitung = 18.60 dibandingkan dengan ttabel dimana ttabel = 1.95)(34) dengan α = 0. Hal ini memberi petunjuk bahwa persentase ketuntasan klasikal nasional yakni 85% belum tercapai.28 dengan kategori hasil belajar tinggi.60 > 1. Namun demikian.86% siswa yang memperoleh skor ≥14.14% dari siswa yang memperoleh skor <14 dan ada 82.2 Pada pengujian hipotesis. Model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar yang baik.06. Hal ini berarti thitung berada pada penolakan H0. Guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa. B.

2

media sederhana telah dapat meningkatkan persentase ketuntasan klasikal sebelumnya yakni dari 68,57% menjadi 82,86% atau dari 24 siswa menjadi 29 siswa yang mencapai nilai diatas 65. Dari hasil analisis deskriptif dan pengujian hipotesis tersebut diatas yang merupakan fakta empiris diperoleh informasi bahwa hasil belajar fisika siswa setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana telah memenuhi standar KKM, dimana rata-rata nilai hasil belajar fisika siswa yang diperoleh adalah 74,28 lebih besar dibandingkan dengan nilai standar KKM yakni sebesar 65, dengan ketercapaian kriteria ketuntasan belajar mencapai 82,86% atau 29 siswa mendapatkan nilai lebih besar atau sama dengan 65.

Berdasarkan hasil analisis data pada pengujian hipotesis untuk rata-rata µ, thitung berada pada penolakan H0, dengan demikian Ha dinyatakan diterima. Hal ini memberi indikasi bahwa skor rata-rata hasil belajar fisika siswa telah memenuhi standar KKM setelah di ajar dengan model pembelajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. Fakta tersebut diatas menunjukkan bahwa siswa dapat memahami dan menganalisis materi pelajaran setelah siswa diajar dengan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. Hal ini terjadi karena pembelajaran dengan menggunakan model pengajaran langsung yang dibantu dengan media sederhana menghubungkan masalah yang terjadi dengan situasi kehidupan nyata. Hal ini sesuai dengan penelitian Kurniawan (2010) yang menyatakan bahwa model pembelajaran langsung merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam mencapai hasil belajar fisika yang optimal. Selain daripada itu, Wayan Diskrit (2009), juga menyatakan bahwa model pembelajaran langsung memiliki peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar fisika. Terkait

FMIPA Universitas Negeri Makassar

3

dengan media Rizal (2009) mengemukakan bahwa keberhasilan menggunakan media dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada tiga faktor, yaitu: isi pesan, cara menjelaskan pesan dan karakteristik penerima pesan. Tidak berarti bahwa semakin canggih media yang digunakan akan semakin tinggi hasil belajar atau sebaliknya. Jadi dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing, artinya media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa. Oleh karena itu berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dikatakan bahwa siswa yang diajar melalui pembelajaran model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana membuat siswa termotivasi dalam mengikuti materi pembelajaran dan siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti suatu mata pelajaran khususnya mata pelajaran Fisika, karena siswa aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana, siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelesaian masalah melalui kegiatan praktikum, serta aktif dalam manarik kesimpulan.

FMIPA Universitas Negeri Makassar

4

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil belajar Fisika kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju setelah diajar

dengan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana berada dalam kategori tinggi.
2. Hasil belajar Fisika siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju telah

mencapai ketuntasan klasikal secara nasional dan telah memenuhi standar KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah setelah diajar dengan pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana. Dengan demikian dapat di kemukakan bahwa model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana memegang peranan dalam mencapai hasil belajar fisika siswa yang memenuhi standar Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) pada pokok bahasan Suhu dan Pengukuran di SMP Negeri 2 Sukamaju A. Saran 1. Untuk para peneliti/guru agar dapat mengembangkan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana (pokok bahasan yang sesuai) untuk mencapai standar ketuntasan minimal yang ditetapkan. 2. Kepada peneliti lain yang berniat melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan perbandingan. model

FMIPA Universitas Negeri Makassar

html. 2000.pdf. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi V. Sardiman. 2007. Muhammad Natsir. Tersedia http://www. Strategi Pembelajaran Fisika. Oemar. Tersedia http://makalahkumakalahmu. 2010. 2002. 2003.blogspot. Sagala. Konsep dan Makna pembelajaran. 1992. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Suharsimi. Model Pembelajaran Langsung. Interaksi dan Motivasi Belajar. Tersedia pada http://www.com/2009/10/perkembangan-mediasederhana. 2003. I Wayan. Diakses pada tanggal 12 Juli 2010. Metode Statistika. Pemilihan Media Pembelajaran. Syaiful. Media Pembelajaran. pada Hamalik. Jakarta: Rineka Cipta Guruh. Sudjana. Nana.blogspot. Akhmad. 2010. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.wordpress.membuatblog.web. Sudjana. pada FMIPA Universitas Negeri Makassar . Arikunto.com/santyasa/pdf2/MEDIA_PEMBELAJARAN. 2005. 2003.html.html. Tersedia http://rizalaldura. Perkembangan Media Sederhana. Pendidikan. Strategi Belajar Mengajar Fisika. M. Makassar: Laboratorium Jurusan Fisika Universitas Negeri Makassar.1 DAFTAR PUSTAKA Arifin. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 2007. 2009.com/2010/04/model-pembelajaran-langsung-directatau. Jakarta : Rajawali Press. Rizal. Bandung: Tarsito.id/2010/06/pemilihan-mediapembelajaran. Mengajar dan Belajar. Proses Belajar Mengajar. Tersedia pada http://eduzona. dkk. Dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung : Jurusan Pendidikan fisika FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.freewebs. Makassar: Universitas Negeri Makassar Santyasa. Diakses pada 12 Juli 2010. 2008. 2005. Diakses pada tanggal 12 Juli 2010. pada Roy Killen. Jakarta: Bumi Aksara. Diakses pada 12 Juli 2010. Jakarta: PT. 2002. Sudrajat. Suharsimi. Raja Grafindo Persada. Bandung: Alfabeta Sahabuddin. Diakses pada 12 Juli 2010. 2003.com/2008/09/15/mediapembelajaran/. Slameto.

Pengertian. com/2008/08/15/pengertian-fungsi-danmekanisme-penetapan-kriteria-ketuntasan-minimal-kkm/). Fungsi.1 Sudrajat. 2010. 2008. Akhmad. Landasan. diakses 13 maret 2010) Trianto. dan Mekanisme Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).wordpress. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif Konsep. dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (http://akhmadsudrajat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group FMIPA Universitas Negeri Makassar . (online).

3 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

3 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

5 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

7 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

9 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

11 KUNCI JAWABAN INSTRUMEN FMIPA Universitas Negeri Makassar .

10. 2. C C D A A A D B A D 11. C 13. 8. 3. C 15. B 18. 6. C 17. B 14. D 21. A 12. A 20. C 19. 2: VALIDITAS ITEM DAN REALIBILITAS Tabel Analisis Validitas Item No item soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FMIPA Universitas Negeri Makassar . 5. D LAMPIRAN A. 9. 7.1 1. 4. B 16.

674 0.674 0.620 0.617 0.034 28.90 5 1.449 Valid 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8 0.381 184 23.000 0.160 90 22.107 0.067 0.1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Σ p q p/q Σ benar Mp Mp-Mt (MpMt)/St squart of p/q γpbi Status Mt rtabel 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 27 0.567 0.862 0.667 607 23.862 0.35 7 0.50 0 633 23.506 Valid 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 4 0.700 Valid 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25 0.924 0.56 0 1.897 0.292 Drop FMIPA Universitas Negeri Makassar .279 0.212 2.913 0.00 0 4.495 Valid 22.14 8 0.531 Valid 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 28 0.250 589 23.00 0 654 23.277 1.897 0.34 6 0.625 502 23.50 0 625 23.931 0.55 6 2.103 8.127 0.340 0.103 0.379 1.50 0 0.135 3.621 0.400 0.066 Drop 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0.013 0.511 Valid 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 21 0.115 81 27.44 4 1.921 Valid 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 26 0.172 2.471 0.400 1.122 0.190 3.069 13.715 0.069 13.944 0.367 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 27 0.292 0.011 0.724 0.567 0.174 5.276 0.138 6.724 0.005 Drop 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 18 0.276 2.500 0.138 0.860 0.636 442 24.966 0.931 0.43 3 0.

379 1.189 0.966 0.14 3 0.658 Valid 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 26 0.00 0 -3.840 0.195 1.50 0 0.414 1.706 275 22.034 0.833 557 24.91 7 0.006 Drop 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0.655 0.05 9 2.417 426 25.2 item soal 11 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 19 0.091 Drop 18 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 17 0.351 Drop 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 28 0.05 3 1.261 135 22.037 0.76 9 2.33 3 0.189 -0.636 430 23.036 19 19.417 399 23.379 1.115 83 27.26 9 0.433 -0.340 0.414 0.621 0.134 5.944 0.397 Valid 22 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 18 0.233 0.336 1.567 0.440 0.207 0.958 0.00 0 648 23.66 7 5.292 0.157 2.793 0.233 Drop 21 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 13 0.901 0.900 0.103 8.966 0.667 605 23.495 1.345 1.034 28.279 0.207 3.707 Valid 16 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 6 0.305 1.589 Valid 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0.586 0.552 0.091 0.586 0.88 9 1.625 0.464 Valid FMIPA Universitas Negeri Makassar .836 0.483 0.448 0.013 0.21 7 1.647 0.784 0.456 0.966 0.813 322 24.217 Drop 23 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 23 0.636 420 23.621 0.190 0.122 Drop 20 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 17 0.897 0.900 457 24.619 0.421 Valid 12 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0.710 0.000 2.897 0.511 0.279 0.414 1.378 0.190 0.586 0.036 25 25.170 1.077 Drop 14 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 18 0.103 0.335 Drop 13 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 12 0.793 0.067 0.484 0.274 1.986 0.034 0.47 1 1.336 0.

966 0.707 Valid 32 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 28 0.134 5.310 0.95 5 1.897 0.538 Valid 37 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 10 0.034 0.00 0 648 23.528 Valid 31 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 28 0.511 0.552 0.30 8 0.833 539 23.951 0.433 -0.793 0.369 Valid 39 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 8 0.667 608 23.134 5.276 0.077 Drop 38 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 23 0.793 0.00 0 -3.442 0.710 0.707 Valid 33 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 27 0.442 0.526 230 23.00 0 0.345 0.168 Drop 40 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 9 0.674 0.958 0.710 0.667 606 23.225 Drop 36 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 22 0.04 5 1.189 1.586 0.381 191 23.272 0.034 28.897 0.292 0.304 1.671 0.655 0.04 3 0.143 529 24.287 1.944 0.4 item soal 25 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 26 0.974 0.38 5 0.759 0.485 Valid 26 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 22 0.344 0.296 Drop ΣX 18 19 24 27 26 23 24 28 25 25 28 28 19 24 23 25 23 23 22 21 23 27 19 25 20 20 19 22 23 673 FMIPA Universitas Negeri Makassar .001 0.301 Drop 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0.00 0 648 23.966 0.77 8 2.567 0.143 527 23.931 0.189 -0.773 0.184 3.165 2.122 Drop 30 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 26 0.521 0.151 Drop 35 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 23 0.793 0.612 0.617 0.14 3 0.414 0.610 0.773 0.840 0.069 13.036 19 19.87 5 1.958 0.448 0.207 3.38 5 -0.508 Valid 27 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 13 0.43 5 1.034 28.724 0.292 0.107 0.261 144 24.706 292 24.759 0.295 0.207 0.450 223 24.009 0.241 3.944 0.241 3.647 0.813 291 22.179 2.900 0.901 -0.50 0 632 23.115 1.725 0.833 530 23.40 7 0.966 0.567 0.207 3.008 Drop 28 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 12 0.674 Valid 34 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 6 0.00 0 1.103 8.358 0.874 0.33 3 1.14 3 0.103 8.049 -0.690 0.

6 S = 3.5 PERHITUNGAN VALIDITAS ITEM Perhitungan validitas item dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : γpbi= Mp -Mt S pq (Arikunto.06 rtabel = 0. Suharsimi. 2003: 79) Dengan : γpbi = koefesien korelasi biserial Mp = rerata skor pada tes dari peserta tes yang memiliki jawaban benar Mt = rerata skor total S p q = Standar deviasi dari skor total = proporsi peserta tes yang jawabannya benar pada soal (tingkat kesukaran) =1–p γpbi≥rtabel maka item tersebut berdasarkan pada kriteria validitas. Dimana: Mt= 54635=15.05 FMIPA Universitas Negeri Makassar . jika dikatakan valid dan jika γpbi <rtabel maka item tersebut invalid.361 pada α = 0.

56 FMIPA Universitas Negeri Makassar .68523. Suharsimi. persamaan yang digunakan adalah : rii=nn-1S2-pqS2 (Arikunto.56- 2.685 = 23.6 PERHITUNGAN RELIABILITAS ITEM Mencari reliabilitas tes dengan menggunakan persamaan Kuder-Richardson 20 (KR20). 2003: 100) Keterangan : rii p q = reliabilitas tes secara keseluruhan = proporsi subyek yang menjawab item dengan benar = proporsi subyek yang menjawab item dengan salah = jumlah hasil perkalian antara p dan q n S2 = banyaknya item = Varians Adapun harga-harga yang diperlukan : n = 21 = 2.56 rii =2129-123.

Daerah ukurnya kecil c. . . . . a. Harganya murah 1. Kalorimeter 1. Pernyataan yang merupakan bukan keuntungan dari alkohol jika digunakan sebagai pengisi tabung termometer adalah . . Membasahi dinding tabung kaca termometer b. Tidak membasahi dinding b.665 Jadi reliabilitas tes hasil belajar uji coba adalah 0. Kelvin 1. Alat pengukur suhu suatu benda disebut .7 = 0. 100 b.3 : INSTRUMEN PENELITIAN Sekolah Kelas/ Semester Mata pelajaran Alokasi waktu : : : : SMP Negeri 2 Sukamaju VII/ Satu (I) FISIKA 90 menit Petunjuk : Berilah tanda silang pada jawaban yang paling benar ! 1. . Suhu titik didih air murni pada tekanan 1 atm jika dinyatakan dalam skala Celcius adalah . Reamur c. LAMPIRAN A. Intensitas panas c. a. . Kelebihan raksa digunakan sebagai zat muai pada termometer di antaranya adalah . Barometer b. Manometer c. Termometer d. Fahrenheit d. 273 c. Besaran fisika yang menyatakan derajat panas suatu zat adalah . . a. Kalor b. a. 212 FMIPA Universitas Negeri Makassar . Peka terhadap perubahan suhu d. . . Memiliki titik beku -1120C c. Koefisien muai 1. . a. Celcius b.665 (memiliki taraf kepercayaan yang cukup tinggi). . a. Suhu d. Satuan suhu dalam SI adalah . Pemuaiannya tidak teratur d. Dapat mengukur suhu yang sangat rendah 1.

arloji b. . jam air 1. 1800F d. dan tinggi 30 cm. . jam matahari d. 4. jangka sorong. 8 cm b.8 d. . . 1500 1. 960 c. a. mistar. arloji. Jika thermometer Celcius menunjukkan angka 1000C. Micrometer.036 d. skala Reamur akan menunjukkan… a. 1000 d. 0. jangka sorong d. 00C – 1000C c. yaitu titik didih air murni pada tekanan 1 atm. Jam matahari. stopwatch. Mistar. jam air. arloji. stopwatch. jam matahari c. . . 1320F 1. . 2800F b. mistar 1. . . jam air. Sebuah balok kayu diam di atas sebuah mistar. Termometer klinik mempunyai daerah ukur antara . 373 1. a.34 c.5 cm FMIPA Universitas Negeri Makassar . stopwatch. . 0. 0. micrometer. a. Micrometer. 640 b.0306 1. Panjang balok adalah . Volume peti tersebut adalah .36 b. maka bila diukur dengan thermometer Fahrenheit angka tersebut sama dengan . 300C – 400C d. lebar 40 cm. Urutkan alat ukur panjang mulai dari yang paling teliti adalah . 350C – 420C 1. 2120F c. mistar c. a. Jangka sorong. jam atom. Urutan alat ukur waktu mulai dari yang paling teliti adalah . Sebuah peti berbentuk balok dengan panjang 3 m. stopwatch.m3 a. a. jangka sorong. . 0. 00C – 500C b. Jam atom. . micrometer b. Arloji. Bila thermometer Celcius menunjukkan skala 800.

8 cm d. Tinggi segitiga adalah . a. Berapa m2 terdapat pada sebidang tanah seluas 250 are? (1 ha = 1 hm2) a. 4 cm d. Berapa lama percobaan tersebut berlangsung? a. Diagram di atas menunjukkan waktu pada suatu stopwatch pada awal dan akhir dari suatu percobaan. 24 cm3 FMIPA Universitas Negeri Makassar . Sebuah segitiga memiliki luas 60 cm2 dan panjang sisi alas 15 cm. 45 s 1. Perhatikan gambar berikut ini! Panjang kertas adalah . 8. 25 s d. 5. . a. . Volume zat cair adalah . 8. . . 8. 2 cm b. 8 cm c. a. 10 s b. 35 s c. 16 cm 1.9 c. 2500 d. . 9 cm 1. 3. 25000 c. .9 cm c. Diagram di samping menunjukkan ketinggian zat cair dalam gelas ukur. 250000 1.5 cm d.5 cm 1. 250 b.7 cm b.

. . a. Mistar b. . 28 cm3 c. 29 cm3 d. Volume batu yang ditunjukkan pada gambar di samping adalah . Volum benda yang tidak teratur dapat diketahui dengan cara . Membandingkan dengan volum suatu benda yang bentuknya teratur dan beratnya sama d. menggunakan gelas berpancuran berskala yang diisi dengan air 1. c. . mengalikan luas alas dengan tebalnya b. a. Alat ukur yang cocok digunakan untuk mengukur diameter dalam sebuah pipa adalah . d. 20 mL 40 mL 120 mL 60 mL 1.. mengalikan panjang sisi-sisinya c. a. Jangka sorong FMIPA Universitas Negeri Makassar . Meteran c. b.10 b. . Mikrometer sekrup d. 32 cm3 1.

C C D A A A D B A D 11. 8. 3. C 15. C 17. 10. D 21. B 18. 9. B 14. 7. 4. 5. D FMIPA Universitas Negeri Makassar . C 19. 2. 6.11 KUNCI JAWABAN INSTRUMEN 1. A 12. B 16. C 13. A 20.

Membandingkan skala termometer Celsius dengan termometer yang lain. Menjelaskan pengertian suhu b. Menjelaskan pengertian suhu 2.2 Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukurannya : a. Menggunakan termometer untuk mengukur suhu zat c. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda benda alam dengan menggunakan peralatan Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian : 1. Psikomotorik 1. Menjelaskan bagian-bagian dari termometer 3. Kognitif Produk 1. Menyebutkan jenis-jenis termometer a. siswa dapat: a. 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMP NEGERI 2 SUKAMAJU Mata Pelajaran : Fisika Kelas/ Program/ Semester : VII /Ilmu-Ilmu Alam/ Ganjil Materi Pokok : Suhu Alokasi Waktu : 2 x 40 menit (2 jam pelajaran) Standar kompetensi : 1. Tujuan Pembelajaran : Setelah pembelajaran. Menggunakan termometer untuk mengukur suhu suatu benda FMIPA Universitas Negeri Makassar .12 LAMPIRAN B.

misalnya : apakah hubungan suhu dengan panas atau dingin dan alat apakah yang dipakai untuk mengukur bila suhu tubuhmu terasa panas? menyajikan infomasi secara singkat tentang materi Mendemonstrasikan kegiatan praktikum yang akan dilakukan sesuai dengan LKS I. Materi Pembelajaran Suhu II. Membimbing siswa pembentukan kelompok • • Kegiatan siswa waktu Menyampaika • n tujuan dan mempersiapka n siswa Fase 2 Mendemonstr asikan pengetahuan / ketrampilan • • • Mencermati apa yang 5 disampaikan oleh guru. Eksperimen III. Metode Pembelajaran 1. Memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai • • Memperhatikan 15 penjelasan guru dan bertanya jika ada hal-hal yang tidak dimengerti Memperhatikan penjelasan guru Fase 3 • dalam • • Mengikuti arahan guru 30 Merespon bimbingan FMIPA Universitas Negeri Makassar . Model 2. Membaca skala pada termometer 2. Kognitif Kinerja 1. Membandingkan skala pada termometer Celcius dengan termometer skala Kelvin.Langkah-langkah Pembelajaran PERTEMUAN I Fase pembelajaran Fase 1 • Kegiatan guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.13 2. Metode : Direct Instruction(DI) : Demonstrasi. Mendemonstrasikan bagian-bagian termometer dan cara menggunakannya serta kesetaraan skala pada termometer dengan menggunakan media sederhana. Guru mengajukan beberapa pertanyaan. Reamur dan Fahrenheit I.

14 Membimbing pelatihan • • • • • Membimbing siswa melakukan eksperimen seperti yang tercantum pada LKS I dan memberikan bimbingan jika ada siswa/ kelompok yang mengalami • kesulitan Meminta siswa untuk • mendiskusikan prinsip kerja termometer Meminta setiap kelompok untuk mencatat hasil pengamatan pada LKS I Meminta siswa membuat • kesimpulan dari hasil pengamatan Meminta salah satu kelompok • mempresentasikan hasil pengamatannya dan kelompok lain menanggapi guru dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi Mendiskusikan prinsip kerja termometer Mencatat hasil pengamatan pada LKS I Membuat kesimpulan dari hasil pengamatan yang dilakukan Kelompok yang ditunjuk mempresentasikan hasil percobaannya dan kelompok lain menanggapi jika ada perbedaan pendapat Siswa mengerjakan soal 20 yang diberikan Fase 4 Mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. • Memberikan soal tentang materi • yang telah dipelajari • • Meminta setiap kelompok untuk • menyimpulkan hasil kegiatan Meminta siswa untuk membuat • laporan Menyimpulkan hasil 5 kegiatan yang dilakukan Mencatat tugas yang diberikan FMIPA Universitas Negeri Makassar .

Mendemonstrasikan cara membuat termometer sederhana. Kegiatan siswa waktu Menyampaikan • tujuan dan • Guru mengajukan pertanyaan Hasil pengukuran suhu dinyatakan mempersiapkan dengan satuan. Reamur dan Fahrenheit Memberikan bimbingan jika ada • siswa/yang mengalami kesulitan Memberikan informasi cara menentukan skala termometer • Celsius dengan termometer Kelvin.• langkah penggunaan dan pengukuran suhu suatu objek pada termometer. Membimbing siswa melakukan • eksperimen seperti yang tercantum pada LKS II dan memberikan bimbingan jika ada siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan • Membimbing siswa melakukan kegiatan membandingkan skala pada termometer Celcius dengan termometer Kelvin.15 PERTEMUAN II Fase pembelajaran Fase 1 • Kegiatan guru guru menyampaikan tujuan • pembelajaran yang ingin dicapai. Reamur dan Fahrenheit Memperhatikan tujuan 5 pembelajaran yang akan dicapai Mencermati apa yang disampaikan oleh guru dan menjawab pertanyaan guru sesuai pengetahuan • Memperhatikan 15 penjelasan guru dan bertanya jika ada hal-hal yang tidak dimengerti Memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh guru • Fase 3 Membimbing pelatihan • • Merespon bimbingan 30 guru dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi Memperhatikan penjelasan guru dengan seksama • • Mengajukan pertanyaan kepada guru jika mengalami kesulitan Mencermati apa yang disampaikan oleh guru dan mengajukan pertanyaan jika ada yang FMIPA Universitas Negeri Makassar . satuan apakah yang siswa dipakai? Dan Apakah satuan suhu dalam Standar Internasional (SI)? Fase 2 Mendemonstra sikan pengetahuan / ketrampilan • Memberikan informasi cara • membaca skala termometer dengan benar Mendemonstrasikan langkah.

air hangat. Penilaian & Tindak Lanjut Prosedur Penilaian : FMIPA Universitas Negeri Makassar . 2006. Memberikan soal tentang materi • yang telah dipelajari kurang dipahami Mencatat hasil pengamatan pada LKS II Menanggapi pengamatan lain hasil kelompok Fase 4 Mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. termometer. • • Siswa menyimpulkan 20 hasil kegiatannya Siswa mengerjakan soal yang diberikan • Meminta siswa untuk • mengerjakan soal-soal di rumah Mencatat diberikan tugas yang 5 I. Teori dan Aplikasi Fisika. Sumber/ Bahan/ Alat Bantu Sumber : Budi Prasodjo dkk. Fisika Esis SMP untuk kelas VII. pembakar Bunsen. Bogor: Penerbit Yudhistira (hal.16 dengan perbandingan sebagai berikut TC : TK : TR : (TF .32) = 5 : (TC + • 273) : 4 : 9. 2004. gelas kimia. 25) Alat/Bahan : air es. 51) Mikrajuddin Abdullah. Jakarta: Penerbit Erlangga (hal. II. • • Meminta setiap siswa untuk • mencatat hasil pengamatan pada LKS II Meminta setiap kelompok untuk menyebutkan hasil pengamatannya dan kelompokn lain menanggapi Meminta siswa untuk • menyimpulkan hasil kegiatannya.

17 Penilaian Kognitif Teknik Penilaian Bentuk : Tes tertulis. Essay. Laporan Penilaian Psikomotor / Praktek Teknik Kinerja Bentuk Instrumen : Aspek Kognitif : Soal Terlampir Aspek Psikomotor : Lembar Kerja Siswa : Eksperimen : Unjuk kerja RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/ Program/ Semester Materi Pokok : SMP NEGERI 2 SUKAMAJU : Fisika : VII /Ilmu-Ilmu Alam/ Ganjil : Pengukuran FMIPA Universitas Negeri Makassar .Tugas Kelompok : Isian.

Materi Pembelajaran FMIPA Universitas Negeri Makassar . Mengetahui cara menentukan besaran panjang suatu benda dengan menggunakan mistar. Psikomotorik 1. Memanfaatkan alat-alat ukur dalam kehidupan sehari-hari a. Kognitif Produk 1. Kognitif Kinerja 1. jangka sorong dan micrometer sekrup 2. Menyebutkan alat-alat ukur dan fungsinya 2. Menggunakan alat ukur dengan baik dan benar 2. siswa dapat: a. Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari Indikator Pencapaian : a. Membaca hasil pengukuran dengan benar a. Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai b.2.18 Alokasi Waktu Standar kompetensi : : 2 x 40 menit (2 jam pelajaran) 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda benda alam dengan menggunakan peralatan Kompetensi Dasar : 1. Menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari Tujuan Pembelajaran : Setelah pembelajaran. Mengetahui cara menentukan volume benda padat yang bentuknya tidak teratur I.

Metode Pembelajaran 1. pengukuran • suatu objek. Eksperimen III.19 PENGUKURAN II. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. • • Fase 2 Mendemonstrasi kan pengetahuan / ketrampilan • Memperhatikan 15 penjelasan guru dan bertanya jika ada halhal yang tidak dimengerti Mencermati apa yang dijelaskan oleh guru FMIPA Universitas Negeri Makassar . jangka sorong dan micrometer sekrup (dengan media sederhana) Kegiatan siswa waktu : Direct Instruction (DI) : Demonstrasi.Langkah-langkah Pembelajaran Memperhatikan tujuan 5 pembelajaran yang akan dicapai Mencermati apa yang disampaikan oleh guru. apa yang dimaksud dengan • pengukuran dan bagaimana mendapatkan hasil pengukuran yang tepat? menyajikan infomasi secara singkat • tentang materi Menunjukkan bagian-bagian mistar. jangka sorong dan mikrometer sekrup pada peserta didik Mendemonstrasikan langkah-langkah penggunaan alat ukur. Model 2. Metode PERTEMUAN I Fase pembelajaran Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa • • Kegiatan guru guru menyampaikan tujuan • pembelajaran yang ingin dicapai. menentukan nilai dan membandingkan tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan mistar. cara membaca skala.

• Memberikan soal tentang materi yang • telah dipelajari Siswa mengerjakan 20 soal yang diberikan • Meminta laporan siswa untuk membuat • Mencatat tugas yang 5 diberikan PERTEMUAN II FMIPA Universitas Negeri Makassar .20 • • • Fase 3 Membimbing pelatihan • • Membimbing siswa melakukan eksperimen seperti yang tercantum pada LKS III Memberikan bimbingan jika ada siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan Meminta setiap kelompok untuk mencatat hasil pengamatan pada LKS III Meminta siswa membuat kesimpulan dari hasil pengamatan Meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya dan kelompok lain menanggapi • Merespon bimbingan 30 guru dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi Mencatat hasil pengamatan pada LKS III Membuat kesimpulan dari hasil pengamatan Kelompok yang ditunjuk memresentasikan hasil percobaannya dan kelompok lain menanggapi jika ada perbedaan pendapat • • • Fase 4 Mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

aluminium dan besi Meminta setiap kelompok menghitung volume balok yang sudah diukur dengan menggunakan rumus V = p × l × t Membimbing siswa melakukan eksperimen seperti yang tercantum pada LKS IV Memberikan bimbingan jika ada siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan Meminta setiap kelompok untuk mencatat hasil pengamatan pada LKS III Meminta siswa untuk menginterpretasikan data yang • Memperhatikan tujuan 5 pembelajaran yang akan dicapai Mencermati apa yang disampaikan oleh guru. bagaimana mengukur volume dari benda berbentuk teratur dan benda tidak teratur? menyajikan infomasi secara singkat tentang materi Mendemonstrasikan langkahlangkah untuk menghitung volume zat cair dengan menggunakan gelas ukur Mendemonstrasikan langkahlangkah untuk untuk menghitung volume balok secara langsung dan beberapa benda tidak teratur berdasarkan selisih volume cair pada gelas ukur Meminta setiap kelompok untuk mengambil jangka sorong. tiga buah benda yang bentuknya tidak teratur dan beberapa balok yang terbuat dari kayu.21 Fase pembelajaran Fase 1 Kegiatan guru • Kegiatan siswa waktu Menyampaikan tujuan dan • mempersiapkan siswa Fase 2 • guru menyampaikan tujuan • pembelajaran yang ingin dicapai. Mendemonstra • sikan pengetahuan / ketrampilan • Memperhatikan 15 penjelasan guru dan bertanya jika ada halhal yang tidak dimengerti Fase 3 Membimbing pelatihan • • Mengambil alat-alat 30 praktikum yang diperintahkan oleh guru • • • • • • • Menghitung volume balok yang sudah diukur dengan menggunakan rumus V =p×l×t Merespon bimbingan guru dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi Mencatat hasil pengamatan pada LKS III • FMIPA Universitas Negeri Makassar . gelas ukur. Guru mengajukan pertanyaan • kepada siswa.

Bogor: Penerbit Yudhistira (hal. 41) FMIPA Universitas Negeri Makassar .22 • • diperoleh dalam bentuk tabel Meminta siswa membuat • kesimpulan dari hasil pengamatan Meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya dan kelompok lain • menanggapi • Menginterpretasikan data yang diperoleh ke dalam bentuk tabel Membuat kesimpulan dari hasil pengamatan Kelompok yang ditunjuk memresentasikan hasil percobaannya dan kelompok lain menanggapi jika ada perbedaan pendapat Fase 4 • Mengecek • pemahaman siswa dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Sumber/ Bahan/ Alat Bantu Sumber : Budi Prasodjo dkk. Teori dan Aplikasi Fisika. Fisika Esis SMP untuk kelas VII. 2004. Jakarta: Penerbit Erlangga (hal. 2006. 13) Mikrajuddin Abdullah. • Mengarahkan peserta didik untuk • membuat rangkuman dari pembelajaran Memberikan soal tentang materi • yang telah dipelajari Membuat rangkuman 20 dari pembelajaran Siswa mengerjakan soal yang diberikan Memberikan tugas rumah berupa • latihan soal Mencatat tugas yang 5 diberikan I.

benda tak beraturan.23 Alat/Bahan : mistar. gelas berpancuran. Laporan : Eksperimen Penilaian Psikomotor / Praktek Teknik Kinerja Bentuk Instrumen : Aspek Kognitif : Soal Terlampir Aspek Psikomotor : Lembar Kerja Siswa : Unjuk kerja LAMPIRAN B 2. Penilaian & Tindak Lanjut Prosedur Penilaian : Penilaian Kognitif Teknik Penilaian : Tes tertulis. jangka sorong. stopwatch. LEMBAR KERJA SISWA LEMBAR KERJA SISWA I (LKS) FMIPA Universitas Negeri Makassar . gelas ukur.Tugas Kelompok Bentuk : Isian. II. micrometer sekrup. Essay.

………………………………………………………………………… …….. 2. Tuangkan air dingin ke dalam wadah A.. Apakah yang kamu rasakan pada masingmasing tanganmu? 3...... …………………….. 6.... ………………………………………………………………………… ……… FMIPA Universitas Negeri Makassar . Celupkan tangan kananmu ke dalam wadah A dan telapak tangan kirimu ke dalam wadah C selama 30 detik.. dan air hangat ke dalam wadah C.... ……………………... Dapatkah tanganmu membedakan suhu kedua jenis air pada wadah A dan wadah C? Jawab:…………………………...... Kelompok Kelas : ………………………… : ………………………… Judul Tujuan indra peraba Alat dan Bahan Prosedur kerja : Membedakan suhu : Mengukur derajat panas dinginnya suatu benda dengan : air es..................24 Nama : 1..... ……………………… 3.. Angkatlah kedua tanganmu secara bersamaan lalu segeralah celupkan kedua tanganmu kedalam wadah B.. air hangat............... 5... ……………………… 4.... tiga buah bejana/wadah : 1.... air sejuk... Apakah yang kamu rasakan pada masing-masing tanganmu? Pertanyaan 1. air sejuk ke dalam wadah B.. ……………………… 2... ……………………..

………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………… 3..25 2. Apakah kesimpulan yang bias kalian ambil dari percobaan di atas? Jelaskan! Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… LEMBAR KERJA SISWA II (LKS) FMIPA Universitas Negeri Makassar . Dapatkah tanganmu mengukur suhu air dengan tepat? Jawab: ……………………………………………………………………………….

…………………… 6.. …………………………… 4. …………………………… 2. …………………… FMIPA Universitas Negeri Makassar . …………………………… 3. …………………. …………………………… 4. Ukur suhu air yang sedang dipanaskan dalam selang waktu 1 menit. Catatlah hasilnya. Hentikan pengukuran beberapa saat setelah air mendidih. 3. gelas kimia berisi air. 5. Letakkan gelas kimia di atas pembakar Bunsen yang telah dinyalakan. Suhu air pada pemanasan menit keSebelum Suhu saat dipanaskan 1 Suhu air (0C) 5.26 Nama : 1. …………………… Kelompok Kelas Judul Tujuan Alat dan Bahan Bunsen Prosedur kerja : ……………………………. : Pengukuran suhu zat cair : Mengamati perubahan suhu zat cair saat dipanaskan : thermometer laboratorium. Ukur suhu air dalam gelas kimia dengan cara mencelupkan bagian bawah thermometer ke dalam air. 2.. Angkat thermometer dari air. Buatlah kesimpulan dari percobaan tersebut! LEMBAR KERJA SISWA III (LKS) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 mendidih Nama : 1. Catatlah hasilnya pada tabel berikut ini. Pengukuran pertama dilakukan setelah air dipanaskan 1 menit. 4. : ……………………………. pembakar : 1.

... Diantara ketiga alat ukur di atas manakah yang paling teliti? Jawab: ………………………………………………………………………………… ….... 7... 2... lebar dan tebal balok dengan menggunakan mistar.. 5... Buatlah kesimpulan dari percobaan tersebut! FMIPA Universitas Negeri Makassar ... Untuk menentukan diameter dalam cincin kamu harus menggunakan rahang jaangka sorong yang kecil..........27 2. : ……………………………. balok... Berapakah ketebalan uang logam itu? Pertanyaan 1........ Untuk mengukur ketebalan uang logam kita menggunakan micrometer sekrup dengan cara jepit uang logam dengan kedua gagang micrometer sekrup... Ukur panjang.......... jangka sorong... Berapakah diameter luar cincin itu? 5.micrometer sekrup. Catat nilai yang ditunjuk skala tetap dan skala putar...... …………………… Judul Tujuan : Menentukan besaran panjang : Mengetahui cara menentukan besaran panjang suatu benda dengan Menggunakan mistar............. …………………… 6... 8.... Jepit sisi luar cincin dengan kedua rahang jangka sorong yang besar..... …………………………… Kelompok Kelas : ……………………………... jangka sorong dan micrometer sekrup Alat dan Bahan: mistar. 3......... uang logam Prosedur kerja : 1........ Setelah itu dengan menggunakan jangka sorong ukur cincin... Kunci posisi gagang itu sehingga tidak berubah-ubah sewaktu kamu akan membaca nilainya.. 4.......... 6. …………………………… 3........ Ulangi langkah 4 untuk menentukan diameter dalam cincin.. Catat nilai yang ditunjuk skala tetap dan skala nonius...... 2. cincin.. Kunci posisi rahang itu sehingga tidak berubah-ubah sewaktu kamu akan membaca nilainya.....

…………………………… 4. …………………………… 3.28 Jawab: ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… LEMBAR KERJA SISWA IV (LKS) Nama : 1. ………………… FMIPA Universitas Negeri Makassar . …………………………… 2. ………………… 6. ………………… 5.

4. lima macam benda kecil yang bentuknya tidak teratur Prosedur kerja Kegiatan I 1. Isi hasil pengamatan pada table berikut. Masukkan salah satu benda ke dalam air dan catat volume air sekarang. Benda Balok kayu Buku Panjang (cm) Lebar (cm) Tinggi (cm) Volume (cm3) : Kegiatan II 1. Gelas berpancuran. Lakukan langkah 2 dan 3 untuk empat benda yang lain 5. Judul Tujuan : Menghitung Volume Benda Padat : Mengetahui cara menentukan volume benda padat yang bentuknya Teratur dan tidak teratur Alat dan Bahan: balok kayu. FMIPA Universitas Negeri Makassar . dan tinggi balok kayu dan buku dengan jangka sorong. Ukur panjang.29 Kelompok Kelas : ……………………………. gelas ukur 100 cm3. Isilah table berikut dan tentukan volume masing-masing benda. 3. buku. Catat volume awal air tersebut. lebar. 2. : ……………………………. 2. gelas ukur 50 cm3.. Isilah gelas ukur yang besar dengan air sampai volumenya 50 cm3.

Isi gelas pancuran sampai ada air yang tumpah dari mulut pancuran. 5.30 Benda Benda 1 Benda 2 Benda 3 Benda 4 Benda 5 Cara lain: Volume air Volume benda + air Volume benda 1. Lakukan langkah 1. dan 3 untuk empat benda lainnya. 4. Apakah hasil pengukuran dengan gelas ukur dan gelas berpancuran memberikn hasil yang sama? Jawab: …………………………………………………………………………… FMIPA Universitas Negeri Makassar . Tempatkan gelas ukur 50 cm3 kosong tepat di bawah mulut pancuran. 2. Benda Benda 1 Benda 2 Benda 3 Benda 4 Benda 5 Volume benda (cm3) Pertanyaan 1. 2. Isi hasil pengamatanmu pada tabel berikut. 3. Masukkan benda pertama dalam gelas berpancuran dan catat volume air yang tertampung dalam gelas ukur.

31 …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 2.1 : DATA HASIL BELAJAR FISIKA SISWA Untuk mengetahui nilai yang diperoleh oleh siswa. Buatlah kesimpulan dari hasil percobaan tersebut! Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… LAMPIRAN C. digunakan rumus berikut: N=SsSi x 100 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

42 71.85 61.90 85.42 71.95 2 18 85.47 76.19 71.32 Keterangan: N = nilai siswa Ss = skor hasil belajar siswa Si = skor ideal (21) Maka data skor hasil belajar fisika kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel C.11: DATA SKOR HASIL PENELITIAN KELAS VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju Identitas Siswa Skor Nilai 1 17 80.23 85.95 71.23 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 17 15 9 13 18 20 20 20 18 15 15 16 14 18 19 16 15 15 16 80.42 76.90 8 20 95.71 90.71 7 13 61.71 95.71 71.42 76.42 6 18 85.71 3 15 71.42 4 11 52.19 FMIPA Universitas Negeri Makassar .66 85.42 42.23 95.19 66.23 95.38 5 15 71.

19 71.61 76.66 LAMPIRAN C.47 47.80 76.3) log n = 1 + (3.42 23.19 66.33 28 29 30 31 32 33 34 35 Jumlah Siswa Skor Maksimal Skor Minimum : 35 : 20 :5 14 19 10 16 15 5 16 14 66.2 : ANALISIS DESKRIPTIF HASIL ANALISIS DESKRIPTIF Skor maksimum Skor minimum Rentang skor Banyaknya kelas : 20 :5 = 20 – 5 = 15 = 1 + (3.66 90.3) log 35 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

09 = 6.06 FMIPA Universitas Negeri Makassar .6021×100=74.28 = nfixi2.42 = 3.3) (1.(fixi)2n (n-1) = 35 (8910).(546)235(35-1) = 311850.21: Distribusi frekuensi Skor fi xi 5-7 1 6 8-10 2 9 11-13 3 12 14-16 16 15 17-19 9 18 20-22 4 21 Jumlah 35 81 Rata-rata skor X Nilai rata-rata Standar deviasi (S) xi2 36 81 144 225 324 441 1251 fixi 6 18 36 240 162 84 546 fixi2 36 162 432 3600 2916 1764 8910 = fixifi = 54635 = 15.09 = 6 Panjang kelas (p) = rentang skorbanyaknya kelas = 156 = 2.5 =3 Tabel C.60 =15.54) = 1 + 5.29811635(34) =137341190 = 9.34 = 1 + (3.

3 : ANALISIS STATISTIK INFERENSIAL A. Pengujian Normalitas Hasil Belajar Fisika Siswa Adapun harga-harga yang dibutuhkan adalah: Jumlah Sampel (n) Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Ideal Rentang Skor Jumlah Kelas Interval Panjang Kelas Standar Deviasi = 35 = 20 =5 = 21 = 20 – 5 = 15 = 1 + (3.3) log n = 1 + (3.3) log 35 = 6.09 ≈ 6 = 156 = 2.5 ≈ 3 = 3.06 FMIPA Universitas Negeri Makassar .35 LAMPIRAN C.

876 0.198 6.070.5 1 2 5-7 7.737 0.36 Tabel C. diperoleh χ2hitung = 8.5 4 14-16 16. B.69 0.92 16 0.916 3 2.088 0.463 0.523 1 2 5. Berdasarkan tabel di atas.27 0.137 1.95)(5) = 11.5 20-22 22.5 3 11-13 13. 1251-(81)235(35-1) S2=43785-656135(34) S2=372241190 FMIPA Universitas Negeri Makassar .31.5 2.25 Jumlah 2 Z Batas kelas -3.254 9 0. Pengujian Hipotesis Penelitian Uji Rata-rata µ (Uji-t) S2=nΣxi2-Σxi2n(n-1) S2=35 .221 8. Dengan demikian χ2hitung = 8.5 5 6 17-19 19.937 3.29 1.452 5 0.499 9 Luas Z tabel 0.284 9.488 4 Untuk α = 0. Pengujian Normalitas Skor Hasil Belajar Fisika Siswa NO Kelas Batas Interval Kelas 4.044 0.398 0.5 8-10 10.95)(5) = 11. maka diperoleh χ tabel = χ (0.369 12.164 9 4 35 2 -0. yang berarti skor hasil belajar fisika siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal.67 Z table 0.05 dan dk = k-1 = 6-1 = 5.09 0.496 0.217 0.63 -2.876 < χ2tabel = χ2(0.15 0.070.004 Ei Oi Oi-Ei2Ei 0.876.114 1 0.65 -1.

700 t (0.008 FMIPA Universitas Negeri Makassar .860.95)(39) = 1.95)(30) = 1.86-655.91 =17.595.60 Untuk nilai ttabel : dk = n – 1 = 35 – 1 = 34 Taraf signifikansi = 0.700 .95)(34) dengan interpolasi : (α ) t (0.02 = 1.28 S=31.28 S=5.865.96 =18.5935 =17.37 S2=31.05 akan dicari (0.410x 0.700 – 0.95)(40) = 1.680 t (0.59 thitung=μ-μ0Sn =82.

86%) Tabel C.42.00 Tabel C41. diperoleh t hitung > t tabel = 18.38 = 1. t tabel = 1.4 : PERSENTASE KETUNTASAN BELAJAR SISWA No 1 2 Kategori Hasil Belajar Tuntas Belum Tuntas Jumlah Frekuensi 29 6 35 Persentase (%) 82. LAMPIRAN C.14 100.692 Berdasarkan perhitungan tersebut.60 > 1. Kategori Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju Kabupaten Luwu Utara Kategori Hasil No Interval Nilai F Persentase(%) Belajar 1 0-20 Sangat rendah 0 0. Distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar fisika siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Sukamaju yang diajar menggunakan model pengajaran langsung dengan menggunakan media sederhana yang disusun berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (82.692 Jadi.692 artinya t hitung berada pada daerah penolakan H0 dengan Ha diterima.86 17.00 FMIPA Universitas Negeri Makassar .

86 14.39 2 3 4 5 21-40 41-60 61-80 81-100 Jumlah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 1 3 19 12 35 2.1 DOKUMENTASI MEDIA SEDERHANA 1. Jangka Sorong Sederhana FMIPA Universitas Negeri Makassar .28 54.58 100.00 LAMPIRAN D.28 28.

40 2. Gambar Mikrometer Sekrup FMIPA Universitas Negeri Makassar .

41 3. FMIPA Universitas Negeri Makassar .2 DOKUMENTASI EKSPERIMEN 1. Perbandingan Skala pada Termometer LAMPIRAN D.

3. 4.42 2. FMIPA Universitas Negeri Makassar .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful