P. 1
137831008201010051

137831008201010051

|Views: 1,437|Likes:
Published by Rachmat Gunawan

More info:

Published by: Rachmat Gunawan on Jul 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENJUMLAH BILANGAN BULAT MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GARIS BILANGAN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI TANJUNGSARI

BANYUDONO BOYOLALI TAHUN AJARAN 2009/2010

Oleh: ENDAR ARI HANDAYANI NIM X7108660

SKRIPSI

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran yang dianggap paling sulit oleh siswa sehingga berakibat pada rendahnya penguasaan konsep pelajaran tersebut. Padahal matematika merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan bagi siswa sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Jumlah jam mata pelajaran matematika cukup banyak dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Matematika merupakan mata pelajaran yang melatih anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur, dan sistematis. Pola pikir yang demikian perlu dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan matematika akan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari. Matematika juga dikatakan sebagai ilmu yang mempunyai objek berupa fakta, konsep, dan operasi serta prinsip. Kesemua objek tersebut harus dipahami secara benar oleh siswa, karena materi tertentu dalam matematika bisa merupakan prasyarat untuk menguasai materi matematika yang lain. Bilangan bulat merupakan salah satu bagian dari matematika yang mulai dikenalkan pada kelas IV Sekolah Dasar. Bilangan bulat banyak digunakan dalam pengukuran– pengukuran dan perhitungan keuangan. Aplikasi bilangan bulat langsung dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bilangan bulat juga merupakan pengetahuan prasyarat dalam perhitungan prosentase hitungan satuan, perhitungan luas, perhitungan keuangan, dan lain-lain. Berdasarkan observasi terhadap hasil ulangan harian siswa, diketahui bahwa 60% siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali mempunyai kesulitan belajar matematika materi bilangan bulat terutama dalam mengerjakan operasi penjumlahan bilangan bulat. Data menunjukkan bahwa 15 dari 25 siswa memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sedangkan Standar Ketuntasan Minimal untuk materi tersebut adalah 63.

Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa masalah di atas, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (1) siswa tidak mampu mengusai hubungan antar konsep (2) siswa kurang memperhatikan materi yang disampaikan guru (3) Pembelajaran masih bersifat teacher centered (4) konsep yang diberikan guru masih bersifat abstrak terbukti dalam pembelajaran bilangan bulat anak hanya menggunakan ingatan saja untuk memahaminya. Rendahnya penguasaan konsep penjumlahan bilangan bulat ditunjukkan dengan adanya 7 anak yang belum mampu membedakan bilangan positif dan negatif. Apalagi untuk mengoperasikan bilangan bulat. Rata- rata anak masih bingung untuk mengoperasikan penjumlahan bilangan bulat terutama bilangan negatif. Apabila permasalah tersebut tidak diatasi, akan berdampak pada siswa terutama untuk menguasai materi selanjutnya. Penjumlahan bilangan bulat menjadi dasar untuk menghitung operasi bilangan bulat lainnya seperti pengurangan. Maka dari itu, perlu diadakan pembelajaran kembali yang dapat menarik siswa dan memudahkan siswa dalam belajar. Agar siswa semakin tertarik perlu adanya alat pembelajaran yang inovatif atau sering disebut sebagai alat peraga. Dengan alat peraga siswa merasakan sesuatu yang baru pada diri mereka. Hal ini sesuai sifat anak- anak yang masih suka dengan sesuatu yang baru. Untuk itu dipilih alat peraga garis bilangan dalam penjumlahan bilangan bulat. Alat peraga garis bilangan merupakan salah satu alternatif solusi dalam penanaman konsep bilangan bulat. Alat peraga garis bilangan merupakan alat peraga yang murah dan dapat dibuat sendiri oleh guru. Alat peraga garis bilangan hampir sama dengan sebuah garis bilangan yang memuat bilangan bulat baik bilangan negatif, nol, dan bilangan positif hanya saja garis bilangan tersebut dibuat dalam bentuk nyata. Melalui penggunaan alat peraga garis bilangan menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah sendiri melalui pengamatan, penganalisisan, dan penemuan sehingga konsep penjumlahan bilangan bulat mudah diselesaikan peserta didik. Di samping itu, siswa akan belajar sendiri menkontruksi pengetahuannya dengan apa yang dipelajarinya, bukan hanya sekadar menerima

ilmu dari guru. Penggunaan alat peraga garis bilangan menjadikan pembelajaran akan lebih bermakna. Penggunaan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep

matematika yang dipelajarinya dengan mudah. Konsep matematika seperti bilangan bulat akan mudah dimengerti anak didik pada saat pembelajaran berlangsung. Sifat alat peraga itu sendiri membantu memperjelas konsep-konsep abstrak agar menjadi konkret. Hal tersebut sependapat dengan Dienes, menurut Z.P. Dienes dalam Sukayati dan Agus Suharjana ( 2009: 5) mengatakan bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna jika pertama-tama disajikan kepada peserta didik dalam bentuk-bentuk konkret. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa betapa pentingnya memanipulasi objek-objek / alat dalam bentuk permainan yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang berumur antara tujuh sampai dengan 12 tahun, pada dasarnya perkembangan intelektualnya termasuk dalam tahap operasional kongkret, sebab berfikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Dengan kata lain penggunaan media termasuk alat peraga dalam pembelajaran matematika di SD memang diperlukan, karena sesuai dengan tahap berpikir anak. Dengan menggunakan alat peraga anak akan lebih menghayati matematika secara nyata berdasarkan fakta yang jelas dan dapat dilihatnya, sehingga anak lebih mudah memahami topik yang disajikan. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka diadakan penelitian tindakan kelas berjudul “ Peningkatan Kemampuan Menjumlah Bilangan Bulat Menggunakan Alat Peraga Garis Bilangan pada Siswa Kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 ”.

B. Perumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Apakah kemampuan menjumlah bilangan bulat dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga garis bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 ?. 2. Bagaimana alat peraga garis bilangan dapat meningkatkan proses menjumlah bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 ?.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari

Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010. 2. Mendeskripsikan alat peraga garis bilangan dalam meningkatkan proses menjumlah bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 ?.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat yang mencakup aspek teoritis maupun praktis. 1. Manfaat Teoritis Dimaksudkan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi pada strategi pembelajaran matematika berupa pergeseran dari pembelajaran yang hanya hanya bersifat abstrak mampu disajikan secara konkret/nyata, serta sebagai upaya pengembangan alat pembelajaran matematika untuk

meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Meningkatnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan kesulitan pembelajaran matematika terutama pada penjumlahan bilangan bulat. b. Bagi Guru Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi serta menghadapi siswa-siswi kelas IV SD yang mengalami kesulitan pembelajaran di bidang matematika khususnya dalam menjumlah bilangan bulat sehingga tercipta suatu proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan untuk membantu perkembangan siswa secara optimal. c. Bagi Sekolah Mampu menjadi pendorong untuk selalu mengadakan pembaharuan dan menjadi bahan kajian untuk mengembangkan alat-alat pembelajaran matematika.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka 1. Hakikat Kemampuan Menjumlah Bilangan Bulat

a. Pengertian Kemampuan Dalam KBBI kemampuan merupakan kesanggupan, kekuatan untuk melakukan sesuatu, kekayaan yang dimiliki. Kemampuan juga dapat diartikan sebagai kualitas atau keadaan dari yang mampu, kekuatan untuk melakukan baik fisik, moral maupun intelektual, serta sebuah kualitas yang

memungkinkan atau memfasilitasi pencapaian atau prestasi. (http://translate.google.co.id/translate?hl=iddanlangpair=en|iddanu=http://a rdictionary.com/Ability/293) diunduh tanggal 1 Maret 2010. Kemampuan oleh OneLook dianggap sebagai kualitas mampu melakukan, kualitas yang memungkinkan atau memudahkan pencapaian prestasi. Memiliki kualitas (terutama kualitas mental) yang diperlukan untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Your Dictionary mengatakan kemampuan sebagai kekuatan untuk melakukan (sesuatu yang bersifat fisik atau mental), keterampilan, kemahiran, atau bakat. (http://translate.google.co.id/translate?hl=iddanlangpair=en|iddanu=http://a dvertt.com/definition/meaning-of-ability) diunduh tanggal 1 Maret 2010 Menurut Woodworth dan Marquis dalam Suryabrata ( 2002:161 ) kemampuan ( ability ) mempunyai tiga arti yaitu : 1) Anchievement yang merupakan actual ability, yang dapat diukur langsung dengan alat atau tes tertentu. 2) Capacity yang merupakan potential ability, yang dapat diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, di mana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training yang intensif dan pengalaman. 3) Aptitude, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkap/diukur dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk6itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan (ability) adalah kekuatan yang dimiliki baik fisik, mental, moral maupun intelektual yang dapat diukur dan memungkinkan atau memudahkan pencapaian prestasi.

b. Pengertian Menjumlah Menjumlah berasal dari kata jumlah yang mendapat awalan me- . Jumlah ( banyaknya ) berarti bilangan atau sesuatu yang dikumpulkan menjadi satu, sedangkan menjumlah adalah menghitung (berapa banyaknya) (http/www.sms-anda.com/indonesia/kamus/indonesia-gratis lengkap) diunduh 22 Mei 2010. Menjumlah selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia perdagangan yang tidak terlepas dari kegiatan menjumlah. Dalam KBBI menjumlah adalah menghitung dengan menambah, menghitung untuk mengetahui jumlahnya. Pada mata pelajaran matematika operasi bilangan dimulai dari penjumlahan. Operasi penjumlahan dalam matematika

dilambangkan dengan tanda positif

( + ). Penjumlahan adalah suatu proses

untuk menemukan jumlah dua bilangan atau lebih. ( http:// karyailmiah.um.ac.id) diunduh 22 Mei 2010. Pengertian lain menyebutkan bahwa penjumlahan merupakan operasi matematika yang menjumlahkan suatu angka dengan angka lainnya sehingga menghasilkan angka yang baru

(http://opi.110mb.com/faraidweb/2_DasarMatematika.htm) diunduh 22 Mei 2010. Dalam (http://id.wikipedia.org/wiki/penjumlahan) diunduh 22 Mei 2010 menyebutkan bahwa penjumlahan merupakan penambahan sekelompok bilangan atau lebih menjadi suatu bilangan yang merupakan jumlah. Dengan demikian, menjumlah dapat diartikan sebagai menghitung dengan

menambahkan suatu angka dengan angka lainnya untuk menemukan jumlahnya. c. Pengertian Bilangan Bilangan adalah suatu ide yang sifatnya abstrak atau lambang namun memberikan keterangan mengetahui banyaknya anggota himpunan ( Negoro dan Harahap, 1998 ). Sedangkan menurut Untoro ( 2008:1) bilangan adalah satuan dalam sistem matematis yang abstrak dan dapat diunitkan, ditambah atau di kalikan.

Bilangan juga diartikan sebagai konsep matematika yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol atau lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut angka / lambang bilangan ( http//wapedia.Mobi/id/angka) diunduh tanggal 15 Februari 2010. Jadi bilangan dapat diartikan sebagai ide yang bersifat abstrak yang bukan simbol atau lambang yang memberikan keterangan mengenai banyaknya anggota himpunan dan digunakan untuk pencacahan atau pengukuran. d. Pengertian Bilangan Bulat Sistem bilangan bulat tercipta sebagai perluasan sistem bilangan cacah untuk mendapatkan sistem bilangan yang tertutup terhadap semua operasi hitung. Perluasan tersebut dilakukan dengan mencari bilangan yang tertutup terhadap operasi pengurangan. Menurut Bobrow (2004:56-60) bilangan bulat adalah seluruh bilangan bulat baik positif maupun negatif dan nol, tetapi tidak termasuk pecahan dan desimal. Bilangan positif adalah bilangan yang lebih besar dari bilangan nol. Bilangan negatif adalah bilangan yang kurang dari bilangan nol dan nol adalah bilangan bulat yang letaknya mendahului 1 dan mengikuti -1 ( Hartuti, Miyanto, dan Rahmawati, 2007:36 ). Sedangkan menurut Hariwijaya ( 2009:40 ) bilangan bulat terdiri dari bilangan cacah ( 0, 1, 2, 3, .....) dan negatifnya ( -1, -2, -3,.....). Bilangan -0 sama dengan 0 dan tidak dimasukkan lagi secara terpisah. Bertolak dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari bilangan bulat negatif, nol, dan bilangan bulat positif. e. Kemampuan Menjumlah Bilangan Bulat Berpijak dari pengertian-pengertian tersebut di atas, kemampuan menjumlah bilangan bulat adalah sebuah kekuatan atau potensi yang dimiliki seseorang untuk menghitung dengan menambahkan suatu angka bilangan bulat dengan angka bilangan bulat lainnya untuk menemukan jumlahnya. Operasi penjumlahan bilangan bulat, sebarannya mencakup : 1) Penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif.

2) 3) 4)

Penjumlahan bilangan posisif dengan bilangan negatif. Penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan positif. Penjumlahan bilangan negatif dengan negatif. Operasi penjumlahan bilangan bulat dapat ditulis dalam sebuah garis

bilangan. Garis bilangan adalah garis lurus yang terdiri atas titik – titik bilangan (Mulyati, Rohaeti, dan Sulistyo , 2005:11 ) Aturan peletakan titiktitik bilangan pada garis bilangan adalah semakin ke kanan bilangan semakin besar dan semakin ke kiri bilangan semakin kecil.

• • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1. Gambar Garis Bilangan

Jika seseorang berada di titik 0 kemudian bergeser ke kanan 1 satuan, maka ia berada di titik 1. Jika seseorang berada di titik 0 kemudian bergeser ke kiri sejauh 1 satuan, maka ia berada di titik -1. Jika seseorang berada di titik 0 kemudian bergeser ke kiri 2 satuan, maka ia berada di titik -2. Sebaliknya jika seseorang berada di titik 0 dan bergeser ke kanan 2 satuan maka ia berada di titik 2. Bilangan -1 disebut lawan dari 1 dan 1 disebut lawan dari -1. Demikian juga -2 adalah lawan dari 2 dan 2 adalah lawan dari -2. Dalam pengerjaan bilangan bulat, anak panah yang panjang dan mempunyai arah digunakan untuk menunjukkan sebuah bilangan bulat. Panjang anak panah menunjukkan banyaknya satuan dan mata panah menunjukkan arah. Jika mata panah menuju ke arah kanan, maka anak panah itu menunjukkan bilangan bulat positif. Jika mata panah menuju ke arah kiri maka anak panah itu menunjukkan bilangan negatif. Contoh 1 b a • • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7

Tentukan bilangan bulat yang ditunjukkan oleh anak panah diatas ! Jawab : 1) Anak panah a panjangnya 5 satuan dan mata panah menuju ke arah kanan. Jadi bilangan yang ditunjukkan adalah 5. 2) Anak panah b panjangnya 4 satuan dan mata panah menuju ke arah kiri. Jadi bilangan bulat yang ditunjukkan adalah -4. Penjumlahan bilangan - bilangan bulat dapat ditunjukkan dengan anak – anak panah pada garis bilangan. Contoh 1 Penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif 2+ 2= 4 4 2 2 • • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 Contoh 2 Penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif 5 + ( -3 ) = 2 2 -3 5 • • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 Contoh 3 Penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan positif (-2)+ (6)= 4 4 6 -2 • • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7

Contoh 4

Penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan negatif ( - 2 ) + ( -3 ) = - 5 -5 -3 -2 • • • • • • • • • • • • • -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 Dalam silabus matematika kelas IV Sekolah Dasar terdapat 8 standar kompetensi yaitu : NO 1 STANDAR KOMPETENSI 1.Menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah KOMPETENSI DASAR 1.1 Mengidentifikasi sifat-sifat operasi hitung 1.2 Mengurutkan bilangan 1.3 Melakukan hitung perkalian dan pembagian 1.4 Melakukan operasi hitung campuran 1.5 Melakukan penaksiran dan pembulatan 1.6 Memecahkan masalah yang melibatkan uang 2.1 Mendeskripsikan konsep faktor dan kelipatan 2.2 Menentukan kelipatan dan faktor bilangan 2.3 Menentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB) 2.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB 3.1 Menentukan besar sudut dengan satuan tidak baku dan satuan derajat 3.2 Menentukan hubungan antara waktu, antar satuan panjang dan antar satuan berat 3.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan waktu, panjang dan berat 3.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan kuantitas 4.1 Menentukan keliling dan luas jajaran genjang dan segitiga 4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas jajar genjang dan segitiga

2

2. Memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah

3

3. Menggunakan pengukuran sudut, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah

4

4. Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam memecahkan

5

masalah a. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat

5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 6.1 6.2

Mengenal bilangan bulat Mengurutkan bilangan bulat Menjumlahkan bilangan bulat Mengurangkan bilangan bulat Melakukan operasi hitung campuran

6

b. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

7

8

Menjelaskan arti pecahan dan urutannya Menyederhanakan berbagai bentuk pecahan 6.3 Menjumlahkan Pecahan 6.4 Mengurangkan Pecahan 6.5 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pecahan 7.Menggunakan 7.1 Mengenal lambang bilangan Romawi lambang bilangan 7.2 Menyatakan bilangan cacah sebagai Romawi Bilangan Romawi dan Sebaliknya 8.Memahami sifat 8.1 Menentukan sifat-sifat bangun ruang bangun ruang sederhana sederhana dan 8.2 Menentukan jaring-jaring balok dan hubungan kubus antarbangun datar 8.3 Mengidentifikasi benda-benda dan bangun datar yang simetris 8.4 Menentukan hasil Pencerminan suatu bangun datar Tabel 1. Tabel Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Dalam silabus tersebut terlihat bahwa menjumlahkan bilangan bulat terdapat pada kompetensi dasar 5.3 yang selanjutnya dijadikan sebagai bahan penelitian tindakan kelas. f. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Menjumlah Bilangan Bulat Dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan sebuah pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan mengerjakan operasi

penjumlahan bilangan bulat adalah : 1) Faktor Internal 1. Kematangan (pertumbuhan), mengajarkan sesuatu baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkan potensi-potensi jasmani dan rohani telah matang untuk itu.

2. Kecerdasan (intelegensi), di samping kematangan dapat tidaknya seseorang mempelajari sesuatu dengan berhasil baik ditentukan oleh taraf kecerdasannya. 3. Latihan dan ulangan, dengan adanya latihan dan sering kali mengalami sesuatu itu, makin besar minat makin besar pula perhatiannya sehingga memperbesar hasrat untuk mempelajarinya. 4. Motivasi, karena motivasi merupakan pendorong bagi suatu organisme untuk melakukan sesuatu. 2) Faktor eksternal a) Faktor Lingkungan sosial Faktor lingkungan sosial adalah masyarakat dan tetangga juga temanteman sepermainan di sekitar perkampungan siswa dalam

lingkungannya. b) Faktor lingkungan non sosial Faktor lingkungan non sosial seperti gedung-gedung, rumah, tempat tinggal keluarga dan alat-alatnya, alat-alat belajar, keadaan belajar siswa dan waktu belajar siswa (Ika Tanti Arsih,2006:7).

2. Hakikat Alat Peraga Garis Bilangan a. Pengertian Alat Peraga Bila ditinjau dari segi usia menurut tahap perkembangan Jean Piaget dalam usia 7 – 12 tahun disebut periode Concrete Operation, dalam periode ini pola berpikir anak sudah dikatakan operasional. Periode ini disebut operasi konkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objekobjek (Aisyah dkk,2007:2-4 ). Menurut Fitriyah dan Abu Bakar ( 2008:12) tahap operasional konkret memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam

mengkoordinasikan pemikirannya, karena mereka baru mampu berpikir secara sistematis terhadap benda-benda atau peristiwa yang bersifat konkret. Oleh sebab itu, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika di SD sangat diperlukan guna mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak. Dengan digunakannya alat peraga anak akan dapat melihat

langsung objek-objek matematika, meraba serta memanipulasi benda-benda sehingga pemahaman anak akan meningkat. Menurut Aisyah dkk ( 2007 : 722) dengan menggunakan alat peraga siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, memahami masalah, dan menemukan strategi pemecahan masalah. Menurut Estiningsih dalam Sukayati dan Agus Suharjana (2009:6) alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang dipelajari. Contoh: papan tulis, buku tulis, dan daun pintu yang berbentuk persegipanjang dapat berfungsi sebagai alat peraga pada saat guru menerangkan bangun geometri dalam persegipanjang. Alat peraga diartikan sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru harus mampu menjelaskan konsep kepada siswa. Alat peraga dalam pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan oleh guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme akan membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik apabila siswa gembira atau senang dalam belajar, karena mereka merasa tertarik dan mengerti materi pelajaran yang dipelajari. Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Alat peraga dapat berupa benda atau perilaku, yang inti belajarnya adalah interaksi siswa dengan guru dan alat peraga beserta komunikasi pendidikan yang terjadi pada suatu situasi sehingga siswa dapat berhasil dalam belajar. Sedangkan menurut Sudjana ( 2009:99 ) alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif. Berdasarkan beberapa pendapat tentang alat peraga tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan guru untuk memperjelas materi pelajaran dan menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

b. Fungsi Alat Peraga Penggunaan alat peraga dalam setiap pembelajaran bukanlah untuk bermaksud mengganti peran guru dalam mengajar, melainkan hanya merupakan pelengkap dan membantu guru dalam mengajar atau membantu para siswa dalam mempelajari suatu konsep. Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari. Dengan melihat, meraba, dan memanipulasi alat peraga maka anak mempunyai pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti konsep (Sukayati dan Agus Suharjana, 2009:7). Sudjana (2009:99-100) berpendapat bahwa alat peraga itu mempunyai fungsi dalam proses belajar mengajar antara lain : 1) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar-mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif. 2) Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa alat peraga merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru. 3) Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan alat peraga harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran. 4) Penggunaan alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa. 5) Penggunaan alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses-belajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru. 6) Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar-mengajar. Dengan perkataan lain menggunakan alat peraga, hasil belajar yang dicapai akan tahan lama diingat siswa, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi. c. Prinsip - prinsip Umum Penggunaan dan Prasyarat Alat Peraga Sebelum menggunakan alat peraga maka terlebih dahulu mengetahui prinsip-prinsip umum dalam penggunaan alat peraga, di antaranya sebagai berikut: 1) Penggunaan alat peraga hendaknya sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2) Alat peraga yang digunakan hendaknya sesuai dengan metode/strategi pembelajaran. 3) Tidak ada satu alat peragapun yang dapat atau sesuai untuk segala macam kegiatan belajar. 4) Guru harus terampil menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. 5) Peraga yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa dan gaya belajarnya. 6) Pemilihan alat peraga harus obyektif, tidak didasarkan kepada kesenangan pribadi. 7) Keberhasilan penggunaan alat peraga juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (Sukayati dan Agus Suharjana, 2009:9). Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari. Maka ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki alat peraga agar fungsi atau manfaat dari alat peraga tersebut sesuai dengan yang diharapkan dalam pembelajaran. 1) Sesuai dengan konsep matematika. 2) Dapat memperjelas konsep matematika, baik dalam bentuk real, gambar atau diagram, dan bukan sebaliknya (mempersulit pemahaman konsep matematika). 3) Tahan lama (dibuat dari bahan-bahan yang cukup kuat). 4) Bentuk dan warnanya menarik. 5) Dari bahan yang aman bagi kesehatan peserta didik. 6) Sederhana dan mudah dikelola. 7) Ukuran sesuai atau seimbang dengan ukuran fisik dari peserta didik. 8) Peragaan diharapkan menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berpikir abstrak bagi peserta didik, karena alat peraga tersebut dapat dimanipulasi (dapat diraba, dipegang, dipindahkan, dipasangkan, dan sebagainya) agar peserta didik dapat belajar secara aktif baik secara individual maupun kelompok. 9) Bila mungkin alat peraga tersebut dapat berfaedah banyak.

E.T.Ruseffendi dalam Sukayati dan Agus Suharjana (2009:10) d. Jenis – jenis Alat Peraga Menurut Sukayati dan Agus Suharjana (2009:15-16) ada beberapa contoh alat peraga yang telah teridentifikasi sangat diperlukan dalam pembelajaran matematika sesuai SI/KD mulai jenjang kelas I sampai dengan kelas VI. Di bawah ini merupakan daftar jenis-jenis alat peraga matematika dari kelas I sampai kelas VI. Kelas I Alat peraga 1. Blok Dienes/lidi/sedotan/biji-bijian. 2. Model jam. 3. Bangun ruang balok, kubus, prisma, tabung, bola, dan kerucut. 4. Bangun datar segitiga, segi empat, lingkaran. 5. Kartu permainan bilangan untuk penjumlahan dan pengurangan. 6. Timbangan bilangan untuk penjumlahan dan pengurangan . 7. Papan berpetak/berpaku. 1. 2. 3. 4. Blok Dienes/lidi/sedotan (alat peraga kelas I). Penggaris. Timbangan benda. Gambar benda-banda untuk menunjukan perkalian 2, 3, 4 dan lain-lain.Contoh: gambar roda sepeda motor, bemo, dan mobil 5. Bangun datar segitiga, segi empat, lingkaran (alat peraga kelas I). 6. Kartu permainan bilangan untuk perkalian dan pembagian. 7. Papan berpetak/berpaku (alat peraga kelas I). 1. 2. 3. 4. 5. 6. Garis Bilangan. Model uang-uangan Meteran/timbangan/model jam (alat peraga kelas I dan II). Blok pecahan. Bangun datar (alat peraga kelas I). Kertas buffalo atau sejenisnya yang dibuat petak untuk menemukan rumus keliling dan luas bangun datar persegi danpersegi panjang. 7. Papan berpetak/berpaku (alat peraga kelas I). 8. Kartu permainan bilangan untuk pecahan.

II

III

IV

1. 2. 3. 4.

Model uang (alat peraga kelas I). Peraga KPK dan FPB. Busur derajat. Kertas buffalo yang dibuat petak untuk menentukan keliling dan menemukan rumus luas jajargenjang dan segitiga. 5. Peraga bilangan bulat (manik positif dan negatif). 6. Peraga garis bilangan bulat. 7. Blok pecahan (alat peraga kelas III). 8. Kartu permainan bilangan Romawi. 9. Kartu permainan untuk operasi campuran 10. Bangun ruang (alat peraga kelas I). 11. Jaring-jaring balok dan kubus. 12. Kartu permainan pencerminan 13. Peraga pencerminan 1. Kertas buffalo yang dibuat petak untuk menemukan rumus luas trapesium dan layang-layang. 2. Peraga volum kubus dan balok. 3. Kartu permainan untuk persen dan decimal 4. Bangun datar dan ruang (alat peraga kelas sebelumnya) 1. Kertas buffalo untuk membuat bangun-bangun lingkaran berfungsi menemukan rumus luas lingkaran. 2. Peraga untuk menemukan volum prisma, tabung, dan kerucut. 3. Contoh-contoh tabel dan diagram gambar, batang, dan lingkaran

V

VI

Tabel 2. Tabel Jenis-jenis Alat Peraga Matematika dari Kelas sampai Kelas VI

Dalam penelitian ini, lebih ditekankan pada materi penjumlahan bilangan bulat kelas IV Sekolah Dasar, berdasarkan tabel 2 jenis alat peraga di atas, dipilih alat peraga yang tepat yaitu alat peraga garis bilangan.

e. Alat Peraga Garis Bilangan Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran untuk kelas-kelas pemula biasanya digunakan benda-benda langsung, seperti manik-manik, kelereng, mobil-mobilan, batang korek api, dan masih banyak contoh lain. Untuk kelaskelas lanjutan digunakan dan alat peraga yang lebih formal seperti itu,

bagan, garis bilangan,

simbol-simbol

lainnya.

Oleh

karena

pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan model alat peraga garis

bilangan untuk meningkatkan tingkat pemahaman siswa mengenai konsep penjumlahan bilangan bulat. Alat peraga garis bilangan merupakan salah satu alat peraga untuk pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan khususnya bilangan bulat negatif. Kegunaan dari alat peraga garis bilangan diantaranya adalah memberikan penanaman konsep tentang letak suatu bilangan bulat pada garis bilangan dan konsep penjumlahan dua bilangan bulat melalui peraga dengan pendekatan gerak. Dengan alat peraga garis bilangan diharapkan pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami anak dan dapat menarik perhatian siswa.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Gambar 2. Alat Peraga Garis Bilangan Bahan-bahan yang dibutuhkan : a. Kayu/papan b. Bambu / kayu c. Kertas Karton/Manila Berwarna d. Busa/Stereofoam e. Lem/perekat f. Spidol Cara pembuatan : 1. 2. Kayu dipotong memanjang. Buat potongan karton seukuran permukaan kayu, kemudian buat tulisan bilangan bulat diatasnya (misalnya -10 sampai dengan 10).

3. 4.

Tempelkan tulisan bilangan bulat pada kayu menggunakan lem / perekat. Siapkan dua potongan bambu/ kayu, yang digunakan sebagai dudukan kayu

5.

Bentuk busa/stereofoam menjadi bentuk mobil, tempelkan pula tanda panah dari kertas ke badan mobil.

Cara penggunaan : 1. Setiap menjawab perhitungan mobil selalu berada pada titik 0. 2. Bilangan positif berarti mobil menghadap ke kanan. 3. Bilangan negatif berarti mobil menghadap ke kiri. 4. Ditambah berarti maju. 5. Dikurangi berarti mundur. Contoh : 1) 4 + 2 = 6 Berarti mobil menghadap ke kanan dari 0 bergeser ke kanan 4 satuan berhenti diatas titik 4 kemudian maju 2 satuan lagi dan berhenti di atas titik 6. Langkah I Berangkat dari nol dan menghadap ke kanan.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah II Ke kanan 4 langkah, selanjutnya ditambah berarti maju

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah III Karena ditambah 2 maka ke kanan lagi 2 langkah

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dari langkah III ini mobil berhenti pada bilangan 6. Artinya, hasil dari operasi penjumlahan 4 + 2 adalah 6.

2) 5 + (-2) = 3 Berarti mobil menghadap ke kanan dari 0 bergeser ke kanan 5 satuan berhenti di atas titik 5 kemudian mobil menghadap kiri maju 2 satuan lagi dan berhenti di atas titik 3. Langkah I Berangkat dari nol dan menghadap ke kanan.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah II Ke kanan 5 langkah dan berhenti di atas titik 5.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah III Karena ditambah -2 maka mobil berbalik arah menghadap ke kiri kemudian maju 2 langkah.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dari langkah III ini mobil berhenti pada bilangan 3. Artinya, hasil dari operasi penjumlahan 5 + ( -2 ) adalah 3.

3) -5 + 3 = -2 Berarti mobil menghadap ke kiri dari 0 bergeser ke kiri 5 satuan berhenti di atas titik -5 kemudian mobil menghadap kanan maju 3 satuan lagi dan berhenti di atas titik -2. Langkah I Berangkat dari nol dan menghadap ke kiri.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah II Ke kiri 5 langkah berhenti di atas titik -5.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah III Karena di tambah positif 3 maka mobil menghadap ke kanan kemudian maju 3 langkah.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dari langkah III ini mobil berhenti pada bilangan -2. Artinya, hasil dari operasi penjumlahan -5 + 3 adalah -2. 4) -3 + (-4) = -7 Berarti mobil menghadap ke kiri dari 0 bergeser ke kiri 3 satuan berhenti di atas titik -3 kemudian mobil maju 4 satuan lagi dan berhenti di atas titik -7. Langkah I Mulai dari 0 menghadap kiri

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah II Ke kiri 3 langkah berhenti di atas titik -3.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Langkah III Karena ditambah -4 mobil tetap manghadap kiri dan maju 4 langkah.

-10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dari langkah III ini mobil berhenti pada bilangan -7. Artinya, hasil dari operasi penjumlahan -4 + ( -3 ) adalah -7.

3.

Hakikat Pembelajaran Matematika SD

a. Pengertian Pembelajaran Menurut Corey dalam Ruminiati ( 2007:1.14), pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang dikelola secara disengaja untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu, sehingga dalam kondisi-kondisi khusus akan menghasilkan respons terhadap situasi tertentu juga. Ruminiati (2007:1.15) menyimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu, membimbing, dan memotivasi siswa mempelajari suatu informasi tertentu dalam suatu proses yang telah dirancang secara masak mencakup segala kemungkinan yang terjadi. Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003:8) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain,

dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian, jika pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya, jika pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Berpijak dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang dirancang oleh guru untuk membantu, membimbing, dan memotivasi siswa mempelajari suatu informasi tertentu agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. b. Pengertian Matematika Matematika berasal dari kata (máthema) dalam bahasa

Yunani yang diartikan sebagai sains, ilmu pengetahuan, atau belajar juga mathematikós yang diartikan sebagai suka belajar. Pengertian matematika sangat sulit didefinisikan secara akurat. Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang. Seseorang mungkin mengatakan matematika adalah penelitian bilangan dan angka ( http://one.indoskripsi.com/node/8018 ) diunduh tanggal 1 Maret 2010. Hudoyo (1979:96) mengemukakan bahwa hakikat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur- struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis ( http://karmawati-

yusuf.blogspot.com/2008/12/1-hakikat-matematika.html ) diunduh tanggal 1 Maret 2010. Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk,susunan, besaran, dan konsep – konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri James dan James dalam (Ruseffendi, 1992 : 27). Sedangkan

menurut ahli yang lain mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik (Johnson and Rising 1972) dalam (Ruseffendi, 1992 : 28). Ada beberapa definisi atau pengertian matematika berdasarkan sudut pandang pembuatnya, yaitu sebagai berikut: 1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisisr secara sistematik 2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi 3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan. 4) Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. 5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik 6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat. (Soedjadi dalam http://karmawati-yusuf.blogspot.com/2008/12/1-hakikat-

matematika.html) diunduh tanggal 1 Maret 2010. Menurut Radu Bairac dalam Eurasia Journal of Mathematics, Science dan Technology Education, disebutkan sebagai berikut: “ At the second Congress for the mathematical education (Ecster City, 1972), the famous French mathematician R.Tom considered that it was necessary to move to the “creative” heuristic method of teaching and learning. Also, many European mathematician scientists pleaded for a new concept of mathematical instruction (1982), according to which: a. Mathematics is to be considered as a learning activity for people and not a finished studying object b. Mathematics is to be studied by making it interesting and not by imposed memorization c. Mathematical instruction is to be performed as a process of continuous research and discovery and not as a simple conveyance of already known ideas.” “ Pada Kongres kedua untuk pendidikan matematika (Ecster City, 1972), ilmuan matematika terkenal Perancis R. Tom menganggap bahwa perlu adanya perpindahan ke metode "kreatif" heuristik dalam mengajar dan belajar. Selain itu, banyak ilmuwan matematika Eropa yang menemukan suatu konsep baru dari instruksi matematika (1982), yaitu : a) Matematika dipandang sebagai aktivitas belajar bagi masyarakat dan bukan objek selesai belajar

b) Matematika dipelajari dengan membuatnya menarik dan bukan hanya sekedar ingatan saja. c) Instruksi matematika harus dilakukan sebagai proses penelitian terus menerus dan penemuan bukan sebagai alat angkut sederhana dari ide yang sudah dikenal. (http://www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/ ) diunduh tanggal 1 Maret 2010. Bertolak dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik dan berhubungan dengan bilangan yang di dalamnya terdapat aturan yang ketat. c. Tujuan Pembelajaran Matematika SD Tujuan mata pelajaran matematika yang tercantum dalam kurikulum KTSP (2007:145-146) untuk satuan SD/MI adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, menjelaskan gagasan, dan pernyataan matematika. 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. d. Kegunaan Matematika Sebagai seorang guru yang mengajarkan matematika tentunya harus dapat meyakinkan siswa dan masyarakat mengapa matematika itu termasuk ilmu pengetahuan yang telah dipilih untuk diajarkan di sekolah. Matematika diajarkan di sekolah karena beberapa alasan antara lain sebagai berikut: a) Dengan belajar matematika, manusia dapat menyelesaikan persoalan yang ada dalam masyarakat yaitu berkomunikasi sehari-hari seperti dapat berhitung, menghitung luas, menghitung berat, dan sebagainya.

b) Matematika dapat membantu bidang studi lain seperti fisika, kimia, geografi, dan sebagainya. c) Dengan mempelajari geometri ruang, siswa dapat meningkatkan pemahaman ruang. Dengan mempelajari aljabar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam merumuskan asumsi, definisi, generalisasi, dan lain – lain. d) Matematika sebagai alat ramal / perkiraan seperti prakiraan cuaca, pertumbuhan penduduk, keberhasilan belajar, dan lain – lain. e) Matematika berguna sebagai penunjang pemakaian alat – alat canggih seperti kalkulator dan komputer (Ruseffendi, 1992 : 56-57). e. Pembelajaran Matematika SD Matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam mempelajari matematika, konsep sebelumnya harus benar-benar dikuasai agar dapat memahami konsepkonsep selanjutnya. Hal ini tentu saja membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses belajar mengajar atau pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara melompatlompat tetapi harus tahap demi tahap, Dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai kejenjang yang lebih kompleks. Seseorang tidak mungkin mempelajari konsep lebih tinggi sebelum ia menguasai atau memahami konsep yang lebih rendah. Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran berkembang dari yang mudah ke yang sukar, sehingga dalam memberikan contoh guru juga harus memperhatikan tentang tingkat kesukaran dari materi yang disampaikan, dengan demikian dalam pembelajaran matematika contoh-contoh yang diberikan harus bervariasi dan tidak cukup hanya satu contoh. Di samping itu pembelajaran matematika hendaknya bermakna, yaitu pembelajaran yang mengutamakan pengertian atau

pemahaman konsep dan penerapannya dalam kehidupan.

Pembelajaran matematika harus memenuhi empat pilar pendidikan, yaitu “learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together in peace and harmony”. Pembelajaran matematika harus dapat mengantarkan anak didik untuk memiliki kompetensi matematika. Profil kompetensi matematika mencakup : Pemahaman konsep, keterampilan menjalankan prosedur, kemampuan berpikir logis, kemampuan merumuskan, menyajikan, dan menyelesaikan masalah matematika, serta memiliki sikap atau merasakan bahwa matematika itu berguna dan akhirnya memiliki percaya diri. Maka salah satu cara yang harus dipenuhi agar pembelajaran matematika dapat menumbuhkembangkan kompetensi yang diharapkan adalah adanya perubahan dari paradigm pengajaran ke paradigm pembelajaran (Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen Depdiknas, 2003:19-20). B. Penelitian yang Relevan

Penelitian Muhammad Mukhdor ( 2009 ) berjudul Pemanfaatan Media Keping Berwarna untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Kelas IV di SDN Petung II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan, menyimpulkan bahwa pemanfaatan media keping berwarna dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat berbeda tanda dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini mempunyai persamaan dengan penelitian yang dimiliki Muhammad Mukhdor yaitu mengkaji tentang operasi hitung bilangan bulat dan perbedaannya pada penelitian Muhammad Mukhdor media/alat peraga yang digunakan yaitu menggunakan media keping berwarna, sedangkan penelitian ini menggunakan alat peraga garis bilangan. Dalam penelitian Anis Nurdiana Rohmi ( 2010 ) berjudul Peningkatan Hasil Belajar Operasi Penjumlahan Bilangan Bulat Melalui Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) Pada Siswa Kelas V SDN Bumiayu 01, menyimpulkan bahwa Penerapan pendekatan CTL membawa pengaruh positif terhadap kualitas belajar siswa. Penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas proses siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan

peningkatan hasil belajar siswa pada pratindakan ketuntasan belajar mencapai 17,64% dan siklus I meningkat menjadi 70,58% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 88,23%. Hal tersebut menunjukkan peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke siklus I sebesar 52,94% sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 17,65%. Aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II juga meningkat dari 70,35% menjadi 76,64 %. Hal ini menunjukkan peningkatan aktivitas siswa sebesar 6,29%. Penelitian ini mempunyai persamaan dengan penelitian Anis Nurdiana Rohmi yaitu mengkaji tentang operasi penjumlahan bilangan bulat. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Anis Nurdiana Rohmi pada cara yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), sedangkan penelitian ini menggunakan alat peraga garis bilangan. B. Kerangka Berpikir

Kesulitan belajar adalah hal yang sering dialami siswa. Kesulitan belajar tersebut dimulai dari rendahnya kemampuan siswa memahami suatu materi. Hal tersebut disebabkan oleh pola mengajar guru. Guru dalam pembelajaran tidak memanfaatkan alat bantu pengajaran atau yang sering yang disebut alat peraga. Sebagaimana teori yang dikaji tersebut di atas, bahwa alat peraga memiliki fungsi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan dan dapat mengkonkretkan konsep yang bersifat abstrak. Alat peraga berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan siswa karena melalui penggunaan alat peraga siswa dapat mengamati, menaksir, dan meramalkan berbagai hal baik melalui indera penglihat, peraba maupun pendengar. Keterlibatan alat-alat indera menggairahkan siswa dalam belajar sehingga akan mudah terangsang untuk mencoba melakukan sesuatu hal yang diperlukan. Konsep penjumlahan bilangan bulat yang belum dipahami siswa berakibat pada rendahnya kemampuan siswa dalam menjumlah bilangan bulat. Untuk mengatasi hal tersebut maka dipilih sebuah alat peraga yang tepat yaitu alat peraga garis bilangan. Dengan menggunakan alat peraga garis bilangan dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat dapat meningkatkan perhatian dan

keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Kemudahan yang akan diperoleh siswa melalui penggunaan alat peraga tersebut yaitu siswa dapat menguasai konsep penjumlahan bilangan bulat dan dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan bilangan bulat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan penggunaan alat peraga garis bilangan maka kemampuan siswa dalam menjumlah bilangan bulat meningkat. Alur kerangka pikir tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema berikut ini :
Pembelajaran penjumlahan bilangan bulat tanpa menggunakan alat peraga dan masih konvensional Kemampuan siswa menjumlah bilangan bulat rendah

Kondisi awal

Siklus I Dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan mnimal 50% siswa mencapai KKM Pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan Siklus II Dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan mnimal 65% siswa mencapai KKM

tindakan

Siklus III Dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan mnimal 75% siswa mencapai KKM

Kondisi akhir

penggunaan alat peraga garis bilangan dapat meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat

Gambar 3. Alur Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas

C. Hipotesis Tindakan Bertolak dari kajian teori dan kerangka berpikir tersebut di atas, maka dapat diambil sebuah hipotesis yaitu penggunaan alat peraga garis bilangan dapat meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010.

35

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SD N Tanjungsari pada Tahun Ajaran 2009/2010 sebanyak 25 siswa yang terdiri dari 16 laki-laki dan 9 perempuan. Daftar Siswa Kelas IV SD N Tanjungsari NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Dwi Suranto Febby Fachrul Azil Wahyu Rismawanto Ahmad Sholihin Fajar Nur Pitaloka Joko Susilo Rangga Ardi Saputra Sihnomo Perwito Utomo Wahyu Nur Akhmadi Agus Prasetyo Cintari Dyah Atikaningsih Dian Catur Hidayat Ervita Retno Hapsari Gunawan Yoga Sugama Hestiana Shinta Kusumaningrum Muhammad Yan Faturrohman Taufik Kurnia Sandi Nur Edy Nugroho Tri Sunaryo Widia Lestari Zulaekah Andriyati NAMA SISWA

22 23 24 25

Indah Ayu Wulandari Erik Kuncoro Novi Lara Indriati Oktavia Dwi Kurniawati Tabel 3. Daftar Siswa Kelas IV SD N Tanjungsari

B. Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali. SD Negeri Tanjungsari merupakan satu-satunya SD yang di dalamnya sebagai pusat kegiatan guru SD di Desa Tanjungsari. Alasan memilih lokasi di SD Negeri Tanjungsari sebagai berikut : a. Ingin meningkatkan prestasi belajar kelas IV pada mata pelajaran Matematika khususnya dalam materi menjumlahkan bilangan bulat semester genap Tahun Ajaran 2009/2010. b. Merupakan SD tempat peneliti mengajar.

C. Sumber Data Sumber data atau informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah dari: 1. Sumber data pokok, yaitu siswa dan guru. 2. Sumber data sekunder,yaitu arsip atau dokumen, catatan observasi guru, dan nilai kemampuan menjumlah bilangan bulat siswa. D. Teknik Pengumpulan Data Data-data dalam penelitian dikumpulkan melalui beberapa cara antara lain: 1. Observasi Observasi memotret merupakan jauh pengamatan efek tindakan (pengambilan telah data) untuk sasaran

seberapa

mencapai

(Iskandar,2009:68). Winarni ( 2009: 84 -85 ) menyatakan bahwa dalam melakukan observasi proses, ada empat metode observasi yaitu :

a. Observasi terbuka Dalam observasi terbuka, pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong untuk merekam pelajaran yang diamati. Dia menggunakan teknik-teknik tertentu untuk merekam jalannya perbaikan sehingga dapat merekontruksi pelajaran yang berlangsung. b. Observasi terfokus Observasi secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya yang diamati kesempatan siswa untuk berpartisipasi, dampak pungutan bagi siswa, atau sejenis pertanyaan yang diajukan oleh guru. Tentu semua fokus telah disepakati sebelum berlangsungnya observasi. c. Observasi terstruktur Observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan sisp pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda ( v ) pada tempat yang disediakan d. Observasi sistematik Observasi sistematik lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan menggunakan metode observasi terstruktur. Observasi dilakukan terhadap siswa dan guru. Observasi terhadap siswa siswa dilakukan dalam untuk mengetahui matematika situasi pada dan

perkembangan

pembelajaran

operasi

penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Obeservasi terhadap guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

2. Tes Teknik ini digunakan menguji subjek untuk mendapatkan data tentang hasil belajar peserta didik, dengan menggunakan butir-butir soal / instrumen

soal yang mengukur hasil belajar sesuai dengan bidang mata pelajaran yang diteliti (Iskandar;2009:73). 3. Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini dengan mengumpulkan berbagai macam ujian dan tes, sehingga dapat bermanfaat bagi peneliti untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramalkan jawaban dari fokus permasalahan penelitian

E. Validitas Data Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan kerja ilmiah, untuk memenuhi kriteria ini dalam penelitian maka kesahihan (validitas) harus dipenuhi kalau tidak maka proses penelitian itu perlu dipertanyakan

keilmiahannya.Untuk membuktikan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ilmiah, maka validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data (Iskandar;2009:84). Triangulasi terdiri atas triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu. Teknik triangulasi yang dipilih adalah teknik triangulasi sumber. Triangulasi

sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dari beberapa sumber tersebut dideskripsikan, dikategorikan, dan akhirnya diminta kesepakatan (member check) untuk mendapatkan simpulan (http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/06/01/validitas-dan-reliabilitas/) diunduh 1 Maret 2010. F. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini, digunakan analisis deskriptif interaktif yang dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses pengumpulan data penelitian, seorang peneliti dapat menemukan kapan saja waktu untuk mendapatkan data yang banyak, apabila peneliti mampu menerapkan metode observasi, wawancara, atau dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan subjek yang diteliti. Reduksi data juga merupakan analisis yang menajamkan untuk

mengorganisasikan data, dengan demikian simpulannya dapat diverifikasi untuk dijadikan temuan penelitian terhadap masalah yang diteliti. Selama proses reduksi data peneliti dapat melanjutkan meringkas, mengkode, menemukan tema, reduksi data berlangsung selama penelitian di lapangan sampai pelaporan penelitian selesai. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan dengan cara sedemikian sehingga simpulan-simpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi (Milles Huberman, 2000: 16). 2. Penyajian data Merupakan penyajian dari sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian-penyajian akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh menganalisis atau mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis tindakan kelas yang valid. Penyajian data biasanya disajikan dalam bentuk teks naratif yang memungkinkan simpulan penelitian dapat dilakukan (Milles Huberman, 2000: 17). 3. Pengambilan simpulan yang selanjutnya diverifikasi Hasil dari data – data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. Penarikan simpulan merupakan bagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh sehingga simpulan – simpulan juga dapat diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi data yaitu ” Pemeriksaan tentang benar dan tidaknya hasil dari laporan penelitian. Sedang simpulan adalah tinjauan ulang pada

catatan di lapangan atau simpulan dapat diuji kebenarannya, kekokohannya merupakan validitasnya” (Milles Huberman, 2000: 19).

Pengumpulan Data (Data Collection) Penyajian Data (Data Display)

Reduksi Data (Data Reduction) Simpulan-Simpulan Penarikan / Verifikasi Gambar 4 : Komponen-komponen Analisis Data : Deskriptif Interaktif (Milles Huberman, 2000:20)

Bertolak dari gambar 4 di atas, maka proses analisis model Miles dan Huberman dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan. 1. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan sejak pembuatan proposal, dengan cara mengumpulkan data-data yang terkait dengan apa yang akan dibahas dari lapangan. Namun, data-data yang diperoleh belum mampu memberikan sebuah keterangan untuk menarik simpulan. Untuk itu, langkah yang harus ditempuh adalah reduksi data.

2. Reduksi Data Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanan, dan abstraksi data dari fieldnote (catatan lapangan). Proses reduksi data berlangsung secara terus menerus selama pelaksanaan penelitian hingga

laporan akhir penelitian disusun. Reduksi data yang dilakukan merupakan bagian analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, dan membuang hal-hal yang tidak penting serta mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan akhir dapat dilakukan.

3. Sajian Data Sajian data adalah suatu sekumpulan informasi yang memungkinkan simpulan data dilakukan. Pada bagian ini peneliti menganilisis data-data yang telah diperoleh selama penelitian untuk disusun secara sistematis sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan atau menjawab masalah yang diteliti. Dalam penyajian data ini, yang harus diperhatikan adalah penyajian data yang baik dan mempunyai kejelasan dengan sistematikanya, karena hal ini akan mempermudah peneliti dalam membuat simpulan.

4. Penarikan Simpulan Mengambil simpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data, dan penyajian data sehingga data dapat disimpulkan. Namun, yang perlu diingat selama proses ini berlangsung peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan. Penarikan simpulan sementara dapat diuji kembali dengan data di lapangan, dengan cara merefleksi kembali, peneliti dapat bertukar pikiran dengan teman sejawat sehingga kebenaran ilmiah dapat tercapai. Apabila keempat proses ini bisa berjalan dengan kontinu dan baik, maka keilmiahannya hasil penelitian dapat diterima. Setelah hasil penelitian telah diuji kebenarannya, maka peneliti dapat menarik simpulan dalam bentuk deskriptif sebagai laporan penelitian.

G. Indikator Kerja Bersumber pada hasil yang diperoleh dari penilaian akhir yang mencerminkan kemampuan siswa pada konsep yang dibelajarkan diharapkan adanya peningkatan kemampuan sesuai nilai yang diperoleh oleh masing – masing siswa. Indikator kerja dalam penelitian ini yaitu :

1. Pada siklus I , dalam konsep penjumlahan bilangan bulat minimal 50 % siswa mendapat nilai sama dengan atau di atas KKM ( ≥ 63 ). 2. Pada siklus II , dalam konsep penjumlahan bilangan bulat minimal 65 % siswa mendapat nilai sama dengan atau di atas KKM ( ≥ 63 ). 3. Pada siklus III , dalam konsep penjumlahan bilangan bulat minimal 75 % siswa mendapat nilai sama dengan atau di atas KKM ( ≥ 63 ).

H. Prosedur Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan berdasarkan model Kemmis dan Mc Taggart dalam beberapa siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat langkah yaitu: 1. 2. 3. 4. Planning ( perencanaan ) Acting ( pelaksanaan ) Observing ( pengamatan ) Reflecting ( refleksi )

Prosedur penelitian dapat digambarkan pada bagan di bawah ini :
Orientasi perencanaan refleksi

SIKLUS I

Pelaksanaan tindakan

pengamatan

Orientasi perencanaan berikut

perbaikan perencanaan refleksi Pelaksanaan tindakan

SIKLUS II

pengamatan

Orientasi perencanaan berikut

perbaikan perencanaan refleksi

SIKLUS III
pengamatan

Pelaksanaan tindakan

Gambar 5. Gambar Prosedur Penelitian

Berdasarkan gambar 5 di atas, penelitian ini dilakukan sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat langkah yaitu : 1. Siklus 1 a. Perencanaan Tahap perencanaan meliputi : 1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) terdiri dari dua pertemuan. 2) Mempersiapkan alat peraga garis bilangan. 3) Menyusun lembar tes siswa. 4) Menyusun instrumen penelitian meliputi lembar observasi guru dan lembar observasi siswa.

b.

Pelaksanaan Dalam pelaksanaan tindakan siklus I terdiri dari dua pertemuan, yaitu : 1) Pertemuan I a) Pembelajaran diawali dengan tanya jawab tentang pengertian bilangan bulat, macam-macam bilangan bulat, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu tentang penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif dan penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif. b) Menunjukkan alat peraga garis bilangan dan menjelaskan letak nilai sebuah bilangan bulat dengan alat peraga garis bilangan. c) Membagi siswa menjadi beberapa 4 kelompok. d) Membagikan alat peraga garis bilangan pada masing-masing kelompok. e) Guru mendemonstrasikan penjumlahan bilangan bulat antara bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat positif dengan negatif menggunakan alat peraga garis bilangan. f) Siswa mempraktikkan penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga di depan kelas. g) Siswa dibimbing menggambarkan langkah-langkah yang telah dilakukan ke dalam sebuah garis bilangan. h) Setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda untuk

menyelesaikan penjumlahan bilangan bulat antara bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat positif dengan negatif dengan menggunakan alat peraga garis bilangan kemudian menggambarkannya dalam sebuah garis bilangan. i) Setelah selesai tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi. j) Pada akhir pertemuan dilakukan evaluasi secara individu. 2) Pertemuan II a. Kegiatan diawali dengan tanya jawab materi pertemuan pertama dan menawarkan kepada siswa siapa yang berani menyelesaikan

soal dengan memperagakan alat peraga garis bilangan di depan kelas b. Siswa membentuk kelompok dan perwakilan kelompok mengambil alat peraga garis bilangan. c. Guru menjelaskan penjumlahan bilangan bulat antara bilangan bulat negatif dengan positif dan bilangan bulat negatif dengan negatif. d. Perwakilan kelompok mengambil amplop yang berisi soal untuk didiskusikan dengan teman kelompok. e. Setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda untuk

menyelesaikan penjumlahan bilangan bulat antara bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif dengan bilangan buat negatif dengan menggunakan alat peraga garis bilangan kemudian menggambarkannya dalam sebuah garis bilangan. f. Hasil pekerjaan diserahkan kepada kelompok lain untuk dikoreksi, kemudian dibahas bersama antara guru dan siswa. g. Pada akhir pertemuan dilakukan evaluasi secara individu. c. Pengamatan Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran (guru) maupun data pembelajaran siswa menggunakan instrumen observasi guru mitra terhadap guru dan observasi guru mitra terhadap siswa. Hal-hal yang diamati meliputi sikap, keaktivan, keterampilan, dan penguasaan siswa selama proses serta

pembelajaran dengan menggunakan alat peraga garis bilangan kondisi proses pembelajaran secara umum. d. Refleksi

Dari langkah observasi akan diperoleh data yang bervariasi yang kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil analisis tersebut akan diperoleh simpulan bagian mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan bagian mana yang telah memenuhi target. Tindakan dikatakan berhasil

jika analisis data menunjukkan ketercapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam tujuan penelitian. Sasaran pada siklus I adalah 50 % siswa harus mencapai KKM. Namun apabila sasaran utama yang ditetapkan dalam indikator kinerja belum tercapai maka dilakukan perbaikan pada siklus II. 2. Siklus 2 a. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus II meliputi : 1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) terdiri dari dua pertemuan. 2) Mempersiapkan alat peraga garis bilangan. 3) Menyusun lembar tes siswa

4) Menyusun instrumen penelitian meliputi lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. 2. Tindakan 1. Pertemuan I a) Guru memberikan apersepsi dengan bertanya jawab seputar pelajaran yang sudah di ajarkan pada minggu sebelumnya dan menyuruh seorang siswa yang berani menyelesaikan soal yang diberikan guru dengan memeragakannya di depan kelas b) Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. c) Membagikan alat peraga garis bilangan pada masing-masing kelompok. d) Guru menjelaskan penjumlahan bilangan bulat antara bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat positif dengan negatif dan menekankan pada penggunaan alat peraga garis bilangan. e) Perwakilan tiap kelompok mengambil soal yang disediakan guru. Kelompok yang telah menyelesaikan soal berhak menukarkan soalnya dengan kelompok lain yang telah selesai. Akhirnya, setiap kelompok berhasil menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru.

f) Hasil jawaban setiap kelompok ditukarkan dengan kelompok lain dan dibahas bersama dengan guru. g) Pada akhir pertemuan dilakukan penilaian secara individu.

2. Pertemuan II a) Pembelajaran diawali dengan guru melakukan tanya jawab tentang cara cepat mencari hasil penjumlahan bilangan bulat dengan memberikan soal secara rebutan. b) Pembelajaran dilakukan masih secara kelompok. Angota kelompok sama dengan anggota kelompok pada siklus kedua pertemuan pertama c) Setiap kelompok secara bergiliran maju ke depan kelas untuk memperagakan alat peraga garis bilangan d) Bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang maju ke kepan kelas. e) Setelah semua kelompok maju ke depan, perwakilan tiap kelompok mengambil soal yang disediakan guru secara acak. Kelompok yang telah menyelesaikan soal berhak menukarkan soalnya dengan kelompok lain yang telah selesai. Akhirnya, setiap kelompok berhasil menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru. f) Pada akhir pertemuan dilakukan penilaian secara individu. 3. Pengamatan Dalam siklus ini tetap dilakukan pengamatan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran (guru) maupun data pembelajaran siswa menggunakan instrumen observasi guru mitra terhadap guru dan observasi guru mitra terhadap siswa. Pengamatan ini bertujuan untuk melihat seberapa besar peningkatan yang terjadi pada konsep penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. 4. Refleksi Dari langkah observasi akan diperoleh data yang bervariasi. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian dianalisis dan disimpulkan bagaimana

proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Tindakan dikatakan berhasil jika analisis data menunjukkan ketercapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam tujuan penelitian. Sasaran pada siklus II adalah 65 % siswa harus mencapai KKM. Namun apabila sasaran utama dalam indikator kinerja yang ditetapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan pada siklus III. Siklus III a. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus II meliputi : 1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) terdiri dari dua pertemuan. 2) Pembelajaran dilakukan tidak dalam bentuk kelompok. 3) Mempersiapkan alat peraga garis bilangan. 4) Menyusun lembar tes siswa 5) Menyusun instrumen penelitian meliputi lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. b. Tindakan Seperti siklus-siklus sebelumnya, dalam siklus ini terdiri dari dua pertemuan. 1) Pertemuan I a) Pada siklus III pembelajaran tidak dilakukan secara kelompok.

b) Mengulang materi penjumlahan bilangan bulat bahwa penjumlahan bilangan bulat terdiri dari : Penjumlahan bilangan positif dan bilangan positif. Penjumlahan bilangan positif dan bilangan negatif. Penjumlahan bilangan negatif dan bilangan positif. Penjumlahan bilangan negatif dan bilangan negatif. c) Beberapa siswa maju ke depan kelas memperagakan penjumlahan bilangan bulat di depan kelas. Siswa lain memeragakannya dengan menggambar garis bilangan di buku tulisnya.

d) Siswa

memperhatikan

penjelasan

guru

tentang

aturan-aturan

menggambar garis bilangan yaitu dengan menggunakan penggaris dan bolpoin warna e) Setelah diadakan tanya jawab, siswa mengerjakan soal-soal latihan yang dibagikan guru f) Siswa berdiskusi dengan teman sebangku dalam mengerjakan soal latihan. g) Siswa membahas hasil pengerjaan latihan dengan dibimbing guru. h) Pada kegiatan akhir dilakukan tes secara individual. 2) Pertemuan II Langkah-langkah pada pertemuan kedua hampir sama dengan langkahlangkah pada pertemuan pertama. 1. Pembelajaran diawali dengan melakukan tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan-kesulitan yang dialami. 2. Membahas kesulitan-kesulitan yang dialami siswa. 3. Guru menunjuk siswa yang kurang menguasai penjumlahan bilangan bulat untuk memperagakan di depan kelas dan siswa lain menggambarkannya dalam bentuk garis bilangan. 4. Siswa diberi soal untuk dikerjakan sendiri-sendiri tanpa berdiskusi dengan siswa lain. 5. Bersama siswa menarik simpulan tentang penjumlahan bilangan bulat. 6. Pada kegiatan akhir dilakukan tes secara individual c. Observasi Kegiatan pengamatan pada siklus III dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran (guru) maupun data pembelajaran siswa menggunakan instrumen observasi guru mitra terhadap guru dan observasi guru mitra terhadap siswa. Kegiatan pengamatan tetap dilakukan oleh observer untuk mengetahui keadaan saat pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Apakah penggunaan alat peraga tersebut benar-benar dapat meningkatkan

kemampuan menjumlah bilangan bulat siswa kelas IV

d.

Refleksi Langkah observasi tersebut akan diperoleh data yang bervariasi. Tindakan dikatakan berhasil jika analisis data menunjukkan ketercapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam tujuan penelitian. Sasaran pada siklus III adalah 75 % siswa harus mencapai KKM. Apabila 75 % siswa mampu mencapai KKM maka penelitian dihentikan. Penelitian ini dilakukan secara berulang-ulang mulai dari siklus 1, siklus

II, dan berlanjut kepada siklus III untuk mendapatkan hasil yang mendekati sempurna atau sampai peningkatan kemampuan menjumlah bilangan bulat.

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Profil dan Keadaan Personil SD Negeri Tanjungsari 1. Profil SD Negeri Tanjungsari Sekolah Dasar Negeri Tanjungsari adalah sebuah Sekolah Dasar yang terletak di Dukuh Karangkepoh Desa Tanjungsari Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali. SD Negeri Tanjungsari sebelumnya bernama SD Negeri 1 Tanjungsari, dua SD lainnya yang ada di wilayah Desa Tanjungsari yaitu SD Negeri 2 Tanjungsari dan SD Negeri 3 Tanjungsari jumlah muridnya hanya sedikit. Akhirnya, dua SD tersebut dimerger menjadi satu di SD N 1 Tanjungsari dan sekarang dikenal dengan nama SD Negeri Tanjungsari. Berikut ini profil SD Negeri Tanjungsari secara umum : Nama Sekolah NIS NSS Alamat : SD Negeri Tanjungsari : 11 : 101030909011 : Tanjungsari, Banyudono, Boyolali

Kode Pos Status SK Tahun Berdiri Tahun Perubahan Organisasi Penyelenggara Visi

: 57373 : Negeri : no 421 / I / 10 / 84 tanggal 7 Februari 1984 : 1964 : 1984 : Pemerintah :

Mewujudkan siswa yang cerdas, mandiri, dan berbudi. Misi · · · · · : Menciptakan situasi belajar yang kondusif dan efektif. Menumbuhkembangkan iman dan taqwa bagi semua warga sekolah. Mengembangkan pribadi yang mandiri dan penuh semangat. Mengembangkan keterampilan siswa dalam pembelajaran. Mengembangkan nilai IPTEK, bahasa, seni budaya pada anak yang berbakat. 51 SD N Tanjungsari memiliki enam ruang kelas, satu ruang guru, dan kepala sekolah, halaman yang luas untuk bermain, upacara, dan berolahraga. Pada tahun ajaran 2009/2010 jumlah siswa SD Negeri Tanjungsari berjumlah 135 siswa, yang terdiri dari kelas I sebanyak 17 siswa, kelas II sebanyak 23 siswa, kelas III sebanyak 26 siswa, kelas IV sebanyak 25 siswa, kelas V sebanyak 28 siswa, dan kelas VI sebanyak 16 siswa. Jumlah siswa yang cukup banyak merupakan aset yang berharga bagi sekolah. SD Negeri Tanjungsari turut diperhitungkan baik dalam bidang akademis maupun non akademis. Dari bidang akademis terutama terlihat dari hasil UAS BN di mana tahun 2008 hanya mampu menduduki peringkat 17 tingkat kecamatan pada tahun 2009 mampu menduduki peringkat 7 tingkat kecamatan. Selain itu, pada tahun 2010 SD Negeri Tanjungsari berhasil meraih juara II lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Di bidang non akademis SD N Tanjungsari mampu menunjukkan kemampuan siswanya dalam melukis yang mampu meraih juara II lomba melukis tingkat kecamatan. Sedangkan di bidang olahraga pada tahun 2010 prestasi dapat dilihat dari cabang catur yang meraih juara I tingkat kecamatan dan

mewakili Kecamatan Banyudono untuk maju di tingkat kabupaten. Cabang lain yang dapat diraih adalah volley bola mini dan sepak bola mini yang juga maju ke tingkat kabupaten.

2. Keadaan Personil SD Negeri Tanjungsari Pada Tahun Ajaran 2009/2010 Sekolah Dasar Negeri Tanjungsari Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan memiliki enam orang guru kelas terdiri dari tiga orang guru PNS, dan tiga orang guru wiyata bakti , satu orang guru mata pelajaran Penjaskes berstatus PNS, satu orang guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berstatus sebagai PNS, satu orang guru Bahasa Inggris berstatus wiyata bakti, satu orang guru Agama Kristen yang merangkap sebagai guru kelas sebagai guru wiyata bakti, dan 1 orang penjaga yang juga sebagai wiyata bakti. Jumlah guru yang tidak ideal menyebabkan SD Tanjungsari mengalami kesulitan di bidang ketenagaan. Apalagi dua orang guru kelas yang berstatus sebagai PNS akan segera purna tugas. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan personil di SD Negeri Tanjungsari dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Kepala Sekolah Hariyadi,S.Pd

Guru Kl I Jumiyati,A. Ma.Pd

Guru Kl II Samini

Guru Kl III Emi Wulandari

Guru Kl IV Endar Ari Handayani

Guru Kl V Suyamto, BA

Guru kl VI Yamti,S.Pd

Guru B. Inggris Siti Al Hidayah

Guru Penjas Rila Sarjono,S.Pd

Guru PAI Dalilah, A.Ma

Gru Agm. Kristen Samini

Penjaga Agung Sinung K

Gambar 6. Struktur Personil SD Negeri Tanjungsari Tahun Ajaran 2009/2010

B. Deskripsi Kondisi Awal Sebelum melaksanakan proses penelitian, terlebih dahulu melakukan kegiatan survey awal dengan tujuan mengetahui keadaanya nyata yang ada dilapangan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan saat pembelajaran matematika materi pokok penjumlahan bilangan bulat di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Tanjungsari diketahui bahwa pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional di mana proses pembelajaran didominasi oleh guru (teacher centered) sedangkan siswa lebih banyak diam dan mendengarkan penjelasan guru. Konsep yang dibelajarkan guru juga bersifat abstrak dan lebih menekankan ceramah. Dalam proses pembelajaran belum memanfaatkan alat bantu mengajar atau alat peraga sehingga siswa tidak tertarik mengikuti pembelajaran. Hanya beberapa siswa saja yang terlihat aktif saat mengikuti pelajaran, sedangkan sebagian besar lainnya diam, dan ada juga yang sama sekali tidak memperhatikan pelajaran. Akibatnya, hasil pretest yang dilakukan didapatkan hasil yang sangat memprihatinkan. Dari jumlah 25 siswa hanya sebanyak 10 atau 40% siswa yang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 63). Berikut hasil perolehan nilai sebelum tindakan siswa : Tabel 4. Frekuensi Data Nilai Awal Sebelum Tindakan No 1 2 3 4 5 6 Jumlah Rentang Nilai 30 - 38 39 - 47 48 - 56 57 - 65 66 - 74 75 - 83 Frekuensi 1 5 5 4 8 2 25 Prosentase 4% 20 % 20 % 16 % 32 % 8% 100%

Berdasarkan tabel 4 di atas, maka dapat digambarkan pada grafik berikut :
8 7 6 5 4 3 2 1 0
1 2 5 5 4 8

Frekuensi

nilai

30-38 39-47 48-56 57-65 66-74 75-83

Rentang Nilai

Grafik 1. Grafik Hasil Penilaian Awal Dari hasil penilaian awal dapat diketahui tentang nilai terendah, nilai tertinggi, dan rata-rata nilai yang dapat dicapai siswa, hasil tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5. Hasil Penilaian Awal Keterangan Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata nilai Penilaian Awal 30 80 57.2

Ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 6. Ketuntasan Belajar sebelum Tindakan No Keterangan Prosentase

1

Siswa belajar tuntas

40%

Dari tabel dan grafik tersebut di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata sebelum dilaksanakan tindakan adalah 57.2. Dari data nilai tes awal siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari sebanyak 25 siswa hanya 10 siswa atau 40% yang

memperoleh nilai di atas batas nilai ketuntasan minimal. Sebanyak 15 siswa atau 60% memperoleh nilai di bawah batas nilai ketuntasan yaitu 63. Dari hasil tes awal pada tabel di atas dapat disimpulkan sementara bahwa kemampuan menjumlah bilangan bulat oleh siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari masih kurang.

C. Deskripsi Prosedur dan Hasil Penelitian 1. Siklus I a. Perencanaan Guru sebagai pengelola pembelajaran mempersiapkan segala perangkat yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dalam tahap perencanaan ini, yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dengan lembar penilaian siswa, mempersiapkan alat peraga garis bilangan, menyusun instrumen penelitian meliputi lembar observasi guru, dan lembar observasi siswa. Dengan berpedoman dengan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD tahun 2007 kelas IV, Peneliti melakukan langkah-langkah perencanaan pembelajaran materi penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Standar Kompetensi : 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat Kompetensi Dasar Indikator : 5.2 Menjumlahkan bilangan bulat

1. Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 2. Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif 3. Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif 4. Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif

Berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran dan hasil kemampuan siswa menjumlah bilangan bulat sebelum tindakan, dapat diperoleh informasi sebagai data awal. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa dari siswa kelas IV sebanyak 25 Siswa terdapat 15 siswa atau 60 % yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Atas dasar hal tersebut, diadakan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru kelas lainnya (teman sejawat) tentang alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari. Hasil diskusi antara peneliti, kepala sekolah, dan teman sejawat didapatkan suatu kesepakatan bahwa akan diadakan perbaikan proses pembelajaran materi penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Dengan berpedoman pada standar kompetensi mata pelajaran Matematika, dilakukan langkah-langkah pembelajaran Matematika dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam proses persiapan pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Memilih pokok bahasan atau indikator yang sesuai dengan penjumlahan bilangan bulat. 2) Menyusun Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) berdasarkan

indikator yang telah dibuat. Rencana persiapan pembelajaran (RPP) yang disusun oleh peneliti memuat 2 pertemuan, masing-masing pertemuan dalam waktu 2 jam pelajaran (2x35 menit) lengkap dengan alat tes. 3) Pembelajaran dilakukan dalam bentuk kelompok, dan membagikan alat peraga kepada masing-masing kelompok. 4) Mempersiapkan alat peraga garis bilangan yang akan digunakan dalam pembelajaran. 5) Menyusun instrumen penelitian berupa lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. b. Tindakan/ Aksi Dalam tahap ini guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga garis bilangan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah

disusun. Pembelajaran yang telah disusun pada siklus I dengan menggunakan alat peraga garis bilangan ini akan dilaksanakan dalam 2 pertemuan. 1) Pertemuan Pertama Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada hari Jumat 9 April 2010 selama 2 jam pelajaran ( 2x35 menit ). Pada pertemuan pertama materi yang disampaikan adalah tentang penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif dan penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif. Kegiatan diawali dengan berdo’a bersama, guru mengabsen siswa dan menata tempat duduk siswa satu persatu. Sebelum melakukan kegiatan inti guru memberikan pertanyaan tentang pengertian bilangan bulat, macam-macam bilangan bulat, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu tentang penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif dan penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif. Selanjutnya guru menunjukkan alat peraga garis bilangan dan menjelaskan letak nilai sebuah bilangan bulat dengan alat peraga garis bilangan. Sebelum menjelaskan konsep penjumlahan bilangan bulat terlebih dahulu guru membagi siswa ke dalam empat kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari enam siswa dan tujuh siswa. Pembagian kelompok mengacu pada aspek gender dan kemampuan siswa. Setiap kelompok harus ada siswa laki-laki dan perempuan serta terdiri dari siswa pandai dan siswa kurang pandai. Setelah siswa terbagi dalam kelompok-kelompok guru membagikan alat peraga garis bilangan pada tiap kelompok. Sebelum siswa menggunakan alat peraga garis bilangan guru menjelaskan dan mendemonstrasikan cara menggunakan alat peraga garis bilangan. Sebagai contoh siswa disuruh memilih dua bilangan positif jika dijumlah kurang dari atau sama dengan 10 misal 2 + 5, guru mendemontrasikan cara mengerjakan soal yang disepakati bersama itu dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. Cara menghitung 2 + 5 dengan menggunakan alat peraga garis bilangan adalah : (a) posisikan mobil diangka 0 menghadap ke kanan, (b) jalankan mobil ke arah kanan

sebanyak 2 langkah dan berhenti di titik 2, (c) karena di tambah bilangan positif 5 maka mobil tetap berjalan ke kanan sebanyak 5 langkah, (d) dari langkah yang ketiga mobil berhenti di angka 7 artinya hasil penjumlahan 2 + 5 adalah 7. Selanjutnya guru memberi sebuah pertanyaan dan menyuruh siswa menyelesaikan dengan alat peraga garis bilangan yang ada pada tiap kelompok. Pembelajaran dilanjutkan tentang penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif menggunakan alat peraga garis bilangan. Guru mengambil sebuah contoh yaitu 5 + (-2) kemudian mendemontrasikan cara mengerjakan soal menggunakan alat peraga garis bilangan. Aturan dalam memeragakan garis bilangan adalah : a) Setiap menjawab perhitungan mobil selalu berada pada titik 0. b) Bilangan positif berarti mobil menghadap ke kanan. c) Bilangan negatif berarti mobil menghadap ke kiri. d) Ditambah berarti maju. e) Dikurangi berarti mundur. Cara menghitung 5 + (-2) dengan menggunakan alat peraga garis bilangan adalah : (a) posisikan mobil diangka 0 menghadap ke kanan, (b) jalankan mobil ke arah kanan sebanyak 5 langkah dan berhenti di titik 5, (c) karena di tambah bilangan negatif 2 maka mobil berbalik menghadap kiri kemudian berjalan sebanyak 2 langkah, (d) dari langkah yang ketiga mobil berhenti di angka 3 artinya hasil penjumlahan 5+ (-2) adalah 3. Kemudian, guru memberi sebuah pertanyaan dan setiap kelompok mencoba menyelesaiakannya menggunakan alat peraga garis bilangan yang telah dibagikan pada masing-masing kelompok. Setelah melakukan penjumlahan menggunakan alat peraga garis bilangan, kemudian siswa dibimbing menggambarkan langkah-langkah yang telah dilakukan ke dalam sebuah garis bilangan. 2+5=7 7 5 2

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 5 + (-2) = 3 3 (-2) 5 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dari percobaan di atas, guru bersama siswa menemukan simpulan bahwa (a) penjumlahan dua bilangan positif hasilnya adalah bilangan positif (b) penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif hasilnya bisa positif ataupun negatif, hasilnya positif apabila dua bilangan yang dijumlahkan bilangan bulat positifnya lebih besar dari bilangan bulat negatif, hasilnya negatif apabila dua bilangan yang dijumlahkan bilangan bulat positifnya lebih kecil dari bilangan bulat negatif. Selanjutnya, setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda kemudian mendiskusikan cara pemecahan tugas yang diberikan. Setelah siswa mengadakan diskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Pada akhir pertemuan, diadakan penilaian yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam operasi penjumlahan bilangan bulat. Pembelajaran diakhiri dengan mengumumkan kelompok terbaik. 2) Pertemuan Kedua Pertemuan kedua pada siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu 10 April 2010 selama 2 jam pelajaran ( 2x35 menit ). Pada pertemuan kedua materi yang disampaikan adalah tentang penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan positif dan penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan negatif. Kegiatan diawali dengan tanya jawab materi pertemuan pertama dan menawarkan kepada siswa siapa yang berani menyelesaikan soal dengan memperagakan alat peraga garis bilangan di depan kelas. Memasuki kegiatan inti, siswa membentuk kelompok. Pembentukan

kelompok dilakukan secara undian, siswa yang mendapat nomor sama menjadi satu kelompok, hal ini dilakukan untuk menghindari kebosanan pada diri siswa. Setelah terbentuk, siswa segera menempatkan diri sesuai kelompoknya, perwakilan tiap kelompok mengambil alat peraga garis bilangan. Guru menjelaskan tentang penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif menggunakan alat peraga garis bilangan dan mendemonstrasikan di depan kelas. Siswa mencoba dengan menggunakan alat peraga garis bilangan yang ada pada tiap kelompoknya. Misal menjumlahkan bilangan -5 + 8, langkahnya adalah : (a) posisikan mobil di titik 0 menghadap kiri, (b) jalankan mobil ke arah kiri sebanyak 5 langkah dan berhenti di titik -5, (c) karena ditambah bilangan positif delapan maka, hadapkan mobil ke arah kiri kemudian maju sebanyak 8 langkah, (d) dari langkah ketiga diketahui bahwa mobil berhenti di titik 3, maka hasil penjumlahan -5 + 8 adalah 3. Siswa menggambarkan penjumlahan tersebut ke dalam garis bilangan. -5 + 8 = 3 3 8 -5 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Guru dan siswa menyimpulkan bahwa penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif hampir sama dengan penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif. Perbedaannya, jika bilangan yang dijumlah adalah bilangan positif maka mobil mulai menghadap ke kanan, sebaliknya jika bilangan yang dijumlah adalah bilangan negatif maka mobil menghadap ke kiri. Pembelajaran diteruskan pada penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif. Guru memberikan soal kepada siswa misalnya -2 + (-2), ternyata seorang siswa berhasil menjawab hasilnya adalah -4, kemudian guru menyuruh siswa mendemonstrasikan di depan

kelas dan ternyata siswa dapat memperagakan dengan alat peraga garis bilangan. Guru dan siswa mengulas kembali jawaban tersebut dengan mencoba memeragakannya lagi. Untuk menjumlahkan -2 + (-2), langkahnya adalah : (a) posisikan mobil di titik 0 menghadap ke kiri, (b) jalankan mobil ke arah kiri sebanyak 2 langkah dan berhenti di titik -2, (c) karena di tambah -2 mobil tetap menghadap kiri dan maju 2 langkah lagi, (d) dari langkah ketiga diketahui mobil berhenti di titik -4, maka -2 + 2 hasilnya adalah -4. Siswa mencoba menggambarkan langkah tersebut ke dalam sebuah garis bilangan : -2 + (-2) = -4 -4 -2 -2 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya, guru menyiapkan 4 buah amplop yang berisi soal berbeda yang menyuruh perwakilan tiap kelompok mengambilnya. Guru memberikan bimbingan kepada kelompok yang ingin bertanya dan yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan. Hasil pekerjaan diserahkan kepada kelompok lain untuk dikoreksi, kemudian dibahas bersama antara guru dan siswa. Untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, guru memberikan lembar kerja yang harus diselesaikan secara individu. Setelah selesai, hasil kerja siswa dikumpulkan di meja guru. Sebelum mengakhiri pertemuan, guru menanyakan kepada siswa siapa yang belum paham mengenai penjumlahan bilangan bulat. Pembelajaran selesai dan diakhiri dengan pengumuman kelompok terbaik.

c. Observasi Observasi atau pengamatan kegiatan penelitian pada siklus yang pertama dilakukan oleh guru kelas III yaitu Ibu Emi Wulandari, A. Ma. Pd.

Observer mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir. Pengamatan yang dilakukan observer meliputi aktivitas siswa, aktivitas guru, dan sistematika pembelajaran mata pelajaran matematika konsep penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan termasuk nilai akhir siswa. Observer mengadakan pengamatan sesuai dengan lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Hasil observasi dapat dipaparkan sebagai berikut : 1) Hasil observasi bagi guru Dari data observasi dalam siklus I selama 2 kali pertemuan diperoleh hasil observasi sebagai berikut: a) Pembelajaran yang dilakukan guru sudah baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. b) Guru sudah baik dalam menguasai materi. c) Guru hanya mengacu pada satu sumber belajar ( satu buku saja ). d) Penggunaan alat peraga cukup baik. e) Sudah baik dalam menguasai alat peraga garis bilangan. f) Pelibatan siswa dalam penggunaan alat peraga cukup baik. g) Alat peraga sudah baik sesuai dengan materi pelajaran. h) Alat peraga sudah baik dalam menarik perhatian siswa. i) Tes yang dilakukan sudah baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. j) Cara guru menilai siswa sudah baik. Berpijak dari paparan hasil observasi di atas dan lembar pengamatan aspek aktivitas guru pada lampiran, diketahui rata-rata skor penilaian guru adalah 2,81 dari 11 indikator yang masing-masing indikator dinilai dengan skor 1 (kurang), 2 (cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik). 2) Hasil observasi bagi siswa Dari data observasi dalam siklus I selama 2 kali pertemuan diperoleh hasil observasi sebagai berikut : a) Persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah baik yang dapat dilihat dari perlengkapan pembelajaran yang dibawa siswa.

b) Keaktivan siswa dalam memperhatikan pelajaran sudah baik. c) Kemauan mencatat hal-hal yang penting sudah baik. d) Siswa belum berani mengajukan pertanyaan baik pada guru maupun pada siswa lain. e) Keaktivan siswa dalam menjawab pertanyaan sudah baik. f) Lebih dari 50% siswa tertarik menggunakan alat peraga. g) Hanya beberapa siswa yang berani memperagakan alat peraga. h) Siswa cukup mengusai penggunaan alat peraga. i) Keaktivan siswa mengerjakan tugas sudah baik. j) Beberapa siswa masih bergantung pada siswa pandai dalam mengerjakan tugas. Berdasarkan paparan hasil observasi di atas dan lembar pengamatan aspek aktivitas siswa pada lampiran, diketahui bahwa pada siklus yang pertama ini skor penilaian siswa adalah 2,6 dengan skala penilaian 1 (kurang), 2 (cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik), sehingga penilaian aktivitas siswa hanya menunjukkan kriteria cukup baik dalam pembelajaran. 3) Hasil kemampuan siswa menjumlah bilangan bulat Berdasarkan data observasi pelaksanaan tindakan pada siklus I, diketahui bahwa pembelajaran matematika materi pokok penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan sudah terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan nilai pretest sebelum memasuki perbaikan. Data menunjukkan bahwa siswa yang nilai penilaian akhirnya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebanyak 13 siswa dari jumlah 25 siswa atau 52%. Sedangkan siswa yang yang nilainya belum mencapai KKM sebanyak 12 siswa dari 25 siswa atau 48%. Ratarata nilai siswa yang diperoleh pada siklus I adalah 61,6. d. Refleksi Hasil pengamatan dan hasil penilaian pada siklus pertama

menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga garis bilangan telah meningkatkan kemampuan siswa dalam operasi

penjumlahan bilangan bulat. Sebanyak 13 siswa atau 52% dari seluruh siswa kelas IV telah berhasil menyelesaikan penilaian dengan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 63). Meskipun indikator kerja pada siklus I telah tercapai perlu diadakan perbaikan pada siklus berikutnya lagi. Perbaikan tetap dilakukan karena pada siklus II indikator kerja ditetapkan minimal 65% dari seluruh siswa kelas IV mencapai KKM dan pada siklus I hanya 52% yang tercapai. Hasil penilaian terhadap guru, menunjukkan bahwa guru cukup baik dalam mengajar. Hal tersebut dapat dilihat dari penguasaan materi dan penguasaan dalam penggunaan alat peraga garis bilangan, serta kemampuan guru dalam menarik perhatian siswa. Pengamatan terhadap aktivitas siswa menunjukkan bahwa siswa cukup aktif dalam pembelajaran, siswa sudah siap dalam mengikuti pembelajaran, siswa mempunyai keberanian untuk bertanya dan menjawab, siswa mempunyai keberanian dalam memeragakan alat peraga garis bilangan, dan siswa mau dan mampu membimbing temannya yang belum terampil menggunakannya. Namun, ada beberapa hal yang belum maksimal dalam pembelajaran baik dari guru, siswa, maupun dalam proses pembelajaran, yaitu : 1) Guru kurang menekankan cara penggunaan dan fungsi alat peraga garis bilangan dalam penjumlahan bilangan bulat sehingga ada beberapa siswa belum terampil dalam menggunakannya. Siswa hanya menggunakan alat peraga garis bilangan sebagai sebuah mainan bukan menggunakannya untuk memecahkan soal penjumlahan bilangan bulat. 2) Dalam penggunaan alat peraga, guru hanya melibatkan siswa yang aktif dalam pembelajaran dan mengabaikan siswa yang kurang aktif. 3) Pemberian soal diskusi yang tidak menantang siswa, karena guru tidak memberikan batasan waktu untuk menyelesaikannya, sehingga waktu banyak terbuang dalam kegiatan diskusi. 4) Alat peraga yang digunakan hanya memuat bilangan positif 10 ( 10 ) dan bilangan negatif 10 ( -10 ). Sehingga, bilangan yang di depan atau

bilangan yang dijumlah hanya berkisar antara bilangan 10 sampai bilangan -10. 5) Jumlah siswa kelas IV sebanyak 25 siswa yang dibentuk menjadi 4 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 6 - 7 siswa sehingga dalam setiap kelompok ada siswa yang tidak mendapat bagian untuk menggunakan alat peraga garis bilangan. 6) Dalam mengerjakan tugas beberapa siswa hanya mengandalkan siswa lain yang dirasa pandai dalam menyelesaikan tugas. 7) Siswa belum maksimal dalam menjumlahkan bilangan bulat berbeda tanda, yaitu bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif dan sebaliknya. Dari berbagai hal yang ditemui pada siklus I maka pada siklus yang selanjutnya perlu diadakan perbaikan.

2. Siklus II a. Perencanaan Berdasarkan analisis dan refleksi pada siklus I, di mana masih banyak hal yang belum maksimal maka untuk memulai tindakan pada siklus II perlu menyusun perencanaan kembali dengan mempertimbangkan semua hal yang belum maksimal pada kegiatan reflkeksi siklus I. Sebelumnya, diadakan koordinasi kembali antara peneliti, kepala sekolah, dan guru kelas lain (teman sejawat) mengenai hasil refleksi siklus I dan bagaimana cara mengatasi hal tersebut. Berdasarkan hasil koordinasi akan dilakukan tindakan untuk mencapai indikator yang belum tercapai oleh beberapa siswa tersebut di atas dengan melakukan tindakan siklus II dengan tetap menggunakan alat peraga garis bilangan, namun ada hal yang harus diperbaiki tentang proses pembelajaran dan alat peraga garis bilangan. Pada tahapan perencanaan ini dibuat perencanaan sebagai berikut: 1) Menyusun kembali Rencana Pembelajaran ( RPP ), di mana proses pembelajaran pada siklus II tetap dalam bentuk kelompok, namun bukan 4 kelompok melainkan 5 kelompok, dan pembentukan kelompok

dilakukan secara undian. Dalam pembelajaran nanti, guru lebih menekankan tentang materi penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif dan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif tanpa melupakan penjumlahan dua bilangan positif dan dua bilangan negatif, serta menekankan pada penggunaan alat peraga garis bilangan. Sedangkan untuk pemberian tugas, guru memberikan batasan waktu untuk menyelesaikannya. 2) Mengubah alat peraga garis bilangan, sebelumnya memuat bilangan 10 sampai bilangan -10, pada siklus II nantinya alat peraga garis bilangan memuat bilangan 15 sampai bilangan -15. 3) Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. b. Tindakan/ Aksi Dalam tahap ini guru menerapkan tahap pembelajaran dengan menggunakan alat peraga garis bilangan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Pada siklus yang kedua ini terdiri dari 2 kali pertemuan yaitu pada hari Jum’at 16 April 2010 dan Sabtu tanggal 17 April 2010. Pertemuan yang pertama dengan alokasi waktu selama 2×35 menit dan pertemuan kedua selama 2×35 menit. 1) Pertemuan pertama Indikator : Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif Alat Peraga : Alat peraga garis bilangan Guru mengawali pembelajaran dengan memberi salam, berdoa bersama, mengabsen siswa dan menyiapkan alat peraga garis bilangan. Guru menyampaikan bahwa pembelajaran kali ini akan mengulang tentang penjumlahan dua bilangan bulat positif dan dua bilangan bulat beda tanda. Guru memberikan apersepsi dengan bertanya jawab seputar pelajaran yang sudah di ajarkan pada minggu sebelumnya dan menyuruh seorang siswa yang berani menyelesaikan soal yang diberikan guru

dengan memeragakannya di depan kelas. Selanjutnya guru membimbing siswa untuk membentuk kelompok dengan cara undian dan terbukti siswa merasa lebih senang daripada guru yang menentukan kelompok. Undian dilakukan dengan cara masing-masing siswa mengambil undian yang disiapkan guru, siswa yang bernomor sama menjadi 1 kelompok, dan segera menempatkan diri sesuai kelompoknya. Guru menunjukkan sebuah alat peraga garis bilangan yang bentuknya sama dengan alat peraga pada minggu sebelumnya, hanya saja alat peraga kali ini memuat bilangan yang lebih banyak yaitu dari bilangan -15 sampai angka 15. Perwakilan kelompok mengambil alat peraga yang telah disediakan.

-15 -14 -13 -12 -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Gambar 7. Alat Peraga Garis Bilangan pada Siklus II

Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang aturan penggunaan alat peraga garis bilangan. Guru menanyakan adakah kesulitan tentang penggunaan alat peraga garis bilangan. Kemudian dilanjutkan tentang pemberian soal diskusi. Soal diskusi dibagikan pada masing-masing kelompok. Guru menjelaskan cara pengerjaan tugas tersebut yaitu setiap kelompok harus membagi tugas dalam pengerjaannya dan setiap kelompok hanya diberi waktu 4 menit untuk

menyelesaikannya. Namun, sebelum waktu yang ditetapkan habis, setiap kelompok sudah selesai mengerjakan. Kelompok yang telah selesai

mengerjakan harus menukarkan soal kepada kelompok lain hingga semua soal yang diberikan guru dapat dikerjakan oleh semua kelompok. Hasil jawaban setiap kelompok ditukarkan dengan kelompok lain dan dibahas bersama dengan guru. Pembahasan dilakukan dengan cara menunjuk siswa yang kurang aktif untuk tampil ke depan kelas, dan memeragakan alat peraga garis bilangan. Setelah semua soal dibahas semua, siswa mengerjakan lembar evaluasi yang berisi 10 soal dan harus dikerjakan secara individu selama 15 menit. Siswa yang telah seleasi mengerjakan mengumpulkan hasil jawabannya di meja guru. Sebelum pembelajaran berakhir siswa dan guru dapat menarik simpulan bahwa penjumlahan bilangan bulat itu sangat mudah dikerjakan yaitu : a) Jika dua bilangan positif dijumlahkan pasti hasilnya positif dan kita tinggal menjumlahkan kedua bilangan tersebut. b) Jika bilangan yang kita jumlahkan berbeda tanda yaitu positif dan negatif, maka terlebih dahulu tentukan tandanya, apabila bilangan yang lebih besar bilangan positif maka hasilnya positif, sebaliknya jika bilangan yang lebih besar bilangan negatif maka hasilnya negatif, untuk mencari hasilnya kita cari selisih kedua bilangan tersebut atau dengan cara kurangkan bilangan yang besar dengan bilangan yang kecil. Contoh : 8 + -15 = - ( 15 - 8 ) = -7 Dari soal di atas diketahui bahwa bilangan yang besar adalah bilangan negatif dan pasti hasilnya adalah negatif. Selisih angka 15 dan 8 adalah 7, jadi hasilnya adalah -7. c) Pertemuan kedua Pada pertemuan yang kedua pembelajaran dilakukan seperti pada pertemuan yang pertama dalam bentuk kelompok. Pembelajaran diawali dengan berdoa dan mengabsen siswa. Pertemuan kedua mengulang kembali tentang penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan negatif

dan penjumlahan dua bilangan negatif. Guru melakukan tanya jawab tentang cara cepat mencari hasil penjumlahan bilangan bulat dengan memberikan soal secara rebutan. Siswa membentuk kelompok sesuai kelompok pada pertemuan pertama dan perwakilan kelompok mengambil alat peraga garis bilangan. Untuk mengetahui terampil tidaknya siswa dalam menggunakan alat peraga garis bilangan, setiap kelompok secara bergiliran maju ke depan kelas untuk memperagakan alat peraga garis bilangan berdasarkan soal yang diberikan guru serta menggambarkannya dalam bentuk garis bilangan sedangkan siswa lain memperhatikan selanjutnya dilakukan pembahasan kembali antara guru dan siswa. Setelah semua kelompok maju ke depan, perwakilan tiap kelompok mengambil soal yang disediakan guru dan didiskusikan dengan teman kelompoknya. Waktu yang diberikan lebih singkat daripada waktu yang diberikan pada pertemuan pertama. Pada pertemuan pertama untuk menyelesaikan soal diskusi yang berisi 2 soal diberikan waktu 4 menit, pada pertemuan kedua hanya diberi waktu 3 menit. Kelompok yang telah selesai segera memberitahukan dengan cara mengangkat tangan. Guru memberi tanda dengan cara memukul meja menunjukkan bahwa waktu telah habis dan setiap kelompok menukarkan soal dengan kelompok lain. Kegiatan tersebut dilakukan hingga setiap kelompok menyelesaikan semua soal yang diberikan. Kelompok 1 Kelompok 2

Kelompok 5 Kelompok 4

Kelompok 3

Gambar 8. Aturan Diskusi Kelompok Siklus II Pertemuan Kedua

Hasil jawaban dibahas dan dikoreksi bersama-sama. Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sebelum diberi tugas siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan memberikan tanggapan tentang kegiatan diskusi yang dilakukan dengan permainan. Siswa dan guru mengambil simpulan tentang kegiatan yang dilakukan tentang cara cepat

menjumlahkan dua bilangan bulat yaitu : 1) Jika dua bilangan positif dijumlahkan pasti hasilnya positif dan kita tinggal menjumlahkan kedua bilangan tersebut. Contoh : 3+7 = 10

2) Jika dua bilangan negatif dijumlahkan pasti hasilnya negatif dan kita tinggal menjumlahkan kedua bilangan tersebut. Contoh : -6 + ( -7 ) = - ( 6 + 7 ) = -13 3) Jika bilangan yang kita jumlahkan berbeda tanda yaitu positif dan negatif, maka terlebih dahulu tentukan tandanya, apabila bilangan yang lebih besar bilangan positif maka hasilnya positif, sebaliknya jika bilangan yang lebih besar bilangan negatif maka hasilnya negatif, untuk mencari hasilnya kita cari selisih kedua bilangan tersebut atau dengan cara kurangkan bilangan yang besar dengan bilangan yang kecil. Contoh : 5 + -12 = - ( 12 - 5 ) = -7 -14 + 6 = - ( 14 - 6 ) =-8 Pada kegiatan akhir siswa diberi tugas yang harus dikerjakan secara individual. Hasil jawaban dikumpulkan di meja guru. Setelah semua siswa menyelesaikan soal. Guru memberikan pujian kepada kelompok terbaik.

c. Observasi Dari observasi atau pengamatan kegiatan penelitian pada siklus yang kedua mulai pertemuan pertama dan kedua yang dilakukan oleh guru kelas III yaitu Ibu Emi Wulandari,A.Ma.Pd didapatkan hasil sebagai berikut : 1) Hasil observasi aktivitas guru Dari lembar observasi yang ada pada lampiran, dapat dilihat bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran terjadi peningkatkan dari siklus sebelumnya. Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru adalah sebagai berikut : a) Proses pembelajaran yang dilakukan sudah baik sekali sesuai tujuan pembelajaran yang disusun dalam RPP. b) Sumber belajar yang digunakan sudah baik, di mana guru tidak hanya mengacu pada satu buku saja. c) Pemberian contoh penggunaan alat peraga sudah baik dan telah menyeluruh kepada semua siswa, tanpa mengabaikan siswa yang kurang aktif. d) Alat peraga sudah baik sekali dan sesuai dengan materi pembelajaran yaitu penjumlahan bilangan bulat. e) Alat peraga yang telah diubah dengan menambah bilangannya menjadi positif 15 dan negatif 15 dapat menarik perhatian semua siswa. Dengan rentang bilangan yang cukup panjang siswa dapat menggunakan alat peraga tersebut dengan variasi bilangan yang lebih banyak. f) Tes yang dilakukan sudah baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam RPP. g) Penilaian yang dilakukan sudah baik berdasarkan hasil kemampuan masing-masing siswa. Rata-rata skor penilaian aktivitas guru pada siklus II pertemuan pertama dan kedua adalah 3.36 dari 11 indikator yang masing-masing indikator dinilai dengan skor 1 (kurang), 2 (cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik) dan mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya.

2) Hasil observasi aktivitas siswa Aktivitas siswa pada siklus II selama dua pertemuan hasilnya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Peningkatan aktivitas siswa dapat dilihat dari skor penilaian lembar aktivitas siswa, pada siklus II skor penilaiannya adalah 3,3. Berikut ini adalah paparan tentang hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II yaitu : a) Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran baik sekali, siswa telah membawa perlengkapan dalam pembelajaran seperti buku pelajaran dan berbagai alat tulis. b) Semua siswa aktif sekali dalam proses pembelajaran, semua berperan aktif dalam setiap kegiatan diskusi dan tanya jawab. c) Lebih dari 60% siswa aktif menulis hal-hal yang penting dalam buku catatan. d) Antusias siswa dalam menjawab pertanyaan sudah baik, namun siswa belum begitu berani mengajukan pertanyaan. e) Ketika guru menawarkan sebuah pertanyaan yang harus diselesaikan dengan memperagakan alat peraga garis bilangan di depan kelas, siswa saling berebut untuk memperagakannya. Hal tersebut menunjukkan siswa sangta tertarik menggunakan alat peraga garis bilangan dan semakin berani dalam memperagakan alat peraga garis bilangan. f) Siswa lebih menguasai dan terampil menggunakan alat peraga garis bilangan, yang dapat dilihat dari ketepatan mereka memecahkan soal dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. g) Ada 3 orang siswa yang masih mengandalkan teman lain untuk mengerjakan baik dalam kegiatan diskusi maupun dalam

menyelesaikan tugas individual. h) Beberapa siswa mengalami kesulitan menggambarkan penjumlahan bilangan bulat ke dalam garis bilangan. 3) Hasil kemampuan siswa menjumlah bilangan bulat Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan pada siklus II diketahui bahwa pembelajaran matematika menggunakan alat peraga garis

bilangan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menjumlah bilangan bulat jika dibandingkan pada siklus sebelumnya. Data menunjukkan bahwa nilai siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebanyak 17 siswa dari jumlah 25 siswa atau 68%. Sedangkan siswa yang yang nilainya belum mencapai KKM sebanyak 8 siswa dari 25 siswa atau 32%. Sedangkan rata-rata nilai siswa pada siklus II adalah 69,2. d. Refleksi Hasil pengamatan dan hasil penilaian pada siklus kedua menunjukkan peningkatan baik dari aspek aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil kemampuan siswa. Dari sisi guru, guru lebih menguasai kelas, lebih banyak melibatkan siswa dalam proses KBM tanpa mengabaikan siswa yang kurang aktif, mampu menarik perhatian siswa, dan mampu meningkatkan semangat siswa dalam belajar dengan mengubah pembelajaran yang membosankan menjadi seperti sebuah permainan. Berdasarkan lembar pengamatan pada aspek aktivitas guru saat mengajar diketahui rata-rata skor penilaian guru meningkat dari 2,81 pada siklus I menjadi 3,36 pada siklus II dari 11 indikator yang masing-masing indikator dinilai dengan skor 1 (kurang), 2

(cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik) Sedangkan pengamatan pada aspek aktivitas siswa mengalami peningkatan, dari skor penilaian 2,6 pada siklus I menjadi 3,3 pada siklus II, sehingga dapat dikatakan siswa sudah aktif dalam pembelajaran. Siswa lebih siap mengikuti pembelajaran, tidak ada lagi kegiatan meminjam alat tulis, siswa lebih menguasai penggunaan alat peraga yang menyebabkan keberanian siswa untuk memperagakan alat peraga meningkat. Dengan penguasaan materi siswa menjadi lebih aktif menjawab setiap pertanyaan dan lebih mandiri dalam mengerjakan tugas. Namun, dalam proses pembelajaran ditemukan beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menggambarkan operasi penjumlahan ke dalam garis bilangan serta kemandirian mengerjakan tugas belum tampak pada 3 orang siswa, dalam kegiatan diskusi siswa hanya terlihat

diam dan tidak mau bekerjasama menyelesaikan soal diskusi, dan dalam tugas individual ia sering menengok jawaban temannya. Dari hasil kemampuan siswa, sebanyak 17 siswa atau 68% dari seluruh siswa kelas IV telah berhasil menyelesaikan penilaian dengan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 63). Sedangkan siswa yang yang nilainya belum mencapai KKM sebanyak 8 siswa dari 25 siswa atau 32%. Meskipun indikator kerja pada siklus II telah tercapai perlu diadakan perbaikan pada siklus berikutnya lagi. Perbaikan tetap dilakukan karena pada siklus III indikator kerja ditetapkan minimal 75% dari seluruh siswa kelas IV mencapai KKM dan pada siklus II hanya 68% yang tercapai.

3. Siklus III a. Perencanaan Berdasarkan analisis dan refleksi pada siklus II, guru sekaligus sebagai peneliti membuat perencanaan ulang untuk mengembangkan pembelajaran yang terlebih dahulu dikoordinasikan antara kepala sekolah dan observer. Pada tahap perencanaan ini, guru menyusun kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada siklus III proses pembelajaran berbeda dengan siklus sebelumnya. Sebelumnya pembelajaran dilakukan secara kelompok pada siklus III ini pembelajaran tidak dilakukan secara kelompok untuk menghindari ketergantungan siswa pada siswa lain namun cukup berdiskusi dengan teman sebangkunya. Pembelajaram lebih menekankan pada cara-cara menggambarkan operasi penjumlahan bilangan bulat ke dalam sebuah garis bilangan dengan bantuan alat peraga garis bilangan. Selain RPP, guru juga mempersiapkan lembar observasi siswa dan guru untuk mengamati jalannya proses pembelajaran pada siklus yang kedua.

b. Tindakan/ Aksi Pada siklus yang ketiga ini terdiri dari 2 kali pertemuan yaitu pada hari Jum’at 23 April 2010 dan Sabtu tanggal 24 April 2010. Pertemuan yang

pertama dengan alokasi waktu selama 2×35 menit dan pertemuan kedua selama 2×35 menit. 1) Pertemuan Pertama Pembelajaran dimulai dengan tanya jawab. Guru menanyakan : - “ Jika kita berada di titik 0 berjalan ke kanan sebanyak 12 langkah, kemudian ke kanan lagi 5 langkah, maka kita berada di titik berapa?” “ Bagaimana cara mendapatkan hasilnya” - “ Jika berada di titik 0 kemudian berjalan ke kiri sebanyak 7 langkah, kemudian berbelok ke kanan sebanyak 10 langkah, di titik berapa posisi kita sekarang ?” “ Siapa yang bisa menggambarkan ke dalam garis bilangan ?” Dari hasil jawaban siswa, guru menjelaskan tentang aturan

menggambarkan penjumlahan bilangan bulat ke dalam garis bilangan yaitu : a) Dimulai dari titik 0. b) Panah pertama/panah yang paling bawah menunjukkan bilangan yang dijumlah. Jika anak panah menuju ke arah kanan, maka anak panah tersebut menunjukkan bilangannya positif. Jika anak panah menuju ke arah kiri, maka anak panah tersebut menunjukkan bilangannya negatif. c) Panah kedua menunjukkan bilangan penjumlah dan dimulai dari ujung panah pertama. d) Hasil penjumlahan adalah bilangan yang ditunjukkan pada anak panah kedua. e) Untuk membedakan nilai bilangannya digunakan bolpoin warna dalam menggambarkan anak panak. Contoh : 8 + (-5) = 3 · Bilangan yang dijumlah adalah bilangan positif 8, maka anak panah menuju ke kanan sebanyak 8 langkah.

8

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 · Bilangan penjumlahnya adalah - 5, maka anak panah berjalan ke kiri sebanyak 5 langkah. Anak panah dimulai dari ujung panah pertama. -5 8 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 · Hasil penjumlahan adalah bilangan yang ditunjukkan pada anak panah kedua. 3 -5 8 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Maka hasil penjumlahan 8 + ( -5 ) = 3

Selanjutnya 8 orang siswa yang berpasangan dua-dua maju ke depan secara bergantian. Dua orang siswa mempunyai tugas yang berbeda, satu orang memperagakan alat peraga garis bilangan dan satu orang lainnya menggambarkannya ke dalam sebuah garis bilangan. Pasangan pertama bertugas menjumlahkan bilangan positif dengan bilangan positif, pasangan kedua bertugas menjumlahkan bilangan positif dengan bilangan negatif, pasangan ketiga bertugas menjumlahkan bilangan negatif dengan bilangan positif, dan pasangan keempat bertugas menjumlahkan bilangan negatif dengan bilangan negatif.

Siswa diberi tugas yang berisi 5 soal untuk didiskusikan dengan teman sebangkunya. Untuk membantu mengerjakan siswa boleh menggunakan alat peraga garis bilangan. Hasil jawaban siswa ditukar dengan siswa lain yang berada di bangku lainnya. Siswa menuliskan hasil jawaban di papan tulis untuk selanjutnya dilakukan pembahasan tentang hasil jawaban siswa. Pada kegiatan akhir dilakukan tes dengan memberikan 10 soal kepada siswa sekaligus diadakan pembahasan terhadap hasil jawaban masing-masing siswa. Sebelum diakhiri guru berpesan kepada semua siswa agar membawa bolpoin warna atau spidol untuk pertemuan besuk. Pembelajaran diakhiri dengan doa dan salam.

2) Pertemuan Kedua Guru memulai pembelajaran dengan berdoa, mengabsen siswa, dan mengkondisikan kelas. Guru mengecek perlengkapan siswa dengan cara siswa menunjukkan bendanya sesuai yang ditanyakan guru. Pembelajaran dimulai dengan mengulang materi penjumlahan bilangan bulat bahwa penjumlahan bilangan bulat terdiri dari penjumlahan bilangan positif dengan bilangan positif, penjumlahan bilangan positif dengan bilangan negatif, penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan positif, dan penjumlahan bilangan negatif dengan bilangan negatif. Dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai cara-cara menggambarkan penjumlahan bilangan bulat ke dalam sebuah garis bilangan dan cara cepat menyelesaikan penjumlahan bilangan bulat tanpa menggunakan alat peraga garis bilangan. Pada kegiatan inti 10 siswa maju ke depan kelas memperagakan penjumlahan bilangan bulat di depan kelas menggunakan alat peraga garis bilangan. Guru lebih mengutamakan siswa yang belum paham untuk tampil di depan kelas. Siswa lain yang berada di tempat duduknya memeragakannya dengan menggambarkan penjumlahan bilangan bulat ke dalam garis bilangan di buku tulisnya. Garis bilangan yang digambar sesuai dengan yang diperagakan siswa di depan kelas. Siswa boleh

mendiskusikan dengan teman sebangkunya. Pembahasan dilakukan setiap kali siswa selesai memperagakan dan menggambarkannya ke dalam garis bilangan. Jadi, kesalahan siswa dapat diminimalkan. Sebelum diadakan evaluasi/penilaian siswa diajak mengingat kembali materi yang dibicarakan. Guru menanyakan masih adakah kesulitan dalam materi penjumlahan bilangan bulat. Kemudian, guru bersama siswa menarik simpulan tentang materi pelajaran yang dibicarakan. Penilaian dilakukan dengan cara guru membagikan lembar evaluasi kepada masing-masing siswa untuk dikerjakan secara individual. Hasil jawaban siswa dikumpulkan di meja guru. Setelah terkumpul, guru membagikan hasil pekerjaan siswa secara acak untuk dilakukan pembahasan. Guru memberikan pujian kepada siswa yang mendapat nilai baik dan memberikan motivasi kepada siswa yang belum berhasil mendapat nilai baik. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam.

c. Observasi 1) Hasil observasi aktivitas guru Dari hasil observasi dapat dilihat aktivitas guru adalah sebagai berikut : a) Semua siswa diberi contoh menggunakan alat peraga garis dalam memecahkan masalah dengan cara mendemonstrasikan alat peraga garis bilangan di depan kelas. b) Semua siswa diberi kesempatan guru untuk menggunakan alat peraga garis bilangan. c) Ketertarikan siswa terhadap alat peraga dan penilaian yang yang dilakukan guru sangat baik sekali. d) Pada siklus III rata-rata skor penilaian aktivitas guru adalah 3,81 dari 11 indikator yang masing-masing indikator dinilai dengan skor 1 (kurang), 2 (cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik).

2) Hasil observasi aktivitas siswa Dari hasil observasi dapat dilihat aktivitas siswa adalah sebagai berikut :

a) Semua siswa membawa perlengkapan pembelajaran yang dibutuhkan. b) Siswa sangat aktif dalam proses KBM. c) Keinginan siswa mencatat hal-hal yang penting semakin meningkat. d) Siswa semakin aktif mengajukan pertanyaan dan menjawab

pertanyaan. e) Semua siswa tertarik menggunakan alat peraga dalam memecahkan masalah. f) Tidak ada lagi siswa yang takut untuk memperagakan alat peraga garis bilangan. g) Siswa sudah terampil menggunakan alat peraga garis bilangan. h) Tugas yang diberikan dikerjakan siswa secara baik sekali dan tidak ada lagi siswa yang bergantung pada siswa lain dalam mengerjakan tugas. i) Pada siklus III ini rata-rata skor penilaian terhadap aktivitas siswa mencapai 3,7 3) Hasil observasi kemampuan siswa menjumlah bilangan bulat Data menunjukkan bahwa siswa yang nilai akhirnya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebanyak 24 siswa dari jumlah 25 siswa atau 96%. Sedangkan siswa yang yang nilainya belum mencapai KKM sebanyak 1 siswa dari 25 siswa atau 4%. Rata-rata penilaian siswa pada siklus III adalah 80,8.

d. Refleksi Hasil pengamatan dan hasil penilaian pada siklus ketiga menunjukkan bahwa bahwa sebanyak 24 siswa atau 96% dari seluruh siswa kelas IV telah berhasil memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 63) dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Hasil penilaian ini menunjukkan bahwa lebih dari 75% siswa kelas IV mampu mendapatkan nilai tuntas KKM. Rata-rata penilaian pada siklus III juga meningkat yaitu 69,2 menjadi 80,8. Dengan demikian target penelitian telah tercapai. Guru telah melaksanakan proses pembelajaran dengan sangat baik, terlihat dari kemampuan guru

menarik perhatian siswa, dalam memberikan contoh kepada semua siswa tanpa membeda-bedakan siswa, dan selalu melibatkan siswa dalam menggunakan alat peraga, jadi alat peraga tidak didominasi guru. Siswa diberik kesempatan untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Jika pada siklus sebelumnya rata-rata skor penilaian aktivitas guru 3,36 maka pada siklus III meningkat 0,45 menjadi 3,81. Sedangkan pada aspek aktivitas siswa dapat dilihat dari lembar observasi, bahwa siswa semakin aktif dalam pembelajaran. Keberanian mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaa semakin baik. Jika pada siklus sebelumnya kemandirian mengerjakan tugas belum seluruhnya dimiliki semua siswa, pada siklus III siswa semakin percaya diri dan tidak bergantung lagi pada siswa lain dalam mengerjakan tugas. Dalam kegiatan diskusi dengan teman sebangku siswa terlihat aktif satu sama, saling membantu dan bekerja sama. Antusias siswa dlam menjawab setiap pertanyaan guru juga baik, terlihat siswa banyak yang mengacungkan jari untuk diberi kesempatan menjawab pertanyaan. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa

menunjukkan selalu ada peningkatan jika skor penilaian aktivitas siswa 3,3 pada siklus II pada siklus III menjadi 3,7. Dengan melihat hasil yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali dikatakan berhasil sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya.

D. Pembahasan setiap Siklus 1. Siklus I Data yang diperoleh dari penelitian siklus yang pertama adalah sebagai berikut : a. Data Nilai Penilaian Akhir Siswa Pada siklus I pembelajaran telah menggunakan alat peraga garis bilangan. Hasil yang dicapai pada siklus I terjadi peningkatan dari hasil pretest. Namun

hasil yang didapat belum sesuai dengan hasil yang diharapkan. Dari tabel daftar nilai yang ada pada lampiran dapat diketahui bahwa perolehan nilai penilaian akhir siswa pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Frekuensi Data Nilai Akhir pada Siklus I No 1 2 3 4 5 6 Rentang Nilai 40 – 47 48 - 55 56 - 63 64 - 71 72 - 79 80 - 87 Jumlah Frekuensi 2 8 2 11 0 2 25 Prosentase 8% 32 % 8% 44 % 0% 8% 100%

Dari tabel 7 di atas, maka hasil perolehan nilai akhir pada silklus I dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 40-47 sebanyak 2 orang. 2) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 48-55 sebanyak 8 orang. 3) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 56-63 sebanyak 2 orang. 4) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 64-71 sebanyak 11 orang. 5) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 72-79 sebanyak 0. 6) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 80-87 sebanyak 2 orang. Berdasarkan deskripsi tabel 7 di atas, dapat dibuat dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Grafik 2. Frekuensi Data Nilai Akhir pada Siklus I

12 10
FREKUENSI

11 8
nilai

8 6 4 2 0 2

2 0

2

40-47 48-55 56-63 64-71 72-79 80-87 RENTANG NILAI

Hasil yang diperoleh pada siklus I terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pretest. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari perolehan nilai terendah, nilai tertinggi, dan rata-rata nilai siswa. Hasil perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 8. Perbandingan Hasil Penilaian Siswa sebelum dan setelah Tindakan Siklus I Keterangan Nilai terendah Nilai tertingi Rata-rata nilai Penilaian Awal 30 80 57.2 Penilaian Siklus I 40 85 61.6

Untuk lebih jelasnya lagi, perbandingan hasil penilaian siswa sebelum dan sesudah tindakan pada tabel 8 di atas, dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
nilai terendah

80

85 61.6 57.2

40 30

tes awal siklus I

nilai tertinggi

rata-rata nilai

Grafik 3. Grafik Perbandingan Hasil Penilaian Awal dan Hasil Penilaian Siklus I Perbandingan prosentase ketuntasan belajar setelah dilakukan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: Tabel 9. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal dan sesudah Tindakan Siklus I No Keterangan Prosentase Penilaian Awal Prosentase Siklus I

1

Siswa belajar tuntas

40%

52%

Prosentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada grafik berikut :
60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Penilaian Awal Siklus I

52% 40%
Penilaian Awal Siklus I

Nilai

Grafik 4. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal dan sesudah Tindakan Siklus I

Bertolak dari tabel (7, 8,dan 9) dan grafik (2, 3, dan 4) di atas, dapat dilihat bahwa pada siklus I terjadi peningkatan prosentase ketuntasan belajar di mana sebelum tindakan hanya 10 siswa atau 40% yang mencapai KKM dan setelah diadakan tindakan jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 13 siswa atau 52%. Rata-rata nilai juga terjadi peningkatan dari 57,2 menjadi 61,6 pada siklus I. Karena hasil yang didapat belum memuaskan maka diadakan perbaikan pada siklus II.

b. Hasil Aktivitas Siswa Pengamatan terhadap aktivitas siswa menunjukkan bahwa siswa cukup aktif dalam pembelajaran, siswa cukup aktif memperhatikan penjelasan guru, siswa mempunyai keberanian untuk menjawab, beberapa siswa mempunyai keberanian dalam memeragakan alat peraga garis bilangan, dan siswa mau dan mampu membimbing temannya yang belum terampil menggunakannya. Pada siklus I rata-rata skor penilaian aktivitas siswa dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan adalah 2,6 dari 10 indikator yang masing-masing indikator dinilai dengan skor 1 (kurang), 2 (cukup/sedang), 3 (baik), dan 4 (sangat baik). Akan tetapi berdasarkan pengamatan oleh observer dan peneliti, masih ditemukan beberapa kelemahan yang teridentifikasi selama proses KBM dengan menggunakan alat peraga garis bilangan pada siklus I antara lain: a) Beberapa siswa belum terampil dalam memeragakan alat peraga garis bilangan dan hanya menggunakan alat peraga garis bilangan sebagai sebuah mainan bukan menggunakannya untuk memecahkan soal penjumlahan bilangan bulat. b) Siswa belum maksimal dalam menjumlahkan bilangan bulat berbeda tanda, yaitu bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif dan sebaliknya. c) Beberapa siswa masih belum aktif dalam pembelajaran karena tidak mendapat giliran menggunakan alat peraga. d) Beberapa siswa masih mengandalkan siswa lain untuk mengerjakan tugas.

2. Siklus II Data yang diperoleh dari penelitian siklus yang kedua dapat dideskripsikan sebagai berikut : a. Data Penilaian Akhir Siswa Dari tabel daftar penilaian yang ada pada lampiran dapat diketahui bahwa perolehan nilai akhir siswa pada siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel 10. Frekuensi Data Nilai Siswa Siklus II No 1 2 3 4 5 6 Rentang Nilai 50 – 57 58 – 65 66 – 73 74 – 81 82 – 89 90 - 97 Jumlah Frekuensi 2 9 7 4 1 2 25 Prosentase 8% 36 % 28 % 16 % 4% 8% 100%

Dari tabel di atas, maka hasil perolehan nilai akhir pada silklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 50-57 sebanyak 2 orang. 2) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 58-65 sebanyak 9 orang. 3) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 66-73 sebanyak 7 orang. 4) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 74-81 sebanyak 4 orang. 5) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 82-89 sebanyak 1 orang. 6) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 90-97 sebanyak 2 orang. Berdasarkan deskripsi di atas, dapat dibuat dalam bentuk diagram sebagai berikut:

9 8 7

9 7

Frekuensi

6 5 4 3 2 1 0
50-57 58-65 66-73 74-81

4 2 1
82-89 90-97

2

nilai

Rentang Nilai

Grafik 5. Grafik Data Nilai Akhir Siklus II Hasil penelitian penggunaan alat peraga garis bilangan dalam penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari dari penilaian awal, siklus I, siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil nilai siswa. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 11. Perbandingan Hasil Penilaian Awal, Hasil Penilaian Siklus I, dan Hasil Penilaian Siklus II Keterangan Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata nilai Penilaian Awal 30 80 57.2 Penilaian Siklus I 40 85 61.6 Penilaian Siklus II 50 95 69.2

Perbandingan hasil penilaian pada tabel 11 di atas, dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini :

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 30 40 50 75 85

95

69.2 61.6 57.2

tes awal siklus I siklus II

nilai nilai tertinggi rata-rata terendah nilai

Grafik 6. Grafik perbandingan hasil penilaian awal, hasil siklus I dan hasil siklus II

Dari grafik 6 di atas, dapat dilihat bahwa : 1) Nilai terendah yang diperoleh siswa pada penilaian awal 30, pada penilaian siklus I 40, dan meningkat lagi pada penilaian siklus II menjadi 50. 2) Nilai tertinggi yang diperoleh siswa pada penilaian awal 80, pada penilaian siklus I 85, dan meningkat lagi pada penilaian siklus II menjadi 95. 3) Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada penilaian awal 57.2, pada penilaian siklus I 61.6, dan meningkat lagi pada penilaian siklus II menjadi 69.2. Sedangkan Peningkatan prosentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 12. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal, sesudah Tindakan Siklus I, dan Siklus II

No

Keterangan

Prosentase Penilaian Awal

Prosentase Siklus I

Prosentase Siklus II

1

Siswa belajar tuntas

40%

52%

68%

Peningkatan ketuntasan belajar pada saat penilaian awal, dan setelah dilakukan tindakan siklus I, dan siklus II dapat disajikan dalam grafik seperti berikut :
70% 60% 50%

68% 52% 40%
Penilaian Awal Siklus I Siklus II

Nilai

40% 30% 20% 10% 0%

Penilaian Awal

Siklus I

Siklus II

Grafik 7. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal, sesudah Tindakan Siklus I, dan Siklus II Dari tabel 12 dan grafik 7 di atas, diketahui bahwa ketuntasan belajar sebelum tindakan adalah 40% dari 25 siswa. Pada siklus I meningkat menjadi 52% dan meningkat lagi menjadi 68% pada siklus II. b. Hasil Aktivitas Siswa Setelah dilakukan tindakan pada siklus II selama dua pertemuan hasilnya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran baik sekali, semua siswa telah membawa perlengkapan dalam pembelajaran seperti buku pelajaran dan berbagai alat tulis. Siswa lebih menguasai penggunaan alat peraga yang menyebabkan keberanian siswa untuk memperagakan alat peraga

meningkat. Dengan penguasaan materi siswa menjadi lebih aktif menjawab

setiap pertanyaan dan lebih mandiri dalam mengerjakan tugas. Semua siswa telah mempunyai kesempatan menggunakan alat peraga garis bilangan. Berdasarkan kegiatan observasi dalam proses pembelajaran ditemukan beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menggambarkan operasi penjumlahan ke dalam garis bilangan serta kemandirian mengerjakan tugas belum tampak pada 3 orang siswa, dalam kegiatan diskusi siswa hanya terlihat diam dan tidak mau bekerjasama menyelesaikan soal diskusi, dan dalam tugas individual ia sering menengok jawaban temannya. Pada siklus II rata-rata skor penilaian aktivitas siswa dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan terjadi peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 2,6 menjadi 3,3. Perbandingan hasil aktivitas siswa antara siklus I dan siklus II dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 13. Perbandingan Skor Penilaian Aktivitas Siswa pada Siklus I dan Siklus II No 1 2 Siklus I Siklus II Keterangan Nilai 2,6 3,3

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram di bawah ini :
3.5 3 2.5

3.3 2.6
Siklus I Siklus II

Nilai

2 1.5 1 0.5 0 Siklus I Siklus II

Grafik 8. Perbandingan Skor Penilaian Aktivitas Siswa pada Siklus I dan III 3. Siklus Siklus II Data yang diperoleh dari penelitian siklus yang ketiga dapat dideskripsikan sebagai berikut :

a. Data Nilai Siswa Dari tabel daftar nilai yang ada pada lampiran dapat diketahui bahwa perolehan nilai siswa pada siklus III adalah sebagai berikut: Tabel 14. Frekuensi Data Nilai Akhir Siklus III No 1 2 3 4 5 6 Rentang Nilai 60 - 66 67 - 73 74 - 80 81 - 87 88 - 94 95 - 101 Jumlah Frekuensi 2 4 11 1 3 4 25 Prosentase 8% 16 % 44 % 4% 12 % 16 % 100%

Dari tabel 14 di atas, maka hasil perolehan nilai akhir pada silklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 60 - 66 sebanyak 2 orang. 2) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 67 - 73 sebanyak 4 orang. 3) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 74 - 80 sebanyak 11 orang. 4) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 81 - 87 sebanyak 1 orang. 5) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 88 - 94 sebanyak 3 orang. 6) Siswa yang mendapatkan nilai pada interval 95 - 101 sebanyak 4 orang. Berdasarkan deskripsi di atas, dapat dibuat dalam bentuk diagram sebagai berikut:

12 10

11

Frekuensi

8 6 4 2 0 2
60-66 67-73 74-80

4 1
81-87

3

4

nilai
88-94 95-101

Rentang Nilai

Grafik 9. Grafik Data Nilai Akhir Siklus III Hasil penelitian penggunaan alat peraga garis bilangan dalam penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari dari penilaian awal, siklus I, siklus II dan siklus III menunjukkan adanya peningkatan hasil nilai siswa. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 15. Perbandingan Hasil Penilaian Awal, Hasil Penilaian Siklus I, Hasil Penilaian Siklus II, dan Hasil Penilaian Siklus III Keterangan Penilaian Awal Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata nilai 30 75 57.2 Penilaian Siklus I 40 85 61.6 Penilaian Siklus II 50 95 69.2 Penilaian Siklus III 60 100 80.8

Perbandingan hasil penilaian siswa dari sebelum tindakan dan setelah tindakan selama tiga siklus dapat dilihat pada grafik di bawah :
100 80 60 40 20 0
nilai terendah nilai tertinggi rata-rata nilai

80 50 60

85

95

100 80.8 69.2 61.6 57.2

tes awal siklus I siklus II siklus III

30

40

Grafik 10. Grafik Perbandingan Hasil Penilaian Awal, Hasil Penilaian Siklus I, Hasil Penilaian Siklus II, dan Hasil Penilaian Siklus III

Dari grafik 10 di atas, dapat dilihat bahwa : 1) Nilai terendah yang diperoleh siswa pada penilaian awal 30, pada penilaian siklus I 40, pada penilaian siklus II 50, dan meningkat lagi pada penilaian siklus III menjadi 60. 2) Nilai tertinggi yang diperoleh siswa pada penilaian awal 80, pada penilaian siklus I 85, pada penilaian siklus II 95, dan meningkat lagi pada penilaian siklus III menjadi 100. 3) Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada penilaian awal 57.2, pada penilaian siklus I 61,6, pada penilaian siklus II 69.2, dan meningkat lagi pada penilaian siklus II menjadi 80.8. Pada siklus III terjadi peningkatan ketuntasan belajar siswa. Peningkatan ketuntasan belajar dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 16. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal, sesudah Tindakan Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Prosentase No Keterangan Penilaian Awal Prosentase Siklus I Prosentase Siklus II Prosentase Siklus III

1

Siswa belajar tuntas

40%

52%

68%

96%

Peningkatan ketuntasan belajar pada saat penilaian awal, dan setelah dilakukan tindakan siklus I, siklus II, dan siklus III dapat disajikan dalam grafik seperti berikut :

100% 80%

96% 68% 40% 52%
Penilaian Awal Siklus I Siklus II Siklus III Penilaian Awal Siklus I Siklus II Siklus III

Nilai

60% 40% 20% 0%

Grafik 11. Perbandingan Ketuntasan Belajar Penilaian Awal, Sesudah Tindakan Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Berpijak dari tabel 16 dan grafik 11 di atas, ketuntasan belajar sebelum dilakukan tindakan adalah 40%. Pada siklus I ketuntasan belajar menjadi 52%. Pada siklus II meningkat menjadi 68% dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 96%.

b. Hasil Aktivitas Siswa Secara keseluruhan siswa sangat aktif dalam proses KBM, suasana kelas tampak kondusif tidak ada siswa yang ramai. Suasana kondusif terlihat mulai pembelajaran sampai pembelajaran berakhir. Semua siswa aktif memperhatikan penjelasan guru dan segera mengerjakan tugas yang diberikan. Banyak siswa yang mengangkat tangan untuk berebut menjawab pertanyaan. Siswa tidak takut lagi untuk memberikan tanggapan tentang hasil kerja teman lainnya dan berani bertanya tentang materi yang belum jelas. Hampir semua siswa berantusias untuk memperagakan alat peraga di depan kelas. Jika pada siklus sebelumnya ada beberapa siswa yang masih mengandalkan siswa lain dalam mengerjakan tugas, pada siklus III semua siswa sudah mengerjakan tugas secara mandiri. Tugas-tugas yang diberikan dikerjakan secara tepat waktu jadi tidak ada waktu yang terbuang. Dalam kegiatan diskusi siswa saling mengemukakan pendapat satu sama lain, tidak ada tugas yang didominasi oleh salah satu siswa, semua tugas diskusi dikerjakan bersamasama. Pada siklus III rata-rata skor penilaian aktivitas siswa dalam

pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan terjadi peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 2,6 pada siklus I, menjadi 3,3 pada siklus II dan pada siklus III terjadi peningkatan. Perbandingan hasil aktivitas siswa antara siklus I, siklus II dan siklus III dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 17. Perbandingan Skor Penilaian Aktivitas Siswa pada Siklus I, Siklus II dan Siklus III No 1 2 3 Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan Nilai 2,6 3,3 3,7

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram di bawah ini :
4 3.5 3 Nilai 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Siklus I Siklus II siklus III
2.6 3.3 3.7

Siklus I Siklus II siklus III

Grafik 12. Perbandingan Skor Penilaian Aktivitas Siswa pada Siklus I, Siklus II dan Siklus III

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Melihat hasil pembahasan setiap siklus, maka dapat dijelaskan bahwa kemampuan siswa dalam menjumlah bilangan bulat setelah mendapatkan

pembelajaran dengan menggunakan alat peraga garis bilangan secara intensif pada siklus pertama, kedua dan ketiga menunjukkan bahwa selalu ada peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan prosentase ketuntasan siswa yang selalu meningkat pada setiap siklusnya. Hasil pretest yang diberikan pada pratindakan diperoleh hasil sebanyak 10 atau 40% siswa yang berhasil memperoleh nilai sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 63). Tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan alat peraga garis bilangan dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat. Pada siklus yang pertama, diperoleh hasil sebanyak 13 atau 42% dari 25 siswa yang berhasil memperoleh nilai tuntas. Sedangkan pada siklus yang kedua diperoleh hasil sebanyak 17 atau 68% dari 25 siswa yang berhasil memperoleh nilai tuntas. Pada siklus ketiga diperoleh hasil sebanyak 24 atau 96% dari 25 siswa yang berhasil memperoleh nilai tuntas. Rata-rata penilaian juga mengalami penigkatan, sebelum tindakan rata-rata nilai siswa kelas IV materi penjumlahan bilangan bulat hanya 57,2 maka setelah diadakan tindakan selama tiga siklus rata-rata nilai menjadi 61,6 pada siklus I, meningkat menjadi 69,2 pada siklus II dan 80,8 pada siklus III. Hasil pengamatan pada aspek aktivitas siswa pada saat pembelajaran diperoleh hasil bahwa selalu ada peningkatan aktivitas siswa setelah penggunaan alat peraga garis bilangan pada mata pelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat. Aktivitas siswa tersebut yaitu : 1. Siswa selalu siap untuk memulai pembelajaran, kesiapan tersebut terlihat dari segala perlengkapan yang dibawa siswa. 2. Siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. 3. Banyak siswa yang mengangkat tangan mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. 4. Siswa semakin berani memperagakan alat peraga. 5. Tugas individu atau tugas kelompok terlaksana dengan baik. 6. Kemandirian siswa mengerjakan tugas meningkat. Rata-rata skor penilaian aktivitas siswa selalu meningkat. Pada siklus yang pertama diperoleh rata-rata skor penilaian keaktivan siswa adalah 2,6 pada

siklus yang kedua meningkat menjadi 3,3 dan pada siklus yang ketiga rata-rata skor penilaian keaktivan siswa meningkat lagi menjadi 3,7. Berpijak dari uraian di atas, menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga garis bilangan dalam penjumlahan bilangan bulat dapat meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat dan meningkatkan aktivitas siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali saat pembelajaran.

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat dibuat simpulan sebagai berikut:

1. Bahwa kemampuan menjumlah bilangan bulat dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga garis bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali. Peningkatan tersebur dapat dilihat dari : a) Rata-rata nilai matematika hasil penilaian akhir pada siklus I sebesar 61.6, pada siklus II sebesar 69.2 dan pada siklus III sebesar 80.8. Sehingga terdapat kenaikan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II. b) Prosentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I menunjukkan angka sebesar 52% (13 siswa dari jumlah 25 siswa tuntas dalam belajarnya), pada siklus II prosentase ketuntasan sebesar 68% ( 17 siswa dari jumlah 25 siswa tuntas dalam belajarnya dan pada siklus III prosentase ketuntasan sebesar 96% ( 24 siswa dari jumlah 25 siswa tuntas dalam belajarnya. Dengan demikian terdapat peningkatan ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II dan siklus II ke siklus III.

2. Bahwa aktivitas siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali pada saat pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. Rata-rata skor penilaian lembar pengamatan siswa meningkat dalam setiap siklusnya. Pada siklus yang pertama diperoleh rata-rata skor penilaian keaktivan siswa adalah 2,6 pada siklus yang kedua meningkat menjadi 3,3 dan pada siklus yang ketiga rata-rata skor penilaian keaktivan siswa meningkat lagi menjadi 3,7.

3. Cara penerapan alat peraga garis bilangan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika materi penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 adalah dengan memberikan demontrasi tentang penggunaan alat peraga garis bilangan, kemudian diterapkan model diskusi kelompok dalam pembelajaran dengan alat peraga garis bilangan, serta mempresentasikan mengenai cara menggunakan alat peraga garis bilangan dalam memecahkan masalah. Terdapat beberapa kendala yang 98 dihadapi dalam

penggunaan alat peraga garis bilangan untuk meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat. Misalnya, belum semua siswa mendapat giliran menggunakan alat peraga garis bilangan, aktivitas siswa kurang,

ketergantungan beberapa siswa dengan siswa yang pandai dalam mengerjakan tugas, dan masih kurangnya ketuntasan belajar siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari. Cara mengatasi kendala penerapan alat peraga garis bilangan untuk meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri Tanjungsari Banyudono Boyolali Tahun Ajaran 2009/2010 adalah guru harus terampil dalam menerapkan alat peraga garis bilangan diantaranya adalah: a) Pembentukan kelompok kerja yang heterogen/ campuran untuk mengatasi kendala kurang membaurnya siswa dalam mengerjakan tugas kelompok. b) Memperhitungkan jumlah siswa dengan alat peraga, agar setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memperagakan alat peraga. c) Meningkatkan keaktivan siswa dengan cara menunjuk siswa yang kurang aktif untuk memperagakan alat peraga garis bilangan di depan kelas. d) Pemberian batasan waktu dalam mengerjakan tugas, untuk mengurangi kegaduhan kelas. e) Penambahan motivasi untuk mengatasi ketidakberanian siswa dalam bertanya. B. Implikasi

Penerapan pembelajaran dan prosedur dalam penelitian ini didasarkan pada pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika. Alat peraga yang dipakai dalam penelitian ini adalah alat peraga garis bilangan. Prosedur penelitiannya terdiri dari 3 siklus. Siklus 1 dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 9 April 2010 dan Sabtu 10 April 2010. Siklus II dilaksanakan pada hari Jum’at 16 April 2010 dan Sabtu 17 April 2010. Siklus III dilaksanakan pada hari Jum’at 23 April 2010 dan Sabtu 24 April 2010 Adapun indikatornya adalah : (1) Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, (2) Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat positif

dengan negatif, (3) Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif, (4) Melakukan operasi penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikemukakan implikasi teoretis dan implikasi praktis hasil penelitian sebagai berikut: 1. Implikasi Teoritis Implikasi teoretis dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan kemampuan menjumlah bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan. Penelitian tersebut juga dapat dipertimbangkan untuk menambah alat bantu pembelajaran bagi guru dalam memberikan materi pelajaran siswa. Hasil penelitian ini memperkuat teori yang menyatakan bahwa kegunaan dari alat peraga garis bilangan diantaranya adalah memberikan penanaman konsep tentang letak suatu bilangan bulat pada garis bilangan dan konsep penjumlahan dua bilangan bulat melalui peraga dengan pendekatan gerak. Dengan alat peraga garis bilangan diharapkan pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami anak dan dapat menarik perhatian siswa.

2.

Implikasi Praktis Berdasarkan simpulan dan data-data temuan hasil penelitian terbukti bahwa kemampuan menjumlah bilangan bulat dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. Maka hasil penelitian dapat diimplikasikan sebagai berikut: a) Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang penelitian tindakan kelas, sehingga dapat memotivasi guru dan peneliti lain untuk melakukan penelitian sejenis dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. b) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan yang tepat dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika konsep penjumlahan bilangan bulat di sekolah dasar dan pelajaran lain pada umumnya. c) Menunjukkan pentingnya sebuah alat peraga dalam pembelajaran yang sudah terbukti menurunkan keabstrakan suatu konsep dan dapat

menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas siswa dan meningkatkan kemampuan siswa.

C. Saran

Berdasarkan

simpulan

hasil

penelitian

di

atas,

maka

peneliti

menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar dalam usaha kita meningkatkan mutu pendidikan. Adapun saran-saran yang peneliti sampaikan sebagai berikut: 9. Kepada Siswa a) Peserta didik hendaknya dapat berperan aktif dengan menyampaikan ide atau pemikiran pada proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar sehingga memperoleh kemampuan yang optimal. b) Untuk mempelajari operasi bilangan bulat lainnya, gunakan alat peraga garis bilangan. 10. Kepada Guru a. Dalam pembelajaran konsep bilangan bulat hendaknya guru memilih dan menggunakan alat peraga garis bilangan sehingga konsep yang dibelajarkan pada siswa tidak bersifat abstrak. Di samping itu, guru sebaiknya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. b. Dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat peraga garis bilangan hendaknya guru meningkatkan intensitas dan kontinuitas dalam aktifitas peragaan agar konsep yang dibelajarkan dapat diterima siswa dengan mudah. 11. Kepada Sekolah a. Hendaknya lebih memotivasi guru untuk senantiasa meningkatkan kinerjanya dan mengirim guru ke beberapa forum ilmiah, seperti seminar, lokakarya, workshop, penataran, dan diskusi ilmiah agar wawasan guru bertambah luas dan meningkat pemahamannya tentang pendidikan dan pengajaran yang menjadi tugas pokoknya.

b. Hendaknya sekolah menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan alat peraga yang lebih inovatif.

DAFTAR PUSTAKA

Amir. 2007. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah.Surakarta : UNS Press Anis Nurdiana Rohmi. 2010. Skripsi “Peningkatan Hasil Belajar Operasi Penjumlahan Bilangan Bulat Melalui Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) Pada Siswa Kelas V SDN Bumiayu 01”. Universitas Malang Bobrow, Jerry. 2004. Matematika Dasar dan Pra-Aljabar. Pakar Raya. Bandung Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2003. Model Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Depdiknas

Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Aneka Ilmu Evi Rine Hartuti, Miyanto, dan Rina Dyah Rahmawati. 2007. Ensiklopedi Matematika 1. Yogyakarta: Empat Pilar Pendidikan Fitriyah dan Abu Bakar. 2008. Cara Asyik Belajar Matematika Melalui Film Animasi Edukasi Matematika Bagi Siswa SD. Semarang : Ghyyas Putra Hariwijaya. 2009. Meningkatkan Kecerdasan Matematika.Yogyakarta : Tugu Publisher Ika Tanti Arsih. 2006. Tugas Akhir “Pengaruh Layanan Bimbingan Belajar Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Mengerjakan Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat pada Siswa Kelas V SD Negeri Karanganyar 02 Kecamatan Tugu Kota Semarang”. Universitas Negeri Semarang Iskandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Cipayung: Gaung Persada Miles dan Michael Huberman. 1992 . Analis Data Kualitatif. Jakarta : UI Press Muhammad Mukhdor. 2009. Skripsi “Pemanfaatan Media Keping Berwarna untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Kelas IV di SDN Petung II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan”. Universitas Malang. Nana Sudjana. 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Nyimas Aisyah, dkk. 2007 . Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Departemen Pendidikan Nasional Retno Winarni. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Salatiga : Widya sari Press Ruminiati. 2007. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Departemen Pendidikan Nasional Ruseffendi. 1992. Pendidikan Matematika 3. Jakarta : Depdikbud Sukayati dan Agus Suharjana. 2009. Pemanfaatan Alat Peraga Matematika Dalam Pembelajaran Di SD . Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Sumadi Suryabrata. 2002. Psikologi Pendidikan.Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada St. Negoro dan b. Harahap. 1998. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia Untoro J. 2006. Buku Pintar Matematika SD. Jakarta: Wahyu Media Yati Sri Mulyati, Ati Rohaeti, dan D.Sulistyo. 2005. Intisari Matematika SD.Bandung: Pustaka Setia . 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) untuk Satuan Pendidikan Dasar SD / MI. Jakarta : BP. Cipta Jaya (http/www.sms-anda.com/indonesia/kamus/indonesia-gratis lengkap) diunduh 22 Mei 2010. ( http:// karya-ilmiah.um.ac.id) diunduh 22 Mei 2010 (http://translate.google.co.id/translate?hl=iddanlangpair=en|iddanu=http://ardic tionary.com/Ability/293) diunduh tanggal 1 Maret 2010 (http://translate.google.co.id/translate?hl=iddanlangpair=en|iddanu=http://adve rtt.com/definition/meaning-of-ability) diunduh tanggal 1 Maret 2010 ( http://one.indoskripsi.com/node/8018 ) diunduh tanggal 1 Maret 2010 (http://karmawati-yusuf.blogspot.com/2008/12/1-hakikat-matematika.html) diunduh tanggal 1 Maret 2010 (http://www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/ ) diunduh tanggal 1 Maret 2010. http://opi.110mb.com/faraidweb/2_DasarMatematika.htm) diunduh 22 Mei 2010. ( http//wapedia.Mobi/id/angka) diunduh tanggal 15 Februari 2010.

(http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/06/01/validitas-dan-reliabilitas/) diunduh 1 Maret 2010. (http://id.wikipedia.org/wiki/penjumlahan) diunduh 22 Mei 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->