BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Mutu pelayanan kesehatan khususnya keperawatan di rumah sakit dapat dinilai melalui beberapa indikator. Salah satunya adalah penelitian terhadap upaya pengendalian infeksi nosokomial menjadi tolak ukur mutu pelayanan suatu rumah sakit dan menjadi standar penilaian akreditasi (Handiyani,1999) Infeksi nosokomial merupakan infeksi akibat transmisi organisme patogen kepasien yang sebelumnya tidak terinfeksi yang berasal dari lingkungan rumah sakit. Sampai saat ini infeksi nosokomial masih merupakan problem serius yang dihadapi oleh rumah sakit di seluruh dunia terutama di negara berkembang. Di Amerika Serikat ada 20.000 kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial, dan menghabiskan biaya lebih dari 4.5 miliar dolar pertahun (Smeltzer, 2001) Dari literatur dapat dilihat betapa seriusnya masalah ini di amerika: Angka kejadian infeksi nosokomial rata-rata 6%; rata-rata tambahan hari rawat adalah 4 hari, dengan tambahan biaya $ 1.800 per kejadian infeksi. Angka kematian infeksi nosokomial mencapai 60.000 pertahun dengan pengeluaran biaya pelayanan tambahan $ 4 miliard pertahun (Medical care journal,juli 1988,26:7) Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit adalah peningkatan pengetahuan dan pengalaman bekerja sebagai petugas kesehatan dalam menerapkan metode Kewaspadaan Universal (Universal Precautions) yaitu semua upaya pencegahan penularan infeksi atau penyakit di unitunit pelayanan kesehatan, yang kegiatan utamanya antara lain mencuci tangan untuk mencegah infeksi silang, pemakaian sarung tangan ,dan alat pelindung lain (seperti masker, kacamata pelindung, dll) untuk mencegah kontak dengan darah dan cairan infeksius yang lain, pengelolaan jarum

1

dan alat tajam lain untuk mencegah perluaan, pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.(http://www.who.int,M.Yusran.2010) Di Indonesia, pengalaman di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa dengan mengendalikan infeksi nosokomial pada Infeksi Luka operasi (ILO) dapat dihemat biaya: hari rawat = 552hari, biaya Rp.136.000.000,- 1987 : hari rawat = 416 hari, biaya Rp.2000.000,- . (http//:www.infeksi.com,Sriwidodo.2010) Di indonesia penelitian yang dilakukan oleh Robert Utji (2004), di sebelas rumah sakit di DKI Jakarta, menunjukkan bahwa 9,8% pasien dirawat inap mendapat infeksi baru selama dirawat. Hasil penelitian Simanjuntak (2000), yang berjudul upaya perawt dalam pencegahan infeksi nosokomial pneumonia pada pasien yang menggunakan ventilator di intensiv car unit dalam tindakan mencuci tangan dan pelaksanaan prosedur trakeal tube di rumah sakit St Boromeus bandung dengan hasil penelitian pada prosedur mencuci tangan secara aseptik sebelum melakukan tindakan penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan dengan kuman yang berasal dari pasien. Infeksi yang berasal dari petugas juga berpengaruh pada mutu pelayanan (Nurmatono,2005) Infeksi nosokomial mempunyai angka kejadian 2-12% (rata-rata 5%) dari semua penderita yang dirawat di rumah sakit. Angka kematian 13% dari semua kasus yang dirawat di rumah sakit di USA 1,5 juta per tahun dan meninggal 15.000 orang. Kennedy menyebut ICU sebagai “hutan epidemiologis” meliputi karena begitu banyaknya (13%), S. organisme Aureus yang (12%), berkembang di unit tersebut. Organisme utama yang menyebabkan infeksi nosokomial P.Aeruginosa Staphyloccoccus koagulase-negatif (10%), Candida (10%), Enterococci (9%) dan Enterobacter (8%). Dilakukan penelitian pola kuman dan uji kepekaan di RSUD Dr. Moewardi, dengan besarnya sampel dalam penelitian pola kuman yang berasal dari spesimen darah (n=78) kuman yang tumbuh 58%, sedangkan dari spesimen sputum (n=133) kuman yang tumbuh 45% dan dari spesimen urin (n=73) yang tumbuh 44% . (AGuntur H, 2007)

2

7 hari. dalam buku pedoman pengendalian infeksi nasokomial di rumah sakit.Irc-kmpk. disamping pihak rumah sakit juga akan mengelurkan biaya lebih besar. Yusran.06%. mengigat nilai-nilai budaya masyarakat indonesia dimana nilai-nilai kekerabatan yang tinggi kemungkinanya sanak saudara.2008). (Agus marwoto. Ini berarti pasien membayar lebih mahal dan dalam kondisi tidak produktif.95%. Sedangkan angka pariasi inos di seluruh dunia adlah 3-21%. kerabat dan lain-lain juga menjadi masyarakat tambahan untuk rumah sakit yang perlu dipikirkan karena hal ini besar kemungkinanya akan menambah kejadia infeksi nosokomial. Sehingga angka inos di RSUP Dr Sarjito dianggap masi dalam rentang nilai normal atau kriteria baik.infeksi nosokomial. Angka ini dilaporkan oleh WHO dari surpei di Rs di 14 negara pada tahun 1986. Kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pasien akan tetapi akan menjadi penyebab penting pasien dirawat lebih lama di rumah sakit. Untuk rerata lama perawat berkisar antara 4.Sementara indikator pelayanan rawat inap lainya yaitu LOS yang tergolong cukup tinggi 9 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruangan perawat mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.3 – 11. dengan rata-rata keseluruhan 4.ugm. 2007) Nilai kinerja SDM perwat dalam mengendalikan Inos didapatkan rerata 85.2 hari dengan rata-rata keseluruhan 6.0% hingga 12.ac. di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0.96 yaitu kriteria nilai sangat baik.M. Dari hasil studi deskriftif Suwarni. Data awal penelitian ini diperoleh nilai inos RSUP Dr Sarjito Yogyakarta tahun 2005 sebesar 7.2001) Infeksi nosokomial merupakan infeksi banyak terjadi pada penderita yang di rawat di rumah sakit dan merupakan penyebab kesakitan dan kematian terutama pada penderita dengan 3 .26%. (http://www. Sriwidodo.com. Lama pasien dan kelurga tinggal di rumah sakit juga akan menambah kontribusi kejadian infeksi nosokomial. (http://www.

Untuk itu sangatlah penting bagi tenaga perawat untuk memiliki pengetahuan tentang upaya pencegahan penularan infeksi pada setiap tindakan. dari luka post positif. dan lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial. RS. yang ditunjang oleh tenaga medis dan non medis. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan tingkat pendidikan. Berdasarkan hal tersebut diatas. tingkat pendidikan. dan lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial Rs Pelamonia Makassar?” 1. dan lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di RS Pelamonia Makassar. Seperti kita ketahui rumah sakit merupakan lingkungan yang sangat berpotensi dalam hal penularan penyakit infeksi.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut diatas tingkat memberikan dasar bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Apakah ada hubungan antara pendidikan.immunocompromised. Dimana sebagaian besar merupakan tenaga perawat. infeksi saluran nafas dan infeksi sistem saluran cerna dan tidak menutup kemungkinan jenis infeksi-infeksi lain yang didapatkan selama penderita di rawat di rumah sakit. tingkat pengetahuan. 4 . para pekerja khususnya perawat di rumah sakit mempunyai resiko yang tinggi untuk tertular infeksi dalam melaksanakan pekerjaannya. tingkat pengetahuan. Pelamonia Makassar merupakan Rumah Sakit milik pemerintah. Infeksi nosokomial banyak dijumpai pada infeksi traktusurinarius. 1. Oleh karena itu.3. Sepsis sering terjadi pada infeksi nosokomial terutama pada penderita immunocompromised dan penderita yang lama di rawat di RS.1 Tujuan Umum Untuk menggidentifikas“Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan.3 Tujuan Penelitian 1.

Untuk mengetahui hubungan antara lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial b. tingkat pengetahuan.3.3 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini merupakan salah satu sumber masukan dan informasi bagi Rumah Sakit dalam upaya pencegahan infeksi nosokimial. Bagi RS hasil penelitian ini merupakan salah satu sumber masukan dan informasi bagi Rumah Sakit dalam upaya pencegahan infeksi nosokimial 5 . b.2 Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan antar tingkat pengetahuan dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial c.3. Dapat memperkaya terutama khasanah tentang ilmu pengetahuan antara dan tingkat diharapkan dapat menjadi salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya hubungan pendidikan. Bagi peneliti sendiri merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial khususnya oleh perawat yang bekerja di Rumah Sakit. dan lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial.1. a. 1. c.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan karena jamur 9 %.1. kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor (benngkak) karena eksudasi. terapi medis invasif dan peningkatan pasien-pasien kompromais (Struelens 1999) 2. VRE (Vancomycin Resistant Enterococcus). Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan 6 . S. jamur. Namun pada era 1960-1970 justru gram negatif yang menonjol. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa mikroba patogen sebagai penyebab terbanyak adalah jenis bakteri (62 %) dimana gram negatif 41 %. Spektrum bakteri penyebab juga bervariasi dari zaman ke zaman.2 Patofisiologi Infeksi. gram positif 15 % dan gram negatif bersama positif 6 %. Pada era pra antibiotik kebanyakan penyebab infeksi ini adalah S. Enterobakter spp dan Clostridium Difficile yang disebabkan karena pemakaian masif antibiotik spektrum luas. atau protozoa. Pyogenes dan S. seperti E. Mikroba penyebab tampaknya sangat beragam. virus 8 % dan mikrobakterium 4 %. namun mayoritas adalah jenis bakteri yang bersifat patogen atau komensal. Coli.1. seperti MRSA (Methicilin Resistant S.1 DEFENISI Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar.1. virus. Gambaran klinis infeksi pasca bedah adalah : Rubor (kemerahan).1 Tinjauan Tentang Infeksi Nosokomial 2. Dewasa ini diributkan karena munculnya beberapa jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang lazim dipakai.3 Gambaran Klinis. Epidermidis. dapat jenis bakteri. Aureus.1998 Hal:531) 2. akibat maraknya pemakaian antibiotik antistafilokokus. Aureus).

Hughes dkk yang dikutip oleh Misnadiarli 1994 tentang model cara penularan. Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial maka lingkungan harus dibuat dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak didesinfeksi atau sterilkan. 4) Penularan melalui vektor yaitu penularan melalui hewan/serangga yang membawa kuman.Auto infection) Disebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat dari satu jaringan kejaringan lain. 1997. 2) Infeksi sendiri (Self infection.5 LINGKUNGAN Lingkungan tempat pelayanan kesehatan juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi mata rantai infeksi.1. 3) Penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai keudara (air borne). demam dan peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat R. Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal. hal:6) 2.1. sebagai contoh perawatan luka paska 7 .sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). 2. 3) Infeksi lingkungan (Enverenmental infection) Disebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit.4 Cara Penularan Infeksi Nosokomial 1) Infeksi silang (Cross Infection) Disebabkan oleh kuman yang didapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara langsung atau tidak langsung. Misalnya : lingkungan yang lembab dan lain-lain (Depkes RI 1995). Menurut Jemes H. ada 4 cara penularan infeksi nosokomial yaitu : 1) Kontak langsung antara pasien dan personil yang merawat atau menjaga pasien 2) Kontak tidak langsung ketika obyek tidak bersemangat/kondisi lemah operasi. dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala.

petugas harus memakai sarung tangan saat bekerja dan bila mempunyai kelainan kulit. Bila benda tajam yang melukai tadi sudah tercemar dengan darah atau tubuh maka mikroba yang ada dalam tubuh atau darah tadi dapat memasuki darah korban.1.6 RESIKO INFEKSI UNTUK PETUGAS KESEHATAN Petugas kesehatan bisa mendapat infeksi karena masuknya mikroorganisme melalui kulit dan mukosa yang tidak utuh. Mikroorganisme ditularkan dari penderita melalui sekret mukosa (sputum. Tubuh juga bisa dimasuki mikroorganisme akibat kecelakaan kerja.1.7 PENCEGAHAN Pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit merupakan tanggung jawab seluruh petugas kesehatan di rumah sakit untuk 8 . 2. misalnya terjadi luka akibat terkena benda tajam atau tertusuk jarum. Sebagian besar infeksi HIV pada petugas kesehatan terjadi akibat kecelakaan kerja seperti ini. Namun mikroba lebih mudah memasuki tubuh lewat kulit tidak utuh yang merupakan pintu masuk mikroorganisme. 2). tubuh) dan darah. 1) Kulit Beberapa bakteri juga dapat menembus kulit yang utuh. 2. Karena itu. Oleh karena itu petugas harus memakai masker bila bekerja di tempat dimana ada kemungkinan penularan lewat udara. Mikroba Mikroba bisa memasuki tubuh petugas lewat mukosa saluran nafas atau mukosa saluran cerna.sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan mikroba untuk dapat hidup dan berkembang biak di tempat tersebut. sebaiknya tidak bekerja di tempat dimana kemungkinan bisa terjadi ekspos dengan darah atau ekskreta penderita. Karena itu petugas kesehatan harus menjaga agar tidak terluka atau tertusuk jarum pada saat bekerja.

W. baik biaya yang dikeluarkan oleh pasien maupun oleh rumah sakit.mengadakan prosedur dan program yang dirancang bangun untuk menurunkan morbilitas dan mortalitas ini. Sering mengganti pipa intravena 2. Pembatasan penggunaan antibiotik 4.2 Tinjauan Tentang Tingkat Pendidikan Pendidikan menurut ensklopedia (1982) secara umum dapat diartikan sebagai perbuatan. Luhulima.1.Waiting list berkurang. . 9 . . Dengan makin bertambahnya usia seseorang maka makin komplekslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pula pengetahuannya.Pengobatan menjadi lebih cepat.Mutu pelayanan rumah sakit meningkat. Mengurangi hari rawat: . Penggunaan alat instrumentasi secara rasional 3.8 Manfaat Pencegahan Infeksi Nosokomial 1. 2001) bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik. Cuci tangan 2.Hari perawatan menjadi lebih singkat . .Tidak ada komplikasi. 2.Pasien merasa puas. Pemakaian anti biotic lebih sedikit. 4. Pengawasan terhadap pencegahan infeksi nosokomial 6. Pembatasan transfusi 5. yaitu : 1. 3. . Menurut Piaget (J. Mengurangi jumlah kunjungan. tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada umumnya menyebabkan seseorang lebih mampu menganalisa. 2. artinya proses yang didasarkan atas mekanisme biologi yaitu perkembangan sistem saraf. Teori Gibson (1994) yang menyatakan bahwa. Mengurangi biaya.

yaitu : 1. Tahu Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. dan menyatakan. pengetahuan mempunyai 6 tingkatan. Aplikasi Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. prinsip dalam konteks atau situasi lain.2. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. secara Comprehension Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. menguraikan. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum.1 Tinjauan Tentang Pengetahuan Ngatimin (2000) menjelaskan pengertian pengetahuan adalah sebagai ingatan atas berbagai bahan yang telah dipelajari dan ini mungkin menyangkut mengingat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terpenuhi dari teori.2. Misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip sekitar 10 . Selanjutnya menurut Notoatmodjo (1995). mendefinisikan. menyebutkan contoh. rumus. menyaksikan. menyimpulkan. meramalkan terhadap objek yang dipelajari. metode. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. mengamati atau belajar sejak ia lahir hingga dewasa. 3. Tetapi apa yang diberikan ialah Menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai. akibatnya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan adalah apa yang telah diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami.

waktu. Misalnya dapat menyusun. Pengetahuan tentang ilmu keperawatan sangat diperlukan agar pelayanan keperawatan yang akan diberikan pada klien mempunyai tujuan jelas dan efektif. Analisis Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponene-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. penggunaan diri. 6. merencanakan. Pengetahuan tersebut memberikan dasar konseptual dan rasional terhadap metode pendekatan yang dipilih untuk mencapai tujuan-tujuan keperawatan yang spesifik dan tepat (Dorothy. menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. mengelompokkan dan sebagainya. kemampuan komunikasi. 4. Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Menurut Diers (1981). dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. penanaman diri dan sejumlah kualitas yang lain. pengetahuan formal yang tinggi. 1997). Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. memisahkan.pemecahan masalah didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. membedakan. 5. Sintesis Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yag baru. keperawatan adalah pekerjaan yang sangat rumit karena melibatkan ketrampilan tehnik. meringkaskan. 11 . Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan.

semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena mengalami kemunduran baik fisik dan mental.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Umur Dua sikap tradisional mengenai jalannya perkembangan selama hidup. Dapat diperkiran bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia. menurut Mantra (1994). yakni : 1. semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya. Pengalaman Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang keperawatan (Jones dan Beck. baik dari orang lain maupun dari media masa. 2. khususnya pada beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya kosa kata dan pengetahuan umum. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Notoatmodjo. Pendidikan mempengaruhi proses belajar. 1993). 1996) 3. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi. Semakin tua semakin bijaksana. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun 12 .

(behavior intention). definisi. Makin tahu sesuatu maka seseorang akan lebih termotivasi untuk melakukan hal yang positif untuk dirinya. Teori Snehandu B. 1995). dalam Siagian 13 . 3. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit meliputi.Kar. (1999).2.2. 2. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatan.2 Tinjauan Tentang Lama Bekerja Semakin lama seorang berkarya dalam suatu organisasi maka semakin tinggi pula produktivitasnya . Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support). dan pencegahan infeksi nosokomial. penyebab.Juga dijelaskan bahwa ada dua perbedaan antara tenaga kerja yang masih baru dengan tenaga kerja yang masa kerjanya lama atau berpengalaman dalam menghasilkan produk.cukup cepat sejalan dengan bertambahnya usia (Malcom dan Steve. Kar mencoba mengenalisa perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari : 1. 2. makin lama masa kerja seseorang maka makin berpengalaman dan makin tinggi produktifitasnya. Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of information).3 Tinjauan Tentang Perilaku Perawat Teori menurut Roger (1994) bahwa seseorang berperilaku didasari oleh adanya pengetahuan dan kesadaran sehingga perilakunya dapat bersifat langgeng (longlasting) dan menurut Yusak (1997) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa betapa pentingnya pengetahuan seseorang untuk mengubah perilaku. 2.

5.4. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). 14 . Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation).

BAB III KERANGKA KONSEP. tingkat pengetahuan. tingkat pengetahuan. DEFENISI OPERASIONAL 3. dan lama bekerja. HIPOTESIS. dan Variabel Dependen : perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial. Yang meliputi Variabel Independen: tingkat pendidikan.1 kerangka konsep Variabel Independen : Variabel dependen: Tingkat Pendidikan p erilaku perawat terhadap Tingkat pengetahuan pencegahan infeksi nosokomial : -perilaku positif -perilaku negatif Lama bekerja Keterangan : 1.1 Kerangka Konsep Kerangka penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan. Keseluruhan variabel tersebut dapat digambarkan dalam suatu kerangka seperti yang ada dibawah ini : Bagan 3. lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial. : variabel yang diteliti 15 .

Ada hubungan antara lama bekerja pencegahan infeksi nosokomial. Ada hubungan antara tindakan keperawatan perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial.2. perawat dengan upaya 16 .2 Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau independen (Notoatmodjo. 2 Identifikasi Variabel 3. 3. 3. 2002 hal:70).3 Hipotesis pencegahan infeksi 1. Ada hubungan antara pengetahuan perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial.2. 2. Variabel dependennya adalah perilaku perawat dalam nosokomia 3. mempengaruhi variabel dependen (Nursalam & Siti hal: 41).1 Variabel Independen Variabel Independen adalah faktor yang diduga sebagai faktor yang Pariani.3 . Variabel Independennya adalah 2001 pengetahuan perawat.

tinggi= jika tingkat pendidikan perawat adalah S1 Tingkat pengeta huan perawat tentang infeksi Nosoko mial Lama bekerja perawat Pengetahuan perawat adalah tingkat pengetahuan tentang pengertian. Mencuci Kuesioner lama bekerja perawat dengan pilihan jawaban dengan tanda memberi tanda (x) silang Kriteria observasi Kuesioner atau D4 Kurang jika skor 0-7 (kode 0) Sedang jika skor 8-14 (kode 1) Baik jika skor 15-20 (kode 2) Lama bekerja Skal kurang jika = a <2 thn Lama bekerja baik jika= ≥2 thn Kurang jika `skal Ordi nal Skal a ordi nal hasil ukur Rendah= tingkat pendidikan perawat adalah atau D3 SPK jika Skal a Ordi nal 17 .1 Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif Variabel Tingkat pendidik an perawat Defenisi Operasional Pendidikan adalah formal keperawatan yang dimiliki perawat yang merupakan dasar pendidikan terakhir yang dimiliki oleh perawat yang bersangkutan mulai dari SPK sampai sarjana keperawatan Alat ukur Keseluruhan kuesioner untuk tingkatpendidikan.3. Lama bekerja adalah rentang waktu yang telah dilalui oleh perawat selama ia bekerja di semua ruangan perawatan Perilaku Rumah sakit. tingkat pengetahuan.lama bekerja sebanyak 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban dgn memberikan tanda (x) silang. penularan dan pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit. penyebab.3.

Mendesinfeksi luka dengan obat jaringan yang sudah nekrosis. dengan pilihan jawaban memberi tanda ceklis (√)positif atau skor 1-4 (kode a 0) Baik jika skor 5-10 (kode1) ordi nal desinfeksi.Menggunaka n sarung tangan.dalam upaya pencega han infeksi Nosoko mial tangan. perilaku perawat sebanyak 10 pertanyaan. BAB IV 18 . Membuka negatif.Menggunaka n alat/instrumen yang steril. Menutup luka dengan verban / balutan yang steril.

dengan jumlah populasi 72 orang.1 Desain Penelitian Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross Sectional. yaitu tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemerikasaan. 4. Adapun pertimbangan pemilihan ruang tersebut karena perawat yang bekerja sebagai perawat pelaksana. Pengambilan sampel pada penelitian ini perawat yang bertugas di ruang perawatan bedah dan ruang perawatan interna yang bersedia untuk diteliti. dimana jumlah sampel sama dengan total populasi. Lokasi : Penelitian ini akan dilaksanakan di Ruang Perawatan Bedah dan Interna RS.METODELOGI PENELITIAN 4.1 Populasi dan Sampel 4. Waktu : Penyebaran angket pada penelitian ini insya llah akan dilaksanakan pada akhir Desembe r 2010 sampai dengan estimasi sampel mencukupi.2 Populasi Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah perawat ruang perawatan bedah dan ruang perawatan interna.2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 1. 4. Penelitian ini merupakan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek . diperoleh untuk tiap ruangan sampelnya rata-rata 36 orang. yaitu sebanyak 72 orang.2. Dalam hal ini. dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).2. dengan tabel sebagai berikut: 19 .Pelamonia Makassar 2. 4.2 Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling.

Pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup yaitu pertanyaan yang jawabannya dalam angket telah disiapkan oleh peneliti sehingga responden hanya memilih alternatif jawaban sesuai keadaan yang sebenarnya. dan tingkat pendidikan terakhir. 4. Kedua kuesioner pengetahuan perawat tentang pencegahan infeksi nosokomial.1 Distribusi jumlah sampel perawat N0 1. Ketiga kuesioner lama kerja perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial.Tabel 4.3 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengelompokan data penelitian ini berupa lembar angket (kuesioner). Keempat menggunakan lembar observasi perilaku perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial.1 Pengolahan Data 20 . jenis kelamin. 2. Lembar kuesioner perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial terdiri dari 4 bagian yaitu: Pertama data demografi yang berisi identitas umur.3. Ruangan Bedah Interna Jumlah Populasi 36 orang 36 orang 72 orang Sampel 36 orang 36 orang 73 Orang 4.lama kerja.

nomor untuk pertanyaan dan variabel. 2. 4. yakni: 1. Tabulasi Data Setelah dilakukan kegiatan editing dan koding dilanjutkan dengan mengelompokkan data ke dalam suatu tabel menurut sifatsifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian. Koding Untuk memudahkan pengolahan data. dengan tingkat kemaknaan α ≤0. 3. Analisa Univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi b. Editing Pada penelitian ini setelah data terkumpul dilanjutkan dengan kegiatan editing yaitu dengan memeriksa kelengkapan data. semua data perlu disederhanakan dengan memberikan simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban. memeriksa kesinambungan data dan keseragaman data. Dalam melakukan analisa data menggunakan bantuan program SPSS 11. Analisa Data Setelah dilakukan tabulasi data.00. 21 . kemudian data diolah dengan menggunakan metode uji statistik yaitu : a. Koding dilakukan dengan memberikan kode atau nomor untuk setiap responden. Analisa Bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square.05.Adapun proses pengolahan data dilaksanakan melalui beberapa tahap.

3. Setelah itu peneliti menemui subyek yang akan dijadikan meliputi: 4. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan subyek penelitian pada perawat yang bertugas di ruang Bedah dan Interna RS Pelamonia Makassar. Pengumpulan data dengan tehnik observasi (check list) memungkinkan responden mengetahui bahwa mereka sedang diamati sehingga mereka dengan sengaja menimbulkan kesan yang dibuat-buat.4 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lembar persetujuan akan diberikan kepada setiap perawat yang menjadi subyek penelitian dan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penelitian untuk mengadakan penelitian yang akan dilakukan. serta menjelaskan akibat-akibat yang akan terjadi bila perawat bersedia menjadi subyek penelitian. Untuk itu perlu mengajukan permohonan izin kepada Direktur RS Pelamonia Makassar Propinsi Sulawesi Selatan dan izin kepala ruang perawatan penyakit Bedah dan Interna sebagai lokasi penelitian. Etika Penelitian Dalam penelitian ini.Keterbatasan Penelitian Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian adalah : Instrumen /Alat Ukur : Pengumpulan data dengan kuesioner memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud sehingga hasilnya kurang mewakili secara kualitatif. yakni STIKES Graha Edukasi Makassar. yang diajukan untuk permohonan izin kepada Institusi RS Pelamonia Makassar sebagai tempat pelaksanaan penelitian. peneliti mendapat rekomendasi dari institusi. Jika perawat bersedia responden untuk menekankan permasalahan 22 .

3.maka subyek tanda harus menandatangani Apabila lembar persetujuan bersedia sebagai bersedia.3. dan untuk mengetahui keikutsertaannya peneliti hanya menggunakan kode dalam bentuk nomor pada masing-masing lembar pengumpulan data 4. subyek tidak menjadi responden maka peneliti akan tetap menghormati hak-hak responden.6 Confidentiality Kerahasiaan informasi yang telah di dapat oleh peneliti dari responden akan dijamin kerahasiaannya. 23 . 4.5 Anonimity (tanpa nama) Nama subyek tidak akan dicantumkan pada lembar pengumpulan data. Hanya pada kelompok tertentu saja yang akan peneliti sajikan utamanya dilaporkan pada hasil riset.

Metodologi Penelitian Kesehatan. Dasar-Dasar Riset Keperawatan.(2003). Riset Keperawatan Buku Ajar & Latihan. EGC. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta. EGC. Edisi 2.(2002). Jakarta. Budiarto. Brockopp. Rineka Cipta. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. Edisi 4. Jakarta. D. Penerbit Buku Kedokteran. Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. 24 . Biostatistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. (2000).Y & Marie T Hastings-Tolsma.D.A.DAFTAR PUSTAKA Alimul. Nursalam. Soekidjo. (2002). EGC. Salemba Medika. Dempsey.(2003). Azis.A & Atrhur D. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. E. (1997). Penerbit Buku Kedokteran . EGC. P.Jakarta. Notoatmodjo. Salemba Medika. Jakarta.Jakarta. Dinah & Cristhine Brooker. (2003).

W.Ed: SeptNov. Edisi 2.J. Husein. A. Andira Publiser. PT. (2003). Pendidikan dalam Keperawatan. (2000). Mikrobiologi Medik.Raja Grafindo Persada.Ed.D.10-02-2010 http //: www. Bandung. Pengendalian Infeksi Nosokomial. Edisi 4.diakses tgl. Bagian Mikrobiologi FKUH. Riset keperawatan Sejarah Dan Metodologi. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Vol.Jakarta:EGC. Jakarta:EGC.who.Jakarta.(2004). A.17-02-2010 http //:dexa media. (2003). Ilmu Bedah. Jakarta. Jakarta: EGC.1. (2004). (2000). Smeltzer Dkk. Pratiknya. http //: www.8. Luhulima.2004. Makassar.Pengenalan Biostatistika.VPP. Sugiyono.diakses tgl.Jakarta:PPNI Patricia.Mdjid. EGC.2005.23-02-2010 PPNI. Edisi 6. Jakarta. Schwartz. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran Dan Kesehatan. Makassar.diakses. C. Pencegahan Infeksi Dan Praktik Yang Aman. Raja Grafindo Persada. Makassar.com. Baedah. No. Jakarta: EGC..W.001/PPNI/2004.tgl.(2004). Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta. EGC.infeksi. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Schaffer (2000).tgl.13-02-2010 http //:cermin dunia kedokteran. Statistika Untuk Penelitian.diakses . Potter. Sudarwan. Keperawatan Medical Bedah. (2001). Swearingen. (2001).int. Fakultas Kedokteran UNHAS. PT. Vol. 25 . Majalah Keperawatan Bina Sehat. Alphabeta. Umar. Tiro. (2003).

Apabila saudara menyetujui. tingkat pengetahuan. PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth Saudara Calon Responden Dengan hormat. Mikrobiologi & Patologi Untuk Perawatan. Jakarta. Jakarta. maka saya mohon kesediaan untuk menandatangani Lembar Persetujuan dan menjawab pertanyaan pertanyaan yang saya sertakan pada surat ini. Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi responden Kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian . dan lama bekerja dengan perilaku perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di RS. Azis Alimul Hidayat. Salemba Medika.M. Atas perhatian dan kesediaan saudara sebagai responden.Gibson. Roeshadi.1997.. Pelamonia. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. 26 . Peran Perawat Dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial. Salemba Medika. Saya yang bertandatangan dibawah ini adalah Mahasiswa Program S1 Keperawatan Stikes Graha Edukasi Makassar Makassar : Nama Nim Alamat :JUNITA :P0601004 :Tidung 3 no 70 Akan Mengadakan Penelitian Dengan Judul : "Hubungan tingkat pendidikan.2004.J.2006. Cermin Dunia Kedokteran. saya ucapkan terima kasih. Makassar".

Peneliti JUNITA 27 .

TINGKAT PENGETAHUAN DAN LAMA BEKERJA DENGAN PERILAKU PERAWAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RS.PROPOSAL PENELITIAN HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN.PELAMONIA MAKASSAR 2010 OLEH : JUNITA NIM : P0601004 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR 2010 28 .

Saya memahami penelitian ini dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi bagi peneliti dan tidak merugikan saya serta jawaban yang saya berikan akan dijaga kerahasiannya. secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun. saya berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan demikian. dan Lama Bekerja Dengan Perilaku Perawat Dalam Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial Di RS Pelamonia Makassar ". Tingkat Pengetahuan.LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN Saya yang bertandatangan dibawah ini bersedia menjadi responden dalam penelitian yang dilaksanakan oleh Mahasiswi Stikes Graha Edukasi Makassar yang bernama Junita S1 Keperawatan (P0601004) dengan judul : "Hubungan Tingkat Pendidikan. 2010 RESPONDEN 29 . Makassar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful