BUPATI BUTON UTARA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA NOMOR….

TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN 2011 - 2031 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BUTON UTARA, Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Buton Utara dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu disusun rencana tata ruang wilayah b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah, dan masyarakat maka rencana tata ruang wilayah merupakan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha. c. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No.26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, maka perlu penjabaran ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c perlu menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buton Utara dengan Peraturan Daerah. 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten di Propinsi Sulawesi Tenggara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4690); 2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 3. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Reublik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725;

Mengingat:

4.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 32,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377) 5. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

6. 7.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858)

Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2010 tentang bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang (lembaran negara tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5160);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA Dan BUPATI BUTON UTARA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN 2011 - 2031 BAB I Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Buton Utara 2. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Buton Utara 3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Kabupaten Buton Utara 4. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan kehidupannya.

KETENTUAN UMUM

6.

Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. 7. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 8. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. 9. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. 10. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. 11. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang. 12. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. 13. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya. 14. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. 15. Sistem perwilayahan adalah pembagian wilayah dalam kesatuan sistem pelayanan, yang masing-masing memiliki kekhasan fungsi pengembangan. 16. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. 17. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. 18. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. 19. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. 20. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 21. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. 22. Kawasan strategis kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan. 23. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.

Jaringan Irigasi adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk diperlukan untuk pengaturan air irigasi yang mencakup penyediaan. dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. d. pertambangan. Pengembangan kawasan pertanian yang produktif melalui sistem agropolitan yang ramah lingkungan untuk meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraan masyarakat. yang berada pada permukaan tanah. energi. 37. 25. kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat. 33. 31. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa. f. pengambilan dan pembagian. mandiri dan sejahtera yang didukung oleh sumberdaya alam bidang pertanian. pengelolaan wilayah yang memperhatikan daya dukung lingkungan. 28. DAN STRATEGI PENATAAN RUANG Bagian Kesatu Tujuan Penataan Ruang Pasal 2 Penataan ruang Kabupaten Buton Utara bertujuan untuk mewujudkan wilayah kabupaten sebagai kawasan yang maju. 27. korporasi. c. dan jalan kabel. perikanan/kelautan/pesisir dan ekowisata menuju pembangunan yang berkelanjutan. menyimpan. dan . 29. di atas permukaan tanah. 38. Pemantapan fungsi hutan. yang berfungsi menampung. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan. pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang. transportasi. Pengembangan kawasan pertambangan yang ramah lingkungan. 36. Masyarakat adalah orang. kecuali jalan kereta api. dan/atau pemangku kepentingan non pemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang. 32. 34. sumberdaya air yang dapat mendukung peningkatan dan pemerataan pelayanan masyarakat.24. g. 30. e. kehutanan. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa. Pengembangan potensi kelautan dan perikanan. telekomunikasi. Peran serta masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan.000 km2. Pusat Kegiatan Lokal Promosi yang selanjutnya disebut PKLp adalah kawasan perkotaan yang dipromosikan untuk menjadi PKL. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan-nya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. perseorangan. b. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai. di bawah permukaan tanah dan/atau air. 26. Pengembangan kawasan pariwisata yang ramah lingkungan. yang selanjutnya disebut BKPRD adalah badan bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Kabupaten Buton Utara dan mempunyai fungsi membantu tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah. Bagian Kedua Kebijakan Penataan Ruang Pasal 3 Kebijakan penataan ruang Kabupaten. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana permukiman. Pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan dengan membentuk pusat pelayanan perkotaan dan pusat pelayanan desa secara hirarki. Kawasan Pertahanan Negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk pertahanan. terdiri atas : a. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. h. BAB II TUJUAN. jalan lori. serta di atas permukaan air. Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusatpusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis. 35. daya tampung kawasan dan aspek konservasi sumber daya alam serta mitigasi bencana. KEBIJAKAN. Wilayah sungai (WS) adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.

c. c. b. energi. sumberdaya air yang dapat mendukung peningkatan dan pemerataan pelayanan masyarakat. pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dengan membentuk pusat pelayanan desa secara hierarki. Mengembangkan kawasan perkebunan yang produktif dan ramah lingkungan. terdiri atas : a. f. Memantapkan fungsi hutan rakyat sebagai fungsi produksi sekaligus fungsi lindung. e. Mengembangkan pariwisata ekologis berbasis hutan dengan keseimbangan pemanfaatan ruang yang berkelanjutan bagi suaka margasatwa. transportasi. Mengembangkan jaringan jalan dalam mendukung sistem perkotaan. f. terdiri atas : a. dan c. (3) Strategi pengembangan kawasan pertanian yang produktif melalui sistem agropolitan yang ramah lingkungan untuk meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c. Menyediakan kawasan khusus peternakan. Mengembangkan infrastruktur pendukung pertumbuhan wilayah yang terintegrasi dengan sistem jaringan jalan. Memperbaiki memperlancar transportasi dan pengiriman produk hasil peternakan. c. terdiri atas : a.i. e. penguatan/pemantapan hubungan desa/kota (rural/urban linkage) melalui pemantapan sistem agropolitan dan minapolitan. Mempertahankan fungsi hutan lindung sebagai pendukung sistem penyangga kehidupan . terdiri atas : a. Meningkatkan sistem g. dan dan d. g. Meningkatkan sistem sarana an prasarana pengelolaan lingkungan. Mengembangkan stasiun dan rest area di langere/lambaki Mengoptimalkan dan mengembangkan pembangkit listrik. d. d. mendorong pertumbuhan dan pemerataan wilayah. Meningkatkan jangkauan pelayanan telekomunikasi secara optimal. telekomunikasi. peningkatan skala pelayanan pusat permukiman perdesaan. Mengembangkan sistem angkutan umum secara lebih merata di seluruh kabupaten. (2) Strategi Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana permukiman. i. dan e. Mengembangkan kawasan peruntukan industri berbasis agro yang ramah lingkungan Meningkatkan produksi sektor peternakan melalui sistem penyediaan sarana produksi dan pemasaran yang lebih baik. b. h. pengembangan sistem pusat permukiman perkotaan dengan membentuk hierarki perkotaan dan perwilayahan. Mengoptimalkan dan mengembangkan sistem jaringan penyebrangan/ alur laut terutama wlayah perkotaan yakni jalur ngapaea-langere/lambaki-ereke. Bagian Ketiga Strategi Penataan Ruang Pasal 4 (1) Strategi pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan berkotaan dengan membentuk pusat pelayanan perkotaan dan pusat pelayanan desa secara hirarki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a. dan jaringan transmisi tenaga listrik. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b. (4) Strategi pemantapan fungsi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d. b. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara. pemerataan pembangunan dan mendorong pertumbuhan wilayah di seluruh wilayah perkotaan Buranga. b. Mengembangkan kawasan pertanian yang produktif melalui sistem agropolitan yang ramah lingkungan untuk meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraan masyarakat. sumberdaya energi pembangkit listrik. Mempertahankan Kabupaten sebagai lumbung padi di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan cara mempertahankan luasan lahan sawah beririgasi di Kabupaten. jaringan sumber daya air.

mempertahankan tatanan yang telah ada. Mengembangkan sistem mina padi. hutan rakyat. Mencegah galian liar terutama pada kawasan yang membahayakan lingkungan. mewajibkan pemegang izin usaha pertambangan untuk melakukan reklamasi area penambangan. ekonomi dan sosial bila akan dilakukan kegiatan penambangan pada kawasan tambang bernilai ekonomi tinggi yang berada pada kawasan lindung atau permukiman. Mengamankan daerah hulu dari erosi akibat terkikisnya lapisan tanah oleh air hujan. f. b. mengupayakan pembangunan mengikuti kontur alam. Mempertahankan fungsi hutan lindung. dan d. budidaya perikanan melalui sistem keramba. dan k. Mengembangkan Mengembangkan produksi perikanan tangkap melalui dukungan sarana produksi perikanan tangkap. Menetapkan zona aman dari rawan gerakan tanah dan longsor. terdiri atas : a. atau kawasan budidaya lain pada area bekas penambangan. ekonomi dan sosial untuk setiap kegiatan pertambangan. d. c. dan penghijauan pada daerah-daerah gundul. dengan cara menghindari kegiatan pembukaan lahan (land clearing) pada musim hujan. b. g. menghindari aliran permukaan terbuka yang memotong kontur.(5) Strategi pengembangan kawasan pertambangan yang ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf e. dan perkebunan tanaman keras sebagai daerah tangkapan air. b. Menghindari kawasan rawan gerakan tanah dan longsor sebagai kawasan terbangun. sistem pengolahan hasil perikanan (diversifikasi). e. kemitraan dengan masyarakat dalam pengembangan budidaya perikanan. Meningkatkan pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian hutan lindung e. Mengembalikan rona alam melalui pengembangan kawasan lindung. Mengembangkan obyek wisata andalan prioritas. Meningkatkan sarana dan prasarana wisata yang ada di masing-masing objek wisata. c. pemeliharaan). d. Meningkatan nilai ekonomis hasil pertambangan melalui pengolahan hasil tambang. h. penghijauan. h. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf h. Melindungi kawasan sekitar mata air dan mengutamakan penanaman vegetasi yang memberikan perlindungan mata air. b. Melakukan kajian kelayakan ekologi dan lingkungan. Membatasi kegiatan yang tidak berkaitan dengan perlindungan sempadan sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air. terdiri atas : a. terdiri atas : a. i. j. Menyediakan jalurjalur dan lokasi evakuasi bencana . Memelihara kualitas waduk dan sungai untuk pengembangan perikanan darat. Mengembangkan kawasan wisata pesisir Bonelipu dan Mambuku. baik selama maupun setelah kegiatan penambangan berakhir. terdiri atas : a. hutan produksi. Melakukan rehabilitasi hutan (reboisasi. d. Membentuk zona wisata dengan disertai pengembangan paket wisata. (8) pengelolaan wilayah yang memperhatikan daya dukung lahan. fasilitas pembenihan ikan untuk mendukung ketersediaan bibit bagi petani ikan. kondisi fisik sungai dan alirannya. dan f. (7) Strategi pengembangan kawasan pariwisata yang ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf g. (6) Strategi pengembangan potensi kelautan dan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f. mewajibkan kajian kelayakan lingkungan. daya tampung kawasan dan aspek konservasi sumber daya alam serta mitigasi bencana. c. Menegakkan pola pengelolaan lingkungan kawasan pertambangan. c. g. dan Mengembangkan Mengembangkan Mengembangkan mendorong peningkatan investasi di bidang pengolahan perikanan yang berorientasi ekspor. dan e.

PPK. b. d. dan PPL PKLp sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. Waode Buri di Kecamatan Kulisusu Utara. b. Sistem jaringan transportasi udara. Bagian Ketiga Sistem Jaringan Prasarana Utama Pasal 7 (1) Sistem jaringan prasarana utama yang ada di Kabupaten Buton Utara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b. c. Karya Bakti di Kecamatan Kulisusu Barat. pusat-pusat kegiatan. Mata di Kecamatan Kambowa. BAB III Turut serta menjaga RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH Umum Pasal 5 Bagian Kesatu (1) (2) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Buton Utara meliputi : a. sistem jaringan prasarana lainnya. b. c. Labuan di Kecamatan Wakorumba. Labuan Bajo di Kecamatan Wakorumba. e. Laan Oipi di Kecamatan Bonegunu. dan c. Waode Angkalo di Kecamatan Bonegunu. Mengembangkan kawasan lindung dan / atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang mempunyai fungsi khusus pertahanan dan keamanan dengan kawasan budidaya terbangun. terdiri atas : a. Mengembangan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan. b. terdiri atas : a. g. Jampaka di Kecamatan Kulisusu (1) a. Patetea di Kecamatan Kulisusu Utara. c. c. Sistem jaringan transportasi laut. terdiri atas : a. terdiri atas : a. Bagian Kedua Pusat-pusat Kegiatan Pasal 6 (1) (2) (3) (4) Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Buton Utara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat huruf a.Matalagi di Kecamatan Wakorumba.dan d. e.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IB yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Perkotaan Kulisusu di Kecamatan Kulisusu PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. b. dan f. dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan negara. Kambowa di Kecamatan Kambowa. dan c. (2) Sistem jaringan transportasi digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50. Bonelipu di Kecamatan Kulisusu PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. f.(9) Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf i. Triwacuwacu di Kecamatan Kulisusu. dan h. sistem jaringan prasarana utama. d. dan b. terdiri atas : PKLp. Mendukung penetapan Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan. terdiri atas : a. b.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IA. . Sistem jaringan transportasi darat. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Rencana struktur ruang wilayah dan pusat-pusat kegiatan digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50. Perkotaan Buranga di Kecamatan Bonegunu. Lamoahi di Kecamatan Kulisusu Utara.

angka 1. 4. 2. yaitu Terminal Eelahaji yang terdapat di Kecamatan Kulisusu b. Ruas jalan Morindino – Lahumoko sepanjang kurang lebih 2. 6. Kecamatan Kulisusu Utara – Ereke. (3) (4) (5) (6) jaringan jalan kolektor primer K1 yang merupakan kewenangan nasional di Kabupaten. 12.3 km. Ruas jalan Lanosangia – Torombia sepanjang kurang lebih 23 km.6 km. 10. 13. Ruas jalan Lagundi – Pongkowulu sepanjang kurang lebih 3.3 km. Ruas jalan Lahumoko – Bubu sepanjang kurang lebih 1. 3. c. Ruas jalan Buranga – Laan Oipi sepanjang kurang lebih 11 km. terdiri atas : 1. 15. jalan lingkungan terdapat pada kawasan permukiman di semua pusat kecamatan rencana pengembangan jaringan jalan di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. jaringan lalu lintas dan angkutan jalan yang meliputi : 1. dan 16. Ruas jalan Wakansoro – Lagundi sepanjang kurang lebih 6. terdiri atas : a. Ruas jalan Lasiwa – Langkumbe sepanjang kurang lebih 28 km. Ruas jalan Ereke – Lemo sepanjang kurang lebih 7 km. angka 3 yaitu trayek angkutan penumpang dan barang. 2. terdiri atas : 1. 2. Ruas jalan Petetea – Pebaua sepanjang kurang lebih 6 km.5 km 4. Labuan – Amelingo. terdiri atas : 1. 5. Pelabuhan penyeberangan. Kecamatan Kulisusu. Terminal Ngapaea di Kecamatan Bonegunu Jaringan layanan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Ruas jalan Mata – Wakansoro sepanjang kurang lebih 4 km. Ruas jalan Buranga – Ronta sepanjang kurang lebih 8 km. dan 2. jaringan transportasi penyeberangan. 3. Ruas jalan Ronta – Maligano sepanjang kurang lebih 22 km. 8. 12. 11. 5. yaitu terdiri atas: a. 2.Paragraf 1 Sistem Jaringan Transportasi Darat Pasal 8 (1) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a.9 km. Ruas jalan Langkumbe – Eelehaji sepanjang kurang lebih 19 km Jaringan prasarana lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Ruas jalan Epe – Wa Ode Buri sepanjang kurang lebih 6 km. Ruas jalan Mata. Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. 8.5 km. Ruas jalan Lambale – Langkumbe sepanjang kurang lebih 10 km. b. 7. 6. Ruas jalan Eelehaji – Buri sepanjang kurang lebih 5. 14. terdiri atas : 1. Waode Buri. Kecamatan Bonegunu – Ereke. jaringan prasarana lalu lintas. yaitu ruas jalan Labuan (Wantulasi) – Matalagi/batas Kabupaten Muna – Maligano (Kabupaten Muna) sepanjang kurang lebih 38 km.3 km. Ruas jalan Labuan – Korolabu sepanjang kurang lebih 6 km. dan 3. Ruas jalan Pongkowulu – Kambowa sepanjang kurang lebih 3. terminal penumpang dan barang tipe C terdiri atas : 1. 7. Kendari – Lelamo (Kulisusu Utara) – Wakatobi b. Ruas jalan Pebaua – Lonosangia sepanjang kurang lebih 6 km. Ruas jalan Ronta – Lambale sepanjang kurang lebih 15 km. 10. Terminal Waode Buri di Kecamatan Kulisusu Utara. 13. Ruas jalan Epe – Petetea sepanjang kurang lebih 17 km. Ruas jalan Labuan – Torombia sepanjang kurang lebih 10 km. dan 2. terdiri atas : 1. (2) Jaringan jalan eksisting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. 11. 9.Bubu sepanjang kurang lebih 24 km. Ruas jalan Lemo – Bonorombo sepanjang kurang lebih 2 km. Terminal Ronta di Kecamatan Bonegunu. Ruas jalan Bubu – Pure sepanjang kurang lebih 13 km. angka 1 terdiri atas : a. dan 2. Pelabuhan Lelamo di Kecamatan Kulisusu Utara Paragraf 2 . Ruas jalan Wa Ode Buri – Lelamo sepanjang kurang lebih 6 km. Lintas penyeberangan. Ruas jalan Kambowa – Morindino sepanjang kurang lebih 2. Pelabuhan Labuan di Kecamatan Wakarumba. 9. jaringan jalan eksisting dan rencana. terminal penumpang dan barang tipe B. Kecamatan Kulisusu. Ruas jalan Laan Oipi – Bubu sepanjang kurang lebih 14 km. angka 2 terdiri atas : a. 3. b. Ruas jalan Eelehaji – Ereke sepanjang kurang lebih 7 km. Kota Bau Bau – Ngapaea. jaringan layanan lalu lintas. dan 4. jaringan jalan lokal primer yang merupakan kewenangan Kabupaten. Terminal Lemo di Kecamatan Kulisusu.

e. 1. terdiri atas : a. Bagian Ketiga Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Pasal 11 (1) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf c. 5. dan b. pembangkit tenaga listrik. terdiri atas : a. meliputi : a. terdiri atas : a. dan PLTMH Kioko di Kecamatan Bonegunu b. suar apung dan sarana bantu navigasi pelayaran rakyat dan mobilitas masyarakat perkotaan Buranga. Buranga – Bonegunu dan sekitarnya. Sarana pendukung pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Kecamatan Bonegunu dan Kecamatan Kambowa. tatanan kebandarudaraan. Pelabuhan Langere di Kecamatan Bonegunu. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).Pasal 9 Sistem Jaringan Transportasi Laut (1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b. c. Kecamatan Wakorumba Utara. dan c.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IC yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. sistem prasarana pengelolaan lingkungan. c. Pelabuhan Maligano di Kecamatan Wakorumba. PLTMH Waodeburi di Kecamata Kulisusu Utara. Paragraf 1 Sistem Jaringan Energi Pasal 12 (1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a. Ereke – Kota Bau Bau – Kabupaten Buton . Pelabuhan Ereke di Kecamatan Kulisusu. alur pelayaran. 2. Sistem Jaringan Transportasi Udara Pasal 10 (4) (1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf c. b. b. sistem jaringan sumber daya air. Bandar udara Pengumpan Bone Lipu di Kecamatan Kulisusu (3) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur lebih lanjut dalam peraturan perundangan. sarana pendukung pelayaran (2) Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten Buton Utara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Kecamatan Kulisusu.Kabupaten Wakatobi. PLTMH Lamoahi di Kecamatan Kulisusu Utara. 3. 4. Langere. dan d. terdiri atas : a. dan b. terdiri atas : 1. . (2) Sistem jaringan prasarana lainnya digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50. PLTMH Labuan Kecamatan Wakorumba Utara. dan Pelabuhan Lambale di Kecamatan Kulisusu Terminal khusus pertambangan di Laan Oipi. yaitu pengembangan rest area Langere/Lambaki di Kecamatan Bonegunu. (2) Tatanan kebandarudaraan di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. yang terdiri atas peningkatan infrastruktur pendukung dan pelayanan di Ngapaea. Langere – Kulisusu Barat – Tanah Merah dan sekitarnya b. yaitu alur pelayaran lokal. 2. Ereke meliputi fasilitas rest area di Langere. Kecamatan Bonegunu (3) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. 3. jaringan prasarana energi. 4. Pelabuhan Buranga di Kecamatan Bonegunu. ruang udara untuk penerbangan. terdiri atas : a. Ereke – Teluk Kulisusu dan sekitarnya d. meliputi : a. sistem jaringan energi. sistem jaringan telekomunikasi. rambu penuntun. tatanan kepelabuhanan. Buranga – Kota Bau – Bau – Kabupaten Muna. Pelabuhan pengumpan yang terdiri atas : b.

Kulisusu. Kulisusu Utara. DAS Kioko 23. Kecamatan Bonegunu. DAS Betua 12. 2. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berada dalam wilayah Kabupaten. Kulisusu. c. b.c. gardu induk tenaga listrik sebesar 20 KV yang terletak di Kecamatan Bonegunu jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV yang melintasi Kecamatan Bonegunu. DAS Ronta 17. DAS Labana 14. terdiri atas : a. Wilayah Sungai (WS) Buton yang merupakan WS lintas kabupaten/kota yang merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi. dan pembangkit listrik tenaga biogas. DAS Ramtea 13. terdiri atas : 1. terdiri atas : a. 3. DAS Orona 5. DAS Porohua 25. DAS Kalibu 10. DAS Laelu Luar 9. melayani seluruh ibukota kecamatan di (3)Sistem jaringan nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Kulisusu Utara. dan Kecamatan Wakorumba jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV. dan b. DAS Langkoroni 28. dan Kulisusu Barat Paragraf 3 Sistem Jaringan Sumber Daya Air (1) huruf c. dan e. wilayah sungai b. DAS Kapota 3. DAS Lebo 27. DAS Walue Pasal 14 Sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) . dan Kecamatan Wakorumba Paragraf 2 Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 13 (1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b. Kabupaten Buton Utara (2)Sistem jaringan kabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. terdiri atas Base Transceiver Station (BTS) di Kecamatan Bonegunu. (2) Wilayah Sungai (WS) sebagaimana dimaksud ada ayat (1) huruf a. DAS Sasana 19. sistem jaringan nirkabel. DAS Kotawo 15. DAS Poandaria 11. DAS Toau 7. DAS Kiru-kiru 18.jaringan air baku untuk air bersih. pengembangan sumber daya energi pembangkit listrik yang terdiri atas pembangkit listrik tenaga panas bumi. d. DAS Patetea 8. DAS Pebana 6. terdiri atas : a. dan b. Kulisusu. DAS Teluk Kelingsusuh 21. DAS Kanawa 2. terdiri atas : a. DAS Latambera 22. jaringan transmisi tenaga listrik yang terdiri atas : 1. yang melintasi Kecamatan Bonegunu. (3) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. DAS Motewe 26. pembangkit listrik tenaga surya. jaringan irigasi. jaringan air minum ke kelompok pengguna. DAS Hika 16. DAS Moolo 24. Depo Bahan Bakar Minyak di Laan Oipi. sistem jaringan kabel. sistem pengendalian banjir. DAS Bale 20. DAS Sibolongku 4. DAS Laea 29. pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

(3) (4) (5) (6) Laboanwajo Laboanwolio Lapipi Labiantobelo pengembangan jaringan irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas : a.Jaringan air minum di Kecamatan Kulisusu yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. bergerak dan tidak bergerak di seluruh Kecamatan. dan f. b. Daerah Irigasi (D. dam pengendali sedimen. pendayagunaan sumber daya air untuk air bersih tetap mengutamakan pemanfaatan sumber air yang berasal dari air permukaan. Kecamatan Kambowa. e. sistem jaringan air minum. bangunan terjun. membuat bangunan-bangunan pelindung tebing pada tempat yang rawan longsor. interkoneksi antar jaringan irigasi yang merupakan wewenang tanggung jawab pemerintah pusat. melakukan konservasi tanah dan air berupa terasiring.I (Daerah Irigasi) dalam pengelolaan sarana dan prasarana pengairan. d. b. Kecamatan Bonegunu sebanyak kurang lebih 1 TPST. Jaringan air minum ke kelompok pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terdiri atas : a. D. b.pemanfaatkan sumber air dengan debit diatas 100 liter/detik meliputi sumber mata air di Kecamatan Wakorumba. pemerintah provinsi. pengembangan jaringan air baku untuk air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas : a. Tempat Pengolahan Akhir Sampah (TPA) Kulisusu dengan metode Sanitary Landfill di Kecamatan Kulisusu dengan konsep reduce-reuse-recycle di sekitar wilayah sumber sampah serta melakukan pengolahan sampah dan limbah B3. penghijauan dan reboisasi serta pembuatan sumur resapan di Kecamatan Kulisusu Barat. 2. pemanfaatan air tanah dangkal di kawasan permukiman yang tersebar di seluruh kecamatan dan dapat dimanfaatkan terutama untuk pemenuhan kebutuhan air bersih domestik pada skala penggunaan individu (unit rumah tangga) yang relatif kecil. 3.I) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d terdiri atas D. pemanfaatan potensi air tanah dalam di seluruh Kecamatan dengan perijinan dan pengawasan oleh instansi yang berwenang. b. Kecamatan Kambowa sebanyak kurang lebih 1 TPST. dam penahan (check dam). jalur evakuasi bencana. d. meningkatkan manajemen HIPPA/GHIPPA semua D. Kecamatan Kulisusu Utara dan Kecamatan Kambowa. D. sistem jaringan persampahan. dan c. 4. DAS 33. terdiri c. dan Kecamatan Kulisusu Utara. dan 6. c. dan (2)Sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.I Bonetiro. Paragraf 4 Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan Pasal 15 30.I Kinapane. DAS 32. melindungi DAS dan mengoptimalkan pemanfaatan jaringan irigasi untuk mengairi lahan pertanian. dan d. meningkatkan dan mengembangkan sistem instalasi pengolahan air bersih (IPA) di seluruh kecamatan yang mempunyai potensi air baku untuk sumber air. e. D. DAS 31. DAS (1)Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) atas : a.I Kapontori. c. Kecamatan Kulisusu sebanyak kurang lebih 2 TPST. Kecamatan Bonegunu dan Kecamatan Kambowa. dan . dan sumber mata air dengan debit dibawah 100 liter/detik yang tersebar di wilayah Kecamatan Kulisusu. e. memasang pompa banjir pada kawasan terindikasi rawan banjir di semua Kecamatan. d. b.normalisasi sungai di seluruh kecamatan. Kecamatan Kulisusu Barat sebanyak kurang lebih 2 TPST. Kecamatan Wakarumba sebanyak kurang lebih 1 TPST. Kecamatan Kulisusu Barat. dan e. pemanfaatan sumber air permukaan dan air tanah yang tersedia dengan mengutamakan air permukaan. Kecamatan Wakorumba Utara.rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan.. membentuk gugus tugas penanganan dan pengendalian banjir di seluruh kecamatan. maupun pemerintah kabupaten. c. Sistem pengendalian banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas: a.melakukan pembangunan dan konservasi jaringan irigasi yang meliputi pembangunan dan perbaikan pintu air diseluruh kecamatan dan normalisasi jaringan irigasi diseluruh kecamatan guna mencegah pendangkalan. Kecamatan Kulisusu Utara sebanyak kurang lebih 2 TPST.I Lawele dan D. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) terdapat di : 1. terdiri atas : a. b. 5. membuat tanggul baru atau mempertinggi tanggul yang sudah ada di seluruh kecamatan. huruf d.I Wakalamba. sistem jaringan air limbah. c. sistem jaringan drainase. penerapan sistem pengaliran gravitasi untuk kawasan perbukitan/pegunungan yang meliputi Kecamatan Bonegunu.

terdiri atas : a. kawasan rawan bencana alam. c. e. kawasan hutan lindung. dan Kecamatan Bonegunu Paragraf 2 Kawasan Perlindungan Setempat Pasal 19 (1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf b. dan f. mewajibkan setiap industri besar yang berada di seluruh Kecamatan agar mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan prioritas pada wilayah perkotaan Buranga dan Kulisusu. Kambowa di Kecamatan Kambowa.(3)sistem jaringan air limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. penanganan drainase primer melalui program kali bersih. pelestarian alam dan cagar budaya. Bagian Kedua Kawasan Lindung Pasal 17 Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1). sistem pembuangan on site sanitation. Konde di Kecamatan Kambowa. d. SPAM SPAM SPAM SPAM SPAM SPAM SPAM SPAM Buranga di Kecamatan Bonegunu. a. SPAM Langkumbe di Kecamatan Kulisusu Barat. yaitu memanfaatkan jaringan jalan menuju ruang evakuasi bencana di rencana alun-alun Kulisusu dan Terminal Eelhaji di Kecamatan Kulisusu. 6. terdiri atas : a. Mata di Kecamatan Kambowa. mewajibkan setiap rumah sakit/puskesmas di seluruh kecamatan untuk mempunyai fasilitas dan peralatan pengolahan limbah medis dan melakukan pengelolaan secara baik dengan melakukan pemisahan antara limbah berbahaya dan limbah tidak berbahaya. c. pada masing-masing rumah tangga/kegiatan dan menerapkan sistem komunal pada wilayah-wilayah padat penduduk di seluruh kecamatan. Kecamatan Kulisusu. . (2) Rencana pola ruang wilayah digambarkan dalam peta dengan ketelitian minimal 1:50. (4)sistem jaringan air minum meliputi : a. c. kawasan sempadan pantai. 9. normalisasi dan perawatan lainnya. Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) yang terdiri atas : 1. drainase sekunder dan drainase tersier dengan berbagai dimensi mengikuti sistem jaringan jalan pada perkotaan di seluruh Kecamatan.609 Ha yang tersebar di Kecamatan Kulisusu Utara. Kecamatan Kambowa. Kecamatan Wakorumba. Labuan di Kecamatan Wakorumba. Kran umum. RENCANA POLA RUANG WILAYAH Bagian Kesatu Umum Pasal 16 (1) Rencana pola ruang wilayah meliputi rencana kawasan lindung dan kawasan budidaya. 7. b. 2. kawasan perlindungan setempat. terdiri atas : a. SPAM Waode buri di Kecamatan Kulisusu Utara. kawasan lindung lainnya Paragraf 1 Kawasan Hutan Lindung Pasal 18 Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a seluas 15. 10.634. 4. SPAM Eengkoruru di Kecamatan Kulisusu. Langere di Kecamatan Bonegunu. meliputi : 11. (6)Jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. b. SPAM Laano Sangla di Kecamatan Kulisusu Utara. b.pembangunan sistem drainase yang terpadu dengan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan lainnya. 12. kawasan lindung geologi.kawasan suaka alam. dan / atau hidran umum untuk kawasan padat permukiman pada semua Kecamatan b. yang mendukung rencana pengembangan wilayah sehingga sistem drainase dapat berfungsi secara optimal. 3. (5) sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. Wantulasi di Kecamatan Wakorumba. kawasan sempadan sungai. 8. b. Gunung Sari di Kecamatan Bonegunu. 5. Kulisusu Barat.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. sumur umum.

Kulisusu Utara. sempadan sungai untuk sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar. Kecamatan Kulisusu Barat dan Kecamatan Bonegunu. (3) Kawasan rawan bencana alam gempa bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. kawasan hutan mangrove. Eenunu dan Mata Owola dengan ketentuan: a. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan fungsi mata air. Sungai Langkumbe. Sungai Lambale. Ketentuan lebih lanjut mengenai RTHP sebagaimana dimaksud pada huruf a diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). meliputi seluruh kecamatan di kabupaten. Sungai Ronta. 2. terdiri atas : a. angka 1. Ruang Terbuka Hijau Perkotaan (RTHP) yang ditetapkan minimal dengan luas 40 % dari luas kawasan terbangun. terdapat di sebagian wilayah Kecamatan Kulisusu Utara. kawasan rawan tanah longsor. Wakorumba.kawasan sekitar mata air. Sungai Kioko. Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Pasal 20 (1)Kawasan suaka alam. b. b. yaitu peninggalan situs Benteng Lipu di Kecamatan Kulisusu Paragraf 4 Kawasan Rawan Bencana Alam Pasal 21 (1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf d. atau b. dan d.(2) (3) (4) (5) c. pelestarian alam. Paragraf 3 Kawasan Suaka Alam. (2) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Sungai La'ea. sempadan sungai untuk anak-anak sungai di luar permukiman ditetapkan minimum 50 meter kiri-kanan sungai. Kecamatan Kulisusu Utara dan Kecamatan Bonegunu. meliputi 30% RTHP publik dan 10% RTHP privat yang berada di PKLp b. daerah air tanah langka di Kecamatan Kulisusu Barat. dengan ketentuan : a. d. sempadan sungai untuk sungai besar di luar kawasan permukiman ditetapkan minimum 100 meter kiri-kanan sungai. wilayah dengan jarak paling sedikit 200 m dari mata air. kawasan ruang terbuka hijau perkotaan Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdapat di seluruh kecamatan. terdiri atas : a. angka 2. b. kawasan rawan banjir. c. (2)kawasan suaka margasatwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. kawasan suaka margasatwa. yang terdiri atas : kawasan rawan letusan gunung berapi kawasan rawan gempa bumi kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah (2)Kawasan rawan bencana alam letusan gunung berapi sebagaimana di maksud pada ayat (1) huruf a. Kawasan sekitar sumber mata air sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi Eengkapala. yaitu suaka margasatwa Buton Utara seluas kurang lebih 75. (4) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas : a. Sungai Buranga.463 Ha yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Buton Utara (4) kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. Kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d yaitu : a. Paragraf 5 Kawasan Lindung Geologi Pasal 22 (1)Kawasan lindung geologi sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 huruf e. meliputi Kali Buton Utara. kecuali kecamatan Kulisusu Barat. c. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Kawasan perlindungan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat. (3) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dan . dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c. terdapat di Kecamatan Kulisusu Barat. Sungai Bubu dan Sungai Lamoko dengan ketentuan: a. dan b. Kawasan rawan bencana alam geologi. sempadan sungai untuk sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman ditetapkan minimum 15 meter. Bonegunu dan Kulisusu Barat (3)kawasan hutan mangrove sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b seluas kurang lebih 9. 1. yaitu Gunung Lanosangia di Kecamatan Kulisusu Barat. terdiri atas : a.528 Ha yang terdapat di Kecamatan Kulisusu.

dan d.313 Ha. (1) a. tersebar di Kecamatan Bonegunu dan Kulisusu Barat seluas kurang lebih 6.535 (3)Kawasan hutan produksi tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b seluas kurang lebih 6. (5) Kawasan peruntukan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. g.521Ha Paragraf 3 Kawasan Peruntukan Pertanian Pasal 27 (1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf c. kawasan peruntukan permukiman. (4) Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana di maksud pada ayat (1) huruf c meliputi perkebunan kelapa.521 Ha. Ternak kambing di seluruh kecamatan. dan c. dan Kecamatan Wakorumba. Kecamatan Kulisusu Utara. kawasan peruntukan hutan produksi. dan i. Ternak babi di Kecamatan Bonegunu c. Bagian Ketiga Kawasan Budidaya Pasal 24 Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1). jambu mete. yaitu kawasan Terumbu Karang Pantai Bonelipu di Kecamatan Kulisusu. kawasan peruntukan pariwisata. Kecamatan Kulisusu. dan Kecamatan Bonegunu yang terdiri atas : a. Kecamatan Kambowa. Ha. Kecamatan Kulisusu Barat. dan 2. Kecamatan Bonegunu. kawasan peruntukan industri. Ternak kecil. yang terdiri atas : 1.Ternak unggas. Ternak besar. kawasan peruntukan pertambangan. yang terdiri atas : 1. b. kawasan hutan produksi terbatas. (2) Kawasan peruntukan tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Kecamatan Kambowa. b. e. (2)Kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a seluas kurang lebih 10. terdiri atas : a. dan 2. b. kopir. . h. terdiri atas : a. daerah-daerah yang memiliki jenis tanah berkapur seperti Kecamatan Kulisusu dan Kulisusu Barat. kawasan peruntukan lainnya Paragraf 1 Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Pasal 25 (1)Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a terdapat di. kawasan peruntukan perkebunan. kawasan peruntukan budidaya perikanan. dan b. Kecamatan Wakorumba. Ternak kerbau di Kecamatan Bonegunu dan Kecamatan Wakorumba. terdiri atas : a. c. b.kawasan peruntukan pertanian. kawasan peruntukan hutan rakyat. (4)Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c seluas kurang Paragraf 2 Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat Pasal 26 Kawasan peruntukan hutan rakyat sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 huruf b. yang terdiri atas : 1. b. f. dan 2. Ternak itik di seluruh kecamatan Paragraf 4 Kawasan Peruntukan Perikanan Pasal 28 Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf d. d. Sawah irigasi yang terdapat di seluruh kecamatan.kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi. terdiri atas : kawasan peruntukan perikanan tangkap. dan lebih 33. terdiri atas a. kawasan hutan produksi tetap. Sawah tadah hujan yang terdapat di Kecamatan Kulisusu Barat.b. kawasan peruntukan tanaman pangan. kawasan peruntukan perikanan. Paragraf 6 Kawasan Lindung Lainnya Pasal 23 Kawasan lindung lainnya sebagaimana dimaksud pada padal 17 huruf f. Ternak sapi di seluruh kecamatan. c. (3) Kawasan peruntukan hortikultura sebagaimana di maksud pada ayat (1) huruf b meliputi kawasan komoditi buah-buahan dan sayuran yang tersebar di seluruh Kecamatan. cengkeh dan perkebunan kakao yang tersebar di seluruh Kecamatan. Ternak ayam di seluruh kecamatan. kawasan peruntukan hortikultura. kawasan peruntukan peternakan.

dan c. Paragraf 8 Kawasan Peruntukan Permukiman Pasal 32 (1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf h terdiri atas : a. dan hasil laut lainnya. pertambangan aspal alam. Obyek wisata Teluk Kulisusu. (3) Kawasan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. terdiri atas : a. (2) Kawasan peruntukan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. b. terdiri atas : a. budidaya rumput laut yang terdapat di seluruh kecamatan. kawasan pertambangan batu. kawasan peruntukan industri besar. g. Kulisusu Utara. kawasan peruntukan pertambangan minyak bumi kawasan peruntukan pertambangan mineral non logam dan batuan. b. budidaya kepiting yang terdapat di Kulisusu. (5) Wilayah pengembangan pariwisata (WPP) yang dapat memenuhi wisatawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi Pantai Bonelipu dan Pantai Membuku. dan Wisata gua alam di Kecamatan Kulisusu. Eengkapala. b. e.kawasan peruntukan industri rumah tangga. (1) (2) (3) (4) Paragraf 6 Kawasan Peruntukan Industri Pasal 30 (1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf f. kawasan peruntukan permukiman perkotaan. Wakorumba. dan Wisata Suaka Margasatwa Buton Utara d. di Kecamatan Kulisusu Utara. dan (2) Kawasan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. terdiri atas : a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdapat di Kecamatan Bonegunu. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.budidaya kerang yang terdapat di Kecamatan Wakorumba. Kulisusu Barat dan Wakorumba kawasan peruntukan pertambangan minyak bumi. dan Kecamatan Wakorumba kawasan peruntukan pertambangan mineral logam. Eenunu dan Eemoloku. dan c. kepiting rajungan. b. dan Kulisusu Utara Paragraf 5 Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 29 Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf e terdiri atas : a. (3) Kawasan peruntukan industri kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas kawasan pertambangan nikel dan mangan yang tedapat di Kulisusu Utara. yaitu Benteng Lipu di Kecamatan Kulisusu (3) Kawasan peruntukan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas: b. dan c. c. Pantai Membuku. kecuali di Kecamatan Kulisusu Barat. kawasan peruntukan pariwisata budaya. kawasan peruntukan permukiman perdesaan. kecuali Kecamatan Kulisusu Barat dengan komoditas ikan tuna. f. terdapat di seluruh kecamatan. kawasan peruntukan pertambangan mineral non logam dan batuan. Wisata alam lainnya di seluruh Kecamatan (4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yaitu Mata Rumbia. Kulisusu Barat dan Wakorumba. b. Kecamatan Kulisusu Utara. diarahkan di seluruh Kecamatan. a. di kecamatan Bonegunu.Kawasan pertambangan marmer di Kecamatan Kulisusu. budidaya perikanan lainnya. kawasan peruntukan pertambangan mineral logam. kawasan peruntukan pariwisata alam. kerang-kerangan. dan d. dan c. terdiri atas : a. wisata air panas di Bonegunu. Paragraf 7 Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal 31 (1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf g. kawasan peruntukan pariwisata buatan. kawasan peruntukan industri sedang. terdiri atas: . (2) Kawasan peruntukan industri besar dan kawasan peruntukan industri sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b diarahkan di Kecamatan Kulisusu dan Kecamatan Bonegunu. c.(2) Kawasan peruntukan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Kulisusu. kawasan pertambangan bitumen di Kecamatan Kulisusu dan Kecamatan Bonegunu. Wisata alam bawah laut di Kecamatan Kulisusu dan Kecamatan Wakorumba.

kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi. yang dilakukan dengan tetap memegang kaidah lingkungan hidup dan kesesuaian dengan rencana tata ruang. terdiri atas tempat peristirahatan pada kawasan pariwisata. Pasal 36 Kawasan Strategis Nasional (KSN) yang ada di Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf a.. Pasal 38 (1)Kawasan Strategis Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf c. Kawasan Strategis Nasional.861 Ha yang tersebar di seluruh Kecamatan. b. (3) Kawasan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b.a. (2) Rencana kawasan strategis digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50. ditetapkan pada Kecamatan Kambowa dan Kecamatan Kulisusu Barat yang merupakan kawasan strategis nasional (KSP) dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. dan c. Kawasan pertanian berupa kawasan tanaman pangan lahan kering. permukiman perkotaan pada pusat-pusat ibukota kecamatan (4) Kawasan permukiman khusus sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf c. dan basis pengembangannya adalah pertanian tanaman pangan dan perikanan darat. Kodim yang berada di Kecamatan Kulisusu dan Kecamatan Bonegunu b. kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya. sekitar kawasan industri. Kolaka. Kawasan Strategis Kabupaten. terdiri atas: a. Kepolisian Resor (POLRES) yang berada di Kecamatan Kulisusu. permukiman perdesaan yang berlokasi di pegunungan yang dikembangkan dengan berbasis perkebunan dan agrowisata. Kawasan lindung Suaka Margasatwa Buton Utara yang berada di Kecamatan Kulisusu. Koramil yang tersebar di wilayah Kabupaten Buton Utara. Pasal 37 Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang ada di Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b. b. c. b.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. permukiman perkotaan pada PKLp yaitu di perkotaan Kulisusu. kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. kegiatan sentra ekonomi.32 dapat dilaksanakan apabila tidak mengganggu fungsi kawasan yang bersangkutan dan tidak melanggar Ketentuan Umum Peraturan Zonasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini. Bonegunu dan Kulisusu Barat yang merupakan kawasan strategis nasional (KSN)dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Buton. Pasal 34 (1) Pemanfaatan kawasan untuk peruntukan lain selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 . b. Kepolisian Sektor (POLSEK) yang tersebar diwilayah Kabupaten Buton Utara. dan b. (5) Rencana pengembangan kawasan permukiman perkotaan. permukiman perdesaan dan permukiman khusus seluas 13. b. disertai pengolahan hasil. serta pengolahan hasil pertanian. peternakan dan perikanan pada semua kecamatan di Kabupaten yang merupakan kawasan strategis nasional (KSP) dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. dan Kendari (Bukari) yang merupakan kawasan strategis nasional (KSN) dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. tanaman perkebunan. dan c. Kulisusu Utara. Kawasan Andalan Kapolimu – Patikala Muna – Buton yang merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. terdiri atas : a. (2) Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. b. permukiman perkotaan pada PKLp yaitu di perkotaan Buranga. Paragraf 9 Kawasan Peruntukan Lainnya Pasal 33 (1) Kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf i yaitu kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan. Wakorumba. Kawasan Strategis Provinsi. dan c. (3) Kawasan peruntukan Kepolisian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. . terdiri atas : a. terdiri atas : a. (2) Pemanfaatan kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah adanya kajian komprehensif dan setelah mendapat rekomendasi dari badan atau pejabat yang tugasnya mengkoordinasikan penataan ruang di Kabupaten Buton Utara BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS Pasal 35 (1)Kawasan strategis yang ada di Kabupaten terdiri atas : a. permukiman perdesaan yang berlokasi di dataran rendah. kawasan permukiman baru sebagai akibat perkembangan infrastruktur. Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.

yaitu Kawasan Kesultanan Lipu/Kawasan Benteng Lipu yang merupakan kawasan situs peninggalan sejarah di Kecamatan Kulisusu. Wakorumba. Kawasan lindung Suaka Margasatwa Buton Utara yang berada di Kecamatan Kulisusu. investasi swasta dan kerja sama pendanaan. b. (3) Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan BAB VII KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu Umum Pasal 41 Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten. dan Lipu/Bangkudu. Eensumala. dan c. c. b. Langere. b. (2)Ketentuan umum peraturan zonasi terdiri atas : a. kawasan rawan kebakaran c. Eelahaji. terdiri atas : 1. dan d. (2) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas : a. f.Kawasan industri dan pergudangan di Perkotaan Kulisusu. ketentuan umum peraturan zonasi. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya. arahan sanksi. (3) Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. d.ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar sistem prasarana nasional dan wilayah. ketentuan insentif dan disinsentif. (1) Bagian Kedua Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 42 (1)Ketentuan umum peraturan zonasi sistem Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyusun peraturan zonasi. Kawasan agropolitan Buranga (sesuai dengan KSP) di Kecamatan Bonegunu.(2) Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas : a. yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. Bonelipu. c. kawasan rawan banjir. (2) Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung. ketentuan perizinan. Witamemea. Pasal 40 ruang. Waode Angkalo. dan peruntukan pertambangan mineral berupa pertambangan batu yang diarahkan di seluruh kecamatan. terdiri atas : a. e. BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya. Pasal 39 Pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola (1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kawasan Terumbu Karang Pantai Bonelipu di Kecamatan Kulisusu. Kawasan agropolitan Kotawo dan kawasan hutan produksi (sesuai dengan KSP) di Kecamatan Kulisusu Barat. kawasan sekitar prasarana transportasi. Bonegunu dan Kulisusu Barat yang merupakan kawasan strategis nasional (KSN). Kawasan rawan bencana yang meliputi kawasan rawan gerakan tanah dan longsor.Kawasan (3)Kawasan (4)kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Kulisusu Utara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. b. Kawasan tertinggal yang disebabkan oleh kemiskinan secara struktural dan natural yaitu kecamatan Wakarumba dan Kulisusu Utara (Kawasan Strategis LABULAJO LABARAGA). Kawasan Perkotaan Buranga sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi/ KAPET (sesuai dengn KSN) dengan cakupan di seluruh wilayah Kecamatan Kulisusu dan Bagian Timur Kecamatan Bonegunu yang berpusat di Buranga. .

Izin prinsip. c. imbalan. keringanan pajak atau retribusi. 2.2. subsidi silang. sewa ruang. atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. dan kawasan sekitar prasarana sumber daya air.pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan rtrw kabupaten. Izin mendirikan bangunan. yaitu dalam bentuk : a. pelanggaran ketentuan umum peraturan zonasi. dikenakan terhadap kegiatan pemanfaatan ruang yang menghambat pengembangan kawasan. (3)Ketentuan umum peraturan zonasi dijabarkan lebih lanjut di dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. dan d. Pasal 48 (1) Disinsentif yang dikenakan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian insentif diatur dengan Peraturan Bupati. rencana pola ruang. kawasan sekitar prasarana energi. pengenaan kompensasi. dan b. swasta dan/atau unsur pemerintah. dan penyertaan modal. . b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan disinsentif diatur dengan Peraturan Bupati. terdiri atas : 1. 3. b. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang.kemudahan prosedur perizinan. Bagian Kelima Arahan Sanksi Pasal 49 (1) (2) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf d merupakan acuan bagi pemerintah daerah dalam pengenaan sanksi administratif kepada pelanggar pemanfaatan ruang. Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan Pasal 43 (1) Ketentuan perizinan merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini. pembatasan penyediaan infrastruktur. dan ketentuan umum peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini. (2) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya. yaitu dalam bentuk : a. Pengenaan sanksi dilakukan terhadap : a. pembangunan atau penyediaan infrastruktur pendukung. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan rtrw kabupaten. (2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. dan penalti. (3) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah. c. (2) Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang. 3. kawasan sekitar prasarana telekomunikasi. diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang yang mendukung pengembangan kawasan. Pasal 46 Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah kabupaten dilakukan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat. 4. pemberian penghargaan kepada masyarakat. dan 4. pemberian kompensasi. d. Izin penggunaan pemanfaatan tanah. Izin lokasi. Bagian Keempat Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pasal 45 (1) Ketentuan insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pemerintah daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. dibatasi. disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang. pengenaan pajak atau retribusi yang tinggi. Pasal 44 (1) Jenis perizinan terkait pemanfaatan ruang yang ada di Kabupaten Buton Utara sebagaimana dimaksud pada pasal 41 ayat (2) huruf b. (1) Pasal 47 (1) Insentif yang diberikan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). (2) Mekanisme perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a – d diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

pemanfaatan ruang. penghentian sementara kegiatan. Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dilakukan masyarakat secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan. mengetahui secara terbuka rencana tata ruang wilayah. (2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) huruf c dikenakan sanksi administratif berupa : a. dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa : a. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundangundangan dinyatakan sebagai milik umum. penghentian sementara kegiatan. dan/atau g. huruf f. penutupan lokasi. dan/atau i. b. kaidah. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang diberikan. peringatan tertulis b. huruf d. pembongkaran bangunan. mengawasi pihak-pihak yang melakukan penyelenggaraan tata ruang (1) Bagian Kedua Kewajiban Masyarakat Pasal 54 Kewajiban masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah meliputi: a. huruf e. h. dan pengendalian pemanfaatan ruang. (2) Tugas. baku mutu. dan/atau g. penutupan lokasi. memberikan akses terhadap dinyatakan sebagai milik umum kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 55 (1) (2) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada Pasal 54 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria. BAB VIII KELEMBAGAAN Pasal 52 Dalam rangka mengoordinasikan penyelenggaraan penataan ruang dan kerjasama antar sektor/antar daerah bidang penataan ruang dibentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah. Pasal 51 Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap rencana tata ruang yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang. BAB IX HAK. menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang. masyarakat berhak: a.e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan rtrw kabupaten.penghentian sementara pelayanan umum. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. susunan organisasi. pembatalan izin. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. memperoleh pergantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. f. denda administratif. peringatan tertulis b. mendapat perlindungan dari kegiatan-kegiatan yang merugikan. dan c. e. pemulihan fungsi ruang. Pasal 50 (1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) huruf a. e. huruf b. lokasi. pembongkaran bangunan. dan f. dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. denda administratif. c. KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG Bagian Kesatu Hak Masyarakat Pasal 53 Dalam kegiatan mewujudkan panataan ruang wilayah. e. berperan dalam proses perencanaan tata ruang. f. f. d. c. dan tata kerja Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Bupati. d. g. . pemulihan fungsi ruang. d. pencabutan izin. penghentian sementara pelayanan umum. b. c. estetika lingkungan.

b. pemerintah daerah membangun sistem informasi dan dokumentasi penataan ruang yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Melakukan kerjasama dengan Pemerintah. ruang laut. melakukan kerja sama dengan Pemerintah. Kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. partisipasi dalam pemanfaatan ruang.partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Melakukan kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 59 a. BAB X KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 63 (1) (2) Jangka waktu RTRW Kabupaten berlaku untuk 20 (dua puluh) tahun. dan f. b. Memberikan masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang. 3. RTRW Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. memberikan masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi. c. dan seimbang. dapat disampaikan kepada bupati. dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. perumusan konsep rencana tata ruang. keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang. dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat. e. dan/atau sesama unsur masyarakat dalam pemanfaatan ruang.dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi. dan/atau 5. memberikan masukan mengenai : 1. pemerintah daerah. Pasal 57 Bentuk peran masyarakat pada tahap perencanaan tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf a. b. perizinan. penetapan rencana tata ruang. (3) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dapat disampaikan melalui unit kerja terkait yang ditunjuk oleh Bupati. (2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan. persiapan penyusunan rencana tata ruang. rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 61 Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat. Bagian Ketiga Peran Masyarakat Pasal 56 Peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang di Daerah dilakukan antara lain melalui: a. Pasal 60 (1) Peran masyarakat di bidang penataan ruang dapat disampaikan secara langsung dan/atau tertulis. Pasal 62 Pelaksanaan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dapat berupa : a. c. ruang udara. selaras. d. 4. Meningkatkan efisiensi. (3) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau perubahan batas wilayah yang ditetapkan . dan d. Kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber alam. pemberian insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi. pemerintah daerah dan/atau sesama unsur masyarakat dalam perencanaan tata ruang Pasal 58 Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf b dapat berupa: a. melaporkan kepada instansi/pejabat yang berwenang dalam hal menemukan dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang yang telah ditetapkan. mengajukan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang. dan c. 2. efektivitas. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah dan kawasan.

LA DJIRU ______________________________ ..... B A B XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. Agar setiap orang mengetahuinya..... akan ditertibkan dan disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini. maka : a.... SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN ……………………….. pada tanggal... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Buton Utara ditetapkan di ..... Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan : 1) Untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya. maka semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan penatan ruang Daerah yang telah ada dinyatakan berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini..... Pemanfaatan ruang yang sesuai dengan ketetentuan Peraturan Daerah ini. b.. izin yang telah diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian yang layak. RTRW Kabupaten dapat ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun..... d........ BUPATI BUTON UTARA MUH.. izin tersebut disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini.Pemanfaatan ruang di Daerah yang diselenggarakan tanpa izin dan bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini..................20.. rencana dan album peta sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disesuaikan dengan peruntukan kawasan hutan berdasarkan hasil kesepakatan Menteri Kehutanan......... agar dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan. RIDWAN ZAKARIA __________________________ Diundangkan di . pada tanggal........... (6) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini. c. 2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini..... (5) Dalam hal terdapat penetapan kawasan hutan oleh Menteri Kehutanan terhadap bagian Wilayah kabupaten yang kawasan hutannya belum disepakati pada saat Perda ini ditetapkan....... (4) Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Buton Utara tahun 2011-2031 dilengkapi dengan Rencana dan Album Peta yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.....20........ sepanjang mengenai teknis pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah.. dilakukan penyesuaian dengan masa transisi berdasarkan ketentuan perundang-undangan.......dengan Undang-Undang. B A B XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini.. 2) Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya. diatur lebih lanjut oleh Peraturan Bupati... Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa berlakunya..... dan 3) Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini..

...............LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN .... NOMOR ..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful