P. 1
MAKALAH_ASWAJA

MAKALAH_ASWAJA

|Views: 240|Likes:
Published by Asif Dzaki
ahlussunnah wal jamaah
ahlussunnah wal jamaah

More info:

Published by: Asif Dzaki on Jul 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2014

pdf

text

original

KEUTAMAAN MEMULIAKAN TAMU DALAM PERSPEKTIF AHLI SUNNAH WALJAMA’AH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aswaja Dosen Pengampu : Dr. H. Mudzakir Ali, M.A

Disusun Oleh: Nama : Muhammad Choirul Anam NIM : 106013107

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam kehidupan sosial kita tidak akan lepas dari dari ketiga unsur ini, yaitu tentang tamu, tetangga dan mengasihi para dhuafa. Maka dengan tiga masalah ini, kami sedikit menguraikan bagaimana cara kita untuk mengabdikan diri kepada sang Khalik dengan cara, menghormati, mengasihi, menyayangi, mengutamakan mereka, agar supaya pengabdian ini benar-benar diterima di sisi-Nya. Karena dalam suatu hadist di sebutkan “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari), “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya” Dalam hadist lagi diterangkan, Seorang bertanya kepada Nabi Saw, “Islam yang bagaimana yang baik?” Nabi Saw menjawab, “Membagi makanan (kepada fakir-miskin) dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR. Bukhari), dan lagi Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim). Islam merupakan agama yang sempurna karena selalu memberikan rahmat kepada umat manusia. Salah satu bukti rahmat tersebut yaitu perintah untuk memuliakan tetangga dan tamu, tanpa memandang dari agama dan golongan manapun. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda yang artinya, ”Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya." (Muttafaqun 'Alaihi).1 Al Imam Al Qadhi 'Iyadh mengatakan: "Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari'at Islam, maka

1

http://www.hidayatullah.com/read/16203/04/04/2011/muliakanlah-tamu-anda!.html

wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya." Dalam hadits yang lain disebutkan, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya. Para shahabat bartanya apa yang dimaksud dengan jaizah itu? Rasulullah menjawab: jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah." (HR. Bukhari dan Muslim dalam Fathul Bari' hadits no. 6135). Dari keterangan ini sangat jelas bahwa Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakan tamu. Memualiakan tamu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam. B. Permasalahan Dalam makalah ini penulis mengambil satu permasalahan, yaitu: 1. Bagaimanakah adab memuliakan tamu menurut Ahli Sunnah Wal Jama’ah?

BAB II PEMBAHASAN

A. Anjuran Memuliakan Tamu Dalam Al Quran dijelaskan tentang anjuran untuk memuliakan tamu, diantaranya;

                                        
Artinya: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan." (Q.S Adz Dzariyat: 24-27)2 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: َ ِ ِ ‫و من كان ي ُؤمن بالله و ال ْي َوم ِ الخر فل ْي ُك ْرم جارهُ و من كان ي ُؤمن‬ ُ ِ ْ َ َ ْ َ َ ِ ُ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ ِ ْ َ ِ َ‫بالله و ال ْي َوم ِ الخر فل ْي ُك ْرم ضي ْف‬ َ ِ ِ ‫ِ ْ َ ه‬ ُ ِ ْ َ ِ Artinya: “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)3 Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka
2

3

Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin I, Semarang, Alina, 2001, h. 527. http://www.assalafy.org/mahad/?p=267

wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.” Dari hadits di atas terdapat beberapa kandungan yang mulia, diantaranya: 1. Memuliakan Tamu merupakan bentuk kewajiban Di dalam hadits di atas memuliakan tamu merupakan sunnah (jalan/tuntunan) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia merupakan perintah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepantasnya seorang muslim yang mengaku cinta kepadanya untuk menjalankannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan segala apa yang diperintah Rasulullah maka kerjakanlah, dan segala yang dilarang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7) 2. Penyempurna Iman Allah subhanahu wata’ala memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara memuliakan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir yang keduanya merupakan bagian dari rukun iman yang enam yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) terhadap tamunya, maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Memuliakan Tamu adalah Akhlaq Para Nabi dan Orang-Orang Shalih Para pembaca yang mulia, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam Al Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua. Allah subhanahu wata’ala

berfirman (artinya): “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111) Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamunya. Ketika Allah subhanahu wata’ala hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah subhanahu wata’ala mengutus para Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau ‘alaihi salam. Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya: 1. Menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim ‘Alaihi salam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya (artinya): “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam); Ikutilah millah Nabi Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (An Nahl: 123) 2. Bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, dia bersegera untuk mendatangi keluarganya (‫ )ف لراغ إ ِل َلى أ َهل ِله‬dan ‫َ َ َ ل‬ ِ ْ mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya. 3. Menjawab salam dengan yang terbaik Dalam ayat di atas juga terdapat tuntunan dalam menjawab salam, yaitu dengan yang serupa atau yang lebih baik. sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa’: 86) 4. Menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk (‫ )عجل سمي ْن‬kepada ٍ ِ َ ٍ ْ ِ

para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan lafazh (‫ ,) عج لل حن ِي ْلذ‬yakni daging anak sapi yang dipanggang. ٍ َ ٍ ْ ِ Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik pada waktu itu. 5. Meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya Allah subhanahu wata’ala menyatakan ‫( فقربه إ ِل َي ْهم‬Kemudian َ ّ َ َ ْ ِ Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mendekatkan hidangan itu kepada mereka). Tidaklah Nabi Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut. 6. Menyambut/mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan ketika menghidangkan makanannya: ‫( أ َل َ ت َأ ْك ُل ُون‬Silahkan kalian makan) dan tidak mengatakan: ‫ك ُل ُوا‬ َ ْ ْ (makanlah). Menggunakan lafadz “Silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua. Dan termasuk adab terhadap tamu adalah menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth ‘alaihi salam ketika datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau ‘alaihi salam dan mereka hendak berbuat Liwath (homoseks) terhadapnya, karena kaum Nabi Luth ‘alaihi salam adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (Liwath). Suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya. Maka Nabi Luth ‘alaihi salam pun berupaya untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan surat Al Hijr ayat 67-71.

B. Adab bagi Tuan Rumah 1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orangorang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ُ ‫ل َ ت ُصاحب إ ِل ّ مؤْمنا,وَل َ ي َأ ْك ُل ط َعامك إ ِل ّ ت َقي‬ ً ِ ُ ْ ِ َ َ َ ّ ِ
“Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)4 2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

ُ َ ُ َ َ ُ ‫شر الط ّعام ِ ط َعام ال ْوَليمةِ ي ُد ْعى ل َها ال َغْن ِياء ، وَي ُت ْرك ال ْفقراء‬ ُ َ َ َ ُ َ َ ِ َ ّ َ
“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim) 3. 4. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu kalau diundang. sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda,

‫مرحبا بال ْوَفْدِ ال ّذين جاءوا غَي ْر خزايا وَل َ ن َدامى‬ ُ َ َ ِ َ َ َ َ َ َ ِ ً َ ْ َ
“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari) 5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam bersama tamu-tamunya:

َ َ ْ ‫فَراغَ إلى أ َهْل ِهِ فَجاء ب ِعِجل سمي ْن . فَقرب َه إ ِل َي ْهِم قال آل َ ت َأ ْك ُل ُوْن‬ َ َ َ ُ ّ َ َ ٍ ِ َ ٍ ْ َ ِ
4

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27) 6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu. 7. 8. 9. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih kegembiraan kepada sesama muslim. kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib. muda, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa sallam:

ّ ِ ‫من ل َم ي َرحم صغِي ْرنا وَي ُجل ك َب ِي ْرنا فَل َي ْس منا‬ ّ ِ َ َ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ ْ َ
“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua. 10. 11. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak selesai menikmatinya. mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang. 12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,

‫فَقرب َه إ ِل َي ْهِم‬ ْ ُ ّ َ

“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27) 13. 14. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah tersebut merupakan penghormatan bagi mereka. melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri. 15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam,

‫الضيافَة ث َل َث َة أ َيام ٍ وَجائ ِزت ُه ي َوْم وَل َي َْل َة وَل َ ي َحل ل ِرجل مسل ِم ٍ أ َن‬ ٌ ُ َ ّ ْ ّ ُ ٌ ْ ُ ٍ ُ َ ّ ِ ُ َ َ َ ُ َ َ ْ ‫يقي ْم عن ْد َ أ َخي ْهِ حتى ي ُؤْث ِمه قا َل ُوا يارسوْل اللهِ وَك َي ْف ي ُؤْث ِمه؟‬ َ ِ ِ َ ُ ّ َ ُ َ ُ َ َ َ ‫قال :ي ُقي ْم عن ْد َهُ وَل َ شي ْئ ل َه يقرِي ْهِ ب ِه‬ ْ ُ َ َ ِ ُ ِ ِ
“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.” 16. rumah. C. Adab bagi Tamu 1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan

‫من د ُعى فَل ْي ُجب‬ ْ ِ َ ِ ْ َ
“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

َ َ ْ َ ‫وَمن ت َرك الد ّعـوَةَ فَقد ْ عَصى الله وَرسوْل َه‬ َ ْ ُ ُ َ َ َ

“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari) Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut. Orang yang mengundang adalah muslim. Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang

dijauhi.
• • •

diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.

Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.

undangan tersebut.

2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin. 3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim) 4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya: َ ْ ‫ياأ َي ّها ال ّذ ِي ْن آمن ُوا ل َ ت َد ْخـل ُوا ب ُيـوْت الن ّبي ّإ ِل ّ أ َن ي ُؤ ْذ َن ل َك ُم إ ِلى طـعام ٍ غ َي ْر ناظـرِي ْن‬ ِ َ َ َ َ َ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ َ َ ْ َ َ َ ْ ْ َ َ ْ ِ ُ ِ ‫إنه وَلكن إ ِذا د ُعي ْت ُم فاد ْخل ُوا فَإ ِذا ط َعِمت ُم فان ْت َشـروا وَل َ مست َئ ْن ِسي ْن ل ِحد ِي ْث إ َن ذل ِك ُم‬ ّ ٍ َ َ ِ ْ ُ ْ ْ ُ ِ ْ ُ َ ْ ِ ‫كان ي ُؤ ْذى الن ّب ِي فَي َست َحي من ْك ُم والله ل َ ي َست َحي من الحق‬ ِ ْ ِ ْ ِ َ َ ّ َ ْ َ ِ ُ َ ْ ِ ّ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu

kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53) 5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ّ َِ َ ‫إذا د ُعى أ َحد ُك ُم فَل ْي ُجب فَإ ِن كان صائما فَل ْي ُصل وِإ ِن كان مفـط ِرا فَل ْي ُط ْعِم‬ ْ ُ َ َ ْ ْ ِ َ َ ِ ْ ً ِ َ َ َ ْ ْ ً “Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim) 6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan. 7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orangorang yang sedang makan. 8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53) 9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari) 10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: ُ ‫كان من ا ْل َن ْصارِ رجـل ي ُقال ل ُه أ َب ُوْ شعَي ْب وَكان ل َه غ ُل َم ل ِحام فَقال ا ِصن َعْ لي ط َعاما‬ ِ ُ ً َ ُ َ َ ُ ُ َ ٌ ْ َ َ ٌ َ ٌ َ َ َ ِ َ َ َ ُ َ َ َ ُ َ ‫ا ُد ْع ُ رسوْل اللهِ صلى الله ع َل َي ْهِ وَسل ّم خامس خمسةٍ فَد َعا رسوْل اللهِ صلى الله‬ َ ْ َ َ ِ َ َ َ ُ ُ ّ َ ّ َ َ ُ َ َ َ ٌ ُ َ ْ ‫ع َل َي ْهِ وَسل ّم خامس خمسةٍ فَت َب ِعَهُم رجل فَقال رسوْل اللهِ صلى الله ع َل َي ْهِ وَسل ّم‬ َ ْ َ َ ِ َ َ َ َ َ ُ ّ َ َ ٌ ُ َ َ َ َ ْ َ َ ِ َ َ ‫إ ِن ّك د َع َوْت َنا خامس خمسةٍ وهذا رجل قَد ْ ت َب ِعَنا فَإ ِن شئ ْت ا ْذ َن ل َه وَإ ِن شئ ْت ت َرك ْت ُه‬ َ ُ َ َ ِ ْ ُ ْ َ ِ ْ ْ َ َ ‫قال ب َل أ َذ ْن ْت ل َه‬ ُ ُ “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang

bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”" (HR. Bukhari) 11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa: َ ‫أ َفْط َر عن ْد َك ُم الصائ ِموْن, وَأ َك َل ط َعامك ُم ا ْل َب ْرار,وَصل ّت ع َل َي ْك ُم المل َئ ِك َة‬ ُ ِ َ َ ُ ّ َ ْ ُ ْ َ ُ َ َ ُ َ َ “Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani) ‫الل ّهـم أ َط ْعِم من أ َط ْعَمني, وَاسق من سقاني‬ ِ َ َ ْ َ ِ ْ ِ َ ّ ُ َ ْ َ ْ “Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim) ْ َ ْ ْ َ ْ َ ْ ‫الل ّهـم اغـفر ل َهُم وارحمهُم وَبارِك ل َهُم فِي ْما رزقْت َهُم‬ َ َ َ ْ ْ ْ ِ ْ ّ ُ َ “Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim) 12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

BAB III PENUTUP

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->