Asuhan keperawatan klien dengan nyeri

Asuhan keperawatan klien dengan nyeri

A. PENDAHULUAN Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. B. DEFINISI Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan Teori Specificity ³suggest´ menyatakan bahwa nyeri adalah sensori spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini didapat melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri di saraf nyeri perifer dan spesifik di spinal cord Secara umum keperawatan mendefinisikan nyeri sebagai apapun yg menyakitkan tubuh yg dikatakan individu yg mengalaminya, yg ada kapanpun individu mengatakannya C. ISTILAH DALAM NYERI Nosiseptor : serabut syaraf yang mentransmisikan nyerii Non-nosiseptor : serabut syaraf yang biasanya tidak mentransmisikan nyerii System nosiseptif : system yang teribat dalam transmisi dan persepsi terhadap nyerii Ambang nyeri : stimulus yg paling kecil yg akan menimbulkan nyerii Toleransi nyeri : intensitas maksimum/durasi nyeri yg individu ingin untuk dpt ditahani D. SIFAT-SIFAT NYERI Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energii Nyeri bersifat subyektif dan individuali Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darahi Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klieni Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa rasanyai Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologisi Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringani Nyeri mengawali ketidakmampuani Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri jadi tidak optimali Secara ringkas, Mahon mengemukakan atribut nyeri sebagai berikut: Nyeri bersifat individui Nyeri tidak menyenangkani Merupakan suatu kekuatan yg mendominasii Bersifat tidak berkesudahani E. FISIOLOGI NYERI Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini: Resepsi : proses perjalanan nyerii Persepsi : kesadaran seseorang terhadap nyerii Reaksi : respon fisiologisi & perilaku setelah mempersepsikan nyeri 1. RESEPSI Stimulus (mekanik, termal, kimia) Pengeluaran histamin bradikinin, kalium Nosiseptor Impuls syaraf Serabut syaraf perifer Kornu dorsalis medula spinalis Neurotransmiter (substansi P) Pusat syaraf di otak Respon reflek protektif

dan tekanan halusi Reseptor terletak distruktur permukaan. maka akan merasakan sensasi terbakar. mekanisme gate control ini dapat memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum mereka sampai di korteks serebri dan menimbulkan nyeri. suhu hangat. otot tendon dlli Biasanya sering ada pada injury akuti Diameternya besari b. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi. Serabut saraf C Tidak bermyelini Diameternya sangat kecili Lambat dalam menghantarkan impulsi Lokasinya jarang. Contoh: Apabila tangan terkena setrika.i NEUROREGULATOR Substansi yang memberikan efek pada transmisi stimulus saraf. tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan setrika. yaitu serabut A-delta dan serabut C. Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam system saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak. serotonin. kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin. apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri. Impuls nyeri bisa lewat jika pintu gerbang terbuka dan impuls akan di blok ketika pintu gerbang tertutupi . bradikinin Neuromodulator diyakini aktifitasnya secara tidak langsung bisa meningkatkan atau menurunkan efek sebagian neurotransmitteri Teori gate control Dikemukanan oleh Melzack dan wall pada tahun 1965i Teori ini mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. diantaranya sebagai berikut: Traumai Obat-obatani Pertumbuhan tumori Gangguan metabolic (penyakit diabetes mellitus)i Tipe serabut saraf perifer : a. prostaglandin Neuromodulator memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentrasfer secara langsung sinyal saraf yang melalui synaps. Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. jelas sumber dan lokasi nyerinyai Reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas di kulit dan struktur dalam seperti .i Dalam teori ini dijelaskan bahwa Substansi gelatinosa (SG) yg ada padai bagian ujung dorsal serabut saraf spinal cord mempunyai peran sebagai pintu gerbang (gating Mechanism). Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi normal. bradikinin. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. otak mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon reflek protektif. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). biasanya dipermukaan dan impulsnya bersifat persisteni Menghantarkan sensasi berupa sentuhan. maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf perifer.Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik. Serabut saraf A-delta : Merupakan serabut bermyelini Mengirimkan pesan secara cepati Menghantarkan sensasi yang tajam.i Contoh: endorphin. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis. berperan penting pada pengalaman nyerii Substansi ini titemukan pada nocicepåtor yaitu pada akhir saraf dalam kornu dorsalis medula spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran spinotalamiki Neuroregulator ada dua macam yaitu neurotransmitter dan neuromodulatori Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah synaptik antara dua serabut sarafi contoh: substansi P. termal. Ada beberapa factor yang menggangu proses resepsi nyeri. kalium. getaran.

Sistem saraf otonom menjadi terstimulasi. maka akan timbul respon fisiologis dan akan muncul perilaku.R Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting. Menggeletukkan gigi.Menutupnya pintu gerbang merupakan dasar terapi mengatasi nyerii Berdasarkan teori ini perawat bisa menggunakannya untuk memanage nyeri pasieni Neuromodulator bisa menutup pintu gerbang dengan cara menghambat pembentukan substansi P. REAKSI Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisioligis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri. yang merupakan sindrom adaptasi umumi Stimulasi pada cabang simpatis pada saraf otonom menghasilkan respon fisiologis. Area ini mengandung sel-sel yang yang bisa mengontrol emosi (khususnya ansietas). maka akan terjadi reaksi yang komplek. Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam) Muka pucat¾ Otot mengeras¾ Penurunan HR dan BP¾ Nafas cepat dan irreguler¾ Nausea dan vomitus¾ Kelelahan dan keletihan¾ RESPON TINGKAH LAKU TERHADAP NYERI Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup: Pernyataan verbal (Mengaduh. maka individu akan mempersepsikan nyeri. Menghindari kontak sosial. Penurunan rentang perhatian. Pasien dapat tidur. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.i 2. F. naik ke talamus. Imobilisasi. peningkatan gerakan jarii & tangan Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan. Area limbik yang akan berperan dalam memproses reaksi emosi terhadap nyeri. Mendengkur)i Ekspresi wajah (Meringis. Menggigit bibir)i Gerakan tubuh (Gelisah.i Persepsi menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu dapat bereaksii Proses persepsi secara ringkas adalah sebagai berikut:i Stimulus nyeri Medula spinalis Talamus Otak (area limbik) Reaksi emosi Pusat otak Persepsi Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis. Pada . PERSEPSI Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)i Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. peningkatan BP¾ Peningkatan nilai gula darah¾ Diaphoresis¾ Peningkatan kekuatan otot¾ Dilatasi pupil¾ Penurunan motilitas GI¾ B. dan superficial) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate¾ Peningkatan heart rate¾ Vasokonstriksi perifer. apabila nyeri berlangsung terus menerus. moderat. Ketegangan otot. Sesak Nafas. Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan. bahkan dengan nyeri hebat. Menangis. karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain.i Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi ´flight atau fight´. saraf simpatis dan parasimpatis bereaksi. RESPON FISIOLOGIS TERHADAP NYERI A. tindakan massase diyakini bisa menutup gerbang nyeri. Setelah transmisi syaraf berakhir di pusat otak.i Menurut teori ini. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. maka sistem parasimpatis akan bereaksii Secara ringkas proses reaksi adalah sebagai berikut:i Impuls nyeri medula spinalis batang otak & talamus Sistem syaraf otonom Respon fisiologis & perilaku Impuls nyeri ditransmisikan ke medula spinalis menutju ke batang otak dan talamus. termasuk area limbik. pada saat individu menjadi sadar akan nyeri. selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak. Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri: Fase antisipasi-----terjadi sebelum nyeri diterima.

Biasanya terjadi karena spasme otot. Peran perawat dalam fase ini sangat penting. karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri.fase ini memungkinnkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif. Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. mulai dari ekspresi wajah. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien. Nyeri ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa adanya intervensi medis. vokalisasi dan gerakan tubuh. setelah keadaan pulih pada area yang rusak. maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Kadar endorfin berbeda tiap individu. dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan. sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. intensitas bervariasi. Fungsi nyeri ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan datang. Fase akibat (aftermath)------terjadi ketika nyeri berkurang atau berhentiR Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat. stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen. Berdasarkan lama/durasinya Nyeri akuti Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya. yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang. Nyeri ini bisa berlangsung terus . maka respon akibat ((aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. berlangsung lama. karena nyeri bersifat krisis. karena nyeri itu bersifat subyektif. perawat menjelaskan tentang nyeri yang nantinya akan dialami oleh klien pasca pembedahan. Rehabilitasi bisa tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang dengan adanya nyeri akut yang tidak terkontrol. nyeri menyebari & lbh lama daripada cutaneus ex: sprain sendi Visceral (pada organ dalam). pemb.R Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. Contoh: sebelum dilakukan tindakan bedah. biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk segera menghilangkan nyeri. terutama dalam memberikan informasi pada klien. untuk itu harus menjadi prioritas perawatan. sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya) Biasanya nyeri terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut C. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan. yaitu nyeri yang muncul dari ligament. Darah. tendon dan syaraf. (Ex: orang yang marah-marah. dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan . atau intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat. bersumber dari emosi/psikis dan biasanya tidak disadari. Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil. dengan begitu klien akan menjadi lebih siap dengan nyeri yang nanti akan dihadapi. iskemia. regangan jaringani B. cranium dan thorak. karena pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain. individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar. KLASIFIKASI NYERI A. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. Fase sensasi-----terjadi saat nyeri terasa. Berdasarkan penyebab: FisikR Bisa terjadi karena stimulus fisik (Ex: fraktur femur) PsycogenicR Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi. sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upay pencegah nyeri. Nyeri kroniki Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu. sebelum nyeri datang. Apabila nyeri akut ini muncul. Berdasarkan sumbernya Cutaneus/ superfisial. G. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar)i ex: terkena ujung pisau atau gunting Deep somatic/ nyeri dalam.

Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri. Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis. Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologis. bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri. Ansietasi Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. Berdasarkan lokasi/letak Radiating paini Nyeri menyebar dr sumber nyeri ke jaringan di dekatnya (ex: cardiac pain) Referred paini Nyeri dirasakan pada bagian tubuh tertentu yg diperkirakan berasal dari jaringan penyebab Intractable paini Nyeri yg sangat susah dihilangkan (ex: nyeri kanker maligna) Phantom paini Sensasi nyeri dirasakan pada bagian. Jenis kelamini Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri. dan saat ini nyeri yang sama timbul. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON NYERI Usiai Anak belum bisa mengungkapkan nyeri. Perhatiani Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri) Makna nyerii Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya. (ex: suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yan gtidak aman. dan respirasiR Respon pasien:Fokus pada nyeri. sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.Ri > 6bln Fungsi fisiologi bersifat normalR Tidak ada keluhan nyeriR Tidak ada aktifitas fisik sebagai respon terhadap nyeriR D. . nadi. tenaga kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Menurut Gill (1990). Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami. Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik Nyeri akut Lamanya dalam hitungan menitR Ditandai peningkatan BP. justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri. karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari ke hari. perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat.sampai kematian. guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri. Klien yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Pengalaman masa lalui Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau. menyetakan nyeri menangis dan mengerangR Tingkah laku menggosok bagian yang nyerR Nyeri kronik Lamanyna sampai hitungan bulan.Tubuh yg hilang (ex: bagian tubuh yang diamputasi) atau bagian tubuh yang lumpuh karena injuri medulla spinalis H. sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Pada nyeri kronik. Tehnik relaksasi. wanita boleh mengeluh nyeri) Kulturi Orang belajar dari budayanya.

Karakteristik nyeri Onset dan durasiZ Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan. Pola nyeriZ . Skala wajah terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri).Pola kopingi Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri. menetap atau terasa pada menyebar KeparahanZ Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang dirasakan. kemudian disuruh memilih yang sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana. serta digunakan untuk mengevaluasi perawatan. Klien yang tidak mampu berkomunikasi efektif seringkali membutuhkan perhatian khusus ketika pengkajian. dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang sama. Pada skala oucher terdiri dari skala dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak-anak yang lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi kanan untuk anak yang lebih kecil. maka perawat menentukan apakah nyeri berlangsung intermiten. persisten atau terbatas. Hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: 1. Foto wajah seorang anak dengan peningkatan rasa ketidaknyamanan dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga dapat memahami makna dan keparahan nyeri. bila klien tidak mampu menggambarkan nyeri yang dirasakan. dapat diukur. Skala ukur bis berupa skala numeric.Ekspresi klien terhadap nyeri Banyak klien tidak melaporkan/mendiskusikan kondisi ketidaknyamanan. Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien. skala ukur. Contoh gambar skala nyeri: Skala wajah wong Skala nyeri skala ocher KualitasZ Minta klien menggambarkan nyeri yang dirasakan. I. Untuk itulah perawat harus mempelajari cara verbal dan nonverbal klien dalam mengkomunikasikan rasa ketidaknyamanan. maka dibutuhkan pengkajian yang rinci tentang karakteristik nyeri dan apabila nyeri bersifat kronik. bantuan dan perlindungan. deskriptif. analog visual. Support keluarga dan sociali Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan.Klasifikasi pengalaman nyeri Perawat mengkaji apakah nyeri yang dirasakan klien akut atau kronik. Untuk memperoleh data ini perawt bias menggunakan alat Bantu. seberapa sering nyeri kambuh. PROSES KEPERAWATAN Pengkajiani Pengkajian nyeri yang factual dan akurat dibutuhkan untuk: Menetapkan data dasarZ Menegakkan diagnosa keperawatan yang tepatZ Menyeleksi terapi yang cocokZ Mengevaluasi respon klien terhadap terapi yang diberikanZ Perawat harus menggali pengalaman nyeri dari sudut pandang klien. biarkan klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri. 3. dapat djelaskan. 2. Klien ditunjukkan skala ukur. Apabila akut. Untuk anak-anak skala yan digunakan adalah skala oucher yang dikembangkan oleh Beyer dan skala wajah yang diembangkan oleh Wong & Baker. kemudian secara bertahap meningkat sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat). dikenali sebagai sesuatu yang nyata. LokasiZ Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa. Keuntungan pengkajian nyeri bagi klien adalah bahwa nyeri diidentifikasi. Anak bisa diminta untuk mendiskripsikan nyeri yang dirasakan dengan memilih gambar yang ada.

pain control dan comfort level dengan kriteria hasil: Menggunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi nyeri yang dirasakani . b. gerakan tubuh. Efek nyeri pada klien Nyeri merupakan kejadian yang menekan atau stress dan dapat mengubah gaya hidup dan kesejahteraan psikologis individu.d low back paini o Perencanaan Perawat mengembangkan perencanaan keperawatan dario diagnosa yang telah dibuat. Penting bagi perawat untuk mengkaji status neurologis klien. karena adanya nyeri yang dirasakan klien bisa berpengaruh pada fungsi normal tubuh. c. derajat pemulihan nyeri yang diharapkan. perawat harus bersedia mendengarkan dan berusaha memahami klien.d nyeri yang dirasakani Koping individu tidak efektif b.d nyeri muskuloskeletali Resiko injuri b. Status neurologis Fungsi neurologis lebih mudah mempengaruhi pengalaman nyeri. Efek pada ADL Klien yang mengalami nyeri kurang mampu berpartisipasi secara rutin dalam aktivitas sehari-hari. Tidak semua klien mampu mengungkapkan nyeri yang dirasakan. dan efek-efek yang harus diantisipasi pada gaya hidup dan fungsi klien.d kekurangan persepsi terhadap nyerii Perubahan pola tidur b. Efek tingkah laku Perawat mengkaji respon verbal. 5. Hasil akhir yang diharapkan dan tujuan keperawatan diseleksi berdasarkan diagnosa keperawatan dan kondisi klien. muntah. Pengkajian ini menunjukkan sejauh mana kemampuan dan proses penyesuaian klien berpartisipasi dalam perawatan diri.d proses keganasani Cemas b. dan interaksi sosial.Nyeri akut b. Tanda dan gejala fisik Perawat mengkaji tanda-tanda fisiologis. konstipasi. ekspresi wajah. o Diagnosa Nyeri akut b. Cara mengatasiZ Tanyakan pada klien tindakan yang dilakukan apabila nyerinya muncul dan kaji juga apakah tindakan yang dilakuk an klien itu bisa efektif untuk mengurangi nyeri. seperti mual. Setiap faktor yang mengganggu atau mempengaruhi resepsi dan persepsi nyeri yang normal akan mempengaruhi respon dan kesadaran klien tentang nyeri. Tindakan preventif perlu dilakukan pada klien dengan kelainan neurologis yang mudah mengalami cidera. pengurangan suplai darah. Laporan verbal tentang nyeri merupakan bagian vital dari pengkajian.d nyeri kroniki Kerusakan mobilitas fisik b. Perawat harus mengkaji hal-hal berikut ini untuk mengetahui efek nyeri pada klien: a. untuk hal yang seperti itu perawat harus mewaspadai perilaku klien yang mengindikasikan nyeri. Tanda lain yang menyertaiZ Kaji adanya penyerta nyeri. 4.d injuri fisik. Perawat dan klien secara bersama-sama mendiskusikan harapan yang realistis dari tindakan mengatasi nyeri. proses melahirkani Nyeri kronik b. Secara umum tujuan asuhan keperawatan klien dengan nyeri adalah sebagai berikut: Klien merasakan sehat dan nyamani Klien mempertahankan kemampuan untuk melakukan perawatan dirii Klien mempertahankan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki saat inii Klien menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan nyerii Klien menggunakan terapi yang diberikan dengan aman di rumahi Contoh rencana perawatan (Renpra): Diagnosa 1. karena klien yang mengalami gangguan neurologis tidak sensitif terhadap nyeri. gelisah. Penting juga untuk mengkaji efek nyeri pada aktivitas sosial klien.d injuri fisik (pembedahan) Kriteria hasil Pain level. Gejala penyerta memerlukan prioritas penanganan yang sama dengan nyeri itu sendiri. keinginan untuk miksi dll.Perawat meminta klien untuk mendiskripsikan ativitas yang menyebabkan nyeri dan meminta lien untuk mendemontrasikan aktivitas yang bisa menimbulkan nyeri.

ngan luar. Distraksii Mengalihkan perhatian terhadap nyeri. tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve stimulation). dengan begitu klien sudah punya gambaran dan akan lebih siap menghadapi nyeri. Bisa dilakukan dengan massase. Orang sakit berarti ada ketidakseimbangan energi. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut. diharapkan ada transfer energi dari perawat ke klien. Stimulasi kutaneus Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas. distraksi sentuhan (massase. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren.Mendiskripsikan cara memanajemen nyerii Mengungkapkan kemampuan tidur dan istirahati Mendiskripsikan terapi nonfarmakologi untuk mengontrol nyerii TTV dalam batas normali Rencana tindakan Manajemen nyeri: Kaji nyeri yang dialami klien (meliputi PQRST)i Observasi ketidaknyamanan nonverbal terhadap nyerii Kaji pengalaman masa lalu klien terhadap nyerii Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk klieni Kolaborasi pemberian analgetiki Ajarkan tehnik nonfarmakologi untuk mengatasi nyerii Dst (lihat lebih lengkap di NIC)i o Intervensi Manajemen nyeri terdiri dari: a. TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar. distraksi intelektual (merangkai puzzle. tindakan harus dihentikan. Akupresuri Pemberian penekanan pada pusat-pusat nyeri Guided imageryi Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Apabila klien mengalami kegelisahan. dengan cara memasang elektroda pada pelipis. b. memegang mainan). dengan memberikan sentuhan pada klien.Farmakologis (kolaborasi)-------penggunaan analgetik Mengganggu penerimaan/stimuli nyeri dan interpretasinya dengan menekan fungsi talamus & kortek serebri. perawat memberikan penjelasan/informasi pada klien tentang pembedahan.i . Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola). mandi air hangat. Non farmakologi (mandiri) Sentuhan terapeutiki Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat mempunyai keseimbangan energi antara tubuh dengan lingku. Biofeedbacki Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. main catur) Anticipatory guidencei Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri. efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. distraksi audio (mendengar musik). sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Hipnotisi Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif. salah satu pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan endorfin. Contoh tindakan: sebelum klien menjalani prosedur pembedahan.

Jakarta : EGC . klien tampak meringis saat berubah posisi A : nyeri akut teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi manajemen nyeri J.d injuri fisik Implementasi Sabtu.00 Memberikan injeksi kaltrofen 1 ampuli Mengobservasi respon nonverbal terhadap nyerii 12. pernafasani 09.30 Mengkaji tingkat nyeri klieni Mengkaji pengalaman masa lalu dalam mengatasi nyerii Mengukur tekanan darah. Fundamental Of Nursing.00 Memonitor istirahat klieni Evaluasi S : klien mengatakan nyeri saat ini pada skala 7 O : TD 110/70. Peran perawat dalam mengatasi nyeri: Mengidentifikasi penyebab nyerii Kolaborasi dengan tim kes lain untuk pengobatan nyerii Memberikan intervensi pereda nyerii Mengevaluasi efektivitas pereda nyerii Bertindak sebagai advokat jika pereda nyeri tidak efektifi Sebagai pendidik keluargai & pasien tentang manajemen nyeri Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. 10 desemder 2006-12-2006 07. R 18 x/menit. Vol: 2. 2002. N 90 X/menit. Keperawatan Medikal Bedah. nadi.Contoh implementasi: Diagnosa Nyeri akut b. Potter & Perry . Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Kozier. . 2006. Vol : 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful