ASAL MASYARAKAT TANA TORAJA Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos

yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan ³tangga dari langit´ untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti ³Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan´, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah ³orang yang berdiam di sebelah barat´. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Sejarah Aluk

Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua. Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi¶ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme¶ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi¶ dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi¶ adalah pembawa aluk Sabda Saratu¶ yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna. Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu¶ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba¶bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja ³To Unnirui¶ suke pa¶pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerahsebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta¶bi,

tetapi diizinkan melakukan ritual kematian. Bue ke daerah Duri.[18] Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman. pemisah. tetapi juga merupakan gabungan dari hukum. yaitu Pabane menuju Kesu¶. dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi). persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. To ungkandei kandean pindan´. Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : ³To Unnirui¶ suku dibonga. praktik pertanian. tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masingmasing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja. bumi adalah tempat bagi umat manusia. disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan. menurut aluk. Pasontik ke Pantilang. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat. Bangkudu Ma¶dandan ke Bala (Mangkendek). tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan .[17] Alam semesta. ditutupi dengan atap berbetuk pelana. dan ritual keagamaan. Pong Lalondong (dewa kematian). atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum").Tabang. perkawinan ini membuahkan delapan anak.[19] Kedua ritual tersebut sama pentingnya. dan dunia bawah. dan surga terletak di atas. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Indo' OngonOngon (dewi gempa bumi). Pote¶Malla ke Rongkong (Luwu). Tangdilino diketahui menikah dua kali. To unkandei kandean pindan´. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi). dan kemudian muncul cahaya. yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial. Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan). dewa pencipta. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Dalam mitos Toraja. Related Posts / Artikel Terkait : Agama Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang disebut aluk.[10] Akibatnya. dan lainnya. yaitu dengan Buen Manik. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar. Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari¶ Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari¶ Allo arti harfiahnya adalah ³Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari´. Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial ³To unniru¶i suke dibonga. agama. Sirrang ke Dangle. surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan. dan kebiasaaan. Parange menuju Buntao¶. leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi¶ti dari Makale membuahkan seorang anak. ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini. Ketika ada para misionaris dari Belanda. Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba¶bana Minanga. orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan.[9] Pada awalnya.

Keluarga ikut memelihara persatuan desa. Kelu Sebuah perkampungan suku Toraja Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam sukuToraja. Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekatt milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). makan dari piring yang sama dengan tuan mereka. orang biasa. [16] Kaum bangsawan. untuk mencegah penyebaran harta. seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan. tinggal di t .[13] Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk [13] bangsawan. ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang. yang dipercaya sebagai keturunan dari surga. Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih [5] dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Setiap desa adalah suatu keluarga besar.Kel i l Dalam masyarakat Toraja awal hubungan keluarga bertaliandekat dengan kelas sosial Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuathubungan kekerabatan. ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas. tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak bisa dibawa saat perang. Hubungan kekerabatan berlangsung secara ¡¤¡ £ ¢¡  ¡¤¡ £ ¢¡  ¨¨§ ©¨§ ¤¦ ¡¤ ¥ . dan perdagangan budak umum dilakukan. sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut ). Budak bisa membeli kebebasan mereka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati. Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Setiap t memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi dii inkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi.

Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. dan saling membayarkan hutang. dan membangun kebudayaannya. paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu. struggle for survival). benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul ´Manusia Bugis´ (2006). Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim. Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja. Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak. Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Begitu mereka bangun dari tidur. Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Nama bibi. beberapa desabiasanya membentuk kelompok. Oleh karenanya. mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya. ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri. termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. kadang-kadang. kelautan (paissangang aposasiang). dengan demikian. keperahuan (paissangang paalopiang). Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan.[14] Anak. Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. ayah dan saudara kandung. tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk. bebrapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain Hubungan antara keluarga diungkapkan melalui darah. dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. yaitu: berlayar (paissangang asumombalang). perkawinan. dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal.[15] Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. berbagi dalam ritual kerbau. dan berbagi rumah leluhur (tongkonan). Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan. mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang. Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut. masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan. dan kegaiban (paissangang). Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar.timbal balik. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan . piring apa yang harus digunakan atau dihindari. Dalam situasi tertentu.

yaitu : * 49 jiwa di kabupaten Tanah Laut * 29. 2000) Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). sebagian besar suku Mandar bermukim di pulau Laut. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut). yaitu ³mandar´ yang berarti ³sungai´ dalam penuturan penduduk Balanipa. populasi suku Mandar di Kalimantan Selatan berjumlah 29. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter. dan bodi-bodi. Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang jarang penduduknya. dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Kabupaten Kota Baru.123 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu) * 17 jiwa di kabupaten Banjar * 1 jiwa di kabupaten Tapin * 2 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan * 7 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah * 12 jiwa di kabupaten Tabalong * 105 jiwa di kota Banjarmasin * 6 jiwa di kota Banjarbaru Mandar dalam Perspektif Kesejarahan Kata Mandar memiliki tiga arti : (1) Mandar berasal dari konsep Sipamandar yang berarti saling kuat menguatkan. Suku Mandar juga berjiwa petualang hingga Ke kalimantan. Menurut situs "Joshua Project" suku Mandar berjumlah 253. penyebutan itu dalam pengembangan berubah penyebutannya menjadi Mandar. dan (3) Mandar berasal dari Bahasa Arab. perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Tampaknya menyebutan itu tidak berpengaruh terhadap penamaan sungai sehingga . Namun jika membaca sejarahnya. Untuk berlayar. Oleh karenanya. Penulis makala ini. Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu. dan tercepat di kawasan Austronesia. Rumah adat suku Mandar di sebut boyang. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. ramah lingkungan. Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada musim ikan terbang bertelur (motangnga). khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. setelah mengajukan berbagai pertimbangan penetapan pilihan pada butir kedua. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting. Populasi suku Mandar di Propinsi Kalimantan Selatan : 29. (2) kata Mandar dalam penuturan orang Balanipa berarti sungai.000 jiwa.322 (BPS sensus th. Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan.rumput laut. akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. sehingga sekilas terkesan rapuh. Suku Mandar adalah suku asli di Sulawesi Barat.322 jiwa. kapal.

Mamuju dan PolewaliMamasa. Dalam konteks geografis. Wilayah Mandar terletak di ujung utara Sulawesi Selatan tepatnya di Sulawesi Barat dengan letak geografis antara 1o-3o Lintang Selatan dan antara 118o-119o Bujur Timur. istilah Mandar mencakup seluruh wilayah sulbar. yaitu sungai: Campalagiang. saya belum menemukan satu artikel yang menjelaskan tentang nama Mandar. berdasarkan keterangan dari A. Saharuddin. Pada perkembangan terakhir berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2002. apabila direnungkan tanpa referensi. dalam buku dari H. kita dapat mengambil kesimpulan yang beralasan tentang penamaan itu. saya ingin mengajak untuk berpaling pada latar kesejarahan. Berdasrkan peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 1960 (Lembaran Negara 1960 Nomor 38). Selain itu masih terdapat sejumlah sungai lain di daerah Pitu Babana Binanga (PBB). Buding-Buding. Sungai itu kini lebih dikenal dengan nama Sungai Balangnipa. dan masyarakat Mandar Mamuju. Penataan administrasi pemerintahan kolonial itu mengalami perubahan ketika pemerintah Indonesia menata organisasi pemerintahan di Sulawesi. Saya berharap dengan mencoba menelusuri Keterangan-keterangan Kesejahteraan. Penataan ini tampak kembali mengikuti penataan pada waktu pemerintahan Hindia Belanda maupun ketika Belanda tentang daerah ini yang saya tekuni. Hal ini tentu mengarahkan perhatian kita pada adanya penyebutan Teluk Mandar dimana bermuara Sungai Balangnipa. . Karena itu. kecuali penyebutan Makassar dan Sulawesi. dalam Konteks Kultural. Mandar. melainkan juga oleh masyarakat suku Toraja di Kabupaten Mamasa. Mandar mencakup masyarakat Polewali. Menurut penulisnya. dan ada Mandar Mamuju. lebih sempit dari pada mandar dalam jangkauan makna geografis. sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandag yang berarti ³Kuat´. dijumpai keterangan tentang asal kata Mandar yang berbeda. pemerintahan memisahkan Mamasa dari Kabupaten polewali-Mamasa dan menjadikannya satu Kabupaten daerah Tingkat II yang Menjadi dengan nama Kabupaten daerah Tingkat II Mamasa. Saiful Sinrang. Lumu. Karama. ada Mandar Majene. kata Mandar berasal dari kata mandar yang berarti ³Cahaya´. Karena itu dapat memberikan kecerahan menyangkut penamaan itu. Demografi (Lokasi Lingk ngan Alam) Gambaran tentang nama Mandar ini cukup membingungkan. Provinsi Sulbar tidak hanya dihuni oleh masyarakat Mandar Polewali. melainkan seluas wilayah yang diperjuangkan menjadi Provinsi Sulawesi Barat (Provinsi Sulbar). Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara terdiri dari 27 Daerah Tingkat II. dimana wilayah Mandar terbagi dalam tiga daerah Tingkat II (Kabupaten) yaitu Kabupaten: Majene.sungai yang terdapat de daerah itu sendiri disebut Sungai Balangnipa. sehingga diperkirakan kemungkinan dahulunya dikenal dengan penyebutan Sungai Mandar. dalam konteks geografis dan bukan konteks kultural. selain itu ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa (Saharuddin. Dengan kata lain. Namun demikian tampak penulisnya menyatakan dengan jelas bahwa hal itu hanya diperkirakan (digunakan kata mungkin). Jadi ada Mandar Polewali. Majene. Kota Mandar secara geografis tidak sebatas dengan wilayah keresidenan (Kabupaten) Polewali atau Majene. Mungkin juga bisah diterima bahwa secara kultural dan terbatas. dan Mamuju. 1985:3). Selain itu. atau mungkin tidak sebatas kedua wilayah ini secara simultan. dan Lariang. Mandar Majene.

932. Musik yang menggebu-gebu tak mampu memancing emosi para penari untuk ikut-ikutan bergoyang menurut irama gendang. Tari-tarian mandar sebagaimana tari lain di daerah Sulsel pada mulanya berawal dari istana.539. mustahil bisa diberdayakan. yang tetap relevan menembus saman dengan berbagai tantangan baru. dan pada saat yang sama pasangan tangan mereka menari nari bukan tanpa kebebasan. Irama musik dalam lagu-lagu mandar secara spesifik mencerminkan setting laut. romantis. hempasan ombak dipantai dan geliat ombak gelombang yang diterbangin angin lembut atau badai bisa dirasakan pada melodi laut di dalam lagu-lagu Mandar yang cenderung eksotik.40 Km2. dan sentimentil. Bandingkan lagu ³Tengga Tengga Lopi´ dengan ³Baturate Maribulang´. riak gelombang yang dinamis.00 Km2 Luas Kabupaten Polewali Mamasa : 9.Luas wilayah Mandar adalah 23. Lagu-lagu Mandar sering dan selincah lagu-lagu Maluku. namun sekaligus selembut irama agraris lagulagu Bugis meski tidak sedinamis lagu-lagu Makassar yang terkesan agak cepat dan kekurangan kelembutan.40 Km2 Luas Kabupaten Majene : 1. Masihkah masyarakat Mandar ingin menghiduokan kembali nilai-nilai utama. namun kebebasan dengan kendali nilai budaya oleh gerakan yang menandakan adanya aturan yang harus ditaati. Namun. catatan ini diharapkan dapat diterima sebagai umpan pancingan untuk memancing hal hal lain dalam kaitan dengan tema pertemuan. tari-tarian yang difungsikan sebagai bagian ritual dari kerajaan akhirnya menjadi tari rakyat yang bukan hanya bertujuan memberikan rasa hormat pada raja sebagai representasi dari dewata.985. Beberapa cabang seni Mandar dapat dikemukakan disini hanya semata-mata sebagai sample dari sekian banyaknya jenis seni milik masyarakat secara turun-temurun. sebelum di berdayakan. Namun. Tanpa budaya yang sudah berdaya. Deburan ombak. melainkan menjadi tari rakyat yang memberi hiburan yang sehat.622. Hal yang sama bisa ditemukan pada tari ³Pakarena´ di dalam seni tari Bugis-Makassar. Lebih parah lagi budaya yang belum berdaya hendak di berdayakan oleh manusia yang tercabut dari akar budayanya sendiri atau oleh masyarakat yang kurang secara kultural.985. terurai dengan : y y y Luas Kab. dalam batas makala pengantar diskusi atau makala pemicu. mustahil dapat dilahirkan karya tulis yang memadai. Tari ³Patadu´ menampakkan suasana langit-bumi yang menyatu dalam gerak kaki para penari yang tak terlepas dari bumi.00 Km2 Jadi luas Kabupaten Polewali sendiri : 9.00 Km2 Dikurangi luas Kabupaten Mamasa sekarang : Km2 Nilai B daya ata Kesenian Tanpa hasil penelitian mendalam dan meluas atau tanpa membaca serta menyimak seluruh hasil penelitian tentang seni dan budaya Mandar.Mamuju dan Mamuju Utara : 11. Bahasa . Buadaya tanpa daya tak bisa di berdayakan. Para penari terkesan menari secara lemah lembut menantang iramagendang yang penuh dengan geliat yang dinamis.

dipahami bahwa bahasa merupakan identitas yang menunjukkan suatu bangsa . Kecuali di beberapa tempat di Mandar. Konon masih sama dengan etnis lainnya di Indonesia. bahwa penggunaan bahasa Mandar sendiri bersamaan lahirnya orang atau manusia pertama yang ada di tanah Mandar. Begitu pula di Mamasa. juga dapat difemui banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa utamanya etnis Jawa . Polmas. bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring Str kt r Pemerintahan Selam dua tahun terakhir. bahasa Mandar juga berasal dari rumpun bahasa Malayu Polinesia atau bahasa Nusantara atau yang lebih acap disebut sebagai bahasa ibunya orang Indonesia. Kabupaten Polewali ±Mamasa dimekarkan menjadi Kabupaten Polewali dan Kabupaten Mamasa. Karena itu. Namun dapat diduga. Majene. sebagai bahasa mereka yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaannya dengan bahasa Mandar. Hal yang lalu dapat dijadikan rujukan adalah adanya bahasa Mandar yang telah digunakan dalam lontar Mandar sekitar abad ke-15 M. Selain daerah Mandar-atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat-tersebut. sangat kencang terdengar tuntutan pemekaran Provinsi Sulsel menjadi sejumlah provinsi. dan Kabupaten (Mandar-)Mamuju. Walau hingga kini tidak jelas benar sejak kapan penggunaan bahasa Mandar dalam keseharian orang Mandar. sebuah suku bangsa juga berlaku hal yang serupa. Tak pelak Mandar sebagai sebuah etnis atau bahkan yang lebih besar dari itu. seperti Mamasa. seperti yag dikutip Abdul Muttalib dkk (1992). Artinya Mandar juga dapat dipahami dan dimengerti bahkan dikenal melalui bahasanya. Sehingga kuat dugaan bahwa bahasa yang digunakan sistem pemerintahan dan kemasyarakatan masa lalu di daerah Mandar telah menggunakan bahasa Mandar. Berdirinya Sulbar sebagai provinsi baru menuntut pemekaran kabupaten sebagai prerequisite yang harus dipenuhi sesuai dengan undang-undang. sebagai bahasa Ibu dari etnis Bugis yang berdiam dan telah menjadi to Mandar (orang Mandar-pen) di wilayah Mandar.Seperti suku-suku atau etnis lainnya yang ada pada suatu bangsa termasuk yang ada di Indonesia. Ibrahim Abas (1999). seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga dapat ditemui penggunaan bahasa Bugis. sedangkan Kabupaten Mamasa tetap saja Kabupaten Mamasa tanpa embel-embel lain seperti Mandar karena mayoritas masyarakat . Tuntutan awal yang sangat menonjol terhadap berdirinya provinsi baru dengan nama Provinsi Sulawesi Barat atau Provinsi Sulbar dicetuskan oleh masyarakat Mandar. Oleh Esser (1938) disebutkan. Sedang menilik area penyebaran bahasa Mandar sendiri. Sementara di daerah Wonomulyo. Kendati demikian di beberapa tempat atau daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa lain. yang untuk itu dapat dicermati dalam beberapa lontar yang terbit pada masa-masa pemerintahan kerajaan Mandar. bahwa mandfarsche dialecten yang awal penggunaannya berangkat dari daerah Binuang bagian utara Polewali hingga wilayah Mamuju Utara daerah Karossa. Usul agar kabupaten diubah menjadi Kabupaten Mandar sebaiknya diubah menjadi ³KABUPATEN MANDAR POLEWALI´ karena kemungkinan masih akan ada Kabupaten (Mandar-)Majene. Mamuju dan Mamuju Utara. yang tinggal dan juga telah menjadi to Mandar di daerah tersebut. etnis atau suku tersebut. hingga kini masih dengan mudah bisa di temui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar seperti. Mamasa. menggunakan bahasa Mamasa.

keadilan. Bisa saja orang Mamasa yang ingin mengubah nama Kabupaten Mamasa menjadi Kabupaten Toraja Mamasa. dan kemajemukan. Sentralisme kekuasaan dalam tangan penguasa yang otoriter telah menguasai masyarakat nusantara yang maje muk yang hidup di berbagai kepulauan nusantara yang bertaaburan diatas samudra. otoda adalah anak kandung dari usaha untuk memerangi ketidakadilan dan usaha untuk mengendorkan kuatnya matarantai kekuasaan otoriter yang membelenggu rakyat atau masyarakat nusantara. lahirnya rencana Provinsi Sulbar adalah juga didasarkan pada reaksi politik terhadap ketidakadilan dan management pemerintahan daerah yang meniru -niru pusat.´ Demokrasi menuntut dihormatinya perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang yang melibatkan masyarakat dengan background multi-ethnic yang saling berbeda. Bukan mustahil. . Desentralisasi dan Otonomisasi daerah (Otoda) harus diakui adalah sebuah proses yang bertolak belakang dari sentralisasi kekuasaan yang otoriter. Kata Toraja menunjukkan etnis budayanya. tak mengherankan bahwa para tokoh pendiri Provinsi Sulbar tidak menjadikan Sulbar Provinsi Mandar seakan-akan Provinsi Sulbar hanya khusus bagi masyarakat Mandar karena Kabupaten Mamasa adalah juga bagian tak terpisahkan dari Sulbar. Kehadiran Provinsi Sulbar diharapkan dapat menjamin penegakan keadilan oleh pemerintah Provinsi (Sulbar) terhadap kabupaten-kabupaten hasil pemekaran. Karena itu. Mayarakat nusantara mengalami perlakuan yang tidak adil. Kata kunci bagi pengembangan Provinsi Sulbar yang sudah lama ditunggu follow-up hukum/undang-undang dan politiknya adalah ³demokrasi. sedangkan Mamasa menunjukkan ikatan politik atau ikatan geografis yang menjadi tumpuan bagi institusi pemerintahan didalam wilayah Provinsi Sulbar yang akan dibangun. Perbedaan itu akan hadir dan menjadi sesuatu kenyataan hidup yang mempesona jika nilai keadilan justru menjadi kekuatan yang menjamin kerukunan hidup bagi masyarakat yang pluralis. Jalan keluar dari ketidakadilan adalah desentralisasi kekuasaan dan otonomisasi daerah. Dengan kata lain.Mamasa termasuk masyarakat Toraja Barat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful