P. 1
Ilm Mustholah

Ilm Mustholah

|Views: 814|Likes:
Published by Luthfi Muhyiddin

More info:

Published by: Luthfi Muhyiddin on Jul 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

Book Report of Ilm Musthalah| 1

Pendahuluan
Perkembangan bahasa arab dewasa ini begitu pesat dan beragam. Salah satu
faktor yang mendukung berkembangnya bahasa Arab adalah munculnya era
globalisasi dewasa ini. Selain itu, dengan dijadikannya bahasa Arab sebagai
bahasa resmi PBB yang merupakan lembaga perserikatan bangsa sedunia
menjadikan bahasa Arab bernilai lebih, sehingga semakin banyak orang yang
meneliti dan mempelajari bahasa Arab, baik untuk kajian ilmiah maupun untuk
praktek dalam lingkup sosial ekonomi dan politik.
Derasnya arus globalisasi yang menerpa berbagai bangsa dan Negara
termasuk Negara-Negara di Timur Tengah yang merupakan komunitas pengguna
bahasa Arab memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan bahasa Arab,
terutama dalam pertambahan perbendaharaan kosa kata serapan dalam bahasa
Arab. Banyaknya istilah-istilah asing yang digunakan dalam era global ini
membuat bahasa Arab harus membuat penyesuaian bagi istilah-istilah tersebut,
sehingga bisa digunakan di kalangan pengguna bahasa Arab.Oleh karena itu
muncul berbagai kosakata serapan baru yang dibakukan.
Namun demikian, pembentukan istilah baru dalam suatu bahasa tidak bisa
dilakukan dengan begitu saja. Tetapi menuntut suatu keahlian dan keilmuan yang
bisa dipertanggungjawab kan terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karenanya,
muncul suatu disiplin ilmu dari bidang ilmu linguistik Arab yaitu Ilm Must}alah.
Ilmu ini membentuk suatu tata cara yang harus dilakukan dalam pembentukan
istilah-istilah baru yang akan dibakukan dan digunakan sebagai bahasa Arab.
Berdasarkan dari hal itu, maka penulisan book report ini mengambil
sumbernya dari buku : ³ Ilm al-Must}alah Wa T{araiq Wad}¶u al-Must}alahat Fi
al-µArabiyah´ karya Dr. Mamduh Muhammad Kasarah. Dalam buku ini
diterangkan bagaimana cara dibentuknya suatu istilah yang nantinya dijadikan
sebuah kosakata baku kedalam bahasa Arab. Dimulai dengan pengenalan
mengenai epistimologi istilah dan kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam
cara pembentukan istilah yang disertai keterangan yang lengkap.
Book reporti ini ditulis oleh seluruh mahasiswa KTT UGM konsentrasi
Linguistik Arab guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Leksikologi dan
Leksikografi Arab pada kuliah Kajian Timur Tengah Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada yang di ampu oleh Profesor Doktor Syamsul Hadi, M.A.
Harapan kami semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua, meskipun kami
sadar tulisan ini masih jauh dari sebuah kesempurnaan.Semoga dapat lebih
disempurnakan lagi kelak.
Book Report of Ilm Musthalah| 2

Daftar Isi
Pendahuluan ............................................ ................................... .......................... 1
Daftar Isi ««««««««««««««««««««««..«««««. 2
1. At}-T{araiq At-Tulata Li Wad}`i Al-Mus}t}alah olehKhodijah«.....«.«
3
2. At-TarjamaholehFarah Lea Magdalena««...««««..««...«««.. 5
3. Terjemah Secara Harfiyah Dan Terjemah Secara Makna
(Maknawiyah)olehTriyanti Nurul Hidayati
«...«««««««««««««««.. 11
4. At-Taulid (Pembentukan Kata) oleh singgih kuswardono «...««..«... 18
5. Taulid Dan Perkembangan Bahasa olehniwari ««««««....««... 20
6. At-Taulid Dan Al-Qiyas Al-Lughawy (Analog Bahasa)
olehMuhammadYunusAnis«««««««««««««.....«...«. 23
7. At-Taulid Dan Al-Qiyas Menurut Para Pembaharu (Muhaditsin)
olehMoch. Choderin«««««««««««...«..«««.«..«««. 32
8. At-Taulid Wa At-Tasmiyah olehLuthfiMuhyiddin«««...««.««« 38
9. Kaidah-Kaidah Tasmiyah(Denominalisasi) olehHanifFathoni«««.. 41
10. Al-Isytiqaq olehTalqis Nurdianto..................... ....................... .....................45
11. Iqtirad}olehMela Yulanda........................ ................................. ................ 72
12. Struktur Suara Dalam Bahasa ArabolehWindy Ayu Lestari ««.««. 81


Book Report of Ilm Musthalah| 3
At}-T{araiq At-Tulata Li Wad}¶I Al-Mus}t}alah
(Khodijah)
Panitia pembentukan istilah-istilah ilmiyah di Baghdad tahun 1926 telah
menetapkan apa yang disebut dengan Undang-Undang dan rumusan-rumusan
dalam pembentukan istilah-istilah, diantaranya yaitu: isytiqaq (derivasi) dan ta¶rib
(arabisasi). Dan pada akhirnya majma¶ ilmy Iraq menetapkan rumusan-
rumusannya yaitu Is^tiqaq (derivasi), Ta¶rib, dan Naht.
Mushtofa Syihabi, dia adalah orang yang paling terkenal dalam pengi¶raban
yang modern mengatakan bahwa: syarat-syarat untuk pemindahan sesuatu yang
umum dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan ringkasannya yaitu:
- Pengeksplorasian makna arab, ini mengharuskan kita untuk meneliti
seluas-luasnya terhadap kata-kata ilmiah yang terkandung dalam
kamus-kamus Arab dan juga berbagai macam buku-buku ilmiah klasik
- Apabila kata asing itu baru atau tidak mempunyai padanan dalam
bahasa Arab, kita menerjemahkannya dengan maknanya apabila
mungkin untuk diterjemahkan atau kita derivasikan dengan kata arab
yang sepadan kemudian kita menelaah kembali cara peletakan atau
pemakaian kata tersebut dengan metode-metode yang telah kita sepakati
isytiqaq/derivasi, majaz/analogi, naht/abreviasi dan tarkib majazi/frasa
majmu¶
- Apabila ada kendala dalam peletakan kata tersebut dengan metode-
metode yang kita sebutkan tadi maka kita sengaja memasukkan kata
tersebut dalam bahasa Arab (ta¶rib/Arabisasi) dengan memperhatikan
qaidah-qaidah yang semestinya.
Dan beberapa pemikir modern berpendapat bahwa metode-metode itu, yang
paling penting: isytiqaq/derivasi, majaz/analogi, ta¶rib/arabisasi dan naht/abreviasi. Ada
pula yang berpendapat, yaitu: qiyas, isytiqaq, majaz, naht, dan ta¶rib.
Ini benar bahwa perkataan-perkataan ini telah mengumpulkan secara umum
antara perbedaan-perbedaan dalam metode-metode pembentukan
istilah,akantetapi dalam hakikatnya terkadang ada beberapa masukan atau
campuran didalamnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 4
Maka dari itu, kita belum bersandar kepada penyusunan mereka dalam
membatasi metode-metode pembentukan. Dan kami telah bersandar pada logika
bahasa dan metodenya, dalam ringkasannya yaitu:
1. Tarjamah: apabila sebelumnya mempunyai pendahuluan berbahasa Arab
dan diketahui, klasik ataupun modern.
2. Pembentukan kata baru: pembentukan kata baru dari istilah asing dengan
salah satu perantara pembentukan kata baru yang sudah diketahui:
derivasi dengan segala macamnya, secara shorfi, ibdali, taqlibi, nahti,
ilhaqi, atau dengan majaz dengan segala cabang-cabangnya, dari mursal
isti¶arah dan ihya¶. Dan dengan dua perantara ini dapat membentuk kata
baru, karena kata-kata yang telah ditetapkan didalamnya, kata-kata arab
yang lahir dari akar-akar arab dan beberapa undang-undang yang
melahirkan kata-kata arab sebagian dari yang lainnnya.
3. Iqtiradl, yang mempunyai 2 macam, yaitu :
1). Arabisasi kata: yaitu dengan menggunakan kata asing yang didaatkan
dari huruf-hurufnya atau suara-suaranya ataupun wazan-wazannya,
yang sesuai dengan undang-undang yang berhubungan dengan suara-
suara Arab (peraturan suara dalam bahasa Arab).
2). Tadkhil (memasukkan kata baru): yaitu dengan menggunakan kata
asing untuk memberikan kata dengan cara yang cepat atau dengan
Arabisasi maka akan terwujud pemasukan kata baru.
Ini merupakan tiga metode yang digunakan dalam penyusunan bahasa
sampai dengan batas yang besar.

Book Report of Ilm Musthalah| 5
AT-TARJAMAH
(Farah Lea Magdalena)
1. Pengertian
Tarjamah ( ΔϤΟήΘϟ΍ ) dari asal katanya rajama ( ϢΟέ ) dari segi bahasa
mempunyaiarti melempar dengan batu atau kalam atau
menyangka/memperkirakan. Sedangkan kata tarjamah baik secara arabiyah
ataupun mustaµribah mengandung banyak maksud atau pengertian lain yang
jauh dari makna aslinya tanpa memutuskan hubungan dengan asal katanya.
Kata tarjamah ( ΔϤΟήΘϟ΍ ) menyebabkan perbedaan pendapat tentang
asal katanya di antara para ahli bahasa dan para ahli perkamusan. Ibnu
Fa>ris, Jauhari> dan Ibnu Manz}u>r berpendapat bahwa kata rajama ( ϢΟέ )
merupakan asal kata dalam bahasa arab sedangkan Zubaidi>
mengklasifikasikan asal katanya yang berdiri sendiri yaitu tarjama ( ϢΟήΗ )
berdasarkan atas arabisasinya
Ada beberapa pengertian dari kata tarjamah ( ΔϤΟήΘϟ΍ ) antara lain:
1. Yang di maksud dengan tarjamah ( ΔϤΟήΘϟ΍ ) secara bahasa mempunyai
makna sebuah tafsiran yang mutlak atau penjelasan kata dan maknanya
dengan tujuan makna kata tersebut adalah makna yang sebenarnya dalam
beberapa bahasa orang arab terdahulu. Seperti halnya yang di katakan
oleh Tabari> dalam bukunya Ja@miµul baya@n µan Ta¶wi@li-l- Qur¶an
yang di kenal dengan tafsir T{abari@ (Abu Jaµfar berkata: terdapat
perbedaan dalam terjemah Al-qur¶an dalam ta¶wi@l firman Allah yang
berbunyi (...Ϣϟ΃ ) maka penterjemahan Al-qur¶an dari penterjemahnya atau
penafsirnya.
2. Akan tetapi banyak yang berpendapat bahwa tarjamah adalah
mentafsirkan bahasa dengan bahasa lain, dapat di katakan dengan
menerangkan perkataannya atau menjelaskannya dengan lisan lain yaitu
penterjemah atau penafsir. Seperti yang di terangkan T{aha@nawi@
dalam Kas^a@f Ist}ila@hat Funu@n yaitu penjelasan bahasa dengan
bahasa lain dan hal ini menguatkan apa yang di tulis oleh T{abari dalam
Book Report of Ilm Musthalah| 6
tafsir T{abari@ yaitu bahwa setiap kita>b apabila telah di sampaikan
kepada lisan orang lain selain penerima aslinya maka itu adalah
terjemahan atau tafsiran.
3. Kecuali ada sebagian dari mereka yang menghubungkan pemahaman
sebelumnya maka di katakan bahwa tarjamah adalah pergantian lafal
dengan lafal lain yang sesuai dengan maksudnya tidak seperti tafsir. Di
harapkan pengertian tarjamah ini adalah pengertian yang mendekati
dengan fungsi atau peran tarjamah istilah-istilah yang kita maksudkan
yaitu periode pertama dari periode-periode tarjamah yang umum. Yang
di maksudkan adalah tarjamah teks atau matan-matan yang tertulis dan
buku-buku secara lengkap.
4. Para ahli sastra dan sejarah menggunakan kata tarjamah dengan makna
perjalanan seseorang dan buku tentang sejarah manusia dinamakan buku
( ϝ΍ ϢΟ΍ήΗ ) seperti tafsir atau penjelasan tentang kehidupannya.
5. Kata tarjamah ( ΔϤΟήΘϟ΍ ) pun terdapat dalam istilah-istilah nahwu, para
ahli kufah mengartikannya dengan mengganti. Contohnya dalam Firman
Allah dalam surat As s}a@fa@t ayat 6
´´´´1´Hb.¬N´OBbL.1·´´´)B.M´òHPOBb.
´äB./´´OBbB´1´·´´B´ò´lkata
´1´Hb.¬N´OBbmerupakan tarjamah atau sebagai pengganti dari
L.1·´´´) dan banyak orang mengira bahwa sebagian ulama
kufah mengartikan kata mutarjim dengan makna tamyi<z. Secara umum
pengertian tarjamah sekarang adalah perpindahan kata dari satu bahasa
ke bahasa lain, kumpulan kosakata dan teks yang sudah terhimpun dalam
buku-buku yang lengkap.
6. Dan sekarang kita dapat memberikan pengertian bahwa tarjamah adalah
penamaan kata asing yang banyak terdapat dalam istilah ilmiah sesuai
atau sepadan dengan maksud dalam Arab sebelumnya. Dan syarat dalam
tarjamah adalah adanya kesesuaian atau kesepadanan kata Arab yang
sudah terdapat dalam bahasa sebelumnya. Contohnya kata radio
kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi miz\ya>µ
Book Report of Ilm Musthalah| 7
Tarjamah merupakan suatu cara dan bagian dari metode arabisasi dan
beberapa kosakata terjemahan yang sudah lazim banyak di gunakan dalam
ilmu geografi dan filsafat. Ada 151 kosakata dari 268 istilah asli dalam
geografi yang sudah di terjemahkan oleh dewan bahasa Qa>hirah. Akan
tetapi hal ini semakin berkurang ketika istilah-istilah mengalami
perkembangan ke dalam ilmu modern. Seperti halnya dalam istilah-istilah
elektronik hanya 87 istilah yg di terjemahkan dari 270 istilah aslinya.
Sebenarnya belum ada istilah-istilah terjemahan sampai munculnya ilmu-
ilmu modern seperti fisika nuklir, karena sebelumnya masih menggunakan
istilah-istilah arab yang lama seperti, qalbu mufa>µal dan mubarrid.
2. Referensi /Sumber rujukan tarjamah
Telah di jelaskan di atas bahwa pengertian tarjamah adalah penamaan
kata asing yang banyak terdapat dalam istilah ilmiah sesuai atau sepadan
dengan istilah dalam Arab sebelumnya. Dan syarat dalam tarjamah adalah
adanya kesesuaian atau kesepadanan kata Arab yang sudah terdapat
sebelumnya. Untuk itu perlu adanya pembahasan istilah-istilah bahasa arab
yang masih belum jelas artinya dengan referensi atau sumber rujukan utama.
1. Muµjamat Arabiyah µA<mah atau Kamus-kamus umum bahasa arab
Merupakan kamus yang kaya dengan istilah-istilah untuk mencari
padanan terjemahan suatu istilah apalagi yang berhubungan dengan
perintah untuk menerjemahkan makna-makna yang umum seperti sifat-
sifat dan mas}a>dir. Arab telah mengetahui periode-periode peradaban
yang mempunyai kebudayaan-kebudayaan pada setiap masing-masing
periode, maka banyak istilah-istilah yang mereka kumpulkan dalam
kamus-kamus untuk mengungkapkan macam-macam kepentingan atau
tujuan mereka. Banyak kamus-kamus umum atau muµjamat µa>mah
beredar dan berkembang lebih dari 15 pada abad ke 12 H. Contoh
kamus-kamus tersebut adalah Al-maqa@yi@s Ibnu Fa@ris, As-s}ahah
Jauhari@, Lisa@nul µarab Ibnu Mandu@r, Kamus Al-muhi@d
Fairu@za Aba@di, dan Ta@ju-l-µuru@s Zubaidi.
2. Kutub Lug\ah atau Buku-buku bahasa
Book Report of Ilm Musthalah| 8
Buku-buku ini sering di sebut sebagai kamus-kamus tematik dan makna
yang merupakan sumber-sumber yang tepet untuk menterjemahkan
istilah-istilah dan menurut sumber yang paling kuat bahwa buku-buku
bahasa yang ditulis atas dasar tematik merupakan kaidah-kaidah yang di
ambil dari kamus-kamus umum dan materinya diangkat dari masalah
yang berhubungan dengan bahasa. Contoh kamus-kamus tematik yang
terkenal antara lain, kalqu Al-insa@n, Al-Ibil, Al-Kail oleh beberapa
pengarang, Al-Has^a@ra@t oleh Abu Kairah dan Abu Hati@m
Sajasta@ni@ dan buku tentang Hayya@t dan µAqa@rib oleh Abu
Ubaidah. Sedangkan contoh buku-buku tematik yang berbentuk teks
dinamakan buku-buku As-s}afa@t seperti As}-s}afa>t Abu Kurairah
Al aµra>bi dan As-shafa>t oleh Nad}ir Ibnu Syami<l dan mencakup
sebagian juz dari buku Khalqu-l-Insa>n wa Zarµi wa Amt}a>r dan lain
sebagainya. Dari semua buku-buku tersebut di atas semuanya dari
pengarang-pengarang pada periode ke 3 Hijriyah. Dan beberapa contoh
dari buku-buku atau kamus-kamus tentang makna antara lain Al-alfaz}
oleh Ibnu Saki<t, At-talkhis} oleh Abu Hala>l, Al-alfaz} Al-Kita>biyah
oleh Hamz}a>ni< dan Fiqh Lugah oleh S|aµa>labi.<
3. Kutub Tura>s µilmi< atau Buku-buku warisan Ilmu Pengetahuan
Buku-buku warisan tersebut merupakan hasil dari pembahasan ilmu-
ilmu tarjamah yang lebih dahulu terkumpul dalam kumpulan ±
kumpulan besar dari buku-buku ilmu pengetahuan yang di dalamnya
terdapat banyak istilah-istilah yang di terjemahkan dan pembentukan
istilah-istilah baru (Tauli<d) contohnya buku Al-H}a>wi dalam ilmu
kedokteran oleh Ar Ra>zi<, Assyifa>¶ dalam ilmu mantiq oleh Ibnu
Si<na, Al-Fila<h}ah Andalusiyah oleh Ibnu µAwwam Isybi<li<,
Subh}u Aµsya< oleh Qalqasyandi< dan Qawa>ni<n Ad dawa>wi<n
oleh Ibnu Mamma>ti<. Dewan bahasa Qa>hirah banyak menggunakan
istilah-istilah pertanian dalam buku Qawa>ni<n Ad dawa>wi<n seperti
kata al ba>q, barsy, khirs, As siba>kh. Dari beberapa kumpulan buku
tersebut saling melengkapi satu dengan yang lainnya, apabila tidak di
Book Report of Ilm Musthalah| 9
temukan dalam kamus-kamus umum maka bisa di temukan dalam
buku-buku tura>s| atau buku-buku lama.
4. Lahjah µA>miyah atau dialek µa>miyah
Para ahli modern atau kontemporer kembali menjadikan dialek
µa>miyah sebagai rujukan tarjamah dan sebagian bentuk dari arabisasi
tidak banyak menggunakan kosakata bahasa fus}a yang sudah ada.
Akan tetapi perlu di perhatikan dalam penggunaan tidak seperti
penggunaan bahasa dengan dialek µamiyah secara bebas. Untuk itu
kosakata-kosakata yang di gunakan secara umum mencakup beberapa
hal, antara lain:
a. Bagian dari bahasa arab akan tetapi belum di kodifikasikan dalam
kamus-kamus dan digunakan secara umum serta di wariskan oleh
generasi ke generasi selanjutnya misalnya, kata mallu<l ( ϝϮ˷ Ϡϣ )
adalah bagian dari kata ( ρϮ˷ ϠΒϟ΍ ) dan kata ( ΔϴϗΎδϟ΍ ) merupakan alat
untuk menaikkan air di mesir, yang di ambil dari Faransiyu<n
kemudian ditetapkan dalam kamus-kamus mereka, yang pada suatu
waktu kembali menggunakannya dengan artinya dari beberapa
kata-kata atau lafal-lafal yang umum.
b. Yang berkenaan dengan bahasa arab yang benar tapi secara khusus
menjauhi antara keumumannya sebagai pertimbangan dan
penjagaan atas syubhah µamiyahnya atau kesenangan pembaharuan
misalnya, kata-kata berikut: ( βϋΩ ˬϝΎ˷ τΑ ˬωΎ˷ ϴΑ )
c. Kata-kata yang di arabkan secara umum dan tersebar yang sebagian
sudah di sepakati di samping itu sebagian lainnya sudah
mendapatkan persetujuan misalnya, ( ζϳϭΪϧΎγ ˬϢϘσ ˬΔηέϭ )
d. Sebagian dari bahasa arab yang asli akan tetapi bertentangan
dengan peran dan fungsi kebahasaan yang bukan kaidahnya dengan
mengganti huruf atau penambahan dan pengurangan hurufnya.
Misalnya, kata ( ϞΘΒϛ ) yang aslinya ( Ϟ˷ Θϛ )
e. Kata-kata yang diungkapkan secara umum walaupun telah
disepakati tidak ada asal atau dasar katanya dalam bahasa.
Book Report of Ilm Musthalah| 10
Ada beberapa kata atau lafal dalam perkamusan yang digunakan
secara umum antara lain seperti kata: ( ΔΒτμϤϟ΍ ˬϙΎϣΪϤϟ΍ ˬΔϓΎδϟ΍ )
Kawa>kabi< menggunakan beberapa istilah dalam ilmu kimia
dengan bahasa µa>miyah misalnya: kata ( ϥϮϠϴΒϟ΍ ) atau kaolin.
Sebenarnya istilah-istilah µa>miyah mungkin bisa digunakan
sebagai istilah dalam perkamusan apabila merupakan bahasa arab
yang original tetapi hal ini banyak diabaikan karena tidak di
temukan asal atau dasar katanya dalam perkamusan dan seringnya
diungkapkan dalam dialek umum. Seperti halnya dalam
pembentukan kata baru yang umum dari dasar-dasar bahasa arab
misalnya: ( ΓέΎΣΪϟ΍ϭ ˬΓέΎϔΤϟ΍ϭ ˬΔϟΎΒΠϟ΍ ) dan tidak menemukan
kecurigaan secara umum dalam proses arabisasi yang di sepakati
misalnya: ( Δηέϭ ) dari bahasa inggris workshop dan (ϢϗΎσ) dari kata
tagma.

Book Report of Ilm Musthalah| 11
Terjemah Secara Harfiyah dan Terjemah Secara Makna (Maknawiyah)
(Triyanti Nurul Hidayati)

Terjemah adalah memindahkan lafadz-lafadz dan pikiran-pikiran dari satu
bentuk bahasa ke dalam bentuk bahasa lain. Dalam penerjemahan, terdapat fase-
fase/tingkatan-tingkatan yang harus dilalui, yaitu: fase pertama adalah
menafsirkan kosa kata, keterangan, dan menerjemahkan berdasarkan pada konteks
sebelumnya. Hal ini dikarenakan, dalam pembentukan kata/istilah berkaitan
dengan kosa kata.Sebuah kata tidak dapat dipahami kecuali dari hubungan yang
kembali kepadanya, dan hubungan ini yang membatasi tema yang diangkat, serta
pemikiran secara umum.Hal ini dikarenakan setiap kata memiliki makna secara
bahasa dan biasanya juga memiliki makna secara istilah.Pada kata ˴ Ϟ˴ ϣΎ˴ ϋ memiliki
makna yang dibatasi dalam kamus.Tidak sah apabila penerjemahannya pada kata
itu sendiri dalam teks sintaksis (nahwu), hukum, atau sejarah.Terjemah kata yang
di dalam kamus memiliki makna bahasa disebut terjemah harfiyah, sedangkan
terjemah yang memiliki makna penggunaan istilah (makna istilah) disebut
terjemah dengan makna (terjemah maknawiyah).
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan Arab dalam istilah
penerjemahan harfiyah atau penerjemahan dengan makna (maknawiyah). Pada
kalangan ϥΎϴΟΎϨϴϣ ϙέϮϔϴϛ , dalam makalahnya menulis bahwa terjemah istilah
³pneumatic´ yaitu paru-paru. Contoh seperti ini disebut terjemah harfiyah untuk
kata. Pendapat kalangan tersebut dibantah oleh Dr. Mustafa Nazif, yang
menjelaskan bahwa keseluruhan penggunaan istilah ³pneuma´ dalam ilmu-ilmu
alam, jika diperhatikan maka di dalamnya terdapat makna nisbah/ penyandaran
kepada kata µudara¶ dan µpernafasan¶, dan tidak memiliki makna nisbah kepada
µparu-paru¶.
Terjemah harfiyah untuk istilah ³conference´, yaitu µmembandingkan¶,
sedangkan terjemah dengan makna (maknawiyah), yaitu µmuktamar¶. Terjemah
istilah ³sumposion´ yaitu µpesta/ perjamuan¶ atau µpesta minuman setelah
perayaan¶.Adapun terjemah maknawiyahnya, yaitu µpertemuan¶.Terjemah
Book Report of Ilm Musthalah| 12
harfiyah pada ³Rodium bomb´, yaitu µbom radium¶, sedangkan terjemah dengan
makna (maknawiyah) nya yaitu µsumber merasakan Radium¶.
Permasalahan yang terlihat adalah µapakah pada sebuah kata mengambil
dengan arti bahasa dalam kamus atau arti penggunaan istilah?¶.Sebagai contoh
pada kata ³occasion´ mungkin diterjemahkan dengan µkesempatan, peluang
baik¶.Semua arti tersebut mendekati arti harfiyah.Adapun terjemah dengan arti
istilah adalah µkeringanan¶.Sebagian ilmuwan Arab berpendapat bahwa dalam
terjemah harfiyah untuk istilah diperbolehkan, apabila disesuaikan arti bahasanya
yang menunjukkan kepada arti istilah. Contoh penyesuaian dalam dua makna/arti
yaitu pada kata ³resistance´ / ΔϣϭΎϘϤϟ΍ .
Terjemah harfiyah tidak memiliki tempat/peluang pada area istilah, karena
tidak ada kesesuaian antara kedua makna, yakni arti secara bahasa dan arti secara
istilah. Dalam hal ini, terdapat pada kata Ύϣ (ma>). Pada pembahasan sebelumnya,
batasan istilah sudah dijelaskan bahwa lafadz yang tidak menunjukkan arti bahasa
akan tetapi arti lain yang menunjukkan kesesuaian atasnya walaupun tidak keluar
dari makna aslinya, maka dia tetap sama pada bentuk tunggalnya secara umum.
Pada contoh kata dalam bahasa Arab, yaitu ˵ ΏΎΑ (ba>bun), berasal dari kata umum,
kemudian dipindah ke dalam bahasa istilah, misalnya ϲϟΎόϟ΍ ΏΎΒϟ΍ (alba>bul-µa>li),
yang mempunyai arti µmemukul kepala menteri (pada masa daulah Usmaniyah)¶.
Kata ΏΎΒϟ΍ (alba>bu) memiliki arti golongan tertentu pada sebagian kelompok yang
bermadzab Sufi (aliran Sufi).
Terjemah harfiyah juga diperbolehkan dalam sifat, seperti kata panjang dan
kaya, kemudian diikuti sebuah perantara (mediator), yaitu yang menghukumi pada
penerjemahannya. Pada kata sifat µtinggi¶, dijelaskan dengan kata µatas¶, µunggul¶,
µnaik¶, µmendaki¶. Oleh karena itu, kita juga dapat mengatakan dengan µtempat
tinggi, tempat atas¶.
Terjemah harfiyah mengganti terjemah bentuk asing dengan menggunakan
pandangan Arab.Seperti terjemah ism fa¶il dengan ism fa¶il yang membatasi.Akan
tetapi ilmuwan-ilmuwan Arab belum melihat kedaruratan seperti terjemah
harfiyah ini. Pada terjemah istilah, kata ³emetique´ dalam bahasa Perancis, yaitu
Book Report of Ilm Musthalah| 13
dengan bentuk nisbah kepada kata Γ΄ϴϘϣ , yang artinya ism fa¶il Ί˷ ϴϘϣ, dalam bahasa
Arab yang artinya muntah.
Terdapat perbedaan dalam penerjemahan yang sering dipakai dalam hal
perekonomian, missal pada ³Laissez-Faire´.Pada kata tersebut, terjemah
harfiyahnya yaitu mogok kerja.Kemudian juga diterjemahkan dengan µpolitik
tidak masuk¶, µpolitik meninggalkan¶, dan µbebas kerja¶.
Penerjemahan secara harfiyah terkadang boleh, tapi terkadang juga dilarang.
Sebagaimana dalam contoh kata ³biscuit´, yang memiliki arti harfiyahnya ΥϮΒτϤϟ΍
ϦϴΗήϣ , yang mempunyai arti masakan dua kali. Para ilmuwan Arab menganggap
hal itu bukan merupakan arti harfiyah, akan tetpai merupakan lafaz serapan dari
bahasa asing.
Kita tidak melihat bentuk antara terjemah harfiyah dan terjemah yang
makna (maknawiyah), akan tetapi ada sebuah permasalahan yaitu apakah terjemah
tersebut mempunyai kesesuaian dengan hubungan terhadap konteks atau tidak.
Terjemah yang mempunyai hubungan dengan konteks adalah segala sesuatu yang
menyebabkan kembali kepadanya. Hubungan itu sudah ada pada terjemah
harfiyah dan tidak pada yang lainnya. Pada contoh kata ³Sang Froid´ yang
diartikan dengan µhati yang tabah¶ atau µhati yang tetap¶. Hal ini mempunyai
hubungan dengan sastra (dipandang dari kata-kata kiasan). Tidak diperbolehkan
dalam penerjemahannya hanya diartikan secara harfiyah saja, yaitu µdarah dingin
(tenang)¶, dikarenakan hal ini mempunyai kaitan dengan konteksnya, yakni ilmu.
Pada kata ³Shop´ dalam bahasa Inggris, yang wajib diterjemahkan secra harfiyah
yaitu sesuatu yang berkaitan dengan perdagangan (dengan took atau kedai), dan
wajib diterjemahkan dengan µtempat kerja/perusahaan¶, apabila konteksnya
arsitektur atau bangunan.
Telah ada kesesuaian antara penerjemahan harfiyah dan terjemah dengan
makna (maknawiyah). Hal itu, apabila istilah diletakkan dalam bahasa aslinya
dinamakan dengan makna. Pada istilah Yunani, kata ³kin kos´, yang orang-orang
terdahulu meletakkan dalam istilah filsafat, yang berarti µanjing¶.
Telah ditetapkan, bahwa terjemah itu disesuaikan engan konteksnya, karena
terjemah dengan makna (maknawiyah) atau terjemah istilah kurag sempurna
Book Report of Ilm Musthalah| 14
ketelitiannya. Sebuah kata, tidak mesti memiliki makna istilah, akan tetapi
biasanya memiliki makna sebagaimana sebelumnya. Hal yang paling sulit adalah
mengusulkan sebuah kata dalam bahasa arab yang dilepaskan dari konteksnya.
ϖΣ΍ϮϠϟ΍ϭ ϖΑ΍Ϯδϟ΍ ΔϤΟήΗ
Terdapat tiga pendapat tentang bahasa, yaitu bahasa ϞϴϠΤΗ(tahlili), bahasa
ΔϴϗΎλϻ΍, dan bahasa ΔϟίΎόϟ΍. Selain ketiga bahasa tersebut, juga terdapat pendapat
lain, yaitu adanya bahasa manusia, yang tumbuh dengan
penyendirian/pengasingan. Kemudian berkembang menjadi ΔϴϗΎμϟ·, lalu
berkembang ke yang lebih tinggi lagi, yaitu bahasa ϠϴϠΤΘϟ΍ Δϴ .
Bahasa ΔϟίΎόϟ΍adalah bahasa yang tidak dapat dirubah, dan pada kata aslinya
tidak boleh dilekati dengan huruf-huruf tambahan, baik sebelum kata maupun
sesudahnya. Contoh dalam hal ini adalah bahasa Cina. Selain itu, juga banyak
pada bahasa-bahasa Baduwi. Adapun bahasa ΔϴϗΎμϟ΍, adalah bahasa yang
menghubungkan atau menyampaikan. Hal ini yang membedakan dengan imbuhan
yang di awla dan di akhir yang terikat dengan aslinya, kemudian mengalami
perubahan pada maknanya. Contoh terkenal yang termasuk bahasa μϟ΍ ΔϴϗΎ adalah
bahasa Jepang dan Turki. Bahasa ΔϴϠϴϠΤΘϟ΍adalah bahasa yang mengalami
perubahan bentuk dengan perubahan maknanya. Contohnya yaitu bahasa Samiyah
dan yang terlihat pada bahasa Arab, sedangkan yang lebih banyak pada bahasa
Indo-Eropa.
Imbuhan apabila terletak di awal kata maka disebut sawabiq dan apabila
terletak di akhir kata disebut lawahiq. Pada istilah, kata ³mangeable´ mempunyai
arti Ϟϛϸϟ ϞΑΎϗ . kata ³mangeable´ mempunyai akar dan imbuhan. Akarnya yaitu
kata ³mange´, dan imbuhan yang melekat di akhir adalah ³able´. Dalam istilah,
imbuhan yang melekat tidak hanya satu, tetapi bisa juga dua bahkan tiga. Contoh
istilah yang diberi imbuhan oleh dua kata adalah ³immangeable´. Contoh tersebut,
tersusun dari akar kata ³mange´, imbuhan di awal berupa ³im´, dan imbuhan di
akhir bereupa ³able´. Adapaun contoh istilah yang diberi imbuhan tiga kata
adalah ³hypercholesterolaemia´, yang bermakna µtambahan kolesterol pada
Book Report of Ilm Musthalah| 15
darah¶. Kata cholesterol merupakan akar kata yang di dalamnya terdapat imbuhan
di awal dan di akhir. Akar kata ini memiliki tiga kata yang melekat padanya, yaitu
³chol´ yang mempunyai arti unsure/pertikel yang berwarna kuning (emas), ³ster´,
mempunyai arti ³unsure penopang. Kemudian kata ³ol´ merupakan imbuhan yang
melekat di akhir yang mempunyai makna unsur yang tersusun dari sesuatu yang
aslinya menimbulkan bencana/mala petaka. Adapun kata ³alchol´ merupakan
akhiran sebagai penutup pada kata tersebut.
Tambahan yang berupa imbuhan baik di awal maupun di akhir, dengan
penambahan istilah ilmiah, menurut Mustafa Syihabi dalam bukunya yang
berjudul Istilah-Istilah Ilmiyah (1953), menjelaskan bahwa terdapat 23 imbuhan.
Hamzawi (1983: 650), mengklasifikasikan terdapat 650 imbuhan, yang terdiri dari
528 awalan dan 122 akhiran. Adapun Muhammad Shadiq al Hilali (1987)
memerinci, terdapat 1070 imbuhan yang melekat pada kata. Contoh awalan yaitu
³bar´ pada kata µbarometer¶. Kata ³bar´ yang menunjukkan arti µberat¶, µtekanan¶.
Contoh awalan yang lain yaitu ³de´ pada kata µdesarme¶. Awalan ³de´
menunjukkan arti µmelepaskan¶, µmenurunkan¶, ;menyingkirkan, µmenjauhkan¶.
Contoh akhiran, yaitu ³ose´ pada kata µmaltose¶. Akhiran ³ose´ menunjukkan arti
µgula¶. Contoh akhiran yang lain, yaitu ³logie´ pada kata µgeologie¶ yang berarti
ilmu bumi. Akhiran ³logie´ menunjukkan arti µilmu¶.
Terdapat empat cara/metode dalam terjemah imbuhan, baik di awal
(sawabiq), maupun di akhir (lawahiq), yaitu:


1. terjemah dengan makna ) ϰϨόϤϟΎΑ ΔϤΟήΗ (
Terjemah dengan makna adalah meneliti sebuah kata yang di dalamnya
terdapat makna imbuhan dan menjadi satu dengan makna kata aslinya,
kemudian menjadi terjemah dengan susunan saling mensifati, sehingga
artinya sesuai yang dimaksud. Contoh dari ϰϨόϤϟΎΑ ΔϤΟήΗ adalah pada
istilah ³hypersensibilite¶. Pada istilah tersebut, yang merupakan imbuhan
di awal adalah ³hyper´. Imbuhan ³hyper´ mempunyai arti µberlebihan¶,
µmelampaui batas¶. Contoh yang lain, yaitu pada kata asli µsensibilite´,
Book Report of Ilm Musthalah| 16
yang memiliki arti µrasa¶, µperasaan¶, kemudian diterjemahkan dalam
istilah, yaitu µrasa yang berlebihan¶.
2. terjemah dengan bentuk/struktur dasar ) ΔϴϨΑϷΎΑ ΔϤΟή˷ Θϟ΍ (
Terjemah dengan bentuk adalah mengkhususkan bentuk/wazan-wazan
dengan suatu makna dalam bahasa arab untuk digunakan pada bahasa
asing. Contoh, pada wazan ϝΎόϔϣµmif¶a>lun¶ merupakan wazan untuk
ismul-a>lah dalam bahasa Arab, sedangkan akhiran ³metre´ pada bahasa
asing, mempunyai bentuk pada kata aslinya. Oleh karena itu,
penerjemahan istilah asing³choronometre´ dalam bahasa Arab yaitu
dengan ΕΎϘϴϣ yang berwazan ϝΎόϔϣµmif¶a>lun¶. Contoh wazan˲Ϟ˴ ό˸ϔ˶ ϣ, yaitu
kata͇ ϊ˴ θ˶ ϣ: ³radiometer´. Contoh wazan ˲ΔϠ˴ ό˸ϔ˶ ϣ, yaitu kata ˲Δ˴ ϗ˴ ή˸Β˶ϣ: ³telegraphe´.
Contoh wazn ˵ ϝϮ˵ό˴ ϓ, yaitu pada kata ˲ϝ˸Ϯ˵ Ϡ˴ Σ: ³dialisable´
3. terjemah dengan pola ) Δϐϴ˷ μϟ ΎΑ ΔϤΟή˷ Θϟ΍ (
Dalam pembahasan terjemah dengan pola, terdapat empat pola, yaitu
tas}gi>r, nisbah, mas}dar s}ina>¶i, dan jama>¶mu¶annas\ sa>lim.
a. Diterjemahkan dengan pola tas}gi>r . Contoh: awalan ³sub´ pada kata
µsubgenus¶. Dalam bahasa Arab kata µsubgenus¶, pola tas}gi>r nya
adalah ˲β˸ϴ˴ Ϩ˵Ο.
b. Diterjemahkan dengan pola nisbah dalam bahasa Arab. Contoh:
ensiform: ˸ϲ˶ ϧ˴ Ύϔ˸ϴ˴ γ, crystaloide: ϲϧ˴ ΍έ˸Ϯ͉Ϡ˶Α, jasmines: Δ͉ϴ˶Ϩ˸ϴ˶Ϥ˸γ˴ Ύϴϟ΍ ˵ Δ˴Ϡ˸ϴ˶Β˴ Ϙ˸ϟ΍ , alcoholique:
˷ϲϟ˸Ϯ˵ Τ˵ϛ, cribriforme: ϲϟΎΑ˸ή˶ Ϗ .
c. Diterjemahkan dengan pola mas}dar s}ina>¶i dalam bahasa Arab.
Contoh: imperialisme: Δ˷ ϴ˶τ͊ Ϡ˴ δ˴ Η, sociolisme: Δ͉ϴ˶ϛ˴ ΍ή˶Θ˸η΍.
d. Diterjemahkan dengan pola jama>¶mu¶annas\ sa>lim. Pada pola ini,
biasanya digunakan pada kata yang memiliki akhiran µics¶, contoh:
nucleomics : ΕΎϳ˶ϭ˴Ϯ˴ϧ, statistics: ˴ Ύμ˸Σ· ΕΎϴ˶ ΋ , acostics: Ε˴ Ύϴ˶Η˸Ϯ˴ λ.
4. terjemah dengan melukiskan/menggambarkan akhirannya ) ΔϘ˶Σϻ Ϣ˷ ϫϮ˴ ΘΑ ΔϤ˶Ο˸ή˷ Θϟ΍ ( .
ΔϘ˶Σϻ Ϣ˷ ϫϮ˴ ΘΑ ΔϤ˶Ο˸ή˷ Θϟ΍ adalah terjemah yang berusaha menggunakan sebagian
akhiran dalam bahasa Arab untuk mengungkapkan pada akhiran yang
dipakai dalam bahasa Eropa. Biasanya, akhiran dalam bahasa Arab
Book Report of Ilm Musthalah| 17
menggunakan Ζϳ. Contoh: kata Ζ˸ϳ˶ή˸ ϔ˶ ϋ dipakai untuk menjelaskan kata
dalam istilah asing, yaitu ³zoologiste´ dan ³botaniste´ ) Ζ˸ϴ˶ΗΎ˴ Β˴ϧ˴ ϭ Ζ˸ϴ˶ ϧ΍˶ Ϯ˴ ϴ˴ Σ ( .

TERJEMAH YANG DIRINGKAS/ DISINGKAT
Dalam nama-nama asing yang asli terkadang terdapat beberapa nama yang
panjang yang tersusun dari beberapa kata. Dan ketika nama-nama tersebut sulit
digunakan untuk diungkapkan atau diterangkan dengan sebuah istilah, maka
dibolehkan meringkas/ menyingkat nama yang panjang tersebut dengan membuat
bentuk susunan kata baru dengan mengambil awalan kata tersebut yang
menunjukkan kepada nama yang panjang yang dimaksud. Missal pada kalimat
³Radio detection and ranging´, dapat diringkas dengan ³Radar´, ³Aderma
Cortical Trophic Hormone´ dapat diringkas dengan ³acth´.
Meringkas sebuah kalimat juga bisa menggunakan cara dengan menghapus,
kemudian meringkas huruf-huruf yang banyak diulang dalam penulisan. Misal
kata ΎϧήΒ˸Χ΃, dapat diringkas dengan Ύϧ, ΎϨΛ˷ ΪΣ dapat diringkas menjadi Ύϧ, λ ϭ ϪϴϠϋ Ϳ΍ ϰϠ ϢϠγ
dapat diringkas dengan " ι " atau " ϢόϠλ " .
Adapun yang berkaitan dengan singkatan dalam bahasa Arab adalah
menyerupai antara yang ditulis dan diucapkan.
Book Report of Ilm Musthalah| 18
TAULIID (Pembentukan Kata)
(Singgih Kuswardono)

Tauliid (Pembentukan Kata) merupakan metode kedua dalam arabisasi
atau pengaraban sebuah kata/ istilah. Sedangkan dalam pengembangan kosakata
bahasa Arab, tauliid merupakan metode utamanya.
Dalam bahasa Arab terdapat beberapa istilah terkait dengan pembentukan
kata, yaitu tawallud dan tauliid. Secara leksikal, tawallud bermakna mencapai
sesuatu dari sesuatu, sedangkan tauliid bermakna menghasilkan sesuatu dari
sesuatu. Adapun dalam bahasa, tauliid menjadi sebuah istilah yang bermakna
sebuah proses untuk menghasilkan suatu kata dari kata lainnya atau proses untuk
menciptakan suatu kata yang belum ada sebelumnya.
Tauliid sebagai proses pembentukan kata meliputi proses morfologis dan
proses analogis. Contoh bentuk proses morfologis tauliid seperti afiksasi pada
kata ΃ Ϟλsehingga menjadi Ϟϴλ΃ atau ΔϟΎλ΃ atau afiksasi pada kata ήτϣ sehingga
menjadi έΎτϤΘγ΍. Contoh proses analogis tauliid seperti analogi pada kata έΎτϗyang
bermakna kereta api diambil atau dialogkan pada makna sebelumnya yaitu
rombongan unta. Kata yang dihasilkan dari tauliid disebut muwallad (kata
bentukan).

Pendapat Awal Tentang Istilah Al Muwallad
Istilah al muwallad dipadankan dengan al dakhiil, al mu¶arrab, atau al
µaammyy. Istilah al muwallad dipadankan dengan al dakhiil, merupakan
pandangan Syihab al Khafaji (1096 H) penulis buku : Ϧϣ Ώήόϟ΍ ϡϼϛ ϲϓ ΎϤϴϓ ϞϴϠϐϟ΍ ˯Ύϔη
ϞϴΧΪϟ΍. Diantara kata-kata yang menurutnya disebut ϞϴΧΪϟ΍adalah kata ϱϮΘη
dinisbatkan kepada kata ˯ΎΘη, kata Δϴϔϴϛ dinisbatkan kepada kata ϒϴϛ, kata Δ˷ ϴϤϛ
dinisbatkan kepada kata Ϣϛ.
Istilah al muwallad dipadankan dengan al µaammyy, merupakan
pandangan al Farabi dalam bukunya : ΏΩϷ΍ ϥ΍ϮϳΩ ϲϓ, juga merupakan pandangan al
Baghdady dalam bukunya : ΢ϴμϔϟ΍ ϞϳΫ. Diantara kata-kata yang disebut al µaammyy
adalah kata ϲΘγberasal dari kata ϲΗΪ˷ ϴγ.
Book Report of Ilm Musthalah| 19
Istilah al muwallad dipadankan dengan al mu'arrab, merupakan
pandangan Zufaji yang dinukil oleh Suyuti. Diantara kata-kata yang menurutnya
disebut al mu¶arrab adalah kata ΝΫϮϟΎϔϟ΍ yang diserab dari kata asing yang berbunyi
ϕΫϮϟΎϔϟ΍.

Pendapat Baru Tentang Istilah Al Muwallad
al Muwallad merupakan istilah yang digunakan untuk kata yang bukan asli
berasal dari bahasa Arab yang dihasilkan dari dua proses, yaitu (1) analogi dan
derevasi dan (2) serapan.
Menurut Abd al Qadir al Maghribi, tauliid meliputi 3 cara: derivasi,
serapan, dan sinonimi. Sedangkan menurut Fahri, tauliid meliputi analogi,
derivasi, kontraksi, dan serapan seperti pernyataannya dalam sebuah seminar di
Ribat 1981, yaitu: ³Metode yang digunakan dalam pembentukan istilah keilmuan
baru melalui analogi, derivasi, serapan, dan kontraksi´.
Macam-macam pola derivasi, analogi, irtijaal, dan arabisasi adalah yang
disebut oleh ilmuan kini dengan nama tauliid. Namun menurut penulis buku,
serapan dan irtijaal tidak tergolong tauliid karena keduanya menghasilkan kata
yang tidak memiliki akar dari kata asli bahasa Arab seperti kata Ϟόλ΃ yang
bermakna α΃ήϟ΍ ϒϴϔΧ.

Book Report of Ilm Musthalah| 20
Taulid dan Perkembangan Bahasa
(Niwari)

Taulid menjadi perantara bahasa bahasa yang pertama dalam perkembangan
dan kemajuannya sepanjang zaman. Pada masa jahiliyah dilahirkan istilah-istilah
dalam bidang agama seperti : as-Sidanah, as-Siqayah, al-Rifadah, al-Hanifu, al-
qasisu, dan ad-Dayru. Kemudian al-Usru, ia adalah kandung kemih dalam bidang
kedokteran. Dalam bidang qiyas ada istilah, al-Farsakh. al-Mil, al-dzira¶, dll.
Selanjutnya pada masa Islam terjadi revolusi dalam munculnya taulid dan
peristilahan, misalnya istilah-istilah seperti : fiqh, Islam, Kufr, Syirk, sujud, dst.,
istilah-istilah dalam hadits misalnya seperti : al-khabar, al-shahih,al-mursal, dan
al-maudlu¶, istilah-istilah kebahasaan seperti : al-I¶rab, al-bina¶, ar-raf¶u, dan al-
hal, istilah-istilah matematika seperti : sepertiga, seperempat, istilah-istilah
filsafat : µarald, jawhar, mahiyah, hawiyah, qanun, istilah-istilah administrasi :
khalifah, dawlah, hukumah, wilayah, dan diwan. Istilah-istilah dan lafadz-lafadz
yang kebanyakan lahir pada masa itu telah didokumentasikan oleh Ahmad bin
Hamdan al-Razi (322 H) dalam kitabnya yang bernama ³ al-Zinah fi al-kalimatal-
Islamiyah´.
Kemudian masa berganti, lafadz-lafadz dan istilah-istilah tidak lahir secara
«. Pada rahim bahasa yang menarik ini, hingga datang masa modern. Pada masa
ini tawlid menjadi cara utama bagi para pembaharu dalam menetapkan lafadz-
lafadz dan istilah-istilah. Dr. Muhamad Rasyad al-Hamzawi menyebutkan bahwa
penghitungan dan penelitian terhadap istilah-istilah Arab yang sudah ditetapkan
hingga hari ini dalam berbagai bidang ilmu sungguh bermanfaat, karena perantara
ini dapat memperkaya khazanah kamus Arab hingga mendekati 95 % di antara
istilah-istilah di dalamnya, karena 4,5 % dari istilah-istilah Arab yang dibuat yaitu
sebagian berasal dari istilah yang diarabkan (muarrabat) dan dimasukkan ke
dalam bahasa Arab (dakhilat), sisanya, 0,5 %, berasal dari akronimi yang berasal
dari bahasa Prancis dan Inggris.
Ketika seorang peneliti yang berbicara tentang tawlid memasukkan majaz
pada isytiqaq pada akhir-akhir pembahasannya, maka kami sesungguhnya juga
Book Report of Ilm Musthalah| 21
memasukkan nacht, yang oleh linguis-linguis kontemporer dinamakan isytiqaq, ke
dalam tawlid. Dengan demikian tawlid, sebagai isytiqaq dan majaz dengan
berbagai bentuknya,sesungguhnya memperkaya bahawa Arab 95,5 % sesuai
dengan kebutuhannya dalam peristilahan dan pelafadzan.
Penghitungan yang kami lakukan menunjukkan jumlah yang berbeda
secara khusus, yaitu bahwa istilah-istilah yang muwallad (dihasilkan dari tawlid)
yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga bahasa ilmiah naik.
Diantara sejumlah istilah-istilah elektronik yang ditetapkan oleh Majma¶
al-Qahirah yang mencapai 270 istilah, ditemukan 167 istilah adalah muwallad.
Dalam istilah-istilah dalam kreta api yang ditetapkan oleh Majma¶ Iraqi yang
mencapai 235 istilah, ditemukan 66 istilah adalah muwallad, misalnya : mikbahah
(rem), mur¶id, mimthar (jaz hujan), laqifah, qithar (kereta api).
Dan di antara istilah-istilah biologi yang ditetapkan Majma¶ al-Qahirah
yang jumlahnya 56 istilah, ditemukan 33 istilah adalah muwallad.
Tampak pada kekhawatiran yang pertama ini bahwa muwallad yang sudah
kita bahas, lebih sedikit dari yang disebutkan oleh Dr. Hamzawi. Ia menurut kami
sekitar tujuh kata, mencapai 32 %. Sebab dari perbedaan ini adalah bahwa Dr.
Hamzawi menyusun, dalam penghitungannya, cara-cara membuat istilah dengan
tawlid, nacht, ta¶rib, tadkhil, dengan kata lain yaitu antara istilah yang asli Arab
dan yang muqtaridl atau pinjaman. Sehingga istilah yang asli Arab mencapai 95,5
% dan yang muqtaridl 4,5 %. Sedangkan kami menyusun cara-cara membuat
istilah yaitu melalui tarjamah, tawlid dan iqtiradl. Dan cara yang kita maksudkan
adalah cara muwallad, kami tidakmemasukkan yang mutarjam (hasil terjemahan)
di dalamnya. Kalau kami sengaja sebagaimana Dr. Hamzawi untuk membagi
istilah-istilah yang sudah ditetapkan kepada istilah Arab dan muqtaridl niscaya
kedua cara itu sesuai, misalnya dalam istilah-istilah (teknik pengairan) yang
ditetapkan oleh Majma¶ µIraqi jumlahnya 180 istilah, kami temukan delapan
istilah yang mu¶arrab (diarabkan), dan sisanya asli Arab, yaitu 95,6 % dan yang
mu¶arrab 4,4 %. Jelas bahwa dalam penjelasan cara membuat istilah ini memang
terjadi sedikit perbedaan yang disebabkan sejauh mana pembaharuan dan
karakteristik sebuah ilmu terjadi dan metode serta perspektif yang digunakan.
Book Report of Ilm Musthalah| 22
Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman kami tentang tawlid yang terdiri
dari isytiqaq dan majaz tetap sebagaimana yang digariskan oleh para linguis dan
pakar balghah sesuai dengan aturan-aturan bahasa yang ada di teks-teks Arab
yang fashih.

Book Report of Ilm Musthalah| 23
At-Tauli>d dan Al -Qiya>s Al-Lugawiyyu/ Analog Bahasa
(Muhammad Yunus Anis)

1. Definisi At-Tauli>d
Pembahasan mengenai at-tauli>d ini memiliki keterkaitan yang cukup kuat
dengan qiya>s/analogi kebahasaan. Qiya>s menurut µAli> H}ad Ibnul-Anba>riy,
adalah sebuah kegiatan membawa yang tidak dipindahkan/ diterjemahkan ϞϤΣ
ϝϮϘϨϤϟ΍ ήϴϏkepada sesuatu yang dipindahkan/ diterjemahkanϝϮϘϨϣ jika hal
tersebut berkesesuaian maknanya. Dapat pula didefinisikan sebagai berikut:
penggabungan lafal dengan beberapa modelnya pada sebuah hukum yang sudah
tetap dengan cara mengeneralisir dari perkataan orang Arab.
Dijelaskan dalam buku tersebut bahwa yang paling populer adalah definisi
yang diberikan oleh Abu Usma>n Al-Ma>zaniy, yaitu: satuan kebahasaan yang
dianalogkan kepada perkataan Arab merupakan perkataan Arab.
2. Beberapa hal yang membolehkan adanya qiya>s:
1. Bahasa, menurut Mamduh, belum sampai kepada kita secara menyeluruh/
secara sempurna, namun lebih sedikit dari itu dan sebatas ta¶bi>r/lafal-lafal
yang ada. Abi> Umar dan Ibnu µUla>¶ menegaskan bahwa ³lafal-lafal
yang selama ini sampai kepadamu adalah lafal-lafal yang diungkapkan
oleh orang Arab dengan jumlah yang cukup sedikit, meskipun datang
kepadamu dalam jumlah yang banyak dalam bentuk ilmu pengetahuan dan
puisi. Oleh sebab itulah, apa yang sampai kepada kita saat ini mengenai
bahasa adalah belum tuntas, dan tidak ada alternatif cara lain selain dengan
menggunakan metode pengqiyasan bahasa. Bahasa yang dimaksud adalah
bahasa yang belum pernah didengar/diketahui sebelumnya diqiyaskan
kepada bahasa yang sudah jamak diketahui oleh penutur.
2. Bahasa Arab, sebagaimana bahasa-bahasa lain belum sampai kepada
predikat sempurna. Masih dibutuhkan kerja keras untuk menyempurnakan
bahasa-bahasa tersebut. Kesempurnaan bahasa itu dapat dicapai melalui
kompetensi/kecakapan bahasa tersebut guna memenuhi keperluan
Book Report of Ilm Musthalah| 24
kontinuitas kebahasaan antara bentuk-bentuknya di setiap masa.
Kompetensi ini sangat bertalian erat dengan ³tauli>dul-alfa>z}´ yang
banyak dipenuhi oleh kebutuhan lafal-lafal berkaitan dengan kehidupan
yang lebih modern. Dalam hal ini, tauli>d bukanlah satuan kebahasaan
yang mengalami pengqiyasan terhadap bahasa yang sudah diketahui
dengan langsung mendengarkan dari penutur aslinya. Oleh sebab itulah
terjadi sebuah keterputusan hubungan antara masa lalu kebahasaan dengan
masa kekiniannya. Sehingga kebenaran tersebut batal karena asli dari
bahasa adalah pendengaran/sima>µ.
3. Beberapa ahli bahasa kontemporer menyatakan bahwa gerakan bahasa
mengarah kepada masalah-masalah qiya>s. Berdasarkan kesepakatan
mereka bahwa qiya>s terjadi pada pertumbuhan bahasa Arab dengan
banyak sebab. Sebagai contoh, bahasa juga mengalami sebuah proses
analog/ qiya>s yang terjadi pada bentuk masdar dan juga analog pada
huruf kedua fi¶l mud}a>ri¶(ainul-fi¶l) dengan harakat tertentu.
4. Permasalahan qiya>s, berdasarkan bahasa asli yang dikaji, belum diterima
di antara kalangan para ahli bahasa secara umum. Tidak semua orang
sependapat bahwa bahasa hanya berasal dari proses mendengarkan saja.
Namun perbedaan tersebut justru muncul dalam jenis/ macam komparasi
yang dipakai dan kebiasaannya. Ibnu Fa>ris yang mengarang buku
zamratus-sima>¶iyyi>n/ kumpulan dari hal-hal yang bersifat sima>¶i/
common usage, berpendapat bahwa ³bukanlah kita yang membuat pada
hari ini, begitu pula juga kita tidak berbicara kecuali apa-apa yang telah
mereka katakan, dan kita tidak mengqiyaskan sesuatu/satuan kebahasaan
yang tidak mereka qiyaskan, karena disanalah kerusakan sebuah bahasa
dan hakikatnya.
Perbedaan menurut mereka bukanlah terjadi pada penetapan qiya>s
sebagai sebuah piranti dalam perkembangan sebuah bahasa. Perbedaan
tersebut justru terjadi pada sekitar pentingnya masalah agar tidak muncul
komparasi baru yang tidak bersumber pada karakteristik/ sifat natural
bahasa pada umumnya. Para ahli qiya>s juga tidak mengabaiakan proses
Book Report of Ilm Musthalah| 25
pendengaran/ sima>¶. Mereka tidak menerima begitu saja bentuk qiya>s
yang ada. Ibnu Jiniy merupakan salah satu ahli analog yang cukup terkenal
berpendapat bahwa ³ketahuilah jika kamu melakukan qiyas pada sesuatu
tertentu dan kamu sudah pernah mendnagarkan orang Arab mengatakan
hal tersebut dengan sesuatu yang lain pada sebuah qiya>s selainnya, maka
berpalinglah dari qiya>s yang telah kau lakukan dan ikutilah pendapat
orang Arab terhadap qiyas tersebut. Dalam hal ini tampak bahwa
sesungguhnya Ibnu Jiniy sebagai pakar qiya>s tidak fanatik hanya dengan
proses qiya>s saja, namun ia juga mementingkan common usage yang ada
pada orang Arab.
Cukup mengherankan jika Ibnu Al-Anbariy sebagai pendukung
qiya>s dalam ilmu nahwu, justru mengingkari keberadaan qiya>s dalam
bahasa. Dia berpendapat bahwa jikalau tidak boleh melakukan qiya>s dan
hanya dibatasi dengan kata-kata yang telah diterjemahkan sebelumnya
saja, maka banyak sekali makna yang tidak dapat diungkapkan karena
tidak ada terjemahannya. Oleh sebab itulah, hal tersebut bertentangan
dengan fungsi-guna dari wad}¶i atau penetapan asas. Maka seharusnya
ilmu nahwu harus menetapkan asas yang berupa ³qiya>s aqliy´/logika
bukan ³qiya>s naqliy´/ pemindahan.
Sebaliknya ³bahasa´ menurut Ibnu Al-Anba>riy harus ditetapkan
dengan jalan naqliy atau transkripsi bukan dengan jalan logika/aqliy. Oleh
sebab itulah dia menyimpulkan bahwa dalam bahasa tidak berlaku hukum
qiya>s. Bahasa lebih dibatasi pada proses naqliy/transkripsi/ terjemahan.
Sebagai contoh kataΓέϭήϗ³qa>ru>rah´ dinamakan demikian karena untuk
³istiqra>r´/menetapkan sesuatu di dalamnya ) ήϘΘγ΍ ΎϬϴϓ Ίϴθϟ΍ έ΍ ( . Oleh
sebab itu, tidak semuaϪϴϓ ήϘΘδϣ³mustaqarrun´/ apa-apa yang ditetapkan di
dalamnya disebut dengan Γέϭήϗ qa>rurah atau botol.
Book Report of Ilm Musthalah| 26
Begitu pula kata έ΍Ωda>r disebut dengan da>r karena bentuknya yang
bulatΓέ΍ΪΘγ΍. Meskipun tidak semua yang berbentuk bulatήϳΪΘδϣ disebut
dengan da>rέ΍Ω.
Dalam hal ini Khasa>rah berpendapat bahwa Ibnu Al-Anbariy
salah dalam melakukan analog/ qiya>s bahasa. Contohnya adalah Al-
Anbariy telah melakukan keragu-raguan. Merupakan hal yang benar jika
sesuatu yang tidak menetapkan sesuatu di dalamnya disebut dengan
³qa>ru>rah´. Namun yang lebih benar adalah bahwa struktur
ΔϟϮϋΎϓ³fa>u>lah´ menunjukkan arti peralatan. Dalam struktur ini, banyak
sekali benda-benda dalam bahasa Arab yang menggunakan pola tersebut,
seperti: ˬ ΓέϮϣΎΗ ˬ ΔϧϮΣΎσ ) ϖϳήΑ· ( ΔϓϮϋ΍έ ˬ seluruh kata-kata tersebut
merupakan nama-nama peralatan yang sudah biasa, tidak asing lagi.
Sekali lagi merupakan hal yang benar apabila kita tidak menamai
segala sesuatu yang bulat dengan kata ³da>run´. Namun hal yang paling
benar sesungguhnya adalah bahwa penamaan tersebut dilakukan dengan
menggunakan sifat dari benda tersebut, yaitu banyaknya rotasi dari para
penghuni di dalamnya, mungkin kita dapat melakukan proses analogi/
qiya>s dan mungkin kita dapat melakukan penamaan lain dengan melihat
pada sifatnya yang lain. Begitu pula dengan kata ΓάϓΎϨϟ΍yang dinamakan
dengan menggunakan salah satu sifatnya yang dominan, yaitu: Ϧϣ ΫϮϔϨϟ΍
έ΍ΪΠϟ΍/ karena pengaruhnya terhadap sebuah tembok. Padahal kata tersebut
juga memiliki sifat lain, seperti ventilasi/ΔϳϮϬΘϟ΍ dan illumination/
penerangan ΓέΎϧϹ΍.
Selanjutnya ada pula kata pistol/ αΪδϤϟ΍ yang disifati dengan salah
satu sifatnya yaitu: banyaknya tembakan/ shot/ ϖϠσ pada sasaran tertentu.
Padahal sifat ini sebenarnya bukanlah satu-satunya sifatnya yang paling
dominan.
Book Report of Ilm Musthalah| 27
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses qiya>s adalah
sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ahli bahasa lama bahwa
qiya>s erat kaitannya dengan bina>¶/ struktur dari sebuah kata tersebut. Di
satu sisi bahwa qiya>s dalam ilmu nahwu erat kaitannya dengan tarki>b.
Beberapa alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Anbariy dalam melakukan
qiya>s dalam ilmu nahwu adalah bentuk dari struktur ilmu nahwu itu
sendiri yang membolehkan adanya analog/ qiya>s dalam sebuah bahasa.
Adapun rukun/ hal-hal pokok yang ada dalam qiyas adalah: (1) al-
maqi>s, (2) al-maqi>s alaihi, (3) al-h}ukm, (4) al-illah. Apabila rukun-
rukun di atas telah terpenuhi maka boleh dilakukan proses pengqiyasan
baik pada ilmu nahwu atau pada bahasa.
Contoh yang paling jelas dalam proses pengqiyasan adalah apa
yang telah dicontohkan oleh Ibnu Jiniy dalam ³Al-Khasa>is´, bahwa Abu
H}a>tim berkata:´ Aku telah membaca ³Al-As}ma¶iy´ dalam Jamiyyatil-
Uja>j, yaitu:
ΎΠ˷ Τ˴ δ˵ ϣ ϪΘϴ˶ Ϡ˶ Α ϯήΗ ΎΑ΄Ο
Ώ΄Πϟ΍ adalah : ΎϤΣ ζΣϮϟ΍ έ = unta yang ganas
Ζϴ͋ Ϡϟ΍ adalah : ϖϨόϟ΍ ΔΤϔλ = permukaan dari leher
H}a>tim berkata bahwa hal ini tidak tidak terjadi, maka jadikan
bentuk masdar sehingga menjadi kata ΎΠϴΤδΗ. Lalu disebutkan bentuk
masdar mimi yang lain, lalu ia berkata: semuanya termasuk dalam
perkataan orang Arab, namun tidak pernah di dengarkan berasal dari orang
Arab. Kamu telah mendengarnya seperti itu, maka di qiyaskan dan
diqiyaskan. Adapun Asma¶i menolak keberadaan masdar mimi ini
) ΞΤδϣ ( karena kata tersebut tidak pernah digunakan oleh orang Arab. Di
satu sisi Abu H}a>tim As-Sajasta>niy membantah dengan
mengqiyaskannya menggunakan masdar mimi sima>¶i selain dari kata
kerja ini. Ibnu Jiniy memperkuat pemikirannya dalam qiya>s dengan
Book Report of Ilm Musthalah| 28
berkata bahwa banyak sekali bentuk yang potensial untuk dilakukan
qiya>s namun tidak dimaksudkan untuk bentuk sima>¶i/ common usage.
Jauh dari pembahasan di atas Abu> Ali> Al-Fa>risiy berpendapat
yang disampaikan oleh muridnya, yaitu: Abu Ali berkata bahwa waktu
membaca salah satu buku dari Abu Usman bahwa jikalau para penyair dan
penyajak ingin membentuk nomina, verba, dan adjektif dengan
menambahkan huruf pada lam-fi¶l atau posisi ketiga dari sebuah verba
maka dibolehkan. Karena hal tersebut merupakan dari perkataan Arab.
Contohnya adalah:
y ϞϠΧΩ Ϧϣ ˵ ϡήϛ΃ Ξ˴ ΟήΧ
y ˱΍ήϤϋ ˲Ϊϳί ˴ ΐ˴ Αή˴ ο
y ˳Ϣϣήϛ ϭ ˳ΐ˴ Αήο ˳ϞΟήΑ Ε˸έ˴ ήϣ
Dari contoh tersebut, aku bertanya kepadanya:´apakah melakukan
sebuah improvisasi dalam bahasa? Bukan sebuah improvisasi namun
bentuk dari qiya>s perkataan orang-orang Arab, oleh sebab itu kata-kata
tersebut merupakan bagian dari perkataan Arab.
Salah satu ahli qiya>s yang paling handal tanpa diragukan lagi
kapabilitasnya adalah Al-Khali>l Ibnu Ah}mad Al-Fara>hi>diy. Dia
merupakan Syaikhul-Arabiyyah yang paling awal.Hal ini dikarenakan
pemikiran Khali>l yang memberikan perhatian lebih terhadap perkataan
Arab. Khalil kemungkinan juga telah menemukan kata-kata Bahasa Arab
sejumlah 12 juta kata. Merupakan sebuah hal yang tidak mungkin Khalil
dapat menemukan kata dalam jumlah yang cukup fantastis apabila tidak
melalui jalan pemahaman konsep qiya>s. Khali>l juga telah jamak
diketahui bahwa ia telah mengklasifikasikan dan menysun sebuah kamus
dengan nama Al-A¶in. Khali>l juga telah mengisyaraktkan akan
penempatan bentuk-bentuk lafal/ ungkapan baru meskipun belum pernah
dituturkan oleh orang Arab, selama tidak bertentangan dengan dan aturan-
aturan yang ada berat maupun ringan.
Book Report of Ilm Musthalah| 29
Begitu pula terdapat kesesuaian huruf dalam kata-kata bahasa
Arab. Apakah tidak mengarah pada pengisian hal tersebut pada banyaknya
pemakaian dari peranan logika/ aqliyyah, berterima, dari ujaran orang
Arab yang berat dalam pelafalannya, meskipun juga belum pernah
diperdengarkan? Sebelum Al-Asma¶iy mengingkari adanya kata Ξ˷ Τ˴ δ˵ ϣ
yang mendapatkan improvisasi dalam bahasa Arab, dia menyadari bahwa
dirinya merupakan bapak dari bahasa Arab (abal lugah). Separuh abad
yang lalu, Khalil telah mengatakan dalam kamusnya ³Al-A¶in´:
Ϧ˴ Ϝ˵ όϟ΍ : ΔϨϴϣΎδϟ΍ ΔϳέΎΠϟ΍ ϦτΑ ϲϓ ˯΍ϮσϷ΍
Boleh juga diungkapkan dengan ˯ΎϨϜϋ ΔϳέΎΟ ...
Namun kebanyakan orang Arab mengungkapkannya dengan ΔϳέΎΟ
ΔϨ͉ Ϝό˵ ϣ. Begitupun pada ungkapan berikut, Orang Arab merasa berat dalam
pelafalan pada kata ΪΠδϤϟ΍ ϲϓ ˵ ΖϔϜϋ, oleh sebab itu, orang Arab
mengungkapkannya dengan ΪΠδϤϟ΍ ϲϓ ˵ ΖϔϜΘϋ΍.
Apakah kamu tidak melihat bagaimana kalimat tersebut boleh
diungkapkan sedemikian rupa? Dr. H}usain Nas}a>r berpendapat bahwa
³Khali>l telah bersahabat dengan konsep qiya>s dalam bahasa. Ia telah
menggunakannya dengan baik.
Beberapa ahli bahasa yang menggunakan konsep qiya>s dan
perluasan/tawasu¶ dalam bahasa Arab adalah sebagai berikut:
1. ήϤϋ ϲΑ΃ ϰϠϋ Γϭϼϋ
2. ˯ϼόϟ΍ ϦΑ΍
3. ϲγέΎϔϟ΍ ϲϠϋ ϲΑ΃
4. ϲϨΟ ϦΑ΍
5. ϲϧίΎϤϟ΍ ϥΎϤΜϋ ϲΑ΃
6. ϲγϮϴϠτΒϟ΍ Ϊ˷ ϴδϟ΍ ϦΑ΍
Book Report of Ilm Musthalah| 30
Ibnu Sayyid berpendapat bahwa tidak keanehan mengenai apa yang
terjadi dalam proses qiya>s:
αΎϴϗ ϪΟϭ Ϫϟ ΪΟϭ Ύϣ ΫϭάθϟΎΑ ϝΎϘϳ ϻ
Begitu pula sejalan dengan Ibnu Sayyid, Alfayu>miy dalam Al-
Mis}ba>h} Al-Muni>r menjelaskan bahwa meskipun tidak ada sima>¶/
proses mendengarkan, tidak menuntut akan absurditas dari it}ira>d/
improvisasi yang mewujud dalam proses qiya>s. Alfayu>miy berpendapat:
αΎϴϘϟ΍ ΩϮΟϭ ϊϣ Ω΍ήσϻ΍ ϡΪϋ ϲπΘϘϳϻ ωΎϤδϟ΍ ϡΪϋ ϥ·
Telah diuraikan mengenai alasan-alasan yang mencerahkan dalam
qiya>s, namun hal tersebut tidak terlepas dari komparasi pendapat yang
berbeda, yaitu mengenai pemahaman Ibnu Al-Anbariy yang cukup sempit
dalam memahami keberadaan dari qiya>s. Hal tersebut sejalan dengan
mazhab bahasa yang dicetuskan oleh Ibnu Duraid, perkataannya disadur
oleh Suyu>t}i> dalam bukunya, menyebut kan bahwa ia berkata:
³Ketahuilah bahwa membentuk pola ˱ϼϴ͋ όϓ bukanlah termasuk dalam
proses pembentukan kata baru (muwallad) kecuali hal tersebut memang
pada dasarnya telah dibentuk dan diujarkan oleh orang Arab sendiri.
Meskipun hal tersebut dibolehkan untuk mengganti kebanyakan perkataan,
jangan dilupakan bahwa di sana ada pula wazan Ϟϴ͋ ό˶ ϓ yang belum pernah
didengar sebelumnya kecuali sebelumnya telah diketahui dari sebuah syair
yang benar.
Selanjutnya Syaikhul Isla>m Zakariya Al-Anshariy Al-Khazrajiy,
sebagai salah satu orang yang melarang adanya qiya>s dalam bentuk-
bentuk nomina yang menunjukkan peralatan, berkata: ³ketiga wazan
berikut ΔϠόϔϣ ˬ ϝΎόϔ˶ ϣ ˬ Ϟ˴ όϔ˶ ϣ merupakan bentuk qiya>s atau qiya>siyyah.
Wazan-wazan tersebut tidak boleh dibentuk dari kata kerja sembarangan,
apabila belum pernah didengarkan sebelumnya. Namun sejatinya, kesemua
wazan tersebut telah ditentukan untuk verba tertentu yang mengandung
makna jelas yang berada dalam kata kerja tersebut. Sebagai contoh kata
Book Report of Ilm Musthalah| 31
ΡΎΘϔϣ, segala sesuatu yang memungkinkan untuk dapat digunakan
membuka pintu rumah dinamakan dengan ΡΎΘϔϣ, walaupun alat tersebut
belum jelas bentuknya.

Book Report of Ilm Musthalah| 32
At-Tauli>d dan Al-Qiya>s Menurut Para Pembaharu (Muh}adis\i>n)
(M. Choderin)

Para pembaharu belum merasa puas dengan ketentuan qiya>s (analogi)
berdasarkan masmu>¶ (µyang didengar¶) dari kontroversi orang Arab, bahkan
mereka melampui hal itu sampai perlunya untuk membuka pintu qiya>s tentang
masmu>¶ setelah masa kontroversi tersebut, dan mereka juga meminta
diterimanya sima>¶ (pendengaran) dari orang-orang masa kini.
Terkait dengan hal tersebut, di dalam kumpulan artikelnya Usta>z\ Ah}mad
H}asan Az-Ziya>t disimpulkan mengenai pemikiran para pembaharu, yakni tidak
diperlukan predikat tentang apa yang dikatakan dalam persoalan tersebut setelah
ditetapkan bahwa bahasa belum mencapai kesempurnaan pada masa
periwayatannya sebagaimana halnya kelengkapan agama dalam masa pewahyuan,
dia juga mengajukan usulan atas kebenaran dari penciptaan kata bagi orang-orang
masa kini, antara lain:
1. Mengungkapkan jenis penciptaan kata baru atas kedua sisinya dengan
berbagai metode yang jelas, yaitu: al-irtija>l (improvisasi), al-isytiqa>q
(derivasi), at-taja>wwuz (kiasan).
2. Pembebasan metode qiya>s dalam bahasa fus}ha> agar mencakup satuan
bahasa yang telah diqiyaskan oleh orang Arab dan satuan bahasa yang
belum diqiyaskan oleh orang Arab, maka disesuaikannya qiya>s dengan
sima>¶ (hasil pendengaran) justru membatalkan makna satuan bahasa
tersebut.
3. Menghubungkan arti penting dengan kata yang diciptakan untuk
memunculkan kesamaan dengan kata-kata lama yang sudah ada.
4. Pembebasan sima>¶ (hasil pendengaran) dari ikatan waktu dan tempat agar
mencakup apa yang didengarkan hari ini dari berbagai kelompok
masyarakat pemakai bahasa.
Para akademisinya Muhammad Bahjah Al-As\ary> saling bertanya dengan
nada pengingkaran: ³kerusakan apa yang terjadi jika ada keinginan meninggalkan
isytiqa>q pada pengqiyasan perkataan orang Arab dalam derivasi tanpa ada
Book Report of Ilm Musthalah| 33
improvisasi, baik itu banyak maupun sedikit yang disebutkan?´, dan mengapa
sesuatu yang telah diqiyaskan sangat sedikit keanehan dan keumumannya?
Ada seorang ahli bahasa, Ah}mad Fa>ris Asy-Syadiya>q berpendapat
bahwa perihal penulisan terbuka di depan ahli tauli>d. Hal tersebut dikarenakan
orang Arab jika telah mengatakan ³demikian dan demikian, kita dibolehkan untuk
berkata lebih banyak dari apa yang telah menyentuh kebutuhannya. Apakah
seseorang mengira bahwa kata ( ήϴθϤϟ΍ ϯέϮθϟ΍ βϠΠϣ ˬ ήϳΪϤϟ΍ ˬ ϑήμΘϤϟ΍ ˬ ήϴϔδϟ΍ ˬ ) tidak
semestinya dikembalikan kepada lafal bahasa Arab, karena kata-kata tersebut
tidak diketahui pada masa daulah Abasiyyah.
Sebagian peneliti menjelaskan bahwa orang-orang terdahulu tidak bersandar
hanya pada landasan pemikiran dari qiya>s atas sejumlah contoh itu sendiri,
bahkan sebagian mereka ada yang menentukan bahwa hal tersebut bukan
merupakan syarat dari hasil qiya>s yang umum, bahkan mereka meminta
konvensi untuk memanfaatkan I¶tibar (pertimbangan) sebagai hukum qiya>s salah
satu bentuk dari tiga unsur berikut:
1. Pendapat-pendapat para ulama terdahulu yang berkaitan dengan bentuk ini,
namun tidak hanya bersandar pada berbagai pendapat itu sendiri.
2. Dengan mengisi apa yang datang dari kamus-kamus yang berupa contoh-
contoh dari bentuk ini agar sampai pada penisbahan peredarannya dalam
naskah-naskah Arab.
3. Kuantitas dari kecondongan para mutakalim dan penulis untuk bentuk ini
pada masa modern.
Beberapa ahli bahasa kontemporer seperti Ahmad Ami>n, µAbdullah,
µAla>yali>y, Z}a>hir Syuwayri>, Mus}t}ofa jawa>d dan lain-lainnya,mengulang
pernyataan yang sama tersebut. Kita dapat melihat dengan yakin bahwa para ahli
bahasa tersebut telah bersepakat akan pentingnya qiya>s dalam bahasa.
Pemindahan pada sesuatu yang banyak (ήϴΜϜϟ΍ ϰϠϋ ϞϤΤϟ΍) bukanlah merupakan
syarat dari sebuah metode qiya>s. Para ahli bahasa pada umumnya, baik ahli
bahasa terdahulu maupun kontemporer sepakat, seperti Syaikh Muhammad Al-
H}adari H}usain yang telah menulis sebuah buku tentang metode qiya>s yang
memiliki dua macam, yaitu qiya>s nahwu dan qiyas> bahasa, belum sepenuhnya
Book Report of Ilm Musthalah| 34
sepakat dengan keberadaan qiya>s, namun mereka sepakat untuk menetapkan
qaidah-qaidah yang sudah tetap dan mereka membolehkan adanya ijtihad dalam
bahasa selama syarat-syaratnya terpenuhi. Mereka para ahli bahasa mengingkari
sebuah pendapat yang menyatakan bahwa ijtihad dalam hal kebahasaan telah
tertutup pintunya rapat-rapat.
Ijtihad kebahasaan yang dilakukan oleh ahli bahasa kontemporer didasarkan
pada kesepakatan konvensi Kairo dengan memulai ijtihad tersebut melalui qiya>s
bahasa. Dengan adanya keputusan yang penting ini, maka konvensi berusaha
untuk menetapkan aturan penting dalam melakukan proses tauli>d bahasa sebagai
berikut:
1. Adanya penerimaan baik bahasa tulis maupun proses mendengarkan dari
para ahli bahasa kontemporer, sebagaimana berikut:
y Mempelajari kata-kata yang sulit pada lisan orang-orang pada
umumnya lalu mempelajarinya agar menjadi lebih diterima, dan
persamaan dari orang Arab terdahulu itu sendiri belum diketahui
keakuratannya dalam pemakaiannya.
y Majelis menerima keabsahan dari pendengaran yang bersumber dari
para pendahulu dengan syarat: setiap kalimat dipelajari sesuai dengan
batasannya sebelum dilakukan penetapannya.
2. Keputusannya adalah untuk menyempurnakan materi kebahasaan yang
dibutuhkan dalam dunia perkamusan dan yang sejenisnya. Begitu pula
dengan menetapkan qaidah yang terperinci. Telah diketahui bahwa
materi-materi kebahasaan memiliki jumlah yang cukup banyak namun
belum disampaikan kepada khalayak kecuali hanya sebagian, seperti ism
fa>¶il, ism maf¶u>l, shifah musyabbahah atau bentuk verbanya dari
sebagian materi tersebut. Keadaan sebenarnya yang dimaksud adalah
bahwa ism fa>¶il dan ism maf¶u>l terambil dari verbanya sebagai
muystaqnya. Memungkinkan bagi kita menyandarkan bentuk musytaq ini
yang sebelumnya belum pernah didengarkan oleh sebab itu lah hal
tersebut diarahkan pada qiya>s, yaitu pada leksikon-leksikon bahasa
Arab yang berbentuk fush}a (standar) tanpa ada keraguan di dalamnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 35
Hal ini ditekankan sekali lagi dalam (h}asa>is): segala macam satuan
kebahasaan boleh diqiyaskan, meskipun tidak dimaksudkan dalam
pemakaian. Kata kerja yang diungkapkan dengan masdarnya, contoh
sebagai berikut:
y ΖϴϤϟ΍ υΎϓ
y ΎχϮϓ φϴϔϳ
Dalam kalimat tersebut tidak digunakan masdar υϮϓ, misalnya. Begitu juga
pada kata ) ϦϳϷ΍ ( untuk kata ˯Ύϴϋ·. Orang Arab tidak menggunakan bentuk verbanya
namun menggunakan bentuk masdarnya dalam mengungkapkan maksud
kebahasaan yang diinginkan. Mereka berkata : ϪϠόϓ ΍Ϯϓ͋ ήμϳ Ϣϟ ϭ ΩϭΆϔϣ ϞΟέ .
Sebagaimana yang diceritakan oleh abu Zaid: Ϣ˴ ϫέΪ˵ ϣ ϞΟέ . Mereka tidak
menggunakan kata Ϣ˶ ϫέ˵ Ω. Kecuali jika telah ada ism maf¶u>l maka fi¶l merupakan
hasil dari pengulangan.
Kita ambil lagi contoh kata ϢδΑ, Lisa>nul-Arab telah menyebutkan derivasi
dari kata tersebut, seperti: ˬ ϡΎδΑ ˬ ΔϣΎδΑ ˬ ϢδΒΗ ˬ ϢδΘΑ΍ ˬ ΎϤδΒΗ ˬ ϢδΒϳ ˬ ϢδΑ βΒΗ ϡ . Tidak
disebutkan di sana kata-kata berikut: ϢδΒϣ ˬ ϢϴδΑˬ ϢδΘΑ΍ ˬ ΔϤδΑ. Kata-kata tersebut
terakhir ini merupakan kata-kata yang disebutkan dalam kamus Al-Mukhi>t,
mereka termasuk mufradat rumor yang dapat disetujui. Maka apakah kita mengira
mufroda>t itu sebagai bentukan kata-kata baru (maulida>t) yang seharusnya
dihindari disebabkan belum sampainya perkataan orang Arab kepada kita?
Sebenarnya diperbolehkannya ketetapan untuk kesempurnaan materi kebahasaan
yang memungkinkan penerimaan atas kesamaan kata yang kuno dengan kata yang
dipindahkan orang-orang terdahulu. Dengan demikian, orang Arab berbicara
menurut kemampuan hajatnya dari lafadz-lafadz tersebut, atau kemungkinan
lafadz-lafadz yang diucapkan belum sampai kepada kita atau belum dimilikinya
berbagai konvensi.
Perkataan itu bagi kita bahwa al-Qiyas mewajibkan membuka lebar-lebar
dalam ruang lingkup Tauli>d lafadz dan Mus}t}oloh}a>t (berbagai istilah),
indikasi hal itu antara lain:
Book Report of Ilm Musthalah| 36
1. Sesungguhnya al-Qiya>s jarang dipergunakan oleh madzhab Kufah,
sehingga mereka tidak mensyaratkan penggunaan al-Qiya>s secara
berlebihan.
2. Sebenarnya orang Arab terkadang mempergunakannya sedikit dan
sebaliknya belum banyak mempergunakannya, yakni mereka
mempergunakan kata : ϲΒ˴ ϛέ ϭ ΔΑϮϛέ daripada ϲΌϨη ϭ Γ˯ϮϨη yakni sebagai
satu contoh yang disampaikankan orang Arab. Selanjutnya mereka juga
mempergunakan kata ϲϔϘΛ ϭ ϒϴϘΛ bukan kata ϲηήϗ ϭ ζϳήϗ meskipun apa
yang yang disampaikan orang Arab lebih mendekati kemiripan pada dua
contoh ini daripada yang yang disampaikan yang pertama.
3. Apabila orang arab menerima penentangan pada al-Qiya>s disebabkan
untuk keindahan, seperti pada saat-saat tertentu untuk kepentingan puisi
(syair Arab), yakni menjadi masalah kesempurnaan. Secara lebih teliti
dengan penentangan yang lunak terhadap al-Qiya>s terkadang diperlukan
untuk kepentingan ilmiah yang diperkenalkan oleh D. Hi>syam al-
H}oya>t}, yaitu: ³penentangan pada al-Qiya>s atau pada tingkat yang
seragam atas penggunaannya, menjadi keabsahan untuk akurasi ilmiah´.
Kemungkinan dari jaminan ini melampui konvensi yang dipergunakan
sebagaimana bumi yang banyak pohon murbei yang lengkap dengan
mata air sebagai pengganti (ϻΪΑ ) dari keterangannya (ΎϬϟϼϋ·).
4. Sesunngguhnya tauli>d lafadz belum diperhatikan Mandidin, golongan
penyair berbakat karena belum mengarahkan mereka untuk kepentingan
puisi seperti halnya diperbolehkannya Ibnu Jinniy dengan perkataannya:
³ketahuilah bahwa seorang penyair bila terpaksa diperbolehkan untuk
berbicara apa yang disyaratkan al-Qiyas karena sama>¶ (pendengaran)
belum mencapainya.´ Namun sebenarnya Tauli>d alfadz merupakan
kiasan, dan selain sama>¶ keadaannya menjadi persoalan daya kreasi
yang dijadikan sebagai perimbangan bagi para pembaharu sehingga ada
kemampuan menyelasaikan yang berat bagi sebagian orang-orang
terdahulu, dan dari sini menciptakan kata-kata kiasan yang diterapkan
Book Report of Ilm Musthalah| 37
selain sama>¶ seperti kata ΡϭΎϔΗ (semerbak) dalam perkataan al-
Mutanabbi>y :
Apabila Ah}da>j berjalan diatas tanamannya
Semerbak minyak kesturi para wanita cantik dan tumbuh-
tumbuhannya
Dan kata Tafar¶an (ϦϋήϔΗ) dalam bait Abi>y Tamam :
Telah kamu sampaikan dan kematian Mubdin membebaskan
pengampunannya
Tafar¶an (telitilah) dalam segala perbuatannya menjelang kematian
Disebabkan Tafar¶an hasil derivasi dari Fir¶aun selain sama>¶
(pendengaran). Sedangkan kata Auja¶atha> (ΎϬΘόΟϭ΃) dalam bait Abi>y Nas}ar bin
Naba>tih :
Dia telah membuka pandangannya pada setiap kota
Karena kerinduan sehingga tipu daya menyakitinya
Al-H}afa>ji>y al-Balagi (466 H) yang menyalin bahwa al-Mutabi>y yang
pertama mengucapkan kata Tafa>wah (semerbak) dan keindahannya, bersamaan
dengan kedua katanya Abi>y Tamam dan Ibnu Naba>tah Tabar¶an dan Auja¶atha
serta setelah keduanya tersebut adanya lafadz-lafadz umum yang biasa
dipergunakan; tidak ada kesalahan pada kedua paenyair tersebut kecuali mereka
berdua menciptakan kata-kata yang belum didengar dari orang-orang Arab
meskipun membutuhkan keduanya untuk berbicara dengan kata-kata mereka
berdua, atau kemungkinan mereka (orang-orang Arab) berbicara dengan keduanya
tetapi hal itu tidak sampai kepada kita.

Book Report of Ilm Musthalah| 38
AT-TAULID WA AT-TASMIYAH
(Luthfi Muhyiddin)

Maksud dari at-taulid (pembentukan kata) sejatinya adalah at-tasmiyah
(penamaan/pemberian nama) sebagaimana yang dimaksudkan Ali bin Isa : ³at-
tasmiyah adalah mengaitkan nama dengan arti (makna) sesuai dengan awalannya
(ibtida¶) atau pengkhususan arti (makna) dengan suatu lafadz yang apabila
disebutkan lafadz itu maka arti dari lafadz yang dimaksud akan dengan sendirinya
terbersit didalam pikiran.
Isim itu terbagi dua macam, yaitu : Ism Mahdu, ialah ucapan (qaul) yang
menunjukan tanda isyarat; dan Ism Sifah, ialah ucapan (qaul) yang menunjukan
tanda kegunaan/manfaat. Kemudian hal yang penting dalam at-tasmiyah
(pemberian nama) adalah al-asma al-mahdhah (nomina asal/murni) karena
nomina selain itu akan terbangun dari nomina tersebut. At-tasmiyah
(penamaan/pemberian nama) merupakan kebutuhan manusia yang terus menerus.
Sebagaimana yang dikatakan Al-Jahidz: sesungguhnya manusia akan memberikan
nama pada sesuatu yang dibutuhkan penggunaannya/pemakaiannya.
Para pendahulu kita telah banyak memberikan nama untuk hal-hal yang
dibutuhkan sesuai dengan lingkungannya, sehingga kita tidak akan menemukan
suatu makna pun dari sesuatu yang dibutuhkan mereka kecuali mereka telah
membentuk untuk makna tersebut suatu kata benda (nomina). Sebagai contoh,
mereka memberikan kata untuk susu sebanyak tiga puluh kata yang disesuaikan
dengan sifat susu itu, juga rasanya, kadar kehangatannya serta waktu
penyajiannya.
Maka apabila halib (ΐϴϠΣ)-air susu perah- diperahnya ketika pagi hari
disebut dengan shabuh (ΡϮ˵Βλ), apabila diperah sore hari maka disebut dengan
ghabuq (ϕϮ˵ΒϏ). Apabila berwarna kehitam-hitaman maka disebut samallaj (Ξ˷ϠϤγ)
sedangkan apabila tercampur air maka disebut madziq ( ϣ ϖϳά ) dan seterusnya.
Penamaan atau pemberian nama ini bukanlah sesuatu yang tidak bermakna
sama sekali dan bukan pula perbuatan para ahli bahasa sebagaimana yang
dibicarakan sebagian orang-orang modern, tetapi penamaan atau pemberian nama
Book Report of Ilm Musthalah| 39
ini merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan yang merupakan tabiat sebuah
bahasa dari suatu masyarakat sesuai wataknya demi memenuhi kebutuhan hidup
di lingkungan yang bersosial. Sedangkan kita ± orang-orang modern ± belum
cukup untuk kita dengan hanya mengurangi penamaan terhadap hal-hal yang
menyentuh kebutuhan hidup kita, tetapi juga bahkan menjauhi penamaan tersebut
dan memandang hal itu sebagai sesuatu yang hina.
Sebagian besar para ahli lughah jaman dulu berpendapat bahwa penamaan
dalam bahasa arab merupakan sebuah proses sebab akibat bukan pekerjaan
serampangan atau asal-asalan. Sebagaimana diceritakan oleh as-suyuti dalam
bukunya al-mazhar ungkapannya abu abbas dari Ibn A¶raby : ³ kata-kata itu
seluruhanya berasal dari suatu sebab-akibat (µilal), bangsa arab menjadi khusus
(istimewa) disebabkan kekhususan darinya. Dari sebab-akibat (ϞϠ˶ϋ) ini kita
mengetahui sesuatu dan darinya pula kita tidak mengetahui sesuatu.
Berkata Abu Bakar : Ibn A¶raby berpendapat bahwa kota Makkah disebut
dengan µMakkah¶ disebabkan ketertarikan masyarakat terhadap kota itu, kota
Basrah dinamakan dengan µBasrah¶ disebabkan batu-batu putih yang lunak,
kemudian kota Kuffah dinamakan µKuffah¶ disebabkan berkumpulnya orang-
orang karena ucapan ³takawwafa ar-ramal´ , sedangkan manusia (insan) disebut
dengan kata µinsan¶ disebabkan seringnya lupa µnisyan¶ dan µbahimah¶ (hewan
ternak/kuda) disebut demikian disebabkan kebisuannya dari akal dan
pertimbangan (tidak memiliki akal pikiran).
Tetapi kita tidak bisa mengaitkan semua penamaan sesuatu dalam bahasa
arab dengan sebab-akibatnya, bisa dikarenakan sebab penamaan suatu hal yang
tidak kita ketahui itu dikarenakan jauhnya masa penamaan tersebut dengan masa
kita sekarang atau bisa juga adanya sebab-akibat suatu penamaan dari masa yang
jauh sebelum kita dan sampai kepada kita tetapi kita tidak mampu memahami dan
mengetahuinya, sebagaimana sebagian dari penamaan tersebut dilakukan dengan
spontan atau serampangan dan terpisah-pisah, pura-pura berkemampuan dalam
mencari sebab dari setiap penamaan tanpa adanya gambaran pemahaman ijaz
yang mendalam terhadap sebagian lainnya. Dengan kata lain, pemahaman yang
Book Report of Ilm Musthalah| 40
terpisah-pisah dan serampangan terhadap bagian lainnya sedangkan mereka dalam
situasi yang sulit.
Book Report of Ilm Musthalah| 41
KAIDAH-KAIDAH TASMIYAH (DENOMINALISASI)
(Hanif Fathoni)

Kaidah atau tata aturan tasmiyah (denominalisasi) dalam bahasa Arab
cukup banyak diantaranya adalah berikut ini:
Pertama, tasmiyah bi-l-sifat , yaitu memberikan nama atau istilah pada
suatu benda pada bahasa target dengan salah satu sifat diantara sifat-sifat benda
tersebut yang paling dominan. Sebagaimana disebutkan dalam ³al-Khas}a>is}´ :
Abu Ali Rahimahullah berkata (ketika ada yang bertanya tentang mendung): Ia
mengatakan ³habiyyun´ (yang merangkak) sebagaimana pula dikatakan padanya:
saha>bun (yang menyeret). Yang dimaksudkan penyebutan kata habiyyun adalah dari
karena berat awan mendung tersebut seakan-akan karena beratnya awan mendung itu
berjalan terseret-seret atau berjalan merangkak. Dan dikatakan saha>bun karena awan itu
bagai menyeret pakaianya ketika berjalan.
Demikian pula penamaan gama>m pada awa mendung tersebut berkaitan erat
dengan salah satu sifat yang dimiliki benda atau barang yang dinamakan. Contoh
lainnya seperti penamaan busur panah dengan al-murannah (yang lentur) dari kata
al-irna>n (lentur) yang merupakan salah satu sifat busur panah tersebut,
penamaan pedang dengan miqs}al (alat pemotong yang tajam) apabila pedang
tersebut sering digunakan untuk memotong. Contoh lainnya seperti yang terdapat
pada kamus Lisa>nu-l-arab yaitu almustatimmu (yang ingin kesempurnaan)
digunakan untuk mengistilahkan orang yang mencari-cari kain wool dan bulu-
bulu dalam menyempurnakan tenunan bajunya karena kalau bukan wool maka
tidak disebut mustatim.
Sifat-sifat yang digunakan dalam penamaan istilah-istilah benda ini
haruslah sifat yang paling dominan yang menandai eksistensi benda tersebut. Pada
awalnya sifat-sifat ini hanyalah penanda (signifier) dari sesuatu yang ditandai
(signified), tetapi karena terlalu sering penggunaaan sifat tersebut dalam
menyebutkan benda yang memiliki sifat itu dan meniadakan eksistensi benda
aslinya maka jadilah sifat itu nama bagi benda asli tersebut. Seperti yang telah
disebutkan sebelumnya, asal kaya gamam disebut habiyyun dari kata gama>mun
habiyyun, asal kata saifun (pedang) disebut ma¶s\u>r dari penyebutan saifun
Book Report of Ilm Musthalah| 42
ma¶s\>urun, begitu pula asal kata mustatim dari penyebutan rajul mustatim.
Dengan demikian seringnya penyebutan sifat dari benda yang disifati menjadikan
orang paham dengan apa yang dimaksudkan, sehingga penamaan dengan
menyebukan sifat dan sifat tersebut berubah menjadi nama benda yang disifati
merupakan kaedah yang paling sering digunakan.
Kedua, tasmiyah bi-l-mas}dar , yaitu memberikan nama atau istilah pada
suatu hal dengan mengambil mas}dar (nomina verba) dari istilah tersebut. Dalam
penamaan ini terjadi pergeseran kategori kata yang sebelumnya verba menjadi
nomina verba karena ketiadaan nama istilah tersebut. Sebagaimana dikatakan al-
Farabi:
έΪμϣ ϞλϷ΍ ̼ Ϯϫϭ ϥϮϨψϟ΍ ΪΣ΍ϭ Ϧψϟ΍
µPrasangka itu bentuk tunggalnya prasangka-prasangka, dan prasangka itu adalah
mas}dar (nomina verba).¶
έΪμϣ ϞλϷ΍ ̼ Ϯϫϭ ίϮϨϜϟ΍ ΪΣ΍ϭ ΰϨϜϟ΍
µal-Kanzu itu adalah bentuk tunggal dari al-kunu>z, alkanzu juga itu pada dasarnya
merupakan nomina verba dari kata tersebut.¶
Pada contoh lain juga disebutkan: ϕήΧ ϪΑϮΛ ̼ (Pada bajunya ada lubang),
kata kharqun pada kalimat tersebut adalah mas}dar (nomina verba). Dalam istilah
istilah-istilah bahasa Arab banyak disebutkan istilah-istilah baru yang pada
dasarnya berasal dari mas}dar (nomina verba), seperti: ΏΎϫάϟ΍ /alz}aha>b
(emas), ΏΎϳϹ΍ /aliya>b), ϥ΍͖τϟ΍ /althaya>ra>n/ (pesawat), Δϋ΍ΫϹ΍ (radio),
Εϼλ΍Ϯͪ΍ (kendaraan).
Ketiga, tasmiyah bi-l-musya>bih, yaitu penamaan dengan istilah atau
nama lain yang memiliki kemiripan dengan benda tersebut. Seperti yang
disebutkan Abul Qasim Khalaf bin Abbas al-Zahrawiy dalam bukunya ³al-
tas}ri>f´ tentang nama alat-alat untuk operasi medis seperti ΔϧϮΘϳΰϟ΍ /al-
zaitu>nah/ karena kemiripannya dengan buah Zaitun, ΔϳέΎθϨͪ΍ /alminsyariyah/
karena kemiripannya dengan gergaji, Δϴϟϼͫ΍ karena kemiripannya dengan bulan
sabit, ΔϳέΎϤδͪ΍ karena kemiripannya dengan paku.
Keempat, tasmiyah bi-l-as}wa>t (penamaan dengan suara), yaitu
penamaan suatu benda dengan suara yang dimiliki benda tersebut. Diperkuat oleh
Book Report of Ilm Musthalah| 43
pendapat Ibnu Jinni tentang rahasia keunikan orang Arab: ³Istilah-istilah yang
digunakan oleh orang Arab cukup unik yaitu menamakan sesuatu dengan
menggunakan suaranya seperti ΰΑΎϳίΎͩ΍ (lalat) karena suaranya seperti itu,
Βϟ΍ ς (bebek) karena juga suaranya, ϕΎϏ atau Ώ΍ήϐϟ΍ (gagak) karena suaranya
seperti itu pula«.dan lain sebagainya.´ Semua hal yang disebutkan tadi adalah
untuk menunjukkan bahwa penamaan benda dalam bahasa Arab, bisa
diderivasikan dari suara benda tersebut.
Kelima, tasmiyah bi-l-maja>z, yaitu penamaan dengan menggunakan
peminjaman istilah atau nama lain yang memiliki hubungan kemiripan, sebab-
akibat, maupun hubungan juz¶iyah (bagian) dengan benda tersebut secara majaz.
Seperti fisq (tidak segar, rusak) untuk menyebut perbuatan melanggar dosa
(berbuat maksiat), karena perbuatan itu dianggap rusak dan merusak akhlak
manusia. Selain itu al-istinba>th memiliki asli makna mengeluarkan air dengan
cara menggali kedalaman, digunakan untuk istilah pengambilan hokum syari¶at.
Begitu juga yang terdapat pada istilah-istilah modern seperi alha>tif (yang
memiliki asli makna memanggil dari kejauhan) digunakan untuk istilah telepon.
Keenam, tasmiyah bi-l-nisbah ila asma>¶il a¶yan, yaitu penamaan dengan
cara menghubungkan dengan istilah atau nama lain yang menonjol atau mencolok.
Diantaranya adalah penamaan beberapa nama-nama penyakit seperti za>tul janb
(yang memiliki panggul) untuk penyakit radang selaput dada, za>tul riah (yang
memiliki paru-paru) digunakan untuk istilah penyakit paru-paru, penggunaan
nama ini dihubungkan dengan anggota-anggota tubuh yang terkena penyaki.
Seperti penamaan istilah kahruba>¶ (listrik) dihubungkan dengan tumbuhan
kahruma>n.
Ketujuh, tasmiyah bi-l-nisbah ila asma>¶il a¶la>m, yaitu penamaan suatu
benda dengan cara menghubungkannya dengan nama µalam (nama diri).
Diantaranya adalah di>na>riy (sejenis minum sirup) yang diambil dari nama
seorang dokter yang pertama kali membuat dan meracik minuman tersebut yaitu
Ibnu Dinar, begitu juga hanafiyah (mazhab hanafiyah) yang diambil dari nama
Abu Hanifah. Cara penamaan ini banyak digunakan baik pada zaman dahulu
maupun pada zaman sekarang, yaitu penamaan aliran-aliran politik, madzhab-
Book Report of Ilm Musthalah| 44
madzhab hukum dan lain sebagainya yang dihubungkan atau diambil dari nama
penemunya.
Kedelapan, tasmiyah bi-l-ma¶na, yaitu penamaan suatu hal dengan
menggunakan makna yang dimiliki hal tersebut. Sepertinya metode ini sangat
banyak digunakan bahkan hampir-hampir tidak dapat dihitung jumlahnya.
Diantaranya adalah penamaan ketinggian dengan sumuw dari kata sama¶ (tinggi
langit), simak (tebal) dari samkun yang artinya ketinggian, kata jama>l dari jamal
atau jami>l yang artinya lemak, khoil dari khuyala>¶ . Dari semua itu jelas bahwa
apa yang dianggap bisa terasa dengan indera atau berwujud materiil lebih
diutamakan dari hanya sekedar makna belaka.
Dengan mengetahui asal makna dari suatu kata, akan memudahkan
seorang penutur untuk memahami makna dari setiap kata, sehingga akan jelas
perbedaannya apabila terjadi kesamaan baik dari sinonim, homonym, maupun
homofonnya. Inilah dasar yang digunakan Abul Hilal al-Askariy untuk menyusun
bukunya ³Al-furu>q fi al-lugah´.

Book Report of Ilm Musthalah| 45
AL-ISYTIQAQ
(Talqis Nurdianto)
A. Definisi Al-Isytiqaq
Al-Isytiqaq secara etimologi disebutkan dalam banyak kamus arab
1
;
Jamharah karya Ibnu Duraid, Al-Shihhah karya Al-Jauhari, Al-Maqayis karya
Ibnu Faris, Usus Al-Lughah karya Al-Zamakhsyari, Lisan Al-Arab karya Ibnu
Mandzur, Qamus karya Fairuzabadi, Tajun karya Al-Zubaidi, Al-Mausu¶ah karya
Albustani, Mu¶jam karya Al-¶Ammili, dan Mu¶jamAl-Wasith diterbitkan oleh Al-
majma¶ul Lughah Al-Arabiah.
Secara etimologi, Ibnu Duraid (w. 321 H.) mendefinisikan Al-Isytiqaq
berasal dari kata ΎϘη Ϫ˵Ϙη΃ Ίϴθϟ΍ ΖϘϘ˴ η
2
, sedangkan Al-jauhari (w. 393 H.) berasal dari
kata Ίϴθϟ΍ ˷ϖ˶ η yang berarti setengahnya. Ketika dikatakan Isytiqaqu al-harfi min al-
harfi berarti mengambil darinya
3
, definisi ini juga sama dengan yang disampaikan
oleh Ibnu Farisi (w. 395 H.).
Al-Zamakhsyari (w. 528 H.) juga mengutip perkataan Al-Jauhari dan Ibnu
Farisi
4
tanpa menyebutkan kedua ulama ini, sedangkan dalam kamus Lisan Al-
Arab, Ibn Mandzur (w. 711H.) melakukan hal yang sama seperti Al-Zamakhsyari.
Berbeda dengan Al-Fairuzabadi (w. 817 H.), akan tetapi ia mengganti kalimat
" ϑήΤϟ΍ Ϧϣ ϑήΤϟ΍ ϕΎϘΘη΍ " diganti dengan redaksi " ΔϤϠϜϟ΍ Ϧϣ ΔϤϠϜϟ΍ άΧ΃ "
5
. Sedangkan Al-
Sayyid Murtadza Al-Zabidi (w.1205 H.) menggabungkaan dua definisi di atas,
antara definisi Ibnu Mandzur dan penulis Al¶ubab dengan menggunakan kata ΔϠϤΠϟ΍
dengan tidak keluar jauh dari definisi yang disampaikan para ulama sebelumnya.
Al-Bustani (w. 1930 M.) tidak memberikan definisi yang jauh berbeda
dengan ulama sebelumnya, seperti Al-Syaikh Ahmad bin Ridha Al-¶Amili (w.
1953 M.)
6
. Definisi Al-Isytiqaq dalam kamus Arab di atas yang sampai sekarang
terjaga dan terkodifikasikan oleh Majma¶ Al-Lughah Al-Arabiah Al-Qahiry dalam

1
Diantara definisi isytiqaq secara etimologi adalah mengambil sesuatu dari sesuatu.
2
ΓήϬϤͧ΍ 2 / 198
3
ΡΎΤμϟ΍ / ϖϘη / 1503
4
Lihat Kamus Maqayis Al-lughah hal. 334
5
Lihat Kamus Al-Muhid, ϖϘη, hal. 351.
6
Lihat Kamus Matan Al-Lughah, 3/351.
Book Report of Ilm Musthalah| 46
kamus Al-Wasith
7
. Adanya persamaan persepsi dalam mendefinisikan Al-Isytiqaq
ini adalah penjagaan arti Al-Isytiqaq.
Hamid Shadiq
8
berpendapat ada hubungan kuat antara isytiqaq dengan
qiyas
9
(analogi) bahasa. Jika qiyas sebagai teori dalam perkembangan bahasa,
maka isytiqaq sebagai praktek dalam taulid
10
bahasa.

B. Tema pembahasan, dasar, masalah, dalil dan tujuan Al-Isytiqaq.
Sesuai dengan namanya, bahwa tema pembahasan Al-Isytiqaq adalah kata-
kata Arab
11
, dengan menjadikan qawaid al-huruf sebagai dasar pijakannya dan
masalah yang dimaksud adalah qawaid yaang mengantarkan kita pada
pemahaman asli dan tidaknya (far¶u) kata tersebut. Pengetahuan terhadap ilmu
makharijul huruf (ilmu untuk mengetahui keluarnya huruf) menjadi dalil dengan
tujuan menjaga kata tersebut dari kesalahan dalam pemakaian dan tujuan
penggunaannya dengan baik dan benar
12
.

C. Pembagian Al-Isytiqaq.
a. Menurut Ibnu Jinni (w. 392 H.)
Seorang filosof Arab, Abu Al-Fath Utsman bin Jinni, membagi Al-isytiqaq
ada dua macam. Yaitu (Al-Akbar ± Al-kabir) dan (Al-asghar ± Al-Shaghir).
Dalam pemaparan kedua bagian di atas, bagian yang kedua lebih dominan
pembahasannya di kalangan ulama sebelumnya, karya buku-buku mereka sampai
pada masanya
13
. Sedangkan pembagian yang pertama (Al-Akbar ± Al-Kabir)

7
Kamus Al-Wasith, hal. 508.

8
Lihat dalam karyanya Al-Ma͛ajim wal Mushthalahat. Hal. 136.

9
Dalam Al-Mu͛jam Al-Wasit, Qiyas bahasa adalah mengembalikan sesuatu kepada yang
serupa dengannya. Menurut Ibnu Jinni, setiap kata yang dianalogikan terhadap perkataan orang
arab maka termasuk perkataan orang Arab.

10
Taulid secara etimologi adalah hal yang baru dari setiap sesuatu, secara terminologi
adalah setiap kata Arab yang mengalami perubahan dalam pengunaannya setelah tahun 200 H
dalam masyarakat perkotaan atau 350 H di masyarakat perkampungan.
11
Disebut juga ilmu yang mempelajari bentuk dasar kata.
12
Al-Qinuwwuji, ,Al-͚ilmu Al-khifaq, hal. 67-68
13
Kamus Al-Khashaish vol. 3, hal. 134.
Book Report of Ilm Musthalah| 47
adalah pembahasan pokok dari Al-isytiqaq, karena bentu ini tidak banyak dibahas
para ulama sebelumnya.
Al-isytiqaq al-Akbar adalah derivasi kata dengan mengambil asli dasar
satu kata Arab yang berbentuk tsulatsi sehingga dari kata itu keluar enam bentuk
lainnya dengan satu makna. Semisal kata ) ϡ ϝ ϙ ( ˬ ) ϝ ϡ ϙ ( ˬ ) ϝ ϙ ϡ ( ˬ ) ϙ ϝ ϡ ( ˬ ) ϡ ϙ ϝ ( ˬ ) ϡ ϝ
ϙ ( ˬ begitu juga dengan kata ) ϝ ϭ ϕ ( ˬ ) ϭ ϝ ϕ ( ˬ ) ϕ ϝ ϭ ( ˬ ) ϭ ϕ ϝ ( ˬ ) ϕ ϭ ϝ (
14
.
Beberapa ulama yang terpengaruh dengan pembagian Al-isytiqaq Ibnu
Jinni di antaranya, Al-Fakhru Al-Razi (w. 606 H.)
15
, Abu Hayyan Al-Andalusi (w.
745 H.)
16
, Al-Taj Al-Subki (w. 771 H.)
17
, Al-Jalal Al-Suyuti (w. 911 H.)
18
, dan
Syaekh Husain Wali Al-Azhari
19
.
Sedangkan Al-Suyuti (w. 911 H.) mengutip dari Abu Hayyan Al-Andalusi,
bahwa pembagian Al-isytiqaq dalam bentuk Al-Akbar belum pernah dibahas oleh
ulama nahwu kecuali Abu Al-Fatah Ibnu Jinni ini. Akan tetapi secara tidak
langsung, Khalil bin Ahmad (w. 175 H.) sudah pernah menyinggungnya, begitu
juga dengan ulam lainnya, semisal Ibnu Duraid (w. 321 H.), Abu Ali Al-Farisi (w.
377H.). yaitu bahwa makna umum kata tersebut tetap ada seiring dengan
perubahannya. Hasil perubahan kata itu terkadang dipakai sebagian dan sebagian
lainnya ditinggalkan, dengan mengesampingkan bentuk aslinya
20
.
Dari ulama di atas, secara jelas, tidak memberikan nama seperti yang
disampaikan Ibnu Jinni. Sedangkan Ibnu Jinni adalah orang pertama kali, dengan
jelas, menyebut pembagian Al-Isytiqaq ini dengan Al-Isytiqaq Al-Akbar
21
.
b. Menurut Ahli Bahasa Kontemporer.

14
Ibid. vol.2 hal. 134-135.
15
Al-Qannuji, Al-Ilmu Al-khifaq, hal. 70-72
16
Lihat kitab Al-Muzhir
17
Kitab Ham͛u AL-Hawami͛, vol. 3, hal. 408.
18
Ibid.
19
Kitab Sabil al-Isytiqaq baina AL-Sima͛ wa Al-Qiyas, Majalah Al-Majma͛u Al-Qahiry,
vol.2, bulan Shafar 1354 H/ Mei 1935, hal 200-201.
20
Taufq Syahin, Ushul AL-Lughah Baina Al-tsunaiyah wa Al-Tsulatsiyah, hal. 27. Menurut
Dr. Hijazi, perubahan kata di sini akan memberikan manfaat banyak seiring dengan pembolak-
balikan suara (At-Taqlibat Ash-Shautiyah) dan sebagian kata tersebut kemungkinan tidak dipakai
lantaran tidak memiliki arti. Lihat buku Dr. Hijazi, Madkhal ila ͚ilmi Al -Lughati, hal. 55.
21
Kitab Al-Khashaish, vol.2, hal. 133.
Book Report of Ilm Musthalah| 48
Pembagian Al-Isytiqaq menurut Ibnu Jinni mempengaruhi pendappat
ulama setelahnya. Oleh karena itu, sebagian ulama, secara garis besar, sependapat
dengan pendapat Ibnu Jinni dalam membagi Al-Isytiqaq menjadi dua macam,
yaitu Ashghar dan Akbar. Di antara mereka adalah Al-Fakhru Al-Razi, Al-Jalal
Al-Suyuti, Syaikh Husain Wali. Sebagian mereka merubah penamaannya dengan
menambah macam-macam lain dari Al-Isytiqaq, baik dengan menambah satu
macam atau lebih banyak.
Berikut ini adalah tabel penjelasannya :
No Ulama Jumlah Bentuk Definisi
1
Al-Qannauji
dari Al-Sayyid
Al-Syarif Ali
bin
Muhammad
Al-Jurjani (w.
816 H.)
3 macam
1. Ashghar
2. Shaghir
3. Akbar
Ashghar adalah kata yang
sesuai dengan huruf aslinya
tanpa ada tambahan huruf
yang memisahkan satu
huruf asli dengan lainnya.
Shaghir adalah kesesuaian
3 jenis huruf tanpa harus
berurutan. Seperti ˬάΒΟ
ΪϤΣ ˬΡΪϣˬΏάΟ.
Akbar adalah kata yang
memiliki kesesuaian
sebagian huruf aslinya dari
sisi jenis dan tempat
keluarnya. Seperti ϢϠΛ ˬΐϠΛ.
Atau kesesuaian dari sisi
jenisnya atau tempat
keluarnya saja, dengan
syarat ketiga hurufnya
tidak boleh serasi secara
kkeseluruhan. Hal ini
untuk membedakannya
dengan dua bentuk
Book Report of Ilm Musthalah| 49
sebelumnya.
Al-Ashghar adalah Al-
Shaghir, harus tertib atau
berurutan hurufnya. Al-
Shaghir adalah Al-Kabir,
tidak berurutan hurufnya,
dan ketiga Al-Akbar adalah
Al-Kabir tidak adanya
kesesuaian.
Sedangkan maksud Al-
Isytiqaq di sini adalah Al-
Ashghar
22
.

2
Nadzir
Makbati
3 macam
dan 2
tambahan
baru.
1. Ashghar
2. Shaghir
3. Akbar
4. Al-Isytiqaq
Al-Kubbar
5. Al-Isytiqaq
Al-Murakkab
Bentuk al-Isytiqaq pertama
dan kedua, ia sepakat
dengan definisi dari Ibnu
Jinni, sedangkan yang ia
maksud dengan al-Isytiqaq
al-Akbar adalah Ibdal
Lughawi.
Al-Isytiqaq Al-
Kubbaradalah An-Naht,
sedangkan Al-Isytiqaq Al-
Murakkab adalah isytiqaq
sebuah kata yang sudah
Isytiqaq, atau al-isytiqaq
yang kedua dari kata yang
musytaq. Seperti kata ϦϜδϤΗ
dari kata ϦϜδϣ, kata ϢΗ 1 ΐϫ

22
Al-Qannuji, Al-Ilmu Al-khifaq, hal. 79-80
Book Report of Ilm Musthalah| 50
dari kata άϣ ΐϫ , dan kata
ϖτϨϤΗ berasal dari kata
ΔϘτϨϣ
23
.
3
Abdullahh
Amin
24

4 macam
1. Shaghir
2. Kabir
3. Kubar
4. Kubbar
Yang dimaksud isytiqaq
Shaghir adalah isytiqaq
Sharfi, isytiqaq Kabir
adalah al-Ibdal, isytiqaq
Akbar adalah taqlib, dan
isytiqaq Kubbar adalah An-
Naht.
4
Syaikh Al-
Mathi¶i
25

3 macam
1. Shaghir
2. Kabir
3. Akbar
Shaghir adalah isytiqaq.
Al-Kabir seperti άΒΟ ± ΏάΟ .
Akbar seperti ϢϠΛ ± ϦΘϫ ˬΐϠΛ ±
ϞΘϫ.
5 Dr. Turzi 4 macam
1. Shaghir
2. Kabir
3. Akbar
4. Kubar
Pada dasarnya, pembagian
ini tidak berbeda jauh
dengan pendapat Abdullah
Amin.
6
Dr. Subhi Al-
Shalih
4 macam
1. Al-Ashghar
2. Al-Kabir
3. Al-Akbar
4. Al-Naht
26

Pembagian ini juga sama
dengan pendapat Abdullah
Amin, dan Turzi.
7 Al-Alusi 3 macam
1. Ashghar
2. Shaghir
Ashghar lebih
memperhatikan urutan

23
Di antara ulama yang sesuai dengan pendapat ini adalah Muhammad Al-Mubarak
dalam bukunya Fiqhu Al-Lughah, hal 125 ʹ 126. bahwa pembagian AL-Musytaqqat ada dua
macam, dan keduanya ini tidak diketahui oleh para ulama terdahulu.

24
Lihat bukunya Al-Isytiqaq. Berbeda dengan pendapat Ali Abdul Wahid Wafi, dalam
bukunya Fiqih Lughah, ia membagi Isytiqaq menjadi 3 macam; ͛Am, Kabir dan Akbar. Dimaksud
dengan isytiqaq ͛am adalah isytiqaq Sharfi, kabir adalah Al-Taqlib, dan Akbar adalah Al-Ibdal.

25
Lihat bukunya Durus Al-tashrif.
26
Dirasat fi Fiqh Al-Lughah, hal. 188
Book Report of Ilm Musthalah| 51
3. Akbar hurufnya, shaghir juga
disebut kabir tidak
memperhatikan urutan
huruf seperti άΒΟ ± ΏάΟ , dan
Akbar tidak perlu
berurutan hurufnya, tetapi
huruf keluaar dari sati
tempat (makhraj)


c. Menurut Dr. Abdul Maqsud Muhammad Abdul Maqsud
Setelah memahami definisi dan perbedaan ulama dalam membagi al-
Isytiqaq, maka penulis memberikan usulan baru dari macam-macam al-Isytiqaq
seperti di atas. Penulis membagi al-Isytiqaq menjadi dua macam. Al-Isytiqaq Al-
Sharfi dan Al-Isytiqaq Al-Lughawi.
c.1. Al-Isytiqaq Al-Sharfi
27

Sebagian ulama menyebut al-isytiqaq dengan nama Al-Isytiqaq Al-Ashgar,
sedangakan ulama lainnya menamai dengan Al-Isytiqaq Al-Shaghir, dan Al-
Isytiqaq saja. Adapun Dr. Wafi menamainya dengan Al-Isytiqaq Al-µAm
28
, begitu
juga dengan Dr. Anis
29
dan banyak ulama setelahnya mengikuti pendapat mereka
berdua.
Al-isytiqaq Al-Sharfi menurut Dr. Anis adalah perubahan kata ke bentuk
lain dengan menjaga keutuhan huruf dalam pembentukan kata baru dengan
memperhatikan urutan huruf dengan tidak mendahului satu sama lainnya. Seperti
al-isytiqaq fi¶il dengan jenis-jenisnya, isim fa¶il, isim maf¶ul, sifat al-musyabahah,

27
Mansour Sulaiman al-Ghannam, dalam bukunya Al-faiq fi al-nahwi wa al-sharfi
membagi isytiqaq 3 macam ; shaghir, kabir dan akbar. Sedangkan isytiqaq shaghir terbagi
menjadi 3 macam, sharfi, nahwi dan lughawi. Al-faiq fi al-nahwi wa al-sharfi, Mansour Sulaiman,
2004, al-Azhar press, hal. 245.
28
Fiqhu Al-Lughah, hal. 178.
29
Asrau Al-Lughah, hal. 63.
Book Report of Ilm Musthalah| 52
isim tafdhil, shighah mubalaghah, af¶al al-ta¶ajjub, isim zaman, dan isim makan,
serta isim alat.
c.2. Al-isytiqaq Al-Lughawi.
Adalah bagian Al-Isytiqaq yang lebih dekat dikenal oleh ahli nahwu
dengan nama al-qalbu al-lughawi atau al-ibdal al-lughawi. Contoh ibdal al-
lughawi bisa disebabkan karena perkembangan suara (shauti), kata ˷ ί΃ dan ˷ ΰϫ, ϞΜΠϟ΍
danϞϔΠϟ΍, ςθϛ dan ςθϗ. Atau karena dua huruf memiliki tempat keluar yang
berdekatan atau satu tempat, seperti ϊϘΘϣ΍ dan ϊϘΘϧ΍, ϚϟΎΣ dan ϚϧΎΣ, ϡίϻ dan Ώίϻ. Atau
adanya kesesuaian pada sifat huruf terebut, seperti kata ϊσΎγ dengan ϊσΎλ, ρ΍ήδϟ΍
dengan ρ΍ήμϟ΍, ήϘλ dengan ήϘγ, ύΪδϟ΍ dengan ύΪμϟ΍
30
.
Menurut penulis buku, bahwa rahasia dibalik penamaan yang pertama, Al-
Isytiqa Al-Sharfi, karena dirasa lebih akrab dengan para ahli morfologi Arab
ketika disebut namanya. Berbeda dengan yang kedua.
d. Menurut Mamduh
Dalam bukunya yang berjudul ilmul mushthalah wa tharaiqu wadl¶il
mushthalahat fil µarabiyah, Mamduh menukil pendapat dua ahli bahasa
kontemporer, Abdullah Amin dan Ibnu Siraj. Ia mengatakan bahwa tidak ada
pertentangan antara dua pendapat yang berbeda zaman tersebut. Akan tetapi,
definisi isytiqaq yang dikemukakan oleh Amin
31
, lebih luas cakupannya, termasuk
di dalamnya jenis Naht. Hal ini berbeda dengan pendapat Ibnu Siraj tentang
isytiqaq dalam bukunya Risalatul Isytiqaq
32
.
Dalam pandangan Mamduh, bahwa tidak semua kata arab adalah musytaq
dari lainnya, juga tidak semuanya merupakan bentuk asli yang tidak terpengaruh

30
Dr. Wafi, Fiqhu Al-Lughah, hal. 184-185.

31
Dalam bukunya yang berjudul al-isytiqaq, Amin mengatakan, bahwa isytiqaq adalah :
ΐγΎϨΗ ϊϣ ήΜϛ΃ ϭ΃ ΔϤϠϛ Ϧϣ ΔϤϠϛ άΧ΃ ϪϨϣ ΫϮΧ΄ͪ΍ϭ ΫϮΧ΄ͪ΍ ͗Α
Ύόϴͣ ͔όͪ΍ϭ φϔϠϟ΍ ̼ .

32
Yaitu mengambil kata dari kata lain dengan adanya kesesuaian arti dan materi dasar
dengan memperhatikan bentuk susunan huruf dan harakatnya, bentuk kata kedua menjadi dasar
arti kata dasarnya. Seperti kata ΏέΎο dari kata Ώήο . Dalam kitabnya, Risalatul Isytiqaq, ia
mengatakan bahwa ͞buku ini sebagai penjelas di antara perdebatan para ahli bahasa. Diantara
mereka berselisih bahwa tidak ada isytiqaq dalam bahasa arab, sebagian kata adalah musytaq
dari lainnya dan tidak pada sebagian lainnya dan setiap kata yang sepadan maka salah satunya
adalah musytaq dari lainnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 53
oleh isytiqaq. Akan tetapi, sebagian kata arab itu musytaq dan yang lainnya tidak
musytaq. Hal ini didasari dengan dalil bahwa bahasa melewati dua fase dalam
perkembangannya. Fase pertama adalah fase di mana para pemilik bahasa
menggunakan bahasa apa adanya (irtijal). Fase kedua, adalah fase taulid atau
pemekaran serta penambahan bahasa. Pada fase kedua ini, banyak ahli bahasa
meyakini sebagai fase perkembangan bahasa.
Para ahli bahasa kontemporer berpendapat bahwa bentuk isytiqaq dalam
bahasa arab ada 4 macam (Shaghir, Kabir, Akbar, dan Kubbar), ada yang
berpendapat 3 macam (Shaghir, Kabir, dan Akbar), perbedaan pembagian dan
penamaan isytiqaq ini tidak menggambarkan definisi dan dalil yang dimaksud,
sehingga para ahli berbeda pendapat.
Dalam pembagian dan mendefinisikan macam-macam isytiqaq ini,
mamduh menjelaskan empat macam isytiqaq, menurutnya, pembagian ini lebih
mengakomoddir dari bentuk dan macam-macam pembagian isytiqaq dari para ahli
bahasa sebelumnya. Yaitu isytiqaq sharfi, isytiqaq taqlibi, isytiqaq ibdali, isytiqaq
nahti dan Isytiqaq Ilhaqi.
d.1 Isytiqaq Sharfi
Dalam istilah ahli klasik, isytiqaq sharfi dikenal dengan al-isytiqaq al-
shaghir yaitu perubahan kata dari lainnya, merubah bentuk pola (shighah) dengan
adanya keserupaan dalam arti antara keduanya, kesesuaian partikel (huruf) asli
dalam urutannya. Seperti ΏϮΘϜϣ ˬΐΘϜϣ ˬΐΗΎϛ ˬΔΑΎΘϛ ˬΐΘϛ dan seterusnya. Isytiqaq ini
adalah salah satu sarana dalam pengembangan bahasa, terutama dalam bidang
ilmiah. Hal ini dikarenakan cara pembentukan memakai isytiqaq lebih mudah.
Beberapa ahli bahasa melakukan penelitian, bahwa satu kata kerja Arab yang
dikenakan isytiqaq dapat berubah dalam 20 bentuk dengan penambahan huruf di
dalamnya. Bahkann satu kata verbal triliteral (fi¶il tsulatsi) dapat berubah menjadi
400 kata dengan arti dan pola yang saling berbeda dengan lainnya.
Dengan cara ini, tidak menutup kemungkinan, isytiqaq juga terjadi pada
kata asing bukan arab. Yaitu dengan sistematika sebagai berikut. Kata asing
mengalami ta¶rib (arabisasi) kemudian diderivasi dalam posisii kata tersebut
bagian dari kata arab yang sudah dirabkan. Seperti kata ϢϫέΪϟ΍ semula bukan kata
Book Report of Ilm Musthalah| 54
arab, mengalami isytiqaq setelah diarabisasi dan diderivasi sehingga menjadi Ϣ˶ϫέ˵ Ω
˲Ϣ˴ϫέ˴Ϊϣ ϭ.
Dalam diskursus kontemporer, jumlah kata dasar dalam bahasa arab jika
diperlakukan seperti ini, menurut Khalil mencapai 12.305.412 (duabelas juta
tigaratus lima ribu empat ratus dua belas) kata dasar. Dengan rincian 756 kata
terbentuk dari tsunai biliteral), 19.656 kata dari tsulatsi, 491.400 kata dari ruba¶i,
dan 11.793.600 kata dari khumasi. Dari sekian banyak kata, yang dipakai sekitar
1%, terlebih dari ruba¶i dan khumasi.
d.2 Isytiqaq Taqlibi
Sebagian ahli menyebutnya dengan alqalbu al-lughawi atau al-isytiqaq al-
kabir, yaitu menjadikan satu kata tsulatsi sebagai dasar kata, kemudian merubah
posisi ketiga huruf dalam kata tersebut sehingga membentuk 6 kata dengan satu
arti. Khalil dalam kitab Ain menyebutnya dengan nama Taqlibat Shautiyah.
Seperti kata dasar ϝΎϗ dapat berubah menjadi ϭ ϝ ϕ ± ϝ ϕ ϭ ± ϕ ϝ ϭ ± ϕ ϭ ϝ ± ϝ
ϭ ϕ dari perubahan kata ini, apapun bentuk katanya, artinya tetap satu yaitu
menunjukkan sesuatu yang cepat dan ringan. ϝϮϗ artinya ucapan yang ringan untuk
diucapkan, ϮϠϗ adalah keledai yang kencang larinya, Ϟϗϭ adalah kambing hutan
yang kencang larinya. ϖϟϭ disebut demikian jika larinya kencang,ϕϮϟ adalah
pekerjaan tangan yang membutuhkan gerakan.

d.3 Isytiqaq Ibdali
Amin mengatakan bahwa Ibdal adalah menjadikan huruf sebagai penggati
huruf lain dalam kata tersebut. Oleh sebab itu Izzuddin membagi Ibdal menjadi
dua macam; Ibdal Sharfi dan ibdal Lughawi. Ibnu Faris juga menyebutkan bahwa
orang arab suka mengganti huruf dalam satu kata dengan huruf lainnya. Hal
senada juga disampaikan oleh Ibnu Sikkit dan Abu Thaib.
Sedangkan huruf yang bisa menggantikan huruf lainnya berjumlah 12
huruf, ini pendapat Abu Qali. Sedangkan Abu Sidah berpendapat ada 13 huruf,
dan ahli lainnya menambahkan menjadi 14 huruf. Yaitu selain 7 huruf; Ρ ± Υ - Ϋ -
ι ± ν ± ύ ± ϕ .
Book Report of Ilm Musthalah| 55
Ibdal Sharfi adalah mengganti huruf dalam kata dengan huruf lain dengan
tujuan lebih ringan dan mudah dalam mengucapkan. Seperti kata ήϫΩί΍ dengan pola
ϞόΘϓ΍ sehingga huruf dal diganti dengan huruf ta`, sehingga menjadi ήϬΗί΍, lebih
ringan diucapkan. Cara ini tidak begitu beerpengaruh dalam taulid bahasa arab.
Ibdal Lughawi adalah mengganti huruf dalam kata dengan huruf lain
tanppa ada maksud morfologis. Seperti huruf nun diganti dengan huruf lam dalam
kata ˯ΎϤδϟ΍ ΖϨΘϫ menjadi ΖϠΘϫ yang berarti hujan.
Isytiqaq Ibdali ini, menurut ahli bahasa menjadi sarana dalam
pengembangan bahasa Arab atau taulid. Karena terjadi perubahan kata.
d.4 Isytiqaq Nahti
Maksud dari Naht adalah penggabungan dua kata menjadi satu kata. Naht
bermula ketika Khalil mengatakatan bahwa kata Ϟό˸ϴ˴ Σ berasal dari kata ϰϠόϴΣ.
Perkataan Khalil ini dijadikan dasar oleh Ibnu Faris dalam mendefinisikan Naht.
Sebagaimana Shuyuti juga berpendapat bahwa naht terjadi dari penggabungan dua
kata berbeda menjadi satu kata sebagai bentuk dari meringkas. Seperti kata
ϲϤθΒόϠΟέ. Ia menambahkan bahwa ada indikasi dari setiap kata yanag tersusun
lebih dari 3 huruf adalah hasil dari naht.
Menurut ahli bahasa kontemporer, seperti Abdullah Amin, Naht termasuh
dalam jenis Isytiqaq Al-Kubbar. Sehingga arti Naht yang diberikan lebih luas dari
pendapat ahli sebelumnya. Yaitu penggabungan dua kata atau lebih yang
mempunyai kesamaan katadan arti baik dari kata pertama dan berikutnya. Hal ini
memberikan inspirasi pada ahli setelahnya untuk membagi Naht menjadi 5
macam.
d.4.1 Naht Fi¶il dari dua isim
Adalah hasil naht yang berpola fi¶il merupakan hasil dari penggabungan
dua kata nominal. Seperti kata ϞϤδΑ yang berpola fi¶il ruba¶I ϞϠόϓ adalah hasil dari
Naht ͿΎϤδΑ.
d.4.2 Naht Fi¶il dari Jumlah
Adalah hasil naht yang berpola fi¶il merupakan hasil dari penggabungan
kalimat. Seperti kata ϞϗϮΣ yang berpola fi¶il ruba¶I ϞϠόϓ adalah hasil dari naht
Book Report of Ilm Musthalah| 56
kalimat ͿΎΑϻ· ΓϮϗ ϻϭ ϝϮΣϻ, begitu juga dengan ΎΑ΄Α adalah hasil naht dari kalimat
Ζϧ΄ϴΑΎΑ.
d.4.3 Naht Isim dari dua isim
Adalah penggabungan dua kata nominal menjadi satu kata nominal.
Seperti kata ϥΎϣή˸Β˴ Σ adalah hasil dari naht kata ϥΎϣήϟ΍ ΐΣ.
d.4.4 Naht Nisbi dari kata nama murakkab idlofi
adalah penggabungan kata dari nama yang tersusun dari dua kata. Seperti
kata ϲδϘΒϋ adalah bentukan Naht dari nama yang tersusun dari dua kata yaitu ΪΒϋ
βϴϘϟ΍. Begitu juga dengan ϲϣήπΣ adalah penggabungan dari ΕϮϣ ήπΣ.
d.4.5Naht Washfi
ahli lain menamainya Naht harfi yaitu penggabungan dari dua kata sifat
menjadi satu kata. Seperti kata ϡ˶ΪϠ˶ λ . Menurut Ramsis kata ini adalah bentukan
naht dari kata ϡΪμϟ΍ ϭ ΪϠμϟ΍.
d.5 Isytiqaq Ilhaqi
Disebut ilhaq ketika kata tersebut ditambah beberapa huruf untuk
menyerupai bentuk lain. Jumlah huruf yang ditambahkan sesuai dengan
kebutuhannya. Kata yang terbentuk dari 3 buah partikel bisa menjadi 4 sampai 5
huruf pembentukan kata tersebut sesuai dengan kebutuhan. Kata ήΛϮϛ dengan
tambahan huruf wawu berasala dari kata ήϴΜϛ.
Sedangkan ilhaq pada isim dan fi¶il, menurut Rodli Istrabadzi, yaitu
menambahkan satu atau dua huruf pada kata yang dimaksud untuk mendapatkan
arti yang berbeda dari bentuk kata sebelumnya.
Dapat pembagian Ilhaq, Mamduh mengikuti pendapat para ahli klasik,
yang membagi ilhaq menjadi 2 macam. Ilhaq muthorid (beraturan) dan ilhaq ghair
muthorid (tidak beraturan).
d.5.1 Ilhaq Muthtorid
Adalah pengulangan huruf pada lam fi¶ilnya. Hal ini sesuai dengan
pendapat Mazini. Seperti kata ΩΪϣέ berarti banyak abu bakar, kata Ω˵ Ϊό˵ ϗ berarti
adanya kedekatan keturunan dengan kakek. Sedangkan pengulangan huruf selain
pada lam fi¶il dinilai syadz (cacat).
Book Report of Ilm Musthalah| 57
Tetapi Al-Farisi menambahkan huruf nun pada tengah kata Ώήο sehingga
menjadi ϲΒ˸ϧήο, pendapat ini didukung oleh Al-Farabi yang beralasan, ilhaq terjadi
pada huruf ketiga dari ruba¶I, dengan memberikan tasydid pada huruf tersebut.
d.5.2 Ilhaq Ghair Muthtorid
yaitu dengan menambahkan salah satu huruf ) ΎϬϴϧϮϤΘϟ΄γ ( atau lebih pada kata
yang diinginkan. Seperti kata έϮϫΩ yang ditambah dengan huruf wawu,
disandingkan dengan kata yang berpola ΝήΣΩ.

D. Al-Isytiqaq Al-Sharfi ; Menurut ulama Nahwu dan Ulama Ushul
D.1. Al-Isytiqaq Al-Sharfi menurut ulama Nahwu
Pada sejarah awal munculnya Al-Isytiqaq para ulama berselisih antara
menerima Al-Isytiqaq ini atau tidaknya. Sebagian mereka ada yang menolak
dengan alasan bahwa semua kata adalah asli tidak musytaq dari lainnya.
Sebaliknya, sebagian lainnya berargument bahwa semua kata adalah musytaq dari
lainnya, seperti pendapat Abu Ishaq Al-Zujaj (w.311 H.) dan Sibawaih (w. 1180
H.).
Para ahli sintaksis Arab yang berpendapat bahwa sebagian kata Arab ada
yang musytaq dan sebagian lainnya tidak
33
, seperti :
1. ¶Isa bin Umar (w. 149 H.)
2. Abu Amru bin ¶Ala` (w. 154 H.)
3. Al-Khalil bin Ahmad (w. 175 H.)
4. Muhammad bin Al-Mustanir, dikenal dengan Al-Qutrub (w. 206 H.)
5. Abu Ubaidah (w. 209 H.)
6. Abu Zaid Al-Anshori (w. 215 H)
7. Abdu al-Malik bin Qarib Al-Ashma¶I (w. 216 H.)
8. Abu Umar Al-Jarmi (w. 255 H.)
9. Abu Utsman Al-Mazini (w.. 249 H.)
10. Abu Al-Abbas Al-Muabrrid (w. 286 H)

33
Al-Muzhir, vol. 1, hal 348. Al-Huma͛ dikatakan bahwa Ahli Lughah bersepakat bahwa
bahasa Arab adalah qiyas. Karena orang Arab mengqiyaskan satu kata dengan lainnya.urutan
ulama di atas sesuai dengan tahun wafatnya, dimulai dengan ulama Bashrah kemudian ulama
Kufah.
Book Report of Ilm Musthalah| 58
11. Abu Ishaq Al-Zujaj (w. 311 H.)
12. Ali bin hamzah Al-Kisai (w. 189 H.)
13. Yahya bn Ziad Al-Farra` (w. 206 H.)
14. Abu Amru Ishaq bib Marar Al-Syaibani (w. 206 H.)
15. Ibnu Al-A¶rabi (w. 231 H.)
16. Ahmad yahya bin Tsa¶lab (w. 291 H.)
D.1.1. Al-Isytiqaq Al-Sharfi menurut penulis buku Al-Isytiqaq
Di antara para ulama yang memiliki karya dalam pembahasan Al-Isytiqaq
dalam buku mereka adalah
34
:
1. Abu Al-Abbas Al-Mufadlol Al-Dhibbi (w. Sekitar 168 H.)
2. Al-Quthrub (w. 206 H.)
3. Abu Al-Hasan Al-Akhfasy (w.215 H.)
4. Al-Ashma¶I (w. 216 H.)
5. Abu Nasr Al-Bahili (w. 231 H.)
6. Al-Mufadhal Al salamah (w. setelah 250 H.)
7. Abu Al-Walid Abdu Al-Malik Al-Qirwani (w. 256 H.)
8. Abu Al-Fadhl Ahmad bin Thahir Thaifur (w. 280 H.)
9. Al-Mubarrid (w. 286H.)
10. Abu Ishaq Al-Zajjaj (w. 311 H.)
11. Abu Bakar Muhammad bin Al-Siiry Al-Sarraj (w. 316 H.)
12. Abu Muhammad bin Al-Hasan bin Duraid (w. 321 H.)
13. Abu Muhammad Abdullah bin Durustuwaih (w. Setelah 330 H.)
14. Abu Jakfar Al-Nahhas (w. 338 H.)
15. Abu Al-Qasim Al-Zajazi (w. 340 H.)
16. Abu Abdullah Al-Husaini bin Al-Khuluwaih (w. 370 H.)
17. Abu Al-hasan Ali bin isa Al-Rummani (w. 384 H.)
18. Al-Khawarizimu (w. 560 H.) jamaluddin Al-Syarisyiu (w.685 H.)


34
Tujuan dari penyertaan karya ulama terdahulu dalam pembahasan Al-Isytiqaq ini
adalah untuk melengkapi dan menyempurkan pembahasan Al-Isytiqaq. Juga untuk mengetahui
sikap para ulama terdahulu dalam menyikapinya, apakh mereka terpengaruh dan
mempengaruhui yang lainnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 59
Dari 18 ulama yang menulis dan mengkaji dengan dalam pada
pembahasan Al-Isytiqaq semuanya sudah hilang dan tidak diketahui dimana
keberadaan buku-buku nomumental itu, kecuali beberapa buku yang masih dapat
kita baca sekarang ini. Di antara karya tersebut adalah kitab Isytiqaq Al-Asma`
karya Al-Asma¶i, Isytiqaq Ibn Duraid, Isytiqaq karya Abu Bakar bin Siraj,
Isytiqaq Asmawa Sifat Allahu Ta¶ala karya Abu Al-Qasim Al-Zajaji
35
.
Setelah menelaah karya-karya ulama tentang Al-Isytiqaq, penulis
berkesimpulan, sebagai berikut :
1. Al-Ashma¶i dan Ibnu Duraid membatasi pembahasan Al-Isytiqaq pada
karya mereka yang terbatas pada isim saja, bukan pada fi¶il. Sehingga
penulis berkesimpulan bahwa pembahasan mereka berdua tidaklah
sempurna.
2. Al-isytiqaq menurut Al-Asma¶i adalah hubungan atau ikatan kata tersebut
dengan kata yang dimaksud. Seperti kata έϮϬΟ (keras) adalah musytaq dari
kata ϪϤΤοϭ ϡϼϜϟ΍ Ϣψϋ yang berarti suara yang keras dan kencang
36
.
3. Penulis berpandangan bahwa maksud dan tujuan al-isytiqaq menurut Al-
Asma¶I dan Ibnu Duraid adalah mengembalikan kata ke bentuk aslinya
37
.
4. Al-Ashma¶I dan Ibnu Duraid tidak memakai metode baku dalam
pengambilan asli kata. Terkadang mereka mengambil asal kata dari bentuk
mashdar kat, terkdang dari fi¶il, dan terkadang dari isim sifat. Seperti
kataϑΎ͉ΤΠϟ΍ diambil dari kata ϒΤ˴Πϟ΍ bentuk mashdar-nya
38
. Kata ϥΎϴϔγ
diambil dari kata Ώ΍ήΘϟ΍ ΢ϳήϟ΍ Ζϔγ bentuk sifatnya
39
. Dan kata ϡΎ͉ϤΗ diambil dari
kata Ϣ͉ϤΗ bentuk fiilnya
40
.

35
Juga ada karya ulama Taqiu Al-Din Al-Subki ( w. 756 H.). dan buku karya Ulama Taj Al -
Subki, vol. 10 hal,, 186 dan setelahnya, dalam 90 bait penulis menguraikan bentuk isytiqaq; isim
fa͛il, isim maf͛ul, isim tafdhil, Al -sifat Al-Musyabahah, isim marrah, isim hai͛ah, isim zaman, isim
makan, isim masdar, dan isim alat. Penulis mengikuti pendapat ulama Bashrah yang menjadikan
Isim Mashdar sebagai asal kata..
36
Isytiqaq Al-Asma͛, hal 82.
37
Ibid. hal. 86.
38
Ibid. hal. 95.
39
Ibid. hal. 88.
40
Ibid. hal. 65
Book Report of Ilm Musthalah| 60
D.1.2. Al-Isytiqaq menurut Al-Rumani
Adalah perubahan bentuk kata dengan tetap melibatkan huruf asli dalam
setiap katanya
41
. Abu Al-Baqa¶ Al-¶ukbari menjelaskan maksud dari kata asli
adalah kata yang pertama kali dipakai dalam menjelaskan arti. Sedangkan kata
pecahannya (far¶u) adalah kata yang di dalamnya terdapat huruf-huruf tersebut
setelah mengalami perubahan bentuk harakat dan memiliki makna lebih dari
bentuk aslinya. Seperti kata Ώϭήπϣ ˬΏέΎο ˬΏήπϳ ˬΏήο.
D.1.3. Al-Isytiqaq menurut Ibnu Jinni.
Ibnu Jinni membagi Al-Isytiqaq menjadi (Al-Shaghir-Al-Ashghar) yaitu
menjadikan kata asal sebagai dasar dari perubahan ke bentuk lain dengan
berpegang pada arti pertama sekalipun bentuk dan strukturnya.
Seperti kata ) ϡ ϝ α ( berarti keselamatan, maka perubahan katanya menjadi
δϟ΍ ˬϰϤϠγ ˬϥΎϤϠγ ˬϢϟΎγ ˬϢϠδϳ ˬϢϠγ ϢϴϠδϟ΍ ˬΔϣϼ . Dengan demikian, Ibnu Jinni melihat bahwa
fiil yang terbentuk dari tiga partikel (huruf) menjadi kata asli.
D.1.4. Al-Isytiqaq menurut ulama abad keenam dan ketujuh hijriah.
Pada abad keenam banyak perkembangan baaru dalam pembahasan Al-
Isytiqaq. Perubahan dan perkembangan baru tersebut terkait dengan
pengembangan makna dan definisinya. Di antaranya dilakukan oleh Ahmad bin
Muhammad (w. 516 H.). ia mendefinisikan Al-Isytiqaq, yaitu mengembalikan
kata ke kata lainnya dikarenakan ada persamaan arti dan kata
42
. Pengertian yang
sama juga disampaikan oleh Abu Al-baqa¶ Al-ukbari (w. 616 H.).
Sedangkan Ibnu Al-Zamlakaniyu Al-Nahwi Al-balaghi ( w. 651 H.)
mendefinisikan Al-Isytiqaq dengan menghadirkan kata dan mengumpulkannya
dengan kata yang memiliki persamaan arti, sebagaimana huruf aslinya juga
terlibat dalam pembentukan kata tersebut. Seperti kata Ώήο dengan bentuk
pecahannya adalah diambil dari bentuk mashdarnya, Ώήπϟ΍. Akan tetapi definisi di
atas ditolak oleh Ibnu Al-ushfur Al-Isybili (w. 669 H.) bahwa definisi Al-isytiqaq

41
ϞλϷ΍ ϚϟΫ ϑϭήΣ ϪϔϓέΎμΗ ̼ έέϭΪϳ Ϟλ΍ Ϧϣ ωήϓ ωΎτΘϗ΍Ϯϫ . Lihat buku
Masail Khilafiyah, hal. 73-74.
42
Buku Nuzha Al-Tharf fi ͚Ilmi Al -Sharfi, hal. 5.
Book Report of Ilm Musthalah| 61
di atas tidak berlaku secara keseluruhan melainkan mayoritas pada sebagian kata,
bukan semua kata dalam bahasa Arab.
D.1.5. Kelima, Al-Isytiqaq menurut ulama nahwu kontemporer.
Para ahli sintaksis Arab kontemporer mmemiliki pemahaman yang
berbeda dengan para ulama sebelumnya. Salah satu ulama nahwu kontemporer
adalah Dr. Ibrahim Anis. Menurutnya bahwa Isytiqaq al-¶am adalah isytiqaq
Shaghir. Seperti kata ϢϬϓberubah menjadi ϡϮϬϔϣ ˬϢϫΎϓ. Perubahan kata ini tidak ada
keterkaitan dengan antara huruf fa`, denngan huruf ha` dan mim
43
.



III. BENTUK MUSYTAQ
44

Isytiqaq shaghir adalah usaha mengambil bentuk kata dari kata lain
dengan memperhatikan kesesuaian antara keduanya dalam arti serta kesesuaian
huruf asli dan urutan dalam kata tersebut. Seperti kata ϡϮϬϔϣ ˬΎϤϫΎϓ ˬΎϤϬϓ ˬϢϬϔϳ ˬ ϢϬϓ.
dalam isytiqaq ini ada tiga unsure yang diperhatikan antara kata asli dengan
bentuk derivasinya. Yaitu mempunyai bentuk asli, memiliki ketersesuaian arti dan

43
Asrar Al-lughah, hal. 63.
44
Ahli bahasa bashrah berpendapat bahwa musytaq berasal dari mashdar. Dari isim
mashdar ini kemudian lahir bentuk lain dari isim-isim dan fi͛il-fi͛il. Dengan empat argument.
Pertama, bentuk mashdar menunjukkan peristiwa dan kata kerja serta bentuk lain dari derivasi
kata Arab, inilah yang menjadi tujuan dari pada isytiqaq yang sesuai dengan mashdar. Kedua,
bentuk mashdar adalah isim (nomina), sedangkan isim berjalan dengan dirinya sendiri, tidak
memerlukan fi͛il (verba). Sedangkan fi͛il tidak bisa melakukan kerjaannya sendiri kecuali
memerlukan isim sebagai pelaku, maka sesuatu yang tidak memerlukan yang lain lebih berhak
menjadi aslinya sesuatu daripada yang memerlukan pada yang lain. Ketiga, mashdar berarti
sumber, yaitu sumber dan asal bagi sesuatu yang lain, sedangkan fi͛il berasal dari mashdar ini.
Keempat, arti atau makna dari bentuk mashdar menunjukkan waktu secara mutlak tanpa
batasan, sedangkan fi͛il tidak demikian, melainkan terikat dengan waktu lampau, sekarang dan
yang akan datang.
Adapun ahli bahasa dari Kufah berpendapat bahwa asli atau bentuk dasar dari musytaq
adalah fi͛il dengan menyampaikan dua buah argumen. Pertama, mashdar bisa membenarkan
kebenaran fi͛il, jika demikian, maka mashdar berasal dari fi͛il. Kedua, fi͛il itu bisa me mperlakukan
mashdar, pada contoh ΎΑήο ΖΑήο maka kata ΎΑήο yang dibaca nasab tidak akan terjaadi jika
tidak ada fi͛il ΖΑήο. Begitu juga seterusnya. Lihat buku Al-Inshaf fi masail khilaf karya al-anbari
jilid 1/ hal 235.
Book Report of Ilm Musthalah| 62
kesatuan kata asli dan derivasinya dalam keasliannya. Salah satu macam musytaq
shaghir adalah isytiqaq sharfi
45
.
Musytaq sharfi adalah sesuatu (kata) yang diambil dari bentuk mashdarnya
untuk menunjukkan dzat secara mutlak serta peristiwa dengan memperhatikan
kesesuaian dilalahnya secara khusus. Dari definisi ini, musytaq sharfi terbagi
menjadi 7 macam. Yaitu isim fa¶il, isim maf¶ul, sifat musyabahah, isim tafdhil,
isim zaman, isim makan, dan isim alat
46
.
Kata ήϬλ dalam perkembangan bahasa, setelah mengalami isytiqaq dalam
bentuk fi¶il dan isimnya menjadi 196 kata. Pola fi¶il dari kata ini berupa Ϟόϓ ± Ϟόϓ΃ -
ϞϋΎϓ ± Ϟ˷ όϓ ± ϞόϔΘγ΍ ± ˷ Ϟόϓ΍ ± όϓ΍ ϝΎ ± ϞϋϮόϓ΍ ± ˷ Ϟόϔϧ΍ ± ϞόΘϓ΍ ± Ϟ˷ όϔΗ ± ϞϋΎϔΗ ± ϞϠόϔΗ ± ϞϠόϓ yang
berjumlah 14 pola. Dari masing-masing pola ini memiliki 14 bentuk isytiqaqnya
yang berupa ; masdar, masdar mim, isim marrah, isim hai`ah, isim fa¶il, isim
maf¶ul, sifat musyaabahah, isim taafdlil, isim zaman dan makan, isim alat dengan
pola maf¶alun, isim alat dengan pola mif¶alun, isim alat dengan pola maf¶alatun,
isim mihnah dengan pola fi¶latun, kemudian sifat fa¶iilun dan fa¶uulun.
Kesemuanya berjumlah 14.
Oleh karena itu, hasil perkalian isytiqaq dari kata ήϬλ berarti 14 x 14 =
196 kata.

III. 1. Isim fai¶il

45
Macam-macam musytaq shaghir lainnya adalah musytaq nahwi yaitu mengambil
bentuk kata baru dari bentuk mashdarnya untuk menjelaskan sesuatu yang masih samar dan
kejadian peristiwa dalam bentukk khusus. Ada empaat macam ; isim fa͛il, isim maf͛ul, sifat
musyabahah, dan isim tafdhil. Kedua, musytaq lughawi yaitu setiap kata yang diamil dari bentuk
kata lainnya tanpa memperhatikan bentuk dilalahnya. Bentuk ini meliputi fi͛il-fi͛il, isim-isim
musytaqqat.
46
Menurut ahli bahasa Bashrah tidak disebutkannya amtsilah mubalaghah atau shighah
mubalaghah dalam musytaq dikarenakan mulhaq (kemipiran) dari isim fa͛il. Begitu juga dengan
tidak disebutkannya (Ϟόϓ΃) ta͛ajjub (kagum) dikarenakan adanya kesesuaian dengan isim tafdlil.
Book Report of Ilm Musthalah| 63
Adalah sebuah isim atau kata nomina yang terbentuk menunjukkan pelaku
pekerjaan atau yang melaksanakan pekerjaan
47
dari sisi tajaddud (terus-menerus)
48

dan huduts (peristiwa).
III. 1.1. Pembentukan isim fa¶il
Isim fa¶il
49
bisa terbentuk dari dua cara. Pertama, isim fa¶il yang
terbentukd ari tsulasi, dan dari selain tsulatsi. Pembentukan dari masing-masing
pembagian ini memiliki kaidah dan unsur pembentukan berbeda antar keduanya.
Berikut ini penjelasannya ;
Kaidah umum pembentukan isim fa¶il tsulatsi mengikuti pola (Ϟ˶ϋΎϓ) dengan
memberi harakat fathah pada huruf pertama dan yang ketiganya
50
. Kaidah ini
berlaku pada ; fi¶il tsulatsi berpola a-a (Ϟ˴ό˴ ϓ) dengan harakat fathah pada huruf
pertama dan kedua, baik kata kaerja tersebut bersifat transitif (muta¶addi)
51
atau
intransitif (lazim)
52
. Fi¶il tsulasi berpola a-i (Ϟ˶ό˴ ϓ) dengan harakat fathah huruf
pertama dan kasrah pada keduanya, baik bersifat muta¶addi
53
atau lazim
54
. Dan
fi¶il tsulatsi berpola a-u (Ϟ˵ ό˴ ϓ) dengan harakat fathah pada huruf pertama dan
dlommah di ketiganya. Kata kerja yang menggikuti pola ini mayoritas berbentuk
kata kerja intransitif atau lazim
55
, sedangkan isim fa¶ilnya dengan pola (ϞϋΎϓ)
tidaklah banyak
56
.
III. 2.isim maf¶ul

47
Bentuk kata amtsilah mubalaghah dan isim tafdlil tidak termasuk isim fa͛il. Yang
pertama tidak termasuk isim fa͛il dikarenakan menunjukkan makna lebih dari bentuk aslinya.
Sedangkan yang kedua diikarenakan lebih memperhatikan makna lebihnya.
48
Sifat musyabahah tidak termasuk di dalamnya dikarenakan memberikan makna tetap
(tsubut) dan selama-lamanya (al-dawam).
49
Isim fa͛il dengan polanya ϞϋΎϓ menunjukkan dua arti, yaitu peristiwa dan dzat atau
pelaku pekerjaan tersebut.
50
Kata ΏέΎη ˬΏέΎο
51
Ϟ΋Ύγ ϮϬϓ ϝ΄γ ˬήλΎϧ ϮϬϓ ήμϧ ˬΏέΎο ϮϬϓ Ώήο
52
ΐϫ΍Ϋ ϮϬϓ ΐϫΫ ˬϞλ΍ϭ ϮϬϓ Ϟλϭ ˬΪϋΎϗ ϮϬϓ ΪЙ όϗ
53
ϢϫΎϓ ϮϬϓ ϢϬϓ ˬϦ˶ ϣ΁ ϮϬϓ Ϧ˶ ϣ΃
54
̺΁ ϮϬϓ ̺΃ ˬϚΣΎο ϮϬϓ Ϛ˶ Το ˬ̀Ύγ ϮϬϓ ϢϠγ
55
ϮϬϓ Ϣόϧ ˬήϫΎσ ϮϬϓ ήϬσ ˬήϗΎϋ ϮϬϓ Γ΃ήͪ΍ ΕήЈ ϘЙϋϭ ˬϩέΎϓ ϮϬϓ ϩЈ ήϿ ϓ
ϢϋΎϧ
56
Kata kerja yang berpola a-I dan a-u keduanya berbentuk lazim dapat memberikan arti
sifat dengan mengikuti pola ˶ϋΎϓ Ϟ , seperti dalamm contoh ΍ΪϏ ΡέΎϓ ϭ ϥϵ΍ ϦγΎΣ ΪϤͭ .
Book Report of Ilm Musthalah| 64
Adalah isim yang menunjukkan jatuhkan suatu pekerjaan padanya,
berbentuk majhul (disembunyikan). Isim maf¶ul ada kalanya terbentuk dari tsulasi
atau dari selain tsulasi.
III.2.1. Isim maf¶ul dari tsulatsi
Pola isim maf¶ul dari tsulatsi muta¶addi adalah ϝϮόϔϣ , maf¶ulun, seperti
Ώϭήπϣ, sedangkan dari tsulatsi lazim ditambah dengan preposisi jar yang jatuh
setelahnya, seperti ϪΑέ ΔϳΎϨόΑ υϮϔΤϣ ΪϤΤϣ ϩΪϨϋ ΏϮϫάϣ Ϯϫϭ ˬ ketika tidak dibarengi dengan
salah satu preposisi maka tidak dibenarkan
57
.
Isim maf¶ul yang terbentuk dari tsulasi shahih
58
tidak ada perubahan yang
berarti, berbeda dengan tsulatsi mu¶tal
59
.
No Kata Jenis kata
Pola Isim
maf¶ul
Keterangan
1. ωΎΑ ˬϝΎϗ ϑϮΟϷ΍
ϊϴΒϣ ϭ ϝϮϘϣ
aslinya
ωϮϴΒϣ ϭ ϝϭϮϘϣ
Harakat huruf illat dipindahkan ke huruf
shahih yang tidak berharakat, kemudian
di buang salah satu hurufnya
60

dikarenakan bertemu dua huruf mati
dalam satu kata.
2. ϰϣέ
κϗΎϨϟ΍
ϲ΋Ύϴϟ΍
61

˷ϲϣήϣ
3. ϯΰΟ ϱϭ΍Ϯϟ΍ κϗΎϨϟ΍ ˷ ϱΰΠϣ

57
Tashrif Al-Asma, Amir Said Abdu Rabbi, hal 72
58
Ketika partikel huruf pembentuknya tidak berupa salah satu dari huruf ͚illat. yaitu ya,
alif dan waw.
59
Disebut mu͛tal dikarenakan salah satu partikel pembenntuknya berrupa huruf ͛illat.
60
Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang jenis huruf yang di buang, apakah huruf itu
ain fi͛il (partikel pokok dalam kata) atau huruf tambahan dari pola maf͛ul.
Sibawaih berpendapat bahwa huruf yang dibuang adalah huruf kedua atau huruf
tambahan dari pola maf͛ul (ϞОόЈ ϔЙ ϣ). Sedangkan menurut Al-Akhfasy, bahwa huruf yang dibuang
adalah huruf pertama, yaitu ain fi͛il sehingga polanya ϝОϮЈ ϔЙ ϣ . dibuangnya huruf pertama
dikarenakan bertemunya dua huruf mati dalam satau kata, sedangkan huruf wawu yang tetap
dalah wawu maf͛ul yang menunjukkan identikan ke-maf͛ulan-nya, dan ia lebih berhak untuk
tetap ada daripada di buang.
61
Naqish adalah kata yang huruf ain fi͛ilnya berupa huruf illat. Disebut naqish
dikarenakan pada proses perubahan ke bentukk kata yang lain akan mengalami pengurangan
huruf, atau dibuang huruf illatnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 65
4.
ˬΏ˷ Ω΃
ϡήϛ΃
ϲΛϼΜϟ΍ ήϴϏ ϡή˴ Ϝϣ ˬΏΩ͉ Άϣ
Dengan mengganti huruf mudloro¶ah
62

dengan huruf mim dan memberi harakat
pada huruf sebelum akhir.
5. έΎΘΨϣ
Adalah kata yang memiliki kesamaan
pola pada isim fa¶il dan maf¶ulnya. Hal
ini bisa dibedakan ketika kata tersebut
terangkai dalam sebuah kalimat.
Disamping pola maf¶ul di atas, pola dan arti kata tersebut menunjukkan
arti dikenai suatu pekerjaan, maka dalam ada bentuk kata yang tidak mengikuti
pola maf¶ul akan tetapi memiliki makna sama seperti isim maf¶ul. Yaitu ;
Pola Ϟ˸ϴ˶ό˴ ϓseperti dalam kata ΢ϳήΟ ˬ΢ϴΑΫ ˬϞϴΘϗkesemua kata ini memiliki arti
sama dengan isim maf¶ul
63
, yang penggunannya dalam kalimat tidak mengalami
perubahan, baik untuk mudzakkar (maskulin) atau muannats (feminim). Seperti
΢ϳήΟ ϞΟέ ϭ ΢ϳήΟ Γήϣ΍.
Pola Ϟ˸ό˶ ϓ, seperti pada kata ΢ΑΫ ± ϦΤσ seperti dalam firman Allah swt ϩΎϨϴϧΪϓ
ϢϴψόΤΑάΑ
64
arti disini ΡϮΑάϣ yang disembelih.
Pola Ϟ˴ ό˴ ϓ seperti pada kata ϰϨΟ ± ΩΪϋ contohnya pada firmaan Allah swt
ϥ΍Ω ϦϴΘϨΠϟΎϯϨΟϭ
65


III. 3.Sifat Musyabahah
66

Adalah isim yang dibentuk dari fi¶il lazim yang tidak berfungsi sebagai
tafdlil (perbandingan lebih). Sifat musyabahah ini menunjukkan dan memberikan

62
Adalah huruf yang terletak pada awal kata kerja mudlori͛ yang menunjukkan waktu
sekarang atau akan dating. Huruf mudloro͛ah ada empat yaitu, ya, nun, mim dan wawu
yergabung dalam kata ϮϤϨϳ.
63
Ada juga pola Ϟϴόϓ tapi memiliki kesamaan arti dengan pola ϞϋΎϓ dan ini tidak
masuk dalam pembahasan kita. Seperti φϓΎΣ ͔ό͛ φϴϔΣ.
64
QS. Al-shaffat : 107
65
QS. Al-Rahman : 54
66
Disebut dengan nama musyabahah dikarenakan adanya keserupaan dengan isim fa͛il
dalam perilaku, yaitu bisa merafakkan dan menashabkan seperti halnya isim fa͛il. Seperti ΪϤͭ
ϪϬΟϭ ϦδΣ
Book Report of Ilm Musthalah| 66
arti selamanya atau ketetapan sifat pada kata yang disifatinya. Seperti ϦδΣ ˬϢϳήϛ
ΓέϮμϟ΍ ϞϴϤΟ ˬϖϠΨϟ΍.
Sifat musyabahah dapat trbentuk dari fi¶il tsulatsi yang berpola a-i lazim
jumlahnya banyak
67
, a-u juga banyak dikalangan orang Arab
68
dan a-a dalam
jumlah yang sedikit.
Sifat musyabahah dari fi¶il tsulasi lazim (Ϟ˶όϓ) mengikuti salah satu dari 3
pola berikut ini ;
1. Pola Ϟ˶όϓ untuk mudzakkar (maskulin) dan pola Δ˴ Ϡ˶ όϓ untuk muannats
(feminim). Pola ini sering dipakai untuk menunjukkan kesedihan atau
kebahagiaan. Seperti ή˶Πο ± Ρ˶ήϓ , juga menunjukkan arti penyakit
kejiwaan dalam (tubuh) atau menunjukkan sesuatu yang penuh
(lumeber), seperti ή˶ τΑ ± ήΠο .
2. Pola Ϟ˴ό˸ϓ΃ untuk maskulin dan ˯ϼόϓ untuk feminism. Pola ini sering
dipakai untuk menunjukkan cacat atau warna. Seperti έϮϋ΃ ± ϰϤϋ΃ ± έϮΣ΃
± ϖϤΣ΃ ± ήϤΣ΃ ± ϰθϋ΃ ± ήϫί΃ . Terkadang pola Ϟόϓ΃ untuk maskulin tidak
memiliki pola bentuk feminimnya, seperti ήϤϛ΄ϧϼϓ sama seperti pola ˯ϼόϓ
untuk feminism tidak memiliki pola untuk maskulinnya, seperti αήϓ
˯ΎϫϮη.
3. Pola ϥϼόϓ untuk maskulin dan ϰϠό˴ ϓ untuk feminimnya, dipakai untuk
menunjukkan sesuatu makna yang penuh, seperti ϥΎόΒη ± ϥ΍ήϜ˴ γ ˬϰόΒη ±
ϥΎΒπϏ ˬϯήϜγ ± ϥΎϳέ ˬϰΒπϏ ± ϰϳέ . Terkadang pola ϥϼόϓ tidak memiliki
bentuk feminimnya, seperti ϥΎϴΤϟ yang berarti banyak jenggotnya.
Selain tiga pola di atas, ada satu kata yang memiliki dua buah pola dalam
sifat musyabahahnya. Seperti ϖ˴ϤΣ΃ ϭ ˲ ϖ˶Ϥ˴ Σ ˵ dari fi¶il ˴ ϖ˶ϤΣ, begitu juga kata Κ˶όη ϭ ˵Κόη΃
dari kata ˶ Κ˴ό˸η΃ dan kata Ϟ˶Π˴ϋ ϭ ϥϼΠϋ yang berasal darii kata Ϟ˶Πϋ dan kata ϥΎϤϴϫ ϭ Ϣϴϫ΃
yang berasal dari kata ϡΎϫ.
Sifat musyabahah dari pola Ϟ˵ όϓ kebanyak menggunakan pola dibawah ini ;

67
Hal ini juga dikarenakan mencakup masalah-maslah yang bathiniah (tidak nampak),
warna-warni, aib, dan akhlak yang selalu menempel dengan pemiliknya secara terus menerus.
Hal ini menjadikannya sesuai dengan kebiasaan sifat musyabahah.
68
Dikarenakan banyak menggambarkan sifat-sifat seseorang seperti keberanian dan
sebagainya.
Book Report of Ilm Musthalah| 67
No Pola Contoh Asal kata
1. Ϟϴόϓ ϒϳήχ ± ϒϳήη - Ϣϳήϛ ϑ˵ ήχ ± ϡ˵ ήϛ - ϑήη
2. ˲Ϟ˸ό˴ ϓ ϞϬγ ± ΐόλ - ϢϬη ϞϬγ ± ΐόλ - ϢϬη
3. ˲Ϟ˸ό˵ ϓ ήϤϏ - ΐϠλ ήϤϏ ± ΐϠλ
4. Ϟ˸ό˶ ϓ ήϔϋ - ˷ ήϏ ήϔϋ - ˷ ήϏ
5. Ϟ˶ό˴ ϓ Ϧτϓ ± ϦθΧ Ϧτϓ ± ϦθΣ
6. Ϟ˴ό˴ ϓ ϦδΣ - ϞτΑ ϦδΣ - ϞτΑ
7. ϝϮό˴ ϓ έϮμΣ ήμΣ
8. Ϟ˶ϋΎϓ ϩέΎϓ ϩήϓ
9. ϝΎό˴ ϓ ϥΎΒΟ ± ϥΎμΣ - ϡ΍ήΣ ϦΒΟ ± ϦμΣ - ϡήΣ
10. Ϟ˵ ό˵ϓ ΐϨΟ - Ρήγ ΐϨΟ - Ρήγ
11. ˴Ϟ˴ό˸ϓ΃ εήΣ΃ εήΣ
12. ϝΎό˵ϓ ωΎΠη ϊΠη
III. 4. Isim Tafdhil
Isim tafdlil dipakai untuk menunjukkan perbandingan dua hal yang sama
dalam sifat tetapi salah satu dari keduanya memiliki hal yang lebih dalam sifat
tersebut. Seperti αΎϨϟ΍ ϢϠϋ΃ ΪϤΤϣ. Maka kata ϢϠϋ΃ menunjukkan kelebihan Muhammad
dari manusia lain dari sisi ilmu. Begitu juga dalam firman Allah ϻΎϣ ϚϨϣ ήΜϛ΃ Ύϧ΃
΍Ϊϟϭϭ.
69

Pola pembentukan isim tafdlil adalah Ϟόϓ΃ secara lafadz, seperti ΃ ϦδΣ ± Ϟπϓ΃
atau secara makna, seperti ήϴΧ ± ήη ± ΐΣ
70

III. 5. 6. Isim Zaman, dan Isim Makan
Isim zaman adalah bentuk isim yang terbentuk dari mashdar untuk
menunjukkan waktu terjadinya sebuah pekerjaan atau peristiwa. Seperti dalam
firman Allah swt ήΠϔϟ΍ ϊϠτϣ ϰΘΣ ϲϬϣϼγ, kata ϊϠτϣ menunjukkan waktu terjadinya
sesuatu itu.
Isim makan adalah bentuk isim yang terbentuk dari mashdar untuk
menunjukkan tempat terjadinya sebuah pekerjaan atau peristiwa. Dalam firman
Allah swt. ϯϭ΄Ϥϟ΍ ϲϫΔϨΠϟ΍ ϥΈϓ.

69
QS. Al-Kahfi : 34
70
Aslinya ͖Χ΃ ± ήη΃ - ΐΣ΃
Book Report of Ilm Musthalah| 68
Pembentukan isim zaman dan isim makan dari tsulatsi dengan pola ˲Ϟ˴ό˸ϔ˴ϣ
ketika fi¶il mudlori`nya mengikuti pola Ϟ˴όϔϳ seperti ΐϫάϣ ± Ώ˴ή˸θϣ . Begitu juga
mudlori`nya mengikuti pola Ϟ˵ όϔϳ seperti pada kata ήψϨϣ ± ΝήΨϣ .
Sedangkan pembentukan keduanya selain dari tsulatsi adalah dengan
mengganti huruf mudloroah nya dengan huruf mim berharakat dlommah dan
memberi harakat fathah pada huruf sebelim akhir, seperti ϰϘΗήϣ ± ΐϠϘϨϣ ± ϰϬΘϨϣ ±
ΝήΨΘδϣ ± ϥΎόΘδϣ .
Dengan demikian, ada kesamaan pola untuk bentuk mashdar mim, maf¶ul, isim
zaman dan isim makan dari fi¶il selain tsulatsi.



IV. ENTRI KATA DERIVASI DALAM KAMUS
Isytiqaq sebagai salah satu sarana dalam pengembangan bahasa memiliki
peran penting dalam melengkapi kazanah leksiko arab, terlebih dalam bidang
ilmiah dan sejenisnya. Oleh karena itu dalam entri kata yang mengalami isytiqaq,
Mukhtar Umar memberikan beberapa sistematika di atas, yaitu cara memasukkan
isytiqaq dalam kamus, dengan cara sebagai berikut ;
1. Mengembalikan bentuk asli dari kata musytaq, baik kata tersebut asli dari
Arab atau dari kata asing.
2. Memberikan harakat pada kata tersebut, untuk kata asing disertai
penjelasan historisitas masuknya kata tersebut dalam bahasa Arab (ta¶rib),
begitu juga dengan perubahan yang terjadi padanya sepanjang sejarah
perkembangan bahasa dan dilalahnya.
3. Menjelaskan hubungan isytiqaq kata tersebut dengan kata aslinya. Hal ini
memudahkan pembaca dalam membedakan antara kata dasar dengan kata
musytaqnya.
Adapun kamus yang mengikuti metode penyusunan kamus Isytiqaq adalah
kamus yang disusun oleh N. Bailey dalam bahasa Inggris pada tahun 1721 dengan
judul An Universal Etymological English Dictionary. Sampai sekarang, kamus ini
Book Report of Ilm Musthalah| 69
masih dianggap sebagai kamus etimologi bahasa Inggris pertama yang memiliki
tujaun tertentu dan lebih dalam pembahasannya.
Para penyusun kamus ini berbeda metodologi dalam menulis kata
musytaq, ada yang menulis di awal bab baru, ada yang di akhir bab, dan ada
kalanya diselipkan diantara kata-kata dasarnya.
Book Report of Ilm Musthalah| 70
Iqtiradh
(Mela Yulanda)

Iqtiradh adalah peminjaman kata untuk menerjemahkan kata asing setelah
tidak ditemukan padanan kata dalam bahasa Arab. Meminjam kata merupakan hal
yang biasa terjadi pada bahasa-bahasa modern. Bahkan, jumlahnya pun tidak
terhitung. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh para ahli bahasa. Menurut mereka
ada sekitar tiga puluh tujuh bahasa dunia yang mengambil dari bahasa Arab.
Disebutkan juga bahwa bahasa Inggris pun hampir separuh kosa katanya bukan
berasal dari bahasa Inggris asli dan itu juga terjadi pada bahasa Perancis yang
hampir separuh kosa katanya berasal dari bahasa Latin.
Iqtiradh dalam bahasa Arab ada dua macam. Pertama,mu¶arrab, (Ώήόϣ),
yaitu proses pengambilan kosa kata yang diambil dari bahasa lain kemudian di-
ta¶rib berdasar aturan dalam ketatabahasaaan Arab, seperti dalam suara dan tasrif
kata-kata di dalamnya. Kedua, dakhil, (ϞϴΧΪϟ΍), yaitukosa kata yang diambil dari
bahasa lain, tetapi tidak berdasar aturan ketatabahasaan Arab. Ini hanyalah
definisi yang dibuat oleh para ahli bahasa modern sebab para ahli bahasa klasik
tidak membedakan dengan jelas antara dua istilah ini. Bahkan, mereka cenderung
menyamakan antara dua istilah tersebut.
Tidak adanya pemisalahan antara dua istilah tersebut berimplikasi pada
penyemaan beberapa kata, seperti kata (ϊϓΪϣ), (ΔϴϓήϐΟ), (ήΗϮϴΒϤϛ). Berbeda dengan
pendapat ahli bahasa modern yang membedakan antara kata-kata tersebut, mereka
mengatakkan bahwa (ϊϓΪϣ) adalah muwalladah, (ΔϴϓήϐΟ), mu¶arrabah, dan (ήΗϮϴΒϤϛ)
dakhilah. Terus apa definisi mu¶arrab dan dakhil?
Mu¶arrab adalah setiap kata asing yang masuk ke dalam bahasa Arab baik
masuknya terjadi pada zaman dulu, sekarang, atau yang akan datang, sekaligus
tunduk pada aturan ketatabahasaan Arab baik struktur maupun hurufnya.
Dinamakan mu¶arrab sebab karakter dan strukturnya sesuai dengan aturan dalam
bahasa Arab.
Adapun dakhil adalah setiap kata asing yang masuk ke dalam bahasa Arab baik
masuknya terjadi pada zaman dulu, sekarang, maupun yang akan datang, tetapi
tidak tunduk pada aturan ketatabahasaan Arab baik secara struktur maupun
hurufnya.

A. Ta¶rib lafzhi(ϲψϔϠϟ΍ ΐϳήόΘϟ΍)
1. Metode ta¶rib menurut ahli bahasa klasik.
a. Mengganti beberapa huruf Arab dengan huruf dari bahasa lain.
Book Report of Ilm Musthalah| 71
Penggantian kata (ΰΑήϗ) menjadi kata (ϖΑήϛ) dan (ϖΑήϗ) dan penggantian (Ϊϧήϔϟ΍) dari
(ΪϧήΒϟ΍).
b. Mengubah suara dan harakat yang bukan dari bahasa Arab menjadi
harakat berbahasa Arab.
Mengubah dari kata (ΏϮ˵ η΁ϭ ˲έ˸ϭ˴ ί) menjadi (ΏϮη΁ϭ έ˸ϭ˵ ί).
c. Menampakkan huruf akhir pada suatu kalimat hingga terlihat ciri
Arabnya.
Penambahan (Ν) dalam kata (ϭ˵ Ϊ˸Ϩ˴ ϛ) menjadi (Νϭ˵ Ϊ˸Ϩ˴ ϛ). Dan dari kata (Ϯ͊ δ˴ Η) menjadi
(ΝϮ͊ δ˴ σ).
d. Tidak mengharuskan sesuai dengan wazan dalam bahasa arab.
Ada yang didasarkan pada wazan, seperti (Ϣϫ˸έ˶ Ω) pada kata (Ν˴ ή˸Π˶ ϫ) dan ada pula
yang tidak didasarkan pada wazan, seperti (Ϣ˴ δ˸ϳ˴ ή˸Α˶ ΍) dan (Ϟϴ˶ ϋΎ˴ Ϥ˸γ˶ ΍).
e. Menambah atau kadang malah mengurangi huruf-hurufnya.
Menambah kata (ϥΎϣ˸ή˴ ϗ) menjadi (ϥΎϣ˴ ή˸Ϭ˴ ϗ). Dan mengurangi kata (έϮ˵ ΑΎγ) menjadi ( ϩΎη
έϮΑ)dengan membuang huruf (ϩ).
f. Men-ta¶rib sebagian kata saja.
Men-ta¶rib kata (ϡήϧ ϱΎϧ) bahasa Persia menjadi (ϱΎϧ).
g. Men- ta¶rib dua kalimat asing dengan satu kata saja.
Men- ta¶rib kata (Ϟϛϭ ϚϨγ) bahasa Persia menjadi (ϞϴΠ͋ δ͋ ϟ˴ ΍).
h. Menyesuaikan kaidah suara sesuai dengan pengucapan dalam bahasa
Arab.
Sebagaimana aturan ketatabahasaan Arab bahwa kata dalam bahasa Arab tidak
boleh diawali dengan huruf mati atau bertemunya dua huruf mati, seperti dalam
kata (ήϛ ˸ϥΎϤϛ) dalam Persia maka diubah menjadi ( ή˴ Π˸Ϩ˴ Ϥ˴ ϗ ).

2. Metode ta¶rib menurut ahli bahasa modern.
a. Memindah huruf dan suara menjadi berbahasa Arab.

4. METODE AHLI BAHASA KONTEMPORER DASAR ARABISASI
PENGUCAPAN KATA
Telah tersingkap sebuah study tentang pendapat para ahli linguist kontemporer
mengenai teori arabisasi bahasa dan prakteknya. Bahwa metode mereka
berpedoman pada asas pokok yaitu keharusan keteraturan lafal arab dan juga
percakapan sekumpulan pokok-pokok unsure-unsur yang melengkapinya.
Antara lain :
Book Report of Ilm Musthalah| 72
1. Keharusan keteraturan lafal bahasa arab
Sesungguhnya apa yang kita maksudkan dengan keteraturan lafal bahasa
arab ada 3 ketetapan :
a. Huruf-huruf
b. Lafal arab
c. Keserasian perubahan bahasa arab
Yang merupakan pokok bangunan dalam pelafalan bahasa arab.
Pendefinisian tentang keteraturan lafal arab merupakan kedudukan
pertama (point penting) dalam pembahasan arabisasi bahasa. Karena ia
merupakan katalisator berbeda antara ³mu arrab´ (kata asing yang
terarabkan) dan ³Dakhil´ (setiap kata yang masuk dalam bahasa arab, yang
murni bukan berasal dari bahasa arab asli) dari sebuah kata. Maka segala
apa yang berada di bawah keteraturan lafal arab maka bisa di juluki atau
disebut dengan arabisasi yang masuk ke dalam zona bahasa arab sehingga
menjadi bagian dari kekayaan lafadz dan petunjuk-petunjuk bahasa arab.
Selain itu, karena pada akhirnya ia akan menyatu kedalam bahasa arab..
Sedangkan jika ada salah satu syarat dari keteraturan lafal arab yang
kurang, maka dia disebut dakhil dan kekekalannya dalam bahasa arab
terjadi dengan datangnya pengganti yang datang atau mu¶arab.
Sebagaimana tabiat bahasa, ia tidak akan menerima bahasa kecuali apa
yang sesuai dengan Qowaid (landasan pokok), kaidah-kaidahnya
kesesuaiannya. Pendefinisian untuk keteraturan lafal arab merupakan hasil
dari pengeratan dalam hukum-hukum ahli bahasa klasik dan penelitian
perkataan. Pendapat ahli bahasa kontemporer, dan pembelajaran data
statistik dalam praktek arabisasi bahasa.
Dari perantara perbahasaan terdiri atas 100 kalimat yang terpijar
antara muarab dan dakhil. Kita mengambilnya dengan persamaan-
persamaan dari ilju¶jar atau kumpulan mustholah dan pengkhususan yang
berpencar-pencar dari materi ilmu dan segi peletakan. Kami merangkum
dari setiap kalimat yang mempunyai hubungan dengan keteraturan lafal
arab, asas pokok dan metode arabisasi ahli bahasa konteporer, kami
menyebutnya dengan (Qiratu al-kalimat al-ruqtarada) kemudian apa yang
memenuhi syarat keteraturan lafal arab maka kami menyebutnya
³mu¶arab´ sedang apa yang tidak terpenuhi syarat keteraturan lafal arab,
kami menyebutnya dakhil.
Adapun ru¶jah-ru¶jah dan kumpulan mustholah yang menjadi pedoman
kaki dalam pembahasan masalah ini adalah :
- Ru¶jah at-thibi al-ruwahad.
- I¶dadu al-ruradzorah al-arabi¶ah li tarbiyah wal¶ulur.
- Al-ru¶jan al-askari bi isyrafi jaami¶ah al dual al-arobiyah, dll
Book Report of Ilm Musthalah| 73
A. Pemindahan huruf-huruf dan lafal-lafal ke dalam bahasa arab.
Pemindahan huruf-huruf dan lafal-lafal bahasa asing ke dalam bahasa
arab merupakan masalah paling penting yang di hadapi oleh para ahli
bahasa baik klasik maupun kontemporer. Dan telah meliputi garis
perbahasaan tentang hal itu sebuah paradigma bahwa lafadz bahasa
asing yang di arabkan wajib diucapkan sebagaimana pengucapan
bangsa/ masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
Tetapi paradigma ini mengambil dengan cara (pengembalian)
bahasa asing tersebut ke dalam bahasa arab dan penyingkapan
kesesuaian pokoknya dan satu persatu dengan pengaruh bahasa pada
umumnya dan tabiyat lisan orang-orang arab. untuk penjelasan metode
ahli bahasa konteporer dalam perpindahan huruf-huruf dan lafal-lafal
asing ke dalam bahasa arab ada 3 cara pengubahan dalam
pemindahannya :
1) Cara pengubahan ru¶jah langkah arabiyah di Cairo.
2) Cara Dr. Muhammad Syarof, pengarang kitab ³Awalu ru¶jah
taklslisti hadizt´ yang merupakan ru¶jah ilmu-ilmu kedokteran dan
fisika.
3) Cara pengubahan ru¶jah murtofa as-syihabi
1. Cara pengubahan haj ha¶ cairo
Pada perkumpulan ke-26 Cairo pada tahun 1956 penetapan 23
kaidah atau dasar-dasar untuk perindahan huruf-huruf dan
lafal-lafal dari 2 bahasa asing yakni bahasa yunani dan bahasa
latin ke dalam bahasa arab namun masih dalam keadaan rumit,
sehingga orang-orang yang mengkaji dan mempelajarinya
tidak mudah untuk menggunakannya. Ini disebabkan karena
arabisasi bahasa pada saat ini tidak terbatas pada 2 bahasa
Yunani dan Latin saja, namun juga merembet ke bahasa-
bahasa lainnya baik barat maupun timur, oleh karena itu tidak
diragukan bahwa lafal-lafal tidaklah sama dalam abjad arab.
Dengan sebab itu, diadakan pengulangan perkumpulan yang
berkaitan dengan kaidah-kaidah ini daurah (sampiran) ke-30
tahun 1963. Dengan hasil penetapan kaidah-kaidah sebagian
besar seperti yang di rangkum dalam 2 daftar berikut :
y Daftar pemindahan huruf-huruf mati (konsonan)
Pengucapan bahasa arab yang disepakati Huruf latin/
yunani


(arcadia)
C ˺
D ˻
Book Report of Ilm Musthalah| 74
E ˼
F ˽
G ˾
H ˿
CH ̀
J ́
P ̂
PH-J
˺˹
K ˺˺
Q ˺˻
T ˺˼
TH-J
˺˽
S ˺˾
V ˺˿
W ˺̀
X ˺́
Z ˺̂
Daftar perpindahan huruf-huruf hidup (vocal)
Contoh
Lafal-lafal bahasa
arab yang disepakati
Lafal-lafal
latin

Masignon A ˺
Hugo U ˻
Gibb I ˼
Laland A ˽
Louvois U ˾
Ascoli I ˿
Oxford O ̀
Voltaire Ei, Ai ́
Nitshe E ̂
Lybia Y ˺˹

Metode perumusan perpindahan huruf-huruf vocal telah dijelaskan
dengan huruf-huruf yang berharokat
a. Dirumuskan dengan tanda baca pendek dalam isinya ialah dengan
fathah, kasrah atau dhomah, namun jika tanda baca sedang atau tanda
baca panjang di isi atau di akhirnya dirumuskan dengan huruf fa, alif,
wawu, dan ya contoh (ϥϮϴϨϴδϣ = massignon = tanda baca pendek) dan
(ϥϻϻ = laland = tanda baca panjang)
Book Report of Ilm Musthalah| 75
b. Tanda baca panjang bahasa asing yang tidak sepadan dengan bahasa
arab dirumuskan dengan menggunakan huruf mad bahasa arab yang
terdekat dan paling serupa.
Contoh : huruf U dalam kata (Hugo) dirumuskan dengan huruf ya¶
atau wawu
c. Huruf imalah (condong) kepada kasroh dirumuskan dengan alif
pendek diatas ya¶ dan huruf imalah kepada dhomah dirumuskan
dengan alif pendek diatasnya wawu. Sebagaimana ia mengikuti
kaidah dalam penulisan huruf-huruf. Contoh : (ήϴΘϟϮϓ) ditulis huruf (O)
wawu bersama tanda kecil seperti alif diatas wawu dan juga seperti
pada kata : (Rome = Δϣϭέ) sesungguhnya percobaan ini telah diulang
sesuai perkembangannya dari percobaan-percobaan sebelumnya.
Seperti pada perkumpulan ke-4 tahun 1937 telah menghasilkan
ketetapan sebanyak 16 ketapan. Diantaranya ketetapan nomer 9 yang
menerima pemasukan huruf (Ώ = P danΝ= CH danϙ= G) dan
ketetapan nomor 10 yang memasukkan huruf (ϑ= V) dalam huruf
latin.
2. Cara Pengubahan Dr. Muhammad Syarof
Dari buku karangannya yang berjudul (Ru¶jah µuluum at-tibiyah wa al-
thobi¶iyah) dia menyebutkan metodenya tentang pemindahan huruf-huruf
dan lafal-lafal asing ke dalam bahasa arab yang kami ringkas dalam daftar
berikut
Contoh
Huruf atau lafal arab yang di
pakai
Huruf atau lafal
latin

Carbon C ˺
Citrate
Socrate
Chemistry CH ˻
Chrisoline
Oedema D ˼
Georgia G
Halogen H
Joseph
Java
J
Leukimia
Kalidium
K
P
Qadron Q
Ascaris
Rosoline
S
Book Report of Ilm Musthalah| 76
Jasper
Tagma T
Salviol
Varnich
V
Xenthine
Oxigene
X
Azote A
Aecidium Ai (AE)
Lemon
France
Berbares
Berbares
E
Pasteur EU
Iod
Iris
I
Roedline CE
Uria
Reuthinic
Uria
U
Dysentrie Y

B. Cara pengubahan rajna Mustofa As-Syihabi

Arcadial K.C
Chalcis CH
D
France F
Stagira G
Hermes H
Jupeter J

Plutarechus
P
Quintus Q
Socrate S
Ststius T
Cithaeron TH
Valorianus V
Anaxagoras X
Lycie Y
Book Report of Ilm Musthalah| 77
Zenon Z

Ai, AE
AU,
AO

E
EEE
Alexandria E
EU
I
O
U

Syihabi telah memilih rumus baru untuk huruf latin (G) sebagai rumuz
baru, seperti huruf kaf (ϙ) atau huruf lain yang sesuai, kemudian ia
mengikuti pendapatnya dengan mengatakan ³Sedang pengibaratan
huruf arab (Ν) sebagai rumus untuk huruf latin (G) dalam huruf
mu¶arob merupakan pengibaratan yang tidak benar´.
2 hal yang harus dilakukan dalam mengantisipasi pengubahan bahasa
dengan metode ini adalah :
1. Pemasukan 2 huruf baru ke dalam bahasa arab yaitu huruf(P)
bahasa Persia dengan menggunakan huruf ba dengan tiga titik (Ώ)
untuk persamaan huruf latin (P) dan huruf fa¶ dengan tiga titik (ϑ)
untuk persamaan 2 huruf latin (W.V). dan tujuan mereka (orang-
orang yang menetapkan pemasukan 2 huruf ini atau selain 2 huruf
ini) ke dalam bahasa kita mengucapkan kalimat-kalimat asing
sesuai dengan apa yang di ucapkan masyarakat yang menggunakan
bahasa itu.
Dan selayaknya kita bertanya ³apakah mereka (orang-orang yang
berkeinginan menyesuaikan ucapan bahasa asing denganbahasa
yang diarabkan. Apakah sama halnya dengan keinginan mereka
atas kesesuaian ucapan bahasa arab yang diasingkan ke dalam
bahasa mereka? Apakah mereka memasukkan huruf shad dan ha¶
ke dalam bahasa mereka seperti dalam ucapannya (ϦϳΪϟ΍ Ρϼλ) atau
mereka mengucapkan dengan (saladin)? Dan apa mereka
memasukkan huruf qaf dan tha¶ ke dalam lisan mereka ketika
mengucapkan (ϕέΎσ ϞΒΟ) atau mereka menyeleweng dari 2 huruf ini,
dan mengatakan (Gibratar)? Sesungguhnya mereka tidak
mengharuskan sampai pada lafal-lafal yang memungkinkan
pengucapannya dengan bahasa mereka. Maka mereka telah
Book Report of Ilm Musthalah| 78
mengasingkan kalimat (ΓέΎϨϣ) ke minaret dan bukan ke (manara)
sebagaimana kita mengucapkannya.


Book Report of Ilm Musthalah| 79
STRUKTUR SUARA DALAM BAHASA ARAB
(Windy Ayu Lestari)

Pembahasan dalam struktur suara bahasa Arab ini menerangkan beberapa
keistimewaan dalam pelafalan bahasa Arab. Struktur bahasa ini berkaitan dengan
kebiasaan dan budaya bangsa Arab dalam bertutur kata, maka belum terdapat hal-
hal yang bertentangan yang terjadi dalam struktur suara ini, pembahasan dalam
struktur bahasa Arab hanya sekitar pelafalan bahasa yang mencakup peninggian
dan perendahan suara atau pada pengaturan ritme suara dalam bertutur. Maka
denga adanya sifat dan kebiasaan ini, terdapat perbedaan pemahaman struktur
suara dengan pemahaman leksikal dalam bahasa Arab, yang membahas tentang
perubahan dalam huruf-huruf bahasa Arab. Struktur penuturan suara dalam bahasa
Arab dengan beberapa unsurnya merupakan syarat yang harus dilaksanakan dalam
Arabization Modern, dan ini merupakan sarana pembeda antara tutur bangsa Arab
dengan tutur bangsa yang lain dalam pengucapan bahasa Arab. Dalam hal ini ada
5 pembahasan yang akan dijelaskan pada Struktur Suara dalam bahasa Arab:
1. Jumlah huruf yang terdapat dalam struktur kata bahasa Arab
2. Keserasian huruf-hurufnya
3. Keserasian harakatnya
4. Larangan bertemunya dua harakat sukun
5. Dimulai dengan huruf yang berharakat
1. Jumlah huruf yang terdapat dalam struktur bahasa Arab
Khalil bin Ahmad mangatakan bahwa:´dalam bahasa Arab tidak terdapat
bina (struktur kata) dalam Isim dan Fi`il lebih dari lima huruf asli, seandainya
terdapat lebih dari lima huruf, maka hal tersebut adalah penambahan dalam bina,
bukan penambahan pada asal huruf atau huruf yang asli, contoh: Ϫϧ ϼΒϋήϗ asalnya
adalah : Ϟ˴ Βϋ˴ ή˴ ϗ.
Sibawaih berpendapat bahwa:´sebuah kalimat terdiri dari tiga huruf atau
empat huruf atau lima huruf, tidak ada penambahan dan tidak juga
pengurangan.Ibnu Khaldun berpendapat bahwa: dalam kata bahasa Arab tidak
serdapat isim yang terdiei dari enam huruf, jumlah huruf dalam sebuah kata
Book Report of Ilm Musthalah| 80
bahasa Arab adalah lima huruf, kecuali dalam satu kata dengan penambahan
yaitu: ϯήΜόΒ˴ ϗ.
Kesimpulan dari beberapa pendapat tersebut diatas, maka jumlah huruf
yang terdapat dalam asal kata pada bahasa Arab tidak kurang dari tiga huruf dan
tidak lebih dari tujuh huruf, apabila kurang dari tiga, maka harus mentadh`ifkan
salah satu hurufnya, contoh ˸Ϛλ maka harus ditulis ˷ Ϛλ, dan apabila terdapat kata
yang lebih dari tujuh huruf maka harus dilakukan penghapusan pada salah satu
hurufnya. Namun dalam kalimat Arabisasi semua hurufnya adalah asli dan tidak
terdapat pengurangan dan penambahan huruf. Jika terdapat penambahan huruf
yang terdapat pada kalimat Arabisasi yaitu penambahan ta al-marbuthah atau
dengan tanda taknist atau tanda nisbah, mashdar shina`i, hal yang demikian tidak
termasuk dalah aturan tetap dari huruf asli dari bahasa arab dan merupakan
penambahan yang terpisah dari huruf asal dari kalimat.
Dalam proses Arabisasi terdapat 22 kalimat bahasa Arab yang dibolehkan
menggunakan jumlah bilangan tertentu, seperti: ϚϴϧϭΪϴϛ΍έ΃ , ΔϴΟϮϟϮϜϳ· , ϑή˸ϏϮϠϴγ΃ ,
ΏϮϜγϭήϴϠϜγ΃ , ΎϴΟϮϟϮϤΘδΑ΃ , maka kalimat-kaliamt tersebut telah dimasukkakan kedalam
bahasa Arab. Adapu kalimat yang sesuai dengan aturan jumlah kata bahasa Arab
beserta penambahan yang terjadi terdapat sekitar 78 kalimat, seperti: βϨ˶ Η , βϠσ΃ ,
ΩϮΘϛ΃, dll.
2. Keserasian Huruf.
Keserasian huruf dalam bahasa Arab merupakan bagian dari ciri-ciri pola
struktur suara bahasa Arab. Terlepasnya sebuah kalimat dari pertentangan huruf
merupakan salah satu syarat dari persyaratan kefasihan dalam bahasa Arab.
Bagian terepenting dalam keserasian huruf ini adalah, pembedaan tempat keluar
dari masing-masing huruf pada pengucacpan kalimat. Sebagaimana diketahui
bahwa tempat keluar huruf adalah tempat-tempat yang menimbulkan bunyi dari
mulut manusia terdiri dari kerongkongan, dan beberapa tempat yang terdapat
dalam rongga mulut yang menimbulkan bunyi. Setiap huruf yang keluar dari
rongga mulut akan menimbulkan bunyi huruf yang berbeda. Keserasian dan jarak
huruf yang keluar dalam sebuah kalimat akan mempermudah pengucapan kalimat
Book Report of Ilm Musthalah| 81
tersebut, dan semakin dekat jarak antara huruf-huruf tersebut maka akan lebih
mempersulit cara pengucapannya. Dalam pengucapan bahasa arab juga terdapat
beberapa aturan dalam penyambungan huruf-huruf hingga menjadi satu kalimat.
Karena ada beberapa huruf yang tidak bisa diserasikan karna susah dalam
pengucapannya.
Beberapa bentuk lain dari pertetangan keserasian huruf yang menyebabkan
kesulitan dalam pengucapan, maka dapat diganti dengan huruf yang menyerupai
huruf yang sama hingga mudah melafalkan, seperti kata, ϊϨΘλ΍ karena sulitnya
pelafalan antara hurus shad dan ta, maka untuk mempermudah felafalan, maka
huruf ta diganti dengan tha menjadi ϊϨτλ· serta contoh-contoh yang lain yang
terdapat pada wazan ϞόΘϓ΍. Bentuk perselisihan huruf yang berat terjadi pada
contoh berikut: ΔϴϨ˶ ϗ ϭ ΔϴΒ˶ λ asal katanya adalah: ΓϮϨ˶ ϗϭ ΓϮΒ˶ λ , dengan mengganti huruf
waw dengan ya, agar mempermudah pelafalan kalimat. Bentuk lain dengan
mudhaaf, yaitu dengan mengganti salah satu huruf yang mudhaaf dengan huruf
ya, contoh: Ζϴ˷ ϨψΗ asalnya adalah Η ΖϨ˷ Ϩψ . Bentuk perselisihan huruf yang ringan
terdapat beberapa huruf dari beberapa pembahasan, seperti huruf lam dalam
sighoh ruba`i ϞϠόϓ dalam hal ini terdapat keserasian huruf dalam yang ditulis
berulang, dan perbedaan pelafalan dengan huruf yang lainnya.
3. Keserasian Harakat
Harakat dalam kaliamat bahasa Arab merupakan bagian dari struktur suara dalam
bahasa Arab, terdapat dua tujuan dalam pengharakatan ini, ekspresi dan suara.
Tujuan ekpresi yaitu pembedaan antara dua makna kalimat, seperti ˴ Ϊ˴ Β˴ ϋ , ˵ ϋ ˴ Ϊ˶ Β ,
sedangkan tujuan dalam bentuk suara yaitu memudahkan dalam pelafalan jika
terdapat dua huruf yang berharakat sukun dan bersambung. Jika terdapat ketidak
serasian huruf maka akan terjadi kesulitan dalam pelafalan. Ketidak serasian ini
terjadi antara harakatnya atau antara huruf-huruf yang mengeluarkan bunyai.
Bentuk ketidak serasian pada harakat terdapat pada hal-hal berikut:
a. Dhammah yang terletak sebelum waw pada ism, Ibnu Jana berpendapat
bahwa tidak terdapat dalam susunan huruf dalam kalimat bahasa Arab
Book Report of Ilm Musthalah| 82
dalam bentuk isim yang diakhiri huruf waw sebelumnya dhammah,
contoh: ϮΑ͋ ήϟ΍ menjadi ΎΑ͋ ήϟ΍.
b. Dua harakat yang bertolak belakang, dua harakat itu adalah kasrah dan
dhammah, untuk memudahkan peladalan ini maka terjadi pertukaran posisi
harakat. Dalam bina fi`il tsulatsi tidak terdapat bina fi`il dengan wazan ˴ Ϟ˵ ό˶ ϓ.
Dalam wazan tsulatsi terjadi pertukaran harakat untuk memudahkan
pelafalan menjadi ˴ Ϟ˶ ό˵ ϓ.
c. Waw sukun sebelumnya berharakat kasrah, dan ya sukun sebelumnya
dhammah. Alfaraby dalam buku Lisanul Arab mengatakan bahwa ³ waw
yang berharakat sukun tidak bisa digabungkan dengan kasrah sebelum
waw, dan ya yang berharakat sukun dengan dhammah sebelumnya´.
4. Larangan berkumpulnya empat harakat dalam satu kalimat.
Sibawaih berpendapat bahwa tdak terdapat bentuk isim dalam bahasa Arab yang
terdiri dari emapat huruf yang semuanya berharakat, jika terdapat empat hruf yang
berharakat maka akan terdapat penghilangan huruf, seperti: ςΒϠ˵ ϋ asal katanya
adalah ςΑϼϋ.
5. Larangan bertemunya dua harakat sukun.
Diantara keistimewaan kalimat dalam bahasa Arab adalah tidak menggabungkan
dua harakat sukun, jika terdapat pertemuan dua harakat sukun, maka biasanya
sukun yang pertama diganti kasrah, contoh: ϞϴϠϟ΍ ˶ Ϣ˵ ϗ . Beberapa tempat dapat
digabungkan dua harakat sukun,
- Apabila harakat sukun yang pertama huruf `llah dan yang kedua berjenis
shoheh beridgam, contoh: Δ͉ ΑΎηΔ͉ Α , ΍Ω .
- Apabila terdapat dua harakat sukun di akhir kalimat, contoh ˸ή˸ϜΑ , ˸ή˸Π˵ Σ .
Bentuk pertemuan dua harakat sukun sering terjadi didalam proses Arabisasi, dan
bentuk seperti ini merupakan hal yang menjadi berdebatan disebagian ahli bahasa
Arab, contoh; Ω˸έϮΒδϛ΃. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
- Menghapus huruf mad pada bahasa asing keting proses Arabisasi, dan
menggantinya dengan harakat.
Book Report of Ilm Musthalah| 83
- Menerjemahkan dengan bahasa yang mendekati bahasa arab, beberapa
bentuk kata dalam bahasa Eropa ditulisan dan ucapan berbeda, seperti (
Micron, fibrin) ( Ϧϳή˸Β˸ϳΎϓ , ϥή˸Ϝ˸ϳΎϣ )
6. Dimulainya dengan berharakat.
Dalam aturan pelafalan suara dalam bahasa Arab, bahwa huruf pertama dalam
suatu kalimat harus berharakat. Kebiasaan bahasa Arab dalam penulisan hamzah
washal dalam kalimat tidak berharakat, tapi dalam pelafalan harus dibaca
berharakat.
Maka, para ahli bahasa pada masa lampau dan masa sekarang selalu menghindari
untuk memulai suatu kalimat berharakat sukun, walaupun dengan penambahan
hamzah washal dalam awal kalaimat asing pada penulisannya, sebagai contoh:
(grec) ϖϳήϏ· (Spain) ΔϴϧΎΒγ· (Granada) ΔσΎϧήϏ.
Pada pembahasan ini dapat di simpulkan bahwa peminjaman kata dalam Arabisasi
dimulai awal katanya dengan harakat sukut terdapat dalam delapan kalimat,
diantaranya adalah: Ζϴϓ΍ή˸Ϗ , ίΎϛϮϴΟϼ˸Α . Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa
aturan struktur suara dalam bahasitu Arab yaitu sebagai mana yang telah dibahas
oleh para pakar bahasa, dengan membuat sebuah metode bahasa Arab dalam
bertutur.
KETERKAITAN ASAS-ASAS UMUM DALAM PROSES PENERJEMAHAN
Pada pembahsan diatas terdapat metode para ulama bahasa terdahuku
dalam penerjemahan bahasa arab mempergunakan metode yang utama dan
beberapa asas umum yang sempurna yang keterkaitannya sangat kuat yang
dinamakan dengan asas-asas umum yang biasa digunakan dalam penerjemahan
oleh para pakar bahasa terdahulu, asas tersebut adalah:
1. Keterkaitan para penerjemah terdahulu
Para penerjemah moderen berusaha untuk meletakkan beberapa aturan dalam
penerjemahan dengan beberapa aturan yang mengacu pada sebuah metode yang
berhubungan dengan huruf dan harakatnya, yang menjadikan penerjemah lebih
dekat pada aturan struktur suara dalam bahasa Arab, namun mereka bertentangan
dengan metode penerjemah lama yang tidak memiliki metode khusus, seperti
Book Report of Ilm Musthalah| 84
penerjemahan kalaimat (Ptolomy), penerjemah Moderen menerjemahkan dengan
ϰϣϮϟϮΘΑ, sedangkan penerjemah lama dengan αϮϤΒϠτΑ. Dalam hal ini terdapat
beberapa perbedaan dalam cara menerjemahkan bahasa asing kedalam bahasa
Arab antara penerjermah modern dan yang terdahulu.
2. Menacari istilah asli bahasa arab sebelu menerjemahkan.
Dalam bahasa Asing terdapat beberapa kalimat bahasa Arab ditranslitrasi kedalam
bahasa asing yang banyak terdapat dalam translitrasi nama, mereka bnyak
mentranslitasikan dengan menggunakan kaidah mereka, maka mereka
mentraslitkan kata ϖδϣΩ menjadi αΎϣ΍Ω , αϮϜγΎϣ΍Ω , dan ΓήϫΎϘϟ΍ menjadi ήϴϛ , ϭήϳΎϛ . Maka
para penerjemah modern sangt memperhatikan hal ini, dan selalu kembali kepada
asal kalimat dalam bahasa Arab untuk mentraslitasinya, maka terdapat beberapa
kesalahan dalam proses traslitasi karena tidak mengetahui asala kalimatnya.
3. Mentranslitasi bagaian-perbagian
Istilah bahasa asing banyak muncul dari akar kata, para penterjemah banyak
melakikan ternslitasi atau terjemahan secara leterlek, contoh: translitasi
(Prehistory) ΦϳέΎΘϟ΍ ϞΒϗ , (Geologie) ΔϴΟϮϟϮϴΟ. Namun beberapa terjemahan dilakukan
dengan metode baru yaitu dengan menggabungkan terjemahan dan translitasi,
seperti dipakainya kata (Ϟϴό˸Αέ˶ ) sabagai terjemahan (Qartile), dan terdapat beberapa
metode baru yang dikembangkan dalam tanslitasi yang termasuk dalam
mentranslitasi dan menterjemah istilah-istilah kimia dan filsafat.
4. Persamaan antara terjemahan dengan translitasi
Para penerjemah modern berusaha untuk mencari persamaan bentuk istilah-istilah
asing pada istilah-istilah bahasa Arab, yaitu dengan metode pemilihan istilah
bahasa asing yang hurufnya lebih mendekati kepada istilah bahasa Arab,
sebagaimana diterjemahkan oleh Prof. Dr Shalahuddin Al-Kawakibi kalimat
(Affinage) yang artinya laporan perminyakakan dengan Ϧϴϓ΄Η, contoh lain adalah
(enzime) Ϣϴψϧ·.
Maka dengan bentuk persamaan ini, maka dapat diprediksi dalama translitsi
kalimat (ιΎΑ) terjemahan dari Mobil besar/bus dengan tidak merubah sesuatu
Book Report of Ilm Musthalah| 85
dalam penerjemahannya, karena kata (ιΎΑ) dapat kita hubungkan dengan asal
kalimat bahasa Arab dari ( ιΰΒϟ΍), kata (reaction) β˸ϛέ. Satelitte ( ϞΗΎγ).
5. Wilayah translitasi dialek
( Para pakar bahasa Arab membolehkan penggunaan kata asing dalam metode
translitasi Arab apabila diperlukan). Keputusan ini telah di sampaikan pusat
penelitian bahasa Arab Kairo, walaupun ada beberapa pakar bahasa yang belum
menerima keputusan ini. Walaupun terdapat beberapa pertentangan pada wilayah
translitasi, namun lembaga pusat penelitian bahasa Arab Kairo telah memberikan
solusi untuk mempermudah para penterjemah dalam translitasi bahasa Arab.
Hal-hal yang harus dilakukan pentranslitasian adalah
a. Nama-nama benda dan nama orang dan nama Negara
b. Nama obat-obatan dan istilah ilmu farmasi selain bahasa Arab
c. nama organ tubuh dan istilah kimia yang tidak dikenal dalam bahasa Arab
Selain hal tersebut, tidak diperbolehkan untuk mentranslitasi secara lansung dan
diharuskan untuk mencarai kata asalnya.
a. Nama-nama hewan dan tumbuhan yan tidak terdapat didalam istilah Arab
boleh menterjemahkan secara lansung
b. Nama-nama pakaian, makanan, minuman, yang bukan bahasa Arab.
c. Kata yang mempunyai makna global.
d. Unsure-unsur kimia
SISIPAN KATA
Hal-hal yang harus diwaspadai dalam Arabisasi
1. Hilangnya nilai dasar pengungkapan dari akar kalimat bahasa Arab
2. Rusaknya struktur pelafalan suara dalam bahasa Arab dengan
memasukkan istilah suara pelafalan dari bahasa asing.
3. Terjadi kekacauan dalam kamus bahasa Arab
4. Ketidak jelasan makna yang terdapat dalam kamus.
5. Kesulitan dalam member harakat kalimat.
6. Merusak aturan dalam bahasa Arab
Book Report of Ilm Musthalah| 86
7. Memperbanyak persamaan kata
8. Menimbulkan penerjemahan dengan tidak beraturan/ secara asal yang
merusak makna
9. Mempersempit dan mengancak unsure-unsur bahasa Arab, dan
mempersempit keistimewaannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->