BUKU AJAR

REKAYASA PONDASI
DIGUNAKAN UNTUK
MAHASISWA JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Moch. Sholeh
132 309 008
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
JURUSAN TEKNlK SIPIL
2008
DAFTAR ISI
BAB VI TEKANAN TANAH LATERAL (KE SAMPING) .......................................... 1
6.1 Tekanan Tanah dalam Keadaan Diam (At Rest)......................................... 1
6.2 Tekanan Tanah Aktif dan Pasif Menurut Rankine....................................... 4
6.2.1 Kondisi Aktif Menurut Rankine ........................................................ 4
6.2.2 Kondisi Pasif Menunit Rankine ......................................................... 7
6.3 Distribusi Tekanan Tanah Lateral yang Bekerja pada Dinding Penahan....8
6.3.1 Urugan di Belakang Dinding (Backfill) – Tanah tidak Berkohesi
dengan Permukaan Datar.................................................................... 8
6.3.2 Urugan di Belakang Dinding (Backfill) – Tanah tidak Berkohesi
Terendam Air Sebagian dan Diberi Beban Surcharge ....................... 10
6.3.3 Urugan di Belakang Dinding (Backfill) – Tanah Berkohesi dengan
Permukaan Datar ............................................................................... 13
6.4 Tekanan Tanah Aktif dan Pasif Menurut Coulomb .................................... 16
6.4.1 Kondisi Aktif Menurut Coulomb ...................................................... 16
6.4.2 Kondisi Pasif Menurut Coulomb ....................................................... 18
6.5 Analisis Pendekataan dari Gaya Aktif yang Bekerja pada Dinding Penahan 21
BAB VII HIDROLIKA AIR TANAH .............................................................................. 23
7.1 Air Tanah .................................................................................................... 23
7.2 Permeabilitas dan Rembesan ...................................................................... 24
7.2.1 Pendahuluan ....................................................................................... 24
7.2.2 Gradien Hidrolik ................................................................................ 24
7.2.3 Hukum Darcy..................................................................................... 26
7.2.4 Kecepatan Debit dan Kecepatan Rembesan ...................................... 27
7.2.5 Menentukan Koefisien Permeabilitas ................................................ 28
7.2.6 Rembesan Melalui Beberapa Lapisan Tanah .................................... 32
7.3 Gaya Rembesan (Seepage) .......................................................................... 34
7.3.1 Pendahuluan ....................................................................................... 34
7.3.2 Pengaruh Tekanan Rembesan ............................................................ 36
7.3.3 Proses Terjadinya Piping ................................................................... 37
7.3.4 Tekanan Air Dengan Adanya Rembesan ........................................... 40
7.3.5 Tekanan Tanah dan Air...................................................................... 42
7.4 Perhitungan Debit Rembesan ...................................................................... 43
7.4.1 Jaring-jaring Aliran (Flownet) ........................................................... 43
7.4.2 Perhitungan Debit Rembesan Menggunakan Jaring-jaring Aliran .... 4S
BAB VIII ANALISA STABILITAS LERENG .................................................................. 50
8.1 Pendahuluan................................................................................................. 50
8.2 Angka Keamanan......................................................................................... 50
8.3 Cara Menstabilkan Lereng .......................................................................... 51
BAB X KONSOLIDASI ................................................................................................. 56
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan mengetahui secara umum tentang investigasi
lapangan, definisi jenis dan pemilihan tipe pondasi
Tujuan Khusus :
Mahasiswa diharapkan dapat memahami fungsi investigasi lapangan, fungsi
pondasi, mengerti jenis pondasi dan dapat memilih tipe pondasi sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
1.1. PENDAHULUAN
Penyelidikan tanah diperlukan untuk menentukan stratifikasi (pelapisan)
tanah dan karakteristik teknis tanah, sehingga perancangan dan konstruksi
pondasi dapat dilaksanakan dengan ekonomis. Biasanya informasi dari hasil
penyelidikan tanah tidak hanya digunakan untuk perancangan pondasi saja,
melainkan untuk evaluasi dan rekomendasi pekerjaan yang lain, seperti
kestabilan galian dan cara dewatering. Dengan demikian pihak kontraktor juga
dapat menyiapkan peralatan yang sesuai dengan kondisi tanah dan dapat
memperkirakan biaya secara lebih terinci. Informasi mengenai pondasi dari
bangunan sekitar lokasi proyek, jalan, bangunan eksisting disekitarnya, fasilitas
tertanam (underground facilities), dan lain-lain perlu diperoleh sebelum proses
perancangan.
Karakteristik tanah pada suatu lokasi umumnya amat variabel dan dapat
berbeda drastis dalam jarak beberapa meter. Oleh sebab itu penyelidikan tanah
harus dapat mencakup informasi kondisi tanah sedekat mungkin dengan
kenyataan untuk mengurangi resiko akibat variasi tersebut, dan jumlahnya cukup
untuk dapat merancang pondasi yang mendekati kenyataan. Perencanaan
pengujian tanah menjadi bagian dari explorasi tanah dan perancangan pondasi.
1.2.. TUJUAN PENYELIDIKAN TANAH
1. Untuk mendapatkan informasi mengenai pelapisan tanah dan batuan
Dari stratifikasi tanah yang diperoleh, dapat diketahui kedalaman lapisan
tanah keras yang dapat dijadikan lapisan pendukung untuk pondasi, ketebalan
tanah yang kompresibel dan variasi kondisi tanah.
2. Untuk mendapatkan informasi mengenai kedalaman muka air tanah.
Pada bangunan yang mempunyai lantai besmen diperlukan informasi
mengenai tinggi muka air tanah, agar dapat ditentukan besarnya tekanan
pada besmen baik tekanan pada dinding besmen maupun besarnya gaya
angkat (uplift). Selain itu juga perlu di pertimbangkan metoda konstruksi dan
sistem dewatering.
3
3. Untuk mendapatkan informasi sifat-sifat fisis dan sifat-sifat mekanis
tanah/batuan
Sifat-sifat fisis tanah adalah karakteristik dari suatu material yang diperoleh
secara alami. Sifat-sifat mekanis tanah adalah respon material terhadap
pembebanan. Sifat-sifat fisis digunakan untuk klasifikasi tanah sedangkan
sifat-sifat mekanis digunakan untuk memperkirakan kemampuan tanah
mendukung beban yang direncanakan dan deformasi pada tanah.
4. Menentukan parameter tanah untuk analisis
Dari informasi diatas, dapat diturunkan parameter tanah untuk analisis
pondasi atau untuk simulasi proses konstruksi. Dalam hal tertentu,
perancangan pondasi dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi
langsung berdasarkan hasil uji lapangan, khususnya SPT dan CPT.
1.3. TAHAP PENYELIDIKAN TANAH DAN STUDI PONDASI
Umumnya penyelidikan tanah dapat dikategorikan atas "confirmatory"
atau "exploratory". Dimana kondisi tanah telah diketahui oleh pelaksana, maka
kategori confirmatory lebih menonjol dan sebaliknya pada daerah yang sama
sekali baru maka bersifat exploratory. Dalam hal yang kedua maka untuk
penghematan sering dilakukan penyelidikan pendahuluan dan kemudian baru
dilakukan penyelidikan terinci. Informasi lain yang penting dalam perancangan
pondasi adalah elevasi dari muka air tanah. Umumnya data ini diperoleh
bersamaan dengan pelaksanaan penyelidikan tanah.
Tahapan penyelidikan tanah dan studi pondasi dapat mengikuti
prosedur berikut ini:
1. Evaluasi dan Studi Kondisi Lapangan
Sebelum diadakan suatu penyelidikan tanah diperlukan informasi mengenai
keadaan di lapangan. Pengamatan mengenal topografi, vegetasi, bangunan
yang telah ada, jalan akses, dan lain-lain. Peninjauan seperti ini perlu
dilakukan oleh seorang ahli geoteknik.
Informasi lain yang dapat dikumpulkan adalah kondisi geologi, kegempaan
regional, peraturan setempat, dan besarnya beban dari struktur. Informasi ini
akan membantu ahli geoteknik dalam memutuskan tahap penyelidikan
selanjutnya.
2. Penyelidikan Tanah Awal
Pada tahap ini dilakukan pemboran dan uji lapangan dalam jumlah yang
terbatas. Gunanya adalah untuk merencanakan penyelidikan tanah
selanjutnya. Tetapi pada proyek dengan skala kecil, tahap ini ditiadakan.
Penyelidikan tanah awal juga sering digunakan untuk studi kelayakan.
Penyelidikan Tanah Terinci
Pada tahap ini, informasi mengenai keadaan tanah yang dibutuhkan untuk
perancangan dan konstruksi pondasi dalam dikumpulkan. Informasi ini harus
mencukupi perencana dan kontraktor untuk menentukan jenis, kedalaman,
daya dukung pondasi dan untuk mengantisipasi penurunan yang akan terjadi
dan masalah yang mungkin timbul selama konstruksi dan lain-lain.
Untuk itu pada tahap ini diperlukan sejumlah pemboran yang dilengkapi
dengan SPT, pengambilan sampel, sondir, pengamatan muka air tanah dan
penyelidikan lapangan yang lain. Faktor yang menentukan disini adalah skala
proyek, kepentingan penyelidikan tanah untuk perancangan dan konstruksi
4
bangunan, ketersediaan dana, ketersediaan waktu dan ketersediaan informasi
dari sumber sumber yang lain. Pada beberapa proyek besar, beberapa
kontraktor melakukan penyelidikan tanah tambahan untuk memastikan
bahwa konstruksi dapat dilaksanakan sesuai spesifikasi yang tertulis dalam
dokumen perencanaan. Analisis pondasi sebaiknya diikuti dengan pengujian
pondasi di lapangan.
1.4. JUMLAH DAN KEDALAMAN BOR
Jumlah dan kedalaman pemboran amat bergantung kepada kondisi di
lapangan. Pada kategori ‘confirmatory’, maka kedalaman pengujian pada
umumnya, dapat ditetapkan secara lebih pasti, tetapi pada kategori ‘exploratory’
maka kedalaman pemboran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip umum dalam
penyelidikan tanah.
Perencanaan penyelidikan tanah meliputi penentuan jumlah banyaknya
titik bor, kedalaman pemboran, jumlah sampel yang hendak diambil dan diuji di
laboratorium, jumlah test pit, pengamatan muka air tanah dan lain – lain.
Biasanya, jika kondisi tanah setempat diketahui dari laporan geologi atau
pengujian terdahulu, jumlah pekerjaan penyelidikan tanah dapat mengalami
perubahan selama pelaksanaan dilapangan.
1. Jarak dan Jumlah Titik Bor
Bila kondisi tanah cukup homogen, maka jumlah titik bor dapat dikurangi.
Tetapi bila pelapisan tanah amat acak, maka sejumlah titik bor dibutuhkan
untuk dapat menggambarkan potongan melintang melalui titik-titik bor
tersebut. Jumlah dan jarak pemboran tergantung dari jenis struktur dan
beberapa faktor lain.
5
Jarak antara titik bor untuk pekerjaan pondasi tiang pada abutment jembatan
umumnya dikonsentrasikan pada lokasi abutment. Untuk bangunan gedung
bertingkat, pada umumnya sebuah titik bor mewakili hingga radius 20.0 - 30.0
m. Tiga buah titik bor untuk sebuah tower disepakati sebagai jumlah minimum
di DKI Jakarta. Untuk pekerjaan jalan, jarak pemboran berkisar 50 m – 200 m.
Sowers (1979) memberikan anjuran untuk penentuan jarak antara titik bor
(Tabel 1.1) yang dapat dipakai sebagai acuan.
Tabel 1.1. Pedoman Penentuan Jarak Titik Bor
Jenis Struktur
Jarak Titik Bor
(m)
Gedung Tinggi 15 - 45
Bangunan
Industri
30 - 90
2. Kedalaman Pemboran
Pemboran harus dilakukan hingga kedalaman dimana lapisan tanah keras
(umumnya diasumsikan nilai NSPT > 50) dicapai beberapa meter
(sekurangnya 3 kali pembacaan nilai NSPT)
Bila dibawah lapisan keras masih terdapat tanah kompresibel, maka
pemboran diteruskan kecuali jika lapisan tersebut tidak akan mengakibatkan
penurunan yang berlebihan.
Bila terdapat rencana penggalian, maka kedalaman pemboran di lokasi
tersebut sekurangnya 1.5 – 2.0 kali kedalaman galian. Batas atas dilakukan
bila kondisi tanah lembek. Hal ini adalah untuk memungkinkan analisis
kestabilan lereng galian dan mengevaluasi kemungkinan penyembulan
(heaving). Bila didapati lapisan aquifer, maka pemboran mungkin dapat lebih
dalam lagi. Bila kaki pondasi tiang diharapkan masuk kedalam batuan, maka
pemboran dilakukan sekurangnya 3.0 m kedalam lapis batuan tersebut.
Untuk struktur yang berat seperti bangunan tinggi, satu titik bor perlu
dilakukan hingga mencapai batuan dasar bila kondisi memungkinkan. Tabel
1.2. adalah kedalaman minimum pemboran yang perlu dilakukan menurut
Sowers (1979)
Tabel 1. 2. Kedalaman Minimum Pemboran
Jenis Struktur
Kedalaman Titik
Bor (m)
Sempit dan
Ringan
3.S
0.7
Luas dan Berat 6.S
0.7
dimana S adalah banyaknya lantai pada gedung tinggi.
1.5. TEKNIK PEMBORAN
Teknik pemboran dalam umumnya dipakai untuk penyelidikan tanah bagi
kepentingan perancangan pondasi dalam. Dengan pemboran, contoh tanah dan
batuan dapat diambil dan diuji di laboratorium untuk klasifikasi dan pengujian
sifat fisis maupun sifat mekanisnya.
6
1. Bor Tangan
Bor tangan digunakan untuk pengambilan sampel
pada kedalaman maksimum 6.0 m. Alat yang
digunakan berupa suatu auger yang diputar
secara manual. Pada umumnya bor tangan
digunakan untuk kedalaman 5.0 – 6.0 m saja dan
hanya untuk mendeteksi tanah dekat permukaan.
Bila pemboran dilakukan dengan dibantu oleh
mesin kecil maka kedalaman dapat mencapai 10.0
m.
Gambar 1.1. Bor Tangan
7
2. Bor Mesin
Bor Basah (Wash Boring)
Pemboran basah dilakukan dengan cara kombinasi pemotongan dan jetting air
kedalam tanah. Hasil pemotongan tanah diangkat ke atas dengan aliran air
bertekanan melalui casing. Cara ini tidak dapat digunakan untuk mengambil
sampel dan fungsi utamanya adalah hanya untuk pemboran. Untuk
pengambilan sampel, alat pemotong (chopping bit) dinaikkan ke atas dan
diganti dengan tabung contoh tanah. Jenis tanah diidentifikasi secara visual
dari material yang terbawa oleh air pencuci.
Pemboran basah dapat dilakukan dengan atau tanpa casing. Casing
digunakan bila dijumpai tanah pasiran karena umumnya runtuh ke dalam
lubang bor tanpa adanya casing.
Pemboran Perkusi (Percussion Drilling)
Pemboran dapat dilakukan dengan cara memukul-mukul alat bor kedalam
lubang dengan diameter 600 mm. Tanah yang terpotong bercampur dengan
air menjadi bubur (slurry). Bubur ini secara berangsur angsur dikeluarkan
dengan bailer atau pompa lumpur. Jenis tanah diidentifikasi dari lumpur yang
diangkat keluar. Kejelekan dari cara ini adalah karena tanah mengalami
gangguan yang besar sehingga sampel yang diambil memiliki kualitas rendah.
Bor Kering (Rotary Drilling/Dry Coring)
Metoda pemboran dengan cara kering (rotary drilling atau dry coring)
dilakukan tanpa air, dengan menggunakan rotasi pada mata bor (drill–bit)
bersamaan dengan penekanan untuk membuat lubang bor. Pelaksanaan
pemboran dengan cara ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada
menggunakan metode bor basah. Bor kering memiliki keuntungan karena
dengan metoda ini contoh tanah dapat disimpan pada core–box dan
diidentifikasi secara visual. Disamping itu cara ini umumnya dapat digunakan
pada jenis tanah apapun dan dapat untuk membor batuan.
8
(a)
Gambar 1.2 Bor Mesin :
(a) Bor Basah [Wash Boring]
(b) Pemboran Perkusi
(Percussion Drilling)
(c) Bor Kering (Rotary
(c)
1.6. PENGAMBILAN CONTOH TANAH
Pengambilan contoh tanah dapat berupa contoh tanah terganggu
(disturbed samples) atau contoh tanah asli (undisturbed samples). Contoh tanah
terganggu dapat dilakukan dengan auger atau dari tabung SPT . Contoh tanah
yang diperoleh sekurang kurangnya 0.5 kg, merupakan jumlah minimum untuk
pengujian di laboratorium.
Contoh tanah asli diasumsikan sebagai contoh tanah yang diperoleh dari
kondisi aslinya di lapangan, dengan tidak mengalami perubahan struktur,
kepadatan, porositas dan kadar airnya. Namun demikian pada saat contoh tanah
dikeluarkan dari tabung, sesungguhnya contoh tanah itu tidak lagi asli karena
sudah kehilangan tegangan kelilingnya. Disamping itu penekanan dinding tabung
ke dalam tanah juga menyebabkan gangguan mekanis.
Agar sampel yang diambil dari lapangan sesedikit mungkin mengalami
gangguan, maka ketebalan dinding tabung harus memenuhi syarat. Untuk
menjamin desakan sekecil mungkin pada tanah, maka ketebalan dinding tabung
harus mempunyai rasio luas (area ratio) A, kurang dari 10%, dimana A,
didefinisikan sebagai
dimana:
Do = diameter luar tabung
Di = diameter dalam tabung.
Tabung contoh tanah (open tube sampel) tipikal/standar diperlihatkan
dalam Gambar 1.3.(a). Tabung ini mempunyai diameter 100 mm dan panjangnya
450 mm. Jenis tabung ini mampu mengambil tanah lempung dengan kuat geser
kurang dari 0.5 kg/cm
2
. Contoh tanah yang telah terambil dijaga kadar airnya
dengan menutup tabung dengan parafin atau lilin.
Bila tanah amat lembek, maka tabung ini tidak akan membantu banyak
karena gangguan sampel amat besar. Untuk jenis tanah ini harus digunakan
piston sampel. Ukuran diameter piston sampel dari 54-250 mm. 1.3.(b)
memberikan ilustrasi fixed piston sampler.
9
100%
D
D D
A
2
i
2
i
2
o
r
×

·
(b)




Gambar 1.3 (a) Tabung Contoh Tanah (U100) (b) Fixed Piston Sampel
1.7. PENGUJIAN LABORATORIUM
Contoh tanah yang diperoleh dari pemboran diuji di laboratorium untuk
klasifikasi dan pengujian sifat fisis dan mekanisnya. Tujuan pengujian
laboratorium adalah untuk mendapatkan parameter yang dibutuhkan untuk
analisis.
1. Klasifikasi, Berat Isi dan Pengujian Indeks Properties Tanah
Pengujian rutin untuk tanah adalah uji klasifikasi, berat isi, dan pengujian indeks
properties tanah. Yang termasuk dalam jenis pengujian ini adalah :
• Kadar Air ( w ).
• Berat Isi Tanah (γ ).
• Berat Jenis Tanah (Gs).
• Batas Batas Atterberg (w
P
, w
L
).
• Uji Gradasi dan Hidrometer.
Pengujian batas – batas atterberg dan indeks properties perlapisan tanah dapat
digunakan untuk menentukan parameter hasil korelasi yang mungkin dibutuhkan
dalam desain.
2. Uji Kuat Geser
Kuat geser tanah mempunyai pengaruh yang besar dalam perancangan pondasi
sehingga salah satu tujuan penyelidikan tanah yang penting adalah untuk
menentukan parameter tersebut. Beberapa uji laboratorium yang umum
digunakan adalah uji geser langsung (Direct Shear), uji Triaxial, dan uji kuat
tekan tidak terkekang (Unconfined Compression Test).
Ukuran contoh tanah dalam uji geser langsung umumnya berdiameter 60 mm,
dan penggeseran dilakukan hingga 6 mm. Contoh tanah diberi tegangan normal
kemudian digeser untuk menentukan hubungan antara tegangan normal
tersebut dengan tegangan geser saat runtuh. Pengujian dilakukan tiga kali
dengan tegangan normal yang berbeda dan hasilnya di plotkan (Gambar 1.4.)
untuk mendapatkan nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam φ .
10
(a)
(b)




(b)
Gambar 1.4 (a) Alat UJi Geser Langsung (Direct Shear) (b) Hasil Uji Geser
Langsung
3. Uji Kuat Tekan Tak Terkekang (Unconfined Compression Test)
Merupakan cara uji yang sederhana untuk tanah kohesif. Contoh tanah silinder
ditekan dengan kecepatan konstan hingga runtuh. Cara ini umumnya
memberikan harga kohesi yang lebih rendah karena peniadaan tegangan keliling
(Gambar 1.5). Dari hasil uji ini diperoleh kuat tekan tak terkekang (q
u
), kohesi (c
u
)
dan modulus tanah. Umumnya dalam uji ini juga dilakukan uji tekan pada tanah
yang teremas sehingga kuat geser tanah teremas (remolded). Rasio dari kuat
geser tanah dalam kondisi asli dan kuat geser tanah dalam kondisi teremas
disebut sensitivitas (St)
S
t
=
r u
u
q
q
,
Gambar 1.5. Alat Uji dan Hasil Unconfined Compression Test
4. Uji Triaxial
Pada uji triaxial, contoh tanah diberi tegangan keliling sebelum digeser. Cara ini
adalah cara yang paling ideal untuk menentukan kuat geser tanah. Contoh tanah
diuji dengan tiga buah tegangan keliling untuk dapat ditentukan perilakunya.
Konfigurasi alat uji diberikan pada Gambar. 1.6., dan uji yang lazim digunakan
adalah :
• Uji UU (Unconsolidated Undrained) :
Tegangan sel diberikan dalam kondisi air dalam contoh tanah tidak teralir.
Demikian pula saat penggeseran, air tidak diberi kesempatan mengalir
sehingga pembebanan dalam kondisi undrained. Hasil uji tipikal ditunjukkan
pada Gambar. 1.6.b.
• Uji CU (Consolidated Undrained) :
11
(a)




Konsolidasi tanah dilakukan dengan memberikan tegangan sel, kemudian
saat penggeseran, aliran air ditutup (undrained).
• Uji CD (Consolidated Drained) :
Pada uji CD tanah diberi kesempatan berkonsolidasi dibawah tegangan sel
dan pengujian diberikan amat lambat dalam keadaan air dari contoh tanah
teralir sehingga terjadi perubahan volume pada contoh tanah tetapi tekanan
air pori nol.
Perancang harus dapat memutuskan jenis uji sesuai kebutuhan untuk analisis.
Gambar. 1.6. Uji Triaxial UU. CU dan CD (a). Konfigurasi Alat (b). Hasil uji UU dan
CU
12


5. Uji Konsolidasi
Uji konsolidasi terutama dilakukan untuk menentukan sifat kemampatan tanah
dan karakteristik konsolidasi yang dipengaruhi oleh sifat permeabilitas.
Gambar 1. 7. Uji Konsolidasi (Oedometer) (a) Alat uji (b) Hasil Uji dan Interpretasi
13


1.8. UJI LAPANGAN (IN–SITU TEST)
Uji lapangan menjadi populer karena dapat memberikan informasi profil
tanah secara kontinu dan dewasa ini telah dikembangkan untuk perancangan
pondasi tiang secara langsung dengan korelasi empirik.
1. Uji Sondir (Cone Penetration Test = CPT)
Uji sondir saat ini merupakan salah satu uji lapangan yang telah diterima oleh
para praktisi dan pakar geoteknik. Uji sondir ini telah menunjukkan manfaat
untuk pendugaan profil atau pelapisan (stratifikasi) tanah, karena jenis perilaku
tanah telah dapat diidentifikasi dari kombinasi hasil pembacaan tahanan ujung
dan gesekan selimutnya.
Sondir standar memiliki luas penampang ujung konus sebesar 10 cm
2
dan sudut
puncak 60°. Luas selimut 150 cm
2
. Kecepatan penetrasi 2 cm/det. Standar alat
yang pada saat ini secara luas diterima tercantum dalam ASTM D3411–75T.
Pada sondir mekanis, penetrasi ujung konus dilakukan mendahului selimutnya,
gaya pada konus diukur, kemudian baru penetrasi ujung dan selimut dilakukan
bersama–sama sehingga tercatat perlawanan total. Selisih antara pengukuran
perlawanan kedua dan pertama adalah gaya yang bekerja pada selimut sondir,
sehingga gesekan selimut, f
s
, dapat ditentukan.
Penggunaan Uji sondir yang makin luas terutama disebabkan oleh beberapa
faktor:
Cukup ekonomis dan dapat dilakukan berulang kali dengan hasil yang konsisten.
1. Korelasi empirik yang telah berkembang semakin andal.
Perkembangan yang semakin meningkat khususnya dengan ada penambahan
sensor pada sondir listrik seperti batu pori dan stress cell untuk mengukur respon
tekanan lateral tanah.
2. Kebutuhan untuk pengujian di lapangan (insitu test) dimana sampel tanah
tidak dapat diambil (tanah lembek dan pasir).
3. Dapat digunakan untuk menentukan daya dukung tanah dengan baik.
14
Gambar 1. 8. Bentuk Ujung Konus Sondir Listrik dan Sondir Mekanis
Pengujian awal dengan sondir dapat merupakan arahan untuk pemilihan jenis uji
tanah berikutnya dan dapat membantu menentukan posisi (kedalaman) untuk uji
lapangan yang lain (misalnya pressuremeter dan uji geser baling (vane shear
test) maupun lokasi pengambilan contoh tanah untuk uji laboratorium. Untuk uji
lapangan, sebaiknya uji sondir dilaksanakan lebih dahulu.
Gambar 1. 9. Pelaporan Hasil Uji Sondir
Interpretasi Hasil Uji
Penggunaan hasil uji sondir untuk klasifikasi tanah juga berdasarkan data secara
empiris, demikian pula untuk kepentingan interpretasi parameter tanah yang lain
seperti kuat geser dan kompresibilitas tanah. Oleh sebab itu pembaca diminta
memperhatikan keterbatasan pemakaian korelasi yang ada. Dalam praktek
dianjurkan agar uji sondir didampingi dengan uji lain baik uji lapangan maupun
uji laboratorium.
2. Standard Penetration Test (SPT)
Standard Penetration Test (SPT) telah memperoleh popularitas dimana–mana
sejak tahun 1927 dan telah diterima sebagai uji tanah yang rutin di lapangan.
SPT dapat dilakukan dengan cara yang relatif mudah sehingga tidak
membutuhkan ketrampilan khusus dari pemakainya. Metoda pengujian tanah
dengan SPT termasuk cara yang cukup ekonomis untuk memperoleh informasi
mengenai kondisi di bawah permukaan tanah dan diperkirakan 85% dari desain
pondasi untuk gedung bertingkat menggunakan cara ini. Karena banyaknya data
SPT korelasi empiris telah banyak memperoleh kemajuan.
Alat uji ini terdiri dari beberapa komponen yang sederhana, mudah
ditransportasikan, dipasang, dan mudah pemeliharaannya. Pandangan para ahli
15
masih sama yaitu bahwa alat ini akan terus dipakai untuk penyelidikan tanah
rutin karena relatif masih ekonomis dan dapat diandalkan.
Alat dan Prosedur Uji
Alat uji berupa sebuah tabung yang dapat dibelah (split tube, split spoon) yang
mempunyai driving shoe agar tidak mudah rusak pada saat penetrasi. Pada
bagian atas dilengkapi dengan coupling supaya dapat disambung dengan batang
bor (drill rod) ke permukaan tanah. Sebuah sisipan pengambil contoh (sampel
insert) dapat dipasang pada bagian bawah bila tanah yang harus diambil
contohnya berupa pasir lepas atau lumpur. Gambar 1.10. menunjukkan split
spoon sampel dan sampel insert.
Prosedur Uji mengikuti urutan sebagai berikut :
1. Mempersiapkan lubang bor hingga kedalaman uji.
2. Memasukkan alat split barrel sampel secara tegak.
3. Menumbuk dengan hammer dan mencatat jumlah tumbukan setiap 15 cm.
Hammer dijatuhkan bebas pada ketinggian 760 mm.
4. Nilai tumbukan dicatat 3 kali (N0, N1, N2) dimana harga N = N1 + N2. Split
spoon sampler diangkat ke atas dan kemudian dibuka. Sampel yang
diperoleh dengan cara ini umumnya sangat terganggu.
5. Sampel yang diperoleh dimasukkan ke dalam plastik untuk diuji di
laboratorium. Pada plastik tersebut harus diberikan catatan nama proyek,
kedalaman, dan nilai N.
Jenis–jenis hammer yang digunakan bisa bermacam–macam (Gambar 1.11),
namun demikian semua mem-punyai berat yang sama yaitu 63.5 kg (140 lb).
Secara konvensional, uji SPT dilakukan dengan interval kedalaman 1.5 m – 3.0 m
dan sampel tanah yang diperoleh dari tabung SPT digunakan untuk klasifikasi.
Penting untuk ditegaskan disini bahwa identifikasi dari jenis tanah pada SPT
harus dilakukan karena interpretasi dari data SPT hanya dapat dilakukan dengan
baik bila dikaitkan dengan kondisi tanah tersebut.
16
Gambar 1.10. Cara Konvensional Uji SPT dan Sampel SPT Menurut ASTM D–1586
(Sumber: Kovacs, 1981)
17
Variasi dari hasil uji dapat disebabkan oleh :
• Peralatan dibuat oleh pabrik yang berbeda. Namun demikian rotary auger
dengan safety hammer merupakan kombinasi yang lebih ekonomis dan
umum.
• Konfigurasi hammer.
• Panjang batang penghubung (drill rod). Untuk panjang batang lebih dari 10 m
dan nilai N
SPT
< 30 pengaruh panjang batang ini cukup besar. Drill rod yang
panjang lebih berat dan memperkecil energi yang diterima oleh batang dan
sampel.
• Tegangan vertikal efektif.
• Variasi tinggi jatuh.
• Bila digunakan cat–head, jumlah lilitan dapat mempengaruhi energi.
• Cara pemboran dan metoda stabilisasi dinding lubang bor berpengaruh
terhadap nilai N
SPT
.
• Lubang yang tidak sempurna pembersihan-nya dapat mengakibatkan
terperangkapnya lumpur ke dalam sampel dan dapat menyebabkan kenaikan
N
SPT
.
• Dipakai atau tidaknya liner pada sampel.
• Ukuran lubang bor.
Gambar 1.11. Diagram Skematis Jenis–jenis Hammer
(Sumber: Bowles, 1988)
Di Indonesia hal lain yang perlu diperhatikan adalah spesifikasi alat SPT yang
berbeda, khususnya yang mengacu kepada ASTM (standard USA) dan kepada JIS
(standard Jepang) (Makarim, 1992).
3. Uji Geser Baling (Vane Shear Test)
Uji geser baling dilakukan dengan cara memasukkan baling pada kedalaman titik
uji dan memutar baling tersebut dengan kecepatan 6°/menit hingga runtuh. Torsi
(T) diukur dan nilai kuat geser undrained Su dapat ditentukan berdasarkan
formula :
dimana :
D = diameter dari baling (cm)
18
T = torsi (kg.cm)
Gambar 1.12. Uji Geser Baling (VST)
4. Uji Pressuremeter
Uji Pressuremeter (Gambar 1.13) dikembangkan oleh Menard, berupa silinder
karet yang dimasukkan kedalam lubang bor dan dikembangkan. Respon tanah
(perubahan volume atau jari-jari lubang) terhadap pengembangan karet di ukur
dan interpretasikan ke dalam besaran kuat geser dan sifat kemampatan tanah.
Keuntungan dari uji ini adalah karena modulus tanah dapat diperoleh di lapangan
(in–situ), demikian pula besarnya tekanan tanah at rest. Besaran besaran lain
seperti kuat geser tanah dan tekanan air pori juga dapat diperoleh dari uji ini.
Gambar 1.13. Uji Pressuremeter dan Hasil Uji Tipikal
19
5. Uji Dilatometer
Uji dilatometer (Marchetti 1980, Schmertmann, 1988) merupakan uji sederhana
untuk mengukur modulus tanah. Alat ini berupa suatu blade dengan lebar 95 mm
dan tebal 15 mm. Ditengahnya terdapat suatu plat lingkaran yang dapat
bergerak keluar jika dikembangkan.
Prosedur pengujian dilatometer mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Dilatometer dimasukkan kedalam lubang galian, lakukan pembacaan
setelah dikoreksi (p
1
).
2. Membran dikembangkan dan tekanan dibaca saat mencapai 1.1. mm (p
2
).
3. Tekanan diturunkan dan saat membran kembali keposisi semula, kembali
dibaca (p
3
).
4. Dilatometer diturunkan ke titik berikutnya dan langkah 1 s/d 3 diulang
kembali.
Setiap pengujian hanya membutuhkan waktu 1-2 menit. Keuntungan utama dari
dilatometer adalah bahwa alat ini dapat memperkirakan tekanan at rest di
lapangan. Disamping itu kemampatan tanah dapat diperoleh (modulus
subgrade).
Dari data diatas dapat diperoleh beberapa parameter dilatometer sebagai
berikut :
1. Modulus dilatometer, E
d
E
d
=34.7(p
2
–p
1
)
2. Indeks Tegangan Lateral, K
d
3. Indeks Material, I
D


Berdasarkan parameter tersebut maka jenis tanah, modulus, dan kekuatan
gesernya dapat diperkirakan.
Gambar 1.14. Korelasi Antara Jenis Tanah dengan
Indeks Material dan Modulus Dilatometer
(Sumber : Lacasse & Lunne. 1986)
20
' p
u p
K
o
1
d

·
u p
p p
I
2
1 2
D


·
6. Pengamatan Muka Air Tanah
Pengamatan muka air tanah dan fluktuasinya untuk beberapa proyek amat
dibutuhkan khususnya dimana pengaruh dari posisi muka air tanah memberikan
beban hidrostatik dan beban uplift. Disamping itu pengetahuan mengenai muka
air tanah juga amat dibutuhkan untuk tahapan konstruksi.
Cara umum untuk memperoleh informasi muka air tanah adalah dengan
menggunakan piezometer yang dapat dipasang pada bekas lubang bor.
Gambar. 1.15. Piezometer Jenis Standpipe dan Hidrolik
7. Cara Pelaporan Hasil Penyelidikan Tanah
Pelaporan hasil penyelidikan tanah harus mencakup informasi yang dibutuhkan
untuk perancangan pondasi maupun untuk penentuan teknik pelaksanaan oleh
kontraktor. Bagian yang penting dari isi laporan meliputi :
• Geologi dan topografi di lokasi proyek.
• Bor log dan potongan – potongan melintang profil tanah.
• Hasil uji lapangan (SPT, CPT, VST, Pressuremeter dan lain-lain).
• Posisi muka air tanah.
• Hasil uji laboratorium.
• Kondisi lapangan, diantaranya yang penting adalah bangunan sekitar yang
sudah ada, jalan akses, utilitas umum, lokasi sungai atau selokan dan lain-
lain.
Pada umumnya laporan diatas disebut factual report yaitu berisi data-data apa
adanya tanpa memberikan engineering judgement ataupun rekomendasi. Dalam
banyak hal di Indonesia, pekerjaan penyelidikan tanah sering dituntut untuk
melengkapi dengan desain dan rekomendasi.
21
BAB II
DAYA DUKUNG TANAH
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan mengetahui secara umum tentang definisi, jenis,
pemilihan tipe pondasi, menentukan kedalaman dan dimensi pondasi
Tujuan Khusus :
Setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat menghitung dengan tepat
tentang pondasi telapak sesuai dengan kondisi tanah yang ada dan rumus
yang sesuai secara tepat dan benar.
2.1. PENDAHULUAN
Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian bawah struktur
(substructure) yang berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur
(superstructure) ke lapisan tanah di bawahnya dengan tidak meng-akibatkan :
• Keruntuhan geser tanah
• Penurunan tanah saat penurunan pondasi yang berlebihan
Secara umum pondasi dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Pondasi dangkal (shallow footing)  Peck (1953) : D
f
/B ≤ 1
Contohnya :
Pondasi telapak (square footing)
Pondasi menerus (continues footing)
Pondasi lingkaran (circle footing)
Pondasi rakit (raft footing)
b. Pondasi dalam (depth footing)  Peck (1953) : D
f
/B > 4
Contohnya:
 Pondasi sumuran
 Pondasi tiang pancang
 Pondasi kaison
Pondasi dangkal digunakan apabila lapisan tanah keras yang mampu
mendukung beban bangunan di atasnya, terletak dekat dengan permukaan
sedangkan pondasi dalam dipakai pada kondisi yang sebaliknya.
Selain itu masih banyak lagi jenis-jenis konstruksi yang erat hubungannya
dengan rekayasa pondasi, seperti :
• Dinding penahan tanah atau turap, Seperti :
 dinding kantilever ⇒ turap kaku
 turap kayu, turap baja, turap beton dll  turap lentur
• Bendung elak sementara, seperti :
 penurapan pada pembuatan pilar jembatan di dasar sungai
22
1. Syarat-syarat Perencanaan Pondasi
a. Syarat yang berhubungan dengan konstruksi dan beban yang diterima oleh
pondasi antara lain:
• Beban maksimum yang diterima
• Muatan sedapat mungkin merata
• Tanah dasar pondasi terlindung dari penggerusan air
a. Syarat yang berhubungan dengan perencanaan dan perluasan pondasi
antara lain:
• Galian tanah sekecil-kecilnya
• Lubang pondasi harus dapat dikeringkan
• Menghindari kemungkinan terjadinya kebocoran dari air tanah
• Pondasi yang terbuat dari kayu harus terletak pada muka air tanah
terendah.
a. Syarat yang berhubungan dengan stabilitas dan deformasi antara lain:
• Kedalaman pondasi harus cukup untuk menghindari kerusakan tanah
dalam arah lateral di bawah pondasi
• Kedalaman pondasi harus di bawah daerah yang mempunyai sifat
kompresibilitas yang tinggi
• Konstruksi harus aman terhadap guling, geser, rotasi dan keruntuhan
geser tanah
• Konstruksi harus aman terhadap korosi atau kegagalan akibat bahan-
bahan kimia yang ada di dalam tanah.
• Konstruksi diharapkan mudah untuk dimodifikasi jika terdapat
perubahan geometri konstruksi
• Pondasi harus dapat memberikan toleransi terhadap pergerakan
diferensial akibat pergerakan tanah
• Pondasi harus memenuhi persyaratan standar
• Pondasi harus ekonomis dalam pelaksanaan
2. Pemilihan Jenis Pondasi
Selain tergantung pada faktor ekonomi maupun situasi lingkungan, pemilihan
jenis pondasi pada pokoknya tergantung pada kondisi atau sifat karakteristik
tanah dasar atau tanah pendukungnya.
Berikut ini adalah jenis-jenis pondasi sesuai dengan keadaan tanah pendukung
yang bersangkutan:
a. Bila lapisan tanah keras terletak pada kedalaman 2 m sampai dengan 3 m
di bawah permukaan tanah lunak atau soft soil maka digunakan
• pondasi telapak
• pondasi menerus
• pondasi rakit
a. Bila lapisan tanah keras terletak pada kedalaman 10 m sampai dengan 20
m di bawah permukaan tanah lunak maka digunakan
• pondasi tiang beton atau tiang kayu
• pondasi tiang apung
• atau perbaikan tanah dasar
a. Bila lapisan tanah keras terletak pada kedalaman 20 m sampai dengan 30
m di bawah permukaan tanah lunak maka digunakan
• pondasi tiang gesek (bila penurunan yang terjadi masih diijinkan)
• pondasi tiang baja atau tiang beton yang dicor ditempat
• pondasi kaison
23
a. Bila lapisan tanah keras terletak pada kedalaman 30 m sampai dengan 40
m di bawah permukaan tanah lunak maka digunakan
• pondasi kaison
• pondasi tiang baja atau tiang beton yang dicor ditempat.
a. Jika lapisan tanah keras terletak pada kedalaman lebih besar dari 40 m
maka yang lebih baik untuk hal ini adalah pemakaian pondasi baja atau
tiang beton yang dicor di tempat.
2.2. PENGERTIAN
Tekanan overburden [p] (total overburden pressure) adalah intensitas
tekanan total yang terdiri dari berat material di atas dasar pondasi sebelum
pondasi dibangun (berat tanah dan air) , [rumus umum : p = D
f
.γ ].
Tekanan pondasi total [q] (total foundation pressure) adalah intensitas
tekanan total yang terdiri dari berat material di atas dasar pondasi sesudah
struktur selesai dibangun dengan pembebanan penuh (berat pondasi, struktur
atas, tanah urug dan air).
Tekanan pondasi netto [q
n
] (net foundation pressure) adalah tekanan
pondasi total (q) dikurangi beban hidup dan mati yang berlaku, [rumus umum :
q
n
= q – D
f
.γ ].
Daya dukung tanah (bearing capacity) adalah kekuatan tanah untuk
menahan suatu beban yang bekerja padanya yang biasanya disalurkan melalui
pondasi.
Daya dukung batas [q
u
] (ultimit bearing capacity) adalah tekanan
maksimum yang dapat diterima oleh tanah akibat beban yang bekerja tanpa
menimbulkan kelongsoran geser pada tanah pendukung tepat di bawah dan
sekeliling pondasi.
Daya dukung batas netto [q
un
] (net ultimit bearing capacity) adalah daya
dukung batas [q
u
] dikurangi tekanan overburden [p], [rumus umum : q
un
= q
u

D
f
.γ ].
Daya dukung ijin [q
all
= q
s
] (allowable bearing capacity) atau (safe bearing
capacity) adalah tekanan maksimum yang dapat diterima oleh tanah sehingga
persyaratan keamanan (FS) terhadap daya dukung dan penurunan terpenuhi.
[rumus umum :
γ + · · · . D
FS
q
FS
q
q q
f
un u
s all
]
Fakor aman [FS] (factor of safety), ditinjau dari :
–daya dukung batas (q
ult
) 
all
u
q
q
FS·
–daya dukung batas netto (q
un
) 
γ −
γ −
· ·
. D q
. D q
q
q
FS
f
f u
n
un
Ultimit = maksimum = batas = total.
24
Terdapat 3 kemungkinan pola keruntuhan kapasitas dukung tanah yaitu
:
1. Keruntuhan geser umum (General Shear Failure), Gambar 2.1a
 Kondosi kesetimbangan plastis terjadi penuh diatas failure plane
 Muka tanah di sekitarnya mengembang (naik)
 Keruntuhan terjadi di satu sisi sehingga pondasi miring
 Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas rendah (padat dan kaku)
 Kapasitas dukung batas (q
ult
) bisa diamati dengan baik.
Gambar 2.1a. Pola keruntuhan geser umum (General Shear Failure)
1. Keruntuhan geser setempat (Local Shear Failure), Gambar 2.1b
 Muka tanah disekitar pondasi tidak terlalu mengembang, karena
dorongan kebawah dasar pondasi lebih besar.
 Kondisi kesetimbangan plastis hanya terjadi pada sebagian tanah
saja.
 Miring yang terjadi pada pondasi tidak terlalu besar terjadi.
 Terjadi pada tanah dengan kompresibilita tinggi yang ditunjukkan
dengan penurunan yang relative besar.
 Kapasitas dukung batas sulit dipastikan sulit dianalisis, hanya bisa
diamati penurunannya saja.
Gambar 2.1b. Pola keruntuhan geser setempat (Local Shear Failure)
25
2. Keruntuhan geser baji / penetrasi (Punching Shear Failure), Gambar 2.1c
 Terjadi desakan dibawah dasar pondasi disertai pergeseran arah
vertical sepanjang tepi
 Tidak terjadi kemiringan pondasi dan pengangkatan di permukaan
tanah.
 Penurunan yang terjadi cukup besar
 Terjado pada tanah dengan kompresibilitas tinggi dan kompresibilitas
rendah jika kedalaman pondasi agak dalam
 Kapasitas dukung batas tidak dapat dipastikan
Gambar 2.1c. Pola Keruntuhan geser baji (Punching Shear Failure)
Vesic (1963) melakukan uji model untuk mengetahui pengaruh
kepadatan tanah pasir (D
r
) dengan kedalaman pondasi dibanding lebar
pondasi (D
f
/B) terhadap mekanisme keruntuhan pondasi. Keruntuhan geser
umum terjadi pada pondai relatif dangkal yang terletak pada pasir padat
atau kira-kira φ ’ > 36° dan Keruntuhan geser setempat kira-kira nilai φ ’ <
29°. Hasil pengujiannya sebagaimana Gambar 2.1.d.
Gambar 2.1.d. Hubungan D
f
/B dan Dr pada model keruntuhan tanah pasir
Sedangkan Coduto (1994) untuk pondasi pada pasir berpendapat :
1. Keruntuhan geser umum : terjadi pada pasir padat (D
r
> 67%)
26
2. Keruntuhan geser setempat : terjadi pada pasir kepadatan sedang (30% <
D
r
<67%)
3. Keruntuhan geser penetrasi : terjadi pada pasir sangat longgar (D
r
< 30%)
Dalam praktek, kapasitas daya dukung dihitung lebih dahulu pada
kasus keruntuhan geser umum, kemudian dilakukan hitungan penurunan
untuk mengecek apakah pondasi turun secara berlebihan. Analisa penurunan
ini akan mengontrol hitungan yang didasarkan pada keruntuhan geser
setempat maupun penetrasi.
Catatan :
Adapun cara-cara yang digunakan untuk menghitung kapasitas daya dukung
tanah dibawah pondasi khususnya pondasi dangkal antara lain : Metode
Terzaghi, Metode Meyerhof, Metode Hanzen dll.
Teori dari Terzaghi banyak digunakan karena metode ini dapat digunakan
untuk semua jenis tanah dan hasilnya memberikan nilai daya dukung
maksimum mendekati kondisi sebenarnya yang ada dilapangan.
Analisis kapasitas dukung didasarkan kondisi general shear failure , yang
dikemukakan Terzaghi (1943) dengan anggapan-anggapan sebagai berikut :
1. Tahanan geser yang melewati bidang horisontal di bawah pondasi
diabaikan
2. Tahanan geser tersebut digantikan oleh beban sebesar q = γ . D
f
3. Membagi distribusi tegangan di bawah pondasi menjadi tiga bagian
4. Tanah adalah material yang homogen, isotropis dengan kekuatan
gesernya yang mengikuti hukum Coulumb
τ = c + σ .tan φ (2.1)
dengan :
τ = tegangan geser
c = kohesi tanah
σ = tegangan normal
 = sudut geser dalam tanah
5. Untuk pondasi menerus penyelesaian masalah seperti pada analisa dua
dimensi
27
Gambar 2.2. Analisa distribusi tegangan di bawah pondasi menurut teori
Terzaghi (1943)
28
Zona I
Pondasi akan tertekan ke bawah dan menghasilkan suatu keseimbangan
plastis dalam bentuk zona segitiga di bawah pondasi dengan sudut ACD = CAD
= α = 45
o
+

φ /2. Gerakan bagian tanah ACD ke bawah mendorong tanah
disampingnya ke samping.
Zona II
Bagian ADF dan CDE disebut radial shear zone (daerah geser radial) dengan
curve DE dan DF yang bekerja pada busur spiral logaritma dengan pusat ujung
pondasi.
Zona III
Bagian AFH dan CEG dinamakan zona pasif Rankine dimana bidang
tegangannya merupakan bidang longsor yang mengakibatkan bidang geser di
atas bidang horisontal tidak ada dan digantikan dengan beban sebesar q =  .
D
f
2.2Kapasitas Daya Dukung Menurut Terzaghi
a. Terzaghi (1943), memberikan beberapa rumus sesuai dengan bentuk geometri
pondasi tersebut. Rumus-rumus yang dimaksud antara lain:
Untuk tanah dengan keruntuhan geser umum (general shear failure)
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
q
u
= c.N
c
+ .D
f
.N
q
+ ½.γ .B.N
γ
(2.2)
2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R
q
u
= 1,3.c.N
c
+ γ .D
f
.N
q
+ 0,6.γ .R.N
γ
(2.3)
3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B
q
u
= 1,3.c.N
c
+ .D
f
.N
q
+ 0,4.γ .B.N
γ
(2.4)
4. Kapasitas daya dukung pondasi segi empat (B x L)
q
u
= c.N
c
.(1 + 0,3 B/L) + .D
f
.N
q
+ ½.γ .B.N
γ
(1 – 0,2.B/L) (2.5)
dengan:
q
u
= daya dukung maksimum B = lebar pondasi (diameter untuk
lingkaran )
c = kohesi tanah L = panjang pondasi
γ = berat isi tanah D
f
= kedalaman pondasi
.D
f
= p
0
= tekanan overburden (tekanan vertikal pada dasar pondasi)
= bila terdapat beban merata (q
0
) maka menjadi (γ .D
f
+ q
0
) = (p
0
+
q
0
)
N
c
; N
q
; N

adalah faktor daya dukung yang besarnya dapat ditentukan dengan
memakai tabel 2.1 , Grafik 2.3 atau dengan memakai rumus-rumus sebagai
berikut :
]
]
]
]
]
]

,
`

.
|
+
·

2 4
π
2cos
e
cot N
2
/2)tanφ 2(3π(3
c
φ
φ
φ
(2.6)
29

,
`

.
|
+
·

2
45 2cos
e
N
2
/2)tan 2(3π(3
q
φ
φ φ
(2.7)
φ
φ
.tan 1
cos
K
2
1

2
py

,
`

.
|
− ·
(2.8)
K
py
= koefisien tanah pasif
Tabel 2.1 Faktor-faktor daya dukung Terzaghi untuk kondisi
keruntuhan geser umum (general shear failure)
φ Nc Nq N φ Nc Nq N
0 5,70 1,00 0,00 26 27,09 14,21 9,84
1 6,00 1,1 0,01 27 29,24 15,90 11,60
2 6,30 1,22 0,04 28 31,61 17,81 13,70
3 6,62 1,35 0,06 29 34,24 19,98 16,18
4 6,97 1,49 0,10 30 37,16 22,46 19,13
5 7,34 1,64 0,14 31 40,41 25,28 22,65
6 7,73 1,81 0,20 32 44,04 28,52 26,87
7 8,15 2,00 0,27 33 48,09 32,23 31,94
8 8,60 2,21 0,35 34 52,64 36,50 38,04
9 9,09 2,44 0,44 35 57,75 41,44 45,41
10 9,61 2,69 0,56 36 63,53 47,16 54,36
11 10,16 2,98 0,69 37 70,01 53,80 65,27
12 10,76 3,29 0,85 38 77,50 61,55 78,61
13 11,41 3,63 1,04 39 85,97 70,61 95,03
14 12,11 4,02 1,26 40 95,66 81,27 115,31
15 12,86 4,45 1,52 41 106,81 93,85 140,51
16 13,68 4,92 1,82 42 119,67 108,75 171,99
17 14,60 5,45 2,18 43 134,58 126,50 211,56
18 15,12 6,04 2,59 44 151,95 147,74 261,60
19 16,56 6,70 3,07 45 172,28 173,28 325,34
20 17,69 7,44 3,64 46 196,22 204,19 407,11
21 18,92 8,26 4,31 47 224,55 241,80 512,84
22 20,27 9,19 5,09 48 258,28 287,85 650,67
23 21,75 10,23 6,00 49 298,71 344,63 831,99
24 23,36 11,40 7,08 50 347,50 415,14 1072,80
25 25,13 12,72 8,34
*From Kumbhojkar(1933)
Untuk tanah dengan keruntuhan geser setempat (local shear failure)
Untuk harga c diganti c′ = 2/3.c dan harga  diganti φ ′ = tan
-1
(2/3 tan ).
Dari nilai c′ dan φ ′ didapatkan faktor-faktor daya dukung untuk kondisi
keruntuhan lokal: N′
c
, N′
q
, N′
γ
(Tabel 2.2 atau Grafik 2.3).
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
q′
u
= c′.N′
c
+ γ .D
f
.N′
q
+ ½.γ .B.N′
γ
(2.9)
2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R
q′
u
= 1,3.c′.N′
c
+ γ .D
f
.N′
q
+ 0,6.γ .R.N′
γ
(2.10)
3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B
q′
u
= 1,3.c′.N′
c
+ γ .D
f
.N′
q
+ 0,4.γ .B.N′
γ
(2.11)
4. Kapasitas daya dukung pondasi persegi empat (BxL)
30
q′
u
= c′.N′
c
.(1 + 0,3.B/L) + γ .D
f
.N′
q
+ ½.γ .B.N′
γ
.(1–0,2.BL) (2.12)
dengan:
q
u
= daya dukung maksimum B = lebar pondasi (diameter untuk
lingkaran )
c = kohesi tanah L = panjang pondasi
γ = berat isi tanah D
f
= kedalaman pondasi
γ .D
f
= p
0
= tekanan overburden (tekanan vertikal pada dasar pondasi)
= bila terdapat beban merata (q
0
) maka menjadi (γ .D
f
+ q
0
) = (p
0
+
q
0
)
Tabel 2.2 Faktor-faktor daya dukung Terzaghi modifikasi untuk
kondisi keruntuhan geser setempat (locall shear failure)
φ N′c N′q N′γ φ N′c N′q N′
0 5,70 1,00 0,00 26 15,53 6,05 2,59
1 5,90 1,07 0,005 27 16,30 6,54 2,88
2 6,10 1,14 0,02 28 17,13 7,07 3,29
3 6,30 1,2 0,04 29 18,03 7,66 3,76
4 6,51 1,30 0,055 30 18,99 8,31 4,39
5 6,74 1,39 0,074 31 20,03 9,03 4,83
6 6,97 1,49 0,10 32 21,16 9,82 5,51
7 7,22 1,59 0,128 33 22,39 10,69 6,32
8 7,47 1,70 0,16 34 23,72 11,67 7,22
9 7,74 1,82 0,20 35 25,18 12,75 8,35
10 8,02 1,94 0,24 36 26,77 13,97 9,41
11 8,32 2,08 0,30 37 28,51 15,32 10,90
12 8,63 2,22 0,35 38 30,43 16,85 12,75
13 8,96 2,38 0,42 39 32,53 18,56 14,71
14 9,31 2,55 0,48 40 34,87 20,50 17,22
15 93,67 2,73 0,57 41 37,45 22,70 19,75
16 10,06 2,92 0,67 42 40,33 25,21 22,50
17 10,47 3,13 0,76 43 43,54 28,06 26,25
18 10,90 3,36 0,88 44 47,13 31,34 30,40
19 11,36 3,61 1,03 45 51,17 35,11 36,00
20 11,85 3,88 1,12 46 55,73 39,48 41,70
21 12,37 4,17 1,35 47 60,91 44,54 49,30
22 12,92 4,48 1,55 48 66,80 50,46 59,25
23 13,51 4,82 1,74 49 73,55 57,41 71,45
24 14,14 5,20 1,97 50 81,31 65,60 85,75
25 14,80 5,60 2.25
*From Kumbhojkar(1933)
31
Gambar 2.3. Faktor-faktor daya dukung Terzaghi
32
b. Pengaruh muka air tanah:
D = D
f
, p
0
=  . D
f
= tekanan overburden
(1) (2) (3)
Gambar 2.4. Pengaruh muka air tanah pada daya dukung Terzaghi
Persamaan Terzaghi :
q
u
= c.N
c
+ γ
1
.D
f
.N
q
+ ½.γ
2
.B.N
γ
q
u
= 1,3.c.N
c
+ γ
1
.D
f
.N
q
+ 0,6.γ
2
.R.N
γ
q
u
= 1,3.c.N
c
+ 
1
.D
f
.N
q
+ 0,4.γ
2
.B.N
γ
q
u
= c.N
c
.(1 + 0,3.B/L) + γ
1
.D
f
.N
q
+ ½.γ
2
.B.N
γ
.(1–0,2.B/L)
(1) Muka air tanah (MAT) terletak di atas atau sama dengan dasar pondasi
(D
w
≤ D
f
)
p
o
’ = γ .D
w
+ γ ’.(D
f
– D
w
) ⇒ p
0
: terletak pada 2 kondisi tanah

2
= ’ = γ
sat
– 
w
⇒ zona geser bawah pondasi terendam air
(2) Muka air tanah (MAT) terletak di bawah dasar pondasi (D
w
– D
f
) < B
p
o
’ = γ .D
f
⇒ p
0
: terletak pada kondisi tanah asli

2
= ’ + (D
w
– D
f
)/B.( γ – ’) ⇒ zona geser bawah pondasi terendam
sebagian
(3) Muka air tanah (MAT) terletak jauh di bawah dasar pondasi (D
w
– D
f
) > B
p
o
’ = γ .D
f
 p
0
: terletak pada kondisi tanah asli
33
γ
2
=   zona geser bawah pondasi pada tanah asli
(4) Muka air tanah (MAT) terletak pada muka tanah (D
w
= 0 )
p
o
’ = γ '.D
f
⇒ p
0
: terletak pada kondisi tanah terendam
air
γ
2
= γ '  zona geser bawah pondasi pada tanah asli
Hitungan daya dukung di atas juga harus mempertimbangkan sifat-
sifat permeabilitas tanah. Tanah permeabilitas rendah analisa menggunakan
kondisi tak ter-drainasi (undrained) dengan parameter (c
u
dan φ
u
).
Sedangkan untuk tanah permeabilitas tinggi (mudah lolos air) maka analisa
daya dukung menggunakan kondisi terdrainasi (drained) dengan parameter
(c’ dan φ ’).
34
c. Pondasi pada tanah granuler (tanah pasir atau kerikil) tidak mempunyai kohesi
(c = 0) maka kapasitas daya dukung pondasi dipengaruhi terutama oleh
kerapatan relatif (Dr), kedudukan muka air tanah, tekanan terkekang
(confining pressure) dan ukuran pondasi.
Persamaan daya dukung ultimit Terzaghi (1943) akan menjadi sebagai
berikut :
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
q
u
= γ .D
f
.N
q
+ ½.γ .B.N
γ
(2.13)
2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R
q
u
= γ .D
f
.N
q
+ 0,6.γ .R.N
γ
(2.14)
3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B
q
u
= γ .D
f
.N
q
+ 0,4.γ .B.N
γ
(2.15)
4. Kapasitas daya dukung pondasi segi empat (B x L)
q
u
= γ .D
f
.N
q
+ ½.γ .B.N
γ
.(1–0,2.B/L) (2.16)
dengan:
q
u
= daya dukung maksimum B = lebar pondasi (diameter untuk
lingkaran )
c = kohesi tanah L = panjang pondasi
γ = berat isi tanah D
f
= kedalaman pondasi
γ .D
f
= p
0
= tekanan overburden (tekanan vertikal pada dasar pondasi)
= bila terdapat beban merata (q
0
) maka menjadi (γ .D
f
+ q
0
) = (p
0
+
q
0
)
2.3 Analisis Skempton untuk pondasi pada tanah lempung
Skempton (1951) mengusulkan persamaan daya dukung ultimit pondasi (q
ult
)
yang ter-letak pada tanah lempung jenuh (φ = 0) dengan faktor-faktor : faktor
kedalaman dasar pondasi dan faktor bentuk pondasi.
Skempton menyarankan pemakaian faktor pengaruh bentuk pondasi (s
c
)
dengan :
s
c
= (1 + 0,2.B/L) ; B = lebar dan L = panjang pondasi.
Faktor daya dukung Nc sesuai bentuk dan kedalaman pondasi dapat memakai
rumus berikut atau Gambar 2.5.
a. Pondasi permukaan (D
f
= 0)
Nc
(pemukaan)
= 5,14 untuk pondasi memanjang
Nc
(pemukaan)
= 6,20 untuk pondasi lingkaran dan bujur sangkar
b. Pondasi pada kedalaman 0 < D
f
< 2,5.B
) pemukaan (
f
Nc
B
D
2 , 0 1 Nc ⋅
,
`

.
|
⋅ + ·
c. Pondasi pada kedalaman D
f
> 2,5.B
Nc = 1,50.Nc
(permukaan)
35
Gambar 2.5. Faktor daya dukung Nc (Skempton, 1951)
Daya dukung ultimit pondasi (q
u
) dan daya dukung ultimit neto (q
un
) sesuai
bentuk pondasi adalah sebagai berikut :
a. Pondasi memanjang :
Daya dukung ultimit : q
u
= c
u
.Nc + D
f
.γ (2.17.a)
Daya dukung ultimit neto : q
un
= c
u
.Nc
(2.17.b)
b. Pondasi dengan panjang (L) dan lebar (B), dengan faktor pengali 0,84 +
0,16.B/L :
Daya dukung ultimit : q
u
= (0,84 + 0,16.B/L).c
u
.Nc
(bs)
+ D
f
.γ (2.18.a)
Daya dukung ultimit neto : q
un
= (0,84 + 0,16.B/L).c
u
.Nc
(bs)
(2.18.b)
dengan :
q
u
= daya dukung ultimit (kN/m
2
)
q
un
= daya dukung ultimit neto (kN/m
2
)
D
f
= kedalaman pondasi (m)
γ = berat isi tanah (kN/m
3
)
c
u
= kohesi tanah tidak terdrainasi (undrained) (kN/m
2
)
N
c
= faktor daya dukung Skempton (Gambar 2.5)
N
c
= faktor daya dukung Skempton bentuk bujur sangkar (Gambar 2.5)
2.4 Rumus Kapasitas Daya Dukung Secara Umum
Meyerhof (1963) telah mengembangkan rumus-rumus perhitungan kapasitas
daya dukung untuk pondasi menerus, segi empat dan lingkaran dan tidak
berlaku untuk pondasi yang mempunyai dimensi 0 < B/L < 1. Rumus-rumus ini
mempertimbangkan faktor kedalaman, faktor bentuk dan faktor kemiringan
beban. Rumus daya dukung secara umum dari Meyerhof adalah:
q
u
= c.N
c
.F
cs
.F
cd
.F
ci
+ γ .D
f
.N
q
.F
qs
.F
qd
.F
qi
+ ½.γ .B.N
γ
.F
γ s
.F
γ d
.F
γ i
(2.19)
36
dengan :
q
u
= daya dukung maksimum (ultimit)
c = kohesi tanah
γ = berat isi tanah
B = lebar pondasi (= diameter untuk pondasi lingkaran )
L = panjang pondasi
D
f
= kedalaman pondasi
F
cs
, F
qs
, F
s
= faktor bentuk
F
cd
, F
qd
, F
d
= faktor kedalaman
F
ci
, F
qi
, F
i
= faktor kemiringan beban
N
c
; N
q
; N
γ
= faktor daya dukung (Tabel 2.3), Gambar 2.6 atau dengan
menggunakan rumus (2.20–2.22)
φ

,
`

.
| φ
+ ·
πtan 2
e
2
45 tan Nq
(2.20)
φ − · 1).cot (N N
q c
(2.21)
φ + · 1).tan 2.(N Nγ
q
(2.22)
Tabel 2.3 Faktor daya dukung Meyerhof (1963)
φ Nc Nq Nγ
Nq/
Nc
tan φ φ Nc Nq Nγ
Nq/
Nc
tan 
0 5,14 1,00 0,00 0,20 0,00 26 22,25 11,85 12,54 0,53 0,49
1 5,38 1,09 0,07 0,20 0,02 27 23,94 13,20 14,47 0,55 0,51
2 5,63 1,20 0,15 0,21 0,03 28 25,80 14,72 16,72 0,57 0,53
3 5,90 1,31 0,24 0,22 0,05 29 27,86 16,44 19,34 0,59 0,55
4 6,19 1,43 0,34 0,23 0,07 30 30,14 18,40 22,40 0,61 0,58
5 6,49 1,57 0,45 0,24 0,09 31 32,67 20,63 25,99 0,63 0,60
6 6,81 1,72 0,57 0,25 0,11 32 35,49 23,18 30,22 0,65 0,62
7 7,16 1,88 0,71 0,26 0,12 33 38,64 26,09 35,19 0,68 0,65
8 7,53 2,06 0,86 0,27 0,14 34 42,16 29,44 41,06 0,70 0,67
9 7,92 2,25 1,03 0,28 0,16 35 46,12 33,30 48,03 0,72 0,70
10 8,35 2,47 1,22 0,30 0,18 36 50,59 37,75 56,31 0,75 0,73
11 8,80 2,71 1,44 0,31 0,19 37 55,63 42,92 66,19 0,77 0,75
12 9,28 2,97 1,69 0,32 0,21 38 61,35 48,93 78,03 0,80 0,78
13 9,81 3,26 1,97 0,33 0,23 39 67,87 55,96 92,25 0,82 0,81
14 10,37 3,59 2,29 0,35 0,25 40 75,31 64,20 109,41 0,85 0,84
15 10,98 3,94 2,65 0,36 0,27 41 83,86 73,90 130,22 0,88 0,87
16 11,63 4,34 3,06 0,37 0,29 42 93,71 85,38 155,55 0,91 0,90
17 12,34 4,77 3,53 0,39 0,31 43 105,11 99,02 186,54 0,94 0,93
18 13,10 5,26 4,07 0,40 0,32 44 118,37 115,31 224,64 0,97 0,97
19 13,93 5,80 4,68 0,42 0,34 45 133,88 134,88 271,76 1,01 1,00
20 14,63 6,40 5,39 0,43 0,36 46 152,10 158,51 330,35 1,04 1,04
21 15,82 7,07 6,20 0,45 0,38 47 173,64 187,21 403,67 1,08 1,07
22 16,88 7,82 7,13 0,46 0,40 48 199,26 222,31 496,01 1,12 1,11
23 18,05 8,66 8,20 0,48 0,42 49 229,93 265,51 613,16 1,15 1,15
24 19,32 9,60 9,44 0,50 0,45 50 266,89 319,07 762,89 1,20 1,19
25 20,72 10,66 10,88 0,51 0,47
* After Vesic (1973)
37
Gambar 2.6. Faktor daya dukung (Meyerhof, 1963)
Rumus-rumus umum yang digunakan untuk menentukan faktor pengaruh
bentuk, kedalaman dan kemiringan beban dapat digunakan seperti dalam
Tabel 2.4 dan Tabel 2.5
38
Tabel 2.4 Faktor bentuk, kedalaman, dan kemiringan rekomendasi untuk
digunakan
Faktor Rumus Sumber
Bentuk
a
c
N
q
N
L
B
1
cs
F + ·
φ tan
L
B
1
qs
F + ·
L
B
0,4 1
γs
F − ·
Bila L panjang pondasi (L > B)
De Beer(1970)
Kedalaman
b
a. Bila D
f
/B ≤ 1
B
4 , 0 1
cd
F
f
D
+ ·
( )
B
D
f 2
sin 1 tan 2 1
qd
F φ φ − + ·
1
d
F ·
γ
b. Bila Df/B > 1

,
`

.
|

+ ·
B
f
D
1
tan 0,4 1
cd
F
( )

,
`

.
|

− + ·
B
f
D
1
tan
2
sin 1 tan 2 1 Fqd φ φ
1 F
γd
·
Hansen (1970)
Kemiringan
2
qi
ci
90
β
1 F F

,
`

.
|
°
°
− · ·
2
γi
β
1 F

,
`

.
|
°
°
− ·
φ
Mayerhof (1963);
Hanna and
Mayerhof (1981)
a
Faktor bentuk berdasarkan data tes laboratorium
b
Faktor tan
-1
(Df/B) dalam radian
39
40
D
f
Bββ
41
Tabel 2.5 Faktor bentuk, kedalaman, dan kemiringan recomendasi untuk
referensi
Faktor Rumus Sumber
Bentuk Untuk φ = 0

,
`

.
|
⋅ + ·
L
B
2 , 0 1
cs
F
1
qs
F ·
1
γs
F ·
Untuk φ ≥ 10°

,
`

.
|

,
`

.
|
+ ⋅ + ·
2
45
2
tan
L
B
2 , 0 1
cs
F
φ

,
`

.
|

,
`

.
|
φ
+ + ·
γ
·
2
45
2
tan
L
B
0,1. 1
s
F
qs
F
Mayerhof
(1963)
Kedalaman Untuk φ = 0
B
2 , 0 1
cd
F
f
D
⋅ + ·
1
γd
F Fqd · ·
Untuk φ ≥ 10°

,
`

.
|

,
`

.
|
φ
+ ⋅ + ·
2
45 tan
B
f
D
0,2 1
cd
F

,
`

.
|

,
`

.
|
φ
+ ⋅ + · ·
2
45 tan
B
f
D
1 , 0 1
γd
F
qd
F
Mayerhof
(1963)
Kemiringa
n
1)
q
(N
)
qi
F (1
qi
F
ci
F


− ·
5
cot BLc cosβ
u
Q
β sin )
u
Q ( 5 , 0
1
qi
F
]
]
]

+
− ·
φ
5
cot BLc cosβ
u
Q
β sin )
u
Q ( 7 , 0
1
i
F
]
]
]

+
− ·
φ
γ
Hansen
(1970)
* L = panjang pondasi ( ≥ B )
42
Meyerhof (1963) mengamati sudut geser dalam (φ ) untuk kondisi plane
strane (faktor daya dukung) kira-kira lebih besar 10 % dari φ labaratorium
(uji triaksial) sehingga :
φ
ps
= (1,1 – 0,1.B/L).φ
tr
(2.23)
dengan :
q
u
= daya dukung maksimum (ultimit)
φ
ps
= sudut geser dalam plane strain untuk menentukan faktor daya
dukung
φ
τ r
= sudut geser dalam tanah dari uji triaksial kompresi
43
2.5 Beban Eksentris pada Pondasi
Pembebanan yang tidak sentris pada pondasi bisa terjadi apabila beban
vertikal yang bekerja mempunyai eksentrisitas terhadap titik pusat pondasi atau
jika pondasi menerima momen selain beban vertikal.
Akibat adanya beban eksentrisitas ini akan menimbulkan pengurangan
(reduksi) daya dukung tanah. Menurut Meyerhof (1953), reduksi daya dukung
merupakan fungsi dari eksentrisitas beban. Pada tanah-tanah granuler reduksi
daya dukung lebih besar daripada tanah kohesif (Gambar 2.7).
Gambar 2.7. Pengaruh eksentrisitas beban pada daya dukung pondasi
memanjang dengan beban vertikal (Meyerhof, 1953)
Daya dukung ultimit beban vertikal eksentris (q
u
’) diperoleh dari mengalikan
daya dukung ultimit dengan beban vertikal terpusat (q
u
) dengan faktor reduksi
(R
e
).
q
u
’ = R
e
. q
u
(2.24)
dengan :
q
u
’ = daya dukung ultimit pada beban vertikal eksentris
R
e
= faktor reduksi akibat beban eksentris
q
u
= daya dukung ultimit untuk beban vertikal di pusat pondasi
Pada pondasi memanjang berlaku ketentuan seperti Gambar 2.7b, terlihat
bahwa, jika :
e/B = 0,5 → q
u
’ = 0, sebab R
e
= 0 (beban vertikal di tepi
pondasi)
e/B = 0 → q
u
’ = q
u
, sebab R
e
= 1 (beban vertikal di pusat pondasi)
Sedangkan untuk pondasi yang berukuran panjang (L) dan lebar (B),
Meyerhof mengusulkan adanya koreksi panjang dan lebarnya (L’ dan B’) seperti
Gambar 2.8.
a. Eksentrisitas satu arah (Gambar 2.8.a) :
1. Jika beban eksentris pada arah lebarnya (B) :
44
B’ = B – 2.e
x
; L’ = L (2.25)
2. Jika beban eksentris pada arah memanjangnya :
L’ = L – 2.e
y
; B’ = B (2.26)
Gambar 2.8. Pengaruh eksentrisitas beban pada daya dukung pondasi segi empat
dengan beban vertikal (Meyerhof, 1953)
Gambar 2.9. Detail pengaruh eksentrisitas beban satu arah pada pondasi segi empat
45
Distribusi tegangan dibawah pondasi adalah :
.L B
6.M
B.L
Q
q
2
max
+ ·
(2.27)
.L B
6.M
B.L
Q
q
2
min
− ·
(2.28)
Tahapan menghitung beban batas dan faktor keamanan adalah sebagai berikut :
1. Dari gambar 2.9b menunjukkan system pembebanan yang sama dengan gambar 2.9a,
maka jarak e adalah :
Q
M
e ·
(2.29)
Memasukkan rumus 2.29 dalam rumus 2.27 dan 2.28, maka :

,
`

.
|
+ ·
B
6.e
1
B.L
Q
q
max
(2.30)

,
`

.
|
− ·
B
6.e
1
B.L
Q
q
min
(2.31)
Jika e > B/6, maka q
min
adalah negative artinya adalah daerah tarik. Karena tanah
tidak dapat menerima gaya tarik, maka terdapat perubahan perhitungan q
max
sebagai
berikut :
2.e) 3.L.(B
4.Q
q
max

·
(2.32)
2. Menentukan dimensi efektif B′ dan L′ (persamaan 2.25 atau 2.26)
3. Menentukan daya dukung ultimit pondasi (q
u
’) :
q
u
= cN
c
F
cs
F
cd
F
ci
+ γ D
f
N
q
F
qs
F
qd
F
qi
+ 1/2γ B′N
γ
F
γ s
F
γ d
F
γ i
(2.33)
dengan :
F
cs
; F
qs
; F
γ s
gunakan tabel 2.4 atau 2.5 dengan B′ dan L′
F
cd
; F
qd
; F
γ d
gunakan tabel 2.4 atau 2.5 dengan lebar pondasi B
3. Beban batas total yang dapat diterima pondasi adalah:
Q
ult
= q
u
. A′ = q
u
(B′).(L′) (2.34)
4. Faktor keamanan daya dukung adalah :
46
Q
ult
Q
FS ·
(2.35)
a. Eksentrisitas dua arah (Gambar 2.8.b) :
Jika beban eksentris dua arah (e
x
dan e
y
) maka lebar efektif pondasi (B’) ditentukan
sedemikian rupa sehingga resultan beban terletak di pusat berat luas efektifnya (A’)
dengan L’ adalah sisi terpanjang pada luas efektif tersebut.
dengan :

Q
M
e dan
Q
M
e
u
x
y
u
y
x
· ·
(2.36)
Beban total maksimum (P
u
’ = Q
u
) yang dapat didukung oleh pondasi :
P
u
’ = q
u
.A’ = q
u
.B’.L’ (2.37)
Luas, panjang dan lebar efektif (A’, L’ dan B’) didapat dengan ketentuan :
1. Jika e
y
/L ≥ 1/6 dan e
x
/B ≥ 1/6, maka :
A’ = ½.B’.L’ (2.38)

,
`

.
|
− ·
B
e . 3
5 , 1 . B B
x
1
(2.39)

,
`

.
|
− ·
L
e . 3
5 , 1 . L L
y
1
(2.40)
L’ = nilai terbesar antara L
1
dan B
1
, serta
B’ = nilai terkecil antara L
1
dan B
1
2. Jika e
y
/L < ½ dan 0 < e
x
/B < 1/6, maka :
A’ = ½.(L
1
+ L
2
).B (2.41)
L’ = L
1
atau L
2
(dipakai yang terbesar) (2.42)
B’ = A’ / L’ (2.43)
Hubungan dimensi dan eksentrisitas beban
pada pondasi mengacu pada Gambar 2.10.
47
Gambar 2.10. Rasio dimensi dan eksentrisitas beban untuk e
y
/L < ½ dan 0 < e
x
/B < 1/6
3. Jika e
y
/L < 1/6 dan 0 < e
x
/B < ½, maka :
A’ = ½.(B
1
+ B
2
).L (2.44)
L’ = L (2.45)
L
' A
' B ·
(2.46)
Hubungan dimensi dan eksentrisitas beban
pada pondasi mengacu pada Gambar 2.11.
48
Gambar 2.11. Rasio dimensi dan eksentrisitas beban untuk e
y
/L < 1/6 dan 0 < e
x
/B < ½
49
4. Jika e
y
/L ≥ 1/6 dan e
x
/B < 1/6, maka :
A’ = L
2
.B + ½.(B + B
2
).(L – L
2
) (2.47)
L’ = L (2.48)
L
' A
' B ·
(2.49)
Hubungan dimensi dan eksentrisitas beban
pada pondasi mengacu pada Gambar 2.12.
Gambar 2.12. Rasio dimensi dan eksentrisitas beban untuk e
y
/L ≥ 1/6 dan e
x
/B < 1/6
a. Eksentrisitas dua arah yang disederhanakan (Gambar 2.8.c) :
Jika beban eksentris dua arah (e
x
dan e
y
) disederhanakan maka akan didapat :
B’ = B – 2.e
x
dan L’ = L – 2.e
y
(2.50)
Dalam persamaan 2.34 dan 2.37. bila hitungan didasarkan pada tinjauan daya dukung
ultimit neto (q
un
) maka beban yang dihitung juga merupakan beban ultimit neto (p
un
).
50
2.6. Daya Dukung Berdasarkan Hasil Pengujian di Lapangan (CPT
atau SPT)
Pada umumnya rumus-rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya daya
dukung berdasarkan SPT atau CPT mempunyai anggapan bahwa daya dukungnya
mengijinkan penurunan pondasi dangkal sebesar 25 mm.
a. Daya Dukung Berdasarkan SPT (standard penetration test)
Pada tanah granuler (pasir), faktor-faktor Nq, N adalah fungsi dari sudut
geser () yang tergantung pada kerapatan reatif (Dr). Kerapatan relatif dapat
juga diperoleh dari uji SPT. Peck, Hanson dan Thornburn (1963) mengusulkan
hubungan empiris antara N, Nq, Nγ dan φ (Gambar 2.13), sehingga daya
dukung ultimit bisa dihitung dengan nilai N.
Gambar 2.13. Hubungan nilai N, Nq, N dan  (Peck, dkk, 1963)
Uji SPT untuk menentukan daya dukung ijin (q
all
) dilakukan dengan
mengestimasi lebar pondasi (B) yang terbesar dari bangunan. Pada pondasi
dangkal Terzaghi dan Peck (1948) menyarankan pengukuran pada interval 76
cm dimulai dari dasar pondasi sampai sedalam B di bawahnya (D
f
+ B dari
permukaan tanah).
Nilai N rata-rata di kedalaman tersebut dapat menunjukkan kondisi kepadatan
tanah di bawah pondasi secara kasar. Jika hasil uji SPT dari beberapa
titik/lubang bor, nilai N rata-rata yang dihasilkan berbeda maka N rata-rata
terkecil yang digunakan untuk menghitung q
all
.
51
Terzaghi dan Peck (1948) mengusulkan hubungan antara N dari uji SPT, lebar
pondasi (B) dan daya dukung ijin (q
all
) yang didasarkan pada penurunan
maksimum 1” (1 inci) dan penurunan tidak seragam ¾” (¾ inci) seperti
Gambar 2.14.
Gambar 2.14. Daya dukung ijin (q
all
) dari uji SPT untuk penurun 1”
(Terzaghi dan Peck, 1948, 1963)
Nilai-nilai pada kurva didasarkan pada anggapan bahwa jarak muka air tanah
lebih besar B dari dasar pondasi. Pada pondasi dangkal, bila pasir pada dasar
pondasi dalam keadaan jenuh air dan kedalaman pondasi lebih kecil dari
dibandingkan lebarnya, Terzaghi menyarankan q
all
yang diperoleh dari Gambar
2.14 dibagi 2. Untuk muka air tanah kurang dari B dari dasar pondasi, nilai q
all
ditentukan dari interpolasi.
Meyerhof (1965), prosedur menentukan q
all
cara Terzaghi di atas terlalu hati-
hati, sehingga tidak perlu direduksi nilai q
all
akibat pengaruh muka air tanah
karena q
all
sudah direfleksikan dalam hasil uji SPT, selanjutnya nilai q
all
pada
Gambar 2.14 dapat dinaikkan 50%-nya. Usulan ini sama dengan usulan
D’Appolonia, dkk. (1968).
Mayerhof (1956; 1974) mengusulkan persamaan daya dukung ijin dengan nilai
SPT untuk pasir. Nilai N diambil nilai rata-rata dari jarak 0 sampai B di bawah
dasar pondasi untuk penurunan ijin sebesar 1” (2,54 cm) adalah sebagai
berikut :
m 1,2 B lebar untuk ; [kN/m²] 12.N q
all
≤ ·
(2.51)
52
m 1,2 B lebar untuk ; [kN/m²]
B
0,3 B
8.N. q
2
all
>
,
`

.
| +
·
(2.52)
Bowles (1968) mengusulkan persamaan daya dukung ijin Meyerhof di atas
terlalu hati-hati oleh karena itu Bowles menyarankan persamaan q
all
rumus
2.51 dan 2.52 dinaikkan ± 50%-nya sekaligus memberikan faktor kedalaman
pondasi sebagai berikut :
m 1,2 B lebar untuk ; [kN/m²] 8.N q
all
≤ ·
(2.53)
m 1,2 B lebar untuk ; [kN/m²] K
B
0,3 B
12,5.N. q
d
2
all
> ⋅
,
`

.
| +
·
(2.54)
dengan :
q
all
= kapasitas daya dukung ijin untuk penurunan 1” (kN/m²)
K
d
= (1 + 0,33.D
f
/B) ; faktor kedalaman pondasi, nilai maksimum 1,33
Bowles (1968) menyarankan nilai N diambil dari nilai rata-rata statistis dari
zona ½.B di atas dasar pondasi sampai paling sedikit 2.B di bawah dasar
pondasi.
Nilai N yang diperoleh dari uji SPT di lapangan sebelum digunakan dalam
hitungan perlu dikoreksi terlebih dahulu.
Bowles (1968) jika tanah mengandung pasir halus atau pasir berlanau nilai N :
N = 15 + ½.(N’ – 15) (2.55)
dengan :
N’ = nilai N tercatat dari uji di SPT di lapangan
Beberapa analisis mengoreksi jumlah N-SPT dengan tekanan overburden
efektif (po’). Koreksi N akibat pengaruh tekanan overburden efektif adalah
sebagai berikut :
N = C
N
. N’ (2.56)
dengan :
N’ = nilai N tercatat dari uji di SPT di lapangan
C
N
= faktor koreksi overburden
Gibbs dan Holtz (1957), mengkoreksi tekanan overburden :
1 ' 1,422.p
5
C
0
N
+
·
(2.57)
dengan :
p
0
’ = tekanan overburden efektif (kg/cm²) pada
kedalaman yang diuji, maksimal 2,81 kg/cm². (1 kg/cm² = 98,1
kN/m²)
Bazaraa (1967), mengkoreksi tekanan overburden :
53
k/ft² 1,5 ' p
' 2.p 1
4
C
0
0
N
< ⋅
+
·
(2.58)
k/ft² 1,5 ' p
' .p ½ 25 , 3
4
C
0
0
N
> ⋅
+
·
(2.59)
dengan :
p
0
’ = tekanan overburden efektif (ksf) [1 k/ft² = 47,94 kN/m²]
Peck, Hanson dan Thornburn (1974), mengusulkan tekanan overburden :

,
`

.
|
·
' p
20
log . ,77 0 C
0
N
(2.60)
dengan :
p
0
’ = tekanan overburden efektif (ton/ft²) [1 ton/ft² = 1
kg/cm²]
Persamaan ini tidak valid, jika p
0
’ < 0,25 ton/ft²
54
Skempton (1986), mengkoreksian tekanan overburden, berdasarkan macam
pasirnya :
) ( halus pasir untuk
p
' p
1
2
C
r
0
N
ed consolidat normally →
+
·
(2.61)
) ( kasar pasir untuk
p
' p
2
3
C
r
0
N
ed consolidat normally →
+
·
(2.62)
) ( pasir untuk
p
' p
7 , 0
1,7
C
r
0
N
idated overconsol →
+
·
(2.63)
dengan :
p
0
’ = tekanan overburden efektif (kN/m²]
p
r
= 100 kN/m² = tekanan efektif referensi
Bowles (1968), menyarankan penggunaan koreksi N harus dilakukan hati-hati
dan jangan memberikan faktor koreksi C
N
> 2.
Coduto (1994), koreksi pada prosedur pelaksaan pengujian (kondisi alat, cara
pelaksanaan dll.) selalu diperlukan sementara korensi overburden (C
N
)
diperlukan atau tidak bergantung pada prosedur yang diberikan oleh peneliti
yang mengusulkan.
b. Kapasitas Daya Dukung Berdasarkan CPT (cone penetration test)
Untuk mendapatkan kapasitas daya dukung tanah, dengan cara memasukkan
nilai penetrasi konus (q
c
) dari hasil pengujian di lapangan ke dalam rumus
yang diusulkan oleh Meyerhof (1956) yang menganggap bahwa penurunan
yang diijinkan sebesar 1” (2,54 cm). Persamaan ini didasarkan pada kurva
Terzaghi dan Peck (1943) dan dapat diterapkan untuk pondasi telapak atau
pondasi memanjang dengan dimensi yang tidak begitu besar dan pada kodisi
tanah pasir kering (φ - soils).
Meyerhof (1956), pondasi bujur sangkar atau pondasi memanjang berlaku :
m 1,2 B jika ;
30
q
q
c
all
≤ ·
(2.64)
m 1,2 B jika ;
B
3 , 0 B
50
q
q
2
c
all

]
]
]

+
·
(2.65)
dengan :
q
all
= daya dukung tanah yang diijinkan untuk penurunan 1” (2,54
cm) [kg/cm²]
q
c
= pembacaan tahanan ujung dari alat kerucut statis (sondir)
[kg/cm²]
55
Tahanan konus (q
c
) diambil nilai rata pada kedalaman 0 sampai B dari dasar
pondasi.
Bowles (1968), seperti mengacu pada persamaan (2,54), maka :
m 1,2 B jika ; [kg/cm²] K
20
q
q
d
c
all
≤ ⋅ ·
(2.66)
m 1,2 B lebar untuk ; [kg/cm²] K
B
0,3 B
.
33
q
q
d
2
c
all
> ⋅
,
`

.
| +
·
(2.67)
dengan :
q
all
= kapasitas daya dukung ijin untuk penurunan 1” (kN/m²)
K
d
= (1 + 0,33.D
f
/B) ; faktor kedalaman pondasi, nilai maksimum
1,33
56
Robertson dan Campanella (1983), mengusulkan tahanan kerucut statis (q
c
)
dengan N-SPT berdasrkan hubungan antara diameter butiran rata-rata D50
dengan q
c
/N seperti Gambar 2.15.
Gambar 2.15. Variasi rasio q
c
/N dengan diameter butiran rata-rata (D50)
(Robertson dan Campanella 1983)
2.7. Daya Dukung Pondasi Dangkal di Atas Tanah Berlapis
Pada kondisi sebenarnya di alam ini, tanah dalam kondisi yang berlapis-lapis
dengan sifat-sifat tanah yang berbeda pada tiap lapisnya. Dalam kondisi tersebut
daya dukung tanah dapat bertambah atau berkurang tergantung pada sifat tiap-
tiap lapisan tanahnya. Begitu pula kondisi zona geser saat pondasi akan runtuh
berkembang sampai memotong lapisan tanah lain yang berada di bawahnya,
Gambar 2.16.
Pondasi dipertimbangkan terletak pada kondisi tanah homogen bila bidang
keruntuhan hanya melewati satu jenis tanah atau jika permukaan tanah yang
berbeda berada paling sedikit berjarak 4B (4 x lebar pondasi) dari dasar pondasi.
a. Daya Dukung Pondasi di Atas Tanah Lempung Berlapis
57
Layer I
γ
1
, φ
1
= 0, c
u(1)
Layer II
γ
2
, φ
2
= 0, c
u(2)
D
f
HB
Button, Ready dan Srinivasan telah mempelajari tentang daya dukung batas
tanah untuk pondasi dangkal yang berada di atas tanah lempung yang
berlapis. Mekanisme dasar keruntuhan untuk pondasi lajur adalah seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.16. Nilai Cu(1) dan Cu(2) adalah kohesi dari tanah
dalam keadaan undrained untuk lapisan I dan lapisan II. Bidang permukaan
antara lapisan I dan II terletak pada kedalaman d di bawah dasar pondasi.
Permukaan bidang longsor dianggap berbentuk silinder.
Gambar 2.16. Fondasi diatas tanah lempung berlapis
Terdapat dua kondisi untuk tanah lempung berlapis :
Kondisi 1 : bila c
u(1)
/c
u(2)
> 1, artinya fondasi terletak pada tanah
lempung keras di atas tanah lempung yang lunak.
Kondisi 2 : bila c
u(1)
/c
u(2)
< 1, artinya fondasi terletak pada tanah
lempung lunak di atas tanah lempung yang keras.
Perhitungan daya dukung ultimit diperlihatkan pada keruntuhan tanah seperti
Gambar 2.17 sebagai berikut :
Kondisi 1 : bila c
u(1)
/c
u(2)
> 1, daya dukung batas kondisi ini menurut Mayerhof
dan Hanna, 1978 adalah :
f 1 ) 1 ( u f 1
a
u( ) 2 u
D Nc c
L
B
2 , 0 1 D
B
H c 2
L
B
1 Nc c
L
B
, 0 2 1 q γ +
,
`

.
|
+ ≤ γ +
,
`

.
|

,
`

.
|
+ +
]
]
]

,
`

.
|
+ ·
]
]
]
]
]

(2.68)
dengan :
B = lebar fondasi
L = panjang fondasi
Nc = 5,14 (faktor daya dukung untuk  = 0, lihat Tabel 2.3)
c
a
= adhesi sepanjang permukaan a-a’ (menggunakan Gambar 2.18)
58
Q
u
Gambar 2.17. Pola keruntuhan pada tanah lempung keras di atas
lempung lunak
Gambar 2.18. Hubungan nilai c
a
/c
u(1)
dan c
u(2)
/c
u(1)
Kondisi 2 : bila c
u(1)
/c
u(2)
< 1, Daya dukung batas menurut Mayerhof,1974;
Mayerhof dan Hanna,1978 adalah :
t
2
f
t b t u
q
H
H
1 ) q (q q q ≥

,
`

.
|
− − + ·
(2.69)
dengan :
f 1 u( ) 1 t
D Nc c
L
B
, 0 2 1 q γ +
]
]
]

,
`

.
|
+ ·
(2.70)
f 2 u( ) 2 b
D Nc c
L
B
, 0 2 1 q γ +
]
]
]

,
`

.
|
+ ·
(2.71)
H
f
 B, dan Nc = 5,14 sebab φ = 0, lihat Tabel 2.3 (2.72)
b. Pondasi di Atas Tanah Pasir atau Pasir Padat Di Atas Lempung Lunak
59
Sand
Ø
c = 0
Clay
c
u
ø = 0
Sand
Ø
c = 0
Clay
c
u
Ø = 0
Q
u
Gambar 2.19. Pola keruntuhan tanah pasir di atas tanah lempung
Apabila pondasi terletak pada lapisan pasir bagian atas yang cukup tebal
maka keruntuhan geser ditunjukkan gambar 2.19 sebelah kanan. Daya dukung
batas menurut Mayerhof (1974) dalam kondisi ini untuk fondasi menerus
adalah :
f s
f
u
D
B
tan
K .
H
D 2
1 ². H Nc . c q γ +
φ

,
`

.
|
+ γ + ·
(2.73)
dengan q
u
maksimum sebesar :
q f u
N D BN ½ q γ + γ ·
γ
(2.74)
Untuk fondasi segi empat besarnya daya dukung batas adalah :
f s
f 2
c u u
D
B
tan
.K
H
2D
1 H .
L
B
1 N c
L
B
0,2 1 q γ +
φ

,
`

.
|
+ γ
,
`

.
|
+ +
]
]
]

,
`

.
|
+ ·
(2.75)
dengan nilai q
u
maksimum sebesar :
q f u
N D BN .
L
B
0,4 1 ½ q γ + γ
,
`

.
|
− ·
γ
(2.76)
dimana :
 = sudut geser dalam tanah pasir bagian atas
γ = berat isi tanah pasir
K
s
= koefisien perlawanan geser baji (punching shear resistance
coeffient), sesuai Gambar 2.20.
Nγ dan Nq sesuai Tabel 2.3 untuk tanah pasir
Nc = 5,14 sesuai Tabel 2.3 untuk φ = 0
60
Gambar 2.20 hubungan Ks dan sudut geser dalam  (Mayerhof dan
Hanna)
2.8. Penurunan pada Pondasi Dangkal
Penurunan pada suatu bangunan disebabkan oleh beban yang disalurkan melalui
pondasi ke lapisan tanah di bawahnya melampaui daya dukung tanah sehingga
tanah mengalami pemampatan atau kelongsoran. Proses pemampatan ini
memang tidak bisa dihilangkan sama sekali, meskipun demikian dalam
perencanaan harus diusahakan sedemikian rupa sehingga penurunan yang akan
terjadi nantinya tidak lebih dari yang diperbolehkan. Karena penurunan yang
berlebihan bisa mengakibatkan kerusakan bangunan tersebut (retak-retak
sampai runtuh). Penurunan pondasi fleksibel biasanya terjadi pada material
lempung yang jenuh sedangkan sedangkan penurunan pondasi kaku biasanya
terjadi pada material pasir.
Gambar 2.21. Pola penurunan langsung untuk fondasi fleksibel dan kaku
61
Penurunan (settlement) pada suatu pondasi dangkal pada umumnya dibedakan
menjadi dua kelompok besar, berdasarkan waktu dan proses terjadinya, yaitu:
1. Penurunan segera (immediate settlement) atau penurunan elastis.
Penurunan terjadi akibat dari deformasi elastis tanah kering, basah atau
jenuh air tanpa adanya perubahan kadar air dalam tanah. Penurunan ini
biasanya langsung terjadi setelah pembebanan dilaksanakan dan
perhitungan penurunannya didasarkan pada teori elastisitas.
2. Penurunan konsolidasi (consolidation settlement)
Penurunan yang merupakan hasil perubahan volume tanah jenuh air
sebagai akibat dari keluarnya air dari pori-pori tanah. Besarnya penurunan
ini tergantung pada waktu dan kemampatan dari tanah (terjadi pada tanah
lempung). Penurunan jenis ini terdapat dua macam, yaitu : penurunan
konsolidasi primer dan sekunder.
Dari uraian di atas didapatkan total penurunan sebesar :
S
t
= S
e
+ S
cp
+ S
cs
(2.77)
dengan :
S
t
= penurunan total yang terjadi
S
e
= penurunan segera/seketika
S
cp
= penurunan konsolidasi primer
S
cs
= penurunan konsolidasi sekunder
Penurunan konsolidasi sekunder terjadi setelah penurunan konsolidasi primer
selesai, yaitu pada saat tekanan air pori sama dengan nol. Penurunan tersebut
masih tetap terjadi disebabkan adanya penyusunan kembali partikel-partikel
tanah atau penyesuaian plastis butiran tanah yang berada di bawah pondasi.
Tahap konsolidasi ini yang dinamakan dengan konsolidasi sekunder.
a. Penurunan Segera (immediate settlement)
Persamaan untuk menghitung penurunan segera dari sebuah pondasi telapak
di-kembangkan berdasarkan teori elastis dari Timosenko dan Goodier (1951) dan
Harr (1966) adalah sebagai berikut :
2
) μ (1
E
B.q
S
2
s
s
o
e
α
− ·
(di sudut pondasi fleksibel) (2.78)
α − · ) μ (1
E
B.q
S
2
s
s
o
e
(di pusat pondasi fleksibel) (2.79)
dengan :
S
e
= penurunan seketika
q
o
= tekanan bersih yang dibebankan
B = lebar pondasi
E
s
= modulus elastisitas tanah [Modulus Young] ⇒ (Tabel 2.6)
µ = angka poisson ⇒ (Tabel 2.6.)
α = faktor pengaruh yang tergantung dari bentuk pondasi (2.80),
(Tabel 2.7) atau (Gambar 2.22.) [untuk titik sudut empat persegi
panjang] = I
p
62
]
]
]
]

,
`

.
|
− +
+ +
+

,
`

.
|
− +
+ +
π
· · α
1 m 1
1 m 1
ln . m
m m 1
m m 1
ln
1
I
2
2
2
2
p
(2.80)
dengan :
m = L/B
L = panjang pondasi
B = lebar pondasi
Tabel 2.6. Nilai modulus elastisitas tanah, Es (Young’s modulus) dan
rasio Poisson beberapa jenis tanah
Jenis tanah
Modulus of Elasticity, E
s Poisson’s
Ratio, µ lb/in
2
MN/m
2
Loose sand 1.500-3.500 10,35-24,15 0,20-0,40
Medium dense
sand
2.500-4.000 17,25-17,60 0,25-0,40
Dense sand 5.000-8.000 34,50-55,20 0,30-0,45
Silty sand 1.500-2.500 10,35-17,25 0,20-0,40
Sand and gravel 10.000-25.000 69,00-172,50 0,15-0,35
Soft clay 600-3.000 4,1-20,4
Medium clay 3.000-6.000 20,7-41,4 0,20-0,50
Stiff clay 6.000-14.000 41,4-96,6
Tabel 2.7 Faktor pengaruh  untuk bagian-bagian pondasi dengan
berbagai bentuk
Fleksibel
Kaku
α
r Bentuk Pusat
Titik
sudut
Rata-rata

av
)
Lingkaran 1,00 0,64 (tepi) 0,85 0,88
Bujursangkar 1,12 0,56 0,95 0,82
Empat persegi
panjang
B/L = 1,5 1,36 0,68 1,15 1,06
= 2,0 1,53 0,77 1,30 1,20
= 5,0 2,10 1,05 1,83 1,70
= 10,0 2,54 1,27 2,25 2,10
= 100,0 4,01 2,00 3,69 3,40
Gambar 2.22. Hubungan nilai α , 
av
, dan α
r
63
Nilai α untuk berbagai perbandingan panjang dan lebar pondasi (L/B)
ditunjukkan dengan grafik 2.22.
Penurunan seketika rata-rata untuk pondasi fleksibel menjadi :
av
2
s
s
o
e
) μ (1
E
B.q
S α − ·
(2.81)
Untuk pondasi kaku maka penurunan langsung adalah
r
2
s
s
o
e
) μ (1
E
B.q
S α − ·
(2.82)
Nilai α
av
dan 
r
menggunakan grafik 2.22.
Menurut Schleicher dan ahli yang lain, faktor pengaruh untuk sebuah pondasi
telapak yang kaku berbentuk empat persegi panjang adalah kira-kira 7%
lebih kecil daripada untuk pondasi telapak yang fleksibel.
a.1. Penurunan Seketika pada Lempung Jenuh
Menurut Janbu dan Bjerrum (1956) rumus penurunan elastis rata-rata pada
pondasi lentur yang berada di atas lapisan tanah lempung jenuh (angka
poisson  = 0,5) adalah:
s
.
o
2
.
1 e
E
B q
A A S ·
(2.83)
dengan :
A
1
= fungsi dari D
f
/B ⇒ Gambar 2.24.
A
2
= fungsi dari H/B dan L/B ⇒ Gambar 2.23.
H = ketebalan lapisan tanah lempung dari dasar telapak fondasi.
Grafik 2.23. Hubungan nilai A
2
dengan D
f
/B
64
Grafik 2.24. Hubungan nilai A
1
dengan H/B dan L/B
65
a.2. Penurunan Seketika pada Tanah Berpasir
Penurunan elastik pada tanah berpasir dihitung dengan memasukkan
faktor regangan (strain influence factor) yang ditemukan oleh Hortman dan
Schmertman (1978) ke dalam persamaan seperti dibawah ini :
Δz
E
I
q) q ( C C S
2
z
0 s
z
2 1 e ∑
− ·
(2.84)
dengan :
I
z
= faktor regangan
C
1
= faktor koreksi timbunan pondasi
( )
]
]
]


− ·
q q
q
5 , 0 1
C
2
= faktor koreksi rayapan (creep) = 1 + 0,2 . log (t/0,1)
t = waktu yang ditinjau (dalam tahun)
q =  . D
f
; γ = berat isi tanah
D
f
= kedalaman pondasi ; E
s
= modulus Young
q
= beban merata yang bekerja pada dasar pondasi
B . L
Q
·
Variasi harga I
z
untuk pondasi berbentuk persegi dan lingkaran diberikan
sebagai berikut, Gambar 2.25 :
I
z
= 0,1 pada kedalaman z = 0
I
z
= 0,5 pada kedalaman z = z
1
= 0,5.B
I
z
= 0 pada kedalaman z = z
2
= 2.B
Variasi I
z
untuk pondasi dengan nilai L/B ≥ 10 adalah :
I
z
= 0,2 pada kedalaman z = 0
I
z
= 0,5 pada kedalaman z = z
1
= B
I
z
= 0 pada kedalaman z = z
2
= 4.B
Untuk nilai perbandingan L/B antara 1 dan 10 nilai-nilai I
z
bisa diperoleh
dengan cara interpolasi.
Dengan, B = lebar fondasi sedangkan L = panjang fondasi.
66
Grafik 2.25. Variasi faktor pengaruh regangan I
z
di bawah dasar pondasi
Menentukan I
z
dari data tanah yang ada :
1. Dari data tanah yang ada gambarkan penampang pondasi dengan
lebar B yang ada
2. Tentukan kedalaman tanah yang diperkirakan mengalami penurunan
dengan menggunakan batasan 2B atau 4B sesuai dengan bentuk
pondasi
3. Dengan menggunakan titik bantu I
z
yang ada, tentukan garis regangan
dengan nilai regangan maksimum 0,5
4. Tentukan jumlah lapisan yang digunakan dalam perhitungan
penurunan
5. Tentukan nilai I
z
pada tengah-tengah setiap lapisan yang merupakan
perpotongan dengan garis regangan.
6. Menghitung besarnya penurunan yang terjadi dengan menggunakan
rumus 2.84.
Menentukan nilai E
s
dan µ berbagai jenis tanah
Besarnya nilai-nilai E
s
dan µ untuk keperluan praktis dapat dicari dengan
menggunakan bantuan Tabel 2.6. Tetapi biasanya angka-angka tersebut
diperoleh dari hasil pengujian tanah di laboratorium.
Selain itu harga E
s
dan µ dapat juga diperoleh berdasarkan besarnya nilai
N (dari pengujian SPT) atau nilai tahanan penetrasi ujung q
c
(hasil
pengujian sondir di lapangan) dengan menggunakan rumus yang diberikan
Schmertmann, Mitchell dan Gardner (1975) seperti di bawah ini :
E
s
(kN/m
2
) = 766 N atau E
s
(ton/ft
2
) = 8 N (2.85)
E
s
= 2.q
c
(2.86)
dengan :
q
c
= perlawanan nilai tahanan konus
Sedangkan Schmertmann dan Hartman (1978) memberikan koreksi nilai-
nilai tersebut:
E
s
= 2,5 q
c
(untuk pondasi persegi dan lingkaran) (2.87)
E
s
= 3,5 q
c
(untuk pondasi menerus) (2.88)
Untuk lempung nilai Modulus Young adalah :
• Untuk tanah lempung yang terkonsolidasi normal (normally
consolidated clays)
E
s
= 250.c ~ 500.c (2.89)
• Untuk tanah lempung yang terkonsolidasi berlebihan
(overconsolidated clays)
67
E
s
= 750.c ~1000.c (2.90)
dengan :
c = kohesi undrained untuk tanah lempung.
68
a. Penurunan Konsolidasi (consolidation settlement)
Besarnya penurunan konsolidasi pada tanah lempung atau tanah yang
berlempung dapat dicari dengan memakai persamaan di bawah ini:
Untuk lempung terkonsolidasi normal (normally consolidated clays) :
o
av o
o
c c
c
p
Δp p
log
e 1
H C
S
+
+
·
(2.91)
Untuk lempung terkonsolidasi berlebihan (over consolidated clays) :
o
av o
o
c s
c
p
Δp p
log
e 1
H C
S
+
+
·
[untuk (p
o
+ p
av
) < p
c
] (2.92)
o
av o
o
c s
o
c
o
c s
c
p
Δp p
log
e 1
H C
p
p
log
e 1
H C
S
+
+
+
+
·
[untuk p
o
< p
c
< p
o
+ p
av
] (2.93)
dimana :
p
o
= tegangan efektif rata-rata pada tiap lapisan sebelum pondasi
dibangun
p =penambahan tegangan rata-rata pada lapisan lempung akibat
beban yang bekerja
p
c
= preconsolidation pressure
e
o
= angka pori awal
C
c
= indeks kompresibilitas tanah
C
s
= indeks pemuaian tanah = C
r
H
c
= tebal lapisan yang ditinjau
69
Gambar 2.26. Cara menghitung penurunan konsolidasi
Besarnya nilai penambahan tegangan rata-rata pada lapisan lempung ∆ p
dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Gambar 2.26) :
p
av
= 1/6 . (p
t
+ 4.∆ p
m
+ ∆ p
b
) (2.94)
dengan :
p
t
= penambahan tegangan pada batas atas lapisan
p
m
= penambahan tegangan pada tengah lapisan
p
b
= penambahan tegangan pada batas bawah lapisan
Tabel 2.8 Angka pori e dan berat isi kering γ
d
dari beberapa
contoh tanah
Type of soil
Void ratio
(e)
Dry unit weight
(
d
) [kN/m
3
]
Loose uniform sand 0,8 14,5
Dense uniform sand 0,45 18
Loose angular-grained silty
sand
0,65 16
Dense angular-grained silty
sand
0,4 19
Stiff clay 0,6 17
Soft clay 0,9 – 14 11,5 – 14,5
Loess 0,9 13,5
Soft organic clay 2,5 – 3,2 6 – 8
Glacial till 0,3 21
Indeks Pemampatan (C
c
)
Menurut Terzaghi dan Peck, untuk menentukan besarnya indeks
pemampatan bisa digunakan persamaan empiris sebagai berikut :
• Untuk lempung
yang struktur tanahnya belum terganggu C
c
= 0,009 (LL-10)
• Untuk lempung
yang dibentuk kembali (remolded) C
c
= 0,007 (LL-10)
LL = batas cair [%, dalam persen]
Indeks Pemuaian (C
s
)
Nilai C
s
lebih kecil dari nilai C
c
yang besarnya dapat ditentukan dengan
pengujian di laboratorium.
Nilai C
s
tersebut biasanya berkisar antara C
s
= 0,2 C
c
sampai dengan C
s
=
0,25 C
c
.
70
a. Penurunan Izin
Beberapa contoh tipe penurunan bangunan dapat dilihat pada Gambar
2.27. Gambar (a) menunjukkan penurunan seragam, biasanya banyak
ditemui pada bangunan sangat kaku. Gambar (b) menunjukkan bangunan
miring akibat beda penurunan dari ujung ke ujung bangunan, sehingga
bangunan berotasi. Gambar (c) menunjukkan bangunan yang mengalami
penurunan tidak seragam yang dalam perancangannya dinyatakan dalam
δ = ΔS = S
maks
– S
min
dan nilai distorsi kaku (δ/L).
Penurunan ijin suatu bangunan (besarnya penurunan toleransi) tergantung
dari beberapa faktor, antara lain : jenis, tinggi, kekakuan, fungsi bangunan,
besar dan kecepatan penurunan serta distribusinya.
Gambar 2.27. Tipe Penurunan Pondasi
Skempton dan MacDonald (1955) menyarankan batas penurunan
maksimum (tidak untuk penurunan tak seragam) seperti pada Tabel 2.9.
Jenis Pondasi S
maks
(mm)
Pondasi terpisah pada tanah lempung 65
Pondasi terpisah pada tanah pasir 40
Pondasi rakit pada tanah lempung 65 – 100
Pondasi rakit pada tanah pasir 40 – 65
Sedangkan Bjerrum (1963b) menyarankan antara tipe masalah struktur
dan nilai distorsi kaku (δ/L) seperti Tabel 2.10 dan Gambar 2.28.
Tipe masalah δ/L
Kesulitan pada mesin yang sensitif terhadap penurunan 1/700
Bahaya pada rangka-rangka dengan diagonal
1/600
Nilai batas untuk bangunan yang tidak diizinkan retak
1/500
Nilai batas dengan retakan pertama diharapkanterjadi pada
dinding-dinding panel atau dengan kesulitan terjadi pada
overhead crane
1/300
Nilai batas dengan penggulingan (miring) bengunan tingkat
tinggi dapat terlihat
1/250
Retakan signifikan dalam panel dan tembok.
Batasan yang aman untuk dinding tembok fleksibel dengan
h/L < ¼
1/150
71
(h = tinggi dinding)
72
Gambar 2.28. Hubungan penurunan maksimum, penurunan tidak
seragam maksimum dan distorsi aku maksimum untuk tanah lempung
dan pasir
73
BAB III
PONDASI DALAM
(DEEP FOUNDATION)
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan mengetahui secara umum tentang definisi, jenis dan
pemilihan tipe pondasi dalam.
Tujuan Khusus :
Mahasiswa diharapkan dapat memahami fungsi pondasi dalam, mengerti jenis
pondasi dalam dan dapat memilih tipe pondasi dalam sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
3.1 Fungsi Pondasi Tiang
Secara umum fungsi bangunan pondasi adalah untuk meneruskan gaya
yang diterimanya ke tanah dasar pondasi. Sedangkan pondasi dalam umumnya
digunakan apabila lapisan tanah kuat (keras) terletak sangat dalam. Berdasarkan
ketentuan umum, pemilihan tipe pondasi dapat dilakukan sebagai berikut :
74
BD
D/B < 4 →
pondasi telapak
4 ≤ D/B < 10 →
pondasi sumuran
D/B ≥ 10 →
pondasi tiang
dimana : D =
kedalaman pondasi
B = lebar
pondasi
Gambar 3.1 Kriteria umum pemilihan tipe pondasi
Pondasi tiang digunakan untuk beberapa maksud, antara lain :
1. meneruskan beban bangunan yang terletak di atas tanah lunak/air ke lapisan
tanah pendukung yang kuat
2. mampu memberikan dukungan yang cukup untuk mendukung beban
bangunan melalui gesekan dinding tiang dengan tanah sekitar (lapisan tanah
keras relatif dalam)
3. menahan beban horisontal dan beban yang arahnya miring (misal : dinding
penahan, pondasi dermaga)
4. menahan beban bangunan untuk tanah mengembang (expansive soil) akibat
kembang-susut tanah karena perubahan musim tropis (kemarau – hujan)
5. mengangker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat
tekanan hidrostatis atau momen penggulingan (misal : tower transmisi,
bangunan lepas pantai, pondasi papan reklame)
6. mendukung pondasi bangunan yang permukaan tanahnya mudah tergerus
air (misal : abutment jembatan)
7. memadatkan tanah pasir sehingga kapasitas dukung tanah meningkat
Beberapa jenis pengunaan pondasi tiang dapat dilihat pada Gambar 3.2.
3.2 Tipe-tipe Pondasi Tiang
Berbagai tipe pondasi tiang sangat tergantung pada beban yang bekerja
pada pondasi tersebut, kondisi tanah sekitar, bahan pondasi yang ada dan cara-
cara pelaksanaan pemancangan. Berikut perbedaan tipe pondasi tiang pancang :
75
batu
an
(a
)
tanah
lunak
(b
)
(c
)
(d
)
swelling
soil
stable
soil
(e
)
(f) daerah
erosi
tanah
pasir
(g
)
Gambar 3.2 Beberapa jenis pengunaan pondasi tiang
Beberapa perbedaan tipe pondasi tiang pancang :
a. Cara tiang meneruskan beban :
1) Tiang tahanan ujung (End/Point Bearing Pile), yaitu :
tiang yang meneruskan beban melalui ujungnya ke lapisan keras/baik
dengan kuat dukung tinggi
2) Tiang gesekan (Friction Pile), yaitu :
tiang yang meneruskan beban melalui gesekan antara permukaan tiang
dengan tanah sekelilingnya (untuk jenis tanah pasir/nilai kuat geseknya [φ ]
tinggi)
3) Tiang lekatan (Adhesive Pile), yaitu :
tiang yang meneruskan beban melalui lekatan antara permukaan tiang
dengan tanah sekelilingnya (untuk jenis tanah lempung/nilai kohesinya [c]
tinggi)
b. Perpindahan volume tanah yang terjadi akibat pemancangan :
1) Tiang perpindahan besar (Large Displacement Pile), yaitu :
tiang pejal/berlubang dengan ujung tertutup yang dipancang ke dalam
tanah sehingga terjadi perpindahan volume tanah yang cukup besar, misal :
tiang kayu, tiang beton pejal, tiang beton prategang, tiang baja bulat yang
tertutup pada ujungnya
2) Tiang perpindahan kecil (Small Displacement Pile), yaitu :
tiang dengan ujung terbuka yang dipancang ke dalam tanah sehingga
perpindahan volume tanah relatif kecil, misal : tiang beton berlubang
dengan ujung terbuka, tiang baja H, tiang baja ujung terbuka, tiang ulir
3) Tiang tanpa perpindahan (Non Displacement Pile), yaitu :
tiang yang dipasang di dalam tanah dengan cara menggali atau mengebor
tanah, misal : tiang bor (tiang beton yang dicor langsung di dalam lubang
hasil pengeboran tanah), pipa baja diletakkan dalam lubang kemudian dicor
dengan beton
76
Beberapa tipe tiang pancang berdasarkan perpindahan volume tanah
akibat proses pemancangan dapat dilihat pada Gambar 3.3, sedangkan Gambar
3.4 menunjukkan panjang maksimum dan beban maksimum untuk berbagai
macam tiang yang umum dipakai dalam praktek (Carson, 1965).
Gambar 3.3 Beberapa tipe tiang pancang berdasarkan perpindahan volume
tanah akibat proses pemancangan
77
tiang
pejal/
ujung
tertutup
(a
)
dipanca
ng
(b
)
(c
)
tiang
berlubang
penulan
gan
dipanca
ng
dituang adukan
beton
adukan
beton
lubang
bor
78
30
ton
tiang
kayu
60
ft
60
ton
cor di
tempat
60
ft
50
ton
tiang
pipa
80
ton
cor
dalam
selubu
ng
80
ton
beton
pracetak
80
ft
80
ft
80
ft
80
ton
tiang pipa
di isi
100
ton
profil H 10
0
ft
10
0
ft
100
ton
silinder
prategang
12
0
ft
catt : gambar
tanpa skala
Gambar 3.4 Panjang dan beban maksimum untuk berbagai macam tipe tiang
yang umum dipakai
dalam praktek (Carson, 1965)
c. Bahan yang dipakai :
1) Tiang kayu :
- beban yang dapat dipikul relatif kecil, untuk tiang tunggal berkisar 270 –
300 kN
- ukuran tergantung klasifikasi bahan dan beban yang diterima umumnya ∅
15 – 25 cm, panjang 6 – 8 m
- sifat mudah rusak akibat serangga atau terletak pada peralihan kondisi
terendam dan kering
- dalam pelaksanaan pemancangan, bagian kepala dan ujung tiang diberi
perkuatan besi agar tidak hancur
2) Tiang beton :
a) Tiang beton pracetak (Precast Reinforce Concrete Pile) :
- beban yang dapat dipikul relatif besar, untuk tiang tunggal
berkisar 300 – 800 kN
- ukuran tiang disesuaikan dengan alat transport yang ada (trailler)
dan kemampuan mesin pemancang yang tersedia, secara umum untuk
tiang tidak berlubang : ∅ 20 – 60 cm, panjang 20 – 40 m, sedangkan
untuk tiang berlubang : ∅ ≤ 140 cm, panjang ≤ 60 m
- bentuk penampang : lingkaran, persegi empat, segitiga dan oktagonal
(segi delapan)
- tiang dirancang agar mampu menahan gaya dan momen saat
pengangkatan, tegangan saat pemancangan dan beban yang harus
dipikul dari struktur yang direncananakan
b) Tiang beton pratekan (Precast Prestressed Concrete Pile) :
- beban yang dapat dipikul relatif besar dari pada tiang beton
pracetak
- ukuran tiang dapat lebih baik dari pada tiang beton pracetak
- bentuk penampang umumnya lingkaran, berubang dengan ujung tiang
tertutup
c) Tiang beton cor di tempat (Cast in place piles) :
tiang tipe ini dilakukan dengan membuat lubang terlebih dahulu, ada dua
tipe tiang beton ini :
- tiang yang terselubung pipa, yaitu : pipa dipancang terlebih dahulu
kemudian lubang pipa dimasuk-kan adukan beton dan pipa ditinggal
dalam tanah, misal : standar Raimond
- tiang yang tidak terselubung pipa, yaitu : pipa dipancang terlebih
dahulu kemudian sambil pipa ditarik lubang pipa dimasukkan adukan
beton, misal : tiag Franki
3) Tiang baja :
- beban yang dapat dipikul sangat besar, untuk tiang tunggal dapat
menahan beban hingga 1000 kN
- umumnya berbentuk pipa (baik yang terbuka/tertutup), profil H, WF (Ι ),
segi enam dll.
79
- kelemahannya adalah bersifat korosif terhadap asam dan air
- mudah dalam pelaksanaan pemancangan dan penyambungan
- untuk menembus jenis-jenis tanah keras, ujung tiang diberi sepatu agar
tidak mudah rusak
4) Tiang komposit :
Merupakan kombinasi antara dua material yang berbeda (misal : kayu–
beton, baja–beton), kombinasi bahan tiang pancang/tiang bor ini dilakukan
untuk mengatasi permasalahan pada kondisi tanah tertentu (misal : untuk
tanah korosif perlu kombinasi baja–beton, problem pembusukan tiang kayu
dapat diatasi dengan kombinasi kayu–beton).
d. Cara pemancangan tiang :
1) Metode pukulan :
pada prinsipnya, tiang didirikan di atas tanah dengan ujung tiang pada
bagian bawah dan ujung kepala tiang dipukul agar ujung tiang pancang
dapat masuk ke dalam tanah tanah. Alat pemukul berupa palu/hammer
yang beratnya disesuaikan dengan tiangnya. Alat bantu lain berupa mobil
craine atau tripod.
2) Metode getaran (vibration) :
pada prinsipnya, getaran dihasilkan oleh benda dengan sumbu eksentris
yang diputar dibagian ujung kepala tiang yang diteruskan ke ujung tiang
lainya, sehingga struktur tanah berubah lebih lunak dan tiang lebih mudah
masuk ke dalam tanah. Alat ini mempunyai kelebihan dibandingkan metode
pukulan karena tidak menimbulkan polusi suara dan getaran yang lembut
tidak menimbulkan kerusakan pada bangunan-bangunan disekitar
pemancangan
3) Metode semprotan air (jetting) :
pada prinsipnya, metode ini memanfaatkan semprotan air dengan tekanan
tinggi melalui pipa-pipa yang ditempatkan di sekeliling tiang, akibat
semprotan air maka butir-butir tanah menjadi lepas dan kuat dukung tanah
menurun tajam sehingga tiang mudah masuk ke dalam tanah, umumnya
digunakan untuk tanah granuler (berbutir pasir).
80
3.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis dan
dimensi tiang
Pemilihan jenis dan dimensi tiang pancang/taing bor perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
a. lokasi dan tipe bangunan
b. keadaan/kondisi tanah
c. daya dukung aksial dan lateral/horisontal
d. ketersediaan peralatan (alat pemancangan dan alat transpor)
e. pertimbangan lingkungan (polusi suara, akses jalan dan gangguan sewaktu
pemancangan lainnya)
f. ketahanan tiang (mulai dari pengangkutan, pemancangan hingga beban
bangunan bekerja)
g. nilai ekonomis
3.4 Syarat-syarat dalam Perencanaan Pondasi Tiang
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam perencanaan pondasi
tiang :
a. Beban yang diterima oleh pondasi tidak melebihi daya dukung tanah
maupun kekuatan bahan tiang → untuk menjamin keamanan bangunan
b. Pembatasan penurunan yang terjadi pada bangunan lebih kecil dari batas
maksimum penurunan yang diperbolehkan dan tidak merusak struktur
c. Pengendalian atau pencegahan efek pelaksanaan konstruksi pondasi,
misal : getaran saat pemancang-an, galian atau pekerjaan pondasi yang
lain → untuk membatsi pergerakan bangunan atau struktur lain di sekitar
lokasi pkerjaan pondasi.
81
BAB IV
DAYA DUKUNG TIANG PANCANG TUNGGAL
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan mengetahui secara umum rumus-rumus menghitung
daya dukung tiang tunggal.
Tujuan Khusus :
Mahasiswa diharapkan dapat menghitung daya dukung tiang tunggal sesuai
dengan kondisi tanah yang ada.
4.1 Perhitungan Daya Dukung Tiang
Perhitungan daya dukung tiang dapat dilakukan dengan cara
pendekatan : statis dan dinamis. Per-hitungan daya dukung secara statis
dilakukan menurut teori Mekanika Tanah, yaitu : penggunaan parameter-
parameter geser tanah (c dan φ ), sedangkan perhitungan secara dinamis
dilakukan dengan menganalisa daya dukung batas (ultimit) dengan data yang
diperoleh dari data pemancangan tiang.
Hasil hitungan pendekatan statis kadang-kadang masih perlu dicek
dengan mengadakan pengujian tiang untuk menyakinkan hasilnya. Adanya
variasi kondisi tanah, tipe pelaksanaan pemancangan, tipe tiang di cetak di luar /
dicor di tempat, tiang berdinding rata / gelombang, tiang terbuat dari baja /
beton dll. Semua faktor tersebut sangat berpengaruh pada faktor gesekan antara
dinding tiang dan tanah sehingga akan mempengaruhi daya dukung tiang.
4.2 Daya Dukung Berdasarkan Kekuatan Struktur Bahan Tiang
Jenis bahan (material) pondasi tiang tergantung pada besarnya beban
yang direncanakan, kondisi lapisan tanah pendukung serta elevasi muka air
tanah.
Kekuatan struktur tiang tanpa memperhitungkan pengaruh tekuk, maka
daya dukung tiang tersebut di-tentukan oleh tegangan ijin dari bahan tiang yang
dipakai, sehingga dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
P/A σ · ≤ σ
(4.1)
dimana :
σ = tegangan pada penampang tiang
σ
= tegangan ijin bahan dari tiang
P = beban total konstruksi bangunan atas
A = luas penampang tiang
82
4.3 Daya Dukung Tiang Berdasarkan Cara Statis (Teori Mekanika
Tanah)
Perhitungan didasarkan pada penggunaan parameter-parameter geser
tanah (c dan φ ) untuk meng-hitung kekuatan geser tanah pendukung. Harga c
dan φ diperoleh melalui pengujian di laboratorium maupun uji di lapangan.
Secara umum perhitungan statis ini dikategorikan dalam 2 (dua) kelompok
utama, yaitu : tiang tahanan ujung (end bearing piles) dan tiang gesekan
dinding/kulit (fraction piles). Dua kelompok utama tersebut dapat dilihat pada
Gambar 4.1.
Gambar 4.1 (a) dan (b) end/point bearing piles (c) friction piles
a. Persamaan Umum Daya Dukung Tiang Tunggal
Kapasitas beban ulimit (batas/maksimum) pada tiang (Q
u
) = tahanan ujung
bawah ultimit (Q
p
) + tahanan gesek ultimit (Q
s
) antara dinding dan tanah –
berat sendiri tiang (W
p
).
Q
u
= Q
p
+ Q
s
– W
p
(4.2)
Q
all
= Q
u
÷ SF (4.3)
dimana :
Q
u
= daya dukung tiang ultimit (batas)Q
p
= daya dukung ujung tiang
83
batu
an
(a
)
tanah
lunak
(c
)
(b
)
Q
s
lapisan
tanah
keras
Q
u
Q
u
Q
u
LLL
b
tanah
lunak
Q
p
Q
p
Q
p
Q
u

Q
p
Q
u

Q
p
Q
u

Q
s
Q
s
L
Q
all
= daya dukung tiang ijin Q
s
= daya dukung gesekan selimut
tiang
W
p
= berat sendiri tiang SF = faktor keamanan (safety factor)
b. Daya Dukung Ujung Tiang (Q
p
)
Daya dukung ujung tiang secara pendekatan dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan daya dukung ultimit pondasi dangkal, sebagai
berikut :
p
p p c q
p
Q
q c .N * q.N * 0,5. .D.N *
A
γ
· · + + γ
(4.4)
dimana :
q
p
= tahanan ujung per satuan luas tiang [kN/m²]
Q
p
= daya dukung ujung tiang [kN]
A
p
= luas penampang ujung tiang [m²]
c = kohesi tanah pada ujung tiang [kN/m²]
q = γ . z = tekanan vertikal (overburden) pada ujung tiang [kN/m²]
γ = berat volume tanah [kN/m³]
D = diameter tiang [m]
N
c
*, N
q
*, N
γ
* = faktor daya dukung yang memasukkan faktor bentuk dan
faktor kedala man tiang (fungsi dari sudut gesek tanah, φ )
84
Dalam kenyataannya nilai 0,5.γ .D.N
γ
relatif kecil (diabaikan) dan tekanan
vertikal (overburden) merupakan tekanan vertikal efektif (q’), maka
persamaan (4.4) dapat ditulis menjadi berikut :
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
. (c.N
c
* + q’.N
q
*) (4.5)
dimana :
Q
p
= daya dukung ujung tiang [kN]
q
p
= tahanan ujung per satuan luas tiang / satuan perlawanan ujung tiang
[kN/m²]
A
p
= luas penampang ujung tiang [m²]
c = kohesi tanah pada ujung tiang [kN/m²]
q’ = γ ’. z = tekanan vertikal (overburden) efektif pada ujung tiang [kN/m²]
γ = berat volume tanah [kN/m³]
N
c
*, N
q
* = faktor daya dukung yang memasukkan faktor bentuk dan faktor
kedalaman tiang (fungsi dari sudut gesek tanah, φ )
Selanjutnya akan dibahas cara menghitung daya dukung ujung tiang
berdasarkan cara : Mayerhof, Vesic’s, Janbu’s dan Coyle-Catello.
Cara Mayerhof (1976) :
Dalam perhitungnya Mayerhof menggunakan asumsi sebagai berikut :
1) Satuan perlawanan ujung tiang (q
p
) pada tanah berpasir (granuler) akan
meningkat sesuai dengan ketebalan lapisan pendukung dan mencapai
harga maksimum pada L
b
/D = (L
b
/D)
cr
, dimana : L
b
adalah ketebalan tanah
homogen yang sama dengan panjang tiang (L), lihat Gambar 4.2. dan
Gambar 4.1.(b)
2) Bila tiang pancang sampai kedalaman pendukung dimana L
b
< L (Gambar
4.2), maka nilai q
p
konstan (q
p
= ql)
3) Hubungan nilai (L
b
/D)
cr
dan sudut gesek dalam (φ ) ditunjukkan pada
Gambar 4.3
4) Faktor daya dukung meningkat dengan L
b
/D dan mencapai harga
maksimum pada L
b
/D ≈ 0,5.(L
b
/D)
cr
5) Faktor daya dukung N
c
* dan N
q
* menggunakan Gambar 4.4.
85
86
q
p
=
q
l
L/D =
L
b
/D
(L
b
=
D)
cr
unit
point
resista
nt, q
p
Gambar 4.2 Nilai unit perlawanan ujung tiang (q
p
) pada tanah pasir homogen
87
Gambar 4.3 Hubungan (L
b
/D)
cr
dan sudut geser dalam (Mayerhof, 1967)
Gambar 4.4 Hubungan nilai N
c
* dan N
q
* maksimum dan sudut gesek dalam, φ
(Mayerhof, 1976)
Daya dukung ujung tiang pada tanah berpasir (granuler), c = 0 adalah :
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
. q’.N
q
* (4.6)
Harga Qp tidak boleh melampaui harga batas A
p
. ql, sehingga
Q
p
= A
p
. q’.N
q
* ≤ A
p
. ql (4.7)
88
Dengan harga perlawanan ujung batas (ql) adalah :
ql [kN/m²] = 50 . N
q
* tan φ
(4.8)
ql [lb/ft²] = 1000 . N
q
* tan φ
(4.9)
dimana :
ql = perlawanan ujung batas (ultimit) [kN/m²] atau [lb/ft²]
φ = sudut gesek dalam [°]
A
p
= luas penampang tiang [m² atau ft]
N
p
= faktor daya dukung tanah
Berdasarkan penyelidikan lapangan, Mayerhof menyarankan besarnya
perlawanan ujung batas (ql) pada tanah berbutir yang homogen (L = L
b
),
menggunakan data Standart Penetration Test (SPT) sebagai berikut :
ql [kN/m²] = 40 . N.L/D ≤ 400 N
(4.10)
ql [lb/ft²] = 800 . N.L/D ≤ 800 N
(4.11)
dimana :
N = nilai SPT rata-rata disekitar ujung tiang (10.D diatas ujung tiang dan 4.D
dibawah ujung tiang)
L = ketebalan tanah homogen setebal L [m]
D = diameter tiang pancang [m]
Bila tiang pancang pada tanah berpasir yang lepas di atas lapisan pasir padat
maka satuan perlawanan ujung tiang seperti Gambar 4.5 dapat dihitung
dengan perumusan sebagai berikut :
(d) ( ) b
p ( ) (d)
[q q ].L
q q q
10.D

· + ≤
l l l
l l l
(4.12)
dimana :
ql(l) = satuan perlawanan unjung batas (ultimit) pasir lepas (loose sand),
yang ditentukan dari persamaan 4.8 dan 4.9 dengan menggunakan
harga maksimum Nq* dan φ pasir lepas
ql(d) = satuan perlawanan unjung batas (ultimit) pasir padat (dense sand),
yang ditentukan dari persamaan 4.8 dan 4.9 dengan menggunakan
harga maksimum Nq* dan φ pasir padat
L
b
= panjang tiang yang tertanam pada lapisan pasir padat.
89
90
q
l(d
)
depth loose sand unit
point
resista
nt, q
p
q
l(
l)
L L
b
dense
sand
Gambar 4.5 Variasi hubungan unit perlawanan ujung tiang pada tanah berlapis
91
Daya dukung ujung tiang pada tanah lempung jenuh, φ = 0 adalah :
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
.c.N
c
* = 9 . cu . A
p
(4.13)
dimana :
Q
p
= daya dukung ujung tiang [kN]
q
p
= tahanan ujung per satuan luas tiang / satuan perlawanan ujung tiang
[kN/m²]
A
p
= luas penampang ujung tiang [m²]
cu = kohesi tanah lempung diujung tiang
Daya dukung ujung tiang pada tanah tanah kohesif dengan nilai φ (c – φ ) ≠ 0,
maka daya dukung ujung batas dapat dihitung dengan persamaan 4.5.
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
. (c.N
c
* + q’.N
q
*) (4.5)
Cara Vesic’s (1977) :
Dalam analisanya Vesic’s mengusulkan cara perhitungan daya dukung tiang
dengan teori : expansion of cavities, teori ini berdasarkan parameter
tegangan efektif sebagai berikut :
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
. (c.N
c
* + σ
o
’.N
σ
*) (4.14)
dimana :
σ
o
’ = tegangan efektif rata-rata di bagian bawah ujung tiang
o
0
1 2.K
' q'
3
+ | `
σ · ⋅

. ,
(4.15)
K
o
= koefisien tekanan tanah dalam kondisi diam = 1 – sin φ
(4.16)
N
c
* , N
σ
* = faktor daya dukung tanah dengan memakai persamaan 4.5.
yang dimodifikasi menjadi per-samaan 4.14.
Hubungan nilai Nc* pada rumus 4.14 menjadi :
N
c
* = (N
q
* – 1) . cot φ (4.17)
N
σ
* = f (I
rr
) (4.18)
I
rr
= reduce rigidity index for the soil
r
rr
r
I
I
1 I .
·
+ ∆
(4.19)
I
r
= rigidity index for the soil
s s
r
s
E G
I
2.(1 )(c q'.tan ) c q'.tan
· ·
+µ + + φ φ
(4.20)
dimana :
E
s
= modulus elastisitas tanah
µ
s
= angka poisson’s
92
G
s
= modulus geser tanah
∆ = regangan rata-rata pada daerah plastis di ujung tiang
93
Pada kondisi tidak ada perubahan volume (pada tanah pasir atau lempung
jenuh), maka ∆ = 0, sehingga :
I
r
= I
rr
(4.21)
Harga N
c
* dan σ
o
’ selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1, sedangkan
harga I
r
dapat digunakan tabel sebagai berikut :
No
.
Jenis Tanah Ir
1.
2.
3.
Pasir (DR = 0,5 – 0,8)
Lanau dan lempung (drained
condition)
Lempung (undrained condition)
75 – 150
50 – 100
100 – 200
Tabel 4.1 Harga N
c
* dan N
σ
*
Irr
φ 10 20 40 60 80 100 200 300 400 500
0
6.97 7.90 8.82 9.36 9.75 10.04 10.97 11.51 11.80 12.19
1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
1
7.34 8.37 9.42 10.04 10.49 10.83 11.92 12.57 13.03 13.39
1.13 1.15 1.16 1.18 1.18 1.19 1.21 1.22 1.23 1.23
2
7.72 8.87 10.06 10.77 11.28 11.69 12.96 13.37 14.28 14.71
1.27 1.31 1.35 1.38 1.39 1.41 1.45 1.48 1.50 1.51
3
8.12 9.40 10.74 11.55 12.14 12.61 14.10 15.00 15.66 16.18
1.43 1.49 1.56 1.61 1.64 1.66 1.74 1.79 1.82 1.85
4
8.54 9.96 11.47 12.40 13.07 13.61 15.34 16.40 17.18 17.80
1.60 1.70 1.80 1.87 1.91 1.95 2.07 2.15 2.20 2.24
5
8.99 10.56 12.25 13.30 14.07 14.69 16.69 17.94 18.86 19.59
1.79 1.92 2.07 2.16 2.23 2.28 2.46 2.57 2.65 2.71
6
9.45 11.19 13.08 14.26 15.14 15.85 18.17 19.62 20.70 21.56
1.99 2.18 2.37 2.50 2.59 2.67 2.91 3.06 3.18 3.27
7
9.94 11.85 13.96 15.30 16.30 17.10 19.77 12.46 22.71 23.73
2.22 2.46 2.71 2.88 3.00 3.10 3.43 3.63 3.79 3.91
8
10.45 12.55 14.90 16.41 17.54 18.45 21.51 23.46 24.93 26.11
2.47 2.76 3.09 3.31 3.46 3.59 4.02 4.30 4.50 4.67
9
10.99 13.29 15.91 17.59 18.87 19.90 23.39 25.64 27.35 28.73
2.74 3.11 3.52 3.79 3.99 4.15 4.70 5.06 5.33 5.55
10
11.55 14.08 16.97 18.86 20.29 21.46 25.43 28.02 29.99 31.59
3.04 3.48 3.99 4.32 4.58 4.78 5.48 5.94 6.29 6.57
11
12.14 14.90 18.10 20.20 21.81 23.13 27.64 30.61 32.87 34.73
3.36 3.90 4.52 4.93 5.24 5.50 6.37 6.95 7.39 7.75
12
12.76 15.77 19.30 21.64 23.44 24.92 30.03 33.41 36.02 38.16
3.71 4.35 5.10 5.60 5.98 6.30 7.38 8.10 8.66 9.11
13
13.41 16.69 20.57 23.17 25.18 26.84 32.60 36.46 39.44 41.89
4.09 4.85 5.75 6.35 6.81 7.20 8.53 9.42 10.10 10.67
14
14.08 17.65 21.92 24.80 27.04 28.89 35.38 39.75 43.15 45.96
4.51 5.40 6.47 7.18 7.74 8.20 9.82 10.91 11.76 12.46
15
14.79 18.66 23.35 26.53 29.02 31.08 38.37 43.32 47.18 50.39
4.96 6.00 7.26 8.11 8.78 9.33 11.28 12.61 13.64 14.50
16
15.53 19.73 24.86 28.37 31.13 33.43 41.58 47.17 51.55 55.20
5.45 6.66 8.13 9.14 9.93 10.58 12.92 14.53 15.78 16.83
17
16.30 20.85 26.46 30.33 33.37 35.92 45.04 51.32 56.27 60.42
5.98 7.37 9.09 10.27 11.20 11.98 14.77 16.69 18.20 19.47
18
17.11 22.03 28.15 32.40 35.76 38.59 48.74 55.80 61.38 66.07
6.56 8.16 10.15 11.53 12.62 13.54 16.84 19.13 20.94 22.47
19
17.95 23.26 29.93 34.59 38.30 41.42 52.71 60.61 66.89 72.18
7.18 9.01 11.31 12.91 14.19 15.26 19.15 21.87 24.03 25.85
20
18.83 24.56 31.81 36.92 40.99 44.43 56.97 65.79 72.82 78.78
7.85 9.94 12.58 14.44 15.92 17.17 21.73 24.94 27.51 29.67
21
19.75 25.92 33.80 39.38 43.85 47.64 61.51 71.34 79.22 85.90
8.58 10.95 13.97 16.12 17.83 19.29 24.61 28.39 31.41 33.97
22
20.71 27.35 35.89 41.98 46.88 51.04 66.37 77.30 86.09 93.57
9.37 12.05 15.50 17.96 19.94 21.62 27.82 32.23 35.78 38.81
94
Lanjutan : Tabel 4.1 Harga N
c
* dan N
σ
*
Irr
φ 10 20 40 60 80 100 200 300 400 500
23
21.71 28.84 38.09 44.73 50.08 54.66 71.56 83.68 93.47 101.83
10.21 13.24 17.17 19.99 22.26 24.20 31.37 36.52 40.68 44.22
24
22.75 30.41 40.41 47.63 53.48 58.49 77.09 90.51 101.39 110.70
11.13 14.54 18.99 22.21 24.81 27.04 35.32 41.30 46.14 50.29
25
23.84 32.05 42.85 50.69 57.07 62.54 82.98 97.81 109.88 120.23
12.12 15.95 20.98 24.64 27.61 30.16 39.70 46.61 52.24 57.06
26
24.98 33.77 45.42 53.93 60.87 66.84 89.25 105.61 118.96 130.44
13.18 17.47 23.15 27.30 30.69 33.60 44.53 52.51 59.02 64.62
27
26.16 35.57 48.13 57.34 64.88 71.39 95.02 113.92 128.67 141.39
14.33 19.12 25.52 30.21 34.06 37.37 49.88 59.05 66.56 73.04
28
27.40 37.47 50.96 60.93 69.12 76.20 103.01 122.79 139.04 153.10
15.57 20.91 28.10 33.40 37.75 41.51 55.77 66.29 74.93 82.40
29
28.69 39.42 53.95 64.71 73.58 81.28 110.54 132.23 150.11 165.61
16.90 22.85 30.90 36.87 41.79 46.05 62.27 74.30 84.21 92.80
30
30.03 41.49 57.08 68.69 78.30 86.64 118.53 142.27 161.91 178.98
18.24 24.95 33.95 40.66 46.21 51.02 69.43 83.14 94.48 104.33
31
31.43 43.64 60.37 72.88 83.27 92.31 126.99 152.95 174.49 193.23
19.88 27.22 37.27 44.79 51.03 56.46 77.31 92.90 105.84 117.11
32
32.89 45.90 63.82 77.29 88.50 98.28 135.96 164.29 187.87 208.43
21.55 29.68 40.88 49.30 56.30 62.41 85.96 103.66 118.39 131.24
33
34.41 48.26 67.44 81.92 94.01 104.58 145.46 176.33 202.09 224.62
23.34 32.34 44.80 54.20 62.05 68.92 95.46 115.51 132.24 146.87
34
35.99 50.72 71.24 86.80 99.82 111.22 155.51 189.11 217.21 241.84
25.28 35.21 49.05 59.54 68.33 76.02 105.90 128.55 147.51 164.12
35
37.65 53.30 75.22 91.91 105.92 118.22 166.14 202.64 233.27 260.15
27.36 38.32 53.67 65.36 75.17 83.78 117.33 142.89 164.33 183.16
36
39.37 55.99 79.39 97.29 112.34 125.59 117.38 216.98 250.30 279.60
29.60 41.68 58.68 71.69 82.62 92.24 129.87 158.65 182.85 204.14
37
41.17 58.81 83.77 102.94 119.10 133.34 189.25 232.17 268.36 300.26
32.02 45.31 64.13 78.57 90.75 101.48 143.61 175.95 203.23 227.26
38
43.04 61.75 88.36 108.86 126.20 141.50 201.78 248.23 287.50 322.17
34.63 49.24 70.03 86.05 99.60 111.56 158.65 194.94 225.62 252.71
39
44.99 64.83 93.17 115.09 133.66 150.09 215.01 265.23 307.78 345.41
37.44 53.50 76.45 94.20 109.24 122.54 175.11 215.78 250.23 280.71
40
47.03 68.04 98.21 121.62 141.51 159.13 228.97 283.19 329.24 370.04
40.47 58.10 83.40 103.05 119.74 134.52 193.13 238.62 277.26 311.50
41
49.16 71.41 103.49 128.48 149.75 168.63 243.69 302.17 351.95 396.12
43.74 63.07 90.96 112.68 131.18 147.59 212.84 263.67 306.94 345.34
42
51.38 74.92 109.02 135.68 158.41 178.62 259.22 322.22 375.97 423.74
47.27 68.46 99.16 123.16 143.64 161.83 234.40 291.13 339.52 382.53
43
53.70 78.60 114.82 143.23 167.51 189.13 275.59 343.40 401.36 452.96
51.08 74.30 108.08 134.56 157.21 177.36 257.99 321.22 375.28 423.39
44
56.13 82.45 120.91 151.16 177.07 200.17 292.85 365.75 428.21 483.88
55.20 80.62 117.76 146.97 172.00 194.31 283.80 354.20 414.51 468.28
45
58.66 86.48 127.28 159.48 187.12 211.79 311.04 389.35 456.57 516.58
59.66 87.48 128.28 160.48 188.12 212.79 312.03 390.35 457.57 517.58
46
61.30 90.70 133.97 168.22 197.67 224.00 330.20 414.26 486.54 551.16
64.48 94.92 139.73 175.20 205.70 232.96 342.94 429.98 504.82 571.74
47
64.07 95.12 140.99 177.40 208.77 236.85 350.41 440.54 518.20 587.72
69.71 103.00 152.19 191.24 224.88 254.99 376.77 473.42 556.70 631.25
48
66.97 99.75 148.35 187.04 220.43 250.36 371.70 468.28 551.64 626.36
75.38 111.78 165.76 208.73 245.81 279.06 413.82 521.08 613.65 696.64
49
70.01 104.60 156.09 197.17 232.70 264.58 394.15 497.56 586.96 667.21
81.54 121.33 180.56 227.82 268.69 305.37 454.42 573.38 676.22 768.53
50
73.19 109.70 164.21 207.83 245.60 279.55 417.82 528.46 624.28 710.39
88.23 131.73 196.70 248.68 293.70 334.15 498.94 630.80 744.99 847.61
From “Design of Pile Foundation” by A.S. Vesic in NCHRP, Synthesis of Highway Practice 42,
Transport Research Board, 1977
Note : Upper number Nc*, Lower number N*
Cara Janbu (1976) :
Dalam perhitung daya dukung ujung tiang (Q
p
) Janbu mengusulkan sebagai
berikut :
95
Q
p
= q
p
. A
p
= A
p
. (c.N
c
* + q’.N
q
*) (4.22)
Harga N
c
* dan N
q
* didasarkan pada keruntuhan permukaan tanah pada ujung
tiang seperti Gambar 4.6 atau dengan rumus sebagai berikut :
. '.tan
q
N* [tan (1 tan² )]².e²
η
· + +
φ
φ φ
(4.23)
N
c
* = (N
q
* – 1) . cot φ (4.24)
Variasi nilai N
c
* dan N
q
* dengan φ dan η ’ seperti Gambar 4.6. Nilai η ’ =
70° digunakan untuk lempung lunak (soft clays) dan η ’ = 105° untuk
pasir padat (dense sandy soils).
Gambar 4.6 Faktor daya dukung cara Janbu’s
96
c. Daya Dukung Akibat Gesekan Kulit / Selimut Tiang (Q
s
)
Daya dukung akibat gesekan selimut tiang dinyatakan dalam persamaan dan
Gambar 4.7.a sebagai berikut :
Qs = Σ p.∆ L.f (4.25)
dimana :
p = keliling penempang tiang
∆ L = panjang tiang
f = satuan perlawanan geser pada setiap kedalaman z
Gambar 4.7 Satuan perlawanan geser tiang pada tanah pasir (granuler)
Satuan perlawanan geser ( f ) :
Pada pasir :
Satuan perlawanan geser pada setiap kedalaman yang ditinjau pada tiang
adalah sebagai berikut :
f = K . σ
v
’ . tan δ (4.26)
dimana :
K = koefisien tekanan tanah
97
(a
)
Q
u
fLz Dσ

v

L
L’=15
.D
unit
frictional
resistanc
e, f
(b
)
σ
v
’ = tegangan efektif vertikal pada kedalaman yang ditinjau
δ = sudut geser antara tanah dan tiang
Harga K = K
p
(koefisien tekanan tanah pasif Rankine) pada ujung bawah tiang,
nilainya < K
o
(koefisien tekanan tanah kondisi diam) pada ujung bawah tiang.
Harga K pada persamaan 4 .26 dapat menggunakan nilai sebagai berikut :
Tipe pile K
Bored or jetter K = K
o
= 1 –
sin φ
Low – displacement driven /
perpindahan kecil
K = K
o
∼ 1,4
K
o
High – displacement driven /
perpindahan besar
K = K
o
∼ 1,8
K
o

Bhusan (1982) merokomendasikan harga ujung tiang high – displacement
driven sebagai berikut :
K tan δ = 0,18 + 0,0065.D
r
, dan (4.27)
K = 0,50 + 0,008.D
r
(4.28)
dimana :
δ = sudut geser antara tanah dan tiang (°)
D
r
= relatif densiti (%)
Harga σ
v
’ pada persamaan 4 .26 akan meningkat dan mencapai harga
maksimum pada kedalaman antara 15 ∼ 20.D dan selanjutnya konstan setelah
itu (Gambar 4.27.b). Kedalaman kritis (L’) tergantung beberapa faktor yaitu :
sudut geser tanah (φ ), compressibility dan relative density (D
r
). Harga L’ untuk
perhitungan dipakai 15.D.
Harga δ pada persamaan 4 .26 tergantung dari investigasi di lapangan,
umumnya memakai batasan antara 0,5 ∼ 0,8.φ .
Mayerhof (1976) mengemukakan harga rata-rata satuan perlawanan geser
(f
av
) dengan rata-rata Standart Penetration Test (N-SPT) :
Tiang pancang dengan perpindahan besar ( high-displacement driven pile ) :
f
av
(kN/m²) = 2.
N
, atau
(4.29)
f
av
(lb/ft²) = 40.
N
(4.30)
Tiang pancang dengan perpindahan kecil ( low -displacement driven pile ) :
f
av
(kN/m²) =
N
, atau
(4.31)
98
f
av
(lb/ft²) = 20.
N
(4.32)
dimana :
N
= nilai N-SPT rata-rata sepanjang tiang
sehingga :
Qs = p.L.f
av
(4.33)
Satuan perlawanan geser ( f ) :
Pada lempung :
Berikut beberapa metode menentukan satuan perlawanan geser pada tanah
lempung :
1. Metode λ
Metode ini dikemukakan oleh Vijayvergiya dan Focht (1972) yang didasarkan
adanya perubahan tanah akibat tiang yang dipancang menyebabkan
tekanan pasif pada setiap kedalaman, sehingga rata-rata perlawanan geser
kulit (f
av
) adalah :
f
av
= λ .(
v
σ
+ 2.
u
c
) (4.34)
dimana :
v
σ
= tegangan vertikal efektif rata-rata sepanjang tiang
u
c
= kuat geser undrained rata-rata (untuk φ = 0)
λ = diperoleh perdasarkan kedalaman pemancangan tiang (Gambar 4.8)
sehingga :
Q
s
= p.L.f
av
(4.35)
Ilustrasi
u
c
dan
v
σ
dapat dilihat pada Gambar 4.9 dengan perhitungan
sebagai berikut :
u1 1 u2 2 u3 3
u
(c .L c .L c .L ...)
c
L
+ + +
·
(4.36)
1 2 3
v
(A A A ...)
L
+ + +
σ ·
(4.37)
A
1
, A
2
, A
3
, … merupakan luasan dari diagram tegangan efektif vertikal
(Gambar 4.9)
99
Gambar 4.8 Harga λ terhadap kedalaman tiang (McClelland, 1974)
100
101
tegangan
efektif
vertikal,
σ
u

undraine
d
cohesion
, c
u
Q
u
(a)
LL
1
L
2
L
3
c
u
1
c
u2
c
u
3
dep
th
dep
th
A
1
A
2
A
3
(b) (c)
Gambar 4.9 Aplikasi metode λ pada tanah berlapis
2. Metode α
Metode ini dikemukakan oleh Tomlinson untuk tanah lempung dengan harga
perlawanan geser kulit (f ) :
f = α .c
u
(4.38)
dimana :
α = faktor adhesi/lekatan secara empiris (Gambar 4.10)
c
u
= kuat geser undrained
Harga α diperoleh dari Gambar 4.10, untuk tanah lempung konsolidasi
normal (normally consolidated clay) dengan c
u
≤ 50 kN/m² harga α = 1,
sehingga :
Q
s
= Σ f.

p.∆ L = Σ α .c
u
.p.∆ L (4.39)
102
Gambar 4.10 Variasi harga α dengan kohesi undrained (c
u
) untuk tanah lempung
3. Metode β
Bila tiang dipancang pada lempung jenuh (saturated clay) maka tegangan
air pori tanah di sekeliling tiang akan bertambah dan harga satuan
perlawanan geser (f ) adalah :
f = β .σ
u
’ (4.40)
dimana :
σ
u
’ = tegangan vertikal efektif
β = K . tan φ
R
(4.41)
φ
R
= sudut geser
dalam tanah (remolded clay)
K = koefisien tekanan tanah
K = 1 – sin φ
R
(untuk normal consolidated clay) (4.42)
K = (1 – sin φ
R
).√OCR (untuk over consolidated clay)
(4.43)
OCR = overconsolidated ratio
sehingga :
f = (1 – sin φ
R
).tan φ
R

u
’ (untuk normal consolidated clay)
(4.44)
f = (1 – sin φ
R
).tan φ
R
.√OCR.σ
u
’ (untuk over consolidated clay)
(4.45)
dan :
Q
s
= Σ f.

p.∆ L (4.46)
d. Daya Dukung Tiang Menurut Coyle dan Castello (Q
u
)
Daya dukung ujung tiang secara pendekatan dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan daya dukung ultimit pondasi dangkal, sebagai
berikut :
Q
u
= Q
p
+ Q
s
= q’.N
q
*.Ap + f
av
.p.L (4.47)
dimana :
q’ = tegangan vertikal efektif di ujung tiang
f
av
= satuan perlawanan geser selimut tiang rata-rata sepanjang tiang
= K.
v
' σ
tan δ (4.48)
K = koefisien tekanan tanah lateral
v
' σ
= tegangan efektif rata-rata timbunan tanah
δ = sudut geser antara tiang dan tanah
Harga Nq* dan K dapat diperoleh dari Gambar 4.11 dan Gambar 4.12 yang
merupakan hubungan antara L/D dengan φ sedangkan asumsi harga δ =
0,8.φ .
103
sehingga :
Q
u
= Q
p
+ Q
s
= q’.N
q
*.Ap + p.L.K.
v
' σ
tan (0,8.φ ) (4.49)
Gambar 4.11 Nilai Nq* dari hubungan antara L/D dengan φ (Coyle dan Castello,
1981)
104
Gambar 4.12 Nilai K dari hubungan antara L/D dengan φ (Coyle dan Castello,
1981)
4.4 Daya Dukung Tiang Berdasarkan Uji Pembebanan (Pile Load
Test)
Uji pembebanan tiang di lapangan merupakan salah satu cara untuk
menentukan daya dukung tiang dan hasilnya dianggap sangat mendekati daya
dukung tiang yang sebenarnya. Sehingga cara ini sering diguna-an untuk
menguji perencanaan daya dukung tiang dibandingkan dengan cara yang lain.
Dengan kata lain tujuan dari uji pembebanan adalah menentukan dan memeriksa
daya dukung tiang pancang rencana.
Selain itu, data hasil uji pembebanan tiang dapat digunakan untuk
memetapkan kriteria pelaksanaan konstruksi pondasi. Dalam metode
pelaksanaan uji pembebanan tiang di lapangan dapat dilakukan dalam arah
vertikal (axial compression), tarik vertikal (pull-put test) dan pembebanan
horisontal (lateral load test).
Gambar 4.13 Skema Uji Pembebanan
Pada Gambar 4.13 menunjukkan skema diagram uji pembebanan tarik
vertikal, dimana untuk beban reaksinya (counter weight) digunakan sistem tiang
angker (anchor pile) dan sumber bebannya menggunakan dongkrak hidrolis
(hydraulic jack). Selain sistem tiang angker, terdapat juga sistem kenletge yaitu
penggunaan tumpukan balok baja atau balok beton sebagai beban reaksi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan uji pembabanan di
lapangan:
1. Tiang uji dipancang pada lokasi tanah dekat lubang bor dan kondisi tanah
yang relatif jelek
2. Metode pemancangan tiang diusahakan sama seperti yang digunakan
dalam pelaksanaan konstruksi
3. Tenggang waktu untuk pelaksanaan uji pembebanan ± 24 jam setelah
pembenanan (tanah pasir) dan 30 ∼ 60 hari setelah pembebanan (tanah
lempung)
4. Besarnya beban reaksi direncanakan minimal 200% dari beban rencanan
5. Prosentase peningkatan dan pengurangan beban digunakan sebesar 25%
beban rencana
105
6. Setelah maksimum pembebanan tercapai, beban mulai dikurangi (unloading)
dengan kecepatan maksimum sama dengan pembebanan sebelumnya.
Pada Gambar 4.14 menunjukkan hubungan antara beban dan penurunan
untuk tahab penambahan beban (loading) dan pengurangan beban (unloading)
pada beban Q tertentu. Untuk beban Q tertentu, penurunan tiang netto dapat
dihitung bila Q = Q
1
, sehingga penurunan netto (s
net
) dapat dihitung sebagai
berikut :
s
net(1)
= s
t(1)
– s
e(1)
(4.50)
dimana :
s
net(1)
= penurunan netto
s
t(1)
= penurunan total
s
e(1)
= penurunan elastis
Daya dukung batas (Qu) ditentukan dengan menganalisa diagram
hubungan antara beban Q
1
dengan s
net(1)
. Penentuan daya dukung lain didasarkan
pada kriteria peraturan tertentu yang memperhitungkan besar penurunan yang
diijinkan.
106
Q
1
Unloadi
ng
Unloadi
ng
S
e(1
)
S
e(2
)
S
t(1
)
S
t(2)
Settlem
ent
Net Settlement
(s
net
)
Q
2
Load
(Q)
Load
(Q)
12Q
u
Q
u
(a) (b)
Gambar 4.14 (a) Hubungan antara pembebanan dan total penurunan (b)
hubungan antara pembebanan dan penurunan netto
107
4.5 Daya Dukung Tiang Berdasarkan Data Sondir
Untuk menentukan daya dukung pondasi tiang dengan data sondir ada 3 (tiga)
cara :
1. Cara Konvensional
2. Cara Schmertmann dan Nottingham (1975)
3. Cara Tumay dan Fakhroo (1981)
4.5.1 Cara Konvensional
Daya dukung satu tiang :
c
u
1 2
q .A J HP.O
q
F F
· +
(4.51)
dimana :
q
c
= nilai konus (nilai rata-rata harga konus diambil 4.D di bawah ujung tiang
dan 8.D di atas ujung tiang)
JHP = jumlah hambatan pelekat sepanjang tiang
A = penampang tiang
O = keliling tiang
F = faktor keamanan
4.5.2 Cara Schmertmann dan Nottingham (1975)
Daya dukung satu tiang :
q
u
= q
p
+ q
s
(4.52)
( )
c1 c2 c3
p
q q 2 q
q
2
+ ÷ +
·
(4.53)
( )
L 8 L L
s s,c s s s s
L 0 L 8.D
1
q K . . .A .A
8.D
· ·
· ·
]
· +
]
]
∑ ∑
f f
(4.54)
dimana :
q
p
= daya dukung ujung tiang
q
s
= daya dukung akibat lekatan
q
c1
= nilai konus rata-rata dari 0,7.D s/d 4.D di bawah ujung tiang arah a – b
q
c2
= nilai konus minimum dari 0,7.D s/d 4.D di bawah ujung tiang arah b – c
q
c3
= nilai konus rata-rata dari 0,7.D s/d 8.D di atas ujung tiang
K
s,c
= faktor koreksi (K
s
= 2 → untuk pasir, K
c
= 2 → untuk lempung) lihat Grafik
8
D = diameter tiang
f
s
= hambatan lekatan tanah dari data sondir
A
s
= luas selimut tiang
L = panjang total tiang
Untuk bore pile, Schmertmann (1978) menyarankan harga q
c
dikalikan 0,75
artinya untuk memperhitungkan pengurangan tegangan efektif yang bekerja
sepanjang tiang.
108
4.5.3 Cara Tumay dan Fakhroo (1981)
Daya dukung satu tiang :
q
u
= q
p
+ q
s
(4.55)
dimana :
q
p
= daya dukung ujung tiang (cara Schmertmann)
q
s
= daya dukung akibat gesekan kulit = L . O . f
o
f
o
= unit lekatan = m . f
s
f
s
= JHP ÷ L
f
s
= lekatan rata-rata
JHP = jumlah hambatan lekatan sepanjang tiang
L = panjang tiang
O = keliling tiang
m = koefisien lekatan (nilai : 0,50 s/d 10,0)
4.6 Daya Dukung Tiang Berdasarkan Data N-SPT
4.6.1 Secara umum
1. Uji penetrasi standar (Standart Penetration Test / SPT) adalah uji penetrasi
secara dinamis yang dilaku-kan di lapangan terhadap contoh tanah yang
terganggu (disturbed), mengkombinasikan pengujian penetrasi sekaligus
penarikan contoh (sampling)
2. Keuntungan : pengujiannya cepat dan pengerjaannya yang mudah,
sederhana dan praktis
3. Standar pengujian : ASTM D 1586-84 (Standart Methode for Peneration Test
and Split-Barrel Sampling of Soil)
4.6.2 Prosedur Pelaksanaan
1. Split-spoon dengan diameter luar 2,0 inch dan diameter dalam 1,5 inch
dimasukkan/dipukul kedalam lapisan tanah sedalam 18 inch dengan
menggunakan palu (hammer) seberat 140 lb. dijatuhkan secara bebas pada
ketinggian 30 inch dengan energi 4200 inch.lb.
2. Banyaknya jumlah pukulan palu yang diperlukan untuk memasukkan split-
barrel sampler pada penetrasi 6,0 inch kedua dan 6,0 inch ketiga dikenal
dengan Standart Penetration Resistance (N-SPT)
3. Hasil pembacaan N-SPT dinyatakan ditolak dan pelaksanan pengujian
dihentikan apabila :
• diperlukan 50 kali pukulan untuk setiap pertambahan penetrasi 150 mm
• telah dicapai penetrasi dengan 100 kali pukulan
• 10 kali pukulan berturut-turut tidak menunjukkan kemajuan
4.6.3 Daya Dakung Tiang
Daya dukung satu tiang :
Q
u
= Q
p
+ Q
s
(4.56)
dimana :
Q
u
= kapasitas tiang dalam kondisi batas
Q
p
= kapasitas ujung tiang dalam kondisi batas
109
Q
s
= kapasitas friksi tiang dalam kondisi batas
Mayerhof (1956) mengusulkan formulasi daya dukung batas dengan harga N-SPT
sebagai berikut :
Tiang pancang dengan perpindahan besar ( high-displacement driven pile ) :
s
u p p
N.A
Q 4.A .N
50
· +
(4.57)
Tiang pancang dengan perpindahan kecil ( low -displacement driven pile ) :
s
u p p
N.A
Q 4.A .N
100
· +
(4.58)
dimana :
Q
u
= daya dukung batas pondasi tiang (ton) A
p
= luas penampang
dasar tiang (m²)
N
p
= nilai N-SPT pada dasar pondasi A
s
= luas permukaan keliling
tiang (m²)
N
= nilai N-SPT rata-rata sepanjang tiang
Mayerhof (1967) unit tahanan ujung (q
p
) pada tanah pasir akan bertambah
dengan bertambahnya kedalaman tiang sampai sampai ratio (L
b
/D) dan akan
mencapai maksimum pada saat (L
b
/D) = (L
b
/D)
cr
Mayerhof (1976) unit tahanan ujung (q
p
) pada tanah lempung homogen (L = L
b
)
adalah
q
p
(kN/m³) = 40.
N
(L/D) < 400.D (4.59)
dimana :
N
= nilai N-SPT rata-rata pada 10.D di atas dan 4.D di bawah ujung tiang
Mayerhof (1976) unit friksi tiang rata-rata (f
av
) sebagai berikut :
Tiang pancang dengan perpindahan besar ( high-displacement driven pile ) :
f
av
(kN/m²) = 2.
N
, atau
(4.60)
f
av
(lb/ft²) = 40.
N
(4.61)
Tiang pancang dengan perpindahan kecil ( low -displacement driven pile ) :
f
av
(kN/m²) =
N
, atau
(4.62)
110
f
av
(lb/ft²) = 20.
N
(4.63)
dimana :
N
= nilai N-SPT rata-rata sepanjang tiang
Dengan demikian kapasitas daya dukung batas oleh Mayerhof menjadi :
u p p av
L
Q 40.A .q .N p.L.
D
· ⋅ + f
(4.64)
dimana :
A
p
= luas ujung tiang D = lebar tiang
L = panjang pemancangan tiang p = keliling tiang
q
p
= kapasitas ujung tiang dalam kondisi batas f
av
= friksi tiang rata-
rata
Sehingga kapasiats daya dukung ijin pondasi tiang :
u
all
Q
Q
FS
·
(4.65)
dimana :
Q
u
= kapasitas daya dukung batas tiang
FS= angka keamanan (2,5 s/d 4)
111
4.7 Daya Dukung Tiang Berdasarkan Rumus-rumus Pancang
Pengembangan rumus-rumus pancang yang ada didasarkan pada prinsip-
prinsip impuls-momentum, yaitu : mencari persamaan energi yang ditimbulkan
oleh palu (hammer) terhadap kerja yang dilakukan oleh tiang dalam bentuk
penetrasi dengan jarak perlawanan tertentu serta memperhitungkan kehilangan
energi.
Semakin besar perlawanan tiang akan semakin besar pula daya dukung
tiang dalam menahan beban. Kehilangan energi dapat disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain : pemampatan elastis tiang, redaman pe-lindung kepala tiang
(pile cap) dan efisiensi dari palu pancang.
Secara umum telah diketahui bahwa ketelitian penggunaan rumus-rumus
pancang dalam memperkira-kan daya dukung tiang tidak memberikan hasil yang
dapat diandalkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseragaman lapisan tanah dan
kondisi palu pancang menyangkut efisiensi palu yang berubah selama
pelaksanaan pemancangan pada lokasi pekerjaan yang sama.
Walau demikian rumus pancang (driving formula) atau rumus dinamik
(dynamic formula) masih cukup luas penggunaannya terutama untuk
menentukan apakah tiang telah mencapai harga daya dukung yang cukup pada
kedalaman yang direncanakan. Selain itu, rumus pancang digunakan pula untuk
menentukan kapan pelaksanaan pemancangan tiang dihentikan, dimana daya
dukung dari tiang diperkirakan sama dengan hasil uji pembebanan tiang atau
tiang lainnya yang dipancang pada kondisi tanah yang sama.
Bagaimanapun juga pemancangan tiang pada tanah lempung atau tanah
lunak tetap dilakukan sampai pada kedalaman yang sama bukan berdasarkan
jumlah pukulan tertentu. Perlawanan penetrasi dapat juga digunakan untuk
menghindar terjadinya kerusakan tiang dikarenakan kelebihan energi pancang
(overdriving).
Berikut ini akan dijelaskan 3 (tiga) rumus pancang dari sekian banyak rumus
pancang yang telah dikembangkan :
4.7.1 Rumus Engineering News Record (ENR)
Rumus dinamis didasarkan pada hubungan :
Energi yang masuk = energi yang digunakan + energi yang hilang,
atau :
Energi yang digunakan = perlawanan tiang x penetrasi palu (perpindahan
tiang)
Bila energi ditranformasikan sebagai Q
u
yang menghasilkan penetrasi sebesar
“s” dan energi yang hilang sewaktu pemancangan ( ∆ E) maka didapat :
E = Q
u
.s + ∆ E ; bila ∆ E = Q
u
.C dan E = W
R
. h maka didapat : W
R
.h = Q
u
.s
+ Q
u
.C, atau :
R
u
W.h
Q
s C
·
+
(4.66)
dimana :
W
R
= berat palu h = tinggi jatuh palu (cm)
112
s = penetrasi tiang per satuan pukulan (cm)
C = konstanta → untuk palu jatuh bebas (drop hammer) = 2,54 (cm) ≈ 1,0
(inch)
→ untuk palu uap (steam hammer) = 0,254 (cm) ≈ 0,1 (inch)
FS = 6
Untuk palu aksi tunggal dan palu ganda (palu uap) notasi W
R
, h diganti H
E
(energi
palu) dan E (efisiensi palu), sehingga rumus menjadi :
E
u
H .E
Q
s C
·
+
(4.67)
dimana :
H
E
= energi palu
E = efisiensi palu
4.7.2 Rumus Engineering News Record Modified (ENRM)
Rumus yang digunakan :
R R P
u
R P
E.W.h W n².W
Q
s C W W
+
· ⋅
+ +
(4.68)
dimana :
E = efisiensi palu s = penetrasi tiang per satuan pukulan (cm)
W
R
= berat palu C = konstanta = 2,54 (cm)
W
P
= berat tiang n = koefisien restitusi antara palu dan kepala
tiang
h = tinggi jatuh palu (cm) FS = 4 s/d 6
Tabel 4.2 Harga efisiensi palu pancang (E)
N
o.
Type Hammers E
1 Single and double acting
hammers
0,70 ∼ 0,85
2 Diesel hammers 0,80 ∼ 0,90
3 Drop hammers 0,70 ∼ 0,90
Tabel 4.3 Harga koefisiensi resititusi (n)
N
o.
Jenis Bahan Tiang n
1 Cast iron hammes or concrete piles
(without cap)
0,40 ∼
0,50
2
Wood cushion on steel piles
0,30 ∼
0,40
3
Wooden piles
0,25 ∼
0,30
4.7.3 Rumus Pasific Coast Uniform Building Code (PCUBC)
Rumus yang digunakan :
113
E R 1
u
2
E.H.W.C
Q
s C
·
+
(4.69)
R P
1
R P
W n.W
C
W W
+
·
+
(4.70)
u
2
Q .L
C
A E
·
+
(4.71)
dimana :
E = efisiensi palu s = penetrasi tiang per satuan pukulan (cm)
H
E
= energi palu A = luas penampang tiang
W
R
= berat palu n = 0,25 → tiang baja dan 0,10 → tiang lainnya
W
P
= berat tiang FS = 4
Petunjuk pengunaan rumus PCUBC :
1. Hitung Q
u
dengan harga C
2
diambil = 0
2. Hitung C
2
dengan menggunakan 75% harga Q
u
3. Hitung kembali Q
u
dengan menggunakan harga C
2
yang baru dan
seterusnya sampai Q
u (pakai)
= Q
u (hitung)
114
4.7.4 Rumus Michigan
The Michigan State Highway Commission (1965) menunjukkan hasil studi
perhitungan pile driving dengan mengambil 3 lokasi yang berbeda dan 88 sampel
tiang yang diuji. Berdasarkan pengembangan dari rumus ENRM dikemukakan
rumus sebagai berikut :
E R P
u
R P
1,25.H W n².W
Q
s C W W
+
· ⋅
+ +
(4.72)
dimana :
H
E
= energi palu maksimum (lb-in)
C = 0,1 inch
4.7.5 Rumus Danish
Rumus ini didasarkan pada kondisi tanah runtuh :
E
u
E
p P
E.H
Q
E.H .L
s
2.A .E
·
+
(4.73)
dimana :
E = efisiensi palu L = panjang tiang
H
E
= energi palu A
P
= luas penampang tiang
E
P
= modulus bahan tiang SF = 3 s/d 6
4.7.6 Rumus Janbu’s
Rumus yang dupakai :
E
u
u
E.H
Q
s K'
·
+
(4.74)
dimana :
u d
d
K' c . 1 1
c
| `
λ
· + +


. ,
(4.75)
c
d
= 0,75 + 0,15 . (W
P
+ W
R
) (4.76)
E
P P
E.H.L
A .E .S²
λ ·
(4.77)
E = efisiensi palu S = penetrasi tiang per satuan pukulan (cm)
H
E
= energi palu A
P
= luas penampang tiang
W
R
= berat palu E
P
= modulus bahan tiang
W
P
= berat tiang L = panjang tiang
FS = 4 s/d 5
115
4.8 Daya Dukung Tiang Bor – Tunggal
4.8.1 Jenis dan Metode Konstruksi Tiang Bor
Tiang yang dibor dibuat dengan cara membor lubang silindris hingga
kedalaman tertentu kemudian diisi dengan beton berupa lubang lurus atau
dasarnya diperbesar.
Jenis struktur tiang bor/sumuran yang dibor (drilled shaft) :
1. Kaison yang digali/kaison
2. Tiang pancang yang dibor (bored pile) dibatasi D > 760 mm
3. Tiang dengan dasar diperbesar (belled pile)
Metode konstruksi fondasi tiang bor :
1. Metode kering :
a. sumuran digali
b. sumuran diisi beton
c. kerangka tulangan dipasang sampai kedalaman yang dibutuhkan
metode ini untuk tanah kohesif dan muka air tanah di bawah dasar tiang atau
yang permeabilitasnya rendah
2. Metode acuan :
a. metode ini dipakai pada tanah granuler atau deformasi lateralnya yang
berlebihan
b. acuan dipakai untuk menahan masuknya air tanah
c. sebelum acuan dipasang, adonan spesi encer (slurry) untuk
mempertahankan lubang kemudian baru acuan dipasang dan adonan
dikeluarkan.
3. Metode adonan :
Digunakan bila metode 1 dan 2 tidak mungkin dilaksanakan.
4.8.2 Daya Dukung Pondasi Tiang Bor
Untuk tanah dasar lempung :
u P
all
Q A
Q (1,3.c.Nc L'. .Nq 0,4. .B.Nq)
SF SF
· · ⋅ + γ + γ
(4.78)
P
all
A .(9.c)
Q
SF
·
(4.79)
Untuk tanah dasar pasir :
P
all q q
A
Q (L'. .N 0,4. .B.N )
SF
· ⋅ γ + γ
(4.80)
dimana :
L’ = dibatasi sampai 15.D
A
P
= luas dasar pilar
SF= 3
116
Untuk tanah pasir bisa digunakan rumus Mayerhof (1956), dimana penurunan
dibatasi tidak lebih dari 25mm.
SPT →
all P
N55
Q A (kips)
2,5
·
(4.81)
Sondir →
C
all P
q
Q A (kips)
10
·
(4.82)
BAB V
DAYA DUKUNG KELOMPOK TIANG
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan mengetahui secara umum penempatan tiang dalam
kelompok tiang, rumus-rumus menghitung daya dukung tiang dalam kelompok
serta distribusi beban dalam kelompok tiang.
Tujuan Khusus :
Mahasiswa diharapkan dapat menempatkan tiang dalam kelompok tiang,
dapat menghitung daya dukung kelompok tiang, serta menghitung beban
yang diterima masing-masing tiang dalam kelompok tiang sesuai kondisi tanah
yang ada dengan tepat dan benar.
5.1 Daya Dukung Kelompok Tiang
Pada umumnya fondasi tiang dibentuk dalam kelompok tiang untuk dapat
menahan beban struktur bangunan alas dan menyalurkan ke lapisan tanah
dibawahnya Tiang-tiang tersebut disatukan oleh plat belon yang disebut sebagai
"pile cap". Fungsi pile cap adalah untuk menyatukan antar tiang dan
mendistribusikan beban pada tiang-tiang tersebut, lihat Gambar 5.1.a.
Bila letak antar tiang dalam kelompok tiang saling berdekatan,
penyebaran tegangan yang disalurkan melalui tiang ke tanah disekitarnya saling
overlap, lihat Gambar 5.1.b. Idealnya jarak antar tiang dalam kelompok tiang
minimum, d = 2.5 D, dan umumnya digunakan antara d = 3 D s/d 3.5 D (D =
diameter tiang).
117
Number of pile in
group = n
1
x n
2
note : L
g
≥ B
g
L
g
= (n
1
– 1).d + 2.(D/2)
B
g
= (n
2
– 1).d + 2.(D/2)
Gambar 5.1 Tipikal kelompok tiang
Dalam menetukan daya dukung kelompok tiang perlu dilihat jarak antar
tiang dimana terdapat dua ke-mungkinan yaitu : perhitungan kelompok tiang
terdapat 2 (dua) penempatan jarak antar tiang yang berbeda yaitu (1) kelompok
tiang dalam blok kesatuan dengan ukuran L
q
x B
q
x L dan (2) kelompok tiang
secara individu.
5.2 Daya Dukung Kelompok Tiang pada Tanah Non Kohesif (Sand
Soil)
a. Kelompok Tiang Aksi Individu
Apabila jarak antar tiang dalam kelompok d ≥ 3.D, maka besar kapasitas
gesekan kulit adalah :
Q
g(u)
= Σ .Q
u
= n
1
.n
2
.(Q
p
+ Q
s
)
(5.1)
dimana :
Q
p
= q.N
q
*.A
p
(lihat teori Mayerhof)
Q
s
= f
av
. p . ∆ L (toeri Q
s
secara umum)
f
av
= K.
v
.tan δ
sehingga :
Q
g(u)
= .Q
u
= n
1
.n
2
.( q.N
q
*.A
p
+ K.σ
v
.tan δ . p . L) (5.2)
b. Kelompok Tiang Aksi Blok Kesatuan
Apabila jarak antar tiang dalam kelompok d < 3.D, maka kelompok tiang dalam
blok kesatuan mempunyai dimensi : L
g
x B
g
x L, sehingga daya dukung
kelompok tiang adalah :
Q
q(u)
≈ f
av
. p
q
. L
(5.3)
dimana :
p
q
= keliling kelompok tiang (blok) = 2.(n
1
+ n
2
– 2).d + 4.D
118
f
av
= rata-rata unit satuan gesekan kulit (average unit frictional resistance)
L = panjang tiang
5.3 Daya Dukung Kelompok Tiang pada Tanah Kohesif (Clay Soil)
a. Kelompok Tiang Aksi Individu
Apabila jarak antar tiang dalam kelompok d ≥ 3.D, maka besar kapasitas
gesekan kulit adalah :
Q
g(u)
= Σ .Q
u
= n
1
.n
2
.(Q
p
+ Q
s
)
(5.4)
dimana :
Q
p
= N
q
* . c
u(p)
. A
p
= 9 . c
u(p)
. A
p
(lihat teori Mayerhof)
c
u(p)
= undrained cohesion tanah lempung di ujung tiang
Q
s
= Σ f
av
. p . ∆ L = Σ α .c
u
.p.∆ L (lihat teori α )
sehingga :
Q
g(u)
= .Q
u
= n
1
.n
2
.( 9. c
u(p)
. A
p
+ Σ α .c
u
.p.∆ L) (5.5)
b. Kelompok Tiang Aksi Blok Kesatuan
Apabila jarak antar tiang dalam kelompok d < 3.D, maka kelompok tiang dalam
blok kesatuan mempunyai dimensi : L
q
x B
q
x L, sehingga daya dukung
kelompok tiang adalah :
Q
g(u)
= Q
p
+ Q
s
(5.6)
dimana :
Q
s
= Σ p
q
. c
u
. ∆ L = Σ .2(L
q
+ B
q
) . c
u
∆ L
Q
p
= A
p
. q
p
= A
p
. c
u(p)
. N
c
* = (L
q
. B
q
). c
u(p)
.N
c
*
Dimana harga N
c
* (Gambar 3.2) merupakan hubungan antara H/B dan L/B (B =
Bq dan L = Lq), sehingga :
Q
g(u)
= L
q
. B
q
. c
u(p)
.N
c
* + Σ .2(L
q
+ B
q
) . c
u
L ; lihat Gambar 5.2. dan 5.3.
(5.7)
c Membandingkan nilai persamaan (5.5) dan (5.7) dan angka terkecil adalah :
Q
g(u)
119
Gambar 5.2 Daya dukung kelompok tiang pada tanah kohesif
Gambar 5.3 Hubungan Nc* dengan L
g
/B
g
dan L/B
g
(Bjerrum and Eide’s)
120
5.4 Efisiensi Kelompok Tiang ( ; E
g
)
a. Efisiensi kelompok tiang dirumuskan sebagai berikut :
g(u)
av 1 2
u 1 2 av
Q
.[2.(n n 2).d 4.D].L
Q n.n.p.L.
+ − +
η· ·
Σ
f
f
(5.8)
dimana :
η = efisiensi kelompok tiang
Q
g(u)
= daya dukung batas kelompok tiang
Q
u
= daya dukung batas tiang tunggal
Persamaan efisiensi kelompok dapat ditulis sebagai berikut :
1 2
1 2
2.(n n 2).d 4.D
n.n.p
+ − +
η·
(5.9)
Sehingga :
1 2
g(u) u
1 2
2.(n n 2).d 4.D
Q Q
n.n .p
] + − +
· ⋅ Σ
]
]
(5.10)
Untuk praktisnya, bahwa jika :
η < 1 : Q
g(u)
= η . Σ .Q
u
dalam hal ini d < 3.D
 ≥ 1 : Q
g(u)
= Σ .Q
u
dalam hal ini d ≥ 3.D
b. Efisiensi kelompok tiang saran Converse-Labarre Formula, dirumuskan sebagai
berikut :
1
(n 1).m (m 1).n
1 ; tan (D/s)
90.m.n

− + −
η · −θ⋅ θ·
(5.11)
dimana :
η = efisiensi kelompok tiang
m = jumlah baris tiang
n = jumlah tiang dalam satu baris
θ = sudut dalam derajat
s = jarak pusat ke pusat antar tiang
D = diameter tiang
5.5 Distribusi Beban Pada Tiang
Jika beban luar uang bekerja pada kelompok tiang adalah beban vertikal
sentries, maka beban yang bekerja pada masing-masing tiang adalah :
Q
p
= Q
v
÷ n (5.12)
dimana :
Q
p
= beban tiang tunggal
Q
v
= beban total vertikal
n = jumlah tiang dalam kelompok tiang
Apabila beban vertikal tersebut bekerja eksentris terhadap titik pusai
kelompok tiang, maka sesuai dengan teori mekanika teknik maka besarnya
121
tegangan yang timbul pada suatu titik dengan jarak berturut-turut x dan y
terhadap titik pusat adalah :
y
x
y x
M.x
M.y
I I
σ · +
(5.13)
122
Dari Gambar 5.4 dapat diketahui bila beban eksentris maka beban pada
masing-masing tiang dalam kelompok dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :
y
v x
p b b
y x
M.x
Q M.y
Q A A
n I I
· + ⋅ + ⋅
(5.14)
dimana :
A
b
= luas penampang tiang tunggal
I
x
= momen inersia terhadap sumbu : x - x
= I
0
+ A
b
. Σ y² ; I
0
= 0
= A
b
. Σ y²
I
y
= momen inersia terhadap sumbu : y - y
= A
b
. Σ x²
M
x
= Q
v
. e
y
M
y
= Q
v
. e
x
e = eksentrisintas
Σ x² = jumlah jarak masing-masing tiang terhadap sumbu y –
y
Σ y² = jumlah jarak masing-masing tiang terhadap sumbu x –
x
sehingga :
v y
v v x
p b b
b b
Q .e .y
Q Q .e .x
Q A A
n A . y² A . x²
· + ⋅ + ⋅
Σ Σ
(5.15)
atau :
y
x
p v
e .y
e .x 1
Q Q
n y² x²
| `
· + +

Σ Σ
. ,
(5.16)
123
Gambar 5.4 Distribusi tiang dalam kelompok
Q
u
= daya dukung batas tiang tunggal
Gambar 5.5 Penempatan tiang dalam kelompok tiang
124
BAB VI
PENURUNAN KELOMPOK TIANG
Tujuan umum :
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui secara umum perilaku tanah
dibawah permukaan tanah akibat beban bangunan diatasnya.
Tujuan Khusus :
Mahasiswa diharapkan dapat menghitung penurunan akibat beban bangunan
di atasnya dengan rumus yang benar dan tepat.
6.1 Penurunan Elastic Kelompok Tiang (Elastic Settlement)
Vesic (1969) memberikan rumus tentang penurunan tiang sebagai berikut :
g
g(e)
B
s
D.s
·
(6.1)
dimana :
S
g(e)
= penurunan elastik kelompok tiang
B
g
= lebar kelompok tiang
D = diameter/lebar tiang tunggal
s = penurunan elastik tiang tunggal
Mayerhof (1976) memberikan rumus tentang penurunan tiang sebagai berikut
:
g
g(e)
0,92.q. B .I
S
N
·
(6.2)
dimana :
S
g(e)
= penurunan elastik kelompok tiang (mm)
q = Q
g
/ (L
g
. B
g
)
L
g
= panjang kelompok tiang
B
g
= lebar kelompok tiang
N
= N-SPT (standart penetration test) rata-rata pada kedalaman B
g
di bawah
dasar fondasi
I = faktor pengaruh,
g
g
L
I 1 0,50
8.B
· − ≥
Apabila menggunakan rumus dengan data sondir (cone penetration test
(CPT)):
125
g
g(e)
c
q. B .I
S
2.q
·
(6.3)
dimana :
S
g(e)
= penurunan elastik kelompok tiang
q = Q
g
/ (L
g
. B
g
)
B
g
= lebar kelompok tiang
I = faktor pengaruh,
g
g
L
I 1 0,50
8.B
· − ≥
c
q
= rata-rata nilai konus
Penurunan Elastik Tiang Tunggal dihitung sebagai berikut :
s = s
1
+ s
2
+ s
3
(6.4)
dimana :
s = penurunan elastik tiang tunggal
s
1
= penurunan yang terjadi sepanjang tiang
s
2
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada ujung tiang
s
3
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja sepanjang
kulit/selimut tiang
Cara menentukan s
1
:
Bila pondasi tiang dianggap elastis, maka pergeseran sepanjang kuli tiang
dapat ihitung dengan rumus :
wp ws
1
p p
(Q .Q ).L
s
A .E

·
(6.5)
dimana :
s
1
= penurunan yang terjadi sepanjang tiang
Q
wp
= beban yang diterima pada ujung tiang
Q
ws
= beban yang diterima sepanjang kulit tiang
A
p
= luas penampang tiang
L = panjang tiang
E
p
= modulus elstisitas material tiang (umumnya : 2,1 . 10
6
N/m²)
Besarnya ξ dipengaruhi oleh distribusi satuan gesekan kulit (f ) sepanjang
tiang. Bila distribusi dari f uniform atau parabolic maka harga ξ = 0,5 dan bila
distribusinya segitiga, harga ξ = 0,67, seperti gambar berikut :
126
Gambar 6.1 Faktor pengaruh dari bentuk distribusi satuan gesekan kulit
Cara menentukan s
2
:
Penurunan tiang yang terjadi akibat beban yang diterima diujung tiang adalah
sebagai berikut :
127
fff
ξ =
0,5
ξ =
0,5
ξ =
0,67
(a
)
(b
)
(c
)
( )
wp 2
2 s wp
s
q .D
s 1 I
E
· ⋅ −µ ⋅
(6.5)
dimana :
s
2
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada ujung tiang
D = lebar / diameter tiang
q
wp
= beban yang diterima pada ujung tiang per satuan luas/unit = Q
wp
/ A
p
E
s
= modulus elastisitas (modulus young) tanah di ujung tiang (umumnya :
30.000 kN/m²)
µ
s
= angka poisson untuk tanah (umumnya : 0,3)
I
wp
= faktor pengaruh = α
r
(faktor pengaruh untuk pondasi telapak, lihat
Gambar 6.2)
= α
r
= 0,88 (untuk pondasi tiang dengan penampang lingkaran)
Gambar 6.2 Faktor pengaruh yang tergantung dengan bentuk penampang tiang
Vesic (1977) mengemukakan perhitungan semiempiris untuk s
2
sebagai
berikut :
wp p
2
p
Q .C
s
D.q
·
(6.6)
dimana :
s
2
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada ujung tiang
Q
wp
= beban yang diterima pada ujung tiang
C
p
= koefisien empiris (Tabel 6.1)
D = lebar / diameter tiang
q
p
= daya dukung batas ujung tiang
Tabel 6.1. Harga C
p
N
o
Soil Type Driven pile Bore pile
1 Sand (dense to 0,02 – 0,04 0,09 – 0,18
128
loose)
2 Clay (stiff to soft) 0,02 – 0,03 0,03 – 0,06
3 Silt (dense to loose) 0,03 – 0,05 0,09 – 0,12
from “Design of foundations” by : A.S. Vesic, in NCHRB synthesis of highway
practise (1977)
Cara menentukan s
3
:
Penurunan tiang yang terjadi akibat beban yang diterima sepanjang kulit tiang
adalah sebagai berikut :
( )
wp 2
3 s ws
s
Q
D
s 1 I
p.L E
| `
· ⋅ ⋅ − µ ⋅

. ,
(6.7)
dimana :
s
3
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada sepanjang
kulit tiang
Q
wp
= beban yang diterima pada ujung tiang
D = lebar / diameter tiang
p = keliling penampang tiang
L = panjang tiang tiang
E
s
= modulus elastisitas (modulus young) tanah di ujung tiang (umumnya :
30.000 kN/m²)

s
= angka poisson untuk tanah (umumnya : 0,3)
I
ws
= faktor pengaruh
Faktor pengaruh I
ws
menurut Vesic (1977) adalah sebagai berikut :
ws
L
I 2 0,35.
D
· +
(6.8)
dimana :
D = lebar / diameter tiang
L = panjang tiang tiang
Vesic (1977) mengemukakan juga perhitungan semiempiris untuk s
3
sebagai
berikut :
wp s
3
p
Q C
s
L.q
·
(6.10)
dimana :
s
3
= penurunan tiang disebabkan oleh beban yang bekerja pada sepanjang
kulit tiang
Q
wp
= beban yang diterima pada ujung tiang
L = panjang tiang tiang
q
p
= daya dukung batas ujung tiang
C
s
= konstanta empiris,
( ) 1 . 6 Tabel C ; C . ) D / L ( . 16 , 0 93 , 0 C
p p s
→ + ·
129
6.2 Penurunan Konsolidasi Kelompok Tiang (Consolidation
Settlement)
Penurunan konsolidasi pada kelompok tiang pada tanah lempung digunakan
untuk pendekatan penyebaran distribusi tegangannya dengan perbandingan 2 :
1 (Gambar 6.3).
Prosedur perhitungannya adalah sebagai berikut :
1. Bila panjang penanaman tiang (L) dan beban yang bekerja pada kelompok
tiang (Q
g
), pile cap berada dipermukaan tanah maka Q
g
= beban total
bangunan atas – berat berat tanah yang digali
2. Penyebaran tegangan kelompok tiang pada tanah lempung dimulai dari
kedalaman
2
/
3
.L dari bagian atas tiang (z = 0). Beban Q
g
disebarkan dengan
perbandingan 2 ÷ 1 (2 vertikal ÷ 1 horisontal)
3. Hitung penambahan tegangan pada setiap tengah-tengah lapisan akibat Q
g
dengan rumus :
g
i
g i g i
Q
p
(B z).(L z)
∆ ·
+ +
(6.11)
dimana :
p
i
= penambahan tegangan pada tengah-tengah lapisan i
Q
g
= beban yang bekerja pada kelompok tiang
L
g
, B
g
= panjang dan lebar kelompok tiang
z
i
= jarak dari z = 0 sampai dengan tengah-tengah lapisan ke-i
4. Hitung penurunan tiap lapisan :
(i)
i i
o(i)
e
s H
1 e
] ∆
∆ · ⋅
]
+
]
]
(6.12)
dimana :
∆ s
i
= penurunan konsolidasi pada lapisan ke-i
e
(i)
= perubahan angka pori akibat penambahan tegangan pada lapisan ke-i
e
o
= angka pori awal pada lapisan ke-i
H
i
= tebal lapisan ke-i
5. Penurunan total konsolidasi :
g i
s s ∆ · ∆

(6.13)
c(i) i 0(1) (i)
i
0(i) 0(i)
C .H P p
s log
1 e P
] ] + ∆
∆ ·
] ]
+
] ]
] ]
(6.14)
dimana :
∆ s
g
= penurunan total konsolidasi pada kelompok tiang
∆ s
i
= penurunan konolidasi pada lapisan ke-i
130
Gambar 6.3 Penurunan kelompok tiang
131
132

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful