PEMBAHARUAN DI MESIR (MUHAMMAD ABDUH DAN RASYID RIDHA) Comment( 0

)

1.

Muhammad Abduh

Muhammad Abduh (Arab: ) (Delta Nil, 1849 - Alexandria, 11 Juli 1905) adalah seorang Mesir ahli hukum, ulama reformis dan liberal, yang dianggap sebagai pendiri Modernisme Islam. Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 dalam sebuah keluarga petani di Mesir Hilir. Ia dididik oleh guru privat dan qari dari Quran. Pada tahun 1862 dia dimasukkan ke sekolah agama yang ada di Thantha, tetapi nampaknya kurang tertarik. Karena itu dia keluar dari sekolah tersebut dan masuk kembali pada tahun 1865. Tetapi pada tahun berikutnya dia meninggalkan Thantha dan belajar di Al-Azhar, Kairo. Di Al-azhar perhatian abduh terpusat pada pelajaran tasawuf dan kehidupan sufi. Dalam tahun 1872, Abduh berkenalan dengan Al-afghani, dan darinya dia belajar melihat islam dan ajaran islam dari kacamata yang baru. Al-Afghani memperkenalkan kepadanya karya-karya penulis barat yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa arab, serta tentang masalah-masalah politik dan social yang tengaah dihadapi oleh rakyat mesir sendiri maupun umat islam pada umumnya. Kemudian Abduh menjadi salah satu pengikut al-afghani yang setia. Atas pengaruh Al-Afghani lah abduh belajar jurnalistik, yang terus dipraktekkannya. Menurut Abduh, untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama (Salafiyah). Selain itu umat islam juga perlu bersatu untuk melawan kezaliman penguasa, lebih-lebih terhadap imperialis dan kolonialis barat. Namun pendidikan juga sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan islam dan tidak ada salahnya bila kita belajar dari barat yang lebih unggul dalam bidang ilmu, teknologi dan organisasi. Pada tahun 1877 Abduh menyelesaikan pendidikannya di Al-azhar dengan gelar saarjana Alim. Pada tahun 1879 dia diangkat menjadi pengajar di Dar al-Ulum, tetapi pada tahun itu juga diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu Al-Afghani diusir dari mesir. Pada tahun 1880 Abduh diangkat menjadi pimpinan majalah resmi Al-Waqa i al-Misriyah, yang dibawah pimpinannya berubah menjadi corong Partai Liberal. Atas tuduhan terlibat dalam pemberontakkan Urabi Pasha yang gagal, meskipun keterlibatan itu tidak jelas, pada akhir tahun 1882 Abduh diusir dari mesir. Abduh pergi ke Beirut, Libanon, baru kemudian paada tahun 1884 dia menggabungkan diri dengan Al-afghani di Paris. Mereka membentuk oganisasi Al-Urwah al-Wutsqa, dan menerbitkaan majalah yang senama dengan organisasi tersebut., namun majalah tersebut hanya berumur 8 bulan. Dari Paris dia pindah ke Tunisia, tetapi sejak awal tahun 1885 dia menetap di Beirut. Dalam kurun waktu itu Abduh sempat menyalin

seorang pembaru dari Mesir. Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al. yang berisi sangggahan terhadap pahaam atheisme. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib. Namun. yaitu Jamaluddin Al-Afghani. seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan. Namun. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. ketika Muhammad Abduh ke Beirut. Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu. Rasyid Ridha Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai. dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris). dua tahun kemudian diangkat sebagai penasehat Cour d appel 9Mahkamah Banding). Melalui surat kabar ini. cucu Nabi Muhammad SAW. 2.Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M. dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. dan Muhammad Abduh. Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid). Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya.satu-satunya buku karya tulis Afghani yang cukup berarti. dan tak lama kemudian dia diangkat menjadi hakim pada Tribunaux Indigine (Pengadilan untuk pribumi). Pada tahun 1899 dia menjadi mufti Negara sampai wafatnya pada tahun 1905. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli. Pada tahun 1889 Abduh diampuni dan diizinkan kembali ke Mesir. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. dari bahasa Persia ke bahasa Arab. karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. dibandingkan masyarakat kolonialis Barat. Rasyid Ridha .

dan ekonomi. Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran.Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam). . untuk melengkapi tafsir tersebut. Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah An-Nisa ayat 125. Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif). Nida Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita). Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan mengarang berbagai buku dan kitab. Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga selesai. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan. memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang menyimpang. Al-Manar adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. yang biasa juga disebut salaf (pendahulu) yang saleh. Zikra AlMaulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw). Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya. serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai intervensi dari luar. Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Akibat semakin besarnya tentangan itu. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat sambutan. Selanjutnya. Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri Al. Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW). Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar). menyebarkan ideide pembaharuan dalam bidang agama. Muhammad Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya.berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar. Salafiyah adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama. Hal ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905. akhirnya pada 1898. upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh). sosial. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori oleh Afghani dan Abduh. Namun. Antara lain. yang telah lama tinggal di sana.dan haquq al-mar ah as-shalihah (hakhak wanita muslimah). dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf tradisional. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman. dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Antara lain. barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah Al-Manar. karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap tulisannya. Setelah menerbitkan majalah Al-Manar. Maka. Di Lebanon. catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali.

ia meninggal dunia dan meninggalkan banyak ide-ide pembaruan. sekembalinya dari Suez setelah mengantarkan Pangeran Su ud. pada bulan Agustus tahun 1935. yang cukup memberikan pengaruh terhadap generasi selanjutnya.Setelah menebarkan kiprah dirinya dalam banyak bidang. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful