P. 1
Penanganan Fisioterapi Pada Post Operasi Fraktur Cruris 1

Penanganan Fisioterapi Pada Post Operasi Fraktur Cruris 1

|Views: 724|Likes:
Published by Andiny Mutia

More info:

Published by: Andiny Mutia on Jul 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

penanganan fisioterapi pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal

BAB I PENDAHULUAN Dalam pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan tujuan Pembangunan Nasional adalah tercapainya kesejahteraan umum yang berarti mewujudkan masyarakat makmur dan berkeadilan sosial. Kriteria bahwa kesejahteraan umum dikatakan berhasil jika derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat tercapai. Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan nasional mengenai pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi nasional menuju Indonesia sehat 2010. Upaya pelayanan kesehatan yang semula mengutamakan aspek pengobatan saja berangsur-angsur berkembang dan mencakup upaya peningkatan (promotif), upaya pencegahan (preventif), upaya penyembuhan (kuratif) dan upaya pemulihan (rehabilitatif). Fisioterapi sebagai salah satu tenaga kesehatan juga menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum dalam mengembangkan, memelihara dan memulihkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat dalam hal pengobatan, pencegahan, penyembuhan serta rehabilitasi medik. Pelayanan pada Rumah Sakit berangsur - angsur semakin berkembang seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dalam kasus ini, penanganan yang dilakukan Rumah Sakit terutama dalam bidang ilmu bedah, adalah dengan metode operatif yaitu suatu bentuk operasi dengan pemasangan Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) dimana jenis internal fiksasi yang digunakan dalam kasus ini berupa plate and screw. Pada kasus ini metode operasi yang digunakan internal fixasi karena dengan metode konservatif sudah tidak mungkin dapat dilakukan, hal ini dikarenakan fragmen fraktur sulit untuk menyambung dengan baik. Selain itu, penyambungan tulang kontak fragmen langsung lebih baik dari pada tanpa operasi (Appley, 1995). Alasan lain, karena proses penyambungan tulang lebih cepat sehingga pasien tidak kehilangan banyak waktu serta biaya untuk rawat inap di Rumah Sakit (John C. Adams, 1992). Fraktur adalah suatu perpatahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan atau perimpilan korteks, biasanya patahan tersebut lengkap dan fragmen tulangnya bergeser. Jika kulit diatasnya masih utuh, disebut fraktur tertutup sedangkan jika salah satu dari rongga tubuh tertembus disebut fraktur terbuka (Appley, 1995). Salah satu penyebab fraktur adalah adanya tekanan atau hantaman yang sangat keras dan diterima secara langsung oleh tulang. Sebanding dengan banyaknya pasien kasus fraktur di Rumah Sakit yang mendapatkan pelayanan medis kurang adekuat atau kurang optimal oleh karena keterbatasan biaya dan fasilitas, maka akan berdampak pada pemulihan dengan hasil sisa atau sequele. Secara tidak langsung hasil sisa tersebut terutama pada fraktur cruris mengalami gangguan fungsional sehingga berakibat pada produktivitas kerja yang akhirnya akan menurunkan pendapatan perkapita negara sebagai sumber dana dan sarana pembangunan nasional. Pada kasus fraktur terutama post operasi fraktur cruris menimbulkan berbagai macam gangguan yaitu impairment, functional limitation dan disability. Fisioterapi sebagai salah satu tenaga medis, mempunyai peran yang sangat penting terutama dalam mengatasi permasalahan akibat tindakan operasi. Adapun modalitas yang digunakan fisioterapi pada kasus fraktur cruris 1/3 distal dextra disini adalah dengan terapi latihan.

Terapi latihan merupakan salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan gerak pasif dan aktif (Kisner. (4) gangguan aktivitas fungsional dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan. (3) keterbatasan lingkup gerak sendi ankle. (4) passive exercise. (4) latihan ambulasi untuk aktivitas fungsional berjalan secara bertahap. 1996). berdiri dan berjalan. 1996). dan tahun 2005 sebanyak 4549 orang dengan penderita fraktur cruris 1613 orang (RSO Dr.permasalahan tersebut rumusan masalah yang dapat penulis kemukakan adalah (1) apakah breathing exercise dapat mencegah komplikasi paru pada pasien post operasi? (2) static contraction yang dikombinasi dengan elevasi dapat mengurangi oedem sehingga nyeri dapat berkurang? (3) apakah passive exercise dapat memelihara dan mengembalikan luas gerak sendi ankle? (4) apakah active exercise dapat memelihara luas gerak sendi ankle? (5) apakah latihan jalan dapat meningkatkan kemampuan fungsional . Soeharso Surakarta menunjukkan bahwa penderita fraktur pada tahun 2002 sebanyak 863 orang dengan penderita fraktur cruris 74 orang. tahun 2003 sebanyak 830 orang dengan penderita fraktur cruris 66 orang. 1996). menambah atau memelihara luas gerak pergelangan kaki serta melatih aktivitas jalan sehingga dengan latihan tersebut pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas seperti semula. (2) nyeri. (5) active exercise. mempertahankan. Peran fisioterapi sangat penting dalam mengatasi permasalahan akibat dari tindakan operasi yaitu dengan memberikan terapi latihan yang berupa (1) static contraction yang dikombinasi dengan positioning (elevasi) untuk pengurangan oedem pada tungkai bawah sehingga nyeri dapat berkurang (Kisner. Macam dari terapi latihan tersebut diantaranya (1) breathing exercise. functional limitation dan disability. Dampak lebih lanjut adalah adanya satu bentuk functional limitation yang berupa kesulitan dalam melakukan aktivitas fungsional terutama jongkok. Dilihat dari aspek fisioterapi. Modalitas yang digunakan oleh fisioterapi dalam upaya pemulihan dan pengembalian kemampuan fungsional pada pasien fraktur adalah dengan terapi latihan. Latar Belakang Masalah Menurut gambaran epidemiologinya. Dengan permasalahan . mengurangi adanya pembengkakan pada daerah sekitar fraktur. Pada kondisi post operasi fracture cruris 1/3 distal dextra akan menimbulkan problematik seperti (1) oedem. (6) latihan jalan. Soeharso). Disamping itu timbul juga adanya ketidakmampuan dalam melaksanakan aktivitasnya seperti semula yaitu sebagai buruh yang disebut dengan disability. (2) posisioning (3) static contraction. fracture cruris 1/3 distal dextra dapat menimbulkan berbagai tingkat gangguan yaitu impairment berupa bengkak pada ankle dan tungkai bawah. 1996). Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang muncul pada post operasi fracture cruris 1/3 distal dextra dengan pemasangan plate and screw di tinjau dari segi fisioterapi sangat kompleks. nyeri sekitar luka operasi. Terapi latihan disini bermanfaat dalam mengurangi nyeri akibat oedem dan luka incisi. fraktur merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan kecacatan paling tinggi dari semua trauma kendaraan bermotor. Data yang tercatat di RSO Dr. (3) latihan gerak aktif untuk pemeliharaan luas gerak sendi ankle (Kisner. keterbatasan luas gerak sendi ankle. (2) latihan gerak pasif untuk pemeliharaan dan pengembalian luas gerak sendi ankle (Kisner. B.  A. tahun 2004 sebanyak 889 orang dengan penderita fraktur cruris 54 orang. karena berhubungan dengan impairment.

1975). yaitu epiphysis proksimalis. otot extensor digitorum longus. Gambar 1 Tulang Tibia dan Fibula kanan tampak depan (Putz. Gerakan yang dapat dilakukan sendi pergelangan kaki adalah plantar fleksi. Anatomi Fungsional a. otot fleksor halucis longus. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tulang tibia sering disebut juga dengan tulang kering. Tulang tibia terletak disebelah medial fibula yang terdiri dari 3 bagian. eversi.0˚. saat dorsal fleksi ankle talus akan sliding kea rah posterior dan fibula akan bergerak kea rah proximal. dorsi fleksi. Deskripsi Kasus 1. Dilihat dari aspek arthrokinematika. b. 2000) Keterangan gambar 1. Sedangkan tulang fibula terletak di sebelah lateral tibia. dan inversi (Norkin. dan juga terdiri dari 3 bagian. diaphysis dan epiphysis distalis. 1989). sedangkan tulang fibula disebut juga dengan tulang betis. (4) untuk mengetahui manfaat active exercise terhadap pemeliharaan luas gerak sendi ankle. Otot penggerak pergelangan kaki adalah otot gastrocnemius. Tulang fibula 2. otot plantaris.1995). sedang luas gerak sendi untuk gerak eversi . Dengan adanya kontraksi dari otot akan timbul gerakan pada sendi atau tulang.dorsal fleksi S 20˚. Luas gerak sendi pergelangan kaki untuk gerak plantar fleksi . sendi talocruralis dan sendi subtalaris. otot tibialis.jalan?   C. Sistem otot Tulang merupakan alat gerak tubuh pasif.   c. otot peroneus longus (Daniels and Wortingham. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah (1) untuk mengetahui manfaat breathing exercise untuk mencegah komplikasi paru post operasi (2) untuk mengetahui manfaat static contraction dan positioning (elevasi) terhadap pengurangan oedem sehingga nyeri dapat berkurang. Sistem Tulang Tungkai bawah terdiri dari 2 tulang yaitu tulang tibia dan tulang fibula.20˚ yang diukur pada posisi anatomis (Russe.0˚-50˚. (3) untuk mengetahui manfaat passive exercise terhadap pemeliharaan dan pengembalian luas gerak sendi ankle. Sistem Sendi Sendi pergelangan kaki terdiri dari 3 persendian yaitu sendi tibiofibularis distalis. (5) untuk mengetahui manfaat latihan jalan terhadap peningkatan kemampuan aktifitas fungsional jalan. sedangkan otot merupakan alat gerak tubuh aktif. Tulang tibia . Tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan mempunyai dua ujung.inversi R 40˚. otot soleus.

Jadi. 1995). Soleus B. 2000) Keterangan gambar : 1. Soleus 5. Digitorum longus 6. m. 2000) Keterangan gambar : 1. Fibularis brevis 7. Extensor hallucis longus Gambar 3 Otot tungkai bawah kanan tampak belakang (Putz. (2) static contraction. Tujuan dari terapi latihan adalah untuk mengatasi gangguan fungsi dan gerak. m. b. baik secara aktif maupun pasif (Kisner. mencegah timbulnya komplikasi. m. Terapi latihan Terapi latihan adalah salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan . 1996).Gambar 2 Otot tungkai bawah kanan tampak depan (Putz. 1/3 distal dextra adalah 1/3 bagian bawah dari tungkai kanan. Gastrocnemius 4. Jenis terapi latihan yang digunakan dalam kasus ini antara lain (1) breathing exercise. (4) active exercise. Fibularis anterior 3. Sedangkan cruris adalah tungkai bawah yang terdiri dari tulang tibia dan fibula. Gastrocnemius lateralis 2. Fraktur cruris 1/3 distal dextra Fraktur adalah suatu perpatahan pada kontinuitas struktur tulang (Appley. m.latihan gerak tubuh. m. m. m. m. Gastrocnemius medialis 3. m. mengurangi nyeri dan oedem serta melatih aktivitas fungsional. Gastrocnemius tendo 4. (3) passive exercise. Definisi a. m. Extensor digitorum longus 8. fraktur cruris 1/3 distal dextra . (5) latihan transver dan ambulasi. Fibularis (peroneus) longus 2. m. m. Patologi dan Problematika Fisioterapi 1.

baik langsung maupun tak langsung. 3. yang terjadi perpatahan pada 1/3 distal cruris dextra. nyeri. Pada fraktur yang tidak kompleks. Hematoma Hematoma adalah suatu proses perdarahan dimana darah pada pembuluh darah tidak sampai pada jaringan sehingga osteocyt mati. keterbatasan luas gerak sendi serta gangguan fungsional pada tungkai. 1992). Waktu penyembuhan fraktur sangat bervariasi antara individu satu dengan individu lainnya. Adams. pasokan darah pada fraktur. akibatnya terjadi necrose. jenis fraktur. 1996). Perubahan Patologi Operasi pada fraktur cruris 1/3 distal dextra akan dilakukan incisi pada tungkai bawah bagian lateral. c. banyaknya displacement fraktur. (3) fraktur karena keadaan patologi (Appley. Stadium ini berlangsung 1 sampai 3 hari (Gartland. Etiologi Menurut etiologinya fraktur dibedakan menjadi 3 yaitu (1) fraktur yang disebabkan oleh trauma. Cairan ini akan menekan ujung saraf sensoris sehingga akan timbul nyeri dan pergerakan pada daerah tersebut menjadi terbatas. Biasanya digunakan pada fraktur tulang panjang dengan tipe simple tranverse dan simple oblique fraktur. proses penyambungan tulang dibagi dalam 5 tahap yaitu: a. Pada stadium ini terjadi pembentukan granulasi jaringan yang banyak mengandung . b. Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) adalah suatu jenis operasi dengan pemasangan internal fixasi yang dilakukan ketika fraktur tersebut tidak dapat direduksi secara cukup dengan close reduction. Pada kasus ini penulis memilih fraktur yang disebabkan karena trauma langsung yaitu karena kecelakaan lalulintas atau benturan. Setelah 24 jam suplai darah ke area fraktur mulai meningkat. Bila pembuluh darah terpotong. Etiologi atau penyebab lain dari permasalahan ini adalah adanya tindakan operasi untuk reduksi dan pemasangan fixasi. Proliferasi Proliferasi adalah proses dimana jaringan seluler yang berisi cartilage keluar dari ujung – ujung fragmen sehingga tampak di beberapa tempat bentukan pulau – pulau cartilage. Tulang mempunyai kemampuan menyambung setelah terjadi patah tulang. 2.1995). jaringan lunak dan luka pada otot yang menyebabkan terjadinya oedem. bukti mikroskopik dari penyembuhan biasanya dapat terlihat pada tempat fraktur dalam 15 jam setelah cedera (Garrison. atau ketika plaster gagal untuk mempertahankan posisi yang tepat pada fragmen fraktur (John C. lokasi fraktur. 1974). dan kondisi medis yang menyertai. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur antara lain: usia pasien. Pada operasi ini dilakukan incisi untuk pemasangan internal fixasi berupa plate and screw sehingga akan terjadi kerusakan kulit. Internal fixasi yang digunakan pada kasus ini berupa plate and screws yang merupakan sebuah lempengan besi dan berupa sekrup yang dipasang pada tulang yang patah dan berfungsi sebagai immobilisasi. Pada fraktur. Dengan operasi ini akan mengakibatkan kerusakan jaringan lunak ataupun kerusakan saraf sensoris sehingga akan menimbulkan nyeri. (2) fraktur yang disebabkan oleh kelelahan pada tulang.adalah patah tulang yang terjadi pada tulang tibia dan fibula bagian kanan yang terletak pada 1/3 bagian bawah dari tulang. Hematoma yang banyak mengandung fibrin melindungi tulang yang rusak. maka cairan dalam sel akan menuju jaringan dan menyebabkan pembengkakan.

antara lain: a. Haematoma merupakan dasar untuk proses penggantian dan penyembuhan tulang. 1995). Fase ini berlangsung 2 sampai 6 minggu (Gartland. c. komplikasi yang mungkin terjadi yaitu komplikasi yang berhubungan dengan setelah dilakukannya tindakan operasi. kelemahan otot sehingga pasien enggan untuk bergerak dan beraktivitas. Pada tahap ini tulang sudah kuat tapi masih berongga. d. Nyeri Nyeri merupakan adanya kerusakan jaringan. Jika stadium putus maka proses penyembuhan luka menjadi lama. ligamen.pembuluh darah. dan otot disekitar sendi dan terjadi perlengketan antar jaringan lunak. c. yang berlangsung 3 hari sampai 2 minggu (Gartland. Kekakuan sendi Kekakuan sendi biasanya terjadi akibat oedem dan fibrosis pada kapsul. e. 5. (3) keterbatasan gerak sendi ankle. spasme otot.1974). Perubahan patologi setelah dilakukan operasi timbul permasalahan yang berupa : a. (4) gangguan aktivitas fungsional. Oedem Oedem dapat timbul karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat incisi. 1974). Tanda dan Gejala Tanda dan gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra antara lain (1) oedem disekitar tungkai bawah. 1974). Komplikasi Pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra. sehingga cairan yang melewatinya tidak lancar dan terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak. Fase ini biasanya butuh waktu 3 minggu sampai 6 bulan. oedem. 4. terutama gangguan jalan (Appley. Pembentukan ini terjadi setelah granulasi jaringan menjadi matang. b. Tahap ini berlangsung selama 6 minggu sampai 1 tahun (Gartland. b. Remodeling Remodeling adalah proses dimana tulang sudah terbentuk kembali atau tersambung dengan baik. 1974). dimana jaringan akan mengeluarkan zat kimia seperti bradikinin. Pembentukan callus atau kalsifikasi Pembentukan callus atau kalsifikasi adalah proses dimana setelah terjadi bentukan cartilago yang kemudian berkembang menjadi fibrous callus sehingga tulang akan menjadi sedikit osteoporotik. Callus yang tidak diperlukan mulai diabsorbsi (Gartland. 1996). (2) rasa nyeri akibat adanya oedem dan luka incise post operasi. Komplikasi kulit . zat kimia tersebut akan merangsang nociseptik yang akan menambah nyeri daerah tersebut (Kisner. histamine sebagai reaksi dari kerusakan jaringan. Pada tahap ini tulang semakin menguat secara perlahan – lahan terabsorbsi dan terbentuk canalis medularis. serotonin. fibroblast dan osteoblast. Keadaan ini menyebabkan perlengketan jaringan dan keterbatasan luas gerak sendi yang dalam jangka waktu lama akan berpengaruh pada penurunan kemampuan aktivitas fungsional terutama berjalan. Konsolidasi Konsolidasi adalah suatu proses dimana terjadi penyatuan pada kedua ujung tulang. Keterbatasan LGS Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri.

dan peran dari fisioterapi. (4) quo ad cosmeticam yang disebut juga dengan proses remodeling baik jika tidak terjadi deformitas tulang. Penanganan yang diberikan seperti operasi dan pemberian internal fiksasi juga sangat mempengaruhi terutama dalam memperbaiki struktur tulang yang patah. b. bagaimana operasinya. (3) quo ad fungsionam baik jika pasien dapat melakukan aktivitas fungsional. kemudian jenis fraktur yang diderita ringan. bentuk dan jenis perpatahan simple. Setelah operasi dengan pemberian internal fiksasi berupa plate and screw. usia pasien relative muda dan tidak ada infeksi pada fraktur. Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah sakit sesaat setelah terjadi trauma. tidak terdapat infeksi pada fraktur dan peredaran darah lancar. usia pasien relative muda. Beberapa tempat yang sering mengalami penyambungan lambat dengan sirkulasi yang kurang diantaranya os naviculare dari os carpalia. functional limitation dan disability. loss of bone dan gangguan epiphysial plate pada anak – anak. Sedangkan untuk komplikasi karena fraktur. 7. Distribusi gaya tekan yang tidak baik menyebabkan gangguan fungsi dan timbulnya perubahan – perubahan osteoarthritis yang lebih awal pada sendi – sendi yang berdekatan. . Shorthening Shorthening terjadi karena pemendekan pada tulang yang diakibatkan mal union. 1986). (2) quo ad sanam baik jika jenis perpatahan ringan. c. Infeksi Infeksi biasanya terjadi karena luka incisi yang tidak steril yang dapat menimbulkan adanya nyeri.Immobilisasi tanpa alat pemulih. diperlukan terapi latihan untuk mengembalikan aktivitas fungsionalnya. Dalam proses rehabilitasi. d. seperti angulasi. Hal ini karena pembentukan callus terganggu dan ujung – ujung fragmen tertutup oleh jaringan fibrocartilago (Bloch. 1986). antara lain: a. Deskripsi Problematika Fisioterapi Problematika fisioterapi yang sering muncul pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra meliputi impairment. overlapping dan rotasi. suplai darah tidak lancar dan adanya gerakan pada ujung fragmen. kondisis umum pasien baik. Pemberian terapi latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik bilamana (1) quo ad vitam baik jika pada kasus ini tidak mengancam jiwa pasien. Bila ada gangguan fungsi berat tindakan rekonstruksi harus dilakukan terhadap tulang atau sendi yang mengalami mal union (Bloch. tekanan yang semestinya dan adanya aplikasi gips pada daerah fraktur yang tidak benar dapat menyebabkan timbulnya ulkus tekan (Garrison. colum femoris dan spertiga bagian bawah tibia (Bloch. c. Non union Non union adalah keadaan dimana fragmen gagal untuk menyambung walaupun telah diimobilisasi. 6. Delayed union Delayed union adalah terjadinya penyambungan tulang yang terlambat karena infeksi. Mal union Mal union merupakan penyambungan yang tidak sesuai dengan posisi yang semestinya. 1996). Prognosis Prognosis pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra tergantung pada jenis dan bentuk fraktur. peran fisioterapi sangat penting terutama dalam mencegah komplikasi dan melatih aktivitas fungsionalnya. 1986).

1996). 1996). Gerakan ini terbagi menjadi 2 gerakan: . koordinasi. dosisnya adalah satu jam tungkai dielevasikan dan satu jam tungkai dikembalikan ke posisi semula. Tehnik latihan pernafasan yang digunakan dalam kasus ini adalah deep breathing exercise. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi paru pada post operasi akibat bius general. Functional limitation Pada functional limitation terdapat keterbatasan aktifitas fungsional terutama dalam melakukan aktivitas fungsional terutama berdiri dan berjalan. ketahanan dan kemampuan kardiovaskuler.. Tujuan static contraction adalah memperlancar sirkulasi darah sehingga dapat membantu mengurangi oedem dan nyeri serta menjaga kekuatan otot agar tidak terjadi atrofi. (3) penurunan luas gerak sendi ankle karena adanya nyeri dan oedem pada daerah sekitar fraktur.a. individu atau bagian tubuh lain dari individu itu sendiri (Kisner. Positioning Positioning yaitu perubahan posisi anggota gerak badan yang sakit. keseimbangan dan kemampuan fungsional (Kisner. Terapi latihan yang dilakukan adalah: 1.450. Breathing Exercise Breathing exercise merupakan suatu tehnik latihan pernafasan dengan menarik nafas lewat hidung atau inspirasi dan mengeluarkan nafas lewat mulut atau ekspirasi. Static contraction Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan cara mengontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maupun pergerakan sendi (Kisner. Teknologi Intervensi Fisioterapi Terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan. Untuk mengurangi oedema pada tungkai. 1996). 3. 4. mobilisasi thorak. Passive exercise Passive exercise merupakan suatu gerakan yang dihasilkan dari kekuatan luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari. Disability Disability merupakan ketidakmampuan dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan disekitarnya yaitu kesulitan dalam melakukan aktivitasnya sebagai seorang buruh karena pasien mengalami gangguan dalam aktivitas berjalan. (2) adanya nyeri gerak pada ankle akibat luka sayatan operasi yang menyebabkan ujung .ujung saraf sensoris teriritasi dan karena adanya oedem pada daerah sekitar fraktur. Kekuatan luar tersebut dapat berasal dari gravitasi. 2. Tehnik latihan pernafasan ini menekankan pada inspirasi maksimal dan panjang lalu dihembuskan dengan perlahan sampai akhir expirasi dengan tujuan mempertahankan alveolus tetap mengembang. b. mesin. Impairment Problematika yang muncul adalah (1) adanya oedem pada ankle dan tungkai bawah terjadi karena suatu reaksi radang atau respon tubuh terhadap cidera jaringan. C. untuk meningkatkan oksigenasi dan mempertahankan volume paru. c. mobilitas dan fleksibilitas. stabilitas. maka tungkai dielevasikan dengan cara di ganjal bantal setinggi 30° . rileksasi. Selama pasien sadar.

seperti (1) melakukan aktivitas sendiri atau dengan bantuan orang lain untuk berlatih seperti yang telah diajarkan. (3) mengembalikan koordinasi dan ketrampilan motorik untuk aktivitas fungsional (Kisner.a. 7. gerakan yang dihasilkan oleh kontraksi dengan melawan gravitasi (Basmajian. Anamnesis Anamnesis merupakan pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan sumber data. Pengkajian Fisioterapi 1. Relaxed passive exercise Relaxed passive exercise merupakan gerakan murni yang berasal dari terapis tanpa disertai gerakan dari anggota tubuh pasien. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Edukasi Edukasi yang perlu diberikan pada pasien yaitu home program yang dapat dilakukan di bangsal maupun di rumah. (3) kurang lebih selama 2 minggu atau lebih setelah post operasi pasien dianjurkan untuk tidak menumpu dengan kaki yang sakit sampai terjadi penyambungan callus. duduk dengan kaki terjuntai ke bawah (high sitting) kemudian latihan berdiri. 1996). bangun.   b. ambulasi berupa jalan dengan menggunakan walker kemudian ditingkatkan dengan menggunakan kruk (tergantung kondisi umum pasien). Dimulai dari aktivitas di tempat tidur seperti bergeser (bridging). Latihan jalan Latihan jalan merupakan aspek terpenting pada penderita sehingga mereka dapat kembali melakukan aktifitasnya seperti semula. (2) mengurangi bengkak disekitar fraktur. Dengan anamnesis dapat diperoleh data-data yang dibutuhkan dalam menentukan . 6. 1996). lalu ditingkatkan lagi dengan latihan Full Weight Bearing. (2) untuk mengurangi bengkak pasien dianjurkan mengganjal tungkai yang sakit dengan guling saat pasien tidur terlentang. 1978). Force passive exercise Force passive exercise gerakan berasal dari terapis atau luar dimana pada akhir gerakan diberikan penekanan. Tujuan dari gerakan ini untuk melatih otot secara pasif. Tujuan dari latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri walaupun masih dengan bantuan alat. 1974). 1996). Active exercise Active exercise merupakan gerakan yang dilakukan karena adanya kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan. Dosis awal latihan 30% menumpu berat badan dan kemudian ditingkatkan menjadi 80% menumpu berat badan. 5. Latihan ini dilakuakan secara bertahap. Tujuan active exercise (1) memelihara dan meningkatkan kekuatan otot. sehingga diharapkan otot menjadi rileks dan dapat mengurangi nyeri akibat incisi serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak dan elastisitas otot (Kisner. Tujuan gerakan ini untuk mencegah terjadinya kontraktur dan menambah luas gerak sendi serta untuk mencegah timbulnya perlengketan jaringan (Kisner. Latihan berjalan secara Non Weight Bearing (NWB) dengan menggunakan metode three point gait pada hari ke 3 atau sesuai kemampuan pasien kemudian ditingkatkan dengan cara Partial Weight Bearing (PWB) jika pada pasien tersebut sudah terjadi pembentukan callus atau kurang lebih 3 minggu (Gartland.

Anamnesis umum Anamnesis umum berisi tentang identitas pasien secara lengkap. Riwayat pribadi merupakan riwayat tentang riwayat pribadi pasien seperti aktivitas sehari – hari. posisi jatuhnya. adanya penurunan LGS pada sendi pergelangan kaki. dan lain – lain.diagnosa dan terapi latihan yang akan diberikan. gastrointestinal. mengenai keadaan umum. (4) temperatur. adanya nyeri dan bengkak pada tungkai dan kaki. Pemeriksaan fisik a. Tanda. Riwayat penyakit dahulu ditanyakan tentang penyakit apa saja yang pernah diderita oleh pasien. sikap tubuh. persarafan. Data yang diperoleh akan digunakan untuk tujuan terapi akhir yang diprogramkan dan disesuaikan dengan kegiatan keseharian dari pasien. dan memegang bagian tubuh pasien untuk mengetahui nyeri tekan dan suhu. sudah pernah dibawa kemana saja dalam menangani fraktur tersebut dan ditanyakan juga tentang faktor apa saja yang dapat memperingan atau memperberat keluhan utama dari pasien. (4) agama. bagaimana proses terjadinya. apakah sudah dapat berdiri dengan atau tanpa bantuan dari orang lain. Riwayat penyakit penyerta berisikan tentang berbagai macam penyakit yang diderita pasien saat itu. misalnya gangguan kepala dan leher. Data tersebut digunakan untuk mengetahui apakah ada hipertensi. 2. . ataupun penyakit menular orang terdekat. a. Palpasi Palpasi adalah suatu pemeriksaan yang secara langsung kontak dengan pasien. (5) pekerjaan. Riwayat penyakit sekarang ditanyakan tentang kapan terjadinya fraktur. (2) denyut nadi. Kemampuan aktivitas fungsional Terapis melihat apakah pasien sudah bisa bergeser ke kanan atau ke kiri. obesitas dan sebagainya. adanya gangguan dalam aktivitas jalan. apakah pasien sudah bisa duduk tegak. hobi. Riwayat keluarga bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penyakit – penyakit yang bersifat menurun dari keluarga. c. Berdasarkan anamnesis sistem dapat diketahui tentang keluhan yang terjadi. b. Dalam anamnesis ditemukan data seperti (1) nama. (6) alamat.tanda vital Tanda-tanda vital terdiri dari (1) tekanan darah. dan warna kulit. Macam anamnesis ada 2 yaitu autoanamnesis dan heteroanamnesis. menekan. kardiovaskuler. (3) jenis kelamin. Pada kasus ini anamnesis yang dilakukan secara autoanamnesis. Anamnesis khusus Anamnesis khusus merupakan data informasi tentang keluhan utama pasien. (3) pernapasan. Inspeksi Inspeksi merupakan suatu pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati keadaan pasien. keluarga. (2) umur. respirasi. serta musculoskeletal yaitu apakah terdapat kerterbatasan gerak pada sendi pergelangan kaki serta adanya penurunan kekuatan otot-otot penggerak sendi pergelangan kaki. b. dengan meraba. mampu miring sendiri. hipotensi. tacikardi. Perlu ditanyakan juga apakah pasien dalam buang air besar mengalami gangguan dan apakah pasien sudah bisa berjalan.   d.

terapis dapat melihat perkembangan pasien mulai dari jongkok. Pada prinsipnya pengukuran lingkar anggota gerak dilakukan dengan menggunakan patokan yaitu tuberositas tibiae sampai malleolus lateralis.100) dengan besarannya dalam satuan milimeter. Penilaian dilakukan pada saat pasien diam. c. kemudian pasien diminta untuk menunjuk salah satu titik dalam garis tersebut yang dapat mewakili rasa nyeri yang dirasakan pada saat itu. Pengukuran lingkar segmen yang mengalami oedem perlu dilakukan. Gerak isometric melawan tahanan Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya nyeri dan adanya penurunan kekuatan otot terutama sendi ankle. Dalam melakukan pemeriksaan as goniometer diletakkan 15 cm dari malleolus lateralis. Pemeriksaan aktivitas fungsional Untuk menilai perkembangan aktivitas fungsional dari pasien pada saat sebelum dan sesudah pemberian terapi latihan. Pemeriksaan spesifik Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui informasi khusus yang belum diperoleh pada pemeriksaan dasar. Anthropometri Pengukuran lingkar segmen tubuh sangat penting dalam pemeriksaan ada tidaknya pembengkakan. Pada ankle meliputi gerakan dorsi fleksi. eversi. b. Tujuan tes ini adalah untuk mendapatkan data informasi tentang bagaimana LGS aktif ankle. Gerakan pada ankle terjadi pada bidang sagital dan axis gerakannya pada bidang frontal yaitu pada malleolus lateralis. terapis melihat dan memberikan aba-aba. rasa nyeri dan nilai kekuatan otot. Alat ukur yang digunakan adalah midline. kemudian dibandingkan antara tungkai yang sakit dengan tungkai yang sehat. yaitu pengukuran derajat nyeri dengan sepuluh skala penilaian yaitu dengan menunjukkan satu titik pada sebuah garis pada skala nyeri (0 . b. Selain itu dilakukan pengukuran panjang tungkai dari SIAS sampai malleolus medialis. digerakkan secara pasif dan aktif oleh terapis. panjang garis mulai dari titik tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan besarnya nyeri (Sri Surini. dan inversi. stabilitas sendi. 4. Gerak aktif Pasien diminta menggerakkan anggota gerak yang diperiksa secara aktif. plantar fleksi. Gerak pasif Pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh terapis kepada pasien dimana pasien dalam keadaan pasif dan rileks. rasa nyeri dan end feel. d. Pemeriksaan LGS Pemeriksaan luas gerak sendi dengan menggunakan goniometer. Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran aktivitas . c. Terapis menjelaskan terlebih dahulu kepada pasien tentang penilaian diatas. Pemeriksaan pada kasus ini meliputi: a. berdiri dan berjalan. Pemeriksaan gerak dasar a. Posisi netral untuk gerakan dorsi fleksi adalah sesuai dengan posisi anatomis kaki. 2002). Pemeriksaan nyeri Pemeriksaan dengan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Tangkai statis sejajar dengan axis longitudinal tulang tibia sedangkan tangkai dinamis sejajar dengan axis longitudinal tulang metatarsal V (Russe. 1975). Tujuan dari pemeriksaan gerak pasif untuk mendapatkan data informasi tentang luas gerak sendi pasif ankle. Dilakukan dengan cara pasien disuruh mengkontraksikan otot dan mencoba untuk melakukan gerakan tapi diberi panahanan oleh terapis sehingga tidak terjadi gerakan dan penambahan luas gerak sendi.3.

Dalam menilai masing – masing dimensi yaitu dengan menggunakan pilihan ganda yang masing – masing dimensi dibagi menjadi 4 skala untuk dimensi nyeri dan 5 skala untuk dimensi kesulita dan ketergantungan ( Jette AM. berkaitan dengan derajat ketergantungan untuk melakukan aktivitas. 1980 dikutip oleh Slamet. TABEL I SKALA JETTE Bentuk aktivitas Kemampuan beraktivitas Nilai Berdiri dari posisi duduk Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4: nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit 4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain 5: tidak dapat melakukan Berjalan 15 meter Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4: nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit 4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain 5: tidak dapat melakukan Naik turun tangga Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4:nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit . 2000 ). berkaitan dengan deajat kesulitan untuk malaukan aktivitas. Keterangan penilaian (1) nyeri. (3) ketergantungan. Aktivits yang dites meliputi berdiri dari posisi duduk.fungsional yaitu menggunakan skala Jette. berjalan 15 m dan naik turun tangga 3 trap. berkaitan dengan derajat nyeri saat melakukan aktivitas. (2) kesulitan.

Posisi terapis homolateral pada ankle yang dilatih. Gerakan ini dilakukan 4 – 6 kali. Latihan dilakukan secara hati – hati pada hari pertama post operasi dengan posisi awal pasien terlentang dimana pergelangan kaki pada tungkai yang sakit tersangga dengan baik oleh bed.45˚ selama 10°dengan disertai kaki yang sakit dielevasikan antara 30 – 15 menit. gerakan ini diulang 4 kali. Gerakan dilakukan 5 -10 kali hitungan diselingi dengan menarik nafas dalam untuk rileksasi. penguluran diawali pada sendi ankle kemudian dilanjutkan gerakan dorsi fleksi dan plantar fleksi . Dimulai setelah pasien sadar dari tindakan operasi. pasien diminta untuk menekan tangan terapis.   3. Rileks passive movement Tujuan dari latihan ini yaitu mencegah terjadinya keterbatasan gerak. Tujuan Fisioterapi Pada kasus ini terapi yang diberikan bertujuan untuk (1) mengurangi oedem. Satu tangan terapis memfiksasi pada pergelangan kaki. Posisi pasien rileks. Posisi pasien pada hari pertama masih tidur terlentang . Deep breathing exercise ini dilakukan dengan posisi pasien tidur terlentang. Static contraction Tujuan dari static contraction adalah untuk mengurangi oedem sehingga nyeri berkurang. kemudian pasien diminta menekan tangan terapis ke bed. biasanya satu atau dua hari setelah operasi. (3) menigkatkan luas gerak sendi pada ankle. (4) mengajarkan latihan jalan pada pasien sehingga dengan diberikannya terapi latihan ini diharapkan pasien dapat kembali beraktivitas seperti semula. (2) mengurangi nyeri. 2. Kemudian tangan terapis diletakkan pada pergelangan kaki pasien. Terapis meletakkan tangannya dibawah betis pasien. Passive exercise a. B. Sedangkan gangguan yang terjadi pada functional limitation yaitu penurunan ambulasi dan perawatan diri yaitu adanya keterbatasan dalam aktivitas fungsional tungkai bawah. Rencana Pelaksanaan Terapi 1. tangan yang lain memegang tumit.4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain 5: tidak dapat melakukan (Slamet Parjoto. Diagnosa Fisioterapi Pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dimungkinkan terjadi gangguan impairment yaitu (1) oedem pada tungkai bawah dan ankle. dengan posisi terapis berada disamping penderita. Pada disability gangguan yang terjadi yaitu adanya ketidakmampuan dalam melaksanakan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan sekitar yang berupa berinteraksi atau bersosialisasi dengan orang lain. (2) nyeri karena oedem dan luka incisi. C. (3) keterbatasan LGS ankle. Pelaksanaannya dengan cara pasien diminta untuk menghirup nafas dalam melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut secara perlahan. Breathing exercise Breathing exercise yang dilakukan adalah deep breathing exercise. 2000) 5.

b. 6. Posisi awal pasien tidur terlentang sementara terapis di samping bed. mengurangi nyeri dan rileksasi otot. Latihan jalan Dari posisi pasien duduk ongkang-ongkang ( high sitting ). jari-jari pada kedua tungkai. Hold relax Tujuan dari latihan adalah untuk menambah luas gerak sendi pergelangan kaki. adduksi .eversi dan pada jari .abduksi. menghindari penumpuan berat badan berlebih pada tungkai yang mengalami . 4. Salah satunya pasien harus melaksanakan program latihan yang diberikan oleh terapis untuk mengembalikan kemampuan fungsional pasien. Latihan dilakukan pada sendi pergelangan kaki. 2002).8 kali pengulangan (Yulianto Wahyono. Sedangkan untuk keterbatasan gerak ekstensi adalah ekstensi – abduksi – endorotasi dan ekstensi – adduksi – eksorotasi.jari kaki dengan melakukan gerakan fleksi ekstensi. Serta pasien bebas melakukan gerakan sendiri tanpa bantuan. Tehnik pelaksanaan sama dengan rileks passive movement tetapi pada akkhir gerakan diberikan penekanan. 5. Edukasi Bila pasien sudah pulang. inverse . Pada sendi pergelangan kaki dengan melakukan gerakan dorsal plantar fleksi.secara bergantian. Gerakan ini dilakukan 8 kali hitungan dengan 2 kali pengulangan. Posisi pasien tidur terlentang atau bisa juga dengan duduk. Dosis awal latihan 30% menumpu berat badan lalu ditingkatkan menjadi 80% menumpu berat badan dan ditingkatkan lagi dengan latihan Full Weight Bearing. Free active movement Tujuan dilakukannya free active movement adalah untuk memelihara luas gerak sendi. Gerakan ini dilakukan 5 . tungkai yang sehat turun dengan kedua tangan berpegangan pada bed. Kemudian terapis memberi aba-aba "pertahankan disini". mengelevasikan kaki bila terasa nyeri. Gerakan dilakukan 8 kali hitungan dengan 2 kali pengulangan. Gerakan dilakukan secara aktif maupun pasif pada pola agonis hingga batas keterbatasan gerak pasien dimana nyeri mulai timbul. Force passive movement Tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan lingkup gerak sendi pergelangan kaki. kemudian diikuti rileksasi pada pola antagonisnya kemudian digerakkan secara aktif maupun pasif kearah antagonis. Pola gerak keterbatasan untuk gerak fleksi adalah fleksi – adduksi – eksorotasi dan fleksi – abduksi – endorotasi. Terapis memberi tahanan yang meningkat secara perlahan. 7. Latihan diberikan beberapa hari setelah operasi. seperti menggerakkan anggota tubuh untuk mencegah kekakuan dan atrofi otot. Sebagai awal latihan jalan terapis dapat melatih pasien dengan walker jika pasien sudah lanjut usia dan dengan menggunakan kruk jika pasien masih relatif muda atau keseimbangan pasien masih baik dengan dibantu terapis. pasien berdiri dengan kaki menggantung atau Non Weight Bearing (NWB) dengan 2 kruk pada hari ketiga dengan threepoint gait metode swing to kemudian ditingkatkan dengan Partial Weight Bearing (PWB) jika sudah terjadi pembentukan callus kurang lebih dalam jangka waktu 2 atau 3 minggu. Salah satu tangan terapis fiksasi lutut pasien dan tangan satunya diletakkan diatas ankle. Sedang tungkai yang sakit mengikuti turun dengan disangga tangan terapis tanpa menapak pada lantai. terapis bisa memberikan program latihan yang harus dilakukan dan memberikan penjelasan tentang aktivitas yang harus dihindari agar tidak terjadi refraktur.

Sixth edition. Churchill Livingstone. The William and Wilknis Baltimore. Evaluasi ini meliputi (1) oedem dengan menggunakan midline dan dibandingkan dengan sisi yang sehat. RSO Dr. Appley. Basmaijan. 2nd edition. Outline of Fracture Including Joint Injuries. W. Garrison. Jakarta. Churchill Livingstone. Dasar-dasar Terapi Latihan dan Rehabilitasi Fisik. Rencana Evaluasi Evaluasi pelaksanaan terapi pada kondisi paska operasi fraktur cruris 1/3 distal dilakukan dengan 2 tahap yaitu evaluasi sebelum pelaksanaan terapi dan sesudah diberikannya terapi yang terakhir. Second edition. I. Terjemahan Hipocrates. A. Jurnal Penderita Fraktur Cruris. 1974. 1992. Jakarta. (4) kemampuan fungsional jalan dengan melihat perkembangan dari penggunaan alat bantu jalan dan pola jalan dengan menggunakan skala Jette. Edisi ketujuh. Soeharso Surakarta. D. Data RSO Dr. S.fraktur. John. Daniels and Wortinghams. Tenth edition. (2) nilai tentang derajat nyeri dengan Visual Analogue Scale (VAS). Sanders Company. USA. Gartland. Orthopedi dan Fraktur Sistem Appley. J. Widya Medika. Soeharso Surakarta. Theraupetic Exercise. C. 1995. Louis. B. Fundamental of Orthopedics. The Physiologi of the Joint. G. B Saunders Company. Dan yang terpenting adalah melatih kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari – hari sehingga tidak selalu tergantung dengan orang lain. Edinburg. Kapandji.   DAFTAR PUSTAKA Adams. (3) luas gerak sendi pada ankle dengan menggunakan goniometer dan membandingkan dengan luas gerak sendi normal. John. 1987. 1996. 2005. Muscle Testing. A and Solomon. 1995. Third edition. 1978. Philadelpia. London. J. W. London. and New York .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->