APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

Kedua. 48). linguist) Arab terkemuka. masyarakat tempat beliau diutus. Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur).[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis.s. fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. al-Fayrûzabâdy (w. sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga.. jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. al-Baydhâwy. tidak bisa membaca dan menulis. Ibrahim Anis. ketiga pendapat itu bisa saja diterima. alRâghib al-Ashfahâny (w. tetapi tidak demikian jika dilihat . 711 H). 311 H/924 M). Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti. lam yata'allam al-kitâb. tidak bisa menulis dan menghitung). yang menyatakan." Mengomentari itu. ketika menyampaikan wahyu Allah. 502 H). bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis.817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis).[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini. dan bangsa Arab. Innâ ummatun ummiyyatun. orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. al-'Ankabût. di beberapa tempat dalam Alquran. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu').[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti. mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir. mengatakan. Sebab pada umumnya. Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi. Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. "ketika islam datang. di antaranya. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik.[7] Dari sini. [10] Secara sintaksis. meski tidak tegas (akan dibahas kemudian). salah seorang bahasawan (lughawy. Menurutnya. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu.Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. Abu al-Su'ûd dan sebagainya. Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa').[5] Menurut mereka. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. al-Zamakhsyary. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran. karena belum mempelajarinya.

Ibnu Mâjah. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits. ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab. Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'. seorang ahli hadits. terlepas dari kapan mulai bisa. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan. Bahkan. Sebab ketika Alquran turun. Dalam pandangan mereka. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. salah seorang perawi Shahîh. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini. seorang filosof Arab terkemuka. kecuali ada tanda-tanda pendukung. Alquran atau hadits. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. telah menulis dengan tangannya sendiri. Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian. sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah). seorang kritikus hadits. meriwayatkan. Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw.dari segi makna. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. Dari sini. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. Abul Walîd al-Bâjiy. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan.[16] Seperti diketahui. dapat membaca dan menulis. tidak mengerti baca-tulis. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. Menurut mereka. Ketika Ali menolak melakukannya. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. Ada pun sebelum itu. Dalam sebuah hadits lain. mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi.[14] Meski demikian. menurut Abdurrahman Badawi. pada masa kenabian. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. sebuat teks. Ibnu Abî Syaybah. al-Bâjiy. salah . semuanya. Dengan demikian.

62.s. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka.[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis. yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.s.. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat.s.[17] Meski berbeda pendapat. penyembah patung). Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam. menurut Badawi.seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan. Syinab. raja Sodom. disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861. seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen.2) Nabi Muhammad saw. Maka seperti dikutip Badawi. Pendapat Buhl ini. salah seorang dari mereka.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini..[18] Dengan kata lain. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds. Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis. yakni negeri Zoar. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau. Birsya. mempertanyakan penggunan tersebut. Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. 62:2): dalam dua ayat pertama (Q. "masyarakat dunia". [19]Dengan begitu. para ulama islam sepakat. Springer.. setelah sebelumnya buta huruf. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme.[21] Arti seperti ini terkesan negatif. memberitahukan isinya kepada Nabi. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera. salah seorang orientalis Eropa. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri. tetapi dibedakan dari mereka. raja Admo. Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". Bagaimana mungkin Nabi saw.75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. raja Goyim. bukan buatan manusia. kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok. Di situ disebut.[23] Nallino. Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima . Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. 75 . Tideal. menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1). ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis.. 3:20. Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. 3:20. raja Gomora. sementara dalam ayat terakhir (Q. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain.

seperti kata Arthur Jeffery. Nabi Muhammad saw.[28] Dengan demikian. tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. yang berarti mursal. diutus hanya untuk bangsa Arab. atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. menurutnya. Dengan demikian. Seperti diketahui. Metode mereka. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw. misalnya. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. Riwayat ini. Dengan begitu. menurut DR. menurut mereka. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan.M. Richard Bell dan W. ketua jurusan Tafsir alAzhar. terputus sanadnya pada sahabat. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. Kalau pun dapat diterima. Hari pengadilan adalah hari penghisaban. universalitas ajaran nabi Muhammad saw.[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat. tidak bisa baca-tulis.[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. Tetapi lebih bermakna sebagai . redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal. adalah suatu hal yang tak terbantahkan.[24] Padahal. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis. "bacalah" (iqra') ia menjawab. Watt. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. Selain itu. kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya. Makna asli yang sebenarnya. Ibrahim Khalifah. tidak bisa baca-tulis. Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?". Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. fanatisme dan nasionalisme. ketika kitab-kitab dibuka. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat.[25] Dalam pandangan orientalis. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. Misalnya. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme.

bisa membaca dan menulis. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya.[31] Dengan demikian. 'universal'. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. 157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau. [32] Al-Biqâ'iy. dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. Ketika Nabi saw. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis. sampai yang terkecil pun. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf. Sedangkan bentuk jamaknya.[33] Secara sintaksis. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. Di sini Badawi mengusulkan. Menurutnya. yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. seorang tarjumân al-Qur'ân. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut.[34] Namun sayang. Bagi mereka . al-ammiy. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb. ummiyyûn. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. Juga. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut. 78. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru. Dengan demikian. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. Hanya saja. menurut Ibrahim Anis. mungkin lebih tepat. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. Menurut Badawi.ungkapan rasa ingkar dan heran. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. dan diutus untuk semua bangsa (umam). hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. salah seorang qâri' tujuh. seorang pakar tafsir. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw. Apa pun asal kata itu.

bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. DR.--------. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr. (1080. II. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin.s. op. 2/761).[35] Wallâhu a'lam. setelah diangkat menjadi Nabi. al-Jumu'ah. kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. 158) dinisbatkan kepada Nabi. al-Dâr alAlamiyyah. 20/7 [18] A. hal. 51 [20] Lihat Abd. Rûh al-Ma'âny. Shabur Shahin. hal. Ma'had Dirasat Islamiyyah . Jakarta. Majma' al-Zawâ'id. 1995. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth.s. hal. 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah. 1997. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. op. Rajawali Press. Târîkh al-Qur'ân. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl …. Tafsir al-Baydhâwy. Badawi. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. Cet. di Wisma Nusantara. [6] Ibrahim Anis. Montgomery Watt. hal. Syarh Shahih Muslim. kitâb al-shawm. s. al-A'râf. Dâr El-Fikr.--------. Dâr el-Hadits Kairo. 1/362. Imam Ahmad dalam Musnadnya. Shabur Syahin. Imam Muslim dalam Shahihnya.s. 20. Alu Imrân. adalah seorang buta huruf. 1994. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. Beirut. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. hal. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. Pengantar Studi Alquran .cit. Dalâlat al-Alfâzh. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia. Q. kitâb al-Maghâzy. Maktabah Anglo. 7/155. op.. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. al-Alusy. Al-Azhar Kairo. hal 20/7. 75. 2431. Sebab dilihat dari isinya. [3] Al-Alûsy. al-Baqarah. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. 1994. kitâb al-Shawm. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. 1 Oktober 2000. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. 2/304 [9] Al-Zajjâj. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak. 12/138 [17] Al-Qurthuby. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali. hal. Cet. [1] Syihabuddin al-Alûsy. 189 [8] Lihat misalnya. DR. hal... I. 14 [19] Richard Bell. 1/29. Ahad. 4/126 [15] Shahih Bukhari. Q. DR. hal. Tafsir Abu al-Su'ûd.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. 13/325. -----------. 13 [12] Al-Alûsy. al-Kasyâf karya Zamakhsyary. 157. 189 [7] Ibid. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q. 5147. 79. Edisi revisi W. 2/812 [14] Al-Haytsami.cit. hal. hal. al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân.. No.cit. 4/96. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd. bâb al-Qrdh.tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya.. 2/675).

op. op. 188 [31] Al-Qurthuby. hal. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. 48 [26] Ibid. 187.cit. 18/83 [32] Badawi. Shahih Muslim. Kitab Kejadian (14:1). Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. hal. op. hal. Shabur Syahin.cit. Jakarta 1975. hal. hal.cit. hal.16 [21] Al-Kitab. Shabur Syahin. 20 [22] Badawi. dikutip dari Abd.Zamalek. 9/117 [35] Abd. hal. hal. 3/136 [34] Al-Alusiy.cit. cit. [29] Ibrahim Khalifah. Lembaga Alkitab Indonesia.cit. op. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. bâb bad'il wahy ilannabiy. op. 2/292 [30] Ibrahim Anis. hal.cit. op. hal. hal. op. DR.cit. 17 [25] Richard Bell. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. 118 .cit. 53 [27] Arthur Jeffery. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy. 113 Badawi. Ushuluddin alAzhar. 4. hal. hal. hal. 17 [24] Ibid. Fak. op. 16 [23] Ibid. op.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful