APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

Sebab pada umumnya. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. di beberapa tempat dalam Alquran. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. tidak bisa membaca dan menulis.[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini. "ketika islam datang. Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi. di antaranya. meski tidak tegas (akan dibahas kemudian). yang menyatakan. kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir. Innâ ummatun ummiyyatun.[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. [10] Secara sintaksis. sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. Ibrahim Anis. orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik. 711 H).[5] Menurut mereka. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti. al-Zamakhsyary. ketiga pendapat itu bisa saja diterima. 48). bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran. dan bangsa Arab. Abu al-Su'ûd dan sebagainya. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. karena belum mempelajarinya. 311 H/924 M).s. lam yata'allam al-kitâb. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy. tetapi tidak demikian jika dilihat . Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur). Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa').[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. Kedua. linguist) Arab terkemuka.. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga. al-Baydhâwy. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu'). 502 H). masyarakat tempat beliau diutus." Mengomentari itu.817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. salah seorang bahasawan (lughawy.[7] Dari sini. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti. ketika menyampaikan wahyu Allah. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. mengatakan. jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. alRâghib al-Ashfahâny (w. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu.Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. al-Fayrûzabâdy (w. al-'Ankabût. al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah. tidak bisa menulis dan menghitung). Menurutnya.

menurut Abdurrahman Badawi. seorang filosof Arab terkemuka. telah menulis dengan tangannya sendiri. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. pada masa kenabian. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan. dapat membaca dan menulis. Dalam pandangan mereka. Menurut mereka.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. kecuali ada tanda-tanda pendukung. Ada pun sebelum itu. al-Bâjiy. meriwayatkan. tidak mengerti baca-tulis. Ibnu Mâjah. salah . Ibnu Abî Syaybah. sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. Ketika Ali menolak melakukannya. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan. Dalam sebuah hadits lain. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab.dari segi makna. seorang ahli hadits. yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi.[14] Meski demikian. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada. Abul Walîd al-Bâjiy. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab. Dengan demikian. terlepas dari kapan mulai bisa. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian. mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. seorang kritikus hadits. dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. Sebab ketika Alquran turun. ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. Bahkan. Muhammad saw. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. semuanya. Alquran atau hadits.[16] Seperti diketahui. Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian. salah seorang perawi Shahîh. Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. sebuat teks. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Dari sini. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah).

menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1). 62:2): dalam dua ayat pertama (Q.[17] Meski berbeda pendapat. memberitahukan isinya kepada Nabi. bukan buatan manusia. mempertanyakan penggunan tersebut. 3:20. 3:20. raja Gomora. ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis. Tideal. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran. Pendapat Buhl ini.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini. 62. raja Sodom. "masyarakat dunia". Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka.s.s. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain. Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri. Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. raja Goyim. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds. Maka seperti dikutip Badawi.2) Nabi Muhammad saw. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama. penyembah patung). Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima . Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". Di situ disebut.75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. sementara dalam ayat terakhir (Q. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. [19]Dengan begitu. seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen.. 75 . Syinab. Birsya. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis. salah seorang orientalis Eropa. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861. salah seorang dari mereka. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat. tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. tetapi dibedakan dari mereka. Springer.[21] Arti seperti ini terkesan negatif.. para ulama islam sepakat.[18] Dengan kata lain. yakni negeri Zoar.seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy. kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam. Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok.s.[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau.[23] Nallino. menurut Badawi. raja Admo. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis... Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam. setelah sebelumnya buta huruf. Bagaimana mungkin Nabi saw.

menurutnya. "bacalah" (iqra') ia menjawab. menurut mereka. ketua jurusan Tafsir alAzhar. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. tidak bisa baca-tulis. Nabi Muhammad saw. tidak bisa baca-tulis. Tetapi lebih bermakna sebagai .[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. diutus hanya untuk bangsa Arab.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme. ketika kitab-kitab dibuka. Watt. Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Metode mereka.[24] Padahal. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat.[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat. Dengan begitu. Kalau pun dapat diterima. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis. Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. seperti kata Arthur Jeffery. redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. Riwayat ini. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian. Makna asli yang sebenarnya. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal. Selain itu. adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Dengan demikian. fanatisme dan nasionalisme. misalnya. kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?". atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. universalitas ajaran nabi Muhammad saw. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana.[25] Dalam pandangan orientalis. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. Richard Bell dan W. menurut DR. Seperti diketahui. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. terputus sanadnya pada sahabat. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya.[28] Dengan demikian. Misalnya. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan.M. Hari pengadilan adalah hari penghisaban. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw. Ibrahim Khalifah. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. yang berarti mursal. menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan.

yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat. dan diutus untuk semua bangsa (umam). Apa pun asal kata itu. seorang tarjumân al-Qur'ân. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. 78.[31] Dengan demikian. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya. Menurutnya. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. al-ammiy. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. mungkin lebih tepat. Menurut Badawi. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu.[33] Secara sintaksis. [32] Al-Biqâ'iy. menurut Ibrahim Anis. salah seorang qâri' tujuh. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya. Di sini Badawi mengusulkan. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. 'universal'. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. Ketika Nabi saw. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. Dengan demikian.ungkapan rasa ingkar dan heran. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf. bisa membaca dan menulis. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. seorang pakar tafsir. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. Bagi mereka . Juga.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. ummiyyûn. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis. Sedangkan bentuk jamaknya.[34] Namun sayang. 157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau. Hanya saja. sampai yang terkecil pun. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis.

al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân. I. (1080. Cet. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl ….. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. hal. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. DR.--------. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. Badawi. hal 20/7. 20/7 [18] A. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q. Imam Ahmad dalam Musnadnya. Dâr El-Fikr.s. kitâb al-shawm. 4/126 [15] Shahih Bukhari. [3] Al-Alûsy. di Wisma Nusantara. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas. hal. Edisi revisi W. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya. setelah diangkat menjadi Nabi.s. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib. al-A'râf. 7/155.. 1/362. al-Alusy. bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. Tafsir Abu al-Su'ûd. hal.cit. Târîkh al-Qur'ân. 12/138 [17] Al-Qurthuby. hal. Sebab dilihat dari isinya. No. 75. hal. [1] Syihabuddin al-Alûsy. Ahad. 13/325. kitâb al-Shawm. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali. 79. kitâb al-Maghâzy. 1997. hal. Maktabah Anglo. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak. Dâr el-Hadits Kairo. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. 1 Oktober 2000. 1994. Tafsir al-Baydhâwy. Montgomery Watt. -----------. hal. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. Shabur Syahin. bâb al-Qrdh. s. [6] Ibrahim Anis. hal.. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan. op. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd. Majma' al-Zawâ'id.. adalah seorang buta huruf. op. 2/761). al-Baqarah. hal.tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. Dalâlat al-Alfâzh. Imam Muslim dalam Shahihnya.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. Q. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth.cit. al-Jumu'ah. Ma'had Dirasat Islamiyyah . Cet. Jakarta. Q. 2/812 [14] Al-Haytsami. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin. Pengantar Studi Alquran . Alu Imrân. DR. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. 20. 14 [19] Richard Bell. 5147. 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan.cit.[35] Wallâhu a'lam. Al-Azhar Kairo. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr.--------. 189 [8] Lihat misalnya. 1/29. Beirut. 158) dinisbatkan kepada Nabi. al-Kasyâf karya Zamakhsyary.. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. Rûh al-Ma'âny. 189 [7] Ibid. 4/96. al-Dâr alAlamiyyah. 51 [20] Lihat Abd. Rajawali Press. 157. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. op. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia. II. 13 [12] Al-Alûsy. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah. 1994.s. 2431. Syarh Shahih Muslim. 2/304 [9] Al-Zajjâj. DR. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. hal. Shabur Shahin. 1995. 2/675).

3/136 [34] Al-Alusiy. hal.cit.cit. op. hal. hal. 118 . 20 [22] Badawi. 17 [25] Richard Bell.cit. op. hal.16 [21] Al-Kitab. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. 113 Badawi. 9/117 [35] Abd. op. 188 [31] Al-Qurthuby.cit. hal.Zamalek. op.cit. 2/292 [30] Ibrahim Anis. 4. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. hal. op. hal. hal. hal. op. hal. 18/83 [32] Badawi. op. Jakarta 1975. Shabur Syahin. DR. Fak.cit. [29] Ibrahim Khalifah. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. Ushuluddin alAzhar. Shabur Syahin. 16 [23] Ibid. op. 17 [24] Ibid.cit. 53 [27] Arthur Jeffery. hal. cit. hal. bâb bad'il wahy ilannabiy. hal.cit. Kitab Kejadian (14:1). Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. Lembaga Alkitab Indonesia. op. 187. hal. Shahih Muslim. dikutip dari Abd. 48 [26] Ibid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful