APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

mengatakan. "ketika islam datang. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). Innâ ummatun ummiyyatun. Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti. Abu al-Su'ûd dan sebagainya. fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. al-Zamakhsyary..[7] Dari sini. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis. Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi. jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya. 502 H). orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir. kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. linguist) Arab terkemuka. bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis. yang menyatakan. al-'Ankabût. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti.[5] Menurut mereka. masyarakat tempat beliau diutus. 311 H/924 M). tidak bisa membaca dan menulis. al-Fayrûzabâdy (w. al-Baydhâwy. sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. ketiga pendapat itu bisa saja diterima.[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Ibrahim Anis.[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini. dan bangsa Arab. tetapi tidak demikian jika dilihat . di beberapa tempat dalam Alquran. Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. Kedua. Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. Menurutnya. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu'). alRâghib al-Ashfahâny (w.s. meski tidak tegas (akan dibahas kemudian).[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. [10] Secara sintaksis. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. karena belum mempelajarinya. ketika menyampaikan wahyu Allah. Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur).817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa'). tidak bisa menulis dan menghitung).Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. 48). al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah. sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik." Mengomentari itu. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy. salah seorang bahasawan (lughawy. 711 H). lam yata'allam al-kitâb. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. di antaranya. Sebab pada umumnya. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah hadits lain. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. al-Bâjiy. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah). yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian. dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. Ibnu Abî Syaybah. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal. kecuali ada tanda-tanda pendukung. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat. meriwayatkan. Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. dapat membaca dan menulis. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. Bahkan. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada. Ibnu Mâjah. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. seorang kritikus hadits. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. Dari sini. terlepas dari kapan mulai bisa. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan.[16] Seperti diketahui. Ketika Ali menolak melakukannya. Abul Walîd al-Bâjiy. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi. mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri.dari segi makna. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. seorang filosof Arab terkemuka. Sebab ketika Alquran turun. Menurut mereka. salah . seorang ahli hadits.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. semuanya. Dalam pandangan mereka. Alquran atau hadits. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. salah seorang perawi Shahîh. pada masa kenabian. Ada pun sebelum itu. menurut Abdurrahman Badawi. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. sebuat teks. tidak mengerti baca-tulis. Dengan demikian. telah menulis dengan tangannya sendiri. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. Muhammad saw. ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan.[14] Meski demikian. Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini.

"masyarakat dunia". yakni negeri Zoar. tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. tetapi dibedakan dari mereka. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme. para ulama islam sepakat. Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan. 62:2): dalam dua ayat pertama (Q. menurut Badawi. Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen. raja Admo.[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam.s.[17] Meski berbeda pendapat. menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1). sementara dalam ayat terakhir (Q. Di situ disebut. setelah sebelumnya buta huruf. mempertanyakan penggunan tersebut. 62. Pendapat Buhl ini. Springer. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama.[21] Arti seperti ini terkesan negatif. Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima .seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. 75 . memberitahukan isinya kepada Nabi. salah seorang dari mereka.[23] Nallino. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds. ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis.s. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis. Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis.s. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok. 3:20. Birsya. yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. bukan buatan manusia. Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat.[18] Dengan kata lain.. raja Sodom. disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. [19]Dengan begitu. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). salah seorang orientalis Eropa.. raja Gomora. Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy. Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. Syinab. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau.2) Nabi Muhammad saw. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri. penyembah patung). Bagaimana mungkin Nabi saw. Tideal. 3:20. Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam.. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain. raja Goyim.. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela.75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. Maka seperti dikutip Badawi.

tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. Nabi Muhammad saw. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. Watt.[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat. Tetapi lebih bermakna sebagai . dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana. Misalnya. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. fanatisme dan nasionalisme. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. Richard Bell dan W. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. menurut mereka. seperti kata Arthur Jeffery. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme. Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. Seperti diketahui. diutus hanya untuk bangsa Arab.[25] Dalam pandangan orientalis. adalah suatu hal yang tak terbantahkan.[24] Padahal. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. Dengan demikian. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. universalitas ajaran nabi Muhammad saw. Riwayat ini. menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya. menurutnya. Selain itu. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw. ketika kitab-kitab dibuka. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. Ibrahim Khalifah. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. Kalau pun dapat diterima. Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. tidak bisa baca-tulis. misalnya. Hari pengadilan adalah hari penghisaban. Makna asli yang sebenarnya. terputus sanadnya pada sahabat. redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. tidak bisa baca-tulis. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian. ketua jurusan Tafsir alAzhar. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya. menurut DR.M. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'.[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. yang berarti mursal. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. Dengan begitu. atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?". kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat.[28] Dengan demikian. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal. Metode mereka. "bacalah" (iqra') ia menjawab.

Bagi mereka . 'universal'. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. sampai yang terkecil pun.[31] Dengan demikian. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw. Ketika Nabi saw. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. salah seorang qâri' tujuh. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya. dan diutus untuk semua bangsa (umam).[33] Secara sintaksis. Menurutnya. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. mungkin lebih tepat. seorang tarjumân al-Qur'ân. Juga.[34] Namun sayang. ummiyyûn. yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat. seorang pakar tafsir. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf. Hanya saja.ungkapan rasa ingkar dan heran. al-ammiy. 78.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. menurut Ibrahim Anis. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut. Menurut Badawi. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya. Di sini Badawi mengusulkan. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut. bisa membaca dan menulis. [32] Al-Biqâ'iy. Sedangkan bentuk jamaknya. Apa pun asal kata itu. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. Dengan demikian. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis. 157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru.

Dâr el-Hadits Kairo. Pengantar Studi Alquran . Dalâlat al-Alfâzh.. op. bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. Majma' al-Zawâ'id. No. al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân. 2/812 [14] Al-Haytsami. Cet. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. s. al-Alusy. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. Imam Ahmad dalam Musnadnya. Imam Muslim dalam Shahihnya. 1994. Beirut. hal.s. op. Tafsir Abu al-Su'ûd.. Al-Azhar Kairo. 2/761). Ahad. 79. kitâb al-shawm.--------. Edisi revisi W. Q. al-Dâr alAlamiyyah. 4/126 [15] Shahih Bukhari. Shabur Shahin. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia. Rajawali Press.tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak. Badawi. (1080. 20/7 [18] A. 2431. 13 [12] Al-Alûsy. hal. al-A'râf.cit. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. al-Baqarah. Sebab dilihat dari isinya.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. 13/325. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. DR. 14 [19] Richard Bell. DR. 189 [7] Ibid. Montgomery Watt. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak. adalah seorang buta huruf. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl …. [6] Ibrahim Anis. 7/155. Shabur Syahin.. 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan. hal. DR. I.cit. Syarh Shahih Muslim. Alu Imrân. hal. [3] Al-Alûsy. 5147. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib. 1994. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. setelah diangkat menjadi Nabi. Jakarta. 20.--------. Q. hal. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. Rûh al-Ma'âny. Târîkh al-Qur'ân. 1997. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali. 157. kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. 1995. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd. 4/96.s. di Wisma Nusantara. kitâb al-Maghâzy.. Ma'had Dirasat Islamiyyah . [1] Syihabuddin al-Alûsy. al-Kasyâf karya Zamakhsyary. 51 [20] Lihat Abd. 1/362. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. 158) dinisbatkan kepada Nabi. 2/304 [9] Al-Zajjâj. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. op. Dâr El-Fikr. Maktabah Anglo.cit. -----------. 1 Oktober 2000. bâb al-Qrdh. hal 20/7. 75. hal. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan. 12/138 [17] Al-Qurthuby. 2/675).s.[35] Wallâhu a'lam. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. hal.. Cet. 189 [8] Lihat misalnya. 1/29. hal. al-Jumu'ah. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin. Tafsir al-Baydhâwy. hal. hal. II. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. kitâb al-Shawm.

op. hal.Zamalek. 48 [26] Ibid. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. 53 [27] Arthur Jeffery. 187.16 [21] Al-Kitab. hal. [29] Ibrahim Khalifah. 118 . 3/136 [34] Al-Alusiy. DR. hal. op. 17 [25] Richard Bell. 20 [22] Badawi. Ushuluddin alAzhar. hal. Shahih Muslim. Jakarta 1975. 113 Badawi.cit. hal. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. hal.cit. Lembaga Alkitab Indonesia. hal. op. hal. 16 [23] Ibid.cit. Kitab Kejadian (14:1).cit. Shabur Syahin. hal.cit. op.cit. hal. Shabur Syahin. op. 9/117 [35] Abd. 2/292 [30] Ibrahim Anis. hal. op. bâb bad'il wahy ilannabiy. op. Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy.cit. 17 [24] Ibid. hal. dikutip dari Abd. Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. cit. hal. 188 [31] Al-Qurthuby. op. Fak. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. op.cit. 4. hal. 18/83 [32] Badawi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful