APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

Abu al-Su'ûd dan sebagainya. 311 H/924 M). Ibrahim Anis. Kedua. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy. linguist) Arab terkemuka. ketika menyampaikan wahyu Allah. tetapi tidak demikian jika dilihat . al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah.[5] Menurut mereka. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. al-Baydhâwy. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur). kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. "ketika islam datang. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu'). Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi. Sebab pada umumnya. dan bangsa Arab. salah seorang bahasawan (lughawy.[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini.[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya.817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik.[7] Dari sini. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. masyarakat tempat beliau diutus. mengatakan. fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. al-Fayrûzabâdy (w.. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). al-'Ankabût. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga. ketiga pendapat itu bisa saja diterima. yang menyatakan. 48). Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. di beberapa tempat dalam Alquran. bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis. Menurutnya.[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa').s.Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. 502 H). mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis. tidak bisa menulis dan menghitung)." Mengomentari itu. [10] Secara sintaksis. orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. meski tidak tegas (akan dibahas kemudian). lam yata'allam al-kitâb. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. al-Zamakhsyary. tidak bisa membaca dan menulis. 711 H). di antaranya. Innâ ummatun ummiyyatun. alRâghib al-Ashfahâny (w. Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. karena belum mempelajarinya. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti.

ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan.dari segi makna. Ketika Ali menolak melakukannya. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada. yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal. seorang filosof Arab terkemuka. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. pada masa kenabian. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. Dengan demikian. Ada pun sebelum itu. Menurut mereka. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'.[14] Meski demikian. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan. Dalam pandangan mereka. Ibnu Mâjah. dapat membaca dan menulis. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). meriwayatkan. Dari sini. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. seorang ahli hadits. sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. Ibnu Abî Syaybah. semuanya. telah menulis dengan tangannya sendiri. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini. seorang kritikus hadits. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah). Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian. tidak mengerti baca-tulis.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. terlepas dari kapan mulai bisa. dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. salah .[16] Seperti diketahui. Muhammad saw. Bahkan. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan. Alquran atau hadits. Abul Walîd al-Bâjiy. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. al-Bâjiy. Sebab ketika Alquran turun. salah seorang perawi Shahîh. kecuali ada tanda-tanda pendukung. Dalam sebuah hadits lain. sebuat teks. Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. menurut Abdurrahman Badawi. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits.

Pendapat Buhl ini. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. 62. tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera.[18] Dengan kata lain.seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. penyembah patung). Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. setelah sebelumnya buta huruf. Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran.. Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis.2) Nabi Muhammad saw.[17] Meski berbeda pendapat.. Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima . kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam. Maka seperti dikutip Badawi. disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. salah seorang dari mereka. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat. 3:20.[23] Nallino. seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen. menurut Badawi. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau. sementara dalam ayat terakhir (Q. Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain.s. [19]Dengan begitu. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela. 75 .. Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). bukan buatan manusia. mempertanyakan penggunan tersebut.s. Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". Springer.[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. "masyarakat dunia". Birsya. Di situ disebut. para ulama islam sepakat. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861.75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1). ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis. 62:2): dalam dua ayat pertama (Q. Tideal. memberitahukan isinya kepada Nabi. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis. raja Admo. Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri. salah seorang orientalis Eropa.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini. tetapi dibedakan dari mereka. raja Goyim. yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. 3:20. Bagaimana mungkin Nabi saw. raja Gomora. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis.. raja Sodom. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama. yakni negeri Zoar. Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy.[21] Arti seperti ini terkesan negatif. Syinab.s.

Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. diutus hanya untuk bangsa Arab. menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. misalnya. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. Nabi Muhammad saw. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya.[28] Dengan demikian. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. ketika kitab-kitab dibuka. Seperti diketahui. "bacalah" (iqra') ia menjawab. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana. Tetapi lebih bermakna sebagai . menurut DR. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. Selain itu.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme. Ibrahim Khalifah. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Riwayat ini. fanatisme dan nasionalisme. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan. Misalnya.[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat.[24] Padahal. universalitas ajaran nabi Muhammad saw. terputus sanadnya pada sahabat. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. Metode mereka.[25] Dalam pandangan orientalis. seperti kata Arthur Jeffery. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'. yang berarti mursal. menurutnya. Makna asli yang sebenarnya. tidak bisa baca-tulis. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis. menurut mereka. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat. adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Watt. Dengan begitu. Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?". Hari pengadilan adalah hari penghisaban.[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. ketua jurusan Tafsir alAzhar. Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw. Kalau pun dapat diterima. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in.M. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya. Richard Bell dan W. tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. tidak bisa baca-tulis. Dengan demikian. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian.

[31] Dengan demikian. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru. Bagi mereka .[34] Namun sayang. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw. salah seorang qâri' tujuh. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw. 'universal'.ungkapan rasa ingkar dan heran. yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat. seorang tarjumân al-Qur'ân. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. ummiyyûn. mungkin lebih tepat. menurut Ibrahim Anis. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan. hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya. Menurut Badawi. Sedangkan bentuk jamaknya. sampai yang terkecil pun.[33] Secara sintaksis. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. seorang pakar tafsir.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. Dengan demikian. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. Menurutnya. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb. Di sini Badawi mengusulkan. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. 157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau. Ketika Nabi saw.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. Apa pun asal kata itu. Hanya saja. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. Juga. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. dan diutus untuk semua bangsa (umam). al-ammiy. 78. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya. bisa membaca dan menulis. [32] Al-Biqâ'iy. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis.

158) dinisbatkan kepada Nabi. 2/761). 12/138 [17] Al-Qurthuby. 2/812 [14] Al-Haytsami. 1995. Cet. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. setelah diangkat menjadi Nabi. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. 2/675). DR.[35] Wallâhu a'lam. Montgomery Watt. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q. Al-Azhar Kairo. al-Kasyâf karya Zamakhsyary.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. di Wisma Nusantara. 51 [20] Lihat Abd. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. 189 [7] Ibid. 14 [19] Richard Bell. Shabur Syahin. 20/7 [18] A. hal 20/7. 1994. al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân. Tafsir Abu al-Su'ûd. al-Dâr alAlamiyyah. Imam Muslim dalam Shahihnya. hal. DR. 1997. 7/155. Dâr El-Fikr. hal. 75. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya. No. kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. Ahad. hal. 4/126 [15] Shahih Bukhari. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah. Edisi revisi W. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas.. hal. 2431.. hal. Maktabah Anglo. 5147. 2/304 [9] Al-Zajjâj. kitâb al-Shawm. Dalâlat al-Alfâzh. Pengantar Studi Alquran . Shabur Shahin. Ma'had Dirasat Islamiyyah . 20. 189 [8] Lihat misalnya.cit. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia.s. (1080. Târîkh al-Qur'ân. al-Jumu'ah. al-Alusy. [6] Ibrahim Anis. hal..cit. op. 1 Oktober 2000. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl ….tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak.s. bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. [3] Al-Alûsy. 4/96. Alu Imrân. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin. Imam Ahmad dalam Musnadnya. adalah seorang buta huruf. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. II. [1] Syihabuddin al-Alûsy. Tafsir al-Baydhâwy. Sebab dilihat dari isinya. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. DR. Rajawali Press. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth. hal. 13/325. op. kitâb al-shawm.--------. Q. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr. -----------. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak. Majma' al-Zawâ'id.. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. kitâb al-Maghâzy. hal. Cet. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan. hal. al-A'râf. Syarh Shahih Muslim. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. al-Baqarah.s. 1/362. Beirut. hal. 1/29. 157. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. Q. op. I. 13 [12] Al-Alûsy.cit.. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd. bâb al-Qrdh. Jakarta. Dâr el-Hadits Kairo. Rûh al-Ma'âny. 79. 1994. Badawi.--------. 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan. s.

op. Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. hal. Shahih Muslim. cit. hal. dikutip dari Abd. Shabur Syahin. 48 [26] Ibid. Lembaga Alkitab Indonesia.cit.cit. hal.cit.Zamalek. 113 Badawi. op. 20 [22] Badawi. 3/136 [34] Al-Alusiy. op. hal. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. 188 [31] Al-Qurthuby. Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. 9/117 [35] Abd. 187. hal. 17 [24] Ibid.cit. hal. 2/292 [30] Ibrahim Anis.cit. hal. op. 4. Fak. op. hal. [29] Ibrahim Khalifah. bâb bad'il wahy ilannabiy.cit. 18/83 [32] Badawi. Kitab Kejadian (14:1). hal. op. 53 [27] Arthur Jeffery. 118 . 16 [23] Ibid. hal. hal.cit. op. hal. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy. 17 [25] Richard Bell. hal.cit. Shabur Syahin. DR. Ushuluddin alAzhar. hal.16 [21] Al-Kitab. op. op. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. Jakarta 1975.