APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

al-Zamakhsyary.Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. 711 H). meski tidak tegas (akan dibahas kemudian). Menurutnya. tidak bisa membaca dan menulis. Innâ ummatun ummiyyatun. mengatakan. Ibrahim Anis. al-'Ankabût. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran. jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya. ketiga pendapat itu bisa saja diterima. "ketika islam datang. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. linguist) Arab terkemuka. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu'). dan bangsa Arab. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga.[5] Menurut mereka. orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi. karena belum mempelajarinya. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. masyarakat tempat beliau diutus. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis. Abu al-Su'ûd dan sebagainya.[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini.[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis. alRâghib al-Ashfahâny (w. Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti. al-Fayrûzabâdy (w. yang menyatakan. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti. [10] Secara sintaksis. Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). di beberapa tempat dalam Alquran. 502 H).[7] Dari sini." Mengomentari itu. di antaranya. ketika menyampaikan wahyu Allah. Kedua.s. 311 H/924 M). Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur). fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw.817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. tetapi tidak demikian jika dilihat . salah seorang bahasawan (lughawy. Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa'). Sebab pada umumnya. mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir.[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. al-Baydhâwy. lam yata'allam al-kitâb. 48). sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik.. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. tidak bisa menulis dan menghitung).

menurut Abdurrahman Badawi. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. telah menulis dengan tangannya sendiri. Muhammad saw.dari segi makna. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. meriwayatkan. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. dapat membaca dan menulis. kecuali ada tanda-tanda pendukung. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Ibnu Mâjah. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. Abul Walîd al-Bâjiy. Dari sini. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah). dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. Dengan demikian.[14] Meski demikian. Dalam sebuah hadits lain. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi. al-Bâjiy. sebuat teks. yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw. Sebab ketika Alquran turun. semuanya. terlepas dari kapan mulai bisa. Ada pun sebelum itu. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan.[16] Seperti diketahui. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). Bahkan. seorang kritikus hadits. sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab. seorang ahli hadits. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. Menurut mereka. seorang filosof Arab terkemuka. Dalam pandangan mereka. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. salah . mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. Alquran atau hadits. mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. salah seorang perawi Shahîh. Ketika Ali menolak melakukannya. pada masa kenabian. tidak mengerti baca-tulis. Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. Ibnu Abî Syaybah.

3:20.s. 62:2): dalam dua ayat pertama (Q. bukan buatan manusia. Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam. ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis.. Syinab. Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis. Birsya. disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. salah seorang dari mereka. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861. menurut Badawi. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. [19]Dengan begitu. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis.. tetapi dibedakan dari mereka. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau. Springer.s.2) Nabi Muhammad saw. "masyarakat dunia". raja Sodom. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela. Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima . Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy. seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen.[18] Dengan kata lain.[23] Nallino. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. 3:20. Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan.s. yakni negeri Zoar. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. Maka seperti dikutip Badawi. sementara dalam ayat terakhir (Q. kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat. Bagaimana mungkin Nabi saw. mempertanyakan penggunan tersebut.[21] Arti seperti ini terkesan negatif. setelah sebelumnya buta huruf. memberitahukan isinya kepada Nabi. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera. penyembah patung). 75 .. Tideal. Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini. Di situ disebut. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri. menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1).75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama. Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka.seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. raja Admo. raja Gomora. para ulama islam sepakat. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds.. Pendapat Buhl ini. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme. salah seorang orientalis Eropa.[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain. raja Goyim.[17] Meski berbeda pendapat. 62.

Dengan begitu.[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. diutus hanya untuk bangsa Arab. menurut DR. ketika kitab-kitab dibuka. Metode mereka. Makna asli yang sebenarnya. Dengan demikian. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. misalnya. tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. Misalnya. kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. adalah suatu hal yang tak terbantahkan. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. seperti kata Arthur Jeffery. terputus sanadnya pada sahabat. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. Nabi Muhammad saw. Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?". menurutnya. Hari pengadilan adalah hari penghisaban.M.[24] Padahal. "bacalah" (iqra') ia menjawab. Watt. redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana. Seperti diketahui. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw.[25] Dalam pandangan orientalis. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis.[28] Dengan demikian.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme. atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. tidak bisa baca-tulis. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. Kalau pun dapat diterima. Selain itu. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal.[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in. fanatisme dan nasionalisme. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan. universalitas ajaran nabi Muhammad saw. ketua jurusan Tafsir alAzhar. menurut mereka. Ibrahim Khalifah. tidak bisa baca-tulis. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. yang berarti mursal. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. Richard Bell dan W. Tetapi lebih bermakna sebagai . menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Riwayat ini.

157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru. Menurut Badawi. Bagi mereka . Di sini Badawi mengusulkan. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. Hanya saja. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut. 78. Sedangkan bentuk jamaknya. seorang pakar tafsir. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya. [32] Al-Biqâ'iy.[34] Namun sayang. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. mungkin lebih tepat. Apa pun asal kata itu. sampai yang terkecil pun. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. dan diutus untuk semua bangsa (umam). menurut Ibrahim Anis. Juga. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf.ungkapan rasa ingkar dan heran. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis. al-ammiy.[31] Dengan demikian. dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan. seorang tarjumân al-Qur'ân. Menurutnya. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw. hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya.[33] Secara sintaksis. bisa membaca dan menulis. Dengan demikian. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. salah seorang qâri' tujuh.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. ummiyyûn. 'universal'. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah. Ketika Nabi saw. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb.

Rajawali Press. kitâb al-Shawm. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl ….. Jakarta. bâb al-Qrdh. Shabur Shahin.s. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth. Edisi revisi W. Dâr El-Fikr. 14 [19] Richard Bell. Târîkh al-Qur'ân. bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. 1994. op. Tafsir al-Baydhâwy. Montgomery Watt. Sebab dilihat dari isinya. Shabur Syahin. 75. al-Dâr alAlamiyyah. 1995. 2/761). 20. 2/675). Q. 2/812 [14] Al-Haytsami. [1] Syihabuddin al-Alûsy. hal. hal. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd.cit. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. Beirut. di Wisma Nusantara. setelah diangkat menjadi Nabi. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. [3] Al-Alûsy. s. 4/126 [15] Shahih Bukhari. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. Al-Azhar Kairo. 1997. Maktabah Anglo.. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. hal.tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak. 157. Dalâlat al-Alfâzh. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin. 4/96. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. 189 [8] Lihat misalnya.cit. 1 Oktober 2000. hal. Syarh Shahih Muslim. hal. DR. 12/138 [17] Al-Qurthuby.[35] Wallâhu a'lam. No. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak.s. al-A'râf. DR. Q. 5147. I. al-Baqarah. 158) dinisbatkan kepada Nabi. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya. Rûh al-Ma'âny. hal. hal 20/7. 1994. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. 2431. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan.--------. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah.. hal. Imam Ahmad dalam Musnadnya.. 1/362. Ahad. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. Dâr el-Hadits Kairo. 79. 7/155. adalah seorang buta huruf. Majma' al-Zawâ'id. op. -----------. 20/7 [18] A. kitâb al-shawm. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q. 13/325. 13 [12] Al-Alûsy. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. 2/304 [9] Al-Zajjâj. op. kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas. Imam Muslim dalam Shahihnya. 189 [7] Ibid.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. Ma'had Dirasat Islamiyyah . al-Alusy. al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân. Cet. Cet. (1080. [6] Ibrahim Anis. kitâb al-Maghâzy. DR. al-Kasyâf karya Zamakhsyary.. hal.cit. 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan. Pengantar Studi Alquran . Tafsir Abu al-Su'ûd. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali.s. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib.--------. 1/29. hal. hal. Badawi. 51 [20] Lihat Abd. Alu Imrân. II. al-Jumu'ah.

op. hal. 48 [26] Ibid.cit.cit. 53 [27] Arthur Jeffery. Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. 4.cit. 20 [22] Badawi. 113 Badawi. op. hal. hal. hal. op. Shahih Muslim. hal.16 [21] Al-Kitab. hal. Shabur Syahin. DR. 118 . hal. Shabur Syahin. dikutip dari Abd.cit. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy. hal. Fak. op. hal.cit. op. 3/136 [34] Al-Alusiy. op. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. 16 [23] Ibid. 188 [31] Al-Qurthuby. op. Lembaga Alkitab Indonesia. Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. cit. hal. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. [29] Ibrahim Khalifah. hal. op. Kitab Kejadian (14:1). 9/117 [35] Abd. 17 [25] Richard Bell. op. hal. Ushuluddin alAzhar. 2/292 [30] Ibrahim Anis. 17 [24] Ibid. bâb bad'il wahy ilannabiy. hal. 187. Jakarta 1975.cit.cit. 18/83 [32] Badawi. hal.cit.Zamalek.