P. 1
Apakah Nabi Muhammad Saw Ummiy

Apakah Nabi Muhammad Saw Ummiy

|Views: 101|Likes:

More info:

Published by: Nurul Fadillah Salasa on Jul 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

APAKAH NABI MUHAMMAD SAW SEORANG BUTA HURUF?

Oleh: Fordian (Forum Studi ALQuran) Bagi kaum muslimin, kenyataan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak berbeda dengan yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril adalah suatu hal yang tidak terbantahkan. Dalam perjalanannya, tidak ada sedikit pun campur tangan manusia, sampai pun Nabi, baik berupa pengurangan atau pun penambahan. Hal tersebut karena ke'terjagaan' nya telah menjadi jaminan Tuhan (Q.,s. al-Hijr; 9) Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, yang pemeliharaannya dibebankan kepada para penganut masing-masing (Q.,s. al-Mâ'idah; 55). Belakangan, dalam kajian sejarah naskah Alquran dari para sarjana Barat muncul berbagai pertanyaan yang bermuara pada gugatan terhadap keaslian Alquran. Salah satunya yang menjadi judul tulisan ini. Kenyataan Nabi Muhammad saw. bisa membaca dan menulis dapat menjadi alasan untuk memperkuat dugaan Alquran hanya buatan manusia. Dalam banyak kajian, unsur metafisis yang banyak melatar belakangi proses sejarah naskah Alquran sering dilupakan. Kritik sejarah semata-mata dilakukan berdasarkan analogi masa lalu yang sama sekali tidak pernah menjadi bagian sejarah mereka dengan masa kini yang sedang mereka lalui. Dari sini maka kebenaran semakin sulit ditemukan. Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul. Sebab, selain informasi-informasi dari masa awal yang kita terima sangat beragam, di dalam Alquran sendiri tidak diketemukan ayat-ayat yang secara tegas menjelaskan itu. Yang ada hanyalah beberapa ayat yang sama-sama mengandung kemungkinan jawaban ya atau tidak. Ini terlihat, misalnya, pada idiom Alquran "ummiy". Dari penggunaan idiom inilah polemik berkepanjangan muncul. Tulisan singkat ini berusaha memberikan sketsa polemik dalam masalah tersebut di kalangan ulama islam dan sarjana Barat. Pandangan Ulama Islam Setidaknya ada tiga kecenderungan di kalangan ulama islam dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Pertama, beliau (Nabi Muhammad saw.) tidak bisa membaca dan menulis sama sekali. Pandangan ini dianut oleh sebagian besar kaum muslimin. Diturunkannya Alquran yang sangat indah dan serasi dari segi bahasa dan kandungannya kepada seseorang yang buta huruf merupakan karakter i'jaz yang sangat tinggi. Sisi kemukjizatannya menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Kedua, awalnya beliau buta huruf, tapi sebelum meninggal beliau telah dapat membaca dan menulis. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama islam seperti Abu Dzar Abdulah Ahmad El-Harawy, al-Sya'by, Abu l-Walid al-Bâjy dan sebagainya.[ 1] Menurut mereka, kemahiran Nabi dalam membaca dan menulis tidak akan menafikan kemukjizatan Alquran, bahkan, justru akan menambah sisi kemukjizatan lain. Sebab itu semua diperoleh tanpa dipelajari. Ketiga, selama masa kenabian, Nabi telah mampu membaca dan menulis.[2] Menurut sebagian Ahl al-Bayt —semoga Allah meridhai mereka— setiap kali Nabi memandang sebuah tulisan, huruf-huruf tulisan tersebut berbunyi sesuai bacaannya.[3] Pendapat kedua dan ketiga agaknya sedikit berdekatan. Argumentasi yang digunakan tidak jauh berbeda.

jika suku Qureisy yang sedemikian majunya dalam kegiatan bisnis dan mempunyai kekuasaan tinggi di kalangan bangsa Arab seperti itu keadaannya. al-Fayrûzabâdy (w. Di situ terdapat ungkapan …walyaktub baynakum kâtibun bil-'adl (Hendaknya di antara kalian ada yang mencatatnya secara jujur). karena belum mempelajarinya. [9] Kata ummiy dengan pengertian tidak bisa membaca dan menulis ini didukung oleh sebuah ayat Alquran.817 H) dan Ibnu Manzhûr (w. di kalangan suku Qureisy hanya ada 17 orang yang bisa menulis. Innâ ummatun ummiyyatun. Pendapat pertama didasari pada beberapa alasan. maka diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka yang juga tidak menguasai baca-tulis tetapi mampu menyampaikan wahyu Allah tanpa ada perubahan dan penyimpangan merupakan suatu mukjizat. Ini bisa dilihat dari pernyataan beberapa sejarawan terkemuka seperti al-Balâdziry. Pendapat pertama dan kedua dikemukakan oleh beberapa pakar bahasa seperti. al-'Ankabût.[7] Dari sini. Kedua.[6] Dalam Alquran ada sebuat ayat terpanjang berupa perintah mencatat setiap transaksi yang dilakukan. Menurutnya. Pertama kata ummiy merupakan kata turunan dari kata ummah ('umat' atau 'bangsa'). orator-orator bangsa Arab yang mengandalkan hafalan dalam orasinya hampir selalu terjebak pada penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan orasi yang sama untuk kedua kali. Kalau pun ada hanya beberapa gelintir orang saja. Lâ naktubu walâ nahsib (Kami adalah bangsa yang ummiy.[4] Paling tidak ada tiga pendapat mengenai akar kata ummiy ini. tidak bisa menulis dan menghitung). ketika menyampaikan wahyu Allah." Mengomentari itu. 711 H). di beberapa tempat dalam Alquran. Abu al-Su'ûd dan sebagainya. Kedua pendapat di atas dikuti oleh kebanyakan penulis tafsir seperti. 48).[ 8] Pendapat ketiga didasarkan pada apa yang pernah dikatakan oleh al-Zajjâj (w. al-Zamakhsyary. kata ummiy terambil dari Umm al-Qurâ (julukan kota Mekah. 311 H/924 M). dan bangsa Arab. fahuwa alâ jibillatihi (ummiy adalah orang yang kondisinya tetap seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. Bahkan Nabi sendiri pernah mengatakan. kata ummiy berasal dari akar kata umm ('ibu'). sifat ummiy yang disandangkan kepada Nabi saw. Dalam bukunya Futûh al-Buldân ia mengatakan. 502 H). alRâghib al-Ashfahâny (w. tetapi tidak demikian jika dilihat . masyarakat tempat beliau diutus. mantan ketua Majma' alLughah al-'Arabiyyah Mesir. al-ummiy huwa alâ khilqat al-ummah. salah seorang bahasawan (lughawy. ketiga pendapat itu bisa saja diterima. Dan kamu (hai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Alquran sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. [10] Secara sintaksis. tidak bisa membaca dan menulis. yang menyatakan. di antaranya. Tidak demikian yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. tempat Nabi lahir dan dibesarkan) dan ketiga. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). sudah tentu yang lainnya tidak lebih baik. Ibrahim Anis. "ketika islam datang.s. lam yata'allam al-kitâb..[5] Menurut mereka. benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu (Q. Sebab pada umumnya. Penyebutan ungkapan tersebut setelah perintah mencatat (faktubûh) menunjukkan bahwa para penulis dan pencatat masih sangat sedikit sehingga harus dicari setiap kali akan ada transaksi.Lebih jauh lagi kita coba melihat argumentasi masing-masing pendapat. al-Baydhâwy. meski tidak tegas (akan dibahas kemudian). bangsa Arab (al-ummah al'arabiyyah secara umum dan penduduk Umm al-Qurâ khususnya) ketika itu adalah bangsa atau umat yang belum bisa baca-tulis. mengatakan. linguist) Arab terkemuka.

Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa nabi menuliskan kata-kata penggantinya dengan tangannya sendiri. Orang boleh memahami kata-kata 'Nabi menulis' tidak berarti beliau sendiri yang melakukan. sebuat teks. agaknya mereka sepakat dengan pendapat pertama yang menyatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis. Bahkan. Beberapa ulama Andalusia dan lainnya menolak pendapat ini. dan Nabi memerintahkan Ali RA untuk menggantikannya dengan kata-kata 'Muhammad Ibnu 'Abdillâh'. Ada pun sebelum itu. Kata ummiy kalau berasal dari kata umm memang bisa berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Penyebutan lafal min qablihi memberi kesan jelas bahwa Nabi bisa baca-tulis setelah Alquran turun dan ajaran islam telah dikenal.dari segi makna. telah menulis dengan tangannya sendiri. kita tidak dapat menemukan makna 'tidak bisa baca-tulis'. Dari sini. Sebab ketika Alquran turun. seorang kritikus hadits. Ibnu Mâjah. ungkapan nabi inna umatun ummiyyatun tidak berarti selamanya dan. Ayat-ayat di mana terdapat kata ummiy (baik bentuk tunggal maupun jamak) semuanya pun tidak mengindikasikan demikian.[11] Keberatan Badawi ini sebelumnya pernah dikemukakan oleh beberapa ulama terdahulu seperti al-Sya'by. mereka yang berpendapat seperti itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. tradisi tulis menulis di kalangan bangsa Arab sempit atau tidak ada. dapat membaca dan menulis. meriwayatkan. kecuali ada tanda-tanda pendukung. [ 12] Tetapi sekadar gambaran tentang kondisi Nabi dan bangsa Arab saat Alquran turun. Tetapi alNawawi dengan mengutip pendapat al-Qâdhi 'Iyâdh. yang diriwayatkan oleh para perawi sahih [15] dikatakan bahwa Nabi saw. Wakil-wakil orang Mekah dalam perjanjian itu menolak pencantuman kata-kata 'Rasûlullâh' dalam pembukaan dokumen perjanjian. Dalam sebuah hadits lain. Muhammad saw. menurut Abdurrahman Badawi. meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada saat Isra Mi'raj Nabi melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi. seorang filosof Arab terkemuka. Nabi mengambil dokumen tersebut dan mencoret sendiri kata-kata yang ditolak wakil-wakil Mekah. sedekah akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahala dan memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan dibalas dengan 18 kali lipat. Penggunaan majaz (metafora) seperti ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. baik ucapan atau keadaan (Qarînah Maqâliyah aw Hâliyyah). Ibnu Abî Syaybah. tidak bisa difahami secara majaz selama dapat dipahami bentuk lahirnya. terlepas dari kapan mulai bisa. Alquran atau hadits. Tetapi kalau kata ummiy itu berasal dari kata ummah atau Umm al-Qurâ. Ketika Ali menolak melakukannya. semuanya.[14] Meski demikian.[13] Al-Haytsamy dalam kitabnya Majma' al-Zawâ'id mencurigai hadits ini mengandung kelemahan dari segi sanad. ayat 48 surah al-'Ankabût di atas hanya menerangkan ketidakmampuan ada sebelum Alquran diturunkan.[16] Seperti diketahui. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa teks hadits. salah seorang perawi Shahîh. salah . Menurut mereka. seorang ahli hadits. Lalu mengapa hanya bangsa Arab yang disifati demikian? Rasanya juga tidak mungkin untuk mengatakan. dalam beberapa versi penandatanganan perjanjian alHudaybiya pada 628 M. Dengan demikian. tetapi boleh jadi beliau hanya memberi perintah. mengatakan pengalihan makna lahir kepada bentuk majaz di sini sangat tidak beralasan. sebagian besar bangsa-bangsa yang ada saat itu keadaannya tidak jauh berbeda dengan bangsa Arab. wafat dalam keadaan telah dapat membaca dan menulis). mâ mâta al-Nabiyyu Shallallâhu 'alaihi wasallama hatta kataba wa qara'a (Nabi saw. Dalam pandangan mereka. tidak mengerti baca-tulis. Abul Walîd al-Bâjiy. al-Bâjiy. pada masa kenabian.

. Nallino dengan demikian sependapat dengan beberapa ulama islam. menurut Weinsink sesuai dengan kata Goyim yang terdapat dalam kitab Kejadian (14:1). tetapi dibedakan dari mereka. Ahl al-Kitâb (yaitu penganut Yahudi dan Nasrani) dan penganut paganisme. Pandangan ini menyiratkan bahwa Muhammad bukanlah seorang yang mengerti masalah-masalah agama. Hanya saja pendapatnya itu menjadi tidak bisa diterima . Diturunkannya Alquran yang begitu indah dan menakjubkan kepada seorang buta huruf adalah pertanda ia adalah wahyu Tuhan. Tideal.[21] Arti seperti ini terkesan negatif. Pandangan Sarjana-Sarjana Barat Berbeda dengan ulama islam. dalam artikelnya Makna Kosakata Alquran (1940). penyembah patung).[22] Frants Buhl berpandangan bahwa Muhammad sebenarnya bisa membaca dan menulis. menyifati dirinya di hadapan Yahudi dan Nasrani sebagai seorang yang tidak mengerti agama. raja Admo. "masyarakat dunia".seorang penganut pendapat ini sempat dikecam dalam beberapa mimbar mesjid dan dinyatakan telah kafir. raja Goyim. raja Gomora. kata ummiy terambil dari ungkapan bahasa Ibrani Ummot ha olam. raja Sodom. Syemeber raja Zeboim dan raja negeri Bela. menurut Badawi.s. Frants Buhl dalam bukunya Das Leben Mohammeds.. mempertanyakan penggunan tersebut. 75 . Maka seperti dikutip Badawi. sementara dalam ayat terakhir (Q. tidak kalah rancunya dengan pendapat Horovitz. para ulama islam sepakat. ummiy adalah orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis. Tetapi kitab-kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak dipahami oleh beliau. dalam bukunya Kehidupan dan Akidah Muhammad (1861.s. Sungguh aneh jika Muhammad mengambil dari orang Yahudi kata yang mengandung arti hina dalam bahasa mereka.. setelah sebelumnya buta huruf.s. Pendapat Buhl ini. bisa atau tidak Nabi membaca dan menulis.[23] Nallino.[20] Pengertian ummiy sebagai masyarakat dunia ini. Seluruh kenyataan ini benar-benar memastikan bahwa ummiy bermakna "non Yahudi" atau "bukan orang Yahudi". yaitu penganut paganisme yang telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Salah satu argumen utama mereka juga berasal dari pemakaian kata sifat ummiy. memberitahukan isinya kepada Nabi. Birsya. Demikian pula kebisaan Nabi dalam baca-tulis.. salah seorang dari empat raja yang berperang melawan Bera.[17] Meski berbeda pendapat. Bagaimana mungkin Nabi saw. yakni negeri Zoar.2) Nabi Muhammad saw. Berlin) mengatakan bahwa kata ummiy berarti watsaniy (paganis. Apalagi jika benar apa yang dikatakan sebagian Ahl al-Bayt bahwa huruf-huruf tulisan itu berbunyi sendiri.75) ummiyyûn dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. 3:20. salah seorang dari mereka. Pendapatnya ini didasarkan pada kenyataan bahwa saat Alquran diturunkan. [19]Dengan begitu. Arti ini cocok dengan bentuk jamak kata tersebut yang terdapat di dalam Alquran (Q. kedua-duanya tetap menunjukkan mukjizat. bukan buatan manusia. 62:2): dalam dua ayat pertama (Q. disebut sebagai seorang utusan yang dibangkitkan di antara ummiyyûn. berpendapat bahwa kata ummiy terambil dari kata ummah 'arabiyyah. Di situ disebut. salah seorang orientalis Eropa. bangsa Arab terbagi dalam dua kelompok. Syinab. 62. tanpa dipelajari adalah bentuk mukjizat lain. 3:20. seperti dikatakan Horovitz dalam bukunya Koranische Untersuchungen. Springer. kajian para sarjana Barat di sekitar masalah ini lebih didominasi oleh keinginan mencari celah kelemahan Alquran.[18] Dengan kata lain.

Demikian pula redaksi "kayfa aqra'u" yang berarti "bagaimana saya membaca(nya) ?".[ 26] Satu hal yang mengurangi nilai obyektifitas para sarjana Barat. ketua jurusan Tafsir alAzhar. namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa suatu bentuk tulisan telah dikenal di Arabia selama berabad-abad. Ibrahim Khalifah. Richard Bell dan W. dan ketika setiap orang ditunjukan catatan-catatannya. "bacalah" (iqra') ia menjawab. Metode mereka. Nabi Muhammad saw. Dengan demikian. Tamsilan-tamsilan ini tidak akan digunakan Alquran jika belum difahami orang-orang Mekah. tidak bisa baca-tulis. Tetapi lebih bermakna sebagai . ketika kitab-kitab dibuka. misalnya. hadits tentang kisah pengangkatan Nabi saw. adalah suatu hal yang tak terbantahkan. dianggap tidak meyakinkan sebagai bukti Nabi saw. redaksi mâ ana biqâri'in dalam hadits pengangkatan Nabi sebagai rasul diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. menurut DR. Terdapat prasasti-prasasti dalam bahasa Arab Selatan yang bertanggal jauh sebelum era Kristen. Dengan begitu. kata-kata tersebut tidak berarti bentuk tanya untuk mengetahui cara membaca. hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabk an untuk menjadi landasan.ketika ia menghubungkan temuannya itu dengan rasisme. seperti kata Arthur Jeffery. selain bertentangan dengan hadits yang lebih kuat. Selain itu. adalah versi hadits di mana jawaban Nabi saw. Pemahaman hadits di atas dapat dijadikan contoh. menurut mereka. berbentuk kata-kata "mâdzâ aqra'u" yang bermakna "apa yang mesti saya baca?" Dengan demkian. Makna asli yang sebenarnya. Misalnya. "mâ aqra'u" atau "mâ ana biqâri'in" yang berarti 'saya tidak (tidak bisa) membaca'. diutus hanya untuk bangsa Arab. Riwayat ini.M. Kalau pun dapat diterima.[25] Dalam pandangan orientalis. bisa membaca sehingga perlu bertanya "apa yang mesti saya baca?" diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dari Ubayd bin Umayr. Mekah adalah kota niaga yang menggantungkan eksistensinya pada perniagaan.[28] Dengan demikian. seperti halnya Mûsâ As diutus kepada bangsa Yahudi. yang berarti mursal. terputus sanadnya pada sahabat. menurutnya. tentu saja pedagang Mekah memerlukan beberapa catatan transaksinya. lebih banyak diadasari pada matan riwayat ketimbang sanadnya. Dalam hubungan dagang yang teratur dengan beberapa daerah di mana tulis-menulis sudah umum. Dari beberapa pengertian kata ummiy tidak sedikit pun menunjukkan ketidak bisaan membaca dan menulis. Selanjutnya kata-kata mâ aqra'u diganti dengan mâ ana biqâri'in. Hari pengadilan adalah hari penghisaban. tidak bisa baca-tulis. universalitas ajaran nabi Muhammad saw. Beberapa bagian Alquran penuh dengan tamsil yang bernuansa niaga dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis. Seperti diketahui. mereka tidak menerima metode kritik yang dikembangkan oleh ulama islam. tanpa membedakan antara yang shahih dan dha'îf. Walau pun orang-orang awam Mekah masih buta tulis menulis. atau akan diberikan catatannya untuk dibaca. redaksi ini adalah yang paling dapat dipertanggungjawabk an kesahihannya dari segi mata rantai (sanad) periwayatannya. Dengan begitu dapat dipastikan kalau tulis-menulis cukup dikenal di sana. menjadi rasul di mana dikabarkan bahwa ketika malaikat berkata kepadanya.[27] Sehingga dengan bebasnya mereka mencomot pendapat ulama terdahulu yang sesuai dengan keinginan mereka. Watt. mengatakan versi hadits dengan redaksi mâ aqra'u seperti di atas adalah yang paling awal. fanatisme dan nasionalisme.[24] Padahal. Sementara redaksi mâdzâ aqra'u yang mengesankan Nabi saw. tentu saja di sini tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Nabi saw.

ungkapan rasa ingkar dan heran. al-ammiy. Hanya saja. bisa membaca dan menulis. 78. tampaknya tidak ditemukan keterangan yang sangat tegas tentang bisa tidaknya Nabi membaca dan menulis. Bagaimana saya bisa membaca padahal saya seorang buta huruf yang tidak pernah membaca sesuatu apa pun. seorang pakar tafsir. seorang tarjumân al-Qur'ân. seperti disebutkan al-Qurthuby dalam tafsirnya. adalah nabi yang memiliki sifat-sifat universal. punya pandangan lain ketika menafsirkan al-nabiyy alummiy pada ayat 158 surah al-A'râf.[30] Pendapat serupa juga pernah dikemukakan Ibnu Abbas. Demikian pula bangsa Arab tidak pernah menggunakan derivasi kata tersebut.[31] Dengan demikian. sampai yang terkecil pun. 'universal'. Sedangkan bentuk jamaknya. mungkin lebih tepat. Juga. Al-Thabary dalam tafsirnya meriwayatkan dari Qatadah dan Ibnu Zeid bahwa sifat Ummiy bangsa Arab adalah karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang dapat dibaca dan dianut.[33] Secara sintaksis. tahu persis semua seluk beluk dan perilaku dalam kehidupan beliau. menurut Ibrahim Anis. diambil dari kata umam (bentuk plural dari kata ummah) yang berarti 'âlamiy'. Dengan demikian. hampir semua orientalis Barat sepakat Nabi saw. perubahan fathah pada hamzah menjadi dhammah dibenarkan dalam penisbatan. ummiyyûn. berarti umat manusia dengan berbagai bangsa atau jenis. agar dipelajari perkembangan kata tersebut dalam kurun waktu lima abad pertama hijriah. yang tampak dari penggunaan Alquran di beberapa tempat. tidak terkesan bahwa yang dimaksud ummiy (bentuk tunggal) atau ummiyyûn (jamak) orang-orang yang tidak mengerti bacatulis. Di sini Badawi mengusulkan. dan diutus untuk semua bangsa (umam). Menurutnya. Tidak ditemukan teks-teks dari sastera Arab kuno (Adab Jâhiliy) yang shahih dalam penggunan kata tersebut. Sehingga akan kelihatan pergeseran maknanya menjadi 'seseorang yang tidak mengerti baca-tulis'. kata ummiy yang dipakai sebagai sifat untuk Nabi saw. kesan ingin me'manusia'kan Alquran dalam arti Alquran buatan Muhammad saw. termasuk kata-kata yang tidak dikenal sebelum islam datang. Ketika Nabi saw. kata tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang disifatinya. Bagi mereka . dan bangsa Arab dengan ayat-ayat di atas menjadi tidak relevan. Apa pun asal kata itu. kata ummiy terambil dari al-amm (pakai hamzah berharakat fathah) yang berarti sesuatu yang dituju untuk diikuti. Menurut Badawi. Makna ini akan tampak jelas dalam konteks keempat ayat yang mengandung kata itu. Pendapat ini didukung oleh sebuah qirâ'at Imam Ya'qûb.[34] Namun sayang. 157 dan 158 adalah nabi yang diutus untuk semua bangsa (umam) atau.[29] Sampai di sini dapat disimpulkan. terungkap jelas dalam beberapa kajian mereka. al-Biqa'iy gagal menerapkan makna ini pada kata ummiyyûn (bentuk plural) ketika dinisbatkan pada Ahl al-Kitâb seperti pada al-Baqarah. mengaitkan sifat buta huruf yang disandangkan kepada Nabi saw. yang dimaksud dengan al-nabiy alummiy dalam al-A'râf. dipandang menguasai ilmu dunia-akhirat dan berakhlak sempurna maka ia pantas menjadi tujuan semua orang untuk ditiru. Suatu hal yang tidak berbeda dengan pandangan sebagian ulama islam seperti dikemukakan di atas. salah seorang qâri' tujuh. Sekali Lagi tentang Kata Ummiy Kata ummiy. [32] Al-Biqâ'iy. Waakhîran Meski para sahabat Nabi saw.

op. adalah seorang buta huruf. dua kali dalam bentuk tunggal (Q. al-Jumu'ah.. Tafsir Abu al-Su'ûd.--* Disampaikan pada Diskusi Mingguan Forum Studi Alquran (FORDIAN) Kairo. hal. Q. bâb Qawl al-nabiyy lâ naktub wa lâ nahsib (1814. bâb al-Qrdh. Maktabah Anglo. karena sering bergaul dengan bacaan dan tulisan. Shabur Syahin.[35] Wallâhu a'lam. 2) [5] Lihat al-Mufradât karya al-Râghib. 1995. Syarh Shahih Muslim. Edisi revisi W. Ini terbukti dari perhatiannya yang serius terhadap pemberantasan buta huruf di Medinah. No. 9/116-117 [2] Ketiga pendapat di atas terekam dalam apa yang dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhîth. 1994. 2/761). 13 [12] Al-Alûsy. 1997. Ma'âny al-Qur'ân wa i'râbuhu. bâb wujûb al-shawm li ru'yat al-hilâl …. [3] Al-Alûsy. Badawi. hal. 2/304 [9] Al-Zajjâj. al-Baqarah. al-Alusy. Dâr El-Fikr. Cet. I. 13/325. Shabur Shahin. Jakarta. al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur'ân.s. DR. di Wisma Nusantara. Rajawali Press. 7/155. bâb 'Umrat al-Qadhâ dan al-Hudaybiya. Cet. Al-Azhar Kairo. hal. op.tidak penting apakah Nabi melek huruf atau tidak. 51 [20] Lihat Abd. Imam Ahmad dalam Musnadnya. beliau sedikit banyaknya menjadi mengerti baca-tulis. 14 [19] Richard Bell.. Ahad.--------. mereka yakin Alquran bukanlah buatan manusia. di mana ia menjadikan tebusan para tawanan perang berupa pengajaran 10 anak kecil kaum muslimin. -----------. 1/29. Imam Muslim dalam Shahihnya. Q. Tafsir al-Baydhâwy. Alu Imrân. Târîkh al-Qur'ân. hal. hal. hal. Dâr el-Hadits Kairo. 2/159 dan Lisân al-'Arab karya Ibnu Manzhûr. Difâ'un an al-Qur'ân dhidd muntaqidîh. 189 [7] Ibid.. hal. 1/362. 1 Oktober 2000. Rûh al-Ma'âny. 5147. kitâb al-Shawm. [1] Syihabuddin al-Alûsy.--------. Montgomery Watt. 20/7 [18] A. s. 1994. op.s. kitâb al-Maghâzy. Edisi Indonesia Taufiq Adnan Amal. Majma' al-Zawâ'id. Beirut. 2/2 [11] Abdurrahman Badawy. DR.cit. 2/381 [10] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahîhnya. 4/96. Pengantar Studi Alquran . 20/7 [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan. hal. al-Kasyâf karya Zamakhsyary. ** Annggota Fordian yang sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Fak. 2431. 12/138 [17] Al-Qurthuby. II. (1080.cit. Ushuluddin Jurusan Tafsir Universitas. 20.cit. setelah diangkat menjadi Nabi. al-A'râf. 158) dinisbatkan kepada Nabi. hal.s. DR. 157. Namun ada benarnya apa yang dikatakan Abd. hal 20/7. Boleh jadi karena pengaruh lingkungan yang belum banyak mengenal baca-tulis Nabi saw. Bashâ'ir dzawî al-tamyîz karya Fayrûz. Dalâlat al-Alfâzh. 2/812 [14] Al-Haytsami. Pemakaian kata sifat ummiy dengan arti tidak memiliki kitab suci (non Ahl al-Kitâb) tidak berarti menafikan karakter buta huruf. Sebab dilihat dari isinya. kitâb al-shawm. [6] Ibrahim Anis. 20/7 [4] Kata ummiy disebut dalam Alquran sebanyak enam kali. Ma'had Dirasat Islamiyyah . 79... 4/126 [15] Shahih Bukhari. hal. 2/675). kitâb alSyurûth bâb al-shulh fil jihâd [16] Al-Nawawi. 189 [8] Lihat misalnya. 75. al-Dâr alAlamiyyah. empat kali dalam bentuk jamak (plural) (Q.

hal. 2/292 [30] Ibrahim Anis.Zamalek. op. Kitab Kejadian (14:1). [29] Ibrahim Khalifah. op. hal. hal. op.cit. hal. hal. 118 . op. hal 19 [33] Al-Biqâ'iy. 113 Badawi. Jakarta 1975.16 [21] Al-Kitab. Shahih Muslim. 53 [27] Arthur Jeffery. 9/117 [35] Abd. 20 [22] Badawi. op. hal. 16 [23] Ibid. 3/136 [34] Al-Alusiy. Shabur Syahin. op.cit. 187.cit. Lembaga Alkitab Indonesia. Ushuluddin alAzhar. bâb kayfa budi'al wahy dan tafsir surat iqra'. Minnatul Mannân fî 'Ulûm al-Qur'ân. cit. hal. 17 [25] Richard Bell. hal.cit. 188 [31] Al-Qurthuby. hal. hal. op. Shabur Syahin. 18/83 [32] Badawi.cit.cit. op. hal. hal. 17 [24] Ibid. Pengantar Kitab al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud As-Sajastâni hal. Nazhm al-durar fî tanâsub al-âyât wassuwar. 48 [26] Ibid.cit. hal.cit. dikutip dari Abd. Fak. op. 7 [28] Lihat Shahih Bukhari. DR. hal. 4. bâb bad'il wahy ilannabiy.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->