Kimia Air

Pelatihan Operator dan Supervisor Reaktor Riset

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional 2008

Halaman ini sengaja di kosongkan

Kimia Air

Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................4 BAB II PERMASALAHAN PADA SISTEM AIR PENDINGIN............................ 6 II.1.KOROSI...................................................................................................6 II.2.KERAK...................................................................................................10 II.3. LUMUT / MIKROORGANISME ...........................................................13 BAB III KOROSI PADUAN ALUMINIUM......................................................... 16 BAB IV KOROSI BAJA KARBON....................................................................18 BAB V PROSES PEMURNIAN AIR.................................................................20 BAB VI PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN.................................... 22 VI.1.PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN PRIMER RSG-GAS ... 22 VI.2.PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN SEKUNDER ............... 24 BAB VII PARAMETER KONTROL KUALITAS AIR PENDINGIN....................27 VII.1. pH.......................................................................................................27 VII.2.Konduktivitas.......................................................................................29 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................31

Pusdiklat – BATAN, 2008

1

Kimia Air 2 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

Tingkat agresifitas air tergantung pada konsentrasi dan jenis ion. Sehubungan dengan hal tersebut. kerak dan lumut/mikroorganisme sehingga reaktor beroperasi dengan aman.S dan parameter kontrol kualitas air pendingin . kimia bahan dan karakteristik sistem pendingin dan bahan logam tersebut. Oleh karena itu air yang digunakan sebagai pendingin harus memenuhi persyaratan yang sesuai dengan komponen atau struktur. penanganan kualitas air pendingin R G. reaktor produksi isotop maupun reaktor daya. Dalam diktat ini akan dibahas permasalahan yang umum terjadi pada sistem pendingin.Kimia Air BAB I PENDAHULUAN Penggunaan air dalam suatu reaktor nuklir. yang dirumuskan dalam spesifikasi kualitas air pendingin. Proses korosi yang terjadi antara komponen atau struktur reaktor dengan air sebagai pendingin dapat dipercepat atau dihambat. baik reaktor penelitian. 2008 3 . Kualitas air pendingin akan mempengaruhi integritas komponen atau struktur reactor karena pada dasarnya air merupakan spesi agresif terhadap materi yang dibasahinya.korosi baja carbon.Untuk menjaga agar kualitas air pendingin tetap terjaga perlu adanya kontrol (pemantauan ) dan penanganan terhadap kualitas air pendingin reaktor sehingga dapat menekan permasalahan yang umumnya timbul pada air pendingin yaitu korosi. Pusdiklat – BATAN. sehingga kemungkinan akan terjadi reaksi kimia antara air dan komponen atau struktur reaktor yang dapat menyebabkan terjadinya korosi atau timbulnya kerak. Percepatan atau perlambatan terjadinya korosi ini erat kaitannya dengan kimia air. proses pemurnian air.korosi paduan aluminium. karena dapat mempengaruhi keandalan dan keselamatan operasi reaktor nuklir. Air sebagai pendingin akan berhubungan langsung dengan komponen atau struktur reaktor. kimia air merupakan salah satu masalah yang perlu dipelajari. digunakan sebagai pendingin atau medium pembawa/pemindah panas.A.

Mengetahui prinsip kerja pemurnian air Mengetahui maksud dan cara penanganan kualitas air pendingin RSG-GAS 4. Mengetahui permasalahan yang bisa timbul pada air pendingin dan faktor penyebabnya 2. 3.Kimia Air Tujuan Instruksional Umum : Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui peran kimia air dalam kaitannya dengan keselamatan operasi reaktor. Tujuan Instruksional Khusus : Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu : 1. Mengetahui peran parameter kontrol kualitas air pendingin 4 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

KOROSI Dalam bahasa sehari-hari . Peristiwa korosi secara umum dapat digambarkan sebagai berikut : Reaksi oksidasi m → m+n + n e m n e ≡ ≡ ≡ (1) logam terkorosi bilangan bulat 1. 4. 2. korosi dikenal sebagai proses berkaratnya logam.1. korosi adalah peristiwa hilangnya elektron dari logam ke lingkungan (air dan O2) serta membentuk produk korosi yang berupa oksida pada permukaan logam tersebut atau rusaknya logam sebagai akibat reaksi dengan lingkungan.Kimia Air BAB II PERMASALAHAN PADA SISTEM AIR PENDINGIN II. Proses reaksi oksidasi dan reduksi ini berlangsung secara bersamaan dan tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan secara kimia. 2008 5 . … dst. 3. elektron Reaksi reduksi Pusdiklat – BATAN. proses korosi dapat dipandang menjadi dua proses yaitu :  Proses reaksi oksidasi pada sisi anodik dan  Proses reduksi pada sisi katodik. Secara elektrokimia.

→ M+2 (5) Pengendapan logam M+ + e.→ 4 OHReduksi ion logam M+3 + e.025 mm per year. Mil adalah 0. berfungsi sebagai inhibitor dengan pembentukan film pelindung.Kimia Air Pada prinsipnya. Oksigen terlarut Oksigen terlarut berperanan penting dalam proses korosi karena pada dasarnya korosi merupakan reaksi logam dengan oksigen membentuk lapisan oksida logam.→ 2 H2O (3) Reduksi oksigen (lingkungan basa atau netral) O2 + 2 H2O + 4 e.0025 cm ). Jadi 1mpy = 0. Reaksi reduksi terdiri dari beberapa jenis reaksi yaitu : Evolusi hidrogen 2 H+ + 2 e. Oksigen dapat meningkatkan laju korosi. dalam reaksi reduksi ini merupakan interaksi dari reaksi oksidasi dengan substansi-substansi yang terdapat dalam media lingkungannya.→ H2 (2) Reduksi oksigen (lingkungan asam) O2 + 4 H+ + 4 e. Faktor yang mempengaruhi korosi 1. 6 Operator – Supervisor Reaktor Riset .001 inch ( 0. Tetapi pada konsentrasi tertentu.→ M (6) (4) Tingkat korosi logam dapat dinyatakan dengan jumlah logam yang hilang dalam satuan mpy (mils per year). Hal ini tergantung jenis media korosi dan jenis logamnya.

Kimia Air 2. 2008 7 . 4. Naiknya daya oksidasi juga Pusdiklat – BATAN. menyebabkan kenaikan laju korosi. 5. Pola ketergantungan laju korosi pada temperatur bervariasi antara logam satu dan lainnya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh garam terlarut terhadap laju korosi tergantung konsentrasi dan jenis ion. Temperatur Pada umumnya. Laju korosi akan bertambah dengan adanya kenaikan kecepatan aliran air. pH pH merupakan besaran yang menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan. pengaruh kenaikan temperatur terhadap laju korosi adalah naik secara eksponensial. tetapi justru menimbulkan masalah pengendapan garam-garam karbonat yang mengakibatkan deposit di permukaan baja sehingga dapat menghambat proses perpindahan panas pada sistem air pendingin. Tingkat keasaman lingkungan biasanya akan berpengaruh terhadap jenis reaksi yang terjadi pada suatu proses korosi. Air pendingin dengan kesadahan yang tinggi akan turut membantu menghambat laju korosi. Ionion klorida dan sulfat dalam ion-ion yang bersifat merintangi efek lapis lindung pada logam terutama pada stainless stell dan alumunium sehingga akan menaikan laju korosi. Kecepatan aliran Air Kecepatan aliran yang cukup tinggi dapat merusak lapisan pelindung oksida pada permukaan logam secara mekanik. Pada temperature tertentu. laju korosi akan naik oleh kenaikan temperatur.. Adanya garam-garam klorida dan sulfat yang larut akan menyebabkan terdapatnya ion-ion klorida dan sulfat dalam air pendingin. Garam-garam terlarut Garam-garam terlarut akan berpengaruh pada korosivitas air yang secara umum meningkatkan konduktivitas air tersebut. 3. Sebagai contoh: Ion karbonat dan bikarbonat (hardness) dapat mengurangi laju korosi sedangkan ion klorida dan sulfat cenderung menaikan laju korosi.

ferro cyanida : bicarbonate. orthofosfat. Perlindungan katodik. Dengan demikian tampak bahwa Zinc dikorbankan (sacrificing) untuk melindungi baja. Bahan pencegah korosi yang sering digunakan sbb: Pencegah anodik Pencegah katodik Yang bersifat umum : chromat. Kemudian deposit karat muncul Gambar berikutnya Zinc tendensi memberikan electron daripada baja. Water e Zinc Carbo n steel 8 Operator – Supervisor Reaktor Riset . Bahan pencegah ini mempengaruhi salah satu bagian atau kedua bagian dari sel korosi yaitu pada anoda atau katoda. kation logam : minyak yang larut. polyfosfat. Rust Deposit Water drop Carbon steel e- Lobang setempat disebelah kanan adalah anodic yang memberikan electron ke katodik ( di mana terdapat air dan oksigen).Kimia Air Metode-metode Pencegah korosi 1). amine. Bahan kimia pencegah korosi mengurangi korosi dengan jalan mengganggu mekanisme terjadinya korosi. oleh karena itu apabila Zinc dan baja ada bersama-sama maka Zinc akan bertindak sebagai anodic. Pemakaian perlindungan katodik bersama dengan suatu penghambat korosi akan meningkatkan hasil penghambatan korosi. senyawa kuartener. Ilustrasi bagaimana korosi merusak baja karbon dan cara Zinc melindungi baja ditunjukkan pada gambar berikut ini.

2. Kristal-kristal yang telah terbentuk mempunyai muatan ion lebih rendah dan cenderung untuk menggumpal sehingga terbentuklah kerak. Kalsium sulfat 4. Pusdiklat – BATAN. 3). Kalsium dan seng fosfat 3. Dalam keadaan larutan lewat jenuh beberapa molekul akan bergabung membentuk inti kristal. Apabila ukuran inti kristal menjadi lebih besar dari inti kritis. KERAK Dalam sistem pendingin.Kimia Air 2). 2008 9 . Komponen-komponen khas kerak yang dijumpai pada sistem air pendingin adalah sebagai berikut: 1. maka akan mulailah pertumbuhan kristal. Silika dan magnesium silikat. kerak terbentuk karena unsur kimia yang larut dalam air terlalu jenuh. Pelapisan telah digunakan untuk mencegah korosi pada alat-alat penukar panas. Inti kristal ini akan terlarut lagi bila ukurannya lebih kecil dari ukuran partikel kritis (inti kritis) sementara itu kristalkristal akan berkembang bila ukurannya lebih besar dari ukuran partikel kritis. II. Pelapisan Pencegahan korosi yang bersifat umum membentuk suatu lapisan film pada seluruh permukaan metal baik anoda maupun katoda. Untuk Bahan-bahan tahan korosi menghambat terjadinya korosi perlu adanya pemilihan dan perancangan dari suatu sistem dengan menggunakan yang tahan korosi. Kalsium karbonat 2.

dan konsentrasi bahan penghambat kerak di dalam air.2 m /detik. Ada berbagai indeks yang digunakan untuk meramalkan terjadinya pembentukan kerak. Pengendalian pH Pengendalian pH dengan penginjeksian asam (asam sulfat atau asam klorida) telah lama diterapkan untuk mencegah pengerakan oleh garamgaram kalsium. Laju Alir Air. Hal ini disebabkan karena kelarutannya menurun dengan naiknya temperatur.B.6 m/detik maka laju pembentukan kerak hanya seperlima dibanding pada laju alir air 0.Kimia Air II.Metode Pencegahan Timbulnya Kerak a. II. diantaranya adalah: indeks kejenuhan dari Langelier untuk kalsium karbonat. 3. Kualitas air Pembentukan kerak dipengaruhi oleh komnsentrasi komponen-komponen kerak (kesadahan kalsium.2. Laju pembentukan kerak akan meningkat dengan turunya laju alir sistem. Temperatur Air Pada umumnya komponen pembentuk kerak cenderung mengendap atau menempel sebagai kerak pada temperatur tinggi.Faktor yang mempengaruhi timbulnya kerak 1. Kelarutan bahan pembentukan kerak biasanya meningkat pada pH yang lebih rendah.untuk kalsium fosfat dan persamaan Kubo untuk menghitung derajat keasaman (pH) pengendapan kritis kalsium fosfat. pada sistem dengan laju alir 0. Oleh 10 Operator – Supervisor Reaktor Riset . indeks Green dkk. garam logam bivalen dan garam fosfat. 2. Dalam kondisi tanpa pemakaian penghambat kerak .A.). konsentrasi fosfat dll. pH.2. Laju pengerakan mulai meningkat pada temperatur air 500C atau lebih dan kadang-kadang problem kerak terjadi pada temperatur air diatas 600C.

asam sulfat dan asam klorida mempunyai tingkat bahaya yang cukup tinggi dalam penanganannya. Oleh karena itu pemakaian air bebas mineral merupakan metoda yang tepat untuk menghambat kerak di dalam suatu sistem dengan pembebanan panas tinggi Pusdiklat – BATAN. CaSo4. c. penghambatan kerak dengan hanya penginjeksian asam semakin jarang digunakan. Dalam hal air sirkulasi mempunyai kesadahan tinggi. tembaga dan paduan tembaga dengan cepat akan berlangsung dan pH efektif untuk mencegah pengendapan kerak hanyalah pada pH 7. Peningkatan Kondisi Operasi Alat Penukar Panas Laju timbulnya kerak dipengaruhi oleh laju alir air. CaCl2.5. salah satu metoda penghambatan kerak yang efektif adalah dengan pengendalian kondisi operasi pada sisi air alat penukar panas. Dari sini.2 menjadi 0.6 m/detik dapat menurunkan pengerakan hampir seperlima sekalipun tanpa pemakaian bahan penghambatan kerak. b. korosi pada baja karbon. tetapi hal ini hanyalah sebagai pelengkap dan secara pasti. digunakan bahan-bahan penghambat kerak disertai pengendalian pH. Untuk mencegah terjadinya kerak pada air make-up yang mengandung kesadahan tinggi (kira-kira 250 ppm CaCO3) perlu adanya pelunakan dengan menggunakan kapur dan soda abu (pengolahan kapur dingin). Peningkatan laju alir dari 0. Pada pH 6.0 sampai 7. temperatur air. dan temperatur dinding luar alat penukar panas. Pelunakan dan pembebasan mineral air make-up. Bahan penghambat kerak tetap diperlukan untuk pencegahan timbulnya kerak yang memadai. 2008 11 .5 atau kurang. Oleh karena itu. Masalah kerak tidak akan di jumpai bilamana dipakai air bebas mineral karena seluruh garam-garam terlarut dapat dihilangkan. MgCl2 dan Mg(HCO3) di dalam air makeup menghasilkan CaCO3 dan Mg(OH)2. fluksi panas.Kimia Air karena itu pengendapan kerak dapat dicegah dengan menurunkan pH air pendingin. MgSO4. Lagi pula. suatu sistem otomatis penginjeksian asam diperlukan untuk mengendalikan pH secara tepat.0 sampai 8.5. Cara ini menggunakan reaksi-reaksi dimana Ca (OH)2 dan Na2CO3 bereaksi dengan Ca (HCO3)2. Oleh karena itu. Dalam hal ini rentang pH efektif menjadi 7.

3.Faktor yang mempengaruhi tumbuhnya lumut yaitu : Zat makanan bagi mikroorganisme Mikroorganisme memerlukan berbagai jenis makanan untuk pertumbuhanya seperti senyawa karbon. Dalam hal ini temperatur optimum adalah antara 300C – 400C. LUMUT / MIKROORGANISME Lumut sering dijumpai pada sistem pendingin sekunder. II.Kimia Air dimana pengolahan konvensional dengan bahan penghambat kerak tidak berhasil. Akumulasi lumpur lunak dari campuran mikroorganisme dapat menyebabkan terjadinya lumut. pH Umumnya bakteri tumbuh dengan baik pada rentang pH netral sampai basa.A. Lumut merupakan mikroorganisme yang dominan pada pendingin sekunder Lumut dapat melakukan fotosintesa dengan energi matahari dan zat organik. udara dan kebocoran proses. Temperatur air Pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan mikroorganisme tergantung pada jenis mikroorganisme. Lumut dapat menyebabkan turunnya koefisien panas dari alat penukar panas di samping itu dapat juga menyebabkan korosi lokal pada peralatan dan sistem pemipaan.3. phosphat dan lain-lain. Ada tiga unsur dimana bahan-bahan makanan masuk ke dalam sistem air pendingin yaitu air tambahan. II. Mikroorganisme mengambil energi serta bahan makanan untuk pertumbuhan mereka dengan cara yang tidak sama. pH optimum pertumbuhan bakteri adalah pada rentang pH antara 6-9. misalnya lumut yang telah mati dapat disintesa lumut menjadi makanan organik bagi organisme lain. karena tiap mikroorganisme mempunyai temperatur optimum untuk pertumbuhan berbeda-beda. 12 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

Sinar matahari Di antara mikroorganisme yang tumbuh pada sistem air pendingin hanya lumut yang memanfaatkan sinar matahari.Kimia Air Oksigen terlarut Bakteri aerob dan jamur memperoleh energi yang diperlukan untuk pertumbuhannya dari reaksi dekomposisi oksida zat organik dengan oksigen terlarut. dan frekuensi naik apabila jumlah melebihi 106 bakteri/mL. Laju alir air Pusdiklat – BATAN. Sedangkan banyak mikroorganisme lain tidak memerlukan sinar matahari untuk pertumbuhannya. terjadinya masa lumut akan meningkat. Sistem air pendingin sirkulasi ulang terbuka menyediakan kondisikondisi yang optimum karena oksigen terlarut yang diperlukan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak pada air pendingin. Jumlah bakteri Frekuensi timbulnya masalah lumut rendah apabila bakteri kurang dari 103 bakeri/mL. akan lebih baik bagi pencegahan lumut dan akumulasi lumpur. 2008 13 . Tingkat adhesi lumut adalah fungsi absorbansi. Volume lumut Volume lumut adalah sejumlah mL zat yang diperoleh dari penjaringan 1 m3 air pendingin menggunakan kasa plankton. Kekeruhan Kekeruhan yang lebih rendah atau lebih jernih. Dalam suatu sistem pendingin apabila volume lumut lebih besar dari 10 mL/m3. Tingkat kelekatan lumut Tingkat adhesi lumut akan merupakan indeks yang efektif untuk adhesi lumut pada air pendingin.

B.Penanganan Masalah Lumut/ Mikroorganisme Cara mengatasi tumbuhnya lumut dan mikroorganisme pada pendingin sekunder adalah sebagai berikut: 1. maka apabila penanggulangan lumut dilakukan. kondisi deposit lumut harus dipelajari supaya dapat memilih bahan kimia yang sesuai. Untuk mencegah agar sekecil mungkin kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi yang berasal dari air make-up.1 m/dt. penggumpalan dll. Penyaringan pembantu. II. Lumut jarang terakumulasi apabila laju alir di dalam pipa lebih dari 0. Ini adalah suatu pengolahan untuk menurunkan akumulasi lumpur dan pelekatan lumut yaitu dengan jalan penyaringan sebagian air pendingin yang disirkulasikan untuk membuang padatan tersuspensi 14 Operator – Supervisor Reaktor Riset . Pemakaian bahan pengontrol lumut.Kimia Air Lumpur akan berakumulasi dengan cepat di daerah yang laju alirnya rendah.5 m/dt atau laju alir horizontal pada ruang pemisah lebih besar dari 0. 3. Karena setiap bahan pengontrol lumut mempunyai mekanisme kerja yang berbeda. Pencegahan kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi pada air pendingin. dilakukan pra pengolahan seperti penyaringan.3. 2. Fungsi dari bahan pengontrol lumut diklasifikasikan atas sterilisasi.

5. impurities yang ada dan kondisi kimia lainnya yang di eksposkan pada Al tersebut. Faktor yang mendukung usia Al ini adalah karena Al itu sendiri secara mikroskopik membentuk film oksid (Aluminum Oxide) yang tipis. kecepatan aliran. Diagram ini dapat ditunjukkan pada gambar berikut: Pusdiklat – BATAN. Ketahanan aluminium terhadap korosi. sehingga dapat mencegah atau memperkecil serangan oksigen lain yang bebas pada sebagian besar media berair. Pada prinsipnya korosi Al itu tergantung pada variabel seperti temperatur. pada temperatur tinggi lapisan lindung ini dapat mengalami pelarutan dalam media air dengan pH tertentu. Informasi dari berbagai pihak membuktikan bahwa struktur Al mempunyai daya tahan (long life) lebih dari 30 tahun. [6] Diagram Pourbaix dapat digunkan untuk memperkirkan kondisi lingkungan suatu logam agar tahan korosi dan meramalkan produksi korosi yang terbentuk. Lapisan oksida tersebut merupakan lapis lindung untuk mencegah proses korosi lebih lanjut. Al cukup stabil pada pH 4. selanjutnya pada temperatur 330oC.5 sampai 8. Percobaan ekstensif dangan dukungan DOE test reactor menyatakan bahwa korosi Al paling minimum terjadi pada pH 5. Lapisan oksida lindung ini sangat kuat menempel pada permukaan logam. Dalam media air normal. sebagai akibat dari reaksi kimia antara logam Al dengan oksigen dan udara membentuk lapisan oksida Al2O3. Al yang terekspos pada kondisi yang sangat alkalin bisa terkorosi bila film oksid tergores. Film ini begitu tipis dalam ukuran atomik. nilai minimum pada pH mendekati 3.5 (temperatur normal). Namun demikian. 2008 15 .Kimia Air BAB III KOROSI PADUAN ALUMINIUM Aluminium dan paduannya adalah logam yang memiliki ketahanan korosi yang baik terhadap udara dan media air. jenis alloy.

Kimia Air Gambar 1. Diagram Pourbaix Untuk Aluminium 16 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

laju alir. Tetapi dalam suasana alkalin. Laju Korosi versus pH dalam air Pengaruh pH terhadap laju korosi baja di dalam air pada temperatur ruang dapat dilihat pada Gambar 2. mekanis dan anti korosi yang berlainan. Secara definisi. Hal ini karena pada daerah Pusdiklat – BATAN. baja karbon merupakan baja Pengaruh bukan campuran (alloy) meskipun masih mengandung impurities. Baja tahan karat (Stainless steel) merupakan baja yang mengandung unsur-unsur di atas. sebagai misal kenaikan Cu dari 0.01 menjadi 0. Gambar 2. Terlihat bahwa di daerah pH 4~10 laju korosi tetap tidak mengalami kenaikan yang berarti. 2008 17 . Ni. Namun keasaman relativ air adalah faktor yang sangat diperhitungkan. Pada pH rendah keberadaan ion hydrogen cenderung meniadakan film pelindung korosi. pembentukan film yang terjadi dapat mengurangi laju korosi. unsur tambahan (alloy additions) seperti Cu. Korosi baja karbon yang di ekspos di air dipengaruhi oleh temperatur. Si dan Cr dapat mengurangi laju korosi. pH dsb.Kimia Air BAB IV Korosi BAJA karbon Problem korosi pada baja karbon merupakan hal yang penting diperhatikan. Oleh karena itu senantiasa diupayakan perlindungan terhadap korosi atau meminimalkan laju korosi.05% dapat menurunkan laju korosi tiga kali lebih rendah. Terdapat lebih dari 70 tipe Stainless steel yang mana memiliki sifat fisis.

Korosi Fe Oleh Aerasi Di Dalam Air 18 Operator – Supervisor Reaktor Riset .Kimia Air tersebut di permukaan baja terbentuk oksida logam yang berfungsi sebagai pasivator. Pada kondisi netral. Hal ini yang menyebabkan penurunan laju korosi. ada factor lain yang ternyata berdampak pada laju korosi yakni aerasi (oksigen) sebagaimana ditampilkan pada gambar 3. pada daerah pH > 10. lapisan oksida logam larut membentuk ion sehingga terjadi kenaikan laju korosi. Pada daerah pH < 4. Gambar 3. terjadi pembentukan oksida logam yang semakin banyak sehingga baja terlindungi dari korosi.

resin penukar ion terbagi menjadi dua yaitu: resin penukar kation dan resin penukar anion. Secara umum rumus stuktur resin penukar kation sbb: Resin penukar anion merupakan senyawa hidrokarbon yang terpolimerisasi sampai tingkat yang tinggi yang mengandung ikatan-ikatan hubung silang (cross-linking) serta gugusan yang mengandung anion (gugus amino. karboksilat. fenolik dll) yang dapat dipertukarkan. Reaksi pertukaran ion terjadi pada ion yang mempunyai tanda muatannya sama antara larutan (air ) dengan resin yang bersentuhan dengan larutan ( air ) tersebut. amino subsitusi atau amonium kwarterner dll) yang dapat dipertukarkan.Kimia Air BAB V PROSES PEMURNIAN AIR Di dalam proses pemurnian air. pada prinsipnya adalah reaksi pertukaran ion di mana ion yang tidak dikehendaki dipindahkan (diambil) oleh resin penukar ion dari aliran air tersebut. Resin adalah senyawa hidrokarbon terpolimerisasi sampai tingkat yang tinggi yang mengandung ikatan-ikatan hubung silang (cross-linking) serta gugusan yang mengandung ion-ion yang dapat dipertukarkan Berdasarkan gugus fungsionalnya. Resin penukar kation adalah senyawa hidrokarbon yang terpolimerisasii sampai tingkat yang tinggi yang mengandung ikatan-ikatan hubung silang serta gugusan-gugusan yang mengandung kation (gugus sulfonik. 2008 19 . . Secara umum rumus struktur resin penukar anion adalah sbb: Pusdiklat – BATAN.

Kimia Air Secara umum reaksi pertukaran antara ion yang terjadi didalam air dengan ion yang terikat pada gugus fungsional resin dapat dinyatakan sebagai berikut : RX+ + Y+  RY + X+ Resin penukar kation Kation dlm air RX- + Y-  RY + Y- Resin penukar anion Anion dlm air 20 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

sedangkan pipa dan katup di dalam gedung reaktor terbuat dari bahan stainless steel. Hal ini dikarenakan resin yang telah digunakan akan menjadi aktif. maka diganti resin baru dan tidak dilakukan regenerasi. Pusdiklat – BATAN.A. Sebagai medium pembawa panas pada sistem pendingin primer di reaktor G. Untuk mengetahui kejenuhan resin penukar ion pada sistem purifikasi dipasang instrumentasi pengukuran beda tekanan dan tingkat radioaktivitas air kolam. Apabila resin penukar ion tersebut sudah jenuh. 2008 21 . dengan rincian 220 m3 volume kolam reaktor.Siwabessy bertujuan untuk menjaga agar spesifikasi kualitas air pendingin primer tetap terjaga.1. PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN PRIMER RSGGAS Penanganan terhadap kualitas air pendingin primer reaktor G.A. Siwabessy digunakan air bebas mineral yang berasal dari sistem penghasil air bebas mineral . Pada sistem pendingin primer semua pipa yang berada di dalam kolam terbuat dari bahan Al Mg3 dan yang di luar kolam terbuat dari bahan stainless steel. Sedangkan metode yang dilakukan adalah secara kontinyu air pendingin primer dilewatkan pada sistem purifikasi yang terdiri dari filter mekanis dan filter penukar ion dan dilakukan secara rutin seminggu sekali pengukuran pH dan konduktivitas dan perlakuan kimiawi yang berupa penggantian resin penukar ion pada sistem pemurnian.Kimia Air BAB VI PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN VI. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan terhadap kualitas air bebas mineral seminggu sekali atau pada saat akan mengisi tangki penampung air bebas mineral (tangki BB04) Volume air pendingin primer total sebesar 330 m3. 80 m3 volume delay chamber dan 30 m3 volume pada sistem pemipaan.

Sebagai indikasi penggantian resin pada mix-bed filter adalah apabila beda tekanan sebelum dan sesudah melewati resin >1. Sebagai indikasi pergantian resin pada mix bed filter adalah bila beda tekanan antara sebelum dan sesudah melewati resin > 1.5 bar atau radioaktivitas > 0. 2. Sistem pemurnian air kolam (KBE 01) Sistem purifikasi tersebut terdiri dari sistem filter mekanis dan Filter penukar ion berisi campuran dari 750 liter anion OH.resin tipe Lewatit M500KR/OHdan 750 liter kation H+ resin tipe Lewatit S100KR/H+.5 bar atau radioaktivitas >10-3 Ci/m3 Sedang resin trap akan diganti jika perbedaan tekanan > 2 bar.>2 bar Sistem pemurnian air kolam penyimpan bahan bakar bekas (FAK 01) Sistem ini terdiri dari mix bed filter yang berisi campuran dari 350 liter anion OH.1 Ci/m 3.>2 bar.resin tipe Lewatit M 500KR/OH.dan 350 liter resin kation H+ resin tipe Lewatit S100 KR/H+ dan filter mekanik dengan laju alir 15 m3/jam. Filter penukar ion berisi campuran dari 200lt anion OHresin tipe Lewatit M500KR/OH-dan 200lt kation H+ resin tipe Lewatit S100KR/H+. Sedang resin trap akan diganti jika ada perbedaan tekanan.5 bar atau radioaktivitas > 5x10-2 Ci/m3 untuk aliran masuk dan > 10-3 Ci/m3 untuk aliran balik Sedang resin trap akan diganti jika ada perbedaan tekanan. Sistem pemurnian lapisan air hangat ( KBE 02) Sistem ini terdiri dari mix-bed filter (KBE 02 BT03) dan filter mekanik dengan laju alir 20 m3/jam.Kimia Air Untuk menghilangkan hasil aktivasi dan kotoran mekanik air pendingin primer dan menjaga kualitas air pendingin primer pada tingkat yang diizinkan maka pada sistem pendingin primer dilengkapi dengan sistem purifikasi (pemurnian) yang terdiri dari : 1. Sebagai indikasi penggantian resin pada mix-bed filter adalah apabila beda tekanan sebelum dan sesudah melewati resin >1. 22 Operator – Supervisor Reaktor Riset .

Kimia Air VI. 9.maks Laju korosi maks Jumlah bakteri Pusdiklat – BATAN.950 µs/cm 1500 µs/cm 280 ppm 320 ppm 480 ppm 1 ppm 177.5 ppm 3 mpy 106 bakteri/ml Fe total maks Cl. 5. 7. Pada sistem pendingin sekunder pipa yang berada di dalam kolam terbuat dari stainless steel. 10. Spesifikasi Kualitas Air Pendingin Sekunder 1. 6.2.5 – 8 850 . Sedangkan metode yang dilakukan adalah dengan cara pengukuran terhadap pH. 8. timbulnya kerak dan adanya lumut/mikroorganisme. konduktivitas dan kandungan unsur-unsur kimia secara rutin seminggu sekali dan dilakukan perlakuan kimia yang berupa penambahan bahan kimia tertentu. 4. 2008 23 . 2. 3. Pipa dan katup yang berada di luar gedung reaktor terbuat dari bahan carbon steel sedangkan pipa dan katup di dalam gedung reaktor terbuat dari bahan stainless steel. PH Konduktivitas normal Konduktivitas Maks Kalsium sebagai CaCO3 maks SO4-2 maks Hardness total maks 6. PENANGANAN KUALITAS AIR PENDINGIN SEKUNDER RSG GAS Penanganan kualitas air pendingin sekunder bertujuan untuk menjaga agar spesifikasi kualitas air pendingin sekunder tetap terpenuhi sehingga dapat menekan permasalahan yang biasa timbul pada air pendingin sekunder yaitu terjadinya korosi. Disamping itu dilakukan juga pemantauan terhadap kualitas air PUSPIPTEK yang merupakan pemasok pada sistem pendingin sekunder.

A. Sedangkan dosis penambahan Nalco 23226 adalah 100 ppm secara kontinu yang ditambahkan ke air pendingin sekunder. 6. Bola tersebut terbuat dari karet alami dengan diameter 21 mm. Adanya korosi pada sistem pendingin sekunder dapat dilihat pada pengukuran kandungan besi total dan coupon corrosion.Penanganan kerak pada sistem pendingin sekunder Di reaktor pada sistem pendingin sekunder G.Penanganan korosi pada sistem pendingin sekunder Di reaktor G. tetapi mampu membersihkan kerak-kerak yang mengendap di dalam penukar panas.8 ppm 40 ppm 1 ppm Hardness total maks Fe total maks VI.Siwabessy untuk menghambat terjadinya korosi dilakukan penambahan bahan kimia yaitu Nalco 23226. Sebagai kontrol dosis penambahan Nalco adalah dilakukan pengukuran terhadap kandungan zeng dan orthophosphat dalam air pendingin sekunder.2.Siwabessy untuk mengurangi adanya/timbulnya kerak pada sistem pendingin sekunder dipakai bola-bola spons yang dilewatkan melalui pipa alat penukar panas dan dipasang katub blowdown otomatis. tetapi bahan ini membentuk lapisan-lapisan yang tidak larut pada permukaan logam.A. sedangkan model dan ukurannya disesuaikan dengan tabung penukar panas sehingga bola-bola tersebut tidak merusakkan pipa-pipa yang dilewatinya.Kimia Air Spesifikasi kualitas air proses ( PAM Puspiptek) 1. 5.5 150 µs/cm 34 ppm 67.2. 2. PH Konduktivitas Maks Kalsium sebagai CaCO3 maks SO4-2 maks 7 – 7.B. 4. maka katub blowdown akan membuka secara otomatis dan air 24 Operator – Supervisor Reaktor Riset . Bahan kimia ini bersifat larut dalam air. 3. Apabila harga konduktivirtas air pendingin sekunder telah mencapai 950µ S/Cm. VI.A.

Kehilangan air sebagai akibat blowdown ini akan segera dikompensasi dengan air penyedia air proses. kotoran atau kekeruhan. Nalco 2593 bersifat sebagai non oxidizing biocide.C.Nalco 2890 dan NaOCl 12%. 2008 25 . Lumut/ Mikroorganisme pada sistem pendingin Pusdiklat – BATAN. Larutan NaOCl 12% secara periodik penambahannya dilakukan dengan rutin setiap hari. dan untuk Nalco 2890 dosis penambahan nya adalah 10 .2. Jika total bakterinya kurang dari 103 bakteri/ml maka pada sistem pendingin sekunder. Jika konduktivitas air pendingin sekunder telah mencapai 850 µS/Cm katub blow down akan menutup secara otomatis.A Siwabessy cara untuk membatasi tumbuhnya lumut digunakan bahan kimia Nalco 2593 . VI.Kimia Air pendingin dibuang ke lingkungan. Adanya lumut pada sistem pendingin sekunder dapat dilihat pada penentuan total bakterinya.Penanganan sekunder Di reaktor G. Dosis penambahan bahan kimia ini adalah 100 ppm untuk Nalco 2593.20 ppm atau ditambahkan tergantung pada jumlah lumpur. Sedangkan penambahan Nalco 2890 bersifat biodispersant yang digunakan untuk membersihkan bakeri yang telah mati. jika total bakteri besar dari 106 bakteri/mL akan mempercepat tumbuhnya lumut. frekuensi tumbuhnya lumut rendah.

Sifat asam dan basa yang biasa digunakan adalah definisi asam basa menurut Bronsted dan Lowry.1. terbentuklah asam baru.adalah basa yang terbentuk setelah proton diberikan. Air dapat menjadi suatu asam dan suatu basa. zat HA adalah suatu asam karena dapat memberi proton dan zat B– adalah suatu basa karena dapat menerima proton. Mereka disebut suatu pasangan asambasa.+ H2O OH+ HCO3 26 Operator – Supervisor Reaktor Riset . basa adalah suatu zat yang dapat menerima proton. Dalam reaksi ini HA sebagai pemberi proton.+ HA Basa 1 asam 1 HB + A– basa 2 asam 2 Proton dipindahkan dari HA ke ion negatif B. HB dan basa baru A-. Sebagai contoh dalam reaksi berikut : HCl + H2O basa1 H3O+ + asam2 Clbasa2 Asam1 Dalam reaksi di atas air berlaku sebagai basa sebab menerima proton dari HCl. Sedangkan dalam reaksi berikut : CO3.Kimia Air BAB VII PARAMETER KONTROL KUALITAS AIR PENDINGIN VII. Secara umum reaksi asam basa dituliskan sebagai berikut: B. yang menyatakan bahwa asam adalah suatu zat yang dapat memberikan ion hydrogen (H+) atau disebut proton. Reaksi tersebut adalah reaksi keseimbangan artinya bila reaksi bergeser ke kanan.(anion). demikian pula HB dan B. pH merupakan besaran yang menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan.adalah suatu pasangan konjugasi asam-basa. dan A. pH pH didefinisikan sebagai negatif logaritma 10 dari konsentrasi molar ion H+ atau dituliskan pH = -log [H+].

Kw = 1.0 x 10-14 pKw 14 bila pH = = -log Kw pH+ + pOH= pOH = 14 – 7 = 7 = -log 1. Suatu zat yang dapat berfungsi sebagai asam dan basa disebut amfolit. maka pH Berdasarkan harga pH. maka K menjadi Kw sebagai tetapan ionisasi air: Kw = [H+] [OH-] Dengan menggunakan notasi px = -logx.= Pada temperatur 250C. maka : pKw pH+ = = -log Kw -log [H+] -log [OH-] pOH. 2008 27 . bersifat amfoter yang dapat melakukan reaksi auto–ionisasi : H2O Tetapan keseimbangan (K) untuk reaksi ini : K= H+ + OH- [ H ][OH ] + − [ H 2O ] Untuk larutan encer (kurang dari 10-4 M.0 x 10-14 = pH+ + pOH- = pOH.Kimia Air Basa1 asam1 basa2 asam2 Air berlaku sebagai suatu asam karena memberikan proton kepada ion karbonat (CO3-). M= mol/liter) dan pengaruh kekuatan ion (ionic strength) diabaikan. Asam bila pH larutan < 7 Netral bila pH larutan = 7 Basa bila pH larutan > 7 Pusdiklat – BATAN. maka suatu larutan dapat dinyatakan bersifat .

Konduktivitas Konduktan suatu larutan adalah ukuran kemampuan larutan tersebut dalam menghantarkan arus listrik. Semua partikel-partikel ini menyokong proses penghantaran. Tegangan antara dua electrode yang dicelup pada larutan itu turun oleh karena tahanan listrik di dalam larutan yang dipakai untuk menentukan konduktivitas per cm. Pada umumnya pengukuran konduktivitas larutan adalah dalam unit millisiement/cm (mho/cm). Untuk menyatakan kemampuan ion-ion sebagai penghantar arus listrik digunakan besaran kekuatan ion (ionic-strength) ditulis dengan symbol ”µ “ dan ditulis dengan rumus sebagai berikut : µ = ½ Σ (Ci Zi 2) di mana : Ci : konsentrasi ion i Zi : muatan ion Ci 28 Operator – Supervisor Reaktor Riset .Kimia Air pH suatu larutan dapat ditentukan dengan menggunakan pH meter. VII.2. sehingga satuan konduktan adalah mho. Konduktivitas suatu larutan dapat diukur dengan konduktimeter. Daya hantar suatu larutan adalah ukuran dari aliran arus pada suatu kekuatan listrik tertentu. tergantung pada jumlah muatan partikel yang di dalamnya. Dengan bertambah besar harga konduktivitas. [7] Penghantaran arus listrik dalam suatu larutan elektrolit terjadi karena perpindahan ion-ion bermuatan positif kearah katoda dan yang bermuatan negatif kearah anoda. Dalam kondisi ini medium air lebih efektif terhadap proses korosi suatu bahan. jumlah ion serta mobilitas ion bertambah besar pula. tapi fraksi arus yang dibawa oleh suatu jenis ion ditentukan oleh konsentrasi dan mobilitas ion-ion tersebut dalam medianya. Penentuan konduktivitas dilakukan dengan mengukur tahanan memakai probe yang terjadi di larutan. Pada umumnya kenaikan temperatur larutan memperbesar harga konduktivitas. Konduktan didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan (ohm).

5 .Kimia Air Hubungan antara konduktivitas dengan kekuatan ion untuk mengetahui jumlah padatan terlarut (Total Dissolved Solid = TDS) sebagai berikut : µ = 1. 10-5 x TDS (mg/liter) Pusdiklat – BATAN.6 . 10-5 x konduktivitas (dalam µS/cm) µ = 2. 2008 29 .

1.” Corrosion Protection”. Technical Bulletin 2002. v. “Cooling tower “.”Corrosion of Carbon Steel”. 7. Maret 98 4. “Penanganan Secara Kimiawi Sistem Pendingin di RSGGASiwabessy”. 5. Metal Handbook. ed. HACH. DIYAH EL. BATAN. Bandung.3.pipingtech.13. Marcel Dekker Inc. 2. 8. ANONIMUS. Tri Dasa Mega. Hach Company Bryson. 2000. rev.DR. BATAN. 6. “Pengelolaan Kimia Air Pendingin Reaktor G.Siwabessy”.8. Diskusi Kimia Air dan Reaktor. ASM International. DIYAH EL. www.A.A. DIYAH EL.Kimia Air DAFTAR PUSTAKA 1. “Safety Analysis Report”. National Association of Corrosion Engineers. Kueita Handbook of Water Treatment. Philiph. page 24.Siwabessy”.1No. P2TKN. Nov’ 96 3.”What every Engineer Sheloud know about Corrosion”. Sigma Epsilon.S. vol. 1998. vol. Manual Conductivity TDS Meter 44600.9. Buletin Reaktor Nuklir. Inland Stweel Company. Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor.com. CREEK S.”Studi Awal Radionuklida hasil korosi pada Air Pendingin Primer RSG-G. P3TKN-BATAN. 1987 *** 30 Operator – Supervisor Reaktor Riset .A. 9.