PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Siswa adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Di dalam proses belajar mengajar sangat banyak permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Guru yang profesional akan membantu setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswa tersebut terutama adalahb guru Bimbingan dan Konseling. Dalam makalah ini kita akan membahas sebuah permasalahan yang dihadapi siswa, yaitu adalah tentang kesulitan belajar. B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Bimbingan dan Konseling Belajar? 2. Apa saja kesulitan belajar itu? 3. Apa saja yang akan dilakukan oleh seorang guru untuk mengatasi

permasalahan belajar? C. Tujuan
1. Menjelaskan tentang permasalahan belajar siswa

2. Memberikan penalaran kepada guru untuk menghadapi siswa yang bermsalah dalam belajar

Bimbingan dan Konseling Belajar

1

MATERI I BIMBINGAN DAN KONSELING BELAJAR A. Konsep Bimbingan dan Konseling Belajar 1. Pengertian Bimbingan Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson (1908). Sejak itu muncul rumusan tentang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayana bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat ahlinya. Maka untuk memahami pengerian dari bimbingan perlu mempertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
a. Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk

dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya (Frank Parson,1951).
b. Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa

aspek yakni bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.
c. Bimbingan membantuh individu untuk lebih mengenali berbagai

informasih tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
d. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Chiskolm bahwa

bimbingan membantuh individu memahami dirinya sendiri, pengertian menitik beratkan pada pemahaman terhadap potensi diri yang dimiliki.
e. Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan

realisasi pribadi setiap individu (Bernad & Fullmer,1969).

Bimbingan dan Konseling Belajar

2

f. Pengertian yang

dikemukakan oleh Bernard & Fullmer bahwa

bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengen lingkungannya.
g. Bimbingan

sebagai

pendidikan

dan

pengembangan

yang

menekankan proses belajar yang sistematik (Mathewson,1969). Mathewson mengemukakan bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankanbimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui proses belajar. Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah : “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyrakat” 2. Pengertian Konseling Konseling berasal dari bahasa Latin, Consillium berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami.Sedangkan dalam bahasa Anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan yang berarti menyerahkan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan. Menurut para ahli konseling adalah : a. Jones, 1951 1) Konseling terdiri atas pengungkapan atau data tentang siswa serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

3

2) Bantuan itu diberikan secara langsung kepada siswa. 3) Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mengalami

perkembangan yang semakin maju dan baik.
b. Pepinsky & Pepinsky dalam sherter dan stone 1974

1) Konseling merupakan proses interaksi antara dua individu masingmasing disebut konselor danklien. 2) Dilakukan dalam suasana professional 3) Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. c. Mclean dalam sherter & stone 1974 1) Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan.
2) Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka.

3) Individu yang dikonselin g adalah individu yang mengalami gangguan atau masalah. 4) Dilakukan oleh orang yang ahli (profesional) yaituh orang yang terlatih baik dan telah memliki pengalaman. 5) Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah atau gangguan. d. Smith ( dalam Sherter & Stone 1974) 1) Konseling merupakan proses pemberian bantuan.
2) Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau

data baik mengenai individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya, khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan, dan rencana-rencana yang akan dibuat. e. McDaniel (1965)
Bimbingan dan Konseling Belajar 4

1) Konseling merupakn pertemuan antar konselor dank lien 2) Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi masalahmasalah ataupun kesulitan yang dihadapinya. 3) Tujuan dalam pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya baik dengan diri sendiri maupun dengan klien. 3. Pengertian Belajar Belajar merupakan salah satu factor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melaliu kegiatan belajar. Lantas apa sesungguhnya belajar itu? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : a. Moh. Surya (1997) Belajar adalah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri lingkungannya.
b. Witherington (1952)

dalam berinlah teraksi dengan

Sebagai pola-pola respon yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. c. Crow & Crow (1958) Belajar adalah diperolehnya diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengalaman dan sikap baru. d. Hilgard (1962) Belajar adalah proses dimana suatu prilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi” e. Di Vesta dan Thompson (1970) Belajar adalah perubahan prilaku yang relative menetap sebagai hasil dari pengalaman.

Bimbingan dan Konseling Belajar

5

f. Gege dan Berliner

Belajar adalah suatu proses perubahan prilaku yang muncul karena pengalaman. g. Crobach (1954) Berpendapat : learning is shown by a change in behaviour as result of experience; belajar dapat dilakukan dengan secara baik dengan jalan mengalami. h. Spears Learning is Observe, to read, to imited,to try something themselves, to listen, to follow direction, dimana pengalaman itu diperoleh dengan mempergunakan panca indera. i. Robert M.Gagne Dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa : learning is a change in human disposition or capacity; wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara aliran instrumentalisme. j. Lester D, Crow and Alice Crow Mendefenisikan learning is the acuquisition of habits, knowledge, and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaankebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap. k. Hudgins Cs. (1982) Berpendapat hakekat belajar dapat didefenisikan sebagai suatu perubahan pengalaman. l. Jung (1968) Belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku dari organism dimodifikasi oleh pengalaman. m. Ngalim Purwanto (1992) dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya

Bimbingan dan Konseling Belajar

6

Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingakah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman. Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajra adalah perubahan prilaku. Dalam hal ini, Moh. Surya (1997) mengemukakan cirri-ciri perubahan prilaku, yaitu : 1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Perubahan prilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau ketermapilannya semakin meningakat, dibandingakan sebelum ia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya seorang mahasiswa sedang belajar psikologi pendidikan. 2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu) Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. 3. Perubahan yang fungsional Setiap perubahan yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. 4. Perubahan yang bersifat positif Perubahan prilaku yang terjadi bersifat normative dan menunjukan ke arah kemajuan. 5. Perubahan yang bersifat aktif

Bimbingan dan Konseling Belajar

7

Untuk memperoleh prilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.

6. Perubahan yang bersifat permanen Perubahan prilaku yang diperoleh dari proses belajarcenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. 7. Perubahan yang betujuan dan terarah Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. 8. Perubahan prilaku secara keseluruhan Perubahan prilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan belajar di sekolah sangatlah penting karena belajar itu merupakan inti kegiatan pengajaran di sekolah, maka wajiblah murid-murid dibimbing agar mencapai tujuan belajar. Secara rinci tujuan bimbingan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut : • Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau sekelompok anak. • Menunjukan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran. • Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana memanfaatkan perpustakaan.

Bimbingan dan Konseling Belajar

8

Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam ulangan dan ujian.

Memilih satu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasan, cita-cita dan kondisi fisik atau kesehatnnya.

Menunjukan cara-cara menghadapi kesulitandalam bidang studi tertentu.

• •

Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya. Memilih pelajaran tambahan baik yang berhubungan dengan pelajaran disekolah maupun untuk pengembangan bakat dan kariernya.

Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi : • Mengembangkan pemahaman tentang diri terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahannya

dan

penangguhannyadan

usaha-usaha

pencapaian cita-cita / perencanaan masa depan. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingakah laku dalam hubungan social dengan teman sebaya, guru dan masyarakat luas. • • • Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secara efektif dan efisien. Teknik penguasaan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian. Membantu memantapkan pilihan karier yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan inforfmasi karier, orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang dikembangkan. •

Orientasi belajar di perguruan tinggi. Orientasi hidup berkeluarga.

B. Prinsip Efisiensi Dalam Belajar Belajar efektif dan efisien memerlukan strategi, artinya peserta didik perlu menempuh dan melakukan hal-hal yang mendukung keberhasilan belajarnya.
Bimbingan dan Konseling Belajar 9

Hal yang sangat penting dipahami peserta didk antara lain prinsip-prinsip dalam belajar, rencana belajar, sarana belajar, teknik mempelajari buku, memebuat catatan pengaturan waktu belajar dan sebagainya. Ada beberapa prinsip-prinsip belajar yang efektif dan efisien, yaitu : • Belajar memerlukan dorongan atau motivasi • Belajar memerlukan pemusatan perhatian pada hal-hal yang sedabng dipelajari

Berusaha untuk lebih mengerti terlebih dahulu sebelum dihafal

• Sering mengulang hal-hal yang telah dipelajari • Yakinkan bahwa yang setiap dipelajari akan berguna nantinya • Setelah belajar perlu istirahat • Yakinkan bahwa hal-hal yang telah dipelajari dapat dimanfaatkan untuk mempelajari yang lain (transfer pengetahuan) • Belajar dengan ekspresi (mengutarakan kembali denagan bahas sendiri) • Hindari hal-hal yang dapat mengganggu atau menghambat dalam belajar Kecuali hal-hal tersebut diatas ada faktor-faktor penting yang sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar, antara lain adalah : o Faktor lingkungan Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik, yang terdiri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. o Factor instrumental Meliputi : kurikulum, program yang ada, sarana dan prasarana, guru yang profesional. o Kondisi fisiologis

Bimbingan dan Konseling Belajar

10

Pada umumnya kondisi fisiologis ini sangat mempengaruhi kemampuan belajar seseorang. o Kondisi psikologis Factor psikologis sebagai factor dari dalam diri seseorang tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan belajar seseorang, yang terdiri dari minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif.

C. Bimbingan Prestasi Belajar Dengan Inteligensi Ada beberapa pendapat tentang inteligensi, diantaranya adalah : 1. Claparate dan Stern Inteligensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. 2. K. Buhler Inteligensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman dan pengertian. 3. David weshler Inteligensi adalah kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal budi untuk mangatasi tantangan-tantangannya. Inteligensi adalah kemampuan untuk berpikir secara terarah, berpikir secara rasional dan mengadapi lingkungan secara efektif. Dari defenisi-defenisi di atas, kita dapat menarik kesimpulan yang menjelaskan ciri-ciri inteligensi :
a. Inteligensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses

berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati

Bimbingan dan Konseling Belajar

11

secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. b. Inteligensi tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya. Banyak orang mengira dan berpendapat bahwa rendahnya prestasi belajar anak di sekolah disebabkan oleh rendahnya inteligensi si anak.. Dengan demikian tidaklah pada tempatnya untuk memandang secara aprioris bahwa prestasi belajar yang rendah selalu disebabkan rendahnya inteligensi. Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah : a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian.. b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukan hanya mengembangkan intelekual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya..
c. Belajar berkat insight

Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian didalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakalah dihadapkan pada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
d. Belajar berdasarkan pengalaman

Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap prilaku individu.

Bimbingan dan Konseling Belajar

12

MATERI II FAKTOR- FAKTOR DALAM BELAJAR, KONSEP PERKEMBANGAN DAN TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN A. Faktor-Faktor Dalam Belajar Agar dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya, haruslah diperhatikan faktor-faktor yang terdapat di dalam belajar itu. Faktor-faktor itu antara lain : 1. Faktor anak / individu Faktor individu merupakan factor paling penting. Anak jadi belajar atau tidak adalah tergantung pada anak itu sendiri. Individu terbentuk dari psikis dan fisik yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Ini berarti kalau ada gangguan baik dalam segi fisik maupun psikis, hal tersebut akan berpengaruh terhadap hasil belajar anak. a) Faktor fisik Ini berhubungan erat dengan soal kesehatan fisik. Untuk menjaga kesehatan badan perlu ada aktivitas fisik (gerak badan) sebagai selingan belajar untuk menjaga agar badan selalu dalam kondisi yang baik. b) Faktor psikis Bahwa individu harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk mengahdapi tugas. Kesiapan mental (mental set) ini sangat mempengaruhi motif, minat, perhatian, konsentrasi dan sebagainya.  Motif Apabila anak mempunyai motif yang cukup kuat untuk belajar, maka ia akan berubah agar dapat belajar dengan sebaik-baiknya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

13

Motif ini akan cukup kuat apabila individu mempunyai kesadaranakan makna serta tujuan dari apa yang harus dilakukannya. Besar kecilnya motif yang ada pada individu juga tergantung pada jelas tidaknya apa yang akan dicapai lwat tindakannya itu. Motif ini sangat erat hubungannya dengan minat.  Minat Apabila anak telah mempunyai minat maka akan mendorong individu untuk berbuat sesuai dengan minatnya.  Konsentrasi perhatian Agar belajar dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, maka diperlukan konsentrasi yang baik atas materi yang sedang dipelajari.  Natural curiocity Adalah keinginan untuk mengetahui secara alami. Kalau dalam diri anak sudah terselip rasa ingin tahu, ini berarti bahwa anak memiliki dorongan atau motif untuk mengetahui apa hakikat dari mata pelajaran yang dipelajari itu.  Balance personality (pribadi yang seimbang) Apabila individu telah memiliki pribadi yang seimbang, maka individu akan dapat menyesuaikan situasi di sekitarnya dengan baik.  Self confidence Yaitu kepercayaan kepada diri sendiri, bahwa dirinya juga mempunyai kemampuan seperti teman-temannya untuk mencapai prestasi yang baik.  Self dicipline
Bimbingan dan Konseling Belajar 14

Yaitu disiplin terhadap diri sendiri. Ini harus ditanamkan dan dimiliki oleh tiap individu, karena sekalipun mempunyai rencana belajar yang baik, namun hal itu akan tetap tinggal rencana kalau tidak ada disiplin diri.  Inteligensi Factor ini akan turut menentukan taktik atau cara apa yang diambil di dalam menghadapi materi yang harus dipelajari. Belajar dengan pengertian akan jauh berbeda hasilnya apabila tanpa pengertian, dan pengertian ini erat hubungannya dengan inteligensi.  Ingatan Tujuan belajar adalah agar apa yang dipelajari itu tetap tinggal dalam ingatan. Karenanya perlu adanya pengulangan dari apa yang telah pernah dipelajari. Faktor lingkungan Dalam proses belajar, factor lingkungan juga memegang peran penting. Pengertian lingkungan disini adalah termasuk peralatan. Factor lingkungan ini berhubungan dengan : a) Tempat Tempat belajar yang baik adalah merupakan tempat yang tersendiri, yang terang, warna dindingnya sebaiknya jangan yang tajam dan mencolok, dan dalam ruangan jangan sampai ada hal-hal yang daoat mengganggu perhatian. b) Alat-alat untuk belajar Belajar tidak dapat berjalan dengan baik bilamana tanpa alat-alat yang cukup. Semakin lengkap alatnya maka akan semakin mudah untuk belajar seabaik-baiknya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

15

c) Suasana Suasana belajar yang baik akan memberikan motivasi yang baik terhadapa proses belajar dan ini akan berpengaruh baik terhadap prestasi belajar anak-anak. d) Waktu Pembagian waktu untuk belajar pun harus diperhatikan dengan sebaikbaiknya. Tentang lamanya belajar tergantung pada banyak sedikitnya materi yang dipelajari. Tetapi belajar terlampau lama akan melelahkan dan kurang efisien. e) Pergaulan Pergaulan anak akan berpengaruh terhadap belajar anak. Oleh karena itu hendaknya dijaga agar anak bergaul dengan anak-anak yang suka belajar. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap motif anak untuk belajar. 2. Faktor bahan yang harus dipelajari Bahan yang dipelajari akan menentukan cara atau metode belajar apa yang akan ditempuh. Hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a) Pada umumnya belajar dengan cara keseluruhan lebih baik daripada belajar secara bagian-bagian. b) Sebagian waktu belajar disediakan untuk melakukan ulangan. Ulangan ini digunakan untuk mengecek samapai di mana bahan yang dipelajari itu tinggal dalam ingatan.
c) Atas apa yang dipelajari hendaknya diadakan ulangan sekerap

mungkin. Makin sering diulang maka akan makin baik tinggal dalam ingatan.

Bimbingan dan Konseling Belajar

16

d) Didalam mengulangi bahan pelajaran hendaknya dipakai spaced

repetition, yaitu mengulangi dengan waktu tenggang. Umumnya mengulangi dengan spaced repetition itu lebih baik hasilnya daripada dengan massed repetition. Pada spaced repetition, anak mempunyai energy baru setelah istirahat sebentar.
e) Apabila materi yang dipeajari tidak mempunyai arti, maka pergunakan

cara mneumoteknik, yaitu bahan yang satu dihubungkan dengan bahan yang lainnya hingga merupakan suatu kesatuan yang berarti. Contoh mneuteknik, misalnya : AKABRI, SMA, dll yaitu merupakan merupakan kesatuan singkatanyang mempunyai arti hingga mudah diingat.

B. Konsep perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai proses berlangsungnya perubahanperubahan dalam diri seseorang, yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya. Pada anak didik prose situ memuncak, bila dia telah mencapai kedewasaan. Sudah tentu bahwa setelah itu, perkembangan masih berjalan terus sampai orang memasuki usia lanjut, tetapi yang terutama yang disoroti sekarang ini ialah proses perubahan yang berlangsung pada anak yang masih dalam taraf pendidikan. C. Tahap-Tahap Perkembangan Salah satu aspek dari pokok perkembangan ialah “pertumbuhan” yaitu proses perubahan yang berlangsung sejumlah perubahan jasmani pada diri seseorang dengan meningkanya umur, sampai kejasmaniah telah terbentuk sepenuhnya. Tahap-tahap perkembangan antara lain : 1. Perkembangan kognitif

Bimbingan dan Konseling Belajar

17

Perkembangan

kognitif

meliputi

peningkatan

pengetahuan

serta

pemahaman, yang sering juga disebut “perkembangan intelektual” dan perluasan kemampuan berbahasa. 2. Perkembangan konatif Perkembangan konatif meliputi penghayatan berbagai kebutuhan, baik bilogis maupun psikologis dan penentuan diri sebagai makhluk yang bebas dan rasional penggerak yang memberikan arah pada beraneka aktivitas. 3. Perkembangan afektif Perkembangan afektif menyangkut pemerkayaan alam perasaan. Kalau anak pada awal mula hanya mengenal perasaan senang atau perasaan tidak senang, lama-kelamaan dia akan mengalami berbagai bentuk perasaan yang senang. 4. Perkembangan sosial Perkembangan social menyangkut kemampuan untuk bergaul secara memuaskan dengan seluruh anggota keluarga, semua teman di sekolah serta warga masyarakat. 5. Perkembangan motorik Perkembangan motorik meliputi kemampuan untuk menggunakan otototot, urat-urat dan persendia-persendian dalam tubuh rupa, sehingga anak dapat merawat diri sendiri dan bergerak dalam lingkungan secara efisien dan efektif. Aspek pertumbuhan meliputi sejumlah perubahan jasmani sampai mencapai umur dewasa secara fisik. Aspek perkembangan pada anak inilah yang paling langsung terlihat. Belajar itu meliputi 3 bidang belajar, yaitu : o Belajar dibidang kognitif

Bimbingan dan Konseling Belajar

18

Anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman. o Belajar dibidang sensorik –motorik Anak memperoleh setumpuk keterampilan yang melibatkan otot, urat serta persendian tubuhnya (motorik) dan alat-alat indera seperti mata serta telinga (sensorik), namun pemikiran, perasaan, dan kemauan berperan juga (psikomotorik) o Belajar dibidang dinamik-afektif Anak memperoleh berbagai sikap dan perasaan yang iktu menetukan tindakan-tindakan yang akan diambil, sikap dan perasaan itu memberikan energy psikis (dinamik) dan semangat melalui rasa-rasa tertentu yang mencapai tingakah lakunya (afektif).

MATERI III KELOMPOK BELAJAR A. Definisi Kelompok Belajar

Menurut Wikipedia tentang pengertian kelompok belajar, Kelompok Belajar atau Kejar adalah jalur pendidikan nonformal yang difasilitasi oleh Pemerintah untuk siswa yang belajarnya tidak melalui jalur sekolahPengertian ini berdasarkan tentang kelompok belajar resmi dari program pengerintah bukan berdasarkan tentang pengertian dasar kelompok belajar. Oleh karena itu, mari kita bahas pengertian satu-persatu dari definisi kelompok belajar. a. Kelompok Kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya dan saling berinteraksi. Maka bila ada 2 orang yang antri di toilet tidak bisa disebut suatu kelompok, tetapi bila orang tersebut

Bimbingan dan Konseling Belajar

19

melakukan suatu interaksi dalam bentuk apapun, maka bisa disebut sebagai kelompok. b. Belajar Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya, baik melalui latihan dan pengalamn yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. B. Tujuan Kelompok Belajar 1. 2. 3. 4. 5. Meninggikan rasa percaya diri terhadap kemampuan siswa. Mengembangkan kemampuan siswa dalam bersosialisasi. Mewujudkan tingkah laku yang lebih efektif. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Meningkatkan prestasi belajar siswa.

C. Jenis-jenis Kelompok Belajar Kelompok belajar terdiri atas berbagai macam jenis. Terbagi berdasarkan jumlah siswa per kelompok dan berdasarkan kemampuan siswa. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut : a. Kelompok belajar berdasarkan jumlah siswa per kelompok :
1. Kelompok besar, dengan jumlah siswa antara 20-40 orang, misalnya

komunitas percakapan Bahasa Inggris. 2. Kelompok kecil, dengan jumlah siswa antara 5-10 orang.
3. Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya

kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja) b. Kelompok belajar berdasarkan kemampuan siswa : 1. Kelompok belajar sedang, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan

Bimbingan dan Konseling Belajar

20

bimbingan dan dorongan secara utuh supaya kelompok tersebut berhasil. 2. Kelompok belajar cukup, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan motivasi dan perhatian supaya berhasil untuk mencapai tujuan.
3. Kelompok belajar baik, adalah kelompok belajar yang dibentuk

berdasarkan pada kemampuan siswa yang sudah mulai mandiri dalam menyelesaikan tugasnya. D. Kriteria-kriteria Pembentukan Kelompok Belajar Dalam pembentukan kelompok belajar ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan, antara lain: tujuan, materi, fasilitas belajar, dan karakteristik siswa.. Jika fasilitas belajar dipandang hanya dapat digunakan oleh kelompok kecil secara bergantian, maka siswa harus dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. E. Teknik Pembentukan Kelompok Belajar Untuk membentuk Kelompok belajar, ada beberapa cara atau tehnik yang dapat digunakan, yaitu pembentukan yang bersifat : a) Teknik Pembentukan Secara Otoriter Dalam pembentukan kelompok belajar dengan cara ini kelompok ditentukan sedemikian rupa oleh guru atau pembimbing tanpa memperhatikan pendapat anak-anak.Dengan demikian maka kelompok itu besar kemungkinannya tidak sesuai dengan kehendak anak-anak.. b) Tehnik Pembentukan Secara Bebas Teknik ini adalah dengan menyerahkan pembentukan kelompok belajar itu kepada anak-anak sementara guru atau pembimbing tidak ikut campur tangan.Tehnik ini merupakan tehnik yang sebaliknya dari yang pertama.Tehnik inipun mengandung segi-segi yang menguntungkan

Bimbingan dan Konseling Belajar

21

disamping juga ada segi-segi yang menguntungkan disamping juga ada segi-segi kelmahannya . Keuntungannya ialah : • Anak-anak dapat memilih teman –teman yang betul-betul cocok sehingga mereka betul-betul kompak dan dapat diharapkan akan dapat berlangsung dengan baik. • Di dalamn kelompok itu ada kepercayaan yang mendalam sehingga anta mereka dapat berterus terang mengenai segala sesuatu. Kelemahannya ialah : • Mungkin akan ada anak yang tidak dipilih sama sekali untuk masuk ke kdalam kelompok. Bila hal ini terjadi maka akan membawa akibat yang kurang baik. • Ada kemungkinan bahwa kelompok yang satu dengan yang lain akan saling tertutup menutupi sehingga akan dapat menimbulkan ekses yang kurang baek. • Ada kemungkinan bahwa anak-anaka yag pandai akan menjadi satu kelompok, demikian pula dengan anak-anak yang bodoh.situasi yang demikian tentu akan berakibat tidak baik. • Ada kemungkinan anak –anak dari lingkungan sosial yang baik, terutama dari segi sosial-ekonomi, menjadi satu dan demikian juga sebaliknya.keadaan yang demikian ini jelas tidak baik dari segi pendidikan karena pada anak-anak akan tertanam sifat atau sikap yang kurang baik.anak yang satu akan memandang rendah anak yang lain c) Tehnik Pembentukan Secara Terpimpin Pembentukan kelompok belajar dengan tehnik ini merupakan tehnik yang sebaik-baiknya.Tehnik ini merupakan perpaduan dari kedua tehnik diatas. F. Manfaat Kelompok Belajar 1. Belajar dengan membentuk kelompok belajar sendiri dapat memotivasi semangat belajar antara teman satu dengan lainnya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

22

2. Saling berbagi informasi dan pengetahuan antara teman. Teman yang pandai dapat mengajari dan menularkan kepandaiannya kepada teman lainnya. Dengan begitu, materi yang diserap oleh siswa dapat merata kepada siswa lain. 3. Membangun komunikasi timbal balik dengan adanya diskusi. 4. Bekerjasama menyelesaikan PR maupun tugas sekaligus bersosialisasi di luar sekolah sehingga tidak membosankan. 5. Meringankan tugas yang diberikan kepada siswa karena dikerjakan bersama-sama dengan siswa yang lain. 6. Mengoptimalkan kemampuan berpikir siswa dalam menanggapi suatu permasalahan. 7. Belajar lebih menyenangkan karena dikerjakan secara berkelompok. G. Belajar Kelompok yang Efisien 1. Jumlah anggota kelompok maksimal adalah 5 orang. Dengan anggota kelompok yang tidak terlalu banyak diharapkan siswa bisa lebih focus dalam berdiskusi. 2. Tentukan materi belajar jauh-jauh hari sebelum belajar kelompok dilaksanakan. Menentukan materi belajar sebelum belajar kelompok dilakukan adalah sangat penting agar semua anggota bisa mempersiapkan diri terhadap materi yang akan didiskusikan. 3. Waktu belajar kelompok minimal 2 jam tiap pertemuan dan dilakukan 3 kali dalam seminggu. 4. Ciptakan suasana belajar yang serius tapi santai. si. 5. Manfaatkan waktu untuk mengerjakan soal-soal yang telah disepakati.

Bimbingan dan Konseling Belajar

23

MATERI IV TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN DASAR PSIKOLOGIS TUJUAN KELOMPOK BELAJAR A. Tugas-Tugas Perkembangan Individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan. Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah kematangan fisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu. Pembagian tugas-tugas perkembangan untuk masing-masing fase dari sejak masa bayi sampai usia lanjut dikemukakan oleh Havighurst sebagai berikut: 1. Masa bayi dan anak-anak a. Belajar berjalan
b. Belajar makan makanan padat

c. Belajar berbicara d. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
e. Mencapai stabilitas fisiologis

f. Membentuk pengertian sederhana tentang realitas fisik dan sosial g. Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain
h. Belajar

mengetahui mana yang benar dan yang salah serta kata hati.

mengembangkan 2. Masa Anak Sekolah

a. Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
b. Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai organisme

yang sedang tumbuh c. Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya d. Belajar peranan jenis kelamin

Bimbingan dan Konseling Belajar

24

e. Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
f. Mengembangkan

pengertian-pengertian

yang

diperlukan

guna

keperluan kehidupan sehari-hari g. Mengembangkan kata hati moralitas dan skala nilai-nilai h. Belajar membebaskan ketergantungan diri
i. Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembaga-lembaga

3. Masa Remaja a. Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif b. Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai pria/wanita
c. Menginginkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab

sosial d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya e. Belajar bergaul dengan kelompok anak wanita dan anak laki-laki f. Perkembangan skala nilai
g. Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih luas

h. Persiapan mandiri secara ekonomi i. Pemilihan dan latihan jabatan j. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga 4. Masa Dewasa Awal a. Mulai bekerja b. Memilih pasangan hidup c. Belajar hidup dengan suami/istri d. Mulai membentuk keluarga e. Mengasuh anak f. Mengelola/mengemudikan rumah tangga g. Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara h. Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan

Bimbingan dan Konseling Belajar

25

5. Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya a. Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis b. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu c. Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia d. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan e. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa f. Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh. Robert J. Havighurst (1961) mengartikan tugas – tugas perkembangan itu merupakan suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu yang apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke tugas perkembangan selanjutnya tapi jika gagal akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada individu yang bersangkutan dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskn tugas-tugas berikutnya. Faktor sumber munculnya tugas-tugas perkembangan: 1. Adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu 2. Tuntutan masyarakat secara kultural
3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri (psikologis) yang

sedang berkembang itu sendiri, memilih teman dan pekerjaan
4. Tuntutan norma agama.

Adapun tugas-tugas perkembangan pada setiap fase perkembangan (Robert J. Havighurst (Monks, et al., 1984, syah, 1995; Andrissen, 1974; Havighurst, 1976) ) sebagai berikut:
1. Tugas-tugas perkembangan pada usia bayi dan kanak-kanak (0 – 6

tahun) a. Belajar berjalan. b. Belajar memakan makanan padat.

Bimbingan dan Konseling Belajar

26

c. Belajar berbicara. d. Belajar buang air kecil dan buang air besar. e. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. f. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. g. Membentuk konsep – konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam. h. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang – orang disekitarnya.
i.

Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata hati.

Menurut beberapa ahli psikologi lainnya tentang tugas perkembangan disetiap fase-fase perkembangan 0-6 tahun: a. Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life:
1) Fase pertama (0-1 tahun)

Belajar menghayati berbagai objek diluar diri sendiri, melatih fungsifungsi motorik.
2) Fase kedua (2-4 tahun)

Belajar mengenal dunia objektif diluar diri sendiri, disertai dengan penghayatan yang bersifat subjektif. Misalnya anak bercakap-cakap dengan bonekanya atau berbincang-bincang dan bergurau dengan binatang kesayangannya. 3) Fase ketiga ( > 5 tahun) Belajar bersosialisasi. Anak mulai memasuki masyarakat luas (pergaulan dengan teman sepermainan (TK) dan sekolah dasar. b. Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology 1) Prenatal, yaitu masa konsepsi anak sampai umur 9 bulan dikandungan ibu.
2) Masa natal: Infancy atau neonatus (dari lahir sampai usia 14 hari),

penyesuaian terhadap lingkungan

Bimbingan dan Konseling Belajar

27

3) Masa bayi (2 minggu sampai 2 tahun) Bayi tidak berdaya dan sangat tergantung pada lingkungan dan kemudian (karena perkembangan) anak mulai berusaha menjadi lebih independen. 4) Masa anak ( > 2 tahun) Anak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga dia merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan yang ada. c. Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society:
1. Masa bayi (0-1,5 tahun), anak belajar bahwa dunia merupakan tempat

yang baik baginya, dan ia belajar menjadi optimis mengenai kemungkinan-kemungkinan mencapai kepuasan.
2. Masa Toddler (1,5-3 tahun)

Anak belajar menggunakan kemampuan bergerak sendiri untuk melaksanakan dua tugas penting, yakni pemisahan diri dari ibu dan mulai menguasai diri, lingkungan, dan keterampilan dasar untuk hidup.
3. Awal masa kanak-kanak ( > 4 tahun)

Anak belajar mencontoh orang tuanya, pusat perhatian anak berubah dari benda ke orang.
2. Tugas–tugas

perkembangan pada masa sekolah (6-12 tahun)

Menurut Robert J. Havighurst (Monks, et al., 1984, syah, 1995; Andrissen, 1974; Havighurst, 1976) tugas – tugas perkembangan masa ini adalah:
a. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan :

bermain sepak bola, loncat tali, berenang.
b. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai

makhluk biologis.
c. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.

d. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. e. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung

Bimbingan dan Konseling Belajar

28

f. Belajar mengembangkan konsep sehari-hari.

g. Mengembangkan kata hati h. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
i.

Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga.

Menurut ahli psikologi lain tentang tugas-tugas perkembangan fase anak 6-12 tahun: a. Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life:
• •

Fase ketiga (6-8 tahun) Anak belajar bersosialisasi dengan lingkungannya. Fase keempat (9-12 tahun) Anak belajar mencoba, bereksperimen,bereksplorasi, yang distimulasi oleh dorongan-dorongan menyelidik dan rasa ingin tahu yang besar.

b. Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology: •

Masa anak (6 – 11 tahun). Anak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan. Masa praremaja (11 – 12 tahun). Anak belajar memberontak yang ditunjukkan dengan tingkah laku negatif.

c. Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society:

Awal masa kanak-kanak (6-7 tahun) Anak belajar menyesuaikan diri dengan teman sepermainannya, ia mulai bisa melakukan hal-hal kecil (berpakaian, makan) secara mandiri.

Akhir masa kanak-kanak (8-11 tahun) Anak belajar untuk membuat kelompok dan berorganisasi. Awal masa remaja (12 tahun)

Bimbingan dan Konseling Belajar

29

Anak belajar membuang masa kanak – kanaknya dan belajar memusatkan perhatian pada diri sendiri.
3.

Tugas-tugas perkembangan remaja (adolescence) dan dewasa Masa ini merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman & Riva, 1996). Remaja merupakan masa berkembangnya identity (identitas) Erick Erickson Adams & Gullota, 1983: 36-37; Conger, 1977: 92-93)). Menurut beberapa ahli tugas-tugas perkembangan pada masa ini adalah: a. William Kay •
• •

Menerima fisiknya sendiri beriku keragaman kualitasnya. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang menjadi otoritas. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain baik secara individual maupun kelompok.


• • •

Menemukan manusia model untuk dijadikan identitasnya. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Memperkuat kemampuan mengendalikan diri atas dasar prinsip atau falsafah hidup. Mampu meninggalkan masa kanak-kanaknya. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Mencapai peranan sosial sebagai pria atau wanita. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif. Mencapai kemadirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mancapai jaminan kemandirian ekonomi. Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan).

b. Robert J. Havighurst (1961) • • • • • •

Bimbingan dan Konseling Belajar

30

• • •
• •

Belajar merencanakan hidup berkeluarga. Mengembangkan keterampilan intelektual. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam bertingkah laku. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada tuhan dalam kehidupan sehari-hari, baik pribadi maupun social

c. Charlotte Buhler (1930) Belajar melepaskan diri dari persoalan tentang diri sendiri dan lebih mengarahkan minatnya pada lapangan hidup konkret, yang dahulu dikenalnya secara subjektif belaka. d. Elizabeth B. Hurlock (1978) Belajar menyesuaikan diri terhadap pola-pola hidup baru, belajar untuk memiliki cita-cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai belajar memantapkan identitas diri. e. Erik Erikson (1963) Anak mulai memusatkan perhatian pada diri sendiri, mulai menentukan pemilihan tujuan hidup, belajar berdikari, belajar bijaksana. 4. Kegunaan adanya Tugas Perkembangan 1. Sebagai petunjuk untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat untuk umur tertentu (mengetahui bahwa penyesuaian diri sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh menguasai tugas-tugas perkembangan).
2. Individu dapat mengetahui apa yang harus dikerjakan bila ia mencapai

fase kehidupan berikutnya. Penyesuaian diri dalam situasi baru yang sulit & menimbulkan ketegangan emosi dapat dikurangi bila sebelumnya mengetahui apa yang akan terjadi dan mempersiapkan diri.

Bimbingan dan Konseling Belajar

31

B. Dasar Psikologis Pembahasan fungsi jiwa dalam tulisan ini adalah fungsi-fungsi jiwa yang bersifat umum. Hal ini dimaksudkan, bahwa didalam membicarakan fungsifungsi jiwa tidak akan mempermasalahkan fungsi-fungsi psikis secara teliti.. Fungsi jiwa berbeda-beda, sehingga kita meninjau fungsi jiwa itu sebagiansebagian, namun secara keseluruhan dari fungsi jiwa akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Ilmu Jiwa Belajar 1. Pengertian Belajar. Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh manusia sejak ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Di samping itu ada pula berbagai kegiatan yang disebut belajar, Kegiatan belajar sudah dimulai sejak kecil, seperti misalnya belajar berjalan, berbicara, menggambar, menyanyi, membaca, menulis berhitung, menari, berdeklamasi, bersopan-santun sampai dengan bentuk-bentuk belajar yang sangat komplek dan berbobot yang dilakukan oleh orang-orang dewasa dan terpelajar Belajar adalah suatu proses yang terjadi didalam diri manusia seperti proses-proses organik lainnya, Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar, baik potensial maupun aktual. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar Faktor-faktor penting yang sangat erat hubungannya dengan proses belajar adalah: pengalaman, perkembangan, berfikir/pikiran, dan tingkah laku, namun demikian kita harus dapat membedakan antarafaktor-faktor tersebut dengan pengertian belajar itu sendiri. Didalam definisi diatas dikatakan bahwa “belajar adalah perkembangan dari pada hubunganhubungan baru sebagai hasil dari pengalaman”. Belajar dan pengalaman, keduanya proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita, tetapi, belajar dan memperoleh pengalaman adalah berbeda. 3. Teori-Teori Belajar.

Bimbingan dan Konseling Belajar

32

Untuk memperdalam pengertian tentang belajar yang sangat penting bagi guru yang tugasnya sehari-hari berusaha untuk menciptakan situasi proses belajar mengajar serasi tujuan, berikut ini akan dikemukakan beberapa pandangan para ahli psikologi tentang belajar. a) Teori Conditioning Dari Pavlov. Pavlov dapat dikatakan sebagai pelopor teori kondisioning yang kemudian mempengaruhi perkembangan aliran Behaviorisme dalam psikologi. la adalah seorang ahli psiko-refleksologi dari Rusia, yang terkenal mengadakan percobaan-percobaannya dengan anjing. Sesudah Pavlov, banyak ahli-ahli psikologi lain yang mengadakan percobaan-percobaan dengan binatang. Seperti antara lain Watson, Gutrie, dan Skinner, dan lain lain. b) Teori Conditioning: Watson Watson adalah salah seorang behavioris dari Amerika. Ia mengadakan percobaan-percobaan tentang perasaan-perasaan takut pada anak, dengan menggunakan tikus dsn kelinci. Juga dari hasil percobaannya ia menarik kesimpulan bahwja perasaan takut pada anak dapat diubah dilatih. Untuk menjadikan seseorang itu belajar, haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. ‘Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinyu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis, Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari pada conditioning, Yaitu hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya didalam kehidupannya. Kelemahan dari pada teori conditioning ini ialah teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan pencetaan pribadi dari dalam diri tidak dihiraukannya. Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak

Bimbingan dan Konseling Belajar

33

semata-mata tergantung pengaruh dari luar. “Aku” atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukan.

c) Teori Conditioning dari Gutrie. Gutrie dalam bukunya “The Psychology of Learning”, menguraikan bagaimana cara atau metode untuk mengubah kebiasaankebiasaan yang kurang baik berdasarkan teori conditioning. la mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Didalam rangkaian tersebut unit-unit tingkah laku itu merupakan reaksi terhadap perangsang/ stimulussebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi stimulus pula yang Sebagai penjelasan dapat diambil dari serentetan percobaan Pavlov seperti berikut: Pada mulanya anjing percobaan keluar liur ketika disodorkan makanan. Setelah berkali-kali sambil menyodorkan makanan juga disorotkan sinar pada merah kepada anjing itu, pada suatu ketika hanya dengan menyorotkan sinar merah keluar juga liurnya. Jadi dalam hal itu terjadi asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluarnya air liur (respon). Yang penting pula diperhatikan dalam percobaan itu ialah: pada mulanya anjing percobaan keluar liur ketika disodori makanan. Setelah berkali-kali sambil menyodorkan makanan dilakukan juga penyorotan sinar merah kepada anjing itu, pada suatu ketika hanya dengan menyorotkan sinar merah keluar juga liurnya. Jadi dalam hal itu terjadi asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluarnya air liur (respon). C. Tujuan Kelompok Belajar

Bimbingan dan Konseling Belajar

34

Belajar Kelompok Belajar kelompok mempunyai tujuan utama agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama, terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran, juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau berbicara. Ada beberapa cara pengelompokan yang dapat dilakukan guru, misalnya berdasarkan kemampuan, jenis kelamin, atau campuran. Setiap jenis pengelompokan tentu mengandung segi positif dan negatif, tergantung bagaimana guru melaksanakannya, termasuk mengetahui mengapa guru mengelompokkan berdasarkan kemampuan, dengan alasan misalnya agar mereka dapat berdiskusi secara efektif, berdasarkan jenis kelamin agar mereka dapat membahas topik dengan lebih terbuka dalam kelompok sejenis, dan sebagainya. Adapun yang penting diperhatikan oleh guru adalah bagiamana belajar kelompok dapat memaksimalkan hasil belajar semua anak dengan kemampuan dan minat yang beragam itu.

Bimbingan dan Konseling Belajar

35

Pembelajaran secara klasikal (kelompok besar)

Keuntungan - alat efisien untuk ceramah, film dan demokrasi

Kerugian (mungkin) - mengurangi tanggung-jawab individu - mengesampingkan kebutuhan

- mengembangkan rasa aman dan “saya berada dalam kelompok”

individu dan kebutuhan kelompok besar - menghambat variasi pembelajaran

- mempermudah konsep baru

untuk

pengajaran - menghambat partisipasi sosial - meningkatkan masalah fisik

- meningkatkan otoritas guru - mengesankan hanya satu sumber belajar

(penglihatan, pendengaran) - mengurangi tugas/kegiatan keterlibatan dalam

-

Pembelajaran secara kelompok kecil Keuntungan - mempermudah komunikasi meningkatkan interaksi Kerugian (mungkin) - membuat siswa tidak bergairah membuang waktu jika kemampuan bekerja kelompok kurang

Bimbingan dan Konseling Belajar

36

-

mendorong keterlibatan lain

-

membuang

waktu

jika

- mendorong untuk membantu orang dan menerima tanggung-jawab

mengenalkan konsep baru mengesampingkan kebutuhan anak pandai dan kurang dari kebutuhan kelompok

-

melatih kemampuan bernegosiasi kemampuan perlu berbagi

- mengembangkan mengambil keputusan - mengembangkan pendapat - meningkatkan kerjasama rasa

mengesampingkan materi dari kelompok

penguasaan kerja

ketrampilan

-

anak pandai mendominasi anak kurang

- memungkinkan variasi pembelajaran guru berkesempatan untuk mengamati, mendengarkan dan mendiagnosis siswa

MATERI V TEKNIK PEMBENTUKAN BELAJAR SECARA TERPIMPIN
A. Teknik Pembentukan Secara Terpimpin

Pembentukan kelompok belajar dengan teknik pembentukan terpimpin ini merupakan teknik yang sebaik-baiknya. Teknik ini merupakan perpaduan dari teknik pembentukan secara otoriter dan teknik pembentukan secara bebas. Untuk dapat mengetahui keinginan atau kehendak dari anak-anak dapat dapat ditempuh dengan jalan:
1) Observasi

Bimbingan dan Konseling Belajar

37

Metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.Adapun jenis-jenis observasi antara lain adalah:
 Observasi yang berpartisipasi: dalam observasi ini pembimbing turut

mengambil bagian di dalam kehidupan atau situasi dari orang-orang yang diobservasinya.
 Observasi nonpartisipasi : observasi ini merupakan kebalikan dari

observasi yang berpartisipasi.
 Kuasi partisipasi: dalam observasi ini seolah-olah pembimbing turut

berpartisipasi.
 Observasi sistematis: observasi ini dilaksanakan dengan mengunakan

kerangka rencana terlebih dahulu sehingga sering pula disebut structured observation.
 Observasi

nonsistematis:

dalam

observasi

ini

yang

belum

disistematisasi terlebih dahulu.
2) Interview (wawancara)

Interview atau wawancara merupakan salah satu metode untuk mendapatkan data tentang anak atau individu lain dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informal (face to face relation). Adapun jenis dari wawncara antara lain adalah:
o

The employment interview: adalah wawancara yang dijalankan dengan suatu maksud yang berhubungan dengan employment.

o

Information interview: adalah wawancara yang ditujukan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan

o

Administrative interview: adalah wawancara yang dijalankan untuk keperluan administrasi

Bimbingan dan Konseling Belajar

38

o

Counseling interview: adalah wawancara yang dijalankan untuk keperluan konseling.

o

The nondirective: adalah wawancara yang dipergunakan dalam dalam proses konseling

o

The focused interview: adalah wawancara yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, yang mempunyai hubungan dengan objek –objek yang diteliti.

o

The repeated interview: adalah wawancara yang berulang. Wawancara ini digunakan untuk mengikuti perkembangan tertentu, terutama proses social.

3) Kuesioner

Kuesioner atau angket adalah suatu daftar yang berisi pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab atau dipekerjakan oleh responden atau orang/anak yang ingin diselidiki. Adapun jenis-jenis dari kuesioner adalah:
o

Kuesioner tertutup : adalah kuesioner yang mengunakan pertanyaanpertanyaan yang berbentuk yang dalam hal ini responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang tersedia didalam kuesioner tersebut. Kuesioner terbuka : kuesioner ini biasanya menggunakan pertanyaanpertanyaan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi responden untuk memberikan jawaban atau tanggapan terhadap kuesioner tersebut.

o

Kuesioner

terbuka-tertutup

:

adalah

menggunakan

pertanyaan

campuran dari pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka.
o

kuesioner langsung : kuesioner langsung diberikan kepada responden yang ingin diselidiki.

Bimbingan dan Konseling Belajar

39

o

Kuesioner tidak langsung : dalam kuesioner ini pembimbing mendapatkan data dengan mengunakan perantara.

4) Sosiometrik.

Sosiometrik dapat dikatakan bahwa sosiometri sebenarnya menunjukan sesuatu yaitu tentang ukuran berteman. Jadi dengan sosiometri ini dapat dilihat bagaimana hubungan social atau hubungan berteman seseorang. Baik tidaknya seorang didalam berteman atau bergaul dapat dilihat dengan mengunakan sosiometri ini.
B. Prosedur Pembentukan

Didalam pembentukan kelompok belajar ini perlulah di ambil prosedur sebagai berikut : 1. Memberikan kuesioner sosiometrik kepada anak-anak mengenai pilihan teman belajar beserta alasan-alasannya mengapa memilih teman tersebut
2. Setelah hasil kuesioner ,asuk, kita buat tabulasi arah pilih anak-anak,

untuk mengetahui frekuensi pemilihan anak-anak. 3. Dari tabulasi arah pilih anak lalu di buat sosigram, untuk mengetahui jaringan interaksi sosial anak di dalam pemilihan kelompok belajar itu.
4. Mengadakan penyelidikan menganai alasan-alasan yang dikemukakan

oleh anak-anak yang mungkin dapat menjadio pertimbangan di dalam pembentukan kelompok itu. 5. Kelompok kemudian dibentuk dengan memperhatikan hasil-hasil tersebut di atas diperlengkapi dengan hasil-hasil lain yang dapat diperoleh dengan interviu ataupun dengan observasi. C. Besarnya Kelompok Besar kecilnya kelompok tergantung pada besar-kecilnya kelas dan lancer tidaknya proses belajar. Dalam besar kecilnya kelompok peru diperhatikan pula factor-faktor seperti: 1. Tempat tonggal anak 2. Kemampuan di dalam belajarnya 3. Interaksi social anak

Bimbingan dan Konseling Belajar

40

4. Intelegensi anak 5. Sifat-sifat lain dari anak (misalnya, sifat kepemimpinan) D. Peranan Anggota Kelompok Peranan anggota dalam suatu kelompok adalah sebagai berikut : o Membantu terbinanya keakraban dalam kelompok. o Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kelompok o Berusaha agar setiap yang dilakukan membantu tercapainya tujuan bersama o Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik o Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kelompok o Mampu berkomunikasi secara terbuka o Berusaha membantu anggota lain o Member kesempatan kepada anggota lain untuk juga memainkan perannya o Menyadari pentingnya kegiatan kelompok Berhasil tidaknya sebuah kelompok tergantung pada : o Hubungan yang dinamis antar anggota kelompok o Tujuan bersama o Hubungan besarnya kelompok dengan sifat kegiatan kelompok o Itikat dan sikap terhadap orang lain o Kemampuan mandiri
E. Jenis Kelompok

Dalam rangka bimbingan kelompok dibedakan dua jenis kelompok yaitu : 1. Kelompok Tugas Kelompok tugas yaitu kelompok yang terbentuk berdasarkan adanya suatu tugas yang akan dilaksanakan atau diselesaikan.

Bimbingan dan Konseling Belajar

41

2. Kelompok bebas Kelompok bebas yaitu kelompok yang pada waktu terbentuknya (berkumpulnya beberapa orang untuk membentuk kelompok), belum mempunyai tugas yang akan diseleaikan dalam hal ini anggota bersama pemimpin kelompok merumuskan bersama apa-apa yang akan mereka kerjakan. Berdasarkan jumlah siswa dan kemampuan siswa, kelompok dapat dibagi sebagi berikut : a) Kelompok belajar berdasarkan jumlah siswa perkelompok • • • Kelompok besar, dengan jumlah siswa antara 20-40 orang, misalnya komunitas percakapan bahasa inggris Kelompok kecil, dengan jumlah siswa antara 5-10 orang Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja) b) Kelompok belajar berdasarkan kemampuan belajar siswa a. Kelompok belajar sedang adalahkelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan siswa yang masih membutuhkan bimbingan dan dorongan secara utuh. b. Kelompok belajar cukup, adalah kelompok belajar yang dibentuk berdasarkan pada kemampuan belajar siswa yang masih membutuhkan motivasi dan perhatian
c. Kelompok belajar baik adalah kelmpok belajar yang dibentuk

berdasarkan pada kemampuan siswa yang sudah mulai mandiri dalam menyelesaikan tugasnya. F. Tipe Kelompok Tipe kelompok dalam belajar atau kehidupan social manusia mungkin diklasifikasikan dari bermacam-macam pandangan. Secara garis besarnya tipe-tipe kelompok social dibedakan menjadi : a. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder

Bimbingan dan Konseling Belajar

42

Kelompok primer yaitu dimana anggota-anggotanya dapat mengadakan hubungan yang bersifat face to face dengan penuh keakraban, saling bantu membantu, dan mengajukan pertanyaan serta tuntutannya secara bertatap muka. Contoh dari kelompok primer meliputi : keluarga, teman sepermainan, perkumpulan dan kelmpok belajar. Suatu kelompok disebut primer apabila memiliki karakteristik sebagai berikut diantaranya : o Ukurannya kecil o Anggotanya memiliki kesamaan latar belakang o Kepewntingan diri sendiri yang terbatas o Intensitas minat yang sama Kelompok sekunder yaitu kelompok dimana anggota-anggotanya dapat mengadakan interaksi dan kontak lebih banyak secara tak langsung, berjauhan dan formal, serta kurang mencerminkan interaksi pribadi secara akrab. b. Kelompok tertutup dan kelompok kontinu Kelompok tertutup biasanya ingin mempertahankan pola-pola interaksi yang telah ada, sehingga keanggotaannya dibatasi, dan tidak seorangpun dari orang lain boleh ikut serta terlibat dalam kegiatan kelompok.. Kelompok kontinu atau kesinambungan (continous), biasanya terdapat pada suatu organisasi yang cukup besar, bersifat tetap, serta lazimnya terikat oleh suatu kepentingan yang lebih besar. c. Psycho Group dan Sosio Group Psycho Group memiliki karakteristik dengan struktur informal, peraturan yang mengikat tidak terlalu banyak, anggota-anggotanya bersifat suka rela, umur anggota cenderung memiliki kesamaan, dan tidak memiliki gambaran tujuan cita-cita yang jelas. G. Bentuk-Bentuk Kelompok 1. Kelompok Diskusi

Bimbingan dan Konseling Belajar

43

Sifat dari kelompok diskusi ini adalah banyak kesempatan bagi anggota kelompok untuk saling berpartisipasi, bertukar pendapat, ide-ide dan perasaan mengenai suatu permasalahan. 2. Kelompok Kerja Kelompok kerja dimana murid mengerjakan suatu tugas bersama, tugas itu dapat berupa tugas study.

MATERI VI DISKUSI KELOMPOK A. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan dalam bimbingan. Kegiatan diskusi kelompok merupakan kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu individu. Moh. Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan Moh. untuk Uzer menyumbangkan Usman (2005:94) pikiran masing-masing bahwa dalam diskusi memecahkan masalah bersama. menyatakan kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Menurut Subroto (2002:179), dinyatakan bahwa diskusi kelompok adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok untuk saling bertukar pendapat suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban atau kebenaran atas suatu masalah.

Bimbingan dan Konseling Belajar

44

Hal serupa sesuai dengan apa yang disampaikan Romlan (Dalam Nilawati, 1997:7) dinyatakan bahwa diskusi kelompok adalah percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih untuk memecahkan masalah dan memperjelas suatu persoalan. Diskusi Kelompok dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Menurut Suryosubroto (2009: 168) macam-macam bentuk diskusi yaitu : a. The social problema meeting Para siswa berbincang-bincang memecahkan masalah sosial dikelasnya atau disekolahnya dengan harapan setiap siswa akan merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. b. The open-ended meeting Para siswa berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan kehidupan mereka disekolah, atau dengan sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. c. The educational-diagnosis meeting Para siswa berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang telah diterima agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang baik/benar. Sementara itu, bentuk-bentuk diskusi kelompok menurut Dewa Ketut Sekardi (2008: 222), yaitu:
 Dilihat dari jumlah anggota

Kelompok besar berjumlah 20 orang atau lebih. Sedangkan kelompok kecil berjumlah kurang dari 20 orang, biasanya sekitar 2-12 orang.
 Dilihat dari pembentukan

Jika dilihat dari pembentukannya, diskusi kelompok berbentuk formal dan informal.

Bimbingan dan Konseling Belajar

45

 Dilihat dari tujuan

Jika dilihat dari tujuan diskusi kelompok ada dua macam yaitu pemecahan masalah dan terapi anggota
 Dilihat dari waktu diskusi

Jika dilihat dari waktu dalam diskusi, diskusi kelompok ada dua bentuknya, maraton dan singkat/regular.
 Dilihat dari masalah yang dibahas

Jika dilihat dari masalah yang dibahas, diskusi kelompok ada dua macam yaitu sederhana dan kompleks/rumit..
 Dilihat dari aktifitas kelompok

Jika dilihat dari aktifitas kelompok, diskusi kelompok ada dua macam, yaitu terpusat pada pemimpin dan demokratis (terbagi ke semua anggota). Diskusi yang terpusat pada pemimpin cenderung anggotanya yang kurang aktif akan tetapi pemimpin yang lebih aktif. Sedangkan demokrasi, anggota dan pemimpin sama-sama aktif dalam memberikan saran dan pendapat.
B. Keuntungan dan Kelemahan Diskusi Kelompok

• Keuntungan Diskusi kelompok merupakan salah satu pengalaman belajar yang diterapkan di semua bidang studi dalam batasan-batasan tertentu, pengalaman diskusi kelompok memberikan keuntungan bagi para siswa sebagai berikut:  siswa dapat berbagi berbagai informasi dalam menjalani gagasan baru atau memecahkan masalah,  dapat meningkatkan pemahaman atas masalah-masalah penting,  dapat mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi,
 dapat meningkatkan ketertiban dalam perencanaan dan pengambilan

keputusan dan

Bimbingan dan Konseling Belajar

46

 dapat membina semangat kerjasama dan bertanggung jawab.

Kelemahan Diskusi kelompok memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan dalam arti tidak tercapai tujuan yang diinginkan. Wardani (Dalam Puger, 1997:9) dinyatakan bahwa kelemahan-kelemahan dalam diskusi kelompok antara lain: 1) diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar yang biasa, 2) dapat memboroskan waktu terutama bila terjadi hal-hal yang negatif seperti pengarahan yang kurang tepat,

3) anggota yang kurang agresif (pendiam, pemalu) sering tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ideidenya sehingga terjadi frustasi atau penarikan diri, dan 4) adakala hanya didominasi oleh orang-orang tertentu saja.

C. Ketua Kelompok Suatu kelompok diskusi harus ada yang memimpin. Pemimpin dalam kelompok itulah yang disebut “ketua kelompok”. Siapakah yang dapat/pantas menjadi ketua kelompok? Hal ini tergantung pada beberapa faktor, antara lain: a. interaksi sosial, dimana ketua kelompok bisa menghidupkan suasana kelompok, mempengaruhi anggota kelompok lain untuk ikut berpartisipasi
b. inteligensi, yaitu keahlian untuk memecahkan masalah dan kemampuan

untuk beradaptasi
c. sifat kepemimpinan, yang menjadi modal utama untuk menjadi seorang

pemimpin/ketua dan lain-lain. Seperti halnya dalam struktur kemasyarakatan pada umumnya seorang pemimpin mempunyai tugas-tugas tertentu, ketua atau pemimpin dalam

Bimbingan dan Konseling Belajar

47

kelompok belajar ini juga mempunyai tugas tugas yang tertentu pula, antara lain:
1. Sebagai plan maker atau pembuat rencana.

2. Sebagai coordinator, yaitu mengkoordinasikan anggota kelompoknya. 3. Sebagai penghubung antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sekaligus sebagai penghubung dengan guru atau pembimbing. 4. Memupuk semangat kelompok untuk selalu menghidupkan sifat kegotongroyongan.
5. Dalam taraf awal, pemimpin kelompok bertugas untuk menyediakan

tugas-tugas yang harus dipecahkan atau dipelajari. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin kelompok, yaitu: 1. Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka, jika terdapat perbedaan pendapat yang menimbulkan perselisihan hendaknya ketua kelompok memberi pengertian kepada anggotanya dan tetap sabar, tidak malah terbawa emosi. 2. Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaannya tanpa mempedulikan pendapat dari anggotanya. 3. Memberika dorongan dan motivasi.
4. Membuka diri, sebagai contoh dan penuh empati terhadap anggota

kelompoknya. D. Pemeliharaan Kelompok Kelompok yang sudah terbentuk tentu saja harus dipelihara. Hal inilah yang sering kurang mendapatkan perhatian. Dalam upaya pemeliharaan kelompok, harus dijaga jangan sampai terjadi hal-hal sabagai berikut: 1. Desintegrasi Kelompok Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda tanda bahwa para anggotanya sudah tidak memiliki tujuan yang bulat, tidak mempunyai

Bimbingan dan Konseling Belajar

48

anggota tim kerja yang baik, muncul kontradisi-kontradisi, dan tidak saling mempercayai satu sama lain maka ini merupakan suatu tanda adanya desintegrasi dalam kelompok itu. Keadaan ini dapat meningkat kearah terjadinya kelumpuhan kelompok. 2. Kelumpuhan Kelompok Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat suatu dan tidak dapat memberikan hasil, apabila hasil yang baik. Jadi, kelompok sudah lumpuh dan tidak dapat lagi berlangsung. Dalam pemeliharaan kelompok, untuk menghindari adanya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok selain ketua kelompok dibutuhkan pula seorang pembimbing yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Setiap anggota kelompok harus menyadari perannya masing-masing, tidak hanya numpang nama sebagai anggota saja.

Bimbingan dan Konseling Belajar

49

MATERI VII DESINTEGRASI KELOMPOK, KELUMPUHAN KELOMPOK DAN USAHA-USAHA PERBAIKAN A. Desintegrasi Kelompok Disintgrasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan tidak bersatu pada atau keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan. Desintegrasi berasal dari kat “Dis” = tidak dan integrasi + menyatu / penyatuan, disintegrasi adalah peristiwa terpecahnya / lepasnya suatu bagian / wilayah. Kelompok adalh kumpulan orang yang memiliki tujuan dan kesadaran yang sama akan keanggotaanya dan saling berinteraksi. Suatu kelompok mengalami disintegrasi jika :  Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda-pertanda bahwa para anggotanya tidak memiliki tujuan yang bulat  Tidak mempunyai tim kerja yang baik sehingga tidak ada kerjasama yang baik, muncul kontradiksi-kontradiksi  Tidak saling mempercayai satu sama lain, maka ini merupakan satu tanda adanya desintegrasi dalam kelompok tersebut  Tidak adanya hubungan yang dinamis antar kelompok  Tidak adanya sikap dan etikat yang baik terhadap orang lain  Siswa semaunya sendiri atau tidak mau tahu tentang permasalahan yang terjadi  Adanya miskomunikasi atau kurang adanya komunikasi antar anggota dan pemimpin
 Memiliki asumsi yang negative terhadap sesama anggota kelompok

 Tidak bias menjaga rahasia didalam anggota kelompok, tidak mnghargai orang lain.

Bimbingan dan Konseling Belajar

50

Keadaan yang seperti ini dapat meningkat kea rah terjadinya kelumpuhan kelompok. Oleh karena segala upaya harus dilakukan untuk tidak terjadi kelumpuhan kelompok.

Untuk mencegah sebelum terjadinya desintegrasi kelompok adalah :

Setiap anggota ataupun pemimpinharus mampu menjaga rahasia masing-masing angotanya

Memiliki etikad yang baik yaitu tidak mau menang sendiri, memberikan waktu kepada anggota lain unutk berpendapat

Pemimipin kelompok memberikan kesediaan untuk menerima berbagai pandangan yang mungkin berlawanan dengan pandangan pemimpin

• • • •

Berpikirlah tentang kemajuan kelompok dan selalu berpikir positif Mengarahkan pandangan pada tujuan yang akan dicapai Ciptakan rasa kebersamaan dan kerjasama antar anggota kelompok Menerima setiap individu kelemahan dan kekurangannya masingmasing

Berikan bantuan jika salah satu anggota kelompok memerlukannya.

B. Kelumpuhan Kelompok Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat sesuatu, sudah tidak dapat memberikan hasil, apalagi hasil yang baik. Jadi kelompok sudah lumpuh, tidak dapat berlangsung lagi. Untuk mencegah jangan sampai timbul gejala-gejala semacam ini, maka kelompok perlu dipelihara sebaik-baiknya, baik dengan cara prefentif maupun korektif. Sekalipun suatu keolompok itu telah berlangsung baik, ini tidak berarti bahwa kelompok itu telah terlepas dari pemeliharaan. Kelompok yang telah berjalan
Bimbingan dan Konseling Belajar 51

baik, atau paling tidak agar kebaikan itu dapat dipertahankan, jangan sampai mengalami kemunduran. C. Usaha-Usaha Perbaikan Kalau telah terjadi disintegrasi ataupun kelumpuhan kelompok, maka perlu dilakukan langkah-langkah usaha untuk memperbaikinya, yaitu dengan : 1. Perbaikan kedalam Perbaikan kedalam merupakan lamgkah perbaikan didalam kelompok itu sendiri. Misalnya, pimpinan yang kurang tegas yang menyebabkan disintegrasi itu ataupun kelumpuhan dari kelompok itu. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki sikap sebagai berikut : • • • • • • • • Kesediaan menerima orang lain tanpa pamrih Kesediaan memandang berbagai pandangan yang berbeda Menumbuhkan dan memelihara hubungan antar anggota kelompok Mengarahkan pada tujuan yang akan dicapai Memberikan bantuan pada anggota yang memerlukan bantuan Mampu menjadi pendamai jika terjadi konflik Menjaga kerahasiaan setiap anggota kelompok Mendengarkan secara aktif segenapa apa yang diutarakan anggota kelompok • • • Membantu terselenggaranya kegiatan kelompok dengan baik Tidak memakai wewenagnya untuk kepentingan sendiri Selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada anggotanya

Bimbingan dan Konseling Belajar

52

Membuka

diri

contohnya

penuh

empati

terhadap

anggota

kelompoknya. Selain diperlukan keterampilan dan kemampuan pemimpin untuk menanggulangi terjadinya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok. Keterampilan setiap anggota kelompok juga sangat diperlukan dalam perbaikan, contohnya seperti : • • • Menciptakan kebersamaan dan kerjasama antar anggota Anggota, membantu terbinanya suasana keakraban dalam kelompok Memberikan dorongan dan motivasi antar anggota satu dengan yang lain • Berusaha agar apa yang dilakukan itu membantu tercapainya tujuan kelompok • • Berusaha untuk mematuhi setiap aturan kelompok Memberikan kesempatan anggota lain untuk melakukan apa yang menjadi tugasnya • • Menyadari kepentingan kegiatan kelompok Setiap anggota harus mampu menjalankansetiap tugasnya masingmasing 2. Perbaikan keluar Kalau kelompok sudah tidak mungkin diperbaiki dari dalam, maka perbaikan melangkah keluar kelompok. Misalnya dengan menukarkan anggota kelompok yang satu dengan yang lain. Selain perbaikan dari luaratau dari dalam, pendapat menurut Floyd Ruch dalam memperbaiki kelompok yang sudah pecah atau lumpuh yaitu :

Bimbingan dan Konseling Belajar

53

a.
b.

Memberikan rasa aman (treat reduction) Goal formulation (kembali merumuskan tujuan yang ingin dicapai).

c. d. e.

Concensus (mufakat/adanya keputusan bersama) Process awareness (kesadaran kelompok) Continual evaluation (penilaian yang continue/melakukan evaluasi) Setiap anggota atau pemimpin ditanamkan rasa tanggungjawab terhadap apa yang menjadi tugasnya.

f.

g. h. i.

Tidak gampang menyalahkan orang lain. Segera menyelesaikan konflik yang timbul dalam kelompok. Menciptakan kebersamaan dan kerjasama didalam kelompok.

Bimbingan dan Konseling Belajar

54

MATERI VIII DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR
A. Pengertian Diagnosa Kesulitan belajar

Kata diagnosa berasal dari baBasa Yunani yaitu penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres. 1. The national joint committee for learning disabilities merumuskan bahwa kesulitan belajar adalah kesulitan nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, berfikir, kemampuan matematis karena disfungsi sistem saraf pusat. 2. Dalam bahasa yang sangat sederhana dan ringkas, kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses belajar sebagaimana mestinya disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Syahril (1991 : 45 ) mengemukakan bahwa “Diagnosis kesulitan belajar itu merupakan usaha untuk meneliti kasus, menemukan gejala, penyebab dan menemukan serta menetapkan kemungkinan bantuan yang akan diberikan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar”
B. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Belajar Dalam Pembelajaran

Ketidak berhasilan dalam proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan bahan tidak dapat dikembalikan kepada hanya pada satu faktor akan tetapi kepada banyak faktor yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Faktor yang dapat kita persoalkan adalah siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi siswa dan kegiatan yang terlibat dalam proses. Bila telah ditemukan bahwa sejumlah siswa tidak memenuhi kriteria persyaratan ketuntasan yang telah ditetapkan,kegiatan diagnosis terutama harus ditujukan kepada :  Bakat yang dimiliki siswa yang berbeda antara yang satu dari yang lainnya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

55

 Ketekunan dan tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam menguasai bahan yang dipelajarinya.  Waktu yang tersedia untuk menguasai ruang lingkup tertentu sesuai dengan bakat siswa yang sifanya individual dan usaha yang dilakukannya  Kualitas pengajaran yang tersedia yang dapat sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan serta karakteristik individu.  Kemampuan siswa untuk memahami tugas-tugas belajarnya.  Tingkat dari jenis kesulitan yang diderita siswa sehingga dapat ditentukan perbaikannya apa cukup dengan mengulang dengan cara yang sama mengambil alternatif kegiatan lain melalui pengajaran remedial.
C. Pengertian Kesulitan Belajar

1. Pengertian kesulitan belajar menurut Warkitri ddk:
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh

2. Pengertian kesulitan belajar menurut Siti Mardiyanti dkk:
Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut.  Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.  Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding sebelumnya.
Bimbingan dan Konseling Belajar 56

 Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.  Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.  Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.  Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.

3. Kesulitan belajar (Learning Difficulty) :
Kesulitan belajar (learning Difficulty adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan.

4. Pengertian kesulita belajr menurut Clement:
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata.

5. Pengertian Kesulitan Belajar
adalah hambatan/ gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf integensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.

MATERI IX JENIS, FAKTOR PENYEBAB,DIAGNOSIS dan PENANGANAN KESULITAN BELAJAR A. Jenis-jenis Kesulitan Belajar Jenis-jenis Kesulitan Belajar Darsono (2000:41) dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran menyatakan terdapat beberapa jenis-jenis kesulitan belajar di antaranya : 1). Learning Disorder
Bimbingan dan Konseling Belajar 57

Mengandung makna suatu proses belajar yang terganggu karena adanya respon-respon tertentu yang bertentangan atau tidak sesuai. Gejala semacam ini kemungkinan dialami oleh siswa yang kurang berminat terhadap suatu mata pelajaran tertentu, tetapi harus mempelajari karena tuntutan kurikulum. 2). Learning Disability Kesulitan ini berupa ketidakmampuan belajar karena berbagai sebab. Penyebabnya beraneka ragam, mungkin akibat perhatian dan dorongan orang tua yang kurang mendukung atau masalah emosional dan mental. 3). Learning Disfunction Gangguan belajar ini berupa gejala proses belajar yang tidak berfungsi dengan baik karena adanya gangguan syaraf otak sehingga terjadi gangguan pada salah satu tahap dalam proses belajarnya. 4). Slow Learner atau siswa lamban Siswa semacam ini memperlihatkan gejala belajar lambat atau dapat dikatakan proses perkembangannya lambat 5). Under Achiever Siswa semacam ini memiliki hasrat belajar rendah di bawah potensi yang ada padanya. Kecerdasannya tergolong normal, tetapi karena sesuatu hal, proses belajarnya terganggu sehingga prestasi belajar yang diperolehnya tidak sesuai dengan kemampuan potensial yang dimilikinya. B. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan. 1. Faktor Internal Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian. a) Faktor kejiwaan, antara lain :
Bimbingan dan Konseling Belajar 58

 minat terhadap mata kuliah kurang;  motif belajar rendah;  rasa percaya diri kurang;  disiplin pribadi rendah;  sering meremehkan persoalan;  sering mengalami konflik psikis;  integritas kepribadian lemah. b) Faktor kejasmanian, antara lain :  keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);  adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;  adanya gangguan pada fungsi indera;  kelelahan secara fisik. 2. Faktor Eksternal Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. a) Faktor instrumental Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :  Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;  Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;  Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;  Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan. b) Faktor lingkungan Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :  Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;  Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;  Teman-teman bergaul yang tidak baik;

Bimbingan dan Konseling Belajar

59

 Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan. C. Diagnosis dan Penanganan Kesulitan Belajar Peserta Didik 1. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndik e dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai :

Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);

 Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;  Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal. Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tercakup pula konsep prognosisnya. Dengan demikian dalam proses diagnosis bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya. 2. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Menurut Rosss dan Stanley (Abin S.M., 2002 : 309), tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut. a. Who are the pupils having trouble ? (Siapa siswa yang mengalami gangguan ?) b. Where are the errors located ? (Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan ?)

Bimbingan dan Konseling Belajar

60

c. Why are the errors occur ? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi ?) d. What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?) e. How can errors be prevented ? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ?) 3. Penanganan Kesulitan Belajar Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut. a. Mengidentifikasi mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan belajar Identifikasi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : 1) Menganalisis prestasi belajar Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila : pertama, indeks prestasi (IP) yang bersangkutan lebih rendah dibanding IP rata-rata klasnya; kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya; dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya. 2) Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar. Analisis perilaku terhadap mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku mahasiswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan. 3) Menganalisis hubungan sosial Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. b. Melokalisasi letak kesulitan belajar

Bimbingan dan Konseling Belajar

61

Setelah

mahasiswa-mahasiswa

yang

mengalami

kesulitan

belajar

diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah : 1) pada mata kuliah apa yang bersangkutan mengalami kesulitan; 2) pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi; 3) pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi; 4) pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi. c. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulita belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi; 2) wawancara; 3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis. d. Memperkirakan alternatif pertolongan Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut. 1) Apakah mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ? 2) Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ? 3) Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ? 4) Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ? 5) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ? e. Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi. f. Pelaksanaan pemberian pertolongan Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar mahasiswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan.
Bimbingan dan Konseling Belajar 62

MATERI X LUPA A. Pengertian • Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. • Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. • Lupa adalah suatu kondisi dimana suatu informasi yang telah disimpan dalam memori otak jangka panjang hilang (Long term Memory). • Lupa adalah fenomena psikologis, suatu proses yang terjadi dalam kehidupan mental. Ingatan memberikan kemampuan manusia untuk dapat mengingat suatu hal. Hal tersebut juga menunjukan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya. Hal yang pernah dialaminya tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi tetap tersimpan dalam jiwanya dan pada suatu waktu tertentu jika dibutuhkan dapat ditimbulkan kembali. Tetapi bukan berarti semua yang telah pernah dialaminya itu akan tetap tersimpan seutuhnya dalam ingatan kita dan dapat ditimbulkan kembali saat dibutuhkan. Terkadang ada hal-hal yang tidak dapat ditimbulkan kembali atau yang dilupakan.
B. Lupa Hilang

Kerapkali pengertian lupa dan hilang dianggap sama, padahal apa yang dilupakan belum tentu hilang dalam ingatan begitu saja. Pengalaman belajar disekolah memberikan petunjuk bahwa sesuatu yang pernah dicamkan dan dimasukkan memberikan petunjuk bahwa sesuatu yang pernah dicamkan dan

Bimbingan dan Konseling Belajar

63

dimasukkan dalam ingatan, tetap menjadi milik pribadi dan tidak menghilang tanpa bekas.. Gula (1982) dan Reber (1988) mengemukakan bahwa lupa dianggap sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dialami atau dipelajari. Jadi, lupa bukan berarti hilang. Sesuatu yang terlupakan tentu saja masih dimiliki dan tersimpan di bawah alam sadar, sedangkan sesuatu yang hilang tentu saja tidak tersimpan di alam bahwah sadar. C. Kapan Lupa Terjadi “Penyakit” lupa makin perlu diwaspadai sebab, seperti yang dilansir oleh The Straits Times (TST), edisi 9 Januari 1998, otak generasi tahun 50-an yang kini mulai menginjak usia paruh baya, mengalami kemunduran. Apa penyebab kemunduran itu dan bagaimana solusinya? Klinik Memori maupun pelbagai suplemen ditawarkan untuk membantu. D. Mengapa Lupa Terjadi Otak manusia merupakan perangkat yang paling kompleks di dunia. Trilyunan sel otak memiliki fungsi spesifik tetapi saling berhubungan. Mengendalikan seluruh aspek fisik dan psikis manusia. Baik secara sadar maupun tak sadar Kapasitas penyimpanan memori di dalam otak jauh melebihi kapasitas hardisk komputer terbesar sekalipun. Otak memiliki kemampuan menangani algoritma rumit secara bersamaan dalam jumlah tak terbatas, jauh melebihi kemampuan prosesor komputer tercanggih sekalipun. Dengan potensi yang demikian hebatnya, sudah pasti otak mampu merekam semua kejadian sejak manusia lahir hingga mati. Sehingga kapan saja kita bisa megakses memory tentang sebuah kejadian di masa lalu dengan runtut dan lengkap. Seseorang mengalami lupa jika informasi yang masuk tidak mendapat perlakuan sebagaimana mestinya. Lupa dapat merupakan proses yang masih normal (fisiologis), tapi dapat pula menjadi proses yang abnormal (patologis).

Bimbingan dan Konseling Belajar

64

Ada beberapa macam bentuk lupa, yakni mudah lupa (forgetfulness), amnesia, dan demensia.. Factor-faktor penyebab lupa yang lain : a. Lupa karena perubahan situasi lingkungan b. Lupa karena perubahan sikap dan minat c. Lupa karena perubahan urat saraf otak d. Lupa karena kerusakan informasi sebelum masuk ke memori E. Kiat-Kiat Mengurangi Lupa Sebagai seorang pengajar yang profesional, seorang guru harus dapat mencegah peristiwa lupa yang sering dialami oleh siswa. Pada dasarnya lupa dapat ditangani dengan berbagai cara. 1. Overlearning Overlearning upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning dapat terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Sebagai contoh pembacaan Pancasila setiap hari Senin pada Upacara Bendera memungkinkan siswa memiliki pemahanan lebih mengenai materi Pendidikan Pancasila. 2. Extra Study Time Extra Study Time adalah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi ( kekerapan ) waktu aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu, berarti siswa menambah jam belajarnya. 3. Mnemonic Device Muslihat memori atau mnemonic device lebih sering disebut mnemonic saja berarti kiat-kiat khusus yang biasa dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi kedalam memori siswa. Ragam mnemonic ini banyak ragamnya tetapi yang paling menonjol adalah sebagai berikut. a. Rima ( Rhyme )

Bimbingan dan Konseling Belajar

65

sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat siswa. Sajak ini akan lebih baik pengaruhnya apabila diberi not-not sehingga dapat dinyanyikan. b. Singkatan terdiri dari huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Contoh jika seorang siswa hendak mengingat nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, mereka dapat menyingkatnya menjadi tersendiri. c. Sistem kata pasak ( peg word system) sejenis teknik mnemonik yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memeori baru. d. Model Losai ( Method of Loci ) kiat mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Kata “Loci” sendiri adalah jamak dari kata “lokus” yang artinya tempat. e. Sistem Kata Kunci ( Key Word System ), kiat yang satu ini masih tergolong baru dibandingkan kiat-kiat yang lainnya. Kiat ini dikembangkan oleh Raugh dan Atkinsen. Sistem ini biasanya direkayasa secara khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing, Inggris misalnya MATERI XI USAHA-USAHA MENGURANGI LUPA dan TRANSFER BELAJAR A. Usaha-usaha Mengurangi Lupa ANIM. Pembuatan singkatan seyogyanya dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menarik dan memberi kesan

Bimbingan dan Konseling Belajar

66

Lupa dapat terjadi karena pembelajar tidak mendapat kunci yang tepat untuk membuka ingatannya. Gejala setengah lupa atau lupa-lupa ingat dapat terjadi jika tidak seluruh materi yang telah dipelajari sama sekali terlupakan. Mengatasi lupa dapat dilakukan dengan cara menggali ingatan (evokasi) tentang hal yang dilupakan, yakni mengaktualisasi pengetahuan yang pernah diserap (fiksasi) dan tersimpan dalam ingatan (retensi). B. Transfer Belajar Transfer belajar (transfer of learning) itu mengandung arti pemindahan ketrampilan belajar dari situasi ke situasi lainnya, (rober 1988), peristiwa pemindahan pengaruh (transfer) sebagai mana tersebut di atas pada umumnya atau hampir selalu membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap aktivitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran atau keterampilan lain. C. Arti dan Peranan Transfer Belajar Istilah transfer belajar berasal dari bahasa inggris “transfer of learning” dan berarti : pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkup pendidikan sekolah. Pemindahan atau pengalihan ini menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatu bidang atau situasi diluar lingkup bidang studi dimana hasil itu mula-mula diperoleh. Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer belajar mempunyai peran :
a. Transfer positif dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru

membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya.
b. Transfer negatif dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi

tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. c. Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut

Bimbingan dan Konseling Belajar

67

dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit.
d. Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu

menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. D. Beberapa Pandangan Tentang Tranfer Belajar Beberapa pandangan tentang tranfer belajar 1. Teori disiplin formal Pandangan ini bertitik tolak pada pandangan aliran psikologis, daya tentang psikis/kejiwaan manusia, psikis itu dipandang sebagai kumpulan dari sejumlah bagian/daya-daya yang berdiri sendiri. 2. Teori elemen identik Pandangan ini dipelopori oleh edward thorndike, yang berpendapat bahwa transfer belajar dari satu bidang studi kebidang studi yang lain atau bidang studi sekolah ke kehidupan sehari-hari, terjadi berdasarkan adanya unsurunsur yang sama dalam kedua bidang studi atau antara bidang studi di sekolah ke kehidupan sehari-hari. 3. Teori generalisasi Pandangan ini dikemukakan oleh charles judd yang berpendapat bahwa Menurut teori ini transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan prinsip umum. MATERI XII TEORI DISIPLIN FORMAL, ELEMEN IDENTIK dan TEORI GENERALISASI
A. Teori Disiplin Formal(the formal discipline theory)

Pandangan ini bertitik tolak pada anggapan aliran psikologi daya, tentang psike/ kejiwaan manusia. Psike itu dipandang sebagai kumpulan dari sejumlah bagian atau aneka daya yang berdiri sendiri, seperti daya berfikir, daya menginggat, daya berkemauan, daya merasa dan lain sebagainya.

Bimbingan dan Konseling Belajar

68

Dewasa ini, pandangan teori disiplin formal tidak dapat diterima lagi karena dasarnya, yaitu psikologi daya, sudah runtuh ; para ahli psikologi sudah tidak memandang psike manusia sebagai kumpulan dari sejumlah daya mental yang berdiri sendiri, melainkan sebagai suatu keseluruhan, di mana semua fungsi psikis (fungsi kognif,fungsi konatif,fungsi efektif) tidak berperan lepas yang satu dari yang lain. Selain itu, beberapa ahli psikolosi, seperti William, James dan Edward Throndike, telah membuktikan secara eksperimental, bahwa suatu daya mental itu tidak diperkuat melalui materi pelajaran yang sukar, sebaimana digambarkan dalam teori disiplin formal.
B. Teori Elemen Identik (the identical element theory)

Pandangan ini di pelopori oleh Edward Throndike,yang berpendapat bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi yang lain atau dari bidang studi di sekolah ke kehidupan sehari-hari, terjadi berdasarkan unsur-unsur yang sama dalam kedua bidang studi itu atau antara bidang studi di sekolah dan kehidupan shari-hari. Makin banyak usur yang sama, makin besar kemungkinan terjadi transfer belajar. Jadi, banyak sedikitnya transfer belajar tergantung dari adanya banyak sedikit – unsure yang sama antara kedua bidang studi atau antara bidang studi disekolah dan kehidupan sehari hari. Dengan demikian, penguasaan bahasa latin kuno akan membantu dalam mempelajari bahasa inggris, sejauh terdapat unsure dari bidang studi bahasa latin dalam bidang studi bahasa inggris, misalnya suatu akar kata yang sama dalam bahasa latin dan bahasa inggris seperti “separare-to separate;discipulusa disciple; opponere-to oppose”, dan lain sebagainya. Akan ada transfer belajar positif dari bidang studi aljabar ke bidang studi ilmu ukur, sejauh terdapat unsure unsure yang sama dalam kedua bidang studi itu, seandainya diajarkan sendiri sendiri, misalnya symbol/lambing matematis dan suatu rumus yang sama dan lain sebagainya. Mula-mula Thorndike mengartikan “elemen identik” sebagai unsur yang sungguh-sungguh sama (=identik), namun kemudian pengertian “identik” diartikan sebagai “ada kesamaan, sejenis”. Perubahan pandangan ini membuat

Bimbingan dan Konseling Belajar

69

teorinya tentang transfer belajar lebih mudah dapat diterima, karena memang dapat dipersoalkan apakah terdapat kasus transfer belajar, seandainya beberapa unsur dibidang A dan B benar-benar seluruhnya sama(=”identik”). Maka, lebih baik menggunakan peristilahan “kesamaan dalam unsur-unsur tertentu” daripada “unsur-unsur yang sama”. Menurut pendapat Thorndike, kesamaan itu mungkin terdapat dalam isi, mungkin pula terdapat dalam metode yang digunakan.. Teori elemen indetik mengandung banyak kebenaran, tetapi tidak dapat menjelaskan keseluruhan gejala transfer belajar, karena juga terdapat transfer belajar yang disebut non spesifik, yaitu transfer yang tidak meliputi kesamaan dalam unsur-unsur khusus, sebagaimana akan dijelaskan kemudian. Selain itu adanya kesamaan dalam suatu unsur khusus antara beberapa bidang studi, tidak harus berarti bahwa siswa juga melihat atau menangkap kesamaan dalam aneka unsur khusus itu; dengan kata lain, adanya kesamaan belum merupakan jaminan akan terjadi transfer belajar. Apakah siswa akan memindahkan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu kebidang studi yang lain, tidak hanya tergantung dari adanya kesamaan dalam unsur-unsur belajar. C. Teori Generalisasi Pandangan ini di kemukakan oleh Charless Judd, yang berpendapat bahwa transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok. Pola dan suatu prinsip umum. Apabila seorang sisswa mampu mengembangkan konsep,kaidah,prinsip dan variasi siasat untuk memecahkan persoalan, siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan kebidang-bidang laen diluar bidang studi dimana konsep, kaidah,prinsip,dan siasat mula-mula diperoleh. Siswa itu mampu mengadakan “generalisasi”, yaitu menangkap ciri-cirri atau suatu sifat umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi sudah terjadi bila siswa membetuk konsep kaidah,prinsip “kemahiran intelektual” dananeka siasat
Bimbingan dan Konseling Belajar 70

tertentu,

tetapi

juga

dari

kemampuan

siswauntuk

melihat/menangkap kesamaan itu dan dari minat serta kadar konsentrasi

untuk memecahkan problem atau masalah (pengaturan kegiatan kognitif). Jadi kesamaan antara dua bidang studi, tidak terdapat dalam suatu unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam prinsi. Harus diakui bahwa taraf inteligensi siswa memegang peranan yang cukup menentukan dalam mengadakan transfer nonspesifik, karena siswa harus mampu menangkap struktur,pola,metode dan prinsip dalam bidang studi yang satu serta melihat kemungkinan untuk menerapkan struktur pola,metode dan prinsip itupada bidang studi lain. Jadi,adanya kesamaan antara dua bidang studi atau lebihdalaml struktur, pola,metode,dan prinsip , belum merupakan jaminan akan terjadi transfer belajar; siswa harus membuka “mata mentalnya” terhadap kesamaan itu dan bersedia belajar dengan penuh konsentrasi. Berdasarkan teori generalisasi ini, sebagian dari transfer belajar positiv yang berlangsung disekolah mendapat penjelasan, baik mengenai apa yang terjadi, maupun mengenai mengapa terjadi demikian. MATERI XIII Pengajaran Remedial dan Program Pengayaan Dalam Proses Pembelajaran. Pengajaran Remedial dan Program Pengayaan Dalam Proses Pembelajaran. Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar misalnya tidak mampu menyerap bahan pembelajaran dengan baik, tidak dapat konsentrasi dalam belajar, tidak mampu mengerjakan tes dan sebagainya. Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sehingga prestasi belajarnya rendah, maka guru atau konselor harus memberikan layanan bimbingan dengan baik. Layanan tersebut lebih dikenal dengan pengajaran remedial. Pengajaran Remedial dalam Pembelajaran Pengajaran remedial merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program pembelajaran. Melalui program remedial, guru breusaha membantu peserta didik untuk mencapai kesuksesan belajar secara optimal. Remedial merupakan bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus

Bimbingan dan Konseling Belajar

71

pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik. Menurut Warkitri dkk. (1990), pengajaran remedial sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena : 1) Tidak semua peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai kemampuannya. 2) Adanya kesulitan belajar berarti belum dapat tercapai perubahan tingkah laku siswa secara bulat sebagai hasil belajar 3) Untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut diperlukan suatu teknik bimbingan belajar. Salah satu teknik bimbingan belajar adalah pengajaran remedial Dengan demikian mengembangkan diri. Pengajaran remedial merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pembelajaran, mempunyai banyak fungsi dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, antara lain a. Fungsi korektif, adalah usaha untuk memperbaiki atau meninjau kembali sesuatu yang dianggap keliru. b. Fungsi pemahaman, dalam pengajaran remedial terjadi proses pemahaman terhadap pribadi peserta didik, baik dari pihak guru, pembimbing, maupun peserta didik itu sendiri. c. Fungsi penyesuaian, dalam pnegajaran remedial peserta didik dibantu untuk belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan yang dimiliki sehingga tidak merupakan beban bagi peserta didik. d. Fungsi pengayaan, dalam pengajaran remedial guru berusaha membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar dengan menyediakan atau menambah berbagai materi pengajaran yang tidak atau belum disampaikan dalam pengajaran biasa. dalam pengajaran remedial, guru harus mampu menciptakan situasi yang memungkinkan peserta didik lebih mampu

Bimbingan dan Konseling Belajar

72

e. Fungsi akselerasi, dalam pengajaran guru berusaha mempercepat pengajaran dengan menambah frekuensi pertemuan dan materi pengajaran. f. Fungsi terapeutik, pengajaran remedial mengandung unsur terapeutik karena secara langsung atau tidak langsung berusaha menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan peserta didik.Terdapat pendekatanpendekatan dalam pengajaran remedial, antara lain B. Pendekatan kuratif dalam pengajaran remedial Pendekatan ini dilakukan setelah program pembelajaran yang pokok selesai dilaksanakan dan dievaluasi, guru akan menjumpai beberapa bagian dari peserta didik yang tidak mampu menguasai seluruh bahan yang disampaikan. Pelaksanaan pendekatan kuratif dapat dilakukan dengan cara : a. b. Pengulangan (repetation), dapat dilakukan setiap akhir jam Pengayaan dan pengukuhan (enrichment dan reinforcement), pertemuan, akhir unit pelajaran atau setiap pokok bahasan. Layanan pengayaan dapat ditujukan kepada peserta didik yang mempunyai kelemahan ringan dan secara akademik mungkin peserta didik tersebut cerdas. Dapat dilakukan dengan memberikan pekerjaan rumah atau pekerjaan di kelas pada saat pelajaran berlangsung. c. Percepatan (acceleration) Layanan percepatan ini diberikan kepada peserta didik yang berbakat namun menunjukkan kesulitan psikososial. A. Pendekatan preventif dalam pengajaran remedial

Pendekatan preventif diberikan kepada peserta didik yang diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan program yang akan ditempuh. Guru meng-klasifikasikan kemampuan siswa didik menjadi tiga golongan, yaitu peserta didik yang mampu menyelesaikan program sesuai waktu yang ditentukan, peserta didik yangdiperkirakan akan mampu menyelesaikan program lebih cepat dari waktu yang ditentukan, dan peserta didik yang tidak

Bimbingan dan Konseling Belajar

73

dapat sebagai

menyelesaikan

program

sesuai

waktu

yang

ditentukan.Sesuai berikut:

penggolongan tersebut maka teknik layanan yang dapat dilakukan adalah a. Kelompok belajar homogen, dalam kelompok ini peserta didik diberi pelajaran, waktu, dan tes yang sama. b. Kelompok individual, pengajaran disesuaikan dengan keadaan peserta didik, sehingga setiap peserta didik mempunyai program tersendiri. c. Layanan pengajaran dengan kelas khusus, peserta didik mengikuti program pembelajaran yang sama dalam satu kelas. Peserta yang mengalami kesulitan dalam bidang tertentu disediakan kelas khusus remedial. Bagi yang cepat belajarnya disediakan program pengayaan. D. Pendekatan pengembangan dalam pengajaran remedial Pengajaran remedial yang bersifat pengembangan merupakan upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya pembelajaran. Sasarannya agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan-hambatan yang dialami selama mengikuti pembelajaran. Metode yang digunakan dalam pengajaran remedial yaitu : 1) Metode pemberian tugas. Metode ini dilaksanakan dengan cara memberi tugas atau kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Jenis dan sifat tugas harus sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan belajar yang yang dihadapi peserta didik. 2) Metode diskusi Diskusi adalah suatu bentuk interaksi antarindividu dalam kelompok untuk membahas suatu masalah. Diskusi digunakan dalam pengajaran remedial untuk memperbaiki kesulitan belajar dengan memanfaatkan interaksi individu dalam kelompok. 3) Metode tanya-jawab Tanya jawab dalam pengajaran remedial dilakukan dalam bentuk dialog antara guru dengan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Tanya

Bimbingan dan Konseling Belajar

74

jawab dilakukan secara individu maupun secara kelompok dengan peserta didik. 4) Metode kerja kelompok Kerja kelompok dalam pengajaran remedial diusahakan agar terjadi interaksi diantara anggota dalam kelompok. Kelompok sebaiknya heterogen artinya dalam satu kelompok terdiri dari pria dan wanita, peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dan peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar. Metode ini dapat meningkatkan pemahaman diri masing-masing anggota, minat belajar dan rasa tanggung jawab peserta didik. 5) Metode tutor sebaya Tutor sebaya ialah peserta didik yang ditunjuk untuk membantu temantemannya atau peserta didik lainnya yang mengalami kesulitan belajar. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tutor sebaya adalah • • Mendapat persetujuan dari peserta didik yang mengikuti program perbaikan Mempunyai prestasi akademik yang baik, kreatif, dan dapat menerangkan bahan yang dibutuhkan oleh peserta didik yang mengikuti program perbaikan • Tidak sombong, sabar, telaten, hubungan sosialnya bagus, tidak pelit, dan suka menolong sesama teman 6) Metode pengajaran individual Pengajaran individual dalam pengajaran remedial yaitu proses pembelajaran yang hanya melibatkan seorang guru dan seorang peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Metode ini sangat intensif karena pelayanan yang diberikan disesuaikan dengan kesulitan dan kemampuan peserta didik. Pengajaran individual bersifat penyembuhan artinya memperbaiki cara belajar, dengan mengulang bahan pelajaran yang telah

Bimbingan dan Konseling Belajar

75

diberikan atau latihan mengerjakan soal atau mungkin memberikan materi baru. E. Factor-faktor yang berperanan dalam transfer belajar Istilah “transfer belajar” berasal dari bahasa Inggris “transfer of learning” dan berarti ; pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan seharihari. Pemindahan atau pengalihan itu menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatu bidang studi atau situasi di luar lingkup pendidikan. Pemindahan atau pengalihan itu menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatu bidang atau situasi di luar lingkup bidang studi di mana hasil itu mula-mula diperoleh. Kata “pemindahan ketrampilan” tidak berkonotasi hilangnya ketrampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan ketrampilan baru pada masa sekarang. Misalnya, hasil belajar di cabang olahraga main bola tangan, digunakan dalam belajar main basket, dan lain-lain. Berkat pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu, seseorang memperoleh keuntungan atau mengalami hambatan dalam mempelajari sesuatu di bidang studi yang lain atau dalam pengaturan kehidupan sehari-hari. F. Macam-macam Transfer belajar 1. Transfer positif Transfer yang berefek lebih baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Transfer positif yakni belajar dalam situasi yang dapat membangtu belajar dalam situasi-situasi lain. “Memperoleh keuntungan’ berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperanan positif, yaitu mempermudah dan menolong dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikul di keskolah atau dalam mengatur kehidupan seharihari, transfer belajar demikian tersebut disebut “transfer positif”. 2. Transfer negatif

Bimbingan dan Konseling Belajar

76

Transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak atau mengalami hamnbatan terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari. “Mengalami hambatan” berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperanan negatif, yautu mempersukar dan mempersulit dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah, atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari, transfer belajar yang demikian disebut “transfer negatif 3. Transfer vertikal Transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar/pengetahuan yang lebih tinggi. Transfer vertikal (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam menguasai pengetahuan/ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. 4. Transfer lateral Transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar

pengetahuan/ketrampilan yang sederajat. Tranfer lateral (ke arah samping) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Dalam hal ini, perubahan waktu dan tempat tidak mengurangi mutu hasil belajar siswa tersebut Faktor-faktor yang berperanan dalam transfer belajar yakni ; a. Proses belajar, kesungguhan motivasi belajar, dan kadar konsentrasi terhadap terhadap pelajaran. Siswa diharapkan bersungguhsungguh dalam mengolah materi pelajaran, dan ini juga tergantung dari motivasi belajar dan sejauhmana kadar konsentrasinya. Maka, siswa yang kurang melibatkan diri dalam proses belajar, kurang cermat dalam dalam persepsi dan kurang mendalam dalam mengolah materi pelajaran, tidak diharapkan akan mengadakan transfer belaJar.

Bimbingan dan Konseling Belajar

77

b. c.

Bahan atau materi dalam bidang studi, metode atau prosedur kerja Transfer belajar mengendalikan adanya kesamaan, maka

yang diikuti dan sikap dibutuhkan dalam bidang studi. kesamaan antara daerah/bidang studi atau antara bidang studi dan

kehidupan sehari-hari itu, secara nyata harus ada. Adanya kesamaan juga meliputi taraf intelegensi, minat, dan perhatian. d. Faktor-faktor subyektif siswa, antara lain taraf intelegensi Misalnya, Siswa yang memiliki motivasi intrinsik, yang merasa senang dalam belajar di sekolah dan yang mampu mengolah dengan baik dan secara mendalam, akan jauh lebih siap untuk mengadakan transfer belajar, dibandingkan dengan siswa yang kurang bermotivasi, kurang berperasaan senang dan kurang mampu mengolah dengan baik. 5. Sikap dan usaha guru. Kesadaran dan usaha dari guru untuk mendampingi siswa dalam mengadakan transfer belajar. Sikap guru yang menyadari, bahwa tanggungjawab nya tidak hanya terbatas paa bidang studi tertentu, tetapi juga mencakup usaha jujur untuk membentuk kepribadian siswa secara kesluruhan, dalam perkembangan intelektual, efektif (sikap) dan sosial. (kemampuan belajar), minat, motivasi dan perhatian.

Bimbingan dan Konseling Belajar

78

DAFTAR PUSTAKA
• •

W.S Winkel. 2007. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia.

Sumber :Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya. • Bimo Walgito, Prof, Dr., Bimbingan dan Konseling (studi dan Karir) Penerbit Andi, Yogyakarta, 2005 • Ketut sukardi, dewa. Bimbingan dan penyuluhan belajar disekolah.usaha nasional. Surabaya. 1986 • Psikologi Umum, PT Gramedia, Jakarta, 1989 • Syaiful Bahri Djamarah, Drs, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta

http://www./Kelompok Belajar efisien/

• Sumber: Kasim Lemlrch J (1990), Curriculum and Instructional Methods for Elementary and Midle School, New York Macmillan College Publishing Co.
• •

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/24/belajar-kelompok.html http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

• Yusuf LN, Syamsu, H., Dr., M.pd. 2006. Psikologi perkembangan anak dan • Sobur, Alex, Drs., M.si. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.

Syahril., dan Ahmad,Riska. 1986. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Angkasa Raya. Padang

Bimbingan dan Konseling Belajar

79

• Sukardi, Dewa Ketut. 1987. Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Ghalia Indonesia. Jakarta • S, Suparman. Gaya Mengajar yang Menyenangkan Siswa. 2010. Yogyakarta: PINUS BOOK PUBLISHER
• • • • •

http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/12/diagnosis_kesulitan_belajar http://kesulitanbelajar.blogspot.com/ http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/04/jenis-jenis-masalah-belajar-danfaktor.html http://www.scribd.com/doc/54774371/14/Jenis-jenis-Kesulitan-Belajar http://www.iapw.info/home/index.php? option=com_content&view=article&id=141:mengatasi-kesulitan-belajar-padaanak&catid=32:ragam&Itemid=45

• •

Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2003 Ahmadi, Abu. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2003 2002

• Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, • Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007
• •

http://belajar psikologi.com/pengertian kesulitan belajar http://trasmidi.word press.com/kesulitan belajar

Bimbingan dan Konseling Belajar

80

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful