P. 1
Kompetensi Guru

Kompetensi Guru

|Views: 1,316|Likes:
Published by Kiki Subuki

More info:

Published by: Kiki Subuki on Jul 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam setiap studi tentang ilmu pendidikan persoalan yang berkenaan dengan guru dan jabatan guru senantiasa di singgung bahkan menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang begitu luas dan kompleks. Sekarang ini perhatian itu bertambah besar sehubungan dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru yang makin meningkat, baik dalam mutu maupun jumlahnya. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 3 dinyatakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan peran serta dari semua pihak, antara lain adalah lembaga pendidikan seperti dipenuhinya labolatorium, perpustakan dan yang lainnya. Di sisi lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan diadakannya tes setiap akhir semester untuk mengetahui prestasi siswa dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan serta untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam menyajikan materi pelajaran dalam kurung waktu tertentu sesuai dengan kurikulum. Peningkatan kualitas guru pun dalam proses belajar mengajar termasuk salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Kualitas guru sangat mendominasi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan prestasi anak didik. Diperlukan guru yang berpendidikan dan berakhlak mulia agar agar anak didik selain menjadi cerdas juga bertaqwa. Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru sehubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam pembahasan mengenai adalah sebagai berikut : 1. Apa yang di maksud dengan Kompetensi? 2. Bagaimana Kompetensi Kognitif Guru? 3. Bagaimana Kompetensi Afektif Guru? 4. Bagaimana Kompetensi Psikomotor Guru? BAB II KOMPETENSI GURU ( KOGNITIF,AFEKTIF,PSIKOMOTOR) A. DEFINISI KOMPETENSI ( KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU)
1

Pengertian dasar kompetensi (competency) adalah kemampuan atau kecakapan. Padanan kata yang berasal dari bahasa Inggris ini cukup banyak dan lebih relevan dengan pembahasan ini ialah kata proficiency dan ability yang mempunyai arti kurang lebih sama yaitu kemampuan. Hanya, proficiency lebih sering digunakan untuk menyatakan kemampuan berperingkat tingggi. Di samping berarti kemampuan, kompetensi juga berarti: «the state of being legally competent or qualified (Mcleod, 1989), yakni keadaan berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Adapun kompetensi guru (teacher competency) menurut Balrow (1985), ialah The ability of a teacher to respensbly perform his or her duties appropriately. Artinya, kompetensi guru meruapakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban kewajibannya secara bertanggung jawabdan layak. Jadi, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Artinya, guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang ko mpeten dan profesional. Selanjutnya, kata ³profesionalisme´yang mengiringi kata kompetensi seperti tersebut pada judul ini dapat di pahami sebagai kualitas dan tindaktanduk khusus yang merupakan cirri orang professional. Adapun kata profesionalitas yang terkadang dipakai pengarang kita sesungguhnya tidak ada, karena kata profesionality yang dikira bentuk asli dari profesionalitas itu tidak di kenal, kecuali (mungkin) dalam angan-angan pengarang saja. Istilah ³professional´ (professional) aslinya adalah kata sifat dari kata profession (pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda, professional kurang lebih berarti orang yang melakukan sebuah profesi dengan menggunakan profensi sebagai mata pencaharian (Mceod,1989). Berdasarkan pertimbangan arti-arti di atas, maka pengertian guru professional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi (profisiensi) sebagai sumber kehidupan. Kebalikannya adalah guru amatir yang di barat di sebut sub-profesional seperti teacher-aid (asisten guru). Di Negara-negara maju khususnya di Australia, asisten guru ini dikaryakan untuk membantu guru professional dalkam mengelola kelas, tetapi tidak mengajar. Kadang-kadang, guru amatir itu ditugasi menangani keperluan belajar kelompok siswa tertentu, misalnyakelompok imigran. Lebih lanjut, dalam menjalankan kewenangan profeionalnya, guru dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) yang bersifat psokologis, yang meliputi: 1) kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta) 2) kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa) 3) kompetensi psikomotor (kecakapan ranah karsa) Di samping itu, ada satu macam kompetensi yang di perlukan guru, yakni kompetensi kepribadian. Namun demikian, kompetensi kepribadian ini tidak akan diuraikan disini mengingat kandungan elemennya secara implicit sudah terkandung dalam tiga kompetensi di atas.
2

A.

KOMPETENSI KOGNITIF GURU

Tanpa bermaksud mengurangi peranan kompetensi ranah psikologis yang lain, kompetensi kognitif guru menurut penyusun merupakan kompetensi utama yang waib di miliki oleh setiap calon guru dan guru profesional. Ia mengandung bermacam-macam pengetahuan baik yang bersifat deklaratif maupun yang bersifat procedural. Pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) merupakan pengetahuan yang relative statisnormatif dengan tatanan yang jelas dana da[at deungkapkan dengan lisan. Sedangkan pengetahuan prosedural (procedural knowlodge) yang juga bersemayam pada otak itu pada dasarnya adalah pengetahuan praktis dan dinamis yang mendasari keterampilan melakukan sesuatu (Best, 1989; Anderson, 1990). Pengetahuan dan keterampilan ranah cipta dapat dikelompokan ke dalam dua kategori, yaitu: 1) kategori pengetahuan kependidikan/keguruan; 2) kategori pengetahuan bidang studi yang akan menjadi vak atau mata pelajaran yang akan diajarkan guru.  Ilmu pengetahuan kependidikan Menurut sifat dan kegunannya, disiplin ilmu kependidikan ini terdiri atas dua macam, yaitu: pengetahuan kependidikan umum dan pengetahuan kependidikan khusus. Pengetahuan kependidikan umum meliputi ilmu pendidikan, psikolog pendidikan, administrasi pendidikan, dan seterusnya. Sedangkan pengetahuan kependidikan khusus meliputi metode mengajar, metodik khusus pengajaran materi tertentu, teknik evaluasi, praktik keguruan, dan sebagainya. pengetahuan / ilmu pendidikan umum itu meliputi segenap pengetahuan kependidikan yang tidak langsung berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Sedangkan ilmu pendidikan khusus langsung berhubungan dengan praktik pengelolaan PBM.  Ilmu pengetahuan materi bidang studi Ilmu pengetahuan materi bidang studi meliputi semua bidang studi yang akan menjadi keahlian atau pelajaran yang akan di ajarkan oleh guru. Dalam hal ini, penguasaan atas pokok-pokok bahasan materi pelajaranyang terdapat dalam bidang studi yang menjadi bidang tugas guru adalah mutlak diperlukan. Penguasaan guru atas materi-materi bidang studi itu seyogianya dikaitkan langsung dengan pengetahuan pendidikan khusus terutama dengan metodik khusus dan praktik keguruan. Sebagai contoh, apabila anda hendak mengajar agama, maka anda harus menguasai secara luas dan mendalami pengetahuan mengenai materi-materi yang terdapat dalam bidang studi yang akan anda ajarkan (dalam hal ini bidang studi agama). Penguasaan anda terhadap materi tadi hendaknya dibarengi dengan penguasaan atas model-model, metode-metode, dan strategi mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan yang anda ajarkan itu. Jenis kompetensi kognitif yang lain juga perlu dimiliki seorang guru adalah kemampuan mentransper strategi kognitif kepada para sisiwa agar dapat belajar secara efisien dan efektif (Lawson, 1991). Guru diharapkan mampu mengubah pilihan kebiasaan belajar (cognitive preference) siswa yang bermotif ekstrinsik biasanya hanya memandang belajar sebagai alat penagkal bahaya ketidaknaikan
3

atau ketidaklulusan saja. Dengan kata lain, siswa tersebut belajar hanya ingin mencapai cita-cita asal lulus semata (pass-only aspiration). Ada juga fleksibilitas kognitif guru (keluwesan ranah cipta) merupakan kemampuan berfikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Kebalikannya adalah Frigiditas kognitif atau kekakuan ranah cipta yang ditandai dengan kekurangmampuan berpikir, bertindak yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Guru yang fleksibel pada umumnya di tandai dengan keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia juga memiliki resistensi (daya tahan) terhadap ketertutupan ranah cipta yang terlampau dini dalam pengenalan dan pengamatan. Ketika mengamati dan mengenali suatu objek atau situasi tertentu, seorang guruyang fleksibel selalu berpikir kritis (critical thinking) ialah berpikir dengan pertimbangan akal sehat yang dipusatkan pada pengambilan keputusan untuk mempercayai atau mengingkai sesuatu. Dalam PBM, fleksibilitas kognitif guru terdiri atas 3 : 1) Dimensi karakteristik pribadi guru 2) Dimensi sikap kognitif guru terhadap siswa, dan 3) Dmensi sikap kognitif guru terhadap materi pelajaran dan metode mengajar. B. KOMPETENSI AFEKTIF GURU Kompetensi ranah afektif guru bersifat tertutup dan abstrak, sehingga amat sukar untuk diidentifikasi. Kompetensi ranah ini sebenarnya meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi, seperti: cinta, benci, senang, sedih, dan sikap sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain. Namun demikian, kompetensi afektif (ranah rasa) yang paling penting dan paling sering dijadikan objek penelitian dan pembahasan psikologi pendidikan adalah sikap dan perasaan diri yang berkaitan dengan profesi keguruan. Sikap dan perasaan diri iru melipuri: 1) self-concept dan esteem; 2) self-effacacy dan contextual efficacy; 3) attitude of self-acceptance dan other acceptance Konsep-diri dan harga-diri guru Self-concept atau konsep-diri ialah totalitas sikap dan persipsi seseorang guru terhadap dirinya sendiri. Keseluruhan sikap dan pandang tersebut dapat dianggap deskripsi kepribadian guru yang bersangkutan. Sementara itu selfesteem (harga-diri) guru dapat diartikan sebagai tingkat pandangan dan penilaian seorang guru mengenai dirinya sendiri berdasarkan prestasinya. Titik tekan self-esteem terletak pada penilaian atai taksiran guru terhadap kualitas dirinya sendiri yang merupakan dari self-concept. Guru yang professional memerlukan self-concept yang tinggi. Guru demikian dalam mengajarnya akan lebih cenderung memberi peluang luas kepada para siswauntuk berkreasi di banding dengan guru yang ber-self-concept rendah (negatif). Guru yang ber-self-concept rendah biasanya lebih banyak ³berbicara´ sehingga tidak sempat memberi peluang kepada siswa untuk
4

1.

berkreasi seperti bertanya atau menyampaikan pendapat. Akibatnya, para siswa menjadi kaku atau bisu. Guru yang mempunyai konsep yang tinggi umumnya memiliki harga diri yang tinggi pula. Ia mempunyai keberanian mengajak dan mendorong serta membantu sekuat tenaga kepada siswanya agar lebih maju. Fenomena keberanian mengajak dan mendorong para siswa supaya maju itu didasari oleh keyakinan guru tersebut terhadap kualitas prestasi akademik yang telah ia miliki. Oleh karena itu, untuk memiliki konsep-diri yang positif, para guru perlu berusaha mencapai prestasi akademik setinggi-tingginya dengan cara banyak belajar dan terus mengikuti perkebangan jaman. Efikasi-diri dan efikasi konseksual guru Self-efficacy guru lazim juga disebut personal teacher efficacy, adalah keyankinan guru terhadap keefektifan kemampuan diri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Kompetensi ranah rasa ini berhubungan dengan kompetensi ranah rasa lainnya yang di sebut teaching efficacy atau contextual efficacy yang berarti kemampuan guru dalam berurusan dengan keterbatasan faktor di luar dirinya ketika ia mengajar. Artinya, keyakinan guru terhadap kemampuannya sebadai pengajar profesional bukan juga dalam hal manipulasi (mendayagunakan) keterbatasan ruang, waktu, dan peralatan yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 2043 orang guru dana mahasiswa calon guru program S1 diperoleh fakta, bahwa keyakinan terhadap belajar siswa-siswanya berkorelasi positif dan signifikan (mempunyai hubungan kuat dan berarti) dengan hasil belajar siswa-siswa tersebut. Artinya, responden yang berkeyakinan bahwa dirinya mampu mengajar dan menyingkirkan segala hambatan pengajaran (effikasi-kontekstual) yang ada, telah menimbulkan gairah belajar para siswa. Sebaliknya, penelitian yang memakan waktu dua tahun di Australia itu, memuktikan bahwa guru dan calon guru yang kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan terhadap keguruannya telah menyebabkan merosotnya prestasi belajar para siswa. Penelitian tadi telah berhasil membuktikan dugaan bahwa efikasi para mahasiswa calon guru pada umumnya lebih rendah daripada para guru yang telah bertugas. Implikasinya ialah, bahwa program kependidikan keguruan masih perlu menambah ³jam terbang´ praktik mengajar kepada mahasiswa calon guru. Padahal, program-program preservice education di Negara itu telah menerapkan prinsip keseimbangan antara belajar di kampus dan praktik di lapangan. Sikap tehadap penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain Sikap penerimaan diri sendiri adalah gejala ranah rasa seorang guru dalam kecenderungan positif atau negative terhadap dirinya sendiri berdasarkan penilaian yang lugas atau bakat dan kemampuannya. Sikap penerimaan terhadap diri sendiri ini diiringi dengan rasa puas terhadap kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri guru tersebut. Sikap seperti ini kurang lebih sama dengan sikap qona¶ah dalam pendidikan akhlak. Sikap qona¶ah terhadap kemampuan yang ada pada dirinya sendiri pada umumnya berpengaruh secara p sikologis terhadap penerimaan kepada orang lain. Sebagai pemberi pelayana kepada siswa (sebagai pembantu dan pembimbing serta panutan kegiatan belajar siswa), guru seyogianya mempunyai sikap positif terhadap dirinya sendiri. Sebab kompetensi
5

2.

3.

bersikap seperti ini akan cukup berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas dan kuantitas layanan kepada siswa. Dulu, Sigmund freud beranggapan: «.the more people love themselves the less love they had to give to other people (Burns, 1991), yang pada prinsipnya berarti bahwa orang yang lebih banyak mencintai dirinya sendiri akan berakibat kurang mencintai orang lain. Freud mungkin menyangka bahwa cinta dan kasih saying yang dimiliki oleh manusia berdimensi sama dengan konkret seperti urang atau barang. Akibatnya, jika individu lebih mencintai barang dan uangnya, ia akan menjadi bakhil terhadap orang lain. Asumsi Freud yang tekesan direka-reka itu (tidak ditopang dengan data) pada prinsipnya menuding orang yang menyayangi dirinya sendiri sebagai orang yang tak akan menyayangi orang lain secara mamadai. Namun, penelitian yang dilakukan ahli yang sezaman dengannya, Alder (1927), dan para ahli yang hidup di zaman sesudahnya seperti Berger (1952) dan Jourard (1971), justru menunjukan hal sebaliknya. Lebih dari itu, Burns (1991) menyimpukan bahwa orang yang berperasaan cukup positif terhadap dirinya (mencintai dan menghargai diri) saja yang mampu mengurangi kebutuhan dirinya (seperti kebutuhan atas pengakuan dan kekuasaan) untuk memenuhi layanan kepada irang lain sesuai dengan kebutuhannya. Alhasil, antara sikap penerimaan terhadap diri sendiri dengan sikap penerimaan terhadap orang lain terdapat hubungan yang positif dan berarti. C. KOMPETENSI PSIKOMOTOR GURU

Kompetensi psikomotor guru meliputi segala keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang pelaksanaannya berhubungan dengan tugasnya selaku pengajar. Guru yang professional memerlukan penguasaan yang prima atas sejumlah keterampilan ranah karsa yang langsung berkaitan dengan bidang studi garapannya.

Secara garis besar, kompetensi psiokomotor guru terdiri atas dua kategori, yaitu: 1) kecakapan fisik umum 2) kecakapan fisik khusus Sejauh mana kecakapan yang bersifat umum dan khusus itu, sebagian besar kalau tidak keseluruhannya bergantung kepada schemata yang terdiri atas schema-schema yang berisi pengetahuan-pengerahuan spesifik yang kompleks. Schemata (jamak dari schema) ini tersimpan dalam sub system memori permanent guru tersebut (Anderson, 1990) schemata dapat dianalogikan sebagai himpunan file data yang terekam dalam direktori komputer. Sedangkan schema sendiri merupakan file yang berisi data dan informasi khusus yang kompleks seperti linguistic schema, cultural schema, dan seterusnya. Apabila suatu saat seseorang hendak mengajarkan bahasa Indonesia umpamanya, maka schemata seseorang itu akan menampilkan file khusus yang berkenaan dengan bahasa yakni linguistic schema. Lalu, seseorang itu sendiri yang menentukan bagian
6

mana yang akan diambil untuk keperluan pengajaran, misalnya kecakapan dalam menulis struktur kalimat. Selanjutnya, kecakapan fisik yang umum, direfleksikan (diwujudkan dalam gerak) dalam bentuk gerakan dan tindakan umum jasmani guru seperti duduk, berdiri, berjalan, berjabat tangan, dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas mengajar. Kompetensi psikomotor ini selayaknya direfleksikan oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan tatakrama yang berlaku. Adapun kecakapan ranah karsa guru yang khusus, meliputi keterampilanketerampilan ekspresi verbal (pernyataan lisan) dan nonverbal (pernyataan tindakan) tertentu yang direfleksikan guru terutama ketika mengelola proses belajar-mengajar. Dalam hal merefleksikan ekspresi verbal guru sangat diharapkan terampil, dalam arti fasih dan lancar berbicara baik ketika menyampaikan uraian materi pelajaran maupun ketika menjawab pertanyaanpertanyaan para siswa atau mengomentari sanggahan dan pendapat mereka. Akan tetapi, guru yang cakap dalam ekspresi verbal tidak berarti harus selalu bisa menjawab pertanyaan siswa atau berusaha menutup-nutupi kekurangan yang ada dalam dirinya, atau dengan kata lain berdiplomasi. Sebab, menjawab pertanyaan yang tidak dia ketahui jawabannya dengan cara menipu atau mengajukan argumen yang dicari-cari, sangat tidak bijak sana. Bersikap dan berprilaku jujur terhadap siswa, meskipun membuat siswa menjadi tahu akan kekurangan guru tersebut, jauh lebih bijaksana daripada berpura-pura menipu. Guru yang profesional harus memberi tahu secara jujur kepada para siswanya bahwa ia lupa atau belum tahu, sambil berjanji akan mencarikan jawaban atas pertanyaan tadi pada kesempatan lain. Cara jujur seperti itu menunjukan fleksibilitas dan keterbukaan psokologis yang ideal bagi setiap guru, ketidaktahuan guru yang profesional bagi para siswa dalam sedunia pendidikan modern sekarang ini dianggap wajar dan manusiawi. Capat atau lambat, para siswa akan menyadari no body know everything, tak seorang pun yang tau segala sesuatu. Adapun mengenai keterampilan ekspresi nonverbal yang harus dikuasai guru ialah dalam hal mendemonstrasikan apa-apa yang terkandung dalam materi pelajaran. Kecakapan-kecakapan tersebut meliputi: meunlis dan membuat bagan di papan tulis; memperagakan proses terjadinya sesuatu; mamperagakan menggunakan alat/seseuatu yang sedang dipelajari; dan memperagakan prosedur melakukan keterampilan praktis tertentu sesuai dengan penjelasan verbal yang telah dilakukan guru. Perlu diperhatikan bahwa dalam melakukan ekspresi nonverbal, guru hendaknya mempertahankan akurasi (kecermatan) dan konsistensi (keajegan) hubungan antara ekspresi nonverbal tersebut dengan ekspresi verbal. Jadi, guru harus menyatukan ucapan dengan perbuatan. Hal ini penting, sebab jika akurasi dan konsistensi tadi gagal diperlihatkan guru kepada para siswa, maka kepercayaan mereka kepada kepiawaian guru dan arti penting materi pelajaran materi akan merosot. Dampak negatif selanjutnya, mungkin minat dan gairah para siswa dalam mempelajari materi tadi akan merosot pula.

7

Tabel Kompetensi Profesionalisme Guru

Ragam dan Elemen kompetensi Kompetensi Kognitif Kompetensi Afektif Kompetensi Psikomotor

1. Pengetahuan 1. konsep-diri dan harga- 1. Kecakapan fisik umum a. Pengetahuan diri 2. Kecakapan fisik khusus pendidikan 2. Efikasi-diri dan efikasi a. Kecakapan b. Pengetahuan bidang kontekstual ekspresi verbal studi (vak 3. Sikap penerimaan b. Kecakapan pegangan) terhadap diri sendiri dan ekspresi 2. Kemampuan mentransper orang lain nonverbal strategi kognitif

BAB III KESIMPULAN

8

Pengertian kompetensi (competency) adalah kemampuan atau kecakapan. Bahwa kompetensi merupakan daya untuk melakukan sesuatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Seorang guru yang mendidik banyak siswa dan siswi di sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang memang harus dimiliki seorang guru : A. Kompetensi Kognitif Guru Pengetahuan dan keterampilan ranah cipta dapat dikelompokan ke dalam dua kategori, yaitu: 1) kategori pengetahuan kependidikan/keguruan; 2) kategori pengetahuan bidang studi yang akan menjadi vak atau mata pelajaran yang akan diajarkan guru. B. Kompetensi Afektif Guru Kompetensi ranah ini sebenarnya meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi, seperti: cinta, benci, senang, sedih, dan sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain. Sikap dan perasaan diri iru meliputi: 1) 2) 3) C. self-concept dan esteem; self-effacacy dan contextual efficacy; attitude of self-acceptance dan other acceptance Kompetensi Psikomotor Guru Kompetensi psikomotor guru meliputi segala keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang pelaksanaannya berhubungan dengan tugasnya selaku pengajar. Jadi dari pembahasan yang telah diuraikan penulis dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru sangat penting untuk dipelajari, oleh sebab itu kompetensi guru dapat dijadikan sebagai dasar/alat untuk merumuskan criteria penyeleksian dalam rangka penerimaan dan penempatan seorang guru. Berdasarkan kompetensi yang diharapkan bagi setiap guru sangat penting dalam rangka membina guru bersangkutan, dan dalam rangka menyusun kurikulum, dan juga dapat dijadikan titik tolak dalam merumuskan kegiatan dan hasil belajar para siswa.

DAFTAR PUSTAKA Muhibbin, Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Rosdakarya. Bandung; 2008 Moh, Uzer Usman. Menjadi Guru Profesional. Rosdakarya. Bandung; 1990 Bainadi, Sutaipura. Kompetensi Guru dan kesehatan Mental. Angkasa. Bandung; 1980 Oemar, Hamalik. Pendidikan Guru konsep dan Strategi. Mandar Maju. Bandung; 1991 http//.www.scrib.com http//.www.kompetensi-guruwikipedia

9

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->