PERTANAHAN

[1]

BAB I PENDAHULUAN

Di negara-negara agraris seperti Indonesia, tanah merupakan faktor produksi yang sangat penting karena menentukan kesejahteraan hidup penduduk negara bersangkutan. Paling sedikit ada tiga kebutuhan dasar manusia yang tergantung pada tanah. Pertama, tanah sebagai sumber ekonomi guna menunjang kehidupan. Kedua, tanah sebagai tempat mendirikan rumah untuk tempat tinggal. Ketiga, tanah sebagai kuburan. Walapun tanah di negara-negara agraris merupakan kebutuhan dasar, tetapi struktur kepemilikan tanah di negara agraris biasanya sangat timpang. Di satu pihak ada individu atau kelompok manusia yang memiliki dan menguasai tanah secara berlebihan namun di lain pihak ada kelompok manusia yang sama sekali tidak mempunyai tanah. Kepincangan atas pemilikan tanah inilah yang membuat seringnya permasalahan tanah di negara-negara agraris menjadi salah satu sumber utama destabilisasi politik. Tanah dan pola pemilikannya bagi masyarakat pedesaan merupakan faktor penting bagi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi dan politik masyarakat pedesaan di samping kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masing-masing warga desa itu sendiri. Negara agraris yang mengalami pola pemilikan tanahnya pincang dapat dipastikan mengalami proses pembangunan yang lamban, terjadi proses pemelaratan yang berat, terjadi krisis motivasi dan kepercayaan diri untuk membangun diri mereka sendiri. Pada bagian lain, ketimpangan pemilikan tanah yang memperlihatkan secara kontras kehidupan makmur sebagian kecil penduduk pedesaan pemilik lahan yang luas dengan mayoritas penduduk desa yang miskin merupakan potensi konflik yang tinggi karena tingginya kadar kecemburuan sosial dalam masyaralat itu. Hal tersebut sukar dihindarkan karena tanah selain merupakan aset ekonomi bagi pemiliknya juga merupakan aset politik bagi si pemilik untuk dapat aktif dalam proses pengambilan keputusan pada tingkat desa. Bagi mereka yang tidak memiliki tanah akan mengalami dua jenis kemiskinan sekaligus, yakni [2]

kemiskinan ekonomi dan kemiskinan politik. Pemerintah Indonesia pada dasarnya telah berusaha untuk menjamin adanya pemerataan pemilikan tanah di Indonesia melalui UU No. 5 Tahun 1960, serta melalui program transmigrasi. Melalui program transmigrasi tersebut, pemerintah memberi kesempatan kepada petani miskin di Jawa, Bali dan Lombok untuk memiliki sebidang tanah, tetapi dalam perkembangannya, masalah yang muncul bukan lagi bagaimana si miskinmemperoleh tanah, tetapi bagaimana si pemilik tanah mempertahankan hak miliknya dari usaha-usaha pemilik modal yang akan mengambilnya. Apabila dicermati, sifat permasalahan tanah di Indonesia antara dekade setelah kemerdekaan hingga akhir 1960-an; dekade 1980 hingga akhir Orde Baru serta Pasca Orde Baru terdapat perbedaan, baik yang terkait dengan permasalahan tanah itu sendiri maupun posisi atau peran pemerintah di dalamnya.

[3]

dari akses seseorang atau kelompok orang atas sebidang tanah. Isu yang memicu konflik juga berubah. Pemerintah bukanpelindung kepentingan rakyat berhadapan dengan pemilik modal. [4] . permasalahan tanah berkembang menjadi persoalan antara pemilik modal besar dan atau pemerintah melawan pemilik tanah setempat. serta antara pemerintah dan pemilik tanah di kota atau di desa. Tetapi lapar tanah (land hunger) pada era ini bagi mayoritas rakyat miskin lebih karena urusan perut (pemenuhan kebutuhan konsumsi). sedang bagi tuan tanah sudah mencakup status sosial. tetapisebaliknya. menekan rekyat melindungi pemilik modal. dan belum menjadikan tanah sebagai bagian kebijakan pembangunan ekonomi nasional. Konflik tersebut terfokus pada masalah akses seseorang terhadap tanah. persoalan pertanahan adalah masalah yang lebih banyak terjadi di lingkungan pedesaan yang dipicu oleh pola hubungan patron-client antara petani pemilik tanah yang biasanya memiliki lahan yang sangat luas dengan petani gurem dan buruh tani. pola konflik pertanahan sangat diwarnai oleh peran dominan kekuasaan otoritarian Orde Baru yang bersama pemilik modal menjadi pelaku ekonomi yang terus menerus mengambil tanah-tanahrakyat dalam jumlah besar atas nama pembangunan. baik yang ada di desa maupun di kota.BAB II KONFIK PERTANAHAN Dekade setelah kemerdekaan hingga 1960-an. masih cukup netral dan bukan sebagai pihak yang tersangkut dalam persoalan itu. ke konflik yang dipicu oleh penghargaan atau ganti rugi yang seharusnya diterima pemilik tanah yang tanahanya akan digunakan oleh pemilik modal dan atau pemerintah. Hal tersebut disebabkan karena pola kekuasaan era Orde Lama cenderung pada pembangunan bangsa (nation building) dalam kontek politik. Dekade 1980-hingga akhir Orde Baru. Pada dekade tersebut. atau dikenal juga dengan istilah ”land hunger”. Peran pemerintah dalam konflik tanah di pedesaan dalam kontek hubungan patron-client tersebut.

Penjelasan Pasal dua dengan tegas meniadakan hutan milik masyarakat adapt dengan menyebutkan: Hutan Negara ialah hutan yang tumbuh diatas tanah yang bukan tanah milik. Disebut demikian karena terjadinya konflik akibat kebijakan pemerintah. hak-hak masyarakat adat atau masyarakat local diingkari begitu rupa. Sebut saja Pasal 2 UU 5/1967 tentang Kehutanan membagi dua bagian yaitu "Hutan Negara" dan "Hutan Milik". Walaupun berdasarkan Pasal 2 ayat 4 UUPA 1960 membolehkan masyarakat adat untuk "melaksanakan hak menguasai dari Negara" tetapi dalam peraturan di beberapa sektor seperti kehutanan dan pertambangan misalnya memperlihatkan bahwa hak mereka dimandulkan bahkan dibekukan. Di era Orde Baru. penangkapan. Sedang pola penaklukannya bersifat “ideologis” seperti delegitimasi bukti-bukti hak rakyat. Penindasan ini bersifat fisik. dan dengan demikian berhak untuk ”membebaskan” tanah yang dimiliki oleh warganya untuk kepentingan umum. maupun hukum yang menyatakan bahwa negara adalah pemilik semua tanah di negeri ini. Dengan demikian. pola konflik agraria (tanah) yang terjadi di Indonesia selama Orde Baru adalah konflik struktural. pembuldoseran tanah dan tanaman. isolasi.Sebagai pembeli tanah. dicap sebagai PKI atau anti pembangunan. baik melalui aparatnya. tetapi rakyat versus pengusaha.753 kasus sengketa tanah atau konflik agraria. rakyat versus pemerintah termasuk BUMN. Pola pengingkaran terhadap hak adat dimulai dari segi legal-formal melalui suatu peraturan perundang-undangan sampai pada tingkat praktik atas nama'pembangunan'. karena mempunyai kekuatan memaksakan kehendaknya. Hutan yang tumbuh atau ditanam diatas tanah yang diberikan kepada Daerah Swatantra dengan hak pakai atau hak pengelolaan mempunyai status sebagai Hutan Negara. Ciri lain dari konflik agraria struktural adalah penggunaan cara-cara penindasan dan penaklukan kepada rakyat. kekerasan fisik. manipulasi tanda-tangan rakyat.seperti intimidasi. pemerintah memang berbeda dengan pembeli tanah biasa. Database KPA mencatat setidaknya ada 1. Dengan demikian tidak ada lagi hutan [5] . penetapan ganti rgusi sepihak. dan yang berkonflik bukan antar rakyat dengan rakyat. dsb. dsb. teror. Kasus tanah sepanjang Orde Baru ribuan jumlahnya.

di Jawa Tengah dan seterusnya adalah beberapa contoh kasus perebutan kembali lahan yang terjadi semenjak kejatuhan Soeharto. Ambon. 11/1967 tentang pertambangan hak-hak. Polri dan atau pemerintah semasa Orde Baru. TNI. Sementara itu. Raffles dengan salah menginterpretasikan bahwa raja adalah pemilik semua tanah yang ada di pulau Jawa. Kasus PLTA Sulewana.masyarakat adat itu semakin teralienasi. salah satunya adalah Werteim. Konflik pertanahan pasca Orde Baru berubah menjadi konflik perebutan kembali lahan oleh masyarakat petani pemilik tanah. seiring dengan menguatnya masyarakat sipil. meskipun disertai penegasan harus ada musyawarah dan mufakat terlebih dahulu. tetap memberi pengertian bahwa tidak ada pilihan lain bagi pemilik hak atas tanah untuk menolak melepaskan haknya pad apemegang kuasa pertambangan. khususnya di Jawa. Lombok Tengah. NTB. dalam bukunya: Evolution and Revolution: The Rising Waves of Emancipation (1974) menyatakan bahwa konsep itu berasal dari suatu interpretasi yang keliru dari Raffles perihal system pemilikan tanah di Indonesia. Konsep ini kemudian diadopsi oleh pemerintah colonial dan juga oleh pemerintahan kita setelah merdeka. Misalnya pemilik tanah diwajibkan memperbolehkan pekerjaan-pekerjaan pemegang kuasa pertambangan di atas tanahnya dengan musyawarah dan mufakat. Alas Tlogo Jawa Timur. hutan swapraja dan sebagainya. Kata-kata diwajibkan dalam ketentuan tersebut. Kasus-kasus yang terjadi di Awu. Dalam UU No. petani penggaraf atau individu-individu yang hak milik tanahnya telah dirampas atau dikuasai oleh pengusaha. Poso. hutan daerah. Peristiwa-peristiwa tersebut menguatkan fakta bahwa perpindahan hak atas tanah dalam berbagai bentuk di era Orde Baru itu dilakukan [6] .marga. pola konflik pertanahan dekade Orde Baru mulai menururn. Pengingkaran terhadap hak-hak penduduk lokal berawal dari kekisruhan pengakuan terhadap hak masyarakat adat yang diatur dalam UUPA 1960. Mengenai Negara sebagai pemilik semua tanah yang ada di Negara ini oleh beberapa sarjana telah dipertanyakan kebenaran teoritiknya yang mendasari konsep itu.

Paling sedikit ada empat undang-undang pokok: (a) Undang-Undang Pokok Pertambangan. dan sebagainya. Kedua. walaupun yang bersangkutan telah tinggal dalam hutan tersebut selama berpuluh-puluh tahun. Perubahan Pola Konflik & Dampaknya Pada Masyarakat Adat Perubahan pola konflik tanah yang muncul awal dekade 1980-an itu disebabkan oleh dua hal. Pertama. super market.secara paksa dengan kekerasan. Perubahan ini menyebabkan pembangunan di Indonesia terjangkit penyakit ”land hunger” dalam skala yang luas. seperti pembangunan padang golf.Undang PokokKehutanan. 3. perubahan sifat proyek pembangunan di Indonesia dari proyek perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat ke megaproyek yang bertujuan meningkatkan kemampuan ekspor Indonesia. Di samping munculnya megaproyek. dan dalam pelaksanannya sering mengorbankan kepentingan rakyat demi melindungi kepentingan departemen/sektoral masingmasing. Ribuan hektar tanah. tidak terkecuali tanah-tanah pertanian potensial yang merupakan tulang punggung kelestarian program swasembada pangan di Indonesia dirubah fungsi menjadi lahan pembangunan proyek konsumtif dimaksud. adanya standar ganda di bidang administrasi pertanahan di Indonesia. Penghuni hutan bisa dipindahkan (terkadang secara paksa/terpaksa) untuk meninggalkan hutan karena hutan itu dinyatakan sebagai hutan lindung oleh Departemen Kehutanan berdasar UU Pokok Kehutanan. (d) Undang. (c) Undang-Undang Pokok Irigasi. perumahan mewah. pembangunan juga membawa apa yang disebut dengan ”proyek pembangunan konsumtif” untuk memenuhi kehidupan konsumstif kaum elite perkotaan. Adanya berbagai Undang-Undang Pokok yang mengatur masalah pemanfaatan tanah ini juga menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat [7] . (b) Undang-Undang Pokok Transmigrasi. Di samping UU Pokok Agraria 1960 muncul juga berbagai UndangUndang Pokok yang mengatur pemanfaatan dan penguasaan tanah yang dikeluarkan oleh berbagai departemen yang jiwa dari undang-undang itu bertentangan dengan UU PA 1960. Undang-Undang Pokok tersebut semuanya bertujuan Untuk melindungi kepentingan sektoral.

apakah undang-undang tersebut masih berlaku ataukah sudah digantikan dengan UU Pokok Kehutanan yang lebih menonjol termasuk pengaturan hubungan antara masyarakat tepian hutan dengan kelompok pengusah HPH.ada yaitu bahwa UUPA merupakan produk komunis. Realitas pembatasan berlakunya UU adalah fenomena yang tidak wajar di negara hukum. Sejak saat itu UUPA yang dirumuskan dengan semangat nasionalisme dan sosialisme serta berbasis hukum adat itu praktis dibekukan dengan alasan yang mengada. Bagaimana mungkin Undang-undang Pokok Agraria dibatasi wilayah berlakunya di negeri ini? Apa dasar hukum atas semua hal ini? Pertanyaan dan jawaban demikian seringkali terangkat dalam penanganan berbagai kasus atas tanah-tanah adat yang berada dalam wilayah yang diakui oleh Departemen Kehutanan sebagai kawasan hutan negara. yaitu: (1) bahwa UU Kehutanan adalah UU yang lebih khusus daripada UUPA sehingga berlaku asas lex specialis derogat lex generalis (aturan hukum khusus mengesampingkan aturan umum). (2) bahwa relasi UUPA UU Kehutanan memang betul merupakan UU yang lebih khusus tetapi UU ini tidak mengatur lebih jelas hal-hal yang berkaitan dengan status hak-hak atas tanah di dan UU Kehutanan yang berkembang sekarang merupakan kelanjutan dari pola relasi [8] . Cukup banyak sarjana hukum di negeri ini yang tidak mengetahui dalam prakteknya UUPA tidak berlaku di kawasan hutan (wilayahnya ± 120 juta hektar ha atau 61% dari luas seluruh daratan Indonesia).siapa sebenarnya yang menjadi administrator pertanahan di Indonesia. Alasan yang disampaikan pemerintahan Soeharto menanggapi masalah ini. Sejumlah pakar hukum agraria menyatakan bahwa pembatasan berlakunya UUPA di kawasan hutan terjadi sejak pemerintah Orde Baru berkuasa atau tepatnya sejak ditetapkannya UU No. apalagi dengan alasan yang tidak jelas. sebuah UU yang merupakan bagian dari paket hukum ekonomi liberal Indonesia bersama UU Penanaman Modal Asing. 5 tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan. UU Pertambangan dan UU Penanaman Modal Dalam Negeri. Badan Pertanahan Nasional-kah atau Departemen-Departemen yang memiliki undangundang pokok tersebut? Begitu pula orang mempertanyakan status UU Pokok Agraris 1960.

28-561 jo. termasuk melanggar peraturan perundangan yang sah yang masih berlaku seperti UUPA.IX tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam secara eksplisit menyebutkan bahwa peraturan perundang undangan yang saling bertentangan dan berhubungan dengan tanah dan penguasaan sumber daya lainnya oleh department/instansi sektor haruslah dihentikan. Ironisnya kebijakan tersebut masih berlanjut sampai sekarang. termasuk hutan negara. termasuk di dalamnya hak-hak agraria suku-suku asli. karena pertentangan ini menciptakan kemiskinan dan penurunan sumber daya alam. 134-163. terutama hutan dengan segala isinya di era Soeharto merupakan kebijakan primadona karena dianggap sebagai salah satu penyumbang devisa negara. yang menyatakan bahwa semua tanah yang tidak dapat dibuktikan kepemilikannya sebagai eigendom (milik) seseorang merupakan tanah negara yang secara acontrario dapat ditafsirkan bahwa semua tanah yang dapat dibuktikan kepemilikannya tidak dapat ditetapkan sebagai tanah negara. dicabut atau [9] .Agrarische Wet 1870 dan Boschordonantie 1927 Stb. 27-221 jo.3 Bidang kehutanan yang awalnya berupa satu direktorat jenderal di bawah naungan Departemen Pertanian berkembang pesat menjadi Departemen Kehutanan yang sangat kuat dan berkuasa. 31168 jo. TAP MPR No. Pemerintah Orde Baru secara sengaja membiarkan tumbuh dan berkembangnya sektor kehutanan meskipun harus melanggar hak-hak masyarakat yang tanah-tanahnya ditetapkan secara sepihak sebagai kawasan hutan negara. Pembatasan berlakunya UUPA yang telah berlangsung selama hampir empat dekade dapat dikategorikan sebagai tindakan sewenang-wenang dari pemerintah. Diperlukan adanya koreksi atas sesat hukum yang telah terjadi selama ini dan pembenahan sistem hokum demi terwujudnya kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat secara luas. dan (3) realitas politik Orde Baru yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi diatas kepentingan lainnya. Kondisi demikian tidak memungkinkan dapat dicapainya tujuan kepastian hukum bagi rakyat atau suku-suku asli yang pada kenyataannya semakin jauh dari jangkauan mereka. Peraturan perundang-undangan ini harus direvisi. penguasaan tanah. Apapun alasannya.

penggantian terhadap kerugian dan hak-haknya yang dirampas oleh prosesmasa lalu. Pada saat yang sama konflik harus diselesaikan melalui proses yang adil. bukan hanya pembuktian hokum formal dari tanah yang dikonflikkan. Selain itu. memungkinkan rakyat mendapatkan keadilan melalui pemulihan. Dibutuhkan lembaga khsusu penyelesaian konflik agraria. [10] . menguatkan posisi rakyat dalam hal pemilikan tanah. dan 4 memungkinkan satu terobosan hukum yang menjadi pintu masuk mendekontruksi atas sistem hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan rakyat.diubah menggunakan pendekatan holistik. Karena pada dasarnya yang disebut dengan penyelesaian konflik agraria. Melainkan pemenuhan rasa keadilan pada korban konflik agraria. Selama ini pihak rakyatlah yang selalu jadi korban konflik agraria. Kenapa pemenuhan rasa keadilan ini yang didahulukan ? karena proses penggusuran tanah-tanah rakyat yang diikuti tindakan kekerasan bukanlah insiden. memahami karakter konflik agraria di Indonesia. melainkan sebagai akibat dari kebijakan yang dilahirkan di masa lalu. maka prosesproses hukum yang selama ini digunakan untuk menyelesaikan konflik tidak memadai untuk menyelesaikannya. Berbagai hal strategis yang bisa dicapai dari lembaga penyelesaian konflik agraria ini adalah: 1 2 3 memungkinkan rakyat mengadukan tanahnya yang dirampas.

dengan demikian hak atas tanah tidak dengan sendirinya meliputi kepemilikan bangunan yang ada di atasnya. Jika bangunan dan atau tanaman tidak disebutkan dalam obyek jual beli secara jelas dan tegas maka secara hukum bangunan dan atau tanaman tersebut tidak turut diperjual belikan. penjual menyerahkan tanah tersebut kepada pembeli dan penjual menerima pembayaran harganya dari pembeli dan pembeli menyerahkan selemba kwitansi sebagai bukti telah dilakukan pembayaran untuk selanjutnya pembuatan jual beli tersebut dianggap telah selesai. jika jual beli tersebut dilakukan oleh pihak lain dengan surat kuasa dari penjual yang sah dengan itikad tidak baik maka dapat menyebabkan perbuatan hukum tersebut batal demi hukum. Kebisaaan yang dilakukan masyarakat dalam jual beli tanah merupakan perbuatan hukum pemindahan hak atas tanah dengan membayar sejumlah harga pada saat bersamaan dilakukan secara tunai dan terang. [11] . Pengertian jual beli dalam pengertian sehari-hari diartikan sebagai suatu perbuatan dimana seseorang menyerahkan uang untuk mendapatkan barang yang dikehendaki secara sukarela.BAB III PANDANGAN MASYARAKAT TENTANG JUAL BELI TANAH YANG BELUM BERSERTIPIKAT Jual beli hak atas atas tanah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Jika hal ini tidak diperhatikan secara teliti dan seksama maka dapat menjadi konflik bagi masyarakat yang melaksanakan jual beli tersebut. Dalam transaksi jual beli tanah sering kali bangunan dan atau tanaman di atas tanah bersangkutan turut menjadi obyek jual beli. apakah bangunan dan atau tanaman tersebut juga merupakan obyek jual beli atau tidak. hal ini harus dipertegas sebelum transaksi yang dilakukan. keadaan yang demikian ini karena dalam hukum pertanahan di Indonesia berlaku hukum adat yang menganut asas pemisahan horizontal yaitu bangunan dan atau tanaman bukan merupakan bagian dari tanah. bahkan bagi golongan tertentu jual beli ini sering dilakukan. Tunai artinya ketika jual beli dilakukan. Penjual merupakan pemilik tanah yang sah atas tanah tersebut.

dimana pembeli menyerahkan sejumlah uang untuk pembayaran dan penjual menyerahkan kwitansi berikut alas hak atas tanah baik berupa SKT (Surat Keterangan Tanah) atau surat-surat lain yang menjadi dasar kepemilikan atas tanah tersebut kepada pihak pembeli untuk dikuasainya. [12] . hal ini dilakukan mereka antara lain adalah untuk menghindari biaya yang relatif besar dan prosedur yang berbelit-belit jika mereka harus melakukan transaksi jual beli atau pelepasan hak dihadapan pejabat yang berwenang akan tetapi ada juga masyarakat yang melakukan jual beli ini karena tidak mengetahui tentang prosedur jual beli atau pelepasan hak itu sendiri sehingga mereka menyamakan antara jual beli benda bergerak dengan benda tidak bergerak (tanah). Perbuatan hukum ini adalah jual beli yang dimaksudkan dalam hukum adat.Terang artinya telah diserahkan fisik benda yang dibeli tersebut dalam hal ini adalah tanah. Namun demikian ada juga sebagian masyarakat melakukan jual beli di bawah tangan yaitu dengan cara hanya menggunakan selembar kwitansi sebagai bukti peralihan haknya.

2 Kantor Untuk mendaftarkan tanah agar mendapatkan Sertipikat dari Pertanahan Medan. a. diperiksa dan diteliti secara seksama jika ada surat-surat yang tidak lengkap [13] .Seseorang yang melakukan jual beli tanah dengan cara sederhana hanya menggunakan kwitansi sebagai bukti pembayaran maupun sebagai bukti peralihannya adalah perbuatan hukum yang salah dan tidak mempunyai kekuatan hukum ketika kepentingan orang tersebut selaku pembeli terhadap pihak lain tidak terpenuhi. setelah hal ini ditandatanganai maka surat ini dilegalisasi oleh Camat setelah hal ini selesai kemudian dibuatlah Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Rugi yang baru yaitu antara pembeli tersebut dengan pihak ketiga (pembeli terakhir). misalnya sebagai berikut: 1 Pihak pembeli yang terakhir mau melakukan jual beli lagi dengan atau Peralihan Hak Atas Tanah yang tentunya surat-surat dengan memperlihatkan surat-surat ini maka adalah satu-satunya surat yang pihak lain kemudian mereka pergi ke Kantor Camat untuk membuat Surat Pelepasan Hak aslinya diperlihatkan kepada pegawai Kantor Kecamatan untuk diperiksa dan diteliti secara seksama diketahuilah bahwa kwitansi tersebut merupakan bukti bahwa jual beli telah tejadi maka hal ini tentunya menjadi hambatan bagi penjual dan pembeli untuk menindaklanjuti jual beli diantara mereka. jika penjual telah meninggal dunia maka ahli warislah yang harus menandatangani Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Rugi. b. Pada saat melakukan pendaftaran tanah pada Kantor Pertanahan maka semua surat tanah secara kronologis akan dilihat. Untuk mengatasi hal ini bisanya dilakukan penandatanganan ulang antara penjual dengan pembeli yaitu dengan menandatangani Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi. Jika penjual tidak dijumpai lagi karena telah pindah atau tidak diketahui keberadaannya maka Camat akan mengeluarkan Surat Keterangan Tanah setelah berkordinasi dengan pihak kelurahan serta pernyataan-pernyataan dari pihak-pihak yang berkepentingan.

maka harus dilengkapi. Jual beli dalam masyarakat awam intinya adalah bergantinya subyek kepemilikan yaitu antara pemilik lama dengan pemilik yang baru dengan adanya pembayaran sesuai dengan harga yang telah mereka sepakati tanpa memperhatikan prosedur jual beli. setelah permohonan diperiksa oleh pihak bank maka diketahui bahwa kwitansi [14] . Perlu ditegaskan jual beli yang dimaksudkan adalah sama dengan Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi yang dibuat dihadapan Notaris maupun Camat. setelah permohonan diperiksa oleh pihak bank maka diketahui bahwa kwitansi sebagai dasar kepemilikan calon debitur tidak dapat diproses sebagaimana mestinya. tentunya sipemohon segera kembali Kantor Lurah atau Camat untuk membuatkan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi atau dibuatkan Surat Keterangan Tanah mengenai tanah yang di perjual belikan tersebut. 5 Untuk memperoleh pinjaman uang di Bank. kwitansi tersebut sebagai surat pengalihan hak tidak diterima oleh Kantor Pertanahan untuk melakukan pendaftaran. hal ini dikarenakan tanah tersebut belum dimiliki dengan hak tertentu 4 Untuk mendaftarkan tanah agar mendapatkan Sertipikat. dalam prakteknya surat tanah tersebut dapat dijadikan jaminan saat meminjam uang. Pada saat melakukan pendaftaran tanah pada Kantor Pertanahan maka semua surat tanah secara kronologis akan dilihat. tentunya sipemohon segera kembali Kantor Lurah atau Camat untuk membuatkan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi atau dibuatkan Surat Keterangan Tanah mengenai tanah yang diperjualbelikan tersebut. aspek-aspek hukum maupun konsekuensinya di kemudian hari. 3 Untuk memperoleh pinjaman uang di Bank. dalam prakteknya surat tanah tersebut dapat dijadikan jaminan saat meminjam uang. maka calon debitur harus membuat Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi atau dibuatkan Surat Keterangan Tanah oleh Camat. kwitansi tersebut sebagai surat pengalihan hak tidak diterima oleh Kantor Pertanahan untuk melakukan pendaftaran. diperiksa dan diteliti secara seksama jika ada surat-surat yang tidak lengkap maka harus dilengkapi.

Untuk tanah yang belum bersertipikat atau tanah yang dikuasai oleh Negara maka seseorang hanya boleh menguasainya untuk diusahakan sehingga mendapat manfaat dari tanah tersebut. hibah. Peralihan hak atas tanah adalah perubahan status kepemilikan. Perlu ditegaskan jual beli yang dimaksudkan adalah sama dengan Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi yang dibuat dihadapan Notaris maupun Camat. maka calon debitur harus membuat Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi atau dibuatkan Surat Keterangan Tanah oleh Camat. tukar menukar. aspek-aspek hukum maupun konsekuensinya di kemudian hari. Jual beli dalam masyarakat awam intinya adalah bergantinya subyek kepemilikan yaitu antara pemilik lama dengan pemilik yang baru dengan adanya pembayaran sesuai dengan harga yang telah mereka sepakati tanpa memperhatikan prosedur jual beli. Apabila dilakukan jual beli terhadap tanah tersebut berarti terjadi peralihan hak dari penjual kepada pembeli yang diikuti dengan pembayaran sejumlah uang sebagai bentuk ganti kerugian atas peralihan hak atas tersebut. penguasaan. Hak-hak atas tanah yang belum bersertipikat dikuasai lebih mengacu kepada kepada hak seseorang yang telah memperoleh manfaat dari tanah yang langsung oleh negara. pemasukan ke dalam perseroan pemisahan dan pembagian atau karena warisan. hal ini dikarenakan tanah tersebut belum dimiliki dengan hak tertentu (sebagaimana yang dimaksudkan dalam Pasal 16 UUPA) dan status kepemilikan tanah tersebut merupakan tanah yang langsung dikuasai negara. Seseorang yang telah menjadi pemegang hak atas tanah yang belum bersertipikat tidak dapat memberikan haknya tersebut kepada orang lain dengan begitu saja karena hak itu merupakan kewenangannya namun yang dapat dilakukannya adalah mengalihkan atau melepaskan hak atas tanah yang dimilikinya dengan akta Pelepasan Hak tanah hak yang dimaksudkan adalah hak dalam arti menguasai dan [15] . tanah tersebut masih dalam kekuasaan negara dan seseorang dapat menggarapnya untuk diusahakan atau dikelola. peruntukan atas dasar jual beli.sebagai dasar kepemilikan calon debitur tidak dapat diproses sebagaimana mestinya. mengusahakan atau mengelola tanah tersebut.

Kantor Kecamatan ataupun ke Kantor Notaris guna menjamin kepastian hukum tentang peralihan atau pelepasan hak atas tanah tersebut. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka jelaslah bahwa begitu mudah dan gampangnya masyarakat untuk melaksanakan peralihan hak atas tanah tanpa mengetahui proses ataupun cara peralihan itu sehingga pada saat pendaftaran hak atas tanah tersebut pada Kantor Pertanahan maupun segala hal yang menyangkut tanah tersebut terhadap pihak lain pastilah terjadi kesulitan. Surat-surat yang dibuat Camat ataupun Lurah adalah [16] . Langsung dikuasai artinya tidak ada pihak lain selain negara yang berhak atas tanah tersebut. apalagi jika tidak sesuai prosedur karena dapat menimbulkan sengketa atau konflik di kemudian hari. Salah satu kunci yang cukup menentukan dalam perbuatan hukum di atas adalah yang berkenaan dengan ganti rugi dalam pelepasan hak atau penyerahan tanah itu adalah imbalan sebagai pengganti nilai tanah yang diserahkan oleh pemilik atau pemegang hak atas tanah.Dengan Ganti Rugi yang dibuat dihadapan Notaris ataupun Surat Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi yang dilegalisasi oleh Notaris ataupun Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi yang dibuat oleh Camat. Dengan melepaskan haknya itu. Berdasarkan ketentuan ini dapat kita ketahui bahwa ganti rugi merupakan suatu imbalan yang diterima oleh pemegang hak atas tanah yang telah dilepas atau diserahkan oleh pembeli. tanah yang terlibat menjadi tanah negara.56 Pelepasan hak atau penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah dengan tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar musyawarah. Untuk melaksanakan suatu perbuatan hukum peralihan atau pelepasan hak atas tanah maka harus dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang untuk melaksanakan peralihan atau pelepasan hak atas tanah tersebut yaitu ke Kantor Kelurahan. Kenyataan ini dapat kita lihat dengan adanya surat-surat tanah yang dibuat oleh Camat maupun Lurah. yaitu dikuasai langsung oleh negara. Bagi sebagian masyarakat yang telah mengetahui teknis dan tata cara peralihan hak atas tanah tentu tidak akan mau untuk melakukan transaksi jual beli tersebut dengan demikian mudahnya.

untuk menciptakan bukti tertulis dari tanah-tanah yang mereka kuasai. Camat. Pada umumnya Camat sering mengeluarkan “SK Camat” (Surat Keterangan Camat) yang dibuat dengan berbagai judul seperti Surat Pelepasan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi dan lain sebagainya. ke kantor Camat 5 orang. Dari penelitian dan data-data yang diperoleh. musnah ataupun karena tidak punya sama sekali Camat membuatkan “Surat Keterangan Tanah”. Lurah maupun Notaris adalah masing-masing menyebutkan dikarenakan biaya yang relatif lebih murah dan merasa lebih mudah serta telah kenal dengan Lurah. Surat-surat kepemilikan ini dapat didaftarkan pada Kantor Pertanahan untuk diterbitkan sertipikatnya. Biaya. sehingga tanah tersebut merupakan hak seseorang. Berdasarkan penelitian dan angket serta wawancara yang dilakukan dengan responden (10 orang) dapat diketahui bahwa: Masyarakat yang melakukan jual beli hak atas tanah yang belum bersertipikat pergi ke kantor Lurah 2 orang. sedangkan sisanya sebanyak 3 orang pergi ke kantor Notaris. Notaris ataupun setidak-tidaknya dengan pegawainya. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ketidakseragaman jual beli adalah: 1 2 3 4 Ketidaktahuan Kebiasaan. surat ini dibuat oleh Camat sebagai bukti hak ataupun bukti peralihan hak atas tanah sehubungan dengan adanya jual beli tanah. pada Kantor Camat Medan Johor judul surat pengalihan hak atas tanah yang belum bersertipikat adalah “Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi”. sedangkan terhadap tanah-tanah yang tidak mempunyai surat sama sekali karena hilang. tanah-tanah tersebut merupakan tanah-tanah yang belum dikonversi atau tanah-tanah yang dikuasai oleh negara yang diduduki oleh rakyat. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai ketidakseragaman bentuk perolehan haknya [17] . Alasan yang menyatakan kenapa mereka pergi ke kantor Camat.

Pengertian Jual Beli Perbuatan jual beli dalam pengertian sehari-hari diartikan sebagai suatu perbuatan dimana seseorang menyerahkan uang untuk mendapatkan barang yang dikehendaki dengan sukarela. dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya. peralihan atau pemindahan hak atas tanah yang menjadi obyek jual beli berarti pemindahan penguasaan [18] . air dan ruang angkasa ialah hukum adat. yang berdasarkan atas persatuan bangsa. Dengan demikian menurut hukum adat yang merupakan dasar dari hukum tanah nasional yang yang berlaku saat ini sebagaimana termuat dalam Undang-undang Pokok Agraria peralihan hak atas tanah terjadi sejak ditandatanganinya surat/akta dihadapan pejabat yang berwenang dan dibayarnya harga oleh pembeli kepada penjual.BAB III BENTUK –BENTUK SURAT PERALIHAN HAK ATAS TANAH SEBAGAI LANDASAN PENGALIHAN HAK ATAS TANAH YANG BELUM BERSERTIPIKAT A. segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama Pengertian jual beli tanah menurut hukum adat yaitu perbuatan hokum penyerahan tanah untuk selama-lamanyanya disebut dengan jual beli lepas dimana penjual menerima pembayaran sejumlah uang dari harga penjualannya. sepanjang tidak bertentangan dengan nasional dan negara. Undang-undang Pokok Agraria tidak mengatur secara khusus tentang jual beli namun dapat dipahami bahwa pengertian jual beli dalam hukum tanah nasional adalah jual beli tanah dalam pengertian hukum adat mengingat bahwa hukum agraria yang berlaku adalah hokum adat sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 5 Undang-undang Pokok Agraria yang menyebutkan bahwa: hukum agraria yang berlaku atas bumi. Berdasarkan perkembangan hukum kebendaan yang terjadi di Indonesia dapat dibedakan mengenai jual beli dan pengalihan haknya.

c. Segala tugas dan kewenangan yang dimiliki Camat sebagai perangkat daerah dan kepala wilayah kecamatan tertentu yang menerima pelimpahan sebahagian tugas dan kewenangan dari Bupati atau Walikota Hak Atas Tanah Yang Dibuat Oleh [19] . Secara umum suatu wilayah kecamatan mempunyai 4 (empat) pengertian. namun ada kalanya peralihan atau pemindahan hak tersebut baru secara yuridis saja karena secara fisik tanah masih dibawah penguasaan orang lain. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah telah ditegaskan bahwa kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten atau kota. B. Aparatur atau perangkat pemerintahan/administrasi. Bentuk-Bentuk Surat Perolehan Hak Atas Tanah 1. Camat dalam kedudukannya sebagai Kepala Pemerintahan adalah “Camat merupakan pemerintah kecamatan merangkap sebagai administrator kecamatan”. b. Unit organisasi pemerintahan territorial dekonsentral. Salah satu unsur pemerintah yang merupakan bagian dari Pemerintahan Kota yang berada dibawah kepemimpinan Walikota adalah Camat yang membawahi wilayah suatu kecamatan tertentu berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota atau Bupati (jika berada di bawah kepemimpinan Bupati). Wilayah pemerintahan dan administrasi umum. Pemerintah Pusat berkedudukan di ibukota negara sedangkan Pemerintah Daerah berada di daerah yang terdiri dari Pemerintah propinsi yang dipimpin Gubernur dan Pemerintah Kabupaten/Kota dipimpin oleh Bupati/Walikota. Wilayah jabatan (daerah administratif).secara yuridis dan fisik sekaligus. Surat-Surat Peralihan Camat/Lurah Pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsinya terdiri dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. misalnya karena hubungan sewa yang belum berakhir waktunya. yaitu: a. d.

Menyelenggarakan Undang-undang (menurut pasal-pasalnya)sesuai dengan peraturan-peraturan pelaksanaan yang ditetapka oleh pemerintah. Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi ini ditandatangani oleh Pihak Pertama (selaku Penjual) dan Pihak Kedua (selaku Pembeli) kemudian surat ini dilegalisasi oleh Camat dengan diberi nomor dan tanggal sesuai dengan daftar nomor urut dan tanggal yang ada dalam buku register di Kantor Camat. dalam masyarakat terdapat bermacammacam bentuk surat/akta jual beli yang ditemukan untuk peralihan atau pemindahan hak atas tanah tersebut.merupakan tugas-tugas dalam bidang hukum administrasi negara. b. policy) serta keputusan-keputusan pemerintah secara yata (implementasi). Tugastugas dan kegiatan-kegiatan sebagai administrasi negara. antara a. Berdasarkan penelitian dan data-data yang diperoleh pada Kecamatan Medan Johor. Berdasarkan kenyataannya. rangkap pertama untuk arsip di Kantor Camat. Melaksanakan dan menyelenggarakan kehendak-kehendak (strategi. [20] . Surat atau akta jual beli ataupun peralihan dan pemindahan hak ata tanah yang dibuat dihadapan pejabat yang berwenang adalah dengan maksud dan tujuan yang sama yaitu mengalihkan atau memindahkan hak dan kewajiban hak atas tanah dari penjual kepada pembeli. semua surat peralihan hak atas tanah baik peralihan berikut bangunan ataupun tanpa bangunan yang alas haknya belum bersertipikat dan masih merupakan tanah negara yang dialihkan atau diganti rugikan dibuatla suatu Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi (dibuat rangkap tiga). rangkap kedua untuk arsip di Kantor Lurah dan rangkap yang yang ketiga untuk pembeli). namun demikian tidak semua bentuk surat/akta itu dapat dipertanggungjawabkan secara hukum termasuk untuk pendaftaran haknya guna memperoleh sertipikat pada Kantor Pertanahan Medan.

Keterangan Situasi Tanah 3. Surat Pernyataan Ahli Waris (jika pemilik tanah yang terdaftar dalam Surat Keterangan Tanah telah meninggal dunia). Berita Acara Pengukuran Atas Tanah 7. Surat Kuasa (jika dikuasakan) 5. Surat Keterangan 4. Surat Pernyataan Pelepasan Pengusaan Tanah Dengan Ganti Rugi 2. f. Asli Surat Tanah b. Perbuatan hukum untuk menerbitkan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi atas tanah-tanah negara yang belum mempunyai sertipikat sebagaimana terjadi merupakan kewenangan dalam kedudukan Camat sebagai kepala wilayah kecamatan yang bertujuan untuk tertib administrasi di Kantor Camat. untuk membuat Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi adalah: [21] . Kartu Identitas Penjual (suami/istri) c. Syarat-syarat a. Kartu Identitas Pembeli d.Dalam satu set Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi yang dilegalisasi oleh Camat ini berisikan: 1. Camat dalam hal ini berperan sebagai pejabat pemerintah berdasarkan jabatannya dapat mengetahui tentang kepemilikan tanah dalam wilayah pemerintahannya maka Camat dapat menjadi saksi atas dasar jabatannya untuk menguatkan kebenaran isi surat tersebut apabila dikemudian hari terjadi perselisihan sampai ke Pengadilan karena dalam surat itu sendiri Camat mengetahui tentang keberadaan tanah yang diperjual belikan tersebut. Pas photo ukuran 3x4 sebanyak 2 (dua) lembar. Surat Jaminan 8. SPPT PBB tahun berjalan e. Surat Pernyataan Ahli Waris (jika pemilik tanah telah meninggal dunia). Surat Pernyataan/Pengakuan Pemilikan Tanah 6.

Surat Keterangan dan Surat Jaminan serta Surat Pernyataan Ahli Waris (jika [22] . Keterangan Situasi Tanah.1. Surat tanah tidak ada (sama sekali belum pernah ada) b. Jual beli atau peralihan hak atas tanah yang belum bersertipikat tidak pernah dibuat oleh Lurah yang bersangkutan namun Kantor Lurah hanya meneruskan keinginan dari masyarakat yang datang ke kantor tersebut untuk membuat jual beli atau peralihan hak tersebut ke Kantor Camat. Berita Acara Pengukuran Tanah. Surat tanah hilang. Biaya d.Keadaan yang demikian ini bagi masyarakat menambahkan keyakinan bahwa dengan diketahui oleh Camat maka jual beli yang mereka lakukan lebih sah lagi dalam arti bahwa Camat telah mengetahui bahwa kepemilikan tanah di wilayah kerjanya telah berganti antara penjual sebagai pemilik lama dengan pembeli sebagai pemilik yang baru. sedangkan yang dibuat berkaitan dengan jual beli atau pengalihan hak tersebut di Kantor Lurah adalah Surat Pernyataan/ Pengakuan Pemilik Tanah.000 dan dapat disiapkan satu hari sampai tujuh hari setelah penandatanganan surat tersebut. sehingga dapat dipastikan peranan Camat dalam pendaftaran hak tidak ada. Dalam satu tahun di Kecamatan ini terdapat lebih kurang 200-250 transaksi peralihan hak atas tanah yang dibuat dengan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi dengan biaya pembuatan surat tersebut berkisar antara Rp. Begitu banyaknya transaksi peralihan hak atas tanah yang berlangsung pada Kecamatan ini tidak ada sekalipun pembeli meminta kepada Camat untuk melanjutkan peralihan tersebut segera didaftarkan pada Kantor Pertanahan Medan untuk memperoleh Sertipikat. antara lain: a.000. c. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Kantor Camat Medan Johor untuk menerbitkan atau membuat Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi.000 sampai dengan Rp.1.500. Tanah tersebut dalam sengketa.

1.000 dan surat peralihan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari sampai 7 hari setelah penandatanganan surat tersebut.1. Biaya. kemudian surat tersebut dikirim ke Kantor Kecamatan Medan Johor.pemilik telah meninggal dunia) yang disaksikan dan dibenarkan oleh Lurah.000. Batas-batas dengan jiran tetangga yang tidak jelas sehingga dapat menimbulkan sengketa. Akta Peralihan Hak Atas Tanah yang dibuat Notaris Akta yang dibuat Notaris memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang membuatnya. 2.500. b. karena Undang-undang yang memberikan wewenang kepada Notaris untuk membuat suatu akta otentik yang fungsinya sebagai alat bukti di Pengadilan jika dikemudian hari terjadi sengketa diantara para pihak yang membuat akta itu. Tidak sesuai surat sebagai alas hak atas tanah dengan ukuran tanah di lapangan. c. bahkan terkadang jika para pihak ingin cepat menyelesaikan jual beli atau peralihan hak atas tanah yang belum bersertipikat itu blanko Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi itu ditandatangani di Kantor Kelurahan yang memang telah dipersiapkan dan diambil dari Kantor Camat Medan Johor. [23] .000 sampai dengan Rp. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Kantor Lurah Gedung Johor dalam menerbitkan surat-surat yang berkaitan dengan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi yang dibuat oleh Camat adalah: a. Berdasarkan penelitian dan data yang diperoleh dalam 1 (satu) tahun di Kelurahan ini terdapat 80-110 kasus yang datang ke Kantor Lurah untuk dibuatkan transaksi peralihan hak atas tanah yang dibuat dengan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi dengan biaya pembuatan surat tersebut sama dengan yang diterapkan di Kantor Camat berkisar antara Rp.

Dari perumusan ini dapat diketahui bahwa ada 2 (dua) jenis akta otentik.pihak dalam akta bersangkutan. yangtermasuk jenis akta ini antara lain akta berita berita acara rapat pemegang saham perseroan terbatas. Akta adalah tulisan yang ditandatangani oleh para pihak yang berkepentingan yang bertujuan menjadi alat bukti. yaitu: a.Akta yang dibuat oleh Notaris atau dibuat dihadapan Notaris merupakan suatu alat bukti. akta berita acara penarikan undian. akta berita acara rapat direksi perseroan terbatas. Akta seperti ini bisaanya diberi nama “akta relaas” atau “Acara”. akta pendaftaran atau inventaris harta peninggalan. Akta yang diperbuat oleh (door een) Notaris. Isi akta ini ialah catatan Notaris yang bersifat otentik mengenai keterangan. sedang akta dibawah tangan adalah semua akta yang bukan akta otentik. Akta ini dinamakan akta pihak-pihak (partij-akte).keterangan dari pada penghadap yang bertindak sebagai pihak. akta persetujuan kredit dan [24] . Pengertian akta otentik menurut Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata adalah suatu akta yang dalam bentuk ditentukan oleh Undang-undang dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya. atau apa yang disaksikannya terhadap perbuatan yang dilakukan orang lain. b. Ditinjau dari cara pembuatannya akta dibedakan atas 2 (dua) bagian yakni akta otentik dan akta di bawah tangan. sewa menyewa perjanjian pinjam pakai. Golongan akta ini termasuk akta jual beli. Akta yang dibuat dihadapan (ten overstaan van een) Notaris. Akta ini merupakan keterangan atau kesaksian dari Notaris tentang apa yang dilihat. sehingga dalam membuat suatu akta seorang Notaris harus memperhatikan norma-norma selain kode etik dan ketentuan perundang-undangan lainnya. Akta otentik adalah akta yang dibuat dalam bentuk yang diisyaratkan dan dibuat oleh pejabatpejabat (ambtenaren)yang berwenang yang menurut atau berdasar pada Undang-undang dibebani untuk menyatakan apa yang telah disaksikan(waarneming) atau dilakukannya.

kecuali untuk akta yang dicetak dalam bentuk formulir berdasarkan peraturan perundang-undangan. menyebutkan sebagai berikut: (1) (2) Akta dibuat dalam bahasa Indonesia. bulan dan tahun dinyatakan dengan huruf dan harus didahului dengan angka. Pasal 1 ayat (7 Undang-undang Jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2007 (UUJN) menyebutkan bahwa akta Notaris adalah akta otentik yang dibuat atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-undang. penyebutan tanggal. 4) kuasa. Ruang dan sela kosong digaris dengan jelas sebelum akta ditandatangani. Dalam hal penghadap tidak mengerti bahasa yang Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi surat kuasa yang belum menyebutkan nama penerima Akta Notaris dituliskan dengan jelas dalam hubungan satu lain yang tidak terputus-putus dan tidak menggunakan digunakan dalam akta Notaris wajib menterjemahkan atau menjelaskan isi akta itu dalam bahasa yang dimengerti oleh penghadap. akta tersebut diterjemahkan atau dijelaskan oleh seorang penterjemah resmi. Mengenai bentuk-bentuk Akta dalam Undang-undang Jabatan Notaris diatur dalam pasal. antara lain yaitu: Pasal 42. 3) Semua bilangan untuk menentukan banyaknya atau jumlahnya sesuatu yang disebut dalam akta.sebagainya. Pasal 43. (5) Dalam hal akta dibuat sebagaimana yang dimaksud dalam [25] . (3) Apabila Notaris tidak dapat menterjemah atau menjelaskannya. (4) Akta dapat dibuat dalam bahasa lain yang dipahami oleh Notaris dan saksi apabila pihak yang berkepentingan menghendaki sepanjang Undang-undang tidak menentukan lain. menyebutkan sebagai berikut: 1) sama 2) singkatan.

menyebutkan sebagai berikut: 1) Segera setelah akta dibacakan. Dalam kenyataannya perjanjian peralihan hak atas tanah seperti yang disebutkan di atas dapat dilaksanakan dihadapan Notaris.ayat (4). Meminjamkan uang dengan hak atas tanah sebagai tanggungan. 2) 3) Alasan sebagaimana disebutkan pada ayat (1) dinyatakan Alasan sebagaiman yang dimaksud dalam Pasal 43 ayat (3) secara tegas dalam akta. sebenarnya kewenangan khusus dari PPAT karena untuk membuat akta otentik dalam perjanjian peralihan hak atas tanah dimaksudkan adalah: a. Menggadaikan tanah. penterjemahan atau penjelasan dan penandatanganan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (3) dan Pasal 43 ayat (2). saksi dan Notaris.tanah yang besertipikat jual beli atau pengalihan hak atas tanah berikut segala sesuatu yang berada di atas tanah tersebut harus dilaksanakan dihadapan PPAT tetapi ada kalanya kewajiban PPAT ini atas permintaan para pihak/penghadap dibuat dengan akta Notaris. [26] . Untuk akta-akta tanah. Terhadap tanah. Notaris dan penterjemah resmi. Akta Peralihan Hak Atas Tanah yang dibuat Notaris Mengalihkan hak atas tanah haruslah dilakukan dihadapan Notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). b. saksi. ayat (3) dan ayat (5) dinyatakan secara tegas pada akhir akta. 3. ditandatangani oleh penghadap. 4) Pembacaan. akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap. kecuali ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tandatangan dalam akta dengan menyebutkan alasannya. Memindahkan hak atas tanah. c. Memberikan sesuatu hak baru atas tanah. Notaris wajib menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. d. Pasal 44.

pembeli hanya membeli sebagian g.Bentuk akta dalam peralihan hak yang dibuat oleh PPAT adalah akta yang berbentuk baku yaitu yang mempergunakan formulir baku yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sertipikat (atas tanah dimaksud) berada di luar wilayah kerja Pejabat Pembuat Akta Tanah tersebut. Sertipikat masih terdaftar atas nama pewaris e. [27] . Sertipikat belum cek bersih di Kantor Pertanahan b. sertipikat tersebut harus ditanggalkan hak miliknya h. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB) belum dibayar oleh pembeli d. maka Notaris haruslah membuat akta Perikatan Jual Beli dengan akta Notaris. Pembeli orang asing. Sedangkan dalam bentuk akta Notaris diatur berdasarkan UUJN. Sertipikat induk belum dipecah. Pembeli adalah Perseroan Terbatas sehingga sertipikat tersebut harus diturunkan hak miliknya menjadi Hak Guna Bangunan i. antara lain: a. Sertipikat masih ada Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) belum di Roya f. Dalam perbuatan hukum jual beli/peralihan hak atas tanah yang bersertipikat haruslah dibuat dengan akta jual beli yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah tetapi jika ada syarat ataupun sebab lain sehingga peralihan/pemindahan hak atas tanah tersebut kurang memenuhi persyaratan pembuatan akta oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah sedangkan perbuatan hukum jual beli tanah dan atau berikut bangunan tetap dilakukan oleh penjual dan pembeli. sehingga setiap deeds of conveyance (setiap peralihan hak ataupun pengikatan sebagai jaminan dengan hak tanggungan) haruslah menggunakan formulir baku tersebut. Seorang Pejabat Pembuat Akta Tanah dapat menolak untuk membuat akta jual beli atas tanah yang bersertipikat Hak Milik dengan alasan. Pajak Penghasilan (PPh) belum dibayar oleh penjual c.

Berkaitan dengan hal tersebut Pasal 16 ayat (1) UUJN menyebutkan bahwa Notaris berkewajiban untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang terutama membuat akta-akta yang diperlukan oleh yang berkepentingan. d. Notaris dibenarkan untuk menolaknya apabila ada alasan-alasan yang kuat. dengan memakai Surat Kuasa Menjual. c. Jadi walaupun sudah dimiliki haknya oleh seseorang maupun tidak. Berdasarkan Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN yang mengatur wewenang Notaris untuk membuat akta yang berkaitan dengan tanah. perjanjianperjanjian dan keputusan-keputusan. b. hal ini mengandung pengertian bahwa Notaris mempunyai kewenangan khusus untuk membuat akta-akta otentik tentang semua tindakan-tindakan. bahwa Notaris adalah Pejabat umum satu-satunya yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini. air.j. antara lain adalah: a. Berdasarkan Pasal 1 UUJN Menurut pasal ini. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). kekuasaan Negara mengenai hak yang sudah dipunyai dengan suatu hak dibatasi oleh isi dari hak tersebut artinya sampai seberapa jauh [28] . Akta otentik ini harus dibuat berdasarkan apa yang dikehendadki oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan oleh Undang-undang harus dinyatakan dalam suatu akta. Kewenangan seorang Notaris dapat melakukan pembuatan akta peralihan hak atas tanah yang belum bersertipikat. Kekuasaan negara yang dimaksudkan adalah mengenai semua bumi. ruang angkasa. lebih tepat jika Negara sebagai organisasi kekuasaan dari rakyat bertindak selaku badan penguasa. Sesuai dengan ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 bahwa bangsa Indonesia bukanlah tempatnya bertindak sebagai pemilik tanah. Pembeli tidak menginginkan Sertipikat atas namanya karena ingin menjual kembali dengan kapling-kapling. e.

Menurut ketentuan pasal ini yang disebut dengan jual beli adalah suatu perjanjian dalam mana pihak yang mempunyai tanah disebut penjual menyerahkan tanah kepada pihak lain yang disebut pembeli. minuta asli akta itu tetap disimpan oleh [29] . Dengan selesainya dilakukan pendaftaran tersebut. Negara dapat memberikan tanah yang sedemikian itu kepada seseorang ataupun badan hukum dengan sesuatu hak menurut peruntukan dan keperluannya. Menurut Pasal 616 dan 620 KUH Perdata penyerahan harus dilakukan dengan membuat akta dan wajib didaftarkan pada pejabat yang disebut penyimpan hipotik. Menurut Pasal 16 UUJN.Negara memberikan kekuatan kepada yang memilikinya untuk menggunakan haknya. biasanya jual beli dilakukan dihadapan Notaris. melainkan ketentuan perdata. Kekuasaan Negara atas tanah yang tidak dipunya dengan sesuatu hak oleh seseorang atau pihak lainnya adalah lebih luas dan penuh. Tidak ada bedanya dengan jual beli benda-benda bukan tanah. ada yang diatur dalam KUH Perdata yang tertulis dan ada yang diatur hokum adat yang tidak tertulis. Berdasarkan Pasal 1457 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Berpedoman pada tujuan yang disebutkan. Sebelum berlakunya UUPA dikenal lembaga hukum jual beli tanah. hak atas tanah yang bersangkutan berpindah kepada pembeli. sampai disitulah kekuasaan Negara. Dengan dilakukannya jual beli tersebut belum terjadi perubahan apapun atas hak atas tanah yang bersangkutan. tegasnya hukum perjanjian Barat. f. Dengan demikian mengacu kepada pasal ini kekuatan pembuktian dari akta Notaris terletak dalam minuta aktanya. Oleh karena itu ketentuan hukum mengenai jual beli tanah tersebut bukan merupakan hukum tanah. Pasal 1888 Kitab Undangundang Hukum Perdata menyebutkan bahwa kekuatan pembuktian suatu bukti tulisan adalah pada aktanya asli. Hak atas tanah baru berpindah kepada pembeli jika penjual telah menyerahkan secara yuridis kepadanya dalam rangka memenuhi kewajiban hukumnya (Pasal 1459 KUH Perdata).

dengan kata lain Notaris tidak pergi ketempat dimana letak tanah itu berada ataupun untuk melihat batas-batas tanah sebagaimana yang dimaksudkan dalam surat-surat tersebut. Sebelum membuat akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi seorang Notaris haruslah memeriksa keabsahan dan kelengkapan alas hak maupun surat-surat yang berhubungan dengan pembuktian kepemilikan tanah tersebut sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai syarat untuk membuat suatu akta. Mengenai kebenaran isi dari surat-surat yang diperiksa Notaris tidak dapat mengujinya secara materil dengan eksistensi keberadaan tanah yang bersangkutan. Jika Pemilik tanah yang baru hendak mendaftarkan haknya dikemudian hari maka akta ini dapat diterima Kantor Pertanahan sebagai alas hak yang sah atas tanah yang belum bersertipikat tersebut. [30] . Mengenai akta Pelepasan Hak Atas Tanah yang dibuat dengan akta Notaris mempunyai akibat hukum yang sah terhadap akta yang telah dibuatnya.Notaris dan tidak akan diberikan kepada siapapun kecuali Undang-undang menyatakan lain.

Mengenai berlakunya Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa dapat dijelaskan bahwa pengeluaran atau penerbitan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa atas tanah tidak ada dasar hukumnya. Melindungi Notaris dalam menjalankan tugasnya menjaga kebenaran akan bukti-bukti yang diperlukan dalam perjanjian peralihan hak atas tanah tersebut. Untuk menunjukkan itikad baik bahwa benar objek hak atas tanah yang hendak dijual tidak dalam keadaan sengketa. surat tersebut bersifat keterangan mengenai keadaan fisik tanah di lapangan yang diketahui oleh Lurah maupun Camat. Kegunaan dari Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa antara lain: a. surat ini isinya menerangkan bahwa di atas tanah yang akan dijual tersebut tidak bersengketa dengan pihak manapun juga. b.Notaris cukup melihat bukti-bukti yang diberikan kepadanya berdasarkan surat-surat tersebut Untuk menghindari bahwa atas tanah yang belum bersertipikat tersebut memang benar kepunyaan penjual dan tidak dalam keadaan sengketa maka sebelum akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi dibuat untuk ditandatangani para pihak maka Notaris selalu meminta dibuatkan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa (biasa juga disebut SS) yang diterbitkan oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat bersangkutan dimana tanah itu berada. Itikad baik dari pembeli terhadap penjual bahwa pembeli percaya atau membenarkan Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa tersebut diterbitkan oleh Lurah dan diketahui oleh Camat merupakan suatu kebenaran terhadap keadaan tanah yang hendak dijual. Hal ini merupakan salah satu perbedaan dalam hal pelaksanaan pembuatan akta Peralihan Hak Atas Tanah yang dibuat di Kantor Notaris dengan Surat Pernyataan Pelepasan Penguasaan Tanah Dengan Ganti Rugi yang dibuat oleh Camat. namun demikian surat ini juga sering menjadi bukti kepemilikan tambahan oleh pemilik tanah. Pada saat para pihak datang menghadap kepada Notaris hendaklah memenuhi syarat-syarat yang diperlukan antara lain: [31] . c.

Pada umumnya masyarakat (pembeli) yang membuat akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi di kantor Notaris tidak melanjutkan untuk melakukan pendaftaran hak (membuat sertipikat). sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 15 ayat (2) a Undang-undang Jabatan Notaris.a. Asli Tanda bukti hak atas tanah (alas hak atas tanah) d. SH. jika tidak ada Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa maka tidak akan dibuat akta tersebut tetapi cukup dilegalisasi tanda tangan saja. termasuk Surat Peralihan Hak Atas Tanah yang yang dilegalisasi tanda tangan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Daftar Akta yang diperbuat pada kantor Notaris Roosmidar. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB) Tahun berjalan. Berdasarkan data yang diperoleh sehubungan dengan peralihan hak atas tanah dapat diketahui ada satu perbuatan hukum peralihan hak atas tanah yang belum bersertipikat yang dilakukan seseorang (pembeli) dengan cara membeli sebidang tanah dengan atau tanpa bangunan namun [32] . kecuali hanya bagi mereka yang mempunyai kepentingan tertentu diantaranya untuk meminjam uang pada bank untuk dijadikan agunan yang melanjutkan pendaftaran haknya setelah melakukan pelepasan hak tersebut dengan bantuan Notaris. judul akta yang digunakan adalah Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi. Surat Kuasa (bagi mereka yang dikuasakan penjual dengan akta Notaris ataupun yang dilegalisasi dan bagi pembeli diperbolehkan dengan kuasa lisan) c. Tanda Pengenal (KTP) suami/isteri atau identitas para pihak b. Syarat-syarat ini kemudian diserahkan kepada Notaris untuk selanjutnya diteliti guna pembuatan akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi. SpN jumlah akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi 1 selama (satu) tahun jumlahnya mencapai 40 sampai dengan 50 akta. Selain dari syarat-syarat yang disebutkan di atas Surat Keterangan Tidak Silang Sengketa juga diperlukan dan merupakan suatu kewajiban bagi pembuatan akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi.

[33] .demikian pada saat mendaftarkan haknya tetap atas nama pemilik tanah yang lama (penjual) pada Kantor Pertanahan Kota Medan. walaupun segala hak dan kewajiban atas peralihan hak atas tanah tersebut telah dipenuhi kedua belah pihak yang artinya sejak akta Pelepasan Hak Dengan Ganti tersebut ditandatangani kedua belah pihak maka segala keuntungan dan kerugian yang diperoleh akibat peralihan hak tersebut menjadi tanggung jawab pembeli.

Namun demikian ia tetap mendaftarkan tanah tersebut atas nama pihak pertama sehingga sertipikat yang dimohonkan pendaftarannya tersebut terbit atas nama penjual. Isi dari Surat Kuasa ini memuat antara lain. jumlah Akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi 1 (satu) tahun sebanyak lebih kurang 20 sampai dengan 30 akta. jumlah Akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi 1 (satu) tahun sebanyak 5 sampai dengan 10 akta dan tidak ada Surat Peralihan Hak Atas Tanah dibawah tangan yang dilegalisasi oleh Notaris. termasuk Surat Peralihan Hak Atas Tanah di bawah tangan yang dilegalisasi oleh Notaris. untuk menjual kepada pihak-pihak lain. Judul akta yang digunakan adalah Penglepasan Hak Dengan Ganti Rugi Serta Pemberian Kuasa. jika obyek yang diperjual belikan tersebut sebidang tanah kosong.. tetapi jika terdapat bangunan diatasnya maka judul aktanya adalah Jual Beli Dan Pelepasan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi. Judul akta yang digunakan adalah Pelepasan Hak Atas Tanah Dengan Ganti Rugi. [34] . Berdasarkan data yang diperoleh dari Daftar Akta yang diperbuat pada kantor Notaris Darwin Zainuddin. Berdasarkan data yang diperoleh dari Daftar Akta yang diperbuat pada kantor Notaris Erna Waty Lubis. Segala hak dan kewenangan pembeli terhadap tanah tersebut setelah sertipikat itu diterbitkan adalah berdasarkan Surat Kuasa yang penandatanganannya dibuat bersamaan dengan akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi. menandatangani akta jual beli dan menerima uang hasil penjualan. SpN. untuk memohonkan sertipikat. menerima sertipikat setelah selesai diproses. SpN. hal ini bisaanya dilakukan oleh seseorang yang mempunyai usaha properti atau jual beli rumah. melakukan pemecahan sertipikat pada Kantor Pertanahan. SH.

Pelaksananaan Pendaftaran Tanah Pendaftaran tanah diselenggarakan oleh Jawatan Pendaftaran Tanah menurut ketentuan Peraturan Pemerintah. tentang kepastian hukum ini diatur oleh Pasal 3 PeraturanPemerintah Nomor 24 Tahun 1997 (PP 24/1997) dan Peraturan Pelaksanaannya. Ketentuan ini merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan pendaftaran tanah. demi untuk mengamankan hak-hak seseorang atas tanahdan demi terwujudnya penatagunaan tanah serta administrasi pertanahan yang akuratdan [35] . hal ini merupakan jaminana adanya kepastianhukum bagi pemegang hak. Setelah keluarnya Keputusan Presiden Nomor Tahun 1988 dengan dibentuknya Badan Pertanahan Nasional (BPN) maka yang berhubungan dengan hak-hak atas tanah merupakan wewenang Badan Pertanahan Nasional tersebut. Kegiatan pendaftaran adalah kewajiban yang harus dilaksanakan pemerintah untuk menyelenggarakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia. sebagai mana diketahui bahwa semula Jawatan Pendaftaran tanah adalah bernaung dibawah Departemen Kehakiman. Dalam ketentuan tersebut dijelaskan bahwa apabila seseorang hendak mendapatkansertipikat hak atas tanah harus melalui tahap-tahap tertentu dan harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan.BAB IV PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH YANG BELUM BERSERTIFIKAT DAN KENDALA-KENDALA YANG UMUMNYA DIHADAPI MASYARAKAT DALAM PENDAFTARAN TANAH PADA KANTOR PERTANAHAN A.Pendaftaran tanah pada masa mendatang merupakan aksi yang penting dalampengadministrasian tanah. dengan dibentuknya departemen agrarian maka jawatan pendataan tanah digabungkan kepada departemen agrarian yang merupakan instasi sendiri. untuk daerah tingkat 1 (Kanwil BPN) dan untuk daerah tingkat dua II adalah kantor pertahanan kabupaten/Kotamadya.

Pembuktian hak dan pembukuannya. Dengan kata lain. baik mengenai tanahnya (pemisahan dan penggabungan serta hapusnya dan pembebanannya). 5. pendaftaran baru karena adanya perubahan yang terjadi dikemudian hari. Pengumpulan dan pengolahan data fisik. Pasal 65 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 mengenai Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.terjamin. Kegiatan pendaftaran yang diatur dalam Pasal 11 PP Nomor 24 Tahun 1997. Penyajian data fisik dan data yuridis. Pemeliharaan data pendaftaran tanah yang merupakan kegiatan pendaftaran data pendaftaran tanah untuk menyesuaikan data fisik dan data yuridis. Penerbitan sertipikat. 4. sudah barang tentu negara akan melaksanakan tugas tersebutuntukkepentingan warganya dan kepentingan negara itu sendiri. 2.Pendaftaran Tanah untuk pertama kali. yaitu pendaftaran yang dilekatkanterhadap obyek pendaftaran tanah (tanah negara dan bukti hak lama) yang belum didaftar berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 1997. Penyimpanan daftar umum dan dokumen.Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali sebagaimana yang imaksudkan dalam Pasal 12 ayat (1 )PP Nomor 24 Tahun 1997 meliputi: 1. Penegasan Hak Hak atas bidang tanah yang alat bukti tertulisnya lengkap sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 60 ayat (2) dan alat bukti tertulisnya tidak lengkap tetapi ada keterangan saksi maupun pernyataan yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (3) oleh Ketua Panitia Ajudikasi ditegaskan konversinya menjadi Hak Milik atas [36] . hak maupun subyek haknya karena tujuan pendaftaran tanah untuk menjamin kepastian hukum atas tanah. 3. menyebutkan bahwa berdasarkan Berita Acara Pengesahan data Fisik dan Data Yuridis sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 64 ayat (1) dilaksanakan sebagai berikut: 1.meliputi dua kegiatan yaitu pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaandata pendaftaran tanah.

2. Pemberian Hak Menurut Pasal 4 Undang-undang Pokok Agraria yang selanjutnya dirinci dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Pokok Agraria. Pasal 66 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997.nama pemegang hak terakhir. kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah meliputi yaitu: 1. Meskipun tidak secara tegas diatur. Pendaftaran peralihan dan pembebanan hak. Pelaksanaan pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui pendaftaran tanah secara sistematik dan pendaftaran tanah secara sporadik hal ini diatur dalam Pasal 13 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997. 2. Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai Atas Tanah Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. Menurut ketentuan pasal 12 ayat (2) PP Nomor 24 1997. Berdasarkan Berita Acara Pengesahan Data Fisik dan data Yuridis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1). Pengakuan Hak Hak atas tanah yang alat bukti kepemilikannya tidak ada tetapi telah dibuktikan kenyataan pengakuan fisiknya selama 20 (dua puluh) tahun sebagimana dimaksud dalam Pasal 61 oleh Ketua Panitia Ajudikasi diakui sebagai hak milik. menyebutkan: 1. Pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya. kepada perorangan atau badan hukum dapat diberikan berbagai hak atas tanah. akan tetapi wewenang untuk memberikan hak-hak atas tanah seperti tersebut dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Pokok Agraria adalah Negara Republik Indonesia cq Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ajudikasi mengusulkan secara Kolektif Ketua Panitia kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat pemberian hak atas tanah-tanah Negara termasuk tanah Negara yang menjadi obyek landreform. Pendaftaran tanah secara sistematik (massal) diselenggarakan atas prakarsa pemerintah berdasarkan rencana kerja jangka panjang dan tahunan [37] . 2. Dalam pendaftaran tanah secara sisitematik Kepala Kantor Pertanahan diberi wewenang untuk menetapkan pemberian Hak Milik.

bahwa kegiatan pendaftaran tanah secara sistematik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dimulai dengan pembuatan peta dasar pendaftaran. Wilayah yang belum ditunjuk sebagai wilayah pendaftaran tanah secara sistematik oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) diusahakan peta dasar pendaftaran untuk keperluan pendaftaran secara sporadik (Pasal 15 ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 1997).serta dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan oleh Kepala Badan Pertanahan. pengukuran. Pembuktian menurut Pasal 24 ayat (1) dan (2) PP Nomor 24 Tahun 1997. seperti sungai. Hak yang akan didaftarkan adalah hak baru dan hak lama. Dalam kegiatan dan pengumpulan dan pengolahan data fisik hal yang dilangsungkan menurut Pasal 17 ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 1997 adalah bidang-bidang tanah yang akan dipetakan diukur setelah ditetapkan letaknya. batas-batasnya dan menurut keperluannya ditempatkan tanda-tanda batas pada disetiap sudut bidang tanah yang bersangkutan yang melakukan pengukuran dan pemetaan dalam proses pendaftaran secara sistematik adalah Panitia Ajudikasi . jalan bangunan dan batas fisik bidang tanah.unsur geografis. Pendaftaran tanah secara sporadik (massal atau individu) dilaksanakan atas permintaan pihak yang berkepentingan. Untuk keperluan pendaftaran hak. pemetaan dan pemeliharaan dasar teknik Nasional disetiap Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. yaitu pihak-pihak yang berhak atas obyek pendaftaran tanah yang bersangkutan atau kuasanya Untuk melaksanakan pendaftaran secara sistematik maka sesuai dengan Pasal 15 PP Nomor 24 Tahun 1997. Untuk keperluan pembuatan peta dasar pendaftaran Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelenggarakan pemasangan. Peta dasar adalah peta yang memuat titiktitik dasar teknik dan unsur. hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya [38] . dimana pembuktian hak baru ini menurut Pasal 23 PP Nomor 24 Tahun 1997 dibuktikan dengan penetapan pemberian hak dari pejabat yang berwenang memberikan hak yang bersangkutan menurut ketentuan yang berlaku apabila pemberian hak tersebut berasal dari tanah negara atau tanah pengelolaan. adalah: 1.

kemudian apabila telah memenuhi syarat maka sesuai kewenangannya dan diterbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak [39] . pemegang hak dan hak-hak lain yang membebaninya. 2. Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat alat pembuktian sebagaimana pada ayat (1). dianggapcukup untuk mendaftar hak.hak-hak tersebut berupa alat-alat bukti tertulis. semua persyaratan-persyaratan ini sangat diperlukan guna mendapatkan penjelasan tentang: 1. Dalam ketentuan tersebut dijelaskan bahwa apabila seseorang hendak mendapatkan sertipikat hak atas tanah harus melalui tahapan-tahapan tertentu dan harus memenuhi persyaratanpersyaratan yang ditentukan. Penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman tidak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/ kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya. Orang/badan hukum yang menjadi pemegang hak atas tanah (kepastian mengenai subyek haknya). Letak. pembukuan hak dapatdilakukan berdasarkan kenyataan penguasaab fisik bidang tanah yang bersangkutan selama 20 tahun atau secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu-pendahulunya. serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya. keterangan saksidan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tana secara sporadik. batas-batas. dibebani hak tanggungan hak lain atau tidak berada dalam sengketa atau tidak dan sebagainya (kepastian mengenai obyek haknya) Permohonan hak yang diterima oleh Kantor Pertanahan diproses antara lain dengan penelitian kelapangan oleh Panitia Pemeriksa Tanah (Panitia A atau Panitia B). Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah. luas. b. 2. dengan syarat: a.

Pasal 26 PP Nomor 24 Tahun 1997. Pemohon mendaftarkan haknya untuk memperoleh sertipikat hak atas tanah setelah membayar uang pemasukan ke kas negara dan atau Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) jika dinyatakan dalam Surat Keputusan tersebut. 3. pemetaan dan lain sebagainya untuk permohonan yang diisyaratkan harus diumumkan terlebih dahulu hanya akan dilakukan bila tenggang waktu pengumuman itu telah berakhir dan tidak ada keberatan dari pihak lain. Kegiatan pengukuran. Daftar nama. Daftar surat ukur. Untuk keperluan penyelenggaraan tata usaha pendaftaran tanah tersebut dipergunakan 4 (empat) macam daftar. Daftar buku tanah. Tanah-tanah yang belum pernah didaftarkan. adalah: 1. mengatakan bahwa: 1. Kegiatan selanjutnya dilakukan oleh aparat Seksi Pendaftaran Tanah. 2. 4. yaitu: 1. pemetaan dan pendaftaran haknya. Daftar tanah. sekaligus diperlengkapi dengan pendaftarannya dan sebagai bukti diberikan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) sebagai kelengkapan dari persyaratan-persyaratan. Kegiatan-kegiatan itu meliputi pengukuran. Pengumuman ditempatkan di Kantor Kepala Desa/Kelurahan dan Kantor Kecamatan selama 1 (satu) bulan dalam pendaftaran tanah secara sistematik dan 2 (dua) bulan dalam pendaftaran tanah secara sporadik untuk memberi kesempatan pada yang berkepentingan mengajukan yang diperlukan untuk pendaftaran surat keputusan tanda bukti hak pemberian hak untuk memperoleh sertipikat [40] . Surat Pengantar Surat Keputusan Pemberiah Hak. 3. Bukti Pelunasan uang pemasukan atau BPHTB apabila diisyaratkan identitas pemohon.Atas Tanah. 2. Surat Permohonan Pendaftaran.

b. Bidang tanah yang telah diberi tanda batas. kemudian haknya dibukukan dalam daftar buku tanah dari Kelurahan yang bersangkutan. yaitu tanah tersebut adalah tanah Negara misalnya Surat Keterangan Camat. Oleh sebab itu selain pemilik tanah. hal ini berdasarkan alat bukti yang dimaksud dalam Pasal 23 PP Nomor 24 Tahun 1997. Pemberian hak atas tanah. yaitu dalam hal penguasaan fisik bidang tanah selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut. Hasil pengumuman tersebut akan dituangkan dalam suatu berita acara. Tanah-tanah yang akan diukur dan dipetakan harus diberi tanda batas. diukur dan dipetakan dan ditetapkan subyek haknya. Pengakuan hak atas tanah. perlu hadir pula pemilik tanah yang berbatasan.keberatan. Pengumumannya dilakukan melalui media masa. Pembukuan atas tanah. Surat ukur tersebut diberi tanggal dan nomor urut menurut tahun pembuatannya. Pengukuran tanah dilakukan dengan sistem kadasteral dan dilakukan oleh juru ukur. Penetapan batas batas tanah itu dilakukan atas dasar persesuaian pendapat antara para pemilik tanah yang berbatasan (system contradictoire delimite). daftar buku tanah terdiri atas kumpulan buku tanah yang dijilid. sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Agraria Nomor 8 Tahun 1961. Satu buku tanah hanya dipergunakan untuk mendaftar satu hak atas tanah. dimana berita acara tersebut menjadi dasar untuk: a. dengan demikian dapat dihindari adanya salah letak terhadap tanda batas tersebut. c. hasil pengukuran ini kemudian dipetakan kemudian dibuat surat ukurnya dan surat ukur tersebut harus sesuai dengan peta pendaftaran tanahnya. 2. [41] .

B. sistem pendaftaran tanah yang dianut oleh banyak Negara-negara yang menyelenggarakan pendaftaran tanah. 3.Tiap-tiap hak atas tanah yang sudah dibukukan diberi nomor urut macam haknya. yaitu: 1. Sistem Pendaftaran Tanah Dengan terlaksananya pendaftaran tanah atau pendaftaran hak atas tanah diharapkan seseorang lebih merasa aman tidak ada gangguan atas hak yang dipunyai. Sistem Negatif Segala apa yang tercantum di dalam sertipikat tanah dianggap [42] . Ciri pokok sistem positif ini ialah bahwa pendaftaran tanah adalah menjamin dengan sempurna bahwa nama yang terdaftar dalam buku tanah adalah tidakdapat dibantah kendatipun ia ternyata bukanlah pemilik yang berhak atas tanah tersebut. Jaminan kepastian hukum terhadap pemegang hak atas tanah adalah sangat digantungkan kepada sistem apakah yang dianut dalam melaksanakan pendaftaran atau pendaftaran hak atas tanah. 2. Salinan buku tanah itu dan surat ukurnya kemudian dijahit menjadi satu dengan diberi kertas sampul yang bentuknya telah ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri Cq. Semua hak-hak atas tanah telah dibukukan dibuatkan salinan dari buku tanah yang bersangkutan. Direktur Jenderal Agraria. Sistem Positif Suatu sertipikat tanah yang telah diberikan itu adalah sebagai suatu tanda bukti hak atas tanah yang mutlak serta merupakan satu-satunya tanda bukti hak atas tanah. Menurut Bachtiar Effendie. Sistem Torrens Adapun sertipikat tanah menurut sistem Torrens ini merupakan alat bukti pemegangan hak atas tanah yang paling lengkap serta tidak bias diganggu gugat. Untuk merubah buku tanah adalah tidak mungkin kecuali jika memperoleh sertipikat tanah dengan cara pemalsuan dengan tulisan ataupun dengan cara pemalsuan.

Pendaftaran tanah di negara kita menurut Pasal 19 ayat (1) bertujuan untuk menjamin kepastian hukum tetapi bukan maksudnya akan mempergunakan apa yang disebut sistem positif. Sedangkan Boedi Harsono dalam buku Bachtiar Effendie Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya mengatakan “bahwasannya sistem yang dipakai Undang-undang Pokok Agraria adalah sistem negatif bertendens positif. Ciri pokok sistem negatif ini adalah bahwa pendaftaran tanah tidaklah menjamin bahwa nama-nama yang terdaftar dalam buku tanah tidak dapat untuk dibantah jika nama yang terdaftar bukanlah pemiliknya. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa Mariam Darus Badrulzaman. dalam buku Bachtiar Effendie. Hal ini terlihat dengan adanya perlindungan hukum kepada pemilik sebenarnya (sistem negatif) sedangkan sisitem positifnya terlihat dengan adanya campur tangan dari pemerintah dimana Pejabat Pembuat Akta Tanah dan Seksi Pendaftaran Tanah meneliti kebenaran setiap peralihan suatu hak atas tanah. [43] . Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya bahwa: Sistem yang dianut di Indonesia adalam sistem campuran antara sistem positif dan sistem negatif. Pengertian negative disini adalah bahwa adanya keterangan-keterangan yang ada itu jika ternyata tidak benar masih dapat diubah dan dibetulkan sedangkan pengertian positif adalah bahwa adanya peranan aktif dari petugas pelaksana pendaftaran tanah dalam hal penelitian terhadap hak-hak atas tanah yang didaftar tersebut.benar sampai dapat dibuktikan yang sebaliknya (tidak benar) di muka siding pengadilan. berpendapat bahwa bahwa sistem yang dianut Undang-undang Pokok Agraria adalah sistem campuran antara sistem positif dan sistem negatif. Dengan demikian dapat disimpulkan Pasal 19 ayat (2) huruf (c) bahwa surat tanda bukti hak yang akan dikeluarkan berlaku sebagai pembuktian yang kuat. Menurut pendapat Mariam Darus Badrulzaman.

Berdasarkan uraian di atas.P. Parlindungan berpendapat bahwa sistem yang dianut Undangundang Pokok Agraria adalah: Sistem Torrens karena sistem ini selain sederhana. terlihat bahwa pendapat para sarjana tersebut bahwa sistem pendaftaran tanah yang sekarang dianut oleh Undangundang pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 yang telah disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 adalah sistem campuran system positif dan sistem negatif. Menurut Abdurrahman. Pendaftaran Tanah di Indonesia dan PeraturanPeraturan Pelaksanaannya bahwa. Sedangkan pendapat Sunaryati Hartono dalam buku Bachtiar Effendie. beliau lebih cenderung kepada pendapat Mariam Darus Badrulzaman. dimana dalam sistem yang demikian segala kekurangan yang ada pada sistem negatif dan positif sudah [44] .” Berdasarkan uraian di atas sangat jelas sekali bahwa pendapat ini menunjukkan bahwa sistem pendaftaran tanah adalah memakai sistem positif.Ayat tersebut tidak menyatakan bahwa surat-surat tanda bukti hak itu berlaku sebagai alat pembuktian yang mutlak. yang telah menyatakan bahwa: “Sistem pendaftaran tanah yang sekarang dianut oleh Undang-undang Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 yang telah disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 adalah sistem campuran antara sistem tertutup”. dalam buku Bachtiar Effendie. Sedangkan A. Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya menyatakan bahwa: “Sudah saatnya kita berpegang pada sistem positif yang menjadikan sertipikat tanah satu-satunya alat bukti untuk membuktikan hak milik atas tanah dengan perngertian bahwa apabila dapat dibuktikan bahwa sertpikat itu palsu atau dipalsukan atau diperoleh dengan jalan yang tidak syah (karena paksaan atau pungutan liar atau uang sogok misalnya) maka tentu saja sertipikat wegenietig). efisien dan “murah” dan selalu dilihat diteliti pada akta penjabatnya siapa-siapa yang bertanda tangan dan pada sertipikat hak atas itu dianggap tidak syah sehingga menjai batal dengan sendirinya (van rechts positif dengan sistem negatif.

77 Sedangkan menurut Suardi dalam buku Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis. 3. 4. Orang yang berhak atas tanahnya harus memohon dilakukannya pendaftaran tanah itu agar negara dapat membuktikan hak atas permohonan pendaftaran yang diajukan. sehingga pada akhirnya panitia dapat berkesimpulan: 1. Hak Pakai dan Hak Pengelolaan dan Panitia B untuk Hak Guna Usaha). Permohonan tersebut tidak dijumpai ada sengketa kepemilikan. Hukum Pendaftaran Tanah mengatakan: “Tujuan ditelitinya alas hak ini ternyata akan memperkokoh keabsahan formalitas data yuridis dan data teknis. Hal ini sejalan dengan ide dasar sistem Torrens dimaksud dimana manakala seseorang mengklaim sebagai pemilik fee simple baik karena Undang-undang maupun hal lain harus mengajukan permohonan agar tanah yang bersangkutan diletakkan atas namanya. 2. Tanah yang dimohon diyakini sepenuhnya oleh tim ajudikasi atau Panitia pemeriksaan tanah untuk dapat diberikan haknyasesuai yang dimohonkan pemilik tanah. 2. Penelitian ini dikenal dengan examiner of title. Tanah tersebut diadministrasikan dengan pemberian bukti haknya tidak ada yang bersengketa lagi dan tidak ada yang keberatan terhadap kepemilikannya. Dilakukan penelitian atas alas hak dan obyek bidang tanah yang diajukan permohonan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang berifat sporadis. Sistem pendaftaran tanah di Indonesia mengenal ini dengan nama Panitia Pemeriksa Tanah (Panitia A untuk Hak Milik. Tanah yang hendak didaftar tersebut baik dan jelas tanpa keraguan untuk memberikan haknya. [45] .tanahnya setiap mutasi diketahui dan oleh karena pada sertipikat tanah jika terjadi mutasi maka nama yang sebelumnya dicoret dengan tinta halus sehingga masih terbaca dan pada bagian bawahnya tertulis nama pemilik yang baru disertai dengan dasar hukumnya. Sistem ini dapat diidentifikasi dari: 1. Hak Guna Usaha.

Hal ini dapat kita lihat dari Penjelasan Umum dari Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang mana antara lain menyatakan bahwa pembukuan sesuatu hak dalam daftar buku tanah atas nama seseorang tidak mengakibatkan seseorang yang sebenarnya berhak untuk atas tanah itu akan dihilangkan haknya. Selain menurut cara sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hak milik terjadi: a.satunya tanda bukti hak atas tanah dengan demikian demikian dihindari tumpang tindihnya sertipikat tanah sehingga apa yang diharapkan suatu kepastian hukum dalam pemegangan hak atas tanah akan dapat terlaksana”. Terjadinya hak milik menurut hak adat diatur dengan peraturan pemerintah.5. Dengan kata lain setiap akan terjadinya hak milik (diproses pendaftaran untuk hak miliknya) harus melalui penetapan pemerintah. agar permohonan dapat disetujui untuk dikeluarkan bukti haknya setelah diajukan seseorang kekantor pertanahan setempat. Penetapan Pemerintah. menurut cara dan syarat-syarat yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Sehubungan dengan hal tersebut maka sudah saatnya kita meninggalkan sistem yang dianut oleh Undangundang Pokok Agraria sekarang ini sebagaimana yang dikatakan oleh Bachtiar Effendie yaitu ”telah tiba saatnya untuk meninggalkan sistem yang dianut Undang-undang Pokok Agraria sekarang ini. Jadi pendaftaran yang diatur dalam [46] . Indikator ini berarti atau bermakna mendukung asas publisitas dan asas spesialitas dari pelaksanaan pendaftarn tanah yang dilakukan di Indonesia. orang tersebut masih dapat menggugat orang yang berhak. Keberadaan sistem pendaftaran model Torrens. persis apa yang disebutkan atas permohonan seseorang untuk memperoleh hak milik sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 22 Undang-undang Pokok Agraria: 1. 2. Ketentuan Undang-undang. karena dengan sistem positif sertipikat tanah merupakan satu. b.

Subyek Pendaftaran Tanah Subyek hak atas tanah merupakan orang perserorangan atau badan hokum yang dapat memperoleh hak atas tanah. yaitu setiap orang yang identitasnya terdaftar selaku Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing yang berdomisili di dalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia dan tidak kehilangan hak memperoleh sesuatu hak atas tanah. siapa pemiliknya. sehingga akhirnya tujuan pendaftaran tanah sebagaimana yang dimaksudkan dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun dapat dicapai. bangsa dan negara. sehingga namanya dicantumkan dalam buku tanah selaku pemegang sertipikat hak atas tanah yang mempunyai hak. Obyek Pendaftaran Tanah [47] . lembaga perwakilan internasional. Perhimpunan orang yang tergabung dalam badan hukum walau tidak berjiwa seperti halnya manusia. keluarganya. Berdasarkan uraian di atas diharapkan bagaimanapun sistem yang dianut dalam pendaftaran tanah yang paling penting disamping selain berfungsi untuk melindungi pemilik. apa haknya. lembaga pemerintahan Indonesia. Orang perserorangan/pribadi selaku subyek hak atas tanah. juga mengetahui status sebidang tanah. kehendak dan dapat melakukan perbuatan hukum untuk mengambil manfaat bagi kepentigan dirinya. D. untuk apa dipergunakan dan sebagainya. namun mempunyai kehendak dan dapat melakukan perbuatan hukum sehingga dipersamakan dengan orang yang selanjutnya oleh Undang-undang diakui sebagai subyek hukum seperti badan hukum publik. lembaga perwakilan negara asing. C.peraturan pemerintah ini tidaklah mutlak maka system pendaftaran kita adalah sistem negatif yang bertendensi positif. badan keagamaan atau badan sosial lainnya. Badan Hukum selaku subyek hak atas tanah antara lain badan usaha yang didirikan menurut hukum Indonesia berkedudukan di Indonesia atau badan hokum asing melalui penanaman modal asing di Indonesia. badan hukum privat dan badan hukum lainnya. berapa luasnya.

Dalam hal tanah Negara sebagai obyek pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (f). Obyek Pendaftaran Tanah meliputi: a. b. d. hak guna bangunan dan hak pakai. Tata Cara Pendaftaran Tanah [48] . juga dipandang terpisah sebagai benda tak bergerak dan tak berujud. Tanah wakaf. f. Pasal 9 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 mengatur tentang obyek Pendaftaran Tanah. Hak tanggungan. Tanah hak pengelolaan. pendaftarannya dilakukan dengan acara membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik. sesuai ketentuan Pasal 612 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. E. Hak milik atas satuan rumah susun. c. Obyek hak ini merupakan sesuatu yang tidak mempunyai hak dan tidak menjadi pihak dalam hukum namun sematamata hanya diobyekkan bagi subyek hak. yaitu: 1. e. Dalam hukum perdata yang menjadi obyek hak itu adalah benda. sehingga jika terjadi peralihan haknya harus diikuti dengan penyerahan haknya (levering). hak guna usaha. Tanah yang dimaksud adalah daratan di lapisan kulit bumi nusantara yang dapat dipunyai dengan sesuatu kepemilikan hak atas tanah oleh perseorangan atau badan hukum.Obyek hak atas tanah merupakan bidang-bidang tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia yang dapat dipunyai dengan sesuatu kepemilikan hak atas tanah oleh orang atau badan hukum menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. diantaranya adalah benda tak bergerak yaitu tanah. Tanah Negara. Menurut ketentuan hukum perdata bahwa tanah selaku obyek bukan saja dipandang sebagai benda (zaak) tak bergerak berujud yang dapat dilihat secara nyata. 2.

yaitu mengenai tiga persyaratan data: 1. Alas hak yang dijadikan dasar dalam penerbitan sertipikat kepemilikan hak [49] . pada setiap pengajuan permohonan sertipikat kepemilikan hak atas tanah di Kantor Pertanahan yang lebih dahulu diperiksa dan diteliti. Pemilik. baik diproses secara sistematik melalui Panitia Ajudikasi ataupun Sporadik melalui pemilik tanah sendiri di Kantor Pertanahan.Dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 disebutkan bahwa Pendaftaran Tanah diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional. 2 3. Tujuan Penggunaan Hak Cara Perolehan Hak. yakni: 1. sebagai subyek hak Tanah. Faktualnya. sebagai alas hak. 2. Hal ini dilakukan guna mengurangi resiko terjadi kesalahan prosedur penerbitan sertipikat hak atas tanah pada Kantor Pertanahan Kota Medan. Untuk melengkapi pemeriksaan dan penelitian dengan tiga persyaratan data di atas diperlukan dua persyaratan data pendukung. terutama Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah serta Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peraturan Pelaksananya. sebagai obyek hak Surat. hal ini berbeda dangan apa yang disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 bahwa penyelenggara pendaftaran tanah dilakukan oleh Jawatan Pendaftaran Tanah yaitu ketika masih berlaku merupakan suatu jawatan di Departemen Kehakiman dan kemudian digabungkan pada Menteri Agraria dan teruslah jawatan pendaftaran tanah tersebut mempunyai kantor tersendiri sebagai Kantor Pendaftaran Tanah dan instansi atasannya adalah Kepala Kantor Pengawasan dan Pendaftaran Tanah dan kemudian atasan lanjutannya adalah Jawatan Pendaftaran Tanah. Persyaratan permohonan sertipikat hak atas tanah yang ditentukan dalam Standar Prosedur Pengaturan dan Pelayanan (SPPP) di Lingkungan Badan Pertanahan Nasional telah dibuat secara konstelasi hukum positif.

Fotocopy SPPT PBB tahun berjalan. sertipikat a.atas tanah di Kantor Pertanahan merupakan alat bukti yang dapat digunakan sebagai alat pembuktian yuridis atas kepemilikan atau penguasaan suatu bidang tanah. jika permohonannya dikuasakan. Girik. d. sebagai berikut: Surat Permohonan. yaitu mengenai penegasan hak atas tanah yang berasal dari tanah milik adat. Pipil. yaitu: 1) 2) 3) Surat bukti hak milik yang terbit berdasarkan Sertipikat hak milik yang diterbitkan berdasarkan peraturan swapraja PMA Nomor 9/1959 Surat keputusan pemberian hak dari pejabat yang berwenang baik sebelum atau pun sejak berlakunya Undangundang Pokok Agraria yang tidak disertai dengan kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri penerima kuasa disertai dengan surat kuasa. Kiktir dan Verponding Indonesia sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 5) Akta pemindahan hak yang dibuat dibawah tangan [50] . 4) Petuk pajak bumi/Landrente. ditegaskan untuk permohonan melalui prosedur perolehan hak atas tanah di Kantor Pertanahan dengan pemenuhan persyaratan permohonan. tetapi telah dipenuhi semua kewajiban didalamnya. e. b. Bukti tertulis hak atas tanah yang asli. c. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri pemohon. baik secara tertulis ataupun berdasarkan keterangan saksi Permohonan Hak untuk pertama kali terhadap alas hak sebagai alat bukti tersebut dapat dijadikan dasar untuk penerbitan sertipikat pada Kantor Pertanahan sebagai : 1 Penegasan Hak Atas Tanah Penegasan hak atas tanah merupakan Keputusan Badan Pertanahan Nasional.

8) Risalah lelang yang dibuat oleh pejabat lelang berwenang yang tanahnya belum dibukukan dengan disertai alas hak yang dialihkan 9) 10) Surat penunjukan atau pembelian kaveling tanah Surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuat pengganti tanah yang diambil oleh pemerintah daerah atau. 11) Lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama apapun juga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ketentuan-Ketentuan Konversi Undang-undang Pokok Agraria. 12) urat-surat bukti kepemilikan lainnya yang terbit dan diberlakukannnya Undang-undang Pokok Agraria. tanah diterbitkan oleh Kantor Pertanahan. Sehubungan dengan penegasan hak atas tanah tersebut di atas maka prosedurnya pemohon mengajukan surat permohonan kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat (Pertanahan Medan) melalui loket penerimaan dengan persyaratan sebagai berikut: a.yang dibubuhi tanda kesaksian olehKepala Adat/Kepala Desa/Kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dengan disertai alas hak yang ialihkan. maka dimohonkan [51] . b. 6) Akta pemindahan hak atas tanah yang dibuat oleh PPAT yang tanahnya belum dibukukan dengan disertai dengan alas hak yang dialihkan. Setiap fotocopy yang dipersyaratkan sudah Setelah surat keputusan penegasan hak atas dilegalisir oleh pejabat yang berwenang. 7) Akta ikrar wakaf/akta pengganti ikrar wakaf/surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1997 dengan disertai alas hak wakafnya. oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan dengan disertai alas hak yang dialihkan.

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. d. c.penerbitan sertipikat hak atas tanahnya tanpa pembayaran BPHTB dan uang pemasukan kepada negara. dari Kepala Desa/Lurah dengan yang disaksikan oleh 2 orang saksi dan penguasaannya dibenarkan oleh Sehubungan persyaratan [52] . Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960. Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 600-1900 Tanggal 31 Juli 2003. disaksikan oleh 2 orang saksi dan diketahui oleh kepala desa. b. yaitu sehubungan dengan pengakuan hak atas tanah yang berasal dari tanah milik adat yang diakuai melalui prosedur perolehan sertipikat hak atas tanah di Kantor Pertanahan. yaitu: a. b. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri pemohon. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2002. Dasar hukum dari persyaratan perolehan sertipikat hak atas tanah melalui prosedural perolehan penegasan hak atas tanah. c. 2 Pengakuan Hak Atas Tanah Pengakuan hak atas tanah merupakan keputusan Badan Pertanahan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. d. Bukti tertulis hak atas tanah yang asli disertai dengan: 1) Surat pernyataan pengakuan fisik bidang tanah secara terus menerus selama 20 tahun atau lebih (turun temurun atau alih beralih) yang dibuat oleh pemilik tanah.lurah. dan 2) pengetua Surat adat Keterangan setempat. Fotocopy SPPT PBB tahun berjalan. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri penerima kuasa disertai dengan surat kuasa. jika permohonannya dikuasakan. e. Surat Permohonan. e. dengan pemenuhan persyaratan sebagai berikut: a.

3 Pemberian Hak Atas Tanah Pemberian hak atas tanah merupakan keputusan Badan Pertanahan Nasional. Nasional Nomor 600-1900 Tanggal 31 Juli 2003. pemohon. dengan pemenuhan Surat Permohonan. yaitu: a. e. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri persyaratan sebagai berikut: [53] . d. yaitu sehubungan dengan pemberian hak atas tanah kepada pemohon yang berasal dari tanah negara melalui prosedur perolehan sertipikat a. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960. Setelah surat keputusan pengakuan hak atas diterbitkan oleh Kantor Pertanahan. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Dasar hukum dari persyaratan perolehan sertipikat hak atas tanah melalui prosedural perolehan pengakuan hak atas tanah. b. hak atas tanah di Kantor Pertanahan. c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2002. b. maka dimohonkan penerbitan sertipikat hak atas tanahnya tanpa pembayaran BPHTB dan uang Pemasukan kepada negara.permohonan pengakuan hak atas tanah tersebut di atas yang disampaikan oleh pemohon kepada kepala Kantor Pertanahan setempat (Pertanahan Kota Medan) melalui loket penerimaan dengan persyaratan sebagai berikut: a. 1997. tanahnya Setiap fotocopy yang dipersyaratkan sudah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang. b.

jika permohonannya dikuasakan. Bukti tertulis hak atas tanah yang asli. Surat pernyataan tanda batas telah dipasang. Setiap fotocopy yang dipersyaratkan sudah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau identitas diri penerima kuasa disertai dengan surat kuasa. Fotocopy SPPT PBB tahun berjalan. Dasar hukum dari persyaratan perolehan sertipikat hak atas tanah melalui prosedural perolehan pemberian hak atas tanah. d. yaitu: a. dengan melampirkan bukti fotocopy Surat Keputusan terakhir. f.c. b. atau Apabila tidak ada bukti lainnya maka dibuat surat pernyataan pengakuan fisik tanah secara terus menerus selama 20 tahun atau lebih (turun temurun atau alih beralih) dibuat oleh pemilik tanah. Setelah surat keputusan pemberian hak atas tanahnya diterbitkan oleh Kantor Pertanahan. g. e. Sehubungan dengan persyaratan permohonan tersebut di atas yang disampaikan oleh pemohon kepada kepala Kantor Pertanahan setempat (Pertanahan Kota Medan) melalui loket penerimaan dengan persyaratan sebagai berikut: a. Pembayaran uang Pemasukan kepada negara yang terutang (khusus bagi Pegawai Negeri Sipil dikenakan uang pemasukan sebesar 50% dari yang seharusnya dan bagi pensiunan Pegawai Negeri Sipil dikenakan 10% dari yang seharusnya. disaksikan oleh 2 orang saksi dan diketahui oleh Kepala Desa/Lurah dan didukung oleh Surat Keterangan Kepala Desa/Lurah yang didukung oleh Surat Keterangan Kepala Desa/Lurah yang disaksikan oleh 2 orang saksi dan penguasaannya dibenarkan oleh tetua masyarakat setempat. maka permohonan dilengkapi dengan bukti: 1) 2) Pembayaran pajak BPHTB terutang. [54] . Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960.

b. e. b.b. meneguhkan kepunyaan. c. Meneguhkan kepunyaan hak sendiri. pembuktian hak atas tanah merupakan proses yang dapat digunakan pemegangnya untuk mendalilkan kepunyaan. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2002. Nomor 600-1900 Tanggal 31 Juli 2003. Warga Negara Indonesia Badan-badan Hukum yang ditetapkan oleh pemerintah [55] . d.undang Hukum Perdata bahwa alat bukti hak dapat digunakan untuk: a. Kitab Undang. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan nasional Kegunaan dari alat bukti ini berdasarkan ketentuan Pasal 1865 Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional adalah sebagai berikut: Pasal 8 ayat (1) Hak milik dapat diberikan kepada: a. Dengan demikian. Membantah kepunyaan hak orang lain. membantah kepunyaan atau untuk menunjukan kepunyaan atas suatu pemilikan hak atas tanah dalam suatu perbuatan hukum tertentu. d. Mengenai ketentuan pemberian dan pembatalan hak atas tanah negara dan hak pengelolaan diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan. Menunjukkan kepunyaan hak atas suatu peristiwa hukum. Mendalilkan kepunyaan suatu hak. Syarat-syarat dan Tata cara permohonan serta pemberian hak milik sebagaimana yang disebutkan dalam Bab II (Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah Secara Individual atau Kolektif). c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997.

tempat menjadi tanggungan b. putusan pengadilan.sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu: 1) 2) Bank Pemerintah. permohonan hak milik sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) memuat: 1 a. surat-surat bukti pelepasan hak dan pelunasan tanah dan rumah dan atau tanah yang telah dibeli pemerintah. Ayat (2) : Pemberian Hak Milik untuk badan hukum sebagimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf (b) hanya dapat diberikan atas tanah-tanah tertentu yang benar-benar berkaitan langsung dengan tugas pokok dan fungsinya Pasal 9 ayat (1) Permohonan hak milik atas tanah negara diajukan secara tertulis. Ayat (2). kewarganegaraan. kapling. tinggal dan pekerjaannya serta keterangan mengenai isteri/ suami dan anaknya yang masih [56] . Keterangan mengenai tanahnya yang meliputi data yuridis dan data fisik: Dasar penguasaan atau alas haknya dapat berupa sertipikat. girik. tanggal dan nomor surat keputusan pengesahannya oleh pejabat yang berwenang tentang penunjukannya sebagai badan hokum yang dapat mempunyai hak milik berdasarkan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. akta PPAT. umur. 2) Badan Keagamaan dan Badan Sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah. akta atau peraturan pendiriannya. Apabila badan hukum: nama tempat kedudukan. akta pelepasan Keterangan mengenai pemohon: Apabila perorangan: nama. 2 a.

hak dan surat-surat bukti perolehan tanah lainnya; b. nomornya); c. pertanian); d. e. tanah negara); 3 a. Lain-lain: Keterangan mengenai jumlah bidang, luas dan status tanah-tanah yang dimiliki oleh pemohon, termasuk tanah-tanah yang dimohon; b. perlu. Pasal 10 Permohonan hak milik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dilampiri dengan: 1 Mengenai pemohon: a. b. atau peraturan pendiriannya Jika perorangan: fotocopy Jika badan hukum: fotocopy dan salinan surat surat akta bukti identitas, surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia. keputusan Keterangan lain yang dianggap Rencana penggunaan tanah; Status tanahnya (tanah hak atau Jenis tanah (pertanian/non Letak, batas-batas dan luasnya (jika ada Surat Ukur atau Gambar Situasi sebutkan tanggal dan

penunjukannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2 Mengenai tanahnya: a. b. Data yuridis: sertipikat, girik, surat Dan pelunasan tanah dan rumah dan kapling, surat-surat bukti pelepasan hak atau tanah yang dibeli dari Pemerintah; akta PPAT, akta pelepasan hak, putusan pengadilan, dan surat-surat bukti perolehan lainnya;

[57]

c. dan IMB, apabila ada; d. e.

Data fisik; surat ukur gambar situasi Surat lain yang dianggap perlu. Surat pernyataan pemohon mengenai

jumlah bidang, luas dan status tanah-tanah yang telah dimiliki oleh pemohon termasuk bidang tanah yang dimohon. Kemudian setelah ketentuan mengenai alas hak atas tanah maka selanjutnya diatur juga tata cara pemberian atau penetapan dari hak atas tanah tersebut sesuai dengan konstitusi dan makna negara hukum yang menginginkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebisaaan dan tindakan pejabat dalam menjalankan tugasnya harus didasarkan pada hukum yang berlaku. Tata cara pemberian ataupun penetapan hak tersebut termasuk dalam kategori aturan formalitas yang harus dijalankan dan dilaksanakan disertipikatkan. Tata Cara Pemberian Hak Milik: Pasal 11 Permohonan Hak Milik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) diajukan kepada menteri melalui Kepala Kantor Pertanahan yang daerah kerjanya meliputi letak tanah yang bersangkutan. Pasal 12 Setelah berkas permohonan diterima, Kepala Kantor Pertanahan: 1 yuridis dan data fisik. 2 Lampiran 4 3 4 Memberikan tanda terima berkas permohonan sesuai formulir isian contoh Memberitahukan kepada pemohon untuk membayar biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan permohonan Mencatat dalam formulir isian sesuai contoh Memeriksa dan meneliti kelengkapan data oleh pejabat terkait maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan obyek tanah yang akan didaftarkan atau

[58]

tersebut dengan rinciannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sesuai contoh lampiran 6. Pasal 13 Ayat (1) : Kepala Kantor Pertanahan meneliti kelapangan dan kebenaran data yuridis dan data fisik permohonan hak milik atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan memeriksa kelayakan permohonan tersebut dapat atau tidaknya dikabulkan atau diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat (2) : Dalam hal surat tanah yang dimohon belum ada surat ukurnya, Kepala Kantor Pertanahan memerintahkan kepada Kepala Seksi Pengukuran dan Pendaftaran Tanah untuk melakukan pengukuran. Ayat (3) : Selanjutnya Kepala Kantor Pertanahan memerintahkan kepada: a. Kepala Seksi Hak Atas Tanah atau petugas yang ditunjuk untuk memeriksa permohonan hak terhadap tanah yang sudah terdaftar dan tanah yang data yuridis dan data fisiknya telah cukup untuk mengambil keputusan yang dituangkan dalam Risalah Pemeriksaan Tanah (konstatering rapport), sesuai contoh lampiran 7. b. Tim Penelitian Tanah untuk memeriksa permohonan hak terhadap tanah yang belum terdaftar yang dituangkan dalam Berita Acara, sesuai contoh lampiran S; atau c. Panitia Pemeriksa Tanah A untuk (b), yang dituangkan dalam memeriksa permohonan hak selain yang diperiksa sebagaimana dimaksud pada huruf (a) dan huruf Ayat (4) : Dalam hal data fisik dan data yuridis belum lengkap Kepala Kantor Pertanahan memberitahukan kepada pemohon untuk melengkapinya. Risalah Pemeriksaan Tanah sesuai contoh lampiran 9.

[59]

contoh lampiran 11 b. Kepala Kantor Wilayah memerintahkan kepada Kepala Bidang Hak-hak Atas Tanah untuk: a. Ayat (2) Kepala Kantor Wilayah meneliti kelengkapan dan kebenaran data yuridis dan data fisik atas tanah yang dimohon beserta pendapat dan pertimbangan Mencatat dalam formulir isian sesuai atau keputusan penolakan disertai dengan alas an [60] .Ayat (5) Dalam hal keputusan pemberian hak milik telah dilimpahkan kepada Kepala Kantor Pertanahan sebagimana yang dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2). sesuai contoh lampiran 10. Kepala Kantor Pertanahan menerbitkan keputusan pemberian hak milik atas tanah yang dimohonkan penolakannya. meminta Kepala Kantor Memeriksa dan meneliti kelengkapan Pertanahan bersangkutan untuk data yuridis dan data fisik dan apabila belum lengkap segera melengkapinya. Ayat (6) Dalam hal keputusan pemberian hak milik tidak dilimpahkan kepada Kepala Kantor Pertanahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan menyampaikan berkas permohonan Tersebut kepada Kepala Kantor Wilayah. setelah mempertimbangkan pendapat Kepala Seksi Hak Atas Tanah atau pejabat yang ditunjuk atau Tim Penelitian Tanah atau Panitia Pemeriksa Tanah A. Pasal 14 Ayat (1) Setelah menerima berkas permohonan yang disertai pendapat dan pertimbangan sebagimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6). sebagaimana dimaksud pada ayat (3). disertai pendapat dan pertimbangannya.

b. Ayat (4) Dalam hal keputusan pemberian hak milik tidak dilimpahkan kepada Kepala Kantor Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2). Ayat (2) : Menteri meneliti. kelengkapan dan kebenaran data yuridis dan data fisik atas tanah yang dimohon dengan memperhatikan pendapat pertimbangan Kepala Kantor Wilayah sebagimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan selanjutnya memeriksa kelayakan permohonan tersebut atau tidaknya Mencatat dalam formulir isian sesuai [61] . dan apabila belum lengkap segera meminta Kepala Kantor Wilayah yang bersangkutan untuk melengkapinya. Kepala Kantor Wilayah menerbitkan keputusan pemberian hak atas tanah yang dimohon atau keputusan penolakan yang disertai dengan alas an penolakannya. Menteri memerintahkan kepada Pejabat yang ditunjuk untuk: a.Kepala Kantor Pertanahan sebagimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) dan memeriksa kelayakan permohonan tersebut dapat atau tidaknya dikabulkan atau diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.undangan yang berlaku. Kepala Kantor Wilayah menyampaikan berkas permohonan dimaksud kepada Menteri disertai pendapat dan pertimbangannya. contoh lampiran 13. Pasal 15 Ayat (1) : Setelah menerima berkas permohonan yang disertai pendapat dan pertimbangan sebagimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4). sesuai contoh lampiran 12. Memeriksa dan meneliti kelengkapan data yuridis dan data fisik. setelah mempertimbangkan pendapat Kepala Kantor Pertanahan. Ayat (3) Dalam hal keputusan pemberian hak milik telah dilimpahkan Kepala Kantor ilayah sebagiman dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).

letak. Pasal 14 ayat (3) dan Pasal 15 ayat (3) disampaikan kepada pemohon melalui surat tercatat atau dengan cara lain yang menjamin sampainya keputusan tersebut kepada yang berhak. Menteri menerbitkan keputusan pemberian Hak Milik atas tanah yang dimohon atau keputusan penolakan yang disertai dengan alasan penolakan yang disertai dengan alas an penolakannya. permohonan hak milik ini sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 79 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999. Keterangan mengenai tanahnya yang meliputi data yuridis dan data fisik: sertipikat. memuat: a. batas-batas dan luasnya (sebutkan tanggal dan nomor surat ukurnya) c. Keterangan mengenai jumlah bidang. Pasal 78 Permohonan hak milik atas tanah untuk rumah tempat tinggal diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pertanahan yang daerahnya meliputi letak tanah yang bersangkutan. b. tanggal lahir. Pasal 76 ayat (2) Pemberian hak secara umum sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (1) merupakan pemberian hak atas sebidang tanah yang memenuhi criteria tertentu kepada penerima hak yang memenuhi kriteria tertentu yang dilakukan dengan satu penetapan pemberian hak. Ayat (3) : Setelah mempertimbangkan pendapat dan pertimbangan Kepala Kantor Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4). Pasal 16 Keputusan pemberian Hak Milik atau keputusan penolakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5). tempat tinggal dan keterangan mengenai bidang tanah yang dipunyai. Keterangan mengenai pemohon: nama. [62] . pekerjaan.dikabulkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

luas dan status tanah-tanah yang dimiliki termasuk bidang tanah yang dimohon. d. Setelah dibuktikan adanya hubungan hukum atau penguasaan atas tanah yang dimiliki oleh pemohon (subyek hak), maka pemerintah sebagai pemangku Hak Menguasai Negara yang berwenang melakukan pengaturan dan menentukan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan tanah, melaksanakan tugasnya memformalkan hubungan hukum tersebut dengan memberikan hak-hak atas tanah yang dibuktikan dengan keputusan penerbitan haknya (sertipikat). F. Kendala-kendala yang Menghambat Pendaftaran Tanah Sebagaimana diketahui bahwa tujuan dari pendaftaran tanah adalah untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas bidang tanah tersebut. Oleh sebab itu setiap bidang tanah yang dimiliki wajib dilakukan pendaftaran tanah, baik melalui sporadik maupun sistematik. Permasalahan status hak atas tanah secara umum adalah: 1 2 3 4 5 Potensi sengketa dan konflik pertanahan menjadi tinggi akibat Jumlah bidang tanah yang bersertipikat masih rendah. Lemahnya kepastian hukum menyebabkan hak-hak masyarakat Kurangnya sumber daya manusia dari segi kualitas dan kuantitas Masih timpangnya struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan Pendaftaran tanah adalah program dan tugas pokok dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), yaitu untuk melaksanakan dan memberikan landasan hukum bidang pertanahan untuk terwujudnya suatu tata kehidupan bagi masyarakat dimana tanah di samping mempunyai fungsi sosial namun aturan hukum pertanahan belum sepenuhnya memberi kepastian hukum.

menjadi kurang terlindungi, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin

dan pemanfaatan tanah.

[63]

juga berfungsi atau memberikan nilai ekonomis bagi pemilik hak atas tanah dan mempunyai nilai jaminan bagi pemegang hak. Pendaftaran tanah berarti mencatat hak-hak yang dipegang oleh perorangan atau kelompok ataupun suatu lembaga atas suatu bidang tanah oleh pejabat yang berwenang dan mengeluarkan surat bukti hak. Secara yuridis pendaftaran tanah telah dijamin di seluruh wilayah Republik Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari Pasal 19 Undang-undang Pokok Agraria yang menyatakan demi kepastian hukum tanah harus didaftarkan. Hukum menghendaki kepastian. Kepastian dibutuhkan untuk menghilangkan keragu-raguan. Hukum pertanahan Indonesia menginginkan kepastian mengenai siapa pemegang hak milik mestinya. Terhadap hak atas tanah yang dikuasai oleh masyarakat sekarang ini dengan suatu bukti kepemilikan ada sifatnya yang tertulis dan ada juga yang tidak dilengkapi dengan suatu bukti (alas hak) yang jelas, hal ini disebabkan tanah yang ada yang dikuasai pemiliknya berasal dari pembukaan tanah pada zaman dahulu secara bersama-sama oleh suatu kelompok masyarakat yang tentunya dapat menyebabkan peluangnya terjadi sengketa semakin besar. Berlakunya peraturan tentang pendaftaran tanah sehingga peraturan tersebut dapat berfungsi denngan baik, salah satu faktor adalah dilihat dari kelembagaan dan aparat pelaksana. Pasal 19 Undang-undang Pokok Agraria telah disebutkan bahwa pendaftaran tanah merupakan kewajiban bersama antara merintah dengan masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah dan memenuhi Pasal 5 dan Pasal 6 PP Nomor 24 Tahun 1997. Dalam melakukan pendaftaran tersebut ada kalanya timbul kendala-kendala dan permasalahan, baik yang dihadapi pemerintah (BPN) ataupun masyarakat (yang mempunyai hak atas tanah). Unsur-unsur yang menjadi kendala di luar ketentuan Undang-undang mungkin baik itu kendala dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri, yaitu terbatasnya tenaga pelaksana, sarana, biaya dan kurangnya penyuluhan atau hak-hak lain atas sebidang tanah. Namun pendaftaran tersebut tidak berjalan sebagaimana

[64]

yang diberikan kepada masyarakat sehingga masyarakat kurang berminat dan kurang mengerti arti dan pentingnya sertipikat itu, mungkin juga karena biaya pengurusan yang terlalu mahal atau proses pengurusan pendaftaran tanah terlalu lama dan berbelit. Selain dari hal-hal yang disebut di atas, keadaan obyektif bidangbidang tanah yang luas dan tersebar di wilayah yang luas dan sebagian besar pula penguasaannya tidak pula didukung oleh alat-alat pembuktian yang mudah diperoleh dan dapat dipercaya kebenarannya juga menjadi sebab terjadinya kendala dalam terwujudnya pendaftaran tanah dari segi kualitas maupun kwantitas telah mengupayakan beberapa cara dan strategi dalam pelaksanaan dan percepatan pendaftaran tanah dengan berbagai bentuk kerja lembaga pertanahan seperti PRONA, Program Ajudikasi, Konsolidasi tanah serta Program sertifikasi massal swadaya lainnya seperti LARASITA (Layanan Masyarakat Untuk Sertipikat LARASITA yang Tanah) pada saat ini. Program sedang dilaksanakan pelayanannya saat ini di Kantor

Pertanahan Medan sifatnya sangat membantu masyarakat namun demikian masih banyak juga kendala yang dihadapi, antara lain: 1 2 3 4 Masyarakat tidak di tempat. Masyarakat tidak memahami fungsi dan makna sertipikat. SPPT PBB tidak siap dan belum didistribusikan dari Kantor Nilai Jual Obyek Pajak terlalu tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dan data-data yang diperoleh maka dapat diketahui mengapa terjadi kendala-kendala untuk mendaftarkan hak atas tanah yaitu: 1 a. b. c. 2 a. Pada Kantor Pertanahan Kota Medan Sumber daya manusia kurang mencukupi. Peralatan kurang memadai. Sistem pemetaan kurang baik. Pada masyarakat umum. Alas hak yang ada kurang lengkap.

Pelayanan Pajak setempat.

[65]

biaya murah dan waktu yang relatif singkat benar-benar dapat dilaksanakan maka hal ini membantu pemerintah dalam mewujudkan Catur Tertib Pertanahan yang telah dicanangkan dan sudah saatnya bagi masyarakat yang masih ingin meningkatkan pengetahuannya terhadap sertipikat pemerintah harus berperan aktif berada di posisi terdepan untuk memberikan pengetahuan akan arti dan manfaat sertipikat tersebut. wewenang merupakan suatu konsep inti dalam hokum tata negara dan hukum administrasi (Hadjon. d. Jika saja aktivitas kinerja pembuatan sertipikat dilakukan dengan program sederhana. dengan kata lain tingkat pengetahuan terhadap pentingnya pendaftaran BAB V CACAT YURIDIS DALAM PROSEDUR SEBAGAI ALASAN PEMBATALAN SERTIFIKAT HAK ATAS TANAH OLEH PERADILAN TATA USAHA NEGARA Dalam konsep hukum publik. Beranggapan bahwa alas hak yang mereka pegang sekarang sia-sia saja mempunyai kekuatan yang sama dengan sertipikat sehingga untuk mensertipikatkan tanahnya hanyalah pekerjaan yang tanah (sertipikat) masih relatif rendah. 1998: 90). Terjadinya sengketa (konflik) tanah. e. c. f. Jenuh dengan prosedur yang panjang dan berbelit-belit. Dibutuhkan biaya yang relatif besar.b. Wewenang [66] . Tanda batas tidak dipasang. diantaranya untuk membayar Uang Pemasukan Negara dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan.

(2) bagi asyarakat berfungsi sebagai alasan mengajukan gugatan terhadap tindak pemerintahan (beroep ronden). Ruang lingkup keabsahan tindak pemerintahan meliputi: kewenangan.dalam arti yuridis adalah suatu kemampuan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menimbulkan akibat-akibat hukum (Indroharto. 2005). 1991: 68). yaitu berupa perlindungan hukum bagi masyarakat. Prosedur berdasarkan asas negara hukum. salah satu alasan yang dapat digunakan dalam gugatan adalah keputusan tata usaha negara yang digugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap kebijakan atau tindak pemerintahan harus bersumber atau bertumpu atas kewenangan yang sah. serta dibatasi oleh isi (materi). yaitu efisiensi dan efektifitas. Setiap tindak pemerintahan disyaratkan harus bertumpu atas kewenangan yang syah yang diperoleh dari sumber. UU No. 5 tahun 1986 jo. UU No. wilayah dan waktu. delegasi. sehingga ada peran serta masyarakat. delegasi maupun mandat. dan (3) bagi hakim berfungsi sebagai dasar pengujian suatu tindak pemerintahan (toetsings gronden). (1) bagi aparat pemerintah berfungsi sebagai norma pemerintahan (bestuur normen). prosedur dan substansi (Hadjon. 9 Tahun 2004. atribusi. Substansi bersifat mengatur dan mengendalikan apa (sewenangwenang/legalitas ekstern) dan untuk apa (penyalahgunaan wewenang. Aspek prosedur hukum merupakan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu keputusan atau ketetapan yang diterbitkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara. Kewenangan lahir atas. Dalam Pasal 53 ayat (2) a. asas instrumental. baik dari sumber atribusi. melanggar Undang-Undang/legalitas intern). atribusi. Pemerintahan yang bersih atau Rechtmategheid Van Bestuur adalah asas keabsahan tindak pemerintahan yang memiliki tiga fungsi. tidak berbelit-belit serta perlu deregulasi. Di dalam penjelasan pasalnya ditentukan bahwa suatu keputusan tata usaha negara dapat dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila yang bersangkutan (keputusan) itu bertentangan dengan [67] . delegasi dan mandat. asas demokrasi yaitu pemerintah harus terbuka. mandat.

artinya keputusan badan atau pejabat tata usaha negara tersebut bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. dimulai dari persiapan sampai terbentuknya ketetapan administrasi. syarat pelaksanaan keputusan dan jangka waktunya. Dengan ditemukannya adanya kesalahan prosedur menjadikan dasar alasan pengadilan dalam putusannya untuk menyatakan “batal” (nietig) keputusan tersebut. Dengan demikian apabila suatu keputusan tidak memenuhi prosedur hukum dan cara [68] . Ketetapan administrasi harus dituangkan dalam bentuk sebagaimana telah ditetapkan dalam peraturan yang menjadi dasar hokum dibentuknya ketetapan administrasi itu. Dengan demikian aspek prosedur hukum merupakan salah satu yang menjadi dasar putusan peradilan tata usaha negara untuk membatalkan sertipikat hak atas tanah disebabkan bahwa badan atau pejabat tata usaha negara telah melakukan perbuatan hukum mengeluarkan keputusan atau ketetapan karena adanya kesalahan yang bersifat “prosedur hukum” dalam penerbitannya. Jangka waktu ditetapkan antara adanya hal-hal atau keadaan yang menyebabkan dibentuknya ketetapan administrasi dan diberikannya ketetapan administrasi itu kepada yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan ketetapan administrasi itu. Menurut van der Pot. tata cara dan prosedur menjadi syarat yang bersifat menentukan atau “bestaansvoorwaarde” tergantung dari pada yang ditentukan dalam hukum positif yang bersangkutan.ketentuan–ketentuan dalam peraturan peraturan perundang-undangan yang bersifat “Prosedural”. demikian juga halnya mengenai cara pelaksanaan ketetapan administrasi. Soehino menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan prosedur atau formal dari sebuah keputusan antara lain: berhubungan dengan tatacara atau prosedur atau proses pembentukan ketetapan administrasi. harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan. berhubungan dengan bentuk keputusan. tidak boleh dilampaui. setidaknya ada empat aspek yang harus dipertimbangkan dalam suatu keputusan tata usaha negara yakni: berhubungan dengan proses syarat-syarat yang ditentukan oleh perundang-undangan. Syarat-syarat yang berkaitan dengan pelaksanaan ketetapan administrasi itu harus dipenuhi. sebagaimana dikutip Soehino. Lebih lanjut dijelaskan.

UU No. akan berakibat dapat diganggu gugat atas keputusan yang telah dikeluarkan. Setiap pembuatan keputusan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah digariskan. pemberian hak atas tanah yang berasal dari tanah-tanah yang berstatus hukum tanah negara adanya perbedaan pengaturan meskipun obyek berstatus tanah negara. bagi hukum akibat perbuatan itu dianggap tidak pernah ada. Dengan demikian rumusan masalahnya “ada perbedaan perlakuan berkaitan dengan aspek prosedur hukum yang mengatur penetapan keputusan pemberian hak atas tanah antara tanah negara bekas hak barat pada umumnya dengan tanah negara bekas milik Warga Negara Belanda”. 9 Tahun 2004. dalam artian bisa ikut dalam proses pengambilan keputusan. keputusan yang tidak sah dapat berakibat ”nietigheid an rechtswege” (batal karena hukum). Konsekwensinya. Hal tersebut disebabkan untuk tanah-tanah dengan status obyek landreform. ”nietig” (batal) atau ”vernietigbaar” (dapat dibatalkan). dan menurut penjelasan Pasal 53 UU No. Dengan mengikuti prosedur hukum akan memberikan kemungkinan bagi warga masyarakat untuk memasukkan pengaruh yang dikehendaki.pembuatannya maka keputusan tersebut menjadi batal karena tidak memenuhi prosedur hokum atau syarat formal. ”Nietig” berarti bahwa bagi hukum perbuatan yang dilakukan dianggap tidak ada. Surat Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara merupakan alas hak untuk terbitnya sertipikat hak milik atas tanah. bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku Bertitik tolak dari latar belakang di atas. 5 tahun 1986 jo. 1988: 24) menjelaskan. Pertanyaan yang muncul adalah apa akibat bagi keputusan yang tidak sah? (Hadjon. Dalam kasus sengketa ini pokok persoalan hukum yang hendak diungkapkan bahwa tergugat dalam menerbitkan sertipikat hak milik atas tanah sengketa tersebut cacat hokum berkaitan dengan aspek wewenang. Apabila ketentuan-ketentuan mengenai prosedur hukum tidak mendapat perhatian oleh Badan atau pejabat tata usaha negara. ”Vernietigbaar” berarti bagi hukum perbuatan yang dilakukan dan akibatnya dianggap ada sampai waktu pembatalan [69] .

: 115-116). Lebih lanjut dijelaskan. Selanjutnya perbedaan antara nietig. Suatu keputusan tidak pernah boleh dianggap batal karena hukum. batal. ex nunc: secara harfiah “ex nunc” berarti sejak saat sekarang. Dalam konteks ini. Dalam konteks ini. Vernietiegbaar Ex tunc Mutlak harus ada putusan/kept: Sifat putusan/kept: konstitutif kapan Ex tunc Dengan putusan/kept. ”Nietigheid van rechtswege” artinya bagi hukum akibat suatu perbuatan dianggap tidak ada tanpa perlu adanya suatu keputusan yang membatalkan perbuatan tersebut. “ex tunc“ berarti perbuatan dan akibatnya dianggap tidak pernah ada. Tindakan pemerintahan dapat berakibat batal karena hukum. keputusan yang tidak sah dari tindakan emerintah itu berupa ”nietigheid van rechtswege” (batal karena hukum). ex nunc” berarti perbuatan dan akibatnya dianggap ada sampai saat pembatalannya. Artinya keputusan organ pemerintah tersebut hanya dapat dibatalkan (vernietigbaar) dan bukan batal atau batal karena hukum.oleh hakim atau badan lain yang kompeten. van rechswegenietig dan verniegbaar seperti tabel di bawah: Uraian   Sejak batal Tindakan pembatalan Nietig Van rechtswege Nieteg Ex tunc Tanpa perlu ada putusan/kept. baik dalam hal keputusan itu dapat digugat dimuka hakim administrasi atau banding administrasi. atau dapat dibatalkan tergantung pada essentiel-tidaknya kekurangan yang terdapat di dalam keputusan itu. Sifat putusan/kept: Konstatering/ deklaratur (1) ex tunc: secara harfiah “ex tunc“ berarti sejak waktu (dulu) itu. Pertanyaan berikut yang muncul adalah. keputusan pemerintah selalu tidak boleh dianggap batal karena hukum. maupun dalam hal kemungkinan [70] . ”nietig” (batal) atau vernietigbaar” (dapat dibatalkan)? Untuk menjawab pertanyaan di atas karena tindakan pemerintah tersebut merupakan hukum administrasi maka berpedoman pada asas vermoeden van rechmatigheid. Menurut Stellinga (Utrecht.

[71] . demikian juga dalam hal kedua kemungkinan tersebut tidak ada. perbuatan hukum adalah sah sampai dinyatakan batal. (Prawirohamidjojo. tanpa tahun: 3-5).untuk menggugat dan untuk memohon banding itu tidak digunakan. ketika ada gugatan dan kemudian gugatan telah mempunyai kekuatan hukum tetap terhitung sejak saat keputusan tata usaha negara itu dinyatakan batal (nietig). Dalam vernietigbaar. Selama pihak yang berkepentingan dengan pembatalan itu tidak pernah menyatakan bahwa karena cacat ini perbuatan itu dipandang sebagai tidak sah “onrechtmatig“. Dengan kata lain. Suatu perbuatan hukum yang dapat dibatalkan adalah suatu perbuatan yang mengandung cacat. maka tidak bisa dikatakan adanya pembatalan vernietiging.

9-XI-1998 tanggal 20 Juli 1998.Reg. SK. Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (tergugat II). Aspek cacat prosedur hukum adalah perbuatan atau tindakan hukum pendaftaran dan penerbitan sertipikat tanah obyek sengketa tersebut oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat. 39 PK/TUN/2002. sertipikat hak milik tanah obyek sengketa dibatalkan atas permohonan dari pihak ketiga yakni.Reg. Putusan MARI No. SBY. pemilik tanah obyek sengketa yang berasal dari Ni Gusti AS berdasarkan atas SK Panitia Landreform Daerah Tingkat II Badung tanggal 21 Pebruari 1963 No. tanggal 4 Agustus 1999. DL. Dkk. Kasus Posisi Bahwa para penggugat fundamentum petendi mendalilkan. 82/B/TUN/1999/ PT. 25/G/TUN/PTUN. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/KBPN No. 129/Pemecutan Kaja. dan atas dasar surat keputusan pembatalan [72] . adalah Kepala Inspeksi Agraria (Kinag) atau saat ini Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi. dkk. Obyek sengketa adalah tanah obyek landreform berasal dari tanah (adat) yang terkena ketentuan UndangUndang kelebihan maksimum sertipikat hak milik No. tanggal 28 April 1999. terbit tanggal 23 Desember 1965. dan PK MARI No. Berdasarkan SK Menteri Pertanian dan Agraria No.. tanpa adanya alas hak yang berupa Keputusan Pemberian Hak Milik Atas Tanah terlebih dahulu.XIII/17/Ka/1962 tentang Penunjukan Pejabat (lihat Pasal 14 PP No.Reg. Kasus sengketa antara AASO. 9-XI-1998. A. dengan melihat waktu terbitnya sertipikat hak milik tahun 1965. 221/1962).Aspek prosedur hukum penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak berdasarkan ketentuan. (para penggugat) melawan Kepala Kantor Pertanahan Kota Denpasar (tergugat I). yang dibatalkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/KBPN tanggal 20 Juli 1998 No. Putusan Pengadilan yang terkait PTUN Denpasar No. tanggal 17 Maret 2004. tanggal 12 Oktober 2001.Dps. 370 K/TUN/1999. atas nama I Gusti NMM.TUN. PTTUN Surabaya No. A/XX/202/57 atas nama wajib lapor I Gusti Adi termasuk sebagai tanah yang dipilih untuk tetap dimiliki dan menjadi bagian dari I Gusti NMM sebagai salah satu dari delapan unit keluarga wajib lapor tersebut.

menyatakan batal atau tidak sah SK Menteri Negara Agraria/KBPN No. dkk. 9-XI.1998 tanggal 20 Juli 1998. 630. 3395/Pemecutan Kaja atas nama DL dkk. 9-XI. Pertimbangan hukum Peradilan Tata Usaha Negara Denpasar pada pokoknya berpendapat bahwa tergugat tidak terbukti telah melakukan tindakan atau perbuatan hokum yang melanggar ketentuan Pasal 53 ayat (2) sub a UU No. serta memerintahkan kepada tergugat I untuk mencabut SK Kepala Kantor Pertanahan Kota Denpasar berupa pengumuman tentang pembatalan sertipikat No. Dan memerintahkan kepada tergugat II mencabut SK Menteri Negara Agraria/KBPN No. 61-1627 Denpasar dan sertipikat hak milik No.3395/Pemecutan Kaja tas nama DL. 3395/Pemecutan Kaja. Bahwa tindakan tergugat I dan II tersebut menurut penggugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bertentangan dengan larangan berbuat sewenang-wenang serta bertentangan dengan asas. 24 tahun 1997. [73] . 5 tahun 1986. 630. dan menimbang meskipun terjadi sengketa atas tanah hak yang menyangkut mengenai data fisik dan yuridis sepanjang tidak ada cacatan di dalam buku tanah sebagaimana Pasal 30 ayat 1 huruf c. d dan e PP No.1998 dan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kota Denpasar berupa pengiumuman tentang pembatalan sertipikat tanggal 31 Agustus 1998 No. atas nama DL. Dasar pertimbangan hukumnya: bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 2 dan 3 dan Pasal 55 ayat (3) serta Pasal 52 ayat (1) PP No. atas nama DL dkk.tersebut tergugat menerbitkan sertipikat hak milik No. sampai ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.. 3395/Pemecutan Kaja. Atas dasar hal tersebut maka penggugat mengajukan petitum gugatan yang pada pokoknya memohon agar pengadilan untuk: memerintahkan kepada tergugat I untuk menunda pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) yang disengketakan khususnya sertipikat hak milik No. 24 tahun 1997 tidak ada halangan untuk menerbitkan sertipikat.asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat 2 a dan c UU No. dkk. 611627–Dps tanggal 31 Agustus 1998 dan sertipikat hak milik No. 5 tahun 1986.

82/B/TUN/1999/PT. Atas dasar pertimbangan hukum tersebut maka putusan PTUN. atas nama DL. Denpasar. ketiga. No. bahwa: pertama. material. formal. dengan amar putusannya: menguatkan putusan PTUN. Denpasar. terbukti bahwa terbitnya sertipikat hak milik No. bahwa menurut Mahkamah Agung in casu sebenarnya terdapat suatu sengketa pemilikan obyek perkara antara para pemohon kasasi/penggugat dengan LSP. Reg. termohon kasasi telah menerbitkan Surat pembatalan sertipikat hak milik No. Dengan tidak terbuktinya melanggar ketentuan peraturan perundangundangan maka dengan sendirinya tidak terdapat adanya unsur sewenangwenang dari tergugat I dan II didalam mengeluarkan obyek sengketa. LSP. 370 K/TUN/1999 tanggal 12 Oktober 2001 yang dalam pokok perkara memutuskan: menyatakan batal atau tidak sah surat keputusan pembatalan dari Menteri Agraria/KBPN dan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan kota Denpasar berupa pengumuman tentang [74] . an. 5 tahun 1986. tanggal 28 April 1999. tanggal 29 April 1999.TUN. Dalam tingkat Kasasi. Reg. bahwa untuk dapatnya membatalkan suatu sertipikat hak milik dalam perkara ini. Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara ini dikuatkan oleh Putusan PTUN No. II mendasarkan kepada suatu putusan dari pengadilan umum yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tentang siapa pemilik obyek perkara tersebut. Mahkamah Agung dalam pertimbangan hukumnya berbeda pendapat dengan putusan pengadilan sebelumnya. seharusnya tergugat I. 129/Desa Pemecutan Kaja.Berdasarkan pertimbangan hukum tersebut. Surabaya. substansial dan wewenang sesuai Pasal 53 ayat (2) sub a UU No. No. 25/G/1998/PTUN. tanggal 4 Agustus 1999. I Gusti NMM menjadi an. hanya atas dasar kesimpulan–kesimpulan dan fakta-fakta saja yang disampaikan oleh DL. Atas dasar pertimbangan hokum tersebut Mahkamah Agung dalam putusan MARI No. kedua. dalam amar putusannya pada pokoknya: menolak gugatan penggugat-penggugat seluruhnya. yang mendapat kuasa dari saudaranya. Reg. dkk tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan baik yang bersifat prosedural. LSP. 3395. salah satu an. 25/G/1998/PTUN.

akan dikaji dan dianalisis permasalahan yang berkaitan dengan aspek prosedur hukum dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dalam menerbitkan sertipikat hak milik atas tanah yang berasal dari tanah obyek landreform. atas nama DL dan memerintahkan kepada tergugat II untuk mencabut Surat Keputusan Pembatalan Menteri Agraria/KBPN. dimana ditentukan: seorang atau orang-orang yang dalam penghidupannya merupakan satu keluarga bersamasama hanya diperbolehkan menguasai tanah pertanian. Dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) UU No. Kode “A” merupakan kode yang memberikan petunjuk bahwa tanah obyek landreform tersebut semula berasal dari tanah–tanah adat/yasan yang terkena ketentuan kelebihan maksimum sebagaimana yang diatur dalam UU No. Tanggal 17 Maret 2004 amarnya: Menolak permohonan peninjauan kembali dari pemohon peninjauan kembali I dan II. Ketentuan Tanah Obyek Landreform Salah satu karakteristik bahwa obyek sengketa dalam kasus ini merupakan tanahtanah obyek landreform adalah adanya Surat Keputusan Panitia Landreform Daerah Tingkat II Badung tanggal 21 Pebruari 1963 No. 3395/Pemecutan Kaja. 56/prp/1960 (LN 1960 No. A/XX/202/57. Dalam Putusan Peninjauan kembali Mahkamah Agung PK No. 56/prp/1960 merupakan ketentuan batas kepemilikan tanah yang dapat dimiliki oleh satu keluarga. apakah tergugat dalam menerbitkan sertipikat hak milik atas tanah obyek landreform tanpa adanya surat keputusan pemberian hak milik terlebih dahulu sebagai dasar penerbitannya sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Reg. serta memerintahkan kepada tergugat I untuk mencabut Surat Keputusan Kepala kantor Pertanahan Kota Denpasar berupa pengumuman dan sertipikat hak milik No. 174) tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Berkaitan dengan kasus sengketa ini. Pertanyaannya. baik miliknya sendiri atau kepunyaan orang lain. B. 3395/Pemecutan Kaja atas nama DL. 39 K/TUN/2002.pembatalan sertipikat dan sertipikat hak milik No. yang jumlah [75] .

Untuk luas maksimum kepemilikan tanah pertanian didaerah Kabupaten Badung berdasarkan daftar lampiran keputusan Menteri Agraria ini untuk tanah sawah 7. 56/prp/1960 dan diwajibkan melaporkan kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara setempat dalam jangka waktu 3 (tiga)bulan. Untuk mengetahui luas maksimum disuatu daerah kepemilikan tanah pertanian didasarkan pada Daftar Lampiran Keputusan Menteri Agraria No.5 ha. Sehingga apabila seseorang memiliki luas tanah pertanian di atas luas maksimum yang ditentukan akan terkena ketentuan kelebikan maksimum. dan untuk tanah kering seluas 9 ha. SK. kalau dipandang perlu maka jangka waktu tersebut dapat diperpanjang oleh Menteri Agraria.978/Ka/1960 (TLN No. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa kewajiban melaporkan tentang keberadaan tanah pertanian yang melebihi batas maksimum tidaklah selalu yang menguasai tanah tersebut akan tetapi bisa orang lain.luasnya tidak tidak melebihi batas maksimum sebagai yang ditetapkan dalam ayat 2 pasal ini. Sk 409/Ka/1961 tentang pernyataan penguasaan oleh pemerintah atas bagianbagian tanah yang merupakan kelebihan dari luas maksimum. 2143) tentang Penegasan Luas Maksimum Tanah Pertanian. sebagaimana ketentuan pasal tersebut: orang-orang dan kepala keluarga yang anggota-anggota keluarganya menguasai tanah pertanian yang jumlahnya melebihi luas maksimum wajib melaporkan hal itu kepada Kepala Agraria daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan didalam waktu 3 bulan sejak dimulai berlakunya peraturan ini. menyatakan bahwa bagian– bagian tanah yang merupakan kelebihan dari luas maksimum. Bagi tanah-tanah pertanian yang ternyata diketahui merupakan tanah kelebihan maksimum maka bagian tanah-tanah yang merupakan kelebihan maksimum dikuasai negara melalui pernyataan penegasan penguasaan sebagaimana Surat Keputusan Menteri Agraria No. Keputusan ini menetapkan: Pertama. yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1961. sebagai tanah- [76] . Hal tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal 3 UU No.

maka sejak saat itu status tanah negara berubah menjadi tanah hak milik. Berbeda dengan surat keputusan pemberian hak milik atas tanah negara lainnya yang akan menjadi batal dengan sendirinya apabila persyaratan dan kewajibannya tidak dipenuhi dalam jangka waktu tertentu. 2322). begitu surat keputusan tersebut ditetapkan.tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Kedua. Apabila ternyata berdasarkan ketentuan yang berlaku calon penerima hak memenuhi persyaratan yang ditentukan maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berwenang menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara berbentuk Surat Keputusan Pemberian Hak. ditetapkan dibagikan kepada para petani yang mengerjakan tanah tersebut dengan hak milik yang memenuhi syarat dan kewajiban yang ditentukan dalam Peraturan Pemerintah tersebut. Perbedaan keduanya terletak pada pada kekuatan hukum berlakunya surat keputusan hak milikitu sendiri. menyerahkan untuk menetapkan bagian yang menjadi hak pemilik dan bagian-bagian tanah yang dikuasai langsung oleh pemerintah sub 1 kepada Panitya Landreform Daerah Tingkat II/Kotapraja yang dibantu oleh Panitya kecamatan dan desa. tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Rugi. Dengan adanya perbuatan hukum penegasan dari Badan atau pejabat Tata Usaha Negara (PMA No. Karakter khusus dari Surat Keputusan Pemberian Hak Milik Atas Tanah yang berasal dari obyek landreform ini tidak sama dengan surat keputusan pemberian hak milik atas tanah negara pada umumnya. tanpa harus memenuhi persyaratan dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam surat keputusan pemberian haknya. dalam Surat Keputusan Hak Milik Atas Tanah Obyek Landreform. No. 224 tahun 1961 (TLN. 409/Ka/1961) maka “karena hukum” bagian tanah-tanah pertanian yang terkena kelebihan maksimum berdasarkan penetapan Panitya Landreform Daerah status hukumnya berubah bukan lagi merupakan tanah yasan/adat. [77] . Tanah-tanah ini dikenal dengan sebutan tanah negara obyek landreform. tetapi menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara (tanah negara) sejak tanggal 24 September 1961. Berdasarkan PP No.

Sebaliknya. kewajiban dan jangka waktu yang harus dipenuhi oleh penerima hak atas tanah dan bila tidak dipenuhinya persyaratan dan kewajiban serta jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat keputusan maka pemberian hak milik atas tanah tersebut akan batal dengan sendirinya. tidak ada klausula yang menentukan kalimat “batal dengan sendirinya”. Prosedur Hukum Pemberian Hak Milik Atas Tanah Obyek Landreform Berdasarkan ketentuan. Demikian pula dalam ketetapan Pasal 14 ayat (3) PP No. 224 [78] . 2512) tentang Penunjukkan Pejabat yang dimaksudkan dalam Pasal 14 Peraturan Pemerintah No. struktur organisasi dan kewenangan dalam pemberian hak milik atas tanah negara adalah Menteri Agraria sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agraria No. Di dalam Surat Keputusan Pemberian Hak Milik Atas Tanah Obyek Landreform tercantum klausula: “kelalaian di dalam memenuhi kewajibankewajiban atau pelanggaran terhadap larangan tersebut di atas dapat dijadikan alasan untuk mencabut hak milik yang diberikan itu”. 112/Ka/61. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria No. Kalimat tersebut adalah contoh Surat Keputusan yang diatur dan terlampir dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria No. SK.Sebaliknya. 224 tahun 1961 yang menetapkan: pemberian hak milik tersebut pada ayat 2 pasal ini dilakukan dengan Surat Keputusan Menteri Agraria atau pejabat yang ditunjuk olehnya dst. Hal ini berbeda dengan Surat Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara Obyek Landreform. kecuali dicabut atau dibatalkan. No. XIII/17/Ka/1962 (TLN. tentang Pembagian Tugas Wewenang Agraria. XIII/17/ 1962. SK. SK. C. Di dalam setiap Surat Keputusan Pemberian Hak Milik Atas Tanah Negara selalu dicantumkan klausula yang berisi syarat-syarat. kekuatan hokum berlakunya surat Keputusan pemberian hak milik atas tanah obyek landreform tidak dapat batal dengan sendirinya bilamana penerima hak milik tidak memenuhi persyaratan dan kewajiban yang dimaksud dalam surat keputusan tersebut.

dimana kutipan surat keputusan ini merupakan tanda bukti bagi penerima hak milik atas tanah Negara obyek landreform. dan berdasarkan PMNA/KBPN No. Gusti ABS. Berkaitan dengan kasus sengketa. kewenangan tersebut didelegasikan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. Dalam perkembangan selanjutnya. yakni dapat dilakukan oleh Kepala Inspeksi Agraria dalam menerbitkan Surat Keputusan sekaligus Kutipan Surat keputusan atau bisa juga dilimpahkan kepada Kepala Kantor Agraria Daerah.tahun 1961. yang pada waktu itu adalah Kepala Kantor Pendaftaran Tanah setempat. 224 tahun 1961. huruf b: Pemberian hak milik kepada petani yang mendapat pembagian tanah disatu daerah tingkat II dilakukan bersama dalam satu surat keputusan. yang dalam rangka [79] . bahwa tanah obyek hak milik No. Berdasarkan ketetapan Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria ditetapkan bahwa penerima hak milik diberikan kutipan surat keputusan pemberian hak milik yang dikeluarkan oleh Kepala Agraria Daerah. Pemberian kutipan dapat dilakukan oleh Kepala Agraria Daerah. demikian juga dengan pendaftaran hak milik atas tanahnya. Atas dasar surat keputusan pemberian hak milik tersebut para pemegang hak milik setelah memenuhi syarat dan kewajiban yang ditentukan dalam PP No. 159. 224 tahun 1961 diwajibkan mendaftarkan hak miliknya.8a. karena perubahan struktur organisasi tugas dan wewenang dari badan atau pejabat tata usaha negara sebagaimana diatur dalam PMDN No 6 tahun 1972. Kata “dapat” dalam ketentuan ini bisa diartikan dua kemungkinan. menunjuk pada Kepala Inspeksi Agraria yang bersangkutan. dapat ditarik unsur-unsur sebagai berikut: pertama. Persil No. kewenangan pemberian hak atas tanah obyek landreform ada pada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi. sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 14 PP No. menetapkan penyimpangan dari ketentuan PMA No. 3 tahun 1999. pipil No. SK. 112/Ka/1961. sebagai Pejabat Tata Usaha Negara yang diberi wewenang untuk memberikan hak milik atas tanah yang dibagikan dalam rangka pelaksanaan landreform. 129 tersebut asalnya adalah milik Ni. Hal tersebut ditetapkan dalam penetapan kedua.

apabila tidak ada bukti kutipan surat keputusan pemberian hak milik atas tanah. kedua. Berdasarkan dalil tersebut untuk unit keluarga I Gusti NMM ditetapkan berhak atas tanah sawah seluas 3 ha dan tanah kering seluas 5. pipil 159.200 m2.landreform dilaporkan oleh wajib lapor I Gusti Adi yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh Keputusan Panitya Landreform Daerah Tingkat II Badung tanggal 21 Pebruari 1963 No. Dari riwayat tanah obyek sengketa tersebut menunjukkan bahwa obyek sengketa adalah tanah obyek landreform. Untuk I Gusti Ngurah Made sendiri memperoleh tanah yang letaknya di Subak Tanggulaji. seluas 3. A/XX/202/57. berarti bahwa berdasarkan ketentuan landreform status tanah tersebut masih merupakan tanah dengan status hukum tanah negara obyek landreform yang belum terbagi. Hal yang tidak terlihat dalam kasus sengketa ini adalah bukti adanya pembagian atas tanah yang berupa surat keputusan dan kutipan surat keputusan pemberian hak milik yang merupakan prosedur dan dasar penerbitan sertipikat hak milik. Berarti terdapat adanya cacat yuridis berkaitan dengan aspek prosedur hukum yang dilakukan oleh tergugat dalam menerbitkan sertipikat hak milik atas tanah obyek sengketa. [80] . persil 8a.400 ha. Didalamnya ditetapkan terdiri 8 unit keluarga yaitu: I Gusti Adi. dkk. Dengan status tanah masih merupakan tanah negara maka tergugat tidak berwenang untuk menerbitkan sertipikat hak milik sebelum ada keputusan pemberian hak atas tanahnya yang merupakan prosedur dan sekaligus merupakan alas hak untuk dapat terbitnya sertipikat hak milik.

tuntutan masyarakat semakin tinggi terhadap lahan garapan sebagai sumber mata pencaharian. Terbatasnya lahan pertanian di sekitar hutan mendorong masyarakat untuk memperluas lahan kegiatan pertanian yang seringkali masuk ke kawasan hutan. termasuk masyarakat dan keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Konflik hak-hak kepemilikan atas lahan yang semakin marak di seluruh tanah air terjadi karena persepsi yang berbeda soal hak kepemilikan atas lahan. pemukiman dan investasi bagi industri kehutanan dan perkebunan tidak mudah untuk diselesaikan. reformasi politik dan desentralisasi telah menciptakan berbagai peluang dan tantangan bagi para pihak.BAB VI AKSI KOLEKTIF PENGUATAN HAK MASYARAKAT ATAS LAHAN Sejak jatuhnya Pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Di satu sisi. baik dalam bentuk hak kepemilikan maupun hak kelola. untuk mengelola sumberdaya secara lebih baik. maupun antara masyarakat dengan pihak lain seperti perusahaan. tidak jelasnya hukum pertanahan dan tumpang tindih antar peraturan. krisis ekonomi. Sekalipun telah ada upaya penyelesaian konflik atas lahan baik antar masyarakat. Seiring dengan bertambahnya penduduk. Padahal hak properti yang jelas menjadi faktor penting bagi semua pihak. kawasan hutan sebagian dalam kondisi tidak berhutan dan cukup potensial bagi kegiatan pertanian atau wana tani yang dapat memberi keuntungan sosial ekonomi masyarakat maupun lingkungan. termasuk masyarakat sekitar hutan. namun masih belum ada kejelasan soal hak properti. Di sisi lain upaya untuk memanfaatkannya secara optimal masih terkendala akibat tidak jelasnya peran masyarakat dan hak properti. namun persoalan kebutuhan lahan pertanian. [81] . Sekalipun desentralisasi memberi kewenangan yang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan sumberdaya alam di wilayahnya.

difasilitasi untuk belajar bersama memperkuat kelompok. Sungai Telang di Kabupaten Bungo dan Lubuk Kambing di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. kelompok masyarakat di dua desa. partisipasi berbagai pihak diperlukan untuk mencari solusi praktis bagi berbagai permasalahan dan juga meningkatkan kemampuan setiap individu dan masyarakat (Brydon. baik secara langsung maupun melalui suatu organisasi. aksi kolektif juga dipahami sebagai aksi bersama secara sadar oleh berbagai pihak melalui berbagai proses sosial dan politik untuk memperoleh manfaat pembangunan.1998). kelompok masyarakat berinteraksi dan bernegosiasi dengan para pihak di luar desa serta membangun jaringan kerja dalam rangka memperjuangkan hak kelola atas sumberdaya alam di sekitarnya.Dengan menerapkan penelitian aksi partisipatif atau PAR (participatory action research). menyusun rencana dan melakukan aksi dan refleksi. Dalam penelitian ini. 2004). Aksi kolektif akan timbul. dibangun oleh institusi-institusi eksternal. Melalui aksi kolektif. mengenali masalah dan peluang. Melalui aksi kolektif seseorang [82] . baik formal maupun tidak formal. Kelompok dapat terbentuk sendiri secara sukarela maupun. untuk mencapai kepentingan bersama (Marshal. bila dalam mencapai satu tujuan perlu kontribusi lebih dari satu individu (Ostrom. Memetik hasil dari sumberdaya yang terbatas A. 2003). Gambar. Melalui pendekatan ini.Miller et al. Aksi Kolektif dan Hak Properti Aksi kolektif diartikan sebagai suatu aksi yang dilakukan sekelompok individu.

hak sewa dan hak memungut hasil hutan. Dalam hal ini. Walau terdapat berbagai pendapat mengenai konsep dasar hak properti. kemampuan dan hak suara.berpeluang lebih untuk mengatasi keterbatasannya dalam hal sumberdaya. Kepastian Lahan bagi Masyarakat Lahan merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui. Bertahun-tahun masyarakat hidup dengan aturan sosial yang membentuknya dan lahan adalah bagian penting di dalamnya. Namun apa yang akan terjadi bila [83] . Selain fungsi sosial. tetapi mencakup kepastian memperoleh manfaat dari suatu kesepakatan hukum suatu kelompok sosial. baik kecil maupun besar. hak tidak hanya terbatas pada suatu bentuk fisik. Mewariskan lahan kepada keturunan merupakan tradisi budaya turun temurun. baik individu maupun komunal. baik hak milik Negara ataupun pribadi. B. kekuasaan. Di tingkat masyarakat. Bagi masyarakat sekitar hutan. Sumberdaya hutan di Indonesia dikuasai oleh Negara yang wewenang pengaturan dan pengurusannya berada pada pemerintah. Bromley dalam Meinzen-Dick et al (2001) memandang hak properti sebagai ruang untuk secara kolektif mempertahankan suatu pengakuan atas tuntutan alur manfaat. budaya dan aturan sosial juga mengatur pengelolaan sumberdaya dan distribusi manfaatnya. hak pakai. hak properti tidak dipandang terbatas pada hak secara ekslusif mengambil keputusan (kontrol) atas sumberdaya. tetapi juga hak menerima manfaat dan mengelola sumberdaya tersebut. namun penting dipahami suatu pengertian hak property secara luas. hak guna usaha. Lahan yang diklasifikasikan sebagai kawasan hutan merupakan milik Negara yang wewenang pengaturannya dipegang oleh Departemen Kehutanan. Sebagian pihak seringkali mengartikan hak property sebagai hak kepemilikan. lahan pun punya fungsi ekonomi tempat bergantung bagi masyarakat petani miskin. Di Indonesia. Di Indonesia. terdapat berbagai hak atas tanah diantaranya hak milik – yang merupakan hak terkuat dan pemiliknya mempunyai kontrol penuh atas tanah-. negara mengenal hak masyarakat tradisional (adat).

Kelompok Sinar Tani adalah kumpulan para petani laki-laki yang mengolah padi sawah. motivasi. tokoh masyarakat dan masyarakat. Kekhawatiran semakin meningkat ketika masyarakat desa dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan kritis yang lahir dengan sendirinya dari diri mereka – soal kepemilikan. topik yang menjadi tujuan kelompok serta masukan dari tingkat kabupaten. namun meluas hingga areal hutan di sekitarnya yang dalam banyak kasus melahirkan konflik lahan. Akibatnya. periode keberadaan kelompok. [84] . Badan Permusyawaratan Desa (BPD). etnis. terutama tentang kekuatan hokum lahan yang mereka miliki dan resiko-resiko yang harus mereka hadapi bila lahan tidak mempunyai kekuatan hukum. C. masyarakat memandang pentingnya kepastian lahan sebagai kebutuhan atas hak pengelolaan sumber daya alam. lahan milik yang diperoleh baik dari hasil jual beli maupun warisan tidak disertai dengan surat bukti kepemilikan. Kabupaten Bungo dan Tunas Harapan di Desa Lubuk Kambing. terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti aparat pemerintahan desa. maka seorang petani akan mencari lahan lain untuk memenuhi kekurangan tersebut. dua kelompok dipilih untuk difasilitasi: Sinar Tani di Desa Sungai Telang. Secara mendasar. Kabupaten Tanjabar. Ketika lahan tidak cukup lagi untuk dibagi dan memenuhi kebutuhan hidup mendasar. Kelompok yang Difasilitasi Berdasarkan aspek terbentuknya kelompok. gender. lahan baru dibuka demi memperluas lahan pertanian. Kebutuhan akan kepastian lahan merupakan salah satu permasalahan penting yang ditemui di kedua desa yang difasilitasi. baik angka kelahiran atau masuknya pendatang di suatu daerah menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan atas lahan sebagai sumber penghidupan. Umumnya.sumberdaya yang tidak bisa diperbaharui ini harus menyokong populasi yang terus bertambah dan memenuhi berbagai kepentingan pembangunan? Pertambahan jumlah penduduk. Pembukaan lahan tidak hanya terjadi di sekitar wilayah desa.

kelompok dipilih karena mempunyai ciri-ciri kelompok yang kuat dan kukuh. Ciri-ciri Kelompok yang difasilitasi Deskripsi kelompok Sungai Telang Lubuk Kambing Kelompok Sinar Tani Kelompok Tunas Harapan Anggota kelompok berjumlah 17 orang Kelompok ini beranggotakan 34 orang laki-laki yang berasal dari organisasi yang semuanya adalah laki-laki dari desa dan masyarakat di dusun-dusun di satu RT di Dusun Sukamaju. tahun 2001. Kelompok pertanian. Kelompok ini bekerjasama dalam mengolah lahan di dusun termuda Desa Lubuk Kambing (Deskripsi lebih lanjut setiap kelompok disajikan pada Tabel 1). Desa Sungai Telang. Kelompok bantuan pemerintah yang menyediakan dana pemerintah tahun 1998. untuk namun kelompok ini masih tetap pembangunan perkebunan kelapa sawit melakukan kegiatan bersama. [85] . Kelompok Anggotanya berasal dari para pendatang membutuhkan Kelompok lahan ini untuk bertujuan membantu anggota petani lainnya untuk mengolah lahan. akan tetapi hanya beberapa anggota saja yang tertarik dalam proyek ini. Tingginya motivasi dan komitmen anggota untuk berkelompok dan aturan kerja yang masih berlaku menjadi cermin kekuatan dan keutuhan kelompok.Tunas Harapan merupakan kelompok petani laki-laki pendatang dari berbagai etnis. dan yang menerima bimbingan dari Petugas kegiatan bertujuan masingprogram Pertanian Lapangan (PPL). Pada di tahun 2000. kelompok ini memperoleh bantuan pemerintah dalam bentuk bibit padi. masing anggota kelompok. terbentuk ketika ada program saling membantu pemerintah terkait perbaikan proyek mengolah lahan irigasi terbatas untuk sejak lahan Kelompok ini memiliki aktivitas yang terbentuk menerima ketika pertanian ada persawahan. Selain karena terbentuk secara mandiri. Tabel 1.

Pembagian warisan dilakukan secara lisan oleh para ninik mamak yang disaksikan oleh tokoh masyarakat tanpa disertai bukti kepemilikan atas lahan ataupun surat warisan. Kelompok bersama-sama melihat. Masyarakat merasa kesulitan untuk menunjukkan bukti-bukti batas lahan mereka. Pada saat yang sama. Anggota kelompok ini memang merupakan orang-orang yang memiliki lahan dalam satu hamparan yang selama ini melakukan kegiatan bertani secara berkelompok. Proses jual beli lahan juga umumnya tidak disertai bukti kepemilikan dan surat jual beli. Masalah yang sering terjadi pada lahan mereka adalah terjadinya pergeseran batas lahan mereka oleh pemilik lahan tetangganya. Mencari Kepastian Lahan. Anggota kelompok menjadi sadar bahwa pengakuan atas kepemilikan lahan yang hanya berdasar kepercayaan diantara pemilik lahan saja ternyata tidak cukup.bukti kepemilikan atas lahan mereka menjadi sangat penting. Dasar ukuran lahan yang tidak jelas menyebabkan tidak jelasnya berapa ukuran dan batas lahan yang seseorang warisi. dan bukti. memahami serta menganalisa persoalan yang mereka hadapi dan berupaya mencari jawaban bagi penyelesaian permasalahan tersebut sesuai dengan kemampuan mereka. Dengan berkelompok. Sebuah Langkah yang Tertunda Di Sungai Telang. kesadaran masyarakat akan pentingnya kepastian hak juga muncul ketika mereka berencana memanfaatkan lahan untuk mendirikan sebuah bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) bagi sarana pendidikan anak-anak mereka [86] . mereka ingin agar pemanfaatan lahan dan sumberdaya alam bisa optimal dan saling membantu meningkatkan keterampilan dan membina kepercayaan sesama anggota. karena lahan-lahan tersebut diperoleh dari hasil warisan yang umumnya tidak dilengkapi surat-surat keterangan tanah. persoalan-persoalan ketidakpastian hak atas sumber daya alam terkuak ketika kelompok Sinar Tani berkumpul menggali permasalahan. Pembagian warisan atas lahan di Desa Sungai Telang memang masih menerapkan pola tradisional adat minang secara turun temurun.D.

Gambar.Dukungan dari pihak pemerintah daerah berupa bantuan dana pembangunan sebenarnya sudah tersedia. Sebagian anggota pernah mendengar istilah sertifikat sebagai bukti pengakuan hak atas lahan mereka. Anggota kelompok sepakat menyusun rencana bersama untuk menempuh proses pengajuan secara kolektif dan langkah awalnya adalah menemui pihak pemerintah daerah untuk menyampaikan masalah mereka. Seperti halnya lahan kebun dan sawah mereka. Mereka juga mengetahui bahwa sertifikat lahan tersebut dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah. seringkali letaknya sangat jauh sehingga sulit untuk dicapai. ‘Banyak pasangan muda baru menikah tidak mempunyai lahan sehingga mereka membuka lahan baru. Beranjak dari permasalahan tersebut.’ kata salah seorang anggota kelompok dalam percakapan bukan formal di salah satu pertemuan desa. anggota kelompok tani sepakat untuk bersama-sama memperoleh kepastian atas lahan mereka. tetapi mereka dihadapkan pada persyaratan bahwa lahan tempat dibangunnnya sekolah harus bersertifikat dan mempunyai bukti kepemilikan yang kuat. Perempuan dan pengelolaan sumberdaya Kesadaran untuk memperoleh lahan yang statusnya jelas juga dipicu oleh sempitnya lahan pertanian di desa seiring dengan pertumbuhan penduduk. lahan calon lokasi bangunan SMP ini pun tidak mempunyai status hukum yang jelas. Seorang wakil kelompok ditunjuk untuk [87] .

anggota kelompok disertai fasilitator desa mendatangi kantor dinas kabupaten untuk bertemu kembali dengan pegawai pemerintah guna mengetahui prosedur dan persyaratan pembuatan sertifikat lahan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan beberapa dinas kabupaten seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pihak pemerintah daerah memandang tuntutan masyarakat tersebut datang tepat pada waktunya. Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) dan Badan Perencanaan Pengembangan Daerah (Bappeda). Keinginan kelompok tani tersebut mendapat respon positif dari pihak Bappeda. masyarakat juga merasa pertemuan tersebut memberi kesempatan untuk mengklarifikasi permasalahan berhubungan dengan pertanahan melalui diskusi secara langsung dengan wakil pemerintah kabupaten dan penyuluh pertanian. berkunjung ke desa dan memberi penjelasan tentang sertifikasi lahan. baik perempuan maupun laki-laki. Tidak saja kelompok. [88] . Seorang penyuluh dari BPN (Badan Pertanahan Nasional) didampingi wakil dari Bappeda. Dalam kesempatan lain. Wakil kelompok tersebut menyampaikan aspirasi kelompok tani untuk mendapatkan kepastian hak atas lahan mereka yang belum dilengkapi oleh surat bukti kepemilikan. dan anggota masyarakat desa tetangga lainnya juga hadir.mewakili kelompok tani menghadap pihak Bappeda. Masyarakat sepakat melaksanakan pertemuan desa untuk mengetahui lebih jauh soal sertifikasi lahan. mulai dari pertanyaan dasar tentang pengertian sertifikat sampai dengan prosedur dan biaya yang harus dikeluarkan. Berbagai pertanyaan muncul. sebagai instansi pertama yang dikunjungi. karena pada saat yang bersamaan mereka sedang intensif memperkuat pemahaman hukum soal pertanahan. Masyarakat Desa Sungai Telang.

masyarakat miskin diberikan kesempatan untuk memperoleh sertifikat dengan biaya yang sangat ringan. Semangat kerja bersama dan pembagian peran antar anggota kelompok yang jelas mempercepat pengumpulan data. anggota kelompok sepakat untuk secara kolektif mengajukan permohonan melalui program PRONA. Melalui program yang dilakukan setiap tahun anggaran dengan sasaran di seluruh wilayah Indonesia ini. Mereka memilih program ini karena lebih mudah dan murah untuk mendapatkan legalitas atas hak kepemilikan lahan. Beragam informasi tentang prosedur dan persyaratan pengajuan sertifikasi lahan telah mendorong masyarakat untuk melanjutkan langkah memperoleh pengakuan hak milik atas lahan. karena program ini didukung oleh sumber dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Salah satunya adalah program pemerintah yang disebut dengan Program Nasional Agraria (PRONA). Perempuan di tengah berlimpahnya sumberdaya Masyarakat juga mendapat informasi terbaru tentang kebijakan dan peraturan yang berhubungan dengan pertanahan. Aksi kolektif dan dukungan berbagai pihak di tingkat desa mendorong [89] . Dari sebuah pertemuan kelompok. yakni sertifkat lahan. Mereka juga mengetahui adanya program pemerintah yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh pengakuan hukum atas lahan.Gambar. Langkah selanjutnya yang dilakukan kelompok tani adalah menyiapkan persyaratan yang diperlukan untuk pengajuan program PRONA.

Mereka justru mengajukan usulan bantuan pengadaan bahan. perkebunan dan kehutanan. Secara individu. Desa Lubuk Kambing yang sebagian besar pendatang tidak mengandalkan upayanya untuk memperoleh kepastian lahan pada program PRONA. harapan kelompok untuk mendapatkan sertifikat ternyata masih belum bisa terwujud. Sekalipun belum berhasil. pendidikan dan kesehatan.kelancaran proses pengajuan permohonan kepada BPN. Mereka berharap untuk mencoba kembali pada kesempatan berikutnya di tahun 2007. yang telah mengajukan permohonan kepada BPN pada tahun 2004. upaya kelompok mengumpulkan persyaratan dan menyampaikan berkas permohonan kepada pihak BPN tercapai. anggota kelompok dan masyarakat desa melakukan upaya mendapatkan pengakuan atau legitimasi hak atas lahan berupa Surat Keterangan Tanah (SKT) dan Surat Pengakuan atas Fisik Lahan (sporadik). Mereka berpendapat bahwa pemberian suatu bentuk bantuan [90] . Namun demikian. kecuali menerimanya dengan lapang dada. yang merupakan bentuk pengakuan hak atas lahan yang umum dikenal masyarakat dan keduanya dikeluarkan oleh kepala desa. Bungo mengungkapkan bahwa untuk tahun anggaran 2005. kelompok masyarakat Tunas Harapan di Dusun Suka Maju. Penentuan prioritas desa yang mendapat jatah tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan dan kesiapan masyarakat tetapi juga melibatkan faktor-faktor bukan teknis. Berbeda dengan Kelompok Tani Sinar Tani. Seluruh kuota telah dilokasikan untuk desa-desa lain di Kab. upaya kolektif yang dilakukan telah membawa banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga bagi anggota kelompok. Akhirnya. kuota sertifikat PRONA yang dikeluarkan BPN Kabupaten Bungo adalah sebanyak 250 sertifikat. Kepala Dinas BPN Kab. Kelompok Sinar Tani tidak dapat berbuat banyak menghadapi keadaan tersebut. sarana dan prasarana di bidang pertanian. Bungo. Dana pemerintah yang terbatas untuk pelaksanaan program tersebut tidak cukup untuk dapat menjangkau seluruh wilayah kabupaten secara bersamaan.

Inhutani V yang mau [91] . itu berarti dusun kita ini sudah diakui sebagaibagian dari wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat” (warga Dusun Suka Maju) lahan tempat mereka bermukim dan membuka ladang adalah kawasan hutan produksi yang selama ini silih berganti dikuasai oleh beberapa perusahaan swasta. Loka Rahayu (19771997). Wira Karya Sakti dengan masa konsesi 100 tahun dimulai 2004. kami pernah beramai-ramai menentang petugas PT. baik dalam bentuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maupun Hutan Tanaman Industri (HTI). Sadar Nila (1977-1997). Inhutani V mempertanyakan identitas kami” (seorang ibu. PT. sebagian masyarakat terkesan tidak terlalu mempermasalahkan status kepemilikan. Seluruh perempuan nekat menghadang buldoser perusahaan. Masyarakat juga menganggap program pemerintah yang diberikan kepada mereka merupakan “bentuk lain” dari pengakuan pemerintah terhadap keberadaan mereka di wilayah tersebut. “Bupati ada memberikan bantuan atap seng untuk gedung sekolah dasar perintis di dusun kita. mereka lebih cenderung mengharapkan pemerintah bisa memberikan akses dan hak kelola untuk memanfaatkan sumberdaya alam. selembar kertas yang berisi keterangan atas kepemilikan lahan dan ditandatangani oleh kepala desa dianggap sebagai suatu pengakuan yang memberikan rasa aman bagi mereka. ketika PT. PT. Meskipun tanpa legalitas yang kuat. “Kalau jalan sudah dibuka pemerintah. Itu tandanya Bupati sudah mengakui masyarakat di dusun ini” (warga Dusun Suka Maju). seperti PT. Ibu-ibu nekat membuka baju sambil berteriak inilah KTP kami. Karena kurang eratnya hubungan hukum antara mereka dengan lahan tempat mereka sekarang hidup. menggusur lahan dan pemukiman kami. “Dulu tahun 1997. Berdasarkan wawancara. Inhutani V (1997-2000) dan kini oleh PT. warga desa Lubuk Kambing).pembangunan dapat menjadi petunjuk “awal” bagi adanya pengakuan atas keberadaan dan kepemilikan di wilayah mereka. Selama ini. sebagian besar masyarakat pendatang memperoleh pengakuan hak atas kebun dalam bentuk SKT yang dikeluarkan kepala desa secara sporadik.

Desa Lubuk Kambing. Dari sebuah pertemuan. [92] .Setidaknya surat ini dapat mereka gunakan untuk mempertahankan hak mereka atas lahan ketika muncul persoalan/ tuntutan dari penduduk lokal. misalnya. Pihak BPP mengakui bahwa mereka merasa kembali “disadarkan” akan masih adanya masyarakat yang membutuhkan peran mereka. Perjalanan panjang mempertemukan kelompok tani dengan BPP membuka harapan baru bagi kelompok tani. khususnya Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Merlung. Komunikasi antara kedua pihak tersebut mulai terjalin. Sebagian besar masyarakat menyampaikan keinginan agar pemerintah memberikan perhatian terhadap kegiatan budidaya pertanian mereka. menyampaikan harapannya kepada kepala desa ketika dalam sebuah pertemuan di Dusun Suka Maju. Menanti Kepastian atas Sumber Kehidupan Bagi warga pendatang yang bermukim di Dusun Suka Maju. pihak BPP semakinmengetahui kondisi masyarakat dan potensi lahan pertaniannya. pemanfaatan sumberdaya alam yang belum optimal adalah salah satu yang teridentifikasi. Banyak informasi program pemerintah di bidang pertanian dan perkebunan sampai kepada masyarakat. untuk itu tolong bapak datangkan penyuluh pertanian (PPL) agar dapat membina kami”. Dengan bantuan fasilitasi. Persoalannya. Salah seorang warga masyarakat. banyak lahan yang tidak produktif. E. anggota kelompok sepakat untuk mencari informasi tentang program pertanian dari instansi terkait. memperoleh pengakuan hak milik atas lahan dalam bentuk sertifikat masih merupakan “mimpi”. wakil anggota terpilih beberapa kali melakukan kunjungan ke BPP. yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk temu lapangan di Dusun Suka Maju. Ketika anggota Kelompok Tani Tunas Harapan bersama-sama menggali masalah. Karena keterbatasan kemampuan petani dalam menggarap dan mengelola lahan. Dari kegiatan tersebut. “Lahan di wilayah ini luas pak! sedangkan pembinaan pertanian belum pernah ada. Aspirasi kelompok tani untuk mendapatkan pembinaan juga mendapat respon positif dari BPP.

Muncul perdebatan diantara anggota atas pilihan mana yang akan diambil. ada keinginan untuk mendapatkan bantuan pemerintah di bidang pertanian. yaitu perkebunan atau tanaman pangan. Berdasarkan kebutuhan sebagian besar anggota dan tersedianya potensi sumberdaya.sama kelengkapan persyaratan permohonan P2WK. Kelompok menunjuk beberapa anggota dan mempercayakan tugas mencari informasi dengan bantuan fasilitasi penelitian. perilaku tersebut dianggap sebagai “penghianatan” semangat kerja bersama [93] . anggota kelompok secara partisipatif menyusun sebuah rencana aksi. termasuk prosedur dan prasyarat pengajuan permohonan bantuan. Hanya dalam waktu yang relatif singkat. Anggota kelompok sepakat untuk kembali mencari informasi yang lebih dalam tentang program P2WK dari Kantor Cabang Dinas (KCD) Kehutanan dan Perkebunan Kecamatan Merlung. ternyata ada anggota yang telah diberi kepercayaan oleh kelompok tidak melaksanakan tugas tanpa alasan. akhirnya anggota sepakat untuk mengajukan bantuan penanaman tanaman karet melalui sebuah program yang mereka pernah dengar dari hasil interaksi dengan pihak pemerintah daerah. Namun kelompok dihadapkan pada dua pilihan. anggota kelompok tani menyelesaikan secara bersama. Ini merupakan realita yang terjadi sebagai bagian dari dinamika kelompok tani. Dari diskusi yang dilakukan dengan staf KCD Kehutanan dan Perkebunan. Kepentingan dan kebutuhan pribadi beberapa anggota tampak jelas menjadi alasan atas pilihan yang mereka yakini untuk dijadikan pilihan kegiatan kelompok. Sewaktu keputusan diambil. Pembagian kerja yang jelas di dalam kelompok dan Ketika rencana dijalankan. konflik internal dalam kelompok menjadi penyebabnya.Dalam pertemuan kelompok. diperoleh informasi lengkap tentang program P2WK. anggota belajar berefleksi dan menyusun rencana baru. Program P2WK (Peningkatan Perkebunan di Wilayah Khusus) menjadi salah satu harapan mereka untuk memperoleh suatu pengakuan atas keberadaan mereka di wilayah tersebut. Pada kenyataannya. Beragam ide bermunculan dari masing-masing anggota. Umumnya. Bagi sebagian anggota.

sebuah langkah yang berani karena melangkahi struktur kepala desa. Anggota kelompok menilai bahwa alasan untuk tidak mendukung upaya kelompok tani tersebut sangat tidak berdasar dan lebih bersifat tendensius untuk menghambat kemajuan mereka.membuat proses persiapan menjadi cepat. sayangnya harapan kelompok tani mendapatkan bantuan P2WK masih belum dapat terwujud saat ini. yang telah mengajukan permohonan pada tahun 2004. akhirnya permohonan disampaikan kepada instansi terkait di kabupaten. Hambatan ini kemudian dibahas dalam pertemuan kelompok. muncul tanggapan negatif anggota kelompok tani terhadap aparat desa. Namun. yang pemanfaatannya perlu lebih dulu disetujui di tingkat pusat. hambatan tersebut tidak membuyarkan keinginan kelompok untuk melanjutkan langkah pengajuan permohonan. Salah satu gagasan yang muncul dalam sebuah refleksi adalah membuka komunikasi dengan Pemerintah Kecamatan Merlung. Dari refleksi yang dilakukan. Mereka juga berpeluang terlibat dalam program perhutanan sosial – misalnya hutan kemasyaratan (Hkm) – dan Perdebatan sengit antar sesama anggota kelompok terjadi ketika membahas keengganan [94] . Harapan yang besar dari anggota untuk memperoleh peluang bantuan menjadi salah satu pemicunya. Namun dukungan tersebut tidak dapat diperoleh karena alasan ketidakjelasan status kependudukan kelompok tani ini Desa Lubuk Kambing. Kenyataan lain yang juga harus diterima oleh kelompok tani adalah bahwa ada kemungkinan permohonan P2WK mereka tidak dapat disetujui karena lokasi lahan yang diajukan berada di dalam kawasan Hutan Produksi (HP). Kuota bantuan program P2WKuntuk Kecamatan Merlung tahun anggaran 2005 yang disetujui DPRD seluas 50 ha telah dialokasikan untuk kelompok tani dari desa lain. Dengan bantuan pemerintah kecamatan. Meskipun sempat membuat semangat kelompok tani melemah. Hambatan mulai muncul ketika kelompok tani meminta dukungan aparat desa terhadap permohonan yang akan mereka ajukan. Selesainya dokumen permohonan P2WK kelompok bukan berarti pengajuan permohonan berjalan mulus.

Sebagian kecil anggota usul agar permohonan P2WK dibatalkan karena dia khawatir . mereka juga berpeluang memperoleh hak sewa. Harapannya. yaitu menyerahkan permohonan P2WK tanpa harus mendapatkan tanda tangan kepala desa. dengan bantuan fasilitasi. Alasannya. sebagian anggota kelompok berpikir untuk tetap mengajukan permohonan dengan menempuh jalan lain. hak pemanfaatan atau bermitra dengan perusahaan untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. kepala desa “marah” bila keinginan tersebut tetap dilaksanakan. termasuk diantaranya meningkatkan kemampuan bertani mereka. Namun. pengalaman aksi kolektif telah memberi mereka banyak pelajaran tentang berkelompok dan membuka banyak kesempatan. dengan tetap mencoba kembali berbicara dengan kepala desa. Jika status kawasan hutannya diubah menjadi Areal Penggunaan Lain. yang kebetulan adalah masyarakat asli Desa Lubuk Kambing untuk berbicara dengan kepala desa. Seperti halnya Kelompok Suka Maju. Akhirnya anggota kelompok tani sepakat untuk tetap mengajukan permohonan. namun tetap tidak membuahkan hasil. kepala desa mau membubuhkan tandatangannya. kedua peluang sama-sama menuntut proses panjang sebelum bisa diwujudkan. Pembicaraan dengan kepala desa dilakukan. Ini akan berdampak buruk bagi keberadaan mereka di wilayah tersebut. Dalam kesempatan itu. Salah satu staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan mengakui kelompok ini mempunyai peluang menjadi kelompok terpilih jika program hutan kemasyaratan diterapkan.kepala desa menandatangani surat permohonan P2WK mereka. memanfaatkan lahan tanpa perlu mengubah status kawasan hutannya. Namun demikian. kepala desa justru menyatakan bahwa permohonan P2WK telah diajukan dengan mengatasnamakan masyarakat Desa Lubuk Kambing dan bukan atas nama Kelompok Tani Tunas Harapan. Beliau tetap tidak bersedia menandatangani surat permohonan. kelompok ini pun harus terhenti langkahnya sebelum memperoleh keberhasilan dengan aksi kelompoknya untuk memperoleh pengakuan atas lahan. Pertemuan juga sepakat untuk menugaskan wakil ketua kelompok. cara bertani dan [95] . Sebaliknya.

Masyarakat dan pihak lain. Refleksi tentang Hak Properti. pihak-pihak pemegang hak mendapatkan insentif untuk mengelola sumberdaya di atas nya dengan lebih lestari. seperti pemerintah daerah. proses [96] . masyarakat mengelola lahan yang berada di kawasan hutan dalam bentuk hutan tanaman industri skala kecil (HTI mini) atau Hutan Kemasyarakatan (Hkm). Ini menjadi sebuah pembelajaran bagi pihak-pihak yang memegang kontrol atas sumberdaya hutan. Hak kelola memberikan kepastian dan jaminan kepada pemegangnya. misalnya. Kasuspertama di Sungai Telang menggambarkan upaya masyarakat yang telah memiliki lahan untuk memperoleh kepastian lahan dalam bentuk sertifikat. Dengan aturan yang jelas soal hak dan kewajiban dan rentang berlakunya waktu. tetapi juga dapat berupa hak kelola atas sumberdaya alam. Sepanjang ada aturan yang jelas. baik berupa hak milik maupun hak kelola– jika didefinisikan dengan baik dan ditegakkan – akan memberikan kepastian bagi masyarakat dalam mengelola lahannya. F.Pemberian hak kepemilikan dan perubahan statuskawasan hutan menjadi areal penggunaan lain bukan satu-satunya pilihan.komitmen mereka untuk berkelompok dan mengelola sumberdaya lahansangat mengesankan. Kasus kedua menunjukkan upaya masyarakat salah satu dusun di Lubuk Kambing dalam mencari kepastian lahan berupa hak kelola atas lahan garapan mereka. Hak properti bagi masyarakat tidak semata-mata hak kepemilikan dan selalu berwujud sertifikat lahan. Program Pembangunan dan Aksi Kolektif Kedua kasus tersebut memberi pelajaran penting bahwa hak properti. Secara berkelompok. yang selama ini memahami hak properti secara sempit dan cenderung enggan membicarakannya. juga perlu belajar dari kasus ini bahwa ada banyak pilihan-pilihan bagaimana sumberdaya dikelola dansejauh mana kesejahteraan masyarakat bisa dicapai. mekanisme yang transparan.

Sebagai contoh. dalam hal ini Kecamatan Merlung. Saat itu.kolaboratif diantara berbagai pihak dan sanksi yangtegas. sebuah perkebunan kelapa sawit. PT WKS sudah menguasai izin konsesi kedua perusahaan tersebut dan akan mulai melakukan pemasangan patok batas kawasan konsesi mereka. WKS mennginformasikan keberadaan mereka di kawasan hutan produksi eks PT. masih jarang sekali menekankanpada pentingnya keberlanjutan akses masyarakat terhadap sumberdaya alam yang memberi kepastian hak properti masyarakat. Pada pertemuan tersebut. WKS tersebut dan meminta agar pihak perusahaan tidak mengerjakan kegiatan apapun sebelum ada kejelasan atas status lahan dimaksud. Menanggapi hal itu. Perangkat desa beserta tokoh masyarakat secara tegas menyatakan tidak akan bertanggung jawab bila ada tindakan arogan dari masyarakat seandainya PT. sebagian besar program masih bersifat bantuan yang manfaatnya dirasakan secara singkat saja. perangkat desa beserta tokoh masyarakat menolak klaim PT.Masyarakat berpendapat bahwa berbagai programpembangunan. Sekalipun ada tuntutan dari masyarakat. PT. tepatnya tanggal 2 Februari 2006. Dukungan di bidang kehutanan dan pengembangan kapasitas hanya terbatas pada pemberian bibit tanaman dan cara-cara bercocok tanam. WKS tetap melanjutkan rencananya. [97] . baik dari pemerintah pusatmaupun daerah. pihak perusahaan pada kenyataanya tetap menjalankan rencana mereka melakukan pemasangan patok batas areal konsesi. Loka Rahayu. Wira Karya Sakti (WKS) dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat. ada pertemuan di rumah Kepala Desa Lubuk Kambing antara PT. sumberdaya alam dapat lebih mudah dikelolasecara berkelanjutan. Pada pertemuan tersebut pihak PT. Masyarakat meresponnya dengan melakukan aksi bersama secara spontan mencabut setiap tanda batas yang telah dipasang. WKS bermaksud membahas lebih lanjut dengan fasilitasi pihak pemerintah daerah. tanpa diiringi dengan dukungan dan evaluasi mengenai bagaimana Pada awal tahun 2006. khususnya antara konsesi mereka dengan lahan Koptas Kotalu.Sadar Nila dan PT.

perusahaan melakukan inventarisasi luasan areal yang sudah dibuka masyarakat. Apakah masyarakat diuntungkan dari proses ini dan apakah akhirnya mereka akan memperoleh hak properti seperti yang diidamkan? Jawaban terhadap pertanyaan ini masih harus ditunggu. Proses fasilitasi yang [98] . Persoalan lain adalah tidak seluruh informasi Mengenai program pemerintah tersebut tersampaikan secara utuh kepada masyarakat. diantaranya bentuk kemitraan dengan perusahaan.Masyarakat juga beberapa kali mengusir karyawan perusahaan yang hendak memulai pekerjaan di wilayah tersebut. ternyata pemerintah daerah kabupaten dalam usulan revisi tata ruangnya telah memasukan areal dimaksud sebagai bagian dari kawasan hutan yang diusulkan perubahan statusnya menjadi areal penggunaan lain. Pihak perusahaan berinisiatif mengeluarkan wilayah yang dipersengketakan dari areal konsesi mereka. Sekalipun Departemen Kehutanan belum memberikan persetujuan. tidak seluruh aspirasi masyarakat tersampaikan kepada pemerintah. sekalipun tidak tertutup kemungkinan mengarah pada bentrokan fisik/kekerasan bila jalan keluar tidak segera ditemukan. Bentuk penolakan masyarakat tidak mengarah pada aksi kekerasan. utamanya pekerjaan merintis jalan dan pal batas. Bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Jambi dan Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Harapan muncul ketika dalam sebuah lokakarya tentang tata ruang dan kawasan hutan di ibu kota propinsi. Pemerintah daerah memperhatikan aspirasi mereka. apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah upaya untuk mempertahankan lahan yang telah mereka buka. penerapan sistem hutan kemasyarakatan sampai pada upaya hukum memindahkan mereka ke wilayah lain. Sebaliknya. langkah tindak lanjut dari para pihak di daerah terus berlanjut. Bagi masyarakat. Proses masih terus berjalan dan semua pihak belajar. Beberapa alternatif solusi juga sudah mulai dibicarakan. masyarakat memelihara dan memperoleh manfaat dari tanaman yang ditanam. Jerih payah masyarakat ternyata tidak sia-sia. Aspek-aspek hak properti dan sejauh mana masyarakat mendapat insentif untuk memelihara dan memanen hasil tanaman mereka dalam jangka panjang masih belum tersentuh program-program tersebut.

pertanian dan pertanahan. melakukan aksi. [99] . Upaya membangun komunikasi dilakukan dengan cara mempertemukan wakil dari kelompok masyarakat dengan wakil instansi pemerintah terkait di kantor kecamatan atau kabupaten. dan berefleksi terhadap langkah-langkah yang telah dilalui. khususnya pemerintah kabupaten. Kepercayaan diri mereka menjadi lebih baik. masyarakat lebih sadar akan potensi diri dan sumberdaya yang ada. perkebunan. Masyarakat memperoleh banyak informasi di bidang kehutanan. kedua pihak memperoleh pengalaman dan dapat berbagi informasi dan bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Proses tersebut tidak terlepas dari hasil belajar Kelompok masyarakat yang bersama-sama menyusun rencana. Melalui rangkaian proses yang terus berulang dengan pola yang sama tersebut. karena mereka sadar bahwa masalah yang mereka hadapi dan langkah yang mereka lakukan bukan hanya milik mereka sendiri melainkan sebuah aksi dan kebutuhan bersama. Hasilnya. Sementara pihak pemerintah dapat mendengar langsung permasalahan dan kebutuhan masyarakat desa.dilakukan lewat penelitian ini menjembatani komunikasi antara masyarakat dengan pihak di luar desa. mengawasi proses aksi yang dilakukan.

BAB VII PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERTANAHAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pengaturan dan pengelolaan pertanahan tidak hanya ditunjukan untuk menciptakan ketertibah hokum. c. dan huruf d serta dalam rangka penguatan kelembagaab Badan Pertanahan Nasional. sengketa. karenanya perlu diatur dan dikelola secara nasional untuk menjaga keberlanjutan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. b. bahwa sehubungan dengan dasar menimbang sebagaimana dimaksud pada huruf a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043). dan konflik pertanahan yang timbul. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa kebijaksanaan nasional di bidang pertanahan perlu disusun dengan memperhatikan aspirasi dan peran serta masyarakat guna dapat memajukan kesejahteraan umum. huruf c. e. d. dipandang perlu untuk mengatur kembali Badan Pertanahan Nasional dengan Peraturan Preseiden. huruf b. bahwa tanah merupakan perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104. bahwa hubungan bangsa Indonesia dengan tanah adalah hubungan yang bersifat abadi dan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia. Mengingat : 1. [100] . tetapi juga untuk mennyelesaikan masalah .

pelaksanaan penatagunaan tanah. reformasi agraria dan penataan wilayahwilayah khusus. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 NOmor 125. Badan Pertanahan Nasional menyelenggarakan fungsi : a. penyelenggaraan dan pelaksanaan survei. Pasal 2 Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang pertanahan secara nasional. [101] . Pasal 3 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. TUGAS DAN FUNGSI Pasal 1 (1) (2) Badan Pertanahan Nasional adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan. pengukuran dan pemetaan di bidang pertanahan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)’ MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG BADAN PERTANAHAN NASIONAL BAB I KEDUDUKAN. c. d. pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pertanahan. h. regional dan sektoral. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 NOmor 125. Badan Pertanahan Nasional dipimpin oleh Kepala. f. perencanaan dan program di bidang pertanahan. b. g. pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah. e. koordinasi kebijakan. perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan.3. pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum.

Pengukuran. l. r. n. dan Pemetaan [102] .i. o. kerja sama dengan lembaga-lembaga lain. pembatalan dan penghentian hubungan hokum antara orang. Kepala. s. fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturn perundang-undangan yang berlaku. pengawasan dan pengendalian penguasaan pemilikan tanah. pengkajian dan pengembangan hokum pertanahan. t. BAB II ORGANISASI Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 4 Badan Pertanahan Nasional terdiri dari : a. Sekretaris Utama. pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan. m. u. pengkajian dan penanganan masalah. dan/atau badan hokum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. perencanaan dan program di bidang pertanahan. dan konflik di bidang pertanahan. sengketa. perkara. penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik Negara/daerah bekerja sama dengan Departemen Keuangan. penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijakan. c. Deputi Bidang Survei. p. b. penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan. pendidikan. q. pengelolaan data dan informasi di bidang pertanahan. j. latihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan. k. pembinaan fungsional lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bidang pertanahan.

b. administrasi dan sumber daya di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah. Sekretariat Utama menyelenggarakan fungsi : a. tatalaksanan. pembinaan dan pelayanan administrasi ketatausahaan. g. Bagian kedua Kepala Pasal 5 Kepala mempunyai tugas memimpin Badan Pertanahan Nasional dalam menjalankan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional. c. perlengkapan dan rumah tangga Badan Pertanahan Nasional. pembinaan. kepegawaian. keuangan. b. Sekretariat Utama dipimpin oleh Sekretaris Utama. Pasal 7 Sekretariat Utama mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan. sinkronisasi dan integrasi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. f. Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. pengkoordinasian perencanaan dan perumusan kebijakan teknis Badan Pertanahan Nasional. h. Sekretariat Utama adalah unsur pembantu pimpinan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. Inspektorat Utama. pengkoordinasian. kearsipan. dan pengendalian terhadap program. persandian. [103] . Bagian Ketiga Sekretaris Utama Pasal 6 a.d. organisasi. e. Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan. Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat. Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan.

(2) Deputi Bidang Survei. Pengukuran dan Pemetaan Pasal 9 (1) Deputi Bidang Survei. pengukuran.d. pembinaan dan pelatihan. dan Pemetaan menyelenggarakan fungsi : a. penelitian dan pengembangan. Pasal 10 Deputi Bidang Survei. Pengukuran. hubungan masyarakat dan protocol di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. b. pengukuran. Bagian Keempat Deputi Bidang Survei. dan pemetaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. pelaksanaan survei dan pemetaan tematik. dan pemetaan. f. Pengukuran. e. dan Pemetaan mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang survei. Pengukuran. pelaksanaan pengukuran dasar nasional. pelaksanaan pemetaan dasar pertanahan. Bagian Kelima Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah Pasal 12 (1) Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang hak tanah dan pendaftaran tanah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada [104] . Pasal 11 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. c. Deputi Bidang Survei. dan Pemetaan dipimpin oleh Deputi. pengkoordinasian penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas badan Pertanahan Nasional. dan Pemetaan adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang survei. pengkoordinasian dalam penyusunan laporan Badan Paretanahan Nasional. data dan informasi. d. dan pemetaan. perumusan kebijakan teknis di bidang survei. pengukuran. Pengukuran.

pelaksanaan pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah. pengukuran dan perpetaan bidang tanah serta pembukuan tanah. [105] . pembinaan teknis Pejabat Pembuat Akta Tanah. (2) Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan dipimpin oleh Deputi. pemerintah daerah. Pasal 13 Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang hak tanah dan pendaftaran tanah. dan kepentingan umum lainnya. penetapan batas. (2) Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah dipimpin oleh Deputi. Bagian keenam Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan Pasal 15 (1) Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan adalah unsure pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang pengaturan dan penataan pertanahan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. inventarisasi dan penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik negara/daerah. c. f. Surveyor Berlisensi dan Lembaga Penilai Tanah. Pasal 16 Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pengaturan dan penataan pertanahan. d. Pasal 14 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalamPasal 13.Kepala. b. pelaksanaan pengadaan tanah untuk keperluan pemerintah. e. organisasi sosial keagamaan. perumusan kebijakan teknis di bidang hak tanah dan pendaftaran tanah. Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah menyelenggarakan fungsi : a.

perumusan kebijakan teknis di bidang pengaturan dan penataan pertanahan. b. perbatasan dan wilayah tertentu lainnya. pelaksanaan penataan pertanahan wilayah pesisir. dan pemanfaatan tanah. Bagian Ketujuh Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat Pasal 18 (1) Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat adalah unsure pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang pengendalian pertanahan dan pemberdayaan masyarakat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. dan penggunaan tanah. Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan menyelenggarakan fungsi : a. c. Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat menyelenggarakan fungsi : a. persediaan. pemeliharaan. pelaksanaan pengendalian kebijakan. pelaksanaan pengaturan dan penetapan penguasaan dan pemilikan tanah serta pemanfaatan dan penggunaan tanah. perencanaan dan program penguasaan. (2) Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat dipimpin oleh Deputi. pemilikan. c.Pasal 17 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Pemberdayaan masyarakat di bidang Pertanahan. pulau-pulau kecil. Pasal 20 Dalam melaksanakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19. b. d. [106] . penggunaan. penyiapan peruntukan. Pasal 19 Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pengendalian pertanahan dan pemberdayaan masyarakat. perumusan kebijakan teknis di bidang pengendalian pertanahan dan pemberdayaan masyarakat.

sengketa dan konflik pertanahan secara hukum dan non hukum. Pasal 23 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasa122. sengketa dan konflik pertanahan melalui bentuk mediasi. pengkajian dan pemetaan secara sistematis berbagai masalah. b.d. (2) Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dipimpin oleh Deputi. e. pelaksanaan putusan-putusan lembaga peradilan yang berkaitan dengan pertanahan. c. daii konflik pertanahan. d. f. perumusan kebijakan teknis di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan. evaluasi dan pemantauan penyediaan tanah untuk berbagai kepentingan. Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan menyelenggarakan fungsi : a. Pasal 22 Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan. Bagian Kedelapan Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan Pasal 21 (1) Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan adalah unsure pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. fasilitasi dan lainnya. penanganan masalah. [107] . pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah. penanganan perkara pertanahan. sengketa.

b. c. Pasal 25 Inspektorat Utama mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. Inspektorat Utama dipimpin oleh InsPektur Utama. Pasal 28 (1) Untak menyelepggarakan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di [108] . Bagian Kesembilan Insipektorat Utama Pasal24 (1) (2) Inspektorat Utama adalah unsur pengawasan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala. Inspektorat Utama menyelenggarakan fungsi : a. d. masing-masing Bidang terdiri dari sejumlah Subbidang. penyiapan perumusan kebijakan pengawasan fungsional di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. Pasal 26 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 25. penyusunan laporan hasil pengawasan.g. pelaksanaan urusan administrasi Inspektorat Utama. Bagian Kesepuluh Lain-lain Pasal 27 (1) (2) (3) Di lingkungan Badan Pertanahan Nasional dapat dibentuk Pusat-Pusat sebagai unsur penunjang tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional. pelaksanaan pengawasan kinerja. penyiapan pembatalan dan penghentian hubungan hokum antara orang dan/atau badan hokum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pusat dipimpin oleh Kepala Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala melalui Sekretaris Utama: Pusat terdiri dari sejumlah Bidang dan 1 (satu) Subbagian Tata Usaha. keuangan dan pengawasan untuk tujuan tertentu atas petunjuk Kepala Badan Pertanahan Nasional.

dibentuk Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi di Provinsi dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota di Kabupaten/Kota. Pasal 29 Di lingkungan Badan Pertanahan Nasional dapat ditetapkan jabatan fungsional tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB III STAF KHUSUS Pasal 31 Di lingkungan Badan Pertanahan Nasional dapat diangkat paling banyak 3 (tiga) orang Staf husus Kepala Badan Pertanahan Nasional. Pasa1 32 (1) Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional dapat berasal dari Pegawai Negeri atau bukan Pegawai Negeri. (3) Inspektorat Utama terdiri dari paling banyak 5 (lima) Inspektorat dan 1 (satu) Bagian Tata Usaha. (2) Organisasi dan tata kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional setelah mendapat persetujuan dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. [109] . masing-masing Biro terdiri dari paling banyak 4 (empat) Bagian dan masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Subbagian. Inspektorat membawahkan kelompok jabatan fungsion I Auditor dan Bagian Tata Usaha terdiri dari paling banyak 4 (empat) Subbagian.daerah. masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 4 (empat) Subdirektorat dan masingmasing Subdirektorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi. Pasal 30 (1) Sekretariat Utama terdiri dari paling banyak 5 (lima) Biro. (2) Deputi terdiri dari paling banyak 4 (empat) Direktorat. yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Kepala Badan Nasional sesuai dengan penugasan dari Kepala Badan Pertanahan Nasional.

a atau setinggi-tingginya eselon I.undangan yang berlaku. (3) Staf khusus Badan Pertanahan Nasional apabila berhenti apabila atau berakhir masa baktinya tidak diberikan pension atau uang pesangon. [110] . Pasal 33 (1) (2) Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional.b. (2) Dalam pelaksanaan tugasnya. Pasal 34 (1) Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional diberikan setingkat dengan jabatan struktural eselon II. (4) Pegawai Negeri yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya sebagai Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional diaktifkan kembali dalam jabatan organiknya apabila belum mencapai usia batas usia pensiun. (3) Pegawai Negeri yang diangkat sebagai Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri apabila telah mencapai batas usia pension dan diberikan hak-hak kepegawaiannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.(2) Pegawai Negeri yang diangkat sebagai Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional diberhentikan dari jabatan organiknya selama menjadi Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional tanpa kehilangan statusnya sebagai Pegawai Negeri. Masa bakti Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional paling lama sama dengan masa jabatan Kepala Badan Pertanahan Nasionai yang bersangkutan. Staf Khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional difasilitasi oleh Sekretariat Utama.

Pasal 40 Dalam melaksanakan tugasnya. dan tata kerja Komite Pertanahan. Pasal 39 Keangotaan Komite Pertanahan diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional. Badan Pertanahan Nasional membentuk Komite Pertanahan. Komite Pertanahan didukung oleh Sekretariat yang secara fungsional dilaksanakan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. Keanggotaan Komite Pertanahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari para pakar di bidang pertanahan dan tokoh masyarakat. Pasal 37 Komite Pertanahan di ketuai oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional secara Exofficio. rincian tugas. Pasal 36 Komite Pertanahan mempunyai tugas memberikan masukan. Pasal 38 (1) (2) Keanggotaan Komite Pertanahan berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. Pasal 41 Ketentuan mengenai susunan keanggotaan.BAB IV KOMITE PERTANAHAN Pasal 35 Untuk menggali pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan bidang pertanahan dan dalam rangka perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan. diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional. [111] . masa jabatan keanggotaan. saran dan pertimbangan kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional dalam perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan.

Kepala sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 44 Setiap pimpinan satuan organisasi bertanggung jawab memimpin dan mengkoordinasikan bawahan masing-masing dan memberikan pengarahan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan. Pasal 46 Dalam melaksanakan tugas. DAN PEMBERHENTIAN Pasal 47 (1) (2) Kepala adalah jabatan negeri. Pasal 45 Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan bertanggung jawab pada atasan masing-masing serta menyampaikan laporan secara berkala tapat pada waktunya. setiap pimpinan satuan organisasi wajib melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap satuan organisasi di bawahnya. BAB VI ESELON. Pasal 48 (1) Kepala yang berasal dari Pegawai Negeri.BAB V TATA KERJA Pasal 42 Semua unsur dilingkungan Badan Pertanahan Nasional dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi. Inspektur Utama adalah jabatan eselon I. [112] . Deputi. Pasal 43 Setiap pimpinan satuan organisasi wajib melaksanakan sistem pengendalian intern di lingkungan masing-masing yang memungkinkan terlaksananya mekanisme uji silang. PENGANGKATAN. integrasi. dan sinkronisasi baik dalam lingkungan Badan Pertanahan Nasional sendiri maupun dalam hubungan antar instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Sekretaris Utama.a. dapat dijabat oleh bukan Pegawai Negeri.

dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005 dan [113] .d. Kepala Pusat. Pasal 49 (1) (2) (3) Kepala diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. dan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi adalah jabatan eselon II. administrasi. dibebankan kepada Anggaran Pendaatan dan Belanja Negara. dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota adalah jabatan eselon III. Fungsi. Pasal 51 Hak keuangan. Kepala Subdirektorat.a. Inspektur. Pejabat Eselon II kebawah diangkat dan diberhentikan oleh Kepala. Pasal 50 Pelantikan Kepala dilakukan oleh Presiden atau Menteri yang ditugaskan oleh Presiden. Direktur. Kepala Bidang. dan Kepala Subbidang adalah jabatan eselon IV. dan Inspektorur Utama diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usulan Kepala. Susunan Organisasi. BAB VIII KETENITUAN PERALIHAN Pasal 53 (1) Peraturan pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Kewenangan. Kepala Seksi.(2) (3) (4) (5) Kepala Biro. dan fasilitas-fasilitas lain bagi Kepala Badan Pertanahan Nasional yang dijabat oleh bukan pegawai negeri diberikan setingkat dengan jabatan eselon I. Kepala Bagian. Sekretaris Utama.a.a. deputi. Kepala Subbagian. Tugas. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 52 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas Badan Pertanahan Nasional.

fungsi. Kewenangan. Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota tetap melaksanakan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional. masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diubah dan/atau diganti dengan peraturan baru berdasarkan Peraturan Presiden ini. (2) Pada saat mulai berlakunya Peraturan Presiden ini. Tugas. susunan organisasi dan tata kerja Badan Pertanahan Nasional ditetapkan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional setelah mendapat persetujuan dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. Fungsi. Susunan Organisasi. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 55 Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini. Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi. seluruh jabatan yang ada beserta pejabat yang memangku jabatan di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. maka : a. BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Rincian lebih lanjut mengenai tugas. Ketentuan sepanjang mengenai Badan Pertanahan Nasional sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang kedudukan. dan Tata [114] . Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi. (3) Sampai dengan terbentuknya organisasi Badan Pertanahan Nasional secara terinci berdasarkan Peraturan Presiden ini.Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2005 yang mengatur mengenai Badan Pertanahan Nasional. tetap melaksanakan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional sampai dengan diatur kembali berdasarkan Peraturan Presiden ini. seluruh satuan organisasi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional.

dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 56 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tangal ditetapkan. Ketentuan mengenai Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Badan Pertanahan Nasional sebagaimana diatur dalam Keputusan Presoden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2005.Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005. [115] . b.

DAFTAR PUSTAKA [116] .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful