P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 9,572|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jul 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2014

pdf

text

original

Sections

Umur (Tahun)

IMT

19-24

19-24

25-34

20-25

35-44

21-26

45-54

22-27

55-64

23-28

>65

24-29

Sumber: Almatsier (2003 : 149)

Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik

merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat

badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan

berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Harus dilakukan

perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan

makan yang sehat.

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak

tubuh penderita dan risiko kesehatannya dengan cara menghitung

Body Mass Index (BMI). Risiko kesehatan yang berhubungan dengan

obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI:

a.

Risiko rendah: BMI < 27

b.

Rsiko menengah: BMI 27-30

c.

Risiko tinggi: BMI 30-35

9

d.

Risiko sangat tinggi: BMI 35-40

e.

Risiko sangat sangat tinggi: BMI 40 atau lebih.

Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada

setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan

dengan keadaan penderita. Penderita dengan risiko kesehatan

rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita,

1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olahraga. Penderita

dengan risiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-

1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai

olahraga. Penderita dengan risiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi,

mendapatkan obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olah

raga.

Memilih program penurunan berat badan yang aman dan

berhasil. Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih

suatu program penurunan berat badan:

a.Diet harus aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang

dianjurkan (vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan

berat badan harus rendah kalori.

b.Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada

penurunan berat badan secara perlahan dan stabil.

c.Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai,

dilakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

d.Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan

setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat

badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan.

10

Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan

dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang

pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan.

Program ini harus menyelenggarakan perubahan perilaku,

termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan

rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan

(Anonim, 2010).

Obesitas merupakan suatu keadaan menahun (kronis). Obesitas

seringkali dianggap suatu keadaan sementara yang bisa diatasi

selama beberapa bulan dengan menjalani diet yang ketat.

Pengendalian berat badan merupakan suatu usaha jangka panjang.

Agar aman dan efektif, setiap program penurunan berat badan harus

ditujukan untuk pendekatan jangka panjang.

Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan

darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan indeks

masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,

terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita

hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan

dengan seorang yang berat badannya normal. Sedangkan, pada

penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan

lebih (overweight) (Karyadi, 2002).

Obesitas adalah faktor gaya hidup nomor satu yang

berhubungan dengan tekanan darah tinggi, seperti juga dengan

banyak penyakit modern lainnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa

tekanan darah secara langsung berbanding lurus dengan kenaikan

10

berat badan. Bahkan berkurangnya beberapa kilogram terbukti

membuat perbedaan yang signifikan dalam menurunkan tekanan

darah (Braverman, 2006).

Hubungan antara obesitas dan hipertensi adalah kompleks dan

mungkin menggambarkan interaksi faktor genetik, demografi dan

biologik. Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa penurunan

berat badan bermanfaat untuk mengurangi tekanan darah (Siburian,

2007).

A.Tinjauan Teori Merokok Sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui

dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan perokok jika telah

menghisap minimal 100 batang. Rokok merupakan salah satu produk

industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 1.500

bahan kimiawi. Unsur-unsur yang penting antara lain: tar, nikotin,

benzopryn, metal kloride, aseton, amonia dan karbon monoksida. Ada

beberapa kecenderungan negatif mengenai situasi rokok ini:

1.Umur usia merokok makin muda.

Semua umur bisa merokok namun tidak ada bayi yang lahir

dengan merokok. Ditemukan sekitar 30% perokok di Amerika

Serikat (AS) adalah golongan usia dibawah 20 tahun. Di Indonesia

kepulan asap bukanlah hal yang langka ditemukan di sekolah

menengah. Makin awal seseorang merokok makin sulit untuk

berhenti merokok. Rokok juga punya dose-respone effect artinya

makin muda usia rokok makin besar pengaruhnya.

2.Semakin banyak wanita merokok.

10

Tampak kaum lelaki perokok menurun tetapi

tempatnya diambil alih oleh wanita. Masalah rokok untuk wanita ini

menjadi lebih serius jika dikaitkan dengan kehamilan. Pengaruhnya

dapat berupa abortus spontan, kelahiran prematur, berat badan

lahir rendah dan kematian perintal.

3.Kecenderungan peningkatan konsumsi rokok di negara

berkembang. Alasannya, makin banyak negara berkembang

menjadi tempat pelemparan komoditi tembakau karena:

a.Demografis: dalam 20 tahun terakhir ini terdapat pertambahan

penduduk dari 1,5 menjadi 2 miliar di negara-negara sedang

berkembang.

b.Kesadaran penduduk yang rendah terhadap bahaya rokok.

c.Sosial ekonomi meningkat dan kemampuan membeli rokok juga

meningkat.

d.Proteksi terhadap zat-zat berbahaya umumnya kurang.

e.Perokok juga didominasi oleh kelompok pendapatan rendah dan

pekerja kasar. Pendapatan yang seharusnya dipakai untuk

membeli protein atau makanan, harus melayang jadi asap rokok.

1.Makin meningkatnya masalah passive smoking. Lingkungan kerja

atau tempat tinggal (kamar) yang semakin tertutup memungkinkan

terjadinya pengaruh passive smoking. Hal ini menunjukkan bahaya

ganda rokok yang tidak saja untuk perokok sendiri tetapi untuk

orang lain di sekitarnya (Bustan, 2000).

Merokok juga berperan penting atas timbulnya tekanan darah

tinggi. Rokok mengandung kadmium, suatu mineral yang tidak bisa

10

digunakan oleh tubuh dan yang dikaitkan erat dengan tekanan darah

tinggi (Marvyn, 1995).

Menghisap satu batang rokok saja bisa membuat tekanan darah

naik sepuluh poin atau lebih. Nikotin membuat pembuluh darah

menyempit, sehingga jantung harus bekerja lebih berat untuk

memompa darah melalui pembuluh tersebut, dan karbon monoksida

dari rokok menurunkan jumlah oksigen dalam darah. Merokok secara

teratur bisa membuat tekanan darah tetap tinggi. Lambat laun,

penurunan kadar oksigen meningkatkan pembekuan darah dan

pembentukan plak (Braverman, 2006).

Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida

yang dihisap melalui rokok, yang masuk ke dalam aliran darah dapat

mengakibatkan tekanan darah tinggi. Selain dapat meningkatkan

tekanan darah, merokok juga meningkatkan denyut jantung dan

kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung (Karyadi, 2002).

Akibat negatif rokok, sesungguhnya sudah mulai terasa pada

waktu orang baru mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok yang

membara karena dihisap, tembakau terbakar kurang sempurna

sehingga menghasilkan karbon monoksida, yang disamping asapnya

sendiri, tar dan nikotin (yang terjadi dari pembakaran tembakau

tersebut) dihirup masuk kejalan napas. Karbon monoksida, tar, nikotin

berpengaruh terhadap syaraf yang menyebabkan: gelisah, tangan

gemetar (termor), cita rasa atau selera makan kurang, ibu-ibu hamil

yang merokok dapat kemungkinan keguguran kandungan.

10

Tar dan asap rokok dapat juga merangsang jalan napas, dan

tertimbun didalamnya sehingga menyebabkan: batuk-batuk atau

sesak napas, kanker jalan napas, lidah, dan bibir. Nikotin merangsang

bangkitnya adrenalin hormon dari anak ginjal yang menyebabkan:

jantung berdebar-debar, meningkatkan tekanan darah serta kadar

kolesterol dalam darah. Gas karbon monoksida juga berpengaruh

negatif terhadap jalan napas. Karbon monoksida lebih mudah terikat

pada hemoglobin dari pada oksigen. Oleh karena itu, darah yang

kemasukan karbon monoksida banyak, akan berkurang daya

angkutnya bagi oksigen dan orang dapat meninggal dunia karena

keracunan karbon monoksida. Pada seorang perokok tidak akan

sampai terjadi keracunan karbon monoksida, namun pengaruh karbon

monoksida yang dihirup oleh perokok dengan sedikit demi sedikit,

dengan lambat akan berpengaruh negatif pada jalan napas dan

pembuluh darah (Ayurai, 2009).

Dari survei secara nasional juga ditemukan bahwa laki-laki

remaja banyak yang menjadi perokok dan hampir 2/3 dari kelompok

umur produktif adalah perokok. Pada pria prevalensi perokok tertinggi

adalah umur 25-29 tahun. Hal ini terjadi karena jumlah perokok

pemula jauh lebih banyak dari perokok yang berhasil berhenti

merokok dalam satu rentan populasi penduduk. Sebagian perokok

mulai merokok pada umur < 20 tahun dan separuh dari laki-laki umur

40 tahun ke atas telah merokok tiga puluh tahun atau lebih, lebih dari

perokok menghisap minimal 10 batang perhari, hampir 70% perokok

11

di Indonesia mulai merokok sebelum mereka berusia 19 tahun

(Pdpersi, 2003).

Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri

menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar. Menurut Iman

Soeharto (2001) keadaan paru-paru dan jantung mereka yang

merokok tidak dapat bekerja secara efisien.

Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai

pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi.

Pada keadaan merokok pembuluh darah di beberapa bagian tubuh

akan mengalami penyempitan, dalam keadaan ini dibutuhkan tekanan

yang lebih tinggi supaya darah dapat mengalir ke alat-alat tubuh

dengan jumlah yang tetap. Untuk itu jantung harus memompa darah

lebih kuat, sehingga tekanan pada pembuluh darah meningkat

(Wardoyo, 1996).

Variabel rokok sebagai variabel independen dalam suatu

penelitian mempunyai variasi yang cukup luas dalam kaitannya

dengan dampak yang diakibatkannya:

1)Jenis perokok (perokok aktif atau pasif)

Rokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari hisapan

perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap. Dari pendapat

diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif adalah orang

yang merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa

mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun

lingkungan sekitar.

10

Perokok pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh

seseorang yang tidak merokok (Pasive Smoker). Asap rokok

merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Asap

rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif daripada perokok

aktif. Asap rokok yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup

oleh perokok pasif, lima kali lebih banyak mengandung karbon

monoksida, empat kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin.

2)Jumlah rokok yang dihisap dalam (dalam satuan batang, bungkus

atau pak perhari)

Jenis perokok dapat dibagi atas perokok ringan sampai

berat. Perokok ringan jika merokok kurang dari 10 batang perhari,

perokok sedang mengisap 10-20 batang dan perokok berat jika

lebih dari 20 batang. Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh

kali hisapan asap rokok maka dalam tempo setahun bagi perokok

sejumlah 20 batang (satu bungkus) per hari akan mengalami

70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok yang

berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun), suatu saat

dosis racunnya akan mencapai titik toksik sehingga akan mulai

kelihatan gejala yang ditimbulkan.

3)Jenis rokok yang dihisap kretek, cerutu atau rokok putih (pakai filter

atau tidak).

10

Dalam peraturan (PP) Nomor 19 tahun 2003 tentang

pengamanan rokok bagi kesehatan, pemerintah tidak menentukan

kandungan kadar nikotin sebesar 341,5 mg dan kandungan kadar

tar serbesar 20 mg pada rokok kretek. Dan rokok kretek

menggunakan tembakau rakyat. Tetapi menurut Direktur Agro

Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Yamin

Rahman menyatakan kandungan kadar nikotin pada rokok kretek

melebihi 1,5 mg yaitu 2,5 mg dan kandungan kadar tar pada rokok

kretek melebihi 20 mg yaitu 40 mg (Pdpersi, 2003).

Rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatnya

yaitu tembakau. Di Indonesia tembakau ditambah cengkeh dan

bahan-bahan lain dicampur untuk dibuat rokok. Selain itu juga

masih ada beberapa jenis rokok yang dapat digunakan yaitu rokok

linting, rokok putih, rokok cerutu, rokok pipa, rokok kretek dan rokok

klobot. Rokok kretek mengandung 60–70 tembakau, sisanya 30%-

40% cengkeh dan ramuan lain.

Secara umum rokok dapat dibedakan menjadi dua jenis

yaitu rokok filter dan rokok non filter. Dibandingkan rokok filter,

rokok non filter memiliki kandungan nikotin dan tar lebih besar.

Dengan kandungan nikotin dan tar yag lebih besar serta tidak

diserta penyaring pada pangkal batang rokok, maka potensi

masuknya nikotin dan tar ke dalam paru-paru dari rokok non filter

akan lebih besar daripada rokok filter yang berdampak buruk pada

pemakainya dan salah satunya akan terkena risiko Hipertensi

(Yuliana, 2007).

9

4)Cara mengisap rokok

Cara manghisap rokok antara lain: saat menghisap

langsung dihembuskan (secara dangkal), ditelan sampai ke dalam

mulut (dimulut saja), ditelan sampai di kerongkongan (hisapan

dalam).

5)Alasan mulai merokok

Sekedar ingin kelihatan hebat, ikut-ikutan, kesepian,

pelarian, sebagai gaya, meniru orang tua.

6)Lama mengisap rokok

Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca

digunakan. Dampak rokok bukan hanya untuk perokok aktif tetapi

juga perokok pasif. Risiko kematian bertambah sehubungan

dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih

dini (Bustan, 2000).

A.Tinjauan Teori Stress Sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Stress adalah suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara

individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara

tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber-sumber daya sistem

biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stress adalah yang kita

rasakan saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan tak mudah diatasi

atau melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan

efektif. Namun harus dipahami bahwa stres bukanlah pengaruh-

pengaruh yang datang dari luar itu. Stress adalah respon kita

terhadap pengaruh-pengaruh dari luar itu (Anonim, 2010).

10

Stress pada dasarnya menyerang semua orang tanpa

memandang usia, pekerjaan, maupun kebangsaan. Kita perlu berhati-

hati terhadap stress berat yang berlangsung lama atau tidak mampu

kita kendalikan. Stress berat bisa menyebabkan seseorang lumpuh,

merasa tidak bahagia, seolah-olah tidak lagi berdaya atas dirinya. Ini

akan membawa kita pada keadaan statis dan dapat menurunkan

tingkat produktivitas sehingga berbagai aspek kehidupan menjadi

kacau.

Ketegangan emosional (stress) dapat memicu pelepasan

hormon-hormon yang bersifat vasokonstriktif (tekanan pada pembuluh

darah), yaitu hormon adrenalin dan non adrenalin. Yang mana jika

pelepasan hormon tersebut terjadi menerus akan menyebabkan

tekanan darah meningkat (Anonim, 2010).

Sebuah lonjakan tekanan darah merupakan akibat langsung dari

stress. Tubuh merespon stres fisik atau mental dengan merilis sebuah

gelombang hormon dalam persiapan untuk "melawan atau lari" respon

(Mayo Clinic). Setelah penyebab stress teratasi, denyut jantung dan

tekanan darah kembali normal. Seiring waktu, kerusakan ginjal,

jantung dan pembuluh darah masih dapat terjadi, seperti hipertensi

kronis. Tetapi dalam jangka panjang tingkat stress yang tinggi telah

ditemukan menjadi prediktor kuat hipertensi masa depan (American

Institute of Stress) (Anonim, 2010).

Secara keseluruhan, studi menunjukkan bahwa stress jangka

pendek tidak langsung menyebabkan hipertensi, tetapi bisa

berpengaruh terhadap perkembangannya. Selain itu beberapa efek

11

samping stress, seperti makan terlalu banyak dan kurangnya olahraga

dapat berkontribusi untuk mengembangkan hipertensi (Anonim, 2010).

Jika seseorang didiagnosis dengan hipertensi , itu tidak berarti

bahwa ia adalah "terlalu stress," "terlalu gugup," terlalu cemas, atau

obsesif. Ini adalah mitos yang populer. Hipertensi tidak ketegangan

saraf atau sedang tertekan. Bahkan, banyak orang yang benar-benar

tenang memiliki hipertensi, juga dikenal sebagai tekanan darah tinggi.

Penelitian para ilmuwan tidak yakin pada saat ini tentang

kemungkinan efek stress jangka panjang pada tinggi tekanan darah.

Mereka percaya bahwa stress jangka panjang dapat berkontribusi

untuk hipertensi, tetapi mereka tidak yakin berapa banyak dampak

sebenarnya mungkin. Dalam hal situasi stress jangka pendek, mereka

tahu bahwa stress dapat membuat tekanan darah naik untuk

sementara waktu. Tetapi begitu stress adalah lega, pembacaan

kembali ke "normal” (Schoenstadt, 2009).

Peningkatan tekanan darah merupakan respons terhadap stress.

Sistem saraf terlibat dalam “fight or flight” respon ketika seseorang

berada di bawah tekanan. Tekanan darah meningkat pada dua cara:

Pertama, konstriksi pembuluh darah sebagai respon terhadap

peningkatan epinefrin, dan sebagai cara untuk meningkatkan aliran

darah ke otot-otot. Kedua, pompa jantung lebih cepat, dalam rangka

untuk meningkatkan aliran darah ke otak dan otot, sehingga

meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan otot (Anonim, 2010).

Stress merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi

dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui

12

aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan

darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan

dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini

belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan

lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat

dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok

masyarakat yang tinggal di kota (Anonim, 2010).

Stres adalah salah satu penyebab hipertensi. Dalam keadaan

stres pembuluh darah akan mengkerut sehingga akan menyempit lalu

menaikkan tekanan darah. Dengan hilangnya stres, maka umumnya

tekanan darah ini akan turun ke tingkat yang normal. Akan tetapi jika

tubuh terus-menerus berada dalam keadaan stres, maka tekanan

darah pun akan tetap tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi akan

memaksa jantung untuk bekerja lebih keras. Hal ini juga akan

merusak dinding pembuluh darah (Hutapea, 2009).

Hampir setiap orang dapat terkena stres atau perasaan tertekan.

Penyebabnya bisa macam-macam: karena menghadapi ujian,

menghadapi skripsi yang tak selesai-selesai, dimarahi orang tua,

diomeli pacar yang memang cerewet, kesulitan ekonomi, dan lain-lain.

Akibatnya juga macam-macam, mulai dari yang ringan sampai ke

yang berat seperti ingin bunuh diri.

Tanda-tanda stres bisa berupa naiknya tekanan darah, hilangnya

atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, tidak bisa tidur atau

malas bangun dari tidur. Orang yang merasa stres sering lari ke

13

minuman keras atau obat bius. Perasaan cemas, frustrasi, atau

apatis bisa menyertai stres (Furchan, 2009).

Sejumlah orang menderita stress karena tidak bisa mengatur

waktu. Mereka sebenarnya bisa menyelesaikan semua pekerjaan

seandainya dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya (Noi,

2004). Kehidupan di kota modern dan besar lebih banyak stressnya

daripada kehidupan dalam lingkungan yang secara relatif lebih primitif.

Namun penyebab stress yang terbesar di sebuah kota modern ialah

karena begitu banyaknya hal yang menyebabkan tekanan yang ada di

luar kendali kita (Coleman, 1995).

Pada dasarnya stress dibedakan ke dalam:

1.Stress Emosional

Bila pertengkaran, pertentangan pendapat, dan konflik

menyebabkan perubahan dalam kehidupan yang dijalani.

2.Stress Fisik

Penyebab utama stress fisik adalah terlalu memaksakan diri dalam

segala hal. Jika tubuh dipaksa bekerja 16 jam sehari, maka dapat

mengurangi waktu istirahat. Cepat atau lambat, persediaan energi

akan habis, tidak sesuai dengan energi yang didapat. Dengan

demikian akan terjadi perubahan pada organ-organ tubuh,

termasuk jantung dan pembuluh darah.

3.Stress Lingkungan

Lingkungan yang terlalu panas atau dingin dapat menyebabkan

stress. Ketinggalan pesawat dan racun dari lingkungan juga

menyebabkan perubahan yang mengakibatkan stress.

9

4.Stress Asap Rokok

Asap rokok adalah racun yang sangat akut. Asapnya

menghancurkan sel-sel yang bertugas membersihkan

kerongkongan, saluran napas, sampai paru-paru serta dapat

menyebabkan emfisema dan bronkhitis kronis. Selain itu juga dapat

menyebabkan kerusakan pembuluh darah sehingga pasokan darah

ke otak, jantung dan organ vital lainnya berkurang.

5.Stress Hormonal

Perubahan hormonal seperti masa pubertas dan sindroma

pramenstrual juga menyebabkan stress. Hal lainnya seperti kondisi

setelah melahirkan dan menopause.

6.Stress Tanggung Jawab

Bila seseorang harus bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain,

perubahan dalam hidup menyebabkan ia tidak mempunyai kontrol.

Misalnya, teman kerja tidak masuk, ia harus mengganti tugasnya.

7.Stress Alergi

Reaksi alergi adalah bagian dari usaha tubuh untuk mengamankan

diri. Kalau zat asing itu di hidung, mungkin dapat menyebabkan

hidung jadi pilek yang tak kunjung sembuh. Alergi itu termasuk

stress yang ditunjukkan oleh tubuh (Nurmianto, 2004).

Pengukuran stress menggunakan Rahe Holmes Social

Readjustment Rating Scale, dikenal juga dengan nama Rahe Holmes

Stress Scale. Holmes, T. H. and Rahe, R. H. pada tahun 1967

menerbitkan Journal of Psychosomatic Research dan mencoba

mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa yang memicu stress.

10

Dikarenakan hampir semua stress diakibatkan adanya perubahan

dalam hidup, maka dari itu Holmes dan Rahe memfokuskan pada

perubahan-perubahan dalam hidup yang menuntut penyesuaian diri.

Salah satu perubahan besar yang terjadi pada hampir seluruh

umat manusia dan menuntut penyesuaian diri adalah pernikahan.

Holmes dan Rahe melakukan penelitian dengan memberikan

kuisioner dimana diberikan daftar-daftar kejadian yang dapat

menimbulkan perubahan dan meminta responden memberikan

jawaban dengan membandingkan perubahan yang terjadi dengan

peristiwa pernikahan. Pernikahan diberikan nilai 50 dan responden

memberikan perbandingan nilai peristiwa-peristiwa lainnya dengan

peristiwa pernikahan. Hasilnya ditemukan bahwa rata-rata kematian

pasangan hidup 2 kali lebih stressful dibanding pernikahan, dan ada 6

peristiwa lainnya yang lebih membutuhkan penyesuaian diri dibanding

pernikahan.

Skala ini memiliki korelasi yang berada di tingkat cukup/sedang

ketika dikorelasikan antara kejadian di tahun kemarin dan kesehatan

seseorang di tahun yang sedang dijalani. Terutama kejadian seperti

serangan jantung, diabetes, masalah kehamilan dan kelahiran,

kegagalan akademis, absen pegawai dan kesulitan lainnya (Nelwandi,

2010).

Setiap pertanyaan memiliki skor yang berbeda-beda, penilaian

stress dilakukan dengan menjumlah seluruh skor, jika skor ≥ 150,

maka dalam kondisi stress. Dikatakan tidak stress bila nilainya

dibawah 150 (Nurmianto, 2004).

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->