HIPOSPADIA

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIAGNOSA MEDIS HIPOSPADIA

A. PENGERTIAN

Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu ³hypo´ yang berarti ³di bawah´ dan ³spadon³ yang berarti keratan yang panjang.

Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir.

Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis.

Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.

Menurut refrensi lain definisi hipospadia, yaitu:

1. Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya. (Ngastiyah. (Arif Mansjoer. B.blogger. 1991 : 257). 2000 : 374). 5.H Markum.jpg). Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). 1994 ). ETIOLOGI . 2. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan. 3. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (A. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (http://photos1. (Davis Hull. 4. 2005 : 288).com/blogger/4603/1833/1600/op.

Namun. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. 2. 3. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Genetika Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. PATOFISIOLOGI . C. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. ada beberapa factor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain : 1.Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada.

5.Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. . Dapat timbul tanpa chordee. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis. Adanya chordee. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. bila letak meatus pada dasar dari glans penis. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee. kemudian disepanjang batang penis. 3. D. 7. pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis. 2. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini. teraba lebih keras dari jaringan sekitar. hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. 4. 8. MANIFESTASI KLINIS 1. dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans. 6. Tunika dartos. fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). menumpuk di bagian punggung penis.

meatus terletak pada pangkal glands penis. sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih.9. dan pene-escrotal. E. Pada kelainan tipe ini. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta. KLASIFIKASI Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus : 1. Tipe sederhana/ Tipe anterior Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Secara klinis. 2. yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal. diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap. Tipe Posterior . Pada tipe ini. Tipe penil/ Tipe Middle Middle yang terdiri dari distal penile. mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya. 3. meatus terletak antara glands penis dan skrotum. kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. proksimal penile. Pada tipe ini. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.

Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal. Perbaikan untuk kosmetik pada penis. Ada banyak variasi teknik. Pada tipe ini. Penis . Dilakukan pada usia 1 ½ -2 tahun. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. umumnya pertumbuhan penis akan terganggu. kadang disertai dengan skrotum bifida. serta 2. 1. yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula. Teknik Horton dan Devine. F. G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik.Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap: a. meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun. TINDAKAN PEMBEDAHAN Tujuan pembedahan : 1. Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi.

2. KOMPLIKASI Komplikasi dari hypospadia yaitu : 1. 6 bulan pasca operasi. lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. saat parut sudah lunak. Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia.diharapkan lurus. dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi. Setelah uretra terbentuk. luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Resiko hernia inguinalis . Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. Tahap kedua dilakukan uretroplasti. dilakukan 1 tahap. H. Teknik Horton dan Devine. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans. Infertility 2. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis b.

dysuria. Adanya lekukan pada ujung penis e. Kaji fungsi perkemihan d. c. Terbukanya uretra pada ventral g. 2. Gangguan psikososial KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HIPOSPADIA A. Fisik a. PENGKAJIAN 1. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis. Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi f. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal. Pemeriksaan genetalia b. Sikap pasien sewaktu diperiksa . drinage. Mental a. perdarahan.3.

Tingkat kecemasan d. WOC Repair hipospadia ‡ Usia Tehnik operasi ‡ Tipe hipospadia ‡ ‡ Ukuran Chorde ‡/ Hasil penis Satu tahap Dua tahap Malformasi congenital Hipospadia grandular distal penile penile penoskrotal scrotal perineal Pengelolaan . Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien B. Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan c.b.

Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter. prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi. 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan . Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa.Pembedahan Kombinasi Eksisi chordee Pembedahan Urethroplasty Radio diagnosis Proses pembedahan Efek anestesi Pemasangan kateter inwhelling Kecemasan Nyeri Hipersalivasi entry Gangguan Penumpukan rasa nyaman Sekret gangguan aktivitas Resiko Obstruksi Tinggi Jalan nafas Infeksi Inefektif bersihan jalan nafas C.

IMPLEMENTASI 1. D. dan perdarahan. Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan. pengosongan kantong urin. pemasangan kateter menetap. keamanan kateter. Ajarkan orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan sebelum dan sesudah operasi (pre dan post) . Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur. Diagnosa 1 dan 4 Tujuan : memberikan pengajaran dan penjelasan pada orang tua sebelum operasi tentang prosedur pembedahan. b. Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan pada penis. warna dan kejernihan. mempertahankan kateter. efek samping dan dosis serta waktu pemberian. Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan 5. a. Kaji tingkat pemahaman orang tua. e. d. pengukuran tanda-tanda vital. dan perawatan kateter. c. Risiko injuri berhubungan dengan pemasangan kateter atau pengangkatan kateter. monitor urine. perawatan setelah operasi. dan pemasangan kateter.4.

Pengaturan posisi tidur anak sesuai kebutuhannya 4. Kaji urine.2. purulen. drainage. Monitor adanya ³kink-kink´ (tekukan pada kateter) atau kemacetan d. warna f. Diagnosa 5 . Pemberian air minum yang adekuat b. Diagnosa 2 Tujuan : mencegah infeksi a. Pemberian antibiotik sesuai program 3. Kaji gaya gravitasi urine atau berat jenis urine d. bau. Diagnosa 3 Tujuan : meningkatkan rasa nyaman a. Pemberian analgetik sesuai program b. Monitor intake dan output (pemasukan dan pengeluaran) c. Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter g. Monitor tanda-tanda vital e. Perhtikan setiap saat yaitu posisi kateter tetap atau tidak c.

McCloskey. Asuhan keperawatan pada anak. Hindari alat-alat tenun atau yang lainnya yang dapat mengkontaminasi kateter dan penis.jpg http://www. Pastikan kateter pada anak terbalut dengan benar dan tidak lepas b.Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2.com Johnson. Gunakan ³restrain´ atau pengaman yang tepat pada saat anak tidur atau gelisah. Mosby . 2. Joanne C. Nursing outcomes classification (NOC). Ajarkan tentang perawatan kateter dan pencegahan infeksi dengan disimulasikan. Arif. dkk. (2000). c. Nursing interventions classification (NIC).Tujuan : mencegah injuri a. Mosby Suriadi SKp. Perencanaan pemulangan 1. (2000). Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan lapor segera ke dokter atau perawat. Jakarta : Media Aesculapius. Marion dkk.medicastore.com/blogger/4603/1833/1600/op.blogger. Jakarta : Fajar Interpratama Mansjoer. 3. (1996). (2001). DAFTAR PUSTAKA http://photos1. dkk. Jelaskan pemberian obat antibiotik dan tekankan untuk kontrol ulang (follow up).

(2000). Jakarta: EGC Purnomo. Pathofisiologi. NANDA. Budi.com/2009/08/hipospadia_13. Jakarta : Infomedika Santosa. Jakarta :EGC. (2005-2006). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Prima Medika Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.Price. B Basuki.html . Sylvia Anderson. (1995). Dasar ± dasar urologi.blogspot. (1985). http://nazriorikrifai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful