P. 1
Pengertian kurikulum

Pengertian kurikulum

|Views: 1,030|Likes:
Published by Rudhy Rool

More info:

Published by: Rudhy Rool on Jul 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

PEMBAHASAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM SD I.

Pengertian kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah.Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosialemosional,kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company. Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai berikut:
y

Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum

y

Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.

y

Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.

1

II.

Pengembangan Kurikulum
Yang dimaksud pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Secara umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya. Kurikulum yang pernah diberlakukan secara nasional di Indonesia dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut: Tabel Kronologis Perkembangan Kurikulum di Indonesia Tahun Kurikulum Keterangan
y

1947 Rencana Pelajaran 1947 ‡ Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama di Indonesia setelah kemerdekaan. Istilah kurikulum masih belum digunakan. Sementara istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran

y

1954 Rencana Pelajaran 1954 ‡ Kurikulum ini masih sama dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana Pelajaran 1947

y

1968 Kurikulum 1968 ‡ Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama di Indonesia. Beberapa masa pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies). Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS) atau yang sekarang sering disebut Sains.

y

1975 Kurikulum 1975 ‡ Kurikulum ini disusun dengan kolom-kolom yang sangat rinci.

y

1984 Kurikulum 1984 ‡ Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975

y

1994 Kurikulum 1994 ‡ Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1984

y

2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ‡ Kurikulum ini belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah telah dijadikan uji coba dalam rangka proses pengembangan kurikulum ini
2

y

2008 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ‡ KBK sering disebut sebagai jiwa KTSP, karena KTSP sesungguhnya telah mengadopsi KBK. Kurikukulum ini dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Dinegara kita kurikulum disusun secara nasional berlaku untuk semua sekolah

yang ada pada tingkatan yang sama, kurikulum SD misalnya, berlaku utuk semua sekolah dasar di Indonesia, demikian pula kurikulum SMP, SMA,SMK dan sebaginya. Jadi sifat kurikulum itu sendiri univerasal, berlaku umum disekolahsekolah formal. Rochman Natawidjaja (Ed). 1979. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Alat Peraga, dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Semua program belajar siswa yang ada dalam kurikulum disusun oleh suatu tim nasional. Tim ini mengolah berbagai materi masukan dari berbagai pihak, disesuaikan dengan tuntutan masyarakat. Perwujudan aspirasi tentang pembinaan siswa melalui lembaga pendidikan formal itu dituangkan dalam kurikulum.maka kurikulum juga harus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi:
y

Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.

y

Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika Serikat. Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh

satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum. Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

3

III.

Pembinaan Kurikulum
Pembinaan kurikulum merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi proses pendidikan di suatu negara. Di Indonesia, pembinaan kurikulum dilaksanakan secara a. Struktural Pembinaan kurikulum model ini, dilaksanakan bertahap. Pelaksanaan tersebut berjalan dari PUSAT -> Provinsi -> Kab/Kota -> Kecamatan -> Satuan Pendidikan. Namun seringkali dalam pelaksanaannya, para tutor yang mengikuti pelatihan di tingkat pusat tidak mampu menurunkan materi yang didapatnya secara baik kepada daerah/provinsi. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor kesehata, kesibukan, prioritas, dan lain sebagainya. Selain tahap pusat->provinsi, pada tahap selanjutnya pun bisa terjadi hal-hal serupa sehingga menimbulkan perbedaan persepsi antar daerah, kab/kota, bahkan antar satuan pendidikan. b. Fungsional Pembinaan kurikulum secara fungsional, tahapannya hampir sama dengan pembinaan kurikulum secara struktural namun dalam pembinaan kurikulum secara fungsional hanya dilakukan oleh lembaga dan/atau orang yang berfungsi membina dalam pembinaan dan pengimplementasian kurikulum yang tentunya berbidang kurikulum. c. Kolegial Pembinaan kurikulum secara kolegial, dilaksanakan pada pembinaan profesi. Model pembinaan ini dilakukan antar mereka yang seprofesi (antar rekan/teman) yang setara dan berlangsung terus menerus (kolegial). Dalam pendidikan, interaksi tersebut dapat terjadi pada Pusat Kegiatan Guru (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), ataupun pada Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). d. Personal Pembinaan kurikulum secaral personal, tiap individu berupaya meningkatkan kemampuan, kompetensi, dan profesionalismenya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan belajar sendiri, berlangganan majalah atau jurnal, mengikuti pelatihan, mengikuti penataran. Pembinaan kurikulum secara personal bisa juga dilakukan dengan menganalisa serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan seputar peserta didik maupun guru yang berdasar pada pengalaman pribadi.Pembinaan Kurikulum, H. Siskandar, 18 Maret 2011

4

IV.

Perkembangan Ilmu dan Teknologi Dalam Pengembangan Kurikulum
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagaisuatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kitaketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapimemberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup,bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informaldalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakatpula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaanbudayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusiamanusiayang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu,mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi,maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik,kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut. 1. Pendidikan dan Masyarakat Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilaidan memberikan pertimbangan nilai. Hal itu disebabkan karena pendidikandiarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nilai-nilai yangada dan diharapkan masyarakat. Karena tujuan pendidikan mengandung nilai,maka isi pendidikan harus memuat nilai. Proses pendidikannya juga harus bersifat membina dan mengembangkan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan padakehidupan dalam masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapirnenyiapkan anak untuk kehidupan dalam masyarakat. Generasi muda perlumengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat, memiliki kecakapanuntuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, baik sebagai warga maupun sebagaik karyawan. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung olehlingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Kehidupanmasyarakat

berpengaruh terhadap proses pendidikan, karena pendidikan sangatmelekat dengan kehidupan masyarakat. Proses pendidikan merupakan bagian dariproses kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan membutuhkan dukungandari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas, personalia, sistem sosialbudaya, politik, keamanan, dan lain-lain.

5

Tujuan umum pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasimuda menjadi orang dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif. Halitu merefleksikan konsep adanya tuntutan individual (pribadi) dan sosial dariorang dewasa kepada generasi muda. Tuntutan individual merupakan harapanorang dewasa agar generasi muda dapat mengembangkan pribadinya

sendiri,mengembangkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Tuntutan sosial adalah harapan orang dewasa agar anak mampu bertingkah laku, berbuatdan hidup dengan baik dalam berbagai situasi dan lingkungan masyarakat. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikanbersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.Pendidikan dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda denganlingkungan masyarakat lain, karena adanya perbedaan sistem social budaya,lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada. Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya yang berbeda. Sistem sosial-budaya ini mengatur pola kehidupan dan polahubungan antar-anggota masyarakat, antara anggota dan lembaga, serta antaralembaga dan lembaga. Sistem sosial-budaya di daerah perkotaan berbeda dengandi pedesaan, di daerah pesisir berbeda dengan di pegunungan, di pusatperindustrian berbeda dengan di daerah pertanian. Sistem sosial-budaya padasuatu daerah juga berbeda dari suatu periode waktu dengan waktu yang lainnya,karena masyarakatnya berkembang 2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Sejak abad pertengahan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat.Masa setelah abad pertengahan sering disebut zaman modern. Perkembangan ilmupengetahuan pada masa ini banyak didasari oleh penemuan dan basil pemikiranpara filsuf purba, seperti Thales, Phythagoras, Leucipos, Demokritos, Socrates,Plato, Aristoteles, Euclid, Archimides, Aristarhus yang hidup sebelum Masehi,sampai kepada A1-Khawarizmi yang hidup pada abad ke-9.

Perkembangan ilmupengetahuan modern tidak dapat dilepaskan dari peranan ilmuwan Muslim, sepertidikemukakan Briffault dalam Making of Humanity (dalam C.A. Qodir, 1995 : 2) Orang Yunani mengadakan sistematisasi, generalisasi, dan menyusunteori, namun ketekunan melakukan pengamatan dan penyelidikan eksperimentalyang saksama dan lama bukanlah watak mereka « apa yang kita sebut ilmupengetahuan
6

muncul sebagai akibat metode eksperimen baru, yang diperkenalkanke Eropa oleh orang Arab . Ilmu pengetahuan modern merupakan sumbanganpaling penting bagi peradaban Islam.Selama beberapa abad, sampai dengan abad ke -13,

pengembangan ilmupengetahuan didominasi oleh ilmuwan muslim. Dalam bidang geografi dikenalnama Al-Kindi sampai dengan Musa AlKhawarizmi dan Al-Beruni sebagaipenemu geodesi. Ilmu pengetahuan alam dikembangkan oleh Al-Beruni, Al-Kindi, Jabin Ibn Hayan, Ibn Bajjah. AlBagdadi adalah ahli botani terkenal.Dalam matematika dikenal Jamshid AlKashmi (ahli matematika), A1-Khawarizmi dan Omar Khayyam (Aljabar). Bidang astronomi juga banyak dikembangan ilmuwan muslim di berbagai negara. 3. Perkembangan Teknologi Dari para ahli, kita sering mendengar pernyataan bahwa ilmu bukan hanyauntuk ilmu. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pengembangan suatu ilmupengetahuan tidak hanya ditujukan kepada perkembangan ilmu pengetahuan itusendiri, melainkan juga diharapkan dapai mem herikan sumbangan

kepadabidang-bidang kehidupan atau ilmu yang lainnya. Sumbangan yang berupapenggunaan atau penerapan suatu bidang ilmu pengetahuan terhadap bidang-bidang lain disebut teknologi, seperti dinyatakan Kast dan Rosenweig (1962, hlm.11) Technology is the art of utilizing scientific knowledge, sedangkan menurutCharles Susskind (1973: 1) ... how we do things is technology. Iskandar Alisyahbana (1980, hlm. 1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentangteknologi, Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhanmanusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan software) sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh,pancaindera, dan otak manusia. Sebenarnya sejak dahulu, teknologi sudah ada atau manusia

sudahmenggunakan teknologi. Kalau manusia zaman dulu memecahkan kemiri denganbatu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakanteknologi yaitu teknologi sederhana. 4. Pengaruh Perkembangan Ilmu dan Teknologi Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi cukup luas, meliputi semuaaspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, etika, dan

estetika,bahkan keamanan dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pada bagi.in ini

7

pembahasandibatasi pada pengaruh perkembangan ilmu pengetalimm din teknologi terhadapkehidupan masyarakat dan pendidikan. Ada beberapa bidang ilmu dan teknologi yang mempunyai pengaruh yangbaik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap kehidupan masyarakat.Bidangbidang tersebut adalah komunikasi, transportasi, mekanisasi industri danpertanian, serta persenjataan.Komunikasi cukup berkembang pesat di Indonesia dan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah mediakomunikasi massa yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapat menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air. Media komunikasi massa tersebutadalah surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Di antara keempat mediakomunikasi massa tersebut yang paling luas jangkauannya adalah radio. Denganadanya teknologi transistor yang diproduksi secara massal dengan harga yangrelatif murah, maka radio transistor telah dapat dimiliki oleh rakyat kecil yangtinggal di daerah terpencil sekalipun. Urutan kedua yang juga cukup luasjangkauannya adalah televisi. Setelah diluncurkannya SKSD Palapa, seluruh kotadi Nusantara dapat dijangkau oleh televisi. Sebagian besar ibu kota propinsi telahmempunyai stasiun siaran TV sendiri. Tempat ketiga dan keempat diduduki olehsurat kabar dan majalah. Surat kabar dan majalah belum dapat terserap olehseluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air. Hal itu disebabkan karenakemampuan ekonomi serta motif membaca yang masih kurang, di samping masihkurangnya kemampuan membaca serta adanya kendala geografis karena banyak pulau-pulau terpencil. Komunikasi massa terutama melalui radio dan teleyisi mempunyai peranandan pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat. Hal itu karena kedua mediatersebut bukan hanya berfungsi memberikan informasi tetapi juga memberikanhiburan. Melalui situasi hiburan tersebut secara tidak disadari banyak informasi,program dan kegiatan pem- bangunan, mungkin juga konsep-konsep, gagasangagasan, nilai-nilai yang terserap oleh masyarakat. Melalui media tersebut,budaya, tradisi, kegiatan, kemajuan dart sebagainya yang telah dicapai oleh suatugolongan masyarakat atau daerah tertentu dapat diketahui oleh masyarakat ataudaerah lain. Dengan demikian komunikasi massa dapat meningkatkanpengetahuan

masyarakat, bahkan sampai batas tertentu dapat mengubah sikapmasyarakat. Sudah tentu di samping nilai-nilai yang positif.

8

5. Teknologi dan Kurikulum Abad dua puluh ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangatpesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkandalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana sepertipenggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dan lain -lain.Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalahteknologi maju, seperti audio dan video casssette, overhead projector, film slide,dan motion film, mesin pengajaran, komputer, CD-rom dan internet. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang

pendidikanberkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya denganpendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan padapemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi.Suatu kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebihsempit/khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati ataudiukur. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulumadalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkatkeras (hardware). Penerapan teknologi teknologi alat perangkat keras dalam sedangkan pendidikan penerapan

dikenalsebagai

(tools

technology),

teknologiperangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology). Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepadapenggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan

efektivitaspendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat danmedia, juga model-model pengajaran yang banyak melibatkan

penggunaan alat.Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan filmdan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul.Pengajaran dengan bantuan komputer, dan lain-lain. Dalam arti teknologi program sistem, teknologi atau pendidikan rencana menekankan

kepadapenyusunan

pengajaran

pelajaran dengan

menggunakanpendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa program sistem yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga programsistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran. Alisyahbana, Iskandar (1980).Teknologi dan Perkembangan. Jakarta: Yayasan Idayu
9

V.

Peranan Kurikulum
Sebagai program pendidikan yang telah di rencanakan secara sistematis kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi penddidkan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi social dalam melasanakan operasinya, maka dapat ditentukan paling tidak tiga peranan kurikulumyang sangat penting, yakni peranan konservatif, peranan kritis atau evaluative, dan peranan kreatif. Ketika peranan ini sama penting dan perlu dilasanakan secara seimbang. a. Peranan Konservatif Salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentransmsikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga social dapat mempengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai social yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses soasial. Ini seiring dengan hakikat anak didik dengan orang dewasa, dalam suatu proses pembudayaan yang semakin berkembangang menjadi kompleks. Oleh karenanya, dalam kerangka ini fungsi kurikulum teramat penting.meskipun demikian,perana ini sangat mendasar sifatnya. b. Peranan Kritis atau Evaluatif Kebudayan senantiasa berubah dan bertambah. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai dan memilih berbagai unsure kebudaayaan yang akan diwariskan.dalam hal ini kurikulum turut aktif berpartsipasi dalam control social dan member penekanan pada unsur berpikir kritis nilai-nilai, social yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dimasa mendatang dihilangkan, serta diadakan modifikasi dan perbaikan. Dengan demikian, kurikulum harus merupakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu. c. Peranan Kreatif Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam artian menciptakan dan menyusun suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimasa sekarang dan masa mendatang.
10

Untuk membantu setiap individu dalam mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran pengalaman cara berpikir, kemampuan, dan keterampilan yang baru, yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang, atau dengan kata lain terdapat keharmonisan diantara ketiganya dengan demikian kurikulum dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawah siswa menuju kebudayaan masa depan.pengembangan kurikulum persekolahan.Drs.H.Muh Natsir Hamdat,M.pd .maret 2011

VI.

Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah

direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini,

11

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok yaitu; a. Prinsip-prinsip umum : relevansi, efektivitas, efisiensi,fleksibilitas dan kontinuitas, b. prinsip-prinsip khusus : prinsip berorientasi pada tujuan pendidikan, Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu : 1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi

epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis). 2. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas 3. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai. 4. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik. 5. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan. Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :

12

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. 2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. 3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. 5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan. 6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal,

13

nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. 7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum. blog Akhmad Sudrajat 31 januari 2008

VII.

Guru dan Pengembangan Kurikulum

1. Guru sebagai pendidik profesional
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik, dantujuan pendidikan merupakan komponen utama pendidikan. Ketiganyamembentuk suatu triangle, jika hilang salah satu komponen, hilang pulalah hakikat pendidikan. Dalam situasi tertentu tugas guru dapat diwakilkan atau dibantu oleh unsur lain seperti oleh media teknologi, tetapi tidak dapat di gantilcan. Mendidik adalah pekerjaan profesional, oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakantugasnya secara pagesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dankemampuan profesional. Dalam diskusi pengembangan model pendidikanprofesional tenaga kependidikan, yang diselenggarakan oleh PPS IKIP Bandungtahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi, yaitu:
14

y y y

Memiliki fungsi dan signifikansi social Memiliki keahlian/keterampilan tertentu. Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metodeilmiah.

y y y y y

Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional. Memiliki kode etik. Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalamlingkup kerjanya.

y y

Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya

2. Guru sebagai Pembimbing Belajar Telah dijelaskan bahwa dalam kurikulum dapat dibedakan antara officialatau written curriculum dengan actual curriculum. Official atau written cur-riculum merupakan kurikulum resmi yang tertulis, yang merupakan acuan bagipelaksanaan pengajaran dalam kelas. Actual curriculum merupakan kurikulumnyata yang dilaksanakan of eh guru-guru. Kurikulum nyata merupakanimplementasi dari official curriculum di dalam kelas. Beberapa ahli menyatakanbahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum (official), hasilnya sangat bergantungpada apa yang dilakukan oleh guru di dalam kelas (actual). Dengan demikian,guru memegang peranan penting baik dalam penyusunan maupun pelaksanaan kurikulum. Pada keempat konsep pendidikan yang telah diuraikan di muka terdapat perbedaan peranan atau kedudukan guru. Dalam konsep pendidikan klasik, guruberperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan dalam konsep teknologipendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam Konsep interaksional guruberperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep pendidikan pribadi, gurulebih berperan sebagai pengarah, pendorong dan pembimbing. Dalam praktik pendidikan di sekolah, jarang sekali digunakan satu konsep pendidikan secarautuh. Pada umumnya pelaksanaan pendidikan bersifat eklektik,

mungkinmencampurkan dua, tiga bahkan mungkin keempat-empatnya. Modelmodelkonsep pendidikan tersebut dalam praktik tidak lagi dipandang sebagai

15

modelpendidikan yang masing-masing eksklusif, tetapi dapat dipadukan atau minimaldihubungkan satu dengan yang lainnya. 3. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum Dilihat dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapatdibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral- desentral.Dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusunoleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh negara, daerah, atau jenjang/jenis sekolah.Di Indonesia dewasa ini terutama pada jenjang pendidikan dasar danmenengah digunakan model Mi. Kurikulum untuk Sekolah Dasar, SekolahLanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Sekolah MenengahKejuruan pada prinsipnya seragam. Pengembartgan kurikulum tersebut sudahtentu memiliki tujuan dan latar belakang tertentu yang sangat mendesak danmendasar.Tujuan utama pengembangan kurikulum yang uniform ini adalah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah. Hal itu dilatarbelak angi olehbeberapa kondisi. Pertama, wilayah negara Indonesia luas sekali, terbentuk ataspulau-pulau yang satu sama lain letaknya berjauhan dan terpisahkan oleh laut.Kedua, kondisi dan karakteristik tiap daerah berbeda-beda, ada yang sudah majusekali dan ada yang sangat terbelakang, ada daerah tertutup ada yang terbuka, adadaerah kaya dan daerah miskin dan sebagainya. Ketiga, perkembangan dankemampuan sekolah juga berbeda- beda. Ada sekolah yang sudah mapan mampuberdiri sendiri dan melakukan pengembangan sendiri, karena

memililcipersonalia, fasilitas yang memadai, dan manajemen yang mapan. Sekolah yanglain kondisinya sangat memprihatinkan, karena segalanya masih berada padatingkat darurat. Jumlah yang demikian ini tampaknya jauh lebih

banyak dibandingkan dengan sekolah yang telah mapan. Keempat, adanya golongan ataukelompok tertentu dalam masyarakat, yang ingin mengutamakan golongan ataukelompoknya dan menggunakan sekolah sebagai alat untuk mencapai tujuantersebut.Model pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi mempunyaibeberapa kelebihan di samping juga kelemahan. Kelebihannya selain mendukungterciptanya persatuan dan kesatuan bangsa, dan tercapainya standar minimalpenguasaan/perkembangan anak, juga model ini mudah dikelola, dimonitor dandievaluasi, serta lebih hemat dilihat dari segi biaya, waktu, dan fasilitas. Hal-hal

16

diatas tampaknya sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangan negara kitadewasa ini.Model pengembangan ini memiliki beberapa kelemahan. Pertama,menyeragamkan kondisi yang berbeda-beda keadaan dan tahap perkem- banganintelek, alam dan sosial budayanya, sukar sekali. Penyeragaman dapatmenghambat kreativitas, dapat memperlambat kemajuan sekolah yang sudahmapan dan menyeret perkembangan sekolah yang masih

terbelakang.Penyeragaman yang sangat jauh dari kondisi dan sifat sesuatu wilayah akanmenghambat kepesatan perkembangan wilayah tersebut. Kedua,

ketidakadilandalam menilai hasil. Dalam kurikulum yang seragam, penilaian sering dilakukansecara seragam pula. Yang dimaksudkan dengan seragam dalam penilaian yaitukesamaan di dalam segi yang dinilai, prosedur dan alat penilaian serta standar penilaian. Di muka telah dibahas bahwa dalam wilayah Indonesia yang luas initerdapat keragaman kondisi alam, sosial budaya, tingkat intelek, kemampuan danfasilitas sekolah. Hasil pendidikan dan pengajaran sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor di atas. Pengabaian faktor-faktor yang mempengaruhi proses

pendidikanmerupakan suatu ketidakadilan. Ketiga, penggunaan standar yang sama untuk semua sekolah di seluruh wilayah akan memberikan gambaran hasil yangberagam dan menunjukkan adanya perbedaan yang sangat ekstrem. Bagi sekolah-sekolah yang kebetulan hasilnya sangat baik dapat menimbulkan sikapkecongkakan, sedangkan bagi sekolah yang hasilnya sangat jelek akanmengakibatkan rasa rendah din, di samping adanya cemoohan dari berbagai pihak.Dalam situasi yang tidak sehat bukan tidak mungkin terjadi pembocoran soal,ketidak jujuran dalam penilaian, dan sebagainya.

VIII.

Perencanaan Pembelajaran dan pengembangan Kurikulum
Suatu proses pembelajaran akan dikatakan berhasil apabila diawali dengan perencanaan yang sangat matang, maka setengah keberhasilan sudah tercapai, setengahnya lagi terletak pada pelaksanaan.perencanaan pembelajaran pada mulanya merupakan suatu ide dari orang yang merancangnya, tentang bentuk-bentuk pelaksanaan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Untuk mengkomunikasikan ide tersebut, biasanya dituangkan dalam bentuk perencanaan tertulis. Selanjutnya berdasarkan pelaksanaan tersebut, diwujudkan dalam pelaksanaan, yaitu dalam proses pembelajaran . Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik, calon guru harus memiliki empat standar kompetensi guru, yaitu:

17

y y y y

kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Perencanaan Pembelajaran diharapkan dapat menjadi bekal para calon guru tentang berbagai aspek yang terkait kurikulum dan pembelajaran. Dalam sistem pendidikan nasional, kita mengenal tiga komponen utama, yakni (1) peserta didik, (2) guru, dan (3) kurikulum. Dalam proses belajar mengajar, ketiga komponen tersebut terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Tanpa peserta didik, guru tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajar Tanpa guru para siswa juga tidak akan an. dapat secara optimal belajar. Tapa kurikulum, guru pun tidak akan mempunyai bahan ajar yang akan diajarkan kepada peserta didik. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Ruanglingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.perencanaan merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan kegiatan. Kegiatan belajar mengajar (KBM) membutuhkan perencanaan yang matang agar berjalan secara efektif. Perencanaan KBM dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat seluruh KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, langkah pembelajaran, waktu, media dan sumber belajar serta penilaian untuk setiap KD. Rencana pelaksanaan pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran, tanpa rencana pelaksanaan pembelajaran kegiatan pembelajaran di kelas biasanya tidak terarah. Oleh karena itu peserta harus mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan silabus yang disusunnya.

18

REFERENSI McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company. Rochman Natawidjaja (Ed). 1979. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Alat Peraga, dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi. Yogyakarta: Hikayat Publishing H. Siskandar, 2011. Pembirikunaan Kurikulum Alisyahbana, Iskandar (1980).Teknologi dan Perkembangan. Jakarta: Yayasan Idayu Drs.H.Muh. Natsi Hamdat, M.Pd 2011.pengembangan kurikulum persekolahan: Makassar blog Akhmad Sudrajat 31 januari 2008 Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->