KEBIJAKAN PUBLIK DALAM EKSTERNALITAS

Oleh :

Rahmanta Ginting EPN - A.546010021
E-mail: rginting2002@yahoo.com BAB I PENDAHULUAN Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dalam literatur asing, efek samping mempunyai istilah seperti : external effects, externalities, neighboorhood effects, side effects, spillover effects (Mishan, 1990). Efek samping dari suatu kegiatan atau transaksi ekonomi bisa positif (positive external effects, external economic) maupun negatif (negative external effects, external diseconomic). Dalam kenyataannya, baik dampak negatif maupun efek positif bisa terjadi secara bersamaan dan simultan. Dampak yang menguntungkan misalnya seseorang yang membangun sesuatu pemandangan yang indah dan bagus pada lokasi tertentu mempunyai dampak positif bagi orang sekitar yang melewati lokasi tersebut. Sedangkan dampak negatif misalnya polusi udara, air dan suara. Ada juga ekternalitas yang dikenal sebagai eksternalitas yang berkaitan dengan uang (pecuniary externalities) yang muncul ketika dampak eksternalitas itu disebabkan oleh meningkatnya harga. Misalnya, suatu perusahaan didirikan pada lokasi tertentu atau kompleks perumahan baru dibangun, maka harga tanah tersebut akan melonjak tinggi. Meningkatnya harga tanah tersebut menimbulkan dampak external yang negatif terhadap konsumen lain yang ingin membeli tanah disekitar daerah tersebut. Dalam contoh di atas efek tersebut dalam perubahan harga tanah, dimana kesejahteraan masyarakat berubah tetapi perubahan itu akan kembali ke keadaan keseimbangan karena setiap barang akan menyamakan rasio harga-harga barang dengan marginal rate of substitution

Jadi. . Eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi berikut ini : a) Efek atau dampak satu produsen terhadap produsen lain (effects of producers on other producers). Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. b) Efek atau dampak samping kegiatan produsen terhadap konsumen (effects of producers on consumers) c) Efek atau dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of consumers on consumers) d) Efek akan dampak dari suatu konsumen terhadap produsen (effects of consumers on producers) 1. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up cost) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers).(MRS). Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. JENIS-JENIS EKSTERNALITAS Efisiensi alokasi sumberdaya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah residu produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai. yang dimaksud dengan eksternalitas hanyalah apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain atau segolongan orang lain tanpa adanya kompensasi apapun juga sehingga timbul inefisiensi dalam alokasi faktor produksi. suatu fakta bahwa tindakan seseorang dapat mempengaruhi orang lain tidaklah berarti adanya kegagalan pasar selama pengaruh tersebut tercermin dalam harga-harga sehingga tidak terjadi ketidak efisienan dalam perekonomian. jika aktivitas dan tindakan invividu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mempunyai dampak (externality) baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Jadi. danau atau semacamnya. BAB II JENIS DAN FAKTOR PENYEBAB EKSTERNALITAS A. Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya.

3. berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan. 2. Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau mengganggu fungsi utilitas konsumen yang lain. Misalnya. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga mengganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air. kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga. suatu agen ekonomi (perusahaan/produsen) yang menghasilkan limbah (waste products) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen. Dampak Konsumen Terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan. kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. Dalam hal ini. Kategori ini meliputi polusi suara (noise). Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh. 4. asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. yang semuanya mempengaruhi kenyaman konsumen atau masyarakat luas. Dalam hal ini. jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep ekternalitas dalam dua pengertian yang berbeda : . bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga. Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi.sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain.

a) Eksternalitas yang bisa habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu. yang memerlukan instrumen ekonomi untuk menginternalisasikan dampak tersebut dalam aktivitas dan analisa ekonomi. dan suara merupakan contoh eksternalitas jenis yang tidak habis. Dengan kata lain. Kalau ini dibiarkan. Ada dua ciri utama dari barang publik ini. barang publik sempurna (pure public good) didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemikiran atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi. Kedua adalah tidak ekslusif . maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. eksternalitas jenis kedua merupakan masalah pelik/rumit dalam ekonomi lingkungan. barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption). Karakteristik barang atau sumberdaya publik. b) Eksternalitas yang tidak habis (an undeplate externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang. Selanjutnya. Keberadaan eksternalitas yang merupakan barang publik seperti polusi udara. air. B. dan juga bagi orang lain. eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. common property resource). Dalam pandangan ekonomi. maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EKSTERNALITAS Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsipprinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. 1. ketidaksempurnaan pasar. besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya. Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor di atas diuraikan satu persatu berikut ini. Keberadaan Barang Publik Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Dari dua konsep eketernalitas ini. barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain. public goods. Pertama. Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption.

Sumber-sumber daya milik bersama. Jadi. Dalam hal ini. Kalaupun ada kontribusi. Keadaan seperti akhirnya cendrung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. hidup yang nyaman dan sejenisnya. maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. Masyarakat atau konsumen cendrung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. tidak ekskludabel. Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar. pemandangan yang indah. 2. barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. mendorong sebagian masyarakat sebagai ³free rider´. keberadaan sumber daya milik bersama ini. pemerintah . Karena ciri-ciri di atas. karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued). dan cuma-cuma. karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi barang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mngendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien. Sebagai contoh. barang publik tidak diperjual belikan sehingga tidak memiliki harga. akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Pemanfaatannya oleh seseorang. jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B.(non-exclusive) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. rekreasi. air bersih. maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. Tetapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut. Namun tidak seperti barang publik. sama halnya dengan barang-barang publik. maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorangpun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut. sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. Sumberdaya Daya Bersama Keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang publik di atas.

4. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang umum (the tragedy of the commons). 3. b) Praktek mencari keuntungan bisa juga berasal dari pemerintah sendiri secara sah misalnya memberlakukan proteksi berlebihan untuk barang-barang tertentu seperti mengenakan pajak impor yang tinggi dengan alasan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam negeri. Pada kondisi yang demikian akan hanya berakibat terjadinya peningkatan surplus produsen yang nilainya jauh lebih kecil dari kehilangan surplus konsumen. melalui kebijaksanaan dan sebagainya. Ketidaksempurnaan pasar ini misalnya terjadi pada praktek monopoli dan kartel. sehingga secara keseluruhan praktek monopoli ini merugikan masyarakat (worse off). Kegagalan Pemerintah Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure). Aksi pencarian keuntungan (rent seeking) bisa dalam berbagai bentuk : a) Kelompok yang punya kepentingan tertentu (interest groups) melakukan loby dan usaha-usaha lain yang memungkinkan diberlakukannya aturan yang melindungi serta menguntungkan mereka. . Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. Contoh konkrit dari praktek ini adalah Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dengan memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan meningkatnya harga yang lebih tinggi dari normal. Ketidaksempurnaan Pasar Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan didalam suatu tukar manukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik. Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal).juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien.

kita sebut saja pihak-pihak non pemerintah tersebut sebagai pihak ³pribadi´ atau ³swasta´. dan denda informasi ini belum tentu menjadi reveneu pemerintah. untuk mengatasi kebiasaan . Praktek jenis ini bisa mendorong terjadinya eksternalitas. 1 milyar) untuk menanggulangi efek dari limbah yang dihasilkan itu.c) Praktek mencari keuntungan ini bisa juga dilakukan oleh aparat atau oknum tertentu yang mempunyai otoritas tertentu. Berdasarkan perhitungan atau estimasi perusahaan A harus mengeluarkan biaya (denda) yang besar (misalnya Rp. Pencari keuntungan (rent seeker) bisa dari perusahaan itu sendiri atau dari pemerintah atau oknum memungkinkan membayar kurang dari 1 milyar agar peraturan sesungguhnya tidak diberlakukan. Sebagai contoh. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pribadi atau swasta (private solution) dalam mengatasi persoalan eksternalitas. tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok). Untuk mudahnya. Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. Praktek mencari keuntungan ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan pelaksanaan aturan-aturan yang mendorong efisiensi tidak berjalan dengan semestinya. melainkan juga pihak-pihak non pemerintah. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan bisa memberikan uang jasa atau uang pelicin untuk keperluan tertentu. A. bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu. Dalam prakteknya. REGULASI Pemerintah dapat mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu. Sehingga akhirnya dampak lingkungan yang seharusnya diselidiki dan ditangani tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga masalahnya menjadi bertambah serius dari waktu ke waktu. baik itu pribadi/kelompok maupun perusahaan/organisasi kemasyarakatan. berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja. BAB III SOLUSI PEMERINTAH DAN SWASTA TERHADAP EKSTERNALITAS Kita telah menyimak mengapa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. Sebagai contoh. yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Pada dasarnya. untuk menghindari resiko yang lebih besar kalau ketentuan atau aturan diberlakukan dengan sebenarnya. perusahaan A yang mengeluarkan limbah yang merusak lingkungan.

Contoh yang sederhana. dan berbagai alternatif teknologi yang dapat diterapkan oleh industri yang bersangkutan. Tuntutan para pecinta lingkungan untuk menghapuskan segala bentuk polusi. Bentuk regulasi dibidang lingkungan hidup itu sendiri bisa bermacam-macam. karana polusi merupakan efek sampingan tak terelakkan dari kegiatan produksi industri. para pejabat pemerintah harus mengetahui spesifikasi dari setiap jenis/sektor industri. B. semua kendaraan bemotor sesungguhnya mengeluarkan polusi. kita harus menghitung segala untung ruginya secara cermat. Jika polusi ini hendak dihapus sepenuhnya. melainkan pembatasan polusi hingga ambang tertentu. melaksanakan. Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA/Environmental Protection Agency) adalah lembaga yang diserahi wewenang dan tugas untuk merumuskan. Namun kasus-kasus polusi umumnya tidak sesederhanana itu. pemerintah dapat menyatakannya sebagai tindakan kriminal dan akan mengadili serta menghukum pelakunya. yang dapat memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. Di semua kasus. PAJAK PIGOVIAN DAN SUBSIDI Selain menerapkan regulasi. Jadi. Masalahnya. Dalam kasus ini pemerintah menggunakan regulasi atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas tadi. sesungguhnya tidak mungkin terpenuhi. maka segala bentuk kendaraan bermotor harus dilarang oleh pemerintah. pemerintah juga dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar. sehingga tidak terlalu merusak lingkungan namun tidak juga menghalangi kegiatan produksi. yang harus diupayakan bukan penghapusan polusi secara total. untuk mengatasi eksternalitas. Untuk menentukan ambang aman tersebut. dan mengawasi berbagai regulasi yang dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup. .membuang limbah beracun ke sungai. informasi seperti ini sulit di dapatkan. Terkadang EPA mewajibkan pemakaian teknologi atau peralalatan tertentu untuk mengurangi polusi di pabrik-pabrik. dan hal ini tidak mungkin dilakukan. Di Amerika Serikat. dalam rangka mengurangi atau membatasi polusi. demi memperoleh suatu peraturan yang baik dan tepat guna. Adakalanya EPA langsung menetapakan batasan polusi yang diperbolehkan untuk suatu perusahaan. yang biaya sosialnya jauh lebih besar dari pada keuntungan pihak-pihak yang melakukannya.

Jika keduanya dipaksa menurunkan polusi sama rata. Para ekonom lebih meyukai penerapan pajak. Pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dan suatu ekstemalitas negatif lazim disebut sebagai Pajak Pigovian (Pigowan tax). yakni Arthur Pigou (1877-1959). maka pabrik kertas akan segera mengurangi polusinya. Regulasi itu langsung membatasi ambang polusi. polusi akan hilang.Sebagai contoh. Untuk mencapai ambang polusi tertentu. akan semakin banyak penurunan polusi yang akan terjadi. seperti telah disinggung di atas pemerintah dapat menginternalisasikan eksternalitas dengan menggunakan pajak terhadap kegiatan-kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif. Mereka yakin penerapan pajak itu sama sekali tidak kalah efektifnya dalam menurunkan polusi. Ada dua pilihan solusi baginya. yakni : a) Regulasi 300 ton per tahun. EPA tinggal menghitung tingkat pajak yang paling tepat untuk diterapkannya. sedangkan pajak Pigovian memberikan insentif kepada para pemilik pabrik untuk sebanyak mungkin mengurangi polusinya. karena pajaknya terlalu tinggi. Semakin tinggi tingkat pajaknya. padahal penurunan sama rata. karena hal itu lebih : EPA mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga .000. Para ekonom umumnya lebih menyukai pajak Pigovian dari pada regulasi sebagai cara untuk mengendalikan polusi. Namun EPA juga harus hati-hati.5. bukan merupakan cara termurah menurunkan polusi. Ini dikarenakan kapasitas dan keperluan setiap pabrik untuk berpolusi berbeda-beda. adalah karena cara ini lebih efektif menurunkan polusi. Namun melalui penerapan pajak. Alasan utama para ekonom itu memilih penerapan pajak. EPA menilai limbah itu terlalu banyak. karena biaya penerapan pajak itu lebih murah bagi masyarakat secara keseluruhan. maka operasi pabrik baja akan terganggu. dan sebaliknya memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif. Besar kemungkinan salah satu pabrik (misalkan pabrik kertas). Menurut pendapat Anda. dan beniat menguranginya. lebih mampu (biayanya lebih murah) untuk menurunkan polusi dibanding pabrik lain (pabrik baja). b) Pajak Pigovian : EPA mengenakan pajak sebesar Rp. Andaikan ada dua pabrik-pabrik baja dan pabrik kertas-yang masingmasing membuang limbah sebanyak 500 ton per tahun ke sungai. mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan dan menganjurkannya. Regulasi mewajibkan semua pabrik mengurangi polusinya dalam jumlah yang sama. karena semua pabrik bangkrut atau memilih tidak beroperasi.000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik. solusi manakah yang lebih baik ?.

pajak Pigovian secara langsung menetapkan harga atas hak berpolusi. IZIN POLUSI YANG DAPAT DIPERJUAL BELIKAN . Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian. selain memberi pendapatan tambahan pada pemerintah. Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal mungkin. akan semakin sedikit pula pajak yang harus mereka bayar. pajak Pigovian itu justru mendorong alokasi sumber daya mendekati titik optimum sosial. yang biaya penurunan polusinya lebih mahal. sedangkan pabrik baja. Pajak umumnya juga menimbulkan beban baku berupa penurunan kesejahteraan ekonomis (turunnya surplus produsen dan surplus konsumen). Pada dasarnya. Mereka akan terus terdorong menurunkan polusi. pajak Pigovian ini juga meningkatkan efisiensi ekonomi. yang nilainya lebih besar dari pada pendapatan yang diperoleh pemerintah dan pajak tersebut. dimana kita mengetahui bahwa pajak pada urnumnya akan mendistorsikan insentif dan mendorong alokasi sumber daya menjauhi titik optimum sosialnya. karena semakin sedikit polusi yang mereka ciptakan. pajak akan memberikan insentif kepada pabrik-pabrik itu untuk terus mengembangkan tekndogi yang ramah terhadap lingkungan. Seandainya saja polusinya sudah berada dibawah ambang maksimal (misalkan 300 ton per tahun). Pajak Pigovian diterapkan untuk mengoreksi insentif ditengah adanya eksternalitas. Berapapun target penurunan polusi yang diinginkan EPA akan dapat mencapainya dengan biaya termurah melalui penerapan pajak ini. yang paling sulit menurunkan polusinya atau yang dihadapkan pada biaya paling tinggi untuk menurunkan polusi (misalkan karena biaya alat penyaring polusinya sangat mahal). C. Pajak Pigovian tidaklah sama dengan pajak-pajak lain. Jadi. maka perusahaan itu tidak akan membuang biaya lebih banyak agar polusinya dapat ditekan lebih rendah lagi.murah dan lebih mudah dilakukan dari pada membayar pajak. merupakan cara terbaik untuk menurunkan polusi. masyarakat harus memperhitungkan kesejahteraan pihak lain. akan memilih membayar pajak saja. Sama halnya dengan kerja pasar yang mengalokasikan berbagai barang ke pembeli. sehingga tidak seperti pajak-pajak lainnya. yang memberikan penilaian paling tinggi pajak Pigovian ini juga mengalokasikan hak berpolusi kepada perusahaan atau pabrik. Sebaliknya. Akibat adanya eksternalitas. Pajak Pigovian tidak seperti itu karena pajak ini memang khusus diterapkan untuk mengatasi masalah ekstemalitas.

mari kita andaikan EPA (Enviromental Protection Agency) mengesampingkan saran para ekonom. dan satu perusahaan ke perusahaan lain. Perusahaan-perusahaan yang dihadapkan pada biaya yang sangat tinggi untuk berpolusi. 5. pasti akan aktif dipasar itu. yakni hak berpolusi. Logika yang sama yang berlaku untuk setiap transfer hak berpolusi secara sukarela. Agar polusi total tidak bertambah.. Pabrik baja perlu menaikkan ambang polusinya. asalkan si pemilik pabrik baja memberikan kompensasi Rp. pengelola pabrik kertas bersedia menurunkan polusinya sebanyak itu. Pasar yang memperdagangkan hak berpolusi ini selanjutnya pasti akan tumbuh dan berkembang. . Jika kemudian EPA memang mengizinkan hal itu. hanya sehari setelah peraturan itu diumumkan. EPA mengeluarkan peraturan yang mengharuskan setiap pabrik. Namun. pimpinan dua perusahaan. Haruskan EPA mengizinkan kedua pabrik itu melakukan jual-beli hak berpolusi sendiri ?. kesejahteraan total akan meningkat kalau EPA mengizinkan kedua pabrik itu melakukan jual-beli hak berpolusi. adalah alokasi/pembagian awal izin berpolusi dikalangan perusahaan tidak akan menjadi masalah. Jadi.Sekarang. untuk menurunkan limbahnya hingga 300 ton per tahun. datang ke kantor EPA untuk mengajukan suatu usulan. dan pada gilirannya. pasar ini akan tunduk pada kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan. misalnya satu ton per tahun. membeli hak berpolusi lebih murah dibanding melakukan investasi baru untuk menurunkan polusi pabrikpabrik mereka. pasti akan senang hati menjual haknya berpolusi karena hal itu akan memberinya pendapatan cuma-cuma.dan permintaan ini sudah disanggupi oleh pemilik pabrik baja. perusahaan-perusahaan yang tidak dihadapkan pada kendala yang berat untuk menurunkan polusi. karena bagi mereka. Sebaliknya. dan menerapkan pendekatan formal. yang satu dan pabrik baja dan yang lain dari pabrik kertas. karena mereka secara sukarela menyetujuinya. Satu keuntungan dari berkembangnya pasar hak berpolusi ini. karena batas posisi total tidak dilanggar.000. Kesepakatan antara kedua pabrik itu akan menguntungkan keduanya.000. maka sesungguhnya EPA telah menciptakan sumber daya langka yang baru. Dari sudut pandang efisiensi ekonomi pemberian izin bagi kedua pabrik tersebut akan menjadi kebijakan yang baik. Di samping itu. kesepakatan itu tidak akan mengakibatkan dampak eksternal apa pun.

Disini.jika ditinjau dari sudut pandang efisien ekonomi. akan menjadi pembelinya. kurva penawaran hak berpolusi bersifat inelastis sempuma (Karena perusahaan-perusahaan langsung dijatah kuantitas polusinya. Dalam kedua kasus ini. sedangkan perusahaan yang harus mengeluarkan biaya besar untuk menurunkan polusi. penerapan pajak Pigovian maupun izin polusi. yakni biaya oportunitas berpolusi berupa pendapatan yang akan mereka peroleh seandainya mereka menjual izin polusi itu dalam sebuah pasar terbuka. sesungguhnya dampak akhir dari kedua kebijakan ini akan sama saja. perusahaan harus membeli izin itu dari pemerintah. sama-sama dapat menginternalisasikan eksternalitas. Logika yang melatarbelakangi kesimpulan tersebut mirip dengan mendasari teorema Coase. Selama pasar hak berpolusi ini dibiarkan bekerja dengan bebas. Selanjutnya pada gambar (a) dipertihatkan EPA. Bahkan perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki izin polusi tetap harus membayar dalam bentuk lain. maka alokasi akhirnya akan lebih efisien dibanding alokasi awalnya. Kurva permintaan ini memperlihatkan bahwa semakin rendah biaya atau harga polusi. sedangkan pada kasus izin polusi. atas polusi yang ditimbulkannya itu. Di sini. Dalam kasus pajak Pigovian. Kemiripan antara kedua kebijakan itu dapat dilihat secara jelas di pasar polusi. karena biayanya relatif rendah. Dengan demikian. kurva permintaan akan menentukan kuantitas polusi. dalam rangka mengurangi polusi. sebanyak izin polusi yang ada). Perusahaan-perusahaan yang paling mampu menurunkan polusi akan menjual haknya berpolusi. terlepas dari sebaik apapun alokasi awal tersebut. perusahaan pencipta polusi harus membayar pajak atau semacam denda kepada pemerintah. posisi kurva permintaan akan menentukan harga polusi. kurva penawaran hak berpolusi bersifat elastis sempuma karena perusahaan-perusahaan dapat berpolusi sebanyak pajak yang mereka bayarkan. Kedua panel yang terdapat pada gambar dibawah ini sama-sama menunjukkan kurva permintaan atas hak berpolusi. Pajak Pigovian . Dalam kasus ini. Dalam kasus ini. perusahaan tetap harus membayar atas polusi yang ditimbulkannya. langsung menetapkan harga polusi dengan cara memberlakukan pajak Pigovian. dengan memaksa perusahaan menanggung ongkos tertentu untuk berpolusi. Meskipun penurunan polusi melalui pemberlakuan izin polusi nampak berbeda kasusnya dari penerapan pajak Pigovian. akan semakin tinggi permintaan polusi artinya perusahaan-perusahaan akan lebih leluasa berpolusi. Sedangkan pada gambar (b) EPA secara langsung membatasi kuantitas polusi dengan cara menerbitkan sejumlah izin polusi terbatas.

maka ia tidak akan dapat memastikan berapa besar pajak yang harus diterapkan untuk mencapai target tersebut. atau dengan secara langsung membatasi kuantitas polusi melalui penerbitan izin polusi terbatas. D. terlepas dan posisi kurva permintaannya. Dalam kasus ini. dengan menetapkan harga polusi melalui pajak Pigovian.P Harga Produksi P Harga Priduksi Penawaran Izin Produksi O Q Kuantitas Polusi 0 Q Kuantitas Polusi Gambar (a) Pajak Pigovian Gambar (b) Izin Polusi Dalam kedua kasus ini. Namun dalam beberapa hal. Tetapi karena EPA tidak mengetahui kurva permintaan polusi. EPA dapat mencapai sembarang titik pada kurva itu. Umpamakan saja EPA suatu ketika ingin membatasi limbah yang dibuang di sungai tidak lebih dari 600 ton. penjualan izin polusi bisa lebih baik dan itu pada penerapan pajak Pigovian. JENIS-JENIS SOLUSI SWASTA Inefisiensi pasar akibat eksternalitas tidak perlu selalu harus atau bisa di atasi dengan penegakan atau peningkatan standar moral atau ancaman penerapan sanksi sosial. Coba . Hasil lelang ini akan memberi pendapatan seperti halnya pajak Pigovian. pemecahan akan diperoleh dengan melelang izin polusi sebanyak 600 ton limbah.

dengan membiarkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya. Peraturan resmi yang mengatur tentang sampah memang ada. maka lebah-lebah itu akan kekurangan makanan. jika lebah yang dipelihara si peternak terlalu sedikit. Sedangkan sipeternak juga untung karena ia tidak perlu memberi makan lebahlebahnya. kita mengetahui banyak perguruan tinggi yang membentuk yayasan yang menghimpun sumbangan dari para alumni. Eksternalitas ini dapat diinternalisasikan dengan cara penggabungan kedua usaha. namun karena kita mengetahui atau menyadari bahwa tidaklah baik dan tidak patut sejak kita masih kanak-kanak. Organisasi ini mengandalkan pemasukannya dari donasi pihak-pihak yang bersimpati atau iuran anggota. Contoh lain solusi swasta adalah derma atau amal yang seringkali sengaja diorganisasikan untuk mengatasi suatu eksternalitas. atau pihak-pihak lain. mereka membantu penyerbukan dan mempercepat pohon-pohon apel itu berubah. maka kedua belah pihak bisa merugi.renungkan. agar sedapat mungkin tidak merugikan orang lain. sebuah organisasi sosial swasta yang sengaja dibentuk untuk turut melestarikan lingkungan hidup. Sebagai contoh. peraturan semacam itu tidak dijalankan secara sungguh-sungguh. Contohnya adalah Sierra Club. Sedangkan untuk eksternalitas positif. kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh seorang petani apel dan seorang peternak lebah yang hidup berdekatan. namun dalam melakukan suatu tindakan. perusahaan. mereka juga sekaligus mengatasi eksternalitas. Pada saat lebah-lebah itu mencari madu dari satu bunga apel ke bunga lainnya. Motif utama mereka memang untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Si petani membeli seluruh atau sebagian usaha peternakan lebah. untuk kemudian disalurkan sebagai beasiswa. Sebaliknya. Jika pohon apel yang ditanam si petani terlalu sedikit. namun di banyak tempat. Namun jika kerja sama terselubung yang saling menguntungkan itu tidak diperhitungkan. Hal ini sebagai contoh untuk mengatasi eksternalitas negatif. bahwa kita boleh melakukan sesuatu moral inilah yang kemudian membatasi perilaku dan tindakan kita. mengapa orang-orang secara sadar tidak mau membuang sampah sembarangan ?. Kita tidak mau membuang sampah disembarang tempat juga bukan karena takut dengan peraturan-peraturan semacam itu. ajaran agama itu meminta kita untuk melakukan internalisasi eksternalitas. Pasar swasta terkadang juga mampu mengatasi masalah eksternalitas. maka proses penyerbukan tidak lancar. Ia menguntungkan si petani apel. Dalam bahasa ekonomi. atau sebaliknya si peternak membeli seluruh atau .

Jiak kedua usaha ini disatukan. Namun pemeliharaannya atas Spot itu menimbulkan eksternalitas negatif terhadap Jane. simaklah contoh berikut : Di sebuah kota tinggal seseorang bernama Dick. dan berapa banyak. sekaligus menghilangkan eksternalitas negatifnya (jumlah pohon atau jumlah lebah yang terlalu sedikit). maka pihak swasta itu akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. Spot ini terus-terusan menggonggong sehingga sangat mengganggu Jane. Jika biaya yang dipikul keduanya tidak sama. Cara lain di pasar swasta dalam mengatasi eksternalitas adalah penyusunan kontrak atau perjanjian di antara pihak-pihak yang menaruh kepentingan. demi membuahkan hasil yang maksimal. Syarat itu adalah pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah penanggulangan masalah ekternalitas yang ada diantara mereka. si petani apel dan sipeternak lebah dapat membuat perjanjian kerja sama. tanpa menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada. Dalam kenyataannya. agar masing-masing dapat memberikan eksternalitas positif yang optimal. ditemani anjingnya yang bernama Spot. Dick memetik manfaat dengan memelihara Spot. maka pengelolanya akan lebih mudah menentukan berapa banyak pohon apel yang harus ditanam. . Ada sebuah pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase therem) mengambil nama perumusnya yakni ekonom Ronald Coase yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat efektif seandainya memenuhi satu syarat. E. Menurut teorema Coase.sebagian pohon apel. maka bisa juga diatur siapa perlu membayar siapa. hanya jika syarat itu terpenuhi. Dalam perjanjian itu bisa di atur. maka kemungkinan terjadinya inefisiensi yang bersumber dari eksternalitas negatif bisa dihindari. berapa banyak pohon yang ditanam si petani. Dalam contoh di atas. dan berapa ekor lebah yang harus dipelihara si peternak. berupa rasa aman dan nyaman. dan berapa ekor lebah yang harus dipelihara. tanpa memperhitungkan kepentingan pihak lain. Untuk lebih memahami makna teorema Coase. dan kedua belah pihak akan sama-sama lebih untung dibanding kalau keduanya menjalankan usahanya sendiri-sendiri. TEORAMA COASE Sejauh mana solusi swata tersebut mampu mengatasi masalah eksternalitas ?. Melalui kontrak seperti ini. niat untuk mengupayakan internalisasi eksternalisasi seperti itulah yang merupakan penyebab mengapa banyak perusahaan yang menekuni lebih dari satu bidang/jenis usaha sekaligus. tetangga Dick.

ataukah Jane yang harus dipaksa rela begadang sepanjang malam. Melalui tawar menawar. 100. jika nilai kerugiannya melampaui nilai keuntungannya. Bagaimana caranya ?.000. tentu saja bertumpu pada asumsi bahwa Dick secara hukum memang dibenarkan memelihara anjingnya yang berisik itu. nilai keuntungan bagi Dick dari memelihara Spot adalah Rp. Jika keuntungannya melebihi kerugiannya maka pemecahan yang efisien secara sosial adalah Dick dibiarkan terus memelihara anjingnya. maka tentu saja Dick akan menolak tawaran imbalan yang lebih kecil dari Rp.000.sedangkan kerugian Jane akibat gonggongan Spot hanya Rp. yakni jika ternyata nilai keuntungan Dick lebih besar dari pada nilai kerugiannya. Namun ada pula kemungkinan Jane tidak membayar imbalan itu. Semua uraian dalam contoh di atas. Kedua belah pihak akan lebih sejahtera dibanding sebelumnya dan pemecahan efisien pun tercipta. sedangkan Jane harus rela tidur diiringi gonggongan anjing. kita perkirakan dahulu seperti apa pemecahan yang dalam secara sosial (untuk semua pihak).000.dan Dick dengan senang hati akan menyingkirkan anjingnya.. 50.padahal Jane tidak akan mau membayar lebih dari Rp.. Akibatnya. Jane dapat menawarkan imbalan sebanyak Rp. 80.Haruskah Dick dipaksa mengirim anjing ke lokasi khusus penitipan hewan. Jane dapat menawarkan sejumlah uang kepada Dick agar menyingkirkan anjingnya. Umpamakan saja. dan berapa kerugian yang harus ditanggung Jane..Dalam kasus ini. Ditinjau dari perhitungan untung ruginya. maka Dick harus menyingkirkan anjingnya. dan untuk itu diperlukan perhitungan atas seberapa banyak nilai keuntungan bagi Dick dengan memelihara Spot. kondisi tersebut juga terhitung efisien.000.000. sehingga Jane tidak bisa .. 80.000. 80.000. jika uang yang ditawarkan melebihi nilai keuntungannya dalam memelihara Spot.. Sebagai satu contoh. Sebaliknya. 100. karena tidak bisa tidur akibat gonggongan Spot ?. 60. Pertama-tama..-. Dick akan tetap memelihara Spot.sedangkan kerugian Jane bernilai Rp. dan seandainya kesepakatan tersebut benar-benar dapat dicapai. Misalkan saja. maka itu berarti mereka dapat menciptakan sendiri pemecahan atas masalah eksternalits yang mereka hadapi. Menurut teorema Coase. pasar swasta dapat menciptakan sendiri pemecahan yang efisien. Ada dua alternatif yang perlu dipertimbangkan. nilai keuntungan Dick dari memelihara Spot ternyata Rp. Dick dan Jane akhirnya akan dapat menyepakati jumlah imbalan yang dapat diterima kedua belah pihak.Jika ini kasusnya. Dick akan terima tawaran itu.

Sebaliknya. dapat disimpulkan bahwa : Teorema Coase menyatakan bahwa pelaku-pelaku ekonomi pribadi/swasta. karena tidak ada pengaruhnya terhadap kemampuan pasar dalam mencapai hasil yang efisien. Meskipun demikian. atau jika Jane secara hukum berhak untuk menikmati ketenangan dan ketentraman di rumahnya sendiri. Jane secara hukum dapat menggugat Dick agar menyingkirkan anjingnya. Dick hanya akan terus memelihara anjingnya jika nilai keuntungannya melebihi nilai kerugiannya. dapat mengatasi sendiri masalah eksternalitas yang muncul diantara mereka. pihak-pihak yang berkepentingan selalu berpeluang mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. kita berasumsi bahwa Dick dapat memelihara Spot dengan bebas. maka keduanya akan dapat mencapai suatu kesepakatan yang memungkinkan Dick terus memelihara Spot. seandainya mereka dapat melakukan tawar menawar secara bebas (tanpa biaya). Dick dapat menawarkan sejumlah imbalan kepada Jane agar ia dapat terus memelihara anjingnya. soal distribusi hak itu bukannya sama sekali tidak relevan. Lantas bagaimana jika ternyata hukum berpihak pada Jane. karena distribusi awal itulah yang menentukan distribusi kesejahteraan ekonomi. para anggota masyarakat dapat mengatasi sendiri masalah eksternalitas. kesepakatan tetap dapat dibuat dalam rangka mengatasi masalah eksternalitas. maka mereka akan dapat . Jadi. dan merupakan pemecahan yang efisien. Dalam kasus ini. dan Jane harus memberinya imbalan agar Dick menyingkirkan anjingnya itu secara sukarela. hukum berpihak pada Jane. Misalkan saja. Pada akhirnya. namun hasil akhirnya tidak akan berubah. Jadi. Jika Dick yang memiliki hak awal untuk memelihara Spot. jika Jane yang mempunyai hak awal untuk hidup tenang. Menurut teorema Coase. tanpa keterlibatan pemerintah. Dalam kasus ini. Namun dalam kedua kasus ini. distribusi awal hak atau perlindungan hukum itu tidak menjadi persoalan. Dick dan Jane tetap berpeluang mencapai kesepakatan. maka Dick yang harus memberi imbalan. Artinya. Andaikata nilai keuntungan Dick lebih besar daripada kerugian Jane. terlepas dari distribusi hak pada awalnya. BAB IV KESIMPULAN Dalam beberapa kasus. Terlepas dari distribusi hak pada awalnya.mengganggu gugat. maka Jane lah yang harus memberi imbalan dalam kesepakatan yang mereka buat. Menurut teorema Coase.

1978. DAFTAR PUSTAKA Baumol. Macroeconomics of Unbalanced Growth. B.mencapai kesepakatan bersama. New York. Ekonomi Publik dan External. J. Inc. 1989. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan upaya internalisasi ekstemalitas polusi.G. Pengantar Ke Filsafat Sains. Dj. Winthrop Publisher. G. maka pemerintah perlu turun tangan. Public Finance and Public Choice : Analytical Perspective. Jones. Mangkoesoebroto. The Anatomy of Urban Crisis.H. BPFE ± Yogyakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. sehingga kini mereka menjadi kekuatan utama dalam melindungi kelestarian lingkungan hidup. and L. itupun dalam kadar yang terbatas. Public Sector Economics. Kekuatan pasar jika dapat diarahkan secara tepat dapat menjadi resep yang paling mujarab untuk mengatasi kegagalan pasar. Jakarata.F. Sgontz. yakni dengan secara langsung mewajibkan para pembuat keputusan (produsen atau konsumen) menanggung segenap biaya atau akibat yang ditimbulkan oleh prilaku atau tindakan mereka. Oxford. Penanggulangan polusi juga dapat dilakukan melalui penerbitan izin polusi terbatas. T. Mc Graw-Hill Book Company. Houghton Mifflin Company. Simarmata. and Peggy. 1994.A. G. Yogyakarta. Government and Economic Choice : An Introduction to Publik Finance. 1997. London. Pemerintah dapat mengatasi persoalan eksternalitas itu tanpa meninggalkan pasar. Boston.T. 1992. Dalam prakteknya peran kelompokkelompok pecinta lingkungan terus meningkat. Boadway.R. Public Goods and Natural Liberty.A. New York.M.J.D. Musgrave. R. Cambridge University Press. Kalau orang-orang tidak dapat menyelesaikan sendiri masalah eksternalitas yang mereka hadapi. banyak kendala yang tidak memungkinkan berlangsungnya tawar menawar itu.G. Fifth Edition. Nasoetion. Narnun dalam prakteknya. Bogor. 1992. A. Cullis. Hanya perusahaan yang memiliki izin yang boleh menciptakan polusi. P. Pustaka Litera Antarnusa. 1997. 1975.W. Ekonomi Publik. Cambridge. Edisi Ke Tiga. 1990. Claredon Press. Mc Graw-Hill Book Company. R. Namun adanya eksternalitas itu tidaklah menjadi alasan untuk sepenuhnya mencampakkan kekuatan pasar. Pogue. Ekonomi Tanpa Pasar. Cambridge. Public Economics. Mishan. Contohnya adalah penerapan pajak Pigovian terhadap polusi. dan melaksanakannya bersama-sama pula sehingga tercapai suatu alokasi yang efisien. Public Finance in Theory and Practice. in American Economic Review. 1979. Myles. W. and P. . Salah satu diantaranya adalah terlalu banyak pihak yang berkepentingan.