P. 1
Hutan Mangrove

Hutan Mangrove

|Views: 175|Likes:
Published by aisyahairoq8035

More info:

Published by: aisyahairoq8035 on Jul 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2014

pdf

text

original

PENGELOLAAN EKOSISTEM PESISIR DAN LAUTAN (JALUR HIJAU PANTAI

)

KANTOR MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP PROYEK PEMBINAAN KELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM LAUT DAN PANTAI 1994

RINGKASAN PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

I. PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini akan memasuki era Pembangunan Nasional Jangka Panjang Tahap II, tepatnya mulai awal tahun 1994. Dalam era tersebut sumber day alam terbarukan akan memainkan peran yang lebih besar lagi jika dibandingkan dengan kurun waktu Pembangunan Jangka Panjang Tahap I. Hal ini terutama disebabkan karena sumber daya alam tak terbarukan yang menjadi tumpuan Pembangunan Nasional Jangka Panjang I semakin menipis persediaannya.

Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem yang sangat unik, merupakan sumber daya alam yang sangat potensial. Di Indonesia, hutan mangrove yang luasnya sekitar 4.25 juta ha (Departemen Kehutanan, 1982), atau kurang lebih 25% luas hutan mangrove di dunia (ISME, 1992), dan terbesar di seluruh wilayah Indonesia, berperan penting bagi kelangsungan hidup manusia, baik dari segi ekonomis, sosial maupun lingkungan. Disamping mendukung keanekaeagaman flora dan fauna dari komunitas terestis akuatik, dan berfungsi lindung bagi keberlangsungannya berbagai proses ekologis, hutan mangrove telah dimanfaatkan dalam skala komersial terutama untuk gelondongan sebagai bahan baku"pulp/kertas, rayon dan arang.

Saat ini, kerusakan dan degradasi hutan mangrove merupakan penomena umum di berbagai negara, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Kerusakan hutan ini terutama disebabkan oleh konversi mangrove untuk kegiatan-kegiatan produksi lainnya (industri, pertambangan dan lain-lain) yang tidak berlandaskan asas kelestarian serta oleh kegiatan eksploitasi yang tidak terkendali. Adanya konversi hutan mangrove ini telah menyebabkan semakin menyusutnya luas hutan mangrove Indonesia Indonesia yaitu tinggal sekitar 4.25 juta ha (Departemen Kehutanan, 1982). Bahkan menurut PHPA dan AWB (1987) diperkirakan luas hutan mangrove tinggal sekitar 3.24 juta ha.

Pembangunan kehutanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan tetap menjaga kelestariaanya. Oleh karena itu, di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pada dasarnya telah diberikan arahan bahwa hutan, khususnya hutan mangrove, sebagai sumber daya alam yang penting perlu dikelola dengan tetap menjaga kelangsungan fungsi dan kemampuannya dalam melestarikan lingkungan hidup. Kegiatan pengelolaan sumber daya alam dan ekosistemnya, termasuk hutan mangrove diselenggarakan atas dasar

.

PERMASALAHAN Di dalam pengelolaan hutan mangrove tersebut dijumpai berbagai permasalahan: (1)Terbatasnya data. III. . mempelajari ekosistem hutan mangrove yang meliputi biologi. struktur. (2)pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah dengan menjamin terpeliharanya sumber genetik dan ekosistemnya bagi kepentingan umat manusia. (3)Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mantap dari perundangundangan yang telah ada sebagai dasar pengelolaan hutan mangrove secara lestari. II. mengamankan ekosistem hutan mangrove dengan melindungi genetik. sehingga diperoleh manfaat yang optimal dan berkesinambungan. dan (3)pelestarian pemanfaatan baik jenis maupun ekosistemnya dengan mengatur dan mengendalikan cara-cara pemanfaatan yang lebih bijaksana. (2)Study it.pola kebijaksanaan yang dituang dalam Strategi Konservasi Alam Indonesia yang berisi prinsip-prinsip sebagai berikut: (1)perlindungan terhadap sistem penyagga kehidupan dan menjamin terpeliharanya proses ekologis bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. (4)Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. PRINSIP DASAR PENGELOLAAN (1)Save it. informasi. perlindungan dan rehabilitasi. distribusi dan kegunaannya. komposisi. spesies dan ekosistemnya secara keseluruhan. (2)Belum jelasnya tata ruang wilayah pesisir dan tata guna mangrove yang mengakibatkan banyak terjadi tumpang tindih kepentingan peruntukan lahan dalam pemanfaatan hutan mangrove. ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pemanfaatan yang lestari.

pelestarian dan pemanfaatan hutan mangrove didasarkan . IV. (2)Perlindungan. sehingga pengelolaan hutan mangrove dilakukan dengan mempertibangkan kepentingan nasional.(3)Use it. KEBIJAKSANAAN UMUM PENGELOLAAN (1)Hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan merupakan aset nasional. memanfaatkan ekosistem hutan mangrove secara lestari dan seimbang.

pelestarian dan pemanfaatan hutan mangrove diupayakan dapat menampung dan terintegrasi dengan kepentingan dan hak masyarakat sekitar. pelestarian dan pemanfaatannya. dengan tujuan agar masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan hutan mangrove sehingga dapat meningkatkan tanggung jawab dan peran serta dalam perlindungan. (8)Kegiatan perlindungan. dan perlindungan terhadap angin. .pada tata ruang kawasan pantai yang disusun berdasarkan karakteristik. pencegahan instrusi air laut. (9)Pengelolaan hutan mangrove merupakan bagian dari pengembangan daerah pesisir secara keseluruhan sehingga selalu mempertimbangkan kepentingan dan manfaat yang lebih luas. pelestarian dan pemanfaatan hutan mangrove secara lestari. spesies dan ekosistemnya. polusi. penelitian dan pengembangan serta evaluasi sumber daya hutan ditingkatkan dan dikembangkan secara terpadu. (5)Rehabilitasi hutan mangrove dilaksanakan untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi lindung. (3)Pengelolaan hutan mangrove dengan fungsi lindung diselenggarakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan fungsi pengaturan tata air. kekhasan dan keunikan keanekaragaman genetik. (7)Pemanfaatan hutan mangrove untuk fungsi produksi diselenggarakan dengan memanfaatkan dan meningkatkan potensi dan produksi secara optimal dengan memperhatikan kelestarian sumber daya dan kelayakan pengusahaanya. spesies dan ekosistem hutan mangrove. banjir dan mempertahankan habitat biota akuatik dan biota terestrial. (6)Inventarisasi. dengan tetap mengutamakan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menjamin kepentingan manusia secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan dalam rangka menggali dan mengembangkan sumber daya hutan mangrove untuk mendukung peningkatan fungsi lindung. (4)Pengelolaan hutan mangrove dengan fungsi untuk pelestarian diselenggarakan dengan tujuan utama menjaga kemurnian. fungsi pelestarian dan fungsi produksi. kesesuaian dan keperwakilan keanekaragaman genetik.abrasi pantai.

Program Umum .V.Rekapitulasi Program Pengelolaan Hutan Mangrove di Indonesia 1.

6. 2.Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.Meningkatkan fungsi koordinasi dan kelembagaan. kebijakan dan per-aturan perundangan. 3. 5. 4. sarana dan prasarana.Program Kegiatan 1.Meningkatkan peranserta masyarakat 7.Memantapkan dan menyempurnakan komitmen pemerintah.Meningkatkan pendapatan negara .Melakukan pelaksanaan penyusunan struktur tata ruang dan penetapan peruntukan kawasan hutan mangrove sesuai dengan fungsinya.Penetapan pedoman pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove secara terkoordinasi.

b.melakukan pendidikan dan latihan.memantapkan ruang lingkup dan tanggung jawab a. penetapan dan penyempurnaan. b.secepatnya menyusun secara terkoordinasi struktur tata ruang kawasan hutan mangrove sesuai dengan fungsinya. a.secepatnya menyusun pedoman secara terkoordinasi. a. b. prasarana dan jenjang karir yang memadai.peningkatan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan. c.melakukan inventarisasi dan pemetaan potensi sumberdaya alam hutan mangrove. a.menyediakan sarana.penyusunan. c.Meningkatkan pemantauan.kajian terhadap pelaksanaan dan peraturan yang ada. a.mengikutsertakan masyarakat di dalam . peraturan. pengendalian dan pengawasan implementasi pengelolaan hutan mangrove a.penataan batas kawasan yang telah ditetapkan dalam struktur tata ruang.8.

b.menumbuhkan kembangkan kesadaran masyarakat tentang arti penting hutan mangrove. Perlindungan dan Pelestarian . b. a. a. pengendalian dan pengawasan.mendorong peningkatan mutu pengelolaan produk hutan mangrove.memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha dengan meningkatkan diversifikasi pemanfaatan hutan mangrove. Program Khusus 2. 2.1.aktifitas pengelolaan hutan mangrove.menyusun dan/atau menyempurnakan sistem informasi pengelolaan hutan mangrove yang terpadu dan menyiapkan kriteria yang diperlukan dalam rangka pemantauan.

3.Meningkatkan fungsi dan peran kawasan lindung hutan mangrove secara optimal bagi kepentingan masyarakat . 2.Program Kegiatan 1.Mengamankan kawasan lindung hutan mangrove dari segala bentuk gangguan dan kerusakan.Mempelajari potensi sumberdaya hutan mangrove.

membuatkan pedoman pelaksanaan pengamanan kawasan lindung hutan mangrove. 2.pembinaa tenaga untuk meningkatkan pengetahuan. a.pembinaan aparat keamanan c.mengadakan studi analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) d.2.meningkatkan sistem konservasi tanah dan air pada satuan-satuan DAS e.pendidikan non formal .studi evaluasi tipe ekosistem dan kekhasan biota serta manfaatnya untuk menetapkan statusnya.meningkatkan fungsinya lindung pada hutan bakau rakyat. melalui: .menyiapkan masyarakat (desa binaan) dalam rangka pengembangan persepsi dan peranserta masyarakat terhadap hutan mangrove. menertibkan dan mengelola .Mengamankan. a.pendidikan formal . b.melanjutkan penataan batas.penataran .a. ketrampilan dan dedikasi. Penelitian dan Pengembangan Program Kegiatan 1. c.memantapkan pembinaan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya. b.

e. .pengembangan kelembagaan dalam rangka pengamanan data dan informasi. c.pengembangan sarana dan prasarana fisik dalam rangka pengamanan data dan informasi.pengembangan sumberdaya manusia agar profesional dan berloyalitas tinggi. a.memperbaiki sistem manajemen yang berkaitan dengan tata cara dokumentasi dan penyebaran hasil penelitian dan pengembangan.data. d.membentuk satuan tugas dalam rangka peyebarluasan dan pengamanan data dan informasi. b. informasi beserta saran dan prasarana penelitian sehingga menjamin kegitan program pengembangan hutan mangrove.

sehingga semaksimal mungkin dapat memberi manfaat dan nilai tambah kepada masyarakat sekitar.Tindakan pemanfaatan produk-produk penelitian mengacu kepada pengembangan (hasil-hasil penelitian).2.Mempelajari prospek pemanfaatan produk ataupun komponen ekosistem hutan mangrove serta produk-produk penelitian yang telah ada. 3. para peneliti. pembangunan .

mengembangkan sarana dan prasarana fisik penunjang kegiatan penelitian pengembangan.mengikutsertakan masyarakat sekitar dengan tujuan memanfaatakan hasil-hasil pengembangan dan turut melestarikan hutan mangrove yang dapat di dukung oleh pemerintah dan swasta. persebaran.mengoptimalkan pemanfaatan hasil-hasil penelitian sehingga aspek-aspek perlindungan. habitat. pertumbuhan. serta manfaatnya bagi manusia. jenis penyusun. a.2. silvikultur hutan mangrove serta komponen-komponen yang terkandung di dalam bagian pohon hutan mangrove atau ekosistemnya. keadaan ekosistem.mengidentifikasi dan mengungkapkan peri kehidupan. b.Penetapan kawasan hutan mangrove yang layak untuk dieksploitasi dengan mempertimbangkan. meliputi karakter dan struktur ekosistem. 2.Indonesia. keadaan lingkungan serta . Pemanfaatan dan Rehabilitasi Program Kegiatan 1. dan zonasi hutan mangrove. b. lingkungan sumberdaya hutan mangrove dan ekosistemnya. khususnya LSM. a. dampak negatif berbagai bahan pencemar dan ekploitasi hutan mangrove. keanekaragaman hayati. pelestarian dan pemantapan terjamin kelestariannya. potensi dan regenerasi. c. d.melakukan studi tentang pemanfaatan bagi masyarakat terhadap hujtan mangrove.penetapan kelembagaan penelitian dan pengembangan tentang sumberdaya hutan mangrove.

pemetaaan hutan mangrove sesaui dengan skala yang diperlukan.penetapan batas dan penetapan jalur hijau pada kawasan hutan mangrove yang akan dieksploitasi.a. b. .

Mengembangkan sistem silvikultur hutan mangrove yang paling optimal bagi pengusahaan. 7. 5.Mengamankan hutan mangrove dari bahaya kerusakan. 3.Alokasi pemanfaatan kawasan budidaya mangrove untuk berbagai kepentingan.Memantapkan koordinasi tata cara konversi dan pengelolaan hutan mangrove.Pembinaan dan pengembangan peranserta masyarakat terhadap pengelolaan hutan mangrove. 6. 4.Mengembangkan metode pengolahan produk hutan mangrove yang berorientasi pada . 2.kelayakan dan kelestarian pengusahaan.

b. b.melakukan analisis kelayakan pengusahaan hutan mangrove yang terpadu berdasarkan data yang dikumpulkan.mengembangkan proses dan prosedur konversi dan pengelolaan hutan mangrove melalui tim koordinasi daerah yang diketuai oleh Gubernur. a. a.menyusun petunjuk teknis yang menunjang sistem silvikultur hutan mangrove.melakukan evaluasi terhadap sistem silvikultur yang ada. a. d. efisien dan mempunyai nilai tambah tinggi.menyebarluaskan informasi tentang keguanaan dan pentingnya hutan mangrove pada masyarakat. a.meningkatkan pendidikan dan keterampilan masyarakat sekitar sehingga mempunyai alternatif pendapatan.mengembangkan pilot percontohan tentang pelaksanaan sistem silvikultur hutan mangrove. 8. c.Menghimpun data dan informasi tentang kawasan hutan mangrove yang perlu direhabilitasi.inventarisasi potensi sumberdaya hutan mangrove.meningkatkan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove yang mengalami degradasi.mengembangkan diversifikasi pemanfaatan . c. a.pemanfaatan yang maksimal dari produk hutan mangrove.

b.Menentukan dan mengawasi etat tebangan yang memungkinkan terbentuknya kelestarian potensi dan pengusahaan.2. a.melakukan pengamatan riap pertumbuhan dari berbagai jenis pada berbagai perlakuan.berbagai jenis vegetasi hutan mangrove. dan b.mengembangkan sistem informasi manfaat non konvensional hutan mangrove. 2.menyempurnakan metode penentuan potensi tegakan dengan menggunakan tabel volume . b.mengembangkan metode rehabilitasi hutan mangrove yang efektif dan efisien. a.mengembangkan Sistem Informasi Geografis (GIS) hutan mangrove untuk keperluan rehabilitasi. Pemanfaatan dan Rehabilitasi (lanjutan) Program Kegiatan 9.

a.Mendorong usaha/kegiatan masyarakat sekitar dalam memanfaatkan anekaragam manfaat hutan mangrove agar lebih mampu meningkatkan kehidupannya dengan tetap mempertahankan kelestarian hutan mangrove. 12.10. jenis. 11.Meningkatkan pembinaan dan pengawasan pada bekas areal tebangan dan reboisasi pada kawasan hutan mangrove yang kurang produktif. c.penentuan etat tebangan dan penyempurnaan sistem pengawasannya.menyempurnakan sistem insentif bagi aktifitas reboisasi dan rehabilitasi pada kawasan hutan mangrove yang kurang produktif atau mengalami kerusakan. .Meningkatkan pembinaan terhadap industri yang memanfaatkan bahan baku mangrove dengan lebih beragam dan mempunyai nilai tambah yang tinggi dengan menghasilkan jumlah limbah yang dapat ditolerir.

mengenalkan dan mengembangkan kegiatan usaha yang bisa dan mampu dikelola oleh masyarakat setempat. hal yang sama diberikan pada industri padat karya yang memperhatikan kelestarian lingkungan.mengembangkan sistem insentif dan meningkatkan pengawasan bagi industri dengan bahan baku dan keluaran yang lebih beragam dan mempunyai nilai tambah tinggi. sehingga tidak mengganggu keberadaan dan kelestarian hutan mangrove.4/1992) .5/1967) (-)Undang-Undang Pokok Transmigrasi (UU No. misalnya konsep agroforestri. VI. PRIORITAS KHUSUS 6.3/1972) (-)Undang-Undang Rumah Susun (UU No.meningkatkan peranserta mansyarakat dalam penghijauan hutan mangrove. Status dan Pengesahan Tanah Timbul Semenjak diundangkannya UUPA tanggal 24 September 1960 sampai sekarang sudah ada beberapa Undang-Undang Pokok atau UndangUndang yang menyangkut tanah seperti: (-)Undang-Undang Pokok Kehutanan (UU No.mendorong dan memasyarakatkan konsep bapak angkat terhadap industri di sekitar hutan mangrove bagi kegiatan/perusahaan kecil masyarakat setempat. a.1.b. b. a.16/1982) (-)Undang-Undang Pokok Lingkungan (UU No.4/1982) (-)Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman (UU No.

air dan tata ruang .5/1960 yang berbunyi:"Atas dasar pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam pasal 1. bumi.24/1992) Sebagaimana tercantum pada pasal 2 ayat (1) UUPA No.(-)Undang-Undang Penataan Ruang (UU No.

demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada di atasnya. berdaulat adil dan makmur. sekedarnya diperlukan: a. Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerahdaerah Tk. sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. b. c.angkasa termasuk kekayaan yang terkandung di dalamnya itu pada tingkat tertinggi dikuasai oleh Negara sebagai oraganisasi kekuasaan seluruh rakyat". dalam arti kebahagian. Hak menguasai oleh Negara itu memberikan wewenang: a. Wewenang yang mengatur bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hak menguasai dari negara mengandung arti perlunya peranan aktif dari pemerintah dalam mengatur penguasaan tanah dan penataan penggunaan tanah sehingga pemanfaatan tanah dapat ditujukan ke arah pencapaian tujuan Nasional. Hak menguasai tersebut berlaku baik terhadap tanah yang sudah ada haknya maupun yang belum ada haknya. Hak dasar menguasai dari Negara ditentukan dengan bermacam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut dengan tanah yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum. Hak-hak atas tanah memberi wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan. penggunaan dan persediaan dan pemeliharaan bumi.Menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orangorang/badan hukum dengan bumi. .Untuk keperluan Negara. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara Hukum Indonesia yang merdeka. Dalam pada itu peran pemerintah tersebut di atas tidak saja dalam perencanaan pemanfaatan secara fisik mengenai penggunaannya.II dan masyarakat-masyarakat hukum adat.I dan Tk.Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. menurut ketentutan-ketentuan Peraturan Pemerintah. tetapi meliputi pula pengaturan secara hukum mengenai penguasaanya.

.Untuk keperluan perbadatan dan keperluan-keperluan suci lainya sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.b.

Daerah Tk. transmigrasi dan pertambangan. sesuai dengan daerah masing-masing. kebudayaan dan kesejahteraan. Peraturanb Daerah Tk. Pasal 14 berbunyi: . sosial.Untuk keperluan mengembangkan produksi pertanian. peruntukan dan pengunaan bumi.Untuk keperluan memperkembangkan industri. dan UndangUndang lainnya secara jelas belum ada pengaturannya. pengaturan menangani tanah timbul dalam UU No/5/1960.2. peternakan. Dasar Pemikiran dan Aspek Hukum Daya guna dan batas lebar jalur hijau hutan mangrove telah diatur dalam Keppres No.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Berdasarkan peraturan yang berlaku Pemerintah Daerah mengatur persediaan. Pasal 1 butir 6 berbunyi: Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. walaupun secara jelas disebutkan bagi kepentingan daerah dengan melihat kondisi setempat.I untuk pemanfaatan tanah berlaku setelah mendapat pengesahan dari Presiden. Pengelolaan Jalur Hijau Pantai 1. d. Untuk itu perlu dikaji untuk memperjelas status dan penguasaan tanah timbul tersebut. Dilihat dari peraturan perundangan-undangan yang ada. 6.c.Untuk keperluan kehidupan masyarakat.II dari Gubernur KDH yang bersangkutan dan Kecamatan dari Bupati/ Walikota KDH yang bersangkutan. air dan serta ruang angkasa untuk daerahnya. e. perikanan serta sejalan dengan itu.

Dalam pasal-pasal pantai dan kawasan melindungi kawasan penyangga (buffer) tertentu terdapat dua istilah.Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah Barat. Sempadan pantai berfungsi pantai. yaitu sempadan pantai. berarti berfungsi sebagai jalur antara kawasan pantai dan kawasan .

dan segera sesudah itu Pemda Tk.Langkah Tindak Pengelolaan Jalur Hijau Pantai Penetapan jalur hijau pantai bermangrove sesuai dengan Keppres 32/1990 perlu dilaksanakan secara hati-hati dan betul-betul harus memperhatikan kondisi pantai setempat.interland. Sebab pada kenyataannya terdapat pesisir (pantai) yang karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk kehadiran mangrove atau fungsi mangrove memang sudah tidak diperlukan. Sedangkan pasal 40 menunujukan bahwa "selambat-lambatnya tahun 1992 Perda tentang Kawasan Lindung sudah harus ditetapkan.I sudah harus menetapkan Perda penetapan kawasan lindung. 26 dan 27 tersebut mengatur perlindungan kawasan pantai berhutan mangrove dan menetapkan kriterium lebar kawasan pantai yang perlu dilindungi. Kondisi ini harus tetap dipertahankan tetapi sudah harus siap pula untuk dikembangkan guna kepentingan pencadangannya untuk mengakomodir konvensi kepentingan pembangunan jangka panjang. setiap Pemerintah Daerah Tk. Dalam rangka . Pasal 40 ayat (1) berbunyi: Selambat-lambatnya 2 tahun setelah Keppres ini ditetapkan. 14. Pasal 1. Dengan demikian secara tersirat titik pasang tertinggi menjadi batas antara Semapadan Pantai dan Kawasan Pantai. Pasal 27 berbunyi: Kriteria kawasan pantai berhutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis surut terendah ke arah darat.II menjabarkan lebih lanjut bagi daerah masing-masing. Pasal 26 berbunyi: Perlindungan terhadap kawasan pantai berhutan mangrove dilakukan untuk melestarikan hutan mangrove sebagai membentuk ekosistem hutan mangrove dan tempat berkembangbiaknya berbagai biota laut disamping sebagai perlindungan pantai dan pengikisan air laut serta pelindungan usaha budidaya di belakangnya. Lebar Semapadan Pantai diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 2.

implementasi Keppres tersebut maka langkah-langkah yang dapat dilaksanakan: .

LIPI cq. Dalam Negeri cq. Ditjen RRL. -Membantuk memecahkan setiap permasalahan dalam implementasi jalur hijau pantai mangrove. -Memberikan asistensi kepada pemerintah daerah dalam pembentukan Tim Teknis Daerah dalam pengelolaan jalur hijau pantai mangrove di daeah masing-masing. sekaligus memberikan asistensi kepada setiap pemerintah daerah dalam hal pelaksanaannya. b. Pantai Timur Sumatera. Bakorsurtanal.I dan Tk. Ditjen Intag.a.Pembuatan dengan segera "Peta Khusus tentang Jalur Hijau Pantai Mangrove". Ditjen Pembangunan Daerah. Pertanian cq. Dep. sesuai dengan ketetapan (rumus) dalam Keppres 32/1990. seperti Pesisir (Pantai) Utara Jawa. Karena hal tersebut merupakan dasar utama dalam implementasi di lapangan oleh pemerintah setempat. Perguruan Tinggi . Cara penetapan lebar jalur hijau pesisir (pantai) adalah sebagai berikut: . Ditjen Perikanan. dengan skala operasional secara berurutan dengan lokasi prioritas.Pembentukan suatu Tim Teknis antar Dep (Departement Kehutanan cq. Dep. Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam jalur hijau pantai mangrove. -Membuat petunjuk teknis terhadap tata cara penetapan jalur hijau pantai mangrove sesuai dengan Keppres 32/1990. Ditjen PHPA. Komisi Ekosistem Mangrove (MAB). -Menetapkan lokasi "prioritas rehabilitasi/ penanganan hutan mangrove" (ke dalam klasifikasi kritis atau super kritis).II) untuk menindaklanjuti pelaksanaan dari Keppres 32/1990.32/1990 khususnya dalam penetapan dan pelaksanaan jalur hijau pantai. Dan secepatnya membuat SK Gubernur atau Perda (Tk. Kalimantan Selatan dan Pantai di Sulawesi Selatan. (Pantai) Kalimantan timur. Tugas Utama Tim Teknis tersebut adalah: -Meningkatkan koordinasi antara instansi di Tingkat Nasional dalam impelementasi Keppres No. akibat hal tersebut tidak dapat di atasi oleh Tim Teknis di Tingkat Daerah. Perum Perhutani.

Dalam perencanaan tata guna ruang mangrove. pariwisata dan yang berada di luar kawasan konservasi yang telah ditetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian/Menteri Kehutanan (suaka alam. selaras. . -Lebar jalur hijau pesisir (pantai) ditetapkan dari garis air surut terendah ke arah darat atau dari batas tanggul tambak ke arah laut dengan menggunakan rumus sebagai beikut: Lebar jalur hijau = 130 X rata-rata tunggang air pasang purnama (tidal range) X 1 meter.-Pesisir (pantai) yang memenuhi syarat untuk jalur hijau ialah areal ekosistem mangrove yang sudah dikonversi untuk keperluan lain. berdaya guna dan berhasil guna. keselarasan. Dengan mengacu kepada asas dan tujuan penataan ruang tersebut. cagar alam. dan keseimbangan fungsi budidaya dan fungsi lindung. seperti untuk pelabuhan pendaratan. pemukiman. Jenis yang ditanam sebaiknya dari jenis yang ada setempat. harus dilakukan dengan mempertimbangkan: keserasian. 3.Pada jalur hijau pesisir (pantai) yang telah ditetapkan tetapi belum ada tanamannya. dimensi waktu. taman nasional_. Sedangkan salah satu tujuan penataan ruang adalah: terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. dan berkelanjutan. pesisir (pantai) yang berlumpur dan pesisir (pantai) yang tidak digunakan untuk kepentingan lain. serasi. c.Tata Guna Hutan Mangrove Penataan ruang berasaskan: pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu. maka penataan ruang kawasan mangrove berdasrkan fungsi kawasan yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. seimbang. maka harus ditanami. suaka margasatwa.

dan sosial budaya serta aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumberdaya. .teknologi. fungsi dan estetika lingkungan dan kualitas ruang yang ada.

Sumberdaya Manusia Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah mengenai kelestarian lingkungan hiudp. (-)Pendapatan masyarakat lebih meningkat. sedangkan arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya kawasan mangrove dilakukan melalui Rencana Tata Ruang Daerah Tk. (-)Terdapat hubungan yang harmonis antara aparat pemerintah . sehingga: (-)Pemanfaatan lahan lebih produktif. dll. daerah pembangunan dan daerah konservasi. (-)Peningkatan perbaikan kualitas lingkungan. Perhubungan. Hal itu berarti bahwa tata guna mangrove perlu adanya kesepakatan pemanfaatan melalui Komisi Tata Ruang Nasional. Dep. pemukiman transmigrasi. Transmigrasi. (-)Keamanan hutan meningkat. Pertanian. tersurat bahwa penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya termasuk didalamnya kawasan mangrove adalah merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Nasional dimana penetapannya dengan Peraturan Pemerintah. Untuk dituangkan dalam bentuk "Peta Kesepakatan Tata Guna Mangrove". dll. Hak Pengusahaan Hutan. (-)Keberhasilan reboisasi dan rehabilitasi hutan mangrove. aspek sumberdaya manusia dalam pengelolaan hutan mangrove di Indonesia merupakan salah satu aspek yang perlu ditingkatkan peranannya secara aktif.) di kawasan mangrove untuk pemanfaatan tertentu. Kehutanan. Dep.Sesuai Pasal 20 Ayat (2) Undang-undang No.Mengikutsertakan masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai mitra sejajar dalam mengelola hutan mangrove. Dep. 4. pertanian pasang0surut. hal itu dijabarkan dalam bentuk: a. untuk membagi kawasan tersebut menjadi daerah preservasi. I ditetapkan dengan Peraturan Daerah. seperti untuk: tambak. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. malalui inventarisasi kebutuhan lahan bagi instansi-instansi terkait (Dep. Dengan demikian tata guna ruang mangrove yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya yang ditatpkan melalui Peraturan Pemerintah akan menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan kawasan mangrove.

b.dengan masyarakat di sekitar hutan mangrove.Peningkatan koordinasi dengan instansi yang terkait baik pemerintah maupun swasta. .

d.c.Mendorong agar masyarakat kelaompok tani hutan (KTH) mangrove dapat memanfaatkan KUD yang sudah ada khususnya KUD yang mengurusi hasil pertambakan.Pendidikan dan latihan kelompok tani hutan (KTH) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->