P. 1
PEMBUKTIAN TERBALIK

PEMBUKTIAN TERBALIK

|Views: 2,577|Likes:
Published by Marsinta Uly

More info:

Published by: Marsinta Uly on Jul 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • 4. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
  • C. Hukum Pembuktian
  • 1. Tinjauan Umum mengenai Pembuktian
  • 2. Teori Hukum Pembuktian
  • b. Teori Hukum Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim
  • 1) Beban Pembuktian pada Penuntut Umum
  • 2) Beban Pembuktian pada Terdakwa
  • 3) Beban Pembuktian Berimbang
  • A. Metode Pendekatan
  • B. Spesifikasi Penelitian
  • C. Metode Pengumpulan Data
  • D. Metode Analisis Data
  • Undang-Undang No. 20 Tahun 2001
  • 3. Formulasi Pembuktian Terbalik Di Beberapa Negara
  • a) Negara Malaysia
  • b) Negara Singapura
  • c) Negara Hongkong
  • A. KESIMPULAN
  • B. SARAN

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI

PENULISAN HUKUM

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh : NAMA NIM : MARSINTA ULY : B2A 006 182

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

i

1

HALAMAN PENGESAHAN KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI Penulisan Hukum

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh : MARSINTA ULY B2A 006 182 Penulisan Hukum Dengan Judul di Atas Telah Disahkan Dan Disetujui Untuk Diperbanyak Kemudian Diujikan

Pembimbing I

Pembimbing II

(Eko Soponyono, SH.MH.)

(Suparno, SH.M.Hum)

ii

2

HALAMAN PENGUJIAN

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI Dipersiapkan dan Disusun Oleh : MARSINTA ULY B2A 006 182 Telah Diujikan di Depan Dewan Penguji Pada Hari Senin , Tanggal 24 Maret 2010

Semarang, Maret 2010 Dewan Penguji Ketua Sekretaris

(Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S.) (Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum) Pembimbing I Pembimbing II

(Eko Soponyono, SH.MH.)

(Suparno, SH.M.Hum)

Penguji

(Prof. Dr. Nyoman Serikat Putra Jaya,SH.M.H)

iii

3

diberikanNya kepadamu Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita. supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu. tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan Bukan kamu yang memilih Aku. dan Ia akan meninggikan kamu The duty of youth is to challenge corruption (Kurt Cobain) If you dont have enemy.MOTTO Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. tetapi akulah yang memilih kamu. sebab Ia. yang menjanjikannya setia Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan. you dont have character (Paul Newman) Talk less do more iv 4 . supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.

PERSEMBAHAN Ku persembahkan karyaku ini kepada : Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan dan penghiburan Bapak dan Mama yang kusayangi yang selalu mendoakan aku Kakak dan Adik yang kusayangi untuk semua semangat dan dukungan yang diberikan Almamaterku Diponegoro Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Fakultas Hukum Universitas kukagumi Para Koruptor yang mencuri hak orang lain v 5 .

selaku Rektor Universitas Diponegoro Semarang.. Bapak Eko Soponyono. Penulis menyadari dalam menyelesaikan skripsi ini banyak memperoleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Sp. S. Arief Hidayat. SH. M.H selaku Dosen Pembimbing I yang dengan sabar memberikan bimbingan. dengan rasa hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.KATA PENGANTAR Syalom. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Dr.. vi 6 . Med.H. dr. Untuk itu. arahan. Susilo Wibowo.S.M. 2. antara lain kepada : 1.And. Skripsi ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan Program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. semangat dan kepercayaan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 3. Dr.. M. petunjuk. Bapak Prof. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul: “KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI”. yang telah memberikan berkatNya.S. Bapak Prof.

S. semangat dan kepercayaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. dan air mata. 6. Bapak Yunanto Hakim tindak pidana korupsi yang telah bersedia membantu penulis dalam melakukan penelitian dan memberikan data-data yang dibutuhkan penulis dalam skripsi ini.H. serta dukungan materiil maupun spiritual yang telah diberikan kepada penulis selama ini. bimbingan dan arahan selama penulis menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. S. tetesan keringat.H. S..4. Kedua orang tua penulis yang sangat penulis hormati dan cintai dengan sepenuh hati. 5. Bapak Dadang Siswanto.M. Bapak Prof.H. Nyoman Serikat Putra Jaya.Hum. Trysia. M. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang dan segenap Civitas Akademik Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang yang telah banyak membantu selama masa studi penulis. serta kakak dan adik-adik penulis : Ka Ita.Hum selaku Dosen Wali yang telah memberikan nasehat. Bapak Rasamala Aritonang bagian Biro Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi.H selaku Dosen Penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menguji penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Desi. Bapak Bima Suprayoga Kepala bagian pidana khusus kejaksaan negeri Semarang dan Bapak Joko. vii 7 .M. arahan. terima kasih buat setiap doa. Dr. 7. kerja keras. 9. Bapak Suparno.. 8.. Michael dan Evi yang selalu memberikan semangat buat penulis. selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan.

Inggrid. Vera. Kristo. Maestro. Jefri. Pengalaman yang aku peroleh bersama kalian selama di PMK takkan pernah terlupakan sampai kapan pun. Saudara-saudaraku di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) Fakultas Hukum Undip.Bagiku kalian adalah keluarga terhebat yang aku miliki di Semarang. Asti dan adik-adikku terkasih Juris. Mekel. Teman-Teman Kostan Singosari 1 No. Anggiat. Terima kasih buat semua kasih sayang yang telah kalian berikan selama aku kuliah di Fakultas Hukum Undip tercinta ini. Grace. Sephine. Selprida. Xenia. Cintya. 15. Bena. Ka lina. Tere. Bang Coki.Ijal. Didior. Mb Tri yang telah menemani hari-hari penulis viii 8 .Bang Iman. 12. Wilma. Ka Sabet. Terima kasih buat setiap semangat dan dukungan yang kalian berikan. Togi. Imel.10. Dwipa. QaQa. Mas Bayu dan Basten. doa dan persahabatan yang telah kita jalin selama ini. 11. Rocky. Nova. Semoga kita tetap bisa bergerak dimanapun kita berada. Jojo. Saudara-saudaraku yang terkasih di FKPMI (Forum Kristiani Pemimpin Muda Indonesia) : Ka neta. Indry. Tetap semangat untuk menjadi terang ”Being Light in Law Area” 13. Ka Yohana. Sahabat-sahabatku Marini. Mb Pipit. Ayu. Saudara-saudaraku yang terkasih di movers. Ka Dwi.11 : Mb Mimin. Ana. Ka Renti. Adek-Adek Komsel ku : Aline. Tian. 14. Terima kasih atas dukungan. Bang Anjo. Vina. teman-teman seperjuanganku: Mikhael. Marco. Terima kasih buat dukungan. Selpi. semangat serta bantuan yang diberikan kepada penulis.

Teman. Hakenia. 19. maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan baik saran maupun kritik dari semua pihak guna kesempurnaan skripsi ini. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.selama di semarang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan yang tentu saja tidak disengaja. Semarang. Teman-teman angkatan 2006 Fakultas Hukum Undip. 18. Tuhan memberkati. Martin dan teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-satu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi semua pihak yang membutuhkan. Teman-Teman seperjuangan dalam penyusunan skripsi : Mitha. Maret 2010 Hormat Penulis Marsinta Uly ix 9 . Elis. Terima kasih buat hari-hari dengan segala kegilaan dan canda tawa yang mengisi hari-hari penulis.Terima kasih buat dukungan kalian. Dhaniar. 17. Tetap semangat yah guys. Nana.teman Tim I KKN PPM Undip 2010 Desa Kedung Karang . 16.

31 Tahun 1999. hakim tindak pidana korupsi dan anggota komisi pemberantasan tindak pidana korupsi.ABSTRAKSI Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang di dalam penanganannya diperlukan undang-undang yang luar biasa pula. Kata kunci : Kebijakan Hukum Pidana. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang-Undang No. Pembuktian Terbalik x 10 . Formulasi pembuktian terbalik merupakan penyimpangan dari pembuktian yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. agar tidak terjadi tumpang tindih maka pembuktian terbalik harus memiliki arah kebijakan hukum pidana yang jelas di dalam perumusannya dengan tetap memperhatikan efektifitas dan efisiensi dari kegunaan rumusan pembuktian terbalik tersebut. Undang-Undang No. Metode pendekatan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan metode pengumpulan data studi kepustakaan dan perundang-undangan yang berkaitan tindak pidana korupsi. Salah satu upaya yang dianggap mampu untuk menyelesaikan perkara korupsi tersebut adalah dengan dirumuskannya pembuktian terbalik di dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi saat ini yang diawali dalam Undang-Undang No. Oleh karena itu. Adapun permasalahan yang diangkat dalam penulisan hukum ini adalah bagaimana kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi saat ini serta bagaimana kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian disempurnakan ke dalam Undang-Undang No. Selain itu untuk mengenai kebijakan dalam tataran aplikasinya maka diperoleh data dengan diadakannya wawancara terhadap praktisi hukum yang terkait yaitu jaksa tindak pidana korupsi.

D...……..……………………… 20 20 22 xi 11 ....………….………. DAFTAR TABEL……………………………………………………..............……… Kegunaan Penelitian…………………………………………… Sistematika Penulisan………………………………………………..... E.... Latar Belakang Permasalahan…………………………………............ HALAMAN PENGUJIAN…………………………………………………... 12 B..………….... BAB I : PENDAHULUAN A...………………... Tindak Pidana Korupsi………………………………………… 1.. DAFTAR ISI…………………………………………………….. Tujuan Penelitian………………………………………...... Jenis-Jenis Tindak Pidana…………. KATA PENGANTAR………………………………………………………......... i ii iii iv v vi x xi xv 1 8 8 9 10 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tindak Pidana. Perumusan Masalah……………………………………………. MOTTO……………………………………………………………………. C.DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL………………………………………. PERSEMBAHAN…………………………………………………………..... B. HALAMAN PENGESAHAN…………………………………....…... Kebijakan Hukum Pidana……………………………. ABSTRAKSI…………………………………………………………….... 2.

Beban Pembuktian pada Terdakwa…………………….... Beban pembuktian Berimbang…………………………. Teori Hukum Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif…………………………………………………. Metode Pengumpulan Data…………………………………….. e.……………….... C. Pengertian Tindak Pidana Korupsi………………………… C. 48 49 49 44 40 xii 12 ...... 1.. Teori Pembalikan Beban Pembuktian Keseimbangan Kemungkinan (Balanced Probability of Principles) dalam Tindak Pidana Korupsi…………………………………….. Teori Pembalikan Beban Pembuktian (Omkering van het 34 36 38 Bewijslast atau Shifting of Burden of Proof/Onus of Proof) 39 1... 39 2........... 4.. BAB III :METODE PENELITIAN A. 40 3.…………...…………. Pengertian Pidana dan Jenis-Jenis dan Teori 24 26 31 31 34 Pemidanaan………………………….... Spesifikasi Penelitian…………………………. 2. B. Beban Pembuktian pada Penuntut Umum…………….. Teori Hukum Pembuktian………………. Teori Hukum Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim… c. Metode Pendekatan…………………………………………….... Teori Hukum Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif…………………………………………………… b..... Tinjauan Umum mengenai Pembuktian…….... a........ Hukum Pembuktian…………………………………………....3. d...

Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik di Masa Mendatang……………………………… 1. B.. Undang-Undang No... 1...... 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi………………………………… 2. Negara Malaysia…………………………………………. 85 13 . 20 Tahun 2001…………….... Kebijakan Aplikasi terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Undang-Undang No.. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi………… 2.D....Undang 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi…………………………………..... Formulasi Pembuktian Terbalik di Beberapa Negara ……….. 4. BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang...... 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi………………………………… 3.……..……….. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana 53 54 57 58 65 78 78 Korupsi…………………………………………… 3. Undang-Undang No... xiii 81 85 a.... Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana 51 Korupsi Saat Ini………………………. Metode Analisis Data………………………..

..87 c... Negara Singapura ………………………………………….... 88 BAB V : PENUTUP A... Saran……………………………………………………………....... Negara Hongkong…………………………………..... 93 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiv 14 .. 90 B.b. Kesimpulan………………………………………………..

... Jumlah Kasus/Perkara yang ditangani oleh KPK Selama Tahun 2005-2008 ........................................ 2.............................DAFTAR TABEL Halaman 1....... Penanganan Perkara Korupsi Periode 2004 s/d 2009 Tahap Penuntutan....................................... 66 67 69 15 xv ................... 3...... Penanganan Kasus oleh KPK Tahun 2004 ......................................

Selain itu. Negara Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang sedang mengalami proses pembangunan. Proses pembangunan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial positif yaitu kemajuan dalam kehidupan masyarakat. selain itu dapat mengakibatkan perubahan kondisi sosial masyarakat yang memiliki dampak sosial negatif diantaranya berupa kejahatan (tindak pidana) yang dapat meresahkan masyarakat. tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. Latar Belakang Permasalahan Setiap negara merdeka pasti memiliki tujuan di dalam menjalankan pemerintahan. dan juga politik. Konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia menetapkan tujuan nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa. korupsi adalah masalah serius yang dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat. serta dapat merusak nilai-nilai 1 . Guna mencapai kesejahteraan rakyat serta menjamin keadilan sosial. membahayakan pembangunan sosial ekonomi.BAB I PENDAHULUAN A. Tindak pidana ini tidak hanya merugikan keuangan negara. mewujudkan kesejahteraan umum dan ikut menciptakan perdamaian dunia. Salah satu tindak pidana yang cukup fenomenal adalah tindak pidana korupsi. Tujuan setiap negara mewujudkan kesejahteraan rakyat. maka setiap negara berkewajiban melakukan pembangunan terutama pembangunan di sektor ekonomi.

korupsi tidak lagi merupakan masalah dalam negeri atau masalah nasional suatu negara. sehingga memerlukan kerjasama aktif antara negara-negara yang berkepentingan atau dirugikan karena korupsi.demokrasi dan moralitas. baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian negara. Alasan keempat. dan dilakukan secara besar-besaran oleh sebagian terbesar pejabat tinggi. Akan lebih berbahaya lagi kalau perbuatan ini menjadi budaya di masyarakat. pemberantasan korupsi sangat sulit diperangi di dalam sistem birokrasi yang juga koruptif sehingga memerlukan instrumen hukum yang luar biasa untuk mencegah dan memberantasnya. Alasan kedua. termasuk dan tidak terbatas pada negara-negara di Asia dan Afrika. Ditempatkannya korupsi sebagai salah satu kejahatan terorganisasi dan bersifat transnasional karena pertama. korupsi menjadi musuh utama dalam proses pembangunan bangsa. Alasan ketiga. maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Korupsi terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. modus operandi korupsi telah menyatu dengan sistem birokrasi hampir di semua negara. Tindak pidana korupsi sudah meluas dalam masyarakat. Oleh karena itu. melainkan sudah merupakan masalah antarnegara atau hubungan antara dua negara atau lebih. korupsi terbukti telah melemahkan sistem pemerintahan dari dalam alias merupakan virus berbahaya dan penyebab proses pembusukan dalam kinerja pemerintahan serta melemahkan demokrasi. 2 .

perkara korupsi memerlukan pembuktian khusus yang menyimpang dari hukum acara pidana biasa. Kasus-kasus tindak pidana korupsi sulit diungkapkan karena para pelakunya menggunakan peralatan yang canggih serta biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang dalam keadaan yang terselubung dan terorganisasi. undang-undang 3 . Peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ternyata belum bisa menjadi senjata yang ampuh dalam menanggulangi dan memberantas masalah korupsi. Oleh karena itu. maka pemerintah Indonesia membuat peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi dimulai dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan karena dianggap terlalu luas dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat maka undang-undang tersebut diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian direvisi beberapa pasalnya di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Akan tetapi. Diberlakukannya Undang-Undang Korupsi dimaksudkan untuk menanggulangi dan memberantas korupsi. seperti halnya pembuktian yang dianut oleh UU No. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi pasal 17 yang menganut adanya pembagian beban pembuktian antara jaksa dan terdakwa.Melihat akibat yang dapat ditimbulkan dari tindak pidana korupsi. Melihat kesulitan dalam melakukan pembuktian. White collar crime atau kejahatan kerah putih yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki status sosial tinggi dan terhormat berkaitan dengan jabatannya. kejahatan ini sering disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih.

yaitu merugikan keuangan atau perekonomian negara. tidak relevan lagi dalam menyelesaikan perkara korupsi yang terus berkembang dari tahun ke tahun. 20 tahun 2001 yaitu pembuktian terbalik. diperlukan suatu pembuktian yang mudah dan tidak berbelit-belit dalam pelaksanaannya.tersebut sudah ketinggalan zaman. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dirasakan cukup sulit bagi upaya menjerat para pelakunya karena pada undang-undang tersebut lebih menitikberatkan pada delik materil. Menghadapi masalah sulitnya pembuktian ini. 31 tahun 1999 jo UU No. karena dalam pembuktian terbalik jaksa penuntut umum dan terdakwa sama-sama dibebani pembuktian. Akibatnya. baik bagi terdakwa maupun bagi Jaksa Penuntut Umum seperti yang dianut oleh UU No. sering diklasifikasikan tidak termasuk merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara sehingga sulit bagi jaksa untuk membuktikan salah satu unsur perbuatan pidana korupsi tersebut. Seorang tersangka yang telah mengembalikan harta yang telah dikorupsinya. Pembuktian dalam undang-undang tersebut di rasa sulit dan berbelit-belit dalam mengungkap kasus korupsi. Pembuktian perkara korupsi yang dianut oleh UU No. Pembuktian terbalik merupakan penyimpangan dari pasal 66 KUHAP. apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak 4 . yaitu terjadinya kerugian pada keuangan dan atau perekonomian negara. banyak orang yang didakwa melakukan korupsi ternyata hanya dijatuhi pidana yang jauh lebih ringan.

dan Singapura. Pemberlakuan sistem pembuktian terbalik ini menurut keterangan seorang pejabat Independent Comission Against Corruption Hongkong cukup efektif 1 www.com 5 . terdakwa tidak langsung bebas karena jaksa penuntut umum masih wajib membuktikan dakwaannya. Added 1974 : “or is in control of pecuniary resources of property disproportionate to his present or past official emoluments. Pembuktian terbalik bukanlah hal baru yang digunakan dalam perundangundangan tindak pidana korupsi.melakukan tindak pidana korupsi. be guilty of an offence. unless he gives satisfaktory explanation to the court as to how he was able to maintain such a standard of living or how such pecuniary resources of property came under his control. Malaysia.”1 Ketentuan di atas menjelaskan bahwa menguasai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak sebanding dengan gaji seorang pejabat pemerintah pada saat ini atau pendapatan resmi di masa lalu. shall.google. kecuali kalau pejabat tersebut dapat memberikan suatu penjelasan yang memuaskan kepada pengadilan mengenai bagaimana ia mampu memperoleh standar hidup yang demikian itu atau bagaimana sumber-sumber pendapatan atau harta itu dapat ia kuasai. Di Hongkong misalnya. Pembuktian terbalik terhadap tindak pidana korupsi ini sudah dianut oleh negara lain seperti Hongkong. akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran. pembuktian terbalik ini diatur dalam Pasal 10 (1b) Prevention of Bribery Ordonance 1970.

pembuktian terbalik juga dianggap melanggar hak asasi manusia karena setiap orang berhak untuk memperoleh kekayaannya dan hak privasi yang harus dilindungi. Indonesia juga menggunakan sistem pembuktian terbalik tersebut. karena seseorang akan takut melakukan korupsi dikarenakan kesulitan memberikan penjelasan yang memuaskan tentang sumber kekayaannya kalau memang kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang tidak sah. Hal ini dapat dilihat dengan dirumuskannya pembuktian terbalik dalam ketentuan Pasal 12B. Namun. Namun demikian. Perumusan pembuktian terbalik menimbulkan pendapat yang berbeda di kalangan ahli hukum.untuk memberantas tindak pidana korupsi. rumusan pasal tersebut yang menjelaskan bahwa pembuktian terbalik merupakan hak terdakwa dan tergantung kepada terdakwa untuk menggunakan atau tidak membuat rumusan pasal tersebut menjadi kurang jelas fungsinya dan dianggap kurang memberikan batasan yang jelas. 38B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi. bertolak kepada pemikiran bahwa korupsi merupakan sumber kemiskinan dan kejahatan serius yang sulit pembuktiannya di dalam praktik sistem hukum di semua negara maka hak asasi individu atas harta kekayaannya bukanlah dipandang sebagai hak 6 . 37 dan 37A. Selain itu. Pembuktian terbalik yang berlaku saat ini sulit untuk diterapkan karena dianggap bertentangan dengan presumption of innocent atau asas praduga tak bersalah. Perumusan pasal mengenai pembuktian terbalik dalam undang-undang tindak pidana korupsi diharapkan akan membantu proses pembuktian dalam pemeriksaan di persidangan.

yaitu tahap perumusan atau penyusunan hukum pidana dalam hal ini perumusan suatu perbuatan yang dijadikan tindak pidana dan sanksi apa sebaiknya digunakan atau dikenakan pada pelanggar. Oleh karena itu.75 3 2 7 . (Bandung : Citra Aditya Bakti.3 www.absolut. 2 Berdasarkan pertimbangan pemikiran di atas. Kebijakan legislatif merupakan tahap paling strategis dari upaya penanggulangan kejahatan melalui penal policy. hal. google. Menurut Todung Mulia Lubis penerapan asas pembuktian terbalik ini tidak mudah. karena selama ini laporan kekayaan pejabat tidak dibuat. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. dan berbeda dengan perlindungan atas kemerdekaan seseorang dan hak untuk memperoleh peradilan yang fair dan terpercaya. kesalahan atau kelemahan kebijakan legislatif merupakan kesalahan strategis yang dapat menjadi penghambat penanggulangan kejahatan pada tahap aplikasi dan eksekusi. 2001). Seharusnya disyaratkan laporan kekayaan pejabat sebelum menjabat dan diumumkan kekayaannya setiap tahun. Jadi sulit dipisahkan antara kekayaan pribadi dengan kekayaan-kekayaan “haram” yang dia peroleh. maka dianggap perlu diadakan suatu kebijakan hukum pidana mengenai formulasi rumusan pembuktian terbalik tersebut di dalam undang-undang tindak pidana korupsi. kebijakan hukum terutama diimplementasikan dalam suatu kebijakan kriminal. melainkan hak relatif. sehingga si pejabat bisa diinvestigasi. Dimana.com Barda Nawawi Arief. Kebijakan kriminal ini terutama menggunakan sarana penal pada tahap formulasi/legislatif.

Bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini? 2. Untuk mengetahui dan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang. Untuk mengetahui dan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini. Adapun tujuan yang akan dicapai dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.B. Perumusan Masalah Dari uraian di atas ditemukan berbagai masalah terkait formulasi rumusan pembuktian terbalik dalam peraturan perundang-undangan. Dengan adanya tujuan maka suatu penelitian akan lebih terarah dan lebih bermanfaat. Masalah-masalah yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. 2. Bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang? C. Tujuan Penelitian Perumusan tujuan penelitian merupakan pencerminan arah dan penjabaran strategi terhadap masalah yang muncul dalam penelitian. 8 .

Memberikan wawasan kepada para mahasiswa dan akademisi lainnya mengenai formulasi rumusan pembuktian terbalik serta aplikasinya dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini dan yang akan datang. Kegunaan Teoritis Menambah dan mengembangkan wawasan dan pengetahuan dalam ilmu hukum mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik pada saat ini dan yang akan datang. b. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah memahami isinya. Memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti serta memberikan dasar-dasar atau landasan untuk penelitian lebih lanjut. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian hukum ini adal. Kegunaan Praktis a. yang terdiri dari lima bab yang berisi tentang uraian secara umum. Manfaat Penelitian Setiap hasil penelitian termasuk penelitian hukum pasti mempunyai manfaat. maka penulisan skripsi ini disajikan dalam bentuk rangkaian bab.ah sebagai berikut : 1. E. Memberikan masukan kepada setiap pihak yang terkait tentang formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. teori-teori yang diperlukan dalam menganalisa permasalahan dan 9 . Manfaat penelitian biasanya sering disebut juga dengan kegunaan penelitian. 2. c.D.

yang berisi kerangka pemikiran atau teori-teori yang berkaitan kebijakan hukum pidana. spesifikasi penelitian.pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan dan saran. tindak pidana. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 10 . manfaat dan sistematika penulisan. tindak pidana korupsi dan mengenai teori-teori hukum pembuktian serta teori pembalikan beban pembuktian yang akan menunjang dalam menjawab permasalahan mengenai kebijakan hukum pidana tehadap formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini dan yang akan datang. metode pengumpulan data dan metode analisis data. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang alasan atau latar belakang penelitian yang menjadi pengantar menuju ke pokok permasalahan yang akan dibahas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisikan landasan teoritis untuk mendasari penganalisaan masalah yang akan dibahas. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan metode penelitian yang digunakan penulis dalam skripsi ini meliputi metode pendekatan. perumusan masalah. tujuan.

3 Tahun 1971. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisikan kristalisasi dari semua yang telah dicapai di dalam masing-masing bab sebelumnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundangundangan tindak pidana korupsi. 11 . UU No. Selain itu akan dibahas aplikasi dari rumusan pembuktian terbalik tersebut di dalam proses persidangan. 20 Tahun 2001. Dimana akan dijelaskan mengenai rumusan pembuktian terbalik dalam peraturan perundang-undangan tindak pidana korupsi yaitu UU No. 31 Tahun 1999 dan UU No.Bab ini berisi hasil dan pembahasan dari penelitian. Bab ini juga akan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap rumusan pembuktian terbalik yang akan datang dengan menganalisis rumusan pembuktian Pidana terbalik Korupsi dalam dan Rancangan Undang-Undang Tindak Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. proses pembuktian serta kendalakendalanya. Bab ini menyajikan saran bagi pihak terkait dalam menanggulangi tindak pidana korupsi.

kepemimpinan dan cara bertindak (tentang pemerintahan. (Jakarta : Balai Pustaka).BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. dapat dikatakan bahwa tujuan akhir atau tujuan utama dari politik kriminal ialah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. prinsip atau maksud. ”criminal law policy” atau ”strafrechtspolitiek”.4 Istilah ”kebijakan diambil dari istilah ”policy” (Inggris) atau ”politiek” (Belanda). Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Oleh karena itu. 22 4 12 . hal. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008). pernyataan cita-cita. kemahiran. kebijaksanaan. juga dapat diartikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana pelaksanaan di suatu pekerjaan. organisasi dan sebagainya). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. hal .5 Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (sosial defense) dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (sosial welfare). tujuan. 131 5 Barda Nawawi Arief. Kebijakan Hukum Pidana Kebijakan dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kepandaian. (Jakarta : Kencana. kebijakan. istilah ”kebijakan hukum pidana” dapat pula disebut dengan istilah ”politik hukum pidana” atau sering dikenal dengan istilah ”penal policy”. Oleh karena itu.

Penegasan perlunya upaya penanggulangan kejahatan diintegrasikan dengan keseluruhan kebijakan sosial dan perencanaan pembangunan (nasional). bahwa upaya penanggulangan kejahatan perlu ditempuh dengan pendekatan kebijakan. dalam arti : a. Ada keterpaduan (integralitas) antara politik kriminal dengan politik sosial. Ada keterpaduan (integralitas) antara upaya penanggulangan kejahatan dengan ”penal” dan ”non penal”. bahwa politik kriminal pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari politik sosial (yaitu kebijakan atau upaya untuk mencapai kesejahteraan sosial). Sudarto mengemukakan bahwa apabila hukum pidana hendak dilibatkan dalam 13 . b. Secara skematis hubungan itu dapat digambarkan sebagai berikut : Social Welfare Policy Social Policy Social Defense Policy Penal Criminal Policy Tujuan Non-Penal Dari uraian skema di atas terlihat.Dengan demikian dapatlah dikatakan.

yaitu : 6 7 Ibid. Sudarto mengemukakan tiga arti mengenai kebijakan kriminal. Di samping itu memerlukan pendekatan yuridis faktual yang dapat berupa pendekatan sosiologis. bahwa ”Penal Policy” adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memberi pedoman tidak hanya pembuat undang-undang. ”Criminal Law” dan ”Penal Policy”. 3-4 Ibid. hal. 19 14 . hal. maka hendaknya dilihat dalam hubungan keseluruhan politik kriminal atau social defence planning dan ini pun harus merupakan bagian integral dari rencana pembangunan nasional. historis dan komparatif.6 Marc Ancel pernah menyatakan bahwa ”modern criminal science” terdiri dari tiga komponen ”Criminology”.usaha mengatasi segi-segi negatif dari perkembangan masyarakat/modernisasi. hakikatnya masalah kebijakan hukum pidana bukanlah semata-mata pekerjaan teknik perundang-undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normatif dan sistematik-dogmatik. bahkan memerlukan pendekatan komprehensif dari berbagai disiplin sosial lainnya dan pendekatan integral dengan kebijakan sosial dan pembangunan nasional pada umumnya.7 Dengan demikian. Kebijakan hukum pidana dapat didefinisikan sebagai usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa yang akan datang. Dikemukakan olehnya. tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan.

yang bertujuan untuk menegakkan normanorma sentral dari masyarakat. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat untuk mencapai apa yang dicita-citakan. b. istilah kebijakan hukum pidana sama dengan istilah ”penal policy” yaitu suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk 8 9 Ibid. hal. Dalam arti luas. ialah keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana. Dengan demikian. b. politik hukum pidana mengandung arti.8 Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. Sudarto juga menyatakan bahwa melaksanakan ”politik hukum pidana” berarti usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang. hal. Dalam arti sempit. Dalam arti paling luas (yang beliau ambil dari Jorgen Jepsen). ialah keseluruhan kebijakan. hal.a. dan c. termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi. ”Politik Hukum” adalah : a. bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundangundangan yang baik. ialah keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum. 22 10 Ibid. yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi.23 15 .9 Bertolak dari pengertian di atas Sudarto menyatakan bahwa melaksanakan ”politik hukum pidana” berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Menurut Sudarto.10 Menurut Marc Ancel. 1 Ibid. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat.

b. penuntutan. peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan. sering pula dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy).memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik. Oleh karena itu. dilihat dari sudut politik kriminal. Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal. Usaha penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana). Dengan demikian istilah ”penal policy” menurut Marc Ancel adalah sama dengan istilah ”kebijakan atau politik hukum pidana”. 16 . pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Dengan demikian. Dengan perkataan lain. c. ”Strafrechtspolitiek” ialah garis kebijakan untuk menentukan: a. Usaha dan kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik. Mulder. cara bagaimana penyidikan. maka politik hukum pidana identik dengan pengertian ”kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana”. Menurut A. Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah atau diperbarui. yang dimaksud dengan ”peraturan hukum positif” (the positive rules) dalam defenisi Marc Ancel jelas adalah peraturan perundang-undangan hukum pidana.

dan 2.Di samping itu. Dua masalah sentral dalam kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah penentuan: 1. Ini berarti pemecahan masalah-masalah di atas harus pula diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dari kebijakan hukum pidana. Penganalisaan terhadap dua masalah sentral ini tidak dapat dilepaskan dari konsepsi integral antara kebijakan kriminal dengan kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional. harus pula dilakukan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach). perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana. wajar pulalah apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social Policy). Problem dari pendekatan yang berorientasi pada kebijakan adaah kecenderungan untuk menjadi pragmatis dan kuanitatif serta tidak memberi 17 . Kebijakan sosial (social policy) dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. Oleh karena itu. sekaligus tercakup di dalamnya ” social welfare policy dan ”social defense policy”. Jadi di dalam pengertian ” social policy”. termasuk pula kebijakan dalam menangani dua masalah sentral di atas. sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar. usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-undang (hukum) pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social welfare).

2. Tahap Aplikasi. 99 18 . Yang berwenang dalam tahap ini adalah kekuasaan aplikatif/yudikatif. Kewenangan dalam hal ini ada pada kekuasaan eksekutif/administratif. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. Kekuasaan yang berwenang dalam melaksanakan tahap ini adalah kekuasaan legislatif/formulatif. 3. Dari sudut operasionalisasi/fungsionalisasi. (Bandung : Citra Aditya Bakti. Tahap formulasi. yaitu tahap menerapkan hukum pidana. atau penjatuhan pidana kepada seseorang atau korporasi oleh hakim atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tersebut. Tahap Eksekusi. dalam arti bagaimana perwujudan dan bekerjanya.kemungkinan untuk masuknya faktor-faktor yang subjektif. yaitu tahap penetapan hukum pidana mengenai macam perbuatan yang dapat dipidana dan jenis sanksi yang dapat dikenakan. pendekatan yang berorientasi pada kebijakan ini menurut Bassiouni seharusnya dipertimbangkan sebagai salah satu scientific device dan digunakan sebagai alternatif dari pendekatan dengan penilaian emosional (the emosionally laden value judgement approach) oleh kebanyakan badan-badan legislatif. 1998). yaitu tahap pelaksanaan pidana oleh aparat eksekusi pidana atas orang atau korporasi yang telah dijatuhi pidana tersebut. yaitu : 1. Namun demikian. misalnya nilai-nilai ke dalam proses pembuatan keputusan. hal.11 11 Barda Nawawi Arief. hukum pidana dapat dibedakan dalam tiga fase/tahap.

71 12 19 . karena dalam tahap inilah dirumuskan garis-garis kebijakan legislasi yang sekaligus merupakan landasan legalitas bagi tahap-tahap berikutnya. kebijakan legislatif merupakan tahap yang paling strategis dan menentukan dilihat dari keseluruhan proses kebijakan untuk mengoperasionalisasikan sanksi pidana. Karena kebijakan legislatif merupakan tahap strategis dan menentukan. tahap aplikasi (proses peradilan/judicial) dan tahap eksekusi (proses administrasi). Cherif Bassioni menyebutkan adanya tiga tahap kebijakan yaitu kebijakan pada tahap formulasi (proses legislasi). yaitu tahap penerapan pidana oleh badan peradilan dan tahap pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana pidana. Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Hal ini dikarenakan kebijakan formulasi merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana yang juga merupakan bagian dari kebijakan kriminal. Selain itu. Kebijakan kriminal merupakan usaha rasional yang dilakukan untuk menanggulangi kejahatan dalam rangka perlindungan masyarakat. sedangkan tahap aplikasi dan tahap eksekusi telah memasuki tahap in concreto. Pembahasan yang berkaitan dengan kebijakan formulasi tidak lepas dari kebijakan kriminal.12Pada dasarnya.Dari ketiga tahap tersebut di atas. 2007). tahap formulasi merupakan tahap penegakan hukum in abstracto. Kebijakan formulasi adalah kebijakan dalam merumuskan sesuatu dalam suatu bentuk perundang-undangan. M. maka tahap formulasi atau tahap penetapan hukum pidana dalam perundang-undangan merupakan tahap yang paling strategis. (Bandung : Alumni. Kebijakan formulasi menurut Barda Nawawi Lilik Mulyadi. kesalahan pada tahap legislasi akan berpengaruh besar ketahap aplikasi dan administrasi. hal.

c.13 Dengan demikian kebijakan legislatif / formulatif atau disebut pula sebagai kebijakan perundang-undangan merupakan langkah awal di dalam penanggulangan kejahatan. Perencanaan/ kebijakan tentang sanksi apa yang dapat dikenakan terhadap pelakunya (baik berupa pidana atau denda) dan sistem penerapannya. dalam rumusannya straafbaarfeit itu adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang 13 Barda Nawawi Arief. 63 20 . yang secara fungsional dapat dilihat sebagai bagian dari perencanaan dan mekanisme penanggulangan kejahatan itu dituangkan ke dalam perundang-undangan dan meliputi : a. Pengertian Tindak Pidana Istilah tindak pidana dipakai sebagai pengganti “straafbaarfeit”. hal. Perencanaan atau kebijakan tentang perbuatan yang dilarang b. 1994).Arief adalah suatu perencanaan atau program dari pembuat undang-undang mengenai apa yang akan dilakukan dalam menghadapi problema tertentu dan cara bagaimana melakukan atau melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan atau diprogramkan itu. B. Tindak Pidana Korupsi 1. “Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara”. Menurut Simons. (Semarang : UNDIP. Perencanaan/kebijakan tentang prosedur atau mekanisme sistem peradilan pidana dalam rangka penegakan hukum pidana.

yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum. 5 Ibid. 2006). hal. H. (Jakarta : Sinar Grafika. Wirjono Prodjodikoro. dan Simons. Moeljatno mengatakan straafbaarfeit merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. perkataan straafbaarfeit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran norma atau gangguan terhadap tertib hukum yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku.15 Ada dua aliran yang merumuskan tentang unsur-unsur tindak pidana yaitu: 1) Aliran monistis Aliran monistis tidak secara tegas memisahkan antara unsur tindak pidana dengan syarat untuk dapat dipidananya pelaku.14 Menurut Pompe. Tindak Pidana Korupsi. hal. Tidak membedakan antara unsur tindak pidana dengan syarat untuk dapat dipidana. 6 21 . 2) Aliran dualistis Golongan dualistis mengadakan pemisahan antara dilarangnya suatu perbuatan dengan sanksi ancaman pidana (criminal act atau actus 14 15 Evi Hartanti. syarat pidananya itu masuk dalam dan menjadi unsur tindak pidana. J. E Jonkers. Tokoh-tokoh yang menganut pandangan monistis antara lain adalah J. di mana penjatuhan hukuman terhadap pelaku itu adalah penting demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum. van Schravedijk. larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut.

17 2). Delik semacam ini disebut dengan “kejahatan” (mala per se).reus) dan dapat dipertanggungjawabkannya si pembuat (criminal responbility atau adanya mens rea)16 Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran dualistis adalah Moeljatno. hal. (Semarang : Yayasan Sudarto. Tresna. 44 Ibid. Wetsdelicten (delik undang-undang) Perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai suatu tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Secara kualitatif a. Pembagian jenis delik seperti tersebut di atas didasarkan pada perbedaan sebagai berikut : 1). Secara kuantitatif 16 17 Sudarto. Rechtsdelicten (delik hukum) Perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. 1990). b. Hukum Pidana I. hal 56 22 . FH Undip. Jenis-jenis Tindak Pidana Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) saat ini jenis delik dibagi menjadi dua (2) yaitu kejahatan dan pelanggaran. Jadi karena undangundang mengancamnya dengan pidana. pencurian. Contoh : pembunuhan. terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Delik semacam ini disebut dengan “pelanggaran” (mala quia prohibita). 2. Pompe dan R.

pembunuhan (Pasal 338 KUHP). a. Misal : penipuan (Pasal 378 KUHP). Delik ini baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. antara lain : 1) Pembagian jenis delik yang didasarkan pada perumusannya. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. yaitu bahwa ‘pelanggaran’ lebih ringan anaman pidananya dari ‘kejahatan’ Selain jenis delik ‘kejahatan’ dan ‘pelanggaran’.Perbedaan antara ‘kejahatan’ dan ‘pelanggaran’ hanya dilihat dari segi kriminologi. masih terdapat pembagian jenis delik lainnya. delik omissionis dan delik commisionis per omissionen commisa. b. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya perbuatan seperti tercantum dalam rumusan delik. Delik materil Delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). terlepas dari akibat yang ditimbulkan ada atau tidak dan selesai atau tidak. 2) Delik-delik yang dibagi menjadi delik commisionis. Delik Formil Delik yang perumusannya dititikberatkan kepada perbuatan yang dilarang. ialah berbuat sesuatu yang dilarang. terdiri dari : a. Misal : penghasutan (Pasal 160 KUHP) dan pencurian (Pasal 362 KUHP). 23 .

b. ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan atau yang diharuskan. 3. 2005). Delik commisionis per omissionen commisa : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan akan tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat. hal. (Bandung : Alumni.b. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsurnya. Delik omissionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. a. Delik dolus : delik yang memuat unsure kesengajaan. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. 6) Delik-delik yang dibagi menjadi delik aduan dan bukan delik aduan. 5) Delik-delik yang dibagi menjadi delik tunggal dan delik berganda. 2 18 24 .18 2) Roeslan Saleh Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief. 4) Delik-delik yang dibagi menjadi delik yang berlangsung terus dan delik yang tidak berlangsung terus. 3) Delik-delik yang dibagi menjadi delik dolus dan delik culpa. Pengertian Pidana dan Jenis-Jenis Teori Pemidanaan Pengertian pidana menurut pendapat dari para ahli hukum pidana seperti Soedarto dan Roeslan Saleh yaitu : 1) Soedarto Penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. c.

2) Teori Relatif atau Teori Tujuan 19 Loc. masyarakat. b. Dalam banyak literature. Pidana itu pada hakikatnya suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik itu. Teori ini mencari dan menerangkan tentang dasar dari hak negara dalam menjatuhkan dan menjalankan pidana tersebut.19 Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : a. c. harus diberikan pidana yang setimpal dengan perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukannya. Pidana itu dikenakan pada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.Pidana adalah reaksi atas delik. Karena itu. 1) Teori Absolut Dasar pijakan teori ini adalah pembahasan. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan atau yang berwenang. teori pemidanaan disebut juga dengan teori hukum pidana (strafrecht-theorien). atau negara) yang telah dilindungi. Negara berhak menjatuhkan pidana terhadap penjahat karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan perkosaan pada hak dan kepentingan hukum (pribadi. Cit 25 . Pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu tindak pidana.

4. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang. dapat disuap. Kejahatan. Indonesia-Inggris. kebejatan. tetapi pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang perlu dan cukup untuk dapat mempertahankan tata tertib masyarakat. Teori Gabungan yang mengutamakan pembalasan.S. Teori ini dibedakan menjadi dua golongan yaitu : a. penerimaan uang sogok. dengan tujuan agar tata tertib masyarakat tetap terpelihara. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Adapun arti harafiah dari korupsi dapat berupa : a. b.J. Ditinjau dari sudut pertahanan masyarakat itu tadi.21 20 W. tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak boleh lebih berat dari pada perbuatan yan dilakukan terpidana. 3) Teori Gabungan Teori ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat. Bandung) 26 . kebusukan. (Hasta. Pidana adalah alat untuk mencegah timbulnya suatu kejahatan. Poerwadarminta. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia.Teori ini berpangkal pada pendapat bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib dalam masyarakat. tidak bermoral. dan ketidakjujuran 20 b. Teori Gabungan yang mengutamakan perlndungan tata tertib masyarakat. dan sebagainya. maka pidana itu adalah suatu yang terpaksa perlu diadakan.

rusak. dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). Mc Mullan Seorang pejabat pemerintahan dikatakan ‘korup’ apabila ia menerima uang yang dirasakan sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang ia bisa lakukan dalam tugas jabatannya padahal ia selama menjalankan tugasnya 21 W. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bayley Perkataan ‘korupsi’ dikaitkan dengan perbuatan penyuapan yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan sebagai akibat adanya pertimbangan dari mereka yang memegang jabatan bagi keuntungan pribadi. Korupsi : busuk. b. Perkembangan Pengertian Korupsi antara lain : a. suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya. 1976) 27 . 2) M.Dengan demikian. Rumusan korupsi dari sisi pandang teori pasar Jacob van Klaveren yang mengatakan bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang. secara harafiah dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas. 2. (Balai Pustaka. Poerwadarminta.J. Rumusan yang menekankan titik berat jabatan pemerintahan 1) L. penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain. Korupsi.S. dimana pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin. 1.

membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentingan umum. Yang menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaan. Rumusan korupsi dengan titik berat pada kepentingan umum Carl J. hal. mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggung jawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan oleh undang-undang.S Nye Korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah.9 22 28 . atau melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi. Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi UU No. Rumusan korupsi dari sisi pandang politik Martiman Prodjohamidjojo. hal.22 3) J.23 c. Friesrich. golongan. 2009). teman). penyalahgunaan atau secara tidak sah menggunakan sumber penghasilan negara untuk kepentingan/keperluan pribadi). demi mengejar status dan gengsi. kawan.seharusnya tidak boleh berbuat demikian. seperti penyuapan (memberi hadiah dengan maksud hal-hal menyelewengkan seseorang dalam kedudukan pada jawatan dinasnya). khususnya dalam pemberian jabatan atau memberikan perlindungan dengan alasan hubungan asal usul dan bukannya berdasarkan pertimbangan prestasi. 20 Tahun 2001. Hal ini mencakup tindakan. (Bandung : Mandar Maju. Atau dapat berarti menjalankan kebijaksanaannya secara sah untuk alasan yang tidak benar dan dapat merugikan kepentingan umum. nepotisme (kedudukan sanak saudaranya sendiri didahulukan. d. karena kepentingan pribadi (keluarga. 8 23 Ibid.

factor ekonomi dan politik serta penempatan keluarga. Theodore M. 11 April 1971) mengatakan sebagai berikut : “Secara keseluruhan korupsi di Indonesia muncul lebih sering sebagai masalah politik daripada masalah ekonomi. dalam bukunya “The Sosiology of Corruption” yang antara lain menyebutkan bahwa “terjadi korupsi adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada 29 . e. sifat dan keadaan yang busuk. jika memperhatikan uraian Syed Hussein Alatas. Karena itu. Rumusan korupsi dari sisi pandang sosiologi Pengkajian makna korupsi secara sosiologis. tergantung pada tekanan atau titik beratnya yang diambil oleh pembentuk undang-undang. maka rumusan pengertian korupsi tidak ada yang sama pada setiap negara. penyelewengan kekuasaan karena pemberian. Ia menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di mata generasi muda. Rumusan-rumusan pengertian korupsi pada dasarnya dapat member warna pada korupsi dalam hukum positif. jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintahan. kaum elite terdidik dan pegawai pada umumnya. klik golongan ke dalam dinas si bawah kekuasaan jabatannya.Mubyarto mengutip pendapat. Dari rumusan pengertian korupsi sebagai tercermin di atas bahwa korupsi menyangkut segi moral. Korupsi mengurangi dukungan pada pemerintah dari kelompok elite di tingkat propinsi dan kabupaten”. Smith dalam tulisannya “ Corruption Tradition and Change” Indonesia (Cornell University No.

Perbuatan itu bersifat melawan hukum “Melawan hukum” di sini diartikan secara formil dan materil.Op. misalnya mengambil.24 Menurut undang-undang tindak pidana korupsi. Kadang-kadang juga berupa perbuatan menawarkan pemberian uang hadiah lain yang dapat menggoda pejabat.kepentingan-kepentingan si pemberi”. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri. c. 10 Evi Hartanti. atau perbuatan itu diketahui atau patut disangka oleh si pembuat bahwa merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. korupsi adalah perbuatan yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut : a. atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. b.25 24 25 Ibid. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugas-tugas politik. sehingga si pembuat bertambah kaya. Perbuatan itu secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara. menandatangani kontrak dan sebagainya. Yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan perekonomian negara. Unsur ini perlu dibuktikan karena tercantum secara tegas dalam rumusan delik. Sudarto menjelaskan unsur-unsur tindak pidana korupsi yaitu : a. Melawan hukum b. hal. orang lain atau suatu badan. hal. Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan c. “Perbuatan memperkaya” artinya berbuat apa saja.Cit. 18 30 . memindahbukukan.

Pengadilan tidak boleh sesuka hati dan semena-mena membuktikan kesalahan terdakwa. Pembuktian adalah perbuatan membuktikan. menandakan. cara. Hukum Pembuktian 1. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undangundang dan mengatur mengenai alat bukti yang boleh digunakan hakim guna membuktikan kesalahan terdakwa.C. ditentukan adanya tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti dan dengan bukti tersebut membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Tinjauan Umum mengenai Pembuktian Dikaji secara umum. Oleh karena itu. Pada tahap penyelidikan ketika tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan sesuatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. menyaksikan dan meyakinkan. 31 . melakukan sesuatu dengan kebenaran. Yahya Harahap pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. menurut M. di sini sudah ada tahapan pembuktian. Membuktikan sama dengan member (memperlihatkan) bukti. melaksanakan. Aspek hukum pembuktian asasnya sudah dimulai sejak tahap penyelidikan perkara pidana. Dikaji secara makna leksikon pembuktian adalah suatu proses. perbuatan terdakwa dalam siding pengadilan. kata pembuktian berasal dari kata “bukti” yang berarti suatu hal (peristiwa atau sebagainya) yang cukup untuk memperlihatkan kebenaran suatu hal (peristiwa tersebut). Begitu pula halnya dengan penyidikan. Dikaji dari perpektif yuridis.

ketentuan pasal 1 angka 2 dan angka 5 KUHAP menegaskan bahwa untuk dapat dilakukan tindakan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan bermula dilakukan penyelidikan dan berakhir sampai adanya penjatuhan pidana (vonnis) oleh hakim di depan sidang pengadilan baik di tingkat Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tinggi jikalau perkara tersebut dilakukan upaya hukum banding. Proses pembuktian merupakan interaksi antara pemeriksaan yang dilakukan oleh majelis hakim dalam menangani perkara tersebut dengan dibantu oleh seorang panitera pengganti, kemudian adanya penuntut umum yang melakukan penuntutan dan terdakwa atau beserta penasehat hukumnya. Hakikatnya hukum pembuktian dapat dikategorisasikan ke dalam hukum pembuktian yang bersifat umum/konvensional dan khusus. Dimensi dari hukum pembuktian yang bersifat umu/konvensional terdapat dalam KUHAP. Pada ketentuan ini, hukum pembuktian dalam sidang pengadilan dilakukan secara aktif oleh jaksa penuntut umum untuk menyatakan kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan dalam surat dakwaan. Sebaliknya, terdakwa atau penasehat hukumnya akan berusaha untuk menyatakan dan membuktikan bahwa terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum. Hukum pembuktian yang bersifat khusus, dasarnya bukan semata-mata kepada ketentuan hukum acara pidana sebagaimana Pasal 183 KUHAP. Tegasnya, ketentuan hukum pembuktian yang bersifat khusus terdapat dalam UU tindak pidana khusus di luar tindak pidana umum sebagaimana diatur dalam Pasal 103 KUHP. Di dalam UU tindak pidana khusus tersebut diatur mengenai ketentuan

32

umum pidana formal dan hukum pidana materil secara sekaligus. Misalnya, Pasal 26 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 menentukan bahwa : “ Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.” Dari redaksional di atas, terminology “dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku” sehingga ada ketentuan hukum pidana formal diintrodusir dalam KUHAP. Kemudian terminology “kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini” menunjukan ada kekhususan hukum acara. Apabila aspek ini dijabarkan, dalam Pasal 26A UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 ditentukan adanya pembalikan beban pembuktian tentang ketentuan alat bukti petunjuk. Dalam ketentuan tersebut alat bukti petunjuk diperluas, jangkauan pembuktian tidak hanya digali dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa sebagaimana ketentuan Pasal 188 ayat (2) KUHAP melainkan dapat digali dari alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optic atau yang serupa dengan itu; dan dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang dalam kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna dan lain sebagainya.

33

2. Teori Hukum Pembuktian Secara teoritis asasnya dikenal 3 (tiga) teori tentang pembuktian, yaitu berupa : a. Teori Hukum Pembuktian menurut undang-undang Secara Positif Pada dasarnya, teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif berkembang sejak abad pertengahan. Menurut teori ini, teori hukum pembuktian positif bergantung kepada alat-alat bukti sebagaimana disebut secara limitatif dalam undang-undang. Singkatnya, undang-undang telah menentukan tentang adanya alat-alat bukti mana yang dapat dipakai hakim, cara bagaimana hakim harus mempergunakan kekuatan alat-alat bukti tersebut dan bagaimana caranya hakim harus memutus terbukti atau tidaknya perkara yang sedang diadili. Dalam aspek ini, hakim terikat kepada adagium kalau alat-alat bukti tersebut telah dipakai sesuai ketentuan undang-undang, hakim mesti menentukan terdakwa bersalah, walaupun hakim “berkeyakinan” bahwa sebenarnya terdakwa tidak bersalah. Demikian sebaliknya, apabila tidak dapat dipenuhi cara mempergunakan alat bukti sebagaimana ditetapkan undang-undang, hakim harus menyatakan terdakwa tidak bersalah walaupun menurut “keyakinannya” sebenarnya terdakwa bersalah. Dengan demikian, pada esensinya menurut D. Simons, sistem atau teori hukum pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif ini berusaha untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim secara

34

26 Lebih lanjut lagi. Dari 26 LIlik Mulyadi.92-93 35 . tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Hati nuraninya seolah-olah tidak ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. M. Apakah hakim yakin atau tidak tentang kesalahan terdakwa. bukan menjadi masalah. hakim seolah-olah robot pelaksana undang-undang yang tidak memiliki hati nurani. Dianut di Eropa pada waktu berlakunya asas inkisitor (inquisitoir) dalam acara pidana. Op. sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. suatu kewajiban mencari dan menemukan kebenaran salah atau tidaknya terdakwa sesuai dengan tatacara pembuktian dengan alat-alat bukti yang telah ditentukan undang-undang. apabila sudah dipenuhi cara-cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alatalat bukti yang ditentukan undang-undang. Meskipun demikian. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata bergantung kepada alat-alat bukti yang sah. keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian dalam membuktikan kesalahan terdakwa. dari satu segi sistem ini mempunyai kebaikan. Yahya Harahap berpendapat bahwa pembuktian menurut undang-undang secara positif. hakim tidak lagi menanyakan keyakinan hati nuraninya akan kesalahan terdakwa.Cit. hal. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang. apabila dikaji secara hakiki ternyata teori hukum pembuktian positif mempunyai segi negatif dan segi positif. Sistem ini benar-benar menuntut hakim. Keyakinan hakim dalam sistem ini. Dalam sistem ini.ketat menurut peraturan-peraturan pembuktian yang keras. Pokoknya.

dalam perkembangannya dengan titik tolak aspek negatif dan positif. 789-799 27 36 .27 Kemudian. Sekali hakim majelis menemukan hasil pembuktian yang objektif sesuai dengan cara dan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang. Banding. Teori Hukum Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim Pada teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim. Dalam perkembangannya. baik secara teoritis dan praktik teori hukum pembuktian menurut undangundang secara positif relatif sudah tidak pernah diterapkan lagi.sejak semula pemeriksaan perkara. hakim dapat menjatuhkan putusan berdasarkan “keyakinan” belaka dengan tidak terikat oleh suatu peraturan (bloot gemoedelijke overtuiging. hal. mereka tidak perlu lagi menanya dan menguji hasil pembuktian tersebut dengan keyakinan hati nuraninya. conviction intime). b. kesalahan terdakwa bergantung kepada “keyakinan” belaka. Kasasi dan Peninjauan Kembali. Dengan demikian. 2005). yaitu : “Conviction Intime” dan “Conviction Raisonce”. (Jakarta : Sinar Grafika. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan. M. lebih lanjut teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim mempunyai 2 (dua) bentuk polarisasi. hakim harus melemparkan dan mengeyampingkan jauh-jauh factor keyakinannya. sehingga hakim tidak terikat oleh suatu peraturan (bloot gemoedelijke overtuiging. Hakim semata-mata berdiri tegak pada nilai pembuktian objektif tanpa mencampuradukan hasil pembuktian yang diperoleh di persidangan dengan unsur subyektif keyakinannya. putusan hakim di sini tampak timbul nuansa subjektifnya. conviction intime). Yahya Harahap.

Seolah-olah sistem ini menyerahkan sepenuhnya nasib terdakwa kepada keyakinan hakim semata-mata. dan langsung menarik kesimpulan dari keterangan atau pengakuan terdakwa. Keyakinan hakimlah yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa.Apabila dikaji secara detail. Bisa juga hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan hakim. telah cukup terbukti dengan alat-alat bukti yang lengkap. walaupun kesalahan terdakwa “tidak terbukti” berdasar alat-alat bukti yang sah. sudah barang tentu mengandung kelemahan. Jadi. dalam sistem pembuktian conviction-intime. mendalam dan terinci. Keyakinan hakimlah yang paling “dominan” atau yang paling menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem pembuktian conviction-intime ini. selama hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa. sekalipun kesalahan terdakwa sudah cukup terbukti. tidak menjadi masalah dalam sistem ini. Sebaliknya hakim leluasa membebaskan terdakwa dari tindak pidana yang dilakukannya walaupun kesalahan terdakwa. yaitu apabila pembuktian conviction-intime menentukan salah tidaknya terdakwa. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. 37 . Hakim dapat saja menjatuhkan hukuman pada seorang terdakwa semata-mata atas “dasar keyakinan” belaka tanpa didukung oleh alat bukti yang cukup. semata-mata ditentukan oleh penilaian “keyakinan” hakim. pembuktian yang cukup itu dapat dikesampingkan oleh keyakinan hakim. Dari mana hakim menarik dan menyimpulkan keyakinannya. sudah cukup membuktikan kesalahan terdakwa. terdakwa bisa dinyatakan bersalah semata-mata atas “dasar keyakinan” hakim. Sebaliknya. penerapan teori hukum pembuktian “Conviction Intime” mempunyai bias subjektif. Keyakinan tanpa alat bukti yang sah.

Lebih lanjut lagi. Dari aspek historis ternyata teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara negatif.Keyakinan hakimlah yang menentukan wujud kebenaran sejati dalam sistem pembuktian ini. pada teori hukum pembuktian “Conviction Raisonance” keyakinan hakim tetap memegang peranan penting untuk menentukan tentang kesalahan terdakwa.Cit. hal. teori hukum pembuktian menurut undang-undang negative menentukan bahwa hakim hanya boleh menjatuhkan pidana terhadap terdakwa apabila alat bukti tersebut secara limitatif ditentukan oleh undangundang dan didukung pula oleh adanya keyakinan hakim terhadap eksistensinya alat-alat bukti tersebut. Op. Akan tetapi. hal.29 c.28 Teori hukum pembuktian “Conviction Raisoance” asasnya identik sistem “Conviction Intime”. Secara teoritis dan normatif hukum pembuktian di Indonesia mempergunakan teori hukum pembuktian secara negative. penerapan keyakinan hakim tersebut dilakukan secara selektif dalam arti keyakinan hakim “dibatasi” dengan harus didukung oleh “alasan-alasan jelas dan rasional” dalam mengambil keputusan.96 38 . 797-798 Lilik Mulyadi. Teori Hukum Pembuktian menurut Undang-Undang Secara Negatif Pada prinsipnya. hakikatnya merupakan “peramuan” antara teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif dan teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim. tetapi dalam praktik peradilan selintas dan tampak penerapan Pasal 183 KUHAP mulai terjadi 28 29 Ibid.

bahwa ketentuan Pasal 66 KUHAP dengan tegas menyebutkan bahwa “tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian”. dan praktiknya hanya “diperbaiki” dan “ditambahi” pada tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi ataupun pada tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung RI. bahwa Penuntut umum harus mempersiapkan alat-alat bukti dan barang bukti secara akurat. Teori Pembalikan Beban Pembuktian (Omkering van het Bewijslast atau Shifting of Burden of Proof/Onus of Proof) Dikaji dari perpektif ilmu pengetahuan hukum pidana dikenal ada 3 (tiga) teori tentang beban pembuktian. yaitu : 1) Beban Pembuktian pada Penuntut Umum Konsekuensi logis teori beban pembuktian ini. Secara universal ketiga teori beban pembuktian tersebut hakikatnya terdapat di negara Indonesia maupun di beberapa negara seperti di Negara Malaysia. sedangkan segmen “keyakinan hakim” hanyalah bersifat “unsur pelengkap” karena tanpa adanya aspek tersebut tidak mengakibatkan batalnya putusan. sebab jika tidak demikian akan susah meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa.pergeseran pembuktian pada teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif bahwa unsur “sekurang-kurangnya dua alat bukti” merupakan aspek dominan. 39 . Teori beban pembuktian ini dikenal di Indonesia. Konsekuensi logis beban pembuktian ada pada Penuntut Umum ini berkorelasi asas praduga tidak bersalah dan aktualisasi asas tidak mempersalahkan diri sendiri (non self incrimination). d. Hongkong maupun di Negara Republik Singapura. United Kingdom of Great Britain (Inggris).

Dikaji dari perpektif teoritis dan praktik teori beban pembuktian ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi pembalikan beban pembuktian yang bersifat murni maupun bersifat terbatas (limited burden of proof). 3) Beban Pembuktian Berimbang Konkretisasi asas ini baik penuntut umum maupun terdakwa dan/atau penasihat hukumnya saling membuktikan di depan persidangan. pembalikan beban pembuktian tersebut merupakan suatu penyimpangan hukum pembuktian dan juga merupakan suatu tindakan luar biasa terhadap tindak pidana korupsi. Apabila ketiga polarisasi teori beban pembuktian tersebut dikaji dari tolok ukur penuntut umum dan terdakwa. terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana. Pada hakikatnya. yaitu: 40 . Dalam kepustakaan ilmu hukum asas beban pembuktian ini dinamakan juga asas pembalikan beban pembuktian “berimbang” seperti dikenal di Amerika Serikat dan juga di Indonesia. terdakwalah di depan sidang pengadilan yang akan menyiapkan segala beban pembuktian dan bila tidak dapat membuktikan. sebenarnya teori beban pembuktian dapat dibagi menjadi 2 (dua) kategorisasi. Oleh karena itu. terdakwa berperan aktif menyatakan bahwa dirinya bukan sebagai pelaku tindak pidana. Pada asasnya teori beban pembuktian jenis ini dinamakan teori “Pembalikan Beban Pembuktian”.2) Beban Pembuktian pada Terdakwa Dalam konteks ini. Lazimnya penuntut umum akan membuktikan kesalahan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan.

Kemudian teori pembalikan beban pembuktian yang bersifat “terbatas dan berimbang” dalam artian terdakwa dan penuntut saling membuktikan kesalahan atau ketidakbersalahan dari terdakwa. asas pembalikan beban pembuktian dalam sistem hukum pidana Indonesia dikenal dalam tindak pidana korupsi (UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU No. Pada hakikatnya. misalnya seperti di United Kingdom of Great Britain kemudian juga yang terjadi pada Negara Republik Singapura dan Malaysia serta di Indonesia.Pertama. Secara kronologis.30 30 Ibid. teori pembalikan beban pembuktian yang dalam aspek ini dapat dibagi menjadi pembalikan beban pembuktian yang bersifat “absolute” atau “murni” bahwa terdakwa dan/atau penasihat hukumnya membuktikan ketidakbersalahan terdakwa. Kedua. sistem beban pembuktian “biasa” atau “konvensional”. 8 Tahun 1999). 25 Tahun 2003) dan perlindungan konsumen (UU No. 15 Tahun 2002 jo UU No. penuntut umum membuktikan kesalahan terdakwa dengan mempersiapkan alat-alat bukti sebagaimana ditentukan undang-undang. Kemudian terdakwa dapat menyangkal alat-alat bukti dan beban pembuktian dari Penuntut Umum sesuai ketentuan Pasal 66 KUHAP. asas pembalikan beban pembuktian bermula dari sistem pembuktian yang dikenal pada negara-negara yang menganut rumpun AngloSaxon atau negara-negara penganut “case law” terbatas pada “certain cases” atau kasus-kasus tertentu khususnya terhadap tindak pidana “gratification” atau pemberian yang berkorelasi dengan “bribery” (suap). 20 Tahun 2001). tindak pidana pencucian uang (UU No. hal 101-104 41 .

apabila dijabarkan lebih terinci. SH & Rekan”. Pada dasarnya. mengenal pembuktian dengan tetap membebankan kewajibannya pada Jaksa Penuntut Umum. praduga bersalah relatif cenderung dianggap sebagai pengingkaran asas yang bersifat universal khususnya terhadap asas praduga tidak bersalah. teori pembalikan beban pembuktian yang meletakkan beban pembuktian pada terdakwa untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Indriyanto Seno Adji Indriyanto Seno Adji. Konsekuensi logis demikian. Lebih lanjut. khususnya Hak 31 Tersangka/Terdakwa. dengan dianutnya pembalikan beban pembuktian secara murni menyebabkan beralihnya asas praduga tidak bersalah menjadi asas praduga bersalah. setiap orang yang didakwa melakukan tindak pidana mendapatkan hak untuk tidak dianggap bersalah hingga terbukti kesalahannya dengan tetap berlandaskan kepada beban pembuktian pada penuntut umum. Konsekuensinya.Indriyanto Seno Adji berasumsi bahwa : Asas pembalikan beban pembuktian merupakan suatu sistem pembuktian yang berada di luar kelaziman teoritis pembuktian dalam Hukum (Acara) Pidana yang universal. 2001) 31 42 . tetapi memiliki batas-batas yang seminimal mungkin tidak melakukan suatu destruksi terhadap perlindungan dan penghargaan Hak Asasi Manusia. Itu pun tidak dilakukan secara overall. Hanya saja. yaitu Sistem Pembalikan Beban Pembuktian atau dikenal sebagai “Reversal of Burden Proof” (Omkering van Bewjislast). (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. praduga tidak bersalah merupakan asas fundamental dalam negara hukum. baik sistem kontinental maupun Anglo Saxon. norma pembuktian yang cukup dan metode pembuktian harus mengikuti cara-cara yang adil. Pada asasnya. Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian. dalam “certain cases” (kasus-kasus tertentu) diperkenankan penerapan dengan mekanisme yang diferensiel. Dalam Hukum Pidana (Formal).

bahkan tidak pernah diwajibkan untuk mempersalahkan dirinya sendiri (non self incrimination). Kesemua ini merupakan bahagian dari prinsip perlindungan dan penghargaan HAM yang tidak dapat dikurangi sedikit apapun dengan alasan apapun juga (Non-Derogable Right). Lebih jauh lagi bahwa terdakwa memiliki hak yang dinamakan “The Right to Remain Silent” (hak untuk diam).32 Konsekuensi logis aspek tersebut. Sebagai suatu penyimpangan. Indriyanto Seno Adji menyebutkan terdakwa tidak pernah dibebankan untuk membuktikan kesalahannya. Selain itu. khususnya terhadap delik baru tentang pemberian (gratification) dan yang berkaitan dengan bribery (penyuapan). asas ini hanya diterapkan terhadap perkara-perkara tertentu. SH & Rekan. bahwa pembalikan beban pembuktian relatif tidak dapat diperlakukan terhadap kesalahan pelaku karena selain bertentangan dengan asas-asas sebagaimana tersebut di atas juga relatif mengedepankan asas praduga bersalah. 50 43 . terdakwalah yang harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. yaitu yang berkaitan dengan delik korupsi. Dalam hal pembalikan beban pembuktian. 2001).menyebutkan asas pembalikan beban pembuktian merupakan penyimpangan asas umum hukum pidana yang menyatakan kebenaran tuntutannya. apabila dikaji lebih detail teori pembalikan beban pembuktian akan bersinggungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya implementasi terhadap ketentuan hukum acara pidana. 32 Indriyanto Seno Adji. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. Pembalikan Beban Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi. hal.

teori pembalikan beban pembuktian keseimbangan kemungkinan menempatkan pelaku tindak pidana korupsi terhadap perbuatan atau kesalahan orang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi tidak boleh dipergunakan asas pembalikan beban pembuktian melainkan tetap berdasarkan asas negative karena perlindungan terhadap hak individu ditempatkan paling tinggi terhadap perampasan kemerdekaan seseorang. secara bersamaan di satu sisi khusus terhadap asas pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan terhadap 44 .Karena teori pembalikan beban pembuktian tidak dapat diperlakukan terhadap kesalahan pelaku. Konklusinya. e. tentu harus dicari suatu formula baik dari perpektif teoritis. Kemudian. filosofis dan praktik bagaimana teori ini dapat diterapkan ditataran kebijakan legislasi dan aplikasi. dan perampasan hak individu yang bersangkutan atas harta kekayaan milik pelaku yang diduga kuat berasal dari korupsi di sisi lainnya. Dalam konteks ini. yuridis. kedudukan hak asasi pelaku tindak pidana korupsi ditempatkan dalam kedudukan yang paling tinggi dengan mempergunakan teori “probabilitas berimbang yang sangat tinggi” yang tetap mempergunakan sistem pembuktian menurut UU secara negatif. Teori Pembalikan Beban Pembuktian Keseimbangan Kemungkinan (Balanced Probability of Principles) dalam Tindak Pidana Korupsi Teori Pembalikan Beban Pembuktian secara Keseimbangan antara Kemungkinan perlindungan mengedepankan keseimbangan proporsional kemerdekaan individu di satu sisi.

hal 109-111 45 . Op. pelaku tindak pidana korupsi terhadap kepemilikan harta kekayaan dipergunakan Teori “probabilitas berimbang yang diturunkan”.kepemilikan harta kekayaan pelaku tindak pidana korupsi sehingga tidak berdasarkan asas pembuktian negatif.33 Teori pembalikan beban pembuktian keseimbangan kemungkinan adalah upaya teoritis untuk menentukan solusi penerapan pembalikan beban pembuktian dalam pemberantasan korupsi yang sulit pembuktiannya terutama yang menyangkut asal usul harta kekayaan milik terdakwa. penerapan teori ini dalam tindak pidana korupsi telah dilakukan oleh Pengadilan Tinggi HongKong dalam kasus antara Attotney General of Hongkong v Lee Kwang Kut.Cit. 33 Lilik Mulyadi. Dalam praktiknya. Apabila dijabarkan terhadap harta kekayaan milik seseorang dapat dilakukan penerapan asas pembalikan beban pembuktian karena harta kekayaan orang ditempatkan dalam kedudukan yang paling rendah ketika pelaku tersebut dalam kedudukan yang belum kaya. Oleh karena itu.

Penelitian dapat diartikan sebagai cara pengamatan dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan. dapat diulang kembali dengan cara yang sama dan hasil sama. baik itu discovery maupun invention. dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara. Intensif dengan menerapkan ketelitian dan ketepatan dalam melakukan proses penelitian agar memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. empiris. menganalisis serta memahami apa yang dihadapinya. memecahkan problem melalui hubungan sebab dan akibat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian tidak lain adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis 46 . Karakter formal dan intensif karena mereka terikat dengan aturan. Penelitian menurut Kerlinger ialah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis. Penelitian adalah merupakan proses ilmiah yang mencakup sifat formal dan intensif. Discovery diartikan hasil temuan yang memang sebetulnya sudah ada sedangkan invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta.BAB III METODE PENELITIAN Metode merupakan sarana untuk menemukan. merumuskan. menganalisis suatu masalah tertentu untuk mengungkapkan suatu kebenaran. karena metode pada prinsipnya memberikan pedoman tentang cara ilmuwan mempelajari. urutan maupun cara penyajiannya agar memperoleh hasil yang diakui dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. terkontrol.

3-4 35 Rianto Adi. 3-4 47 . dan mendasarkan pada teori yang ada dan diperkuat dengan gejala yang ada. Secara rinci penelitian berfungsi sebagai berikut : a. dikontrol. penelitian mempunyai fungsi menemukan. 2004).35 Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua yaitu penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis. Maksudnya penelitian berfungsi mengembangkan pengetahuan yang sudah ada. Pengembangan Fungsi ini disebut fungsi developmental. Maksudnya ialah bahwa penelitian berfungsi untuk menemukan sesuatu yang belum ada. Pengujian Fungsi ini disebut juga sebagai fungsi verifikatif. b. c. yang disebut juga penelitian hukum kepustakaan. Penelitian hukum normatif dilakukan denga cara meneliti bahan pustaka yang merupakan data sekunder. 2004). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. (Jakarta : Granit. Sedangkan penelitian hukum sosiologis terutama digunakan untuk meneliti data primer. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Dengan demikian penelitian mengisi kekosongan atau kekurangan ilmu. 34 Sukardi.34 Pada hakikatnya. hal. Penjajagan Fungsi ini juga disebut fungsi eksploratif. mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan. hal. (Jakarta : Bumi Aksara. Maksudnya penelitian berfungsi untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan yang sudah ada.mengikuti aturan-aturan metodologi misalnya observasi secara sistematis.

Di samping data sekunder. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang digunakan adalah metode yuridis normatif. terutama berupa bahan-bahan hukum primer berupa perundang-undangan dan bahan hukum sekunder berupa rancangan KUHP dan karya ilmiah. Hal ini berkaitan pula dengan usaha-usaha dalam menentukan kebijakan hukum pidana terhadap pembuktian terbalik di masa mendatang. Pendekatan yuridis komparatif diperlukan dalam melihat norma-norma yang menyangkut pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi di beberapa negara. Metodologi pada hakikatnya memberikan pedoman tentang tata cara seorang ilmuwan mempelajari. 48 . diperlukan data primer untuk mendukung data. Untuk lebih jelasnya dalam penulisan hukum ini penulis akan menggunakan metode-metode sebagai berikut : A. Metode yang akan diterapkan ini harus disesuaikan dengan ilmu pengetahuan dari metodemetode penelitian sehingga dalam kegiatan penelitian dapat mengarah pada tujuan yang telah ditentukan.Suatu penelitian juga memerlukan metode-metode tertentu. yaitu dengan mengkaji/menganalisis data sekunder. Penggunaan metode sosial ini disamping penelitian normatif. dilakukan juga pendekatan komparatif. menganalisa dan memahami lingkungan yang dihadapinya.

Dalam penelitian ini akan digambarkan mengenai keadaan objek yang akan diteliti yaitu pembuktian terbalik. peneliti melakukan penelitian di institusiinstitusi terkait. Komisi Pemberantasan Korupsi C. Spesifikasi Penelitian Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. jaksa dan anggota Komisi Pemberantasan 49 .B. yakni : 1. yaitu sebagai berikut : 1. penulis akan mempergunakan data primer dan data sekunder. Kejaksaan Negeri Semarang 3. Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini. Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan kedaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampil atau sebagaimana adanya. Untuk mendapatkan data primer. khususnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi rumusan pembuktian terbalik pada saat ini dan yang akan datang. Pengadilan Negeri Semarang 2. yaitu dengan wawancara kepada hakim. Deskriptif analitis adalah suatu penelitian yang berusaha menemukan gejala-gejala yang diperlukan dalam dokumen atau suatu buku dan menggunakan informasi-informasi yang berguna di bidang masing-masing. Data Primer Data primer dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi b. terdiri dari sumber-sumber hukum yang berkaitan dengan rumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi.Korupsi atau para pihak yang terkait dengan permasalahan yang dikemukakan oleh penulis. Adapun data sekunder di bidang hukum yang dapat diteliti adalah : 1. 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi c. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka guna menemukan landasan teoritis berupa peraturan perundang-undangan maupun berbagai literatur. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terpimpin yaitu dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan lebih dahulu sebagai garis pedoman yang ditetapkan sebelumnya dengan tujuan agar arah wawancara dapat dikendalikan dan tidak menyimpang dari pedoman yang telah ditetapkan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 50 . Bahan hukum primer adalah badan hukum yang mengikat. Bahan hukum primer terdiri atas : a. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi d.

2. tulisan atau pendapat para pakar hukum d. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjadi karya para sarjana. (Bandung: PT. Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi b. Hasil karya para sarjana. yaitu proses analisis terhadap data yang terdiri dari kata-kata yang dapat ditafsirkan. 2006). antara lain berupa : a. yaitu data yang diperoleh di lapangan dalam bentuk tulisan dan segera dianalisa. Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi c. 129 Soerjono Soekanto. Metode Analisis Data Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul maka dilanjutkan dengan menganalisis data-data tersebut. D. baik yang telah dipublikasikan maupun belum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nasution. Penelitian Hukum Normatif. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode analisis normatif kualitatif. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan pada penelitian ini Selain data sekunder di bidang hukum tersebut. hal.36 Apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan. dan juga perilakunya yang nyata. Metode Penelitian Naturalistik. Tarsito. penelitian ini juga meneliti data sekunder yang bersifat publik yaitu data arsip dan data resmi dari instansi pemerintah yang berkaitan dengan permasalahan.37 Dalam metode kualitatif tidak perlu diperhitungkan jumlah data yang dianalisis. hal 250 51 . 1968). yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. melainkan memperhitungkan data 36 37 Dari S. Pengantar Penelitian Hukum.

Selanjutnya ditarik kesimpulan dari hasil pembahasan tersebut. Data primer dan data sekunder dikumpulkan.dari kemampuannya mewakili keadaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian dianalisis menurut disiplin ilmu hukum pidana sehingga menjadi pembahasan yang sinergis dan terpadu. diolah dan disusun secara jelas dan sistematis. 52 .

Karena itu. Kebijakan hukum pidana adalah usaha mewujudkan peraturan perundangundangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa yang akan datang sehingga untuk membuat suatu kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik harus dikaji melalui undangundang yang pernah dan sedang merumuskan pembuktian terbalik yaitu diantaranya adalah undang-undang nomor 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Untuk bisa dilaksanakan maka perlu diadakan suatu kebijakan hukum pidana. undang-undang tindak pidana korupsi mencoba menerapkan upaya hukum pembuktian terbalik.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Namun rumusan pembuktian terbalik yang dicantumkan di dalam undang-undang belum pernah bisa dilaksanakan. undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan undang-undang dan undang-undang 53 . Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi Saat Ini Delik korupsi adalah delik yang dilakukan dengan berbagai modus operandi penyimpangan keuangan negara yang semakin canggih dan rumit sehingga banyak perkara-perkara delik korupsi lolos dari jaringan pembuktian melalui sistem KUHAP.

(4) Apabila terdakwa tidak dapat memberikan keterangan tentang pembuktian seperti dimaksud dalam ayat (1) maka keterangan 54 . atau b. (2) Keterangan tentang pembuktian yang dikemukakan oleh terdakwa bahwa ia tidak bersalah seperti dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperkenankan dalam hal: a. Hal ini disebabkan oleh perspektif kebijakan legislasi yang memandang perbuatan korupsi sebagai delik biasa sehingga penanggulangan korupsi cukup dilakukan secara konvensional dan tidak memerlukan perangkat hukum yang luar biasa (extra ordinary measures). bahwa perbuatannya itu menurut keinsyafan yang wajar tidak merugikan keuangan atau perekonomian negara. Ketentuan Pasal 17 UU No. (3) Dalam hal terdakwa dapat memberi keterangan tentang pembuktian seperti dimaksud dalam ayat (1) maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang setidak-tidaknya menguntungkan baginya. 3 Tahun 1971 secara eksplisit telah mengatur pembuktian terbalik. 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan formulasi dalam UU No. Kebijakan legislasi pemberantasan korupsi sampai dengan sebelum tahun 1960 tidak mengatur mengenai pembuktian terbalik. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan. 1. 3 Tahun 1971. Undang-Undang No. bahwa perbuatannya itu dilakukan demi kepentingan umum.nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dalam hal demikian Penuntut Umum tetap mempunyai kewenangan untuk memberikan pembuktian yang berlawanan. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan. selengkapnya berbunyi sebagai berikut : (1) Hakim dapat memperkenankan terdakwa untuk kepentingan pemeriksaan memberikan keterangan tentang pembuktian bahwa ia tidak bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

pembuktian terbalik tidak dimiliki terdakwa sebagai hak dan terdakwa baru dapat mempergunakan 38 39 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Apabila dianalisis berdasarkan penjelasan pasal tersebut maka pembuktian terbalik hanya diperkenankan sepanjang hakim memandang perlu untuk kepentingan pemeriksaan. Dalam hal demikian Penuntut Umum tetap diwajibkan memberi pembuktian bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi. ketentuan pasal 18 UU No. 3 Tahun 1971 tentang kepemilikan harta benda pelaku selengkapnya berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap terdakwa wajib memberi keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta-benda isteri/suami. Dalam pasal ini hakim memperkenankan terdakwa memberi keterangan tentang pembuktian yang tidak merupakan alat bukti menurut hukum. anak dan setiap orang. tetapi segala sesuatu yang dapat lebih memberikan kejelasan tentang perkara tersebut. Pasal 17 Ibid. Sebaliknya. Pasal 18 55 .tersebut dipandang sebagai hal yang setidak-tidaknya merugikan baginya. Konsekuensi logisnya. serta badan yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan apabila diminta oleh Hakim.39 Dalam penjelasan pasal 17 ayat (1).38 Selanjutnya. aturan mengenai pembuktian terbalik tidak diikuti sepenuhnya meskipun hal ini tidak berarti bahwa pasal ini menghendaki suatu pembuktian yang terbalik. (2) Bila terdakwa tidak dapat memberi keterangan yang memuaskan sidang pengadilan tentang sumber kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya maka keterangan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat keterangan setiap saksi bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. Pembuktian terbalik akan mengakibatkan penuntut umum dibebaskan dari kewajiban untuk membuktikan kesalahan seorang terdakwa. terdakwa dibebani untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Dapat dikatakan lebih jauh. Penjelasan pasal 18 menjelaskan kalau terdakwa dalam perkara pidana korupsi tidak dapat memberikan keterangan yang memuaskan tentang sumber kekayaannya yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya maka keterangan tersebut selain dapat digunakan untuk memperkuat keterangan saksi-saksi bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi juga dapat dipandang suatu petunjuk adanya perbuatan memperkaya diri seperti dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) sub a. Apabila terdakwa dapat memberikan keterangan tentang pembuktian penuntut umum tetap mempunyai kewenangan untuk memberikan pembuktian yang berlawanan. Keterangan yang menguntungkan atau merugikan tersebut bukanlah hal yang mengandung suatu penghukuman atau pembebasan dari penghukuman. ada tidaknya ketentuan tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap hak terdakwa untuk melakukan pembelaan diri. Apabila dianalisis berdasarkan penjelasan pasal tersebut mengenai 56 . Pada ayat (3) dijelaskan bahwa keterangan pembuktian itu adalah bahan penilaian bagi hakim yang dapat dipandang sebagai hal yang menguntungkan atau merugikan terdakwa. Berbeda dengan penilaian harta benda yang dahulu diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penilik Harta Benda yang bersifat perdata maka kewajiban terdakwa memberi keterangan tentang sumber kekayaannya hanya dapat dilakukan dalam perkara pidana (korupsi). dalam persidangan terdakwa lazimnya akan menyangkal dakwaan yang diajukan kepadanya dan sedapat mungkin berusaha lepas dari dakwaan jaksa penuntut umum.pembuktian terbalik sepanjang hakim memperkenankan untuk kepentingan pemeriksaan. tanpa adanya ketentuan itu. Oleh karena itu.

Ketentuan Pasal 37 berbunyi sebagai berikut : (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan hukum Indonesia mengenai pembuktian terbalik juga diatur dalam UU No. 2. maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya.pembuktian terbalik baik terhadap kesalahan maupun harta kepemilikan pelaku tindak pidana diperkenankan sepanjang hakim memandang perlu. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 yaitu di dalam Pasal 37. Apabila terdakwa dapat membuktikan hal tersebut tidak berarti ia tidak terbukti 40 Undang-Undang No.40 Kemudian penjelasan ketentuan Pasal 37 tersebut menentukan bahwa ketentuan ini merupakan suatu penyimpangan dari ketentuan Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana yang menentukan bahwa jaksa yang wajib membuktikan dilakukannya tindak pidana. (2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. Menurut ketentuan ini terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. bukan terdakwa. Pembuktian terbalik tersebut juga tidak dapat dijadikan hakim sebagai dasar untuk memutuskan terdakwa bersalah atau tidak walaupun terdakwa telah membuktikan hasil harta kekayaannya karena hakim juga harus melihat pembuktian yang dilakukan oleh penuntut umum. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 37 57 .

karena jaksa masih tetap wajib membuktikan dakwaannya. Apabila diperbandingkan. undang-undang tersebut tetap mengacu pada kewajiban penuntut umum untuk membuktikan membuktikan. Pasal 37A dan Pasal 38B UU No. Pasal 37. 31 Tahun 1999 bahwa terdakwa menggunakan pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa bukan atas perkenan hakim untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana Ketentuan UU No. Dikaji dari perspektif hukum. Selain itu. pada ketentuan 58 . 31 Tahun 1999 pada asasnya tetap menggunakan teori pembuktian negatif. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UndangUndang 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Beberapa ketentuan dalam UU No. 31 Tahun 1999 masih terdapat banyak kelemahan sehingga dilakukan perbaikan dengan mengeluarkan UU No. 20 Tahun 2001. 20 Tahun 2001. Ketentuan UU No. 3 Tahun 1971.melakukan korupsi. Perbaikan tersebut terdapat dalam ketentuan Pasal 12B. sebab penuntut umum masih tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. dakwaannya disamping terdakwa mempunyai hak untuk 3. dikaji dari beban pembuktian. Analisis hukum terhadap ketentuan Pasal 37 UU No. Ketentuan pasal ini merupakan pembuktian terbalik yang terbatas. 31 Tahun 1999 memberikan keleluasaan bagi hak terdakwa untuk membuktikan secara negatif tentang ketidakbersalahannya melakukan tindak pidana korupsi. kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik pada Pasal 37 UU No.

Dimana pengertian pembuktian terbalik adalah terdakwa yang melakukan gratifikasi dengan nilai di atas 10 juta wajib membuktikan bahwa gratifikasi tersebut bukan suap. Pengertian pembuktian terbalik tersebut bisa diartikan secara luas dan sempit.Pasal 37 ayat (1) baik dalam UU No. Sehingga bunyi keseluruhan dari Pasal 37 adalah sebagai berikut : (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. (2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. 31 Tahun 1999 maupun UU No. Pada ketentuan Pasal 37 ayat (2) UU No. Pembuktian terbalik dalam arti luas terdapat dalam Pasal 37 dan Pasal 38B dimana pengertian pembuktian terbalik adalah terdakwa berhak untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah atas dakwaan yang ditujukan kepadanya dan bahwa setiap harta benda yang dimilikinya bukan hasil tindak pidana korupsi Sedangkan pembuktian terbalik dalam arti sempit terdapat dalam Pasal 12 B mengenai gratifikasi. 20 Tahun 2001 adalah sama. 59 . sedangkan untuk ketentuan Pasal 37 ayat (2) UU No. Penyempurnaan terhadap undang-undang tersebut memunculkan dua pengertian dalam hal pembuktian terbalik. 20 Tahun 2001 ada sedikit perbedaan dan penyempurnaan. 20 Tahun 2001 adanya penyempurnaan pada ayat (2) frasa yang berbunyi “keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya” diubah menjadi “pembuktian tersebut digunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti”. 31 Tahun 1999 maupun UU No. maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.

Pasal 15. pembuktian terbalik juga diatur dalam ketentuan Pasal 37A UU No. UU No. kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Terdakwa tetap memerlukan perlindungan hukum yang berimbang atas pelanggaran hak-hak mendasar yang berkaitan dengan asas praduga tidak bersalah dan menyalahkan diri sendiri (non self-incrimination). 20 Tahun 2001 yang berasal dari pemenggalan ayat (3). Selain itu. 20 Tahun 2001 sebagai konsekuensi berimbang atas penerapan pembuktian terbalik terhadap terdakwa. Pasal 4. Dimana Pasal 37A ayat (3).” Sekilas. 31 Tahun 1999. Apabila dianalisis. 20 Tahun 2001 berbunyi : “Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 14. Pasal 3. Apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah. maka hal itu sudah menjadi dasar untuk menyatakan dakwaan tidak terbukti. (4) dan (5) Pasal 37 UU No. ketentuan Pasal 37 ayat (1) UU No. kemudian penjelasan ayat (2) menyatakan ketentuan tersebut tidak menganut sistem pembuktian secara negatif menurut undang-undang. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang- 60 . maka terdakwa diputus bebas. Namun di dalam Pasal 37 A ayat 3 disebutkan lain bahwa Jaksa Penuntut Umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Pasal 13. Oleh karena itu kepadanya harus dijatuhkan putusan bebas (vrijspraak requitool) berdasarkan pasal 191 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan “Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan disidang. dan Pasal 16 Undang-undang No. pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa.Dalam penjelasan pasal tersebut. undang-undang tersebut menggunakan pembuktian terbalik secara mutlak.

Pasal 14. Pasal 15. Sehubungan dengan itu. Pasal 38 B 61 . 20 Tahun 2001 yang berbunyi bahwa : “Setiap orang yang didakwa melakukan salah satu tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 4. Namun rumusan pada Pasal 37 ayat (3) mengatakan Jaksa Penuntut Umum juga harus membuktikan dakwaannya. Pasal 37A Ibid. tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi.”42 41 42 Undang-Undang No. Kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik juga diatur dalam ketentuan Pasal 38B ayat (1) UU No. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa rumusan mengenai pembuktian terbalik tidak mempunyai batasan yang jelas karena tidak diatur bagaimana prosedur dan cara yang harus dilakukan terdakwa dalam penerapan pembuktian terbalik itu dan tidak mengatur syarat atau standar yang harus dipenuhi agar terdakwa dapat dinyatakan mampu atau berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah. dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini. Pasal 13.”41 Apabila dianalisis. sehingga penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. maka para ahli hukum berpendapat bahwa prosedur dan cara serta syarat atau standar pembuktian yang harus dipenuhi tetap berpatokan pada cara dan prinsip Pasal 183 KUHAP. wajib membuktikan sebaliknya terhadap harta benda miliknya yang belum didakwakan. Pasal 3. 20 Tahun 2001.undang ini. maka pengertian rumusan Pasal 37 adalah seolah-olah terdakwa saja yang membuktikan.

ketentuan tersebut menimbulkan ketidakjelasan perumusan norma pembuktian terbalik. 20 Tahun 2001. perampasan harta ini tidak berlaku bagi ketentuan Pasal 12B ayat (1) huruf a UU No. 20 Tahun 2001 tersebut dapat dilihat dari beberapa segi. Di satu sisi. apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. dengan ketentuan sebagai berikut: 62 .Pada hakikatnya. kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam ketentuan Pasal 12B UU No. 37A dan 38B UU No. Apabila dikaji dari segi perumusan tindak pidana. melainkan terhadap pelaku yang didakwa melakukan tindak pidana pokok. Akan tetapi. Apabila dianalisis. Apabila dijabarkan tentang eksistensi ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma ketentuan Pasal 12B. 20 Tahun 2001 mengundang problematis yang menyebabkan adanya ketidakjelasan perumusan pengaturan norma pembuktian terbalik yang mengakibatkan ketidakharmonisan dan ketidaksinkronan dalam ketentuan UU tersebut. ketentuan pasal ini merupakan pembuktian terbalik mengenai harta benda yang belum didakwakan dalam rangka menjatuhkan pidana perampasan dimana terdakwa wajib dibebani wajib bukti untuk membuktikan harta tersebut bukan hasil korupsi serta berhasil atau tidaknya tergantung kepada kemampuan atau keberhasilan terdakwa membuktikan sumber perolehan harta benda yang belum didakwakan tersebut. pembuktian terbalik akan diterapkan kepada penerima gratifikasi yang dirumuskan secara tegas dalam pasal 12 B yang berbunyi : 1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap. Pasal 37.

Eksistensi asas pembuktian terbalik sesuai norma hukum pidana bukan ditujukan kepada gratifikasi dengan redaksional”…dianggap pemberian suap”. tidak ada perbedaan secara substantif yang ada hanya perbedaan prosedural. sedangkan untuk gratifikasi jenis kedua. pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.000. Pasal 12B 63 . beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu merupakan suap). Selain itu. Apabila dikaji.” Karena itu. apabila dikaji dari rumusan pasal 12B. 20 Tahun 2001 sepanjang redaksional “…dianggap pemberian suap”. tetapi harus kepada dua unsur rumusan sebagai bagian inti delik berupa rumusan yang berhubungan dengan jabatannya dan yang melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban. tetapi sudah termasuk tindakan “penyuapan”. beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu bukan suap) pada penerima. pembuktian dalam 43 Ibid. yaitu untuk gratifikasi pertama. yang nilainya kurang dari Rp 10. pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi. Apabila suatu gratifikasi yang telah diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara maka gratifikasi tersebut bukan dikategorisasikan “…dianggap pemberian suap”.43 Namun disisi lain tidak dapat diterapkan kepada penerima gratifikasi karena ketentuan pasal tersebut secara tegas mencantumkan redaksional : “Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya.00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih.000. terdapat kekeliruan perumusan norma ketentuan Pasal 12B UU No. yang nilainya Rp 10.00 (sepuluh juta rupiah). pada penuntut umum.a.000. b.000.

Konsekuensi logis. Pasal 13. dan memerlukan extraordinary enforcement dan extraordinary measures maka aspek krusial dalam kasus-kasus tindak pidana korupsi adalah upaya pemenuhan beban pembuktian dalam proses yang dilakukan aparat penegak hukum. Pasal 3. Pasal 14.gratifikasi tidak dapat disebut sebagai pembuktian terbalik yang mutlak. ketentuan pasal 37 UU No. Akan tetapi. Analisis ketentuan pasal ini bahwa pembuktian terbalik terhadap harta benda pelaku yang belum didakwakan. Pembuktian terbalik terhadap harta kekayaan hanya dapat dilakukan terhadap pembuktian perkara pokok sebagaimana dimaksud Pasal 2. 20 Tahun 2001 disebutkan sebagai pembuktian terbalik. Pasal 15. melainkan beban pembuktian berimbang. 31 Tahun 1999 jo UU No. Pasal 4. Begitu juga halnya dengan ketentuan Pasal 38B UU No. 20 Tahun 2001. Teori pembalikan beban pembuktian yang bersifat “terbatas dan berimbang” dalam artian terdakwa dan Penuntut saling membuktikan kesalahan atau ketidakbersalahan dari terdakwa. 20 Tahun 2001. 31 Tahun 1999 jo UU No. Dikaji dari perspektif kebijakan formulatif. 64 . Secara normatif. dan Pasal 16 UU No. tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi tidak berhubungan dengan ketentuan Pasal 12B UU No. dari perspektif praktik dan sebagai suatu hak. tindak pidana korupsi sebagai extraordinary crime. ketentuan Pasal 37 ayat (1) tidak mempunyai pengaruh terhadap ada atau tidaknya pasal tersebut dicantumkan. eksistensi pembuktian terbalik dikenal dalam tindak pidana korupsi sebagai ketentuan yang bersifat “premium remidium” dan sekaligus mengandung prevensi khusus. 31 Tahun 1999 dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 sesuai ketentuan Pasal 38B ayat (1).

00 (satu milyar rupiah). 30 Tahun 2002 yang menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c. Jaksa Penuntut Umum maupun Majelis Hakim untuk menerapkan pembuktian terbalik baik terhadap kesalahan pelaku maupun tentang kepemilikan harta benda pelaku yang diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi. dan/atau c. penyidikan.000. 20 Tahun 2001 Proses pembuktian merupakan interaksi antara pemeriksaan yang dilakukan oleh majelis hakim dalam menangani perkara dibantu oleh seorang panitera pengganti. b. dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. penyelenggara negara. 1. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat. kemudian adanya penuntut umum yang melakukan penuntutan dan terdakwa atau beserta penasihat hukumnya. praktik perkara korupsi di Indonesia pada tataran aplikatifnya tidak mempergunakan pembuktian terbalik padahal perangkat hukum memberikan hak kepada terdakwa dan atau Penasihat Hukumnya. Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU no. dan penuntutan tindak pidana korupsi yang : a.000.000. Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan.4. melibatkan aparat penegak hukum. 65 . Tegasnya. Kebijakan Aplikasi terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Undang-Undang No.

Berikut ini penulis menyajikan data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kejaksaan Negeri Semarang di dalam tabel. dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi yang sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU No. namun memngungkap fakta bahwa dari sekian kasus korupsi yang ditangani tidak ada yang menggunakan pembuktian terbalik. penyidikan. 30 Tahun 2002 tentang KPK tersebut maka KPK berwenang di dalam menangani kasus gratifikasi yang dilakukan oleh penyelenggara negara sesuai dengan Pasal 12B UU No. Oleh karena itu. maka KPK yang mempunyai wewenang melakukan penyelidikan. 20 Tahun 2001. Tabel yang disampaikan tidak mengungkap mengenai jumlah perkara korupsi yang telah berhasil ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi atau Kejaksaan Negeri Semarang. Data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dari Tahun 2004 -2008 : Tabel 1 Penanganan Kasus oleh KPK Tahun 2004 Uraian Dilimpahkan ke pengadilan Tahap penyidikan Dilimpahkan Kejaksaan ke Kepolisian/ Jumlah 2 1 3 66 .Apabila dianalisis. KPK juga harus terlibat terhadap kebijakan aplikasi atas formulasi tentang pembuktian terbalik.

KPK telah menangani 26 perkara korupsi yang terdiri dari 2 perkara telah dilimpahkan ke pengadilan.Dihentikan penyelidikannya Proses pengumpulan alat bukti Jumlah Sumber : Laporan Tahunan KPK Tahun 2004 3 17 26 Selama tahun 2004 (sejak Maret 2004. 67 . penyidikan. 1 perkara masih dalam penyidikan. Tabel 2 Jumlah kasus/perkara yang ditangani oleh KPK selama tahun 2005-2008 Tahun 2005 2006 2007 2008 Penyelidikan 31 50 68 70 Penyidikan 19 15 29 53 Penuntutan 19 24 24 43 Eksekusi 5 6 21 25 Jumlah 74 95 142 191 Sumber: Laporan Tahun Tahun 2005-2008 Dari setiap perkara korupsi yang ditangani oleh KPK dari tahun 20042008 mulai dari tahap penyelidikan. penuntutan sampai putusan.awal tahun 2005). terdakwa tidak menggunakan haknya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. 3 perkara dihentikan penyelidikannya dan 17 perkara masih dalam proses pengumpulan alat bukti. Selain itu. KPK belum pernah menangani kasus gratifikasi sampai tahun 2009.

Berikut ini penulis menyajikan data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Semarang periode 2004 – 2009 : 68 .

000.200. TERSANGKA/TERDAKWA KASUS POSISI 2004 IR.000.252. 14.346. IRWANSYAH Penyimpangan pelaksanaan pengadaan kapal Departemen Kehakiman Propinsi Jawa Tengah SOEWONDO.KETERANGAN Banding 2.840.Tengah 2003 Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Rp. SOBRI HADIWIDJAYA. SE 2005 Penyimpangan pengelolaan keuangan IKIP Veteran Semarang Penyimpangan pengelolaan IKIP Veteran Semarang Penyimpangan pengelolaan PT.- Kasasi 2.346.811.DKK SHONHAJI.756.210. HASBI. BJS Semarang Rp. 1.160.642. Bc. Kasasi 69 .841.780. 1. DKK Penyimpangan penyusunan Anggaran Belanja DPRD Jawa Rp.780.756.Tengah tahun 2003 Penyimpangan penyusunan Anggaran Belanja DPRD Jawa Rp.210. laut di Rp. 2. ETTY HERMIWATY DRS.841.PENANGANAN PERKARA KORUPSI PERIODE 2004 s/d 2009 TAHAP PENUNTUTAN NO 1. 14.811.200.Rp. 1.Rp.- Banding/ Eksekusi 3. DKK Kasasi 3.642. 4. 5. 45. JFM SUWANDI HARI PRABOWO. Penyimpangan pelaksanaan pengadaan kapal Departemen Kehakiman Propinsi Jawa Tengah KERUGIAN NEGARA laut di Rp.148.156. 1. IP.- Kasasi Kasasi Kasasi/ Eksekusi 1.840. DRA. MOCH.

285.811.Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah Kasasi 2. DRS.tahun 2003 Penyimpangan Semarang penyaluran bantuan beasiswa walikota Rp.Jateng Penyimpangan proyek pengadaan tanah untuk Balai Diklat Rp. 10.tahun 2003 Penyimpangan penyusunan rencana anggaran belanja DPRD Rp. DRS.285.811. 2. 84.160.DKK Kasasi 2006 1.000.Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah Penyimpangan proyek pengadaan tanah untuk Balai Diklat Rp. BUCHORI MUSLIM.000. MARDIJO PK/Eksekusi 8.DKK Kasasi 9.000. 14.000. 1. 6. 14.200. DKK Kasasi/Eksekusi 3.314. ASYROFI.000.000. DKK IBNU SUDJOKO Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Rp.300.489. 1. SH Penyimpangan dana Diklat Pengembangan SDM pada Bank Rp.50703 Tingkir Penyimpangan penyusunan rencana anggaran belanja DPRD Rp.4. 5. DKK DRS.200.Rp.642.515. WIRAWAN. Kasasi/Eksekusi 70 .000. ISMOYO.160. CHABIB THOHA.SUDJOKO.515.167.Jateng dengan cara menambah sales order BBM lebih besar dari jumlah pembayaran untuk SPBU 44. DKK FATURRAHMAN. 974.642. 2.200.200.- PK/Eksekusi PK/Eksekusi Kasasi/Eksekusi Penyimpangan pembelian BBM pada Pertamina UPMS IV Rp.- 7.

ST peralatan dan laboratorium Rp. 20.- Banding 5. MM Kasasi 2008 1.000.ST peralatan dan laboratorium Rp.SH. KUSRIN Penyimpangan bantuan kontigensi dari Pemkot Semarang di Rp. JOKO TRIWARDOYO.- Kasasi 6.000. DRS.000.000.000. US $ 5. SE.000. 1.360. Kota Semarang.MM Penyimpangan pemberian kredit dari Bank Jateng kepada PT.Kec.2007 1.000. US $ 5. FATURRAHMAN. WIDJIANTO.Kota Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Negeri Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang peralatan dan laboratorium Rp.600. SUGIHARTO peralatan dan laboratorium Rp.000.600. Mijen.Banding 2.360. DENY KRISWANTO. PRANTIYONO Kasasi 3.000.000 Tensindo Sedjati Kasasi 7.000.- Kasasi 4.836.DKK Penyimpangan pembayaran premi asuransi anggota DPRD Rp.360.000 Tensindo Sedjati Penyimpangan pemberian kredit dari Bank Jateng kepada PT. 1. 1. 1. DRS. (Penyidik Polwiltabes Semarang) Eksekusi 71 .000.360.000. KAMSURI. 1.

Ngaliyan. Poderejo Kec.000. HASYIM NGABDUL ROSYID Proses Persidangan Sumber : Kejaksaan Negeri Semarang 72 . 12.000.000. Semarang Barat. EDDY SUBAGYO Proses Persidangan 3. SH. AFFANDI.MM Melakukan pemerasan terhadap Paguyuban Angkutan Lintas Rp.Malam (PALM) untuk pengurusan ijin trayek.stimultan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungan rumah tangga miskin berbasis pemberdayaan masyarakat tahun 2008 pada pengaspalan jalan RT 03 RW 04 Kel.500.000. 50.000.bidang keagamaan tahun anggaran 2008 pada Mesjid At Taqwa Kel. Bongsari.2009 1. Tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan bantuan fasilitas dan Rp. Kota Semarang Tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan dana bantuan sosial Rp. 50. Kota Semarang Eksekusi 2. Kec.

Menurut Yunianto. Bagian Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Semarang. menurut Bima Suprayoga. Hal ini sudah dikatakan secara tersirat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 182 yang berbunyi : a. Desember 2009 44 73 . belum pernah diterapkan pembuktian terbalik di dalam proses persidangannya. Dari pasal ini dapat dilihat bahwa pembuktian terbalik dapat diterapkan pada saat pembelaan yang dilakukan oleh terdakwa di dalam argumentasi yang meringankan. memberikan tangkisan-tangkisan atau sanggahan atas tuntutan jaksa penuntut umum. Selanjutnya terdakwa atau penasehat hukum mengajukan pembelaannya yang dapat dijawab oleh penuntut umum.44 Terdakwa juga sebenarnya dapat menerapkan pembuktian mengenai dirinya di dalam pembelaan atas tuntutan jaksa penuntut umum. dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penuntut umum selalu mendapat giliran terakhir. penggunaan pembuktian terbalik diberikan jaksa penuntut umum pada saat penyidikan. Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai. penuntut umum mengajukan tuntutan pidana b. pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa yang merupakan kewajiban bagi hakim untuk memperkenankan terdakwa melakukan pembuktian sesuai dengan Pasal 37 dan 38 A dan B.Dari data penuntutan periode 2004-2009 yang dilakukan Kejaksaan Negeri Semarang. Namun telah diuraikan bahwa rumusan pasal 37 tidak menjelaskan mengenai prosedur dan cara Wawancara dengan Bima Suprayoga. Namun.

Dan di dalam penerapan formulasi pembuktian terbalik Wawancara dengan Yunianto. Namun sesuai rumusan Pasal 12B bahwa setiap kasus gratifikasi terhadap penyelanggara negara akan dianggap sebagai penyuapan karena itu belum pernah ditemukan kasus korupsi. Kewajiban pelaporan kekayaan tersebut merupakan salah satu sarana untuk mencegah terjadinya korupsi oleh penyelenggara negara. Padahal pembuktian terbalik tersebut hanya untuk ketentuan Pasal 12B yaitu gratifikasi. Oleh karena itu cara hakim di dalam menerapkan pembuktian terbalik dalam persidangan adalah ketika terdakwa menyangkal bahwa harta benda yang ada bukan dari hasil korupsi maka hakim harus memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk membuktikannya. pembuktian terbalik tersebut belum pernah diterapkan. Namun sejauh ini. Aplikasi tentang pembuktian terbalik yang dilakukan oleh penyelenggara negara hanya sebatas melakukan pemeriksaan administrastif atas Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LKHPN) sesuai dengan ketentuan Pasal 37A kepada Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai kewajiban agar apabila terjadi korupsi.45 Kendala-Kendala Dalam Menerapkan Pembuktian Terbalik Dari hasil wawancara penulis dengan Rasamala Aritonang anggota Biro Hukum KPK kendala yang menyebabkan belum diterapkannya pembuktian terbalik karena belum ditemukannya kasus gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.terdakwa dalam melakukan pembuktian tersebut. maka Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mempunyai alat bukti yang kuat. Hakim Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri Semarang. Februari 2010 45 74 .

Dalam belum kasus pernah gratifikasi yang mempunyai karena sulit ketidaksinkronan juga diterapkan.yang berkaitan dengan kepemilikan harta. 37A dan 38B UU No.47 Kedua. ditemukan ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma pembuktian terbalik dalam rumusan pasal gratifikasi karena seluruh bagian inti delik disebut sehingga yang tersisa untuk dibuktikan sebaliknya tidak ada. relatif akan sulit untuk membuktikan secara negatif ketidakbersalahannya melakukan tindak pidana Wawancara dengan Rasamala Aritonang.46 Konkretnya apabila pembuktian terbalik akan diminta untuk diterapkan. Pasal 37. terdapat beberapa kendala di dalam menerapkan pembuktian terbalik tersebut.Cit. Biro Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain kendala di atas. 31 Tahun 1999 jo UU No. 15 Januari 2010 47 LIlik Mulyadi. membedakan apakah perkara tersebut memenuhi unsur delik gratifikasi atau delik penyuapan. tersebut. hal 185 46 75 . KPK secara formil tidak mempunyai kewajiban. kemungkinan ada kendala substansial yang memicu problematik yuridis apakah benar ketentuan UU Tindak Pidana Korupsi Indonesia (Pasal 12B. apabila terdakwa dan atau penasehat hukumnya akan mempergunakan haknya melakukan pembuktian terbalik. yaitu : Pertama. Op. Konsekuensi logis demikian menimbulkan asumsi bahwa pembuktian terbalik relatif ada dalam kebijakan formulasi namun tidak ada dan tidak dapat diterapkan dalam kebijakan aplikasi. 20 Tahun 2001) menganut pembuktian terbalik karena terkendala adanya ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma di dalamnya.

48 Perumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi sebenarnya ditujukan dalam rangka pengembalian uang atau aset negara (asset recovery).49 Dalam wawancara penulis dengan Bima Suprayoga. pola pembuktian terbalik yang diterapkan lebih kepada aspek kepemilikan harta dari si terdakwa. Pembuktian terbalik tersebut mulai dilakukan didalam proses penyidikan yang dilakukan oleh jaksa. Op. Jaksa sebagai penyidik meminta tersangka atau terdakwa kasus korupsi untuk memberikan keterangan terkait dengan perkaranya.Cit Ibid 76 . Oleh karena itu. Di samping itu.korupsi dikarenakan adanya kelemahan dalam mengumpulkan alat bukti karena aspek administrasi yang kurang tertata rapi. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 52 KUHAP yang menyebutkan dalam pemeriksaan pada tingkat 48 49 Wawancara dengan Bima Suprayoga. korelasi dengan aspek korupsi yang tidak bersifat sendirian . Ketiga. beliau menyatakan bahwa pembuktian mengenai harta kekayaan dan kesalahan terdakwa yang dilakukan oleh pihak terdakwa sudah dilakukan. tetapi dilakukan oleh beberapa orang relatif tidak mungkin untuk mendapatkan bukti-bukti guna mendukung ketidakbersalahan seorang pelaku melakukan tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi terhadap Pasal 37 yang seharusnya diberitahukan oleh penasihat hukum dari terdakwa. Namun hal tersebut tidak ada perbedaan dengan KUHAP mengenai hak terdakwa untuk memberikan keterangan mengenai yang didakwakan terhadapnya. terkadang terdakwa tidak mengetahui bahwa dia mempunyai hak untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.

50 Hal ini berbeda dengan ketentuan Pasal 66 KUHAP yang menyebutkan bahwa tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. jadi hanya terdakwa yang berhak membuktikan dakwaan sedangkan Jaksa Penuntut Umum tidak perlu membuktikan dakwaannya. Namun kendala yang dihadapi oleh jaksa sebagai penyidik yaitu terdakwa tidak mau berterus terang mengenai keterangan yang dia berikan termasuk keterangan mengenai kepemilikan harta terdakwa dalam perkara korupsi. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim. Tidak total dan masih terbatas maksudnya masih terdapat pembagian pembuktian di dalam membuktikan dakwaan penuntut umum. alasan belum diterapkannya pembuktian terbalik tersebut. Pembuktian terbalik tersebut bisa efektif diterapkan apabila undang-undang jelas merumuskan pembuktian terbalik tersebut secara mutlak. 50 Ibid 77 . menurut beliau. karena undang-undang merumuskannya tidak total dan masih terbatas. Selain itu perlu ditingkatkan kualitas sumber daya aparat penegak hukumnya dalam pemahaman akan penggunaan pembuktian terbalik di dalam penanganan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu. Kondisi terdakwa dikatakan sudah menggunakan pembuktian pada saat terdakwa memberikan keterangan di penyidikan atau melampirkannya dalam setiap pembelaan yang terdakwa lakukan di dalam proses persidangan.penyidikan dan pengadilan.

Ketentuan di dalam rancangan undang-undang ini telah merumuskan secara jelas bahwa pembuktian terbalik berlaku terhadap tindak pidana korupsi menurut Pasal 9 dan Pasal 15. terdapat batasan dan rumusan yang kurang jelas mengenai formulasi pembuktian terbalik tersebut. Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik Di Masa Mendatang 1. Dalam rancangan undang-undang tindak pidana korupsi yang diajukan oleh Koalisi Pemantau Peradilan terdapat rumusan tentang pembuktian terbalik. kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik di dalam undang-undang tindak pidana korupsi dapat merumuskan mengenai pembuktian terbalik secara lengkap serta memiliki batasan yang jelas. Di dalam ketentuan Pasal 49 RUU Tipikor tersebut disebutkan bahwa : (1) Pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan terhadap tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pasal 9 dan pasal 15 (2) Pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan pada tahap pemeriksaan pendahuluan atau pada tahap pemeriksaan alat bukti di persidangan Berdasarkan ketentuan pasal ini. Oleh karena itu. 78 .B. maka berbeda dengan Undang-Undang No. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Apabila dikaji dari setiap undang-undang yang sedang atau pernah berlaku di Indonesia.20 tahun 2001 yang membedakan pengertian pembuktian terbalik ke dalam dua pengertian.

00 (satu miliar rupiah) a.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1. b. Apabila dianalisis. bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.Tindak pidana korupsi yang dimaksud dalam pasal 9 menyebutkan bahwa : (1) Dipidana dengan penjara paling singkat 2 tahun 6 bulan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000. Pejabat publik yang menerima hadiah. maka 79 . yang bertentangan dengan kewajibannya.000. (4) Pelaporan gratifikasi yang dilakukan oleh penerima gratifikasi tidak menghapuskan kewenangan penuntutan terhadap pemberi gratifikasi. (2) Setiap gratifikasi yang diterima oleh pejabat publik dianggap sebagai penerimaan suap dengan ancaman pidana yang sama dengan ayat 1. (3) Ketentuan ayat (2) tidak berlaku jika dalam waktu selama-lamanya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya gratifikasi tersebut penerima melaporkan dan menyerahkan gratifikasi tersebut kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk ditentukan apakah gratifikasi tersebut dapat menjadi milik penerima atau menjadi milik negara. kecuali apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa penerimaan gratifikasi tersebut tidak berkaitan dengan kekuasaan atau kewenangannya yang berhubungan dengan jabatannya. Pejabat publik yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga. Di dalam penjelasan Pasal 9 ayat (2) RUU Tipikor tersebut jelas disebutkan bahwa ketentuan ini merupakan ketentuan mengenai pembalikan beban pembuktian yang dirumuskan di dalam pasal 49.000. Setiap gratifikasi akan dianggap sebagai penyuapan apabila terdakwa bisa membuktikan bahwa gratifikasi tersebut tidak ada hubungannya dengan kekuasaan atau kewenangannya yang berhubungan dengan jabatannya. c. (5) Ketentuan mengenai tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud ayat (3) diatur dalam Undang-Undang yang mengatur tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pejabat publik yang menerima hadiah atau janji. padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya.000. atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) (2) Kekayaan yang diperoleh dari pendapatan yang tidak sah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dirampas untuk negara. Hal ini berbeda dengan rumusan pasal 12B UU No.000. Hal ini terkait dengan akibat yang ditimbulkan karena dilakukannya tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara.rumusan mengenai pembuktian terbalik jelas bahwa pembuktian gratifikasi hanya dilakukan oleh terdakwa sebagai penerima gratifikasi sedangkan jaksa penuntut umum tidak mempunyai hak untuk membuktikan. Oleh karena itu.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 350.000. Dalam penjelasan pasal 15 tersebut menjelaskan bahwa ketentuan ini merupakan penerapan atas asas pembalikan beban pembuktian yang diatur dalam Pasal 49 RUU ini.000. Dan yang dimaksud dengan kekayaannya termasuk juga kekayaan istri atau suami dan anak yang berasal dari terdakwa. Tindak Pidana korupsi yang diatur dalam Pasal 5 RUU Tipikor menyebutkan bahwa : (1) Pejabat publik yang memiliki peningkatan kekayaan yang tidak seimbang dengan pendapatannya secara sah dipidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 8 tahun dan atau denda 100. 80 . katakata redaksional mengenai kekayaan yang tidak seimbang dengan pendapatannya adalah apabila terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa setiap kekayaan yang dia miliki berasal dari pendapatannya atau dari setiap tunjangan atas prestasinya dan jabatannya maka terdakwa dianggap telah melakukan korupsi dan akan dipidana. 20 Tahun 2001 bahwa setiap penerimaan gratifikasi yang nilainya dibawah 10 juta rupiah dilakukan oleh penuntut umum.000. setiap harta yang diperoleh bukan dari pendapatannya akan dikembalikan kepada negara. Selain itu.

Menurut Rasamala Aritonang. sedangkan aspek kesalahannya tidak dijelaskan. Namun. lebih difokuskan terhadap pengembalian keuangan negara dan kepemilikan harta.Jadi. cit 81 . Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang juga terdapat dalam rancangan undang-undang pengadilan tindak pidana korupsi. berdasarkan ketentuan pasal 49 ayat (1) RUU Tipikor tersebut menjelaskan bahwa pembalikan beban pembuktian dilakukan hanya terdapat perkara gratifikasi dan ketidakseimbangan antara pendapatan dan kekayaan yang dimiliki oleh pejabat publik. rumusan kapan diterapkannya pembalikan beban pembuktian juga jelas di dalam ayat (2) bahwa pembuktian terbalik dilakukan pada saat pemeriksaan pendahuluan dan pada saat tahap pemeriksaan alat bukti. Selain itu. Di dalam isi 51 Wawancara dengan Rasamala Aritonang. Op. kebijakan formulasi terhadap pasal-pasal yang menggunakan pembuktian terbalik.51 2. Hal ini jelas lebih baik dari pengaturan undang-undang tindak pidana korupsi saat ini yang tidak ditentukan mengenai kapan mulai diterapkan pembuktian terbalik tersebut. sangatlah perlu dirumuskan secara eksplisit mengenai waktu penerapan dari pembuktian terbalik karena ketidakjelasan mengenai kapan mulai digunakan hak tersebut juga menjadi kendala sampai saat ini sehingga pembuktian terbalik tersebut belum pernah diterapkan.

diterima. dokumen. yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat. Tidak adanya salah satu unsur pembuktian tersebut akan menyebabkan putusan hakim menjadi batal demi hukum. benda fisik apapun selain kertas. dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. Proses pembuktian di persidangan dilakukan dengan sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut di dalam hukum acara pidana yaitu sistem pembuktian negative wettelijk bewjis theory. dibaca. yang berupa tulisan. maka harus diakomodir dengan dirumuskannya ketentuan Pasal 52 RUU Pengadilan Tipikor bahwa alat bukti yang tidak hanya telah diatur dalam Hukum Acara Pidana yang berlaku. Putusan bersalah atau tidak seorang terdakwa didasarkan pada hasil pembuktian di persidangan. Minimum dua alat bukti dan keyakinan hakim merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Teori sistem pembuktian tersebut mensyaratkan hakim untuk menjatuhkan pidana berdasarkan alat bukti yang telah ditentukan oleh Undang-Undang disertai dengan keyakinan hakim. 82 . Hukum acara pidana yang berlaku mensyaratkan minimum dua alat bukti sebagai dasar bagi hakim untuk memperoleh keyakinan bahwa seorang terdakwa bersalah atau tidak. Namun demikian. dikirim. tetapi alat bukti lain yang meliputi: informasi yang diucapkan. maupun yang terekam secara elektronik. baik yang tertuang diatas kertas.naskah akademik dijelaskan bahwa proses persidangan yang panjang dan memakan waktu lama akan berakhir dengan pembacaan putusan oleh majelis hakim. mengingat tindak pidana korupsi yang semakin canggih.

dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan. Beban pembuktian secara terbalik. angka. atau porforasi yang memiliki makna. foto. harta benda tersebut dianggap diperoleh dari tindak pidana korupsi dan hakim berwenang memutuskan seluruh atau sebagian harta benda tersebut dirampas untuk negara. rancangan. gambar. pada dasarnya bertentangan dengan asas kesalahan yang dianut dalam sistem hukum pembuktian yang mengacu pada kewajiban jaksa penuntut umum yang harus membuktikan kesalahan terdakwa. yang diserahkan kepada seorang terdakwa. Kebijakan formulasi tersebut dirumuskan untuk memudahkan pembuktian dan mendukung kelancaran penyelesaian perkara korupsi. (2) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda isteri atau suami. Walaupun demikian di beberapa negara. sehingga perlu diakomodir sistem pembuktian terbalik (reverse of burden proof) dimana ketentuan ini diatur dalam Pasal 54 RUU Pengadilan Tipikor yang menyebutkan bahwa: (1) Terdakwa berhak membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan tindak pidana korupsi. khususnya dalam 83 . huruf. anak. termasuk Indonesia telah diambil kebijakan hukum. (3) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta benda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperoleh bukan sebagai hasil tindak pidana korupsi. tanda. peta.suara.

Dimana. dan illicit enrichment dapat menggunakan pembuktian semacam ini. hakim wajib memasukkan dalam pertimbangan hukumnya dan menyatakan terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum. 84 . agar untuk tindak pidana korupsi tertentu digunakan ketentuan bahwa beban pembuktian diserahkan kepada tersangka/ terdakwa. Kesempatan tersebut dapat diberikan kepada tersangka/terdakwa dalam pemeriksaan pendahuluan atau dalam persidangan sebelum tuntutan jaksa penuntut umum dibacakan. Kepada tersangka/terdakwa diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa keuntungan/kekayaan yang diperoleh bukan berasal dari gratifikasi. suap atau perolehan yang tidak sah. Jika hal itu terjadi dalam pemeriksaan pendahuluan. Jenis tindak pidana korupsi tertentu.pemberantasan tindak pidana korupsi. suap. suap serta perolehan harta kekayaan yang tidak sah. maka putusan akan berbunyi : dakwaan jaksa penuntut umum tidak dapat diterima. Hal ini diperlukan hanya untuk memudahkan pembuktian. yakni : gratifikasi. Selain itu dirumuskan juga mengenai kapan pembuktian terbalik tersebut diterapkan yaitu pada saat pemeriksaan pendahuluan. Jika tersangka/terdakwa dapat membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan hal-hal seperti yang didakwakan. Hal ini serupa dengan yang diatur dalam rancangan undang-undang tindak pidana korupsi di masa yang akan datang. Penjelasan mengenai kebijakan formulasi pembuktian terbalik tersebut memberikan batasan yang jelas mengenai aplikasi pembuktian terbalik tersebut. pembuktian terbalik tersebut berlaku hanya untuk tindak pidana gratifikasi.

atau ditawarkan sebagai suatu bujukan atau hadiah untuk suatu atau karena hal yang dinyatakan khusus dalam delik itu. 11. hal. Perbandingan Pemberantasan Korupsi. didapatkan. Meskipun hanya menyangkut pemberian (gratification). or attemped to be abtained. 13. (Jakarta : Sinar Grafika. hanya ditemukan di dalam Pasal 42 yang mengatur tentang pembuktian (evidence). atau setuju untuk diberikan. atau 15. telah dibuktikan bahwa suatu pemberian (gratification) telah diterima atau setuju untuk diterima. 53 85 . 14.3. 14. diberikan atau setuju untuk diberikan dijanjikan. obtained or attempted to be obtained. atau dicoba untuk diperoleh. didapat. unless the contrary is proved. 13. diperoleh. kecuali dibuktikan sebaliknya. Pasal tersebut berbunyi : “Where in any proceedings against any person for an offence under section 10. or 15 it is proved that any gratification has been accepted or agreed to be accepted.”52 Apabila diartikan maka pada setiap proses terhadap setiap orang yang didakwa melanggar Pasal 10. promised or offered by or to the accused. given or agreed to be given. diberikan. 52 Andi Hamzah. 2005). solicited. diperoleh atau dicoba untuk diperoleh. solicited. Formulasi Pembuktian Terbalik Di Beberapa Negara a) Negara Malaysia Pembalikan beban pembuktian secara tegas. promised. atau ditawarkan oleh atau kepada terdakwa maka pemberian itu dianggap secara korup telah diterima atau setuju untuk diterima. or offered as an inducement or a reward for or on account of the matters set out in the particulars of the offence. dijanjikan. given or agreed to be given. obtained. the gratification shall be presumed to have been corruptly accepted or agreed to be accepted. 11.

163. it is proved that such person has accepted or agreed to accept. Rumusan kata-kata “…hal-hal yang dinyatakan secara khusus dalam delik itu…” adalah bagian dari inti delik (bestanddelen) yang harus dibuktikan oleh penuntut umum. telah dibuktikan bahwa orang itu telah menerima atau setuju menerima atau memperoleh atau mencoba untuk memperoleh suatu pemberian (gratification). Pada ayat (2) Pasal 42 ACA dinyatakan. 162. Lengkapnya berbunyi: “Where in any proceedings against any person for an offence under section 161. menjadi tidak usah dibuktikan tetapi terdakwalah yang membuktikan. maka orang itu dianggap telah melakukan perbuatan demikian sebagai motif atau hadiah atas hal-hal yang dinyatakan secara khusus dalam delik itu. unless the contraty is proved. bahwa 53 Ibid. such person shall be presumed to have done so as motive or reward for the matters set out in the particulars of the offence. atau 164 KUHP. 54 86 .Di dalam rumusan ini ternyata bahwa pembuktian terbalik berlaku bagi penerima (passieve omkoping) dan pemberi (actieve omkoping) dengan kata-kata “…by or to the accused…” (oleh atau kepada terdakwa). Hal ini tentu berbeda dengan kebijakan formulasi di Indonesia bahwa di dalam gratifikasi diterapkan pembuktian terbalik yang berimbang. or obtained or attempted to obtain any gratification. or 164 of the Penal Code.”53 Apabila diartikan maka pada semua proses terhadap semua orang yang didakwa melanggar Pasal 161. kecuali dibuktikan sebaliknya. hal. bahwa ketentuan tentang pembuktian terbalik berlaku juga bagi delik suap di dalam Penal Code (KUHP).

dan 1991). Di dalam PCA diatur pembalikan beban pembuktian tetapi lain dari Malaysia yang mencantumkannya pada bagian acara (pembuktian). 1989. b) Negara Singapura Singapura tergolong negara kecil dan paling kecil kasus korupsinya namun tetap menciptakan badan antikorupsi yang disebut CPIB (Corrupt Practices Investigation Bureau). Singapura membentuk komisi pemberantasan korupsi dipicu dengan kenyataan ekonominya yang tertumpu sebagai perantara dagang antara negara tetangganya dengan negara luar. Undang-undang anti korupsinya pun sudah ada sejak tahun 1960. 1972. Undang-undang ini telah berkali-kali diamandemen (tahun 1963.gratifikasi lebih dari 10 juta harus dibuktikan oleh terdakwa sebagai penerima gratifikasi sedangkan gratifikasi kurang dari 10 juta dibuktikan oleh penuntut umum. that gratification shall be deemed to have been paid or given and received corruptly as an 87 . 1966. yang tercantum di dalam Pasal 8 PCA yang berbunyi : Where in any proceedings against a person for an offence under section 5 or 6 it is proved that any gratification has been paid or given to or received by a person in the employment of the Government or any department there of or any public body. Singapura menjadikannya bagian dari rumusan delik. Undang-undang tersebut memuat hukum pidana materil dan hukum acara pidana. 1981. Adapun rumusan delik umumnya diambil dari KUHP-nya tanpa diubah sanksinya menjadi lebih berat seperti halnya Indonesia. Nama resmi undang-undangnya adalah Prevention of Corruption Act disebut PCA.

yang berarti pemberian oleh seseorang kepada pejabat pemerintah yang mencari kontak dengan pemerintah atau departemen atau badan publik. 65 www. karena seseorang yang berada dalam posisi demikian dinyatakan bersalah melakukan korupsi. Kalau ia tidak dapat membuktikan. ia dinyatakan terbukti 54 55 Ibid. kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Setiap pemberian akan dianggap sebagai suap apabila terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa pemberian tersebut bukan suap.com 88 . hal.”55 Jelas ketentuan ini menganut pembuktian terbalik. yaitu membuktikan kekayaan yang dimilikinya diperoleh secara sah. terdapat kebijakan formulasi dalam undang-undang negara Singapura hampir sama dengan kebijakan formulasi yang dirumuskan di Indonesia.inducement or reward as here in before mentioned unless the contrary is proved. dianggap suap sampai dibuktikan sebaliknya.54 Dapat diartikan bahwa yang berkaitan dengan pemerintah.google. akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran kecuali kalau ia dapat memberikan suatu penjelasan yang memuaskan kepada pengadilan mengenai bagaimana ia mampu memperoleh standar hidup yang demikian itu dapat ia dikuasai. c) Negara Hongkong Pembuktian terbalik juga sudah dilaksanakan di Hongkong yang tertera dalam Prevention of Bribery Ordinance 1970 Pasal 10 (1b) yang berbunyi: “ Mengenai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak seimbang dengan gajinya pada saat ini atau pendapatan resmi pada masa lalu. Apabila dikaji.

melakukan korupsi. Hal ini berbeda dengan yang berlaku di Indonesia, dimana apabila terdakwa tidak dapat membuktikan apakah dia bersalah atau tidak, jaksa penuntut umum masih mempunyai kewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Jadi tidak seperti Hongkong yang menggunakan pembuktian terbalik mutlak, Indonesia menggunakan pembuktian terbalik berimbang. Penggunaan pembuktian terbalik yang mutlak mengakibatkan korupsi di negara Hongkong semakin mudah untuk diberantas. Dari uraian di atas, dapat dilihat terdapat banyak kekurangan terhadap kebijakan formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi. Hal ini semakin terlihat jelas ketika kebijakan aplikasinya belum ada. Kalau berkaca dari kebijakan formulasi di negara Hongkong, maka kebijakan formulasi pembuktian terbalik di masa yang akan datang perlu dirumuskan secara jelas dan tegas mengenai pembuktian terbalik itu sendiri. Apabila melihat kondisi negara Indonesia dengan tindak pidana korupsi yang semakin merajalela, maka perlu diterapkan suatu usaha yang luar biasa yaitu dengan menggunakan pembuktian terbalik yang mutlak seperti yang sudah diterapkan oleh negara Hongkong.

89

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Kebijakan Hukum Pidana terhadap Formulasi serta Aplikasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi Saat Ini Pengaturan tindak pidana korupsi dimulai dari Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang secara eksplisit sudah mengatur mengenai pembuktian terbalik yaitu di dalam Pasal 17. Dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga mengatur mengenai pembuktian terbalik yaitu di dalam Pasal 37. Namun kebijakan di dalam formulasi pembuktian terbalik tersebut belum bisa mewakili keadaan dan situasi dalam penanganan tindak pidana korupsi saat itu dimana korupsi termasuk kejahatan luar biasa yang sudah merugikan keuangan negara. Dikeluarkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memberikan arah kebijakan yang lebih jelas dibandingkan undang-undang sebelumnya yaitu dengan adanya penyempurnaan

formulasi pembuktian terbalik. Formulasi pembuktian terbalik di bagi ke dalam dua pengertian yaitu secara luas dan sempit. Pembuktian Terbalik

90

secara luas terdapat di dalam pasal 37 dan 38B. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa setiap terdakwa yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi memiliki hak untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan hasil kekayaannya bukan berasal dari tindak pidana korupsi. Sedangkan pembuktian terbalik secara sempit yaitu terdapat dalam Pasal 12B yang menyebutkan bahwa pembuktian terbalik dilakukan oleh terdakwa yang didakwa menerima gratifikasi di atas sepuluh juta rupiah. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik saat ini sudah cukup efektif dalam menangani tindak pidana korupsi walaupun masih terdapat ketidakjelasan dalam perumusannya. Ketidakjelasan dalam formulasi pembuktian terbalik tersebut mengakibatkan kesulitan dalam menerapkan pembuktian terbalik tersebut. Dalam tataran aplikasi menurut ketentuan Undang-Undang No. 20 TAhun 2001, pembuktian terbalik belum pernah diterapkan. Hal ini disebabkan karena: a. ada ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan pembuktian terbalik dalam perkara gratifikasi b. Terdakwa dan penasehat hukumnya akan kesulitan didalam

mengumpulkan alat bukti karena aspek administrasi yang kurang tertata rapi. c. Terdakwa tidak mengetahui bahwa ia mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah

91

Apabila terdakwa berhasil membuktikan maka terdakwa akan bebas dari setiap dakwaan yang dituduhkan kepadanya sehingga aturan hukum seperti ini sudah lebih 92 . tata cara serta prosedur di dalam melakukan pembuktian terbalik. Tidak dirumuskannya secara jelas mengenai kapan. syarat. Dengan adanya kendala-kendala di atas. 2. Dalam rancangan itu secara jelas dirumuskan mengenai kapan diterapkannya pembuktian terbalik. menyebabkan pembuktian terbalik hanya ada di dalam kebijakan formulasi namun tidak ada dalam kebijakan aplikasinya. Dalam menentukan kebijakan tersebut perlu melihat kekurangan dari undangundang yang berlaku saat ini antara lain mengenai kapan. Hal ini bisa diwujudkan dengan menentukan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang. serta prosedur dalam melaksanakan pembuktian terbalik tersebut. Kebijakan Hukum Pidana terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang Kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang diharapkan dapat mewakili keadaan atau situasi negara dalam menghadapi tindak pidana korupsi dimana tindak pidana korupsi merupakan suatu kejahatan luar biasa yang memerlukan upaya yang luar biasa juga. Dalam Rancangan undang-undang tindak pidana korupsi pembuktian terbalik serta rancangan undang-undang pengadilan tindak pidana korupsi sudah lebih baik dan jelas khususnya formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang.d.

Singapura serta Hongkong maka Hongkong adalah negara yang telah berhasil di dalam menerapkan pembuktian terbalik sebagai sarana dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. 2. Mengingat keberadaan 93 . Apabila dibandingkan dengan formulasi pembuktian terbalik di negara Malaysia. para penegak hukum harus memahami rumusan pembuktian terbalik tersebut sehinngga mampu memberikan pemahaman kepada terdakwa kasus korupsi sehingga pasal pembuktian terbalik tersebut bisa diterapkan.sesuai dengan kondisi negara Indonesia yang banyak dengan tindak pidana korupsi. Menurut penulis. batasan dan kapan berlakunya pembuktian terbalik tersebut sehingga pembuktian terbalik dapat diterapkan. B. 3. SARAN Saran yang dapat dianjurkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah : 1. Dalam menentukan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian yang akan datang sebelumnya perlu dilakukan kajian mengenai pembuktian terbalik di negara Hongkong yang telah berhasil menerapkan pembuktian terbalik secara efektif yang berdampak tindak pidana korupsi di negara tersebut berhasil diatasi. Kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik yang akan datang diharapkan dapat dirumuskan lebih jelas lagi di dalam redaksionalnya mengenai pengertian.

94 .korupsi di negara Indonesia yang masih sulit diatasi dan telah menimbulkan kerugian yang besar terhadap negara maka kajian tersebut dapat digunakan untuk merumuskan peraturan perundang-undangan yang lebih jelas sehingga dapat diterapkan dengan mudah.

2008) Barda Nawawi Arief. (Bandung : Alumni. 2006) Indriyanto Seno Adji. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. 2001) Indriyanto Seno Adji. (Bandung : Citra Aditya Bakti. SH & Rekan. Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian. 1968) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2001) Dari S. Nasution. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. (Bandung : Citra Aditya Bakti. SH & Rekan”. 1994) Barda Nawawi Arief. 1998) Barda Nawawi Arief. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. 2001) Lilik Mulyadi. (Jakarta : Kencana. (Jakarta : Sinar Grafika. Metode Penelitian Naturalistik. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. (Bandung: PT. Perbandingan Pemberantasan Korupsi. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. (Jakarta : Balai Pustaka) Evi Hartanti. Tarsito. (Semarang : UNDIP. (Jakarta : Sinar Grafika. Tindak Pidana Korupsi. 2007) 95 . Pembalikan Beban Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. 2005) Barda Nawawi Arief.DAFTAR PUSTAKA BUKU Andi Hamzah.

2004) W. 1990) Sukardi. Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi UU No. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. 2005) M. (Bandung : Alumni. (Hasta. Hukum Pidana I. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 20 Tahun 2001. (Balai Pustaka. 2006) Sudarto. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia. 2005) Rianto Adi. 2004) Soerjono Soekanto. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan. 2009) Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief. (Semarang : Yayasan Sudarto.Martiman Prodjohamidjojo. Bandung) W. (Jakarta : Sinar Grafika. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Pengantar Penelitian Hukum. Kasasi dan Peninjauan Kembali. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Indonesia-Inggris. (Bandung : Mandar Maju. Poerwadarminta. Banding. (Jakarta : Bumi Aksara. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 96 . 1976) PERUNDANG-UNDANGAN Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. FH Undip. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. Yahya Harahap. Penelitian Hukum Normatif.S. Poerwadarminta.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta : Granit.J.J.

8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi INTERNET www.Undang-Undang No.com LAPORAN Laporan Penuntutan Kejaksaan Negeri Semarang Laporan Tahunan KPK Tahun 2004-2008 97 .google.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->