Tangisan Karbala adalah Sunnah Rasul saw

(Dalam Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah)

Pendahuluan Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dihitung dalam batas pengetahuan manusia. Kenikmatan itu meliputi berbagai macam dimensi di dalam kehidupan manusia baik itu yang berupa materi maupun ruhani. luapan perasaan, baik itu sedih dan senang serta cinta merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya kita bisa merasakan kesenangan ketika kita mendapatkan berita yang memberikan bunga di taman hati , begitu juga betapa indahnya ketika hati hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari. Tak bisa kita bayangkan apabila kita sedikitpun tidak bisa merasakan kesedihan. Mungkin hati kita seperti batu yang tak bisa merasakan kesedihan dan mata kita seperti padang tandus yang tak bisa mencucurkan air mata. Sungguh Tuhan telah memberikan kenikmatan ini untuk sekalian manusia, bukanlah maksud tuhan memberikan kenikmatan tersebut untuk sesuatu yang tidak berfaedah, tetapi tentunya kenikmatan diciptakan untuk faedah bagi manusia, baik itu faedah psikologi manusia maupun faedah yang lainnya misalnya tumbuhnya rasa simpatik dan kebersamaan diantara manusia yang bisa merasakan bagaimana sedih dan pedih, apalagi kita bersedih meratapi manusia yang mulia. Sehingga dengan merasakan sifat kemanusiaan yang sama di setiap zaman dan masa kita bisa menemukan titik persamaan yang tidak terbatas atau dibatasi dengan sekat keyakinan atau mazhab tertentu. Pembantaian Karbala bukanlah khabar yang baru kita dengar. Peristiwa tersebut selalu menyayat hati seluruh manusia yang memiliki kepedulian akan kemuliaan, penghormatan akan kesucian, dan kecintaan akan kerasulan. Kesedihan terhadap peristiwa di padang Karbala bukan hanya musibah bagi kaum syiah - dimana memiliki perhatian yang khusus dan serius terhadap Karbala sebagai salah satu corong pembuka kebenaran dan menerangi keyakinan akidah, serta ajaran mereka- akan tetapi sebenarnya ini juga merupakan musibah bagi seluruh manusia di dunia khususnya kaum muslim. Tak ada seorangpun-yang memiliki akal sehat- membenarkan pembantaian yang tak berprikemanusiaan kepada orang lain yang tak berdosa. Kita bisa ambil contoh tak ada seorangpun yang tega menelantarkan bahkan membiarkan cucu kita terbunuh dan dihinakan oleh orang lain, apalagi kita sebagai umat Islam tak mungkin kita rela dan acuh-tak acuh melihat dan mendengar peristiwa pembantai cucu dari rasulullah saw. Tak ada satupun dalil akliah, naqliah yang membenarkan pembantaian tersebut bahkan perasaan kitapun bisa menyalahkan perlakuan keji tersebut. Dalil-dalil mengenai tangisan dan anjuran padanya untuk Al-Husein sebagai bukti kesedihan kita terdapat dalam berbagai sumber kitab hadits dan tarikh yang ada, baik di kalangan suni ataupun di syiah. Dan disini saya mencoba menguraikan bagaimana rasulullah saw melaksanakan majelis

”1 Di dalam hadits tersebut bisa kita pahami bahwa bahwa tangisan untuk orang yang dikasihinya adalah sebuah kebaikan dan rahmah. Kalimat ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ ‫ ولكن حملزة ل بلواك َ لله‬mengandung arti lain “jangan lupa juga menangisi Hamzah” dan disini . Serta majelis karbala bisa menjadi momen bersama dalam mempelajari sejarah dan menegakkan kebenaran sebagai bagian dari tugas bersama umat Islam tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kemazhaban. Tangisan Adalah Sunnah Rasul saw Sedih dan bersedih serta meratapi orang-orang dekat dan mulia merupakan perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah ?” dan bersabda : “Wahai Ibn ‘Auf sesungguhnya (tangisan itu) adalah rahmah” dalam sabda lainnya beliau menjelaskan : َ ُ ُ ْ َ َ ُ ِ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ِ ّ َِ َ ّ َ َ ْ َ َ ّ ِ ُ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ ّ ِ ‫إن العين تدمع ، والقلب يحزن ، ول نقول إل ما يرضى ربنا ، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون‬ “Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata. Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan). seperti yang ditulis di berbagai kitab hadits (suni maupun syiah). dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikarenakan perpisahanku dengan Ibrahim (putraku). rasul saw meluapkan isi hatinya dengan menangis seperti yang ditulis dalam Bukhari dan muslim2 . Ketika itu rasulullah saw mencucurkan air matanya dan berkatalah Sa’ad padanya : Apakah itu Ya. bahwa ketika kembalinya rasulullah saw dari perang uhud dan beliau melihat para wanita Anshar menangisi suaminya yang terbunuh di perang Uhud. Meratapi kesedihan orang-orang mulia bukan hanya fitrah manusia akan tetapi anjuran juga dari pihak rasulullah saw bagi mukminin dan mukminat seperti yang tertulis dalam musnad Ahmad bin Hanbal3 . seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf .dan melawan segala kezaliman. Sehingga diharapkan majelis Karbala menjadi pengingat akan peristiwa kesedihan umat Islam pada umumnya dan menjadi pemersatu bagi umat Islam dalam membela kebenaran –seperti yang dilakukan oleh Imam Husein. dan hati bersedih. Dan juga ketika meninggalnya salah satu dari putri kesayangan beliau. dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”. Seperti halnya Rasulullah saw menangisi dan meratapi putranya Ibrahim..karbala tersebut khusus dalam kitab-kitab ahlussunnah. lalu bersabdalah Rasulullah saw : ‫[ ولكن حمزة ل بواك َ له‬Akan tetapi tak ada (seorangpun) tangisan bagi hamzah(paman rasul ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ saww yang setia dalam setiap perjuangan)] setelah itu mereka terdiam kemudian mereka menangis lagi. dan tangisan itu adalah untuk meratapi hamzah (bukan yang lainnya).. dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keridhoan Allah. Rasulullah? َ َ َ ّ ‫َ ِ ِ َ ْ َ ٌ َ ََ َ ّ ِ ُُ ِ ِ َ ِ ِ َِ ّ َ َ ْ َم ّ ِ ْ ِ َ ِه‬ ‫هذه رحمة جعلها ال فى قلوب عباده ، وإنما يرح ُ ال من عباد ِ الرحماء‬ ُ ُ “Air mata ini adalah rahmah. dia berkata : “Dan Anda Ya.

akan tetapi terjadi pula pada rasul saw. Bisa kita lihat pada kisah tangisan Nabi Ya’qub as ketika hilangnya putra kesayangannya Nabi yusuf as6 bahkan dalam tafsir Al-Kasysyaaf disebutkan bahwa menangisnya nabi Ya’qub as selama 80 tahun lamanya. Seperti halnya tangisan Sayyidah Zahra ra atas kematian Ja’far ra (manusia mulia) . من يبك عليه يعذب‬yang artinya Sesungguhna Mayyit akan disiksa dengan ّ َ ُ ِ ْ ََ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ََ َ ِ َ ِ ْ َ ِ ّ َ ُ tangisan keluarganya. يعذب في قبره بما نيح عليه. dimana pada saat itu para wanita menangisi kematian putri rasulullah saw Raqiah .mengandung makna anjuran untuk menangisi pahlawan Islam serta celaan bagi yang meninggalkannya. ببكاء الحي‬ ّ َ ْ ِ َ ُ ِ ِ ْ ََ ْ َ َ ُ ِ ْ َ ِ ‫ . putri rasulpun Bisa kita lihat juga pada Musnad Ahmad . bahkan para nabi-nabi sebelumnya. kemudian datanglah Umar bin Khatab dan memukul mereka dengan cemeti lalu rasul melarangnya dan mengusirnya setelah itu rasul saw bersabda : ِ َ ْ ّ َ ّ َ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ َْْ َ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ‫مهما يكن من القلب والعين فمن ال والرحمة‬ ِ “Dan Apa-apa yang terjadi (gejolak) pada hati dan mata hal itu adalah rahmat dari Allah SWT (maka janganlah dilarang kesedihan mereka)” setelah itu Nabi saw pun mengusap air mata Fatimah ra (dengan baju sucinya) sebagai rahmah baginya. Begitu juga beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah istri nabipun menolak terhadap mereka berdua (Umar dan putranya) mengenai pelarangan tangisan terhadap orang mati dan menisbatkan kepada mereka dengan kekeliruan dan kesalahan dalam . akan tetapi hal ini tertolak dengan berbagai macam dalil Akli maupun naqli : 1. . dan air matanya sampai kering7. Al-Fadhil Annawawi dalam syarah Shahih Muslim8 mengatakan bahwa semua riwayat atas pelarangan tangisan terhadap orang mati adalah bersumber dari Umar bin Khatab dan putranya Abdullah (bukan bersumber dari rasul). sehingga nabi saww bersabda4 : ‫على مثل جعفر فلتبك البواكي‬ Disini kita bisa melihat kemuliaan Ja’far sehingga Sayyidah Zahra ra menangisinya. ببعض بكاء أهله عليه . dan keluarganya. Dalil Penolakan atas Pelarangan Ratapan Sebagian dalil kitab-kitab hadits ahlussunnah pun menyebutkan akan pelarangan tangisan untuk orang mati atau ratapan padanya seperti di dalam shahih bukhari dan muslim yaitu : ِ ْ ََ ْ َ ِ َ ُ ِ ّ َ ُ َ ّ َ ْ ّ ِ ‫ إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه‬sebagian mengatakan ‫. sampai menjadi buta.5 Seperti yang kita tahu bahwa tangisan bukanlah hanya terjadi pada manusia biasa.

keluarga dan sahabatnya. dan memukulnya. Umar meletakkan tangannya tiatas kepalanya dan menangisinya. keluarganya serta sabahat-sahabatnya ikut menangis meratapi kesyahidan cucu nabi yang belum terjadi. Lalu berkata Umar kepada Hisyam “ Masuklah saya mengizinkanmu (untuk masuk)”. setelah itu datanglah khaliah kedua Umar bin Khatab dan melarang mereka (para wanita) yang ikut menangisi kewafatan Abu Bakar. ا ول تزر وازرة وزر أخرى‬artinya “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” 9 ْ ُ َ ْ ِ ٌَ ِ ُ ِ َ َ 2. Karena tangisan itu dilakukan sendiri oleh nabi saw. putri atau orang-orang yang mulia akan tetapi rasul saww juga menangisi cucu kesayangannya Al-Husein ra. Bisa kita lihat dalam kitab-kita ahlussunnah. Dan tangisan ini merupakan perkara yang khusus. maka kenapa Umar bin Khatab membolehkan wanita-wanita bani Makhzum untuk meratapi dan menangisi Khalid ibnu Al-Walid?11 Dan juga ketika wafatnya Nu’man . Mereka tidak mempedulikannya lalu mereka berhenti. ketika itu dihadapan Imam Ali kw adalah nainawa (Karbala) dan Imam kw sedang menuju ke tepi sungai furat .disampaikan langsung oleh Jibrail as. ‘Aisyah meratapi dan menangisi kepergian ayahnya itu. dan dia bersama Imam Ali kw. 3. Dan hal ini bertolakbelakang dengan taqrir nabi saw ketika wanita Anshar menangisi para suaminya yang syahid di perang Uhud dan rasul saw bersabda : ‫ ولكن حمزة ل بواكي له‬dan ketika meninggalnya Ja’far ra serta menangisnya para ُ َ َ ِ َ َ َ ُ َ ْ َ ْ ِ ََ wanita termasuk sayyidah Zahra ra dengan sabdanya : ‫ على مثل جعفر فلتبك البواكي‬disertai dengan ، ‫ وإنما يرحم ال من عباده الرحماء‬ketika meninggalnya salah َ َ َ ّ ِ ِ َ ِ ْ ِ ّ ُ َ ْ َ َ ّ َِ ُ satu putri kesayangannya.menyebutkan hadits. dan tercerai-berailah orang-orang yang menangisinya itu. lalu berkatala Umar kepada Hisyam Ibnu Al-Walid :” Masuklah (Ibnu Hisyam) dan keluarlah (mengadapku) Putri Abi Qahafah”. lalu masuklah Hisyam dan keluarlah Ummu Farwah saudara Abu Bakar menuju Umar. misalnya Ahmad bin Hambal13 dari hadits Imam Ali karamallahuwajhah yang disanadkan sampai ke Abdullah Ibnu Nujayin dari ayahnya. Dan ‘Aisyah Berkata terhadap Hisyam setelah mendengar ucapan Umar :”Sesugguhnya saya melarang kamu memasuki rumahku”. ‘Aisyah juga mengatakan bahwa tak ada hubungannya antara tangisan dan dosa sang mayyit. dan pada saat itu rasul. Dan hal ini bisa kita katakan sebagai tangisan yang mengandung makna yang khusus bagi umat setelahnya. Jikalau ratapan terhadap mayit dikatakan haram. Di dalam Tarikh Tabhari disanadkan dari Sa’id dikatakan bahwa 10: Ketika wafatnya khalifah pertama Abu Bakar. dan dia berdalil dengan ayat Al-Quran Al-An’am ayat 164 : ‫ . dikarenakan khabar kesyahidan Al-Husein ra -belum terjadi pada zaman rasul saww hidup. Imam mengatakan : . berkali-kali.12 Karbala di Zaman Rasulullah saww Rasulullah bukan hanya menangisi putra.

dan disinipulalah tempat meningggalnya (syahidnya mereka). Abu Dzar. “Bersabarlah Aba Abdillah -Al-Husein . dan Jibrail datang memberiku tanah ini dan mengkhabarkanku bahwa kejadian itu di dekat muara sungai. berkata : “Disinilah tempat berhentinya pengendara (rombongan Al-Husein dan keluarga serta sahabatnya). lalu bertanya Rasul saw : Apakah engkau mencium tanahnya(karbala)? Menjawab Imam Ali kw : betul. Apa yang menyebabkan cucuran air matamu ? bersabda nabi saw : bersabda Jibrail kepadaku.ِ َ ُْ ّ َ ِ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ‫اصبر أبا عبد ال اصبر أبا عبد ال بشط الفرات‬ ِ ِ . Wahai Nabi Allah. Dan ketika Imam Ali kw melewati kuburan Al-Husein. dan bersabda Rasul : “Jibrail telah mengkhabarkan kepadaku bahwa putraku Al-Husein akna terbunuh setelah kewafatanku dengan tanah yang bernama” ‫(“ الطف‬Karbala-yakni di tepi sungai). berkata perawi : aku berkata : Apakah itu ?berkata Imam kw : “Di suatu hari aku menemui rasulullah saw dan rasul saw mencucurkan air matanya. Umar. dan menangislah seluruh langit dan bumi”14 Meriwayatkan pula As-Syafi’i di dalam bab indzar An-nabi saw dan selanjutnya di dalam kitabnya a’laamu an-nubuwwah dari ‘urwah dari ‘aisyah berkata : ketika itu Al-Husein menemui kakeknya rasul saw dan datang Jibrail menyampaikan khabar kepada rasul saw : “sesungguhnya ummatmu akan tercerai berai setelahmu dan mereka akan membunuh putramu yang ini (AlHusein) peristiwa tersebut akan terjadi setelah engkau meninggal dunia. dan rasulullan saw dalam keadaan menangis.13 Dengan hadits yang serupa ditulis pada kitab Shawa’iq Al-Muhriqah liibni Hajar.bertanya. dan para pemuda dari keluarga Muhammad saw. bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Furat.15 Dan nama tanah itu adalah tanah “‫(“ الطف‬Karbala yakni di tepi sungai). dan disinipulalah tempat memancar dan mengalirnya darah-darah mereka. terbunuh di padang ini . dan bertanyalah para sahabat : Apa yang kau tangisi wahai rasulullah saw? . Setelah itu ‘Aisyah ra melanjutkan : setelah Jibrail as pergi lalu keluarlah rasul saw menuju sahabat-sahabatnya dengan membawa tanah di tangannya. dan malaikat bersabda : di tanah ini lah akan terbunuh putramu (Al-Husein). Hudzaifah.bersabarlah Aba Abdillah di tepi sungai Furat”. Bahkan di halaman setelahnya diceritakan bahwa Rasul mengisyaratkan kepada ‘Aisyah ketika terbunuhnya Al-Husein di karbala maka tanah itu akan memerah16 At-Tirmidzi juga menuliskan hadits tersebut dalam sunannya17 bahwa pada saat itu Ummu Salamah ra melihat Nabi saw menangis dalam keadaan tidur dimana pada kepala dan jenggotnya terdapat tanah dan berkata : “Al-Husein akan terbunuh mengenaskan yang tak ada kejadian sebelumnya”18 . Utsman. Ali. lalu tangannya memenggam tanah(karbala) dan memberikannya kepadaku lalu aku tak pernah menangis seperti pada waktu itu. pada saat itu yang hadir Abu Bakar. fashl ke-3 bab ke-12. kemudian Jibrail as menjulurkan tangannya dan memberikan tanah putih. aku -Imam Ali kw.

rasul-Nya dan umatnya.Tidak hanya disitu di dalam kitab ahlussunnahpun diceritakan waktu kejadian yang lebih detail seperti yang ditulis dalam kitab As-Sawaiq dari Ibnu Abbas. Tentunya tangisan nabi bukanlah sembarang tangisan. bukan pula tangisan rasul saw disebabkan hanya hubungan nasab dan darah dengan Al-Husein sebagai cucu tersayangnya akan tetapi mengandung makna yang lebih tinggi dari sekedar tangisan tersebut. baik itu tangisan rasulullah ketika hari kelahiran Al-Husein. kadang-kadang menagis dalam kesendirian. setelahnya di rumah Fatimah Az-Zahra ra. seperti yang difirmankan Allah SWT : ‫وما ينطق عن الهوى‬ َ ْ ِ َ ُ ِ َْ َ ‫إن هو إل وحي يوحى‬ ٌُ ْ َ ّ َُِ ْ ِ ‫ما كذب الفؤاد ما رأى‬ َ ُ ُْ َ َ َ “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya”21 “Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”22 “Hatinya (yang bersih) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”23 “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang ٌ ََ َ ٌَ ْ ُ ِ ِ ُ َ ‫لقد كان لكم في رسول ال أسوة حسنة‬ ْ ُ َ َ ْ ََ 24 baik bagimu” Oleh sebab itu tangisan rasul saw terhadap Al-Husein memiliki nilai lain yang lebih tinggi dari hanya sekedar hubungan keluarga kakek dan cucu. kadang kala pula bersertanya Jibrail. dan ketika melihat Al-Husein bersedih rasulpun menangis. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa menangisi Al-Husein di hari-hari Asyura merupakan sunnah Nabi yang dianjurkan. Begitu bersedihnya rasululullah pada masa itu seakan-akan hari Asyura dan peristiwa karbala telah terjadi.20 Mengapa Harus Menangisi Al-Husein? Kita sudah melihat sekilas bahwa Nabi saw pun untuk yang pertama kalinya mengadakan upacara kesedihan atas kesyahidan cucunya Al-Husein. apa yang dilihat dan dilakukannya serta yang didengarnya salahsatunya tangisan ataupun kegembiraan selain dari pada izin dan keridhoan Allah SWT. dan menciumnya di kedua bibirnya lalu menangis. di minbar. di kamarnya. tetapi tangisan yang mengandung nilai risalah untuk agama Islam untuk masa yang akan datang. dan juga sahabat nabi. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa Nabi tidaklah pernah melaksanakan sesuatu baik itu ucapan. Sering nabi mencium Al-Husein di dada atasnya lalu menangis. Risalah tersebut bisa kita sandingkan kepada tangisan rasulullas saw terhadap Al-Husein disebabkan posisi Al-Husein yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah.19 Oleh sebab itu hadits mengenai kejadian Karbala dan ratapan ataupun tangisan rasulullah saw merupakan hadits mutawatir dalam berbagai macam kitab hadits. ketika melihat AlHusein bergembira rasul saww menangis. Imam Ali kw dan Fatimah ra. hari ke-7 dari kelahirannya. Hal ini bisa kita kaji dalam beberapa sumber kitab ahlussunnah : . di sebagian safarnya.

“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu. sebagai orang-orang yang terdepan dalam mewakili ummat nabi.s. Fathimah. bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husein sembuh mereka akan berpuasa tiga hari. Surat Al Insan : 5-23 Mengenai pengorbanan Ahlulbait dalam menolong faqir miskin dan yang membutuhkan termasuk didalamnya Al-Husein.A. al-Zamakhshari menyatakan.”26 3. Husein. Al-Husein adalah salah satu Al-Qurba (Keluarga dekat) yang dimana Allah dan rasul saw sendiri yang mewajibkan kecintaan terhadap mereka seperti yang tertulis pada firman Tuhan. Qs 33:33.” (Ali Imran: 61) Imam Kazhim a. Fatimah. bersabda: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran. Hasan dan Husein. dan anak-anak (abna’ana) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah saw sendiri”. Rasulullah saww hanya membawa Ali bin Abi Thalib. terkenal pula dengan hadits Kisa yaitu doa nabi kapada ahlul bait. Tafsir Qur’an Ulama Ahlusunnah 1. Ayat Mubahilah : Qs:3:61 “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anakanak kami(Abna’ana) dan anak-anak kamu. Fatimah.25 2. kemudian marilah kita bermubahilah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. bahwa “ketika al-Hasan dan al-Husein sakit. wanita (nisa`ana) berarti Fathimah. Hasan Husein.” Yang dimaksud Qurba disini adalah Ali. dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya”.27 4. Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya. Fatimah. . “Wahai Rasulullah saw siapakah qarabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka. kekotoran dan dosa: Ayat Al-Tathir. Ini berarti. Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata. diri (anfusana) berarti Ali bin Abi Thalib. isteri-isteri kami(nisa’ana) dan isteri-isteri kamu. Ketika ayat itu turun rasul memasukkan Ali. hai ahlulbait. Fatimah. “Rasulullah saw menjawab: “Ali. Al-Husein merupakan salah satu Ahlul Bait Nabi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagai pemimpin ummat yang mendahulukan kepentingan umatnya diatas kepentingan pribadinya. Lalu Imam Ali dan Sayyidah Zahra ra bernazar diikutipula oleh seorang hamba bernama Fiddah. Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku)(Qurba). Hasan. dan kedua-dua anak mereka (yakni Al-Hasan dan Al-Husein). Al-Husein disebut sebagi putra-putranya rasulullah saw. diri kami (anfusna) dan diri kamu. Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali. Al-Husein merupakan salah satu ahlul bait nabi yang disucikan sehingga jauh daripadanya kenistaan. dalam bermubahalah dengan para pendeta kaum Najran yang tidak menerima kenabian Muhammad saw.

Rasulullah saw telah bersabda: ‫حسين مني و أنا من حسين أحب ال من أحب حسينا حسين سبط من السباط‬ Husein dariku dan aku pula dari Husein. Maka mereka mengutamakan pengemis tersebut lalu mereka tidur dan tidak makan kecuali air dan besoknya mereka berpuasa lagi. sehingga apabila datang khabar bencana yang akan menimpanya maka sudah sepantasnyalah menangisi Al-Husein sebagaimana Nabi kita saw menangisinya pula. Dimana posisi nabi Yusuf as pada saat itu adalah sebagai putra dan penerus risalah ayahnya. tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa pun. mereka pun memberikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. kemudian Malaikat Jibrail turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). mereka pun memberikan makanan tersebut. maka keadaaan ini membuat sedih rasulullah saww. Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa.Kemudian keduanya sembuh. Maka pada keesokan harinya. Rasul saw bersabda bersabda: apakah yang telah terjadi yang menyebabkanku sedih melihat kalian. lalu ‘Ali meminjam dari Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak tiga aswa’ gandum (sya’ir).29 2. Dan Al-Husein merupakan salah satu imam (pemimpin dunia akhirat) dan wasyi (Wakil) nabi setelahnya bisa dilihat di dalam salah satu kitab aqidah ahlusunnah wal jamaah30 Betapa tingginya Kedudukan Al-Husein. Fatimah menggiling satu sau ‘an dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali. ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husein untuk menemui Rasulullah saw dan ketika Rasul saw melihat mereka dalam keadaan gemetaran dan menggigil kelaparan. sehingga tangisan rasul saww sebanding dengan kemuliaannya. Seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya yang menangisi putra penerus kenabiannya yang menangisinya ketika kehilangan putra-putra mereka seperti kisah nabi Ya’kub as. Allah memberikan tahniah pada Ahlul Bait kamu lalu Jibrail pun membacakan Surah (al-Insaan)” 28 5. Hasan dan Husein dan jariah). ketika sampai waktu petang dan tangan mereka sedang memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka.Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir. dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan memintaminta makanan. . dan lain-lainnya di sini hanya beberapa saja yang disebutkan B. Fatimah. Allah mencintai siapa saja yang mencintai al-Husein adapun al-Husein adalah keturunanku putera puteriku (az-Zahra). Begitu juga Al-Husein dimana dia sebagai cucu kesayangannya dan sebagai penerus risalahnya. Di dalam kitab Hadits Ahlussunnah diantaranya adalah 1. tibatiba muncul di hadapan mereka seseorang pengemis dan berkata: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bait: berilah aku makan nescaya Allah akan memberi kamu makan daripada hidangan syurga. lalu rasul saww pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk kelaparan berbongkok sampai bertemu bagian atasnya dengan perutnya dan mencurahkan air matanya.

Penutup Peristiwa memilukan Karbala dan menangisi serta meratapi Al-Husein adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul saw sendiri. Shahih Bukhari Bab Janaiz no. 339 (Shamila) . 243. 339 8. Musnad Ahmad bin Hanbal no. dan hari-hari Asyura merupakan hari-hari duka bagi seluruh manusia khususnya kaum muslim tanpa sekat mazhab. juz 2 (Shamila). hal. beirut Al-A’lami. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid IV. hal.Mudah-mudahan Majelis Asyura menjadi subur di sepanjang zaman tanpa sekat-sekat mazhab dan keyakinan. hal. 3. 3158 (Shamila) 6. atau juz2. 4. hal 348-349. hal 614 (Zikr Wafat Abu Bakar). sebab bagaimana mungkin Al-Husein sebagai junjungan dan pemimpin umat yang harusnya dimuliakan dan dilindungi terbunuh secara keji di padang karbala. 11 Shahih Muslim. Qs : Yusuf : 84 7. 1507 . 2. Dengan menjadikan Asyura sebagai duka bersama kaum Muslim disini kita akan menemukan titik persamaan ajaran nabi saw dan juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diambil daripadanya. Musnad Ahmad no.147 juz I dan Shahih Muslim jilid 3. hal. Bab Baka’ ‘alal mait no. hal ke-39 Darul Fikr. Atau Musnad Ahmad jilid ke-2 hal ke-40. Tarikh Tabhari. Tafsir Al-Kasysyaf jilid II. 431 12. hal 85 Darul Fikr. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz III. hal. Bersama-sama merenungi hikmah dibalik karbala merupakan tugas bersama bagi kaum muslimin. 4984 (Shamila). Darul Fikri. Qs: Al-An’am :164 10. Shahih Bukhari Bab Janaiz no 1303 (Shamilah). Beirut. Istii’ab fi Ma’rifat Al-Ashhab jilid ke-1. Beirut. juz VI hal. 228. 5. Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. 1284 (Shamila). Sebab rasul saw sendirilah yang melakukannya. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid II. Tangisan ini membawa pengaruh yang besar bagi ajaran nabi saw. atau Shahih Bukhari jilid II. atau shahih bukhari hal. 11. 9. Daftar Pustaka 1.

Zamaksyari dalam tafsir al-kasysyaf 27. 353. hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah.al-Manthur karangan al-Suyuti. atau Musnad Ahmad. dan lain-lain 26. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah. Qs: An-Najm:4 23. hadits ke-2814 dan 2815 (Shamila). Al-Mu’jam Al-Kabir juz 22. hal. Musnad Ahmad. 107. jilid I. Qs: An-Najm:3 22. Musnad Ahmad juz I . Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir jilid III hal. jilid 13. lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur. hlm.Si . 655 hadits 37663. hlm 246. Mu’jam Al-Kabir jilid III. Sahih tirmidzi. Jilid 5. hal. 14. Sunan At-Tirmidzi. 16. jilid 7. hal. Penyusun : Muhammad Habri Zen S. Al-Mustadrak Al-Hakim jilid IV. hadits ke-2811. 18. jilid 5 hlm 198-199. hal. Qs: An-Najm:11 24.105. hal 223. 19 19. 306. Yanabi’ Al-Mawaddatah lidzawil Qurba juz III hal. Musnad Ahmad Juz II. Qs: Al-Ahzab :21 25. Al-Khashaish Al-Huseiniyyah. Al-Mu’jam Al-Kabir Lithabarani jilid 3. hal. hadits 1098. Sahih Muslim. hadits ke-3860. Dar Shadr. hadits ke-702 30. hal 119 (Shamila) hadits ke-613. Majma Az-Zawaid Lilhaitami.bab ke-12. hlm.85. hal. A’lam An-Nubuwwah. Al-Zamakhshari dari Ibn Abbas rd 29. tahun 1408. 283 20. hal. Al-Haisyami di dalam Majma’ Az-Zawaid jilid 9. hal. 23. 120. As-Sawa’iq Al-Muhriqah hal 193 15. Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsirul Kabirnya 28. jilid IX hal 187. Musnad Abi Ya’li Al-Maushuli jilid I. 324. hal 274. hal.13. Kanz Al-‘Umal jilid 13. 188. hal. 105-232 21. jilid 6.298.