Tangisan Karbala adalah Sunnah Rasul saw

(Dalam Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah)

Pendahuluan Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dihitung dalam batas pengetahuan manusia. Kenikmatan itu meliputi berbagai macam dimensi di dalam kehidupan manusia baik itu yang berupa materi maupun ruhani. luapan perasaan, baik itu sedih dan senang serta cinta merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya kita bisa merasakan kesenangan ketika kita mendapatkan berita yang memberikan bunga di taman hati , begitu juga betapa indahnya ketika hati hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari. Tak bisa kita bayangkan apabila kita sedikitpun tidak bisa merasakan kesedihan. Mungkin hati kita seperti batu yang tak bisa merasakan kesedihan dan mata kita seperti padang tandus yang tak bisa mencucurkan air mata. Sungguh Tuhan telah memberikan kenikmatan ini untuk sekalian manusia, bukanlah maksud tuhan memberikan kenikmatan tersebut untuk sesuatu yang tidak berfaedah, tetapi tentunya kenikmatan diciptakan untuk faedah bagi manusia, baik itu faedah psikologi manusia maupun faedah yang lainnya misalnya tumbuhnya rasa simpatik dan kebersamaan diantara manusia yang bisa merasakan bagaimana sedih dan pedih, apalagi kita bersedih meratapi manusia yang mulia. Sehingga dengan merasakan sifat kemanusiaan yang sama di setiap zaman dan masa kita bisa menemukan titik persamaan yang tidak terbatas atau dibatasi dengan sekat keyakinan atau mazhab tertentu. Pembantaian Karbala bukanlah khabar yang baru kita dengar. Peristiwa tersebut selalu menyayat hati seluruh manusia yang memiliki kepedulian akan kemuliaan, penghormatan akan kesucian, dan kecintaan akan kerasulan. Kesedihan terhadap peristiwa di padang Karbala bukan hanya musibah bagi kaum syiah - dimana memiliki perhatian yang khusus dan serius terhadap Karbala sebagai salah satu corong pembuka kebenaran dan menerangi keyakinan akidah, serta ajaran mereka- akan tetapi sebenarnya ini juga merupakan musibah bagi seluruh manusia di dunia khususnya kaum muslim. Tak ada seorangpun-yang memiliki akal sehat- membenarkan pembantaian yang tak berprikemanusiaan kepada orang lain yang tak berdosa. Kita bisa ambil contoh tak ada seorangpun yang tega menelantarkan bahkan membiarkan cucu kita terbunuh dan dihinakan oleh orang lain, apalagi kita sebagai umat Islam tak mungkin kita rela dan acuh-tak acuh melihat dan mendengar peristiwa pembantai cucu dari rasulullah saw. Tak ada satupun dalil akliah, naqliah yang membenarkan pembantaian tersebut bahkan perasaan kitapun bisa menyalahkan perlakuan keji tersebut. Dalil-dalil mengenai tangisan dan anjuran padanya untuk Al-Husein sebagai bukti kesedihan kita terdapat dalam berbagai sumber kitab hadits dan tarikh yang ada, baik di kalangan suni ataupun di syiah. Dan disini saya mencoba menguraikan bagaimana rasulullah saw melaksanakan majelis

”1 Di dalam hadits tersebut bisa kita pahami bahwa bahwa tangisan untuk orang yang dikasihinya adalah sebuah kebaikan dan rahmah. dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”. dia berkata : “Dan Anda Ya.dan melawan segala kezaliman. Rasulullah? َ َ َ ّ ‫َ ِ ِ َ ْ َ ٌ َ ََ َ ّ ِ ُُ ِ ِ َ ِ ِ َِ ّ َ َ ْ َم ّ ِ ْ ِ َ ِه‬ ‫هذه رحمة جعلها ال فى قلوب عباده ، وإنما يرح ُ ال من عباد ِ الرحماء‬ ُ ُ “Air mata ini adalah rahmah. rasul saw meluapkan isi hatinya dengan menangis seperti yang ditulis dalam Bukhari dan muslim2 . Kalimat ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ ‫ ولكن حملزة ل بلواك َ لله‬mengandung arti lain “jangan lupa juga menangisi Hamzah” dan disini .. Tangisan Adalah Sunnah Rasul saw Sedih dan bersedih serta meratapi orang-orang dekat dan mulia merupakan perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Serta majelis karbala bisa menjadi momen bersama dalam mempelajari sejarah dan menegakkan kebenaran sebagai bagian dari tugas bersama umat Islam tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kemazhaban. dan tangisan itu adalah untuk meratapi hamzah (bukan yang lainnya). Sehingga diharapkan majelis Karbala menjadi pengingat akan peristiwa kesedihan umat Islam pada umumnya dan menjadi pemersatu bagi umat Islam dalam membela kebenaran –seperti yang dilakukan oleh Imam Husein.. Seperti halnya Rasulullah saw menangisi dan meratapi putranya Ibrahim. Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan). dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikarenakan perpisahanku dengan Ibrahim (putraku). Ketika itu rasulullah saw mencucurkan air matanya dan berkatalah Sa’ad padanya : Apakah itu Ya. seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf .karbala tersebut khusus dalam kitab-kitab ahlussunnah. Dan juga ketika meninggalnya salah satu dari putri kesayangan beliau. lalu bersabdalah Rasulullah saw : ‫[ ولكن حمزة ل بواك َ له‬Akan tetapi tak ada (seorangpun) tangisan bagi hamzah(paman rasul ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ saww yang setia dalam setiap perjuangan)] setelah itu mereka terdiam kemudian mereka menangis lagi. seperti yang ditulis di berbagai kitab hadits (suni maupun syiah). Rasulullah ?” dan bersabda : “Wahai Ibn ‘Auf sesungguhnya (tangisan itu) adalah rahmah” dalam sabda lainnya beliau menjelaskan : َ ُ ُ ْ َ َ ُ ِ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ِ ّ َِ َ ّ َ َ ْ َ َ ّ ِ ُ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ ّ ِ ‫إن العين تدمع ، والقلب يحزن ، ول نقول إل ما يرضى ربنا ، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون‬ “Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata. dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keridhoan Allah. Meratapi kesedihan orang-orang mulia bukan hanya fitrah manusia akan tetapi anjuran juga dari pihak rasulullah saw bagi mukminin dan mukminat seperti yang tertulis dalam musnad Ahmad bin Hanbal3 . bahwa ketika kembalinya rasulullah saw dari perang uhud dan beliau melihat para wanita Anshar menangisi suaminya yang terbunuh di perang Uhud. dan hati bersedih.

Begitu juga beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah istri nabipun menolak terhadap mereka berdua (Umar dan putranya) mengenai pelarangan tangisan terhadap orang mati dan menisbatkan kepada mereka dengan kekeliruan dan kesalahan dalam . من يبك عليه يعذب‬yang artinya Sesungguhna Mayyit akan disiksa dengan ّ َ ُ ِ ْ ََ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ََ َ ِ َ ِ ْ َ ِ ّ َ ُ tangisan keluarganya. sampai menjadi buta.mengandung makna anjuran untuk menangisi pahlawan Islam serta celaan bagi yang meninggalkannya. Bisa kita lihat pada kisah tangisan Nabi Ya’qub as ketika hilangnya putra kesayangannya Nabi yusuf as6 bahkan dalam tafsir Al-Kasysyaaf disebutkan bahwa menangisnya nabi Ya’qub as selama 80 tahun lamanya. ببعض بكاء أهله عليه . . akan tetapi hal ini tertolak dengan berbagai macam dalil Akli maupun naqli : 1. putri rasulpun Bisa kita lihat juga pada Musnad Ahmad . kemudian datanglah Umar bin Khatab dan memukul mereka dengan cemeti lalu rasul melarangnya dan mengusirnya setelah itu rasul saw bersabda : ِ َ ْ ّ َ ّ َ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ َْْ َ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ‫مهما يكن من القلب والعين فمن ال والرحمة‬ ِ “Dan Apa-apa yang terjadi (gejolak) pada hati dan mata hal itu adalah rahmat dari Allah SWT (maka janganlah dilarang kesedihan mereka)” setelah itu Nabi saw pun mengusap air mata Fatimah ra (dengan baju sucinya) sebagai rahmah baginya. Al-Fadhil Annawawi dalam syarah Shahih Muslim8 mengatakan bahwa semua riwayat atas pelarangan tangisan terhadap orang mati adalah bersumber dari Umar bin Khatab dan putranya Abdullah (bukan bersumber dari rasul). akan tetapi terjadi pula pada rasul saw. ببكاء الحي‬ ّ َ ْ ِ َ ُ ِ ِ ْ ََ ْ َ َ ُ ِ ْ َ ِ ‫ . dan keluarganya. sehingga nabi saww bersabda4 : ‫على مثل جعفر فلتبك البواكي‬ Disini kita bisa melihat kemuliaan Ja’far sehingga Sayyidah Zahra ra menangisinya. يعذب في قبره بما نيح عليه. bahkan para nabi-nabi sebelumnya. dimana pada saat itu para wanita menangisi kematian putri rasulullah saw Raqiah . Seperti halnya tangisan Sayyidah Zahra ra atas kematian Ja’far ra (manusia mulia) . dan air matanya sampai kering7.5 Seperti yang kita tahu bahwa tangisan bukanlah hanya terjadi pada manusia biasa. Dalil Penolakan atas Pelarangan Ratapan Sebagian dalil kitab-kitab hadits ahlussunnah pun menyebutkan akan pelarangan tangisan untuk orang mati atau ratapan padanya seperti di dalam shahih bukhari dan muslim yaitu : ِ ْ ََ ْ َ ِ َ ُ ِ ّ َ ُ َ ّ َ ْ ّ ِ ‫ إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه‬sebagian mengatakan ‫.

Umar meletakkan tangannya tiatas kepalanya dan menangisinya. dikarenakan khabar kesyahidan Al-Husein ra -belum terjadi pada zaman rasul saww hidup. Di dalam Tarikh Tabhari disanadkan dari Sa’id dikatakan bahwa 10: Ketika wafatnya khalifah pertama Abu Bakar. Dan tangisan ini merupakan perkara yang khusus. dan tercerai-berailah orang-orang yang menangisinya itu. dan memukulnya. dan pada saat itu rasul. Lalu berkata Umar kepada Hisyam “ Masuklah saya mengizinkanmu (untuk masuk)”. Mereka tidak mempedulikannya lalu mereka berhenti. maka kenapa Umar bin Khatab membolehkan wanita-wanita bani Makhzum untuk meratapi dan menangisi Khalid ibnu Al-Walid?11 Dan juga ketika wafatnya Nu’man . Bisa kita lihat dalam kitab-kita ahlussunnah.menyebutkan hadits. lalu masuklah Hisyam dan keluarlah Ummu Farwah saudara Abu Bakar menuju Umar. keluarga dan sahabatnya. 3. lalu berkatala Umar kepada Hisyam Ibnu Al-Walid :” Masuklah (Ibnu Hisyam) dan keluarlah (mengadapku) Putri Abi Qahafah”. Karena tangisan itu dilakukan sendiri oleh nabi saw. setelah itu datanglah khaliah kedua Umar bin Khatab dan melarang mereka (para wanita) yang ikut menangisi kewafatan Abu Bakar. ا ول تزر وازرة وزر أخرى‬artinya “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” 9 ْ ُ َ ْ ِ ٌَ ِ ُ ِ َ َ 2. keluarganya serta sabahat-sahabatnya ikut menangis meratapi kesyahidan cucu nabi yang belum terjadi.disampaikan langsung oleh Jibrail as. dan dia bersama Imam Ali kw. Dan ‘Aisyah Berkata terhadap Hisyam setelah mendengar ucapan Umar :”Sesugguhnya saya melarang kamu memasuki rumahku”. berkali-kali.12 Karbala di Zaman Rasulullah saww Rasulullah bukan hanya menangisi putra. ‘Aisyah meratapi dan menangisi kepergian ayahnya itu. dan dia berdalil dengan ayat Al-Quran Al-An’am ayat 164 : ‫ . Dan hal ini bisa kita katakan sebagai tangisan yang mengandung makna yang khusus bagi umat setelahnya. Imam mengatakan : . ‘Aisyah juga mengatakan bahwa tak ada hubungannya antara tangisan dan dosa sang mayyit. ketika itu dihadapan Imam Ali kw adalah nainawa (Karbala) dan Imam kw sedang menuju ke tepi sungai furat . putri atau orang-orang yang mulia akan tetapi rasul saww juga menangisi cucu kesayangannya Al-Husein ra. misalnya Ahmad bin Hambal13 dari hadits Imam Ali karamallahuwajhah yang disanadkan sampai ke Abdullah Ibnu Nujayin dari ayahnya. Dan hal ini bertolakbelakang dengan taqrir nabi saw ketika wanita Anshar menangisi para suaminya yang syahid di perang Uhud dan rasul saw bersabda : ‫ ولكن حمزة ل بواكي له‬dan ketika meninggalnya Ja’far ra serta menangisnya para ُ َ َ ِ َ َ َ ُ َ ْ َ ْ ِ ََ wanita termasuk sayyidah Zahra ra dengan sabdanya : ‫ على مثل جعفر فلتبك البواكي‬disertai dengan ، ‫ وإنما يرحم ال من عباده الرحماء‬ketika meninggalnya salah َ َ َ ّ ِ ِ َ ِ ْ ِ ّ ُ َ ْ َ َ ّ َِ ُ satu putri kesayangannya. Jikalau ratapan terhadap mayit dikatakan haram.

dan bersabda Rasul : “Jibrail telah mengkhabarkan kepadaku bahwa putraku Al-Husein akna terbunuh setelah kewafatanku dengan tanah yang bernama” ‫(“ الطف‬Karbala-yakni di tepi sungai). bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Furat. dan Jibrail datang memberiku tanah ini dan mengkhabarkanku bahwa kejadian itu di dekat muara sungai. terbunuh di padang ini . Utsman. Setelah itu ‘Aisyah ra melanjutkan : setelah Jibrail as pergi lalu keluarlah rasul saw menuju sahabat-sahabatnya dengan membawa tanah di tangannya. dan malaikat bersabda : di tanah ini lah akan terbunuh putramu (Al-Husein). dan disinipulalah tempat memancar dan mengalirnya darah-darah mereka. dan bertanyalah para sahabat : Apa yang kau tangisi wahai rasulullah saw? . Hudzaifah. Abu Dzar. fashl ke-3 bab ke-12. aku -Imam Ali kw. pada saat itu yang hadir Abu Bakar. Wahai Nabi Allah. dan rasulullan saw dalam keadaan menangis. dan menangislah seluruh langit dan bumi”14 Meriwayatkan pula As-Syafi’i di dalam bab indzar An-nabi saw dan selanjutnya di dalam kitabnya a’laamu an-nubuwwah dari ‘urwah dari ‘aisyah berkata : ketika itu Al-Husein menemui kakeknya rasul saw dan datang Jibrail menyampaikan khabar kepada rasul saw : “sesungguhnya ummatmu akan tercerai berai setelahmu dan mereka akan membunuh putramu yang ini (AlHusein) peristiwa tersebut akan terjadi setelah engkau meninggal dunia.bersabarlah Aba Abdillah di tepi sungai Furat”. Bahkan di halaman setelahnya diceritakan bahwa Rasul mengisyaratkan kepada ‘Aisyah ketika terbunuhnya Al-Husein di karbala maka tanah itu akan memerah16 At-Tirmidzi juga menuliskan hadits tersebut dalam sunannya17 bahwa pada saat itu Ummu Salamah ra melihat Nabi saw menangis dalam keadaan tidur dimana pada kepala dan jenggotnya terdapat tanah dan berkata : “Al-Husein akan terbunuh mengenaskan yang tak ada kejadian sebelumnya”18 .bertanya. Umar.15 Dan nama tanah itu adalah tanah “‫(“ الطف‬Karbala yakni di tepi sungai). Ali. berkata : “Disinilah tempat berhentinya pengendara (rombongan Al-Husein dan keluarga serta sahabatnya). Apa yang menyebabkan cucuran air matamu ? bersabda nabi saw : bersabda Jibrail kepadaku. lalu bertanya Rasul saw : Apakah engkau mencium tanahnya(karbala)? Menjawab Imam Ali kw : betul. dan para pemuda dari keluarga Muhammad saw. berkata perawi : aku berkata : Apakah itu ?berkata Imam kw : “Di suatu hari aku menemui rasulullah saw dan rasul saw mencucurkan air matanya.13 Dengan hadits yang serupa ditulis pada kitab Shawa’iq Al-Muhriqah liibni Hajar. Dan ketika Imam Ali kw melewati kuburan Al-Husein.ِ َ ُْ ّ َ ِ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ‫اصبر أبا عبد ال اصبر أبا عبد ال بشط الفرات‬ ِ ِ . “Bersabarlah Aba Abdillah -Al-Husein . kemudian Jibrail as menjulurkan tangannya dan memberikan tanah putih. dan disinipulalah tempat meningggalnya (syahidnya mereka). lalu tangannya memenggam tanah(karbala) dan memberikannya kepadaku lalu aku tak pernah menangis seperti pada waktu itu.

Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa Nabi tidaklah pernah melaksanakan sesuatu baik itu ucapan. Begitu bersedihnya rasululullah pada masa itu seakan-akan hari Asyura dan peristiwa karbala telah terjadi. di sebagian safarnya.20 Mengapa Harus Menangisi Al-Husein? Kita sudah melihat sekilas bahwa Nabi saw pun untuk yang pertama kalinya mengadakan upacara kesedihan atas kesyahidan cucunya Al-Husein. rasul-Nya dan umatnya. baik itu tangisan rasulullah ketika hari kelahiran Al-Husein. Imam Ali kw dan Fatimah ra. kadang kala pula bersertanya Jibrail. bukan pula tangisan rasul saw disebabkan hanya hubungan nasab dan darah dengan Al-Husein sebagai cucu tersayangnya akan tetapi mengandung makna yang lebih tinggi dari sekedar tangisan tersebut. Tentunya tangisan nabi bukanlah sembarang tangisan. tetapi tangisan yang mengandung nilai risalah untuk agama Islam untuk masa yang akan datang. Hal ini bisa kita kaji dalam beberapa sumber kitab ahlussunnah : . Risalah tersebut bisa kita sandingkan kepada tangisan rasulullas saw terhadap Al-Husein disebabkan posisi Al-Husein yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. setelahnya di rumah Fatimah Az-Zahra ra. hari ke-7 dari kelahirannya. apa yang dilihat dan dilakukannya serta yang didengarnya salahsatunya tangisan ataupun kegembiraan selain dari pada izin dan keridhoan Allah SWT. kadang-kadang menagis dalam kesendirian. Sering nabi mencium Al-Husein di dada atasnya lalu menangis. di kamarnya. seperti yang difirmankan Allah SWT : ‫وما ينطق عن الهوى‬ َ ْ ِ َ ُ ِ َْ َ ‫إن هو إل وحي يوحى‬ ٌُ ْ َ ّ َُِ ْ ِ ‫ما كذب الفؤاد ما رأى‬ َ ُ ُْ َ َ َ “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya”21 “Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”22 “Hatinya (yang bersih) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”23 “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang ٌ ََ َ ٌَ ْ ُ ِ ِ ُ َ ‫لقد كان لكم في رسول ال أسوة حسنة‬ ْ ُ َ َ ْ ََ 24 baik bagimu” Oleh sebab itu tangisan rasul saw terhadap Al-Husein memiliki nilai lain yang lebih tinggi dari hanya sekedar hubungan keluarga kakek dan cucu. di minbar. ketika melihat AlHusein bergembira rasul saww menangis. dan ketika melihat Al-Husein bersedih rasulpun menangis.Tidak hanya disitu di dalam kitab ahlussunnahpun diceritakan waktu kejadian yang lebih detail seperti yang ditulis dalam kitab As-Sawaiq dari Ibnu Abbas. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa menangisi Al-Husein di hari-hari Asyura merupakan sunnah Nabi yang dianjurkan. dan menciumnya di kedua bibirnya lalu menangis. dan juga sahabat nabi.19 Oleh sebab itu hadits mengenai kejadian Karbala dan ratapan ataupun tangisan rasulullah saw merupakan hadits mutawatir dalam berbagai macam kitab hadits.

” (Ali Imran: 61) Imam Kazhim a. Al-Husein merupakan salah satu ahlul bait nabi yang disucikan sehingga jauh daripadanya kenistaan. Husein. Ini berarti. dan kedua-dua anak mereka (yakni Al-Hasan dan Al-Husein). hai ahlulbait. diri (anfusana) berarti Ali bin Abi Thalib. sebagai orang-orang yang terdepan dalam mewakili ummat nabi. al-Zamakhshari menyatakan. bahwa “ketika al-Hasan dan al-Husein sakit. bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husein sembuh mereka akan berpuasa tiga hari. Tafsir Qur’an Ulama Ahlusunnah 1.s. kemudian marilah kita bermubahilah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” Yang dimaksud Qurba disini adalah Ali. Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku)(Qurba). Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali. Ketika ayat itu turun rasul memasukkan Ali.25 2. “Wahai Rasulullah saw siapakah qarabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka. Hasan. Fatimah. Al-Husein adalah salah satu Al-Qurba (Keluarga dekat) yang dimana Allah dan rasul saw sendiri yang mewajibkan kecintaan terhadap mereka seperti yang tertulis pada firman Tuhan. dalam bermubahalah dengan para pendeta kaum Najran yang tidak menerima kenabian Muhammad saw. bersabda: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran. dan anak-anak (abna’ana) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah saw sendiri”. Fatimah. Lalu Imam Ali dan Sayyidah Zahra ra bernazar diikutipula oleh seorang hamba bernama Fiddah. Fatimah. “Rasulullah saw menjawab: “Ali.A. diri kami (anfusna) dan diri kamu. “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu. Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya. Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata. Al-Husein merupakan salah satu Ahlul Bait Nabi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagai pemimpin ummat yang mendahulukan kepentingan umatnya diatas kepentingan pribadinya. Al-Husein disebut sebagi putra-putranya rasulullah saw. Ayat Mubahilah : Qs:3:61 “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anakanak kami(Abna’ana) dan anak-anak kamu. . terkenal pula dengan hadits Kisa yaitu doa nabi kapada ahlul bait.27 4. kekotoran dan dosa: Ayat Al-Tathir. Hasan Husein. dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya”. Qs 33:33.”26 3. wanita (nisa`ana) berarti Fathimah. Hasan dan Husein. Surat Al Insan : 5-23 Mengenai pengorbanan Ahlulbait dalam menolong faqir miskin dan yang membutuhkan termasuk didalamnya Al-Husein. isteri-isteri kami(nisa’ana) dan isteri-isteri kamu. Fathimah. Fatimah. Rasulullah saww hanya membawa Ali bin Abi Thalib.

Allah memberikan tahniah pada Ahlul Bait kamu lalu Jibrail pun membacakan Surah (al-Insaan)” 28 5. lalu rasul saww pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk kelaparan berbongkok sampai bertemu bagian atasnya dengan perutnya dan mencurahkan air matanya. Rasul saw bersabda bersabda: apakah yang telah terjadi yang menyebabkanku sedih melihat kalian. Maka mereka mengutamakan pengemis tersebut lalu mereka tidur dan tidak makan kecuali air dan besoknya mereka berpuasa lagi. Fatimah menggiling satu sau ‘an dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali. dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan memintaminta makanan. Begitu juga Al-Husein dimana dia sebagai cucu kesayangannya dan sebagai penerus risalahnya. Fatimah. tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa pun. dan lain-lainnya di sini hanya beberapa saja yang disebutkan B. sehingga apabila datang khabar bencana yang akan menimpanya maka sudah sepantasnyalah menangisi Al-Husein sebagaimana Nabi kita saw menangisinya pula.29 2. Hasan dan Husein dan jariah). Seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya yang menangisi putra penerus kenabiannya yang menangisinya ketika kehilangan putra-putra mereka seperti kisah nabi Ya’kub as. ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husein untuk menemui Rasulullah saw dan ketika Rasul saw melihat mereka dalam keadaan gemetaran dan menggigil kelaparan. sehingga tangisan rasul saww sebanding dengan kemuliaannya.Kemudian keduanya sembuh. kemudian Malaikat Jibrail turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Di dalam kitab Hadits Ahlussunnah diantaranya adalah 1. tibatiba muncul di hadapan mereka seseorang pengemis dan berkata: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bait: berilah aku makan nescaya Allah akan memberi kamu makan daripada hidangan syurga. ketika sampai waktu petang dan tangan mereka sedang memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka. lalu ‘Ali meminjam dari Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak tiga aswa’ gandum (sya’ir). maka keadaaan ini membuat sedih rasulullah saww. Dan Al-Husein merupakan salah satu imam (pemimpin dunia akhirat) dan wasyi (Wakil) nabi setelahnya bisa dilihat di dalam salah satu kitab aqidah ahlusunnah wal jamaah30 Betapa tingginya Kedudukan Al-Husein. Maka pada keesokan harinya. Allah mencintai siapa saja yang mencintai al-Husein adapun al-Husein adalah keturunanku putera puteriku (az-Zahra).Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir. Dimana posisi nabi Yusuf as pada saat itu adalah sebagai putra dan penerus risalah ayahnya. Rasulullah saw telah bersabda: ‫حسين مني و أنا من حسين أحب ال من أحب حسينا حسين سبط من السباط‬ Husein dariku dan aku pula dari Husein. mereka pun memberikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. mereka pun memberikan makanan tersebut. . Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa.

Shahih Bukhari Bab Janaiz no 1303 (Shamilah). Darul Fikri. 4984 (Shamila). Bab Baka’ ‘alal mait no. hal 85 Darul Fikr. Tangisan ini membawa pengaruh yang besar bagi ajaran nabi saw.147 juz I dan Shahih Muslim jilid 3. hal. 9. Sebab rasul saw sendirilah yang melakukannya.Mudah-mudahan Majelis Asyura menjadi subur di sepanjang zaman tanpa sekat-sekat mazhab dan keyakinan. hal 614 (Zikr Wafat Abu Bakar). Tafsir Al-Kasysyaf jilid II. Shahih Bukhari Bab Janaiz no. sebab bagaimana mungkin Al-Husein sebagai junjungan dan pemimpin umat yang harusnya dimuliakan dan dilindungi terbunuh secara keji di padang karbala. 11. 2. Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. juz VI hal. beirut Al-A’lami. juz 2 (Shamila). Beirut. atau shahih bukhari hal. 339 (Shamila) . Beirut. hal. 1284 (Shamila). 4. 243. 3. 339 8. hal. Qs : Yusuf : 84 7. Dengan menjadikan Asyura sebagai duka bersama kaum Muslim disini kita akan menemukan titik persamaan ajaran nabi saw dan juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diambil daripadanya. Musnad Ahmad no. Bersama-sama merenungi hikmah dibalik karbala merupakan tugas bersama bagi kaum muslimin. Musnad Ahmad bin Hanbal no.Penutup Peristiwa memilukan Karbala dan menangisi serta meratapi Al-Husein adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul saw sendiri. 431 12. Istii’ab fi Ma’rifat Al-Ashhab jilid ke-1. 228. 5. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid IV. 1507 . Atau Musnad Ahmad jilid ke-2 hal ke-40. hal. hal ke-39 Darul Fikr. hal. atau Shahih Bukhari jilid II. 3158 (Shamila) 6. dan hari-hari Asyura merupakan hari-hari duka bagi seluruh manusia khususnya kaum muslim tanpa sekat mazhab. Qs: Al-An’am :164 10. atau juz2. Daftar Pustaka 1. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid II. hal 348-349. 11 Shahih Muslim. Tarikh Tabhari. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz III.

hal 223. 105-232 21. 353. hal. 23. dan lain-lain 26. Mu’jam Al-Kabir jilid III. Majma Az-Zawaid Lilhaitami.al-Manthur karangan al-Suyuti. 306. Qs: An-Najm:11 24. 655 hadits 37663. hal. 16. 18. Al-Mustadrak Al-Hakim jilid IV. hlm. jilid 13. Qs: An-Najm:3 22. As-Sawa’iq Al-Muhriqah hal 193 15. Al-Zamakhshari dari Ibn Abbas rd 29. hlm. Dar Shadr. Sunan At-Tirmidzi. hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah. Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir jilid III hal. Al-Mu’jam Al-Kabir Lithabarani jilid 3.298. hal. 19 19. hadits ke-702 30.85. 283 20. 120. hadits ke-2814 dan 2815 (Shamila).Si . hal. hlm 246. jilid 5 hlm 198-199. tahun 1408. 14. hal 119 (Shamila) hadits ke-613. hal.105. jilid 7. 324. lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur. jilid 6. Yanabi’ Al-Mawaddatah lidzawil Qurba juz III hal. hal. Zamaksyari dalam tafsir al-kasysyaf 27. jilid I. hadits ke-3860. hal. Al-Mu’jam Al-Kabir juz 22. 188. Musnad Abi Ya’li Al-Maushuli jilid I. hadits 1098. Kanz Al-‘Umal jilid 13. Sahih Muslim. 107. atau Musnad Ahmad. Jilid 5. hal. Musnad Ahmad. Al-Haisyami di dalam Majma’ Az-Zawaid jilid 9. Musnad Ahmad juz I . Sahih tirmidzi. hal. hal 274. Penyusun : Muhammad Habri Zen S. jilid IX hal 187. Al-Khashaish Al-Huseiniyyah. hal. Musnad Ahmad Juz II. Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsirul Kabirnya 28. A’lam An-Nubuwwah.13. Qs: Al-Ahzab :21 25. Qs: An-Najm:4 23. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah.bab ke-12. hadits ke-2811.