P. 1
Ahlussunnah

Ahlussunnah

|Views: 27|Likes:
Published by Kisworo_Sang_H_7702

More info:

Published by: Kisworo_Sang_H_7702 on Jul 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2011

pdf

text

original

Tangisan Karbala adalah Sunnah Rasul saw

(Dalam Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah)

Pendahuluan Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dihitung dalam batas pengetahuan manusia. Kenikmatan itu meliputi berbagai macam dimensi di dalam kehidupan manusia baik itu yang berupa materi maupun ruhani. luapan perasaan, baik itu sedih dan senang serta cinta merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya kita bisa merasakan kesenangan ketika kita mendapatkan berita yang memberikan bunga di taman hati , begitu juga betapa indahnya ketika hati hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari. Tak bisa kita bayangkan apabila kita sedikitpun tidak bisa merasakan kesedihan. Mungkin hati kita seperti batu yang tak bisa merasakan kesedihan dan mata kita seperti padang tandus yang tak bisa mencucurkan air mata. Sungguh Tuhan telah memberikan kenikmatan ini untuk sekalian manusia, bukanlah maksud tuhan memberikan kenikmatan tersebut untuk sesuatu yang tidak berfaedah, tetapi tentunya kenikmatan diciptakan untuk faedah bagi manusia, baik itu faedah psikologi manusia maupun faedah yang lainnya misalnya tumbuhnya rasa simpatik dan kebersamaan diantara manusia yang bisa merasakan bagaimana sedih dan pedih, apalagi kita bersedih meratapi manusia yang mulia. Sehingga dengan merasakan sifat kemanusiaan yang sama di setiap zaman dan masa kita bisa menemukan titik persamaan yang tidak terbatas atau dibatasi dengan sekat keyakinan atau mazhab tertentu. Pembantaian Karbala bukanlah khabar yang baru kita dengar. Peristiwa tersebut selalu menyayat hati seluruh manusia yang memiliki kepedulian akan kemuliaan, penghormatan akan kesucian, dan kecintaan akan kerasulan. Kesedihan terhadap peristiwa di padang Karbala bukan hanya musibah bagi kaum syiah - dimana memiliki perhatian yang khusus dan serius terhadap Karbala sebagai salah satu corong pembuka kebenaran dan menerangi keyakinan akidah, serta ajaran mereka- akan tetapi sebenarnya ini juga merupakan musibah bagi seluruh manusia di dunia khususnya kaum muslim. Tak ada seorangpun-yang memiliki akal sehat- membenarkan pembantaian yang tak berprikemanusiaan kepada orang lain yang tak berdosa. Kita bisa ambil contoh tak ada seorangpun yang tega menelantarkan bahkan membiarkan cucu kita terbunuh dan dihinakan oleh orang lain, apalagi kita sebagai umat Islam tak mungkin kita rela dan acuh-tak acuh melihat dan mendengar peristiwa pembantai cucu dari rasulullah saw. Tak ada satupun dalil akliah, naqliah yang membenarkan pembantaian tersebut bahkan perasaan kitapun bisa menyalahkan perlakuan keji tersebut. Dalil-dalil mengenai tangisan dan anjuran padanya untuk Al-Husein sebagai bukti kesedihan kita terdapat dalam berbagai sumber kitab hadits dan tarikh yang ada, baik di kalangan suni ataupun di syiah. Dan disini saya mencoba menguraikan bagaimana rasulullah saw melaksanakan majelis

Sehingga diharapkan majelis Karbala menjadi pengingat akan peristiwa kesedihan umat Islam pada umumnya dan menjadi pemersatu bagi umat Islam dalam membela kebenaran –seperti yang dilakukan oleh Imam Husein. Kalimat ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ ‫ ولكن حملزة ل بلواك َ لله‬mengandung arti lain “jangan lupa juga menangisi Hamzah” dan disini ..”1 Di dalam hadits tersebut bisa kita pahami bahwa bahwa tangisan untuk orang yang dikasihinya adalah sebuah kebaikan dan rahmah. seperti yang ditulis di berbagai kitab hadits (suni maupun syiah). dia berkata : “Dan Anda Ya. dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”. bahwa ketika kembalinya rasulullah saw dari perang uhud dan beliau melihat para wanita Anshar menangisi suaminya yang terbunuh di perang Uhud. seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf .dan melawan segala kezaliman. Rasulullah? َ َ َ ّ ‫َ ِ ِ َ ْ َ ٌ َ ََ َ ّ ِ ُُ ِ ِ َ ِ ِ َِ ّ َ َ ْ َم ّ ِ ْ ِ َ ِه‬ ‫هذه رحمة جعلها ال فى قلوب عباده ، وإنما يرح ُ ال من عباد ِ الرحماء‬ ُ ُ “Air mata ini adalah rahmah. Meratapi kesedihan orang-orang mulia bukan hanya fitrah manusia akan tetapi anjuran juga dari pihak rasulullah saw bagi mukminin dan mukminat seperti yang tertulis dalam musnad Ahmad bin Hanbal3 . Dan juga ketika meninggalnya salah satu dari putri kesayangan beliau. Tangisan Adalah Sunnah Rasul saw Sedih dan bersedih serta meratapi orang-orang dekat dan mulia merupakan perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan tangisan itu adalah untuk meratapi hamzah (bukan yang lainnya). dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keridhoan Allah. dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikarenakan perpisahanku dengan Ibrahim (putraku). Seperti halnya Rasulullah saw menangisi dan meratapi putranya Ibrahim. Rasulullah ?” dan bersabda : “Wahai Ibn ‘Auf sesungguhnya (tangisan itu) adalah rahmah” dalam sabda lainnya beliau menjelaskan : َ ُ ُ ْ َ َ ُ ِ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ِ ّ َِ َ ّ َ َ ْ َ َ ّ ِ ُ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ ّ ِ ‫إن العين تدمع ، والقلب يحزن ، ول نقول إل ما يرضى ربنا ، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون‬ “Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata. Serta majelis karbala bisa menjadi momen bersama dalam mempelajari sejarah dan menegakkan kebenaran sebagai bagian dari tugas bersama umat Islam tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kemazhaban. lalu bersabdalah Rasulullah saw : ‫[ ولكن حمزة ل بواك َ له‬Akan tetapi tak ada (seorangpun) tangisan bagi hamzah(paman rasul ُ َ ‫َ َ ِ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ ِي‬ saww yang setia dalam setiap perjuangan)] setelah itu mereka terdiam kemudian mereka menangis lagi. Ketika itu rasulullah saw mencucurkan air matanya dan berkatalah Sa’ad padanya : Apakah itu Ya. Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan).karbala tersebut khusus dalam kitab-kitab ahlussunnah.. dan hati bersedih. rasul saw meluapkan isi hatinya dengan menangis seperti yang ditulis dalam Bukhari dan muslim2 .

akan tetapi hal ini tertolak dengan berbagai macam dalil Akli maupun naqli : 1. kemudian datanglah Umar bin Khatab dan memukul mereka dengan cemeti lalu rasul melarangnya dan mengusirnya setelah itu rasul saw bersabda : ِ َ ْ ّ َ ّ َ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ َْْ َ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ‫مهما يكن من القلب والعين فمن ال والرحمة‬ ِ “Dan Apa-apa yang terjadi (gejolak) pada hati dan mata hal itu adalah rahmat dari Allah SWT (maka janganlah dilarang kesedihan mereka)” setelah itu Nabi saw pun mengusap air mata Fatimah ra (dengan baju sucinya) sebagai rahmah baginya. putri rasulpun Bisa kita lihat juga pada Musnad Ahmad . ببكاء الحي‬ ّ َ ْ ِ َ ُ ِ ِ ْ ََ ْ َ َ ُ ِ ْ َ ِ ‫ . dan keluarganya. sehingga nabi saww bersabda4 : ‫على مثل جعفر فلتبك البواكي‬ Disini kita bisa melihat kemuliaan Ja’far sehingga Sayyidah Zahra ra menangisinya. يعذب في قبره بما نيح عليه. ببعض بكاء أهله عليه . . Dalil Penolakan atas Pelarangan Ratapan Sebagian dalil kitab-kitab hadits ahlussunnah pun menyebutkan akan pelarangan tangisan untuk orang mati atau ratapan padanya seperti di dalam shahih bukhari dan muslim yaitu : ِ ْ ََ ْ َ ِ َ ُ ِ ّ َ ُ َ ّ َ ْ ّ ِ ‫ إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه‬sebagian mengatakan ‫.mengandung makna anjuran untuk menangisi pahlawan Islam serta celaan bagi yang meninggalkannya. sampai menjadi buta. من يبك عليه يعذب‬yang artinya Sesungguhna Mayyit akan disiksa dengan ّ َ ُ ِ ْ ََ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ََ َ ِ َ ِ ْ َ ِ ّ َ ُ tangisan keluarganya. Begitu juga beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah istri nabipun menolak terhadap mereka berdua (Umar dan putranya) mengenai pelarangan tangisan terhadap orang mati dan menisbatkan kepada mereka dengan kekeliruan dan kesalahan dalam . Bisa kita lihat pada kisah tangisan Nabi Ya’qub as ketika hilangnya putra kesayangannya Nabi yusuf as6 bahkan dalam tafsir Al-Kasysyaaf disebutkan bahwa menangisnya nabi Ya’qub as selama 80 tahun lamanya. dan air matanya sampai kering7. dimana pada saat itu para wanita menangisi kematian putri rasulullah saw Raqiah . Seperti halnya tangisan Sayyidah Zahra ra atas kematian Ja’far ra (manusia mulia) . Al-Fadhil Annawawi dalam syarah Shahih Muslim8 mengatakan bahwa semua riwayat atas pelarangan tangisan terhadap orang mati adalah bersumber dari Umar bin Khatab dan putranya Abdullah (bukan bersumber dari rasul).5 Seperti yang kita tahu bahwa tangisan bukanlah hanya terjadi pada manusia biasa. akan tetapi terjadi pula pada rasul saw. bahkan para nabi-nabi sebelumnya.

‘Aisyah juga mengatakan bahwa tak ada hubungannya antara tangisan dan dosa sang mayyit. dan dia bersama Imam Ali kw. Imam mengatakan : . dan memukulnya. dikarenakan khabar kesyahidan Al-Husein ra -belum terjadi pada zaman rasul saww hidup. keluarganya serta sabahat-sahabatnya ikut menangis meratapi kesyahidan cucu nabi yang belum terjadi. 3. lalu berkatala Umar kepada Hisyam Ibnu Al-Walid :” Masuklah (Ibnu Hisyam) dan keluarlah (mengadapku) Putri Abi Qahafah”. Dan tangisan ini merupakan perkara yang khusus. keluarga dan sahabatnya. Lalu berkata Umar kepada Hisyam “ Masuklah saya mengizinkanmu (untuk masuk)”. lalu masuklah Hisyam dan keluarlah Ummu Farwah saudara Abu Bakar menuju Umar. ‘Aisyah meratapi dan menangisi kepergian ayahnya itu. setelah itu datanglah khaliah kedua Umar bin Khatab dan melarang mereka (para wanita) yang ikut menangisi kewafatan Abu Bakar. dan pada saat itu rasul. Mereka tidak mempedulikannya lalu mereka berhenti. berkali-kali. putri atau orang-orang yang mulia akan tetapi rasul saww juga menangisi cucu kesayangannya Al-Husein ra. Umar meletakkan tangannya tiatas kepalanya dan menangisinya.12 Karbala di Zaman Rasulullah saww Rasulullah bukan hanya menangisi putra. Di dalam Tarikh Tabhari disanadkan dari Sa’id dikatakan bahwa 10: Ketika wafatnya khalifah pertama Abu Bakar. misalnya Ahmad bin Hambal13 dari hadits Imam Ali karamallahuwajhah yang disanadkan sampai ke Abdullah Ibnu Nujayin dari ayahnya. Jikalau ratapan terhadap mayit dikatakan haram. ا ول تزر وازرة وزر أخرى‬artinya “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” 9 ْ ُ َ ْ ِ ٌَ ِ ُ ِ َ َ 2. Bisa kita lihat dalam kitab-kita ahlussunnah. Dan hal ini bisa kita katakan sebagai tangisan yang mengandung makna yang khusus bagi umat setelahnya. Dan ‘Aisyah Berkata terhadap Hisyam setelah mendengar ucapan Umar :”Sesugguhnya saya melarang kamu memasuki rumahku”. dan tercerai-berailah orang-orang yang menangisinya itu. dan dia berdalil dengan ayat Al-Quran Al-An’am ayat 164 : ‫ . Dan hal ini bertolakbelakang dengan taqrir nabi saw ketika wanita Anshar menangisi para suaminya yang syahid di perang Uhud dan rasul saw bersabda : ‫ ولكن حمزة ل بواكي له‬dan ketika meninggalnya Ja’far ra serta menangisnya para ُ َ َ ِ َ َ َ ُ َ ْ َ ْ ِ ََ wanita termasuk sayyidah Zahra ra dengan sabdanya : ‫ على مثل جعفر فلتبك البواكي‬disertai dengan ، ‫ وإنما يرحم ال من عباده الرحماء‬ketika meninggalnya salah َ َ َ ّ ِ ِ َ ِ ْ ِ ّ ُ َ ْ َ َ ّ َِ ُ satu putri kesayangannya. Karena tangisan itu dilakukan sendiri oleh nabi saw. ketika itu dihadapan Imam Ali kw adalah nainawa (Karbala) dan Imam kw sedang menuju ke tepi sungai furat .disampaikan langsung oleh Jibrail as. maka kenapa Umar bin Khatab membolehkan wanita-wanita bani Makhzum untuk meratapi dan menangisi Khalid ibnu Al-Walid?11 Dan juga ketika wafatnya Nu’man .menyebutkan hadits.

pada saat itu yang hadir Abu Bakar.bersabarlah Aba Abdillah di tepi sungai Furat”. Abu Dzar. Wahai Nabi Allah. berkata : “Disinilah tempat berhentinya pengendara (rombongan Al-Husein dan keluarga serta sahabatnya).ِ َ ُْ ّ َ ِ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ّ ِ ْ َ ََ ْ ِْ ‫اصبر أبا عبد ال اصبر أبا عبد ال بشط الفرات‬ ِ ِ . “Bersabarlah Aba Abdillah -Al-Husein . dan bersabda Rasul : “Jibrail telah mengkhabarkan kepadaku bahwa putraku Al-Husein akna terbunuh setelah kewafatanku dengan tanah yang bernama” ‫(“ الطف‬Karbala-yakni di tepi sungai). lalu tangannya memenggam tanah(karbala) dan memberikannya kepadaku lalu aku tak pernah menangis seperti pada waktu itu. dan disinipulalah tempat memancar dan mengalirnya darah-darah mereka. dan bertanyalah para sahabat : Apa yang kau tangisi wahai rasulullah saw? .bertanya. Ali. Setelah itu ‘Aisyah ra melanjutkan : setelah Jibrail as pergi lalu keluarlah rasul saw menuju sahabat-sahabatnya dengan membawa tanah di tangannya. Apa yang menyebabkan cucuran air matamu ? bersabda nabi saw : bersabda Jibrail kepadaku. dan rasulullan saw dalam keadaan menangis. bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Furat. Utsman. lalu bertanya Rasul saw : Apakah engkau mencium tanahnya(karbala)? Menjawab Imam Ali kw : betul. Bahkan di halaman setelahnya diceritakan bahwa Rasul mengisyaratkan kepada ‘Aisyah ketika terbunuhnya Al-Husein di karbala maka tanah itu akan memerah16 At-Tirmidzi juga menuliskan hadits tersebut dalam sunannya17 bahwa pada saat itu Ummu Salamah ra melihat Nabi saw menangis dalam keadaan tidur dimana pada kepala dan jenggotnya terdapat tanah dan berkata : “Al-Husein akan terbunuh mengenaskan yang tak ada kejadian sebelumnya”18 . dan Jibrail datang memberiku tanah ini dan mengkhabarkanku bahwa kejadian itu di dekat muara sungai. Umar. terbunuh di padang ini . dan para pemuda dari keluarga Muhammad saw.13 Dengan hadits yang serupa ditulis pada kitab Shawa’iq Al-Muhriqah liibni Hajar. dan disinipulalah tempat meningggalnya (syahidnya mereka). dan menangislah seluruh langit dan bumi”14 Meriwayatkan pula As-Syafi’i di dalam bab indzar An-nabi saw dan selanjutnya di dalam kitabnya a’laamu an-nubuwwah dari ‘urwah dari ‘aisyah berkata : ketika itu Al-Husein menemui kakeknya rasul saw dan datang Jibrail menyampaikan khabar kepada rasul saw : “sesungguhnya ummatmu akan tercerai berai setelahmu dan mereka akan membunuh putramu yang ini (AlHusein) peristiwa tersebut akan terjadi setelah engkau meninggal dunia. Dan ketika Imam Ali kw melewati kuburan Al-Husein. aku -Imam Ali kw. dan malaikat bersabda : di tanah ini lah akan terbunuh putramu (Al-Husein). berkata perawi : aku berkata : Apakah itu ?berkata Imam kw : “Di suatu hari aku menemui rasulullah saw dan rasul saw mencucurkan air matanya. fashl ke-3 bab ke-12. Hudzaifah.15 Dan nama tanah itu adalah tanah “‫(“ الطف‬Karbala yakni di tepi sungai). kemudian Jibrail as menjulurkan tangannya dan memberikan tanah putih.

seperti yang difirmankan Allah SWT : ‫وما ينطق عن الهوى‬ َ ْ ِ َ ُ ِ َْ َ ‫إن هو إل وحي يوحى‬ ٌُ ْ َ ّ َُِ ْ ِ ‫ما كذب الفؤاد ما رأى‬ َ ُ ُْ َ َ َ “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya”21 “Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”22 “Hatinya (yang bersih) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”23 “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang ٌ ََ َ ٌَ ْ ُ ِ ِ ُ َ ‫لقد كان لكم في رسول ال أسوة حسنة‬ ْ ُ َ َ ْ ََ 24 baik bagimu” Oleh sebab itu tangisan rasul saw terhadap Al-Husein memiliki nilai lain yang lebih tinggi dari hanya sekedar hubungan keluarga kakek dan cucu. Hal ini bisa kita kaji dalam beberapa sumber kitab ahlussunnah : . dan juga sahabat nabi. hari ke-7 dari kelahirannya.20 Mengapa Harus Menangisi Al-Husein? Kita sudah melihat sekilas bahwa Nabi saw pun untuk yang pertama kalinya mengadakan upacara kesedihan atas kesyahidan cucunya Al-Husein.Tidak hanya disitu di dalam kitab ahlussunnahpun diceritakan waktu kejadian yang lebih detail seperti yang ditulis dalam kitab As-Sawaiq dari Ibnu Abbas.19 Oleh sebab itu hadits mengenai kejadian Karbala dan ratapan ataupun tangisan rasulullah saw merupakan hadits mutawatir dalam berbagai macam kitab hadits. baik itu tangisan rasulullah ketika hari kelahiran Al-Husein. kadang kala pula bersertanya Jibrail. dan ketika melihat Al-Husein bersedih rasulpun menangis. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa Nabi tidaklah pernah melaksanakan sesuatu baik itu ucapan. di kamarnya. Imam Ali kw dan Fatimah ra. apa yang dilihat dan dilakukannya serta yang didengarnya salahsatunya tangisan ataupun kegembiraan selain dari pada izin dan keridhoan Allah SWT. Begitu bersedihnya rasululullah pada masa itu seakan-akan hari Asyura dan peristiwa karbala telah terjadi. tetapi tangisan yang mengandung nilai risalah untuk agama Islam untuk masa yang akan datang. bukan pula tangisan rasul saw disebabkan hanya hubungan nasab dan darah dengan Al-Husein sebagai cucu tersayangnya akan tetapi mengandung makna yang lebih tinggi dari sekedar tangisan tersebut. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa menangisi Al-Husein di hari-hari Asyura merupakan sunnah Nabi yang dianjurkan. Tentunya tangisan nabi bukanlah sembarang tangisan. Sering nabi mencium Al-Husein di dada atasnya lalu menangis. di sebagian safarnya. kadang-kadang menagis dalam kesendirian. ketika melihat AlHusein bergembira rasul saww menangis. rasul-Nya dan umatnya. dan menciumnya di kedua bibirnya lalu menangis. setelahnya di rumah Fatimah Az-Zahra ra. Risalah tersebut bisa kita sandingkan kepada tangisan rasulullas saw terhadap Al-Husein disebabkan posisi Al-Husein yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. di minbar.

“Rasulullah saw menjawab: “Ali. dan anak-anak (abna’ana) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah saw sendiri”. “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu. sebagai orang-orang yang terdepan dalam mewakili ummat nabi. bersabda: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran. Al-Husein disebut sebagi putra-putranya rasulullah saw. bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husein sembuh mereka akan berpuasa tiga hari. Hasan Husein. Husein. Ayat Mubahilah : Qs:3:61 “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anakanak kami(Abna’ana) dan anak-anak kamu. Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali. Fatimah. Al-Husein adalah salah satu Al-Qurba (Keluarga dekat) yang dimana Allah dan rasul saw sendiri yang mewajibkan kecintaan terhadap mereka seperti yang tertulis pada firman Tuhan. Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata. .A. bahwa “ketika al-Hasan dan al-Husein sakit. dalam bermubahalah dengan para pendeta kaum Najran yang tidak menerima kenabian Muhammad saw. Lalu Imam Ali dan Sayyidah Zahra ra bernazar diikutipula oleh seorang hamba bernama Fiddah.” (Ali Imran: 61) Imam Kazhim a. diri (anfusana) berarti Ali bin Abi Thalib. isteri-isteri kami(nisa’ana) dan isteri-isteri kamu. Al-Husein merupakan salah satu ahlul bait nabi yang disucikan sehingga jauh daripadanya kenistaan. Surat Al Insan : 5-23 Mengenai pengorbanan Ahlulbait dalam menolong faqir miskin dan yang membutuhkan termasuk didalamnya Al-Husein. terkenal pula dengan hadits Kisa yaitu doa nabi kapada ahlul bait. dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya”.27 4. kemudian marilah kita bermubahilah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Rasulullah saww hanya membawa Ali bin Abi Thalib.”26 3. kekotoran dan dosa: Ayat Al-Tathir. Tafsir Qur’an Ulama Ahlusunnah 1. Qs 33:33. Hasan dan Husein. Fathimah. Ini berarti. Al-Husein merupakan salah satu Ahlul Bait Nabi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagai pemimpin ummat yang mendahulukan kepentingan umatnya diatas kepentingan pribadinya. diri kami (anfusna) dan diri kamu. hai ahlulbait. Hasan. “Wahai Rasulullah saw siapakah qarabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka.” Yang dimaksud Qurba disini adalah Ali. Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku)(Qurba). al-Zamakhshari menyatakan.s.25 2. Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya. Fatimah. dan kedua-dua anak mereka (yakni Al-Hasan dan Al-Husein). Ketika ayat itu turun rasul memasukkan Ali. Fatimah. Fatimah. wanita (nisa`ana) berarti Fathimah.

Allah memberikan tahniah pada Ahlul Bait kamu lalu Jibrail pun membacakan Surah (al-Insaan)” 28 5. maka keadaaan ini membuat sedih rasulullah saww. dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan memintaminta makanan.Kemudian keduanya sembuh. ketika sampai waktu petang dan tangan mereka sedang memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka. mereka pun memberikan makanan tersebut. Begitu juga Al-Husein dimana dia sebagai cucu kesayangannya dan sebagai penerus risalahnya. . Di dalam kitab Hadits Ahlussunnah diantaranya adalah 1. Dan Al-Husein merupakan salah satu imam (pemimpin dunia akhirat) dan wasyi (Wakil) nabi setelahnya bisa dilihat di dalam salah satu kitab aqidah ahlusunnah wal jamaah30 Betapa tingginya Kedudukan Al-Husein. tibatiba muncul di hadapan mereka seseorang pengemis dan berkata: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bait: berilah aku makan nescaya Allah akan memberi kamu makan daripada hidangan syurga. Fatimah menggiling satu sau ‘an dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali. Rasul saw bersabda bersabda: apakah yang telah terjadi yang menyebabkanku sedih melihat kalian. sehingga tangisan rasul saww sebanding dengan kemuliaannya. lalu ‘Ali meminjam dari Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak tiga aswa’ gandum (sya’ir). mereka pun memberikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. lalu rasul saww pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk kelaparan berbongkok sampai bertemu bagian atasnya dengan perutnya dan mencurahkan air matanya. Allah mencintai siapa saja yang mencintai al-Husein adapun al-Husein adalah keturunanku putera puteriku (az-Zahra). sehingga apabila datang khabar bencana yang akan menimpanya maka sudah sepantasnyalah menangisi Al-Husein sebagaimana Nabi kita saw menangisinya pula. tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa pun. Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa. Rasulullah saw telah bersabda: ‫حسين مني و أنا من حسين أحب ال من أحب حسينا حسين سبط من السباط‬ Husein dariku dan aku pula dari Husein. Maka mereka mengutamakan pengemis tersebut lalu mereka tidur dan tidak makan kecuali air dan besoknya mereka berpuasa lagi. Dimana posisi nabi Yusuf as pada saat itu adalah sebagai putra dan penerus risalah ayahnya. dan lain-lainnya di sini hanya beberapa saja yang disebutkan B. Hasan dan Husein dan jariah). Fatimah. kemudian Malaikat Jibrail turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Maka pada keesokan harinya. ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husein untuk menemui Rasulullah saw dan ketika Rasul saw melihat mereka dalam keadaan gemetaran dan menggigil kelaparan.Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir.29 2. Seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya yang menangisi putra penerus kenabiannya yang menangisinya ketika kehilangan putra-putra mereka seperti kisah nabi Ya’kub as.

Mudah-mudahan Majelis Asyura menjadi subur di sepanjang zaman tanpa sekat-sekat mazhab dan keyakinan. Qs : Yusuf : 84 7. Qs: Al-An’am :164 10. 11 Shahih Muslim.Penutup Peristiwa memilukan Karbala dan menangisi serta meratapi Al-Husein adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul saw sendiri. hal 348-349. Sebab rasul saw sendirilah yang melakukannya. hal. 339 (Shamila) . Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid II. hal ke-39 Darul Fikr. hal. Musnad Ahmad bin Hanbal no. 339 8. Shahih Bukhari Bab Janaiz no. atau juz2. beirut Al-A’lami. 1507 . 5. 431 12. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz III. 3158 (Shamila) 6. Tarikh Tabhari. hal 85 Darul Fikr. hal. 243. Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. Atau Musnad Ahmad jilid ke-2 hal ke-40. Daftar Pustaka 1. Beirut. sebab bagaimana mungkin Al-Husein sebagai junjungan dan pemimpin umat yang harusnya dimuliakan dan dilindungi terbunuh secara keji di padang karbala. hal. 3. 11. Dengan menjadikan Asyura sebagai duka bersama kaum Muslim disini kita akan menemukan titik persamaan ajaran nabi saw dan juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diambil daripadanya. hal 614 (Zikr Wafat Abu Bakar). Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid IV. 2. hal. Musnad Ahmad no. Shahih Bukhari Bab Janaiz no 1303 (Shamilah). Istii’ab fi Ma’rifat Al-Ashhab jilid ke-1. Darul Fikri. Tangisan ini membawa pengaruh yang besar bagi ajaran nabi saw. 4. 4984 (Shamila). Bersama-sama merenungi hikmah dibalik karbala merupakan tugas bersama bagi kaum muslimin. Beirut. Tafsir Al-Kasysyaf jilid II. dan hari-hari Asyura merupakan hari-hari duka bagi seluruh manusia khususnya kaum muslim tanpa sekat mazhab.147 juz I dan Shahih Muslim jilid 3. atau Shahih Bukhari jilid II. 228. Bab Baka’ ‘alal mait no. juz VI hal. juz 2 (Shamila). atau shahih bukhari hal. 1284 (Shamila). 9.

hal 223. hal. hal. 16. Al-Mustadrak Al-Hakim jilid IV.Si . hadits 1098. jilid 5 hlm 198-199. Qs: An-Najm:3 22. 14. hal. Qs: Al-Ahzab :21 25. hlm 246. Al-Khashaish Al-Huseiniyyah. 353. hal 119 (Shamila) hadits ke-613. jilid 6.105. 107. hal. Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir jilid III hal. hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah. hadits ke-702 30. Al-Mu’jam Al-Kabir juz 22. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah. Sunan At-Tirmidzi. Kanz Al-‘Umal jilid 13. As-Sawa’iq Al-Muhriqah hal 193 15. jilid 7. Sahih tirmidzi.298.bab ke-12. hlm. hadits ke-2814 dan 2815 (Shamila). 655 hadits 37663. Dar Shadr. hal. Qs: An-Najm:4 23. Al-Haisyami di dalam Majma’ Az-Zawaid jilid 9. A’lam An-Nubuwwah. atau Musnad Ahmad. Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsirul Kabirnya 28. Musnad Abi Ya’li Al-Maushuli jilid I. 120. lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur. Penyusun : Muhammad Habri Zen S. hal. 283 20. hlm.13. Qs: An-Najm:11 24. jilid IX hal 187. Yanabi’ Al-Mawaddatah lidzawil Qurba juz III hal. hadits ke-2811. 18. hal. jilid I. hadits ke-3860. Zamaksyari dalam tafsir al-kasysyaf 27. Musnad Ahmad. Majma Az-Zawaid Lilhaitami. tahun 1408. Jilid 5. 324. Musnad Ahmad Juz II. 188. Al-Zamakhshari dari Ibn Abbas rd 29. hal. jilid 13. Musnad Ahmad juz I . hal 274.al-Manthur karangan al-Suyuti. Al-Mu’jam Al-Kabir Lithabarani jilid 3. 23. hal. hal. 105-232 21.85. 19 19. 306. Sahih Muslim. dan lain-lain 26. Mu’jam Al-Kabir jilid III.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->