P. 1
08_Endang Mulyatiningsih_Model Evaluasi Keberlanjutan SD Ke SMP Dalam Rangka Wajib Belajar 9 Tahun

08_Endang Mulyatiningsih_Model Evaluasi Keberlanjutan SD Ke SMP Dalam Rangka Wajib Belajar 9 Tahun

|Views: 978|Likes:

More info:

Published by: Al-Quran Landasan HidupKu on Jul 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

I. PENDAHULUAN Kebijakan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan SK Mendiknas No. 11/U/2002 tentang penghapusan EBTANAS SD dan SK Mendiknas No.

012/U/2002 tentang penggantian EBTANAS SD dengan Ujian Akhir Sekolah (UAS) menyebabkan siswa pada masa transisi SD ke SMP harus melewati beberapa kali ujian dan seleksi. Selama kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) berlaku, siswa SD hanya cukup menempuh ujian dua kali yaitu ujian pra EBTA dan EBTANAS. Setelah kebijakan EBTANAS diganti dengan kebijakan Ujian Akhir Sekolah (UAS), siswa SD harus mengalami beberapa kali ujian yaitu ujian pra UAS, UAS, dan ujian seleksi masuk ke SMP. Kebijakan UAS diterapkan karena EBTANAS dipandang memiliki beberapa kelemahan. Menurut hasil penelitian Djemari Mardapi (1999: 79-80) beberapa kelemahan yang ditemukan dalam EBTANAS adalah: (1) secara kuantitas EBTANAS cenderung memacu guru untuk menyelesaikan kegiatan belajar mengajar berdasarkan kurikulum mata pelajaran yang di EBTANASkan tetapi tidak demikian untuk mata pelajaran lain; (2) EBTANAS berhasil merintis baku mutu untuk SMP namun belum bisa untuk SD dan SMU; (3) NEM merupakan alat seleksi siswa baru yang efisien dan obyektif namun karakteristik tes prestasi berbeda dengan tes seleksi; dan (4) validitas prediktif NEM cukup rendah. Setelah dua tahun penghapusan kebijakan EBTANAS dilaksanakan, Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) melakukan evaluasi penyelenggaraan Penerimaan Siswa Baru (PSB) SMP. Beberapa dampak negatif yang ditemukan dalam sistem PSB antara lain: (1) SMP Negeri favorit kebanjiran calon siswa, sedangkan SMP Negeri yang kurang favorit kekurangan siswa; (2) nilai UAS yang tinggi belum menjamin siswa dapat masuk ke sekolah negeri; (3) Secara tidak langsung, sistem PSB telah menimbulkan dampak psikologis bagi orang tua, guru, dan siswa yang nilai UAS nya tinggi namun tidak lulus dalam PSB (Ajisukmo dkk, 2004: 2). Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.  
Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih

Halaman 1

Berdasarkan beberapa kelemahan di atas, maka ujian kelulusan pada tingkat SD dan sistem seleksi masuk ke SMP dikelola oleh masing-masing daerah sesuai dengan konteks desentralisasi pendidikan. Dinas Pendidikan Propinsi DIY pada tahun 2006 menerapkan kebijakan Ujian Sekolah Daerah (USD) yang hasilnya digunakan sebagai salah satu alat seleksi masuk ke SMP. Setelah sistem keberlanjutan SD ke SMP dilakukan dengan berbagai cara, maka perlu ada evaluasi untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang menyangkut keberlanjutan layanan wajib belajar 9 tahun. Evaluasi keberlanjutan SD ke SMP termasuk dalam lingkup kebijakan pemerataan dan perluasan akses pendidikan. Dalam layanan wajib belajar 9 tahun diharapkan semua anak usia sekolah, khususnya anak perempuan yang berada dalam keadaan sulit dan kelompok etnik minoritas, mempunyai akses dan dapat menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas, wajib dan berkualitas baik. Wajib belajar pendidikan dasar menjamin dampak belajar dapat dicapai oleh semua penduduk, khususnya dalam buta aksara, buta angka/menghitung dan keterampilan hidup (life skills) esensial (Unesco, 2003 : 8). Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun bertujuan untuk: (1) menguji model pengukuran kapabilitas siswa SD untuk belajar ke SMP; (2) menguji model struktural alat keberlanjutan SD ke SMP; dan (3) mengevaluasi sistem keberlanjutan SD ke SMP dari aspek: (a) input alat seleksi PSB dan kemampuan awal siswa; (b) proses PSB dan layanan belajar setelah siswa diterima di SMP; (c) produk belajar yang berupa standar kompetensi yang ingin dan telah dicapai sekolah Pemecahan masalah penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model evaluasi responsif dari Stake dan CIPP (context, input, process and product) dari Stufflebeam. Data penelitian terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif yang diambil secara cross sectional. Sampel diambil menurut strata mutu sekolah dengan ukuran 8 orang kepala SMP, 134 siswa SD kelas VI

Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.  
Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih

Halaman 2

tahun 2005/2006, 764 siswa SMP kelas IX tahun 2005/2006 dan 630 siswa SMP kelas VII tahun 2006/2007. Data penelitian dikumpulkan dengan metode: tes, dokumentasi, observasi, kuesioner dan focus group discussion. Tes terdiri dari tes prestasi belajar dan tes potensi belajar. Dokumen prestasi siswa meliputi nilai rapor siswa sejak kelas 4 SD, nilai USD, nilai tes seleksi SMP, nilai Ujian Nasional SMP dan nilai tes standarisasi mutu SMP. Observasi dilakukan untuk mengamati motivasi belajar dan kuesioner digunakan untuk mengetahui potensi ekonomi sebagai pendukung kapabilitas siswa SD untuk belajar di SMP. Focus group discussion dilaksanakan untuk mengevaluasi sistem keberlanjutan SD ke SMP berdasarkan respon Kepala Sekolah sebagai responden evaluasi responsif. Analisis data model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dilakukan melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, analisis data dilakukan menggunakan Chi Square, regresi linier, dan Greenhouse-Geisser untuk menguji asumsi analisis sebelum penggunaan statistik inferensial. Analisis data utama menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji model pengukuran dan model struktural evaluasi kapabilitas siswa SD untuk belajar ke SMP dan evaluasi alat keberlanjutan SD ke SMP. One factor repeated-measures analysis of varian digunakan untuk menguji stabilitas prestasi siswa selama tujuh semester (dari SD kelas IV sampai SMP kelas VII semester 1). Pada tahap akhir, dilakukan analisis post hoc anova menggunakan metode Bonferroni untuk mengetahui perbedaan masing-masing nilai yang diulang setelah hipotesis alternatif didukung data Analisis data kualitatif dilakukan dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan yang diharapkan kemudian dibandingkan lagi dengan standar yang sudah ditetapkan. Proses pengambilan judgment sistem keberlanjutan SD ke SMP dapat dilihat pada Gambar 1

Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.  
Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih

Halaman 3

Perbandingan dengan standar mutlak Data nyata dan yang diharapkan Anteseden Transaksi Outcome Perbandingan dengan standar relatif Deskripsi data Program keberlanjutan SD ke SMP Standar absolut

J U D G M E N T

Deskripsi data program keberlanjutan jenjang sekolah lain

Gambar 2. Cara Pengambilan Judgment Evaluasi II. KAJIAN TEORI Evaluasi mempunyai arti yang sangat luas dan bukan merupakan konsep baru. Semua program kegiatan menggunakan evaluasi untuk melihat tingkat keberhasilan program yang telah dicapai, mengetahui efektivitas dan efisiensi program yang sedang berjalan dan memperoleh informasi untuk penetapan kegiatan berikutnya. Baumgartner (1973), menjelaskan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengambilan keputusan dinamik yang difokuskan pada perubahan yang telah dibuat. Proses evaluasi melibatkan pengumpulan data pengukuran yang sesuai, pertimbangan nilai menurut standar yang ditetapkan dan membuat keputusan yang berbasis pada data. Evaluasi berfungsi untuk memfasilitasi keputusan yang rasional dan objektif. Griffin (1991: 5) menjelaskan bahwa secara umum, evaluasi dilibatkan dalam pembuatan pertimbangan berharga.

Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.  
Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih

Halaman 4

Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa: (1) productivity atau mampu memelihara dan meningkatkan produksi alat/pelayanan evaluasi. procces. konsep sustainability yang dikemukakan oleh Bamberger tersebut memberi makna evaluasi kinerja hasil pendidikan pada saat sekarang namun hasilnya masih memberi aliran manfaat pada masa-masa yang akan datang.s constributions are successfully institutionalized and continued over time (Stufflebeam. Apabila konsep sustainability evaluation diadopsi dalam program pendidikan dapat bermakna penilaian sebuah program pendidikan yang mampu memberi kontribusi pada kesuksesan pendidikan dan keberlangsungannya dari waktu ke waktu. Ridaura (2002: 8) menjelaskan bahwa sustainability evaluation menuntut kemungkinan perubahan dimasa yang akan datang sudah dapat diprediksi mulai dari sekarang. Stability hanya mengacu pada kemungkinan perubahan. 2002: 12). viability. Berdasarkan konteks tersebut. Sustainability mengandung makna yang lebih dalam dari stability.   Oleh: Dr. Ridaura (2002: 5) menjelaskan bahwa ada lima pilar sustainability evaluation yaitu productivity. dan acceptability. Dalam periode waktu yang jelas. input. protection. keberlanjutan dipercaya telah diukur apabila stabilitas sistem dan stabilitas hasil minimal dapat dipertahankan bahkan dapat lebih ditingkatkan. security. sustainability dan transportability. Dalam evaluasi pendidikan. (2) security atau aman dan mempunyai tingkat resiko yang paling kecil pada saat digunakan untuk Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Endang Mulyatiningsih Halaman 5 . periode waktu merupakan indikasi penting yang menunjukkan adanya keberlanjutan. product). effectiveness. Sustainability evaluation assesses the extent to which a program.Evaluasi keberlanjutan (sustainability evaluation) merupakan bagian dari evaluasi produk yang berada dalam lingkup model evaluasi CIPP (contexs. Evaluasi produk itu sendiri terdiri dari empat jenis yaitu impact. Bamberger (1993: 7) memberi penjelasan bahwa sustainability adalah kemampuan sebuah proyek untuk mempertahankan aliran keuntungan dari waktu ke waktu.

entry behavior termasuk dalam klasifikasi data antecedent yang dapat berupa status seorang siswa sebelum mengikuti pelajaran seperti: bakat. pengalaman sebelumnya. Prediksi keberlanjutan kemampuan siswa ditetapkan setelah siswa menunjukkan kemampuan yang stabil meskipun diukur menggunakan alat ukur yang berbeda secara berkesinambungan dan komprehensip. Bloom (1976) yang dikutip oleh Roid and Haladyna (1982: 16) menjelaskan bahwa prestasi yang diukur dengan tes acuan kriteria mempunyai fungsi untuk menetapkan cognitive entry characteristics. (4) viability atau alat evaluasi tersebut terjangkau oleh semua lapisan sehingga menjamin kelangsungan penggunaannya. (3) protection atau terlindung dari sumber-sumber yang menyebabkan hasil evaluasi menurun keakuratannya. Cognitive entry behavior merupakan istilah lain untuk menjelaskan tipe-tipe prerequisite pengetahuan.penentuan keputusan. Prerequisite belajar diperlukan agar kemampuan siswa setara untuk memasuki tugas belajar baru. minat dan kemauan. Model linier yang digambarkan oleh Bloom untuk menjelaskan tentang pencapaian prestasi adalah sebagai berikut: Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. dan (5) acceptability atau alat evaluasi tersebut dapat diterima secara sosial. Dalam responsive evaluation. keterampilan dan kompetensi yang esensial untuk belajar pada tugas-tugas baru. affective entry characteristics dan kualitas pembelajaran.   Oleh: Dr. Seorang siswa yang akan memasuki tugas belajar baru mempunyai sejarah khusus pengembangan belajar sebelumnya. Endang Mulyatiningsih Halaman 6 . Penilaian berkesinambungan yaitu materi yang dinilai sesuai tingkat kompetensi yang harus dimiliki pada tiap – tiap jenjang kelas atau semester. Evaluasi keberlanjutan SD ke SMP yang dimaksud dalam penelitian ini adalah evaluasi yang digunakan untuk memprediksi kemampuan siswa dan menetapkan keberlangsungan pelayanan siswa pada studi tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Penilaian secara komprehensip yaitu penilaian yang menggunakan alat pengukuran ganda.

Apabila semua faktor tersebut dijumlahkan sedikitnya ada 90% untuk semua varian. lingkungan rumah. sedangkan sisanya dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran sekitar 25%. positive attitudes) Gambar 2: Pengaruh Karakteristik Masuk dan Kualitas Pembelajaran pada Outcome Konstruk belajar dari Bloom menjadi dasar teori dalam penelitian ini. Bloom’s menganalisis tiga konstruk yang berhubungan dengan belajar yaitu cognitive entry characteristics menyumbang varian 50%.   Oleh: Dr. dan X3 adalah kualitas pembelajaran. latar belakang lain yang berpengaruh pada pada belajar siswa.Y = F(X1. 10% sisanya adalah sejarah keluarga. X2. Student characteristics as affected by the learning history and home environment Cognitive entry characteristics Affective entry characteristics Quality of instruction Instruction Learning outcome Learning unit Level and types of achievement. Apabila salah satu dimensi tidak terpenuhi secara sempurna maka dimensi yang lain perlu ditingkatkan. Affective Outcomes (e.g. affective entry characterictic menyumbang 25%. sikap dan kualitas pembelajaran. Dalam rangka wajib Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Endang Mulyatiningsih Halaman 7 . Substansi kapabilitas dapat dijumlahkan dalam dua konstruk yaitu bakat untuk belajar dan motivasi. Secara singkat. Cognitive dan affective entry characteristics bekerja secara unik dan bersama-sama membentuk basis kapabilitas siswa. konstruk belajar dapat dijelaskan pada Gambar 2. Asumsi yang menjadi pedoman dalam konsep keberlanjutan adalah hasil belajar dibangun dari berbagai dimensi yaitu kemampuan akademik.. X2 adalah affective entry characteristics seperti sikap dan kepribadian. X1 adalah cognitive entry characteristics. Rate of learning. X3) Dimana Y adalah prestasi yang diukur dengan test acuan kriteria.

   Oleh: Dr. (2) seseorang akan diterima pada basis skor prediktor dan berpenampilan di bawah kriteria (sebuah prediksi tidak akurat atau miss. Keberlanjutan pendidikan dari suatu jenjang pendidikan menuju ke jenjang pendidikan berikutnya banyak menggunakan alat seleksi. (4) seseorang akan ditolak pada basis skor prediktor dan secara potensial mempunyai penampilan lebih rendah dari kriteria (sebuah prediksi akurat atau miss. Friedenberg. layanan pendidikan perlu memperhatikan karakteristik input yang tidak hanya diukur dari aspek kognitif saja tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek afektif. anak-anak yang mempunyai kemampuan kognitif rendah perlu dilayani dengan pembelajaran yang berkualitas baik supaya mencapai hasil belajar yang optimal. (1995: 303) menulis ada empat dampak yang mungkin terjadi ketika sebuah keputusan dibuat melalui studi efisiensi seleksi dalam evaluasi keberlanjutan yaitu: (1) seseorang akan diterima pada basis skor prediktor dan berpenampilan baik sesuai kriteria (sebuah prediksi akurat atau hit. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. TBS berkorelasi positif terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia sebesar 0. Untuk memperoleh hasil pendidikan yang lebih bermakna. Hasil penelitian Soetarlinah (1997: 46) menemukan skor tes bakat sekolah (TBS) dapat memprediksi nilai rapor. Secara umum skor komposit TPA berkorelasi positif dengan IPK pada sembilan jurusan dari sepuluh jurusan yang diteliti. dinamakan true negative). Pada siswa SMK. TBS mempunyai koefisien korelasi sebesar 0. dinamakan true positive). Heri Widodo (2004: 87) meneliti daya prediksi TPA terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.35 terhadap nilai rata-rata dua mata pelajaran yaitu matematika dan bahasa Indonesia. (3) seseorang akan ditolak pada basis skor prediktor dan secara potensial mempunyai penampilan baik pada kriteria (sebuah prediksi tidak akurat atau miss.44. Endang Mulyatiningsih Halaman 8 . dinamakan false positive). dinamakan false negative). Berikut ini dikutip beberapa hasil penelitian yang mendalami prediksi alat seleksi penerimaan siswa/mahasiswa baru.belajar 9 tahun. Pada siswa SMU.

21 BIND 0. tes potensi belajar (TPB). Potensi pendukung terdiri dari dua variabel manifes yaitu motivasi belajar (MOT) dan potensi ekonomi (EK).15 IPA 0.116 Gambar 3: Model Pengukuran Kapabilitas Siswa SD untuk Belajar ke SMP Kapabilitas siswa SD untuk belajar di SMP yang ditetapkan dengan nilai USD dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu nilai rerata rapor dan Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. HASIL DAN PEMBAHASAN A.III. IPA dan UAS IPS.18 MAT BIND RAPOR 0.21 KUANT 0.63 GAMBAR 0. Matematika (MAT). Tes Potensi Belajar (TPB) dibangun dari tiga variabel manifes yaitu tes verbal (VERBAL). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).92 0.62 0.17 USD 0.   Oleh: Dr.34 0.79 MAT 0.00000.89 0.32 PENDK 0.91 EK Chi-Square=163.85 IPA 0.81 0. df=59. RMSEA=0.91 0.79.30 VERBAL 0. Matematika (MAT). Pengukuran kapabilitas belajar dilaksanakan terhadap 134 siswa SD kelas VI tahun ajaran 2005/2006 yang berasal dari 4 sekolah.89 -0.61 0.17 IPS TPB 0.83 0. Hasil Penelitian 1.87 0.84 0.25 MOT 0. dan potensi pendukung (PENDK). Pengukuran Kapabilitas Siswa SD untuk Belajar ke SMP Kapabilitas siswa SD yang akan belajar ke SMP dievaluasi dari tiga variabel laten eksogen yaitu nilai rerata rapor (RAPOR).31 IPS 0. Variabel laten endogen kapabilitas belajar adalah nilai Ujian Sekolah Daerah (USD) yang terdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia (BIND). kuantitatif (KUANT) dan gambar (GAMBAR). Endang Mulyatiningsih Halaman 9 . Nilai rerata rapor (RAPOR) terdiri dari empat variabel manifes yaitu Bahasa Indonesia (BIND).91 0. P-value=0. Hasil analisis model pengukuran kapabilitas belajar dapat disimak pada Gambar 3 berikut ini: 0.37 0.49 0.27 0.

17*PENDK + 0. Hasil analisis model pengukuran menunjukkan variabel laten potensi pendukung (ekonomi dan motivasi) berkorelasi negatif dengan USD.94 yang lebih besar atau sama dengan kriteria model fit 0.7.9. Endang Mulyatiningsih Halaman 10 . Comparative Fit Index (CFI) = 0. Analisis Maximum Likelihood dengan program LISREL memperoleh model persamaan struktural sebagai berikut: η1 = γ11 ξ1 + γ12 ξ2 + γ13 ξ3 + ζ1 atau USD = 0.62) daripada pengaruh nilai rapor terhadap USD (0. Model persamaan struktural tersebut bermakna TPB mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap USD (0.90. Hasil analisis Goodness of Fit Statistic menunjukkan model dinyatakan fit atau didukung data berdasarkan kriteria Normed Fit Index (NFI) = 0.62*TPB + 0. Model Keberlanjutan SD ke SMP Model keberlanjutan SD ke SMP disusun dari model struktural alat seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB) terhadap prestasi belajar SMP.potensi belajar.077. Hal ini menunjukkan bahwa dua variabel manifes tersebut kurang baik sebagai indikator pada variabel laten Tes Potensi Belajar (TPB) dan potensi pendukung (PENDK). meskipun secara terpisah. motivasi belajar siswa menjadi indikator yang baik pada variabel laten pendukung. Alat PSB menjadi variabel laten eksogen yang terdiri dari nilai rerata rapor SD (RAPOR) dan gabungan nilai Ujian Sekolah Daerah (USD).   Oleh: Dr.79).91.94 dan Incremental Fit Index (IFI) = 0.49*Rapor – 0. Prestasi belajar SMP menjadi variabel laten endogen yang ditetapkan pada nilai tes standar mutu SMP (TSMP) semester 1. Alat-alat seleksi PSB yang tidak tergabung dalam model struktural dianalisis dengan cara lain yaitu menggunakan korelasi intersection test. 2.49). TPB dan RAPOR juga mempunyai hubungan yang sangat kuat yaitu 0. Hasil analisis model pengukuran kapabilitas belajar menunjukkan variabel manifes tes gambar dan potensi ekonomi memiliki muatan faktor yang rendah yaitu < 0. Hasil analisis model struktural prediksi nilai rerata Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Variabel laten pendukung (PENDK) berpengaruh negatif (-0.17) terhadap USD tetapi berpengaruh positif terhadap TPB (0.73) dan RAPOR (0.

rapor SD dan nilai USD terhadap nilai tes standar mutu SMP dapat ditampilkan pada Gambar 4.61Rapor + 0. Comparative Fit Index (CFI) = 0.57.3% data longitudinal disertakan dalam analisis.93 dan Incremental Fit Index (IFI) = Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.79 0. Hasil analisis Goodness of Fit Statistic menunjukkan Normed Fit Index (NFI) = 0.59.23USD + 0.02 sehingga menjadi 0. koefisien γ12 meningkat 0.55.19).   Oleh: Dr.40.42 menjadi 0. (2) Penurunan loading factor pada variabel manifes nilai tes standarisasi mutu SMP mata pelajaran IPA yaitu dari 0.3% data longitudinal dari sampel yang sama terjadi perubahan menjadi TSMP = 0.19USD + 0. Setelah 73. Hasil analisis model struktural menunjukkan rerata nilai rapor SD selama lima semester (RAPOR) mempunyai prediksi yang lebih tinggi (γ11 = 0.59Rapor + 0.04 sehingga menjadi 0.61 TSMP 0. Setelah model ditambah 73.00 0. Endang Mulyatiningsih Halaman 11 .61) terhadap nilai tes standarisasi mutu SMP kelas VII semester 1 (TSMP) sedangkan prediksi nilai USD terhadap nilai tes standarisasi mutu SMP sebesar (γ12 = 0.93. Beberapa perubahan menyolok terjadi setelah penambahan data longitudinal adalah: (1) peningkatan loading factor pada variabel manifes nilai tes standarisasi mutu SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia dari 0.23 dan γ11 menurun 0.40 USD Gambar 4: Model Struktural Prediksi Nilai Rerata Rapor SD dan Nilai USD terhadap Tes Standar Mutu SMP Hasil analisis model struktural pada Gambar 4 dapat ditulis dengan menggunakan model persamaan matematis sebagai berikut: η1 = γ11 ξ1 + γ12 ξ2 + ζ1 atau TSMP = 0.00 RAPOR 0. 1.37.70 menjadi 0.19 1.

sedangkan USD mempunyai korelasi rendah sebagai prediksi tes standarisasi mutu SMP Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.6% prediksi nilai tes standar mutu SMP ditentukan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Tabel 2 Validitas Prediksi Intersection Test Pengukur Prestasi Siswa Variabel n Kasus Variabel yang Dijelaskan Penjelas Rerata UN USD Tes SMP Sem 1 Tes Seleksi 763 0.0.546 USD 626 1 0. Selanjutnya.4% prediksi nilai tes standar mutu SMP ditentukan oleh nilai rerata rapor dan USD.334 Adjusted R Std. Hasil analisis ini menunjukkan pula bahwa 66.44 TPB 134 0.578a R Square 0. konsistensi hasil analisis dibuktikan dengan korelasi intersection test alat-alat pengukur prestasi siswa menggunakan program SPSS.9).334 atau dengan kata lain 33. Prediktor: (Constant).11339 a. Hasil analisis dilaporkan di Tabel 2.   Oleh: Dr. tes potensi belajar (TPB) dan nilai rapor SD mempunyai korelasi tinggi sebagai prediksi USD. Pengecekan hasil analisis SEM dilakukan dengan metode analisis regresi dan korelasi intersection test. USD.70 0. Error of Square the Estimate 0. Tabel 1 Hasil Analisis Regresi Prediksi Rerata Nilai Rapor dan USD terhadap Tes Standar Mutu SMP Model 1 R 0. Hasil analisis regresi dapat disimak pada Tabel 1.332 2. RAPORSD Hasil analisis regresi menunjukkan prediksi USD dan rapor SD secara bersama-sama sebesar 0.811 Hasil analisis korelasi intersection test memberi gambaran yang menyeluruh terhadap alat seleksi yang digunakan di SMP.578 atau berada pada kategori korelasi sedang. Hasil analisis regresi menunjukkan koefisien determinasi (R2) sebesar 0. Menurut hasil analisis korelasi intersection test tersebut. Endang Mulyatiningsih Halaman 12 .761 Rapor SD 134 0.639 Rapor SD 626 0.93 yang lebih besar dengan kriteria model fit (> 0.

407 236.887 6 49.semester 1.269 IPS 77. Analisis multivariat dilakukan untuk menguji hipotesis nol yaitu tidak ada perbedaan rerata nilai tiap-tiap pengulangan pengukuran.530 7.952 Sem 2 7. Tabel 3 Repeated Nilai Rerata Rapor per Mata Pelajaran Waktu Pengukuran (dalam dokumen nilai) Mata Pelajaran B.853 7.00 0.45 38.244 7.585 7.565 Matematika 1064.991 6 177. Hasil analisis General Linear Model (GLM) multivariat repeated-measure GLM memperoleh mean tiap pengulangan pengukuran seperti pada Tabel 3.00 0.204 6.00 0.164 IPA 298.Indonesia 542.   Oleh: Dr. Rerata rapor SD cukup konsisten sebagai prediksi TPB.884 7.999 Data pada Tabel 3 menunjukkan pola-pola penilaian yang diberikan guru pada semester ganjil lebih rendah dari pada nilai semester genap.669 7.899 Sem 2 7.300 USD 7. Prediksi keberlanjutan sekolah dapat dimonitor dari stabilitas kemampuan atau prestasi belajar.162 6.066 Kelas 5 Sem 1 7.252 5 15. 0.238 Sig.042 7. USD dan tes standarisasi mutu SMP walaupun jumlah kasus yang digunakan berbeda.005 6.217 Kelas 6 Sem 1 7. Indonesia Matematika IPA IPS Kelas 4 Sem 1 7.233 7.498 265.034 7.442 6 90.869 Kelas 7 Sem 1 6. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.474 5. Endang Mulyatiningsih Halaman 13 .282 7. Tabel 4 Hasil Test of Within-Subject Effect Measure: MEASURES_1 Sphericity Assumed Source Type III SS df MS F B.578 7.00 Menurut hasil analisis Sphericity Assumed pada 4 mata pelajaran yang dilakukan pengulangan pengukuran diperoleh informasi bahwa prestasi nilai siswa kelas 7 SMP tidak stabil yang terbukti dari penerimaan Ha dengan Sig.131 7. Rangkuman hasil analisis repeated measure menggunakan metode Sphericity Assumed terhadap 4 mata pelajaran yang menjadi indikator prestasi belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 4.084 6.197 6.419 7.814 129.657 7.

27 Matematika R 41 1 0.< 0.05 Mata Rapor Level Penilaian Pelajaran Kelas R 51 R 52 R 61 USD R 71 B.   Oleh: Dr. Analisis kasus terhadap kelompok nilai yang tidak berbeda secara nyata pada taraf signifikansi 5% dapat dirangkum dalam bentuk matrik pada Tabel 5. Evaluasi Sistem Keberlanjutan SD ke SMP Sistem penerimaan siswa baru (PSB) yang diterapkan SMP mulai tahun 2000 sampai dengan 2006 telah mengalami tiga kali perubahan.175 > 0. alat PSB menggunakan Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang merupakan hasil ujian akhir Sekolah Dasar. Prestasi siswa yang paling tidak stabil terdapat pada mata pelajaran matematika dengan F paling tinggi yaitu 265. Endang Mulyatiningsih Halaman 14 . Indonesia R 41 0.1 R 51 1 R 52 0.195 0. 3. Hasil analisis pair wise comparison tersebut secara umum menunjukkan bahwa prestasi siswa kelas 4 SD tidak berbeda nyata dengan prestasi kelas berikutnya dalam beberapa kali pengulangan pengukuran. 0. > 0.170 Keterangan R 41 = Rapor Kelas 4 semester 1.175 R 42 1 R 51 1 R 52 0. Tabel 5 Matrix Pair wise Comparison pada Kasus Khusus Sig.05). Penyebab perbedaan prestasi pada tiap-tiap pengukuran untuk mengetahui rerata kelompok nilai repeated yang berbeda dilakukan dengan metode Bonferroni.164. Sebelum tahun 2001.05.97 IPA R 41 0. Pada tahun 2002 sampai tahun 2005.527 IPS R 41 1 0. dst Data pada matrik di Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai IPS kelas 7 SMP semester 1 tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan nilai rapor kelas 4 dan kelas 5 semester 1 (Sig. Tahun 2006 ujian akhir SD dan alat PSB Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.024 R 42 0. PSB SMP menggunakan tes seleksi dan ujian akhir Sekolah Dasar dibebaskan dari ujian standar.

Perangkat tes dapat dihemat karena semua data sudah terekam dalam komputer. akuntabel. Cara RTO membutuhkan fasilitas internet sehingga penggunaannya masih terbatas di kota besar. SMP andalan mempunyai kewenangan khusus untuk menerima calon siswa dengan cara menjaring bibit unggul SD yang mempunyai ranking pertama. Endang Mulyatiningsih Halaman 15 . transparan.kembali menggunakan nilai ujian standar (USD) tingkat propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem PSB di SMP kota Yogyakarta menggunakan cara Real Time Online (RTO). Sistem PSB menggunakan Real Time Online (RTO) banyak memberi kemudahan tetapi juga mengandung beberapa kelemahan. Proyeksi sistem PSB yang layak untuk diterapkan di masa depan adalah sistem PSB berbasis komputer. Apabila butir soal yang digunakan sebagai alat seleksi sudah valid dan akses komputer merata ke kalangan bawah. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. sistem PSB menggunakan komputer dapat memenuhi azas obyektif. Beberapa kendala yang dapat ditemui adalah fasilitas penyelenggaraan tes membutuhkan biaya besar apabila tes dilaksanakan bersamaan karena setiap peserta harus disediakan komputer. Cara memperoleh informasi hasil seleksi lebih mudah karena setiap saat bisa diakses melalui internet. secara otomatis akan gugur dan dialihkan ke sekolah lain yang mempunyai peringkat mutu lebih rendah. Kelemahan penggunaan sistem RTO adalah penyebaran input siswa kurang merata ke semua sekolah karena penyaringan calon siswa dilakukan berdasarkan ranking nilai ujian standar. Sistem tes berbasis komputer ini baru diterapkan di beberapa perguruan tinggi swasta di Indonesia. Kelebihan PSB menggunakan komputer adalah skor tes dan peringkat siswa langsung dapat dilihat di komputer sesaat setelah peserta tes selesai ujian. Kelebihan penggunaan sistem RTO antara lain pendaftar lebih cepat mendapat informasi tentang hasil seleksi secara tranparan dan objektif.   Oleh: Dr. Calon siswa yang ranking nilainya berada di luar quota daya tampung SMP. tidak diskriminatif dan kompetitif.

untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi. akuntabel. proses dan produk dan keberlanjutan. PSB SMP tidak banyak menimbulkan masalah di kota kecil karena hampir semua lulusan SD yang Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.Evaluasi sistem keberlanjutan SD ke SMP secara konseptual dilakukan dengan model evaluasi responsif. tentang Penerimaan Siswa pada Taman Kanak-kanak dan Sekolah. Tidak diskriminatif. artinya PSB bersifat terbuka dan dapat diketahui oleh masyarakat termasuk orang tua siswa. Transparan. keberlanjutan pendidikan dari satu jenjang sekolah ke jenjang sekolah berikutnya membutuhkan sebuah sistem penerimaan siswa baru yang dapat memenuhi azas obyektif. input. Hasil evaluasi responsif terhadap model keberlanjutan SD ke SMP dapat dipaparkan sebagai berikut: a. transparan. Seleksi PSB SMP yang ketat pada umumnya hanya terjadi di sekolah favorit dan unggulan. Judgment diputuskan dengan membandingkan data yang telah dideskripsikan dengan standar (bila ada) menurut respon dari Kepala Sekolah. artinya bahwa PSB untuk siswa baru maupun pindahan harus memenuhi ketentuan umum yang telah ditetapkan. dan golongan. Kompetitif. Menurut keputusan Mendiknas Nomor 051/U/2002 tanggal 10 April 2002. Deskripsi data hasil penelitian dipaparkan dengan cara membandingkan antara kondisi yang diharapkan (intent) dengan yang diamati (observasi) pada komponen rasional. artinya PSB dilakukan melalui seleksi berdasarkan nilai ujian standar yang dapat membedakan kemampuan antar siswa yang pandai dan kurang pandai. tidak diskriminatif dan kompetitif. artinya PSB dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat baik prosedur maupun hasilnya. Endang Mulyatiningsih Halaman 16 .   Oleh: Dr. Obyektif. Rasional Rasional keberlanjutan SD ke SMP dievaluasi menggunakan studi literatur dan direspon oleh Kepala Sekolah SMP. Akuntabel. artinya tidak membedakan suku. Penerimaan Siswa Baru (PSB) menggunakan sistem seleksi diperlukan oleh sekolah yang mempunyai animo pendaftar melebihi kapasitas lembaga. agama.

PSB berdasarkan tes seleksi tersusun dari skor komposit lima mata pelajaran yaitu: PPKn. Penjelasan yang diutarakan di atas mengisyaratkan bahwa sistem PSB SMP menggunakan seleksi perlu dilakukan oleh sekolah di wilayah kota dan tidak perlu dilakukan oleh sekolah di wilayah terpencil. Matematika. Anteseden/input Evaluasi anteseden/input program keberlanjutan SD ke SMP terdiri dari evaluasi input potensi siswa dan alat pengukur potensi siswa. Beberapa alasan rasional yang dipertimbangkan untuk mendukung sistem PSB SMP menggunakan alat seleksi menurut respon Kepala Sekolah antara lain: 1) SMP mengharapkan input siswa yang diterima cukup baik sesuai dengan keinginan dan kondisi sekolah.   Oleh: Dr. 3) SMP membutuhkan prasyarat belajar (entry behaviour) yang harus dipenuhi siswa untuk dapat mengikuti pendidikan agar kurikulum yang dibebankan ke SMP dapat dicapai. Bahasa Indonesia. Endang Mulyatiningsih Halaman 17 . 2) Daya tampung SMP kurang memadai untuk menerima semua lulusan Sekolah Dasar. Program keberlanjutan SD ke SMP menggunakan input tes prestasi belajar. b. IPA dan IPS. Sesuai dengan Renstra Depdiknas tahun 2005-2009. keberlanjutan SD ke SMP bagi daerah terpencil yang berpenduduk jarang dan terpencar dilakukan dalam bentuk ”SD-SMP Satu Atap”. 4) SMP perlu mengetahui kondisi input siswa untuk menetapkan program keberlanjutan layanan pendidikan yang sesuai terutama bagi siswa yang belum memenuhi prasyarat belajar.ingin melanjutkan ke SMP mempunyai peluang untuk diterima. PSB berdasarkan USD menggunakan skor komposit tiga mata pelajaran yaitu Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Kebijakan PSB SMP di daerah terpencil lebih diprioritaskan untuk pencapaian perluasan dan pemerataan akses pendidikan. Kebijakan ini dilaksanakan dengan cara menambahkan ruang belajar SMP di SD untuk menyelenggarakan program pendidikan SMP bagi lulusan SD setempat.

   Oleh: Dr. namun karena daya tampung masih mencukupi maka siswa yang berada di bawah kemampuan standar masih dapat diterima di SMP yang berperingkat rendah. Evaluasi anteseden berdasarkan respon Kepala Sekolah dilaporkan sebagai berikut: Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Keterbatasan data dokumen input tes seleksi tahun 2003/2004 menyebabkan data yang dapat dilaporkan hanya berupa skor kompositnya sedangkan data USD dapat dilaporkan secara lebih rinci per-mata pelajaran.3%.3 Jumlah E (≤40) 15 2 40 3 60 2. Tabel 6 Karakteristik Kemampuan Siswa Baru SMP Input Seleksi Tes Seleksi (2003) USD B. Meskipun SMP telah menetapkan PSB dengan sistem seleksi. Endang Mulyatiningsih Halaman 18 . D = kurang mampu dan E = tidak mampu. Input potensi siswa dibagi menjadi lima kategori kemampuan awal yaitu: A = sangat mampu. Rincian jumlah input potensi siswa menurut kategori tersebut dapat disimak pada Tabel 6. Indonesia USD Matematika USD IPA Jumlah % A (> 85) 10 20 105 11 146 5. C = cukup mampu. Proporsi prasyarat belajar yang tidak dapat dipenuhi paling banyak ditemukan pada mata pelajaran matematika.5 Kategori Kemampuan B C D (71-85) (56-70) (41-55) 304 315 119 361 208 35 185 201 95 265 298 49 1115 1022 298 42.7 11. Hasil studi cross sectional diperoleh data input potensi siswa dalam PSB yang menggunakan tes seleksi sebanyak 763 siswa dan USD berjumlah 626 siswa.Bahasa Indonesia.3 763 626 626 626 2641 100 Data pada Tabel 6 menunjukkan kemampuan awal siswa SMP yang berada pada kategori tidak mampu (E) atau tidak memenuhi prasyarat belajar SMP sebanyak 2.2 38. Kebijakan wajib belajar 9 tahun menuntut sekolah untuk menampung semua kebutuhan belajar siswa sampai ke SMP termasuk membelajarkan siswa yang berkesulitan (learning difficulty). Matematika dan IPA. B = mampu.

dapat menggunakan nilai rapor SD selama tiga tahun terakhir sebagai alat PSB. b) SMP yang mempunyai animo pendaftar tinggi perlu mendampingi alat PSB menggunakan tes prestasi belajar dengan tes potensi belajar. 2) Anteseden/input yang diobservasi a) Hasil observasi menemukan 6.   Oleh: Dr. 3) Judgment anteseden/input a) Input kemampuan paling rendah sebagai prasyarat belajar di SMP adalah nilai 6.1) Anteseden/input yang diharapkan a) Input kemampuan siswa yang diharapkan adalah siswa mempunyai prestasi belajar paling rendah pada nilai 5. b) Alat ukur standar untuk memprediksi kemampuan siswa pada materi yang akan dipelajari adalah menggunakan tes potensi belajar dan alat ukur standar untuk mengevaluasi hasil belajar adalah menggunakan tes prestasi belajar. Alat yang standar untuk memprediksi kemampuan belajar adalah tes prestasi belajar karena dimensi yang diukur sama. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. siswa dikatakan mampu belajar di SMP apabila sudah menguasai minimal 50% materi pelajaran yang diajarkan.39% siswa tidak mampu belajar matematika atau berada pada kategori kemampuan E pada proses seleksi menggunakan nilai USD b) Hasil observasi menemukan alat seleksi PSB menggunakan satu alat pengukuran dan satu kali pengujian. Alat PSB menggunakan tes seleksi dan rerata nilai rapor memiliki prediksi lebih tinggi dari pada USD. 3) Anteseden/input yang standar a) Input standar. c) SMP yang mempunyai jumlah pendaftar kurang. Endang Mulyatiningsih Halaman 19 . b) Input alat PSB yang diharapkan adalah menggunakan kombinasi beberapa macam alat ukur prestasi. Apabila siswa tidak mampu memenuhi prasyarat belajar maka mereka perlu mengikuti program matrikulasi/pendalaman materi untuk menyetarakan kemampuannya dengan siswa lain.

tracking sesuai kemampuan pada jam belajar tambahan (les) untuk meningkatkan sikap kompetitif antar siswa. b) Siswa yang sudah diterima di SMP wajib mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya supaya siswa terdorong untuk berprestasi lebih baik. Proses penerimaan siswa baru diatur oleh Dinas Pendidikan Kabupaten sehingga tatalaksana penyelenggaraan PSB seragam. Endang Mulyatiningsih Halaman 20 . bagi sekolah yang berperingkat rendah. proses PSB dapat lebih diperpanjang dengan membuka kesempatan pendaftaran gelombang ke 2 bagi siswa yang gagal masuk ke sekolah pilihan pertamanya. Evaluasi proses keberlanjutan SD ke SMP menurut respon Kepala Sekolah dapat dipaparkan pada kolom rangkuman hasil diskusi di bawah ini: 1) Transaksi/Proses yang diharapkan: a) Proses penerimaan siswa baru (PSB) yang diharapkan dilakukan serentak tetapi beberapa sekolah khusus (peringkat atas dan bawah) diberi keleluasaan untuk menentukan kriteria bagi calon siswa yang akan diterima. proses penerimaan siswa baru dapat dilakukan lebih awal dengan menggunakan beberapa macam alat seleksi. Khusus bagi SMP andalan. dan cooperatif learning pada jam belajar reguler untuk memupuk sikap kebersamaan. Evaluasi Transaksi/Proses Evaluasi transaksi/proses keberlanjutan SD ke SMP ditetapkan pada dua kegiatan yaitu proses penerimaan siswa baru dan proses keberlanjutan layanan pendidikan. Keberlanjutan layanan pendidikan masing-masing sekolah cukup bervariasi.c. 2) Transaksi/proses yang diobservasi a) Proses penerimaan siswa baru yang sudah dilaksanakan dibuat serentak dalam satu waktu sehingga calon siswa yang tidak Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Sebaliknya.   Oleh: Dr. Proses pelayanan pendidikan yang diharapkan adalah dapat memenuhi tiga kebutuhan layanan pembelajaran yaitu pembelajaran remedial untuk siswa yang kurang mampu.

3) Transaksi/Proses Standar a) Proses PSB diatur pemerintah dan didukung SK Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten. 4) Judgment Transaksi/Proses a) Proses penerimaan siswa baru menggunakan jalur umum dan jalur khusus. dan penilaian pendidikan. Perbaikan belajar dilakukan untuk anak-anak yang belum dapat mencapai standar melalui pendalaman materi khusus yang belum dikuasai. Sistem kompetitif diterapkan dengan cara evaluasi mingguan untuk placement siswa sesuai kemampuan pada kegiatan belajar tambahan. Bagi sekolah favorit dapat membuka pendaftaran siswa baru dan seleksi lebih awal. b) Pelayanan pendidikan ditetapkan sesuai dengan standar nasional pendidikan yang terdiri atas standar isi. pembiayaan.tertampung di SMP negeri harus rela masuk ke SMP swasta. Bagi sekolah yang kekurangan murid dapat membuka penerimaan siswa baru menggunakan standar ganda (dua gelombang). proses. Endang Mulyatiningsih Halaman 21 . kompetensi lulusan. Sistem penerimaan siswa baru menggunakan sistem Real Time Online berdampak terhadap kesenjangan peringkat mutu sekolah semakin lebar. tenaga kependidikan. b) SMP yang mempunyai peringkat sedang dapat menyelenggarakan Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Sekolah andalan sudah menerapkan beberapa perlakuan pelayanan pembelajaran sesuai dengan harapan yaitu menggunakan beberapa model pembelajaran.   Oleh: Dr. sarana dan prasarana. Pembelajaran koopereatif diterapkan pada kegiatan belajar reguler untuk memperpendek kesenjangan kemampuan antara siswa yang pandai dan kurang pandai. pengelolaan. b) Pelayanan pendidikan di sekolah andalan berbeda dengan sekolah umum/biasa.

71 Kategori Kemampuan B C D 7.7―7.25 7 58 1 2 68 2.13 4.58―10 2 12 0 14 28 1. Evaluasi produk secara kualitatif dirangkum dari hasil diskusi dengan Kepala Sekolah ditampilkan dalam bentuk rangkuman di bawah ini: Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.48 15. Indonesia kelas IX B.09 11.57 5.02% siswa tidak dapat memenuhi standar kelulusan dengan nilai UN.31 E < 4. Tabel 50 Karakteristik Output Kemampuan Siswa SMP. Endang Mulyatiningsih Halaman 22 .38 364 75 9 250 190 123 184 149 127 798 414 259 34.   Oleh: Dr. Inggris 2006 Matematika n = 763 % dari Total A 8.PSB bersama-sama menggunakan alat yang sama sesuai dengan ketentuan yang telah diatur pemerintah.69 119 412 86 72 221 263 295 313 17 273 318 19 769 1264 385 30. alat dan cara evaluasi hasil belajar siswa yang digunakan dan keberlanjutan sistem evaluasi masa transisi sekolah. grouping atau tracking sesuai kemampuan pada kegiatan belajar tambahan dan cooperatif learning pada kegiatan belajar reguler.72 1 79 35 115 5. Penyebab kegagalan terbesar ditemukan pada mata pelajaran Bahasa Inggris.86 18.11 314 121 268 703 30. SMP yang ingin mengetahui krakteristik entry behaviour siswa yang diterima perlu mengadakan penelusuran dokumen prestasi selama di SD. Komponen Output Nilai SMP Siswa B.02 Hasil analisis deskriptif terhadap prestasi belajar siswa SMP menunjukkan 5. Indonesia kelas Matematika VII IPA 2007 IPS n = 626 % dari Total Siswa B. Nilai output mata pelajaran matematika sedikit bergeser dari nilai inputnya.31 50. c) Proses pelayanan dilakukan dalam beberapa bentuk yaitu: matrikulasi bagi siswa kurang mampu.25―5. Evaluasi Outcome/Produk Evaluasi produk dilakukan terhadap hasil belajar siswa.14―8. d. Gambaran umum hasil belajar siswa setelah mendapat pelayanan pendidikan di SMP dapat dijelaskan pada Tabel 50.

Hasil evaluasi formatif turut dipertimbangkan sebagai syarat kelulusan.   Oleh: Dr. c) Keberlanjutan prestasi siswa masih labil. Siswa yang menduduki peringkat tinggi pada awal masuk tidak selalu dapat mempertahankan prestasinya. 3) Outcome/produk standar a) Prestasi siswa diakui sebagai syarat kelulusan pada standar nilai 4.25 (tahun 2006). Keberlanjutan kemampuan hanya ditemukan pada siswa yang sangat mampu dan siswa yang sangat tidak mampu. siswa dapat mencapai standar kompetensi lulusan tetapi nilai standar tersebut tidak digunakan sebagai syarat kelulusan. c) Keberlanjutan prestasi siswa diharapkan selalu meningkat. Endang Mulyatiningsih Halaman 23 . posisi peringkat prestasi kelas sering berubah sehingga sulit diprediksi.1) Outcome/produk yang diharapkan a) Produk (prestasi) akhir hasil belajar yang diharapkan.02% belum mencapai standar nilai kelulusan Ujian Nasional sehingga siswa dinyatakan tidak lulus. proses pelayanan pembelajaran dan proses asesmennya. b) Evaluasi menggunakan tes standar (Ujian Nasional) digunakan untuk syarat kelulusan dan seleksi ke sekolah berikutnya. b) Evaluasi menggunakan tes standar dilakukan setiap semester supaya dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Keberlanjutan prestasi/kemampuan siswa tidak hanya ditingkatkan dari alat ukur prestasi siswa tetapi juga ditingkatkan mulai dari proses penerimaan siswa baru. Sistem evaluasi hasil belajar selalu disempurnakan dengan memperhatikan beberapa dampak kebijakan yang akan muncul dan mempertimbangkan aspirasi dari bawah supaya dapat memberi manfaat yang tinggi bagi peningkatan mutu pendidikan. Hasil ujian standar digunakan sebagai alat penilaian kinerja sekolah dalam akreditasi. Evaluasi formatif tidak berpengaruh pada kelulusan dan hanya digunakan untuk pengambilan keputusan intern sekolah. Mereka sama-sama dapat bertahan sesuai karakteristik awal masuk sekolah. 2) Outcome/produk yang diobservasi a) Prestasi belajar siswa 5. Evaluasi dengan tes standar hanya dilakukan satu kali yaitu pada saat akhir sekolah. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.

maka mereka perlu mengikuti tes seleksi sesuai dengan persyaratan belajar khusus. Beberapa bentuk sekolah alternatif memiliki standar yang berbeda untuk menentukan kelulusan. Ujian standar sebagai syarat kelulusan dapat diterapkan apabila input siswa baru yang diterima SMP juga ditetapkan dengan nilai standar.b) Evaluasi dengan tes standar hanya dilakukan pada akhir sekolah. Kebijakan wajib belajar berdampak pada semua anak usia sekolah wajib mendapat pelayanan belajar sehingga siswa yang tidak memenuhi prasyarat belajar juga dilayani. SMK dapat membuat alat seleksi keterampilan motorik untuk menyaring calon siswa yang tidak mencapai nilai standar Ujian Nasional. Input siswa yang tidak memenuhi standar prasyarat belajar pada umumnya sulit ditingkatkan prestasi belajarnya. b) Evaluasi dengan tes standar dilakukan lebih sering dan hasil evaluasi dipertimbangkan sebagai syarat kelulusan. Sekolah yang menampung siswa dengan nilai di bawah standar prasyarat belajar dapat mengembangkan potensi siswa melalui jalur non akademik dan kecakapan hidup.   Oleh: Dr. Apabila siswa yang tidak memenuhi standar tersebut akan melanjutkan studi. Standar kelulusan dengan nilai ujian nasional tidak diberlakukan secara umum. Beberapa siswa yang tidak mampu belajar pada salah satu bidang studi tetapi mempunyai nilai tinggi pada bidang studi lain perlu dipertimbangkan untuk diluluskan supaya tidak bertentangan dengan kebijakan wajib belajar 9 tahun. c) Keberlanjutan hasil belajar diarahkan sesuai minat dan bakat siswa. Endang Mulyatiningsih Halaman 24 . Hasil-hasil pengukuran input dan tes formatif digunakan sebagai alat evaluasi untuk mengambil tindakan perbaikan pembelajaran. Misalnya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar (learning difficulty) sejak dini yang tidak mungkin dapat mencapai nilai standar perlu dipertimbangkan untuk diluluskan karena apabila standar yang sama digunakan untuk penentu kelulusan dapat menyebabkan anak menjadi siswa yang abadi di SMP tersebut. c) a) Keberlanjutan prestasi belajar belum ditetapkan dengan standar. 4) Judgment outcome/produk Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Hasil evaluasi standar ditetapkan sebagai indikator kinerja sekolah untuk kepentingan akreditasi sekolah. Sekolah andalan yang menampung siswa berprestasi tinggi mengembangkan potensi siswa melalui jalur akademik.

Produk kebijakan sistem evaluasi masa transisi sekolah dinyatakan aman selama tidak menimbulkan polemik dan didukung oleh masyarakat. Dalam petunjuk teknis penyelenggaraan ujian sekolah tahun 2006 telah diatur tata cara penyusunan kisi-kisi.e. and acceptability. pelaksanaan ujian. Sistem evaluasi keberlanjutan SD ke SMP menggunakan alat USD belum mendatangkan polemik dan dinyatakan aman untuk dilanjutkan. viability. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DIY.   Oleh: Dr. pemeriksaan dan penilaian. pelayanan dalam sistem PSB di Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. 2) Security Produk alat evaluasi masa transisi SD ke SMP dapat memenuhi indikator keamanan apabila tidak ada unsur kecurangan selama proses evaluasi berlangsung. pengaturan ruang ujian. Evaluasi Keberlanjutan Evaluasi keberlanjutan (sustainability evaluation) ditetapkan dengan lima indikator yaitu: productivity. telaah dan revisi soal. security. pengetikan naskah. Produktivitas perangkat evaluasi telah didukung oleh Dinas Pendidikan dengan cara mengumpulkan soalsoal ujian setiap tahun. penggandaan naskah soal. penulisan soal. Endang Mulyatiningsih Halaman 25 . sistem pengawasan. Perangkat evaluasi yang aman dan terkendali dapat memberikan hasil evaluasi yang objektif. Hasil analisis kebijakan yang didiskusikan bersama kepala sekolah menyepakati: 1) Productivity Produktivitas perangkat evaluasi sistem transisi SD ke SMP tidak menjadi masalah karena kegiatan evaluasi sudah masuk dalam kegiatan dan anggaran rutin Dinas Pendidikan. Semua tahap perancangan alat pengukuran prestasi dan pelaksanaannya tidak memberi peluang untuk melakukan tindak kecurangan. protection. Upaya pengamanan perangkat evaluasi masa transisi sekolah sudah dilaksanakan melalui prosedur yang baku.

Produk kebijakan sistem PSB menggunakan USD dapat memberi manfaat bagi siswa karena secara umum siswa lebih mudah menetapkan pilihan sekolah yang sesuai dengan standar kemampuan yang dapat dicapai. Penyelenggaraan ujian pada masa transisi sekolah cukup diselenggarakan satu kali selama siswa masih duduk di bangku SD. Pada Lampiran 1 disebutkan bahwa Ujian sekolah tahun 2005/2006 terdiri dari ujian sekolah daerah (USD) dan ujian sekolah. 3) Protection Sistem evaluasi masa transisi sekolah dapat berlanjut apabila ada perlindungan hukum yang memadai.   Oleh: Dr. sekolah. USD berfungsi: (1) sebagai alat untuk mengukur daya serap kurikulum pada tingkat propinsi DIY. Endang Mulyatiningsih Halaman 26 . (2) dapat digunakan sebagai salah satu syarat penentuan kelulusan. siswa dan komite sekolah.masa yang datang akan selalu ditingkatkan agar dapat memuaskan semua pihak yang berkepentingan. Biaya penyelenggaraan PSB bisa ditekan karena penyaringan calon siswa cukup menggunakan ranking nilai USD. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. 4) Viability Keberlangsungan sistem evaluasi masa transisi SD ke SMP dinyatakan layak untuk digunakan apabila dapat memberi benefit yang tinggi bagi stakeholder sistem PSB yaitu pemerintah. (3) dapat digunakan sebagai alat penerimaan siswa baru pada jenjang SMP/MTs. Legalitas langsung produk kebijakan evaluasi keberlanjutan SD ke SMP ditetapkan menggunakan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DIY Nomor 044 Tahun 2006 tanggal 21 Maret 2006 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Ujian Sekolah bagi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Pelajaran 2005/2006. USD tidak memberi peluang bagi siswa yang secara kebetulan memiliki nilai rendah untuk memilih sekolah unggulan.

433). B.Nilai rapor selama tiga tahun terakhir mempunyai kelayakan untuk digunakan sebagai alat PSB. model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP menggunakan nilai USD dapat diterima dengan beberapa permintaan tambahan yaitu: (1) sekolah diperkenankan menentukan kriteria terhadap calon siswa yang akan diterima.17).49) sedangkan potensi pendukung hanya berperan kecil yaitu (γ = 0. selama nilai rapor tersebut diberikan dengan jujur atau tidak dimanipulasi.   Oleh: Dr.452. Setara dengan security. Kapabilitas Siswa SD untuk Belajar ke SMP Analisis model pengukuran kapabilitas belajar menggunakan program LISREL menemukan hasil TPB mempunyai koefisien gamma (γ = 0.379) Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.62) dan nilai rapor mempunyai koefisien gamma (γ = 0. 5) Acceptability Keberlanjutan sebuah produk dapat diprediksi dari daya terima produk tersebut di masyarakat. Menurut tanggapan dari Kepala Sekolah. IPA (0. Pembahasan 1. produk kebijakan yang tidak merugikan masyarakat dapat diterima untuk dilanjutkan. Hasil penelitian ini didukung oleh Tritjahjo (2004: 70) yang meneliti tentang ‘pengaruh IQ dan status sosial ekonomi (SSE) terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD. Endang Mulyatiningsih Halaman 27 . (2) sekolah diperkenankan menerima sekitar 10% calon siswa menggunakan jalur khusus misalnya menggunakan penelusuran bibit unggul dari ranking peringkat pertama sampai ketiga berdasarkan nilai rapor sekolah. (3) sekolah favorit diperbolehkan menggunakan tes potensi belajar dan penelusuran bakat untuk mendampingi tes prestasi belajar sebagai alat seleksi. Hasil analisis dengan menggunakan 246 sampel menemukan koefisien korelasi (r) IQ dengan prestasi belajar mata pelajaran bahasa Indonesia sebesar 0. matematika (0. Hasil penelitian ini menemukan bahwa IQ mempunyai korelasi yang lebih tinggi daripada SSE.

Mengingat hasil model persamaan struktural TPB memiliki koefisien korelasi yang lebih tinggi dari nilai rapor maka TPB masih diperlukan untuk membuat prediksi kecakapan siswa dalam memecahkan masalah. melakukan drill dan pendalaman materi yang lebih intensif sehingga pada saat pelaksanaan ujian siswa benar-benar sudah siap dapat mengerjakan soal dengan mudah.158) dan matematika (0.33). Nilai rapor memiliki korelasi yang tinggi karena dimensi yang diukur sama. IPA (0.6 hanya terdapat 2. Perilaku guru dan siswa berubah ketika menghadapi tes standar yang digunakan untuk beberapa pengambilan keputusan penting. Pada penyelenggaraan tes standar. TPB mengukur potensi kemampuan umum pada materi yang tidak dilatih sebelumnya. Endang Mulyatiningsih Halaman 28 . Hasil analisis butir soal USD Bahasa Indonesia menemukan 60% butir soal mudah dan 30% butir soal memiliki daya pembeda rendah.180). Apabila nilai USD matematika digunakan sebagai standar kelulusan SD dan penetapan kapabilitas belajar ke SMP maka terdapat 16. Korelasi bivariat antara TPB dan USD lebih rendah dari nilai rapor karena dimensi yang diukur dalam TPB berbeda. Hasil pengukuran kapabilitas siswa SD untuk belajar ke SMP pada mata pelajaran matematika menemukan rentangan kemampuan yang lebar dengan nilai terendah 2 dan tertinggi 10.2% dengan nilai rerata 7.09. IPS (0. Prestasi belajar dari nilai rapor maupun USD sama-sama mengukur kemampuan yang sudah pernah diajarkan.   Oleh: Dr.319).dan IPS (0. Mereka lebih siap belajar. kejadian ini sering ditemui karena materi tes dibuat sesuai kemampuan rata-rata siswa atau berada pada tingkat kesulitan sedang. Koefisien korelasi antara SSE dengan prestasi belajar cukup rendah yaitu pada mata pelajaran bahasa Indonesia (0.123). Hasil pengukuran kapabilitas siswa belajar ke SMP menggunakan USD pada mata pelajaran Bahasa Indonesia menemukan nilai di bawah angka 5.42% yang belum memenuhi prasyarat belajar karena memperoleh nilai kurang dari 4 atau berada pada kategori E (tidak Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.

Kelompok ini menunjukkan hasil konsisten meskipun diukur dengan alat ukur yang berbeda-beda. Kasus ini terjadi karena guru tidak ingin siswa yang tidak mampu belajar tersebut tinggal kelas. Hasil wawancara dengan guru SD yang menjadi responden penelitian terungkap bahwa mereka sudah berusaha memperbaiki tetapi selalu gagal. Manipulasi nilai rapor matematika terjadi dengan penambahan nilai maksimum 3. stabilitas kemampuan sangat menguntungkan karena mereka dapat bertahan pada prestasi yang tinggi. Menurut Bloom’s (1976: 75) kesulitan tugas belajar pertama yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan kesulitan tugas belajar selanjutnya. stabilitas kemampuan dapat menimbulkan masalah karena tindakan-tindakan perbaikan belajar tidak banyak berarti dalam meningkatkan prestasinya. Stabilitas kemampuan belajar matematika pada siswa SD masih kurang memuaskan. Kualitas butir soal cukup baik tetapi karena panjang soal terlalu pendek (30 butir) dapat menyebabkan materi yang diujikan menjadi kurang representatif. Apabila SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditetapkan pada prestasi akademik matematika maka sekolah perlu memberi pelayanan tambahan melalui program penyetaraan kemampuan awal matematika.mampu). Analisis kasus penambahan nilai rapor terjadi pada siswa yang mendapat nilai rapor 5 dan 6 terutama pada nilai rapor semester genap. Endang Mulyatiningsih Halaman 29 .87. Hasil pengamatan prestasi belajar matematika menemukan prestasi siswa yang stabil terdapat pada dua kelompok kemampuan yaitu kelompok sangat mampu dan kelompok tidak mampu. Bagi kelompok yang tidak mampu. Alasan yang dilontarkan guru cukup lugas yaitu Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Apabila siswa yang tidak mampu kemudian dilepas ke kelas yang lebih tinggi maka tanggung jawab guru menjadi berkurang. Bagi kelompok sangat mampu.   Oleh: Dr. Data ini dapat memberi umpan balik bagi penyelenggara pendidikan untuk menetapkan model pelayanan pendidikan yang tepat. Hasil analisis butir soal USD matematika menemukan 63.3% butir soal berada pada tingkat kesulitan butir sedang.

   Oleh: Dr. soal cerita.829 atau termasuk dalam kategori andal.733. Reliabilitas tes pada koefisien Alpha 0. dan gambar. Hasil analisis reliabilitas butir memperoleh koefisien Alpha sebesar 0. analogi dan pemahaman bacaan. Tes verbal terdiri dari dimensi tes sinonim. Rerata skor TPB secara umum lebih rendah dari nilai USD karena materi tes tidak dilatihkan sebelumnya dan siswa baru mengenal bentuk tes TPB. Hubungan ini cukup kuat karena dalam tes verbal terdapat materi tes pemahaman bacaan yang sangat mendukung siswa untuk belajar memahami buku bacaan. Kemampuan kuantitatif menjadi prediktor yang lemah terhadap tes Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Tes kuantitatif terdiri dari dimensi tes deret angka. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan penalaran yang terdapat pada tes kuantitatif dapat mendasari kemampuan akademik lainnya. Endang Mulyatiningsih Halaman 30 . antonim.’biar mereka menjadi tanggungan kelas atau sekolah berikutnya yang lebih tinggi’. Korelasi antara tes kuantitatif dengan matematika 0.688 dan IPA 0. Guru pada umumnya sudah berusaha melakukan perbaikan pembelajaran tetapi karena kemampuan siswa yang rendah maka hasil belajar sulit ditingkatkan. Hasil analisis korelasi bivariat antara tes kuantitatif dengan nilai mata pelajaran yang diujikan melalui USD menemukan semua koefisien korelasi yang cukup tinggi.907 atau berada pada kategori sangat handal. penalaran dan logika.663.599. kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis korelasi tes verbal dengan masing-masing mata pelajaran tersebut menunjukkan bahwa kemampuan verbal mendukung kemampuan belajar yang lain. Sebaran skor mempunyai variasi tinggi dan cocok digunakan sebagai alat untuk menjaring calon siswa yang benar-benar potensial pada sekolah yang mempunyai jumlah pendaftar banyak. Bahasa Indonesia 0. Korelasi yang paling rendah ditemukan pada hubungan antara tes kuantitatif dengan tes gambar yaitu 0. Potensi belajar diukur dengan seperangkat tes yang mengacu pada tes potensi akademik yaitu terdiri dari subtes verbal.

48%) siswa yang orangtuanya merasa kurang mampu membiayai anak untuk belajar sampai ke SMP. siswa yang tidak mempunyai kemampuan akademik tinggi ternyata mampu mengerjakan dan tertarik dengan tes gambar. Tes gambar digunakan untuk mengetahui potensi penguasaan ruang/spasial Tes gambar mempunyai dimensi tes pencarian gambar yang berbeda. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh unsur subyektif guru dalam menilai sikap siswa sehingga siswa yang disukai cenderung diberi nilai yang lebih baik.566 dan terhadap USD 0. analogi dan logika gambar yang belum ada. Hasil pengukuran potensi ekonomi menemukan 6 orang (4. Tes gambar mempunyai prediksi cukup lemah terhadap nilai USD.489.   Oleh: Dr. Mereka akan mendapat pendidikan yang lebih bermakna untuk hidup mandiri apabila diberi mata pelajaran keterampilan atau kecakapan hidup (life skills). Endang Mulyatiningsih Halaman 31 . Berdasarkan hasil analisis korelasi menunjukkan Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. bayangan cermin. Motivasi belajar tidak berpengaruh langsung terhadap prestasi. Motivasi belajar mempunyai korelasi tertinggi 0. Potensi pendukung dilihat dari dua dimensi yaitu motivasi belajar dan potensi ekonomi. Reliabilitas butir memperoleh koefisien Alpha sebesar 0. Korelasi motivasi terhadap TPB lebih tinggi dari USD menunjukkan siswa yang motivasi belajarnya tinggi lebih menyukai hal-hal baru yang penuh tantangan dari pada mempelajari sesuatu yang rutin. tetapi prestasi tinggi yang tidak didukung oleh motivasi dapat melemahkan hasil belajar.827. gambar sama. Hal ini bukan berarti siswa yang mempunyai kemampuan kuantitatif tinggi tidak dapat mengerjakan tes gambar namun lebih dijelaskan oleh siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah ternyata mampu mengerjakan tes gambar dengan lebih baik. Motivasi belajar berpengaruh pada TPB sebesar 0.gambar. Berdasarkan hasil penelitian ini.663 dengan nilai rapor. Kenyataan ini memberi petunjuk bahwa anak-anak yang lemah dalam bidang akademik mempunyai harapan untuk dilatih pada bidang non akademik.

Kapabilitas siswa untuk belajar ke SMP bagi 6 orang siswa yang mempunyai potensi ekonomi kurang mampu. yaitu prediksi nilai rapor selalu lebih tinggi dari nilai USD. Confidence interval nilai USD matematika dengan nilai awal 6 menemukan CI95 = 2. Mereka potensial tetapi manja. buku pelajaran dan pakaian seragam.   Oleh: Dr. cukup terancam.bahwa status ekonomi tidak berpengaruh tinggi terhadap prestasi belajar siswa di SD. selalu minta pertolongan dan cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan.025 ± 7.16 sedangkan nilai USD tiga mata pelajaran dengan nilai awal rata-rata 6 menemukan CI95 = 8.61). Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. 2. Koefisien korelasi potensi ekonomi paling tinggi berpengaruh terhadap TPB yaitu 0. Hasil analisis interval kepercayaan kurang memadai untuk membuat rekomendasi kebijakan layanan belajar bagi siswa yang berada di bawah garis prediksi karena nilai di bawah interval kepercayaan tersebut tidak ditemukan.25 dan nilai USD matematika di atas 9 perlu mendapat pengayaan belajar.58. Siswa SMP yang memiliki nilai rapor matematika di atas 8. Berdasarkan pengamatan selama penelitian berlangsung.81 ± 9. Dana BOS yang diberikan kepada siswa sebaiknya juga digunakan untuk menanggung semua komponen biaya sekolah siswa miskin termasuk pembiayaan tidak langsung seperti transport. Hasil simulasi analisis yang dilakukan dengan cara menambah atau mengurangi jumlah sampel menunjukkan koefisien korelasi yang berubah-ubah namun gradasi korelasi tetap sama. Endang Mulyatiningsih Halaman 32 .305 sedangkan pengaruh potensi ekonomi terhadap dimensi kapabilitas belajar yang lain cukup rendah yaitu antara 0.19) daripada rerata nilai rapor selama lima semester (0. siswa yang mempunyai potensi ekonomi tinggi cenderung kurang mandiri dalam belajar. Model Keberlanjutan SD ke SMP Hasil analisis model keberlanjutan SD ke SMP secara matematis menunjukkan koefisien hubungan nilai USD terhadap nilai standar mutu SMP semester 1 lebih rendah (0.291.243 – 0.

Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa angka rapor di sekolah menengah merupakan prediktor tunggal terbaik bagi keberhasilan belajar di perguruan tinggi.   Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih Halaman 33 . Hasil penelitian UN menemukan beberapa dampak positif dan negatif. Cara-cara seperti ini kurang baik ditempuh karena ketika soal yang diujikan tidak sama. Dampak positif UN bagi guru SMP/MTs 82% guru lebih semangat mengajar Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Dampak positif bagi siswa yaitu 84% memperbanyak latihan soal. Kebanyakan guru SD kelas VI melakukan kegiatan latihan mengerjakan soal-soal ujian pada waktu menjelang USD. beliau menjelaskan apabila nilai rapor digunakan sebagai alat seleksi maka perlu dilakukan adjusment model untuk meniadakan kesenjangan nilai yang diberikan antara sekolah satu dengan sekolah yang lain. Dalam artikel tersebut. Nilai rapor merupakan gabungan dari beberapa nilai harian yang mempunyai rentangan waktu penilaian cukup panjang sehingga dapat menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya sedangkan nilai USD hanya mencerminkan kemampuan siswa pada saat mengerjakan tes tersebut. Hasil penelitian ini didukung oleh Fishman dan Pasanella (1960). siswa tidak mampu lagi menerapkan pengetahuannya untuk mengerjakan soal dengan benar. Salah satu SD yang menjadi sampel penelitian mengaku bahwa selama semester genap. Hal ini berarti nilai rapor yang diberikan guru SD dapat digunakan sebagai alat penerimaan siswa baru di SMP. Prediksi rerata nilai rapor lebih tinggi terhadap nilai standar mutu SMP. Hal ini disebabkan karena kemampuan yang diukur memiliki banyak kesamaan. kegiatan belajar hanya diisi dengan mengerjakan soal-soal latihan. menurut pendapat guru 87% siswa SMP lebih semangat belajar. sedangkan jatah materi yang seharusnya ditempuh selama satu tahun telah diselesaikan pada semester ganjil.Hasil pengamatan selama penelitian di SD diperoleh beberapa temuan yang menarik ketika kebijakan USD ditetapkan sebagai alat seleksi PSB di SMP. Hills (1964) dan Munday (1967) yang dikutip oleh Sumadi Suryabrata (1994).

(4) prestasi awal yang baik. Hal ini dapat dijelaskan dari hasil analisis yang menunjukkan rapor yang satu hanya mempengaruhi rapor yang berikutnya begitu pula indek prestasi yang satu juga akan mempengaruhi indeks prestasi berikutnya. Hasil analisis prediksi tes seleksi terhadap UN menemukan koefisien korelasi sebesar 0. ujian tulis (UTUL) pada jurusan IPA maupun IPS mempunyai prediksi yang lebih tinggi dari pada EBTANAS sebagai prediktor prestasi akademik di perguruan tinggi. Sipenmaru. Menurut siswa. Hasil penelitian beliau antara lain menyebutkan bahwa tes seleksi memberi dampak psikologis bagi orangtua atau siswa yang memiliki nilai UAS tinggi tetapi tidak dapat diterima di sekolah negeri karena seleksi dilakukan pada waktu yang bersamaan. Dampak negatif UAN menurut Kasek adalah 91% orangtua siswa menjadi cemas. Endang Mulyatiningsih Halaman 34 .sedangkan bagi sekolah. (2) pada mahasiswa PMDK yang diseleksi menggunakan nilai rapor ternyata rapor terakhir mempunyai hubungan signifikan terhadap prestasi di UGM. Penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh Yahya Umar (1994: 124) tentang ’Studi daya ramal UTUL. (3) riwayat prestasi di sekolah menengah tidak menjadi peramal yang baik terhadap prestasi di perguruan tinggi.   Oleh: Dr. Mata pelajaran yang dianggap sulit menurut Kepala Sekolah 95% Bahasa Inggris dan 75% Matematika. mata pelajaran yang dianggap sulit adalah Matematika (Djemari Mardapi. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Beberapa kelemahan penggunaan tes seleksi sebagai alat penerimaan siswa baru telah diteliti oleh Ajisukmo (2004). 2004: 27-41) penyebab sulitnya mata ujian: 73% mata pelajaran sulit.649 atau berada di atas korelasi nilai rapor dan USD. SMP/MTs menambah jam belajar dan memberi perhatian khusus pada pokok bahasan yang sulit. baik di SMU maupun di perguruan tinggi cenderung untuk bertahan lama. Ebtanas dan Rapor terhadap Prestasi Belajar di Pendidikan Tinggi’ menghasilkan beberapa temuan yang mendukung penelitian ini yaitu: (1) dengan menggunakan model struktural.

dan ujian tulis Sipenmaru tahun 1988 merupakan prediktor yang meyakinkan terhadap prestasi belajar mahasiswa apabila digunakan sebagai prediktor tunggal. Kapabilitas siswa SD untuk belajar ke SMP berada pada kategori tidak mampu belajar (E < 40) pada mata pelajaran matematika sebesar 16. (2) STTB SMA bukan merupakan prediktor yang meyakinkan terhadap prestasi belajar mahasiswa.235%.526% dan STTB = 2. Endang Mulyatiningsih Halaman 35 . Hasil penelitian Sri Musrifah (1989: 796) mengambil beberapa kesimpulan yaitu: (1) intelegensi.49). IV. pendidikan orangtua terhadap prestasi belajar relatif kecil. (2) tidak ada perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa yang berasal dari sekolah swasta dan sekolah negeri. Siswo Pratomo (1991: 523) mengambil beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut: (1) NEM SMA. b. pendidikan orangtua dan prestasi belajar mahasiswa non-PMDK lebih tinggi daripada mahasiswa PMDK. (3) sumbangan efektif masing-masing prediktor adalah ujian tulis Sipenmaru = 14.59%. Kesimpulan 1. (3) sumbangan intelegensi. kebiasaan belajar. 2. KESIMPULAN DAN SARAN A. kebiasaan belajar.42%.96%.62) dan rerata rapor (0. TKU.   Oleh: Dr. Evaluasi Model Keberlanjutan SD ke SMP a. b. Kapabilitas siswa untuk belajar ke SMP dipengaruhi oleh variabel eksogen Tes Potensi Belajar (0.Penelitian tentang prediksi alat seleksi terhadap prestasi belajar cukup sering dilakukan. Evaluasi Kapabilitas Siswa SD untuk Belajar ke SMP a. NEM = 12. Nilai tes standarisasi mutu SMP dapat diprediksi dari nilai USD sebesar Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Kemampuan awal siswa yang diseleksi dengan USD sebesar 6. TKU = 5.39% berada pada kategori tidak mampu belajar matematika (nilai < 4).

164. cooperatif pada kegiatan belajar reguler dan peer teaching pada kegiatan Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. (3) SMP membutuhkan prasyarat belajar (entry behaviour) yang harus dipenuhi. Hasil analisis prestasi siswa selama tujuh semester menunjukkan ada beda antar semua pengukuran yang diulang pada rentangan nilai F antara 38. Evaluasi Program Keberlanjutan SD ke SMP a.0. d. Hasil analisis post hoc anova menunjukkan nilai tes standar mutu SMP kelas 7 semester 1 tidak berbeda nyata dengan nilai rapor kelas 4 semester 1 pada mata pelajaran IPS (p = 0.   Oleh: Dr. (3) SMP yang belum memperoleh siswa baru sesuai quota dapat memperpanjang waktu PSB. Rasional: SMP mendukung sistem PSB SMP menggunakan alat seleksi dengan pertimbangan: (1) SMP mengharapkan input siswa yang diterima cukup baik.39% siswa memiliki nilai matematika kurang dari 4. b.639 terhadap nilai Ujian Nasional. c.238 sampai dengan 265.19 dan rerata nilai rapor SD 0.61. Judgment: menyetarakan kemampuan awal siswa yang belum memenuhi prasyarat belajar melalui kegiatan matrikulasi. (2) SMP peringkat sedang membuka pendaftaran secara serentak. (2) daya tampung SMP kurang memadai untuk menerima semua lulusan SD. Hasil analisis korelasi intersection test menunjukkan nilai tes seleksi SMP memiliki prediksi 0.527). Anteseden (input) potensi awal yang diharapkan adalah siswa memiliki prestasi belajar minimal pada nilai 5 tetapi ada 6. Transaksi (proses) PSB SMP diharapkan bervariasi tetapi PSB yang diterapkan serentak dalam satu waktu. c.175) dan IPA (p = 0. tracking pada kegiatan belajar tambahan. Judgment: pembelajaran remidial bagi siswa yang kurang mampu. Endang Mulyatiningsih Halaman 36 . Layanan keberlanjutan belajar diharapkan mendukung peningkatan prestasi siswa secara terus menerus. Judgment: (1) sekolah favorit membuka pendaftaran dan seleksi lebih awal. 2.

Menyempurnakan sistem keberlanjutan SD ke SMP yang dapat memenuhi azas obyektif. Saran 1. B. Judgment: siswa yang tidak memenuhi standar kelulusan dapat mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK). Dinas Pendidikan tidak menetapkan nilai USD sebagai alat seleksi tunggal pada SMP karena USD kekuatan prediksinya rendah. Produk belajar yang diharapkan adalah siswa dapat mencapai standar kompetensi lulusan tetapi 5. akuntabel.   Oleh: Dr. Endang Mulyatiningsih Halaman 37 . Alat evaluasi masa transisi SD ke SMP memenuhi indikator keamanan (security) karena telah menggunakan prosedur pengamanan soal yang benar. c. d. Dinas Pendidikan a. e. b. tidak diskriminatif dan kompetitif dengan menggunakan alat pengukuran ganda dan standar seleksi ganda pada sekolah-sekolah khusus. Menambah jumlah daya tampung siswa baru di SMP negeri dan memeratakan mutu pendidikan sampai ke wilayah desa supaya jumlah Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.02% siswa belum mencapai standar nilai 4. Keberlanjutan sistem PSB SMP menggunakan seleksi nilai USD dapat memenuhi keberlanjutan dari beberapa unsur yaitu: Produktivitas (productivity) perangkat evaluasi telah didukung oleh ketersediaan kumpulan soal di tingkat Dinas Propinsi.belajar di luar kelas.25 (tahun 2006). Kebijakan evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dilindungi (protection) oleh Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DIY. transparan. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP menggunakan nilai USD dapat diterima (acceptability) dengan catatan sekolah diperkenankan menentukan kriteria lain terhadap calon siswa yang akan diterima. Kebijakan sistem PSB menggunakan USD memenuhi unsur viability karena lebih efisien dan dapat memberi manfaat tinggi bagi penggunanya.

pendaftar SMP menyebar ke seluruh sekolah. Sekolah a. b.   Oleh: Dr. c. grouping atau tracking sesuai kemampuan pada kegiatan belajar tambahan. SMP mempertimbangkan nilai rerata rapor SD selama tiga tahun terakhir sebagai persyaratan masuk dan evaluasi input siswa. SMP perlu menyaring calon siswa untuk mengetahui karakteristik entry behaviour dan menggunakan data hasil seleksi penerimaan siswa baru untuk menetapkan keberlanjutan layanan belajar. dapat menggunakan nilai rapor SD selama tiga tahun terakhir sebagai alat PSB. SMP perlu menyetarakan kemampuan awal siswa yang belum memenuhi prasyarat belajar melalui kegiatan pendalaman materi. 2. SMP dapat menerapkan empat model pembelajaran yaitu remedial learning bagi siswa kurang mampu. SMP yang mempunyai animo pendaftar tinggi perlu mendampingi alat PSB yang menggunakan tes prestasi belajar dengan tes potensi belajar. cooperatif learning pada kegiatan belajar reguler dan peer teaching pada kegiatan belajar kelompok. matrikulasi dan penyataraan kemampuan. Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. SMP yang mempunyai jumlah pendaftar kurang. Nilai standar digunakan sebagai penentu kelulusan SMP bagi siswa yang mempunyai kemampuan normal sedangkan siswa yang mengalami kesulitan belajar (learning difficulty) sejak dini sebaiknya menggunakan standar kelulusan yang berbeda. oleh sebab itu SMP negeri wajib melayani kebutuhan belajar siswa dari beragam kemampuan supaya semua peserta didik dapat survive belajar di SMP. Endang Mulyatiningsih Halaman 38 . Tidak semua siswa usia sekolah yang menjadi sasaran wajib belajar 9 tahun memiliki kapabilitas untuk belajar ke SMP.

Evaluasi pelaksanaan ebtanas. P. (1993). Heri. Human characteristic and school learning. & Peter. Washington DC: The World Bank. b. Guru dapat meningkatkan ketelitian nilai rapor sampai dengan satu angka desimal di belakang koma supaya dapat membedakan kemampuan antar siswa. (1995). Hasil analisis model pengukuran menemukan sub tes gambar kurang baik sebagai indikator potensi belajar. Kegunaan tes potensi akademik plus pada mahasiswa program studi Ilmu Pengetahuan Alam. M. Departemen Pendidikan Nasinal: Puslitjak Balitbang Depdiknas. A. (1991). N. Griffin. B. S. Kalangan Akademisi a. 14. No. Universitas Sanata Dharma Angkatan 1999/2000. analysis and use. Baumgartner. 3.d. Policy Research Info. Boston: Allyn and Bacon. W. Sidney: Harcourt Brace Javanovich Publisher. L. (1995). Endang Mulyatiningsih Halaman 39 . Jurnal Penelitian. Educational assessment and reporting. (2004). Djemari Mardapi. S. & Cheema. Apabila ingin mengukur potensi belajar siswa sebaiknya menggunakan subtes kuantitatif. & Jackson. A. S. Measurement for evaluation: In physical education and exercise science (5th ed. (1999).. Madison: WCB Bloom. Mei 2004. design. (1976). DAFTAR PUSTAKA Ajisukmo. New York: McGraw-Hill book Company Friedenberg. Balitbang Dikbud Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun.   Oleh: Dr. Penyelenggaraan PSB SMP pasca penghapusan Ebtanas.. dkk. (2004). Bamberger. Case study of project sustainability-Implication for policy and operation from Asian nd experience (2 ). T. Peneliti lain dapat mengembangkan model struktural kapabilitas belajar dengan kombinasi beberapa macam variabel yang berbeda.). Laporan Penelitian. Puslitbangsisjian. Psychological testing. No I/PUSLITJAK/2004.

. A technology for test – item writing. Sustainability evaluation: A systemic. (1982). L. pp 39-54 Yahya. Jakarta: Puspendik Balitbang Diknas Ridaura.edu/evalctr/checklists Sumadi. Leffelaar. et all. Vol. Vol. S. (1994). (2004). 1991. D. Sipenmaru. 1. Jakarta: Depdikbud Puslitbangsisjian. Montreal: The UNESCO Institute for Statistics Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Roid. U. (2003). Laporan Seminar Pengkajian Ujian Saringan Masuk ke Perguruan Tinggi. H & Haladyna. G. multi-scale framework for design and evaluation of alternatives for peasant agriculture (versi elektronik). Endang Mulyatiningsih Halaman 40 . S. (1994). Publikasi oleh Harvard Family Research Project.wmich. dan nilai ujian tulis Sipenmaru tahun 1988 sebagai prediktor prestasi belajar mahasiswa Fakultas non eksakta Universitas Gajah Mada.------------. Jurnal Satya Widya. Seleksi calon mahasiswa baru di perguruan tinggi yang sekarang dan kemungkinannya untuk masa yang akan datang. (2002). Validitas prediktif NEM SMA. Berkala penelitian Pasca Sarjana. UGM seri A: Kelompok Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora. Jakarta: 1994 Unesco. hlm 517 – 525 Stufflebeam. CIPP evaluation model checklist. S. Juni 2004. STTB SMA. Siswo Pratomo & Sumadi Suryabrata. Fall 2003. Puslitbangsisjian. L. Ebtanas dan rapor terhadap prestasi belajar di Pendidikan tinggi: Suatu pendekatan dengan persamaan struktural. Diambil pada tanggal 16 Maret 2005 dari http://www. New York: Academic Press.   Oleh: Dr. (1991). Global education digest 2003: Comparing education statistic across the world. (2004). Inc. Studi daya ramal UTUL. Number 3. Pengaruh IQ dan status sosial ekonomi terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD di Salatiga. Tritjahjo. 9. Depdikbud. Dampak ujian akhir nasional. Jilid 4.. Van Ittersum. A. Nomor 3A. Laporan Penelitian. D. (2003). Laporan Seminar Pengkajian Ujian Saringan Masuk ke Perguruan Tinggi. TKU. T. 17 No. The Evaluation Exchange. M. P.

Program Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY 9. Teknologi dan Kejuruan S1 Pend. Purwomartani. 7. Endang Mulyatiningsih Halaman 41 . 3. Yogyakarta. (0274) 586168 psw. 085868008025 Islam Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dosen (Tenaga Pengajar) Jurusan PTBB. 11 Januari 1963 Griya Purwo Asri.   Oleh: Dr. Kesejahteraan Keluarga SPG SD SMP SD Nama PT/Sekolah Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Negeri Yogyakarta IKIP Negeri Yogyakarta SPG N Banjarnegara SMP N I PurworejoKlampok SD N Kaliwinasuh Tahun Lulus 2008 1999 1988 1982 1979 1975 11. 2. 8. Yogyakarta Hp. Penelitian 5 tahun terakhir No Bidang Kajian/Penelitian Sumber Dana Keduduka n dalam Thn Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Nama Jenis Kelamin Tempat /Tanggal Lahir Alamat Rumah Agama Status Kepegawaian Jabatan Alamat Kantor : : : : : : : : : Dr. 4. 6. Fakultas Teknik. 5. Blok C 249. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Jenjang Bidang studi Pendidikan Penelitian dan S3 Evaluasi Pendidikan S2 Pend. Pendidikan terakhir 10.CURRICULUM VITAE 1. Kampus Karangmalang. Endang Mulyatiningsih Perempuan Banjarnegara. Kalasan. Kode Pos 55281 Telp. 278 Doktor. Sleman.

UNY DIKTI Tim Ketua Anggota Anggota 2002 2002 2003 2004 2004 UNY Anngota DIKTI Anggota 2005 2006 2005 2006 DIKTI Balitbang Depdiknas Balitbang Depdiknas Balitbang Depdiknas Hibah A3 Ketua Anggota Anggota Anggota Ketua 2007 2007 2007 12. UNY UPS Tegal 4. 4. Riset Unggulan UNY Pengembangan Media Pembelajaran Video Interaktif Mata Kuliah TPMK/TPMO Penelitian Hibah Bersaing Efektivitas Konstruktivisme dalam Pembelajaran Mulok PKK di SLTP Optimalisasi Peran LPMP dan PPPG dalam Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan (Kerjasama FT dan Balitbang Diknas) Studi Pengembangan Model Uji Kompetensi Guru SMP Uji Model Uji Kompetensi Guru SMP Studi Pendalaman Kompetensi Kewirausahaan melalui Magang Industri FT. 2. 5.   Oleh: Dr. 2. 7. 2005 2004 Penyaji Pemateri FT UNY PTBB. Evaluasi Pelaksanaan Kuliah di Fakultas Teknik UNY Model Pembelajaran Muatan Lokal PKK dengan ExperienceBased Career Education (EBCE). UNY FT. Hibah Pekerti Pengembangan Media Pembelajaran Video Interaktif Mata Kuliah Tata Hidang untuk Peningkatan Kompetensi Mahasiswa Tata Boga. Nama Kegiatan Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seminar Nasional Pendidikan Teknik Boga dan Busana Seminar Nasional Penerapan Matematika dan Statistika pada Pengukuran Pendidikan Metodologi Penelitian Pelatihan Model Tahun 2007 2006 2005 Kedudukan Penyaji Pemakalah Pemakalah Tempat Balitbang. Pembawa Makalah No 1. Diagnosis Permasalahan Mahasiswa yang Mengalami Krisis Masa Studi. 3. 5. 8. Endang Mulyatiningsih Halaman 42 . 10. UNY Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. 3. 6.1. Depdiknas PTBB. 9.

5. 2003 Model Pembelajaran Muatan Lokal PKK dengan Experience-Based Career Education (EBCE).   Oleh: Dr. No 1.Pembelajaran Experiencebased Career Education 13. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Mata Kuliah Tata Hidang. Soft skill sebagai pendukung kompetensi profesional dosen masa depan. Publikasi Karya Tulis Judul Tulisan Pengaruh Penambahan Jumlah Yeast dan Lama Waktu Fermentasi terhadap Volume Donat. Cakrawala Pendidikan. Lembaga Penelitian UNY. FKIP UNS Jurnal Inotek. 2004 4.. Alternatif Model Pembelajaran Keterampilan di SLTP. 2004 3. Optimalisasi Peran LPMP dan PPPG dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Thn 2003 Kedudukan Penulis Utama Anngota Penulis Penulis Utama Penulis Utama Anggota Penulis Utama Penulis Utama Anggota Publikasi Jurnal Sainteks. Diagnosis Permasalahan Mahasiswa yang Mengalami Krisis Masa Studi. UPS Tegal. Endang Mulyatiningsih Halaman 43 . Experience-Based Career Education (EBCE). LPM UNY. Lembaga Penelitian UNY. 6. Jurnal Paedagogia. Prosiding Seminar Nasional UPS Tegal Prosiding Seminar Nasional UNY Balitbang Depdiknas 2. 8. 2006 2007 Model evaluasi keberlanjutan SD ke SMP dalam rangka wajib belajar 9 tahun. Jurnal Kependidikan. 2004 2005 2005 7. Pengembangan Alat Pengukuran (Tes) berbasis Penelitian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->